Pencarian

Patung Emas Kaki Tunggal 8

Patung Emas Kaki Tunggal ( Unta Sakti ) Karya Gan K H Bagian 8


Melihat Koan San gwat tangan kosong Ki Houw
menyeringai dingin, dua kutungan tumbaknya segera
dimainkan untuk menerjang pula, yang satu menindih dari
atas sementara yang runcing menusuk dari depan, dari dua
sasaran menyerang Koan San gwat. Karena sedikit lalai, Koan
San gwat bermaksud menggunakan kekuatan tenaganya
untuk menundukkan Ki Houw, diluar perhitungannya meski
luar nya perawakan Ki Houw tidak sekuat dirinya, tapi
kekuatan lengannya ternyata tidak lebih asor dari dirinya.
Pertempuran itu belum lagi berhenti, Ki Houw
menggunakan kedua senjata kutungan, menusuk dan
mengepruk melanjutkan serangannya.
Banyak orang tumplek harapan kepada Koan San gwat jadi
mencelos hatinya serangan Ki Houw hampir mengenai Koan
San tapi Koan San gwat masih bimbang belum ambil
keputusan, ia menjadi bingung apakah perlu dia mencabut Pek
hong kiam, karena senjata ampuh ini khusus hanya untuk
melawan Cia Liog im, jurus permainan pedangnya pun tidak
banyak, apa yang dinamakan Tay lo kiam sek tidak lebih
hanya mencakup empat jurus setiap kali dia melancarkan satu
jurus berarti Cia Ling im bertambah setitik harapan "
Tapi serangan Ki Hoaw tidak menjadi kendor karena rasa
bimbangnya, kedua senjata musuh terpaut beberapa senti dari
atas kepalanya, tubuh Koan San gwat mendadak mencelat
naik keatas, badannya terbang melintang ditengah udara,
sebelah kakinya menendang keatas, telapak kakinya tepat
menahan ujung tumbak, kontan dia mengerahkan kekuatan
yang maha dahsyat. Agaknya Ki Houw tidak mengira Koan San gwat bakal
mendemonstrasikan kepandaian yang aneh dan lucu ini, sudah
tentu betapapun besar kekuatan lengannya, mana kuat
menahan injakan kaki Koan San gwat yang hebat, ujung
tumbaknya mental keatas dan telak sekali membentur
kutungan tumbak lain yang mengepruk turun. "Trang!" lelatu
api beterbangan ditengah udara.
Kali ini walau kedua senjatanya sendiri yang beradu,
namun kekuatan benturannya justru jauh lebih besar dari
benturan pertama tadi, maka mulutnya mengeluarkan suara
menguak yang keras, kedua potongan tumbak
ditangannyapun terepas dari pegangan, celaka ke dua telpak
tanganpun Sakit bukan main karena kulitnya pecah berdarah.
Dalam pada itu Koan San gwat sudah kembali pada
tempatnya bertengger dipunggung untanya, katanya sambil
tertawa berseri "Agaknya kau lebih bersemangat untuk
menggempur diri sendiri dari pada menghadapi musuh. Kalau
toh demikian sebetulnya tadi aku tidak perlu turun tangan,
silahkan kau labrak dirimu sendiri, pertunjukkan tentu lebih
menaiik." Selamanya Koan San gwat tidak pernah mengolok olok
orang setajam itu bagi orang yang berangasan dan bertabiat
kasar tentu sudah murka, tapi kelicikan Ki Houw benar benar
diluar dugaannya, kedua telapak tangan saling genggam
untuk mencegah darah keluar, sahutnya dingin: "Orang she
Koan! tidak perlu kau mengejek, pertandingan kita masih
belum selesai." "Kurasa baik dihentikan saja, apa artinya kalau diteruskan
dengan bertangan kosong! Kedua telapak tanganmu terluka,
jangan! nanti kau katakan aku mengambil keuntungan."
"Cara apa pun boleh, yang terang aku tidak sudi
mengambil senjataku pula, pertikaian Hwi tho ling dan Bing
tho ling cu betapapun hari ini harus diselesaikan."
"Kalau aku jemput gada kaki tunggalku, apakah kau pun
melawan dengan bertangan kosong" "
"Benar!" sahut Ki Houw bandel, "Hari ini kalau kau tidak
mampu menjatuhkan aku dari punggung unta, aku tidak akan
menyerahkan Whi tho ling. Dan lagi aku bukan bertangan
kosong, matamu kan belum picak dipinggangku masih
menyoren sebilah pedang! "Sreng!" segera ia mencabut
pedang yang diselipkan dipinggangnya, dibawah cahaya
matahari tampak pedangnya itu bekilau menyilaukan mata.
Koan San gwat tahu bahwa lawan sedang mendesak
dirinya untuk menggunakan Pek hong kiam. Sejenak ia pikir
tiba tiba ia keprak untanya menghampiri gadanya lalu melorot
turun menjemput senjatanya itu, sambil melintangkan
senjatanya itu ia berkata "Baiklah mari kita tentukan!"
Agaknya Ki Houw tidak mengira akan Koan San gwat,
setelah tercengang makinya: "Apa kau tidak tahu malu" "
Koan San gwat tertawa lebar, sahutnya "Hari ini kita
selesaikan Hwi tho ling dan Bing tho ling cu, kau punya otak
kau dapat berpikir bahwa Bing tho ling cu angkat nama dan
menggegarkan dunia karena membekal gada mas berkaki
tunggal ini, maka akupun tidak akan melindungi kebesarannya
dangan senjata lain. Karuan Ki Houw melongo dan bungkam kalau pedang
melawan gada Koan San gwat dalam ukuran senjata jelas ia
sudah dirugikan namun ia jadi bingung cara bagaimana untuk
mengatasi persoalan pelik ini "
"Ki Houw!" Cia Ling im segera berseru "Kau kembali! kalau
nama Bing tho ling cu diciptakan dengan sepak terjang macam
itu, memang tiada harganya kau memperjuangkan usahamu
ini!" Cemoohan ini terlalu menusuk kuping tapi perbuatan Ki
Houw jauh menusuk perasaan, dengan rasa jijik ia merogoh
keluar sebentuk Bing tho ling cu milik Koan San gwat yang
diberikan sebagai tantangan tempo hari, diatas lencana
kebesaran itu ia berludah lalu ditusuk dengan ujung pedang
terus dilempar kedepan, serunya "Silahkan ambil kembali,
itulah Bing tho ling cu yang menyorot cemerlang diseluruh
jagat, pertanda gemilang Bing tho ling cu menegakkan gengsi
dan memanggul nama!"
