Pencarian

Alap Alap Laut Kidul 4

Alap Alap Laut Kidul Seri Ke 3 Pecut Sakti Bajrakirana Karya Kho Ping Hoo Bagian 4


Ki Harya Baka Wulung adalah guru Raden Praseno yang kini menjadi adipati di Madura bergelar Pangeran Cakraningrat. tentu saja kedatangan kedua datuk itu diterima dengan hormat oleh sang adipati. juga Pangeran Cakraningrat menerima Wiku Menak Koncar dengan hormat. Gia mengenal baik kakek itu apalagi Wiku Menak Koncar membawa salam dari Adipati Blambangan. Untuk menghormati dua orang datuk itu Pangeran Cakraningrat mengadakan perjamuan makan.
Setelah selesai perjamuan, mereka bercakap-cakap dalam sebuah ruangan tertutup karena Ki Harya Baka Wulung minta kepada bekas muridnya itu untuk membicarakan urusan penting secara rahasia.
Setelah mereka bertiga duduk di ruangan tertutup Ki Harya Baka Wulung menceritakan rencananya, mengajak sang adipati untuk menghimpun kekuatan seluruh kabupaten di Madura untuk memerangi Mataram.
"Jangan khawatir, Anakmas Adipati, Sang Adipati Blambangan juga sudah siap untuk membantu gerakan kita.
Kalau seluruh kekuatan di Madura dihimpun, kemudian dibantu oleh pasukan Blambangan, mustahil kita tidak mampu mengalahkan Mataram." Ki Harya Baka Wulung menutup bicaranya.
Sejak tadi Pangeran Cakraningrat hanya mendengarkan saja. Walaupun hatinya merasa terkejut bukan main, namun dia bersikap tenang dan hanya mendengarkan sampai bekas gurunya itu berhenti bicara. Setelah itu baru dia berkata.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Akan tetapi, Bapa Guru, itu berarti pemberontakan terhadap Mataram! Tidak mungkin saya memberontak terhadap Kanjeng Sultan Agung! Beliau tidak berniat menguasai Madura, melainkan hendak mempersatukan semua daerah untuk menghadapi Kumpeni Belanda. Untuk mempersatukan seluruh Madura beliau malah mengangkat saya menjadi Adipati Madura. Bagaimana sekarang Bapa Guru menganjurkan saya untuk memberontak terhadap Kanjeng Sultan Agung?"
"Heh-heh-heh!" Ki Harya Baka Wulung memaksa diri tertawa sungguhpun di dalam hatinya dia marah mendengar ucapan bekas murid yang kini menjadi adipati itu. "Anakmas Praseno! Semua itu hanya siasat licik Sultan Agung saja!
Lupakah anakmas betapa banyaknya sanak keluarga kita yang tewas ketika Mataram datang menyerbu" Bukankah banyak para paman dan saudara anakmas yang juga terbunuh" Sultan Agung mengangkat anakmas sebagai adipati agar hanya anakmas melupakan semua itu! Lain waktu kalau saatnya tiba, tentu anakmas yang akan dibunuhnya. Lebih baik kita mendahului daripada didahului oleh raja Mataram yang kejam itu!"
Pangeran Cakraningrat menghela napas dalam. "Bapa Guru, urusan ini bukanlah urusan kecil dan sepele. harus dipikirkan masak-masak dan disepakati oleh semua bupati.
Saya kira tidak ada bupati yang akan menerima dan menyetujui pemberontakan, Bapa Guru. Maafkan saya, saya tidak mau menyengsarakan rakyat Madura dengan lain peperangan lagi.
Kanjeng sultan Agung bukanlah musuh kita, melainkan pemimpin kita untuk menghadapi keserakahan Kumpeni Belanda."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Bukan main marahnya hati Harya Baka Wulung mendengar ucapan bekas muridnya itu. Dia masih mencoba untuk membujuk, dibantu oleh Wiku menak Koncar, akan tetapi sama sekali kesetiaan Pangeran Cakraningrat terhadap Sultan Agung tidak goyah. Dengan putus harapan dan marah Ki Harya Baka Wulung mengajak Wiku Menak Koncar untuk meninggalkan Sampang.
"Bagaimana kalau kita mencoba untuk membujuk Pangeran Pekik, adipati di Surabaya?" Wiku Menak Koncar berkata kepada Ki Harya Baka Wulung ketika perahu mereka sudah meninggalkan pantai Madura dan memasuki selat Madura.
Ki Harya Baka Wulung yang muram wajahnya itu menjawab kesal. "Pangeran Pekik" Seperti mengharapkan matahari bersinar di malam hari! Tidak mungkin sama sekali.
Setelah dia menikah dengan Ratu Wandansari, menjadi mantu Sultan Agung, mana mungkin dia diajak memberontak terhadap mertuanya?"
"Kalau begitu, apa yang akan andika lakukan sekarang, Kakang Harya" Kalau sudah tidak ada sesuatu lagi yang dapat kubantu, lebih baik aku kembali saja ke Blambangan," kata Wiku Menak Koncar.
"Nanti duku, Adi Wiku," kata Ki Harya Baka Wulung.
Dia tampak mengerutkan alisnya, termenung, termenung dan mengolah pikirannya. Kemudian dia mengepal tangan kanannya dan memukul pahanya sendiri. "Ah, inilah jalan terbaik! Kita harus dapat memberi pukulan yang tepat sekali untuk menghancurkan hati Sultan Agung dan melemahkan kedudukannya, merenggangkan hubungan Mataram dengan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Surabaya dan Giri! dengan demikian, kita dapat membalas dendam kepada Sultan Agung!"
"Bagaimana caranya?" Tanya Wiku Menak Koncar, ingin tahu sekali.
"Kita harus membunuh Ratu Wandansari!"
"Membunuh Ratu Wandansari" Mengapa" Dan apa untungya bagi kita?"
"Adi Wiku, jatuhnya Surabaya dan Giri karena puteri Sultan Agung itu. Pangeran Pekik menjadi lemah dan perlawanannya berhenti karena dia dinikahkan dengan Ratu Wandansari. Kemudian Giri jatuh karena Ratu Wandansari yang menjadi senopati memimpin pasukan menyerbu Giri.
Sekarang, hubungan antara Surabaya dan Mataram menjadi kuat karena ada Ratu Wandansari dan Giri juga tunduk karena melihat Surabaya juga tidak lagi memusuhi Mataram. Nah, kalau Ratu Wandansari dibunuh, selain hati sultan Agung menjadi hancur karena kehilangan puterinya yang amat dikasihi, juga Pangeran Pekik tidak terikat lagi kepada Mataram. Setelah begitu, tentu Surabaya dan Giri siap untuk menentang Mataram. Bukankah siasat ini baik sekali?"
Wiku Menak Koncar mengangguk-angguk dan
memandang kepada sahabatnya dengan kagum. "Hebat! Siasat itu memang bagus sekali, Kakang Harya. akan tetapi, bagaimana kita akan dapat membunuh Ratu Wandansari" Ia adalah seorang wanita sakti mandraguna."
Ki Harya Baka Wulung tersenyum lebar. "Aku tahu bahwa Ratu Wandansari adalah murid mendiang Bhagawan Sindusakti yang dulu menjadi ketua perguruan silat Jatikusumo. Akan tetapi betapapun saktinya, tidak mungkin dia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dapat mengalahkan andika atau aku, apalagi kalau kita berdua melawannya."
"Akan tetapi, Kakang Harya. Ia telah menjadi isteri Pangeran Pekik. Ia tentu berada di istana Kadipaten Surabaya dan terjaga kuat. Bagaimana kita mendekatinya, apalagi membunuhnya?"
"Inilah yang harus kita selidiki, Adi Wiku. Kita selidiki ke Surabaya dan begitu ada kesempatan, kita bertindak.
Bagaimana" apakah andika masih mau membantuku?"
"Baiklah, aku akan membantumu, Kakang Harya."
"Bagus, terima kasih, Adi Wiku."
"Tidak perlu berterima kasih karena kalau usaha kita berhasil berarti suatu keuntungan besar pula bagi Kabupaten Blambangan.
Mereka lalu memerintahkan anak buah untuk
mengarahkan perahu ke Surabaya.
-o0-dwkz-budi-0o-
Setelah meninggalkan dusun Gampingan, Aji berhenti di persimpangan jalan, meragu sejenak. Dia merasa bingung harus mengambil jurusan mana. Biarpun ia mengemban tugas untuk mencari putera mendiang gurunya yang berada di Banten, yaitu daerah yang menurut gurunya berada jauh di barat, juga keinginannya mencari Hasanudin putera ayahnya mengharuskan dia pergi ke daerah Galuh di utara lalu ke barat, namun keinginannya merantau dapat dilakukan ke arah mana saja. Tiba-tiba teringatlah dia akan burung alap-alap yang sering dilihatnya di atas pantai Laut Kidul. Teringat akan ini, langkahnya membawanya ke selatan, ke arah laut.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tak lama kemudian Aji Sudah berdiri di atas pantai berpasir, memandang ke arah laut yang begelombang. Ombak besar bergulung-gulung, memanjang seperti naga, kepala ombak yang putih itu berkejaran, lalu bertumbukan dan pecah menimbulkan suara menggelegar. Air laut bergerak dan bergelora, siang malam tak pernah berhenti. Aji menengadah, memandang ke angkasa, mencari-cari. tiba-tiba dia tersenyum dan matanya bersinar-sinar karena dia melihat apa yang dicarinya. Titik hitam melayang-layang di antara awan itu.
Alap-alap Laut Kidul, demikian dia memberi nama burung yang telah menjadi kesayangannya itu. Titik hitam itu semakin membesar, semakin turun sehingga akhirnya dia dapat melihat dengan jelas. Alap-alap yang gagah perkasa, melayang-layang berputaran seolah-olah menyambutnya. Kemudian burung itu terbang pergi ke arah timur.
Aji mengangguk-angguk. "Baiklah, Alap-alap Laut Kidul, aku akan mengikuti ke arah mana engkau terbang!"
katanya. Burung itu seolah memberi prtunjuk kepadanya bahwa dia harus memulai perantauannya ke arah timur.
Mulailah Aji dengan perjalanannya. Dia menuju ke timur. Naik turun bukit-bukit yang seolah tiada habisnya itu.
Dari ketinggian bukit-bukit itu dia kadang dapat melihat Laut Kidul. Dari jauh tampak tenang membiru. Diam dan tenang.
Pasahal dia tahu benar bahwa laut itu tidak pernah diam.
Berhari-hari Aji melakukan perjalanan melalui Pegunungan Kidul atau Pegunungan Seribu yang memanjang dari barat ke timur itu. Di waktu malam dia bermalam di dusun yang dilewatinya, kadang juga terpaksa harus bermalam di sebuah guha yang gelap. beberapa hari kemudian tibalah dia di sebuah dusun di tepi pantai. Dusun Wonocolo yang terletak di
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pantai teluk Panggul. Karena hari telah menjelang senja, Aji mengambil keputusan untuk bermalam di dusun itu.
Pada saat dia memasuki dusun itu, tiba-tiba tampaklah olehnya seekor burung alap-alap melayang-layang di angkasa.
Aji merasakan jantungnya berdebar gembira. Entah bagaimana, setiap kali melihat burung alap-alap terbang di angkasa, penglihatan itu begitu akrab dalam hatinya. Penglihatan yang tidak asing. seolah-olah yang melayang-layang itu adalah alap-alap yang dulujuga, yang suka melayang di atas pantai berpasir di sebelah selatan dusun tempat lahirnya, alap-alap yang pernah dilihatnya berkelahi melawan ular dan memenangkan perkelahian itu. Alap-alap yang dengan perkelahian itu telah mengajarkan ilmu tata kelahi yang baru kepadanya. Dan kini alap-alap itu terbang pergi, menuju ke utara! Seolah menjadi pertanda baginya bahwa perjalanan selanjutnya adalah utara.
Demikianlah, setelah bermalam di rumah seorang petani tua di dusun Wonocolo itu selama satu malam, pada keesokan harinya Aji melanjutkan perjalanannya. Kini dia melakukan perjalanan ke arah utara! Dia merasa dirinya seekor burung alap-alap yang terbang bebas di udara, menuju ke manapun hati dan kakinya membawanya.
Beberapa hari kemudian tibalah dia di daerah Caruban.
Pada saat itu matahari sedang panas-panasnya dan tepat beradadi atas kepala. Aji melepas lelah dan duduk di bawah sebatang pohon dadap. Tempat itu sejuk sekali karena terlindung banyak pohon yang tumbuh di tepi jalan. Agaknya dia telah tiba di jalan raya yang membentang dari timur ke barat. Simpang tiga itu berada di daerah berhutan dan keadaan di situ sepi, agaknya jauh dari dusun. Padahal perutnya sudah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terasa lapar. Dia harus bisa menemukan sebuah dusun untuk dapat memperoleh makanan.
Tiba-tiba dia mendengar suara orang dari arah timur.
Dia menoleh dan tak lama kemudian, dari jalan yang menikung itu muncul tujuh orang laki-laki yang sedang berjalan menuju ke barat. Entah mengapa, melihat tujuh orang laki-laki itu, timbul perasaan curiga dan tidak enak dalam hati Aji. Maka dia cepat bersandar ke batang pohon itu dan dia memejamkan kedua matanya, pura-pura tertidur. Dengan sedikit membuka matanya, melalui bulu matanya dia dapat memperhatikan mereka.
Yang menarik perhatiannya adalah dua orang kakek yang berjalan di depan dalam rombongan tujuh orang itu.
seorang kakek bertubuh tinggi besar seperti raksasa. Rambut dan brewoknay kaku seperti kawat, sudah berwarna dua.
Matanya lebar dan liar. Kepalanya memakai kain pengikat kepala wulung. Kakek yang tampak gagah dan kokoh kuat ini walaupun usianya sudah hampir tujuh puluh tahun, membawa sebatang keris dengan warangka dan gagang terukir indah, terselip di pinggangnya.
Kakek kedua yang berjalan di samping kakek pertama, juga menarik perhatian Aji. Usia kakek ini sebaya dengan kakek petama. tubuhnya sedang saja, akan tetapi kulitnya amat menarik perhatian karena kulit itu hitam sekali, seperti arang.
Pakaiannya mewah dan wajahnya buruk dengan matanya yang sipit, hidungnya yang pesek dan bibirnya yang tebal. Kakek ini membawa sebatang senjata ruyung atau penggada yang tergantung di pinggang kirinya. Juga kakek kedua ini, biarpun tubuhnya tidak sekokoh kakek pertama, menunjukkan kegagahan. Sikap dan pandang mata dua orang kakek yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
usianya sudah hampir tujuh puluh tahun ini menunjukkan bahwa mereka "berisi", yaitu dua orang yang memiliki kesaktian.
