Pencarian

Pendekar Pedang Sakti 15

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen Bagian 15


mengetahui bahwa aku ini adalah orang yang kau duga
semula ?" Sambil tertawa Leng Hong menjawab : "Barusan terang-
terangan teecu mendengar dalam perkataan su-siok-couw,
maka teecu dapat menarik kesimpulan bahwa su-siok-couw
adalah seorang leluhur dari perguruan silat kita, apalagi
suhu pernah memperbincangkan tentang diri su-siok-couw,
yang ternyata memang sangat mirip sekali, hingga teecu
berani memastikan dugaanku itu".
Orang tua itu tertawa dan lalu memuji kepada sipemuda
sambil berkata : "Anak yang baik, kau sungguh pintar
sekali, rupamu ada sedikit berlainan dengan ayahmu !"
Leng Hong sejak dilahirkan adalah ayahnya sendiri yang
memeliharanya dengan penuh perhatian, waktu dia
berumur tiga tahun dan ayahnya meningal dunia
dibinasakan oleh lawan-lawannya, dalam otaknya sama
sekali dia tidak pernah ingat wajah ibunya, dia hanya dapat
mengingat wajah ayahnya sewaktu bersenyum kepadanya,
dan sekarang hidupnya sangat sengsara sekali, karena dia
belum lagi mendapat kesempatan untuk membalaskan sakit
hati orang tuanya. Kini orang tua itu tanpa disengaja telah
menyinggung tentang ayahnya, tentu saja hatinya menjadi
sangat pilu dan tiba-tiba saja romannya berubah, hingga
tanpa dikehendaki lagi dia jadi menangis terisak-isak.
Orang tua itu yang menyaksikan wajah anak muda ini
telah berubah, diapun insyaf bahwa dia telah menyinggung
perasaan Gouw Leng Hong tanpa diinsyafinya, hingga
hatinyapun menjadi tidak enak, maka dengan suara yang
lembut dia berkata : "Anak yang baik, janganlah kau
bersedih hati, ayahmu telah mempelajarimu kepandaian
sejati untuk kau kelak membalaskan sakit hatinya".
Selama beberapa hari ini, hati si pemuda entah sudah
berapa banyak mengalami kekagetan dalam penghidupan,
maka pada saat dia mendengar suara orang tua yang
bersifat welas asih ini menghiburinya dengan penuh kasih
sayang, diapun tidak dapat menahan lagi dirinya dan segera
merangkul orang tua itu sambil menangis didalam pelukan
orang tua tersebut.
Tong-gak-si-seng In Peng Jiok selama tiga puluh tahun
ini setapakpun tidak pernah meninggalkan gunung Thay
San, sehari-harian hidup menyendiri dengan hanya angin
gunung dan rembulan yang menjadi sahabat-sahabatnya,
dan pada saat ini dalam pelukanya terdapat seorang
pemuda yang muda belia lagi pula sangat tampan
wajahnya, hingga hatinya bertambah gembira dan
menyayangnya, tapi mulutnya hanya dapat mengeluarkan
perkataan : "Anak yang baik, janganlah kau menangis, ya-
ya akan membalaskan sakit hatimu !" (ya-ya artinya kakek).
Leng Hong setelah menangis sebentar, hatinya menjadi
lega, lalu dengan mengunakan sepasang lengan bajunya ia
menghapus air matanya, kemudian diapun berkata : "Ya-ya,
sekarang cobalah kau tengok, apakah kepandaian Hong Jie
sudah terlatih sehingga ".. seimbang dengan kepandaian
ayahku ?" Waktu dia berpikir tempo hari dia menyaksikan Lie
Siauw Hiong memperlihatkan keungulannya dipuncak
gunung Thay San, dalam hatinya dia tengah berpikir,
apakah tidak baik untuk ia berlatih sepandai si pemuda she
Lie itu " Tapi buru-buru pikiran yang semacam ini dia telah
hilangkan sambil berkata didalam hatinya : "Ayah pasti
tidak mengenal dengan Lie Siauw Hiong !"
Tong-gak-si-seng sesungguhnya terlampau menyayangi
Leng Hong, maka dengan tidak banyak pikir-pikir lagi dia
lalu melanjutkan perkataanya : "Tidak jadi soal, tidak jadi
soal. Kau bagaimanakah sehingga dapat sampai kesini ?"
Leng Hong lalu menceritakan kejadian-kejadian yang
sudah lalu, bagaimana dia turut pertemuan dipuncak gunug
Thay San, bagaimana dia terjatuh kedalam jurang, dan
bagaimana dia sehingga tertolong, kemudian bagaimana dia
telah makan buah mujijat, satu persatu dia ceritakan dengan
jelas, sehingga orang tua yang mendengar ceritanya itu jadi
merasa sangat tertarik. Dan waktu dia mendengar si
pemuda telah memakan buah mujijat, mukanya tampak
sedikit berubah, tapi sebentar kemudian wajahnya sudah
tenang kembali.
"Anak", kata orang tua itu, "Ternyata jodoh maupun
hokkiemu (rejekimu) sungguh sangat baik sekali. Buah
Hiat-ko ini adalah seorang loo-cianpwee yang telah
menanamnya dengan susah payah. Orang itu sangat gemar
sekali terhadap tanam-tanaman, dan diapun mengetahui,
bahwa seratus tahun sekali buah itu baru berbuah,
sedangkan umurnya sendiri adalah sangat terbatas. Dia
hanya mengharapkan seseorang yang memang sangat
berjodoh dengannya kelak dapat makan hasil buah
tanamannya ini.
"Akupun mengetahui pohon tersebut setengah bulan lagi
barulah berbuah, pada saat itu aku ingin melindunginya,
siapa tahu ternyata dia telah berbuah lebih cepat sepuluh
hari dari apa yang kuduga semula. Buah itu agaknya telah
masak sebelum waktunya karena terpengaruh oleh
rejekimu, yang tidak dapat dikatakan kecil itu".
"Orang yang menanam pohon ini adalah lawan seumur
hidup dari partai Thay Khek. Dia yang bersusah payah
telah menanamnya, tanpa menduga bahwa jerih payahnya
itu hanya sia-sia belaka, karena salah seorang dari cucu
murid Thay Khek yang merupakan lawan kerasnya telah
memetik hasilnya secara diluar dugaan. Hahaha !"
Tatkala dia menolehkan kepalanya memandang, dan dia
menyaksikan wajah Leng Hong seolah-olah mengandung
perasaan menyesal, hingga didalam hati orang tua itu jadi
berpikir : "Dia telah mempunyai peruntungan yang baik
sekali dapat memakan buah tersebut tanpa disengaja,
sedangkan aku yang siang malam selalu mengingini buah
itu malah tidak berhasil mendapatkannya. Tapi setelah
mendengar keteranganku, dia sendiri yang sudah makan
buah tersebut berbalik merasa menyesal. Sungguh seorang
anak yang jujur sekali !"
Dia yang sangat menyayangi Leng Hong, setiap saat
selalu memikirkan untuk kebaikan pemuda itu, sedangkan
didalam hatinya Leng Hong merasa berat sekali serta malu
yang dia telah makan buah mustajab yang senantiasa
menjadi idam-idaman serta dijaga dengan hati-hati oleh su-
siok-couwnya, tapi suatu hal yang dianggapnya paling
penting ialah untuk menolong matanya Ah Lan, sedangkan
hal yang lain-lainnya boleh dikesampingkan saja.
Orang tua itu lalu tertawa sambil berkata : "Aku
sebenarnya tanpa disengaja telah mengetahui pohon mujijat
tersebut, aku tidak pernah menjaga seteliti menurut
dugaanmu, dan sekarang buah itu sudah kau makan, maka
kaupun tidak usah terlampau banyak memikirkannya
ataupun merasa tidak enak hati terhadapku".
Hati Leng Hong merasa tidak enak sekali, dia yang tidak
pernah berdusta lalu berkata dengan ragu-ragu : "Hong Jie
sesungguhnya sedang memikirkan lain hal, hati tee-cu
merasa tidak tenteram dan menyesal sekali".
Waktu Leng Hong mengangkat kepalanya memandang,
ternyata orang tua itu sedang menatap kepadanya, maka
akhirnya dengan perasaan tidak enak dia lalu menceritakan
segala sesuatu mengenai diri Ah Lan, dari awal sampai
akhir dan mengapa dia sampai kehilangan pandangannya,
dan diwaktu mengingat cara bagaimana tanpa disengaja dia
telah memakan buah mujijat itu, harapannya telah lenyap,
hingga tidak terasa lagi dia jadi mengucurkan air mata.
Orang tua tersehut yang mendengarnya merasa sangat
terharu sekali, dan setelah berpikir sebentar dia lalu berkata
: "Sebenarnya aku sendiripun tidak mengetahui, apa daya
untuk menyembuhkan mata kawanmu itu, karena racun
ular mas itu bukanlah semacam racun yang mudah
dilenyapkan. Hmmm, kau lihatlah, aku siorang tua betapa
bodohnya. Kau yang sudah setengah harian berdiam dalam
hutan bambu ini, mari kau turut aku masuk kedalam
guhaku". Leng Hong lalu mengikuti orang tua itu. Setelah
menerobos kekiri dan menembus kekanan beberapa kali,
dengan diam-diam dia perhatikan jalan-jalan tersebut.
Kedua orang ini lalu sampai dimuka sebuah batu raksasa,
orang tua itu sambil menujuk kebalik batu raksasa tersebut
lalu berkata : "Inilah guha yang sudah kudiami selama tiga
puluh tahun lamanya itu".
Leng Hong setelah mengitari batu raksasa tersebut yang
mencapai besar dua tombak, dia hanya melihat mulut guha
tersebut berhentuk bundar, dalam guha tersebut peneranganya sangat suram sekali. Dalam mengikuti orang
tua itu memasuki guha tersebut, Leng Hong merasakan
tanah disekelilingnya sangat kering dan semuanya terdiri
dari batu gunug yang berwarna abu-abu, perlengkapan
kamar didalamnya sangat sederhana sekali, yaitu hanya
terdapat sebuah ranjang batu dan beherapa buah kursi yang
terbuat dari batu pula. Dalam keadaan begitu, Leng Hong
jadi berkata pada dirinya sendiri : "Ditanah pegunugan yang
begini sepi dan lengang, dan dalam guha ini dimana
penerangannya sangat suram sekali, dia yang telah berdiam
selama tiga puluh tahun, mengapa dia tahan ya ?"
Orang tua itu berkata : "Hong Jie, kau sehari semalam
belum beristirahat, pergilah kau tidur sebentar, nanti
sesudah kau mendusin dan merasa lapar, kau boleh keluar
melalui pintu guha ini dan terus menuju sampai kelamping
gunung, disitu terdapat hutan buah-buahan, dimana akupun
akan pergi kesitu untuk melatih kepandaianku".
Pada saat itu Leng Hong merasa lega hatinya dan buru-
buru dia merebahkan dirinya untuk tidur, karena
sesungughnya juga dia sudah merasa keliwat capai sekali,
oleh karena itu, diapun menurut perintahnya orang tua itu.
Begitu Leng Hong mendusin dari tidurnya, waktu itu
sudah tengah hari, begitu dia lompat turun dari
pembaringan dan lantas keluar dari guha tersebut, dia
melihat orang tua itu tengah duduk diatas batu raksasa
sambil menengadahkan kepalanya memandang pada awan
putih dengan semangatnya tengah dipusatkan agaknya,
hingga ketika menampak orang tua itu berhal demikian,
diapun tidak berani mengganggunya, hanya diam-diam dia
berpikir : "Mengapa aku tidak pergi kebelakang untuk
melihat keadaan disitu ?"
Lalu dia berlari masuk kedalam guha itu, dan waktu dia
berjalan kemuka dan melalui satu tikungan, dengan
sekonyong-konyong dia menjumpai satu sinar yang terang
sekali, karena ternyata dia sudah sampai ditempat yang
paling ujung dari guha tersebut, dimana waktu Leng Hong
memeriksa keadaan disitu, dia dapatkan bahwa daerah
disebelah luarnya letaknya agak miring, dan didalam
daerah disitu banyak sekali tumbuh pohon buah-buahan,
dimana buah-buahnya sudah pada ranum dan berwarna
merah. Buah- buahan itu ada yang begitu besar sehingga
menyamai kepalan, sehingga Leng Hong yang menyaksikannya merasa agak heran, dan setelah mengikuti
jalan yang miring ini dan akhirnya dia tidak juga
menemukan ujungnya, barulah dia mengetahui, bahwa
dirinya belum lagi sampai didasar jurang, karena
sesungguhnya tempat dimana dia berada itu masih dalam
lingkungan lamping gunung saja, maka sesudahnya dia
memetik buah-buahan cukup banyak, barulah dia berjalan
pulang kembali kedalam guha.
Sekonyong-konyong
saja dia mendengar suara mengalunnya suara seruling, hingga Leng Hong jadi
merandek dan lalu memusatkan perhatiannya sambil
mendengari irama tiupan seruling mengandung kesedihan
itu, seakan-akan orang yang sedang meniupnya tengah
menghadapi kesulitan besar diseketika itu juga, Leng Hong
yang mendengar begitu, tidak dapat menahan sabar lebih
jauh pula dan buru-buru berlari-lari mendekati orang tua
itu, yang lalu dipeluknya sambil berkata : "In Yaya,
sudahlah, jangan meniup pula". Pada saat itu karena
tangannya memeluk tubuh orang tua itu, maka dengan
sendirinya buah buahan yang dipegangnya tadi pada jatuh
berserakan diatas tanah.
In Yaya jadi tertawa mengakak dan lalu meletakkan
serulingnya diatas batu dan berkata dengan suara yang
lemah lembut : "Baik, baik, yaya tidak meniup pula".
Leng Hong lalu menjawab : "Barusan yaya meniup
seruling itu dengan suara yang amat sedihnya, hingga teecu
yang mendengarnya pun jadi turut merasa pilu, oleh sebab
itu, bisakah yaya menceritakan kepadaku, peristiwa apa
yang telah membuatmu bersedih hati itu ?"
In Yaya sambil memegang kepalanya lalu menjawab :
"Yaya mempunyai urusan apakah " Janganlah kau salah
tanpa. Mari kita berlatih bersama saja".
Leng Hong yang melihat orang tua itu tertawa dengan
terpaksa. diapun masih sempat melihat pada sudut kelopak
mata orang tua ini masih terdapat bekas airmata, maka
karena memikir bahwa dia berdiam disitu dengan hanya
menyendiri saja, dalam hatinya jadi timbul rasa simpati dan
lalu berkata : "Yaya, tunggulah, setelah aku dapat
menyelesaikan urusanku, aku pasti akan datang kesini
untuk menemani kau oranng tua".
In Yaya sambil melucu lalu berkata : "Bagaimana


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan isterimu ?"
Leng Hong dengan likat (cangung) menjawab : "Dia "..
diapun pasti akan datang juga kemari".
In Yaya lalu berkata : "Kalau begitu, disini pasti akan
menjadi ramai ! Hahaha".
Kemudian orang tua ini lalu berkata dengan laku
sungguh-sungguh : "Kepandaian dari cabang perguruan kita
semuanya tergantung atas diri kita masing-masing. Kau
yang berotak sangat cerdik dan pintar, pasti sekali akan
berhasil dalam pelajaranmu, apa lagi kau telah makan buah
dewa yang mujijat itu, maka tenaga-dalammu akan semakin
bertambah tinggi saja. Sekarang aku hendak turunkan ilmu
kepandaian yang paling hebat kepadamu, tapi aku mau
minta supaya kau suka berjanji dahulu, agar supaya dengan
kepandaianku ini kau jangan sekali-kali pergunakan untuk
membunuh orang".
