Pencarian

Harimau Mendekam Naga Sembunyi 14

Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu Bagian 14


orang itu telah berkelit, hingga kwali jatuh ke tanah dengan menerbitkan suara berisik.
Menyusul itu, di dalam terdengar jeritan bahna kaget,
dan kemudian menyusul suara kentongan riuh, di depan
dan belakang. Tidak buang tempo lagi Lau Tay Po loncat naik ke atas
genteng, tetapi ia lantas disusul oleh itu orang yang ia tidak kenal. Ia lari terus ke tembok, tetapi itu orang masih susul ia. Dan ketika ia kabur ke kebun bunga, orang itu tetap jadi bayangannya. Ia coba sembunyi di belakang batu Thay-ou-sek, tetapi itu orang susul ia ke atasnya.
"Heran ... " pikir Itto Lianhoa,yang terus lari pula, ia lewati tembok dan turun ke bawah, sampai di luar
pekarangan. Masih saja ia disusul, malah sekarang
bayangan itu segera tegur padanya: "Bocah, kau hendak kabur" Mari maju, kita adu golok dengan golok. Mari kita uji kepandaian kita masing-masing! Begitu barulah satu
laki-laki!"
Tay Po berhentikan tindakannya, ia putar tubuhnya.
"Awas, jangan kau maju!" ia pun perdengarkan
suaranya. "Aku ada punya piau! Hati-hatilah biji matamu!"
Tetapi itu orang tidak takut, malah ia menantang.
"Apakah kau kira looya-mu takut ditimpa matanya?"
demikian katanya. "Looya punya kulit dan daging tidak mempan golok dan tombak!"
Benar-benar orang itu loncat merangsek.
Tay Po loncat mundur seraya menegur.
"Sahabat, kau siapa?" ia tanya. "Sebutlah she dan namamu, supaya aku mendapat tahu!"
"Looya-mu ada orang she Tam nama Hui!" begitu orang itu menyahut, sambil ia tepuk-tepuk dadanya. "Aku adalah yang bergelar Khau-jie-chiu, si Tangan Monyet! Aku ada
murid kepala dari looya Lie Bou Pek!"
Tay Po berseru bahna heran dan girang,
"Oh! Kalau begitu kita bukannya orang lain. Inilah yang dibilang, air banjir menyerbu gereja Raja Naga!" kata ia.
"Aku adalah Itto Lianhoa Lau Tay Po. Tek ngoya adalah sahabat-karibku! Benar dengan toako Lie Bou Pek aku
belum pernah bertemu tetapi ia toh tetap ada sahabatku."
"Tetapi, bocah," Kau Jie Chiu menegur, "kau telah tolongi Lo Siau Hou dan kau sendiri telah turut kabur,
maka sekarang mengapa kau ada pula di sini?"
Tay Po tertawa berkakakan.
"Maksudku datang kemari barangkali ada sama dengan
maksudmu, lauko!"ia kata. "Kita berdua bekerjasama-sama untuk Giok Kiau Liong, kita ada dari satu golongan!"
"Tetapi dalam kalangan Kiuhoa Pay tidak ada orang
sebagai kau!" Tam Hui kata.
"Toh tetap masih bisa dibilang kita ada dari satu
keluarga," Tay Po membandel. "Kita harus berserikat, akan sama-sama menghadapi Giok Kiau Liong dan Lo Siau
Hou. Begitu barulah cocok!"
Khau Jie Chiu mendekati satu tindak.
"Bagaimana sebenarnya dengan Giok Kiau Liong?" ia
tanya. "Ia ada di rumah atau ia benar-benar sudah kabur?"
"Jadinya kau masih belum tahu?" Tay Po tertawa.
"Kenapa kau tidak dari siang-siang datang padaku buat tanyakan keterangan?"
"Aku tak perlu cari kau!" Kau Jie Chiu senggapi.
Tay Po tidak gusar, ia goyang-goyang tangan.
"Kita baru bertemu satu pada lain, jangan kita gaukun!"
ia kata. "Ini pun bukannya satu tempat yang tenteram, barangkali, orang sudah pada mendusin! Mari, aku pimpin
kau ke suatu tempat di mana kita bisa bicara dengan
leluasa. Aku pun hendak beritahukan padamu bahwa
gurumu sudah datang ke Pakkhia!"
"Apakah benar ia sudah datang" Dimana adanya ia
sekarang?" tanya Tam Hui.
Tay Po ada seorang cerdik, hingga ia bisa dengar lagu
suara yang jeri-
"Bocah ini mesti ada lakukan suatu apa ... " pikir ia.
"Siapa tahu jikalau gurunya datang kemari memang sengaja untuk cari dan bekuk muridnya ini" ... " Lantas ia tertawa.
"Aku dengar apa yang aku dengar saja," ia bilang. "Kalau saudara Bou Pek datang kemari, ia harus berlaku hati-hati.
Tapi, apa perlunya ia datang kemari" Apa ia datang untuk urusannya Giok Kiau Liong" Kalau benar, kita sebenarnya
tak memburukkan bantuannya itu. Aku percaya, ia
sebenarnya belum datang."
"Bicara hati-hati, eh!" Tam Hui peringatkan. "Apakah benar guruku itu ada saudaramu" Ia adalah engkongmu!"
Tay Po tertawa pula.
"Bahasa panggilan saja tak ada artinya," ia kata. "Kita baik
jangan main-main saja! Aku
hendak minta keteranganmu. Selama aku datang ke Pakkhiahu, mula-
mula kau ambil satu rumah penginapan dengan Lo Siau
Hou, setelah itu, kau pergi entah ke mana, tetapi sekarang kau muncul pula, dengan sekonyong-konyong" Sebenarnya,
apa yang kau lakukan dan niat lakukan" Apa kau juga ada
punya kepentingan dalam urusannya Giok Kiau Liong?"
Tam Hui tidak jawab pertanyaan itu, ia bertindak terus
mengikuti ini kawan baru.
Tay Po berjalan ke arah barat. Mereka berdua berjalan
berendeng, tetapi hatinya Itto Lian hoa tidak tenteram,
walau bagaimana, ia curiga. Maka ia pisahkan diri jauhnya
tiga atau empat tindak. Sering-sering ia berpaling, selaku penjagaan.
Tam Hui kelihatannya lesu.
"Kepentingan dalam urusannya Giok Kiau liong?" ia ngoceh seorang diri. "Sebenarnya ia ada musuhku, aku hendak hajar ia, tetapi aku tak berhasil melakukan itu! ...
Sudah dua tahun lebih aku berdiam dan belajar di Kiu-hoa San, tetapi Lie Bou Pek tidak berikan pelajaran sungguh-sungguh padaku, malah sebaliknya ia kata bahwa aku ada
seorang yang tidak berbakat, dan seumurku, aku tak bakal menjadi satu enghiong! Karena itu, aku jadi mendongkol,
karena itu, aku turun gunung dengan diam-diam. Aku
minggat! Aku ada seorang sebatang kara sekarang.
Rumahku di Hongyang, lantaran dapat perkara, jadi
belarakan tidak keruan. Engko-ku Tam Khie telah menutup
mata di dalam penjara. To Siau Kocu masih mendekam
didalam pembuian. Aku telah pergi ke Ankeng akan cari
ciehu-ku. Perusahaan piau-nya berjalan baik, tetapi piausu yang ia pakai adalah segala piausu tukang gegares, orang dengan kepandaian tinggi sebagai aku, ia tak cocok ..."
Tay Po tertawa akan dengar ocehan itu.
Kau Jie Chiu bicara pula, sambil tepuk-tepuk dada.
"Aku ada muridnya Lie Bou Pek, aku tidak bisa jadi
pencuri," ia kata. "Ayahku ada Cui-tie-gu Tam jie-wangwee dari Hongyang-hu, meskipun ia sudah meninggal dunia, toh buat di Kanglam dan Kangpak, siapakah yang tidak kenal
ia" Maka itu, aku pun tidak bisa menjual silat di tengah jalan, perbuatan itu akan menurunkan derajat ayahku itu!"
Tay Po bersenyum Ia tak tahu benar perihal keluarga
Tam, maka ia tak begitu perhatikan ucapan orang. Ia hanya merasa, kenalan baru ini ada lucu.
"Dan apa yang kau kerjakan sekarang?" ia tanya.
"Bagaimana dengan penghidupanmu"'
"Sebenarnya aku mempunyai uang perak setengah peti
tetap semua itu telah habis dipakai amal oleh guruku!" Tam Hui jawab. "Ketika aku berangkat dari Ankeng, encieku ada kasihkan uang padaku, maka uang itu aku pakai beli obat-obatan dan seperangkat jubah imam ... "
"Jadi kau hidup sebagi penjual obat serampangan?"
"Oh, bukan! Aku dapat pelajaran dari To Siau Kocu!"
kata Tam Hui. "Aku telah bikin obat bubuk, untuk segala
macam penyakit, dan obat tempel, untuk segala macam
luka terkena senjata tajam. Aku juga jual obat racun tikus, asal tikus makan, tikus mampus dengan lantas! Dan kalau
racun tikus ini dipakai dengan dicampur dengan obat
tempel, lantas ... "
"Dan kau obati Lo Siau Hou dengan obat istimewamu
ini?" Tay Po memotong. "Maka juga lukanya telah jadi bengkak semakin hebat, nanahnya bertambah banyak ..."
"Tapi aku lakukan perbuatan-perbuatan gagah dan
mulia," kata Si Monyet Kecil. "Aku telah jual obatku di Oupak, Hoolam, di Titlee juga, aku telah tolong bukan
sedikit penjahat atau buaya darat yang mendapat luka-luka
... " "Oh, satu orang yang gagah dan mulia perbuatannya!
Coba aku mendapat luka, pasti aku tak berani memanggil
kau!" "Dan aku datang ke Pakkhia ini dengan maksud tujuan mirip dengan tujuannya guruku," kata pula si Monyet Kecil.
"Aku berniat untuk lakukan suatu apa yang menggemparkan ..."
"Dengan menempel obat tempel pun ada pekerjaan yang menggemparkan!" Tay Po mengejek.
"Ketika pertama aku sampai di Pakkhia, aku lantas
ketemu Lo Siau Hou," si Monyet Kecil ngoceh terus. "Aku lantas dapat kenyataan bahwa dia serta dua pengikutnya
bukan makhluk-makhluk yang benar. Aku lihat dia
mempunyai itu golok yang bagus, aku anggap tak sembabat
akan ia gunakan golok itu, golok itu mestinya dipakai oleh aku, maka itu aku telah berdaya keras akan dapatkan golek tersebut ... "
Sambil kata begitu, ia tepuk-tepuk pinggangnya.
"Dan selama ini, ke mana saja kau telah pergi?" Tay Po tanya. "Perkaranya Giok Kiau Liong sudah membikin
gempar sebagai juga kota raja telah terjungkir balik, kenapa kau tidak muncul, akan lakukan perbuatan-perbuatan mulia dan gagah?"
Kau Jie Chiu ulap-ulapkan tangannya.
"Aku tidak mau tempur ia, aku tidak mau tempur orang perempuan!" ia kata. "Kau tahu, sekalipun siau-naynay dan keluarga Tek, aku tak mau menemuinya!"
Lau Tay Po bersenyum tawar.
"Kau seharusnya menemui ianya!" ia kata dengan dingin. "Aku tidak tahu duduknya hal yang jelas tetapi toh aku telah mendapat dengar. Dahulu hari, jikalau bukannya kau, engkongnya nona Yo itu tak nanti kena orang bunuh
mati!" Ditegur begitu, Tam Hui kelihatannya malu.
"Meskipun demikian, aku juga pernah tolongi ia ... " ia kata. "Ketika kemarin ini Lo Siau Hou satroni ia di
rumahnya, untuk dipermainkan, beruntung dengan diam-
diam aku bisa bantu padanya ... ,"
"Jangan kau ngaco! Dua-dua pihak tidak usilkan urusan itu hari! Kau tahu, Lo Siau Hou itu mestinya dipanggil Yo Siau Hou, ia sebenarnya ada kanda dari Yo Pai dan nona
Yo Lee Hong adalah adik kandungnya!"
Tam Hui menjadi heran.
"Apakah itu benar?" ia tegaskan. "Yo Pa itu justru ada musuhku! Jika dulu Yo Pa tidak bunuh ayahku, mana kita
bersaudara pergi bunuh ayahnya?"
"Itu adalah hutang yang seharusnya dilunasi siang-
siang," Tay Po bilang. "Kau telah jadi muridnya Lie Bou Pek, dengan begitu sendiri-nya kita telah menjadi orang-orang dari satu kaum. Aku nasehatkan padamu untuk tidak
musuhkan orang-orang dari golongan kita ... "
"Aku memang tidak mau musuhkan pihakmu," Kau Jie Chiu kata sambil goyang kepala. "Perbuatanku dahulu terhadap Lo Siau Hou ditujukan melulu terhadap golok
mustikanya. Tapi, Yo Pa ini ada orang she Yo, kalau Siau Hou ada kandanya, kenapa Siau Hou pakai she Lo" Inilah
aku tidak mengerti."
"Kau tidak mengerti, aku pun tidak mengerti jelas.
Hanya aku bisa terangkan, aku bukannya ngobrol saja.
Sekarang jawab aku, kau pergi ke gedungnya keluarga
Giok, apa kau hendak bikin di sana?"
Ditanya begitu. Tam Hui tertawa.
"Itu ada buat satu urusan lain," ia menyahut. "Aku kenal seorang perempuan. Ketika itu hari aku berlalu dari rumah penginapan di Cu-sie-kau
Barat, aku telah pergi menumpang dirumahnya orang perempuan itu. Romannya
ia ini tak dapat dicela, ia mirip dengan seekor burung yang
mungil. Hanya, kalau kau lihat ia, kau sedikitnya akan
merasa jeri juga ... Kita berdua ada bersahabat rapat.
Karena ini, aku jadi tidak suka suhu datang kemari, aku jadi tak ingin campur tahu urusan lain orang. Di sebelah itu, uangku ada tidak cukup, dan ini, aku jadi ingat uangnya
keluarga Giok. Aku percaya, harta mereka adalah harta
yang boleh didapat si nona Giok, yang toh ada satu
penjahat. Apa artinya jikalau aku ambil sedikit dan harta itu?"
"Bagus! Kau sungguh pandai berpikir!"
"Begitulah aku telah pergi curi uangnya keluarga Giok itu," Tam Hui aku. "Tapi aku lakukan itu cuma untuk satu kali, karena kemudian aku pikir, siapa tahu kalau uang itu ada uang susah payahnya Giok tayjin sendiri. Kalau itu ada uang gajinya Giok tayjin, dengan perbuatanku, terang aku ada satu pencuri, maka aku lantas pikir untuk kembalikan uang curianku itu. Tadi di Kota Barat aku lihat Lo Siau
Hou, ia ada bersama seorang lain, aku lihat mereka pergi ke satu tukang uang dan tukarkan satu bungkus benar uang
perak. Aku lantas anggap Lo Siau Hou ada satu pencuri,
maka kalau aku dapatkan uang dari tangannya, aku tidak
lakukan satu kejahatan ... "
"Jangan omong lebih jauh, cukup, aku sudah mengerti."
Lau Tay Po mencegat. "Tadi uang rampasan itu kau
kembalikan pada keluarga Giok, untuk bayar hutangmu,
maka dengan perbuatanmu ini, kau unjuk satu perbuatan
mulia. Bahwa kau ada penjahat atau bukan, inilah aku tidak mau bilang apa-apa, hanya kau ada Kau Jie Chiu! Aku
anggap, muridnya satu hiap-kek tidak surup memakai
gelaranmu itu! Kau lihat aku, Itto Lianhoa!"
"Kau jangan ngebul, sobat! Aku tahu, kau tak mampu
lawan Giok Kiau Liong" ... "
Tay Po melengak karena jengekan itu.
Itu waktu mereka sudah sampai di warung arak dan
Pekgan Looliok di Tekseng-mui.
Pintu sudah ditutup tetapi dari celah-celah masih
bersorot sinar api.
Tay Po tarik tangannya Tam Hui.
"Di sini ada pertunjukan menarik hati, pergi kau masuk dan lihat!" ia kata.
Tam Hui mengawasi.
"Pertunjukan apa itu?" ia tanya.
"Masuk saja, kau akan ketahui sendiri!" Tay Po tertawa.
Ia lantas ketok pintu, beberapa kali, seraya ia memanggil,
"Looliok!"
Dari dalam ada suara orang menyahuti, orang mana
terus membukakan pintu.
