Pencarian

Mahabharata 3

Mahabharata Karya Nyoman S. Pendit Bagian 3


Mendengar kata-kata itu, brahmana dan istrinya memeluk putri mereka sambil menangis. Anak laki-lakinya yang masih bocah berkata kepada orangtuanya dengan lidah petah, "Ayah jangan nangis. Ibu jangan nangis.
Kakak jangan nangis." Sambil berkata demikian ia bangkit
lalu mengambil sepotong kayu api kecil. Kayu itu diacung-acungkannya sambil berteriak-teriak dengan suara bocahnya, "Akan kubunuh raksasa itu dengan tongkat ini."
Kata-kata dan tingkah lakunya membuat ayah, ibu dan kakaknya tersenyum sedih. Mata mereka berkaca-kaca.
Dewi Kunti, yang diam-diam menyimak percakapan itu, berpendapat bahwa kinilah saat yang tepat untuk menyela pembicaraan mereka. Ia mengetuk pintu, lalu masuk dan bertanya mengapa mereka bersedih dan apakah dia boleh melakukan sesuatu untuk menolong mereka.
Brahmana itu berkata, "Wahai, Ibu, kami tertimpa malapetaka besar. Tak mungkin Ibu dapat membantu kami. Di luar kota ini ada sebuah gua. Di gua itu tinggal raksasa buas bernama Bakasura. Sudah tiga belas tahun ia menguasai kota dan kerajaan ini dan memperlakukan penduduk dengan kejam. Raja kami melarikan diri ke Wetrakiya, karena tak dapat membela dan melindungi kami.
"Setiap kali merasa lapar, raksasa itu keluar dari gua lalu memangsa orang, tak peduli laki-laki atau perempuan, orang dewasa atau anak-anak. Penduduk Ekacakra lalu mengajukan usul kepada raksasa itu, untuk menghindari
pembunuhan yang kejam. Kata mereka, 'Janganlah engkau
membunuh kami dengan sewenang-wenang. Seminggu sekali kami akan serahkan makanan dan minuman cukup untukmu. Makanan dan minuman itu akan kami kirim dalam sebuah kereta yang ditarik dua ekor kerbau dan
seorang manusia. Engkau boleh menyantap makanan, kerbau, dan orang itu, tapi kau tak boleh lagi membunuh
dengan sewenang-wenang.' "Raksasa itu setuju. Sejak itu, si raksasa menguasai kota ini. Ia mengenyahkan semua musuh dari luar dan membunuh binatang-binatang liar yang mengancam penduduk.
"Tidak seorang pun dapat membebaskan kota dan kerajaan kami dari malapetaka besar ini. Dengan mudah raksasa itu bisa membunuh siapa saja yang mencoba melawannya.
"Wahai, Ibu, raja kami saja tak sanggup melindungi kami. Rakyat yang rajanya lemah lebih baik tidak kawin dan tidak punya anak. Kehidupan yang baik dengan kebudayaan yang luhur hanya mungkin terjadi dalam kerajaan yang diperintah oleh raja yang perkasa dan berwatak kuat. Istri, kekayaan, dan harta benda apa pun tidak akan aman jika tak ada pemerintah kuat yang melindunginya. Sekarang tiba giliran kami untuk mengirimkan salah seorang dari kami untuk dijadikan mangsa raksasa itu.
"Kami tidak mampu membeli atau membayar pengganti diri kami. Jika salah satu dari kami mati secara mengenaskan, kami tak bisa hidup dengan hati didera rasa bersalah. Karena itu, kami putuskan untuk menyerahkan seluruh keluarga kami, serentak. Biarlah raksasa itu kenyang dan puas atas pengorbanan kami.
"Maaf, Ibu, kami telah membuat orang lain sedih dengan cerita ini. Tetapi, karena Ibu ingin tahu, maka kami ceritakan pada Ibu apa adanya. Hanya Hyang Widhi yang dapat menolong kami. Tetapi untuk itu pun kami sudah tak punya harapan."
Dewi Kunti lalu memanggil Bhimasena. Ia menceritakan apa yang telah didengarnya. Setelah berunding dengan Bhima, Dewi Kunti menemui brahmana itu lagi. Katanya, "Wahai Brahmana budiman, janganlah putus asa. Dewata Maha Agung dan Maha Besar. Aku punya lima anak lakilaki. Salah satu anakku akan
membawakan makanan untuk raksasa itu."
Brahmana itu terkejut dan terlompat kegirangan, tetapi segera duduk lagi sambil menahan diri. Ia menggeleng-gelengkan kepala dan berkata bahwa hal itu tidak boleh terjadi. Tidak seharusnya seorang asing mengorbankan diri dan menggantikannya menjadi mangsa raksasa itu.
Dewi Kunti melanjutkan, "Wahai, Brahmana, janganlah engkau khawatir. Anakku ini manusia sakti. Ia memiliki kekuatan melebihi manusia yang diperolehnya dengan
mengucapkan mantra-mantra. Yakinlah, dia pasti bisa
membunuh raksasa itu. Tetapi engkau harus merahasiakan hal ini. Ingat, jika kau membocorkan rahasia ini, kekuatan anakku tidak akan muncul."
Sesungguhnya Dewi Kunti takut kalau-kalau hal itu sampai terdengar dan tersebar sampai keluar wilayah kerajaan itu. Siapa tahu, berita itu tersebar sampai ke telinga kaki tangan Duryodhana, yang lalu menghubungkan berita tentang lima brahmana asing dan seorang wanita tua yang datang ke Ekacakra dengan Pandawa.
Bhima senang dan tak sabar ingin segera melaksanakan perintah ibunya. Ketika saudara-saudaranya pulang dari meminta-minta, mereka heran melihat wajah Bhima berseri-seri. Tidak seperti biasa. Yudhistira menemui ibunya, menanyakan apa yang membuat Bhima tampak gembira dan bersemangat.
Yudhistira yang dijuluki Dharmaputra alias putra Batara Dharma berkata, "Bagaimana ini" Janganlah gegabah
dan tergesa-gesa. Apakah kekuatan Bhima benar-benar dapat diandalkan" Apakah kita akan membiarkan dia bertarung melawan raksasa itu, sementara kita tidur-tiduran dan melupakan bahaya dan kesusahan" Bukankah kita berharap dapat merebut kembali Kerajaan Hastina dengan kekuatan dan keberanian Bhima" Bukankah karena kekuatan Bhima kita dapat lolos dari istana yang terbakar itu" Mengapa sekarang Ibu merelakan nyawanya demi keselamatan orang lain" Jika Bhima mati, siapa yang akan
melindungi kita" Aku khawatir, jangan-jangan rasa iba membuat Ibu tak bisa berpikir jernih."
Dewi Kunti menjawab, "Cukup lama kita hidup aman di
rumah brahmana ini. Kewajiban kita membalas kebajikannya dengan perbuatan baik. Ibu tahu benar keperkasaan Bhima dan Ibu sama sekali tidak cemas. Ingatlah, dalam perjalanan dari Waranawata di tengah hutan, sambil menggendong dan menggandeng kita, adikmu mampu membunuh raksasa Hidimbi. Jangan engkau cemas, anakku. Kita wajib berbuat kebajikan bagi keluarga brahmana ini. Adikmu pasti mampu membunuh raksasa itu."
Penduduk mengumpulkan makanan dan minuman yang kemudian dimuat ke dalam kereta yang ditarik dua ekor kerbau. Setelah semuanya siap, Bhima mengendarai kereta itu ke gua sang raksasa. Penduduk mengiringkannya sampai batas kota.
Sampai di mulut gua, Bhima menghentikan keretanya. Dia melihat sekelilingnya. Di depan mulut gua berserakan tulang belulang, tengkorak manusia, dan sisa-sisa makanan yang sudah membusuk. Bermacam-macam serangga mengerumuni sisa-sisa makanan, sementara burung-burung bangkai memperebutkan sisa-sisa mayat yang sudah busuk.
Cepat-cepat Bhima membuka bungkusan makanan yang diperuntukkan bagi raksasa itu sambil menggerutu, "Aku habiskan saja makanan ini. Jangan sampai berceceran tak berguna. Kalau aku kalah dan mati, aku sudah kenyang makan. Kalau dia kalah dan mati, makanan ini pasti kotor kena darahnya dan tak bisa dimakan lagi."
Mengendus bau makanan di luar gua, raksasa itu keluar. Melihat Bhima sedang menghabiskan makanan, dia sangat berang lalu mengamuk. Bhima pura-pura tidak melihatnya. Dia terus makan dengan lahap.
Dengan tubuh amat besar, kumis-jenggot-rambut merah awut-awutan, mulut lebar menganga mengeluarkan bau busuk, dan taring tajam menonjol keluar, raksasa itu mendekati Bhima yang sedang makan sambil membelakangi gua. Bhima menoleh, tersenyum, lalu meneruskan makan. Berkali-kali raksasa itu meninju punggung Bhima,
tetapi putra Pandu itu terus makan tanpa menghiraukannya. Kemudian raksasa itu mencabuti pohon-pohon besar dan melemparkan ke arah Bhima, tetapi semua dapat ditangkis Bhima dengan mudah.
Setelah makanan itu habis, Bhima bangkit dan menyeka mulutnya. Dengan perut kenyang, ia siap bertarung melawan raksasa itu. Maka terjadilah p
ertarungan sengit antara dua makhluk perkasa. Bhima seperti bermain-main
menghadapi raksasa itu. Ia meninju, membanting dan
melemparkan raksasa itu jauh-jauh, kemudian menyeretnya mendekat. Berkali-kali begitu, sampai raksasa itu
babak belur dan tak mampu bangkit lagi. Akhirnya, Bhima
mengerahkan kesaktiannya lalu membanting raksasa itu keras-keras ke tanah. Tubuh raksasa itu hancur, tulangnya remuk.
Raksasa itu meraung kesakitan, memuntahkan darah, lalu mati. Bhima menyeret mayatnya sampai ke pintu gerbang kota. Ia kembali ke rumah brahmana tempatnya menumpang, membersihkan diri, kemudian memberi tahu ibunya.
*** 17. Sayembara Memperebutkan Draupadi
Sementara Pandawa dan Dewi Kunti masih tinggal di Ekacakra dan masih menyamar sebagai brahmana,
mereka mendengar berita tentang sayembara memperebutkan Draupadi, putri mahkota Kerajaan Panchala.
Menurut tradisi agung pada jaman itu, seorang raja
yang mempunyai putri yang sudah dewasa wajib menyelenggarakan sayembara untuk mencari calon mempelai
yang pantas bagi putrinya. Demikianlah, Raja Drupada
dari Kerajaan Panchala yang makmur mengumumkan sayembara untuk memperebutkan Draupadi, putrinya yang terkenal cantik, anggun, dan berbudi halus. Para putra mahkota dan pangeran dari berbagai kerajaan diundang untuk mengikuti sayembara itu. Pemenangnya berhak menyunting Dewi Draupadi sebagai istrinya
Sebagai ibu yang bijaksana, Dewi Kunti tahu bahwa
anak-anaknya ingin pergi ke Panchala untuk mengikuti sayembara itu. Agar putra-putranya tidak malu mengutarakan isi hati, dengan halus ia berkata kepada Dharma-putra, "Sudah lama kita tinggal di negeri ini. Sudah waktunya kita pergi dan melihat-lihat negeri lain. Ibu sudah bosan melihat gunung, lembah, sungai dan alam sekitar sini. Sedekah yang kita peroleh semakin lama semakin sedikit. Jadi, tak ada gunanya kita tinggal lebih lama di sini. Marilah kita pergi ke Kerajaan Panchala yang subur
dan makmur." Maka berangkatlah Pandawa bersama para brahmana
lainnya, meninggalkan Ekacakra menuju Panchala. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari, akhirnya mereka tiba di ibukota Kerajaan Panchala yang indah. Pandawa menumpang di rumah seorang tukang kendi dan tetap menyamar sebagai brahmana agar tidak menarik perhatian.
Tibalah hari sayembara. Rakyat berduyun-duyun memadati arena sayembara di Panchala untuk menyaksikan para kesatria yang ingin menyunting Draupadi mengadu nasib dan mempertaruhkan nama mereka. Di tengah arena, di atas panggung yang kokoh, diletakkan sebuah busur raksasa yang sangat berat, lengkap dengan anak panahnya. Barangsiapa mampu mengangkat busur itu, merentangnya, memasang anak panah, lalu mengenai sasaran yang telah ditentukan dengan anak panah itu, dialah yang berhak menyunting Draupadi. Sasaran itu digantungkan di belakang roda cakra yang terus diputar tanpa henti. Tepat di tengah cakra itu ada satu lubang
sempit yang hanya cukup untuk satu anak panah. Hanya
kesatria yang mampu memusatkan pikiran dan memiliki kecakapan memanah melebihi kemampuan manusia biasa yang bisa memenangkan sayembara itu.
Di sisi lain arena didirikan panggung yang lebih luas dan megah untuk upacara perkawinan agung. Panggung itu dihias sangat indah, dikelilingi bangunan-bangunan peristirahatan untuk para tamu. Berbagai hiburan dan pesta meriah sudah disiapkan untuk merayakan pernikahan Draupadi. Menurut rencana, keramaian itu akan dilangsungkan selama empat belas hari.
Para pangeran yang tampan dan sakti berdatangan dari mana-mana. Anak-anak Dritarastra juga hadir, begitu pula Krishna, Sisupala, Jarasandha, dan Salya. Semua berniat
mengikuti sayembara itu. Gamelan ditabuh bertalu-talu,
rakyat berdiri berjejal-jejal sambil bersorak-sorai.
Tiba-tiba bunyi gamelan menjadi lirih, dari arah gerbang istana muncul arak-arakan megah. Paling depan tampak Dristadyumna menunggang kuda gagah, disusul Draupadi
yang duduk di singgasana di punggung gajah yang tak kalah gagahnya. Gajah itu diberi pakaian dari sutera warna-warni bertatahkan emas dan permata. Dengan wajah segar setelah dibasuh air kembang dan mengenakan pakaian putri mahkota dari sutera berjulai-jul
ai, Draupadi tersenyum tersipu-sipu memandang rakyat yang berjejal-jejal di sepanjang jalan dari gerbang istana ke arena. Dengan sikap halus nan anggun, Draupadi turun dari punggung gajah lalu naik ke panggung upacara. Dengan kalung bunga di tangan, sesaat sebelum duduk di atas panggung, Draupadi sempat melempar pandang ke arah para pangeran peserta sayembara yang membalasnya dengan pandang takjub terpesona.
