Pencarian

Pendekar Pedang Sakti 21

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen Bagian 21


mengirim tantangan kepadanya, sebagai ketua suatu partai,
dimana kedudukannya dipandang amat tinggi, cara
bagaimanakah dia harus menolak untuk melayani
tantangan lawannya itu"
Dia sendiri telah dapat mengira-ngira tentang kekuatan
yang dimilikinya, yang jika dipergunakannya untuk
berlawanan dengan Lie Siauw Hiong, sudah barang tentu
bagaikan telur yang ditumbukkan pada batu, hingga
didalam hatinya timbul rasa cemas yang telah membuat
semangatnya beku dan tak bernapsu akan bertanding, dan
tatkala teringat akan peristiwa berdarah pada limabelas
tahun yang lampau itu, hatinya jadi sangat menyesal atas
kesemberonoanya itu. Tapi kini waktu itu telah lewat,
hingga segala akibat dari perbuatan-perbuatannya yang
lampau itu harus dipikulnya tanpa banyak mengeluh pula.
Oleh karena itu, dengan tidak terasa lagi ia jadi
mengelus-elus surat tantangan bersampul merah itu, dengan
menghela napas panjang.
Peristiwa tersebut telah terjadi didaerah Su-cuan, dengan
masa kejadiannya adalah dimusim dingin ..
Didaerah Su-cuan dibawah aliran sungai Bin-kang,
terdapat sebuah kali kecil yang bernama Bwee-kee, yang
airnya bersumber dari gunung, yang kemudian mengalir
kesebuah tanah datar, yang bernama See Liong Peng.
Disekitar daerah tersebut jumlah penduduknya amat
sedikit, hingga daerah itu merupakan tempat yang terpencil
dari dunia luar.
See Liong Peng ini merupakan sebuah tanah datar yang
bundar dan luasnya kurang lebih hanya satu lie, tapi
disepanjang aliran sungai Bwee-kee sehingga beberapa lie
jauhnya, terdapat sebuah tempat yang istimewa, karena
pohon-pohon yang tumbuh disitu hanya terdiri dari
gerombolan pohon-pohon Bwee putih dan merah yang
sudah ribuan tahun tuanya, dengan tiada terdapat barang
sebatangpun pohon-pohon yang lainnya.
Pada waktu itu adalah tepat dimusim dingin. Angin
utara yang sangat tajam seolah-olah menusuk tulang-tulang
dan sumsum dengan amat ganasnya. Dalam hawa udara
yang luar biasa dinginnya itu, cabang-cabang pohon Bwee
yang berdiri tegak dengan megahnya, tampak berbunga
dengan lebat dan indah, dengan baunya yang halus harum
semerbak dibawa siliran angin lalu. Sedang salju yang
beterbangan diudara, sewaktu jatuh kebumi, titik-titik salju
yang jatuh diatas bunga-bunga Bwee yang berwarna merah
dan putih itu merupakan suatu panorama yang indah sekali.
Pada keesokan harinya langit mendung dan sama sekali
tiada tampak cahaya matahari. Maka dengan melihat
keadaan cuaca, pasti salju akan turun kembali. Dijalan-jalan
keadaan sangat sunyi senyap, sehingga selama beberapa
saat lamanya, tidak tampak barang satu manusiapun yang
keluar mondar-mandir dijalanan pada waktu begitu.
Dibawah siliran angin utara yang dingin dengan
menyiarkan bebauan bunga Bwee, dari kejauhan tampak
mendatangi dua orang laki-laki.
Siapakah gerangan orang-orang yang sepagi itu sudah
mengejar-ngejar waktu berjalan tanpa menghiraukan
dinginnya hawa udara disaat itu"
Pelahan-lahan kedua orang itu mendatangi semakin
dekat, sehingga akhirnya tindakan kaki mereka dapat
didengar dengan tegas sekali.
Dalam pada itu, dari sebuah rumah gubuk yang terletak
disebelah kanan jalan tiba-tiba terdengar terkuaknya pintu
rumah, dari dalam mana muncul seorang laki-laki tua yang
janggutnya sudah memutih bagaikan salju, rambutnya
sudah jarang sehingga kepalanya tepat juga bila dikatakan
sudah gundul karena licin mengkilap tampaknya, mukanya
berkisut-kisut. Dengan ini, teranglah bahwa orang itu sudah
tua sekali, tapi tindakannya masih gagah bagaikan seorang
yang pandai silat saja.
Orang tua itu seakan-akan mendengar ada orang yang
jalan kearahnya, maka begitu disingkapnya tirai pintunya,
lalu dia melongok keluar, dimana benar saja, dibalik kabut
yang tebal, samar-samar kelihatan mendatangi dua orang
yang menghampiri dengan tindakan cepat kejurusannya.
Orang tua itu yang mukanya sudah berkerisut meski
usianya sudah lanjut, tapi pandangan matanya sangat tajam
bagaikan mata burung elang, hingga dengan hanya
memperhatikan sekejap mata saja lamanya, ia telah dapat
mengenali orang dan lalu dengan suara nada yang gembira
ia memanggil: "Hiong-jie .."
Kedua orang itu setibapya dimuka pintu rumah tersebut,
segera dengan berbareng menjatuhkan diri berlutut
dihadapan orang tua itu sambil memanggil: "Bwee Siok-
siok .." Sesungguhnyalah bahwa orang tua ini adalah seorang-
orang yang pada dua-puluh tahun yang lampau telah
menggemparkan dunia Kangouw ditanah Sin-ciu yang
terkenal dengan nama julukan Chit-biauw-sin-kun Bwee
San Bin. Sedang kedua pemuda itu bukan lain daripada
Gouw Leng Hong dan Lie Siauw Hiong adanya.
Bwee San Bin tertawa bergelak-gelak sambil berkata:
"Lekas berdiri! Hiong-jie, yang ini apakah bukan Gouw
Hian-tit?"
Kedua orang anak muda itu serentak berdiri, kemudian
Gouw Leng Hong manggutkan kepalanya mengiakan atas
pertanyaan orang tua itu.
Bwee San Bin lagi-lagi tertawa mengakak sambil berkata:
"Haha, ternyata Gouw Hian-tit sangat pandai sehingga
melebihi ayahmu almarhum. Kini sekalipun ayahmu yang
sudah berada dialam baka menyaksikan kepandaianmu ini,
pastilah beliauwpun akan merasa puas. Tampaknya kalian
sudah letih dan belum lagi makan pagi. Oleh karena itu,
maka janganlah lama-lama berdiri dimuka pintu ini. Mari,
masuklah kalian .."
Sehabis berkata begitu, orang tua itu segera mendahului
masuk kedalam, dengan Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng
Hong mengikutinya masuk belakangan.
Gouw Leng Hong yang sejak masih kecil sudah ditinggal
mati oleh kedua orang tuanya, boleh dikatakan nasibnya
sangat malang. Jika dia sedapg kesusahan, tiada seorangpun
yang dapat menghiburnya. Tapi karena dia sendiri gemar
sekali menuntut ilmu, maka kesusahannya itu, ada kalanya
dapat juga dikesampingkan, karena didalam hati ia bertekad
bulad untuk menuntut balas atas kematian orang tuanya.
Tapi sejak dia turun gunung dan berjumpa dengan Lie
Siauw Hiong yang berhati tabah, dengan siapa akhirnya ia
telah mengangkat saudara angkat dan karib sekali
perhubungannya sejak dua tahun yang lampau itu, boleh
dikatakap sekalipun masa berpisah mereka lebih banyak
daripada masa berkumpul, ia selalu mendapat dorongan
dari Lie Siauw Hiong yang memberi semangat, sehingga dia
merasa terhibur dan pulih kepercayaannya atas kemampuan
dirinya sendiri.
Sekalipun Bwee Siok-sioknya hanya berkata-kata
beberapa patah saja, tapi terang sekali bahwa dia
menunjukkan perasaan kasih sayangnya yang dalam sekali,
sehingga atas kebaikan orang tua itu. Lie Siauw Hiong
sampai meneteskan airmata dengan hampir tak terasa pula.
Bwee San Bin mengetahui jelas lubuk hati pemuda itu,
maka dengan tersenyum dia berkata: "Kalian kini
darimana" Tampaknya kalian datang dengan tergopoh-
gopoh sekali. Maka menurut aku situa bangka, paling
sedikit kalian telah menempuh perjalanan sejauh empat
atau lima lie jauhnya."
Lie Siauw Hiong segera mengetahui, bahwa orang tua
itu marasa tertarik sekali oleh kepribadian Gouw Leng
Hong, maka dengan cepat diapun menjawab: "Kami
memang benar baru kembali dari Bu-tong-san dan buru-
buru datang kemari .."
Sehabis berkata begitu, lalu dia terangkan kisah
perjalanannya sejak berpisah dengan orang tua itu.
Sementara Gouw Leng Hongpun yang seakan-akan
sangat tertarik dengan cerita sipemuda kawannya itu, maka
ada kalanya bila pada suatu bagian yang Lie Siauw Hiong
terlupa atau terlompat ceritanya, tidak lupa Gouw Leng
Hong menambahkannya untuk melengkapi cerita Siauw
Hiong yang dituturkannya dihadapan orang tua itu.
Dan tatkala Bwee San Bin mendengar bahwa pedang
'Bwee Hiang Kiam' telah kena dicuri oleh Li Gok, tidak
terasa lagi dia menjadi sangat gusar, sehingga ia memaki
kalang kabutan atas diri Li Gok yang menjadi musuh
besarnya. Tapi pada waktu dia mendengar kisah
pertempuran sipemuda diruangan 'Bu-wie-thia' melawan
orang asing sehingga akhirnya dia mencapai kemenangan
yang gilang-gemilang, Bwee San Bin jadi begitu gembira
sehingga ia bersorak dengan perasaan hati yang amat puas.
Ternyata kabar itu cepat sekali tersiarnya dalam Rimba
Persilatan, hingga nama julukan 'Bwee-hiang-sin-kiam' itu
menerbitkan kegemparan sangat besar dikalangan Kang-
ouw. Halmana, telah membuat Chit-biauw-sin-kun yang
mendengarnya senang tidak terkira. Dan bersamaan dengan
itu, diapun merasa terhibur berhubung capai lelahnya
ternyata tidak sia-sia adanya.
Tatkala Lie Siauw Hiong menceritakan, kisahnya
dipulau Siauw Ciap Too, dimana dia telah bertempur
dengan bangsa asing dan dimana Tiga Dewa Diluar Dunia
telah saling bertempur dengan dahsyatnya dengan Heng-
hoo-sam-hut, bagaimana Bu Heng Seng menemui peristiwa
aneh yang akhirnya telah tertolong berkat bantuan rekan-
rekannya, Bwee San Bin bukan main merasa terkejutnya.
Karena diapun menginsyafi, bahwa sekalipun dimasa
mudanya, belum tentu dia dapat menandingi bangsa asing
tersebut, hingga tanpa terasa lagi mulutnya telah menyebut:
"Heng-hoo-sam-hut".
Bwee San Bin sambil tertawa girang memandang kepada
kedua pemuda itu sambil mengusap-usap janggutnya, maka
dalam keadaan hati gembira yang tidak kepalang kemudian
dia bertanya: "Gouw Hian-tit, kau paling belakang juga
telah menemui peristiwa yang aneh, terutama terhadap
pelajaran kitab asing yang memuat pelajaran meringankan
tubuh yang hebat sekali. Apakah kau tidak keberatan untuk
memperlihatkan kepandaianmu itu?"
Gouw Leng Hong meluluskan dan lalu sambil bangun
berdiri dia keluar kepekarangan dimuka gubuk Bwee San
Bin. Sipemuda yang sudah mendapat penerangan jelas dari
Peng Hoan Siangjin dipulau Toa Ciap Too cara bagaimana
ilmu meringankan tubuh itu harus dipraktekkannya.
Dan benar sekali bahwa pelajaran meringankan tubuh
bangsa asing itu memang sangat aneh sekali. Kaki Leng
Hong yang terpisah dengan bumi hanya setengah meter saja
tingginya, ternyata tubuhnya begitu ringan laksana terbang
dan bergerak dengan cepatnya bagaikan terbang diudara,
hingga kecepatan itu sangat mengejutkan orang dan sukar
dipercaya bagi orang yang belum pernah menyaksikan ilmu
tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Karena begitu
tubuhnya bergerak, ternyata Leng Hong sudah berhasil
dapat melompat sejauh tujuh atau delapan tombak jauhnya.
Bwee San Bin yang menyaksikan dengan mata kepala
sendiri akan kecepatan Gouw Leng Hong dalam ilmu
silatnya, tidak terasa dia menyebut: "Bagus sekali!"
Harus diketahui bahwa kepandaian Keng-sin-kang Bwee
San Bin sendiri sudah terhitung dalam golongan cabang
atas sekali, hingga dengan ciptaannya sendiri pelajaran yang
diberi nama 'Am-hiang-liang-eng' dalam kalangan Rimba
Persilatan sudah jarang menemui tandingan, tapi tidak
disangka ilmu dari orang asing itu dapat melebihi
kemampuannya. Chit-biauw-sin-kun setelah berdiam diri sejurus lalu
berkata: "Pada saat ini jika membicarakan tentang
kepandaian Keng-sin-kang adalah Hui Taysu dengan
kepandaiannya yang disebut 'Kit-mo-sin-pouw' adalah yang
paling lihay, tapi dalam hal membicarakan tentang gerak
kecepatannya, barangkali dia tak dapat menandingi
kepandaian bangsa asing tersebut."
Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng Hong dengan serentak
menyatakan benar sambil manggutkan kepala mereka,
karena tempo hari Peng Hoan Siangjin pernah berkata
demikian pula. "Dahulu ketika aku berkelana dikalangan Kang Ouw,"
kata orang tua itu pula, "akupun pernah mendengar kabar
angin yang menyatakan, bahwa di Thian-tiok terdapat suatu
kepandaian yang hebat sekali, tapi aku tidak sampai melihat
dengan mata kepala sendiri. Dan setelah sekarang aku
menyaksikan dengan mata kepala sendiri, barulah aku
percaya, bahwa kabar angin tersebut bukanlah bohong
adanya." Ketiga orang ini setelah bercakap-cakap sebentar
kemudian Lie Siauw Hiong lalu berkata: "Kedatangan
Teecu dengan Gouw Twako sekali ini, adalah ingin
mengundang Bwee Siok-siok sebagai .."
Bwee San Bin tercengang, tapi dengan serta merta dia
menjawab: "Bagus! Kalian ternyata tidak pernah melupakan
penghinaan terhadap orang tuamu yang mereka peroleh
dari lawan-lawannya, dan perkara yang sudah lampau
selama sepuluh tahun ini, aku pikir harus diputuskan
dengan segera penyelesaiannya .."
Lie Siauw Hiong turut menimbrung: "Sekali jalan kami
telah mengirimkan surat undangan ke Kong Tong dan Bu
Tong, menjanjikan mereka pada waktu rembulan terang
tanggal lima belas nanti, untuk saling bertemu digunung
Ngo-hoa-san."
Mendengar hal itu, Bwee San Bin hanya manggut-
manggut saja. "Dari sini menuju ke Go Bie," Lie Siauw Hiong
melanjutkan bicaranya, "jaraknya tidak seberapa jauh,
maka hari ini biarlah kami pergi kesana untuk sekali
mengundang juga pada Kouw Am Hweeshio."
Bwee San Bin sangat terharu mendengar perkataan
pemuda itu. Dia tak mau menjawab apa-apa, selain lagi-lagi


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

manggutkan kepalanya.
