Pencarian

Misteri Kehadiran Arwah 1

Misteri Kehadiran Arwah Karya Bois Bagian 1


Misteri Kehadiran Arwah Sebuah cerita fiksi yang ditulis oleh Bois, penulis copo yang masih harus banyak belajar. Cerita ini hanyalah sarana untuk mengilustrasikan makna di balik kehidupan semu yang begitu penuh misteri. Perlu anda ketahui, orang yang bijak itu adalah orang yang tidak akan menilai kandungan sebuah cerita sebelum ia tuntas membacanya.
e-book ini gratis, siapa saja dipersilakan untuk menyebarluaskannya, dengan catatan tidak sedikitpun mengubah bentuk aslinya.
Jika anda ingin membaca/mengunduh cerita lainnya silakan kunjungi : www.bangbois.blogspot.com www.bangbois.co.cc
Salurkan donasi anda melalui:
Bank BCA, AN: ATIKAH, REC: 1281625336
Satu Branden terpaku melihat istrinya. Dilihatnya wanita itu tampak begitu cantik. Rambutnya yang sepinggang dibiarkannya tergerai. Gaun cokelat yang dikenakannya pun tampak begitu serasi. Kini Wanita itu duduk di sebelah Branden seraya meletakkan koper besar yang dibawanya. Koper itu diletakkan di lantai teras, bersebelahan dengan tempat duduknya.
"Kau cantik sekali, Sayang..." puji Branden seraya mengecup kening istrinya dengan mesra.
"Terima kasih, Bran!" ucap Yana seraya tersenyum.
"O ya, pukul berapa bismu akan berangkat"" tanya Branden.
"Pukul 10.30 WIB," jawab Yana.
Branden melirik arlojinya, dilihatnya jam baru menunjukkan pukul 9.00 WIB. "Ngomong-ngomong, kapan Nak Jodi akan menjemputmu"" tanyanya kemudian.
"Sebentar lagi," jawab Yana singkat.
Pada saat itu, putri mereka yang bernama Rani Dewina datang membawa tiga cangkir teh dan langsung meletakkannya di atas meja. Bersamaan dengan itu, sebuah sedan biru metallic tampak memasuki pekarangan dan berhenti persis di muka rumah. Pengemudinya yang bertubuh tegap terlihat turun seraya tersenyum kepada keluarga Branden. Dialah Jodi Darmawan, pemuda tampan yang akan menjemput Yana. Sejenak pemuda itu melihat ke sekelilingnya-memperhatikan pekarangan yang tampak begitu asri, lalu dengan segera pemuda itu menghampiri mereka. "Selamat pagi, Pak, Bu!" ucapnya seraya berjabatan tangan dengan keduanya.
"Selamat pagi, Nak Jodi! Mari, Nak! Silakan duduk dulu!" tawar Branden ramah.
"Iya, Nak. Kita ngobrol-ngobrol sebentar. Masih ada cukup waktu kok," timpal Yana seraya memandang pemuda itu sambil tersenyum tipis, kemudian pandangannya segera beralih ke arah Rani. "Nak, sana ambilkan minum!" pintanya kepada gadis itu.
Rani yang sejak tadi berdiri di samping ibunya langsung bergegas ke dapur. Sementara itu, Jodi, Branden, dan Yana sudah duduk kembali. Kini mereka tengah berbincang-bincang, mengisi suasana ceria yang tampak menyelimuti keluarga itu. Beberapa menit kemudian, Rani sudah kembali. Setelah menyuguhkan minuman yang dibawanya, dia pun ikut berbincang-bincang.
Tak terasa 30 menit telah berlalu. "Wah, sudah pukul 9.30. Ayo, Nak Jodi! Sudah saatnya kita berangkat," ajak Yana tiba-tiba.
Jodi melirik arlojinya, "Iya benar. Kalau begitu... mari, Bu!" ucap Jodi seraya beranjak bangun dan bergegas membawa koper Yana ke mobil. Pada saat yang sama, Yana langsung berpamitan dengan suami dan putrinya, kemudian menyusul Jodi dan duduk di jok belakang. Bersamaan dengan itu, Branden dan putrinya tampak melambaikan tangan-melepas kepergian orang yang begitu mereka cintai. Saat itu, Yana pun segera membalas lambaian mereka sambil tersenyum lebar.
Kini Jodi dan Yana sedang dalam perjalanan, keduanya berbincang-bincang dengan begitu akrabnya. Membicarakan soal kuliah Jodi dan mengenai hubungannya dengan Rani. Lama mereka berbincang-bincang, hingga akhirnya mereka tiba di terminal Lebak Bulus.
Kini mereka sedang melangkah ke ruang tunggu terminal. Setibanya di tempat itu, tiba-tiba Yana menghentikan langkahnya. "Nak Jodi, kau tunggu di sini ya! Ibu mau ke toilet sebentar," pamitnya kepada pemuda itu.
Jodi mengangguk, setelah itu dia duduk di kursi yang berada dekat tiang penyangga.
Beberapa menit kemudian, Yana sudah kembali, saat itu dia melihat Jodi sedang berbicara melalui HP-nya. Ketika Yana hendak menemuinya, tiba-tiba dia menangkap pembicaraan yang membuatnya sangat penasaran. Yana pun tidak segera menemu
i pemuda itu, dia justru berdiri di balik tiang penyangga untuk mendengarkan pembicaraan itu lebih lanjut.
Lama juga Yana mendengarkan percakapan Jodi yang bicara lewat HP, hingga akhirnya...
"Ya... iya... terus..." ...baiklah kalau begitu! Aku janji, besok pagi aku pasti pulang ke Tokyo. Sudah ya! Bye..." ucap Jodi seraya memutuskan sambungan dan segera menyimpan HP-nya.
Sementara itu, Yana masih berdiri di tempatnya, dalam hati dia terus bertanya-tanya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia bergegas menemui pemuda itu. "Maaf ya, Nak Jodi! Ibu agak lama," ucapnya kemudian.
"Tidak apa-apa kok, Bu. Mari...!" ajak Jodi seraya mengangkat koper yang tadi diletakkannya.
Tak lama kemudian, keduanya sudah tiba di bis yang akan mengantar Yana.
"Terima kasih ya, Nak. Kau sudah mau mengantarkan Ibu," ucap Yana seraya tersenyum ramah.
Jodi pun tersenyum, "Sama-sama, Bu. O ya, Bu. Kalau begitu, saya pulang sekarang," pamit pemuda itu kemudian.
"Iya Nak, hati-hati ya!" pesan Yana seraya memperhatikan kepergian pemuda itu.
Kini Yana tampak menaiki bis dan duduk menunggu. Beberapa menit kemudian, bis yang ditumpangi Yana tampak mulai bergerak meninggalkan terminal.
Selama di perjalanan, Yana terus bertanya-tanya mengenai percakapan Jodi beberapa menit sebelumnya. Dia bisa menduga apa yang telah diperbuat Jodi kepada putrinya. Sepanjang perjalanan, wanita itu selalu terngiang dengan percakapan Jodi di terminal, hingga akhirnya dia bisa menyimpulkan kalau Jodi bukanlah pemuda baik seperti yang dikenalnya selama ini.
Kini wanita itu sedang mencari cara terbaik untuk menyampaikan hal penting itu kepada putrinya. Dan ketika dia sedang berpikir keras, tiba-tiba di sebuah tikungan terjadi benturan hebat. Bis yang ditumpanginya ditabrak oleh truk gandeng yang melaju kencang dari arah berlawanan. Tak ayal, saat itu juga maut merenggutnya.
Tiga minggu kemudian, di malam yang sunyi sepi. Sinar bulan purnama memancar hingga menembus kain jendela. Di sebuah kamar yang temaram, seorang lelaki berusia 42 tahun tampak duduk di kursi goyangnya. Bersantai melepas lelah sambil menikmati goyangan kursi yang terus bergoyang dengan perlahan. Sesekali lelaki itu tampak mengepulkan asap rokoknya, menikmati berbagai racun yang dapat merusak kesehatannya. Dialah Branden yang sedang menunggu putrinya pulang dari Mal.
"Hmm... Kenapa Rani belum pulang juga"" tanya lelaki itu penuh kekhawatiran.
Kemudian Branden kembali menggoyangkan kursi goyangnya yang sudah kian pelan bergoyang. Pada saat itu, tiba-tiba dia melihat sebuah bayangan manusia yang melintas di jendela kamarnya. "Rani!" serunya memanggil. "Hmm... kenapa dengan anak itu" Kenapa dia tidak langsung masuk"" Branden membatin.
"Rani, sedang apa kau di luar" Ayo masuklah, Nak!" serunya memanggil.
Lama Branden memanggil, namun tidak juga ada sahutan. Akhirnya lelaki itu terpaksa berdiri seraya mematikan bara rokoknya, kemudian melangkah ke jendela kamar dan memperhatikan sekitarnya. "Hmm... tidak ada siapa-siapa," gumamnya heran.
Belum sempat berpikir jauh, tiba-tiba lelaki itu mendengar dering telepon yang berasal dari ruang tengah. Lalu dengan segera dia mengangkatnya. "Hallo...!" serunya dengan suara yang agak parau. Sejenak dia menunggu, namun tak juga ada jawaban. "Hallo... ! Siapa ini"" tanyanya agak kesal.
Karena tidak juga ada jawaban, akhirnya Branden menutup telepon itu. Namun belum sempat dia melangkah, tiba-tiba telepon kembali berdering. Dengan kesal Branden kembali mengangkatnya, tapi kali ini dia tidak memberi sapaan, dia sengaja menunggu dan menunggu. Karena tak juga terdengar suara, akhirnya Branden kembali menutup telepon itu dan langsung bergegas ke ruang tamu.
Sambil terus melangkah, Branden tampak bertanya-tanya. "Siapa ya yang menelepon malam-malam begini" Apakah tadi itu Rani" Ah, rasanya tidak mungkin. Masa iya dia berbuat begitu. Hmm... mungkin saja tadi cuma orang iseng," duganya dalam hati.
Ketika Branden hendak duduk di sofa, tiba-tiba dia mendengar suara ketukan di pintu depan. "Siapa!" serunya lantang. Karena tak ada jawaban, akhirnya lelaki itu bergegas me
nuju pintu dan membukanya lebar-lebar. Betapa terkejutnya dia ketika tahu di situ tidak ada siapa-siapa.
Kini Branden tampak celingukan, mencari orang yang baru saja mengetuk pintu rumahnya. "Hmm... siapakah yang telah mengetuk pintu rumahku tadi" Kalau Rani, jelas tidak mungkin. Dia kan punya kunci sendiri, untuk apa dia pakai ketuk pintu segala." Branden membatin.
Branden benar-benar heran dengan kejadian itu. Kini dia sudah menutup pintu dan sedang melangkah ke sofa. Ketika baru duduk sejenak, tiba-tiba suara ketukan kembali terdengar. Branden tidak segera bangkit, dia tampak memfokuskan pendengarannya dan menunggu suara ketukan itu berbunyi lagi. Beberapa saat kemudian, dia mendengar suara anak kunci yang diputar pada lubang kuncinya. Kemudian disusul dengan kemunculan seorang gadis yang kini berdiri di ambang pintu sambil tersenyum kepadanya.
"Loh, Ayah kok belum tidur"" tanya gadis itu kepada Branden.
"Belum, Sayang... Ayah kan sedang menunggumu."
"Maaf, Ayah! Rani pulang kemalaman," ucap gadis itu lagi seraya menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.
"Nak... kau kah yang mengetuk pintu barusan"" tanya Branden.
Rani tampak mengerutkan keningnya. "Tidak, Ayah... Memangnya... "
"Sudahlah... lupakan saja." Branden memotong. "O ya, kenapa kau bisa sampai kemalaman"" tanyanya kemudian.
"Maaf, Ayah! Soalnya, Rani main ke rumah teman dulu," jawab gadis itu seraya melangkah ke sofa.
"Ya, sudah... ngomong-ngomong, mana sepatunya"" tanya Branden.
Rani segera duduk dan mengeluarkan barang yang baru dibelinya, kemudian meletakkannya di atas meja.
"Itu sepatunya"" tanya Branden seraya mengambil sepatu itu dan mengamatinya dengan penuh seksama.
"Betul, Ayah. Bagaimana, bagus tidak"" "Hmm... bagus. Berapa harganya"" "Tidak mahal kok, cuma Rp. 250.000," jawab Rani.
"Harga segitu... kau bilang 'cuma'." Branden tampak geleng-geleng kepala.
"Ayah, harga segitu kan tidak mahal. Lagi pula, uang yang tadi siang Rani ambil dari Bank masih sisa Rp. 250.000."
Lagi-lagi Branden tampak geleng-geleng kepala, "Dasar anak gadis, maunya belanja melulu. Mentang-mentang tidak merasakan susahnya cari uang," katanya dalam hati. "Ya, sudah. Besok, sisa uang itu kau tabungkan kembali, ya!" pesannya kemudian.
"Iya, Ayah." Rani berjanji. "O ya, Ayah. Rani minta maaf! Ayah pasti lelah menunggu Rani terlalu lama."
"Tidak apa-apa, Sayang... yang penting kan kau sudah tiba dengan selamat," ucap Branden seraya tersenyum.
Rani pun tersenyum, kemudian segera menyimpan kembali sepatu barunya. Pada saat itu, tiba-tiba Branden teringat kembali akan kejadian aneh yang tadi dialaminya, dahinya tampak agak berkerut.
