Pencarian

Pengemis Tua Aneh 2

Pengemis Tua Aneh Ouw Bin Hiap Kek Karya Kho Ping Hoo Bagian 2


Pemuda itu segera membentak. "Bangsat curang!" dan ia gunakan dua jari tangannya menyampok piauw yang terbang itu hingga dengan luncuran yang lebih cepat dari datangnya tadi, piauw itu terbang kembali menyerang tuannya.
Kwee Ong tak keburu berkelit karena hal ini sama sekali tidak disangkanya hingga tahu-tahu piauwnya sendiri telah menancap di lehernya dan ia berteriak ngeri.
Keempat jago yang kini telah naik ke panggung, dua dari Tung-kiang, dua lagi dari Nam-kiang, menjadi terkejut dan heran. Mereka tidak tahu dari mana datangnya anak muda yang lihai ini. Terutama pihak Tung-kiang yang melihat betapa kawan mereka dilukai, segera membentak nyaring.
"Bangsat kecil berani mati! Siapakah kau yang telah berani membunuh kawan kami?"
Sebelum Lie Bun menjawab, dua orang jago dari Nam-kiang yang juga telah naik dan marah melihat ada orang luar ikut campur hingga dapat menimbulkan dugaan buruk terhadap pihak Nam-kiang, membentak marah.
"Pengemis cilik kelaparan! Kenapa kau ikut campur urusan orang lain" Kami tidak sudi dibantu oleh siapapun juga?"
Lie Bun tersenyum dan memandang orang-orang kedua pihak berganti-ganti, lalu
berkata sambil angguk-anggukan kepala.
"Memang sudah ku duga. Kamu semua bukanlah orang baik-baik, bukan orang-orang gagah di kalangan kang-ouw yang menjunjung tinggi kegagahan, tentu takkan sudi diperalat oleh orang-orang kaya dan berpangkat untuk saling menghantam sesama kaum dan golongan. Tapi aku tidak perduli semua ini. Kalian orang-orang tersesat mau saling hantam dan bunuh masa bodoh. Tapi di depan mataku jangan sekali-kali terjadi kecurangan seperti tadi. Biarpun yang bertempur hanya segerombolan anjing, kalau ada yang bermain curang, aku tak dapat tinggal diam. Aku paling benci melihat kecurangan!"
Semua orang heran sekali mendengar kata-kata yang sangat berani ini, dan banyak orang menyangka bahwa anak muda pengemis ini tentu berotak miring atau
setidaknya seperempat gila.
Orang-orang yang tadi menonton di luar pagar, kini melihat betapa kelima penjaga itu dapat dilempar orang hingga merangkak bangun sambil pegang-pegang kepala yang bocor, beramai-ramai memasuki pintu pekarangan dan melihat ke atas panggung,
karena mereka tahu bahwa sekarang akan terjadi perkelahian yang lebih hebat lagi.
"Bangsat kecil, kau memang harus dibikin mampus!" bentak jago kedua dari Tung-kiang yang bertubuh pendek besar dan kepalanya gundul. Inilah Tiat-tauw-ciang si kepala besi yang bernama Bu Swat Kay.
"Benar, sebelum kita melanjutkan pertandingan ini, lebih dulu kita harus bereskan binatang ini!" jago pertama dari Nam-kiang berseru.
Sementara itu, kedua mayat dari Kwee Ong dan Teng tosu telah diturunkan orang hingga kini yang berada di atas panggung hanya tinggal Lie Bun yang dikurung oleh empat orang jago dari kedua pihak.
Lie Bun mendengar betapa jago-jago kedua pihak memusuhinya, tersenyum dan
berkata. "Memang seharusnya demikian. Kalau kalian berempat tak dapat menjatuhkan aku, apakah kalian masih ada muka untuk main pencak di sini memamerkan
kepandaianmu yang tiada harganya ini" Hayo majulah kalian berempat, boleh coba-coba dengan siauw-yamu!"
Bukan main marahnya keempat orang itu. Mereka adalah jago-jago besar yang
ternama dan memiliki kepandaian tinggi.
Jago pertama dari Tung-kiang yang bernama Cee Un dan berjuluk Si jari lihai adalah seorang tinggi kurus yang mahir sekali ilmu totok It-ci-tiam-hwat dan memiliki lweekang yang sudah mencapai tingkat tinggi. Selain menggunakan sebuah jari untuk menotok jalan darah lawan, Cee Un memiliki sebuah senjata yang aneh dan lihai, yakni sebatang pit kuningan yang dapat ia mainkan dengan berbahaya karena selain merupakan senjata yang dapat menembus kulit, mematahkan tulang, juga dapat
digunakan untuk menotok jalan darah lawan yang berkulit tebal.
Jago kedua dari Tung-kiang juga seorang yang berkepandaian tinggi. Bu Swat Kay si kepala besi ini memiliki tenaga besar dan keistimewaannya ialah menggunakan
kepalanya yang gundul licin untuk menghantam tubuh lawan. Jarang ada lawan yang dapat menahan benturan kepalanya yang lebih berbahaya dari pada serudukan kerbau jantan.
Juga jago-jago dari Nam-kiang tak boleh dipandang ringan. Yang ketiga saja, Teng tosu yang tewas karena kecurangan Kwee Ong sudah cukup lihai. Yang kedua ialah Liok Sat yang dijuluki Lutung Sakti, seorang bekas perampok ulung yang telah
terkenal sekali akan ilmu pedang cabang Kun-lun yang telah tercampur dengan lain-lain cabang.
Yang pertama adalah seorang kang-ouw yang telah membuat nama besar, bukan
karena kegagahannya saja, tapi juga karena kekejamannya. Ia adalah seorang hwesio cabul yang tersesat bernama Khong Tong Hwesio, seorang ahli dari cabang Siauw-lim-pai, tapi bukan murid langsung, hanya saja ilmu silatnya telah bercampur dengan ilmu silat Pek-lian-kauw. Khong Tong Hwesio ini masih menjadi murid keponakan dari Ang-koay-tojin yang terkenal dan ditakuti seluruh tokoh kang-ouw.
Demikianlah empat orang jago besar itu, tentu saja mereka merasa terhina sekali oleh anak muda yang tak mereka pandang sebelah mata itu.
Si kepala besi tak dapat menahan marahnya lagi, lalu berkata kepada kawan dan lawannya.
"Saudara-saudara harap turun dulu, biar aku yang mengantar nyawa binatang jahanam ini ke neraka!"
Karena tidak sudi dianggap mengeroyok seorang anak muda yang usianya tidak lebih dari lima belas tahun, tiga jago lain lalu loncat turun dengan muka merah karena marah dan penasaran.
Lie Bun menghadapi si kepala besi. "Kalau tidak salah, tadi kau diperkenalkan sebagai seorang berkepala besi. Tidak tahu besi di kepalamu itu besi tulen atau palsu?"
Orang-orang luar yang kini telah mendesak masuk ketika mendengar ini tak dapat menahan geli hati mereka dan sambil ditahan-tahan mereka tertawa perlahan.
Bukan main marahnya si kepala besi hingga kepalanya yang licin gundul itu seakan-akan mengeluarkan asap. Ia gulung lengan bajunya dan Lie Bun juga meniru
perbuatannya itu, ikut-ikut menggulung lengan baju hingga kembali orang-orang yang melihat tingkah lakunya yang lucu menjadi tertawa.
"Bangsat kecil, lihat saja dalam sepuluh jurus aku pasti akan menjatuhkan kau ke bawah panggung dengan napas putus!"
Lie Bun menjawab sambil meniru-niru gaya dan suara si kepala besi.
"Bangsat besar, lihat saja dalam lima jurus aku pasti akan menjatuhkan kau ke bawah panggung dengan napas empas-empis!"
Kembali para penonton tertawa, mereka ini lupa bahwa yang berada di atas panggung bukanlah dua orang pelawak yang sedang membadut, tapi adalah dua orang yang akan bertempur mengadu nyawa.
Si kepala besi yang tadinya hendak tahan harga dan menjaga nama hingga tak mau menyerang dulu, melihat lagak Lie Bun menjadi tak sabar lagi. Ia mengeram dan maju menerkam seperti seekor harimau haus darah.
Lie Bun menghitung "satu!" sambil berkelit dan ketika serangan kedua datang, ia menambah hitungannya "dua!" dan demikianlah, dengan berkelit dan gunakan
ginkangnya hingga ia bergerak lincah sekali. Ia menghitung terus sampai delapan.
Melihat betapa dalam delapan jurus belum juga dapat menjatuhkan anak itu, si kepala besi menjadi terkejut, heran dan malu. Kalau tidak bisa menjatuhkan dalam dua jurus lagi, ia akan mendapat malu dan kehilangan muka, pikirnya. Maka ia lalu maju
menyerang dengan tiga pukulannya yang paling berbahaya, yakni Macan hitam
menerkam ular. Pukulan ini selain cepat, juga tidak terduga, karena kedua tangan digerak-gerakan tak tentu hingga sukar diduga hendak memukul bagian mana.
Namun Lie Bun tidak menjadi bingung. Ia sengaja menanti dengan tenang dan
menghantam lambung yang dapat mendatangkan maut. Ia segera menggulingkan diri ke belakang sambil menghitung "sembilan!" dan kemudian berdiri lagi sambil
tersenyum-senyum mengejek.
Tentu saja si kepala besi merasa gemas sekali, apalagi ketika mendengar suara ketawa dari para penonton, baik dari pihak Tung-kiang maupun dari pihak Nam-kiang yang merasa betapa anak muda itu sikapnya lucu sekali.
Maka nekadlah si kepala besi, ia mundur beberapa langkah dan segera berseru.
"Bersedialah untuk mampus!" kemudian ia lari cepat dengan kepalanya yang gundul mengkilap di depan, seperti lakunya seekor kerbau gila yang menyeruduk lawannya.
Karena sambil maju menyeruduk, matanya melirik, ia dapat mengejar kemana saja lawannya lari menghindarkan diri.
Melihat kenekatan lawannya, Lie Bun tertawa keras dan berkata.
"Coba lihat, apakah kepalamu ini benar-benar besi tulen atau hanya kentang busuk!"
Belum habis kata-kata ini dikeluarkan, semua orang menahan napas karena serudukan ini telah tiba. Tapi Lie Bun dengan tenang sekali enjot tubuhnya ke atas hingga ia dapat naik ke atas punggung lawannya dan dengan sebelah kaki ia injak belakang kepala itu sambil kirim satu tabokan dengan tangannya.
"Plak!" kepala gundul itu kena ditampar.
"Ah, bukan besi tulen!" kata Lie Bun yang loncat turun. "Nah, aku sudah menerima serangan sepuluh jurus, sekarang coba kau terima seranganku lima jurus saja!"
Sehabis berkata demikian, Lie Bun lalu maju menendang dengan kaki kirinya secara sembarangan ke arah perut lawannya. Tendangan ini agaknya dilakukan sembarangan saja dan tidak bertenaga hingga si kepala besi pandang enteng. Tapi jago-jago nomor satu dari kedua pihak khawatir sekali karena mereka maklum bahwa tendangan ini adalah sebuah gerakan pancingan dari ilmu tendangan Siauw-ci-twie yang lihai.
Benar saja, ketika si kepala besi dengan sembrono gunakan tangan hendak
menangkap kaki yang menendang itu, tahu-tahu kaki itu telah ditarik kembali dan secepat kilat kaki kedua menyusul dari jurusan lain yang sama sekali tidak terduga.
Kaki kanan Lie Bun yang tak bersepatu tepat sekali mendorong dada si kepala besi hingga tak ampun lagi Bu Swat Kay terlempar dan jatuh dari atas panggung hingga mengeluarkan suara bergedebuk keras ketika tubuhnya menimpa tanah.
Kini pujian dari penonton tak disembunyikan lagi. Terdengar tepuk tangan riuh.
Melihat betapa seorang pengemis kecil dapat mengacaukan pertandingan lui-tai itu yang berarti menghina mereka yang hendak bertanding, maka Liok Sat si Lutung sakti enjot tubuh naik ke atas panggung. Begitu kakinya menginjak papan panggung, tahu-tahu ia telah kirim serangan maut ke arah ubun-ubun kepala Lie Bun.
"Kejam sekali!" Lie Bun berseru keras dan berkelit menghindar serangan itu.
Tapi si lutung sakti tidak mau kasih hati kepada pengemis muda yang ia anggap sangat kurang ajar itu, dan terus saja ia keluarkan ilmu silatnya yang paling jempolan, yakni Sin-wan Kun-hwat atau ilmu pukulan lutung sakti yang diciptakannya sendiri berdasarkan ilmu silat Go-bi.
Ia menafsir dalam beberapa jurus saja pasti ia akan dapat menangkap atau
merobohkan anak itu yang disangkanya hanya memiliki kegesitan belaka. Tidak
tahunya bahwa Lie Bun telah banyak mengalami pertempuran besar bersama suhunya dan ia mengenal segala macam ilmu silat.
Maka melihat permainan silat lawannya, ia lalu keluarkan ilmu silat Bie-ciong-kun atau Kepalan menyesatkan dan dengan ilmu silat ini ia dapat membuat lawannya
bingung. Gerak geriknya seperti seorang wanita yang genit hingga nampak menarik sekali dan menimbulkan buah tertawaan penonton yang makin gembira.
Pertunjukan itu tentu saja merupakan tamparan hebat, baik bagi pihak tuan rumah maupun bagi pihak tamu, maka dengan berbisik para pengurus kedua pihak lalu
menganjurkan jago-jago ke satu mereka untuk naik dan membereskan pengacau cilik itu!
Tapi sebelum kedua jago itu naik ke panggung, terdengar teriakan keras dari Liok Sat dan tubuhnya terlempar di udara. Ternyata ketika ia menggunakan kaki kanan
menendang dengan keras ke arah anggota rahasia Lie Bun, pemuda itu cepat geser kakinya ke samping, lalu cepat bagaikan kilat ia berhasil menangkap kaki lawan dan terus saja mendorongnya ke atas.
Tidak ampun lagi tubuh Liok Sat terlempar dan melayang dengan telentang dan
kepala lebih dulu ke bawah panggung. Untung baginya bahwa jatuhnya tepat di mana jago pertama dari Nam-kiang berdiri hingga Khong Tong Hwesio dapat menjambak
leher bajunya dan mencegah kepalanya membentur tanah.
Khong Tong Hwesio putar-putar matanya yang besar karena marahnya. Selama
hidupnya belum pernah ia merasa terhina seperti pada saat ini. Seorang pengemis muda berani mengganggu dan membikin malu ia dan kawan-kawannya. Sungguh
harus mampus! Ia telah siap untuk melayang ke atas panggung dan dengan sekali jotos tewaskan anak muda itu. Tapi pada saat itu tampak seorang dari pihak Tung-kiang loncat naik ke atas panggung sambil membentak.
"Bangsat kecil, kau cari mampus sendiri!" Dan bayangan itu yang mempunyai
gerakan cepat dan ringan sekali langsung menyerang Lie Bun.
Ia adalah Cee Un si jari lihai, jago pertama dari Tung-kiang. Ketika tangan yang menyerang itu dikelit oleh Lie Bun, cepat sekali tangan itu terbuka jarinya dan terus menyerang ke arah mata pemuda itu. Gerakannya demikian cepat dan tidak terduga hingga Lie Bun menjadi kaget sekali. Ia tahu bahwa lawannya kali ini bukan
sembarang orang, maka ia tak berani berlaku sembrono. Namun ia masih berkelakar untuk menenagkan hatinya.
"Ah, inikah It-ci-sin-kang si jari lihai" Berani betul kau melawan aku. Apa tidak takut kalah?"
"Setan kecil tutup mulutmu!" Cee Un membentak dan kembali ia menyerang hebat.
Kini ia menggunakan It-ci-tiam-hwat atau ilmu totokan satu jari yang luar biasa lihainya karena jari telunjuk kedua tangannya itu lebih berbahaya dari pada dua batang pedang tajam.
Gerakan pedang dapat didengar dan dilihat, tapi senjata hidup berupa jari tangan itu lihai sekali dan luar biasa cepatnya.
Namun Lie Bun akan memalukan nama suhunya jika ia dapat dibuat gentar oleh It-ci-tiam-hwat. Ia bergerak lebih cepat dari pada lawannya dan untuk menghindari jari lawan ia gunakan ilmu pukulan Eng-jiauw-kang. Sepuluh jari tangannya lalu ditekuk merupakan cakar garuda dan jangan pandang rendah jari-jari tangannya yang kecil itu karena di situ telah dialirkan tenaga lweekang yang membuat jari-jari itu merupakan cakar besi dan dapat membeset kulit lawan.
Demikianlah, kedua orang itu saling serang, yang satu menusuk-nusuk dan yang lain mencakar-cakar.
Menghadapi kelincahan Lie Bun yang ternyata lebih gesit dari padanya ini, Cee Un merasa penasaran sekali. Ia sebetulnya tidak takut menghadapi cengkraman cakar Lie Bun karena dengan mengandalkan ilmu kebal dan tenaga dalamnya, paling hebat
kalau sampai tercengkram tentu hanya luka kulit saja yang di deritanya, tapi kalau hal ini benar. Karena inilah, maka ia berteriak menyatakan kemendongkolan hatinya, lalu tahu-tahu ia telah mencabut sebatang pit kuningan dari pinggangnya.