Lima orang laki-laki yang berjalan di belakang mereka juga merupakan orang-orang yang bersikap gagah. Usia mereka dari empat puluh sampai lima puluh tahun dan Aji melihat keanehan pada pakaian mereka. Lima orang itu mengenakan baju dan celana hitam. Mereka membiarkan baju itu terbuka di bagian dada, dan celana hitam mereka sampai ke bawah lutut. Yang menarik adalah ikat pinggang mereka. Ikat pinggang itu merupakan kolor yang besar, hampir sebesar lengannya, panjang hampir menyentuh tanah dan bermacam-macam warnanya. Aji yang belum pernah keluar dari dusun tempat lahirnya, paling jauh dia hanya pergi ke tepi laut, dan sama sekali belum berpengalaman. sama sekali tidak tahu bahwa lima orang itu adalah para warok, yaitu jagoan dari daerah Ponorogo. Ketika dalam perjalanannya beberapa hari yang lalu dia melewati Ponorogo, dia juga melihat banyak kaum pria yang berpakaian seperti lima orang itu, akan tetapi karena tidak pernah terjadi sesuatu, diapun tidak tahu siapa mereka, sama sekali tidak mengira bahwa mereka adalah para jagoan dan bahwa kolor yang besar itu merupakan senjata mereka yang ampuh.
Ketika rombongan itu tiba di dekat tempat Aji tersandar pada batang pohon, dua orang kakek itu menghentikan langkah mereka. Lima orang itupun berhenti dan mereka mengamati Ajim dengan penuh perhatian. Kemudian terdengar kakek berkulit hitam arang itu berkata dengan suara tinggi seperti suara wanita.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ah, untuk apa perhatikan dia" Dia hanya seorang bocah yang kelelahan dan mungkin kelaparan. Hayo jalan terus dan kita mencari tempat baik untuk menghadang." Logat bicara kakek itu terdengar aneh bagi Aji, namun dia masih dapat mengerti artinya.
Tujuh orang itu melanjutkan perjalanan mereka. Hati Aji sudah tergerak dan dia tertarik sekali. Sikap mereka itu tidak seperti orang-orang biasa yang kebetulan lewat di jalan ini. Mereka tentu mempunyai niat tertentu. Kakek hitam tadi bicara tentang penghadangan! Jangan-jangan mereka mempunyai niat buruk terhadap orang yang akan dihadang!
Setelah rombongan itu menghilang di tikungan jalan, Aji cepat bangkit, menggendong lagi buntalan pakaiannya dan diapun menyelinap di antara pohon-pohon dan membayangi rombongan itu dari jarak agak jauh sambil bersembunyi di balik pohon-pohon. Setelah tiba di bagian hutan yang lebat, tujuh orang itu berhenti dan mereka lalu berpencar, bersembunyi di balik pohon besar atau semak-semak sehingga tidak tampak dari jalan. Melihat ini, berdebar rasa jantung Aji.
Dugannya tidak keliru. mereka itu tentu berniat buruk terhadap orang yang sedang mereka hadang. Dia pun bersembunyi di balik semak belukar dan melakukan pengintaian.
Dua orang kakek itu bukan lain adalah Ki Harya Baka Wulung dan Wiku Menak Koncar. Seperti kita ketahui, dua orang datuk dari Madura dan Blambangan ini telah gagal membujuk Pangeran Cakraningrat untuk memberontak terhadap Mataram. Akan tetapi Ki Harya Baka Wulung tidak putus asa. dendamnya terhadap Mataram sedemikian besarnya sehingga dia tidak akan berhenti sebelum dapat membalas dendam. Dia berhasil membujuk Wiku Menak koncar, untuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
membantunya mencari kesempatan untuk membunuh Ratu Wandansari, puteri Sultan Agung atau isteri Pangeran Pekik dalam usahanya membalas kematian anaknya. Dengan membunuh Ratu Wandansari, dia dapat menghancurkan hati Sultan Agung dan sekaligus merenggangkan hubungan antara Mataram dan Surabaya, juga Giri.
Beberapa lamanya mereka menanti dan mengintai kesempatan dan sekarang kesempatan itu tiba! Dari beberapa orang anak buah yang mereka sebar di Kadipaten Surabaya untuk melakukan penyelidikan, mereka mendengar bahwa pada hari itu Ratu Wandansari akan melakukan perjalanan menuju Mataram, seorang diri, tidak dengan Pangeran Pekik. Dan seperti biasanya, puteri yang digdaya, sakti mandraguna dan memiliki kelebihan, mampu melindungi diri sendiri.
Mendengar berita ini, Ki Harya Baka Wulung dan Wiku Menak Koncar menjadi girang bukan main. Saat yang ditunggu-tunggu selama berpekan-pekan itu akhirnya tiba.
Kesempatan itu akhirnya terbuka. Mereka cepat mendahului perjalanan sang puteri dan di daerah Madiun mereka berhasil menemui lima orang warok bersaudara yang terkenal sebagai Lima Macan Nganjuk. Lima orang jagoan bersaudara ini berasal dari Ponorogo dan dulu pernah memperdalam aji kanuragan dari Ki Harya Baka Wulung sehingga mereka boleh disebut murid-murid datuk ini, walaupun mereka tidak menyerap seluruh kepandaian Ki Harya Baka Wulung, melainkan hanya memperdalam ilmu mereka sendiri menurut petunjuk datuk itu. Akan tetapi hal ini sudah cukup untuk membuat mereka menaati perintah Ki Harya Baka Wulung yang mereka anggap sebagai guru mereka. Ketika datuk itu minta bantuan mereka, dengan senang hati lima orang warok
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
itu menyanggupi dan berangkatlah mereka bersama dua orang datuk itu, mencari tempat penghadangan yang baik di dalam hutan daerah Caruban.
Demikianlah pada siang hari itu mereka menanti dan menghadang di dalam hutan sambil bersembunyi. Mereka telah memperhitungkannya dengan seksama bahwa kereta sang puteri pasti akan lewat di tempat itu pada siang hari ini. Mereka tahu dengan pasti bahwa perhitungan mereka tidak akan meleset dan Ki Harya Baka Wulung sudah menggosok-gosok kedua telapak tangannya membayangkan bahwa sebentar lagi dia akan berhasil membalas dendam kematian puteranya!
Kurang lebih satu jam kemudian, terdengarlah derap kaki kuda dan roda kereta datang dari arah timur. Aji yang berada di sebelah timur gerombolan yang menghadang kereta itu dapat melihat lebih dulu rombongan yang datang dari arah timur itu. Sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda berjalan di depan, kusirnya seorang laki-laki setengah tua yang mengenakan pakaian khas sais kadipaten. Yang duduk dalam kereta itu tidak tampak karena tirai pintu kereta itu tertutup. Di belakang kereta terdapat dua belas orang prajurit menunggang kuda. Rombongan itu berjalan sedang saja, tampaknya tidak tergesa-gesa. Mungkin perjalanan lambat itu dilakukan agar kereta tidak terlalu terguncang.
Aji memandang dengan jantung berdebar penuh ketegangan. Dia tidak tahu siapa yang berada dalam kereta akan tetapi dapat menduga bahwa mungkin sekali rombongan inilah yang dihadang oleh tujuh orang itu. Bagaimanapun juga, hatinya merasa agak lega melihat bahwa kereta itu dikawal dua belas orang prajurit berkuda yang tampaknya gagah dan kuat.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dengan hati-hati dia menyusup di antara pohon-pohon dan semak-semak untuk mendekat agar dapat melihat lebih jelas.
Perhitungan Ki Harya Baka Wulung dan kawan-kawannya tidaklah salah. Ratu Wandansari yang berada dalam kereta yang dikawal selosin prajurit itu. Siang itu hawanya panas sekali dan perjalanan jauh itu melelahkan, maka Ratu Wandansari yang duduk dalam kereta itu mengantuk dan melenggut. Sedikitpun ia tidak merasa khawatir akan menemui halangan dalam perjalanan. Ia adalah puteri Sultan Agung dan isteri Pangeran Pekik. Siapa yang akan berani mengganggunya" Pula, andaikata ada yang begitu berani mengganggu, ada selosin perajurit pilihan mengawalnya, dan dia sendiri tidak takut menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun.
Tiba-tiba sais kereta itu menahan empat ekor kuda penarik kereta. Karena dia menarik kendali secara mendadak, maka kereta berhenti dengan tiba-tiba pula dan hal ini membuat Ratu Wandansari tersentak bangun dari keadaan setengah tidur.
Dua belas orang prajurit berloncatan turun dari atas kuda mereka dan berlari ke depan kereta untuk melindungim sang puteri. Mereka melihat tujuh orang tiba-tiba berloncatan dari kanan kiri jalan dan berdiri menghadang dengan sikap mengancam.
Aji sudah menyelinap cukup dekat dan dia menonton dengan hati tegang. Dia menghadapi pertentangan, mungkin pertempuran kedua pihak yang tidak dikenalnya, tidak tahu siapa di antara kedua pihak itu yang benar atau salah, siapa yang harus dibantu atau ditentang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Perwira pasukan pengawal itu, seorang laki-laki tinggi tegap berkumis tebal seperti Raden Gatutkaca, menghadapi tujuh orang itu dan berkata dengan suara lantang berwibawa.
"Siapa kalian, berani mati menghadang perjalanan rombongan kami! Apakah kalian tidak tahu siapa yang berada dalam kereta" Beliau adalah Gusti Ratu Wandansari, puteri dari Kanjeng Gusti Sultan Agung, garwa (isteri) Pangeran Pekik Adipati Surabaya!"
"Heh-heh-heh, perwira precil (anak katak)! Apakah matamu sudah buta sehingga tidak mengenal lagi siapa kami berdua?" Ki Harya Baka Wulung membentak setelah tertawa mengejek. Sementara itu, dalam pengintaiannya, Aji terkejut bukan main ketika mendengar pengakuan perwira itu bahwa yang berada di dalam kereta adalah Ratu Wandansari, puteri Sultan Agung atau isteri Pangeran Pekik. Nama-nama ini sudah didengarnya baik-baik dari mendiang gurunya. bahkan gurunya juga memberitahu kepadanya bahwa yang namanya Ratu Wandansari itu adalah puteri Sultan Agung yang selain amat cantik, juga sakti mandraguna walaupun kesaktiannya tentu saja belum mampu menyamai kesaktian Sultan Agung sendiri.
Dan mendiang gurunya dulu memesan agar dia mengabdi dan membantu Sultan Agung. Dengan sendirinya sekarang dia harus pula membantu Ratu Wandansari kalau sekiranya puteri itu membutuhkan bantuan. Sekarang dia tahu di pihak siapa dia harus berdiri.
Kini agaknya perwira pasukan pengawal itu baru mengenal dua orang datuk yang dulu pernah membantu Pangeran Pekik ketika Surabaya berperang melawan Mataram.
Dia segera memberi hormat dengan membungkuk dan berkata kaget dan heran.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ah, kiranya Paman Harya Baka Wulung dan Paman Wiku Menak Koncar! Maafkan kalau saya tidak mengenal paman berdua tadi. Akan tetapi apa kehendak paman menghadang perjalanan kami yang mengawal Gusti Puteri Wandansari?"
"Sudah, minggirlah! Kami tidak ingin berbicara dengan orang-orang kecil macam kalian! Minggir! Kami hendak bicara langsung dengan puteri Wandansari!" kata Ki Harya Baka Wulung dengan lagak angkuh.
Pada saat itu, tirai kereta itu tersingkap dari dalam dan keluarlah seorang wanita dari dalam kereta. Aji memandang dengan mata terbelalak kagum. Belum pernah selama hidupnya dia melihat seorang wanita yang demikian anggun. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Pakaiannya indah. tubuhnya ramping padat. Kepala dan tubuhnya tegak ketika ia berdiri sehingga tampak gagah dan berwibawa. Rambutnya hitam panjang digelung dan dihias tusuk sanggul dari emas permata. Sepasang matanya tajam dan mengandung wibawa yang kuat. Sebatang pedang dengan sarung berukir indah tergantung di punggungnya, membuat wanita itu tampak semakin gagah. Aji yang selama ini hanya bertemu dengan wanita dusun yang sederhana, tentu saja kini merasa seolah-olah sedang bermimpi dan bertemu dengan seorang puteri kahyangan atau bertemu dengan tokoh Srikandi, wanita perkasa dalam cerita wayang!
Ketika wanita itu bicara, suaranya merdu namun lantang dan berwibawa. "Kiranya Paman Harya Baka Wulung dan Paman Wiku Menak koncar yang menghadang perjalananku. Seingatku, kami tidak mempunyai urusan apapun dengan andika berdua! Ada kepentingan apakah paman berdua menghadang perjalananku?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Heh-heh-heh, Ratu Wandansari! Andika harus mati di tanganku untuk menebus dosa ayahmu, Sultan Agung!" Setelah berkata demikian, Ki Harya Baka Wulung memberi isyarat kepada lima orang warok yang sudah siap siaga. Lima orang warok itu sambil memegangi kolor, memutar senjata itu dan menerjang maju. Akan tetapi perwira yang memimpin pasukan pengawal tidak tinggal diam. Dia meneriakkan aba-aba dan para perajurit segera menyambut terjangan lima orang warok itu, menggunakan pedang mereka. Pasukan pengawal yang terdiri dari tiga belas orang berikut perwira tadi memang merupakan pengawal istimewa yang bersenjatakan pedang.
Mereka rata-rata pandai bersilat pedang dan tangguh sehingga para warok itu bertemu dengan lawan yang cukup tangguh.
Melihat ini, Wiku Menak Koncar mengambil ruyungnya dan dengan penggada ini dia membantu lima orang warok menghadapi pengeroyokan para perajurit pengawal.
"Ratu Wandansari, bersiaplah untuk mati di tanganku!"
bentaknya sambil melompat ke depan puteri itu.
"Harya Baka Wulung keparat kau! Dahulu kanjeng rama masih mengampunimu, tidak membunuhmu dan membiarkan engkau lari dari Surabaya bersama Wiku Menak Koncar. Juga ketika aku memimpin pasukan menundukkan Giri, aku tidak menyuruh pasukan menangkapmu, membiarkan engkau melarikan diri mengingat engkau seorang tua yang dihormati di Madura! Akan tetapi hari ini engkau bertindak khianat dan curang, menghadangku di tengah hutan! Jangan mengira bahwa aku takut menghadapimu!"
"Babo-babo! Baru puas rasa hatiku kalau sudah dapat membunuhmu!" teriak Ki Harya Baka Wulung sambil menyerang dengan tusukan kerisnya. Serangannya dahsyat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bukan main karena tenaga tusukannya diperkuat tenaga sakti, didorong gerengan seperti seekor katak buduk.