Dengan adanya urusan ini, Lie Siauw Hiong tidak mau
membuang-buang waktu dengan percuma, hanya bersama
Gouw Leng Hong lantas pergi kegunung Go Bie. Dengan
mengandal kepada kepandaian mereka, dengan cepat dapat
sampai kesana, dimana mereka tidak perdulikan bahwa
disana, dikuil Sam Ceng Too Kwan, terdapat banyak sekali
jago-jagonya. Tiam Cong terpisah jauh dari situ, mereka tidak keburu
pergi kesana, Sebenarnya terhadap Lok-eng-kiam Cia Tiang
Kheng mereka menaruh perindahan pula, karena dia
terhadap Lie Siauw Hiong mempunyai kesan-kesan yang
baik. Dia akan cukup tahu sekalipun tidak dikirimkan surat
undangan, berhubung kawananya pasti akan mengundang
juga kepadanya.
Pulang balik tepat makan perjalanan satu hari penuh.
Setelah dihitung-hitung, mereka berpendapat bahwa
perjalanan ke Ngo-hoa-san akan cukup waktunya dalam
tempo dua hari saja lamanya. Oleh karena itu, sambil
menyewa sebuah kereta yang cukup luas untuk Bwee San
Bin naik, mereka bertiga lalu menuju kegunung Ngo-hoa-
san. Gunung ini terpisah tidak jauh dari situ. Mereka bertiga
yang naik kereta, disepanjang jalan melihat-lihat pemandangan alam yang indah dimusim dingin. Sekalipun
gunung Ngo-hoa-san terletak dibagian sebelah Selatan, tapi
karena letak gunung itu cukup tinggi, lagi pula terdapat
jalan yang menanjak menuju kegunung tersebut, sehingga
salju yang turun itu melayang-layang memenuhi udara.
Ketiga orang itu mempunyai perasaan yang bersamaan,
yaitu mereka berpikir, bahwa dendam mereka pasti akan
terbalas dengan segera, hingga hati mereka merasa girang
dan wajar. Suara roda kereta menggelinding dengan kadang-kadang
disertai suara berbengernya kuda itu. Tatkala itu diatas
puncak gunung Tiam-cong berdiri seorang pemuda tampan
sambil menolak pinggang.
Tampaknya dia tengah dirundung oleh kerisauan
hatinya, hingga sebentar-sebentar terdengar dia menghela
napas berat. Tangan kanannya memegang sesuatu yang
dibuat main pergi datang. Siapakah gerangan dia itu"
Dialah bukan lain daripada Lok-eng-kiam Cia Tiang Kheng
adanya. Dibawah sinar matahari, tampak barang yang dipegangnya itu memancarkan sinar kekuning-kuningan,
dan barang yang dipegangnya itu adalah sehelai kain sutera
kuning yang diatasnya tersulam lima patah perkataan 'Ngo-
kiam-cin-tion-goan' (lima pedang menggetarkan Tiong-
goan). Hanya kemarin malam saja Li Gok dengan menggunakan sembilan kuda jempolan telah mengirimkan
berita ini kepadanya, dan sekarang dia teringat akan
peristiwa yang lampau dan amat ruwet itu, hingga tidak
lama kemudian urusan ini sudah akan memperoleh
penyelesaiannya.
Sepuluh tahun lehih yang lampau itu, dia secara tidak
disengaja telah melakukan kesalahan yang harus dibayarnya secara mahal sekali, hingga sekarang dia merasa
seperti ada ular yang selalu mengejar-ngejar kepadanya. Dia
ketahui apa maknanya ingatannya ini,
tapi biar bagaimanapun dia tak berdaya untuk melenyapkan perkara
yang amat rumit ini.
Dikaki gunung tampak rombongannya Lie Siauw Hiong
dengan laku yang tergopoh-gopoh mulai naik keatas
gunung, hingga ketika menampak hal itu, tidak terasa lagi
Cia Tiang Kheng jadi menghela napas pula. Dan waktu
memandang pada kereta yang menuju kearahnya, diapun
tahu bahwa didalam kereta itu terdapat seorang lawan
kerasnya, maka dengan segera dia melenyapkan diri dari
puncak gunung tersebut.
Pohon-pohon Bwee tengah mekar sambil ditemani oleh
dua kawan akrabnya, yaitu pohon-pohon cemara dan
bambu, sedang daerah diluar kota Kun-beng tampak putih
diliputi oleh salju yang terserak dimuka bumi.
Diatas gunung Ngo-hoa-san hawa udara yang sangat
dingin seolah-olah menusuk tulang dan sumsum, hingga
keadaan disitu menunjukkan suasana yang mengharukan
sekali. Dibelakang gunung yang menjulang tinggi kelangit itu,
seakan-akan bersambung dengan awan gemawan diangkasa
raya. Hujan salju baru saja berhenti dipagi hari itu, langit
tampak cerah, hingga diatas langit kelihatan puteri malam
yang mulai menampakkan diri dengan bentuknya yang
bundar dan bersinar gilang-gemilang.
Diatas pegunungan yang sunyi senyap itu, dibawah
sebuah pohon pohon Bwee tampak berdiri tiga orang.
Mereka bertiga berdiri berendeng dengan teratur. Yang
berdiri ditengah-tengah adalah seeorang tua yang berambut
dan berjanggut putih bagaikan perak, mengenakan baju
panjang dan berdiri tegak diatas salju disekitar tempat yang
amat sunyi itu.
Yang berdiri disisi kanan maupun kirinya adalah
pemuda-pemuda yang rata-rata berumur duapuluhan.
Mereka berwajah tampak sekali, bersemangat menyala-
nyala. Alis mereka bagaikan pedang, sedang bibir mereka
laksana delima merekah.
Yang aneh adalah muka kedua pemuda ini seakan-akan
mengandung kedukaan serta kemurkaan yang amat sangat.
Dibelakang punggung mereka menggemblok pedang
masing-masing. Mereka bertiga berdiri diam membelakangi
pohon Bwee tanpa mengucap sepatah katapun.
Hawa udara yang demikian dinginnya itu, sampaikan
membuat burung-burung sama bersembunyi disarangnya
masing-masing dengan tak berani keluar. Dan sekalipun ada
yang keluar sarang, itulah hanya berapa ekor saja, lagi pula
mereka inipun tampaknya sudah hendak balik kembali
kesarang mereka pula. Keadaan disekeliling mereka tampak
sunyi senyap. Sang waktu sedetik demi sedetik telah berlalu, sipemuda
yang berdiri disebelah kiri tampaknya sudah agak tidak
sabaran, tangannya sambil memegang batu gunung ia
melongok kesebelah bawah dan lalu berkata: "Bulan sudah
hampir berada ditengah-tengah udara, mengapakah .."
Perkataannya ini belum lagi habis diucapkan, ketika
pemuda yang berdiri disebelah kanannya telah menyelak,
katanya: "Hiong-tee, janganlah engkau berlaku gugup tidak
keruan. Mereka adalah tokoh-tokoh yang terkenal dan pasti
tak akan menebalkan muka dengan tidak berani munculkan
diri." Tak usah dikatakan lagi, ketiga orang ini bukan lain
daripada Bwee San Bin, Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng
Hong adanya. Lie Siauw Hiong sifatnya agak tidak sabaran. Ia menoleh
kekanan dan kekiri dengan rupa kesal dan berkata:
"Sungguh memualkan bangsat-bangsat itu! Twako, sebentar
lagi harus kita balas penghinaan mereka tempo hari .."
Belum lagi perkataannya habis diucapkan, ketika
sekonyong-konyong muka Siauw Hiong berubah. Begitu
pula dengan Gouw Leng Hong. Agaknya mereka sudah
mendengar suara kaki orang yang berlari-lari.
Hati Bwee San Bin bercekat, karena diapun tahu, bahwa
lawannya sudah mulai datang. Limabelas tahun yang
lampau, juga dalam suasana yang bersamaan, pada waktu
yang sama pula, juga ditempat yang sama, pada saat itu
Bwee San Bin mempunyai kepandaian yang amat tinggi,
tapi akhirnya dengan tipu yang keji ia telah kena dipedayai
lawan-lawannya, sehingga hampir saja ia menemui ajalnya.
Sekarang kepandaiannya sudah punah sama sekali, tapi
kepandaian sepasang anak muda ini sudah jauh
melampauinya. Kini musuh besarnya telah berada
dihadapannya, hingga tidak terasa lagi peristiwa limabelas
tahun yang lampau itu berlintas kembali diotaknya, tapi
sekarang dia dapat berlaku dengan tenang sekali.
Orang-orang yang sedang mendatangi itu ternyata dapat
bergerak pesat sekali, hingga sebentar saja bayangan-
bayangan manusia yang semula tampak samar-samar itu
karena amat jauhnya, dalam waktu yang pendek telah
datang mendekati. Mereka semulanya memutari gunung
disitu, kemudian barulah datang kearah mereka bertiga
dengan secara langsung.
Tidak antara lama jumlah mereka dapat dilihat dengan
jelas, mereka semua hanya berjumlah empat orang.
Mereka ini seolah-olah sedang berlomba-lomba menuju
kearah Bwee San Bin, Lie dan Gouw bertigaan, tapi
semulanya tidak melihat musuh-musuh mereka itu.
Setelah mereka berempat mendatangi dekat, dengan
segera mereka menghentikan tindakan mereka. Keempat
orang ini ternyata mempunyai ilmu Keng-sin-keng yang
tinggi sekali, terutama orang yang lebih kurus dan lebih tua
itu, yang tampaknya ilmunya paling sempurna dan bergerak
dengan amat pesatnya.
Yang lebih tua setelah menghentikan tindakannya, lalu
memandang keempat penjuru angin, kemudian dengan
suara yang kurang jelas ia berkata: "Bocah Lie Siauw Hiong
itu mengapakah belum datang juga ..?"
Tiga orang yang lainnya yang mengikuti situa,
tampaknya tidak terlampau menghiraukan perkataan
rekannya. "Bulan sudah berada ditengah-tengah udara, tapi
mungkinkah Lie Siauw Hiong tak akan datang" Biarlah kita
menunggu lagi sebentar .."
Perkataannya itu belum lagi habis diucapkan, ketika dari
balik pohon Bwee tiba-tiba terdengar suara orang yang
menjawab: "Kami justeru siang-siang telah menunggu
kalian disini!"
Sehabis berkata begitu, dari balik pohon Bwee
sekonyong-konyong melompat keluar dua orang pemuda.
Mereka berempat ini adalah tokoh-tokoh yang terkenal
dari empat partai terkenal, yang menurut urutannya adalah
Kong-tong Kiam-sin Li Gok, Bu-tong Cek Yang, Go-bie
Kouw Am dan Tiam-cong Lok-eng-kiam Cia Tiang Kheng.
Sekali-kali Li Gok tidak pernah menyangka, bahwa
pemuda itu telah mendahului mereka datang kesitu. Maka
setelah mendengar suara pemuda itu, tidak terasa lagi ia
menjadi terkejut dan lalu sambil tertawa getir berkata:
"Bagus! Bagus! Marilah kita bicarakan urusan kita."
Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng Hong jadi bermata
merah ketika menampak lawan-lawan mereka terlebih-lebih
Gouw Leng Hong yang dengan sengit lalu berseru:
"Omongan yang tidak perlu, baiklah dipersingkat, make
paling betul kita segera turun tangan saja!"
Dia sehari-harinya biasanya bertabiat sangat sopan
santun, hingga memaki orang pun jarang sekali dia lakukan.
Tapi sekali ini karena perasaannya sudah sangat melonjak,
maka kelakuannyapun tidak dapat dipertahankan pula.
Li Gok yang sudah kenyang berkelana dikalangan Kang-
ouw, perkara membunuh orang adalah perkara sepele saja
dianggapnya, maka sambil tertawa mengakak dia berkata:
"Orang she Gouw, perselisihan antara kita memang dalam
sekali bagaikan lautan, sekalipun kau tidak mencari aku,
aku orang she Li pasti akan mencarimu. Janganlah lekas-
lekas kau naik darah .."
Omongannya ini bukan main lancarnya, Cek Yang Tojin
yang berdiri dibelakangnya lalu menimbrung: "Gouw Sicu
tidak usah berlaku terburu napsu, terhadap undangan
keturunan Toan-hun-kiam dan Chit-biauw-sin-kun,
dimanalah kami berani membantah" Apakah bukan begitu,
Kouw Am Tooyu?"
Kouw Am hanya tertawa saja mendengar perkataan
rekannya itu. Mereka yang bertanya-jawab demikian, sudah barang
tentu telah membuat Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng
Hong untuk campur bicara.
Perhubungan Li Gok dan kawan-kawannya, sebenarnya
mereka satu sama lain tidak begitu akur. Cek Yang dan
Kouw Am agak kurang cocok, sedangkan Li Gok terhadap
merekapun hanya baik dimulut saja, sedang didalam hati ia
selalu mengandung tipu muslihat yang keji. Hanya Cia
Tiang Kheng seorang yang agak terasing diantara mereka
sekalian.

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Setelah berdiam sejurus, barulah Lie Siauw Hiong
berkata: "Boan-pwee dengan berani mati telah mengirimkan
surat undangan pada kalian. Kini kalian sudah berada
disini, aku sangat mengagumi sekali terhadap kepandaian
kalian. Untunglah kalian adalah leluhur-leluhur dari partai-
partai, hingga kalian tentu dapat berlaku sungkan terhadap
Boan-pwee .."
Mendengar dirinya disindir dengan kata-kata yang halus,
Li Gok jadi tertawa panjang dan berkata: "Kami sudah tua,
hati kamipun sudah tidak bersemangat pula. Lie Siauw-hiap
sebagai ahli waris kepandaian Bwee San Bin, tentu sekali .."
"Orang she Li, janganlah kau banyak mementang bacot
busukmu tidak keruan!" selak Gouw Leng Hong sambil
tertawa dingin "Seumur hidupmu kau telah melakukan
pekerjaan-pekerjaannya yang busuk sekali! Kau berkelana
dikalangan Rimba Persilatan dengan senantiasa menipu
serta mencelakai orang-orang baik dan para pendekar sejati.
Hari ini adalah tepat hari kematianmu, maka segala
omongan kosong paling baik tak usah kau ucapkan!"
Perkataan ini sudah barang tentu telah membuat
kemarahan Li Gok memuncak.
Kauw Am Siangjin dan Cia Tiang Kheng menerima
kata-kata pemuda she Gouw itu dengan tenang, tapi Cek
Yang yang tidak sedikit melakukan pekerjaan yang bersifat
hina dan busuk, merasa tersinggung dan karena malu dia
menjadi turut marah juga.
Sementara Li Gok dengan suara mengguntur telah
berteriak: "Orang she Gouw, ternyata nyalimu cukup besar,
sehingga kami sekalian tidak dipandang mata olehmu!"
Setelah berkata begitu, lalu dia melambaikan tangan
kirinya sambil berkata: "Kau kemarilah, aku orang she Li
akan memberikan pelajaran kepadamu!"
Begitu dia berlompat, lalu Cek Yang mengikuti jejaknya.
Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng Hongpun tanpa ragu-
ragu pula segera mengikuti mereka. Orang-orang yang
berada diatas gunung itu, seluruhnya sudah mulai naik
keatas, dibawah pohon Bwee hanya tertinggal seorang tua
lainnya, yang ternyata bukan lain daripada Chit-biauw-sin-
kun adanya. Dia tidak sudi menampakkan dirinya dihadapan para
lawannya yang berkelakuan hina-dina itu. Dari balik pohon
dia melihat gerak-gerik para lawannya dari masa yang
lampau dengan dada seolah-olah mau meledak.