"Ada apa, Ayah"" tanya Rani tiba-tiba.
Branden terkejut mendengar pertanyaan itu. "Mmm... ti-tidak ada apa-apa, Sayang... " jawab Branden gugup. "O ya, sebaiknya sekarang kaumakan, setelah itu istirahat!" sambungnya kemudian.
"Tadi Rani sudah makan, Ayah. Sekarang Rani mau langsung istirahat," kata Rani seraya membereskan barang-barangnya. "Selamat malam, Ayah!" ucapnya kemudian seraya mencium pipi Branden.
"Selamat tidur, Sayang...!" ucap Branden seraya memperhatikan kepergian putrinya.
Kini lelaki itu sudah mengalihkan pandangannya ke arah pintu, sedangkan pikirannya kembali memikirkan kejadian aneh yang baru dialaminya, kejadian itu benar-benar telah menghantuinya.
Sementara itu, Rani sudah berada di kamarnya. Kini dia sedang mencoba sepatu barunya. Sejenak matanya yang sayu menatap ke arah sepatu yang baru dikenakannya, sungguh terlihat cantik melekat di kakinya yang jenjang. Setelah puas mencoba, gadis itu segera melepas sepatunya dan meletakkannya di sebuah rak kayu-di antara koleksi sepatunya yang lain.
Kini gadis itu sedang duduk di depan cermin sambil memperhatikan wajahnya yang cantik, kemudian menggerai rambutnya yang sebahu dan menyisirnya perlahan. Senyumnya yang manis tampak mengembang, mengagumi keindahan rambutnya yang ikal mayang. Setelah itu dia melangkah ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya yang seksi. Kini kedua matanya tampak memandang ke langit-langit, sedangkan giginya yang putih bersih terlihat me
nggigit jari telunjuknya yang lentik. Lalu dengan mata berbinar, gadis itu menatap foto Jodi yang tadi diambilnya dari meja rias. "Jo, kau tampan sekali. Terus terang, aku sudah begitu merindukanmu," ucap Rani dalam hati seraya mengecup foto itu dengan bibirnya yang tipis. "Jo... kapan kau pulang ke Jakarta"" tanya gadis itu kemudian.
Kini gadis itu bangkit dari tempat tidurnya, kemudian melangkah-mengembalikan foto itu ke tempat semula. Setelah itu, dia pun segera berkemas tidur.
Pada saat yang sama, Branden tampak sedang berbaring di tempat tidurnya. Rupanya dia masih saja memikirkan peristiwa yang baru dialaminya, sebuah peristiwa yang di luar akal sehatnya.
Dua Keesokan sorenya, Branden baru saja pulang dari kantor. Kini dia sedang berdiri di depan zebra cross pada sebuah perempatan jalan. Di situ banyak kendaraan bermotor tampak berlalu-lalang, selain itu banyak pula pengamen dan pedagang asongan yang sedang berjuang mengais rezeki.
Branden masih berdiri di depan zebra cross, dia menunggu lampu lalu lintas berubah merah. Ketika matanya memandang ke seberang jalan, tiba-tiba dia melihat seorang wanita yang sedang menatapnya. Seketika Branden terkejut, sebab wanita itu mirip sekali dengan istrinya yang telah tiada. "Yana!" ucapnya dalam hati. Namun sosok wanita itu menghilang ketika sebuah bis kota melintas di depannya. Mengetahui itu, Branden terkejut bukan kepalang, kedua matanya tampak liar mencari sosok wanita tadi.
Kini lampu lalu lintas telah berubah merah, dan orang-orang terlihat mulai menyeberang jalan. Branden pun segera melangkah bersama-sama mereka. Setelah tiba di seberang, Branden kembali mencari sosok wanita tadi. "Di mana wanita yang mirip istriku tadi"" tanyanya dalam hati.
Kini Branden tampak memandang ke seberang jalan, memperhatikan tempatnya berdiri tadi. Betapa terkejutnya dia ketika melihat sosok wanita yang mirip istrinya itu kini sedang berdiri di sana. "Wa-wanita itu...di-dia memang mirip sekali dengan Yana," ucapnya dalam hati.
Dengan sorot mata yang tajam, Branden terus menatap wajah wanita itu. Lama sekali mereka saling berpandangan dan tanpa tersenyum sama sekali, namun sosok wanita itu kembali lenyap setelah terhalang oleh sebuah truk besar yang melintas.
"Aneh... siapa sebenarnya wanita itu" Setahuku, Yana tidak memiliki saudara kembar," tanyanya dalam hati seraya melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu. Sesekali matanya menatap ke tempat wanita tadi berdiri, namun sosok wanita itu benar-benar sudah menghilang. Setibanya di sebuah rumah makan, Branden langsung mampir untuk membeli nasi bungkus. Kini dia sedang duduk menunggu sambil menikmati sebatang rokok yang terus meracuni tubuh. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati candu nikotin, tiba-tiba HP yang disimpan di saku celananya terasa bergetar. Branden pun segera menerimanya. "Ya, hallo"" sapanya kepada orang yang menelepon. "Hallo, Yah! Ini Rani."
"O, kau... Nak. Sekarang kau lagi di mana""
"Rani lagi di jalan, Yah. Rani baru saja pulang dari Bank. Ayah sendiri lagi di mana""
"Ayah lagi di rumah makan langganan kita. Kalau begitu, cepat pulang ya!"
"Iya, Ayah," ucap Rani mengiyakan.
"Sudah ya, Nak! Hati-hati di jalan!" pesan Branden seraya menutup HP-nya. Bersamaan dengan itu, seorang pelayan datang sambil membawa dua bungkus makanan yang telah dipesannya. "Ini pesanan Bapak," kata si pelayan ramah.
"O... terima kasih!" ucap Branden
"Silakan bayar di kasir, Pak!" kata pelayan itu lagi.
Branden segera menuju ke kasir dan mengeluarkan dompetnya. Belum sempat dia mengeluarkan uang, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sosok istrinya yang kembali datang. Kali ini petugas kasir yang dilihatnya itu mirip sekali dengan istrinya.
"Yana!" ucap Branden seakan tak percaya.
Namun lelaki itu menjadi malu ketika wajah petugas kasir itu tiba-tiba berubah menjadi wajah aslinya. Gadis berparas cantik yang bekerja sebagai petugas kasir itu tampak heran, "Ada apa, Pak"" tanyanya ramah.
"O... ti-tidak. Ma-maaf...!" jawab Branden gugup seraya buru-buru membayar nasi bungkus yang dipesannya.
Sejenak Branden kembali menatap wajah petu
gas kasir itu, sungguh dia benar-benar penasaran dengan apa yang dilihatnya tadi.
"Kenapa Bapak memandang saya seperti itu"" tanya petugas kasir semakin heran.
Seketika Branden tersadar, kemudian tanpa buang wantu lelaki itu langsung bergegas pergi. Pada saat yang sama, petugas kasir hanya memperhatikan kepergiannya dengan seribu tanda tanya.
Setibanya di rumah, pikiran Branden masih terus diselimuti berbagai macam pertanyaan. Sungguh kejadian yang baru dialaminya itu sudah membuat akal sehatnya sedikit terganggu. Sambil mengganti pakaian, lelaki itu terus bertanya-tanya, "Apa kini aku sudah gila" Kenapa belakangan ini aku sering berhalusinasi" Hmm. Apa sebaiknya aku memeriksakan diri ke dokter" Ah, mungkin saja semua ini karena aku terlalu lelah. Kalau begitu, mulai saat ini aku akan mengurangi pekerjaanku dan beristirahat dengan cukup."
Setelah mengganti pakaian, Branden segera melangkah ke dapur untuk mengambil dua buah piring dan sendok. Tak lama kemudian, dia sudah duduk di depan meja makan sambil menunggu Rani pulang.
Ketika Branden sedang duduk menunggu, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sosok istrinya yang tiba-tiba duduk di hadapannya. "Ya-Yana...!" Branden tergagap. Tanpa berkedip, dia terus memandang Yana yang tersenyum dingin dengan wajah pucat pasi. Sungguh dia tidak menyangka, kalau orang yang semasa hidup begitu dicintainya kini hadir dihadapannya.
Perlahan Branden mengulurkan tanganya. "Yana... Aku merindukanmu, Sayang..." ucap Branden seraya mencoba menggenggam tangan Yana, namun saat itu tangannya menembus tak bisa menyentuh tangan Yana sama sekali. "Yana. A-aku." Belum sempat lelaki itu melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba terdengar ucapan salam di luar rumah.
Seketika Branden terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu, saat itu dilihatnya Rani sudah berdiri di ambang pintu sambil tersenyum kepadanya. Setelah menutup pintu, gadis itu segera menghampiri Branden. Pada saat yang sama, Branden tampak menoleh ke tempat mendiang istrinya duduk, dan ternyata sosok sang istri sudah menghilang. Branden terpaku, di benaknya masih tersimpan perasaan yang belum sempat diungkapkan.
"Ada apa, Ayah"" tanya Rani seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan ayahnya.
"Ti-tidak ada apa-apa, Sayang... " jawab Branden gugup. "Rani. sekarang kauganti pakaian ya! Setelah itu kita makan sama-sama!"
Rani mengangguk seraya bangkit dari duduknya, kemudian segera melangkah ke kamar. Sejenak Branden memperhatikan kepergian putrinya, lalu dia kembali menatap ke tempat mendiang istrinya tadi berada. "Yana..." panggil Branden berbisik. "Di mana kau" Aku masih merindukanmu, Sayang... "
Branden kembali memanggil-manggil sosok istrinya, namun sosok itu tak kunjung hadir. "Yana, tolong perlihatkan dirimu! Terus terang, aku ingin sekali berbicara denganmu. Soalnya aku... " Tiba-tiba Branden terdiam, rupanya dia mendengar langkah kaki Rani yang mendekat.
Kini Branden tampak membuka nasi bungkus untuk Rani dan meletakkannya di atas piring, setelah itu dia pun langsung membuka nasi bungkus miliknya dan meletakkannya di atas piring. Sementara itu, Rani yang baru saja tiba segera duduk di hadapan ayahnya sambil memperhatikan sang ayah yang kini sedang menuangkan minum untuk mereka berdua. Tak lama kemudian, keduanya tampak menikmati makanan itu bersama-sama.
Beberapa menit kemudian. "Yah. besok Rani ingin berziarah ke makam Ibu," kata Rani tiba-tiba.
Dengan perlahan Branden mengangkat kepalanya, kemudian memandang wajah putrinya dengan penuh haru. "Iya, Nak... besok kita akan ke sana," ucapnya pelan.
"Ayah, Rani rindu sekali sama Ibu," ucap Rani lirih.
Saat itu Branden tak kuasa menahan kesedihannya, kedua matanya tampak berkaca-kaca-terbayang akan wajah mendiang istrinya tercinta. Seketika air mata mata lelaki itu berderai.
Melihat itu, Rani pun ikut sedih. "Ayah, Rani bisa merasakan apa yang Ayah rasakan," kata Rani terisak sambil meletakkan sendok yang dipegangnya.
"Hanya kau yang bisa menghibur Ayah, Sayang..." balas Branden seraya menghampiri Rani dan membelai rambutnya penuh kasih sayang.
Saat itu Rani langsung bangkit
dan memeluk ayahnya, kemudian dia memandangnya dengan mata berkaca-kaca. "Yah, Rani sangat kehilangan Ibu. Setiap saat Rani selalu merindukannya."
"Sabarlah, Sayang...! Kau harus tabah menerima cobaan ini!" ucap Branden lagi seraya mencium kening putrinya.
Rani kembali memeluk ayahnya. Derai air mata tampak mengalir di pipinya yang mulus.
Tiga Pagi harinya, bias mentari hangat menerpa bumi, burung-burung tampak menyambutnya dengan kicauan yang begitu merdu. Di kebun samping, Rani terlihat sedang memetik bunga. Dia memetiknya untuk dibawa berziarah ke makam Yana. Setelah bunga yang dipetiknya memenuhi keranjang, gadis itu segera melangkah masuk. Kini dia sedang meletakkan keranjang yang dibawanya di atas meja. Pada saat itu ayahnya datang menghampiri.
"Ada telepon untukmu, Nak," katanya kepada Rani. "Dari siapa, Ayah"" tanya Rani seraya menatap mata ayahnya.
"Dari nak Jodi, Sayang..." jawab Branden. Mendengar itu Rani tampak tersentak, "Jo-Jodi!" ucapnya gembira, kemudian dengan serta-merta gadis itu berlari ke ruang tengah.
Sejenak Branden memperhatikan kepergian putrinya, tak lama kemudian dia sudah melangkah ke kebun samping untuk melihat-lihat tanaman yang baru ditanamnya.
Sementara itu di ruang tengah, Rani tampak sedang berbicara dengan kekasihnya. "Jo, aku senang sekali kau menghubungiku. Tapi, kenapa baru sekarang""
"Maaf, Sayang...! Aku terlalu sibuk. O ya, bagaimana dengan sekolahmu"" tanya Jodi mengalihkan pembicaraan.
"Baik, Jo. Kau sendiri bagaimana" Apa kuliahmu lancar"" Rani balik bertanya.
"Tentu saja," jawab Jodi.
