Pencarian

Renjana Pendekar 4

Renjana Pendekar Karya Khulung Bagian 4


dingin. Sungguh aneh, ayah dan anak ini seperti ada permusuhan yang mendalam, mereka saling
melotot dan entah sudah berapa lamanya, akhirnya Ki Song-hoa menghela napas panjang, ia
menjadi lemas, lalu berkata sambil terkekeh-kekeh: "Anakku sayang, jangan kau marah, jika
kesehatanmu terganggu, kan ayah juga yang susah. Kau suruh aku keluar, baiklah segera aku
akan keluar"
Dia berjalan keluar pintu sambil bergumam: "Bagaimana jadinya dunia ini. Ayah takut pada
anaknya" Pwe-giok juga tidak menyangka sang Cengcu bisa diusir pergi oleh anak perempuannya
sendiri, ia terkejut dan heran, segera ia merangkak bangun.
"Untuk apa kau bangun" Rebah kembali di tempatmu!" jengek Ki Leng-hong.
"Cayhe merasa tidak.... tidak pantas mengganggu di sini dan ingin mohon diri saja," kata
Pwe-giok. "Setelah kau dengar ocehan si kerdil itu dan kau percaya aku ingin mencelakai kau?" jengek
Ki Leng-hong. "Betapapun dia.... dia kan ayahmu?" ujar Pwe-giok.
"Tidak, dia bukan ayahku, bukan, bukan!" teriak Ki Leng-hong dengan histeris sambil
meremas-remas baju sendiri, air mukanya berkerut-kerut dan beringas seperti Ki Song-hoa
tadi. Pwe giok memandangnya dengan terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. Selang beberapa
saat Ki Leng-hong menjadi tenang dan kembali ke pembawaannya semula yang dingin. Dia
lalu bertanya: "Apakah kau pikir dia benar-benar orang baik?"
Ji pwe-giok tidak menjawab karena dia memang tidak yakin apakah sesungguhnya Ki Songhoa
itu baik atau tidak.
Ki Leng-hong tertawa, katanya: "Sungguh aneh, banyak juga orang yang mau tertipu dan
dibohongi olehnya, sampai terbunuh juga masih belum tahu, bahkan tetap menyangka dia
adalah orang baik."
"Aku kan tiada permusuhan apapun dengan dia, untuk apa dia mencelakai diriku?" kata Pwegiok.
121 "Tiada permusuhan?" jengek Ki Leng-hong. "Apakah kau tahu mengapa tempat ini diliputi
suasana bunuh membunuh" Tahukah kau sebab apa nyawa hampir tiada harganya di sini?"
"Aku....aku tidak tahu," jawab Pwe-giok.
Jari tangan Ki Leng-hong yang putih lentik itu kembali berkejang, serunya dengan parau:
"Sebabnya karena dia suka membunuh orang, suka kepada kematian, dia suka menyaksikan
jiwa seseorang tamat di tangannya, semakin mengerikan kematian orang lain, semakin
gembira dia."
Pwe-giok melenggong dan tak dapat bicara, berdiri bulu romanya.
Sungguh luar biasa. Di antara keluarga ini, antara suami dan istri, antara ayah dan anak,
seakan-akan penuh dendam dan benci, masing-masing saling mencaci maki dan mengutuki.
Pwe giok jadi bingung harus percaya kepada keterangan siapa"
Dengan sendirinya Ki Leng-hong dapat melihat sikap Pwe-giok yang ragu itu, katanya pula
dengan dingin: "Terserah kepadamu mau percaya tidak kepada ucapanku, percaya dan tidak
juga tiada sangkut-pautnya denganku."
"Bu.....bukannya aku tidak percaya," kata Pwe-giok dengan tergagap. "Aku cuma merasa, jika
seorang terhadap seekor hewan saja begitu welas-asih, masakah mungkin terhadap manusia
malahan bertindak kejam?"
"Kau bilang dia welas-asih terhadap hewan?" tanya Ki Leng hong sambil berkerut kening.
"Kulihat sendiri dia mengubur bangkai kucing dengan baik-baik, tatkala mana dia tidak tahu
aku berada di dekatnya, jelas dia tidak sengaja berbuat begitu agar dilihat olehku," tutur Pwegiok.
"Hm," jengek Ki Leng-hong dengan tersenyum aneh. "Dan tahukah kau siapa yang
membunuh kucing itu?"
"Memangnya siapa?" tanya Pwe-giok.
"Dia sendiri," jawab Ki Leng-hong.
"Dia sendiri!?" tukas Pwe-giok, tanpa terasa ia merinding pula.
"Umpama bunga sedang mekar dengan semaraknya, iapun akan memetiknya untuk
dihancurkan lalu ditanamnya dengan baik-baik," jengek Ki Leng-hong pula: "Pendeknya baik
bunga maupun kucing atau manusia sekalipun, asalkan melihat kehidupan yang baik, maka
dia menjadi sirik dan tidak tahan, tapi kalau kehidupan itu sudah mati, dia lantas tidak dendam
lagi. Asalkan mati barulah dapat memperoleh welas-asihnya. Jika kau mati, ia pun akan
mengubur kau dengan sebaik-baiknya."
Tanpa terasa Pwe-giok merinding pula dan tidak sanggup bicara lagi.
122 "Di bawah tanah seluruh halaman perkampungan ini hampir penuh dengan mayat yang
dibunuh dan dikubur olehnya sendiri," tutur Ki Leng-hong pula. "Jika kau tidak percaya,
boleh coba kau menggalinya pada sembarang tempat dan kau akan melihat buktinya."
Pwe-giok jadi mual, dengan suara parau ia berkata: "Aku.....aku ingin pergi saja, makin jauh
makin baik."
"Tapi sayang, biarpun ingin pergi juga tidak dapat pergi lagi sekarang." jengek Ki Leng-hong.
Baru saja Pwe-giok berbangkit, demi mendengar ucapan itu, "bluk", ia duduk kembali di
tempat tidurnya.
"Jika kau ingin hidup lebih lama, kau harus turut kepada perkataanku, kalau tidak, boleh kau
pergi saja dan takkan kurintangi!" habis berkata Ki Leng-hong benar-benar menyingkir ke
samping dan daun pintu masih terpentang.
Tapi Pwe-giok menjadi bingung, ia pandang pintu yang terbuka itu, ia tidak tahu apakah harus
lekas pergi atau lebih baik tetap tinggal di sini saja.
Ki Leng-hong memandang dengan dingin, katanya kemudian: "Tidak perlu kau kuatir akan
kedatangan orang di sini. Betapapun besar nyali Ki Song hoa juga takkan berani membawa
orang ke sini. Aku mempunyai cara untuk mengatasi dia, aku pun mempunyai akal untuk
melindungi kau." Akhirnya Pwe giok berbangkit, tanyanya: "Kau akan melindungi diriku?"
"Ya, tidak perlu kau kuatir, selama aku berada di sini, tidak nanti kau mati!" ucap Ki Lenghong.
"Betul juga, dalam keadaan demikian, memang betul hanya di sinilah tempat yang paling
aman. Tapi ada sementara orang yang lebih suka menyerempet bahaya daripada minta
perlindungan orang. "Tapi kau jelas bukan orang macam begitu!" "Masa aku bukan?" ucap
Pwe giok dengan suara hambar, ia menarik napas panjang-panjang, lalu melangkah keluar.
Betapapun duka dan dongkol perasaannya, cara bicara Pwe-giok tetap halus dan sopan,
selamanya ia tidak suka bersikap kasar terhadap siapa pun. Tapi kalau orang lain menganggap
dia lemah dan penakut, maka salahlah dugaan demikian.
Agaknya Ki Leng-hong melengak juga melihat sikap tegas Pwe giok itu, serunya: "He, kau
benar-benar ingin mengantar nyawa?"
Tanpa menoleh dan tanpa menjawab Pwe-giok melangkah keluar.
"He, sudah buntu jalanmu, mengapa kau masih tetap keras kepala"!" seru Leng-hong pula.
Baru sekarang Pwe-giok berpaling, katanya dengan tenang: "Terima kasih atas perhatianmu,
aku mempunyai tempat tujuan sendiri."
"Baiklah, pergilah kau," dengus Ki Leng-hong.
"Kau akan mati atau tetap hidup kan tiada sangkut-pautnya denganku."
123 Walaupun begitu ucapannya, tapi sudah jauh Pwe-giok melangkah pergi dia toh masih tetap
memandangnya dengan termangu-mangu.
***** Pingsan Ji Pwe giok tadi agaknya sampai setengah harian lamanya, sekarang sudah dekat
magrib lagi. Setiap kali Pwe-giok kehabisan tenaga dan pingsan, ia selalu mengira pasti tak tahan hidup
lagi. Tapi aneh, setelah siuman, tenaga baru lantas timbul pula. Hal ini bukanlah disebabkan karena
pembawaannya yang kuat, sudah tentu lantaran khasiat siau hoan-tan pemberian Thian-kang
Totiang tempo hari.
Sekarang dia berada di tengah taman yang luas itu, cuaca sudah mulai remang-remang lagi, ia
menyusuri pepohonan dengan setengah berjongkok, agaknya orang-orang yang mencarinya
juga tidak menyangka dia berani berkeliaran di situ, makanya tiada orang berjaga dan
mengawasi di taman itu. Apalagi di taman yang luas dengan pepohonan yang lebat ini pun
tidak sukar baginya untuk menghindarkan pengawasan orang.
Akan tetapi ia pun jangan harap akan dapat menerobos keluar. Di balik pepohonan sana, di
sekeliling taman itu jelas ada bayangan orang, tampaknya di bawah setiap pohon dan di setiap
sudut yang gelap selalu ada bahaya yang sedang mengintai.
Pwe-giok terus menyelinap kian kemari, tujuannya hendak menemukan kembali rumah kecil
yang bobrok itu, sebab pada saat demikian ia merasa perkampungan "Sat jin-ceng" ini hanya
kakek Ko saja satu-satunya orang yang dapat diandalkan.
Tapi di tengah taman yang rindang dan gelap ini sukar baginya untuk membedakan arah. Dia
telah berputar kian kemari, mendadak ia menemukan dirinya berada pula di depan rumah
kertas yang terletak di tengah gunung-gunungan palsu dengan suara gemericiknya air itu.
Meski mayat yang bergelimpangan di situ sudah diangkut pergi, tapi bekasnya masih
kelihatan, pertarungan sengit yang mendebarkan itu seolah-olah terbayang pula di depan
matanya. Cepat Pwe-giok membalik tubuh dan melangkah pergi tapi baru dua-tiga tindak, mendadak ia
berhenti. Jika Ki Song-hoa telah menemukan dia di dalam liang rahasia di bawah rumah kertas ini,
maka siapapun pasti tidak menyangka dia akan kembali lagi ke situ. Jika demikian, bukankah
di sinilah tempat sembunyi yang paling aman"
Sesungguhnya Pwe-giok memang tiada jalan keluar lain, teringat demikian, ia tidak ragu lagi,
segera ia putar balik dan melompat masuk ke rumah berdinding kertas itu, kasuran itu digeser,
ia terus melompat ke dalam lubang.
Liang di bawah tanah itu tetap gelap gulita, Pwe-giok bersandar pada dinding batu yang
dingin dengan napas terengah-engah. Mungkinkah tersembunyi apa-apa di liang bawah tanah
yang gelap gulita ini"
124 Setelah napasnya tenang kembali, tanda tanya tadi semakin membuatnya ngeri. Tanpa terasa
ia mulai merayap ke depan.
Sekonyong-konyong tangannya menyentuh sesuatu, jelas tubuh seseorang.
Sungguh kagetnya tidak kepalang, di liang bawah tanah yang gelap ini ternyata ada orang
sedang menantikan kedatangannya.
Dalam kegelapan, ia merasa orang ini berduduk di situ dan memakai baju kain belacu.
"Siapa.....siapa kau?" tanya Pwe-giok dengan suara gemetar, jantungnya serasa mau berhenti
berdenyut. Tapi orang itu tidak bergerak sama sekali, juga tidak menjawab.
Keringat berketes-ketes di dahi Pwe-giok, dengan menempel dinding ia coba menggeser
pelahan ke samping, ucapnya pula dengan suara parau: "Sesungguhnya siapa kau" Apa
kehendakmu bersembunyi di sini?"
Dalam kegelapan tetap tiada sesuatu suara, keheningan yang mencekam dan menyeramkan.
Tangan Pwe-giok yang merabai dinding sudah penuh keringat dingin, kakinya bergeser
sedikit demi sedikit, kakinya terasa sangat berat, seperti diganduli benda beribu kati.
Mendadak jarinya menyentuh sesuatu benda dingin, ia coba merabanya, kiranya sebuah
lentera tembaga.
Dinding di situ mendekuk, maka lentera itu terselip di dekukan itu. Di samping lentera ada
dua potong batu api, cepat Pwe-giok meraup batu api itu. Diketahuinya minyak pada lentera
itu belum lagi kering, ia ingin mengetik api, tapi tangan terasa gemetar sehingga selalu gagal
membuat api. Pwe-giok menarik napas panjang, katanya kemudian: "Sekarang aku sudah
memegang batu api biarpun kau tidak bersuara, asalkan api sudah menyala, segera akan
diketahui siapa kau, mengapa sampai sekarang kau tidak bicara?"
Dengan sendirinya perkataan Pwe giok itu tiada gunanya, paling-paling anak muda itu hanya
menggunakan ucapannya itu untuk menambah keberaniannya. Dan setelah omong begitu, dia
benar-benar bisa lebih tenang. "Cret", akhirnya api dapat dinyalakan untuk menyulut sumbu
lentera. Di bawah kerlipan cahaya api, dapatlah dilihatnya seorang kakek pendek kecil berduduk
bersimpuh di situ dengan mata terpejam, rambut dan jenggotnya sudah putih semua, bajunya
warna kuning muda dari kain belacu, air mukanya kurus kering dan pucat, tampangnya agak
mirip Ki Song-hoa, cuma terlebih seram.
Dingin tangan dan kaki Pwe-giok, tanyanya dengan suara terputus-putus: "Apakah.....
.....apakah kau ini ayah Ki Song-hoa" Masa........ masa kau belum mati?"
125 Dari ujung kaki hingga kepala orang tua itu sama sekali tidak bergerak, bahkan rambut dan
jenggotnya juga tidak bergoyang sedikitpun, di bawah kerlipan cahaya lampu tampaknya
menjadi sangat seram dan misterius.
Pwe-giok menggreget dengan nekat ia mendekatinya. Sesudah dekat baru dilihatnya jenggot
dan rambut orang tua itu ada sesuatu yang tidak betul. Ia coba merabanya, benar juga,
memang terbuat dari malam. Jadi kakek ini tidak lebih hanya sebuah patung malam atau lilin.
Pwe giok jadi menyengir sendiri, tapi setelah dipikir lagi, ia menjadi ragu-ragu pula. Ia pikir
patung ini pasti patung ayah Ki Song hoa, mengapa disembunyikan di liang rahasia ini"
Ia coba mencari lagi ke depan, kecuali patung lilin ini ditemukan lagi sebuah ranjang kecil, di
samping ranjang ada sebuah almari kecil, di atas almari berserakan teko, cangkir, buku
dengan debu tebal.
Meski benda-benda ini cuma alat-alat keperluan sehari-hari tapi ditemukan di liang rahasia
yang tak berpenghuni, betapapun menimbulkan rasa misterius yang sukar dijelaskan.
