Pencarian

Misteri Kehadiran Arwah 2

Misteri Kehadiran Arwah Karya Bois Bagian 2


Tiba-tiba Branden berteriak dengan kerasnya, "Keluaaar!" usir Branden kepada mendiang istrinya yang diduga bersemayam di tubuh Jodi. Kerasnya suara teriakan itu membuat Rani terkejut bukan kepalang, ketakutannya pun semakin menjadi-jadi.
"Keluaaarrr...keluaaarrr...!" teriak Branden berulang-ulang.
Jodi yang menerima perlakuan itu merasa semakin marah, dadanya pun terasa panas membara. Ingin rasanya dia menghajar lelaki yang masih saja melotot kepadanya itu, kemudian membuatnya bertekuk lutut untuk memohon ampun atas penghinaan yang dilakukannya. Tapi Jodi memang seorang pengecut, dia tidak berani menghadapi lelaki yang dikenalnya pernah berurusan dengan dunia gaib. Saat itu dia justru merasa lelaki itu akan membuatnya binasa, atau menyihirnya menjadi seekor anak ayam yang kemudian diberikan kepada musang yang sedang kelaparan. Karena itulah, akhirnya Jodi berlari ke mobil dan bergegas meninggalkan tempat itu.
"Ayah!" panggil Rani seraya menghampiri ayahnya.
"Rani!" ucap Branden seraya memandang putrinya.
"Jo-Jodi kenapa, Ayah" Kenapa Ayah mengusirnya"" tanya Rani kepada ayahnya
. "Tidak. Ayah tidak bermaksud mengusir. Ayah cuma." Branden tidak melanjutkan kata-katanya, dia tampak berpikir dengan keras. "Apakah aku harus mengatakan hal yang sebenarnya" Tidak, Rani tidak boleh mengetahui kalau ibunyalah yang telah menyebabkan semua ini," katanya dalam hati. Karena takut sesuatu yang buruk akan menimpa putrinya, akhirnya Branden tetap merahasiakan.
"Kenapa, Ayah" Kenapa"" Rani kembali bertanya.
Branden tampak menatap Rani seraya memegang kedua bahunya. "Maaf, Sayang... ! Ayah tidak bisa menjelaskannya padamu," jawab Branden menutup keingintahuan putrinya.
Sejenak Branden melihat keluar, kemudian meminta putrinya agar masuk ke kamar dan beristirahat. Branden sendiri segera melangkah ke teras muka dan duduk merenung di tempat itu. Pada saat yang sama, Rani sudah berada di kamarnya, kini dia sedang menangis di atas tempat tidur. Sungguh dia benar-benar tidak mengerti kenapa ayahnya tega mengusir Jodi, dan dia pun mulai berprasangka yang tidak-tidak mengenai hal itu.
"Hmm... apakah semua kejadian tadi perbuatan Ayah yang ingin memisahkan aku dengan Jodi" Tapi kenapa" Padahal, semula beliau sangat gembira bertemu dengannya. Aku benar-benar tidak mengerti, apa sebenarnya yang beliau inginkan""
Rani terus bertanya-tanya, sedangkan air matanya tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya yang pucat. Sementara itu di sebuah jalan yang gelap dan sepi, sebuah sedan mewah tampak melaju dengan kecepatan tinggi. Di kiri-kanannya tampak berjajar pepohonan rindang yang membuat jalan itu kian bertambah seram. Jodi, si pengemudi mobil mewah itu tampak kalut, pikirannya masih terbayang peristiwa di rumah Rani.
"Hmm... mungkinkah Branden tahu kalau aku akan berbuat jahat" Kalau begitu, benar juga kata si Burhan kalau Branden itu memang mempunyai ilmu sihir. Tidak mustahil kalau dia bisa membaca pikiranku. Padahal, pada mulanya aku tidak percaya sama sekali kalau Branden itu orang yang demikian. Selama ini dia tampak begitu baik, dan tidak ada sedikitpun yang membuatnya tampak sebagai penyihir. Namun, sekarang aku yakin sekali, kalau dia memang mempunyai ilmu sihir. Sebab, aku sendiri sudah merasakannya. Kurang ajar Branden! Beraninya dia menjauhkanku dari Rani!!!" makinya setengah berteriak.
"Bukan dia, Jo.. " tiba-tiba terdengar suara parau dari jok belakang.
Seketika Jodi melirik ke kaca spion tengah. Betapa terkejutnya dia ketika melihat seorang wanita cantik dengan wajah yang begitu pucat tampak sedang duduk menyeringai. Jodi pun merinding seraya menginjak pedal rem dalam-dalam, akibatnya mobil yang dikemudikannya hampir saja tergelincir hingga keluar jalan raya. Kini pemuda itu sudah bersiap-siap untuk melarikan diri. Namun ketika dia menoleh ke belakang, ternyata wanita tadi sudah menghilang.
Jodi tampak menarik nafas panjang, "Huff! syukurlah... mungkin tadi itu cuma hayalanku saja," gumamnya merasa lega. Begitu pandangannya kembali ke depan, pemuda itu tampak terkejut bukan kepalang. Dilihatnya sosok wanita tadi tampak berdiri di depan mobilnya dengan gaun putih yang berkibar-kibar. Sosok wanita itu menatap Jodi. Wajahnya yang pucat tampak begitu menyeramkan. Sebagian wajahnya yang pucat itu tertutup oleh darah yang mengering, dan sebelah bola matanya tampak mencuat ke luar.
Melihat itu Jodi tampak ketakutan, kemudian dengan segera pemuda itu mencoba menghidupkan mesin mobilnya. Namun sungguh disayangkan, mesin mobilnya tak kunjung hidup. Berkali-kali dia mencoba, namun tetap gagal. Sementara itu, sosok wanita menyeramkan tadi tampak mulai menghampiri.
Melihat itu, Jodi semakin panik, lalu dengan segera dia keluar mobil dan berlari tunggang-langgang.
Jodi terus berlari dan berlari, hingga akhirnya dia melihat sebuah rumah yang cukup megah. Sungguh betapa senangnya dia saat itu. Lantas, dengan nafas yang masih terengah-engah, pemuda itu segera berlari menghampiri.
Kini pemuda itu sedang membuka pintu gerbang yang ternyata tidak dikunci, kemudian dengan segera dia berlari memasuki pekarangan. Saat itu hatinya betul-betul lega, karena tak lama lagi dia sudah bisa meminta bantuan. Namun sungguh
disayangkan, ketika sudah hampir tiba di teras, tiba-tiba kaki pemuda itu tersandung sesuatu. Tak ayal, pemuda itu langsung tersungkur mencium tanah. "Aggh...!" Jodi tampak meringis kesakitan, sebagian tubuhnya dirasakan nyeri dan ngilu.
Kini pemuda itu mencoba menengadah ke arah rumah yang dilihatnya tadi. "A-apa!!!" serunya dengan matanya terbelalak dan mulut yang menganga lebar. Ternyata rumah yang dilihatnya tadi, kini sudah menghilang, dan yang ada di hadapannya sekarang adalah sebuah makam dengan nisan yang persis di depan matanya. "Di-di-di mana rumah tadi" Bu-bu-bukankah tadi berada di depanku," ucap pemuda itu terbata seraya membaca tulisan yang ada di nisan tersebut. "Ya-Yana...!" serunya terkejut.
Jodi mengucek-ngucek kedua matanya, kemudian kembali memperhatikan nisan itu sekali lagi. "Tidak salah lagi. Ini memang nisan Yana," ucapnya seakan tidak percaya.
Seketika Jodi merinding, sungguh dia tidak menduga kalau dirinya ternyata sedang tertelungkup di depan makam Yana. Kini pemuda itu tampak memperhatikan keadaan di sekelilingnya, dan betapa terkejutnya dia ketika menyadari sedang berada di tengah-tengah pemakaman umum yang begitu sepi dan menyeramkan. Tak ayal, saat itu wajahnya langsung pucat dengan tubuh yang gemetar hebat.
Lantas dengan terus diselimuti rasa takut, pemuda itu berusaha bangkit. Dan tak lama kemudian dia sudah berdiri tegak dan siap melangkah pergi. Namun baru saja dia membalikkan badan, tiba-tiba dihadapannya sudah berdiri sesosok tubuh wanita yang sedang menyeringai seram. Saat itu, wajah wanita itu tampak begitu pucat dan menyeramkan, bahkan dari tubuhnya tercium bau busuk yang begitu menyengat. Kini sosok wanita itu tampak menatap Jodi dengan penuh kebencian. Melihat itu, Jodi langsung terpekik dengan tubuh yang terasa lemas. Hingga akhirnya, dia pun jatuh duduk tak berdaya sama sekali.
"Jangan kau permainkan dia Jooo...!!!" seru sosok wanita itu dengan suara serak.
"A-a-apa, ma-ma-maksudmu" Bu-bu-bukankah selama ini a-aku begitu menyayangi putrimu," ucap Jodi dengan terbata-bata.
"Jangan bohong, Jo!!! Aku tahu kau telah mempunyai istri di Tokyo," kata sosok wanita itu dengan nada marah.
"Ja-ja-jadi kau tahu... ba-ba-bahwa aku su-su-sudah mempunyai istri""
"Kau benar, Jo! Masih ingatkah ketika kaubicara lewat HP di ruang tunggu terminal" Waktu itu aku sempat mendengarkan pembicaraanmu," cerita Yana mengingatkan kembali akan peristiwa yang telah lewat. "Waktu itu ketika hendak menemuimu, aku sempat mendengar kau yang menyebut kata 'istri'. Dan karena penasaran, aku pun mendengarkan percakapan itu lebih lanjut. Hingga akhirnya aku bisa mengetahui siapa dirimu sebenarnya. Ternyata kau telah mempunyai istri di Tokyo," lanjut Yana menjelaskan.
Seketika Jodi teringat dengan kata-katanya waktu itu, yaitu ketika dia sedang berbicara dengan istrinya. "Kau ini bagaimana, sih" Aku kan sudah bilang akan pulang secepatnya. Kaupikir di Jakarta ini aku sedang main-main, di sini aku sedang mengurusi perusahaan ayahku, dan aku baru bisa kembali ke Tokyo besok pagi. Dengar, Sayang... ! Jika kau ingin tetap menjadi istriku, kau harus bisa memahami hal itu." Dan kalimat itulah yang terus terngiang di telinga Yana hingga akhir hayatnya.
"Bagaimana, Jo"" tanya Yana lagi.
"Ba-ba-baiklah! A-a-aku akan me-me-menjauhi putrimu," janji Jodi dengan suara yang masih saja terbata-bata.
"Pegang ucapanmu itu, Jo!" ucap Yana seraya melesat pergi.
Jodi tidak berkata apa-apa, dia cuma mengangguk penuh ketakutan, bahkan dari celananya tampak mengalir air seni yang cukup banyak. Kini pemuda itu berusaha bangkit, kemudian dengan kaki yang terpincang-pincang pemuda itu bergegas ke mobilnya.
Saat itu Jodi benar-benar tidak habis pikir, kenapa dia bisa mengarahkan mobilnya ke daerah dekat pemakaman" Padahal pada mulanya, dia yakin sekali kalau telah mengemudikan mobil pada jalan yang benar. Sungguh saat itu Jodi telah dibuat bingung oleh kejadian yang baru dialaminya.
Setelah mesin dihidupkan, Jodi segera memacu mobilnya meninggalkan tempat tersebut. Sementara itu di tempat lain, Branden masih saja termenung di
teras depan rumahnya. Wajahnya yang kusut terlihat begitu murung, sedangkan kedua matanya tampak berkaca-kaca. "Sebenarnya apa yang telah terjadi" Kenapa Yana tega merusak kebahagiaan Rani" Apa yang sebenarnya dia inginkan"" tanya Branden dalam hati.
Namun belum sempat lelaki itu berpikir lebih jauh, tiba-tiba angin yang sangat kencang berhembus di tempat itu. Suaranya terdengar menderu-deru. Bersamaan dengan itu, daun-daun dan debu tampak berterbangan. Lalu dari samping rumah terdengar gemeretak dahan pohon yang patah, kemudian disusul dengan derak suara pohon yang tumbang.
Saat itu Branden tampak heran dibuatnya. Belum hilang rasa herannya, tiba-tiba dia melihat seorang wanita yang sedang berdiri di muka rumah. Kini wanita itu sedang berjalan menghapirinya. Pada saat yang sama, Branden tampak berdiri dan maju selangkah, kedua matanya tampak memperhatikan wanita itu dengan seksama. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa wanita itu adalah sosok istrinya yang sudah meninggal hampir sebulan yang lalu.
Wanita itu terus melangkah mendekati Branden, sedangkan Branden tampak sedikit gugup melihat sosok istrinya sudah kian mendekat. Namun begitu, dia mencoba untuk tetap tenang. Kini sosok wanita itu sudah berdiri di hadapan Branden, sedangkan Branden sudah siap untuk meluapkan amarahnya yang sudah sejak tadi terpendam. Lantas, dengan tajam dia menatap mata wanita itu seraya berkata lantang, "Yana!!!" serunya kepada sosok mendiang istrinya itu. "Kenapa kau mengganggu Jodi, Yan" Kenapa""" Apakah kau tidak senang melihat putri kita bahagia bersamanya" Jawablah, Yana... ! Jawab!!!"