Segera juga ternyata, warung arak itu telah penuh
dengan orang yang terbagi atas tiga rombongan, jumlahnya dua sampai tigapuluh orang, mereka semua asyik berjudi
paykiu, yautan dan merah-putih. Dan pakaian ringkas dari mereka, mereka kebanyakan ada buaya darat cuma
beberapa yang pakai baju dan celana sutera, yang
menggoyang-goyang kipas, tanda dari orang dagang atau
kuasa dan suatu gedung. Mereka itu berjudi dengan
gunakan uang rencengan.
Begitu lekas Lau Tay Po bertindak masuk, beberapa
orang menoleh, di antaranya segera ada yang memanggil.
"Lau jieya."
Tay Po bersenyum dan manggut pada mereka itu, diam-
diam ia gerak-gerakkan bibirnya ke jurusannya ia punya
kawan, maka beberapa mata lantas ditujukan pada Tam
Hui. Kau Jie Chiu dandan secara luar biasa. Ia ada punya
kuncir yang kecil, bajunya ada jubah imam, pinggangnya
dilihat dengan angkin yang kasar, tetapi pada angkin itu ada tergantung
gagangnya satu golok yang mengkilap cahayanya. Semua buaya darat mengerti Tay Po, cuma Tam Hui,
yang tidak engah. Ia ada bertubuh tidak tinggi, untuk
melihat orang berjudi, ia mesti berjingke, melongok
melewati pundak lain orang. Toh ia masih belum bisa dapat melihat. Maka ini, ia terus gunakan tenaganya, hingga
rubuhnya dua orang itu terpisah satu dari yang lain.
"He, apa ini?" membentak dua orang itu, sambil menoleh. "Eh, kau mau apa?"
"Sudah, jangan gusar!" kata Tay Po dari samping. "Ia ini ada sahabatku, saudara Tam, kita ada orang sendiri!"
Sambil kata begitu, Itto Lianhoa kedipi matanya, maka
dua orang itu lantas tutup mulut.
Tam Hui tidak gusar, malah ia jadi gembira, hingga ia
rogoh sakunya. Ia masih punyakan belasan tail, uang mana ia pecah dua, yang separuhnya ia ikut adu peruntungan.
Ketika kotak dibuka, ia kalah, pasangannya itu kena ditarik.
Ia memasang pula, dari sisa uangnya, ia pecah dua. Apa
mau, buat kedua kalinya, uangnya kena dibetot, ia jadi
panas, ia pasang puk, sekali ini ia pilih merah. Apa mau, yang dibuka ada biji hitam, maka habislah semua uangnya.
Ia menoleh, ia tidak lihat kawannya.
"Mana Tay Po?" ia tanya.
Tapi ia dapat jawaban yang berupa tinju dari satu orang, pada dadanya.
"Eh, binatang, kau buta" Kenapa kau injak aku?"
demikian penyerang itu.
"Maaf, aku tidak lihat," ia kata. Ia tidak gusar, kepalan itu ia sanggapi.
"Lau Tay Po!" ia memanggil. "Tay Po, kasih aku pinjam beberapa tail, nanti aku kembalikan."
Tapi Tay Po entah pergi ke mana, suaranya tidak,
orangnya pun tidak kelihatan.
"Buat apa bikin berisik di sini" Jikalau kau tidak ada uang, lekas pergi!" demikian suara mengusir, yang kaku.
Perjudian dilanjutkan, bandar sering kali meraup uang
dan membayar, dan orang yang asyik adu peruntungan itu
nampaknya gembira sekali, bernafsu.
Tam Hui sibuk juga, karena sahabatnya pergi di luar


Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tahunya. "Limapuluh tail!" ia kata dengan nyaring seraya ia ulur sebelah tangannya dan bantingkan kepalannya ke atas meja, sampai menerbitkan suara.
"Akur!" si bandar kata. "Kalau kau kalah bagaimana?"
"Kalau aku kalah ini sebelah tangan, ada lagi tangan yang satunya!"
"Jikalau dua-duanya kalah?" tanya pula si bandar.
"Masih punya kan kakiku!"
Matanya bandar ini mendelik.
"Celaka! Kau sebenarnya masih punya apa lagi di
tubuhmu?" ia tanya, "Apakah tidak lebih baik kita bertaruh batok kepala saja" Ialah kalau kau kalah, kepalamu
dikutungkan, diserahkan padaku! Dan kalau aku kalah, aku nanti serahkan kepalaku."
"Bagus! Akur!" Kau Jie Chiu berseru. "Aku pasang merah!"
Bandar terima baik pertaruhan itu, ia lantas saja
membuka. Hitam!
Bukan main kagetnya Tam Hui, hingga ia jadi melongo.
Ketika tangannya meraba ke pinggangnya, ia dapat
kenyataan golok mustikanya yang dicantel di angkin, sudah tak ada! Hingga ia jadi terlebih-lebih kaget.
'^Golokku hilang!" ia berseru. "Siapa begitu bernyali besar berani curi goloknya Kau Jie Chiu" Lekas, lekas
kembalikan!"
Beberapa orang melirik dan tertawa, beberapa yang lain
diam saja, segera juga di situ tidak terjadi suatu apa. Tidak ada seorang yang menyahuti atau bicara.
Dari tercengang, Tam Hui jadi gusar.
"Bandar harus dihajar!" pikir ia. Di saat ia hendak beraksi, tiba-tiba ia dengar:
"Monyet Kecil, jangan bertingkah! Golokmu ada di
tangannya jie-thayya! Thayya berkasihan terhadap kau, ia kuatir nanti dengan golok ini kau kutungkan batang
lehermu!..."
Tam Hui menoleh, ia lihat Lau Tay Po sedang berdiri di
pintu, yang telah dipentang separuh, tangannya ia itu
sedang urut-urut kumisnya dengan wajah berseri-seri,
sedang sebelah tangannya yang lain, lagi buat main golok mustika, gelangnya bersuara.
Dengan buka jalan di antara banyak orang, Tam Hui
memburu keluar. Tapi begitu ia bergerak, Lau Tay Po
bergerak juga, mengangkat kaki.
"Binatang, jangan lari!" si Monyet Kecil mencaci. "Aku sangka kau ada orang baik-baik, tidak tahunya kau ada satu penipu!"
Ia sampai di pintu, akan lihat orang she Lau itu lari ke utara. Maka ia mengubar terus.
Lau Tay Po berlari-lari di gang, lewati yang satu dan
yang lain. Ia sengaja buat main goloknya itu. Ia lari
semakin keras begitu lekas ia lihat orang kejar ia dengan sungguh-sungguh.
Syukur itu waktu sudah malam dan di gang tak ada
orang. Lama juga mereka main kejar-kejaran, karena ia ada
sangat gusar dan mendongkol, napasnya Kau Jie Chiu
memburu. "Binatang, ke mana kau hendak lari?" ia berteriak. "Kau tak akan lari ke langit! jikalau Tam yaya dapat candak kau, tidak bisa tidak, aku nanti totok padamu sampai mampus!"
Tapi Lau Tay Po tertawa.
"Lau Tay Po tidak takut ditotok! Seumur hidupku,
tidak!" ia menjawab dengan ejekannya. "Candaklah bila kau dapat menyandaknya!"
Tam Hui mengejar terus, sampai di suatu tempat
terbuka, di mana rumah-rumah orang ada jarang.
Di sini Tay Po loncat naik ke temboknya suatu rumah
dan masuk. Dengan tidak takut sedikit juga, Tam Hui ikut loncat masuk ke dalam.
Rumah itu ada pekarangan luar dan dalam. Dari dalam
rumah tidak ada cahaya api sedikit juga. Tay Po lari ke
jendela di sebelah utara, di situ ia mengetok-ngetok daun jendela, dengan tangannya.
Tam Hui mengejar terus, kapan ia sudah datang dekat, ia
lantas loncat sambil ayun tinjunya, akan hajar orang yang pedayakan ia.
Mendahului itu gerakan, mendadakan daun jendela
terpentang, dari dalam loncat mencelat seorang yang
mencekal sepasang golok dengan golok mana ia terus
membacok. Kau Jie Chiu kaget, ia lekas berkelit. Ia bisa menyingkir dari bacokan, tetapi satu dupakan bikin ia terguling, hingga ia menjerit.
"Aduh!"
"Jahanam?" ia mencaci.
Hampir di itu waktu, entah dari mana, sebatang piau
menyambar. Tam Hui ada gesit, meskipun ia baru rubuh, ia toh bisa
gulingkan tubuh, akan menyingkir dari senjata itu. Piau itu disusul dengan loncat keluarnya seorang lain dari dalam
rumah. Sementara itu, di luar sangkaannya si Monyet Kecil,
penyerang dengan sepasang golok telah mencelat ke dekat
ia, ujung kakinya, yang memakai sepatu lancip, mengenai
tubuhnya tanpa ia keburu berkelit lagi, atas mana, ia rasai tubuhnya kesemutan dan kaku. Ia terperanjat, karena ia
tahu yang ia sudah tertotok.
"Jie toacie, jangan lukai padanya!" begitu suaranya Lau Tay Po, yang loncat maju. "Ia adalah Kau Jie Chiu! Aku sengaja pancing ia kemari, supaya kau bisa ajar adat
padanya!" Habis kata begitu, Tay Po nyalakan api, ia samperi Tam
Hui sambil tertawa haha-hihi.
"Kau buka matamu dan lihat!" ia kata. "Kau lihat, ini siapa?"
Sambil rebah, Tam Hui mengawasi orang yang rubuhkan
padanya. Orang itu yang berpakaian hijau, dengan sepasang golok di tangannya, adalah Jie Siu Lian. Di sebelah si nona itu ada seorang lain, ialah yang melepas piau, yang
tangannya memegang tombak. Ia ini memakai baju hijau,
celananya merah, mukanya rada hitam, tapi tubuhnya gesit, perutnya sedikit besar.
"Jiesukou, aku tidak tahu kau ada di sini." ia lantas berkata, lagu suaranya bermohon.
Jie Siu Lian tidak mempedulikan, ia hanya ajarkan Lau
Tay Po bagaimana harus bebaskan bocah itu dari totokan,
maka juga Itto Lianhoa lantas lempar obornya ke samping, dengan goyang sana dan sini, sebentar kemudian ia bikin si monyet bisa loncat bangun. Berdiri di samping orang,
monyet ini melotot terhadap itu bekas kawan. Sebaliknya
Tay Po, sambil bersenyum, menjura padanya!
Siu Lian bersama Siang Moay, demikian itu orang
perempuan yang memegang tombak, sudah bertindak ke
dalam, api telah dipasang terang-terang. Ia pergi ke dekat jendela ke mana Tam Hui dipanggil, cuma ia itu berada di sebelah luar.
"Apakah yang kau perbuat selama ini?" tanya si nona.
Tam Hui berdiri tegak sambil tunduk, ia jawab sesuatu
pertanyaan secara sembarangan, karena ia ada bingung.
Tay Po dampingi ini anak muda, lengan siapa ia cekal.
"Golok mustika itu ada kepunyaannya Lo Siau Hou, aku telah wakilkan kau membayarnya pulang," ia bilang. "Apa yang aku lakukan terhadap kau, semua itu ada main-main
saja untuk menyatakan rapatnya persahabatan kita! Aku
harap kau tidak gusar ... "
Tam Hui angkat kakinya, akan menginjak, tapi Itto
Lianhoa loncat menyingkir.
"Selanjutnya kau tidak boleh nakal lagi!" kemudian Jie Siu Lian pesan. Ia kasih tahu hal datangnya Lie Bou Pek ke kota raja. "Sekarang kau mesti pergi ke Kota Barat, di dalam kota sana ada sebuah warung minyak di sana kau
mesti cari Pasan-coa Su Kian yang sedang umpetkan diri.
Dalam hal apa juga, kau mesti turut segala perkataannya
orang she Su itu."
Kau Jie Chiu manggut-manggut, ia undurkan diri,
dengan loncati tembok ia pergi keluar. Ia ngeloyor pergi dengan lesu.
Lau Tay Po mengantarkan sampai di atas tembok, ia
tepuk-tepuk tangan, hingga Tam Hui jumput batu dan
menimpuk padanya. Ia kaget dan loncat turun, tidak urung batu mendahului menyambar belakang lehernya, hingga ia
kesakitan dan menjerit. "Aduh!"
"Eh, kau kenapa?" menegur Siang Moay dari rumah.
"Lekas masuk, Jie toacie hendak perintah padamu!"
Tay Po bertindak masuk sambil urut-urut belakang
lehernya itu. Tapi ia berada di dalam tidak lama, malam itu juga ia kembali ke Cek-sui-tha.
Hoa-gu-jie Lie Seng dan Lo Siau Hou tidur di atas
pembaringan, mereka tidur nyenyak, mereka tidak tahu ada kejadian apa.
Keesokannya pagi, Siau Hou mendusin dengan terus
tidak pergi ke mana-mana, dengan rajin ia merauti bambu, untuk membikin panahnya yang liehay, ia diam saja. Ia
tidak menanyakan apa juga perihal kejadian-kejadian di
luaran. Hawa udara ada panas, di atas pohon, sang tonggeret
nyanyi sendirian, suaranya kedengaran sampai di dalam
rumah. Kota raja ada tenteram. Tentang Giok sam-siaocia, nona
mantunya keluarga Lou, yang masih sakit, hingga ia tak
bisa menemui sanak beraya, orang mulai anggap sepi, tidak lagi ada yang buat ceritaan. Baik di warung-warung, teh, maupun dirumah-rumah makan, tidak ada orang yang
bicarakan itu. Meski begitu, itu hanya apa yang tertampak di bagian luar, di sebelah dalam, sebenarnya ada orang-orang yang asyik bekerja.
Itulah ada Tek Siau Hong serta Ginchio Ciangkun Khu
Kong Ciau. Mereka ini kecuali kirim orang akan dengar-
dengar di berbagai-bagai kantor, juga mereka pergi sendiri pada tiehu Giok Po In. Mereka tidak berani tanya terang-terang perihal apa benar Giok sam-siocia telah kena
ditangkap, tetapi mereka tanya, "Bagaimana dengan
penyakitnya sam-siocia?"
"Masih juga belum sembuh," menyahut Giok tiehu dengan roman berduka. "Ia tetap berdiam saja di dalam kamar, ia tidak mau temui orang, atau kalau ia dengar
tindakan kaki, tentu ia menjerit. Atau setiap hari ia seperti orang pingsan saja. Ia cuma dirawat oleh satu bujang
perempuan dan dua kacung. Kemarin ini isteriku sudah
pergi menyambangi, tetapi ia deliki mata, ia tidak kenalkan enso-nya itu. Karena ini, ibuku saking jengkel telah
mendapat sakit dan ayah ada masgul bukan main ... "
Atas ini jawaban, Khu Kong Ciau tidak mendesak.
Atas nama persahabatan, Khu siau naynay juga datang
berkunjung, tetap kedua nona mantu keluarga Giok
menolak ia dengan kata: "Jangan tengok padanya, ia bukan lagi seperti dulu-dulu, kita sendiri, kalau kita lihat padanya, ia damprat habis-habisan. Sayang jikalau kau sampai kena dicaci ... "
Giok toa-naynay ada punya,anak, yang baru berumur
tujuh tahun, tetapi anak ini seperti sudah mengerti segala apa, waktu ia dengar pembicaraan di antara ibunya dan
tetamu perempuan itu, ia lantas saja unjuk roman heran. Ia seperti mau bilang: "Bukan, duduknya hal bukan demikian
... " Tegasnya, dua-dua keluarga Giok dan Lou, telah
memegang rahasia keras, hingga sikap mereka menambah
kecurigaan orang. Meski demikian, orang toh tidak mampu
beber rahasia itu.
Sementara itu, ada muncul satu perkara baru, itu ada
dakwaan yang dimajukan ke kantor teetok, perihal satu
penjahat yang disebut Hou si anu ... Pendakwa ada Ho Siau Sin, orang asal Hoolam, pegawai dari kantor hengpoa.
Menurut ia, di Kota Barat, di suatu gang, ada bertinggal perempuan hina nama Toa Lohok dan Siau Heebie, bahwa
di rumah mereka ada menumpang tinggal seorang
pengembaraan yang sendirinya mengaku she Hou, uangnya
ada banyak sekali, orangnya galak, sedikit saja, hendak
menyerang orang lain. Ia terangkan lebih jauh, katanya,
menurut orang yang mendapat lihat, orang she Hou ini
adalah itu orang yang di medan pestanya keluarga Giok
sudah serang joli pengantin dengan panah, yang telah lukai orang-orangpolisi. Maka itu pendakwa, yang majukan
dakwaannya secara rahasia, percaya orang she Hou itu ada penjahat besar yang nyelundup dan mendekam di dalam
kota raja, bahwa kalau dia tidak segera dibekuk, dia kuatir dia nanti timbulkan lain perkara hebat.
