Pencarian

Ilmu Ulat Sutera 11

Ilmu Ulat Sutera Karya Huang Ying Bagian 11


mengambil keputusan untuk menguji sendiri. Tubuhnya
melesat ke udara. Sebilah golok terbang meluncur ke arah
dada kanan Wan Fei-yang. Pada saat itu, Wan Fei-yang
sedang melangkah mundur dengan serabutan. Masih jatuh-
bangun seperti tadi. Tampaknya golok terbang itu dalam
waktu sekejap sudah akan mengenainya, tapi tiba-tiba dia
menggeser tubuhnya seperti terhuyung-huyung, golok terbang
itu pun melesat mengenai bahu kanannya.
Tubuh yang terkena golok itu terjatuh d atas tanah. Cao Pao
sampai menghentikan gerakannya dengan tertegun. Hatinya
853 panik sekali. Siapa tahu Wan Fei-yang merangkak bangun
secara tiba-tiba. Sedangkan golok terbang tadi tertinggal di
atas tanah. Kongsun Hong sudah panas-dingin. Dengan melukai Wan Fei-
yang, dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada
Tok-ku Hong. Ketika melihat anak muda itu merangkak
bangun, dia juga ikut tertegun. Sedangkan golok Cao Pao
sudah bergerak lagi menyerang anak muda itu. Wan Fei-yang
membalikkan tubuhnya. Tampaknya dia begitu ketakutan
sehingga kalang kabut. Ilmu Wan Fei-yang yang satu ini tidak
usah diragukan lagi. Dulu di Bu-tong-san berkali-kali dia
menjadi bulan-bulanan para Suhengnya. Toh sampai sekian
tahun mereka tidak tahu bahwa Wan Fei-yang mengerti ilmu
silat. Seperti juga saat ini, gerakannya lebih mirip orang
mabuk daripada bermain silat. Beberapa kali dia seperti
tersandung jatuh tapi sekejap kemudian dia bisa merangkak
bangun dan berlari lagi.
Cao Pao semakin penasaran. Sifatnya memang berangasan.
Sudah beberapa kali dia yakin bisa mengenai Wan Fei-yang,
tapi begitu dekat selalu luput lagi. Dia mengejar terus. Setelah melalui dua kali loncatan, akhirnya dia berhasil mencapai
belakang punggung anak muda itu. Tampaknya kali ini Wan
Fei-yang tidak mungkin menghindar lagi. Dia menggenggam
kesempatan itu baik-baik. Terdengar raungannya yang marah
dan goloknya menebas ke depan.
"Tang!"
Sebilah golok lain menangkis golok Cao Pao. Golok yang
menangkis itu bentuknya pipih dan melengkung. Melihat golok
ini, hati Cao Pao langsung kecut seketika. Golok muncul,
854 orangnya pasti ada. Ternyata memang Tok-ku Hong. Belum
lagi dia membuka mulut, Cao Pao sudah bertekuk lutut di
hadapannya. "Toasiocia ...."
Wajah Tok-ku Hong tampak kelam. "Apa yang kau lakukan?"
bentaknya keras.
Wan Fei-yang cepat-cepat menukas. "Entah kerasukan setan
apa orang ini, tiada hujan tiada angin, tiba-tiba ingin
membunuhku. Dia mengejar aku dengan golok yang tajam itu
dari toko obat sampai kemari."
Tok-ku Hong terpana. Matanya menatap Cao Pao tajam. "Oh"
Tampaknya kau ini seorang mata-mata," katanya sinis.
Cao Pao terkejut sekali. Dia membenturkan kepalanya
beberapa kali di atas tanah.
"Ampun, Toasiocia. Aku bukan mata-mata. Kejadian ini tidak
ada urusannya denganku!" sahutnya terbata-bata.
Sepertinya dia masih ingin melanjutkan kata-katanya. Tiba-
tiba Kongsun Hong yang keluar dari bagian samping sudah
membentaknya, "Tutup mulut!"
Melihat kedatangan Kongsun Hong, mata Cao Pao langsung
bersinar terang. "Kongsun-tongcu, kau ...."
"Aku suruh kau tutup mulut!" bentak Kongsun Hong dingin.
Mata Tok-ku Hong mengerling sekilas. "Suheng, sebetulnya
855 apa yang telah terjadi?"
"Bocah ini tadi minum arak terlalu banyak. Dia rada mabuk
sehingga tidak dapat mengendalikan dirinya," sahut Kongsun
Hong. "Dia mana ma ...." tukas Wan Fei-yang.
"Di sini tidak ada tempat bagimu untuk bicara!" bentak
Kongsun Hong sebelum Wan Fei-yang sempat meneruskan
kata-katanya. Wan Fei-yang tidak berani berkata apa-apa lagi. Tok-ku Hong
tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Dia menatap
tajam kepada Kongsun Hong. "Suheng, mengapa kau begitu
memanjakan anak buah" Membiarkan mereka minum lalu
bertindak yang bukan-bukan. Menurut peraturan perguruan
kita ....."
"Sekembali ke kantor pusat aku akan menghukumnya dengan
keras." Dia langsung mencengkeram leher baju Cao Pao.
"Toasuheng, jangan ... jangan ....!" teriak Cao Pao kalang
kabut. "Kau masih berani banyak bicara. Aku akan potong lidahmu
terlebih dahulu!" dia tidak berkata apa-apa lagi. Ditariknya Cao Pao meninggalkan tempat itu.
Tok-ku Hong juga segera menghampiri Wan Fei-yang dan
membimbingnya bangun. Melihat perhatian gadis itu, Wan Fei-
yang sampai tertegun sesaat. "Terima kasih atas pertolongan
Toasiocia ...."
856 Tok-ku Hong tertawa dingin. "Aku baru saja merasa
menyesal." Dia melepaskan tangannya.
Wan Fei-yang semakin terpana. "Menyesal?"
"Bukankah aku pernah mengatakan bahwa suatu hari apabila
kau terluka, aku ingin lihat bagaimana caranya kau mengobati
dirimu sendiri?"
Wan Fei-yang tertawa getir.
"Aku lihat, kau boleh juga!"
Sekali lagi Wan Fei-yang tertawa getir. "Boleh juga apanya"
Kau tidak lihat bagaimana aku dikejar sampai kelabakan?"
Pikiran Tok-ku Hong langsung tergerak. "Tia pernah
mengatakan bahwa dia akan menerimamu sebagai murid.
Sekembalinya nanti aku akan menanyakan kapan waktunya.
Kalau kau sudah bisa ilmu silat, tentu tidak takut dihina lagi
oleh siapa pun," katanya sambil memandang Wan Fei-yang
lekat-lekat. Wan Fei-yang hanya dapat menganggukkan kepalanya. Tok-
ku Hong mengantarnya sampai ke toko obat. Kebetulan Goat
Ngo, si dayang yang misterius itu ada di sana. Tok-ku Hong
langsung menariknya ke samping. Entah apa yang
dibicarakan mereka. Setelah Goat Ngo pergi, ternyata air mata
Tok-ku Hong sudah berderai dengan deras.
Melihat keadaan itu, Wan Fei-yang heran sekali. Bagaimana
sifat Tok-ku Hong, dia sudah mulai paham. Dia bukan tipe
857 gadis yang cengeng. Sedangkan selama ini, baru kali ini dia
melihat Tok-ku Hong menguraikan air mata dengan keadaan
begitu sedih. Tok-ku Hong memandangi kepergian Goat Ngo sambil berdiri
termangu-mangu. Akhirnya dia mengusap air mata yang
membasah di pipinya. Wan Fei-yang cepat-cepat menghampiri
dan bertanya dengan maksud menyelidik, "Toasiocia, apakah
Goat Ngo membuat kau marah?"
"Mana ada hal seperti itu?" sahut Tok-ku Hong tanpa sadar.
"Eh?" Wan Fei-yang masih melanjutkan. "Dia tamu yang
paling aneh. Kedudukannya hanya seorang dayang, tapi
sampai-sampai tabib Cai juga rada takut dan segan
terhadapnya. Obat apa saja yang dia minta selalu dipenuhi.
Tabib Cai tidak berani banyak bertanya, juga tidak pernah
mendaftar nama pasien yang menyuruhnya membeli obat."
Tok-ku Hong mendengus dingin. "Apa yang kau ketahui?"
"Kalau begitu Siocia pasti lebih jelas dari aku."
"Urusan ini lebih baik kau jangan banyak tanya. Dengan
kedudukanmu di Bu-ti-bun, semakin sedikit yang kau ketahui
semakin baik untuk dirimu sendiri. Nyawamu juga bisa
dipertahankan lebih lama!"
Wan Fei-yang meleletkan lidahnya dan mengangguk berulang
kali. Tiba-tiba dia merenung dan menarik napas panjang.
"Memang seharusnya aku tidak usah banyak bicara. Lebih
baik giat bekerja. Siapa tahu suatu hari nanti aku bisa
menonjolkan diri dan menjadi orang terkenal. Dengan
858 demikian roh kedua orang tua di alam baka juga gembira
melihat keberhasilan anaknya."
Tok-ku Hong menatapnya dengan mata sayu. "Kapan kedua
orang tuamu meninggal?"
"Kapan juga tidak ada bedanya. Pokoknya aku belum sempat
berbakti kepada mereka sedikit pun," sahut Wan Fei-yang
sedih. "Oh?" wajah Tok-ku Hong berubah menjadi kelam.
"Tentu saja Toasiocia jauh lebih baik nasibnya daripada aku."
"Kali ini dugaanmu salah," sahut Tok-ku Hong sambil tertawa
getir. Wan Fei-yang menatap Tok-ku Hong dengan wajah
keheranan. Tok-ku Hong menarik napas panjang.
"Dalam Bu-ti-bun, setiap orang hanya tahu bagaimana
menghormati aku dan mencari muka. Mereka semua takut
kepadaku. Tidak ada yang berani berkata jujur di hadapanku.
Tidak ada pula yang tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi
seperti engkau." Gadis itu berhenti sejenak. "Aku tidak
seberuntung yang kau bayangkan."
Wan Fei-yang menyorotkan sinar mata kurang percaya.
"Bukankah Buncu sangat baik terhadapmu?"
"Sebetulnya dia juga belum pernah mengasuhku atau
menjagaku sepenuhnya."
859 "Kalau begitu, ibumu ...."
"Dia dikurung oleh ayahku. Ingin menemuinya sekali dalam
satu tahun saja, sulitnya setengah mati."
"Kenapa bisa demikian?"
Kembali gadis itu menarik napas panjang. Lama dia tidak
bersuara. "Di mana dia sekarang?" desak Wan Fei-yang.
"Liong-hong-kek." Tok-ku Hong merandek sejenak. "Di situ
merupakan tempat terlarang. Siapa saja yang menginjakkan
kaki ke tempat itu, boleh dibunuh di tempat. Bukan main-
main!" Wan Fei-yang pura-pura ketakutan mendengar keterangan
tersebut. Pikirannya bergerak terus.
"Oh ya .... Siapa nama ibumu?"
"Namanya Sen Man-cing," Tok-ku Hong menghentikan kata-
katanya. Dia memandang sekilas ke arah Wan Fei-yang.
"Untuk apa kau menanyakannya?"
Wan Fei-yang bagai tersadar dari mimpi. "Ti ... tidak apa-apa.
Aku hanya sekadar bertanya saja."
Tujuan Wan Fei-yang menyelundup ke dalam Bu-ti-bun justru
karena ingin mencari tahu tentang Sen Man-cing. Dia sudah
berusaha dengan berbagai cara, tapi hasilnya sia-sia. Tidak
tersangka dia malah mengetahui jejak Sen Man-cing dengan
860 mudah dari mulut Tok-ku Hong sendiri. Ternyata Sen Man-
cing adalah istri Tok-ku Bu-ti. Hal ini benar-benar di luar
dugaannya. "Dayang yang bernama Goat Ngo tadi adalah gadis yang
selalu melayani ibuku. Justru dari dialah, kadang-kadang aku
bisa mendapat sedikit keterangan tentang keadaan ibuku."
"Mengapa ayahmu harus melakukan semua ini?" tanya Wan
Fei-yang tanpa dapat menahan diri lagi.
Tok-ku Hong menggelengkan kepalanya. "Tia tidak bersedia
menjelaskannya. Pokoknya dia melarang aku menanyakan
urusan tentang ibu. Sedangkan ibu juga selalu tutup mulut
setiap aku mengajukan pertanyaan yang sama."
"Apakah dia menyalahkan atau membenci ayahmu?"
"Tidak .... Padahal ibu bukan jenis perempuan yang kolot dan
mematuhi apa saja yang diperintahkan oleh suaminya. Hal
inilah yang membuat aku tidak mengerti."
"Mungkinkah ibumu pernah melakukan sesuatu hal yang
bersalah terhadap ayahmu?"
"Omong kosong!" baru memaki dua kata, Tok-ku Hong
langsung terdiam. Pada dasarnya, dia sendiri pernah
mempunyai pikiran yang sama.
Wan Fei-yang merasa ucapannya memang rada keterlaluan.
Dia tidak berani mengajukan pertanyaan apa-apa lagi. Diam-
diam dia memerhatikan Tok-ku Hong. Setelah terdiam
beberapa saat, akhirnya Tok-ku Hong dapat menenangkan
861 dirinya kembali. Dia melirik ke arah Wan Fei-yang.
"Sekarang aku akan menemui ayahku. Kau jangan ke mana-
mana. Tunggu kabar dariku!" tanpa menunggu jawaban dari
Wan Fei-yang, dia langsung membalikkan tubuh dan
meninggalkan tempat itu.
Pada saat yang sama, Kongsun Hong muncul di ruangan
tamu kediaman Cian-bin-hud.
Cian-bin-hud sedang duduk di kursi goyang sambil minum
arak. Dia baru minum beberapa teguk, sama sekali belum
mabuk. Melihat kedatangan Kongsun Hong, wajahnya
langsung berseri-seri. Dia tertawa lebar. "Kebetulan aku
sedang tidak punya teman. Minum arak seorang diri sungguh
tidak enak. Mari ... mari!"
Kongsun Hong menggelengkan kepalanya. "Aku sedang ada
keperluan yang ingin minta tolong pada Hud-heng."
"Ada urusan apa bisa kita bicarakan kalau sudah selesai
meminum arak," sahut Cian-bin-hud sambil menuang secawan
arak dan menyodorkannya ke depan Kongsun Hong.
Kongsun Hong menolaknya dengan halus. "Urusan ini penting
sekali. Harap Hud-heng meletakkan dulu cawan arakmu."
"Oh?" Cian-bin-hud menjadi penasaran. Rasa ingin tahunya
timbul seketika. "Sebetulnya urusan apa yang membuat kau
begitu panik?"
"Setahu kami, Hud-heng merupakan orang yang paling luas
pengetahuannya. Apalagi menyangkut ilmu silat setiap partai
862 dan aliran yang ada di dunia Kangouw."
"Tidak usah memuji seribu bahasa. Kita toh orang sendiri. Ada
urusan apa, katakan saja langsung!"
"Aku hanya ingin tahu, dalam ilmu menangkis dan
menghindarkan diri dari serangan musuh, apakah ada
semacam ilmu yang gerakannya jatuh-bangun, lari pontang-
panting seperti orang yang kebingungan dan kalang kabut?"
"Kau hanya menguraikan secara lisan, mana aku bisa


Ilmu Ulat Sutera Karya Huang Ying di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengerti?" Cian-bin-hud merenung sejenak. "Kalau kau masih
ingat dengan baik, coba perlihatkan padaku. Secara kasar
saja, tidak apa-apa."
"Baik," sahut Kongsun Hong. Dia mulai mengingat-ingat dan
meniru gerakan Wan Fei-yang ketika diserang oleh Cao Pao
tadi. Juga gerakan anak muda itu ketika menghindarkan diri
dari golok terbangnya.
Semakin memandang wajah Cian-bin-hud semakin kelam. Dia
menunggu sampai gerakan Kongsun Hong berhenti. "Kalau
tidak salah, itu adalah jurus Ping-wei-ma-po."
"Taysu, gerakan jurus apa yang kau katakan itu?"