Gong ditabuh keras menggelegar, tanda sayembara akan segera dimulai Para brahmana maju ke depan, mengucapkan mantra-mantra upacara dan kidung-kidung suci. Suasana terasa damai. Gamelan ditabuh lirih dan khusyuk.
Setelah upacara persembahyangan untuk kemakmuran, ketenteraman dan kedamaian selesai, Dristadyumna menuntun Draupadi ke tengah arena, ke dekat tempat busur raksasa diletakkan. Kemudian, dengan suara lantang dan jernih Dristadyumna mengumumkan, "Para putra mahkota yang kami muliakan, yang hadir di sini dengan segala kebesaran, kami ucapkan selamat datang dan selamat mengikuti sayembara ini.
"Kami mohon perhatian Yang Mulia semua. Di sini
terletak busur, di sana anak-anak panah, dan di seberang sana, di ketinggian itu terpasang sasaran yang harus Tuan-Tuan kenai dengan anak panah. Barangsiapa mampu mengenai sasaran itu, melewati lubang di pusat cakra itu sebanyak lima kali berturut-turut, dan berasal dari kelahiran serta keluarga baik-baik, dialah yang memenangkan sayembara ini. Dia berhak menyunting adikku,
Draupadi." Kemudian Dristadyumna menoleh kepada
adiknya lalu menyampaikan nama dan riwayat masing-masing putra mahkota yang mengikuti sayembara itu.
Setelah Dristadyumna selesai menyampaikan peraturan sayembara, satu per satu para putra mahkota maju ke depan. Mereka bergantian mencoba mengangkat busur itu dan memasang sebatang anak panah. Tetapi busur itu terlalu berat, begitu pula anak panahnya. Dengan perasaan malu dan menyesal mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Di antara yang tidak berhasil adalah
Sisupala, Jarasandha, Salya, dan Duryodhana.
Ketika Karna tampil ke depan, para penonton bersorak-sorai. Karna sangat terkenal akan kepandaiannya memanah. Mereka berharap, kali ini ada yang berhasil memenangkan sayembara. Sayang, Karna gagal. Anak panahnya meleset seujung rambut. Kecuali itu, busur mendesing terpelanting begitu anak panah dilepaskan. Hadirin berteriak-teriak riuh. Ada yang berseru bahwa sayembara itu terlalu berat dan tak mungkin ada yang bisa memenangkannya. Yang lain menuduh, sayembara itu sengaja diadakan untuk menjatuhkan nama para putra mahkota yang mengikutinya.
Demikianlah, keributan itu berlangsung beberapa lama. Tiba-tiba orang-orang dikagetkan oleh seorang brahmana muda yang bangkit berdiri, menguak kerumunan penonton, lalu maju ke tengah arena. Ketika ia menghampiri busur itu, sorak-sorai penonton menggemuruh seakan hendak merobohkan langit. Para brahmana saling berpandangan. Siapakah brahmana muda yang berani tampil itu"
Mereka berdebat. Ada yang berpendapat bahwa sungguh baik jika golongan mereka ada yang mewakili. Yang lain berpendapat, seorang brahmana tidak pantas mengikuti sayembara seperti itu dan bersaing dengan para pangeran. Kesatria sakti seperti Karna dan Salya saja gagal, apalagi seorang brahmana yang tak menguasai ilmu olah senjata.
Di antara hiruk-pikuk suara-suara orang berbantah, ada yang berkata lantang setelah melihat sikap, bentuk badan dan raut wajah brahmana muda itu, "Tunggu dan perhatikan dia. Melihat sikapnya yang mantap dan keberaniannya maju ke arena, aku yakin dia tahu benar
apa yang dilakukannya. Siapa tahu, di dalam tubuhnya tersimpan segunung tenaga. Apalagi, sebagai brahmana dia pasti sangat terlatih dalam samadi dan memusatkan
pikiran. Beri dia kesempatan!" Orang itu lalu berteriak
lantang, menyuruh penonton diam.
Dari tempat busur itu, brahmana itu mendekati Dristadyumna lalu bertanya, "Bolehkah seorang brahmana mengangkat panah itu""
Dristadyumna menjawab, "Wahai brahmana muda,
adikku bersedia dipersunting oleh pemenang sayembara ini. Siapa pun dia, asalkan berasal dari kelahiran dan keluarga baik-baik. Apa yang sudah terucap tak boleh di
tarik lagi. Silakan mencoba, jika kau mau."
Brahmana muda yang sebenarnya adalah Arjuna itu diam sejenak, mengheningkan cipta, memusatkan perhatian dan memohon restu para dewata, terutama restu
Narayana, Hyang Widhi. Kemudian dia mengangkat busur
itu dan menyiapkan lima anak panah pada talinya. Semua itu dilakukannya dengan gerakan yang ringan, anggun dan tangkas. Orang-orang terpesona. Mereka diam, menahan napas. Suasana hening.
Sebelum membidik, brahmana muda itu memandang sekeliling sambil tersenyum. Kemudian ia kembali memusatkan perhatian, mengarahkan busur ke sasaran. Lalu ...
secepat kilat dan nyaris tak tertangkap mata, lima anak panah melesat lepas berurutan, menembus lubang cakra yang terus berputar. Anak panah pertama tepat mengenai sasaran. Anak panah kedua menembus anak panah pertama, yang ketiga menembus yang kedua, dan seterusnya
sampai lima anak panah. Cakra itu belah, jatuh ke tanah.
Keheningan pecah. Sorak-sorai membahana. Gamelan ditabuh bertalu-talu. Sasaran telah jatuh. Sayembara dinyatakan selesai. Seorang brahmana muda keluar
sebagai pemenangnya. Para brahmana yang duduk di sekeliling arena bersorak-sorak gembira sambil melambai-lambaikan selendang mereka yang terbuat dari kulit menjangan. Mereka merasa,
kemenangan brahmana muda itu juga merupakan kemenangan golongan mereka.
Sorak-sorai semakin meriah ketika Draupadi, yang mengenakan pakaian sutera kemilau bertatahkan emas permata, bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya bersinar-sinar bahagia. Dengan lembut ia memandang Arjuna,
melangkah anggun mendekatinya, lalu mengalungkan karangan bunga di lehernya. Yudhistira, Nakula dan Saha-dewa meloncat kegirangan lalu lari menemui ibu mereka. Hanya Bhima yang tinggal, menunggu Arjuna kalau-kalau terjadi apa-apa. Siapa tahu para pangeran menjadi marah karena merasa terhina.
Benarlah. Seperti dikhawatirkan Bhima, para putra raja menjadi marah. Mereka berteriak, "Sayembara apa ini" Kemungkinan terpilih sebagai pengantin laki-laki tidak berlaku bagi kaum brahmana. Jika tidak mau disunting seorang putra raja, Draupadi harus tetap perawan sampai
ia melakukan satya, terjun ke dalam api pembakaran jenazah. Tak pantas brahmana menyunting putri raja.
Kami menentang perkawinan itu. Kami minta sayembara dibatalkan demi mempertahankan aturan yang benar. Siapa tahu brahmana itu sesungguhnya berniat jahat!"
Rupa-rupanya keributan tidak bisa dihindarkan. Dengan tangkas Bhima mencabut sebatang pohon untuk senjata. Lalu ia berdiri di samping Arjuna dengan sikap
siap sedia. Draupadi ketakutan. Ia tak kuasa berkata-kata,
hanya berdiri di samping Arjuna sambil memegangi jubahnya yang terbuat dari kulit menjangan.
Krishna dan Balarama mencoba menyabarkan para putra raja yang marah dan membuat keributan. Sementara itu, diam-diam Arjuna mengundurkan diri keluar arena, diiringkan Draupadi dan dikawal oleh Bhima. Mereka pulang ke penginapan Pandawa di rumah tukang kendi.
Tanpa mereka ketahui, Dristadyumna membuntuti mereka. Ia melihat segala sesuatu yang terjadi di rumah tukang kendi itu. Setelah mengetahui siapa sebenarnya para brahmana itu, ia merasa sangat lega dan gembira.
Diam-diam ia kembali ke istana untuk melapor kepada Raja Drupada. Katanya, "Ayahanda, aku yakin, brahmana yang memenangkan sayembara itu sebenarnya adalah Arjuna dan brahmana pengawalnya yang perkasa itu adalah Bhima. Aku melihat sendiri, Draupadi sama sekali tidak merasa canggung berada bersama mereka. Aku juga melihat seorang wanita yang berwibawa agung. Wanita itu pasti Dewi Kunti. Ya, Ayahanda, para brahmana itu
sebenarnya adalah Pandawa."
Mendengar laporan putranya, Raja Drupada segera mengutus Dristadyumna dan beberapa punggawa untuk menjemput dan membawa Pandawa ke istana Panchala.
Atas undangan Raja Drupada, Dewi Kunti dan kelima putranya datang ke istana. Di hadapan raja itu, Dharma-putra mengaku bahwa mereka adalah Pandawa. Ia juga menyampaikan keputusan Pandawa bahwa mereka berlima akan menikah dengan Draupadi. Ketika tahu bahwa mereka Pandawa, Raja Drupada sangat senang. Tetapi, ketika mendengar bahwa mereka berlima akan menikahi Draupadi, ia sang
at kaget dan kecewa. Raja Drupada menentang perkawinan itu. Katanya, "Sungguh perbuatan yang tidak patut" Sungguh tidak bermoral dan bertentangan dengan tradisi serta kesusilaan" Bagaimana mungkin pikiran seperti itu bisa merasuki kalian""
Yudhistira menjawab, "Daulat, Paduka Raja, maafkanlah kami. Ketika hidup sengsara dan terlunta-lunta, kami bersumpah bahwa kami akan membagi segala sesuatu yang kami miliki. Kami tidak bisa melanggar sumpah itu. Ibu kami sudah memberikan restunya."
Mendengar penjelasan itu, Raja Drupada akhirnya mengerti dan perkawinan agung pun dilangsungkan.
*** 18. Membangun Ibukota Indraprastha
Ketika berita tentang kejadian di Kerajaan Panchala sampai ke Hastinapura, Widura merasa gembira. Ia segera menemui Dritarastra dan berkata, "Tuanku Raja, keluarga kita akan bertambah kuat sebab putri Raja Drupada telah menjadi menantu kita. Sungguh kita ini dinaungi bintang keberuntungan."
Dritarastra yang merasa amat gembira mengira bahwa Widura mengabarkan kemenangan Duryodhana dalam sayembara itu dan keberhasilannya menyunting Draupadi. Karena itu ia berkata, "Sungguh benar apa yang kaukatakan. Saat ini adalah saat yang baik bagi kita. Pergilah segera dan bawa Draupadi kemari. Kita akan mengadakan upacara penyambutan yang megah untuk putri Kerajaan Panchala itu."
Widura sadar, Dritarastra keliru mengartikan kata-katanya. Segera ia berkata, "Paduka Raja, sesungguhnya Pandawa yang mendapat perlindungan Yang Maha Kuasa masih hidup. Arjunalah yang memenangkan sayembara itu dan berhak menyunting Draupadi. Kelima Pandawa menyunting putri itu bersama-sama dan perkawinan mereka telah dianggap sah karena sesuai dengan yang tertulis
dalam kitab-kitab Sastra. Bersama ibu mereka, kini
mereka hidup bahagia di bawah lindungan Raja Drupada."
Dritarastra sangat kecewa mendengar penjelasan Widu-ra. Kebencian menggelegak di dalam hatinya, tetapi ia berusaha menutupinya. Katanya, "Wahai Widura, aku senang
mendengar ceritamu. Jadi, Pandawa sebetulnya masih hidup" Padahal kita telah mengadakan upacara berkabung untuk mereka. Berita yang engkau sampaikan ibarat air yang menyejukkan hatiku. Jadi, putri Raja Drupada sekarang menjadi menantu kita" Syukur, syukur."
Sementara itu, Duryodhana pulang dari Panchala dengan hati penuh dengki. Lebih-lebih setelah ia mendengar dari ayahnya bahwa sebenarnya Pandawa masih hidup. Rupanya mereka lolos dari kebakaran yang memusnahkan istana kayu di Waranawata dan sejak itu hidup menyamar sebagai brahmana. Kini mereka semakin kuat karena berada dalam lindungan Raja Drupada.
Duryodhana mengajak Duhsasana, adiknya, untuk menemui Sakuni. Dengan hati penuh dendam ia berkata kepada pamannya itu, "Paman, aku merasa sangat dipermalukan. Aku sungguh kecewa karena mempercayakan pelaksanaan rencana kita kepada Purochana. Pandawa, musuh kita, lebih cerdik dan rupa-rupanya nasib baik memihak mereka. Kini Dristadyumna dan Srikandi juga menjadi sekutu mereka. Apa yang dapat kita lakukan""
Mendengar pengaduan itu, Sakuni menyarankan agar
Duryodhana mengajak Karna menghadap Dritarastra yang buta.
Di depan ayahnya, putra mahkota Hastina itu berkata, "Ayahanda, engkau telah berkata kepada Paman Widura bahwa masa depan kita akan menjadi lebih baik. Apakah masa depan yang baik bagi kita itu berarti bahwa musuh bebuyutan kita, Pandawa, semakin kuat dan pada suatu waktu akan menghancurkan kita" Rencana kita gagal karena ternyata sebelumnya mereka sudah tahu. Ini lebih berbahaya bagi kita. Sekarang kita tak punya pilihan lagi. Kita hancurkan mereka sekarang atau mereka yang akan menghancurkan kita lebih dulu. Kami mohon petunjuk Ayahanda."
Dntarastra menjawab, "Anak-anakku, apa yang engkau katakan itu benar. Seharusnya kita tidak mengungkapkan isi hati kita kepada Widura. Itu sebabnya aku menahan
diri di depan dia. Sekarang aku ingin mendengar rencana kalian selanjutnya."
Duryodhana berkata, "Aku sangat kecewa dan pikiranku sangat kacau. Aku belum punya rencana apa-apa. Mungkin kita bisa mengadu domba mereka. Bukankah
mereka terlahir dari dua ibu" Kita buat anak-anak Madri
membenci anak-anak Kunti. Kita bujuk Drupa
da agar mau bergabung dengan kita. Walaupun ia telah memberikan anaknya kepada Pandawa, hal itu tidak menghalangi niat kita untuk mengajaknya bersekutu. Tanpa kekayaan dan harta benda, tak ada yang bisa mereka lakukan."
Karna tersenyum dan berkata, "Itu omong kosong!"
