Pencarian

Misteri Hantu Hijau 2

Trio Detektif 04 Misteri Hantu Hijau Bagian 2


sependapat denganmu, Bob. Kita periksa saja
sebentar di sekitar tempat pemerasan anggur.
Mungkin hantu itu masih ada di situ."
Ia mengajak Bob dan Pete mengelilingi
bangunan. Kelihatannya ia mengenal baik tempat
itu. Senter tid ak dinyalakan olehnya, karena
menurut pendapatnya cahaya terang akan menye-babkan mereka tidak bisa melihat hantu hijau itu.
Mereka memandang dengan mata terpicing.
Tapi tidak ada yang nampak di samping bayangan
bangunan yang gelap. Sambil berjalan, Chang
menjelaskan bahwa bangunan itu tempat pe-merasan anggur yang baru selesai dibuat.
"Di sini buah anggur yang ranum dimasukkan
ke dalam tangki-tangki besar," katanya. Semacam
roda putar bersekop melumat buah itu dan
memeras sarinya, yang kemudian mengalir ke
dalam tangki penampung. Dari tangki itu sari
anggur dipompakan ke dalam tahang-tahang yang
terdapat dalam ruangan bawah tanah. Ruangan itu
sebetulnya gua-gua yang digali dalam gunung di
dekat sini. Dalam gua-gua itu suhu dan keiembab-an tetap sama sepanjang tahun. Sari anggur
dibiarkan dalam tahang-tahang itu sampai meragi.
dan akhirnya menjadi minuman yang nikmat."
Tapi Bob tidak begitu memperhatikan penjelas-an itu, karena ia masih berusaha mencari-cari
kalau ada sesuatu yang kelihatannya seperti sosok
tubuh bersinar suram. Tapi tak ada yang kelihatan,
walau mereka sudah mengelilingi bangunan itu.
73 "Kita lebih baik masuk saja ke dalam," kata
Chang kemudian. "Akan kutunjukkan pada kalian
mesin-mesin dan tangki-tangki yang ada di dalam.
Semua masih serba baru. Tempat ini dibangun
tahun yang lalu. Waktu itu banyak mesin baru yang
dibeli Paman Harold, dan karenanya utang kami
tidak sedikit. Itulah sebabnya saat ini Bibi Lydia
bingung. la merasa khawatir tidak bisa membayar
utang." Saat itu nampak cahaya lampu mobil datang
mendekat. Tidak lama jip yang tadi berhenti dekat
mereka. "Naiklah," kata Jensen pada ketiga remaja itu.
"Kalian akan kuantarkan pulang ke rumah. Tapi
sebelumnya aku ada urusan sebentar di desa. Aku
harus mencari ketiga pekerja yang mengaku
melihat hantu itu. Aku harus menyuruh mereka
tutup mulut, sambil berusaha menenangkan
suasana." "Terima kasih, Mr. Jensen," kata Chang, "tapi
kami jalan kaki saja pulang. Dari sini kan tidak
begitu jauh. Paling-paling cuma satu mil lebih
sedikit. Ini senter Anda. Bulan sudah muncul,
jadi kami bisa melihat jalan tanpa bantuannya."
"Terserah," kata laki-laki bertubuh kekar itu.
"Mudah-mudahan saja ketiga pemetik anggur itu
tidak menyebabkan semua pekerja kita ketakutan.
Kalau itu sampai terjadi, pasti takkan sampai
selusin yang muncul bekerja besok."
Setelah itu jeep berangkat lagi, menderu menuju
sekelompok cahaya yang nampak agak jauh
74 dalam lembah. Pasti itulah desa yang disebut
Jensen tadi. "Kau kan tidak keberatan kalau kita jalan kaki
pulang, Bob"" tanya Pete pada temannya.
"Kakiku sudah cukup kuat," kata Bob, lalu
menjelaskan pada Chang. "Dulu sewaktu aku
masih kecil ka,kiku pernah patah, karena jatuh dari
bukit. Sebagai akibatnya aku terpaksa memakai
penopang, sampai minggu lalu. Tapi Dr. Alvarez
kemudian membukanya dan mengatakan bahwa
aku sekarang sudah sembuh. Aku perlu banyak
berlatih berjalan, supaya kakiku yang habis cedera
bisa kuat kembali." "Kita tidak perlu cepat-cepat," kata Chang.
Dengan santai ketiganya menyusur jalan berdebu
diremangi cahaya bulan. Di sekeliling tercium bau
anggur yang ranum. Selama beberapa saat Chang
berjalan sambil membisu. "Maaf," katanya kemudian, "aku sedang me-mikirkan, betapa besar bencana yang akan dialami
Verdant Valley karena urusan harttu ini. Para
pekerja kami akan minggat semua, seperti kataku
tadi. Panen anggur akan gagal. Sebagai akibatnya,
kami akan menderita kerugian besar. Bibi Lydia
takkan bisa membayar utangnya, dan karenanya
Verdant Valley akan disita.
"Itulah sebabnya aku diam saja. Aku cemas
memikirkan masalah yang dihadapi Bibi Lydia.
Aku tahu, kebun dan usaha anggur ini sangat
berarti baginya. Soalnya, ibunya dan kemudian
Bibi Lydia sendiri seumur hidup mencurahkan
75 seluruh perhatian untuk membangun usaha ini.
Kalau sekarang ambruk, pasti ia akan patah
semangat. Tapi-masih ada satu harapan! Apabila
persoalan hak milik Mutiara Hantu bisa diselesai-kan, dan terbukti bukan orang lain pemiliknya yang
sah, maka Bibi akan bisa menjualnya dengan
harga tinggi. Dan dengan hasil penjualan itu, ia
akan b isa membayar semua utangnya."
"Mudah-mudahan saja begitu perkembangan-nya," kata Pete. "Tapi bagaimana pendapatmu,
Chang" Yang muncul itu hantu moyangmu atau
bukan"" "Entahlah, aku tidak tahu," kata Chang
lambat-iambat. "Tak masuk di akalku bahwa
arwah moyangku bermaksud jahat, walau semasa
hidupnya ia terkenal berwatak keras. Kami di Cina
tidak menolak kemungkinan adanya makhluk
halus, baik yang baik maupun yang jahat. Kurasa
ini perbuatan roh jahat, dan bukan moyangku. Ya
ini pasti roh jahat!"
Sementara itu mereka sudah sampai di rumah.
Beberapa lampu di dalam menyala. Tapi keadaan
di dalam sunyi sepi. Ketiga remaja itu naik ke
rumah lalu masuk. Chang kelihatannya agak heran
menemukan ruang duduk yang besar dalam
keadaan kosong. "Para pelayan sudah tidur semuanya," katanya,
"tapi aku tadi menyangka Paman Harold pasti ada
di sini. Ia mengatakan ingin mengajukan beberapa
pertanyaan pada kalian. Mungkin ia ada di
kantornya." 76 la mendului pergi ke kantor itu. Pintunya ternyata
tertutup. Ketika Chang mengetuk, dari dalam
terdengar suara mengerang disertai bunyi ber-debum-debum.
Chang kaget, lalu cepat-cepat membuka pintu.
Ketiga remaja itu tercengang. Mereka menatap
Harold Carlson yang tergeletak di lantai. Pergelang-an tangan dan kakinya terikat erat dengan tali dan
disatukan di belakang punggungnya. Kepalanya
diselubungi dengan kantong kertas.
"Paman Harold!" seru Chang, lalu bergegas
masuk dan menarik kantong kertas dari kepala
pamannya. Mata Harold Carlson terbelalak, se-mentara bibirnya bergerak-gerak. Tapi ia tidak bisa
mengatakan apa-apa, karena mulutnya tersumbat.
"Jangan coba bicara, dulu," kata Chang cepat,
"kami akan membebaskan Paman!"
Diambilnya pisau lipat dari kantongnya lalu
dipotongnya saputangan yang menyumbat mulut
pamannya. Kemudian, sementara pamannya itu
masih mengap-mengap menarik napas, Chang
sudah memotong tali yang mengikat pergelangan
kaki dan tangannya. Setelah bebas, Mr. Carlson
duduk sambil mengusap-usap pergelangannya.
"Apakah yang terjadi tadi"" tanya Pete.
"Ketika aku kembali ke rumah langsung masuk
ke sini, aku disergap oleh seseorang yang sudah
menunggu di balik pintu. Sedang seseorang lagi
menyumbat mulutku, lalu mengikat kaki dan
tanganku. Aku dibanting ke lantai, lalu kepalaku
77 diselubungi kantong kertas. Aku mendengar pintu
lemari besi terbuka dengan keras astaga!
Lemari besi!" Dengan cepat ia berpaling dan bergegas
menghampiri lemari besi yang besar. Nampak
jelas bahwa pintunya terbuka sedikit. Mr. Carlson
membentangkannya lebar-lebar, lalu meraih ke
dalam. Tapi ketika ditarik lagi, ia tidak memegang
apa-apa. Harold Carlson menatap tangannya dengan
mata terbelalak. Mulutnya komat-kamit.
"Mutiara Hantu dicuri orang!" katanya
dengan serak. 78 Bab 7 JUPITER BERAKSI Sudah sejam lamanya Jupiter Jones duduk
seorang diri di ruang duduk rumah tempat ia
tinggal bersama Paman Titus dan Bibi Mathilda. Ia
sedang sibuk berpikir, sambil memijit-mijit bibir
bawahnya. Tahu-tahu ia meluruskan sikap dan
berteriak sekeras mungkin. Setelah itu ia menyan-darkan diri, seakan menunggu. Mukanya merah
sehabis berteriak. Sesaat kemudian terdengar langkah orang
datang di luar. Pintu depan terbuka dengan cepat.
Konrad, pembantu Paman Titus yang bertubuh
kekar dan berambut pirang, menjengukkan kepala
ke dalam. Ditatapnya Jupiter dengan mata
terbelalak. "Siapa yang baru saja berteriak, Jupe"" tanya
orang itu. Nampak jelas bahwa ia kaget.
"Aku yang berteriak," jawab Jupiter. "Jadi kau
mendengarnya, ya""
"Tentu saja!" tukas Konrad. "Jendela di sini
terbuka, jendela tempatku juga terbuka jadi
tentu saja aku mendengarmu! Kedengarannya
kayak kau tadi menduduki paku, atau tersandung."
79 eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com Jupiter memandang dengan kesal ke arah
jendela di belakangnya yang terbuka.
"Kenapa kau berteriak, Jupe"" tanya Konrad.
"Kulihat di sini semuanya beres!"
"Memang kecuali aku lupa bahwa jendela
terbuka," jawab Jupiter.
"Kalau begitu, kenapa berteriak"" tanya Konrad
berkeras. "Aku sedang latihan menjerit," kata Jupiter.
"Kau benar tidak apa-apa, Jupe"" tanya Konrad.
"Maksudku, tidak sakit misalnya""
"Aku baik-baik saja," kata Jupiter. "Kembali
sajalah ke tempatmu. Malam ini aku takkan
berteriak lagi." "Syukurlah kalau begitu," kata Konrad. "Aku
benar-benar kaget tadi."
Konrad menutup pintu, lalu kembali ke rumah
kecil yang ditinggalinya bersama saudaranya,
Hans. Rumah itu letaknya sekitar lima puluh meter
di belakang tempat tinggal keluarga Jones.
Sementara itu Jupiter masih tetap duduk di
tempat semula. Otaknya berputar keras. la merasa
ada suatu gagasan tertentu yang akan timbul
gagasan mengenai hantu hijau! Tapi walau sudah
dipusatkannya seluruh pikiran, gagasan itu tidak
mau terbayang secara jelas. Akhirnya ia mendesah.
Jupiter sudah putus asa. Lagi pula saat itu sudah
waktunya tidur. Hari sudah larut malam.
Sementara menaiki tangga menuju tingkat atas,
ia teringat pada kedua temannya. Ia ingin tahu, apa
80 yang dilakukan Pete dan Bob saat itu di Verdant
Valley. Seolah-olah menjawab pikirannya itu, tahu-tahu
pesawat telepon berdering. Ternyata Bob yang
menelepon dari Verdant Valley.
"Ada apa, Bob"" tanya Jupiter dengan bersema-ngat. "Kalian melihat hantu hijau itu""
"Bukan kami, tapi Miss Green," kata Bob.
Suaranya kedengaran bergairah. "Kecuali itu ada
lagi kejadian lain yang menggemparkan. Di sini "
"Tenang, tenang!" sela Jupiter. "Jangan ter-buru-buru. Ceritakan segala-galanya, dengan
tenang dan berurutan. Jangan lupakan sedikit
pun!" Itu tidak mudah bagi Bob, karena ia ingin
langsung melaporkan bahwa Mutiara Hantu hilang
dicuri orang. Tapi Jupiter selalu menekankan
perlunya memaparkan segala fakta yang ada
secara berurutan. Temannya itu juga mengatakan
jangan sampai ada yang ketinggalan, karena hal
yang kelihatannya sangat sepele pun mungkin
kemudian ternyata penting sekali artinya. Karena-nya Bob lantas memulai laporannya dengan
menceritakan perjumpaan dengan Chang Green,
disusul dengan kejadian-kejadian berikut.