"Ping-wei-ma-po (gerak langkah penyakit ayan)," suara Cian-
bin-hud serius sekali. Sebetulnya gerakan itu diambil dari
Tian-li-sian-hua (bidadari menaburkan bunga), tapi karena
gerakan ilmu yang satu ini khusus diperuntukkan bagi kaum
perempuan karena gerakannya yang mirip tarian, maka
diubah sedikit dan diberi nama Ping-wei-ma-po. Ilmu ini
dipelajari kaum laki-laki. Ilmu ini merupakan salah satu dari
863 tujuh puluh dua ilmu pusaka Siau-lim. Sudah lama menghilang
dari dunia Kangouw, tapi tiga puluh tahun kemudian, ilmu
yang serupa muncul di Bu-tong-pay. Tapi ilmu ini tidak pernah
diwariskan kepada siapa pun."
Kongsun Hong terpana. Sebuah ingatan melintas di benaknya.
"Rupanya dialah orangnya yang mengalahkan Kuan Tiong-liu
di kaki gunung Bu-tong-san dan menolong kami berdua,"
gumamnya perlahan.
"Siapa yang kau maksudkan?" tanya Cian-bin-hud heran.
"Siau Yang!" tinju Kongsun Hong terkepal erat-erat.
Cian-bin-hud semakin terpana. "Maksudmu Siau Yang
mengerti ilmu Ping-wei-ma-po?"
Kongsun Hong menganggukkan kepalanya seperti orang
linglung. "Itulah sebabnya aku selalu merasa pernah
mendengar suaranya. Hm ... bocah ini ...." dengan kemarahan
meluap-luap dia menerjang keluar.
"Hai! Ke mana kau?" tanya Cian-bin-hud sambil mengejar ke
depan. "Aku akan menemui Suhu!" suaranya masih berkumandang,
orangnya sudah lenyap di balik tembok yang tinggi.
***** Ruangan utama merupakan tempat di mana Tok-ku Bu-ti
biasa menerima tamu-tamunya, juga merupakan tempat di
864 mana bawahannya melaporkan hasil perolehan mereka dalam
masing-masing usaha. Dulu Kongsun Hong juga diterima
murid di ruangan ini.
Kecuali Kongsun Hong, sampai detik ini dia tidak pernah
menerima murid lain secara resmi. Oleh karena itu, Tok-ku
Hong sendiri merasa di luar dugaan. Dia cepat-cepat pergi
mencari Wan Fei-yang. Jangan sampai Tok-ku Bu-ti menyesal
dan membatalkan niatnya. Itulah sebabnya Tok-ku Bu-ti baru
duduk sebentar, Tok-ku Hong sudah mengajak Wan Fei-yang
menghadapnya. Sejak masih menjadi anggota Bu-ti-bun, baru kali ini Wan Fei-
yang bertemu muka dengan Tok-ku Bu-ti. Maka dari hatinya
agak tegang. Sebetulnya dia sama sekali tidak berminat
mengangkat Tok-ku Bu-ti sebagai guru. Tujuannya masuk ke
dalam Bu-ti-bun hanya untuk mencari Sen Man-cing.
Sekarang urusan sudah telanjur sampai tahap sedemikian
rupa. Dia menjadi khawatir ... khawatir risiko yang akan
dihadapinya nanti.
Tok-ku Bu-ti memandanginya dengan wajah tersenyum. Wan
Fei-yang meremas-remas jari tangannya gugup.
"Tia, dialah yang bernama Siau Yang," Tok-ku Hong menjawil
lengan baju Wan Fei-yang. "Cepat panggil Buncu!" katanya
dengan suara lirih.
"Harap Buncu banyak rezeki!" Wan Fei-yang mengucapkan
kata-kata yang diajarkan oleh Tok-ku Hong sebelumnya.
"Bagus!" mata Tok-ku Bu-ti memandangnya dengan tatapan
menyelidik. "Aku dengar kau pernah menolong nyawa Hong-
865 ji!" "Hal itu juga berkat keberuntungan Buncu!"
"Bagus sekali!" Tok-ku Bu-ti tertawa lebar. "Apa tujuanmu
mempelajari ilmu dari Bu-ti-bun?" tanyanya kemudian.
"Siaujin (aku yang rendah) sejak kecil selalu dihina orang.
Maka dari itu aku berharap dapat mempelajari ilmu silat
barang beberapa jurus agar dapat mendongakkan kepala di
hadapan orang lain."
"Punya semangat!" mata Tok-ku Bu-ti mengerling. "Hong-ji
mengharap aku menerimamu sebagai murid ...."
Ucapannya belum selesai, terdengar sebuah suara menyahut
lantang dari luar, "Suhu, orang ini jangan sekali-kali diterima sebagai murid!"
Kongsun Hong menerjang masuk dengan wajah merah
padam. Melihat kedatangan orang itu, hawa marah Tok-ku
Hong langsung meluap. "Suheng, lagi-lagi kau mengacau!"
Kongsun Hong maju selangkah. "Orang ini pasti mata-mata.
Ilmunya sangat tinggi!" kata Kongsun Hong.
Wan Fei-yang tertegun seketika.
"Omong kosong!" bentak Tok-ku Hong.
"Sumoay, tahukah kau bahwa dia adalah manusia bertopeng
yang mengalahkan Kuan Tiong-liu di kaki gunung Bu-tong
tempo hari?" kata Kongsun Hong sambil menuding ke arah
866 Wan Fei-yang. Wan Fei-yang menjadi termangu-mangu. Tok-ku Hong merasa
heran Kongsun Hong bisa mengungkit kejadian itu.
"Kau memang paling pintar mengoceh yang bukan-bukan. Dia
sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Malah tadi hampir saja
terbunuh oleh orangmu!" bentaknya marah.
"Dia tadi ...." Kongsun Hong menjadi gagap-gugup.
"Kau kira aku tidak tahu bahwa orang yang membawa golok
itu adalah orang suruhanmu. Karena kau adalah Toasuheng
dan Siau Yang sama sekali tidak terluka, maka aku tidak
berniat memperpanjang urusan ini. Sekarang kau malah ...."
"Sumoay ... apa yang aku katakan benar adanya," wajah
Kongsun Hong merah padam. "Dia memang manusia
bertopeng itu. Apakah kau tidak merasakan kemiripan suara
mereka?" Tok-ku Hong tertegun. Agaknya sampai saat ini dia baru
teringat urusan tersebut.
"Tadi aku memang menyuruh Cao Pao mencari gara-gara
dengannya. Maksudku ialah ingin memaksanya mengeluarkan
kepandaian yang dia miliki," kata Kongsun Hong kembali.
"Tapi dia sama sekali tidak melawan. Malah lari pontang-
panting ketakutan."
"Dia memang sengaja berpura-pura di depan kita. Sebetulnya
gerak-geriknya yang jatuh bangun itu merupakan semacam
867 ilmu yang disebut Ping-wei-ma-po. Oleh karena itu, meskipun
Cao Pao berusaha mengejar dan menggerakkan goloknya
dengan gencar, dia tetap dapat menghindar."
Tok-ku Hong menatap Wan Fei-yang lekat-lekat. Wajahnya
berubah menjadi kelam. Kongsun Hong menoleh kepada Tok-
ku Bu-ti. "Suhu, Ping-wei-ma-po adalah ilmu Bu-tong-pay yang
tidak boleh diwariskan kepada siapa pun juga. Cian-bin-hud
sudah mengatakannya dengan jelas!" katanya.
Tok-ku Bu-ti tertawa datar. "Kau kira Suhu tidak ada ilmu
gerakan langkah seperti itu" Justru karena ilmu itu masih
menjadi pertanyaan apakah milik sah Siau-lim-pay atau milik
Bu-tong-pay, maka tidak boleh dipelajari oleh siapa pun,"
sahutnya tenang.
Kongsun Hong menggelengkan kepalanya sambil menuding
ke arah Wan Fei-yang. "Orang ini pasti mata-mata yang diutus
oleh Bu-tong-pay."
"Apa yang kau ketahui?" suara Tok-ku Bu-ti semakin datar.
Kongsun Hong tertegun. "Apakah Suhu tetap ....?"
"Sejak semula aku sudah tahu!" tiba-tiba Tok-ku Bu-ti
merentangkan tangannya. Sepasang telapak tangannya
menghantam pintu ruangan tersebut. Terdengar suara "blam!"
pintu itu tertutup seketika. Wang Fei-yang memalingkan
wajahnya. Dia terkejut sekali melihat kenyataan itu.
Wajah Tok-ku Hong juga berubah hebat, "Tia ....!" serunya
panik. 868 "Kau minggir ke sana!" kata Tok-ku Bu-ti sambil mengeluarkan
sepucuk surat dari balik pakaiannya. "Kongsun-ji, kau bacakan
surat dengan suara keras!" Surat itu dientakkannya. Lembaran
kertas itu menjadi kaku seketika seperti lempengan besi.
Kongsun Hong segera maju menerima surat tersebut. Dia
membacanya keras-keras:
"Ciangbunjin generasi baru dari angkatan Ciok menyampaikan
salam kepada Buncu dari Bu-ti-bun, Tok-ku Bu-ti ....
"Bu-tong-pay sedang tertimpa kemalangan. Generasi
pendahulu Ci-siong Tojin dibokong oleh seorang murid
sehingga tewas. Kami masih dalam suasana berkabung.
Apabila menggerakkan senjata dalam keadaan demikian,
tentu akan menjadi gunjingan kawan-kawan di dunia
Kangouw. Dengan demikian, kami mohon pengertian Tok-ku
Buncu untuk memundurkan tanggal pertarungan selama
setengah tahun. Tok-ku Buncu adalah orang yang penuh
pengertian. Kami yakin permintaan ini tidak akan ditolak ...."
Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak.
"Benar-benar alasan yang tepat. Dengan demikian orang tidak
bisa mengatakan bahwa murid Bu-tong-pay adalah orang-
orang yang takut mati." Dia memberi isyarat kepada Kongsun
Hong agar meneruskan kata-kata dalam surat itu.
"Mengenai murid murtad Wan Fei-yang yang membunuh
Suhu, sekarang sudah mengganti nama menjadi Siau Yang.
Orang ini masuk menjadi anggota Bu-ti-bun dan bekerja di
toko obat. Entah dia mengandung maksud tertentu atau
memang sebetulnya orang dari pihak kalian yang
diperintahkan untuk membunuh Suhu. Kami mengharap Tok-
ku Buncu tidak keberatan menyerahkan orang ini agar dapat
869 kami hukum sesuai peraturan ...."
Mendengar sampai di sini, hati Wan Fei-yang langsung
tergetar. Dia merasa heran sekali.
"Mengapa Fu-toako bisa tahu?" gumamnya seorang diri.
Kembali Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak. "Kau yang
bernama Wan Fei-yang?" tanyanya tenang.
Sinar mata Wan Fei-yang terangkat ke atas. Dia
mengertakkan giginya erat-erat. "Betul!" sahutnya nekat.
"Orang-orang Bu-tong-pay menuduh kau yang membunuh Ci-
siong Tojin, bagaimana pendapatmu sendiri?" tanya Tok-ku
Bu-ti kembali. "Aku tidak membunuhnya!"
"Sebetulnya siapa Suhumu, Ci-siong Tojin atau Yan Cong-
tian?" sinar mata Tok-ku Bu-ti semakin tajam.
Hati Wan Fei-yang kembali tergetar. Dia benar-benar kagum
akan ketajaman mata Tok-ku Bu-ti dan kecepatan anak
buahnya dalam mencari berita. Namun dia juga tidak habis
pikir bagaimana tebakannya begitu tepat.
Dia tidak menyahut. Tok-ku Bu-ti juga tidak mendesaknya. Dia
masih tertawa lebar. "Aku malah tidak habis pikir apa
tujuanmu menyelinap ke dalam Bu-ti-bun!"
"Suhu, aku rasa dia ingin menyelidik rahasia ilmu yang kau
pelajari sehingga kelak ada pegangan dalam menghadapimu,"
870 tukas Kongsun Hong.
"Mungkin saja ...." sahut Tok-ku Bu-ti datar.
"Kalau begitu, kita terlebih-lebih tidak boleh melepaskannya.
Lebih baik langsung dibunuh saja!" Sepasang Jit-goat-lun
Kongsun Hong langsung berputaran. Dia tidak menunggu izin
dari Tok-ku Bu-ti. Tubuhnya segera melesat ke depan
menyerang Wan Fei-yang.
Tentu saja Wan Fei-yang melihat dengan jelas bahwa
Kongsun Hong sedang menerjang ke arahnya. Dia tertawa
getir. Jarak Kongsun Hong semakin dekat. Sepasang Jit-goat-
lun di tangannya mengancam dada Wan Fei-yang.
Jilid 19 Anak muda itu melirik Tok-ku Hong sekilas. Tapi gadis itu
memalingkan wajahnya. Wan Fei-yang menarik napas
panjang. Tubuhnya berkelebat beberapa kali. Gerakannya
seperti hantu gentayangan. Tahu-tahu serangan Kongsun
Hong sudah mengenai tempat yang kosong.
Kongsun Hong tertawa terbahak-bahak.
"Akhirnya ekor musangmu terlihat juga!" Sepasang Jit-goat-lun
menari-nari ke atas dan ke bawah. Tentu saja bukan benar-
benar menari namun gerakan senjatanya yang hampir mirip
dengan tarian. Berturut-turut dia menyerang Wan Fei-yang.
Tok-ku Bu-ti sama sekali tidak mencegah. Dia hanya duduk
tenang menyaksikan jalannya pertarungan. Wan Fei-yang
871 menjalankan langkah barisan Jit-sing. Dia menerobos ke
dalam cahaya Jit-goat-lun milik Kongsun Hong. Dengan
gencar dan berturut-turut dia berhasil menghindarkan diri dari
serangan Kongsun Hong sebanyak empat puluh sembilan kali.
Tiba-tiba tubuhnya mencelat ke udara. Ibarat seekor naga
sakti meluncur ke arah Kongsun Hong dan menghantam tepat
pada bahu anak muda tersebut.
"Plak!", tubuh Kongsun Hong tergetar dan mencelat mundur
sejauh setengah depa. Wajahnya merah padam. Meskipun dia
tidak terluka parah, tapi hantaman telapak tangan Wan Fei-
yang terasa nyeri juga. Dia menahan kakinya agar jangan
terhuyung-huyung. Kemudian dia bersiap menyerang kembali.
Belum sempat dia menerjang, Tok-ku Hong yang sejak tadi
berdiri di sudut sudah mendahuluinya.
Sepasang goloknya sudah dikeluarkan. Tangannya menuding
Wan Fei-yang. "Siau Yang .... Wan Fei-yang! Aku tidak
menyangka kalau kau adalah seorang manusia yang rendah.
Kau sengaja memperalat aku agar dapat menyelinap ke dalam
Bu-ti-bun!"
Matanya sudah mengembang air. Melihat tampang gadis itu,
Wan Fei-yang terharu sekali. Dia menatapnya dengan
pandangan bersalah. Kemudian dia menarik napas panjang.
"Sebetulnya aku mempunyai kesulitan yang tidak dapat
kujelaskan ...."
"Tidak perlu banyak bicara! Lihat golok!" teriak gadis itu.
Belum lagi goloknya bergerak, air matanya sudah jatuh


Ilmu Ulat Sutera Karya Huang Ying di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bercucuran. Dalam seumur hidupnya, baru kali ini dia berniat menolong
872 orang setulus hati. Siapa tahu Wan Fei-yang malah
memperalatnya. Bagaimana dia tidak menjadi sedih dan sakit
hati" Hati Wan Fei-yang sendiri semakin tertekan. Akhirnya
sepasang golok Tok-ku Hong mulai menyerang. Wan Fei-yang
hanya menghindar terus. Dia sama sekali tidak membalas.
Tindakannya malah seperti orang yang terpaksa dan apa
boleh buat. Meskipun gerakan golok Tok-ku Hong cukup cepat, tapi dalam
seratus delapan kali serangan, tidak sekali pun dia sanggup
menyentuh tubuh Wan Fei-yang. Tentu saja dia sama sekali
tidak mengira bahwa Wan Fei-yang terus-terusan mengalah
kepadanya. Gadis itu masih menyerang dengan gencar.
Tok-ku Bu-ti melihat semua itu dengan jelas. "Berhenti!"
bentaknya lantang.
Tok-ku Hong menarik kembali goloknya. "Tia ....?"
Tok-ku Bu-ti mengibaskan tangannya. "Tidakkah kau sadari
bahwa sejak tadi dia hanya mengalah terus" Kau memang
bukan tandingannya!"
Tok-ku Bu-ti memalingkan wajahnya menghadap Wan Fei-
yang. "Kungfu bagus!" pujinya.