"Kau tidak mengerti Braannn..." kata sosok istrinya dengan suara yang terdengar parau.
Belum tuntas sosok wanita itu menjawab, tiba-tiba "Ayah. Ayah..!" terdengar teriakan Rani memanggil.
Seketika Branden menoleh ke arah pintu, dilihatnya Rani tengah berlari menghampirinya. "Ayah! Apakah Ayah mendengar suara-suara tadi"" tanyanya penuh ketakutan.
Branden tidak menjawab, dia malah menoleh ke tempat sosok Yana berdiri. Saat itu sosok Yana itu sudah menghilang. Kini Branden menghampiri Rani yang terlihat sangat ketakutan, kemudian memeluknya erat. "Iya Sayang... Ayah juga mendengarnya. Tapi kau tidak perlu takut, tadi itu cuma suara pohon tumbang yang tertiup angin besar barusan," jelas Branden seraya membelai rambut putrinya.
"Angin besar"" tanya Rani seraya melepaskan diri dari pelukan ayahnya.
"Iya, Sayang... barusan memang ada angin yang begitu besar," jelas Branden lagi.
"Itu juga yang terjadi ketika Rani dan Jodi sedang berada di ruang tamu, Yah. Jadi, bukan Ayah yang melakukannya"" tanya Rani seraya menatap mata ayahnya.
Branden memegang bahu putrinya, kemudian menatapnya dengan prihatin, "Bukan, Sayang... bukan Ayah yang melakukannya. Itu semua ulah." Branden tidak melanjutkan kata-katanya.
"Ulah siapa, Ayah"" tanya Rani penasaran.
"Sebaiknya kita masuk saja, Sayang...! Udara di sini cukup dingin." Ajak Branden yang tidak mau menjawab pertanyaan putrinya.
Akhirnya keduanya segera melangkah masuk dan beristirahat di kamar masing-masing. Kini Rani tampak sedang berbaring di tempat tidurnya, dia masih saja memikirkan kejadian barusan. "Jangan-jangan, Ayah sengaja menciptakan peristiwa barusan cuma untuk menutupi perbuatannya. Seakan-akan, peristiwa yang waktu itu aku dan Jodi alami bukanlah perbuatannya"" Rani menduga-duga.
Kini Rani teringat ketika ayahnya pernah mempelajari ilmu sihir guna mencari kekayaan. Waktu itu usia Rani masih 12 tahun. Setelah ayahnya bertobat dan meninggalkan semua kekayaan yang didapat dari cara yang tidak halal, mereka pun pindah ke sebuah rumah yang sederhana. Sejak saat itulah Branden bercocok tanam sampai akhirnya dia mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan. Hingga akhirnya dia bisa kembali hidup mapan seperti sekarang.
"Hmm... apakah Ayah memang masih memiliki ilmu itu" Jika benar demikian, kenapa beliau menggunakannya untuk memisahkan hubungan kami"" Rani terus bertanya-tanya, hingga akhirnya dia terlelap karena kantuk yang tak tertahankan.
Enam Sehari setelah kejadian itu. Teman Jodi
yang bernama Yuli terlihat baru saja keluar dari pintu Mal sambil menenteng banyak belanjaan. Dialah gadis yang waktu itu menelepon Jodi ketika berada di halaman parkir kantor Branden. Kini gadis itu sedang melangkah ke mobil yang diparkir tak jauh dari pintu masuk. Dalam waktu singkat dia sudah tiba di mobil dan langsung membuka bagasinya. Ketika hendak memasukkan barang belanjaannya, tiba-tiba sebuah bungkusan yang dibawanya terjatuh. Menyadari itu, Yuli pun segera berjongkok. "Apa itu"" tanya Yuli dalam hati ketika melihat sebuah benda mengkilat tampak tergeletak persis di sebelah bungkusan miliknya.
Yuli segera memungut benda itu, kemudian memperhatikannya dengan seksama. Sebuah koin emas yang sudah tidak mulus lagi tampak berkilau di telapak tangannya, pada permukaannya melingkar tulisan kuno dengan Huruf Palawa. "Hmm... sepertinya ini koin kuno. Tapi kenapa koin ini bisa ada di sini" Apa mungkin seseorang telah menjatuhkannya"" tanya Yuli dalam hati seraya memasukkan koin itu ke dalam saku celananya, kemudian bergegas mengambil bungkusan yang terjatuh tadi dan meletakkannya ke dalam bagasi.
Ketika hendak menutup pintu bagasi, tiba-tiba dia melihat Jodi sedang memasuki pintu utama. Pemuda itu tampak mengenakan T-Shirt hitam dengan jeans warna putih. "Jodiii!!!" teriak Yuli seraya menutup bagasi dan bergegas mengejar pemuda itu.
Kini Yuli sudah berada di dalam Mal dan sedang mencari-cari Jodi, kedua matanya tampak menatap hampir ke segala arah. "Aduuuh! Ke mana sih dia"" tanya Yuli dalam hati.
"Anda mencari siapa"" tiba-tiba terdengar seorang bertanya dengan suara yang berat.
Yuli segera berpaling. Betapa terkejutnya dia ketika menyadari kalau orang yang bertanya itu adalah seorang satpam yang terlihat angker. Pada pipi kirinya terlihat bekas luka yang cukup parah, kumisnya pun tampak tebal dan hampir menutupi sebagian bibir atasnya, sedangkan kedua matanya tampak besar dan menatap dengan tajam.
"Ma-maaf, Pak! Sa-saya mencari teman saya," jawab Yuli tergagap.
Satpam itu tersenyum, "Begini Nona, sebaiknya Nona langsung ke bagian informasi. Di sana petugas kami akan memanggilnya lewat pengeras suara," saran Pak Satpam itu ramah.
Yuli tidak menduga akan perkataan itu, sebuah perkataan yang dianggapnya sangat kontras dengan tampangnya yang angker.
"Terima kasih, Pak!" ucap gadis itu seraya berlari ke bagian informasi yang tidak begitu jauh.
Usai menyampaikan pesan, Yuli segera melangkah ke pintu utama dan menunggu Jodi di tempat itu. Lama dia menunggu, namun pemuda itu tak kunjung tiba. Kini gadis itu mulai sedikit resah, dalam hati dia ingin sekali pergi, namun keinginannya untuk berjumpa Jodi membuatnya tetap bersabar. Kemudian sambil mendengar tembang cinta yang mengalun merdu, gadis itu tetap setia menunggu dan berharap Jodi akan segera muncul. Benar saja, dalam waktu singkat Jodi sudah menampakkan batang hidungnya. Melihat itu, Yuli pun tampak senang sekali. Kemudian dengan segera dia berlari menghampiri Jodi dan memeluknya erat.
"Jo, aku kangen sekali, sudah lama ya kita tidak bertemu," kata Yuli dengan wajah berseri-seri seraya melepaskan pelukannya.
"Aku juga, Yul. O ya, ngomong-ngomong... kau mau belanja atau sudah belanja"" tanya Jodi.
"Sebenarnya aku sudah mau pulang. Tapi ketika melihatmu memasuki pintu utama, aku pun berniat menemuimu," jawab Yuli.
"Benarkah! Kalau begitu, lebih baik kita ngobrol di cafetaria saja! Terus terang aku masih kangen denganmu," ajak Jodi.
Tak lama kemudian, keduanya tampak menuju ke sebuah kafetaria untuk berbincang-bincang di tempat itu sambil menikmati es teler yang menyegarkan.
Di sebuah ruang perkantoran, seorang pria tampak sibuk di depan meja kerjanya. Dialah Branden yang kini sedang serius menyelesaikan tugas-tugasnya. Tak lama kemudian, seorang rekan wanitanya datang menghampiri. "Permisi, Pak! Ini ada surat buat Bapak," katanya seraya menyerahkan sepucuk surat kepada Branden.
"O, terima kasih, Bu!" ucap Branden seraya mengambil surat itu dan mengamatinya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak!" pamit rekannya.
"O, silakan!" ucap Branden.
Setelah rekan nya pergi, Branden pun segera membaca isi surat itu.
Rahasia perusahaan, keputusan direktur utama No:xxx/22.B3/kep/Dir.utama/dokumen.
Kabar Gembira: Sesuai dengan kerja keras dan kejujuran Bapak Banden selama ini, kami dari pihak perusahaan telah memutuskan untuk memberikan kenaikan gaji kepada saudara dan akan diperbarui mulai bulan ini, terhitung sejak dikeluarkannya surat keputusan ini. Keputusan ini adalah sah dan sangat rahasia, tentunya demi kepuasan saudara sebagai pegawai kami, terima kasih.
Branden sangat gembira mengetahui hal itu. Ternyata kerja keras dan kejujurannya selama ini telah membuahkan hasil sehingga perusahaan memberikan penghargaan atas semua jerih-payahnya. Sejenak dia menoleh ke arah rekan-rekannya yang masih tampak serius dengan pekerjaannya masing-masing.
Setelah menyimpan surat tadi, Branden kembali bekerja dengan penuh semangat. Tak lama kemudian, Bu Siska datang menghampiri. Kini dia sudah berdiri di depan meja kerja Branden sambil bertolak pinggang. Branden yang saat itu sedang serius membaca sebuah berkas sama-sekali tidak menyadari kedatangannya.
"Ahem...!" ucap wanita itu tiba-tiba.
Branden tersentak seraya mengangkat kepalanya, betapa terkejutnya dia ketika melihat Bu Siska tampak memandangnya dengan sorot mata yang berapi-api. "A-ada yang bisa saya bantu, Bu"" tanya Branden
tergagap. Bu Siska tidak menjawab, dia justru balik bertanya. "Kenapa Bapak berani berbuat lancang"" tanya wanita itu dengan nada marah.
"Ma-maaf, Bu! Saya tidak mengerti maksud Ibu," jawab Branden sopan.
"Alaaah. Bapak kan yang melaporkan perihal berkas itu kepada Ibu Direktur," tuduh Bu Siska kecewa.
"Apa!" seru Branden kaget. Kemudian dia berdiri seraya menatap mata wanita itu, "Sumpah, Bu. Saya sama sekali tidak melapor. Beliau sendiri yang mengetahuinya," ucap Branden sungguh-sungguh.
"Lho, bukankah Bapak yang tadi memberitahukan saya untuk menghadap Ibu direktur."
"Itu memang benar, Bu. Tapi... itu kan atas permintaan beliau."
"Sudahlah, anda tidak usah berkelit! Tidak mungkin beliau tahu jika anda tidak melapor," tuduh Bu Siska lagi. "Asal Bapak tahu saja, di ruangan beliau saya dimarahi habis-habisan, dan beliau telah memberikan peringatan keras kepada saya," jelas Bu Siska geram.
"Sungguh, Bu. Saya sama sekali tidak melaporkan hal itu."
"Lalu siapa. kan cuma anda yang saya tugasi," kata Bu Siska ketus.
"Baiklah, sekarang akan saya jelaskan duduk perkaranya. Kalau begitu silakan duduk dulu!" tawar Branden ramah.
"Tidak perlu! Sekarang juga saya akan melaporkan masalah ini kepada Pak Heru. Permisi!"
pamit Bu Siska seraya melangkah pergi dengan amarah yang meluap-luap.
Saat itu Branden cuma terpaku memperhatikan kepergiannya, kemudian dia segera duduk kembali. Karena konsentrasinya terganggu, Branden merasa kesulitan untuk melanjutkan pekerjaan. Kini dia cuma bisa termenung sambil terus memikirkan kejadian yang baru dialaminya. Sementara itu, Rekan-rekannya yang berada di ruangan itu tampak saling berpandangan, mereka tampak prihatin melihat Branden diperlakukan seperti itu. Kini mereka kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing, tampaknya mereka tidak mau turut campur dengan persoalan yang dihadapi pria itu.
Sejenak Branden memperhatikan rekan-rekannya, dia benar-benar merasa malu atas peristiwa tadi. Ketika Branden memandang ke sudut ruangan, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sosok istrinya yang berdiri di tempat itu. Dia melihat sosok wanita itu sedang memandangnya sambil tersenyum tipis.
"Yanaaa!" seru Branden dengan suara yang agak keras.
Mendengar itu, rekan-rekannya spontan memperhatikan Branden, saat itu mereka benar-benar heran dengan ucapan Branden yang memanggil nama istrinya. Pada saat yang sama, sosok Yana sudah berdiri di hadapan Branden dan sedang bercakap-cakap dengannya. "Kau harus tetap bersabar, Branden!" kata sosok istrinya itu.
"Yana. apakah kau." belum sempat Branden menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba sosok istrinya itu menghilang dari pandangan.
Branden terkejut seraya menatap ke penjuru ruangan, kepalanya tampak menoleh kiri-kanan mencari-cari sosok san
g Istri. Sementara itu, rekan-rekannya yang melihat tingkah-laku Branden saat itu semakin heran, lalu salah seorang dari mereka segera datang menghampiri. "Ada apa, Pak" Kalau boleh saya tahu, sebenarnya Bapak sedang mencari apa"" tanya rekan Branden prihatin.
"Eh, sa-saya sedang... eh, tidak. Tidak ada apa-apa kok," jawab Branden tergagap.
