Pencarian

Golok Naga Kembar 1

Golok Naga Kembar Karya Hong San Khek Bagian 1


" GOLOK NAGA KEMBAR
Karya : Hong San Khek
DI TANAH Yan dan Tio, yang sekarang terletak diantara propinsi-propinsi Hopak
dan Shoasay, pada jaman dahulu banyak lahir orang-orang gagah dan cerdik pandai
yang berkepandaian tinggi dan mempunyai kegagahan yang sangat mengagumkan,
sehingga dengan kepandaian dan kegagahan itu mereka telah merantau dan berjalan
malang melintang keluar daerah dan ke pedalaman kota San-hay-kwan tanpa
mengenal takut. Sang waktu berlangsung sangat cepat, bagaikan anak panah terlepas
dari busurnya, membuat pergantian jaman ke jaman hampir tak dirasakan orang.
Begitupun nama tanah-tanah Yan dan Tio turut juga berganti, walaupun dengan
terjadinya perubahan jaman ini, tanah-tanah Yan dan Tio tinggal tetaplah menjadi
tanah dimana banyak terlahir orang-orang gagah hingga jaman ini.
Di dalam Rimba Persilatan terdapat delapanbelas macam senjata, yang hampir
seluruhnya dipergunakan oleh setiap orang yang berkecimpung dalam kalangan ini,
namun tidak pernah diketemui seorangpun yang dapat mempergunakan
kedelapanbelas macam senjata-senjata itu dengan sama mahir dan lincahnya. Karena
jika seumpama ia mahir dalam memainkan salah satu senjata, belumlah menjadi
ukuran bahwa ia juga paham mempergunakan senjata-senjata yang lainnya. Oleh
karena itu, maka timbullah nama-nama julukan khusus untuk setiap orang yang
mahir dalam hal memainkan salah satu macam senjata tersebut, misalnya di muka
nama Sun Giok Hong (tokoh dalam kisah nyata yang pembaca sedang nikmati)
terkenal dengan nama julukan Ngo-seng-to-ong atau RAJA GOLOK DARI LIMA
PROPINSI. Dalam kalangan persilatan di Tiongkok Utara muncul seorang pemuda
gagah bernama Ong Cu Pin, yang nama aslinya hampir dilupakan orang, tetapi nama
julukannya tetap tinggal harum hingga saat ini. Ia itu bukan lain daripada orang
gagah yang kita pernah kenal dengan nama julukan Toa-to Ong Ngo atau Ong Ngo si
Golok Besar. Ong Cu Pin ini adalah anak kelima dari jago silat Ong Tek Po, maka ia
umum dikenal orang pada masa itu dengan sebutan Ngo Jie (si anak kelima).
Seperti juga dengan keadaan jaman yang silih berganti, begitupun halnya dengan
kelahiran para pendekar dan orang-orang gagah yang silih berganti muncul dari satu
jaman kelain jaman tanpa putus-putusnya. Jika yang seorang sudah berusia tua dan
mengundurkan diri, maka angkatan mudanya segera tampil ke muka untuk
menggantikan kedudukannya.
Demikianlah sejak lahirnya Toa-to Ong Ngo yang kita telah ketahui riwayat
hidupnya sedari lama, kini kita beralih kepada Sun Giok Hong yang seolah-olah telah
ditakdirkan untuk muncul sebagai pengganti Toa-to Ong Ngo yang mahir
mempergunakan golok dalam Rimba Persilatan di Tiongkok Utara.
Ahli permainan golok she Sun ini asal kelahiran propinsi Hopak. Perawakan
tubuhnya tegap dan kuat. Ia beralis panjang sehingga melampaui matanya.
Hidungnya mancung, romannya gagah. Matanya jeli dan mengeluarkan sinar
berpengaruh, tetapi ia bertabiat peramah dan manis budi bahasanya. Dan sebagai
seorang pemuda keturunan ahli-ahli silat, iapun terlahir dengan membawa bakat yang
sama dengan para leluhurnya, yakni kakek, ayah dan paman-pamannya, semua
tergolong sebagai jago-jago silat kenamaan dari masa yang lampau, sedangkan ia
sendiri belajar ilmu silat dibawah bimbingan ayahnya. Hanya sangat disayangkan
ayahnya tidak berumur panjang, sehingga Giok Hong telah menjadi anak yatim
diwaktu usianya baru saja masuk belasan tahun. Tapi karena Giok Hong bersifat
cerdik, ulet dan berhati mantap, maka dalam usia 12 tahun ia telah menjadi salah
seorang pemuda gagah dan ikut serta dalam rombongan para pelindung kereta-kereta
pio dari perusahaan angkutan yang memakai merek Hin Liong Pio Kiok di Thian-cin.
Kala itu di akhir dinasti Ceng pada tahun kerajaan Kong-sie (antara tahun 1875-
1908). Pemerintahan pada jaman itu telah menjadi kacau balau, sehingga banyak
muncul perampok-perampok yang membuat huru hara di sana sini dan merajalela
tanpa dapat ditindas oleh pihak yang berwajib. Maka para saudagar yang biasa
berhubungan ke lain propinsi dan berjual beli di sana, tak dapat bekerja dengan
tenteram dan selamat tanpa meminta perlindungan dari kantor-kantor pengangkutan
yang mempunyai banyak "orang-orang kuat" untuk melindungi barang-barang
dagangan mereka.
Oleh karena itu, tidaklah heran jika pada jaman itu berdirinya kantor-kantor
angkutan tak berbeda dengan tumbuhnya jamur di musim hujan. Semula mereka
dapat bekerja sama, tetapi lama kelamaan mereka saling bersaing dengan jalan
mengundang atau mendatangkan orang-orang gagah dari selatan dan utara, dengan
diberi upah yang tinggi dan jaminan-jaminan yang sangat memuaskan.
Dengan majunya perusahaan-perusahaan angkutan itu, maka di kalangan
persilatan di selatan dan utara dengan secara langsung merasakan akibatnya,
sehingga banyak orang-orang gagah yang semula kurang begitu terkenal, dengan
tiba-tiba saja namanya mengalami ketenaran dengan kegagahan dan kepandaian
yang mereka miliki. Hari ini mereka menggempur kawanan perampok di sini dan
dihari esoknya mereka menghancurkan atau menggagalkan serbuan kilat perampok
lain yang namanya sudah terkenal dan ditakuti orang.
Pada jaman kacau balau itulah, Sun Giok Hong muncul sebagai salah seorang piosu
atau pelindung kereta-kereta pio yang gagah berani di Tiongkok Utara. Sedangkan
pemimpin dari perusahaan angkutan Hin Liong Pio Kiok dimana ia bekerja itu, bukan
lain daripada pamannya sendiri yang bernama Sun Seng Bu.
Perusahaan angkutan Hin Liong Pio Kiok ini telah lama terkenal di luar dan di dalam
San-hay-kwan. Tidak kurang dari seratus orang gagah dari pelbagai golongan atau
cabang persilatan membantu memberi perlindungan dalam perusahaan angkutan
tersebut, sehingga para saudagar merasa tenteram dan aman, jika barang-barang
mereka dikirim dibawah pengawalan Hin Liong Pio Kiok itu.
Pada waktu jago silat Ho Goan Kah yang terkenal dengan nama julukan Oey-bianhouw
atau Harimau muka kuning membuka rumah perguruan silat di Shanghai, Sun
Giok Hong telah diminta bantuannya untuk mengajar. Demikianlah dengan
memangku jabatan sebagai salah seorang guru silat di sana, dimana ia telah bekerja
beberapa tahun lamanya dengan mendapat pujian sebagai salah seorang guru yang
jiatsim (giat dan bersungguh-sungguh hati) dalam hal memajukan ilmu silat yang
menjadi warisan dari kakek moyang mereka.
Setelah itu ia pindah mengajar pada Ceng Bu Tee Yok Hwee di Kwitang (Tiongkok
Selatan), dimana pada masa itu hidup ahli silat Oey Siauw Hiap, murid utama Tan
Hiang dari golongan perguruan silat Coa Lie Hut. Pada waktu dinasti Ceng berakhir
dan pemerintahan di Tiongkok kembali ke tangan bangsa Tionghoa dan bernama
Tiong Hoa Bin Kok atau Negara Republik Tiongkok, Oey Siauw Hiap telah membuka
perguruan silat Ceng Bu Tee Yok Hwee itu dengan meminjam tempat dalam kelenteng
Tay-hut-sie. Justru itu Siauw Hiap yang memang gemar ilmu silat telah mendapat
kabar bahwa Sun Giok Hong berkunjung ke selatan. Maka dengan tidak membuang
waktu pula ia segera menjumpainya dan menyatakan keinginannya untuk
mengangkat Giok Hong menjadi guru hingga Giok Hong yang melihat Siauw Hiap
begitu sungguh-sungguh ingin menjadi muridnya, akhirnya telah mengabulkannya
juga. Sejak waktu itu ia telah menerima banyak murid-murid di Kwitang, antara mana
boleh disebutkan nama-nama Ma Kiam Hong, guru silat wanita Lim Siauw Lip dan
yang lain-lainnya.
Sun Giok Hong mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Bun Yong dan
juga gemar ilmu silat. Pada tahun Bin Kok ke 26 (1937), Bun Yong telah mengikuti
tentara nasional memanggul senapan untuk melawan pasukan Jepang.
Pada tahun Bin Kok ke 27 (1938) tatkala pasukan Jepang menyerbu ke propinsi
Kwitang dan pemerintah Kwiciu (ibukota Kwitang) berpindah ke Kiok-kang, Sun Giok
Hong terpaksa mengungsi ke Kwitang Utara, dimana salah seorang anak laki-lakinya
yang lain, Eng Yong, telah gugur dalam peperangan sebagai seorang patriot muda
yang tidak rela melihat negerinya diserang musuh.
Demikianlah sekelumit riwayat keluarga Sun Giok Hong yang selain terkenal
sebagai seorang ahli silat yang disegani dimasa yang lampau, juga dapat dicatat
namanya sebagai ayah seorang patriot muda yang tidak percuma mendidik putraputranya
sehingga menjadi pahlawan-pahlawan bunga bangsa yang namanya akan
selalu diingat orang sepanjang masa.
Kini kita persilahkan para pembaca yang terhormat untuk mengikuti riwayat hidup
Sun Giok Hong yang telah muncul di kalangan Kang-ouw ketika usianya baru masuk
duabelas tahun.
0oo0 I PADA masa itu kantor pengangkutan Hin Liong Pio Kiok telah menerima pesanan
untuk mengangkut sepuluh kereta penuh barang-barang yang berupa kulit kayu dan
tumbuh-tumbuhan untuk bahan obat, lok-jiong dan jin-som keluaran Kwan-tong serta
bahan-bahan obat lain yang berharga lebih kurang 100 ribu tael emas. Barang-barang
berharga itu diangkut dari seorang saudagar di Tiang-cun dalam propinsi Kirin
(Mancuria) ke kota Thian-cin, dari mana akan diangkut pula ke kota Kim-leng
(sekarang Kang-leng dalam propinsi Kang-souw). Kala itu karena pelayaran belum
lagi dapat dilakukan dengan leluasa, maka pengangkutan-pengangkutan kebanyakan
dilakukan dengan mengambil jalan darat. Kantor pengangkutan Hin Liong Pio Kiok
karena mempunyai hubungan yang luas kebanyak propinsi-propinsi yang terletak jauh
dari pantai, lagipula mempunyai banyak kantor-kantor cabang di sana sini, maka
kepada kantor pengangkutan Hin Liong Pio Kiok yang ber-kedudukan di kota Tiangcun,
dari mana barang-barang berharga itu segera dikirim ke kantor pusat Thian-cin,
yang akan mengirim itu dengan langsung ke kantor cabangnya di kota Kim-leng.
Barang-barang tersebut telah sampai di kota Thian-cin dengan selamat dan tak
kurang suatu apapun juga, maka para pelindung kereta-kereta pio itu dapat kembali
ke kota Tiang-cun dengan muka riang dan bebas dari tanggung jawab yang berat itu.
Kini adalah tugas para pio-su atau pelindung kereta-kereta pio di Thian-cin yang
bertanggung jawab untuk mengangkut kesepuluh kereta pio yang berisikan barangbarang
berharga itu ke kota Kim-leng secepat mungkin.
Kuda-kuda yang sudah lelah diganti dengan kuda-kuda yang masih segar untuk
menarik kereta-kereta pio tersebut, begitupun para pio-su yang tinggi ilmu silatnya
dan banyak pengalamannya dalam hal melindungi kereta-kereta pio telah
dikumpulkan dan ditetapkan siapa-siapa saja yang harus menerima tugas dan
tanggung jawab yang maha berat itu. Maka setelah selesai berunding, dua orang piosu
telah ditunjuk untuk melindungi kereta-kereta pio itu, dengan Sun Giok Hong yang
baru berusia 12 tahun diperintah ikut serta untuk mencari pengalaman.
Salah seorang antara kedua pio-su itu bernama Ma Tiauw Hoan, seorang ahli silat
Shoatang yang mahir ilmu tendangan dan paham memainkan sebilah golok besar.
Yang seorang lagi bernama The Kee Hu, ahli silat kelahiran Hopak yang mahir ilmu
Thian-see-ciang dan lihay sekali permainan golok Kun-tong-to. Kedua orang pio-su ini
telah sekian lamanya bekerja di kantor pengangkutan Hin Liong Pio Kiok dengan
selamat dan belum pernah mengalami kegagalan dalam waktu melindungi keretakereta
pio yang dipercayakan oleh induk semang mereka. Walaupun mereka tidak
dilarang mempertaruhkan jiwa untuk mempertahankan nama baik Hin Liong Pio Kiok
dari gangguan para perampok yang banyak merajalela disana sini dewasa itu.
Kedua orang pio-su ini amat senang bergaul dengan Sun Giok Hong dan
menganggap si pemuda itu sudah sebagai muridnya saja. Dan jika ada waktu luang,
mereka selalu memberi pelajaran ilmu golok secara sukarela dan tidak bosanbosannya,
hingga semakin Giok Hong rajin belajar, semakin bersemangat pula
mereka memberi pelajaran-pelajarannya. Dan kini Giok Hong ikut serta dalam
perjalanan itu sehingga mereka berdua merasa sangat girang dan sewaktu-waktu
menuturkan pengalaman mereka selama hidup dikalangan persilatan pada masa yang
lampau. Hal mana, sudah barang tentu, sangat menarik perhatian Giok Hong yang masih
muda itu. Kesepuluh kereta pio itu ditarik oleh duapuluh ekor keledai baster, dengan panjipanji
tiga persegi yang tertera lukisan kepala harimau dipajang di atas setiap kereta
tersebut, hingga walaupun dipandang dengan sepintas lalu saja, orang segera dapat
mengenali bahwa lukisan-lukisan itu berarti semboyan daripada kantor angkutan Hin
Liong Pio Kiok. Maka para perampok dan terlebih pada siang hari telah mengetahui
isyarat ini, tiada seorangpun yang berani sembarangan merampoknya.