"Syukurlah kalau begitu. O ya, kapan kau kembali ke Jakarta""
"Hal itulah yang ingin kusampaikan padamu. Begini, Sayang... saat ini kan aku sedang memasuki masa liburan. Jadi, besok aku akan datang menemuimu."
"Benarkah"" tanya Rani seakan tidak percaya.
"Benar, Sayang... aku kan sudah begitu merindukanmu," jawab Jodi.
"Masaaa... " "Sungguh, aku memang sudah sangat merindukanmu."
"O ya, tadi kaubilang terlalu sibuk. Sebenarnya sibuk apa, kok sampai tidak bisa menghubungiku"" tanya Rani lagi.
"Wah, kalau soal itu ceritanya panjang. Mungkin kau juga tidak akan percaya jika kuceritakan."
"Memangnya apa sih"" tanya Rani penasaran.
"Sudahlah... percuma saja. Kau pasti tidak akan percaya."
"Jo, aku kan belum mendengar ceritamu. Kau semakin membuatku penasaran saja. Sebaiknya lekas kau ceritakan!"
"Ran, sebenarnya aku merasa berat menceritakan hal ini. Namun karena kau memaksa, terpaksa aku menceritakannya. Begini, Sayang... sebenarnya... aku telah diguna-guna orang. Selama ini aku lumpuh dan tidak bisa bicara. Untunglah ada seseorang yang menolongku sehingga aku bisa kembali normal seperti sekarang. Aku bohong kalau kuliahku lancar-lancar saja, sebenarnya kuliahku mandek selama beberapa minggu. Nah, karena itulah aku tidak bisa menghubungimu."
"Apa benar yang kau ceritakan itu, Jo"" tanya Rani ragu. "Hmm... Rasanya tidak mungkin ada orang yang tega berbuat jahat padamu. Eng... Memangnya kau pernah berbuat salah"" tanya gadis itu kemudian.
"Benar kan, kau pasti tidak akan percaya!"
"Tidak, Jo! Aku percaya kok. Aku cuma heran saja, kenapa orang sebaik kamu masih juga diperlakukan begitu."
"Entahlah... mungkin tanpa sengaja aku pernah menyakiti seseorang sehingga dia tega berbuat begitu. O ya, Sayang... saat ini aku sedang ada keperluan mendesak. Sudah dulu ya, sampai jumpa besok. Bye... "
"Bye... " balas Rani seraya menutup teleponnya, kemudian dia teringat dengan masa-masa indahnya bersama Jodi. Saat itu wajahnya tampak ceria dan hatinya kembali berbunga-bunga, "Oh Jodi, aku sangat merindukanmu. Benarkah kau akan pulang menemuiku""
Kini gadis itu melangkah dan duduk melamun di kursi teras. Saat itu, hatinya betul-betul senang membayangkan kedatangan Jodi. Pada saat yang sama, Branden yang sedang berada di kebun samping tampak memperhatikannya, kemudian dengan segera dia menghampiri.
"Ada apa, Sayang..."" tanya Branden seraya duduk di kursi yang bersebelahan dengan Rani.
Rani pun segera menceritakan kabar gembira itu, sedangkan Branden tampak mendengarkannya dengan
sungguh-sungguh. "Jadi, Nak Jodi akan pulang besok"" tanya Branden seakan tidak percaya.
"Iya Ayah," jawab Rani singkat.
"Syukurlah kalau begitu, Ayah juga sudah rindu dengannya," kata Branden sambil tersenyum.
"O ya, Ayah. Sekarang Rani mau berkemas-kemas dulu," Pamit Rani seraya melangkah pergi.
Sementara itu, Branden masih di tempat duduknya, dia tampak terdiam seperti memikirkan sesuatu. Ketika dia memandang ke arah jalan, tiba-tiba dia melihat seorang wanita cantik bergaun merah tampak menghampiri. Branden pun memperhatikan wanita itu, namun dia sama sekali tidak mengenalnya, sebab memang baru kali ini dia melihatnya.
"Selamat pagi, Pak!" sapa wanita itu dengan senyuman tersungging di bibirnya.
Branden tidak membalas sapaan itu, dia masih saja bertanya-tanya perihal wanita yang kini berdiri dihadapannya.
Kini wanita itu kembali tersenyum. "Anda Pak Branden kan"" tanya wanita itu dengan nada lembut.
"Maaf! Anda siapa ya" Apa ada perlu dengan saya"" tanya Branden bingung.
"Benar, Pak. Saya ada perlu dengan Bapak. Maksud kedatangan saya ingin menginap di sini," kata wanita itu mengatakan keperluannya.
"Me-menginap"" tanya Branden heran.
"Boleh saya duduk, Pak"" tanya wanita itu lagi.
"O, silakan!" ucap Branden ramah.
Wanita itu pun segera duduk, sedangkan Branden tampak memperhatikannya dengan mata tak berkedip. Kini dia sedang diselimuti kebingungan perihal wanita yang berada di sebelahnya. "O ya, anda mau minum apa"" tanyanya kepada wanita itu.
Wanita itu tampak tersenyum. "Apa saja boleh," jawabnya kemudian.
Melihat itu, Branden ikut tersenyum. "Kalau begitu, tunggu sebentar ya!" ucap Branden seraya beranjak ke dapur.
Kini Branden sedang sibuk membuat minuman. Sementara itu, Rani yang baru saja keluar dari kamar mandi tampak menghampirinya. "Minuman buat siapa, Ayah"" tanyanya kepada sang Ayah yang masih sibuk membuat minuman.
"Buat tamu, Sayang..." jawab Branden.
"Tamu..." Siapa dia, Ayah"" tanya Rani lagi.
"Entahlah. Ayah juga tidak kenal," jawab Branden.
Karena penasaran, Rani pun segera melangkah ke teras. Namun setibanya di tempat itu dia tidak melihat siapa-siapa. "Tamunya mana, Yah!" teriaknya kepada Branden.
Mendengar itu, Branden pun segera keluar sambil membawa dua gelas minuman yang baru dibuatnya. Setibanya di teras, dia langsung melihat ke arah kursi yang diduduki wanita tadi. Branden langsung bingung ketika mengetahui wanita itu memang sudah tidak ada. Kini Branden tampak meletakkan minuman yang dibawanya ke atas meja, kemudian kepalanya tampak menoleh kiri-kanan-mencari-cari wanita itu. Sementara itu, Rani cuma duduk memperhatikan ayahnya yang tampak kebingungan-mundar-mandir mencari wanita yang dimaksud.
Kini Branden kembali menghampiri Rani dan segera duduk di sebelahnya. "Ke mana tamunya ya" Tadi kan dia duduk di sini," kata Branden dengan kepala yang masih saja tampak celingukan.
"Ah, Ayah ada-ada saja. Minuman ini buat Rani saja ya"" kata Rani seraya meneguk minuman yang ada di atas meja.
"Aneh." kata Branden dalam hati, kemudian dia tampak mengambil gelas yang masih penuh dan meminum isinya.
Rani cuma tersenyum melihat kelakuan ayahnya, dia merasa lucu dengan kejadian itu. Setelah kedua gelas itu kosong, Rani pun langsung membawanya ke dapur. "Ayah-Ayah." ucap Rani seraya geleng-geleng kepala.
Sementara itu Branden masih duduk di kursi teras, dia masih saja bingung dengan kejadian tadi. Hingga akhirnya, Branden memutuskan untuk melupakan kejadian itu.
Kini lelaki itu tampak asyik membaca surat kabar pagi sambil menikmati sebatang rokok. Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada sebuah artikel yang berjudul "Bersekutu dengan Setan".
Drs. Abdi Dinata mulanya adalah seorang yang miskin, setelah dia bersekutu dengan setan akhirnya dia menjadi orang yang sangat kaya. Pada suatu ketika dia bertaubat, dan sejak itulah kekayaan yang dimilikinya semakin hari semakin berkurang. Semua harta yang ada dijual dan digadaikan hingga jabatan direkturnya pun berpindah tangan kepada orang lain. Pada saat itulah Pak Abdi kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi se
gala permasalahannya. Hingga pada suatu ketika, istrinya memberi masukan yang sangat berarti. Waktu itu sang Istri berkata "Janganlah Bapak menyesal jika harta itu sirna lantaran keputusan tepat yang sudah Bapak ambil. Karena suatu saat Bapak pasti akan mendapat gantinya melalui cara yang lebih baik." Saat itulah Pak Abdi Dinata menjadi kuat menghadapi segala macam rintangan, dan beliau sangat mencintai istrinya yang telah menyadarkannya dari perbuatan sesat.
Branden terdiam memikirkan isi artikel itu, ternyata artikel itu mirip sekali dengan masa lalunya, masa lalunya yang penuh dengan kesesatan dan telah membuatnya melupakan Tuhan. Sekarang Branden sudah bertaubat dan menjadi manusia biasa yang tidak mempunyai kemampuan supranatural lagi.
Tiba-tiba Branden teringat dengan mendiang istrinya, dimana semasa hidup istrinya itulah yang telah menyadarkan dia dari perbuatan sesat. Sampai saat ini Branden memang tidak mungkin bisa melupakan kenangan manis ketika bersama istrinya. Apalagi setelah peristiwa belakangan ini, dimana sosok sang istri selalu datang menemuinya. Sungguh kehadiran sosok istrinya itu telah membangkitkan segala kerinduannya.
Kini Branden kembali memikirkan berbagai peristiwa aneh yang dialaminya. Hingga kini dia masih dibuat bingung, dan dia tidak mengerti kenapa dirinya selalu dihantui oleh sosok sang Istri, bukankah seharusnya mendiang istrinya itu sudah berada di alamnya.
Mendadak Branden dikejutkan oleh kehadiran Rani yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya sambil menenteng sekeranjang bunga. "Yuk Ayah, kita berangkat sekarang!" ajak Rani seraya duduk di sebelah ayahnya.
"I-iya Sayang... tapi sebentar, Ayah ganti baju dulu," jawab Branden seraya beranjak pergi. Tak lama kemudian dia sudah kembali sambil menenteng ceret yang berisikan air mawar. Setelah mengunci pintu, mereka pun segera berangkat ke pemakaman dengan berjalan kaki. Letak pemakaman itu memang tidak begitu jauh, cuma makan waktu lima belas menit untuk sampai ke sana.
Setibanya di pemakaman, Rani langsung bersimpuh di makam ibunya, sedangkan Branden tampak bersimpuh di sisi yang berlawanan. Hingga saat ini mereka masih saja bingung melihat makam itu selalu bersih, padahal selama ini Branden tidak pernah mengeluarkan uang untuk biaya perawatan.
Sekilas Branden mengarahkan pandangannya ke sebuah pohon yang agak jauh di belakang Rani. Dan dia agak terkejut ketika melihat seorang wanita tampak bersandar di pohon itu. Wajahnya tampak begitu pucat, sedang kedua matanya tampak mengawasi mereka dengan penuh misteri. Sejenak Branden memperhatikan wanita itu, kemudian pandangannya segera beralih kepada Rani yang terlihat masih menaburkan bunga-bunga di makam ibunya. "Hmm... siapa sebenarnya wanita itu" Kenapa dia memperhatikan kami begitu rupa"" tanya Branden dalam hati. Kemudian pandangannya kembali beralih ke arah pohon tadi. Dan betapa terkejut dia ketika mengetahui wanita tadi sudah tidak ada, raut wajahnya pun berubah seperti orang kebingungan.
Rani yang melihat wajah ayahnya seperti itu merasa heran, "Hmm... apa yang sedang dilihat Ayah di belakangku"" tanyanya dalam hati. Lalu dengan serta-merta gadis itu menoleh ke belakang, dan ternyata dia tidak melihat sesuatu pun yang mencurigakan. Kini gadis itu kembali memperhatikan ayahnya yang sedang merapikan bunga-bunga yang telah ditaburinya. "Ada apa, Ayah" Kok tadi Ayah seperti orang bingung"" tanyanya kepada Branden.
"O, ti-tidak ada apa-apa, Sayang..." jawab Branden sengaja merahasiakan apa yang dilihatnya. Kemudian dia segera mengambil ceret yang berisi air mawar dan langsung menyiramkannya ke makam Yana. Setelah itu dia mengajak Rani untuk berdoa bersama.
Kini keduanya tampak berdoa dengan begitu khusuk, memohon kepada Tuhan agar arwah orang yang mereka cintai diterima di sisi-Nya. Baru saja keduanya selesai berdoa, tiba-tiba Branden dikejutkan oleh sosok istrinya yang mendadak hadir. Dilihatnya sosok sang istri sedang berdiri di belakang Rani sambil menatapnya dengan pandangan yang begitu dingin.
Jantung Branden langsung berdegup kencang, bersamaan dengan itu hawa dingin
terasa merasuki tubuhnya. Lalu dengan serta-merta dia mengalihkan pandangannya ke arah Rani yang saat itu dilihatnya sedang memeluk makam ibunya sambil menangis sedih. "Ibu...! Rani sayang sama Ibu. Sebenarnya Rani ingin sekali memeluk Ibu. Namun karena dunia kita berbeda, Rani cuma bisa memeluk makam Ibu. Rani mohon, Ibu tidak akan lupa sama Rani, dan Rani akan terus berdoa untuk Ibu," ucap Rani sambil terus terisak.