Rekan kerja Branden tampak mengerutkan kening, "Bapak yakin tidak ada apa-apa"" tanyanya kemudian.
"Benar kok, tidak ada apa-apa. Saya cuma sedikit lelah," jawab Branden meyakinkan.
Sejenak rekan kerjanya itu memperhatikan Branden, kemudian dengan segera dia kembali ke meja kerjanya. Sementara itu di ruangan lain, sosok wanita berpakaian putih tampak sedang memperhatikan Bu Siska yang saat ini sedang menerima telepon. Kini sosok wanita itu tampak menghampirinya, wajah yang pucat tampak begitu marah. Pada saat yang sama, atasan Bu Siska yang bernama Pak Heru sedang sibuk di meja kerjanya.
"Aduh!" teriak Bu Siska seraya menoleh ke arah Pak Heru. "Kenapa Bapak melakukan itu"" tanya Bu Siska seraya menatap Pak Heru yang masih bingung karena teriakan sekretarisnya.
"Apa! Aku tidak melakukan apa-apa. Aku justru mau bertanya, kenapa tiba-tiba saja kau berteriak""
"Sudahlah, Pak. Mengaku saja! Lagi pula, saya tidak mungkin marah sama Bapak. Saya tahu Bapak lagi pusing, dan semua ini memang gara-gara kesalahan saya," kata Bu Siska seraya menghampiri Pak Heru dan duduk di depan meja kerjanya.
"Kau ini bicara apa, Sis" Aku benar-benar jadi tambah bingung."
"Ya sudah, kalau begitu kita lupakan saja! Eh, Pak. Ngomong-ngomong, kenapa Pak Branden berani memberitahukan hal ini ke pada Ibu Direktur ya"" kata Bu Siska dengan nada kecewa.
"Entahlah, Sis.... Mungkin Branden memang telah berkata jujur kalau Ibu Direktur tanpa sengaja telah mengetahuinya," ujar Pak Heru.
"Ah, tidak mungkin, Pak! Setahu saya, Beliau hampir tidak pernah ke tempat kerjanya. Aku rasa, Branden memang sengaja mengadukan hal itu karena ingin cari muka. O ya, Pak. Saya dengar dia baru menerima kenaikan gaji, bukankah itu suatu bukti," tuduh Bu Siska dengan raut wajah yang begitu kesal.
"Kamu tahu dari siapa"" tanya Pak Heru.
"Ratna yang memberitahuku," jelas Bu Siska.
"O, Ratna sahabatmu yang di bagian keuangan itu""
Bu Siska mengangguk, kemudian dia kembali bicara. "Pak, saya benar-benar kecewa dengan Branden. Karena ulahnya, saya sempat ditegur oleh Ibu Direktur," keluhnya seraya bangkit dari tempat duduk. "Pak, di sini kan kedudukan Bapak lebih tinggi, sebaiknya Bapak segera bertindak!" sarannya dengan semangat yang berapi-api.
"Lalu... apa yang harus saya lakukan"" tanya Pak Heru seraya merapatkan kedua alisnya.
"Hmm. apa ya"" Bu Siska tampak berpikir keras, kemudian dia mulai berjalan berputar-putar. "Nah... saya punya ide yang bisa membuat Branden menyesali perbuatannya," katanya lagi seraya duduk di atas meja kerja atasannya dengan mata yang berbinar-binar.
"Maksudmu"" tanya Pak Heru seraya menatap sekretarisnya yang kini tampak tersenyum.
"Begini, Pak. Saya akan berusaha menggagalkan laporan periklanan satu semester yang dipersiapkan Branden. Saya akan melakukannya berturut-turut selama tiga semester. Dengan demikian reputasinya akan menjadi buruk, dan kemungkinannya dia pasti akan dipecat. Untuk mewujudkan rencana ini, Bapak harus berani menggunakan wewenang Bapak diluar ketentuan yang berlaku. Demi reputasi kita, Pak," jelas Bu Siska seraya kembali duduk di kursi yang ada di depan meja kerja atasannya.
"Kau jangan gila, kalau ada yang tahu justru kita yang bisa dipecat," kata Pak Heru khawatir.
"Jangan khawatir, Pak! Saya akan mengerjakannya dengan sebersih mungkin, dan saya yakin, tidak seorang pun yang akan mengetahuinya," kata Bu Siska penuh keyakinan.
"Kalau begitu. baiklah. Kita akan atur rencana itu. Tapi ingat, jangan sampai Pak Santoso mengetahui hal ini! Jika beliau sampai mengetahuinya, tentu beliau tidak akan terima. Dan yang pasti, beliau akan marah besar karena kita sudah mengaduk-aduk pekerjaan anak buahnya," jelas Pak Heru.
"Baik, Pak. Saya akan berhati-hati. Pak Santoso pasti tida
k akan menyadarinya," kata Bu Siska seraya tersenyum puas.
"Kapan kau akan menjalankan rencana itu"" tanya Pak Heru.
"Tentu saja setelah Bapak memberitahu saya tentang hasil rapat para manajer nanti. Kalau tidak salah, minggu depan kan"" tanya Bu Siska seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Ya, itu Betul. Kalau begitu, minggu depan saya akan memberitahukan hasilnya. O ya, sekarang tolong kau atur jadwal saya untuk besok!" pinta Pak Heru seraya membuka sebuah map yang berada dihadapannya.
"Baik, Pak," kata Bu Siska seraya berjalan ke meja kerjanya.
Kini keduanya sudah kembali sibuk dengan tugas masing-masing. Sementara itu, sosok Yana tampak begitu marah, sorot matanya terlihat tajam memperhatikan kedua orang itu. Akhirnya sosok waniti tu pergi dari ruangan setelah menjatuhkan sebuah vas bunga yang ada di atas kabinet.
Di tempat terpisah, Yuli baru saja tiba di rumah. Kini dia sedang memarkir mobilnya di depan garasi. Tak lama kemudian, dia tampak keluar mobil dan bergegas membuka pintu bagasi. "Mang!" teriaknya memanggil si Pembantu yang baru saja menutup pintu gerbang.
Mendengar itu, si Pembantu pun buru-buru menghampiri, "Iya Non... ada apa"" tanyanya sopan.
"Eh, malah pakai tanya-tanya! Cepat kaubawa masuk semua barang-barang ini!" perintah Yuli dengan mata melotot.
Melihat wajah tuannya yang tampak begitu galak, si Pembantu segera melaksanakan perintah itu. Dia tampak mengangkat semua barang-barang itu sekaligus. Namun baru saja dia hendak melangkah, tiba-tiba, "Sebentar, Mang! Ada lagi nih," tahan Yuli seraya menambah tumpukan itu dengan sebuah bungkusan berpita merah yang baru diambilnya dari jok belakang.
"Apa masih ada lagi, Non"" tanya si pembantu menunggu.
"Sudah, sudah semuanya. Sekarang cepat kau bawa masuk!"
"Baik, Non... " ucap si pembantu seraya melangkah pergi.
Kini Yuli tampak mengambil majalah yang masih tergeletak di jok depan mobilnya. Setelah itu, dia segera melangkah masuk. Sementara itu di ruang tengah, si pembantu terlihat baru saja meletakkan barang-barang yang dibawanya di atas meja panjang.
"Aduuuh, pasti habis deh barang-barang di Mal," celoteh si pembantu sambil geleng-geleng kepala, melihat belanjaan yang baginya tampak begitu banyak.
"Bawel! Ini cuma sedikit tahu," celetuk Yuli yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya.
Si Pembantu tampak terkejut, "I-ini banyak Non..." ucapnya tergagap. Kemudian dia tampak garuk-garuk kepala, "Me-memangnya habis ngeborong di mana, Non"" tanyanya kemudian.
"Aaah... sudahlah! Tidak usah tanya-tanya! Sana ambilkan aku minum!" perintah Yuli seraya duduk di sofa dan mulai membuka-buka majalahnya.
Sementara itu, si Pembantu langsung bergegas ke dapur. Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa segelas sirup berwarna merah. "Ini Non minumannya," ucapnya ramah.
"Terima kasih, Mang!" ucap Yuli seraya meneguk minuman itu. Seketika dia merasakan sirup manis yang begitu segar mulai membasahi kerongkongannya. "Hmm... nikmat sekali," katanya dalam hati seraya meletakkan gelas yang dipegangnya ke atas meja. "Mang, tolong bantu aku membuka bungkusan-bungkusan ini!" pintanya kemudian.
Kini mereka mulai membuka bungkusan-bungkusan itu satu per satu. Pada saat yang sama, Yuli tampak mengamatinya dengan seksama. "Mang, yang ini tolong dibawa ke kamar!" pintanya seraya menyerahkan dua stel pakaian yang sedang dipegangnya.
Si Pembantu menurut, dia segera membawanya ke kamar. Tak lama kemudian dia sudah kembali dan siap menjalankan perintah selanjutnya.
"Nah... Mang. Sekarang bawa semua barang-barang ini ke kamar!" pinta Yuli.
Kali ini si Pembantu tidak segera melaksanakan perintah itu, dia tampak masih berdiri dengan wajah mesam-mesem. Melihat itu, Yuli tampak begitu kesal. "Eh, kok masih berdiri di situ"" tanyanya dengan alis yang tampak merapat.
"Maaf Non... ! Kok dibawa ke kamar semua, bagian saya mana, Non"" tanya si pembantu dengan wajah yang masih saja mesam-mesem.
Yuli tidak menjawab, dia malah berdiri dengan santainya, kemudian menatap si Pembantu dengan mata melotot. "Eh... kalau tidak bisa diam, nanti akan kujahit mulutmu. S
ekarang cepat bawa barang-barang itu ke kamar!" seru Yuli marah. "O ya, setelah itu tolong siapkan air hangat di bak mandi! Jangan lupa dengan aroma terapinya! " lanjutnya kemudian.
Tanpa menunggu lagi, si pembantu segera membawa barang-barang itu, sedangkan Yuli tampak sudah duduk kembali dan mulai membaca majalahnya. "Maaf, Mang! Selama ini aku selalu berkata kasar padamu, habis kau selalu membuatku kesal sih," ucap Yuli dalam hati.
Seketika gadis itu teringat dengan koin emas yang ditemukannya, lalu dengan serta-merta gadis itu mengamatinya dengan penuh seksama. "Hmm... apa ya arti tulisan ini" Kalau dilihat dari hurufnya, sepertinya menggunakan huruf palawa" Dan sepertinya berasal dari jaman Kerajaan. Tapi, Kerajaan apa ya""
Yuli terus memperhatikan koin itu, "Hmm... apa sebaiknya hal ini kutanyakan pada kakekku" Bukankah dia paham betul dengan hal-hal yang seperti ini. Baiklah, Besok pagi aku akan berangkat menemuinya." Setelah berkata begitu, Yuli segera menyimpan koinnya, kemudian bergegas ke kamar mandi dan berendam menikmati aroma terapi.
Malam harinya, sekitar pukul sembilan, di dalam sebuah kamar yang bersih dan tertata rapi. Seorang wanita baru saja mengenakan pakaian tidurnya. Dialah sekretaris Pak Heru yang bernama Bu Siska. Kini dia tampak memandang ke arah lukisan yang tergantung di dinding, sepertinya dia benar-benar mengagumi keindahannya yang begitu menyejukkan mata. Lukisan dengan objek wanita cantik itu memang belum lama dia beli, dan dia sangat bangga memilikinya. Wanita di lukisan itu mengenakan gaun hijau dan memakai perhiasan yang begitu cantik, dia sedang tersenyum sambil memegang setangkai mawar merah.
Setelah puas menikmati lukisan itu, Bu Siska langsung duduk di depan meja rias yang dipenuhi dengan peralatan make up dan produk perawatan kulit. Kini dia mulai berkaca sambil mengenakan cream malam yang berguna untuk menjaga kelembapan kulit, setelah itu merebahkan diri di tempat tidur untuk melepaskan segala rasa letihnya. Tempat tidurnya sangat indah, modelnya berbentuk klasik dengan sentuhan warna emas yang menawan.
Baru saja Bu Siska memejamkan mata, tiba-tiba terdengar alunan nada indah yang dimainkan begitu apik, iramanya pun terdengar sangat menyayat hati. Rupanya suara merdu denting piano itu terdengar dari ruang tengah rumahnya. "Hmm... siapa yang bermain piano seindah ini, apakah Bapak yang memainkannya"" tanya Bu Siska dalam hati. Kemudian wanita itu duduk di tepi tempat tidurnya.
"Hmm... bukankah Bapak akan kembali besok. Tapi, kenapa sekarang sudah kembali"" Bu Siska kembali bertanya. Kemudian wanita itu segera berdiri dan melangkah ke pintu kamar.
Ketika baru membuka pintu, mendadak alunan nada yang terdengar merdu itu berhenti. Betapa terkejutnya Bu Siska ketika melihat di depan piano tidak ada siapa-siapa. "Pak! ...Pak!" Panggilnya dengan suara yang agak keras. Bu Siska tampak mencari suaminya sampai ke semua ruangan, namun dia tidak menjumpainya.
Kini wanita itu duduk di sofa ruang tengah dengan wajah yang sedikit bingung. "Aku heran, siapa sebenarnya yang memainkan piano tadi"" tanya Bu Siska dalam hati.
