Pencarian

Sepasang Garuda Putih 2

Sepasang Garuda Putih Seri Keris Pusaka Sang Megatantra 5 Karya Kho Ping Hoo Bagian 2


"Kanjeng Romo, harap sabar dulu. Bagaimanapun juga,
kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta adalah
putera paduka, dan mereka juga kakak saya. Bagaimana
Kanjeng Rorno akan membunuh mereka begitu saja?"
Wajah Adipati itu masih merah dan matanya melotot
memandang kepada Jarot yang menghalanginya membunuh
kedua orang puteranya yang sesat itu.
"Kau ... kau yang hendak dibunuh mereka ... kau bahkan
membela mereka, Jarot?"
"Mereka memang bertindak salah, Romo. Akan tetapi
berilah kesempatan kepada mereka untuk bertaubat dan
mengubah jalan pikiran mereka yang keliru. Kalau mereka
dibunuh, berarti Kanjeng Romo tidak memberi kesempatan
kepada mereka untuk menebus dosa. Apakah Kanjeng Romo
tidak kasihan kepada mereka?"
Mendengar pembelaan adik mereka itu, kedua orang muda
itu seperti ditusuk-tusuk rasa jantungnya dan mereka
menangis sesenggukan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Adimas Jarot ... aku telah berdosa kepadamu, biarlah aku
dihukum mati ?"
"Aku juga berdosa kepadamu, dimas Jarot. Tidak pantas
kaubela ... "
"Tidak, kakangmas. Andika berdua hanya terdorong nafsu
ingin memperebutkan kedudukan adipati kelak. Kalau kalian
minta baik-baik, aku akan menyerahkan kedudukan itu.
Setelah kini kalian menyadari kesalahan, tentu akan bertaubat
dan tidak akan mengulangi perbuatan yang menyeleweng dari
kebenaran."
Adipati Kertajaya yang sudah menyarungkan kembali
kerisnya karena ditahan oleh Jarot tadi, duduk kembali dan
menghela napas panjang.
"Baiklah, mengingat akan permintaan ampun Jarot untuk
kalian berdua, aku tidak akan menghukum mati kalian yang
sebetulnya patut kalian terima. Sebagai gantinya, kalian
kuhukum selama lima tahun menjadi perajurit jogoboyo
kadipaten."
Dua orang pemuda itu cepat menyembah
dan menghaturkan terima kasih. Semenjak hari itu, mereka berdua
bertugas sebagai perajurit jogoboyo yang menjaga keamanan
kadipaten Pasisiran.
Adipati Kertajaya hendak menjamu Endang Patibroto, akan
tetapi wanita ini menolak. "Saya masih mempunyai banyak
keperluan dan harus melanjutkan perjalanan sekarang juga.
Akan tetapi ada satu hal yang ingin kutanyakan kepada Sang
Adipati dan siapa tahu andika dapat membantu dalam urusan
ini." Adipati Kertajaya tersenyum dan menjawab. "Dengan
sepenuh hati kami siap membantu Gusti Puteri. Apakah hal
yang ingin andika tanyakan itu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saya sedang mencari putera puteriku yang melakukan
perjalanan merantau. Puteraku itu bernama Bagus Seto dan
puteriku bernama Retno Wilis. Apakah mereka itu lewat dan
singgah di kadipaten ini?"
Adipati Kertajaya mengerutkan alisnya. "Saya sendiri tidak
pernah mendengar nama-nama itu, akan tetapi akan saya
umumkan dan tanyakan kepada semua perajurit kalau-kalau di
antara mereka ada yang bertemu dengan kedua orang putera
puteri andika itu."
Adipati Kertajaya segera mengutus perwira untuk
mengumumkan pertanyaan itu dan sementara menanti
jawaban mereka, Endang Patibroto dipersilakan menunggu
dan dijamu makan oleh sang adipati bersama seluruh
keluarganya. Hanya Lembu Alun dan Lembu Tirta yang tidak
ikut dalam perjamuan itu karena mereka mulai hari itu sudah
harus bertugas sebagai perajurit jogoboyo.
Dalam perjamuan itu Endang Patibroto banyak mendapat
keterangan dari Adipati Kertajaya tentang pergolakan di timur.
Pasisiran sendiri merupakan daerah kekuasaan Jenggala dan
selama ini kadipaten ini selalu patuh kepada Jenggala.
"Mula-mula kadipaten di Nusabarung yang memperlihatkan
tanda hendak menentang kekuasaan Kerajaan Jenggala, akan
tetapi kemudian kami mendengar bahwa Nusabarung
bersekutu dengan Blambangan. Mereka telah memperkuat diri
dan mempersiapkan pasukan besar untuk me lawan pasukan
Jenggala. Kami sendiri khawatir kalau kalau kami terseret
karena kami berada ditengah-tengah antara Blambangan dan
Jenggala," demikian antara lain Adipati Kertajaya memberi
keterangan. Mendengar ini semakin kuat keinginan hati Endang
Patibroto untuk me lakukan penyelidikan ke daerah yang
bergolak itu. Kemudian, datang laporan dari para perwira yang
mengatakan bahwa tidak ada seorang-pun di antara perajurit
yang mendengar tentang Bagus Seto dan Retno Wilis
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar laporan itu, Endang Patibroto menjadi kecewa
dan iapun segera berpamit dari keluarga Adipati Kertajaya.
Ketika Endang Patibroto berpamit darinya, Jarot kembali
mengucapkan banyak terima kasih.
"Bantuan kanjeng bibi sungguh merupakan budi yang
besar. Mudah-mudahan saja kelak saya akan dapat membalas
budi itu."
Endang Patibroto tersenyum dan memandang pemuda itu
dengan senang karena ia tahu bahwa ia berhadapan dengan
seorang pemuda yang baik hati dan bijaksana, di samping
memiliki ilmu kanuragan yang cukup tangguh.
"Jangan bicara tentang budi, anakmas Jarot. Saya tidak
mengharapkan balasan apapun juga, hanya saya mengharap
agar kelak kalau andika sudah menggantikan ramandamu
menjadi adipati, bertindaklah yang adil dan bijaksana terhadap
rakyatmu."
Endang Patibroto segera melanjutkan perjalanannya
menuju ke timur untuk mencari jejak puterinya dan juga untuk
menyelidiki daerah yang bergolak itu.
Oo-dwkz-rhg-oO Nusa Barung adalah sebuah pulau di lautan Kidul yang
cukup besar. Di pulau itu terdapat seorang penguasa yang
menyebut dirinya Adipati Martimpang yang kekuasaannya
bukan hanya di atas pulau Nusa Barung, melainkan sampai ke
daratan pantai Laut Kidul. Adipati Martimpang berhasil
menjadi penguasa yang berpengaruh dan ditakuti. Dia juga
menghimpun pasukan yang tidak kurang dari seribu orang
jumlahnya, sebagian dari pasukannya berjaga di daratan
pantai pulau Jawa bagian selatan itu. Dia juga mempunyai
lima orang senopati yang terkenal gagah perkasa dan
berbadan seperti raksasa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adipati Martimpang sendiri adalah seorang laki-laki tinggi
besar berkulit hitam dan wajahnya menyeramkan, sama sekali
tidak dapat dibilang tampan. Akan tetapi dia memiliki belasan
orang isteri yang cantik-cantik. Tidak mengherankan kalau dia
juga mempunyai seorang anak perempuan yang cantik jelita
seperti ibunya dan diberi nama Dyah Candramanik. Gadis ini
sudah berusia tujuh belas tahun dan tidak ada pemuda di
Nusabarung yang tidak tergila-gila kepada puteri adipati ini.
Adipati Martimpang sendiri amat membanggakan puterinya.
Akan tetapi siapakah yang berani mencoba untuk
menundukkan hati Dyah Candramanik" Mereka gentar
terhadap ayahnya. Karena itulah maka sampai berusia tujuh
belas tahun, belum ada pria yang berani meminangnya.
Tentu saja Adipati Martimpang mempunyai cita-cita besar
terhadap puterinya yang dibanggakannya ini. Dia berkeinginan
agar puterinya mendapatkan jodoh seorang raja yang masih
muda dan yang kaya raya serta besar kekuasaannya. Atau
setidaknya seorang ksatria yang sakti mandraguna dari
keturunan orang terkenal. Karena itu jangan harap ada
seorang pemuda biasa di Nusabarung mampu mempersunting
bunga yang indah harum itu. Untuk menguji kesaktian orang
yang berani meminang, Sang Adipati mengadakan sayembara
tanding. Siapa yang dapat mengalahkan seorang di antara
lima orang senopatinya, yang bernama Wisokolo, dialah yang
patut menjadi jodoh putrinya. Akan tetapi sebelum bertandmg
melawan W isokolo yang sakti, orang itu harus dapat
menunjukkan bahwa dia putera seorang yang terkenal,
pendeknya bukan pemuda keturunan orang biasa.
Karena syaratnya yang begitu berat, menandingi Ki
Wisokolo, maka sampai berbulan-bulan setelah sayembara
diumumkan, masih belum juga ada yang berani memasuki
sayembara. Syarat itu begitu berat. Siapa yang berani
menandingi K i Wisokolo yang terkenal digdaya itu" Salah-salah
tulang-tulang bisa patah-patah atau kepala bisa remuk!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adipati Martimpang menjadi kecewa sekali, lalu menambah
hadiah sayembaraitu. Kalau ada orang yang lulus sayembara,
bukan saja pemuda itu akan mempersunting Dyah
Candramanik, bahkan akan diangkat menjadi calon adipati,
menggantikan kedudukan Adipati Martimpang kalau dia sudah
mengundurkan diri. Hal ini adalah sewajarnya karena sang
adipati tidak mempunyai putera pria. Semua anaknya yang
berjumlah tujuh orang adalah perempuan. Dyah Candramanik
merupakan anak sulung dan yang paling cantik di antara
saudara-saudaranya.
Berita tentang sayembara yang berhadiah besar ini tersebar
luar sampai ke daerah-daerah lain. Maka berdatanganlah
orang-orang muda dari segala penjuru untuk memasuki
sayembara dan mengadu nasib. Mereka itu berdatangan dari
Blambangan, daerah-daerah pantai utara dan timur,
Probolinggo, Besuki, bahkan ada yang datang dari Madura dan
Bali-dwipa! Pada hari yang ditentukan, berkumpullah lima orang
pemuda yang tampak gagah perkasa di Nusabarung,
kemudian muncul pula dua orang pemuda yang tampak lemah
lembut. Dua orang pemuda ini bukan lain adalah Bagus Seto
dan Retno Wilis!
Ketika Retno Wilis mendengar berita tentang diadakannya
sayembara tanding di Nusabarung, ia segera berkata kepada
kakaknya, "Kakang Bagus, mari kita ikuti sayembara itu!"
Bagus Seto tersenyum memandang adiknya yang nakal.
"Aku tidak ingin mencari jodoh, diajeng. Untuk apa aku
mengikuti sayembara itu?"
"Biar aku yang memasuki sayembara, engkau hanya
menjadi penonton saja."
"Heh-heh, engkau ini aneh-aneh saja. Engkau seorang
gadis, bagaimana hendak memasuki sayembara tanding yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hadiahnya seorang puteri itu" Apakah engkau ingin menikah
dengan sesama wanita?"
"Tentu saja tidak, kakangmas. Akan tetapi ini merupakan
kesempatan baik sekali bagi kita untuk memasuki Nusabarung.
Dalam keadaan biasa kita masuk ke sana tentu akan
menimbulkan kecurigaan sehingga gerakan kita kurang
leluasa. Kita sudah mendengar desas-desus bahwa Nusabarung sedang bergolak dan timbul dugaan bahwa
mereka hendak memberontak terhadap Jenggala. Kiranya
sudah menjadi kewajiban kita untuk menyelidiki keadaan di
sana. Dan kesempatan ini amat baik. Kalau kita ikut menjadi
peserta sayembara, tentu kita akan dapat menyelidiki dengan
mudah tanpa menimbulkan kecurigaan. Bukankah engkau pikir
begitu, kakangmas?"
"Akan tetapi engkau seorang perempuan, bagaimana
engkau akan ikut dalam sayembara itu, diajeng?"
"Ah, hal itu mudah saja, kakangmas. Apa sih sukarnya
menjadi pria sebentar" Kan yang membedakan hanya
pakaiannya saja. Aku dapat menyamar menjadi pria tentu saja
dan tak seorangpun akan mengetahui akan hal itu."
"Menyamar sebagai pria" Ah, engkau nakal, diajeng."
"Bagaimana lagi kalau tidak mengambil cara itu,
kakangmas" Sebetulnya, lebih baik kalau engkau yang
mengikuti sayembara, akan tetapi kalau engkau tidak mau,
terpaksa aku yang maju."
"Jangan main-main, diajeng. Bagaimana kalau engkau nanti
mendapat kemenangan keluar sebagai pemenang dan
mendapatkan hadiah puteri itu?"
"Kalau begitu, biarlah puteri itu kuhadiahkan kepadamu,
kakangmas!"
"Hussh, mana boleh begitu" Aku tidak mempunyai niat
sama sekali untuk menikah dan pula, mana mungkin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diperbolehkan kalau si pemenang memberikan hadiahnya
kepada orang lain " Kita berdua tentu akan mendapat
kesulitan."
"Kalau begitu, biar aku mengalah saja, kakangmas. Yang
penting kita diperkenankan masuk tanpa dicurigai."
"Engkau dapat masuk sebagai peserta, akan tetapi aku
tidak, kalau begitu sebaiknya engkau saja yang masuk untuk
mengikuti sayembara, dan aku akan masuk sebagai pelancong
biasa dan mengamati engkau dari jauh."
"Begitu juga boleh, kakang. Akan tetapi engkau harus
berjanji tidak akan meninggalkan aku seorang diri."
Bagus Seto kembali tersenyum dan memandang wajah
adiknya dengan penuh kasih sayang. "Ah, diajeng Retno.
Engkau seperti anak kecil saja. Seorang dara gagah perkasa
seperti engkau ini, yang sudah biasa bertualang dan malang
melintang di dunia, kenapa sekarang menjadi penakut, takut
ditinggal seorang diri?"
"Aku tidak takut akan bahaya yang mengancam diriku,
kakang Bagus. Aku takut kepada diriku sendiri. Dahulu aku


Sepasang Garuda Putih Seri Keris Pusaka Sang Megatantra 5 Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bisa malang melintang, menurutkan kehendakku sendiri,
menghancurkan mereka yang menjadi lawanku. Aku tidak
mengenal apa artinya baik dan buruk, bahkan sampai
sekarangpun aku masih bingung membedakan antara baik dan
buruk. Aku membutuhkan bimbinganmu, kakang, maka aku
takut kalau kautinggal pergi."