Saat itu Branden ikut hanyut dalam kesedihan, kemudian dia kembali melihat sosok istrinya yang masih saja berdiri di belakang Rani. Dia melihat sosok sang istri tampak membelai-belai kepala Rani dengan wajah begitu sedih. Branden pun segera memegang tangan Rani dan menatapnya dengan penuh prihatin. "Sudahlah Rani. kau jangan terlalu bersedih, Nak! Ibumu pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini," ucapnya kepada Rani yang masih saja menangis. Kemudian dia kembali melihat ke belakang Rani, "Hmm... ke mana dia"" tanyanya dalam hati seraya mencari-cari sosok istrinya itu, kedua matanya tampak menatap hampir ke semua penjuru pemakaman.
"Ada apa, Ayah"" tanya Rani dengan mata masih berlinang.
Branden tidak menjawab, dia justru mengajak Rani untuk menuju ke makam orang tua Yana-kakek dan nenek Rani. Kebetulan makam itu memang tidak begitu jauh. Setelah menaburkan bunga dan berdoa di makam tersebut, keduanya pun segera beranjak pulang.
Dalam perjalanan, mereka berpapasan dengan seorang kakek berpeci hitam, di tangannya tergenggam tongkat kayu yang berukir. Kini kakek itu tengah menatap mereka sambil tersenyum ramah. Pada saat yang sama, Rani tampak membalas tersenyum sang Kakek sambil terus berlalu.
"Siapa dia, Nak"" tanya Branden seraya memandang ke arah kakek yang sudah kian menjauh.
"Kalau tidak salah, dia itu penjaga makam-makam tadi, Ayah," jawab Rani.
"Dari mana kau tahu"" tanya Branden lagi.
"Waktu itu-sewaktu berziarah di makam kakek dan nenek, Rani sempat diberi tahu sama Ibu," jelas Rani.
"O... begitu," kata Branden seraya mengangguk-angguk. Tiba-tiba kedua matanya tampak tertuju ke langit, "Wah, sepertinya hari ini akan turun hujan," kata Branden lagi setelah melihat Awan hitam tampak mulai menyelimuti angkasa.
Menyadari apa yang akan terjadi, mereka pun segera mempercepat langkah-menyusuri jalan setapak yang bergelombang. Setibanya di rumah, Branden langsung duduk di kursi teras untuk melepas lelah, sedangkan Rani tampak pergi ke dapur untuk menyimpan ceret yang tadi dibawanya.
Kini gadis itu sedang berbaring di tempat tidur sambil melamunkan sang Pujaan hati, serta mengenang kembali akan masa-masa indah bersamanya. Saat itu, wajahnya yang cantik tampak begitu berseri-seri. Pada saat yang sama, Branden tampak masih asyik bersantai. Ketika hendak menyalakan sebatang rokok, tiba-tiba "Braaaan...!" dari samping rumah terdengar suara wanita memanggil.
"Siapa"" tanya Branden seraya beranjak memeriksa, dan betapa terkejutnya dia ketika mengetahui di samping rumah tidak ada siapa-siapa.
"Hmm... siapakah yang memanggilku barusan"" tanya lelaki itu dalam hati.
"Braaaan...!" tiba-tiba panggilan itu kembali terdengar.
Lagi-lagi Branden terkejut, kemudian dengan segera dia mencari orang yang memanggilnya. "Aneh... tidak ada siapa-siapa. Apakah itu Yana"" tanya lelaki itu dalam hati.
Kini Branden sudah tidak menghiraukannya, dia kembali duduk dan menikmati asap rokoknya. Ketika lelaki itu memandang ke arah jalan, tiba-tiba dia melihat sosok wanita berbaju merah yang tadi pagi datang bertamu. Wanita itu tampak berdiri di tepi jalan sambil memandangnya dengan tersenyum simpul. Rambutnya yang panjang tampak tergerai menutupi sebagian gaun merah yang dikenakannya.
Branden tampak mengucek kedua matanya, kemudian dia kembali memperhatikan sosok wanita tadi. Semula dia tidak percaya dengan penglihatannya, namun sekarang dia yakin betul kalau wanita itu memang yang tadi pagi datang bertamu. "Hmm.. tidak salah lagi, wanita itu memang dia. Kalau begitu, aku akan segera menghampirinya," ucap Branden dalam hati.
Namun belum sempat dia beranjak, tiba-tiba hujan gerimis mulai turun menyiram bumi. Bersamaan d
engan itu, wanita tadi segera menghampiri Branden. "Selamat siang, Pak!" ucapnya seraya tersenyum manis.
"Siang Nona...! Mari, silakan duduk!" tawar Branden ramah.
Wanita itu pun segera duduk di sebelah Branden, bersamaan dengan itu senyumannya yang manis kembali tersungging.
Belum sempat Branden membalas senyuman itu, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya, disertai dengan halilintar yang menggelegar keras. Saat itu Branden tersentak kaget lantaran mendengar suara guntur yang begitu kerasnya, namun dia agak heran saat melihat wanita yang bersamanya tampak biasa-biasa saja. Karena itulah, keinginannya untuk lebih mengenal wanita itu pun timbul. "Eng... kalau boleh saya tahu, siapa namamu"' tanya Branden sopan.
Wanita itu tidak menjawab, dia terlihat hanya tersenyum ramah.
"Emm... Tolong perkenalkan dirimu, Nona! Dan tolong katakan maksud dan tujuanmu kemari!" pinta Branden dengan nada lembut.
Belum sempat Branden mendapat jawaban, tiba-tiba saja wajah wanita itu berubah menjadi wajah Yana. Tak ayal, Branden pun langsung terkejut bukan kepalang, dadanya berdegup kencang, dan hawa dingin terasa merasuki tubuhnya. "Ya-Yana! Ke-kenapa kau selalu menggangguku"" tanyanya dengan terbata-bata.
Yana tidak menjawab, dia terlihat memandang Branden dengan tatapan yang begitu dingin. Dan tiba-tiba saja sebuah senyuman dingin tampak tersungging di bibirnya yang pucat. Saat itu Branden merasa serba salah, "Ya-Yana... a-aku." Belum sempat Branden melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba saja lelaki itu mendengar suara jeritan keras yang berasal dari dalam rumah.
"Rani..."" ucap Branden dalam hati ketika menyadari kalau itu suara jeritan Rani, lalu dengan serta-merta lelaki itu bergegas menemuinya.
"Ada apa, Sayang..."" tanya Branden panik.
"Rani bermimpi, Yah, " jawab Rani seraya mengusap-usap lututnya yang sakit karena terjatuh dari tempat tidur.
"O, jadi kau jatuh karena bermimpi," kata Branden seraya memegang lutut putrinya.
"Aduh, sakiiit... Ayah," rintih Rani.
"O... rupanya kakimu terkilir, Nak. Kalau begitu, Ayah akan menggosoknya dengan minyak tawon," kata Branden seraya mengangkat putrinya dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Kini lelaki itu tampak sibuk mencari minyak tawon yang biasa digunakannya untuk mengobati cidera seperti itu. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Branden pun segera mengoleskan minyak itu ke kaki Rani yang terkilir, juga ke lutut Rani yang terlihat memar. "Nah, sekarang istirahatlah! Nanti juga akan sembuh," kata Branden seraya mengecup kening putrinya.
"Terima kasih, Ayah!" ucap Rani seraya tersenyum.
Tiba-tiba Branden teringat dengan sosok istrinya yang sedang berada di teras muka, kemudian dia bergegas untuk menemuinya. Ketika lelaki baru saja keluar kamar, tiba-tiba "Auu... Ayaaah!" teriak Rani kesakitan.
Branden pun terkejut dan segera menghampirinya. "Ada apa, Nak"" tanyanya khawatir.
Rani tidak menjawab, dia segera beranjak dari tempat tidur dan langsung memeluk ayahnya dengan isak tangis yang cukup memilukan.
"Ada apa, Sayang..."" tanya Branden lagi.
"Ka-kaki Rani, Ayah," jawab Rani terisak.
"Kenapa kakimu" Bukankah tadi sudah diobati," tanya Branden bingung.
"Entahlah... sepertinya tadi ada yang memegang kaki Rani, Ayah," jawab Rani dengan raut wajah yang tampak ketakutan. "Auh! Aduh, sakiiit!" tiba-tiba Rani menjerit.
Branden agak panik melihat keadaan putrinya seperti itu, "Sabar, Nak! Kakimu pasti sembuh," kata Branden menenangkan.
"Tolong Ayah, tolong.! Aduh sakiiit." Rani terus merintih, merasakan sakit yang luar biasa. Dia terus menangis dan menangis, hingga air matanya tampak membasahi pipi.
Branden sangat kasihan melihat keadaan putrinya, namun dia tidak tahu harus berbuat apa. Saat itu dia cuma bisa membelai-belai kepala Rani dengan penuh kasih sayang. Tak lama kemudian, Rani mulai tenang, rasa sakit di kakinya sedikit demi sedikit mulai berkurang.
Melihat itu, Branden merasa lega. Kemudian dia segera menyelimutinya dengan selimut yang hangat. "Istirahatlah, Sayang...! Ayah akan menemanimu di sini," katanya seraya membelai rambut putrinya.
Rani tampak tersenyum. Saat itu dia pun merasakan kakinya mulai berangsur sembuh. "Ayah, sekarang kaki Rani sudah tidak terasa sakit lagi," jelasnya kepada Branden.
"Benarkah" Syukurlah kalau begitu. Padahal, tadi Ayah begitu mengkhawatirkanmu," kata Branden merasa senang mendengar pernyataan putrinya.
Sementara itu di sudut ruangan, sosok Yana tampak sedang memandang wajah putrinya. Parasnya yang cantik tampak begitu pucat, namun senyum di bibirnya memperlihatkan kebahagiaan. Pada saat itu Branden masih terduduk di sisi tempat tidur, dia terus menemani putrinya sampai tertidur pulas.
Setelah tahu putrinya terlelap, Branden segera keluar kamar dan duduk di kursi tamu. Kini dia sedang termenung di tempat itu, memikirkan semua peristiwa yang telah dia alami. Sementara itu di luar rumah, hujan lebat masih saja mengguyur Bumi. Sesekali kilat membias dengan diiringi bunyi halilintar yang menggelegar.
Ketika hari sudah menjelang sore, Branden segera beranjak dari duduknya dan bergegas mengontrol semua ruangan. Kini dia sedang berada di dapur untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Dan ketika baru saja meneguk segelas air bening, tiba-tiba dia mendengar suara langkah seseorang di belakang rumahnya.
Branden segera membuka pintu belakang dan memeriksa suara itu. "Hmm... tidak ada siapa-siapa. Lalu tadi itu langkah siapa"" tanya Branden seraya menoleh kiri-kanan. Branden benar-benar telah dibuat bingung, padahal tadi dia memang mendengar suara langkah kaki yang berjalan di belakang rumahnya. "Hmm... mungkinkah itu Yana yang sengaja ingin menggangguku, tapi kenapa dia berbuat begitu"" tanya Branden lagi seraya melangkah masuk.
Hingga kini Branden masih belum mengerti dengan kehadiran sosok Yana, dan dia mulai merasa terganggu dengan kehadirannya. Setelah mengunci pintu rapat-rapat, Branden segera melangkah ke kamar dan merebahkan diri di tempat tidur. Kini dia sedang memikirkan Yana, memikirkan perihal kehadirannya yang masih penuh misteri. Sementara itu, sosok yang sedang dipikirkan Branden sudah berada diruangan itu, dia berdiri di sisi Branden dengan tidak menampakkan diri. Saat itu dia hanya memperhatikan Branden yang dilihatnya masih saja termenung.
Tiba-tiba, di samping sosok wanita itu telah berdiri sesosok hitam yang kini sedang memandangnya. "Sekarang kau ikut aku! Aku akan mengajarkan bagaimana caranya agar kau mempunyai kekuatan lebih guna berinteraksi dengan mereka," ajak sosok hitam itu.
Sosok wanita itu pun menurut, kemudian dia tampak melesat pergi mengikuti sosok hitam yang dilihatnya berkelebat ke arah makam.
Empat Esok siangnya, cuaca tampak cerah. Namun kecerahan itu tidak berarti apa-apa bagi seorang gadis SMU yang kini sedang duduk termenung di dalam kelas. Wajahnya yang cantik terlihat begitu murung, sedangkan tatapannya tampak kosong memandang ke arah taman. Sepertinya dia sedang dilanda kekecewaan, dan kekecewaan itu membuat segalanya menjadi tidak bermakna.
"Hai...Rani! Kok melamun saja!" sapa seorang gadis tiba-tiba.
Rani terkejut dan langsung menoleh ke belakang. "Eh! Kau Lin," katanya seraya mencoba tersenyum.


Misteri Kehadiran Arwah Karya Bois di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Memangnya ada apa sih"" tanya Linda teman sekelas Rani.
"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa kok," jawab Rani.
"Ikut aku ke kantin yuk!" ajak Linda.
"Kau duluan deh! Nanti aku menyusul."
"Oke deh. Kalau begitu, aku duluan ya," pamit Linda.
Rani mengangguk, kemudian dia memperhatikan kepergian teman sekelasnya itu. Tak lama kemudian dia sudah termenung kembali, "Kenapa Jodi tidak jadi datang" Padahal aku sudah sangat merindukannya. Apa benar yang dikatakannya semalam, kalau jadwal penerbangannya telah ditunda. O ya, di sana kan memang sedang musim dingin, dan hal itu mungkin saja terjadi. Tapi... ah sudahlah. Yang penting kan dia sudah berjanji kalau lusa akan datang." Kini gadis itu membayangkan wajah kekasihnya. Lama juga dia melamunkan sang pujaan hati, hingga akhirnya dia teringat akan ajakan temannya.
