Pencarian

Pendekar Pedang Sakti 10

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen Bagian 10


Li Gok sendiri diam-diam mengakui didalam hati
tentang kehebatan ilmu pedang 'Kiu-cie-kiam-sek' pemuda
berkedok itu. Maka demi menjaga nama dan mempertahankan derajatnya, lebih baik lagi akan ia
meninggalkan saja Lie Siauw Hiong itu, dengan didalam
hatinya ia rela Siauw Hiong menamakannya penakut,
asalkan orang-orang dalam kalangan dunia persilatan
jangan mengatakan demikian. Karena hal ini dapat
membuatnya kehilangan muka sebagai seorang pemimpin
dari lima partai besar.
Lie Siauw Hiong tetap berdiri ditempatnya semula, dia
tidak bermaksud melakukan pengejaran terhadap lawannya
ini, tapi dalam hati dia berpikir : "Tunggu sesudah pedang
'Bwee Hiang Kiam'ku diperbaiki kerusakannya, barulah
akan kugulung engkau dengan sekali jalan saja !"
Setelah bayangan Ie It Hui lenyap, tiba-tiba Lie Siauw
Hiong mendengar suara mendatangnya seseorang, yang
ketika ia coba menoleh kearah suara itu, benar saja dijalan
tersebut tampak seseorang yang sedang jalan mendatangi.
Setelah orang itu datang mendekati pada kuil kecil itu,
tampaknya ia memperlambat tindakan kakinya, dan
dibawah sinar bulan orang itu tampak berjalan memakai
baju berwarna biru, badannya sedang, mukanya sangat
tampan sekali. Dengan sepasang alisnya yang berbentuk
bulan sabit menaungi sepasang matanya yang tajam
berkilat-kilat itu, Siauw Hiong segera dapat melihat dengan
tepat, bahwa orang ini adalah kawannya yang telah
beberapa saat berpisah dengannya, yaitu Gouw Leng Hong.
Lie Siauw Hiong setelah melihat bayangannya Li Gok
telah berlalu jauh, lalu dia mengitari tempat tersebut.
Pada saat itu, Gouw Leng Hong juga sedang bermaksud
membuka pintu kuil tersebut, sedangkan mukanya yang
tampan itu terbayang perasaan tegang.
Tatkala itu, Lie Siauw Hiong yang mendekati dibelakang
Gouw Leng Hong, lalu mencabut pedang panjangnya,
dengan mana lalu ditusukannya kearah si pemuda she
Gouw, hingga Leng Hong sendiri yang merasakan dari arah
belakangnya menyamber angin dingin, buru-buru dia
membalikkan tubuhnya menyambut serangan lawan gelap
itu. Sementara Lie Siauw Hiong dilain pihak segera
menanggalkan kedoknya sambil tertawa terbahak-bahak.
Gouw Leng Hong pun tidak terasa lagi menjadi tertawa
pula terkekeh-kekeh dan berkata : "Ai, ternyata kaulah yang
bergurau, Hiong Tee. Kau sangat nakal dan benar-benar
telah menyirapkan darahku bukan kepalang."
Dengan sengaja Lie Siauw Hiong berkata : "Tempo hari
secara sekonyong-konyong kau telah meninggalkan aku,
kau membiarkan aku sendirian menempur Hay-tian-siang-
sat, sehingga hampir saja jiwaku melayang dalam tangan
mereka." Mendengar penuturan kawannya, Gouw Leng Hong
merasa terperanjat sekali dan lalu berkata : "Aku kira
dengan mengandalkan kepandaianmu, kau dapat melibat
mereka dan pasti tidak akan menimbulkan kesukaran apa-
apa, tidak kusangka bahwa kau benar-benar telah bertempur
dengan mereka secara mati-matian."
Lie Siauw Hiong lalu menceritakan segala sesuatu yang
telah terjadi pada Gouw Leng Hong, hingga Gouw Leng
Hong yang mendengarnya merasa sangat tegang sekali, tapi
waktu melihat muka Lie Siauw Hiong yang bercerita sambil
berseri-seri ini, diapun tidak dapat menahan untuk tidak
turut tertawa, maka dengan gembira ia berkata : "Hiong
Tee, ternyata jodohmu sangat hebat sekali."
Sebenarnya sejak kanak-kanak Lie Siauw Hiong sudah
mempunyai tabiat pendiam, tapi bila dimuka saudara
angkatnya ini, dia berubah sama sekali dan tidak putus-
putusnya suara tertawanya berderai.
Gouw Leng Hong pun lalu menceritakan pengalamannya kepada Lie Siauw Hiong : "Waktu aku
mengejar Cu Kat Beng, aku berjumpa dengan bangsat tua
Li Gok itu, maka dari itu, sepanjang jalan yang kulalui,
sengaja aku meninggalkan jejak-jejak kakiku dan telah aku
perhitungkan pula, bila sampai kejadian aku menjumpai
keadaan yang berbahaya itu, kita dapat mempersatukan
tenaga kita untuk menentangnya, dan kita ingin lihat
apakah si bangsat tua itu sanggup menghadapi kita apakah
tidak. Belakangan aku dapati si bangsat tua itu berselisih
dengan murid-murid dari partai pengemis. Begitulah
sepanjang jalan aku menguntit mereka, tapi sampai disini
aku kehilangan jejak mereka, tetapi sebaliknya aku lantas
menjumpai kau disini."
Lie Siauw Hiong lalu menceritakan pula tentang
pertempurannya dengan Li Gok yang baru saja terjadi itu.
"Ternyata kau telah berjumpa dengannya ?" sela Gouw
Leng Hong. Lie Siauw Hiong yang telah memiliki kepandaian yang
demikian tingginya, masih saja belum berhasil menjatuhkan
Li Gok, apalagi dia berniat menuntut balas terhadapnya.
pikir Gouw Leng Hong dalam hatinya. Kemudian ia
menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian Lie Siauw Hiong dengan berpura-pura lalu
berkata : "Ohhh ! Benar, masih ada beberapa puluh hari lagi
pertemuan dengan kelima pemimpin partai masing2
dipuncak gunung Thay San dan sekarang baiklah kita pergi
kesana sekalipun mereka memiliki ilmu silat yang begitu
tinggi, duniapun mengetahui bahwa kepandaian 'Tan-kiam-
twan-hun' sungguh satu kepandaian keturunan yang asli
dan hebat. Tapi Twako, marilah kita pergi kesana !"
Kata-kata ini telah membangkitkan kembali semangatnya Gouw Leng Hong, maka sambil mengebutkan
pedangnya ia kemudian berkata dengan suaranya yang
nyaring : "Kendatipun aku orang she Gouw tidak dapat
menandingi kepandaian almarhum ayahku, tapi sedikit
banyak aku masih punya kemampuan juga yang dapat
diperlihatkan pada murid-murid manusia jahanam itu."
Lie Siauw Hiong tertawa terbahak-bahak sambil berkata
pula : "Didepanku mengapa Twako menyebut dirimu
sendiri dengan sebutan orang she Gouw ?"
"Mengenai hal ini, kurasa tak perlu kau ucapkan kau she
apa. Marilah kita berangkat sekarang juga."
Pada saat itu matahari sudah menyingsing, jalan yang
semalam dibasahi oleh embun, kini ketika kena sinarnya
matahari, embunnya menguap keudara, sehingga kelihatannya menambah keindahan alam disekitar tempat
itu. Sekonong-konyong terdengar derap kaki kuda dari
tikungan jalan itu. Tak lama antaranya kelihatan dua ekor
kuda putih. Sinar mahahari yang kekuning-kuningan
membuat bulu kuda yang putih itu gilang-gemilang dan
kilau-kemilau seperti gading. Kedua orang penunggangnya
masih sangat muda belia dan tampaknya sedang terbenam
dalam lamunan yang mengasyikkan.
Pemuda yang berada disebelah kirinya yang memakai
baju berwarna putih, tampak sedang berpikir sejurus dan
kemudian berkata : "Lie Siauw Hiong, ai, Lie Siauw Hiong.
Musuh-musuh yang akan kau hadapi kelak dikemudian itu
adalah kepala-kepala setan yang sudah terkenal nian dan
kau sekali-kali tidak boleh berlaku gegabah."
Waktu Lie Siauw Hiong memikirkan dirinya yang telah
dijatuhkan oleh Hay-tian-siang-sat kedalam jurang, diam-
diam dia jadi bergidik juga. Sesungguhnya bila kejadian ini
sampai tersiar dalam kalangan Kang-ouw, bahwa Lie Siauw
Hiong dengan tenaga seorang diri saja telah berhasil
melawan Hay-tian-siang-sat berdua saudara sampai ribuan
jurus lamanya, sehingga tidak dapat ditentukan siapa yang
menang dan siapa pula yang kalah, barangkali dunia Kang-
ouw akan merasa sangat terkejut.
Bersamaan dengan kejadian tersebut, pemuda yang
disebelah kanannya yang memakai pakaian berwarna biru
itu, juga berkata pada dirinya sendiri dengan suara antara
terdengar dan tiada : "Roh ayah yang telah berada disorga,
lindungilah anakmu yang ingin berbhakti, membunuh
musuh-musuh ayah dengan tanganku sendiri."
Kaki kuda itu berlari semakin cepat, karena kedua orang
itu telah membalapkan kuda masing-masing dengan pesat
sekali. Sepanjang perjalanan, mereka tak putus-putusnya
bercakap-cakap, dengan demikian, mereka tidak merasa
terlampau kesepian.
Kepandaian Li Gok yang setinggi itu, sesungguhnya
berada diluar dugaan mereka, tidak perduli tenaga dalam
maupun luarnya, telah mencapai satu taraf yang paling
tinggi, tapi hal ini malah membangkitkan semangat Lie
Siauw Hiong menjadi semakin berkobar-kobar, karena dia
telah menarik kesimpulan, bahwa pada sepuluh tahun yang
lampau, Li Gok ini masih dapat dikalahkan oleh Bwee
Siok-sioknya. Sebaliknya Gouw Leng Hong tidak berpendapat
demikian, dia mempunyai perhitungan sendiri, dia
mengetahui bahwa tenaga dalam Li Gok berada satu
tingkat lebih tinggi dengan kepandaiannya sendiri. Tapi dia
sendiri adalah seorang yang keras kepala, dia malah merasa
semakin geram saja dan sementara itu dia telah mengambil
keputusan yang pasti.
Beberapa hari ini, Gouw Leng Hong yang menampak
kepandaian Lie Siauw Hiong setinggi itu, dia tidak habis-
habisnya memuji, sampai tenaga-dalam Lie Siauw Hiong
pun dikatakannya sudah mencapai pada puncaknya yang
tertinggi. Perjalanan mereka sekali ini adalah dari propinsi Ouw
Pak menuju ke Hoo Lam. Ditengah-tengah perbatasan,
kedua propinsi tersebut berdiri tegak dengan megahnya
gunung Thong Pek San. Jalan disitu adalah mengitari
gunung tersebut, dan bila mereka jalan mengikuti jalanan
gunung, maka mereka akan membuang tempo banyak
sekali. Setelah mereka berjalan sampai dipinggir gunung itu,
lalu mereka berhenti sebentar untuk merundingkan
perjalanan mereka, dan kemudian mereka mengambil
keputusan untuk meneruskan perjalanan itu.
Dengan kepandaian tinggi yang dimiliki masing-masing,
kedua pemuda ini melanjutkan perjalanan mereka dengan
hati yang tabah. Setelah memasuki pegunungan tersebut,
mereka membiarkan kuda mereka lari sesukanya.
Begitulah dengan pesat sekali kedua kuda ini lari
kemuka, menuju gunung Thong Pek San. Tidak lama
antaranya, mereka telah lenyap dijalan dibalik gunung yang
berliku-liku itu. Derap kaki kuda mereka yang lari pesat ini,
terdengar nyata menggema dipegunungan yang sunyi ini,
sedang bekas-bekas derap kaki kuda mereka telah
meninggalkan debu yang mengepul-ngepul keudara.
Pada saat itu sang musim sudah memasuki musim Ciu
(rontok), dalam pegunungan itu angin gunung menghembus
tambah kencang dan dahsyat, apalagi gunung Thong Pek
San jarang sekali terdapat pohon-pohonan, karenanya
gunung tersebut tampak gundul. Disamping gunung
tersebut hanya tampak tumbuh satu dua pohon besar yang
sudah tua, sedangkan daun-daunannyapun tampak kuning
dan jarang. Keadaan ini sungguh tak sedap dipandang
mata. Disamping pemandangan yang tak sedap itu, syukur juga
hawa udaranya nyaman, sedangkan langit diatas tampaknya biru cerah. Tetapi kedua orang muda yang
berjalan berduaan ini, tampak sangat gembira sekali
melakukan perjalanan itu.
Tapi kemudian baru diketahui, bahwa jalan dihadapan
mereka, tambah jauh tambah sempit, hingga akhirnya
merupakan sebuah jalan kecil yang terlampau sempit dan
hanya dapat memuat satu orang saja. Hal mana, telah
membuat kedua orang ini lalu menahan tali les kuda
mereka dan berhenti sebentar untuk melihat keadaan
disekeliling mereka. Setelah memandang dengan amat teliti,
akhirnya mereka mengetahui, bahwa jalan kecil dan sempit
ini terus semakin jauh semakin menurun, dan akhirnya
mereka dapat keluar dari gunung Thong Pek San ini.
Begitulah setelah mereka memandang dengan cermat,
Gouw Leng Hong yang berjalan disebelah depan lalu
meneruskan perjalanannya.
Jalanan yang demikian sempitnya ini panjangnya kurang
lebih tiga puluh tombak, dikedua pinggiran jalan sempit ini
tumbuh amat lebatnya gerombolan rumput liar, hingga jika
dibandingkan dengan tanah yang kuning disebelah depan
mereka, tampaknya berbeda amat jauh.
Baru saja mereka berdua berjalan separuh jalan sempit
ini, sekonyong-konyong mereka mendengar suara senjata


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tajam yang beradu, perlahan-lahan bercampur dengan suara
tangisan satu dua orang. Ternyata suara itu datangnya dari
tempat yang tidak berapa jauh dari situ.
Mereka menjadi tercengang dan lalu serentak mempercepat jalan kuda mereka, tapi binatang-binatang itu
tidak berani lari dengan kencang karena keadaan jalan
terlampau sempit. Pada saat itu, jalan mereka sudah
semakin dekat ketempat yang dituju, hingga suara senjata
yang beradu itu semakin jelas saja terdengar.
"Disana sedikitnya ada tiga orang yang sedang
bertempur," kata Lie Siauw Hiong.
Dia dapat menduga demikian, karena dia mendengar
suara senjata yang tidak sama, yang keluar dari tiga macam
senjata tajam yang sedang beradu itu.
Gouw Leng Hong mengangguk-angguk, tidak lama
kemudian ketika mendekati ketempat tersebut, suara
beradunya senjata tajam itu sudah lenyap, hingga yang
terdengar hanya suara berkontrangan saja yang beradu
ditengah udara.
Kedua orang ini menjadi sangat terperanjat. Lantas
mereka berdua melompat turun dari kuda masing-masing
dan berlari-lari menuju ketempat orang-orang bertempur
itu, dimana tampak duduk seorang wanita yang sedang
menangis terisak-isak dengan sedihnya.
Waktu mereka memandang lebih jauh dengan teliti,
ternyata masih ada seorang laki-laki yang berumur kurang
lebih empat puluh tujuh atau empat puluh delapan tahun,
sedang memeriksa dua buah kereta dan ditanah berbaris
tujuh atau delapan orang yang sudah binasa.