Akan tetapi dengan gerakan tangkas sekali, Ratu Wandansari sudah melompat ke belakang dan begitu tangan kanannya meraba punggung, tampak sinar berkelebat dan tahu-tahu ia sudah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar mengkilap. Ki Harya Baka Wulung menerjang lagi, menyerang dengan kerisnya. Sekali ini, Ratu Wandansari menggerakkan pedangnya menangkis.
"Wuuuutttt
...... trang ...... !"
Pedang bertemu keris. Bunga api
berpijar menyilaukan mata
akibat benturan
dua senjata yang
didorong tenaga
sakti dahsyat itu
membuat sang puteri terhuyung
ke belakang. Ternyata ia masih
kalah kuat! Akan
tetapi gerakannya trengginas sekali sehingga ketika Ki Harya Baka Wulung mendesak, ia sudah mampu mengendalikan diri dan mempergunakan kegesitannya dan menghindarkan serangan susulan. Mulailah puteri perkasa ini bersilat dengan ilmu pedang Kartika Sakti, sebuah ilmu pedang yang amat ampuh, yang dipelajarinya dari mendiang Resi Limut Manik,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pertapa di puncak Semeru. Terjadilah pertempuran yang amat hebat antara Ki Harya Baka Wulung itu melawan Ratu Wandansari. Sebetulnya, sang puteri masih kalah dalam hal tenaga sakti dan pengalaman bertanding, akan tetapi karena ia memiliki ilmu pedang yang amat ampuh itu, maka untuk sementara ia mampu mengimbangi serangan datuk dari Madura itu.
Aji menonton pertempuran dengan hati tegang. Dia melihat betapa tiga belas orang prajurit, dibantu pula oleh sais kereta yang ternyata juga seorang yang digdaya, menggunakan cambuknya sebagai senjata, tetap saja mereka kewalahan menghadapi Wiku Menak Koncar dan lima orang warok.
Terutama sekali Sang Wiku amat hebat sepak terjangnya.
Penggada di tangannya itu amat ampuh. setiap kali ada perajurit berani menangkis sambaran ruyungnya, perajurit itu tentu terpental dan terpelanting! Juga amukan lima orang warok itu amat ganas. Untung bahwa para perajurit itu merupakan pasukan yang dapat bekerja sama dengan baik karena terlatih sehingga mereka dapat saling bantu dan sebegitu lama masih mampu menandingi amukan Wiku Menak Koncar dan lima orang warok itu. Akan tetapi menurut pandangan Aji, kalau pertempuran itu dilanjutkan, akhirnya tentu para perajurit akan kalah. Demikian pula, sang puteri agaknya akan sulit mengalahkan kakek tinggi besar yang amat tangguh itu. Akan tetapi dia masih merasa ragu untuk keluar membantu puteri itu. Gurunya pernah menasihatinya agar dia tidak sembarangan mencampuri urusan orang lain dan juga banyak pendekar atau kesatria yang merasa tidak senang dibantu dalam perkelahian, apalagi kalau dia belum terancam oleh lawan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Pada saat itu terdengar seruan-seruan lantang dan penuh daya getaran. Ki Harya Baka Wulung dan Wiku Menak Koncar mengeluarkan ilmu mereka yang dahsyat. Datuk Madura itu dalam keadaan tubuh direndahkan mengembangkan kedua lengannya lalu mendorong ke depan. Dari gerakannya itu tiba-tiba saja tampak asap hitam mengepul tebal menyerang ke arah sang puteri. Itulah Aji Kukus Langking yang amat hebat. Ratu Wandansari adalah seorang wanita yang sakti mandraguna. Ia maklum akan bahayanya serangan yang menggunakan tenaga sakti dan kekuatan sihir itu. Iapun lalu mengerahkan tenaga sakti dan mendorong dengan kedua tangannya, menggunakan Aji Gelap Musti.
"Aji Kukus Langking ...... !" Ki Harya Baka Wulung berseru dan memperkuat tenaga.
"Aji Gelap Musti!" Ratu Wandansari juga berteriak melengking. Dua tenaga sakti bertemu dan akibatnya, sang puteri terdorong ke belakang sampai terhuyung-huyung. Jelas bahwa ia kalah kuat dalam pertandingan adu tenaga sakti ini.
Sementara itu, dalam saat yang hampir bersamaan, Wiku Menak Koncar juga mendorongkan kedua tangannya ke depan sambil berseru nyaring.
"Aji Bayu Bajra ...... !" Begitu dia berseru dan kedua tangannya mendorong, ada angin yang amat kuat menyambar ke arah para perajurit pengawal. Demikian kuatnya dorongan angin ini sehingga lima orang perajurit terpelanting dan terguling-guling! Tentu saja rekan-rekannya menjadi panik sehingga mereka terdesak mundur.
Melihat Ratu Wandansari terhuyung, Ki Harya Baka Wulung menjadi girang sekali. Saatnya tiba baginya untuk membunuh sang puteri. Dia sudah menyarungkan kerisnya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kemudian dia melompat ke depan, berjongkok dan mendorongkan kedua tangan ke arah Ratu Wandansari, dari dalam perutnya yang menjadi gendut sekali itu keluar bunyi
"kok-kok-kok!" nyaring sekali dan mulutnya berteriak nyaring lagi.
"Aji Cantuka Sakti ...... !!"
Melihat hawa pukulan menyambar dahsyat, Ratu Wandansari kembali menyambut dengan Aji Gelap Musti, akan tetapi tubuhnya masih terhuyung.
"Wuuuutttt ......, blarrrr ...... !!"
Tubuh Ki Harya Baka Wulung terpental ke belakang.
Dia terbelalak kaget melihat betapa pukulan mautnya tadi disambut sepasang tangan yang amat kuat. Ketika dia memandang, dia melihat seorang pemuda berpakaian seperti seorang petani dusun berdiri di depannya. Akan tetapi pemuda yang tadi menangkis pukulannya itu seperti tidak memperdulikannya. Pemuda itu bahkan menghadapi Ratu Wandansari dan berkata dengan sikap hormat.
"Maafkan kalau saya mengganggu dan terpaksa mencampuri, Gusti Puteri. Saya tidak mungkin membiarkan kakek itu membunuh paduka."
Ratu Wandansari memandang heran dan kagum, kemudian ia melirik ke arah pasukan pengawal yang terdesak oleh Wiku Menak Koncar dan lima orang warok setelah datuk Blambangan itu mengeluarkan ajinya yang mendatangkan angin kuat.
"Ki sanak, andika berani melawan Ki Harya Baka Wulung?" tanyanya cepat.
"Saya berani!" jawab Aji.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Kalau begitu, wakili aku dan lawanlah. Aku harus membantu pasukan pengawal."
-o0-dwkz-budi-0o-
JILID VII ilakan, Gusti Puteri!" kata Aji dengan nada suara gembira. Ratu Wandansari mengangguk dan ia lalu S memutar pedangnya dan menerjang ke arah Wiku Menak Koncar yang sedang dikeroyok perwira pasukan pengawal, sais kereta dan beberapa orang prajurit. Sambaran pedangnya yang berubah menjadi gulungan sinar itu mengejutkan Wiku menak Koncar dan terpaksa dia memutar ruyungnya untuk melindungi dirinya.
Ki Harya Baka Wulung marah bukan main ketika mengenal Aji sebagai pemuda yang tadi dilihatnya tidur bersandar batang pohon. Dia telah gagal membunuh Ratu Wandansari karena dihalangi dan ditangkis pemuda ini!
"Heh, bocah keparat! Siapakah engkau, berani mencampuri urusan kami?"
Pada saat itu, entah mengapa, mungkin karena dia merasa gugup berhadapan dengan keadaan yang menegangkan seperti itu, juga karena dia tidak ingin memperkenalkan diri, Aji teringat kepada alap-alapnya. Dia merasa bahwa keadaannya seperti alap-alap itu, maka begitu saja keluar pengakuan dari mulutnya.
"Aku" Aku Alap-alap dari Laut Kidul!" Dia sendiri terkejut dan heran atas pengakuannya itu, akan tetapi juga geli
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sendiri sehingga dia tersenyum memandang kepada Ki Harya Baka Wulung.
Datuk Madura itu mengerutkan alisnya. Dia menjadi semakin marah karena merasa dipermainkan. Diam-diam dia mengerahkan kekuatan sihir pada pandang mata dan dalam suaranya. Matanya mencorong menatap wajah Aji, kemudian terdengar suaranya menggelegar.
"Orang muda! Aku Ki Harya Baka Wulung adalah sesembahanmu! Berlutut dan menyembahlah kepadaku!"
bentakan ini mengandung kekuatan sihir amat kuat. Lawan biasa saja pasti tidak akan kuat bertahan dan terpaksa menjatuhkan diri berlutut dan menyembah. Akan tetapi Aji sudah siap siaga. Dia tahu bahwa kakek ini sakti mandraguna, maka sejak tadi dia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala macam penyerangan. Begitu dia merasa adanya daya kekuatan dalam sinar mata kakek itu, dia sudah cepat melindungi dirinya dengan Aji Tirta Bantala. Dengan ilmu ini dirinya mempunyai sifat seperti tirta (air) dan bantala (tanah) yang dapat menerima dan menyerap segala macam serangan tanpa perlawanan. Serangan itu akan lewat begitu saja.
"Orang tua, sesembahanku hanyalah Gusti Allah. Orang yang mengandalkan ilmunya untuk melakukan kejahatan tidak patut dihormati. Sadarlah, sadarlah dan hentikan perbuatanmu yang sesat!"
Ki Harya Baka Wulung terkejut. Sihirnya sama sekali tidak mempengaruhi pemuda itu! Pada hal pemuda itu tidak melakukan apa-apa untuk menangkis serangan sihirnya. Belum pernah dia menghadapi lawan seperti ini. Apakah kekuatan sihirnya yang sudah punah" Dia berkemak-kemik membaca
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mantera, lalu membentak lagi, "Orang muda, kedukaan hebat mencengkeram hatimu. menangislah engkau!"
Akan tetapi pemuda itu malah tersenyum geli. "Orang tua, apakah engkau sudah menjadi pikun" Ataukah pikiranmu sudah tidak waras lagi?"
Wajah Ki Harya Baka Wulung menjadi merah sekali, merah karena malu dan terutama karena marah. Tanpa banyak cakap lagi dia lalu berjongkok dan menyerang dengan dorongan pukulan kedua telapak tangannya sambil membentak.
"Aji Cantuka Sakti ...... !" Dari perutnya terdengar bunyi nyaring.
Serangkum hawa panas yang berbau amis menyambar keluar dari kedua telapak tangannya, menyerang ke arah Aji.
Biarpun dia belum mempunyai banyak pengalaman dalam perkelahian, namun Aji sudah seringkali mendengar penjelasan dari mendiang gurunya, maka dia selalu waspada. Maka ketika kakek itu melancarkan pukulannya, dia sudah bergerak cepat dan mengelak dengan gerakan seperti seekor kera karena memang dia memainkan ilmu silat Wanara Sakti. Melihat pukulan mautnya luput, Ki Harya Baka Wulung menjadi penasaran dan mendesak terus dengan serangkaian serangan.
Tubuhnya melompat-lompat dalam kedudukan berjongkok dan setiap kali memukul, dia mendorongkan kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka dan dari perutnya keluar suara berkokok nyaring. Aji mempergunakan kecepatan gerakannya untuk selalu menghindar, kadang membalas serangan lawan dengan tamparan-tamparan yang mengandung tenaga sakti Aji Surya Candra yang kuat. Dari sambaran angin pukulan berupa tamparan ini, maklumlah Ki Harya Baka Wulung bahwa tamparan pemuda itupun ampuh sekali maka dia tidak berani
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menerimanya dengan mengandalkan ilmu kebalnya. Terjadi pertandingan yang hebat antara kedua orang ini. Kakek itu bergerak seperti seekor katak raksasa dan Aji bergerak lincah tiada ubahnya seekor kera, atau seperti tarian Sang Hanoman di kera putih dalam kisah Ramayana.
Ilmu silat Wanara Sakti yang diajarkan oleh mendiang Ki Tejobudi kepada Aji lebih merupakan ilmu silat untuk menghindarkan diri dari serangan lawan. Ilmu ini memang ampuh untuk menyelamatkan diri karena gerakannya yang gesit dan penuh dengan gerakan menghindar sehingga sukar sekali terkena serangan lawan. Akan tetapi ilmu silat ini kurang ampuh dalam penyerangan, hanya berupa tamparan-tamparan saja yang dilakukan cepat pula, inipun tidak mengesampingkan data pertahanannya. Kalau saja tamparan itu tidak disertai Aji Surya Chandra, tentu hanya merupakan tepukan-tepukan main-main saja. Akan tetapi melihat kenyataan betapa dengan ilmu silatnya ini dia dapat membela diri dengan baik, Aji merasa gembira sekali. Tak disangkanya bahwa ilmunya ini dapat ia pergunakan untuk menandingi orang yang sakti mandraguna seperti kakek itu. Timbul kegembiraannya dan dia lalu mencoba untuk mempraktekkan ilmu silat yang dia rangkai sendiri berdasarkan gerakan burung alap-alap dan ular ketika kedua binatang itu berkelahi. Dia mengubah gerakan kera itu menjadi gerakan alap-alap dan ular yang selain kuat dalam bertahan juga kuat pula serangan-serangannya. Bagaikan ular menggeliat dan kadang seperti gerakan alap-alap terbang meliuk, dia dapat menghindarkan serangan-serangan Ki Harya Baka Wulung.
Tiba-tiba Aji mengeluarkan pekik yang ditirunya dari suara alap-alap ketika melayang-layang di atas Laut Kidul dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tubuhnya yang meliuk ke kiri menghindarkan pukulan lawan mendadak melompat seperti terbang ke atas! Datuk Madura itu terkejut dan dia tidak berjongkok dan mengerahkan tenaga sakti Cantuka Sakti membuat dia lelah bukan main. Akan tetapi baru saja dia bangkit berdiri dan memandang ke atas, dia melihat pemuda itu sudah menukik ke bawah bagaikan seekor alap-alap (elang) menyambar ke arah kepalanya! Kedua tangan pemuda itu menyerang dengan membantuk cakar, mencengkeram ke arah kedua pelipis kepalanya!
Ki Harya Baka Wulung mengenal serangan maut ini.
Karena serangan itu datangnya cepat sekali, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali menyambut serangan itu dengan kedua tangannya pula.
"Wuuuttt ...... plakkk!" Dua pasang tangan itu saling bertemu di udara. akan tetapi pada saat itu, kaki Aji yang tadinya ada di atas itu turun dan dengan kecepatan kilat kedua kakinya menghantam kakek yang ada di bawahnya.