Duryodhana melanjutkan, "Bagaimanapun juga kita harus mencegah kembalinya Pandawa untuk menuntut hak mereka atas kerajaan yang sudah ada di tangan kita. Kita harus menempatkan beberapa brahmana di Panchala untuk menyebarkan berita bohong. Kita juga harus mengatakan kepada Pandawa, jika berani kembali ke Hastinapura mereka akan menghadapi bahaya besar. Dengan begitu Pandawa pasti tidak berani datang ke sini."
Karna menyela, "Itu juga omong kosong. Engkau tidak
dapat menakut-nakuti mereka dengan cara itu."
Duryodhana melanjutkan, "Apakah kita tidak bisa memisahkan Pandawa melalui Draupadi" Bukankah mereka berlima mempunyai satu istri" Perkawinan seperti itu baik untuk siasat kita. Kita akan membuat mereka ragu, cemburu dan saling curiga dengan bantuan perempuan-perempuan penjaja asmara yang cantik dan mempesona. Ya, dengan cara itu kita pasti berhasil. Kita suruh perempuan-perempuan itu menggoda anak-anak Kunti dan membuat
Draupadi cemburu. Jika cemburu, Draupadi pasti akan
mengadu pada ayahnya dan Drupada pasti akan memarahi Pandawa. Setelah itu, kita undang Draupadi ke Hastina-pura dan kita buat dia tercemar."
Karna tertawa mengejek dan berkata, "Semua rencanamu pasti gagal. Engkau takkan bisa memecah belah Pandawa dengan siasat seperti itu. Dulu ketika mereka
masih muda, ibarat anak burung yang belum sempurna sayapnya, kita bisa menipu mereka. Tetapi sekarang mereka sudah menjadi kesatria-kesatria sakti. Mereka sudah kenyang hidup sengsara di hutan belantara. Mereka sekarang dilindungi Drupada. Dengan mudah mereka bisa menebak rencanamu. Benih perpecahan yang kausebar takkan tumbuh subur di antara mereka. Engkau juga takkan bisa menyuap Drupada yang bijaksana. Ia takkan menyerahkan Pandawa begitu saja. Tak mungkin pula membujuk Draupadi agar mau mengkhianati para suaminya.
"Karena itu, hanya ada satu jalan bagi kita, yaitu menggempur mereka dan para sekutu mereka sebelum semakin kuat. Kita harus menyerang mereka dengan tiba-tiba sebelum Krishna menggabungkan diri bersama pasukan perang Yadawa yang terkenal. Kita serang mereka dengan terang-terangan. Tipu muslihat akan sia-sia."
Seperti biasa, Dritarastra tak bisa mengambil keputusan. Ia meminta pertimbangan Bhisma dan Drona.
Bhisma senang mendengar bahwa Pandawa masih hidup dan kini menjadi menantu Raja Drupada serta tinggal di Panchala dalam lindungan raja itu. Ketika ditanya langkah-langkah apa yang harus diambil Kaurawa untuk melenyapkan Pandawa, Bhisma yang bijaksana, berpandangan luas, dan ahli tata negara, berkata dengan sabar, "Penyelesaian yang paling tepat adalah mempersilakan mereka kembali dan membagi kerajaan ini menjadi dua. Rakyat juga menghendaki itu. Itulah satu-satunya jalan untuk menjaga martabat dan kebesaran keluarga kita. Tidak ada gunanya membicarakan kesalahan masa lalu. Tak ada gunanya menyimpan dendam dan dengki. Kita semua bisa hidup damai berdampingan jika Pandawa
dipersilakan pulang dan setengah Kerajaan Hastina
diberikan kepada mereka. Itulah nasihatku."
Drona memberikan nasihat yang sama. Ia mengusulkan agar Kaurawa mengirim utusan untuk menyampaikan pesan tentang penyelesaian masalah itu secara damai.
Mendengar itu, Karna naik pitam. Sepenuhnya ia memihak Duryodhana dan tidak sanggup membayangkan bagaimana jadinya jika kerajaan dibagi menjadi dua. Katanya kepada Dritarastra, "Aku heran mendengar usul Drona. Pendita itu telah Paduka angkat derajatnya dan Paduka anugerahi kehormatan dan harta berlimpah. Seharusnya seorang raja mendengarkan nasihat para menterinya dengan cermat, mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima atau menolaknya."
Panas telinga Drona mendengar kata-kata Karna.
Dengan lantang ia berkata, "Dasar manusia celaka! Kamu
telah memberikan nasihat yang keliru kepada rajamu. Ingat, jika Dritarastra tidak mengikuti nasihat Bhisma dan
nasihatku, dalam waktu dekat Kaurawa akan mengalami kehancuran."
Kemudian Dritarastra meminta nasihat Widura dan dijawab, "Nasihat Bhisma, pengayom bangsa kita, dan
nasihat Drona, mahaguru kita, sungguh adil dan bijaksana. Hendaknya jangan kauabaikan Pandawa adalah kemenakanmu sendiri. Sadarlah. Mereka yang menasihatkan agar kita menghancurkan Pandawa sesungguhnya ingin agar bangsa kita menemui kehancuran. Krishna dan bangsa Yadawa, Drupada dan seisi kerajaannya sudah menjadi sekutu Pandawa. Kita takkan bisa menaklukkan
mereka dalam pertempuran. Usul Karna salah dan gegabah. Di mana-mana orang sudah tahu bahwa kita pernah mencoba membunuh mereka dengan membakar istana kayu. Pertama-tama kita harus membersihkan diri kita dan kutukan karena perbuatan jahat yang kita lakukan.
"Seluruh rakyat Hastina gembira ketika mendengar bahwa Pandawa masih hidup. Mereka ingin melihat Pandawa kembali Jangan hiraukan kata-kata Duryodhana. Karna dan Sakuni masih hijau, belum memahami seluk beluk tata negara. Mereka belum pantas memberi nasihat. Ikutilah nasihat Bhisma dan Drona."
Setelah mempertimbangkan semua nasihat itu, akhirnya Dritarastra memutuskan untuk menempuh jalan
damai dengan memberikan setengah Kerajaan Hastina kepada anak-anak Pandu. Kemudian ia mengutus Widura ke Panchala untuk menjemput Dewi Kunti, Pandawa dan Draupadi.
Sampai di Panchala, Widura mempersembahkan tanda mata berupa emas permata dari Dritarastra kepada Raja Drupada. Selanjutnya dia mohon diijinkan menemui Pandawa untuk menyerahkan surat Raja Hastina kepada mereka. Dijelaskannya bahwa Dritarastra berniat menempuh jalan damai dan memberikan setengah kerajaannya kepada Pandawa.
Drupada yang tidak percaya kepada Dritarastra menjawab ringkas, "Aku tidak berkuasa atas Pandawa. Mereka bebas berbuat semau mereka."
Widura lalu pergi menghadap Dewi Kunti. Ibu Pandawa itu menyambutnya sambil berkata, "Wahai Widura anak Wichitrawirya, engkau telah menyelamatkan anak-anakku. Kau telah menganggap mereka anak-anakmu. Aku percayakan keselamatan mereka kepadamu. Aku akan lakukan apa yang engkau nasihatkan, walaupun aku tak bisa sepenuhnya mempercayai Dritarastra."
Widura meyakinkan wanita itu, "Anak-anakmu tidak akan menemui kemusnahan. Mereka akan mewarisi kerajaan dan akan memperoleh kebesaran dan kemasyhuran. Marilah kita pergi."
Akhirnya Raja Drupada memberikan persetujuannya dan Widura kembali ke Hastinapura bersama Dewi Kunti, Pandawa, dan Draupadi.
Sambutan meriah telah menunggu putra-putra Pandu yang dicintai rakyat. Jalan-jalan dihiasi kembang warna-warni dan diperciki air suci. Sesuai rencana, Dritarastra membagi Kerajaan Hastina menjadi dua, setengahnya diserahkan kepada Pandawa, dan Yudhistira dinobatkan menjadi raja setengah kerajaan itu.
Dalam upacara penobatan Yudhistira, Dritarastra menyampaikan amanat, "Pandu, adikku, telah menjadikan kerajaan ini makmur dan rakyatnya sejahtera. Mudahmudahan engkau dapat membuktikan diri sebagai putranya yang berguna. Dulu Pandu selalu mencintaiku dan
senang menerima nasihat-nasihatku. Anak-anakku sendiri berwatak sombong dan licik. Aku putuskan penyelesaian damai ini agar tak ada lagi perselisihan dan kebencian di antara kalian semua. Pergilah ke Kandawaprastha dan bangunlah ibukota kerajaanmu di sana. Dahulu, Pururawa, Nahusha, dan Yayati, nenek moyang kita, memerintah kerajaan ini dari sana. Kandawaprastha adalah ibukota kerajaan ini di jaman dulu. Bangunlah kembali. Berilah nama baru. Kuberikan restuku, semoga engkau
menjadi raja yang arif dan kerajaanmu makmur sentosa."
Setelah mohon diri, Pandawa pergi ke Kandawaprastha. Di sanalah Pandawa tinggal bersama Draupadi, istri mereka dan Dewi Kunti, ibu mereka. Mereka membangun ibukota dan istana dari puing-puing yang masih ada. Nama ibukota itu diubah menjadi Indraprastha sedang kerajaannya dinamakan Amarta. Pandawa memerintah kerajaan itu
dengan mematuhi ajaran dharma. Kerajaan Amarta segera
terkenal ke seluruh dunia, rakyatnya hidup damai dan sejahtera.
*** 19. Pertarungan Melawan Jarasandha
Syahdan di Kerajaan Magadha saat itu memerintah Brihadratha yang termashyur. Raja
itu mempunyai tiga pasukan perang yang terkenal gagah berani. Raja Brihadratha menikah dengan putri kembar Raja Kasi dan bersumpah akan selalu bersikap adil kepada kedua istrinya.
Sayang, walaupun sudah lama menikah, mereka belum
dikaruniai anak. Ketika merasa sudah tua, ia menyerahkan tampuk pemerintahan kepada para menterinya lalu pergi ke hutan bersama kedua istrinya untuk bertapa. Sebelum mulai bertapa, ia pergi ke pertapaan Resi Kausika, keturunan Gautama, untuk mengadukan kesedihannya karena tidak dikaruniai anak. "Wahai Resi yang mulia, aku tidak punya anak seorang pun. Aku telah menyerahkan pemerintahan kerajaanku kepada orang lain untuk
pergi bertapa. Tolonglah aku, berilah aku anak."
Resi Kausika merasa iba dan menjawab, "Ambillah ini dan berikan kepada istrimu. Permohonanmu akan dikabulkan." Sambil berkata demikian, ia menyerahkan sebutir
mangga yang kebetulan jatuh di pangkuannya.
Brihadratha membelah mangga pemberian resi itu menjadi dua lalu memberikannya kepada kedua istrinya dengan adil. Beberapa waktu kemudian kedua istrinya mengandung dan pada waktunya keduanya melahirkan. Tetapi alangkah sedihnya Brihadratha karena mereka melahirkan bayi ajaib yang menyeramkan karena berkaki, bermata, dan bertelinga satu, sementara badan, muka dan
kepalanya hanya setengah. Dengan perasaan sedih bercampur ngeri, Brihadratha menyuruh kedua istrinya membungkus bayi-bayi itu dengan kain dan membuangnya jauh-jauh. Kedua bayi dibuang ke gundukan sampah di pinggir kota.
Menjelang senja, pada saat sandyakala, ada raksasa perempuan lewat di situ. Ia mencium bau daging manusia
dalam onggokan sampah. Diaduk-aduknya gundukan itu dan ia menemukan bungkusan kain berisi dua potong badan bayi. Dia mengamati dan menyambung-nyambung potongan-potongan badan itu hingga menjadi satu tubuh bayi manusia yang utuh. Raksasa perempuan itu senang sekali melihat tubuh itu mulai berdenyut dan bergerak. Ia tidak berniat membunuh makhluk mungil itu.
Ia menyamar sebagai seorang perempuan tua lalu pergi menghadap Brihadratha untuk mempersembahkan bayi itu. "Bayi ini putra Tuanku. Ambillah dan rawatlah dia," katanya.
Brihadratha dan kedua istrinya menerima bayi itu
dengan senang hati. Bayi yang diberi nama Jarasandha itu
dirawat dan diasuh dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh besar dan menjadi pemuda perkasa lagi sakti
mandraguna. Sementara itu Pandawa memerintah di Indraprastha dengan segala kebesaran dan penuh kebahagiaan. Para penasihat kerajaan menyarankan agar Yudhistira melaksanakan upacara rajasuya lalu menggunakan gelar Maharajadiraja Sesembahan Agung. Mendengar saran-saran itu, Yudhistira ingin bertemu dengan Krishna untuk meminta nasihat. Krishna, yang mendengar bahwa Yudhistira ingin menemuinya, segera menyiapkan keretanya dan berangkat ke Indraprastha. Yudhistira berkata, "Saudara-saudaraku dan para penasihatku menyarankan agar aku melaksanakan rajasuya,
tetapi seperti engkau ketahui, hanya raja yang dihormati dan dicintai rakyatnya yang dapat melakukan upacara itu dan memperoleh gelar Maharajadiraja. Aku minta nasihatmu. Engkau raja yang adil dan bijaksana. Engkau pasti
takkan memberikan nasihat hanya untuk menyenangkan hatiku. Aku percaya kepadamu, nasihatmu akan kuterima karena aku yakin itu benar dan berguna."
Krishna menjawab, "Itu benar. Karena itu, engkau tidak bisa menjadi Maharajadiraja selama Jarasandha, pangeran Magadha yang perkasa, masih hidup dan belum ditaklukkan. Jarasandha telah menundukkan banyak raja dan menjajah mereka. Semua kesatria, termasuk Raja Sisupala yang disegani, takut akan keperkasaannya dan menyerah kepadanya.
"Apakah engkau belum mendengar tentang Kangsa,
putra Raja Ugrasena" Setelah ia menjadi menantu dan
sekutu Jarasandha, aku dan rakyatku menyerang dia. Setelah bertempur selama tiga tahun, aku terpaksa mengakui kekalahanku. Aku tinggalkan Madhura, pindah ke Dwaraka. Di sana aku membangun ibukota baru dan sekarang kami hidup damai dan sejahtera. Duryodhana, Karna, dan raja-raja lain mungkin tidak keberatan akan upacara itu, tetapi Jarasandha pasti akan menentangmu. Satu-satunya jalan adalah menaklukkan
dia, sekaligus membebaskan raja-raja yang ia tawan atau negeri-negeri yang ia rebut. Itu artinya, kita harus mengajak mereka untuk bersatu dan bersekutu dengan kita."