Koan San gwat meraih dan menangkap lencana itu, air
mukanya menunjuk kegusaran yang meluap luap. Itulah rasa
gusar kerena dihina keluar batas, semua orang ikut merasakan
betapa pedih perasaan hatinya.
Tapi kejap lain perasaan Koan San gwat sudah wajar dan
tenang, ia bersihkan lencana itu dengan bajunya lalu disimpan
kedalam baju, katanya sambil menghela napas. "Cia Ling im!
Apapun yang kau katakan aku tidak peduli, yang terang Pek
hong kiam baru akan keluar dari serangkanya bila aku
berhadapan langsung dengan kau!"
Cia Ling im tertegun, lalu ia berpaling kebelakang memberi
tanda lirikan, kepada Pek bong kui si.
Bagaikan bayangan setan Pek bong kui si yang
mengenakan kedok hitam segera melayang ketengah
gelanggang, dengan suara yang ketus dan kereng berseru :
"Koan San gwat! Kalau aku tantang kau, dengan senjata apa
kau menghadapi aku" "
Koan San gwat meliriknya, lalu menyahut dengan tegas :
"Aku menolak!" Agaknya Pek bong kui si tengetar kaget, dari balik
kedoknya terdengar kekeh tawanya yang aneh, serunya "Tak
nyana Ui ho Siang jin mendidik murid yang lemah penakut
tidak becus!" Koan San gwat tidak ambil perhatian, ia balas mengejek
"Anggapanmu aku tidak berani menerima tantanganmu" "
"Apakah kau punya penjelasan" "
Tiba tiba Koan San gwat tertawa lantang, serunya : "Kau
hanya pentolan dari barisan Kui pang, kedudukanmu jauh
dibawah Thian ki mo kun, terhadap Ki Houw saja aku acuh tak
acuh masa tidak berani menghadapi tantanganmu" "
"Lalu kenapa kau menolak tantanganku" " teriak Pek bong
kui si gusar. "Alasannya cukup sederhana, persoalan ini menyangkut
kedudukkan dan tingkatan. Sekarang aku mewarisi kedudukan
guruku dengan kedudukkan dan tingkat beliau didalam Liong
hwa hwe, bahwasanya baru tidak setimpal menantang kepada
aku!" "Liong hwa hwe sudah bubar, kau masih punya
kedudukkan kentut apa" "
"Ucapanmu memang beralasan, tapi aku she Koan adalah
manusia sejati, aku tidak punya mianat main tangan terhadap
bangsat cecunguk rendah yang tidak berani mengunjuk muka
aslinya ?" Pek bong kui si naik pitam akan olok oloknya ini, sembari
menjerit keras tiba tiba badannya menubruk maju kedua cakar
tangan nya menjalur kedepan mencolok kedua biji mata Kaon
San gwat. Koan San gwat diam saja seakan akan tidak melihat dan
tidak terjadi apa apa, unta tunggangannya itu benar benar
seekor binatang yang cerdik, lekas ia angkat kaki depan terus
menggeser kesamping berputar arah dengan gesit sekali.
Sergapan Pek bong kui si mengenai tempat kosong, namun
ia tidak putus asa, dengan tangkas ia berputar dan menubruk
maju pula. Pada Saat inilah dari arah samping berkelebat
sesosok bayangan abu abu tahu tahu menghadang
didepannya, orang ini bukan lain Go hay ci han, katanya "Koan
kongcu tidak sudi membuat keramaian dengan kau, lekas
menggelinding balik!"
"Kepala gundul! minggir kau, tiada urusanmu di sini!"
"Kau bikin keributan, Loceng ada hak untuk menindak kau
kalau kau memang berkelahi biar Loceng mengiringi kau!"
demikian tentang Go hay ci hang sungguh sungguh.
"Kepala gunpul! Kau tiada hak campur persoalanku dengan
orang she Koan, suruh dia tampil kedepan untuk
menyelesaikan, urusannya dengan aku!" demikian damprat
Pek bong kui si dengan gusar yang meluap luap.
"Kenapa" " tanya Go hay ci hang dengan muka membesi.
Tiba tiba Pek bong kui si menanggalkan kedok hitam yang
menutupi kepalanya, maka tampaklah muka yang pucat dan
rambut panjang, teriaknya bengis "Tanyakan sendiri kepada
orang she Koan itu!"
Karuan Go hay ci hang melengak, serunya heran "Ei, kau
bukan Pak tong kui si" "
Setan diantara setan Sebun Bu yam tertawa dingin,
timbrungnya "Pik ong kui si membangkang perintah, tadi
sudah kubereskan secara rahasia, kutunjuk dia mewakili
kedudukannya, semua urusan dalam Kui pang aku ada hak
memutuskan nya ?" "Meski demikian, kau harus memberitahu kepada pihak lain
lebih dulu ?" debat Go hay ci hang.
"Kalau undang undang dan peraturan Liong hwa hwe masih
berlaku, mungkin tindakanku itu salah, tapi sekarang tidak
perlu berbuat demikian!" demikian sahut Sebun Bu yam.
Sudah tentu Go hay ci hang bungkam, maka Koan San
gwat turun dari punggung untanya, katanya "Harap Taysu
minggir, persoalan ini memang harusku selesaikan sendiri."