Pit ini pjanganya kira-kira satu kaki dan ketika ia telah pegang senjata istimewa ini, ia lakukan serangan bertubi-tubi dengan cepat dan hebat.
Kini Lie Bun agak terdesak. Tadi memang ia berani mengadu tangan karena sepuluh jarinya boleh diadu dengan dua jari lawan. Tapi kini jari-jarinya menghadapi sebatang pit kuningan yang keras dan lihai, maka ia lalu merubah pula caranya bersilat. Dan kini ia gunakan ilmu silat Im-yang-kun yang diandalkan dan menjadi ilmu simpanan suhunya.
Benar-benar ilmu silat Im-yang-kun ini luar biasa, karena ilmu silat ini mengandung kekerasan dan kehalusan secara berbareng. Dengan menggunakan ilmu silat ini Lie Bun dapat melayani pit dari It-ci-sin-kang hingga ratusan jurus.
Sebetulnya Lie Bun kalah tenaga lweekang, juga kalah ulet dan pengalaman, maka dapat diduga betapa terkejut dan herannya Cee Un ketika melihat betapa pemuda itu sukar sekali dirobohkan.
Si Muka Bopeng Jatuh Cinta
KHONG Tong Hwesio melihat bahwa Cee Un belum juga dapat merobohkan anak
itu, menjadi makin marah. Ia enjot tubuhnya yang besar dan sekejap mata ia telah berada di atas panggung sambil membentak.
"Orang she Cee! Kau serahkan anak ini untuk disembeli olehku!"
Tapi Cee Un yang merasa penasaran tak mau tinggalkan anak itu karena kalau ia tinggalkan akan kehilangan muka. Itu berarti bahwa ia kalah terhadap Lie Bun dan jika nanti Khong Tong Hwesio dapat merobohkan anak ini, maka dengan sendirinya berarti bahwa iapun kalah hebat jika dibandingkan dengan Khong Tong Hwesio.
Karena ini ia menjawab.
"Jangan kau ikut-ikut! Biarlah aku sendiri bikin mampus anak ini!"
Karena keduanya tidak mau mengalah, maka keduanya lalu maju menyerang Lie Bun, hingga anak muda ini dikeroyok dua oleh jago-jago nomor satu dari Tung-kiang dan Nam-kiang.
Menghadapi dua jago tua yang lihai dan ganas ini, Lie Bun kewalahan juga dan
biarpun gerakannya lincah dan gesit, namun sukar sekali baginya untuk
menghindarkan diri dari ancaman maut yang dilancarkan oleh dua lawannya itu.
Semua penonton menahan napas dan empe yang tadi bercerita kepada Lie Bun dan
yang semenjak naiknya Lie Bun di atas panggung, telah mendesak berdiri di tempat paling depan, bertepuk tangan paling keras dan tertawa paling gembira melihat kemenangan-kemenangan Lie Bun. Kini ia berdiri memandang dengan bibir gemetar karena mengkhawatirkan keselamatan anak muda yang luar biasa itu.
Pada saat yang berbahaya bagi keselamatan Lie Bun, tiba-tiba kedua pengeroyoknya terpental mundur dan di antara keduanya berdiri seorang pengemis tua yang
pakaiannya sama benar dengan pakaian Lie Bun. Ia adalah Kang-lam Koay-hiap
sendiri yang keburu datang menolong jiwa muridnya dari bahaya maut.
"Tidak malukah kalian orang tua bangka mengeroyok seorang anak muda" Kalau
kalian mau mengeroyok, keroyoklah aku tua sama tua!"
Ketika melihat siapa yang berada di depan mereka, Khong Tong Hwesio dan Cee Un berdiri dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
"Kang-lam Koay-hiap! Kesalahan apa yang telah kami perbuat hingga Koayhiap
sampai turun tangan?" Cee Un bertanya sambil menjura.
"Kau secara pengecut mengeroyok muridku, masih bertanya salah apa lagi?"
Mendengar jawaban ini, Cee Un berdiri bingung. Tidak disangkanya sama sekali
bahwa pemuda itu adalah murid Kang-lam Koay-hiap, pantas saja lihainya luar biasa.
Si jari lihai ini pernah mendapat hajaran keras dari Kang-lam Koay-hiap, maka ia sangat tunduk dan jeri.
Sebaliknya, biarpun pernah mendengar dan pernah melihat Kang-lam Koay-hiap,
namun belum pernah ia merasai tangannya, maka Khong Tong Hwesio melihat betapa Cee Un nampak jerih. Ia lalu maju untuk mencari muka terang. Ia menjura sambil berkata, suaranya biasa, keras dan nyaring, sama sekali tidak menunjukkan takut atau jerih.
"Kang-lam Koay-hiap! Telah lama mendengar namamu yang besar, maka pinceng
merasa senang sekali dapat bertemu muka. Muridmu ini lihai sekali hingga berturut-turut menjatuhkan jago-jago Tung-kiang dengan mudah. Tapi mengapa dia mengacau panggung lui-tai kami" Hal ini harap kau orang tua sudi pertimbangkan dan dapat menegurnya."
"Khong Tong, hwesio sesat! Tak perlu kau banyak jual lagak, karena aku telah tahu betul keadaanmu dan orang-orang yang menyebut dirinya orang-orang gagah tapi
sebetulnya hanya gentong-gentong nasi tiada guna belaka!"
"Hayo, Lie Bun, kita tinggalkan tempat kotor ini. Untuk apa meladeni segala macam anjing penjilat orang-orang kaya ini?"
Bukan main marahnya Khong Tong Hwesio mendengar kata-kata ini, maka ketika
guru dan murid itu balikkan tubuh hendak loncat turun dari panggung, tiba-tiba ia keluarkan hui-to atau golok terbangnya yang kecil dan tajam sebanyak tiga buah. Lalu langsung ia sambitkan ke arah guru dan murid itu.
Sambitan ini, yang dilakukan dari jarak dekat, sangat berbahaya dan agaknya Lie Bun takkan dapat hindarkan dirinya pula. Tapi tanpa balikkan badan, Kang-lam Koay-hiap putar tongkatnya di belakang tubuhnya dan tubuh muridnya dan dua golok terbang dapat terpukul jatuh, sedangkan yang sebuah lagi terbang kembali ke arah Khong Tong Hwesio hingga dengan terkejut sekali hwesio itu loncat menyingkir.
Kang-lam Koay-hiap loncat pergi diikuti muridnya dan sebentar saja mereka lenyap dari pandangan mata. Semua orang yang melihat mereka dengan perasaan heran,
terkejut dan kagum.
Kang-lam Koay-hiap lanjutkan perantauan mereka dan Lie Bun makin giat belajar silat karena pengalamannya di kota Tung-kiang menyatakan bahwa ia masih perlu mempertinggi kepandaiannya, karena ketika dikeroyok oleh Khong Tong Hwesio dan Cee Un hampir saja ia mendapat celaka.
Pada suatu hari, mereka tiba di kota Bok-chun yang ramai. Seperti biasa Kang-lam Koay-hiap ajak muridnya mengemis. Ketika mereka lewat di depan sebuah kelenteng yang besar dan memakai merek Ban-siu-tong di depannya, tiba-tiba seorang hwesio yang sedang duduk di pekarangan depan kelenteng itu memanggil mereka.
"Sahabat-sahabat mampirlah sebentar jika kalian butuh makan."
Kang-lam Koay-hiap dan muridnya menengok dengan heran. Selama mereka
merantau belum pernah ada orang menawari makan tanpa diminta. Ternyata yang
menawari makan itu adalah seorang hwesio berusia kira-kira empat puluh tahun dan hwesio itu berdiri sambil tersenyum lebar kepada mereka.
Mata Kang-lam Koay-hiap sangat tajam, maka segera timbul curiganya melihat sinar mata hwesio itu. Ia mengangguk-angguk dan tarik tangan muridnya.
"Ah, kau tadi sebut makan?"
Hwesio itu tertawa melihat betapa pengemis-pengemis itu cepat sekali
memperhatikan jika ditawari makan. Ia tidak marah mendengar tutur sapa pengemis tua yang kasar itu.
Ia mengangguk. "Ya, makan! Kalian tentu lapar, bukan" Nah, marilah masuk dan
kalian boleh makan sekenyangnya!"
Kang-lam Koay-hiap dan Lie Bun masuk ke pekarangan kelenteng itu dan mengikuti hwesio itu dari belakang. Guru dan murid itu makin curiga ketika melihat bahwa tindakan kaki hwesio itu sangat kuat dan tegap, tanda bahwa hwesio itu memiliki kepandaian silat tinggi.
Ketika tiba di ruang tengah, hwesio itu memanggil hwesio pelayan. "Uruslah kedua sahabat yang perlu ditolong ini dan berilah makan sampai kenyang."
"Baik, suhu," jawab hwesio pelayan yang membawa mereka ke ruang belakang. Di
situ mereka berdua diberi makan cukup banyak hingga mereka dapat makan
sekenyangnya. Hwesio pelayan itu digunakan oleh Kang-lam Koay-hiap untuk
bertanya tentang hwesio yang baik budi itu.
"Dia adalah hwesio kepala kelenteng kami ini," jawab hwesio pelayan. "Kelenteng ini hanya satu-satunya kelenteng di kota ini dan hwesio kepala memang terkenal baik budi dan dermawan. Semenjak Kak Pau Suhu ini mengepalai kelenteng kami, maka
keadaan kelenteng menjadi baik dan banyak mendapat sumbangan karena Kak Pau
Suhu terkenal pandai dan suci. Kau lihat, bahkan kepada pengemis-pengemis seperti kalian ia menaruh hati kasihan dan menolongmu."
Kang-lam Koay-hiap mengangguk-angguk. "Apakah Kak Pau Suhu ini pandai ilmu
silat?" tanyanya sambil lalu.
"Silat" Ah, setahuku, tidak. Tapi ia pandai tentang segala peraturan sembahyang, juga pandai liam-keng. Selain itu ia juga suci dan sakti, hingga beberapa kali ia diundang untuk mengusir siluman di beberapa rumah penduduk kota ini."
"Apa" Mengusir siluman" Apakah di kota ini ada silumannya?"
Hwesio pelayan itu tampak ketakutan dan menjawab perlahan.
"Banyak siluman, banyak ...." dan ia tutup mulutnya karena pada saat itu Kak Pau Hwesio muncul lagi dengan senyum manis di bibir.
"Sudah cukupkah, sahabat-sahabat?" tanyanya kepada guru dan murid itu.
"Cukup, cukup .... terima kasih," jawab Kang-lam Koay-hiap.
"Kalau kalian merasa lapar, maka datang sajalah ke sini tentu kami akan
menolongmu," kata Kak Pau Suhu dengan ramah.
Setelah meninggalkan kelenteng itu Kang-lam Koay-hiap bersungut-sungut seorang diri. "Mana ada hwesio sebaik itu" Palsu .... palsu .... selama hidupku belum pernah kulihat hwesio mengurus pengemis!"
Ketika malam tiba, Kang-lam Koay-hiap berkata kepada Lie Bun.
"Lie Bun, di kota ini tentu terjadi hal-hal yang tidak sewajarnya. Kata hwesio pelayan tadi, di sini banyak siluman dan bahwa Kak Pau Suhu pandai mengusir siluman. Ini adalah aneh dan kita harus selidiki!"
Guru dan murid itu lalu naik ke atas genteng rumah-rumah orang untuk menyelidiki.
Setelah puas berkeliling dan bahkan menyelidik di atas genteng kelenteng Ban-siu-tong dan tidak dapat sesuatu yang mencurigakan, kedua guru dan murid itu lalu merebahkan diri di atas genteng rumah gedung besar yang terlindung tembok loteng dan sebentar kemudian keduanya mendengkur karena telah jatuh pulas enak sekali.
Kira-kira lewat tengah malam, tiba-tiba Lie Bun terjaga dari tidurnya karena tubuhnya digoyang-goyang oleh gurunya. Ia cepat bangun dan duduk tanpa membuka suara
sedikitpun. Ia telah terlampau biasa menghadapi saat-saat berbahaya hingga biarpun baru saja bangun tidur, pikirannya telah bekerja dan seluruh tubuhnya telah siap menghadapi segala kemungkinan.
Suhunya menunjuk ke depan dan terlihat olehnya bayangan seseorang yang
berloncatan di atas genteng dengan gerakan cepat. Bayangan itu mendekat dan ketika ia loncat ke atas genteng di mana Kang-lam Koay-hiap dan muridnya mendekam.
Tampaklah bahwa bayangan itu adalah seorang tinggi besar yang berpakaian serba putih, kepalanya memakai kerudung putih dan ia memakai kedok hitam.
Kemudian bayangan itu loncat ke lain genteng dengan gerakan yang cukup
mengagumkan. "Inilah agaknya siluman yang digemparkan orang," kata Kang-lam Koay-hiap
perlahan kepada muridnya. Kemudian ia memberi isyarat kepada Lie Bun untuk
mengejar bayangan itu.
Ketika tiba di atas sebuah rumah gedung, bayangan itu berhenti sebentar sambil memandang ke sekelilingnya. Kang-lam Koay-hiap dan Lie Bun cepat mendekam di
atas genteng sambil mengintai dari balik wuwungan. Mereka melihat betapa orang itu loncat turun ke dalam pekarangan gedung.
"Kau tunggu di sini dan pasang mata!" kata Kang-lam Koay-hiap kepada muridnya.
Kemudian kakek itu loncat mengejar ke bawah. Lie Bun duduk di atas genteng sambil pasang mata dan telinga.
Kang-lam Koay-hiap dengan cepat sekali dapat mengetahui di mana adanya tamu
malam itu. Ternyata bayangan itu telah memasuki sebuah kamar dan ketika Kang-lam Koay-hiap mengintai dari balik jendela, hampir saja ia terjang jendela itu untuk menyerang penjahat malam yang dikejarnya tadi. Karena ternyata kamar itu adalah kamar seorang siocia. Baiknya ia masih dapat menahan nafsunya untuk segera
menyerang, dan mengintai lebih lanjut.
Penjahat itu gunakan tangan kiri membuka kelambu dan di dalamnya tampak seorang gadis sedang tidur nyenyak. Cepat sekali tangan kanan penjahat itu bergerak dan gadis itu telah tertotok. Kemudian penjahat baju hitam itu mengangkat dan
memanggul tubuh siocia itu, lalu membawanya loncat ke atas genteng melalui pintu kamar yang terbuka.
"Bangsat, jangan lari!" Kang-lam Koay-hiap membentak marah dan mengejarnya.
Penjahat itu terkejut sekali dan ia cepat berkelit ketika tahu-tahu di depannya ada seorang anak muda yang menyerang kepalanya. Penyerang itu adalah Lie Bun yang mendengar teriakan suhunya. Ternyata penjahat malam itu cukup gesit karena mudah saja ia berkelit dari serangan Lie Bun. Sementara itu, Kang-lam Koay-hiap telah tiba di situ dan membentak.
"Bajingan, hayo kau lepaskan anak gadis itu!"
Penjahat itu tertawa keras dan melemparkan gadis itu ke atas.
Lie Bun, tolong dia!" kata Kang-lam Koay-hiap yang langsung menerjang penjahat itu. Pertempuran hebat segera terjadi dan baru saja bertempur beberapa jurus, penjahat itu kaget sekali karena pengemis tua yang menyerangnya ini benar-benar lihai sekali hingga ketika lengan mereka beradu, ia merasa betapa lengannya sakit dan panas!
Sementara itu, Lie Bun dengan gerakan gesit dan cepat, loncat ke arah tubuh gadis itu dilempar dan sebelum tubuh gadis itu jatuh ke bawah, ia segera menangkap dan
memeluknya. Alangkah terkejut dan malunya ketika ia melihat bahwa tubuh itu adalah tubuh
seorang gadis berusia sepantar dengan dia sendiri dan gadis itu berada dalam keadaan tertotok. Ia letakkan tubuh itu di atas genteng dan untuk sesaat ia duduk bengong karena untuk memunahkan totokan ini ia harus totok iga dara itu.
Penjahat malam itu hampir tak kuat menahan desakan Kang-lam Koay-hiap, maka ia berseru. "Tahan dulu! Siapakah enghiong yang menghalangi pekerjaanku?"
Kang-lam Koay-hiap tahan marahnya. "Bangsat sialan, sebelum kau ketahui namaku, buka dulu kedokmu dan jangan bersikap pengecut!"
Karena merasa bahwa dengan berkedok ia tak dapat melayani musuh lihai ini dengan baik, terpaksa penjahat malam itu buka kedoknya. Mereka saling pandang dan Kang-lam Koay-hiap benar-benar heran melihat orang yang berdiri di depannya."
"Kau .... Kak Pau Hwesio?" tanyanya heran.
"Dan kau .... pengemis siang tadi?"
"Ha ha ha! Sudah kuduga, kau hwesio palsu! Tapi sekarang kau bertemu dengan
Kang-lam Koay-hiap, jangan harap bisa hidup lebih lama lagi."
"Kang-lam Koay-hiap?" Kak Pau Hwesio menggigil dan dengan nekad ia cabut
pedangnya lalu menyerang mati-matian. Si pengemis sudah siap dengan tongkat
bambunya dan mereka bertempur lagi lebih hebat.
Lie Bun akhirnya kuatkan hati dan menotok iga dara itu yang segera pulih kembali tenaganya. Dara itu memandang muka Lie Bun dengan penuh terima kasih di
matanya, tapi ia masih takut sekali melihat pertempuran yang terjadi di depan matanya.
