Pencarian

Gue Anak Sma 1

Gue Anak Sma Karya Benny Rhamdany Bagian 1


Gue Anak SMA Editor: Benny Rhamdany Download Ebook Jar Lainnya Di
http://mobiku.tk http://inzomnia.wapka.mobi
Menu Buku Pengantar oleh Andi Yudha Asfandiyar ... 9
Tips 1 : MOS Bukan Nightmare
1. My Beautiful MOs (Luna TR) ... 17
2. Ortu Ikutan MOS (Spica) ... 28
3. Jreng! MOS Gitu, Lho! (Hafsya) ... 39
Tips 2 : I Love ... Sobat, senior, dan guru
4. Auw! Gencetan Senior (Muharram R.) ... 51
5. Sobatku Baik Banget (Kinoyan) ... 65
6. Guru : Killer, Charming, Cuek, Sama Asyiknya (Ary Yulistiana) ... 81
Tips 3 : Lain Ladang, Lain Belakang
7. From Medan with ... NOTHING! (Teera) ... 97
8. Bahasaku Aneh bin Ajaib (Doel Wahab) ... 107
9. Madiun, Ampuuun...! (C.N. Murtiana) ... 117
10. Go International, Giri! (Asih Aisyah) ... 131
Tips 4 : Pelangi Awal Sekolah
11. My Secret Identity (Teera) ... 149
12. Jadi Kembang di antara Kumbang (Winarni) ...157
13. Eskul Minim Biaya (Benny Rhamdani) ... 167
14. Enjoy Jadi Anak Kos (Meidiana F.) ... 175
Kamu Udah Gede! "KAMU sekarang udah SMA. Udah gede!"
Itulah kata-kata yang sering dilontarkan ortu ketika kita mulai menginjak bangku SMA. Ungkapan tersebut wajar saja, karena saat memasuki SMA, terjadi pula perubahan pada fisik kita yang makin kuat, serta mental yang makin tertata. Alhasil, tuntutan orangtua terhadap kita pun makin bertambah. Mulai dari tanggung jawab, sampai kemandirian kita.
Pada kenyataannya, tuntutan ortu itu tidak mungkin kita penuhi sekaligus. Ada tahapan proses yang harus kita lalui. Dalam skala kecil, kita bisa menemukan tahapan proses menjadi insan yang bertanggung jawab dan mandiri itu ketika harus menghadapi Masa Orientasi Siswa (MOS)
Lho, kok, nyambung ke MOS"
Karena saat MOS inilah, mental dan fisik kita diuji. Seperti diuraikan Luna TR, Spica, dan Hafsya dalam buku ini. Betapa mental mereka ditempa begitu rupa, sampai ada istilah putus urat malu. Tidak sekadar mental, fisik pun diuji lewat MOS. Selain lewat sanksi fisik seperti push-up, sit-up, dan lari, mereka tetap harus bekerja keras sampai malam
hari untuk mencari barang-barang yang harus dibawa besok.
Tidak sedikit orang yang ketakutan saat menghadapi MOS. Padahal, sesungguhnya MOS bertujuan positif, yakni mengenalkan kegiatan yang ada di sekolah ataupun kelebihan-kelebihan sekolah kepada siswa baru. MOS merupakan media sosialisasi company profile sekolah. Memang, cara menyampaikan informasi kepada siswa baru itu bermacam-macam. Ada yang kreatif, ada juga yang semi militer. Apa pun cara menyampaikannya, kalau kita bisa mengelola rasa takut, kita akan bisa menikmati MOS. Caranya" Ikuti saja aturan senior. Anggap saja kita sedang berusaha menyenangkan para senior dengan mematuhi "kejahilan" mereka.
MOS hanyalah ujian mental dan fisik yang kecil saat memasuki bangku SMA. Ujian sesungguhnya akan dimulai saat kegiatan belajar mengajar dimulai, dan proses adaptasi pertemanan dimulai. Tak jarang kita menemukan kerikil-kerikil yang mengejutkan di SMA. Seperti dipaparkan Muharram R., mungkin kita akan menemukan apa yang disebut "gencetan senior", maupun guru-guru dengan karakter mengejutkan sebagaimana yang ditulis Ary Yulistiana.
Kendala tersebut belum seberapa, ketika kita harus mengalami adaptasi yang lebih kompleks. Bukan sekadar dengan senior ataupun guru, tapi seluruh lingkungan, lantaran kita harus pindah ke kota lain saat masuk gerbang SMA. Pengalaman yang ditulis Doel Wahab yang berkendala dengan dialek bahasa-nya ketika pindah dari kota kecil ke kota
besar, serta Teera yang tiba-tiba merasa jadi siswi terbodoh di SMAN 3 Bandung, bisa menimpa siapa pun.
Apa yang harus kita lakukan agar cepat beradaptasi di lingkungan SMA"
Pertama, masuki lingkungan baru kita melalui hobi. Tunjukkan minat dan kemampuan kita melalui hobi, entah itu olahraga ataupun seni. Bergabunglah dengan wadah yang ada di sekolah, agar kita dikenal. Hal ini akan mempertebal rasa percaya diri kita dan menyingkirkan penyakit minder.
Kedua, perkenalkan diri kita kepada teman seangkatan dan senior. Jangan sungkan menyapa dan mengenalkan diri, bila bertemu kakak kelas. Jika kita punya inisiatif bergerak lebih dulu, kemungkinan besar akan
lebih dihargai orang lain. Daripada kita hanya menunggu disapa. Akhirnya, malah tidak ada yang mau kenal sama kita.
Ketiga, jangan over confident. Sifat takabur malah cenderung mengundang musuh. Kita malah akan dijauhi dan makin tersisih dari lingkungan baru kita. Atau malah nanti jadi sasaran gencetan senior. Keempat, tunjukkan sifat aktif dengan membuka jaringan dan komunitas. Misalnya, dengan memasuki ekskul. Kita juga bisa membuka jaringan dengan cara menunjukkan sikap positif kita, seperti menolong sesama, rajin ataupun murah senyum.
Kelima, cobalah menjalin komunikasi dengan guru. Ingat ... bukan menjilat! Kebanyakan saat di bangku SMA, orang tidak begitu lagi memedulikan gurunya. Remaja hanya mengenal guru sebatas se-
bagai pengajar. Cuma sedikit yang mengenal gurunya sebagai motivator, pengarah, dan teladan. Bisa dibilang, saat ini kebanyakan remaja sekolah lebih mementingkan bertemu teman ketimbang guru.
Jika kelima hal di atas tidak kita lakukan, bersiaplah kita menjadi siswa yang sulit beradaptasi dengan lingkungan SMA. Efeknya, kita akan menjadi siswa figuran yang mungkin hanya dikenal teman sebangku, atau yang lebih parah ... kita jadi depresi! Nilai akademis merosot, merasa tidak betah duduk di kelas, atau malas berangkat ke sekolah. Kalau sudah sampai tahap ini, yang perlu dilakukan adalah:
1. Membangun keberanian untuk segera menyadari dan mengetahui adanya kondisi negatif di diri kita. Carilah secara mendetail kondisi negatif kita, kemudian dipetakan satu per satu dan dituliskan. Cara ini merupakan diagnosa diri (self diagnosis) yang dengan mudah bisa kita lakukan.
2. Berani mengonsultasikan masalah kita tersebut kepada teman yang bisa memotivasi. Kalau kita seorang teman dari orang yang bermasalah itu, maka kita harus memberi dukungan moral untuk membangkitkan semangatnya. Jika memang dirasa perlu, konsultasikan pula ke guru BP.
3. Ubahlah cara pandang kita kepada hal-hal positif. Bisa saja selama kita selalu memandang segala hal dari sisi negatifnya. Hingga yang menimpa kita pun selalu negatif.
Nah, jika kita mampu melewati masa-masa beradaptasi di lingkungan SMA dengan sukses, se-
lanjutnya kita akan berhadapan dengan situasi yang sering disebut penulis lagu kita; masa-masa yang paling indah ....
Eits, tapi jangan lupa! Mentang-mentang kita banyak teman dan seabreg kegiatan ekskul, akhirnya malah lupa belajar. Bukan apa-apa, setelah SMA akan ada lagi beban mental dan fisik yang harus kita pikul. Jadi, persiapkanlah segalanya dengan baik selama di bangku SMA.
Andi Yudha Asfandiyar Wuaaah ... akhirnya, kelar juga proyek "keroyokan" ini. Semua nggak lepas dari kekompakan temen-temen penulis yang cute-cute en keren abeez.3 Thanx buat semua penulis atas semua waktu, "pengorbanannya", plus kekompakannya. Moga aja karya ini bermanfaat buat siapa aja yang
baca. MOS Bukan Nightmare 1. My Beautiful MOS 2. Ortu Ikutan MOS 3. Jreng! MOS Gitu, Lho! My Beautiful MOS MOS (Masa Orientasi Siswa), kata yang mungkin jadi "mimpi buruk" bagi setiap siswa baru saat mereka mulai menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Acara penerimaan siswa baru yang udah jadi tradisi turun-temurun dari zaman doeloe bagaikan sebuah "neraka baru" bagi siswa kelas satu. Gimana nggak" Meskipun setiap tahun nama tradisi ini berubah-ubah, dari perploncoan, mapras, dan sekarang jadi MOS, inti acaranya tetep sama.
Mereka yang pro bilang kalo acara ini perlu, sebagai sarana agar siswa baru dapat mengenal lingkungan sekolahnya, termasuk guru dan kakak-kakak kelasnya. Sedangkan yang kontra, ngerasa kalo acara ini adalah milik orang kurang kerjaan, sekadar ajang penyiksaan dari kakak kelas pada adik kelasnya, juga acara balas dendam karena mereka diperlakukan sama di tahun sebelumnya. Si anak baru harus nurut sama semua yang diperintahkan. Nggak nurut" Hukuman pasti menanti.
Inget hukuman itulah, mau nggak mau, aku harus bangun pagi banget biar nggak telat. Baya-ngin aja, di hari pertamaku masuk SMA, di saat
ayam jago tetangga bahkan belum berkokok, aku harus bangun, dan nyiapin segala sesuatu buat acara MOS. Mana udara dingin lagi! Aku te
rpaksa mandi bebek, karena nggak kuat oleh dinginnya udara Bandung. Maklum, aku baru aja pindah dari sebuah kota di Jawa Tengah yang berhawa panas, jadi belum terbiasa.
Sebelum berangkat, aku meriksa segala sesuatu yang harus kubawa. Jangan sampe kelupaan, sebab kalo ada satu hal aja yang terlupa, "maut" bagi pelakunya! (Itu istilah dari salah seorang senior untuk ngingetin anak baru agar nggak lupa tugas mereka setiap harinya).
Aku meriksa satu per satu barang yang harus kubawa. Dari buku tulis dengan sampul merah ijo, kacang ijo, roti seharga lima ratus perak, air putih dalam botol air mineral, kertas manila merah berukuran 50 X 50 senti dan dilapisi plastik yang disebut panitia sebagai kursi goyang sampai benda-benda yang nggak ada hubungannya sama sekolah, seperti bawang putih dan botol bekas kecap. Semua itu dimasukkan ke sebuah karung beras yang dipasangi tali rafia sebagai gantungan, yang berfungsi sebagai tas sekolah selama MOS.
Sepuluh menit kemudian, aku berada di dalam angkot yang membawaku ke sekolah. Selama MOS, siswa baru dilarang bawa kendaraan sendiri. Kalo-pun diantar atau naik kendaraan umum, harus turun sekitar dua ratus meter dari sekolah, terus jalan kaki. Jangan coba-coba berbuat curang deh, karena panitia udah siap-siap nyegat di empat titik jalan
menuju SMA baruku. Di depanku, duduk seorang cewek yang juga make seragam SMP. Rambutnya yang panjang sebahu dikuncir di kedua sisinya dengan pita merah di sisi kanan dan pita hijau di kiri. Dari atribut yang dibawanya, kayaknya dia satu SMA sama aku.
Setelah beberapa lama, akhirnya aku memberanikan diri menyapanya. Kalo dia emang satu sekolah denganku, lumayan bisa dapet temen baru. Apalagi cewek secantik dia. Kalo nggak, ya nggak pa-pa. Itung-itung ngusir kejenuhan di perjalanan.
"Vini." Dia nyebutin namanya, setelah aku lebih dulu nyebutin namaku. Dan dugaanku benar. Vini satu sekolah denganku, bahkan yang bikin surprise, kami juga satu kelas.
Selanjutnya udah bisa diduga, kami mulai ngo-brol. Aku baru tau alasannya tadi ngeliatin aku. Rupanya, dia lupa bawa kacang ijo. Akhirnya, aku pu-tusin ngasih kacang ijo yang aku bawa untuk dia. Pas dia tanya, aku bilang kalo aku bawa dua padahal sih, nggak, hehehe .... Aku pikir, lebih baik aku yang dihukum panitia daripada bidadari secantik Vini. Toh, hukumannya paling-paling disuruh push-up.
Obrolanku dengan Vini berakhir saat angkot yang kami tumpangi berhenti di depan jalan kecil menuju sekolah. Tiga orang panitia, seorang di antaranya cewek udah standby di mulut jalan, ma-sang muka sok sangar, dan mengawasi siswa baru yang datang. Sejak itu, aku nggak ngobrol lagi sama Vini sampai kami tiba di sekolah dan dibariskan
di lapangan basket untuk pemeriksaan tugas dan barang-barang bawaan. Seperti kubilang tadi, akhirnya aku dapet hukuman gara-gara nggak bawa kacang ijo. Yup, hukumannya push-up sambil dibentak-bentak. Dari ekor mataku, aku sempet melirik Vini yang melihat ke arahku dengan heran.