"Aku tidak akan meninggalkanmu sebelum tiba saatnya,
Retno. Akan tetapi jangan lupa, engkau harus mengalah
dalam sayembara, pura-pura kalah. Kalau engkau keluar
sebagai pemenang, tentu engkau hanya akan menghadapi
kesulitan, harus menikah dengan puteri Adipati Martimpang
dari Nusabarung."
"Aku mengerti, kakangmas. Aku akan berpura-pura kalah
dan aku akan menyelidiki keadaan Nusabarung dari para
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
peserta sayembara. Kabarnya malah ada jago dar
iNusakambangan yang ikut dalam sayembara. Kalau aku dapat
mendekatinya, tentu akan banyak mendengar tentang
keadaan di Blambangan. Kalau benar Nusabarung bersekutu
dengan Blambangan dan lain-lain kadipaten, aku harus
menyelidikinya dan kelak melaporakan kepada Sang Prabu di
Jenggala, juga kepada Kanjeng Romo. Aku sudah terlalu
banyak mengacau dan mengganggu keamanan Panjalu dan
Jenggala, maka sekarang aku harus menebus semua dosa itu.
Juga aku akan membantu perjuangan kanjeng Romo."
"Bagus kalau engkau berpikiran begitu, diajeng. Nah,
sekarang aku pergi, kita berpisah di s ini."
"Baik, kakangmas."
Dua orang muda kakak beradik itu lalu berpisah. Sebelum
berpisah Bagus Seto memberikan pakaian pria kepada Retno
Wilis, kemudian pemuda, itu meninggalkan adiknya. Retno
Wilis lalu mencari tempat tersembunyi di dalam sebuah guha
untuk berganti pakaian. Pakaiannya dan bekal pakaiannya
sendiri ia sembunyikan di dalam guha itu. Setelah keluar dari
dalam guha, ia berubah menjadi seorang pemuda. Akan tetapi
karena baju yang dipakainya terlalu besar, ia nampak sebagai
seorang perjaka remaja tanggung! Iapun berangkat menuju
Nusabarung, membayar seorang tukang perahu yang mau
menyeberangkannya ke pulau itu. Ia tahu bahwa kakaknya
tentu juga akan menyewa perahu untuk melakukan
penyeberangan ke Nusabarung.
"Anakmas, apakah andika pergi ke Nusabarung untuk
menonton keramaian sayembara?" tanya tukang perahu yang
setengah tua itu.
"Benar, paman," jawab Retno Wilis, membenarkan saja
agar tidak lagi orang banyak bertanya. "Paman, aku melihat di
pantai tadi banyak perajurit melakukan penjagaan, apakah
mereka itu perajurit Nusabarung?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tukang perahu menghela napas panjang. "Agaknya
anakmas bukan orang sini, ini mudah diduga mendengar cara
anakmas bicara dan bertanya tentang perajurit itu.Memang
benar, mereka itu perajurit-perajurit dari Nusabrung yang
akhir-akhir ini terdapat banyak di pantai, bahkan mereka
mempunyai perkemahan di pantai. Biasanya, para petugas itu
selalu memeriksa setiap orang yang hendak menyeberang ke
Nusabarung, akan tetapi karena adanya sayembara itu,
mereka tidak lagi memeriksa dan banyak orang pergi ke
Nusabarung dibiarkan saja. Kalau lain waktu andika lewat di
sini, tentu tidak lepas dari pemeriksaan mereka."
"Apa saja yang diperiksa, paman" Mengapa pula orang
lewat harus diperiksa?"
"Aku sendiri tidak tahu, anakmas. Hanya kabarnya, mereka
itu memeriksa untuk mencari mata-mata musuh."
Retno Wilis merasa lega bahwa ia meninggalkan pedang
pusakanya di dalam guha tadi. Kalau ia membawa pedang,
mungkin saja ia akan mengalami pemeriksaan oleh perajurit-
perajurit tadi.
"Apakah Nusabarung mempunyai musuh, paman" Apakah
mereka mau berperang?" Retno Wilis bertanya perlahan,
seperti orang yang merasa takut kalau-kalau ucapannya
didengar orang lain.
"Aku tidak tahu, anakmas. Akan tetapi di mana-mana kini
diadakan gerakan, para pria muda diharuskan masuk menjadi
perajurit-perajurit."
"Diharuskan?"
"Ya, yang menolak akan dihukum berat. Bahkan ... "
tukang perahu itu mengecilkan suaranya, " ... banyak wanita
muda juga mereka bawa."
"Ke mana?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Entahlah, akan tetapi yang mereka bawa pergi itu wanita
muda yang berwajah cantik."
Kini tampak banyak perahu menyeberang ke dan dari Pulau
Nusabarung dan tukang perahu itu menjadi pendiam, agaknya
khawatir kalau ucapannya terdengar orang lain.
Setelah mendarat di Pulau Nusabarung, Retno W ilis ikut
dalam rombongan banyak orang yang juga ingin nonton
sayembara tanding. Mereka semua menuju ke alun-alun di
depan kadipaten, di mana di dirikan sebuah panggung di
mana para pengikut sayembara akan berlaga. Di alun-alun itu
telah berkumpul banyak sekali orang yang hendak menonton
sayembara. Retno Wilis menyelinap di antara orangbanyak
dan bertanya kepada seorang laki-laki yang berdiri di sebelah
kirinya. "Ki sanak, apa sajakah yang dipertandingkan dalam
sayembara ini?" ia bertanya sambil lalu seperti seorang
penonton yang ingin tahu.
Orang itu memandang kepada Retno Wilis. "Agaknya
andika datang dari pesisir maka belum tahu akan hal itu.
Pertandingan ada tiga macam. Pertama, calon pengikut harus
melalui ujian tenaga, yaitu mengangkat arca raksasa yang
berada dipanggung itu."
Retno Wilis me lihat sebuah arca yang sebesar manusia
dewasa berdiri di atas panggung. Arca itu tentu besar sekali.
"Dan yang kedua?"
"Yang kedua ujian ketangkasan. Setiap peserta harus dapat
memanah sasaran di atas itu dengan tepat. Nah, kalau
seorang peserta lulus dalam dua ujian itu, barulah dia
dihadapkan kepada Ki Wisokolo untuk bertanding dan kalau
dia mampu bertahan menandingi K i W isokolo sampai hitungan
ke seribu, barulah dia dinyatakan menang."
"Siapa Ki W isokolo?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang itu tersenyum seperti menertawakan pertanyaan
yang dianggapnya tolol itu. "Andika tidak mengenal Ki
Wisokolo" Dia adalah senopati nomor satu di Nusabarung,
jagoan yang tak pernah terkalahkan. Karena itu, siapa yang
mampu menghadapinya sampai seribu hitungan, dia benar
benar tangguh dan akan keluar sebagai pemenangnya."
"Ah, begitukah" Aku mendengar yang disayembarakan
adalah puteri Gusti Adipati, apakah ia seorang gadis yang
cantik?" Kembali orang itu tersenyum lebar. "Ah-ah, siapa yang
tidak tergila-gila kepada Sang Dyah Ayu Candramanik" Ia
cantik jelita seperti dewi dari kahyangan, kalau bernyanyi
suaranya merdu melebihi burung perkutut yang paling baik
dan kalau ia menari, wah, seperti bidadari."
"Siapakah yang telah mendaftarkan diri sebagai pengikut
sayembara?"
"Andika lihat di sana itu, di sebelah kanan panggung. Di
sanalah orang yang hendak memasuki sayembara didaftar.
Nah, itu beberapa orang pria sudah mendaftar."
"Terima kasih, ki sanak," kata Retno Wilis dan iapun lalu
melangkah menuju ke tempat itu.
"Hei, engkau hendak ke mana?" tanya orang tadi heran.
"Hendak mendaftarkan diri sebagai pengikut sayembara,
apa lagi?" jawab Retno W ilis sambil tersenyum dan orang itu
tertegun. Pemuda remaja itu memang tampan sekali. Akan
tetapi dengan tubuhnya yang kecil dan tampak lemah itu
bagaimana hendak mengikuti sayembara" Hampir dia tertawa
membayangkan pemuda remaja itu mencoba mengangkat
arca besar itu, lebih besar dari tubuh pemuda remaja itu
sendiri! Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 03 Dengan langkah tegap Retno Wilis menghampiri meja di
mana tiga orang perwira duduk menerima pendaftaran. Dan
mereka yang sudah mendaftarkan diri sebagai pengikut sudah
berkumpul di bawah panggung.
Tiga orang perwira itu memandang heran kepada Retno
Wilis ketika ia menghampiri meja. Mereka memandang penuh
perhatian dan seorang di antara mereka bertanya.
"Orang muda, engkau mau apakah?"
"Saya hendak mendaftarkan diri sebagai peserta sayembara!" jawab Retno Wilis dengan suara tegas.
Tiga orang perwira itu saling pandang lalu mereka tertawa,
"Andika" Hendak menjadi peserta sayembara" Eh, orang
muda, apakah andika sudah tahu syarat-syaratnya?"
"Sudah, bukankah pertama mengangkat arca batu itu, dan
kedua memanah sasaran di ujung bambu itu?"
"Benar, dan sesudah lulus dengan syarat-syarat itu, harus
dapat bertahan menandingi Ki Wisokolo sampai seribu
hitungan!"
"Aku sudah tahu."
"Dan andika nekat mau ikut?"
"Benar."
Tiga orang perwira itu agaknya merasa kasihan kepada
pemuda remaja yang tampan ini, akan tetapi karena pemuda
itu nekat, merekapun hanya menggerakkan pundak mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siapa nama andika?" tanya seorang dari mereka yang
bertugas mencatat nama-nama para peserta.
"Namaku Joko Wilis."
"Berasal dari mana?"
"Dari lereng Gunung W ilis."
"Baiklah, nama andika sudah kami catat. Tunggu di sana
seperti para peserta lainnya."
Dengan girang Retno Wilis lalu menujuke bawah panggung
di mana sudah berkumpul lima orang pemuda lain. Mereka ini
semua memiliki perawakan yang gagah, tinggi besar dan
nampak kokoh kuat. Ketika lima orang itu melihat Retno Wilis
menghampiri mereka ikut menunggu di situ, mereka
memandang dengan terheran-heran.
"Eh, ki sanak, apakah andika juga ikut menjadi peserta
sayembara?" tanya seorang di antara mereka yang mukanya
penuh kumis jenggot cambang bertubuh tinggai besar dan
matanya terbelalak lebar."
"Benar, ki sanak," jawab Retno Wilis sambil tersenyum.
"Ha-ha-ha-ha!" Si brewok itu tertawa sambil berdongak
sehingga perutnya turun naik ketika dia tertawa. "Ah, kenapa
andika begini nekat" Sayembara ini berat sekali. Baru
mengangkat arca itu saja, mana andika kuat" Jangan-jangan
malah arca batu itu akan jatuh menimpa tubuhmu sehingga
gepeng, ha-ha-ha!" Empat orang peserta lainnya ikut tertawa.
"Jangan andika sekalian menertawakan kisanak ini. Siapa
tahu di tubuhnya yang kecil tersimpan kedigdayaan yang
hebat!" tiba-tiba seorang pemuda yang baru saja masuk
berkata. Agaknya diapun seorang peserta baru yang
mendaftarkan diri sesudah Retno Wilis. Mendengar ucapan itu,
Retno Wilis memandang dan ia melihat seorang pemuda
berusia kurang lebih duapuluh lima tahun, tubuhnya jangkung
agak kurus, wajahnya biasa saja akan tetapi sepasang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
matanya bersinar tajam sekali. Retno Wilis memandang
kepadanya dengan berterima kasih. Akan tetapi hatinya tetap
merasa penasaran karena ia dijadikan bahan ejekan dan
dipandang rendah. Kalau tadinya ia berniat untuk menjadi
peserta yang gagal, kini ia mengambil keputusan untuk
memperlihatkan kepada mereka semua bahwa ia dapat
mengangkat arca batu itu dengan mudah melebihi kekuatan
mereka. Ia juga akan mengikuti ujian memanah sampai
berhasil. Masih belum terlambat baginya untuk mundur
setelah berhadapan dengan Ki Wisokolo, berpura-pura kalah.
Dengan demikian ia tidak akan dicurigai dan akan dapat
melakukan penyelidikan tentang Nusabarung dengan leluasa.
Setelah matahari naik tinggi, pendaftaran dihentikan dan
ternyata jumlah peserta yang mendaftarkan diri ada sepuluh
orang. Setelah pendaftaran ditutup, terdengar bunyi
tetabuhan dan muncullah Sang Adipati Martimpang bersama
lima orang senopatinya dan di sampingnya berjalan isteri
pertamanya dan Dyah Candramanik. Sepuluh orang peserta
sayembara itu memandang kepada Dyah Candramanik dengan
sinar mata kagum. Mereka berbisik-bisik memuji dan
munculnya dara jelita ini membuat semangat mereka menjadi
semakin besar. Retno Wilis dalam kesempatan waktu menanti itu, secara
sambil lalu, memperkenalkan diri kepada para peserta. Ia tahu
siapa adanya mereka itu, akan tetapi hanya si brewok tinggi
besar yang sombong itu dan pemuda yang tadi membelanya
yang menjadi pusat perhatiannya. Si brewok itu bernama
Kalinggo datang dari Blambangan, bahkan dia mengaku
sebagai putera seorang senopati di Blambangan. Adapun
pemuda yang jangkung agak kurus bermata tajam itu
bernama Ngurah Pranawa, seorang peserta yang datang dari
Bali-dwipa. Bukan orangnya yang menarik hati Retno Wilis
untuk mendekatinya, melainkan asa l mereka itulah. Ia hendak
menyelidiki hubungan antara Nusabarung, Blambangan dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bali-dwipa. Ia dapat memancing pembicaraan dengan
Kalinggo tentang keadaan dirinya.
"Tentu aku yang akan menangkan sayembara ini," bual si
tinggi besar brewok itu. "Aku datang dari Blambangan, tentu
akan mendapatkan kehormatan dan perhatian. Apalagi ayahku
seorang senopati terkenal di B lambangan."


Sepasang Garuda Putih Seri Keris Pusaka Sang Megatantra 5 Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Akan tetapi apa hubungannya antara ayahmu menjadi
senopati di Blambangan dengan sayembara ini?" Retno Wilis
mendesak dengan sikap sambil lalu untuk sekedar mengobrol
saja. "Hubungannya
erat sekali!" kata Kalinggo. "Nusabarung
membutuhkan bantuan Blambangan, maka Sang
Adipati tentu akan mempertimbangkan
keadaanku dan akan lebih
senang bermantukan seorang putera senopati
Blambangan dari pada pemuda lain! Andika lihat
saja nanti!"
Retno Wilis sudah merasa puas mendengar
semua itu dan tidak bertanya lagi karena ia khawatir kalau-
kalau pemuda sombong itu akan menjadi curiga, ia lalu
mendekati Ngurah Pranawa yang mengaku sebagai seorang
pemuda dari Bali-dwipa.