Tempo hari sewaktu namanya mulai terkenal dan dapat
melatih dirinya dengan sempurna selama sepuluh tahun,
sampai kini sifatnya masih tidak dapat diubah juga, hingga
tepat sekali dengan apa yang suatu pepatah pernah
mengatakan, bahwa "Gunung dan sungai mudah diubah,
tapi tabiat manusia sulit sekali berubahnya."
Sekonyong-konyong satu muka yang pucat dan
kehilangan semangat pada pelopak matanya, hingga dengan
heran dia memandang lebih cermat, dan kemudian baru
ternyata, bahwa orang itu bukan lain daripada Cia Tiang
Kheng adanya. Tidak terasa lagi Bwee San Bin menjadi tercengang,
sedang diotaknya terlihat wajah seorang pemuda yang
sekarang tampak kehilangan semangat. Halmana, pun
cukup dimengerti dalam hati Bwee San Bin, hingga diam-
diam ia jadi menghela napas.
Tidak antara lama kemudian keenam orang itu sudah
pada berteriak, suatu tanda bahwa mereka berempat telah
bersiap-siap untuk turun tangan.
Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng Hong lalu saling
memberi isyarat, sudah itu lalu menyerbu barisan musuh
mereka. Kiam-sin Li Gok berdiri ditengah-tengah. Sambil berseru
ia sesumbar: "Marilah kita mempertahankan barisan kita
secara mati-matian! Jagalah jangan sampai pertahankan
kita ini terpecahkan lawan! Karena bila sampai kejadian
demikian, maka betapa malunya kita sebagai angkatan
tua!" Sehabis berkata begitu, tangannya diputar dan pedangnya dengan mengeluarkan suara yang bersuit-suit
tajam telah menjurus keluar untuk menyerang lawannya.
Berbareng dengan gerakannya itu, Cek Yang dan Kouw
Am-pun telah meluncurkan pula pedang-pedang mereka.
Dengan sekali bergerak saja orangpun segera mengetahui,
bahwa mereka adalah ahli-ahli yang sudah kawakan sekali
dikalangan Kang-ouw.
Go-bie-kiam-hoat dari
Kouw Am lebih banyak mementingkan penjagaan daripada penyerangan, dan
dengan mengeluarkan suara "Sreeet" yang tajam sekali,
ternyata pedangnya itu sudah dicabut dari sarungnya.
Dengan melihat cara Kouw Am menarik pedangnya,
orang segera diketahui sampai dimana kelihaiannya dalam
hal permainan senjata itu. Diantara keempat lawan Lie
Siauw Hiong dan kawannya itu, hanya Cia Tiang Kheng
saja yang belum lagi mencabut pedangnya.
Li Gok mengetahui rahasia hatinya, dengan suara yang
perlahan lalu berkata: "Cia sieheng, silahkanlah .."
Cia Tiang Kheng lalu menghela napas, sudah itu baru ia
mencabut pedangnya dengan ogah-ogahan.
Tapi kedua pemuda itu tidak ragu-ragu lagi lalu pada
mencabut pedangnya masing-masing.
Lie Siauw Hiong dengan menggunakan matanya yang
tajam lalu menyapu pada lawan-lawannya, dan ketika
pandangan matanya jatuh pada Li Gok, dengan tajam dia
berseru: "Sungguh kecewa sekali kau sebagai ahli waris
suatu partai yang besar, ternyata berkelakuan begitu hina
berani mencuri pedang orang .."
Sesungguhnyalah,
bahwa pedang yang dipegang ditangan Li Gok itu adalah pedang Bwee Hiang Kiam milik
Bwee San Bin yang hilang. Sedangkan pedangnya sendiri
yang bernama pedang 'Ie Hong Sin Kiam', tetap terselip
dibebokongnya, hingga Li Gok yang mengetahui kesalahannya, tidak menjawab perkataan pemuda itu,
hanya dengan suara dingin ia berkata: "Kau berani
bertarung denganku?"
Sambil menggereng tanda panas hati, Gouw Leng Hong
sudah lantas menyerbu kedalam barisan lawannya, tapi dari
sana Kouw Am sudah maju untuk menangkis serbuan
lawan yang masih muda itu.
Lie Siauw Hiong dengan memutarkan pedangnya kekiri
dan kekanan, turut membantu memperteguh daya serangan
kawannya sendiri. Keenam orang itu dengan mengandalkan
kepandaian masing-masing yang sangat lihay, dalam waktu
sekejapan saja telah bertarung dengan amat sengitnya,
hingga beberapa banyak sinar-sinar pedang berkelebatan
kian-kemari untuk mencari sasaran-sasaran masing-masing.
Cia Tiang Kheng dan Kouw Am mengambil sikap
menjaga diri, tapi Li Gok dan Cek Yang mengambil
kedudukan dengan jalan menyerang lawan-lawan mereka
sehebat-hebatnya. Li Gok yang mendapat julukan segagai
Malaikat Pedang, dapat diduga betapa kelihayan permainan
pedangnya, tapi pada kali ini diapun menginsyafi, bahwa ia
akan lebih banyak mengalami kekalahan daripada
kemenangan, meski ia percaya, bahwa dengan jalan bersatu
padu, dia berusaha sekeras-kerasnya
untuk mempertahankan diri dari pada gempuran musuhnya yang
maha dahsyat itu. Dalam pertempuran berombongan ini
Cek Yang telah menggunakan jurus 'Heng-hui-tiang-kang'
atau terbang melintang diatas sungai Tiang-kang, dengan
mana ia menusuk perutnya Lie Siauw Hiong, sedangkan Li
Gok membarengi gerakan kawannya untuk menyerang
kepada Gouw Leng Hong.
Cek Yang Tojin yang bertabiat sangat kejam dan licin,
ternyata tenaganyapun masih tetap ampuh, hingga ketika
menampak hal itu, tidak terasa lagi Lie Siauw Hiong jadi
agak terkejut juga. Dia dan Gouw Leng Hong yang pernah
menempur lawan ini digunung Thay-san, cukup mengetahui bahwa barisan pedang lawannya sangat hebat
dan sempurna. Maka untuk memecahkan barisan mereka
yang kompak ini, hendaknya dicari daya untuk mengalahkan salah seeorang antara lawan itu barulah
mungkin barisan itu dapat dipecahkan.
Dia sendiri maklum bahwa tenaga-dalamnya sendiri
berada setingkat diatas keempat lawannya itu. Dia bersedia
untuk keras lawan keras, tapi lawannya cukup cerdik dan
tak mau keras lawan keras.
Sementara Cek Yang yang sangat licin, seakan-akan
sudah membayangkan, bahwa kemenangan pasti berada
dipihaknya, hingga dia sudah bersiap-siap untuk melakukan
penyerangan dari tengah-tengah. Halmana, membuat Lie
Siauw Hiong merasa tercengang juga melihat gerakan
lawannya ini, maka pedangnya pun lalu diputar begitu rupa
untuk menangkis serangan pihak musuhnya.
Gerakan Lie Siauw Hiong ini selain amat cepat,
tenaganyapun kuat sekali, hingga mengeluarkan suara
sreeeet yang tajam seolah-olah menusuk pendengaran Cek
Yang. Siapa tahu bahwa gerakan Cek Yang ini adalah gertakan
belaka. Maka begitu menampak lawannya menangkis
serangannya, dengan cepat ia menarik kemgali serangannya, hingga serangan Lie Siauw Hiong tidak
mengenai sasarannya.
Dengan gerakan ini, ternyata barisan pedang itu menjadi
berubah hebat sekali. Dan begitu Cek Yang menarik
serangannya, Lok-eng-kiam Cia Tiang Kheng yang berdiri
dikirinya sudah menyerang dengan beruntun-runtun.
Tadinya dia ditugaskan segagai tenaga menjaga, tapi
sekarang dia balik menyerang, dengan perubahan ini,
kekuatan barisan itu menjadi berlipat ganda.
Perubahan ini benar-benar sangat hebat sekali. Karena
begitu Lok-eng-kiam Cia Tiang Kheng menyerang, tampak
sinar pedangnya bergulung-gulung menyerang lawannya,
hingga dalam kesibukannya Lie Siauw Hiong telah
menggunakan jurus 'Cong-thian-jie-kie' (gerakan menerobos
kelangit). Pedangnya dikibaskan kekiri dan kekanan,
sehingga dengan begitu memperdengarkan suara keras
'tang-tang' dua kali dalam menangkis pedangnya Cia Tiang
Kheng. Sebenarnya Liok-eng-kiam Cia Tiang Kheng tak mau
bertempur melawan Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng
Hong, tapi karena keadaan sangat memaksa, barulah dia
menggunakan cara menyerang begitu, hingga dengan
demikian dia berulang-ulang menangkis serangannya Lie
Siauw Hiong. Sementara Gouw Leng Hong yang melihat
Lie Siauw Hiong sudah berkutat dengan lawannya, Gouw
Leng Hongpun tidak berani berayal-ayalan dan dengan
beruntun ia telah menyerang dan memaksa Li Gok mundur
karena desakannya.
Li Gok yang bertarung dengan Gouw Leng Hong, ia
mengetahui betapa hebatnya kemajuan anak muda ini,
maka dimanalah ia berani berlaku lengah dan dengan
segera ia menggunakan jurus 'Sam-coat-hui-seng' (gerakan
tiga kepandaian istimewa dalam hal menerobos kelangit), ia
pergunakan tangkisan pedangnya keatas untuk menahan
himpitan pedang pemuda she Gouw itu.
Pertempuran sekali ini menjadi agak kacau dilakukannya, karena Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng
Hong dengan gerak yang cepat telah mencoba, mengusari
lawan-lawannya, kemudian dengan gerakan yang cepat dan
rapat bagaikan tembok baja mereka telah menghajar barisan
pedang musuh dengan serentak.
Dengan begitu, Li Gok dan kawan-kawanpun terpaksa
mempercepat juga gerakan penyerangan mereka, dengan
Kouw Am dan Cek Yang mengubah siasat menjadi


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menjaga diri saja, sedangkan Li Gok dan Cia Tiang Kheng
menyerang maju bagaikan orang-orang kalap.
Pada saat itu puteri malampun telah berada tepat
ditengah-tengah udara.
Dibalik pohon Bwee yang sudah tua, berdirilah Chit-
biauw-sin-kun Bwee San Bin yang tampak menyaksikan
pertempuran yang sengit serta hebat itu dengan mata
separuh dipejamkan, karena tanpa melihat pula kearah
lawannya, diapun sudah mengetahui tipu-tipu keji apakah
sekiranya yang akan dipergunakan oleh pihak lawan itu.
Dalam hati ia berkeyakinan penuh, bahwa Lie Siauw
Hiong dan Gouw Leng Hong pasti akan memperoleh
kemenangan yang gilang gemilang, karena pada saat itu
kepandaian yang sesungguhnya belum lagi dikeluarkan oleh
sepasang anak muda itu.
Dalam pertempuran tersebut, Gonw Leng Hong dengan
menggunakan pelajaran keturunannya yang bernama 'Ngo-
kwie-toan-hun' (lima setan menyabut nyawa), dalam mana
berisikan jurus-jurus Ngo-kwee-tauw-ce
(lima setan melempar jalan), ditambah lagi dengan serangan-serangan
Lie Siauw Hiong yang gesit dan bertubi-tubi dalam jurus-
jurus 'Leng-bwee-bian' (bunga bwee menyapu muka) dan
'Ca-keng-bwee-bian'
(bunga bwee yang dikejutkan menyampuk muka). Dan begitu mereka melancarkan
serangan dengan berbareng, maka serangan mereka menjadi
sangat dahsyat dan berpengaruh sekali.
Dengan serangan-serangan yang bertubi-tubi itu, benar
saja mereka telah menyebabkan keempat lawan itu menjadi
kacau balau, maka dengan serempak mereka berusaha
untuk melancarkan serangan balasan, tapi keadaan mereka
berempat tinggal tetap terdesak mundur oleh pihak lawan
mereka. Lie Siauw Hiong dengan tertawa panjang lalu berkata:
"Hai, kalian adalah ahliwaris-ahliwaris dari partai masing-
masing, tapi tidak disangka-sangka bahwa kepandaian
kalian hanya begitu saja!"
Perkataannya ini sungguh terlampau berlebih-lebihan
agaknya. Semulanya keempat orang lawan itu sebenarnya
merasa simpati juga melihat bakat mereka yang demikian
luar biasanya, tapi ketika mendengar ejekan pemuda itu,
tidak terasa lagi mereka menjadi murka sekali.
Cia Tiang Kheng dengan perasaan tidak puas telah
menukas: "Sekalipun kepandaianmu terhitung hebat, tapi
perkataanmu yang demikian temberangnya ini seharusnya
tidak mungkin dikeluarkan oleh seorang yang sudah
mencapai tingkat kepandaian seperti kau .."
Cek Yang dan kawan-kawan jadi sangat geram
mendengar ejekan Lie Siauw Hiong itu, maka dengan
mengibaskan pedangnya ia memberi isyarat kepada rekan-
rekannya untuk menyerbu lebih hebat pula.
Tempo hari ketika mereka bersatu padu membentuk
barisan pedang ini, tujuan mereka adalah semata-mata
untuk dipakai menghadapi lawan yang tangguh. Diwaktu
mereka bertempur, mereka tidak lupa untuk menyimpan
tenaga sebanyak dua bagian, agar supaya diwaktu mereka
menjumpai lawan yang berat, mereka masih dapat
menindas lawan itu dengan serentak.
Pertempuran yang bercorak penyerbuan serentak ini,
hebatnya bukan kepalang, karena bila penyerbuan macam
demikian sudah digunakan, maka dari delapan penjuru
angin laksana terbit hujan pedang yang menyerbu pihak
lawan mereka, dan cara bertempur macam ini pernah juga
mereka pergunakan sekali dalam pertempuran mereka
dipuncak gunung Thay-san.
Mereka mendongkol bukan main mendengar perkataan
Lie Siauw Hiong yang telah membangkitkan kemarahan
mereka itu, hingga dalam kemarahan yang memuncak
mereka bersedia mengorbankan diri mereka untuk
bertarung dengan pemuda kita.
Tatkala itu dengan gerakan yang datar Li Gok telah
menusukkan pedangnya kearah Gouw Leng Hong. Sedang
kawan-kawannya yang bertiga itnpun dengan serentak
menyerbu pula terhadap lawan mereka yang lainnya.
Penyerbuan sekali ini sungguh tepat dengan apa yang
dikatakan: 'sembilan bagian mati satu bagian hidup'. Sinar
pedang berkelebat laksana hujan lebat yang datang
menyerbu pada kedua pemuda itu.
Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng Hong yang menampak
penyerbuan cara nekat-nekatan itu, tak terasa lagi menjadi
terkejut juga. Diempat penjuru mata angin tampak sinar
pedang yang mengurung mereka, hingga tak ada suatu
sudutpun yang tidak terancam oleh bahaya maut, lebih-
lebih karena serbuan pedang itu laksana jaringan langit
yang tak mungkin dapat ditembuskan.
(Oo-dwkz-oO) Jilid 44 Gouw Leng Hong berseru dengan sengit dan lalu
menggunakan jurus permainan pedang leluhurnya, yakni
ilmu 'Ngo-kwie-toan-hun', pedangnya ditotokkan kekiri-
kanan, keatas dan kebawah, hingga sebentar saja tampak
seperti sepuluh pedang mengurung disekitar dirinya.