Hari pertama MOS diisi dengan perkenalan seluruh guru dan staf sekolah di lapangan. Setelah itu, kami masuk ke kelas masing-masing. Kemudian, panitia ngasih materi tentang sekolah baruku. Sejarah, kegiatan, prestasi, dan yang lainnya. Termasuk mengenalkan ruangan-ruangan sekolah. Nggak kayak panitia yang ada di lapangan, panitia yang di dalam kelas dan ngasih materi bersikap ramah pada kami. Di kelas itu juga, aku kenalan sama temen-temen baruku. Temen-temen yang akan bersamaku selama tiga tahun ke depan. Ada Eh yang pengin jadi anak band, tapi nggak bisa maenin alat musik satu pun, Tatang yang alim, Sonny yang otaknya kloning dari otak Einstein abis, tuh anak pinter banget, sih! sampai Aldi yang katanya jago basket di SMP-nya dan wajahnya lumayan imut, hingga dia jadi kecengan para senior cewek dan "sasaran gencet" para senior cowok yang sirik.
Saat istirahat, bukan berarti kami bisa bebas. Walaupun di luar kelas, kami tetap harus berada di sekitar kelas dengan diawasi panitia. Kami juga mendapat suguhan kacang ijo yang dimasak panitia, sambil membuka roti yang kami bawa. Yang bikin aku senang, aku duduk deket Vini. Vini
nanya kenapa aku berbohong waktu bilang punya kacang ijo
dua plastik, padahal kenyatannya hanya satu. Dia jadi nggak enak karena aku yang dihukum. Sambil bercanda, aku bilang lupain aja. Lagi pula, aku butuh olahraga pagi karena kedinginan.
Pulang MOS sekitar pukul dua belas siang, aku kembali satu angkot bareng Vini. Rencananya, kami nggak langsung pulang, tapi nyari dulu barang-barang yang harus dibawa besok. Menjelang sore, kami baru pulang. Ternyata, angkot ke rumah Vini sejalur sama angkot ke kompleks rumahku. Aku dan Vini juga janjian mau berangkat bareng besok paginya.
Setelah hari pertama diisi dengan pengenalan lingkungan sekolah, hari kedua MOS diisi dengan pengenalan ekstra kurikuler (ekskul) yang ada di sekolah. Pengenalan ekskul dilakukan dari kelas ke kelas, juga di lapangan. Ketika matahari sedang bersinar terik, kami harus duduk di tengah lapangan, diiringi bentakan dan pelototan para panitia yang terus-terusan mengawasi kami agar memerhatikan acara jangan sampe deh, ketauan ngantuk atau ketiduran!
Walaupun kulihat wajah-wajah tegang siswa baru, tapi aku berusaha nggak ngeliatin wajah kayak gitu. Aku berusaha nikmatin kegiatan MOS hari ini, walaupun terasa berat. Tapi, aku punya cara sendiri agar nggak ngantuk atau tegang. Ketika mataku udah terasa berat, aku langsung mengalihkan pandangan ke arah yang bikin mata segar lagi. Bisa ngeliatin bunga di taman sekolah, ngeliatin senior-senior cewek yang manis walaupun pada masang
tampang sok galak, atau cukup kalo hanya sekadar ngelirik ke arah Vini. Tentu aja, semua kegiatan ini aku lakukan sembunyi-sembunyi. Kalo ketauan panitia aku celingak-celinguk, bisa mampus!
Sepulang MOS, seperti biasa aku bareng Vini. Vini tetep pulang bareng aku walaupun ada beberapa kakak kelas yang udah mulai pedekate ama dia, melancarkan jurus-jurus gombalnya buat ngan-terin Vini pulang. Aku seneng aja, ternyata Vini masih milih pulang bareng aku, walaupun agak deg-degan juga, sih. Aku ngebayangin besok bakal jadi "sasaran gencet" para senior yang naksir Vini.
Saat lagi nyari tugas buat besok, di jalan kami ketemu beberapa kakak kelas, di antaranya ada yang aku kenal. Ternyata nggak kayak di sekolah, di luar mereka ramah, bahkan sempet ngasih tau toko yang ngejual barang-barang yang kami butuhkan. Aku jadi serasa dapet temen baru. Kekesalan-ku pada sikap para senior di sekolah yang kunilai angkuh dan suka seenaknya sendiri mendadak hilang. Bahkan, pas pulang sekolah, aku bareng sama salah seorang kakak kelasku. Namanya Imelda atau biasa dipanggil Imel. Dia salah satu anggota seksi acara, dan termasuk favorit peserta, karena selain ramah, wajahnya juga ehem ... lumayan cantik.
Hari ketiga sekaligus hari terakhir MOS, diisi dengan pentas seni dari tiap-tiap kelas. Masing-masing kelas boleh nampilin satu atraksi bebas, dari yang nyanyi sampe sulap! Kelasku sendiri nggak nampilin atraksi yang neko-neko, cukup penampilan vokal grup sebagian penghuni kelas, diiringi petikan
gitar dua orang temenku. Aku sendiri nggak ikut karena aku ngerasa kalo suaraku nggak lebih bagus dari suara Delon yang lagi kena radang tenggoro-kan. Tapi, Vini ikut lho, dan suaranya lumayan bagus.
Di hari ketiga ini, aku melihat sikap galak panitia agak mengendor. Nggak segarang dua hari sebelumnya walaupun tetep jaim, sih. Bahkan, beberapa panitia dari seksi acara keliatan berbaur dan ngobrol akrab dengan siswa kelas satu. Mungkin karena mau penutupan kali ya, mereka jadi bersikap baik, nutupin dosanya biar anak kelas satu nggak pada dendam. Oya, kekhawatiranku bakalan jadi "sasaran gencet" para senior yang sirik denganku, ternyata nggak terbukti. Buktinya, sampai hampir menjelang penutupan, aku aman-aman aja.
Saat penutupan, hampir seluruh panitia MOS gabung sama peserta. Beberapa panitia cowok malah berdiri deket cewek-cewek kelas satu. Mungkin, pedekate mereka selama MOS udah sukses. Minimal, mereka punya nomer HP cewek kelas satu
yang diincernya. Untung aja Vini selalu ada di de-ketku, diiringi pandangan sirik senior-seniorku, he-hehe ....
Yang paling berkesan adalah saat kami melepaskan atribut MOS, menyobek
kartu tanda peserta dan membuangnya ke tempat sampah yang disediakan. Lalu secara simbolis, sepasang perwakilan siswa kelas satu dikasih pin sekolah oleh ketua panitia MOS, sebagai tanda bahwa mereka resmi jadi keluarga besar SMA kami. Saat-saat itulah yang paling mengharukan. Banyak yang nggak bisa nahan air matanya, terutama yang cewek. Apalagi kalo inget masa-masa selama tiga hari yang mungkin paling nggak nyenengin dalam hidup mereka. Aku sendiri cukup dengan mata yang berkaca-kaca, nggak sampe nangis. Sesudah itu, kami bersalaman dengan panitia. Saat bersalaman dengan Imelda, dia tersenyum manis padaku.
Bagi sebagian orang, MOS sangat menakutkan, tapi tidak bagiku, bahkan aku sangat menikmati acara MOS. Waktu nyerita sama temen-temen mengenai saat-saat MOS, yang ada hanya candaan dan gelak tawa dari kami. Nggak ada sama sekali perasaan dendam, bahkan dendam sama para senior dan panitia yang paling "jahat" sekalipun waktu itu.
Luna Torashyngu Biar MOS Terasa Indah 1. Jangan jadikan MOS sebagai beban
Mendengar kata MOS, kebanyakan udah gemetar duluan. Timbul berbagai macam perasaan di benak kita. Takut dimarahin panitia, disiksa, dan sebagainya. Perasaan seperti itu udah bikin tubuh kita lima puluh persen melemah. Akibatnya, kita serasa nggak bersemangat, bete, dan lemes. Anggap aja MOS sebagai kegiatan rutin dan hiburan. Kalo kita dimarahi, anggap aja lagi disayang ama panitia. Kalo disuruh push-up, anggap aja lagi olahraga, karena badan kita jarang berolahraga. Intinya, ikutin kegiatan MOS dengan senyum.
2. Persiapkan fisik dan mental
Kita harus nyiapin fisik dan mental. Mental mungkin udah dijelasin di atas, sedang fisik bisa kita siapin antara lain dengan tidur lebih awal sebelum melaksanakan kegiatan esok harinya. Setelah acara MOS, jangan keluyuran dulu, kecuali buat nyari tugas dari panitia. Pokoknya, jaga kondisi badan.
3. Ikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh
Anggap MOS sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar di sekolah. Karena itu, ikutilah dengan sungguh-sungguh. Banyak manfaatnya kok, kalo kita ikut kegiatan MOS dengan sungguh-sungguh. Selain bisa lepas dari hukuman
panitia, kita juga bisa lebih mengenal lingkungan sekolah dengan lebih cepat dan baik. Dan kalo beruntung, kita bisa ditawari jadi salah satu pengurus OSIS oleh senior yang mungkin ngeliat kita begitu rajin dan perhatian terhadap sekolah. Lumayan kan, jadi pejabat"
4. Sesegera mungkin, kerjakan tugas
Salah satu kejelekan kita, suka menunda-nunda kerjaan yang bisa kita lakuin saat itu. Begitu kita dapet tugas dari panitia, baik membawa sesuatu ataupun ngerjain tugas, segera kerjakan apa yang kita bisa. Semakin cepat kita menyelesaikan tugas, semakin cepat pula kita beristirahat, dan badan kita akan segar lagi untuk kegiatan esok harinya. Lagi pula, pengalaman membuktikan, segala sesuatu yang dikerjakan dengan terburu-buru, nggak akan menghasilkan sesuatu yang maksimal, serta mempunyai tingkat kesalahan yang tinggi.
5. Segera cari temen Hal pertama yang harus kita lakukan jika berada di tempat baru adalah ... cari temen. Dengan adanya temen, masalah yang kita alami di tempat baru itu bisa dibagi, hingga sedikit meringankan kita. Temen juga bisa membantu menghilangkan ketegangan saat mengikuti MOS, dan membantu jika kita mendapat tugas yang susah atau nggak bisa diketjain sendiri.
Dekati panitia atau senior
Dekati di sini bukan berarti pedekate walaupun itu juga nggak dilarang. Maksudnya ialah mencoba bersikap akrab dengan panitia atau senior kita. Walaupun pertamanya mungkin kita akan dibilang sok akrab, dan mungkin mereka jaga jarak sama siswa baru, tapi inget, "Panitia juga manusia." Waktu yang baik mendekati mereka adalah di luar sekolah. Bahkan, yang cowok bisa aja nekat ngedatangein rumah senior cewek kalo berani dan nggak nambah masalah baru ama senior cowok yang sama-sama naksir senior cewek itu. Keuntungan kita dekat sama senior adalah selain mengurangi ketegangan karena kita udah nggak ada jarak sama mereka juga agar kita nggak tambah dipersulit kalo dalam kesulitan. Bahkan, mungkin mereka mau membantu kita.
Jangan bertindak ane h Sikap orang macam-macam, demikian juga sikap siswa baru. Ada yang pendiam, tapi ada juga yang suka sok pamer. Tapi sebagai siswa baru, kita harus tau diri. Sebagai pendatang baru, belum waktunya kita unjuk diri, nunjukin siapa kita, apalagi kalo sekadar buat gaya. Kalo yang man-dang temen-temen, mungkin apa yang kita lakukan itu keren, tapi belum tentu di mata para senior. Mungkin aja mereka merasa terusik dan merasa tersaingi. Kalo para senior udah ngerasa begitu, kita bakal susah sendiri. Mereka pasti akan menggunakan segala cara buat "ngerjain"
atau ngegencet kita, termasuk melalui panitia dan kegiatan MOS.
Ortu Ikutan MOS YUPS! Gue emang udah SMA. Sebentar lagi gue naik ke kelas dua dan gue bakal nikmatin masa yang udah gue tunggu-tunggu selama hampir setahun ini. Bukan ujian dan kenaikan kelas, melainkan sebentar lagi akan datang para junior gue, anak-anak culun siswa baru kelas satu itu. Hihihi ...!
It's time to ngerjain! My sweet revenge!
Udah boleh dipastiin gue bakal jadi panitia MOS karena udah gue denger kasak-kusuk, termasuk bisikan dari Wakasek Bidang Kesiswaan di SMA gue. Itu artinya, sebentar lagi tiba giliran gue jadi panitia MOS yang punya hak dan kewajiban buat "ngerjain" para murid baru. Wow! Belum-belum, gue udah ngebayangin serunya acara itu. Gue tau persis, karena tahun lalu gue juga ngalamin serunya jadi anak baru yang kena plonco.
Tahun lalu, gue ngejalanin MOS sebagai acara wajib yang harus diikutin oleh setiap siswa baru kelas satu. Takut, kesal, marah, capek, tapi akhirnya semua berubah menyenangkan dan meninggalkan kesan yang susah dilupain bahkan mungkin sampai gue tua nanti.
Gue inget betul betapa serunya acara itu. Betapa ribetnya nyiapin dan memenuhi segala sesuatu yang harus dibawa buat acara MOS itu. Serba aneh-aneh dan semula, gue pikir sangat nggak masuk akal.
Kalo cuma disuruh pake sandal jepit beda sebelah kiri ijo, kanan merah itu sih, biasa. Pake topi karton kerucut dengan motif Dalmatian, juga sepele. Tapi, urusannya jadi makin repot waktu hari pertama MOS, panitia menetapkan para siswa baru harus membawa mi instan merek "Kere" dan air minum kemasan botol 750 cc, saputangan berbentuk segi delapan, dan banyak lagi. Kebayang kan, betapa mengada-adanya para panitia" Jelas aja mereka bermaksud ngerjain kita dengan tugas-tugas yang nggak masuk akal. Coba, mana ada mi instan merek "Kere" dan air mineral kemasan botol 750 cc. Yang ada adalah sori, bukan iklan, nih! "Mi Kare", dan nggak ada satu merk pun air mineral kemasan 750 cc.
Di hari kedua lebih gokil lagi. Kita-kita disuruh bawa belut goreng berbentuk angka 8, apel fuji berdiameter 10 cm. Dua barang itu aja udah bikin pusing tujuh keliling, masih juga ditambah harus bawa surat cinta dari pacar. Nah, lho! Terus, yang belum punya pacar, nasibnya gimana, dong" Dan masih banyak lagi pernak-pernik "aneh" dan nggak masuk akal yang harus gue penuhi waktu itu. Tenaga dan otak kudu diperas. Akal kudu diasah. Kreativitas kudu ditajemin!