Akhirnya ia sampai juga pada peristiwa pencuri-an mutiara. Kejadian itu diceritakannya secara
terperinci. "Hmmm," gumam Jupiter, ketika Bob berhenti
sebentar untuk mengatur napas. "Ini perkembang-an yang sama sekali tak tersangka. Lalu sekarang
81 bagaimana perkembangan selanjutnya di situ"


Trio Detektif 04 Misteri Hantu Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Apakah sudah diadakan pemeriksaan""
"Mr. Carlson sudah memanggil petugas hukum
setempat, Sheriff Bixby," kata Bob. "Tapi petugas
itu sudah tua! Kelihatannya ia tidak tahu apa yang
harus dilakukan. Rumah ini letaknya tidak dalam
kota, jadi tidak ada polisi yang bisa dihubungi. Yang
ada cuma sheriff serta wakilnya, yang tidak
henti-hentinya mengucap, 'Astaga'!"
Jupiter tertawa geli. "Tapi sheriff kemudian mengajukan suatu
teori," kata Bob meneruskan laporannya. "Menurut
katanya, pasti mutiara itu dicuri penjahat yang
datang dari kota besar, setelah membaca
berita-berita ramai mengenainya dalam koran-koran. Penjahat-penjahat itu setelah melihat Mr.
Carlson bergegas pergi, lalu menyelinap masuk
lewat jendela samping. Mereka langsung meng-ambil mutiara itu dari lemari besi dan sedang sibuk
mencari barang-barang lain yang berharga, ketika
tahu-tahu Mr. Carlson kembali. la langsung
disekap dari belakang begitu masuk, lalu diringkus
dan kepaianya diselubungi kantong kertas supaya
tidak bisa melihat apa-apa. Yang diketahuinya
cuma bahwa seorang di antaranya bertubuh
pendek tapi kekar. Menurut pendapat sheriff, para
penjahat itu kini pasti sudah di tengah jalan
kembali ke kota. Ia akan menelepon polisi kota San
Francisco, walau dirasakannya takkan banyak
gunanya." 82 Jupiter mencubit bibir. Teori yang dikemukakan
Sheriff Bixby cukup logis. Mengingat begitu banyak
pemberitaan dalam koran mengenai kalung
mutiara itu, rasanya malah aneh apabila tidak ada
kawanan pencuri dari kota besar yang mencari
kesempatan untuk mencurinya. Dasar sedang sial,
karena terburu-buru Mr. Carlson lupa mengunci
lemari besi ketika ia pergi. Jadi bagi para pencuri
itu persoalan menjadi sangat mudah!
Tapi walau begitu masih timbui pertanyaan
dalam hati Jupiter, adakah hubungan antara hantu
hijau dengan peristiwa pencurian kalung mutiara"
la tidak bisa membayangkan hubungan apa, tapi
siapa tahu! "Kalian berdua harus tetap waspada, Bob,"
katanya kemudian. "Aku kepingin sekali bisa hadir
di situ saat ini," tambahnya, "tapi apa boleh buat
aku harus tetap di sini, karena Paman Titus dan
Bibi Mathilda paling sedikit baru besok kembali.
Kalau ada kejadian baru, kau segera menelepon
aku, ya!" Selesai menelepon, Jupiter berpikir-pikir seben-tar. la sebetulnya masih ingin merenungkan
laporan Bob tadi, tapi kantuknya tidak bisa ditahan
lagi. la langsung merebahkan diri ke tempat tidur.
Jupiter tidur nyenyak. Dalam tidur ia bermimpi,
mendengar suara yang rasanya seperti tidak asing,
tapi tidak bisa dikenal dengan jelas.
Keesokan harinya ia tidak bisa mengingat lagi
apa yang dimimpikannya. 83 Ia sebenarnya berharap hari itu pekerjaan tidak
begitu banyak, supaya ia bisa memikirkan hal-hal
yang dilaporkan Bob malam sebelumnya. Tapi
harapannya sia-sia. Hari itu ia sibuk sekali melayani
orang-orang yang datang untuk menjual atau
membeli barang bekas. Walau sudah dibantu oleh
Konrad, tapi boleh dibilang tak pernah ada waktu
luang lima menit saja yang bisa dimanfaatkannya
untuk bierpikir. Tapi akhirnya kesibukan menyusut
setelah pukul lima sore. Jupiter mengambil keputusan dengan cepat,
karena ia tiba-tiba mendapat akal. la memperoleh
gagasan penting. "Konrad," katanya pada pembantu Paman Titus,
"kau sajalah yang meneruskan menjaga toko.
Kalau sudah pukul enam nanti, tutup saja. Aku
sekarang hendak melakukan penyelidikan sedikit."
"Beres, Jupe," kata Konrad dengan ramah.
Jupiter naik sepeda menuju daerah berhutan
yang letaknya dekat sebuah sungai. Di situlah
letaknya Green Mansion. Ketika ia memasuki
pekarangan rumah yang akan dibongkar itu,
dilihatnya ada mobil polisi berhenti di depan
rumah. Ketika Jupiter mendekat, dilihatnya seo-rang polisi menjuJurkan badan dari dalam mobil.
"Ayo terus, Nak," kata polisi itu dengan nada
agak lesu. "Sedari pagi kerjaku tidak lain kecuali
mengusir orang-orang iseng yang ingin menonton
dan mencuri suvenir di sini."
Jupiter turun dari sepedanya, lalu merogoh
kantong. 84 "Banyakkah orang yang datang ke sini""
tanyanya. "Ya sejak hantu itu muncul," kata polisi itu.
"Kami ditugaskan di sini, untuk mencegah jangan
sampai ada barang-barang yang diambil orang
iseng. Sekarang pergilah! Aku sudah bosan
mengusir orang terus."
"Saya bukannya hendak mencari suvenir," kata
Jupiter. "Anda kemarin tidak melihat saya datang
bersama Chief Reynolds, ketika kamar tersembu-nyi itu ditemukan""
Kini polisi itu menatapnya dengan lebih
seksama. Polisi itu kemarin memang ada di situ.
Ialah yang menjaga di luar.
"Ya betul juga," katanya kemudian, "Kau
memang datang bersama atasanku."
Jupiter mengeluarkan selembar kartu nama dari
kantong, lalu disodorkannya pada polisi itu. Pada
kartu itu tertera, TRIO DETEKTIF "Kami Menyelidiki Apa Saja"
" " " Penyelidik Pertama Jupiter Jones
Penyelidik Kedua Pete Crenshaw
Catatan dan Riset Bob Andrews
Polisi itu sebetulhya hendak nyengir, tapi tidak
jadi. la sempat ingat bahwa Jupiter kemarin datang
naik mobil Chief Reynolds.
"Jadi kau ini penyelidik, ya"" katanya. "Kau
menyelidiki sesuatu untuk Chief""
85 "Saat ini aku menyelidiki sesuatu, yang apabila
ternyata benar pasti akan menarik baginya," jawab
Jupiter. Ia lantas memaparkan apa yang hendak
dilakukan. Polisi itu mengangguk.
"Kurasa itu bisa," katanya. "Masuklah!"
Sambil menghampiri rumah tua itu, Jupiter
memperhatikannya dengan seksama. Bentuknya
kokoh dan berdinding tebal, seperti nampak pada
bagian samping yang sudah dibongkar sebagian.
Kini Jupiter masuk ke dalam. la tidak bermaksud
membuang-buang waktu dengan meneliti apakah
barangkali masih ada kamar rahasia lainnya di situ.
Soalnya, menurut Chief Reynolds rumah itu sudah
diperiksa dengan teliti sampai ke setiap pojok.
Jupiter langsung menaiki tangga, menuju ke
tingkat atas. Sesampai di ujung atas tangga ia
berpaling lalu menjerit!
Ia menunggu semenit di situ. Lalu turun lagi ke
tingkat bawah. Di situ ia berteriak sekali lagi.
Setelah itu ia ke luar, mendatangi polisi yang masih
ada di depan. "Nah"" kata Jupiter. "Anda dengar tadi""
"Aku mendengarmu menjerit dua kali," jawab
po lisi itu. "Sekali samar-samar dan yang kedua
kalinya lebih nyaring sedikit. Pintu rumah tertutup
sih!" "Pintu juga tertutup waktu hantu muncul," kata
Jupiter. Ia memandang berkeliling. Dilihatnya di
sudut rumah ada semak hias yang lebat.
"Sekarang coba dengarkan lagi," katanya, lalu
menuju ke semak itu. 86 la berdiri di balik semak. Sambil menjulurkan diri
agak ke samping, ia berteriak sekali lagi
sekuat-kuatnya. Setelah itu ia kembali ke mobil
patroli. Polisi yang duduk di dalam mengangguk.
"Ya, itu kudengar jelas," katanya. "He apa
sebetulnya yang hendak kaubuktikan de-ngannya""
"Aku ingin mengusut di mana hantu berada
ketika menjerit," kata Jupiter. "Berdasar pengama-tanku, mestinya di luar rumah. Sebab kalau
menjerit sewaktu ada di dalam, wah paru-parunya harus kuat sekali sehingga jeritannya
terdengar jelas." "Masa hantu punya paru-paru," kata polisi itu
sambil tertawa geli. Tapi Jupiter sama sekali tidak
tersenyum. "Itulah maksudku," katanya. Dilihatnya polisi itu
menggaruk-garuk kepala. Ketika ia melangkah
menghampiri sepedanya, polisi itu memanggilnya.
"He ketiga tanda tanya di kartumu, apa
artinya"" Nyaris saja Jupiter tertawa. Tapi sempat ditahan
olehnya. la merasa senang, karena tanda tanya itu
memang selalu menarik perhatian.
"Itu lambang kami," katanya dengan lagak
orang dewasa. "Artinya misteri yang belum
dipecahkan, teka teki yang tak terjawab dan
masalah yang memerlukan penyelesaian."
Seteleh itu ia pergi dengan sepedanya, mening-galkan polisi yang masih menggaruk-garuk kepala
dengan bingung. Tapi cuma beberapa blok saja ia
87 bersepeda. Kini ia berada di daerah pemukiman
modern dan rapi, yang letaknya bersebelahan
dengan pekarangan Green Mansion yang luas.
Di kantongnya ada guntingan koran setempat
dengan nama dan alamat empat orang yang
melapor pada polisi. Mereka itu termasuk
kelompok yang bersama Bob dan Pete melihat
hantu dan mendengarnya menjerit.
Jupiter mendatangi alamat yang posisinya
paling jauh dari Green Mansion. Ketika ia sampai di
situ, sebuah mobil datang dan langsung masuk ke
pekarangan. Seorang laki-laki turun dari kendara-an itu. la bernama Charles Davis, satu dari keempat
orang itu. Dengan senang hati ia menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Jupiter
padanya. Ternyata pada malam yang menjadi persoalan,
ia sedang duduk-duduk di beranda rumahnya
beserta seorang tetangga yang tinggal di seberang
jalan. Mereka berdua sedang duduk-duduk sambil
merokok dan mengobrol tentang pertandingan
baseball. Kemudian dua orang laki-laki lewat di
depan rumah dan menyapa mereka. la tidak kenal
pada mereka, tapi menurut dugaannya pasti
tetangganya juga; Kedua laki-laki itu mengajaknya
berjalan-jalan untuk melihat Green Mansion di
bawah sinar bulan, sebelum bangunan itu
dibongkar. Satu di antara kedua laki-laki itu,
seseorang bersuara berat, begitu pandai membu-juk sehingga akhirnya Davis mau ikut. Begitu pula
tetangga yang sedang mengobrol dengannya.
88 Sebelum berangkat Davis masih sempat meng-ambil dua senter dari garasi. Satu diserahkannya
pada temannya. Mereka berempat lantas berjalan menuju Green
Mansion. Di tengah jalan mereka melihat dua
orang lagi yang juga tinggal di kompleks
pemukiman itu. Laki-laki yang bersuara berat
mengajak mereka ikut. Orang itu pintar sekali
membujuk. Katanya, pasti asyik melihat rumah
yang katanya berhantu pada saat malam terang
bulan. Sambil tertawa ia menambahkan, siapa tahu
mungkin mereka akan melihat hantu itu.
"Dia benar-benar mengatakan begitu" Maksud
saya, bahwa ada kemungkinan akan melihat
hantu"" tanya Jupiter.
"Kurang lebih begitulah ucapannya," jawab
Davis sambil mengangguk. "Dan ternyata kami
benar-benar melihatnya. Kalau dipikir-pikir, kejadi-an itu aneh sekali."
"Anda tidak kenal dengan kedua laki-laki yang
pertama itu"" tanya Jupiter.
"Satu di antaranya, rasa-rasanya pernah kuli-hat," kata Charles David, "tapi yang satu lagi tidak!
Tapi mestinya ia juga tinggal di daerah sini. Cukup
banyak tetangga yang belum saling mengenal.
Kebanyakan dari kami baru setahun tinggal di
sini." "Kelompok Anda waktu itu terdiri dari beberapa
orang, ketika sampa i di rumah itu"" tanya Jupiter
lagi. 89 "Kami berenam," jawab Davis. "Walau ada yang
mengatakan tujuh, tapi aku tahu pasti kami
berenam ketika memasuki pekarangan situ. Tentu
saja mungkin ada lagi orang yang menyusul,
karena ingin tahu! Setelah jeritan terdengar dan
perhatian kami terarah ke dalam rumah, tak ada
lagi yang begitu peduli berapa jumlah kami waktu
itu. Lagi pula saat itu sangat gelap. Bulan belum
terbit. Kemudian kami memecah, setelah pergi
dari rumah itu. Aku, tetanggaku yang di depan


Trio Detektif 04 Misteri Hantu Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

serta tetangga yang dua lagi berpendapat,
sebaiknya kami melaporkan kejadian itu pada
polisi. Aku tahu apa yang terjadi dengan yang dua
lagi. Mungkin mereka tidak ingin nama mereka
dimuat dalam koran."