Yudhistira berkata, "Aku sependapat. Aku adalah salah seorang dari raja-raja yang memerintah dengan baik, adil dan menempuh jalan hidup bahagia tanpa mengumbar nafsu. Karena bangga akan hasil yang telah dicapainya, seorang raja bernafsu untuk menjadi Maharajadiraja. Mengapa seorang raja tak bisa puas dan bahagia dengan kerajaannya" Sebaiknya aku lupakan saja nafsu untuk menjadi Maharajadiraja. Gelar itu tidak menarik bagiku. Saudara-saudaraku dan rakyatkulah yang menginginkannya. Engkau saja takut pada Jarasandha, apalagi kami. Apa yang bisa kita lakukan""
Bhima, yang membenci watak lemah dan cepat puas diri, berkata, "Ambisi adalah kebajikan teragung seorang
raja. Apa gunanya menjadi orang kuat kalau tidak tahu kekuatan sendiri" Aku tak tahan hidup dengan membatasi diriku, bermalas-malasan, dan cepat puas diri. Barang-siapa dapat menanggalkan kelemahan, dan secara tepat mempergunakan siasat kekuasaan, pasti akan mampu menaklukkan mereka yang lebih kuat sekalipun. Kekuatan yang disertai siasat pasti berhasil. Apa yang tidak dapat dilakukan dengan gabungan kekuatan ragaku, kebijaksanaan Krishna dan keterampilan Arjuna" Kita pasti dapat mengalahkan Jarasandha jika kita bertiga bersatu dan mengatur siasat tanpa ragu-ragu dan cemas."
Kemudian Krishna bercerita, "Jarasandha harus dibasmi, karena ia memang menghendaki demikian. Dengan
sewenang-wenang ia menawan 86 raja. Ia merencanakan mengorbankan 100 raja untuk upacara persembahyangan. Karena itu ia menangkap 14 raja lagi. Jika Bhima dan
Arjuna setuju, aku akan menyertai mereka. Bersama-sama kita basmi Jarasandha dengan siasat, kemudian kita lepaskan semua raja yang dia tawan." Yudhistira tidak senang mendengar nasihat itu. Ia
berkata, "Itu berarti mengorbankan Bhima dan Arjuna, dua
adik kesayanganku, hanya demi kepuasan memperoleh gelar Maharajadiraja. Aku tidak mau mengirim mereka
untuk tugas berbahaya ini. Lebih baik kita lupakan saja rencana ini."
Arjuna berkata, "Apa gunanya kita terlahir sebagai keturunan kesatria perkasa jika tak pernah melakukan perbuatan jantan" Seorang kesatria takkan masyhur jika tak pernah menunjukkan kesaktiannya. Semangat adalah induk segala keberhasilan. Nasib baik akan berpihak pada kita jika kita lakukan tugas dan kewajiban dengan sungguh-sungguh. Orang kuat bisa gagal jika segan menggunakan kesaktian dan senjata yang dimilikinya. Sebagian besar kegagalan terjadi karena seseorang mengabaikan kekuatannya sendiri. Kita tahu kekuatan kita dan kita tidak takut untuk menggunakannya sebaik mungkin.
"Kenapa engkau merasa seolah-olah kita tidak mampu"
Kelak jika kita sudah tua, akan tiba waktunya bagi kita untuk mengenakan jubah suci, masuk ke hutan pergi bertapa dan berpuasa untuk tujuan keagamaan. Sekarang kita masih muda. Kita harus mengisi hidup dengan tindakan-tindakan perwira sesuai dengan tradisi keturunan kita."
Krishna senang mendengar kata-kata Arjuna. Ia menanggapi, "Apa lagi yang harus dikatakan Arjuna, putra Dewi Kunti dan keturunan wangsa Bharata" Kematian
akan tiba bagi setiap orang; tak peduli dia pahlawan atau
pengecut. Tetapi kewajiban agung para kesatria adalah mengabdi pada bangsa dan keyakinannya serta menaklukkan musuh dalam perang demi memperjuangkan kebenaran."
Akhirnya Yudhistira bisa menerima pendapat bahwa melenyapkan Jarasandha merupakan kewajiban mereka sebagai kesatria. Setelah tercapai kata sepakat, Krishna
berkata, "Hidimba, Hamsa, Kangsa dan sekutu lain Jarasandha sudah mati. Sekarang inilah saat terbaik untuk menggempur dia. Kita tak perlu bertempur habis-habisan bersama para prajurit untuk menaklukkan dia. Kita tantang dia untuk berperang tanding, dengan atau tanpa senjata."
Kemudian mereka menyusun siasat. Mereka menyamar sebagai pertapa pengembara yang mengenakan jubah dari
kulit kayu. Tangan mereka memegang rumput darbha suci
sesuai tradisi jaman dahulu. Sampai di Magadha, mereka langsung menuju istana Jarasandha.
Waktu itu Jarasandha mendapat fira
sat buruk. Ia gelisah. Pikirannya tidak tenang. Karena itu ia meminta agar para pendita mendoakan keselamatannya. Sementara itu, ia sendiri tekun berpuasa dan bersamadi. Krishna, Bhima dan Arjuna yang menyamar sebagai pendita memasuki istana tanpa bersenjata. Jarasandha menerima mereka dengan baik, lebih-lebih setelah melihat sikap dan perbawa mereka yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari keturunan terhormat. Bhima dan Arjuna tidak
menanggapi tegur sapa Jarasandha agar mereka tidak terpaksa berbohong.
Krishnalah yang berbicara atas nama mereka bertiga,
"Mereka berdua sedang ber- tapa brata dan tapa bisu adalah laku semadi mereka. Lewat tengah malam barulah
mereka diperkenankan bicara."
Setelah menjamu tamunya di balairung, Jarasandha kembali ke istananya.
Lewat tengah malam Jarasandha datang ke balai peristirahatan ketiga tamunya untuk bercakap-cakap dengan mereka. Ia curiga ketika melihat lecet-lecet bekas tali busur di tangan ketiga pendita itu, lebih-lebih ketika memperhatikan wajah mereka yang menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka adalah kesatria.
Memang Jarasandha terkenal karena kekuatan raganya yang luar biasa. Tetapi, ia dilahirkan dengan dua bagian badan terpisah. Barangsiapa bisa menghantam dan membelah badannya menjadi dua, dia akan mampu melenyapkan kekuatan Jarasandha. Ibarat sapu lidi yang lepas ikatannya, lidi-lidinya akan tercerai berai dan sapu itu menjadi tidak berguna. Atau ibarat sebuah negeri yang rakyatnya bertikai, negeri itu akan runtuh terpecah belah.
Tiba-tiba Jarasandha menegur ketiga pendita itu, meminta mereka berterus terang. Mau tak mau Krishna menjawab terus terang, "Kami adalah musuhmu. Kami datang kemari untuk menantangmu bertanding sekarang
juga. Silakan pilih salah satu di antara kami." Kemudian
mereka memperkenalkan diri masing-masing.
Jarasandha berkata lantang, "Krishna, engkau pengecut! Arjuna masih bocah, tapi Bhima terkenal akan keperkasaannya. Aku pilih dia. Aku akan bertarung melawan dia."
Karena Bhima tidak bersenjata, Jarasandha setuju untuk bertarung tanpa senjata. Mereka sama-sama kuat. Tiga belas hari lamanya mereka bertarung tanpa henti, tanpa beristirahat sama sekali. Pada hari keempat belas, Jarasandha mulai menunjukkan tanda-tanda kecapaian.
Krishna memberi isyarat kepada Bhima bahwa sekaranglah saat yang tepat untuk membanting Jarasandha ke tanah. Bhima lalu memusatkan tenaganya, menyambar satu kaki Jarasandha, mengangkat musuhnya tinggi-tinggi, memutar-mutar tubuhnya dengan kencang, lalu dengan sekuat tenaga menghempaskannya ke tanah hingga badannya terbelah menjadi dua. Matilah Jarasandha yang perkasa.
Bhima menarik napas lega, kemudian berteriak lantang menyerukan kemenangannya.
Tapi ... tiba-tiba kedua belahan badan Jarasandha
bersambung lagi, utuh dan lebih kuat. Seketika itu juga Jarasandha bangkit dan menyerang Bhima dengan cepat. Bhima terpana, tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Krishna memberi isyarat lagi. Kali ini ia mengacungkan sebatang jerami. Jerami itu dibelahnya menjadi dua lalu masing-masing belahan dibuang ke arah berlawanan. Bhima mengerti.
Sekali lagi ia mengerahkan tenaga. Menyambar kedua kaki musuhnya, mengangkatnya tinggi-tinggi, memutarnya bagai baling-baling, lalu membantingnya dengan keras.
Sekali lagi tubuh Jarasandha terbelah dua. Dengan
tangkas, sebelum kedua belahan itu sempat bertaut lagi, Bhima mengambilnya dengan kedua tangannya lalu melemparkannya jauh-jauh ke arah berlawanan. Sekarang Jarasandha benar-benar menemui ajalnya.
Usai bertarung, Krishna, Arjuna, dan Bhima membebaskan semua tawanan Jarasandha. Para raja itu kembali ke
kerajaan masing-masing. Sebelum kembali ke Indrapras-tha, ketiga kesatria itu menobatkan putra Jarasandha sebagai Raja Magadha.
*** 20. Krishna Menerima Penghormatan Tertinggi
Setelah Jarasandha mati, Pandawa mengundang raja-raja untuk bermusyawarah dan menyaksikan upacara
rajasuya yang sudah ditradisikan sejak jaman dahulu dan
sesuai dengan ajaran agama. Upacara dilaksanakan untuk memberikan gelar Maharajadiraja kepada raja yang dianggap pantas menyandangnya. Sesuai tradisi, dalam upacara itu penghorm


Mahabharata Karya Nyoman S. Pendit di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

atan utama harus diberikan kepada tamu yang dianggap paling layak menerimanya, diikuti tamu-tamu lainnya, sesuai keagungan, kekuasaan, kebijaksanaan dan kebajikan masing-masing.
Sebelum upacara dimulai, Pandawa, para penasihat Pandawa, dan semua raja yang diundang bermusyawarah untuk menentukan siapa yang pantas mendapat penghormatan tertinggi sebagai tamu utama dan bagaimana urutan penghormatan itu akan diberikan kepada tamu-tamu lainnya. Penentuan itu menimbulkan perbedaan pendapat dan perdebatan sengit. Setelah lama berdebat, Bhisma, kesatria tua dan penasihat Pandawa yang sangat disegani, berkata bahwa menurutnya Krishnalah yang paling pantas
mendapat penghormatan utama. Yudhistira sependapat
dengannya. Ia menyuruh Sahadewa menyiapkan segala keperluan upacara dengan penghormatan utama untuk Krishna.
Tiba-tiba Sisupala, Raja Chedi, yang sangat membenci
Krishna bangkit dari tempat duduknya lalu berkata lantang sambil tertawa lebar, "Sungguh tidak adil. Tetapi aku
tidak heran. Orang yang mengharapkan nasihat dari orang
lain pasti berasal dari kelahiran tidak sah." Ia berkata
demikian sambil menoleh ke arah Pandawa dengan acuh tak acuh.
Kemudian ia melanjutkan, "Demikian pula orang yang memberi nasihat. Meski ia berasal dari keturunan yang tinggi derajatnya, kemuliaannya semakin lama semakin
merosot, begitu pula kebijaksanaannya." Dengan pandang menghina ia menoleh ke arah Bhisma, putra Dewi Gangga.
Belum puas menghina Pandawa dan Bhisma, Sisupala melanjutkan, "Dengar kalian semua! Orang yang diberi kehormatan utama ini sesungguhnya berasal dari keluarga gila dan dibesarkan sebagai pengecut! Apakah ia pantas
menerima kehormatan utama"!"
Hadirin diam, tertegun. Tak ada yang menjawab.
Sisupala semakin lantang berteriak, "He, kalian semua! Apakah kalian bisu" Tak beranikah kalian menyatakan pikiran sendiri" Pantas saja. Keputusan itu tidak sah karena diambil oleh orang-orang yang tidak terhormat."
Beberapa raja yang hadir dalam sidang itu bertepuk tangan menyemangati Sisupala. Mendapat tanggapan seperti itu, Sisupala menjadi besar kepala. ia berkata lagi, kali ini kepada Yudhistira. "He, Yudhistira, lihatlah para raja yang hadir di sini. Tidak malukah engkau memberikan kehormatan utama kepada Krishna" Banyak raja yang lebih mulia dan lebih pantas menerimanya dibanding dia! Tidak memberikan kehormatan utama kepada orang yang layak atau memberikannya kepada orang yang tidak
pantas menerimanya adalah salah besar! Engkau raja yang
agung. Sungguh sayang jika engkau mengabaikan hal ini."
Hati Sisupala semakin panas karena Yudhistira tidak menghiraukannya. Maka ia melanjutkan, "Tanpa menghiraukan raja-raja dan para kesatria yang hadir di sini atas undanganmu, engkau akan berikan kehormatan utama kepada seorang pengecut yang tak punya malu. Ingat, sikapmu itu membuat para raja yang kau undang sakit hati. Basudewa, ayah Krishna, hanyalah salah satu budak
Raja Ugrasena. Ia tidak berdarah kesatria dan bukan
keturunan raja-raja. Apakah kesempatan ini sengaja kau-gunakan untuk mempertunjukkan sikap berat sebelahmu kepada Krishna, anak Dewaki" Apa gunanya upacara ini bagi putra-putra Pandu"
"Hai putra-putra Pandu, kalian masih hijau, kurang terdidik dan belum berpengalaman. Kalian sama sekali tidak tahu tata cara persidangan raja-raja terhormat. Bhisma yang berjiwa lemah telah mempermainkan engkau.
"Hai, Yudhistira, mengapa engkau lancang memutuskan pemberian kehormatan utama tanpa bermusyawarah dulu dengan para raja yang masyhur dan terhormat" Krishna belum patut menjadi penasihatmu karena ia masih muda. Yang paling pantas sebenarnya adalah Drona, mahagurumu. Dia juga hadir dalam persidangan ini. Apakah
menurutmu Krishna yang paling mumpuni dalam upacara
keagamaan dan karenanya engkau pilih dia" Itu tidak mungkin, sebab Bhagawan Wyasa hadir di sini. Masih lebih baik jika kauberikan kehormatan utama kepada
Bhisma. Walaupun lemah hati, ia adalah sesepuh keluargamu. Atau ... kepada Mahaguru Kripa, guru seluruh keluargamu, yang juga hadir di sini. Lalu ... Aswatthama,
pahlawan dan ahli kitab suci, juga hadir di sini. Mengapa engkau pilih Kr
ishna dan melupakan yang lain""
Sisupala semakin bernafsu, bicaranya semakin lantang, "Putra mahkota Duryodhana juga hadir di sini. Begitu pula Karna. Tapi mereka tidak engkau pilih. Dengan memilih Krishna yang bukan keturunan raja, bukan pahlawan, tidak terpelajar, tidak suci, belum berpengalaman, dan pengecut, engkau merendahkan derajat semua raja dan putra mahkota yang hadir di sini."