Buntutnya, seisi rumah mau nggak mau terpaksa terlibat. Kakak gue ikut pontang-panting nyah apel berdiameter 10 cm, menyatroni semua supermarket sampai kios buah di pasar tradisional, dan akhirnya pulang dengan tangan hampa. Meskipun papa berhasil ngedapetin belut, tapi mama
menjerit-jerit kesal karena gagal menggoreng belut berbentuk angka 8 yang sempurna. Pada hari pertama MOS, gue pulang dari sekolah pukul enam petang dan sampai rumah, badan rasanya remuk. Capek, pusing, dan stres berat. Belum juga pukul sepuluh malam, fisik gue akhirnya nyerah, dan gue tertidur.
Menjelang subuh, gue terbangun dan langsung panik inget banyak banget barang yang harus gue bawa buat MOS. Tapi, akhirnya gue jadi lega karena melihat semua yang harus gue bawa udah siap di atas meja. Usut-punya usut, ternyata nggak cuma kakak gue yang sibuk, tetapi ortu gue pun rela begadang sampe pagi demi MOS gue. Hihihi ... ortu gue ikut MOS, deh!
"Nggak ada yang nggak bisa dipenuhi, Ika!" kata papa. Oh, ya, di rumah gue dipanggil Ika. "Asal mau kreatif, pasti bisa."
Gue lihat belut goreng berbentuk angka 8 yang ternyata dibentuk dengan bant
uan kawat. Sebutir apel yang dibentuk dari gabungan irisan beberapa apel hingga berdiameter 10 cm. Gue jadi ngeh, semua harus di-create sendiri. Botol disambung pake selotip buat nampung air mineral 750 mm dan Mi "Kare" pun disulap pake spidol jadi Mi "Kere".
"Gimana kalo salah"" keluh gue, bimbang.
"Paling juga kena hukuman. Hadapi aja!" kakak gue menyemangati.
Di sekolah, ternyata belut angka 8 gue jadi contoh sempurna.
"Ika, kamu emang smart dan kreatif. Sela-
mat!" kata seorang senior yang gayanya sok cooL Tapi emang cool, sih. Ganteng!
Seorang senior yang lain mengalungkan rangkaian bunga kamboja di leher gue sebagai tanda penghargaan. Seneng dan bangga juga gue, bisa jadi yang terbaik di urusan belut!
Tapi, nggak semua yang gue bawa itu per-fect. Ada-ada aja yang salah menurut panitia. Hukuman demi hukuman pun gue terima, termasuk ketika gue ketiduran sepuluh detik karena kecapekan. Gue harus berjalan jongkok mengelilingi aula. Lalu, ada pula hukuman harus berburu semut dan cacing yang harus diserahkan tiga ekor hidup-hidup di depan para panitia.
Gue ngerasa kesel dan marah, tapi nggak berdaya pas gue nerima hukuman yang aneh-aneh. Untungnya, nggak ada hukuman yang benar-benar menyiksa fisik dan nggak bisa gue jalani dengan wajar. Banyak bentakan dan ejekan, tapi nggak ada pemukulan dan tendangan. Pokoknya hukuman fisik yang gue takutin, yang gue denger rumornya selama ini, ternyata nggak terjadi pada gue dan temen-temen baru gue.
Ketika acara MOS ditutup di hari ketiga, gue malah ngerasa kehilangan. Rasanya, tiga hari MOS terlalu singkat. Coba kalo seminggu, pasti lebih menantang dan seru. Di acara penutupan MOS, kita menyatu dengan para senior, menyanyi bersama, bergurau dan akhirnya saling bersalaman maaf-maafan.
Idiiih banyak yang nangis, lho! Banyak yang
terharu karena keakraban yang terbina selama tiga hari pertama di sekolah baru, lumayan berkesan. Hm, bener-bener pengalaman yang nggak terlupakan.
Sebentar lagi, gue bakalan jadi Panitia MOS. It's time for sweet revenge! Hihihi ...!
Nah, buat kalian yang sebentar lagi masuk SMA atau SMK, nggak usah keburu punya bayangan yang ngeri-ngeri sama yang namanya MOS. Nggak usah stres sebelum bertempur, karena MOS bukanlah hantu mengerikan yang harus dihindari.
Spica Be Happy With MOS -Cerdas memahami tugas dan perintah
MOS dipenuhi oleh tugas dan perintah. Sekilas yang tampak hanya berupa hukuman, hal-hal nggak masuk akal yang akan berbuntut pada sanksi alias hukuman. Tapi, sebenernya nggak gitu, koki Ada maksud dan tujuan tertentu di setiap tugas dan perintah yang diberikan kalo kita renungkan secara positif. Ingat, setiap tugas dan perintah yang diberikan para senior pastilah udah dipertimbangkan masak-masak, termasuk harus melalui izin guru. Nggak mungkin mereka sekadar ngasih tugas hanya agar kita nggak sanggup, menyalahi, dan akhirnya mendapat hukuman. Dalam kasus gue tahun kemarin, gue akhirnya sadar bahwa hampir semua benda yang harus gue bawa merupakan ujian bagi kesungguhan, ketelitian, dan kreativitas gue. Gimana nyiptain apel berdiameter 10 cm dan gimana membentuk belut goreng angka 8, emang butuh kreativitas. Membawa air mineral 750 cc ternyata adalah ujian bagi kita untuk bisa mengukur dengan akurat. Ngedapetin benda yang sulit
misalnya koran bekas edisi tertentu merupakan tes, apakah kita orang yang gampang menyerah atau nggak.
Jangan malu bertanya kalo ada tugas yang nggak jelas dan membingungkan. Malu bertanya, sesat di hukuman! Para senior tentu nggak segan-segan ngasih bocoran atas tugas itu. Seringnya sih, emang nggak blak-blakan, tapi selalu ada kisi-kisi yang harus kita pahami. Kalo masih nggak paham juga, diskusiin sama temen supaya ketemu jalan keluarnya. Tentu aja nggak tabu buat nanya sama tetangga, kakak atau ortu kita sendiri.
-Dikerjakan rame-rame juga halal
Nggak ada aturan yang melarang bahwa tugas dan benda-benda "ajaib" yang dibawa harus kita upayakan sendiri. Toh, para senior yang sok galak itu, nggak ngerti. Jadi, boleh dong, kalo kita minta bantuan orang lain untuk memenuhinya.
Pengalaman gue tahun lalu, selain melibatkan kaka
k dan tetangga, gue juga minta bantuan ortu, sampai gue sadar ternyata ortu gue juga ikut MOS. Dari pengalaman itu, gue sadar betul betapa pentingnya kebersamaan dan kerja sama dalam keluarga. Terus terang, gue jadi makin sayang sama kakak dan ortu gue.
Kerjain sendiri dulu sampai titik darah penghabisan, baru setelah itu minta bantuan orang lain. Nah, yang begini emang jauh lebih fair. Jangan males dan berharap semua udah tersedia
selagi kamu tidur kelelahan. Gimanapun, elo pasti lebih bangga kalo bisa memenuhinya sendiri.
-Nggak takut salah, tapi siap-siap dihukum
Pasti dong, semua tugas dan perintah para senior nggak bisa elo penuhi semuanya. Kalo elo nggak bisa memenuhi tugas dengan sempurna, maju terus aja! Lebih baik memenuhi tugas semampu elo daripada nggak sama sekali. Untuk itu, elo harus siap dengan hukuman. Percayalah, di zaman dulu emang sering kedapatan kasus hukuman yang di luar batas perikemanusiaan pada masa "perploncoan" istilah jadul untuk MOS tapi belakangan udah ada aturan yang jelas tentang pelaksanaan MOS. Nggak bakalan ada lagi hukuman berupa siksaan fisik yang kelewatan. Kalo sekadar push-up atau lari keliling lapangan lima putaran sih, biasa. Tapi, kalo kamu nerima hukuman harus lari keliling lapangan seribu kali atau disuruh makan cacing hidup-hidup, kamu boleh protes; "Ini MOS atau Fear Factor"!" Ya, harus protes dan lawan! Laporkan sama guru pembimbing kalo elo nerima atau melihat hukuman yang nggak wajar. Pasti senior elo itu bakal nerima teguran bahkan sanksi berat. Jangan salah, ada banyak kasus panitia MOS harus berhadapan sama aparat penegak hukum lantaran perlakuan kerasnya pada siswa baru. Pasal yang dikenakan bisa "perbuatan tidak menyenangkan" sampai "penganiayaan" atau "tindakan yang membahayakan jiwa dan ke-
selamatan orang lain". Hukumannya berat, lho!
Kalo elo nerima hukuman, enjoy aja! Jalani dengan senang hati, dengan perasaan gembira dan tentu aja dengan jiwa besar. Tengsin, biasalah! Orang-orang justru akan respek sama elo kalo elo mampu melewati hukuman dengan tabah dan gembira.
-No hurt feeling Pasti deh, yang namanya perasaan jengkel dan kesal bahkan marah sama senior yang macam-macam, sok galak dan suka mengobral hukuman itu ada. Tapi, rugi banget kalo elo memendam dan memelihara perasaan kayak gitu. Kalo elo menyadari sejak awal bahwa MOS adalah masa pengenalan sekaligus ajang penggojlokan fisik dan mental, singkirin jauh-jauh rasa dendam. Dendam hanya akan nimbulin racun yang akan menyakiti batin elo.
Jangan pula berpikir bahwa tahun depan elo akan punya kesempatan buat balas dendam secara brutal terhadap junior alias murid baru. Kalo elo beruntung terpilih sebagai panitia MOS di tahun depan, anggaplah itu sebagai beban dan tanggung jawab elo. Elo mengemban tugas buat nyiapin adik-adik elo sebagai manusia yang tangguh dan berwawasan. Generasi muda yang sadar akan hak dan kewajibannya sebagai pelajar.
-Hikmah MOS MOS emang berat, tapi anggaplah ini sebagai
ungkapan rasa syukur karena elo udah lulus SMP dan memasuki sekolah lanjutan yang elo idamkan. Anggap pula ini adalah hadiah atas sukses elo yang udah tembus ke SMA. Berpikir begitu, bikin elo nggak stres dan menjalaninya dengan senang hati. Jangan pikirin susahnya melulu, tapi sadari tentang hikmah yang bisa elo petik dari acara ini:
1. Dengan MOS, gue lebih paham seluk-beluk sekolah. Mulai dari lingkungan sekolah hingga kurikulum dan program sekolah. Strategi belajar bisa disusun lebih awal ketika kita tahu tentang kurikulum dan program sekolah.
2. Gue bisa ngukur kemampuan dan tau seberapa tangguh gue. Ngebuktiin kalo gue bukan anak kecil yang cengeng dan gampang nyerah. Orang nggak cuma dituntut supaya pintar, tapi juga cerdik dan pantang menyerah. Smart and strong!
3. Dengan MOS, gue jadi kenal temen-temen seangkatan dan senior-senior gue, juga dengan para guru. Keakraban mulai bisa disemai, dipupuk, dan dipelihara supaya berbuah kebaikan. Syukur-syukur kalo dapet gebetan baru di MOS, hihihi ....
Jreng! MOS Gitu, Lho! JRENG! HWAAA ...! SMA, AKU DATANG! Itulah yang pertama kali gue bilang pas nyampe di SMAN
32 Jakarta. Hehehe..., akhirnya kesampean juga deh, gue make seragam putih abu-abu. Sweneng bwa-ngetz!
Tapi, gue harus ikutan MOS dulu selama tiga hari. Kalo pas SMP dulu di SMPN 66 Jakarta, MOS-nya nggak pake ngerjain segala. Pas ngedaftar ulang, gue nanya ama petugas pendaftarannya kemudian jadi "musuh" gue; GURU MATEMATIKA! katanya bakalan ada penggojlokan, tapi nggak sampe parah. Penggojlokannya paling cuma konyol-konyolan dan uji malu. Seberapa "tipis"nya urat malu gue. No problemo kalo cuma sekadar uji malu!
MOS Hari Pertama ... Ada papan pengumuman gede yang isinya pembagian kelas. Lumayan deh, cukup banyak alumni SMP gue di kelas. Meskipun nggak terlalu banyak yang deket sih, tapi ... daripada asing sama sekali"
Kelas yang gue dapet adalah kelas X-6. Gue
pikir, anaknya bakalan jaim semua. Nggak asyik dan nggak seru. Kakak kelasnya pun pasti pada jutek. Mana dua di antara tiga kakak pembina gue adalah cewek, lagi! Ah, tapi kan, nggak juga. Kalo ada apa-apa, tinggal lapor BP. Selesai, kan" Makanya, MOS ini gue hadapi dengan santai aja.
Pake tas dari karung goni, topi bola yang di-belah, name tag ubur-ubur harus ada foto bareng orang gila! Gue tempel aja foto bareng geng SMP gue. Kan, gila semua tuh! gue sama sekali nggak risi. Gimana, ya" Emang udah gitu, sih. Operasi penyambungan urat malu gue yang putus beberapa bulan lalu gagal. Hehehe ....
Acara pertama, kami diantar kakak kelas Kak Randi yang dipanggil Tukul ama anak-anak karena mirip pelawak Tukul, Kak Wulan, sama Kak Vindy seisi kelas gue keliling sekolah, kemudian dikasih tugas bikin denah sekolah. Gue sih, bikin tapi asal-asalan.
Nah, di hari pertama itu juga, kakak kelas ngu-mumin bakalan ada lomba yel ama lomba ngamen antar kelas. Gue sama sekali nggak minat mencalonkan diri. Kakak kelas gue udah wanti-wanti nyu-ruh anak-anak ngarang yel yang seru. Yang penuh semangat, en kalo bisa lagunya jangan basi. Ya, gue sama sekali nggak bisa ngarang yel. Karena gue nggak ngerasa ada bakat musik, tuh! Alat musik aja cuma bisa maen recorder, Ngebawain lagu mengheningkan cipta pun masih banyak yang fals. Boro-boro nulis lagu buat yel!