Leng Hong dengan wajah yang sungguh-sungguh lalu
menjawab : "Teecu pasti tidak berani membantah perkataan
yaya". In Yayapun berkata pula : "Tempo hari sewaktu ayahmu
turun gunug, suhengku karena mengetahui bahwa tenaga
ayahmu belum cukup, maka ia telah berjanji, setelah
berselang sepuluh tahun lagi lamanya, barulah dia hendak
menurunkan ilmu Thay Khek yang paling tinggi dan
disebut 'Kay-san-sam-sek-po-giok-kun', tapi tidak disangka
setelah ayahmu pergi lima tahun lamanya, suhengku karena
kesalahan telah menyebabkan diapun menjadi binasa.
Belakangan akupun mengasingkan diri ditempat ini, oleh
karena itu, kepandaian ayahmu belum mencapai dipuncaknya, andaikata tempoh hari dia telah memahami
ilmu ini, maka segala cecurut seperti Li Gok pasti tidak
dapat main gila dihadapannya. Ai, sekarang baiklah aku
turunkan ilmu tersehut kepadamu".
Kemudian diapun melanjutkan perkataannya : "Orang-
orang dalam kalangan Kang-ouw berpendapat, bahwa ilmu
kepandaian kaum Thay Khek adalah dengan menjaga diri
barulah kemudian menyerang lawannya, mereka ini
kebanyakan tidak mengetahui kelihayan kita, maka
sekarang kau lihatlah biar teliti".
Tong-gak-si-seng In Peng Jiok lalu berdiri diatas batu
raksasa tersebut sambil mainkan jurus-jurusnya, sedang
Leng Hong memandang dari samping dengan penuh
perhatian. Dia melihat pukulan-pukulan In Yaya seperti air
sungai Tiangkang yang mengalir dengan tidak putus-
putusnya, angin pukulan yang keluar dari kepalanya
bersuara menderu-deru, sehingga dia yang berdiri dalam
jarak lima atau enam meter jauhnya, masih merasakan
angin yang keras itu menyambar pada dirinya. Dan diwaktu
orang tua itu bersilat sampai jurus kedelapan dia berseru :
"Hong Jie, kau perhatikanlah !"
Hanya tampak pukulannya sekonyong-konyong berubah
menjadi perlahan, tangan kirinya ditekuk setengahnya,
dengan demikian, dia menjaga diri dengan teguhnya,
kemudian tangan kanannya diulurkan kemuka dengan
disertai badannya yang maju satu langkah kedepan, tangan
kanannya lalu ditarik kembali sehingga sejajar dengan
dadanya dalam bentuk separuh lingkaran, sekonyong-
konyong dia berseru dengan suara keras sambil menolakkan
sepasang tanganya kedepan, dan pada saat itu juga dengan
mengeluarkan suara yang amat dahsyat, sebatang pohon
sebesar mangkok yang berdiri satu tombak didepanya jatuh
runtuh kemuka bumi berikut akar-akarnya sekali tercabut
dari dalam tanah !
Leng Hong yang menyaksikan In Yaya membentangkan
pukulan 'Kay-san-sam-sek-po-giok-kun' yang amat dahsyat
itu, didalam hatinya tidak terasa lagi menjadi sangat
terkejut, hingga diam-diam dia berpikir : 'Bila aku
menjumpai tiga atau empat orang yang tinggi kepandaiannya mengurungku, aku dengan hanya mengeluarkan tiga jurus yang terakhir saja, sudah cukuplah
untuk memecahkan kurungan mereka itu".
Setelah In Yaya menarik kembali pukulannya, lalu ia
berkata : "Pukulan ini sekalipun sangat sederhana sekali,
tapi tiga jurus yang terakhir dan masing-masing terdiri dari
'Too-peng-san' (air mengai mengikuti gunung), 'Gie-kong-ie-
san' (orang bodoh memindahkan gunung) dan 'Liok-teng-
kay-san' (Malaikat Liok Teng membuka gunung) adalah
serangan berantai, tenaganya tidak kepalang besarnya, dan
bila sampai kedua pukulanmu dipakai menyerang lawan,
maka orang yang dapat menyambuti pukulanmu ini kini
dalam dunia Kang-ouw sudah tidak ada beberapa orang
lagi. Hahaha".
Leng Hong yang melihat muka orang tua tersebut seperti
merasa sangat puas sekali, sedang ditempat dimana dia
berdiri tadi, tampak bekas-bekas dua tapak kakinya, hingga
tidak terasa lagi dia merasa sangat terkejut dan segera
menginsyafi, bahwa kepandaian In Yaya ini sesungguhnya
sangat luar biasa sekali. Oleh karena itu, diapun merasa
girang tak kepalang.
Kemudian Leng Hong lalu berkata : "In yaya, Hong Jie
akan berlatih sejurus untuk kau perhatikan".
(Oo-dwkz-oO) Jilid 30 Leng Hong yang berkemauan sangat keras, lagi pula
jurus-jurus yang dipertunjukkan In Yaya itu sangat
sederhana, maka dengan sekali lihat saja dia sudah berhasil
dapat mengingatinya sehingga mahir benar.
Maka In Yaya yang melihatnya, lalu tertawa karena
saking girangnya dan lekas berkata : "Anak yang baik, aku
telah menyebabkan kau bersusah payah, sekarang baiklah
aku menyediakan sesuatu untuk kau makan".
Dengan cepat Leng Hong menjawab :"Biarlah Hong Jie
sendiri yang melakukannya".
Tapi In Yaya lalu berkata ; "Kau baik-baiklah berlatih
dengan sungguh-sungguh. Jurus yang hanya berjumlah tiga
macam itu mempunyai keanehan-keanehan yang hebat
sekali, bila kau banyak berlatih dengan jurus tersebut, maka
pastilah kaupun akan memperoleh kebaikan yang tidak
sedikit terhadap dirimu sendiri".
Dalam hati Leng Hong merasa sangat bersyukur, maka
dengan sangat cermatnya dia melatih sepuluh kali lebih,
kini semangatnya tambah lama tambah mantap, hingga
dalam hati dia berpikir : "Buah Hiat-ko itu sesunguhnyalah
buah mujijat yang hebat sekali yang pernah terdapat
didalam dunia ini, karena setelah memakannya, hanya
dalam waktu satu hari satu malam saja kekuatanku sudah
maju sedemikian pesatnya".
In Yaya dengan tangan kirinya memegang kaki
menjangan asin, sedangkan tangan kanannya memegang
poci arak, dia berjalan keluar dari guhanya dan melihat si
pemuda sedang berlatih dengan tekun dan rajinnya,
sehingga angin pukulannya terdengar menderu-deru, suatu
tanda bahwa selain jurus yang dilancarkannya sangat indah
dan jitu, itupun menunjukkan dengan jelas tentang
kepandaian si pemuda yang sudah mempunyai kemampuan
yang tertinggi. Tapi kemudian diwaktu memperhatikannya
lebih lanjut, wajah Leng Hong yang tampan menunjukkan
perasaan yang masygul, hingga diam-diam dia berpikir :
"Dia ini adalah seorang yang akan menjadi pemimpin
yang terkenal, sedang si Ah Lan itupun pastilah seorang
yang luar biasa pula !" Dia yang sangat menyayangi si
pemuda, sudah tentu didalam hatinya menyayangi juga Ah
Lan. In Yaya dengan sekali lompat saja sudah tiba diatas batu
raksasa itu, kemana kemudian Leng Hongpun mengikutinya naik keatas. Mereka berdua duduk disitu
sambil makan dan bercakap-cakap, mereka berdua ternyata
saling mencocoki pada satu sama lain.
Dengan sekonyong-konyong saja In Yaya berkata : "Aku
yang melihat tubuhmu yang begitu ringan, sungguh cocok
sekali untuk khusus berlatih dalam kepandaian mengentengkan tubuh. Tempo hari waktu aku sedang
mengembara dikalangan rimha persilatan, pernah sekali aku
menolongi seorang pendeta dari See Cong (Tibet), tapi
diwaktu aku telah berhasil memukul tiga orang lawan yang
mengurungnya, aku mendapat kenyataan bahwa pendeta
ini sudah menderita luka parah. Tampaknya dia merasa
sangat berterima kasih kepadaku, dan karena dia melihat
bahwa aku bukanlah seorang jahat, maka lalu dari dadanya
dia menarik keluar seJilid buku bahasa Sansekerta yang lalu
diserahkannya kepadaku, kemudian dia ceritakan kepadaku
tentang ilmu yang terdapat dalam buku itu. Mula-mula aku
tidak menaruh perhatian terhadap isi buku tersebut,
belakangan, terutama sekali setelah aku melihat kau
meluncur turun dari atas gunung tadi, aku baru insyaf,
bahwa didunia ini memang ada orang yang mempunyai
kepandaian meringankan tubuh yang sangat luar biasa
sekali, maka berbareng dengan itu, sekonyong-konyong saja
aku teringat kembali pada kitab asing itu. Aku tahu bahwa
kau memang sangat cerdik, apa lagi kau sudah makan juga
buah mujijat itu, sebentar setelah aku serahkan buku
tersebut untuk kau periksa, mungkin juga kau bisa
mendapatkan hal-hal yang aneh dari buku itu".
Leng Hong lalu berkata : "Yaya, kau telah memperlakukan aku begitu baik sekali, hingga tak tahulah
aku bagaiamna untuk membalas budi kebaikanmu itu".
Tapi sambil tertawa In Yaya lalu berkata : "Membalas
budi " Hal itu tidak usah kau lakukan, asalkan isterimu
memasakkan aku dua rupa sayur-sayuran untukku, itu
sudah cukuplah".
Tampaknya Leng Hong pernah menceritakan serta
memuji atas kepandaian Ah Lan dan ibunya dalam hal
memasak sayur-sayuran dan hidangan yang lezat-lezat.
Begitulah kedua orang itu telah berdiam dalam lembah
gunung yang sunyi dan lengang ini sambil mempelajari
kepandaian silat yang langka. Dan seperti tersebut dibagian
muka, kedua orang ini ternyata sangat cocok sekali, karena
seorang yang mempunyai kepandaian yang hebat, sekarang
telah berhasil menjumpai seorang murid yang cerdik pula.
Begitulah sang guru dengan rajinnya memberi pelajaran-
pelajaran pada muridnya. In Yaya mengeluarkan seluruh
kepandaian simpanannya untuk diturunkan pada Leng-
Hong sedang Leng Hong menerima warisan itu dan
mempelajarinya dengan sempurna pula.
Pada suatu hari sesudah makan malam, Leng Hong lalu
naik pula keatas batu raksasa itu untuk melatih
pernapasannya. Pada saat itu perasaan hatinya sedikitpun
tidak digoda oleh pikiran-pikiran lain, hingga seluruh
perhatiannya dapat dipusatkan dengan sempurna sekali.
Kemudian waktu dia mendongakkan kepalanya memandang keatas, dilangit dia melihat bulan yang bundar
laksana sebuah roda raksasa, maka didalam hatinya dia jadi
berpikir : "Pertemuan dipuncak gunung Thay San, sampai
hari ini sudah hampir satu bulan lamanya. Sungguh cepat
sekali sang waktu itu berlalu !"
Dengan angin dingin yang mengusap-usap mukanya
yang tampan, kemudian dia bangun berdiri sambil
memhetulkan bajunya, dan diwaktu menundukkan kepalanya, dia melihat bahwa dia memakai baju secara
anak sekolahan, hingga tidak terasa lagi dia lalu
mentertawakan dirinya sendiri, sedang dalam hati dia
berpikir : "Baju pemberian In Yaya ini, dipakainya sungguh
pas sekali. Rupanya diwaktu beliau masih muda, diapun
pernah memakai juga baju ini". Setelah berpikir begitu,
dengan gerak badan yang ringan sekali dia lalu melompat,
sehingga bajunya itupun berkibar-kibar karena tergerak oleh
gerakannya melompat tadi.
Sekonyong-konyong dia mendengar suara tangisan
seseorang, suara mana keluar dari hutan bambu disitu. Leng
Hong yang pada saat itu sudah mempunyai latihan yang
mendalam sekali, sehingga pendengarannyapun sangat


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tajam luar biasa, hingga setelah dia mendengari dengan
lebih cermat, dia segera mengenali bahwa itulah suara
tangisan In Yaya, hingga didalam hatinya dia berpikir :
"Sekarang keadaanya sudah jelaslah baginya, karena
akupun pada beberapa hari ini melihat In Yaya bermuram
durja saja, hanya entahlah apa sebab musababnya, Yaya
menyia-nyiakan masa mudanya dengan mengasingkan diri
ditempat yang begini sepi dan lengang". Tapi dengan cepat
pula dia balik berpikir : "Selama tiga puluh tahun yang
lampau itu, sudah seharusnya segala sesuatu peristiwa
menyedihkan yang dialaminya dilupakan dari ingatannya".
Bersamaan dengan itu, diapun dapat mendengar suara
tangisan In Yayanya yang semakin lama semakin menyayat
hati, hingga diwaktu dia berpikir tentang kebaikan dan
welas asih In Yayanya ini, yang kini seperti juga kena
dipatahkan semangatnya, hidungnya menjadi pedih,
sehingga dengan tidak terasa lagi diapun mengucurkan air
mata. Kemudian dia berlari-lari masuk kedalam hutan
bambu untuk mencari In Yayanya. Pada saat itu dia
melihat In Yayanya tengah membenamkan kepalanya pada
dadanya, punggungnya sebentar-sebentar bergerak turun
naik. Ternyata dia tengah menangis dengan sedih sekali,
sehingga dia tidak memperhatikan bila dibelakangnya ada
orang yang tengah menghampiri kepadanya.
Leng Hong yang tidak dapat menahan sabar lebih lama
pula, dengan suara yang tidak lancar lalu bertanya : "In
Yaya, sudahlah, kau orang tua tidak usah bersedih hati lagi,
bila kau orang tua mempunyai perasaan hati apa-apa,
silahkan ceritakan pada Hong Jie saja, Hong Jie pasti akan
berdaya upaya untuk memecahkan persoalan tersebut".
In Yaya yang tidak menyangka bahwa dia telah
dipergoki oleh si pemuda, buru-buru dia menahan
tangisannya sambil menyusut air matanya dengan lengan
bajunya. Leng Hong dengan suara yang lembut lalu menghiburnya sambil berkata : "Yaya, urusan tiga puluh
tahun yang sudah lampau masakah kau orang tua masih
tidak berhasil melupakannya ?"
In Yaya tidak menyahut, tapi waktu sinar bulan
menyinari mukanya, Leng Hong mendapatkan bahwa
wajah orang tua itu seakan-akan menjadi banyak lebih tua
dengan secara tiba-tiba. Dan berselang sejurus kemudian,
barulah In Yaya berkata dengan perasaan yang terharu :
"Hong Jie, kesengsaraan dan kesedihan yang diderita
oleh setiap orang didalam dunia ini, tidaklah dapat
dibandingkan dari satu dengan yang lainya. Juga hal itu
sukar dilukiskan dengan kata-kata, berhubung pengalaman
seseorang hanya dapat dirasakan betapa pedihnya oleh
siorang yang mengalaminya sendiri. Ingatlah yang pepatah
mengatakan, 'Seberat-beratnya mata memandang, adalah
jauh lebih berat bahu yang memikul', betapapun orang lain
ikut bersimpati dan turut berduka atas kesengsaraan yang
kita alami, tapi kita sendiri yang mengalami kesedihan
tersebut tentulah jauh lebih hebat dirasakannya daripada
orang yang turut berduka itu, Hong Jie, apakah kau
sekarang sudah mengerti " Kepedihan yang kita rasakan itu,
seumur hidup tak mungkin dapat kita lupakan. Kini
tugasmu adalah kau harus dengan rajin serta tekun
mempelajari apa yang sudah kuajarkan kepadamu, jelaskah
apa yang kumaksudkan itu ?"