"Dessss ...... !!" Ki Harya Baka Wulung berteriak mengaduh dan tubuhnya terjengkang keras lalu terbanting ke atas tanah. Akan tetapi dia memang tangguh. Dia bergulingan lalu melompat bangkit berdiri lagi. Sekilas pandang tahulah dia bahwa keadaan teman-temannya juga dalam bahaya. Wiku Menak Koncar repot menghadapi Ratu Wandansari yang dibantu perwira pengawal, sais kereta dan dua orang prajurit pengawal. Datuk Blambangan itu hanya dapat memutar ruyungnya untuk menangkis serangan lima orang pengeroyoknya itu tanpa sempat membalas lagi. Juga lima orang warok itu kini tinggal tiga orang, yang dua orang sudah roboh. Tiga orang warok itu menghadapi pengeroyokan enam
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
orang prajurit yang juga kehilangan empat orang rekan mereka yang sudah roboh dalam pertempuran itu.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan bahkan membahayakan dirinya sendiri itu, Ki Harya Baka Wulung maklum bahwa usahanya membunuh Ratu Wandansari telah gagal. Bahkan kalau dia tidak cepat melarikan diri, bukan mustahil kalau dia yang akan terbunuh. Ratu Wandansari dan pasukannya itu sudah tangguh, ditambah lagi munculnya pemuda yang mengaku sebagai Alap-alap Laut Kidul dan yang ternyata sakti mandraguna ini, maka keadaan pihak musuh terlalu kuat baginya.
Melihat Ki Harya Baka Wulung roboh oleh
tendangannya tadi, sebuah jurus dari gerakan alap-alap, Aji menjadi girang sekali. Akan tetapi kakek itu bangkit kembali dengan cepat, maka diapun segera melangkah cepat menghampiri. akan tetapi tiba-tiba Ki harya Baka Wulung mempergunakan Aji Kukus Kangking. Begitu kedua tangannya bergerak mendorong, asap hitam tebal mengepul dan menyerang ke arah Aji. Pemuda ini cepat menghindar ke belakang dan kesempatan itu dipergunakan Ki Harya Baka Wulung untuk melompat dan melarikan diri, menghilang dalam hutan yang lebat. Dia tidak memperdulikan lagi teman-temannya yang masih bertempur! Dia tidak ingat lagi atau tidak mau perduli bahwa Wiku Menak Koncar dan lima orang warok itu bertanding mati-matian untuk membantunya!
Wiku Menak Koncar sedang terdesak hebat. Ilmu pedang Kartika sakti yang dimainkan Ratu wandansari memang ampuh sekali, apalagi sang puteri ini dibantu perwira dan sais yang memiliki kedigdayaan yang cukup tinggi, ditambah dua orang prajurit pengawal. Kalau saja sang puteri
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
itu maju sendiri, tentu dia masih dapat menandinginya. kini dia terdesak hebat dan menjadi bingung. Apalagi ketika dia melihat Ki Harya Baka Wulung melarikan diri begitu saja tanpa memperdulikan dirinya! tiba-tiba tiga orang warok yang juga dikeroyok dan didesak, berturut-turut roboh. Tinggal dia seorang diri! Wiku menak Koncar mengeluarkan gerengan yang mengandung getaran hebat sehingga empat orang yang membantu Ratu Wandansari yang mengeroyoknya terhuyung ke belakang. Hanya sang puteri yang mampu bertahan terhadap serangan daya suara itu. Wiku Menak Koncar tidak berpikir panjang lagi. Dia sudah amat lelah dan panic, maka dia menggunakan kesempatan ini untuk melompat dan melarikan diri.
"Jahanam, hendak lari ke mana kau?" Ratu
Wandansari membentak dan ia melakukan jurus serangan terakhir dari ilmu pedang Kartika Sakti. Ia mengerahka n tenaganya, dengan suara bentakan ia melontarkan pedangnya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ke arah tubuh Wiku Menak Koncar yang melarikan diri.
Bagaikan sebatang anak panah terlepas dari busurnya, pedang itu meluncur cepat sekali dan tepat mengenai punggung kakek itu.
"Capp ...... !" Pedang itu menusuk sampai setengahnya dan tubuh Wiku Menak Koncar roboh menelungkup dan tak bergerak lagi. Ratu Wandansari melompat ke dekat mayat itu dan mencabut pedangnya, lalu dibersihkannya pedang itu dengan mengusap-usapkannya pada pakaian lawannya yang telah tewas. Setelah menyarungkan kembali pedangnya, Ratu Wandansari menyapu keadaan sekitarnya dengan pandang matanya. Ia melihat betapa selain Wiku Menak Koncar, lima orang warok itupun sudah roboh dan tewas. Adapun di pihaknya, empat orang prajurit tewas dan dua orang lainnya terluka. Kemudian ia memandang ke arah Lindu Aji yang masih berdiri memandang ke arah para korban dengan mata terbelalak. Dia merasa kagum kepada sang puteri, akan tetapi juga merasa ngeri. Baru dua kali selama hidupnya dia melihat orang terbunuh. Pertama kali ketika tiga orang penjahat yang mengganggu ibunya dikeroyok penduduk dusun dan dipukuli sampai mati dengan tubuh hancur. Ketika itupun dia sudah merasa ngeri. Dan sekarang, dia melihat sepuluh orang tewas dengan tubuh berlumuran darah. Pada saat itu, ia menoleh ke kiri dan bertemu pandang dengan Ratu Wandansari! Sinar mata wanita itu demikian tajam penuh wibawa dan Aji segera menundukkan pandang matanya karena merasa rikuh.
Ratu Wandansari melangkah menghampirinya. setelah saling berhadapan dan melihat pemuda itu menundukkan mukanya, wanita itu berkata, "Ki sanak, aku berterima kasih sekali kepadamu yang telah membantuku menghadapi musuh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang berniat membunuhku. Kalau tidak ada andika yang membantu, kukira kami semua telah tewas oleh orang-orang jahat itu."
Aji teringat akan semua nasihat mendiang gurunya. Dia memberi hormat dengan sembah lalu berkata, "Yang menolong paduka dan kita semua adalah Gusti Allah, dan kita semua hanya berusaha untuk melaksanakan kewajiban kita masing-masing sebaik mungkin, Gusti Puteri."
Ratu Wandansari melebarkan sepasang matanya yang jeli, merasa heran sekali mendengar ucapan itu keluar dari mulut seorang pemuda yang berpakaian demikian sederhana.
"Anda tahu siapa aku, ki sanak?"
"Saya mendengar percakapan tadi. Saya tahu bahwa paduka adalah Gusti Puteri Ratu Wandansari, puteri Kanjeng Gusti Sultan Agung dan garwa Adipati Surabaya."
Ratu Wandansari tersenyum, manis sekali. Dari logat bicara pemuda itu, yang bicara dengan teratur menunjukkan bahwa dia tahu tata susila, ia dapat menduga bahwa pemuda itu berasal dari daerah selatan.
"Kalau andika sudah tahu siapa aku, lalu kenapa andika membantuku menghadapi orang-orang yang memusuhiku tadi?" ia sengaja memancing.
"Mendiang bapa dan terutama sekali mendiang eyang guru saya memesan agar saya membela Mataram dan membantu Kanjeng Gusti Sultan Agung. Karena paduka adalah puterinya, maka tanpa ragu-ragu lagi saya membantu paduka.
Apalagi karena dari pecakapan tadi saya menganggap bahwa kakek tadi yang jahat."
"Hemmm, begitukah" Lalu, siapa mendiang bapamu dan mendiang eyang gurumu itu" Dan siapa pula andika?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Biarpun hatinya ingin mengatakan bahwa dia "Alap-alap Laut Kidul" akan tetapi dia tidak berani main-main di depan puteri itu. "Mendiang bapa saya bernama Harun Hambali dan mendiang eyang guru saya bernama Ki Tejobudi
...... " "Ki Tejobudi" Hemmm ...... kami pernah mengenal nama Resi Tejo Wening, Kyai Tejo Langit, dan bukankah Ki Tejobudi itu masih saudara seperguruan mereka?"
Aji mengangguk. "Mendiang eyang guru pernah bercerita tentang Eyang Resi Tejo Wening dan Eyang Kyai Tejo Langit."
"Bagus sekali kalau begitu. Andika murid seorang yang sakti mandraguna. Dan nama bapamu itu" Harun Hambali"
Seperti nama seorang dari daerah Pasundan."
Aji kagum akan pengetahuan sang puteri yang amat luas itu. "Memang benar, Gusti Puteri. Mendiang bapa berasal dari Galuh."
"Dan andika sendiri, siapakah nama andika?" Tanya sang puteri sambil mengamati wajah pemuda itu penuh perhatian.
"Nama saya Lindu Aji."
"Lindu Aji" Nama yang aneh akan tetapi bagus." Ratu Wandansari lalu menghadapi perwira pasukan pengawal yang menghampirinya dan memberi hormat kepadanya.
"Gusti Puteri, apakah yang harus hamba lakukan dengan mayat-mayat itu" Menanti perintah."
"Engkau dan sisa anak buahmu tinggal di sini. Urus mereka semua. Kubur baik-baik semua jenasah, kemudian pulanglah ke Surabaya dan laporkan kepada suamiku tentang apa yang terjadi di sini. Aku akan melanjutkan perjalanan ke
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Mataram bersama sais dan pemuda ini." Ia lalu menghampiri Aji. "Lindu Aji, maukah andika mengawal aku sampai ke Mataram" Andika tadi mengatakan hendak membantu Kanjeng Rama Sultan Agung. Nah, aku akan membawamu menghadap kalau andika memang hendak mengabdi kepada Mataram."
Aji mengangguk. "Saya akan senang sekali, Gusti Puteri."
"Bagus." Sang puteri lalu berkata kepada perwira pengawal. "Pilihkan seekor kuda terbaik untuk Lindu Aji. Dia yang akan mengawalku sampai ke Mataram."
Perwira itu memberikan kuda tungganganya sendiri kepada Aji. Ketika tinggal di dusun Gampingan, Aji sering menunggang kuda milik kepala dusun sehingga menunggang kuda bukan merupakan kesulitan baginya. Dengan hati senang dia menunggang kuda dan berangkatlah sang puteri, menunggang kereta yang dikusiri sais dan Aji menunggang kuda di belakang kereta.


Alap Alap Laut Kidul Seri Ke 3 Pecut Sakti Bajrakirana Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Di sepanjang perjalanan ke arah barat ini, Aji termenung. Secara kebetulan sekali dia bertemu dengan Puteri Wandansari bahkan telah menolongnya dari ancaman bahaya.
Kini dia mengawal sang puteri menuju ke Mataram. Dia dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Sang Puteri akan membawanya menghadap Sultan Agung! dia akan menghadap Sri Baginda Raja Sultan Agung yang sudah sering dia dengar dari cerita eyang gurunya. Mendiang Ki Tejobudi banyak bercerita tentang Sultan Agung yang dipujinya sebagai seorang raja yang bijaksana dan juga sakti mandraguna. Dan eyang gurunya itu wanti-wanti memesan agar dia dapat membantu raja itu. Tentu saja keadaan dirinya ini cocok sekali dengan pesan eyang gurunya. Akan tetapi ada satu hal yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengganjal hatinya. Kalau dia dihadapkan Kanjeng Sultan Agung dan karena jasanya menolong sang puteri dia diangkat menjadi pejabat, lalu bagaimana dengan keinginannya untuk merantau seperti yang dia bayangkan" Dia ingin hidup bebas, dapat merantau kemanapun dia suka, seperti seekor alap-alap terbang melayang di udara dengan bebasnya. Kalau dia diangkat menjadi pejabat tentu dia akan terikat akan ugas-tugas yang dibebankan kepadanya. lalu bagaimana dia akan dapat mencari putera eyang gurunya yang bernama Sudrajat, dan mencari kakak tirinya yang bernama Hasanudin" Juga dia ingin mencari Raden Banuseta yang telah membunuh ayahnya.
Bukan untuk membalas dendam kematian ayahnya, melainkan untuk melihat apakah orang itu melakukan kejahatan. Kalau benar dia seorang penjahat, tentu akan ditentangnya! Semua inilah yang mengganggu pikirannya sehingga membuat dia melamun. Di samping rasa gembira akan dapat menghadap Sultan Agung, juga ada rasa khawatir dalam hatinya.
Tiba-tiba dia teringat akan cerita mendiang Ki Tejobudi bahwa Sultan Agung adalah seorang yang arif bijaksana.
Ingatan ini membesarkan hatinya dan mengusir kakhawatirannya. Mengapa khawatir" Kalau Sri Sultan demikian bijaksana, tentu dapat memaklumi keadaannya dan dapat mempertimbangkannya. Dia akan mengaku terus terang tentang keadaan dan keinginan hatinya. Setelah hatinya mengambil keputusan ini, Aji tidak merasa khawatir lagi dan dia dapat menikmati perjalanannya mengawal Puteri Wandansari itu.
Puteri Wandansari singgah di Kadipaten Madiun dan ia diterima dengan penuh penghormatan oleh Adipati Madiun.
Sang puteri menceritakan kepada adipati itu apa yang telah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terjadi di hutan Caruban yang masih termasuk daerah Madiun.
Setelah bermalam di Kadipaten Madiun semalam. pada keesokan harinya puteri Wandansari melanjutkan perjalanannya. Kuda-kuda yang menarik kereta diganti dengan kuda baru agar tidak terlalu lelah. Juga Aji diberi seekor kuda baru yang masih segar dan kuat. Tawaran Adipati Madiun untuk memberi pengawalan ditolak oleh sang puteri. Perjalanan dilakukan seperti hari-hari yang lalu, tidak tergesa-gesa agar kereta tidak sangat terguncang dan melelahkan. Sang puteri berhenti di Sukowati dan setelah melewatkan malam di situ, keesokan harinya perjalanan dilanjutkan sampai ke kota raja Mataram.
-o0-dwkz-budi-0o-
Aji memasuki kota raja Mataram dengan hati penuh kagum dan heran. Sejak lahir dia berada di sebuah dusun yang sederhana. Rumah terbesar dan paling megah di dusunnya adalah rumah kepala dusun yang terbuat dari kayu jati. Ketika dia melakukan perjalanan melewati kota-kota kadipaten, dia melihat rumah-rumah yang lebih besar dan lebih megah. Juga ketika dia yang mengawal Puteri Wandansari memasuki gedung kadipaten, dia merasa kagum bukan main. Akan tetapi kini dia memasuki kota raja Mataram dan dia merasa dirinya kecil sekali. akan tetapi, dia adalah seorang pemuda yang sudah digembleng sejak kecil, digembleng lahir batinnya. Oleh karena itu, biarpun dia merasa takjub dan seperti dalam mimpi, namun keheranannya itu tidak tampak pada sikap atau wajahnya. Dia tetap bersikap tenang seolah semua pemandangan itu sudah biasa dilihatnya!