Wan Fei-yang sedang memandang ke arah Tok-ku Hong. Dia
tidak menyahut.
"Aku akan memberimu waktu sepeminuman teh untuk
beristirahat. Jangan sampai kau mengatakan bahwa kami
menghadapimu dengan cara bergilir supaya tenaga dalammu
terkuras habis!" kata Tok-ku Bu-ti kembali.
873 "Tok-ku Bu-ti memang tidak malu menjadi Buncu sebuah
perguruan yang terkemuka," Wan Fei-yang tertawa datar. "Aku
tidak perlu beristirahat, kau boleh turun tangan sekarang juga!"
Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak.
"Berdasarkan kedudukanku sebagai seorang Buncu,
seandainya aku dapat mengalahkanmu, orang-orang dunia
Kangouw pasti akan mengatakan aku yang tua menghina
yang muda."
"Suhu, bagaimanapun kau harus memberi pelajaran pahit
kepadanya!" teriak Kongsun Hong yang takut Tok-ku Bu-ti
terlalu gengsi untuk menghadapi Wan Fei-yang.
Tok-ku Bu-ti tertawa dingin. "Aku mempunyai perhitungan
sendiri." Dia menoleh kembali kepada Wan Fei-yang. "Baiklah
.... Aku akan menguji sampai sepuluh jurus saja. Seandainya
sanggup menerima sepuluh jurus seranganku, kau boleh pergi
dari tempat ini sesuka hatimu. Urusan hari ini tidak akan kami
perpanjang lagi!" katanya tegas.
Wan Fei-yang tertegun sesaat. "Aku terima syarat yang kau
ajukan," sahutnya kemudian.
"Aku tidak pernah mengingkar janji!" teriak Tok-ku Bu-ti.
"Kongsun-ji, kau yang menghitung!"
Kongsun Hong segera mengiakan.
"Satu!" teriaknya lantang.
874 Tubuh Tok-ku Bu-ti mencelat dari atas kursi dan melayang di
udara. Gerakannya demikian cepat laksana seekor burung
rajawali yang mengincar mangsanya. Tiba-tiba telapak
tangannya terulur dan meluncur ke arah Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang segera mengembangkan sepasang telapak
tangannya, kakinya bergerak maju dan kedua pasang telapak
pun saling berbenturan.
"Blam!", tubuh Tok-ku Bu-ti berjungkir balik kemudian
melayang turun dengan mantap. Wan Fei-yang tergetar
mundur setengah langkah. Di atas tanah tempatnya berdiri
tadi terlihat dua bekas telapak kaki yang melesak ke dalam.
"Ternyata kau memang bakat yang langka!" mata Tok-ku Bu-ti
bersinar tajam. "Hati-hati!" teriaknya sambil kembali
menyerang. Telapak tangannya sudah mengancam kembali.
Wan Fei-yang menggeser tubuhnya secepat kilat.
Pergelangan tangannya memutar. Tangannya sudah
menggenggam sebatang toya, sedangkan tubuh Tok-ku Bu-ti
meluncur balik dan mengambil tongkat kepala naga yang letak
di samping kursinya tadi.
Menggunakan kesempatan itu, tubuh dan toya Wan Fei-yang
meluncur dalam waktu yang bersamaan. Sekaligus dia
mengerahkan tiga belas serangan, semuanya mengancam
tenggorokan Tok-ku Bu-ti. Tidak syak lagi, ilmu yang
digunakan adalah Sou-hou-cang yang dipelajari juga oleh Fu
Giok-su. "Bagus! Sou-hou-cang!" seru Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-
bahak. 875 Tiga kali berturut-turut dalam jangka waktu tiga puluh tahun
dia pernah mengalahkan Ci-siong Tojin yang merupakan guru
Wan Fei-yang. Tentu saja dia tidak memandang sebelah mata
pun kepada bocah yang masih bau ingus itu. Tongkat kepala
naganya bergerak gencar. Wan Fei-yang tentu saja tidak ingin
mati konyol di tempat itu. Dia mengerahkan segenap
kemampuannya. Dengan toya di tangan, dia memainkan Bu-
tong-liok-kiat. Hal inilah yang tidak terduga oleh Tok-ku Bu-ti.
Bocah ini rupanya seorang yang mempunyai bakat besar
dalam mempelajari ilmu silat. Pada suatu hari kelak, apabila
dia masih mempunyai kesempatan hidup, belum mencapai
usia sebaya dengan Ci-siong Tojin, ilmunya pasti sudah jauh
lebih tinggi daripada almarhum Ciangbunjin Bu-tong-pay
tersebut. Meskipun dengan kalang kabut dan rada kewalahan, Wan Fei-
yang masih bisa menghindar beberapa serangan Tok-ku Bu-ti.
Sedangkan hitungan Kongsun Hong sudah mencapai angka
sembilan. Kali ini senjata Wan Fei-yang terdesak oleh Tok-ku
Bu-ti sampai senjatanya terlepas dari tangan. Namun dia tidak
mengalami luka apa-apa.
Tok-ku Hong yang sudah berdiri dan menyaksikan jalannya
pertarungan sampai melongo, apalagi Kongsun Hong dan
para anggota Bu-ti-bun lainnya. Meskipun senjatanya sudah
terlepas dari tangan, penampilan Wan Fei-yang masih
demikian tenang. Dia merangkapkan sepasang telapak
tangannya untuk melindungi bagian dada. "Tinggal satu jurus
lagi," katanya datar.
Wajah Tok-ku Bu-ti beku seperti balok es.
876 "Aku tahu!" dia melemparkan tongkat kepala naganya di atas
tanah. Senyumnya sudah sirna sejak tadi. Wajahnya tampak
kelam. Ilmu silat Wan Fei-yang benar-benar di luar
dugaannya. "Aku tidak menyangka kau sudah menguasai Bu-tong-liok-kiat
dengan sempurna. Benar-benar hal yang mengagumkan!"
katanya serius.
"Aku yang rendah masih belum diberi kesempatan untuk
melihat Mit-kip-sin-kang Buncu yang terkenal itu," sahut Wan
Fei-yang. Tok-ku Bu-ti tertawa dingin. "Apakah kau sudah mempelajari
ilmu pusaka Bu-tong-pay yang ketujuh, Tian-can-kiat?"
tanyanya menyelidik.
"Belum," sahut Wan Fei-yang tanpa sadar.
Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak. Justru sejak tadi dia
merasa ragu apakah Wan Fei-yang sudah mempelajari ilmu
Tian-can-kiat yang kesaktiannya menggetarkan dunia
Kangouw. "Belum mempelajari Tian-can-kiat, kau sudah berani
menantang Mit-kip-sin-kangku?"
Wan Fei-yang menarik napas dalam-dalam. "Silakan!"
Tiba-tiba lengan baju Tok-ku Bu-ti menghempas-hempas
meskipun tiada angin yang bertiup, kemudian berubah kaku
seperti lempengan baja. Seiring dengan teriakan Kongsun
Hong, "Sepuluh!" Tok-ku Bu-ti ibarat seekor naga yang
877 mengamuk dan melesat ke tengah-tengah udara. Sepuluh jari
tangannya berubah merah membara. Suaranya menderu-
deru. Wan Fei-yang segera terkurung oleh kibasan lengan baju Tok-
ku Bu-ti. Sejak mempelajari Mit-kip-sin-kang, belum pernah
ada orang yang dapat mengalahkannya. Bagaimana hatinya
tidak besar. Sementara itu Wan Fei-yang sendiri hampir
menyesal telah memancing Tok-ku Bu-ti mengerahkan ilmu
yang satu itu. Namun sekarang nasi sudah menjadi bubur.
Sepasang telapak tangan Tok-ku Bu-ti yang berwarna merah
membara sudah di depan mata. Dengan nekat Wan Fei-yang
mengembangkan sepasang telapak tangannya dan
menyambut hantaman Mit-kip-sin-kang milik Tok-ku Bu-ti.
Tok-ku Hong yang melihat jalannya pertarungan segera
menjadi panik. Dia memang marah sekali. Tapi saat ini dia
justru mengkhawatirkan keadaan Wan Fei-yang.
"Blammm!", terdengar suara benturan yang memekakkan
telinga. Tubuh Wan Fei-yang terbang ke udara dan jatuh
sesudah menghantam pintu besi. Dia menggelinding di tanah
sebanyak dua kali. Tangannya menopang berat tubuhnya dan
berusaha berdiri. Wajahnya berubah menjadi merah padam.
Itulah kehebatan Mit-kip-sin-kang. Tubuhnya bergetar dengan
hebat. Siapa pun dapat melihat bahwa dia sudah terluka oleh
getaran tenaga Mit-kip-sin-kang Tok-ku Bu-ti. Sepasang Jit-
goat-lun di tangan Kongsun Hong segera digetarkan
menerjang ke depan.
"Biar aku yang menghabisinya!" teriak laki-laki itu penuh
semangat. 878 Tok-ku Hong segera menghambur ke depan dan mengadang
di depan tubuh Wan Fei-yang. "Tia ....!" panggilnya sendu.
Pada saat itu tubuh Tok-ku Bu-ti baru melayang kembali di
tanah. Dia mengembuskan napas panjang. Ia lalu menoleh
kepada Tok-ku Hong. "Kau ingin Tia melepaskannya?"
Tok-ku Hong mengangguk dengan kepala tertunduk. "Biar
bagaimana, dia juga pernah menyelamatkan nyawa Hong-ji!"
"Suhu ...." Kongsun Hong segera memanggil.
Tok-ku Bu-ti tertawa dingin. "Di kaki gunung Bu-tong-san,
kalau bukan karena dia yang menghalangi Kuan Tiong-liu, kau
juga sudah menjadi mayat saat ini. Apakah kau sudah lupa?"
sindirnya tajam.
Kongsun Hong tertegun, sementara itu kepala Tok-ku Bu-ti
manggut-manggut berulang kali.
"Tidak salah. Jadi manusia, hal yang paling penting adalah
jangan melupakan budi yang pernah dilepaskan oleh
seseorang kepada kita!"
Mendengar kata-kata Tok-ku Bu-ti, Kongsun Hong tidak berani
mengucapkan apa-apa lagi. Tok-ku Bu-ti mengibaskan lengan
bajunya. "Baik. Wan Fei-yang, pergilah!" kemudian ia menepuk
tangannya satu kali.
Wan Fei-yang tidak berkata apa-apa. Dia membalikkan
tubuhnya. Pintu besi itu pun segera terbentang lebar. Wan
879 Fei-yang melangkahkan kakinya perlahan. Tampaknya dia
akan terjungkal jatuh. Namun dia mempertahankan diri
sekuatnya dan akhirnya dia berhasil juga menegakkan
tubuhnya dan melangkah terus.
Tok-ku Hong bermaksud mengejar. Tapi tangannya ditarik
oleh Tok-ku Bu-ti. Kongsun Hong seperti sedang
merenungkan sesuatu.
"Suhu, sekarang saja ilmu bocah ini sudah sedemikian tinggi.
Sebetulnya dia tidak boleh dilepaskan begitu saja!" dia
langsung menggerakkan kakinya dengan maksud mengejar.
"Aku sudah bilang melepaskannya! Jangan membuat aku
malu!" bentak Tok-ku Bu-ti.
Kongsun Hong segera menghentikan langkah kakinya. Namun
dia masih merasa penasaran, "Mengapa tidak dibunuh ....?"
"Orang yang masih bisa menegakkan tubuhnya sambil
berjalan setelah terkena ilmu Mit-kip-sin-kang sama sekali
tidak banyak. Wan Fei-yang ini benar-benar tergolong laki-laki
sejati. Aku suka orang yang keras hatinya seperti dia," kata
Tok-ku Bu-ti. Dia menarik napas panjang, "Dalam hal memilih
murid, Bu-ti-bun memang kalah jauh dengan Bu-tong-pay."
Wajah Kongsun Hong merah padam mendengar sindiran yang
tajam itu. Tok-ku Bu-ti menarik napas panjang lagi,
"Sayangnya ...."
Hati Tok-ku Hong tergetar.
"Tia, sayangnya apa?" desaknya segera.
880 "Dia menyambut pukulanku dengan kekerasan. Urat nadi
tubuhnya sudah tergetar. Meskipun tidak sampai mati, tapi
untuk selanjutnya dia sudah menjadi orang cacat. Seorang
cacat yang tidak bisa ilmu silat lagi sama sekali, buat apa kita membunuh orang semacam dia?"
Mendengar keterangan Tok-ku Bu-ti, Kongsun Hong baru
mengembangkan seulas senyuman di bibirnya. Sedangkan
wajah Tok-ku Hong menjadi pucat seketika.
Seharusnya dia lebih jelas sifat ayahnya sendiri. Tidak
mengancam ketenangannya di dunia Kangouw. Jadi inilah
sebabnya dia membiarkan Wan Fei-yang tetap hidup di dunia
ini. ***** Wan Fei-yang melangkah perlahan, namun akhirnya dia
berhasil juga keluar dari pintu Bu-ti-bun. Pintu itu masih
tertutup rapat. Dia tidak punya tenaga lagi untuk
mempertahankan diri. Segumpal darah segar muncrat dari
mulutnya dan dia jatuh berlutut di atas tanah. Tepat pada saat
itu, wajahnya sudah berubah sepucat lembaran kertas.
Keringat sebesar-besar kacang kedelai menetes dari
keningnya. Penderitaannya benar-benar tidak usah dikatakan
lagi. Perut dan dadanya bagai dihunjam oleh berbagai senjata
tajam. Dengan susah payah dia mengeluarkan botol obat yang
diberikan oleh si kerdil Sam-cun dari balik pakaiannya. Dia
menuangkan beberapa butir di tangan lalu menelannya
sekaligus. Setelah mengatur napas beberapa saat, dia
881 memaksakan dirinya untuk berdiri dan melangkah perlahan.
Kadang-kadang dia tersuruk jatuh kemudian bangun lagi.
Dengan cara demikian, dia menuruni gunung tersebut.
Kalau biasanya dia hanya memerlukan waktu kurang dari satu
kentungan untuk mencapai kota terdekat, maka sekarang dia
terseret-seret hampir tiga kentungan baru akhirnya dapat


Ilmu Ulat Sutera Karya Huang Ying di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mencapai sebuah penginapan di kota tersebut. Matahari
sudah hampir tenggelam. Wan Fei-yang berjalan dengan
tangan merambat di tembok rumah orang. Dia melangkah
masuk ke dalam penginapan tersebut dengan susah payah.
Walaupun seluruh tubuhnya kotor berlumuran tanah tapi
bagaimanapun dia masih membawa uang yang cukup banyak.
Di mana pun seseorang berada, uang memang bisa berkuasa
atas segalanya. Seandainya saat itu Wan Fei-yang berpakaian
perlente tapi tidak mempunyai uang, dia pasti tidak dilayani
oleh pemilik penginapan. Maka dari itu, akhirnya Wan Fei-
yang berhasil menyewa sebuah kamar.
Seorang pelayan merapikan dulu selimut dan menyediakan
berbagai keperluannya kemudian baru meninggalkan kamar
tersebut. Wan Fei-yang tidak dapat mempertahankan diri lagi,
dia terjatuh di atas tempat tidur.
Sampai pagi hari kedua pelayan mengetuk pintu kamarnya.
Tetap tidak terdengar sahutan. Dia memberanikan diri
mendorong pintu dan masuk ke dalam. Dia melihat Wan Fei-
yang terbaring di tempat tidur dengan darah yang masih
mengalir di sudut bibirnya. Napasnya sudah lemah sekali.
Pemilik penginapan yang mendapat laporan dari sang pelayan
cepat-cepat datang melihat keadaannya. Orang itu terkejut
882 sekali. Dia tidak tahu apakah Wan Fei-yang masih dapat
bertahan lebih lama, tapi kalau sampai tamu ini meninggal di
penginapannya, tentu akan banyak masalah. Akhirnya dia
mengambil keputusan.
Malam harinya dia menyuruh beberapa orang pelayan masuk
ke kamar Wan Fei-yang secara diam-diam dan menggotong
anak muda itu. Mereka membawanya ke tempat yang
terpencil dan menggeletakkan tubuhnya dekat sebuah lorong
kecil. Selama itu Wan Fei-yang tetap tidak sadarkan diri.
***** Lorong kecil itu benar-benar sepi dan terpencil. Di sebelah kiri
dan kanan banyak terdapat bangunan yang masih belum jadi.