Go hay ci heng masih ragu ragu, Koan San gwat
menambahkan: "Dia bernama Khong ling ling, ayahnya Khong
Bun thong mampus ditangan Cayhe!"
Go hay ci hang manggut manggut ujarnya : "Hal ini
memang Loceng tidak leluasa ikut campur ?" lalu ia mundur
kebelakang. Sambil menatap Koan San gwat, Khong ling ling
menantang, "Sekarang kau masih menampa tantanganku" "
"Bapakmu memang setimpal dihukum mati, namun
kematiannya bukan lantaran perbuatanku saja, akan tetapi
dendam orang tua jauh lebih berat dari segalanya, memang
aku harus memberi kesempatan kepada kau!"
Khong Ling ling mendengus semprotnya: " Kalau aku
menantang bertanding melawan Pek hong kiammu itu
bagaimana sikap mu."
Koan San gwat menepekur sejenak, akhirnya ia berpaling
kearah Cia Ling im katanya: "Siau lo cun cia! Memang hebat
muslihatmu, akhirnya kau paksa aku mengeluarkan Pek hong
kiam!" Cia Ling im menengadah tertawa besar sepuasnya. Sambil
menantang pedang Ki Houw segera tampil pula kedalam
gelanggang, sementara Khong Ling ling juga suda mencabut
sebatang pedang dari punggungnya, cahaya pedangnya suram
bentuknya persis dengan pedang ditangan Ki Houw.
Dengan marah Koan San gwat segera bertanya kepada Ki
Houw: "Kenapa kaupun ikut maju."
"Dia adalah istriku, betapa mendalam cinta suami istri,
sudah tentu persoalannya merupakan urusanku pula, apalagi
menantu boleh termasuk sebagai putra sekandung pula maka
aku harus menuntut balas bagi sakit hati mertua, kau tiada
alasan menolak diriku dalam penyelesaian dendam kesumat
ini!" Kelihatanya perasaan Koan San gwat bergolak, namun ia
menyeringai dingin, katanya "Baiklah kalian suami istri maju
bersama!" Lalu ia mundur beberapa langkah menyelipkan gada
masnya kepunggung untanya, lalu ia mencabut pedang,
seketika terdengar suara nyaring mendengung seperti keluhan
naga, cahaya cemerlang seketika melingkupi seluruh
gelanggang Pek hong kiam benar benar menyilaukan
pandangan setiap hadirin!
Seluruh hadirin meugeluarkan suara kagum dan helaan
napas yang berbeda nada, Ki Houw dan Khong Ling ling
menyurut mundur, pedang ditangan mereka adalah pasangan,
dari pancaran cahayanya yang tajam tentu bukan pedang
sembarangan pedang, ketajamannya luar biasa pula, namun
bila dibanding Pek hong kiam, maka tampaklah perbedaan
yang menyolok, seperti kunang kunang dibanding rembulan "
Ki Houw dan Khong Ling ling angkat tangan sebelah lalu
menggeser langkah mencari posisi, kakinya memasang kuda
kuda siap menggunakan langkah tujuh bintang, kelihatannya
seperti gaya permulaan dari Siu lo jit sek karuan Koan San
gwat tercengang dibuatnya sikapnya jauh lebih prihatin.
Perhitungan Cia Ling im memang cukup lihay, bukan saja ia
berhasil mendesak Koan Sin gwat mengeluarkan Pek hong
kiam, malah tanpa sayang ia turunkan pula Siu lo jit sek
kepada orang luar, secara tidak langsung ia memaksa Koan
San gwat menggunakan Tay So su sek untuk melawan.
Tay lo kiam sek mengandung ajaran pedang yang rumit
sekali, adalah bukan soal bagi Koan San gwat untuk menang
dalam babak pertarungan ini, namun untuk menghadapi Cia
Ling im, Tay lo kiam sek nya itu kurang meyakinkan lagi.
Kedua pihak saling pandang sebentar, kejap lain kedua


Patung Emas Kaki Tunggal ( Unta Sakti ) Karya Gan K H di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pihak mulai serang menyerang dengan ilmu pedang tingkat
tinggi yang tiada taranya, namun pada saat itu pula mendadak
terdengar sebuah seruan nyaring "Tahan Tunggu dulu!"
Sesosok bayangan meluncur, itulah Liu Ih yu, ubahnya
hinggap kesamping Koan San gwat, tangannya pun menyoren
pedang, mata nya memancarkan sorot tajam, katanya "Dua
lawan satu kurang adil, mari aku pun ambil bagian, dua lawan
dua baru terhitung adil dan setimpal!"
Perbuatan Liu Ih yu yang mendadak ini membuat Cia Ling
im berubah hebat rona wajahnya, cepat ia berseru "Sumoy!
Apa apaan perbuatanmu ini" "
Liu Ih yu unjuk senyuman manis, sahut nya "Untuk
menambah keramaian. Supaya peradaban Tay lo kiam sek
tersimpan, bila turun tangan menghadapi kau kami tambah
sebagian harapan pula."
Cia Ling im mencemooh "Mereka adalah suami istri yang
mengurus sakit hati mertua dan ayahnya, kau terhitung apa
menyelip diantara mereka" "
Bersemu merah muka Liu Ih yu, sahutnya "Sebagai calon
istrinya boleh saja aku ikut Loa suci sudah menjodohkan aku
kepadanya!" Dikala bicara jari telunjuknya menunjuk kesamping, keruan
Koan San gwat berjingkrak kaget seperti disengat kala, lekas
ia berseru "Liu siancu! Ini " jangan kau berkelakar!"