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ketakjubannya mencapai puncaknya ketika dia diajak memasuki istana dan menghadap Sri Baginda Sultan Agung.
Jantungnya berdebar tegang, matanya melahap semua keindahan yang mempesona itu. Tak pernah dia dapat membayangkan sebuah rumah sebesar dan seindah ini.
Puteri Wandansari membawanya menghadap Sri Baginda. Melihat keagungan yang memancarkan wibawa kuat sekali dari pribadi Sang Sultan, Aji berlutut, lalu duduk bersila dan menyembah dengan sikap hormat. Dia tidak berani mengangkat muka menatap wajah Sultan Agung, hanya menunduk dengan sikap menanti.
Dengan suaranya yang lembut dan merdu, Ratu Wandansari menghaturkan sembah sujud kepada ayahandanya, kemudian dengan singkat menceritakan keadaan Kadipaten Surabaya yang berkeadaan tertib dan tenteram. Kemudian ia menceritakan tentang perjalanannya dan terutama tentang Ki Harya Baka Wulung dan Wiku Menak Koncar bersama lima orang warok yang menghadangnya dan bermaksud membunuhnya. Ia menceritakan betapa ketika ia terancam bahaya dalam pertempuran itu, muncul Lindu Aji yang telah membantu dan menyelamatkannya.
"Dengan bantuan pemuda ini, akhirnya hamba berhasil menewaskan Wiku Menak Koncar. juga lima orang warok itu dapat dirobohkan. Hanya Ki Harya Baka Wulung seorang yang berhasil lolos setelah dia mengeluarkan ajinya yang mengeluarkan asap hitam tebal, kanjeng rama," demikian Puteri Wandansari mengakhiri laporannya.
"Hemmmm. tentu dia mempergunakan Aji Kukus Langking." kata Sultan Agung. "Tokoh Arisbaya itu memang sakti, kalau tidak salah dia adalah guru Raden Prasena yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
telah kami angkat menjadi Pangeran Cakraningrat. Untung engkau dapat lolos dari tangannya."
"Karena pertolongan Lindu Aji inilah, kanjeng rama.
Pemuda ini mampu menandingi dan membuat Ki Harya Baka Wulung melarikan diri. Dia adalah murid mendiang Ki Tejobudi. Dia seorang kawula yang setia dan siap membantu Mataram, kanjeng rama."
Sultan Agung mengangguk-angguk dan wajahnya yang masih tampak tampan dan anggun itu berseri. Walaupun usianya sudah lima puluh tahun namun raja yang bijaksana ini masih tampak anggun.
"Engkau tentu lelah, Wandansari. Masuk dan istirahatlah, temui para ibu dan saudaramu." Mendengar ucapan ayahandanya, ratu Wandansari menghaturkan terima kasih lalu meninggalkan ruangan itu menuju ke bagian dalam istana itu.
Sultan Agung melayangkan pandang matanya kepada belasan orang yang duduk menghadapnya. Hari itu bukan merupakan hari sebo (menghadap raja) yang biasa dilakukan pada setiap hari Senin dan Kamis. Dalam hari sebo biasa itu, Sultan Agung dihadap para ponggawa besar kecil yang jumlahnya mencapai seratus orang lebih! Akan tetapi pada saat itu yang menghadap hanya lima belas orang, terdiri dari patih, menteri dan senopati yang memang datang menghadap karena dipanggil untuk membicarakan urusan penting. Di antara para senopati terdapat pula Tumenggung Wiroguno, Kyai Juru Kiting, Ki Mertoloyo, Suroantani dan lain senopati yang sudah berjasa besar dalam perang menundukkan daerah Jawa Timur yang tadinya menentang Mataram. Mereka tampak gagah dalam pakaian kebesaran masing-masing. Kemudian Sultan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Agung memandang kepada Lindu Aji. Pemuda itu tampak sederhana sekali duduk di antara para menteri dan senopati itu.
Berpakaian sederhana seperti seorang pemuda tani dan selalu menundukkan muka dengan sikap hormat. Begitu sederhana, begitu polos dan sama sekali tidak tampak tanda-tanda bahwa dia seorang pemuda yang memiliki kesaktian. Akan tetapi pemuda ini telah mampu menandingi bahkan mengalahkan Ki Harya Bak Wulung, datuk dari Madura yang sudah tersohor akan kesaktiannya itu! Luar biasa sekali!
"Orang muada, siapakah namamu seperti yang dikatakan Puteri Wandansari tadi?" sultan agung bertanya kepada Aji.
Tanpa memandang Aji tahu bahwa dialah yang ditanya, karena di ruangan itu tidak ada orang mudanya, kecuali dia seorang. Para ponggawa yang hadir di situ rata-rata sudah berusia lima puluh tahun lebih.
Dia menyembah sebelum menjawab, "Nama hamba Lindu Aji dan hamba biasa disebut Aji, Gusti."
Sultan Agung makin memperhatikan. Sikap dan cara bicara pemuda ini tidak menunjukkan bahwa dia seorang pemuda dusun yang kurang pendidikan, pikirnya. Dia tahu tatakrama. Dan nama itupun bukan nama sembarangan. tentu orang tuanya, pemberi nama itu, seorang pemberani yang tidak lagi terpengaruh pendapat penduduk dusun bahwa memberi nama yang terlalu "tinggi" buat anak akan mendatangkan bencana bagi si anak karena tidak kuat!
"Benarkah engkau murid Ki tejobudi, orang sakti dari banten itu?"
"Benar sekali, Gusti. Guru hamba adalah mendiang Eyang Tejobudi."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Siapa orang tuamu dan di mana engkau tinggal?"
"Bapa hamba sudah meninggal dunia, namanya Harun Hambali. Ibu hamba bernama Warsiyem, sekarang tinggal di dusun Gampingan dekat Laut Kidul. Hamba berasal dari dusun itu, Gusti."
Hemm, Gampingan. Sebuah dusun kecil di Pegunungan Kidul, pikir sultan Agung. Kalau begitu benar, seorang pemuda dusun.
"Aji, coba angkat mukamu dan pandang kami!"
perintahnya. Aji tidak berani menolak. Dengan jantung berdebar dia mengangkat muka dan memandang wajah yang yang anggun dan agung itu. Pandang matanya bertemu dengan sepasang mata yang demikian tajam penuh wibawa. Sebaliknya, Sultan Agung juga terkejut. Sepasang mata pemuda itu begitu lembut, penuh pengertian, namun juga mencorong dan membayangkan kekuatan batin yang hebat. Aji tidak berani memandang lebih lama lagi dan perlahan-lahan dia menundukkan kembali mukanya.
Rasa kagum dan suka memenuhi hati Sultan Agung, Puterinya benar. Pemuda ini seorang yang hebat dan dapat dijadikan pembantu yang boleh diandalkan.
"Aji, engkau tinggal di Gampingan yang berada di sebelah selatan kota raja. Bagaimana engkau dapat berada di hutan Caruban dan menolong puteri kami?"
"Hamba sedang melakukan perjalanan merantau, Gusti."
"Merantau" Tujuanmu ke mana?"
"Hamba tidak mempunyai tujuan tertentu. Hamba hanya mengikuti arah terbangnya Alap-alap Laut Kidul."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Alap-alap Laut Kidul" Apa maksudmu?"
"Seekor burung alap-alap yang sering kali hamba lihat terbang melayang-layang di atas Laut Kidul. Hamba ingin merantau, bebas seperti alap-alap itu. Melihat alap-alap itu terbang ke arah timur, maka hamba lalu menuju ke timur di sepanjang pantai laut Kidul. Pada suatu hari hamba melihat alap-alap itu terbang ke utara, maka hamba lalu ke utara dan tiba di dalam hutan Caruban dan melihat Gusti Puteri diserbu gerombolan itu. Setelah mendengar bahwa yang diserang itu puteri paduka, Gusti Puteri Wandansari, hamba lalu membantu."
Sultan Agung mengangguk-angguk. "Aji, kenapa engkau membantu puteri kami?" Pertanyaan itu diajukan seperti hendak menyelidik. Aji merasakan benar persamaan antara Sultan Agung dan Puteri Wandansari. Pertanyaan yang sama.
"Mendiang bapa dan eyang guru hamba meninggalkan pesan dan memberi tugas kepada hamba, antara lain agar hamba membela Mataram dan membantu Paduka, Gusti.
Karena itulah maka hamba membantu puteri paduka."
"Tanpa pamrih apapun di balik pertolonganmu itu?"
Sulatan Agung bertanya.
"Tanpa pamrih apapun, Gusti."
Sultan agung lalu menyapukan pandangannya ke arah ponggawanya.
"Bagaimana pendapat kalian, para menteri dan senopati?"
Ki Mertoloyo menyembah kepada Sultan Agung, lalu menoleh kepada Aji dan bertanya, "Anakmas Aji, apakah andika tidak mengharapkan ganjaran apapun dari Gusti Sultan"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kalau ada, beritahukan saja. Gusti Sultan arif bijaksana, tentu akan memberimu ganjaran besar kepadamu."
"Maaf, paman. sesungguhnya saya tidak mengharapkan ganjaran apapun juga. Saya hanya melaksanakan tugas saya seperti yang dipesan oleh mendiang bapa dan mendiang eyang guru."
Senopati Suroantani menyembah kepada Sultan Agung.
"Ampunkan hamba, Gusti. Hamba hendak mengusulkan kalau paduka menyetujui agar anakmas Lindu Aji diangkat menjadi seorang senopati muda, mengingat dia mampu menandingi dan mengalahkan Ki Harya Baka Wulung."
Sultan Agung mengangguk-angguk. "Luhur budi anak ini! Sudah sepantasnyalah kalau menjadi senopati muda Mataram. Aji, bersediakah engkau kalau kami angkat menjadi seorang senopati muda Mataram?"
Hal inilah yang dikhawatirkan Aji dalam perjalanan mengawal Puteri Wandansari. Akan tetapi dia sudah mengambil keputusan tetap untuk tidak mengikatkan diri dengan jabatan. Dari pertanyaan itupun dia tahu akan kebijaksanaan Sultan Agung. Raja itu tidak memerintahkan dia menjadi senopati, melainkan bertanya apakah dia bersedia!
Maka dengan didahului sembah dia menjawab dengan hormat.
"Mohon beribu ampun, Gusti. Bukan sekali-kali hamba menolak anugerah yang paduka berikan kepada hamba. Akan tetapi, pada waktu ini hamba masih harus melaksanakan tugas-tugas yang dipesan mendiang bapak dan eyang guru. Tugas itu mengharuskan hamba melakukan perjalanan ke daerah Galuh dan Banten."
Sultan Agung mengangguk-angguk. "Baik sekali keputusan hatimu itu, Aji. Memang sudah menjadi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kewajibanmu untuk menjunjung tinggi pesan terakhir mendiang bapak dan eyang gurumu. Itu menandakan bahwa engkau seorang yang setia dan berbakti. Engkau hendak merantau ke Galuh dan Banten" Sungguh kebetulan sekali.
Maukah engkau sambil melaksanakan tugasmu itu juga membantu kami?"
"Hamba bersedia dan siap mengabdikan diri membantu paduka kalau sudah selesai hamba melaksanakan tugas-tugas hamba itu, Gusti."
"Bukan demikian maksud kami, Aji. Engkau dapat melanjutkan pelaksanaan tugas-tugas pribadimu itu, akan tetapi dalam perjalananmu, engkau dapat pula membantu kami."
Aji merasa heran. Kalau dia merantau ke Galuh dan Banten untuk mencari Hasanudin dan Sudrajat, bagaimana dia akan dapat membantu Sultan Agung"
"Ampun Gusti. Hmba mohon penjelasan. Bagaimana caranya hamba dapat membantu paduka kalau hamba merantau ke daerah Pasundan dan Banten?"
"Aji, tahukah engkau bahwa pada waktu ini Mataram mempunyai musuh yang amat kuat dan berbahaya, yaitu Kumpeni Belanda yang berkedudukan di Jayakarta?"
Aji menyembah. "Hamba pernah mendengar
keterangan mendiang Eyang Guru tentang Kumpeni belanda, Gusti."
"Baik sekali kalau begitu. Engkau tahu bahwa Kumpeni Belanda merupakan ancaman bahaya bagi rakyat dan tanah air kita. Mereka angkara murka, hendak memperluas cengkeraman mereka, menguasai daerah Nusantara kita dan menguasai perdagangan. Mereka juga mempengaruhi rakyat, meyebar telik sandi (mata-mata), bahkan mempengaruhi banyak tokoh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sakti untuk membantu meraka dengan menggunakan umpan harta benda. Selain itu mereka juga berusaha untuk mengadu domba dengan membujuk para bupati dan adipati agar menentang Mataram. Paman Kyai Juru Kiting, ceritakanlah kepada Aji tentang usaha kita menyerbu kumpeni yang telah mengalami kegagalan agar dia mengetahui duduknya perkara."
Sultan Agung menoleh kepada senopati tua itu.
Senopati Kyai Juru Kiting yang sudah berusia enam puluh tahun itu menyembah lalu dengan suara yang lembut namun jelas dia menceritakan kepada Lindu Aji tentang usaha Mataram yang baru saja dilakukan dan mengalami kegagalan.
Aji mendengarkan dengan penuh perhatian. Demikianlah cerita senopati itu.
Setelah Sultan Agung berhasil menundukkan para adipati dan bupati yang tadinya melepaskan diri dari kekuasaan Mataram, memundukkan hampir seluruh daerah Jawa Timur kecuali Blambangan yang belum dapat dikalahkan, berhasil mempersatukan kekuatan seluruh Madura, Surabaya, Giri dan daerah Jawa Timur, Mataram lalu mengadakan penyerangan menuju Jayakarta atau Batavia. Penyerangan besar-besaran pertama itu terjadi dalam tahun 1628. Balatentara Mataram itu dipimpin oleh Senopati Baurekso dan dibantu pula oleh pasukan dari Madura dan Surabaya. Juga setelah tiba di Pasundan, pasukan Mataram itu dibantu oleh pasukan Pasundan yang dipimpin oleh Dipati Ukur. Pasukan pertama ini segera disusul oleh pasukan kedua yang cukup besar jumlahnya pula, dipimpin oleh tiga orang senopati terkenal, yaitu Suro Agul-agul, Kyai Adipati Mandurejo, dan Adipati Uposonto. Pasukan kedua ini dipersiapkan untuk membantu pasukan pertama dari belakang, kalau diperlukan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Serbuan itu hebat sekali. Pasukan Kumpeni Belanda terkejut dan melakukan perlawanan mati-matian. Pertempuran terjadi setiap hari karena pasukan Mataram dengan gigih mengepung perbentengan Belanda. Pertempuran hebat itu terjadi sampai lebih dari dua bulan lamanya. Akan tetapi pihak Kompeni Belanda memang licik. Selain mereka memiliki persenjataan yang lebih lengkap dengan meriam-meriam dan senapan-senapan, mereka juga dapat membujuk para pendekar yang memiliki kedigdayaan untuk membantu mereka dengan memberi banyak harta benda. Selain itu, juga Kumpeni Belanda menyebar banyak mata-mata. Bahkan berhasil menarik pihak Banten untuk membantu mereka karena memang sudah terdapat persaingan dan permusuhan antara Banten dan Mataram. Di samping itu, terjadi malapetaka ketika penyakit menular menjalar di antara para prajurit Mataram.