Ia memandang para raja lalu melanjutkan, "Wahai Raja-Raja yang saya muliakan, saya bicara bukan karena tidak setuju Yudhistira bergelar Maharajadiraja. Saya tidak peduli apakah ia musuh atau kawan. Tetapi, karena banyak mendengar tentang keluhuran budinya, kita ingin melihat apakah ia bisa memegang teguh panji dharma yang
kita muliakan. Lihatlah, dengan sengaja ia menghina kita. Apakah sikapnya itu selaras dengan keluhuran budinya yang termasyhur" Tahukah kalian bagaimana dengan liciknya Krishna membantu Bhima membunuh Jarasan-dha" Menurutku Yudhistira sebenarnya rendah budi, sama dengan penasihatnya yang licik dan pengecut."
Sampai di sini ia berhenti sebentar. Kemudian dia memandang Krishna lalu meneruskan kata-katanya dengan berapi-api, "Alangkah pongahnya engkau, mau menerima kehormatan yang tidak pantas bagimu dari Pandawa yang tidak mengerti tatakrama! Apa kau sudah lupa diri" Apa kau tidak tahu tatakrama" Atau kau tidak bisa melihat bahwa upacara ini hanyalah sandiwara untuk mempermalukan dirimu" Apa kau tidak mengerti bahwa penghormatan yang akan kauterima pada hakikatnya seperti
kotoran yang dilemparkan ke wajahmu" Tak ada gunanya;
seperti memperlihatkan barang-barang indah kepada orang buta. Sekarang terbukti bahwa Yudhistira, Bhisma dan Krishna berasal dari kelahiran yang sama."
Setelah puas memaki-maki, Sisupala mengajak para raja dan pangeran meninggalkan persidangan. Banyak yang mengikuti jejaknya. Yudhistira, sebagai tuan rumah, mencoba menenangkan suasana dengan kata-kata santun dan sikap sabar. Ia memohon agar para raja tenang dan duduk kembali. Tetapi usahanya sia-sia, karena mereka sangat marah.
Sementara itu, Krishna tidak tinggal diam. Ia tidak terima dihina dan dipermalukan di hadapan para tamu. Ia bangkit berdiri lalu dengan cepat menghalangi Sisupala dan para pengikutnya. Pertarungan tidak bisa dihindarkan. Sesuai adat para kesatria, Krishna dan Sisupala bertarung satu lawan satu. Setelah bertarung sengit, Sisupala tewas. Melihat itu, para raja yang lain tidak berani berhadapan dengan Krishna. Mereka mengurungkan niatnya dan kembali duduk di balai persidangan.
Akhirnya, setelah segala sesuatunya siap, upacara rajasuya dilangsungkan dengan megah dan meriah, sesuai
rencana semula. Dalam upacara itu Yudhistira diberi gelar dan diakui sebagai Maharajadiraja.
*** 21. Undangan Bermain Dadu Upacara rajasuya selesai. Para raja, putra mahkota, pendita, penasihat, guru dan para tamu agung lainnya meninggalkan Indraprastha.
Setelah para tamu pergi, Dharmaputra menyembah Bhagawan Wyasa dan disuruh duduk di sampingnya.
Mahaguru itu berkata kepadanya, "Wahai, putra Dewi
Kunti, engkau kini bergelar Maharajadiraja. Sungguh gelar yang pantas sekali bagimu. Kudoakan, semoga bangsa Kuru yang masyhur ini mencapai kemuliaannya melalui engkau. Sekarang, aku akan kembali ke pertapaanku."
Yudhistira menyembah kaki mahaguru itu sambil berkata, "Wahai, Guru, hanya Gurulah yang dapat menghapus kecemasanku. Banyak peristiwa penting baru saja
terjadi. Hanya orang bijaksana yang dapat meramalkan
malapetaka apa yang akan terjadi karena peristiwa-peristiwa itu. Apakah menurut ramalan Guru, hal itu
tercermin dalam kematian Sisupala" Atau ... apakah ada
kemungkinan yang lebih mengerikan di masa datang""
Bhagawan Wyasa menjawab, "Anakku tercinta, engkau akan mengalami banyak kesusahan dan penderitaan selama empat belas tahun mendatang. Peristiwa teramat penting yang baru saja berlalu tadi meramalkan kehancuran kaum kesatria dan itu tidak berhenti pada kematian Sisupala. Jauh lebih mengerikan daripada itu! Ratusan raja akan tewas dalam perang besar. Alur kehidupan lama akan hancur. Malapetaka akan timbul karena permusuhan
antara kau dan adik-adikmu
di satu pihak dan sepupumu, putra-putra Dritarastra, di lain pihak. Permusuhan itu akan memuncak dalam satu perang besar yang memusnahkan kaum kesatria. Tak seorang pun bisa melawan atau menghindari suratan nasibnya. Teguhkan hatimu dan tegakkan keluhuran budimu. Waspadalah dan perintahlah rakyatmu dengan bijaksana. Selamat tinggal!"
Setelah memberikan restu kepada Yudhistira, Bhagawan Wyasa meninggalkan Indraprastha.
Ramalan Bhagawan Wyasa membuat Yudhistira sedih
dan merasa jijik terhadap nafsu-nafsu duniawi. Ia menyampaikan ramalan itu kepada adik-adiknya. Ia merasa hidupnya sia-sia karena kepunahan bangsanya sudah diramalkan.
Arjuna berkata, "Engkau seorang raja. Tak pantas kau mempercayai hasutan dan ancaman seperti itu. Kita hadapi nasib kita dengan penuh keberanian dan kita lakukan tugas kita sebaik-baiknya."
Yudhistira menjawab, "Saudara-saudaraku, semoga iman kita diteguhkan oleh Yang Kuasa dan semoga Yang Kuasa selalu melindungi kita. Aku bersumpah, aku tidak akan bicara lemah dan kasar kepada saudara-saudara dan sanak kerabatku selama tiga belas tahun. Aku akan menghindari segala hal yang mungkin menimbulkan sengketa. Aku tidak akan pernah marah, sebab kemarahan adalah pangkal permusuhan. Semoga kita diberi jalan terbaik setelah mengetahui peringatan dari Bhagawan Wyasa."
Semua saudaranya mendukung sumpahnya.
Menurut Bhagawan Wyasa, rangkaian malapetaka yang akan memuncak dalam perang besar di padang Kuruk-shetra berawal dari perjudian yang direncanakan Sakuni, penasihat Duryodhana. Sakuni menyarankan agar Duryo-dhana mengundang Yudhistira bermain dadu. Di balik itu, ia sudah menyiapkan rencana licik.
Sesuai adat di jaman itu, Yudhistira tidak mungkin menolak undangan sepupunya. Ia menerima undangan itu
dengan prihatin dan bersedia memenuhinya demi kewajibannya untuk menghormati sepupunya dan memupuk rasa persaudaraan dengannya. Ia mengira keputusannya
benar, padahal yang akan terjadi justru sebaliknya! Tanpa
disadarinya, Yudhistira telah ikut menanam benih kebencian dan kemusnahan.
Sementara Yudhistira berusaha keras menghindari perselisihan, Duryodhana justru panas hati karena dengki dan iri melihat kemakmuran kerajaan yang dipimpin Pandawa. Hal itu dilihatnya sewaktu ia menghadiri upacara
rajasuya. Istana Indraprastha dibangun megah dan dikelilingi taman yang luas dan indah. Ukiran dan berbagai hiasan dari emas, perak dan permata membuat istana itu semakin semarak. Semua itu menandakan bahwa Yudhis-tira benar-benar memerintah dengan baik dan adil. Ia juga menyaksikan betapa gembiranya para raja yang menjadi sekutu Yudhistira.
Sakuni menyapa, "Mengapa engkau berdiam diri" Jangan biarkan duka menyiksa dirimu."
Duryodhana menjawab, "Yudhistira dilindungi para dewata. Di depan semua raja, Sisupala dibunuh dan tak seorang pun berani membela dia. Seperti pedagang yang hanya mementingkan keselamatan diri dan lakunya dagangannya, para raja itu bersedia menjual kehormatan dan kekayaan mereka asalkan bisa bergabung dengan Yudhistira. Bagaimana aku tidak sedih melihat semua ini"
Apa gunanya hidup seperti ini""
Sakuni berkata, "Wahai Duryodhana, Pandawa adalah sepupumu. Tidak pantas engkau iri melihat kemakmuran mereka. Mereka memperoleh kerajaan dan kekayaan itu dengan sah. Tetapi, kita dapat mengundang Yudhistira untuk bermain dadu dengan dalih untuk bersenang-senang dan mempererat persaudaraan. Dia tak mungkin menolak undangan seperti itu. Kelak, Bhisma, Mahaguru Kripa, Jayadratha, Somadatta dan aku akan mendukungmu.
Engkau pasti bisa menaklukkan dunia jika kau mau.
Jangan biarkan duka merongrong dirimu!"
Duryodhana menjawab, "Benar katamu, Paman Sakuni, aku punya banyak pendukung. Jadi, mengapa tidak kita gempur saja Pandawa dan kita usir mereka dari Indra-prastha""
Sakuni berkata, "Tidak. Itu tidak mudah. Tetapi, aku tahu cara mengusir Pandawa dari Indraprastha, tanpa pertempuran dan pertumpahan darah."
Duryodhana tertarik mendengar itu. Ia bertanya keheranan, "Hai, Paman Sakuni, apakah mungkin mengalahkan Pandawa tanpa mengorbankan jiwa" Apa rencanamu, Paman""
Kata Sakuni, "Aku tahu Yudhistira gemar main dadu,
t etapi tidak pandai. Ia terlalu jujur dan sama sekali tak tahu akal dan siasat untuk memenangkan permainan. Karena itu, ia tak pernah menang. Kita undang ia bermain dadu, kita gunakan akal dan siasat. Kita akan pertaruhkan kekayaan dan kerajaan Astina. Dia pasti akan mempertaruhkan kekayaan dan kerajaannya. Jika semua terlaksana sesuai rencana, kita pasti bisa memenangkan kekayaannya dan kerajaannya tanpa perlu menitikkan darah setetes pun."
Duryodhana dan Sakuni lalu menghadap Raja Dritarastra. Sakuni berkata, "Tuanku Raja, Duryodhana diliputi
perasaan sedih dan cemas. Tetapi, mengapa Tuanku tak hiraukan kesedihan dan kecemasannya" Apa sebabnya, wahai Paduka Raja""
Raja yang buta itu memeluk putranya tercinta sambil berkata, "Aku tidak tahu mengapa engkau bersedih. Apa yang kaurisaukan" Seisi kerajaan ini ada dalam kekuasaanmu. Bukankah selama ini kau dikelilingi berbagai hiburan dan kesenangan" Mengapa kau sedih" Engkau telah
mempelajari kitab-kitab Weda, ilmu peperangan dan ilmuilmu lain dari para mahaguru terbaik. Sebagai putra sulungku kau mewarisi mahkota. Apa lagi yang masih kau-kehendaki""
Duryodhana menjawab, "Ayahanda, meski hidupku dikelilingi hiburan dan kesenangan, meski seisi kerajaan
ini tunduk padaku, aku tetap merasa hidupku tak berguna karena Pandawa memerintah kerajaannya dengan baik dan rakyat mencintai mereka. Aku merasa mereka lebih berhasil daripada aku. Apa gunanya hidup seperti ini""
Melihat ayahnya diam mendengarkan, Duryodhana melanjutkan, "Cepat puas diri bukanlah sifat seorang kesatria. Rasa takut dan mengasihani diri sendiri adalah sifat-sifat yang merendahkan martabat raja-raja. Kekayaan dan kesenanganku tidak membuatku puas setelah aku melihat
-dengan mataku sendiri- kemakmuran Yudhistira.
Tidakkah Ayah sadari, Pandawa semakin kaya dan perkasa sementara kita semakin lemah dan pudar."
Dritarastra berkata, "Anakku tercinta, engkau adalah putra sulung dari istriku tertua. Engkau mewarisi kemegahan dan kebesaran bangsa kita. Jangan membenci Pandawa. Kebencian akan membuahkan kesedihan dan kematian. Katakan terus terang, mengapa engkau membenci Yudhistira yang tidak bersalah. Bukankah keberhasilannya juga berarti keberhasilan kita" Sahabatnya adalah sahabat kita. Apalagi karena ia sama sekali tidak iri atau membenci kita. Jangan kotori hatimu dengan iri dan dengki!"
Duryodhana kecewa mendengar jawaban ayahnya. Ia
menyahut dengan tidak sopan, "Orang yang tidak punya
pengetahuan tentang hal-hal biasa tetapi tenggelam dalam samudera ilmu ibarat sepotong sendok yang ditenggelamkan ke dalam masakan yang enak. Ia berada di dalam
masakan tetapi tak bisa menikmati kelezatannya dan tak
bisa memperoleh manfaatnya.
"Ayah banyak mempelajari ilmu ketatanegaraan, tetapi tidak bijak dalam memerintah. Seperti selalu Ayah ajarkan padaku, keadaan dunia adalah sesuatu, sedangkan urusan kerajaan adalah sesuatu yang lain. Seperti kata Brihaspati, meneguhkan iman dan merasa puas akan keadaan itu adalah nasihat yang cocok bagi orang biasa, bukan bagi raja. Kewajiban kesatria adalah selalu mencari kemenangan, dengan segala cara. Jadi Raja, sebagai kesatria, harus mencari kemenangan."
Demikianlah Duryodhana bicara dengan mengutip ucapan para ahli pemerintahan. Ia juga menghasut ayahnya agar mau memberinya ijin.
Sakuni menyela, menjelaskan rencananya untuk mengundang Yudhistira bermain dadu. Dengan begitu, Pandawa pasti dapat ditaklukkan tanpa pertumpahan darah. Sakuni meyakinkan sang Raja, "Cukup ijinkan kami mengirim utusan untuk mengundang Pandawa bermain dadu. Selebihnya serahkan padaku."
Duryodhana menambahkan, "Jika Ayah setuju, Paman Sakuni akan memenangkan permainan ini atas namaku. Tak perlu ada pertarungan."