Kedua pemuda ini lalu memperhatikan lagi kedua orang
yang sedang bertarung dengan serunya itu. Mereka melihat
ditangan salah seorang yang membelakangi mereka,
menggengam dua macam senjata yang tidak sama. Tangan
kiri orang itu memegang sebatang pedang dan ditangan
kanannya menggenggam sebuah martil.
Seorang dari yang dihadapannya yang sedang bertarung
itu, adalah seorang yang sudah berusia kurang lebih empat
puluh tahun, dan orang ini menggunakan sebilah pedang
panjang. Tidaklah mengherankan, waktu ketiga macam
senjata tajam yang tidak sama bentuk dan rupanya itu
saling beradu satu sama lain, lalu mengeluarkan suara yang
berlainan pula.
Orang yang menggenggam pedang panjang itu tenaga
gempurnya gesit sekali, dengan pedangnya yang panjang
dia menyerang sebentar keatas dan sebentar pula kebawah,
hingga tampaknya seperti dikelilingi oleh sinar pedang saja.
Sedangkan orang yang tangan kirinya memegang sebilah
pedang dan tangan kanannya menggenggam sebuah martil
itu, tampaknya sudah sangat keteter, maka dia terpaksa
mundur terus-menerus.
Sekonyong-konyong orang yang menggunakan pedang
panjang itu berseru keras, lalu membabatkan pedang
panjangnya dari atas kebawah, sehingga orang yang
menggunakan senjata dua rupa itu tidak berani menyambutnya, buru-buru dia mundur selangkah. Tampaknya dia bermaksud menghindarkan pukulan ini.
Kemudian lawannya ini tidak meneruskan serangannya dan
dengan cepat dia tarik kembali serangan pedangnya itu,
tetapi orang yang menggunakan senjata yang berlainan itu,
dengan tiba-tiba balik menyerang dengan satu totokan.
Dengan tidak disangka-sangka lawannya kembali
menggunakan serangannya yang berpura-pura. Pedang
panjangnya disentakkannya kembali dan kemudian dia
kembali menyerang dengan tipunya yang semula. Orang
yang menggunakan senjata yang berlainan itu tidak
menduga, lawannya dapat mengubah serangannya sepesat
itu, dia sudah tidak sempat lagi mengelak, maka dengan
terpaksa dia menggunakan kedua-dua senjatanya yang
berlainan itu untuk menangkisnya.
Dikatakan lambat, tapi terjadinya sangat cepat sekali,
dan serta merta terdengar suara 'trang' yang nyaring, suatu
tanda bahwa ketiga senjata itu beradu sekaligus.
Orang yang menggunakan pedang panjang itu kemudian
tampak tertawa cekikikan dan mendadak sontak dia
mengempos tenaga-dalamnya dan tiba-tiba pula terdengar
suara 'tang' yang amat nyaring sekali.
Ternyata kedua senjata lawannya, sudah berhasil
dipentalkannya keudara.
Diantara suara tertawanya yang panjang itu, orang yang
berpedang panjang itu tidak tinggal diam. Kakinya bertubi-
tubi menendang lawannya sebanyak tujuh atau delapan
kali, tetapi orang yang menggunakan senjata dua rupa itu,
yang senjata-senjatanya itu kini sudah terlepas dari
tangannya, belum lagi hilang rasa terperanjatnya, ketika
dengan tiba-tiba ia diserang lagi dengan tak henti-hentinya,
hingga membuat dia gugup bukan kepalang, Dalam
kebingungannya ini, dia sudah kena tendang lagi, sehingga
kembali ia jatuh ketanah.
Sementara itu, Sekonyong-konyong tampak berkelebat
bayangan orang, yang karena melihat pemuda yang sedang
memeriksa isi kedua kereta tadi kini telah melompat kearah
orang yang jatuh ketanah itu, maka ia berseru : "Tuan
benar-benar sangat tangguh sekali, maka sambutlah satu
pukulanku ini !"
Baru saja dia habis mengucapkan perkataannya itu,
pemuda itu sudah memasukkan pedangnya kembali
kesarungnya, dan sambil tersenyum dia berkata :
"Dipegunungan kiri kedua orang jagoan telah mempunyai
kepandaian yang cukup sempurna, tapi mengapa sekarang
datang kedaerah Thong Pek San ini?"
Mendengar kata-kata ini, Lie Siauw Hiong menjadi
terkejut, dia tidak menyangka bahwa kedua orang ini
adalah kepala perampok yang terkenal didaerah Shoatang,
yang satu dipanggil Tek-seng-siu Su Kong, sedangkan yang
seorang lagi disebut Sin-kiam-kim-twie Lim Siauw Coan.
Mereka berdua terkenal dengan nama julukan San-co-siang-
ho, atau dua jagoan dari gunung kiri.
Beberapa tahun yang silam, Hauw Jie Sioknya pernah
membicarakan tentang kedua tokoh dalam kalangan bu-lim
ini, terlebih-lebih Tek-seng-siu ini. Dia adalah kepala setan
perampok. Pada saat itu orang laki-laki setengah tua itu telah dapat
menjatuhkan Sin-kiam-kim-twie, sehingga hal ini sungguh-
sungguh telah membuat orang merasa heran.
Setelah sunyi sejurus, orang gagah yang menggunakan
martil itu, yaitu Tek-seng-siu Su Kong Cong, yang telah
dikalahkan oleh lawannya, seketika itu telah menjadi
terperanjat dan lalu berkata: "Tenaga-dalam tuan sungguh
harus diakui luar biasa sekali."
Perkataan ini baru saja habis diucapkannya, ketika orang
setengah umur tersebut yang tampaknya sudah mengetahui
kemana arah dan maksud perkataannya itu, lalu berkata :
"Su Kong Cong, janganlah kau salah mengerti, aku ini
adalah Cia Tiang Kheng."
Perkataan ini telah membikin Tek-seng-siu Su Kong
Cong merasa heran sekali, hingga dia mengeluarkan suara
'ahh', sampai pada Sin-kiam-kim-twie yang sudah terjatuh
ditanah, itupun merasa terkejut sekali. Dalam pada itu Su
Kong Cong lalu melanjutkan perkataannya : "Tidak
disangka tuan adalah ahli waris partai Tiam Cong yaitu
Lok-eng-kiam Cia Tay-hiap ?"
Cia Tiang Kheng hanya tertawa getir dan lalu berkata :
"Kalian berdua yang sudah terkenal sekali dalam wilayah
ini, aku pun sudah mengetahuinya. Tapi tidak disangka
yang kalian telah begitu berani membegal barang dibawah
lindunganku. Sekalipun aku tidak pandai, akupun harus
membelanya secara mati-matian, bukan ?"
Kedua perampok ini biar bagaimanapun tidak pernah
menyangka yang ahli waris partai Tiam Cong ini dapat
pergi ke Hoa Pak atau keutara, mereka memang telah lama
mendengar nama yang terkenal itu serta kegagahannya
Lok-eng-kiam. Merekapun merasa jeri juga. Lawannya ini
telah berulang-ulang mengejek mereka, sehingga membangkitkan amarah mereka, maka dengan tertawa
dingin Su Kong Cong lalu berkata : "Kami memang dengan
mengandalkan perampokan dapat memenuhi kehidupan
dan cara turun tangan kami ini memang ada sedikit
keterlaluan, tapi jika Cia Loosu tidak mau membiarkannya,
silahkan turun tangan saja untuk menentukan siapa yang
lebih gagah." Sambil berkata begitu, dia menunjuk dengan
jarinya kearah tujuh atau delapan bangkai yang telah
menggeletak diatas tanah disitu.
Cia Tiang Kheng memandang kearah tudingan jari dan
melihat apa yang dikatakan Su Kong Cong tadi. Dengan
nada suara kaku dan tak mau kalah Cia Tiang Kheng lalu
berkata : "Dikatakan aku tidak berani menerimanya, aku
berani, hanya aku mohon pelajaran kalian berdua saja."
Sehabis Cia Tiang Kheng mengucapkan perkataannya
itu, dengan cepat dia menarik keluar pedang panjangnya
itu. Tek-seng-siu tertawa terbahak-bahak, dengan sekali
tendang saja dia telah membebaskan totokan ditubuh Lim
Siauw Coan, dan dengan sekali mengebaskan tangannya,
badannya bergerak maju, tampaknya dia ini ingin
bertempur dengan tangan kosong saja.
Cia Tiang Kheng yang sudah berpengalaman dikalangan
Kang-ouw, melihat ditangan lawannya tidak terdapat
sepotong besipun, dengan membalikkan tangannya lalu dia
masukkan kembali pedang panjangnya kedalam kerangkanya. Dengan cepat bagaikan bintang beralih, dia
loncat mundur beberapa tombak jauhnya. Walaupun
lambat, tapi kejadiannya sangat cepat sekali, waktu Su
Kong Cong melihat satu pukulannya luput dari sasarannya,
sekali lagi dia menyerang lawannya dengan menggunakan
tipu Tok-coa-cut-tong' (ular berbisa keluar dari dalam goa).
Lok-eng-kiam yang kepandaiannya cukup sempurna,
tanpa disadarinya dia telah memandang rendah Su Kong
Cong ini. Tampak sepasang tangannya dirangkapkan,
badannya sebelah bawah tidak bergerak, tapi badannya
yang sebelah atas lalu berkisar maju, kemudian sepasang
tangannya diulurkan kemuka dan dengan gerak menggunting dia mengacip lengan lawannya. Tek-seng-siu
lalu meneruskan serangannya dengan mengarah kepinggang
lawannya. Dalam pada itu badan sebelah bawah dari Lok-eng-kiam
ini tidak bergerak, hanya pinggangnya saja sedikit digeser,
ternyata dia sudah mengerat sebanyak dua cun, sehingga
serangan lawannya jatuh ditempat yang kosong, sedangkan
tangan kirinya dikeluarkan untuk menggait nadi darah
lawannya, dan tangan kanannya dengan gerakan 'Hian-
niauw-hwa-see' (burung mencakar pasir) lalu menyerang
kening Su Kong Cong.
Begitulah kedua orang ini melancarkan serangan demi
serangan yang bertambah lama bertambah seru dan ramai.
Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng Hong yang
bersembunyi dibalik pohon pada saat itu, tampaknya
sedang merundingkan sesuatu.
Gouw Leng Hong yang mendengar kejadian-kejadian itu
sejak tadi, kini tahu bahwa orang laki-laki setengah tua ini
adalah salah seorang dari lima orang yang membunuh
ayahnya, dengan tiba-tiba amarahnya jadi memuncak. Dia
serasa tak kuat lagi menahan ledakan hatinya, karena
sangat bencinya melihat pemuda setengah umur ini. Dia
ingin keluar saja dari balik pohon itu untuk menyerang
orang tersebut, tapi sebaliknya Lie Siauw Hiong segera
mencegahnya dengan berbisik : "Twako tidak usah berlaku
gugup dan lekas naik darah. Yang membunuh ayah Twako
dulu itu adalah ayahnya, Hui-hong-kiam-khek Cia Seng.
Orang ini .."."
Sebenarnya dia ingin memuji kebijaksanaan Cia Tiang Kheng ini, tapi waktu dia teringat
bahwa Cia Tiang Kheng itu adalah salah seorang pula yang
melukai Bwee Siok-sioknya, maka diapun insyaf yang dia
tidak dapat berlaku demikian, hingga akhirnya dengan
marah yang dapat ditahannya, dia terpaksa tinggal
membisu. Ketika kedua orang ini sedang asyiknya bercakap-cakap,
pada saat itu Cia Tiang Kheng sedang bertarung pula


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan sengitnya dengan Tek-seng-siu. Akhirnya Gouw
Leng Hong pun menginsyafi bahwa orang ini bukanlah
orang yang langsung telah membunuh ayahnya, hanyalah
anak dari musuh ayahnya itu. Maka sekalipun dalam
hatinya merasa tidak tenteram, tapi waktu dia dengar Cia
Tiang Kheng mempunyai semangat yang bergolak-golak
dan mempunyai ambakan yang teguh, terhadap ia ini dia
mempunyai kesan yang baik sekali.
Pada saat kedua orang ini masih melanjutkan
pertarungan mereka, kedua orang yang kini berada diatas
pohon itu berpendapat, bahwa kemenangan terakhir pasti
akan jatuh ditangan Cia Tiang Kheng.
Ketika itu pula Cia Tiang Kheng sudah mengeluarkan
kepandaiannya yang disebut 'Chit-coat-ciu-hwat' (serangan
berantai yang hebat sekali), tenaga maupun pengaruh
serangan tersebut sangat besar sekali. Begitu pula Tek-seng-
siu disaat itu telah mengeluarkan kepandaiannya yang
sangat diandalkannya, yaitu 'Tek-seng-sip-pat-sek' untuk
menghadapi serangan lawannya yang hebat itu. Kedua
orang ini masing-masing jarang sekali menemui lawan yang
setimpal dalam kalangan Kang-ouw, tapi pada kali itu
ketika mereka saling berhadapan dan bertempur satu sama
lain, maka serangan-serangan yang hebat dan jarang sekali
kedapatan dikalangan Kang-ouw pun, semuanya mereka
keluarkan. Lie Siauw Hiong yang menyaksikan pertempuran
tersebut dari atas pohon, diam-diam diapun memuji,
kemampuan mereka masing-masing yang tinggi itu.
Ketika Tek-seng-siu menyerang Cia Tiang Kheng, maka
diam-diam Lie Siauw Hiong mengeluarkan tipu balasannya, begitu pula waktu Cia Tiang Kheng menyerang
Tek-seng-siu, diapun tidak lupa pula mengeluarkan tipu-
tipu lawannya untuk menghadapi serangan lawannya.
Patut diketahui bahwa tenaga-dalam Lie Siauw Hiong
pada saat itu sudah mencapai taraf yang tertinggi sekali,
kedua orang ini ketika masing-masing
menyerang lawannya, maka diapun dengan segera mengeluarkan
serangan balasannya maupun tipu-tipu untuk dipakai
menangkis serangan-serangan lawannya. Diapun sangat
memuji atas kepandaian maupun pengalaman kedua orang
yang sedang bertempur ini.
Lebih-lebih lagi Su Kong Cong yang sudah kenyang
makan asam garam dan berpengalaman sekali dalam
kalangan Kang-ouw, setiap serangan yang dilancarkan oleh
Cia Tiang Kheng, tidak satupun yang dapat menipu dirinya,
waktu dia menyerang lawannya, diapun berlaku gesit dan
telengas, hal itu sesungguhnya membuat orang merasa
tercengang. Maka tepatlah seperti apa yang orang banyak
pernah mengatakan bahwa dengan 'tiga bagian pengalaman, dan tujuh bagian kepandaian asli', barulah
dapat menjagoi dikalangan Kang-ouw. Hal mana, benar-
benar merupakan suatu kenyataan yang tak mudah dapat
dipungkiri oleh siapapun jua.
Kedua orang yang sedang bertempur ini semakin lama
semakin cepat saja gerak-gerakannya, tapi sudah jelas
bahwa Cia Tiang Kheng sudah berhasil berada diatas angin.
Justeru itu, sekonyong-konyong dari jalanan digunung ini
terdengar suara derapan kaki kuda mendatangi, semakin
lama semakin bertambah dekat saja.
Tidak antara lama pemuda Lie dan Gouw menampak
yang datang itu hanya dua orang, yang menuju langsung
kejurusan kedua orang yang tengah bertempur ini. Seorang
yang berjalan dimuka ditaksir umurnya sudah mencapai
tujuh puluh tahun, pakaiannya berwarna abu-abu. Waktu
orang yang memakai baju abu-abu ini telah dekat ketempat
itu dan mendengar suara senjata tajam beradu, tidak terasa
lagi dia lalu menghentikan lari kudanya. Dia segera
menoleh kebelakang memberi isyarat kepada kawannya.