Iringan-iringan kereta ini berangkat menuju ke selatan di bawah sinar matahari
yang terang benderang dan desiran angin sepoi-sepoi basah. Sun Giok Hong dengan
menggendong golok di punggungnya, tampak duduk di atas kereta di samping salah
seorang kusirnya, sedangkan Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu yang sedari siang telah
mempersiapkan diri, menyoren golok dan membekal alat-alat keperluan mereka
dengan selengkap-lengkapnya, mereka berjalan mengiringi dengan masing-masing
berkuda yang dapat berlari cepat dan menempuh perjalanan jauh.
Sesudah berjalan tiga hari lamanya, dikala senja hari, tibalah mereka di Tio-keetun,
sebuah kota kecil yang terletak di arah selatan Thian-cin.
Mereka sekarang telah berada di suatu tempat yang berjarak 240 lie jauhnya dari
kota Thian-cin, disebuah kota kecil di arah barat gunung Thay-san (dalam propinsi
Shoatang). Rumah-rumah yang terdapat di sini hanya seratus lebih saja banyaknya,
sedangkan penduduknya terdiri dari 500 atau 600 jiwa. Rumah makan dan rumah
penginapan hanya ada 5 atau 6 buah saja jumlahnya.
Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu yang sudah biasa lewat di sini dan kenal baik
keadaan jalan-jalan dan tempat-tempat di situ, lalu mampir ke rumah penginapan
yang biasa mereka tumpangi untuk bermalam. Sesudah mereka menyimpan keretakereta
pio dan berpesan kepada tukang-tukang kereta untuk menjaga kereta mereka
masing-masing, kedua orang pio-su itu lalu mengajak Sun Giok Hong pergi ke rumah
makan, dimana mereka bertiga duduk untuk makan dan minum, setelah itu mereka
kembali ke rumah penginapan untuk beristirahat.
Pada petang hari itu rembulan di langit muncul di antara kabut yang agak tebal,
hingga warnanya yang kekuning-kuningan tampak buram dan tidak jelas. Begitupun
sinar bintang-bintang yang jauh di angkasa raya, hanya sewaktu-waktu saja tampak
berkedip-kedip di balik awan yang melayang-layang di udara tertiup oleh angin
malam yang sejuk.
Kira-kira pada waktu tengah malam, tiba-tiba terdengar tukang-tukang kereta itu
menjerit dan membuat Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu sangat terkejut, dengan
membawa golok mereka berlari-lari ke ruangan dari mana suara jeritan itu terdengar.
Sesampainya di sana, ternyata kesepuluh kereta pio itu sudah tidak tampak lagi
bayang-bayangannya, sedangkan keduapuluh orang kusir dan pembantupembantunya
saling lihat-lihatan bagaikan orang-orang yang terkesima. Selanjutnya
dengan menilik pagar bambu yang runtuh di belakang ruangan tempat menyimpan
kereta-kereta pio itu, mereka segera mengetahui bahwa kesepuluh kereta-kereta pio
itu telah dilarikan orang dengan mengambil jalan dari sana.
Tatkala The Kee Hu berlari-lari keluar untuk memperhatikan ke arah mana keretakereta
pio itu dilarikan orang, dari kejauhan dengan samar-samar ia mendengar suara
meringkik keledai baster dan seruan beberapa orang yang memaksa binatangbinatang
itu untuk berjalan lebih cepat lagi.
"Ternyata kereta-kereta kita itu dilarikan ke atas gunung!" kata The Kee Hu sambil
mengangkat kepalanya memandang ke arah gunung Thay-san yang diliputi kabut dan
hanya diterangi oleh cahaya yang suram.
"Pendapatmu itu sungguh cocok sekali dengan pikiranku" kata Ma Tiauw Hoan.
"Sekarang marilah kita menyusul ke sana bersama-sama!"
Kemudian mereka berdua lalu mengambil kuda yang segera ditunggangi untuk
melakukan pengejaran ke atas gunung.
Sun Giok Hong dan keduapuluh tukang kereta itu menantikan kabar kedua orang
pio-su itu dari malam sehingga fajar menyingsing, tetapi mereka berdua ternyata
tidak juga kelihatan kembali, hingga si pemuda menjadi khawatir dan berniat untuk
menyusul mereka jika hingga terang tanah mereka belum kembali juga ke rumah
penginapan itu.
Tatkala sinar matahari mulai tampak mengintai di ufuk timur, dari kejauhan Giok
Hong melihat ada dua ekor kuda yang sedang berjalan mendatangi dengan perlahanlahan,
dengan di atas punggung binatang-binatang itu tampak menggendong suatu
benda yang bentuknya semula tak dapat mereka lihat dengan jelas. Tetapi ketika
kuda-kuda itu telah cukup dekat, barulah mereka ketahui, bahwa kedua binatang itu
tengah menggendong dua orang manusia yang ternyata bukan lain daripada Ma Tiauw
Hoan dan The Kee Hu adanya.
Kedua orang itu diikat dengan tambang di atas punggung binatang-binatang itu,
karena mereka ternyata sudah dalam keadaan pingsan dan juga telah menderita iukaluka
yang tak dapat dikatakan ringan.
Sun Giok Hong yang melihat kejadian itu, segrera mengajak beberapa orang
tukang kereta untuk membantunya menggotong kedua orang pio-su itu ke dalam
kamar, dimana mereka diobati dan dibalut luka-lukanya serta diberi minuman air jahe
untuk memulihkan kembali tenaga mereka.
Ma Tiauw Hoan menderita luka bekas bacokan golok pada bahu kirinya dan juga
luka terkena anak panah di bagian pinggangnya, sedangkan The Kee Hu terluka oleh
bacokan golok pada punggung dan paha kanannya. Giok Hong tampak khawatir sekali
akan keselamatan kedua orang sahabat karibnya yang hampir dianggapnya sebagai
guru-gurunya itu.
Ketika kedua pio-su itu siuman, dengan menghela napas panjang Ma Tiauw "Hoan
lalu berkata, "Dengan kegagalan kita pada kali ini, ada kemungkinan kami berdua tak
punya muka lagi untuk menunjukkan diri di antara khalayak ramai............."
Ketika Giok Hong menanyakan sebab musababnya, Tiauw Hoan lalu menerangkan
sebagai berikut:
"Si perampok kereta-kereta pio itu bukan lain daripada Thio Sam Liong dari Thiokee-
cung. Keluarga Thio pada umumnya mempunyai hubungan yang baik sekali
dengan Hin Liong Pio Kiok. Oleh karena itu aku semula tak percaya, bahwa salah


Golok Naga Kembar Karya Hong San Khek di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seorang anggota keluarga Thio tersebut bisa merusak hubungan persahabatan ini
dengan jalan melakukan perampokan dengan cara yang begitu pengecut. Kami sendiri
karena mengingat pada hubungan yang baik antara kedua belah pihak, sama sekali
tidak menyangka bahwa kami berdua telah masuk ke dalam perangkap mereka. Kami
dihujani anak panah, sehingga sebatang panah diantaranya sukar kuhindarkan dan
mengenai tepat pada pinggangku. Kemudian mereka mengeroyok kami berdua,
sehingga selanjutnya kami jatuh pingsan dan selanjutnya tak tahu lagi kejadian apa
yang telah menimpa diri kami".
Setelah mendengar keterangan kedua orang tersebut, Sun Giok Hong jadi sangat
mendongkol hatinya dan berseru, "Oh, kawanan tikus hutan itu ternyata berani
mengganggu kereta-kereta pio kita dari Hin Liong Pio Kiok". Baik!. Tunggulah sampai
aku naik ke atas gunung untuk menuntut balas!.
"Kami berdua tidak sanggup melawan mereka yang jumlahnya begitu banyak" Ma
Tiauw Hoan coba mencegah si pemuda itu untuk mengambil tindakan yang
sedemikian nekatnya, "apalagi kau ini yang masih berusia sangat muda dan belum
punya banyak pengalaman di kalangan Kang-ouw. Jika sekarang kau pergi ke sana,
bukankah itu berarti sama saja engkau mengantarkan jiwamu dengan percuma". Hal
paling benar yang harus kau lakukan adalah segera pulang ke Thian-cin untuk
mengabarkan peristiwa yang kita alami ini kepada pamanmu di sana, agar supaya
persoalan selanjutnya dapatlah diurus sebagaimana mestinya".
Tapi Sun Giok Hong meski baru belasan tahun saja usianya, ternyata hatinya sudah
sangat mantap dan tak gentar menghadapi sesuatu kejadian gawat serupa itu. Maka
tanpa menghiraukan lagi larangan si pio-su she Ma itu, ia segera bersiap-siap untuk
naik ke atas gunung untuk menegur perbuatan Thio Sam Liong yang sudah tidak lagi
memandang hubungan persahabatan itu.
Begitulah sesudah berpesan kepada para tukang kereta untuk melayani segala
keperluan Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu yang menderita luka-luka itu, Giok Hong
lekas-lekas pergi sarapan. Kemudian, setelah menanyakan arah jalan untuk menuju
ke Thio-kee-cung, ia segera membawa golok dan senjata rahasianya untuk menuju ke
atas gunung dengan berkuda.
Di sepanjang jalan, Giok Hong menyaksikan keindahan pemandangan alam di
sekitar gunung Thay-san itu. Tapi karena perjalanannya ini bukanlah untuk mencari
hiburan, maka ia tak dapat menikmatinya dan hanya tahu melanjutkan perjalanannya
selekas mungkin, hingga kudanya dipacu ke atas gunung dengan tidak ada hentihentinya.
Tatkala berjalan lebih kurang duapuluh lie jauhnya, maka tibalah si pemuda ke
dalam sebuah hutan yang lebat, dimana selagi memperhatikan keadaan di sekitarnya,
tiba-tiba terdengar mendesirnya sebatang anak panah yang menyambar ke
jurusannya. Tapi Sun Giok Hong yang pernah berlatih untuk menghindari bokongan
musuh, segera memiringkan sedikit kepalanya, sehingga anak panah itu melayang
tipis di dekat daun telinganya dan menancap pada sebuah pohon besar yang tumbuh
di tepi jalan. Si pemuda lekas menahan tali kekang kudanya sambil menoleh ke kiri dan ke
kanan. Tidak lama kemudian dari dalam rimba itu muncul serombongan kawanan
perampok yang dikepalai oleh seorang pemuda yang berusia antara 23 atau 24 tahun.
Ia menunggang seekor kuda putih, di tangannya mencekal sebuah busur Kim-liankiong,
sedang di atas punggungnya tergantung sebuah golok Tay-kam-to yang besar
dan berat sekali kelihatannya.
Sun Giok Hong yang melihat kedatangan orang yang berpakaian ringkas dengan
mengenakan saputangan besar sebagai ikat kepalanya itu segera menatap wajah
orang itu sambil berseru dengan lantangnya, "Apakah benar kau yang sedang
mendatangiku ini adalah Thio Sam Liong?"
"Benar" sahut pemimpin kawanan perampok itu, "Aku ini memang Thio Sam Liong
dari Thio-kee-cung. Kau yang baru saja lepas menyusu, membawa golok dan senjata
rahasia datang menyatroni daerah kekuasaanku ini, apakah itu bukan hendak
mengantarkan jiwamu sendiri?".
Sun Giok Hong bukan main rasa dongkolnya mendengar kata-kata si perampok
sombong itu, tetapi tidak urung ia memberikan juga jawabannya, "Aku Sun Giok
Hong, kemenakan pemilik kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok. Pamanku dan Cung-cu
Toa-ya disini adalah sahabat karib, tapi tak tahu apa sebab musababnya pada
kemarin malam kereta-kereta pio kami dirampok dan kedua orang pio-su kami
dilukai". Bukankah itu berarti, bahwa pihakmu telah dengan sengaja merusak hubungan
persaudaraan itu?".
Thio Sam Liong jadi tertawa mengakak dan berkata, "Oh, orang semuda kau ini
akan mampu menuntut balas dan berani datang meminta kembali kereta-kereta piomu
itu?". "Memang benar demikian" sahut Sun Giok Hong dengan hati dongkol, juga akan
menuntut balas atas perbuatanmu yang curang yang telah melakukan serangan
secara gelap itu!".
Thio Sam Liong yang mendengar omongan pemuda itu, lalu mencibirkan bibirnya
sambil mengeluarkan suara dengusan dari lobang hidung dan berkata, "Hm, nyatalah
bahwa kau ini seorang yang bernyali besar sekali!. Betapa tinggi kepandaianmu
sehingga kau berani bermusuhan dengan kami di sini". Aku bukan omong sombong,
dengan sebelah tangan kananku diikat, aku masih sanggup untuk menundukkanmu
sehingga berlutut dan merengek-rengek meminta ampun di hadapanku, kau
mengerti?".
Wajah Sun Giok Hong jadi merah padam karena amat gusarnya mendengar hinaan
seperti itu. "Seorang gagah lebih suka mati daripada dihina!" katanya. "Oleh karena itu,
sekarang aku tantang kau untuk bertempur denganku sehingga 300 jurus lamanya!".
"Akan kusaksikan sampai dimana keunggulanmu!", kata Thio Sam Liong sambil
tertawa mengejek. "Tetapi janganlah kau nanti menangis, kalau sampai gigi-gigimu
yang baru tumbuh itu rontok seluruhnya".
Sesudah berkata demimkian, ia segera mnggantung busurnya di geger kudanya,
kemudian lekas-lekas ia mengambil golok Tay-kam-to dari punggungnya sambil
berseru, "Ayo, mari kita mulai pertempuran ini!".
Sun Giok Hong pun tidak kalah tangkasnya dan segera menangkis bacokan
lawannya dengan golok di tangannya. Begitulah selanjutnya mereka saling desak
mendesak dari atas kuda, dengan yang satu tak mau mengalah mentah-mentah dari
lainnya. Dalam waktu sekejapan saja pertempuran itu telah berlangsung beberapa
jurus lamanya, tapi kedua-duanya ternyata sama pandai dan gagah beraninya,
sehingga pertempuran itu berkesudahan dalam keadaan seri.