Dritarastra berkata, "Usul Sakuni tidak pantas. Sebaiknya kita tanyakan hal ini kepada Widura. Ia pasti memberi nasihat yang benar kepada kita."
Tetapi Duryodhana tidak mau mendengar pendapat Widura. Ia berkata, "Widura hanya bisa memberi nasihat yang membosankan tentang budi pekerti, tapi ia tidak mampu menolong kita untuk mencapai maksud kita. Dalam langkah pelaksanaan untuk memperoleh hasil terbaik, sias
at kenegaraan para raja tidak harus sama dengan isi kitab-kitab ilmu pemerintahan yang baik, yang dilengkapi dengan cara-cara melaksanakannya. Kecuali itu, Widura tidak suka padaku dan lebih memihak Pandawa. Ayah tentu lebih tahu tentang ini daripada aku."
Dritarastra berkata, "Pandawa itu kuat. Menurutku, memusuhi mereka tidaklah bijaksana. Permainan dadu
hanya akan menyeret kita dalam permusuhan. Nafsu
serakah yang timbul akibat permainan ini tidak mengenal batas. Kita harus hindari hal ini."
Tetapi Duryodhana terus mendesak, "Kepemimpinan negara yang bijak terletak pada keberanian untuk membela diri dengan kekuatan sendiri dan mengenyahkan segala ketakutan. Bukankah lebih baik jika kita laksanakan rencana itu selagi kita masih lebih kuat daripada mereka" Ini keputusan yang paling benar! Kesempatan tidak akan datang dua kali. Permainan dadu melawan Pandawa
bukanlah siasat buatan kita. Permainan ini sudah
merupakan tradisi para kestaria sejak jaman dahulu. Dan kalau kita yakin bisa menang tanpa pertumpahan darah, mengapa tidak""
Dritarastra menjawab, "Anakku tercinta, Ayah sudah tua. Lakukanlah apa yang ingin kaulakukan. Tetapi aku
tidak merestuimu. Ayah yakin, kelak engkau pasti menyesal. Semua ini sebenarnya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa."
Demikianlah, setelah lelah berdebat Dritarastra membiarkan putranya melakukan apa yang dimauinya. Kemudian ia menyuruh para budak membangun balairung indah khusus untuk bermain dadu walaupun hati kecilnya sedih dan cemas membayangkan akibatnya nanti. Diam-diam ia
menghubungi Widura dan meminta pendapatnya.
Widura berkata, "Tuanku Raja, permainan itu pasti
akan menghancurkan bangsa kita karena permainan itu memupuk dan mengobarkan kebencian yang tak mungkin dibendung."
Dritarastra yang tidak dapat menghalang-halangi kemauan anaknya berkata, "Bila nasib kita baik, aku tidak khawatir. Tetapi jika nasib baik tidak berpihak pada kita, apa yang bisa kita perbuat" Kodrat dan nasib telah digariskan Yang Maha Kuasa. Pergilah engkau, Widura, untuk atas
namaku mengundang Pandawa bermain dadu di Hastinapura."
*** 22. Semua Dipertaruhkan dalam Permainan Dadu
Maka pergilah Widura ke Indraprastha. Sampai di sana, ia disambut oleh Yudhistira. Raja muda itu bertanya
dengan perasaan prihatin, "Mengapa engkau tidak gembira" Apakah keluarga kita di Hastinapura sehat-sehat" Apakah Baginda Raja dan putra-putranya sehat-sehat""
Setelah saling menyampaikan salam penghormatan, Wi-dura menjelaskan maksud kedatangannya. "Semua kerabat kita di Hastinapura sehat. Bagaimana di sini" Apakah semuanya sehat" Aku datang karena diutus mengundangmu atas nama Raja Dritarastra. Datanglah ke Hastinapura dan lihatlah bangunan-bangunan yang telah disiapkan untuk beristirahat.
"Sebuah balairung indah telah didirikan seperti yang engkau bangun di sini. Baginda Raja mengundang kau dan adik-adikmu untuk beristirahat dan bermain dadu di
sana." Yudhistira tidak langsung menerima undangan itu. Ia ingin mendengar nasihat Widura tentang undangan itu. Katanya, "Bermain dadu sambil bertaruh selalu menimbulkan pertengkaran di antara kaum kesatria. Orang yang bijak pasti akan menghindari hal itu. Kami selalu patuh pada nasihatmu. Apa yang sebaiknya kami lakukan""
Widura menjawab, "Setiap orang tahu, bermain dadu adalah pangkal semua kejahatan. Aku telah berusaha menentang rencana buruk ini! Tetapi Baginda Raja memerintahkan aku mengundang engkau. Terserah kepadamu,
lakukanlah apa yang menurutmu baik."
Walaupun telah mendengar peringatan halus Widura, Yudhistira tetap saja berniat pergi ke Hastinapura.
Memang sulit menghindari nasib manusia yang dengan sengaja melangkah menuju kehancurannya sendiri karena didorong nafsu berahi, kegemaran berjudi, dan kebiasaan minum-minum. Lagi pula, sesungguhnya Yudhistira memang gemar berjudi. Menurut tradisi jaman itu, seorang kesatria dianggap tidak sopan jika menolak undangan
bermain dadu. Kecuali itu, Yudhistira telah bersumpah
untuk tidak pernah melakukan tindakan yang dapat membuat orang lain tidak senang atau marah. Karena itu, sungguh tidak pantas jika ia menolak undangan pamannya sen
diri, Raja Dritarastra. Itu sebabnya ia menerima undangan tersebut dan berangkat bersama saudara-saudaranya diiringkan sepasukan pengawal.
Yudhistira dan rombongannya diterima Dritarastra di Hastinapura dan dipersilakan menginap di balai peristirahatan khusus untuk tamu. Setelah cukup beristirahat, esok harinya mereka diantar ke ruang permainan dadu. Setelah saling bertegur sapa sesuai adat, Sakuni mengumumkan bahwa permadani, meja dan kain beludu penutupnya telah disiapkan secara khusus dan bahwa permainan dapat dimulai.
Yudhistira berkata, "Paduka Raja, bermain judi itu tidak baik. Bukan dengan cara kesatria, kepandaian, dan kebijaksanaan seseorang menang dalam permainan adu nasib seperti ini. Resi Asita, para dewata dan dan para resi yang mengenal inti hakikat kehidupan secara mendalam telah menasihatkan, bahwa permainan judi harus dihindari, karena permainan ini bisa membuat orang ingin berbohong dan menipu. Mereka juga menyatakan bahwa kekalahan dan kemenangan dalam pertempuran adalah jalan yang paling pantas bagi kesatria. Paduka Tuanku sudah tentu bukannya tidak menyadari hal ini." Meski berkata demikian, sesungguhnya hati kecil Yudhistira bimbang karena kata-katanya bertentangan dengan kegemarannya bermain
dadu. Sakuni tahu apa yang sebenarnya bergolak di dalam hati Yudhistira karena ia telah mendengar tentang sumpah kesatria itu. Itulah kelemahan Yudhistira. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Sakuni. Ia berkata, "Apa salahnya permainan ini" Sebenarnya, jika sungguh-sungguh dipikirkan, pertempuran itu sebenarnya apa" Apa pula gunanya
berbincang-bincang tentang ajaran-ajaran Weda dengan
para guru ahli kitab suci" Dalam kenyataannya kita tahu, orang pintar selalu menang melawan orang bodoh. Dalam kenyataannya, orang yang lebih pandai selalu menang dalam segala hal. Semua ini hasil ujian kekuatan atau kepandaian. Dalam kehidupan manusia, yang ahli selalu mengalahkan yang baru mulai belajar. Demikian pula dalam hal bermain dadu. Kalau memang takut kalah jangan
ikut main. Jangan mencari-cari alasan dengan mengemukakan basa-basi tentang ajaran moral dan budi pekerti."
Yudhistira menjawab, "Baiklah, siapa yang akan main melawan aku""
Duryodhana langsung menjawab, "Aku ingin memenangkan semua taruhanmu, semua harta kekayaan dan kerajaanmu. Paman Sakuni akan mengocok dadu dan bermain atas namaku."
Semula Yudhistira telah memperhitungkan bahwa dia pasti bisa menang melawan Duryodhana. Tetapi, melawan Sakuni lain soal. Sakuni termasyhur sebagai pemain dadu yang ulung namun tidak malu-malu menggunakan segala cara, kalau perlu cara-cara licik, untuk memenangkan permainan. Karena itu Yudhistira berkata, "Menurutku itu
menyalahi adat. Sungguh tidak lazim seseorang bermain
atas nama orang lain."
Sakuni menjawab sambil mengejek, "Aku tahu, engkau hanya mencari-cari alasan."
Wajah Yudhistira memerah. Sambil menahan marah ia menjawab, "Baiklah, aku akan main."
Ruangan bermain dadu itu penuh sesak. Tampak di antara yang menonton adalah Drona, Mahaguru Kripa,
Bhisma, Widura dan Raja Dritarastra. Mereka membayangkan betapa buruknya akibat yang bisa ditimbulkan oleh permainan judi, tetapi mereka tak mampu mencegah. Itu sebabnya mereka duduk dengan gelisah. Para pangeran dan bangsawan menyaksikan permainan itu dengan penuh minat dan semangat.
Mula-mula mereka bertaruh uang, sesudah itu bertaruh emas permata. Disusul kereta dan kuda-kudanya. Yudhis-tira selalu kalah. Sejak permainan pertama dia belum pernah menang. Kemudian Yudhistira mempertaruhkan semua pengawal dan pelayannya, lalu gajah-gajah dan pasukan berkudanya. Semua yang ia pertaruhkan habis. Setiap kali Sakuni mengocok dan melemparkan dadu, dadu itu selalu memunculkan angka sesuai kemauannya.
Yudhistira kemudian mempertaruhkan semua desa di wilayah kerajaannya, lengkap dengan penduduknya, sawah dan ladangnya, dan segala macam ternaknya. Semuanya habis dikalahkan Sakuni.
Akhirnya Sakuni bertanya, "Apakah masih ada yang bisa kaujadikan taruhan""
Yudhistira menjawab, "Aku pertaruhkan Nakula, saudaraku yang tampan dan berkulit bersih. Ia adalah salah satu hartaku yang paling ber
harga." Sakuni bertanya, "Kau tidak menyesal" Kami akan
senang sekali memenangkan taruhan itu." Sambil berkata
demikian ia melemparkan dadu. Ketika berhenti berputar, dadu itu memunculkan angka yang dikehendakinya. Hadirin bingung melihat itu.
Yudhistira berkata, "Ini saudaraku yang lain, Sahadewa. Ia seorang seniman yang punya pengetahuan mendalam tentang berbagai macam seni. Aku tahu, sebenarnya aku
tidak boleh mempertaruhkan dia. Tetapi ... ayo, kita
teruskan permainan."
Sambil melemparkan dadu, Sakuni berkata, "Baiklah,
kita teruskan permainan, dan ... lihat aku menang."
Yudhistira menyerahkan Sahadewa yang ia pertaruhkan. Khawatir kalau-kalau Yudhistira memutuskan untuk
berhenti bermain, dengan licik Sakuni memancing-mancing, "Bhima dan Arjuna adalah saudara-saudara kandungmu. Kalian terlahir dari satu ibu. Kau tidak akan mempertaruhkan mereka, bukan""
Mendengar kata-kata itu, Yudhistira tersinggung. Ia tidak mau dikatakan tega mempertaruhkan saudara-saudara tirinya dan lebih menyayangi saudara-saudaranya sekandung. Ia tidak dapat menahan perasaannya, lalu
berkata, "Engkau sengaja hendak memecah-belah kami. Engkau mengadu domba kami! Engkau yang selalu hidup dikuasai nafsu setan takkan bisa mengerti bagaimana
hidup kami yang sebenarnya."
Setelah mengambil napas, ia menyambung, "Aku akan pertaruhkan Arjuna, pahlawan yang selalu menang di medan pertempuran. Mari kita teruskan permainan."
Sakuni menjawab, "Baiklah, aku lemparkan dadu. Lihat
... aku menang!" Yudhistira kalah lagi. Arjuna diambil oleh Kaurawa. Kekalahan terus-menerus membuat Yudhistira gelap mata. Tanpa sadar, ia semakin tenggelam dalam tipu daya Sakuni. Dengan air mata berlinang-linang ia berkata, "Ini Bhima, saudaraku, panglima tertinggi balatentara kami. Ia tak kenal menyerah dan keperkasaannya tak tertandingi. Aku jadikan dia taruhanku."
Permainan diteruskan. Yudhistira kehilangan Bhima.
Sambil mengejek Sakuni bertanya, "Apakah masih ada yang bisa kaujadikan taruhan""
Dharmaputra menjawab, "Ya, diriku sendiri. Kalau kau menang, aku bersedia menjadi budakmu. Awas, perhatikan! Aku pasti menang."
Sakuni melemparkan dadu dan ia menang.
Demikianlah, Yudhistira telah mempertaruhkan semua miliknya, termasuk saudara-saudara dan dirinya sendiri, lengkap dengan pakaian dan senjata yang selalu lekat pada tubuh para kesatria. Semua itu gara-gara ia terbujuk oleh kata-kata Sakuni yang terus-menerus berusaha mempengaruhi, memancing-mancing, menyindir dan mengejeknya
agar Yudhistira kehilangan kendali atas dirinya, menjadi marah, bernafsu dan tak kuasa menghentikan permainan.
Sakuni bangkit berdiri lalu memanggil kelima Pandawa satu per satu. Dengan lantang ia mengumumkan bahwa
secara sah mereka sekarang menjadi budak-budaknya. Para hadirin terpaku, tak kuasa berkata-kata. Sambil memandang Yudhistira, Sakuni melanjutkan, "Masih ada satu permata milikmu yang dapat engkau pertaruhkan. Mungkin kali ini nasib baik berpihak padamu dan engkau menang. Apakah kau tidak berani melanjutkan permainan dengan mempertaruhkan Draupadi, istrimu""
Dengan putus asa Yudhistira menjawab, suaranya bergetar, "Baiklah, aku pertaruhkan dia."
Hadirin menjadi ribut. Dari tempat duduk para sesepuh
terdengar bisik-bisik tidak setuju. Kemudian dari segala penjuru terdengar teriakan, "Tidak, tidak, tidak!"
Tetapi Duryodhana dan saudara-saudaranya bersorak-sorak. Di antara para Kaurawa, hanya Yuyutsu yang menundukkan kepala, sedih menyaksikan semua itu. Sakuni melemparkan dadu lagi dan berteriak, "Aku
menang! Lihatlah!" Duryodhana menoleh kepada Widura sambil berkata, "Pergilah ambil Draupadi istri Pandawa. Mulai sekarang ia harus menyapu dan membersihkan istana kita. Pergi segera! Sekarang juga!"