"Saudara Ngurah Pranawa, andika datang jauh dari Bali-
dwipa. Ah, sudah lama aku mendengar tentang Bali-dwipa
yang indah, akan tetapi belum pernah aku berkunjung ke
sana. Siapakah yang duduk menjadi raja di tempat andika?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Di Bali-dwipa terdapat banyak raja yang menjadi
sesembahan. Adapun yang berkuasa di tempat tinggal saya
adalah Ki Gusti Ngurah Jelantik yang menjadi raja muda di
Telibeng."
"Andika sendiri putera siapakah?"
"Ah, saya hanya putera seorang pendeta yang tinggal di
lereng bukit, dan saya memang suka merantau. Dalam
perantauan di sini aku mendengar tentang sayembara ini dan
mencoba untuk mengikutinya. Siapa tahu para dewata
menjodohkan saya dengan puteri Sang Adipati."
"Tentu ada hubungan dekat antara para raja di Bali-dwipa
dengan Nusabarung, bukankah begitu, saudara Ngurah
Pranawa?" "Aku hanya mendengar bahwa Adipati di Nusabarung suka
mengirim upeti setiap tahun kepada Dalem Bali (Sribaginda
Raja di Bali), tentu ada hubungan antara Bali-dwipa dan
Nusabarung. Akan tetapi mengapa andika menanyakan hal itu,
saudara Joko Wilis?"
"Ah, hanya ingin tahu saja karena aku merasa heran
mengapa andika jauh-jauh dari Bali-dwipa datang ke sini
memasuki sayembara."
Karena pemuda dari Bali itu mulai tampak curiga, Retno
Wilis tidak bertanya lebih lanjut. Pada saat itu terdengar bunyi
gong dan seorang juru bicara berdiri di atas panggung, lalu
berkata dengan suara lantang.
"Dengan ini kami mengumumkan atas nama Kanjeng Gusti
Adipati bahwa jumlah peserta sayembara ada sepuluh orang.
Dan kini dimulailah syarat pertama dari sayembara ini, yaitu
mengangkat arca raksasa ini sampai melewati kepala.
Dipersilakan para peserta untuk menguji kekuatan masing-
masing satu demi satu. Kami akan memanggil nama peserta
satu demi satu dan yang terpanggil namanya dipersilakan naik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ke panggung dan memperlihatkan kekuatannya. Pertama kami
panggil nama peserta Kalinggo dari B lambangan.
Terdengar tepuk tangan dan sorak sorai menyambut
Kalinggo yang melompat keatas panggung dengan gerakan
yang ringan dan cekatan. Setelah tiba di atas panggung,
Kalinggo menanggalkan baju bagian atas sehingga tampaklah
tubuh atasnya yang kokohkuat, dengan otot besar melingkar-
lingkar. Dia memandang ke arah tempat duduk Dyah
Candramanik seolah-olah hendak memamerkan otot-ototnya
kepada dara jelita itu, akan tetapi Dyah Candramanik
membuang muka, bahkan jijik melihat tubuh yang berotot dan
dada bidang yang berambut itu.
Dengan sikap pongah Kalinggo menghampiri arca batu
sebesar tubuhnya itu, memegang dengan kedua tangannya
dan mencoba beratnya dengan mengangkatnya sedikit.
Kemudian dia memandang kembali ke arah Dyah Candramanik
dan tersenyum. Setelah itu dia membungkuk, memegang arca
itu dan mengerahkan tenaganya mengangkat dan ternyata dia
bukan hanya membual belaka. Arca besar dan berat itu
terangkat oleh kedua tangannya, diangkatnya tinggi-tinggi di
atas kepalanya, lalu dibawanya berkeliling panggung itu, baru
dia turunkan kembali ke tempatnya yang tadi. Tepuk sorak
menyambutnya dan tampaknya dada raksasa muda brewok
dari Blambangan itu semakin membesar dan membengkak.
Dengan jari-jari tangannya, dia mengusap peluh yang
membasahi leher dan dadanya.
"Peserta Kalinggo telah lulus dari ujian kekuatan. Harap
turun dari panggung dan kami panggil nama peserta Purwanto
dari Pasuruan!"
Dari bawah meloncat seorang pemuda yang juga bertubuh
tinggi tegap seperti Raden Gatotkaca, dan para penonton juga
menyambutnya dengan tepuk sorak. Pemuda ini membungkuk-bungkuk tanda menghormati semua orang yang
menyambutnya dengan tepuk sorak, kemudian dia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghampiri arca raksasa tanpa membuka bajunya. Dia
memeluk arca itu dan mengerahkan tenaganya. Arca
terangkat, akan tetapi ketika dia hendak mengangkat arca itu
ke atas kepalanya, kedua lengannya gemetar dan terpaksa dia
melepaskan lagi arca itu ke atas panggung. Dia mencoba
sekali lagi, akan tetapi kembali dia gagal. Ternyata tenaganya
tidak cukup untuk mengangkat arca itu ke atas kepalanya!
Dengan tersipu dia mendengarkan juru bicara mengumumkan
bahwa dia gagal, lalu dia turun dari atas panggung. Penonton
menyambutnya dengan tawa mengejek.
Berturut-turut para peserta dipersilakan naik dan akhirnya
nama Joko Wilis dipanggil sebagai peserta terakhir.
Kebanyakan dari para peserta gagal mengangkat arca itu dan
yang berhasil hanya Kalinggo, Ngurah Pranawa dan dua orang
lagi. Jadi empat orang sudah berhasil mengangkat arca itu di
atas kepala. "Kini peserta terakhir, Joko Wilis dari Gunung W ilis kami
persilakan naik panggung!"
demikian juru bicara mengumumkan. Para peserta, baik yang berhasil maupun
yang tidak, sudah tertawa sebelum Retno Wilis me loncat naik.
Melihat betapa wajah mereka tertawa-tawa memandang
kepadanya, makin panaslah hati Retno W ilis. Apa lagi
mendengar Kalinggo berkata sambil menyeringai.
"Hati-hati, kawan. Jangan-jangan arca itu akan menghimpit
tubuhmu sampai gepeng!"
Retno Wilis tidak memperdulikan lagi ejekan mereka, dan
iapun meloncat ke atas panggung. Sambutan para penonton
tidak jauh bedanya dari sambutan para peserta sayembara
tadi. Banyak di antara penonton yang tertawa melihat pemuda
remaja yang kelihatan lemah dengan kedua lengan kecil itu
naik ke panggung.
"Heiii, bocah cilik begitu mau ikut-ikutan sayembara?"
teriak seseorang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bocah yang masih hijau! Lebih baik engkau pulang kepada
ibumu!" ejek yang lain.
Para penonton banyak yang tertawa mendengar ini dan
memandang kepada Retno Wilis dengan senyum menyejek
atau senyum kasihan. Semua orang menduga bahwa pemuda
remaja itu tentu tidak akan mampu mengangkat arca yang
demikian beratnya. Lima orang di antara para peserta yang
bertubuh kuat, dengan lengan yang besar berotot, tidak kuat
mengangkat arca itu, apa lagi pemuda remaja yang kedua
lengannya kecil dan tampak lemah itu.
Makin diejek dan ditertawakan, makin panaslah hati Retno
Wilis dan ia lupa bahwa ia mengikuti sayembara hanya
sebagai sarana agar ia dapat melakukan penyelidikan dengan
leluasa saja. Kini ia mengambil keputusan untuk memberi
pelajaran kepada mereka semua yang mencemoohkannya
dengan memperlihatkan kepandaiannya yang hebat! Biarlah,
aku mengalahkan mereka semua dalam ujian kekuatan dan
kepandaian memanah, baru nanti kalau diharuskan bertanding
melawan Ki W isokolo ia akan mengalah agar ia tidak lulus
dalam sayembara itu!
Ia memandang ke sekeliling dan ketika pandang matanya
bertemu denganwajah Dyah Candramanik, ia melihat bahwa
dara jelita itu sama sekali tidak ikut menertawakannya,
bahkan memandang kepadanya dengan sinar mata tajam dan
seolah mengandung harapan agar ia berhasil! Maka iapun
membungkuk dengan hormat kearah puteri itu. Hal ini
menyenangkan hati Sang Adipati dan keluarganya yang
mengira bahwa pemuda remaja itu memberi hormat kepada
mereka. "Seorang pemuda yang pandai membawa diri dan
tahu sopan santun," pikir mereka.
Retno Wilis lalu menghampiri arca itu. Dengan kedua
tangannya ia mencoba dulu berat arca itu. Karena hanya
mengangkatnya sedikit saja, semua orang melihat bahwa dia
seakan-akan tidak kuat mengangkatnya. Orang-orang sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mulai tertawa-tawa lagi penuh ejekan. Akan tetapi, suara
ejekan dan semua suara tiba-tiba terhenti sama sekali, semua
mata terbelalak memandang ketika Retno Wilis mengangkat
arca batu itu dengan sebelah tangan saja ke atas kepalanya!
Mula-mula tangan kanannya yang mengangkat arca itu, lalu
dilontarkannya ke atas, diterimanya dengan tangan kiri dan ia
membawa arca itu berkeliling panggung, bukan satu kali,
melainkan tiga kali! Setelah suasana hening sejenak dan
orang-orang memandang dengan mata terbelalak tidak
percaya, baru setelah Retno Wilis me letakkan kembali arca
ditempat semula, pecah sorak sorai yang riuh rendah
menggetarkan seluruh alun-alun itu. Bahkan Sang Adipati,
isterinya dan Dyah Candramanik juga ikut pula bertepuk
tangan. Wajah Dyah Candramanik berseri-seri dan kedua
telapak tangannya sampai terasa panas karena ia bertepuk
keras-keras dan lama.
Suara juru bicara hampir tertelan oleh sisa sorak sorai
gemuruh itu. "Peserta ke sepuluh, Joko Wilis, dinyatakan berhasil dengan
ujian kekuatan dan ia dipersilakan turun dulu dari panggung.
Dengan demikian, yang berhasil lulus tingkat pertama ada
lima orang peserta sayembara. Sekarang tiba saatnya
diadakan ujian tingkat kedua bagi lima orang yang telah lulus
tadi. Dimulai dari peserta pertama, Kalinggo dari Blambangan,
untuk memperlihatkan ketangkasannya melepas anak panah
agar mengenai sasaran, yaitu buah kelapa yang berada di
ujung bambu. Diharapkan para peserta dapat meruntuhkan
buah kelapa sehingga jatuh ke bawah, dan sedikitnya anak
panah harus mengenai buah kelapa, baru di anggap lulus!"
Dengan sikapnya yang sombong, Kalinggo naik pula ke atas
panggung. Dia memilih busur yang terbesar dan terberat
karena busur seperti itu, makin berat semakin baik dan
semakin cepat meluncurkan anak panah. Diapun memilih
sebatang anak panah yang lurus, kemudian memasang anak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
panah pada busurnya dan mulailah dia membidik ke atas, ke
arah buah kelapa yang tergantung di ujung bambu. Ada
sepuluh buah kelapa yang tergantung di sepuluh batang
pohon bambu. Dia memilih yang terdekat dan setelah
membidik beberapa saat, dia lalu melepaskan tali busurnya.
Anak panah itu melesat dengan cepat sekali dan menancap di
buah kelapa itu, presis di tengah-tengahnya! Sorak sorai
menyambut keberhasilan ini dan dengan mengangkat dada
Kalinggo menuruni panggung. Dua orang peserta berturut-
turut mencoba dan mereka hanya berhasil mengenai buah
kelapa pada s isinya karena buah kelapa itu bergoyang-goyang
ketika batang bambu tertiup angin. Mereka dinyatakan gagal
karena sedikitnya harus dapat mengenai buah kelapa tepat di
tengah-tengahnya.
Kini tiba giliran Ngurah Pranawa, pemuda dari Bali-dwipa.
Dia memegang busur seperti seorang ahli, bidikannya tetap,
tangannya tidak bergoyang sedikitpun dan ketika anak
panahnya melesat, anak panah itu pun telah menusuk sebutir
kelapa tepat di tengahnya. Jadi ada dua orang yang sudah
berhasil lulus ujian kedua.
Ketika nama Joko Wilis disebut dipersilakan naik, para
penonton kini tidak ada yang menertawakannya, bahkan
mereka bersorak sorai menyambut karena dalam pandangan
mereka, Joko Wilis kini menjadi yang terhebat di antara


Sepasang Garuda Putih Seri Keris Pusaka Sang Megatantra 5 Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mereka semua. Sambutan para penonton ini membanggakan hati dan
membesarkan semangat Retno Wilis untuk menang. Akan ia
perlihatkan sekali lagi kehebatannya, pikirnya, agar jangan
ada lagi orang berani memandang rendah kepadanya!
Ia memilih gendewa yang kecil saja, lalu memasang dua
batang anak panah pada busurnya, membidik cepat dan
begitu dua batang anak panah melesat ke atas, semua orang
memandang dan menahan napas dan kembali mereka
bersorak sorai ketika melihat dua butir buah kelapa jatuh dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
puncak batang-batang bambu. Ternyata sekali melepas dua
anak panah, Joko Wilis telah dapat menjatuhkan dua butir
buah kelapa, dua batang anak panah itu tepat mengenai
tangkai buah kelapa! Kembali Dyah Candramanik bertepuk
tangan sampai terasa panas dan kelelahan. Juga Sang Adipati
mengangguk-angguk dan harus memuji ketangkasan pemuda
remaja itu. Suara juru bicara tidak terdengar sama sekali, lenyap
ditelan sorak sorai yang menggegap gempita. Baru sete lah
sorak sorai mereda dan Retno Wilis sudah turun kembali dari
panggung, juru bicara mengumumkan hasil ujian itu.
"Peserta Joko Wilis telah lulus dengan sempurna sekali. Kini
yang telah lulus dari uji kekuatan dan ketangkasan terdapat
tiga orang, yaitu Kalinggo dari Blambangan, Ngurah Pranawa
dari Bali-dwipa, dan Joko Wilis dari Gunung Wilis. Dan
sekarang tiba saatnya bagi mereka untuk menghadapi ujian
terakhir, yaitu masing-masing harus mampu bertahan
melayani berkelahi dengan Ki Wisokolo selama hitungan
sampai seribu. Dalam uji tanding ini, tidak boleh
menggunakan senjata dan apabila terjadi ada yang terluka
atau bahkan tewas dalam pertandingan ini, hal itu sudah
dianggap wajar dan tidak akan diadakan pengadilan. Kita
mulai dari peserta pertama, Kalinggo dari B lambangan!"