Dengan heran dan sangsi Pwe-giok coba merenungkan hal ini, akhirnya ia paham duduknya
perkara: "Bisa jadi ayah Ki Song-hoa itu dipaksa orang atau demi mempertahankan nama
baiknya maka dia sengaja pura-pura ingin merenungkan kesalahan yang pernah diperbuatnya,
katanya ingin membaca kitab untuk merenungkan dosa, yang benar dia tidur saja di bawah
sini. Tapi demi mengelabui mata telinga orang, dia sengaja membuat patung lilin ini. Di harihari
biasa dia menaruh patung lilin ini di kamar berdinding kertas itu, karena orang lain toh
tak berani mengganggu nya, kalau dipandang dari jauh dengan sendirinya menyangka ia yang
berduduk di kamar ini."
Analisa ini sangat masuk diakal, Pwe-giok sendiri merasa puas dengan hasil pemikirannya ini.
Tapi ia lantas menghela napas menyesal pula, sungguh tak terpikir olehnya bahwa ada
sementara orang yang tampaknya sangat suci, kenyataannya justeru kebalikannya, rendah dan
kotor perbuatannya.
Ia taruh lentera itu di atas almari, lalu coba membalik-balik kitab yang terletak di situ. Kitabkitab
itu ternyata buku bacaan umum dan bukan sebangsa kitab pusaka pelajaran ilmu silat
segala. Pwe-giok rada kecewa.
Mendadak dilihatnya ada satu jilid buku, di dalamnya terselip beberapa carik kertas yang
bertuliskan kata-kata indah dan sajak asmara. Tampaknya tulisan perempuan.
Pwe-giok memang serba bisa, baik ilmu silat maupun sastra, sekali pandang saja ia lantas
paham arti yang terkandung dalam sajak itu, yaitu sajak rindu seorang perempuan terhadap
kekasihnya. Padahal patung lilin itu berperawakan kerdil sama seperti Ki Song hoa, mukanya juga lucu,
masa orang macam begini juga bisa main roman, apakah mungkin ada perempuan yang jatuh
cinta terhadap lelaki demikian"
126 Pwe giok tersenyum sambil menggeleng, ditaruhnya buku itu. Mendadak dilihatnya pula di
bawah tempat tidur itu menongol ujung sebuah kantong kain bersulam, ia coba
mengambilnya. Dari dalam kantung sulaman itu mendadak jatuh sepotong batu Giok yang
berukir halus. Satu sisi batu kemala itu terukir gambar Bu-kek-to dan sisi lain cuma terukir
satu huruf, yaitu "Ji".
Batu kemala ini ternyata benda pusaka milik keluarga Ji Pwe-giok.
Sungguh luar biasa dan sukar dimengerti bahwa benda mestika keluarga Ji bisa ditemukan di
tempat ini, sungguh suatu hal yang sukar dibayangkan.
Sampai lama Pwe-giok termangu-mangu, dilihatnya pula kantung kain itu bersulamkan potret
seorang perempuan, matanya jeli, wajahnya sangat cantik, jelas potret Ki-hujin.
Di samping potret sulaman itu terdapat pula dua baris huruf yang berbunyi: "Semoga
senantiasa berdampingan dengan anda, mohon janganlah ditinggalkan."
Lalu di sisi bawah tersulam pula nama yang menyulam tulisan itu: "Bi-nio".
Dengan sendirinya Bi nio ini adalah nama Ki-hujin. Meski sulaman berbeda dengan tulisan
tangan, tapi gaya tulisannya jelas serupa dengan sajak tadi.
Pwe-giok dapat membayangkan betapa hampa perasaan Ki-hujin setelah bersuamikan lelaki
kerdil macam Ki Song hoa, sebab itulah ia jatuh cinta pula kepada orang lain. Dan kekasihnya
itu ternyata anggota keluarga Ji.
Selagi Pwe-giok termenung-menung suara Ki-hujin seolah-olah mengiang pula ditepi
telinganya: "Dahulu ada seorang she Ji telah membunuh seorang yang sangat dekat denganku,
karena itu dalam perasaanku setiap orang she Ji pasti bukan orang baik-baik."
Kalau dipikir sekarang, sebabnya Ki-hujin benci kepada orang she Ji tentunya bukan lantaran
orang she Ji itu membunuh orang yang paling rapat dengan Ki-hujin, tapi disebabkan orang
she Ji itu telah melukai hatinya.
Tentunya orang she Ji itupun terancam bahaya serupa Pwe-giok sekarang, lalu Ki-hujin
menyembunyikannya di gua rahasia ini. Tatkala mana ayah Ki song-hoa dengan sendirinya
sudah lama meninggal, tapi pada masa hidupnya mungkin tak terpikir olehnya bahwa gua
rahasianya yang digunakan menipu orang kemudian dapat digunakan anak menantunya untuk
menyembunyikan kekasih gelap.
Bisa jadi Ki-hujin sudah lama kenal orang she Ji itu, mungkin cintanya baru timbul ketika
melihat orang she Ji itu berada dalam bahaya. Pendek kata, orang she Ji itu jelas tidak setia
pada hubungan cinta mereka dan akhirnya telah meninggalkan Ki-hujin.
Setelah orang she Ji itu pergi, hidup Ki-hujin lantas merana dan kehilangan gairah, terpaksa ia
mencari hiburan di alam mimpi, makanya setiap hari Ki-hujin selalu berkeliaran kian kemari
seperti orang linglung, seperti arwah halus.
Memandangi Ki-hujin yang cantik pada gambar yang tersulam di kantung itu, kemudian ia
membayangkan pula Ki-hujin yang linglung itu, diam-diam Pwe-giok menghela napas
127 menyesal. Tapi iapun tidak dapat menerka sesungguhnya siapakah gerangan orang she Ji itu.
Kalau dihitung usianya orang itu tentunya kerabatnya dari angkatan yang lebih tua, tapi jelas
pasti bukan ayahnya.
Kisah cinta yang menyedihkan dan juga misterius ini, kecuali Ki-hujin dan si "dia" sendiri,


Renjana Pendekar Karya Khulung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mungkin tiada orang lain lagi yang tahu seluk beluknya.
Pwe-giok menghela napas panjang dan bergumam: "Agaknya orang itu akhirnya ingkar janji
dan meninggalkan Ki-hujin, ia telah pergi dari sini... Tapi melalui mana dia pergi" Janganjangan
di lorong bawah tanah ini masih ada jalan tembus lain?"
Berpikir demikian, semangat Pwe-giok terbangkit lagi, segera ia kesampingkan urusan lain,
diangkatnya lentera tadi dan menyusuri lorong yang gelap itu.
Lorong di bawah tanah itu sempit lagi berliku-liku dan sangat panjang.
"Hampir di bawah setiap jengkal tanah pekarangan ini terdapat mayat korban yang dibunuh
dan dikuburnya sendiri... " teringat kepada keterangan Ki Leng-hong ini, tanpa merasa Pwegiok
berkeringat dingin pula.
Namun di lorong bawah tanah ini tiada terdapat sesuatu mayatpun, akhirnya Pwe-giok dapat
mencapai ujungnya, Setelah diraba dan dicari sekian lamanya, akhirnya ditemukan tempat
yang merupakan kunci pintu lorong itu. Sebuah papan batu pelahan lahan bergeser.
Dari luar segera menyorot masuk cahaya terang. Girang sekali Pwe-giok, lentera itu
ditinggalkan dan segera ia menerobos keluar... sekonyong-konyong sebuah tangan merangkul
lehernya dengan erat. Tangan itu sedingin es.
"Akhirnya kau kembali juga, memang ku tahu kau pasti akan kembali lagi!" demikian suara
seorang berkata sambil tertawa terkikik-kikik.
Tidak kepalang kaget Pwe-giok, cepat ia menengadah, dilihatnya orang yang merangkulnya
itu ialah Ki-hujin, jalan tembus ini ternyata berada didalam kamar tidur Ki-hujin.
Ki-hujin terus menubruk ke dalam pelukan Pwe-giok dengan air mata bercucuran katanya
dengan suara gemetar: "O. betapa kejam kau, kau pergi tanpa pamit, sudah sekian lama siang
dan malam kurindukan kau, saking gemas ingin kubunuh kau... Tapi sekarang kau sudah
kembali lagi, rasanya aku dapat juga memaafkan kau."
Ternyata secara kebetulan Pwe-giok telah memasuki lagi kamar tidur Ki-hujin, malahan
disangkanya sebagai kekasih sang nyonya rumah yang ingkar janji, keruan ia menjadi serba
susah. Katanya dengan menghela napas: "Ki-hujin, kau salah mengenali orang, aku bukan
orang yang kau rindukan itu, harap lepaskan diriku."
Tapi makin erat Ki-hujin merangkulnya, ya menangis ya tertawa, katanya: "Sungguh kejam
kau, sampai sekarang kau masih ingin menipu diriku. Tapi aku tak dapat kau tipu lagi, takkan
kulepaskan kau lagi, selamanya takkan kubebaskan kau."
Tentu saja Pwe-giok kelabakan, mendadak dilihatnya Ki Leng-hong juga berdiri disamping
sana dengan girang ia lantas berseru "He, nona Ki, tentunya kau tahu siapa diriku ini."
128 Ki Leng-hong memandangnya dengan dingin, mendadak ia berkata dengan tertawa: "Sudah
tentu ku tahu siapa kau, kau adalah orang yang senantiasa dirindukan ibuku."
"He, ken .... kenapa kaupun sengaja membikin susah padaku?" seru Pwe-giok.
"Kau telah membikin ibu menderita sekian tahun, sekarang sudah waktunya kau
menggirangkan hati ibu," ucap Ki Leng-hong dengan tersenyum hambar.
Tidak kepalang kejut dan kuatir Pwe-giok, keringat dingin membasahi bajunya, ia ingin
meronta namun rangkulan Ki-hujin teramat erat dan sukar melepaskan diri.
Dengan tertawa linglung Ki-hujin mendorong Pwe-giok berduduk di atas tempat tidur,
dipegangnya tangan anak muda itu, katanya dengan mesra: "O, tahukah kau betapa
kurindukan kau" Apakah kau baik-baik saja selama ini?"
"Aku .... aku tidak .... bukan .... " Pwe giok gelagapan.
Tapi sebelum lanjut ucapannya, Ki-hujin lantas berkata pula; "Ku tahu kau pasti sangat lelah
dan tidak ingin bicara. Tapi kita dapat bertemu pula setelah berpisah sekian lama, sungguh
hatiku girang tak terperikan .... He, Leng-hong, Kenapa tidak lekas kau ambilkan arak yang
telah kusiapkan baginya, rayakanlah pertemuan kembali kami ini."
Ki Leng-hong benar-benar melangkah keluar untuk kemudian datang lagi dengan membawa
sebuah poci arak yang berbentuk aneh dengan dua cawan batu kemala.
Setelah menuang secawan penuh dan disodorkan kepada Pwe-giok, dengan tertawa genit Kihujin
berkata: "Sudah lama sekali tidak pernah ku bergembira seperti ini, secawan arak ini
harus kau minum."
Pwe-giok tahu dalam keadaan demikian. biarpun dirinya putar lidah untuk menjelaskan juga
tiada gunanya, terpaksa ia mengikuti perkembangan selanjutnya, dengan menghela napas
iapun terima arak itu dan diminum habis.
"Nah, memang harus begitu," kata Ki-hujin pula dengan lembut. "Ingatkah kau, waktu minum
arak bersama dahulu pernah kau katakan padaku bahwa selamanya kau takkan meninggalkan
diriku, apakah masih ingat?"
Pwe-giok menjawab dengan menyengir: "Aku.. .. ..aku ....."
Dengan gaya menggiurkan Ki-hujin berbangkit katanya pula sambil menatap Pwe-giok:
"Meski dahulu kau telah berdusta padaku, tapi setelah kau minum arak ini, selanjutnya kau
takkan berdusta lagi."
Pwe-giok terkejut, segera ia merasakan hawa dingin menerjang ke atas melalui perut, seketika
kaki dan tangannya menggigil kedinginan, matapun berkunang-kunang. Tanyanya kaget: "He,
arak ini beracun"!"
"Ya, arak ini disebut Toan-jong-ciu (arak perantas usus)," tutur Ki-hujin dengan tertawa,
"Setelah kau minum arak ini, kau tak dapat lagi pergi secara diam-diam."
129 "Tapi .... tapi orang itu bukan diriku, bu . . . .kan diriku ...." Pwe-giok melonjak dan berteriak
takut. Belum habis seruannya, "bluk", ia jatuh terkapar dan tak tahu lagi apa yang terjadi.
Ki-hujin menyaksikan robohnya Pwe-giok, suara tertawanya perlahan-lahan berhenti, air mata
berbalik bercucuran, perlahan ia berjongkok dan membelai rambut anak muda itu, gumamnya:
"Aku masih ingat, waktu pertama kalinya dia menerobos keluar dari lorong bawah tanah ini,
tatkala mana aku sedang ganti pakaian. Aku terkejut dan gusar pula melihatnya munculnya
secara mendadak itu. Tapi dia sedemikian cakap, sedemikian ganteng, dia berdiri di situ dan
memandang diriku dengan tertawa, matanya . . . . ya matanya, pandangannya itu membuat
aku tak berdaya..."
Seperti orang mengigau di waktu mimpi Ki-hujin mengenangkan kejadian di masa yang
lampau, peristiwa yang menyenangkan dan menyusahkan itu seolah-olah berada pula di
dalam hatinya, akhirnya dia mulai mencari lagi malam bulan purnama dalam mimpinya.
Hambar Ki Leng-hong memandangi sang ibu, katanya kemudian dengan pelahan: "Tatkala
mana engkau tentunya sangat kesepian."
"Kawin dengan suami begitu, perempuan mana yang takkan kesepian?" ucap Ki-hujin dengan
hampa. "Kesepian, ya kesepian itulah mengakibatkan aku tertipu olehnya."
"Tapi apapun juga dia cukup baik padamu bukan?" kata Ki Leng hong.
Wajah Ki-hujin tambah cerah, katanya dengan tertawa: "Betul dia memang cukup baik
padaku, selama hidupku belum pernah merasakan kebahagiaan seperti pada waktu itu.
Seumpama aku tidak dapat melihat dia, asalkan terkenang padanya hatiku pun akan terasa
manis dan bahagia."
"Justeru lantaran kalian terlalu bahagia sewaktu berkumpul, maka setelah dia pergi kau lantas
menderita," ujar Leng hong.
Tangan Ki-hujin tampak mengejang lagi, serunya dengan parau: "Betul! Aku menderita, aku
tersiksa-siksa, aku benci..." jari tangannya mulai mengendor dan membelai rambut Pwe-giok
lagi, lalu katanya pula: "Tapi sekarang aku tidak lagi benci padanya. Sekarang, seluruhnya dia
sudah menjadi milikku, tiada seorangpun yang dapat merampas nya dari tanganku."
"Cuma sayang, orang yang kau bunuh ini bukanlah si "dia" yang dulu itu," jengek Leng-hong.
Ki-hujin terbahak-bahak seperti orang gila, teriaknya: "Hahahaha, bohong kau, kau pun ingin
menipu aku" Kecuali dia, siapa lagi yang dapat muncul dari lorong bawah tanah ini?"