Belum hilang rasa herannya, tiba-tiba lampu di ruangan itu tampak bergoyang-goyang. Bu Siska pun segera memalingkan pandangannya ke arah bola lampu yang kini semakin keras bergoyang. Bu Siska tampak terpaku-wajahnya yang cantik tampak begitu tegang. "A-ada apa ini. Kenapa dengan lampu itu"" tanyanya penuh keheranan.
Tiba-tiba suara piano kembali berbunyi, kemudian diikuti dengan bergeraknya benda-benda yang ada di ruangan itu. Tak ayal, Bu Siska ketakutan bukan kepalang, kemudian berteriak histeris sambil menutup kedua telinganya. Tak lama kemudian, suasana menjadi tenang kembali. Pada saat yang sama, Bu Siska segera berlari memasuki kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Kini Bu Siska tampak bersandar di daun pintu sambil menarik nafas panjang, kemudian menghembuskan dengan sangat cepat. Baru saja ketegangannya mereda, tiba-tiba lukisan wanita cantik yang tergantung di kamarnya tampak bergerak-gerak. Seketika Bu Siska terkejut seraya memandang ke arah lukisan
itu, kemudian lukisan itu mendadak kembali terdiam. Lantas dengan penuh rasa penasaran, Bu Siska melangkah mendekati lukisan itu.
Dengan perasaan was-was, Bu Siska terus melangkah. Dan ketika dia sudah bengitu mendekat, tiba-tiba lukisan itu berbicara kepadanya. "Siskaaa, kenapa kau tegaaa"" tanya wanita di lukisan itu dengan suara yang terdengar begitu parau.
Lagi-lagi Bu Siska terkejut bukan kepalang, seketika itu juga bulu kuduknya langsung berdiri. Kantas dengan serta-merta dia berlari ke pintu dan langsung memutar anak kuncinya. Namun ketika hendel pintu ditarik, ternyata pintu itu tak bisa dibuka. Mengetahui itu, Bu Siska langsung panik, dia pun berusaha menariknya dengan sekuat tenaga. Tapi sayangnya perbuatan itu sia-sia belaka, pintu tersebut tetap tidak bisa dibuka.
Kini Bu Siska kembali bersandar di daun pintu, matanya kembali memandang ke arah lukisan. Pada saat itu, tiba-tiba saja wanita yang ada di lukisan tadi kembali bicara, "Siskaaa... kenapa kau begitu jahat"" tanyanya dengan suara yang lebih keras, dan tiba-tiba semua benda yang ada di ruangan itu tampak mulai bergerak-gerak.
Tak ayal, saat itu wajah Bu Siska tampak semakin pucat, bibirnya bergetar dan jantung kian berdegup kencang. "Si-si-siapa kau"" tanya Bu Siska dengan terbata-bata.
"Aku Yanaaa Sisss, aku Yana-istri Brandeeen."
"Ja-ja-jadi ka-ka-kau, Yana"" Bu Siska tampak semakin ketakutan, dia benar-benar tidak menyangka kalau yang sedang berbicara kepadanya adalah Yana-mendiang istri pria yang ingin ia celakai. Saat itu juga tubuh Bu Siska langsung lemas, dia terduduk di lantai dengan tubuh masih bersandar di daun pintu.
"Siska, ketahuilah! Aku datang cuma untuk memperingatkanmu. Jika kau masih meneruskan niat jahatmu itu, aku tidak segan-segan untuk membunuhmu," ancam Yana tidak main-main.
Bu Siska tidak berkata-kata, dia tampak diam seribu bahasa. Tak lama kemudian, lukisan itu kembali seperti wujudnya semula. Suasana di kamar itu pun akhirnya mulai tenang kembali. Pada saat itu, Bu Siska tampak belum juga bangkit dari duduknya, dia masih tak kuasa untuk berdiri, semua persendiannya terasa lemas dan tak bertenaga.
Sementara itu di tempat lain, Pak Heru tampak sedang sendirian di rumahnya. Dia sedang beristirahat di ruang tengah sambil menyaksikan pertandingan sepak bola. Sejenak lelaku itu melirik ke arah jam dinding, dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Tak lama kemudian, dia sudah kembali menyaksikan pertandingan yang tampaknya begitu seru.
Ketika sedang seru-serunya menyaksikan pertandingan antara Intermilan melawan Manchester United, tiba-tiba lampu di ruangan itu tampak berkedip-kedip, seperti mau putus. Pak Heru agak merasa terganggu dengan kejadian itu, matanya tampak memperhatikan bola lampu yang kini masih saja berkedip-kedip. Tak lama kemudian, lampu itu menyala seperti sediakala. Kini mata Pak Heru kembali tertuju ke layar televisi.
"Goaaal, goaaal..." teriaknya, menyoraki sang bintang favorit yang mempecundangi pertahanan lawan dengan tendangan yang begitu indah.
Di layar kaca, sang Bintang favorit tampak berlari ke tepi lapangan dan bergaya atas keberhasilannya itu. Sorak-sorai penonton tampak riuh menyambutnya dengan suka-cita. Saat itu Pak Heru begitu gembira akan keberhasilan tim favoritnya yang sudah menduduki score 2-1. Tayangan gerak lambat pun segera diputar-disaat sang bintang beraksi ketika menjebol pertahanan lawan. Namun ketika sedang menyaksikan detik-detik indahnya sang Bintang beraksi, tiba-tiba televisinya padam dengan sendirinya. Pak Heru merasa kesal sekali, dia menduga yang baru saja terjadi dikarenakan sleep mode yang dalam keadaan aktif. Lalu dengan segera dia mengambil remote untuk menyalakannya kembali. Namun ketika tombol power ditekan, ternyata televisinya masih tidak mau menyala. Pak Heru semakin kesal, dia tampak menekan tombol itu berkali-kali. Namun sayangnya usaha itu sia-sia belaka, televisinya tak kunjung bisa menyala.
Kini Pak Heru melangkah mendekati televisi dan menekan tombol power-nya, namun televisi itu masih juga tak mau menyala. "Sial... kenapa dengan televisiku
"" gerutunya kesal seraya kembali ke tempat duduk.
Begitu dia hendak duduk, tiba-tiba lampu di ruangan itu kembali berkedip-kedip. Seketika Pak Heru berpaling, memperhatikan bola lampu yang masih berkedip-kedip. "Hmm... Ada apa ya" Apakah bola lampu itu memang sudah mau putus"" tanya lelaki itu dalam hati seraya melangkah untuk melihatnya dari dekat.
Ketika sedang mengamatinya, mendadak bola lampu itu menyala terang dan semakin terang. Sampai akhirnya bola lampu itu meledak dengan diiringi suara yang cukup keras, sebagian pecahannya tampak mengenai wajah Pak Heru.
Saat itu Pak Heru sangat terkejut, dan tiba-tiba saja dia merasakan perih di wajahnya. Lantas dengan segera dirabanya bagian wajah yang terasa perih itu, "Oh tidak, wajahku..." ucap Pak Heru yang melihat darah tampak menempel di telapak tangannya.
Mengetahui itu, Pak Heru buru-buru ke kamar mandi. Kini dia sedang bercermin, mengamati luka-lukanya yang tampak tidak begitu parah. Beberapa goresan kecil tampak menghiasi wajahnya yang putih bersih. Ketika sedang serius mengamati luka-lukanya, tiba-tiba saja sesosok wajah mengerikan tampak muncul di cermin tersebut. Wajah itu tampak begitu pucat, kedua matanya tampak melotot disertai gigi runcing yang menyeringai kepadanya. Tak ayal, seketika itu juga Pak Heru langsung mundur ke belakang, jantungnya berdebar kencang, bersamaan dengan bulu kuduknya yang berdiri seketika. Tiba-tiba wajah menyeramkan itu kembali menghilang. Kini Pak Heru hanya melihat dirinya sendiri yang tampak begitu tegang.
"A-apakah yang kulihat tadi itu hantu" Atau itu cuma hayalanku saja"" tanya Pak Heru sambil terus memandang ke cermin dan sesekali mengucek-ngucek kedua matanya.
"Hmm... mungkin itu memang cuma hayalanku saja. Semua ini akibat aku terlalu banyak nonton film horror," duga Pak Heru seraya kembali maju ke depan cermin dan mulai membasuh wajahnya di wastafel. Bersamaan dengan itu, air yang sejuk terasa meredakan ketegangannya.
Pak Heru terus membasuh wajahnya, hingga akhirnya, "Da-da-darah..." ucapnya penuh ketakutan. Saat itu air yang digunakannya tiba-tiba telah berubah menjadi darah yang begitu kental.
Tak ayal, jantung Pak Heru kembali berdegup kencang, nafasnya pun tampak tersengal-sengal. "Tidak, ini bukan hayalan, ini benar-benar nyata," kata lelaki itu seraya berlari ke arah pintu dan membukanya lebar-lebar.
Ketika daun pintu itu terbuka lebar, dilihatnya sesosok wanita yang tadi ada di cermin kini tengah menghadang jalannya. Saat itu Pak Heru tampak terpaku, matanya terbelalak dengan mulut yang menganga lebar. Sungguh dia tidak mengerti dengan apa yang ada dihadapannya.
Kini sosok wanita itu tampak memandangnya dengan penuh amarah, giginya yang runcing tampak menyeringai seram. Tak ayal, saat itu tubuh Pak Heru langsung gemetar menyaksikan sosok menyeramkan yang kini mulai menghampirinya.
"Pak Heruuu!" seru sosok menyeramkan itu dengan suara yang begitu parau.
"Ti-ti-tidaaak!!! Pergi kau!" teriak Pak Heru seraya melangkah mundur.
Sosok menyeramkan itu terus melangkah mendekati Pak Heru, sedangkan kedua tangannya tampak dijulurkan ke depan. Saat itu Pak Heru terus mundur hingga ke dalam kamar mandi, namun sosok wanita menyeramkan itu terus mengikutinya. Hingga akhirnya, Pak Heru sudah tidak bisa kemana-mana, langkahnya sudah terhalang oleh tembok kamar mandi.
"Ke-ke-kenapa kauganggu aku" Si-si-siapa kau sebenarnya"" tanya Pak Heru dengan suara yang terbata-bata.
"Aku Yana... istri Branden yang sudah meninggal dunia. Aku kemari untuk memperingatimu agar menghentikan niat jahatmu itu," jelas Yana dengan suara serak yang datar.
Seketika Pak Heru merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya, lalu dari celananya tampak mengalir air seni yang membasahi lantai. "Ba-ba-baik, a-a-aku tidak akan melaksanakan niat ja-ja-jahatku ke-ke-kepada Branden," janjinya dengan ucapan yang kian terbata-bata dan dengan wajah yang tampak begitu pucat.
Setelah Pak Heru berjanji, sosok wanita itu mendadak lenyap dari pandangan. Pada saat itu, Pak Heru tampak masih terduduk di lantai, tubuhnya terasa lemas dengan nafas yang tak beraturan
. "Kenapa jadi begini!!!" teriaknya penuh penyesalan.
Tujuh Esok harinya, Rani yang baru pulang sekolah tampak memasuki pekarangan rumahnya dengan agak tergesa-gesa. Maklumlah, cuaca memang terasa cukup panas, sinar matahari yang tidak bersahabat terasa begitu menyengat kulit. Hal itulah yang membuat gadis itu ingin cepat tiba di rumah, berada di bawah naungan atapnya yang teduh.
Kini gadis itu sudah berada di ruang tamu, kakinya yang semampai tampak diselonjorkan di atas meja, santai sekali. Rani terus melepas lelah sambil menikmati es kelapa muda yang dibelinya di warung Bu Ijah. Setelah rasa lelahnya hilang, Rani pun segera ke ruang makan untuk menikmati makan siang yang dibelinya dari rumah makan langganannya.
Selesai makan, Rani tampak kembali ke ruang tamu. Kini dia sedang duduk di tempat itu sambil membaca sebuah majalah. Beberapa menit kemudian, dia tampak melangkah ke kamar ayahnya. Ketika sedang membersihkan dan merapikan ruangan itu, tiba-tiba saja matanya tertuju pada sepucuk surat berwarna biru yang tergeletak di atas meja kecil. Lalu dengan serta-merta diambilnya surat itu dan diamati dengan penuh seksama. Surat itu sama sekali tidak mencantumkan identitas pengirim. Selain itu, surat tersebut juga tidak menggunakan prangko.
"Aneh!" kata Rani dalam hati seraya mengeluarkan isi surat itu. Tak lama kemudian, dia sudah duduk di tepi tempat tidur sambil mulai membacanya. "Jangan takut... aku bukan mau mengganggumu. Aku cuma mau memberitahumu perihal Jodi. Begini Sayang... sebenarnya pemuda yang kau bangga-bangga itu tak lebih hanya pemuda busuk yang seharusnya mati di tanganku. Tapi aku tidak melakukan itu, aku cuma memberinya pelajaran dan memperingatinya agar tidak mendekati Rani lagi. Seandainya dia berani coba-coba untuk melanggar, aku tidak segan-segan untuk membunuhnya. Mulai sekarang, awasi putrimu itu dan jangan biarkan dia menemui Jodi."