Apalagi bawaan bekal makanan en gaya yang
makin hari makin nyusahin. Jelas nggak ngemung-kinin buat gue ngarang yel. Masa gue disuruh bawa melinjo gepeng emping sama tahu bentuk Sponge-Bob en tempe bentuk Patrick" Nasinya juga harus dibikin persegi. Dan minumnya susu pendekar. Apa coba, tuh"
Rambut juga harus dikuncir tiga puluh dua. Iketannya pun harus pita, nggak boleh karet Jepang. Trus juga, suruh nyiapin rok rumbai Hawaii buat lomba yel pada hari ketiga. Tuh, kan" Nyusahin!!!
MOS Hari Kedua! Ngumpulin denah, sama persiapan buat lomba yel dan ngamen. Kakak kelas makin ngedesak kelas gue yang pasif buat bikin lagu. Akhirnya setelah di-sodok-sodok, ada dua cewek yang nyumbang lagu Kopi Dangdut dengan lirik gubahan. Tapi, kayaknya kurang oke.
Akhirnya, pas lagi disuruh bikin lagu semua, dan kelas hening, kedengeran kakak kelas gue di depan lagi pada nyanyiin reff lagu Naif Air Dan Api.
Oh kakak-kakak, dukunglah kami Untuk beraksi di hari ini Supaya kami bisa meraih juara satu Lomba yel ini...
"Kak, itu lagu-nya Naif, kan"" tanya gue. "Iya, nih. Tambahin, dong! Apa aja, kek!" sahut Kak Tukul.
"Tunggu, ya" Coba deh, aku bikin," kata gue sambil mulai ngarang-ngarang lirik. Gue minta kertas selembar ama temen sebangku, si Costa temen SD yang sempet pisah di SMP. Eh, pas SMA ketemu lagi! dan gue mulai mengarang.
"Kak, ini baru bagian awalnya aja," kata gue.
"Lagu apaan""
"Air dan Api." "Makasih, ya"" Kak Wulan terkesan banget. "Coba deh, kamu nyanyiin."
Apa maumu, melawan kami Lo coba aja Ngelawan kami yang keren-keren
Bukan maksudku Jadi belagu Tapi emang X-6 bakalan menang lawan elo semua!
"Waaah, bagus-bagus! Eh, temen-temen, nih udah dapet sepotong liriknya. Kalian tambahin lagi, ya" Biar rame!" Kak Tukul langsung semanget nulis di papan tulis, nggak peduli sama tulisannya yang kayak ceker ayam.
Anak-anak pun nyatet. Asyik, gue jadi nggak sabar nungguin lombanya, kira-kira bakalan seheboh apa, ya"
MOS Hari Ketiga! Lombanya bakalan d imulai. Dan, jam delapan semuanya udah stand-by. Dengan koreografi asal-asalan, X-6 pun nekat tampil modal dengkul.
"Yang penting heboh dan kompak!" kata Kak Tukul lagi ngobarin semangat perjuangan.
Pukul setengah sembilan, X-6 turun ke lapangan. Dengan kostum perang, yang superkeren! Na-me tag ubur-ubur dari karton warna pink katanya biar kayak ubur-ubur SpongeBob topi dari bola plastik yang dibelah itu pun masih ditempelin sama dedaunan, dan rok rumbai Hawaii dari tali rafia. Kelas X-6 bertempur!
Kelas X-6 pun mulai formasi dengan tangan saling rangkul di pundak, kayak maen kereta-kere-taan. Dan nyanyiin potongan awal yel yang digubah dari lagu Sorak-Sorak Bergembira. Begitu lagu abis, formasi udah rapi. Cowok-cowok pada di belakang dan cewek bikin dua barisan, yang tinggi badannya pendek ada di depan (yaitu gue!).
Dajjal dari kelompok kami ngasih komando, "X-6: Yuk-Yak""
"YUUUK!!!" sahut anak-anak serempak.
"SATU-DUA-TIGA!" komando si Dajjal lagi.
Kami pun berlagak dan beraksi. Bener-benar tanpa malu. Beres yel, kami harus bersiap-siap buat lomba ngamen!
"Sya, gimana" Mau bawain lagu apa"" tanya Kak Tukul." Tau, deh. Maunya sih, lagu Radja yang Tak Kan Melupakanmu, tapi ... kurang hafal. Kayaknya Bintang di Surga aja, deh," jawab gue.
"Yang bagus, ya! Tadi kamu keren, tuh! Biarin aja, nggak usah pake malu! Muka tembok, deh!" kata Kak Tukul.
Pas gue tampil, ada beberapa kakak kelas
nyawer duit. Gue ajak nyanyi live, malah disawer goceng! Kak Tukul pun langsung minjem topi bola gue en nadahin duit saweran. Kemudian, gue liat dia lari ke kantin ngebeliin es buat anak-anak. Katanya sih, total saweran ada dua puluh ribu dan abis dibeliin es. Eh, gue-nya malah nggak kebagian! Karena pas lagu abis, esnya juga udah pada abis disedot kerongkongan-kerongkongan yang kering-kerontang.
"Maaf ya, Sya" Buat kamu jadi nggak ada, deh," Kak Tukul nyesel.
"Nggak pa-pa, bawa minum, kok," kilah gue.
"Nih, kamu beli, gin!" Kak Tukul nyodorin gue duit gocengan.
"Ini duit saweran"" tanya gue.
"Nggak, itu duit kakak. Pake aja. Eh, tapi di-kembaliin, ya" Nggak ada duit lagi, soalnya." Kak Tukul tersipu ngejelasin betapa cekaknya dia.
"Iya," seloroh gue sambil jalan ke kantin.
Dua jam kemudian, pengumuman pemenang di-sebutin di speaker sekolah. Dan, gue sama sekali nggak nyangka yang menang adalah KELAS GUE! Tapi, ngamen gue kalah. Tiga besar pun nggak. Hehehe..., mungkin kualitas vokal gue kurang prima. Abis, kesedot lomba yel. But nggak pa-pa deh, buat pengalaman.
Kak Tukul pun turun nemuin panitia buat ngambil hadiah lomba. Hadiahnya adalah dua puluh batang cokelat! Gue sebagai orang yang ikut dua lomba sekaligus, dapet "kelebihan" boleh makan satu batang utuh! Yang lain sih, harus dibagi-bagi.
Hafsya Biar MOS Jadi Funky 1. Muka tembok aja Soalnya, kakak kelas tuh, aslinya pada capek, ngurusin MOS dari pagi sampe sore. Sekalipun kita udah pulang, kakak kelas masih pada di sekolah sampe sore, bahkan sampe malem. Besok paginya, mereka harus sampai di sekolah lagi buat ngatur acara. So, kadang-kadang bawaan mereka jadi bete terus karena capek. Mereka sebel banget ngeliat anak yang susah diatur lantaran MALU! Akhirnya, mereka jadi sensitif dan kadang-kadang jutek sama kita. Kalo udah gitu, pasti ntar kita ngecap, "Kakaknya jutek!"
Padahal, coba deh, mikir dari sisi mereka. Sebenernya, MOS itu makin ringan dari tahun ke tahun. Tahun-tahun sebelum reformasi, MOS itu maen fisik. Dijemur di lapangan, naek-turun tangga, dan dikerjain yang kadang nggak masuk akal. Tapi sekarang, materi MOS dibuat makin ringan seiring dengan transparansi media massa. Kalo sampe mereka bikin MOS yang kejam dan sadis hingga ada yang celaka. Malu kan, masuk media"
2. Jangan overacting Sikap muke tembok emang perlu, untuk dapet simpati kakak kelas. Tapi, jangan sampe elo jadi pecicilan atau belingsatan nggak jelas sama kakak kelas. Karena, bisa aja ada kakak kelas yang merhatiin elo, dan ... ouch! Too cruel to be writ-ten here! Bisa-bisa, elo dalem bidikan dilabrak! Khususnya buat cewek, nih! Kakak kelas cewek itu selalu merhatiin kita kaum cewek, lho! Mereka selalu
jeli ngeliat cewek yang sok cakep dan be-gaya. Kalo kamu dua tipe di atas, be careful! Bisa jadi, elo dalem sasaran "gencet"!
3. Jangan banyak omong Anak yang banyak omong, pasti keliatan nyebelin di depan kakak kelas. Apalagi yang ngomongnya cempreng dan merepet kayak petasan banting. Kakak kelas bisa aja sebel sama suasana gaduh yang elo ciptain. Dan kalo mereka nyuruh elo ngelakuin sesuatu selama dalam batas wajar nurut aja!
4. Bajaj pasti berlalu Cobalah terapkan ilmu ikhlas kayak si Fandi di sinetron Kiamat Sudah Dekat. Ikhlaslah ngelakuin apa aja yang disuruh. Cobalah tenang, dengan berpikir, bajaj pasti berlalu. MOS itu nggak bakal-an lama, kok. Masih mending cuma tiga hari. Coba kalo tiga tahun .... Nggak mungkin, kan"
I Love... Sobat, Senior, dan Guru
1. Auw! Gencetan Senior 2. Sobatku Baik Banget 3. Guru: Killer, Charming, Cuek Sama Asyiknya
Auw! Gencetan Senior PAGI ini, kupikir sama dengan pagi sebelumnya. Aku datang terlambat, nyontek pe-er, lalu membahas gimana serunya gelaran F1 hari Minggu kemarin bareng Getz di pojok kelas. Namun, yang kudengar hanyalah cerita-cerita nggak nyenengin yang datang dari beberapa cewek juga beberapa cowok yang lolos audisi untuk digencet.
Jadi, tepatnya Senin kemarin, banyak anak cewek digiring ke kelas tiga, kemudian dimaki-maki atau dibentak-bentak kakak kelas, dibuat menangis, atau kalo bersedia diberikan fitur-fitur tambahan kayak ditabok. Yang "ngerjain" adalah anak kelas tiga yang wajahnya emang nggak fotogenic buat dipajang di cover majalah hanya gara-gara mereka nggak begitu suka anak-anak kelas satu yang tingkahnya melebihi para senior.
Iiih ... kedengerannya nggak indah.
Aku ngedenger banyak cerita dengan versi yang berbeda dari Getz. Ada Tina, model nomor satu sekolah ini, paling tinggi, paling cantik, paling baik, tapi sayangnya...kena seret juga. Dia dibawa ke koridor kelas tiga sebelah utara, tempat yang
nggak bakalan "diakses" guru-guru, dan enam cewek kelas tiga memaki-makinya dengan beragam "kata indah" sampai-sampai nggak enak didenger padahal inti kalimatnya cuma, "elo jangan belagul".
Tina ditarik dan dikelilingi enam cewek itu. Setelah puas memaki-maki Tina, satu kancing atas seragam Tina ditarik sampai lepas, dan kerahnya diangkat aku tau cewek yang mengangkatnya harus jinjit karena Tina lebih tinggi lima belas senti. Setelah itu, Tina diempaskannya ke atas tanah, dan diancam. "Jangan coba-coba bilang ama guru. Atau elo, pulang tinggal bawa nama doang. Ngerti"!"
Tina cuma bisa diam, karena kalo ngelawan, dia nyadar kalah jumlah. Belasan orang di belakang enam cewek itu, bukan berarti belasan orang kayak sutradara, penata lampu, atau kameramen, tetapi belasan kelas tiga lain yang emang merhatiin si Tina selama penggencetan. Ceritanya, mereka pengawal pribadi. Yang kalo si enam pasukan inti nggak punya kata-kata lain buat ngerendahin Tina, belasan orang di belakangnya wajib membantu. Jadi intinya ... Tina hanya diam.
Kabar-kabar terakhir menyebutkan, para kelas tiga penggencet itu sirik sejak tau Tina dateng ke sini dengan modal sebagai seorang model yang emang nyedot perhatian semua cowok di sekolah. Jadi, mereka ngerasa kesaingin, hingga harus nga-dain pergelaran "kayak beginian" supaya ngebikin Tina sadar bahwa masih ada kelas tiga di sekolah ini yang menurut hukum alam berarti most dominating sekaligus ngasih tau "jangan mentang-mentang se-
orang model, terus bisa seenaknya".
Juga ada cerita lain dari Yuli. Cewek ini digiring ke WC cewek kelas tiga yang kebetulan banget letaknya juga nggak keliatan dari ruang guru, sebab penempatannya di ujung koridor kelas tiga sebelah utara. Yuli ditarik delapan orang cewek kelas tiga, dan di dalem WC sama kayak Tina Yuli dimaki-maki, dibentak-bentak, kadang-kadang didorong-dorong sampe nabrak dinding. Karena kejadiannya setelah sekolah usai, jadi senior-senior itu nggak tanggung-tanggung ngambil air segayung, lalu ngeguyurin ke atas kepala Yuli, sampe pulang basah kuyup.
Setelah kejadian itu, dan setelah perenungan beberapa saat "mengolah" makian-makian semua penggencetnya, Yuli sadar dia dianggap sok borju
. Emang sih, dilihat dari penampilan, Yuli nggak ada potongan orang yang pernah ngemis di jalanan. Dateng ke MOS hari pertama dianter naek BMW. Hari kedua masih BMW. Hari ketiga Honda Jazz, tapi ternyata itu nyetir sendiri. Cieee gaya! Sepatunya aja nggak akan nemu di Bandung, kecuali kalo kamu jalan-jalan di Paris. Atau buat ukuran bandana aja, harganya sama kayak sepatu mahal dari kulit. Yuli emang tajir banget.
Tapi, kakak-kakak kelas tiga nggak begitu suka sama anak baru kayak begitu. "Elo ke sekolah mau belajar atau bikin showroom mobil, nah"!" Yuli sadar kalo seminggu ini, dia udah ganti mobil empat kali. "Sepatu aja mesti dari bahan mahal kayak gini, elo mau jualan"!" Yuli juga baru sadar sepatu kakak kelasnya bisa dibeli di Pasar Baru. "Terus apaan sih,
ini"! HP aja mesti ada televisi di dalemnya!" Tapi, Yuli diam, padahal rasanya ingin sekali dia berkata Selain ada kamera, radio. Internet, dan teve dalam HP ini, ada juga fitur lain seperti kulkas, setrika, dan mesin cuci. Puas"!