Ki W isokolo sudah menanti di atas panggung. Seorang laki-
laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun, tinggi besar
seperti Werkudara, kumisnya melintang sekepal sebelah,
pundaknya bidang, kedua lengannya kekar, demikian pula
kedua kakinya. Inilah senopati nomor satu di Nusabarung,
juga jagoan yang tak pernah terkalahkah! Sambil bersikap
tenang Ki Wisokolo menoleh ke arah para penabuh gamelan
dan memberi isyarat agar gamelan dibunyikan. Segera
terdengar bunyi gamelan yang bernada gagah, pengiring
perang! Ki W isokolo berdiri dengan kedua kaki terpentang
lebar, kedua tangan bertolak pinggang dan matanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencorong memandang kepada Kalinggo ketika jagoan dari
bambangan ini naik ke pentas. Ki Wisokolo mengangguk
ramah kepada Kalinggo karena dia mengenal putera
senopatiBlambangan ini, dan dalam hatinya diasudah condong
memenangkan jagoan muda dari Blambangan ini agar dapat
berjodoh dengan Dyah Candramanik. Akan tetapi bagaimanapun juga, dia harus menguji kepandaian pemuda ini
untuk melihat apakah memang patut menjadi mantu Sang
Adipati. Juru bicara memberi aba-aba, "Satu- dua - tiga , mulai!"
dan diapun dengan lantang mulai menghitung, "Satu - dua -
tiga - empat -" dan seterusnya sementara gamelan dipukul
bertalu-talu membuat suasana menjadi semakin bersemangat.
"Mulailah, anak mas Kalinggo!" kata Ki Wisokolo dan
Kalinggo tidak sungkan-sungkan lagi segera maju menyerang
dengan pukulan yang kuat. Akan tetapi Ki W isokolo dengan
mudah mengelak sambil membalas dengan sapuan kakinya
untukmembuat tubuh lawan terpelanting. Akan tetapi Ka linggo
cukup tangkas untuk mengelak pula. Kemudian Kalinggo
menyerang terus bertubi-tubi, ditangkis atau dielakkan oleh Ki
Wisokolo, bahkan kadang dia menerima pukulan itu dan
dengan tubuhnya yang kebal. Sementara itu, juru bicara terus
menghitung dengan suara lantang.
Retno Wilis ikut nonton pertandingan itu dan ia
mengerutkan alisnya. Di sini terjadi kecurangan, pikirnya. Dari
ketangkasannya ketika mengelak dan menangkis, juga
kekebalannya, jelas bahwa tingkat kepandaian Wisokolo jauh
lebih tinggi dari pada Kalinggo. Akan tetapi Ki Wisokolo ini
hanya mempertahankan diri saja, jarang sekali menyerang
dan kalau menyerangpun tidak dengan sungguh-sungguh.
Jelas tampak olehnya bahwa Ki W isokolo agaknya hendak
memberi kesempatan kepada Kalinggo untuk memenangkan
sayembara itu! Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, Kalinggo menjadi penasaran sekali dan dia
mengamuk makin hebat. Segala kepandaian dan tenaganya
dikerahkan untuk menyerang dan merobohkan lawan, namun
semua usahanya sia-sia. Sampai basah seluruh tubuhnya oleh
keringat dan sampai hitungan ke delapanratus, napasnya
sudah terengah-engah. Namun dia terus menyerang,
walaupun tidak lagi sehebat tadi. Dalam keadaan ini, kalau Ki
Wisokolo hendak merobohkan lawannya, tentu saja amat
mudah. Akan tetapi dia tidak ingin merobohkan lawan yang
satu ini. Ketika hitungan sampai ke seribu, Ki Wisokolo meloncat ke
belakang dan tersenyum menyeringai, memandang kepada
Kalinggo yang sudah bermandi keringat dan napasnya
terengah-engah. Akan tetapi dia lulus dan penonton
menyambutnya dengan sorak sorai memuji. Kalinggo
mengangkat kedua tangan ke atas saking gembiranya. Dia
lulus ujian, berarti dia telah menang dalam sayembara. Akan
tetapi masih ada dua orang peserta lain! Harus dilihat dulu
bagaimana hasil ujian kedua peserta ini. Menurut peraturan,
kalau pemenangnya lebih dari seorang, maka kedua
pemenang itu akan diadu dan siapa yang keluar sebagai
pemenang dialah yang dianggap memenangkan sayembara
dan mendapatkan hadiahnya.
"Peserta Kalinggo telah lulus ujian terakhir, harap menanti
di bawah panggung dan kini dipersilakan peserta Ngurah
Pranawa untuk maju menandingi Ki Wisokolo selama seribu
hitungan!"
Ngurah Pranawa lalu meloncat ke atas panggung, disambut
sorak sorai penonton, terutama yang menjagoi pemuda dari
Bali-dwipa ini. Ki Wisokolo sudah siap lagi dan mempersilakan
pemuda Bali itu untuk mulai menyerangnya, sementara juru
bicara mulai menghitung dari satu dan seterusnya.
Ngurah Pranawa segera maju menyerang, disambut
dengan tangkisan oleh Ki W isokolo. Terjadi pertandingan yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seru seperti juga tadi ketika Ki Wisokolo menguji Kalinggo.
Akan tetapi Retno W ilis me lihat bahwa pertandingan kali ini
berbeda dari tadi. Kalau tadi K i W isokolo hanya bertahan saja,
sekarang dia membalas setiap serangan Ngurah Pranawa.
Retno Wilis tahu bahwa tingkat kepandaian Ngurah Pranawa
masih belum mampu menandingi kepandaian Ki Wisokolo.
Biarpun Ngurah Pranawa juga kuat dan gesit, namun setelah
hitungan ke enamratus lebih, tiba-tiba sebuah tendangan kaki
Ki W isokolo mengenai perutnya dan membuat tubuhnya
terpental keluar panggung. Ngurah Pranawa dapat mengatur
keseimbangan tubuhnya sehingga tidak terbanting dan dapat
jatuh sambil berdiri. Akan tetapi sudah jelas bahwa dia telah
gagal dalam pertandingan itu.
"Peserta Ngurah Pranawa telah gagal menandingi Ki
Wisokolo sampai seribu hitungan. Dan sekarang tinggal
peserta terakhir, yaitu Joko Wilis dipersilakan naik ke
panggung untuk bertanding melawan Ki W isokolo!"
Belum juga Retno Wilis naik ke panggung, tepuk sorak
sorai penonton sudah menyambut ketika namanya disebut.
Retno Wilis melompat naik ke atas panggung sambil
tersenyum. Ada keraguan dalam hatinya. Mestinya ia
mengalah dalam pertandingan ini, akan tetapi, ia merasa
kasihan kalau mengecewakan penonton yang demikian banyak
mendukungnya itu.
Setelah berhadapan dengan Ki W isokolo dan sorak sorai
penonton mereda, Retno Wilis berkata dengan suara lantang
kepada Ki Wisokolo, "Paman, andika telah dua kali melayani
dua orang peserta, tentu telah lelah sekali. Tidak adil kalau
sekarang harus melayani aku pula. Sebaiknya paman
beristirahat dan minum-minum dulu sebelum bertanding lagi."
Ki Wisokolo tertawa. Dia sama sekali tidak merasa lelah.
Untuk apa dia beristirahat" Apa lagi kalau hanya menghadapi
seorang pemuda remaja seperti ini. Dalam segebrakan saja
tentu dia akan mampu meroboh kan pemuda ini. Dan dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
harus merobohkannya kalau dia hendak melihat Kalinggo dari
Blambangan itu yang menang.
"Ha-ha-ha, Joko Wilis. Biar harus menghadapi lima orang
seperti andikapun aku tidak perlu beristirahat dulu. Apalagi
hanya andika seorang. Jangan-jangan sekali tendang aku
sudah akan melemparkanmu keluar panggung! Ha-ha-ha!"
Merah kedua pipi Retno Wilis. Ia sudah mengambil
keputusan untuk mengalah sekali ini, akan tetapi ucapan Ki
Wisokolo yang sombong itu membuatnya marah sekali. Ia
harus memberi pelajaran kepada manusia sombong ini,
pikirnya. "Hemm, sombongnya! Kalau aku tidak dapat mengalahkanmu selama hitungan seratus saja, anggaplah aku
kalah!" Ucapan yang lantang ini tentu saja membuat semua orang
terkejut sekali. Melawan selama hitungan seribu saja belum
tentu dapat menang, sekarang pemuda itu malah menantang
untuk mengalahkan dalam hitungan seratus!
Seorang di antara para penonton, seorang pemuda tampan
berpakaian serba putih, mengerutkan alisnya dan berkata
kepada diri sendiri, "Hemm, ia mencari penyakit!" Pemuda ini
tentu saja adalah Bagus Seto yang merasa bingung sekali
melihat ulah adiknya. Dia maklum bahwa tentu Retno Wilis
akan dapat mengalahkan Ki Wisokolo sebelum hitungan ke
seratus, akan tetapi itu berarti bahwa ia menangkan
sayembara dan harus menikah dengan Dyah Candramanik!
Ki W isokolo sendiri terperangah mendengar tantangan itu.
Dia menganggap pemuda itu sombong bukan main. "Bukan
aku, melainkan engkaulah yang akan kurobohkan sebelum
seratus hitungan!" katanya dan segera dia menubruk maju
dengan kedua lengan dipentang, seperti seekor biruang
menyerang korbannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ggrrr ... !" Dari kerongkongannya keluar gerengan seperti
seekor binatang buas.
"Haiiiiiitt ... !" Retno Wilis berseri melengking dan tubuhnya
sudah lenyap dari depan Ki Wisokolo. Raksasa ini terkejut dan
cepat memutar tubuhnya. Ternyata pemuda remaja itu telah
berada di belakangnya dan dia lalu menyerang lagi dengan
cepat dan dahsyat. Akan tetapi lagi-lagi dia menyerang angin
karena tubuh Retno W ilis sudah mengelak dengan cepat. Ki
Wisokolo menjadi marah dan menyerang membabi buta,
dengan cepat dan dengan pengerahan seluruh tenaganya.
Namun, sambil kadang-kadang melengking Retno Wilis
mengelak dengan gerakan yang indah dan lucu, bagaikan
seekor burung walet yang gesit sekali sehingga semua
serangan Ki Wisokolo mengenai angin belaka.
Sementara itu, juru hitung sudah menghitung sampai
tigapuluh, dan semua penonton terpesona oleh gerakan Retno
Wilis yang demikian cepatnya. Jangankan tubuhnya, ujung
bajunyapun tidak dapat disentuh oleh Ki Wisokolo yang
menjadi semakin marah. Mulailah para penonton tertawa dan
bersorak ketika tiba-tiba kaki Retno Wilis menendang pantat
lawannya. Debu mengebul dari pantat yang ditendang dan
tubuh Ki Wisokolo terhuyung ke depan.
"Aku di sini, Ki W isokolo!" kata Retno Wilis mengejek ketika
lawannya mencari-carinya. Begitu tahu bahwa pemuda itu
berada di belakangnya, Ki Wisokolo membalikkan tubuhnya
sambil memukul-mukul dengan kedua tangannya diseling
tendangan-tendangan kedua kakinya. Namun, semua pukulan
dan tendangan itu tidak ada yang mengenai tubuh Retno Wilis
yang berlompatan ke sana sini untuk menghindar. Kembali
tangannya menampar, sekali ini mengenai belakang telinga
raksasa itu. "Aduh ... !" Ki Wisokolo berseru dan tubuhnya berputar-
putar. Akan tetapi dia masih dapat mengatur keseimbangan
sehingga tidak roboh dan kini matanya terbelalak liar dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi merah. Hitungan sudah sampai enampuluh dan dia
sama sekali belum mampu menyentuh pemuda itu, bahkan dia
telah merasakan sekali tendangan dan sekali tamparan!
"Bedebah!" bentaknya dan kini tubuhnya bergulingan ke
arah Retno Wihs, terus menubruk. Dielakkan, menubruk lagi
seperti seekor harimau kelaparan. Keringatnya bercucuran,
napasnya terengah-engah karena dia telah mengerahkan
seluruh tenaganya.
"Ah, keringatmu bau, lekas pergi dari sini!" tiba-tiba Retno
Wilis berseru dan begitu kakinya menendang, kini dengan
pengerahan tenaga, kaki kiri itu telah bertemu dengan dada Ki
Wisokolo. "Bukk ... !!"
"Aughh ... !" Ki
Wisokolo mengeluarkan teriakan nyaring dan
tubuhnya melayang,
terlempar keluar panggung dan jatuh
berdebuk

Sepasang Garuda Putih Seri Keris Pusaka Sang Megatantra 5 Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

di atas tanah di bawah panggung. Kawan- kawannya segera menolong dan menggotongnya karena dia telah jatuh pingsan! Sorak sorai gegap
gempita menyambut
kemenangan Joko Wilis
ini. Hitungan baru sampai
delapanpuluh dan jagoan nomor satu dari Nusabarung itu
telah roboh. Retno Wilis tersenyum dan memandang kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keluarga Sang Adipati. Ia melihat Dyah Candramanik bangkit
dari kursinya dan bertepuk tangan dengan wajah berseri-seri.
"Cari penyakit ... !" Kembali Bagus Seto berkata kepada diri
sendiri melihat Retno Wilis mengalahkan Ki Wisokolo seperti
yang sudah disangkanya tadi.
Sementara itu, sukarlah bagi juru bicara untuk membuat
pengumuman karena penonton yang begitu gaduh membicarakan pertandingan yang baru saja mereka tonton.
Mereka semua begitu kagum kepada Joko Wilis, pemuda yang
kelihatan masih remaja dan tampak lemah itu.
Akhirnya, setelah berdiri di atas panggung dan melambai-
lambaikan tangan memberi isyarat kepada semua penonton
agar jangan gaduh, juru bicara itu dapat mengelukan kata-
kata yang lantang.
"Peserta Joko Wilis dinyatakan lulus dengan sempurna.
Karena sekarang ternyata ada dua orang peserta yang lulus,
yaitu Joko Wilis dan Kalinggo, maka sesuai dengan peraturan
yang berlaku, kini akan diadakan pertandingan antara kedua
orang pemenang itu. Siapa di antara mereka berdua yang
keluar sebagai pemenang, dinyatakan memenangkan sayembara ini!"
Ucapan ini disambut sorak sorai dari para penonton yang
menjadi gembira sekali karena mereka kembali akan
menonton pertandingan yang tentu akan hebat sekali. Ada
yang menjagoi Kalinggo, akan tetapi ada banyak pula yang
menjagoi Joko Wilis sehingga diantara mereka ada yang
bertaruhan! "Kini dipersilakan peserta Kalinggo dari B lambangan naik ke
panggung untuk bertanding me lawan Joko Wilis dari Gunung
Wilis!" Juru bicara berteriak kembali lalu turun dari panggung.
Kalinggo naik ke panggung dan membusungkan dadanya.
Biarpun dia melihat sendiri betapa Ki Wisokolo dikalahkan
pemuda itu, namun dia tidak merasa gentar. Bahkan dia yakin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan mampu mengalahkan pemuda yang kecil itu. Dia harus
membikin gentar nyali pemuda itu, pikirnya. Begitu
berhadapan dengan Retno Wilis yang memandangnya dengan
senyum simpul, Kalinggo berkata dengan suara lantang, "Joko
Wilis, ini adalah sebuah pertandingan untuk menentukan siapa
yang menjadi pemenang di antara kita. Karena itu, kalau ada
kulit robek dan tulang patah, jangan salahkan aku!"