Berbareng dengan pengaduannya itu, untuk menguatkan
kesaksiannya, Ho Siau Sin ada berikan keterangan perihal dirinya sendiri, tentang ayahnya juga.
Di kantor teetok lantas saja orang ambil salinan dari
pengaduan itu dan terus dikirim pada Tek Siau Hong.
Dengan perbuatannya ini, pegawai itu hendak berbuat baik terhadap si orang she Tek.
Berhubung dengan penyerangan joli pengantin, di luaran
orang ada cerita bahwa Tek Siau Hong kenal siapa si
penyerang, dan berhubung dengan si penyenang dibantu
oleh Lau Tay Po sampai bisa lolos dari kepungan polisi,
kembali orang curigai orang Boan itu, yang disangka ada
jadi penyuruh dari si penyerang. Maka itu, kalau Siau Hong dapatkan salinan itu, ia bisa kisiki supaya si Hou itu lekas-lekas angkat kaki.
Siau Hong ketarik bukan main apabila ia telah baca surat pengaduan itu, terutama keterangan Ho Siau Sin. Sebab di dalam keterangan itu antaranya ada ditulis: "Ayahku ada bernama Siong, pernah pangku jabatan tiehu di Lulam-hu,
Hoolam, dan di Kit-an-hu, Kangsay sekarang tinggal
sebagai rakyat jelata di kota raja. Sin sendiri bekerja di kantor hengpou..."
Di akhirnya, Ho Siau Sin pastikan kebenarannya
pengaduannya itu, bahwa itu bukan pengaduan dusta.
Seberlalunya pembawa surat, Siau Hong tepuk meja.
"Inilah yang dibilang, musuh bersomplokan dengan
musuh!" kata ia dengan keras. "Keluarga Ho ini adalah itu musuh besar yang sedang dicari, yang sudah dicari ubek-ubekan tiga tahun tetapi tidak juga bertemu. Ia adalah pihak yang pada banyak tahun dahulu sudah memfitnah hingga
binasanya ayah dan ibu dari nona mantuku!"
Syukur Siau Hong bicara seorang diri, tak sampai ada
lain orang yang ketahui atau dengar seruannya itu.
Buat membalas sakit hati ayahnya, Yo Lee Hong mau
berangkat ke Hoolam, akan cari musuhnya, maka kalau
sekarang si nyonya mantu ketahui musuhnya justru ada di
kota raja, ia pasti akan lantas turun tangan. Nyonya mantu itu mengerti bugee, ke mana parannya jikalau ia tidak
terbitkan onar besar. Musuh tinggal musuh, kalau pihak Ho diserbu, perkara mesti terjadi.
Kemudian dengan diam-diam, Siau Hong undang Yo
Kian Tong. Pada ini piau socia tidak menyimpan rahasia,
malah ia minta Sinchio coba cari tahu lebih jelas perihal Ho Siau Sin itu, tentang kelakuannya, terutama tentang
jalannya bagaimana dahulu Ho Siong sudah fitnah dan
celakai Yo suami isteri. Ia pesan wanti-wanti buat piausu itu pun menutup rahasia.
Yo Kian Tong suka membantu. Dengan begini pun ia
bekerja untuk anak perempuan angkatnya. Ia ada sangat
gusar kalau ia ingat kejahatannya Ho Siong yang licik itu.
"Inilah tak sukar untuk diurus," kata piausu ini.
Seberlalunya dari rumah Siau Hong, Yo Kian Tong
lantas mulai dengan penyelidikannya. Ia gunakan tempo
cuma satu hari, lantas ia dapatkan semua yang ia ingini. Ia memang ada punya banyak kenalan. Hasilnya penyelidikan
itu, ia beritahukan pada Tek Siau Hong.
"Sekarang kita sabar dulu," Siau Hong pesan. "Sekarang ini kita mesti urus dulu halnya Giok Kiau Liong."
Yo Kian Tong suka bersabar.
Dalam ikhtiarnya Tek Siau Hong ada dibantu banyak
oleh Pasan coa Su Kian si Ular Gunung alias si Gemuk
Orang Shoasay ini, sesudah bertemu dengan Bou Pek di
Shoasay, seperti kita ketahui, telah ikut pemuda itu pergi ke utara, sampai di daerah Pooteng mereka bertemu dengan
Giok Kiau Liong dan ketika Bou Pek kejar terus. Kiau
Liong ke selatan, ia sendiri menuju terus ke utara, hingga ia sampai di kota raja. Di sini secara rahasia ia temui Pek Siau Hong. Kemudian, untuk punyai tempat yang tetap, di
Tonghiang ia dirikan warung arak. Paling belakang, ia telah terima
kedatangannya Kau
Jie Chiu, yang terus
menumpang dengan ia. Ia ada jiatsim seperti biasa, ia suka bantu Siau Hong, malah dengan sungguh-sungguh.
Begitulah dua kali ia pernah ajak Tam Hui, malam-malam
mereka satroni gedung keluarga Lou untuk bikin
penyelidikan, dua-dua kalinya mereka tak peroleh hasil,
mereka tak bisa ketemui kamar pengantin.
Lau Tay Po juga bekerja terus, ia ada punya banyak kaki
tangan, ia bisa bekerja dengan leluasa, kecuali setiap hari ada datang orang-orang yang mengasih laporan padanya, ia sendiri setiap malam tentu pergi ke sekitarnya gedung Giok tayjin, hanya seperti Soe Poancu, ia tetap belum peroleh hasil. Apa yang ia dapat tahu adalah pihak Giok, nyonya-nyonya atau saudaranya Kiau Liong, setiap hari pergi ke
gedung keluarga Lou, untuk menengoki si nona Giok yang
katanya sedang sakit.
Kecurigaan tetap ada jadi kecurigaan.
Jie Siu Lian sendiri telah turun tangan. Di waktu malam
ia telah pergi ke gedung keluarga Giok dan Lou, ia pergi juga ke berbagai-bagai penjara atau kamar tahanan dalam
kantor-kantor, bermalam-malam ia keluar, ia senantiasa
pulang dengan tangan kosong
Siang Moay sendiri telah minta bantuannya Lie Jie-so,
supaya ia ini minta keterangan dari engko-nya, yang bekerja sebagai koki di gedung keluarga Lou, tetapi ia pun tidak
berdaya. Maka itu, orang tetap tidak ketahui di mana
adanya Giok Kiau Liong dan bagaimana dengan nasibnya.
Sekarang ini di kota raja, kecuali Jie Siu Lian dan Sun
Ceng Lee, pun ada Lie Bou Pek. Mereka boleh dibilang
datang bersama-sama. Tapi Lie Bou Pek telah ambil tempat di gedungnya Tiat siau-pweelek, di sini ia disambut dan
diperlakukan sebagai tetamu agung saja. Perkaranya yang
sudah-sudah, sekarang tak ada orang yang timbulkan pula.
Itu ada perkara lama dan liat pweelek pun atur begitu rupa, hingga tak ada orang yang nanti berani ungkat-ungkat.
Maka sekarang ia ada merdeka akan pesiar di kota raja.
Maka itu, ia hampir setiap hari kunjungi Tek Siau Hong
atau Lau Kie In atau Sun Ceng Lee. Di lain pihak, juga tak banyak orang lagi yang kenalkan ia. Sebab enam tahun
telah lewat ketika ia terbitkan kegemparan di rumah
penginapan di See-hoo-yan, piebu-nya di Ta-mo-ciang dan
lain-lain lagi.
Bou Pek pun kunjungi paman misannya she Kie di
Poancay Hoo-tong Selatan. Paman ini semakin lama jadi
semakin merosot cara hidupnya, karena kurangnya
penghasilan. Dan paman ini masih kurang puas dengan
kunjungannya itu, karena ia ini menyangka, perkaranya
masih belum dihapus, hingga ia kuatir kerembet-rembet ....
Sekeluarnya tidak jauh dan Poancay Hoo-tong Selatan


Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

adalah gereja Hoatbeng Sie. Di sini dahulu ia rebah sakit, sampai Beng Su Ciau rawat ia, hingga berdua mereka
menjadi sahabat kekal. Dan di sebelah selatan lagi, di sana ada kuburannya Siam Nio yang buruk peruntungannya.
Bou Pek tidak berani sambangi kuburan itu. Hanya ia
lanjutkan perjalanannya akan mampir di warung teh atau di rumah makan ...
Selama pesiarnya ini, Bou Pek tidak dengar suatu apa
perihal Giok Kiau Liong dan ia tidak dapatkan orang-orang
yang mencurigakan, hingga ia jadi dapat anggapan tidak
ada perlunya buat ia cari lebih jauh pada nona Giok itu. Ia anggap, kalau benar Kiau Liong tertawan oleh pembesar
negeri, itu ada baiknya, orang jadi bebas dari gangguannya si nona cabang atas itu yang galak dan sewenang-wenang.
Niatannya adalah mendapat pulang Cengbeng-kiam.
Apabila pedang itu berada di tangannya Kiau Liong sendiri, ia anggap bahayanya tidak seberapa, yang paling
menguatirkan adalah kalau senjata itu terjatuh ke dalam
tangannya Anghan Gui Sam, si Muka Merah. Pengharapan
lainnya adalah agar dari Kiau Liong ia bisa dengar tentang Ah Hiap punya kitab "Kiu Hoa Koan Kiam Coan Sie".
Berbeda dari pada Su Kian atau Kau Jie Chiu, Bou Pek
tidak ingin bikin penyelidikan malam ke rumahnya keluarga Lou, ia tidak sudi datangi kamarnya nona-nona atau
nyonya-nyonya. Maka itu, ia melainkan ketemu sahabatnya
itu dan murid, sedang di rumahnya Siau Hong, ia bertemu
dengan Lau Tay Po. Adalah dengan perantaraannya Lau
Tay Po, ia telah pergi tengok Lo Siau Hou.
Itu waktu, Lo Siau Hou sudah selesai membikin anak
panah, dan golok mustikanya Tay Po sudah kembalikan
padanya. Ia diperbolehkan keluar malam kalau mengajak
kawan, dari itu, ia pun sudah turut bikin penyelidikan, akan cari kekasihnya.
Demikian Pakkhia, kota raja, kota yang tua, telah
menjadi tempat melingkarnya naga, tempat mendekamnya
harimau, tempat bangau terbang atau monyet berlari-lari, karena apabila sudah malam, orang telah keluar kelayapan, akan cari si Naga Terbang, yang entah sembunyi atau
disembunyikan di mana ...
Beruntun lima hari, orang mencari dengan sia-sia,
sampai di hari keenam, tersiarlah kabar dari suatu kejadian yang hebat.
Pada malamnya, di rumah penginapan yang pertama di
Kwansiang di Saytit-mui sudah terjadi pembunuhan atas
dirinya dua orang. Katanya, si pembunuh telah datang
dengan tiba-tiba. Dan si korban adalah seorang lelaki dan seorang perempuan, yang sudah singgah di penginapan itu
buat tujuh atau delapan hari.
Segera juga ada orang yang kenalkan korban-korban itu,
ialah Anglian Gui Sam dan isterinya. Orang pun terangkan, Gui Sam ini ada satu pegawai piautiam.
Menurut cerita orang yang lihat, pembunuh datang
dengan ambil jalan dari atas genteng, bahwa ia ada satu
anak muda dengan tubuh langsing, melainkan orang ak
kenalkan siapa adanya dia.
Kapan kabaran itu sampai di kupingnya Khu Kong Ciau,
Tik Siau Hong, Lie Bou Pek, Jie Siu Lian dan Lau Tay Po, semua mereka ada terperanjat. Malah Su Poancu dan Kau
Jie Chiu terima warta itu dengan perasaan ngeri.
"Tunggulah dua hari," kata Lau Tay Po. "Segera juga kita akan ketahui, apa artinya pembunuhan itu! Entah di
mana sembunyinya Giok Kiau Liong! Kita di sini repot
mencari ia, ia di sana tentunya sedang tertawakan kita ... "
Tapi Lo Siau Hou terima kabar dengan girang sampai ia
tepuk-tepuk tangan.
Bou Pek dan Siu Lian penasaran, oleh karena ini mereka
kandung niatan akan tempur pula nona Giok itu!
Dua hari berselang, tentang Giok Kiau Liong tetap
masih menjadi rahasia, hanya segera juga, dari keluarga
Giok dan Lou tersiar kabar. "Lou siau-naynay sudah
sembuh dari sakitnya, mulai hari ini ia sudah bisa keluar, akan
ketemui tetamu atau buat kunjungan."
Sekejab saja, kabar ini telah buat sirap semua kabar lainnya.
Tek toa-naynay percaya kabaran ini, ia jadi heran
berbareng girang. Kebetulan itu hari Siu Lian ada di
rumahnya, ia tepuk pundaknya si nona dan kata sambil
tertawa: "Selama beberapa hari aku telah ikut-ikutan kau hingga aku jadi sebagai orang edan! Setiap hari datang saja kabar gila-gila, yang beraneka warna, tetapi sebenarnya, hal adalah tidak sebagaimana semua cerita gila-gila itu! Giok Kiau Liong itu terang-terang telah jatuh sakit begitu lekas ia masuk ke rumah pengantin lelaki, ia tidak pernah keluar
lagi dan kamarnya, adalah Lau Tay Po, itu bocah, yang
siarkan segala cerita burung. Maka sekarang, di mana Tay Po hendak taruh mukanya?"
Jie Siu Lian tidak puas dengan ucapannya nyonya Tek
itu. "Soal ini tidak ada sangkutannya dengan Lau Tay Po," ia kata. "Jikalau benar ia mendekam karena sakit di rumahnya keluarga Lou siapakah yang telah datang ke rumahku di
Kielok di mana ia gegares bubur dan kemudian minggat
dengan bawa kabur juga kudaku" Apakah itu bukannya ia
sendiri yang aku kepung-kepung bersama-sama Lie toako
dan Sun suheng" Mustahil kita bertiga ngaco belo?"
"Yang kau lihat itu barangkali rohnya ... " kata toanaynay yang berkukuh. "Di dalam buku pun ada disebut, jikalau seorang mendapat sakit, hingga ia tak mampu
berbangkit dari pembaringan, rohnya bisa keluar pesiar
sampai jauhnya ribuan lie, bahwa selama pesiarnya itu. ia bisa dahar dan bicara sebagaimana orang benar, hanya
kemudian, kapan rohnya sudah kembali, ia kembali rebah
sebagai si sakit ... "
"Aku tak percaya itu!" kata Siu Lian. "Mana ada soal roh sampai begitu!"
Yo Lee Hong pun heran, tetapi ia diam saja.
Ketika itu Siau Hong masuk ke dalam, ia dengar
pembicaraan itu.
"Ini ada soal gampang," berkata orang Boan itu. "Kita tunggu lagi dua atau tiga hari, kalau nanti Giok Kiau Liong pulang ke rumahnya sendiri, dari sini kita kirim orang
untuk menyambangi padanya, itu waktu, dengan lihat air
mukanya, kita akan lantas ketahui rahasianya. Aku percaya betul, didalam urusannya Kiau Liong mesti ada suatu
rahasia. Aku tidak percaya bahwa satu nona sebagai ia
nanti merasa puas menikah satu orang semacam Lou Kun
Pwee! Di sini mesti ada suatu kejadian, entah bagaimana
duduknya ..."
Tek toa-naynay bersenyum tawar, ia tak percaya kata-
kata siaminya itu, ia berkukuh dengan anggapannya sendiri.
"Keterangan siapa juga tak dapat diandalkan!" kata nyonya ini. "Yang paling benar adalah lihat orangnya sendiri! Aku percaya, melihat persahabatannya dengan aku, tidak nanti ia tidak ceritakan semua dengan sebenarnya!
Sayang kita tidak punya pergaulan dengan keluarga Lou,
hingga kita mesti tunggu sampai nanti ia sudah pulang ke rumahnya, baru aku bisa tengok padanya ... "
"Bagaimana persahabatannya keluarga Khu dengan
keluarga Lou itu?" Siu Lian tanya.
"Encim yang keempat dari Lou Kun Pwee ada Khu
Kong Ciau punya encie misan," sahut Tektoa-naynay.