Justeru itu, kedua orang yang sedang bertempur itupun
sudah mencapai babak yang menentukan, dan tepat pada
saat itu pula Cia Tiang Kheng telah mengeluarkan ilmunya
yang paling dibanggakannya, yaitu 'Chit-coat-ciu-hwat'
pada jurus kesepuluh, mendesak lawannya dengan secara
mati-matian, sehingga Su Kong Cong dengan mengeluarkan tipu-tipu 'Kwie-ciam-hui-lin' (panah setan
terbang melesat), 'Lui-tong-ban-but' (geledek menggetarkan
segala benda) dan 'Tian-loo-tauw-heng' (lari dari jaringan
langit), barulah dia berhasil menangkis serangan lawannya
yang datangnya bertubi-tubi itu.
Sekonyong-konyong dari luar hutan itu terdengar suara
orang bersenandung : "Langit yang luas tampak kebiru-
biruan, rembulan diwaktu fajar muncul diatas langit dalam
kesunyian .."."
Baru saja habis terdengar suara orang bersenandung ini,
tiba-tiba muka kedua orang perampok itu kelihatan
berubah, hingga Cia Tiang Kheng sendiripun sekonyong-
konyong terasa mukanya dingin. Karenanya, buru-buru dia
menarik serangannya dan lalu melompat keluar dari
kalangan pertempuran sambil berkata : "Kedua tuan-tuan
ini sudah memberi pelajaran yang cukup terhadapku, aku
orang she Cia karena mempunyai urusan yang sangat
penting, maka dengan menyesal sekali mesti meninggalkan
kalian disaat ini juga ! Harap tuan-tuan sudi memaafkanku
!" Begitu habis mengucapkan kata-kata itu, buru-buru dia
meninggalkan tempat itu.
Lie dan Gouw, kedua orang yang sedang bersembunyi
diatas pohon ini, waktu mereka menoleh kearah suara
bersenandung tadi, dia menampak seseorang yang usianya
telah lanjut dan memakai pakaian abu-abu, tapi apa yang
membuat orang paling merasa heran, ialah bahwa orang tua
ini gerak-geriknya masih sangat gagah, sedangkan
semangatnya pun masih tampak berkobar-kobar.
Lok-eng-kiam Cia Tiang Kheng yang lari terbirit-birit,
ketika berpapasan dengan orang tua itu lalu berkata : "Jim
Loo-eng-hiong, kaupun terhitung seorang yang ternama
besar, tapi mengapakah kau telah menipuku ?"
Orang tua itu tampak tersenyum dingin sambil berkata :
"Ah, kau pendekar muda belia dari partai Tiam Cong
dengan maunya sendiri telah masuk kepartai kami, kau
sendiri yang menjadi ahli warisnya, mengapa kau ingin
mencari susah sendiri, tidakkah kau takut ditertawakan
orang ?" Kedua orang yang bernaung diatas pohon ini, ketika
melihat kedatangan orang tua ini, yang telah membuat Cia
Tiang Kheng merasa amat gugup sekali, rupanya dengan
partainya sendiri yaitu Tiam Cong tentu mempunyai
sangkut-paut yang erat sekali, tetapi mereka tidak dapat
meraba asal-usul orang tua ini dari mana gerangan, hingga
tidak terasa pula merekapun jadi berpikir keras.
Cia Tiang Kheng lalu tertawa panjang sambil berkata :
"Kau tua bangka Jim To Swan, sebenarnya kau tidak
mempunyai sangkut-paut denganku, maka kuharap kaupun
jangan melibatkan persoalanmu atas diriku !"
Bahna perkataannya ini mengandung kemarahan yang
meluap-luap. Jim To Swan menyambut perkataan itu dengan hanya
tertawa dingin, dan sambil membalikkan kepalanya dia
memandang pada pemuda setengah umur itu, sambil
melambaikan tangannya, dengan mana kedua orang
kawannya itu lalu berdiri terpencar disebelah kiri dan
kanannya. Cia Tiang Kheng yang melihat suasana demikian,
diapun tertawa dingin pula dan berkata : "Jangankan kau
berdua, sekalipun kalian maju dengan serentak, aku orang
she Ciapun pasti akan menyambutinya juga !"
Namun Jim To Swan tetap tidak menjawab perkataan
Cia Tiang Kheng itu, tapi sebagai jawaban, begitu
lengannya diangkat, serta merta dari kedua lengan bajunya
keluar angin kepalan yang keras sekali menjurus pada
sebatang pohon sebesar mulut cangkir yang tumbuh
terpisah darinya dalam jarak kurang lebih tiga sampai
empat tombak jauhnya. Ketika angin kepalan itu sampai,
pohon itupun lantas membentuk sebuah lengkungan,
kemudian Jim To Swan setelah mengemposkan semangatnya pula, lantas pohon itu menjadi patah dan
terbang menurut angin kepalannya itu!
Kejadian ini sudah menunjukkan bahwa orang tua itu
memiliki kepandaian yang tinggi sekali, tetapi yang paling
mengherankan orang, ialah sesaat kemudian sewaktu
tenaganya ditariknya kembali, ternyata tenaganya tetap saja
sama-sama besarnya pada saat pukulan itu dilepaskannya.
Kenyataannya, kejadian tersebut sungguh cepat sekali.
Begitu Cia Tiang Kheng mendehem, lantas badannya
melesat dengan amat cepatnya, hingga gerakan itu mirip
anak panah yang baru terlepas dari busurnya. Tubuhnya
melayang keudara, dan dengan gerakan pedang yang gesit
dan lincah, dia membentuk sebuah lingkaran disekitar
pohon yang melayang tadi.
Lantas pohon itu dengan tenangnya menjurus ketangan
Jim To Swan, hingga dengan tenang pula Jim To Swan
telah menyambutnya, kemudian dengan menggunakan
sedikit tenaga saja, terdengar suara 'kretek', dan pohon itu
patah dua dibatas tengah-tangahnya, hal mana rupanya
telah dilakukan oleh Cia Tiang Kheng tadi.
Pada saat itu Cia Tiang Kheng yang merasa bahwa
mundur atau maju menjadi serba salah baginya, tampaknya
dia sudah ingin berlaku nekad saja. Menampak hal itu, Jim
To Swan lalu berkata dengan suara dingin : "Orang she Cia,
kau jangan berlaku temberang, kau harus mendengar
dengan teliti. 'Di Kwan Tiong terdapat sembilan jagoan, di
Hoo Lok terdapat satu ahli pedang, di Hay Lwee terdapat
Chit-biauw dan diluar dunia terdapat Tiga Dewa', tapi
sekarang ahli pedang di Hoo Lok sudah mampus, tiga dewa
diluar dunia tidak pernah menunjukkan dirinya lagi
didaerah Tiong Gwan, dan Chit-biauw-sin-kun sekalipun
dikabarkan orang sudah muncul kembali dikalangan rimba
persilatan, mungkin hal itu hanyalah kabar angin belaka.
Maka seluruh dunia rimba persilatan dewasa ini, adalah
sembilan jago dari Kwan Tiong yang telah menjagoinya
dan menjadi pemimpinnya .."."
Belum lagi dia berkata habis, Cia Tiang Kheng sudah
memotong perkataannya sambil membentak : "Jangan
banyak mengeluarkan bacotmu yang tidak keruan itu !
Dapatkah kau mengurus 'Hay-tian-siang-sat' ?"
Jim To Swan tertawa dingin sambil melanjutkan
perkataannya : "Hay-tian Loo-jie telah mengambil
keputusan untuk membentuk kembali kumpulan sembilan
jago-jago Kwan Tiong. Kau dengarlah, sekarang ini
diantara sembilan jago-jago Kwan Tiong kecuali Hay-tian-
siang-sat dan kedua orang yang sudah mati lebih dahulu itu,
semuanya berjumlah empat. Lima orang anggota barunya
adalah San-co-siang-ho, disamping mana ini bersama
saudara Tiang-tian-it-pek Pek Heng .."."
Sambil berkata begitu, dia memandang kesampingnya
pada seorang pemuda setengah umur itu sambil berkata
pula : "Masih ada seorang lagi, yaitu Su-tee-mu sendiri,
yaitu 'Cian-siu-kiam-khek Liok Hong'."
Tatkala mendengar bahwa adik seperguruannya sudah
menjadi salah seorang anggota dari kumpulan sembilan
jago-jago dari Kwan Tiong itu, tidak terasa lagi Cia Tiang
Kheng menjadi terkejut sekali, sehingga dia tidak dapat
mengucapkan barang sepatah katapun !
Dengan tetap berkata dengan suaranya yang dingin, Jim
To Swan berkata lagi : "Hal ini adalah kemauannya sendiri
!" Sambil berkata begitu, dia lalu merogo sakunya dan
mengeluarkan sepucuk surat yang lantas dilemparkan
kearah Cia Tiang Kheng.
Cia Tiang Kheng lalu menyambut surat itu, sambil
merobek sampulnya dan lalu membaca apa bunyinya.
Sebelum dia menbaca surat itu, dengan sekali lihat saja dia
sudah tahu, bahwa surat itu benar-benar ditulis oleh Su-
teenya sendiri. Karena ini, hatinya menjadi kecewa bukan
kepalang, tapi dimulutnya Cia Tiang Kheng hanya berkata :
"Kalau begitu, bagaimana dengan sumpahnya ?"
Jim To Swan lalu menjawab : "Itulah urusan Liok Lo-tee
sendiri, Loo-hu tidak tahu menahu. Orang she Cia, jika kau
ingin menantangku pula, Loo-hu pasti dengan tenang
mengabulkan permintaanmu itu, hanya dengan meminjam
perkataan orang dikalangan Kang-ouw, sembilan jago dari
Kwan Tiong telah muncul kembali, bila aku turun tangan,
apakah jiwamu masih tetap akan terjamin ?"
Berkata sampai disitu, dia lalu berhenti sebentar, dan
tanpa menunggu sampai Cia Tiang Kheng berkata, dia
sudah mengulas perkataannya : "Sekarang aku ingin kau
rasakan sedikit kesengsaraan, biarlah dunia mengetahui
bahwa sembilan jago dari Kwan Tiong itu tidak gampang-


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

gampang diganggu orang, sekalipun kelima ahli waris
masih berada dibawah pengaruh kita sekalian."
Baru saja dia berkata sampai disitu, Cia Tiang Kheng
sudah tertawa terbahak-bahak dan dengan sebat sekali dia
menarik pedang panjangnya sambil berkata : "Omongan
yang bagus sekali ! Aku justeru ingin mencoba kemampuan
sembilan jago dari Kwan Tiong ini !"
Baru saja badannya bergerak, Jim To Swan dengan
suaranya yang dingin lalu berkata pula : "Orang she Cia,
kau harus mengukur dirimu sendiri. Bila kita berempat dua
didepan dan dua dibelakang mengeroyokmu, apakah kau
masih dapat mempertahankan dirimu pula ?"
Cia Tiang Kheng lalu menoleh kebelakang dan benar
saja kedua perampok dari Shoatang yang disebut San-co-
siang-ho itu berdiri dibelakangnya dalam jarak kurang lebih
beberapa tombak jauhnya, yang satu berdiri disebelah kiri
dan yang satunya lagi berdiri disebelah kanannya. Mereka
berdiri disitu dengan membisu.
Dalam hatinya, dia sedang memikirkan daya yang
sempurna untuk menghadapi lawan-lawannya itu. Karena
dia insyafi, bahwa harapan untuk melarikan diri sudah tidak
ada pula, maka diapun lalu mengeraskan hatinya dan tanpa
menjawab perkataan lawannya lagi, dia menyerang Jim To
Swan dengan satu tusukan yang dahsyat.
Ternyata sesudah Liok Hong mencuri surat dan
melarikan diri dari atas gunung, Cia Tiang Kheng telah
mengejar-ngejarnya sampai ribuan lie jauhnya. Disepanjang
jalan dan baru saja dia hampir berhasil menangkapnya,
selalu ada-ada saja orang yang membantunya secara diam-
diam, begitulah terus dia mengejar Su-teenya sampai
diperbatasan Ouw Pak. Sampai disitu dia berjumpa dengan
Jim To Swan. Kedua orang ini pada waktu yang lampau
memang pernah saling berjumpa satu sama lain. Pada saat
itu Jim To Swan memberitahukan kepadanya, bahwa Su-
teenya telah melarikan diri kegunung Thong Pek San. Cia
Tiang Kheng lalu mengejarnya kesana, sesampainya disitu,
dia telah menjumpai sepasang perampok dari Shoatang itu
tengah melakukan perampokan, maka dia lalu turut campur
tangan. Pada saat ini barulah dia insyaf, bahwa dirinya sudah
masuk kedalam jebakan atau perangkap musuhnya yang
tangguh ini. Begitulah dengan seorang diri dia melawan keempat
orang lawannya itu, dengan ia sendiri senantiasa dipukul
mundur lawan-lawannya, setiap kali dia melakukan
penyerangan. Dalam pada itu Lie Siauw Hiong yang sedari tadi
bersembunyi diatas pohon, lalu berunding dengan
kawannya Gouw Leng Hong. Begitu hati Lie Siauw Hiong
bergerak, lalu dia beri isyarat kepada kawannya, kemudian
dia lalu memakai pula kedoknya. Diatas tanah kelima
orang yang sedang bertempur dengan sengitnya itu, ketika
melihat secara tiba-tiba saja ada seorang yang mencampuri
masuk kedalam kalangan pertempuran, seketika itu juga
mereka menghentikan pertempuran itu sebentar dan
memandang kepada Lie Siauw Hiong.
Mereka menyaksikan pada saputangan yang dibuat tutup
muka orang yang tengah mendatangi itu terlukis tujuh
kuntum bunga Bwee.
"Sembilan jago dari Kwan Tiong sedang berbuat apa
disini ?" tanyanya dengan suara dingin. "Sekalipun aku
orang she Bwee sudah berumur agak lanjut, tapi ..". Hm
.."."
Dengan sengaja Lie Siauw Hiong menahan suara
tertawanya, hal mana telah membuat perasaan orang-orang
itu menjadi tegang dan tak enak.
'Keempat jago' itu tidak merasa begitu takut, tapi Liok-
eng-kiam Cia Tiang Kheng mendadak telah berubah
mukanya. Dalam beberapa tahun ini, setiap jam dan setiap
menit dia selalu teringat akan perbuatannya yang lampau
itu, yang menurut pikirannya sendiri, dia telah melakukan
sesuatu perbuatan diluar batas perikemanusiaan, tetapi
setiap dia ingat hal itu, dia selalu merasa sedih hatinya, dan
hari ini tidak disangka pula, bahwa dia telah berjumpa lagi
dengan orang yang sudah meninggal itu, sekalipun orang
itu sekarang memakai kedok.
Dengan matanya yang tajam, Lie Siauw Hiong
memandang kepadanya, dan menurut perasaannya, saat itu
diantara dia dengan Cia Tiang Kheng terdapat sesuatu
perasaan yang saling mengerti.
Lie Siauw Hiong lalu berkata sambil mengeluarkan suara
sumbang dari lubang hidungnya : "Apakah munculnya
kembali sembilan jago dari Kwan Tiong itu, hanya dengan
mengandalkan pada manusia-manusia busuk seperti kalian
ini " Terus terang, aku orang she Bwee adalah orang yang
pertama merasa tidak tunduk terhadap kalian semua !"
Waktu dia mengucapkan perkataannya ini, tampaknya Lie
Siauw Hiong agak sombong dan angkuh.