Li Gok yang menampak hal itu, hanya mengeluarkan
suara jengekan dari lobang hidungnya, kemudian dengan
pedang Bwee Hiang Kiam ditangannya dengan sekali putar
saja telah menerbitkan suara "Traaaang" yang nyaring
sekali, dengan mana ia sudah berhasil membentur
pedangnya Gouw Leng Hong. Sementara Gouw Leng
Hong yang dibuat terperanjat dengan cara penangkisan
musuhnya itu, dalam hati ia berpikir, apakah lawannya ini
ingin mengadu tenaga-dalam dengannya"
Begitu hatinya tergerak, dengan gerakan memiring ia
telah menusuk musuhnya dengan tenaga sepenuh-
penuhnya. Siapa sangka bahwa lawannya inipun dapat bersiasat
juga. Karena serangan mereka kadang-kadang berupa
pancingan belaka, maka sekali pedangnya berputar, tubuh
Li Gokpun sudah beralih, kemudian dengan terlihatnya
sinar pedang yang berkilau-kilau terdengar suara "tang tang
tang" yang beruntun-runtun, berhubung tiga batang pedang
telah memapas pedangnya Gouw Leng Hong dengan
serentak. Gouw Leng Hong merasa tenaga-dalam lawannya cukup
tangguh, halmana terbukti dengan telapak tangannya yang
dirasakannya sangat panas, sehingga pedangnya sendiri
hampir saja terpental keudara, hingga dalam gugupnya
buru-buru dia mencekal pedang itu lebih keras lagi, sambil
dengan sebat menghalau pula serangan-serangan lawannya
yang datang dengan bertubi-tubi.
Dengan demikian, tidak terasa lagi dia telah mundur
sehingga setengah meter jauhnya.
Lie Siauw Hiong yang menampak hal itu, iapun menjadi
terperanjat sekali. Lekas-lekas ia membalikkan tangannya
dan menangkis beberapa batang pedang yang menyerang
kepada Gouw Leng Hong. Tapi dengan menerbitkan suara
"sreeet" ternyata ikat pinggang Gouw Leng Hong kena
terbabat putus oleh salah sebatang pedang lawannya itu.
Penyerangan lawan tidak berhenti sampai disitu. Mereka
saling bantu-membantu melakukan penyerangan yang hebat
sekali. Gouw Leng Hong yang berdiri disebelah kanan
dengan gigih dan berusaha mempertahankan diri,
keadaannya sungguh membahayakan sekali, hingga Lie
Siauw Hiong dengan sengit lalu membacok kekiri-kanan
untuk membebaskan Leng Hong dari dalam kepungan
musuh. Berbareng dengan itu, Gouw Leng Hongpun telah
menyerang pada lawannya dengan jurus 'Kwie-ong-pa-ho'
(raja setan menyekal obor) dengan jalan memiringkan
pedangnya menusuk kepada lawannya.
Dilain pihak Lie Siauw Hiong dengan ganasnya
menyerang setiap lawan yang berada dihadapannya dengan
menggunakan jurus 'Hong-seng-put-sip' dari ilmu pelajaran
'Tay-yan-sin-kiam'.
Jurus 'Kwie-ong-pa-ho' dari Gouw Leng Hong sendiri
sudah cukup ganas dan telengas, kecepatannya sangat
mengejutkan lawan. Dengan menerbitkan suara "tang tang"
beberapa kali, ternyata pedang-pedang mereka saling
beradu dengan kerasnya. Dan disamping itu, dengan
penyerangan yang dibantu oleh Lie Siauw Hiong,
menyebabkan serangan Leng Hong menjadi luar biasa
sekali lancarnya. Dimana-mana tampak ada sinar pedang
yang menggulung mereka. Syukur juga para lawan mereka
sudah berpengalaman dalam menghadapi pertempuran
besar dan kecil, maka diwaktu menghadapi ancaman
pedang sehebat itu, mereka sama sekali tidak menjadi
gugup, maka dengan menerbitkan suara yang keras sekali,
ternyata pedang mereka telah kena dihantam oleh kedua
pemuda itu, hingga dalam waktu yang pendek, keempat
lawan itu telah terdesak mundur sehingga beberapa tombak
pula jauhnya. Selagi pertempuran berlangsung dengan amat hebatnya,
tiba-tiba Li Gok menusuk kearah Lie Siauw Hiong dengan
gerakan secepat kilat.
Lie Siauw Hiong yang melihat pedang Bwee Hiang
Kiamnya dipegang dalam tangannya Li Gok, didalam hati
ia bertekad bulat, bagaimanapun jadinya, ia harus merebut
kembali pedang itu dari tangan musuhnya. Maka setelah
mengambil keputusan yang pasti dan berkelit dari tusukan
musubnya, segera juga ia menghampiri kearah Li Gok.
Pada saat itu Cek Yang, Kouw Am dan Cia Tiang
Khengpun sudah menghadang dihadapan mereka sambil
melintangkan pedang didada masing-masing.
Menampak aksi para lawannya ini, Lie Sianw Hiong
hanya tertawa dingin saja. Begitu pedangnya dikibaskan,
segera berkelebat segulungan sinar putih berkilauan yang
menyambar kemuka Li Gok. Tapi Kiam-sin Li Gok yang
sudah ulung dalam permainan pedang, dia hanya
membungkukkan badannya sedikit untuk meluputkan diri
dari pada samberan sipemuda she Lie, sedang pedang Bwee
Hiang Kiam ditangannya digerakkan untuk memapas
pedang pemuda itu.
Leng Hong sudah mengetahui, bahwa Lie Siauw Hiong
bermaksud untuk merampas kembali pedangnya yang telah
hilang dan kini berada dalam genggaman tangan lawannya,
maka diapun tidak mau mengijinkan lawan-lawan lainnya
merintangi usaha saudaranya ini. Oleh karena itu, diapun
lalu menabaskan pedangnya pada Cek Yang Tojin.
Maksudnya menghadang Cek Yang ini, adalah agar Lie
Siauw Hiong dapat dengan leluasa menghadapi Li Gok.
Begitulah dengan demikian ia telah berhasil dapat
mengunci pertahanan Cek Yang dan Kouw Am. Dilain
pihak Lok-eng-kiam Cia Tiang Kheng bersiul panjang, lalu
pedangnya digunakan untuk menyerang dan mencari titik
kelemahan pada bagian jalan darah 'Leng-tay-hiat' sang
lawan itu. Sementara Leng Hong yang menampak serangan
berbahaya ini, terpaksa menarik pulang serangannya,
kemudian dengan memutarkan tangannya begitu rupa dia
telah tangkis serangannya Cia Tiang Kheng. Dipihak sana
Lie Siauw Hiong beruntun-runtun setelah mengganti
serangannya dari jurusan 'Hui kok-liu-tan' (beterbangannya
senjata rahasia") menjadi jurus 'But-hoan-seng-ie' (barang-
barang berubah dan hintang beralih), ternyata hasilnya
sangat hebat sekali. Karena betapapun Li Gok sudah
berpengalaman penuh dalam permainan pedang, tidak
urung menjadi sangat terperanjat ketika menampak
serangan yang maha dahsyat itu.
Lie Siauw Hiong semakin bertempur semakin gagah dan
ganas, hingga sambil berseru keras ia telah menukik sambil
menghujani bacokan kepada lawannya.
Jurus tersebut tampaknya sepele saja, tapi ternyata
mengandung perubahan yang tak disangka-sangka, hingga
Li Gok yang cukup maklum akan kedahsyatannya serangan
itu, lagi-lagi ia menjadi terkejut pula. Kemudian sambil
bersiul panjang dan secara keras lawan keras menangkis
serangan Lie Siauw Hiong. Sedang Lie Siauw Hiong yang
sudah maju pesat sekali dalam tenaga-dalamnya, iapun
sudah bertekad dalam mengadu kekuatan dan sekalian
hendak membinasakan lawannya.
Siapa tahu lawan itupun sudah memiliki tenaga-dalam
yang cukup tangguh. Karena begitu pedang mereka saling
menempel, seolah-olah ada suatu tenaga yang kian lama
kian bertambah kuat menindih kepadanya, sehingga tidak
terasa lagi dia merasa agak terperanjat juga.
Segera juga dia menarik kembali tenaga-dalamnya yang
lalu dipergunakannya untuk menempel tenaga dalam
lawannya. Dan setelah mereka menempelkan pedang
mereka satu sama lain, tampak tubuh pemuda itu kian lama
kian maju kemuka.
Kejadian ini telah berlangsung dalam waktu yang pendek
sekali, dan selama itu Lie Siauw Hiong telah mengetahui,
bahwa daya kurungan pedang lawan-lawannya itu dapat
berubah-ubah dengan amat cepatnya, sedangkan serangan-
serangan para lawan itu selalu mengancam dari arah
delapan penjuru angin.
Jika dikatakan lambat, tapi kejadiannya ternyata sangat
cepat, demikianlah dengan mengempos semangatnya,
tangan kiri Siauw Hiong segera menggunakan jurus 'Pek-
lian-kay-kong' (ratusan ingatan kosong melompong) dari
ilmu

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pelajaran Kong-kong-kun-hoat
yang telah dipelajarinya dari Peng Hoan Siangjin. Dengan pesat sekali
ia telah memapas tulang rusuk lawannya.
Li Gok tanpa ragu-ragu sudah melompat mundur dengan
amat cepatnya, tapi karena pedangnya kena ditempel oleh
pedang Lie Siauw Hiong, maka iapun sulitlah untuk
menarik pedangnya, hingga ia terpaksa segera balas
menyerang pemuda itu dengan menggunakan tangan
kirinya juga. Lie Siauw Hiong yang merasakan badannya disambar
oleh angin kepalan lawannya, diapun segera mengetahui,
bahwa lawannya telah membokong dirinya, maka dia tak
berani berlaku ayal-ayalan pula dan dengan cepat dia tarik
kembali pedangnya. Dan tatkala senjata itu disabetkan
kebelakang, tuhuhnyapun ikut pula berputar dengan
dibarengi oleh suara "traaang" yang keras sekali. Karena
pada saat itu ternyata dia telah berhasil menangkis serangan
gelap lawannya, dan bersamaan dengan itu, ia segera
melanjutkan serangannya pada Li Gok.
Serangan sekali ini telah dilakukan Siauw Hiong dengan
sepenuhnya tenaga, halmana terbukti dari angin yang
menderu-deru, hingga kekuatannya ini sangat mengejutkan
para lawannya. Dengan wajah tenang Li Gok maju kemuka
untuk menangkis serangan pemuda itu.
Sambil bersiul panjang Siauw Hiong telah menggunakan
langkah Kit Mo Pouw Hoat yang begitu cepat dan lincah,
sehingga dilain saat tubuhnya telah melambung ditengah
udara dan berputar-putar demikian indahnya, dengan mana
ia masih sempat menangkis ujung pedang Li Gok.
Kemudian dengan gerakan secepat kilat ia menghajar
lawannya dengan tangan kirinya.
Tapi Li Gok yang bermata celi, segera tangan kirinya
dikibaskan untuk memunahkan serangan lawannya.
Sudah itu Siauw Hiong membalikkan tangan kirinya
dengan mempergunakan jurus 'Ban-coan-hui-kong' (laksana
sumber air menyerbu udara) dengan mana ia telah
membuyarkan kesamping tenaga ribuan kati dari Li Gok.
Dalam waktu yang bersamaan, tampak sepasang kaki
Lie Siauw Hiong bergerak dan menyerbu bagian bawah dari
pihak lawannya, Li Gok yang sudah terlanjur membalas
menyerang pada si pemuda, tatkala melihat serangan
balasan lawannya kembali menyerang kepadanya, tidak
terasa lagi ia menjadi terkejut sekali, sebaliknya Lie Siauw
Hiong berseru: "Lepaskan tanganmu!"
Tangan kanannya memperhebat tenaga-dalamnya untuk
menggempur musuh, sedangkan sepasang kakinya segera
digerakkan untuk menyapu dan menendang bagaikan kilat
cepatnya. Tapi biar bagaimanapun juga Li Gok sebagai salah
seorang terkemuka dikalangan Rimba Persilatan, pengalamannya sudah banyak dan luas, dengan cepat dia
sudah mengambil keputusannya, kemudian tangan kanannya menjadi kendor dan tangan kirinya digunakan
untuk menangkis serangan pemuda itu.
Lie Siauw Hiong jadi tertawa menampak aksi lawannya.
Lalu tangan kanannya diulurkan dengan cepat, dengan
mana dia sudah berhasil merampas kembali pedang Bwee
Hiang Kiamnya, sedangkan tangan kirinya dengan tidak
melihat-lihat lagi sudah menangkis serangan lawannya.
Dan tatkala tangan kanannya telah dikibaskannya, ia
membentak dengan suara nyaring: "Inilah yang disebut
barang sudah kembali pada pemiliknya yang sah, apakah
engkau situa-bangka she Li masih juga belum mau
menyerah?"
Lalu dia lemparkan pedang biasa yang sejak tadi dia
pakai dalam pertempuran itu, sudah itu ia mengelus-elus
tubuh pedang Bwee Hiang Kiamnya yang dirasakannya
luar biasa sekali tajamnya. Maka dengan kembalinya
pedang itu kedalam tangannya, semangat bertempurnya
pun menjadi berkobar-kobar, hingga tidak terasa lagi ia lalu
berseru panjang.
Tapi siapa tahu Li Gok yang sudah ulung pengalamannya, sekalipun menderita kekalahan yang
tragis, tapi masih saja tidak merasa puas, maka dengan
tangan kanannya lagi-lagi dia memapas kepada lawannya.
Ternyata dia sudah penuh keyakinan akan berhasil,
karena dengan cepatnya diapun sudah menarik keluar
pedang Ie Hong Kiam dari dalam sarungnya, yang segera
ditabaskan dengan gerakan secepat kilat kearah Lie Siauw
Hiong. Lie Siauw Hiong jadi sangat terkejut dan segera berkelit
dengan cepatnya, tapi tidak urung beberapa lembar
rambutnya telah kena juga terpapas kutung oleh pedang Ie
Hong Kiam Li Gok yang amat tajam itu.
Lie Siauw Hiong setelah berhasil dapat mengelitkan
serangan lawannya ini, tidak terasa lagi dia sampai
mengeluarkan keringat dingin karena kagetnya. Kemudian
setelah menetapkan semangatnya, lalu dia berkata dengan
suara dingin: "Tampaknya kau tua bangka ini masih
menyembunyikan kepandaian yang cukup berarti. Bila
memang kau memilikinya, silahkan keluarkan saja
seluruhnya!"
Dia mengatakan begitu karena dia tadi merasakan betapa
kuatnya tenaga-dalam orang tua tersebut.
Dan perkataannya ini ternyata mengandung kebenaran
dan kenyataan, karena sesungguhnya Li Gok tadi telah
mengeluarkan kepandaian keturunan partainya yang
tersebut 'Siang-ceng-kie-kang'.
Tempoh hari begitu dia terima surat undangan Lie Siauw
Hiong, dengan segera dia perlihatkan surat tersebut pada
Cia Tiang Kheng, dan tatkala dia telah berhasil melatih
tenaga-dalamnya begitu rupa, hingga jika dibandingkan
dengan dahulu, kini dia sudah maju pesat sekali. Maka
setelah sekarang dia mengetahui tak ada gunanya untuk
menyembunyikan diri lagi, lantas dia pergi kegunung Ngo
Hoa San, karena sekalipun usianya sudah lanjut, tapi
kelicikan serta kejahatannya tidak menjadi berkurang. Ia
yakin bahwa dirinya sendiri tidak mungkin dapat
mengungguli diri Lie Siauw Hiong, maka dia tidak lupa
untuk mengundang bala bantuan pula.
Pada waktu Lie Siauw Hiong telah berhasil merampas
pedangnya kembali, barulah Li Gok mengeluarkan tenaga
aslinya yang luar biasa itu, hingga dengan satu kali
berbentrokan saja, telah membuat Lie Siauw Hiong hampir
saja terjatuh dan binasa.
Kejadian ini telah menambah semangatnya tidak sedikit.