Saat itu seekor anjing terrier kecil berbulu
keriting datang berlari-lari melintasi pekarangan,
lalu melonjak-lonjak menyambut Charles Davis.
"Duduk, ayo duduk!" kata orang itu sambil
tertawa senang. Ditepuk-tepuknya anjing itu, yang
membaringkan diri di atas rumput dengan lidah
terjulur ke luar. Jupiter teringat lagi pada laporan Bob, bahwa
satu dari kelompokyang datang ke Green Mansion
malam itu membawa seekor anjing. Hal itu
ditanyakannya pada Davis.
"Betul waktu itu aku membawa si Domino
ini," kata orang itu. "Aku mengajaknya, karena aku
biasa berjalan-jalan dengan dia kalau sore."
Jupiter memperhatikan anjing itu yang meng-angakan moncongnya dengan lidah terjulur ke
90 luar. Kelihatannya seperti menertawakan dirinya,
seolah-olah mengetahui sesuatu yang tidak
diketahui oleh Jupiter. Kening remaja itu berkerut.
Lagi-lagi ia merasa ada sesuatu yang mengusik
pikirannya. Tapi ia tidak bisa tahu dengan jelas, apa
yang mengganggunya itu. Ia masih mengajukan beberapa pertanyaan lagi.
Tapi ternyata tidak ada keterangan baru yang bisa
ditambahkan. Karena itu Jupiter mengucapkan
terima kasih, lalu pergi.
la bersepeda lambat-lambat, kembali ke rumah-nya. Sementara itu otaknya bekerja keras. Ketika ia
sampai di tempat penimbunan barang loak,
ternyata pintu gerbang utamanya sudah tertutup.
Matahari sudah terbenam. Ternyata ia lebih lama
pergi dari perkiraannya semula.
Konrad ditemukannya sedang santai di rumah-nya, mengisap pipa.
"Halo, Jupe," sapa orang orang itu, ketika
melihat Jupiter masuk. "Kau kelihatannya kayak
habis sibuk berpikir. Tampangmu keriting!"
"Kau kemarin malam mendengar aku menjerit
kan, Konrad"" kata Jupiter, tanpa mengacuhkan
gangguan laki-laki yang baik hati itu.
"Tentu saja kedengarannya kayak suara babi
disembelih," kata Konrad. "Jangan marah, ya
tapi kedengarannya memang begitu!"
"Aku memang sengaja supaya kedengarannya
begitu," jawab Jupiter. "Tapi. kau takkan bisa
mendengar, apabila jendela sini dan jendela kamar
duduk tempat aku berada waktu itu tertutup, kan""
91 "Ya, kurasa begitu. Kau ini sebetulnya mau
apa"" Air muka Jupiter berubah, membayangkan
gerak perasaannya saat itu. Jeritan yang didengar
setiap orang yang hadir di sana dan Domino,
anjing itu! Anjing yang kelihatannya seperti
mengetahui sesuatu. Tiba-tiba ia terkenang pada
suatu kisah detektif Sherlock Holmes. Dalam kisah
itu juga ada seekor anjing, yang banyak sekali
membantu penyelidikan detektif ulung itu, Bina-tang itu membantu, dengan jalan sama sekali tidak
berbuat apa-apa! Jupiter bergegas kembali ke rumah tempat
tinggalnya. Tahu-tahu begitu banyak gagasan
yang timbul dengan jelas dalam benaknya!
Polisi yang menjaga di depan Green Mansion
tidak bisa mendengar teriakannya dengan jelas,
ketika ia berada di dalam rumah yang pintu
depannya tertutup. Tapi di luar ya, di luar
teriakannya terdengar jelas! Itu suatu petunjuk
penting. Begitu sampai di dalam rumah, Jupiter
langsung memutar kembali rekaman suara jeritan
yang diambil oleh Bob, serta cuplikan pembicara-an orang-orang yang waktu itu ada di situ. Jupiter
menyimak rekaman itu selengkapnya. Setelah
selesai, ia termenung selama beberapa menit.
Diingatnya kembali penuturan Bob kemarin
malam. Semuanya cocok. Harus cocok!
Pertama-tama suara jeritan, lalu kenyataan
bahwa tidak ada yang tahu pasti apakah enam atau
92 tujuh orang datang ke Green Mansion malam itu
ya, bahkan anjing ke cil itu! Kini Jupiter sudah tahu
apa yang bisa diceritakan anjing itu padanya,
apabila bisa bicara. Masih banyak lagi yang belum
berhasil diketahui Jupiter tapi untuk sementara,
sudah lumayan! Ruangan tempatnya duduk sudah gelap. Tapi
tanpa menyalakan lampu, ia langsung meraih
pesawat telepon untuk menghubungi Bob And-rews di Verdant Valley. Setelah menunggu agak
lama, akhirnya ia mendengar suara seseorang
wanita. Ternyata Miss Lydia Green yang menerima.
"Jupiter Jones" Kau kan teman Bob"" tanya
wanita itu. Menurut perasaan Jupiter, suara Miss
Green kedengarannya seperti agak gemetar.
"Betul, Miss Green," jawab Jupiter. "Kalau boleh,
saya ingin bicara sebentar dengan dia. Rasanya
ada beberapa hal yang "
Kalimatnya dipotong oleh Miss Green.
"Bob tidak ada di sini," kata wanita itu dengan
gugup. "Begitu pula Pete dan Chang, cucuku!
Ketiga-tiganya lenyap!"
93 Bab 8 MELIHAT-LIHAT Pada pagi yang sama ketika Jupiter sedanc
sibuk di perusahaan paman dan bibinya, Bob naik
kuda bersama Pete dan Chang di Verdant Valley.
Mereka melihat-lihat lembah itu. Ketiga remaja itu
sama sekali tidak menduga bahwa hari itu mereka
akan mengalami kejadian yang berbahaya dan
menegangkan. Saat itu mereka hanya hendak melihat gua yang
.dipakai sebagai tempat menyimpan minuman
anggur. Menurut keterangan Chang, gua itu
dulunya liang tambang. Letaknya sebagian besar
di tebing sebelah barat lembah.
Mereka berencana hendak pergi sampai sore.
Mereka merasa takkan bisa mengusut peristiwa
pencurian mutiara lebih lanjut. Soalnya, apabila
dugaan Sheriff Bixby benar, yaitu pencurinya
kawanan penjahat dari kota, maka mestinya saat
itu baik pencuri maupun kalung itu sudah sampai
di San Francisco. Hari itu banyak sekali wartawan datang. Mereka
tertarik karena kisah munculnya hantu serta
pencurian kalung. Ketiga remaja itu sempat
melihat Miss Lydia Green sebentar. Wanita itu
94 kelihatannya lesu dan capek sekali. la meminta
pada mereka agar merahasiakan pada para
wartawan itu bahwa Pete dan Bob adaiah kedua
remaja yang pertama kali melihat hantu itu muncul
di Green Mansion. Miss Green khawatir jika hal itu
diketahui, para wartawan lantas menulis berita
yang lebih hebat dan penuh sensasi, dengan
mengetengahkan dugaan kenapa Bob dan Pete
kini ada di Verdant Valley. Tanpa hal itu diketahui,
keadaan sudah cukup gawat bagi Miss Green!
Jadi setelah sarapan pagi di dapur, Bob beserta
kedua temannya menyelinap pergi ke kandang
kuda, di mana mereka memasang pelana pada
tiga ekor kuda. Sebagian besar pekerjaan itu
dilakukan oleh Chang, karena Bob dan Pete tidak
begitu berpengalaman dalam bergaul dengan
kuda. Kini ketiganya berkuda lambat-lambat menelu-suri kebun anggur yang terawat rapi, di mana
nampak buah anggur berwarna ungu sudah
ranum disinari rahaya matahari yang panas.
Chang kelihatanhya murung.
"Saat ini seharusnya pa|ing sedikit ada seratus
pekerja sibuk memetik di sini," katanya. "Serta
beberapa truk yang dipakai untuk mengangkut
panen ke tempat pemerasan. Tapi lihatlah
kenyataannya! Pekerja yang nampak, tak sampai
sepuluh orang. Dan truk cuma ada satu. Yang lain
pada pergi semua, karena takut hantu. Kalau
keadaan begini berlarut-larut, Bibi Lydia pasti akan
bangkrut!" 95 Pete berusaha menghiburnya.
"Saat ini rekan kami, Jupiter Jones, sedang
sibuk di Rocky Beach untuk memecahkan misteri
itu," katanya. "Jupiter itu anak yang cerdas sekali!
Jika ia bisa menyibak misteri dan menenangkan
hantu, mungkin para pekerja mau datang lagi."
"Itu hanya mungkin jika ia cepat berhasil," kata
Chang. "Kalau tidak, para pekerja akan berpindah
ke tempat lain. Pagi ini Li mengatakan padaku,
akulah yang menyebabkan kesialan di Verdant
Valley. Katanya, kedatanganku dari Hongkong satu
setengah tahun yang lalu membawa sial. Aku
disuruhnya pulang lagi ke sana!"
"Omong kosong! Mana mungkin kau mem-bawa sial"" kata Bob dengan segera.
Tapi Chang menggeleng. "Entahlah," katanya, "namun kenyataannya
banyak musibah yang terjadi sejak aku datang.
Anggur bertahang-tahang rusak, mesin-mesin
berulangkali macet. Pokoknya, macam-macamlah
yang terjadi!" Tapi kesemuanya itu kan bukan salahmu!"
tukas Pete. "Walau begitu mungkin memang benar
mungkin lebih baik aku kembali saja ke
Hongkong," keluh Chang. "Siapa tahu, barangkali
saja hantu itu ikut dengan aku, sehingga nasib sial
tidak lagi menghinggapi Verdant Valley. Jika itu
bisa kupastikan, aku mau saja berangkat besok.
Aku tidak mau menyusahkan Bibi Lydia!"
96 Bob merasa sudah waktunya mengalihkan
pembicaraan, karena Chang kelihatannya sedih
sekali. "Kau menyebut Miss Green bibimu, dan Mr.
Carlson paman," katanya. "Aku tidak begitu
mengerti pertalian keluarga kalian yang sebenar-nya. Mathias Green kan kakekmu "
"Moyangku," kata Chang membetulkan. "Miss
Green sebenarnya nenekku, atau tepatnya anak
saudara Mathias Green. Tapi aku menyebutnya
Bibi, karena kedengarannya lebih enak. Sedang
Paman Harold, keponakan jauh Bibi Lydia. Aku
sendiri tidak tahu persis pertalian keluarga dengan
dia, tapi untuk gampangnya kusebut saja dia
Paman. Di cabang keluarga ini, cuma kami bertiga
saja yang tinggal." Pete menatap ke depan. Di hadapan mereka
terhampar lembah panjang dan sempit, dibatasi
lereng gunung yang curam di kedua sisinya.
Sejauh mata memandang, hanya tanaman anggur
saja yang nampak. "Jadi tempat ini sebenarnya milikmu Chang""
tanya Pete dengan penuh minat. "Maksudku,
selaku satu-satunya keturunan langsung Mathias
Green." "Ah tidak, tidak," bantah Chang. "Ini kepunyaan
Bibi Lydia, karena ibunya yang memulai, lalu
diteruskan oleh Bibi Lydia. Seumur hidup ia
bekerja keras untuk membangunnya.
"Ia bermaksud menghibahkannya padaku. Tapi
aku tidak mau. Karenanya aku lantas dijadikan ahli
97 warisnya. Aku memutuskan kalau menerima nanti,
setengahnya akan kuberikan pada Paman Harold.
Karena ia sudah bekerja sama keras seperti Bibi
Lydia selaku pengelola, sehingga usaha ini
berkembang subur. Tapi " kini wajah Chang
kembali suram, "semuanya akan lenyap karena
kami tidak punya uang untuk membayar utang."
Saat itu sebuah jip datang ke arah mereka.
Ketiga remaja itu menghentikan kuda masing-masing, untuk memberi kesempatan agar ken-daraan itu bisa lewat. Chang menunggang seekor
kuda hitam yang diberi nama Ebony. Kuda itu gesit
dan bersemangat sekali, sehingga tali kekangnya
harus dipegang kuat-kuat. Kuda yang ditunggangi
Pete seekor kuda betina yang agak gugup,
sehingga juga perlu dikendalikan dengan ketat.
Sedang Bob menunggang kuda betina yang sudah
agak tua. Namanya Rockingchair, yang berarti
Kursi Goyang. Nama itu diberikan padanya karena
geraknya yang santai dan wataknya yang tenang.
Jip yang datang itu tidak lewat, tapi berhenti
dekat mereka. Ternyata yang mengendarainya
mandor yang bernama Jensen.
"Hai, Chang!" sapanya. "Kau tentunya melihat
sendiri, betapa sedikitnya pekerja kita pagi "ni""
Chang mengangguk. "Ketiga orang konyol kemarin itu ternyata tidak
setengah-setengah," sambung Jensen. "Setiap
kali mereka mengulangi cerita, hantunya makin


Trio Detektif 04 Misteri Hantu Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lama makin besar dan menyeramkan, sehingga
akhirnya dikatakan sampai menyemburkan api
98 dan asap segala! Para pekerja yang lain sampai
panik mendengar ocehan mereka. Aku sudah
menyuruh minta bantuan pekerja dari tempat Iain.
Tapi kurasa takkan berhasil!"