Retno Wilis tersenyum. Pada saat itu, Retno Wilis meraba
paha kirinya. Ada kerikil kecil sekali mengenai paha kirinya dan
ia tahu apa artinya itu. Kakaknya sudah berada di situ! Dan
kakaknya tentu hendak memperingatkan kepadanya agar ia
tidak berlaku kejam terhadap lawan, tidak boleh membunuh!
Ia tersenyum dan mengangguk ke arah dari mana datangnya
kerikil kecil tadi.
"Jangan khawatir! Aku tidak akan merobek kulitmu atau
mematahkan tulangmu!" Retno Wilis
berkata sambil memandang kepada Kalinggo, akan tetapi sebetulnya ia
menujukan kata-katanya itu kepada Bagus Seto.
"Payah, ia benar-benar mencari penyakit!" kembali Bagus
Seto mengeluh karena dalam ucapan Retno Wilis itu dia dapat
menduga bahwa tentu Retno Wilis tidak mau mengalah. Kalau
keluar dari sayembara sebagai pemenang, engkau akan
dikawinkan dengan Dyah Candramanik dan baru engkau tahu
sendiri betapa bingungnya engkau! Demikian Bagus Seto
berkata kepada dirinya sendiri.
Sementara itu, mendengar jawaban Retno Wilis, Kalinggo
sudah menjadi marah sekali. Dia menggosok-gosok kedua
telapak tangannya yang perlahan-lahan berubah kemerahan
seperti berdarah. Itulah Aji Hasta-rudita (Tangan Berdarah)!
Pukulan dari tangan merah itu sungguh hebat dan mengerikan
karena berhawa panas dan kalau mengenai tubuh orang,
tubuh itu dapat menjadi hangus seperti dibakar api!
Akan tetapi Retno Wilis yang melihat itu hanya tersenyum
saja, seolah ia tidak tahu akan keampuhan telapak tangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
darah itu. Ia malah tersenyum dan bertanya, "Eh, Kalinggo,
engkau ingin roboh dalam hitungan ke berapa?"
"Untuk pertandingan ini tidak memakai hitungan. Akan
tetapi aku akan merobohkanmu secepat mungkin!" kata
Kalinggo dan dia mengeluarkan teriakan yang mengguncang
tempat itu, kemudian bagaikan seekor srigala, dia sudah
menyerang dengan kedua tangan terbuka seperti hendak
mencengkeram ke arah kepala Retno Wilis!
"Haiiiiittt ... !" Retno Wilis berseru dan Kalinggo sudah
kehilangan lawannya. Begitu cepat gerakan Retno Wilis
sehingga dia tidak melihat kemana lawannya berkelebat.
Tahu-tahu Retno Wilis sudah berada di belakangnya. Dia
membalik dan menyerang lagi, makin lama serangannya
semakin cepat dan kuat. Akan tetapi semua itu tidak ada
gunanya karena tidak ada yang dapat mengenai tubuh
pemuda remaja itu. Ketika Kalinggo mempergunakan
kecepatan, tubuh Retno Wilis berkelebatan sehingga yang
tampak hanya bayangannya saja.
Kalinggo menghentikan serangannya dan berdiri dengan
napas memburu dan mata melotot marah. "Bukan laki-laki
kalau hanya mengelak saja!" bentaknya. "Kalau memang
berani, hayo hadapi seranganku dengan tangkisan, jangan
hanya berlari seperti seorang pengecut!"
Mendengar ini, Retno Wilis mengerutkan alisnya. "Kalinggo,
manusia tak tahu diri. Kaukira aku takut menghadapi
pukulanmu" Nah, seranglah, aku tidak akan mengelak lagi!"
Kalinggo mengerahkan tenaga dalam dikedua telapak
tangannya yang merah dan dia sudah girang sekali. Kalau
lawannya itu menangkis, tentu akan celaka. Bertemu dengan
tangan merahnya, tentu tangan pemuda itu akan hangus dan
dia akan keluar sebagai pemenangnya. Dia menubruk dan
mencengkeram dengan kedua tangannya. Gerakannya cepat
dan kuat sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan tenang Retno Wilis menangkis dengan kedua
tangannya pula, gerakannya memutar dari kiri ke kanan.
Dalam gerakan menangkis ini iapaun mengerahkan Aji
Wisolangking dan hanya tampak sinar hitam ketika kedua
tangannya menangkis.
"Plak-dukk ... !" Tangkisan itu sedemikian kuatnya dan aji
Wisolangking dapat menahan pengaruh Hasta-rudita, dan
akibatnya, tubuh Kalinggo terpelanting dan terhuyung hampir
saja roboh. Bukan main kagetnya Kalinggo. Lawannya benar-
benar dapat menangkisnya, bahkan tangkisan itu mengandung tenaga yang demikian kuatnya sampai dia
hampir roboh. Penonton bersorak riuh rendah ketika Kalinggo
terpelanting itu, terutama mereka yang bertaruh memihak
Retno Wilis. Sebaliknya yang memihak Kalinggo menjadi pucat
wajahnya dan memandang penuh kekhawatiran.
Karena maklum bahwa pemuda remaja itu benar-benar
amat tangguh, Kalinggo menjadi nekat dan kembali dia
menyerang, sekali ini dia menggunakan kedua tangan, yang
kanan menghantam ke arah dada lawan, yang kiri menyusul
mencengkeram ke arah muka.
Tenang saja Retno Wilis menyambut serangan ini. Pukulan
tangan kanan ditangkisnya dengan tangan kiri, sedangkan
cengkeraman tangan kiri itu disambutnya dengan tangkapan
pada pergelangan tangan. Ketika ia mengerahkan tenaga
dalam tangkapan itu, Kalinggo berteriak kesakitan. Seperti
remuk rasa pergelangan tangan kirinya yang ditangkap tangan
pemuda itu. Pada saat itu, Retno Wilis menendang ke arah lutut, tidak
kuat benar akan tetapi cukup membuat Kalinggo terpelanting
dan roboh bertekuk lutut.
"Ah, sudahlah, tidak perlu berlutut minta ampun!" kata
Retno Wilis dan para penonton bersorak gembira, ada yang
tertawa melihat betapa Kalinggo jatuh berlutut seperti hendak
minta ampun kepada pemuda remaja yang lincah itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kalinggo adalah seorang jagoan yang jarang menerima
kekalahan seperti itu. Dia merasa dipermainkan dan terhina
sekali, maka dia menggunakan kesempatan sekali lagi Retno
Wilis lengah, tiba-tiba dalam keadaan berlutut itu dia
menubruk ke depan dan sudah berhasil menangkap kaki
kanan Retno Wilis. Dengan girang dia mengerahkan tenaga
untuk menarik kaki itu dan membuat tubuh lawan terbanting.
Akan tetapi dia tidak mengenal siapa Retno Wilis! Cepat dara
perkasa ini menggunakan aji Argo-selo (Batu Gunung) dan
tubuhnya menjadi seberat batu gunung sehingga betapapun
Kalinggo mengerahkan tenaganya, kaki yang kecil itu tidak
tergeser sedikitpun juga! Para penonton kini terdiam, mengira
bahwa pemuda remaja itu tentu akan celaka melihat kakinya
sudah tertangkap Kalinggo. Akan tetapi mereka melihat
Kalinggo ber-ah-uh-uh mengerahkan tenaga menarik, namun
tetap saja pemuda itu tidak bergerak. Kaki itu seolah telah
berakar pada papan panggung. Selagi Kalinggo bersusah
payah mengerahkan segala tenaganya, kaki kiri Retno Wilis
menyambar, mengenai jalan darah pundaknya sehingga
seketika Kalinggo merasa kedua tangannya lemas tak
bertenaga dan tangkapannya terlepas. Retno Wilis menendang
lagi dan tubuh Kalinggo melayang, terlempar keluar
panggung. Tepuk sorak sekali ini menggegap gempita, membuat
panggung seolah-olah akan ambruk. Dyah Candramanik juga
bangkit berdiri dan bertepuk tangan. Baru setelah Sang
Adipati Martimpang sendiri yang naik ke atas panggung dan
memberi isyarat dengan tangannya agar semua orang diam,
suasana menjadi hening dan suara adipati itu terdengar
lantang. "Dengan ini kami umumkan bahwa pemenang sayembara
ini adalah Joko Wilis dari Gunung Wilis!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kembali sorak sorai pecah dan semua penonton bersorak-
sorak, kecuali mereka yang kalah dan terpaksa membayar
kepada lawan bertaruh. Sang Adipati menghadapi Retno Wilis.
"Andika telah menangkan sayembara, dan berhak
menerima hadiah yang disayembarakan."
Retno Wilis merasa tengkuknya meremang. baru sekarang
ia teringat bahwa pemenang sayembara akan dijodohkan
dengan Dyah Candramanik dan kelak menggantikan
kedudukan adipati di Nusabarung! Ia cepat memberi hormat
kepada Adipati Martimpang dan berkata dengan gagap. "Akan
tetapi saya ... saya tidak ... menghendaki hadiah ... "
Kata-kata ini bahkan menyenangkan hati sang adipati,
karena dianggapnya pemuda ini rendah hati. Pemuda yang
sudah mengalahkan Ki Wisokolo, senopatinya yang paling
tangguh! Pantas menjadi mantunya. Juga pemuda ini amat
tampan, seperti Arjuna sehingga serasi sekali kalau menjadi
suami puterinya yang cantik, Dyah Candra-manik.
"Berdirilah dan mari andika ikut dengan kami masuk ke
kadipaten, di sana kita bicara!" perintahnya.
Retno Wilis menjadi bingung. Akan tetapi tak mungkin ia
melarikan diri begitu saja. Ia justeru hendak mengadakan
penyelidikan sehingga sebetulnya baik sekali kalau ia diterima
masuk ke kadipaten. Akan tetapi bagaimana nanti kalau ia
harus menikah dengan Dyah Candramanik" Ia masih belum
dapat memikirkan bagaimana baiknya dan baru sekarang ia
teringat akan kata-kata kakaknya. Bahkan kakaknya tadi telah
memberi peringatan dengan sambitan kerikil kecil. Tentu
maksud kakaknya agar ia mengalah sehingga tidak menjadi
pemenang sayembara. Akan tetapi bagaimana ia dapat
mengalah menghadapi Kalinggo yang demikian sombong" Ah,
biarlah ia mengikuti saja kehendak sang adipati. Tentang
pernikahan itu bagaimana nanti saja. Ia akan melihat
perkembangannya. Sewaktu-waktu ia dapat meloloskan diri.
Kalau sekarang, di mana terdapat demikian banyaknya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perajurit dan para penonton, sulit rasanya untuk melarikan
diri. Juga kalau ia melarikan diri sekarang, bagaimana dengan
penyelidikannya"
Adipati Martimpang tiba di tempat di mana dia tadi duduk
bersama isteri dan puterinya. Dyah Candramanik menyambut


Sepasang Garuda Putih Seri Keris Pusaka Sang Megatantra 5 Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ke datangan ayahnya dengan muka kemerahan. Ia hanya
mengerling sekali kepada Retno Wilis, lalu menundukkan
muka dengan ke malu-maluan. Setelah kini berhadapan
dengan Dyah Candramanik, Retno Wilis harus mengakui
bahwa gadis itu cantik sekali. Wanita setengah tua yang
duduk di dekatnya itu tentulah ibunya karena wanita itupun
amat cantik. Adipati Martimpang mengajak mereka semua memasuki
gedung, diiringkan oleh para perajurit pengawal. Retno Wilis
berjalan di belakang, dan ia memandang ke kanan kiri ketika
memasuki ruangan depan pendopo gedung itu. Sebuah istana
yang cukup mewah.
Setelah tiba di ruangan dalam, Adipati Martimpang duduk
di atas kursi bersama para isterinya yang sudah keluar
menyambut Dyah Candramanik juga duduk di dekat ibunya.
Retno Wilis menghadap dan duduk bersila di atas lantai.
"Joko Wilis," kata sang adipati dengan ramah, "sesuai
dengan isi sayembara, andika yang telah lulus dengan baik
akan kami jodohkan dengan puteriku ini, Dyah Candra manik."
Retno Wilis mengangkat muka memandang ke arah Dyah
Candramanik yang juga memandang kepadanya. Dua pasang
mata yang sama indahnya bertemu pandang dan Dyah
Candramanik tersenyum, mukanya menjadi kemerahan dan ia
menundukkan mukanya.
"Banyak terima kasih saya haturkan kepada paduka,
kanjeng gusti adipati. Akan tetapi mohon beribu maaf bahwa
saya masih terlalu muda untuk menikah," kata Retno Wilis
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan hati berdebar karena ia khawatir adipati itu akan
marah kepadanya.
Adipati Martimpang memandang penuh selidik kepadanya.
"Joko Wilis, apa artinya ini" Andika sudah tahu bahwa
sayembara ini diadakan untuk mencarikan jodoh puteriku,
bukan" Apakah andika hendak mengatakan bahwa masukmu
mengikuti sayembara itu hanya untuk main-ma in belaka?"
Suara adipati itu jelas mengandung nada kemarahan.
"Tidak sama sekali, gusti. Saya merasa berbahagia sekali,
hanya saya mengatakan bahwa saya masih terlalu muda.
Kalau paduka mengijinkan, berilah waktu kepada saya selama
satu tahun lagi."
"Nanti dulu. Kami akan bertanya kepada puteri kami. Eh,
Dyah Candramanik puteri-ku yang cantik, bagaimana
pendapatmu dengan Joko Wilis ini" Apakah engkau sudah
setuju kalau kami jodohkan dengan dia?"
Dyah Candramanik tersenyum sambil menundukkan
mukanya, lalu terpaksa ia menjawab, "Ah, aku menurut
bagaimana keputusan kanjeng rama saja."
Adipati Martimpang tertawa. "Ha-ha, itu artinya engkau
setuju. Nah, kami pikir permintaanmu itu pantas juga. Joko
Wilis. Memang andika kelihatan masih terlalu muda. Baiklah,
andika tinggal di sini selama setahun, dan setelah itu baru
kalian kami nikahkan."
"Terima kasih, gusti."
"Selama berada di sini, andika boleh menggembleng
pasukan khusus agar mereka pun memiliki kadigdayaan. Dan
andika tinggal di dalam istana ini, sebagai calon mantu kami."
"Terima kasih, kanjeng gusti adipati."