"Meski lorong ini sangat dirahasiakan, tapi kalau si dia yang dahulu dapat menemukan lorong
rahasia ini, orang yang sekarang berbaring di sampingmu ini dengan sendirinya juga dapat
menemukannya," demikian tutur Leng-hong dengan perlahan. "Sebabnya, mereka sama-sama
orang keluarga Ji, mereka sama-sama paham rahasia perhitungan Thay kek-to (Pat-kwa)."
Seketika berhenti suara tertawa Ki-hujin, teriaknya: "Tutup mulut..."
130 Tapi Ki Leng-hong tidak menghiraukan dan menyambung pula: "Sebenarnya kau sendiri juga
tahu orang ini bukanlah si dia, tapi kau sengaja menganggap orang ini adalah dia. Kau menipu
diri sendiri, sebab hanya dengan cara begini kau dapat terlepas dari penderitaan."
Mendadak Ki-hujin menjatuhkan diri di lantai dan menangis seperti anak kecil, serunya
dengan suara parau: "O, mengapa kau sengaja membongkar isi hatiku" Mengapa kau bikin
aku menderita."
Kaku air muka Ki Leng-hong, ucapnya dingin: "Kau cuma tahu aku membikin kau menderita,
tapi kau tidak tahu bahwa sudah lama kau membikin kami menderita, kau membikin kami
menderita sejak dilahirkan. Leng-yan masih dapat menghindarkan penderitaan dengan dunia
khayalannya, tapi aku... aku benci padamu!"
Sorot matanya yang dingin itu akhirnya mengembeng juga butiran air mata.
Mendadak Ki-hujin berbangkit, seperti orang kalap ia angkat Ji Pwe-giok dan meraung: "Kau
bukan dia! Kau bukan dia! Jika kau bukan dia, untuk apa kau datang kemari..." sambil
meraung ia terus melemparkan Pwe giok keluar jendela.
Cepat Ki Leng hong menyelinap keluar pintu, ia berdiri di serambi sana dan berteriak: "Ini dia
Ji Pwe-giok sudah mati, lekas kalian kemari melihatnya!"
Suaranya juga sangat dingin, suara yang melengking dingin ini berkumandang jauh terbawa
angin malam. Hanya sekejap saja dalam kegelapan muncul berbagai bayangan orang.
Orang yang melayang tiba lebih dulu adalah Pek-ho Tojin, berkat cahaya lampu yang
menembus dari jendela dapatlah dilihatnya jenazah Ji Pwe-giok. Dirabanya tubuh yang tak
bergerak itu, lalu berbangkit dan berkata dengan suara berat: "Betul, Ji Pwe-giok sudah mati!"
Anak murid Tiam-jong-pay yang sudah tiba berkata dengan menyesal: "Sungguh sayang kita
tak dapat membunuh bangsat ini dengan tangan sendiri."
Dengan suara bengis Pek-ho Tojin berseru; "Meski tak dapat kita bunuh bangsat ini, setelah
mati mayatnya juga harus kita cincang..." di tengah bentakannya segera ia melolos pedang
terus menusuk jenazah Ji Pwe-giok.
Mendadak terdengar suara "trang" sekali, pedang Pek-ho Tojin tahu-tahu mencelat, Ki Songhoa
telah berdiri di samping jenazah Ji Pwe-giok dengan berlagak tertawa.
Ternyata pedang Pek-ho Tojin tergetar mencelat oleh tangkisan Ki Song-hoa, keruan Pek-ho
Tojin terkejut, serunya: "He.. Ki-cengcu, mengapa engkau bertindak demikian?"
"Cut-keh-lang (orang yang sudah meninggalkan rumah, artinya orang yang sudah menjadi
Tosu atau Hwesio) mana boleh bertindak sekejam ini, merusak mayat, hal ini sekali-kali tidak
boleh kau lakukan," kata Ki Song-hoa dengan perlahan.
Pek-hoa Tojin melengak, jengeknya kemudian: "Hm, mulai kapan Ki cengcu berubah menjadi
welas-asih?"
"Apa?" Ki Song-hoa mendelik gusar. "Bilakah aku tidak welas-asih?"
131 Bahwa Sat-jin-cengcu mengaku sebagai orang yang welas-asih, sungguh Pek-hoa Tojin
merasa geli dan juga mendongkol, tapi demi ingat betapa lihay caranya orang membikin
pedangnya mencelat tadi mau-tak-mau ia rada jeri, katanya sambil memberi hormat: "Ya,
maafkan ucapan Tecu yang tidak pantas. ... Bukan Tecu tidak tahu welas-asih, soalnya dosa Ji
Pwe-giok ini teramat besar dan tak terampunkan, jika dia mati begini saja, rasanya belum
cukup untuk menebus dosanya."
"Betapapun besar dosanya waktu hidup, kalau sudah mati, ya lunas seluruhnya," ujar Ki
Song-hoa. "Di dunia ini hanya orang matilah yang paling sempurna, orang hidup harus
menaruh segenap hormatnya kepada orang mati."
Pek-hoa tojin tidak dapat membantah perkataan ini dan berkata: "Toh dia sudah mati,
mengapa kau masih..."
Ki Song-hoa memotong dan berkata dengan sungguh-sungguh "Ini adalah perkampunganku,
orang-orang mati adalah tamu-tamu sejati perkampungan ini. Jika dia masih hidup, kau bebas
untuk melakukan apa saja padanya. Tapi sekarang dia menjadi tamuku dan menjadi tanggung
jawabku untuk mengurusnya."
Pek-hoa tojin berkata: "Baiklah jika demikian. Kami akan pergi sekarang. Kami akan
membawa mayatnya. Meskipun dia telah membunuh guru kami, dia tetap murid Kun-lun.
Terima kasih atas kesediaan anda menampung kami."
Ki Song-hoa berkata: "Aku tidak peduli apakah ketika dia masih hidup dia murid Kun-lun
atau Hoa-san. Setelah dia mati, tubuhnya menjadi milikku. Siapa yang ingin membawanya
harus mengalahkanku terlebih dahulu."
Ki Song-hoa berdiri siap menghadapi siapapun yang berani membawa tubuh Pwe-giok.
Murid-murid Kun-lun dan Tiam-jong saling memandang kehabisan akal mau berbuat apa.
Pek-hoa akhirnya berkata: "Betapapun juga, Ji Pwe-giok kini telah meninggal! Dendam
kematian guru kita telah terbalas, lebih baik kita mematuhi kehendak Ki cengcu"
Ki Song-hoa cepat-cepat lari sambil membawa tubuh Ji Pwe-giok.
Ki Leng-hong berdiri mengawasi apa yang terjadi dengan dingin. Kelihatannya, dia sudah
menduga akhirnya jadi begini.
Pek-hoa tojin ingin mengatakan sesuatu tapi Ki Song-hoa sudah pergi berlalu.
Pek-hoa menghentakkan kakinya dan berkata dengan marah: "Seluruh orang di
perkampungan ini idiot semua! Mari kita cepat-cepat pergi menjauh dari tempat terkutuk ini."
Ki Song-hoa mengganti pakaian Ji Pwe-giok dan membersihkan debu kotoran di wajahnya.
Mungkin di dunia ini tiada orang lain lagi yang begini lembut memperlakukan sesosok mayat.
Habis itu, Cengcu kerdil itu mendapatkan sebuah cangkul di balik semak-semak pohon sana
dan mulai menggali. Dari sorot matanya tampak rasa gembira yang kelewat batas, tapi di
mulut dia justeru bergumam dengan menyesal: "O, anak yang harus dikasihani, masih muda
132 belia begini kau sudah mati, sungguh sangat sayang. Salahmu sendiri, tidak mau turut pada
nasihatku, kalau tidak masakah kau sampai mati diracuni perempuan siluman itu."
"Jika dia turut kepada perkataanmu, mungkin dia akan mati terlebih mengerikan," demikian
mendadak suara seorang menanggapi. Di bawah cahaya bintang yang remang-remang
kelihatan sesosok bayangan berdiri di samping sana, siapa lagi kalau bukan Ki Leng-hong.
Jilid 6________
Seketika Ki Song-hoa melonjak murka, teriaknya sambil memukuli dada sendiri: "Kau, kau
datang lagi! Kenapa kau selalu mengganggu diriku, apakah tak dapat aku diberi sedikit
ketenangan"!"
"Dia sudah mati, mengapa tidak kau berikan ketenangan pula?" jawab Leng-hong dengan
hambar. "Justru sekarang akan kuberi ketenangan abadi baginya dengan membaringkannya di bawah
tanah" kata Ki Song-hoa.
"Orang yang kau kubur mana bisa tenang" Bisa jadi setiap saat kau akan kembali lagi ke sini
dan menggalinya untuk diperiksa pula" jengek Ki Leng-hong.
Dengan gusar Ki Song-hoa berkata: "Mana boleh kau bicara demikian kepadaku"...
Seumpama aku bukan ayahmu, berdasarkan apa pula kau kira aku takut padamu" Enyah,
lekas enyah! Kalau tidak, bisa ku kubur kau hidup-hidup bersama dia."
Namun Ki Leng hong tanpa bergerak, ucapnya pelahan: "Tak nanti kau berani menyentuh
diriku, betul tidak"........ Kau tahu sebelum wafat kakek telah banyak menyerahkan rahasia
padaku, satu di antaranya adalah paling ditakuti mu."
Kata-kata Leng-hong ini ternyata sangat manjur, seketika Ki Song-hoa menjadi lesu, katanya:
"Sesungguhnya apa kehendakmu?"
"Mayat ini adalah kepunyaanku, tidak boleh kau sentuh dia!" ucap Leng-hong dengan tegas.
"Hahahahaha! Sungguh lucu, mengapa kau pun merasa tertarik pada orang mati" Apakah
kaupun serupa diriku... Aha, memang betul, betapapun kau juga she Ki, biarlah kuberikan
mayat ini padamu."
Sambil berjingkrak gembira dan tertawa latah, lalu Ki Song-hoa berlari pergi.
Ki Leng-hong mengangkat tubuh Ji Pwe-giok, gumamnya: "Orang lain sama menganggap kau
sudah mati, siapa pula yang tahu bahwa orang mati kadang-kadang juga dapat hidup
kembali." Angin dingin menghembus, cahaya bintang berkerlip redup, alam ini memang penuh
kegaiban. ***** 133 Di atas batu-batu raksasa itu sudah banyak lumut hijau, di sudut-sudut yang gelap penuh
sawang, sampai-sampai debu kotoran juga berbau apek.
Di dalam rumah batu yang seram ini tiada terdapat jendela, tiada angin, tiada cahaya matahari,
apapun tidak-ada, yang ada cuma hawa kematian.
Di atap rumah yang tinggi dan lebar itu ada sebuah lubang bundar kecil, setitik sinar matahari
menembus masuk dari situ, langsung menyoroti tubuh Ji Pwe-giok.
Anak muda itu sedang gemetar, jangan-jangan Pwe giok benar-benar telah hidup kembali"
Pelahan ia membuka mata, hampir-hampir ia sendiripun terperanjat. Cepat ia melompat
bangun, maka terlihatlah pemandangan di dalam rumah batu ini.
Seketika dapat diterkanya tempat ini pasti rumah kuburan yang misterius itu. Kini ia ternyata
berada di dalam makam leluhur keluarga Ki.
Kaki dan tangan Pwe-giok terasa dingin, tanpa terasa ia menggigil, pikirnya: "Tentunya aku
sudah mati, maka dikubur di sini.... Tapi orang mati masa dapat bergerak"... Jangan-jangan
sekarang aku telah berubah menjadi setan, menjadi arwah halus?"
Ia kucek-kucek matanya, segera dilihatnya satu orang.
Orang ini berbaju kain belacu putih, duduk di suatu kursi yang longgar dan besar, mukanya
kuning, tanpa bergerak, tempatnya juga sangat seram dan penuh misterius.
Tapi Pwe-giok tidak merasakan apa-apa, ia pikir tentu sebuah patung lilin lagi.
Ia coba berjalan ke depan, ia merasa di ruangan ini ada silirnya angin, dengan sendirinya
angin masuk dari lubang kecil di atap rum ah itu sehingga rambut dan jenggot "patung lilin"
tertiup bergerak-gerak.
Jelas itu bukan patung lilin, tapi benar-benar seorang manusia.
"Siapa kau"!" bentak Pwe-giok terkejut.
Orang itu tetap diam saja tanpa bergerak seakan-akan tidak mendengar suaranya.
Pwe-giok pikir dirinya kan sudah mati, apa yang mesti ditakuti" Segera ia melangkah ke sana,
mendekati orang itu, ia coba memegangnya, memang betul seorang manusia, tapi manusia tak
bernyawa. Terasa hawa dingin menyusup ke tubuhnya melalui jarinya, cepat Pwe-giok menarik kembali
tangannya. Waktu ia berpaling, ternyata di situ tidak cuma seorang ini saja, masih banyak
orang lagi, orang mati seluruhnya.
Kiranya jenazah leluhur keluarga Ki tidak ditanam, jenazah mereka telah dibalsam sehingga
semua jenazah masih utuh, tidak membusuk untuk selamanya.
134 Sejauh mata memandang terlihat setiap mayat itu berduduk di suatu kursi yang longgar dan
besar. Pwe-giok seolah-olah berada di tengah-tengah mayat itu. Meski diketahui "orangorang"


Renjana Pendekar Karya Khulung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ini sudah tak dapat bergerak lagi dan tidak nanti membikin susah padanya, tapi
merembes juga keringat dingin Pwe-giok.
Cahaya yang remang-remang menyoroti wajah mayat-mayat itu, setiap wajah mayat itu sama
dingin dan kurus kering, namun air muka mereka tetap dalam keadaan yang wajar, tidak
mengunjuk keberingasan yang menakutkan, namun sikapnya yang dingin itu tampaknya
menjadi lebih menyeramkan. Berada di tengah-tengah mayat ini tiada ubahnya seperti berada
di neraka. Pandang sini dan lihat sana, darah di tubuh Pwe-giok seakan-akan beku, ia tidak tahan,
akhirnya ia menjerit ngeri terus menerjang keluar.
Di dalam rumah batu itu masih ada sebuah kamar batu, sekeliling kamar batu ini juga
berduduk tujuh-atau delapan orang mati, semuanya juga duduk di atas kursi dengan sikap
kaku dan dingin.
Pandangan Pwe giok yang pertama lantas tertuju kepada sebuah wajah yang kurus kering dan
aneh, yaitu yang serupa dengan patung lilin yang dilihatnya di lorong bawah tanah sana.
Dengan sendirinya inilah mayat ayah Ki Song-hoa yang sesungguhnya.
Tampaknya orang ini mati belum terlalu lama, hal ini terbukti dari bajunya yang jauh lebih
baru daripada mayat-mayat lain.
Selagi Pwe-giok memandang sana dan memandang sini, sekonyong-konyong seorang mati di
sampingnya dapat berdiri dan menegurnya: "Kau... kau pun datang ke sini"!"
Sungguh kaget Pwe-giok sukar dilukiskan, hampir pecah nyalinya.
Dilihatnya orang inipun memakai belacu putih, malahan mukanya juga dibalut dengan kain
putih, bahkan orangnya lantas mendekati Pwe-giok dengan langkah berat.
Kaki dan tangan Pwe giok terasa lemas, setindak demi setindak ia menyurut mundur,
teriaknya dengan parau: "Kau... kau..." hanya kata ini saja yang dapat diucapkannya dan sukar
melanjutkan pula.
Orang itu lantas berhenti dan memandangi Pwe-giok, katanya pelahan: "Jangan takut, aku
bukan setan."