Lantas dengan segera Gadis itu bangkit dan bergegas ke Kantin. Setibanya di tempat itu dia agak kecewa, ternyata temannya yang bernama Linda sudah tidak ada. Kantin pun sudah mulai sepi,
sebagian siswa-siswi sudah pindah ke taman sekolah untuk bercengkerama sesama teman maupun ngobrol dengan pacar di tempat-tempat yang strategis. Cuma ada segelintir siswa yang masih tetap bertahan, mereka tampak berbicara dengan pacarnya masing-masing.
Kini Rani sedang duduk sendirian, dia tampak menikmati segelas jus yang baru dipesannya. Mendadak matanya tertuju ke arah areal parkir yang tak jauh dari tempat itu, dilihatnya sebuah sedan mewah tampak sedang memasuki pelataran parkir. Rani memperhatikannya sejenak, kemudian pandangannya segera beralih ke tempat lain. Kini pikirannya menerawang jauh mengingat masa-masa indah bersama kekasihnya.
Sementara itu di areal parkir, seorang pemuda baru saja turun dari sedan mewah yang dilihat Rani. Kini dia sedang menghampiri Rani yang tanpa sengaja telah dilihatnya ketika masih di dalam mobil. "Hallo, Sayang...!" sapanya mesra.
Rani tersentak seraya menoleh ke asal suara, dan betapa terkejut dia ketika mengetahui pemuda yang menyapanya. "Jo-Jodiii!" serunya seraya memeluk pemuda itu dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Sungguh dia sangat bahagia sekali berjumpa dengan kekasihnya, sang kekasih yang selama ini begitu dirindukan.
Mereka terus berpelukan saling melepas rindu, tak lama kemudian mereka sudah melepaskan pelukan masing-masing. Kini mereka saling berpandangan dengan mata yang berbinar-binar. Di bibir keduanya tersungging senyum keceriaan, sebuah ekspresi yang menandakan keduanya sangat berbahagia.
"Bagaimana kabarmu, Sayang..."" tanya Jodi.
"Aku baik-baik saja, Jo," jawab Rani seraya kembali duduk di kursinya.
"Mbak, teh botolnya satu!" pesan Jodi seraya duduk berhadapan dengan Rani.
"Jo, kenapa kau membohongiku! Kau telah membuatku sedih."
"Maaf, Sayang...! Sebenarnya aku cuma bercanda. Maksudku ingin memberi kejutan, begitu"
"Kau jahat. Tahu tidak, ketika kaubilang tidak jadi datang aku begitu sedih. Padahal aku sudah begitu membayangkan kehadiranmu."
"Maaf, Sayang... ! Aku tidak bermaksud begitu. Yang penting sekarang aku sudah berada di hadapanmu, dan kita sudah saling melepas rindu. Sudahlah, Sayang... ! Kita tidak perlu membahas masalah ini lebih jauh, sebaiknya sekarang kita bicarakan yang lain saja!"
Rani tampak tersenyum, kemudian keduanya kembali berbincang-bincang untuk mencurahkan segenap perasaan mereka yang selama ini terpendam.
"Rani... sudah lama juga ya kita tidak bertemu. Apakah selama ini kau selalu merindukanku"" tanya Jodi lagi.
"Tentu saja, Jo! Aku sangat merindukanmu, setiap saat aku selalu memikirkanmu, dan ketika kaudatang tadi, aku pun sedang memikirkanmu," jawab Rani dengan wajah bersemu merah. "A-apakah kau juga merindukanku"" Rani balik bertanya.
Jodi bukannya menjawab, tapi malah balik bertanya. "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar ayahmu"" tanyanya seakan tidak peduli dengan pertanyaan Rani.
Rani terdiam, saat itu dia masih penasaran ingin mengetahui jawaban Jodi atas pertanyaannya tadi.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Jo," katanya pelan.
"Iya... aku merindukanmu, Sayang... makanya aku langsung menemuimu di sini," jawab Jodi. "O ya, Aku punya kejutan untukmu," sambungnya kemudian.
"Kejutan." Apa itu, Jo"" tanya Rani penasaran.
"Nanti saja ya, sepulang sekolah," jawab Jodi. "Nah... sekarang kaujawab pertanyaanku tadi, bagaimana kabar ayahmu""
"Beliau baik-baik saja, Jo," jawab Rani singkat.
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Selang beberapa saat, para siswa-siswi terlihat mulai memasuki kelasnya masing-masing.
"Wah, sudah waktunya masuk. Kalau begitu kau tunggu di sini ya!" pinta Rani.
Jodi tidak berkata apa-apa-dia cuma mengangguk sambil tersenyum simpul. Kini Rani tampak memandang Jodi dengan tatapan yang seakan berat untuk meninggalkannya. "Jo.. kau jangan ke mana-mana ya!" pinta Rani lagi seraya beranjak dari tempat duduknya. Kemudian dia segera melangkah untuk membayar apa yang sudah dipesannya tadi, sekaligus dengan minuman yang baru dipesan oleh kekasihnya. "Tunggu aku ya, Jo!" serunya seraya berlari ke kelas.
Kini Jodi duduk sendirian. Di kantin sudah benar-benar sepi, yang ada hanyalah para wanita ya
ng sedang berjualan di tempat itu. Mereka memandangnya dengan penuh rasa kagum. Menurut pandangan mereka, Jodi begitu gagah, wajahnya pun tampan, sungguh membuat mereka tak jemu-jemu untuk memandang.
"Cowok Indo bukan"" tanya seorang pedagang kepada temannya.
"Tidak tahu," jawab temannya itu.
Tiba-tiba saja Jodi memandang ke arah mereka, "Mbak! Tolong teh botolnya satu lagi!" serunya memesan.
Dengan agak tergesa-gesa, wanita pedagang itu segera mengambilkan minuman untuk Jodi. Dan tak lama kemudian, "Ini minumannya, Den. Silakan!" ucapnya ramah.
Jodi tampak menyambut botol yang diberikan oleh wanita itu, "O ya, Mbak. Botolnya saya bawa ke mobil ya!" pintanya kemudian.
"O, silakan Den," kata si wanita sambil tersenyum.
Jodi segera melangkah ke mobil dan duduk menyalakan tape mobilnya. Kini dia sedang bersantai, menikmati minuman sambil mendengarkan tembang manis yang mengalun merdu. Setelah lama menunggu, akhirnya bel pulang berbunyi. Tak lama kemudian, para siswa-siswi terlihat berhamburan keluar. Pada saat itu, Jodi melihat Rani yang sedang berlari ke arah kantin. "Rani. aku di sini!" teriaknya memanggil.
Rani yang mendengar teriakan itu segera menoleh, kemudian bergegas menghampiri Jodi. "Aduh, Jo! Maaf ya! Kau pasti lama menunggu,' ucapnya seraya menyandarkan lengannya di pintu mobil.
"Ah tidak apa-apa, Sayang. lagi pula, selama menunggumu aku mendengarkan musik kok. Jadi, tidak terasa begitu lama," jelas Jodi .
Tiba-tiba Rani melihat sebuah botol kosong yang tergeletak di dashboard mobil. "O ya, minumannya sudah dibayar belum"" tanyanya mengingatkan.
"Ups...!" ucap Jodi seraya tersenyum.
Begitu Jodi hendak mengeluarkan dompetnya, tiba-tiba, "Biar... ! Biar aku saja yang bayar, Jo... " tahan Rani seraya mengambil botol kosong itu dan langsung bergegas ke kantin.
Tak lama kemudian, Rani sudah kembali. Kini dia sedang masuk ke dalam mobil dan duduk di sisi kekasihnya. Pada saat itu, Jodi tampak memandangnya dengan mata berbinar. "Kau cantik sekali, Sayang..." puji Jodi seraya mengecup kening kekasihnya.
"Terima kasih, Jo!" ucap Rani dengan wajah bersemu merah.
Kini sedan mewah yang mereka tumpangi mulai melaju meninggalkan sekolah. Di tengah perjalanan, Rani selalu memandangi wajah Jodi yang tampan, perasaan rindunya seakan belum terlepaskan.
"Kenapa kau memandangku terus, Sayang..."" suara Jodi tiba-tiba terdengar di telinganya.
Rani tersipu dan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Ngomong-ngomong, kau baru ganti mobil ya"" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Benar, Sayang. di kota semacet Jakarta ini, menurutku lebih enak mengendarai mobil yang bertransmisi otomatis. Karena itulah aku mengganti mobilku," jelas Jodi panjang lebar.
"O. begitu," Rani tampak mengangguk-angguk.
"O ya, Sayang... sebenarnya... " Belum sempat Jodi menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba dia mendengar nada HP-nya berbunyi. Lalu, dengan segera dia menerimanya, "Ya, hallo!" sapanya kepada lawan bicaranya. "Maaf, Sayang... ! Aku tidak bisa. Sekarang banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan," jawab Jodi yang tiba-tiba berbicara dengan bahasa Jepang.
Rani yang sejak tadi memperhatikannya agak heran ketika melihat raut wajah Jodi tampak sedikit gugup. Melihat itu, Jodi berusaha tersenyum seperti hendak menutupi kegugupannya. "Sudah ya, nanti akan kutelepon balik," katanya seraya mematikan sambungan HP.
"Siapa, Jo"" tanya Rani yang memang tidak mengerti pembicaraan itu.
"O, dia temanku di Jepang," jawab Jodi.
"Laki-laki"" tanya Rani lagi.
Jodi mengangguk, dan anggukkan itu dilihat Rani seperti sebuah kebohongan. Namun Rani berusaha untuk tidak membahas masalah itu lebih lanjut, dia berusaha berprasangka baik kepada kekasihnya. Sementara itu, Jodi terus mengemudikan mobilnya menelusuri jalan raya. Sekilas matanya tertuju pada sebuah restoran yang terletak di seberang jalan. "Kita makan dulu yuk!" ajaknya seraya melihat ke arah Rani.
Rani tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Mengetahui itu, Jodi langsung memutar mobilnya menuju ke restoran yang dilihatnya tadi. Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah
diparkir tak jauh dari pintu masuk. Kini Jodi tampak sedang membuka sabuk pengaman seraya menatap Rani yang dilihatnya sedang bengong.
"Kita sudah sampai, Sayang... " katanya pelan.
Rani tersadar dan langsung menatap ke arah restoran. Di dalamnya terlihat banyak pengunjung yang sedang menikmati santap siang. "Kok makan di sini, Jo"" tanyanya seraya membuka sabuk pengaman.
"Ini tempat favoritku yang baru. Masakan di sini enak sekali loh. Kau pasti menyukainya," jawab Jodi.
Rani menatap Jodi sambil tersenyum manis. Melihat itu, Jodi langsung menggenggam kedua tangan kekasihnya dengan lembut. Kini mereka terhanyut dalam perasaan cinta yang menggelora, bola mata keduanya tampak saling memperhatikan satu sama lain. Ketika keduanya hendak berciuman, tiba-tiba terdengar bunyi klakson yang cukup keras, berasal dari mobil yang parkir di sebelah kanan mereka. Kedua pasangan itu serentak kaget, bersamaan dengan Rani yang segera menarik tangannya dari genggaman Jodi.
Saat itu Jodi langsung menoleh ke asal suara, "Huh, usil sekali sih. Tidak boleh ada orang senang sedikit," keluhnya merasa kesal.
"Sudahlah, Jo! Mungkin orang di mobil itu tidak sengaja."
"Tidak mungkin. Aku rasa orang itu iri melihat kita," komentar Jodi seraya keluar dari mobil dan melihat ke dalam mobil di sebelahnya. Karena kaca mobil itu agak gelap, Jodi berusaha melihatnya lebih dekat lagi. "Aneh... tidak ada siapa-siapa" Lalu kenapa tadi klaksonnya berbunyi"" Jodi tampak begitu heran.
Dengan pikiran yang masih dipenuhi tanda tanya, Jodi bergegas membukakan pintu untuk Rani. "Aneh sekali, Sayang... ternyata di mobil itu tidak ada orang," katanya memberitahu.
"Masa..." ucap Rani seakan tidak percaya, kemudian dia segera keluar dan melangkah mendekati mobil itu. "Kau benar, Jo. Hmm... apa mungkin orang itu sudah pergi tanpa sepengetahuan kita. Bukankah tadi kita tidak terlalu memperhatikannya," sambungnya kemudian.
"Hmm. Mungkin saja. Tapi... kenapa cepat sekali" Ah, sudahlah! Kalau begitu, yuk kita masuk! Terus terang, aku sudah lapar sekali," ajak Jodi seraya menggandeng Rani memasuki restoran.
Udara di dalam restoran itu terasa begitu sejuk, dekorasi ruangannya pun tampak begitu mewah. Rani agak asing berada di ruangan itu, dan dia merasa canggung karena tampil dengan seragam sekolah.
Kini mereka sudah duduk di sudut ruangan dekat jendela, pemandangan dari tempat itu terlihat cukup bagus sehingga menciptakan kesan tersendiri buat keduanya. Selang beberapa saat, seorang pelayan wanita berparas cantik datang menghampiri dan langsung memberikan dua buah daftar menu.
"Kau ingin makan apa, Sayang..."" tanya Jodi kepada kekasihnya.