Wan Fei-yang digeletakkan oleh para pelayan penginapan di
tempat tersebut. Seandainya dia tidak sadar sendiri, akibatnya
benar-benar tidak dapat dibayangkan, karena pada saat itu
hujan turun dari langit.
Angin tidak seberapa kencang. Hujan pun tidak deras sekali.
Suara curahannya yang bagai irama tak menentu
memecahkan keheningan malam. Seluruh tanah telah basah
tergenang air hujan. Betul-betul di pinggir lorong juga seperti tercuci bersih. Tubuh Wan Fei-yang juga sudah basah kuyup.
Di bawah terpaan hujan angin itulah Wan Fei-yang akhirnya
sadarkan diri. Pikirannya mulai terang sedikit demi sedikit.
Melihat keadaannya sendiri pada waktu itu, dia segera dapat
menduga apa yang telah terjadi. Rasa nyeri dalam perut dan
dadanya masih belum hilang. Dia merasa heran. Apakah obat
pemberian Sam-cun yang menurutnya dapat menyembuhkan
luka dalam tidak manjur lagi" Atau dia yang meminumnya
883 terlalu sedikit" Namun perlahan-lahan dia mulai mengerti.
Lukanya beda dengan luka biasa. Dia terhantam pukulan Mit-
kip-sin-kang milik Tok-ku Bu-ti. Tentu bukan sembarang obat
yang bisa menyembuhkan luka semacam itu.
Bibir Wan Fei-yang menyunggingkan seulas senyum yang
pahit. Apakah dia akan mati sebentar lagi" Dia tidak takut
mati. Tapi bayangan kematian Ci-siong Tojin yang ternyata
ayah kandungnya berputaran di benaknya. Tidak! Dia tidak
boleh mati sebelum namanya tercuci bersih. Apabila dia mati
begitu saja, sia-sialah jerih payah Suhu sekaligus ayahnya
yang telah mendidiknya dengan segala cara. Oleh sebab itu
Wan Fei-yang memberontak. Dia merangkak di bawah
curahan hujan sambil menahan rasa nyeri. Perlahan-lahan dia
maju. Bagai seekor binatang yang sedang merayap, akhirnya
dapat juga dia keluar dari lorong kecil tersebut. Apa yang
masih dimilikinya saat itu hanya setitik semangat untuk
mengejar kehidupan. Masih begitu banyak urusan yang belum
berhasil diselesaikan. Masih begitu banyak misteri yang belum
sempat dipecahkan. Dia benar-benar tidak ingin mati sekarang
ini. Lorong itu tidak seberapa panjang, tapi dia memerlukan waktu
nyalanya sebatang hio baru bisa mencapai ujungnya. Dengan
berpegangan pada tembok, dia berusaha duduk. Tepat pada
saat itu, seekor kuda dilarikan dengan cepat dari depan sana.
Penunggangnya seorang pemuda gagah berpakaian putih.
Siapa lagi kalau bukan Kuan Tiong-liu dari Go-bi-pay.
Pandangan Wan Fei-yang sudah berkunang-kunang. Kuan
Tiong-liu juga tidak menaruh perhatian. Kuda itu terus dipacu
dengan kencang. Lumpur dan percikan tanah menciprat wajah
Wan Fei-yang. Dia tidak peduli. Juga tidak punya tenaga untuk
884 peduli lagi. Dengan bertumpu pada tembok rumah dia berdiri.
Perlahan-lahan dia menyeret kakinya melangkah terus. Entah
sudah berapa lama dan sudah berapa jauh dia berjalan
dengan cara demikian. Akhirnya dia melihat setitik sinar.
Yang dilihatnya merupakan lentera yang tergantung di depan
rumah. Cahayanya cukup terang. Empat orang pelayan
sedang menjalankan perintah majikannya membagi-bagi nasi
dan bubur kepada para pengemis dan fakir miskin. Tentunya
pemilik rumah ini seorang yang sangat dermawan, pikir Wan
Fei-yang dalam hati.
Membagi-bagi makanan kepada para pengemis dan fakir
miskin adalah perbuatan mulia. Kebaikan hati pemilik rumah
ini tampaknya tidak usah diragukan lagi. Orang yang datang
juga cukup banyak, namun setelah mendapat bagian masing-
masing, akhirnya mereka meninggalkan tempat itu satu per
satu. Keempat pelayan itu membereskan sisa nasi dan bubur yang
masih cukup banyak. Pada saat itulah mereka melihat Wan
Fei-yang menumpu pada tembok dan melangkah dengan
susah payah. Tampaknya anak muda itu mendatangi ke arah
mereka. Wan Fei-yang justru mencium harum nasi dan bubur. Dia
sudah pingsan selama dua hari. Belum lagi diterpa hujan dan
angin. Perutnya tentu sudah kelaparan. Tanpa sadar dia terus
maju mengikuti kata hatinya. Secara samar-samar dia dapat
menangkap suara panggilan para pelayan itu yang
memintanya mendekat untuk menerima nasi dan bubur yang
sudah disediakan.
885 Niat hatinya sendiri memang demikian, tapi tenaganya sudah
hampir habis. Baru saja tangannya melepas dari pegangan
tembok dan bermaksud menyeberang ke arah rumah tersebut,
dia sudah terkulai jatuh dan pingsan seketika.
Keempat pelayan yang melihat keadaan itu segera
menghampiri. Dengan panik dan kalang kabut mereka
memapah tubuh Wan Fei-yang ke depan pintu rumah. Wan
Fei-yang tidak memperlihatkan reaksi sama sekali. Salah
seorang pelayan itu mendekatkan jari tangannya di depan
hidung Wan Fei-yang. Dia masih merasakan embusan
napasnya yang sudah lemah.
"Masih bernapas ....!" teriak pelayan itu.
"Kalau dilihat dari tampangnya, rasanya tidak mirip orang
jahat. Apakah dia bertemu dengan kaum perampok dan
dibegal habis-habisan?"
"Toh-loya (majikan) setiap hari memikirkan bagaimana
caranya berbuat kebaikan sebanyak mungkin. Kita gotong
saja dia ke dalam. Setelah itu meminta Loya memanggil tabib
untuk memeriksanya."
Rekannya yang lain segera menganggukkan kepalanya.
Beramai-ramai mereka menggotong Wan Fei-yang ke dalam.
Pada lentera besar yang tergantung di atas pintu tertera huruf
"Lu" yang berwarna merah terang. Di samping pintu juga
terdapat kayu berukiran yang tertera "Kediaman keluarga Lu".
Kalau ditilik dari mewahnya rumah tersebut dan gayanya yang
unik, kemungkinan besar pemilik gedung ini adalah seorang
pejabat pemerintahan.
886 ***** Tiga kentungan kemudian, Wan Fei-yang baru tersadar
kembali. Ternyata obat pemberian si kerdil Sam-cun mulai
menunjukkan reaksinya. Meskipun tubuhnya lemas tidak
bertenaga, namun kesadaran dan semangatnya sudah pulih
banyak. Wajahnya masih pucat pasi, tapi darah yang mengering di
ujung bibir sudah dicuci bersih. Pakaiannya pun sudah diganti.
Dia terbaring atas sebuah tempat tidur yang mewah. Kamar itu
sendiri juga sangat bersih dan indah. Seorang laki-laki berusia lanjut yang rambut serta jenggotnya sudah memutih berdiri di
pinggir tempat tidur. Saat itu ia sedang memandangi Wan Fei-
yang lekat-lekat.
Di samping orang tua berdiri dua orang pelayan. Melihat Wan
Fei-yang membuka matanya, mereka segera berseru, "Sudah
sadar!" Wan Fei-yang memerhatikan sekitarnya kemudian menunduk
memerhatikan keadaannya sendiri. Dia langsung mengerti apa
yang telah terjadi. Dia berusaha menegakkan badannya untuk
menjura tapi segulung rasa nyeri yang tidak terkirakan
menyerangnya seketika. Orang tua itu cepat-cepat memegang
tangannya. "Lukamu parah sekali, jangan sembarang bergerak!" katanya.
Nada suaranya keras dan berwibawa namun penampilan
wajahnya welas asih serta lembut. Wan Fei-yang menarik
napas dalam-dalam berulang kali.
887 "Tempat ini ...."
"Di sini gedung keluarga Lu. Tadi malam kau jatuh tidak
sadarkan diri di depan pintu. Untung saja ditemukan oleh
kami," sahut salah seorang pelayan.
"Ini adalah Loya kami," tukas pelayan yang satunya.
Sinar mata Wan Fei-yang beralih kepada orang tua tadi.
"Terima kasih atas pertolongan Lu-loya ...." katanya dengan
suara serak. Orang tua itu mengibaskan tangannya. "Tidak usah banyak
peradatan." Dia berhenti sejenak kemudian bertanya,
"Sebetulnya apa yang telah terjadi" Apakah kau dirampok
oleh kaum penjahat?"
Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya tanpa menyahut.
"Para perampok itu benar-benar kejam," kata orang itu
kembali. "Kalau mendengar aksen bicaramu, tampaknya kau bukan
orang sekitar sini?"
"Cayhe berasal dari Bu Ciu."
"Daerah itu bagus sekali. Aku mempunyai seorang kenalan
yang tinggal di daerah itu. Pendidikannya malah lebih tinggi
dariku." Wan Fei-yang tertawa getir. "Cayhe sejak kecil sudah
meninggalkan rumah. Mungkin tidak kenal dengan sahabat
888 Loya itu."
Orang tua menganggukkan kepalanya.
"Sahabatku itu orang yang jujur. Dia tidak suka mengejar
kekayaan atau pun nama besar. Sudah lama pula dia
mengundurkan diri dari dunia ramai dan hidup menyepi. Tidak
heran kalau kau yang masih demikian muda tidak
mengenalnya."
"Cayhe masih belum tahu nama besar Loya, biar kelak Cayhe
mendapat kesempatan untuk membalas budi ini."
Orang tua itu tersenyum lembut. "Ini soal kecil. Jangan kau
simpan di hati."
"Loya kami merupakan mantan gubernur di wilayah ini.
Hatinya selalu tulus dan baik terhadap siapa juga," tukas
seorang pelayan.
"Jangan banyak mulut!" tegur orang tua itu.
Wajah Wan Fei-yang menyiratkan perasaan curiga. "Apakah
Loya bernama Lu Wang, Lu-tayjin."
Orang tua itu tertegun. "Bagaimana kau bisa mengetahui
nama Lohu?"
"Gwakong Boanpwe she Wan, namanya Hai-tian," sahut Wan
Fei-yang. Orang tua itu tertegun sekali lagi. Tiba-tiba dia tertawa lebar.
Wajahnya berseri-seri. "Ternyata Gwakongmu adalah sahabat
889 yang Lohu katakan tadi." Dia berhenti sejenak kemudian
bertanya lagi. "Bagaimana keadaannya sekarang" Apakah dia
masih suka duduk santai di depan rumah sambil menikmati
arak?" Wajah Wan Fei-yang langsung berubah kelam. "Gwakong
Boanpwe sudah meninggal beberapa waktu yang lalu,"
sahutnya sendu.
Orang tua bernama Lu Wang itu menarik napas panjang.
"Setahu Lohu, kesehatannya sangat baik. Badannya kuat dan
jarang sakit. Ternyata dia malah mendahului Lohu menghadap
Yang Kuasa."
Wan Fei-yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Lu
Wang menggenggam tangan Wan Fei-yang erat-erat,
kemudian dia menepuk-nepuk bahunya.
"Kau tidak perlu bersedih lagi. Orang sudah tua lalu mati
karena sakit adalah hal yang lumrah. Siapa pun tidak bisa
menghindarkan diri dari kematian. Tinggal ah di sini dan
beristirahat sampai pulih. Kita lihat saja perkembangan
selanjutnya," kata Lu Wang dengan maksud menghibur.
Belum sempat Wan Fei-yang mengucapkan terima kasih, Lu
Wang sudah melanjutkan kata-katanya. "Hubungan Lohu
dengan Gwakongmu sudah seperti saudara sendiri. Kau juga
jangan sungkan. Anggaplah tempat ini sebagai rumahmu
sendiri." Dia merenung sejenak, kemudian tertawa sumbang,
"Lohu benar-benar sudah pikun, sampai sekarang Lohu masih
belum menanyakan nama keponakan."
"Boanpwe bernama Wan Fei-yang ...."
890 "Oh" Keponakan juga she Wan?"
Wan Fei-yang tertawa getir. "Boanpwe mengikuti she ibu."
Mata Lu Wang meliriknya sekilas. Dia tahu pasti ada sesuatu
yang disembunyikan anak muda itu dalam hal yang
menyangkut keluarganya. Tapi dia tidak bertanya banyak. Dia
menolehkan kepalanya ke arah salah seorang pelayan dan
memerintahkan, "A Fuk, cepat kau undang tabib di gedung
kejaksaan. A Cang ...." dia kembali memberi perintah agar
pelayan yang satu itu membereskan ruang perpustakaan di


Ilmu Ulat Sutera Karya Huang Ying di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sebelah timur. Sebelum pensiun, Lu Wang merupakan pegawai
pemerintahan yang kedudukannya cukup tinggi. Dia
menyadari banyak hal tidak pantas yang telah dilakukannya.
Tapi semua itu terhitung tugas yang harus dilaksanakannya.
Setelah tua, dia ingin menebus dosanya di masa lalu dengan
berbuat kebaikan sebanyak mungkin. Dia takut terhadap apa
yang disebut hukum karma. Apalagi dia tidak mempunyai
keturunan satu orang pun. Dia merasa semua ini merupakan
hukuman yang dijatuhkan Thian kepadanya. Oleh karena itu,
seandainya dia tidak mengenal Gwakong Wan Fei-yang, dia
tetap akan menerima anak muda itu dan menolong sebisanya.
Apalagi antara mereka ternyata ada hubungan meskipun tidak
secara langsung, maka dia merasa terlebih-lebih harus
mengulurkan tangan menolong Wan Fei-yang.
Oleh sebab itulah, Wan Fei-yang pun menetap di gedung
keluarga Lu. Saat itu dia sudah menyadari bahwa urat nadi
seluruh tubuhnya sudah tergetar putus. Dia tidak bisa
mengumpulkan hawa murninya lagi. Keempat anggota
891 tubuhnya lemas tidak bertenaga. Meskipun dia masih bisa
bergerak dan berjalan, tapi ilmu silatnya sudah punah.
Hal ini merupakan suatu pukulan yang besar baginya. Tapi,
meskipun dia bersedih, dia tidak mau berputus asa. Walaupun
kehidupannya sekarang berkecukupan dan tidak perlu bekerja
keras seperti di Bu-tong-pay, namun baginya hal itu tidak
begitu menyenangkan.
***** Kuda berhenti di depan sebuah penginapan. Kuan Tiong-liu
baru turun dari kudanya ketika seorang pelayan datang
menyambutnya. Penginapan itu merupakan tempat di mana
Wan Fei-yang menginap tempo hari.
Tentu saja kedatangan Kuan Tiong-liu bukan untuk mencari
Wan Fei-yang. Meskipun ia sangat membenci anak muda itu,
tapi dia tidak mempunyai minat khusus untuk mencari jejak
Wan Fei-yang. Karena baginya sekarang bukan waktu yang
tepat. Dua kali berturut-turut dikalahkan oleh Wan Fei-yang,
baginya sudah cukup. Dan kedatangannya bukan tanpa
tujuan, tapi tujuannya bukan kota ini melainkan Yi-sa-peng.
"Ke mana arah yang harus kuambil apabila ingin menuju Yi-
sa-peng?" baru duduk saja Kuan Tiong-liu sudah buru-buru
mencari keterangan dari pelayan penginapan tersebut.
"Dari sini ambil arah timur kurang lebih dua puluh li lebih,"
sahut sang pelayan. Mimik wajahnya menyiratkan kecurigaan
dan keheranan, karena setahunya, dalam jarak sepuluh li di
daerah sekitar Yi-sa-peng hanya ditumbuhi lalang yang tinggi.
Sama sekali tidak berpenghuni.
892 Kuan Tiong-liu juga tidak bertanya apa-apa lagi. Setelah
mengalami berbagai kejadian, dia sudah berubah banyak.
Paling tidak dia tidak membawa perabotan makan sendiri
sekarang. Tidak seperti sebelumnya yang mana ada Liok An
dan Jit Po yang membersihkan meja, menghamparkan kain
wol di atas kursinya dan menyediakan sumpit serta mangkuk
yang mewah. Perubahan ini baginya bukan tidak menguntungkan.