Tentu saja hati Retno Wilis gembira sekali. Kalau ia
diperbolehkan menanti sampai setahun tinggal di situ, tentu
banyak kesempatan baginya untuk melakukan penyelidikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan rencana Nusabarung, apakah benar hendak memberontak dan bersekutu dengan Blambangan. Ia akan
mempunyai banyak waktu dan sebelum setahun lewat,
dengan mudah ia akan meloloskan diri dari pulau itu. Ia yakin
bahwa kakaknya, Bagus Seto, juga telah masuk ke
Nusabarung dan sekarang entah berada di mana. Sewaktu-
waktu tentu kakaknya akan menghubunginya, kalau tidak ia
dapat berjalan-jalan di pulau itu untuk mencarinya.
Setelah beberapa hari tinggal di kadipaten Nusabrung,
Retno Wilis sudah mulai menyelidiki keadaan di Nusabarung
dan ia mendengar bahwa Nusabarung baru bersiap-siap
menghimpun kekuatan, namun belum ada tanda-tandanya
hendak memberontak. Yang membuat hatinya tidak tenang
adalah sikap Dyah Candramanik. Pada suatu pagi puteri itu
menyuruh biyung emban untuk memanggilnya ke taman-sari.
Tentu saja ia tidak berani menolak dan memasuki taman-sari.
Dyah Candramanik telah berada di situ, hanya berdua dengan
biyung emban. Setelah Retno Wilis datang, biyung emban
yang tahu diri itu tanpa diperintah sudah pergi meninggalkan
mereka berdua saja di taman-sari.
Retno Wilis tersenyum melihat sang puteri malu-malu
menundukkan mukanya. Diam-diam ia merasa kasihan kepada
puteri ini. Agaknya sang puteri memang jatuh cinta
kepadanya. Melihat sang puteri diam saja, Retno Wilis
mendahului bicara. "Gusti puteri ... "
"Ah, kenapa engkau menyebut aku gusti" Engkau bukan
hambaku dan aku bukan gustimu," Dyah Candramanik
menegur tanpa memandang muka Retno Wilis.
"Lalu, saya harus menyebut apa?"
"Lupakah engkau bahwa kita telah ditunangkan" Tentu
engkau tahu apa yang harus kausebut terhadap calon
isterimu?" Sang puteri berkata lagi, kini memandang wajah
Retno Wilis dan sikapnya mulai agak tabah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ahh ... kalau begitu, apakah aku harus menyebutmu
diajeng?" "Memang begitu seharusnya, kakangmas Joko Wilis."
"Baiklah, diajeng Dyah Candramanik. Akan tetapi pagi ini
engkau memanggilku ada keperluan apakah?"
"Aku hanya ingin bertemu dan bercakap-cakap denganmu.
Kakangmas, engkau menolak untuk dinikahkah denganku
sekarang, minta mundur setahun lagi. Aku heran sekali, kalau
engkau tidak ingin menikah, mengapa engkau memasuki
sayembara dan menghadapi bahaya maut untuk memperebutkan aku?"
"Aku ... aku ... ah, aku sebetulnya belum memikirkan
tentang perjodohan diajeng."
"Akan tetapi aneh! Mengapa mengikuti sayembara?"
"Karena aku melihat para peserta itu sombong-sombong
dan tidak ada yang sesuai untuk menjadi jodohmu. Aku
hendak mencegah engkau menikah dengan seorang dari
mereka. Kalau aku tidak ikut sayembara, tentu engkau sudah
dipersunting Kalinggo dari Blambangan itu. Apakah engkau
akan suka kalau dijodohkan dengan orang sekasar itu?"
"Tentu saja tidak! Akan tetapi engkau yang menang.
Engkau yang berhak menikah dengan aku. Apakah ... apakah
engkau tidak cinta kepadaku, kakangmas Joko Wilis?"
Retno Wilis menjadi bingung. "Tentu saja aku mencintamu,
diajeng. Engkau seorang puteri yang cantik jelita, siapa tidak
mencintamu" Aku hanya minta waktu, tidak ingin buru-buru
menikah." "Baiklah, kanjeng Rama sudah menyetujuinya. Dan akupun
tidak marah, hanya kuminta selama setahun menunggu ini,
engkau seringlah datang ke sini untuk bercakap-cakap dengan
aku, untuk mengajariku memanah."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baiklah, diajeng. Akan tetapi engkau juga harus banyak
memberitahu padaku tentang Nusabarung dan pemerintahannya. Engkau tentu maklum bahwa kelak kanjeng
Ramamu akan mengangkat aku sebagai penggantinya.
Bagaimana aku dapat memerintah dengan baik kalau tidak
mengenal keadaan Nusabarung?"
"Tentu saja aku akan menceritakan semua yang kuketahui,
kakangmas. Soal apakah yang ingin kauketahui?"
"Segala hal yang menyangkut Nusabarung dan pemerintahannya,
diajeng. Aku mendengar bahwa Nusabarung berada dibawah kekuasaan Jenggala, benarkah
itu diajeng?" kata Retno Wilis sambil duduk di bangku
panjang, di sebelah Dyah Candra-manik.
"Dahulu memang benar begitu, kakang-mas. Akan tetapi
kanjeng Romo tidak suka membiarkan hal itu. Katanya
Nusabarung harus terlepas dari kekuasaan Jenggala."
"Ah, kalau begitu berarti Nusabarung hendak menentang
Jenggala. Padahal Jenggala adalah sebuah kerajaan besar.
Bagaimana Nusabarung hendak menentangnya, diajeng"
Apakah itu tidak berbahaya?"
"Karena itu kanjeng rama mulai menghimpun kekuatan,
menghimpun pasukan yang besar. Selain itu, kanjeng rama
juga berhubungan baik dengan Blambangan, bahkan kalau
perlu, kita dapat minta bantuan dari Bali-dwipa. Mereka semua
juga tidak suka ditundukkan oleh Jenggala dan Panjalu."
"Kalau begitu ada rencana dari Nusabarung untuk
menyerang Jenggala" Ini berbahaya sekali!"
"Bukan menyerang, melainkan menjaga diri dan melakukan
perlawanan kalau Jenggala berani menyerang ke sini. Kita
semua sudah siap, kakangmas. Karena itulah kanjeng Rama
mengadakan sayembara untukku, untuk mendapatkan
seorang mantu yang sakti mandraguna seperti kakangmas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan karena itu pula aku ingin belajar memanah agar kalau
saatnya tiba, aku dapat pula menjaga diri."
"Wahai, diajeng, siapa orangnya yang berani mengganggu
andika" Selain tidak berani, juga tidak mau karena siapa yang
melihat andika tentu akan merasa sayang dan tidak akan
mengganggumu."
"Dalam keadaan perang, siapa yang akan memperdulikan,
kakangmas" Sudahlah, apa lagi yang kakangmas tanyakan?"
Dengan cerdik Retno Wilis menghentikan pertanyaan-
pertanyaannya dan mengajarkan ilmu memanah kepada dara
jelita itu. Tentu saja tangan mereka bersentuhan dan Retno
Wilis berlaku hati-hati sekali agar jangan sampai dara itu
mengetahui rahasianya. Sikapnya yang lemah lembut, ramah
dan sopan ini bahkan membuat Dyah Candramanik semakin
tergila-gila. Pada hari-hari berikutnya, secara sambil lalu sambil
mengajarkan memanah, Retno Wilis berhasil mengorek
banyak keterangan dari puteri itu. Ia tahu bahwa Nusabarung
mempunyai lima orang senopati yang gagah perkasa, yaitu Ki
Wisokolo, Ki Wisangnogo, Ki Krendomolo, Ki Damarpati, dan Ki
Surodiro. Mereka semua adalah senopati-senopati yang pandai
berperang dan juga sakti. Juga ia mendengar dari sang puteri
yang tergila-gila kepadanya itu bahwa Nusabarung tadinya
mempunyai pasukan yang lebih sedikit dari seribu orang
banyaknya, akan tetapi kini dengan masuknya orang-orang
muda di sekitar Nusabarung, jumlah itu meningkat menjadi
kurang lebih dua ribu orang. Sebagian dari jumlah itu kini
berjaga di pantai daratan.
Pada suatu pagi, selagi Retno Wilis melatih Dyah
Candramanik yang belajar memanah, muncullah seorang
petugas. Dyah Candramanik memandang dengan marah
kepada petugas jaga itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mau apa engkau ke sini tanpa dipanggil" Berani engkau
memasuki taman ini?"
"Maafkan hamba, gusti puteri. Hamba diutus oleh Kanjeng
Gusti Adipati untuk menemui Raden Joko Wilis di s ini."
"Mau apa dengan kakangmas Joko Wilis?"
"Kanjeng Gusti Adipati memanggilnya untuk menghadap
sekarang juga."
Mendengar ini, Retno Wilis mendekati orang itu dengan
senyum ramah dan bertanya dengan lembut, "Paman, ada
urusan apakah Kanjeng Adipati memanggilku?"
"Hamba tidak tahu, raden. Hanya yang hamba ketahui,
Kanjeng Gusti Adipati sedang menerima tamu dari
Blambangan."
"Tamu dari Blambangan" Siapakah mereka?"
"Hamba tidak tahu, hanya ada dua orang kakek yang
berpakaian mewah datang bertamu dan tak lama kemudian
Kanjeng Gusti Adipati memerintahkan saya untuk mengundang paduka."
"Baiklah, paman. Saya akan menghadap sekarang. Diajeng
Dyah Candramanik, agaknya ada keperluan penting sekali
maka kanjeng Ramamu memanggil aku. Aku pergi dulu."
Dyah Candramanik hanya mengangguk dengan muka
bersungut-sungut karenamerasa betapa kesenangannya
terganggu. Retno Wilis dan utusan itu lalu meninggalkan taman-sari.
Setelah memasuki tempat persidangan di mana Sang
Adipati menerima para tamunya, Retno Wilis melihat bahwa di
situ duduk dua orang kakek berpakaian mewah sedang duduk
berhadapan dengan Adipati Martimpang. Y ang seorang adalah


Sepasang Garuda Putih Seri Keris Pusaka Sang Megatantra 5 Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seorang kakek berusia enampuluh tahun lebih, pakaiannya
mentereng dan bersih, rambutnya tersisir rapi dan jenggotnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
juga terpelihara baik-baik. Seorang kakek yang rapi dan
pesolek, mukanya bundar dan mulutnya selalu tersenyum,
wajahnya yang juga lembut dan tampan itu tampak seperti
kewanitaan. Adapun kakek ke dua, biarpun pakaiannya juga
mewah, namun pakaian itu dekil dan kotor. Rambutnya juga
awut-awutan tidak tersisir, matanya lebar hidungnya pesek
dan mulutnya selalu menyeringai seperti menertawakan
orang. Sekali pandang saja Retno Wilis dapat menduga bahwa
kedua orang kakek itu bukan orang sembarangan. Ia dapat
melihat ini dari sikap mereka yang seperti orang memandang
rendah dan sinar mata mereka yang tajam berpengaruh.
"Joko Wilis! Ke sinilah, hendak kuperkenalkan dengan dua
orang yang datang dari Blambangan." Dia menunjuk kepada
kakek yang pakaiannya rapi dan pesolek. "Ini adalah Sang
Wasi Karangwolo, seorang pendeta yang menjadi penasihat
dari Sang Adipati di Blambangan. Adapun yang kedua ini
adalah Sang Wasi Surengpati, juga seorang pertapa yang kini
membantu Wasi Karangwolo yang menjadi saudara seperguruannya. Paman Wasi berdua, inilah Joko W ilis yang
kumaksudkan. Dialah yang memenangkan sayembara tanding
itu, mengalahkan Kalinggo, bahkan mengalahkan Ki Wisokolo."
Sang Wasi Karangwolo memandang kepada Joko Wilis
dengan tajam penuh selidik, senyumnya melebar dan dia
berkata, "Sungguh seorang pemuda yang ganteng sekali!"
Sang Wasi Surengpati juga memandang dan dia
mengerutkan alisnya. "Seorang bocah seperti ini keluar
sebagai pemenang" Sungguh mengherankan sekali. Joko
Wilis, engkau telah bertemu dengan kami, hayo cepat berlutut
dan menyembah!"
Retno Wilis terkejut. Perintah itu diucapkan dengan suara
dalam dan berpengaruh sekali, ia merasa seolah-olah ada
tenaga yang mendorongnya untuk berlutut dan menyembah
... Maklum bahwa ini merupakan teriakan yang mengandung
tenaga sihir, iapun memejamkan mata mengerahkan kekuatan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
batinnya untuk menolak perintah itu dan berkata dengan
suara tenang namun juga penuh tantangan.
"Paman Wasi, tidak ada peraturan yang mengharuskan
saya berlutut dan menyembah kepada orang yang belum saya
ketahuibenar keadaannya. Saya hanya menyembah kepada
Kanjeng Adipati, akan tetapi tidak kepada kalian berdua!"
Wasi Surengpati tercengang. Tak disangkanya sama sekali
bahwa pemuda remaja itu ternyata mampu menolak sihirnya
yang kuat! Sang Adipati juga terkejut mendengar perintah
Wasi Surengpati dan dia menegur, "Apa maksud Kakang Wasi
Surengpati dengan perintah yang tidak pada tempatnya itu"
Mengapa Joko Wilis harus menyembah kepada kalian berdua
yang menjadi tamu kami?"
Wasi Karangwolo yang menjawab sambil tertawa, "Ha-ha-
ha, Kanjeng Adipati, adi Wasi Surengopati hanya ingin menguji
saja kepada Joko Wilis dan ternyata pemuda remaja ini
mampu menolak ujiannya. Sungguh mengagumkan sekali,
seorang pemuda yang ganteng dan juga sakti mandraguna!"
Barulah Adipati Martimpang mengerti dan dia tersenyum
bangga. "Sudah kami katakan bahwa dia sakti mandraguna.
Sungguh hati kami merasa girang dan bangga, seperti andika
berdua saksikan sendiri, kami telah memperoleh tenaga yang
amat tangguh dan boleh diandalkan!"
"Akan tetapi, Kanjeng Adipati, apa artinya tenaga seorang
saja dibandingkan tenaga limaribu orang pasukan gemblengan
yang kokoh kuat!" tanya Wasi Karangwolo.
Mendengar ucapan ini, Adipati Martimpang mengerutkan
alisnya dan berkata kepada Joko Wilis, "Joko Wilis, kembalilah
engkau ke taman-sari dan lanjutkan beri latihan memanah
kepada Dyah Candramanik."
Retno Wilis merasa kecewa dalam hatinya karena ia ingin
sekali mendengar apa yang akan dibicarakan oleh dua orang
tamu dari Blambangan ini. Akan tetapi tentu sajaia tidak dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membantah dan pergilah ia meninggalkan ruangan itu dan
kembali ke taman-sari di mana Dyah Candrarnanik
menyambutnya dengan gembira.
Setelah Retno Wilis pergi, Adipati Martimpang bertanya
dengan nada suara tidak senang kepada Wasi Karangwolo.
"Paman Wasi Karangwolo, apa artinya ucapan paman tadi"
Apa yang paman maksudkan?"
"Maksud saya, Kanjeng Adipati, bahwa Kalinggo jauh lebih
baik untuk menjadi mantu paduka dari pada Joko Wilis tadi.