Sekalipun dalam hatinya Hong Jie masih tidak berhasil
menangkap seratus persen apa yang dimaksudkan oleh
orang tua itu, tapi dengan melihat muka In Yayanya yang
seakan-akan menantikan jawabannya, diapun dengan
segera manggutkan kepalanya sambil berkata : "Hong Jie
sudah mengerti jelas".
Perasaan In Yaya itu perlahan-lahan menjadi tenang
kembali, kemudian berganti dengan perasaan yang
menunjukkan rasa welas asih. Dan dalam pada itu dengan
sekonyong-konyong dia berkata : "Hari ini adalah bulan
delapan tanggal berapa ?"
Leng Hong yang barusan melihat sinar bulan dari pucuk
batang bambu dan memperhatikan keratin-keratan golok
yang dilakukan pada batang bambu sebagai gantinya
penanggalan, lalu menjawab : "Peh-gwee cap-sie (bulan
delapan tanggal empat belas)".
In Yaya lalu berkata : "Ternyata kedatanganmu disini
sudah satu bulan, ya" Segala kepandaian simpananku sudah
kuturunkan semuanya kepadamu, kau masih mempunyai
banyak urusan yang hendak diselesaikan. Nanti setelah
lewat hari raya Tiong Ciu (bulan delapan tanggal lima
belas), kau boleh turun gunung. Setelah kau membalaskan
sakit hati orang tuamu, kau sekali-kali tidak boleh
melupakan untuk mengajak Ah Lan kemari, untuk
diperlihatkan padaku siorang tua".
Leng Hong yang sekalipun telah tinggal bersama-sama
orang tua ia hanya sebulan saja lamanya, tapi kesannya
terhadapnya sangat mendalam sekali. Kemudian diwaktu
dia memikirkan tentang pekerjaan besar yang hendak
dilakukannya itu, dengan tegas dia lalu menjawab : "Yaya,
Hong Jie pasti akan mentaati janji tersebut untuk membawa
Ah Lan menemui dikau !"
In Yaya lalu berkata pula : "Baiklah, haripun sudah tidak
siang lagi, kaupun sudah seharusnya, pergi beristirahat".
Leng Hong menurutkan perkataan orang tua itu dan
masuk kedalam guha untuk beristirahat diatas ranjang batu
yang terlebih dahulu sudah diberi beralas dengan daun-
daunan, tapi karena pikirannya masih kacau balau, maka
seakan-akan dia masih mendengar dikupingnya suara In
Yayanya yang terngiang-ngiang dipinggir telinganya :
"Kesedihan yang sesungguhnya, seumur hidup tak
mungkin dapat dilupakan, kau harus pelajari dari
pengalamanmu sendiri. Andaikata pada suatu hari ".. ada
satu hari dimana dia akan berpisah dengan Ah Lan untuk
selama-lamanya, aku ".. aku apakah masih mempunyai
keberanian untuk hidup terus " Apakah aku masih
mempunyai kesanggupan untuk menerima pukulan-
pukulan kesedihan untuk hidup terus " Tidak, tidak
mungkin, Oh, Tuhan, aku mengetahui bahwa kau pasti
tidak akan mengandung pikiran tersebut".
Sekalipun dia telah menghibur dirinya sendiri, tapi
hatinya sesunguhnya masih merasa kurang enakPada pagi
hari ketiganya, sambil menahan perasaan kesedihan yang
amat sangat, terpaksa dia minta diri kepada In Yayanya
yang amat menyayangi dirinya. Dan sebelum dia pergi, dia
masih sempat memberi hiburan dan nasihat, agar supaya In
Yayanya tidak lagi memikirkan tentang kesedihan-
kesedihan yang sudah lama berlalu, yaitu bila dia merasa
bersedih hati ataupun mempunyai perasaan yang murung,
dia toh boleh pergi keluar lembah berjalan-jalan untuk
meluaskan dan melapangkan dadanya. Maka In Yayanya
yang mendengar nasihat tersebut, dia hanya tersenyum saja
sambil menggeleng-geleng kepalanya, kemudian orang tua
itu malah berbalik memesan Hong Jie agar dia segera
membawa Ah Lan kesini, sebegitu lekas dia sudah
merampungkan pekerjaannya.
Leng Hong sambil menekan perasaan sedihnya lalu
meninggalkan tempat tersebut dengan langkah yang pesat
sekali. Tapi dalam pada itu dia berlari, dia masih sempat
merasakan In Yayanya yang tengah mengejar kepadanya,
dengan didalam genggaman tangannya terdapat sebuah
peles kecil, hingga sambil menahan langkahnya Leng Hong
lalu bertanya : "Yaya, kau orang tua masih mempunyai
pesan apakah ?"
In Yaya segera menjawab : "Suhumu sekalipun
kepandaian ketabibannya sangat luar biasa, tapi dalam hal
mengobati Ah Lan dia tak berhasil. Sebab racun yang
menyerang dalam tubuh An Lan adalah racun ular mas,
sedangkan dia menggunakan bisa kelabang, maka
dimanakah bisa cocok " Aku sedang memikirkan tentang
hal ini, dan sekarang matanya Ah Lan sudah menjadi buta,
hal ini memang sudah wajar, karena tidak menemui obat
yang jitu. Didalam peles ini tersimpan cairan murni yang
sudah ribuan tahun lamanya, obat ini adalah pada tahun
yang lampau aku telah berhasil menemukan dipegunungan
Swat San (gunung Es) khasiatnya adalah bila kulit sudah
melodoh, bisa dihidupkan kembali. Dalam peles ini hanya
ketinggalan sepuluh tetes saja, maka kau boleh simpan dan
pakai seperlunya saja."
Leng Hong lalu menyambuti obat tersebut sambil
menghaturkan terima kasihnya, dan setelah meminta diri
sekali lagi, barulah dia bentangkan kepandaian Keng-sin-
kangnya, dan dengan tidak menolehkan kepalanya lagi lalu
dia berlari keluar dari lembah gunung tersebut.
Setelah berlari sepesat demikian, tidak lama kemudian
didalam hatinya dia telah memperhitungkan sesuatu sambil
berkata : "Aku dengan Ah Lan sudah saling berjanji setelah
berselang satu tahun akan saling berjumpa satu sama lain
pula, sekarang masih tinggal setengah tahun lagi, mengapa
tidak pergi ke Kong Tong saja, untuk mencari bangsat tua
Li Gok, sekalian untuk menjajal kepandaian silat yang
sangat tinggi yang baru saja diajarkan oleh In Yaya ?"
Setelah mengambil ketetapan yang pasti, barulah dia
masuk kedalam sebuah kota besar, dimana dia menanyakan
jalan yang menuju ke Kong Tong San.
Pada hari itu ketika melewat dipropinsi Siamsay utara,
haripun sudah gelap, dia melihat perjalanan dimuka
semakin lama semakin berbelit-belit dan tidak tampak
rumah penduduk, hingga selagi hatinya merasa bingung,
sekonyong-konyong tampak seekor burung dara yang
terbang melintas diatas kepalanya. Melihat burung dara
yang berwarna putih dan sangat indah itu, sifat kekanak-
kanakannyapun lalu timbullah, hingga buru-buru dia
mengejarnya sambil memukulkan telapak tangannya kearah
burung tersebut, sehingga burung dara yang lagi terbang itu,
ketika menerima pukulannya si pemuda, sudah tentu saja
lantas jatuh kebumi. Dan tatkala Leng Hong memeriksanya, ternyata pada kaki burung itu diikatkan
benang merah dan terdapat sepucuk surat, hingga diam-
diam ia merasa sangat heran dan lalu membukanya
bungkusan surat tersebut, yang setelah dibaca tulisannya,
wajah Leng Hong segera berubah seketika.
Didalam hatinya dia menggerutu : "Hmmm, lagi-lagi dua
manusia yang harus mampus ! Entah bangsat-bangsat ini
hendak berbuat kejahatan apa lagi " Aku Gouw Leng Hong
setelah memergokinya, maka akupun harus turun tangan
untuk mengurusnya !"
Ternyata dalam surat tersebut terlukis dua buah gambar
tengkorak, dan itulah tanda dari Hay-thian-siang-sat
adanya. Dalam hati Leng Hong berkata : "Kepandaian Hay-
thian-siang-sat ini sebenarnya tidak lemah, tapi entahlah
mereka telah bentrok dengan siapa, sehingga mereka
mengirimkan surat undangan guna memanggil kawan-
kawan mereka untuk menghadapi lawan itu".
Sekonyong-konyong dia berpikir : "Hay-thian-siang-sat
adalah musuh turunan dari Lie Siauw Hiong, apakah
barangkali mereka telah menetapkan untuk saling
bertempur dengan saudaraku ini ?" Dia pikir kepandaian
Lie Siauw Hiong memang tinggi sekali, dan dia merasa hal
ini memang masuk diakal, dan diapun berpendapat pula,
bahwa pemuda itu pasti akan berhasil menghadapi lawan-
lawannya dengan cukup tabah, oleh karena itu, diapun
tidak terasa begitu kuatir lagi.
Tapi pikirannya itu terus saja berkelana : "Sekalipun
kepandaian Hiong Tee cukup tinggi, tapi bila dia seorang
diri saja menghadapi kurungan sembilan jago-jago dari
Kwan Tiong ini, keadaannya sangatlah berbahaya sekali,
aku harus segera memberi bantuanku secepat mungkin,
untuk membunuh para penjahat tersebut. Barusan burung
dara itu terbang dari jurusan selatan, mungkin sekali
mereka sedang bertempur digunung selatan".
Segera juga dia bentangkan tipu 'Pat-pouw-kan-ciam'
(dengan delapan tindak mengejar katak puru) menuju
kegunung selatan. Pada saat itu hari sudah gelap sekali,
dimuka perjalanannya terdapat rumpun duri-duri yang
menghalanginya dan tak ada jalan lain untuk dilaluinya.
Leng Hong yang membentangkan ilmu Keng-sin-kang-nya
dengan sehebat-hebatnya, dengan beberapa kali lompatan
saja, dia sudah sampai dikaki gunung selatan. Dan
bersamaan dengan itu, kupingnya yang tajam segera
mendengar suara senjata tajam yang saling beradu, hingga
dalam kegugupannya dia tidak menghiraukan lagi jurusan
yang diambilnya, hanya lekas-lekas dia naik keatas gunung
untuk menyaksikan siapa yang sedang bertempur disana.
Waktu Leng Hong sampai ditengah-tengah gunung, dia
mendengar suara beradunya senjata-senjata tajam itu
perlahan-lahan jadi semakin tidak jelas kedengarannya,
sehingga akhirnya berhenti sama sekali. Oleh karena itu,
maka hati si pemuda menjadi gugup sekali, karena dia
cukup maklum, bahwa pertempuran tersebut sudah sampai
pada babak yang menentukan, siapa yang lebih unggul dan
siapa yang lebih asor, dan karena dilihatnya ada beberapa
bayangan orang yang berkelebat-kelebat dari lamping
gunung, maka langkahnyapun lalu dipercepat untuk sampai
dipuncak gunung selekas mungkin.
Setibanya dipuncak gunung, ternyata keadaan disitu
sangat kacau balau, karena ditanah menggeletak tiga mayat


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

manusia, sedangkan salah seorang matinya secara aneh
sekali, yaitu tenggorokannya terpancang pedang panjang
yang menembusi lehernya. Pada waktu Leng Hong
memandang lebih cermat, segeralah dikenalinya, bahwa si
mati itu adalah salah seorang dari sembilan jago-jago Kwan
Tiong yang bernama Sin-kiam-kim-twie Lim Siauw Coan,
sedangkan dua orang yang lainnya, diapun mengenalinya
juga, yakni Cian-siu-kiam-khek Liok Hong dan Tek-seng-siu
Su Kong Cong. Malam. Sunyi, sunyi sekali. Burung-burung gagak yang
bertengger dicabang pohon tidak lagi mengeluarkan
suaranya, barangkali mereka sudah bermimpi dalam
pangkuan sang malam !
Leng Hong lalu jatuhkan dirinya untuk duduk dibawah
salah sebatang pohon. Sambil berpikir, diapun dapat
membayangkan tentang kejadian barusan, ketika dengan
sekonyong-konyong sebuah pikiran melintas dikepalanya,
lalu dia berpikir : "Seorang yang dapat membunuh ketiga
orang ini, dikalangan Kang-ouw tiada banyak yang dapat
melakukannya, kecuali jika perbuatan ini pastilah dilakukan
oleh Lie Siauw Hiong. Tapi begitu pedangnya terlepas dari
orangnya, itulah berarti bahwa orang yang memiliki pedang
itu sudah bersedia mati bersama-sama dalam pertempuran
sengit tersebut, dan jangan-jangan Hiong Tee ".. ah,
sungguh tak berani aku melanjutkan pemikiranku ini "..
pikiran yang belum lagi ada kepastiannya tentang
kebenarannya".
Semakin berpikir, dia merasa semakin tidak enak
didalam hatinya. Buru-buru dia berlompat bangun dan lari
menuruni gunung itu kembali. Setibanya dikaki gunung,
lalu dia memeriksa keadaan disekelilingnya dengan penuh
perhatian. Pada saat itu haripun sudah jauh malam,
keadaan disekitarnya sangatlah gelapnya, sinar bulan
bersembunyi dibalik awan yang tebal, dan dengan
menyusuri kaki gunung tersebut dia mendapatkan banyak
sekali pohon-pohon berduri. Leng Hong yang mondar
mandir disitu, tidak berhasil menemui sesuatu yang agak
mencurigai. Lama-lama diantara pohon berduri terdapat
satu bagian yang kacau balau, seakan-akan kena ditindih
oleh barang berat, hingga seketika itu juga hatinya jadi
tergerak : "Aku cukup mengetahui sifat Hiong Tee yang
keras kepala, asal saja dia masih mempunyai napas, dia
pasti tidak sudi terjatuh kedalam tangan musuh.
Tampaknya karena jumlah lawannya terlampau banyak,
maka dia telah dilukakan oleh musuhnya dan jatuh
kebawah gunung ini, sedang bayangan manusia yang
berkelebat-kelebat dan kulihat tadi, pastilah lawan-
lawannya yang mengejarnya, tapi pada sebelum mereka
berhasil menemukannya, aku sudah keburu datang,
sehingga mereka meninggalkan mangsanya begitu saja".
Oleh sebab itu ia menarik kesimpulan demikian, maka
dia berani pastikan, bahwa pada saat itu Lie Siauw Hiong
tentu berada ditempat yang berdekatan dengan kaki gunung
ini. Begitulah ia segera melanjutkan penyelidikannya
dengan cara yang lebih cermat.
Dari situ Leng Hong terus maju dengan mengikuti
pohon-pohon berduri yang sudah tertindih dan doyong
kebawah, dan tatkala berjalan sebentar, dia dapatkan
dimuka perjalanannya gerombolan pohon-pohon berduri
yang lebat sekali, hingga bagaimanapun dia tidak berhasil
menemukan tapak-tapak jejak manusia disitu. Dalam
keadaan yang membingungkan itu, sekonyong-konyong dia
mendengar suara rintihan yang perlahan sekali dari jurusan
kanan dimukanya.