Widura menjawab, "Kau gila. Ini berarti kau mengundang kehancuranmu sendiri. Ketahuilah, nasibmu kini ibarat tergantung pada seutas benang. Kalau tak hati-hati, kau akan jatuh ke dalam jurang kenistaan. Kaukira kemenanganmu ini akan membuatmu bahagia. Dengar, sekarang kau sedang mabuk dalam lautan kemenangan yang akan menenggelamkan dirimu."
Setelah berkata demikian, Widura menoleh kepada Yudhistira sa
mbil melanjutkan kata-katanya, "Yudhistira, kau tidak berhak mempertaruhkan Draupadi sebab dirimu sendiri tidak bebas lagi. Dirimu sudah kaupertaruhkan. Kau telah kehilangan kebebasan dan segala hakmu. Tapi
... aku melihat keruntuhan Kaurawa semakin dekat. Karena mengabaikan nasihat dan petunjuk para guru, kawan dan pendukung mereka, aku yakin, putra-putra Drita-rastra kini sedang menuju ke lembah neraka."
Duryodhana sangat marah mendengar kata-kata Widura. Ia lalu berkata kepada Prathikami, sais keretanya, "Widura iri melihat kemenangan kita dan takut kepada Pandawa. Tetapi engkau ada di pihak kami. Pergilah engkau, ambil, dan bawalah Draupadi ke sini."
Prathikami pergi menjemput Draupadi di balai peristirahatan. Seperti diperintahkan Duryodhana, ia berkata, "Paduka Permaisuri, Raja Yudhistira kalah dalam permainan dadu dan telah mempertaruhkan semuanya, termasuk diri Paduka. Kini Paduka menjadi milik Duryodhana. Hamba diperintahkan menjemput Paduka untuk dijadikan pelayan di istana ini."
Draupadi, permaisuri Rajadiraja yang telah melaksanakan rajasuya, sangat terkejut mendengar pesan aneh itu.
Ia bertanya, "Wahai Prathikami, apa maksudmu berkata begitu" Raja Yudhistira tak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan""
Prathikami menjawab, "Ya, Raja Yudhistira telah mempertaruhkan semua miliknya dan kalah. Kini ia tak punya apa-apa lagi. Karena itu, ia mempertaruhkan Paduka Permaisuri."
Kemudian ia menceritakan bagaimana Yudhistira kalah dalam permainan dadu dengan mempertaruhkan semua miliknya, saudara-saudaranya, termasuk dirinya sendiri.
Walaupun hatinya pedih sekali, namun kekuatan batinnya mendorong Draupadi untuk berkata, "Wahai sais kereta, kembalilah kepada tuanmu. Tanyakan pada yang bermain dadu. Tanyakan, apakah lebih dulu mempertaruhkan dirinya sendiri atau istrinya. Tanyakan ini di depan semua yang hadir di sana. Kemudian kembalilah ke sini dengan jawaban itu. Setelah itu, barulah aku bersedia kaubawa ke sana."
Prathikami kembali ke ruang permainan dadu. Ia
menyembah Yudhistira lalu menanyakan pertanyaan Drau-padi. Yudhistira bungkam, tak sanggup menjawab.
Sekali lagi Duryodhana menyuruh Prathikami menjemput Draupadi agar bisa bertanya langsung kepada suaminya. Prathikami kembali menghadap Draupadi. Setelah menyembah ia berkata, "Paduka Permaisuri, Duryodhana yang berhati licik mengharapkan Paduka pergi ke ruang permainan dan bertanya sendiri kepada suami Paduka."
Draupadi menjawab, "Tidak! Kembalilah ke sana, ajukan pertanyaan itu dan minta jawabannya."
Prathikami mematuhinya. Ia kembali ke ruang permainan, menghadap Duryodhana dan melaporkan bahwa Draupadi tidak bersedia datang.
Dengan marah Duryodhana lalu berkata kepada Duhsasana, salah satu saudaranya, "Orang ini takut pada Bhima!
Pergilah engkau dan bawa Draupadi ke sini. Kalau perlu ... seret dia!"
Mendengar perintah itu, Duhsasana yang berhati busuk
dengan senang hati pergi melakukannya. Sampai di balai peristirahatan, ia langsung masuk ke kamar Draupadi
sambil berteriak-teriak, "Ayo pergi, kenapa kau diam saja"
Sekarang kau milik kami. Jangan malu-malu, hai wanita cantik! Menurutlah, sebab kami telah memenangkan engkau. Ayo, sekarang juga kita berangkat ke persidangan!" Sambil berkata demikian ia mendekati Draupadi dengan maksud menyeretnya secara paksa.
Draupadi bangkit. Dengan perasaan sedih bercampur benci ia berlari mencari tempat berlindung. Ia bersembunyi
di dalam kamar Permaisuri Raja Dritarastra. Tetapi Duhsasana mengejarnya, menyergapnya, dan mencengkeram rambutnya. Sambil mencengkam rambut wanita jelita itu, ia menyeret Draupadi ke ruang permainan. Setibanya di sana, sambil menekan perasaannya, Draupadi berkata kepada mereka yang lebih tua, "Bagaimana mungkin Tuan-Tuan membiarkan diriku dijadikan taruhan oleh orang yang telah kalah berjudi" Bukankah para penjudi adalah manusia-manusia jahat yang ahli tipu-menipu" Karena
suamiku sudah menjadi budak gara-gara kalah berjudi, ia bukan manusia bebas lagi dan karena itu ia tak berhak mempertaruhkan aku."
Dengan air mata berlinang-linang Draupadi meneruskan kata-katanya, "Jika kalian memang mencintai
dan menghormati kaum ibu yang telah melahirkan dan menyusui kalian, jika penghargaan terhadap istri atau saudara perempuan atau putri kalian benar-benar tulus, jika kalian memang percaya kepada Yang Maha Agung dan
dharma, jangan biarkan aku dihina seperti ini. Penghinaan
ini lebih kejam dari kematian!"
Mendengar kata-kata Draupadi yang tajam menyayat hati dan melihat air matanya yang bercucuran, para sesepuh itu menundukkan kepala karena malu dan sedih. Bhima tak bisa menahan diri lagi. Dadanya sesak, seakan hendak meledak. Dengan suara menggelegar dan dengan nada pahit ia berkata kepada Yudhistira, "Penjudi kawakan yang paling bejat pun tidak akan mempertaruhkan perempuan kotor yang mereka pelihara. Tetapi ... lihatlah dirimu
yang mengaku sebagai manusia berbudi luhur. Engkau ternyata lebih buruk dari mereka. Engkau biarkan putri Raja Drupada, permaisurimu, dihina oleh manusia-manusia kurang ajar ini. Aku tak dapat membiarkan tindakan tak susila ini tanpa bertindak. Saudaraku Sahadewa, ambilkan api. Akan kubakar tangan manusia-manusia yang merencanakan permainan dadu curang ini."
Arjuna bangkit, menahan Bhima dengan kata-kata penuh kesabaran, "Sejak semula engkau tidak berkata apa-apa. Sejak dulu mereka selalu ingin mengenyahkan kita atau menjerumuskan kita ke dalam jaring-jaring kejahatan agar kita terseret ikut berbuat jahat. Kita tidak boleh mengikuti segala tipu daya, kejahatan dan permainan licik
mereka. Waspadalah!"
Mendengar peringatan Arjuna, Bhima diam dan berusaha menahan perasaannya.
Tetapi Wikarna, salah seorang putra Dritarastra tidak tega melihat penderitaan Draupadi. Ia bangkit berdiri dan
berkata, "Wahai para kesatria yang hadir di sini, mengapa Tuan-Tuan diam saja" Aku tahu, aku masih muda. Tetapi karena kalian diam saja, aku terpaksa bicara. Dengar! Yudhistira telah ditipu dalam permainan yang telah direncanakan masak-masak sebelum ia diundang. Karena itu ia tak mungkin menang. Karena terus menerus kalah, ia kehilangan kendali atas dirinya. Ia tega mempertaruhkan permaisurinya. Tetapi, sebenarnya ia tak punya hak untuk mempertaruhkan Draupadi karena putri ini bukan miliknya seorang. Maka taruhan itu tidak sah. Kecuali itu, Yudhistira telah kehilangan kebebasannya maka tak punya hak untuk mempertaruhkan putri ini. Ada lagi alasan yang memberatkan bahwa permainan ini tidak sah. Sakunilah yang mengusulkan Draupadi dijadikan taruhan. Ini bertentangan dengan aturan permainan. Siapa pun yang bermain dadu tidak berhak meminta taruhan tertentu kepada lawannya. Kalau kita pertimbangkan hal-hal tersebut, kita harus mengakui bahwa Draupadi telah dipertaruhkan dengan tidak sah, inilah pendapatku."
Mendengar kata-kata Wikarna yang tajam dan berani, para tamu merasa lega dan pikiran mereka menjadi terang. Mereka bersorak, "Hidup dharma! Hidup dharma!"
Pada saat itulah Karna bangkit dan berkata, "Hai Wikar-na, engkau lupa bahwa banyak yang lebih tua darimu hadir di ruangan ini. Lancang benar engkau, berani mempertanyakan aturan-aturan. Engkau masih bocah. Kelan-canganmu melukai keluargamu yang telah melahirkan dan membesarkan engkau. Kau ibarat nyala api yang membakar ranting kayu arani dan akhirnya memusnahkan pohonnya. Kau ibarat seekor burung yang merusak sarangnya sendiri. Sejak semula, ketika Yudhistira masih bebas, ia telah mempertaruhkan semua miliknya dan tentu saja itu termasuk Draupadi. Karena itu, sekarang Draupadi menjadi milik Sakuni. Hal ini tak perlu diperdebatkan. Semua milik Pandawa kini menjadi milik Sakuni, termasuk pakaian yang mereka kenakan. Hai Duhsasana, tanggalkan pakaian Pandawa dan Draupadi. Serahkan semua
kepada Sakuni!" Mendengar kata-kata Karna yang kasar, Pandawa merelakan pakaian mereka demi menjalani cobaan dharma yang amat pahit. Mereka menanggalkan pakaian, hingga tinggal sehelai kain penutup aurat. Semua mereka jalani demi
kehormatan, kebenaran dan keagungan dharma.
Karena Pandawa menyerahkan sendiri pakaian mereka, Duhsasana mendekati Draupadi, siap merampas pakaian sang putri. Ia berusaha menelanjangi Draupadi, tetapi putri itu melawan dengan sekuat tenaga. Duhsasana terus memaks
a dan Draupadi terus bertahan. Draupadi mengerahkan kekuatan batinnya, membaca mantra dalam hati, berdoa dan memohon pertolongan Brahma, "Oh Dewata Penguasa Alam Semesta, kepadaMu kuserahkan segala
keyakinanku. Jangan biarkan aku dihina seperti ini. Engkaulah satu-satunya tempatku berlindung. Oh Dewata,
lindungilah aku." Setelah berkata demikian, ia jatuh
pingsan. Duhsasana lalu melakukan perbuatan yang sangat memalukan itu. Ia menanggalkan pakaian Draupadi satu per satu. Ajaib! Tiba-tiba terjadilah sebuah peristiwa gaib. Setiap kali ia melepas pakaian sang putri yang tak sadarkan diri itu, setiap kali pula muncul pakaian baru menutupi tubuhnya yang jelita. Duhsasana terus melakukan pekerjaan hina itu. Pakaian Draupadi menumpuk seperti gunung, tetapi tubuhnya yang belum siuman tetap utuh dan berpakaian lengkap. Semua yang hadir dalam ruangan itu gemetar, sadar bahwa Dewata telah memperlihatkan
kebesaranNya. Duhsasana tak sanggup lagi melakukan
tugasnya. Ia terduduk lemas, tak berdaya.
Dengan bibir gemetar Bhima mengucapkan sumpahnya, "Semoga aku tidak diterima oleh nenek moyangku di surga sebelum aku remukkan dada Duhsasana yang penuh dosa dan aku hisap darah manusia yang telah menodai keluhuran wangsa Bharata."
Maka terdengarlah anjing dan serigala meraung-raung, unta, gajah, kuda dan keledai meringkik-ringkik, burungburung berkicau melagukan nyanyian duka di seluruh
negeri. Semua itu merupakan pertanda akan datangnya malapetaka mengerikan di masa datang.
Raja Dritarastra sadar, keturunannya akan mengalami kehancuran. Dengan berani ia mengambil keputusan untuk berdamai dengan Pandawa. Ia memanggil Draupadi
dan Yudhistira. Ia berkata kepada Yudhistira, "Engkau
tidak bersalah, karena itu engkau bukanlah musuh kami.
Maafkan Duryodhana demi keagungan budimu dan buanglah kenangan pahit ini dari ingatanmu. Ambil kembali kerajaanmu, kekayaanmu dan semua milikmu. Engkau kubebaskan dan perintahlah kerajaanmu hingga rakyatmu makmur sejahtera. Kembalilah kalian ke Indraprastha."
Demikianlah Pandawa meninggalkan ruangan terkutuk itu. Hadirin bingung dan terpaku melihat keajaiban yang tak masuk akal itu. Pandawa dilepaskan dari malapetaka yang mengerikan, tetapi itu semua terlalu cepat dan ringan untuk dinikmati keindahannya.
Setelah Yudhistira dan saudara-saudaranya pergi, di dalam ruangan terjadi perdebatan sengit. Atas hasutan Duhsasana dan Sakuni, Duryodhana memaki-maki ayahnya yang telah mengacaukan rencana mereka. Mereka lalu mengutip petuah Brihaspati yang mengatakan bahwa melakukan tipu muslihat untuk menghancurkan musuh bebuyutan adalah tindakan benar. Ia menggambarkan, kebebasan dan kekuatan Pandawa akan membahayakan mereka jika dibiarkan tumbuh. Kata mereka, satu-satunya cara untuk mengalahkan Pandawa yang sakti dan perkasa adalah dengan tipu muslihat dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari tipu muslihat itu untuk melumpuhkan kebanggaan dan kehormatan mereka. Untuk itu,
semboyan yang paling tepat adalah "tidak seorang kesatria pun akan menolak undangan bermain dadu."
Mengetahui betapa besar cinta ayahnya kepada dirinya, Duryodhana meminta persetujuan Dritarastra untuk mengundang Yudhistira bermain dadu sekali lagi. Dengan
berat hati karena merasa mendapat firasat buruk, Dritarastra memberikan persetujuan.