"Bocah she Sun!" seru Thio Sam Liong sambil menahan golok lawannya, "Sekarang
kita boleh turun dari kuda dan bertempur di atas tanah!".
Sun Giok Hong menuruti ajakan si orang she Thio itu. Begitu mereka turun dari
kuda, mereka segera saling menyerang dengan tidak kalah tangkas dan dahsyatnya
daripada di atas punggung kuda tadi.
Tapi dalam pertempuran di atas tanah, ternyata Sun Giok Hong lebih unggul
daripada Thio Sam Liong. Karena ketika pertempuran baru saja berlangsung beberapa
jurus lamanya, sudah tampak jelas bahwa Sam Liong kalah ulet dan gesit
dibandingkan si pemuda she Sun itu, ditambah lagi Sam Liong sendiri sudah mandi
keringat walaupun pertempuran itu sendiri belum lagi berlangsung sampai duapuluh
jurus lamanya. Kesudahannya, karena malu jika dia sampai dikalahkan orang, maka Sam Liong
segera memberi isyarat kepada para anak buahnya untuk maju membantunya
menempur si bocah she Sun, yang ternyata tidak gentar meski dirinya dikeroyok oleh
puluhan orang yang bersenjatakan pentungan atau tombak.
Dalam babak pertama, Sun Giok Hong masih dapat bertahan, tetapi dalam babakbabak
selanjutnya ia telah mulai terlihat keteteran, karena ia seorang diri sudah
barang tentu bukan lawan yang seimbang dari sekian banyak musuh yang sudah
dewasa dan bersenjatakan senjata-senjata yang bergagang panjang.
Syukur juga selagi jiwa si pemuda she Sun terancam bahaya maut, tiba-tiba dari
kejauhan muncul seorang pemuda lain yang berkuda dan memacu kencang binatang
tunggangannya ke bawah gunung sambil berseru, "Kalian segera hentikan
pertempuran ini!".
Mereka sekalian yang telah mengenali siapa adanya orang yang baru datang itu,
lantas mundur keluar dari kalangan pertempuran dan menghentikan pengeroyokan
mereka atas diri pemuda she Sun itu.
Hal mana, juga diikuti oleh Thio Sam Liong yang segera melompat ke pinggir dan
berdiri tegak di situ dengan napas yang terengah-engah. Dan jika ditilik dari sikapnya
disaat itu, ternyata Sam Liong pun agak jerih juga menghadapi pemuda yang baru
datang ini. Sun Giok Hong sendiripun tampak keheran-heranan melihat suasana tersebut.
Dalam keadaan demikian, diam-diam ia memperhatikan wajah orang yang baru
datang itu, yang ternyata agak mirip dengan Thio Sam Liong walaupun usianya selisih
antara 4 atau 5 tahun tuanya. Selanjutnya karena menduga bahwa Sam Liong itu
berada dalam urutan yang ketiga di antara saudara-saudaranya, yang mana dapat
diketahui jelas dengan angka "Sam" (tiga) yang dicantumkan pada namanya itu, Giok
Hong segera timbul dugaan, kalau-kalau orang ini adalah salah seorang kakak dari
lawannya itu. Maka sambil menggenggam golok dengan kedua tangannya, si pemuda
she Sun lalu menyoja ke arah orang yang baru datang itu sambil bertanya, "Lauw-hia,
apakah engkau ini benar salah seorang Thio Siauw-ya dari Thio-kee-chung?".
Si pemuda yang baru datang itu segera mengangkat tangan membalas hormat dan
melompat turun dari atas kudanya, sedang salah seorang kawanan perampok itu
menarik tali kekang binatang itu, yang lalu dituntun ke pinggir untuk dijagainya.
"Pie-jin (saya yang hina) memang benar bernama Thio Jie Liong dari Thio-keechung"
sahut orang yang baru datang itu. "Aku lihat siauw-ko-ko ini mempunyai
kepandaian ilmu golok yang sedemikian lihaynya, hingga adikku Sam Liong yang
usianya lebih tua tak dapat mengalahkanmu, sehingga telah coba main keroyokan
dengan cara tidak beraturan. Keluarga kami meski bukan terbilang kaum pendekar
yang agung/ tetapi kami pantang berlaku curang seperti apa yang sekarang dilakukan
oleh adikku ini. Aku berharap supaya siauw-ko-ko sudi memaafkannya kali ini. Tetapi
belum tahu apakah siauw-ko-ko ini bukan orang Thian-cin dan dari keluarga Sun di
sana". Dan apakah sebab musababnya sampai engkau bertengkar dengan adikku?".
"Rupanya Jie-ya belum mengetahui jelas duduk permasalahan yang sebenarnya"
kata Sun Giok Hong, tapi selanjutnya dia tak meneruskan pula penuturan itu.
"Bagaimana". Aku sungguh tidak paham apa katamu", kata Thio Jie Liong yang
merasa heran melihat sikap si pemuda she Sun itu.
"Hal ini Jie-ya boleh tanyakan sendiri kepada Sam-ya", sahut Sun Giok Hong.
Thio Jie Liong lalu melirik pada adiknya sambil membentak, "Lagi-lagi kau yang
telah membuat keonaran ini, bukan?".
Wajah Sam Liong sekonyong-konyong menjadi merah dan menjawab dengan suara
yang terputus-putus, "Ka.....karena berhutang uang dan kalah dalam perjudian
sehingga jumlah ribuan tail perak, maka aku ..............aku terpaksa
melakukan........per.........perbuatan ini".
"Setelah merampok kereta-kereta pio kami" Sun Giok Hong memotong
pembicaraan itu, "Sam-ya juga melukai dua orang pio-su kami, yang hingga kini
masih dirawat di rumah penginapan di Tio-kee-tun".
"Sungguh kurang ajar sekali perbuatanmu itu!" Jie Liong mendamprat adiknya itu.
"Kau berjudi adalah tanggung jawabmu sendiri, tetapi mengapa merampok keretaTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
kereta pio orang yang menjadi handai taulan kita keluarga Thio". Bukankah itu dapat
merusak hubungan persahabatan antara pihak kita dan pemilik Hin Liong Pio Kiok".
Aku sekarang hendak bertanya kepadamu, kereta-kereta pio itu sekarang ada di
mana". Lekas kau kembalikan dalam keadaan seperti semula, utuh dan tiada kurang
sepotongpun!".
"Kereta-kereta pio itu sekarang aku titipkan di Pek-in-kok" menerangkan Thio Sam
Liong, "dan jikalau Jie-ko hendak meminta kembali itu semua, marilah kau boleh ikut
kami pergi ke sana".
"Baik" kata Thio Jie Liong, "aku beri kau kesempatan untuk mengembalikan keretakereta
pio itu dalam keadaan untuh pada saat ini juga untuk dibawa menghadap
kepada ayah!".
Thio Sam Liong menyanggupi dan segera berlalu dengan mengajak anak buahnya
sekalian. Tatkala ditunggu-tunggu sekian lamanya, ternyata Sam Liong dan kawankawannya
tidak juga kembali, hingga Jie Liong jadi mendongkol dan berkata kepada
Sun Giok Hong, "Celaka!, ada kemungkinan adikku mengingkari janji dan kabur ke
lain tempat!. Sekarang Sun Hian-tee boleh ikut aku pergi ke sana".
Begitulah Giok Hong lalu menunggang pula kudanya dan mengikuti Thio Jie Liong
memasuki rimba yang lebat dan melalui jalan-jalan gunung yang curam, kemudian
setelah berjalan 6 atau 7 lie jauhnya, tibalah mereka disebuah lembah yang diliputi
kabut, dimana Jie Liong menunjuk ke suatu jurusan sambil berkata, "Itu lembah yang
tampak di sana, bernama Pek-in-kok. Di sana tampaknya sunyi-sunyi saja dan tiada
kedapatan manusia, maka ada kemungkinan adikku telah membawa pergi keretakereta
.pio itu kelain tempat. Sungguh makan hati sekali kita mendidik anak jahat
serupa dia!".
Giok Hong tak dapat berbicara selain daripada mengangguk-anggukkan kepalanya
saja. Dari situ Jie Liong lalu mengajak si pemuda she Sun untuk melakukan penyelidikan
ke lembah Pek-in-kok tersebut. Keadaan di sana sungguh amat sunyi dan tiada
kedapatan manusia yang berumah tinggal di situ, hingga tidak mudah mencari
keterangan diantara para penghuni-penghuninya yang hanya terdiri dari binatangbinatang
hutan itu. Syukur juga selagi mereka kehilangan akal, tiba-tiba di antara jalan yang bertanah
lembek itu, tampak jelas beberapa banyak bekas roda kereta dan kaki keledai baster,
hingga kedua orang itu segera mengikuti bekas-bekas itu dengan sangat teliti sekali.
Karena dengan melihat jurusan yang dituju oleh rombongan kereta-kereta pio yang
dilarikan Thio Sam Liong dan kawan-kawannya itu, Jie Liong segera dapat menduga
dengan pasti, bahwa adiknya telah melarikan kereta-kereta itu ke jalan gunung di
arah barat. Maka sambil tersenyum getir ia berkat, "Sun Hian-tee, ternyata adikku
telah melarikan kereta-kereta pio itu ke desa Han-kee-chung yang terletak di puncak
Say-bin-hong!".
"Apakah desa Han-kee-chung itu merupakan desa yang khusus untuk tempat
persembunyian kaum perampok?" bertanya Sun Giok Hong agak ragu.
Thio Jie Liong menghela napas dan berkata, "Hal ini Sun Hian-tee akan ketahui
nanti. Sekarang marilah kita terlebih dahulu menjumpai ayahku, agar supaya kita
dapat mengetahui tindakan apa yang dapat kita ambil selanjutnya".
Sun Giok Hong mengangguk dan segera mengikuti Thio Jie Liong pulang -ke desa
Thio-kee-chung, yang terpisah lebih kurang sepuluh lie jauhnya di arah timur lembah
Pek-in-kok tadi.
Desa Thio-kee-chung ini ternyata amat luas dan dikelilingi oleh pagar tembok.
Banyak gedung-gedung, loteng-loteng dan taman-taman bunga yang dipelihara
dengan sangat baik di empat penjuru daerahnya. Maka dengan menilik keadaan dan
gedung-gedung serta bangunan-bangunannya yang begitu banyak dan indah-indah
modelnya, membuat keadaan di situ tidak berbeda dengan sebuah kerajaan kecil
yang diperintah oleh seorang raja muda yang mahir sekali dalam hal mengatur dan
membangun istana-istananya. Maka Sun Giok Hong yang menyaksikan keadaan di
dalam desa itu, selain merasa sangat kagum, iapun jadi berpikir di dalam hatinya,
"Thio Sam Liong itu adalah seorang putera dari seorang yang sangat kaya raya, tetapi
mengapakah dia berani merampok kereta-kereta pio yang dilindungi oleh kantor
angkutan yang mempunyai hubungan sangat baik dengan ayahnya sendiri". Apakah
barangkali ada udang dibalik batu?".
Sebelum si pemuda she Sun dapat memikirkan lebih jauh kecurigaannya itu; saat
itu juga Jie Liong mengajak ia masuk ke dalam chung, dimana sesudah menyerahkan
kuda-kuda tunggangan mereka dalam tangan para pelayan di situ, mereka segera
menuju ke sebuah gedung besar dengan terlebih dahulu melalui sebuah gerbang yang
dibangun di tengah chung itu.
Begitulah sesudah melalui cimche yang luas, mereka melewati sebuah lorong
panjang yang menembus ke dalam taman, dimana tampak beberapa banyak paviliunpaviliun
dan loteng-loteng yang masing-masing bentuk dan besar kecilnya tidak
sama. Setibanya di sebuah ruangan besar yang terletak di tengah-tengah taman
bunga, Jie Liong lalu minta Giok Hong menunggu sebentar, sedangkan ia sendiri lalu
masuk ke dalam untuk mengabarkan kedatangan si pemuda she Sun itu kepada
ayahnya. Tidak begitu lama dari kejauhan muncullah seorang laki-laki yang usianya telah
lanjut, dengan diiringi oleh Jie Liong dan beberapa orang pelayan di sebelah
belakangnya. Orang tua itu berjalan dengan gerak dan langkah yang masih gagah ke
arah ruangan besar dimana Sun Giok Hong duduk menantikan.
Dan begitu melihat orang tua itu berjalan mendatangi, Giok Hong lekas-lekas
bangkit dan berdiri tegak untuk menyambut orang tua itu yang diduganya bukan lain
daripada ayah Thio Jie Liong adanya.
Orang tua itu meski usianya telah mencapai 60 tahun, tetapi tubuhnya masih kekar
dan matanya seolah-oleh mengeluarkan sinar yang tajam sekali. Ia mengenakan baju
panjang yang dibuat daripada sutera biru yang berlukiskan seekor naga yang
melingkar. Sambil memberi hormat dengan jalan menjurah dan menekuk sebelah lututnya,
Sun Giok Hong lalu bertanya, "Apakah Tiang-jin ini adalah Thio Pek-pek yang menjadi
chung-cu dari desa Thio-kee-chung di sini?".
"Benar" sahut orang tua itu, setelah memperhatikan perawakan dan wajah pemuda
she Sun itu. "Lo-hu bernama Thio Ciam Goan. Aku mendengar Jie-jie telah


Golok Naga Kembar Karya Hong San Khek di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

melaporkan bahwa Sam-jie telah merampok kereta-kereta Hin Liong Pio Kiok milik
pamanmu Sun Sin Bu serta melukai dua orang pio-su. Apakah itu benar adanya?".
"Thio Pek-pek" kata Sun Giok Hong, "apa yang dikatakan Jie-ya, memang benar
itulah yang sesungguhnya telah terjadi, sedang kedua orang pio-su kami itupun
hingga kini masih dirawat disebuah rumah penginapan di Tio-kee-tun. Maksud Tie-jie
datang ke sini, adalah karena mengingat akan hubungan pamanku dan Pek-pek yang
begitu erat, maka aku berniat akan melaporkan sendiri tentang terjadinya peristiwa
perampokan ini kepada Pek-pek di sini. Tetapi siapa kira sesampainya ditengah jalan,
aku telah dicegat oleh Thio Sam-ya dan kawan-kawannya yang segera mengepungku.
Syukur juga Jie-ya keburu datang menolong, kalau tidak, ada kemungkinan Tie-jie tak
dapat menjumpai Pek-pek saat ini".