Setidaknya perubahan ini membuatnya sanggup
menyesuaikan diri dengan keadaan yang berlangsung di
depan mata. Kenyataannya Yi-sa-peng bukan tempat yang bagus. Seputar
daerah itu tidak ada yang dapat dinikmati. Batu-batu
berserakan di mana-mana. Rumput dan lalang menghalau
pemandangan. Malam hari dingin menggigil, siang hari malah
panas bagai terbakar api. Mungkin telur ayam saja akan
menjadi matang kalau dijemur di tempat itu.
Daerah seperti ini, tentu tidak ada manusia yang sudi
menetap. Saat itu tepat tengah hari. Matahari bersinar terik. Di luar hutan tandus daerah Yi-sa-peng berdiri lima orang. Ada
yang tinggi, ada yang tubuhnya pendek, ada yang kurus, dan
ada pula yang gemuk. Dua di antaranya memakai pakaian
berwarna hijau, sedangkan ketiga orang lainnya mengenakan
pakaian kuning panjang.
Sekitar dada terbuka lebar. Tangan masing-masing
menggenggam golok yang bentuk ujungnya melengkung.
Golok semacam itu berbeda dengan golok biasa. Bagi orang
dunia Kangouw yang sudah berpengalaman, tentu tidak sulit
893 menebak bahwa kelima orang itu adalah lima harimau dari
keluarga Peng. Sedangkan senjata yang digunakan mereka
terkenal dengan sebutan Go-houw-toan-bun-to.
Tampaknya kelima harimau dari keluarga Peng itu sudah
menantikan seseorang. Tapi orang yang ditunggunya, pasti
bukan Kuan Tiong-liu, sebab ketika mereka melihat Kuan
Tiong-liu berjalan menghampiri, wajah mereka menyiratkan
kecurigaan yang dalam.
Hutan itu tidak seberapa luas. Pohon-pohon juga hampir
gundul karena daunnya jarang sekali. Tapi bagi daerah seperti
Yi-sa-peng, keadaan di hutan ini sudah termasuk lumayan.
Go-houw berdiri di bawah bayangan pohon yang tersorot
cahaya matahari. Pada mata mereka hanya terlihat sinar
kecurigaan, sama sekali tidak tampak sinar permusuhan.
Boleh dibilang antara mereka juga saling kenal dan pernah
berteman. Tidak menunggu sampai jarak Kuan Tiong-liu mendekat,
mereka sudah maju menyambut, Kuan-heng, kebetulan
sekali!" Sikap Kuan Tiong-liu terhadap mereka juga sangat sungkan.
Dia menjura dalam-dalam. "Siaute memang sengaja datang
menemui kalian lima bersaudara." Dia merandek sejenak
kemudian melanjutkan kembali. "Siaute baru datang dari
rumah kalian. Dengar kabar kalian sudah menuju kemari ...."
Kelima orang bersaudara itu merasa heran. Peng Kim-houw
menyorotkan mata mengandung pertanyaan. "Sebetulnya ada
apa Kuan-heng mencari kami?"
894 "Sebelumnya Siaute pernah mendengar bahwa kalian lima
bersaudara pernah berkunjung ke negara India. Siaute ingin
menanyakan arah mana yang harus ditempuh apabila ingin
pergi ke negara itu, dan perbekalan apa saja yang harus
Siaute persiapkan?"
Peng Kim-houw semakin penasaran. "Untuk apa Kuan-heng
berkunjung ke negara India?" tanyanya menyelidik.
"Go-bi-pay mengalami musibah, kalian lima bersaudara pasti
sudah mendengar beritanya. Siaute terpaksa menghindarkan
diri untuk sementara di negara India. Sekalian ingin mencari
jejak seorang Cianpwe yang menurut kabar sekarang
menetap di negara itu. Siaute ingin membangun kembali partai
Go-bi-pay."
Peng Kim-houw tertawa lebar. "Rupanya demikian. Mudah
sekali. Setelah urusan di sini selesai, kami akan membuatkan
sebuah peta yang terperinci dan jelas untuk Kuan-heng."
"Terpaksa merepotkan kalian. Siaute ...."
"Saudara sendiri .... Jangan sungkan-sungkan," Peng Kim-
houw tersenyum lalu melanjutkan. "Urusan Kuan-heng
termasuk urusan kami juga."
"Kalau begitu, Siaute juga tidak perlu mengucapkan terima
kasih lagi," sahut Kuan Tiong-liu tersenyum. "Menurut kabar,
kalian lima bersaudara datang kemari untuk memenuhi
perjanjian bertarung dengan seseorang."
"Tidak salah?" Peng Kim-houw mendongakkan kepalanya
menatap langit. "Waktunya sudah hampir sampai."
895 Kuan Tiong-liu merasa agak heran. "Mengapa kalian
mengadakan perjanjian di tempat seperti ini?"
"Ini merupakan ide pihak lawan," sahut Peng Kim-houw.
"Entah siapa orangnya yang bernyali begitu besar sehingga
berani menantang kalian bersaudara?"
"Kami sendiri kurang jelas. Pihak lawan telah membunuh tiga
orang anak buah kami. Mayat mereka dikirim bersamaan
dengan sepucuk surat tantangan." Mata Peng Kim-houw
mengerling sekilas. "Kedatangan Kuan-heng sungguh
kebetulan. Mungkin nanti kami membutuhkan bantuan tenaga
dari Kuan-heng."
"Jangan sungkan!" sahut Kuan Tiong-liu. "Keluarga Peng
merupakan keluarga yang menjunjung keadilan di Tionggoan.
Siaute tentu tidak bisa menyaksikan dari samping saja, tapi
ilmu silat kalian lima bersaudara sudah sangat terkenal.
Apalagi Go-houw-toan-bun-hoat yang sangat hebat itu. Tentu
tidak memerlukan ilmu cakar kucing seperti yang dikuasai
Siaute ini."
Mendengar kata-kata ini, tidak satu pun dari mereka yang
tidak merasa heran. Hampir saja mereka mengira telah salah
mengenali orang lain sebagai Kuan Tiong-liu. Dalam ingatan
mereka, Kuan Tiong-liu yang mereka kenal bukan jenis
manusia yang biasa merendahkan diri sendiri. Tapi mereka
segera menduga tentu sikap Kuan Tiong-liu ini ada
hubungannya dengan kehancuran Go-bi-pay. Kemungkinan
batin anak muda ini sangat terpukul sehingga sifatnya jadi
berubah. 896 Tidak ada manusia di dunia yang tidak senang mendengar diri
mereka dipuji dan diangkat tinggi. Dengan ucapannya tadi,
Kuan Tiong-liu langsung mendapat kesan baik dari kelima
orang bersaudara itu.
Tepat pada saat itu juga, dari arah kejauhan berkumandang
suara nyanyian. Tidak usah diragukan lagi bahwa yang
menyanyikan lagu tersebut pasti seorang gadis yang masih
belia. Nada suaranya sangat merdu, tapi mereka justru tidak
tahu lagu apa yang sedang dinyanyikannya.
Kuan Tiong-liu langsung merasa heran. "Bukankah lagu yang
dinyanyikan itu menggunakan bahasa Tibet?" katanya tanpa
sadar. "Bukankah Toako pernah mengatakan bahwa kematian anak
buah kita mencurigakan. Lukanya pun sangat aneh. Jangan-
jangan mereka dibunuh dengan ilmu ajaib dari negara Tibet?"
tukas Peng Ti-houw.
Peng Kim-houw menganggukkan kepalanya tanpa menyahut.
Pikiran Kuan Tiong-liu langsung tergerak. "Apa kalian berlima
pernah melakukan suatu hal yang menyalahi orang Tibet?"
Peng Kim-houw tidak menyahut. Dia memicingkan matanya
dan memandang ke arah asal suara nyanyian. Kumandang
suara itu berasal dari desa Yi-sa-peng. Di bawah terik
matahari, tanah di desa Yi-sa-peng seperti sudah terbakar
matang. Debu mengepul bagai uap putih. Kalau diperhatikan
bagai sebuah pemandangan dalam lukisan yang
menggambarkan sebuah daerah yang tandus karena gempa
bumi, atau bencana alam lainnya. Tidak tampak seperti
897 sesuatu yang nyata.
Apalagi setelah seorang gadis berpakaian Tibet memunculkan
diri di tempat itu. Sambil berjalan mendekati dia
bersenandung. Di antara debu-debu yang menguap, dia
tampak bagai seorang bidadari. Gadis itu memakai cadar yang
menutupi sebagian wajahnya. Hanya bagian kening dan
sepasang matanya yang terlihat. Sepasang mata itu
berkilauan bagai air sungai yang bening. Begitu indah
memesona. Juga tampak polos dan kekanak-kanakan.
Tangannya menggenggam sebatang bambu hijau yang
panjang. Beberapa kali dia mengayunkan batang bambu itu,
seperti ingin mengibaskan asap putih yang mengepul dari atas
tanah yang di njaknya.
Peng Ti-houw menatap gadis itu lekat-lekat. "Tidak mungkin
gadis cilik ini ...." gumamnya lirih.
Peng Kim-houw tidak bersuara. Dia hanya memandang gadis
itu dengan sinar mata tajam. Terus memandang sampai gadis
itu ada di hadapannya kurang lebih tiga tindak.
"Siapa yang datang?" tanya Peng Kim-houw segera.
Gadis itu maju lagi satu tindak. Matanya juga menatap ke arah
Peng Kim-houw tanpa mengunjukkan kegentaran sedikit pun.
"Yi Pei-sa!" suaranya lantang. Meskipun dia mengenakan
pakaian adat Tibet, tapi dia menggunakan bahasa Han.
"Apa arti Yi Pei-sa?" tanya Peng Kim-houw datar.
"Yi Pei-sa adalah namaku," sahut gadis itu tenang.
898 "Kau yang membunuh anak buah kami lalu menantang kami di
tempat ini?" desak Peng Kim-houw.
"Memang aku orangnya," kata Yi Pei-sa mengaku.
"Mengapa?" nada suara Peng Kim-houw mulai naik.
"Ingin tahu jejak Sa-mo-ce-sing (bintang dari gurun pasir)."
Wajah kelima orang saudara Go-houw berubah hebat. Peng
Kim-houw tertawa dingin. "Siapa kau sebenarnya?"
"Akulah putri ketua suku di Tibet, Tian Ci-kuai yang meminum
racun bunuh diri. Ayahku telah memberi imbalan yang tinggi
kepada kalian untuk mengantarkan Sa-mo-ce-sing ke kota
raja. Lalu enak saja kalian mengatakan hilang di jalan
sehingga memaksa ayahku bunuh diri karena malu dan tidak
dapat bertanggung jawab di hadapan raja kami."
Mendengar keterangannya, wajah kelima orang saudara itu
semakin berubah. Kuan Tiong-liu juga sudah mendengar
dengan jelas. Dia menoleh ke arah lima orang saudara Go-
houw dengan pandangan bertanya. Peng Kim-houw malah
melengoskan kepalanya.
"Tutup mulut!" bentaknya dengan suara keras.
"Aku sudah menyelidiki semua sampai tuntas. Ternyata
memang kalian yang bermain gila!"
Kuan Tiong-liu menoleh ke arah lima orang bersaudara itu
sekali lagi. Peng Kim-houw menghindar dari tatapan mata
899 anak muda itu. "Keluarga Peng adalah keluarga yang menjunjung tinggi
keadilan. Mana mungkin melakukan hal seperti itu.
Tampaknya kau sudah mendengar fitnahan dari orang lain ...."
kata-katanya terhenti, dia menoleh kepada Peng Ti-houw.
Peng Ti-houw mengerti maksud abangnya, cepat-cepat dia
berkata, "Biar bagaimana, kau sudah membunuh tiga orang
anak buah kami. Kaulah yang harus memberi keadilan kepada
kami!" tanpa menunggu jawaban dari Yi Pei-sa, goloknya yang
istimewa langsung dikeluarkan dan dia melesat menerjang ke
arah gadis itu.
Golok yang dijadikan senjata oleh kelima orang saudara itu
sangat berat. Sedangkan tenaga Peng Ti-houw juga kuat


Ilmu Ulat Sutera Karya Huang Ying di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sekali. Serangannya kali ini cukup untuk menebas putus leher
seekor sapi. Tapi Yi Pei-sa hanya menggeser tubuhnya sedikit
dan menggerakkan bambu hijau di tangannya yang mana
hanya menyentuh pergelangan tangan Peng Kim-houw, golok
yang sedang mengancamnya langsung melengos sendiri.
Hati Peng Kim-houw tergetar. Kakinya tetap bergerak,
berturut-turut dia membacok sebanyak tujuh kali. Yi Pei-sa
menggetarkan ujung bambunya sedikit dan menggeser ke kiri
dan kanan, maka dirinya sudah dapat terhindar dari seluruh
serangan tersebut.
Tenaga dalam yang digunakan gadis itu mengandung
kelembutan Im. Ilmu partai mana yang dipelajarinya"
Perhatian Kuan Tiong-liu semakin tersita pada diri gadis
tersebut. Sedangkan sepasang alis Peng Kim-houw bertaut
900 semakin erat. "Berhenti!" tiba-tiba dia berteriak.
Peng Ti-houw tertegun. Namun dia menarik kembali goloknya
yang istimewa. Yi Pei-sa juga tidak mendesaknya, dia hanya
memandang ke arah Peng Kim-houw. Mata yang lainnya juga
berpusat pada diri Peng Kim-houw. Laki-laki pimpinan Go-
houw itu tertawa kering.
"Mohon tanya kepada Kouwnio, apa hubunganmu dengan
Hek-pai-siang-mo?"
"Apa urusannya denganmu?" Yi Pei-sa tidak menjawab malah
balik bertanya.
"Aku khawatir air bah akan memenuhi kuil raja naga dan
melukai orang sendiri."
"Apa maksud ucapanmu ini?" tanya Yi Pei-sa kurang mengerti.
"Hek-pai-siang-mo merupakan sahabat kami ...."
"Omong kosong!" bentak Yi Pei-sa. "Mana mungkin Suhuku
mempunyai teman seperti kalian!"
Kuan Tiong-liu mendengarkan dengan jelas. Matanya
langsung bersinar. Kali ini tujuannya ke Tibet adalah untuk
menemukan para Cianpwe yang dikatakan oleh Hay-liong
Lojin bahwa mereka semua menguasai ilmu kelembutan Im.
Hek-pai-siang-mo merupakan dua di antaranya. Sedangkan di
tempat ini sekarang dia menemukan ahli waris kedua orang
Cianpwe tersebut. Oleh sebab itulah hatinya gembira sekali
901 karena semua ini benar-benar di luar dugaannya.
Meskipun usianya masih cukup muda, namun pengalamannya
berkecimpung di dunia Kangouw sudah banyak juga. Mimik
wajahnya sama sekali tidak berubah. Diam-diam telinganya
dipasang lebar-lebar agar dapat mendengar lebih jelas.
Setelah beberapa saat, dia mulai dapat menduga apa yang
telah terjadi. Kecurigaannya terhadap Peng-cia-go-houw
semakin dalam. Peng Kim-houw tampaknya tidak gentar sama sekali. Bukan
saja dadanya tidak disurutkan, malah dibusungkan semakin
tinggi. Wajahnya serius dan sengaja dibuat sewibawa
mungkin. "Kalau kau tidak percaya, coba saja kau pulang ke Tibet dan
tanyakan pada kedua Suhumu itu!" katanya tegas.
Mendengar kata-katanya yang sedemikian yakin, mau tidak
mau Yi Pei-sa menjadi curiga.
"Dengan adanya hubungan persahabatan antara kami dengan
Hek-pai-siang-mo, apabila kami masih turun tangan juga
kepadamu, tentu kami akan diejek sebagai yang besar hanya
berani menghina yang kecil. Tentu kami juga tidak dapat
menjelaskannya pada teman-teman lain di dunia Kangouw.
Kau toh sudah membunuh tiga anak buah dari pihak kami,
bagaimana kalau kita sudahi saja masalah ini sampai di sini?"
kata Peng Kim-houw selanjutnya.
"Apa maksudmu dengan menyudahi sampai di sini?" tanya Yi
Pei-sa. 902 "Sa-mo-ce-sing akan kami kembalikan kepadamu, mulai
sekarang semua dendam di antara kita harus dihapus,
bagaimana?"