"Tolong inkong, turunkan aku!" katanya perlahan.
Lie Bun ragu-ragu. "Tapi .... tapi ...., aku harus .... memondong kau, nona. Tidak ada jalan lain lagi ....."
Nona muda itu untuk sesaat juga bingung, merasa malu harus dipondong oleh pemuda ini, tapi apa boleh buat karena untuk berada di atas genteng yang tinggi ini iapun merasa ngeri. Apalagi dengan adanya pertempuran di depan.
"Baiklah, tidak apa!" katanya halus. Lie Bun berkata lagi. "Maafkan kelancanganku, nona."
Ia lalu memondong gadis itu dan loncat turun. Dara itu menjerit kecil ketika merasa tubuhnya terjun dari atas genteng yang tinggi itu dan ia memejamkan mata sambil memeluk leher Lie Bun. Pemuda ini merasa dadanya berdebar dan semangatnya
terbang ketika gadis itu memeluk lehernya dan betapa rambut yang lemas dan harum itu menyapu-nyapu bibir dan hidungnya.
Mendengar suara pertempuran di atas genteng, penghuni rumah gedung itu terkejut dan bangun sambil memasang obor.
Tiba-tiba mereka melihat Lie Bun yang memondong gadis itu loncat dari atas genteng hingga mereka terkejut sekali. Mereka maju mengepung dan hendak menyerang Lie Bun, tapi gadis itu segera loncat turun dari pondongan Lie Bun sambil berseru.
"Jangan serang dia!"
Seorang setengah tua lari memeluknya. "Kwei Lan! Apa yang terjadi?"
"Ayah!" gadis itu menangis tersedu-sedu dalam pelukan ayahnya. "Ada penjahat
menculikku ayah! Dan inkong (tuan penolong) ini telah menyelamatkan jiwaku.
Sekarang kawannya sedang bertempur dengan penjahat yang menculikku."
Mendengar kata-kata ini, barulah Lie Bun teringat bahwa suhunya masih sedang
bertempur di atas genteng, maka ia lalu loncat ke atas dengan cepat. Dilihatnya bahwa penjahat itu telah terdesak hebat oleh tongkat suhunya dan pada suatu saat, pedang penjahat itu terpental dan jatuh berkerontangan di atas genteng. Ujung tongkat menyambar dan hwesio jahat itu tertotok jalan darah yang dekat dengan jantungnya hingga mati di saat itu juga.
"Lie Bun, hayo kita pergi," ajak Kang-lam Koay-hiap kepada muridnya tanpa
memperdulikan orang-orang yang ada di bawah.
"Nanti dulu, suhu! Kita harus memberi penjelasan untuk menjaga nama baik siocia tadi."
Suhunya memandang muridnya dengan pandangan tajam. Tapi karena malam itu
gelap, ia tidak dapat melihat nyata. Ia hanya menghela napas dan sambil menyeret mayat hwesio itu, ia loncat turun bersama muridnya.
Semua orang terkejut sekali ketika ia melihat bahwa yang menjadi penculik Lo Kwei Lan siocia bukan lain adalah Pak Kau Hwesio, ketua kelenteng Ban-siu-tong yang terkenal suci dan sakti. Kini mengertilah mereka bahwa sebenarnya hwesio itu
bukanlah pandai mengusir siluman, tapi semua ini hanya untuk menutupi
perbuatannya yang terkutuk.
Ia sendiri kalau malam menjadi siluman mengganggu orang dan mencuri harta benda.
Kalau siang pura-pura menjadi hwesio alim dan mengusir segala siluman yang
mengganggu. Segera setelah hari menjadi siang, persoalan ini dilaporkan kepada yang berwajib dan karena pelapornya adalah Lo-wangwe, seorang hartawan besar, pembesar itu tidak mengusut lebih jauh dan perintahkan untuk mengubur jenazah hwesio jahat itu.
Lo-wangwe suka sekali kepada Lie Bun dan gurunya. Ia memaksa mereka bermalam
dan tinggal di rumahnya beberapa lama. Sebenarnya Kang-lam Koay-hiap hendak
menolak, tapi melihat wajah Lie Bun yang berbeda dari pada biasa itu, ia merasa kasihan dan bermalam di situ selama dua malam.
Pada keesokan harinya, ketika Kang-lam Koay-hiap sedang duduk minum arak
dengan Lo-wangwe yang sangat menghargainya itu, Lie Bun secara iseng-iseng
memasuki taman bunga di pinggir gedung. Taman bunga itu luas sekali dan ketika ia berjalan menikmati bunga-bunga yang mekar indah, tiba-tiba ia mendengar suara Kwei Lan bernyanyi perlahan.
Ia cepat bersembunyi di belakang gerombolan bunga dan dari jauh tampak dara itu bernyanyi-nyanyi kecil memasuki taman. Ketika tiba di dekat empang ikan, di mana terdapat sebuah meja dan empat kursi, gadis itu duduk. Ternyata bahwa Kwei Lan sedang membawa kipas dan perabot tulis telah tersedia lengkap di atas meja itu. Gadis ini termenung dan hentikan nyanyiannya, karena agaknya ia hendak menulis syair di atas kipas itu.
Sambil termenung, dia melihat ke arah air yang jernih dan memandang ikan-ikan yang sedang berenang kesana kemari. Tiba-tiba ia melihat sepasang ikan sisik emas berenang berdampingan, tapi ketika tiba di depannya, sepasang ikan itu berpisah, yang berekor merah ke kanan dan yang berekor kuning ke kiri. Pemandangan ini
membuat Kwei Lan sadar dari lamunannya dan ia mulai menulis dengan huruf-huruf kecil di atas kipasnya.
Sepasang ikan bercerai


Pengemis Tua Aneh Ouw Bin Hiap Kek Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Seekor ke kanan, seekor ke kiri ....
Sampai disini, ia termenung kembali. "Ah!" pikirnya, kenapa syair di mulai dengan peristiwa menyedihkan"
Tiba-tiba ia mendengar suara kaki orang menginjak daun kering, ia menengok dan tersenyum.
"Lie-inkong kau datang" Duduklah ...!"
Lie Bun kikuk dan malu sekali. Gadis itu demikian cantik, demikian bersih dan indah pakaiannya.
"Siocia ..... janganlah sebut aku inkong, tak pantas bagiku. Aku ... aku tak sengaja mengganggumu di sini. Maafkan aku."
Kwei Lan tersenyum, ia suka melihat kejujuran dan kehalusan watak pemuda yang bertampang buruk itu. Bagi Kwei Lan, tampang yang buruk itu tidak menjijikan, karena ia dapat menangkap sinar mata yang lembut dan selain kulitnya rusak karena cacar, sebetulnya pemuda itu mempunyai potongan wajah dan tubuh yang gagah.
"Tidak apa, Lie-twako, kau duduklah! Aku sedang bingung bagaimana harus
melanjutkan bunyi syairku ini."
Gadis itu lalu memberikan kipasnya kepada Lie Bun. Pemuda itu membacanya dan
iapun tidak tahu bagaimana harus menyambung syair itu. Ia dulu hanya sebentar belajar sastra, yakni sebelum ia ikut suhunya merantau.
"Aku seorang bodoh, nona. Tak mengerti tentang syair. Tapi syairmu ini
menyedihkan. Bukankah lebih baik kalau kipasmu ini digambari saja?"
Wajah Kwei Lan berseri. "Kau pandai melukis" Ah, alangkah baiknya itu! Kau
pandai melukis apa, Lie-twako?"
"Apa saja, yakni binatang-binatang atau apa saja yang bernyawa dan hidup dan dapat bergerak. Melukis bunga-bunga dan gunung aku tak dapat."
"Binatang?" Kwei Lan mengerutkan kening dan garuk-garuk belakang telinga. Ia
tadinya mengharapkan untuk digambarkan bunga yang indah dan cantik. Tapi tiba-tiba ia berseri kembali.
"Kau tadi katakan bahwa kau dapat melukis segala yang bernyawa" Kalau begitu kau dapat melukis orang?"
"Sedikit-sedikit akan kucoba," kata Lie Bun.
Gadis itu melompat turun dari duduknya dan hampir menari kegirangan. "Kalau
begitu kau harus melukis aku di atas kipasku ini!"
Pikiran ini juga menggembirakan hati Lie Bun. Segera ia angkat meja dan sebuah kursi menjauhi Kwei Lan serta minta gadis itu duduk di dekat empang. Lalu ia
gunakan pit untuk melukis gadis itu di atas kipas putih yang baru ditulis sedikit. Tak lama kemudian selesailah lukisan itu. Kwei Lan girang sekali karena lukisan itu biarpun sederhana, tapi jelas menggambarkan wajahnya yang cantik jelita.
"Tapi sebelah belakang kipas ini masih kosong," kata Kwei Lan. "Apakah kau suka membuat sebuah lukisan lain lagi?"
"Aku hanya dapat membuat lukisan binatang atau ...."
"Apa saja yang dapat bergerak?" Kwei Lan melanjutkan. "Nah, kau boleh melukis ...
orang lain. Kau sendiri, misalnya ...."
"Melukis aku sendiri" Tapi ... aku tak dapat melihat rupaku, nona."
"Mudah saja, kau dapat bercermin di air empang."
Karena di desak berkali-kali, Lie Bun lalu duduk di pinggir empang dan ia mulai melukis dirinya sendiri, mencontoh bayangannya di dalam empang. Asyik sekali ia melukis hingga ia tidak tahu bahwa Kwei Lan telah berdiri di belakangnya dan ikut melihat lukisan itu. Di situ terlukis wajahnya dengan bagus sekali, memang raut mukanya gagah dan tampan. Mata Lie Bun bersinar-sinar gembira, tapi tiba-tiba ia melihat ke dalam air dan teringat akan sesuatu. Kerongkongannya mengeluarkan isak tertahan dan dengan cepat ia gunakan ujung pit untuk membuat totol-totol hitam di muka lukisannya itu.
"Twako ....!" Kwei Lan menjerit kecil sambil tak sengaja menyentuh pundak Lie Bun.
Pemuda itu menengok dan Kwei Lan melihat betapa kedua mata pemuda itu basah air mata.
Lie Bun segera banting pitnya dan lari tinggalkan Kwei Lan yang masih berdiri termangu memandang lukisan di balik kipasnya. Lukisan seorang pemuda yang
bermuka hitam totol-totol buruk sekali. Ia menghela napas dan memungut kipas itu.
Kemudian lama sekali ia memandang kedua lukisan itu. Lukisan gambarnya sendiri dan gambar pemuda yang telah menolongnya itu. Kemudian ia tutup kipas itu dan menyimpannya dibalik lipatan lengan bajunya.
Setelah menghaturkan terima kasih kepada tuan rumah atas kebaikan dan keramah tamahannya, kedua guru dan murid itu berpamit dan melanjutkan perantauan mereka.
Lie Bun merasa seakan-akan jiwanya tertinggal di taman bunga yang indah itu dan semenjak melangkah keluar dari gedung Lo-wangwe, ia merasa tak gembira dan
pendiam. Suhunya tahu akan perubahan muridnya, maka ia bertanya.
"Lie Bun, agaknya kau mengalami sesuatu di gedung Lo-wangwe."
Lie Bun terkejut dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak apa-apa, suhu!" biarpun suaranya tetap dan gelengan kepalanya keras, namun ia tidak berani menentang pandangan mata suhunya.
Kang-lam Koay-hiap tersenyum dan angkat pundaknya. Ia maklum akan hati seorang muda dan menganggap hal ini wajar. Tapi ia merasa iba kepada muridnya yang
berwajah buruk ini. Ia maklum bahwa wajah muridnya ini agaknya tak
memungkinkan ia untuk dapat hidup berkasih-kasihan dengan seorang wanita cantik.
Maka diam-diam ia menghela napas dan menyedihkan keadaan muridnya yang ia
cinta sepenuh hatinya, bagaikan cinta seorang ayah terhadap putera sendiri.
Dua tahun kemudian, di dalam perantauannya Kang-lam Koay-hiap telah mengajak
muridnya menjelajah hampir seluruh Tiongkok Timur sampai ke pantai laut.
Kemudian mereka kembali ke barat karena kakek pengemis itu berpikir bahwa kini kepandaian Lie Bun sudah cukup masak dan sudah tiba saatnya pemuda itu kembali kepada orang tuanya.
Ia ingin menyerahkan anak muda itu kepada Lie-wangwe dan menyatakan terima
kasihnya atas kepercayaan wan-gwe itu, karena dengan ikutnya Lie Bun merantau menjadi muridnya, maka orang tua yang hidup sebatang kara itu merasa sangat
terhibur dan merasa hidupnya mempunyai tujuan dan cita-cita, yakni menggembleng Lie Bun menjadi seorang yang berguna.
Tapi malang baginya, ketika mereka berdua sampai di kota Tembok, Kang-lam Koayhiap yang terkenal gagah perkasa dan berkepandaian tinggi itu terpaksa menyerah dengan kekuasaan alam dan ia menderita sakit. Tubuhnya panas sekali dan kepalanya selalu pening hingga ia tak kuat bangun.
Lie Bun menjaganya dengan teliti sekali, bahkan dengan uang simpanan ia membeli obat di warung obat dalam usahanya menolong suhunya. Seminggu lamanya Kang-lam Koay-hiap yang kosen itu menggeletak di emper sebuah kelenteng dengan lemas tak berdaya sama sekali dan tidak mau makan, hanya menerima sedikit minum yang disediakan oleh muridnya. Lie Bun sendiri tidak mempunyai selera untuk makan
karena hatinya sedih dan cemas sekali melihat keadaan suhunya.
Perjalanan Akhir Pengemis Sakti
SETELAH lewat sepekan, penyakit yang mengganggu tubuh Kang-lam Koay-hiap
berangsur-angsur mengurang dan ia sudah mulai suka makan hidangan yang
disediakan oleh Lie Bun.
"Muridku, tubuhku yang telah tua dan lemah ini agaknya tidak kuat menandingi
semangatku yang masih kuat dan gembira. Kalau kupaksa-paksa tentu aku akan
semakin menderita. Mulai besok, kita akan langsung menuju ke kotamu dan
pulanglah ke rumah orang tuamu. Ingatkah kau, sudah berapa lama kau tinggalkan rumah orang tuamu"
Karena gembira melihat suhunya telah sembuh, Lie Bun menjawab sambil tersenyum.
"Kurang lebih tujuh tahun, suhu, karena dulu teecu baru berusia sebelas tahun dan sekarang sudah hampir delapan belas tahun."
"Perjalanan kita sudah jauh juga hingga waktu lewat tidak terasa lagi. Dari sini ke kotamu masih membutuhkan waktu perjalanan sedikitnya setengah bulan. Tapi dalam keadaan tubuhku seperti sekarang ini, mungkin dalam satu bulan baru bisa sampai."
"Tidak apa, suhu. Teecu sabar menanti. Apakah artinya satu atau dua bulan setelah berpisah selama tujuh tahun?"
Kang-lam Koay-hiap mengangguk-angguk. "Kau benar, muridku. Jadi orang harus
sabar, harus sabar sekali ...."
Lie Bun heran melihat sikap suhunya. Agaknya penyakit itu telah mendatangkan
perubahan besar kepada gurunya yang tadinya bersemangat kini menjadi lemah.
Kemudian ia tinggalkan gurunya untuk mencari hidangan malam. Karena ia masih
ada simpanan uang, maka ia membeli masakan dari rumah makan. Ia tahu bahwa
sehabis sembuh dari penyakitnya, suhunya tentu ingin sekali makan enak. Juga ia membeli arak wangi satu guci penuh. Dengan hati girang Lie Bun yang setia dan menyinta gurunya itu lari kembali ke kelenteng rusak. Ia sengaja ambil jalan di atas genteng agar dapat lari lebih cepat lagi.
Tapi alangkah kagetnya ketika ia loncat turun dari atas genteng kelenteng. Ternyata gurunya sedang bertempur hebat melawan tiga orang. Dan suhunya terdesak hebat sekali oleh ketiga musuh yang tangguh itu. Lie Bun banting makanan yang
dipegangnya dan cepat sekali ia menyerbu dengan marah sekali ke dalam medan
pertempuran. Ternyata olehnya bahwa yang mengeroyok gurunya adalah dua orang berusia kurang lebih empat puluh tahun dan seorang hwesio gundul yang bertubuh kate dan gemuk.
Kepandaian dua orang setengah tua itu tidak begitu hebat walaupun pedang mereka cukup cepat, tapi yang hebat ialah hwesio kate gemuk itu.
Biarpun hwesio itu hanya bertangan kosong, tapi jelas bahwa kepandaian si kepala gundul itu tidak berada di bawah kepandaian Kang-lam Koay-hiap sendiri. Karena ini maka Lie Bun menyerang dengan hebat dua orang yang bersenjata pedang.
"Lie Bun, kau gempurlah dua tikus ini!" Yang dimaksud dua tikus adalah dua orang yang bersenjata pedang itu, maka Lie Bun lalu lepas ikat kepalanya dan menyerang dengan benda itu.
Lie Bun telah maju pesat ilmu silatnya, juga ia telah banyak mengalami pertempuran selama ikut suhunya merantau, maka ia dapat melayani kedua orang itu dengan baik.
Biarpun ia bersenjata ikat kepala tapi karena ikat kepala itu panjang dan lemas dan digunakan dengan tenaga lweekang, maka ganas dan kuatnya tidak kalah dengan
pedang lawannya. Bahkan dengan ikat kepala itu ia mencoba untuk membelit pedang lawan dan merampasnya.