Jensen menggeleng-geleng.
"Sekarang aku hendak pergi meiapor pada Miss
Green," katanya. "Keadaan gawat!"
Jip menderu pergi. Ketiga remaja itu melanjut-kan perjalanan. Chang memaksa diri menyingkir-kan kemurungannya.
"Keadaan sudah terlanjur, mau apa lagi,"
katanya. "Kita sama sekali tidak bisa berbuat
apa-apa. Jadi lebih baik kita bersenang-senang
sekarang." Mereka menyusur lembah, sambil sekali-sekali
berhenti untuk melihat-lihat. Chang mengajak
mereka meninjau tempat-tempat pemerasan
anggur yang ada di situ. Beberapa waktu setelah
tengah hari mereka mulai capek dan kepanasan.
Perut juga sudah terasa lapar. Mereka membawa
bekal roti dan air, sedang makanan untuk kuda ada
dalam tas pelana. "Aku tahu tempat yang sejuk dan nyaman," kata
Chang, la mendului berkuda melewati sebuah
bangunan tua. Itu bekas pemerasan yang lama,
yang kini hanya dipakai pada saat-saat sibuk saja.
Perjalanan diteruskan beberapa ratus meter lagi,
dan akhirnya tiba di tempat yang teduh. Tempat itu
te rlindung bayangan tebing sebelah barat. Di balik
cadas yang menjorok ke depan ada tempat yang
99 sempit dan teduh. Di situ mereka turun. Kuda-kuda
ditambatkan, lalu diberi makan.
Chang mengajak Bob dan Pete ke balik batu
besar itu. Di situ ada pintu yang kokoh, terpasang
pada dinding batu. "Ini salah satu jalan masuk ke gua yang dulunya
Hang tambang yang sudah kuceritakan," kata
Chang. Dibukanya pintu itu dengan susah payah.
Di belakangnya nampak Hang gelap, menjorok
masuk ke dalam perut bukit. "Nanti sehabis makan
kita melihat-lihat ke dalam."
la menekan tombol yang terpasang di sisi dalam
ambang pintu. Tapi tidak terjadi apa-apa.
"Sialan," umpatnya. "Aku lupa, dinamo tidak
dipasang! Kami di sini harus membangkitkan arus
listrik sendiri, dan dinamo dari masing-masing
bagian hanya dihidupkan apabila di dalam sedang
ada pekerjaan. Yah untung kita tadi tidak lupa
membawa senter!" Chang mengambil senter yang terkait di
pinggang, lalu disorotkannya ke depan. Nampak
lorong panjang berdinding batu, dengan papan
tebal terpasang di langit-langit sebagai penopang.
Pada kedua sisi gang itu nampak tahang besar
berjejer-jejer dalam posisi rebah. Sepasar." rel
sempit menjulur di tengah gang. Tidak jauh dari
pintu ada sebuah gerobak datar yang kecil.
"Gerobak itu gunanya untuk mengangkut
tahang-tahang yang akan dibawa ke luar. Dengan
gerobak, tahang didorong sampai ke pintu," kata
Chang menjelaskan. "Jika kami hendak mengang-100
kut sebuah tahang, truk diundurkan sampai ke
pintu lalu tahang dinaikkan ke atasnya. Dengan
cara begitu pengangkutannya menjadi gampang.
Yah kurasa kita duduk saja di sini, di belakang
pintu, lalu makan dengan santai."
Pete dan Bob senang, karena bisa duduk
menyandarkan diri ke batu, lalu mulai makan.
Hawa di dalam sejuk, padahal sekitar semeter ke
arah luar panasnya bukan main.
Sambil makan, mereka memandang ke lembah.
Bangunan tempat pemerasan yang lama bisa
mereka lihat. Tapi dari luar, orang tidak bisa
melihat mereka. Selesai makan mereka masih mengobrol
sebentar di dalam, sambil menikmati kesejukan
tempat itu. Chang bercerita tentang kehidupannya
dulu di Hongkong, di mana selalu banyak orang.
Sedang di Verdant Valley sangat sepi. Ketika
mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba nampak
beberapa mobil tua datang lalu berhenti di luar
tempat pemerasan yang lama.
Sekitar lima atau enam orang laki-laki yang
semuanya bertubuh kekar turun dari mobil-mobil
itu lalu berdiri menggerombol. Kelihatannya
mereka seperti menunggu sesuatu.
Chang berhenti bercerita. Keningnya berkerut.
"Apa sebabnya mereka tidak ikut memetik
anggur"" katanya pada diri sendiri. "Hari ini kan
setiap pekerja diperlukan tenaganya."
Sesaat kemudian jip yang dikendarai Jensen
muncul, dan laki-laki kekar itu kelihatan keluar dari
101 kendaraan itu. la masuk ke tempat pemerasan,
diikuti oleh orang-orang yang menunggu tadi.
Setelah semuanya masuk, pintu ditutup.
"Kurasa Jensen hendak memeriksa mesin yang
ada di situ, karena hari ini tempat pemerasan itu
pasti takkan dipakai," kata Chang menggumam.
"Ah, biarlah itu kan urusannya sendiri! Aku tidak
begitu suka padanya, tapi harus kuakui bahwa ia
tahu caranya *mengatur para pekerja, walau
kadang-kadang kelakuannya terhadap mereka
agak terlalu kasar."
Chang menoleh, memandang Bob dan Pete
sambil bertopang siku. "Mau melihat gua ini sekarang"" ajaknya.
Kedua temannya setuju, lalu melepaskan senter
yang terkait pada ikat pinggang masing-masing.
Pete melakukannya sambil bangkit. Tiba-tiba ia
terpeleset. Ia cepat-cepat mengulurkan tangan,
untuk memulihkan keseimbangan. Senter yang
dipegang teirlepas dan jatuh. Terdengar bunyi kaca
pecah. Ketika Pete memungut senternya kembali,
temyata lensa dan lampunya pecah kedua-duanya.
"Sialan!" umpat Pete. Ia jengkel terhadap dirinya
sendiri. "Sekarang aku tidak punya senter."
"Dengan dua kurasa sudah cukup," kata Chang,
"tapi " la bicara sambil memandang ke luar, ke arah jip
yang diparkir di luar tempat pemerasan anggur.
"Aku tahu akal!" serunya. "Kita pinjam saja
senter Jensen. Itu, yang dipinjamkannya kemarin
malam padaku. Senter itu selalu ditaruhnya dal
am 102 kotak peralatan. Nanti sebelum gelap, pasti sudah
bisa kita kembalikan lagi padanya. Biar aku saja
yang berkuda ke sana untuk mengambilnya."
Tapi Pete menolak. Katanya, lampunya yang
pecah. Jadi harus ia sendiri yang mengusahakan
gantinya. Chang Tienurut. Ia menulis surat untuk
ditinggalkan dalam kotak peralatan. Surat Hu
ditujukan pada Jensen, untuk memberitahukan
bahwa senternya mereka pinjam sebentar.
"Jensen kalau sedang sibuk, paling tidak senang
diganggu," kata Chang menjelaskan. "Lagi pula
senter itu sebetulnya milik Bibi Lydia, jadi pasti
Jensen takkan berkeberatan jika kita memakainya
sebentar." Pete mengendarai kudanya, menuju ke tempat
pemerasa/i anggur. Sebentar kemudian ia sudah
sampai di sisi jip. Kudanya, Nellie, agak bersema-ngat setelah sempat beristirahat. Karena itu Pete
harus memegang kekangannya dengan ketat,
supaya Nellie tidak menghambur lalu lari.
Dengan sebelah tangan Pete membuka kotak
peralatan jip. Dilihatnya bermacam perkakas
campur aduk di situ. Tapi senter tidak ditemukan
dengan segera. Pete mencari-cari sebentar.
Akhirnya ia menemukan senter, terselip di pojok.
Ditariknya senter itu,' lalu diselipkannya ke
pinggang. Senter itu potongan kuno, dengan batan^yang
panjang terbuat dari plastik hitam. Di bagian
belakangnya tidak ada gelang yang bisa digan-tungkan ke ikat pinggang.
103 104 Surat Chang pada Jensen ditaruhkan di dalam
kotak peralatan. Kotak itu tidak ditutup lagi, supaya
Jensen bisa langsung melihat surat itu. Setelah itu
dengan sedikit repot Pete naik lagi ke atas pelana,
lalu mengendarai kudanya kembali ke tempat Bob
dan Chang menunggunya. Ketika Pete sudah menempuh jarak sekitar
seratus meter, tiba-tiba terdengar suara seseorang
berseru-seru di belakangnya. Pete menoleh.
Dilihatnya Jensen berdiri di samping jipnya. Orang
itu rupanya yang berseru-seru memanggilnya. Pete
mengacungkan senter, lalu menuding ke arah jip.
Maksudnya hendak mengatakan bahwa di situ ada
surat yang memberitahukan. Setelah itu ia
meneruskan perjalanan. Ia tidak melihat Jensen meloncat ke* atas jip,
ditonton oleh para pekerja yang bergerombol
untuk menonton. Jip itu meluncur melintasi
kebun, di sela-sela tanaman anggur. Ternyata
Jensen mengejar Pete! Ia berseru-seru, menyuruh Pete berhenti. Pete
menarik tali kekang kudanya. la heran, apa
sebabnya Jensen nampak begitu gelisah. Semen-tara itu Nellie menandak-nandak, karena tidak
senang dikekang kebebasannya.
"Tenang, Nellie! Tenang!" Kata Pete membujuk
kudanya. Tapi kuda itu masih tetap berjingkrak-jingkrak dengan gerakan gelisah, sementara
matanya menatap jip yang datang menghampiri
dengan bunyi menderu. Jip itu mendekat dengan cepat, lalu berhenti.
Secepat kilat Jensen meloncat turun lalu mengejar
Pete. "Maling!" teriak orang itu. "Kuhajar kau
sekarang!" Ku " Kata-katanya yang selanjutnya
tak terdengar jelas, karena ketika ia semakin
mendekat, kuda yang ditunggangi Pete melonjak
lalu lari, sebelum Pete berhasil meneguhkan sikap
duduknya. Kuda itu melesat dalam kebun anggur, menuju
lereng gunung. Pete sama sekali tak berdaya
menahannya. Lututnya ditekankan kuat-kuat ke
lambung kuda, sementara tangannya memegangi
pangkal pelana. la bertahan sekuat tenaga, agar
jangan sampai terlempar jatuh.
105 Bab 9 BERSEMBUNYI Kuda betina itu menderap terus menyusuri
jejeran tanaman anggur. la lari menuju lereng
berbatu di sisi barat lembah. Pete sama sekali tidak
bisa berbuat apa-apa, kecuali bertahan supaya
jangan terlempar dari pelana. Dilihatnya di lereng
yang dituju ada semacam jalan. Jalan itu sempit,
tapi tidak terjal. Secara otomatis kuda yang panik itu mengambil
jalan itu, dan terus menderap ke atas. Pete
mengharapkan agar larinya agak tertahan karena
harus mendaki. Harapannya terkabul. Tapi hanya
cukup untuk memberi kesempatan baginya
mengatur sikap duduk, sehingga berkurang
bahaya terlempar jatuh dari pelana.
Kini ia memberanikan diri, menoleh ke bela-kang. Ternyata Jensen mengejarnya dengan jip.
Kendaraan itu meluncur melintasi kebun anggur,
lalu dihentikan di ujung bawah jalan yang mendaki
ke atas lereng. Jensen meloncat turun, lalu
mengacung-acungka n kepalan tinjunya ke arah
Pete. Setelah itu Pete melihat Bob dan Chang.
Rupanya begitu kudanya berontak lalu lari, kedua
106 eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com remaja itu bergegas mendatangi kuda masing-masing, melompat'ke atas pelana lalu menyusul-nya. Mereka mengitari jip serta Jensen, lalu
menyusur jalan lereng mengejar Pete. Chang yang
mengendarai kuda hitam yang lebih besar,
kelihatannya akan bisa menyusul. Sedang Bob
yang menunggang Rockingchair yang selalu
santai, nampak ketinggalan.
Tiba-tiba Nellie membelok dengan tajam,
mengelakkan batu yang menonjol di tepi jalan.
Nyaris saja Pete terjatuh. la cepat-cepat menyam-bar pangkal pelana dan berpegang kuat-kuat.
Sementara itu kudanya mempercepat lari, karena
sampai di ruas jalan yang agak datar.
Sesaat kemudian terdengar derap langkah kuda
di belakang Pete. Dengan berani Chang menyuruh
kudanya mendampingi Nellie. Tangannya meraih
tali kekang kuda Pete yang sedang gugup, dekat
bagian moncongnya. Chang memperlambat lari Ebony, sementara
tali kekang Nellie masih tetap digenggam erat-erat.


Trio Detektif 04 Misteri Hantu Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dengan begitu kuda betina itu dipaksanya
memperlambat lari. Nellie berhenti, seakan-akan
memang sudah begitu maksudnya. Ebony ber-henti di sampingnya. Kedua kuda itu terengah-engah. Tubuh mereka basah karena keringat.
"Aduh terima kasih, Chang," kata Pete
sepenuh hati. "Kuda ini tingkahnya tadi kayak mau
lari melintas gunung saja!"
Chang memandang Pete dengan tatapan aneh.
107 "Ada apa, Chang"" tanya Pete. "Ada tindakanku
yang salah tadi""
"Tidak! Aku cuma sedang berpikir," kata Chang.
"Apa sebabnya Jensen tadi membuat kudamu
kaget lalu lari""
"Itu terjadi karena kebetulan saja," jawab Pete.