Jim To Swan yang terkejut pada pertama kalinya melihat
kedatangan Lie Siauw Hiong, kini dia berbalik menjadi
sangat murkah sekali dan lalu berkata dengan membentak :
"Kepandaian kelima ahli waris sudah terkubur musnah,
apakah mereka masih mempunyai keinginan untuk
menjagoi pula dalam rimba persilatan " Ha ha ha .."."
Lie Siauw Hiong yang agak merasa dihina orang, segera
hatinyapun menjadi panas pula dan dengan marahnya
diapun balas membentak : "Kau mau apa sekarang ?"
Pada saat itu saking marahnya, Jim To Swan mendadak
jadi tertawa dan segera menjawab : "Bertempur saja !"
Kejadiannya ini berlalu dengan sangat cepatnya. Begitu
suara tertawa Jim To Swan lenyap, lalu dia mengangkat
sepasang tangannya dengan tipu 'Han-sim-ciang-lek' (tenaga
pukulan yang luar biasa ganasnya) menyerang pemuda itu.
Dia mengira dengan menyerang secara sekonyong-
konyong ini, pasti Chit-biauw-sin-kun
tidak dapat mengelakkan serangannya, tapi tak dinyana Lie Siauw
Hiong dengan mengeluarkan suara ejekan, badannya bukan
saja tidak bergerak mundur kebelakang, malahan dia maju
setindak kemuka. Tangan kirinya lalu tampak dikibaskannya, dengan satu tenaga yang luar biasa besarnya
pula pukulannya segera dilancarkan menjurus kelawannya.
Begitu kedua tenaga saling beradu, Lie Siauw Hiong
meneruskan serangannya. Secara diam-diam Jim To Swan
merasa bukan main terkejutnya, ia merasakan tenaga
lawannya jauh beherapa kali lipat lebih besar daripada
tenaganya sendiri, hingga hatinya menjadi jerih dan
dadanya terasa sangat sesak.
Sekali turun tangan saja, Siauw Hiong telah membuat
keempat orang itu merasa panik bukan kepalang. Mereka
lalu berpikir, betul saja Chit-biauw-sin-kun tidak mati
dibawah serangan dan kepungan kelima ahli waris dari
partai yang berkuasa pada masa itu. Ternyata tenaga-dalam
Lie Siauw Hiong sangat luar biasa sekali, Sin-kiam-kim-twie
Lim Siauw Coan bertekad tak mau tunduk, maka sambil
menggeram dia menyerang lambung Lie Siauw Hiong.
Melihat ini Lie Siauw Hiong hanya tertawa dingin saja,
telapak tangannya ditariknya mundur sedikit dan dengan
menggunakan gerakan 'rapat', dia segera menyambut
serangan Lim Siauw Coan itu.
Tenaga-dalam Lie Siauw Hiong pada saat itu sudah
dibantu oleh Peng Hoan Siangjin, hingga tenaga maupun
kekuatannya sudah mencapai latihan enam puluh tahun
lebih, ditambah lagi dengan seluruh pelajaran yang
dipelajarinya dari Bwee San Bin, maka dengan menggabungkan kepandaian kedua orang yang luar biasa
itu, dengan mudahnya dia akan dapat mengalahkan Jim To
Swan maupun Lim Siauw Coan, tapi karena dia yang
menyaru dengan memakai dan menggunakan namanya
Bwee San Bin, dengan sengaja dia tidak menggunakan
seluruh kepandaian dan kekuatannya yang sesungguhnya,
kemudian dengan demikian, dengan sekaligus dia
menyambut kedua serangan lawannya ini.
Nama-nama Jim dan Lim kedua orang ini, dikalangan
Kang-ouw sudah luar biasa terkenalnya, tenaga-dalam
merekapun cukup tangguh pula, pendeknya mereka ini
disegani sekali dalam rimba persilatan. Pada saat itu dengan
bergabungnya tenaga kedua orang itu, kita dapat bayangkan
sampai dimana kekuatan mereka berdua. Menampak hal
itu, Lie Siauw Hiong hanya mengeluarkan suara-suara yang
bernada ganjil saja, lalu dengan menambah kekuatannya
dia mengeluarkan kekuatannya sebanyak delapan bagian.
Jim dan Lim kedua orang ini tidak menyangka-nyangka,
bahwa kekuatan Chit-biauw-sin-kun begitu hebat sekali.
Mereka lalu mengerahkan semangat untuk menambah
kekuatan mereka. Tek-seng-siu Su Kong Cong yang sudah
mempunyai pengalaman luas sekali dalam kalangan Kang-
ouw, menampak Lie Siauw Hiong ingin keras lawan keras,
dia hanya tertawa dingin saja, kemudian dengan sikap yang
berani dia tampil kemuka.
Dengan mengeluarkan suara 'huuuu' yang keras sekali,
Su Kong Cong telah menyambuti serangan Lie Siauw
Hiong itu. Waktu kedua pukulan ini saling beradu, Lie
Siauw Hiong merasa hatinya agak panas, hingga diapun
dengan memiringkan tubuhnya segera
menyambuti serangan lawannya itu.
Su Kong Cong sendiri yang diluar atau dikalangan Kang-
ouw mendapat gelaran Tek-seng-siu, kekuatan pukulannya
dapat dibayangkan betapa lincah dan lihaynya. Lie Siauw
Hiong sewaktu menyambut serangan ini, hatinya menjadi
berdebaran keras sekali, maka dengan menarik nafas
panjang, dia mengatur pernafasannya dengan berusaha
untuk memperbaiki jalan pernafasannya, kemudian setelah
berhasil, dia segera menghempos semangatnya pula dan
sekarang, dengan menggunakan sepenuh tenaganya, dia
telah melakukan serangannya kembali kepada lawannya.
Harus diketahui, bahwa serangan maupun kekuatan
yang dikeluarkan oleh Lie Siauw Hiong pada saat ini,
adalah kepandaian dan kekuatannya yang setinggi-
tingginya, hingga meski dia sendiri dengan sekaligus
melawan tiga orang, mereka masih merasa agak sukar
untuk menahan kekuatan serangan Lie Siauw Hiong ini.
Pada saat itu, diantara sembilan jago-jago dari Kwan
Tiong yang sudah keluar melakukan pertempuran telah ada
tiga orang, hanya tinggal 'Tiang-tian-it-pek' Pek Hong yang
masih berlaku adem belum dapat meraba-raba, dan bila dia
sendiri turut turun kegelanggang pertempuran keempat
orang itu. Orang ini, yang dulu pernah menjagoi dikalangan
rimba persilatan, pernah menjagoi didaerah selatan dan
utara sungai Tiang Kang. Tenaga-dalamnyapun cukup
tangguh dan hebat, tapi terhadap setiap orang dia memang
selalu suka menunjukkan sikap yang adem sekali.
Dengan berdasarkan kepandaian dan pengalamannya,
dia masih dapat melihat siapakah sebenarnya Chit-biauw-
sin-kun ini dan sampai dimana pula kepandaiannya. Juga
diapun masih belum dapat meraba-raba, dan bila dia sendir
turut turun kegelanggang pertempuran, apakah lawannya
pasti akan menderita luka-luka atau tidak. Maka selain dia
sendiri yang masih berdiri diam menyaksikan pertempuran
tersebut, seorang lainnya lagi, yaitu Liok-eng-kiam Cia
Tiang Kheng, pasti tidak akan tinggal diam, jika dia turut
serta mengeroyok Lie Siauw Hiong. Oleh karena itu,
diapun menjadi ragu-ragu, sehingga mengakibatkan dia
diam berdiri dan belum lagi mau menerjunkan dirinya
kedalam medan pertempuran.
Dalam pada itu, sekonyong-konyong Lie Siauw Hiong
berseru keras, ketika dia mengeluarkan tenaga-dalam yang
sebesar-besarnya. Pertempuran berlangsung dengan amat
serunya, dengan kedua belah pihak bertahan mati-matian
untuk membela diri. Kemudian Lie Siauw Hiong telah
menarik pulang pukulannya, sehingga tenaga ketiga
lawannya menjadi tidak kompak lagi. Dengan begitu, Lie
Siauw Hiong dapat menjaga dirinya dengan sebaik-baiknya.
Sebaliknya, bila Jim, Lim dan Su Kong Cong bertiga
menarik pulang pukulan mereka untuk mundur, maka
mereka pasti akan menderita luka-luka parah, dari luar
meski tampak sepintas lalu Lie Siauw Hiong berada dipihak
yang kurang menguntungkan, tapi kenyataannya dialah
yang berada dipihak sebaliknya, untuk mempertahankan
dirinya. Pek Hong yang berdiri menyaksikan dari samping,
akhirnya diapun tidak dapat menahan sabar terlebih lama
pula. Dengan melangkah maju satu tindak dan sambil
menghempos semangatnya, dia sudah bersiap-siap untuk
menerjunkan dirinya kedalam gelanggang pertempuran.
Didalam hati dia menduga, bila dia turun tangan untuk
membantu kawan-kawannya, pasti Cia Tiang Kheng akan
menghalang-halanginya. Oleh karena itu, dengan ekor
matanya dia lirik pemuda she Cia itu, yang ternyata
mukanya masih biasa saja dan tidak menunjukkan perasaan
apa-apa, karena meskipun tangannya memegang pedang,
tetapi dia tinggal tetap tidak bergerak. Tampaknya dia
sangat tertarik dan gembira sekali agaknya menyaksikan
pertempuran itu.
Begitu Pek Hong menggerakkan tangan kanannya
hendak menyerang Lie Siauw Hiong yang sedang
bertempur dengan kawan-kawannya, sekonyong-konyong


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dari pinggir hutan terdengar suara orang yang berseru
dengan suara nyaring, kemudian disusul dengan munculnya
sesosok bayangan manusia yang membentuk sebuah
lingkaran dengan tangan kirinya, sedangkan tangan
kanannya digunakan untuk menotok dan berbareng
menangkis juga serangan Pek Hong itu.
Harus diketahui, bahwa pada jaman tiga puluh tahun
yang lampau, nama Chit-biauw-sin-kun telah dikenal di
Hay-lwee sebagai salah seorang gagah yang paling lihay dan
disegani orang.
Pada saat itu Pek Hong menganggap Lie Siauw Hiong
adalah Chit-biauw-sin-kun sendiri, maka dengan tidak
berani berlaku ayal-ayalan lagi dia telah menyerang
terhadap lawannya ini. Penyerangannya itu tidak menerbitkan suara apa-apa, tampaknya tidak bertenaga
sama sekali, tapi kenyataannya pukulan ini dapat
menghancurkan batu yang bagaimana keraspun.
Gouw Leng Hong yang sedang bersembunyi diatas
pohon pada saat itu, tidak dapat menahan sabar terlebih
lama lagi. Maka pada waktu melihat Lie Siauw Hiong
dalam keadaan bahaya, buru-buru dia meloncat turun untuk
membantunya. (Oo-dwkz-oO) Jilid 20 Pada waktu yang lampau didaerah Hoo Lok, Tan-kiam-
toan-hun Gouw Ciauw In telah menjagoi dikalangan Kang-
ouw dengan sebatang pedangnya yang ampuh itu.
Kepandaiannya pada saat itu sudah mencapai dipuncaknya,
teristimewa dalam kepandaian permainan pedangnya yang
hingga sebegitu jauh belum ada tandingannya.
Kini Gouw Leng Hong yang mendapat didikan langsung
dari ayahnya, sudah tentu ilmu permainan pedangnyapun
sangat luar biasa pula.
Pek Hong hanya merasa dimatanya tampak berkunang-
kunang. Waktu pukulan lawannya hampir menemui
sasarannya, baru dia menjadi terkejut sekali hingga telapak
tangannya yang tadi tengah dimajukan dengan tidak
menerbitkan suara apa-apa, kini agaknya karena pukulan
Gouw Leng Hong, lantas menerbitkan suatu suara yang
mengejutkan. Gouw Leng Hong tidak menduga bahwa lawannya
mempunyai kekuatan yang demikian besarnya, hingga
diapun diam-diam mengagumi lawannya yang kuat ini.
Dan pada saat itu Pek Hong tanpa memandang lagi, apakah
orang yang datang ini kawan entah lawan, diapun tidak
berani berlaku lengah karena pihak lawannya terlampau
kuat. Ketika kedua pukulan beradu satu sama lain, tubuhnya
sendiri seakan-akan naik kembali dan waktu dia melihat
lawannya, ternyata lawannyapun mundur sejauh tujuh atau
delapan tindak, agaknya lawannyapun tidak dapat
menahan pukulannya.
Begitu kedua orang ini sudah melakukan percobaan
sekali ini, Gouw Leng Hong segera mengetahui, bahwa
kekuatannya lebih tinggi setingkat jika dibandingkan
dengan lawannya, maka dengan berkeyakinan akan dapat
mengalahkan musuh itu, Gouw Leng Hong lalu menyerang
kembali lawannya dengan pedangnya.
Menampak pergerakan lawannya itu, Pek Hong tidak
berani berlaku ayal lagi. Diapun buru-buru menghunus
pedang yang lemas dan ditaksir diantara dua sampai empat
meter panjangnya. Gouw Leng Hong sekali lihat saja, dia
sudah tahu, bahwa lawannya ini pasti bukan lawan yang
empuk baginya. Pek Hong dengan berseru keras lalu
menyerang lawannya lagi, maka dengan mengeluarkan
suara 'trang' yang nyaring sekali, kedua senjata tajam itu
sudah saling beradu satu sama lain, suatu tanda bahwa
pertempuran kedua orang itu telah memasuki babak yang
dahsyat, hingga Liok-eng-kiam Cia Tiang Kheng yang
menyaksikan dari samping, merasa kagum sekali atas
kepandaian kedua orang itu.
Pada saat itu, segala kejadian yang sudah lewat selama
sepuluh tahun yang lampau itu, satu-persatu dengan
jelasnya terbayang dalam pikiran Cia Tiang Kheng, hingga
dia ingat waktu dulu, bagaimana dia sendiri dengan empat
orang kawannya pernah mengurung Bwee San Bin, dan
ketika kini dia melihat Lie Siauw Hiong dikurung oleh
keempat orang musuhnya, diam-diam mukanya menjadi
merah saking malunya memikirkan peristiwa yang pernah
diperbuatnya pada masa yang lampau itu. Lebih-lebih
ketika melihat sikap Lie Siauw Hiong yang disangkanya
Bwee San Bin itu, sama sekali tidak mengandung perasaan
mendendam terhadapnya, hingga ia merasa ragu-ragu
untuk berlaku curang sekali lagi. Kemudian ia lalu
mendongak keatas, dan dengan hati yang berdebar-debar ia
berpikir didalam hatinya : "Apakah aku harus membantu
'Chit-biauw-sin-kun' disaat ini juga ?" Dan justeru itu dia
melihat Chit-biauw-sin-kun telah terancam bahaya maut.
Dalam pada itu sekonyong-konyong muncul seorang
pemuda keluar dari dalam hutan hendak membokong
kepada Lie Siauw Hiong. Menampak kedatangan orang itu,
Cia Tiang Kheng lalu berseru : "Pengkhianat! Kenalkah
engkau padaku ?" Dengan cepat ia menotok pergelangan
tangan orang yang baru datang itu.
Berbareng dengan itu, Lie Siauw Hiong pun lalu berseru
dengan suara keras untuk menghempos semangatnya. Dia
menarik pukulannya hingga terpisah dengan lawannya
dalam jarak sejauh setengah meter.