Tapi waktu melihat Lie Siauw Hiong dalam keadaan yang
begitu berbahaya masih saja dapat memperlihatkan gerakan
kaki yang sehebat dan selincah itu, hal ini sesungguhnya
berada diluar dugaannya sama sekali. Karena sejak dia
pulang dari pertemuan dipuncak gunung Thay-san tempo
hari, dia telah sempat memperkuat daya penyerangan
maupun daya tahan dari barisannya sendiri.
Maka Li Gok yang menampak serangannya tidak
berhasil, hatinya diam-diam merasa gegetun dan sayang,
tapi dia tidak mau tinggal diam saja, karena dari belakang
lagi-lagi dia melancarkan serangan pada Lie Siauw Hiong.
Sementara Lie Siauw Hiong yang menampak aksi
lawannya ini, tanpa melihat-lihat lagi hanya memutarkan
tangannya dengan acuh tak acuh, sebentar ke Timur dan
sebentar ke Barat, tapi dengan gerakan seaneh itu pemuda
ini telah dapat memecahkan serangan musuhnya itu.
Kemudian dengan suara yang sombong ia berkata: "Orang
she Li, kini berhati-hatilah menghadapi serangan balasan!"
Belum lagi suaranya itu habis, ketika pedangnya sudah
menyambar kearah Li Gok.
Dengan pedang Bwee Hiang Kiam berada dalam
genggaman tangannya, tanpa ragu-ragu pula Siauw Hiong
mempergunakan ilmu gerakan kaki dari pelajaran 'Kit Mo
Pouw Hoat', hingga dengan gerak itu dan pedangnya ia
telah menyerang musuhnya dengan sekaligus. Sedang
Gouw Leng Hong yang juga sudah mengetahui, bahwa saat
ini adalah saat melakukan gerak penjepitan untuk
memusnahkan desakan kepungan barisan pedang lawan
mereka, segera menggunakan ilmu pedang dari leluhurnya,
yaitu Toan-hun-kiam-hoat,
dengan mana ia telah melancarkan serangan hebat yang digabungkan dengan
gerak kaki yang mereka baru pelajari dari kitab Sansekerta
yang telah diturunkan oleh Peng Hoan Siangjin, hingga
dengan ini mereka berdua benar-benar telah membingungkan pihak lawan mereka.
Begitulah dengan menerbitkan suara "cros" beberapa
kali, sepasang pedang mereka bagaikan tembok yang rapat
sekali telah menggencet lawan-lawan mereka dari kiri-
kanan dengan amat hebatnya.
Sekali ini, benar-benar lawan mereka tengah mengalami
ancaman yang gawat sekali.
Begitu badannya berkelebat, Lie Siauw Hiong sudah
keluar dari kurungan pedang lawannya, kemudian dengan
ganasnya dia menusukkan pedangnya kearah Li Gok,
sambil berbareng melanjutkan gerakan pedang itu untuk
dipakai menyerang Kouw Am.
Kedua orang ini setelah berhasil menembus kurungan
barisan pedang musuh, bagaikan ikan yang ketemu air
kembali, dengan gesit mereka menerobos kesana kemari
dan dengan memperdengarkan suara "Cras, cras" beberapa
kali, pedang Lie Siauw Hiong berulang kali telah beradu
dengan pedangnya Li Gok.
Begitu kedua lawan lama ini mengeluarkan kekuatan
masing-masing, maka Li Gok mengetahui, bahwa menang-
kalahnya adalah ditentukan dalam saat ini juga. Dengan
berseru dia memusatkan seluruh kekuatan serta kemahirannya dalam usaha melawan lawannya, dengan
beruntun pedang mereka saling beradu pula untuk kesekian
kalinya, kemudian Lie Siauw Hiong dengan memusatkan
seluruh kekuatannya pada tangan kanannya yang mencekal
pedang, dengan tangkas dia menangkis pedangnya Li Gok.
Dan atas penangkisan pedang sipemuda sekali ini, Li Gok
tidak dapat mempertahankan lebih lanjut, berhubung
pedangnya dengan serta merta, terlempar keudara!
Kiam-sin Li Gok sekalipun mengalami kekalahan,
tidaklah ia menjadi gugup, tapi dengan menggunakan
tangan kirinya ia menjaga dadanya, sedang tangan
kanannya tetap melancarkan serangan balasan pada
pemuda kita. Lie Siauw Hiong sambil tertawa panjang dan dengan
gerak acuh tak acuh, lalu dia tancapkan pedangnya kedalam
tanah, kemudian dengan tangan kosong dia menangkis
pukulan lawannya.
Tenaga yang dikeluarkannya ini benar-benar sangat
hebat, hingga dengan menerbitkan suara "Pak!" yang amat
nyaring, beradulah kedua tangan tersebut. Dan sewaktu
kedua tangan itu saling beradu, Lie Siauw Hiong lalu
menarik-kekuatan tangannya dengan menyedot tangan
lawannya, sehingga tangannya Li Gok melekat erat sekali.
Sedangkan dipihak lainnya, Gouw Leng Hong dengan
memutarkan pedangnya telah mengurung ketiga orang
lawannya, dan dengan pedangnya yang dimainkan
sedemikian dahsyatnya, ia telah dapat menggiring ketiga
lawannya mundur kesebelah kiri. Karena tak mau ia
dibantu oleh pemuda kita, maka begitulah dia menggiring
Cek Yang dan kawan-kawan kearah kiri.
Li Gok yang mengadu lweekang dengan Lie Siauw
Hiong, akhirnya telah mulai tampak siapa yang bakal
menang dan siapa pula yang akan kalah, karena biarpun ia
telah mengempos semangatnya, tetap tidak urung ia telah
terdesak juga oleh lawannya sehingga napasnya empas-
empis. Kouw Am dan Cek Yang Tojin yang tidak mengetahui
maksud pemuda she Lie itu, karena terpisah dari
gelanggang pertempuran itu, maka merekapun tidak dapat
saling bantu kawan-kawannya, lebih-lebih karena Gouw
Leng Hong telah memainkan pedangnya bagaikan angin
cepatnya, hingga sesaat lamanya mereka tak berdaya akan
keluar dari kalangan pertempuran barang setindakpun.
Sekonyong-konyong Cia Tiang Kheng dan Cek Yang
Tojin, dengan gerakan yang berbareng mendesak kepada


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Gouw Leng Hong, sedang Kouw Am menggunakan
kesempatan ini untuk buru-buru melepaskan diri dan berlari
kearah Li Gok, untuk membantu kawan itu yang mulai
keteter. Halmana, telah membuat Gouw Leng Hong
menjadi terperanjat, hingga dengan cepat dia putarkan
pedangnya untuk menghalang-halangi jalan larinya Kouw
Am, tapi tetap dia tidak berhasil. Maka setibanya Kouw
Am disisi kawannya, buru-buru ia mengulurkan tangannya
kepunggung kawannya, dengan jalan mana ia telah
membantu menyalurkan kekuatan lweekangnya pada
kawannya untuk melawan musuh.
Ternyata tenaga-dalam Kouw Am tak dapat dicela,
karena begitu ia membantu Li Gok, Lie Siauw Hiong segera
merasakan ada tenaga yang keras sekali menindih
kepadanya, hingga tidak terasa lagi semangatnya jadi
tergoncang juga, tapi buru-buru ia memusatkan kekuatannya untuk menahan tenaga lawannya itu.
Gouw Leng Hong yang melihat pemuda kita seakan-
akan agak keteter, iapun segera putarkan pedangnya
semakin cepat pula, sehingga lawannya terdesak hebat, dan
hanya Cia Tiang Kheng yang telah mengeluarkan
kepandaiannya yang seimbang dahsyatnya, barulah dapat
mempertahankan diri sehingga tidak terdesak kesuatu
pinggiran. Cek Yang yang melawan musuhnya semakin lama
semakin tidak ungkulan, sambil berseru keras pedang
ditangannya lalu digerakkan dengan menggunakan jurus
'Pun-tian-jip-lui' (kilat menyamber kedalam guntur) dari
pelajaran 'Kiu-kiong-sin-heng-kiam',
tiba- tiba ia mengajukan serangan menggertak untuk kemudian berlompat mundur.
Gouw Leng Hong sama sekali tidak menyangka, bahwa
lawannya ini akan dapat berlaku sedemikian licinnya,
berhubung Cek Yang ingin sekali membantu Li Gok turun
tangan terhadap diri Siauw Hiong, hingga tidak terasa lagi
hatinya jadi terkejut dan buru-buru menangkis serangan Cia
Tiang Kheng, akan kemudian ia segera memburu musuh
itu. Dengan sebat ia kelitkan tusukan pedang Cia Tiang
Kheng, sudah itu ia melesat menyusul Cek Yang, yang pada
saat itu sudah lari sejauh tiga tombak lebih. Oleh karena ia
telah mengetahui betapa kejam dan telengasnya Cek Yang,
maka dalam gugupnya tanpa memperhitungkan sesuatu
lagi, lekas-lekas ia bentangkan ilmu yang dipelajarinya dari
Peng Hoan Siangjin, yaitu ilmu mengentengi tubuh yang
berasal dari Thian-tiok.
Ilmu dari Thian-tiok ini ternyata bukan omong kosong.
Karena begitu dia bentangkan ilmu tersebut, segera juga ia
mengejar Cek Yang Tojin bagaikan angin cepatnya.
Hati Cek Yang Tojin yang sangat gugup, telah membuat
ia berlari terlebih keras lagi, ketika dengan sekonyong-
konyong ia merasakan ada angin yang menyambar dari
arah belakangnya. Halmana sudah barang tentu, telah
membuatnya jadi terkejut bukan main, berhubung dia tak
mengetahui, bahwa kepandaian mengentengi tubuh Gouw
Leng Hong kini telah mencapai kesempurnaannya.
Dalam kekagetannya itu, ia segera mengirimkan tenaga-
dalam yang sehebat-hebatnya dari kejauhan, untuk
menyerang kepada Lie Siauw Hiong dengan jurus terlihay
dari partay Bu-tong yang bernama ilmu Kian-kun-cie.
Kekuatan ilmu Kian-kun-cie ini sesungguhnya sangat
luar biasa sekali, Gouw Leng Hong yang menyaksikannya
hal itu, matanya menjadi merah, maka sambil berseru keras,
tubuhnya mengapung kembali, kemudian dengan menggunakan jurus 'Thian-ma-heng-kong' (kuda semberani
berlari diawan) dia melewati kepalanya Cek Yang Tojin,
dengan sebelah kakinya dibarengi menendang dengan
sepenuh tenaganya kearah musuh itu.
Cek Yang Tojin tidak menduga bahwa Gouw Leng
Hong yang tubuhnya tengah berada ditengah-tengah udara
dapat mengeluarkan serangan yang selihay itu, maka buru-
buru ia berkelit dengan menggunakan jurus 'Hong-tiam-
tauw' (burung hong manggutkan kepala), mengelitkan
sepakan Gouw Leng Hong itu. Dan bertepatan dengan
kejadian tersebut, Lie Siauw Hongpun telah menggunakan
kesempatan untuk melangsungkan serangan balasan kepada
Cek Yang Tojin.
Ketika tubuh Gouw Leng Hong masih berada ditengah
udara, sekonyong-konyong dia merasakan ada sinar pedang
yang berkelebat menyerang dirinya.
Waktu dia melirikkan matanya memandang, ternyata
Cia Tiang Kheng-lah yang melakukan penyerangan
tersebut, maka dengan membalikkan tubuhnya, dia segera
menangkis serangan musuhnya itu.
Sementara Lie Siauw Hiong yang kini dengan seorang
diri menghadapi tiga orang lawan, dia masih tetap dapat
mempertahankan dirinya dengan lebih bersemangat pula,
maka sambil tertawa terkekeh-kekeh ia berkata: "Para ahli
waris dari partai-partai yang terhormat, aku kira kalianpun
masih ingat kejadian sepuluh tahun yang lampau itu, yaitu
Bwee San Bin Tayhiap dengan seorang diri telah melawan
kalian bertiga juga, sedangkan Cia Loo-Su dengan secara
yang bukan main hebatnya telah membokongnya .."
Tatkala itu Li Gok telah menggunakan kesempatan
selagi Lie Siauw Hiong bercakap-cakap, diam-diam dia
telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga-dalamnya
untuk menggempur pihak lawannya, hingga Lie Siauw
Hiong merasa telapak tangannya agak panas, kemudian
dengan mengempos semangatnya yang menyala-nyala, dia
telah mempertahankan dirinya, sedangkan dari mulutnya ia
terus mengoce: "Kepandaian Cia Loosu yang bernama
Chit-coat-ciu-hoat atau 'tujuh pukulan maut' itu, benar-
benar hebat sekali, karena sekali totok saja Sin-kun telah
terkalahkan, dan nama yang didapatkannya sungguh
bukannya nama kosong belaka .."
Perkataan-perkataan yang diucapkannya itu, sepatah
demi sepatah sangat menusuk sekali perasaan lawannya,
hingga Cia Tiang Kheng yang mendengar perkataan
pemuda kita, dalam hatinya merasa pedih bagaikan disayat-
sayat oleh pisau tajam. Lalu pedangnya yang tajam tiba-tiba
ditusukkannya dengan hebat sekali, sehingga Gouw Leng
Hong yang menangkisnya masih merasakan kehebatan
getaran tenaga-dalam lawannya yang benar-benar amat
dahsyat, hal mana mau tak mau harus diakuinya juga.
Muka Cia Tiang Kheng pucat bagaikan besi, tapi ia telah
paksakan diri tertawa dingin sambil berkata: "Orang she
Lie, permusuhan kami tentu saja mempunyai jalan sendiri-
sendiri, yaitu permusuhan ada mulai dan akhirnya,
bagaikan hutang yang tentu pula ada penagihnya. Ayah
orang she Gouw ini, pada tahun yang lampau dibawah air
terjun telah membunuh ayahku, maka hutang jiwa itu kini
harus dilunaskan .."
Dan begitu ia selesai berkata, lalu pedangnya dipakai
membabat leher Gouw Leng Hong dengan gerakan secepat
kilat. Lie Siauw Hiong sebenarnya berkesan baik sekali
terhadap Cia Tiang Kheng ini, hingga apa yang
dikatakannya itu, hanya merupakan satu nasihat belaka.
Dia tidak tahu bahwa selama beberapa tahun ini siang dan
malam lawannya ini selalu terkenang-kenang atas kejadian-
kejadian yang telah lampau itu, sehingga pedomannya
sebagai 'seorang ksatria sejati yang boleh mati tapi tidak
boleh terhina orang', jadi semakin jelaslah dalam
kesimpulannya. Seketika itu juga tiba-tiba Gouw Leng Hong terdengar
berseru: "Berhenti .."
Teriakan Gouw Leng Hong ini adalah merupakan
pemusatan dari kekuatan tenaga lweekangnya, begitu
suaranya keluar sekeras suara genta, batu-batu seolah-olah
pada berhamburan, sehingga meski orang-orang yang
berada dalam gelanggang pertempuran itu rata-rata terdiri
dari jago-jago kelas satu, tidak urung mereka jadi terkejut
juga mendengar seruan Leng Hong yang memekakkan
telinga itu. Dengan menggunakan kesempatan selagi Cia Tiang
Kheng tengah terkejut, tubuhnya Gouw Leng Hong sudah
melesat tiba dan dengan cepat telah mencekal Cia Tiang
Kheng, hingga perbuatan ini telah membuat Cia Tiang
Kheng terkejut bukan kepalang. Maka sambil menghela
napas panjang ia berkata: "Bagus, orang she Gouw, apakah
kau merasa tidak puas .."