Leng Hong tidak ragu-ragu lagi dan lalu menerobos
gerombolan pohon-pohon berduri tersebut, untuk mencari
dari mana datangnya suara rintihan itu. Tidak berapa jauh
dimuka perjalanannya, terdapat sebatang sungai kecil
airnya mengalir bersuara gemercik. Dengan menggunakan
pedangnya yang panjaang, dia membabat pohon-pohon
berduri yang menghalangi dihadapannya, dan diantara
rumput-rumput yang bertumbuh begitu suburnya, ternyata
benar berbaring sesosok tubuh manusia.
Leng Hong buru-buru maju kemuka untuk melihat
dengan jelas, kemudian baru ternyata, bahwa itulah
memang saudaranya sendiri Lie Siauw Hiong, yang pada
saat itu semangatnya tampak jelas sudah tidak sempurna
lagi, sekujur badannya terdapat bekas luka-luka, hingga
buru-buru dia jatuhkan dirinya untuk memeriksa keadaan
luka saudaranya itu, tapi dia mendapat kenyataan bahwa
napasnya masih tetap berhembus seperti biasa.
Leng Hong yang menyasikan keadaan luka-luka
saudaranya ini, tidak terasa lagi hatinya merasa sangat pilu
bagaikan disayat-sayat oleh pisau yang sangat tajam, karena
keadaannya Siauw Hiong lebih banyak merupakn sudah
mati daripada masih hidup. Setelah dia memusatkan
perhatiannya, sekonyong-konyong saja dia teringat akan
obat tetes yang diberikan oleh In Yayanya dalam peles kecil
itu. Buru-buru dia menarik keluar peles itu dari dadanya,
sedang dalam hati dia berpikir : "Sekalipun seluruh badan
Hiong Tee terluka, tapi keadaannya tidak terlampau
berbahaya dan hanya napasnya saja yang agak lemah.
Mungkin sekali dia terluka didalam tubuhnya, berhubung
terlampau banyak darah yang keluar dari luka-lukanya".
Tanpa banyak berpikir-pikir lagi, lalu dia buka sumbat
pelesnya, membuka dengan paksa mulutnya Lie Siauw
Hiong yang terkancing dengan rapatnya itu, kemudian dia
teteskan tiga tetes obatnya ini.
Setelah mengobati Siauw Hiong, Leng Hong lalu
membalut luka-luka saudaranya itu, pada sebelum si
pemuda itu siuman, agar supaya dia jangan terlampau
menderita nantinya.
Sinar rembulan yang menerobos dari antara awan-awan
yang gelap, justeru terjatuh dimukanya Lie Siauw Hiong
yang begitu pucat kebiru-biruan, sehingga tampak
menakutkan sekali, berhubung romannya lebih mirip
dengan mayat daripada manusia yang masih bernapas.
Waktu Leng Hong mengenangkan wajah Lie Siauw Hiong
tempo hari yang begitu tampan dan gagah, adalah kini jauh
sekali bedanya, hal mana telah membuat hati Leng Hong
sangat pilu, sedang didalam hati dia berpikir : "Aku
bersama Hiong Tee berpisah tidak sampai dua bulan, tapi
perubahannya ternyata begitu cepat sekali. Apakah nasibku
sendiri kecuali mati, tidak ada jalan lainnya lagi untuk
terlolos dari kedukaan besar ini ?"
Sang waktu lewat dengan pesatnya, hingga tanpa terasa
hari sudah menjelang pagi, Leng Hong yang tidak tidur
semalaman, lalu mengucak-ngucak matanya. Dalam satu
malam ini entah sudah berapa kali dia memeriksa
pernapasan saudaranya ini, tapi Lie Siauw Hiong sendiri
masih tetap tidak menyadarkan diri. Dia sebenarnya tidak
mau mempercayai pancaindranya sendiri, tetapi berada
dalam semak-semak belukar yang demikian sepi dan
lengangnya ini, dihadapannya terbaring seorang yang lebih
mirip sebagai satu mayat saja daripada orang yang hidup,
sekonyong-konyong dengan tidak mempercayai pada
kekuatannya sendiri Leng Hong lalu berdoa sambil berkata :
"Oh, Tuhan, kembalikanlah seluruh kegagahan serta
ketampanan dari saudaraku ini".
Kemudian dengan secara tiba-tiba saja tampak Lie Siauw
Hiong mengeluarkan suara, sedangkan badannyapun mulai
tampak bergerak-gerak dua kali.
Leng Hong jadi sangat girang dan lalu membungkukkan
badannya sambil berkata : "Hiong Tee, apakah kau merasa
baikan ?" Mulut Lie Siauw Hiong seakan-akan hendak berbicara,
karena tampak bergerak-gerak, tapi tidak jadi dia berkata-
kata. Dengan suara yang lemah lembut Leng Hong berkata
pula : "Hiong Tee, kau baik-baik beristirahat, lukamu ini
pasti akan sembuh kembali".
Lie Siauw Hiong manggutkan kepalanya, tapi tidak lama
dia jatuh pingsan pula.
Begitulah selama Lie Siauw Hiong sadar kemudian jatuh
pingsan pula, Leng Hong menjaga disampingnya tanpa
berani meninggalkanya jauh-jauh.
Waktu hari mulai malam lagi, secara sekonyong-
konyong badannya Lie Siauw Hiong menjadi panas sekali,
ingatannya kabur dan mulutnya nyapnyap tidak keruan,
dan Leng Hong yang melihat napasnya sudah mulai
bertenaga lagi, hatinyapun menjadi lega, hingga dalam
hatinya dia berkata : "In Yaya mengatakan bahwa obat ini
adalah obat dewa yang manjur sekali, aku yang telah
memakaikan obat ini pada lukanya Hiong Tee, pasti sekali
akan memperoleh hasilnya dengan sempurna".
Kemudian dia mengambil air dari sungai kecil itu dengan
menggunakan cangkir yang selalu dibawa dibadannya.
Kedalam cangkir itu dia lalu meneteskan dua tetes obat
dewa tersebut, setelah itu dia mengobati dan membalut
kembali luka-luka ditubuh saudaranya itu.
Dalam keadaan begitu, Lie Siauw Hiong hanya dapat
merasakan badanya menjadi nyaman sekali, hingga buru-
buru dia membuka matanya memandang dengan lurus pada
Gouw Leng Hong.
Si pemuda she Gouw yang melihat Siauw Hiong sudah
membuka matanya, hatinya menjadi girang sekali, tapi
waktu dia melihat Lie Siauw Hiong memandangnya dengan
rupa kesima dan seolah-olah tidak mengenali lagi dirinya,
buru-buru dia berkata : "Hiong Tee, aku ini adalah
Twakomu. Kau jangan banyak berpikir yang tidak-tidak,
silahkan kau beristirahat dengan baik-baik, ya !"
Mulutnya Lie Siauw Hiong tampak berkomat-kamit, tapi
entahlah apa yang dikatakannya. Leng Hong yang menduga
bahwa saudaranya ada sesuatu yang hendak dikatakanya,
buru-buru dia pusatkan perhatiannya untuk mendengarkan
kata-kata saudaranya yang hampir-hampir tak terdengar itu
saking perlahannya.
"Bwee ".. Leng ".. Hauw Due Siok ".. Phui Siauw
Khun, ".. telah mati ".. mati".
Dengan terkejut sekali Leng Hong lalu bertanya : "Siapa
yang mati ?"
"Laut ".. laut ".. begitulah matinya dengan jalan
menerjunkan diri !" sahut Siauw Hiong bagaikan orang
yang mengigau. Leng Hong lalu menghiburnya : "Hiong Tee, janganlah
kau memikirkan sesuatu yang bukan-bukan".
"Begitulah ".. begitulah mereka telah menerjunkan diri,
aku ".. aku dengan mata kepala sendiri ".. melihat
mereka ditelan oleh ombak dan mati tenggelam ".."
Leng Hong dengan tidak sabaran sekali lalu bertanya :
"Siapakah yang telah menerjunkan diri kelaut !"
"Phui ".. Phui Siauw Khun ".. aku ".. aku sebenarnya
sangat suka kepadannya, suka sekali !"
Leng Hong yang melihat muka saudaranya yang begitu
menyedihkan, didalam hatinya sudah lantas mengetahui
sebagian besar. Lalu dia melanjutkan perkataannya : "Phui
Siauw Khun adalah seorang nona. Apakah dia telah
membunuh diri dengan jalan menerjunkan dirinya kedalam
laut ?" Lie Siauw Hiong setelah berpikir setengah harian,
barulah dia manggutkan kepalanya.
Kemudian dengan suara yang lemah lembut Leng Hong
lalu menghiburinya : "Nona Phui itu tentu sekali sudah
kena ditolong orang".
Tapi Lie Siauw Hiong buru-buru menggelengkan
kepalanya, sedangkan air matanya jatuh berderai-derai
melalui pipinya.
Dalam hati Leng Hong berpikir : "Aku yang melihat
penghidupan Hiong Tee sehari-harinya adalah riang
gembira, belum pernah aku menyaksikan dia bermuram
durja. Tidak disangka hanya disebabkan oleh 'cinta', ia telah
menyebabkan banyak menderita. Ai, kejadian dalam dunia
ini ternyata lebih banyak kesengsaraannya daripada
kesenangannya !"
Waktu dia lihat Lie Siauw Hiong kembali tidur dengan
sangat nyenyaknya, hatinya menjadi gembira sekali, terus
dia melanjutkan penukaran kain-kain pembalut lukanya,
yang sesudah dibersihkan lukanya, lalu dibalut pula dengan
kain yang bersih. Obat yang diberikan oleh Leng Hong ini
maksudnya untuk menyembuhkan luka-lukanya selekas
mungkin, tidak disangka hanya dengan berapa tetes saja,
dia telah berhasil menyembuhkan saudaranya yang tadinya
sudah mirip dengan mayat saja. Hal mana, terbukti karena
sangat mujarabnya obat itu, yang mampu membuat daging
yang sudah busuk sekalipun dapat segera disegarkan
kembali. Keesokan harinya Lie Siauw Hiong telah siuman dan
panasnyapun sudah hilang sama sekali, pada saat itu
makanan kering yang dibawa Leng Hong sudah habis
dimakan, dan diwaktu dia melihat keadaan lukanya Lie
Siauw Hiong tidak mungkin mengalami perubahan lagi,
lalu dia memondong pemuda kita untuk pergi kekota
didekat situ. Gouw Leng Hong setelah mencari rumah penginapan,
lalu dia menjaga diri si pemuda denan sebaik-baiknyga.
Pada saat itu karena berapa malam beruntun dia kurang
tidur, maka sekarang mereka dapat tidur dengan sangat
lelapnya. Entah sudah lewat berapa lama antaranya, Gouw Leng
Hong sekonyong-konyong mendusin dengan terkejut,
karena dia rasakan kupingnya masuk hawa panas, dan
waktu dia lompat bangun, dia lihat Lie Siauw Hiong tengah
meniupkan hawa dari mulutnya kedalam telinganya, maka
tidak terasa lagi dia menjadi sangat girang dan berkata :
"Hiong Tee, apakah kau sekarang sudah baik " Hiong Tee,
kau ini sunguh nakal sekali. Baru saja baikan, kau sudah
membuat aku kelabakan. Hari masih pagi, pergi tidur lagi
dah !" Sambil tertawa berseri-seri Lie Siauw Hiong lalu berkata
: "Masih pagi " Coba kau lihat sendiri ".."


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Leng Hong segera melongok melalui jendela, ternyata
hari sudah siang, maka tidak terasa lagi dia jadi memaki
dirinya sendiri, yang sudah tidur begitu nyenyak bagaikan
bangkai saja. Lie Siauw Hiong mengetahui, bahwa jiwanya telah
ditolong oleh Gouw Twakonya, dan diapun mengetahui
apa sebabnya saudaranya ini tidur begitu lelap, karena dia
sudah menjaga dirinya selama beberapa malam tanpa tidur
cukup. Leng Hong yang melihat pandangan matanya Lie Siauw
Hiong sudah wajar kembali, dan semangatnyapun sudah
pulih kembali sebagaimana sediakala, kecuali mukanya
yang masih agak pucat disebabkan dia sudah kehilangan
banyak darah, ternyata dia sudah sembuh seluruhnya,
hingga hatinya menjadi girang sekali dan lalu berkata :
"Hiong Tee, kau ".."
Disaat itu dia melihat Lie Siauw Hiong sedang
menundukkan kepalanya, seakan-akan sedang memikirkan
sesuatu, hingga tidak terasa lagi dia menjadi heran dan lalu
bertanya : "Kau tengah memikirkan sesuatu bukan ?"
Lie Siauw Hiong lalu mengangkat mukanya yang pucat,
kemudian dengan suara yang rendah dia berkata : "Twako,
kau ".. kau memperlakukanku sungguh baik sekali, aku
Lie Siauw Hiong tengah memikirkan nasibku yang sangat
aneh, yaitu ada orang yang memperlakukan aku dengan
baik luar biasa sekali, tapi sebaliknya ada juga orang yang
memperlakukan diriku dengan kejam sekali. Oh ".. kau
lihatlah, bukankah aku ini sudah menjadi bodoh " Hari itu
sewaktu kau bersama-sama manusia yang harus mampus si
Kim Ie itu jatuh kedalam jurang, aku kira kau sudah habis,
aku sungguh sangat memikirkan kau ".."
Sebenarnya dia hendak mengatakan : "Aku sungguh
menangisi kau setengah harian", tapi buru-buru dia tahan
perkataan yang hendak dikeluarkannya itu.
Leng Hong tidak pernah menaruh perhatian sampai
disitu, maka diapun segera menuturkan kejadian aneh yang
pernah dijumpainya, dan tatkala bercerita sampai dibagian
yang aneh, saking girangnya, Siauw Hiong pun tak terasa
lagi jadi tertawa mengakak.
Setelah Leng Hong selesai bercerita, Lie Siauw Hiong
lalu tertawa sambil berkata : "Tentunya parasnya In Yaya
yang kau ceritakan itu sangat welas asih, bukan "
Dibelakang hari akupun pasti akan menjumpainya".
Leng Hongpun segera menyelak sambil berkata :
"Kaupun boleh segera menuturkan mengapa sampai kejalan
kau bertempur dengan sembilan jago dari Kwan Tiong itu.
Andaikata kau tidak memperoleh obatnya In Yaya, saat ini
dikuatirkan ".."
Sambil tertawa dingin Lie Siauw Hiong lalu berkata :
"Sembilan jago dari Kwan Tiong itu yang memperoleh
julukan tersebut, sesungguhnya tidak memalukan, karena
mereka beraninya hanya bertempur dengan mengandalkan
jumlah yang banyak saja. Lain waktu bila aku menjumpai
mereka kembali, hmm ".."
Kemudian diapun menceritakan halnya dia bertempur
dengan Kouw-loo-it-koay, sehingga ia telah kehilangan
pedang Bwee-hiang-kiamnya dan bertemu dengan sembilan
jago dari Kwan Tiong, yang satu persatu lalu dituturkannya
dengan secara jelas sekali.
Sambil tertawa Leng Hong berkata : "Hiong Tee, aku
mengucapkan selamat kepadamu, karena kau sudah
memperoleh julukan 'Bwee-hiang-sin-kiam'
yang tampaknya begitu mentereng sekali !"
Sambil menghela napas Lie Siauw Hiong lalu berkata :
"Tapi sayang sekali pedang Bwee-hiang-kiam telah dicuri
orang, tunggulah setelah kesehatanku pulih kembali, aku
akan segera merebut digunung Kong Tong, Twako, kaupun
boleh ikut sekalian, untuk menebus hutang lamamu".