Menampak kejadian tersebut, ketiga lawannya sama-
sama terperanjat, karena Siauw Hiong menarik pukulannya,
maka tubuh mereka menjadi maju pula, sedangkan pukulan
mereka jatuh ketempat kosong, sehingga tanah yang terkena
pukulan mereka, pada beterbangan hancur lebur menjadi
debu. Melihat hal itu, merekapun menjadi tidak berdaya
pula. Pada saat itu Lie Siauw Hiong yang menampak Cia
Tiang Kheng tengah memandangnya dengan sorot mata
penuh kegusaran, ia segera menduga-duga didalam hatinya,
bahwa orang yang hendak membokongnya itu, pastilah
bukan lain daripada Suteenya yang telah berkhianat itu,
yakni Liok Hong adanya.
Waktu pemuda kita menengok kearah kanannya,
dilihatnya telapak tangan Pek Hong menyerang Gouw Leng
Hong dengan hebat sekali, sehingga menerbitkan angin
yang menderu-deru. Serangan pedang Gouw Leng Hong
pada saat itu tak putus-putusnya tampak semakin lama
semakin ciut saja lingkungannya. Lie Siauw Hiong
mengetahui bahwa tenaga dalam Pek Hong lebih tinggi dari
pada tenaga dalam Gouw Leng Hong, tapi disamping itu
dia pun mengetahui yang 'tujuh puluh dua jurus dari ilmu
pedang Twan-hun-kiam-hwat' belum habis dia keluarkan,
maka dengan perasaan tenang-tenang saja dia memandang
pada Cia Tiang Kheng.
Sementara Cia Tiang Kheng yang sudah mulai
bertempur dengan Suteenya, tiba-tiba terdengar membentak
: "Hai, pengkhianat ! Apakah kau belum juga ingin
menyerahkan diri untuk diikat ?"
Dengan ganasnya Cia Tiang Kheng menyerang pundak
kiri Suteenya, tapi sebaliknya dengan tertawa dingin Liok
Hong lalu mundur setengah langkah kekanan, tangan
kirinya lalu mencabut pedang dipunggungnya, sesudah
pedang itu berada ditangannya, dengan mengeluarkan suara
'tang' kedua pedang mereka saling beradu, kemudian ia
berkata dengan suara dingin : "Cia Tiang Kheng, sekarang
tak ada lagi hubungan persaudaraan antara aku dengan kau,
maka sejak hari ini dan selanjutnya, segala tindak-
tandukku, kau tidak perlu tahu dan campur tangan !"
Sekalipun dia mengatakan antara Sutee dan Suheng
sudah putus hubungan, tapi karena pergaulannya selama
bertahun-tahun itu tak mudah dia lupakan begitu saja,
sehingga tanpa ia sadari lagi, Liok Hong masih saja selalu
memanggil Cia Tiang Kheng dengan sebutan 'Suheng'.
Cia Tiang Kheng masih tetap memegang pedang dan
tidak bergerak, tangan kirinya lalu merogo kedalam
sakunya sambil menarik sebuah lencana, kemudian dengan
suaranya yang nyaring dia berkata : "Liok Hong, kau sudah
lihat 'Tanda leluhur partai kita', apakah kau masih juga
tidak mau berlutut ?"
Tampak muka Liok Hong berubah sedikit, tapi dengan
cepat pula mukanya beruhah kembali seperti biasa dan
dengan tenang sekali dia menjawab : "Aku sejak tadi telah
mengatakan kepadamu, bahwa Liok Hong sudah memutuskan perhubungannya dengan partai Tiam Cong,
maka apakah faedahnya tanda itu bagiku ?"
Cia Tiang Kheng yang melihat Suteenya begitu berani
memandang ringan terhadap tanda leluhur partainya,
badannya menjadi gemetar karena sangat marahnya. "Kau
..". kau begitu berani .."." Diapun tidak dapat
melanjutkan perkataannya pula karena amat marahnya.
Jim To Swan yang menyaksikan aksi kedua orang ini
dari samping, waktu dia melihat Cia Tiang Kheng tengah
berdiri terbengong saking tercengang entah karena
terkejutnya, sekonyong-konyong tangannya bergerak dan
sebuah senjata rahasia dengan cepat sekali melesat dan
menjurus kejalan darah 'Thian-tim' dipinggang kiri orang
untuk mengambil jiwa Cia Tiang Kheng.
Tatkala itu Cia Tiang Kheng tengah mengangkat tangan
kirinya tinggi-tinggi seraya memegang tanda leluhur
partainya, sehingga jalan darah dipinggangnya yang disebut
'Thian-cim' itu dengan sendirinya menjadi lowong. Dengan
begitu, dengan licin dan curangnya Jim To Swan telah
menyerang dengan senjata rahasianya, tapi sebelum senjata
rahasia itu menemui sasarannya, tiba-tiba ditengah jalan
sudah terpukul jatuh oleh benda lain.
Hal mana, sudah barang tentu membuat Cia Tiang
Kheng menjadi sangat terkejut. Buru-buru dia melihat
ketanah, ternyata senjata rahasia yang terpukul jatuh itu
adalah sebutir pasir halus, yang sudah dipukul jatuh oleh
Lie Siauw Hiong.
Seketika itu pertempuran antara Gouw Leng Hong dan
Pek Hong pun sudah terhenti pula. Tiba-tiba Liok Hong
memberi isyarat pada kedua perampok jahanam itu, yang
serta-merta menyerang punggung Lie Siauw Hiong dari
belakang secara ganas dan curang.
Berbareng dengan itu, Jim To Swan pun telah
menurunkan tangan jahatnya pula untuk menyerang Cia
Tiang Kheng, hingga orang yang bersangkutan tidak
menduganya sama sekali. Liok Hong pun dengan secara
membokong lalu menyerang pada Gouw Leng Hong.
Sementara Gouw Leng Hong yang pada saat itu tengah
bersiaga untuk menangkis serangan lawannya yang berada
dimukanya, sekonyong-konyong dia merasa dari arah
belakangnya meniup keras angin dingin. Diapun menginsyafi, bahwa dirinya tengah diserang oleh dua orang
lawannya. Dengan sekali gebrak saja kelima orang ini seakan-akan
sudah diatur dari sebelumnya, masing-masing telah
menyerang lawannya secara diluar dugaan, sehingga
kedudukan Gouw, Lie dan Cia bertiga berada dalam
keadaan yang herbahaya sekali.
Mula-mula Lie Siauw Hiong merasakan kedua
perampok itu menyerang dadanya. Karena dia tahu
lawannya cukup tangguh, maka buru-buru dia melompat
keatas, berbareng dengan mana ia mengeluarkan suara 'sret'
ditengah-tengah udara, karena ternyata dia telah mencabut
keluar pedangnya dari dalam serangkanya.
Cia Tiang Kheng yang diserang secara tiba-tiba itu,
sebenarnya telah mengalami kekagetan yang bukan main
besarnya, kemudian dengan cepat dia balas menusuk jalan
darah 'Kian-kah-hiat' pada tubuh Jim To Swan. Dia dapat
melakukan hal itu dalam detik-detik yang keritik itu, karena
dia sudah sangat berpengalaman dalam hal ilmu menotok.
Sebenarnya dia bukan mestinya menyerang lawannya pada
detik itu, tapi demi penjagaan keselamatan dirinya pada
saat itu ia telah menyerang musuh untuk melakukan
'penjagaan diri' yang paling tepat sekali.
Waktu dia melirikkan pandangannya kepada Gouw
Leng Hong, dia lihat pemuda itu tengah diserang dengan
jurus 'Chit-kim-tian-ek' (tujuh pasang burung mementang
sayapnya), yang dengan secara aneh sekali telah dilakukan
oleh Liok Hong, sedang Gouw Leng Hong karena belum
mempunyai banyak pengalaman dalam pertempuran
didalam kalangan Kang-ouw, maka seketika dia menjadi
terkurung, tapi yang paling menguatirkan bagi diri pemuda
tersebut, yakni tepat pada waktu itu juga, dari belakangnya
ia diserang oleh Tiang-tian-it-pek Pek Hong.
Sekalipun tipu 'Chit-kim-tian-ek' dari Liok Hong cukup
aneh tampaknya, tapi dia seharusnya mengetahui juga,
dengan siapa kini dia sedang berhadapan. Mereka yang
sedang bertempur itu tidak tahu, bahwa tempat Gouw Leng
Hong telah digantikan oleh Lie Siauw Hiong.
Sekalipun pengalamannya belum sematang lawannya,
dengan mengeluarkan jurus-jurus dari 'Kiu-cie-kiam-sek' dia
telah dapat memecahkan serangan Liok Hong itu, hingga
besar kemungkinan Liok Hong akan binasa dengan
serangannya itu.


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pada saat itu yang paling menguatirkan diri Gouw Leng
Hong justeru adalah serangan yang mendatang dari arah
belakangnya, yaitu yang dilakukan oleh Pek Hong,
sekalipun Lie Siauw Hiong dengan mudahnya dapat
mengelitkan serangan San-co-siang-ho, tapi untuk sesaat dia
belum merasakan keadaan yang membahayakan diri Gouw
Leng Hong itu. Kemudian waktu dia sadar akan hal
tersebut, dia hanya melihat Cia Tiang Kheng memutarkan
dirinya sambil menubruk kesitu.
Karena waktu Cia Tiang Kheng menampak keadaan
yang berbahaya bagi diri Gouw Leng Hong, entah sebab
apa, sekonyong-konyong darahnya menjadi mendidih,
sehingga dia telah melupakan segala sesuatu dan dengan
cepat dia menarik kembali pedangnya yang sedang dipakai
menotok Suteenya itu, dengan tidak memperdulikan
pukulan Jim To Swan, kemudian dia lalu melompat sambil
menggunakan jurus 'Chit-kim-tian-ek' akan menyerang
kepada Pek Hong.
Jurus 'Chit-kim-tian-ek' yang dilaksanakan oleh ahli
waris dari partai Tiam Cong ini, keadaannya menjadi hebat
sekali, karena dari delapan penjuru angin seakan-akan
tampak bayangan pedang mengancam diri lawannya, tapi
Pek Hong yang ternyata sangat lihay itu, sesaat kemudian
telah membuat dirinya bagaikan dilindungi oleh empat
belas pasang sayap burung yang menangkup diatas dirinya.
Sambil menarik kembali pukulannya terhadap Gouw
Leng Hong, dia terpaksa mundur tiga langkah untuk
menghindarkan serangannya Cia Tiang Kheng. Oleh karena
ini, serangan Tiang Kheng telah mengenai tempat kosong
dan melayang melampaui kepala Pek Hong. Dan waktu dia
turun kebumi kembali tampak dia agak sempoyongan,
karena paha kirinya tadi telah terluka oleh pukulan Jim To
Swan. Berbareng dengan itu, diapun mendengar beradunya
suara senjata tajam, ternyata Gouw Leng Hong pada saat
itu telah mengeluarkan jurus-jurus ilmu keturunan asli yang
diturunkan oleh ayahnya. Dia menyerang dengan salah satu
jurusnya yang disebut 'Bu-siang-swat-bong' (Hantu Bu Siang
menebarkan jala), untuk memunahkan serangan Liok Hong
yang sekonyong-konyong memakai jurus Chit-kim-tian-ek'
untuk mencelakainya. Ternyata diantara sembilan jago-jago
Kwan Cong ini, lima antaranya yang telah melakukan
serangan secara menggelap terhadap lawan-lawannya,
semuanya telah jatuh ditempat kosong, kecuali satu
pukulan Jim To Swan yang telah berhasil bersarang dipaha
kiri Cia Tiang Kheng.
Gouw Leng Hong menginsyafi, bahwa orang yang
membunuh ayahnya pastilah bukan Cia Tiang Kheng, tapi
dia sebagai anak musuh ayahnya, dia merasa segan sekali
bertempur berendeng dengannya dalam menghadapi lawan-
lawannya, begitu pula Lie Siauw Hiong, yang berpendapat
hampir bersamaan dengan Gouw Leng Hong, tapi pada
saat itu mereka mau tak mau harus melawan lawan-lawan
mereka dalam satu garis yang sama dan bahu-membahu.
Kejadian diatas dunia ini memang kadang-kadang
bertentangan sekali dengan keinginan kita masing-masing,
maka apa yang diinginkan oleh Gouw Leng Hong adalah
apa yang paling baik menurut jalan pikirannya sendiri.
Ayah Cia Tiang Kheng, yaitu Cia Seng, sekalipun dulu
telah turut berkomplot untuk membunuh ayah Gouw Leng
Hong, yaitu Gouw Ciauw In, tapi kematiannya Gouw
Ciauw In itu bukanlah ditangannya sendiri. Jika menurut
pendapat Cia Tiang Kheng sendiri, bukankah Gouw Leng
Hong pun telah menjadi pembunuh dari ayahnya sendiri,
karena dalam perkomplotan tersebut ayah Cia Tiang Kheng
pun telah terbunuh pula oleh tangan Gouw Ciauw In,
hingga dengan demikian ayah Gouw Leng Hong pun
menjadi pembunuhnya dari ayahnya sendiri "
Tentu saja, pada saat ini Cia Tiang Kheng tidak
mengetahui siapakah nama Gouw Leng Hong ini. Dengan
mengeluarkan suara 'sreeet' lantas pedang yang berada
ditangan Gouw Leng Hong telah menjurus kedada Pek
Hong. Bersamaan dengan itu, Lie Siauw Hiong pun telah
mengeluarkan suara teriakan yang sangat memekakkan
telinga, kemudian dengan mengandalkan tenaga dalamnya
yang luar biasa kuatnya dia telah mengeluarkan serangan
yang mematikan kepada sepasang perampok dari Shoatang
itu. Serangan pedang Lie Siauw Hiong ini baru saja
mendekati jarak lima meter jauhnya, ketika sepasang
perampok dari Shoatang ini tiba-tiba saja merasakan angin
yang keras dan dingin menyerang diri mereka, hingga baju
Su Kong Cong dan Lim Siauw Coan pun berkibar-kibar
kebelakang terkena angin tusukan pedang Lie Siauw Hiong
itu. Sesungguhnya, orang-orang yang sedang bertempur
sekarang ini, rata-rata semuanya berkepandaian tinggi, tapi
kekuatan pedang Lie Siauw Hiong barulah pertama kali ini
mereka menjumpainya, maka dalam hati Su Kong Cong
dan Lim Siauw Coan berdua merasa agak jeri oleh
karenanya. Cia Tiang Kheng pun lalu menggabungkan dirinya untuk
bahu-membahu dalam menghadapi lawan-lawan itu,
dengan ia sendiri mengeluarkan jurus 'Heng-hui-touw-kang'
(lari melintang melintasi sungai), dia telah menyerang
belakang Pek Hong yang hanya hampir mendekati jarak
tiga cun jauhnya.
Sekalipun ketiga orang ini melakukan penyerangan yang
berbeda-beda waktunya, tapi pada saat itu karena cepatnya
mereka melakukan serangan-serangan itu, tampaknya
mereka seakan-akan bergerak dengan bersamaan saja
waktunya. Pek Hong yang melihat permainan pedang
Gouw Leng Hong sangat rapih dan tidak menentu
serangan-serangannya, dia tahu bahwa Gouw Leng Hong
tidak mudah dikunci serangan-serangannya, maka dengan
cepat sekali dia mundur kebelakang, tapi tak dinyana waktu
itu tusukan pedang Cia Tiang Kheng telah sampai.