Segera Duryodhana mengirim utusan untuk menyusul Yudhistira yang belum sampai ke Indraprastha. Utusan itu
membawa undangan pribadi dari Raja Dritarastra.
Setelah menerima undangan itu, Yudhistira berkata, "Memang benar, kebaikan dan kejahatan sudah tersurat
dan tak dapat dihindari. Kalau kita harus main lagi, kita akan main, demikian jawabanku. Ajakan bermain dadu demi kehormatan tak dapat ditolak. Aku harus menerimanya."
Dharmaputra kembali ke Hastinapura dan bersiap-siap
untuk bermain dadu lagi melawan Sakuni. Setiap orang yang berpikiran baik dan berpendirian halus yang hadir dalam pertemuan itu sebenarnya tidak menyetujui permainan itu. Agaknya Yudhistira telah ditakdirkan oleh Batari
Kali, Dewi Kemusnahan, untuk menjadi umpan yang dapat meringankan beban dunia dari segala macam kejahatan.


Mahabharata Karya Nyoman S. Pendit di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sebelum bertanding, taruhan ditentukan, "Barangsiapa kalah dalam permainan ini, ia dan saudara-saudaranya harus menjalani hidup dalam pengasingan dan pembuangan di hutan rimba selama dua belas tahun. Pada tahun ketiga belas ia harus hidup menyamar selama setahun penuh. Kalau pada tahun ketiga belas ada yang mengenali mereka, mereka harus dibuang ke pengasingan selama dua belas tahun lagi."
Tidak perlu diceritakan bagaimana Sakuni menggunakan tipu dayanya lagi dalam permainan ini. Lagi-lagi
Yudhistira kalah. Pandawa harus menjalani hidup dalam pembuangan di hutan rimba. Mereka yang menyaksikan kekalahan Pandawa menundukkan kepala karena malu, diam tenggelam dalam duka dan tak mampu berbuat apaapa.
*** 23. Dritarastra Selalu Cemas Melihat Pandawa berangkat meninggalkan kerajaan
menuju hutan tempat mereka dibuang, rakyat merasa sedih. Mereka keluar rumah berjajar di pinggir jalan, naik ke pohon-pohon dan atap rumah-rumah, hendak mengucapkan selamat jalan kepada Pandawa. Para pedagang dan putra-putra bangsawan yang sedang melintas dengan menunggang gajah atau kuda segera berhenti dan menepi, memberi jalan kepada Pandawa. Mereka memberi salam hormat dan simpati. Pandawa yang biasanya keluar istana menunggang kuda gagah atau naik kereta megah, kini berjalan dengan kaki telanjang dan pakaian kumal menuju hutan belantara.
Raja Dritarastra memanggil Widura dan memintanya
menceritakan suasana keberangkatan Pandawa ke tempat pengasingan mereka.
Berkatalah Widura, "Yudhistira berjalan dengan wajah ditutupi sehelai kain. Bhima berjalan di sebelahnya dengan wajah tertunduk. Arjuna berjalan paling depan sambil menaburkan pasir sepanjang jalan. Nakula dan Sahadewa berjalan di belakang Yudhistira. Badan mereka penuh debu. Draupadi berjalan di samping Dharmaputra. Rambutnya yang indah panjang terurai menutupi wajahnya yang basah karena air mata. Resi Dhaumya mengiringkan
mereka sambil mengidungkan madah suci Sama yang
ditujukan kepada Batara Yama, Dewa Kematian."
Mendengar cerita Widura, Dritarastra semakin sedih
dan cemas. Ia bertanya lagi, "Bagaimana reaksi rakyat"" Widura menjawab, "Tuanku Raja, aku akan ulangi katakata yang mereka ucapkan. Mereka berasal dari semua
lapisan dan golongan masyarakat: 'Pemimpin kita telah meninggalkan kita. Celakalah bangsa Kuru yang membiarkan ini terjadi! Anak-anak Dritarastra, terkutuklah kalian karena telah mengusir putra-putra Pandu ke hutan.'
"Sementara rakyat menuduh dan menyalahkan kita, dunia menjadi gelap, langit diliputi mendung tebal, guruh menggelegar, halilintar menyambar-nyambar, dan bumi bergoncang. Semua itu pertanda buruk yang mengusik ketenangan hati rakyat."
Ketika Dritarastra dan Widura sedang bercakap-cakap, tiba-tiba Bhagawan Narada muncul di hadapan mereka dan bersabda, "Empat belas tahun yang akan datang, terhitung dari hari ini, Kaurawa akan punah, terkikis habis
dari dunia akibat perbuatan jahat Duryodhana." Setelah
bersabda begitu, Bhagawan Narada lenyap dari pandangan.
Duryodhana dan saudara-saudaranya menjadi cemas. Mereka buru-buru menemui Drona, memohon padanya agar jangan meninggalkan mereka apa pun yang akan terjadi.
Dengan sedih Drona menjawab, "Aku percaya pada mereka yang bijaksana, yang mengatakan bahwa Pandawa berasal dari keturunan suci dan tidak mungkin dikalahkan. Tetapi, kewajibanku adalah bertempur di pihak putra-putra Dritarastra yang telah mengangkatku sebagai mahaguru mereka. Jiwa dan ragaku kupersembahkan bagi tanah ini karena hasil buminya telah menghidupiku selama ini. Aku akan berjuang untuk kalian, tapi ajalku ada di tangan Yang Kuasa. Kelak, Pandawa pasti akan kembali dari pembuangan dengan amarah dan dendam yang tak terlukiskan.
"Aku tahu apa artinya perasaan itu, sebab aku telah menggulingkan dan menghina Raja Drupada karena kemarahan dan dendamku kepadanya. Dengan dendam membara yang tak dapat diredakan lagi, Drupada melakukan upacara korban agar dianugerahi anak laki-laki yang kelak akan membunuhku. Kabarnya anak itu diberi nama Dristadyumna. Seperti telah ditakdirkan, ia menjadi ipar Pandawa dan sekutu tepercaya mereka. Segala sesuatu bergerak sesuai garis takdir. De
mikianlah, semua perbuatanmu menuju ke arah itu dan hari-harimu dapat dihitung. Sebab itu, jangan buang-buang waktu untuk berbuat kebajikan karena engkau mampu melakukannya. Lakukan upacara-upacara korban besar. Bersenang-senanglah kalian dengan segala macam kesenangan yang tak tercela dan tak terkutuk. Berikan sedekah kepada mereka yang membutuhkan. Segala kutuk dan laknat akan mengepung kalian di tahun keempat belas.
"Wahai Duryodhana, berdamailah engkau dengan Yu-dhistira. Ingat baik-baik nasihatku ini. Tapi, sudah tentu engkau dapat melakukan apa pun yang kauinginkan."
Duryodhana sangat kecewa mendengar kata-kata Drona.
Sementara itu, Sanjaya, sais kereta pribadi Raja Drita-rastra bertanya kepada tuannya, "Tuanku Raja, kenapa Tuanku kelihataan bersusah hati""
Dritarastra menjawab, "Bagaimana aku tidak sedih mengetahui Pandawa dihina dan dilukai hatinya""
Sanjaya bertanya, "Apa yang Tuanku katakan itu benar.
Orang yang menyimpang dari jalan kebenaran berarti lupa
daratan, tidak tahu mana yang buruk dan mana yang baik. Waktu memusnahkan segalanya, tanpa menggunakan gada atau menghantam kepala orang sampai pecah. Tetapi, dengan menghancurkan pertimbangan baiknya, orang menjadi gila dan mengundang kehancurannya sendiri. Secara keterlaluan putra-putra Tuanku telah menghina Panchali, putri dari Kerajaaan Panchala, alias Draupadi. Mereka telah menyediakan jalan mereka sendiri menuju kemusnahan."
Dritarastra berkata, "Aku tidak mengikuti jalan menuju
kebajikan dharma dan pemerintahan yang baik, tetapi
membiarkan diriku dibawa ke jalan salah oleh anakku yang gila harta dan kuasa. Seperti katamu, kita telah mempercayakan diri kita diseret waktu menuju jurang keruntuhan."
Biasanya Widura memberi nasihat kepada Dritarastra secara jujur. Ia sering berkata bahwa Duryodhana telah melakukan kesalahan-kesalahan besar dan baru-baru ini telah menipu Dharmaputra. Widura juga berkata bahwa adalah kewajiban Drona untuk membawa Kaurawa ke jalan benar dan menjauhkan mereka dari jalan kejahatan. Selanjutnya ia menyarankan agar Yudhistira dan saudara-saudaranya dipanggil dari hutan pengasingan untuk ber-damai dengan dia. Tegasnya, harus ada yang menghentikan Duryodhana untuk berbuat yang bukan-bukan dan, bila perlu, sekali-sekali dengan kekerasan.
Pada mulanya Dritarastra diam saja dan menyimak
kata-kata Widura. Meski demikian, dengan hati sedih ia
mengakui bahwa sesungguhnya Widura lebih bijaksana daripada dirinya. Widura selalu mengharapkan hal-hal yang baik bagi Dritarastra. Ia senantiasa berdoa untuk kesehatan dan keselamatan rajanya. Tetapi lama-lama kesabaran Dritarastra hilang karena bosan mendengar khotbah-khotbah tentang pekerti luhur.
Pada suatu hari, ketika kesabarannya sudah habis dan dia bosan mendengar nasihat-nasihat Widura, Dritarastra
berkata lantang, "Hai Widura, diamlah! Engkau selalu
bicara dengan nada memihak Pandawa dan menjelek-jelekkan anak-anakku. Engkau tidak pernah menghargai kebaikan kami. Ketahuilah, Duryodhana terlahir dari darah dagingku. Bagaimana mungkin aku mengenyahkan dia" Apa perlunya engkau menasihatiku tentang pekerti-pekerti luhur" Aku tidak percaya lagi padamu dan aku tidak membutuhkan engkau lagi. Kalau kau mau, kau bebas mengikuti Pandawa ke mana pun." Sambil berkata demikian ia bangkit membelakangi Widura, lalu masuk ke balai peristirahatannya. Widura, putra Bhagawan Wyasa, terkenal sebagai orang
paling bijaksana di antara kaum cendekiawan. Ia juga menjadi penasihat Kaurawa dan Pandawa. Dengan sedih ia membayangkan kehancuran bangsa Kuru yang tak terhindarkan. Mendengar kata-kata Dritarastra, ia bergegas keluar istana, mengambil keretanya, lalu melecut kudanya agar berlari sekencang-kencangnya. Demikianlah, ia melesat cepat bagaikan menunggang angin, menyusupi hutan rimba untuk menemui Pandawa dalam pembuangan.
Sepeninggal Widura, hati Dritarastra semakin gundah. Ia sangat menyesal karena tidak menghalang-halangi putranya. Dengan penyesalan yang amat dalam, ia berkata pada dirinya sendiri, "Apa yang telah aku perbuat" Aku malah menambah kekuatan Pandawa dengan mengusir Widura yang bijaksana dan memb
uatnya memihak mereka."
Pikirannya semakin kalut dan sedih hatinya tak tertahankan lagi. Akhirnya ia mengutus Sanjaya, menteri kepercayaannya, untuk menemui Widura dan menyampaikan penyesalannya. Sanjaya juga harus berkata bahwa Dritarastra mengharapkan mereka kembali ke Hastinapura.
Sanjaya, utusan istimewa itu, segera berangkat ke hutan. Di dalam hutan, di sebuah pertapaan, ia bertemu dengan Pandawa. Saat itu Pandawa mengenakan pakaian dari kulit kijang dan dikelilingi banyak resi dan pendita. Ia juga bertemu Widura di sana. Setelah dipersilakan duduk, Sanjaya menyampaikan pesan Dritarastra dan menambahkan bahwa raja buta itu akan mangkat dengan perasaan putus asa jika Widura tidak bersedia kembali ke Hastinapura.
Widura yang berhati seputih kapas dan selalu memegang teguh dharma, merasa terharu. Ia menyatakan bersedia kembali ke Hastinapura.
Demikianlah, Widura kembali ke Hastinapura bersama Sanjaya. Sampai di istana, ia langsung dipeluk oleh Drita-rastra dengan air mata berlinang-linang. Mereka berjanji
untuk melupakan perseteruan mereka dan menghapus
semua kenangan buruk dari ingatan masing-masing.
*** Pada suatu hari Resi Maitreya datang ke istana Raja Dritarastra dan diterima dengan penuh kehormatan. Dritarastra sangat mengharapkan restu resi itu. Katanya, "Wahai Resi
yang kuhormati, aku yakin, Resi pasti bersua dengan
anak-anak Pandawa yang kucintai di rimba Kurujanggala. Apakah mereka sehat-sehat" Apakah rasa saling mengasihi
dalam keluarga kami takkan pernah berkurang sedikit
pun"" Resi Maitreya menjawab, "Kebetulan aku bertemu
dengan Yudhistira di hutan Kamyaka. Para resi di hutan
itu berdatangan menemui dia. Dari sana aku tahu apa yang telah terjadi di Hastinapura. Aku sangat terkejut karena peristiwa itu bisa terjadi dan dibiarkan terjadi
ketika Tuanku Raja dan Bhisma masih ada."
Kemudian Resi Maitreya menemui Duryodhana. Ia menasihati Duryodhana demi kebaikan pangeran itu sendiri. Dinasihatinya Duryodhana untuk tidak bermusuhan dengan Pandawa karena kecuali sakti dan perkasa, Pandawa juga bersekutu dengan Drupada dan Krishna. Tetapi Dur-yodhana yang keras kepala, gila harta dan gila kuasa itu hanya tertawa, menepuk-nepuk pahanya dan meludah dengan congkak. Ia tidak menyahut apa-apa dan pergi begitu saja.
Resi Maitreya menjadi berang. Sambil memandang
Duryodhana, ia berkata, "Dasar sombong! Kau menyombongkan diri, menepuk pahamu dan meludah sembara-ngan untuk menghina orang yang mendoakan segala kebaikan dan keselamatan untukmu. Ingatlah, pahamu yang engkau tepuk itu akan belah menjadi dua ditusuk tombak Bhimasena dan engkau sendiri akan mati dalam pertempuran."
Mendengar kutuk-pastu Resi Maitreya itu, Dritarastra
melompat berdiri lalu menyembah Resi itu, memintakan
maaf untuk anaknya. Tetapi Resi Maitreya yang sakti itu berkata, "Kutuk pastu-ku tidak akan mempan jika putramu mau berdamai dengan Pandawa. Tetapi kalau tidak,
beranikah engkau menghadapi akibatnya"!"
Because You 5 Touche Alchemist Karya Windhy Puspitadewi Mengail Di Air Keruh 3
^