"Aduh, aku bingung, Jo! Makanan di sini aneh-aneh," kata Rani sambil terus melihat-lihat daftar menu.
"Kalau begitu, biar aku saja yang pilihkan ya""
"Iya, Jo. Apa saja deh," ucap Rani seraya menatap Jodi yang juga tengah melihat-lihat daftar menu.
Jodi segera memesan makanan dan minuman yang menurutnya enak. Sementara itu, Rani tampak memandang ke luar jendela. Tak lama kemudian, Jodi yang sudah selesai memilih menu tampak menatap Rani, dia terus memperhatikan wajah cantik yang masih menatap ke luar jendela. Wajah itu benar-benar cantik dan tak pernah membuatnya jemu.
"Kau sedang melihat apa, Sayang..." Kok dari tadi diam saja"" tanya Jodi tiba-tiba.
Rani mengarahkan pandangannya ke arah Jodi, ditatapnya wajah pemuda itu dengan tanpa berkata apa-apa.
"Ada apa, Sayang..."" tanya Jodi penasaran.
"Aku khawatir, Jo," jawab Rani.
"Khawatir... " Apa maksudmu, Sayang..."" tanya Jodi dengan kening berkerut.
"Eng... sebenarnya siapa orang yang meneleponmu tadi" Kok ketika berbicara kau tampak kelihatan gugup," Rani justru balik bertanya.
Jodi tersenyum seraya memegang tangan Rani dengan lembut. "Kau curiga"" tanyanya menebak.
"Eng... aku cuma khawatir, Jo. Terus terang, aku takut kalau kau." Rani tidak melanjutkan perkataannya, dia merasa berat untuk mengatakan isi hatinya. Sebab, dia sendiri memang masih ragu dengan semua itu.
"Maksudmu, kau khawatir kalau aku punya pacar di Tokyo kan. Atau... kau khawatir kalau aku s
udah menikah dengan wanita Jepang, begitu"" lagi-lagi Jodi mencoba menebak.
Rani tidak bersuara, dia cuma menganggukkan kepalanya dengan agak tersipu. Pada saat yang sama, dua orang pelayan tampak menghampiri mereka dengan membawa makanan yang telah dipesan tadi. Setelah menata makanan itu di atas meja, kedua pelayan tadi tampak bergegas pergi. Pada saat yang sama, Jodi tampak mengambil pisau dan garpu seraya memandang wajah kekasihnya.
"Jadi benar, kau mengkhawatirkan hal itu"" tanya Jodi melanjutkan pembicaraannya.
Rani mengangguk seraya mengambil pisau dan garpu yang tergeletak di hadapannya. Pada saat itu Jodi tampak tertawa geli.
"Kenapa, Jo" Kenapa kau malah tertawa"" tanya Rani heran.
"Tentu saja, Sayang... bagaimana aku tidak merasa lucu, kecurigaanmu itu sama sekali tidak beralasan. Rasanya tidak mungkin kalau aku bisa berpaling dari gadis secantik kamu, apalagi dengan gadis yang sebaik kamu. Percayalah... ! Aku tidak mungkin bisa berpaling darimu. Buktinya, sekarang aku datang menemuimu karena begitu merindukanmu. Terus terang... kaulah satu-satunya wanita yang paling kucintai," jelas Jodi meyakinkan.
Rani mengerutkan keningnya, "Kau yakin... kalau aku akan percaya dengan ucapanmu itu"" tanya gadis itu santai. "Soalnya, menurut cerita teman-temanku di sekolah, pria itu memang suka berpaling jika jauh dengan kekasihnya."
"Terus... apa yang harus kulakukan biar kau percaya"" tanya Jodi pasrah.
"Tidak tahu." jawab Rani polos.
"O ya, tadi kan aku bilang mau memberi kejutan untukmu. Nah... kalau begitu, sekaranglah saatnya," kata Jodi seraya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sakunya.
"Apa itu, Jo"" tanya Rani penasaran.
"Ini adalah bukti bahwa aku memang benar-benar mencintaimu," ucap Jodi seraya membuka kotak itu dan memberikannya kepada Rani.
Saat itu mata Rani langsung terbebelalak. "Hah! Bukankah ini cincin berlian, Jo" Eng... A-apakah ini berlian asli, Jo"" tanya Rani seakan tak percaya.
"Tentu saja asli. masa aku memberikanmu yang imitasi, ya tidak mungkinlah," jawab Jodi meyakinkan.
"Cincin ini bagus sekali, Jo. Tapi... aku tidak bisa menerimanya. Terus terang, ini terlalu bagus untukku. Rasanya, belum saatnya aku menerima yang seperti ini," tolak Rani.
"Sudahlah, terima saja! Ini adalah pelambang cinta abadi kita."
"Tapi... " "Sudahlah...! Mari kupakaikan."
Jodi pun segera memakaikan cincin itu di jari manis Rani, sedangkan Rani tampak menatapnya dengan mata berbinar-binar. Sungguh dia bahagia sekali karena Jodi benar-benar mencintainya. Buktinya, tanda cinta abadi itu kini telah melingkar di jarinya. "Terima kasih ya, Jo! Maaf, kalau tadi aku sempat mencurigaimu!" ucapnya lembut.
Sejenak mereka saling berpandangan, kemudian keduanya kembali menyantap makanan masing-masing.
Lima Masih di hari yang sama. Di sebuah ruangan perkantoran terdapat delapan buah meja kerja yang tertata rapi. Di atas meja-meja itu terdapat sebuah komputer, pesawat telepon, dan beberapa keperluan tulis-menulis. Di salah satu sudut ruangan itu terlihat dua buah cabinet yang berdiri kokoh, sedangkan di sudut yang lain terdapat sebuah mesin foto copy yang berdampingan dengan sebuah mesin Fax.
Kini di ruangan itu hanya terlihat tiga orang pegawai yang sedang menyelesaikan tugas-tugasnya. Salah satunya adalah Branden yang sedang sibuk menyiapkan laporan. Tak lama kemudian, sekretaris Pak Heru yang bernama Bu Siska terlihat memasuki ruangan. Dia langsung menghampiri Branden yang terlihat masih saja sibuk. "Maaf, Pak! Tolong disusun berkas-berkas ini!" pintanya seraya menyodorkan beberapa buah map kepada Branden.
Branden yang agak terkejut dengan kedatangan Bu Siska tampak mengatur posisi duduknya, kemudian dengan segera dia mengambil map-map yang disodorkan itu.
"Saya harap besok sudah selesai, Pak!" sambung Bu Siska berharap.
Branden tidak berkata apa-apa, dia tampak membaca tulisan yang tertera di muka map itu.
"Maaf, Bu! Bukankah berkas-berkas ini seharusnya diserahkan ke Pak Heru," kata Branden sopan.
"Iya, saya tahu. Tapi Pak Heru sendiri yang menyuruh saya menyerahkannya ke Bapak. Kalau Ba
pak tidak mau, ya tidak usah dikerjakan! Tapi ingat, Bapak akan menanggung segala akibatnya," kata Bu Siska mengancam.
"Oh, kalau begitu! Baiklah Bu, saya akan mengerjakannya secepat mungkin," janji Branden seraya mengatur kembali map-map itu dan meletakkannya di atas meja.
"Jangan lupa! Besok kau sendiri yang menyerahkannya kepada saya!"
"Tapi, Bu..." Belum sempat Branden menyelesaikan kalimatnya, Bu Siska langsung memotong. "Maaf! Sekarang saya tidak punya banyak waktu, permisi!" pamit wanita itu seraya beranjak pergi dengan sikap berjalan yang begitu angkuh.
Branden tampak geleng-geleng kepala seraya bersandar di kursinya, sedangkan kedua matanya terus memperhatikan kepergian Bu Siska. Ketika Branden akan memulai bekerja kembali, tiba-tiba HP-nya yang tergeletak diatas meja berdering.
"Hmm... ini nomor siapa"" tanya Branden heran. Lantas dengan segera dia mengangkat telepon itu, "Ya, hallo!" sapanya.
"Ayah!" suara Rani tiba-tiba terdengar di seberang sana.
"O, kau, Nak. Ayah kira siapa. Ngomong-ngomong, kau pakai HP siapa"" tanya Branden.
"HP teman, Yah. Soalnya HP Rani lagi lowbat."
"O begitu. O ya, ngomong-nomong. kau lagi di mana, Sayang..."" tanya Branden lagi.
"Rani lagi di Restoran. Sama teman, Yah," jawab Rani.
"O ya, sebenarnya siapa temanmu itu"" tanya Branden menyelidik.
"Pokoknya teman," jawab Rani singkat.
"Ya sudah. ngomong-ngomong, kapan kau pulang""
"Yaaa... mungkin sebentar lagi. Tapi, Rani tidak langsung pulang ke rumah. Rani mau menjemput Ayah."
"Tidak usah, Sayang... ! Ayah bisa pulang sendiri. Lagi pula, bukankah kau lelah. Sebaiknya kau langsung pulang saja!"
"Tidak, Ayah! Pokoknya Rani mau jemput Ayah," ucap Rani berkeras.
"Baiklah kalau begitu... Ayah akan menunggumu," ucap Branden mengalah.
"Terima kasih, Ayah! Kalau begitu, sudah dulu ya! Sampai nanti," ucap Rani seraya memutuskan sambungan.
Kini Rani tampak memandang Jodi sambil tersenyum manis, "Ini, Jo. Terima kasih ya!" ucapnya seraya menyerahkan HP milik pemuda itu.
"Bagaimana, jadi menjemput ayahmu"" tanya Jodi seraya menanggapi HP-nya dan langsung menyimpannya di saku.
Rani mengangguk seraya tersenyum tipis.
"Kalau begitu, mari kita berangkat!" ajak Jodi seraya bangkit dari duduknya dan langsung menggandeng Rani.
Tak lama kemudian, kedua muda-mudi itu sudah keluar Restoran. Kini mereka sedang menuju ke mobil yang diparkir tak jauh dari pintu masuk. Setibanya di mobil, Jodi langsung membukakan pintu untuk kekasihnya. Setelah itu, dia pun bergegas masuk dan langsung memacu mobilnya menuju ke kantor Branden.
Di perjalanan, Rani tampak senyam-senyum sendirian. Dia sangat gembira karena akan menjemput ayahnya bersama sang Pujaan hati, sedangkan Jodi terus memperhatikan jalan dan sekali-kali menatap wajah Rani yang masih saja terlihat ceria. "Kau tampak senang sekali, Sayang... " komentarnya atas keceriaan itu.
"Tentu saja, aku sudah membayangkan bagaimana bahagianya Ayah ketika melihatmu nanti."
"O. begitu," ucap Jodi mengangguk-angguk.
Sedan mewah yang dikemudikan Jodi terus melaju menyusuri jalan raya. Ketika sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba Jodi membelokkan mobilnya ke sebuah jalan alternatif.
"Kok lewat sini, Jo." tanya Rani bingung.
"Tenang. Aku cuma mau menghindari kemacetan. Aku hafal benar dengan seluk-beluk jalan di sini, nanti kita juga akan kembali lagi ke jalan utama," jelas Jodi.
"O. begitu, Syukurlah! Itu artinya kita bisa menjemput Ayah lebih cepat," ucap Rani senang.
Tiba-tiba, mobil mewah itu berhenti di depan sebuah penginapan. Mengetahui itu, Rani langsung bereaksi, "Kenapa berhenti di sini, Jo"" tanyanya heran.
"Sebentar ya! Aku mau menemui seseorang yang menginap di sini," jawab Jodi.
Rani tampak berpikir, kemudian menatap kekasihnya seraya tersenyum. "Jangan lama-lama ya, Jo!" pesannya kemudian.
"Aku Janji," ucap Jodi seraya mengacungkan kedua jarinya. Setelah itu dia segera melangkah memasuki penginapan.
Benar saja. Beberapa menit kemudian Jodi sudah kembali, kemudian dia langsung duduk di sisi kekasihnya. "Tidak lama, kan"" tanyanya seraya tersenyum.
Rani tampak mengangguk , "Memangnya siapa sih, Jo"" tanyanya kemudian.
"Rekan bisnis ayahku. Tadi pagi, Ayah memintaku untuk menyampaikan sebuah amanat. Tapi, karena tadi pagi orang itu ada kesibukan, akhirnya dia memintaku untuk menemuinya di sini, pada waktu ini."
Rani tidak bertanya-tanya lagi, dia percaya dengan semua ucapan kekasihnya. Tak lama kemudian, sedan mewah yang mereka tumpangi sudah kembali ke jalan utama.
Jodi terus mengemudikan mobilnya, sejenak dia melirik ke arah Rani. Dilihatnya wajah gadis itu tampak begitu mempesona. Dalam hati dia berkata, "Kau benar-benar cantik, Sayang... Malam ini kau pasti tidak mungkin bisa menolak keinginanku. Soalnya, obat perangsang yang kudapat dari temanku tadi sangat manjur."
Pemuda itu terus memikirkan niat jahatnya. Sementara itu, sedan mewah yang mereka tumpangi terus melaju, merayap dalam kemacetan yang memang sudah menjadi rutinitas Ibu Kota. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya sedan mewah itu tiba di kantor Branden.