Berubah air muka Liu Ih yu, katanya bersuara dalam
tenggorokkan "Kelakar apa" Apakah Toa suc tidak
menjelaskan kepada kau" "
Baru saja Koan San gwat hendak menyangkal, Go hay
cihang sudah tampil kedepan serta menariknya kepinggir,
katanya "Koan siheng! Hiang ting siancu sudah beritahu
kepada Loceng, dia mohon aku jadi comblang, katanya kau
sendiri sudah menyetujui, kenapa pura pura untuk mengakui
?" Saking gugup hampir saja Koan San gwat hendak
membanting kaki, lekas Go hay ci hang berbisik dipinggir
telinganya : "Siheng! Segala urusan baiklah dibicaraka
belakangan saja, JIWA RATUSAN ORANG INI BERADA DALAM
GENGGAMANMU, kuharap kau bertindak demi kepentingan
umum lebih dulu, jangan menimbulkan huru hara lainnya!"
Terpaksa Koan San gwat melawan kembali sangkalannya
yang sudah menerjang ke ujang mulutnya.
Lekas Go hay mengedip mata pula, lalu serunya lantang
mengumumkan : "Jodoh ini sudah putus oleh Hiang ting
siancu dan Ui ho berdua, sebetulunya Loceng diserahi tugas
ini untuk mengumumkan kepada para hadirin sekalian, namun
karena kejadian di luar dugaan selama beberapa hari ini,
Loceng tidak punya kesempatan untuk mengumumkan berita
gembira ini, kepada saudara saudara sekalian!"
Berubah hebat wajah Cia Ling im, serunya. "Benar benar
perbuatan liar dan membabi buta."
Go hay ci hang tertawa, ujarnya : "Ih yu siancu cantik
rupawan, Koan siheng tampan dan perwira, perjodohan ini
cukap setimpal, mendapat restu dari angkatan tua lagi,
kenapa dikatakan perjodohn liar atau menababi buta segala,
apa lagi Koan siheng baru saja memperoleh gemblengan dari
sorang tokoh aneh yang tingkat dan kedudukannya sejajar
dengan Hoat hwa sengjin, itu pendiri Liong hwa hwe maka
bolehlah mereka terhitung satu perguruan."
Wajah Liu Ih yu bersemu merah, suaranya menyindir
katanya kepada Cia Ling im : "Apa pula yang dapat kau
katakan" " Cia Ling im tidak menujukkan reaksi khusus, tapi
pandangan Ki Houw memancarkan sorot aneh yang luar biasa,
apa makna yang terkandung didalam sorot pandangannya itu
hanya Cia Ling im seorang yang tahu, maka segera dia
membentak "Ki Houw! Bekerjalah sekuat tenaga. Apapun yang
terjadi aku yang bertanggung jawab ?"
Cara bagaimana bertanggung jawab" Apa pula yang harus
ditanggungnya" Sudah tentu hanya mereka berdua yang tahu.
Yang terang setelah Ki Houw mendengar seruannya ini,
semangatnya berkobar, air mukanya kembali menampilkan
sikap kasar dan keberanian yang menyala nyala, sembari
mengabitkan pedang ia berseru : "Dua lawan duapun tak
menjadi soal! Lekas dimulai saja!"
Lekas Go hay mundur ketempatnya semula, sebaliknya
Khong Ling ling tidak begitu bersemangat seperti semula, Ki
Houw segera melirik dengan gusar, bentaknya marah "Hayo
jangan melamun saja! Kalau kucapai bagianku, tidak
ketinggalan pula bagianmu!"
Agaknya bentakannya ini menyadarkan Khong Ling ling,
lekas iapun mengempos semangat dan mengerahkan tenaga
dan semua perhatian untuk menghadapi pertarungan yang
menentukan ini. Terasa oleh Koan San gwat bahwa sikap kedua suami istri
ini rada aneh dan janggal, mereka menggunakan alasan yang
sama untuk menuntut balas bagi kematian khong Bun chong,
namun jelas bahwa maksud tujuan mereka tidak sesuai
dengan alasan yang dikemukakan.
Hal ini diketahui oleh semua orang, karena kedua sumi istri
ini jelas mendapat petunjuk Cia Ling im, untuk mengorek inti
sari Tay lo kiam sek yang dipelajarinya dari Oen Kisu, namun
dari pembicaraan mereka yang mencurigakan itu, dapat pula
disimpulkan bahwa masih ada latar belakang tersembunyi di
dalam intrik mereka "
Dalam pada itu Ki Houw dan Khong Ling ling sudah
mengambil posisi dan bergaya siap untuk melancarkan
labrakan pertama. Liu Ih yu menggenggam pedangnya
dengan kencang, siap menghadapi rangsakan musuh, sudah
tentu perhatiannya tidak boleh terpecah dengan tekun dan
waspada ia siaga. Suasana tegang mencekam sanubari seluruh hadirin,
didalam keheningan yang sekejap itu, mendadak Ki Houw dan
Khong Ling ling menghardik bersama, kedua suami isteri
melancarkan serangan pertama.
Itulah jurus permulaan dari Siu lo kiam sek yang
dinamakan Hun jan cu jiu, (awan mengenaskan kabut
berduka) apalagi jurus ini dilancarkan dua pedang bersatu
padu, maka perbawanya hebat jauh lebih mengejutkan lagi.
Ditengah hawa pedang yang remang remang kehijauan,
mengandung tekanan besar bagai gugur gunung, damparan
angin pedang laksana hujan badai diprahara seperti teriakan
dan keluhan setan dineraka "
Meski Liu Ih yu termasuk satu dewi diantara dewi,
menghadapi rangsakan ilmu pedang yang hebat ini sedikitpun
ia tidak berani pandang rendah, lekas ia mainkan pedang
ditangannya menaburkan gelombang perak yang
membungkus dirinya rapat sekali disamping menjaga diri
dengan rapat, sasaran pedangnya mengarah kepada Khong
Ling ling karena ia melihat titik kelemahan dari rangsakan
pedang lawan, sementara Ki Houw yang merangsak lebih kuat
ia serahkan kepada Koan San gwat mendapat gemblengan
singkat secara keras itu, ilmu pedanguya jauh lebih unggul
dari kemampuan semula. Sikap Koan San gwat sangat tenang
dan mantap, lincah dan enteng, Pek hong kiam ia katukkan,
maka terdengarlah oenturan nyaring menerbitkan lelatu api,
kejap lain tampak Ki Houw menyurut mundur menarik pedang
dengan muka dingin membeku.