Atau yang nggak kalah serunya, adalah cerita digencetnya si Egie. Cewek yang emang cuek ama siapa aja ini, digencet spesial pake telor di taman belakang sekolah. Kebetulan lagi, taman ini ada di balik koridor utara kelas tiga, yang kalo koridornya aja nggak keliatan dari ruang guru, apalagi taman di baliknya.
Sejak MOS, Egie udah mulai cari perhatian. Dengan lagaknya yang centil, sok akrab, gokil, menggoda, dan nakal, beberapa cewek senior jadi enek ngeliatnya. Egie digencet sama lebih dari dua puluh cewek senior hasil konferensi penggencetan tahun ini, dan apa yang dilakukan Egie benar-benar di luar dugaan mereka. Mereka pikir, Egie bakalan takut dengan dua puluh orang lebih mengelilinginya, lalu memaki-maki, membentak, mendorong, tapi Egie malah balik melawan.
"Elo tau nggak sih, siapa elo di sekolah ini"!" bentak yang rambutnya kuncir kuda.
"Saya Egie, emang kenapa"" jawab Egie polos. Lagaknya seolah nunjukin saat ini dia lagi diajak curhat.
"Eeeh! Malah ngejawab! Elo kagak tau siapa gue, nah"!" bentak yang rambutnya kuncir banteng.
"Nggak," jawab Egie polos. Emang, kenapa nggak boleh jawab" Kan, mereka nanya, pikir Egie.


Gue Anak Sma Karya Benny Rhamdany di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Heh! Nyadar diri, dong! Elo tuh, masih kelas satu. Jangan belagu! Pake sok akrab ama kelas tiga lagi. Kecentilan banget, sih! Elo tuh siapa sih, siapaaa ... di sekolah ini"! Baru aja jadi kelas satu lagaknya udah kayak kelas tiga! Mikir aja kali, elo tuh masih cupu! Cupu! Anak bawang! Kagak ada pantes-pantesnya elo nyapa anak kelas tiga di sekolah! Jauh-jauh, deh! Heh, inget, ya ... gue nggak mau liat muka elo lagi di sekolah ini, kecuali elo milih diem di sekolah dan nggak keluar-keluar selama istirahat. Ngerti lo"! Hina deh, elo dateng ke kantin!" bentak yang rambutnya kuncir kelinci panjang lebar, mene-ruskan bentakan-bentakan sebelumnya.
Hatchiiieee Egie malah bersin. Asalnya mau ngupil, tapi malu. "Barusan, Teteh ngomong ama saya"" ujarnya polos lagi.
Aaarrrggh! Kayaknya, cewek-cewek yang ngegencet itu udah kesel and pengin cepet-cepet "ngabisin" si Egie. Tapi, semua itu emang bener. Egie cuek banget dan sampe sekarang, meskipun udah digencet sepuluh kali, tuh anak masih adem ayem aja nyari perhatian orang-orang. Emang kecentilan, sih!
Menilik cerita orang-orang itu, aku juga baru inget kalo aku pernah digencet ama senior. Waktu itu masih SMP. Aku sekolah siang dan pulang pukul lima sore dan aku mesti ngelewatin pasar Caringin yang baunya "harum. Karena nggak mau ngelewat pasar induk itu, aku motong jalan lewat gang-gang kecil, yang penting nyampe di jalan Soekarno-Hatta, jadi aku bisa naik angkot Caringin Dago
sampe ke rumah. Namun, perjalanan nggak terasa begitu enak waktu aku lewat gang yang agak sepi. Tampak di ujung gang tepat sebelum mencapai jalan ada kerumunan tiga orang berseragam SMP, yang wajahnya lumayan kukenal. Yup, itu kakak kelasku. Satu di antara mereka lebih tinggi dariku, sementara yang lain mungkin sepantaran.
Kupikir, aku nggak bakalan disapa ama mereka. Ternyata dugaanku salah. Bukannya disapa lagi, tapi aku ditodong! Mereka memanggil dan menarikku. Di tangan cowok yang paling tinggi, ada
sebilah pisau yang diarahkan ke perutku, dan mereka mulai memaki-maki. Bentakan-bentakannya sih, lupa. Tapi yang aku ingat, mereka itu sirik karena aku katanya anak yang jutek. Apalagi aku anak Paskibra. Di SMP ku, Paskibra adalah segalanya mengalahkan cheer-leader dan kalo berhasil jadi tim inti, hebat, deh! Sementara itu, kakak-kakak kelasku sama sekali nggak ikutan ekstrakurikuler.
Dari bentakan-bentakan yang nggak jelas dan nyaris membuatku menangis aku narik kesimpulan, kalo mereka emang nggak suka anak Paskibra. Dari dulu, mereka pengin banget ngehajar anak-anak Paskibra yang dinilai jutek, egois, dan sombong. Tapi, nggak ada yang berhasil, karena katanya menakutkan. Entah kenapa, sialnya aku, ternyata mereka menggunakan kesempatan ketika aku lagi sendiri untuk melabrakku. Wuih ... masih terngiang-ngiang kok, gimana kejadiannya.
Dan sekalinya mereka ngegencet, nggak tang-
gung-tanggung. Mereka malak aku! Hehehe ... be-neran! Dompetku disuruh dikeluarin aku nggak bisa beron-tak karena pisau ada di perutku dan aku disuruh ngeluarin semua isi dompet. Untungnya cuma dua ribu perak yang ada di dalem dompet. Jadi, "penghasilan" mereka nggak begitu gede! Aku dile-pasin, setelah dompetnya dicuri juga! Gileee ...
Muharram R. Trik Jitu Menghindari Gencetan
1. Hindari tempat mangkal mereka
Kantin, koridor kelas tiga, warung di deket sekolah, dan tempat-tempat tersembunyi harus dijauhi. Para senior merasa memiliki sekolah ini dan lebih berkuasa daripada adik-adik kelasnya. Meskipun elo juga bayar di sekolah supaya bisa lewat di koridor kelas tiga, tapi mereka menganggap koridor kelas tiga adalah daerah sakral dan suci mereka. Hanya kelas tiga yang boleh lewat. Kelas satu atau kelas dua, silakan lewat jalan lain. Atau, elo milih untuk ditarik ke WC sama mereka, hanya untuk dimaki gara-gara nyentuh daerah khusus mereka"
Meskipun sebagai kelas satu, elo udah bayar sekolah agar bisa menikmati seluruh fasilitas, tapi sebaiknya jangan berlebihan. Jangan pergi ke kantin bareng geng di kelas, dan ribut-ribut di kantin, padahal di situ ada juga kelas tiga dan gengnya yang lagi ribut-ribut. Bersikap biasa aja. Atau, tunggu sampe senior galak yang ada di kantin udah pada pergi, baru elo bisa ribut-ribut.
Inget, kalo masih kelas satu, jangan dulu ngela-kuin apa-apa. Jangan belagu atau cari-cari perhatian orang. Mau belagu sih, boleh, tapi ntar kalo udah kelas tiga. Sebab, nggak akan ada yang ngegencet elo.
2. Jaga bahasa dan sikap Tidak menggunakan kata-kata gaul seperti "gue-elo" di sekitar senior. Tidak berbisik-bisik dengan temen di sekitar senior meskipun kamu bukan ngomongin senior itu. Tidak menatap senior lama-lama. Tidak berlagak centil di sekitar senior. Senior rata-rata nggak suka kalo ada adik kelasnya kayak begitu. Ngobrol menggunakan "gue-elo" mungkin wajar dengan temen sekelas. Tapi, kalo situasinya nggak memungkinkan banget, misalnya di kantin, elo ngobrol "gue-elo" bareng temen sekelas elo, sementara senior yang galak yang ngomongnya "aku-kamu" lagi duduk di sebelah, bisa-bisa memancing pertempuran hebat!
Banyak senior yang nggak suka ngeliat adik kelasnya sok gaul, sok funky, dan kesannya pe-ngin ngalahin semua kelas tiga yang ada di sekolah itu. Buat anak-anak Jabodetabek yang bahasa sehari-harinya make "gue-elo" mungkin nggak begitu menarik perhatian. Tapi, tempat-tempat di seluruh Indonesia selain Jabodetabek kan, bahasanya nggak kayak gitu. Malahan sebenernya, lebih banyak senior yang benci ngedenger ada adik kelasnya ngomong "gue-elo" di depan dia. Apalagi pas ngobrol langsung. Walah-walah,
nggak sopan itu mah! Padahal, bisa kan, diganti dengan "saya" untuk sementara, supaya kita dianggap santun dan nggak mancing mereka buat marah.
Kata ganti diri yang jangan kita ucapkan ke kakak kelas; gue, aku, eke, ai, elo, kamu, ses, yey. Dan beberapa kalimat yang aduuuh...jangan deh, diucapin waktu ngobrol ke kakak kelas, seperti; so what gitu loh"!, plis dong, yang bener aja kali!
3. Hindari terang-terangan nyari gebetan senior
Elo mungkin punya hak buat ngecengin para senior, yang rata-rata udah keluar aura cute-nya k
arena proses pendewasaan. Tapi, para senior cute itu masih jatahnya para senior juga. Secara nggak langsung, kalian masih belum punya hak buat ngedapetin mereka. Kalo cuma ngecengin sih, itu personalnya masing-masing. Tapi, bukan berarti elo nggak bisa ngedapetin para senior yang cute-cute itu, kok!
Boleh-boleh aja ngegebet kakak kelas yang elo pengin. Tapi, jangan secara terang-terangan ngedeketin tuh kakak kelas, sampe-sampe kirim salam lewat radio, atau sengaja lewat di koridor kelas tiga buat narik perhatiannya. Selain kakak kelas yang elo keceng makin aneh gara-gara elo cari perhatiannya berlebihan, senior-senior yang galak pun makin nggak suka ama elo. Elo bisa dianggap cewek murahan.
Mending banyak-banyak berdoa aja supaya yang elo kecengin punya rasa ama elo. Sebab, kalo kondisinya udah kayak gini tuh senior yang elo kecengin ternyata ngecengin elo udah nggak ada lagi yang bisa nyalahin elo. Kalo elo masih dapet gencetan juga, elo bisa ngebantah, sebab yang suka ama elo emang tuh kakak kelas.
4. Hindari geng caper Elo punya hak buat bikin geng di kelas bareng temen-temen. Biasanya geng tercipta gara-gara ada beberapa temen yang satu visi atau sama hal-hal favorit ama elo. Di sinilah elo bakal ne-muin temen-temen yang satu hati, dan elo rasa paling deket ama elo. Dan gara-gara kedeketan inilah, yang ngebikin lupa, elo lagi ada di mana.
Banyak kasus nggak begitu mengenakkan terjadi di beberapa sekolah. Ada geng kelas satu yang lagi mejeng-mejeng di kantin. Karena mereka ngerasa di tempat yang pas, mereka asyik-asyik aja ribut sendirian dan nggak nyadar kalo ada senior yang keganggu ama mereka. Ujung-ujungnya, tuh senior yang keganggu, ngelaporin perihal ribut-ribut tersebut ama yang "berwajib" misalnya senior galak atau senior tukang gencet, dan tuh geng mampus deh, digencetin hari itu juga. Atau ada geng yang sengaja ngerebonding rambutnya, and jalan sampe kantin barengan kayak peragawati. Siapa senior yang nggak gerah ngeliat yang kayak begituan"! Kesannya sok cari perhatian, padahal baru masuk kelas satu.
Tapi, rambut aja mesti lurus bareng-bareng. Atau yang pada punya kulit putih. Atau yang semasa SMP-nya udah jadi model, dan ketemu lagi di sekolah itu. Pokoknya, yang berkoloni dan cari perhatian kayak gitu, nggak disuka banget ama senior.
Sobatku Baik Banget "CIHUUUY ...! Asyiiik aku udah SMA!" seruku sambil menari-nari di depan kaca dengan seragam baru abu-abu putih. Aku udah nggak make biru-putih lagi. Sekolah baru, baju baru, rambut yang baru kupotong pendek di atas bahu biar nggak perlu dikepang lagi, temen-temen baru, sobat baru, dan wow...dapat pacar baru, dong! Ehem...aku tersenyum sendiri sambil menyelesaikan acara dandanku pagi itu. Aku udah siap berangkat sekolah.
Hatiku bener-bener gembira. Kayaknya, di kepalaku berhamburan berbagai rencana dan cita-cita. Salah satunya, aku mesti dapetin sobat yang baik banget. Ini satu hal yang penting banget bagiku.
Waktu SMP, aku ngejalanin hari-hari dengan ceria karena ada sobat kental yang baik dan nye-nengin, namanya Sita. Sayangnya waktu lulus SMP, dia harus ngikutin ortunya pindah ke Bengkulu. Duuuh aku ngerasa sedih banget. Padahal, dulu aku sama dia bercita-cita masuk SMA favorit, ya SMA Negeri I Tulungagung.
Saat aku tiba di sekolah, suasana udah cukup
ramai. Sebagian udah aku kenal karena mereka temen-temenku waktu SMP, tapi sebagian besar belum kukenal. Meskipun udah ada MOS selama tiga hari, tetep aja aku belum bisa mengenal semua temen.
Setelah menyapa temen-temen yang kebetulan berpapasan, aku langsung masuk ke kelasku di 1-4. Wow...kelas udah penuh. Aku bingung saat mengedarkan pandangan. Semua bangku udah ada tasnya, kecuali bangku paling depan yang berhadapan langsung dengan meja guru.
Iiih serem! Nggak bisa ngerumpi sama nyontek! batinku ngedumel. (Hehehe ... biarpun sering juara kelas, aku juga pernah nyontek kalo terpaksa dan apesnya sering ketauan guru juga! Suka ngerumpi juga kalo gurunya lagi ngebetein! Ups, jangan ditiru, ya!). Meskipun begitu, aku terpaksa meletakkan tasku di tempat itu. Ntar aku harus nyari tempat yang strategis, bati
nku lagi. Nina, seorang temenku yang kukenal karena dulu satu SMP sama aku, masuk kelas. Aku mendekatinya. "Nin, kamu sama siapa""
"Kamu mau duduk mana"" dia balik bertanya.