Begitulah isi surat yang dibaca Rani. Dan hal itu membuatnya merinding ketakutan. Dengan perasaan yang masih diselimuti rasa takut, Rani segera memasukkan surat itu ke amplopnya lagi, kemudian meletakkannya kembali di atas meja.
Sejenak Rani menatap surat itu, lalu dengan segera beranjak ke teras depan. Kini dia merasa takut jika harus berada di dalam rumah. Hal itu dikarenakan surat yang baru dibacanya, ditambah lagi dengan bayang-bayang kejadian dua hari yang lalu- serentetan peristiwa yang selalu membuat Rani merinding bila mengingatnya.
Kini gadis itu sudah duduk di kursi teras sambil memikirkan isi surat yang baru dibacanya, kemudian mencoba menghubungkannya dengan peristiwa malam itu. "Hmm... apakah kejadian malam itu ulah orang yang mengirim surat pada Ayah" Sebenarnya siapa dia, kenapa dia menyuruh ayahku untuk menjauhkanku dari Jodi" Apakah dia wanita yang waktu itu menemui Ayah" Hmm... mungkinkah Ayah mempunyai hubungan khusus dengannya" Kalau begitu, benar juga yang dikatakan Jodi waktu itu. Tapi kenapa..."" Rani terus bertanya-tanya dalam hati.
Kini Rani teringat ketika Jodi mengatakan perihal sesuatu yang tidak beres di rumahnya, dan semua itu karena ulah tukang sihir yang tidak mau menghendaki hubungan mereka. Rani tampak semakin bingung, dia terus berpikir di dalam rasa takut yang kian menyelimuti. Sesekali dia menatap ke sekelilingnya, bahkan dia sudah siap lari jika terjadi sesuatu di rumah itu.
Rani masih memikirkan semua peristiwa yang membingungkan itu, hingga akhirnya dia mendengar langkah kaki di dalam rumahnya. Lantas dengan serta-merta dia memusatkan pendengarannya, namun suara itu tak terdengar lagi. Karena penasaran, Rani segera mengitip ke dalam rumah melalui kaca depan yang gordennya sedikit terbuka, kedua matanya tampak dibuka lebar-lebar-mencari siapa yang ada di dalam.
"Hmm... sepertinya, tadi memang ada orang," gumam Rani seraya terus memperhatikan ke dalam rumah.
Mendadak dia melihat sekelebat bayangan putih yang melayang cepat memasuki kamar ayahnya. Mengetahui itu, seketika bulu kuduk Rani berdiri, kemudian dengan serta-merta dia berlari ke jalan raya tanpa berani menengok ke belakang sedikitpun.
Kini gadis itu sudah b erada di tepi jalan dengan wajah yang sangat ketakutan, saat itu dia sudah tidak berani kembali ke rumah. Pada saat yang sama, sebuah angkot tampak melintas di jalan tersebut. Melihat itu, wajah Rani tampak berseri-seri, dia menduga ayahnya pasti berada di angkot tersebut. Namun dugaannya itu ternyata meleset, angkot itu terus berlalu dan akhirnya menghilang di kejauhan.
"Kenapa Ayah belum pulang"" tanya Rani sambil memberanikan diri memandang ke arah rumahnya yang tampak begitu sepi. Saat itulah, tiba-tiba dia merasakan sebuah sentuhan pada pundaknya. Tak ayal, Rani langsung terpekik sambil membalikkan badannya. "Aduh, Ayah...! Ayah membuatku kaget saja," ucap Rani sambil menepuk-nepuk dadanya perlahan.
"Sedang apa kau di sini, Nak"" tanya sang Ayah.
Rani tidak menjawab, dia tampak tersenyum lebar karena ayahnya sudah pulang. "Ayah pulang jalan kaki ya"" tanyanya kemudian.
"Tidak. Ayah pulang naik angkot."
"Angkot yang barusan lewat itu""
"Iya... memangnya kenapa""
"Kok Rani tidak melihat Ayah."
"O... itu karena Ayah memang tidak turun di sini. Tadi Ayah sengaja turun di depan warung Bu Ijah untuk membeli rokok."
"O, begitu... " ucap Rani mengangguk-angguk.
Pada saat itu Branden tampak menggandeng lengan Rani, "Ayo, Nak. Kita masuk!" ajaknya kemudian.
Saat itu Rani tampak enggan, dia menatap ayahnya dengan penuh rasa cemas, kemudian pandangannya beralih ke arah rumah yang tampak begitu sepi.
Mengetahui tingkah putrinya yang demikian, Branden tampak heran, kemudian dia menduga pasti yang tidak beres di rumah itu-sesuatu yang membuat Rani takut. Sejenak Branden menatap ke arah rumahnya, melihat apa yang sedang diperhatikan putrinya. "Hmm... tidak ada yang mencurigakan. Sebenarnya apa yang membuatnya takut"" tanya Branden dalam hati.
Kini Branden tampak memperhatikan putrinya yang sedang menatap ke ujung jalan. "Ayo Rani. Kenapa kau masih berdiri di situ" Bukankah sebaiknya kita masuk ke dalam!" ajaknya sekali lagi.
Rani menggeleng. "Biar Rani di sini saja Ayah," ucapnya pelan.
"Kau ini bagaimana sih" Lihatlah! Hari sudah semakin gelap. Apa kau mau terus berdiri di tempat ini"" tanya Branden.
Lagi-lagi Rani menggeleng.
"Nah, kalau begitu ayo kita masuk!" ajak Branden
lagi. Rani tampak menatap ayahnya. "Baiklah, Ayah. Tapi, biarkan Rani berjalan di belakang Ayah!" pintanya berharap.
Branden setuju. Dia segera melangkah ke teras dengan hati-hati, sementara itu Rani tampak mengekor di belakangnya.
Kini lelaki itu sedang membuka pintu rumah dengan sangat perlahan, kemudian melongok ke dalam dengan was-was. "Hmm... tidak ada apa-apa," kata Branden dalam hati seraya mulai melangkah masuk.
Sementara itu, Rani yang masih mengekor di belakangnya tampak mengamati ruangan itu dengan penuh rasa cemas. "Ayah.!" serunya tiba-tiba.
Branden agak terkejut mendengar suara Rani. "Ada apa, Sayang..."" tanya lelaki itu seraya menoleh ke belakang-memandang wajah putrinya yang terlihat begitu cemas. "Sebenarnya ada apa denganmu, Nak" Tidak biasanya kau seperti ini. "
"Rani takut, Ayah. Rani takut."
"Takut..."" Branden tampak mengerutkan keningnya, kemudian duduk bersantai di sofa. "Ya sudah, kalau begitu kenapa kau masih berdiri di situ" Mari sini, duduk dekat Ayah!" sambungnya kemudian.
Rani menurut, dia segera melangkah dan duduk di sisi ayahnya. "Ayah, surat itu dari siapa"" tanya Rani tiba-tiba.
"Su-surat... surat yang mana"" tanya Branden tidak mengerti.
"Itu, Yah. Surat yang tergeletak di meja kecil di kamar Ayah," jelas Rani.
"Ja-jadi kau sudah membacanya"'
Rani mengangguk. "Ayo, Yah. Lekas katakan!" desaknya kemudian.
Branden memandang putrinya, raut wajahnya seperti sedang berpikir. "Tidak! Aku tidak boleh mengatakannya, dia belum siap untuk mengetahui semua hal yang telah terjadi di rumah ini," kata Branden dalam hati.
"Siapa yang mengirim surat itu, Ayah..."" tanya Rani sekali lagi.
"Begini Sayang... sebaiknya kau lupakan saja perihal surat itu. Ayah sendiri juga tidak tahu siapa pengirimnya. Semula Ayah juga bingung ketika membacanya, apa lagi sampai membawa-bawa nama Jodi segala. Tapi sekarang, Ayah
sudah tidak memikirkannya lagi. Ayah menganggap semua itu merupakan pekerjaan orang iseng yang mau merusak ketenteraman keluarga kita," jawab Branden. "O ya, apa kau sudah makan"" tanya lelaki itu kemudian, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Rani tidak menjawab, dia tampak menunduk sambil meremas jemari di pangkuannya.


Misteri Kehadiran Arwah Karya Bois di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"O ya, bagaimana tentang Jodi. Apa kau sudah bertemu dengannya"" tanya Branden lagi.
Rani tetap membisu, dia tidak mau menjawab pertanyaan ayahnya selama sang Ayah belum menjawab pertanyaannya dengan jujur. Saat itu dia menduga ayahnya telah berbohong, sehingga dia tidak mau menerima penjelasan yang baginya terkesan menutup-nutupi.
Kini Rani kembali melemparkan kalimat-kalimat yang disangkanya bisa membuat sang Ayah menyerah dan akhirnya mau menjelaskan semua kejadian aneh yang selama ini dialaminya. Tapi Rani salah duga, ternyata sang Ayah selalu memberikan jawaban yang sama. Karena tak juga mendapatkan jawaban yang memuskan, akhirnya Rani menyerah, dia tampak melangkah ke teras depan dengan perasaan kecewa. Pada saat yang sama, Branden tampak beranjak bangun dan mengikutinya.
Kini keduanya sudah duduk di kursi teras dan saling membisu. Setelah cukup lama membisu, akhirnya Rani mulai bersuara, dia segera menceritakan kejadian yang membuatnya bersikeras ingin mengetahui penjelasan dari ayahnya.
"Ayah. Tadi, ketika Rani sedang membersihkan kamar Ayah, Rani melihat surat itu dan membaca isinya. Isi surat itu telah membuat Rani begitu merinding. Orang yang menulis surat itu mengancam akan membunuh Jodi jika dia berhubungan dengan Rani, dan ketika Rani sedang duduk memikirkan masalah itu di sini, tiba-tiba Rani mendengar langkah kaki di dalam rumah. Ketika Rani mengintip ke dalam, Rani sempat melihat ada sekelebat bayangan yang melesat memasuki kamar Ayah. Kontan saja Rani ketakutan dan melarikan diri ke jalan raya," cerita Rani dengan sedikit takut karena mengingat kejadian yang dialaminya.
Setelah mendengar cerita itu, Branden langsung merenung. Di hatinya ada perasaan kecewa yang sangat mendalam, kekecewaan terhadap sosok istrinya yang selalu datang menghantui mereka. Hingga saat ini Branden masih belum mengerti, kenapa mendiang istrinya itu selalu datang mengganggu Rani, kenapa belakangan ini dia selalu membebani pikiran putrinya dengan membuat keganjilan-keganjilan di rumah itu. Walaupun sebenarnya Branden masih kurang yakin kalau itu adalah arwah istrinya, sebab baru-baru ini dia mengetahui tentang adanya jin pendamping yang biasanya suka menyerupai orang yang sudah meninggal. Karenanyalah Branden masih saja bingung dengan semua perkara itu sehingga dia tidak berani memastikan apakah itu memang arwah Yana atau cuma Jin pendampingnya.
Kini Branden menatap putrinya dengan penuh perhatian, kemudian menggenggam tangannya lembut. "O ya, Sayang. Tadi Ayah dapat surat dari Jodi," ucapnya seraya mengambil surat yang di maksud dan memberikannya kepada Rani.
"Terima kasih, Ayah!" ucap Rani senang karena menerima surat dari kekasihnya. "O ya, Ayah. Apakah Ayah berjumpa dengan dia"" tanya Rani bersemangat.
"Tidak, surat itu dititipkan lewat teman kerja Ayah."
Rani tampak mengangguk-angguk. "O ya, Ayah. Sekarang Rani mau ke kamar untuk membaca surat ini," katanya kemudian.
"Iya, Sayang... " ucap Branden seraya memperhatikan kepergian putrinya.
Kini Rani sudah berada di dalam kamarnya. Dia sedang duduk di tepi tempat tidur sambil membuka surat dari Jodi. Saat itu dia merasa begitu senang, bahkan wajahnya yang semula murung kini tampak berseri-seri, sepertinya dia sudah lupa dengan segala kejadian yang telah membuatnya takut. Namun ketika dia membaca isi surat itu, mendadak raut wajahnya berubah sedih. Kemudian di susul dengan air mata yang berderai melewati pipinya yang mulus.
"Jo kenapa kau tega memutuskanku. Apa benar semua itu karena orang tuaku yang tidak merestui hubungan kita""
Rani terus menangis dan menangis. Sungguh dia sangat kecewa dengan keputusan itu dan tidak bisa menerimanya begitu saja. Setelah meletakkan surat yang baru dibacanya, Rani segera beranjak bangun. Kemudian melangkah ke sebua
h meja kecil dan mengambil foto Jodi yang terpajang di meja itu. Sesaat dia pandangi foto itu dengan air mata yang terus berderai.
Kini gadis itu sudah kembali ke tempat tidur, tubuhnya tampak tertelungkup dengan kedua tangan yang memegang bingkai foto. Matanya yang basah terus memandangi foto Jodi yang sedang tersenyum, "Jodi...maafkan ayahku! Aku sama sekali tidak mengerti mengapa Ayah tidak merestui hubungan kita" Padahal, semula beliau sangat merestuinya. Belakangan ini sikap beliau memang agak aneh, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Jo... terus terang aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku benar-benar menyesal karena kita harus berpisah dengan cara seperti ini, dan yang aku sangat sesalkan, semua ini adalah lantaran ulah ayahku. Beliau pasti melakukannya atas permintaan orang misterius yang hingga kini masih membuatku bingung."