Dengan suara lantang Gouw Leng Hong menjawab: "Cia
Loosu, sekali-kali janganlah engkau salah sangka, aku .. aku
.." Dia yang sesungguhnya belum lama baru turun gunung,
sehingga pengalaman yang dikumpulkannya masih belum
cukup banyak, pada saat itu benar-benar tidak dapat
menjawab sebagaimana mestinya, oleh karena itu, dia
hanya dapat menjawab dengan suara yang tidak lancar:
"Aku .. aku .." dua perkataan saja, sedangkan perkataan
selanjutnya gagal keluar dari tenggorokannya, sehingga
saking gugupnya, seluruh mukanya menjadi merah saking
jengahnya. Sekonyong-konyong dari balik bayangan pohon Bwee
terdengar suara orang tua yang parau: "Cia Sieheng, coba
kau lihat, siapakah gerangan aku ini?"
Dari balik bayangan pohon Bwee tersebut, dengan secara
tiba-tiba terdengar suara orang, yang kedengarannya sangat
dingin sekali. Dan tatkala Cia Tiang Kheng mendengar
suara tersebut, ia jadi tercengang sekali. Sudah itu, diantara
pohon Bwee itu tampak berjalan keluar seorang tua dengan
tindakannya yang tenang sekali.
Cia Tiang Kheng dan Li Gok jadi sangat terkejut
menyaksikan perkembangan peristiwa ini, hingga muka
mereka menjadi pucat bagaikan abu dan tidak sepatah
katapun dapat diucapkan mereka disaat itu.
Para ciang-bun-jin dari masing-masing partai yang
berada dalam gelanggang pertempuran tersebut, semuanya
sama-sama berkeadaan demikian juga. Siapakah gerangan
orang yang muncul dihadapan mereka itu" Ialah orang yang
pada beberapa belas tahun yang lampau mereka telah
bokong dan mengira bahwa orang itu telah mati, yaitu Chit-
biauw-sin-kun Bwee San Bin!
Pada waktu yang lampau dimana Bwee San Bin pernah
mengembara di Kang-lam dan Kang-pak, tindak-tanduknya
selalu penuh diselubungi rahasia, hingga apa yang telah
dikatakannya, pastilah segera dikerjakannya. Dia sudah
berkebiasaan untuk berbicara dengan secara getas dan pasti,
halmana, jika dibandingkan dengan perkataan Li Gok,
tentu saja tidak sama, karena yang belakangan itu ternyata
perkataannya tidak dapat dijadikan pegangan yang teguh.
Begitu Chit-biauw-sin-kun Bwee San Bin muncul,
keempat orang lawannya menjadi terkejut bukan buatan,
hati mereka seolah-olah terasa kosong belaka, sedangkan
Bwee San Bin sendiri seakan-akan tidak menghiraukan
sama sekali atas kelakuan para lawannya itu, maka dengan
suara yang lemah-lembut ia berkata kepada Cia Tiang
Kheng: "Orang yang dilahirkan kedunia itu, tentu sekali
mempunyai cita-cita sendiri. Mengenai kelakuan dan
tindakan yang menyeleweng yang pernah dilakukan selama
hidupnya, asalkan dia dapat menginsyafi kesalahannya dan
mau mengubahnya, maka itulah masih belum terlambat."
Chit-biauw-sin-kun yang terkenal sebagai seorang Bun-
bu-coan-cay atau mahir ilmu surat dan bersilat dengan
sekaligus, tempo hari diwaktu pertama kali bertemu dengan
Cia Tiang Kheng, diapun mempunyai kesan-kesan yang
baik sekali terhadap diri anak muda ini.
Maka bersamaan dengan itu, ia sendiripun sering
berpikir: "Andaikata aku ini adalah dia sendiri, aku
bagaimana pula harus bertindak?"
Sekalipun Cia Tiang Kheng dengan totokannya pernah
memunahkan seluruh kepandaiannya, sampaikan jiwanyapun sangat terancam oleh karenanya, tapi kesannya
terhadap siorang she Cia tinggal tetap tidak berubah. Ia
sesungguhnya dapat memaafkannya atas tindakan Tiang
Kheng yang tidak disengaja itu, meski orang-orang
dikalangan Kang-ouw mengatakan, bahwa Bwee San Bin
amat sempit jalan pikirannya, hingga tidak kapok akan
permusuhan dibiarkan begitu saja tanpa dibalasnya. Maka
dengan tindakannya terhadap Cia Tiang Kheng pada kali
ini, bukankah itu berlawanan dengan kebiasaan sehari-hari
dikalangan Kang-ouw"
Lie Siauw Hiong sendiripun mempunyai kesan yang
cukup baik pula terhadap Cia Tiang Kheng ini. Sekarang
dengan munculnya dia disitu, adalah untuk mewakilkan
orang tua itu menuntut balas kepada musuh-musuhnya,
maka pada saat itu ketika ia mendengar perkataan orang tua
tersebut, diapun mengetahui bahwa orang tua itu telah
memberi pengampunan terhadap Cia Tiang Kheng.
Sedang Cia Tiang Kheng sendiri ketika melihat


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

munculnya Bwee San Bin, hatinya jadi merasa sangat
menyesal atas segala tindakannya pada waktu-waktu yang
lampau itu, sehingga dengan berdiri terpekur ia menyekal
pedangnya, dengan ujungnya tergantung hampir menyentuh tanah.
Diwaktu mendengar orang tua itu berkata: "..AsaIkan
orang yang bersalah dapat mengubah kesalahannya .."
Tiang Kheng seolah-olah orang yang mendengar guntur
ditengah hari bolong. Segala sesuatu yang terjadi tempo
hari, kini terbayang kembali satu-persatu dikelopak
matanya, hingga apa yang ia tak dapat pecahkan selama
sepuluh tahun itu, kini telah dapat penyelesaian dengan
secara memuaskan sekali. Maka dalam detik yang pendek
itu, dia merasa dirinya seolah-olah menjadi lebih tua berapa
puluh tahun, demikian juga dengan pengertiannya yang
tidak dimengertinya pada masa yang lampau itu ..
Sekonyong-konyong dia mengangkat pedangnya, setelah
memandang sesaat pada Bwee San Bin, sekonyong-
konyong ia telah menabaskan pedangnya dengan menerbitkan suara "cras", sudah itu pedangnya telah
berpindah ketangan kirinya dan sekali lagi terdengar suara
"cras" yang telah mengejutkan semua orang.
Setelah peristiwa tersebut terjadi, maka tampaklah
sepasang tangannya penuh berlumuran darah yang jatuh
berderai-derai, karena ternyata sepasang ibu jarinya telah
kutung dan jatuh keatas tanah. Sudah itu dia menjepit
pedangnya dengan jari teunjuk dan jari tengahnya,
kemudian melontarkan pedang 'Lok-eng-kiam' sehingga
menancap sampai setengahnya diatas sebatang pobon,
kemudian pemilik pedang itu sendiri melesat tanpa
menolehkan kepalanya lagi kearah pihak kawan dan
lawannya. Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng Hong yang melihat
Tiang Kheng telah memusnahkan sepasang ibu jarinya yang
mana berarti bahwa untuk seumur hidupnya dia tak akan
dapat memainkan pedangnya lagi, mereka berdua merasa
sangat menyesal dan sayang akan lenyapnya kemampuan
memainkan pedang siorang she Cia yang begitu bagus dan
libay. Sedangkan Bwee San Bin sendiri, sambil mendongak
kelangit, diam-diam memuji didalam hatinya atas tindakan
Cia Tiang Kheng sebagai seorang ksatria sejati.
Ketika angin gunung meniup, daun-daun pohon
bergoyang-goyang yang berkeresekan.
Seketika itu Lie Siauw Hiong dan Gouw Leng Hong
mendapat firasat sesuatu yang tidak wajar, sebaliknya Li
Gok, Cek Yang dan Kouw Am bertiga, kini menginsyafi,
bahwa keadaan mereka lebih banyak celaka daripada
selamat, tapi semua itu membuat Li Gok dan Cek Yang
yang tengah menghadapi saat-saat kematian mereka tinggal
tetap tidak merasa menyesal, maka bergerak dengan
berbareng, mereka telah menggunakan kesempatan selagi
Lie Siauw Hiong tidak berjaga-jaga, mereka segera
melakukan penyerangan dengan serentak.
Tapi Lie Siauw Hiong yang menampak serangan
tersebut, lalu membentak dengan suara nyaring, kemudian
sambil memasang bhesinya dengan teguh dia menangkis
serangan kedua orang itu dengan sehebat-hebatnya,
sehingga ia masih sempat melancarkan balasan terhadap Li
Gok. Sedangkan penyerangan Cek Yang yang telah dikirim
balik dengan sekaligus, telah membuat orang yang
belakangan ini terdesak sehingga mundur lima atau enam
tindak jauhnya.
Disaat itu Gouw Leng Hong telah mengetahui maksud
Lie Siauw Hiong, maka dengan cepat dia menghalangi Cek
Yang dengan mengirimkan sebuah tusukan, halmana telah
dilakukannya untuk mencegah agar Cek Yang tidak turut
pula dalam gelanggang pertempuran untuk mengeroyok
Siauw Hiong dengan satu lawan tiga. Sedangkan Cek Yang
sendiripun telah maklum, bahwa Lie Siauw Hiong
bermaksud agar ia dapat dijatuhkan oleh Gouw Leng Hong
dengan satu lawan satu.
Begitu ia menyerang kembali, Gouw Leng Hong tidak
main sungkan-sungkan lagi, karena sesungguhnya ia paling
benci terhadap Cek Yang ini, apa lagi dia inilah yang telah
menyebabkan kematiannya Kim Loo-ji, hingga peristiwa
mengenaskan itu membuat hatinya bertambah mendidih
dan bertekad bulat untuk membinasakan musuh besarnya
ini. Cek Yang Tojin yang pernah menerima pengajaran dari
pemuda ini, dimanalah ia berani berlaku gegabah, maka
diapun segera melancarkan pula serangan-searngan balasan
yang tidak kalah hebatnya, tapi kesemuanya itu tidak dapat
menjatuhkan pemuda kita.
Bwee San Bin yang menyaksikan pertempuran tersebut
dari samping, diapun mengetahui bahwa baik tenaga-dalam
maupun kepandaiannya, Gouw Leng Hong sudah dapat
digolongkan pada tingkat ahli silat kelas satu, tapi sayang
sedikit pengalaman bertempurnya masih kurang, hingga tak
terasa lagi ia mengerutkan keningnya dan berkata:
"Kepandaian anak ini ternyata sudah jadi, tapi dia tak dapat
berlaku secerdik Hiong Jie .."
Tengah dia termenung, sekonyong-konyong pedang
Gouw Leng Hong dari langkah Tiong-kiong telah
memasuki Hong-bun, dengan saling berhadapan dia
melancarkan serangan yang amat ganasnya kepada Cek
Yang dari arah samping. Jurus yang digunakannya ini
benar-benar hebat sekali, sehingga membuat Cek Yang jadi
terkesiap dan dengan memaksakan diri ia melakukan
penangkisan dengan gerak yang tidak wajar.
Ternyata jurus yang dipakai oleh Gouw Leng Hong ini
adalah merupakan gertakan yang berisi, begitu dia
menampak serangannya ditangkis, diapun sudah mengubah
pula serangannya.
Chit-biauw-sin-kun yang menampak hal itu, tidak terasa
lagi dengan suara yang dingin lalu menimbrung sambil
berkata: "Serang bagian bawahnya!"
Mendengar kata orang tua itu, Leng Hong menjadi agak
tercengang, tapi seketika diapun mengertilah maksud orang
tua itu. Oleh karena pengalaman Chit-biauw-sin-kun itu
sangat hebat, sudah tentu saja apa yang dikatakannya itu
pasti akan membawa hasil yang baik sekali baginya, maka
dengan gerakan secepat kilat ia telah menendang Cek Yang,
yang telah mengenai tepat sekali pada tubuh batang pedang
toosu itu sehingga senjata itu terlepas dan terlempar
keudara. Cek Yang Tojin yang kini kehilangan pedangnya,
semangatnya entah sudah terbang kemana, sambil
membalikkan tubuhnya, dia segera mundur sehingga
sepuluh langkah lebih jauhnya. Gouw Leng Hong yang
kemarahannya telah memuncak, sepasang matanya menjadi
merah. Setindak demi setindak dia melangkah maju sambil
berseru: "Cek Yang Toocat, seumur hidupmu senantiasa
kau berbuat kejahatan, sekarang kau harus menyerahkan
jiwamu sebagai penebus dosa-dosamu itu!"
Cek Yang mengetahui, bahwa Gouw Leng Hong
bukanlah menjadi lawannya yang setimpal, tapi dia masih
mempunyai harapan satu-satunya untuk meloloskan
dirinya, yakni sambil mundur dia menjatuhkan dirinya
ketanah, dengan mana ia bertekad untuk mengambil
pedang Ie Hong kepunyaan Li Gok. Maka Leng Hong yang
menampak aksi lawannya ini, iapun menjadi terkejut dan
dengan cepat pula memasukkan pedangnya kearah tubuh
musuhnya itu. Cek Yang Tojin tidak menyangka bahwa Gouw Leng
Hong dapat melancarkan serangan yang sedemikian
cepatnya, maka pada sebelum ia keburu membalikkan
tubuhnya, pedang Gouw Leng Hong telah terpancang
dibadannya. Tapi dalam saat kematiannya ini, dia masih
sempat berteriak dan melontarkan pedang Ie Hong Kiam itu
kepada Gouw Leng Hong.
Sipemuda she Gouw yang pada saat itu sudah berhasil
menancapkan pedangnya ditubuh Cek Yang Tojin, kini
dengan secara tiba-tiba melihat lawannya dengan sisa
tenaganya yang terakhir telah melontarkan pedang Ie Hong
Kiam dengan sekuat tenaganya, halmana terbukti dengan
menderu-deru angin yang keluar dari pedang yang
dilontarkannya itu, hingga pedang tersebut dengan lurus
menjurus kebadannya.
Leng Hong yang belum cukup pengalaman dalam Rimba
Persilatan, ketika menampak kejadian ini ia menjadi
kesima. Syukur juga Bwee San Bin lekas berteriak:
"Gunakan pedangmu!"
Leng Hong insyaf dan segera melontarkan pedangnya
sendiri, sehingga dengan menerbitkan suara yang keras
sekali pedang itu saling beradu dengan memancarkan
bunga-bunga api.
Pedang Ie Hong adalah pedang kuno, sedangkan pedang
Toan-hun-kiam dapat menabas besi bagaikan tanah liat.
Tapi atas beradunya kedua pedang ini, pedang Toan-hun-
kiam patah menjadi dua potong, sedangkan pedang Ie
Hongpun karena gempuran tersebut, arahnya menjadi
miring dan melesat agak kekiri.
Ternyata tenaga Cek Yang cukup hebat, karena terbukti
sekalipun pedang Ie Hong Kiam yang dilontarkannya itu
kena dibentur dengan pedang lawannya, tapi pedang itu
masih tetap meluncur kemuka terus dan akhirnya jatuh
dalam jarak sepuluh tombak lebih dan masuk kedalam
jurang yang ribuan tombak dalamnya.
Demikianlah, pedang kuno ini kini yang semulanya
berasal dari dalam tanah, telah berbalik kepada asalnya
tersimpan dibawah bumi pula.
Teriakan Cek Yang Tojin yang begitu nyaring telah
mengagetkan orang yang sedang bertempur dipihak
lainnya. Oleh karena tangan Kouw Am yang menempel
dipunggung Li Gok telah ditarik kembali, maka Li Gok
yang secara sekonyong-konyong merasakan tenaganya
menjadi kendor, kini dia tahu pasti, bahwa ia akan
mengalami kebinasaan, tatkala mengetahui Kouw Am ingin
meninggalkannya pergi dan membiarkan dirinya sendiri
melawan musuh, hingga tak terasa lagi dia menjadi geram
dan berseru nyapnyap: "Siangjin, tunggulah sebentar!"