"Kau .... kau bukan setan" Lalu sia ....... siapa kau?" tanya Pwe-giok.
Cukup lama orang itu berpikir, mendadak ia bergelak tertawa dan berseru: "Aku Ji Pwegiok!"
"Hah, kau Ji Pwe-giok" Lantas siapa" siapa diriku?" teriak Pwe-giok dengan kaget luar
biasa. Orang itu tidak bicara lagi, tapi mulai membuka kain pembalut mukanya selapis demi selapis
sehingga terlihat mukanya yang penuh bekas luka.
135 Sampai lama sekali Pwe giok memandang wajah yang rusak ini, akhirnya ia berseru: "He,
bukankah engkau ini Cia . . . Cia Thian pi, Cia cianpwe?"
Bahwa Cia Thian-pi bisa muncul di rumah hantu ini, hal ini benar-benar membuatnya terkejut
melebihi melihat setan.
Cia Thian-pi tersenyum pedih, ucapnya: "Betul, aku memang Cia Thian pi adanya, tak
tersangka kau masih dapat mengenali diriku."
"Wah, tadi Cia cianpwe benar-benar telah membikin kaget padaku," ujar Pwe-giok dengan
menyengir. Dengan menyesal Cia Thian-pi berkata: "Sudah sekian lama berkumpul dengan orang mati di
dalam makam ini, ketika mendadak melihat kedatanganmu, saking kejut dan girangnya aku
lantas bergurau denganmu."
"Mungkin Cianpwe sengaja hendak melihat bagaimana sikapku setelah mendengar ucapanmu
tadi, untuk mengetahui apakah aku ini benar-benar Ji Pwe-giok atau bukan."
"Betul" kata Cia Thian-pi dengan menghela napas. "Di seluruh dunia sekarang, mungkin
hanya kau saja yang dapat memahami isi hatiku. Hanya aku pula yang memahami
perasaanmu. Betapa aneh pengalamanmu dan betapa malang nasibmu, baru sekarang aku
percaya penuh."
Pedih hati Pwe-giok, ucapnya dengan rada gemetar: "Dan Cianpwe sendiri... "
"Ya, meski sekarang aku sudah percaya, tapi sayang, tiada gunanya lagi." tukas Cia Thian-pi.
"Nasibku sekarang jelas serupa dengan kau, mungkin hidupku ini harus ku lalui di tempat
gelap begini untuk selamanya."
"Cara bagaimana Cianpwe berada di sini?"
"Malam itu di perkemahanku, cukup banyak juga ku tenggak arak sehingga terasa rada
mabuk, menjelang tengah malam aku tertidur dengan lelapnya. Tiba-tiba seorang
menggoyang tubuhku dan membangunkan aku serta bertanya siapa diriku?"
"Dia menerobos ke dalam kemah, belum lagi Cianpwe tanya siapa dia, sebaliknya dia malah
bertanya lebih dulu kepada Cianpwe, orang aneh dan kejadian aneh ini sungguh jarang
terjadi." "Tatkala mana akupun sangat mendongkol," tutur Cia Thian-pi pula. "Tapi begitu aku
memandangnya, seketika aku tak dapat... tak dapat bersuara."
"Sebab apa?" tanya pwe-giok.
"Lampu dalam perkemahanku waktu itu masih menyala, di bawah cahaya lampu dapat kulihat
muka orang itu, mata alisnya, raut wajahnya, semuanya serupa benar dengan diriku, rasanya
seakan-akan aku sedang berkaca atas diriku sendiri."
136 "Hm, ternyata benar bangsat itu," desis Pwe-giok dengan geram.
"Aku terbelalak memandangi dia, dia juga terbelalak menatap diriku.
Dia malah berkata: "Akulah Cia Thian-pi dari Tiam-jong, mengapa kau tidur ditempatku?"
Waktu itu aku masih sangsi kalau mabuk ku belum lenyap, aku menjadi bingung oleh
ucapannya itu. Serupa kau tapi, akupun berteriak "Kau Cia Thian-pi"... lantas siapa diriku?"
"Rupanya karena pengalaman Cianpwe itu, maka setelah mendengar ucapanku tadi Cianpwe
lantas yakin diriku ini Ji Pwe-giok tulen," ucap Pwe-giok dengan menyesal. "tapi kemudian
apa pula yang diperbuat oleh bangsat itu."
"Setelah mendengar teriakanku, bangsat itu malah mendamperat diriku, ia menuduh aku
memalsukan wajahnya, bahkan menyatakan bahwa orangnya dapat dipalsu, tapi ilmu pedang
Tiam-jong-pay tidak dapat dipalsu. Dia justeru menantang aku agar menentukan siapa lebih
unggul, yang unggul ialah Cia Thian-pi tulen, yang asor adalah palsu dan harus enyah."
"Jika begitu, jelas ilmu pedang bangsat itu bukan tandingan Cianpwe," ujar Pwe-giok.
"Kau salah sangka." kata Cia Thian-pi dengan tersenyum pedih. "betapa keji dan perencanaan
orang-orang itu sungguh sukar dibayangkan. Ternyata dalam arak yang kuminum itu di luar
tahuku telah diberinya obat bius sehingga aku tidak mampu mengerahkan tenaga sama sekali,
tidak sampai tiga jurus pedangku sudah tersampuk jatuh oleh pedangnya dan ilmu pedang
yang digunakannya memang betul Tiam-jong-kiam-hoat tulen."
"Dan Cianpwe lantas didesak pergi secara begitu?" tanya Pwe-giok.
"Memangnya apa yang dapat kuperbuat lagi?" tutur Cia Thian-pi. "Tatkala mana Ji Hong-ho,
Ong Uh lau dan lain-lain serentak muncul juga, rupanya mereka sebelumnya sudah
bersembunyi di situ, dalam kedudukannya sebagai Bengcu, dia telah menyingkirkan anak
muridku ke tempat lain, lalu..."
"Mungkin waktu itu Cianpwe sendiri tidak tahu bahwa merekapun palsu seluruhnya." kata
Pwe-giok dengan gemas.
"Ya, tatkala itu aku memang tidak pernah membayangkan akan terjadi begitu, demi nampak
datangnya Bengcu, aku menjadi girang. Siapa tahu mereka lantas menuduh aku inilah yang
memalsukan Cia Thian-pi." dengan tangan gemetar ia pegang tangan Pwe-giok, tangannya
sudah penuh keringat, nadanya sangat sedih, sambungnya pula:
"Saat itulah baru kurasakan betapa susahnya orang yang terfitnah. Dadaku serasa mau
meledak, tapi apa dayaku, anggota badan terasa lemas, aku tidak sanggup melawan, akhirnya
aku dibekuk oleh mereka dan diangkut ke atas kereta serta dibawa pergi..."
"Orang... orang she Ji itupun berada di kereta itu?" tanya Pwe-giok.
"Meski dia tidak ikut di dalam kereta, tapi dia memerintahkan beberapa lelaki kekar
membawa pergi diriku, jelas aku hendak dibunuhnya ditempat jauh dan sepi. Waktu itu
137 keadaanku hampir tak bertenaga sama sekali, orang biasa saja tak dapat kulawan, apalagi anak
buah bangsat itu."
"Jika demikian, bahwa Cianpwe masih dapat menyelamatkan diri, boleh dikatakan lolos dari
lubang jarum."
"Ya, kalau tindakan mereka tidak terlalu rapi, bisa jadi aku takkan hidup sampai saat ini."
"Aneh, mengapa berbalik begitu?" tanya Pwe-giok heran.
"Coba kalau mereka membunuhku di sembarangan tempat, tentu jiwaku sudah melayang.
Tapi mereka justeru kuatir perbuatan jahat mereka diketahui orang, kuatir pula tindakan
mereka akan meninggalkan bukti..." ia tersenyum pedih dan menyambung pula: "Padahal
hendak membunuh orang semacam diriku rasanya juga tidak mudah, mereka harus mencari
suatu tempat yang baik. Sedangkan tempat pembunuhan yang paling baik di seluruh dunia ini
mungkin tiada yang lebih baik daripada Sat-jin-ceng."
"Betul di sat-jin-ceng ini, membunuh orang ibaratnya orang membabat rumput, siapapun tidak
perduli dan tanpa perkara." ujar Pwe-giok dengan menyesal.
Ia menunggu cerita Cia Thian-pi lebih lanjut, tapi sesampai di sini Cia Thian-pi lantas
berhenti dan tidak menyambung lagi.
Selang sejenak, Pwe-giok tidak tahan, ia bertanya: "Melihat luka Cianpwe yang parah ini,
mungkin kawanan bangsat itu sengaja membuat Cianpwe tersiksa untuk kemudian mati
dengan sendirinya."
"Ya, memang begitu kehendak mereka." kata Cia Thian-pi.
"Dan entah cara bagaimana Cianpwe mendapat pertolongan dan mengapa pula sampai di
sini?" Pwe-giok coba memancing.
Cia Thian-pi berpikir sejenak, tuturnya kemudian: "Sudah tentu inipun secara kebetulan saja,
cuma... cuma kejadian ini menyangkut rahasia orang ketiga, sebelum mendapat
persetujuannya, maafkan, tak dapat kuceritakan padamu."
Dan sebelum Pwe-giok bertanya pula, dengan tertawa ia bertanya: "Dan dengan cara
bagaimana kau pun datang ke sini?"
Pwe-giok menghela napas sedih, jawabnya: "Tecu... Tecu sudah dianggap orang mati dan
dikubur di sini."
"Orang mati?" Cia Thian-pi menegas dengan heran. "Jangan-jangan kau..."
Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba seorang menyela dengan dingin: "Ucapannya memang
tidak salah, dia memang sudah mati satu kali, cuma saat ini dia sudah hidup kembali."
Di bawah cahaya yang remang-remang muncul sesosok bayangan putih dengan rambutnya
yang terurai, tertampak matanya yang indah mempesona dan wajahnya yang cantik laksana
138 dewi itu. Ditempat yang suram begini tampaknya lebih mirip badan halus dan membuat orang
yang melihatnya seakan-akan berhenti bernapas.
Perpaduan antara badan halus dan dewi itu bukan lain ialah Ki Leng-hong.
Cia Thian-pi seperti juga terkesima oleh kecantikan yang tiada taranya serta keangkeran yang
sukar dilukiskan itu. Ia termangu-mangu sejenak, kemudian berkata dengan tertawa: "Ah,
jangan nona berkelakar, orang mati mana bisa hidup kembali?"
"Akulah yang membuatnya hidup kembali." kata Leng-hong dengan pelahan. Suaranya
hambar, seolah-olah memang mengandung semacam kekuatan gaib yang dapat
mengendalikan mati atau hidup manusia. Sorot matanya yang dingin itu seakan-akan
menyembunyikan segala macam rahasia yang dapat menentukan mati atau hidup seseorang.
Cia Thain-pi dan Ji Pwe-giok saling pandang tak dapat bicara.
Dilihatnya Ki Leng-hong telah mendekati patung lilin yang serupa dengan patung di lorong
bawah tanah itu serta menyembahnya tiga kali dengan khidmat. Mendadak ia berkata: "Di
makam ini seluruhnya adalah leluhur keluarga Ki. Tentunya kalian heran mengapa aku cuma
menyembah dia saja" Biarlah kuberitahu, sebabnya dia pernah menyelamatkan diriku, seperti
halnya aku telah menyelamatkan kalian."
Pwe-giok dan Cia Thian-pi tambah bingung dan tidak tahu bagaimana harus menjawab.
Ki Leng-hong telah berbangkit dan membalik tubuh, ditatapnya Cia Thian-pi, katanya:
"Dalam keadaan kempas kempis dan tak berdaya, jelas kau pasti akan terbunuh, akulah yang
membuat mereka menyangka kau sudah mati, kemudian ku pancing pergi mereka dan
membawa kau ke sini, kau tahu tidak?"
"Ya, budi pertolongan nona takkan kulupakan selama hidup." kata Thian-pi.
"Sebagai seorang ketua suatu perguruan ternama, ternyata harus ditolong oleh seorang gadis
yang tak terkenal, tentu dalam hati kau merasa malu, makanya tadi ketika ditanya orang, kau
enggan menjelaskannya, begitu bukan?"
"Ah, nona telah salah paham." jawab Thian-pi dengan menyengir. "soalnya Cayhe ingin..."
"Aku memang berpikiran sempit." dengan ketus Ki Leng-hong memotong. "Barang siapa
sudah ku tolong, selama hidupnya harus selalu ingat kepada budi pertolonganku, kalau tidak,
akupun dapat membuatnya mati. Untuk itu hendaklah kau ingat dengan baik."
Cia Thian-pi melongo mendengarkan perkataan Ki Leng-hong itu.
Nona itu tidak menggubrisnya lagi, ia berpaling ke arah Pwe-giok dan berkata pula: "Dan kau,
hakekatnya kau sudah mati, setiap orang sudah merabai mayatmu dan menyatakan kau sudah
mati. Tapi aku telah membuat kau hidup kembali, Meski di mulut kau tidak bicara, di dalam
hati tentu kau tidak percaya. Orang mati masa bisa hidup kembali, begitu bukan?"
139 Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian: "Cayhe tidak pernah menaruh curiga, tapi
sekarang sudah kupikirkan, rahasia mati dapat hidup kembali pasti terletak pada arak yang
kuminum itu."
"Meski tampaknya kau dungu nyatanya tidaklah bodoh." Jengek Leng-hong. "Memang betul,
arak yang kuberikan itu bukanlah Toan-jiong ciu millik Hujin, tapi To-ceng ciu (arak
menghindari cinta)."
"Hah, arak bernama To-ceng, sungguh nama yang bagus." kata Pwe-giok dengan tertawa.
"Konon arak ini buatan seorang sastrawan termasyhur di jaman dahulu." tutur Ki Leng-hong.
"Dia terlibat di tengah tiga perempuan yang mencintai dia, selama puluhan tahun dia
terombang-ambing di tengah kerumunan wanita cantik itu, akhirnya ia merasa kewalahan dan
ingin membebaskan diri, sebab itulah dia berusaha menyuling arak khas ini. Setelah diminum,
seketika pernapasannya berhenti, kaki dan tangan dingin serupa dengan orang mati. Tapi
dalam waktu 24 jam dapat hidup kembali. Berkat arak itulah dia dapat melepaskan diri dari
godaan ketiga perempuan itu dan dapat bebas, sebab itulah dia menamai araknya sebagai Toceng-
ciu." "Sungguh tak tersangka arak buatan orang yang romantis di jaman dahulu, sekarang telah
menyelamatkan jiwaku." ujar Pwe-giok dengan menghela napas.
"Tapi jangan kau lupakan, yang menyelamatkan kau bukan To-ceng-ciu itu melainkan aku."
jengek Leng-hong.
"Budi kebaikan nona sudah tentu takkan kulupakan selama hidup." kata Pwe-giok sambil
menyengir. Dengan tatapan tajam Leng-hong bertanya pula padanya: "Tahukah kau, sebab apa ku tolong
kau?" "Aku.... ini...." Pwe-giok menjadi gelagapan. Sudah tentu, siapapun tak dapat menjawab
pertanyaan ini.
"Jika kau sangka lantaran ku jatuh cinta padamu maka ku tolong kau, maka salahlah kau,"
kata Leng-hong pula. "Sama sekali aku bukan perempuan yang mudah jatuh cinta, kaupun
tidak perlu bangga bagi diri sendiri."