"Mereka ada bersanak dekat."
Siu Lian lantas berbangkit.
"Lebih baik aku pergi pada Khu siau-naynay," ia bilang,
"biar ia yang ajak aku pergi ke rumahnya Lou Kun Pwee.
Aku bersiap sekalipun aku mesti menyamar sebagai budak.
Asal aku bisa lihat Giok Kiau Liong, aku tahu apa yang aku
mesti perbuat lebih jauh." "Cukup, saudaraku!' kata Tek toa-naynay: "Onar apa juga yang kau terbitkan untuk pihak kita, tidak ada halangannya, tetapi awas, janganlah timbulkan gara-gara buat keluarga Khu!"
"Aku tidak akan terbitkan onar," Siu Lian terangkul.
"Aku akan bertindak menuruti aturan. Mustahil aku nanti bentrok dengan Kiau Liong ... "
Lee Hong bersenyum mendengar pengutaraannya nona
Jie itu. Ia ketahui dan setuju dengan pikirannya nonaku, ia menjadi gembira sekali.
Siau Hong pun manggut-manggut.
"Adalah baiknya buat Jiekohnio satu kali pergi melihat sendiri," kata ia ini. "Lebih cepat urusan ini dapat dipecahkan, lebih baik lagi. Hati kita pun akan lega kalau kita sudah dapat kenyataan Kiau Liong benar berada di
rumah suaminya dan ia benar sudi menjadi Lou siau-
naynay. Sesudah ini, kita masih ada punya urusan lain yang jauh terlebih penting."
"Benar!" menyahut Siu Lian, setelah ia menoleh sebentar pada Lee Hong. "Aku juga ingin urusan lekas dibuat terang, supaya aku bisa lantas ajak keponakanku pergi ke Hoolam
untuk mencari balas!"
Air mukanya Lee Hong menjadi guram, ia berpaling
kelain jurusan.
Selagi Siu Lian hendak berlalu, dari jendela terdengar
suaranya Siu Jie.
"Lau jieya datang untuk menemui looya!" kaia ia.
"Siapa itu Lau jieya?" tanya Siu Lian.
"Ia adalah Lau Tay Po," Siau Hong terangkan.
"Mau apa dia datang kemari" Jangan ketemui padanya!"
kata Tek toa-naynay.
"Dia tentu datang untuk urusan Kiau Liong ini," Siau Hong bilang. "Tentu dia ada dengar apa-apa. Cara
bagaimana kita bisa tidak ketemui padanya?"
Lantas saja orang Boan ini bertindak keluar, ia perintah Siu Jie sediakan kereta, untuk antarkan nona Jie pergi ke rumahnya Khu Kong Ciau, ia sendiri terus menuju ke
kamar tulisnya.
Di sana Lau Tay Po asyik berdiri menantikan di muka
tangga, melihat tuan rumah, ia lantas menegur sambil
memberi hormat.
Siau Hong lihat orang punya muka klimis, sebab
kumisnya,yang dipiara baru satu bulan, sudah dibuang
pula, dicukur licin.
"Eh, kenapa kau tidak piara kumismu?" tanya tuan rumah, yang silahkan tetamunya masuk ke dalam kamar.
"Sekarang kumisku itu sudah tidak ada perlunya lagi,"
Tay Po menjawab. "Aku piara kumis karena terpaksa, sebab ada orang siarkan cerita bahwa aku telah bawa minggat
Giok Kiau Liong, hingga tuduhan itu buat aku kelayapan
terus setiap malam. Dengan piara kumis sedikitnya ada
orang-orang yang tak kenali aku. Tapi sekarang Giok Kiau Liong sudah menjadi nyonya mantu yang sah dari keluarga
Lou, tuduhan terhadap diriku sudah sirna sendirinya, maka kumis itu sudah tak ada gunanya lagi! Mustahil orang polisi akan bekuk juga padaku" Laginya, aku menikah belum ada
satu tahun dan aku masih belum punya anak ... "
Siau Hong bersenyum.
"Bagaimana, kabar apa kau dengar di luaran?" kemudun ia tanya, dengan perlahan.
Justru karena ini maka sekarang aku datang pada kau,
ngoko," menyahut Itto Lianhoa, yang pun bicara dengan perlahan. "Tadi pagi-pagi, Giok Kiau Liong sudah pulang ke rumahnya sendiri, tetapi belum sampai ia dahar tengah hari, ia sudah kembali ke rumah mertuanya. Ia ada naik
kereta dan ada banyak orang polisi yang mengiring
padanya. Selagi ia turun dan kereta, orang dilarang
berkumpul di sekitarnya. Ini sebab, Toh Tau Eng dan
kawan-kawannya tak dapat kesempatan akan lihat padanya.
Aku percaya, Giok Kiau Liong ini bukannya Giok Kiau
Liong yang palsu. Menurut dugaanku, duduknya hal ada
begini: Pada itu hari, Anglian Gui Sam sudah tidak ikat
cukup keras pada Kiau Liong, ia bisa berontak dan loloskan diri dari ringkusan, maka sebaliknya, Gui Sam dan isterinya kena dibinasakan."
"Kalau begitu, jadinya itu orang-orang polisi yang
memakai yaupay yang kau ketemui itu hari adalah orang-
orang polisi palsu," Siau Hong bilang.
"Tidak salah lagi!"
"Tetapi Kiau Liong aneh! Jikalau ia memangnya sudi
menikah dengan Lou Kun Pwee, ia sebenarnya tidak usah
minggat. Sekarang sesudah minggat, kenapa ia mau pulang
lagi" Apa itu bukan mensia-sia usahanya Gui Sam" Kiau
Liong ada berbugee liehay, ia bisa buat apa ia suka."
"Pemandangan ngoko benar adanya," Tay Po manggut.
"ini adalah suatu rahasia dan aku masih penasaran, aku akan berdaya akan membuka tutupnya buli-buli. Aku
datang kemari pun buat satu urusan lain,yang sulit, untuk ini aku mau minta bantuanmu, ngoko ... "
"Urusan apakah itu?" Siau Hong tanya.
"Ialah urusannya kita punya Hou-ya. Ketika ia dengar hal pulangnya Giok Kiau Liong, ia jadi seperti orang gila
yang kalap. Tadi ia nyatakan bahwa sebentar malam ia
hendak binasakan Lou tiehu! Aku menyesal yang aku telah
kembalikan golok mustikanya. Ia juga ada punyakan
beberapa puluh batang panahnya. Cara bagaimana kita bisa cegah ia?"
"Kalau begitu pergi kau lekas cari Sun Ceng Lee di
Tayhin Piautiam dan Su Poancu di Pweeshia-mui ... "
"Su Poancu tidak ada gunanya, ia ada terlebih buruk dari pada aku. Sekarang ini ia bergaul sangat rapat dengan Lo Siau Hou, kalau malam berdua mereka sama pergi minum
arak, berdua mereka sama-sama menyatroni rumah
keluarga Lou, untuk menyelidiki Kau Jie Chiu juga ada di pihak mereka, mereka merupakan komplotan, kalau bicara,
mereka lakukan itu di belakangku ... "
' Nah, carilah Sun Ceng Lee!" Siau Hong bilang.
Lau Tay Po goyang kepala.
"Ia ada seorang tak sabaran," ia kata. "Jikalau ngoko perintah ia pergi menghajar orang, itulah cocok, tetapi
kalau ia diwajibkan menjagai orang, siang dan malam,
cade! Ia mana bisa tahan sabar?"
Siau Hong jadi berpikir.
"Siau Hou ada seorang dewasa, memang ada sukar
untuk larang ia bergerak," ia kata. "ia harusnya dikasih mengerti tentang hebatnya urusan, asal ia bisa dikasih
mengerti, ia bisa dinasehati untuk jangan turun tangan
secara sembarangan. Urusan ini tidak mengenai langsung
kepada diriku, kalau toh aku mau turut campur, itu
disebabkan keluarga Giok ada baik terhadapku, hingga
adalah pantas jikalau aku bantu lindungi Giok Kiau Liong.
Di sebelah itu, aku pun perlu lindungi Siau Hou sendiri, sebab adik kandungnya adalah nona mantuku. Kasihan
Siau Hou, adiknya, Yo Pa yang gagah, telah binasa, dan
sakit hati ayah dan ibunya masih belum terbalas. Lihat saja Kho Long Ciu, Yo Kong Kiu dan Jie Siu Lian, mereka
semua ada orang-orang yang harus dihargai karena mereka
bersimpati terhadap keluarga Yo yang bernasib malang itu.
Kalau mereka itu suka membantu, apapula aku, yang
menjadi sanaknya. Walau bagaimana, aku harus lindungi
Siau Hou, aku mesti cegah ia lakukan tindakan yang
akibatnya bakal buat ia celaka. Maksudku adalah Yo Siau
Hou dapat dikasih mengerti, supaya ia bisa bikm
pembalasan, supaya kemudian ia bisa kembali pada
keluarga Yo, untuk sambung turunan ... "
"Kau bijaksana, ngoko, aku kagumi padamu!" Tay Po memuji. "Bagaimana sekarang" Siau Hou nampaknya
sudah nekat."
Siau Hong kerutkan alis. Urusan benar-benar sulit dan
sukar. "Pergi cari Sun Ceng Lee, aku akan pikir lebih jauh,"
akhirnya ia kata pada Itto Lianhoa.
Tay Po menurut, ia lantas berlalu. Di luar, ia justru
ketemu nona Jie, yang lagi naik kereta, buat pergi ke
rumahnya Khu Kong Ciau.
"Kau semua harus sabar," kata si nona. "Sekarang aku mau pergi tengok ia, sesudah aku kembali, kita nanti
berdamai pula."
Tay Po menurut.
"Baiklah, nona," ia menjawab.
Keretanya Siu Lian dijalankan, sesampainya di jalan
besar, nona itu perintah turunkan tenda. Dengan begini,
dari dalam ia bisa mengintip ke luar sedang orang luar tak bisa lihat ia.
Tidak lama kereta, dari Kota Timur, telah sampai di Pak-
kau-yan di Kota Barat, sampai di depan gedungnya
keluarga Khu. Siu Lian turun dari kereta dengan pesan
kusir untuk tinggalkan ia, kemudian ia bertindak masuk.
Di muka pintu ada beberapa bujang perempuan.
"Apakah siau-naynay ada di rumah?" tanya nona kita sambil bersenyum.
"Siapa kau, nona?" tanya mereka itu, yang belum kenal nona tetamu ini.
"Aku ada orang she Jie."
"Baik nona tunggu sebentar, aku akan mengasih kabar dahulu," kata satu bujang, yang lantas masuk ke dalam.
Siu Lian bertindak ke dalam dengan perlahan-lahan.
Justru itu dari ruangan utara, kereta tersingkap dan dari situ keluar seorang lelaki usianya kira-kira tiga puluh tahun, pakaiannya rapi dan mewah, sebab ia ada Khu Kong Ciau
sendiri. "Oh, Jie kounio," ia kata seraya menyambut sambil
manggut, sikapnya hormat sekali.
Siu Lian merandek, ia lekas membalas hormat
"Bou Pek pun ada di situ!" kata pula tuan rumah, sambil bersenyum. "Marilah!"
Hampir di itu waktu, Bou Pek kelihatan bertindak
keluar. Ia ada pakai baju biru dan menyekal kipas.
Kemudian, bertiga mereka masuk ke ruangan tetamu
yang kecil. Di situ tidak ada lain orang, Siu Lian lantas kata pada
tuan rumah: "Aku datang untuk minta enso ajak aku pergi lihat Giok Kiau Liong."
"Kita pun sedang bicarakan urusan itu," Kong Ciau
bilang, "Ia ada seorang perempuan, memang cuma kounio yang bisa ketemui ia, hingga kau bisa bicara dengan leluasa.
Bou Pek pikir untuk tidak desak lagi pada itu nona, asal ia suka kembalikan Cengbeng-kiam."
"Tapi urusan masih belum tahu bagaimana duduknya,"


Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Siu Lian nyatakan. "Lucu adalah Tek ngoso, ia tidak percaya yang aku telah ketemui Kiau Liong di Kielok,
bahwa kita telah kepung-kepung padanya. Pasti sekali aku tidak bisa percaya kalau dibilang Kiau Liong sakit begitu lama dan baru sekarang sembuh! Untuk dapat kepastian,
aku mesti lihat sendiri padanya."
"Sebenarnya enso-mu mau menyambangi ini hari, tetapi dikuatirkan Kiau Liong pulang ke rumahnya sendiri," Kong Ciau kata.
"Menurut katanya Tay Po, ia sudah kembali dari
rumahnya," Siu Lian kasih tahu.
"Kalau begitu, biarlah
ini hari enso-mu
pergi menyambangi. Apa pihak Lou tidak bercuriga kalau kau
turut pergi?"
"Aku akan turut dengan menyamar sebagai budak," kata Siu Lian sambil bersenyum.
Kong Ciau tertawa.
"Tapi kita punya hanya empat budak dan semua mereka itu sudah dikenal pihak Lou!" ia kata.
"Kiranya itu bukannya soal ... " Siu Lian bilang.
"Aku lihat urusan ada tidak begitu sederhana
sebagaimana yang kita pikir," berkata Bou Pek. "Aku percaya di pihak Lou sekarang ada seorang yang hebat
melebihi Giok Kiau Liong, kalau tidak, tidak nanti Kiau
Liong mau tunduk, menyerah kembali ke rumah
mertuanya. Maka itu, adikku, kalau kau pergi ke sana, kau harus berlaku hati-hati."
Siu Lian tercengang, ia anggap dugaannya Bou Pek
beralasan. Itu waktu, bujang perempuan yang tadi telah datang
masuk. "Siau Hoaynay minta nona Jie masuk," kata bujang itu.
Siu Lian manggut.
"Aku ke dalam dulu," ia kata pada Kong Ciau dan Bou Pek. "Asal enso suka keluar menyambangi Kiau liong, dan aku dapat bertemu padanya, aku rasa aku akan berhasil
memperoleh keterangan."
"Menurut Yo Kian Tong, yang dengar itu dari Lo Siau Hou sendiri," berkata Bou Pek, "kepandaiannya Giok Kiau Liong benar didapat dari bukunya Ah Hiap. Buat beberapa
puluh tahun, pehu Kang Lam Hoo telah pergi merantau,
tujuannya yang utama adalah mencari dua jilid bukunya Ah Hiap itu. Maka itu, adikku, jikalau kau berhasil mencari tahu halnya Kiau Liong dan dapatkan kedua kitab itu, asal ia suka kembalikan Cengbeng-kiam, aku tentu tak usah
pergi sendiri padanya akan minta dua rupa barang itu. Ia sekarang telah menjadi satu nyonya yang terhormat, lebih-lebih aku tak sudi tempur padanya."
Siu Lian manggut pula.
"Baik, aku tak akan lupa," ia kata. Terus ia ikut bujang itu masuk ke dalam.
Kong Ciau dan Bou Pek awasi orang berlalu, lantas
mereka duduk pasang omong.
"Bugee dari Kiau Liong jarang ada tandingannya, sayang sepak terjangnya harus dicela," kata Bou Pek.
Kong Ciau tidak tahu hal bugee-nya nona Giok, tetapi
karena ia percaya pemuda she Lie ini, ia manggut.
"Sekarang Pweelek-ya ingin aku sering berdiam di sini,"
Bou Pek berkata pula. "Kedudukannya telah jadi semakin tinggi dan mulia, dua kali ia sudah alami pencurian pedang oleh Giok Kiau Liong, nampaknya ia ada sedikit jeri.
Maksudnya adalah agar aku melindungi padanya.
Permintaannya itu ada satu soal sulit bagiku. Aku tidak
sangsi yang Pweelek-ya akan perlakukan sangat baik
padaku, akan tetapi dengan meluluskan ia, lenyaplah
kemerdekaanku. Bukan aku artikan bahwa aku akan
dikekang, tetapi adalah aku sendiri, yang mesti perbataskan kemerdekaanku itu, hingga aku tak leluasa lagi akan pergi ke mana aku suka, sedang sudah bertahun-tahun aku hidup
merdeka. Dengan berdiam di Pakkhia, aku tak bisa pesiar
lagi. Bagaimana?"
"Dan bagaimana kau pikir?"
"Aku berniat pujikan satu atau dua orang, untuk
gantikan aku." Selagi mereka bicara, satu bujang
perempuan datang dengan wartanya bahwa siau-naynay
hendak berangkat, maka itu, Kong Ciau dan Bou Pek
berbangkit akan memandang ke luar jendela.