Gaya permainan pedang Koan San gwat adalah jurus
permulaan dari Tay lo kiam sek yang dinamakan ka gan si ung
(maya pada mulai menentu), meski Tay lo kiam sek yang
termasuk ajaran nyeleweng dari aliran iblis, namun sedikit
banyak rada mendekati kelurusan, itulah jurus ampuh khusus
dari ketenangan untuk mengatasi gerakan, sederhana
mengatasi kerumitan, meski hanya gerakan sederhana yang
biasa tapi cukup sejurus saja ia lelah berhasil menutup pedang
Ki Houw yang mengurung gelanggang.
Apalagi ketajaman Pek hong kiam jauh lebih besar
dibanding pedang kuno warna hijau milik Ki Houw itu,
benturan keras dibawah rekanan tenaga raksasa, bibir pedang
Ki Houw yang tajam itu gumpil sebesar kuku jari.
Begitulah jurus pertama sudah berlangsung, namun cukup
menimbulkan berbagai reaksi yang berlainan dari sekeliling
gelanggang. Bagi orang orang yang berpihak kepada Koan San gwat,
mengeluarkan suara sorak yang kegirangan dan lega, hanya Li
Sek hong saja yang diam diam menghela napas.
Kawanan iblis yang menjadi begundalnya Cia Ling im mulai
kuatir dan was was, hanya Cia Ling im dan Sebun Bu yam
berdua yang saling pandang serta mengunjnk senyum penuh
arti. Dalam pada itu mengandal keampuhan lwekang Liu Ih yu
serta permainan ilmu pedang yang amat mahir serta inggi itu
ia berhasil membendung rangsakan Khong Ling ling yang
hebat, namun perasaannya masih rada bimbang dan kurang
tentram, dengan suara lirih segera ia bertanya kepada Koan
San gwat: "Benarkah pedang itu Pek hong kiam" "
"Tidak salah "!" sahut Koan San gwat, "Kukira Oeu Kiau
Locianpwe tidak akan menipu aku."
Liu Ih yu tertawa getir, katanya : "Kurasa masih ada latat
belakang yang belum terang, agaknya dia tidak begitu sakti
dan digjaya seperti apa yang pernah kutahu."
Sahut Koan San gwat tenang: "Wibawa pedang ini
tengantung pada orang yang menggunakan aku hanya
mampu mengembang pada taraf yang kulakukan ini."
Jawaban Koan San gwat ini tidak selirih pertanyaan Liu Ih
yu, bagi orang yang berdiri rada dekat dapat mendengar
dengan jelas. Karuan Liu Ih yu jadi gugup "Bicaralah perlahan
sedikit, jangan sampai terdengar oleh Siu lo !"
Koan San gwat tertawa tawa, ujarnya: "Didengar
olehnyapun tidak menjadi soal, aku toh tidak mengandal
kekuatan Pek hong kiam ini secara keseluruhannya untuk
mengatasi dan melawan dia."
Ujung mulut Cia Ling im segera menampilkan senyum licik
yang penuh arti, segera ia bersuara pula mendesak Ki Houw
"Thian Ki! lancarkan jurus kelima dan keenam, paksa dia
melancarkan tiga jurus yang lain itu"
Pandangan Ki Houw memancarkan kebencian yang meluap
luap, sambil menggerung ia kabitkan pedangnya yang sudah
cacat terus merangsak maju pula. Sementara disebelah sana
Khong Ling ling segera mengiringi perbuatannya, melancarkan
serangan yang sama merangsak dari jurusan lain.
Kali ini mereka menyerang dengan jurus jurus Liat yam
teng siau dan Mo hwe lian thian, jurus kelima dan keenam dan
Siu lo jit sek, kedua jurus ini merupakan serangan membadai
dengan kekerasan dan panas, ditengah tengah bayangan sinar
pedangnya menyemburlah bara api yang berwarna kehijauan,
membayangkan api membara didalam neraka yang
menghukum kejahatan, sungguh mengerikan.
Betapapun Siu lo kiam sek memang ilmu pedang iblis yang
amat lihay meski lwekang Khong Ling ling jauh dibawahnya
namun angin panas yang merembes keluar dari batang
pedangnya itu dapat menembus pertahanan hawa dingin Liu
Ih yu begitu panas tekanan hawa pedang lawan sehingga ia
merasa tertekan dan mandi keringat.
Keadaan Koan San gwat tidak seperti gebrak pertama tadi,
tiba tiba ia menghardik. Pek hong kiam seketika
mengembankan cahaya perak satu kaki luasnya, begitu hebat
tenaga yang di salurkan sampai mendengung keras pertama
menusuk kedalam bayangan pedang Ki Houw, lalu sebat sekali
ia lancarkan jurus kedua dari Tay lo kiam sek yang dinamakan
Si jit tang seng ( surya terbit diufuk timur).
Jurus ini dilandasi kekuatan positip yang maha hebat,
begitu serangan membentur pertahanan lawan, Pek hong
kiam segera menerjang kearah bara iblis yang menyala
kehijauan, laksana cahaya surya menyapu habis kabut te bal
di pagi hari, sekejap saja semua sirna tanpa bekas, disusul
batang pedangnya menyusul dengan jurus ketiga Pek hong
koan jit, laksana geledek menyambar, "Trang!" pedang Ki
Houw terpapas kutung, disusul ia putar kesebelah samping,
bukan saja membebaskan Liu Ih yu yang terdesak sekaligus
patahkan pula pedang panjang Khong Ling ling.