Rani terus membatin dengan segala duka-laranya, air matanya selalu berderai jikalau mengingat kembali masa-masa indah bersama Jodi, sepertinya dia tidak sanggup untuk berpisah dengan pria yang begitu dicintainya.
Rani membaca surat Jodi sekali lagi, kemudian kembali memandangi foto kekasihnya dengan tangis yang tak kunjung henti. Hingga akhirnya Rani tertidur sambil memegang foto Jodi di dadanya.
Esok harinya, Rani seperti enggan ke sekolah. Harapan akan masa depannya yang gemilang telah sirna seketika. Semenjak menerima surat itu, Rani memang tidak mempunyai gairah untuk hidup. Bahkan di benaknya terbayang sudah kehidupannya yang terasa begitu hampa, sehingga dia pun merasa tidak mungkin sanggup untuk melaluinya. Namun, bisikan nuraninya terus meminta untuk melupakan semua itu, memintanya untuk tetap menjalani kehidupan seperti apa adanya. Hingga akhirnya, Rani mau mendengarkan kata hatinya itu. Walau terasa berat, dia mau juga berangkat ke sekolah.
Di sekolah, Rani masih saja terlihat murung. Semua pelajaran sama sekali tak bisa diserapnya,
semua telah terkubur oleh kuatnya kekecewaan yang mendalam. Setelah pulang sekolah, gadis itu tidak langsung pulang ke rumah. Dengan berjalan kaki, dia terus melangkah tanpa tujuan. Di benaknya terus terbayang akan kemalangan yang telah menimpanya. Setelah jauh melangkah, akhirnya Rani sampai di sebuah rel kereta api dua jalur. Tiba-tiba Rani menghentikan langkahnya, di kejauhan terlihat sebuah KRL (kereta rel listrik) yang akan melintas.
Rani tampak terpaku ketika Ular besi itu melintas di hadapannya, hembusan anginnya terasa keras menerpa. Ular besi itu memang tampak perkasa, kokoh dan begitu kuat. Berdiri di sampingnya saja sudah sangat menggetarkan jiwa, apa lagi jika berada dihadapannya. Begitulah yang ada di benak Rani akan keperkasaan si Ular besi, dan mendadak dia tersadar, dilihatnya KRL sudah pergi menjauh. Kini Rani melanjutkan langkahnya untuk menyeberang, namun ketika dia berada di tengah-tengah rel, tiba-tiba langkahnya terhenti. Kini segala keperkasaan tentang si Ular besi kembali hadir di benaknya, kemudian timbullah sebuah niat untuk melepaskan segala penderitaannya.
Lantas dengan langkah gontai namun pasti, Rani mulai berjalan menyusuri rel kereta api, dia berjalan searah dengan KRL yang baru saja melintas. Rani terus melangkah dan melangkah, sedang di hatinya terus merasakan penderitaan yang teramat sangat. Seolah pikirannya tak mau lepas dari bayang-bayang masa lalu, masa-masa indah ketika bersama sang Kekasih, masa-masa yang tidak mungkin akan terulang lagi.
Rani terus melangkah menyusuri rel yang lurus. Saat itu dia berharap sebuah KRL akan muncul di belakangnya dan menabraknya hingga hancur berkeping-keping, kemudian berakhirlah segala penderitaannya yang teramat pedih. Berakhir dengan cepat, secepat lepasnya nyawa dari raga. Tak lama kemudian, sebuah KRL datang dari arah belakang, klaksonnya terdengar meraung-raung-memperingati akan keperkasaan si Ular besi yang tidak main-main dengan segala yang ada di depannya. Rani sadar akan hal itu, tapi dia justru merasa senang karena sebentar lagi semua penderitaannya akan berakhir dengan cepat.
KRL terus melaju mendekati Rani, hingga akhirnya jarak kematian ting
gal satu meter lagi. Di saat detik-detik kematian itu, tiba-tiba sesosok tubuh tegap melompat cepat dan menyambar tubuh Rani hingga akhirnya keduanya tampak bergulingan di atas kerikil, sedangkan si Ular besi terus melintas dengan segala keperkasaannya-dia terus menjauh seakan tidak peduli dengan semua itu. Pada saat yang sama, Rani terlihat sudah berdiri sambil membersihkan kotoran yang menempel di tubuhnya, sedangkan orang yang mendorongnya tampak berdiri di sampingnya dengan raut wajah yang begitu serius.
"Dasar manusia tidak berakal! Jika kau ingin mati jangan di hadapan aku dong!" maki orang itu. "Terus terang, aku sudah pernah melihat orang mati tertabrak kereta. Tubuhnya hancur berkeping-keping, sungguh mengenaskan. Aku tidak mau melihat hal seperti itu untuk yang kedua kalinya," cerita orang itu dengan nada marah.
Rani tidak berkata-kata, dia hanya mendengarkan orang itu terus berbicara, sedangkan kedua matanya tampak menatap wajah tampan yang masih saja terlihat serius. Dia benar-benar tidak menduga kalau usahanya itu telah membuat pemuda itu begitu gusar.
"Paham kau"" tanya pemuda itu mengakhiri omelannya.
"Maaf kalau tadi aku telah merepotkanmu!" ucap Rani menyesal.
Mendengar itu, Pemuda tadi segera meredakan nada bicaranya. "Kenapa kau ingin bunuh diri"" tanyanya prihatin.
Rani tidak menjawab, dia justru meneteskan air matanya. Melihat itu, si pemuda kembali bicara, "Maaf kalau pertanyaanku tadi membuatmu sedih! Terus terang, sebenarnya aku tidak mau mencampuri masalahmu. Namun karena perbuatanmu tadi, rasanya aku perlu membantumu. Tapi kalau kau merasa aku ini bukan orang yang pantas, aku tidak akan memaksa. Aku sarankan, carilah orang yang bisa membantumu untuk menyelesaikan masalahmu. Bunuh diri bukanlah cara menyelesaikan masalah, hal itu justru akan membuatmu semakin menderita di alam sana. Mengerti"" tanya pemuda itu kepada Rani yang masih saja tertunduk sedih. "Baiklah... kalau begitu aku pergi sekarang," pamit pemuda itu seraya melangkah pergi.
"Tunggu, Kak!" tahan Rani tiba-tiba.
Mendengar itu, si pemuda langsung menoleh dan segera menghampiri Rani. "Ada apa"" tanyanya pelan.
"Begini Kak. Sebenarnya..." Rani menggantung kalimatnya.
Pemuda itu segera menggenggam tangan Rani seraya berkata, "Ayo katakan saja! Kau tidak perlu sungkan padaku. Aku sungguh-sungguh akan membantumu, percayalah!"
"Begini Kak. Se-sebenarnya aku sedang patah hati. Aku merasa kehidupanku begitu berat dan penuh dengan penderitaan, sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi hidup di dunia ini," cerita Rani lirih.
"Hmm... begitu. Jadi kaupikir dengan bunuh diri bisa menghilangkan penderitaanmu, begitu""
Rani mengangguk. "O ya, kenalkan. Namaku 'Bobby'. Siapa namamu"" tanya pemuda itu lagi. "Aku 'Rani'."
"Hmm... 'Rani' nama yang bagus," puji Bobby. "O ya, bagaimana kalau kita bicara di warung itu" Di sana kita bisa bicara sambil menikmati es kelapa muda."
Rani tertunduk, sepertinya dia enggan mengikuti keinginan pemuda itu.
"Ayolah! Kau tidak perlu sungkan. Bukankah akan lebih enak kalau kita bicara sambil duduk dan minum es kelapa muda," desak Bobby.
Rani menatap pemuda itu, lalu mengangguk pelan. Tak lama kemudian, mereka sudah melangkah ke warung yang dimaksud. Kini mereka sedang duduk di warung sambil menikmati es kelapa muda yang begitu segar. Pada saat itu, Bobby mulai menanyakan kembali perihal keinginan Rani untuk bunuh diri, kali ini Rani menceritakannya dengan lebih rinci.
"Rani... dengar ya! Sebenarnya bunuh diri itu tidak akan mengakhiri penderitaanmu. Hal itu justru akan membuatmu semakin menderita. Di akhirat nanti, kau pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Ketahuilah, kalau setiap manusia yang hidup pasti akan mempunyai masalah, dan masalah itulah yang akan membuatnya semakin mengerti akan arti kehidupan. Sebagai manusia, kita dituntut untuk menyelesaikan segala masalah dengan cara yang baik, dan itulah hidup yang sesungguhnya. Kita sebagai manusia sengaja dikaruniai perangkat yang begitu kompleks karena untuk merasakan kehidupan. Apalah jadinya jikalau hidup tanpa mempunyai masalah, tentunya akan
terasa hambar bukan" Kita merasa bahagia karena ada sedih, kita merasa mudah karena ada susah. Coba renungkan, seseorang yang ditinggal pergi oleh kekasihnya tentu akan sedih sekali, namun begitu dia bertemu kembali, kebahagiaan pun tak kan terelakkan. Satu lagi, seseorang yang mendapat sesuatu dengan cara bersusah payah pasti hasilnya akan dirasakan berbeda jika dibandingkan dengan orang yang mendapatkannya dengan cara mudah. Orang yang bersusah payah akan mendapatkan kepuasan tersendiri daripada yang mendapatkannya dengan cara mudah. Sebenarnya masih banyak lagi liku-liku kehidupan yang sebenarnya akan membuat kita lebih menghargai hidup itu sendiri, dan itulah yang dinamakan asam garam kehidupan yang akan membuat kehidupan kita menjadi lebih nikmat," jelas Bobby panjang lebar.
Rani terdiam, sepertinya dia sedang merenungi segala ucapan pemuda itu. Hingga akhirnya, Rani pun bisa menyadari bahwa perbuatan yang dilakukannya memang salah, kenapa hanya karena ditinggal kekasih dia menjadi lemah dan berpikir pendek begitu. Bahkan dia merasa benar-benar bodoh lantaran telah melakukan tindakan yang justru akan membuatnya semakin menderita.
"Kau benar Kak, aku memang telah salah bertindak!" ucap Rani menyesal. "Terus terang, aku sangat berterima kasih karena kau telah menyadarkanku!" sambungnya kemudian.
"Sudahlah... ! Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Karena semua ini memang sudah kehendakNya. O ya, bagaimana jika kau kuantar sampai ke rumah""
"Terima kasih Kak! Saya tidak mau merepotkan. Lagi pula, saya bisa pulang sendiri kok," tolak Rani.
"Rani... izinkanlah aku untuk mengantarmu! Aku ingin memastikan kau tiba di rumah dengan selamat," desak Bobby.
Rani tidak menjawab. Dia memandang Bobby dengan pandangan yang penuh suka cita.
"Bagaimana... " Kau mau kan"" tanya Bobby.
Rani tersenyum, kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" ajak Bobby. Tak lama kemudian, keduanya tampak melangkah menuju ke sebuah sepeda motor besar yang di parkir di samping warung. Ternyata sepeda motor itu kepunyaan Bobby yang memang sudah diparkir sebelum peristiwa itu terjadi. Setelah menghidupkan sepeda motornya, Bobby segera memacunya menyusuri jalan yang mulai macet. Dalam perjalanan, mereka tampak asyik berbincang-bincang. Sesekali Bobby menghibur Rani dengan banyolan-banyolan yang membuat Rani tertawa terpingkal-pingkal. Untuk sesaat Rani bisa melupakan segala kepedihannya, wajahnya tampak begitu ceria. Setelah cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
Rani yang baru saja turun dari motor tampak tersenyum kepada Bobby, "Ayo Kak, silakan mampir dulu!" tawarnya ramah.
"Terima kasih! Lain kali saja. Kali ini aku harus cepat-cepat pulang," tolak Bobby. "Sudah ya, aku pergi sekarang!" pamitnya kemudian.
"O ya, Kak. Sekali lagi aku ucapkan banyak terima
kasih!" "Sudahlah...!" ucap Bobby sambil tersenyum.
Rani tersenyum, kemudian dia tampak memperhatikan Bobby yang kembali melaju dengan sepeda motornya, tak lama kemudian sepeda motor itu sudah tak terlihat lagi. Pada saat yang sama, Rani segera melangkah memasuki rumah. Kini dia terlihat sedang membersihkan diri dari segala kotoran yang melekat, dan setelah itu dia bergegas menuju ke kamarnya.
Setibanya di kamar, Rani langsung menghempaskan tubuh di atas tempat tidur. Kini gadis itu kembali teringat dengan Jodi, teringat akan keputusan Jodi yang begitu menyakitkan, dan dia menduga semua itu lantaran ulah ayahnya yang mengusir Jodi malam itu. Dia ingat betul ketika ayahnya membentak Jodi dengan begitu kasar, dan saat itu Jodi terlihat begitu gusar.
Kini Rani kembali murung, menghapus semua keceriaan yang semula menghias wajahnya. Tiba-tiba air matanya tampak berderai, mengalir melewati pipinya yang mulus, kemudian menetes membasahi bantalnya yang berwarna biru. Rani terus menangis, isak tangisnya terdengar begitu lirih. Selirih gesekan dawai biola yang mengalun panjang.