Sementara Thio Ciam Goan yang mendengar pengaduan dari anaknya dan Sun
Giok Hong yang ternyata bersamaan bunyinya, sudah barang tentu menjadi gusar
sekali kepada anaknya yang ketiga itu, sehingga matanya membelalak dan kumis
serta janggutnya bergerak-gerak bagaikan ditiup desiran angin.
"Sungguh kurang ajar sekali anak itu!" cercanya. "Sam-jie memang gemar sekali
berjudi. Jika dia sudah kalah habis-habisan, dia kerap menjadi nekat dan menipu kiri
kanan. Sekarang ia merampok kereta-kereta pio yang diangkut oleh kantor angkutan
pamanmu, aku di sini mengalami akibatnya yang tidak enak. Sekarang Hian-tit tak
usah merasa khawatir apa-apa. Lo-hu berikan jaminan untuk mengembalikan keretakereta
pio itu dalam keadaan utuh. Jika ternyata ada kekurangan, Lo-hu akan ganti
menurut harga yang patut dibayar". Kemudian ia menoleh pada Thio Jie Liong dan
melanjutkan bicaranya, "Jie Liong, sekarang juga kau boleh berangkat ke Han-keechung
dan serahkan kartu namaku kepada Han Su-ya di sana, untuk minta
pertolongannya menangkap si anak celaka itu dan setelah itu dibawa menghadap
kepadaku di sini!".
"Baiklah, ayah" kata Thio Jie Liong yang segera berangkat ke Han-kee-chung
dengan membawa kartu nama ayahnya itu.
"Karena persoalannya menyangkut pada kantor angkutan kami" kata Sun Giok
Hong, "maka telah membuat Jie-ya dan Sam-ya saling bertengkar; hingga untuk itu
boan-pwee merasa sangat menyesal sekali".
"Segala kesalahan ini adalah Lo-hu yang harus tanggung" kata Thio Ciam Goan. "Di
waktu muda, Lo-hu yang merantau dikalangan Kang-ouw, tidak mempunyai cukup
waktu untuk mendidik anak sendiri, sedangkan ibunya terlampau memanjakannya.
Oleh karena itulah Lo-hu sekarang telah menerima 'buah' daripada kesalahan Lo-hu
sendiri!. Sam-jie yang kerap bergaul dengan segala anak bengal dan penjudi,
akhirnya terseret juga menjadi pecandu judi, sehingga dia menjadi terlampau kasip
untuk dipimpin ke jalan yang benar".
"Jika demikian halnya" kata Sun Giok Hong, "bolehkah Tit-jie mendampingi Jie-ya
untuk sama-sama pergi ke desa Han-kee-chung itu?".
Thio Ciam Goan merasa tidak keberatan, ia lalu memerintahkan Jie Liong untuk
mengajak Giok Hong menemaninya.
"Hian-tit masih sangat muda dan perlu sekali mencari pengalaman yang lebih
banyak" kata orang tua itu. "Segala urusan kau boleh serahkan kepada Jie-jie untuk
diselesaikan, tetapi jangan sekali-kali kau turut campur tangan".
Giok Hong mengucap banyak-banyak terima kasih atas petunjuk ahli silat tua itu
yang kemudian memerintahkan Jie Liong untuk mengajak si pemuda makan terlebih
dahulu sebelum berangkat ke Han-kee-chung.
Sesudah selesai makan, Thio Jie Liong lalu membawa goloknya sendiri dan kartu
nama ayahnya, berangkat ke Han-kee-chung dengan ditemani oleh Sun Giok Hong
dan duapuluh orang chung-teng (penjaga desa) yang berkuda dan bersenjata
lengkap. Dari desa Thio-kee-chung mereka menuju ke barat, mendaki gunung dan melewati
rimba yang lebat, dan tatkala berjalan lebih kurang 30 atau 40 lie jauhnya, maka
tibalah mereka di sebuah chung yang juga tidak kalah besarnya dengan Thio-keechung,
dimana terdapat rumah-rumah para penghuninya yang berjumlah kira-kira
200 atau 300 buah banyaknya.
"Tempat ini bernama puncak Say-bin-hong" kata Thio Jie Liong, "sedang chung
yang terletak di sebelah sana itu, adalah Han-kee-chung yang akan kita tuju".
Tetapi, ketika baru saja mereka mendekati gerbang desa tersebut, tiba-tiba
terdengar suara yang amat riuh dan dibarengi dengan munculnya serombongan
kawanan berandal sejumlah 50 atau 60 orang banyaknya, yang dikepalai oleh Thio
Sam Liong dan seorang pemuda lain yang usianya lebih kurang 26 atau 27 tahun,
perawakannya besar tlan lebih kurang 6 kaki tingginya, kepalanya besar dan matanya
bulat, berhidung mancung dengan mulut yang lebar.
Dengan golok Tay-kam-to di tangan, si pemuda yang disebut belakangan itu
menuding ke arah Thio Jie Liong dan Sun Giok Hong sambil membentak, "Kalian
segeralah menyingkir saat ini juga!. Kalau tidak, kalian harus tanggung sendiri segala
akibatnya. Aku sengaja berlaku murah hati kali ini, berhubung mengingat
persahabatan kami dengan keluarga Thio. Tapi apabila kalian tetap memaksa hendak
maju juga, janganlah kalian mengatakan aku tidak lagi memandang persahabatan ini.
Golokku yang tidak bermata akan membabat setiap orang yang berani melangkah
melewati ambang gerbang desa Han-kee-chung ini!".
Thio Jie Liong yang masih dapat menahan sabar atas perlakuan kasar yang
ditunjukkan oleh pemuda sombong itu, segera tampil ke muka sambil mengeluarkan
kartu nama ayahnya dan berkata, "Han Hian-tee, aku membawa kartu nama ayahku
untuk minta berjumpa dengan ayahmu. Harap tolong saudara melaporkannya kepada
beliau". Tetapi si pemuda itu dengan suara ketus segera menjawab, "Tidak ada!. Ayahku
tengah melakukan perjalanan ke kota Kim-leng, maka tak ada waktu untuk
melaporkan kepadanya!. Ayo, enyahlah kalian dari sini!".
Perlakuan ini sudah barang tentu membuat hati Thio Jie Liong mengkal dan balas
membentak, "Han Siauw Houw!. Aku berbicara kepadamu secara hormat dan secara
baik-baik, tetapi mengapakah kau berlaku sedemikian kasarnya". Rupanya kau telah
dihasut oleh adikku, sehingga kau berbalik melindungi seorang perampok dan sengaja
ingin merusak hubungan persaudaraan diantara kita!. Aku datang ke sini atas
perintah ayahku untuk mengambil pulang kereta-kereta pio yang dirampok oleh
saudaraku itu. Maka dari itu, apakah masalahnya yang telah membuat kau
melindunginya dengan cara mati-matian serupa itu". Jika kau mengingat hubungan
yang begitu baik antara keluarga kita berdua, segeralah kau serahkan kereta-kereta
pio Hin Liong Pio Kiok beserta adikku yang telah merampoknya. Kalau tidak, jangan
sampai nanti kau katakan aku keterlaluan. Thio Jie Liong masih kenal saudara dan
sahabat, tetapi ingatlah, bahwa golokku ini tidak bermata dan tidak pandang bulu!".
Mendengar kata-kata Jie Liong yang sudah begitu marah, Han Siauw Houw pun
tidak menjadi jeri dan segera maju menerjang sambil berseru, "Lihat golokku!".
Begitulah kedua orang itu telah bertarung dengan tidak banyak cakap lagi.
Han Siauw Houw ini bukan lain daripada putera tunggal Han In Houw, chung-cu
dari Han-kee-chung, yang selain bersahabat karib dengan Thio Ciam Goan dari Thiokee-
chung, merekapun masih terhitung sanak saudara. Seperti juga Thio Ciam Goan,
Han In Houw pun tergolong seorang tokoh dalam kalangan persilatan di Shoatang
yang namanya sama tenarnya dengan si jago tua she Thio itu. Oleh karena itu, dalam
kalangan persilatan di Shoatang muncul nama julukan Thay-san-liang-houw atau dua
harimau dari gunung Thay-san. Yakni menunjukkan bahwa harimau yang satu
dimaksudkan adalah Thio Ciam Goan, sedangkan harimau yang lainnya yaitu Han In
Houw adanya. Seperti juga pergaulan kedua orang tua itu, begitupun anak-anak mereka bergaul
dengan eratnya. Thio Sam Liong dan Han Siauw Houw hampir hidup sebagai saudara
kandung saja. Karena, bukan saja mereka masih bersanak saudara, juga mereka
mempunyai kegemaran yang sama pula, yaitu judi dan pelacur.
Maka sesudah Sam Liong merampok kereta-kereta pio Hin Liong Pio Kiok dan kabur
dari tangan kakaknya, lekas-lekas ia menuju ke Han-kee-chung untuk meminta
perlindungan Siauw Houw di sana, yang sudah tentu saja suka menerimanya dengan
tangan terbuka, lebih-lebih karena ayahnya tidak ada dan memang benar-benar
tengah melakukan perjalanan ke kota Kim-leng.
Han Siauw Houw yang melihat ayahnya tidak ada di rumah, sudah barang tentu
merasa tidak ada seorangpun yang perlu ditakutinya. Oleh karena itu tanpa
menimbang lagi, apakah orang yang dibelanya itu benar atau salah, segera saja ia
mendamprat Thio Jie Liong dan seolah-olah sengaja memperkeruh jalannya
persoalan. Tapi Thio Jie Liong bukan seorang pengecut yang dapat sembarangan digertak
orang. Maka begitu ia diserang oleh Han Siauw Houw, iapun telah siap sedia untuk
memapakinya. Dengan demikian bacokan Han Siauw Houw bukan saja tidak
mengenai sasarannya, malah ia sendiri hampir saja kena ditebas oleh golok Jie Liong
yang menyambar kepadanya bagaikan angin cepatnya. Hanya pertempuran itu tidak
berlangsung terlalu lama, karena begitu merasa bahwa dia tak sanggup meladeni Thio
Jie Liong lebih lama lagi, Siauw Houw segera memanggil Thio Sam Liong untuk datang
membantu. Thio Sam Liong yang merasa telah mendapat perlindungan si pemuda she Han tu,
terpaksa lompat maju untuk membantu Siauw Houw mengeroyok Jie Liong, hingga
Sun Giok Hong menjadi sangat gusar dan membentak, "Aku datang!".
Sesudah berkata demikan, ia segera memutar goloknya untuk menghambat
serangan Thio Sam Liong yang hendak diluncurkan kepada kakaknya sendiri, hingga
terjadilah pertempuran dahsyat yang dilakukan oleh empat orang dan terpecah
menjadi dua rombongan. Pihak orang-orang bawahan Han Siauw Houw tak berdaya
untuk membantu induk semang mereka, berhubung tahu bahwa antara kedua chungcu
Han-kee-chung dan Thio-kee-chung mempunyai hubungan persaudaraan yang erat
sekali. Dalam pertempuran itu, Thio Sam Liong yang beberapa waktu lalu hampir
dipecundangi oleh Sun Giok Hong, tidaklah sanggup membantu Han Siauw Houw yang
sudah keteter dalam pertempuran dengan kakaknya, bahkan ia sendiri tak mampu
mengalahkan lawan yang mencegatnya, yang ternyata mempunyai kepandaian lebih
unggul daripada dirinya sendiri.
Begitulah, tatkala pertempuran itu sudah berlangsung beberapa jurus lamanya,
Han Siauw Houw merasakan kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang,
sedang dalam rombongan yang lain, Sun Giok Hong telah mendesak Thio Sam Liong
begitu rupa, sehingga bukan saja ia hampir tak mampu melakukan serangan balasan,
malah untuk menjaga serangan Giok Hong pun hampir-hampir ia tak sanggup.
Dalam keadaan begitu, Giok Hong sebenarnya mudah sekali untuk melukai dan
merobohkan lawannya, tapi karena mengingat bahwa antara pihak Hin Liong Pio Kiok
dan Thio Ciam Goan dari Thio-kee-chung mempunyai hubungan yang baik sekali,
maka terpaksa ia berlaku sedikit longgar dan tidak menurunkan tangan besi untuk
menindasnya hingga habis-habisan.
Hal mana telah diketahui pula oleh Thio Jie Liong dan Sam Liong sendiri yang
menjadi lawan si pemuda she Sun itu.
Sementara dilain pihak Thio Jie Liong terpaksa berlaku longgar kepada Han Siauw
Houw, berhubung ayahnya dan ayah Siauw Houw bukan saja bersahabat akrab, tetapi
juga masih bersanak saudara. Oleh karena itu, ia sengaja mengulur waktu untuk
memperlambat pertempuran dan setelah Han Siauw Houw sudah tampak lelah dan
napasnya terengah-engah, barulah ia desak dengan secara dahsyat sekali, hingga
dilain saat ia telah berhasil merobohkan Siauw Houw yang dihantam dengan
menggunakan belakang goloknya.
Para chung-teng Han-kee-chung jadi terkejut bukan main, karena menyangka
bahwa induk semangnya telah dilukai Jie Liong dan jatuh mengusruk dan tidak ingat
pula pada dirinya. Tapi ketika kemudian ditolong orang, ternyata ia tidak menderita
luka apa-apa, selain jatuh pingsan karena terlampau letih dalam pertempuran itu.
Sementara Thio Sam Liong yang juga terkejut melihat Siauw Houw dirobohkan
kakaknya, dilain saat telah kena tertendang oleh Sun Giok Hong hingga jatuh
terjungkel, dengan goloknya terpental entah ke mana jatuhnya.
Oleh karena khawatir adiknya akan menderita celaka dalam tangan Sun Giok Hong,
maka Jie Liong lekas-lekas berseru, "Sun Hian-tee, harap kau suka memaafkannya!".
Sun Giok Hong paham, bahwa Jie Liong khawatir juga kalau sampai ia kelepasan
tangan, sehingga akhirnya dapat mencelakai diri adiknya itu.
"Thio Jie-ya tak usah khawatir" katanya sambil tertawa, "aku tanggung Sam-ya tak
sampai menderita celaka, kecuali luka-luka ringan karena jatuh dari kuda".
Mendengar kata-kata itu, disamping berterima kasih, Thio Jie l.iong juga jadi
sangat gembira dan memuji, "Sun Hian-tee, dalam usia yang begini muda, kau telah
berkepandaian sangat mengagumkan, kukira kelak engkau akan menjagoi dalam
Rimba Persilatan!".