Betapa pun saktinya, Joko Wilis hanya seorang diri saja.
Bagaimana dia akan mampu menanggulangi keadaan kalau
Nusabarung diserbu pasukan dari Jenggala" Sebaliknya, kalau
Kalinggo menjadi mantu paduka, tentu Blambangan akan lebih
dekat dengan Nusabarung dan limaribu orang pasukan
Blambangan yang kokoh kuat tentu jauh lebih berharga dari
pada bantuan tenaga seorang Joko Wilis."
"Pula, harus diingat bahwa Gunung Wilis terletak di wilayah
kekuasaan Panjalu. Siapa tahu kalau-kalau pemuda itu
merupakan telik sandi yang hendak mengadakan penyelidikan
di Nusabarung!" kata pula Wasi Surengpati.
Mendengar ucapan kedua orang tamunya itu, Adipati
Martimpang mengerutkan alisnya dan hatinya menjadi gelisah.
Teringatlah dia bahwa sebelum diadakan sayembara, dia sama
sekali tidak mengenal Joko Wilis. Bukan tidak mungkin kalau
Joko Wilis merupakan seorang mata-mata atau telik sandi
yang sedang menyelidiki keadaan di Nusabarung! Dan teringat
pula dia betapa Joko Wilis menolak untuk segera menikah
dengan Dyah Candramanik, melainkan minta diundur selama
satu tahun. "Kalau begitu, bagaimana baiknya, Paman Wasi berdua"
Dia sudah terlanjur kami terima sebagai calon mantu, karena
memang dia yang memenangkan sayembara itu. Dan agaknya
puteriku Dyah Candramanik juga sudah menyetujui."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mana yang harus diutamakan, kepentingan hati puteri
paduka ataukah keselamatan kadipaten Nusabarung" Kalau
paduka menghendaki, biarlah kami berdua yang akan
melakukan penyelidikan terhadap diri Joko W ilis, kalau
ternyata dia seorang telik sandi, kami berdua yang akan
sanggup menangkapnya!" kata Wasi Karangwolo.
"Baik, paman Wasi. Akan tetapi kami harap andika berdua
berhati-hati, jangan sampai membuat puteriku berduka. Kalau
benar Joko W ilis seorang telik sandi dari Panjalu atau
Jenggala, tentu dengan mudah kami sendiri yang akan
memberitahu kepada puteriku Dyah Candramanik."
Demikianlah, Adipati Martimpang telah membuat persekutuan dengan dua orang pendeta yang datang dari
Blambangan ituuntuk menyelidiki keadaan Joko Wilis!
0o-dwkz-rhg-o0 Dewi Candramanik termenung seorang diri dalam
kamarnya. Apa yang dialam i sore tadi ketika ia mempelajari
ilmu memanah dari Joko W ilis sungguh membuat jantungnya
berdebar penuh ketegangan. Selama beberapa hari ini ia
memang merasakan ada sesuatu yang aneh pada diri Joko
Wilis. Naluri kewanitaannya membuat ia sadar bahwa ada
suatu kalainan pada diri pemuda yang membuat ia kasmaran
itu. Kalau ia belajar membidik, Joko Wilis berdiri di
belakangnya dan merangkulkan kedua lengan untuk
mengajarinya menarik busur dan membidik, ia mencium
keharuman yang seperti bunga, keharuman seperti yang
terdapat pada tubuh wanita! Pula, jari-jari tangannya demikian
kecil meruncing, sentuhan lengannya demikian lembut. Juga
rambutnya mengeluarkan bau harum. Makin lama, hatinya
menjadi semakin curiga karena Joko Wilis bergerak demikian
indah dan luwes seperti seorang wanita.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku harus mendapat kepastian besok pagi," akhirnya
puteri itu mengambil keputusan.
Sementara itu, senja itu Retno Wilis mendapat kesempatan
untuk berjalan-jalan keluar dari kadipaten. Ia terus menuju ke
pintu gerbang dan keluar dari kota kadipaten, memasuki
daerah berhutan dari pulau itu. Tentu saja maksudnya hanya
satu, yaitu hendak menemui kakaknya. Kalau kakaknya berada
di kadipaten dan melihat ia keluar dari kota, tentu kakaknya
akan membayanginya.
Dugaannya benar. Belum lama ia berjalan di jalan yang
sunyi di tepi hutan itu, ia melihat seorang pemuda berpakaian
putih di sebelah depan. Ketika ia mendekat, melihat bahwa
orang itu adalah Bagus Seto.
"Kakangmas Bagus Seto!" ia memanggil.
"Diajeng Retno Wilis, engkau keluar dari kota raja untuk
menemui aku, bukan?"
Jilid 04 "Benar, kakangmas," Retno Wilis Lain menceritakan semua
pengalamannya, betapa setelah berhasil memenangkan
sayembara, telah mendapat banyak keterangan tentang
Nusabarung dari Dyah Candramanik.
"Diajeng, sebaiknya kita sekarang lari saja meninggalkan
pulau. Kalau engkau terlalu lama di s ini, akhirnya engkau akan
menemui halangan. Permainanmu terlalu berbahaya, diajeng."
"Nanti dulu, kakangmas. Hari ini terjadi hal yang penting.
Ada dua orang utusan dari Blambangan tiba di sini dan
mereka itu adalah orang-orang yang pandai. Bahkan seorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di antara mereka telah mencoba untuk mempengaruhi aku
dengan ilmu sihirnya. Aku harus menyelidiki dulu apa maksud
mereka datang berkunjung. Setelah itu, baru kita melarikan
diri." "Engkau telah menipu Dyah Candramanik, kalau ia
mengetahui kepalsuanmu, tentu ia akan sakit hati. Karena itu
berhati-hatilah, diajeng."
"Jangan khawatir, kakang. Aku akan bersikap hati-hati.
Dyah Candramanik itu tidak merupakan bahaya karena ia
sudah tergila-gila kepadaku, ia memang cantik, kakang. Kalau
saja engkau yang mengikuti sayembara dan menikah
dengannya, tentu serasi sekali!"
"Hushh, jangan bicara yang bukan-bukan, diajeng. Jangan
terlalu lama engkau menyelidiki dua orang pendeta dari
Blambangan itu. Kita harus cepat pergi dari sini. Hasil
penyelidikanmu itu sudah cukup."
"Baik, kakangmas. Berilah waktu seminggu lagi kepadaku.
Seminggu kemudian kita akan bertemu di sini, di waktu senja
dan kita lari bersama."
Setelah bercakap-cakap me lepas kerinduan, mereka lalu
kembali ke kadipaten, mengambil jalan masing-masing.
Menurut cerita Bagus Seto kepada Retno Wilis, pemuda itu
mondok di rumah seorang duda tua yang hidup menyendiri di
sudut kota. Pada keesokan harinya, Retno Wilis memasuki taman-sari
seperti biasa untuk menemui Dyah Candramanik mengajarkan
ilmu memanah. Hatinya lega karena ia telah bertemu dengan
kakaknya dan dengan wajah berseri ia bertemu dengan puteri
itu. Ia melihat betapa Dyah Candramanik mengenakan
pakaian baru yang merah muda sehingga tampak lebih cantik
dari biasanya. Retno Wilis yang sedang senang hatinya,
memuji kecantikan puteri itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Wahai, diajeng Candramanik, engkau kelihatan secantik
bidadari dari kahyangan."
Wajah Dyah Candramanik menjadi kemerahan dan ia
berkata manja. "Ah, kakangmas, harap jangan terlalu
memujiku." Ia menggapai kepada seorang pelayan dan minta
agar pelayan mengambilkan minuman untuk Joko Wilis.
Setelah minum, Dyah Candramanik lalu berkata, "Kakangmas Joko Wilis, mengapa aku amat bodoh"
Mempelajari ilmu memanah, sampai sekarang aku belum juga
pandai memanah."
"Siapa bilang, diajeng" Engkau telah memperoleh
kemajuan pesat sekali. Bukankah kemarin tiga kali anak
panahmu mengenai sasaran. Itu sudah cukup bagus!"
"Kalau setiap kali me lepas anak panah mengenai sasaran,
itu baru dapat dibilang bagus, kakangmas. Aku masih lemah
dalam hal membidik, dan ketika melepaskan anak panah, jari
tangan kananku kurang tenang. Aku minta diajar membidik
lagi yang lebih baik kakangmas!"
"Baiklah, diajeng. Hari ini akan kuajarkan engkau membidik
ke arah sasaran agar tepat dan bagaimana engkau harus
mengerahkan tenaga agar anak panahmu dapat meluncur
dengan lurus."
Mulailah mereka berlatih memanah. Untuk mengajarkan
bagaimana membidik dengan baik, terpaksa Joko Wilis harus
memegang kedua lengan puteri itu dan untuk dapat
melakukan ini, dia harus berdiri mepet di belakang puteri itu
dan merangkulnya untuk membimbing kedua tangan yang
memegang busur dan anak panah. Dengan cara begini,
punggung puteri itu dekat sekali dengan dada Joko Wilis.
Ketika mereka berdua sedang asyik belajar membidik, tidak
ada orang lain yang menyaksikan karena pelayan telah
disuruh pergi oleh Dyah Candramanik, tiba tiba ketika ia
menarik gendewa dan membidik, puteri itu mengeluh dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tubuhnya condong ke belakang seperti hendak jatuh. Joko
Wilis yang tidak menyangka, menjadi terkejut ketika siku
lengan puteri itu telah mendesak buah dadanya.
"Ihh ... !" Dyah Candramanik terkejut dan kini yakin bahwa


Sepasang Garuda Putih Seri Keris Pusaka Sang Megatantra 5 Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Joko Wilis adalah seorang perempuan, ia membalik dan
memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan
muka pucat. "Engkau ... engkau seorang wanita ... !" bisiknya dengan
napas terengah-engah karena tegang hatinya.
Retno Wilis juga terkejut sekali, tidak mengira bahwa
rahasianya akan dapat diketahui puteri itu. Ia tidak dapat
mengelak lagi dan demi kebaikan puteri itu sendiri ia harus
berterus terang agar puteri itu tidak terus tergila-gila
kepadanya. "Maafkan saya, diajeng, terus terang saja saya memang
seorang perempuan."
"Gila kau! Kenapa engkau mempermainkan aku seperti ini"
Mengapa engkau mengikuti sayembara itu, bahkan memenangkannya dan bersedia dijodohkan dengan aku?"
"Sekali lagi maafkan saya. Saya seorang petualang dan
dalam perantauan saya, saya melihat sayembara itu. Melihat
para pengikut sayembara yang sombong-sombong dan kasar-
kasar, saya tidak tega membiarkan diajeng menjadi isteri
seorang di antara mereka. Karena itu aku lalu memasuki
sayembara untuk mengalahkan mereka semua sehingga
andika terhindar dari pada bahaya menjadi jodoh orang-orang
kasar itu."
Akan tetapi Dyah Candramanik tidak menjawab dan ia
menangis, lalu bangkit berdiri dan lari meninggalkan Retno
Wilis, kembali ke gedung kadipaten.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sejenak Retno Wilis bimbang. Apa yang harus ia lakukan"
Apa pula yang akan dilakukan puteri itu" Apakah ia harus
cepat melarikan diri"
Retno Wilis menanti di taman-sari sampai lama,
mengharapkan sang puteri akan kembali ke situ. Akan tetapi
setelah dinanti-nanti sampai agak lama sang puteri tidak juga
muncul, ia lalu kembali ke kamarnya dan mengambil
keputusan untuk melarikan diri pada waktu senja nanti.
Sementara itu, Dyah Candramanik berlari ke dalam gedung
kadipaten sambil menangis. Ia mencari ayahnya dan melihat
ayahnya sedang berada di ruangan tamu bersama dua orang
tamu kakek dari B lambangan itu, ia tidak perduli dan terus lari
memasuki ruangan itu dan langsung menubruk ayahnya
sambil menangis.
"Duh, kanjeng Romo ... !" ia menangis.
"Eh, Dyah Candramanik, ada apakah" Apa yang terjadi dan
mengapa engkau menangis seperti ini?"
"Aduh celaka, kanjeng Romo, kita telah tertipu dan terhina
... !" Kata-katanya terhenti karena tangisnya yang tersedu-
sedu. "Tenanglah, anakku. Ceritakan dengan tenang dan jelas
apa yang telah terjadi."
"Kanjeng Romo, Joko Wilis itu ...dia itu ... ternyata adalah
seorang wanita ... !"
"Apa?" Adipati Martimpang bangkit berdiri dengan mata
terbelalak. "Di mana si bedebah itu" Berani ia mempermainkan kita!"
"Aku meninggalkannya di taman-sari, kanjeng Romo."
"Kanjeng Adipati, biarlah kami berdua yang akan
menangkapnya!" kata Wasi Karangwolo yang sudah bangkit
berdiri bersama adik seperguruannya, Wasi Surengpati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Akan kukerahkan pasukan untuk membantu andika
berdua!" Terjadi kesibukan. Tidak kurang dari tigapuluh orang
dikerahkan untuk mengawal dua orang pendeta yang akan
menangkap Retno Wilis itu. Mereka lalu mencari dara yang
menyamar sebagai pemuda itu. Akan tetapi Retno Wilis sudah
meninggalkan taman-sari dan berada di dalam kamar nya.
Ketika itu Retno Wilis masih merasa bimbang. Ia masih
ingin menyelidiki kehadiran dua orang pendeta utusan
Blambangan itu, akan tetapi tidak disangkanya sama sekali
rahasianya akan terbuka oleh sang puteri. Sama sekali ia tidak
tahu bahwa dirinya sudah dibayangi oleh dua orang pendeta
itu, bahkan kini kamarnya sudah dikepung oleh tigapuluh
orang perajurit yang membawa gendewa dan anak panah!
Ketika ia mendengar gerakan orang-orang di luar
kamarnya, Retno Wilis lalu mengintai dari balik jendela.
Alangkah terkejutnya melihat banyak perajurit sudah
menodongkan anak panah mereka ke arah pintu, juga jendela
kamarnya. Kalau ia berusaha keluar dari pintu atau jendela itu,
tentu hujan anak panah akan menyambutnya dan itu
berbahaya sekali. Mana mungkin menangkis puluhan batang
anak panah yang dihujankan ke arahnya.
"Joko Wilis, keluar dan menyerahlah. Engkau sudah
dikepung!" terdengar bentak nyaring dan Retno Wilis
mengenal suara ini sebagai suara Adipati Martimpang sendiri.
Maklumlah ia bahwa rahasianya tentu sudah dibuka oleh Dyah
Candramanik sehingga sang adipati itu juga sudah tahu bahwa
ia seorang wanita yang menyamar pria. Ia harus dapat
meloloskan diri dari s itu karena bahaya besar mengancamnya!