Ada desas desus yang mengatakan bahwa penyakit menular ini bukan lain adalah kekuatan sihir dan guna-guna yang dilepaskan oleh para ahli tenung dari Banten. Penyerbuan tentara Mataram itu gagal, bahkan Senopati Baurekso yang kedudukannya adalah Adipati Kendal, gugur dalam peperangan itu. Terpaksa sisa pasukan Mataram ditarik mundur meninggalkan Batavia. Biarpun penyerbuan itu gagal, namun sempat mngejutkan Balanda dan menjatuhkan banyak korban pula di pihak Kumpeni.
"Demikianlah, anak mas Lindu Aji, penyerbuan pertama pasukan kita itu mengalami kegagalan." Kyai Juru Kiting mengakhiri ceritanya.
"Nah, engkau sudah mendengar semua, Aji. Ketahuilah bahwa kami tidak akan berhenti berusaha sebelum Kumpeni Belanda dapst diusir dari Nusantara. Biarpun penyerbuan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pertama kami itu gagal, namun kami merencanakan penyerbuan selanjutnya. Kami telah menusun kekuatan di daerah barat dan kami telah menyebar telik sandi untuk mengadakan persiapan di sekitar Batavia. Juga Kerajaan Galuh siap membantu. Karena itu, Aji, dalam perantauanmu ke daerah Pasundan, engkau dapat membantu kami. Engkau kami angkat menjadi telik sandi untuk membantu semua pihak yang mendukung Mataram dan menentang mereka yang menjadi antek Kumpeni Belanda. nah, sanggupkah engkau di samping melaksanakan tugas pribadimu, membantu kami?"
Aji menjawab. "Hamba sanggup dan siap membantu, Gusti."
"Bagus sekali kalau begitu!" kata Sultan Agung dan dia mengambil sebatang keris dengan warangka terukir indah, lalu diserahkannya keris itu kepada Aji. "Terimalah pusaka ini, Aji.
Semua pejabat daerah dan semua telik sandi Mataram akan mengenal pusaka ini kalau engkau cabut dari sarungnya. Keris ini adalah satu diantara serangkaian pusaka Naga yang menjadi pusaka-pusaka khas kami. Namanya Kyai Nagawelang satu di antara pusaka-pusaka buatan Empu Warihanom yang terbaik."
Aji menerima pusaka itu dan menghaturkan terima kasih. Selain keris pusaka ampuh itu, Aji juga mendapatkan seekor kuda dan sekantong uang untuk bekal dalam perjalanan.
Setelah persidangan dibubarkan Aji lalu berangkat meninggalkan ibu kota Mataram, menuju ke barat, memulai dengan pengembaraannya melaksanakan perintah bapak dan eyang gurunya, sekalian untuk membantu usaha gerakan Mataram menentang Kumpeni Belanda.
-o0-dwkz-budi-0o-
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Siang itu udara cerah sekali. Matahari bersinar sepenuhnya tanpa terhalang awan, menyengat segala sesuatu dengan sinarnya yang panas. Aji menjalankan kudanya perlahan karena kuda itu sudah lelah, tubuhnya berpeluh dan sering mendengus-dengus. Ketika di depannya tampak sebatang sungai, dia menghentikan kudanya, turun dari atas punggung kuda dan melepaskan kendali memberi kesempatan kepada kuda itu untuk makan rumput gemuk yang tumbuh disepanjang tepi sungai.
Aji sendiri duduk mengaso di bawah sebatang pohon mahoni. Dia membuka kancing bajunya, membiarkan dadanya terbuka. Semilir angin membelainya membuat dia mengantuk.
Perutnya juga sudah mulai lapar. Akan tetapi tempat itu sunyi.
Agaknya jauh dari pedusunan. Bahkan perjalanannya terhadang sebuah sungai yang cukup lebar. Tidak ada tempat penyeberangan di situ, tidak pula tampak adanya perahu yang akan dapat menyeberangkannya. Dia harus dapat menyeberangi sungai ini kalau hendak melanjutkan perjalanannya. Biarlah dia membiarkan kudanya makan dan mengaso. Nanti tentu ada orang dan dia dapat bertanya bagaimana biasanya penduduk di sekitar situ menyeberang ke barat. Sambil menunggu orang lewat di tempat itu, Aji duduk bersandar pada batang pohon itu dan melenggut. Semilir angin mengipasinya dan membuat dia merasa nyaman.
Tanpa disadari Aji jatuh pulas sambil duduk bersandar batang pohon mahoni itu, Dia terbangun oleh suara kuda meringkik nyaring. Ketika membuka matanya, Aji melihat dua orang laki-laki tinggi besar berpakaian hitam sedang berusaha keras untuk menenangkan kudanya yang meringkik-ringkik sambil mengangkat kedua kakinya ke atas. Dua orang laki-laki
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
lain, juga berpakaian hitam, sedang membuka dan memeriksa buntalan pakaiannya.
Pada saat itu, sebuah perahu meluncur di atas sungai.
Di atas perahu duduk dua orang laki-laki berpakaian hitam pula dan seorang di antara mereka, yang usianya kurang lebih lima puluh tahun bertubuh tinggi kurus, menelikung dan memeluk seorang wanita yang meronta-ronta dan menangis.
Laki-laki kedua usianya agak lebih muda dan memegang dayung, mendayung perahu ke tepi, lalu berseru kepada empat orang yang sedang menangkap kuda dan membuka buntalan.
"Heii, kenapa kalian berhenti di situ" Ada apakah?"
"Ha-ha-ha-ha, lihat, kakang Jalak Uren! Apa yang kami dapatkan di sini" Rejeki nomplok! Seekor kuda yang besar dan bagus, tentu harganya amat mahal!" kata laki-laki yang kini sudah memegangi kendali kuda.
"Dan kini lihat! Ha-ha-ha-ha, sekantung uang emas!
Wah, kita menjadi kaya raya tanpa bersusah payah!" kata seorang laki-laki yang telah menemukan kantung uang pemberian Sultan Agung dalam buntalan pakaian Aji.
Aji yang tadi keheranan itu kini menyadari bahwa mereka itu adalah perampok-perampok yang hendak merampas kuda dan buntalan pakaiannya. Cepat dia melompat bangkit menghampiri mereka yang telah membawa buntalan dan kudanya.
"Hai ...... kisanak! Itu adalah kudaku dan buntalan pakaianku! Kembalikan milikku itu kepadaku!" teriak Aji.
Seorang di antara empat orang laki-laki tinggi besar berpakaian serba hitam itu melompat ke depan Aji. Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, tampak kokoh kuat seperti
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
raksasa. Usianya kurang lebih empat puluh tahun dan dia memiliki kumis yang tebalnya sekepal sebelah. Dengan bertolak pinggang dia berkata dengan suaranya yang dalam dan parau.
"Heh, bocah sial! Jangan banyak cerewet. mengingat bahwa engkau telah memberi sumbangan yang lumayan untuk kami, aku mau mengampuni nyawamu dan cepat minggat dari sini!"
Aji mengerutkan alisnya. "Kuda dan barang-barang itu adalah milikku. kembalikan kepadaku!" Dia hendak menghampiri orang yang membawa pundi-pundi uangnya.
Akan tetapi orang berkumis tebal itu menjadi marah sekali.
"Kalau begitu, kau ingin mampus!" Tangan kanannya membentuk kepalan sebesar buah kelapa dan menyambar ke arah kepala Aji. Serangan pukulan itu cepat dan kuat sekali, mendatangkan angin mengiuk.
Namun dengan mudahnya Aji miringkan tubuh
mengelak dan ketika lengan itu menyambar lewat, dia cepat menangkap lengan itu, memutar tubuhnya dan sekali sentakan tubuh orang berkumis tebal itu terangkat, berjungkir balik dan terbanting ke atas tanah.
"Bres ...... ngekkkk!" Demikian kerasnya sentakan Aji sehingga orang yang terbanting itu seketika pingsan dan tulang pundak kanannya patah! Aji tidak berhenti sampai di situ saja, dia sudah menerjang cepat ke arah orang yang masih memegang pundi-pundi uangnya.
"Kembalikan barang itu!" bentaknya dan bagaikan seekor burung alap-alap, tubuhnya menyambar, tangan kirinya mencengkeram dan di lain saat pundi-pundi uang itu telah berpindah ke tangannya sebelum lawannya itu menyadari apa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang terjadi. Orang itu marah sekali. Kini dia melihat betapa seorang kawannya roboh dan tak dapat bangkit kembali, dan pundi-pundi uang itu telah berpindah ke tangan pemuda yang kelihatan biasa saja itu. Dia cepat mencabut sebatang golok yang tergantung di pinggangnya.
Aji melemparkan pundi-pundi itu ke arah buntalan pakaiannya yang masih terbuka dan terletak di atas tanah.
Ketika melihat sinar golok menyambar, dia mengelak dengan cepat ke kiri. Akan tetapi lawannya itu agaknya mahir juga memainkan goloknya, karena begitu bacokannya luput, dia sudah membalikkan lagi goloknya dan menyerang dari lain jurusan. Golok menyambar ke arah leher Aji. Kembali Aji mengelak ke belakang sehingga golok hanya mengenai tempat kosong. Orang itu mengejar dan tiba-tiba kaki kanannya mencuat, menyambar dengan tendangan kuat ke arah tubuh Aji. Tendangan yang demikian berbahayanya dibandingkan serangan golok tadi.
"Wuuuttt ...... !" aji miringkan tubuhnya dan ketika kaki yang besar dan kokoh itu menyambar ke atas, secepat kilat tangannya menyangga kaki itu dan dengan sentakan tenaga dahsyat dia mendorong ke atas. tenaga tendangan kaki tadi kini ditambah tenaga dorongan aji, membuat si penendang itu tidak lagi dapat mempertahankan dirinya dan tubuhnya terdorong dan terlempar ke atas! Dia mengeluarkan teriakan kaget ketika tubuhnya terbanting dengan kaki di atas dan kepala lebih dulu menhantam tanah.
"Dukkk ...... bresss ...... !" Orang kedua itu roboh dan tidak mampu berkutik lagi, pingsan karena kepalanya menumbuk tanah keras.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dua orang perampok yang tadinya memegang kuda, terkejut dan marah melihat betapa dua orang kawan mereka roboh dan tak dapat bangun lagi. Mereka mengira bahwa dua orang kawan itu telah tewas terbunuh pemuda itu. Mereka melupakan kuda yang mereka rampas dan dengan marah mereka mencabut golok lalu lari menghampiri Aji dengan golok diacungkan di atas kepala.
Aji siap menanti dengan sikap tenang. ketika dua orang itu menerjang dengan golok mereka, Aji menggerakkan tubuhnya dengan kecepatan luar biasa sehingga dua orang penyerang itu hanya melihat bayangan berkelebat dan serangan mereka luput! Karena tidak melihat pemuda itu di depan mereka, keduanya memutar tubuh dan melihat bahwa pemuda itu telah berdiri di belakaang mereka sambil tersenyum. Dua orang itu menjadi penasaran dan kembali mereka menggunakan golok untuk menyerang. Akan tetapi, Aji tidak mau memberi kesempatan lagi kepada dua orang lawannya.
Dia melihat keadaan yang tidak wajar dari wanita di atas perahu dan dapat menduga bahwa wanita itu tentu ditawan atau diculik. Dia harus cepat dapat merobohkan orang-orang ini agar dia dapat menyelamatkan wanita yang ditawan itu. Maka, sebelum dua orang pengeroyoknya itu sempat menggerakkan golok untuk melakukan penyerangan yang kedua kalinya, dia mengukur jarak dan kemudian kedua kakinya mencuat ke kanan kiri, tepat menendang ke arah bawah pusar!
"Desss ...... ! Desss ...... !" Dua orang itu terbelalak dan mengaduh aduh melepaskan golok dan kedua tangan meraba-raba bawah pusar dan mereka berjingkrak-jingkrak menahan rasa nyeri yang menusuk isi perut. Aji menggerakkan tangan kirinya dua kali, menampar ke arah tengkuk dan dua orang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
itupun terpelanting dan roboh pingsan. Empat orang perampok itu sudah roboh semua dan pingsan.
"Keparat, berani engkau menganiaya anak buahku?"
bentak laki-laki yang mendayung perahu tadi dan disebut Kakang Jalak Uren oleh empat orang yang merampok. Dengan marah dia meninggalkan kawannya yang masih menelikung wanita itu dan melompat ke daratan sambil mencabut sebatang golok yang berkilauan saking tajamnya. Sebentar saja orang yang bertubuh tinggi ini sudah berhadapan dengan Aji. Melihat betapa empat orang anak buahnya masih menggeletak tak bergerak, dia mengira mereka telah tewas maka kemarahannya memuncak.
"Babo-babo, bocah keparat! Berani engkau membunuh empat orang anak buah perkumpulan para pendekar Gagak Rodra?" bentak Ki Jalak Uren, wakil ketua Gerombolan Gagak Rodra itu sambil menudingkan goloknya ke arah muka Aji.
"Aku tidak membunuh mereka, hanya membuat mereka pingsan agar mereka tidak dapat merampas kuda dan barang-barangku." kata Aji dengan sikap tenang. Dia lalu berjongkok dan membungkus lagi pakaian dan pundi-pundi uangnya dalam buntalan kain.
Mendengar ucapan ini, Ki Jalak Uren menghampiri empat orang anak buahnya itu dan mendapat kenyataan bahwa yang diucapkan pemuda itu benar. Mereka tidak tewas melainkan pingsan. Akan tetapi kenyataan ini tidak mengurangi kemarahannya. Dia menghampiri lagi Aji yang telah selesai membungkus barang-barangnya dan kini berdiri dengan sikap tenang namun waspada.
"Heh, pemuda yang kurang ajar! Siapa engkau, berani sekali engkau menentang Perkumpulan Gagak Rodra?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Aku tidak menentang siapa-siapa, hanya
mempertahankan kuda dan barang-barangku yang hendak dirampas oleh empat orang ini. Namaku Lindu Aji."