Pada keesokan harinya, kesehatannya Lie Siauw Hiong
telah sembuh seluruhnya, dia tengah bersemedi diatas
ranjangnya, tatkala Leng Hong menolak daun pintu dan
berjalan masuk.
Leng Hong melihat mukanya Lie Siauw Hiong sudah
sehat dan berwarna merah pula, suatu tanda bahwa
darahnya sudah kembali lagi, maka dengan perasaan heran
serta terkejut diapun berkata : "Obatnya In Yaya itu
sungguh luar biasa sekali mustajabnya. Hiong Tee yang
menderita luka demikian parahnya, lagi pula telah
kehilangan banyak sekali darah, hanya dalam waktu dua
hari saja, seluruh kesehatanmu sudah pulih kembali seperti
sediakala, maka aku sekarang nasihatkan kau untuk
beristirahat satu hari lagi saja supaya tidak terjadi sesuatu
yang tidak diinginkan kelak".
Begitulah mereka berdiam selama lima hari dalam kota
kecil tersebut, kemudian karena Lie Siauw Hiong memaksa
untuk pergi saja, maka apa boleh buat Leng Hongpun
mengiringi juga permintaannya.
Tapi sekonyong-konyong Lie Siauw Hiong berkata :
"Twako, sementara ini janganlah kita pergi dahulu ke Kong
Tong ".."
Dengan perasaan heran Leng Hong bertanya : "Kenapa
?" Lie Siauw Hiong menyahut : "Bukankah kita pernah
berjanji untuk menemui nona she Souw itu sekali lagi " Aku
pikir bangsat she Li itu sudah terang adalah orang partai
Kong Tong, maka sembarang waktu jika kita ingin
mencarinya, masakah kita takuti dia, dan sebaliknya diapun
masakah tidak berani menonjolkan kepalanya untuk
menyambut kedatangan kita " Oleh karena itu, bukankah
lebih baik bila kita terlebih dahulu bertandang ke Shoa Tang
untuk menjumpai nona Sauw disana ?"
Leng Hong yang begitu mendengar nama nona Souw
disebut Siauw Hiong, dengan segera otaknya terputar dan
dihadapannya seakan-akan lantas muncul wajah yang
cantik dari seorang dara, dan nona she Souw itu seolah-olah
tengah menatapkan matanya. Nona Sauw mirip seperti
matanya Ah Lan saja, tapi Ah Lan sudah kehilangan
pandangannya ".. aku pernah melihat dengan mata
kepalaku sendiri lirikan yang dilancarkan tempo hari oleh
nona Souw terhadapku, hal mana, teranglah sudah, bahwa
dia menunjukkan perasaan cintanya terhadapku, maka
selama beberapa hari belakangan ini, terlebih-lebih dalam
saat-saat menghadapi maut, aku lebih banyak terkenang
pada Ah Lan saja, sedangkan lain hal seakan-akan sudah
aku kesampingkan sama sekali. Apakah barangkali ".. aku
tidak menyukai nona Souw itu " Ah, matanya yang begitu
indah dan sayu waktu memandangku, sunguh membuat
aku tidak mudah melupakannya ".. Ah Leng Hong, kau
sekali-kali tidak mempermainkan orang ".."
Tapi diapun berpikir : "Dan sekarang, apakah aku harus
menemuinya atau tidak " Bila aku bertandang untuk
menjumpainya, apakah hal itu baik atau buruk " Hanya,
aku pernah menjanjikan kepadanya, bahwa aku akan
menjumpainya satu kali lagi. Sesungguhnya, aku tidak
boleh salah janji terhadap orang, terlebih-lebih terhadap
seorang dara seperti nona Souw itu". Oleh karena itu,
merekapun segera berangkatlah menuju ke Shoa Tang.
Para pedagang banyak sekali terdapat dalam kota kuno
itu, sedangkan took-toko terdapat berederet-deret disana-
sini. Pada pagi hari itu, ketika matahari menyinari jalanan
tersebut, terutama waktu sinar itu terjatuh diatas merek
took-toko tersebut, menambah semaraknya suasana disana.
Sayang sekali jalanan disitu kurang baik, dan karena
dasarnya terdiri dari tanah merah, maka pada waktu musim
kering itu bila ada kereta yang melalui jalan tersebut, lantas
saja menerbitkan abu yang bergulung-gulung dan lama
sekali baru buyar.
Gouw Leng Hong dan Lie Siauw Hiong dengan tergesa-
gesa mengejar perjalanan mereka untuk masuk kedalam
kota, karena bila mereka berjalan ayal-ayalan, pasti mereka
akan setengah pingsan karena menyedot terlampau banyak
abu, maka begitu sampai didalam kota, lalu mereka
mencari rumah makan, setelah masuk kerumah makan
tersebut, barulah mereka membersihkan debu pada baju
mereka, kemudian mereka duduk dan lalu memesan
makanan untuk sarapan pagi.
Setelah pelayan membawa sayur dan nasi, dia lalu
memandang pada kedua orang tamunya ini, dan tatkala
melihat Lie Siauw Hiong melototkan padanya, dia jadi
terkejut dan buru-buru pura-pura tenang sambil tertawa
dengan terpaksa dan berkata : "Apakah kalian berdua
datang kesini untuk memenuhi undangannya pemimpin Bu
Tong, Cek Yang Tojin ?"
Lie dan Gouw jadi tercengang sekali, hingga Lie Siauw
Hiong segera bertanya : "Kau bagaimana dapat berkenalan
dengan Cek Yang Tojin " Dan dia mengundang orang
untuk apakah ?"
Pelayan tersebut lalu menjawab : "Ternyata kalian
berdua masih belum mengetahui, urusan ini sangatlah
menggemparkan sekali "..."
Lie Siauw Hiong dengan tidak dapat menahan sabarnya
lagi lalu bertanya : "Urusan apakah yang menggemparkan
itu ?" Pelayan tersebut lalu menjawab : "Pada beberapa hari
ini, beribu-ribu pendekar pada memburu datang kesini, saya
dapat mengetahuinya oleh karena orang banyak pada
mempercakapkannya disini, bahwa Cek Yang Tojin
menyebar surat selebaran untuk mengundang orang-orang
gagah dan pendekar-pendekar datang kegunung Kwie San,
katanya ingin menyambut kedatangan dua orang asing.
Aku jadi heran dan bertanya dalam hati, masakah hanya
kedatangan dua orang asing saja mereka telah menggerakkan begitu banyak orang ?"
Pelayan tersebut sebenarnya sedang membanggakan
dirinya sendiri yang dapat bercerita pada para tamunya,
pada hal apa yang sesungguhnya diketahuinya adalah tidak
benar seluruhnya. Pada saat itu ketika dia ditanyakan oleh
Lie Siauw Hiong, buru-buru dia garuk-garuk kepalanya
yang tidak gatal, dia tidak dapat menjawab akan pertanyaan
yang diajukan tamunya ini. Bersamaan dengan itu,
sekonyong-konyong dari sebelah luar tampak berjalan
masuk seorang pendekar, buru-buru dia berteriak : "Aku
mendengar kabar tersebut dari orang itu, bila kalian ingin
mengetahui duduk perkara yang sejelas-jelasnya, silahkan
tanyakan saja orang itu". Sedangkan dia sendiri dengan
cepat lalu berjalan pergi.
Dan orang itu ketika mendengar perkataan si pelayan,
diapun menjadi tercengang sekali, dan tatkala melihat
kedua pemuda kita bersemangat gagah sekali, maka buru-
buru dia rangkapkan tangannya sambil berkata : "Tuan-tuan
mempunyai urusan apakah yang hendak ditanyakan
kepadaku ?"
Gouw Leng Hong pun buru-buru bangun berdiri, dan
dengan setiara menyimpang dia menyahut : "Kami tengah
memperbincangkan tentang kedua orang asing yang tidak
tahu diri itu ".."
Sementara orang itu yang menyangka bahwa kedua
pemuda ini tentunya mendapat juga undangan Cek Yang
Tojin, maka diapun berkata : "Benar, kali ini bila kita jatuh
ditangan mereka, maka pendekar-pendekar yang berada di
Tiong Goan jangan harap dapat mengangkat namanya lagi
kelak ".."
Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng Hong pura-pura sudah
mengetahuinya, sehingga mereka tidak menunjukkan
perasaan herannya, dan orang itu lalu melanjutkan
perkataannya : "Coba kau pikir, mereka menantang orang-
orang gagah diseluruh Tiong Goan yang dikepalai oleh
pemimpin persekutuan orang-orang gagah 'Kim-pek-sin-
hud', berikut Kim-pek-sin-hud sekali, selain dari itu,
merekapun sesumbar ingin menempur kelimabelas orang
yang paling terkemuka dalam kalangan persilatan di Tong
Goan. Dengan begitu, dimanalah kita sekalian dapat
menahan sabar lebih lama pula " Tapi karena melihat Cek
Yang Tojin berlaku begitu tergesa-gesa serta tegang sekali
tampaknya, maka teranglah sudah, bahwa lawan yang akan
dihadapi itu pasti mempunyai kepandaian yang luar biasa
sekali". Dalam hati Lie Siauw Hiong merasa sangat geram sekali,
tapi mulutnya hanya menjawab : "Kedua orang asing ini
pastilah dilahirkan ditempat yang liar, sehingga setelah
dewasa lalu menghina orang secara keterlaluan sekali !"
Kedua orang ini yang memangnya sangat cerdik, mereka
berlaku seperti juga orang yang menerima undangannya
Cek Yang Tojin, sehingga orang itu benar saja lalu berkata :
"Benar, kedua orang asing ini datang dari Thian Tiok
(India). Merekapun pernah mengatakan : "Mereka katanya
mendengar kabar, bahwa sepuluh tahun yang lampau di
Hoo Lok terdapat Gouw Ciauw In, dan yang satunya lagi
adalah Chit-biauw-sin-kun
Bwee San Bin, hanya disayangkan kedua orang ini kini sudah pada meninggal
dunia, bila tidak, merekapun pasti dapat merasakan betapa
enaknya makan kepalan mereka !"
Kedua orang yang mendengar keterangan begitu, dalam
hati mereka sangat marah sekali, maka setelah berkata-kata
tidak lama antaranya, merekapun meninggalkan rumah
makan tersebut setelah terlebih dahulu membereskan


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

rekening mereka.
Setibanya dijalanan Lie Siauw Hiong lalu berkata :
"Kedua orang asing ini sungguh temberang dan kurang ajar
sekali, marilah kita pergi kegunung Kwie San untuk
menyuruh mereka merasakan pedangnya Hoo-lok-it-kiam
dan Chit-biauw-sin-kun !"
Gouw Leng Hongpun menyahut : "Kita yang selama
beberapa hari ini selalu berjalan dijalan kecil dan sepi,
sampaikan kabar yang demikian pentingnya kita tidak
pernah mendengarnya". Begitulah mereka mengambil jalan
kejurusan gunung Kwie San.
Diatas gunung Kwie San berdiri sebuah kuil yang besar
dan megah sekali, itulah kuilnya partai Bu Tong Pay, pada
ruangan tengah kuil tersebut terdapat kurang lebih beberapa
ratus orang yang tengah ribut memperbincangkan tentang
kedua orang asing yang menantang pemimpin mereka
tersebut, diantara orang-orang yang diundang itu ada juga
yang mengambil jalan darat, dan begitulah kedua pemuda
kita lalu mencampurkan diri diantara orang banyak untuk
sama-sama naik keatas gunung.
Tapi kenyataannya adalah kedua orang asing itu tidak
pernah mengatakan bahwa mereka menantang kelimabelas
orang yang terpandai di Tiong Goan untuk menempur
mereka, hanya mereka benar telah menantang pada lima
ahli waris yang terkemuka itu, tapi Cek Yang Tojin dengan
cerdiknya lalu menarik sembilan jago dari Kwan Tiong
kedalam kelompoknya untuk bahu-membahu melawan
kedua orang asing tersebut.
Karena Cek Yang Tojin mengetahui juga bahwa jago
diperbatasan Hong Pek Yang telah membentuk golongan
tersendiri, dan andaikata diundangpun belum pasti dia akan
datang, oleh karena itu, menurut jalan pikirannya,
andaikata dia dapat menarik kesembilan jago dari Kwan
Tiong, kekuatannyapun sudah bertambah lebih kokoh. Tapi
dimanalah dia pernah menyangka, bahwa kesembilan jago
Kwan Tiong ini sudah dihajar kucar-kacir oleh Lie Siauw
Hiong. Kesembilan jago Kwan Tiong itu kini tinggal enam
orang saja, maka julukan sembilan jago dari Kwan Tiong
itupun sudah tidak tepat lagi, hingga baru tepat bila
dipanggil enam jago dari Kwan Tiong !
Kedatangannya Lie Siauw Hiong bersama saudaranya
keatas gunung tersebut, bukanlah bermaksud untuk
memberi bantuan pada kelima ahliwaris partai-partai
terkemuka itu, tapi karena mendongkol bahwa dua orang
asing itu sudah melakukan penghinaan kepada para
pendekar pada umumnya, dan pada ahli-ahli silat Tiong
Goan pada khususnya, maka itulah mereka berdua telah
datang juga, supaya bila ada kesempatan baik, diapun
hendak menyelesaikan hutang lamanya.
Tidak lama antaranya, merekapun telah sampai
diruangan Bu-wie-thia, dimana Lie Siauw Hiong yang
bermata awas, sudah lantas melihat pada Cek Yang Tojin,
Kouw Am Siang Jin dan Cia Tiang Kheng, tapi dia belum
menampak Li Gok yang telah mencuri pedang Bwee-hiang-
kiamnya. Gouw dan Lie kedua pemuda kita yang bercampuran
diantara pendekar-pendekar, mereka menampak orang
banyak tengah sibuk mengurus kepentingan sendiri-sendiri,
sehingga tidak ada orang yang memperhatikan mereka,
kemudian barulah Lie Siauw Hiong berkata : "Twako,
barusan diwaktu kita naik keatas gunung, apakah tidak
melihat bayangan sesosok tubuh manusia yang dengan
pesatnya melesat naik keatas gunung ?"
Leng Hong menjawab : "Benar, aku yang melihat orang
itu, akupun mengetahui, bahwa orang tersebut mempunyai
ilmu Keng-sin-keng yang cukup tinggi maka barusan karena
tidak leluasa bercakap-cakap,
aku belum sempat mengutarakan penglihatanku kepadamu".
Lie Siauw Hiong dengan suara yang perlahan berkata :
"Aku lihat orang tersebut adalah 'Bu-lim-cie-siu' .."
Leng Hong yang mendengar perkataan kawannya ini,
diapun segera mengingat ceritanya, ketika dia diserang oleh
mereka, yaitu orang yang sedang dipercakapkan sekarang
bersama sipendeta yang menyerang secara sekonyong-
konyong dan aneh, hingga dalam hati dia berkata : "Tidak
heran bila orang itu dapat bertanding dengan serunya
dengan Hiong Tee, karena kelihatan jelas diapun
mempunyai kepandaian yang berarti juga, dan mungkinkah
orang ini pun adalah orang undangannya Cek Yag Tojin
juga ?" Dia yang sesudah makan buah yang mujijat itu, ilmu
Keng-sin-kangnya maju sangat pesat sekali, ditengah jalan
dia telah mengadu lari dengan Lie Siauw Hiong, Lie Siauw
Hiong yang menggunakan 'Am-eng-pu-hiangnya, ternyata
tidak jauh terpautnya.