Dengan tangan kirinya dia menyerang kawannya sendiri,
tapi Kouw Am dengan cepat menangkis serangan rekannya,
kemudian dengan meminjam tenaga lawannya, dia
berlompat mundur tiga atau empat tombak jauhnya. Sudah
itu dengan cepat bagaikan angin dia telah melesat pergi.
Gouw Leng Hong yang kehilangan Toan-hun-kiamnya,
dengan bertangan kosong ia terpaksa menghalang-halangi
jalan mundur lawannya, tapi kemudian Cbit-biauw-sin-kun
kedengaran berkata: "Hong Jie, biarkanlah dia melarikan
diri!" Gouw Leng Hong jadi tercengang, karena seketika itu
Kouw Am dengan cepat telah pergi jauh. Bwee San Bin lalu
berkata: "Orang itu belum banyak melakukan kejahatan,"
kata Bwee San Bin, "apa lagi dia adalah murid Budha,
maka biarkan saja dia pergi tanpa diganggu."
Sementara Lie Siauw Hiong dengan menggunakan
kesempatan selagi Li Gok tengah berkutat dengan Kouw
Am, ia telah mengumpulkan tenaganya dengan cepat serta
melancarkan serangannya, sehingga Li Gok kena terpukul
dan terpental kesuatu tempat yang terpisah tiga atau empat
tombak jauhnya. Selanjutnya sambil melintangkan pedangnya Lie Siauw Hiong lalu berkata: "Orang she Li,
urusan hari ini, sudah jelas tak akan berakhir baik bagi
dirimu .."
Li Gok tidak menjawab perkataan pemuda kita, hanya
dengan sekonyong-konyong saja ia menghela napas sambil
berkata: "Sudahlah!" Kemudian dengan perasaan putus asa
ia berkata pula dengan nada sedih: "Sudahlah, sudahlah,
hari ini aku orang she Li mengaku kalah terhadapmu .."
Sehabis berkata begitu, ia telah mengangkat tangannya dan
terus dipukulkan pada batok kepalanya sendiri, hingga
dengan mengeluarkan suara "buk!" yang nyaring sekali,
seketika itu juga daging dan darahnya berceceran dan
beterbangan diudara ..
Dengan demikian, Kiam-sin Li Gok yang bertabiat
kejam dan telengas serta licik, dimana separuh hayatnya
berbuat kejahatan yang tidak ada bandingannya, akhirnya
telah menemui juga ajalnya dibawah pukulan tangannya
sendiri! Ketika angin gunung meniup sepoi-sepoi basah dengan
mengeluarkan suara berkeresekan dan berirama bagaikan
musik tengah mengalun sayup-sayup sampai dengan
disertai bebauan bunga Bwee dan Siong, orangpun sukar
percaya, bahwa ditempat yang demikian sunyi dan
tenangnya itu pernah terjadi pertempuran yang sehebat tadi!
Lima jago dari Tiong-ciu setelah mundurnya partai
Siauw-lim, mereka tadinya terkenal sekali, sedangkan nama
merekapun cukup menggemparkan dalam Rimba Persilatan. Tapi setelah pertempuran sekali ini, mereka
seluruhnya dapat dijatuhkan oleh Lie Siauw Hiong dan
Gouw Leng Hong, maka apa yang dikatakan bahwa dunia


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ini tidak tetap, adalah suatu kenyataan yang sukar dibantah
pula. Diatas puncak gunung Ngo-hoa-san angin utara meniup
dengan amat dinginnya, dikala mana Chit-biauw-sin-kun
dengan memegang tangan kedua pemuda itu tampak berdiri
sambil memandang ketempat jauh. Sedang kejadian
beberapa belas tahun yang lampau satu-persatu melintas
dikepalanya bagaikan sebuah impian saja. Limabelas tahun
yang lampau dimana para lawannya pernah berusaha
membinasakannya, kini yang mati sudah mati, yang lari
sudah lari, hingga kini dia tidak mempunyai pikiran apa-
apa pula. Kepandaian kedua pemuda ini boleh dikatakan sudah
jauh melampaui para guru mereka, maka selama seratus
tahun ini, didaerah Tiong-goan hanya merekalah yang
paling jago dan hebat, oleh karena itu, cara bagaimanakah
dia tidak merasa puas"
Angin gunung meniup dan mengubah awan-awan
diangkasa. Dalam pada itu dengan nada suara penuh
kesukaan kedengaran Bwee San Bin bersenandung:
"Menyanyi sambil menghadapi arak, hidup orang sampai
kapan" Misalnya matahari terbit, dimana ada batas-batas
waktunya dimana akhirnya ia harus mengundurkan diri
pula" Sewaktu masih muda, selayaknya pikiran yang ruwet
harus dihilangkan .."
(Oo-dwkz-oO) Semalam suntuk salju yang besar turun kemuka bumi,
sehingga kota Tiong-An seolah-olah ditabur oleh perak.
Pada pagi hari salju sudah berhenti turun, langit pelahan-
lahan mulai terang kembali. Dijalanan sebelah barat tampak
mendatangi sebuah kereta yang ditarik oleh keledai, dengan
kusirnya yang bernama Loo-Ong saban-saban terdengar
berteriak dan memukul keledainya yang sudah mengigigil
kedinginan. Lalu dia menengadahkan kepalanya memandang
kelangit, dimana dia melihat awan yang berwarna biru, tapi
waktu melihat kembali kemuka bumi yang masih tertutup
oleh salju yang diam-diam dia menggerutu: "Kemarin
malam salju turun sedemikian tebalnya, dikuatirkan
pertukaran musim sudah tidak cocok lagi!"
Sekonyong-konyong siliran angin yang keras telah
meniup datang, sehingga tanpa merasa lagi ia menggigil
kedinginan dan buru-buru menarik mantalnya untuk
menutupi telinganya.
Diatas jalanan tidak tampak bayangan seorang
manusiapun, hingga dalam hati Loo Ong berkata: "Biarlah
aku tunggu sebentar pula. Setelah masing-masing pintu
dibuka dan melihat jalanan begini licin, sekalipun orang-
orang yang sehari-hari tidak pernah memakai kereta, kini
terpaksa harus menaik keretaku juga."
Begitulah dia menjalankan keretanya disepanjang jalan
sebelah barat, dan setelah berjalan kurang lebih hampir
setengah perjalanan itu ia melihat pintu sebuah rumah yang
besar sudah terpentang lebar. Didepan pintu itu tampak
seorang anak kecil tengah menyapu salju. Loo Ong yang
bermata tajam, dengan cepat ia sudah dapat mengenali
anak yang tengah menyapu salju itu sambil berkaok: "Siauw
Ie, tidak heran selama berapa bulan ini aku tidak pernah
menjumpaimu, kiranya kau telah bekerja pada tuan
besarmu disini" Kemarin malam mengapa kau tidak turut
datang main kartu?"
Orang yang dipanggil Siauw Ie itu hanya seorang anak
yang baru berumur kurang lebih empat atau limabelas
tahun saja. Badannya ditutupi dengan pakaian yang sudah
tua dan compang-camping, tapi semangatnya tetap
menyala-nyala, sedikitpun dia tidak merasakan hawa udara
yang dingin itu. Dan tatkala mendengar ia ditanya, Siauw
Ie lalu menjawab: "Ong Twako, aku tidak mau main kartu
lagi, sekarang aku sungguh amat sibuk, setiap malam
nonaku pasti akan mengajariku huruf-huruf."
Mendengar jawaban anak itu, kedengaran Loo Ong
tertawa terbahak-bahak dan berkata: "Aku sungguh tidak
menyangka, bahwa kau yang sudah sebesar ini baru mulai
belajar mengenali huruf, apakah barangkali kau ingin
menjadi Cong-goan?" (Cong-goan = jaman dahulu di
Tiongkok adalah sebuah gelar tertinggi bagi seseorang
dalam pelajaran sekolah, sekarang dapat dipersamakan
kurang lebih dengan tingkat sarjana).
Dengan muka bersungguh-sungguh, Siauw Ie lalu
menjawab: "Dahulupun aku mengira kita sebagai orang-
orang yang miskin dan hina, kecuali menjual tenaga
mencari nafkah, masih dapat berbuat apakah lagi" Tapi
sejak Lan Kho-nio mempelajari aku huruf, pikiran semacam
tersebut diatas sudah terkikis habis dari otakku. Lan Khonio
mengatakan bahwa orang miskinpun adalah manusia juga,
maka mengapakah lain orang dapat mengerjakan, kita
tidak" Kau jangan mengatakan umurku sudah besar, Lan
Khonio pernah menceritakan padaku bahwa dijaman Song
dahulu ada seorang mahasiswa she Souw, ketika berumur
duapuluh tahun baru dia mulai belajar mengenal huruf!"
Loo Ong tampak menggoyang-goyangkan tangannya
sambil menjawah: "Aku tidak mau tarik urat denganmu,
aku ketahui bahwa Lan Khoniomu itu pandai sekali
mengerjakan hasil pekerjaan tangan, tapi tidak disangka
bahwa diapun pandai surat pula."
Ketika Siauw Ie mendengar orang yang disayanginya
dipuji orang, tidak terasa lagi dia menjadi sangat girang dan
lalu berkata: "Lan Khonio mengetahui banyak sekali, kau
belum pernah mengicipi sayur masakannya, yang sungguh
lezat dan tiada tandingannya."
Loo Ong manggutkan kepalanya sambil memhela napes
dan berkata: "Dia bersama Phui Po-po kiranya tinggal
dibelakang rumahku, kepandaian menyulamnya sungguh
luar biasa sekali, hingga seumurku belum pernah aku
menampak orang sesabar dia. Sayang sedikit matanya buta.
Tapi nona itu memang orangnya baik sekali. Siauw Ie, tuan
besarmu itu .."
Belum lagi dia berkata habis, sudah kedengaran dari
dalam orang yang memanggil: "Siauw Ie, Siauw Ie!" sebuah
nada suara yang merdu halus terdengar mengalun dikuping
mereka. Siauw Ie dengan tergesa-gesa meninggalkan sapunya,
sambil manggutkan kepalanya kepada Loo-Ong, ia berlari-
lari anjing menuju kedalam rumah.
Didalam rumah hawa disana udaranya hangat, karena
disana orang tengah menyalakan api unggun, menyandar
pada jendela, duduk seorang gadis yang berwajah cantik
jelita. Dengan nada suara yang menyesali, kedengaran dia
berkata: "Hawa udara sedemikian dinginnya, pagi-pagi buta
hanya memakai baju luar dua helai saja, apakah kau tidak
merasakan dingin?"
Sehabis berkata demikian, lalu ia mengambil sebuah
pakaian dari kapas, kemudian dengan memaksa ia pakaikan
baju itu pada Siauw Ie.
Barusan Siauw Ie dari luar tidak merasa dingin sama
sekali, kini masuk kedalam rumah yang berhawa panas,
tampak dahinya mulau bercucuran keringat, hingga
sekalipun nona itu kelihatannya memarahinya, tapi dalam
nada suaranya itu mengandung perasaan penuh kasih dan
sayang. Maka karena merasakan hal itu, hatinyapun
menjadi gembira dan dengan cepat ia mengenakan baju
pemberian nonanya itu.
Siauw Ie lalu berkata: "Lan Kho, lusa tuan besar
bukankah akan pulang?"
Lan Kho menjawab: "Menggunakan kesempatan selagi
dia belum kembali, baiklah kita sebentar pergi kepenjara
untuk menjenguk Phui Po-po."
Siauw Ie berkata: "Phui Po-po sudah pergi."
Lan Kho dengan terkejut bertanya: "Kapan dia
dilepaskan?"
Siauw Ie menjawab: "Berapa hari yang lampau, ketika
aku pergi kepenjara, sipir bui Loo Lie memberitahukan
begitu kepadaku."
Lan Kho setelah berdiam sejurus, lalu menghela napas
dan berkata: "Ai! Dia sudah berusia lanjut sekali,
kemanakah dia dapat pergi" Akulah yang telah mencelakakannya."
Siauw Ie turut berkata: "Hal itu tidak dapat
dipersalahkan kepadamu, itulah perbuatannya seorang
pengecut. Beraninya hanya menghina pada orang tua yang
tidak berdaya sama sekali. Bila mereka benar-benar
menemui bayangannya perampok, sekalipun lihat bayangannya saja, sudah takut setengah mati!"
Lan Kho dengan segera berkata: "Siauw Ie, dikemudian
hari kau jangan mengatakan hal tersebut pula, karena bila
perkataanmu itu sampai didengar oleh tuan besar, bukanlah
satu permainan belaka."
Siauw Ie menjawab: "Hm! Aku tidak takut, paling juga
kepalaku meninggalkan leher saja!"
Dengan sengit Lan Kho berkata: "Bagus, kau tidak
mendengar kata, aku berbuat demikian adalah demi
kebaikanmu, kau tahu?"
(Oo-dwkz-oO) Jilid 45 Pada saat itu Lan Kho yang sedang membuatkan sebuah
baju untuk Siauw Ie, sekonyong-konyong hidungnya
membaui hawa yang wangi, hingga ia lantas bertanya:
"Apakah bunga Lan-hoa dipinggir pintu sana sudah
mekar?" Siauw Ie lekas menjawab: "Bukan saja bunga Lan-hoa
sudah mekar, malahan bunga Bwee-pun turut mekar juga.
Apakah boleh aku memetiknya beberapa tangkai untuk
ditancapkan dipot bunga?"
Lan Kho berkata pula: "Bunga-bunga itu baik-baik mekar
dipucuknya, mengapa harus dipetik" Biarkan saja mereka
mekar sesukanya, alangkah harumnya bunga itu. Aku akan
pergi kesana untuk menikmati baunya yang harum
semerbak itu."
Setelah berkata lalu dengan tindakan yang lemah
gemulai tampak seorang gadis melangkahkan kakinya
keluar pintu, gerakannya indah bagaikan penari sedang
menari-nari, dan dari tindakan kakinya yang wajar,
sikapnya tampak seakan-akan dia bukannya seorang gadis
yang buta. Sesampainya didekat bunga yang sedang mekar itu, lalu
dia membungkukkan badannya dan mencium bunga yang
pertama mekar itu dengan hati yang gembira.
Sejak kecil dia sudah gemar sekali terhadap kembang-
kembang, terlebih lebih terhadap kembang Lan-hoa, karena
bunga itu dengan namanya sendiri mempunya hubungan
yang erat sekali.
Lalu dia berkata pada dirinya sendiri: "Waktu mataku
belum buta, setiap tahun dimusim dingin, didepan rumah
gubukku rumput-rumput pada mekar, aku senantiasa suka
sekali berdiri seorang diri dalam gerombolan rumput-
rumput tersebut dan dengan bernapsu aku menyedot
harumnya bunga-bunga itu, sehingga kadang-kadang aku
merasa dimabukkan oleh bunga-bunga tersebut. Selagi aku
asyik memandangi bunga-bunga yang tengah mekar
mewangi itu, sekonyong-konyong ada sepasang tangan
yang kuat menutupi sepasang mataku dari belakang, dan
dengan suara yang dalam orang itu menyuruhku menebak
siapa gerangan dia itu" Orang itu tentu saja adalah
twakoku. Orang yang dalam hati paling kupuji dan
kujunjung tinggi serta kuhormati, maka tanpa menebak lagi
akupun sudah ketahui tentulah dia adanya."