Memang bukan kepalang wibawa Pek hong kiam dilandasi
ilmu Tay lo kiam sek, bukan saja berhasil mengobrak abrik
rangsakan kedua musuhnya serta mematahkan kedua senjata
musuh, malah kekerasan sambe ran angin pedangnyn.
berbasil mencabik pakaian Ki Houw dan Khong Ling ling,
sekaligus menusuk jalan darah mereka pula.
-oo0dw0oo- JILID 16 HANYA TIGA GERAKAN serangkai yang seenakanya, Koan
San gwat berhasil memperoleh kemenangan gilang gemilang,
begitu Tay lo kiam sek, secara kenyataan sudah menunjukkan
wibawa dan kesaktiannya. Semula semua hadirin terpesona dan terbelalak keadaan
hening sebentar, dilain saat terdengarlah sorak sorai gegap
gempita menyambut kemenangan Koan San gwat.
Pelan pelan Koan San gwat mengendorkan tenaga menarik
hawa murninya, mengawasi Ki Houw dan Khong Ling ling
yang serba ngenas itu, ia berkata : "Sebetulnya aku bisa
bunuh kalian, namun aku tidak ingin berbuat demikian!"
Ki Houw tidak bicara, ia membalikkan badan terus pergi.
Khong Ling ling mendelik, teriakanya : "Kenapa" Kenapa
kau tidak bunuh kami berdua" "
"Mungkin karena tantangmu kepadaku, karena kau hendak
menuntut balas bagi kematian ayahmu, terpaksa aku harus
memberi kesempatan pula pada kau."
Gigi Khong Ling ling berkerutukan, bibir sampai tergigit
pecah berdarah, teriakanya "Kelak kau akan menyesal, akan
datang saat nya kau terjatuh ditanganku, aku tidak akan
sungkan terhadapmu!"
"Terserah! Aku punya prinsip dalam setiap tindakkanku
masih ada sebab lain kenapa aku tidak membunuh kau, waktu
di Kun lun san dulu, kau pernah merawat aku menurut apa
yang pernah kudengar, maka aku rasa bahwa aku masih
berhutang budi kepada kau!"
Berubah air muka Khong Ling ling sekian saat ia
terlongong, lalu tanpa bersuara lagi ia mengundurkan diri.
Berkata lah Liu Ih yu: "Tujuanku bantu kau, kenyatan
malah kau yang membantu aku. Begitu hidup leluasa kau
menghadapi musuh sebetulnya tidak perlu aku membikin sulit


Patung Emas Kaki Tunggal ( Unta Sakti ) Karya Gan K H di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kepada kau." "Tidak, bantuanmu cukup berarti, betapa pun hebat
keampuhan Tay lo kiam sek baru pertama kali kugunakan
untuk menghadapi musuh, kalau kau tidak menghadapi Khong
Ling ling, bila aku tergencet dari dua jurusan, mungkin tidak
bisa menyelaminya begitu cepat!"
"Kukira babak selanjutnya Siu lo sendiri bakal tampil,
apakah punya keyakinan, perlukah kubantu pula! Bila perlu
biar kuminta Ji suci keluar membantu?"
"Tidak perlu!" sahut Koan San gwat menggeleng, "Jurus
keempat dari Tay lo kiam sek kekuatannya berlipat ganda,
mungkin sendiri tidak kuasa menguasainya, kalian menyelip
diantara kami mungkin sulit mengembangkan seluruh
kekuatan dan keampuhanya."
Terpaksa Liu Ih yu mengundurkan diri. Sementara Cia Ling
im, sudah beranjak maju dengan sikap percaya pada diri
sendiri, setelah berada dihadapan Koan San gwat ia berdiri,
"Akhirnya kau sendiri yang keluar!" demikian cemooh Koan
San gwat tenang. "Ya! Sejak mula tidak pernah terpikir olehku untuk tampil
sendiri menghadapi kau!"
"Salahmu sendiri kau memelihara sekawanan anjing anjing
ajak yang tidak becus!"
Cia Ling im menjadi berang oleh olok olok ini, alisnya
bertaut serunya : " Anak muda! Kau hanya mengandal
ketajaman pedang dan beberapa jurus Tay lokiam hoat
belaka, sikapmu sudah pongah, meski kau sudah menang satu
babak, belum dapat dikatakan bahwa Siu lo jit sek tidak
ungkulan melawan Tay lo kiam ?"
"Dalam hal ini aku cukup mengerti, ilmu pedang tergantung
pada manusia, aku percaya bila Siu lo kiam hoat kau yang
mengembangkan, kekuatannya tentu jauh lebih hebat dari
tadi." Sikap Cia Ling im semakin takabur, jengekanya: "Kalau kau
sudah tahu akan kenyataan ini kau masih berani bergebrak
dengan aku" " "Situasi hari ini tiada pilihan lagi bagi aku meski aku tahu
kurang becus, namun harus mencoba juga, karena ratusan
jiwa manusia tiada seorangpun yang bisa lolos dari
kekejianmu!" Mendengar bicara orang lemas, Cia Ling im makin takabur,
ujarnya: "Penilaianmu terhadapku terlalu berkelebihan,
membunuh orang aku tiada minat, asalkan mereka tidak
membangkang keinginanku, Liong hwa hwe masih boleh
dipertahankan, keadaan tetap seperti dulu kita boleh hidup
rukun bersama!" "Tidak mungkin, Liong hwa hwe sendiri merupakan
organisasi gila, dulu mereka terpaksa karena tekanan dan
ancaman, maka mereka gampang dibelenggu dalam kandang
?" "Bohong!" semprot Cia Ling im gusar, "Gurumu sendiri dulu
tidak ditekan atau diancam, kenapa dia suka rela masuk
menjadi anggota Liong hwa hwe selama dua puluhan tahun!"
"Karena Liong hwa hwe pada waktu itu dibawah pimpinan
Hang tiang sian cu masih mengenal keadilan dan kebenaran,
bilamana Liong hwa hwe berada didalam genggamanmu kau
pernah berantas orang orang yang berhaluan lurus, mereka
bakal merasakan hidup tidak matipun sulit?"