Sekenanya dia menerka jalan pikiran orang lain tanpa peduli betul atau salah, juga tidak
memberi kesempatan bagi orang lain untuk membantah, dengan muka merah baru saja Pwegiok
hendak bicara sudah didahului lagi olehnya: "Sebabnya ku tolong kau sama seperti
halnya ku tolong Cia Thian-pi, yakni supaya kau selalu ingat akan budi pertolonganku."
Seketika Pwe-giok melenggong juga.
Didengarnya Leng-hong berkata pula: "Tentunya dalam hati kalian sekarang sedang berpikir
bahwa aku ini bukan seorang Kuncu (ksatria sejati), memberi pertolongan dengan
mengharapkan balas jasa."
"Ah, mana Cayhe berani berpikir demikian." kata Cia Thian-pi.
140 "Kau tidak berpikir demikian, aku justeru berpikir begitu," jengek Leng-hong. "Aku memang
bukan seorang Kuncu, aku memang mengharapkan balas jasa. Nah, setelah kuselamatkan jiwa
kalian, coba, cara bagaimana kalian akan membalas budi padaku?"
Cia Thian-pi menjadi bingung, dipandangnya Ji Pwe-giok, ternyata anak muda itupun sedang
memandangnya. Keduanya jadi saling pandang dengan melongo dan tak dapat menjawab.
"Bagaimana, setelah menerima budi pertolonganku, apakah kalian tidak ingin membalas?"
tanya Leng-hong dengan gusar.
"Budi pertolongan nona sudah tentu ...." tergagap-gagap Pwe-giok.
"Huh, aku tidak suka kepada segala omong kosong tentang selama hidup takkan melupakan
budi pertolonganmu segala. Jika kalian ingin balas budi, kalian harus menyatakan dengan
tegas cara balas budi yang nyata."
Seperti orang menagih utang saja cara si nona mendesak orang membalas budi, sungguh
jarang ada orang macam begini di dunia ini.
Cia Thian-pi hanya menggeleng dengan menyengir saja, katanya kemudian: "Entah cara
bagaimana kami harus membalas budi menurut pendapat nona?"
Mendapat Ki Leng-hong berpaling menghadapi orang mati tadi dan berkata: "Tahukah kalian
siapa dia?"
"Bukankah dia...... ayah Ki Song-hoa?" kata Pwe-giok.
Dia tidak bilang "kakekmu", tapi bilang "ayah Ki Song-hoa", sebab dia sudah dapat meraba
riwayat hidup nona ini pasti ada sesuatu yang ganjil dan rahasia, hakekatnya tidak mengakui
dirinya adalah keturunan keluarga Ki.
Benar juga, Ki Leng-hong lantas berkata: "Betul dia inilah Ki Go-ceng, aku menghormat dan
menyembah padanya bukan lantaran dia ayah Ki Song-hoa, juga bukan disebabkan dia pernah
menyembuhkan penyakitku yang parah, tapi karena kepintarannya, dia pernah meramal
bahwa di dunia Kangouw pasti akan timbul kekacauan yang belum pernah terjadi selama ini,
dan diriku ini justeru dilahirkan karena jaman kacau ini...."
Mendadak ia membalik tubuh lagi ke sini, sorot matanya tampak merah membara, ia berteriak
pula: "Jika aku dilahirkan di jaman demikian, jaman ini harus pula menjadi milikku. Sebab
itulah kuminta kalian tunduk pada perintahku, bantulah pekerjaanku. Aku telah
menghidupkan kalian, akupun menghendaki kalian rela mati bagiku."
Sungguh Pwe-giok dan Cia Thian-pi tidak pernah menyangka nona yang masih muda belia ini
ternyata mempunyai ambisi sebesar ini, tanpa terasa mereka jadi melenggong.
Dari bajunya Ki Leng-hong lantas mengeluarkan sebuah botol kayu kecil, katanya: "Di dalam
botol ini ada dua biji obat, makanlah kalian, bila kalian siuman nanti, kalian akan berubah
menjadi manusia baru, sama sekali baru, orang lain takkan kenal kalian lagi, akupun
141 menghendaki kalian melupakan segala apa yang telah lalu dan cuma mengabdi bagiku, sebab


Renjana Pendekar Karya Khulung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jiwa kalian adalah pemberianku."
"Dan kalau kami tidak mau terima?" kata Cia Thian-pi dengan air muka berubah.
"Hm," Leng-hong mendengus. "Jangan kau lupa, setiap saat dapat kucabut pula nyawamu."
Dia terus melangkah maju dua tindak, tanpa terasa Cia Thian-pi dan Pwe-giok lantas
menyurut mundur dua tindak.
Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar seorang tertawa latah di luar rumah hantu itu:
"Budak busuk, kau sendiri tak bisa hidup lebih lama lagi, masih coba ancam orang lain?"
Terdengar suara tertawanya yang seram itu membawa semacam kegilaan yang mengerikan..
"Ki Song-hoa!" teriak Pwe-giok tanpa terasa, entah terkejut entah girang.
Belum lenyap suara Pwe-giok, secepat angin Leng-hong melayang keluar kamar itu.
Cepat Pwe-giok ikut berlari keluar, tapi tertampak pintu batu yang berat itu sudah tertutup
rapat. Baru saja Leng-hong melayang sampai di depan pintu, "krek" terdengar bunyi gembok
di luar. "Hahahaha! budak busuk!" demikian terdengar pula tertawa latah Ki Song-hoa di luar pintu.
"Kau kira tidak ada orang yang berani datang ke sini, bukan " Kau kira tiada orang yang dapat
mengetahui rahasiamu, he" Tapi, hahahaha, sedikit kau lengah, akhirnya jiwamu harus amblas
di tanganku."
Pucat wajah Leng-hong yang kaku dan dingin itu, jelas dia tertegun dan ketakutan, sebab ia
tahu apabila pintu batu itu sudah digembok dari luar, maka siapapun jangan harap akan dapat
keluar lagi. "Hahahaha!" terdengar Ki Song-hoa terbahak-bahak pula. "Seharusnya kau tahu bahwa
selamanya tiada seorangpun yang dapat keluar dengan hidup dari rumah setan ini. Dan
mengapa kau masuk juga ke situ" Sungguh teramat besar nyalimu.... Memang sengaja
kuberitahukan rahasia membuka gembok padamu, sudah kuperhitungkan pada suatu ketika
kau pasti tidak tahan dan ingin coba melihat ke dalam. Haha, budak busuk, kau kira dirimu
sangat pintar, akhirnya kau terjebak juga olehku."
Makin jauh suara tertawa latah itu, sehingga akhirnya tak terdengar lagi. Tapi Ki Leng-hong
masih berdiri mematung di tempatnya, mendadak air matanya bercucuran, yang menyedihkan
dia mungkin bukan jiwanya akan melayang, tapi cita-citanya, ambisinya yang belum
terlaksana dan kini harus hancur dalam sekejap.
Mau tak mau Pwe-giok dan Cia Thian-pi juga melenggong dan tidak tahu apa yang harus
mereka lakukan.
Sampai lama sekali Ki Leng-hong berdiri di tempatnya seperti orang linglung, kemudian ia
membalik tubuh perlahan dan mendekati sebuah kursi batu yang lowong serta duduk di situ.
142 Ia memandang sekelilingnya, mendadak ia tertawa seperti orang gila, teriaknya: "Hahaha!
Biar matipun tidak kesepian, masih ada sekian banyak orang yang mengiringi diriku."
Cia Thian-pi terperanjat, cepat ia tanya: "Apakah..... apakah nona juga akan menanti kematian
di sini?" "Ya," jawab Leng-hong. "Menanti datangnya kematian secara perlahan-lahan, rasanya pasti
lain daripada yang lain dan sangat menarik."
"Meng.... mengapa nona tidak berdaya keluar dari sini?" tanya Thian-pi pula.
"Keluar" Hahahaha!" Leng-hong tertawa hingga suaranya serak. "Sekali sudah tergembok di
rumah setan ini, mana ada harapan buat keluar."
"Apakah betul rumah ini tidak pernah dimasuki orang hidup?" tanya Thian-pi
"Pernah, bahkan banyak," jawab Leng-hong "Cuma, hanya ada orang hidup yang masuk dan
tidak ada orang hidup yang keluar."
Mendadak Pwe-giok menimbrung: "Orang yang menggotong mayat ini ke sini apakah juga
tidak ada yang keluar dengan hidup?"
"Tidak ada orang menggotong mayat ke sini." jawab Leng-hong dengan tertawa seram.
"Tidak ada orang menggotong mayat ke sini, lalu apakah mayat-mayat ini masuk sendiri ke
sini?" tanya Thian-pi dengan terkesiap.
"Ya, memang benar, masuk sendiri ke sini!" ucap Leng-hong dengan sekata demi sekata.
Cia Thian-pi memandang mayat sekelilingnya, mayat-mayat itupun seakan-akan sedang
memandangnya dengan dingin, tanpa terasa ia merinding, katanya dengan rada gemetar: "Ah,
janganlah nona bergurau."
"Dalam keadaan demikian, siapa yang bergurau dengan kau?" jengek Leng-hong
"Tapi.... tapi mana ada... mana ada mayat yang dapat berjalan sendiri di dunia ini?" ujar
Thian-pi dengan mandi keringat dingin.
"Sebabnya mereka memang orang hidup sebelum mayat-mayat ini berduduk di kursi masingmasing,"
tutur Leng-hong. "Setelah berduduk di kursinya, mereka lantas berubah menjadi
mayat." "Seb.... sebab apa?" tanya Thian-pi, bulu romanya sama berdiri.
"Inilah rahasia keluarga Ki!" ucap Ki Leng-hong dengan tersenyum misterius.
"Sudah begini, masa nona tidak mau menjelaskan?" kata Thian-pi.
Leng-hong menatap ke depan dengan sorot mata yang kabur, ucapnya perlahan: "Setiap
anggota keluarga Ki, di dalam darah mereka ada semacam sifat pembawaan yang gila, sifat
143 yang suka menghancurkan diri sendiri. Dalam keadaan tertentu, bisa jadi penyakitnya itu
mendadak kumat, tatkala mana bukan saja orang lain akan dihancurkannya, bahkan ia akan
menghancurkan dirinya sendiri."
Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula dengan sekata demi sekata: "Di mulai sejak
leluhur keluarga Ki sampai pada Ki Go-ceng, tiada seorangpun yang tidak mati membunuh
diri!" "Jika mereka masuk ke sini dengan hidup, lalu membunuh diri dengan berduduk di kursi ini,
mengapa jenazah mereka sampai sekarang belum lagi membusuk" Jelas jenazah ini telah
diberi sesuatu obat. Kalau orang sudah mati, masa dapat menggunakan obat untuk
mengawetkan jenazahnya sendiri?"
"Hal ini disebabkan ketika mereka bermaksud mati, sebelumnya mereka lantas minum
semacam obat campuran dari berbagai jenis racun, di antara belasan macam racun ini satu
sama lain bertentangan sehingga bekerjanya racun sangat lambat, akan tetapi dapat membuat
otot daging mereka menjadi kaku sedikit demi sedikit, ketika anggota badan mereka sudah
mati dan cuma tinggal kedua kaki saja yang dapat berjalan, lalu mereka masuk ke rumah ini
dan berduduk di kursi batu untuk menanti datangnya ajal."
Ki Leng-hong tersenyum tak acuh, katanya pula: "Begitulah mereka menganggap selama
menanti datangnya kematian itu adalah saat orang hidup yang paling aneh dan menarik,
mereka menyaksikan sendiri anggota badan sendiri sedikit demi sedikit mulai kaku dan
menjalar ke bagian lain, semua ini mereka anggap sebagai suatu kenikmatan yang sukar
dicari, bahkan jauh lebih menyenangkan daripada menyaksikan penderitaan orang lain.
Maklumlah, mereka sudah terlalu banyak menyaksikan kematian orang lain, hanya
menyaksikan kematiannya sendiri barulah dapat mendatangkan semacam rangsangan baru
bagi kepuasan mereka."
Siapapun mengkirik mendengarkan cerita yang aneh dan sukar dimengerti ini di rumah hantu
yang seram ini.
"Gila, benar-benar gila...." gumam Pwe-giok sambil memandangi mayat-mayat itu dengan
bingung. "Pantas Ki hujin bilang mereka semua orang gila, waktu hidup gila, sesudah mati
juga gila."
"Ya. sekujur badan mereka sudah dirembesi oleh racun yang aneh itu, maka jenazah
merekapun takkan busuk selamanya," kata Leng-hong pula.
Cia Thian-pi merinding pula, ucapnya dengan gemetar: "Pantas tidak pernah ada orang hidup
keluar dari rumah maut ini, kiranya mereka telah mengubur dirinya sendiri di sini."
"Dan keadaan kita sekarang juga serupa mereka," sambung Leng-hong dengan dingin,
"terpaksa kita harus berduduk di sini untuk menunggu datangnya elmaut. Keadaan kita
sekarang sama juga mengubur dirinya sendiri."
Dia pandang jenazah Ki Go-ceng di sebelahnya, lalu menyambung pula dengan tenang: "Aku
masih ingat pada hari dia mengubur dirinya sendiri, pagi-pagi kami semuanya hadir di depan
rumah ini untuk mengantar keberangkatannya, dengan langkah berat dia masuk ke sini.
Mendadak ia menoleh dan berkata kepada kami dengan tertawa: "Meski lahirnya kalian
144 kelihatan berduka, tapi di dalam hati kalian tentu menertawakan diriku sebagai orang bodoh.
Padahal kalian tidak perlu pura-pura berduka, sebab selama hidupku justeru tidak pernah
segembira seperti sekarang ini..."
Sungguh Cia Thian-pi tidak ingin mendengarkan lagi, tapi mau tak mau ia harus
mendengarkan. Ki Leng-hong telah menyambung pula: "Kami tidak ada yang berani menjawab, maka dengan
tertawa dia berkata pula: "Kelak kalian akan tahu bahwa seorang kalau sudah mati akan jauh
lebih gembira daripada waktu hidup. - Waktu itu mukanya sudah mulai kaku, meski
kedengaran dia tertawa, namun air mukanya tiada sesuatu tanda tertawa, tampaknya menjadi
sangat menakutkan. Tatkala mana Leng-yan baru berumur sepuluhan tahun, ia menangis
ketakutan."
Nyata Ki Leng-hong ini suka mencari kepuasan dengan memperlakukan sadis kepada orang
lain, semakin sedih orang lain, semakin gembira dia, sudah jelas orang lain tidak suka
mendengar ceritanya, dia justeru bercerita terus, bahkan bercerita secara hidup dan nyata.
Membayangkan ceritanya dan memandang pula mayat di depannya sekarang, tambah ngeri
hati Cia Thian-pi, mendadak iapun tertawa seperti orang gila, makin keras suara tertawanya
dan tidak dapat berhenti.
"He, Cia-cianpwe, kenapa kau?" seru Pwe-giok kuatir.
Tapi Cia Thian-pi masih terus tertawa, seperti tidak pernah mendengar teguran Pwe-giok itu.
Cepat Pwe-giok mendekatinya dan menggoyangi tubuhnya, dilihatnya tertawanya yang
terkial-kial itu benar-benar seperti orang gila.
Mendadak Pwe-giok menampar pipinya, dengan begitu tertawa Cia Thian-pi baru berhenti, ia
tercengang sejenak, tapi mendadak ia menangis tergerung-gerung.
"Orang ini mungkin saking ketakutan dan menjadi gila," ujar Leng-hong dengan tenang. "Gila
juga baik, paling sedikit dia tidak perlu merasakan siksaan menanti ajal ini."