"Aku dibentak-bentak olehnya, dikata-katainya
pencuri. Ia marah sekali!"
"Ketika aku melewatinya, kulihat mukanya
menggerenyot, kelihatannya seperti topeng hantu
jahat," kata Chang. "Marahnya luar biasa. Ia selalu
mengantongi revolver, untuk menembak ular
berbisa yang suka bersembunyi di bawah batu.
Dan tadi revolver itu sudah ditariknya, seakan-akan
hendak menembakmu." "Anehl" kata Pete sambil menggaruk-garuk
kepala. "Gntuk apa ia begitu marah padahal aku
kan cuma meminjam senter tua yang tak ada
harganya ini"!"
Sambil berkata begitu ditariknya senter yang
terselip di pinggang. Chang menatap benda itu
dengan heran. "Itu bukan senternya!" seru remaja itu. "Maksud-ku, bukan yang selalu dibawa dalam jip, yang
kemarin malam dipinjamkannya padaku."
"Pokoknya aku menemukannya dalam kotak
peralatan," kata Pete. "Yang ada cuma ini, lalu
kuambil karena katamu tidak apa-apa."
"Tapi sekarang ternyata pendapatku itu keliru,"
gumam Chang. "Bolehkah aku melihat senter itu
sebentar"" 108 "Ya, tentu saja." Pete menyodorkannya pada
Chang. Remaja itu menimang-nimangnya.
"Enteng sekali," katanya. "Kayaknya tidak ada
baterai di dalamnya."
"Kalau begitu tidak ada gunanya," kata Pete
kesal. "Tapi kenapa Jensen begitu marah, soal
senter yang sama sekali tak berguna""
"Mungkin " Chang hendak mengatakan
sesuatu, tapi terhalang karena kedatangan Bob.
"Ah di sini kalian rupanya," kata Bob lega.
Kemudian barulah dilihatnya air muka Pete dan
Chang yang lain dari biasanya. "Ada apa"" tanya
Bob. "Ada sesuatu yang tidak beres""
"Kami ingin melihat apa yang menyebabkan
Jensen marah-marah tadi," kata Chang dengan
pelan. Dibukanya senter lalu dimasukkannya
jarinya ke dalam. la menarik segumpal kertas tisue
dari dalamnya. Sementara Pete dan Bob memper-hatikan, dibukanya kertas tisue itu. Ternyata ada
sesuatu melingkar di dalam. Diambilnya benda itu
lalu diangkatnya. "Mutiara Hantu!" seru Pete.
"Rupanya Jensen yang mencurinya!"teriak Bob.
Bibir Chang terkatup rapat.
"Ya, kelihatannya Jensen pencurinya! Atau yang
lebih mungkin, ia menyuruh dua orang bawahan-nya mencuri," katanya. "Dan selama ini disembu-nyikannya dalam senter tua ini, ditaruh dalam
kotak peralatan jip. Memang tidak ada tempat
yang lebih cocok untuk itu! Tabung senter
ukurannya tepat sebagai tempat menyembunyikan
109 falling, dan tidak menimbulkan kecurigaan,
apalagi ditaruh di antara berbagai peralatan.
Jensen bisa dengan santai mem
bawa pergi kalung ini, tanpa perlu menghadapi risiko mengambilnya
dulu dari tempat penyembunyian yang lain."
"Memang itu tempat yang sangat baik untuk
penyembunyiannya," kata Bob. "Hanya ia tidak
memperhitungkan bahwa tadi kita memerlukan
senter." "Tidak! la tidak bisa melihat kita, dan saat itu tak
ada siapa-siapa dekat tempat pemerasan. Tak ada
alasan baginya untuk menduga kemungkinan ada
orang datang sementara ia di dalam," kata Chang.
"Aku ingin tahu, apa sebetulnya yang dilakukannya
di situ dengan orang-orang tadi! Mungkin sedang
berkomplot, merencanakan sesuatu." Chang
mengangguk-angguk. "Kini aku mulai mencurigai
beberapa hal. Misalnya, apakah tidak mungkin
Jensen sebetulnya tahu lebih banyak tentang
anggur yang rusak serta kejadian-kejadian buruk
lainnya yang terjadi selama bulan-bulan terakhir
ini!" "He," kata Pete memotong, "apakah tidak lebih
baik jika kita sekarang cepat-cepat kembali ke
rumah dengan mutiara ini, lalu melaporkan pada
Mr. Carlson serta bibimu dan memanggil sheriff
untuk menangkap Jensen""
"Persoalannya mungkin tidak semudah itu,"
kata Chang lambat-lambat. "Jensen itu orangnya
sangat berbahaya. la bisa nekat! Pasti ia akan
110 berusaha keras, mencegah agar kita tidak bisa
membongkar kesalahannya."
"Apa yang bisa dilakukan olehnya"" tanya Bob
cemas. "Sebentar kulihat saja dulu," kata Chang
sambil turun dari kudanya. "Bob, kau tinggal di sini
dan pegang tali kendali kuda-kuda kita. Pete, kita
berdua kembali dengan hati-hati, sampai ke
tempat di mana kita bisa memandang ke bawah."
Kedua remaja itu menyerahkan tali kendali kuda
masing-masing pada Bob. Setelah itu mereka
beringsut-ingsut sepanjang tepi jalan batu itu,
menuju tonjolan yang menghalangi pandangan ke
arah lembah yang ada di bawah.
Sambil merunduk, keduanya mengintip ke balik
batu. Kini mereka bisa melihat lembah yang
terhampar di bawah. Dua orang berdiri di ujung
bawah jalan, seakan-akan bertugas menjaga di
situ. Sedang jip yang dikendarai Jensen nampak
meluncur dengan cepat menuju desa kecil yang
terletak di ujung lembah. Kemudian Chang dan
Pete melihat dua mobil yang semula diparkir dekat
tempat pemerasan, kini bergerak menuju jalan di
mana mereka berada. Satu di antaranya dijalankan
sampai beberapa meter mendekati jalan itu, lalu
dihentikan. Rupanya dijadikan penghalang di situ.
Sedang mobil yang satu lagi diparkir melintang di
belakangnya. Napas Chang tersentak. "Jensen pergi mengambil kuda," katanya kaget.
"Dan anak buahnya disuruh merintangi jalan ini,
111 supaya kita tidak bisa lewat dan meloloskan diri ke
bawah. Jika hendakmencobajuga, di rintangan itu
kita harus turun dari kuda supaya bisa lewat. Dan
kalau itu kita lakukan, anak buah Jensen akan bisa
dengan mudah meringkus kita!"
"Jadi maksudmu, kita ini terjebak di sini"" tanya
Pete. "Begitulah sangkaan Jensen. Kita memang
tidak bisa kembali. Jika kita menuju terus, melintasi
punggung gunung dan turun di sebelah sana, kita
akan sampai di Hashknife Canyon. Itu sebuah
ngarai buntu. Tepatnya, buntu ke satu arah. Pada
arah yang berlawanan ada jalan setapak. Jalan itu
kemudian bersambung dengan jalan kasar, yang
akhirnya berujung di jalan besar menuju San
Francisco. "Jika kita mengambil jalan itu, dengan mudah
akan bisa dikejar oleh Jensen. Lagi pula ia pasti
sudah memasang orang-orangnya di ujung. la
bermaksud menangkap kita dan merebut kembali
mutiara ini." "Tapi apa gunanya bagi dia"" seru Pete.
"Katakanlah ia berhasil mengambilnya kembali,
kita kan pasti mengadukannya!"
"Aku yakin hal itu sudah dipikirkan olehnya."
Nada suara Chang yang tetap tenang menyebab-kan Pete bergidik. "Dan ia pasti akan mengusaha-kan sehingga kita tidak bisa mengadukannya
untuk selama-lamanya. Jangan lupa, orang-orang
itu serhua termasuk dalam komplotannya. Orang
lain takkan ada yang tahu apa yang terjadi."
112 Pete memahami maksud Chang. la meneguk
ludah, karena ngeri. ' "
"Yuk!" kata Chang dengan tiba-tiba, sambil
menarik Pete mundur. Chang kelihatannya gem-bira. Matanya berkilat-kilat. la malah nyengir!
"Aku punya akal!" katanya. "Jensen memerlu-kan waktu untuk sampai di desa, mengambil kuda
l alu kembali lagi ke sini. Menurut sangkaannya, kita
terjebak! Tapi kita akan memperdayainya. Cuma
kita harus cepat!" Mereka bergegas kembali ke tempat Bob
menunggu bersama ketiga kuda. Chang dan Pete
naik lagi ke pelana kuda masing-masing.
"Nah ada apa"" tanya Bob dengan tidak
sabar. "Jalan kita dipotong oleh Jensen," kata Pete, "la
tidak peduli dengan jalan bagaimana pokoknya
ia mau mengambil kalung mutiara ini kembali.
Rupanya orang-orang yang kita lihat tadi, semua-nya bersekongkol dengan dia."
"Tapi aku punya rencana yang akan membuat
Jensen melongo," kata Chang bersemangat.
"Gntuk itu kita harus meneruskan perjalanan. Dari
sini kita akan sampai di celah puncak gunung, dan
dari situ menurun ke ngarai. Aku duluan."
Dihardiknya Ebony, dan kuda hitam itu mulai
mendaki lagi dengan langkah cepat. Chang
memilih kecepatan yang tidak sampai melelahkan
bagi ketiga kuda itu. Bob mengambil posisi berikut,
di depan Pete. Kuda betina yang ditunggangi oleh
Bob memang Iebih santai. Tapi ia terpaksa berjalan
113 terus, karena di desak dari belakang oleh kuda
betina penggugup yang dinaiki Pete.
Dalam waktu setengah jam mereka sudah
sampai di celah puncak gunung. Mereka bisa
melayangkan pandangan ke ngarai yang terletak di
balik gunung itu. Kelihatannya gersang dan
sempit. Chang hanya berhenti sesaat di ceiah. Lalu
dihardiknya kuda untuk melanjutkan perjalanan.
Gerak menurun terasa lebih mudah. Dalam waktu
setengah jam saja mereka sudah sampai di dasar
ngarai. "Jalan ke luar dari sini lewat sebelah sana," kata
Chang sambil menuding. "Beberapa mil setelah
ujung ngarai, jalan itu menyambung dengan jalan
raya. Jensen pasti menduga kita akan mengambil
jalan itu. Karenanya sekarang kita menuju arah
berlawanan!" Chang memalingkan Ebony, dan kuda itu mulai
memilih langkah dengan hati-hati di sela batu yang
bertebaran di antara dinding ngarai yang sempit.
"Sekarang kita harus mencari dua batu
berwarna kuning, yang letaknya sekjtar enam
meter di atas ngarai ini," seru Chang dari depan.
"Posisi batu yang satu di atas bats lainnya!"
Mereka berkuda selama sepuluh menit. Ke-mudian penglihatan Pete yang tajam menyebab-kan ia paling dulu melihat kedua batu yang
dimaksudkan oleh Chang. 114 "Itu dial" katanya sambil menuding. Chang
mengangguk. la menghentikan kudanya, tepat di
bawah batu berwarna kuning itu.
"Kita turun di sini," katanya. Pete dan Bob turun
dari kuda masing-masing. Tahu-tahu Chang
menepuk punggung ketiga kuda itu, yang karena
kaget langsung lari menjauhkan diri.
"Kita jalan kaki dari sini," kata Chang menjelas-kan. "Nanti bahkan harus merangkak-rangkak. Di
ujung ngarai yang buntu ada air. Kuda-kuda kita
pasti akan menuju ke situ, untuk minum. Nanti
apabila Jensen menyadari bahwa kita berhasil
mengecohnya lalu mencari-cari dalam ngarai sini,
ia akan menemukan ketiga kuda itu. Tapi itu nanti,
beberapa jam lagi." Chang mendongak. "Dulu di sini ada jalan setapak," katanya. "Tapi
untung bagi kita sebagian besar dari jalan itu
kemudian runtuh karena tanah longsor. Tapi kalau
jalan kaki, kita masih bisa melewatinya. Kita harus
menuju ke puncak cadas kuning yang sebelah
bawah." Chang mulai mendaki dengan berhati-hati. Bob
menyusul, diikuti oleh Pete yang menolongnya
sekali-sekaii Jglau diperlukan. Beberapa menit
kemudian kefaa remaja itu sudah berdiri di atas
cadas kuning yang sebelah bawah. Bob dan Pete
tercengang, karena temyata di situ ada lubang
masuk ke dalam gunung. Lubang itu dinaungi batu
cadas kuning yang sebelah atas. Dari bawah
lubang itu sama sekali tidak nampak.


Trio Detektif 04 Misteri Hantu Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

115 "Ini gua," kata Chang. "Jaman dulu ada seorang
yang menemukan bijih emas di dalam gua ini. Lalu
ia membuat terowongan tambang, dengan mem-pergunakan gua ini sebagai pangkalnya. Kita
sekarang menuju ke terowongan itu. Tapi harus
cepat, sebelum Jensen atau orang-orangnya
sempat melihat kita di sini.'"
Sambil berkata begitu, Chang merunduk lalu
masuk ke dalam gua. Bob dan Pete menyusul
masuk ke liang gelap itu, tanpa mengetahui ke
mana mereka saat itu menuju dan apa yang akan
terjadi kemudian. 116 Bab 10 TERTANGKAP Chang mendului ke ujung belakang gua, yang
ter nyata cukup lapang ketika mereka sudah masuk
di dalam. Diterangi cahaya senternya, Chang
menunjukkan mulut terowongan tambang yang
ada di situ, yang digali bertahun-tahun yang silam.