Sekonyong-konyong satu pendeta muda agaknya murid
partai Bu Tong lalu menghampiri Cek Yang sambil berkata-
kata, tidak lama antaranya muka Cek Yang Tojin tampak
berubah, kemudian berdiri dan dengan suaranya yang
nyaring dia berseru : "Para hadirin diminta supaya tenang
.." Tenaga dalamnya sungguh hebat sekali, karena suara
yang dikeluarkannya itu bukan main nyaring dan dapat
menindih suara orang banyak, yang dengan segera berhenti
bercakap-cakap sehingga suasana menjadi hening sekali.
Setelah itu, diapun melanjutkan perkataannya : "Kedua
orang asing ini akan segera sampai .."
Keadaan diruangan Bu-wie-thia segera hening, Cek Yang
Tojin segera mengulapkan tanganya dan pinta besar itu
segera dipentangkan oleh dua murid pendeta dari partai Bu
Tong, kemudian berjalan masuk kedua orang asing tersebut,
yang berjalan dimuka kurang lebih tingginya mencapai satu
tombak, sedangkan yang berjalan dibelakangnya adalah
pemuda tampan, lebih muda dan mukanya putih sekali
karena tidak bermisai.
Orang yang berjalan masuk duluan ini memakai pakaian
yang sembarangan saja, kepalanya gundul lenang, begitu
dia masuk, lantas orang-orang yang berada dalam ruangan
tersebut pada memasang matanya menatap kepadanya,
begitupun dia sendiri masuk kesitu dengan matanya tampak
jelalatan, seakan-akan ada barang yang hendak dicarinya,
tapi setelah dia melihat keempat penjuru, sekonyong-
konyong mukanya mengunjukkan perasaan kecewa, lantas
dia balikkan kepalanya memandang pada kawannya yang
berjalan dibelakangnya, yang berdandan sebagai anak
sekolahan sambil berkata-kata yang tidak dimengerti oleh
orang banyak. Suaranya seperti gembreng pecah dan sangat memekakkan kuping orang banyak, hingga mereka hanya
merasakan kuping mereka pedih karena suara itu
mengaung-aung tidak henti-hentinya, setelah lama barulah
suara itu lenyap.
Pemuda yang berdandan sebagai anak sekolahan itu lalu
menunjuk kemuka, yang maksudnya mungkin menyuruh
kawannya untuk mencari dahulu dengan lebih teliti. Setelah
itu, benar saja ia lalu menerobos diantara orang banyak.
Dia menubruk ketimur dan melanggar kebarat, sehingga
orang yang kena diseruduknya bila tidak jatuh celentang,
kebanyakan pada berteriak-teriak karena kesakitan. Si
pemuda itu seperti juga tidak menganggap perbuatannya itu
disengajanya, maka dia terus berusaha mencari lawan yang
hendak ditantangnya.
Setelah ia berjalan didekatnya Gouw Leng Hon, diam-
diam Leng Hong mengeluarkan suara jengekannya,
kemudian dengan kuat dia memasang besinya, maka waktu
orang asing itu berjalan menghampiri dan menubruknya,
dia rasakan badannya seperi juga beradu dengan kapas saja,
hingga diam-diam dia merasa tercengang sekali. Tapi ketika
baru saja dia ingin menarik tenaga tubrukannya, tiba-tiba
dia rasakan ada tenaga yang tidak kelihatan menolak
dirinya, dan dengan mengeluarkan teriakan aneh dan suara
yang memecah anak telinga, buru-buru dia bentangkan
sepasang tinjunya utuk memecahkan tenaga yang tidak
kelihatan itu, kemudian barulah dia dapat berdiri dengan
tegak lurus. Tapi matanya membelalak memandang kearah
Gouw Leng Hong.
(Oo-dwkz-oO) Jilid 31 Lie Siauw Hiong yang menyaksikan dari samping,
diapun mengetahui bahwa Twakonya telah mengunakan
jurus dari partai Thay Khek, yaitu dengan kelembekan
melawan kekerasan, dalam hatinya dia tengah bergirang
untuk saudaranya, sehingga tanpa terasa lagi dia lalu
berteriak memuji saudaranya.
Leng Hong lalu menolehkan kepalanya memandang
pada Lie Siauw Hiong sambil tersenyum, yang juga segera
dibalas oleh senyuman sipemuda she Lie.
Orang asing yang berpakaian sebagai anak sekolahan
tadi sambil tertawa lalu berkata : "Tak disangka bahwa
didaerah Tiong Goan terdapat seorang seperti kau". Dan
bahasa Han yang diucapkannya itu sungguh sangat lancar
sekali. Pada waktu pandangan matanya itu terjatuh pada
mukanya Gouw Leng Hong, tidak terasa lagi dia merasa
sangat tercengang, hingga diam-diam dia berkata pada
dirinya sendiri : "Tidak disangka di Tiong Goan terdapat
seorang pemuda yang demikian tampannya". Karena
sesungguhnya juga didaerahnya sendiri tidak ada orang
yang setampan pemuda kita itu.
Kemudian ia menggapaikan tangannya pada kawannya
yang agak kasar itu sambil berkata dengan suara yang keras
: "Kami dua sudara sangat mengagumi kepandaian orang-
orang didaerah Tiong Goan, hari ini kalian para pendekar
sudah pada berkumpul disini, sungguh merupakan
kesempatan yang sangat baik untuk kami membuka mata
kami lebar-lebar, berbareng dengan itu kami menginginkan
dua kali pertempuran, asalkan saja kami mengalami
kekalahan satu kali saja, kamipun akan segera kembali
kenegeriku sendiri, tapi jika misalnya kami memenangkan
kedua-dua pertandingan tersebut, hahaha, omongan yang
akan kami maksudkan itu sudah kami jelaskan pada Cek
Yang Tojin .."
Para pendekar yang mendengar perkataan kedua orang
asing itu tak ada seorangpun yang tidak merasa geram,
hanya disayangkan bahwa kedua orang asing ini
sesungguhnya memiliki kepandaian yang tinggi sekali, bila
tidak, mana berani mereka membuka mulut besar.
Lalu Cek Yang Tojin menoleh pada rekannya Kouw Am
Siangjin yang duduk disampingnya bersama Cia Tiang
Kheng sambil berkata : "Hari ini adalah kita lima ahliwaris
sedang mempertaruhkan nama baik kita sekalian, bila kita
kalah, .. ai, tak usah dikatakan lagi sudah !"
Cek Yang Tojin memikirkan perjalanan hidupnya yang
tak terlampau gemilang, karena dia pernah membuat
sesuatu yang tidak diperkenankan oleh peraturan kalangan
Kang-ouw, dan diapun berpikir dengan. sangsi, apakah
nama baiknya partai Bu Tong akan terputus sampai hari ini
saja " Kouw Am dengan suara perlahan lalu menyebutkan
perkataan mengenai kaum Budhis, lalu diapun berkata :
"Mungkin sekali hari ini kita harus mengorbankan tulang-
tulang kita yang sudah tua ini untuk melangsungkan
pertempuran yang menentukan, .."
Sedangkan ahliwaris partai Tiam Cong, yaitu Liok-eng-
kiam Cia Tiang Kheng tampak bersungguh-sungguh,
seakan-akan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya,
sehingga dia tidak turut campur mulut.
Cek Yang Tojin lalu berkata pula : "Li Heng mengapa
belum datang juga " Bila tidak, pasti sekali dengan
pedangnya itu kita akan dapat menundukkan kedua orang
bangsa asing ini".
Lalu pemuda yang berpakaian sebagai anak sekolahan
itu berteriak dengan suara yang keras sekali : "Pertempuran
pertama adalah suhengku Katar yang akan maju. Pendekar
Tiong Goan manakah yang akan melayaninya ?"
Dia yang memang mempunyai tenaga-dalam yang hebat
sekali, setiap kali mengucapkan kata-kata, genteng-genteng
diatas kepala mereka sekalian dirasakan bergetar, hingga
para pendekar yang menyaksikan demikian, dalam hati
mereka sependapat, bahwa suteenya orang kasar ini jauh
lebih tinggi kepandaiannya.
Cek Yang Tootiang yang akhirnya mendapatkan bahwa
Li Giok benar saja tidak muncul, hatinya menjadi sangat
gugup sekali, hingga diapun tidak enak untuk menyuruh
Kouw Am keluar melayani lawanya, maka dalam
kegugupannya diapun sudah hendak bersiap-siap untuk
keluar sendiri saja ..
Tapi Kouw Am yang melihatnya, buru-buru menarik
pakaiannya, dengan suara yang perlahan dia berkata :
"Biarlah Loo-lap saja yang menempurnya, kau bersama Cia
Hian-tit boleh mengatur barisan dengan sempurna .."
Dia yang pernah bersama-sama ayahnya mendapat
nama, maka dia bahasakan Cia Tiang Kheng dengan
sebutan Cia Hiantit saja.
Cek Yang Tootiang lalu memesannya pula :

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Pertempuran ini bukanlah kecil akibatnya, Siangjin tidak
boleh menaruh belas kasihan terhadapnya".
Kouw Am tidak menjawab perkataan rekanya, hanya
dengan tindakan yang tenang sekali dia lalu berjalan masuk
kerunangan tengah itu sambil berkata : "Pinceng Kouw Am
Siangjin ingin meminta pengajaran darimu".
Sekalipun suaranya sangat perlahan tapi nyaring sekali
kedengarannya, dan hal itu terang menunjukkan tenaga-
dalamnya yang cukup sempurna.
Orang tinggi besar itu ketika melihat Kouw Am Siangjin
maju menantangnya, buru-buru dia balikkan badannya
bertanya pada suteenya dalam bahasa yang hanya
dimengerti oleh mereka berdua.
Adik seperguruannya itupun lalu memandang pada
Kouw Am sebentaran sambil goyangkan kepalanya dan
menjawabnya dengan kata-kata yang sukar dimengerti oleh
orang banyak. Orang asing itu menunjukkan perasaan kecewanya.
Orang banyak hanya dapat mengerti dua perkataan saja,
yaitu 'Go-bie', maka orang hanya dapat mengira, bahwa
orang kasar ini tentunya menanyakan pada adik
seperguruannya, bagaimana baiknya akan ia meladeni
paderi tua itu.
Para hadirin menginsyafi bahwa pertempuran sekali ini
erat sekali sangkut pautnya
dengan masa depan perkembangan rimba persilatan, oleh karena itu, mereka
semuanya memasang mata dengan tajam sekali, dan setiap
hadirin mendoakan agar pertempuran ini dapat dimenangkan oleh Kouw Am, sekalipun benar diantara
mereka ada yang pernah bentrok dengan salah satu
ahliwaris tersebut, tapi kini dalam saat-saat menghadapi
musuh dari luar, mereka dapat menyampingkan pertentangan lama untuk menggalang persatuan yang
kokoh dan kuat diantara bangsa mereka sendiri. Oleh
karena itu, mereka mengharapkan dengan sangat agar
Kouw Amlah yang dapat memenangkan pertempuran ini
dengan segera. Setelah Kouw Am berdiri dihadapan lawanya, lalu dia
memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangannya,
kemudian sepasang matanya ditujukan pada lawannya
untuk memperhatikan pergerakan selanjutnya dari sang
lawan ini. Katar tanpa banyak cingcong lagi lalu memukul pada
Kouw Am Siangjin, hingga angin kepalannya sudah
mendahului sampai sebelum kepalannya itu mampir pada
tubuhnya Kouw Am.
Kouw Am sekali lihat diapun mengetahui, bahwa
lawannya in adalah ahli gwakee (ahli luar), tapi tenaga yang
sebesar ini jarang sekali dapat dijumpainya dalam kalangan
Kang-ouw. Diantara kelima ahliwaris itu, Kouw Am adalah yang
paling sempurna ilmu tenaga-dalamnya, maka dalam
perjalanan hidupnya ini, entah sudah berapa ratus kali dia
pernah melangsungkan pertempuran besar dan kecil, tapi
tenaga besar seperti yang dimiliki oleh Katar ini barulah
untuk pertama kalinya dia menjumpainya, tapi meski
demikian, badannya tidak bergerak untuk mengelakkan
pukulan itu, selain tangannya saja diulurkan untuk menotok
sambungan tangan dari lawanya, dimana letaknya jalan
darah 'Kim-tay-hiat'.
Sekalipun tampaknya Katar sangat kasar, tapi pergerakkannya adalah gesit sekali, dengan cepat dia
menangkis serangannya Kouw Am. Dan sambil menggereng keras, ia menangkis dan Kouw Am rasakan
sepasang lenganya tergetar, buru-buru dia mundur setengah
langkah, untuk mengurangi daya serangan lawanya ini,
sedang didalam hatinya, dia merasa terkejut sekali.
Jangankan Kouw Am, sampaikan Lie Siauw Hiong dan
Gouw Leng Hong yang menyaksikan dari samping, turut
juga merasa terkejut, hingga diam-diam Lie Siauw Hiong
berkata : "Orang barbar ini teranglah adalah ahli luar, tapi
mengapakah dalam kehebatan serangannya ini, mengandung juga tipu yang aneh sekali " Begitu dia dapat
menyatukan serangannya itu, tenaganya pasti akan menjadi
sangat luar biasa sekali, maka tidaklah mengherankan bila
ada orang yang mengatakan, bahwa orang asingpun
mempunyai kepandaian yang berbeda jauh sekali dengan
orang-orang didaerah Tiong Goan, dan hal ini ternyata ada
juga kebenarannya".
Gouw Leng Hong dengan suara yang perlahan lalu
berkata pada Lie Siauw Hiong : "Kepandaian orang asing
ini sungguh aneh sekali, aku kuatirkan bahwa Kouw Am
tidak akan dapat melayaninya sampai seratus jurus".
Sedangkan diseberang sana, yaitu sipemuda kasar itu,
tidak henti-hentinya melancarkan seranganya yang sangat
hehat disertai angin yang menderu-deru, setiap kali dia
melancarkan serangannya, selalu dia berteriak dengan
suaranya yang keras dan menulikan anak telinga orang
banyak. Sedangkan Kouw Am sendiri dalam hatinya berpikir :
"Untuk melayani orang ini, aku harus mengandalkan
tenaga-dalamku saja, karena dengan tenaga-dalamku ini
aku dapat mengambil inisiatip terlebih dahulu". Begitulah
setelah mengambil ketetapan yang pasti, diapun lalu
berteriak panjang, kemudian sepasang tangannya lalu
dibentangkan dalam jurus 'Ceng-song-kun-hoat' untuk
menyerang lawannya.
Dia yang memang menang pengalaman, setelah
menukar cara bersilatnya ini, kemudian kedua orang ini
dapat bertempur dengan berimbang dan sulit diterka siapa
yang akan menang dan siapa pula yang akan kalah.
Dalam pada itu diam-diam Lie Siauw Hiong berkata
didalam hatinya : "Hanya pengalaman ini serta pandangan
yang tajam untuk mengubah cara-cara bersilat yang sukar
dipetik, bila kita belum sampai ketaraf seperti yang
dimilikinya".
Sebaliknya Katar tidak pernah menyangka, bahwa di
Tiong Goan terdapat orang-orang kuat juga, semakin
bertempur dia merasa semakin senang saja, dan hal itu
terlihat pada senyuman dimukanya. Disamping itu,
serangan-serangna
yang dilancarkannyapun
menjadi semakin hebat juga, sedangkan teriakan-teriakannya
semakin gencar.