Sesudah berkata demikian, Thio Jie Liong segera melucuti senjata adiknya dan Han
Siauw Houw, untuk kemudian digiring ke Han-kee-chung dan mengambil sepuluh
kereta pio yang telah dirampas oleh kedua orang muda yang bertabiat jahat itu. Ibu
kandung Siauw Houw telah meninggal dunia, hingga di dalam desa itu hanya ada ibu
tirinya saja, tapi karena ibu tirinya itu sendiri tak mau ambil pusing terhadap
perbuatan Siauw Houw, maka Jie Liong terpaksa menyuruh orang-orang bawahannya
untuk mengangkut kereta-kereta pio tersebut untuk dibawa pulang ke rumahnya,
desa Thio-kee-chung.
Setibanya di muka pintu desa itu, Thio Sam Liong lalu berkata kepada kakaknya,
"Jie-ko, ayah pasti akan sangat marah kepadaku dan menghukumku jika engkau
mengajak aku pulang untuk menjumpainya!. Dengan mengingat kecintaan terhadap
saudara kandungmu sendiri, sudilah kiranya engkau membebaskanku". Aku akan
merantau dan berjanji dengan setulus hatiku untuk tidak memusingkan kepala ayah,
ibu dan engkau sendiri".
"Sebuas-buasnya harimau, masakan dia sampai hati memakan anaknya sendiri?"
Jie Liong menasehati sang adik. "Sebagai seorang kakak sekandung, akupun sangat
mencintaimu. Kukira kau tak akan dapat hasil-hasil yang baik dengan cara hidup
merantau seperti itu, lagipula ayah pasti dapat memaafkan segala kesalahankesalahanmu.
Maka, marilah kita pulang dan tidak usah merasa takut".
Sesudah itu, ia segera menyuruh orang-orang bawahannya untuk mengajak Sam
Liong masuk ke desa Thio-kee-chung, sedangkan ia sendiri bersama Sun Giok Hong
mengikuti di belakang dengan tidak berkata-kata.
Begitu masuk ke ruangan tengah, di situ mereka tampak Thio Ciam Goan tengah
duduk menantikan mereka dengan wajah yang gagah dan penuh kegusaran.
Begitu orang tua itu melihat Thio Sam Liong masuk dengan diiringi oleh orangorang
bawahannya sambil menundukkan kepala, segera saja ia membentak dengan
suara yangbengis, katanya, "Binatang!. Betapa beraninya engkau merusak
persaudaraan diantara kita dan keluarga Sun!. Engkau ini memang benar-benar anak
durhaka, dan tidak pantas lagi menjadi anak keluarga Thio yang terhormat!".
Segera ia bangkit dari kursinya dan hendak menghajar Sam Liong, tapi Giok Hong
sudah mendahului maju menghadang di hadapannya sambil memberi hormat dan
berkata, "Sie-pek, karena mengingat bahwa kesalahan saudara Sam Liong masih
dapat diperbaiki, maka aku mohon dengan sangat supaya Sie-pek sudi
memaafkannya. Karena jika Sie-pek sampai menghukum saudara Sam Liong, itu
sama saja halnya engkau menghukum diriku dengan membuat saudara Sam Liong
sebagai sasarannya. Oleh sebab itu, aku mohon Sie-pek supaya sudi memaafkan
saudara Sam Liong, karena aku yakin pada masa-masa yang akan datang ia pasti
dapat mengubah perbuatannya sehingga menjadi seorang yang baik".
Sementara ibu Sam Liong yang mendengar suara ribut-ribut di ruangan tengah itu
kemudian mengetahui hal apa yang telah terjadi di sana, segera keluar untuk juga
memohon ampun atas kesalahan anaknya. Maka Ciam Goan yang melihat begitu,
barulah kegusarannya menjadi sedikit reda dan berkata, "Jika tidak memandang
muka Sun Giok Hong, aku pasti telah menghukum anak durhaka ini. Tapi jika ia nanti
berani melakukan pula sesuatu hal yang dapat menodai nama baik keluarga Thio,
tentu aku tak dapat lagi mengampuninya!". Sesudah itu ia menoleh ke arah Sam
Liong yang berlutut di hadapannya sambail membentak, "Enyahlah kamu dari
hadapanku!".
Thio Sam Liong tak berani membantah dan segera masuk ke dalam mengikuti
ibunya. "Kedatanganku kali ini" kata Giok Hong dengan muka menyesal, "semata-mata
hanya menimbulkan kekacauan bagi Sie-pek dan keluarga di sini, hingga untuk itu
aku mohon maaf sebesar-besarnya pada darimu sekalian. Lain kali jika aku kebetulan
lewat di sini, sudah barang tentu aku akan mampir untuk menanyakan keselamatan
Sie-pek sekeluarga".
Ciam Goan manggut-manggut dengan wajah yang berseri-seri. "Hari sudah
menjelang petang" kata orang tua itu, "sedangkan kunjungan Sie-tit kemari tidak
selalu terjadi begitu kebetulan seperti sekarang ini. Oleh sebab itu, aku persilahkan
Sie-tit menginap di sini, Untuk kemudian melanjutkan perjalananmu pada esok hari".
Sesudah berkata demikian, Ciam Goan lalu memerintahkan Jie Liong menemani
Sun Giok Hong, sedangkan ia sendiri lalu memerintahkan para pembantunya untuk
menyediakan satu meja perjamuan, dengan ia sendiri dan Jie Liong menemani si
pemuda she Sun duduk makan minum dengan hati gembira.
Selama pertemuan berlangsung, Ciam Goan telah menanyakan hal ihwal Sun Giok
Hong sehingga datang ke Thio-kee-chung. Atas pertanyaan itu, si pemuda she Sun
telah menerangkan satu persatu, sejak kereta-kereta pionya dirampok orang
sehingga ia terpaksa menempur Han Siauw Houw dan Thio Sam Liong, hingga orang
tua itu jadi sangat kagum akan kepandaian dan kegagahan pemuda itu. Setelah itu, ia
menanyakan dalam ilmu kepandaian apa yang menjadi kegemaran dan kemahiran si
pemuda, yang satu persatu telah dijawab oleh Giok Hong dengan laku hormat dan
merendah, hingga Thio Ciam Goan jadi sangat girang dan berkata, "Sungguh tepat
sekali apa kata peribahasa 'Harimau tak akan beranak anjing'. Keluarga Sun memang
sudah sedari jaman leluhurmu dahulu mahir ilmu silat dan pandai menggunakan


Golok Naga Kembar Karya Hong San Khek di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

segala macam senjata. Ayah dan pamanmu telah lama termasyur di kalangan Kangouw
sebagai ahli-ahli silat yang sangat disegani orang, kini anaknya pun kelak akan
meneladani juga perjalanan orang-orang tuanya itu. Maka setelah perjamuan selesai,
Lo-hu ingin minta Sie-tit mempertunjukkan beberapa macam ilmu silat yang menjadi
warisan dan kebanggaan keluargamu itu, tapi belum tahu apakah Sie-tit sudi
mengabulkan permintaanku itu?".
Giok Hong yang mendengar perkataan orang tua itu, dengan segera ia menyoja
sambil membungkukkan badannya dan berkata, "Jika Sie-pek tidak buat celaan,
sudah barang tentu Tit-jie pun bersedia untuk mengabulkan permintaan itu. Tapi jika
dalam ilmu silatku terdapat banyak kekeliruan-kekeliruan dan tidak baik untuk
dipertunjukkan, Tit-jie banyak berharap agar Sie-pek sudi memberikan petunjukpetunjuk
berharga bagi kemajuanku dimasa depan".
Thio Ciam Goan kelihatan girang sekali mendengan jawaban itu, hingga setelah
perjamuan ditutup dan beristirahat sebentar, dengan segera ia mengajak Giok Hong
menuju ke tengah lapangan untuk berlatih ilmu silat, dimana Giok Hong diminta untuk
bersilat dengan tangan kosong, kemudian mempergunakan golok yang dimainkan
Giok Hong dalam ilmu Pat-kwa-to yang memang menjadi kegemarannya itu.
Ilmu golok tersebut telah dimulai dengan gerak perlahan, tapi kian lama kian
bertambah cepat dan dahsyat, sehingga sinar goloknya yang membungkus tubuhnya
seakan-akan tak dapat ditembus oleh tetasan air hujan, Dan tatkala permainan
goloknya telah mencapai bagian-bagian yang tercepat, di tengah lapangan hanya
tampak sinar golok yang berkelebat-kelebat dan mengeluarkan suara menderu-deru,
tubuh si pemuda yang telah diliputi sinar berkilauan itu hampir sukar dikenali.
Kemudian ia menghentikan permainan goloknya, memberi hormat kepada Thio
Ciam Goan dan Thio Jie Liong, dan kembali ke tempat duduknya dengan paras muka
yang tidak berubah, begitupun napasnya tidak tampak tersengal-sengal.
"Ah-ha, sungguh ilmu golok yang bagus sekali!" memuji orang tua itu, "sayang
diantaranya masih ada beberapa bagian yang kurang sempurna. Harap Sie-tit tidak
menjadi kecil hati atau merasa kurang senang dengan bahasanku ini".
"Segala petunjuk-petunjuk Sie-pek" kata Giok Hong, "Tit-jie pasti akan terima
dengan segala senang hati dan berterima kasih".
"Kalau begitu" kata orang tua itu pula, "Lo-hu ada sedikit omongan yang hendak
disampaikan kepadamu. Yang pertama-tama, ilmu golokmu memang sesunggunya
hebat sekali, tapi sayang masih kurang kecepatannya. Dalam Kitab Ilmu Silat
dikatakan, bahwa gerak golok harus ganas bagaikan harimau yang buas, sedangkan
gerak pedang harus tangkas dan gesit bagaikan naga berterbangan. Segala gerakgerik
harus disesuaikan dengan keadaan, disamping berlaku cerdik untuk melihat
gelagat. Karena segala gerak yang kurang tepat, ada kemungkinan dapat merugikan
diri kita sendiri. Maka dalam hal menyerang dan menjaga serangan lawan, disamping
memerlukan kepandaian, kitapun perlu sekali berlaku waspada, agar dengan tenaga
yang sekecil-kecilnya kita dapat mengalahkan lawan yang kuat dan ganas, melakukan
serangan kilat bila memungkinkan, dan berlaku kendur dan bersifat menjaga sebelum
mengetahui sampai dimana keunggulan lawan kita. Yang kedua, dalam usiamu yang
semuda ini, pengalamanmu masih kurang, engkau pun masih sangat perlu untuk
melatih diri dengan giat dan ulet, jangan takut lelah atau mudah mundur karena rasa
kecewa apabila menjumpai sesuatu kesukaran yang tampaknya tak mungkin diatasi.
Selanjutnya engkau mempunyai bakat yang baik sekali serta tepat untuk menduduki
tempat yang tinggi dalam Rimba Persilatan dikemudian hari, maka ada baiknya jika
engkau mencari pula seorang guru yang pandai untuk mendidikmu sehingga menjadi
salah seorang tokoh yang disegani dan menjadi pengganti dari jago-jago silat tua
yang telah mengundurkan diri dari kalangan Kang-ouw. Hingga begitu kaum tuanya
mundur, maka tibalah saatnya bagi kaum muda untuk tampil ke muka, oleh karena
itu besar harapanku agar ilmu silat di tanah tumpah darah kita tetap terpelihara
dengan sebaik-baiknya dari satu jaman kelain jaman".
Giok Hong yang berotak cerdik segera mengerti akan inti percakapan orang tua itu.
Ia lantas berlutut di hadapan Thio Ciam Goan sambil berkata, "Thio Sie-pek, Tit-jie
sangat tertarik oleh nasihatmu yang sangat berharga itu. Selanjutnya karena aku
berpendapat bahwa Sie-pek merupakan salah seorang tokoh yang terkemuka dalam
Rimba Persilatan di jaman ini, maka tidak ada salahnya untuk Sie-pek menerima Titjie
sebagai murid. Harap Sie-pek jangan menolak permintaanku ini".
Tapi Ciam Goan lekas-lekas mengangkat bangun si pemuda sambil berkata, "Sun
Hian-tit tak usah menghormatiku sampai begitu. Usia Lo-hu telah lanjut, tenagaku
pun kian hari kian bertambah kurang, hingga tak sanggup lagi untuk menerimamu
sebagai murid. Lagipula ilmu golokku masih kalah jauh dengan ilmu golok pamanmu.
Maka dari itu, bagaimana caranya aku berani sembarangan menerima kau sebagai
muridku". Tapi Hian-tit tak usah berkecil hati, Lo-hu akan perkenalkan kau dengan
seorang guru silat kenamaan, yang ilmu goloknya telah lama disegani orang di lima
propinsi utara. Aku berani menjamin ia akan suka menerimamu sebagai muridnya,
jika Lo-hu bantu memperkenalkanmu kepadanya".
Tatkala Giok Hong coba menanyakan siapa adanya guru silat yang namanya begitu
dipuji oleh Thio Ciam Goan, orang tua itu lalu berkata, "Dia bukan lain daripada adik
kandungku sendiri Thio Ciam Kui, yang sekarang membuka kantor angkutan Gie Cee
Pio Kiok di kota Cee-lam. Ciam Kui mempunyai hubungan yang baik sekali dengan
keluargamu. Ia mahir ilmu golok dari warisan Ma Hiang, yang -telah mengangkatnya
sebagai murid dalam".
Giok Hong yang mendengar nama ahli silat tingkatan tua itu, dengan segera
tersadar dan balik bertanya, "Bukankah beliau jago tua yang tergolong dalam nama
sebutan Pak Ma Lam Gu itu. Pamanku sendiri memang kerap menyebut-nyebut nama
Ma Hiang Su-hu".
Thio Ciam Goan mengiakan sambil menambahkan, "Betul dia. Nama kedua tokoh
silat itu memang cukup dikenal orang, sehingga kaum wanita dan anak-anakpun
tampaknya tidak asing lagi dengan nama-nama itu. Nama Ma Hiang sangat terkenal di
sebelah utara Sungai Kuning, sedangkan Gu Pay menjagoi di sebelah selatan sungai
tersebut. Ma Hiang mahir dalam ilmu silat Tiang-kiauw-cu dan ilmu golok, tapi Gu Pay
lihay sekali ilmu silat Toan-kiauw-ciu. Kedua orang itu membawa bakat dan
kebaikannya sendiri-sendiri, walaupun kedua-duanya merupakan keluaran perguruan
silat Siauw-lim juga. Adik kandungku Ciam Kui sedari masih anak-anak sudah berguru
pada Ma Hiang, hingga ia mendapat warisan kepandaian yang tidak sedikit dan
menjadi seorang murid kesayangan gurunya. Sejak ia membuka pio kiok dan berjalan
malang melintang di kalangan Kang-ouw, tidak sedikit jago-jago dari golongan hitam
dan putih telah ia kalahkan, maka kemudian namanya jadi sangat terkenal dengan
nama sebutan Toa-to Thio Ciam Kui, atau Thio Ciam Kui si Golok Besar. Jika Lo-hu
memperkenalkan kau kepadanya, niscaya dia akan menerimamu sebagai murid
dengan segala senang hati".