Dalam terowongan itu masih ada balok-balok kayu
penopang, langit-langit, walau di sana-sini ada juga
yang runtuh. "Sekarang kuceritakan rencanaku," kata Chang.
"Di bawah gunung ini, terowongan tambang
ternyata bercabang-cabang. Ketika aku baru tiba di
sini, aku sangat tertarik pada tambang-tambang
kuno. Ada seorang laki-laki tua di sini Dan
Duncan namanya. Orangnya bertubuh kecil, dan
sudah keriput. Seumur hidup kerjanya mengorek-ngorek bijih emas yang masih tersisa dalam
tambang-tambang kuno. "la mengenal lorong-lorong bawah tanah ini,
seperti kita mengenal jalan-jalan di kota kita
sendiri. la sekarang sakit dan berbaring di rumah
sakit. Tapi sebelum itu ia sempat mengajakku
menelusuri lorong-lorong tambang kuno ini. Dan
apabila tahu jalannya, dari gua ini kita bisa menuju
117 gua tempat penyimpanan anggur di seberang
gunung!" "Wah!" kata Pete kagum. "Jadi kau bermaksud
mengajak kami menyusur tambang ini, sementara
Jensen serta anak buahnya mencari-cari kita di
luar"" "Tepat," kata Chang. "Rupanya para pekerja
banyak yang bersekongkol dengan Jensen. Tapi
lewat jalan ini kita nanti akan muncul satu mil saja
dari rumah. Jadi kita bisa cepat-cepat pulang untuk
menyampaikan laporan, sebelum ada yang
sempat menghalang-halangi.Di dalam ada dua
bagian yang sulit. Hanya anak-anak atau orang
dewasa bertubuh kecil saja yang bisa melewati
tempat itu. Tapi ketika kucoba bersama Dan enam
bulan yang lalu, ternyata kami bisa lewat celah
sempit itu." Bob agak cemas. Jalan yang harus ditempuh di
bawah tanah kelihatannya panjang sekali, lagi pula
di tengah kegelapan yang pekat. la merogoh
kantongnya, meraba kapur tulisnya yang berwarna
hijau. "Apakah tidak lebih baik jika jalan yang kita lalui
diberi tanda"" katanya mengusulkan. "Jadi kalau
nanti tersesat, kita bisa menemukan jalan
kembali." "Kita takkan tersesat," kata Chang. "Sedang
apabila kita memberi tanda, Jensen mungkin
menemukannya nanti, sehingga ia akan bisa
menyusul kita dengan gampang."
118 Chang kedengarannya sangat yakin akan
kemampuannya. Tapi Bob tahu, kemungkinan
tersesat selalu ada. Bahkan apabila jalan yang
ditempuh rasanya sudah dikenal baik. Pete juga
berpendapat begitu. "Begini, Chang," katanya, "kami mempunyai
tanda rahasia, berbentuk tanda tanya. Bagaimana
jika kita menandai jalan yang dilewati dengan tanda
khusus itu, tapi juga dengan tanda-tanda panah
yang menunjuk ke berbagai arah. Jadi cuma kita
saja yang tahu pasti, tanda mana yang menunjuk-kan arah yang sebenarnya. Kalau ada orang masuk
ke sini mengejar kita, ia pasti banyak kehilangan
waktu karena mengikuti tanda-tanda palsu."
Usul itu disetujui oleh Chang.
"Lagi pula Jensen tidak tahu-menahu tentang
tambang ini," katanya menambahkan. "Begitu
pula kenyataan bahwa dari sini ada hubungan
langsung ke gua tempat penyimpanan anggur.
Tapi kalian memang benar ada saja kemung-kinan kita tersesat di dalam nanti. Sebaiknya di luar
gua kita tidak membubuhkan tanda apa-apa,
karena Jensen atau anak buahnya jangan sampai
bisa cepat mengetahui di mana kita berada. Tanda
baru kita bubuhkan apabila sudah berada dalam
Hang tambang." Mereka lantas masuk ke dalam liang tambang
kuno itu. Jalan yang dilalui sempit, dan di beberapa
bagian rendah. Sekali-sekali mereka sampai di
persimpangan atau percabangan lorong. Simpang
atau cabang itu dulu dibuat karena pekerja
119 tambang mengikuti lajur emas yang menyimpang.
Bob menandai arah yang benar dengan tanda
tanya. la juga membuat tanda-tanda panah yang
besar, menunjuk ke lorong-lorong yang menyesat-kan. Bagi orang yang tidak mengetahui rahasianya,
tanda-tanda itu pasti membingungkan.
Tapi kemudian mereka sampai di suatu tempat
yang langit-langitnya runtuh sebagian. Itu rupanya
terjadi baru beberapa waktu yang lalu. Liang nyaris
tertutup sama sekali, tertimbun batu dan tanah.
Chang berhenti berjalan. "Sekarang kita harus merangkak," katanya.
"Aku duluan!" la mengambil sesuatu benda yang terselip d
i pinggangnya, lalu menyerahkannya pada Pete.
"Ini senter yang di dalamnya ada kalung
mutiara," katanya. "Kau saja yang memegangnya,
Pete. Barang itu cuma akan mengganggu
kebebasan gerakku saja, apabila aku nanti harus
menggali jalan tembus."
"Baiklah," kata Pete. Diselipkannya senter berisi
benda berharga itu ke pinggangnya. la mengen-cangkan ikat pingggannya, supaya senter itu tidak
terjatuh dengan tidak sengaja. "Tapi aku lebih
senang jika memegang senter yang bisa menyala."
"Ya itu memang problem, karena senter kita
cuma dua," kata Chang. "Bob, bagaimana jika
sentermu kauberikan saja pada Pete! Aku
merangkak paling depan, dengan senterku.
Setelah itu kau menyusul. Pete paling belakang,
dengan senter pula. Dengan begitu kau akan
120 diterangi senternya, sehingga bisa melihat jalan."
Bob tidak begitu setuju terhadap usul itu. Dalam
gelap, rasanya lebih enak apabila memegang
senter sendiri dan tidak tergantung pada bantuan
orang lain. Tapi saran Chang memang baik. Karena itu
diserahkannya senter pada Pete. Dan kemudian
ternyata Bob bisa merangkak dengan lebih baik,
karena tidak perlu repot-repot memegang senter
dengan tangan sebelah. Hal itu menguntungkan
baginya, ka*rena kakinya yang baru sembuh mulai
terasa pegal. Bagian lorong yang langit-langitnya runtuh itu
panjangnya tak sampai seratus meter. Tapi
rasanya mereka tidak habis-habisnya merangkak
di situ. Chang yang paling di depan kadang-kadang terpaksa merebahkan diri lalu beringsut-ingsut maju. Bob dan Pete mengikuti dari
belakang. Kadang-kadang Chang harus berhenti
sebentar, menggali tanah untuk melebarkan
tempat lewat. Atau mendorong batu-batu ke
samping. Sekali Bob menyenggol langit-langit. Seketika
itu juga sebongkah batu yang tidak begitu besar
jatuh menimpa punggungnya, sehingga ia tidak
bisa bergerak maju maupun mundur. Bob
memaksa dirinya agar jangan gugup, sementara
Pete merangkak mendekati, lalu meraihkan tangan
ke depan untuk menggeser batu itu.
"Terima kasih, Pete," kata Bob dengan napas
sesak, lalu terus merangkak lagi. Pete harus
121 mengeruk tanah di dasar lorong dulu, supaya ia
tidak mengalami nasib yang baru saja menimpa
Bob. Napas Bob sudah tersengal-sengal, ketika
akhirnya mereka tiba di suatu tempat di mana
mereka bisa berbaring menjulurkan kaki sambil
bersandar ke dinding lorong.
Di atas kepala mereka terpasang balok-balok
yang sudah tua, penopang langit-langit lorong itu.
Diterangi cahaya senter, nampak balok-balok itu
melengkung karena tertekan bobot gunung yang
ada di atasnya. Tapi sejak bertahun-tahun tidak
terjadi apa-apa. Karenanya tak ada gunanya
mengkhawatirkan penopang itu akan patah, justru
pada saat mereka ada di bawahnya.
Selama beberapa waktu ketiga remaja itu
terkapar di situ untuk beristirahat. Kemudian
Chang membuka mulut. "Itu tadi bagian yang paling berat," katanya.
"Manti masih ada satu tempat lagi yang juga sulit
dilalui, tapi tidak sesulit tadi. Dan satu hal sudah
pasti " kata Chang terkikik pelan. "Jensen takkan
mungkin bisa mengejar kita lewat sini. Tubuhnya
terlalu besar." Sambil beristirahat, Chang menceritakan seja-rah tambang di mana mereka saat itu berada.
"Masih adakah emas di sini sekarang"" tanya
Bob dengan penuh minat. "Masih ada sedikit, tapi untuk mengambilnya
diperlukan linggis, dan barangkali juga dinamit,"
jawab Chang. "Nah kita lanjutkan saja
122 perjalanan kita. Sekarang pasti sudah malam.
Tentunya Bibi Lydia mulai cemas, karena kita
belum muncul." Bob tidak lupa membubuhkan tanda-tanda
tanya sepanjang lorong yang dilalui, dicampur
dengan tanda-tanda panah yang merupakan
petunjuk palsu. Tapi sekali Chang agak bingung.
Saat itu mereka sampai di suatu tempat yang
menghadapi tiga lorong yang menuju ke arah yang
berlain-lainan. Akhirnya ia memilih lorong yang
paling kanan. Tapi setelah sekitar dua ratus lima
puluh meter, lorong itu tidak bisa dilalui lagi karena
langit-langit di situ runtuh dan menutupi jalan
sepenuhnya. "Keliru," kata Chang, sambil mengarahkan sinar
senternya ke lantai lorong. "Lihatlah!"
Nampak tulang-belulang memutih kena sinar
senter. Sesaat Bob dan Pete kaget, karena
menyangka y ang mereka lihat itu kerangka
manusia. Tapi ternyata bukan, melainkan tulang-belulang seekor binatang yang matia
tertimpa langit-langit yang runtuh.
"Seekor keledai, yang dipakai untuk mengang-kut bijih ke luar," kata Chang menjelaskan.
"(Jntung pekerja yang menuntunnya tidak ikut
tertimpa. Atau mungkin saja ia pun tertimbun
langit-langit. Tidak ada yang tahu, karena tempat
ini tidak pernah digali untuk menyelidikinya."
Bob menatap tengkorak keledai itu. la bergidik.
la merasa lega, ketika Chang mengajak mereka
pergi lagi dari situ. 123 Setelah itu Chang kelihatannya tidak ragu-ragu
lagi memilih jalan yang benar. Dengan cepat ia
bergerak mendului, lewat sejumlah besar lorong
yang bercabang-cabang. Tahu-tahu ia berhenti,
sehingga Bob yang ada di belakangnya memben-tur dirinya.
"Kita sampai di Kerongkongan," kata Chang
menjelaskan. "Kerongkongan" Apa itu"" tanya Pete agak
bingung. "Suatu celah yang terjadi dengan sendiri di
tengah batu cadas," kata Chang. "Lewat celah itu
kita akan sampai dalam lorong tambang yang
dibuat dari balik gunung. Tapi celah itu sempit dan
tidak rata!" Chang menyorotkan senternya ke suatu celah
yang kelihatannya sempit sekali. Tingginya pas
untuk seorang remaja bertubuh langsing yang
berdiri tegak. Tapi untuk melewatinya, ia harus
bergerak miring. Kalau tidak, tidak bisa!
"Ya kita harus beringsut-ingsut menyamping
lewat situ," kata Chang, seolah-olah bisa membaca
pikiran kedua temannya. "Kau kau yakin celah itu tembus ke lorong di
balik ini"" tanya Bob. Makin lama ia berada di
bawah tanah, semakin tidak enak saja perasaan-nya. Dan bayangan harus beringsut-ingsut melalui
celah sempit itu, sama sekali tidak disukainya.


Trio Detektif 04 Misteri Hantu Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ya, betul," kata Chang menegaskan. "Aku
sudah pernah lewat di situ. Lagi pula, tidakkah
124 kaurasakan arus angin" Dari sebelah sana ada
udara masuk ke sini."
Katanya memang betul. Terasa, hembusan
angin membelai pipi. "Kita harus melewati celah itu,!' sambung
Chang, "karena itulah satu-satunya lybang yang
menghubungkan kedua lorong tambang yang
dibuat dari kedua sisi gunung ini. Yang bisa lewat di
situ cuma anak-anak saja, atau orang dewasa yang
bertubuh kecil. Mudah-mudahan saja selama
enam bulan belakangan ini aku tidak terlalu cepat
tumbuh! Yah sekarang aku saja yang mencoba
paling dulu. Kalian berdua menunggu sampai aku
sudah ada di seberang. Kalau aku sudah berhasil,
akan kunyalakan senterku tiga kali. Lalu kau yang
menyusul, Bob; Aku dan Pete akan menerangi dari
kedua sisi, supaya kau bisa melihat lebih jelas.
Kalau Bob sudah lewat, akan kunyalakan senterku
lagi tiga kali untuk memberi isyarat bahwa kau
harus menyusul, Pete."
Pete dan Bob menyetujui rencana itu. Lalu
Chang menyelipkan tubuhnya ke Kerongkongan,
sementara senter dipegang dengan tangan kanan.