Sementara itu, Kang-lam Koay-hiap melayani hwesio pendek gemuk yang sangat
lihai itu. Mereka sama-sama mahir dan ahli lweekeh yang tinggi ilmu silatnya, hingga pertempuran mereka merupakan pertempuran yang mati-matian. Sayang sekali bahwa tubuh Kang-lam Koay-hiap yang baru saja sembuh dari sakit itu masih lemah dan setelah bertempur ratusan jurus, Kang-lam Koay-hiap merasa lelah sekali dan
kepalanya mulai pening.
Agaknya penyakit yang telah sembuh itu kambuh lagi.
Lie Bun memang tahu bahwa suhunya masih lemah, maka ia menaruh perhatian
sekali dan sambil bertempur ia selalu melirik ke arah suhunya.
Untung baginya bahwa kedua lawannya tidak merupakan lawan terlalu berat hingga ia dapat bagi perhatiannya. Ketika melihat betapa suhunya telah mandi keringat dan tampak pucat dan lelah sekali, Lie Bun sangat khawatir. Ia hendak membantu, tapi kedua lawannya cepat mendesak.
Dengan marah sekali, Lie Bun lalu berseru keras dan berhasil membelit pedang
seorang lawan dengan ikat kepalanya lalu menariknya. Pedang itu dapat terampas dan Lie Bun segera gunakan pedang rampasan untuk mengamuk kepada kedua
pengeroyoknya. Biarpun keduanya cukup tangguh, tapi karena Lie Bun berkelahi
dengan penuh semangat terdorong oleh kekhawatirannya akan keselamatan suhunya, sebentar saja ia berhasil menusuk dada seorang lawan hingga roboh binasa. Musuh kedua sebelum dapat berbuat banyak, telah kena tendang lambungnya hingga
terlempar dua tombak lebih dan tak dapat bangun lagi, hanya merintih-rintih di atas tanah.
Setelah merobohkan kedua lawannya, Lie Bun cepat berbalik dan membantu gurunya.
Pada saat itu, Kang-lam Koay-hiap telah lelah dan payah sekali. Dua kali ia kena pukul pada dada kanan dan pundaknya. Tapi biarpun kedua pukulan hebat itu telah melukainya di sebelah dalam, berkat keuletannya kakek kosen ini masih saja tidak mau menyerah kalah dan terus melawan dengan tekad bulat.
Lie Bun dengan gemas sekali gunakan pedangnya menyerang hwesio yang lihai itu.
Melihat betapa serangan anak muda yang telah merobohkan kedua kawannya ini
berbahaya sekali, hwesio kate menjadi terkejut. Ia merasa bahwa kini ia menghadapi dua lawan yang tangguh sekali dan berbahaya sekali kiranya kalau ia melawan terus.
"Kang-lam Koay-hiap, kau telah mendapat luka dalam dan jangan mati penasaran.
Kalau kau tidak mampus dalam pertandingan ini dan dapat sembuh, datanglah kau ke Thian-siang dan kita lanjutkan pertempuran ini!"
Setelah berkata demikian, hwesio kate gemuk ini cepat meloncat ke atas genteng dan menghilang dalam gelap.
Lie Bun hendak mengejar, tapi Kang-lam Koay-hiap berkata lemah.
"Lie Bun ....... jangan ....!" Kemudian tubuh kakek itu menjadi limbung dan
terhuyung-huyung, kemudian roboh sambil semburkan darah segar dari mulutnya.
"Suhu .......!" Lie Bun lempar pedangnya dan loncat menubruk lalu memondong tubuh suhunya ke tempat bersih.
Kang-lam Koay-hiap tersenyum. "Aku puas muridku. Kau telah cukup kuat dan tidak kalah gesit dengan aku ketika masih muda."
"Suhu, suhu ..... bagaimanakah rasanya" Kau mendapat luka di mana?" Lie Bun tanya dengan penuh kekhawatiran, sama sekali tidak memperhatikan pujian suhunya.
"Aku ... aku mendapat luka ... dua kali, yang terakhir hebat sekali ...." kemudian ia geleng-geleng kepala. "Bok Bu Hwesio itu memang lihai ...."
"Teecu akan mencarinya, suhu! Teecu akan mengadu jiwa dengannya!" Lie Bun
gemas. "Tahukah kau siapa yang kau robohkan tadi" Mereka adalah Siong Gak dan Siong Gi kedua murid dari Kiu-thou Lo-mo yang dulu mencari ayahmu dan kubinasakan di atas rumah orang tuamu dulu! Kini kedua murid itu mencari aku dan membalas dendam
gurunya. Mereka belajar silat lagi kepada Bok Bu Hwesio dan berhasil ajak suhunya yang baru ini untuk menjatuhkan aku! Tapi mereka sendiri jatuh dalam tanganmu. Ah
.... balas membalas .....agaknya hukum karma terjadi cepat sekali. Lebih baik begitu, Lie Bun. Hutangku lunas sudah! Kau tak perlu mencari Bok Bu Hwesio untuk
membalas sakit hati. Aku tidak merasa sakit hati padanya. Ingat! Kau tak boleh mencari dia untuk membalas dendam! Kalau kau bertempur dengan dia karena urusan lain, apa boleh buat. Tapi jangan sekali-kali karena membalas dendam. Jangan kau ikat dirimu dengan rantai karma, muridku .........."
Karena keadaannya memang payah sekali ditambah ia telah mengumpulkan tenaga
terakhir untuk memberi wejangan ini, sehabis bicara, Kang-lam Koay-hiap
muntahkan darah lagi dan napasnya empas-empis.
Lie Bun terkejut sekali, tapi ia tidak berdaya, hanya airmatanya saja menitik turun dan ia gunakan tangannya mengurut-urut dada suhunya.
Biarpun keadaannya sangat parah, tapi guru yang sangat menyinta muridnya itu
gunakan waktu semalam penuh untuk mengatur napas dan kekuatannya untuk
memberi nasehat-nasehat dan wejangan-wejangan penting kepada muridnya. Lie Bun dengan terharu sekali bersumpah hendak menjujung tinggi semua nasehat suhunya dan hendak menjaga nama suhunya sampai akhir hayat.
Agak lega tampaknya orang tua itu, mendengar sumpah Lie Bun. Kemudian sambil
pegang pundak muridnya yang berlutut di sebelahnya, Kang-lam Koay-hiap berkata lirih.
"Lie Bun, jangan kau membohong pada gurumu. Agaknya kau tidak dapat melupakan puteri dari Lo-wangwe, bukan" Aku telah beberapa kali melihat kau diam-diam
melukis wajah gadis itu di atas tanah. Lie Bun, jangan kau lemah dan menyerah terhadap perasaan itu. Bukankah kau laki-laki" Kau pulanglah dan mintalah orang tuamu untuk melamar gadis itu, kalau kau setuju. Orang tuamu cukup kaya untuk melamar anak Lo-wangwe. Tapi pesanku, jangan hanya mengutamakan kebagusan
lahir dalam perkawinan, muridku. Kebahagiaan suami isteri tidak tergantung dari wajah tampan dan cantik! Kau perhatikan ini baik-baik!"
Lie Bun merasa terharu sekali. Sungguh suhunya seorang guru yang mulia dan sangat memperhatikan muridnya seperti kepada anaknya sendiri. Hal-hal yang begitu
dirahasiakan dapat juga diketahuinya.
Menjelang fajar, Kang-lam Koay-hiap, kakek gagah perkasa yang selama hidupnya sengaja menjadi pengemis, hiapkek budiman yang telah banyak sekali melepas budi kebaikan menolong sesama hidup, menghembuskan napas terakhir hanya di jaga oleh Lie Bun, muridnya yang menangis sedih sambil peluki mayat gurunya yang tercinta itu.
Betapapun juga kakek pengemis itu boleh merasa bangga dan puas karena setidaknya ada seorang yang dengan tulus menangisi kepergiannya, tidak seperti tangis-tangis yang sering terdengar pada upacara-upacara kematian.
Karena kelenteng itu kosong dan tiada penghuninya, maka Lie Bun lalu menggali tanah di pekarangan kelenteng sebelah belakang dan dengan penuh khidmat ia kubur jenazah suhunya baik-baik.
Kemudian Lie Bun berangkat menuju ke kota Bi-ciu di mana ayah dan ibunya tinggal.
Ia telah mendapat petunjuk dari suhunya jalan mana yang harus di tempuh untuk menuju ke kota itu. Tongkat bambu suhunya ia bawa. Ia tempuh perjalanan dengan cepat dan hanya berhenti bila mana perlu saja hingga lima hari kemudian, ia telah tiba di kota Tong-kwang yang ramai karena kota di tepi sungai Lung-kiang ini memang terkenal dengan perdagangan dan hasil bumi.
Karena Lie Bun masih melanjutkan kebiasaan suhunya, yakni mengemis, maka ia
mengikuti orang banyak yang menuju ke satu jurusan. Ia duga tentu ada tempat yang ramai hingga orang-orang itu pergi ke sana. Tidak tahunya, orang-orang itu menuju ke rumah Ong-tihu yang penuh dengan para tamu.
Tihu ini sedang merayakan pesta ulang tahunnya dan tentu saja sebagai seorang pembesar berpengaruh, ia mempunyai banyak kenalan dan yang hadir dipesta itu
terdiri dari orang-orang gagah dan para pejabat pemerintahan.
Melihat ini, Lie Bun sudah hendak pergi lagi, tapi tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh seorang laki-laki yang berkata kepada kawannya.
"Pertandingan silat nanti tentu hebat dan ramai."
"Ah, aku sih tidak ingin menonton silatnya hanya ingin melihat keindahan wajah dan bentuk badan Ong-siocia kalau sedang bersilat," jawab kawannya.
"Hush! Jangan keras-keras, kalau terdengar oleh mereka, kau akan celaka!"
Mendengar akan diadakan pertandingan silat, Lie Bun menjadi tertarik sekali dan ia mendesak maju.
Ternyata di ruang depan yang penuh tamu itu, ditengah-tengah telah dibangun sebuah panggung rendah untuk bermain silat. Tapi berbeda dengan panggung-panggung lui-tai yang biasa, panggung ini selain rendah juga dihias segala macam bunga-bunga kertas yang indah dan beraneka warna hingga kehilangan sifat menyeramkan yang ada pada panggung tempat mengadu kepandaian yang umum.
Lie Bun merasa heran dan ingin tahu orang macam apakah yang akan bertanding di atas panggung macam itu.
Tak lama kemudian, terdengar tepuk orang ramai dari para tamu dan dari dalam
keluarlah seorang gadis berpakaian merah.
Lie Bun kagum melihat kecantikan gadis itu dan pakaian gadis yang sangat mewah dan indah itu menambah kecantikannya.
Sebatang pedang bersarung merah pula tergantung di pinggangnya. Biarpun ia harus akui bahwa gadis itu cantik sekali, namun lirikan mata dan senyumannya
mendatangkan rasa tidak suka dalam hati Lie Bun. Gadis genit dan manja, pikirnya.
Ong-tihu memperkenalkan puterinya kepada para tamu dan kemudian setelah menjura kepada semua tamu, Ong-siocia loncat ke atas panggung dan mulai bersilat dengan tangan kosong.
Gerakan-gerakannya memang indah dan lemas hingga mengagumkan mereka yang
menonton, sedangkan Lie Bun diam-diam merasa tertarik sekali karena ilmu silat gadis itu bukanlah ilmu silat yang rendah.
Apalagi setelah Ong-siocia cabut pedangnya dan bersilat pedang, mau tidak mau Lie Bun kagum juga. Ia tahu bahwa ilmu pedang gadis itu adalah dari cabang Hwa-san yang telah bercampur dengan lain cabang. Tapi geraknya terlatih sempurna hingga bukan saja indah di pandang, juga cukup lihai kalau dipakai bertanding.
Karena tempat itu berdiri agak jauh dari panggung, maka ketika Ong-tihu berkata sesuatu sebagai pengumuman. Ia tidak mendengar jelas. Kemudian Ong-siocia
menghentikan permainannya dan mundur ke dalam.
Setelah itu berturut-turut tampil ke panggung orang-orang muda yang muncul dari para tamu.
Mereka seorang demi seorang bersilat seorang diri. Orang pertama sampai ketiga hanya memiliki kepandaian silat rendah saja maka setelah mereka bersilat, mereka dipersilahkan turun kembali.
Tapi orang keempat yang bersilat dengan ilmu silat cabang Siauw-lim, agaknya
menarik hati Ong-siocia yang menonton dari sebelah dalam. Ia lalu keluar dan setelah saling hormat, keduanya lalu bertanding silat.
Kini mengertilah Lie Bun bahwa anak gadis Ong-tihu itu sombong sekali dan ingin memperlihatkan kelihaiannya. Agaknya gadis baju merah itu sengaja memilih orang-orang yang agak tinggi kepandaiannya untuk dijajal. Yang berkepandaian rendah tidak menerima penghormatan untuk beradu tangan dengannya.
Ia tidak tahu sama sekali bahwa di samping ini, gadis itu mempunyai maksud lain.
Gadis yang dimanja ayahnya ini sebenarnya sedang memilih-milih seorang pemuda yang sekiranya pantas menjadi pasangannya.
Telah berkali-kali ia dilamar orang, tapi selalu ditolaknya. Hal ini diam-diam diketahui oleh para tamu. Maka pada kesempatan ini pemuda yang memiliki sedikit ilmu silat tentu tidak menyia-nyiakan waktu. Karena siapa tahu mereka akan
"kejatuhan bintang", atau setidaknya mereka akan merasa puas kalau bisa bersilat bersama gadis juwita yang sombong itu.
Karena menganggap bahwa gadis itu sombong dan jumawa, maka timbullah niat
dalam hati Lie Bun untuk mencoba kepandaiannya.
Sementara itu, dengan mudah saja gadis baju merah itu dapat merobohkan lawannya yang pertama.
Tempik sorak menyambut kemenangannya ini dan pemuda yang tertelentang jatuh
hanya meringis kesakitan dan merangkak dari tempat itu menuju ke sebuah bangku.
Maka pemuda-pemuda lain mulai bersilat pula. Setelah enam orang memperlihatkan kepandaiannya, pemuda ketujuh baru terpilih dan dianggap cukup pandai untuk
melayani Ong-siocia.
Pemuda itu tampan dan gagah, tapi kepandaiannya juga masih jauh di bawah gadis itu hingga dalam beberapa puluh jurus saja ia terdesak hebat.
Tapi anehnya, Ong-siocia agak merasa kasihan untuk menjatuhkannya, maka
beberapa kali ia hanya gunakan jari tangannya menowel dan menampar saja. Hal ini memang tak dapat terlihat oleh orang biasa, tapi bagi Lie Bun tampak jelas hingga diam-diam ia merasa jengah dan mukanya menjadi merah. Ia anggap gadis itu terlalu sekali mempermainkan orang. Akhirnya pemuda itupun terdesak ke pojok dan loncat turun mengaku kalah.
Setelah beberapa pemuda naik dan tidak diterima, yakni tidak dianggap cukup pandai, Lie Bun tak dapat menahan dorongan hatinya lagi. Ia loncat secepat kilat hingga tak ketahuan orang dan tahu-tahu ia telah berada di atas panggung setelah pemuda
kedelapan turun.
Orang-orang merasa heran melihat dia. Dari mana datangnya pemuda pengemis ini"
Memang keadaan Lie Bun sangat ganjil. Di antara orang-orang yang berpakaian
mewah dan gagah, ia tampak lucu sekali. Bajunya penuh tambalan, celananya hanya sampai di bawah lutut, sedangkan kedua kakinya telanjang.
Tiba-tiba terdengar bentakan halus dari dalam.
"Hai, pengemis busuk, siapa suruh kau naik ke panggung?"
Lie Bun berpaling ke arah Ong-siocia yang memakinya itu dan makin gemaslah ia.
"Bukankah kau sedang mencari lawan yang tangguh?" tanya Lie Bun sambil
tersenyum. Ong-siocia membuang muka dan wajahnya yang cantik itu menjadi merah karena
marah. "Ha! Siapa sudi bersilat dengan kau yang buruk rupa dan kotor ini!"
Kata-kata itu menikam betul ulu hati Lie Bun. Ia tidak merasa sakit hati disebut buruk rupa karena ia memang telah maklum betapa mukanya tidak dapat disebut tampan.
Tapi sikap gadis itulah yang memuakkan hatinya.
Dengan sengaja ia berkata keras agar terdengar oleh semua tamu.
"Jadi ujian ini hanya diberikan kepada pemuda-pemuda cakap dan tampan belaka"
Jadi siocia hendak mengadu kepandaian hanya dengan pemuda-pemuda yang tampan
saja, tak mau dengan pemuda yang buruk rupa" Eh, apa-apaan ini" Menguji
kepandaian atau mengukur tampang?"
Ong-tihu mendamprat. "Binatang! Dari mana datangnya pengemis hina yang berani mengacau" Hayo pergi, kalau tidak akan kuseret kau ke dalam penjara!"
Lie Bun menjura dengan senyum sindir. "Memang beginilah seharusnya sikap
seorang pembesar yang berkuasa. Garang terhadap seorang yang dianggapnya tidak berdaya. Baiklah kalau siocia yang gagah perkasa itu takut melawan aku si buruk rupa. Biarlah ia melawan si muka tampan yang tidak becus apa-apa!"