Giok Hong jadi sangat girang dan berterima kasih untuk kebaikan hati orang tua
itu. Kemudian Ciam Goan menulis sepucuk surat perkenalan yang kemudian
diserahkannya kepada si pemuda, untuk kemudian diserahkan kepada adik
kandungnya di Cee-lam.
Begitulah pada petang hari itu Giok Hong telah bermalam di desa Thio-kee-chung.
Pada keesokan harinya sesudah sarapan dan meminta diri kepada Thio Ciam Goan
sekeluarga. Giok Hong kembali ke rumah penginapannya dengan diantar oleh Thio Jie
Liong dan beberapa orang anak semangnya, yang telah turut membantu si pemuda
mengangkut sepuluh kereta pio yang tempo hari sempat dirampas oleh Han Siauw
Houw dan beruntung dapat diambil pulang dalam keadaan masih utuh.
Sesampainya di rumah penginapan, ternyata Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu masih
rebah di ranjang karena luka-lukanya belum sembuh betul, tapi mereka terlihat
gembira bukan buatan melihat Giok Hong kembali dengan membawa balik kesepuluh
kereta pio yang dilarikan orang dengan cara diam-diam itu.
"Giok Hong Su-tit" kata mereka dengan suara yang hampir berbarengan, "kami
berdua sesungguhnya sangat malu dengan ketololan dan kebodohan kami sendiri,
sehingga tak mampu membawa pulang kereta-kereta pio kita yang telah dirampas
orang itu. Syukur juga Sie-tit memiliki kepandaian dan keberanian yang jauh
melampaui kami, kalau tidak, tak tahulah dimana kami harus menaruh muka kami!".
Tapi Giok Hong lantas menghibur mereka dengan mengatakan bahwa semua orang
mempunyai kemujuran dan kesialan yang berbeda-beda, tidak perduli betapa gagah
dan pandainya mereka berjaga-jaga, niscaya ada suatu waktu mereka mengalami
kerugian juga dalam tugas mereka. Lebih-lebih mengenai pekerjaan melindungi
kereta-kereta pio, yang sudah jelas lebih banyak celakanya daripada selamatnya.
Maka tanpa adanya kejadian-kejadian yang tidak enak serupa itu, dimanalah orang
dapat keinsafan untuk berlaku lebih waspada dalam waktu-waktu yang akan datang.
Manakala Ma dan The menanyakan lebih jauh tentang peristiwa-peristiwa yang
telah dialami Giok Hong selama sehari semalam itu, si pemuda lalu menuturkan
segala sesuatu seperti apa yang telah kita sebutkan di bagian atas tadi. Dan setelah
Giok Hong menjamu Thio Jie Liong dan anak-anak semangnya yang telah
membantunya mengangkut kereta-kereta pio itu dari sarang penjahat Han Siauw
Houw hingga ke tempat penginapannya, barulah kedua pihak saling berpisah dan
berjanji untuk berjumpa lagi dilain waktu.
Keesokan harinya, karena Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu belum dapat melakukan
tugas mereka karena luka-luka yang mereka derita belum sembuh benar, maka Giok
Hong telah pula mengangkut mereka dalam salah satu kereta pio itu, dengan ia
sendiri bertanggung jawab sebagai pemimpin dari iring-iringan kereta-kereta pio Hin
Liong Pio Kiok yang mengibarkan panji-panji kepala harimau itu melanjutkan
perjalanannya. Dari Tio-kee-tun ke arah selatan, melewati Kiok-hu dan menuju ke
tepi sungai. Di sepanjang jalan tidak tampak seorang berandalpun yang berani
mencegat iring-iringan kereta pio tersebut.
II PADA suatu hari dikala senja, rombongan kereta-kereta pio itu telah tiba di pantai
utara sungai Su-sui. Oleh karena keadaan di situ hanya tampak kesunyian dengan air
sungai mengalir luas dihadapan mereka serta dikelilingii oleh hutan-hutan yang lebat,
maka Ma Tiauw Hoan lalu berkata kepada Sun Giok Hiong demikian, "Sie-tit, kita
sekarang harus melintasi sungai ini untuk menuju dan bermalam di kewedanaan Cuyang.
Letaknya hanya duapuluh lie lebih, penduduknya padat, karena kewedanaan itu
merupakan salah satu kota besar yang terletak di propinsi Shoatang selatan. Jika kita
dapat segera melintasi sungai ini, pada waktu kentongan pertama, kita sudah sampai
ke dalam kota"
Sun Giok Hong menuruti omongan pio-su itu.
Dalam pada itu dari antara hutan welingi yang lebat, tiba-tiba muncul empat buah
perahu yang dikayuh orang menuju ke pantai utara. Melihat perahu-perahu itu, Sun
Giok Hong jadi girang, lalu melambai-lambaikan tangannya ke arah perahu-perahu
tersebut, sambil menjanjikan sewaan berupa lima mata uang emas. Tapi karena
perahu-perahu itu tak dapat mengangkut sepuluh kereta pio sekaligus, maka
pengangkutan itu dilakukan dengan cara berangsur-angsur. Ma Tiauw Hoan dan The
Kee Hu mengikuti tiga buah kereta pio yang diangkut terlebih dahulu, kemudian
menyusul empat buah kereta pio lagi. Giok Hong mengikuti tiga buah kereta pio yang
diangkut paling belakang.
Sambil meletakkan tangan pada gagang goloknya, Giok Hong memandang kesanasini
menikmati pemandangan alam yang sangat indah dan terbentang luas di empat
penjuru dunia. Dari kejauhan tampak gunung Tong-gak Thay-san yang puncaknya
menjulang ke angkasa raya, asap tebal yang meliputinya dan hutan-hutan di tempat
jauh yang sudah hampir kehitam-hitaman karena diselubungi oleh cuaca yang sudah
mulai petang. Di atas perahu-perahu itu selain tukang-tukang perahu dan gembala
keledai, tidak terdapat orang lain yang ikut serta di atasnya, maka perahu-perahu itu
meluncur ke tengah sungai dalam kesunyian dan hanya suara pengayuh-pengayuh
perahu itu saja yang terdengar berkecimpungan memecah arus yang mengalir di
tengah sungai. Selagi Giok Hong yang berdiri termenung sambil mengagumi keindahan alam, tibatiba
salah seorang tukang perahu maju menghampirinya sembil tersenyum dan
berkata, "Engkau yang berusia masih begitu muda, sudah berani melindungi keretakereta
pio sehingga sepuluh buah banyaknya. Apakah engkau tak takut pada
kawanan berandal yang mungkin saja mencegatmu di tengah jalan?".
Giok Hong meski berkepandaian tinggi, tapi sifat kekanak-kanakannya belum lagi
lenyap, dengan tersenyum ia menjawab, "Aku pernah satu kali mengalami kejadian
dimana kereta-kereta pioku dirampok orang di Thio-kee-chung yang terletak di bawah
gunung Thay-san. Syukur juga aku cukup lihay, hingga mampu mengalahkan si
perampok dan merampas pulang kereta-kereta pioku itu, para perampok itu pasti tak
akan mengganggu kami lagi, demi melihat panji-panji kepala harimau dari kantor
angkutan kami Hin Liong Pio Kiok".
"Siauw-ko yang masih begini muda, ternyata mempunyai kepandaian yang sangat
menakjubkan" kata si tukang perahu itu sambil tersenyum, "aku belum lagi tahu
nama tuan muda ini, agar supaya dapat kucatat nama besarmu di dalam
kenanganku".
"Aku sungguh tak berani menerima penghormatan tuan yang sedemikian tinggi itu"
kata Sun Giok Hong dengan laku merendah. "Aku yang rendah she Sun bernama Giok
Hong, orang dari Tit-lee".
"Jika demikian halnya, Sun Giok San dari kantor pengangkutan Hin Liong Pio Kiok
tentulah ada kakak kandungmu, bukankah begitu?".
Giok Hong menganggukkan kepalanya. "Benar" sahutnya, "dialah kakakku yang
terbesar. Aku sendiri tergolong sebagai saudaranya yang ke tujuh".
Si tukang perahu menunjukkan wajah yang terkejut dan lalu berkata, "Aiiiii,
ternyata engkau ini ada adik sahabat karibku!. Mengingat pertemuan yang sangat
kebetulan ini, tidak ada salahnya jika kita peringati dengan mengadakan jamuan
makan minum".
Oleh karena perahu belum sampai ke pantai, maka Giok Hong berpikir tidak ada
salahnya mengabulkan maksud baik si tukang perahu itu, lebih-lebih karena
mengingat bahwa dia itu adalah sahabat karib kakaknya sendiri.
Dalam perbincangannya itu, Giok Hong mengetahui bahwa si tukang perahu itu
bernama Bu Kee Tee, orang dari Yang-kok yang juga terletak dalam propinsi
Shoatang. Di Sungai Su-sui, ia menuntut penghidupan sebagai seorang "pengangkut
barang", tapi bukan sesungguhnya hidup sebagai seorang tukang perahu. Pada hari
kemarin berhubung ia kemalaman, maka ia telah bermalam di atas perahu dan baru
pada petang hari itu ia mendapat kesempatan melintasi sungai dengan rombongan si
pemuda she Sun.
Keterangannya irupun dipercaya oleh Sun Giok Hong, lebih-lebih Bu Kee Tee
menyatakan kesediaannya untuk membantu segala sesuatu yang dibutuhkan oleh
pemuda itu. Maka dengan tidak curiga lagi ia telah menerima tawaran makan dan
minum bersama sahabat barunya itu, yang segera menyilahkan ia minum arak. Tapi,
apa mau dikata, ketika baru minum dua cawan, tiba-tiba Giok Hong merasakan
kepalanya pusing dan matanya-pun berkunang-kunang, hingga si tukang perahu yang
menyaksikan demikan jadi bertepuk tangan sambil tertawa-tawa dari berkata, "Roboh
.... Roboh" Giok Hong baru sadar dirinya telah tertipu, lalu dengan gusar ia hendak
menghunus goloknya tapi apa mau dikata ia merasa hampir tak bertenaga lagi.
Jangankan menghunus golok, untuk melihat pun sukar, sehingga ia kemudian roboh
di geladak perahu dalam keadaan pingsan.
Tatkala ia tersadar dari pingsannya. Giok Hong mendapatkan dirinya terbaring di
atas timbunan rumput, darimana ia melihat sinar bintang-bintang berkilauan di langit
yang gelap, sedang desiran angin malam yang dingin membuat otaknya lebih jernih
dari pengaruh obat bius yang telah dicampur dalam arak tadi. Arus yang terdengar
beriak-riak menandakan bahwa dia masih tetap berada di tepi sungai, ketika ia
mengangkat kepalanya memandang ke sebelah depan, baru ia ketahui bahwa perahuperahu
yang ditumpanginya tadi telah lenyap entah kemana perginya.
Tidak begitu lama, sinar matahari pun tampak mulai menyinari muka bumi. Tapi
seperti halnya perahu-perahu itu, Ma Tiauw Hoan, The Kee Hu dan kesepuluh kereta
pio itupun lenyap tak berbekas. Diwaktu menoleh dan memperhatikan keadaan
sekitarnya, ia melihat goloknya tergeletak di atas timbunan rumput, maka buru-buru
diambilnya golok -itu dan lalu disoren di pinggangnya. Dan dalam penyelidikan
selanjutnya. Giok Hong melihat bekas roda kereta dan bekas-bekas kaki kuda yang
tampak serabutan di atas tanah becek. Maka dengan mengikuti bekas roda-roda
kereta pio itu, Giok Hong melangkah ke barat dengan pikiran masgul.
Ketika berjalan kira-kira 5 atau 6 lie jauhnya, jalanan membelok ke arah kiri sisi
pegunungan, dimana setelah ia berjalan 8 atau 9 lie pula jauhnya, tiba-tiba dari
dalam hutan ia mendengar suara orang yang menebang pohon. Lekas-lekas ia
menghampiri ke sana dan menjumpai seorang tukang potong kayu yang berusia kirakira
30 tahun, perawakannya kekar dan kuat bagaikan orang-orang yang pernah
belajar ilmu silat.
Ketika baru saja ia hendak menanyakan sesuatu kepadanya, si pemotong kayu
yang terlebih dahulu telah dapat menduga maksud si pemuda, dengan menatap
wajah Sun Giok Hong dengan rupa heran dan bertanya, "Usiamu masih begini muda,
tapi toh engkau sudah berani sendirian datang ke sini dengan menyoren golok,
apakah barangkali engkau sudah bosan hidup". Aku nasihati supaya engkau lekaslekas
turun gunung dan jangan mencoba datang ke sini lagi, kalau tidak, engkau pasti
akan mengalami lebih banyak celaka daripada selamat!".
"Sungguh aneh sekali!" kata si pemuda gagah itu. "Orang lain toh banyak yang
menyoren golok, masakan hanya aku saja yang harus dibunuh karena berbuat
demikian". Sedari kapan di sini diadakan peraturan begitu?".
"Di dunia memang banyak sekali persoalan yang tidak layak" kata si pemotong
kayu dengan suara perlahan, "jika semua orang mengerti aturan, dunia ini pasti
aman. Di jaman ini semua orang justru tidak mengenal aturan, maka kalau boleh aku
nasihatkan tinggalkanlah segera tempat ini!".
"Aku datang ke sini dengan maksud tertentu" sahut Giok Hong, "oleh karena itu,


Golok Naga Kembar Karya Hong San Khek di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

aku tak perduli hal apa yang akan terjadi atas diriku, tidak urung aku mesti
melakukannya juga".
"Usiamu masih terlampau muda, hingga sayang sekali jika mesti mengorbankan
diri dengan cara sia-sia" kata si pemotong kayu itu. "Paling benar lekas-lekaslah
engkau berlalu dari sini!".
"Aku tak punya muka untuk pulang ke rumahku" kata si pemuda, "maka lebih baik
aku mati daripada harus hidup menanggung malu".