Sekonyong-konyong dia rasakan dibelakangnya berkesiur
angin dingin menyamber dirinya, karena dia sudah banyak
pengalaman dikalangan Kang-ouw, maka ia segera
mengetahui, bahwa tusukan pedang lawannya terpisah
dengan badannya tidak sampai tiga cun lagi. Maka kalau
dia terlambat sedikit saja untuk mengelak, pasti dirinya
akan terkena tusukan pedang lawan ini, hingga dengan
tergesa-gesa dan laku yang terpaksa, dia mengeluarkan
pukulannya untuk menjaga dirinya sendiri dari serangan
pedang lawannya yang datang dari arah belakangnya itu.
Pada saat itu Gouw Leng Hong agak memiringkan
tubuhnya untuk menghindarkan serangan pukulan musuhnya, tapi pedang yang dipakainya menusuk meluncur
tetap kejurusan tubuh lawannya. Oleh karena itu, maka
kedua orang ini masing-masing berlompatan kekiri dan
kekanan untuk mengbindarkan serangan-serangan lawan
itu, tapi berbareng dengan itu, sebagian besar lengan baju
Pek Hong kena terbabat putus.
Cia Tiang Kheng dengan mengeluarkan jurusnya tadi,
telah berhasil membabat kutung lengan baju Pek Hong, hal
mana dapat dilakukannya dengan sempurna berkat
pengalamannya yang cukup luas dan banyak. Itulah
manfaatnya bila seseorang sudah berpengalaman dalam
pertarungan digelanggang pertempuran dikalangan Kang-
ouw. Dengan satu teriakan yang menyatakan kegusarannya,
pukulan Jim To Swan dan serangan pedang Liok Hong
telah membabat musuh dengan serentak. Apalagi Liok
Hong ini, yang sepasang matanya mengandung sinar
pembunuhan serta sikap yang licik, teranglah sudah, bahwa
dia dengan mengandalkan jumlah orang yang lebih banyak
ingin membasmi atau sedikit-dikitnya membunuh Suheng
atau kakak seperguruannya sendiri.
Keempat kawannyapun berpendapat demikian pula.
Begitulah mereka yang tengah bertempur ini, masing-
masing mengeluarkan tipu-tipu silat yang aneh dan lihay-
lihay untuk menjatuhkan pihak lawannya, sedangkan
sepasang perampok dari Shoatang itupun yang sudah
menghunus senjata tajam masing-masing, berniat untuk
menindas pihak musuh mereka secepat mungkin.
Disini harus diketahui, bahwa setelah Hay-tian-siang-sat
membubarkan perkumpulan sembilan jago-jago dari Kwan
Tiong, mereka telah mengeram diri selama sepuluh tahun
lebih, kemudian mereka muncul kembali sambil mengumpulkan pula orang-orang yang ingin memasuki
perkumpulannya. Mereka sengaja telah memilih orang-
orang yang berkepandaian tinggi, dan Jim To Swan berlima
ini adalah belum lama saja memasuki perkumpulan
sembilan jago-jago dari Kwan Tiong itu. Maka dengan
menggabungkan diri dalam perkumpulan yang merupakan
sembilan jago-jago dari Kwan Tiong ini, kekuatan dan
kelihayan mereka dapat kita bayangkan sendiri sampai
dimana tingkatnya.
Begitulah pendapat kelima orang ini, yang dengan
berbareng pula lalu mengeluarkan tipu-tipu serangan yang
hebat-hebat. Tenaga kekuatan serangan mereka sungguh-
sungguh mengejutkan orang, apalagi tenaga kekuatan Su
Kong Cong dan Pek Hong berdua. Mereka berdua ini
adalah ahli-ahli tenaga dalam, hingga serangan-serangan
merekapun sangat sukar untuk ditangkis oleh lawan-lawan
yang ilmu kepandaian silatnya masih rendah.
Cia Tiang Kheng yang melihat kekuatan lima jago-jago
dari Kwan Tiong ini, diam-diam ia menjadi kaget dan
berkata didalam hatinya : "Sekalipun pada masa yang
lampau keempat jago ahli waris dari partai-partai ternama
menggabungkan diri untuk mengeroyok diri Bwee San Bin,
tenaganyapun tidak sehebat sekarang, dia pikir hari ini
dikuatirkan .."."
Gouw Leng Hong adalah orang yang pertama-tama
sekali mengalami pertempuran yang hebat ini, hingga
saking tegang perasaannya, keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya. Dan ketujuh orang ini,
semuanya salah duga tentang diri Lie Siauw Hiong, karena
mereka tidak dapat meraba sampai dimana kekuatan
tenaga-dalam yang dimiliki Lie Siauw Hiong ini.
Mereka hanya mendengar dan merasakan angin ser ser
yang keras sekali, menyamber keluar atas diri mereka.
Sedangkan sorot mata yang memancarkan sinar pandangan
yang tajam dari belakang kedok itu, membuat mereka
gentar, lebih-lebih ketika Siauw Hiong mulai melakukan
penyerangan-penyerangan terhadap lawannya dengan jurus-
jurus dari 'Tay-yan-sip-sek' yang paling hebat itu.
Karena lawan-lawannya kebanyakan bukan terdiri dari
murid-murid ahli lima partai, maka jurus-jurus 'Kiu-cie-
kiam-sek' dari Bwee San Bin sekalipun memang sangat
hebat sekali, tapi tidak tepat digunakan pada saat itu, itulah
sebabnya mengapa Lie Siauw Hiong telah menukar tipu-
tipu silatnya dengan jurus 'Tay-yan-sip-sek'
untuk menyerang mereka.
Jurus-jurus permainan pedangnya ini, adalah apa yang
biasanya sangat dipuji dan dibanggakan sekali sebagai suatu
ilmu yang tidak ada keduanya didunia ini oleh Peng Hoan
Siangjin. Begitulah Lie Siauw Hiong telah menggunakan
cara penyerangan demikian, sehingga kehebatan penyerangannya bertambah kuat dan rapat sekali.
Pada saat itu, pedangnya dipakai separoh membacok
separoh menusuk dalam suatu tipu yang bernama 'Hui-
khok-liu-tan' (melayangnya senjata rahasia cepat bagaikan
bintang beralih), hanya tampak sinar pedangnya saja yang
berkelebatan menyamber kearah lawan-lawannya, hingga
tidak ada satu bagian dari tubuh lawannya pun yang luput
dari sasaran tusukan pedangnya ini. Tenaga yang
dikeluarkannya pada kali ini, malah masih satu kali lipat
lebih hebat daripada waktu dia melawan Hay-tian-siang-sat
pada beberapa waktu yang lampau itu.
Orang-orang yang dia hadapi pada saat itu, ialah
sepasang perampok dari Shoa-tang, sedangkan Su Kong
Cong pun membantunya dari samping mengunci jalan
mundur Lie Siauw Hiong disebelah kirinya, maka Lim
Siauw Coan lalu secara serentak menusukkan pedangnya
kearah badan Lie Siauw Hiong disebelah kanan, serangan-
serangan mana sangat rapat sekali dan tak mudah ditembus
bagi lawan yang kurang tangguh.
Tapi Lie Siauw Hiong tetap meneruskan serangan-
serangan pedangnya. Begitulah lalu ketiga senjata tajam itu
saling beradu satu sama lain, dan satu hal yang diluar
dugaan telah terjadi, yaitu pedang Lie Siauw Hiong tetap
menusuk menembusi serangan mereka dan mengancam
akan menembusi juga tenggorokkan Lim Siauw Coan.
Tadi mereka menduga bahwa pedang mereka pasti akan


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

beradu satu sama lain, tapi karena gesit dan tangkasnya,
pedang itu tidak bersuara, karena Lie Siauw Hiong telah
berhasil meneruskan perlawanannya tanpa pedangnya
sendiri menyentuh pedang-pedang lawannya. Tapi tenggorokan Lim Siauw Coan kini tengah terancam hebat
sekali oleh tusukan pedang Lie Siauw Hiong.
Melihat kejadian tersebut, Lim Siauw Coan yang
mengalami kekagetan yang bukan alang-kepalang besarnya,
semangatnya melayang entah kemana, kemudian dengan
gugup dia menjatuhkan dirinya kebelakang dengan gerak
'Tiat-pan-kio' untuk menghindarkan serangan lawannya itu.
Tapi berbareng dengan itu, Lie Siauw Hiong pun telah
menarik kembali serangannya, dengan diatas leher Lim
Siauw Coan tetap tergores segaris tanda merah bekas
tusukan pedang Lie Siauw Hiong yang menyerempet itu.
Setelah berhasil bangkit kembali, barulah Lim Siauw
Coan merasakan lehernya sakit, sedangkan darah segar
setetes demi setetes mengucur dari lehernya jatuh
membasahi bumi, dan jika seandainya tusukan pedang itu
sampai kejadian menusuk lebih dalam sedikit lagi, entahlah
apa yang akan terjadi atas dirinya.
Sepasang perampok dari Shoa-tang yang telah didesak
pulang pergi, menyebabkan mereka sangat geram, hingga
dengan sorot mata penuh kebencian, mereka memandang
pada Lie Siauw Hiong. Kemudian sambil menghunus
pedang mereka bersiap-siap lagi untuk melakukan
penyerangan lebih lanjut. Tapi Lie Siauw Hiong yang
menampak aksi kedua lawannya ini, hanya mengganda
tersenyum kaku saja. Ketika pedangnya sedikit diputar, lagi-
lagi dia mengancam kedua orang lawannya itu. Tangannya
yang memegang pedang tampak sangat kuat sekali, dan
pedang itu bergerak-gerak tanpa menjadi kacau barang
sedikitpun. Setelah itu, Siauw Hiong lalu mengeluarkan
jurus yang disebut 'Hian-in-tam-eng' (awan yang berarak-
arak melayang-layang diudara)!
Dipihak lainnya, Gouw Leng Hong bersama Cia Tiang
Kheng berdua yang bertempur melawan Jim, Liok dan Pek
bertiga, keadaannya jauh berlainan sekali. Gouw Leng
Hong dikurung oleh Jim dan Pek. Kedua orang ini dengan
sengitnya melancarkan serangan-serangan,
sehingga serangan pedang dari Gouw Leng Hong tidak dapat
dikembangkan dengan lancar dan sempurna. Sedang
dipihak lainnya, Liok Hong pun dengan permainan pedang
ditangan kirinya secara bertubi-tubi menyerang Suhengnya,
tapi syukur juga Cia Tiang Kheng sudah pernah mengenal
baik ilmu permainan pedang Suteenya, hingga dia dapat
melawannya dengan menggunakan ilmu yang dia peroleh
sebagai warisan dari partainya, partai Tiam Cong.
Bagaimanakah perkembangan pertempuran tersebut
selanjutnya "
Dalam keadaan yang berbahaya sekali, Gouw Leng
Hong lalu mengeraskan hatinya sambil menggertak giginya.
Pedang ditangannya mengikuti serangan Jim To Swan dan
lalu diputarnya demikian rupa, sehingga sinar pedangnya
yang berkilauan menyapu pelipis lawannya. Kini sudah
pada tempatnya dan sudah tepat saatnya mengeluarkan tipu
silat leluhurnya yang dipanggil jurus 'Chit-cap-jie-louw-
toan-hun-kiam-hwat'. Dengan serangannya ini, dia telah
berhasil menolong dirinya sendiri dengan jurus yang
bernama 'Kwie-ong-pa-ho' (raja setan menyalakan obor).
Jim To Swan yang sedang menyerang lawannya dengan
sengitnya, seketika dia tidak dapat menarik serangannya
dengan segera, sedang Pek Hong yang diserang secara
demikian, benar-benar dia tidak mengetahui cara bagaimana dia harus menangkis serangan lawannya ini.
Liok Hong yang menampak keadaan yang cdak baik dan
tidak pula menguntungkan pihaknya, menjadi sangat
terkejut sekali, hingga buru-buru dia melintangkan
pedangnya untuk membantu menangkis serangan lawan
yang sedang menyerang kawannya sendiri.
Cia Tiang Kheng yang sudah kenyang makan asam
garam dalam kalangan Kang-ouw dan mempunyai
pengalaman yang sempurna, tatkala menampak kejadian
tersebut, dia menginsyafi benar apa yang diinginkan oleh
Gouw Leng Hong, maka dengan ganas sekali dia lalu balas
menindih pedang Liok Hong, sehingga Liok Hong tidak
dapat membantu kawannya lagi seperti apa yang
dimaksudkannya semula.
Begitu kedua senjata tersebut saling beradu, lantas
terdengar suara 'traaannng' yang nyaring sekali, kemudian
disusul dengan lelatu api yang tampak muncrat kian-
kemari. Oleh karena diserang secara demikian, dengan
terpaksa Liok Hong mundur setengah tindak kebelakang.
Tentang kepandaian tenaga-dalam Liok Hong ini, masih
harus diakui lebih unggul setingkat daripada Suhengnya.
Disamping itu, sekalipun Pek Hong sudah terluput dari
serangan pedang lawannya, tapi Gouw Leng Hong seketika
itu juga telah menyerang kembali dengan tipu 'Ngo-kwie-
lun-ce' (lima setan dengan menggunakan senjata pencakar
mencakar dirinya). Tampak sinar pedang lawannya
berkeredepan memenuhi mukanya, ternyata pihak lawannya dari bertahan kini berbalik menjadi pihak yang
menyerang. Waktu kemudian serangan Jim To Swan dan Liok Hong
diluncurkan, maka serangan Gouw Leng Hong dan Cia
Tiang Kheng menjadi tidak seganas seperti apa yang tadi
dilakukan mereka.
Pek Hong dengan ganasnya menyerang lawannya dua
kali, dia sudah berkeputusan untuk mengakhiri pertempuran tersebut selekas mungkin, yang mana pun
sependapat dengan Tiang-tian-it-pek dan Cian-siu-kiam-
khek berdua. Begitulah dengan yang seorang menyerang
dengan sepasang kepalannya, yang lainnya menggunakan
pedangnya yang panjang untuk mengurung lawannya.
Seketika itu juga, disekitar mereka bayangan kepalan dan
pedang mengitari seluruh tubuh orang yang tengah
bertempur dengan serunya itu, hingga kecepatan mereka
sungguh-sungguh mengejutkan dan membuat orang kagum
saja. Justeru tepat pada waktu itu juga, sekonyong-konyong
terdengar suara orang yang menarik napas, kemudian
disusul dengan suara nyaring sekali karena beradunya
senjata tajam, lalu diseling lagi dengan suara teriakan orang
yang bernada rendah, sehingga menyebabkan ketiga orang
yang sedang bertempur itu menahan serangan-serangan
mereka sebentar. Mereka membalikkan badan untuk
memandang, apa gerangan yang telah terjadi. Mereka
melihat tangan kanan Lim Siauw Coan yang memegang
martil sudah menggelantung lunglai, sedangkan pedang
ditangan kirinya sudah sedari tadinya dijatuhkan lawannya
diatas tanah. Baju batas pundaknya sudah terkoyak-koyak
besar sekali dan dibalik kulitnya samar-samar terlihat tanda
darah yang berhenti mengalir, dan pedang yang digenggam
oleh Tek-seng-siu Su Kong Cong sekalipun tidak sampai
dipentalkan lawannya, tapi bajunya batas dadanya telah
terkoyak pula kena tusukan pedang lawannya.
Tampak bajunya pada saat itu sudah tidak keruan lagi
bentuknya. Dan Chit-biauw-sin-kun dengan berdiri tegak
melintangkan pedangnya berdiri dengan angkarnya, sedang
matanya memandang pada dua orang perampok dari
Shoatang tersebut.
Hiauw-gwat-han-sim-ciang Jim To Swan diantara
kesembilan jago-jago Kwan Tiong, dialah salah seorang
yang terkemuka sekali disamping Hay-tian-siang-sat, dan
pada saat ini dialah yang menjadi pemimpinnya, didalam
hati diam-diam dia merencanakan : "Chit-biauw-sin-kun,
kini telah muncul kembali dikalangan Kang-ouw, tenaga-
dalamnya amat kuat dan kepandaiannya pun tinggi sekali.