"Kentut!" damprat C?a Ling ?m murka, "Binatang! Kau sudah
bosan hidup ya!" Sikap Koan San gwat tetap tawar, sahut nya tawar "Benar!
Aku sedang menunggu cara bagaimana kau hendak
membunuh aku" " tiba tiba Cia Ling im tersentak sadar, ia
tahan hati nya, katanya pelan pelan "Anak muda! Kau tahu
aku selamanya tidak bekerja kepalang tanggung ?"
"Aku amat jelas, justru karena kau tidak rela dipimpin
orang dalam Liong hwa hwe karena kaupun menyadari bahwa
Hiang Ting sian cu sulit dihadapi, maka kau menekan ambisi
ini sampai sekarang!"
"Tepat sekali! Sampai pada tahap terakhir baru aku
menyadari bahwa sebetulnya Hiang ting sebetulnya tidak perlu
ditakuti, rencanaku semula hendak minta dia menyerahkan
hak kekuasaan pada pertemuan besar Liong hwa hwe kali ini,
tak nyana dia cukup cerdik ?"
"Hiang ting sian cu sudah tahu akan ambisimu maka siang
siang ia sudah siap siaga!"
"Dia menyingkir adalah tindakannya pertama, karena dia
tahu bahwa dia tidak akan mampu menundukan aku ?"
Cia Ling im bergelak tertawa, serunya : "Lalu apa
tindakannya yang kedua! Apakah memilih kau sebagai tameng
untuk menindas aku" "
"Benar! Dia percaya bahwa aku mampu menundukan
engkau!" Cia Ling im tercengang, lalu terloroh loroh latah, serunya :
"Dia memilih kau justru memperlihatkan kebodohannya " aku
percaya kau paham akan arti perkataanku ini!"
"Mungkin aku paham, namun orang lain justru sebalikanya,
tiada halangan kau jelaskan kepada hadirin!"
Cia Ling im mulai heran dan kebingungan serta menebak
nebak dalam hati, dengan rasa curiga ia menegas "Kau benar
berat ingin sku mengumumkan secara terbuka" "
"Bagi aku tiada halangananya, Secara diam diam kau main
akal dan berebut kekusaan dengan Hiang ting sian cu
usahamu bukan sekali dua kali saja, dia sangat mengerti akan
perangaimu, demikian pula kaupun sangat jelas seluk
belukanya, kilau kau buka tsbir rahasia ini dihadapan umum,
hal ini dapat membuktikan betapa kecerdikan otakmu ?"
Sekian lama mata Cia Ling im main selidik dan menjelajah
perubahan muka dan gerak gerik Koan San gwat, akhirnya
dengan nada kurang percaya ia berkata . "Yang diandalkan
oleh Lim Hiang ting untuk mengatasi aku hanyalah Pek hong
kian dan Tay lo kiam hoat, tapi setelah kuselami dan kuselidiki
selama beberapa tahun terakhir ini, baru kudapati bahwa
kedua pusaka itu bersifat positip, ditangan perempuan
betapapun tidak akan berkembang keampuhannya serta
kesaktiannya ?" Koan San gwat segera menyela "Kata katamu tepat sekali,
karena kau sudah menemukan rahasia ini, ambisimu makin
berkobar, maka Hang ting sian cu terpaksa harus sembunyi
dan menghindari bentrokan, tapi kini ia sadah menurunkan
ilmu pedang Tay lo kiam hoat dan Pek hong kiam kepadaku
?" Cia Ling im menukas "Justru di situlah letak kebodohannya,
meski Pek hong kiam ampuh dan Tay lo kiam hoat amat lihay,
harus dilandasi lwekang tinggi baru bisa mengembangkan
kesaktiannya, melihat pertunjukanmu tadi, memang aku harus
memuji padamu, karena hanya tiga hari kau memperoleh
pedang dan ajaran ilmu itu namun sudah mampu melancarkan
kekuatan setaraf itu, memang sulir dicari bandingan yang
kedua ?" Tergerak hati Koan San gwat kini sikap nya semakin serius
dan tegang, Cia Ling im dapat meraba akan perubahan mimik
wajahnya ini, tertawalah dia terloroh loroh kepuasan, serunya
: "Kuberi waktu tigi tahun untuk kau berlatih secara giat
mungkin aku bisa keder menghadipi kau, sekarang tak perlu
aku bersikap demikian ?"
Ucapan selanjutnya sudah tidak terdengar lagi karena gelak
tawanya, namun beberapa patah kata itu, membuat gempar
seluruh hadirin, banyak orang yang yakin akan kemenangan
Koan San gwat tadi mulai tenggelam dalam perasaan was was
dan gelisah. Sejenak Koan San gwat menepekur, lalu katanya :
"Pengamatanmu sungguh amat cermat, namun kau masih
melalaikan satu hal!"
"Soal apa" " tanya Cia Ling im menghentikan tawanya.
Sepatah demi sepatah dengan tandas dan tegas Koan San
gwat berseru lantang : "Tekad dan keyakinan!"
"Tekan dan keyakinan! Memangnya kau bisa berbuat apa"
" "Tekad dan keyakinan bisa menciptakan suatu keajaiban!
Dapat merubah segalanya!"
Cia Ling im berpikir sebentar lalu terloroh loroh pula,
serunya "Bagus sekali, bila kalian ingin lolos dari tanganku,
mungkin harus mengandal keajaiban saja! Matilah anak muda,
ingin kulihat keajaiban apa yang kau ciptakan "
Dengan keteguhan dan penuh keykinan Koan San gwat
menambahkan : "Justru karena aku bertanggung jawab akan
keselamatan jiwa akan banyak orang, maka timbullah
keyakinan harus menang, dilandasi oleh tekad dan keyakjaan
ini bukan mustahil bisa terjadi suatu keajaiban. Kau tunggu
saja akibatnya!" Ci Ling im tidak bisa tertawa lagi, dari kata kata Koan San
gwat ia menyadari sesuatu pemuda ini merupakan lawan
tangguh yang menakutkm, Karena dia berjuang dengan
semangat pengorbanan diri, demi kepentingan umum!