Tiba-tiba Pwe-giok membalik tubuh dan menghadapi Ki Leng-hong, katanya tegas: "Meski
pernah kau tolong aku satu kali, tapi sekarang akupun sedang menunggu kematian, hal ini
sama seperti jiwaku sudah kubayar kembali padamu. Selanjutnya kita sudah tiada utangpiutang
lagi, sudah lunas. Dan kalau kau masih bertindak sesuatu yang menusuk perasaan
orang, jangan kau salahkan diriku jika terpaksa ku bertindak kasar padamu."
Ki Leng-hong memandangi Pwe-giok sejenak, akhirnya ia berpaling kesana dan tidak bicara
lagi. Tanpa terasa Pwe-giok mengusap keringat di dahinya. Aneh, ia heran mengapa ia merasa
kegerahan"
Rupanya di dalam rumah batu itu semakin panas rasanya, agaknya Ki Leng-hong juga
merasakan hal ini, dia berseru: "He.... api! Si gila itu hendak memanggang kita di sini."
Benar juga, lubang kecil di atap itu tampak mulai berasap tipis.
145 "Rupanya dia kuatir kematian kita kurang cepat, maka ingin memanggang mati kita," kata
Leng-hong pula. "Padahal kalau kita jelas harus mati, bisa mati lebih cepat memang lebih
baik." "Mengapa dia tidak mencari jalan yang lebih cepat?" ujar Pwe-giok dengan menyesal.
"Hm, masa kau belum paham?" jengek Leng-hong. "Bila menggunakan cara lain, tentu
mayat-mayat ini akan ikut rusak, selamanya dia menghormati orang mati, sudah tentu dia
tidak mau membikin susah orang mati. Pula, orang mati kan juga tidak takut di panggang
dengan api, betul tidak?"
Sementara itu tangis Cia Thian-pi sudah berhenti, dengan termangu-mangu ia memandang ke
depan. Di depannya itu ialah mayat Ki Go-ceng, ia sedang bergumam sendiri: "Aneh....
sungguh aneh...."
Sampai belasan kali ia bilang "aneh", tapi tidak di gubris Pwe-giok maupun Ki Leng-hong.
Saat itu Leng-hong lagi duduk diam seperti orang linglung, betapapun dia juga orang she Ki,
ia benar-benar seperti sedang menanti ajal, seolah-olah sedang merasakan nikmatnya
menunggu kematian.
Sebaliknya Pwe-giok tak dapat diam, betapapun ia masih menaruh setitik harapan akan
meloloskan diri dari tempat ini. Namun "rumah maut" ini benar-benar sebuah kuburan, di
dunia ini mana ada orang yang dapat keluar dari kuburan"
Sekonyong-konyong Cia Thian-pi menuding mayat Ki Go-ceng sambil tertawa terkekeh
kekeh: "Ha, coba kalian lihat, sungguh aneh, orang mati dapat berkeringat... Orang mati juga
dapat berkeringat!"
Suara tertawanya yang keras itu menimbulkan gema suara yang nyaring di rumah batu itu.
Diam-diam Pwe-giok menghela napas, ia menyesal bahwa ketua suatu perguruan ternama di
daerah selatan ini kini benar-benar telah berubah menjadi orang gila. Mustahil, orang mati
mana bisa berkeringat!
Dengan tak acuh ia melangkah ke sana dan tanpa terasa iapun memandang sekejap pada
mayat Ki Go-ceng itu.
Dilihatnya muka orang mati yang kelihatan dingin dan seram itu benar-benar merembes
keluar butiran keringat sebesar kedelai.
Jadi orang mati ini benar-benar berkeringat!
Selama setengah bulan ini entah sudah betapa banyak kejadian aneh dan misterius yang
dialami Pwe-giok, tapi tiada sesuatu yang lebih aneh dan menakutkan daripada kejadian ini.
Orang mati bisa berkeringat!
146 Dengan mata terbelalak ia pandang butiran keringat yang menetes dari muka orang mati ini.
Ia menjadi ketakutan sehingga kaki dan tangan terasa lemas, sungguh iapun hampir gila
saking takutnya.
Mau tak mau Ki Leng-hong juga memandang ke sana, mendadak ia berteriak dengan gemetar:
"He, dia benar-benar ber... berkeringat!"
Tapi jelas tidak masuk akal, orang mati mana bisa ketakutan" Orang mati mana bisa
berkeringat".
Sungguh kejadian yang sukar dibayangkan dan siapa yang dapat memberi penjelasan
mengenai rahasia ini"
Makin panas hawa di dalam rumah batu ini dan butiran keringat di muka orang mati inipun
semakin banyak.
Mendadak Pwe-giok berjingkrak sambil berteriak: "Ah, patung lilin, orang mati inipun sebuah
patung lilin!"
"Dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan dia masuk ke sini, mana bisa berubah menjadi
patung lilin" " ujar Leng-hong.
Pwe-giok terus melompat kesana, dipuntirnya kepala "Orang mati" itu, seketika kepala orang
mati itu copot. Benar, "orang mati" ini memang betul cuma sebuah patung lilin.
Di tempat yang remang-remang dan seram, di tengah mayat tulen sebanyak ini, di dalam
"Rumah maut" yang penuh dengan kisah yang menakutkan ini, dengan sendirinya tiada
seorangpun yang tahu bahwa diantara mayat-mayat ini ada sesosok mayat palsu.
Pwe-giok mengusap keringat yang membasahi tubuhnya, ia merasa lemas seperti kehabisan
tenaga. Ki Leng-hong juga sangat kaget, ia meraung: "Ini bukan patung lilin, pasti bukan patung lilin,
aku menyaksikan sendiri dia masuk ke sini!"
Memang, jika ini betul patung lilin, lalu kemana perginya Ki Go-ceng"
"Setelah masuk kemari, bisa jadi dia telah keluar lagi." ujar Pwe-giok dengan tersenyum getir.
"Mungkin dia tidak sungguh-sungguh minum racun itu, bisa jadi dia cuma pura-pura mati."
kata Leng-hong. "Tapi setelah dia masuk ke sini pintu lantas digembok dari luar, hakekatnya
dia tidak dapat keluar lagi... Dan kalau dia tidak dapat keluar, tentu dia akan mati di sini,
mengapa sekarang bisa berubah menjadi patung lilin?"
Mendadak mata Pwe-giok bersinar, serunya: "Di rumah maut ini pasti ada lagi jalan keluar
yang lain. Ki Go-ceng pasti keluar melalui jalan rahasia itu. Jika dia dapat keluar, tentu juga
kita dapat keluar!"
Berpikir demikian, seketika terbangkit semangatnya, ia tidak perduli dinding sekeliling sudah
terbakar panas, segera ia mulai menyelidiki.
147 Orang yang berasal dari perguruan "Bu-kek-bun", dalam hal ilmu alam serta ilmu pasti sudah
tidak asing lagi, terutama mengenai segala macam peralatan rahasia. Tapi Pwe-giok sudah
meneliti setiap pelosok rumah batu ini dan tetap tidak menemukan jalan keluarnya.
Baju Pwe-giok dari basah telah menjadi kering, kini matanya juga sudah merah dan bibirnya
pecah karena hawa yang panas. Dengan napas terengah-engah ia bergumam: "Di manakah
jalan keluarnya"... Demi menipu orang dengan berpura-pura mati, sudah tentu Ki Go-ceng
telah menyiapkan jalan keluarnya. Jika aku menjadi dia, dimana lubang keluar itu akan ku
buat?" "Setahuku di rumah maut ini tidak ada jalan keluar lagi." kata Leng-hong.
"Ada, pasti ada." ujar Pwe-giok "Kalau tidak, cara bagaimana Ki Go-ceng bisa keluar?"
Leng-hong termangu-mangu sejenak, katanya kemudian: "Apakah tidak mungkin ada orang
membuka pintu dari luar dan melepaskan di dari sini ?"
Pwe-giok seperti kena dicambuk orang satu kali, seketika ia melenggong dan tidak sanggup
bersuara lagi. Memang betul, dengan sendirinya ada kemungkinan begitu. Orang semacam Ki Go-ceng ini,
meski tidak nanti dia menghadapi kejadian yang sukar dipecahkan ini, Pwe-giok merasa apa
yang dikatakan Ki Leng-hong itu terhitung yang paling masuk akal.
Apalagi setelah orang itu membukakan pintu mungkin sekali Ki Go-ceng lantas
membinasakan orang itu. Dengan demikian rahasia pribadinya akan tetap tertutup.
Berpikir sampai di sini, Pwe-giok benar-benar menjadi putus harapan.
Tapi tiba-tiba terdengar Cia Thian-pi berteriak pula: "He, lihat aneh sekali, orang mati ini
tidak kelihatan lagi, hilang sama sekali!"
Pwe-giok memandang lagi ke tempat mayat tadi, benar, dilihatnya patung lilin tadi sudah cair
seluruhnya, tapi cairan lilinnya ternyata tidak banyak, kemana perginya cairan lilin itu"
Terkilas sesuatu dalam benak Pwe-giok, ia coba mendekati kursi batu itu dan diperiksanya
dengan teliti, mendadak ia berseru dengan girang: "Aha, dugaan ku ternyata tidak meleset, di
rumah maut ini memang betul ada jalan keluar lagi, jalan keluar itu terletak di bawah patung
lilin ini, di bawah kursi batu ini."
Kiranya di bawah kursi batu itu ada sebuah lubang kecil dan cairan lilin itu justeru mengalir
keluar melalui lubang kecil ini. Tapi lubang ini sangat kecil, hanya cukup dimasuki dua jari,
cara bagaimana manusia dapat menerobos keluar"
"Hm, kukira lebih baik kau tunggu kematian dengan tenang saja." jengek Ki Leng-hong. "Jika
dibawah kursi ini terdapat jalan keluar, sesudah Ki Go-ceng pergi, cara bagaimana patung


Renjana Pendekar Karya Khulung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lilin dapat berduduk di atas kursi ini, memangnya patung dapat berduduk dengan sendirinya?"
148 Gemeredep sinar mata Pwe-giok, katanya kemudian: "justeru Ki Go-ceng telah memperalat
titik ini untuk mengelabui orang, biar orang menemukan rahasia patung lilin juga tidak
menyangka jalan keluar itu terletak di bawah patung."
"Apapun juga, kalau tidak dipindahkan orang, tidak mungkin patung ini dapat berduduk di di
atas kursi, untuk ini tidak nanti kau dapat memberi penjelasan" Kata Leng-hong.
"Tapi lubang kecil ini dapat memberi penjelasan." ujar Pwe-giok.
"Lubang kecil ini?" Leng-hong menegas. "Ya," jawab Pwe-giok. "Pada waktu Ki Go-ceng
membuat patung ini, dia benamkan seutas tali di bagian pantat patung ini, lalu tali itu
menyusup ke dalam lubang ini. Waktu dia masuk ke lorong di bawah dan tutup lubang
dirapatkan kembali, tali ini lantas ditariknya sehingga patung lilin ini diseretnya berduduk di
atas kursi."
"Ya, betul juga, cara ini memang sangat pintar dan bagus." seru Leng-hong
"Cara berpikir Ki Go-ceng yang rapi dan bagus sungguh sukar dibandingkan siapapun," ujar
Pwe-giok. "Cuma sayang, betapapun rapi perhitungannya tetap tak pernah terpikir olehnya
bahwa rumah ini bakal dipanggang dengan api dan patung lilin ini akhirnya akan cair, sudah
tentu mimpipun tak terpikirkan olehnya bahwa lubang kecil yang tidak ada artinya ini
akhirnya dapat membocorkan seluruh rahasianya."
Ki Lneg-hong berdiam sejenak, kemudian ia menghela napas panjang dan berkata: "Ai, kau
memang jauh lebih pintar daripada apa yang pernah kusangka, sungguh cerdik!"
***** Papan batu di bawah patung lilin itu memang dapat digeser, di bawahnya memang betul ada
sebuah lorong yang gelap.
Pwe-giok menarik napas lega, katanya: "Akhirnya diketahui ada orang hidup yang keluar dari
rumah maut ini, bahkan tidak cuma satu orang saja?"
Kini Ki Leng-hong tidak dapat omong lagi, ia hanya ikut masuk ke lorong di bawah tanah itu.
Dengan memayang Cia Thian-pi, Pwe-giok terus merayap ke depan. Lorong ini panjang lagi
berkelok-kelok, dengan sendirinya gelap gulita pula, jari sendiri saja tidak kelihatan.
Akhirnya mereka dapat lolos keluar. Tapi siapa yang berani menjamin bahwa jalan tembus ini
adalah tempat yang aman"
Bisa jadi lorong ini menembus juga ke kamar tidur Ki-hujin sana.
Baru saja Pwe-giok berpikir demikian, tiba-tiba tampak cahaya lampu di depan sangat jelas di
tempat gelap begini.
Di tempat yang ada cahaya lampu pasti juga ada manusianya.
149 Pwe-giok melepaskan pegangannya pada Cia Thian-pi dan cepat melompat ke sana, Siapapun
yang dipergoki, setiap saat dia siap merobohkannya dengan sekali hantam.
Tapi mendadak Pwe-giok melihat lampu itu adalah lampu yang dibawanya masuk itu.
Waktu dia ditarik masuk ke kamar Ki-hujin lampu ini masih tertinggal di sini dan juga belum
dipadamkan, jadi lorong ini memang betul jalan yang menembus ke kamar tidur Ki-hujin.
Kiranya baik kamar tidur Ki-hujin maupun rumah berdinding kertas dengan kasuran bundar
serta rumah mati yang misterius itu satu dan lain ditembusi oleh jalan di bawah tanah ini.
Sudah banyak pengalaman pahit Pwe-giok dan hidup menuju kematian telah dijalaninya,
setelah berputar-putar akhirnya dia tiba kembali di tempat semula. Sungguh ia tidak tahu
mesti tertawa atau menangis"!
Ki Leng-hong telah datang pula, iapun melenggong.
Pwe-giok bergumam: "Menurut pikiranku, jalan di bawah tanah ini selain menembus ke
kamar Hujin serta rumah berdinding kertas itu, pasti ada pula jalan keluar ke empat."
"Berdasarkan apa kau bilang demikian?" tanya Leng-hong.
"Sebab Ki Go-ceng dan orang she Ji itu tidak nanti keluar melalui kamar tidur Ki-hujin," tutur
Pwe giok. "Mereka lebih-lebih tidak mungkin keluar melalui rumah berdinding kertas itu.
Makanya kuyakin di sini pasti ada jalan keluar ke empat."
"Ha, jika begitu, kau kira terletak di mana jalan keluar ke empat itu?" kata Leng-hong dengan
girang. Pwe-giok mengangkat lampu minyak itu dan menyusur ke depan dengan pelahan. Jalan ini
kembali menuju ke bawah rumah berdinding kertas itu. Tidak jauh, tiba-tiba ia berpaling dan
bertanya kepada Ki Leng-hong: "Apakah kau tahu kapan orang she Ji itu datang ke Sat jinceng
sini?" "Tentu saja kuingat dengan jelas," jawab Leng-hong. "Hari itu adalah hari ketiga setelah Ki
Go-ceng mulai minum racun, yaitu hari ketiga lewat tahun baru. Jadi tepat pada hari tahun
baru dia mulai minum racun, tujuannya membikin kegembiraan akan bertambah dengan
sedikit rasa duka."