Selanjutnya untuk mendapat keterangan yang lebih jelas mengenai bahaya yang
mengancam setiap orang di pegunungan itu, Giok Hong diberitahukan oleh si
pemotong kayu itu sebagai berikut :
"Gunung ini bernama Beng-kui-san. Pada tahun yang lalu tidak sedikit para
pendekar muda yang berjalan sendirian dalam daerah pegunungan ini telah tewas.
Mereka itu telah menjadi korban dari keganasan seorang kepala rampok terkenal
yang bernama Khong Giok Kong, yang telah bersarang di sini bersama 40 atau 50
orang kambrat-kambratnya serta menjagoi baik itu di darat maupun di perairan,
sehingga para pembesar dan pihak yang berwajib merasa kewalahan untuk
menumpasnya".
Setelah bercerita sampai disitu, si pemotong kayu menoleh ke dalam rimba dan
tatkala melihat keadaan di sana tenang-tenang saja, barulah ia berani melanjutkan
bicaranya lagi dengan separuh bisik-bisik. Katanya, "Ada suatu rahasia yang hendak
kuberitahukan kepadamu. Pada kemarin malam orang bawahannya Khong Giok Kong
yang bernama Bu Kee Tee telah berhasil melakukan perampokan besar, sehingga kini
di atas gunung tengah diadakan perjamuan besar-besaran serta dilarang keras untuk
orang sembarangan datang ke sana. Oleh karena menilik bahwa engkau hanya
seorang diri saja, lagipula engkau terhitung seorang asing, maka paling betul engkau
jangan pergi ke sana, tapi lekas-lekaslah engkau berlalu dari sini".
Setelah Giok Hong mendengar keterangan itu, ia bukan saja tidak ingin
membatalkan niatnya, malah sebaliknya jadi semakin bernapsu untuk mengejar Bu
Kee Tee, orang yang telah merampok kereta-kereta pionya secara keji. Dengan
perampokan itu, seolah-olah Bu Kee Tee dengan sengaja ingin menjatuhkan nama
baik keluarga Sun yang telah turun temurun terkenal sebagai keluarga orang-orang
gagah dari jaman dulu hingga sekarang.
Maka untuk mempertahankan nama baik keluarganya itu, tak ada lain jalan bagi
Giok Hong daripada menempur perampok she Bu itu. Kemudian tanpa menghiraukan
pula nasihat baik si pemotong kayu itu, Giok Hong segera melanjutkan perjalanannya
mendaki gunung dengan napsu amarah yang berkobar-kobar.
Hari telah menjelang senja, sedangkan matahari telah turun ke kaki langit barat.
Tapi tanpa memikirkan hal apa yang akan terjadi atas dirinya, ia lalui jalan-jalan
gunung yang berkelok-kelok dan gelap dengan tekad bulat untuk mengambil pulang
kereta-kereta pio yang dilindunginya, seperti apa yang pernah dilakukannya terhadap
Han Siauw Houw di Han-kee-chung.
"Jika bukan dia, tentulah aku yang mesti memberi selamat tinggal kepada dunia
ini!" Giok Hong berkata pada dirinya sendiri.
Diantara penerangan yang agak suram, Giok Hong melihat dari kejauhan ada
beberapa rangho, rumah-rumah atap dan gubuk-gubuk yang didirikan di puncak
gunung. Dan tatkala mendaki lereng gunung belum lagi tigapuluh tombak tingginya,
tiba-tiba dari dalam rimba terdengar suara gembrengan yang dipalu dengan riuh
sekali. Bersamaan dengan itu, 6 atau 7 orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar
telah muncul dari kiri dankanan jalan dengan bersenjatakan golok, tombak dan
pentungan, sedangkan orang yang menjadi pemimpinnya berperawakan kekar serta
berkepala besar, di tangan kanannya mencekal sebatang toya besi, wajahnya bengis
bagaikan hantu jahat yang baru turun dari neraka. Dengan mata mendelik dan suara
nyaring ia membentak, "Hai, bocah yang masih menyusu, engkau dengan membawa
golok datang ke sini, apakah engkau hendak minta pulang kereta-kereta piomu yang
telah kami rampas pada hari kemarin?".
Dengan membusungkan dada dan laku yang nekad, Giok Hong menjawab,
"Memang benarlah apa katamu!. Engkau telah berlaku begitu berani mati merampas
dengan cara keji kereta-kereta pio dari kantor angkutan kami Hin Liong Pio Kiok.
Maka untuk kali ini tuan kecilmu masih mau menasehatimu dengan baik-baik untuk
segera mengembalikan seluruhnya, kalau tidak........., golokku ini pasti akan memenggal
batok kepalamu hingga bergelindingan jatuh turun gunung!".
Kepala penyamun itu jadi tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman si pemuda
dan berkata, "Bocah ingusan, apakah engkau menganggap bahwa aku ini anak
sebayamu, sehingga mudah digertak dan gemetar dengan kata-katamu yang agak
keras". Pendeknya, aku hendak memberitahukan kepadamu, jangankan kereta-kereta
pio dari Hin Liong Pio Kiok, bahkan kereta-kereta pio Kaisar sekalipun, jika lewat di
sini harus diserahkan kepada kami!. Tapi karena mengingat bahwa engkau ini hanya
seorang bocah yang masih belum mengerti urusan, maka suka juga aku mengampuni
jiwamu, asalkan engkau lekas-lekas berlalu dari sini. Kalau tidak, engkau harus
menanggung sendiri segala akibatnya!".
Sun Giok Hong yang berdarah panas tidak membiarkan dirinya digertak orang
dengan seenaknya saja, tapi segera balas membentak dengan suara tak kalah
nyaring, katanya, "Tikus hutan!. Beranikah engkau bertempur denganku sampai 300
jurus?". Mendengar tantangan itu, si kepala penyamun jadi tertawa mengakak. "Siapa
bilang aku tidak berani!" katanya dengan suara menyindir. "Jangankan baru 300
jurus, biar 3000 jurus sekalipun aku bersedia meladenimu. Mari, mari!. Kita
bertanding satu lawan satu. Jika aku berkelahi dengan secara keroyokan, janganlah
kau anggap aku seorang Ho-han!".
Sesudah berkata demikian, si kepala penyamun segera menyerang si pemuda she
Sun dengan toya besinya, Giok Hong dengan sebat lantas menangkis serangan itu
dengan golok di tangannya. Demikianlah suatu pertempuran yang dahsyat tapi hanya
memakan waktu pendek saja telah terjadi di lereng gunung yang telah agak gelap
karena sudah diliputi petang hari.
Sun Giok Hong yang masih muda belia dan baru pernah keluar melindungi pio
pertama kali itu, tak berbeda dengan anak sapi yang tak jerih menghadapi harimau,
maka dengan ilmu golok turunan keluarga Sun yang telah sekian lamanya menjagoi di
tanah utara, ia mendesak si kepala penyamun tanpa sungkan-sungkan lagi, hingga
diwaktu pertempuran baru saja berlangsung beberapa jurus lamanya, sudah jelas
bahwa ia lebih unggul daripada pihak lawan yang usianya lebih tua, meski dalam
pengalaman ia masih kalah jauh.
Si kepala penyamun yang semula berada dipihak yang menyerang, lambat laun
telah terdesak dan hanya dapat menjaga diri saja, tapi tak mampu menyerang balik
lawan sebagaimana layaknya. Giok Hong yang telah melihat titik-titik kelemahan
musuh, tentu saja tidak ingin melewatkan kesempatan yang baik itu dengan sia-sia,
ia segera maju menerjang dengan lebih bersemangat. Setelah si penyamun melihat
gelagat yang tidak baik itu, dengan menebalkan muka ia lantas menyerukan anakanak
buahnya untuk membantunya menyerang lawan sambil berkata, "Saudarasaudara,
mari kita kepung bocah yang lak tahu diri ini!".
Giok Hong tidak gentar menghadapi lawan-lawan yang berjumlah belasan orang
itu, sambil mencibirkan bibirnya lalu mengejek, "Cis!. Hanya sebegitu saja lagaknya
Ho-han bangpak ini!". Kemudian setelah melakukan beberapa kali serangan gertakan,
dengan kecepatan bagaikan kilat ia ayunkan goloknya ke arah kepala lawan,
sedangkan kakinya menyapu kaki kepala penyamun itu bagaikan angin puyuh yang
mengamuk. Maka dalam keadaan terdesak itu, tiba-tiba si kepala penyamun
merasakan matanya berkunang-kunang dan akhirnya jatuh meloso di tanah sambil
menjerit, "Matilah aku kali ini!". Ternyata bahu kanannya telah terbacok.
Syukur juga bahu yang terbacok itu tidak mengeluarkan darah setetespun, barulah
kepala perampok itu sadar, bahwa Giok Hong hanya membacok dengan belakang
goloknya saja. Kalau tidak, niscaya bahu itu akan terbelah, jika tak mau dikatakan
terpapas kutung sama sekali.
Tapi sebagai seorang penjahat yang tak pernah kenal kapok, bukan saja dia tak
berterima kasih atas kebaikan hati si pemuda, malah sebaliknya ia menjadi sangat
gusar dan segera hendak melanjutkan pertempuran itu dengan mengerahkan seluruh
tenaga orang-orang bawahannya. Ketika baru saja ia hendak melompat bangun, tibatiba
ia merasakan punggungnya diinjak orang, dibarengi dengan satu bentakan
bengis, "Jangan bergerak, jika engkau masih sayang pada nyawa anjingmu!". Karena,
bertepatan dengan kata-kata itu, si penyamun merasakan ujung golok yang dingin
telah menindih batang lehernya, sehingga ia jadi sangat gugup dan meratap, "Siauwhiap,
ampunilah jiwa hambamu!".
"Ya, ampunilah dia!" kata satu suara dari balik semak-semak yang lebat.
Segera Giok Hong menoleh ke arah datangnya suara itu, ternyata dari balik semaksemak
itu telah muncul seorang pemuda tampan berusia duapuluhan, perawakannya
kira-kira 5 kaki lebih tingginya, berwajah putih dan berhidung mancung, beralis tebal
serta bermata jeli. Tingkah lakunya lemah lembut dan sama sekali tidak mirip dengan
seorang yang pernah mengerti ilmu silat. Ia mengenakan celana dan baju yang dibuat
dari sutera putih, sedangkan di pinggangnya ia mengenakan tali pinggang sutera
hitam, dimana tergantung sebilah pedang yang bersarung indah serta diukir dan dicat
dengan air emas.
Tatkala melihat Giok Hong menoleh ke arahnya, pemuda tampan itu lalu tersenyum
dan memberi hormat sambil berkata, "Anak, sungguh tak kusangka bahwa engkau
yang baru berusia belasan tahun sudah sanggup mengalahkan anak semangku yang
sudah berusia dewasa. Harap saudara suka bersabar dan dengarkan dahulu sepatah
dua patah kataku".
Sementara Sun Giok Hong yang melihat sikap pemuda tampan yang sopan santun
itu, yang tampaknya tak mirip sama sekali dengan seorang perampok, sudah barang
tentu ia mau juga mendengarkan permintaan orang itu. Maka sambil mengangkat
tangan memberi hormat, ia berkata, "Mohon tanya she dan nama Lauw-hia yang
terhormat, ada kata-kata apa yang hendak disampaikan kepadaku?".
"Siauw-seng bukan lain daripada Khong Giok Kong yang dikenal orang dengan
nama julukan Giok-bian-long-kun" sahut si pemuda tampan itu, "sedangkan orang
yang baru kau kalahkan itu, bukan lain daripada Thauw-bak kami yang bernama Kho
Toa Hay. Aku sungguh mengagumi keberanian dan kepandaianmu yang demikian
lihaynya itu. Siauw-seng suka merendah kepada orang-orang yang bersifat lemah
lembut, tapi tak akan tunduk kepada orang yang keras kepala. Oleh karena itu,
sudikah kiranya saudara mengabulkan undangan untuk menjadi tamuku dan
berkunjung ke tempat kediamanku di atas gunung?".
Giok Hong yang semula agak terkesima menyaksikan sikap si pemuda tampan,
tiba-tiba ia menjadi keterlepasan omong dan berkata, "Sungguh aneh sekali!".
Khong Giok Kong tertawa dan balas bertanya, "Aneh". Hal apakah yang kau anggap
aneh?". "Dalam perjalanan menuju ke sini telah kubayangkan dalam pikiranku" kata Sun
Giok Hong, "bahwa Khong Giok Kong yang terkenal sebagai seorang kepala berandal
di atas gunung ini dan mempunyai liauw-lo beberapa ratus orang banyaknya serta
pernah membunuh tidak sedikit orang gagah yang berani datang ke sini, tentunya ada
seorang yang bertabiat ganas dan tak mengenal perikemanusiaan. Tapi setelah
sekarang kita saling berhadapan, ternyata kelirulah dugaanku itu".
Khong Giok Kong kembali tertawa dan berkata, "Mulut anak-anak memang tak lain
daripada mengucap sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan juga!. Apakah engkau
menganggap bahwa seorang pemuda tampan tak dapat menjadi seorang kepala
berandal". Rupanya engkau telah lupa, bahwa engkau sendiri yang baru berusia
belasan, kini telah berani berjalan malang melintang dikalangan Kang-ouw dengan
jalan melindungi kereta-kereta pio. Oleh sebab itu, apakah yang dapat dikatakan
aneh". Aku merasa bersimpati kepadamu, berhubung melihat usiamu yang masih
begitu muda. Maka kalau maksud kedatanganmu ini adalah untuk meminta pulang
kereta-kereta piomu yang telah kurampas itu, aku persilahkan engkau mengikuti aku
naik ke atas gunung".
Sun Giok Hong yang merasa dirinya dianggap 'sepi', sudah tentu saja jadi merasa
kurang senang dan balas membentak, "Hm, apakah engkau menganggap aku minta
dikasihani olehmu". Betul usiaku masih muda, tapi aku tidak bersedia atau pantang
dihina orang. Mari, mari. Kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih unggul
atau lebih lemah ilmu kepandaiannya!".
Khong Giok Kong menyambut tantangan itu dengan satu senyuman. "Ai........"
katanya, "aku harap Siauw-eng-hiong jangan menjadi gusar dahulu. Jika engkau
menantangku, biarlah kita lakukan pertandingan itu di atas gunung saja. Tidak harus
berlaku tergesa-gesa". Bersamaan dengan itu, kitapun boleh sekalian membicarakan
juga syarat-syaratnya. Jika engkau dapat mengalahkan aku, semua kereta-kereta
piomu yang berjumlah sepuluh buah itu akan kukembalikan kepadamu dalam
keadaan utuh. Jika engkau yang kalah, akan kuberikan engkau ongkos jalan sejumlah
10 tail perak. Dengan demikian, kesepuluh kereta piomu itu menjadi milikku yang
sah". "Apakah syarat-syaratmu ini dapat dipercaya?" balik bertanya Giok Hong dengan
hati yang ragu.