Yi Pei-sa merenung sejenak. Dia memandang Peng Kim-houw
dengan mata menyelidik. Setelah mempertimbangkan masak-
masak, akhirnya dia berkata. "Kalian kembalikan dulu Sa-mo-
ce-sing kepadaku!"
"Sa-mo-ce-sing tersimpan di dalam gagang golok," katanya
sambil memutar gagang golok yang kemudian dibukanya dan
disodorkan pada Yi Pei-sa.
Ternyata gagang golok itu kosong. Baru saja Peng Kim-houw
melepaskan tangannya, serangkum hawa dingin sudah
menyerang ke arah Yi Pei-sa. Segulungan sinar yang
berkilauan meluncur dalam waktu yang bersamaan. Ternyata
Peng Kim-houw menggunakan kesempatan ketika
menyodorkan gagang golok untuk melepaskan paku beracun
ke arah gadis tersebut. Jaraknya begitu dekat. Yi Pei-sa sama
sekali tidak menduga. Tampaknya gadis itu pasti akan menjadi
korban paku beracun itu. Tiba-tiba secarik sinar pedang
melintas di depannya, kemudian berputar dan merontokkan
paku-paku beracun yang menyerang Yi Pei-sa. Sinar pedang
memudar. Kuan Tiong-liu berdiri di depan gadis itu dengan
sikap melindungi.
Yi Pei-sa terkejut sekali. Sukmanya hampir meninggalkan
tubuhnya. Sejenak kemudian dia baru menyadari apa yang
telah terjadi. "Terima kasih," ucapnya tanpa sadar.
Kuan Tiong-liu memalingkan kepalanya dan tersenyum. "Kau
tidak terluka bukan?"
903 "Tidak," Yi Pei-sa memandangnya dengan curiga. "Kau bukan
sekomplotan dengan mereka?"
"Boleh dibilang teman juga, tapi aku tidak biasa melihat
perbuatan yang membokong orang dari belakang."
Di sebelah sana, wajah kelima ekor harimau itu berubah
hebat. "Kuan Tiong-liu, kau ...." nadanya berat dan keras.
Kuan Tiong-liu tertawa dingin. "Masih berani mengatakan
bahwa keluarga Peng adalah keluarga yang paling
menjunjung tinggi keadilan di Tionggoan, tapi perbuatan
semacam ini pun tidak malu kalian lakukan" Bagaimana aku
bisa membiarkan begitu saja?" Dia merandek sejenak,
kemudian melanjutkan ucapannya kembali, "Urusan tentang
Sa-mo-ce-sing, aku yakin nona Yi Pei-sa ini juga bukan hanya
sekadar mendengar fitnahan orang!"
"Manusia she Kuan, apakah kau sudah mempertimbangkan
semua ini dengan baik-baik?" tanya Peng Kim-houw dengan
mata menyorotkan kebencian yang dalam.
Wajah Kuan Tiong-liu berubah serius. "Pada dasarnya Go-bi-
pay adalah partai aliran lurus yang sudah terkenal sejak dulu.
Sekarang ada kejadian yang tidak adil berlangsung di depan
mata, bagaimana mungkin aku akan mendiamkannya saja?"
sahutnya tenang.
"Ucapan yang enak didengar!" Peng Kim-houw tertawa dingin.
Dia menggapai tangannya. Keempat saudaranya yang lain
segera bersiap-siap. Tiba-tiba tubuh mereka bergerak dan
mengurung Kuan Tiong-liu serta Yi Pei-sa.
904 Tanpa bersepakat dulu, mereka segera mengambil posisi
bahu-membahu. Serangkum bau harum yang tipis terpancar
dari tubuh Yi Pei-sa. Semangat Kuan Tiong-liu hampir terbang
mengendus bau harum tersebut. Pada saat yang bersamaan,
sinar mata Yi Pei-sa seakan mengikuti naluri hatinya. Dia
menolehkan kepala dan melirik ke arah Kuan Tiong-liu.
Kebetulan anak muda itu juga sedang memandang ke
arahnya. Dua pasang mata berpadu. Keduanya merasa
tersipu-sipu lalu melengos dengan cepat. Tiba-tiba terdengar
suara raungan dari kelima harimau bersaudara itu. Mereka
menerjang dari segala penjuru.
"Hati-hati!" seru Kuan Tiong-liu sambil mengulurkan pedang
panjangnya dan menangkis tiga buah serangan sekaligus.
Bambu di tangan Yi Pei-sa segera menyambut dua serangan
lainnya. Pedang dan golok saling berbenturan. Menimbulkan
suara dentingan yang bising dan nyaring. Di pihak lain bambu
dan golok juga saling beradu, namun suara yang ditimbulkan
tidak begitu keras bahkan rada berat. Kuan Tiong-liu dan Yi
Pei-sa langsung memencarkan diri. Tubuh Yi Pei-sa melesat
di udara bagai seekor burung camar yang menari-nari.
Sedangkan gerakan Kuan Tiong-liu lebih mirip burung rajawali
yang sedang mengamuk karena anaknya diganggu.
Dia menyadari bahwa kelima orang itu tidak boleh diberi
kesempatan untuk membentuk barisan. Apabila hal itu terjadi,
maka kekuatan kelima orang itu akan bertambah satu kali
lipat. Mereka seakan bertarung dengan sepuluh orang yang
mempunyai gerakan kompak. Oleh karena itu, pertama-tama
dia memperlihatkan gaya seperti membiarkan mereka
berkumpul menjadi satu, tapi tiba-tiba gerakannya berubah
905 dan dia langsung mengerahkan Lok-jit-kiam-hoat yang sangat
terkenal itu. Serentak dengan dimainkannya tiga jurus terakhir, tubuh Kuan Tiong-liu melesat bagai anak panah menerobos
dari kurungan kelima saudara keluarga Peng.
Setelah kepungan mereka berhasil diterobos oleh Kuan Tiong-
liu, maka mereka tidak mempunyai kesempatan lagi untuk
membentuk barisan. Sementara itu batang bambu di tangan Yi
Pei-sa mengadang dua di antara mereka. Jurus yang
digunakannya pun sangat aneh. Ditambah lagi gerakannya
yang lincah. Dua orang dari lima bersaudara itu berusaha
menghindar, tapi salah satunya terkena sabetan batang
bambu tepat pada pergelangan tangannya sehingga golok
lengkungnya yang istimewa langsung terlepas dan jatuh di
atas tanah. Hanya tiga jurus kemudian, lawan yang satunya
juga terpaksa harus melepaskan goloknya kalau tidak pangkal
lengannya akan tergetar remuk oleh sabetan bambu Yi Pei-sa.
Pada saat yang bersamaan, pedang di tangan Kuan Tiong-liu
berhasil menggetar lepas golok dua orang dari lima
bersaudara tersebut. Dan dalam jurus Lok-jit-kiam-hoatnya
yang terakhir, tubuhnya berkelebat dan melayang turun
dengan pedang tepat menempel di tenggorokan Peng Kim-
houw. Wajah Peng Kim-houw berubah hebat. Meskipun goloknya
masih tergenggam di tangan, tapi dia tidak punya keberanian
untuk menggerakkannya lagi. Dia tahu pedang Kuan Tiong-liu
akan menusuk tenggorokannya terlebih dahulu apabila dia
mencoba mengangkat goloknya sedikit saja. Tapi di luarnya,
dia masih memperlihatkan sikap keras kepala.
"Manusia she Kuan, anggap saja memang lebih tinggi
906 daripada kami!"
Kuan Tiong-liu tidak memedulikannya. Matanya menoleh
kepada Yi Pei-sa. "Kouwnio, bagaimana caranya
membereskan orang ini?" tanyanya lembut.
Yi Pei-sa ikut tersenyum. Dia memandang kepada Peng Kim-
houw. Tanpa terasa tubuhnya bergetar.
"Hati orang ini sangat licik dan keji. Mencuri Sa-mo-ce-sing
pasti merupakan idenya."
"Benarkah apa yang dikatakan olehnya?" tanya Kuan Tiong-liu
dengan nada dingin.
"Benar bagaimana, tidak benar juga bagaimana?" sahut Peng
Kim-houw. "Aku tidak suka membunuh orang, tapi juga tidak akan
membiarkan kalian berbuat kejahatan lebih banyak lagi. Yang
melakukan kejahatan ini sebetulnya engkau. Kau bayar saja
selembar nyawa ayahku!" kata Yi Pei-sa.
Mendengar kata-kata ini wajah keempat saudaranya
memperlihatkan mimik aneh. Merck saling lirik sekilas. Peng
Ti-houw segera maju dan berkata. "Lotoa, semua ini
merupakan idemu. Jangan kau libatkan orang lain dan
melepaskan diri dari tanggung jawab!"
Wajah Peng Kim-houw langsung berubah hebat. Matanya
mendelik ke arah Peng Ti-houw. "Loji, apa maksud ucapanmu
ini?" 907 Peng Ti-houw memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Lotoa, satu orang yang berbuat, situ orang pula yang
bertanggung jawab. Kalau kau mengaku semua ini idemu,
maka hanya nyawamu yang akan menjadi penggantinya.
Dalam keluarga Peng masih ada kami berempat dan tidak
putus turunan sampai di sini saja!"
"Kau juga sudah melihat, seandainya mereka ingin membunuh
kami, mudahnya seperti membalikkan tangan sendiri!" tukas
saudaranya yang lain.
Peng Kim-houw memalingkan kepalanya ke arah dua
saudaranya yang lain. Mereka hanya menundukkan kepala
dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Akhirnya dia
mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Bagus sekali, kalian memang saudara-saudaraku yang
hebat!" perkataannya selesai, golok di tangan langsung
bergerak dan menembus ke dalam dadanya sendiri. Darah
memercik di udara.
Keempat saudaranya yang lain langsung tertegun. Kuan
Tiong-liu menghela napas perlahan. Pedangnya disimpan
kembali. Dia menatap keempat saudara itu dengan tatapan
dingin dan tajam. "Meskipun Peng Kim-houw licik dan selalu
banyak akal busuk, tapi paling tidak dia termasuk seorang laki-
laki sejati!"
Keempat orang itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Di mana kalian sembunyikan Sa-mo-ce-sing itu?" tanya Kuan
Tiong-liu kembali.
908 "Disimpan dalam gedung keluarga kami."
"Kalau begitu, kita terpaksa harus berkunjung ke gedung
keluarga kalian." Kuan Tiong-liu menoleh kepada Yi Pei-sa.
"Kouwnio bagaimana pendapatmu ....?"
"Aku memang mempunyai pikiran yang sama." Mata Yi Pei-sa
menatap ke arah Kuan Tiong-liu dengan tersipu-sipu. "Kalau
Kongcu masih ada urusan yang lain ...."
Kuan Tiong-liu tertawa lebar. "Toh aku sedang ada waktu
senggang. Kecuali kalau Kouwnio sendiri keberatan ...."
Yi Pei-sa menggelengkan kepalanya. Bibirnya
menyunggingkan seulas senyuman yang sangat memesona.
"Menurut kabar, dunia Bu-lim di Tionggoan penuh dengan
para pendekar yang selain ilmunya tinggi juga gagah perkasa.
Selama ini aku kurang percaya dengan keterangan tersebut.
Hari ini akhirnya terbukti juga."
Kuan Tiong-liu tertawa lebar mendengar ucapannya.


Ilmu Ulat Sutera Karya Huang Ying di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kouwnio baru kali ini masuk daerah Tionggoan?"
"Memang baru pertama kali," sahut gadis itu mengaku.
"Bagaimana Suhumu bisa membiarkan kau berjalan seorang
diri dan tidak khawatir sama sekali?"
"Aku datang ke Tionggoan setelah berhasil mengelabui Suhu.
Untung saja aku mendapat bantuan dari Kongcu ...." sahut Yi
Pei-sa sambil menepuk tangannya.
909 "Mulai lagi ...." Kuan Tiong-liu tersenyum. Kemudian dia
menolehkan kepalanya ke arah empat saudara dari keluarga
Peng. "Suwi, harap kalian antar kami!"
Keempat orang itu menundukkan kepala dengan perasaan
sendu. Dua orang di antaranya langsung menghampiri mayat
Toako mereka dan menggotongnya. Setelah itu mereka
melangkah di depan sebagai pembuka jalan.
***** Sa-mo-ce-sing disembunyikan dalam sebuah kotak di balik
dinding yang tertutup oleh sebuah lukisan. Besarnya seperti
telur ayam. Cahayanya berkilau-kilau. Dan ternyata Sa-mo-ce-
sing merupakan nama dari jenis permata itu.
Dalam seumur hidupnya Kuan Tiong-liu belum pernah melihat
permata yang demikian besar, indah, dan boleh dibilang
sempurna. Dapat dibayangkan nilainya pasti tinggi sekali.
Tidak heran kelima orang saudara dari keluarga Peng bisa
timbul keserakahannya seketika.
Yi Pei-sa menerima kotak tersebut. Dia membuka dan meneliti
isinya sejenak, kemudian meninggalkan tempat itu bersama
Kuan Tiong-liu. Keempat saudara memandang kepergian
mereka dengan mata mendelik. Tapi mereka sadar dengan
mengandalkan kekuatan mereka sekarang, masih bukan
tandingan Kuan Tiong-liu dan Yi Pei-sa. Sinar mata mereka
menyorotkan kebencian yang dalam. Kuan Tiong-liu dan Yi
Pei-sa sama sekali tidak memandang sebelah mata pun.
***** 910 Keluar dari gedung keluarga Peng, Kuan Tiong-liu dan Yi Pei-
sa mengambil arah Timur. Berkali-kali Yi Pei-sa mencuri
pandang ke arah Kuan Tiong-liu. Mata anak muda itu sangat
awas. Dia sudah tahu sejak tadi, tapi dia tetap berpura-pura
melangkah terus. Dalam hatinya dia menyadari bahwa dia
sudah berhasil menggaet kepercayaan penuh dari gadis itu.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan saling membisu.
Entah berapa lama sudah berlalu, akhirnya Yi Pei-sa yang
pertama-tama membuka suara, "Untung saja hari ini aku
bertemu denganmu, kalau tidak saat ini nyawaku pasti sudah
melayang terkena paku beracun Lotoa keluarga Peng tadi."
"Nona tidak usah mengingat persoalan kecil itu," sahut Kuan
Tiong-liu rada terharu. "Aku sendiri tidak menyangka Peng-cia-
go-houw dapat melakukan perbuatan seperti ini."
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa dia akan melemparkan
senjata rahasia ketika menyodorkan gagang golok tersebut?"
rupanya masalah ini yang sejak tadi tidak dimengerti oleh Yi
Pei-sa. "Sederhana sekali," sahut Kuan Tiong-liu sambil tersenyum.
"Meskipun aku tidak tahu benda apa yang dinamakan Sa-mo-
ce-sing itu, tapi aku dapat membayangkan tentunya sebuah
benda yang amat berharga. Bagaimana mungkin Peng-cia-go-
houw itu menyimpannya dalam gagang golok dan
membawanya ke mana-mana?"
Yi Pei-sa tersenyum manis.
"Pemecahan yang demikian mudah saja masih tidak dapat
kupahami. Tidak heran Suhu selalu mengatakan bahwa
911 pengalamanku di dunia Kangouw masih terlalu dangkal,
sehingga tidak mengizinkan aku berkelana seorang diri." Dia
berhenti sejenak kemudian bertanya kembali, "Apakah setiap
orang yang berkecimpung dalam dunia Bu-lim di Tionggoan ini
semuanya licik dan berhati keji?"
Kuan Tiong-liu tertegun. Pikirannya segera tergerak, "Tidak
semuanya, tapi kebanyakan. Kadang-kadang kita sendiri sulit
membedakannya. Oleh karena itulah aku merasa bosan
tinggal di Tionggoan dan berminat pindah ke Tibet."
Yi Pei-sa menunjukkan wajah keheranan. "Kau ingin pindah ke
Tibet?" "Kali ini aku sengaja datang, mencari Peng-cia-go-houw justru
karena mereka pernah tinggal di Tibet. Aku ingin meminta
keterangan kepada mereka bagaimana caranya agar bisa
sampai ke negara itu?"
Wajah Kuan Tiong-liu serius sekali. Yi Pei-sa memandanginya
lekat-lekat kemudian tertawa terkekeh-kekeh. "Sekarang
kalian malah menjadi musuh. Bagaimana baiknya?"
"Terpaksa meminta keterangan dari orang lain," sahut Kuan
Tiong-liu dengan gaya apa boleh buat.