Marahlah Ong-siocia mendengar sindiran ini. "Bangsat, kalau kau memang ada
kepandaian, cobalah kau layani pedangku ini!"
Gadis itu lalu cabut pedangnya. Dengan sengit ia loncat ke arah panggung dan
langsung mengirim serangan kilat. Lie Bun berkelit cepat dan berkata.
"Bagus!" kemudian ia layani gadis baju merah itu dengan tangan kosong.
Memang hebat ilmu pedang gadis itu. Hanya sayang sekali kurang tenaga hingga ilmu silatnya itu ternyata hanya bagus ditonton saja. Lie Bun di dalam beberapa gebrakan saja maklum bahwa untuk menjatuhkan gadis ini bukanlah soal yang sukar baginya.
Tapi ia masih merasa kasihan untuk mencelakakan atau membuat malu kepada gadis yang tiada hubungannya sedikitpun dengan dia itu.
Maka iapun bersilat meniru gerakan gadis itu hingga bagi para penonton kedua orang bersilat dengan indah dan lemasnya hingga mengagumkan para penonton yang sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pengemis muda itu demikian gagah dan lihai.
Juga Ong-siocia sendiri merasa terkejut sekali karena pemuda muka hitam ini tepat sekali meniru gerak-geriknya dan bersilat menurut pelajaran dari cabangnya sendiri.
Tapi gerakan pemuda ini demikian cepat dan lihai hingga setiap serangan pedang dapat dikelitnya dengan lincah seakan-akan pemuda itu telah tahu sebelumnya ke mana pedangnya hendak menyerang.
Setelah menyerang lebih dari lima puluh jurus tapi belum juga dapat merobohkan pemuda itu, gadis baju merah itu merasa penasaran dan malu. Terang sekali bahwa ilmu silat pemuda ini jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri. Tapi sayang bahwa pemuda ini demikian buruk dan hitam wajahnya. Sedangkan pakaiannya
menunjukkan bahwa ia seorang pengemis pula. Diam-diam Ong-siocia merasa
kecewa sekali. Pada suatu saat Ong-siocia menyerang dengan tusukan kilat ke arah dada Lie Bun.
Pemuda itu sengaja hendak memperlihatkan kepandaiannya. Ia tidak kelit tusukan itu, hanya miringkan tubuhnya sedemikian rupa hingga pedang itu tepat sekali menusuk bajunya dan menyerempet kulit dadanya sebelah kanan, tapi sama sekali tidak
melukai kulitnya. Karena pedang itu tepat memasuki baju, maka baik gadis itu
maupun semua penonton mengira bahwa pemuda itu dada kanannya kena tusuk
hingga semua orang mengeluarkan seruan.
Untuk menghidupkan permainannya, Lie Bun pura-pura berteriak kesakitan dan
gunakan dengan tangannya mengepit pedang itu.
Ong-siocia buru-buru cabut pedangnya karena bukan maksudnya membunuh orang.
Tapi alangkah terkejutnya ketika pedang itu terasa seakan-akan terjepit tulang iga pemuda itu hingga tak dapat dicabut.
Sementara itu, Lie Bun terhuyung-huyung mundur hingga terpaksa Ong-siocia
lepaskan pedangnya yang kelihatan masih menancap di dada kanan Lie Bun.
Kemudian Lie Bun tertawa geli dan dengan tangan kiri cabut pedang itu. Semua orang memandang dengan mata melongo karena pedang itu tidak berwarna merah ujungnya seperti yang mereka sangka. Bahkan pemuda itu kini tertawa geli dan berkata.
"Aku mendengar orang berkata bahwa siapa yang dapat menangkan Ong-siocia, maka ia akan mendapat hadiah luar biasa besarnya. Hadiah yang tak terbeli oleh harta di dunia ini. Tapi aku setelah dapat melawanmu bahkan mendapat hadiah pedang.
Terima kasih, terima kasih! Harap saja siocia rela memberikan pedang ini padaku, ataukah hendak kau minta kembali?"
Ia pegang ujung pedang dan mengangsurkannya kepada Ong-siocia.
Tapi gadis itu dengan merasa malu lalu lari ke dalam tanpa berkata apa-apa.
Ong-tihu dengan diikuti beberapa orang pengawal bersenjata lengkap menghampiri Lie Bun hendak menangkapnya. Tapi pemuda itu berkata.
"Ong-tihu, tak usah repot-repot melayani aku. Aku bisa ambil sendiri hidangan-hidangan itu."
Dan dengan sikap yang lucu, Lie Bun loncat ke arah meja paling ujung, melewati kepala para tamu, hingga orang-orang yang duduk di meja ujung itu menjadi panik dan tinggalkan mejanya.
Lie Bun lalu duduk di atas sebuah bangku dan mulai makan minum dengan lahap.
Karena memang semenjak pagi tadi belum makan dan perutnya merasa lapar sekali.
Ong-tihu dengan wajah merah dan bersungut-sungut lalu memerintahkan para
pengawal itu untuk mengejar Lie Bun. Tapi sambil bawa mangkok di tangan kanan dan pedang rampasan di tangan kiri, Lie Bun loncat melewati kepala mereka dan turun di ujung lain, lalu dududk di sebuah bangku melanjutkan makannya seakan-akan tiada terjadi apa-apa.
Setelah beberapa kali loncat dan pindah-pindah meja hingga membuat para
pengejarnya tidak berdaya karena harus jalan mengitari sekian banyak meja
sedangkan yang dikejarnya dengan mudah dan enak saja melompati kepala para tamu, akhirnya Lie Bun merasa kenyang dan ia lalu berkata.
"Terima kasih untuk pedang dan makanan!" Ia lalu loncat keluar dan lari pergi.
Tentu saja peristiwa ini menggemparkan semua orang, termasuk para penonton di luar. Terutama Ong-siocia yang telah lama sekali mencari-cari dan mengharap-harapkan bertemu dengan seorang pemuda yang berkepandaian lebih tinggi darinya, menjadi bengong dan kecewa.
Mengapa pemuda itu berwajah hitam" Ini tidak begitu hebat, tapi kenapa pemuda itu hanya seorang pengemis" Ia menyesal sekali, dan setelah di ngat-ingat barulah ia terkejut karena pedangnya telah terampas, sedangkan pedangnya itu bukanlah pedang biasa, tapi sebilah pedang pusaka pemberian kakeknya. Ia hanya bisa merasa
menyesal dan seringkali ia kenangkan pemuda muka hitam yang memiliki kepandaian luar biasa itu.
Sepekan kemudian, setelah menempuh perjalanan yang jauh tanpa berhenti kecuali untuk makan dan tidur, Lie Bun tiba di kota Kwie-ciu yang letaknya hanya beberapa puluh li saja dari Bi-ciu, kota tempat tinggal orang tuanya.
Karena dulu ia sering pergi ke Kwie-ciu, maka melihat kota ini, Lie Bun merasa gembira sekali dan ia tunda perjalanannya sambil melihat-lihat bagian kota yang tidak asing baginya itu.
Ternyata selama beberapa tahun ini tidak banyak terjadi perubahan pada kota ini.
Waktu yang tujuh tahun itu seakan-akan baru tujuh hari saja lamanya. Alangkah cepatnya sang waktu meluncur.
Ketika ia sering datang ke kota ini, ia masih berusia kurang lebih sebelas tahun. Tapi kini ia telah menjadi seorang pemuda dewasa. Ia tundukkan kepala memandang


Pengemis Tua Aneh Ouw Bin Hiap Kek Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pakaiannya yang buruk penuh tambalan dan kedua kakinya yang telanjang. Lalu
teringatlah ia ketika dulu ia mengunjungi kota ini dengan pakaian mewah. Maka tersenyumlah dia.
Bagaimana kalau ayah ibu dan kakaknya melihat ia dalam pakaian macam ini" Ah, mereka tentu takkan mengenalnya lagi. Biarlah aku akan membuat mereka terkejut dan bingung, pikirnya gembira.
Tiba-tiba terdengar suara gembreng dan tambur dari jauh. Bersinarlah kedua mata Lie Bun karena ia teringat akan arti bunyi-bunyian itu.
Itulah tambur gembreng di kelenteng Kwan-im-pouwsat di tikungan jalan yang
menuju ke Bi-ciu.
Ternyata musim kering telah lewat dan untuk menyatakan terima kasih kepada Kwan-im-pouwsat, dewi yang murah hati yang selalu menjaga ketentraman dan
kemakmuran para petani dan rakyat kecil itu, penduduk Kwie-ciu lalu mengadakan keramaian. Seperti biasa di depan kelenteng itu dibangun di mana orang bermain barongsai dan lion. Juga kadang-kadang di situ dipakai untuk bermain silat
mendemonstrasikan kepandaian guru-guru silat di Kwie-ciu.
Maka tentu saja Lie Bun tertarik sekali, karena dulupun ia selalu dari Bi-ciu sengaja datang ke kota ini untuk menonton keramaian ini.
Benar saja, ketika ia tiba di depan kelenteng itu, orang-orang yang menonton
keramaian telah penuh.
Kelenteng dihias dengan bunga-bunga, daun-daun dan kertas-kertas beraneka warna.
Di depan kelenteng telah dibangun panggung yang tinggi dan kokoh dan di atas
panggung tampak sedang dimainkan barongsai dengan tetabuhan yang sangat nyaring dan ramai.
Lie Bun mendesak maju dan berdiri di depan melihat permainan barongsai. Setelah permainan itu selesai, maka seorang gemuk yang berpakaian sebagai seorang ahli silat, muncul dari belakang panggung dan setelah menjura ke empat penjuru dengan kaku karena ketika membongkokkan tubuh, perutnya yang gendut itu mengganjal di depan. Ia lalu berkata, ternyata suaranya keras dan nyaring.
"Saudara-saudara sekalian, perayaan untuk menghormat Pouwsat tahun ini diadakan lebih besar dari pada tahun-tahun yang sudah lalu. Bahkan sekarang diadakan
pertunjukkan istimewa, yakni pemilihan jago muda yang paling gagah di kota Kwie-ciu dan sekitarnya. Para guru silat di Kwie-ciu dan Bi-ciu menjadi saksi dan juri, sedangkan yang telah mendaftarkan untuk mengikuti pertandingan ini adalah enam belas jago-jago muda dari Kwie-ciu dan Lun-kwan."
"Pertandingan pertama dilakukan delapan kali dan keenam belas orang pengikut itu namanya akan diundi untuk menetapkan harus berhadapan dengan siapa. Kemudian
delapan orang pemenang dari pertandingan babak pertama ini akan diundi dan dipilih lagi menjadi empat orang pemenang. Dan demikian selanjutnya sampai terpilih
pemenang pertama yang akan disebut jago muda dari daerah Kwie-ciu."
Si Topeng Setan Menjadi Si Muka Hitam
PIDATO ini disambut dengan tepuk tangan riuh rendah karena para penonton merasa gembira sekali hendak disuguhi atraksi istimewa yang belum pernah diadakan.
Juga Lie Bun merasa gembira sekali, karena ia ingin sekali tahu siapakah jago muda terpandai di kota ini.
Si gendut itu angkat kedua tangannya untuk mencegah orang-orang membuat gaduh, lalu berkata lagi.
"Nama-nama peserta akan diumumkan dan undian telah dilakukan tadi."
Pertandingan diadakan dengan cara tangan kosong dan tidak boleh menggunakan
senjata tajam atau senjata rahasia. Luka atau kematian akibat pertandingan ini bukan tanggung jawab para peserta, dan hal ini telah disetujui oleh para pembesar yang berkuasa.
"Nah, sekarang peserta nomor satu Kwee Siang In berhadapan dengan peserta nomor tujuh Mo Kang Lok. Kwee-enghiong adalah jago muda dari Lun-kwan, sedangkan
Mo-enghiong adalah pemuda di kota ini. Kedua enghiong, silahkan naik ke
panggung."
Dengan disambut tepuk tangan riuh rendah, dua orang pemuda yang berpakaian dan bersikap gagah naik ke panggung dengan loncatan indah.
Melihat gaya loncatan itu, tahulah Lie Bun bahwa mereka hanya mempunyai
kepandaian silat pasaran saja, maka ia menjadi kecewa. Tapi timbul pula
kegembiraannya ketika mereka berdua mulai bertanding.
Keduanya tampan dan gagah dan kepandaian mereka berimbang. Tapi sebagaimana
dapat diduga oleh Lie Bun pada saat mereka mulai bergebrak, pemuda she Kwee
menang gesit dan pada suatu saat yang tepat ia berhasil mendupak perut lawannya hingga terhuyung dan akhirnya terguling dari atas panggung.
Kemenangan ini disambut sorak pujian dan pemuda she Kwee itu menjura ke arah
penonton lalu mengundurkan diri untuk mempersiapkan diri menghadapi
pertandingan babak kedua nanti.
Dengan lagak gagah si gendut lalu mengumumkan pertandingan kedua antara seorang she Oey dari Kwie-ciu dan seorang she Gak dari Bi-ciu. Lie Bun tertarik sekali mendengar bahwa orang she Gak itu berasal dari kotanya, tapi ia tidak kenal padanya.
Walau demikian, ada juga perasaan membela dalam hatinya hingga ketika dua
pemuda itu bertempur, ia diam-diam mendoakan agar orang she Gak itu yang
menang. Tapi ia kecewa, karena pemuda she Gak itu akhirnya kena terbanting roboh dan
dinyatakan kalah.
Demikianlah berturut-turut pertandingan diadakan. Ketika tiba giliran pertandingan ke enam, si gendut mengumumkan dengan suara dibuat-buat untuk menarik perhatian
para penonton. "Saudara-saudara sekalian. Pertandingan yang keenam ini dilakukan oleh orang-orang gagah kelas berat. Siapakah yang belum mendengar nama Rajawali Emas dari Bi-ciu dan Si Tangan Besi dari Kwie-ciu" Nah, kedua jago lihai ini sekarang akan bertanding di atas panggung ini. Diharap kedua jago ini, si Rajawali Emas Lie Kiat-enghiong dari Bi-ciu dan Kok Tian-enghiong dari Kwie-ciu suka tampil ke atas panggung."
Lie Bun merasa betapa dadanya berdebar. Kakaknya akan ikut bertanding. Kakaknya, Lie Kiat yang bengal dan sering menggodanya itu. Ah, kakaknya itu kini telah
menjadi seorang ahli silat dan bahkan telah mempunyai julukan pula. Si Rajawali Emas dari Bi-ciu. Alangkah gagahnya.
Dengan mata terbuka lebar Lie Bun memandang ke atas panggung.
Tiba-tiba dari bawah melayang naik seorang pemuda dengan gaya yang cukup indah hingga tahulah Lie Bun bahwa pemuda itu anak murid Go-bi-pai.
Kemudian dari sebelah kiri melayang pula naik ke panggung seorang pemuda yang berwajah tampan dan berpakaian kuning emas. Sungguh gagah dan tampan sekali
hingga ia mendapat sambutan tepuk tangan yang luar biasa.
Melihat kakaknya yang telah tujuh tahun ditinggalkan itu, Lie Bun merasa terharu sekali dan air matanya mengalir di kedua pipinya yang hitam dan bopeng. Kemudian ia tak dapat menahan gelora hatinya lagi dan loncatlah ia naik ke atas panggung, tepat di depan Lie Kiat dan berseru.
"Engko Kiat ...... engko Kiat ...."
Lie Kiat bertindak mundur sampai tiga langkah ketika tiba-tiba ada seorang pemuda yang berwajah hitam dan berpakaian aneh sekali loncat dan berdiri dihadapannya sambil memanggil-manggilnya. Tapi ia segera kenali wajah adiknya yang telah
bertahun-tahun pergi. Betapapun juga, seringkali Lie Kiat menangis dan rindu sekali kepada adiknya yang hanya satu-satunya ini. Maka ketika melihat Lie Bun berdiri di depannya, timbul rasa girang besar sekali dalam hatinya. Ia segera maju dan peluk adiknya itu sambil berbisik.
"Lie Bun ... kau .... kau kembali?"
Lie Bun peluk kakaknya dengan besar hati, tapi pada saat itu teringatlah Lie Kiat bahwa ia sedang berada di atas panggung dan ribuan pasang mata memandang ke arah mereka. Ia ingat pula akan keadaan adiknya yang seperti pengemis itu, maka cepat-cepat ia lepaskan pelukannya dan berkata kepada semua penonton.
"Cuwi yang terhormat. Janganlah cuwi salah sangka. Inilah adikku yang nakal. Belum lama ini adikku pergi menyelidiki keadaan para pengemis dan perihal kehidupan mereka. Karena itu ia sengaja menyamar sebagai seorang pengemis tulen. Jangan ia direndahkan, karena jelek-jelek adikku ini mempunyai kepandaian yang boleh juga dan ia mempunyai julukan Ouw-bin Hiap-kek, Si Pendekar Muka Hitam. Tapi
biarpun buruk rupa, hatinya baik sekali."
Semua penonton yang tadinya memandang terharu, kini mengangguk-anggukkan
kepala dan Lie Kiat lalu menyuruh adiknya turun.
"Kau lihatlah permainanku," katanya.
Lie Bun loncat turun dan di dalam hatinya ia mengaku bahwa kakaknya ini belum dapat mengubah adatnya yang tinggi dan sombong.