Ketika Jodi baru memarkir mobilnya, tiba-tiba terdengar nada lagu 'Pretty Woman' dari HP yang ada di saku bajunya. Pada saat itu Rani tampak memandang wajah Jodi dengan penuh tanda tanya, sebab nada kali ini berbeda dengan nada yang sebelumnya pernah didengar. "Hmm... siapa sih yang menelepon Jodi dengan nada spesial ini," tanyanya dalam hati.
Jodi tampak memandang Rani dengan sedikit gugup, kemudian dia segera menerima telepon yang masuk itu.
"Hallo, Jo!" terdengar suara seorang gadis yang ternyata teman sekelasnya ketika masih di SMA dulu. "Kau sedang apa" Apakah aku mengganggumu"" tanya gadis itu kemudian.
"Oh, tidak.... kau sama sekali tidak menggangguku. Saat ini aku sedang bersama Rani, menunggu ayahnya pulang," jawab Jodi.
"Bagaimana kabarmu"" Jodi balik bertanya.
"Aku baik-baik saja," jawab gadis itu.
Saat itu Rani memandang Jodi dengan penuh curiga, sedangkan Jodi tampak meliriknya seraya tersenyum.
"Iya-iya..." Suara Jodi kembali terdengar. "Baik-baik," katanya kemudian.
"O ya, bagaimana kabar sepupumu itu"" tanya gadis itu lagi.
"Baik juga," jawab Jodi singkat.
"O ya, sampaikan salamku untuknya, ya!"
"Iya, akan kusampaikan."
"Oke deh. thanks ya! Bye... " ucap gadis itu mengakhiri pembicaraan.
"Bye... " balas Jodi seraya memutuskan sambungan dan menyimpan HP-nya kembali.
"Siapa sih"" tanya Rani tiba-tiba.
"Teman lama," jawab Jodi singkat.
"Wanita"" Jodi mengangguk. "O ya, tadi dia titip salam untukmu," katanya kemudian.
"Lho, apa dia mengenalku""
"Tentu saja, selama ini aku kan selalu jujur pada siapa saja, termasuk pada temanku itu. Waktu itu dia pernah melihat kita jalan berdua, lalu aku memberitahunya kalau kau adalah pacarku yang paling kusayang," jelas Jodi.
Rani tersipu mendengar perkataan Jodi barusan, kemudian dia memandang ke arah pintu kantor memperhatikan pegawai yang keluar-masuk.
"Biasanya ayahmu keluar pukul berapa"" tanya Jodi.
"Biasanya pukul segini beliau sudah keluar kok," jawab Rani.
Keduanya terus menunggu sambil berbincang-bincang. Sementara itu di ruang kantor, Branden terlihat sedang menyimpan berkas kerjanya di laci meja bagian bawah. Ketika baru menutup laci itu, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sepasang kaki wanita yang dilihatnya tengah berdiri di depan meja kerjanya. Sepasang kaki itu mengenakan selop hitam yang terbuat dari kulit buaya.
Perlahan Branden mengangkat kepala untuk melihat wanita yang berdiri di hadapannya. Ternyata wanita itu sudah berusia separuh baya, penampilannya terlihat begitu rapi dan tampak berwibawa. Dengan segera Branden berdiri tegak di hadapan wanita itu, "Selamat sore, Bu!" ucapnya sopan. Rupanya Branden sedang berhadapan dengan atasannya yang selama ini paling dihormati.
"Bapak belum pulang"" tanya sang Atasan.
"Sebentar lagi, Bu. Saat ini saya masih sibuk beres-beres," jawab Branden.
Kini sang Atasan tampak mengambil sebuah Map berwarna hijau yang masih tergeletak di atas meja kerja Branden, kemudian memperhatikan tulisan di muka map dan melihat isinya. "Loh... kenapa ini ada di sini"" tanya atasannya heran.
"Saya akan menyelesaikannya di rumah, Bu, " jawab
Branden. "Bukan, bukan itu maksudku. Lihat ini! Ini kan berkas yang saya tugaskan kepada Pak Heru. Kenapa berkas ini bisa ada padamu""
"Aduh, Bu. Saya mohon maaf! Bu Siska yang menyuruh saya untuk mengerjakannya," jawab Branden terus terang.
"Sekarang di mana Bu Siska"" tanya atasannya yang terlihat agak marah.
"Sudah pulang, Bu!" jawab Branden.
Sang Atasan tampak mengerutkan kening, kemudian kembali berkata. "Kau tahu, sebenarnya berkas ini tidak boleh diketahui oleh pegawai sepertimu. Tapi tidak apalah, sudah terlanjur. Kau kerjakan saja berkas ini dengan baik, besok langsung kau serahkan padaku. O ya, sekalian tolong bilang sama Bu Siska agar menemui saya besok, pukul sepuluh!"
"Ba-Baik Bu," jawab Branden gugup.
"Kalau begitu, sekarang saya pergi. Selamat sore!" pamit wanita itu.
"Selamat sore, Bu!" ucap Branden seraya memperhatikan atasannya melangkah pergi.
Kini Branden tampak gelisah. Di benaknya terlintas berbagai hal yang akan dihadapinya besok. "Aduh, hampir saja aku lupa," kata Branden tiba-tiba teringat dengan putrinya yang akan datang menjemput, "Hmm... mungkin saat ini Rani sedang menungguku. Kalau begitu, aku harus cepat-cepat menemuinya," gumam Branden seraya membereskan map-map di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas kantor, kemudian dengan terburu-buru dia melangkah ke luar.
Sementara itu di dalam mobil, Rani tampak gelisah, dia terus memikirkan ayahnya. "Apa yang sedang beliau lakukan di ruang kerjanya, ya"" tanya gadis itu dalam hati.
Namun ketika melihat sang Ayah keluar gedung, Rani pun langsung gembira. "Itu ayahku, Jo," ucapnya riang.
Kemudian dengan segera gadis itu keluar mobil dan berlari menghampiri ayahnya. Kini keduanya sudah saling bertatap muka. "Ayah, kok lama sekali sih"" tanya Rani seraya menggandeng lengan ayahnya.
"O, tadi masih ada pekerjaan yang mesti Ayah selesaikan," jawab Branden. "O ya, kau ke sini dengan siapa"" tanyanya kemudian.
Rani tidak menjawab, dia terus menggandeng lengan ayahnya menuju ke mobil. Setelah mereka mendekat, Jodi tampak keluar dari mobil dan melangkah menghampiri mereka. "Selamat Sore, Pak!" ucap Jodi seraya mengulurkan tangannya untuk berjabatan.
"Jo-Jodi...! Kau Jodi kan" Ha ha ha...! Apa kabar, Nak"" tanya Branden seraya berjabatan tangan dengan pemuda itu.
"Baik, Pak," jawab Jodi seraya melepaskan jabatan tangannya.
Branden benar-benar mendapat kejutan dengan hadirnya pemuda itu, dan dia tidak menyangka kalau Jodi-lah yang akan datang bersama putrinya. Kini Branden menatap Jodi dengan segala kerinduannya, kemudian keduanya tampak saling berpandangan dengan senyum di bibir masing-masing.
Tak lama kemudian, Jodi tampak membukakan pintu belakang untuk Branden. "Silakan, Pak!" ucapnya ramah. Setelah itu, dia tampak membukakan pintu depan untuk Rani. Setelah gadis itu masuk, Jodi pun bergegas masuk. Kini dia sudah duduk di depan kemudi seraya tersenyum kepada gadis yang duduk di sampingnya. Pada saat itu, Rani tampak tersipu dibuatnya. Akhirnya, sedan mewah yang mereka tumpangi segera melaju ke rumah Branden.
Setibanya di tempat tujuan, Jodi tampak memarkir mobilnya di pekarangan dan bergegas membukakan pintu mobil untuk Branden. Tanpa menunggu dibukakan, Rani segera keluar mobil dan bergegas membuka pintu rumahnya. Tak lama kemudian, ketiganya tampak sudah memasuki rumah.
Kini Branden dan Jodi sudah duduk di ruang tamu, mereka tampak berbincang-bincang dengan akrabnya. Pada saat itu, Rani sedang berada di dapur untuk membuatkan minum.
"O ya, Nak Jodi. Bagaimana kuliahmu di Tokyo"" tanya Branden.
"Kuliah saya lancar, Pak," jawab Jodi.
"Kapan selesainya""
"Kira-kira satu tahun lagi, Pak."
"O." Branden menatap Jodi dengan bangga.
Pada saat yang sama, Rani sudah kembali dengan membawa baki yang berisi dua gelas minuman dan beberapa makanan kecil, kemudian menyuguhkannya kepada mereka. "Ini tehnya, Ayah!" ucapnya kepada Branden. "Silakan, Jo!" ucapnya kepada Jodi. Lalu, dari bibir gadis itu tampak tersebar senyum kehangatan.
Jodi menatap Rani sejenak, kemudian tersenyum kepadanya. "Terima kasih, Sayang.!" ucapnya kemudian.
"Se bentar ya, Jo! Aku ganti baju dulu," kata Rani seraya melangkah pergi.
Sejenak Jodi memperhatikan kepergiannya, kemudian dia kembali memandang ke arah Branden. "O ya, Pak. Apa kebun Bapak masih menghasilkan"" tanya Jodi perihal kebun yang ada di belakang rumah.
"Waaah! Sekarang hasilnya sedikit, soalnya saya sudah jarang mengurus. Sekarang yang ada cuma tinggal pohon pepaya dan singkong, hasilnya pun cuma untuk makan sendiri," jelas Branden. "O ya, Nak. Silakan tehnya diminum! Makanannya juga coba dicicipi!" sambungnya kemudian.
Jodi segera meneguk minumannya, kemudian disusul dengan mencicipi makanan ringan yang sebenarnya tidak dia sukai. Pada saat yang sama, Rani tampak sudah kembali dengan membawa segelas minuman untuk dirinya sendiri. Kini dia sudah duduk di sebelah Jodi dan mengajaknya berbincang-bincang. Sementara itu, Branden tampak memandang keduanya dengan perasaan bahagia. Menurut dia, keduanya tampak begitu serasi.
Ketika Branden sedang memperhatikan keduanya, mendadak dia dikejutkan oleh sosok istrinya yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang kedua muda-mudi itu. Dia tampak mengenakan gaun putih polos dengan rambut panjang yang tergerai, sedangkan wajahnya yang pucat tampak begitu marah. Saat itu Branden terlihat kebingungan, dia benar-benar tidak mengerti kenapa sosok istrinya tiba-tiba muncul dengan wajah semarah itu.
"Ada apa, Ayah"" tanya Rani yang melihat wajah ayahnya tampak begitu tegang.
Branden tidak menjawab, dia terus menatap sosok istrinya yang masih berdiri dengan tangan terkepal. Saat itu Rani langsung menoleh ke belakang, melihat apa yang sedang ditatap ayahnya. Namun, dia tidak melihat sesuatu pun yang mencurigakan.
Tiba-tiba Branden beranjak dari tempat duduknya, kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. Jodi yang melihat Branden seperti itu tampak mengerutkan kening. "Kenapa dengan ayahmu, Sayang"" tanya pemuda itu heran.
Saat itu Rani tidak menjawab, dia tampak memperhatikan ayahnya yang sedang melangkah ke ruang tengah. "Sebentar ya..!" katanya seraya bergegas menyusul sang Ayah.
Setibanya di ruang tengah. "Hmm... Ayah ke mana ya"" tanya gadis itu dalam hati sambil terus celingukan, mencari-cari sang Ayah.
Kini gadis itu sedang melangkah ke kamar ayahnya. "Yah! Ayah!" panggilnya seraya mengetuk pintu kamar yang tampak tertutup rapat.
Karena tak juga mendengar jawaban, akhirnya Rani membuka pintu kamar, dan ternyata sang Ayah juga tidak ada di ruangan itu. "Hmm... Ayah ke mana sih"" gumamnya seraya melangkah pergi.
"Yah! Ayah...! Ayah di mana..."" Rani kembali memanggil-manggil ayahnya, suaranya semakin keras terdengar.
Rani merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan ayahnya, kemudian dia segera mencarinya hampir ke semua ruangan. Ketika tiba di dapur, dia melihat pintu belakang tampak terbuka lebar. Melihat itu, Rani pun segera keluar dan berteriak-teriak memanggil ayahnya. Teriakannya terdengar keras bagai anak ayam yang kehilangan induknya.
Sementara itu, Jodi tampak sedang termenung di ruang tamu. "Hmm... apakah setan telah memberikan kesempatan untuk memulai segala rencanaku" Baiklah kalau begitu, sekarang juga aku akan memanfaatkan kesempatan ini," katanya dalam hati seraya menuangkan obat perangsang ke dalam minuman Rani. Setelah itu dia kembali menunggu.
Setelah lama menunggu, kesabarannya pun mulai habis. "Hmm. Kenapa Rani belum juga kembali" Kalau begitu, sebaiknya kususul saja," gumamnya seraya beranjak pergi.
Bersamaan dengan itu, Rani baru saja kembali dari mencari ayahnya. Kini dia sedang berada di dapur sambil menangis sedih, saat itu dia benar-benar sudah kehilangan dan mengkhawatirkan ayahnya. Rani terus menangis dan menangis, air matanya tak kunjung berhenti membasahi pipi.
"Rani!" seru Jodi tiba-tiba seraya menghampiri kekasihnya. Kini dia tampak memegang kedua bahu Rani dan menatapnya dengan hangat. "Apa yang telah terjadi, Sayang..."" tanya pemuda itu kemudian.