"Seorang laki-laki sejati tak akan mengingkari janji yang telah diucapkannya"
jawab si pemuda tampan.
"Kalau begitu, aku bersedia untuk menuruti kehendakmu itu" kata Giok Hong.
Kemudian Khong Giok Kong memerintahkan supaya Kho Toa Hay dan anak
buahnya ikut naik ke atas gunung, sedang Sun Giok Hong mengikuti di belakang
dengan tangan selalu diletakkan di atas gagang goloknya, siap sedia menghadapi
segala kemungkinan.
Tatkala berjalan 5 atau 6 lie jauhnya, Khong Giok Kong lalu menoleh kepada si
pemuda she Sun sambil menunjuk ke sebuah perkampungan dan berkata, "Nun di
sana adalah tempat kediaman kami".
Sebagai tuan rumah, si pemuda tampan lalu mempersilahkan Giok Hong masuk ke
perkampungan itu. Mereka berjalan dengan perlahan-lahan dibawah sinar bulan
purnama, menuju ke sebuah gedung yang besar dan tinggi, dengan disekitarnya
dikelilingi oleh sebuah taman yang luas, dimana ditanami pohon-pohon bunga dan
semak-semak yang rindang, hingga keadaannya tampak aman dan tenteram sekali.
Begitu melangkah masuk ke dalam gedung itu, Giok Hong segera menyaksikan
sebuah ruangan untuk berlatih ilmu silat yang luas sekali. Disuatu sisi terdapat
sebuah rak senjata yang menyimpan delapan belas macam senjata-senjata yang
umum dipakai dalam dunia persilatan. Sedang Sian-jin-tham atau harter batu,
gembok batu dan lainnya, diletakkan di atas jubin di dekat rak senjata tersebut.
Ruangan untuk berlatih silat itu diterangi oleh lampu-lampu yang terang benderang,
dimana tampak 8 atau 9 orang yang bertubuh besar dan kokoh berkumpul disitu,
salah seorang diantaranya dikenali oleh Sun Giok Hong sebagai tukang perahu Bu Kee
Tee yang pernah mengajak ia minum arak yang dengan diam-diam telah dimasukkan
obat bius kedalamnya.
Maka Giok Hong yang melihat musuh besarnya berada di situ, tidak ayal lagi ia
lantas maju menerjang dengan golok terhunus di tangannya. "Bocah she Bu",
teriaknya, "dengan secara keji engkau telah memasukkan obat bius kedalam arakku,
hingga dengan enak saja engkau dapat merampas kereta-kereta pioku tanpa
mendapat perlawanan dariku. Kini aku berada di sini untuk mengambil jiwa
anjingmu!".
Bu Kee Tee yang menyaksikan betapa dahsyatnya serangan si pemuda she Sun,
lekas-lekas melompat mundur sambil menghunus sebilah golok Tay-to, dengan golok
itu ia meladeni Giok Hong yang tampaknya seperti orang kalap. Karena ia
berkepandaian sangat rendah dan bukan tandingan Giok Hong yang setimpal, maka
ketika baru saja bertarung dua jurus lamanya, ia telah dirobohkan dan goloknya
terpental jauh sekali ke bawah kaki tembok di sisi pintu ruangan tengah. Kemudian,
bagaikan seekor harimau kelaparan, Giok Hong melompat mendekati sambil
membentak, "Golokku kali ini akan mengirim jiwamu ke akhirat!".
Tapi cepat melebihi kilat, sebilah golok lain tiba-tiba berkelebat menahan golok
Giok Hong, sambil disusul dengan satu seruan, "Siauw-eng-hiong, sabar dahulu!.
Semua ini adalah tanggung jawabku, tapi bukan tanggung jawab Bu Kee Tee, yang
hanya melakukan serta melaksanakan segala perintahku!".
"Kalau begitu, marilah kita segera bertanding untuk menentukan, siapa salah satu
diantara kita berdua yang harus mengalah!" kata Giok Hong dengan suara nyaring.
"Sedari tadi telah kuperhatikan gerak kakimu yang sedemikian lincah dan
sebarnya" kata Khong Giok Kong, "hingga seolah-olah terbayang di dalam pikiranku,
betapa lincah dan tangkasnya jika engkau juga bertempur denganku dengan tangan
kosong!". Sun Giok Hong menerima baik tantangan itu lalu memasukkan goloknya ke dalam
serangka. Maka sesudah kedua pihak menyingsingkan lengan baju dan melibatkan
ujung baju masing-masing, kedua orang itu lalu maju ke tengah-tengah lapangan,
dimana mereka lalu mulai saling serang tanpa banyak bicara pula.
Bu Kee Tee yang telah terhindar dari ujung golok Sun Giok Hong, berdiri menonton
pertempuran itu di pinggir ruangan dengan sorot mata penuh kebencian, hingga jika
seumpama ia mendadak berubah menjadi seekor harimau raksasa, niscaya ia sudah
menerkam si pemuda she Sun dan menelannya bulat-bulat. Lain sekali dengan rekanrekannya,
yang tampaknya merasa sangat kagum melihat Giok Hong dapat meladeni
induk semang mereka yang terkenal sangat lihay ilmu silatnya, hingga akhirnya tanpa
dapat ditahan pula mereka jadi bersorak sorai, memuji-muji kepandaian si pemuda
she Sun yang dikatakan mereka "kecil-kecil cabe rawit"!".
Tatkala pertempuran berlangsung beberapa jurus lamanya, tiba-tiba Khong Giok
Kong mempergunakan telapak tangannya memukul kaki kiri Giok Hong yang
ditendangkan kepadanya dengan siasat Cian-ju-ciang, dan diwaktu si pemuda she
Sun menarik pulang tendangannya itu, Giok Kong segera membarengi menghajar
batok kepalanya dengan siasat Thian-su-kay-in atau raja langit membubuhi stempel.


Golok Naga Kembar Karya Hong San Khek di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tapi Sun Giok Hong yang bermata jeli, segera mempergunakan siasat Pa-ong-kieteng
(raja Couw Pa Ong mengangkat pedupaan) untuk menahan telapak tangan
kanan lawannya yang memukul ubun-ubun, sedangkan tinjunya segera diluncurkan
ke arah ulu hati Khong Giok Kong. Tapi Khong Giok Kong yang juga tidak kalah gesit,
dengan sebat menyampok tinju lawannya, kemudian mempergunakan siasat KuiTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
seng-tek-tauw (bintang Kui menendang gantang) yaitu suatu tendangan geledek ke
arah dada Sun Giok Hong. Si pemuda she Sun lekas menghindarkan tendangan
tersebut dengan jalan membuang dirinya kebelakang. Khong Giok Kong maju
mengejar sambil menghujani tinju ke arah diri pemuda lawannya.
Dalam keadaan setegang itu, Sun Giok Hong jadi sangat sibuk menghindarkan
pukulan-pukulan tersebut, sedangkan ilmu silatnya turut jadi kalut oleh karenanya,
hingga kalau diwaktu biasa ia selalu mengalami keunggulan, pada kali ini ia terdesak
sehingga napasnya terengah-engah. Dan selagi Giok Hong kebingungan bukan main,
tiba-tiba Khong Giok Kong mengirim satu tendangan kilat yang tak mungkin dapat
dihindarkan lagi oleh pemuda she Sun itu, maka dengan satu teriakan nyaring ia jatuh
terjungkal di atas jubin. Bu Kee Tee yang melihat ada kesempatan untuk turun
tangan, segera mengajak kawan-kawannya maju dengan serentak untuk mencelakai
si pemuda cilik.
Tapi Khong Giok Kong yang ternyata bukan seorang yang curang dan tak suka
membiarkan anak buahnya mencelakai orang dengan seenaknya saja, segera
menoleh ke arah mereka sambil membentak dengan suara bengis, "Kalian segera
mundur dan jangan mencampuri urusanku ini!". Oleh karena itu, barulah Bu Kee Tee
dan lawan-kawannya terpaksa mundur dengan perasaan kecewa, sedang Khong Giok
Kong lalu tersenyum dan berkata pada Sun Giok Hong demikian, "Bocah kecil, apakah
engkau sekarang suka menyerah kepadaku?".
Giok Hong tidak menyahut, tapi dari sorot matanya yang menyala-nyala dan
seolah-olah hendak menelan bulat-bulat si pemuda tampan lawannya itu,
menandakan bahwa dia belum mau menyerah mentah-mentah. Maka Giok Kong jadi
tertawa dan berkata, "Aku tahu bahwa engkau belum mau menyerah kepadaku.
Engkau sendiri tak akan mampu mengalahkan aku dalam dua atau tiga tahun lagi.
Oleh karena itu, aku persilahkan engkau mengundang kawanmu untuk bertanding
denganku selama waktu sebulan ini, dengan kereta-kereta piomu dan kawankawanmu
yang menjadi orang-orang tawananku tetapi aku jamin keselamatannya.
Tapi jika orang-orang yang kau undang masih juga belum mampu mengalahkanku,
maka kereta-kereta pio itu akan menjadi milikku yang sah".
Sesudah berkata demikian, Giok Kong lalu memberikan Giok Hong bekal untuk
ongkos di jalan sejumlah 30 tail perak. Kemudian si pemuda she Sun pulang ke Thiancin
dengan berkuda, untuk melaporkan peristiwa perampasan kereta-kereta pio itu
kepada pamannya.
Sun Sin Bu yang mendengar laporan tersebut, segera memerintahkan seorang
pelindung pio kelas satu yang bernama Ciu Tiong Gak untuk mengikuti Giok Hong
menuju ke sarang Khong Giok Kong.
Usia Ciu Tiong Gak sudah mencapai 50 tahun, ia terkenal mahir dalam ilmu pukulan
Eng-jiauw-kun, Thian-see-ciang, dan lainnya, serta paham mempergunakan pelbagai
macam senjata yang biasa digunakan dalam kalangan persilatan. Tiong Gak
mempunyai pengalaman 20 tahun lamanya dalam kalangan po-pio (melindungi
barang-barang angkutan), hingga Sun Sin Bu sangat menghormatinya dan
mengundangnya untuk bekerja sebagai pio-su kelas satu dalam kantor angkutan Hin
Liong Pio Kiok yang dipimpinnya.
Tiong Gak mengajak serta dua orang pio-su lainnya, berasal dari Kwan-tong
(daerah timur kota San-hay-kwan) dan masing-masing berusia tigapuluhan. Yang
seorang Thio In Han, sedang yang lainnya bernama Kwan Chit Long. Mereka mahir
menggunakan pelbagai macam senjata dan terkenal sebagai orang-orang yang
bernyali besar dan Iihay ilmu silatnya.
Mereka berempat menuju ke desa Thay-peng-u yang terletak 20 lie jauhnya dari
tepi selatan sungai Su-sui dalam wilayah kewedanaan Lim-ie, di mana mereka
bermalam untuk kemudian menuju ke sarang kepala berandal Khong Giok Kong
keesokan harinya.
Setelah merapihkan barang-barang bawaan mereka di rumah penginapan, Ciu
Tiong Gak berempat lalu pergi ke sebuah kedai arak untuk melepaskan rasa lapar dan
dahaga. Mereka memilih tempat di atas loteng yang jendela-jendelanya berhadapan
dengan jalan raya. Dari atas loteng itu sambil makan minum, Ciu Tiong Gak berempat
melepaskan pandangan mereka ke arah pemandangan alam yang dapat dilihat dari
kejauhan. Tapi selagi mereka asyik makan dan minum, tiba-tiba dari bawah tangga
loteng terdengar tindakan-tindakan kaki yang riuh sekali, seolah-olah dari arah sana
tengah datang sekelompok orang-orang yang menuju ke atas loteng. Sementara
pelayan kedai yang mendengar suara tindakan kaki itu, dengan suara perlahan tapi
tegas lalu berkata, "Tikus air datang!".
Kata-kata mana telah mengingatkan Sun Giok Hong pada Bu kee Tee, yang selalu
mengadakan operasinya di daerah perairan dan melakukan perampokan dengan cara
yang keji. Tapi ketika baru saja ia hendak menanyakan siapa adanya 'si tikus air' itu,
dari bawah loteng lelah keburu muncul serombongan orang laki-laki yang rata-rata
beioman kasar dan bengis, orang yang menjadi pemimpinnya berjalan di muka
dengan sikap yang sombong sekali.
Sun Giok Hong segera mengenali bahwa orang itu bukan lain " l.mpada Bu Kee Tee
adanya, dengan amarah yang berkobar-kobar ia lalu membentak, "Tikus air, sungguh
kebetulan sekali engkau datang, luan mudamu telah lama menantikan dikau di sini!".
Bu Kee Tee yang mengandalkan banyaknya kawan, meski di dalam hati merasa
jeri, tidak urung wajahnya berseri-seri dan berkata, Ai, bocah she Sun, tak kunyana
bahwa kau yang masih begini muda, ternyala sudah bosan hidup di dalam dunia ini!.
Kawan-kawanmu telah kuusir keluar perbatasan, punya kepandaian apakah engkau
sehingga berani bermusuhan dengan bapakmu?".
Tapi sebelum Bu Kee Tee selesai berbicara, Sun Giok Hong telah maju menerjang
dan menggunakan tinjunya memukul ulu hati musuh besarnya itu dengan siasat Hekhouw-
kauw-sim atau harimau hitam mencuri hati. Oleh karena datangnya pukulan itu
sedemikian hebatnya, maka Ku Kee Tee terpaksa melompat mundur hampir sepuluh
kaki jauhnya untuk menghindari pukulan tersebut.
"Bocah she Sun!" teriaknya, "jika kita bertempur di sini, selain tempatnya sempit
juga akan mengganggu orang yang sedang berusaha, maka kalau engkau sungguh
seorang yang bernyali besar, marilah turun ke bawah loteng untuk bertempur
sehingga 300 jurus lamanya!".
Sun Giok Hong menerima baik tantangan itu, lalu mengikuti Bu Kee Tee dan
kawan-kawannya turun dari atas loteng. Ciu Tiong Gak dan dua orang kawannya yang
khawatir Sun Giok Hong akan dikeroyok musuh-musuhnya, segera mengikuti dari
Kisah Para Pendekar Pulau Es 14 Pendekar Kidal Karya Tong Hong Giok Pedang Ular Mas 1
^