Agaknya kakaknya malu mengaku adik kepada seorang pengemis, maka ia sengaja
mengarang cerita bohong kepada para penonton agar keadaan Lie Bun sebagai
seorang pengemis itu tidak merendahkan namanya sendiri. Dan betapapun juga,
kakaknya itu masih saja suka menggodanya tentang wajahnya yang buruk hingga
terang-terangan memberi ia julukan Pendekar Muka Hitam.
Diam-diam Lie Bun tersenyum. Ah, julukan ini tidak lebih buruk dari pada Si Topeng Setan, yakni julukan yang dulu kakaknya memberinya. Kemudian ia perhatikan
kakaknya yang mulai bertanding.
Setelah bertempur beberapa jurus, Lie Bun tahu bahwa kakaknya mendapat didikan seorang guru silat dari cabang Siauw-lim dan bahwa kakaknya ini meyakinkan sedikit kepandaian lweekang.
Biarpun kepandaian kakaknya tidak berapa tinggi, namun ia memiliki kegesitan dan dengan tenaga lweekangnya, ia dapat menarik keuntungan dalam pertandingan
melawan seorang yang hanya melatih gwakang seperti Si Tangan Besi itu. Juga Lie Kiat cerdik, karena ia sengaja tidak mau mengadu lengan dan gunakan telapak tangan untuk menangkis lalu membalas dengan serangan-serangan kilat.
Telah beberapa kali ia berhasil menyampok dan menyodok tubuh lawannya, tapi
karena kebalnya, belum juga si Tangan Besi dapat dirobohkan.
Pertandingan ini boleh dibilang yang paling menarik di antara pertandingan-
pertandingan yang tadi, karena kepandaian kedua orang ini memang lebih tinggi.
Mereka telah bertempur lebih dari lima puluh jurus, tapi belum juga ada yang kalah.
Tiba-tiba Lie Bun yang sengaja berdiri di dekat panggung dan menonton pertandingan itu mendesak-desak penonton lain, lalu berseru keras.
"He, jangan kau desak-desak orang sampai tersodok mataku. Dan kau, jangan dorong-dorong sampai hampir jatuh."
Dengan lweekangnya yang sudah sempurna, Lie Bun dapat kirim suaranya itu hingga terdengar nyaring dari atas panggung.
Lie Kiat tidak kenali suara adiknya, tapi kata-kata yang jelas itu membuat ia sadar.
Kalau ia hanya memukul biasa saja, maka sukar untuk menjatuhkan lawan yang kebal ini. Mendengar kata-kata "sodok mata" dan "dorong roboh" ia mendapat akal. Maka ia segera rubah serangannya.
Kini ia tidak mau sembarang menendang atau memukul, tapi percepat gerakannya dan semua serangannya ditujukan ke mata lawan.
Karena memang ia lebih gesit, lawannya menjadi bingung dan cepat-cepat menangkis setiap sodokan. Karena kalau sampai matanya tersodok, tak mungkin ia gunakan
kekebalannya ke matanya.
Ia mulai terdesak ke pinggir dan tiba-tiba Lie Kiat ubah gerakannya dan sepenuh tenaga mendorong ke arah dada lawannya.
Karena serangannya dilakukan tiba-tiba tanpa ampun lagi tubuh si Tangan Besi
terjengkang lalu jatuh ke bawah panggung. Tentu aja hal ini dianggap satu
kemenangan untuk Lie Kiat.
Tepuk sorak riuh menyambut kemenangan ini dan mungkin yang bertepuk paling
keras adalah Lie Bun. Ia segera menghampiri kakaknya yang telah turun dan
memeluknya mesra.
Pada saat itu, pertandingan ketujuh telah dimulai, tapi yang bertempur adalah pemuda-pemuda biasa saja hingga tidak menarik dan sebentar saja diakhiri dengan kemenangan pihak Lun-kwan.
Tapi, ketika pertandingan ke delapan dimulai, Lie Bun berkata kepada Lie Kiat.
"Koko, apakah kau nanti bertempur lagi?"
"Tentu saja, dalam babak kedua harus bertempur lagi. Untuk mencapai kejuaraan, aku harus bertempur tiga kali lagi!"
"Koko, orang tinggi kurus yang sedang bertempur itu boleh juga."
Lie Kiat memandang dan saat itu orang tinggi kurus yang dimaksudkan Lie Bun
dengan tendangan telah berhasil menendang lawannya ke bawah panggung hingga
pingsan. "Ooh, dia adalah jago nomor satu dari Lun-kwan. Namanya Biauw Kak dan
julukannya si Tangan Maut. Tapi kukira aku dapat mengalahkannya, ilmu silatnya tidak seberapa," jawab Lie Kiat dengan jumawa hingga diam-diam Lie Bun tidak puas hatinya. Kakaknya ini perlu belajar hati-hati dan jangan memandang rendah lawan, pikirnya.
Setelah diumumkan pemenang-pemenang babak ke satu, maka lalu dimulai
pertandingan babak ke dua. Untung sekali bagi Lie Kiat bahwa undian membuat ia berhadapan dengan pemuda she Kwee pemenang pertandingan pertama tadi.
Dengan mudah saja Lie Kiat menggulingkan lawannya. Setelah selesai, maka kini tinggal empat orang jago yang tinggal sebagai pemenang-pemenang. Lalu diadakan undian lagi dan sekali lagi Lie Kiat mendapat lawan ringan, maka tinggal ah Lie Kiat dan Biauw Kak si Tangan Maut.
Kini si Gendut naik ke atas panggung dan berkata nyaring dengan muka berseri.
"Cuwi yang mulia! Nah, kalian telah menyaksikan para pemuda kita yang gagah
perkasa. Sekarang tinggal pertandingan babak terakhir antara dua pemenang, yakni Lie Kiat-enghiong si Rajawali Emas dari Bi-ciu dan Biauw Kak-enghiong si Tangan Maut dari Lun-kwan. Saudara-saudara tadi telah menyaksikan betapa gagah perkasa dan lihai kedua enghiong muda ini dan sebentar lagi akan terbuktilah siapa di antara keduanya yang lebih lihai. Bersiaplah menyaksikan pertandingan ilmu silat kelas tinggi yang akan dihidangkan dihadapan saudara sekalian."
Setelah berkata demikian, si gendut itu turun dari panggung dengan langkah dibuat-buat agar tampak gagah.
"Hati-hati, koko," Lie Bun berbisik dengan khawatir. Tapi Lie Kiat dengan senyum sindir telah menggerakkan tubuh dan loncat dengan gerakan It-ho-ciong-thian atau Burung Ho Terjang Langit ke atas panggung.
Tepuk tangan riuh dan sorakan memuji menyambut anak muda yang tampan dan
gagah ini hingga Lie Kiat segera menjura dan mengangguk keempat penjuru.
Pada saat itu, Biauw Kak juga loncat ke atas panggung dengan tipu loncat Le-hi-ta-teng atau Ikan Lehi Loncat Ke Atas.
Juga untuk pemuda tinggi kurus ini para penonton memberi sambutan meriah, hingga pada saat itu di antara penonton sendiri, terutama mereka yang datang dari Bi-ciu dan Lun-kwan, terpecahlah menjadi dua kelompok yang saling bertentangan dan membela jago masing-masing.
Setelah saling memberi hormat, maka Lie Kiat dan Biauw Kak saling serang dengan hebat. Untuk merebut kedudukan juara, mereka tidak mau saling mengalah dan
mengeluarkan seluruh kepandaian mereka. Bahkan mengirim serangan-serangan
berbahaya yang dapat mendatangkan maut kepada lawan.
Setelah bertempur puluhan jurus, belum juga Lie Bun mengerti mengapa Biauw Kak mendapat julukan tangan maut. Karena menurut pendapatnya, ilmu silat Biauw Kak yang mirip cabang Kun-lun itu tidak lebih tinggi dari pada ilmu silat kakaknya.
Bahkan diam-diam Lie Bun menghela napas lega karena ia yakin bahwa akhirnya Lie Kiat pasti keluar sebagai pemenang dan juara.
Agaknya Lie Kiat juga tahu akan hal ini, maka ia perhebat serangannya dan segera mendesak Biauw Kak yang berkelahi sambil mundur-mundur dan kebanyakkan hanya
menangkis saja.
Para pendatang dari Bi-ciu dan Lie Bun merasa gembira dan girang sekali. Ketika tiba-tiba Lie Bun melihat sesuatu yang membuat ia terkejut sekali dan seketika wajahnya berubah pucat.
Ia melihat sesuatu yang bagi orang-orang lain sama sekali tidak dimengerti. Tapi baginya merupakan tanda maut bagi kakaknya.
Ketika ia melihat ke arah lengan Biauw Kak, kulit lengan si tinggi kurus itu ternyata perlahan-lahan berubah menjadi merah seakan-akan darah di tubuhnya dialirkan ke situ semua.
Lie Bun tahu bahwa orang itu tentu ahli Ang-see-ciang atau Lengan Pasir Merah, sebuah ilmu yang sangat berbahaya karena lengan tangan yang telah terlatih hebat dan kemasukkan hawa beracun itu dapat mengirim pukulan yang mematikan. Biarpun
kepalan tangannya tidak menyentuh tubuh lawan, tapi angin pukulannya saja yang membawa tenaga dalam serta hawa racun dapat merobohkan lawannya.
Inilah yang membuat Lie Bun terkejut dan cemas. Kalau saja kakaknya tahu akan hal ini masih baik, karena tentu Lie Kiat bisa berlaku waspada dan hati-hati. Tapi celakanya, agaknya Lie Kiat tidak tahu akan hal ini dan masih merangsek hebat.
Memang kelihatannya Biauw Kak mundur dan repot sekali karena desakan Lie Kiat.
Tapi Lie Bun tahu benar bahwa si tinggi kurus itu mundur-mundur sambil mencari kesempatan dan menunggu sampai tenaga Ang-see-ciangnya sudah berkumpul penuh
di kedua lengannya, baru mengirim pukulan mematikan.
Karena kepandaian inilah agaknya, maka Biauw Kak diberi julukan si Tangan Maut.
Sekarang barulah Lie Bun mengerti. Tapi sudah terlambat karena tak mungkin ia memberitahu kakaknya sekarang.
Hal yang dikhawatirkan Lie Bun terjadilah. Ketika Lie Kiat sedang menyerang
dengan pukulan tangan kanan, Biauw Kak tidak mau berkelit dan menerima poukulan itu dengan dadanya. Tapi berbareng ia pukulkan kedua tangannya yang mengandung tenaga Ang-see-ciang itu ke dada Lie Kiat.
Terdengar teriakan Lie Bun dan pada saat yang genting itu tiba-tiba Lie Bun ayunkan tangan kirinya hingga dua sinar hitam yang kecil dan hampir tak terlihat melayang cepat ke arah sambungan siku Biauw Kak.
Karena kerikil itu tepat mengenai urat terpenting di lengan, maka ketika itu juga, lengan Biauw Kak menjadi lumpuh dan hilang tenaganya hingga pukulannya
tertunda. Tapi karena ia tadi tidak kelit pukulan Lie Kiat, maka tiada ampun lagi dadanya kena terpukul hingga tubuhnya terjungkal ke bawah panggung.
Untung baginya bahwa Lie Kiat tadi yang merasa terkejut melihat betapa lawannya dengan nekad mengadu jiwa dengan membarengi memukul padanya, berubah heran
sekali, karena tangan lawannya menjadi lemas tiba-tiba, membuat ia tercengang dan pukulannya juga tidak sepenuh tenaga. Oleh karena ini, maka Biauw Kak hanya
mendapat luka ringan saja.
Berbareng dengan tepuk sorak riuh rendah menyambut kemenangan Lie Kiat yang
dengan gagah angkat dada karena bangga, tiba-tiba terdengar teriakan keras dan marah dari seorang hwesio tinggi besar.
"Bangsat kecil, kau berani betul main curang!"
Hwesio tinggi besar itu lalu menerjang kepada Lie Bun dan anak muda itu cepat menghindari serangan hwesio yang kalap itu.
Lie Kiat di atas panggung melihat betapa adiknya diserang orang, segera loncat turun dan menghadang di depan adiknya. Ketika ia melihat penyerang adiknya, ia merasa terkejut lalu menjura sambil berkata.
"Hok Hwat Losuhu, mengapa kau orang tua menyerang adikku?" tanyanya.
"Setan kecil ini kurang ajar sekali dan berani bermain curang hingga melukai
muridku!" jawab Hok Hwat Losuhu yang bukan lain ialah guru Biauw Kak.
Hwesio yang kosen ini ternyata dapat melihat gerakan tangan Lie Bun ketika
menolong kakaknya dari bahaya maut dan menjatuhkan Biauw Kak dengan dua buah
kerikil kecil. Tapi tentu saja pernyataan ini membuat Lie Kiat heran sekali dan ia segera membantah.
"Hok Hwat Losuhu, janganlah menuduh sembarangan. Adikku ini walaupun mengerti sedikit ilmu silat, mana ia dapat melukai muridmu?"
Hok Hwat Hwesio makin marah, sambil gerak-gerakan tangan ia berkata.
"Kau jangan turut campur, lepaskan adikmu untuk kuhajar!"
"Kau orang tua enak saja bicara. Bagaimanapun aku tidak suka melihat adikku dihajar orang," jawab Lie Kiat dengan berani, hingga Lie Bun merasa girang sekali. Timbul hati sayangnya yang besar kepada kakaknya ini. Karena ternyata walaupun sombong dan bengal, kakaknya ini cukup mempunyai kegagahan dan ketabahan untuk
membela dia. Lie Bun dari belakang pegang lengan kakaknya seakan-akan minta bantuan. Lalu
sambil kernyitkan hidung, jebirkan bibir ke arah Hok Hwat Hwesio, ia berkata kepada Lie Kiat.
"Koko, jangan takut, koko!"
"Huah, kau diam saja, Lie Bun!" kata Lie Kiat karena ia melihat betapa hwesio itu makin marah.
"Lie Kiat, aku masih pandang muka gurumu dan orang tuamu maka aku tidak mau
turunkan tangan padamu. Tapi kalau kau tetap hendak membela anak setan ini,
terpaksa aku turun tangan."
Lie Kiat angkat dadanya. "Kalau kau orang tua tidak malu hendak menyerang aku, sesukamulah. Tapi kau pasti akan ditertawai orang-orang gagah seluruh dunia. Kalau kau memang gagah dan hendak memperlihatkan kelihaian, bukan aku lawanmu!"
"Siapa" Siapa yang hendak kau ajukan" Hayo, suruh dia maju!" tantang Hok Hwat Hwesio.
"Tadi muridmu menjadi lawanku, maka lawanmu tiada lain orang ialah suhuku!"
jawab Lie Kiat yang sebetulnya jerih terhadap hwesio kosen itu.
"Apa katamu" Kau bawa-bawa gurumu Kong Liak" Aku tidak hendak bermusuhan
dengan dia. Tapi kalau dia tetap membela setan hitam ini, biarlah dia maju."
Kebetulan sekali pada saat itu terdengarlah orang-orang yang berada di dekat situ berkata.
"Kong Lo-kauwsu datang ......!"
Benar saja orang tua she Kong yang menjadi guru Lie Kiat itu datang dengan tindakan lebar. Ia telah mendengar bahwa muridnya ikut memasuki pertandingan itu hingga ia merasa tidak senang. Karena ia takut kalau-kalau muridnya itu akan mendatangkan ribut.
Lie Kiat sambut suhunya dengan girang dan bangga. Sebaliknya Kong Liak
memperlihatkan muka tidak senang.
"Lie Kiat, untuk apa kau ikut dalam permainan berbahaya ini?" tegurnya.
"Teecu telah dapat berhasil menjadi juara, suhu," jawab muridnya dengan bangga.
Tapi suhunya geleng-geleng kepala seakan-akan hal itu tidak penting sama sekali.
Kemudian Kong Liak melihat betapa Hok Hwat Hwesio berdiri di situ sambil
memperlihatkan sikap bermusuhan, maka ia buru-buru menjura.
"Ah, tidak tahunya Hok suhu juga berada di sini!"
Dengan heran Kong Liak melihat betapa hwesio itu membalas salamnya dengan sikap dingin sekali.
"Suhu, Hok Losuhu agaknya tidak rela muridnya dapat teecu kalahkan," Lie Kiat yang cerdik mendahului.
"Kong-kauwsu! Tolong kau suruh muridmu itu jangan mencampuri urusanku," Hok
Hwat Hwesio berkata marah.
"Eh, eh! Ada urusan apakah, Hok suhu?"
"Aku hendak memberi hajaran kepada setan muka hitam yang jahat itu, tapi muridmu hendak membelanya. Kalau aku tidak melihat mukamu, sudah tadi-tadi dia kuhajar sekalian."
"Lie Kiat, kesalahan apakah yang kau perbuat kepada Hok suhu" Jangan kau kurang ajar terhadap orang dari tingkatan tua," tegur Kong Liak kepada muridnya.
"Suhu, lihatlah anak muda ini. Kau kira siapakah dia" Dia adalah Lie Bun, adikku yang telah tujuh tahun pergi. Dia sekarang telah kembali. Tapi tiada hujan tiada angin tahu-tahu Hok losuhu hendak menyerangnya. Tentu saja teecu tidak tinggal diam."
Tercenganglah Kong Liak melihat Lie Bun. Ia telah lupa akan wajah anak kecil yang dulu dibawa pergi oleh Kang-lam Koay-hiap. Tapi melihat pakaian aneh yang dipakai oleh Lie Bun, guru silat she Kong ini teringat lagi akan pengemis aneh yang gagah itu. Ia pandang Lie Bun agak lama, lalu menghela napas.