"Keparat! Sepanjang Kali Bogawanta ini adalah menjadi wilayah kekuasaan kami dan siapa saja yang lewat di sini harus menaati peraturan kami. Akan tetapi engkau malah berani melawan dan merobohkan empat orang anak buah kami, berarti engkau sudah bosan hidup! Engkau sekarang berhadapan dengan Ki Jalak Uren, gembong Kali Bogawanta.
Menyerahlah untuk kuringkus dan kuhadapkan ketua kami, daripada engkau menjadi bangkai makanan buaya di kali ini!"
"Hemmm, Ki Jalak Uren. Andika mengatakan bahwa andika sekalian adalah orang-orang gagah dari perkumpulan para pendekar Gagak Rodra. Akan tetapi mengapa para pendekar bersikap dan bertindak seperti segerombolan perampok dan penjahat yang suka mengganggu orang" Aku melihat di perahu itu kalian juga menawan seorang wanita.
Apakah perbuatan kalian itu termasuk watak para pendekar, ataukah ulah para penjahat?"
"Babo-babo, keparat! berani engkau menghina kami"
Berani engkau melawan aku, Ki Jalak Uren gembong Kali Bogawanta?"
"Jangankan hanya gembong Kali Bogawanta, biarpun setannya sekalipun, kalau berbuat jahat pasti akan kulawan!"
"Jahanam sombong! Ambrol dadamu!" bentak Ki Jalak Uren dan tiba-tiba saja kakinya yang besar dan panjang itu sudah mencuat melakukan tendangan kilat ke arah dada Aji.
Akan tetapi pemuda ini sudah waspada. Latihan yang ditekuninya di bawah bimbingan mendiang Ki Tejobudi telah membuat ilmu silatnya mendarah daging dengan dirinya dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
gerakannya sudah otomatis tanpa dikendalikan pikiran lagi.
Maka, ketika angin tendangan menyambar, dia sudah mengelak mundur ke samping kanan sehingga kaki lawan yang menyambar ke arah dadanya itu luput. Namun Ki Jalak Uren ternyata bukan orang lemah. Dia jauh lebih tangguh dibandingkan dengan anak buahnya tadi. Orang ini adalah wakil ketua ke dua di Gerombolan Gagak Rodra, maka tentu saja lmu silat dikuasainya dengan baik di samping tubuhnya yang kebal dan kokoh kuat. Begitu tendangannya luput dan kaki yang menendang itu sudah turun, tubuhnya sudah menerjang maju dan goloknya menyambar dahsyat. Saking cepat dan kuatnya golok itu menyambar, golok lenyap bentuknya berubah menjadi sinar putih yang menyambar ke arah leher Aji.
"Singggg ...... !!" Aji merendahkan tubuhnya dan sinar golok itu lewat di atas keplanya. Akan tetapi Ki Jalak Uren sudah menyusulkan serangan dengan tangan kirinya. Jari-jari tangan kirinya membentuk cakar dan mencemngkeram ke arah perut Aji dari bawah!
Aji cepat menggerakkan lengan kanannya menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Wuuuttt ...... dukkk !" Dua lengan bertemu dan akibatnya, Ki Jalak Uren terdorong mundur dan terhuyung. Dia terkejut sekali. Dia adalah seorang yang kebal dan bertenaga besar, akan tetapi pertemuan kedua lengan itu bukan saja membuat dia terhuyung menandakan bahwa dia kalah kuat, akan tetapi juga lengannya terasa nyeri menunjukkan bahwa kekebalannya dapat ditembus oleh lengan pemuda itu!
Maklumlah dia bahwa pemuda yang sederhana ini ternyata memiliki kesaktian. Dia menjadi semakin marah dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
penasaran. Sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor singa dia sudah menerjang lagi, menyerang dengan goloknya.
Aji bergerak dengan gerak silat Wanara Sakti.
Tubuhnya lincah dan trengginas, mengelak dan berlompatan ke sana sini dengan cepat sekali sehingga ke manapun sinar golok menyambar, selalu hanya mengenai tempat kosong. Tiba-tiba dia mendengar jerit dari arah sungai.
"Tolooongggg ...... !" Aji melompat ke belakang dan menoleh. Dia melihat laki-laki tinggi kurus yang tadi menelikung wanita itu kini mendayung perahunya ke tengah, agaknya hendak melarikan diri dengan perahu sambil membawa wanita itu. Melihat ini, Aji bertekad untuk menolong wanita itu. Dia harus merobohkan dulu Ki Jalak Uren kalau hendak mengejar laki-laki yang melarikan wanita itu. Pada saat itu Ki Jalak Uren yang sudah merasa penasaran sekali kembali mengirim bacokan dengan goloknya. Sekali ini Aji sudah mengambil keputusan untuk menyudahi perkelahian ini secepatnya karena dia harus menolong wanita yang dilarikan penjahat. Begitu golok menyambar, dia tidak mengelak melainkan menyambut dengan sambaran tangan kirinya mendahului dan memegang golok, sementara tangan kanannya cepat menyambar ke depan, dengan jari-jari terbuka dia menotok ke depan.
"Dukkk ...... ngekkk!!" Ki Jalak Uren terjengkang dan roboh, tak mampu bergerak lagi karena diapun sudah klenger (pingsan)! Aji tidak memperdulikannya lagi. Cepat dia melompat ke tepi sungai dan melihat betapa perahu itu sudah tiba di tengah sungai. Wanita itu masih menangis dan menjerit, meronta di bawah tekanan kaki laki-laki itu yang dilintangkan di atas pinggangnya. Sedangkan kedua tangan itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menggerakkan dayung, mendayung perahu melawan arus menuju seberang.
Aji melompat ke air. "Byurrrr ...... !" Air muncrat dan Aji cepat berenang. Seperti seekor ikan saja dia meluncur di permukaan air. Sebentar saja dia dapat menusul perahu itu.
Wanita itu kebetulan mukanya menghadap ke belakang perahu, melihat Aji lebih dulu. Melihat seorang pemuda yang tadi dilihatnya berkelahi melawan para perampok kini sudah berenang dekat perahu, wanita itu berseru, "Ki sanak, tolonglah aku, tolong ...... !"
Laki-laki tinggi kurus yang mendayung perahu itu menoleh dan diapun melihat Aji yang sudah berenang dekat sekali dengan perahu. Aji sudah berada di belakang perahu dan tangan kirinya meraih pinggiran perahu. Melihat ini, laki-laki itu bangkit berdiri mengangkat dayungnya.
"Ha-ha-ha, engkau berani menggangguku" Aku Blekok Ireng, akan menjadikan engkau makanan ikan!" Dayungnya menyambar ke arah tangan Aji yang berpegang pada perahu.
Terpaksa Aji melepaskan tangannya dari perahu agar jangan sampai terpukul. Ki Blekok Ireng adalah wakil ketua pertama dari Gerombolan Gagak Rodra dan tentu saja tingkat ketangguhannya melebihi tingkat Ki Jalak Uren. Bahkan diapun seorang ahli bermain di air, maka melihat Aji mengejar perahunya, dia menertawakannya.
"Ha-ha-ha, mampuslah!" katanya lagi dengan dayungnya dia memukul-nukul ke arah kepala Aji yang berenang di belakang perahu. Sambil bereang Aji mengelak ke kanan kiri, mencari kesempatan. Ketika mendapatkan kesempatan, cepat sekali tangannya menyambar dan dia sudah berhasil menangkap dayung yang dipukul-pukulkan ke
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
arahnya. Setelah dapat menangkap ujung dayung, Aji mengerahkan tenaga dan menarik dayung itu dengan tenaga sentakan kuat.
"By urrrr ...... !!" air muncrat dan kedua orang itu saling tarik dayung. Saking kuatnya tenaga mereka, dayung patah tengahnya, menjadi dua potong! Dan terjadilah perkelahian di air, menggunakan potongan dayung. Saling pukul dan saling tangkis. Sementara itu, perahu yang tidak dikuasai orang itu terbawa arus air yang mengalir perlahan. Aji menggunakan kepandaiannya dan tiba-tiba dia menyelam. Ki Blekok Ireng melihat ini juga segera menyelam dan perkelahian dilanjutkan dalam air! Seperti dua ekor ikan saling serang. akan tetapi segera terbukti bahwa Aji jauh lebih kuat. Berulang kali ketika dua tangan beradu, tubuh Ki Blekok Ireng terpental. Akhirnya wakil ketua Gerombolan Gagak Rodra ini maklum bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, akhirnya dia akan kalah dan hal ini berbahaya baginya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Maka, tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan berenang mengejar perahu!
Melihat ini Aji juga cepat berenang mengejar karena khawatir akan keselamatan wanita itu. Ki Blekok Ireng berhasil menangkap perahu itu dan ketika dia melihat bahwa Aji sudah berada di belakangnya, tanpa ragu-ragu lagi dia membalikkan perahu.
"Aiiiihhh ...... byurrr ...... !" Tubuh wanita yang menjerit itu terjatuh ke air. Ternyata ia tidak pandai berenang dan megap-megap, kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi.
Melihat ini, tentu saja Aji tidak membiarkannya tenggelam.
Dia lalu berenang mendekati dan menangkap pangkal lengan kiri wanita itu lalu mengangkatnya sehingga kepalanya berada di atas permukaan air. Karena panik dan ketakutan, wanita itu merangkul leher Aji dengan kedua tangannya, merangkul erat-erat takut terlepas. Tentu saja hal ini merepotkan Aji, menghalanginya untuk bergerak dengan leluasa. hal inilah yang agaknya dimaksudkan oleh Ki Blekok Ireng ketika dia menggulingkan perahu. Melihat aji kerepotan karena dirangkul erat-erat oleh kedua tangan wanita itu, Ki Blekok ireng cepat berenang menghampiri. Dia sudah mencabut goloknya yang tadi belum sempat dia gunakan. Aji melihat bahaya. Wanita itu merangkulnya erat-erat karena takut terlepas sehingga tentu saja dia tidak dapat bergerak dengan leluasa. Untuk dapat berenang dengan baikpun sukar baginya, apalagi menghadapi serangan Ki Blekok Ireng yang sudah memegang sebatang golok! Dia dan juga wanita itu berada dalam ancaman bahaya maut!
Untuk melepaskan diri mereka berdua dari ancaman maut, tanpa ragu-ragu lagi Aji menekan tengkuk wanita itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dengan ibu jari dan telunjuk tangan kirinya. Tekanan yang amat kuat itu membuat wanita itu terkulai, pingsan. Setelah wanita itu pingsan, Aji menjambak rambut wanita itu yang terlepas sanggulnya dan terurai sehingga wajah wanita itu dapat tetap berada di atas permukaan air tanpa dia harus menggunakan banyak tenaga. Dalam keadaan seperti itu dia menghadapi serangan Ki Blekok Ireng. Wakil ketua pertama Gerombolan Gagak Rodra itu menyerang dengan bacokan goloknya. Akan tetapi Aji menggerakkan kakinya yang meluncur ke depan, tepat menyambut lengan kanan itu sehingga bacokan tertahan. Kemudian Aji melepaskan rambut wanita itu dan membalik, kedua tangannya bergerak cepat memukul tangan memegang golok, sedangkan tangan yang satu lagi menampar leher lawan. Ki Blekok Ireng berteriak kaget, goloknya terlepas dari tangan dan dia berusaha mengelak dari tamparan ke arah lehernya. Namun, tetap saja tangan kanan Aji mengenai pundaknya dan Ki Blekok Ireng merasa pundaknya panas dan nyeri bukan main. Dia menjadi gentar dan cepat berenang menjauh ke hilir.
Aji tidak memperdulikannya lagi. Dia membalik dan melihat wanita itu tenggelam. Cepat dia menyelam dan tak lama kemudian dia sudah membawa wanita itu berenang ke tepi sungai di mana lima orang perampok masih rebah, ada yang masih pingsan, dan ada yang sudah siuman akan tetapi belum mampu bangkit.
Setibanya di daratan, Aji merebahkan tubuh wanita itu menelungkup lalu dia menekan-nekan punggung wanita itu.
Air mengalir keluar dari mulut wanita yang masih pingsan itu.
Aji lalu membalikkan tubuh itu telentang dan melihat kain yang membalut tubuh itu hampir terlepas ikatannya, Aji lalu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengikatnya kembali. Dia baru merasa rikuh ketika memandang wanita itu lebih teliti. Ternyata wanita itu masih amat muda, sekitar dua puluh tahun dan wajahnya yang basah kuyup dengan rambut terurai lepas tampak ayu dan manis sekali.
-o0-dwkz-budi-0o-
JILID VIII uga baru sekarang dia melihat betapa tubuh yang berkulit putih mulus itu bentuknya indah menggairahkan. Sadar J akan hal ini, barulah Aji merasa rikuh dan jantungnya berdebar tegang membuatnya salah tingkah. Akan tetapi dengan kekuatan batinnya dia menenangkan kembali hatinya, kemudian dia mengurut bagian tengkuk wanita itu. Mulut yang bibirnya merah dan mungil itu bergerak, mengeluh lirih. Mata itu terbuka dan bertemu dengan pandang mata Aji. Agaknya ia teringat dan cepat ia bangkit duduk, otomatis kedua tangannya hinggap didadanya yang indah untuk merasa yakin bahwa ikatan kainnya tidak terlepas. Kemudian matanya yang dibuka lebar-lebar memandang ke kanan kiri, melihat ke arah sungai lalu melihat lima orang masih menggeletak di situ, ada yang diam saja dan ada yang mengaduh kesakitan.
"Ah ...... aku ...... aku telah tertolong ...... !" Ia menggerakkan tubuh menghadap Aji yang sudah bangkit berdiri, lalu menyembah. "Ki sanak, terima kasih ...... andika telah menyelamatkan diriku ...... "
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Aji memutar tubuhnya, tidak mau menerima sembah itu. "Sudahlah, nimas, jangan berlebihan. Berterima kasih saja kepada Gusti Allah dan mari kita tinggalkan tempat ini.
Kuantar andika pulang ke tempat tinggal andika."
Wanita itu teringat akan para perampok itu dan ia cepat bangkit berdiri memandangi ke arah mereka. "Apa yang akan kau lakukan kepada mereka, ki sanak?" ia bertanya.
Tahu bahwa wanita itu telah bangkit berdiri, Aji membalikkan tubuhnya dan mendengar pertanyaan itu, dia memandang ke arah lima orang itu. "Aku tidak melakukan apa-apa tehadap mereka. Mudah-mudahan saja mereka telah mendapat peringatan dan akan menyadari kesesatan mereka dan kembali ke jalan yang bersih. Tidak baik kita berlama-lama di sini. Tunjukkanlah jalan ke tempat tinggalmu, nimas, aku akan mengantarmu sampai ke rumahmu." Aji lalu mengambil buntalan pakaiannya dan menuntun kudanya.
Wanita ayu itu menunjuk ke arah utara. "Rumahku di sana, di dusun Loano."