Di tempat terpisah, di sebuah gedung perkantoran. Branden tampak sibuk dengan tugas-tugasnya. Ketika sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba telepon yang ada
di meja kerjanya berdering dengan keras sekali. Lalu dengan segera lelaki itu mengangkatnya, "Hallo!" sapa Branden kepada orang yang menelepon.
"Hallo, Pak Branden! Ini saya, Pak Heru. Saya mohon Bapak segera ke ruangan saya!"
"Baik, Pak. Secepatnya saya akan ke sana," ucap Branden seraya menutup telepon itu.
Dengan agak tergesa-gesa, Branden tampak meninggalkan ruangannya. Tak lama kemudian, dia sudah sampai di ruangan Pak Heru. "Selamat sore, Pak!" ucap Branden sopan.
"Silakan duduk, Pak!" pinta Pak Heru sambil tersenyum.
"Terima kasih, Pak!" ucap Branden seraya duduk di hadapan Pak Heru.
Di sudut lain, terlihat Bu Siska yang terus memperhatikan Branden dari meja kerjanya.
"Sebenarnya ada apa, Pak"" tanya Branden sopan.
"Begini, Pak... keperluan saya memanggil Bapak adalah untuk meminta maaf," ucap Pak Heru berterus terang.
"Mi-minta maaf" Maksud Bapak"" tanya Branden heran.
"Saya mohon, Bapak mau memaafkan saya," ucap Pak Heru tulus.
"Pak, saya benar-benar tidak mengerti" Bapak kan tidak punya salah sama saya""
Tiba-tiba Bu Siska beranjak dari tempat duduknya, kemudian dia melangkah menghampiri Branden. "Saya juga minta maaf, Pak!" ucapnya tulus.
"O, jadi ini semua karena kejadian tempo hari. Bukan begitu, Bu""
Bu Siska tidak menjawab, dia tampak menundukkan kepalanya. Melihat itu Branden kembali bicara, "Sebenarnya kejadian tempo hari sudah saya lupakan. Saya benar-benar maklum kalau saat itu Ibu marah sama saya."
"Sebenarnya bukan cuma itu, Pak. Kami telah..."
Belum sempat Bu Siska menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Branden sudah memotong. "Sudahlah Bu, lupakan saja peristiwa itu! Sebenarnya saya sudah memaafkannya sejak lama. Kalau pun ada kesalahan lain, Bapak dan Ibu sudah saya maafkan," kata Branden terus terang.
Bu Siska dan Pak Heru tampak saling berpandangan. Kemudian Pak Heru kembali bicara, "Pak Branden, hati anda sangat mulia. Saya benar-benar tidak menduga kalau Bapak akan berbesar hati mau memaafkan kami. Kami sungguh menyesal karena telah berlaku tidak layak terhadap Bapak, dan kami sangat berterima kasih karena Bapak mau memaafkan kami."
"Betul, Pak Branden. Kami sangat berterima kasih atas kemuliaan hati Bapak yang mau memaafkan kami," timpal Bu Siska.
Branden tidak berkata-kata. Dia memandang wajah Pak Heru dan sekretarisnya silih berganti. "Sudahlah... ! Bukankah sudah sepantasnya, kita sesama manusia untuk saling memaafkan," katanya sungguh-sungguh, "O ya, kalau Bapak sudah tidak ada keperluan lagi, sebaiknya saya permisi dulu. Sebab, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan," sambungnya kemudian.
"Kalau begitu, silakan Pak! Dan saya mohon maaf karena sudah menyita waktu Bapak," ucap Pak Heru.
Branden tersenyum, kemudian dia segera melangkah untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Dalam hati, Branden masih merasa bingung. Dia tidak mengerti apa sebenarnya yang sudah diperbuat oleh Pak Heru dan Bu Siska terhadapnya. Jikalau Bu Siska pernah mencaci-maki dirinya, hal itu dianggap hal yang wajar bagi seorang pegawai rendahan seperti dia. Namun permintaan maaf Pak Heru dan Bu Siska yang dinilainya agak berlebihan sempat membuatnya sedikit penasaran. Pada akhirnya, sosok istrinya datang dan menjelaskan semua hal yang membuatnya penasaran, hingga akhirnya dia pun bisa memaklumi keduanya.
Esok siangnya udara terasa panas sekali, teriknya sinar mentari terasa begitu menyengat kulit. Di teras sebuah rumah, seorang gadis berseragam abu-abu tampak sedang membuka pintu depan dengan agak tergesa-gesa. Dialah Rani yang baru saja pulang sekolah, saat itu dia terlihat begitu lelah.
Kini Rani sudah melangkah masuk dan sedang meletakkan tasnya di atas meja, kemudian dia juga meletakkan kantong plastik hitam berisi nasi bungkus yang baru dibelinya. Dengan santai dia duduk di sofa, kemudian melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Suasana di rumah itu tampak begitu hening, sehening suasana makam di malam hari. Pada saat seperti itulah segala bayang-bayang masa lalu selalu menghantuinya, menteror dengan segala kenangan manis yang semakin membuat hatinya kian tersayat-sayat.
"Tidak! Aku tida k boleh memikirkan hal itu terus. Sebab, semakin aku mengingatnya, semakin pedih hati ini. Biar bagaimanapun, aku harus bisa melupakannya," kata Rani dalam hati seraya bangkit dari tempat duduk dan segera melangkah ke dapur. Di tangannya terlihat kantong plastik hitam yang diambilnya dari atas meja.
Rupanya Rani akan menyiapkan makan siangnya, sekaligus mengambil minum untuk melegakan kerongkongannya yang begitu kering. Belum sempat gadis itu tiba di dapur, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Saat itu, matanya memandang ke arah dapur yang tampak begitu sepi. Sungguh suasana saat itu telah membuatnya sedikit takut. Lalu dia pun teringat dengan peristiwa waktu itu, dimana perabotan yang berada ruang dapurnya bergerak sendiri, kemudian disusul dengan pecahnya piring dan gelas yang hancur berantakan. Rani tampak menarik nafas panjang untuk menenangkan diri, kemudian berusaha untuk mengendalikan semua rasa takut yang telah merasuki pikirannya. "Tidak! Aku tidak boleh takut, ini kan rumahku sendiri," ungkapnya memberanikan diri.
Keinginan untuk melepas dahaga semakin membangkitkan keberaniannya, kemudian dengan mantap dia segera melangkah kembali. Rani terus melangkah, sedangkan jantungnya mulai berdegup kencang. Tiba-tiba dia teringat kembali dengan kejadian malam itu. Bersamaan dengan itu, lagi-lagi Rani menghentikan langkahnya.
Kini gadis itu tampak berdiri di depan tirai yang menjadi pemisah ruang dapur. Entah kenapa, tiba-tiba dia merasakan suasana di rumah itu terasa kian mencekam, bahkan jantungnya pun semakin berdebar kencang. Namun begitu, Rani berusaha memberanikan diri. Dengan perlahan dia mulai menyibak tirai itu. Begitu tirai terbuka, tiba-tiba sesosok tubuh hitam tampak melompat dari atas sebuah lemari kecil. Melihat itu, seketika Rani terkejut dan berteriak sejadi-jadinya.
Mendadak teriakan gadis itu terhenti, bersamaan dengan seekor kucing yang dilihatnya sedang mengeong-ngeong di dekat kakinya. Kucing itu terus mengeong-ngeong, kemudian berputar di kaki Rani sambil mengeluskan tubuhnya.
"Aduh, kau mengagetkanku saja," kata Rani seraya menggendong kucing itu dan membelainya dengan penuh kasih sayang. "Hmm... ini kucing siapa ya"" tanyanya dalam hati. "Pus, kau lapar ya" Kasihan sekali, rupanya tuanmu tidak memberimu makan ya""
Lantas dengan santai Rani membuka nasi bungkusnya, kemudian mengambil kepala ikan dan memberikan kepada si kucing.
Rani kembali membelai kucing itu, saat itu hatinya terasa betul-betul damai. Sejenak dia memperhatikan si kucing yang tampak begitu rakus melahap kepala ikan yang cukup besar. Sesekali dia menggeram, takut jika makanannya diambil oleh Rani. Saat itu Rani cuma tersenyum, menyaksikan prilaku hewan yang tampaknya tidak tahu berterima kasih.
Kini Rani sedang menuang air bening ke dalam gelas yang baru saja diambilnya, kemudian meneguknya dengan segera. Seketika rasa dingin terasa melewati kerongkongannya, bersamaan dengan itu rasa dahaganya pun sirna dengan sendirinya. Setelah itu dia segera menyiapkan makan siangnya. Pada saat yang sama, sosok mendiang ibunya tampak sedang memperhatikan. Saat itu dia ingin sekali menampakkan diri di hadapan Rani, namun entah kenapa dia tak kuasa melakukannya.
Rani yang baru saja selesai makan segera menuju ke kamarnya, pada saat itu sosok mendiang ibunya sudah melesat pergi. Kini Rani sedang memasuki kamarnya. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui tempat tidurnya yang tadi pagi tidak sempat dia dirapikan kini sudah tertata rapi. Bukan cuma itu, buku-bukunya yang tidak sempat dirapikan juga telah tertata rapi. Saat itu Rani benar-benar sudah dibuat bingung, "Hmm... siapa yang telah melakukan semua ini"" tanya Rani dalam hati. "Tidak mungkin Ayah yang melakukannya" Tadi pagi kan aku bangun kesiangan, dan ketika aku sedang sarapan beliau justru sudah berangkat lebih dulu. Hmm... apa mungkin Ayah kembali lagi setelah aku pergi, beliau kembali karena melupakan sesuatu. Ah, sepertinya itu juga tidak mungkin. Selama ini justru akulah yang selalu merapikan tempat tidurnya. Aneh... sebenarnya siapa yang telah melakukan semua ini""
Akh irnya Rani memutuskan untuk tidak mempedulikan semua itu, bahkan dia berusaha berprasangka baik kalau ayahnyalah yang telah melakukan semua itu. Kini Rani sedang melepas pakaian sekolahnya, kemudian menggantinya dengan pakaian santai yang diambilnya dari dalam lemari. Setelah itu, dia segera melangkah ke kamar ayahnya.
Setibanya di dalam kamar, lagi-lagi Rani terkejut. Hal serupa yang terjadi di kamarnya juga terlihat di ruangan itu, semuanya sudah benar-benar rapi. Padahal, selama ini dialah yang biasanya merapikan tempat itu sepulang sekolah.
Karena semua sudah benar-benar rapi, akhirnya Rani kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Kini gadis itu sudah merebahkan diri di atas tempat tidur dan sedang memejamkan kedua matanya. Karena merasa lelah, akhirnya gadis itu tertidur pulas.
Ketika terjaga, Rani tampak terkejut. Dilihatnya sang Ayah sudah berada di sisi tempat tidur dan sedang memandangnya. "Sayang. Ayah ingin menyampaikan sesuatu tentang Jodi," kata Branden sambil terus memandang wajah putrinya.
"Apa itu, Ayah"" tanya Rani penasaran.
"Sesuatu kebenaran tentang Jodi, Sayang." jawab Branden. "O ya, apakah selama ini kau masih mengharapkan dia"" tanyanya kemudian.
"Tentu saja, Ayah. Rani kan sangat mencintainya," jawab Rani terus terang.
"Sebaiknya kau lupakan dia, Sayang...!" pinta Branden.
"Kenapa Ayah menghendaki demikian"" tanya Rani lagi dengan alis tampak merapat.
"Bu-bukan apa-apa, Sayang. sebenarnya selama ini Jodi cuma mempermainkanmu. Dia sama sekali tidak mencintaimu."
Mendengar itu, Rani langsung duduk di atas tempat tidurnya. "Bohong! Ayah bohong! Kenapa Ayah tega berbuat begitu"" tanya Rani seraya menatap sang Ayah dengan mata yang berkaca-kaca.
Branden tak kuasa memandang wajah putrinya, dia tampak memalingkan wajahnya ke arah pintu. "Ayah tidak berbohong, Sayang... terus terang, Ayah tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya padamu," kata Branden menyangkal.
"Kenapa, Yah" Kenapa waktu itu Ayah mengusir Jodi" Sebenarnya apa salah Jodi sehingga Ayah tidak menyetujui hubungan kami" Jawab, Ayah. Jawab!" desak Rani lirih.
"Kau salah paham, Sayang... semua itu karena... " Branden tidak melanjutkan kata-katanya, dia tampak bingung dan tidak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan kejadian waktu itu. kemudian dia kembali berkata, "Nak, sebaiknya sekarang kau mandi, lalu setelah itu kita makan sama-sama!" saran Branden seraya membelai kepala Rani dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu dia tampak melangkah ke kamarnya sendiri.
Kini Branden sudah berada di dalam kamar dan sedang mengganti pakaiannya. Ketika baru saja selesai, tiba-tiba "Bagaimana, Bran"" terdengar suara orang yang bertanya kepadanya.
"Ya-yana.!" seru Branden kaget ketika melihat sosok Yana yang sudah berdiri di sampingnya.
"Bagaimana, Bran" Apa kau sudah menceritakannya"" tanya sosok Yana lagi.