"Aku menjadi orang selamanya tidak suka mencari permusuhan. Kalau aku sudah
melakukan sesuatu, maka aku akan tanggung semua akibatnya sebagai seorang laki-laki. Tak perlu menyeret-nyeret orang lain ke dalam urusan itu. Hok suhu, kau tahu akan aturan kita yang menyebut diri orang-orang kang-ouw. Lihat, lui-tai masih berdiri teguh. Untuk apa kau mengejar orang di bawah panggung?"
Pada saat itu, si gendut tukang pidato sudah naik ke panggung dan mengumumkan bahwa yang menjadi juara adalah Lie Kiat-enghiong dari Bi-ciu.
Tapi tiba-tiba dari bawah panggung berkelebatlah bayangan orang dan tahu-tahu seorang hwesio tinggi besar telah berdiri di depannya dan membentaknya.
"Pergi kau dari sini!"
Si gendut begitu terkejut hingga kedua kakinya lemas dan ia terhuyung-huyung.
Lenyaplah sikap dan lagaknya yang gagah tadi dan ia tinggalkan panggung bagaikan seekor anjing kena pukul.
Hok Hwat Hwesio berkata kepada semua orang dengan suara keras.
"Muridku telah dijatuhkan orang dalam pertandingan. Ini sebetulnya adalah hal yang biasa saja dan adalah salah muridku sendiri yang masih bodoh. Tapi dalam hal ini, tanpa diketahui orang lain, telah terjadi penghinaan terhadap muridku dan aku sendiri.
Karena dengan diam-diam ada orang yang melukai muridku. Maka sekarang, sebagai seorang laki-laki dan seorang gagah, aku minta orang itu naik ke panggung untuk mengadu kepandaian dengan terang-terangan. Orang itu adalah pengemis muka buruk yang tadi mengaku menjadi adik dari Lie-enghiong. Hayo pengemis muda muka
buruk yang berani pakai julukan Ouw-bin Hiap-kek. Kau naiklah, jangan sembunyi di belakang Lie-enghiong dan Kong-kauwsu sebagai seekor anjing!"
Semua penonton mendengar ini merasa tegang sekali, karena baru mereka tahu bahwa telah terjadi hal yang aneh dan bahwa kini tentu akan terjadi adu tenaga yang betul-betul hebat di atas panggung, bukan merupakan demonstrasi atau perebutan
kejuaraan. Tapi yang mengherankan mereka, mengapa hwesio guru Biauw Kak yang
galak dan kuat ini menantang adik Lie Kiat yang masih muda dan berpakaian seperti pengemis itu"
Sementara itu, mendengar betapa adiknya dimaki orang, Lie Kiat marah sekali dan hampir saja ia ayunkan kaki naik ke panggung dengan nekat. Tapi Kong Liak
menahannya. Guru silat itu lalu menatap wajah Lie Bun dengan tajam lalu bertanya.
"Ji-kongcu, apakah kau murid Kang-lam Koay-hiap?"
Lie Bun mengangguk.
"Kalau begitu, mengapa kongcu diam saja mendengar tantangan Hok Hwat Hwesio"
Sayangilah nama besar suhumu yang mulia."
Lie Bun tersenyum.
"Kong suhu, bukan aku jerih kepadanya. Tapi aku sedang gembira sekali melihat betapa kakakku membelaku. Koko, sekarang kau lihatlah adikmu akan
mempermainkan hwesio gundul yang sombong itu."
Lie Kiat memandang kaget. Tapi terkejutlah ia karena adiknya telah tidak berada di situ lagi.
Ketika ia melihat ke atas panggung, ternyata Lie Bun telah berdiri menghadapi Hok Hwat Hwesio dengan cengar-cengir menggoda.
"Bangsat kecil, sebenarnya aku malu untuk turun tangan di atas panggung untuk menghajarmu. Tapi kalau tidak dihajar, mungkin kelak kau akan menjadi setan
pengganggu orang. Apakah kau betul-betul terima tantanganku untuk mengadu
tenaga?" Lie Bun tersenyum dan berkata dengan suara lebih keras dari pada suara Hok Hwat Hwesio.
"Ah, tidak sangka ada hwesio yang masih malu-malu kucing. Jangan malu-malu,
losuhu. Bukankah dengan menantang aku di atas panggung ini kau tampak gagah dan jagoan sekali" Lihat, ribuan orang melihatmu. Lihatlah, semua mata ditujukan
kepadamu. Ah, namamu akan termasyur benar kali ini. Angkat sedikit dadamu biar makin gagah tampaknya. Kau tantang aku" Tentu saja kuterima. Sekarang aku sudah berada di sini. Kau mau mengajak main apa?"
Mendengar kata-kata yang penuh olok-olok itu, beberapa orang tertawa geli hingga Hok Hwat Hwesio makin marah.
"Anak kurang ajar, kau murid siapakah maka tingkahmu seperti orang yang tidak pernah dididik?" bentaknya
"Dan kau murid siapakah" Lagakmu besar amat! Sudahlah tak perlu bertanya guru segala. Cukup kau ketahui bahwa aku adalah Ouw-bin Hiap-kek dan namaku Lie Bun, habis perkara!"
Diejek demikian itu, Hok Hwat Hwesio heran sekali hingga untuk sesaat lamanya ia tak dapat berkata-kata. Mengapa anak ini begini berani" Benarkah anak ini adik Lie Kiat"
"He, hwesio tinggi besar! Kenapa kau diam saja. Jadi atau tidak tantanganmu" Para penonton sudah tidak sabar menunggu."
Kembali terdengar tertawa di sana sini.
"Anak kecil berani mampus! Biar kuberi hajaran beberapa tamparan pada mulutmu yang kurang ajar!"
Sehabis berkata demikian, tangan Hok Hwat Hwesio menampar ke arah pipi Lie Bun.
Tapi mana anak muda ini mau pipinya ditampar orang" Ia loncat berkelit dengan cekatan sekali sambil keluarkan suara mengejek.
Hok Hwat Hwesio menjadi marah dan kirim pukulan berat ke arah dada Lie Bun.
"Hwesio besar, kurang rendah pukulanmu!" Lie Bun mengejek sambil bongkokkan
tubuh dan melesat dari bawah lengan lawannya.
Semua penonton tertawa riuh karena pertandingan ini lucu sekali. Sedangkan Lie Kiat kerutkan alis karena ia khawatir sekali melihat gerakan adiknya yang kelihatannya seperti bukan gerakan silat itu.
"Ah, celaka, jangan-jangan ia tidak mengerti silat," katanya perlahan tapi terdengar juga oleh suhunya yang berdiri di sebelahnya.
"Jangan kau cemas, Lie Kiat. Kepandaian adikmu itu masih beberapa lipat lebih tinggi dari pada kepandaianku atau kepandaian Hok Hwat Hwesio," kata Kong Liak dengan mata berseri dan mulut tersenyum.
Lie Kiat terkejut sekali dan memandang suhunya dengan hati tidak percaya.
Kemudian ia melihat lagi ke atas panggung.
Setelah beberapa kali memukul tapi selalu dapat dikelit oleh Lie Bun dengan
lincahdan lucu. Terkejutlah Hok Hwat Hwesio. Ia merasa penasaran sekali dan sambil berseru keras ia keluarkan tendangan Siauw-cu-swie, yakni tendangan berantai yang berbahaya sekali. Kedua kaki hwesio yang besar dan kuat itu seakan-akan berubah menjadi kitiran dan tiada hentinya bergerak bertubi-tubi menendang ke arah bagian-bagian berbahaya dari Lie Bun. Sambil menggerakkan kakinya menendang, Hok
Hwat Hwesio keluarkan seruan-seruan pendek untuk mengatur tenaga.
Semua orang, termasuk Lie Kiat keluarkan teriakan tertahan dan ngeri.
Kembali Kepangkuan Ibu Yang Bijak
TAPI Lie Bun bagaikan seperti seekor monyet sakti, gerakan tubuhnya dengan cepat dan imbangi gerakan kaki lawannya hingga dengan cepat sekali ia bisa ambil ketika untuk berkelit tiap kaki yang datang menendang. Juga untuk mengimbangi tenaga kelitnya, ia perdengarkan seruan-seruan. "Hai! Yehh! Hayaaaa!!!" berkali-kali hingga semua orang bersorak riuh karena pemandangan di atas panggung di saat itu memang dapat menggembirakan orang.


Pengemis Tua Aneh Ouw Bin Hiap Kek Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tampak betapa tubuh hwesio yang tinggi besar ini bergerak-gerak maju sambil kedua kakinya berganti-ganti terayun keras. Sebaliknya Lie Bun sambil mundur berkelit ke sana ke mari sambil gerak-gerakkan kedua lengan untuk menjaga keseimbangan
tubuh dan loncatnya mengitari panggung. Dan dari mulut kedua orang itu tiada
hentinya terdengar seruan-seruan yang berlainan hingga tampak seperti dua orang pelawak yang sedang bermain-main saja.
Juga Lie Kiat merasa kagum dan gembira sekali, hingga hampir saja ia berjingkrak dan menari kegirangan karena bangga melihat gerak-gerik adiknya.
Setelah mengelilingi panggung tiga putaran, maka tahulah Hok Hwat Hwesio bahwa tendangannya Siauw-cu-twie yang biasanya sangat dibanggakan dan jarang yang
dapat menahannya ini, ternyata kali ini tak ada gunanya. Maka ia lalu turunkan kakinya dan karena penggunaan kedua kaki adalah jauh lebih banyak makan tenaga dari pada penggunaan kedua tangan, maka setelah menurunkan kakinya, Hok Hwat
Hwesio yang sudah agak tua itu terengah-engah menarik napas.
Lie Bun berdiri dan dengan gaya lucu ia meniru hwesio itu dan sengaja terengah-engah seperti orang yang sudah kehabisan napas.
Kembali para penonton tertawa geli dan Hok Hwat Hwesio menjadi marah sekali. Ia tahu bahwa ia berhadapan dengan murid seorang pandai. Tapi ia sudah tak dapat mundur lagi, sudah kepalang. Kini ditambah dengan sikap Lie Bun yang sengaja
mempermainkannya. Ia murka sekali dan maju menubruk dengan gemas.
Lie Bun berkelit cepat dan hwesio itu lalu keluarkan ilmu silat Kiauw-ta Sin-na yang hebat dan berbahaya.
Menghadapi ilmu silat yang juga telah dikenal baik ini, Lie Bun tidak menjadi bingung dan ia lalu keluarkan Bie-ciang-kun-hwat.
Sebenarnya kalau yang melakukannya orang lain, tentu saja Bie-ciang-kun-hwat tidak mungkin dapat menandingi Kiauw-ta Sin-na yang mempunyai seratus dua puluh
jurus-jurus yang lihai itu. Tapi karena Lie Bun memang telah digembleng secara hebat oleh guru yang luar biasa pula, biarpun dengan ilmu silat apapun juga, ia tentu akan dapat menandingi lawannya yang sesungguhnya masih kalah jauh olehnya.
Pada jurus ke tiga puluh, Lie Bun menganggap telah cukup lama mempermainkan
lawannya, maka ia segera percepat gerakannya dan kini ia mulai menyerang.
Hwesio yang sudah terheran-heran melihat kelihaian anak muda muka hitam itu, kini terkejut sekali dan mengeluarkan seruan tertahan. Gerakan anak itu demikian cepat dan tenaga pukulannya demikian keras hingga ia terpaksa mundur terus.
Para penonton yang tadinya bersorak ramai menjadi kesima dan dengan mata
terbelalak dan mulut ternganga mereka lihat bagaimana Hok Hwat Hwesio yang
terkenal gagah itu kini main mundur memutari panggung dan didesak oleh Lie Bun.
Hok Hwat Hwesio mandi keringat dingin dan ia telah menjadi pening dan kedua
matanya berkunang-kunang.
Lie Bun hanya mendesak terus dan mengirim pukulan-pukulan berbahaya, tapi setiap pukulannya akan berhasil, ia menariknya mundur. Didesak secara begini, akhirnya Hok Hwat Hwesio tidak kuat lagi dan gerakan kakinya terhuyung-huyung. Maka ia lalu loncat mundur dan ketika kakinya yang gemetar dan lemas itu menginjak papan panggung, hampir saja ia terjatuh. Cepat-cepat ia berteriak.
"Tahan, aku menyerah!"
Melihat betapa hwesio tinggi besar itu dengan tak malu-malu menyatakan menyerah, tiba-tiba berubahlah perasaan Lie Bun. Ia tidak tega lagi untuk mempermainkan. Tadi ia sengaja mempermainkan karena melihat lagak yang angkuh dari hwesio itu. Tapi sekarang setelah hwesio itu mengaku kalah, ia menjadi kasihan.
Lie Bun menjura dan berkata. "Losuhu, kau sengaja mengalah."
Tapi Hok Hwat Hwesio segera balas menjura. "Enghiong yang muda, sungguh kau
gagah perkasa. Sekarang tahulah pinceng bahwa dunia ini lebar sekali dan banyak sekali terdapat orang-orang gagah yang luar biasa. Bolehkah sekarang pinceng
mengetahui siapakah nama guru enghiong yang mulia?"
"Suhuku adalah Kang-lam Koay-hiap."
Maka tercenganglah Hok Hwat Hwesio dan setelah berkali-kali ia berkata "Maaf, maaf!" ia lalu loncat turun dan ajak muridnya cepat tinggalkan tempat itu. Lie Bun juga loncat turun dan ia dipeluk oleh kakaknya. Lie Kiat girang sekali dan mendesak agar nanti Lie Bun di rumah suka memberi pelajaran ilmu silat seperti yang
dimainkan tadi padanya.
Lie Bun hanya tersenyum dan mereka lalu pulang bersama Kong Liak. Lie Kiat yang berwatak sombong, sebelum tiba di rumah mengajak adiknya memasuki sebuah toko pedagang pakaian dan memaksa adiknya supaya mengganti pakaiannya yang disebut memalukan itu. Untuk menyenangkan hati kakaknya, terpaksa Lie Bun bertukar
pakaian yang mewah dan baru hingga ia sekarang tampak agak lumayan juga.
Hati dalam dada Lie Bun berdebar-debar dan lehernya bagaikan dicekik karena
terharu ketika ia memasuki rumah gedungnya yang telah dikenal baik itu. Ia tahu bahwa pada sore hari tentu ayah ibunya berada di dalam kamar mereka, maka begitu menginjak halaman gedung ia segera berlari-lari masuk.
Lie Ti dan isterinya sedang duduk menghadapi teh wangi. Lie-wangwe sudah tampak tua dan rambut di atas telinganya telah memutih. Tapi Lie-hujin biarpun mukanya telah menjadi agak kurus, tapi masih tampak cantik.
Mereka tercengang ketika melihat seorang pemuda lari masuk dan tiba-tiba berlutut di depan mereka sambil berseru.
"Ayah ...... ibu .........."
Sebelum kedua orang tua itu kenali Lie Bun, tahu-tahu Lie Bun sudah menubruk dan memeluk kaki ibunya.
"Ibu ...... anakmu A Bun datang ...!"
"A Bun ......" nyonya Lie memekik.
"Lie Bun .....! Kau ......?"" Lie Ti berseru.
Mereka lalu berpelukan dan Lie Bun mencucurkan air mata. Air mata bangga. Lie Kiat masuk dan tertawa sambil berkata kepada ibunya.
"Nah, apa kataku dulu, ibu" Si Topeng Setan itu pasti akan kembali!"
"Lie Kiat! Jangan kau sebut adikmu demikian!" tegur ibunya.
Tapi Lie Bun dengan air mata masih membasahi pipi tersenyum.
"Biarlah, ibu. Twako memang nakal, bahkan ia telah memberi nama baru padaku,
yaitu Si Muka Hitam."
"Memang, dia adalah Ouw-bin Hiap-kek yang berkepandaian tinggi sekali. Ayah, kau akan heran melihat kepandaian silat si Muka Hitam ini!" kata Lie Kiat.
Maka bergembiralah sekeluarga dengan kembalinya Lie Bun hingga pemuda itu yang telah merantau dan hidup menempuh serta menghadapi kepahitan dan perjuangan
hidup beserta suhunya selama tujuh tahun, kini merasa aman dan tenteram.
Setelah berdiam di rumah beberapa lamanya, tahulah Lie Bun bahwa kakaknya
menuntut hidup yang royal dan mewah sekali. Dan bahwa Lie Kiat selalu dimanja oleh orang tuanya. Ibunya dengan wajah susah pernah berkata kepada Lie Bun
tentang kakaknya.
"Lie Bun, kakakmu itu memang bandel dan bengal. Ia telah ditunangkan dengan
seorang gadis dari keluarga baik-baik dan kaya, juga gadis itu cerdik dan cantik. Tapi A Kiat itu masih saja bergaul dengan segala macam perempuan tak keruan di luaran.
Bahkan sekarang ia mempunyai seorang kekasih, kabarnya dari kalangan persilatan, seorang gadis kasar yang tak pandai bermain jarum, tapi pandai bermain pedang. Ah, ngeri aku memikirkannya, seorang gadis bermain-main dengan pedang tajam.
Sungguh berbahaya!"
Ibunya yang cantik dan halus gerak-geriknya itu geleng-geleng kepala dengan wajah susah.