Sedangkan Kouw Am sendiri tetap dengan tenangnya
melayani lawannya, dan dengan pengalamannya yang
bertahun-tahun itu dia berusaha untuk lebih mengungguli
lawannya, tapi sampai saat itu dia belum juga menunjukkan
tanda-tanda akan memperoleh kemenangan yang pasti, oleh
karena itu, hatinyapun menjadi agak gugup juga.
Sementara Cek Yang Tojin dilain pihak berkata didalam
hatinya dengan perasaan heran : "Bangsa barbar ini hebat
sekali permainan pukulan, untung sekali aku belum turun
kegelanggang tadi, jika tidak .. sungguh sukar diduga,
karena diantara kita berlima, hanya Kouw Am sendiri yang
masih ada kemungkinan dapat bertahan, .." Tampaknya
memang Cek Yang Tojin bersama Li Gok lebih unggul
dalam permainan pedangnya, jika dibandingkan dengan
bertempur dengan hanya menggunakan tangan kosong.
Sedangkan pemuda yang berdandan sebagai anak
sekolahan itu, dengan matanya yang tajam, terus dia
mengincar pada pendekar-pendekar disekelilingnya, tapi
terhadap pertempuran itu sendiri dia tidak hiraukan sama
sekali, karena mungkin siang-siang dia sudah yakin yang
kemenangan pasti akan jatuh dipihaknya.
Dan ketika pertempuran itu tepat sampai dijurus
keseratus. Katar berseru keras dengan teriakannya yang
aneh, yang mungkin juga dalam bahasa Han sama artinya
dengan kata-kata 'Kena' ..
Karena sesunguhnyalah pukulannya sekali ini agak
diluar dugaan orang, dan didepan pandangan orang
banyak, benar saja Kouw Am tidak dapat lagi menguasai
keadaan .. Tapi dengan pengalamannya yang berpuluh-puluh tahun
lamanya itu dan dengan menggunakan tipu 'Sin-heng-cong-
pouw', suatu gerakan kaki yang sebat dari jurus partai Go
Bie, akhirnya diapun masih dapat menghindarkan dirinya
dari serangan lawannya itu.
Katar berhenti sebentar, kemudian sambil mengeluarkan
suara 'ihhh' lalu diapun melancarkan serangannya lagi.
Kouw Am berulang-ualng mundur, karena siasat itu
dapat dipergunakan untuk menghindarkan dirinya dari
serangan aneh lawannya. Kemudian lagi-lagi Katar
mengeluarkan suara 'ihhh' dan dengan cepat diapun
melancarkan serangan-serangannya kembali ..
Dengan berturut-turut tiga kali dia melancarkan
serangannya, seakan-akan Kouw Am mengetahui bahwa
dirinya pasti akan mengalami kekalahan yang memalukan
ditangannya bangsa asing ini, maka tidak terasa lagi dalam
gugupnya dia menjadi marah, tapi sesungguhnya serangannya Katar keliwat aneh, jangankan untuk
menyerang lawannya, sampaikan untuk membela diri saja
sudah merupakan suatu soal yang sulit sekali.
Kira-kira pada jurus keseratus sepuluh, lagi-lagi Katar
mengeluarkan suara 'ihhh' lagi. Sambil melancarkan
pukulannya, kini kakinyapun tidak tinggal diam, hanya
dengan lekas disapukan pada lawannya dengan tiga kali
tendangan berantai, hingga Kouw Am dengan mati-matian
membela dirinya. Sekalipun dia masih dapat mengelitkan
dirinya, tapi tidak urung bajunya sobek sebagian besar kena
pukulan lawannya itu.
Para pendekar berseru dengan kaget, tapi segera
kesunyian kembali menguasai keadaan, seluruh hati para
hadirin merasa berat sekali menyaksikan pertempuran itu.
Kouw Am tampak mukanya menjadi biru dan dengan
suara putus asa dia berkata : "Dalam pertempuran sekali ini,
rupanya aku harus mengakui kalah .."
Katar tidak paham bahasa Han, tapi waktu mendengar
para hadirin pada berteriak, dia mengira bahwa Kouw Am
merasa tidak puas, maka saking marahnya dia berteriak-
teriak, sambil mengumpulkan seluruh kekuatannya pada
tanganya dan sudah bersiap-siap untuk memukul kembali
pada hweeshio tua itu.
Dalam suasana kekalahan yang pahit sekali dirasakan
bagi Kouw Am ini, semangatnya belum lagi terpusatkan,
tapi setelah dia merasa lawannya menyerang kembali,
diapun sudah tidak dapat berkelit lagi, didepan pandangan
orang banyak dengan jurus yang hebat dilancarkan oleh
Katar ini sudah hampir sampai pada tubuhnya Kouw Am
"... Para hadirin merasa geram sekali, entah mereka memaki
atau mengucapkan perkataan apa ..
Justru dalam keadaan yang sangat genting ini,
sekonyong-konyong terdengar suara "Dak !" yang sangat
nyaring sekali, dan ternyata pintu ruangan tengah kena
ditendang orang, dari mana tampak melayang tubuh
seseorang yang lantas menyerang pada Katar.
Dengan satu kali beradunya pukulan kedua orang ini,
ternyata Katar kena dibikin mundur sejauh dua langkah,
sedangkan orang itu dengan menggunakan tenaga
beradunya kedua kepalan itu, lalu melompat sejauh
beberapa puluh tombak dan berdiri didekat tembok.
Waktu orang banyak memandang padanya, ternyata
orang itu adalah seorang pemuda, yang diantara para
hadirin masih banyak yang asing terhadapnya, tapi
diantaranya ada juga orang-orang yang mengenalinya dan
lalu mereka pada berteriak : "Bu-lim-cie-siu !"
Orang yang mendatangi ini benarlah seorang yang baru
saja tenar namanya dikalangan Kang-ouw, yaitu Bu-lim-cie-
siu Sun Ie Tiong !
Orang banyak lalu pada berteriak kegirangan, sekalipun
pertempuran pertama kekalahan ada dipihak mereka, tapi
sekarang dibawah pembelaan Sun Ie Tiong, mereka merasa
yakin bahwa kekalahan itu pasti akan tertebus.
Sedangkan orang-orang yang tidak kenal pada Sun Ie


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tiong lalu pada berbisik-bisik mempercakapkan pemuda
itu, karena merekapun agaknya merasa diluar dugaan
mereka bahwa pemuda itu mempunyai tenaga yang begitu
kuat sekali, dan ternyata pemuda yang masih sangat muda
belia ini sudah berhasil memiliki kepandaian setinggi itu,
tapi umurnya masih sangat muda sekali.
Gouw Leng Hong belum pernah berjumpa dengan Sun
Ie Tiong, maka dengan perlahan dia berbisik pada Lie
Siauw Hiong : "Bu-lim-cie-siu ini ternyata mempunyai
tenaga yang luar biasa sekali !"
Sehabis berkata begitu, entah dengan menggunakan tipu
apa, tahu-tahu badannya sudah melayang sejauh tujuh
tombak lebih dan tepat berada ditengah-tengah ruangan itu,
waktu kakinya menginjak lantai ternyata tidak menerbitkan
suara apa-apa, sehingga tampaknya seperti jatuhnya daun
kering saja, tapi setelah dia mengangkat kakinya satu
langkah, lantai yang diinjaknya tadi meninggalkan bekas
tapak kaki sedalam dua setengah dim!
Orang banyak yang menyaksikannya, tidak terasa lagi
jadi pada mengeluarkan teriakan terkejut, hingga tidak ada
seorangpun yang berani maju untuk melawannya. Cek
Yang Totiang dan Cia Tiang Kheng yang melihatnya,
merekapun jadi menggeleng-gelengkan kepala saja.
Jangankan mereka, sampaikan Lie Siauw Hiong
sendiripun belum pasti dapat melakukannya. Umurnya
Kinlungo ini kurang lebih baru tiga puluh tahun, entah dari
mana dia memiliki tenaga dalam sehebat demikian" Maka
sekarang tidak heranlah, bila dia berlaku begitu congkak.
Kinlungo dengan berturut-turut berteriak tiga kali, tapi
pendekar-pendekar Tiong Goan belum lagi ada yang
menampilkan diri untuk bertempur dengannya, maka tidak
terasa lagi dia telah menjadi semakin congkak saja, seakan-
akan tidak ada orang lagi yang akan dapat menundukkannya.
Lie Siauw Hiong yang melihatnya, semakin lama
semakin tidak puas, baru saja dia ingin maju kemuka,
ternyata sudah ada orang yang mendahuluinya sambil
berteriak: "Aku Sun Ie Tiong mohon pengajaran darimu!"
Sun Ie Tiong tadi setelah berhasil membikin mundur
pada Katar, kini dia sudah maju, tapi siapa sangka
Kinlungo dengan tertawa dingin lalu berkata: "Kau
bukanlah tandinganku yang setimpal !"
Lalu dilanjutkannya: "Kau bersama Katar barulah
merupakan lawan yang setimpal!"
Sun Ie Tiong sendiri merasa heran dan geram, diapun
mengetahui, bahwa dirinya bukanlah lawannya yang
setimpal, sekarang tanggung jawabnya berat sekali, maka
setelah berpikir sampai disitu, tiba-tiba dia merasa ragu-
ragu. Darah Lie Siauw Hiong menjadi berdidih, baru saja dia
hendak lompat kegelanggang pertempuran, sekonyong-
konyong terdengarlah satu suara yang lemah-lembut
berkata: "Bagus, bocah, akhirnya aku berhasil menjumpaimu, lekas turut aku pergi .."
Sekalipun suara itu sangat perlahan diucapkannya, tapi
tiap-tiap kata yang diucapkannya sangat jelas sekali
terdengarnya, karena suaranya itu sudah berhasil menindih
suara orang banyak, maka saking herannya, orang banyak
lalu menolehkan kepalanya memandang pada orang itu,
yang ternyata ada seorang tua yang rambutnya sudah putih
berdiri dibelakangnya Lie Siauw Hiong.
Muka orang tua ini tampak sangat merah, suatu tanda
bahwa kesehatannya sangat baik, mukanya menunjukkan
senyuman yang manis, orang banyak merasa asing sekali
terhadap orang tua ini, yang ternyata baru datang diruangan
itu tanpa diketahui oleh orang banyak.
Adalah sebaliknya bagi Lie Siauw Hiong, yang sudah
merasa sangat kegirangan, karena orang tua itu bukan lain
daripada pemimpin dari 'Tiga Dewa Diluar Dunia', yaitu
Peng Hoan Siang-jin adanya.
Peng Hoan Siangjin lalu berkata pula dengan separuh
memaksa: "Bocah, lekas turut aku pergi!"
Lie Siauw Hiong merasa aneh sekali, hingga dalam
hatinya dia berkata: "Kau mau menyuruh aku pergi
kemana?" Peng Hoan Siangjin yang melihat wajahnya Lie Siauw
Hiong, sekonyong-konyong berkata: "Jurus Tay-yan-sip-sek-
ku itu baru-baru ini aku sudah berhasil menciptakan satu
jurus yang baru lagi, kehebatannya luar biasa sekali, lekas
kau ikut aku untuk mempelajarinya."
Lie Siauw Hiong yang gemar sekali belajar, setelah
bertempur dengan sembilan jago dari Kwan Tiong, banyak
sekali tipu-tipu aneh dia sudah berhasil memainkannya
dengan sempurna. Maka setelah mendengar perkataan
orang tua itu, didalam hatinya menjadi gembira sekali.
Orang lain yang mendengarnyapun merasa aneh sekali,
karena mereka melihat mulutnya orang tua itu bergerak-
gerak tanpa mengeluarkan suara apa-apa. Karena dengan
ini ternyata, bahwa Peng Hoan Siangjin telah menggunakan
ilmu yang paling hebat untuk mengeluarkan suara dengan
kepandaian ilmu dalamnya, yaitu setiap kata-kata orang
banyak yang berkumpul disitu tidak mengetahuinya.
Tapi Lie Siauw Hiong dengan lantas memikirkan tentang
pertempuran ini yang belum lagi selesai, hingga diapun
segera berkata pada Peng Hoan Siangjin: "Boan-pwee mau
menunggu sampai pertempuran disini selesai dahulu, baru
.." Dengan gugup Peng Hoan Siangjin lantas berkata:
"Urusan disini ada apakah perlunya" Kau harus segera
mengikuti aku, bila tidak, maka aku situa bangka pasti akan
kalah dengan Hui Tay Su .."
Agaknya dia menginsyafi, bahwa dia ketelepasan
omong, maka buru-buru dia hentikan percakapannya, tapi
Lie Siauw Hiong merasa sangat tercengang memandang
wajah orang tua itu.
Orang banyak melihat mulutnya Peng Hoan Siangjin
bergerak-gerak, tapi tidak mengeluarkan suara, hingga tidak
terasa lagi mereka menjadi sangat heran dan tidak mengerti.
Peng Hoan Siangjin tampak sangat gugup sekali, hingga
diapun lupa untuk menggunakan ilmu 'mengirim suara
dengan tenaga dalamnya' pula dan dengan suara keras dia
berteriak: "Urusan disini ada apa sih perlunya?"
Sekarang barulah orang banyak mengerti apa yang
diperkatakan orang tua itu, tapi Kinlungo yang merasa
tidak sabaran terhadap pengacauan yang dilancarkan oleh
Peng Hoan Siangjin, buru-buru ia berkata dengan
dinginnya: "Tua bangka yang tidak tahu diri, mengapa kau
lancang mulut mengatakan yang tidak-tidak?"
Peng Hoan Siangjin entah sudah berapa tahun tidak ada
orang yang berani berkata begitu terhadapnya, maka tidak
terasa lagi saking herannya dia segera berkata: "Coba kau
katakan sekali lagi."
Orang banyak yang melihat muka si Hweeshio yang lucu
itu, tidak terasa lagi jadi pada tertawa bergelak-gelak,
hingga Kinlungo dengan marah lalu berkata: "Aku
mengatakan kau situa bangka tidak perlu mengucapkan
yang tidak-tidak dan kau lekas enyah dari hadapanku!"
Peng Hoan Siangjin lalu menyahut: "Aku situa bangka
seolah-olah melihat kau seperti juga mempunyai urusan
penting sesuatu agaknya. Cobalah kau terangkan kepadaku!"
Pada saat itu juga ada orang yang berteriak dengan
perasaan heran: "Kalian lihat, kalian tengok!"
Para hadirin lalu melihat, dan mereka serentak berteriak,
ternyata bekas telapak kaki Kinlungo diatas jubin sudah
tidak tampak lagi bekas-bekasnya!
Peng Hoan Siangjin tersenyum saja, sedangkan satu
patah katapun dia tidak ucapkan.
Orang banyak sekalipun tidak mengetahui kepandaian
apakah itu, tapi mereka tahu, jika dibandingkan dengan
ilmunya Kinlungo tadi, entah lebih sukar berapa kali lipat.
Kinlungo merasa terkejut sekali didalam hatinya,
sehingga dia berpikir: "Sekali ini habis dah, tidak disangka
didaerah Tiong Goan terdapat seorang yang tinggi sekali
ilmu kepandaiannya, karena dengan ini, teranglah sudah,
bahwa dia mencapai tingkat yang tertinggi sekali!"
Tapi dia adalah orang yang sangat licik sekali, begitu
hatinya tergerak, diam-diam dia berkata: "Melihat
umurnya, teranglah sudah lanjut sekali, baiklah aku coba
memujinya."
Dalam pada itu segera dia ubah perkataannya: "Tadi aku
telah mengucapkan perkataan yang kasar sekali, mobon
Cian-pwee sudi memaafkan hendaknya, aku bersama
Suhengku datang kesini adalah menerima tugas Suhu yang
sangat mengagumi kepandaiannya orang-orang di Tiong
Goan, Suhengku dengan pendekar-pendekar disini telah
menetapkan janji, yaitu .."