Jalan me lalui pintu atau jendela sudah tertutup, tak mungkin
ia keluar dari situ. Satu-satunya jalan adalah menerobos atap
rumah! Setelah menghadapi ancaman bahaya ini baru ia
merasa menyesal mengapa ia tidak menurut nasihat Bagus
Seto untuk melarikan diri kemarin, dan lebih menyesal lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa ia tidak membawa pedang pusakanya. Dengan pedang
itu mungkin ia dapat menerobos keluar dan memutar
pedangnya menangkis hujan anak panah. Sekarang ia
bertangan kosong, tidak
mungkin ia menempuh
bahaya itu. Setelah mengambil keputusan, Retno Wilis
lalu mengerahkan tenaga
saktinya dan ia meloncat
naik melalui atap yang
diterobosnya dengan kedua tangannya. Ia berhasil menerobos atap
dan berada di atas atap.
Akan tetapi sama sekali
ia tidak mengira bahwa
di situ sudah menanti
Wasi Karangwolo dan
Wasi Surengpati! Dua
orang pendeta ini sudah
menduga bahwa Retno Wilis mungkin mengambil jalan
menerobos atap, maka begitu tubuh dara perkasa itu muncul,
Wasi Karangwolo sudah menyambutnya dengan sambitan
tepung berwarna kuning ke arah muka Retno W ilis dan Wasi
Surengpati menyodokkan tongkat ularnya ke arah lehernya !
Retno Wilis menangkis sodokan tongkat ular itu, akan
tetapi ia tidak dapat menghindar ketika bubuk kuning itu
sebagian mengenai mukanya! Matanya tiba-tiba menjadi pedih
dan tidak dapat, dibuka, dan hidungnya mencium bau yang
amis dan keras. Tiba-tiba ia merasa napasnya sesak dan
terpelantinglah Retno Wilis di atas atap !
Dengan mudah Wasi Karangwolo menyambut tubuhnya
dan menelikung sehingga Retno Wilis yang jatuh pingsan itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak berdaya lagi. Wasi Karangwolo membawanya loncat ke
bawah. Melihat Joko Wilis sudah tertawan, Adipati Martimpang
menghunus kerisnya dan hendak menusukkan keris itu ke
dada Joko Wilis. "Biar kubunuh penipu dan pengacau ini!"
hardiknya. Akan tetapi Wasi Karangwolo menghalangi. "Sabar dulu,
Kanjeng Adipati.
Jangan tergesa-gesa membunuhnya.
Mungkin saja ia dapat mengaku terus terang siapa sebenarnya
ia ini, mungkin telik sandi yang dilepaskan Panjalu atau
Jenggala untuk menyelidiki keadaan kita. Kalau ia sudah
membuat pengakuan, nah, baru boleh ia dibunuh di depan
rakyat jelata agar mereka takut membuat kacau seperti dara
ini." Adipati Martimpang mengangguk-angguk
dan menyarungkan kembali kerisnya. "Sesuka andika berdua
sajalah untuk memeriksanya, kalau perlu boleh menyiksanya
agar ia mengaku."
Wasi Karangwolo tersenyum. "Kamu mempunyai cara yang
lebih baik untuk membuat ia mengaku, bukan dengan
penyiksaan karena boleh jadi dara ini cukup tangguh untuk
membungkam mulut dan menahan segala siksaan. Dengan
cara kami ia akan dengan sendirinya membuat pengakuan.
Akan tetapi ia telah menghisap bubuk racun kuning kami dan
mungkin sore nanti baru sadar. Kami hanya minta sebuah
kamar tahanan yang kokoh kuat untuk mengurung dirinya."
Retno Wilis lalu diangkat ke dalam sebuah kamar tahanan
yang terbuat dari batu dan pintunya terbuat dari besi tebal
dengan jeruji di bagian atasnya. Setelah kedua kaki dan
tangannya diikat dengan tali yang kuat, ditelikung seperti
seekor domba yang hendak disembelih, Retno Wilis lalu
dilempar ke dalam kamar tahanan itu.
Wasi Karangwolo dan Resi Surengpati minta kepada para
penjaga untuk meninggalkan mereka bertiga saja dengan
tawanan itu. Setelah semua orang pergi, mereka lalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengerahkan tenaga batin mereka untuk melakukan s ihir atas
diri Retno W ilis. Dalam keadaan tidak sadar, Retno Wilis
dibuka kedua pelupuk matanya dan kedua orang pendeta itu
memandang dengan sinar mata mencorong ke dalam mata
Retno Wilis. "Hei, wanita muda yang menyamar sebagai Joko W ilis.
Engkau akan menuruti semua kehendak kami! Kalau sudah
sadar engkau harus menjawab semua pertanyaan kami
dengan sebenarnya!" Kalimat itu di ulang-ulang dan beberapa
mantera dibisikkan oleh kedua Wasi itu sampai akhirnyal
Retno Wilis yang masih pingsan itu mengangguk-angguk.
Mereka melepaskan lagi Retno Wilis yang rebah tak berdaya
diatas lantai dan barulah mereka keluar dari kamar tahanan
itu. Gadis itu sudah dikuasai dan dikendalikan pikirannya
dengan ilmu s ihir dan kedua kaki tangannya juga terikat kuat,
sedikitpun tidak adakemungkinan untuk meloloskan diri.
Belum lagi keadaan kamar tahanan itu yang kokoh kuat dan di
luar kamar tahanan terdapat belasan orang perajurit yang
menjaganya. Biar ditambah sepasang sayap di pundak dara itu
tak mungkin ia dapat meloloskan diri.
(Oo-dwkz-rhg-oO)
Tubuh dalam kamar tahanan itu bergerak-gerak,
menggerakkan kaki tangannya akan tetapi ia tidak mampu
bangkit. Kedua kaki dan tangannya sudah terbelenggu kuat-
kuat. Retno Wilis mulai sadar dari pingsannya, akan tetapi ia
tidak dapat menggerakkan kaki tangannya. Kepalanya terasa
pening sekali. Ketika membuka matanya, ia melihat bahwa
dirinya menggeletak di atas lantai yang dingin. Ketika ia
mencoba menggerakkan kaki tangannya, ia tidak dapat.
Tubuhnya terasa lemas sekali. Ia tidak dapat mengingat
dengan jelas apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ia kini
hanya tahu bahwa ia telah dibelenggu kaki tangannya dan
berada dalam sebuah kamar yang tidak berapa luas, yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hanya mempunyai sebuah pintu baja yang bagian atasnya ada
terali besinya yang amat kuat. Ia telah ditawan! Pikiran ini
membingungkannya. Ketika timbul niatnya untuk mematahkan
belenggu pada kaki tangannya, mendadak di dalam kepalanya
terdengar suara yang amat berwibawa.
"Engkau tidak dapat membebaskan diri dari belenggu
karena semua tenagamu habis. Engkau merasa tubuhmu tidak
berdaya, lemah lunglai!"
Ia harus membenarkan kata-kata yang terngiang di dalam
telinganya ini. Tidak mungkin ia membebaskan diri dari
belenggu yang demikian kuatnya, sedangkan tubuhnya
demikian lemas tak berdaya.
"Aku lemah ... tubuhku lemah tak berdaya ... " katanya
membenarkan, dan iapun tidak berani mencoba mengerahkan
tenaganya lagi, melainkan rebah miring tak berdaya.
Tiba-tiba Retno Wilis melihat dua muka orang muncul di
luar terali besi itu. Ia tidak ingat lagi s iapa mereka, akan tetapi
yang tampak olehnya hanya dua pasang mata yang
mencorong seperti api dan yang seolah-olah mengikatnya. Ia
menjadi gelisah menatap dua pasang mata itu.
"Wanita muda, siapakah namamu" Jawab yang benar!"
Retno Wilis merasa aneh sekali. Mengapa ada orang
bertanya seperti itu dan ia merasa tak berdaya, merasa bahwa
ia harus menjawab sejujurnya" Akan tetapi ia tidak mampu
menahan diri dan ia harus menjawab sejujurnya, seolah ada
sesuatu yang amat kuat mendorongnya untuk menjawab.
"Namaku Retno Wilis."
Dua orang kakek itu adalah Wasi Surengpati dan Wasi
Karangwolo. Mendengar jawaban itu, mereka saling pandang.
Wasi Karangwolo lalu bertanya lagi sambil mengerahkan
kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi Rara Wilis.
"Dari mana engkau datang?"


Sepasang Garuda Putih Seri Keris Pusaka Sang Megatantra 5 Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dari Panjalu."
Kembali dua orang kakek itu saling pandang dan pada saat
itu, Adipati Martimbangpun datang dan ikut menjenguk lewat
terali besi di bagian atas pintu. Melihat kehadiran adipati
Martimpang, Wasi Karangwolo mengulang lagi pertanyaannya.
"Wanita muda, katakan siapa namamu dan darimana engkau
datang!" Bagaikan seorang yang sedang mimpi,jawaban itu
meluncur dari mulut Retno Wilis di luar kehendaknya sendiri.
"Namaku Retno Wilis dan aku datang dari Panjalu."
Adipati Martimpang terkejut. Dia tidak mengenal nama
Retno Wilis akan tetapi pengakuan gadis itu bahwa ia datang
dari Panjalu mengejutkan hatinya. Kiranya benar bahwa gadis
ini seorang telik-sandi yang dikirim oleh Kerajaan Panjalu!
"Siapa yang mengutusmu datang ke Nusabarung?"
"Tidak ada yang mengutusku."
"Apa maksudmu datang ke Nusabarung?"
"Hendak melihat-lihat keadaan, menentang kejahatan,
membela yang benar dengan adil!" kata-kata terakhir itu
adalah tugas yang selalu didengungkan oleh Bagus Seto
kepada Retno Wilis, maka sekarang kata-kata itu keluar
dengan sendirinya."
"Siapa ayah bundamu?" Wasi Karangwolo kembali bertanya
untuk dapat mengetahui lebih banyak tentang gadis yang
menjadi tawanan itu.
"Ayahku Patih Panjalu Tejolaksono dan ibuku Endang
Patibroto!"
Dua orang kakek dan adipati itu terkejut setengah mati.
Mata mereka terbelalak ketika mereka saling pandang. Kalau
nama Retno Wilis tidak mereka kenal, maka nama Tejolaksono
dan Endang Patibroto itu tentu saja telah mereka kenal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan baik! Dua orang yang sakti mandraguna, yang pernah
menggegerkan Nusabarung dan Blambangan.
Wasi Karangwolo selain terkejut juga girang sekali. Dia
menganggap Tejolaksono dan Endang Palibroto sebagai
musuh besarnya. Kakek ini adalah guru dari para senopati di
Blambangan yang dulu terbunuh oleh Endang Patibroto. Para
muridnya itu adalah Mayangkrudo, Kolonarmodo, dan Haryo
Baruno. Bahkan Adipati Blambangan di waktu itu, Menak
Linggo juga terbunuh oleh wanita sakti itu. Dan kini puteri
Endang Patibroto dan Tejolaksono berada di dalam
tangannya! Sungguh merupakan balas dendam yang terasa
manis sekali bagi Wasi Kawangwolo. Adipati Martimpang kini
yakin pula bahwa puteri patih Panjalu itu pasti datang untuk
menyelidiki keadaan dan kekuatan Nusabarung. Gadis ini
merupakan orang yang berbahaya sekali.
"Ia seorang yang berbahaya sekali!" kata Adipati
Martimpang. "Kita bunuh saja ia sebelum ia dapat memberi
keterangan tentang Nusabarung kepada Raja Panjalu!"
"Nanti dulu, Kanjeng Adipati. Kita kuras dulu keterangan
darinya sebanyak-banyaknya," kata Wasi Karangwolo. Dia lalu
memandang lagi kepada Retno Wilis dan suaranya menggetar
penuh wibawa ketika dia bertanya, "Retno Wilis, dengan siapa
saja engkau datang ke Nusabarung?"
"Dengan kakakku."
"Siapa kakakmu itu?" tanya Wasi Karangwolo, semakin
penasaran. "Kakangmas Bagus Seto."
"Di mana dia sekarang?"
"Di Nusabarung."
"Ya, tapi di mana?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Retno Wilis tidak menjawab karena memang ia tidak tahu
di mana kakaknya berada.
"Retno Wilis, jawab, atau aku akan membikin pecah
kepalamu. Engkau merasa kepalamu nyeri sekali, seperti
dipukuli dari dalam!"
Mendadak Retno Wilis memejamkan matanya dan
mengerang kesakitan, menggeleng-gelengkan kepalanya yang
terasa nyeri sekali.
"Hayo katakan, di mana adanya Bagus Seto?"
Tiba-tiba tampak uap putih, dan sesosok bayangan putih
berkelebat, tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pemuda,
berpakaian serba putih.
"Aku berada di sini!" kata Bagus Seto yang dengan
kepandaiannya yang tinggi sudah dapat memasuki tempat itu.
Dia lalu melemparkan tangkai bunga cempaka putih ke arah
kepala Retno Wilis dan dia berkata lembut namun penuh
getaran yang berwibawa. "Diajeng Relno W ilis, sadarlah!
Engkau telah bebas dari pengaruh jahat yang menguasaimu,
tenagamu telah pulih kembali seperti sedia kala!"
Adipati Martimpang terkejut sekali dan berteriak memanggil
para senopatinya yang masih berada di luar. "Tangkap
pemuda itu!" bentaknya dan dia sendiri lalu menyelinap dan
pergi dari tempat itu.
Wasi Karangwolo dan Wasi Surengpati juga merasa marah
sekali melihat munculnya pemuda berpakaian putih itu.
"Keparat, menyerahlah!" bentak mereka sambil mengerahkan
ilmu s ihir mereka untuk menundukkan Bagus Seto. Akan tetapi
pemuda itu tersenyum dan berkata kepada dua orang kakek
itu. "Sayang sekali mempelajari ilmu hanya untuk melakukan
kejahatan!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua orang kakek itu menyerang dan menubruk maju, akan
tetapi sekali berkelebat Bagus Seto telah lenyap dari tempat
itu. Sementara itu, Retno Wilis seperti orang yang baru bangun
dari mimpi buruk. Ia merasa betapa tenaganya sudah pulih
kembali dan kini ia sadar betul bahwa ia telah tertawan dan
terbelenggu. Dengan marah Retno Wilis lalu mengeluarkan
suara melengking tinggi dan sekali menggerakkan kaki
tangannya, dara perkasa ini telah membuat belenggu kaki
tangannya patah-patah! Ia meloncat berdiri dan mengerahkan
tenaganya menerjang daun pintu dari besi itu.
"Wuuuuuut ... braaaakkkk!" Pintu itu jebol dan Retno Wilis
sudah melompat keluar dari dalam kamar tahanan. Melihat ini,
semua orang terkejut dan belasan orang penjaga, juga dua
orang kakek itu, mundur dan keluar dari tempat tahanan itu.
Pendekar Setia 3 Amarah Pedang Bunga Iblis Karya Gu Long Elang Terbang Di Dataran Luas 6
^