Aku mengedikkan bahu. "Bingung. Perasaan, aku udah dateng pagi, masih aja nggak kebagian bangku. Nggak bisa milih."
Nina tertawa sambil ikut mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. "Oh iya, tinggal....Ahaa... kamu di depan aja sono! Nggak pa-pa, lagi! Sama si Ela itu, lho!"
Aku melirik ke depan. "Ela yang dulu anak 3-A
itu" Yang pendiam dan dijuluki kuper itu" Ya ampun, Nin. Mana bisa aku betah sama dia" Bisa-bisa, seharian aku didiemin!" seruku langsung mengambil tasku kembali. Aku meletakkannya di tempat Nina.
"Aku nitip dulu. Ntar kalo udah ada yang mau tukeran tempat, aku ambil, deh!" seruku sambil keluar. Nina nggak berkomentar. Aku gabung sama temen-temenku di luar.
Pukul tujuh persis bel berbunyi nyaring. Semua murid berhamburan masuk ke kelas. Begitu juga murid-murid di kelasku. Aku masih berdiri di depan kelas. Ternyata bener-bener deh, nggak ada bangku kosong yang tersisa selain di sebelah Ela. Usahaku untuk bertukar tempat dengan temen-temen nggak berhasil. Mereka malah ngomel-ngomel padaku.
"Makanya, kalo mau dapet tempat strategis itu, ya dateng pagi-pagi. Kamu sih, malah molor. Jam berapa tadi bangun"" balas Ningrum malah meledek. Temen-temen yang lain pun ikut menimpali.
Akhirnya dengan cemberut, aku mengambil tas yang kutitipkan di tempat Nina. Mau nggak mau, aku duduk di sebelah Ela. "La, aku duduk sini, ya"!" seruku berusaha tersenyum.
Ela yang sibuk dengan bacaannya ya ampun, tau nggak, yang dibaca tuh buku Fisika Dasar. Duh, bisa-bisa seharian aku mati kaku di sampingnya! menoleh ke arahku dan tersenyum. "Silahkan! Aku seneng banget kalo kamu jadi temenku!" serunya sambil mengulurkan tangan, mengajak salaman. Aku menerima jabatan tangannya dan ikut tersenyum.
Tak lama, Bu Sri, wali kelas masuk. Seperti biasa, mengabsen, ngasih peraturan ini-itu dan se-bagainya. Biasalah rutinitas setiap tahun ajaran baru. Aku nggak terlalu memerhatikan. Semula aku pikir, hari-hariku bakalan ngebetein di samping Ela. Selain pendiem, Ela juga kutu buku banget. Banget-banget, deh! Tiada waktu selain untuk baca. Swear deh, waktu istirahat pun Ela pasti lari ke perpustakaan. Nggak ada waktu buat seneng-seneng, deh.
Aku sampai uring-uringan sendiri kalo udah duduk di sampingnya. Aku sih, seneng baca dan nulis, tapi nggak "gila" kayak dia. Lagian, bacaanku yang ringan-ringan dan populer, sementara dia, bacaannya buku-buku berat buku-buku pelajaran eksakta tuh, bagi dia kayak ngebaca majalah populer remaja.
Tapi ... setelah seminggu duduk sebangku sama Ela, aduh ... aku jadi salut sama dia. Ternyata, Ela tuh pinter banget dan wawasannya luas. Kalo aku tanya apa aja sama dia, pasti dia bisa ngeje-lasin dengan komplet! Nggak perlu buka-buka buku lagi! Kalo aku nggak ngerti satu materi pelajaran, dia bisa nerangin dengan detail dan sabar. Kadang-kadang, aku merasa lebih ngerti dijelasin sama dia daripada diterangin sama guruku.
Selain itu, Ela ternyata punya kelebihan lain. Dia pinter banget ngebesarin hati orang. Kalo aku lagi males atau down gara-gara keki nggak ngerti gimana ngerjain tugas Matematika yang sulitnya minta ampun, dia pasti bisa ngebikin aku semangat lagi buat ngerjain dan belajar. Dia juga punya per-
bendaharaan joke yang bener-bener membuatku ketawa ngakak. Kalo udah berbagi cerita sama dia, wah, ternyata kami juga bisa fun dan seru. Sampai temen-temen yang dulu mengenal Ela, terkaget-kaget aku bisa ketawa ngakak dengannya.
Sejak itu, aku jadi semakin dekat sama Ela. Secara nggak langsung, Ela ngajarin aku untuk mencintai pelajaran eksakta, membuatku seneng sama buku-buku "berat", nggak boros dan rajin menabung, menambah wawasan soal agama, lebih sabar dan peduli sama orang serta lingkungan di sekitarku, ngebenerin bacaan Al-Quranku yang nggak ada lagunya, lebih rajin beribadah karena dia udah berjilbab dan ikut Rohis. Yang jelas, aku juga jadi ikut-ikutan suka puasa Senin-Kamis, soalnya jadi males kalo ke kantin sendirian. Terus kalo ba
wa makanan, suka nggak enak mau makan di samping Ela yang puasa. Padahal, buat dia nggak masalah.
Sementara itu, mungkin secara nggak langsung aku udah membuatnya lebih enjoy dengan masa remajanya. Aku paling suka ngajakin dia ke kantin soalnya, aku paling doyan makan, tapi tetep aja badan nggak mau gemuk jalan-jalan keliling tempat-tempat wisata di kota kami, ngedatengin rumah temen-temen kami, ngikutin acara-acara sosial yang menyebabkan kami ketemu banyak orang, ngajakin dia ke mal buat belanja pernak-pernik cewek, cari baju-baju yang lagi ngetren, dan nggak ketinggalan pula nyobain kosmetik remaja yang aman. Yang nggak kalah serunya, sejak sering kuajak nonton, justru dia yang jadi gila nonton film di
bioskop. Ela juga nggak lagi "alergi" sama majalah-majalah remaja populer, ngedengerin lagu pun nggak cuma nasyid.
Ela berjilbab sejak SMP, dia pun berusaha nga-jakin aku berjilbab. Aku langsung ketawa ngakak waktu dia ngomongin soal itu. Aku tau niatnya baik, tapi sepertinya nggak pas untuk diriku.
"Ayam aja bisa ngetawain aku, La!" seruku sambil tertawa. "Aku tau jilbab itu wajib bagi Musli-mah, tapi kalo hatiku belum siap, gimana, dong" Jilbab itu kan, suci" Apa gunanya aku pakai, tapi hatiku masih ke mana-mana, mataku masih belum bisa kayak kamu, tunduk kalo liat cowok aduh, ketemu cowok cakep tetep aja aku bisa teriak-teriak itu cowok cakep banget belum lagi soal agama dan ibadahku. Kamu tau kan, sholat aja aku masih suka nunda-nunda. Untung deh, selama ini ada kamu yang selalu ngingetin, ada ortuku yang baik yang mau bangunin kalo aku nggak cepet-cepet subuh! Ntar deh, kalo aku udah siap!" seruku panjang lebar. Ela bukannya marah, tapi hanya tersenyum. "Syukurlah kalo niat itu udah ada di hati kamu. Aku nge-hargain prinsip kamu. Mudah-mudahan, Allah Swt. cepet ngasih kamu hidayah untuk pake jilbab!"
"Amiiin!" seruku dengan tulus. Kami bisa tertawa lagi. Ela masih sering ngingetin aku soal jilbab dan sering pula menyuruhku ganti baju kalo baju yang kukenakan dianggapnya terlalu ketat atau terlalu mini. Entah kenapa, aku juga nurut aja. Soalnya kalo aku pikirin lagi, pake baju yang lebih longgar dan nggak terlalu pendek lebih nyaman di
badan. Namun, toh ada juga masanya aku sama dia bersitegang. Marahan, diem-dieman, dan saling nggak mau ngalah. Masalahnya waktu itu, setelah sebulan kenal lebih deket sama temen-temen cowok di kelasku, aku jatuh cinta sama...Hermawan, cowok yang baik, care banget sama aku, sering ngasih hadiah walopun aku nggak ultah, sering ngebantuin pelajaran keterampilan elektronik, dan yang paling penting wajahnya cakep, putih bersih, tinggi jangkung, rajin sholat dan kalo ngaji duh, bikin hatiku berdebar-debar deh, saking bagusnya.
Sejak itu juga, aku jadi perhatian sama Her-mawan. Ngebales kebaikannya gitu, deh. Aku jadi ngerasa kalo aku tuh, suka sama dia, lebih-lebih di-komporin juga sama temen-temen buat jadian aja sama Hermawan. Nah, itulah awal permasalahan dan keteganganku sama Ela.
Waktu aku bilang sama Ela kalo aku suka sama Hermawan dan mau lebih deket lagi, Ela marah. Ela bilang padaku dengan segala rumus dan dalilnya untuk ngelarang aku pacaran sama Hermawan.
"Pacaran itu nggak dibolehin dalam Islam. Pacaran itu deket sama zina. Pacaran itu cuma bujukan setan agar kita terperosok ke lembah kehinaan. Jauh-jauh deh, dari pacaran. Aku nggak pengin kamu nyesel nantinya!" seru Ela dan masih ada "bla-bla" lainnya yang cuma masuk telinga kanan langsung keluar telinga kiri, deh!
Itu masih belum seberapa. Aku toh, belum pacaran sama Hermawan, batinku. Tapi ya itu, biasa-
lah pedekate. Jadinya, aku lebih sering ngabisin waktu sama Hermawan daripada sama Ela. Temen-temenku yang lain udah pada ngomporin untuk ne-rima Hermawan. Asli, waktu itu aku seneng dan bahagia banget. Gimana gitu rasanya kalo mau dapet cowok yang baik dan pinter. Wah ... happy berat dong, pastinya. Aku nggak terlalu peduli sama omongan Ela yang selalu ngingetin bahayanya pacaran.
Sampai akhirnya, keteganganku sama Ela memuncak. Saat itu malam Minggu. Ela dan keluarganya baru selesai makan malam di sebuah restoran, ketika E
la ngelihat aku dan Hermawan keluar dari bioskop. Ela langsung menghampiriku dan menarikku menjauh dari Hermawan. Aku mulai jengkel.
"Kamu duluan aja, Wan. Ntar aku nyusul!" seruku akhirnya. Hermawan pun pergi.
Ela langsung marah-marah. "Ari, kamu ini nggak sadar, apa" Dia itu bukan muhrim kamu! Nggak inget apa, berduaan sama bukan muhrim itu yang ketiganya setan"! Mana di tempat gelap-gelapan kayak gitu. Apa aja yang kamu lakuin sama dia"!" teriaknya marah dan langsung memberondongku dengan pertanyaan yang menurutku nggak masuk akal.
"Emangnya, kamu pikir aku ngelakuin apa" Aku cuma nonton sama dia! Nggak lebih! Lagian, kamu ini kenapa, sih" Ini urusan pribadi aku! Ortuku aja nggak ngelarang aku pacaran. Lha kamu, malah ngelarang ini-itu! Huuuh ... jangan-jangan, kamu cemburu, ya" Kamu naksir juga sama Hermawan" Bilang aja kalo sirik, nggak usah pake ngelarang-
larang segala! Mulai saat ini, kamu jangan ikut campur urusanku!" seruku langsung pergi ninggalin Ela.
"Ariii ...!" teriak Ela yang berusaha mengejar dan menghentikanku, tapi aku tetap nggak peduli. Aku jalan cepet-cepet dan memanggil becak. Aku bener-bener marah, kesal, kecewa, sebel, cemburu juga karena tiba-tiba kepikiran Ela naksir Hermawan.
Sejak itu, aku musuhan sama Ela. Aku nggak mau duduk di sampingnya. Kebetulan Susi sakit, jadi aku bisa duduk di samping Nina. Tapi, rasanya te-tep aja sebel dan jengkel sama Ela. Tapi emang dasarnya Ela baik banget, dia tau aku marah sama dia, tapi dia tetep baik sama aku. Dia juga tetep nyapa dan ramah seperti biasa, tapi aku malah ju-tek dan cuek bebek. Dia juga ngasih beberapa buku yang berisi tentang larangan pacaran, bahayanya pacaran, dalil-dalil yang jelas dari Al-Quran padaku.
Semula, aku nggak tertarik banget sama buku-buku "begituan". Karena menurutku, pacaran itu bikin orang tambah semangat belajar, tambah termotivasi, tambah peduli sama orang lain, belajar sayang sama orang lain. Namun, saat ngeliat ada ayat-ayat Al-Quran yang ngebahas tentang larangan mendekati zina dan pacaran itu termasuk sebagian dari mendekati zina, aku jadi mikir-mikir juga. Akhirnya, aku mau juga ngebaca buku yang dikasih Ela, meskipun aku masih nggak mau ngomong sama dia. Istilah dalam bahasa Jawa adalah satru. Jalan sendiri-sendiri dan seolah-olah nggak kenal.
Akhirnya setelah membaca buku-buku dari Ela, aku jadi paham pikiran Ela. Oooh ... ternyata pacar-
an itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Aku jadi malu sendiri dan berpikir untuk minta maaf sama Ela. Eeeh, di saat aku baru ngumpulin keberanian untuk minta maaf sama Ela, Hermawan malah "nembak" aku. Aku minta waktu sama Hermawan.
Aduh, gimana ini" batinku bingung campur aduk. Antara seneng dan susah karena ternyata cowok yang aku suka, juga suka padaku. Tapi susahnya karena aku udah mulai tau, pacaran itu nggak boleh dalam Islam, terus mudharatnya lebih banyak. Pokoknya, dilematis banget. Sampai akhirnya, aku mutusin menolak Hermawan. Aku lihat Hermawan syok dan nggak nyangka aku tolak, karena selama ini sepertinya aku ngasih lampu hijau buat dia. Aku nggak mau kejebak mudharatnya pacaran.