Orang banyak yang mendengar omongan itu merasa
tercengang sekali, hingga dalam hati mereka berpikir:
"Kedua orang asing ini sudah sukar diganggu, ternyata
mereka masih mempunyai guru juga!"
Peng Hoan Siangjin dengan tetap tertawa lalu menjawab:
"Ternyata kalian sedang bertempur, hal itu baik sekali,
lekaslah kau lakukan untuk aku menyaksikannya!"
Kinlungo girang tidak kepalang dan lalu berkata: "Bila
demikian silahkan Loo-cian-pwee memberi petunjuk-
petunjuknya .." Tapi dalam hati dia berkata: "Dengan
begitu situa bangka terang tidak enak hati untuk turut
campur tangan, asalkan saja aku menangkan pertempuran
sekali ini, maka urusankupun sudah bereslah."
Dalam pada itu, lalu dia menantang kembali pada orang
banyak, tapi sampaikan Cek Yang Totiang sendiri tidak
berani menyambuti tantangannya.
Sedangkan Bu-lim-cie-siu kelihatan menundukkan kepalanya, tampaknya dia tengah tenggelam dalam
pikirannya sendiri.
Lie Siauw Hiong merasa berat untuk meninggalkan
tempat itu, tapi ketika baru saja dia hendak berangkat,
Gouw Leng Hong sudah bertanya dengan suara yang
perlahan: "Hiong Tee, apakah kau ingin bertempur
dengannya?"
Lie Siauw Hiong dengan pasti lalu menganggukkan
kepalanya, dengan suara yang perlahan Gouw Leng Hong
berkata pula: "Hiong Tee, biarlah aku saja yang mencoba-
coba .." Peng Hoan Siangjin lalu menggunakan 'mengirim suara
dengan tenaga-dalam' dan berkata pada Lie Siauw Hiong:
"Bocah, yakinkah kau akan memenangkan pertandingan
ini" Kepandaian bocah asing itu tinggi sekali!"
Dengan suara perlahan Lie Siauw Hiong berkata: "Boan-
pwee mengakui tidak menjadi lawannya yang setimpal .."
Dengan marah Peng Hoan Siangjin berkata: "Coba kau
katakan sekali lagi!"
Lie Siauw Hiong menjawab: "Boan-pwee merasa
mungkin sekali bukan lawannya yang setimpal."
Peng Hoan Siangjin lalu bertanya: "Aku situa bangka
bukankah pernah mengajarkan kau ilmu silat?"
Lie Siauw Hiong menjawab: "Boan-pwee sungguh
merasa berhutang budi sekali dan seumurku Boan-pwee
tidak dapat melupakannya."
Peng Hoan Siangjin berkata pula: "Hal ini memang
benar, kau terhitung sebagai setengah murid daripadaku,
coba kau pikirkan, masakah muridnya Peng Hoan Siangjin
tidak dapat melawan musuhnya?"
Lie Siauw Hiong tidak dapat menjawab pertanyaan
orang tua tersebut.
Peng Hoan Siangjin sekonyong-konyong terpikir akan
maksud sebenarnya tentang kedatangannya itu, maka
dengau tertawa dia lalu berkata lagi: "Bocah, aku lihat
semangatmu tambah bergolak-golak saja, tenaga- dalammupun jika dibandingkan dengan dipulau Siauw Ciap
Too sudah mengalami banyak kemajuannya. Coba kau
pukul aku dengan seluruh kekuatanmu, aku ingin
mengetahui kekuatanmu itu ada berapa ribu kati. Ingat, kau
harus menggunakan seluruh kekuatanmu!"
Lie Siauw Hiong tidak mengetahui apa maksudnya, tapi
satu hal dia rasa pasti sekali percobaan orang tua ini erat
hubungannya dengan Kinlungo, maka disaat itu juga dia
salurkan seluruh kekuatannya pada kedua tangannya, yang
kemudian lalu dipukulkan kepada orang tua itu.
Dengan mengeluarkan suara "Dak!" yang amat keras
sekali, ternyata pundaknya Peng Hoan Siangjin tergoyang,
hingga hampir saja dia tidak berhasil mempertahankan
dirinya, maka tidak terasa lagi dia lalu berteriak dengan
penuh kegirangan: "Bocah, boleh!"
Lie Siauw Hiong mengira yang dirinya dapat bertanding


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan Kinlungo dengan sama kuatnya, maka tidak terasa
lagi dia merasa sangat aneh.
Tapi yang paling merasa heran adalah para hadirin,
mereka tidak dapat mendengar perkataan-perkataan yang
diucapkan oleh Peng Hoan Siangjin, mereka hanya melihat
wajah Lie Siauw Hiong yang merasa tercengang agaknya,
dan waktu mereka lihat kedua orang ini melancarkan
percobaan tadi, mereka lebih-lebih tidak mengerti.
Siberangasan Katar tampak tidak sabaran sekali dan lalu
bertanya dalam bahasanya sendiri, yang maksudnya:
"Sutee, setan tua bangka ini sedang berbuat apakah?"
Peng Hoan Siangjin yang mengerti perkataan orang ini,
sudah tentu menjadi marah sekali dan lalu berkata dalam
bahasa Katar yang maksudnya: "Kau berani memaki aku si
orang tua, aku akan hajar padamu!"
Kinlungo buru-buru berkata dalam bahasa Han: "Loo-
cian-pwee, jangan marah, guruku pernah memesan
kepadanya, agar supaya jangan membuat kesalahan
terhadap para Loo-cian-pwee dari daerah Tiong Goan. Dia
adalah orang yang kurang pendidikan, Cian-pwee jangan
menghiraukannya."
Perkataan itu mengandung arti, bahwa Peng Hoan
Siangjin sebagai orang yang lebih tua, tidak boleh
menggencet terhadap yang lebih muda.
Peng Hoan Siangjin lalu menjawab: "Dia menghina aku
sebagai orang dari Tiong Goan dan tidak mengerti
bahasanya, maksudmu adalah aku sebagai orang tua
hendak menghina orang yang lebih muda, baik, baik,
bukankah tadi kau mengadakan tantangan" Aku segera
akan memanggil muridku untuk melayanimu!"
Kemudian diapun menggapaikan tangannya pada Lie
Siauw Hiong sambil berkata: "Bocah, mari, aku akan
memberi petunjuk kepadamu."
Lie Siauw Hiong tidak terasa lagi menjadi sangat girang
sekali, dia pun lalu menghampirinya. Peng Hoan Siangjin
lalu menggunakan ilmu 'mengirim suara dengan tenaga
dalamnya' memberitahukan kepada pemuda kita tentang
pelajaran baru yang dikatakannya tadi.
Lie Siauw Hiong yang mendengarnya, hatinya menjadi
berdebar-debar, karena sesungguhnyalah, bahwa pelajaran
yang diberikan sekali ini adalah pelajaran baru yang sangat
hebat sekali, malahan jika dibandingkan dengan sepuluh
jurus yang dulu itu, kekuatannya jauh melebihi beberapa
kali lipat. Siapa tahu baru saja dia pelajari setengahnya,
sekonyong-konyong Peng Hoan Siangjin berkata: "Ada
orang yang mencuri dengar pelajaran kita ini. Aku orang
tua memberitahukan kepadanya, aku ingin lihat apakah dia
mempunyai kesabaran sepertimu!"
Benar saja mukanya Kinlungo menjadi merah, karena
sesungguhnyalah dia telah menggunakan tenaga-dalamnya
yang paling tinggi untuk melenyapkan suara disekelilingnya
dan dapat mendengar pelajaran yang diberikan orang tua
itu pada Lie Siauw Hiong, tapi siapa tahu, dengan satu kali
tunjuk saja rahasianya sudah dipecahkan oleh Peng Hoan
Siangjin. Kemudian Peng Hoan Siangjin dengan secara terang-
terangan memberikan pelajaran yang separuhnya lagi pada
Lie Siauw Hiong, sekalipun tiap-tiap orang dapat
mendengarnya dengan terang, tapi mereka tidak mengerti
apa faedahnya, hingga Lie Siauw Hiong yang mendengarnya menjadi girang sekali, maka dengan sangat
hati-hati dia ingat seluruh pelajaran yang baru diperolehnya
itu. Setelah pelajaran itu selesai diberikan, Peng Hoan
Siangjin lalu berkata: "Bocah, baik-baiklah kau bertempur,
ya." Sekalipun Kinlungo mengetahui ilmu Peng Hoan
Siangjin sangat tinggi sekali, tapi dia tidak percaya bila dia
tidak berhasil mengalahkan Lie Siauw Hiong, oleh karena
itu, dengan tandas dia berkata: "Kita bertempur dengan
menggunakan senjata tajam atau dengan tinju saja?"
Lie Siauw Hiong yang bertabiat sangat sabar itu, tatkala
melihat tingkah laku Kinlungo yang temberang itu, dia
tidak melayaninya, kemudian dia cabut pedangnya,
kemudian dengan mengeluarkan suara yang nyaring sekali,
dia lalu menusuk lawannya.
Kinlungo tidak pernah mendengar bahwa orang didaerah
Tiong Goan ada yang tidak tahu aturan sama sekali, tidak
terasa lagi dia menjadi marah sekali, maka dengan cepat
diapun menarik keluar juan-so (tali lemas).
Orang banyak yang melihat Lie Siauw Hiong keluar
melayani lawannya, mereka lalu pada memperbincangkan
soal itu, entah dari mana merekapun segera mengetahui,
bahwa pemuda kita ini adalah orang yang belum lama
pernah mengalahkan Kouw-loo-it-koay, yaitu 'Bwee-hiang-
sin-kiam' Lie Siauw Hiong adanya, hingga mereka lalu
menyambut dengan tampik sorak yang riuh rendah.
Mula-mula Cek Yang Tojin dan kawan-kawan belum
melihat pada Lie Siauw Hiong, kini waktu mereka melihat
tegas siapa adanya pemuda kita, muka mereka segera
berubah, mereka kuatir kalau Lie Siauw Hiong dikalahkan
oleh lawannya, hingga dalam hati mereka bantu
mendoakan, agar supaya pemuda kita dapat memenangkan
pertempuran ini .. merekapun mengetahui, bahwa pemuda
kita adalah orang yang telah menyamar menjadi Chit-
biauw-sin-kun. Tali Kinlungo yang panjang itu entah terbikin dari bahan
apa, karena tali itu dapat berubah lemas dan keras, sehingga
lihaynya bukan buatan.
Begitu bergebrak Lie Siauw Hiong sudah menggunakan
jurus pelajaran Tay-yan-sip-sek, yaitu jurus Hian-in-tam-eng
(awan muncul dengan membuat bayangan), tampak sinar
pedangnya mengelilingi seluruh jalan darah berbahaya
ditubuh lawannya.
Kinlungo dengan segera menggunakan tali lemasnya
sebagai pentungan panjang, dengan gerak miring dia
menghajar tiga jalan darah dilengan Lie Siauw Hiong,
karena dia sudah memiliki tenaga-dalam yang sempurna
sekali, maka waktu tali itu digunakan, segera menerbitkan
suara yang nyaring sekali.
Lie Siauw Hiong merasa terkejut juga, hingga dalam hati
dia berkata: "Aku sejak menjumpai peristiwa yang aneh
dipulau Siauw Ciap Too, tenaga-dalamku sudah bertambah
maju dengan pesatnya, ujung pedangku sudah dapat
menerbitkan setiap suara yang kuhendaki, tapi untuk dapat
berbuat seperti lawanku ini, sungguh tidak mudah!"
Karena hatinya agak jerih, maka buru-buru dia tahan
serangannya, Kinlungo yang begitu licik dan luas
pengalamannya, lalu talinya dibikin sebagai satu gulungan
dan lantas dipakai menyerang lawannya.
Bila diantara dua cabang atas berkelahi, maka selisih
sedikit saja sudah dapat dirasakan, begitupun keadaan Lie
Siauw Hiong segera berada dalam serangan lawannya.
Keanehan serangannya Kinlungo ini didunia tidak ada
keduanya, karena talinya itu setiap saat dapat berubah-ubah
menjadi pecut, sebentar kemudian beralih sebagai
pentungan, kemudian pada jurus berikutnya berubah lagi
fungsinya sebagai tombak, dia dapat mainkan talinya itu
keras maupun lembek menurut sesuka hatinya, hingga
kepandaian semacam itu baru dapat dimainkan oleh
seorang yang mempunyai tenaga dalam yang mencapai
dipuncaknya. Gouw Leng Hong yang melihat saudaranya berada
dalam kurungan lawannya, dia sudah bersiap-siap dengan
kepalanya, sedangkan tanpa terasa lagi keringat dingin telah
mengucur keluar dari tubuhnya. Seluruh para hadirin
menyaksikan pertempuran itu dengan perasaan yang sangat
tegang sekali, karena mereka maklum, bahwa pertempuran
sekali ini erat hubungannya dengan masa depan atau jatuh
bangunnya ilmu persilatan di Tiong Goan.
Kinlungo mengeluarkan ratusan jurus yang aneh-aneh
disertai tenaganya yang sangat kuat sekali, hingga jika Lie
Siauw Hiong bukannya pada beberapa bulan ini
kepandaiannya mengalami kemajuan yang pesat, siang-
siang dia sudah kalah agaknya.
Dalam keadaan dibawah angin bagi pemuda kita, pada
saat itu Siauw Hiong telah menyambut dengan tepat jurus
kelimabelas dari lawannya, dan ketika baru saja jurus itu
lampau, sekonyong-konyong Peng Hoan Siangjin berteriak:
"Ai, sibarbar ini sungguh bodoh sekali, tadi bila dia ubah
serangannya, siang-siang dia sudah menang!"
Orang banyak yang mendengarnya merasa terkejut
sekali, karena mereka tidak sangka mengapa orang tua itu
balik membantu pada orang asing"
Ada antara para hadirin yang sok pintar lalu berkata:
"Tadi Lie Tay-hiap telah memukul pada Hweeshio itu,
sekarang situa bantu si orang asing, agar orang asing itu
mendapat kemenangan."
Hanya Lie Siauw Hiong seorang yang mendengarnya,
barulah dia insyaf didalam hati dan berkata: "Peng Hoan
Siangjin seperti juga memberi petunjuk untuk si orang
asing, tapi sebenarnya itu ditujukan kepadaku, yaitu aku
tidak boleh terus-terusan menjaga diri saja, tetapi aku harus
segera mengubah daya seranganku. Ai, benar, aku sekarang
baru tahu apa yang dimaksudkannya itu!" Begitu
pikirannya itu melintas dikepalanya, diapun segera
mengubah serangannya, tampak pedangnya dari kiri beralih
kekanan, ujung pedangnya bergetar, dengan cepat
mengeluarkan angin yang tidak putus-putusnya, dia sudah
menggunakan jurus pelajaran Tay-yan-sip-sek yang disebut
jurus 'Gwat-ek-seng-ge' (sinar bulan dan bintang memancar
bersama), baru saja serangannya ini sampai ditengah jalan,
mendadak sudah diubahnya lagi menjadi 'Ca-keng-bwee-
bian' (pohon Bwee yang terkejut menusuk muka).
Jurus ini adalah yang tempo hari diinsyafkan oleh Bwee
San Bin, yang setelah diolah lagi oleh pemuda kita, barulah
Pendekar Pemetik Harpa 33 Perguruan Sejati Karya Khu Lung Pahlawan Dan Kaisar 19
^