"Meskipun pengalaman dalam dunia Kangouw cukup luas, tapi
otakmu kurang encer." Tiba-tiba Yi Pei-sa mengajukan
pertanyaan, "Apakah kau lupa dari mana aku berasal?"
Kuan Tiong-liu tertegun.
"Kau .... Ternyata aku lupa bahwa kau datang dari Tibet.
912 Sedangkan dandananmu pun merupakan pakaian adat dari
negara itu." Dia merenung sejenak. "Bagaimana bisa
demikian?"
Kata-katanya terhenti kembali.
Yi Pei-sa merasa kata-katanya masih ada kelanjutan yang
belum diucapkan. "Apa yang ingin kau katakan?"
"Kalau begitu ... Kouwnio, kau ...."
"Aku bagaimana?" Yi Pei-sa sengaja menggodanya.
"Kukira pasti kau sangat cantik. Melihat wajahmu aku jadi ...."
ucapannya itu juga bukan seluruhnya dusta.
Yi Pei-sa menunggu sampai kata-katanya selesai. Kepalanya
sudah tertunduk dalam-dalam.
***** Malam sudah larut. Dalam kuil tua terlihat seonggok api
unggun. Seekor kambing kecil yang sudah dibersihkan
terpanggang di atas api tersebut. Kambing itu dibeli oleh Kuan
Tiong-liu dari seorang pemburu di atas pegunungan.
Padahal dia sendiri tidak begitu suka makan daging kambing.
Tapi karena dia tahu Yi Pei-sa suka sekali maka pikirannya
segera tergerak untuk mengambil hati gadis itu. Sepanjang
perjalanan menuju tempat ini, hubungan mereka sudah akrab
sekali. Wajah Yi Pei-sa tampaknya memang selalu dikerudungi kain
913 cadar yang tipis itu. Meskipun Kuan Tiong-liu merasa heran,
tapi dia takut menanyakannya. Siapa tahu hal itu memang
merupakan salah satu adat istiadat bagi kaum gadis di negara
Tibet. Tapi dia penasaran ingin melihat wajah gadis itu.
Akhirnya dia menemukan akal. Dia memotong paha kambing
panggang itu dan menyodorkannya kepada Yi Pei-sa.
"Apakah kalian gadis-gadis Tibet tetap mengenakan cadar
sekalipun sedang menikmati makanan?" tanyanya hati-hati.
Kuan Tiong-liu merupakan seorang anak muda yang sangat
cerdas. Dia mengajukan pertanyaan itu seakan hanya ingin
tahu saja tanpa niat apa-apa. Yi Pei-sa sampai tersipu-sipu
dibuatnya, namun dia tetap menganggukkan kepala.
"Apakah tidak merepotkan?" tanya Kuan Tiong-liu kembali.
Sejenak kemudian dia tersenyum. "Aku mengerti. Tentu takut
diperhatikan."
Yi Pei-sa menggelengkan kepalanya. Kuan Tiong-liu
mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Di sini toh tidak
ada pasir yang beterbangan, mengapa tidak dibuka saja?"
"Apakah kau ingin sekali aku melepaskan cadar ini?" tanya Yi
Pei-sa tiba-tiba.
Kuan Tiong-liu menganggukkan kepalanya. "Tapi kalau kau
keberatan, jangan dipaksakan."
Yi Pei-sa memerhatikan Kuan Tiong-liu. Dia
mempertimbangkan beberapa saat. Akhirnya dia melepaskan
juga cadar penutup wajahnya itu. Kuan Tiong-liu tercengang
seketika. Kecantikan Yi Pei-sa bahkan di luar dugaannya. Dia
914 belum pernah melihat gadis yang secantik Yi Pei-sa selama
hidupnya. Sekian lama dia termangu-mangu dengan mulut
terbuka. Wajah Yi Pei-sa berubah merah padam. Dia menunduk
dengan tersipu-sipu. Matanya tidak berani menatap Kuan
Tiong-liu. Entah berapa lama telah berlalu, Kuan Tiong-liu
masih memandang dengan terkesima. Semakin dipandang,
hatinya semakin tertarik. Yi Pei-sa menunggu lagi beberapa
saat. Masih tidak terdengar suara Kuan Tiong-liu. Kepalanya
mendongak sedikit dan mengintip anak muda itu. Melihat
tampang Kuan Tiong-liu, dia semakin tersipu.
"Kenapa kau?" tanyanya dengan suara lembut.
Kuan Tiong-liu bagai tersadar dari mimpi. "Aku belum pernah
melihat gadis lain yang lebih cantik daripada kau," katanya
tanpa sadar. Hati Yi Pei-sa berbunga-bunga mendengar pujian itu. Tapi
wajahnya semakin merah karena malu. "Apakah kau tidak
tahu bahwa bagi gadis Tibet, cadar penutup wajah itu dapat
disamakan dengan pakaian yang harus dikenakannya sehari
hari?" tanyanya dengan suara lirih.
Mendengar keterangan itu, Kuan Tiong-liu semakin terpana.
Perlahan-lahan Yi Pei-sa mendongakkan kepalanya lebih
tinggi. Wajahnya masih merah padam. Sepasang matanya
menyorotkan sinar yang sulit untuk diuraikan dengan kata-
kata. Melihat keadaan gadis itu, Kuan Tiong-liu semakin yakin
bahwa perasaan Yi Pei-sa terhadapnya mulai terpengaruh.
Ini merupakan kenyataan. Gadis Tibet selalu terbuka dan tidak
915 pandai berpura-pura. Yi Pei-sa juga tidak berbeda. Dua
pasang mata saling bertemu. Perasaan asmara timbul tanpa
perlu kata-kata mutiara.
Ketika api unggun benar-benar padam. Hari kedua sudah
menyapa. Yi Pei-sa berbaring di atas meja sembahyang. Dia
masih tertidur dengan pulas. Kuan Tiong-liu menyandarkan
tubuhnya pada dinding yang sudah retak. Dia tersentak
bangun oleh suara langkah kaki yang ringan. Pikirannya
segera bekerja. Dia membungkukkan tubuhnya dan
menempelkan telinganya di lantai dan mendengarkan dengan
saksama. Sesaat kemudian dia melonjak bangun dengan
wajah terkejut. Dia cepat-cepat menghambur ke samping Yi
Pei-sa. Perasaan gadis itu yang tajam segera memperingatkannya.
Dengan panik dia membuka matanya dan melihat Kuan Tiong-
liu. "Ada apa?"
"Ada orang yang menghampiri kuil kita ini ...." belum sempat
dia menyelesaikan kata-katanya, sebuah suara yang
menggelegar berkumandang dari luar kuil, "Kuan Tiong-liu!
Keluar kau!"
Kuan Tiong-liu mengerutkan keningnya. Dia tidak dapat
menebak siapa orang itu. Malah Yi Pei-sa yang menunjukkan
mimik wajah keheranan. "Rasanya aku pernah mendengar
suara ini," katanya lirih.
Mendengar ucapan Yi Pei-sa, Kuan Tiong-liu tersentak sadar.
"Itu suara Peng Ti-houw!" Wajah Kuan Tiong-liu berubah
kelam. "Tampaknya mereka berhasil mendapatkan orang yang
916 mendukungnya."
"Ada engkau, siapa pun tidak ada yang aku takuti," sahut Yi
Pei-sa dengan keyakinan penuh.
Mendengar kata-kata itu, bagaimana Kuan Tiong-liu tidak
membusungkan dadanya. Dengan langkah lebar dia berjalan
keluar. Yang datang memang empat harimau dari keluarga
Peng. Tangan masing-masing menggenggam sebatang golok.
Peng Ti-houw yang melihat Kuan Tiong-liu berjalan keluar dari
dalam kuil langsung tertawa terbahak-bahak. "Kuan Tiong-liu,
utang piutang akan kami perhitungkan sampai jelas hari ini!"
bentaknya dengan suara keras.
Jilid 20 Kuan Tiong-liu tidak menunjukkan sikap gentar sedikit pun.
Dia malah tertawa lebar. "Kalian tidak perlu sok gagah di
hadapanku. Siapa orangnya yang kalian undang untuk
menghadapiku, suruh keluar saja sekalian!"
Seraut wajah tua Peng Ti-houw sampai merah padam
mendengar sindiran tersebut. Sebuah suara yang nyaring
memecahkan keheningan seketika. "Bukankah aku sudah
keluar?" kata orang itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Ucapannya selesai, orangnya benar-benar muncul. Dia adalah
seorang hwesio. Laksana seekor burung yang melayang turun
dari atas sebatang pohon.
"Rupanya Cian-bin-hud dari Bu-ti-bun!" Kuan Tiong-liu tertawa
dingin. 917 Tiba-tiba sesosok bayangan menukik turun lagi dari atas
sebatang pohon yang lain. Model orang yang satu ini aneh
sekali. Meskipun dia seorang laki-laki tapi alisnya digambar
dan lagaknya seperti kaum wanita. Siapa lagi kalau bukan Kiu-
bwe-hu dari Bu-ti-bun juga.
Mata Kuan Tiong-liu mengerling sekilas. Dia tertawa dingin.
"Kedua Hu-hoat besar dari Bu-ti-bun muncul dalam waktu
yang bersamaan, tujuannya pasti untuk mencari aku!"
Cian-bin-hud tertawa terbahak-bahak. "Utang darah cabang
tiga belas kami masih belum diperhitungkan dengan jelas!"
Kuan Tiong-liu mendongakkan kepalanya dan ikut tertawa
terbahak-bahak. "Utang nyawa para murid Go-bi-pay yang
dibantai habis-habisan masih belum diganti tuntas!" sahutnya.
"Bagus! Manusia she Kuan memang mempunyai nyali!" wajah
Cian-bin-hud masih dipenuhi senyuman.
Yi Pei-sa yang menyusul keluar belakangan memerhatikan
sejak tadi. "Kuan-toako, bagaimana ilmu kedua orang ini?"
tanyanya dengan suara lirih.
Belum sempat Kuan Tiong-liu menjawab sinar mata Cian-bin-
hud sudah beralih kepada Yi Pei-sa. Matanya membelalak,
kemudian dia tertawa terkekeh-kekeh. Namun bagi Yi Pei-sa
tawanya itu lebih mirip seringai seekor serigala.
"Lihat! Betapa cantiknya budak perempuan ini!" dia berhenti
sebentar, kemudian menolehkan kepalanya berpesan, "Nanti
kalau kalian turun tangan, jangan keras-keras. Tinggalkan
918 hidup-hidup agar dapat melayani Hudya."
Para hadirin menganggukkan kepalanya dan tersenyum


Ilmu Ulat Sutera Karya Huang Ying di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

penuh pengertian. Yi Pei-sa sendiri merasa malu sekaligus
marah. Cepat-cepat dia menaikkan cadarnya yang diturunkan
tadi malam. "Kuan-toako, kali ini kita tidak boleh menaruh belas kasihan
lagi kepada mereka. Satu pun jangan dibiarkan hidup!"
katanya garang.
Kuan Tiong-liu mengerutkan keningnya. "Pengaruh Bu-ti-bun
besar sekali. Orang mereka banyak juga banyak terdiri dari
orang-orang kuat. Tampaknya mereka sudah mempersiapkan
segalanya sebelum mencari kemari. Kalau kita mengadu
kekuatan dengan kekerasan, mungkin yang rugi diri kita
sendiri." "Maksud Kuan-toako ...."
"Lebih baik kita menghindar untuk sementara." Kuan Tiong-liu
menyentuh bahu Yi Pei-sa dengan lembut. "Kau pergi dulu,
aku akan menyusul belakangan."
Meskipun Cian-bin-hud tidak dapat mendengar jelas
pembicaraan mereka, tapi dari mimik wajah kedua orang itu,
dia sudah dapat menduga sebagian. Dia langsung tertawa
terkekeh-kekeh, "Mau kabur" Tidak begitu mudah! Maju!"
teriaknya lantang sambil melesat mendahului.
Kiu-bwe-hu dan Empat Harimau dari Keluarga Peng juga tidak
mau ketinggalan.
919 "Jalan!" seru Kuan Tiong-liu sambil mengulurkan tangannya
mencengkeram baju Yi Pei-sa dan menyeretnya melayang ke
atas genting. Tubuhnya bergerak dengan gesit. Dia
mendorong gadis itu agar cepat-cepat pergi.
"Kuan-toako, kalau hendak pergi, kita harus bersama-sama,"
kata Yi Pei-sa panik.
"Tidak tersangka gadis Tibet juga tidak berbeda dengan gadis
Tionggoan. Suka bertele-tele. Kadang-kadang malah jadi
merepotkan kita," pikir Kuan Tiong-liu dalam hati. Tentu saja
dia tidak mengutarakannya secara terang-terangan di
hadapan gadis itu.
Kuan Tiong-liu terpaksa menganggukkan kepalanya. Dia tahu
percuma memaksakan kehendak terhadap gadis seperti Yi
Pei-sa. Ditariknya tangan gadis itu lalu melesat pergi secepat
terbang. Cian-bin-hud yang memerhatikan dari bawah segera
mengibaskan tangannya memberi isyarat kepada yang lain.
Kiu-bwe-hu dan keempat harimau dari keluarga Peng segera
mengambil jalan memutar dan mengepung di sekitar. Cian-
bin-hud langsung menutul kakinya dan mencelat ke atas
genting kuil untuk mengejar. Dalam waktu sekejap saja,
bayangan Yi Pei-sa dan Kuan Tiong-liu sudah menghilang
entah ke mana. ***** Hamparan rumput melambai-lambai di bawah kaki Kuan
Tiong-liu dan Yi Pei-sa melesat seperti anak panah meluncur
ke depan. Ternyata ginkang (ilmu meringankan tubuh) Yi Pei-
920 sa tidak di bawah Kuan Tiong-liu. Kenyataan ini malah
menguntungkan anak muda itu.
Cian-bin-hud dan Kiu-bwe-hu sudah mengejar dengan ketat.
Jarak mereka sekitar sepuluh depa lebih. Keempat saudara
dari keluarga Peng terlebih-lebih tidak usah dikatakan lagi.
Dibandingkan mereka semua, ilmu keempat harimau ini paling
rendah. Tentu saja semakin lama mereka semakin ketinggalan
jauh. Yi Pei-sa masih berlari terus di samping Kuan Tiong-liu. Tiba-
tiba dia mengeluarkan sebuah tabung bambu kecil panjang
dari balik pakaiannya. Dia menempelkan alat itu di bibir dan
terdengarlah suara siulan yang aneh.
Kuan Tiong-liu tidak menanyakan apa-apa. Dia sudah tahu
bahwa alat semacam itu biasanya merupakan kode untuk
memanggil rekan. Tapi dia tidak tahu siapa yang dipanggil
oleh Yi Pei-sa.
Mungkinkah Hek-pai-siang-mo sudah berada di Tionggoan
dan sekarang tidak seberapa jauh dari tempat mereka"
Meskipun Kuan Tiong-liu berpikir demikian, tapi gerak kakinya
tidak diperlambat sama sekali, bahkan dia melesat secepat
anak panah. Napas Yi Pei-sa mulai tersengal-sengal. Sebetulnya dia mulai
tidak sanggup mengimbangi, namun untung saja tangannya
ditarik oleh Kuan Tiong-liu sehingga dia tidak akan ketinggalan di belakang. Setelah berlari lagi beberapa depa, mereka
memasuki sebuah jalan kecil. Otomatis langkah kaki mereka
diperlambat. 921 Tepat pada saat itu juga, dari arah sebelah kiri terdengar
sahutan suara yang persis dengan siulan alat Yi Pei-sa tadi.
Wajah gadis itu berseri-seri seketika. "Ambil arah barat!"
serunya sambil mendahului berlari ke arah barat.
Setelah melalui sebuah padang rumput, mereka sampai di
daerah yang berbukit-bukit. Bukit itu tinggi dan berkelok-kelok.
Di bawah bukit ada sebuah gua. Suara siulan yang timbul dari
batang bambu serupa suling justru berasal dari gua ini.
***** Ketika Cian-bin-hud dan Kiu-bwe-hu sampai di daerah
berbukit itu, bayangan Yi Pei-sa dan Kuan Tiong-liu sudah
tidak terlihat lagi. Tetapi terdengar suara siulan yang berasal dari sebuah gua di kaki bukit tersebut.