Dengan hati-hati ia menggeser tubuhnya ke
samping. Dijaganyya benar agar jangan sampai
terjadi gerakan mengejut, karena itu pasti akan
menyebabkan tubuhnya terjepit dalam celah
sempit yang tidak rata itu.
Pete dan Bob melihat cahaya senter yang
dipegang Chang bergerak-gerak. Cahaya itu tidak
nampak jelas, karena boleh dibilang hampir selalu
125 tertutup tubuh anak itu. Tadi Chang mengatakan,
apabila Kerongkongan sudah dilewati, mereka
sudah hampir sampai di bagian gua di mana
disimpan tahang-tahang anggur. Dari tempat itu,
dalam waktu paling lama satu jam mereka akan
sudah sampai di rumah kembali.
Chang sebenarnya maju dengan cukup lancar.
Tapi menurut perasaan kedua remaja yang
menunggu di balik Kerongkongan, lama sekali
waktu berlalu sebelum akhirnya nampak sinar
terang memancar tiga kali sebagai tanda bahwa
Chang telah sampai di seberang dengan selamat.
"Oke, Bob sekarang giliranmu," kata Pete.
"Pasti gampang untukmu, karena kau lebih kecil
dari kami berdua." "Betul, pasti gampang," jawab Bob. Padahal
tenggorokannya terasa kering, karena ngeri.
"Tolong sinari jalan dari sini,"
Sementara Bob beringsut menyamping mema-suki Kerongkongan, Pete menyuiuhi jalannya
dengan senter yang dipegang dekat ke lantai. Dari
seberang nampak samar cahaya senter Chang.
Pete memperhatikan Bob beringsut-ingsut
dengan pelan, makin la ma makin dalam masuk ke Kerongkongan. Sesaat kemudian cahaya dari
seberang tidak nampak lagi, karena celah kini
sama sekali terisi tubuh Bob. Pete masih
membiarkan senternya menyala terus selama
beberapa saat. Kemudian dipadamkan, karena
menurut perasaannya Bob kini pasti sudah lebih
dekat ke tempat Chang menunggu.
126 Dengan tegang Pete menunggu isyarat sorotan
senter sebanyak tiga kali. Agak lama ia menunggu,
tapi isyarat itu tidak datang-datang juga. Entah apa
sebabnya! Tahu-tahu ia mendengar teriakan samar, disusul
kata-kata, "Pete! Jangan "
Itu suara Chang. Pete merasa mengenalinya,
walau agak kabur bunyinya karena terhalang batu.
Seruan itu terhenti dengan tiba-tiba, seakan-akan
ada yang menyekap mulut Chang.
Tapi Pete merasa bisa menebak apa yang
hendak diteriakkan oleh temannya itu. Chang
hendak menyerukan, 'Jangan ke sini!'
Ditunggunya beberapa saat di balik celah.
Kemudian dilihatnya nyala senter tiga kali
berturut-turut. Setelah gelap sebentar, nampak lagi
nyala senter. Kembali tiga kali berturut-turut.
Tapi nyalanya lebih singkat daripada tadi, ketika
Chang memberi isyarat menyuruh Bob menyusul.
Pete sadar, itu pasti jebakan. Bukan Chang atau
Bob, tapi orang lain yang memberi isyarat padanya
untuk datang. Dan isyarat itu, ditambah teriakan
tadi, menyebabkan Pete tahu apa yang terjadi di
seberang. Chang dan Bob terperangkap!
127 Bab 11 HARTA DALAM TENGKORAK Tepat pada saat itu Jupiter Jones sedang
berbicara dengan Miss Lydia Green lewat hubung-an telepon.
"Apa" Mereka bertiga menghilang"" tanya
Jupiter kaget. "Ya, tahu-tahu lenyap!" Suara wanita itu
terdengar sangat cemas. "Mereka tadi pergi naik
kuda. Rencananya hendak pergi sepanjang hari,
melihat-lihat lembah. Kami di sini sangat repot
karena sheriff, para wartawan dan entah urusan
apa lagi. Jadi pada saat makan malam baru kami
sadari bahwa mereka belum kembali. Lalu ketika
dicari, ternyata mereka tidak ada di lembah.
Bahkan kuda-kuda mereka pun tidak berhasil
ditemukan sampai sekarang."
Sekali itu otak Jupiter kelihatannya tidak bisa
bekerja dengan lancar seperti biasanya. la hanya
bisa mengatakan, "Kalau begitu, di mana
mereka"" "Menurut perkiraan kami, mereka ada dalam
tambang," jawab Miss Green. "Di bawah gunung di
sini ada lorong tambang yang banyak cabangnya.
Sebagian dari lorong itu kami manfaatkan untuk
128 menyimpan minuman anggur produksi kami
sampai jadi. Menurut dugaan kami, Chang
mungkin mengajak kedua temanmu ke situ untuk
melihat-lihat Kini sudah dikerahkan beberapa
orang ke situ, untuk mencari mereka."
Jupiter mencubit bibirnya. Kini otaknya mulai
bekerja. la berpikir. Mutiara Hantu lenyap, dan kini
disusul kedua rekannya bersama Chang. Mungkin
sama sekali tidak ada hubungan antara kedua
kejadian, itu tapi siapa tahu"!
Jupiter memutar otak. Ini keadaan darurat, dan
untuk itu diperlukan tindakan kilat.
"Semua orang yang tersedia sudah Anda
kerahkan untuk mencari mereka"" tanyanya
kemudian pada Miss Green.
"Ya, tentu saja," jawab wanita itu. "Semua
pekerja perkebunan yang belum minggat, serta
para pekerja di pabrik anggur bahkan seluruh
pembantu di rumah sudah kami kerahkan. Kami
memeriksa lorong-lorong tambang di mana
disimpan tahang-tahang anggur. Kami juga
menyuruh orang-orang mencari ke gurun pasir di
luar Verdant Valley karena mungkin ketiga
remaja itu berkuda ke sana."
"Bilang pada orang-orang yang mencari, supaya
memperhatikan tanda berupa tanda tanya," kata
Jupiter, la mengenal kedua rekannya. Jadi ia tahu,
di mana pun mereka berada pasti akan berusaha
membubuhkan tanda lambang Trio Detektif di
tempat itu. 129 "Tanda tanya"" tanya Miss Green. Dari nada
suaranya terdengar bahwa ia tidak mengerti.
"Ya, betul tanda tanya," kata Jupiter
menegaskan sekali lagi. "Kemungkinannya dibuat
dengan kapur tulis. Jika ada yang menemukan
satu tanda tanya atau lebih, suruh orang itu
melaporkan dengan segera!"
"Aku masih belum mengerti," kata Miss Green
dengan nada bingung. "Saya tidak bisa menjelaskannya lewat telepon,"
kata Jupiter. "Saya akan segera datang ke sana.
Tolong jemput kami dengan mobil di pelabuhan
udara. Saya akan datang deng
an orang lain ayah Bob Andrews. Saya tahu, pasti ia mau
datang." "Ya ya," kata Miss Green terbata-bata, "tentu
saja! Aduh, mudah-muda Han" saja mereka tidak
mengalami cedera." Setelah itu Jupiter menelpon ayah Bob.
Mula-mula Mr. Andrews kaget mendengar kabar
bahwa anaknya hilang. Tapi ia langsung setuju,
Jupiter bergegas ke luar untuk meminta pada
Konrad agar menolongnya menjaga toko besok,
dan sekaligus minta tolong diantarkan dengan
mobil ke pelabuhan udara.
Jupiter langsung bertindak. Tapi ia masih belum
tahu pasti apa yang akan dilakukan berikutnya. Ia
merasa sangsi bahwa Bob, Pete dan Chang hanya
tersesat dalam tambang, sehingga bisa cepat
ditemukan. 130 Dugaannya itu memang tidak keliru: Tak lama
kemudian Bob dan Chang sudah diselundupkan
melewati gerombolan pencari yang sibuk meme-riksa lorong-lorong tambang di sisi lembah
Verdant Valley, lalu dibawa pergi tanpa diketahui
para pencari. Hal itu bisa dilakukan karena kedua
remaja itu dimasukkan ke dalam tahang anggur
yang besar. Padahal tahang anggur merupakan
pemandangan yang biasa di perkebunan anggur
itu, sehingga tidak ada yang menaruh rasa curiga
ketika melihat beberapa tahang dinaikkan ke atas
truk dan dibawa pergi. Jadi sementara orang-orang sibuk mencari
mereka, Bob dan Chang sudah diangkut pergi oleh
Jensen ke suatu tempat yang belum mereka kenal.
Sedang Pete, yang saat itu menyimpan Mutiara
Hantu, gentayangan sendiri menyusur lorong-lorong tambang di balik Kerongkongan. Tidak ada
yang mencari di sana, karena kecuali Jensen serta
anggota-anggota komplotannya, tidak ada yang
tahu bahwa ketiga remaja" itu sebelumnya
Ynenyeberangi puncak gunung lalu turun ke ngarai
yarig dikenal dengan nama Hashknife Canyon.
Begitu pula bahwa ada jalan dari lorong-lorong
tambang sebelah sana ke tempat penyimpanan
anggur di sebelah sini. Begitu ia menyadari bahwa Bob dan Chang pasti
disekap orang yang sudah menunggu di balik
Kerongkongan, dengan segera Pete mundur lalu
memasang telinga dan membuka mata lebar-lebar. Ia menunggu munculnya tanda bahwa ada
131 orang datang mengejarnya lewat celah sempit itu.
Tapi tak nampak cahaya memancar di situ. Pete
lantas menduga, kedua kawannya pasti disekap
orang-orang dewasa yang kini tidak berani
mengambil risiko menyusup ke dalam lewat
Kerongkongan, karena takut tubuh mereka terlalu
besar sehingga terjepit di situ.
Pete tahu, ia tidak bisa menunggu terus di situ,
menunggu orang-orang itu pergi. Satu-satunya
harapan baginya hanyalah kembali lagi ka
Hashknife Canyon, lalu bersembunyi di sela-sela
batu di situ sampai besok. Saat itu pasti akan
datang orang-orang dari Verdant Valley ke situ
untuk mencari mereka. Dan Petelnerasa bahwa ia
harus tetap bebas sampai bisa melaporkan segala
yang diketahuinya. Dengan begitu ia mungkin
akan bisa menolong Bob dan Chang.
la meyakinkan bahwa senter tua yang berisi
kalung Mutiara Hantu masih terselip di pinggang-nya. Setelah itu sambil membisikkan doa semoga
senternya cukup lama nyalanya, ia mulai merintis
jalan kembali. Klni desakan Bob untuk membubuhkan tanda-tanda pada jalan yang dilewati ternyata ada
gunanya. Pete mencari-cari sebentar, untuk
menemukan tanda tanya demi tanya yang dibuat di
atas batu dengan kapur berwarna hijau. Sedang
tanda-tanda panah tidak diacuhkannya, karena ia
tahu bahwa itu dibuat oleh Bob guna mengecoh
orang-orang yang mungkin mengejar mereka
lewat situ. 132 Tapi walau begitu, sekali Pete tersesat. Ketika
Chang mengajak rnereka memasuki lorong yang
kemudian ternyata buntu karena langit-langitnya
runtuh, Bob membubuhkan tanda-tanda di situ
seakan-akan itulah jalan yang benar. Dan tanda-tanda itu tidak, dihapus lagi. Kini Pete mengikuti
tanda-tanda itu. Tahu-tahu langkahnya terhenti, di
depan reruntuhan langit-langit. Dan dekat kakinya
terserak tulang-tulang keledai yang mati tertimpa
batu.

Trio Detektif 04 Misteri Hantu Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pete membalikkan tubuh. Maksudnya hendak
kembali. Tapi tiba-tiba ia tertegun, karena ada
gagasan yang melintas dalam benaknya. Apa
untungnya jika mutiara hantu itu tetap ada
padanya" Mungkin saja ia nanti tertangkap. Jika
mutiara itu tidak ada padanya, Jensen pasti takkan
bisa merebutny a kembali. Pete berpikir secepat kilat. Jika kalung itu
disembunyikan di bawah batu risikonya terlalu
besar. Dalam lorong batu-batu kelihatannya sama
semua. Sedang apabila batu tempat ia menyem-bunyikan kalung diberi tanda dengan kapurnya
yang berwarna biru, ada kemungkinan tanda itu
nanti ketahuan. Jika dalam lorong itu ada sesuatu
yang gampang diingat, tapi di pihak lain tidak
menyolok Sinar senternya menerangi tengkorak keledai
yang sudah memutih. Nah, itu dia! Tengkorak itu
begitu biasa kelihatannya, sehingga sama sekali
tidak menarik perhatian orang. Tapi Pete akan bisa
mengingatnya dengan mudah.
133 Dengan cepat ia mengambil kalung yang masih
terbungkus saputangan kertas dari tabung senter,
lalu menyelipkannya ke dalam rongga tengkorak
keledai. Setelah itu ia meneruskan langkah surut,
ke arah mulut terowongan. Sesampainya di
persimpangan yang terdiri dari tiga lorong, ia
berhenti kembali. Lagi-lagi ia mendapat akal baru.
Untuk apa ia repot-repot membawa senter yang
sudah kosong dan tidak bisa dinyalakan. Entah apa
sebabnya tapi tiba-tiba ia mendapat firasat
untuk mengisi tabung kosong itu dengan kerikil,
lalu menyembunyikannya. Dipertimbangkannya,
senter itu nanti bisa dimanfaatkan untuk menyesat-kan apabila ia sampai tertangkap.