Rani tidak menjawab, dia membalas tatapan Jodi sambil terus menangis, lalu dengan serta-merta dia memeluknya erat.
"Sebenarnya ada apa, Sayang..."" tanya Jodi lagi.
Rani masih tidak menjawab, dia terus saja menangis di pelukan kekasihnya. Sementara itu di pemakaman, Branden tampak sedang memohon-mohon di pusara makam istrinya. "Jangan kauganggu dia Yana. jangan! Aku mohon. janganlah kau mengganggu dia! Dia itu anak kita. Apakah kau tidak sayang padanya" Padahal, masih jelas terbayang di benakku akan masa-masa indah bersamamu, masa-masa indah dimana kau begitu menyayanginya, dan pada saat itu kulihat Rani begitu bahagia mendapat belaian lembut dari seorang ibu yang begitu mencintainya. Tapi kenapa" Kenapa sekarang kau mau mengganggu ketentramannya, kenapa kauhadir di dunia yang seharusnya bukan tempatmu, kenapa... " Aku mohon, janganlah kau mengganggu dia Yana. Jangan...!" pinta Branden berkali-kali sambil terus menangis di pusara makam istrinya.
Branden terus bersimpuh sambil memeluk makam istrinya. Sementara itu di ruang dapur, Rani masih saja menangis di pelukan Jodi, sedangkan Jodi tampak membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Sudahlah Sayang... tabahkan hatimu!" ucap pemuda itu seraya mengecup kening Rani.
Tiba-tiba 'Braaaakk...!!!' Mereka serentak kaget ketika mendengar daun pintu yang ditutup dengan kerasnya.
Saat itu Rani tampak ketakutan, bulu kuduknya seketika berdiri, dan jantungnya langsung berdebar kencang. Kini dia semakin merapatkan pelukannya ke tubuh sang kekasih tercinta. Jodi yang juga merasa takut berusaha untuk tetap tenang, dia tidak mau rasa takutnya itu diketahui oleh Rani. "Tenanglah, Sayang... ! Tadi itu paling cuma angin yang bertiup kencang," katanya seraya kembali mengecup kening kekasihnya.
Pada saat yang sama, tiba-tiba pintu yang tertutup tadi kembali terbuka lebar, disusul dengan angin kencang yang berhembus memasuki ruangan. Suaranya terdengar menderu-deru dan membuat keduanya semakin ketakutan.
Sambil tetap mendekap Rani, pemuda yang bernama Jodi itu segera menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. "Nah... benar kan, tadi itu cuma angin. Kalau sudah terkunci seperti sekarang, pintu itu tidak mungkin bisa terbuka lagi," katanya seraya menatap Rani dengan hangat.
Rani tampak lega, lalu dia tersenyum seraya menyadarkan kepalanya di dada sang Kekasih. Mendadak benda-benda yang ada di ruangan itu tampak bergerak-gerak, kemudian disusul dengan pecahnya gelas dan piring yang berhamburan ke lantai. Pintu yang tadi telah terkunci mendadak terbuka lagi, bersamaan dengan hembusan angin yang kembali masuk dengan suaranya yang kian menderu-deru.
Saat itu Rani langsung menjerit histeris seraya menutup kedua telinganya, kemudian segera berlari meninggalkan ruangan itu. Jodi yang juga sangat ketakutan segera berlari mengikuti kekasihnya ke ruang tamu. Tak lama kemudian, keduanya sudah berada di ruang itu.
Rani yang masih sangat ketakutan segera memeluk Jodi dengan erat, dia memeluknya seakan tak mau melepaskannya lagi. Jodi sendiri masih terus diselimuti ketakutan, sungguh dia tidak menduga akan mengalami kejadian itu, namun lagi-lagi dia berusaha untuk tetap tenang.
Kini pemuda itu mencoba untuk menenangkan kekasinya, "Tenanglah, Sayang... ! Mungkin tadi itu cuma gempa ringan. Selama di Jepang, aku juga sering mengalami gempa yang seperti barusan," jelasnya seraya mengusap-usap punggung Rani.
"Tapi, Jo... kenapa hal itu cuma terjadi di dapur. Kau lihat sendiri kan, di ruangan ini sama sekali tidak apa-apa."
Jodi tidak bisa menjelaskan hal itu, namun dia tetap berusaha untuk membuat Rani menjadi tenang. "Sudahlah Sayang... ! Sekarang kau duduk dulu!" kata Jodi seraya membantu kekasihnya untuk duduk di sofa. "Nah, sekarang sebaiknya kauminum dulu!" katanya lagi seraya mengambil minuman milik Rani yang telah diberi obat perangsang.


Misteri Kehadiran Arwah Karya Bois di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pada saat yang sama, tiba-tiba gelas yang berada di genggaman Jodi seperti ada yang menepis. Tak ayal, gelas itu langsung jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.
Saat itu Rani langsung kaget dibuatnya, "Ada apa, Jo..."" tanyanya dengan suara yang terdengar parau.
"Entahlah... aku tidak mengerti," jawab Jodi seraya menatap ke lantai, melihat pecahan gelas yang tampak berserakan.
Mengetahui itu, Jodi segera mengambil sapu yang
tersandar di balik pintu dan mencoba untuk membersihkannya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, Jo"" tanya Rani lagi seraya bangkit dari tempat duduknya.
Jodi tidak segera menjawab, dia tampak menghampiri Rani dan menatapnya dengan penuh rasa cemas. "Sayang. sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di rumah ini," ucap pemuda itu datar.
"Apa maksudmu, Jo"" tanya Rani penasaran.
"Aku merasakan sesuatu yang aneh. Sepertinya semua ini ulah tukang sihir yang tidak menyukai keberadaan kita," jawab Jodi seraya melihat ke sekelilingnya.
"Ka-kau jangan membuatku semakin takut, Jo...!" Rani berharap.
Belum sempat Jodi berkata-kata, tiba-tiba "BRAKKK!!!" pintu depan tampak terbuka lebar dengan disertai angin yang terus berhembus kencang.
Seketika Jodi dan Rani menatap ke arah pintu, saat itu mata mereka tampak memicing menahan hembusan angin yang begitu kencang, rambut mereka pun tampak terumbai-umbai diterpa angin yang semakin membesar.
Kini keduanya semakin merapatkan pelukan. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba semua lampu di rumah itu mendadak padam. Saat itu Rani langsung menjerit histeris, dia tampak ketakutan di dalam gelap yang mencekam. Sementara itu, Jodi berusaha mengendalikan rasa takutnya, "Ayo kita segera keluar, Sayang...!" ajaknya seraya menggandeng lengan Rani.
Kini keduanya melangkah menuju teras sambil terus bergandengan tangan, mereka terus melangkah melawan arus angin yang semakin kencang. Dan setibanya di teras depan, "Kau tunggu di sini, Sayang...!" pinta Jodi seraya menyuruh Rani untuk berpegangan pada pilar penyangga.
Rani menurut, dia segera berpegangan pada pilar penyangga dan berusaha keras agar tidak terbawa arus angin. Pada saat yang sama, Jodi mulai melangkah melawan arus angin yang terus menerpanya, dia berniat masuk ke mobil untuk mengambil alat penerangan yang tersimpan di laci.
Jodi terus berusaha mendekati mobilnya dengan berjuang keras melawan arus angin yang semakin keras menerpa. Saat itu, tangan kanannya tampak menyiku-melindungi kedua matanya. Kini pemuda itu sudah berhasil menempuh separo jalan, dan dia masih terus melangkah melawan arus angin yang seakan mendorongnya agar tidak mendekati mobil.
Sementara itu, Rani hanya bisa mengawasinya sambil terus berpegangan pada pilar penyangga. Tiba-tiba saja gadis itu terpekik, dilihatnya sang kekasih mendadak jatuh dan terseret di atas tanah. Melihat itu, seketika Rani menggigit bibirnya, kedua alisnya tampak merapat cemas. Kini gadis itu melihat kekasihnya sedang berusaha bangkit, sayup-sayup terdengar rintihan kesakitan, akibat cidera yang diderita pemuda itu.
Suasana semakin menakutkan dan kian mencekam. Dengan perasaan takut dan kecemasan yang semakin menjadi-jadi, Rani terus memperhatikan kekasihnya. Sementara itu, Jodi sudah melangkah kembali dengan mengerahkan segala kemampuannya. Jodi terus berusaha dan berusaha mendekati mobilnya yang kini sudah tidak begitu jauh lagi. Saat itu, dilihatnya mobil itu tampak bergoyang-goyang tertiup angin.
Setelah berusaha keras, akhirnya Jodi berhasil menggapai pintu mobil dan segera masuk. Keadaan di dalam agak gelap, dan entah kenapa lampu kabinnya tidak bisa dinyalakan. Kini Jodi sedang berusaha mencari alat penerangan yang tersimpan di laci, dengan tangan kirinya pemuda itu tampak meraba isi laci satu per satu. Setelah menemukan apa yang dicarinya, pemuda itu segera kembali ke tempat Rani berada. Saat itu, Jodi tampak kelelahan dan berjalan dengan terhuyung-huyung. Namun belum sampai dia mendekati Rani, tiba-tiba saja sebuah bayangan putih melesat cepat dan menabraknya dengan keras sekali. Tak ayal, tubuh pemuda itu langsung terhempas ke tanah dan menimpa sebuah benda keras. Suara teriakannya terdengar keras bersamaan dengan jeritan Rani yang ketakutan menyaksikan kejadian itu.
Rani terus memperhatikan Jodi dan merasa khawatir dengan keadaannya. Kini dilihatnya pemuda itu tampak berusaha bangkit kembali, dan sesekali terdengar rintihan kesakitan dari bibirnya yang tipis. Rupanya pemuda itu mengalami cidera di punggung lantaran tulang belakangnya sempat terbentur sebuah batu ketika terjatuh tad
i. Tak lama kemudian, dia sudah melangkah kembali. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba angin kencang berhenti dengan sendirinya, kemudian disusul dengan menyalanya lampu-lampu di semua ruangan. Kini Jodi sudah berdiri di hadapan Rani sambil tertunduk lemas.
"Kau tidak apa-apa, Jo..."" tanya Rani khawatir.
Jodi tidak menjawab, dia cuma memandang Rani dengan wajah yang begitu tegang. Saat itu Rani melihat bibir pemuda itu tampak mengeluarkan darah. Lalu, dengan serta-merta gadis itu mencoba membersihkannya. Ketika Rani hendak menyentuh luka itu, tiba-tiba Jodi menepisnya dengan keras sekali seraya mundur selangkah.
Seketika Rani tersentak, dia benar-benar terkejut akan perlakuan itu. "Ada apa denganmu, Jo" Kenapa kau seperti itu"" tanya gadis itu lirih.
Jodi tidak menjawab, dia tampak mengangkat kepalanya dengan sangat perlahan, kemudian menatap Rani dengan penuh curiga. "Di mana ayahmu"""" tanya pemuda itu dengan nada membentak.
Lagi-lagi Rani tersentak, sungguh dia tidak menyangka kalau Jodi telah bicara kasar padanya. "Kenapa, Jo" Kenapa kau marah kepadaku"" tanya gadis itu seraya menatap mata Jodi dengan penuh tanda tanya.
Jodi tidak menjawab, dia malah menatap Rani dengan sorot mata yang penuh kebencian. Melihat itu, Rani pun langsung menangis sedih, kemudian dengan segera gadis itu berbalik dan langsung berlari ke kamarnya. Kini gadis itu sedang bersandar di daun pintu dengan tubuh gemetar dan hati yang tersayat-sayat. Rani terus menangis dan menangis. Sungguh dia tidak menduga kalau kekasihnya akan bersikap sekasar itu.
Di teras depan, Jodi masih berdiri sambil menatap ke dalam rumah, kemudian dia melangkah memasuki ruang tamu. Kini dia tampak berdiri di tengah-tengah ruangan itu dengan penuh amarah, kedua bola matanya tampak liar memandang ke segala arah. Pada saat yang sama, Branden baru saja pulang, dia tampak memperhatikan Jodi yang berdiri terpaku sambil menatap ke luar rumah. "Jodi!" panggil Branden seraya menghampiri pemuda itu.
Jodi segera memalingkan pandangannya ke arah Branden, kemudian menatapnya dengan sorot mata yang berapi-api. Branden yang melihat Jodi seperti itu tampak keheranan. "Aneh. Kenapa dengan anak ini" Kenapa tiba-tiba dia menjadi seperti itu" Jangan-jangan... " Branden tampak berpikir keras.
Jodi masih menatap Branden, kedua matanya tak bergeming dari pandangan Branden yang kini juga mulai berapi-api. Sementara itu, Rani yang mendengar suara ayahnya segera keluar kamar. Kini dia tampak melangkah ke ruang tamu dengan perlahan. Betapa terkejutnya dia ketika melihat ayah dan kekasihnya tampak saling bertatapan, kemudian dengan cemas gadis itu segera bersembunyi di balik dinding.
Sambil bersandar, gadis itu tampak menengadah-menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya dengan cepat sekali. "Huff! Apa sebenarnya yang sedang terjadi" Kenapa dengan mereka"" Rani membatin. Kemudian Rani kembali memperhatikan mereka, dilihatnya keadaan masih seperti semula-mereka masih terpaku dan saling berpandangan.
Mentari Senja 5 Lima Sekawan Di Gua Kelelawar Keris Pusaka Sang Megatantra 9
^