Mata Kiu-bwe-hu mengedar ke sekeliling. Kemudian dia
tertawa dingin. "Pasti mereka menyelinap ke dalam gua itu,"
katanya. Cian-bin-hud mengangguk setuju. "Menurut keterangan
keempat harimau dari keluarga Peng, ilmu silat gadis itu
lumayan juga. Sedangkan keadaan dalam gua mungkin
sempit. Seandainya mereka bekerja sama dengan baik,
takutnya bukan saja keadaan kita tidak menguntungkan, bisa-
bisa kita yang dibokong oleh mereka berdua," sahutnya.
"Tidak salah. Tapi akal mereka melarikan diri ke dalam gua
juga kurang cemerlang," Kiu-bwe-hu tertawa seram. "Kalau
kita berjaga terus di depan gua, aku yakin mereka akhirnya
harus keluar juga!"
922 "Ada jalan lain yang lebih bagus daripada hanya duduk
menunggu." Cian-bin-hud meraba-raba dagunya sambil
tertawa terkekeh-kekeh. "Kita tunggu dulu kedatangan empat
harimau dari keluarga Peng setelah itu baru kita boleh
mengambil tindakan."
"Jalan apa yang kau maksudkan?"
Cian-bin-hud hanya menjawab satu patah kata saja. "Api!"
Wajah Kiu-bwe-hu berseri-seri seketika.
***** Begitu keempat harimau dari keluarga Peng, Cian-bin-hud
langsung memerintahkan mereka mengumpulkan ranting-
ranting kering dari daerah sekitar yang tandus. Setelah
berhasil mendapatkan ranting kering dalam jumlah yang cukup
banyak, mereka meletakkannya di depan gua dan segera
menyalakannya. Suara siulan masih terdengar terus. Kayu kering segera
terbakar dan dilalap oleh api. Asap mulai mengepul tinggi.
Dengan mengandalkan angin yang bertiup dari timur, asap itu
terembus ke dalam gua.
Suara siulan terhenti seketika. Suara batuk-batuk
menggantikannya. Cian-bin-hud, Kiu-bwe-hu, dan keempat
saudara dari keluarga Peng tidak dapat menahan rasa
hatinya. Mereka tertawa terbahak-bahak.
Suara tawa Cian-bin-hud yang paling keras. "Aku ingin lihat
berapa lama kalian dapat bertahan!"
923 Suara tawanya mulai sirap, ketika terlihat asap yang
memenuhi gua mulai menipis dan tiba-tiba berbalik
mengembus ke arah mereka. Hati mereka tergetar serentak.
Rasa terkejut masih belum lenyap ketika satu demi satu
ranting kering yang masih menyala itu melayang ke arah
mereka. Perasaan Cian-bin-hud tergetar tidak kepalang. Toyanya
segera diayunkan dan menangkis ranting-ranting kering yang
seakan menari-nari mengejek mereka. Pecut di tangan Kiu-
bwe-hu juga segera digerakkan dengan gencar, persis seperti
gerakan sehelai selendang seorang gadis yang sedang
menari-nari. Ilmu keempat harimau dari keluarga Peng jauh lebih rendah.
Dalam sekejap mata rambut dan pakaian mereka sudah
terbakar. Mereka menjerit-jerit histeris. Asap semakin menipis.
Dari dalam gua keluar dua sosok manusia yang warna kulitnya
berbeda. Yang satu hitam pekat, sedangkan yang lainnya
putih pucat. Yang putih tampak terang sekali. Sebab seakan
pakaian yang dikenakannya berwarna putih, rambut dan
jenggotnya juga sudah memutih semua. Kulit tubuh dan
wajahnya demikian putih seperti selembar kertas layaknya.
Sedangkan yang hitam, semuanya serbahitam. Pakaiannya
hitam, rambut dan jenggotnya juga hitam. Bahkan kulit seluruh
tubuhnya hitam pekat. Cian-bin-hud dan Kiu-bwe-hu yang
melihat kemunculan kedua orang itu langsung berubah hebat
wajah keduanya. Apalagi keempat harimau dari keluarga
Peng. Api yang membakar rambut serta pakaian mereka
sudah padam. Wajah mereka coreng-moreng seperti kena
arang. Namun tetap tidak dapat menyembunyikan
924 kepucatannya. "Hek-pai-siang-mo!" seru Cian-bin-hud tanpa sadar.
Kiu-bwe-hu yang licik segera memamerkan seulas senyum
ramah. "Entah kapan kedua Cianpwe datang ke daerah
Tionggoan?"
Hek-pai-siang-mo tidak memedulikannya. Mereka
mendongakkan kepala menatap langit, seolah tidak
memandang sebelah mata pun terhadap orang-orang itu.
Kedua orang ini bernama Pek-mo-cian dan Hek-mo-cian.
Nama mereka sudah lama menggetarkan dunia Kangouw.
Selamanya mereka selalu bergabung dalam menghadapi
lawan. Ilmu silat mereka tinggi sekali. Adat mereka juga aneh.
Mereka sudah terkenal sebagai manusia-manusia yang susah
dihadapi. Tujuh atau delapan tahun yang lalu sudah pernah
datang ke daerah Tionggoan dan menimbulkan keonaran.
Kemudian entah dikalahkan oleh siapa, akhirnya mereka
kabur pulang tanpa kabar berita. "Para perampok itu benar-
benar kejam," kata orang tua itu kembali. Cian-bin-hud dan
Kiu-bwe-hu juga sudah lama berkecimpung di dunia Kangouw,
tentu saja mereka tahu sampai di mana kelihaian Hek-pai-
siang-mo. Sedangkan keempat harimau dari keluarga Peng
pernah menetap di Tibet beberapa waktu. Kesan mereka
terhadap kedua iblis itu sudah pasti lebih dalam lagi.
Yi Pei-sa dan Kuan Tiong-liu beriringan keluar dari dalam gua.
Tangan Yi Pei-sa segera menunjuk ke arah empat saudara
dari keluarga Peng. "Mereka adalah empat harimau dari
keluarga Peng. Karena ingin merebut kembali Sa-mo-ce-sing,
maka mereka sengaja mengundang kedua orang Hu-hoat dari
Bu-ti-bun," katanya menjelaskan.
925 Hek-pai-siang-mo saling melirik sekilas. Kemudian sinar mata
mereka beralih ke arah Cian-bin-hud kemudian Kiu-bwe-hu.
"Tujuan kami hanya budak Kuan Tiong-liu itu." Cian-bin-hud
buru-buru memberi tahu.
Pek-mo-cian tertawa dingin. "Kenyataannya kalian juga
mengincar murid kami," sahutnya serius.
Kiu-bwe-hu segera mengembangkan seulas senyuman. "Kami
benar-benar mempunyai mata tapi tidak mengenal gunung
Thay-san. Kalau kami tahu gadis itu adalah murid kesayangan
kedua Cianpwe, meskipun nyawa kami ada sembilan juga
tidak berani kami mengganggunya."
Hek-mo-cian tertawa terkekeh-kekeh. "Budak seperti engkau
ini ternyata pandai mengambil hati," katanya.
"Baik. Kalian boleh pergi. Tinggalkan empat ekor harimau jadi-
jadian ini," tukas Pek-mo-cian. Wajah keempat harimau dari
keluarga Peng langsung berubah hebat. Peng Ti-houw segera
menghampiri Cian-bin-hud dan Kiu-bwe-hu. "Liong-wi ...."
"Su-wi ...." Kiu-bwe-hu berbalik menyapa, kemudian menghela
napas. Setelah itu dia melanjutkan ucapannya. "Bukannya
kami tidak mau membantu. Tapi kalian benar-benar tidak tahu
diri berani membenturkan kepala kepada kedua Cianpwe ini."
"Jadi orang harus mengerti mengukur kekuatan sendiri, kalau
tidak pasti tak akan bertahan lama hidup di dunia Kangouw,"
kata Cian-bin-hud seperti sedang memberi wejangan kepada
keempat harimau dari keluarga Peng. Tiba-tiba tubuhnya
926 berkelebat dan mencelat mundur.
Kiu-bwe-hu bergerak mundur dan tidak kalah cepat dari Cian-
bin-hud. Wajah keempat harimau dari keluarga Peng semakin
pucat. Mereka membalikkan tubuh serentak dan bermaksud
mengambil langkah seribu. Siapa sangka baru saja kaki
mereka bergerak sedikit, dua sosok bayangan melintas. Hek-
pai-siang-mo melayang turun di hadapan keempat harimau
dari keluarga Peng dan menutup jalan pergi mereka.
Peng Ti-houw langsung mengambil keputusan. Dengan nekat
dia mendahului mengayunkan goloknya menerjang ke arah
Hek-mo-cian yang mengadang di depannya. Tubuhnya
meluncur ke samping. Meskipun gerakannya sudah cukup
cepat, tapi mana mungkin dapat dibandingkan dengan Hek-
mo-cian yang sudah menggemparkan dunia Kangouw dalam
jangka waktu berpuluh tahun. Gerakan tubuh orang itu
demikian ringan seakan hanya menggeser perlahan. Tapi
hasilnya justru mengejutkan. Ketika tubuhnya berkelebat untuk
pertama kali, golok di tangan Peng Ti-houw langsung terlepas.
Kemudian tubuhnya bergerak. Ia menghantam golok tersebut
sampai terpental jauh. Sedangkan kelebatan tubuhnya yang
terakhir, kedua telapak tangan iblis hitam itu langsung
menghajar telak dada Peng Ti-houw.
Sebetulnya, kalau ditilik dari ilmu silat Peng Ti-houw, tidak
sepatutnya dia demikian tidak becus. Tapi karena hatinya
sudah tergetar dan berpikir bagaimana caranya agar dapat
melarikan diri, maka sisa tenaga dan kepandaiannya hanya
tinggal enam bagian.
Begitu telapak tangan Hek-mo-cian berhasil menghantam
dadanya, tubuh Peng Ti-houw bukannya terpental jauh malah
927 terpaku di tempat. Seluruh tubuhnya langsung bergetar hebat.
Butiran keringat mengalir deras dari celah pori-porinya
kemudian membeku menjadi es. Setelah beberapa saat tubuh


Ilmu Ulat Sutera Karya Huang Ying di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Peng Ti-houw jatuh dalam posisi tegak lurus persis seperti
mayat yang telah dibekukan berhari-hari.
Sebelah tangan Hek-mo-cian yang lainnya segera
mencengkeram batok kepala Peng-cia-go-houw yang satunya
lagi. Dengan sekali gerakan saja, orang itu langsung terkulai di atas tanah. Sedangkan di pihak lain, Pek-mo-cian sudah
berhasil mengantarkan dua nyawa Peng-cia-go-houw yang
tersisa ke alam baka. Cara kematian mereka tidak berbeda
dengan kedua saudaranya yang sudah mendahului.
Kuan Tiong-liu yang sejak tadi menyaksikan perbuatan
mereka, diam-diam merasa gembira. Matanya bersinar terang.
Gaya ilmu kelembutan im seperti yang dikuasai oleh Hek-pai-
siang-mo baru pertama kali ini disaksikannya. Seandainya dia
ingin menguasai jurus Lok-jit-kiam-hoat dengan baik, maka
terlebih dahulu dia harus melatih ilmu tenaga dalam dengan
kelembutan im tersebut. Sekarang dia sudah dapat
memastikan bahwa tenaga dalam yang kelembutan im seperti
yang dikuasai oleh Hek-pai-siang-mo itulah tujuannya.
Tapi bagaimana caranya mendapatkan kepercayaan dari
kedua iblis tersebut agar mereka bersedia menurunkan ilmu
yang satu itu" Kuan Tiong-liu terus memeras otak.
Dengan sekaligus Hek-pai-siang-mo berhasil membunuh
keempat saudara dari keluarga Peng. Sikap mereka masih
seperti sebelumnya, seakan belum terjadi apa pun sejak tadi.
Yi Pei-sa hampir tidak sempat melihat cara turun tangan
kedua suhunya yang demikian keji. Tapi dia tidak berani
928 mengatakan apa-apa.
Hek-pai-siang-mo segera berjalan menuju mulut gua. Yi Pei-
sa cepat-cepat mendorong tubuh Kuan Tiong-liu agar
mengikutinya. Kuan Tiong-liu tersadar dan langsung
melangkahkan kakinya. Tapi baru berjalan beberapa tindak,
Hek-mo-cian sudah menolehkan kepalanya dan menatap
Kuan Tiong-liu dengan pandangan dingin. "Untuk apa kau ikut
ke sini?" tanyanya sinis.
Kuan Tiong-liu tertegun seketika.
"Toasuhu, dia ingin pergi ke Tibet. Aku sudah berjanji
mengantarkannya ke sana," sahut Yi Pei-sa cepat.
"Kami sekarang bukan kembali ke Tibet. Cepat suruh dia pergi
dari sini!" kata Hek-mo-cian dengan nada kurang sabar.
Ternyata Yi Pei-sa juga tergolong gadis yang keras kepala.
"Aku sudah telanjur mengabulkannya. Mana boleh
mengingkari begitu saja?" Hek-mo-cian mendelik ke arah Yi
Pei-sa. Belum sempat hawa marahnya meluap, Pek-mo-cian
yang ada di sampingnya sudah menukas, "Lotoa, biar bocah
itu ikut saja dengan kita." Kemudian dia mengedipkan
matanya sebagai isyarat. Tentu saja Hek-mo-cian mengerti.
Dia mendengus dingin lalu meneruskan langkah kakinya.
Yi Pei-sa baru bisa menghela napas lega. Dengan
mengembangkan seulas senyuman manis dia melirik ke arah
Kuan Tiong-liu. Anak muda itu ikut tertawa, tapi tawa yang
diperlihatkannya justru tawa getir. Sejak berkecimpung di
dunia Kangouw, mana pernah dia memandang sebelah mata
pun terhadap orang lain. Sekarang ia justru dihina sedemikian
929 rupa. ***** Setelah berjalan jauh di depan dan Kuan Tiong-liu serta Yi
Pei-sa ada dalam jarak kurang lebih sepuluh depa di
belakang, Hek-mo-cian tidak dapat menahan rasa ingin
tahunya lagi. "Loji, buat apa kau memberi muka kepada budak
itu?" Pek-mo-cian tertawa lebar. "Budak ini tampaknya akan
menggunakan kekuatan kita untuk menghadapi Bu-ti-bun. Dia
boleh cerdas, kita kan juga bukan orang bodoh."
"Tapi kau malah membiarkan dia ikut ...."
"Kita toh sudah cukup lama tidak datang ke daerah
Tionggoan. Banyak jalan yang sudah berubah. Ada dia yang
menemani kita, kan banyak juga manfaatnya," sahut Pek-mo-
cian. Hek-mo-cian tidak berkata apa-apa, tapi keningnya langsung
berkerut semakin dalam.
"Lagi pula ilmu silat kita jauh lebih tinggi daripadanya. Kalau dia menunjukkan sikap yang mencurigakan, kita bunuh saja,
kan beres?" kata Pek-mo-cian selanjutnya.
Hek-mo-cian menganggukkan kepalanya berulang kali. Di
ujung bibirnya mulai tersembul seulas senyuman. Sedangkan
Cian-bin-hud dan Kiu-bwe-hu yang sudah meninggalkan
tempat itu sejak tadi, baru bisa menghela napas lega setelah
mengetahui bahwa mereka tidak dikejar oleh Hek-pai-siang-
930 mo. Meskipun demikian mereka tidak berani berlama-lama di
tempat itu. Keduanya melanjutkan perjalanan secepat mungkin untuk
kembali ke kantor pusat. Melihat mereka sambil kembali
dengan tangan hampa, Tok-ku Bu-ti segera dapat menduga
bahwa pasti telah terjadi sesuatu yang di luar dugaan.
Mendengar Hek-pai-siang-mo sudah berada di daerah
Tionggoan, diam-diam hatinya terkejut.
***** Walaupun dia tidak dapat memastikan sampai di mana
tingginya ilmu Hek-pai-siang-mo, tapi dia tahu keduanya
adalah tokoh kelas satu di Tibet. Tempo dulu mereka pernah
menggemparkan daerah Tionggoan.
Sekarang mereka tiba-tiba muncul kembali. Kalau dikatakan
kemunculan mereka hanya demi menemukan kembali Sa-mo-
ce-sing dan membuat perhitungan dengan kelima saudara dari
keluarga Peng, rasanya sulit diterima akal sehat.
Dan Tok-ku Bu-ti terlebih-lebih tidak percaya. Mereka pasti
Panji Wulung 5 Senyuman Dewa Pedang Karya Khu Lung Misteri Bayangan Setan 11
^