Setelah itu Cia Tiang Kheng ini juga tidak mudah dihadapi.
Ditambah dengan Gouw Leng Hong, yang sulit pula untuk
dikalahkan. Apalagi sekarang Lim Siauw Coan sudah dapat
dikalahkan oleh lawannya, membuat keadaan selanjutnya
lebih banyak celakanya daripada selamat ..."
Berpikir sampai disitu, lantas dia meneriakkan kawan-
kawannya : "Lekas meninggalkan tempat ini dengan
serentak !"
Oleh karena sudah tak tak kuat lagi menghadapi lawan-
lawannya yang sangat tangguh itu, maka dianjurkannya
kawan-kawannya melarikan diri saja. Berbareng dengan itu,
Jim To Swan lalu mengeluarkan jurus Hiauw-gwat-han-
sim-ciang, pukulannya yang paling luar biasa dan yang
paling diandalkannya selama dia mengembara dikalangan
Kang-ouw, ditujukan pada diri Gouw Leng Hong.
Cian-siu-kiam-khek Liok Hong pun mengetahui, bahwa
Gouw Leng Hong adalah lawan yang paling lemah
kekuatannya, maka diapun lalu menyerang dengan
pedangnya mengikuti jejak kawannya untuk melarikan diri
bersama-sama. Pek Hong bersama Su Kong Cong dengan
melindungi Lim Siauw Coan, juga coba berusaha
menerobos kepungan lawannya untuk melarikan diri pula.
Lie Siauw Hiong lalu mengibas-ngibskan pedangnya
diudara, tidak berniat menghalang-halangi lari musuhnya
itu, juga dia tidak melanjutkan serangan-serangannya.
Gouw Leng Hong sendiri berhasil mengelitkan dirinya dari
serangan lawannya yang mempergunakan tipu 'Hiauw-
gwat-han-sim-ciang' tersebut, karena dengan sekali loncat
saja dia telah berhasil melompat setinggi beberapa tombak,
dan waktu kemudian badannya turun kembali ketanah,
keenam jago-jago dari Kwan Tiong itu sudah meninggalkan
kalangan pertempuran dengan lari pontang-panting.
Kesembilan jago-jago dari Kwan Tiong yang katanya
mulai mementangkan sayapnya lagi, tapi beberapa
diantaranya ini yang kabarnya berkepandaian cukup tinggi
itu, ternyata dengan sekali bergebrak saja sudah menderita
kerugian, karena baru saja gabungan mereka berdiri, atau
kembali mereka telah terbentur dengan Chit-biauw-sin-kun
yang lihay itu.
Keadaan dalam hutan tersebut kini sudah menjadi sunyi
kembali. Lie Siauw Hiong melihat kusir-kusir kereta yang
telah dibunuh oleh sepasang perampok dari Shoatang
berjumlah sepuluh orang lebih, mayat mereka terkapar
diatas tanah begitu saja, mayat mereka bergelimpangan,
sedangkan darah mereka memerah membasahi bumi.
Menyaksikan pemandangan yang mengerikan ini, hatinya
timbul rasa kasihan.
Sekonyong-konyong Gouw Leng Hong mengeluarkan
suara teriakan terkejut, karena seketika itu dia tidak melihat
Cia Tiang Kheng lagi. Lie Siauw Hiong segera menoleh
kepadanya, dia sendiri sejak tadi tak memperhatikan lagi
Lok-eng-kiam Cia Tiang Kheng itu, hingga ia tak tahu,
bahwa ahli pedang partai Tiam Cong itu telah melarikan
diri. Waktu Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng Hong
melihat kedepan dengan cermat, dari kejauhan mereka
hanya melihat sebuah titik hitam yang kecil sekali,
bergerak-gerak meninggalkan tempat itu. Dengan sendirinya dia pun maklum, bahwa titik hitam itu tentunya
tak lain daripada bayangan Cia Tiang Kheng adanya.
Dengan menarik nafas panjang dan menunjukkan
perasaan kecewanya, Gouw Leng Hong lalu berkata :
"Hiong Tee, Cia Tiang Kheng ini adalah seorang ksatria
sejati, tapi dia adalah salah seorang yang telah melukai diri
Bwee Siok-siok, bagaimana ..?"
Dia sesungguhnya tidak enak untuk mengatakan 'Cia
Tiang Kheng juga merupakan putera salah seorang yang
telah membunuh ayahnya sendiri', dia tidak tahu apa
sebabnya, maka perasaannya terhadap Cia Tiang Kheng
sangat berkesan sekali. Dia merasa senang sekali
menampak sifat-sifat orang tersebut.
Lie Siauw Hiong sendiripun merasa, bahwa sekalipun
dia itu 'musuhnya', tetapi telah saling bahu-membahu dalam
menghadapi lawan-lawan yang tangguh tadi.
Sementara itu, tiba-tiba terdengar suara tangisan orang
yang menyedihkan sekali. Dengan ini, mereka sadar, bahwa
disitu ada seorang anak dara yang belum sempat terbunuh
oleh kedua perampok dari Shoatang itu, maka kedua
pemuda itu lalu maju menghampiri anak dara tersebut.
Pada saat itu, anak dara itu tengah berlutut ditanah
memegang tubuh seseorang yang telah menjadi mayat,
sambil menangis dengan sedihnya. Anak dara itu masih
muda belia, ditaksir umurnya paling banyak diantara
delapan belas sampai sembilan belas tahun. Dia tampak
dengan sedih sekali menangisi mayat itu, mayat seorang
tua, yang janggutnya sudah berwarna putih seluruhnya,
sedangkan didadanya terdapat bekas tusukan pedang.
Orang tua ini adalah ayahnya anak dara itu.


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kedua orang ini berjalan menghampiri dibelakang anak
dara itu, tapi anak dara itu belum lagi menginsyafi, bahwa
dibelakangnya berdiri dua orang yang masih asing baginya,
karena dia ini sedang menangis dengan sedih dan pilu atas
kematian ayahnya.
Setelah berselang sejurus lamanya, akhirnya Gouw Leng
Hong lalu membuka suara dan berkata dengan suaranya
yang perlahan : "Kho-nio (nona), para perampok tadi sudah
kami mundurkan dan telah lari jauh pula."
Anak dara itu tiba-tiba terkejut sekali, perlahan-lahan dia
mengangkat mukanya dan melihat dibelakangnya berdiri
dua orang yang masih asing baginya itu, hingga ini
membuat hatinya merasa tambah terkejut.
Waktu anak dara itu menoleh serta-merta tampaklah
wajahnya yang sangat cantik sekali, dagunya berbentuk
telur angsa, alisnya bagaikan daun pohon Yangliu,
hidungnya mancung bak selodang, kulitnya putih bersih,
dikedua pasang matanya yang jeli itu jatuh berderai butiran-
butiran air mata bagaikan kaca jatuh kebatu. Siapakah yang
takkan terharu memandang keadaan ini "
Hati Gouw Lang Hong yang tenang itu tiba-tiba terasa
tergerak, setelah melihat wajah anak dara itu seakan-akan
ada suatu tenaga gaib yang mendadak telah menariknya.
Lalu diam-diam dia berkata pada dirinya sendiri : "Nona ini
sungguh sangat cantik. Andaikata saat itu berhias sedikit
saja, pasti kecantikannya akan lebih agung kelihatannya.
Dapat dibayangkan, bisa membuat pemuda-pemuda mabuk
kepayang padanya. Siang terbayang-bayang dan malam
menjadi mimpi."
Lie Siauw Hiong pun berpendapat pula bahwa
kecantikan anak dara ini sukar dicari taranya, dibandingkan
dengan orang yang sudah dikenalnya seperti Pui Siauw Kun
dan Kim Bwee Leng, tampaknya tidak dapat diragukan
lagi, dia masih jauh lebih cantik agaknya dan tampaknya
cuma anak dara Bu Kek Toocu saja, yaitu Ceng Jie, yang
dapat menyamainya. Dalam waktu sekejap mata saja
bayangan-bayangan anak dara yang cantik-cantik yang
pernah dia jumpainya, mendadak terbayang pula dalam
kenangannya. Siauw Kun memang cukup cantik, Bwee
Leng sangat lembut dan sopan, Ceng Jie adalah yang paling
cantik diantara kedua gadis itu.
Sesungguhnya, ingatannya yang begitu banyak itu, lalu
terlintas satu-persatu diruang matanya, sampai sekarang
kesemuanya ini bagaikan sebuah impian saja. Waktu dia
berpikir bagaimana Siauw Kun dan Ceng Jie sudah
terkubur didasar lautan, dan mati hidupnya Bwee Leng
baginya masih belum terang, tidak terasa lagi hatinya
merasa pilu sekali.
Anak dara yang sedang menangis dengan sedih ini,
waktu menoleh kebelakang, dia melihat ada dua orang laki-
laki yang tidak dikenalnya sedang berdiri dibelakangnya,
seketika itu juga lalu dia menghentikan tangisannya.
Dengan mata yang masih mengandung butiran-butiran air
mata, samar-samar dia melihat seorang pemuda diantara
dua orang itu memakai kedok, sedangkan yang seorang lagi
tampaknya lebih tampan dan masih muda sekali, sehingga
dara ini tidak berani menatap pemuda itu lebih lama,
akhirnya dia lalu tundukkan kepalanya, kembali dia
menngis tersedu-sedu.
Lie Siauw Hiong yang memandang kejadian itu, lalu
menjadi siuman dari lamunannya. Setelah dia menyarungkan kembali pedangnya dan melihat anak dara
tersebut menangis lagi sambil menundukkan kepalanya,
diapun merasa terharu juga, lebih-lebih Gouw Leng Hong.
Mukanya tampak sangat gugup dan kuatirkan anak dara
tersebut. Menyaksikan aksi Gouw Leng Hong ini, hati Lie
Siauw Hiong merasa tercengang dan berselang sejurus
kemudian diapun maklum apa artinya perbuatan kawannya
ini. Lie Siauw Hiong lalu jalan mendekati dua langkah,
mendengar suara tindakan kaki orang menghampiri
kearahnya, anak dara itu lalu mengangkat mukanya lagi
memandang, ternyata pada kedok pemuda ini terlukis
gambar tujuh kuntum bunga Bwee. Tampak dara itu sedikit
takut terhadapnya, karena hal itu terbukti dengan ditariknya
kembali mukanya yang memandang pada Lie Siauw Hiong
itu. Lie Siauw Hiong lalu bertanya : "Numpang tanya,
siapakah gerangan nama nona " Bagaimanakah kejadiannya
sehingga nona dapat berjumpa dengan para perampok ini ?"
Anak dara tersebut lalu menghentikan tangisnya, dengan
perasaan yang sedih sekali lalu dia menceritakan segala
sesuatu yang telah terjadi atas dirinya. Sekalipun Lie Siauw
Hiong yang mengajukan pertanyaan, tapi waktu dia
menjawabnya, matanya terus-menerus memandang pada
Gouw Leng Hong. Dia tampaknya sangat takut sekali
kepada Lie Siauw Hiong.
Ternyata anak dara ini she Souw, namanya Hwie Cie,
ayahnya bernama Souw Hong Too, pernah menjabat
sebuah pangkat yang rendah dalam kantor pemerintah
daerah. Waktu ayahnya memasuki usia pertengahan, dia
telah ditinggal mati oleh istirinya, dengan hanya
meninggalkan seorang anak perempuan saja, yaitu Souw
Hwie Cie ini. Dia menganggap anak dara ini sebagai sebutir mutiara
berharga, maka siang malam dia rawat dengan penuh
kecermatan, karena sayangnya terhadap anak daranya ini,
dia bersumpah untuk tidak kawin lagi, karena bila dia
kawin lagi, belum tentu ibu tirinya dapat menyayangi
anaknya seperti ibu kandungnya sendiri. Demikianlah
dengan penuh kasih sayang dia memelihara anak dara yang
semata wayang ini sehingga dewasa.
Pada tahun itu sekalipun pangkatnya sudah dinaikkan
sehingga cukup tinggi, tapi dia ini tidak loba seperti lain
orang, terhadap rakyat jelata dia menyayangi bagaikan
anaknya sendiri, maka tidak heran sekalipun dia telah lama
memangku jabatannya, dia tetap miskin saja, sedikit harta
yang berarti pun tidak berhasil dia kumpulkan atau miliki.
Karena dia melihat kawan-kawan disekitarnya semuanya
berlaku korup, dan dia yang selalu berlaku jujur sudah tentu
mendapat ejekan dari kawan-kawannya, maka melihat
suasana yang tidak enak ini, lalu dia mengambil keputusan
untuk mengundurkan diri dari jabatannya, dia sudah
bertekad untuk pulang kembali kekampung halamannya
dipropinsi Ouw Lam. Dikampung halamannya ini
sekalipun dia tidak mempunyai famili yang terdekat lagi,
dibandingkan hidup dirantau lebih baik dikampung
halaman sendiri, maka dengan begitulah dia lalu pulang
kekampung halamannya, untuk menghabiskan sisa hidupnya disana, hingga pada hari itu dia sampai didaerah
yang sial baginya itu.
Pada waktu itu sepasang perampok dari Shoatang telah
mendengar kabar bahwa daerahnya akan dilalui oleh
seorang berpangkat yang akan pulang kekampung
halamannya. Karena para perampok menganggap bahwa
seorang yang berpangkat tentu mempunyai harta yang
berlimpah-limpah, dan tentu pula mereka tidak pernah
menduga bahwa ayah dan anak dara ini sekalipun menjabat
pangkat yang cukup tinggi, tapi karena seumur hidupnya
dia berlaku sangat jujur, maka harta yang dikumpulkannya
tidak seberapa banyak, bila dibandingkan dengan kawan-
kawan sejawatnya. Lain hal lagi yang membesarkan hati
mereka, ialah mereka telah menerima perintah untuk
memancing Cia Tiang Kheng kesitu oleh bisikannya Jim To
Swan. Maka sebegitu lekas rombongan kereta pembesar itu
sampai digunung Thong Pek San, lalu mereka diserbu oleh
sepasang perampok yang terkenal dengan nama julukan
San-co-siang-ho.
Souw Hong Too waktu pulang kembali kekampung
halamannya, dia hanya membawa kereta yang tidak
seberapa banyak jumlahnya, lagi pula tidak seperti kaum
berpangkat lainnya yang begitu mentereng. Tapi sebaliknya
sepasang perampok dari Shoatang ini yang menduga bahwa
kereta itu tentu membawa jumlah harta yang tidak sedikit
dan berharga, maka kedua perampok itu lalu mengambil
keputusan yang pasti untuk turun tangan terhadapnya.
Sungguh kasihan sekali Souw Hong Too dan para kusir-
kusir kereta yang telah bernasib malang itu, mati dibawah
golok para perampok, dan setelah mereka menewaskan
orang-orang Souw Hong Too ini, mereka lalu memeriksa
hartanya, tapi ternyata hampa belaka. Dan baru saja
sepasang perampok dari Shoa-tang ini ingin menanyakan
barang-barang yang dibawa Souw Hwie Cie, mendadak Cia
Tiang Kheng sampai kesitu. Begitulah mereka lalu
bertempur dengan serunya, hingga selanjutnya turut juga
dalam pertempuran itu Gouw Leng Hong dan Lie Siauw
Hiong kedua pemuda yang tampan dan gagah berani itu.