"Belum sepenuhnya, Sayang... saat itu Rani sama sekali tidak mempercayaiku. Aku sendiri bingung, bagaimana caranya agar dia mau percaya," jawab Branden. "O ya, bagaimana kalau kita cari orang yang bisa menjelaskan siapa Jodi sebenarnya!" sarannya kemudian.
"Baiklah kalau begitu, aku tahu siapa orang yang bisa menyampaikannya," jelas sosok Yana. "Siapa"" tanya Branden.
"Jodi sendiri," ucap sosok Yana seraya menghilang dari pandangan.
Branden agak kecewa dengan kepergian sosok Yana yang begitu tiba-tiba, padahal dia masih ingin berbicara banyak dengan mendiang istrinya itu. Lantas dengan perasaan yang masih kecewa, Branden segera pergi ke meja makan untuk menikmati makan malam bersama putrinya.
Delapan Esok paginya mentari bercahaya dengan cerahnya, sinarnya yang hangat tampak membias menerangi seantero kota. Sementara itu di sepanjang jalan raya tampak lalu-lalang kendaraan yang merambat pelan, terjebak dalam kemacetan yang memang sudah menjadi rutinitas Ibu Kota. Pada saat yang sama, di sebuah perempatan lampu merah, para pedagang asongan tampak ramai menjajakan dagangannya. Beberapa orang polantas tampak sibuk mengatur lalu lintas di tempat itu.
Lampu lalu lintas silih berganti berubah warna, namun lampu it
u tidak berguna sama sekali karena petugas polantaslah yang menggantikannya. Petugas polantas itu lebih mengutamakan antrian kendaraan dari jalur yang lebih padat untuk jalan lebih dulu, sedangkan dari jalur yang tampak sepi dibiarkan menunggu agak lama.
Yuli yang sedang duduk di depan kemudi tampak kesal, sebab gilirannya melaju terasa begitu lama. Suara bising terus terdengar dari mesin-mesin kendaraan yang meraung-raung menunggu giliran, sekaligus membuang energinya dengan percuma.
Yuli masih terus menunggu. Sesaat dia memperhatikan seorang gadis kecil yang berdiri di samping mobilnya, pakaian tampak kumal dan begitu lusuh. Rambutnya pun tampak kotor dan begitu kusut, menutupi sebagian wajahnya yang masih tampak polos.
Kini gadis kecil itu tampak membunyikan kecrekannya yang terbuat dari tutup minuman, kemudian disusul dengan suaranya yang terdengar sumbang. Melihat itu, Yuli merasa iba, lalu dengan segera dia membuka kaca mobil dan menyodorkan selembar uang lima ribuan. Seketika nyanyian gadis kecil itu terhenti, bersamaan dengan jemari mungil yang bimbang meraih uang itu. Si Gadis kecil tampak ragu, baru kali ini dia disodorkan uang sebesar itu.
"Maaf Kak! Saya tidak punya uang kembaliannya," katanya polos.
"Terimalah! Semuanya untukmu," kata Yuli meyakinkan.
Gadis kecil itu tampak begitu senang, kemudian dia segera mengambil uang itu dan memasukkannya ke dalam saku roknya yang lusuh. "Terima kasih, Kak!" ucapnya pelan.
Kini gadis kecil itu tampak tersenyum kepada Yuli yang dianggapnya sebagai bidadari cantik yang baik hati. Yuli pun membalas senyuman itu, kedua matanya tak berpaling-terus memperhatikan si gadis kecil yang kini sudah melangkah ke mobil yang ada di belakangnya. Dalam hati Yuli membatin, "Aku tidak habis pikir, kenapa anak sekecil itu bergelut dengan kerasnya Ibu Kota, seharusnya kan gadis sekecil itu sedang menikmati masa kecilnya-bermain dan belajar."
Kini Yuli kembali memperhatikan petugas polantas yang masih juga belum mengizinkannya melaju. Ketika menengok ke samping, dilihatnya seorang pedagang asongan tampak sedang berdiri menjajakan dagangannya, "Permen, Non"" tawarnya sambil menyodorkan sebungkus permen ukuran sedang.
Yuli segera mengambil permen itu dan membayarnya dengan uang sepuluh ribuan. Ketika si pedagang sedang menyiapkan uang kembaliannya, tiba-tiba Pak Polantas sudah mengizinkannya untuk melaju. Melihat itu, Yuli segera menurunkan rem tangan dan mulai melaju bersama mobilnya.
"Tunggu, Non! Ini kembaliannya," tahan si pedagang tiba-tiba.
"Ambil saja untukmu!" teriak Yuli seraya mempercepat laju mobilnya.
Yuli terus melaju. Hari ini dia berniat mengunjungi kakek dan neneknya yang berada di luar kota, tepatnya di daerah Sukabumi. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya dia tiba di pekarangan rumah neneknya yang tampak begitu asri.
Sejenak Yuli memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu, dipandangnya rumah mungil yang sudah berumur puluhan tahun. Walau begitu, rumah itu tetap terawat dengan baik. Kemudian dilihatnya sang nenek yang lagi sibuk merajut di teras depan rumahnya. Lantas dengan segera Yuli keluar mobil dan menghampiri sang Nenek.
Sang nenek yang mengetahui kedatangannya tampak begitu senang, dia segera berdiri dan memeluknya dengan penuh kerinduan. "Aduh, cucu nenek semakin cantik saja," pujinya seraya mengecup kening Yuli dengan penuh kasih sayang. "Ayo... masuk, Cu!" ajaknya kemudian.
Yuli menuruti ajakan neneknya, dia melangkah masuk mengikuti sang Nenek yang masuk lebih dulu. Kini Yuli sudah berada di ruang tamu sambil menatap ke sekeliling ruangan dengan penuh rasa kagum, matanya hampir tak berkedip memperhatikan setiap bagian yang menjadi ornamen di rumah itu. Walaupun sudah kelihatan tua, namun masih terlihat menarik, semuanya begitu unik dan antik.
"Semuanya tidak berubah ya, Nek. Semuanya Masih seperti dulu," kata Yuli mengomentari.
"Iya, Cu. Kakek dan nenek memang tidak mau merubahnya, sebab semua ini merupakan sejarah yang penuh dengan kenangan yang tiada ternilai harganya," jelas sang Nenek. "O ya, Cu. Silakan duduk! Nenek
mau membuatkan minum dulu," lanjutnya kemudian.
Yuli segera duduk, sedangkan sang Nenek tampak melangkah ke dapur hendak membuatkan secangkir teh. Tak lama kemudian, Yuli beranjak menyusul neneknya ke dapur. Kini gadis itu sedang berada di samping neneknya yang tampak sibuk membuatkan minum, "Kakek ke mana, Nek"" tanyanya kepada sang Nenek.
"Kakekmu lagi pergi. Nenek juga tidak tahu ke mana perginya," jawab sang Nenek sambil terus mengaduk gula yang baru dimasukkannya. "O ya, Cu. Ngomong-ngomong... kenapa kau tidak kasih kabar dulu kalau mau datang kemari"" tanya sang Nenek kemudian.
"Yuli sengaja, Nek. Soalnya, Yuli mau memberi kejutan. O ya, Nek..." Yuli tampak berpikir, kemudian dia mulai melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Kau mau ke mana, Cu"" tanya neneknya tiba-tiba.
"Sebentar, Nek...! Aku akan kembali," jawab Yuli seraya mempercepat langkah kakinya.
Sang Nenek tampak mengerutkan keningnya, kemudian dia segera melangkah meninggalkan dapur. Di tangannya terlihat secangkir teh yang dialasi piring kecil bermotifkan bunga. Tak lama kemudian, sang Nenek sudah tiba di ruangan tamu dan langsung meletakkan teh yang dibawanya ke atas meja. Sementara itu, Yuli sedang mengambil dua buah bungkusan dari dalam mobilnya, kemudian dengan segera dia membawanya masuk.
"Ini, Nek.! Yuli bawakan buat Nenek, dan yang ini untuk Kakek," ucap Yuli seraya menyerahkan kedua bungkusan yang dibawanya.
Sang Nenek tampak mengambil bungkusan itu dari tangan Yuli. "Apa ini, Cu"" tanya sang Nenek sambil mengamati kedua bungkusan yang ada di tangannya.
"Itu oleh-oleh dari Ibu Kota, Nek. Yuli yakin, Nenek dan Kakek pasti suka," jawab Yuli seraya duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
Sang Nenek tampak tersenyum, kemudian ikut duduk seraya meletakkan bungkusan yang ada di tangannya. Setelah itu dia mengambil cangkir minuman dan menyodorkannya kepada Yuli, "Ini diminum tehnya, nanti keburu dingin!" kata sang Nenek ramah.
Yuli segera menyambut minuman itu dan meminumnya sedikit. "Enak sekali teh ini, Nek!" puji Yuli seraya kembali menghirup teh itu sekali lagi.
"Itu teh spesial, Cu. Nenek sendiri yang meraciknya. Di dalamnya bukan hanya pucuk teh, tapi juga ada bunga-bungaan dan beberapa daun obat-obatan," jelas sang Nenek.
"Pantas rasa teh ini lain sekali, dan yang pasti betul-betul enak, Nek," puji Yuli sekali lagi seraya meletakkan cangkir tehnya.
Sang Nenek tampak tersenyum mengetahui cucunya suka dengan teh racikannya. Sementara itu tak jauh dari rumah, sang Kakek terlihat sedang mengendarai sepeda tuanya-menyusuri jalan tanah yang menuju ke rumah. Walaupun sudah tua, sang Kakek mampu mengayuhnya dengan begitu cekatan. Tak lama kemudian, dia sampai di tempat tujuan.
Kini sang Kakek sedang memperhatikan sedan mewah yang diparkir di pekarangannya, "Wah, itu pasti mobil menantuku. Dia pasti datang bersama anak dan cucuku," duganya dengan raut wajah yang begitu gembira.
Lalu tanpa buang waktu, sang Kakek segera memarkir sepedanya dan melangkah masuk. "Assalamu'alaikum...!" ucapnya seraya mengamati orang-orang yang duduk di ruang tamu.
"Waaahhh. Yuliii...!" seru sang Kakek seraya menghampiri cucunya tersayang.
Bersamaan dengan itu, Yuli segera berdiri dan langsung memeluknya erat. Setelah itu sang Kekek tampak memandangnya dengan penuh suka cita,
"Waduh-waduuuh... cucu kakek sudah jadi gadis dewasa rupanya, tambah cantik lagi. you are so beautiful and montok, you look pretty with this baju to," puji sang Kakek sambil terus memandangi wajah cucunya.
Yuli hanya tersipu mendengarnya, apalagi sang Kakek memujinya dengan bahasa Inggris yang dicampur aduk. Sang Nenek cuma tersenyum saja mendengar Kakek berbicara begitu, dan tak lama kemudian Yuli sudah duduk kembali di kursinya. Bersamaan dengan itu, sang Kakek ikut duduk di sebelahnya.
Sementara itu, sang Nenek justru beranjak dari tempat duduknya. "Kalian ngobrol saja dulu! Sekarang Nenek mau menyiapkan makan siang," ucapnya seraya melangkah pergi.
"Masak yang enak ya, Nek!" teriak sang Kakek, kemudian dia mulai bicara kepada cucunya tersayang, "Kau datang sendiri, Cu"" tanyanya
agak kecewa. "Iya, Kek," jawab Yuli singkat.
"Kenapa kedua orang tuamu tidak ikut ke mari"" tanya sang Kakek lagi.
"Mereka sibuk, Kek," jawab Yuli singkat.
"Huh, dari dulu mereka selalu begitu-terlalu sibuk dengan urusan dunia. Mereka sama sekali tidak peduli, kalau selama ini Kakek dan nenek sudah sangat merindukan mereka."
"Kakek benar, Yuli juga kurang setuju dengan sikap mereka. Selama ini, Yuli pun kurang diperhatikan. Selama ini mereka cuma memanjakan Yuli dengan materi, padahal bukan itu saja yang Yuli butuhkan. Yuli kan juga butuh perhatian dan kasih sayang, Kek."
"Sudahlah, Cu... ! Sebenarnya mereka melakukan itu dengan maksud ingin membahagiakanmu, namun mereka tidak menyadari kalau hal itu justru membuatmu kesepian. Sebagai anak, kau harus terus berbakti kepada mereka, walaupun selama ini mereka kurang memperhatikanmu. O ya, ngomong-ngomong bagaimana kabar mereka""
"Baik, Kek-mereka sehat-sehat saja."
"Baguslah kalau begitu, terus... bagaimana dengan keadaan di sana"" tanya sang Kakek yang ingin mengetahui perkembangan Jakarta.
"Yaaa... kehidupannya tambah keras saja, Kek. Tidak seperti di sini, semua terasa sejuk dan damai, sedangkan di sana... semakin panas, penuh polusi, dan kejahatan pun semakin merajalela," jawab Yuli.
"O ya, masa sih," kata sang Kakek seakan tidak percaya. "O ya, Cu. Ngomong-ngomong bagaimana dengan kuliahmu"" tanyanya kemudian.
"Lancar, Kek," jawab Yuli singkat. " O ya, Kek. Ngomong-ngomong, Kakek dari mana"" tanyanya kemudian.
Hantu Putih Mata Elang 1 Cinta Aishah Karya Mohd Faizul Bin Ali Giring Giring Perak 1
^