Khu siau-naynay berkonde Liang-poan-tau yang tinggi,
bajunya ada kiepau hijau muda, tangannya menyekal kipas
kecil mungil. Ia ada diiring oleh tiga budak perempuan,
yang satunya ada pakai baju dan celana gwee-peh,
rambutnya disisir model Sou-cu-tau. Ia ini masih muda,
tindakannya elok. Dan ia ada nona Jie.
Kong Ciau tertawa melihat dandanannya nona gagah
itu, Bou Pek bersenyum dan manggut-manggut.
"Saudara Bou Pek, kau ada sedikit terlalu berkukuh!"
tiba-tiba Kong Ciau kata pada sahabatnya, pada siapa ia
berpaling sambil tertawa. "Kenapa kau tidak mau menikah pada nona itu" Di kolong langt ini, tidak lagi ada pasangan yang lebih sembabat dari pada kau ini! Aku ada seorang
dengan pemandangan biasa, maka aku pikir baiklah kau
terima tawarannya Tiat pweelek, akan kau tinggal dikota
raja itu, nanti aku timbulkan soal lama, ialah supaya kau dan Siu Lian menjadi pasangan, guna mengisi lowongan itu yang lama tinggal lowong saja ... Dengan begitu, kau jadi tidak usah merantau terus-terusan. Lihatlah Giok Kiau
Liong, ia yang begitu binal, masih suka bertunduk, akan
menjadi isteri orang! Siapa tahu bahwa ia sudah bosan
dengan perantauan" Buat manusia, bersuami isten dan
berumah tangga adalah syarat terpenting!"
Tapi Lie Bou Pek goyang kepala buat usul itu yang
keluar dari hati yang tulus.
"Kau tak mengerti aku!" demikian jawabnya, dengan ringkas.
Dua kereta keledai di luar, yang muat Khu siau-naynay
dan budak-budaknya, sudah pergi jauh. Karena rumahnya
keluarga Lou tidak jauh, belum seberapa lama, mereka
sudah sampai di tempat yang dituju. Di depan gedung
sudah ada kereta dan joli lainnya.
Siu Lian loncat turun paling dahulu, ia pegangi Khu
naynay. Satu budak lain pun menghampiri, tetapi berdekatan
dengan nona Jie, ia berlaku sungkan, maka nona itu lantas mengawasi ia dengan mata tajam.
Kyonya Khu telah berlaku dengan sikap biasa saja, ini
ada perlu untuk peranannya, agar orang tidak curigai Siu Lian, yang mesti bersandiwara sebagai budak tulen.
Hampir berbareng dengan itu, ke depan gedung pun ada
datang satu pedagang yang membawa keranjang, ketika ia
teriaki dagangannya dengan suaranya yang nyaring,
beberapa bujang lelaki hampirkan ia.
Ia ada seorang dengan tubuh gemuk, dagangannya ayam
panggang. Di lain sebelah ada satu penjual bunga melati
dan beberapa budak perempuan kerubungi ia buat membeli
bunga. Ia beroman sebagai kunyuk. Ketika Siu Lian lewat, ia buka mulutnya, mementang suaranya yang nyaring.
"Kembang melati! Kembang melati! Kembang melati yang wangi sekali!"
Satu orang, yang dandan sebagai hamba negeri, datang
menghampiri. "Di muka gedung dilarang berteriak keras-keras!" ia menegur. "Atau, kau pergi."
Sementara itu dua budak, yang menyukai bunga, telah
samperi nyonya Khu, yang ia sambut dengan selamat
datang. Hanya, ketika mereka lihat Siu Lian, mereka
mengawasi. Nona kita tidak gubris budak-budak itu, ia pimpin terus
nyonya Khu masuk ke dalam. Empat orang polisi yang
berada di muka pintu, sudah lantas menyingkir ke samping, di situ mereka berdiri diam dengan sikap menghormat.
Siu Lian tahu, mereka itu ada opas atau pengawal
gedungnya tiehu. Ia tidak sangka, yang di gedung satu tiehu ada penjagaan demikian keras.
Satu budak lantas lari untuk mengasih warta, sedang dua
budak lain, lantas membuka jalan di sebelah depan.
Nyonya Khu gunakan ketika akan bicara dengan dua
budak itu. "Aku baru saja dengar bahwa nona pengantin telah
sembuh dari sakitnya, aku lantas datang menyambangi," ia kata. "Nona itu dan aku ada punya perhubungan yang
sedikit luar biasa. Di sini, aku dan ia, ada encim dan nona mantu keponakan, tetapi di rumahnya sendiri, kita ada
sebagai encie dan adik. Inilah sebabnya mengapa aku sudah perlukan lantas datang menengoki."
"Sakitnya siau-naynay kita ada luar biasa," menyahut satu budak. "Kalau dikata sakit, ia memang suka pingsan, tetapi kalau dikata baik, ia sembuh dengan mendadakan.
Beruntung yang kita telah dapatkan pertolongannya
hongthio dari kelenteng Thay Kek Koan, yang telah berikan dua lembar hu, yang dijahit di bawahan sepatu. Karena
adanya surat jimat itu, siau-naynay menjadi sembuh ..."
"Surat jimatnya imam itu benar-benar lengkam," kata budak yang kedua, "Pantas kalau ia disebut Lao Sinsian."
Mereka sudah sampai di pintu Suihoa-mui, di situ ada
kamar tetamu, di dalam kamar itu ada terdengar suaranya
beberapa orang lelaki. Siu Lian tahu, juga ada para tetamu lelaki yang datang untuk memberi selamat pada Lou Kun
Pwee. Ia belum pernah ketemu Lou tiehu, ia ingin lihat
macamnya orang she Lou itu.
Mereka jalan terus, sampai mereka disambut oleh Pit
Mama, ialah kuasa rumah bagian pedalaman dari Lou-hu.
Ia ini ada membawa dua budak. Mereka menyambut
dengan hormat. "Apa toasiau-nay-nay ada baik?" tanya Pit Mama.
"Thaythay kita ada di dalam sedang melayani tetamu. Ada datang naynay dari Thian Kong-ya dan hujin dari Siau
giesu. Apakah loa-siau-naynay kenal mereka itu?"
Nyonya Khu geleng kepala.
"Aku tidak kenal mereka," ia menyahut. "Biar thaythay layani para tetamunya, jangan ganggu ia, aku datang
melulu untuk tengok siau-naynay."
Pit Mama manggut.
"Baiklah," ia kata. "Tadi pun ada datang tujuh atau delapan tetamu, semua mereka tak dapat bertemu dengan
siau-naynay. Tadi pagi siau-naynay pulang ke rumahnya,
belum lama ia kembali kemari, karena ia baru sembuh, ia
ada sangat letih. Sekarang tentu ia sedang tidur di
kamarnya."
"Ia tidur, tidak apa," berkata Nyonya Khu. "Kita ada lain dari pada yang lain, ia sakit sekian lama, aku tidak datang menengoki. Mari kau antar aku!"
Bujang tua itu belum menyahuti, atau tetamunya sudah
tambahkan. "Di mana kamarnya siau naynay?"
Pit Mama bersangsi, karena ia tak berani cegah ini
nyonya bangsawan.
"Sakitnya siau-naynay boleh dibilang baru sembuh tujuh atau delapan bagian," kata ia dalam kesangsiannya, "maka itu, ketika Thian toa-naynay dan Tiothaythay datang,
mereka tidak dapat menemui ... "
Nyonya Khu kasih lihat roman tidak puas.
"Masa bodoh lain orang tetapi aku mesti diantar
kepadanya," ia kata.
Pit Mama terdesak, maka ia kedipi mata pada satu
budak, siapa sudah lantas lari pada Lou thaythay ia sendiri lantas ajak tetamunya pergi ke ruangan utara, di situ ada lima kamar, kamar yang terdalam adalah kamar pengantin,
ialah kamarnya Giok Kiau Liong. Itu adalah kamar yang
terperlengkap dan indah, ditembok luarnya masih ada lian
dan sepasang huruf "Hie" dan lain-lain, yang mengingatkan orang akan hari pernikahan yang baru saja lewat. Hanya
sekarang di situ ada tambah meja abu di mana ada dipuja
malaikat Hokmo Taytee serta Koan-im Loobo, dan di
bawah pelita suci ada tertindih macam-macam surat jimat, sedang Thiejie-ie dan si imam ada terletak di atas meja.
Khu naynay masuk dengan diikuti terus oleh tiga
budaknya, satu di antara siapa ada Jie Siu Lian, maka
diam-diam nona kita ini tumplekkan antero perhatiannya.
Nona Jie pun ada bawa-bawa Khu naynay punya kantong
tembakau Cui Gin Yan-tay, yang biasa dibawa oleh Thio
Mama, sekarang sengaja ia yang mewakilkan, untuk
mencegah orang tak ijinkan ia masuk andaikata pihak Lou
mengadakan rintangan.
Dimuka kamar. Pit Mama yang masuk terlebih dahulu,
segera satu budak perempuan muncul, akan singkap muilie, maka Kiau Liong lantas tertampak. Ia ada berkonde liang-poan-tau, di situ ada bunga dan burung-burungan hong
yang indah, kiepau-nya berwarna merah, kancingnya
digantungi kumala "Jie Liong hiecu", sepasang naga mainkan mustika, sedang sepatu sulamnya ada dari dasar
tebal. Ia duduk menyender di atas pembaringan. Ia ada
Giok Kiau Liong yang tulen. Pada mukanya potongan
kwaci, ia ada pakai yancie yang merah marong, sepasang
alisnya pun disipat, hingga kelihatan nyata keelokannya.
Benar ia ada perok, seperti bekas habis sakit, sedang kedua matanya ada bersinar guram, tanda dari kedukaan.
Kapan nona Giok lihat Khu naynay, dengan tandanya,
budaknya pimpin ia bangun untuk ia mengasih hormat. Air
matanya lantas saja menetes dengan perlahan.
Nyonya Khu kaget berbareng berduka.
"Duduk, duduklah!" nyonya ini mencegah. "Kau baru sembuh, jangan buat capai dirimu!"
Dan ia pegang kedua tangannya, Kiau Liong yang
ditabur dengan gelang dan cincin. Tangan itu ada kecil
seperti biasa tetapi telapakannya ada sedikit kasar.
"Inilah tentu sebab selama ini ia telah buat main
pedangnya ... " pikir Khu naynay.
Nyonya Khu Kong Ciau bercuriga berbareng merasa
terharu sekali.
Budak kasihkan nonanya saputangan, untuk susut air
matanya. Sehabisnya susut mata, Kiau Liong memandang keluar,
kedua matanya lantas saja terbuka lebar, ketika ia dapat lihat budak kepercayaannya Khu naynay yang berdiri di
muka pintu. Siu Lian lantas bertindak masuk, ia kasih hormat pada
nyonya rumah. "Siau-naynay," ia kata sambil tertawa.
Air mukanya Kiau Liong menjadi sungguh-sungguh, ia
manggut sedikit, lantas ia menoleh.
Sebagai juga ia ada satu hamba yang mengerti
kewajibannya, Siu Lian isikan huncwee dari nyonyanya,
siapa duduk di atas pembaringan, berendeng dengan Kiau
Liong. "Sebenarnya sudah dari siang-siang aku hendak
sambangi kau," kata Khu Siau-naynay; "niat itu terpaksa aku batalkan sebab aku dengar baik mertuamu maupun
ibumu menampik sesuatu kunjungan, katanya kau terkena
gangguan iblis, sampai kau ada kalanya pingsan, tak ingat suatu apa, atau lain waktu kau kalap dan ngaco tidak
keruan, hingga orang dilarang ketemui kau, sedang orang
pun tidak berani tengok padamu. Sebetulnya hatiku tidak
tenteram. Sejak kau kembali dari Sinkiang, di kota raja ini, ada siapa lagi yang perhubungannya melebihi rapatnya dari pada kita berdua?"
Kiau Liong tidak menyahut, air matanya turun terus,
membasahi tangan bajunya.
Khu naynay ambil saputangannya, buat dipakai
menyusut air mata itu.
"Selama satu bulan ini, kita selalu berada dalam
ketakutan," Pit Mama campur bicara. "Kamar ini setiap hari diganggu iblis. Satu waktu pigura jatuh sendiri dan tembok, lain kali burung nuri nangis sendirinya ... "
"Apakah kau tidak kehilangan kucing?" Siu Lian pun campur bicara.
Pit Mama melengak. Ia tak mengerti pertanyaan itu.
"Kita undang pendeta, tidak ada artinya, kita undang imam, sama saja," kata ini kuasa perempuan, yang
melanjutkan pembicaraannya.
"Kita membakar kertas dan memasang hio, juga tak ada faedahnya. Sampai pun dibantal kita taruhkan jimat dan di selimut kita tempelkan gambar malaikat, masih saja tak ada gunanya. Kesudahannya adalah itu sepasang sepatu, yang
memberi hasil, di dasarnya itu kita lapis dengan surat jimat yang ditulis dengan cusee ... "
"Cobalah pakai sepatu sebelah, tentu lebih berhasil!" Siu Lian nyeletuk pula.
Kembali Pit Mama melengak.
"Eh, mengapa ini budak banyak mulutnya?" pikir ia.
Khu Siau-naynay lantas melirik dan kedipi mata pada
nona Jie. "Tempo sebelumnya menikah," kata pula Pit Mama,
"memang pihak besan sudah beri tahukan, selama di
Sinkiang, siau-naynay ada bertubuh lemah dan sering sakit
... " "Aku tahu baik tentang Sinkiang," Siu Lian turut bicara pula. "Di sana kalau awan satu kali bergerak, lantas setengah langit jadi kehalangan! Di atas gunungnya,
harimau besar dan harimau kecil pun ada. Lebih-lebih
berandal, banyak sekali, mereka membunuh orang, melepas
api, melepas panah! Mereka itu pandai merampas kuda,
panjat pohon, sampai sepatunya copot dan hilang! ... "
Tiba-tiba tubuhnya Kiau Liong rubuh ke pembaringannya.
Pit Mama kaget, sampai ia berteriak.
"Oh, siau-naynay kau kenapa" Siau-naynay, siau-
naynay."

Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Khu naynay juga kaget, ia lekas pegang tangan Kiau
Liong yang digoyang-goyang.
Juga dua budaknya nyonya rumah ada kaget sekali.
Kiau Liong rebah sampai kembang dan kondenya jatuh,
sepasang matanya terbuka besar-besar, kedua bibirnya
rapat, tergigil keras.
"Jangan ribut," akhirnya Pit Mama pesan dua budak.
"Kalau thaythay ketahui ini, hebat."
Sekonyong-konyong Kiau Liong berbangkit, ia bangun
secara mendadakan, sampai kembang di kondenya
bergerak-gerak.
"Hebat apa?" ia kata dengan gusar.
"Syukur, syukur ... " kata Pit Mama. "Syukur kau sadar, siau-naynay, kalau tidak, celaka kita ... Dasar dia ini banyak bicara ... " ia tambahkan, seraya menunjuk Siu Lian, "ia ngaco ... "
"Ia ngaco?" Kiau Liong membentak. "Justru kau yang ngaco belo! Hayo, keluar kau semua!"
Perintah itu dibarengi dengan gaplokan, sampai Pit
Mama menjerit dan tekapi pipinya, bersama-sama dua
budak ia lari keluar, ia masih teraduh-aduh ...
Kiau Liong mengawasi ke luar, sampai ia lihat budak-
budaknya sudah pergi jauh. Lantas ia menoleh pula.
"Mengapa kau masih mendesak aku?" ia kata, dengan perlahan. "Kau lihat, kedudukanku telah menjadi begini rupa ... "
Mukanya Khu naynay pucat, ia tak tahu mesti bilang
apa. Melainkan Siu Lian, yang tetap tabah.
"Sebenarnya, apakah sudah terjadi?" ia tanya nona Giok.
"Beritahukanlah, barangkali kita bisa bantu pada kau!"
Kiau Liong goyangi tangan.
"Siapa juga tak usah bantu aku!" ia kata. "Aku tak mau minta bantuan siapa juga! Aku hanya mohon kau menaruh
belas kasihan padaku, jangan setiap malam kau datang
mengganggu aku ... Umpama kau paksa aku, sampai aku
binasa, itu tidak ada faedahnya bagimu!" Lalu ia menoleh pada Khu naynay. "Aku minta kau lekas pulang,
selanjutnya jangan kau datang tengok pula padaku, kau
tidak usah terembet-rembet. Di antara kaum keluargaku dan kaum keluarga di sini entah apa yang akan terjadi terlebih
jauh. Sungguh jelek andaikata kau sampai kena tersangkut
... " Di luar jendela terdengar suara riuh, tindakan dan
banyak kaki. Kiau Liong lantas berhenti bicara, dengan perlahan ia
goyang tangan. Ia jumput bunga yang terjatuh di
pembaringan, akan ditancap pula dikondenya.