Lie Bun memandang ibunya dengan tersenyum geli.
"Barangkali twako cinta kepada gadis berpedang itu!"
Ibunya hanya geleng-geleng kepala. "Kau jangan tiru-tiru adat kakakmu, A Bun!"
Tapi di depan Lie Kiat, ibu yang menyintai anaknya ini tak pernah membicarakan soal ini. Karena kasihan melihat ibunya, pada suatau hari Lie Bun dengan berterang berkata kepada kakaknya.
"Twako, aku dengar kau mempunyai seorang kawan baik yang lihai ilmu pedangnya dan cantik rupanya."
Lie Kiat memandangnya dengan mata melotot. "Eh, eh! Kau tahu dari mana?"
"Dari mana aku tahu bukan soal penting, yang terpenting ialah betul atau tidak?" Lie Bun menggoda sambil tertawa.
Lie Kiat bersungut-sungut. "Ah, kau anak-anak tahu apa! Jangan ikut-ikut urusan orang dewasa!"
Lie Bun cemberut tak puas. "Twako, jangan lupa, aku telah berusia delapan belas tahun. Bukankah umur sebegitu itu sudah dewasa namanya?"
"Biarpun sudah dewasa, kau tahu apa tentang perasaan cinta!"
Lie Bun tiba-tiba teringat akan Kwei Lan, gadis Lo-wangwe yang jelita dan belum pernah terlupa olehnya itu dan ia merasa hatinya seperti tertusuk. Tapi ia cepat tekan perasaannya dan tersenyum sambil menggoda kakaknya.
"Ah, kalau begitu kau sudah jatuh cinta rupanya" Koko, perkenalkanlah aku kepada calon sosoku itu!"
Tiba-tiba Lie Kiat termenung. "Itulah yang membingungkan hatiku," katanya
perlahan. Lie Bun pegang lengan kakaknya yang berkulit halus putih. "Ada apakah, twako?"
"Aku telah ditunangkan kepada seorang gadis keturunan hartawan oleh ayah dan ibu, yakni gadis dari kota Lun-kwan."
"Apakah kau tidak suka kepada gadis itu?" tanya Lie Bun.
"Suka sih suka. Orangnya cantik manis dan terpelajar pula."
"Habis, mengapa kau mengeluh" Itukan beruntung namanya."
"Ah, kau tidak tahu! Bukankah kau tadi bilang aku mempunyai seorang kawan yang pandai main pedang?"
"Ooooo ..... jadi ada gadis lain yang telah mencuri hatimu?" Lie Bun berseru
menggoda. "Lie Bun, jangan main-main, kupukul kau nanti! Ini bukan urusan kecil. Pikiranku bingung sekali."
Lie Bun tidak mau menggoda lebih lanjut dan ia tarik muka sungguh-sungguh.
"Twako, mengapa harus dibingungkan" Kau tinggal pilih mana yang kau sukai dan kawinilah dia, habis perkara."
Lie Kiat termenung dan berkata. "Aku ingin ... mengawini dua-duanya, dua-duanya berat bagiku. Yang seorang terpelajar dan cantik jelita, sedangkan yang lainnya gagah dan manis."
Lie Bun pandang kakaknya dengan mata terbelalak dan ia garuk-garuk kepalanya.
"Dua-duanya ....?""
Suara adiknya membuat Lie Kiat memandangnya dengan tajam.
"Ya, dua-duanya! Habis kau mau apa" Siapa yang berhak melarangku" Apa salahnya kalau aku ambil dua-duanya?"
"Eh, aku sih tidak apa-apa, tapi .... tapi ... ini berabe juga .....!"
"Sebetulnya Cui Im tidak keberatan, tapi tunanganku, pilihan ayah ibu itu tentu merasa keberatan, dan ayah ibu sendiri .... ah, aku bingung, Lie Bun!"
"Siapa itu Cui Im, twako?"
"Gadis kedua," jawabnya pendek.
"Twako ..." kata Lie Bun perlahan agar jangan mengagetkan kakaknya yang sedang termenung dengan wajah murung.
"Ada apa?" jawab kakaknya acuh tak acuh.
"Sebetulnya kau .... beruntung sekali."
Lie Kiat memandang adiknya dengan heran. "Beruntung" Apa maksudmu?"
"Kau menyinta dan dicinta oleh dua orang gadis cantik."
Kalau sekiranya Lie Kiat tidak terlalu berwatak mementingkan diri sendiri, tentu ia akan mendengar betapa di dalam pernyataan Lie Bun ini terkandung rintihan jiwa menderita rindu. Tapi Lie Kiat yang tak pernah memikirkan orang lain itu hanya menjawab.
"Cui Im memang cinta padaku. Tapi anak hartawan Lun-kwan itu belum tentu.
Akupun baru satu kali melihat orangnya!" Tiba-tiba Lie Kiat merasa bangga karena kata-kata adiknya itu dan timbul pikirannya untuk membanggakan nona kekasihnya kepada adiknya ini.
"Lie Bun, hayo kau ikut aku ke rumahnya!" tiba-tiba ia berkata.
"Ke rumahnya" Rumah siapa, twako?"
"Hayo, ikut saja!"
Keduanya lalu tinggalkan rumah mereka dan Lie Kiat ajak adiknya menuju ke Lun-kwan. Ia sengaja ambil jalan memutar, melalui sawah-sawah yang sunyi karena ia hendak gunakan ilmu lari cepatnya untuk menguji kemampuan adiknya.
Tapi sebenarnya dalam hal ilmu lari ia masih jauh di bawah Lie Bun, hanya karena memang Lie Bun beda wataknya jika dibandingkan dengan Lie Kiat. Pemuda ini
selalu merendengi kakaknya dan tidak mau memamerkan kepandaiannya.
Kota Lun-kwan terletak di sebelah selatan Bi-ciu dan jauhnya hanya tiga puluh li.
Maka dengan ilmu lari cepat mereka, tak lama mereka tiba di Lun-kwan dan Lie Kiat ajak adiknya menuju ke sebuah rumah yang kecil sederhana.
Seorang gadis yang usianya tak lebih dari tujuh belas tahun dan berwajah manis dan berpakaian sederhana menyambut mereka dengan girang. Lie Bun melihat betapa
sepasang mata gadis itu berseri gembira ketika melihat Lie Kiat.
"Koko, aku telah mendengar tentang kemenanganmu. Kionghi, kionghi! Kau hebat
sekali, koko!" Kemudian setelah mempersilahkan mereka duduk, gadis itu
melanjutkan kata-katanya dengan sikap manja.
"Dan akupun mendengar tentang adikmu yang katanya telah mengalahkan Hok Hwat
Hwesio. Benarkah itu?"
Lie Kiat tersenyum manis. "Cui Im, adikku itu sebetulnya biasa saja kepandaiannya dan ia banyak mendapat petunjuk dari aku. Nah, ini dia orangnya. Perkenalkan, inilah Ouw-bin Hiap-kek, adikku, namanya Lie Bun." Kemudian kepada Lie Bun ia berkata.
"Nah, inilah Cui Im yang kuceritakan padamu tadi!"
Cui Im memandang kepada Lie Bun dengan kagum dan heran, sedangkan Lie Bun
segera berdiri dan angkat kedua tangan memberi hormat. "Cui-siocia, aku merasa terhormat sekali dapat berkenalan dengan kau."
"Ah, silahkan duduk. Jangan sungkan-sungkan, Lie-taihiap. Kau sungguhpun masih muda tapi kepandaianmu hebat sekali. Sungguh membuat aku kagum," Cui Im
memuji. Kemudian mereka bertiga mengobrol dengan gembira. Kebetulan sekali Cui-hujin, yakni janda ibu Cui Im, sedang keluar hingga gadis itu berada seorang diri di rumahnya.
Lie Bun melihat betapa keadaan gadis itu miskin, tapi ternyata sikap gadis itu ramah sekali dan pandai bergaul hingga sangat menyenangkan dan cepat sekali ia merasa tertarik. Pantas saja kokonya jatuh hati kepada gadis itu, pikirnya. Dan ia tidak salahkan Lie Kiat dalam hal ini.
Ia lalu teringat akan ibunya. Ah, ibunya adalah keturunan bangsawan. Tentu saja ibu menghendaki seorang anak mantu yang selain cantik jelita juga halus dan pandai mengerjakan segala macam kerajinan tangan.
Lie Bun ingin sekali melihat sampai di mana tingkat permainan pedang Cui Im. Tapi ia tidak berani menyatakan keinginannya ini. Hanya berkata dengan menyimpang.
"Cui-siocia, dari saudaraku ini aku mendengar bahwa kau adalah ahli ilmu pedang.
Bolehkah kiranya aku mengetahui siapa gerangan gurumu yang mulia?"
Cui Im tersenyum dan tampaklah dua lesung pipit yang manis di kanan kiri pipinya.
"Lie-koko memang bisa saja memuji-muji orang," katanya sambil mengerling ke arah Lie Kiat. "Siapa sih yang pandai silat pedang" Aku hanya bisa gerakkan satu dua jurus saja dan guruku adalah Leng Leng Nikouw dari kelenteng Hwe-thian-sie."
Maka timbullah watak Lie Kiat yang selalu ingin memamerkan sesuatu.
"Moi-moi, cobalah kau perlihatkan satu dua jurus ilmu pedangmu yang indah itu kepada adikku!" katanya gembira.
Cui Im mengerling sambil cemberut. "Ah, mana kebodohanku ada harganya untuk
dilihat oleh Lie-taihiap?"
Lie Kiat berkata sambil tersenyum manis. "Jangan begitu, Im-moi. Tak perlu malu-malu, Lie Bun bukanlah orang lain. Dia adikku sendiri. Apa perlunya sungkan-
sungkan?" Karena Cui Im memang berwatak bebas dan polos pula, ia memang selalu menuruti kehendak Lie Kiat, maka segera ia lari ke dalam dan keluar pula sambil membawa sebatang pedang yang kecil dan tipis tapi cukup tajam gemerlapan karena mengkilap dan putih bersih.
Mereka bertiga lalu pergi ke halaman belakang dan di situ Cui Im bersilat pedang.
Mula-mula gerakannya indah, lemas dan perlahan, tapi makin lama makin cepat
hingga pedangnya merupakan sinar putih yang bergulung-gulung. Diam-diam Lie
Bun memuji ketangkasan gadis itu yang agaknya kepandaiannya tidak di bawah gadis baju merah yang sombong dulu itu.
Setelah bersilat beberapa puluh jurus, Cui Im hentikan permainannya dan simpan pedangnya. Lie Bun tepuk-tepuk tangannya menyatakan bagus.
"Sungguh kau lihai sekali, Cui-siocia. Ilmu pedangmu cukup hebat. Bukankah yang kau mainkan tadi Tiat-mo Kiam-hwat yang digabung dengan Kiam-hwat dari Go-bi-pai?"
Terkejut sekali hati Cui Im. Alangkah tajamnya mata pemuda muka hitam ini.
"Lie-taihiap, kau sungguh luar biasa. Sekali lihat saja kau sudah mengenal kiam-hwatku."
Lie Kiat melihat bahwa adiknya puas dan kagum melihat Cui Im. Timbul ah watak gembiranya. Ia pinjam pedang dari Cui Im dan mulai bersilat pedang. Ilmu pedangnya tidak seindah gerakan Cui Im, tapi cukup kuat dan ganas.
Setelah bersilat pedang, Lie Kiat paksa adiknya untuk bersilat pula menggunakan pedang itu.
Lie Bun menolak, tapi Cui Im membantu Lie Kiat membujuknya hingga Lie Bun
terpaksa tak dapat menolaknya pula. Ia tak ingin memamerkan kepandaiannya, maka ia hanya mainkan sebagian dari ilmu pedang Siauw-lim-pai dan sengaja
memperlambat gerakannya. Biarpun demikian, namun ia telah mempesonakan Cui Im dan Lie Kiat karena sambaran pedangnya mendatangkan angin dingin dan tubuhnya lenyap dalam sinar pedang.
Belum habis Lie Bun bermain pedang, tiba-tiba terdengar orang tertawa menyindir.
"Inikah yang menjatuhkanmu, sute" Mengherankan sekali!"
Lie Kiat dan Cui Im berpaling cepat dan Lie Bun juga menunda permainannya dan menengok.
Ternyata di situ telah berdiri Hok Hwat Hwesio dan seorang tosu muka merah yang bermata jalang. Hok Hwat Hwesio memandang Lie Bun dengan mata merah, tapi ia
paksakan diri menjura dan berkata.
"Lie-enghiong, maafkan pinceng, karena pinceng dengan terpaksa mengganggumu.
Ini suhengku karena tertarik ingin melihat ilmu pedang yang lihai, telah memaksaku untuk masuk ke sini."
Tosu itu sebentar-sebentar melirik ke arah Cui Im hingga gadis itu menjadi tidak senang dan malu, lalu cepat-cepat ia sembunyikan diri di belakang Lie Kiat.
Kemudian tosu itu menghadapi Lie Bun dan berkata dengan sikap memandang
rendah. "Jadi, kaukah yang disebut Ouw-bin Hiap-kek" Ilmu pedangmu dari Siauw-lim-pai tadi bagus sekali hingga membuat pinto ingin sekali mencobanya. Tidak tahu apakah kau mempunyai ilmu pedang lain lagi yang lebih lihai dari ilmu pedang Siauw-lim tadi?"
Lie Bun tersenyum, ia anggap tidak aneh sikap tosu itu demikian sombong, karena pendeta ini adalah suheng dari Hok Hwat Hwesio.
"Ilmu pedang apalagi yang kumiliki" Hanya dari Siau-lim inilah!" jawab Lie Bun.
Tosu itu tertawa keras. "Jadi engkau adalah murid Siauw-lim-si" Kalau hanya
memiliki kiam-hwat dari Siauw-lim, bagaimana bisa mengaku menjadi murid Kang-
lam Koay-hiap?"
Lie Bun mendengar nama suhunya yang tercinta di bawa-bawa menjadi tak senang.
Tapi wajahnya masih tetap tersenyum.
"Siapakah locianpwe ini" Harap suka memberitahukan nama."
"Kau mau tahu" Akulah yang benama Hok Liong Tosu. Nah, kau gerakkan pedangmu
untuk melayani pinto."
Lie Bun tidak mau memperbesar rasa permusuhan, maka ia lalu menjawab.
"Aku yang muda selama hidup tak pernah menyusahkan locianpwe. Mengapa
locianpwe sekarang mendesak dan hendak menghina orang muda?"
"Anak bodoh, siapa yang mendesak dan menghina" Kata suteku, kau mempunyai
ilmu silat yang tinggi maka pinto ingin sekali mencobanya. Kalau kau tidak berani, maka kau harus minta maaf kepada suteku ini dan menyebut pinto sucouw tiga kali!"
Sebutan sucouw sebetulnya adalah kakek guru atau kakek besar dan seringkali
sebutan ini dipakai untuk mengangkat diri setinggi-tingginya dan dengan demikian menghina kepada yang menyebutnya. Tapi Lie Bun memang telah dapat menekan
nafsu dan tetap bersabar. Tidak demikian dengan Lie Kiat yang berdarah panas. Ia melangkah maju dan berkata.
"Lie Bun, kau terang-terangan ditantang. Mengapa tidak maju" Jangan membikin
malu kakakmu! Kalau aku yang ditantang begitu macam, tidak perduli siapa yang menantang dan biarpun dengan taruhan jiwaku, pasti akan kulayani!"
Tapi Cui Im gadis manis itu pikirannya lebih luas dan cerdik dari pada Lie Kiat. Ia maklum akan kelihaian Hok Hwat Hwesio yang dianggap guru terpandai di Lun-kwan, maka tentu saja tosu yang menjadi suhengnya ini lebih lihai lagi. Karena itu ia merasa khawatir kalau-kalau Lie Bun takkan dapat melawannya jika melayani
tantangan Hok Liong Tosu. Maka katanya kepada Lie Kiat.
"Koko, janganlah kau mendesak Lie-taihiap. Dia masih muda dan memang sikapnya yang mengalah ini baik sekali. Untuk apa mencari permusuhan dengan segala orang?"
Suara gadis ini merdu dan nyaring, tapi mengandung sindiran tajam kepada Hok
Liong Tosu yang disebut "segala orang", maka tosu itu melirik dengan muka merah kepada gadis manis itu. Ia lalu tersenyum dan berkata kepada Lie Bun.
"Kalau Ouw-bin Hiap-kek tidak berani melawan pinto, boleh juga diwakilkan. Tapi jangan kakakmu yang tidak becus apa-apa ini! Boleh diwakili oleh nona ini untuk bermain-main sebentar dengan pinto!"
"Tosu siluman kurang ajar!" Lie Kiat membentak marah lalu maju memukul dengan sekuat tenaganya. Tapi tosu itu dengan tertawa menyindir lalu angkat tangan
kanannya bergerak cepat dan tahu-tahu Lie Kiat telah didahului olehnya dan didorong ke belakang hingga terpental jatuh.
Lie Bun tidak mau tinggal diam dan loncat maju.
"Eh, tosu kasar dan sombong. Kau tidak pantas dihormat oleh yang muda! Percuma saja kau berpakaian pendeta, kalau tingkahmu tidak lebih baik dari pada seorang bajingan rendah saja!"
Petualang Asmara 22 Pendekar Gelandangan - Pedang Tuan Muda Ketiga Karya Khu Lung Imam Tanpa Bayangan 3
^