"Andika naik dan duduklah di atas pelana kuda ini, nimas." kata Aji.
"Aku tidak bisa menunggang kuda, ki sanak." kata wanita itu, kini sudah mulai dapat tersenyum karena hatinya sudah merasa tenang dan Aji melihat betapa indah dan manisnya senyum itu!
"Duduklah saja seperti duduk di atas bangku, nimas.
Tidak apa-apa, tidak akan jatuh. aku akan menjagamu. dengan duduk di atas pelana kuda andika tidak akan terlalu lelah. Apa lagi andika baru saja mengalami hal-hal yang melelahkan dan mencemaskan."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Wanita itu meragu dan dipandangnya kuda itu. Seekor kuda besar dan tinggi karena kuda itu pemberian Sultan Agung.
"Bagaimana aku dapat naik dan duduk di atas punggung kuda yang begini tinggi" aku tidak bisa, ki sanak. Biarlah aku berjalan saja."
Aji mengerutkan alisnya, lalu berkata. "Kalau begitu, maafkan aku, nimas. Biar aku membantumu naik." Tiba-tiba dia menggunakan kedua tangannya untuk memegang pinggang wanita itu dan sekali angkat, dia telah mendudukkan wanita itu di atas punggung kuda, duduk miring. "Nah, berpeganglah pada pelana kuda, aku akan menuntunnya." kata Aji yang lalu menuntun kuda itu meninggalkan tempat itu. Wanita itu tidak berkata-kata, hanya kedua pipinya berubah agak kemerahan. Ia duduk di atas pelana dan memandang Aji berjalan di depan kuda dengan alis berkerut, diam-diam merasa heran, bukan saja atas ketangguhan pemuda itu yang telah mengalahkan para perampok, akan tetapi juga atas sikap yang lembut dan sopan itu.
"Jauhkah Loano dari sini, nimas?" Tanya Aji tanpa menoleh.
"Jauh sekali. mereka itu membawaku sejak fajar tadi dengan perahu yang mereka dayung cepat-cepat." jawab wanita itu.
Aji berpikir. berperahu mengikuti aliran air sungai ditambah dengan tenaga dayung tentu cepat sekali, jauh lebih cepat dari pada orang berjalan kaki. Pada hal, wanita itu dilarikan dengan perahu sejak fajar tadi. Sudah setengah hari lebih. Kini, kalau dia mengantar wanita itu pulang, tentu sedikitnya akan makan waktu lebih dari satu hari, atau bahkan sampai dua hari.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tiba-tiba angin semilir dan Aji merasa tubuhnya dingin.
Baru dia ingat bahwa seluruh tubuh dan pakaiannya basah kuyup, denikian pula wanita itu. Dia cepat menoleh dan melihat wanita itu menggigil kedinginan di atas kuda. Dia berhenti dan kuda itupun ikut berhenti.
"Ah, andika kedinginan, nimas?" Wanita itu menaruh kedua tangan di kedua pundaknya. "Ya, dingin
sekali."

Alap Alap Laut Kidul Seri Ke 3 Pecut Sakti Bajrakirana Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Andik a harus berganti pakaian, kalau tidak dapat terserang masuk angin!" Aji lalu menurunkan buntalan pakaiannya dari punggung, membantu wanita itu turun dari atas kuda dengan memegang pinggang yang ramping itu seperti tadi ketika membantunya naik.
"Akan tetapi aku tidak membawa ganti pakaian."
"Aku ada membawanya, sementara boleh andika pakai dulu." kata Aji sambil melepaskan buntalan dan mengeluarkan sehelai sarung dan baju, diberikannya kepada wanita itu. "Di sana ada semak tebal, andika dapat berganti pakaian di sana.
Aku juga akan berganti pakaianku yang basah ini." Dia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengambil seperangkat pakaian terdiri dari celana dan baju, kemudian pergi ke belakang sebuah batu besar yang letaknya berlawanan arah dengan semak belukar itu. Wanita itu agak ragu sejenak, kemudian setelah melihat Aji menghilang di balik batu besar, iapun melangkah menuju ke semak belukar dan menghilang di balik semak.
Aji telah selesai berganti pakaian. Dia kembali ke kudanya, memeras pakaiannya yang basah lalu duduk di atas akar pohon yang menonjol dan menanti wanita yang berganti pakaian itu. Duduknya membelakangi semak-semak.
Tak lama kemudian dia mendengar langkah lembut dari arah belakangnya. Aji bangkit dan memutar tubuhnya. Wanita itu telah berganti pakaian. Sarung itu melibat tubuhnya dari dada ke bawah. Bagian atasnya tertutup baju putih yang terlalu besar. Rambutnya sudah disanggul sederhana. Tampak lucu sekali, akan tetapi bersih, kering dan tidak mengurangi keayuannya. Kedua pipi itu kemerahan, mulutnya tersenyum malu-malu dibantu sinar matanya.
"Aku ...... aku tentu kelihatan lucu sekali." katanya lirih.
"Ah, tidak! Andika kelihatan seperti seorang pemuda
...... " "...... yang jelek dan tidak patut tentu!"
"Sebaliknya malah. Andika tampak tampan dan patut sekali."
Wanita itu menghela napas dan duduk di atas akar pohon, lalu memeras pakaiannya yang basah. Aji berjongkok dan merapikan buntalannya lagi. Wanita itu membawa pakaiannya di tempat yang terbuka lalu menjemur pakaiannya di atas batu. Tanpa diminta ia mengambil pakaian Aji yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
basah dan sudah diperas dari atas akar pohon dan menjemurnya pula.
"Sebaiknya kita berhenti di sini sebentar sampai pakaian kita itu menjadi kering." katanya. Aji mengangguk saja, kemudian mereka duduk di atas akar pohon, di bawah pohon yang teduh.
"Ki sanak, aku belum mengenal namamu, padahal andika sudah menyelamatkan aku dari bencana." kata wanita itu sambil menatap wajah Aji.
"Namaku Lindu Aji, aku seorang perantau." jawab Aji pendek. "Akupun ingin sekali mengetahui siapa andika dan bagaimana sampai andika terjatuh ke tangan orang-orang jahat tadi?"
"Lindu Aji" Ahhh, nama yang aneh, langka, indah dan mengandung kegagahan, sesuai dengan orangnya yang gagah perkasa dan berjiwa satria." Wanita itu memuji. "Dan masih begitu muda remaja!"
Aji tersenyum. "Muda remaja" Usiaku sudah dua puluh tahun!"
"Masih muda sekali. Aku lebih tua setahun. Karena itu, tidak semestinya andika menyebut aku nimas."
"Habis, harus menyebut apa?"
"Sepatutnya menyebut mbakayu. Mbakayu Winarsih, itu namaku. Dan aku menyebutmu adimas, Adimas Aji. Bukan saja karena aku lebih tua, akan tetapi juga karena aku sudah mempunyai suami, jadi sudah jauh lebih dewasa."
Aji menekan perasaan herannya. "Akan tetapi ......
andika kelihatan masih begini muda. Tadinya kukira baru berusia delapan belas tahun!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Winarsih tersenyum dan deretan giginya yang rapi dan putih tampak, membuat wajah itu tampak semakin menarik dan manis. "Dan andika yang baru berusia dua puluh tahun tampak bijaksana dan matang sikapmu, seperti orang yang jauh lebih tua, padahal wajahmu masih tampak muda sekali. andika tentu seorang satria, murid seorang yang sakti mandraguna. Suamiku banyak bercerita tentang orang-orang yang sakti mandraguna."
"Mbakayu Winarsih," setelah menyebut wanita itu dengan mbakayu, Aji merasa lebih akrab dan tidak canggung lagi, merasa seolah bicara dengan mbakayunya sendiri. Setelah tahu bahwa wanita itu lebih tua bahkan telah bersuami, dia merasa lega dan tidak rikuh. "Kalau suamimu mengenal orang-orang sakti mandraguna, tentu suamimu juga seorang yang digdaya. Betulkah dugaanku ini?"
Winarsih menghela napas panjang. "Tidak keliru dugaanmu, dimas Aji. Suamiku bernama Ki Sumali dan dia adalah seorang yang memiliki aji kadigdayaan. Akan tetapi semenjak aku menjadi isterinya, dia menyatakan ingin hidup tenang dan damai, tidak pernah lagi mencampuri urusan dunianya orang-orang yang suka mengadu ilmu kadigdayaan.
Kami hidup bertani di Loano, hidup tenang dan tenteram."
"Akan tetapi bagaimana mbakayu tadi sampai ditawan mereka?"
"Itulah, dimas. Kukira ini juga ada hubungan dengan cara hidup suamiku ketika masih menjadi pendekar dahulu.
Aku sendiri tidak mengenal dia orang yang menculikku. Pada waktu fajar tadi, seperti biasa aku mencuci pakaian di sungai yang berada dekat dengan rumahku. Tiba-tiba dua orang laki-laki tadi menangkap aku dan melarikan aku dengan perahu mereka. Di darat masih ada empat orang kawan mereka yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengikuti perahu sambil berlari-lari. Aku tidak mengenal mereka, akan tetapi pernah aku mendengar orang yang tinggi kurus dan yang menelikung aku itu menyebut nama suamiku.
Dia berkata sambil tertawa. "Rasakan sekarang pembalasan kami, Ki Sumali!" Maka aku menduga bahwa tentu perbuatan menculikku itu mereka lakukan untuk membalas dendam.
mungkin mereka dahulu pernah bermusuhan dengan suamiku."
Aji mengangguk-angguk, diam-diam merasa heran mengapa seorang pendekar yang masih muda sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri untuk memanfaatkan ilmu-ilmu yang dengan susah payah dipelajarinya.
"Mendengar ceritamu, melihat keadaannya aku merasa yakin bahwa suamimu sebagai pendekar tentu pernah bentrok dengan mereka. Maksudku bukan bentrok dengan dua orang penculikmu itu, melainkan dengan Gerombolan Gagak Rodra."
"Mungkin dugaanmu benar, adimas Aji. Nanti kalau sudah tiba di rumah, tentu suamiku akan dapat menceritakan tentang permusuhannya itu. Sekarang tentang dirimu, adimas.
Engkau tadi mengatakan bahwa engkau seorang perantau"
Bagaiman dapat berada di sini?"
Aji tersenyum dan Winarsih memandang kagum.
Pemuda itu memang tampak manis sekali kalau tersenyum.
"Aku memang seorang kelana, mbakayu. Dan kebetulan sekali aku ingin berkelana ke daerah barat. Aku berasal dari Gampingan, sebuah dusun kecil di dekat Laut Kidul. Kebetulan saja ketika aku berhenti mengaso di tepi sungai menanti orang lewat untuk bertanya bagaimana aku dapat menyeberangi sungai, muncul empat orang yang merampok kuda dan buntalan ini. Kemudian muncul pula dua orang dengan perahu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang menawanmu. Karena menduga bahwa engkau tentu diculik, maka setelah merobohkan para perampok, aku lalu berenang dan mengejar perahu itu."
"Aku juga ingin segera dapat berjumpa dengan suamimu, mbakayu. Mari kita lanjutkan perjalanan agar dapat tiba di sebuah dusun sebelum hari menjadi gelap."
"Baiklah, adimas." Kini sikap Winarsih juga lebih akrab dan tidak canggung lagi karena iapun merasa seolah berhadapan dengan seorang adik sendiri. "akan tetapi biar aku berjalan kaki saja, rasanya tidak enak menunggang kuda sedangkan engkau berjalan kaki."
"Akan tetapi kalau engkau berjalan kaki, selain engkau akan menjadi lelah sekali, juga perjalanan menjadi semakin lambat. Ah, kalau saja engkau dapat menunggang kuda dan melarikannya, tentu kita akan dapat tiba di rumahmu dengan cepat, mbakayu. Kalau dudukmu menghadap ke depan, tentu kuda dapat dilarikan lebih cepat dan aku dapat berlari sambil menuntun kuda."
"Wah, membiarkan engkau berlari-lari sambil menuntun kuda yang kutunggangi" Tak mungkin aku dapat membiarkan hal itu. Terlalu enak untukku dan tidak enak untukmu! Lagi pula, andaikata aku dapat duduk menghadap ke depan, akupun tidak berani kalau kuda berlari kencang. Aku takut jatuh. Eh, bukankah kudamu ini cukup besar dan kuat, adimas" Kulihat berbeda dengan kuda biasa yang pernah kulihat. apa kuda ini tidak kuat kalau kita tunggangi berdua"
Kalau berboncengan denganmu, aku tidak takut!"
Tiba-tiba Aji menjadi rikuh kembali. "Akan tetapi ......
tidak apa-apakah kalau ...... kalau kita berboncengan" Kalau dilihat orang ...... apakah hal itu pantas?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Winarsih tersenyum lebar, senyum yang tulus dan pandang matanya kagum. Pemuda ini jujur dan polos, juga amat tahu kesusilaan. "Adimas Aji, aku mengerti apa yang kau maksudkan, mengerti apa yang kau ragukan. Engkau khawatir kalau-kalau orang yang melihat kita berboncengan lalu menuduh yang bukan-bukan. Akan tetapi kita berdua yakin benar akan alasan dan keadaan kiata. Pertama, kita berboncengan karena kita ingin cepat-cepat sampai ke tempat tinggalku dan tidak ada cara lain yang lebih cepat kecuali berboncengan menunggang kuda. Kedua, kita berdua yakin benar bahwa kita tidak melakukan, bahkan tidak pernah membayangkan hal tang tidak pantas atau melanggar kesusilaan. nah, kalau dua kenyataan itu masih belum dapat menghilangkan kekhawatiranmu, biarlah kita berjalan kaki saja. Kalau aku disuruh menunggang kuda sendiri dan engkau berjalan kaki, aku tidak mau."
Aji mendengar dengan kagum. Wanita lemah ini ternyata memiliki pandangan luas dan batin yang kuat. Dia teringat akan satu diantara petuah gurunya, "Aji, kita harus selalu ingat dan waspada. Ingat setiap detik akan Gusti Allah, dan waspada setiap saat akan pikiran, kata-kata dan perbuatan kita sendiri. Yang terpenting dalam kewaspadaan itu adalah mawas diri. Biarpun orang sejagad menuduh kita pencuri, kalau, kita tidak mencuri, maka biarkan sajalah orang menuduh. sebaliknya, biarpun tidak ada orang yang tahu, kalau kita waspada dan merasa telah melakukan pencurian, hal inilah yang amat penting agar kita mawas diri dan mengubah kesalahan kita."
"Engkau benar, mbakyu Winarsih. Kita terpaksa harus berboncengan karena ingin agar engkau dapat segera sampai si
Sejengkal Tanah Sepercik Darah 6 Manusia Yang Bisa Menghilang Pendekar 4 Alis Karya Khu Lung Cinta Bernoda Darah 2
^