Siu Lian berlaku sabar, ia berpura-pura isi huncwee-nya
Khu naynay, apinya ia nyalakan.
Cepat sekali, Kiau Liong kasih lihat air muka gembira,
hingga ia bisa bicara sambil bersenyum-senyum dengan
Khu naynay. Segera juga di muka pintu muncul Lou Kun Pwee,
dengan gusar ia menendang kere.
Siu Lian menoleh, matanya terbuka, tetapi Khu naynay
yang awasi ia, tarik tangannya. Meski demikian, ia sudah dapat lihat romannya Lou Tiehu, suami dan Giok Kiau
Dong atau Naga dari Sinkiang yang cantik sekali.
Berdiri di muka pintu, Lou Kun Pwee mirip dengan
sebuah pagoda yang besar, malah tubuhnya
ada kegemukan, hingga ia tak mirip dengan pagoda yang
umum. Hidungnya melesek, matanya kecil, sedang
mukanya ada lebar, seperti semangka. Ia pakai thungsha
dan sutera, makwa-nya hijau. Ketika ia bertindak masuk,
kepalanya ditunduki, tubuhnya ikut membongkok. Tadi ia
ada gusar, tetapi kapan ia lihat Khu naynay, ia tak berani umbar amarahnya. Malah ia mengasih hormat pada itu
nyonya bangsawan.
"Encim!" ia memanggil. "Apakah paman Kong ada
baik" Kenapa ini hari paman tidak turut datang?"
Khu naynay, sebagai bibi, diam saja, hanya ia hisap
huncwee-nya. Lou Kun Pwee menoleh pada Kiau Liong, isterinya yang
cantik manis, tetapi isteri itu buang muka ke lain jurusan.
Ketika ia mengawasi Siu Lian, ia agaknya terkejut. Ia
belum pernah lihat budak pihak Khu ini, yang nampaknya
manis romannya. Itu waktu Pit Mama datang pula bersama
dua budak. "Begitu siau-naynay marah, ia lantas gaplok padaku,"ia kata. Tapi Kun Pwee menoleh dengan mata
melotot pada bujang tua itu.
"Kau juga ada menjemukan!" majikan ini menegur. "Di depan majikanmu ada tetamu, siapa suruh kau sebagai
bujang berani banyak mulut" Di gedung siapa ada aturan
semacam ini?"
Siu Lian hendak angkat tangannya, tapi Khu naynay
tahan tangan itu.
"Di depanku, kau mesti kira-kira!" kata Khu naynay
pada baba kemantin itu.
Tapi Kun Pwee sedang sengit, ia tertawa, ia bawa
tingkah jumawa, "Ini ada di dalam rumahku, disini adatku biasa berkobar!" ia kata.
"Ya, ini ada rumahmu, tetap ia ini ada Kiau Liong,
adikku." "Ia adalah isteriku!" sahut Kun Pwee sambil angkat dada.
Baru saja suara sombong itu diucapkan atau kepalannya
Siu Lian sudah menyambar dada.
"Benda apa adanya kau maka kau berani banyak tingkah di depanku?" ia membentak.
Nona Jie hampir gunakan pula tangannya tetapi Kiau
Liong mencegah, hingga ia jadi heran, ia awasi nona itu
dengan tajam. Akhirnya ia bersenyum dingin.
Meski ia mencegah, air mukanya Kiau Liong ada guram,
tanda dari terlukanya hatinya.
Pit Mama kaget, sambil menjerit ia lari keluar, sedang
dua budak, pergi menyingkir.
Kun Pwee telah mundur beberapa tindak, tubuhnya
rubuh ke atas kursi, mukanya menjadi sangat pucat, kedua tangannya ada di dadanya, mulutnya keluarkan rintihan. Ia merasa sakit karena jotosan itu.
"Bagus, bagus!" ia kata kemudian. "Kau hambanya keluarga Khu berani pukul aku!"
Khu naynay berbangkit dengan gusar, ia serahkan
huncwee pada Siu Lian.
"Mari kita pergi!" ia kata pada kawannya itu, tangan siapa ia tarik, ia menoleh pada Kiau Liong seraya teruskan berkata; "Adikku, kau legakan hati! Kau jangan takut, andaikata orang perlakukan sewenang-wenang padamu,
biar pihak ayah dan ibumu tidak mau tahu, akulah yang
nanti bela padamu!"
Lantas ia berlalu dengan kemurkaannya.
Justeru itu Lou thaythay datang bersama serombongan
budaknya, air mukanya tak sedap untuk dipandang.
"Ada terjadi apa, he?" ia menegur. "Nyonya mantuku baru saja sembuh, orang boleh tengoki ia, tetapi meski
demikian, walaupun sanak dekat, orang mesti mengerti
sedikit aturan!"
"Aku datang kemari bukan untuk bicara aturan!" Khu
naynay menyahut. "Aku datang untuk menengoki adikku
Kiau Liong, buat bela padanya! Sudah satu bulan ia
dikeram di sini, ia tak boleh ketemui orang, maka siapakah yang tahu pasti bahwa ia benar-benar sedang sakit atau
sedang ditahan?"
"Kejadian ini ada diketahui oleh pihak orang tuanya,"
Lou thaythay kata. "Ayah dan ibunya masih hidup, dua engko-nya tiehu juga bukannya tuli atau buta, Urusan kita kedua keluarga, lain orang tak berhak untuk campur tahu, kau dari pihak Khu tidak ada sangkutannya!"
Siu Lian jadi gusar, hingga ia kepal tangannya.
"Pihak Khu justru hendak campur tahu!" ia kata dengan keras, sambil mata melotot. "Kau, benda tua, jangan banyak bicara!"
Lou thaythay mundur bahna kaget.
"Oh, oh, dari mana datangnya ini perempuan?" ia
berseru. "Ia ada terlebih galak dari pada majikannya! Pantas Khu naynay datang dengan tak ketemui aku lagi, kiranya
dia bawa-bawa tukang pukul."
Kedua tetamu, Thian thaythay dan Siau hujin masih
belum pulang, mereka datang bersama-sama, mereka hanya
sampai belakangan, tapi sekarang mereka lantas menyelak
sama tengah. Khu naynay kuatir Siu Lian menyerang pula, dan ia juga
tak ingin derajatnya nanti ternoda, setelah kedua nyonya itu datang memisahkan, lantas saja ia ajak Siu Lian bertindak ke luar. Tapi ia masih mendelu.
Di pekarangan ada si tukang panggang ayam, entah
bagaimana, dia ini berjualan sampai di dalam.
Khu naynay lantas naik keretanya, yang ia perintah kasih jalan dengan cepat, kereta budaknya segera menyusul.
Di sebelah luar masih ada si tukang jual bunga dengan
romannya sebagai kunyuk, ia memburu kepada keretanya
Siu Lian. "Nona, nona! Apa nona tidak mau beli kembang melati?"
Kereta dilarikan terus tetapi tukang kembang ini terus
mengikuti. Siu Lian masih mendongkol, tapi ia melongok pada
tukang kembang itu seraya berkata:
"Kasih tahu Lau Tay Po supaya ia jangan rintangi lagi sepak terjangnya Lo Siau Hou. Biar Siau Hou buat apa ia
suka! Lepaskan padanya! Apa juga bakal terjadi, aku akan bertanggung jawab."'
Baru setelah mendengar itu, si kunyuk berhenti berlari.
Kusir menjadi heran tetapi ia diam saja.
Khu naynay heran tetapi ia diam saja.
Khu naynay tarik tangannya nona Jie, hingga ia itu
ngelepot. "Siapa itu si tukang kembang?" nyonya itu berbisik dikuping orang.
Siu Lian menyahuti, dengan sama perlahannya, "Ia
adalah Kau Jie Chiu, muridnya Lie Bou Pek."
"Baik kau sabar," kata Khu naynay. "Aku lihat urusan ada sulit, ada memusingkan kepala. Entah apa akan terjadi.
Sudah terang Giok Kiau Liong tidak kesudian menjadi
nyonya mantu orang tetapi ia agaknya tidak berdaya. Aku
menyesal yang tadi aku pun sudah tidak sanggup
kendalikan diri lagi, kalau tidak, tentunya aku bisa minta keterangannya Kiau Liong. Mesti ada apa-apa yang
membuat ia jadi bersikap begini lemah. Apakah hebatnya
Lou Kun Pwee, hingga ia bisa buat Kiau Liong jeri" Meski bagaimana, Kiau Liong mesti ditolongi ... "
Siu Lian tidak kata apa-apa, akan tetapi ia berpikir.
Ucapan nyonya Khu ini ada benarnya. Mesti ada sebab
untuk kelemahannya Kiau Liong itu.
Sementara itu kereta sudah sampai di rumah.
Itu waktu Lie Bou Pek masih berada di dalam rumah itu.
Khu naynay dan Siu Lian turun dengan cepat dari
kereta. Nyonya itu tidak menunggu sampai ia sudah
rombak konde hang-poan-tau-nya dan Siu Lian tidak mau
buang tempo akan salin pakaian lagi, berdua mereka
langsung menuju ke kamar tetamu setelah Khu naynay
suruh budak-budaknya masuk terus ke dalam.
Khu Kong Ciau dan tetamunya sambut itu nyonya dan
nona. Khu naynay udak memberikan tempo akan tuturkan apa
yang kejadian di rumahnya Lou Kun Pwee.
Khu Kong Ciau turut mendongkol, akan tetapi ia masih
bisa bersenyum.
"Aku tidak sangka Lou Kun Pwee ada punya itu
kepandaian akan pengaruhi Giok Kiau Liong," ia kata.
"Nyata benar apa yang saudara Bou Pek bilang. Sekarang kita mesti bekerja, tetapi lebih dahulu baiklah kita
benstirahat dua hari. Aku pikir aku akan peroleh daya."
Selama itu, Bou Pek diam saja.
Khu naynay masih penasaran, ia masih bicara Siu Lian
pun tidak gampang-gampang
bisa lenyapkan kemendongkolannya.
Kong Ciau hiburkan dua orang itu sampai mereka suka
masuk ke dalam, untuk salin pakaian.
Bou Pek masih berdiam sampai ia sudah bersantap sore,
baru ia pulang. Ia pulang ke Pwcelek-hu, terus sampai
malamnya, ia tidak lakukanapa juga. Tidak demikian
dengan Lau Tay Po, Su Poancu si tukang ayam panggang,
Kau Jie Chiu si tukang kembang melati, dan Siu Lian yang hatinya panas. Begitu juga Lo Siau Hou, si pemuda kalap ...
Karena ini semua seperti juga mereka sedang perlihatkan
ilmu kepandaian mereka di sekitar gedungnya Lou tiehu.
Malam itu, gedungnya keluarga Lou penuh dengan
tentara, terutama di depan, api ada terang seperti siang. Di belakang, di samping kiri dan kanan, di pojok mana saja, api lentera ada menggenclang. Tukang-tukang ronda
menjaga dengan rondai tetap, setiap gilirannya, berganti orang. Suara kentongan berbunyi pada saat-saat yang tentu.
Di sebelah itu, empat puluh orang polisi jalan mundar-
mandir di sekitar gedung.
Kebalikan dari itu semua, di dalam rumah, dan tiap-tiap
kamar atau ruangan, tidak ada sinar api sedikit juga. Nyata penjagaan ada sangat rapi.
Tak peduli bagaimana rupanya penjagaan, tidak urung
Siu Lian bisa naik ke atas genteng, sampai di atas genteng dari kamar nya Giok Kiau Liong. Hanya aneh, di lima
kamar dari ruangan itu, seorang pun tidak ada. Entah ke
mana perginya atau dipindahnya si nona Giok. Maka
terpaksa ia undurkan diri.
Su Poancu ada lucu. Ia juga bisa masuk, karena ia tak
peroleh hasil, ia pergi ke dapur, disini ia buka lemari
makanan, akan bersantap dahulu! Selama itu, ia tidak
ketemui orang, tak ada orang yang pergoki ia ...
Yang lain-lain tidak ada yang naik ke genteng.
Pada kira-kira jam empat, dengan bergantian, orang
mulai berjalan pulang.
Lau Tay Po ada penasaran, ia ingin bawa pulang oleh-
oleh, ketika ia mau berlalu, ia suruh Kau Jie Chiu
padamkan sebuah lentera dan ambil itu.
Lain ada caranya Lo Siau Hou untuk umbar hawa
amarahnya. Dengan berani ia hampirkan pintu, dengan
golok mustikanya, ia buat daun pintu dapat tanda mata
beberapa bacokan.
Esok harinya pagi, Kau Jie Chiu sudah muncul pula di
depan gedung keluarga Lou, dengan barang dagangannya
bunga melati. Ia mendapat tugas dari Su Poancu, untuk
melihat-lihat keadaan. Maka ia bisa saksikan beberapa
tukang kayu asyik perbaiki pintu bagian bekas bacokan-
bacokan golok sedang lentera yang hilang telah diganti
dengan yang baru.
"Pergi!" demikian orang polisi mengusir, ketika ia coba mendekati pintu.
Tam Hui dapat kenyataan bahwa orang polisi berjumlah
lebih banyak dari pada kemarin-kemarinnya. Ia tidak berani membantah, ia jauhkan diri. Tapi ia pergi ke mulut gang. Di sini ada beberapa budaknya keluarga Lou, yang samper ia
untuk membeli kembang.
"Eh, mengapa orang larang aku pergi ke pintu depan?" ia tanya.
"Jangan kau cari tahu?" sahut satu bujang tua.
Ia tidak mau terbitkan kecurigaan, ia tutup mulut.
Mendekati tengah hari dari dalam gedung ada keluar
beberapa buah kereta yang semua tendanya dikasih turun,
hingga tak kelihatan penumpangnya. Sekeluarnya dari
gang, kereta ini semua menuju ke arah timur.
Kau Jie Chiu menduga Kiau Liong keluar, akan buat
kunjungan, ia lantas menguntit.
Ketika kereta jalan dijalan besar, Toa-kay, di sebelah
selatan jalanan ada sebuah rumah makan. Benar ketika
kereta lewat di situ, di atas lauteng rumah makan ada orang mementang jendela, orang mana terus saja bernyanyi
dengan suara nyaring:
"Dunia guram suram, menurunkan bencana ... "
Tam Hui berdongak, ia kenalkan Lo Siau Hou. Benar
ketika ia mengasih tanda, dengan gerak-geraki mulutnya,
dari atas lauteng itu lantas memberondong turun beberapa barang panah, mengarah kereta, hingga tenda kereta pada
tertancap senjata itu.
Sekejap saja, jalan yang ramai itu menjadi kalut.
Selagi orang lari serabutan, Siau Hou lari turun dari atas lauteng dan keluar, di muka pintu ada kudanya, ia loncat naik atas binatang tunggangan itu, setelah mana, ia kembali melepaskan beberapa batang anak panah. Di akhirnya baru


Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ia kabur bersama kudanya itu.
Siau Hou lantas lari menyingkir ke dalam satu gang.
Kekusutan bukan disebabkan orang lari serabutan saja,
juga rumah-rumah makan, toko-toko, warung-warung teh,
pada ribut menutup pintu, dan suara orang telah sambung
menyambung, sebentar saja, kabaran teruwar jauh.
Kapan Tek Siau Hong mendapat kabar, ia segera
perintah orang mencari Lau Tay Po, akan suruh ia ini
kendalikan orang banyak, supaya keributan sirap dengan
lekas. Ia pun perintah jaga baik pada Lo Siau Hou. Ia
sampai mengancam:
"Dalam tempo sepuluh hari, siapa juga tak boleh
bertindak lancang! Siapa tidak mau dengar laranganku ini, selanjutnya aku tak mau kenal lagi padanya!"
Lau Tay Po terima perintah, ia lantas bekerja, di
antaranya, ia cari Su Poancu.
Si Ular Gunung telah kasih keterangan sebagai berikut:
"Tadi pagi-pagi, Lo Siau Hou datang padaku untuk
pinjam kuda, maka aku pergi ketempat di mana aku
titipkan kuda, akan ambil itu dan serahkan padanya, aku
tidak sangka kalau ia terbitkan onar. Sampai sekarang ia masih belum kembali! Jangan-jangan ia tak akan balik lagi!