"Jadi Ce-it (tanggal satu) dia mulai minum racun, lalu hari apa dia masuk ke rumah mati itu?"
tanya Pwe giok.
"Itulah hari Cap-go-meh," jawab Leng-hong. "Dimulai Ce-it hingga Cap-go-meh, segenap
penghuni Sat-jin ceng sama sibuk membereskan urusan kematiannya sehingga orangpun tidak
memperhatikan orang she Ji itu."
Sementara itu mereka sudah sampai di ruangan kecil di bawah rumah kertas itu, kantung
bersulam indah yang berisi sepotong kemala berukir itu masih terletak di tempat tidur, patung
lilin Ki Go-ceng juga masih di situ dan seakan-akan sedang memandang mereka.
150 Mendadak Cia Thian pi tertawa terkekeh-kekeh pula, serunya: "Pantas orang mati itu
menghilang, kiranya dia mengeluyur ke sini..."
Pwe-giok ambil batu Giok itu dan termangu-mangu, katanya kemudian: "Kukira orang she Ji
itu tidak mengeluyur pergi, Ki-hujin telah salah sangka padanya."
"Apa alasanmu kau bilang demikian?" tanya Leng hong heran.
"Waktu kulihat batu Giok ini, aku menjadi heran," tutur Pwe giok. "Seumpama orang she Ji
itu tidak sayang pada kantung bersulam ini, tidak seharusnya dia meninggalkan batu pualam
ini di sini."
"Ya, tampaknya benda ini adalah benda pusaka keluarganya, bisa jadi dia pergi dengan
tergesa-gesa, makanya tertinggal di sini," kata Leng-hong.
"Tidak, tatkala itu tiada orang tahu rahasia lorong di bawah tanah ini, jika dia menemukan
jalan tembus ke empat, tentu dia mengeluyur pergi dengan bebas, kenapa dia harus tergesagesa,
kecuali...."
"Kecuali apa?" tanya Leng-hong.
"Kecuali kepergiannya itu bukan kehendak sendiri melainkan dipaksa orang," jawab Pwegiok.
Ki Leng-hong melenggong, katanya kemudian; "Jadi maksud... maksudmu dia telah dipergoki
Ki Go-ceng?"
"Kupikir pasti begitu," kata Pwe-giok. "Waktu Ki Go-ceng menyusup masuk ke lorong ini
dan mengetahui di tempat yang dirahasiakan ini ternyata ada orang luar, tentu saja dia tidak
tinggal diam, mana dia dapat membiarkan ada orang kedua yang mengetahui rahasia
kematiannya yang pura-pura."
"Jika demikian, jadi orang the Ji itu bukan cuma dipaksa pergi olehnya, bahkan ada
kemungkinan telah dibunuhnya untuk menghilangkan saksi"!"
"Ya, kurasa Ki Go ceng pasti telah membunuhnya," ucap Pwe-giok.
Sampai lama Ki Leng hong terdiam, katanya kemudian: "Jika dia (maksudnya Ki-hujin)
mengetahui si dia sudah mati, bisa jadi dia takkan begitu berduka dan sedih...."
"Masa dia takkan bertambah sedih jika dia mengetahui kekasihnya sudah mati?" tanya Pwegiok
dengan heran. Ki Leng-hong tersenyum pedih, jawabnya: "Tahukah kau apakah yang menjadi penderitaan
terbesar bagi seorang perempuan?"
Dia tidak menunggu jawaban Pwe-giok, tapi lantas dijawabnya sendiri: "Yaitu ditinggal oleh
orang yang dicintainya. Penderitaan ini bukan saja sangat hebat, bahkan tak terlupakan selama
hidup. Bahwa kekasihnya itu sudah-mati, walaupun dia akan sedih juga tapi hampir tiada
artinya jika dibandingkan penderitaan seperti kalau ditinggal pergi. Sebab itulah ada
151 sementara orang perempuan yang tidak sayang membunuh kekasih sendiri, yaitu karena kuatir
sang kekasih akan menyukai perempuan lain. Jadi dia lebih suka kekasihnya mati daripada
jatuh dalam pelukan wanita lain."
"Jika demikian, bila dia mengetahui kekasihnya sudah mati, ia berbalik akan rnerasa senang?"
"Ya, akan jauh lebih senang," kata Long-hong.
"Ai, jalan pikiran orang perempuan sungguh sukar untuk dipahami kaum lelaki," ujar Pwegiok
sambil menggeleng.
"Lelaki memang tidak seharusnya memahami jalan pikiran perempuan dan perempuan juga
bukan dilahirkan untuk dipahami orang, tapi supaya dihormati dan dicintai," jengek Lenghong.
Pwe-giok tidak menanggapi lagi, dengan memegang lampu minyak itu, dia mulai menyelidiki
sekitar tempat itu. Ia yakin jalan keluar ke empat pasti berada di dekat tempat tidur itu.
Namun dia tidak menemukannya, sementara itu minyak sudah habis, akhirnya lampu itu
padam. Pwe-giok menghela napas, gumamnya: "Tampaknya sekalipun di lorong bawah tanah ini
memang ada jalan tembus ke empat, tapi dalam keadaan gelap gulita begini jangan harap akan
dapat menemukannya."
"Padahal, tidak perlu kau cari jalan tembus ke empat itupun kita tetap dapat keluar dari sini,"
kata Leng-hong tiba-tiba.
"He, kau punya akal?" tanya Pwe-giok cepat.
"Kukira asalkan kau sanggup membuktikan orang she Ji itu sudah mati, tentu Hujin takkan
benci lagi padamu, bisa jadi dia akan segera melepaskan kau," kata Leng-hong.
Belum lagi Pwe-giok menjawab, mendadak dalam kegelapan ada seorang menanggapi;
"Tidak, cara ini tidak tepat."
"Mengapa tidak tepat?" tanya Leng-hong.
"Jika Ji Pwe-giok sudah mati, cara bagaimana dapat keluar lagi dengan hidup?" ujar orang itu.
Baru sekarang Ki Leng-hong mengenali suara itu bukan suara Ji Pwe-giok juga bukan suara
Cia Thian-pi, seketika ia berkeringat dingin dan berteriak tertahan: "Sia... siapa kau?"
"Hehehhehe, masa suaraku saja tidak kau kenal lagi?" ucap orang itu dengan tertawa.
"Cras", dalam kegelapan lantas menyala sinar api, tertampaklah seraut wajah tua dan kurus
penuh bekas penderitaan hidup.
"Ko-lothau!" seru Pwe-giok dan Leng-hong berbareng. "Mengapa kau dapat masuk ke sini"!"
152 Wajah si Ko tua yang kurus pucat itu tampaknya juga misterius di bawah cahaya lampu yang
gemerdep di lorong bawah tanah ini. Dia pandang Ki Leng-hong dan tersenyum penuh
rahasia, katanya: "Ya, si Ko tua yang biasa bekerja sebagai tukang kayu mana bisa datang ke
sini" Tapi selain Ko tua yang kau ketahui, adalah hal lain yang kau ketahui mengenai diriku?"
Tiba-tiba Ki Leng-hong merasakan sorot mata si kakek memancarkan semacam sinar tajam
yang belum pernah dilihatnya, tanpa kuasa ia menyurut mundur dan berkata dengan suara
gemetar; "Sesungguhnya sia... siapa kau?"
Pelahan-lahan Ko-lothau melangkah lewat di depan Leng hong, ia taruh lampu yang
dipegangnya di atas almari kecil di ujung tempat tidur sana, habis itu mendadak ia membalik
tubuh dan memandang si nona dengan sorot mata gemerdep: "Aku inilah orang yang
membikin Ki Go-ceng tidak dapat tidur dengan lelap dan tidak dapat makan dengan enak, aku
inilah yang membuat Ki Go-ceng merasa tak dapat hidup lebih lama lagi..."
"Oh, sebabnya Ki Go-ceng terpaksa berlagak merenungkan dosanya di rumah kertas dan
terpaksa pura-pura mati, semua itu lantaran dia takut padamu?" seru Pwe giok.
"Hehehe, kau pun tidak menyangka bukan?" kata Ko-lothau dengan tertawa. "Ya, siapapun
pasti tidak menduga bahwa orang yang paling ditakuti Ki Go ceng selama ini ternyata adalah
seorang tua bangka macamku ini."
"Apakah. ..... apakah dia sudah tahu siapa dirimu?" tanya Leng-hong terkejut.
"Sudah tentu dia tahu siapa diriku?" jengek Ko-lothau, "tapi dia justeru tidak berani
membongkar hal ini, terpaksa dia berlagak bodoh dan pura-pura tidak tahu, sebab iapun tahu
sudah lama kuketahui rahasianya."
"Rahasia apa?" tanya Leng-hong.
"Lebih 20 tahun yang lalu di dunia Kangouw mendadak terjadi banyak peristiwa yang
menggoncangkan, ada pencurian benda pusaka secara besar-besaran, banyak tokoh ternama
terbunuh secara gaib, si pencuri dan pembunuh itu sangat tinggi Kungfunya, apa yang
diperbuatnya itu pun sangat bersih tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Meski dunia
persilatan waktu itu telah mengerahkan berpuluh tokoh pilihan untuk menyelidikinya, namun
tak dapat menemukan jejaknya. Maklum, siapapun tidak menyangka orang yang melakukan
hal-hal itu adalah Ki Go-ceng yang lagi merenungkan dosanya di rumah kertas dan diketahui
tidak pernah keluar rumah sepanjang tahun."
"Memangnya sudah kuduga apa yang dilakukannya itu pasti mempunyai intrik tertentu," kata
Pwe-giok, ia sangat tertarik oleh cerita si Ko tua.
"Tapi kalau kau bilang dia adalah pembunuh dan pencuri, jelas aku tak percaya," kata Lenghong.
"Ya, bukan saja kau tidak percaya, jika kuceritakan pada waktu itu, di seluruh dunia ini
mungkin juga tiada seberapa orang yang mau percaya," ujar Ko-lothau dengan gegetun. "Nah,
demi membongkar rahasia inilah terpaksa aku menyelundup ke Sat-jin-ceng sini."
153 "Kau bilang waktu itu dia sudah tahu siapa dirimu?" tukas Leng-hong. "Jika begitu mengapa
dia dapat membiarkan kau tinggal di Sat jin-ceng dan mengapa tidak dia bunuh dirimu."
"Jika dia tidak membiarkan ku tinggal di sini, bukankah makin menandakan dia bersalah
sehingga takut diketahui orang?" ujar Ko-lothau.
"Dan kalau dia bunuh diriku, bukankah akan lebih membuktikan dosanya" Segala sesuatu
selalu dipikirkannya dengan rapi, selamanya dia tidak suka menyerempet bahaya dan main
untung-untungan, dengan sendirinya iapun tidak mau mengambil resiko dalam persoalan
diriku ini. Makanya meski dia tahu kedatanganku ini sengaja hendak mengawasi gerakgeriknya,
terpaksa dia tetap pura-pura tidak tahu." Ia tertawa, lalu menyambung pula; "Jika
tidak demikian, mana bisa Sat jin ceng mau menerima seorang tua bangka yang tidak
diketahui asal-usulnya."
"Jadi menurut perhitunganmu, meski dia tahu kedatanganmu ini hendak mengawasi dia, tapi
dia berbalik terpaksa harus menerima kau di sini, walaupun langkah ini sangat bagus, tapi
setelah dia tahu siapa dirimu, bukankah setiap saat dia dapat berjaga-jaga segala
kemungkinan, mana bisa dia memperlihatkan rahasianya di depanmu?" tanya Pwe-giok.
"Sekali pandang saja dia dapat mengetahui asal usul orang lain, orang pintar seperti dia, masa
semudah itu orang hendak membongkar rahasianya" Maka setiba ku di sini, segera ku sadari
semua peristiwa yang tiada buktinya takkan terpecahkan untuk selamanya," jawab Ko-lothau
sambil menghela napas.
"Jika demikian, untuk apalagi kau tinggal di sini selama ini?" kata Leng-hong.
"Aku tinggal di sini, memang tak dapat ku bongkar rahasianya, tapi sedikitnya dapat ku awasi
gerik-geriknya agar dia tidak berani lagi keluar dan berbuat jahat?" tutur Ko lothau. "Dan
memang, sejak aku tinggal di sini, segala perbuatan yang menggemparkan dunia Kangouw itu
lantas lenyap dan tak pernah terjadi lagi."
"Demi untuk mencegah terjadinya kejahatan, Cianpwe telah mengorbankan nama dan
kedudukan sendiri, rela menjadi budak orang, sungguh keluhuran budi dan kebesaran jiwa
Cianpwe ini sukar dicari bandingannya," puji Pwe-giok dengan gegetun.
Tanpa terasa timbul rasa muram pada wajah Ko-lothau, selama hampir 20 tahun ini tentu
dilewatkannya dengan susah-payah. Akan tetapi rasa muram itu hanya sekilas saja menghiasi
wajahnya dan segera lenyap, ia lantas bergelak tertawa dan berkata; "Meski aku telah
mengorbankan kenikmatan hidupku sendiri dan melewatkan hari-hari sengsara selama ini,
tapi akupun berhasil memaksa Ki Go ceng dari pura-pura menjadi sungguhan, mau-tak-mau
dia menderita juga di rumah kertas itu. Jadi pengorbananku ini terasalah cukup berharga."
"O, lantaran dia tidak mampu membunuh dirimu dan juga tidak dapat kabur, akhirnya
terpaksa ia pura-pura mati!" kata Pwe-giok.
"Ya, ambisinya memang besar, dengan sendirinya ia tidak rela mengakhiri hidupnya secara
begitu," tutur Ko-lothau. "Mungkin setelah dipikirnya, akhirnya didapatkan akal pura-pura
mati itu. Meski ku tahu dia pasti tidak rela mengeram di rumah kertas itu, tapi tak terduga
olehku bahwa dia akan mengelabui diriku dengan akal bulusnya itu."
154 "Setelah kena diakali, mengapa kau tidak pergi?" tanya Leng hong.
"Meski waktu itu dia dapat mengelabui diriku, tapi kemudian kupikir dalam urusan ini pasti
ada sesuatu yang tidak beres, sebab ku tahu Ki Go-ceng bukanlah manusia yang mudah
menyerah dan rela mati begitu saja, apalagi . ..." tersembul senyuman pahit pada ujung mulut
si Ko tua, lalu sambungnya dengan pelahan: "Sejak kecil aku sudah terbiasa terluntanglantung
kian kemari, belum pernah aku berdiam di suatu tempat lebih dari setengah tahun.
Tapi di sini, tanpa terasa aku telah tinggal sekian tahun, kehidupan yang sederhana ini terasa
sudah biasa bagiku, bahkan rasanya sangat enak. Aku sendiri tidak berkeluarga, tidak punya
anak isteri, kusaksikan kalian meningkat dewasa, diam-diam akupun bergembira, makanya..."
"Hm, tidak perlu kau gembira bagi kami," jengek Ki Leng-hong. "Kau pergi atau tidak, sama
sekali tiada sangkut-pautnya dengan diriku, kau pun tidak perlu menggunakan diriku sebagai
alasan. Sekarang maksud tujuanmu tinggal di sini sudah tercapai, maka selanjutnya aku tidak
kenal lagi padamu."