Walopun aku berani nolak Hermawan, tapi aduh, ternyata aku masih nggak punya keberanian untuk minta maaf sama Ela. Aku jadi inget kemarahanku sama Ela waktu diingetin, ngediemin dia, nuduh dia naksir sama Hermawan, duuuh ... kayaknya salahku banyak banget sama Ela. Padahal, Ela baik banget sama aku.
Untungnya, siang itu Ela nyerahin kertas selembar. Undangan agar dateng di acara ceramah ustad dari Rohis. Duh, dia tetep aja baik. "Dateng ya Ri, kalo nggak ada acara. Tema ceramahnya sih, bergaul yang manfaat!" serunya lalu langsung meninggalkanku.
"Ela kataku saat dia udah nyerahin undangan itu. Dia berhenti melangkah dan menatapku.
"Ya, Ri"" Aku mendekat. "Maafin ... aku, ya"!" seruku terbata. "Aku udah ngerti pacaran itu nggak ada manfaatnya. Aku juga udah nolak Hermawan dan nggak mau kehilangan kamu, sobat baikku! Maafin semua kemarahanku sampai ngediemin kamu!" seruku mulai lancar.
Alangkah baiknya Ela. Dia tersenyum dan membuka kedua tangannya, kemudian memelukku kalo direkam p
asti lucu banget deh, soalnya aku orangnya kecil imut, sementara Ela tinggi dan terlihat besar karena baju dan kerudungnya yang selalu lebar dan panjang.
"Alhamdulillah. Aku seneng banget. Hermawan cerita juga padaku. Aku bilang padanya lebih baik
kita perbanyak temen, cari ilmu dan bekal yang cukup untuk masa depan, kalo udah siap nikah, baru deh, ngurus ta'aruf" katanya.
Aku langsung melepaskan pelukannya. "Herma-wan cerita sama kamu" Dua-duaan, dong!" seruku.
"Kagak, dia yang nelepon!" sungutnya terlihat
kesal. Aku mengangguk-angguk. "Oh ya, apaan tuh ta'aruf! Nggak usah sok bahasa Arab, deh!" seruku.
Dia langsung menepuk pipiku dengan sayang. "Ta'aruf aja nggak tau, malah ngurusin yang nggak manfaat kayak mau pacaran!" godanya. "Ta'aruf tuh kenalan antar lawan jenis yang berniat menikah, tapi ada saksi dari keluarganya. Gitu, Non!"
Aku langsung tertawa. "Iya, aku tau. Aku kan, bukan anak bodoh. Lagi nguji kamu aja!" seruku sambil melangkah pergi.
"Ariii ...!" serunya sambil mengejarku, kemudian memeluk pinggangku sambil berjalan di sampingku. Kami kembali tertawa bersama siang itu. Indahnya persahabatan.
Kinoysan Tips Menggaet Sobat 1. Senyum, ramah, dan tulus
Ini kunci untuk membuka hubungan dengan orang lain. Orang seseram dan secuek apa pun, selama kita senyum, ramah, dan tulus, dia juga pasti jadi baik sama kita. Bisa jadi orang yang semula kita anggap bakalan jutek dan cuek, malah jadi temen atau sobat baik kita. Lagian senyum, ramah, dan tulus kan, nggak pake modal. Udah gitu, senyum bernilai ibadah, kan" Nggak rencana cari sobat pun, modal senyum, ramah, dan tulus bakal bikin kita disenengin orang.
2. Jangan menilai orang dari pandangan
pertama Bisa-bisa kejebak, tuh! Pandangan pertama sering menipu, lho. Misalnya nih, kayak yang kualami sama Ela. Pandangan pertamaku sama dia jelek banget dan mengira duduk sama dia bakalan ngebetein, ternyata nggak.
3. Fokus pada kelebihan sobat kita
Tiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Nah, biar kita nggak cepet marah dan bete sama sobat kita, kita mesti fokus pada kelebi-
han-kelebihan dia. Apa yang menonjol dari dia yang bisa kita pelajari; mungkin kesabarannya, kepandaiannya, keramahannya, dan kebaikan hatinya. Kalo udah gitu, kita nggak akan cepet kesel karena kesalahan sepele yang dilakukan sobat kita.
4. Punya prinsip Jangan sampai lantaran kita punya sobat, kita jadi selalu ingin nyenengin dia, ngikutin apa maunya dia, sampai-sampai kita sendiri nggak punya pijakan untuk melangkah. Wah, rugi besar, tuh! Namanya sobat tuh, bukan jadi bayang-bayang kita, tapi seseorang yang bisa membuat diri kita lebih baik dan tetap memiliki kepribadian.
5. Punya privasi Biarpun ke mana-mana udah lengket kayak pe-rangko, kita dan sobat tetaplah dua pribadi yang berbeda. Kita mesti ngomong sama sobat untuk tetap menghargai privasi masing-masing. Bagaimanapun juga, suatu ketika seseorang tetep perlu ruang tersendiri untuk dirinya. Kadang-kadang dengan sendirian, kita udah bisa menyelesaikan masalah. Nggak selalu harus bareng sobat.
6. Bikin kesepakatan yang jelas
Kalo kita sering bareng-bareng ngabisin waktu sama sobat, bikin kesepakatan yang jelas, kapan mesti nurutin diri kita kapan nurutin sobat kita. Jangan sampai kita jadi bayang-bayang orang dan nggak punya identitas, ke mana dan
mau apa sobat kita, kita selalu nurut. Nggak banget, deh!
7. Saling mengerti Kalo yang satu marah, yang satunya harus berkepala dingin. Kalo yang satu keras, yang satunya harus lunak, biar nggak kesel-keselan dan saling jutek. Namanya sobatan, pasti nggak lepas dari benturan. Saat itulah, diperlukan saling mengerti dari sobatnya. Kalo nggak gitu, cepet ancur deh, sobatannya.
8. Kalo salah, harus mau minta maaf
Namanya interaksi dua orang yang berbeda, pasti ada salah paham, pertengkaran. Buat yang salah, harus berani minta maaf dan buat yang disalahi, juga harus mau memaafkan dan melupakannya biar sobatan awet.
9. Saling melengkapi Nggak ada orang yang sama, kelebihan dan kekurangannya. Dengan sobat, kita bisa saling melengkapi dan meminimalkan kekurangan kita supaya jadi le
bih baik dan saling ngambil manfaat dari sobatan tersebut. Jangan sampai mau cari untungnya sendiri, bakalan cepet ancur deh, sobatannya!
Guru: Killer, Charming, Cuek, Sama Asyiknya
Akhirnya tiba juga hari pertama masuk SMA. Senang rasanya menyambut hari bersejarah yang udah berminggu-minggu ditunggu ini. Tapi sayangnya, selama masa orientasi yang mengawali hari-hari di SMA, siswa kelas satu belum boleh bersera-gam putih abu-abu. Jadilah hari ini seragam yang dipake masih biru-putih, yang rasanya udah bosen banget dipakai.
Jalan raya penuh sesak oleh anak sekolah. Namanya juga hari pertama, masih pada semangat untuk nengok sekolah yang udah lama ditinggalin. Mmm, sepertinya harus turun dari bus di depan gang ini. Yup, kiri, Mas. Nanti tinggal jalan kaki kira-kira lima menit, maka sampailah di sekolah baru. Tapi, lho, daerah mana ini" Kok, nggak dikenal" Mana sih, gedung sekolahnya" Kok, nggak kelihatan juga" Yaaah kayaknya salah jalan, nih. Aduuuh ... di mana, ya" Lupa beneran nih, soalnya kemarin cuma sekali datang ke sekolah untuk daftar, setelah itu nggak ngurusin lagi. Malu-maluin banget sih, sama sekolahnya sendiri lupa. Nyasar, deh!
Akhirnya, setelah mengandalkan naluri dan
berkali-kali lewat jalan yang sama, ketemu juga sekolahku yang baru. Iya dong, pake naluri. Tengsin kan, kalo harus nanya, "Pak, Pak, mau nanya, sekolah saya di mana, sih"" Ih, sama sekali nggak seru.
Ooo ... jadi ini, SMA yang nanti bakal aku da-tengin setiap hari selama tiga tahun ke depan. Setelah melihat pembagian kelas di papan pengumuman, segera aja aku mencari kelas yang dimaksud. Kelas satu enam. Jelas aja udah penuh, jam pertunjukan hampir dimulai, eh, maksudnya jam pelajaran akan segera dimulai. Pake acara telat sih, tadi.
Usai bel pagi "teriak-teriak", siswa kelas satu langsung pada berhamburan ke lapangan. O iya, hari pertama kan, selalu diawali dengan upacara bendera. Berbaur dengan wajah-wajah asing dan suasana asing pula, aku ikut baris sesuai dengan papan nama kelas yang udah diatur di lapangan. Biasalah, yang badannya kecil harus mejeng di barisan terdepan, aku juga. Tapi enak juga, bisa dengan leluasa melihat sekeliling tanpa terhalang oleh punggung-punggung.
Di seberang barisan siswa, ada barisan guru dan karyawan dengan wajah-wajah yang juga masih belum familiar. Ada yang kelihatan judes, ada yang biasa aja. Tapi, kepala sekolahnya, duuuh ... serem banget. Tampangnya sangar dan berkumis tebal. Wah, pokoknya serem, deh. Terus, tau-tau ada yang berisik di belakang. Apa lagi itu" Ternyata ada juga guru yang "ronda" di belakang siswa yang upacara. Bawa penggaris siap ngegetok siswa yang nggak tertib. Wah, kok, serem amat sekolah ini"
Beres upacara, murid-murid lari ke kelas. Ternyata, ada hukuman yang nggak aku jumpai di SMP. SMA ini ngasih sanksi buat anak-anak yang terlambat, yaitu wajib lepas sepatu seharian. Jadi, sepatunya ditahan dulu sama sekolah ih, mau-maunya sekolah, kan, sepatunya pada bau. Walopun hari pertama sekolah, ternyata udah ada beberapa anak yang datang terlambat.
Nggak lama, ada ibu guru masuk. Wajahnya "dingin", tanpa senyuman sama sekali dan menatap ke anak-anak di kelas dengan tatapan yang biasa aja. Paling nggak, senyum kek, untuk tanda penyambutan, atau ucapan selamat datang di sekolah. Tapi, ini malah sedingin salju. Kemudian, kami baru tau kalo beliau mengajar Sejarah. Dan ya ampun, sambil memberi aneka pengumuman, beliau sama sekali nggak menampakkan wajah ramah, kadang malah senyum sinis, plus sindiran pula. Rasanya jadi bete dengerin pidatonya yang panjang lebar tanpa ekspresi itu. Yang mengejutkan lagi, ternyata beliau adalah ... wali kelas satu enam!
DUAAAR! Mimpi apa semalam sampai-sampai harus dapat wali kelas yang seperti ini" Padahal kan, banyak urusan yang nantinya harus diselesaikan sama wali kelas. Ah, pasrah aja, deh!
Semakin hari, setelah anak-anak kelas satu udah resmi pake seragam putih abu-abu, semakin jelaslah karakter wali kelas itu. Di minggu pertama, si ibu malah mengeluarkan aturan yang "aneh-aneh" lagi. Segala hal kecil diatur, bahkan temen sebangku pun diatur. Coba bayangin,
si Nining duduk sama si Yeni, si Ari duduk sama si Ariyani, si itu duduk sama si ini. Yang cerewet harus duduk sama anak pendiam. Tempat duduknya yang sebelah mana juga diatur, siapa yang duduk di depan meja guru, siapa yang duduk di bangku paling belakang, siapa yang di tengah. Terus, setiap minggu kita wajib menggeser barisan. Jadi, barisan yang deket pintu jadi pindah ke barisan yang mepet tembok di dalam, lalu ke tengah, dan seterusnya.
Ampun deh, di saat anak-anak di kelas lain asyik milih temen sebangku dan nyari tempat duduk yang strategis, kami malah diatur tempat duduknya. Jelas aja anak-anak pada ngedumel di belakang. Tapi, sama sekali nggak ada yang berani protes, semua pada takut.
Waktu jam pelajaran beliau, pasti semua pada mengheningkan cipta. Lagian, setiap ada yang ngo-mong dikit aja, pasti kedengaran oleh beliau heran, jangan-jangan punya telinga bionik. Pokoknya, kalo ada yang berani bertingkah waktu pelajaran beliau, akibatnya berat! Yang paling ringan berupa sindiran menyakitkan, tatapan tajam, dan yang paling berat diajak ngobrol, eh, disidang. Hm, guru yang aneh.
Pokoknya, bener-bener pengin nangis deh, kalo ketemu guru yang ini. Semua murid yang ketemu dia harus dalam keadaan perfect. Ya baju seragam, ya sepatu, ya kaus kaki, ya rambut, ya kuku, ya bibir. Hah, bibir segala" Iyalah, alamat masuk ruang sidang kalo sampai ada cewek yang ketauan ber-lipstik ke sekolah. Jadi, begitu lihat sosok beliau di kejauhan, anak-anak langsung ingat untuk merapi-
kan diri, baju dimasukin, rambut dibenerin kalo ketauan pake semir rambut, suka disuruh motong rambut ikat pinggang dipasin. Senyum dimanisin, hehehe .... Tapi, kebanyakan maunya ambil jalan yang berbeda aja biar nggak usah papasan. Takut malah salah tingkah dan bikin kesalahan beneran. Bisa gawat!
Kalo ulangan harian, jangan ditanya, deh. Beliau selalu ada di belakang kelas sambil masang mata elang. Nggak ada yang bisa selamat merogohkan tangan ke laci meja buat ngambil contekan. Tinggal lirik kanan-kiri, yang kata beliau, anak-anak pada jadi penari Bali kalo ulangan. Kalo sampai ketauan nyontek, kertas ulangan bisa terbelah dua, dan disuruh ngulang ngerjain soal di ruang guru sana. Masalah nilai, jangan ditanya. Bener-bener nggak ada yang namanya nilai bonus. Salah sedikit menulis nama tempat atau nama manusia purba, nggak akan ada kompromi, langsung coret. Jadilah anak-anak yang nggak teliti sering dapat nilai delapan waktu ulangan, tapi delapan ngakak alias tiga. Angka se-gitu biasanya nggak laku di buku nilai beliau, jadi harus ngulang lagi, deh.