... " Kemudian, sembari tertawa, ia tambahkan: "Kita semua repot tidak keruan! Sebenarnya, dengan Lou tiehu
kita tidak bermusuhan, dengan Giok Kiau Liong kita tidak bersahabat, hingga, kita membantu atau tidak, semua tidak ada soalnya. Cuma Lo Siau Hou, kita harus jangan buat
kacau urusan baik orang ... "
Lau Tay Po tidak puas dengan sikapnya si Gemuk ini
"Ia benar liehay," ia pikir. "Tentulah ia ini yang buat Siau Hou lolos! Atau siapa tahu, barangkali ialah yang
bertelurkan ini pikiran, hingga Siau Hou kembali menjadi binal. Ah," ia pikir pula, sambil ia banting-banting kaki,
"aku barangkali perlu piara kumis pula! Siapa tak tahu bahwa Siau Hou ada sahabatku?"
Su Poancu cuma tertawai sahabat itu, hingga ia ini jadi
kewalahan. Pada malamnya, penjagaan di gedungnya Lou tiehu
telah diperhebat, hingga rombongannya Tay Po jadi tak
berdaya, sebab mereka hendak buat penyelidikan, bukannya penyerbuan.
Begitu punya begitu, tiga hari telah lewat. Selagi lain-lain orang bingung, mendadakan Tay Po ingat suatu apa.
"Semua orang berkumpul di sini, yang pintar surat, yang pandai bugee," demikian ia pikir, "dan mereka semua berada di atasan aku, tetapi mereka habis akal menghadapi Giok Kiau Liong ... Buat masuk ke gedungnya Lou tiehu
bukannya pekerjaan sukar, yang sukar adalah mencari
kamarnya si nona binal itu. Aku harus gunakan akal. Coba aku ketemu nona itu, tidak peduli kapan, aku mesti tanya ia, ia sebenarnya kandung maksud apa! Aku mesti tanya,
kenapa ia takuti Lou Kun Pwee! Aku pun hendak minta
Cengbeng-kiam dari padanya karena pedang itu niscaya ia
sudah tak butuhkan pula! Sungguh bagus andaikata aku
bisa bersahabat dengannya ... Coba itu semua terjadi,
merekku akan naik, semua orang akan kagumi aku! Dan
aku, seumur hidupku, aku boleh banggakan kepandaianku
itu!" Oleh karena ia dapat ini pikiran baru, Tay Po lantas
pulang akan cari istennya, buat ajak isteri itu berdamai, setelah mana, Siang Moay segera pergi mencari Lie Jie-so.
Lie Jie-so nyatakan suka membantu kapan Siang Moay
sudah kasih keterangan perihal bantuan yang ia bisa
kasihkan, yang mana pasti akan mengunjungi mereka.
Suaminya pun bersedia akan bekerja sama-sama.
Lie Jie bekerja di Pweelek-hu, benar kerjaannya tak
ketentuan, akan tetapi ia tahu bahwa di gedungnya Tiat
pweelek itu ada berdiam Lie Bou Pek, satu orang gagah dan sahabat kekal dari Pweelek-y a, bahwa lie Bou Pek itu
sedang bekerja untuk urusannya Giok Kiau Liong. Ia
percaya, perkaranya Giok Kiau Liong itu satu kali toh bakal dapat dipecahkan. Dan ia percaya benar, kalau Tay Po
menang, dari Tay Po ia bakal dapatkan persenan besar.
Demikian, setelah berdandan, Lie Jie-so ajak Coa Siang
Moay pergi kerumah orang tuanya yang tinggal di Kota
Barat yang rumahnya terpisah tak seberapa jauh dari
gedungnya keluarga Lou. Kalau siang, enso-nya ada di
rumah. Engko-nya yang kerja pada Lou Kun Pwee, tidak
pulang sebelumnya jam dua, dan kalau dia pulang, di dalam bajunya mesti ada daging ayam, beras, haysom dan lain-lain, yang mana tidak bisa diselundup apabila dia pulang siang. Dan enso ini paling gembira kalau orang ajak dia
meraba kartu. Maka itu, ia girang akan lihat koh atau
iparnya datang bersama satu kawan perempuan, yang
sedang hamil. Tidak tempo lagi, ia panggil tetangganya,
satu nyonya tua yang sudah tuli, untuk mereka berjudi
sambil pasang omong dengan getol.
Dengan kecerdikannya, Siang Moay coba korek
keterangan dari ensonya Lie Jie-so. Ia ini tidak curiga apa-apa, ia tuturkan segala apa yang ia tahu perihal keluarga Lou.
"Sekarang ini suamiku tidak punya keinginan akan
bekerja lebih lama pula," demikian sang enso. "Maka enso Lau, jikalau kau bisa, tolonglah dayakan supaya suamiku
itu bisa bekerja di Pweelek-hu. Asal suamiku bisa pindah kerja dari keluarga Lou, kita akan pindah dari sini hingga selanjutnya kita orang bisa setiap hari berkumpul sama-sama. Dengan kita orang senantiasa berkumpul, aku tak
akan kesepian lagi."
"Bukankah kedudukannya toako di gedung keluarga Lou
ada bagus?" Siang Moay tanya.
"Bagus apa" Ia kerja berat sekali, sampai dia rasakan mau mati ... " demikian nyonya Tay Po dapat jawaban.
"Selama ini, kewajiban jadi terlebih hebat pula. Semua hamba dari Sun-thian-hu, dari kantor giesu di luar kota, pada dahar di gedung majikan kita, mereka itu setiap
malam membuat penjagaan, maka di waktu malam, mereka
pun mesti disuguhkan bahpau sampai empat atau lima
keranjang, malah kadang-kadang masih kurang. Di sebelah
itu, di dapur bekerja cuma tiga orang, tambah satu pun
tidak! Kasihan engko kau, koh, ia kecapaian bukan main.. "
"Kabarnya, sakitnya naynay yang baru telah sembuh,
bukankah?" tanya Siang Moay sambil ia berpura-pura awasi kartunya. "Dia ada disambangi banyak sanak dan sahabat, tentu ada banyak uang persenan dari sekalian tetamu itu."
"Uang persenan sih ada juga, cuma, apakah artinya itu?"
kata nyonya rumah. "Sekarang ini suamiku, setiap saat
mesti keluarkan keringatnya, dan kalau malam, susah
beristirahat. Kecuali orang ronda, juga orang polisi, setiap malam tak dapat tidur. Toh, meskipun orang semua melek
mata, pernah kejadian lentera lenyap dan daun pintu ada
yang berikan tanda-tanda bacokan! Malah kabarnya,
sekarang ini juga Khu siau-houya telah turut menjadi satru.
Mana mereka sanggup melawan" naynay yang baru, ialah
Giok Kiau Liong yang kesohor, ia mirip dengan siluman
pembawa malapetaka! Tadinya, kamar pengantin telah
ditutup sama kain merah di empat penjuru, kecuali Pit
Mama dan dua budak lagi, siapa juga tak diijinkan masuk
ke dalamnya. Ke dalam situ dengan tentu ada diantar
barang hidangan dan barang hidangan itu ada orang yang
makan, tetapi orang yang dahar itu mestinya ada Pit Mama dan kedua budak itu" Sebab kamar pengantin itu adalah
kamar kosong! Di mana ada orang sakit di dalam kamar
itu?" Habis berkata begitu, nyonya ini merandek, agaknya ia
menyesal sudah bicara demikian. Maka kemudian, ia
tambahkan, dengan perlahan sekali: "Tentang kata-kataku
barusan, harap kau orang tidak sampaikan pada lain orang, kalau sampai ini tersiar, oh, sungguh hebat. Lousiauya
pernah kumpulkan semua orangnya, pada sesuatu dari
mereka ia persen dua tail perak, tetapi juga pada mereka ia berikan pesanan, katanya: "Tidak peduli siapa, asal ada yang berani banyak omong terhadap orang luar, kalau ia
ngoceh tidak keruan, dia bakal segera dibekuk dan dibawa ke Sun-thian-hu, untuk dihajar!"
"Tidak nanti aku omong sama orang lain," Siang Moay janjikan, "Sekarang ini suamiku sudah tidak campur urusan itu. Dahulu pun ia bekerja karena ia diperintah oleh
Pweelek-ya. Sekarang suamiku sudah tidak bekerja sebagai guru silat pada Pweelek-hu, maka siapa kesudian dapat
salah dari lain orang" Hanya ... " Ia geser pula kartunya.
"Sebenarnya, itu ada penyakit benar-benar atau penyakit bohong" Giok siocia yang sekarang rupanya ada Giok
siocia yang palsu, ya?"
"Dia ada Giok siocia yang tulen, bukan yang palsu?"
sahut si nyonya, dengan suara tetap. "Hanya yang heran adalah
cara pulangnya, yang
begitu mendadakan. Kemarinnya tengah malam tidak ada terdengar apa-apa
atau lantas di hari besokannya, di dalam kamarnya itu ada suara berisik, jerit-jeritan dan makian! Lou siauya pun jadi sibuk tidak keruan. Kemudian ada datang toaya dan jieya
dari keluarga Giok. Orang berkumpul satu hari dan satu
malam, entah apa yang didamaikan. Kemudian lantas
tersiar kabar bahwa nona pengantin sudah sembuh, bahwa
ia sudah bisa keluar akan menemui orang, akan buat
kunjungan juga. Akan tetapi, di sebelah itu, kau tahu, meski katanya siocia sudah sembuh, Lou siauya sama sekali tak
berani datang dekat padanya. Dan satu kali hari telah
menjadi gelap, nona pengantin lantas dipindahkan ke dalam satu kamar lain di mana ia tidur, sedang Lou siauya sendiri, segera berlalu dari rumahnya, ia naik atas kereta yang
ditutup rapat sekali, ia pergi ke rumah sahabatnya di mana ia menumpang nginap."
Siang Moay unjuk rupa sangat heran.
"Eh, apa sih artinya itu?" ia tanya pula.
"Katanya untuk berjaga-jaga dari gangguannya orang
jahat! Sekarang ini Lou siauya ada punya satu kunsu,
orangnya sudah tua, rambut dan kumisnya sudah putih
semua. Katanya ia ada orang dari selatan. Orang-orangnya siauya, di antara mereka sendiri, namakan kunsu itu Cukat Liang. Semua sepak terjangnya Lou siauya ada buah
pengajarannya ini kunsu. Ia bilang bahwa Khu siau houya
ada punya orang-orang yang liehay sedang Giok siocia
katanya ada punya tunangan dan tunangan itu ada satu
penjahat ulung ... "
"Bukankah Giok siocia ada punya kepandaian liehay.
Kenapa ia boleh kesudian turut saja kata-kata atau perintah mereka itu?"
"Ada punya kepandaian" Semua omong kosong. Semua
bisanya orang luar saja, yang katakan ia liehay! Apa yang bisa jadi ada benar adalah pada itu hari sehabis hari
pernikahannya, ia telah kena diculik dan dibawa kabur. Toh sekarang Lou siauya bisa cari dan bawa ia pulang! Aku
sendiri belum pernah lihat Giok siocia, tapi turut apa yang orang bilang, ia ada bertubuh sangat kecil dan langsing, hingga serangan angin saja ia tak akan sanggup
pertahankan. Pada dua hari yang pertama ia suka umbar
adatnya, ia hajar Pit Mama, ia damprat orang, tetapi dua hari kemudian, ia jadi sangat jinak, hingga di waktu siang ia suka kunjungi sahabat-sahabatnya. Hanya kemarin ini
sudah onar pula. Tunangannya itu orang hutan, sudah
serang ia dari atas rumah makan, menuangnya dengan anak
panah, sampai hampir saja siocia mendapat luka. Habis itu,
penyerang itu kabur dengan kudanya, ia tak kena
ditangkap. Oleh karena kejadian itu, pada malamnya Giok
siocia tidur di kamar bujang tuanya."
Habis kata begitu, nyonya ini berpaling pada iparnya.
"Ruangan yang di tempati Pit Mama ada terdiri dari tiga kamar, peranti ia dan budak-budak. Kamar yang dipakai
oleh nona pengantin ada kamar sebelah dalam. Di dalam
kamar itu, benangpun pun tidak ada, karena orang kuatir si nona nanti gantung diri. Sudah begitu, di luar kamar ada tidur delapan atau sembilan orang yang menjagai, karena
dikuatirkan ada datang lagi penjahat yang akan culik nona itu! Di dalam gedung, semua ada orang-orang perempuan,
dan mereka pun dilarang banyak bicara. Koko-mu kerja di
dapur, di waktu malam ia jarang sekali nginap di situ, maka itu, ia tak ketahui benar semua hal. Ia cuma kenal bujang-bujang tetapi ia tidak berani banyak bicara, kecuali si bujang yang bicara dengan ia. Kemarin ini Khu naynay datang dan berkelahi di dalam kamar Khu naynay ada bawa satu
bujang, yang kosen, melebihi kosennya Ciau Mama. Aku
kira bujang itu sudah sekongkol dengan Ciau Mama, kalau
tidak, tidak nanti koko-mu ketahui semua ini."
"Baiklah kau jangan curiga," Lie Jie-so kata pada iparnya. "Nanti kalau ada ketikanya aku bicara dengan koko, aku nanti kasih ingatan padanya ... "
Siang Moay girang sekali, karena ia telah peroleh hasil.
Adalah di luar sangkaannya, yang iparnya Lie Jie-so sudah mau buka rahasia. Rupanya ini disebabkan nyonya itu
cemburu suaminya main gila dengan Ciau Mama...
Oleh karena ia merasa sudah cukup, Siang Moay lantas
berhenti berjudi.
"Aku sudah lelah, aku telah duduk terlalu lama ... " ia kata, tidak peduli yang ia telah kalah hampir dua renceng.
Ia lantas ajak Lie Jie-so pulang.
Lau Tay Po sedang tidur ketika isterinya pulang.
"Bangun, bangun!" Siang Moay membanguni seraya ia goyang tubuh suaminya, "Ada kabar baik," ia tambahkan, sambil tertawa. Lalu, separuh berbisik, ia tuturkan hasil dari perjalanannya itu.
Lau Tay Po mencelat bangun bahna girangnya, ia
sampai berjingkrakan.
"Bagus!" ia berseru. "Dalam pertempuran di lamtong, akulah pemenang nomor satu! Lie Bou Pek, Jie Siu Lian,
Su Poancu, semua aku telah dupak ke samping. Sekarang
aku mesti cuttau, untuk cuci bersih kehinaan karena
kekalahan yang sudah-sudah! Dengan ini jalan, aku juga
akan bisa balas sakit hatinya aku punya mertua! Baiklah, sebentar malam aku bekerja, pasti berhasil'"
Tapi Siang Moay menuding dengan jeriji tangannya.
"Belum apa-apa, kau sudah ngebul!" menegur ini isteri.
"Dengan tidak ada isterimu, kau tak akan mampu berbuat apa-apa."
Tay Po ulap-ulapkan tangan pada isterinya itu.
"Jagalah supaya lain orang tidak ketahui rahasia ini!
Percaya, aku akan haturkan terima kasihku kepada kau!" ia berjanji.
"Hm, terima kasih?" Siang Moay bersenyum dengan ejekannya. "Kau harus mengerti, sebentar malam kau mesti berhati-hati."
"Aku mengharap doamu, isteriku!" kata Tay Po sambil menjura ...
Sampai di situ suami isteri itu.
Tidak lama, Jie Siu Lian kembali dari rumahnya Siau
Hong. Tay Po tidak bicara suatu apa tentang rahasia yang didapat isterinya itu. Ia malah sering-sering melirik
isterinya, ia nampaknya ada berhati kurang tenteram.
Jie Siu Lian juga tidak cerita suatu apa tentang
penyelidikannya itu hari, ia melainkan bicara tentang sakit hatinya keluarga Yo. Ia kata, untuk pembalasan. barangkali ia dan Lee Hong tak usah sampai merantau ke Hoolam,
yang perlu adalah pembicaraan terlebih jauh.
Mengenai pembalasan sakit hati itu, perhatiannya Tay
Po kurang. "Bagaimana dengan Lie toaya?" ia tanya. "Apa betul
mengenai urusannya Giok Kiau Liong ia benar-benar tak
mau tahu sama sekali" Memang, urusan begini kecil, di
matanya satu orang gagah, tak ada tertampak. Sekarang ini Lietoaya cuma perhatikan soal golok beradu dengan
tombak, tidak segala kerjaan merayap naik di atas genteng, segala kelakuan sebagai panca longok saja ... Cuma,
sekarang toh ia telah berada di sini! Apa benar ia hendak antap Giok Kiau Liong kangkangi Kiu Hoa Koan Kiam
Coan Sie dan Cengbeng kiam" Sebagai tayhiap, satu orang
gagah terbesar, pasti air mukanya Lie toaya menjadi guram andai kata kitalah yang pulangkan kepadanya itu buku dan pedang ... "
"Aku percaya Lie toako ada punya daya," Siu Lian kata.