Ia memasukkan beberapa butir kerikil ke dalam
saputangannya, yang kemudian dimasukkan ke
dalam tabung senter. Senter itu ditaruhnya di balik
sebongkah batu. Tidak jauh dari batu itu diaturnya
asal jadi beberapa buah batu yang lebih kecil.
Apabila diperhatikan agak seksama, barulah
ketahuan bahwa batu-batu yang diatur itu
membentuk tanda panah yang menunjuk ke batu
besar di mana ia tadi menyembunyikan senter di
belakangnya. Dengan begitu apabila perlu nanti, ia
akan bisa menemukan tempat itu kembali.
Setelah itu selesai, Pete cepat-cepat melangkah
lagi, sampai di tempat yang langit-langitnya
sebagian turun. Di situlah ia bersama kedua
temannya tadi terpaksa merangkak-rangkak maju
supaya bisa lewat. 134 Pete sudah berjam-jam di bawah tanah saat itu.
Perutnya sudah perih karena lapar. Ia sudah bosan
berada di tengah kegelapan. Tapi walau begitu, ia
tidak mau bergegas-gegas. la tahu jika ia bergegas,
ada kemungkinan nanti terjepit di situ dan
mungkin untuk selama-lamanya. Satu-satunya
cara melewati tempat itu dengan aman, ialah
beringsut-ingsut dengan pelan.
Pete menggeserkan senter yang tergantung
pada ikat pinggangnya ke samping, supaya
geraknya bisa bebas. Setelah itu ia maju sambil
berlutut, kemudian sambil tiarap.
Sekali sebongkah batu kecil jatuh dari langit-langit, tepat di depannya. Nyaris saja ia kena.
Sesaat jantungnya seakan berhenti berdenyut. la
mengira habis riwayatnya saat itu, karena tertimpa
langit-langit runtuh. Dirasakannya tanah di bawah
perutnya bergetar pelan. la tiarap sambil menahan
napas. Tapi kecuali batu kecil tadi, tidak ada lagi
yang jatuh. Getaran pelan berhenti lagi. Pete
meraihkan tangan ke depan, lalu menggulingkan
batu kecil itu ke samping.
Napas Pete memburu. Ia berbaring tanpa
bergerak selama beberapa saat, untuk menenang-kan perasaan. Ia tahu apa yang terjadi tadi. Semua
orang yang tinggal di daerah California mengenal
retakan San Andreas. Itu merupakan retakan besar
di kulit bumi, yang memanjang di bawah tanah
daerah California sebelah barat. Gempa bumi yang
dahsyat tahun 1906 yang menghancurkan San
Francisco, disebabkan karena terjadi pergeseran
135 pada retakan kerak bumi itu. Gerakan pada retakan
itu pula yang mengakibatkan gempa bumi hebat di
Alaska tahun 1964, yang menyebabkan di
beberapa tempat tanah amblas atau terangkat
sampai lebih dari sepuluh meter'. Setiap tahun
terjadi beratus getaran kecil kadang-kadang
begitu pelan, sehingga hanya bisa diketahui lewat
instrumen-instrumen pencatat gempa bumi.
Getaran yang dirasakan Pete merupakan
pergeseran permukaan bumi sepanjang retakan
Andreas. Gntung baginya, peristiwa itu tidak
membawa akibat apa-apa kecuali perasaan gelisah
selama beberapa detik saja. Di tempat lain
akibatnya lebih besar. Tapi itu belum diketahui
olehnya saat itu. Dengan napas memburu, Pete melanjutkan
gerakan merangkak sa mpai ke tempat di mana ia
bisa kembali berdiri tegak. Setelah itu ia lari secepat
mungkin, mengikuti tanda-tanda yang dibuat oleh
Bob. Akhirnya ia sampai di gua di awal lorong.
Gua itu kelihatan kosong dan sunyi. Sedang di
luar, kegelapan malam dirasakannya seperti tabir
yang menghalangi. Dengan hati-hati Pete melangkah ke luar.
Setelah setiap langkah ia berhenti sebentar, lalu
memasang telinga. Tapi ia tidak mendengar
apa-apa. Senter tidak dinyalakannya. Karena itu
mulut gua hanya nampak berupa tempat yang
sedikit lebih terang di tengah kegelapan pekat.
136 Begitu sampai di luar gua, Pete berhenti sejenak.
la hendak membiasakan matanya dulu pada
pemandangan malam berbintang.
Tepat pada saat itu ada orang meloncat dari
balik batu di luar gua, lalu memiting Pete dari
belakang. Mulutnya disekap tangan yang kekar.
137 Bab 12 PERJUMPAAN DENGAN MR.WON Bob dan Chang berada dalam sebuah ruangan.
Ruangan itu tidak berjendela. Pintunya hanya ada
sebuah. Pintu itu terkunci. Kedua remaja itu sudah
mencoba membukanya tapi sia-sia saja.
Pakaian mereka lusuh, sebagai akibat merang-kak-rangkak dalam lorong tambang. Tapi tanah
yang semula melekat sebagian besar sudah
dibersihkan. Dan mereka sudah mencuci tubuh.
Mereka juga sudah makan. Hidangannya
makanan Cina sebaki penuh. Bob belum biasa
merasakan makanan seperti itu. Tapi menurut
pendapatnya, makanan itu enak.
Sebelum makan, mereka tidak banyak berca-kap-cakap. Perut terlalu melilit-lilit rasanya, karena
lapar. Tapi kini, setelah perut kenyang, ketegangan
mereka agak menyusut sedikit.
"Di mana kita sekarang"" tanya Bob.
"Dalam sebuah bilik bawah tanah di sebuah kota
besar. Mungkin di San Francisco," jawab Chang.
"Dari mana kau mengetahuinya"" tanya Bob
dengan heran. "Mata kita tadi kan ditutup. Kenapa
kau menebak San Francisco" Kan mungkin juga di
tempat lain." 138 139 "Aku merasakan lantai bergetar, ketika ada
truk-truk besar lewat di luar. Truk besar, artinya
kota besar. Makanan tadi diantar masuk oleh
pelayan-pelayan bangsa Cina. Di San Francisco
terdapat pemukiman masyarakat Cina yang
terbesar di seluruh Amerika Serikat. Kita sekarang
berada di sebuah bilik rahasia, di rumah seorang
Cina yang kaya raya."
Bob menggeleng-geleng karena heran.
"Dari mana lagi kau mengetahui hal itu""
"Dari makanan. Hidangan tadi dibuat dengan
gaya Cina asli, dan dimasak oleh tangan ahli. Dan
hanya orang kaya saja yang bisa menggaji juru
masak yang ahli." "Kau cocok sekali jika berpasangan dengan
Jupiter Jones," kata Bob kagum. "Coba kau
tinggal di Rocky Beach, sehingga bisa bergabung
dengan Trio Detektif."
"Aku mau saja," kata Chang dengan nada
kepingin. "Di Verdant Valley, suasananya sangat
sunyi. Di Hongkong aku banyak teman. Tapi
sekarang Ah, tak lama lagi aku akan sudah
menjadi dewasa, lalu akan mengelola perkebunan
anggur seperti yang dikehendaki bibiku yang
terhormat." Setelah diam sesaat, ia menambah-kan, "Itu jika keadaan masih memungkinkan."
Bob mengerti maksudnya. Jika mereka bisa
terlepas dari kesulitan yang sedang dihadapi. Bob
tidak tahu, apa sebetulnya yang mereka hadapi
saat itu. Tapi Jupiter ternyata memang tepat
perkiraannya mengenai satu hal. Misteri yang
menyelubungi, tidak cuma terbatas pada muncul-nya hantu di sebuah rumah kosong saja!
Renungan kedua remaja itu terganggu oleh
bunyi pintu dibuka. Seorang laki-laki bangsa Cina
yang sudah agak tua berdiri di ambang pintu. ta
memakai pakaian tradisional Cina.
"Ayo ikut!" katanya.
"Ikut ke mana"" tanya Chang dengan berani.
"Apakah tikus bertanya ia akan dibawa ke mana,
apabila tubuhnya dicengkeram rajawali"" tukas
laki-laki itu. "Ayo!"
Sambil meluruskan bahu, Chang melangkah ke
luar. Bob mengikuti teladannya.
Mereka mengikuti laki-laki tua itu, menyusur
sebuah gang, lalu masuk ke dalam bilik lift yang
sempit. Lift itu membawa mereka jauh ke atas, dan
akhirnya berhenti di depan sebuah pintu berwarna
merah. Laki-laki tua itu menggeser pintu lift ke
samping, membuka pintu merah lalu mendorong
Bob ke luar. "Sekarang masuk!" perintahnya. "Bicara
dengan terus terang, kalau tidak ingin ditelan
rajawali!" Bob dan Chang ditinggal sendi
ri. Mereka berada dalam sebuah ruangan luas. Ruangan itu berben-tuk lingkaran, dibatasi tirai-tirai merah bersulam
pemandangan yang indah-indah, terbuat dari
benang emas. Bob melihat naga, kuil-kuil Cina
serta pohon-pohon yang kelihatannya seperti
melambai-lambai ditiup angin.
140 "Kalian mengagumi gorden-gordenku"" Terde-ngar suara seseprang menyapa mereka. Suara itu
lirih dan tua, tapi bicaranya jelas. "Umurnya sudah
lima abad." Kedua remaja itu memandang ke seberang
ruangan. Ternyata mereka tidak berdua saja di situ.
Seorang laki-laki tua duduk di sebuah kursi besar
yang berukir-ukir dengan sandaran lengan. Kursi
itu terbuat dari kayu hitam, dengan lapisan
bantal-bantal empuk. Laki-laki tua itu mengenakan jubah yang
panjang, seperti yang dipakai raja-raja Cina jaman
dulu. Bob pernah melihat gambar-gambar mereka
dalam buku sejarah. Orang itu berparas kurus.
Kulitoya kuning pucat, seperti mutiara yang sudah
luntur. la menatap kedua remaja itu dari balik kaca
mata bergagang emas. "Majulah," kata laki-laki tua itu. "Duduk,
anak-anak muda yang sangat merepotkan diriku!"
Bob dan Chang berjalan di atas permadani yang
begitu tebal, sehingga kaki mereka terasa seperti
tenggelam di dalamnya. Dua bangku kecil sudah
tersedia untuk mereka. Keduanya duduk, sambil
menatap laki-laki tua itu dengan heran.
"Kalian boleh menyebutku Mr. Won," kata
laki-laki tua bangsa Cina itu pada mereka.
"Umurku seratus tujuh tahun."
Bob bisa membayangkan bahwa keterangan itu
benar, karena baru saat itulah ia melihat ada orang
yang tampangnya setua itu. Tapi walau begitu, ia
141 tidak nampak uzur. Sementara itu Mr. Won
menatap Chang. "Belalang kecil," kata laki-laki tua itu, "dalam
tubuhmu mengalir pula darah bangsaku. Aku
berbicara tentang Cina yang dulu, bukan Cina
jaman sekarang. Keluargamu banyak sangkut
pautnya dengan Cina yang dulu. Moyangmu dulu
menculik salah seorang putri kami dan diperistri
olehnya. Tapi bukan soal itu yang hendak
kubicarakan. Wanita biasa mengikuti kata hati.
Tapi moyangmu juga mencuri sesuatu yang lain.
Atau tepatnya menyuap seorang petugas negara
untuk mencurikan benda itu untuknya. Tapi itu
sama saja. Yang kumaksudkan, seuntai kalung


Trio Detektif 04 Misteri Hantu Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mutiara!" Kini Mr. Won mulai menampakkan gerak
perasaan. "Seuntai mutiara yang tak ternilai harganya,"
katanya melanjutkan. "Selama lebih dari lima
puluh tahun, tidak ada yang tahu di mana kalung
itu berada. Tapi kini sudah muncul kembali, dan
aku harus memperolehnya."
Mr. Won mencondongkan tubuhnya ke depan.
Suaranya bertambah lantang.
"Kaudengar kataku itu, tikus kecil" Aku harus
mendapatkan kalung mutiara itu!"
Bob sangat gelisah mendengarnya, karena ia
tahu bahwa kalung mutiara itu tidak ada pada
mereka. Jadi tidak mungkin mereka bisa menye-rahkannya pada Mr. Won. la tidak tahu, bagaimana
perasaan Chang saat itu. 142 "Yang mulia," kata Chang yang duduk di
sebelah Bob, dengan suara lantang, "rnutiara itu
tidak ada pada kami. Seseorang lain yang
menguasainya. Seseorang yang lincah dan tabah,
dan berhasil melarikan diri dengan kalung itu
untuk dikembalikan pada bibiku. Kembalikan kami
pada bibiku. Nanti akan kubujuk dia agar mau
menjual kalung rnutiara itu pada Anda. Itu pun
apabila terbukti bahwa isi surat yang diterimanya
dari seseorang yang mengaku kerabat istri
moyangku tidak benar."
"Itu tidak benar!" tukas Mr. Won. "Surat itu
dikirim seseorang yang kukenal. Maksudnya untuk
mengacaukan suasana, karena orang itu juga ingin
membeli untaian rnutiara itu. Aku kaya, tapi ia lebih
kaya lagi. Ia pasti akan berhasil membeli kalung itu,
apabila tidak kudului. Karena itu aku harus
memperolehnya!'' Chang menundukkan kepala.
Kumbang Datang Di Fajar 1 Pendekar Gila 36 Balada Di Karang Sewu Pendekar Bego 7
^