Lalu dia tersenyum sambil melanjutkan pemikirannya
dan berkata pada dirinya sendiri: "Belakangan, mataku
buta, ibu dan twako senantiasa menuruti perkataanku, apa
yang kuingini, twako selamanya meluluskan dan sekalipun
tidak pernah dia mengecewakan aku, sekalipun aku tidak
dapat melihat dengan mataku sendiri, betapa kasih dan
sayangnya dia terhadapku, tapi hatiku dapat merasainya.
Karena dalam dunia ini, kecuali ibu, twakolah yang
memperlakukan aku paling baik dan sempurna, Jangan
baru mataku yang buta, sekalipun sepasang tangan atau
kakiku cacat, pasti mereka sama menyayangiku juga.
Setiap waktu aku menghitung-hitung hari. Dibawah sinar
matahari yang akan tenggelam, aku melihat satu jalanan
kecil, dan meski aku ketahui bahwa twako paling sedikit
setengah tahun baru kembali, tapi aku sangat mengharapkan sekali kedatangannya dengan secara tiba-
tiba. Matahari sudah benar-benar tenggelam seluruhnya
diufuk barat, dilangit bintang-bintang mulai muncul. Dikala
itu ibu yang sedang menisik baju dari wool, sering-sering
dia melihat ketempat yang jauh, seakan-akan diapun tengah
terkenang juga kepada toako. Dalam mengenang kekasihku,
sukar rasanya aku melewatkan hari dengan tenang, tapi
dengan keyakinan yang penuh, akhirnya aku dan ibu dapat
juga melewatkan hari-hari dengan cukup tenteram dan
damai.

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Berapa kali hujan turun besar sekali, didepan mata air
sungai kian lama kian meninggi dan meluap, orang-orang
mulai gentar dan panik, tapi siapapun pasti tidak mengira
akan datangnya air bah yang demikian cepat dan
sekonyong-konyong pada malam itu juga ....
Datangnya air banjir itu laksana menyerbunya ratusan
ribu tentera berkuda hingga dalam waktu sekejapan saja air
bah telah datang menggenang mencapai dada, aku dan
ibuku buru-buru naik kedalam tahang air dari kayu, dan
dengan mengikuti aliran banjir, aku dan ibuku terbawa
kemana saja banjir itu hendak membawa kami. Sekonyong-
konyong segulung ombak yang besar telah mendampar
sehingga mereka ibu dan anak jadi terpisah satu sama lain,
hingga dalam kegugupanku, akhirnya aku telah jatuh
pingsan. Setelah aku siuman kembali, ternyata hari sudah
terang tanah, dan sungguh tidak kusangka, bahwa dalam
pingsanku aku masih dapat memeluk tahang air itu dengan
eratnya. Halmana, kusangka, itulah usaha manusia dalam
menyelamatkan nyawanya dengan cara yang paling
sempurna. Lalu aku tertawa dan berpikir: "Tangan dan
kakiku ternyata tidak menjadi beku, hanya terdengar suara
ombak yang menderu-deru, air tampaknya kian lama kian
bertambah tinggi saja, tapi kemanakah ibuku, ibuku yang
tercinta?" Suatu perasaan yang tidak wajar menyelinap
dalam sanubariku .. Semakin berpikir aku semakin tidak
tahan, aku sudah terpikir untuk melepaskan saja
peganganku, tapi perasaan ingin hidup lebih menguasai
diriku, karena, aku berpikir, andaikata aku sampai kejadian
mati, bukankah seumurku tidak akan melihat wajah
twakoku lagi" Akhirnya aku telah tertolong juga. Karena
ketika aku dalam keadaan pingsan dan bertahan terapung-
apung dibawa arus banjir, aku telah dijumpai oleh ronda
dari pembesar she Kim, yang ternyata ada seorang
pembesar yang sangat baik hati, apa lagi anak perempuan
angkatnya yang bernama nona Souw itu telah memperlakukanku sangat baik pula, hingga aku yang
berdiam didalam rumah pembesar she Kim itu, tiap-tiap
hari aku mendengar-dengar kabar tentang ibuku, tapi
manusia itu bagaikan lautan yang tidak ada batasnya,
sekalipun untungku baik dan ibuku tidak mati oleh banjir,
tapi aku hendak mencarinya kemana" Tadinya aku berpikir
setelah air banjir itu surut kembali, aku akan pulang
kekampungku, agar kemudian hari bila twako datang
mencariku, ia dapat menjumpai aku disana.
Tapi tidak disangka bahwa twako sudah saling
berkenalan dengan nona Souw, bahkan perhubungan
merekapun sudah demikian mesranya. Tapi sekalipun ia
memperlakukan aku sedemikian rupa, aku tinggal tetap
mencintainya. Perkataannya yang telah diucapkan terhadap
bahwa Souw adalah dengan tulus ikhlas, maka bukankah
itu berarti bahwa twako benar-henar mencintai dengan
segenap hati" Aii, mengapakah ia dapat mengeluarkan
perkataan begitu terhadap lain gadis?"
Pada saat itu perasaan Lan Kho jadi sangat terharu,
sedangkan api cemburu lalu mulai merangsangnya. Tapi
tabiatnya yang halus pelahan-lahan telah dapat menguasainya pula, hingga dalam waktu sekejap mata saja
kemarahannya sudah reda kembali dan ia berbalik pikir:
"Ai! Mengapa sampai saat ini aku masih memikirkan soal
itu" Tapi aku percaya, bahwa dalam hati kecilnya, twako
pasti masih mengingat akan daku, sekalipun Souw khonio
berhasil merebut hatinya sesaat. Ai, ternyata twako
mencintai dia tapi dia masih juga kasih terhadapku, dia
pasti tidak dapat hidup berbahagia, aku .. aku lebih baik
mati saja hari itu dibawa arus banjir."
Semakin ia berpikir, semakin sedih saja perasaan
hatinya, tapi suara tambur yang ditabuh dengan keras telah
berhasil menyadarkan dia dari lamunannya.
Siauw Ie yang berdiri disampingnya memandang kepada
sinona yang tengah bermuram durja, hingga untuk sesaat
lamanya tidak dapat dia mengeluarkan perkataan untuk
menghiburinya. Hatinya tengah risau, tapi hati kanak-
kanaknya belum lagi lenyap. Maka begitu ia mendengar
suara tambur, seakan-akan terlupalah segala kejadian yang
menimpa dirinya dan lekas-lekas dia lari keluar untuk
menyaksikan keramaian.
Sementara Ah Lan ketika baru saja ingin balik masuk
kedalam ramahnya. tiba-tiba terdengar suara yang nyaring
memanggilnya: "Lan Khonio! Lan Khonio!"
Sekalipun matanya tak dapat melihat, tapi pendengarannya amat tajam, hingga begitu kupingnya
menangkap suara yang seakan-akan sudah kenal terhadap
suara orang yang memanggilnya, tapi dia tidak dapat
menerkanya dalam sesaat siapakah gerangan orang
tersebut. Siauw Ie buru-buru berjalan masuk dan berkata
kepadanya: "Yang panggil nona ialah nona Kim, anak
angkat pembesar yang berkuasa di Siam-say."
Ah Lan terpekur sebentar, kemudian baru sadar dan
didalam hatinya ia berpikir: "Oh, ternyata nona Souw ..
Souw Khonio, tentu diapun turut serta pula, mengapakah
aku harus menjumpai mereka?"
Lalu dia memesan pada Siauw Ie: "Kau kasih tahu
kepadanya, bahwa aku sebenarnya tidak kenal dengannya,
dia telah keliru mengenal orang yang salah."
Dalam hati Siauw Ie tengah merasa bingung sekali,
ketika pada saat itu Hui Cie sudah sampai didepan pintu
dan sambil tertawa ia berkata: "Lan Khonio, benarkah kau
tidak mengenalku?"
Dalam hati Ah Lan merasa agak gelisah, karena
disebabkan dia itu, maka lenyaplah kebahagiaannya, tapi
orang itu sudah sampai dan mengulurkan tangannya
kepadanya, hingga tidak terasa lagi amarahnya telah
bangkit kembali dan dengan suara menyindir ia berkata:
"Oh, ternyata engkaulah Souw siocia! Aku adalah anak
orang miskin dan papa, tentu saja tidak berani menyambut
anak seorang pembesar agung."
Tapi begitu perkataannya keluar, tiba-tiba didalam
hatinya timbul perasaan menyesal. Dia sendiri seakan-akan
tidak mempercayai akan dirinya sendiri yang telah dapat
berkata begitu tidak sopan, karena perkataannya itu
memang sesungguhnya dapat melukai hati orang lain.
Sebaliknya nona Souw Hui Cie bukan saja tidak menjadi
gusar, tapi juga dengan suara yang lemah-lembut ia berkata:
"Lan Khonio, apakah kau marah terhadapku" Tahukah kau
dimana Gouw Twakomu sekarang ini?"
Begitu mendengar orang memperbincangkan tentang
Gouw Leng Hong, Ah Lan meujadi tertarik juga
perhatiannya, maka sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya dia berkata: "Apakah kau tidak datang bersama-
sama dengannya?"
Dengan suara yang amat terharu Hui Cie memberi
jawabannya: "Gouw Twakomu justeru sedang mencarimu
kian-kemari."
Ah Lan yang mendengar perkataan tersebut, bagaikan
orang mendengar suara guntur saja, maka dengan
memaksakan diri dia bertanya dengan nada suara yang
gemetar: "Apakah omonganmu dapat dipercaya kebenarannya?"
Hui Cie maju selangkah dan sambil memegang sepasang
tangan Ah Lan dengan lemah lembut ia menjawab: "Lan
Khonio .. oh, bukan .. bolehkah aku memanggilmu dengan
sebutan Lan Moay saja?"
Ah Lan yang mendengar ia bercakap-cakap dengan suara
yang bersungguh-sungguh, iapun lalu menganggukkan
kepalanya. Hui Cie lalu dengan suara yang sungguh-sungguh
berkata: "Tempo hari setelah kau dengan ngambul
meninggalkan rumah, besok pagi-pagi sekali begitu Gouw
Twakomu mendengar kabar tersebut, tampak dia seperti
orang kehilangan semangat, hingga lekas-lekas dia
meninggalkan aku, dan katanya dia hendak mencarimu
kemana saja. Gouw Twakomu sesungguhnya hanya
mencintai seorang saja, kau .. kau sungguh beruntung
sekali." Kemudian dengan malu-malu ia berkata pula: "Lan
Moay, aku tidak mau berbohong terhadapmu .. aku
sebenarnya sangat mencintainya, tapi aku sesungguhnya
sangat bodoh sekali, aku kira dia seterusnya mencintaiku
pula, tapi sekarang aku sudah jelas, bahwa hatinya hanya
tertambat kepadamu seorang saja. Hal itu dalam mabuknya,
dia mengira aku ini adalah kau. Aku merasa, bahwa aku
telah berbuat kesalahan. Lan Moay, dia sesungguhnya
mencintaimu, dia adalah seorang pemuda yang masih
muda belia serta berwajah tampan, yang dengan seluruh
jiwa raganya dia mencintaimu, hingga aku turut bergirang
atas keberuntunganmu itu."
Ah Lan semakin mendengar cerita tersebut, dia merasa
semakin sedih saja, menyesal, dan menyalahkan dirinya
sendiri yang kurang pikir, hingga mukanya tampak sebentar
merah sebentar pucat, dan akhirnya tanpa dapat menguasai
dirinya pula ia jatuh pingsan.
Siauw Ie buru-buru memayangnya, sedang Hui Cie
dengan cepat lalu berkata: "Lan Moay, kau kenapa"
Apakah kau merasa tidak enak badan?"
Dengan memaksakan dirinya tersenyum Ah Lan berkata:
"Souw Cici, aku merasa pusing sesaat, maka tak dapat
menguasai diriku pula."
Hui Cie lalu berkata pula: "Kau lekas-lekas masuk untuk
beristirahat, aku hendak pulang. Malam ini pembesar kota
Tiang-an telah mengundang ayah angkatku, maka sekarang
aku harus pergi. Sampai nanti kita saling berjumpa pula,
dik." Ah Lan manggutkan kepalanya. Dengan ditolong oleh
Siauw Ie, ia berjalan masuk kedalam kemudian sambil
menutup kamar tidurnya, ia berkata kepada Siauw Ie: "Aku
hendak tidur, kau jangan datang mengganggu pula."
Barusan Siauw Ie telah mendengar mereka bercakap-
cakap, maka hatinya merasa agak tidak enak. Ia merasa
bahwa perkara yang tidak wajar akan terjadi. Oleh karena
itu, dengan lekas ia berkata: "Lan Kho, kau jangan sekali-
kali merasa marah maupun bersedih."
Dengan tertawa Ah Lan berkata: "Siauw Ie, janganlah
engkau memikir yang tidak-tidak, maka ada apakah yang
harus kusedihkan?"
Siauw Ie tidak berdaya, maka diapun dengan segera
berjalan meninggalkannya.
Ah Lan lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjang
deugan hati yang pedih bagaikan diiris-iris oleh pisau yang
amat tajam. "Ternyata Twako masih mencintaiku begitu
rupa," pikirnya, "tapi .. dimanakah aku ada muka untuk
menjumpainya" Didalam hatinya dia pasti menganggap aku
sebagai seorang gadis yang sempurna. Aku harus berdaya
agar supaya perasaannya dapat dipertahankan terus, tapi
apa daya yang harus kulakukan selanjutnya" .. Ya, hanya
kematian saja yang dapat mencapai apa yang kupikirkan
itu." Tapi setelah berpikir akan kematian, hatinyapun merasa
tenteram pula. "Tapi, aku masih ingin menjumpainya sekali
lagi, kemudian, barulah menamatkan riwayat hidupku ini,"
katanya pula. Setelah ia mengambil keputusan yang pasti, hatinyapun
menjadi tenang dan wajar kembali. Begitulah sang waktu
berjalan dengan cepat sekali, hingga dalam waktu yang
singkat, dia telah membayangkan peristiwa pada beberapa
tahun yang lampau itu, dengan segala bayangan itu satu-
persatu muncul kembali dalam kelopak matanya.
Matahari musim dingin yang lemah, pada waktu itu
telah memancarkan sinarnya diatas dinding tembok, yang
kemudian memantul kembali pada tumpukan salju-salju
dan membuat wajahnya tampak pucat dan hatinya seolah-
olah tenggelam dalam kerisauan ..
Kejadian didunia ini memang kadang-kadang tidak dapat
dipikirkan dari dimuka. Pada hari kedua atau keesokan
harinya setelah Hui Cie menjumpai Ah Lan, Gouw Leng
Hongpun tiba pula dikota Tiang-an, dan malahan disana ia
begitu kebetulan pula dapat berjumpa dengan seorang
pelayan Hui Cie yang bernama Siauw Hu, dari siapa ia
mendapat keterangan jelas tentang kejadian yang menimpa
diri Ah Lan. Dan tatkala mendengar kisah pelayan ini, hati
Leng Hong jadi berdebar-debar keras sekali, hingga setelah
menanyakan jelas tentang alamat nona Ah Lan, segera juga
ia menuju kesana dengan laku tergesa-gesa.
Ternyata setelah Leng Hong dapat membalaskan sakit
hati ayahnya dipuncak gunung Ngo-hoa-san, hatinya
menjadi sangat gembira, dan kini dalam hatinya dia hanya
masih mempunyai satu pekerjaan yang belum dapat


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dirampungkannya, yaitu mencari kekasihnya Ah Lan anak
Kisah Si Rase Terbang 14 Kemelut Blambangan Seri Pecut Sakti Bajrakirana Karya Kho Ping Hoo Pedang 3 Dimensi 10
^