"Rupanya sekarang belum saatnya ia turun tangan ... "
Dalam hatinya, Tay Po tertawa. Ia tertawai nona Jie ini
dan Bou Pek. "Kalau nanti ia turun tangan, itu waktu mestinya sudah terlambat." pikir ia.
"Pada ini ada sebab-sebab yang harus dipertimbangkan,"
kata pula Siu Lian kemudian.
"Pertama-tama Tek ngeko telah minta supaya Lie toako berlaku sabar terhadap Giok Kiau Liong. Lie toako sendiri memang tidak ingin berselisihan dengan orang perempuan.
Kalau tidak, tidak nanti Kiau Liong bisa pulang ke Pakkhia dengan masih hidup. Dan sekarang Giok Kiau Liong telah
menjadi satu nyonya yang terhormat, yang tidak binal lagi, maka Lietoako anggap, itu bukanlah sikapnya suatu laki-laki akan desak pula nona itu."
"Syukur masih ada kita segerombolan, yang bukannya
orang-orang gagah," kata Tay Po. "Coba tidak, niscaya Kiau Liong diam-diam telah tertawakan kita, dan Lou Kun
Pwee entah bagaimana puasnya!"
Siang Moay tegur suaminya.
"Kenapa di depan Jie toacie kau ngoceh tidak keruan?"
demikian ini isteri.
Tay Po tertawa.
"Mustahil aku berani ngoceh tidak keruan di depan Jie toacie?" ia kata. "Aku hanya merasa bahwa sifatnya Lie toa-hiapkek dan kita sangat berlainan ... "
Siu Lian bersenyum Ia tidak gusar sikap separuh
menjengeki dari Itto Lianhoa.
"Bukannya silat kita dan silat Lie toako yang berlainan, itu
adalah pemandangannya yang beda dengan pemandangan kita," ia terangkan. "Aku sendiri penasaran yang aku telah tidak bunuh Lou Kun Pwee, tetapi Lie toako telah kata begini pada Tek ngoko: "Membunuh Lou Kun Pwee tidak ada faedahnya. Orang yang Giok Kiau Liong
takuti bukannya Lou Kun Pwee, jikalau tidak, mustahil ia bisa tidak angkat kaki. Di belakangnya Lou Kun Pwee
mesti ada berdiri seorang yang cerdik luar biasa dan orang itu dengan diam-diam sudah mengatur jaring, hingga Kiau
Liong tidak mampu melarikan diri, demikian pun kita tak
mampu serbu jaring itu!"
Mendengar keterangan ini, Tay Po terperanjat, sampai ia
menoleh pada isterinya dan mainkan matanya. Di dalam
hatinya, ia kata: "Oh, Lie Bou Pek benar-benar Lehay.
Tidak tunggu sampai ada orang yang memberikan
keterangan padanya, ia sudah bisa duga bahwa di
belakangnya Lou Kun Pwee mesti ada seorang lain yang
liehay. Cuma pasti ia belum tahu bahwa orang liehay di
belakangnya Lou Kun Pwee itu adalah satu Cukat Liang
yang rambut dan kumisnya sudah ubanan! Sayang isteriku
sudah berlaku alpa. Kenapa tadi ia sudah tidak sekalian cari tahu nama yang benar dari Cukat Liang tetiron itu.
Seharusnya ia tanyakan orang punya, she dan nama, tempat tinggal dan pekerjaannya."
"Ya, orang di belakang layar itu adalah orang yang
paling penting!" ia lalu berpikir lebih jauh. "Ini hari aku mesti bekerja pula, sendirian saja, untuk cari tahu asal-usulnya tua bangka yang liehay itu. Aku juga mesti ketahui di mana setiap malam Kun Pwee tidur serta dimana
kamarnya Kiau Liong! Aku harap aku bisa ketemu sendiri
dengan nona Giok itu, untuk tanyakan ia perihal itu kitab ilmu silat dan pedang mustika, yang aku mesti minta. Cukat Liang itu mesti diberikan pukulan hingga ia kaget. Dalam satu malam, semua ini aku sudah mesti bisa kerjakan,


Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan berhasil! Sayang isteriku bakal lekas bersalin, hingga ia tak bisa bantu aku, aku kuatir, sendirian saja, aku tak sanggup.
Oleh karena ini, ia jadi berkuatir juga, maka sikapnya
lalu berubah pula. Terhadap nona Jie, ia berlaku lebih
hormat dan manis. Kemudian seorang diri ia berlalu dari
rumahnya. Ia bawa golok dan lain-lainnya barang
keperluan lengkap semua. Ia pergi dengan tidak cari atau ajak siapa juga. Ketika ia keluar dan rumahnya, malahan
masih tinggi.. Ia menuju ke Kota Barat. Saban ia sampai
atau keluar dari satu gang, tentu ia ketemu tiga atau empat kenalan, yang semua menegurnya, dengan panggilan Lau
jiep atau Itto Lianhoa. Malah ada yang sekalian tanya:
"Kenapa dalam dua hari ini jieya tidak keluarkan
kepandaianmu, untuk orang banyak menonton?"
Semua teguran itu buat suaminya Siang Moay ini jadi
uring-uringan atau mendongkol.
"Inilah tidak bisa!" ia kata dalam hatinya. "Aku ada terlalu menyolok mata, semua orang kenalkan aku! Mereka
itu bisa bekerja dengan terlebih leluasa dari pada aku ...
Dan kalau aku berhasil, jangan-jangan mereka akan rampas pahalaku ... "
Maka itu, untuk menghilangkan sang tempo, Tay Po
menuju ke sebuah rumah makan. Begitu ia menarik pintu,
ia lihat tetamu ada tidak terlalu banyak. Ia lihat seorang yang sedang duduk dahar mie. Orang itu bertubuh tinggi
dan besar, mukanya dicukur kelimis.
"He, Lo Siau Hou di sini! ... " kata ia dalam hatinya.
Terus saja ia mundur lagi. "Sungguh ia bernyali sangat besar. Bagaimana berani ia perlihatkan diri di sini.."
Ia putar tubuhnya, ia jalan, melewati dua gang atau
lorong. Akhirnya ia sampai di dekat gedung keluarga Lou, di tembok sebelah selatan. Di situ ia lihat sejumlah orang sedang berkerumun dan jongkok, entah apa yang mereka
itu sedang kerjakan. Ia baru hendak mendekati, ketika di antara orang banyak itu, ia lihat Su Poancu yang muncul
dengan tusukan ayam panggangnya" Lekas-lekas ia
menyingkir, ia iak ingin dapat dilihat si Gemuk itu.
Justru itu, dari sebelah depan ia, sebuah kereta keledai terlihat sedang dilarikan keras sekali.
Tenda kereta pun dikasih turun, hingga tidak ketahuan,
siapa yang duduk di dalam kereta itu. Duduk di luar ada
seorang polisi dengan runce merahnya. Ia ini bersenyum
tawar terhadap Itto Lianhoa, sembari lewat, ia menegur,
katanya: "Kita jarang ketemu, eh!"
Tay Po berpura-pura tidak mendengar, ia antap kereta
lewati ia. Ia tidak menoleh sama sekali, pikirannya lagi bekerja.
"Semua orang kenali aku! Bagaimana sekarang?"
Ia jalan terus. Ia tidak mau lantas pulang, ia kuatir Siang Moay nanti tertawakan padanya. Ia mampir di satu warung
di mana tidak ada orang belanja, ia duduk dahar, tetapi ia tidak berani dahar sampai kenyang. Dengan ini jalan, ia
tunggui sang sore. Ia ada merdeka akan ngobrol dengan
tukang warung. Ketika magrib mendatangi, baru ia keluar
dari warung itu.
-ooo0dw0oo- XII Gedung keluarga Lou terjaga agaknya semakin kuat.
Semua ruangan dalam ada gelap gulita. Sebaliknya, bagian luarnya, di sekitarnya, ada terang luar biasa, mirip dengan waktu siang. Jaga-jaga malam ada terlebih banyak dari pada kemarinnya. Mereka berpakaian ringkas dan kuncir
tergulung di kepala. Mereka itu tak dapat dibedakan, yang mana ada orang polisi, yang mana ronda atau cinteng biasa.
Mereka bersenjatakan golok, tombak dan toya, lengkap
dengan tambang dan gaetan panjang. Di sebelah mereka,
bujang-bujang tak tertampak, rupanya mereka sudah tidur
siang-siang. Siauya dan siau naynay rupanya tidak ada di rumah. Sedang tuan rumah yang tua, ialah Lou sie, sedang sakit, ia tidak bisa turun dari pembaringan, ia tak tahu-menahu semua urusan itu.
Adalah Lou thaythay seorang yang seantero malam tak
bisa tidur. Ia ada sangat mendongkol.
' Aku ingin lihat, Khu Kong Ciau mempunyai
kepandaian apa?" demikian ia kata. "Mustahil ia berani bakar rumahku ini"'
Lou thaythay ada punya satu adik lelaki, orang di dalam
gedung itu bahasakan ia "Hek Ku-looya. Ia ada satu
bukiejin, ia ada punyai tenaga besar dan nyali gede.
Senjatanya ada golok besar "Chee-long Yan-goat-too". Ia telah pegang pimpinan atas orang-orang jaga, pada mereka ini, ia sudah berikan perintahnya. "Asal ada penjahat datang masuk kemari, bunuh saja jangan takut. Kalau kita dapat menangkap hidup, penjahat itu mesti dikompes
supaya ia suka buka mulut, Khu Kong Ciau mesti dibuat
tengkurap, untuk terima hajaran!"
Seorang, yang kelihatannya bisa berpikir kata pada
iparnja Lou Kun Pwee ini.
"Khu looya, kelihatannya urusan ini ada sangkutannya
yang besar dengan Khu Kong Ciau. Perkara ada sulit, tetapi yang paling meributkan adalah itu bocah she Hou! Tapi
iapun tidak utamakan menyarukan kita, ia rupanya ada
kandung suatu maksud. Aku rasa, rahasia ini melainkan
siau-naynay seorang yang mengetahuinya."
"Jikalau tidak ada Khu Kong Ciau yang menganjurkan, tidak nanti ada orang berani datang membuat onar kemari!"
kata Hek Khu loya. "Khu Kong Ciau terlalu andalkan
kedudukan bangsawannya, ia sangka tak ada seorang juga
yang berani layani padanya! Lihat ia sudah kirim panglima
perempuan kemari! Panglima ini telah bikin berisik dan
berani memukul orang juga. Coba, bila tak ada yang
anjurkan, mustahil itu budak perempuan berani begitu
kurang ajar" Siapa tahu kalau Khu Kong Ciau ada punya
hubungan dengan urusan busuk ini" Satu siau naynay telah dinikah, siau-naynay ini mirip dengan biang penyakit.
Dasar Kun Pwee yang sesat, yang tak insyaf! Coba itu ada rumahku, tentu di sini aku tidak bisa kasih tempat buat itu perempuan celaka ... "'
Di pertengahan depan ada diatur dua buah meja, di atas
itu ada diatur teh, arak dan kue-kue. Sesuatu orang jaga, siapa sudah meronda, boleh menunda di meja ini, akan
minum teh atau arak, dan cobai kuenya, dan sembari
minum dan makan kue, mereka boleh ngobrol. Mereka pun
meronda dengan bergiliran.
Tatkala itu ada dipermulaan musim panas, angin malam
bersiur-siur. Di dalam gedung, di belakang, ada sebuah ruangan yang
terdiri dari tiga kamar. Keluarga Lou panggil itu "rumah bawah". Semua bujang dan budak perempuan pada tidur di dalam kamar-kamar ini, tetapi sekarang ini, ruangan itu ada terjaga keras. Di latar situ ada dipasang dua buah lentera yang berani melawan angin. Dan kesitu, setiap satu jam,
Hek Ku-looya dan orang-orangnya biasa meronda sampai
tiga balik. Di atas genteng situ ada digantungi lentera, disitu ada numprah dua orang jaga dengan gembreng dan
kentongan mereka. Kewajiban mereka ini berdua adalah
menyambut memalu gembreng dan kentongan itu asal
mereka dengar suara serupa dari depan. Di waktu siang
mereka ini dapat tidur cukup, maka diwaktu malam,
mereka ada segar, mata mereka yang dibuka lebar sering
kali ditujukan ke empat penjuru. Toh ada saatnya yang
mereka pun alpa, ...
Lau Tay Po licin sebagai landak, sudah mencari jalan,
akan mendekati gedungnya Lou tiehu. Ia bergerak dengan
hati-hati tetapi pun sebat. Dengan tak ada yang lihat, ia bisa lewati tembok.
Dan dengan kecerdikan dan keberaniannya, ia bisa
hampirkan "rumah bawah" itu. Ia maju dengan sering kali melihat gelagat. Begitu, ia bisa hampirkan pintu. Ia ada liehay, begitu meraba pintu, daun pintu lantas terbuka.
Sekejab, ia sudah masuk kedalam. Segera juga ia diserang oleh bau ngelekap dari banyak kaki. Entah berapa banyak
bujang dan budak tua muda, pada tidur menggeletakan.
Sinar api dari luar jendela menembus kedalam, membuat
segala apa di dalam situ bisa nyata keletakan. Dikiri ada empat kaki,dikanan ada beberapa kepala yang berambut. Di sana-sini ada terdengar suara menggeros.
Tay Po bersenyum akan lihat begitu banyak orang
perempuan. "Aku beruntung," ia kata dalam hatinya.
Di sebelah utara ada sebuah pintu. Ia mengawasi itu
sambil berpikir, "Itu tentu ada kamar di mana Kau Liong umpetkan diri," ia menduga-duga. Ia maju dengan
berjingkat, berindap-indap. Ia dapat mendekati pintu itu, Maka ia sudah lantas ulur tangannya, ke arah pintu.
Hampir berbareng dengan itu, ia dengar suara berkelisik di sebelah belakangnya, hingga ia jadi terkejut, berbareng
dengan menarik pulang tangannya, ia berpaling. Tubuhnya
pun ia umpetkan, dengan ia jongkok terus mendekam. Apa
mau tangannya, yang ia lonjorkan, sudah kena jambret paso air kecil.
"Sial!" ia menggerutu di dalam hatinya.
Meski semua pengalamannya ini, Tay Po toh pasang
mata, Ia tidak usah tunggu lama, akan saksikan kejadian
yang buat ia menyesal, dan mendelu.
Suara berkelisik tadi disusuli sama berkelebatnya satu
bayangan ke arah pintu, daun pintu segera terbuka dan
bayangan itu mencelat masuk.
Bajingan ini bergerak sangat gesit dan enteng, karena ia lewati Tay Po, Itto Lianhoa jadi dapat lihat sepasang sepatu hitam dan lancip, hingga ia terkejut. Ia kenalkan baik sepatu itu. Dilain pihak, ia juga lihat ada menggemblok sepasang golok di belakangnya itu bayangan.
Sebab orang telah masuk ke dalam, ia berani keluar dari
tempatnya sembunyi akan melongok.
"Bagus benar, hm!" ia menggerutu pula, tapi dengan
pertahan. "Capai-capoi kita berdua bekerja, siapa tahu, kita justru membuka jalan untuk lain orang. Tidak salah lagi, tentulah tadi ia mendapat duga apa-apa dari sinar air
mukaku, maka ia lantas kuntit aku dan sekarang
mendahulukan! Baik, aku sekarang hendak pasang kuping,
aku hendak dengar, apa yang ia bicarakan sama Giok Kiau
Liong, itu ada pembicaraan baik atau busuk..."
Ia berindap-indap ke pintu, di sela-sela ia pasang
kupingnya. "Siapa itu di luar?" demikian satu suara dari dalam.
Rupanya itu ada suaranya Giok Kiau Liong, dan ditujukan
pada orang di luar.
Tay Po kaget, sampai ia mengkeret. Tapi ia hunus
goloknya, untuk bersiap.
Segera juga ada suara menyahut: "Itulah Lau Tay Po!"
Memanah Burung Rajawali 6 Lencana Pembunuh Naga Karya Khu Lung Pendekar Kidal 17
^