Kalo sampai ketauan bolos, wuiiih ... gawat! Bisa disuruh "ngundang" ortu ke sekolah. Parahnya lagi, bolos ekskul aja bisa dipanggil sama beliau. Padahal, yang namanya ekskul kan, suka-suka kita mau ikutan apa nggak. Jadilah anak-anak kelas satu harus tertib ngikutin ekskul wajib Pramuka sama komputer. Gimanapun, kami jadi lebih kreatif untuk menghindar dari pasal-pasal yang akan "dijeratkan"
oleh beliau. Menjelang ulangan Sejarah, biasanya anak-anak jadi lebih rajin belajar, karena susah nyontek-nya. Kalo lagi kepepet nyontek karena materi ulangan yang harus dihafal terlalu banyak, biasanya anak-anak dengan kreativitas tinggi bikin catatan supermikro di meja yang udah semakin item itu. Tiba-tiba aja kelas jadi rapi dan bersih menjelang pelajaran Sejarah, kecuali kalo anak-anak lagi repot nyalin pe-er atau belajar untuk ulangan, atau sibuk bikin contekan.
Ada lagi bu guru Kimia. Kalo ngajar, sama nggak enaknya. Nggak tau kenapa, biarpun beliau ngajarnya tanpa marah-marah, suasana yang ter-cipta di kelas pasti tegang banget. Ditambah lagi dengan pelajaran Kimia yang rumusnya sebanyak bintang di langit itu, susah deh, nyaut apa yang disampaikan.
Sekolahku itu SMA Batik 2 sekolah swasta Islam, tapi tidak memberikan kewajiban berjilbab buat siswa cewek. Boleh aja pake jilbab, tapi sekolah nggak maksa. Karena itu pula, jam pelajaran agama di sekolah juga ditambah. Jam yang seharusnya untuk pelajaran olahraga dipake untuk pelajaran agama. Pelajaran olahraganya dipindah sore hari.
Nah, untuk mengisi jam pelajaran
agama tersebut, salah satunya ada pelajaran hadis. Gurunya juga sama "kejamnya", hehehe .... Nggak ada bonus senyum kalo di kelas. Padahal, pelajaran ini isinya mempelajari hadis yang panjang. Beliau nulis di papan tulis dan anak-anak menyalin. Nyalinnya juga
harus cepet kalo nggak mau apa yang belum ditulis udah dihapus karena papan tulisnya nggak muat banyak tulisan. Setelah itu, hadisnya dibaca bareng-bareng sambil isinya ditelaah. Minggu depannya pasti ada acara maju satu-satu untuk mengetes hafalan hadis super panjang itu, sekaligus nyampein artinya. Suasana kelas jadi tegang. Kalo nggak mempersiapkan dengan baik, bisa kena semprot.
Ada juga guru Biologi, asyik-asyik aja sebe-nernya. Ngajar juga lumayan enak. Tapi, ada satu kebiasaan beliau yang harus diperhatikan benar oleh murid-muridnya. Beliau nggak suka banget kalo de-nger suara kerincingan duit receh dimainin waktu pelajaran berlangsung. Ih, aneh, kan"
Ada juga guru yang cuek banget, yaitu guru Fisika. Beliau asyik ngajar, tapi setiap muridnya berisik pasti dicuekin. Apalagi ngajarnya nggak jelas. Pokoknya, nggak ngerti deh, maksudnya apa. Kalo murid-murid nyontek waktu ulangan, ya dicuekin. Murid-murid nilai ulangannya jelek, dicuekin juga. Ih, jadinya beliau ngajar buat diri sendiri apa gima-na, sih" Apalagi kalo nerangin sambil nulis di black-board, tulisannya ketutupan sama badannya. Be-ner-bener teaching for him self, deh. Beberapa guru lain yang garing juga nggak kalah ngeselinnya. Kadang sampai nggak tau sendiri, apa sih, yang bikin pak guru atau bu guru jadi garing gitu.
Ssst biarpun ada segitu banyak yang nge-selin, ada juga yang "mencuri" perhatian. Guru Fisika juga, nggak tau kenapa, mata pelajaran Fisika
anak kelas satu dipegang sama dua guru yang berbeda. Kalo yang satu cuek, yang satu ini lebih care sama muridnya. Anak-anak cewek banyak yang suka. Soalnya, beliau itu cakep, wangi lagi, hehe-he....
Aku juga suka banget sama pak guru yang satu ini. Soalnya, beliau ramah dan cara ngajarnya juga enak, keterangan yang diberikan jelas banget. Suasana kelas nggak tegang, tapi juga nggak berisik. Jadinya, aku rajin banget kalo pelajaran Fisika. Catatan di buku tulis selalu dirapiin. Menjelang ulangan, biasanya jadi getol belajar. Malu kan, kalo sampe dapet nilai jelek. Jadinya, aku biasa kursus kilat sama temen yang lebih jago. Kalo pas pelajaran beliau, anak-anak nggak takut buat nanya.
Sayangnya, belum nyampe dua catur wulan ngajar anak kelas satu, beliau diterima sebagai pegawai negeri sipil dan harus pindah kota, secara otomatis pindah tempat ngajar juga. Yaaah ... anak-anak pada kecewa, termasuk aku!
Setelah itu, aku kehilangan semangat belajar Fisika. Cara ngajar guru penggantinya nggak enak banget dan anak-anak selalu ngebandingin sama guru yang charming itu. Catetan udah mulai beran-takan, nilai ulangan jadi pada ancur. Pokoknya, setelah itu jadi benci banget sama pelajaran Fisika. Salah satu akibatnya, waktu naik ke kelas tiga aku jadi males ngambil jurusan IPA.
Ary Yulistiana Tips Asyik Menghadapi Guru
1. Semua guru bertujuan baik
Bener lho, biarpun ada beraneka ragam karakter, sebetulnya bapak-ibu guru itu punya tujuan yang baik buat kita. Mereka pasti berkeinginan untuk menjadikan kita anak yang pinter, nurut, juga disiplin.
2. Cari tau maunya Guru adalah seorang pribadi. Masing-masing punya cara dalam mentransfer ilmu pada anak didiknya. Nah, coba deh, kita kenali karakter masing-masing guru. Kalo udah nemuin karakternya, jangan malah dilawan, tapi kita menyesuaikan diri dengan apa yang diminta guru itu. Misalnya, ngumpulin tugas tepat waktu, berpakaian seragam dengan rapi dan benar, bersikap baik waktu jam pelajaran, dan sebagainya.
3. Jangan takut dengan guru killer
Guru yang killer belum tentu galak atau dendam sama kita. Bisa jadi karena beliau punya masalah pribadi yang lagi ngebetein dirinya. Mungkin aja ada keluarganya yang sakit, atau beliau sendiri sedang sakit, bisa juga lagi ada masalah
yang mengganjal. Menghadapi guru yang macam ini, kita harus tetap berpikir positif dan ikut aturan yang ada, jangan malah menyulut mer
eka dengan sikap dan kelakuan yang bikin mereka marah.
4. Ambil hikmahnya Sebetulnya, enak juga kalo punya guru killer. Kita jadi semangat belajar karena nggak bisa nyontek waktu ulangan. Kita juga jadi lebih kreatif, paling nggak cara menghindari "serangannya". Tapi nggak jarang, apa yang dipaksain oleh guru yang killer itu sebenarnya ada manfaatnya untuk kita. Kalo lihat dari contoh kasus di atas, secara nggak sadar anak-anak jadi lebih rajin belajar, lebih teliti dalam menulis jawaban ulangan, lebih rapi dalam berpenampilan, jadi bisa nulis huruf Arab dengan cepat, bisa hafal hadis panjang. Terus, jangan disangka juga punya guru yang cuek itu lebih menyenangkan. Belum tentu, soalnya kita harus bisa mandiri dan mendisiplinkan diri untuk belajar. Ya iyalah, beliau nggak marah kalo kita nggak bikin pe-er, nggak marah kalo catatan kita berantakan, nggak marah kalo hasil ulangan kita jelek, waktu nerima raport, baru deh, kita yang dimarahin or-tu gara-gara nilainya ancur. Kalo waktu jam pelajaran guru kita cuek, kita jangan ikutan cuek. Malah, harus ngasih perhatian ekstra. Jangan ragu nanya kalo emang keterangan beliau kurang jelas.
5. Jangan terpesona berlebihan
Mungkin akan ada guru yang kita sukai. Biasanya, ini tipe guru yang charming. Boleh banget karena pasti akan nambah semangat belajar. Tapi sebaiknya, jangan berlebihan menyukainya. Kalo misalnya tiba-tiba guru itu pindah tempat ngajar atau ada kejadian-kejadian yang ada kaitannya sama beliau, jangan sampai kita jadi kehilangan semangat dalam belajar, bahkan sampai benci pelajaran yang dulu pernah diberikan beliau. Gawat banget soalnya, bisa berpengaruh ke masa depan.
6. Jalin hubungan di luar jam pelajaran
Interaksi antara siswa dan guru memang terjadi ketika jam pelajaran. Tapi jangan langsung mu-tusin hubungan di luar jam pelajaran, tetap sapa guru-guru itu kalo papasan, tetap ngajak ngo-brol kalo misalnya naik angkot yang sama. Kalo kondisi memungkinkan, silahturahmi ke rumah guru nggak ada salahnya. Asalkan nggak berlebihan, biasanya guru merasa senang dikunjungi murid-muridnya. Kita bisa melakukan kunjungan di hari raya, atau datang menengok sewaktu guru kita sakit atau tertimpa musibah.
7. Promosi diri Urusan promosi diri, ternyata bukan cuma urusannya orang kantoran. Ini urusan anak sekolah juga, lho! Nah, sebagai murid, kita harus pinter-pinter promosiin diri supaya guru-guru itu "ngeh" sama kita. Jangan menunggu mereka hafal sama kita tanpa berbuat sesuatu. Murid di sekolah kita pasti sekitar seribuan, bahkan lebih. Jadi, jangan
ngarepin guru bakal hafal sama kita tanpa kita melakukan apa-apa. Ada seribu satu cara, kok. Kita bisa aja nunjukin prestasi di pelajaran, di ekskul, syukur-syukur kalo kita rajin ikutan lomba dan menang. Yang penting, guru bisa tau siapa kita. Kalo udah gitu, biasanya guru killer pun jadi lebih enak kita ajak ngobrol. Sering beredar juga salah satu cara narik perhatian guru, bantuin ngam-bil LKS di ruang guru, ngambil buku absen, ngambil spidol or kapur tulis, dengan begitu, guru-guru jadi lebih familiar lihat muka kita. Kita bakalan diperhatiin kalo di kelas. Lama-lama jadi kenal, deh. Kalo kita udah kenal, biasanya kita juga nggak canggung buat nanya-nanya tentang pelajaran, sama guru killer sekalipun. 8. Tetap hormat
Guru adalah pengganti ortu ketika di sekolah. Jadi, selayaknya kita menghargai dan menghormati mereka selayaknya ortu. Hubungan yang harmonis dengan guru juga bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Lain Ladang, Lain Belalang
1. From Medan with ... NOTHING!
2. Bahasaku Aneh bin Ajaib 3. Madiun, Ampuuun!
4. Go International, Girl!
From Medan with... NOTHING!
"BANDUUUNG ...! Aku dataaang ...!"
Akhirnya, jadi juga aku pindah ke Bandung. Lulus dari SMPN 14 Medan, aku langsung berangkat ke Bandung, menyusul bapak dan kedua kakakku yang udah ada di Bandung. Ibuku sendiri masih bertugas di Medan. Gini deh, punya ortu militer. Harus siap hidup berpindah-pindah dan pisah-pisah pula.
Di Bandung, sebenarnya aku pengin masuk ke SMAN 2 Bandung di Cihampelas. Pertimbanganku sederhana aja, sekolah itu l
etaknya nggak jauh dari rumah dinas ortu di Karangsetra. Selain itu, di sana ada pohon-pohon besar yang kesannya asyik. Tapi, kata temen bapakku, "Kalo NEM-nya tinggi, mendingan daftar ke SMAN 3 ajal Pasti keterima."
Jadi deh, aku daftar ke sana sebagai pilihan pertama. Pilihan kedua tetap SMAN 2. Eh, ternyata NEM-ku lolos passing grade di SMAN 3 itu. Padahal, asli, aku nggak tau apa-apa tentang sekolah baruku ini. Informasinya nggak nyampe ke Medan, sih.
Setelah diterima, baru aku tau kalo ini SMA paling top di Bandung. Anak-anak pinter dari berbagai SMP di Bandung, ngumpul di sini. Wah, keren,
nih! Hari pertama masuk sekolah, aku langsung down.
Oh my God! Nggak ada satu orang pun yang aku kenal di sini. I'm a stranger here! Mataku melirik ke kanan dan ke kiri. Ya, ampuuun ...! Kayaknya, semua orang udah punya temen dan udah asyik ngobrol sama temen-temennya. Logat bicara mereka pun terdengar aneh di telingaku. Biarpun aku lahir di Bandung, sejak umur dua tahun aku udah tinggal di Banda Aceh, lalu tinggal di Medan. Jadi, logat Bandung bukanlah sesuatu yang familiar bagi aku.
Duh, rasanya aku benar-benar tersesat di tempat asing. Aku pun ngelirik-lirik lagi. Sekarang yang jadi sasaran adalah badge sekolah di lengan kanan. SMPN 5 Bandung ... SMPN 5 Bandung ... SMPN 5 Bandung ... SMPN 2 Bandung ... SMPN 2 Bandung ... SMPN 2 Bandung .... Rupanya, mereka satu SMP!
Gimana caranya aku bisa dapet temen kalo semua pada asyik sama temen-temen lamanya" Gimana pula aku bisa nemuin temen sekelasku" Oh, nasib anak daerah!
San Pek Eng Tay 3 Pendekar Naga Putih 57 Pemburu Nyawa Kipas Dewi Murka 2
^