Souw Hwie Cie sambil memeluk tubuh ayahnya,
mengisahkan peristiwa yang baru saja dialaminya dengan
sedih dan pilu. Berkata sampai disitu, tidak terasa lagi Souw
Hwie Cie tidak dapat menahan tangisnya lagi, sehingga dia
menangis lagi dengan sedihnya. Gouw Leng Hong dan Lie
Siauw Hiong yang melihat keadaan anak dara ini, perasaan
hati merekapun menjadi semakin terharu.
Gouw Leng Hong lalu memandang pada Lie Siauw
Hiong, kemudian diapun memandang pada anak dara itu.
Baru saja dia ingin membuka mulutnya, Lie Siauw Hiong
telah mendahuluinya sambil berkata : "Twako, cobalah kau
bujuk dia."
Mukanya Gouw Leng Hong menjadi merah sekali, tapi
dia tetap maju kehadapan Souw Hwie Cie dan berkata :
"Kho-nio, hentikanlah tangisanmu, pada saat ini, yang
paling penting adalah mengurus penguburan mayat
ayahmu." Anak dara tersebut benar saja lalu menghentikan
tangisannya. Kemudian Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng
Hong lalu mencabut pedang mereka masing-masing, untuk
mengorek tanah dan menggali sebuah lobang untuk
menguburkan mayat ayah anak dara itu. Tak lama
kemudian, selesailah mereka menggali sebuah lobang yang
sangat besar, untuk kuburan mayat-mayat ayah dara itu dan
kusir-kusir kereta itu.
Dari bawah sebatang pohon Gouw Leng Hong
sekonyong-konyong menarik sebuah batu besar, dia
bersedia untuk menulis sesuatu. Lie Siauw Hiong setelah
menyambut batu besar itu, lalu dia ulurkan jari-jari tangan
kanannya, dan dengan mengempos semangatnya yang
disalurkan keujung jari-jari tangannya itu, dia mulai
menulis diatas batu besar itu dengan kata-kata sebagai
berikut : "Disini terbaring dengan tenang arwahnya Souw
Hong Too."
Begitu jari-jarinya menempel diatas batu besar itu, lalu
batu tergoreslah dan abunya beterbangan kesana-kemari,
kemudian disitu tertera tulisan-tulisan yang sangat terang
dan dalam, suatu tanda bahwa tenaga yang dikeluarkannya
ini sungguh luar biasa sekali, untuk membuat tulisan-tulisan
itu. Setelah selesai menulis dengan jari-jari tangannya, lalu
Lie Siauw Hiong menarik nafas panjang, diantara suara
tarikan nafasnya ini, dia merasa sedikit gembira, karena dia
sudah berhasil membuat sesuatu kebaikan untuk anak dara
ini. Souw Hwie Cie terhadap kepandaian yang sangat luar
biasa dari Lie Siauw Hiong ini seakan-akan tidak
merasanya, dia hanya memandang pada Gouw Leng Hong
saja, yang pada wajahnya terpancang sebuah pandangan
yang aneh sekali, hal mana sukar diduga, apakah dia
merasa sedih ataukah gembira maupun terkejut.
Setelah kedua orang ini habis memberesi sesuatu, Souw
Kho-nio barulah mengucapkan terima kasihnya pada kedua
pemuda ini sambil berkata : "Aku telah menerima
pertolongan yang sangat berharga dari kalian, dan
kalianpun telah menguburkan mayat ayahku dengan
sempurna, budi yang demikian besarnya ini, entah dengan
cara apakah dapat aku balas kelak ?" Sambil berkata begitu,
diapun lalu ingin berlutut untuk menyatakan perasaan
terima kasihnya.
Gouw Leng Hong menjadi gugup sekali, buru-buru dia
mengulurkan tangannya membangunkan anak dara ini, tapi
sekonyong-konyong dia merasa segan dan malu-malu,
sehingga tangannya tak sampai menjamah bahu anak dara
itu. Untunglah Lie Siauw Hiong telah mengeluarkan suatu
tenaga yang tidak kelihatan, yang dapat mencegah anak
dara itu tidak sampai berlutut diatas tanah.
Souw Hwie Cie yang kini tidak mempunyai senderan
lagi, setelah berdiam setengah harian, barulah dia terpikir
bahwa dikota Cee Leng ayahnya mempunyai sahabat karib
yang memangku jabatan wedana (tikoan), dan mungkin
orang tua itu dapat menolongnya. Lie dan Gouw setelah
berunding sebentar, lalu sepakat untuk mengantarkan anak
dara ini kekota Cee Leng. Menampak kedermawanan
kedua pemuda ini, Souw Hwie Cie pun merasa sangat
berterima kasih dan senang sekali, jika kedua pemuda ini
sudi mengantarkannya ketempat yang dituju. Oleh karena
itu, ditengah perjalanan mereka tak henti-hentinya saling
bercakap-cakap, sehingga mereka bertiga tidak merasa
terlampau kesepian dan canggung.
Gouw Leng Hong begitu melihat Souw Hwie Cie, entah
perasaan apa yang telah terbit didalam hatinya, sekalipun
ditengah perjalanan dia berjalan berendeng dengan Lie
Siauw Hiong, tapi perasaan simpatinya terang menyolok


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

keluar dari perbuatannya. Begitupun Souw Kho-nio yang
mengalami perubahan besar dengan secara sekonyong-
konyong, tadinya dia merasa sedih sekali karena tidak
mempunyai famili lagi, hingga tidak putus-putusnya air
matanya berderai-derai saking amat sedihnya. Belakangan
setelah dihibur oleh Gouw Leng Hong, kecuali merasa
sangat sedih dan berterima kasih, didalam lubuk hatinya
kemudian timbul sebuah perasaan yang sukar dilukiskan.
Begitulah mereka berjalan dengan lambat sekali,
mengantarkan Souw Hwie Cie sampai dikota Cee Leng.
Keramaian dipuncak gunung Thay San hanya kurang lebih
tinggal lima hari lagi saja.
Setelah kereta berhenti dimuka rumah sahabat karib ayah
nona Souw ini, lalu dia mengirimkan kartu nama ayahnya
masuk kedalam pada sahabat ayahnya ini, kemudian karena
tidak ingin mengganggu orang, lalu Lie Siauw Hiong
bersama Gouw Leng Hong berpamitan pada Souw Hwie
Cie. Setelah berselang beberapa lamanya, barulah Souw
Hwie Cie mengetahui, bahwa kedua pemuda tersebut
adalah pendekar-pendekar gagah dikalangan Kang-ouw.
Waktu mereka ingin berpamitan dengannya, karena
merasa sekalipun dia diperbasakan untuk mampir,
merekapun pasti akan pergi juga, maka dengan berlinang-
linang air mata anak dara itu mengantarkan kepergian
kedua pendekar muda ini, hingga Gouw Leng Hong yang
menampak air mata nona itu yang berlinang-linang deras
sekali, dia pun merasa berat sekali untuk berpisah dengan
anak dara itu. Akhirnya, bagaimanakah perhubungan
antara Gouw Leng Hong dengan Souw Hwie Cie ini "
Apakah diantara mereka terjalin sebuah jodoh yang
sempurna " Dan bagaimanakah keramaian dan ketegangan
dalam pertemuan dipuncak gunung Thay San nanti " Untuk
mengetahui hal ini, silahkan pembaca baca cerita
lanjutannya. (Oo-dwkz-oO) Jilid 21 Souw Kho-nio lalu menjawab : "Kalian berdua setelah
selesai mengurus pekerjaanmu, haraplah supaya sudi
menemukan aku sekali lagi .."." Sesudah berkata begitu,
lalu suaranyapun lenyap ditenggorokannya. Sementara itu
dari sebelah dalam kantor kewedanaan terdengar suara
rebut-ribut, suatu tanda bahwa orang yang sedang
dinantikan tengah mendatangi.
Lie Siauw Hiong lalu memberi nasihat pada Souw Kho-
nio untuk merawat dirinya baik-baik, kemudian sambil
menarik tangan Gouw Leng Hong dia berkata : "Jalan,"
lalu kedua orang itu buru-buru berpamitan dari nona itu.
Mereka berdua segera keluar dari pintu kota.
Disepanjang jalan mereka tidak banyak bercakap-cakap
lagi, lebih-lebih ketika Lie Siauw Hiong menampak dengan
sengaja dia mengajukan pertanyaan : "Twako, kini kita
hendak pergi kemana ?"
Gouw Leng Hong menjadi tersadar oleh pertanyaan ini,
tapi untuk seketika dia tidak dapat menjawab barang
sepatah katapun. Setelah berselang sejurus lamanya,
barulah dia berkata : "Sudah tentu kita harus pergi ..". ya,
pergi ..". kepuncak gunung Thay San !"
Lie Siauw Hiong tersenyum simpul, hingga Gouw Leng
Hong yang menampak begitu, mukanya menjadi merah,
kemudian mereka menyelinap diantara orang banyak yang
berkerumunan dijalan raya.
Pada saat itu dilangit tampak cuaca sangat terang dan
bersih. Karena masa itu baru saja menjelang permulaan
musim Ciu (rontok), maka suasana dalam kota masih dapat
dirasakan dua macam hawa udara yang berlainan. Dan
sekalipun matahari terpancang diudara, tapi hawa udara
yang sangat dingin dirasakan menusuk tulang dan sumsum.
Mereka menuju kepuncak gunung Thay San yang terkenal
sebagai salah satu gunung nomor satu ditanah Tiong-goan.
Disitu mereka jalan memasuki jalan pegunungan tersebut
yang panjangnya kurang lebih setengah lie, dimanapun
tampak para pelancong yang tak putus-putusnya pergi
datang kedaerah disekitar pegunungan itu, yang jalan-
jalannya sangat luas dan dirawat baik sekali. Dipinggir jalan
terdapat sebatang pohon yang besar sekali, yang cabang-
cabang dan daun-daunnya hampir menutupi jalan tersebut.
Dikiri-kanan jalan itu terdapat sebidang tanah yang
ditumbuhi rumput-rumput yang menutupi hampir separuh
dari daerah pegunungan disitu. Dan sekalipun pada saat itu
telah menjelang musim rontok, tapi rumput-rumput itu
masih tetap tumbuh dengan subur dan berwarna hijau.
Pada setiap detik bila angin pegunungan datang meniup
maka terdengarlah suara yang berkeresekan dari daun-daun
pohon yang tumbuh disitu, dan sejauh-jauh mata
memandang, jalan yang panjang ini seakan-akan tampak
bagaikan seekor ular saja layaknya, tapi bila orang
memandang dengan lebih cermat dan teliti, orangpun akan
segera mengetahui, bahwa jalan tersebut akan menjadi
buntu dalam pegunungan tersebut.
Sekonyong-konyong terdengar suara berketuprakan dari
derapan kaki kuda. Suara itu terdengar lebih jelas didaerah
yang demikian sunyi itu. Keramaian dipuncak gunung Thay
San ini memang menarik tidak sedikit orang yang berminat
datang untuk bersembahyang atau menonton keramaian
disitu. Keramaian dipuncak gunung Thay San itu
sebenarnya masih ada satu hari lagi dimuka dirayakannya,
tapi orang-orang dikalangan Kang-ouw yang datang kesitu
sudah banyak sekali, hingga tampaknya mereka bernapsu
sekali untuk menonton keramaian tersebut.
Dan orang-orang yang sudah berpengalaman luas
dikalangan Kang-ouw, pasti menginsyafi, bahwa keramaian
sekali ini mengandung bahaya yang besar sekali. Karena
mereka menduga, bahwa dalam keramaian ini kelima ahli
partai besar pasti akan dapat dirobohkan orang. Tapi
keadaan yang paling berbahaya dan tegang yang mereka
ramalkan, adalah justeru karena munculnya kembali Chit-
biauw-sin-kun dalam rimba persilatan.
Tanpa memperhatikan pada berkisarnya sang waktu,
orang melihat bahwa matahari sudah tergantung tepat
ditengah-tengah udara, suatu tanda bahwa pada saat itu
sang haripun telah menjelang tengah hari. Kemudian dari
jalan kecil yang sempit orang mendengar suara derap kaki
kuda, yang kemudian disusul dengan munculnya dua orang
penunggang kuda dari balik tikungan jalan tersebut.
Kedua orang penunggang kuda ini usianya masih muda
belia. Salah seorang antaranya berwajah lebih tampan
daripada yang lainnya. Mereka tampaknya datang keatas
gunung untuk turut menyaksikan keramaian. Si pemuda
yang menunggang kuda disebelah kiri, dibebokongnya
terselip sebatang pedang panjang, dengan mana orang
segera mengetahui, bahwa mereka itu adalah orang-orang
yang sudah kenyang mengembara dikalangan Kang-ouw.
Mereka tampaknya sudah letih karena melakukan
perjalanan yang jauh. Kedua-duanya berjalan tanpa
bercakap-cakap. Dengan memperhatikan suara derap kaki
kuda mereka, orang segera mengetahui bahwa kedatangan
mereka kesitu dilakukan dengan terges-gesa.
Keramaian dipuncak gunung Thay San sekali ini,
tampaknya telah menarik lebih banyak orang-orang yang
berminat untuk menonton, apa lagi karena inilah keramaian
yang kedua kalinya. Jauh pada sebelum tiba waktunya
keramaian dirayakan, yaitu lima belas tahun yang lampau,
justeru itulah waktunya kelima ahli partai perguruan silat
besar saling berkumpul dipuncak gunung Thay San ini.
Pada saat itu mereka telah berhasil dapat merebut gelar
sebagai 'ahli pedang nomor wahid secagat'.
Tatkala itu sembilan jago dari Kwan Tiong sudah pada
bubar, tidak ada seorangpun dari perkumpulan kesembilan
jago-jago itu yang mengambil bagian dari pertempuran
tersebut, sedangkan ketiga orang yang disebut sebagai Tiga
Dewa Diluar Dunia, selain mereka terpisah jauh sekali
dengan tempat itu, merekapun lebih-lebih tidak suka turut
mengambil bagian dalam pertemuan itu. Oleh karena itu
hanya ada dua orang yang merasa tidak puas dan turut
mengambil bagian dalam pertemuan dipuncak gunung
Thay San ini, yaitu Chit-biauw-sin-kun dan Tan-kiam-twan-
hun Ho-lok-it-kiam Gouw Ciauw In.
Dengan kepandaiannya pribadi Gouw Ciauw In sendiri
sebenarnya masih sanggup melayani siapa saja diantara
kelima ahli waris dari partai-partai tersebut, tapi justeru
pada saat itu pihak lawannya telah berlaku curang, yaitu
menarik kemenangan dengan jalan pengeroyokan terhadap
dirinya, begitulah dengan berlima mereka yang terdiri dari :
ahli partai Kun Lun Leng-kong-pouw-hie To Teng, ahli
partai Tiam Cong Hui-heng-kiam-khek Cia Seng, ahli waris
partai Bu Tong Cek Yang Tojin, ahli waris partai Go Bie
yaitu Kouw Am Siangcin dan ahli waris partai Kong Tong
yakni Kiam-sin Li Gok, mereka berlima telah mengerubuti
Gouw Ciauw In seorang, hingga dengan demikian mudah
saja mereka dapat membunuhnya dan merebut gelarnya
sebagai 'ahli pedang nomor wahid sejagat' kepihaknya.
Setelah berselang lima belas tahun kemudian, pertemuan
dipuncak gunung Thay San telah tiba kembali. Sekalipun
mereka telah menetapkan suatu peraturan yang berbunyi :
'Barang siapa yang pernah turut menghadiri pertemuan
Kesatria Baju Putih 12 Kisah Para Naga Di Pusaran Badai 2 Karya Marshall Istana Yang Suram 6
^