Ko-lothau terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan menghela napas panjang: "Ya, betul,
setelah maksud tujuanku tinggal di sini sudah tercapai, akhirnya sudah kubuktikan Ki Goceng
belum lagi mati, selanjutnya aku perlu mengembara lagi ke mana-mana, akan kucari
pula jejaknya. Selama belum kutemukan dia, sebelum kusaksikan dia mati di depan mataku,
selama itu pula aku tidak rela."
"Hm, setelah dia pergi, mungkin selamanya jangan harap dapat kau temukan dia," jengek
Leng-hong pula.
"Betul juga, jika seterusnya dia mengasingkan diri dan hidup di tempat jauh, tentu tak dapat
kutemukan dia lagi. Tapi bila dia melakukan sesuatu kejahatan, segera pula aku dapat
menemukan jejaknya. Sedangkan orang macam dia itu jelas tidak rela hidup kesepian."
Kembali sorot matanya memancarkan sinar yang tajam, jago tua yang sudah lama
mengasingkan diri ini kini mendadak telah berubah menjadi kereng dan bersemangat lagi.
Akhirnya Ki Leng-hong tidak tahan, ia bertanya: "Sesungguhnya siapa kau?"
Ko-lothau tersenyum, jawabnya: "Jika selanjutnya kau tak mau kenal lagi padaku, untuk apa
pula kau tanya siapa diriku?"
Ki Leng hong melengos ke sana dan tidak memandangnya lagi.
Padahal tanpa bertanya ia pun tahu orang yang dapat membuat Ki Go-ceng takut mustahil
tiada mempunyai kisah hidup yang gemilang dan asal-usul yang luar biasa.
***** Sesungguhnya siapakah Ko-lothau ini dan bagaimana asal-usulnya"
Kemana perginya Ki Go-ceng"....


Renjana Pendekar Karya Khulung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

155 Semua itu tidak diperhatikan oleh Pwe-giok, yang sedang dipikirnya hanya satu soal saja. Dia
memandang sekelilingnya, akhirnya ia bertanya; "Entah darimanakah Cianpwe masuk ke
sini?" "Kudengar kau sudah mati aku jadi ingin tahu cara bagaimana kau mati" Maka diam-diam
kumasuki kamar Ki hujin, disitulah tanpa sengaja kutemukan jalan rahasia di balik almari itu.
Padahal almari itu selamanya tertutup, entah mengapa sekarang telah terbuka."
Kiranya seperginya Ji Pwe-giok, Ki hujin telah lupa menutup kembali almarinya.
Terbelalak Pwe-giok demi mendengar keterangan ini, serunya: "He, jadi saat ini di kamarnya
tiada orang?"
"Kau ingin keluar melalui sana?" tanya Ko-lothau.
"Jika mereka menyangka aku sudah mati, tentu mereka tidak lagi mengawasi diriku,
kesempatan ini dapat kugunakan untuk kabur," kata Pwe-giok.
"Bila kau sudah mati, mana dapat keluar lagi dengan hidup?" bentak Ko-lothau mendadak
dengan bengis. "Jadi maksud Cianpwe..." Pwe-giok melengak dan tak dapat melanjutkan.
"Apa maksudku, masa kau tidak paham?" kata Ko-lothau dengan sinar mata gemerdep,"
seperti tanpa sengaja ia melirik sekejap ke arah patung lilin Ki Go-ceng.
Mendadak Pwe giok sadar, serunya: "Aha, betul, jika Ki Go ceng dapat mengelabui orang
dengan pura-pura mati, mengapa aku tidak boleh" Di dunia ini mana ada penyamaran lain
yang lebih mudah menghindari pengejaran serta untuk alat penyelidikan rahasia orang lain
daripada pura-pura mati?"
"Bagus, akhirnya kau paham juga," ujar Ko-lothau dengan tersenyum puas. "Pendek kata, ada
permusuhan apapun juga kau dengan orang lain, asal sudah mati, orang lain takkan mengusut
lebih lanjut. Jika kau hendak menyelidiki rahasia orang lain, setelah kau mati, tentu orang
takkan berjaga-jaga lagi akan dirimu."
Pwe-giok menghela napas, katanya: "Pantas ketika Ki Go-ceng masuk ke rumah mati itu dia
sengaja bilang bahwa kematian seorang akan jauh lebih menggembirakan daripada hidup.
Kiranya di balik ucapannya ini mengandung makna yang sangat dalam, cuma sayang waktu
itu tiada seorangpun yang paham maksudnya."
"Tapi sayang, orang lain sama kenal kau sebagai Ji Pwe-giok," tiba-tiba Leng-hong
menjengek. "Ya, betul juga," jawab Pwe-giok dengan menyengir. "Meski aku dapat pura-pura mati, tapi
wajahku tak dapat mengelabuhi orang."
Tapi Ko-lothau tidak menanggapi, ucapnya dengan tenang: "Tuhan menciptakan manusia
dengan pintar dan bodoh, cakap dan buruk, tapi tidak pernah menciptakan manusia yang
sempurna. Melulu bicara tentang lahiriah saja, sekalipun lelaki cakap yang sama-sama diakui
156 umum pasti juga terdapat sesuatu ciri, dari jaman dahulu hingga kini, baik lelaki maupun
perempuan tidak pernah ada sebuah wajah yang sempurna."
Ia menatap tajam-tajam muka Pwe-giok, lalu menyambung pula dengan pelahan. "Misalnya
dirimu, kaupun terhitung seorang lelaki cakap, tapi alismu terasa tebal, matamu rada
kekecilan, hidungmu kurang tegak, ujung mulutmu juga terasa kurang serasi."
Pwe-giok tidak tahu mengapa orang tua itu mendadak bicara seperti tukang Kwamia atau
tukang nujum di tepi jalan, terpaksa ia cuma menyengir dan menjawab dengan tergagapgagap:
"Ah, mana Wanpwe dapat dianggap orang cakap?"
"Bilamana batiniah seseorang ada cirinya, maka siapa pun tak berdaya memperbaikinya," kata
Ko-lothau pula. "Tapi kekurangan pada lahiriah, betapapun dapat ditambal. Sudah lama
terkandung niatku akan menciptakan seorang yang paling cakap hanya saja aku ingin mencari
seorang model yang cocok dan inilah yang sulit. Sebab, betapapun kita tidak dapat
menjadikan seorang yang sumbing atau seorang yang juling untuk berubah menjadi lelaki
yang sempurna."
Kembali sorot matanya yang tajam menatap Pwe-giok dan menyambung pula: "Sedangkan
kau baik lahiriah maupun tutur-katamu sudah terhitung mendekati sempurna, ciri pada
wajahmu juga tidak sulit diperbaiki. Sudah sekian tahun kucari, akhirnya. kutemui dirimu."
"Memangnya Cianpwe bermaksud meng... mengubah diriku menjadi lelaki cakap?" tanya
Pwe-giok dengan terkejut.
"Menjadi lelaki cakap akan banyak manfaatnya," ujar Ko-lothau dengan tersenyum. "Bisa
menjadi lelaki cakap yang sempurna terlebih-lebih banyak manfaatnya. Umpamanya, paling
tidak setiap perempuan di dunia ini pasti tidak tega mencelakai dirimu lagi."
"Tapi.... tapi terhadap wajahku sekarang ini Wanpwe sudah cukup puas," seru Pwe-giok.
Ko-lothau tidak menghiraukannya, dengan tersenyum ia berkata pula: "Manfaat lain
sementara tidak perlu kukatakan, manfaat yang paling besar adalah selanjutnya tidak bakal
ada orang yang kenal kau sebagai Ji Pwe-giok lagi."
Pwe-giok melengak bingung, katanya dengan tergagap: "Tapi... tapi dengan wajah yang
begitu cakap kan lebih mudah menarik perhatian orang?"
"Karena terpengaruh oleh kecakapan wajahmu, terhadap setiap tindak-tandukmu orang akan
menjadi kurang memperhatikannya," kata Ko-lothau. "Dengan demikian, andaikan dalam
gerak-gerik atau tutur katamu ada sesuatu yang tidak betul juga tidak perlu kuatir."
Pwe-giok berpikir sejenak, akhirnya ia menghela napas panjang dan menjawab: "Baiklah, jika
demikian, Wanpwe terpaksa menurut saja."
Waktu menengadah, dilihatnya Cia Thian-pi masih memandangi patung lilin itu dengan
termangu-mangu linglung, sedangkan Ki Leng-hong menghadap ke dinding, terhadap apa
yang dipercakapkan Pwe-giok dan Ko-lothau itu dianggapnya seperti tidak melihat dan tidak
mendengar. 157 ***** Lorong di bawah tanah yang kelam itu mendadak terang lagi.
Ko-lothau sudah keluar satu kali, kembalinya telah membawa bahan makanan dan air minum
serta cukup banyak lilin dan dua buah cermin tembaga, tersorot oleh cahaya lampu, cermin
tembaga itu kelihatan bertambah terang.
Pwe-giok berbaring di tempat tidur, Ko-lothau menutupi muka anak muda itu dengan
sepotong kain belacu yang basah, terasa bau obat yang menusuk hidung, seketika Pwe-giok
kehilangan ingatan. Dalam keadaan sadar-tak-sadar sempat didengarnya Ko-lothau lagi
berkata: "Tidurlah sepuasnya, setelah kau mendusin nanti, jadilah kau lelaki cakap yang
paling sempurna dan tiada bandingannya."
***** Entah sudah berapa lama Pwe-giok tertidur nyenyak, waktu mendusin, mukanya masih
terbalut oleh kain basah, tujuh hari kemudian barulah pembalut itu dibuka.
Ko-lothau memandangi wajahnya dengan seksama, mirip seorang pelukis yang sedang
meneliti buah karyanya dengan sorot mata yang penuh rasa puas dan bangga, gumamnya:
"Dengan wajahmu ini, siapa pula yang sanggup menemukan setitik cirinya" Sudah barang
tentu melulu wajahmu inipun belum cukup, dengan sendirinya masih ada lainnya, sedangkan
kau ......" dia tepuk pundak Pwe-giok dan berkata pula dengan tertawa: "Kebetulan juga sejak
kecil kau telah mendapatkan pendidikan kekeluargaan dan sudah biasa sopan santun dan
lemah lembut, pula dari pengalamanmu yang sudah kenyang menghadapi berbagai macam
bahaya kau lebih terbiasa bersikap tenang dan sewajarnya. Kalau tidak berpengalaman seperti
kau dan menganggap mati dan hidup sebagai kejadian yang sepele, tentu kau takkan
sedemikian sempurna..."
"Betul, dengan gabungan semua itu, kau memang cukup memikat setiap anak gadis di dunia
ini," jengek Ki Leng-hong mendadak. "Sungguh aku pun sangat bangga bisa mempunyai anak
buah semacam kau, tak perlu kuatir lagi usahaku takkan berhasil."
"Siapa kau anggap anak buah?" tanya Ko-lothau dengan tercengang.
"Ji Pwe-giok," jawab Leng-hong pula. "Dengan sendirinya termasuk kau juga."
Ko-lothau memandangi nona itu dengan terkesima, seperti memandang makhluk yang aneh.
Ki Leng-hong menjengek pula: "Hm, jika kalian tidak tunduk kepada perintahku, segera akan
ku bongkar rahasia kalian agar usahamu sia-sia, agar Ji Pwe giok segera mati."
"Jika demikian, lekas kau keluar dan beritahukan kepada orang, silakan!" kata Ko lothau
sambil menghela napas panjang.
Sekali ini Ki Leng hong melenggong sendiri ucapnya: "Kau . . . .kau suruh ku bongkar
rahasiamu kepada orang lain?"
Ko-lothau tersenyum, katanya: "Dan takkan kau lakukan, bukan" Ku tahu betul, meski
lahirnya kau kelihatan bengis, padahal hatimu jauh lebih bajik daripada apa yang kau
158 bayangkan sendiri. Sejak kecil kusaksikan kau meningkat dewasa, masa aku tidak pahami
pribadimu?"
Leng-hong termenung hingga lama, mendadak ia menerjang keluar. Akan tetapi baru
beberapa langkah mendadak ia mendekap di dinding dan menangis tergerung-gerung.
Ko-lothau mendekatinya dan membelai rambutnya pelahan, ucapnya: "Anak yang baik,
agaknya kau pandang segala urusan secara bersahaja. Hendaknya kau tahu, sekalipun kau
ingin menjadi orang jahat juga bukan perbuatan yang mudah. Terkadang, untuk menjadi
orang jahat malahan jauh lebih sulit daripada menjadi orang baik."
Pwe-giok berbangkit dirasakan mukanya rada gatal, baru saja ia hendak menggaruknya,
mendadak Ko-lothau menarik tangannya dan berkata: "Dalam waktu tiga hari belum boleh
kau raba mukamu, sebaiknya juga jangan terkena air."
"Masa aku masih harus menunggu tiga hari di sini?" tanya Pwe-giok.
Jilid 7________
"Tampaknya kau tidak sabar menunggu lagi, boleh kau keluar saja jika mau," kata Ko-lothau.
"Cuma kau harus hati2...., Ya, sesungguhnya akupun tidak sabar ingin kau dilihat orang lain,
agar seluruh umat manusia di dunia ini mengetahui bahwa lelaki paling cakap dan sempurna
di dunia kini telah lahir!"
Ia memutar kasuran yang menutupi lobang keluar itu, maka cahaya lantas menerangi wajah Ji
Pwe giok. Sekuatnya Ko lothau menepuk pula pundak Ji Pwe giok, katanya dengan tertawa: "Kenapa
tidak lekas kau keluar?"
"Boleh... boleh ku keluar sekarang juga?" tanya Ji Pwe giok dengan ragu2.
"Mengapa tidak?" jawab Ko lothau dengan tertawa. Hendaklah kau tahu, selanjutnya tidak
perlu lagi kau takut bertemu dengan siapapun, seterusnya tiada orang yang mengenal kau lagi.
Pwe giok memandangi Cia Thian pi sekejap, dilihatnya ketua Tiam jong pay itu masih terus
bergumam: "Orang mati bisa berkeringat.... orang mati telah menghilang... "
Pedih juga hati Pwe giok, ia pegang tangan Cia Thian pi, katanya dengan menyesal:
"Cianpwe, engkau...."
"Tak perlu kau pikirkan dia," seru Leng hong mendadak sambil berpaling, "Karena aku yang
mengakibatkan dia gila, dengan sendirinya akan kujaga dia. Di Sat jin ceng ini tiada orang
lain yang akan tahu rahasiaku, juga tidak bakal ada orang yang menemukan dia.
"Jadi nona sendiri masih akan berdiam di Sat jin ceng sini?" tanya Pwe giok.
"Mengapa tidak?" jawab Leng hong ketus.
"Tapi Ki Song hoa... " Pwe giok ragu2 untuk meneruskan.
159 "Hm, jika dia tahu aku belum mati, asal melihat mukaku mungkin akan lari terbirit-birit, mana
ia berani mencari perkara lagi padaku," jengek Ki Leng hong. "Maka jangan kuatir terhadap
dia, tidak nanti dia berani menanyaiku cara bagaimana kita dapat lari keluar."
Mendadak ia memandang Pwe giok dengan sorot mata dingin dan tajam, dia telah kembali
kepada keangkuahannya semula, lalu katanya pula: "Nah, kenapa kau tidak lekas pergi"
apakah perlu tunggu pikiranku berubah lagi?"
Ko lotahu menyela dengan tersenyum: "Ya, tampaknya memang lebih baik lekas kau pergi
Panji Wulung 1 Pedang Berkarat Pena Beraksara Karya Tjan I D Hati Budha Tangan Berbisa 10
^