Didalam keadaan lupa diri karena semangat pengorbanan,
orang dapat mengesampingkan keselamatan dan kepentingan
diri sendiri semua ini demi tujuan dan keyakinan membaja
serta cita cita masa depan maka dia bertempur.
Hal ini mungkin bisa mempercepat kematian seseorang,
tapi kemungkinan pula bisa melahirkan suatu kekuatan yang
tiada taranya untuk menciptakan keajaiban itu. Maka dia harus
hati hati serta prihatin menghadapi pertarungan yang
menentukan ini. Lambat lambat Cia Ling im mencabut pedang, terpancar
cahaya terang serta suara nyaring, dari senjatanya dapat
dipastikan bahwa pedang kuno ini jauh lebih baik dari pedang
yang digunakan Khong Ling ling dan Ki Houw sudah tentu
tidak lebih unggul dari Pek hong kiam!
Pelan pelan Cia Ling im menyentil sayap pedangnya
sehingga mengeluarkan suara "Ting, ting!" yang menusuk
kuping, lalu ia berkata dengan sikap sungguh sungguh: "Inilah
Ceng ping kiam, milik Sun Kian pada jaman Sam Kok masih
kalah dibanding Pek hong kiam tapi aku percaya dalam gebrak
tujuan delapan jurus dia tidak akan gampang dikutungi!"
"Tidak salah! Bila Siu lo jit sek dilancarkan seluruhnya
umpama pedang tidak kutung, kutanggung kau sulit
mempertahankan batok kepalamu!"
"Benar! Ratusan jiwa pihakmu itu tergantung pada
keyakinan dan tekadmu, sementara ratusan jiwa pihakku
tergantung pada latihan ku selama puluhan tahun, ini
merupakan pertempuran yang seadil adilnya!"
"Kau salah! Kalau aku kalah berapa banyk orang akan
meninggal, aku tidak tahu, sebalikanya kalau kau kalah, darah
mengalir cuma lima langkah, yang mampus sudah pasti hanya
kau seorang?" "Persetan dengan urusanmu, tiada sangkut pautnya dengan
aku, kalau aku mati, aku tidak perduli keselamatan mereka,
mau dibunuh atau dilepaakan terserah. Yang jelas nilai
pertarungan ini cukup adil."
Kata kata yang harus diucapkan sudah habis seluruhnya,
mata kedua orang sama pandang dengan tajam, sementara
kaki mereka pelan pelan bergerak, tapak sepatu kedua orang
terdengar berkeresekan mengosok tanah dan batu kerikil,
sehingga menyolok pendengaran.
Suasana hening lelap. Ditengah kesunyian yang mencekam
perasaan ini mendadak meledaklah bentakan menggeledek,
Cia Ling im menggetar pedang di tangannya, melancarkan
jurus yang pertama. Jurus yang sama yaitu Hun jan ou jiu (awan ngenes kabut
berduka), namun perbawanya jauh lebih hebat, ujung pedang
mengepul tabir asap hitam yang bergulung gulung, lama
kelamaan seluruh gelanggang menjadi gelap tertutup rapat
oleh asap hitam yang pekat, pandangan hadirin menjadi
gelap, seluruh hadirin terbungkus didalam kegelapan yang
menakutkan, yang terdengar hanya teriakan dan keluhan
setan. Keadaan yaag seram ini benar benar seperti didalam
neraka, siapa pun tiada yang menyangka bahwa Siu lo kiam
hoat Cia Ling im sudah dilatih mencapai taraf yang begitu
tinggi, ada orang yang bersorak dalam hati, sudah tentu ada
pula yang menjadi lesu dan kuatir. Sudah tentu antara yang
bersorak dan mengeluh ini berdiri pula kedudukan yang
berlawanan. Bagi yang mengeluh benar benar ber kuatir.
"Bagaimana keadaan Koan San gwat yang menempur Cia Ling
im Hadirin gelisah didalam kegelapan, tiada seorangpun yang
mendapat jawaban karena keadaan begitu gelap sampai lima
jari sendiri tidak kelihatan, mana bisa mengetahui kedudukan
dan keadaan Koan San gwat.
Yang jelas kegelapan itu tidak berlangsung lama, lambat
laun mulai tampak setitik terang menembus lapisan mega
yang gelap pekat ini, seperti sinar surya menembus lapisan
mega sehingga setitik sinar terang itu begitu menyolok dan
jelas sekali. Lama kelamaan titik sinar itu semakin besar dan
terang, semula sebesar cangkir menjadi sebesar mulut
mangkok terus membesar semakin gede, seperti gentong air
" akhirnya! Seperti bara api yang menyala dalam kegelapan
malam, jalur api yang menyala nyala itu seperti mendadak
meledak. Awan pekat menjadi sirna, kabut pun hilang, dunia
kembali dalam keadaan yang semula terang benderang, udara
cerah dan nyaman. Setelah sekian lama tertekan baru sekarang semua orang
menarik napas panjang dan lega, waktu mereka mencurahkan
perhatian ke tengah gelanggang tampak Pek hong kiam di
tangan Koan San gwat memancarkan cahaya kemilau yang
cemerlang, meski jidatnya basah oleh keringat, namun masih
kelihatan gagah teguh dan penuh keyakinan.
C?a Ling im kelihatan memburu napasnya orang orang yang
berkuatir dan mengeluh tadi sudah berlega hati, mereka tahu
bahwa Koan San gwat sudah berhasil menggempur total jurus
pertama lawannya, maka tersimpul senyum cerah diwajah,
mereka rada lama kemudian baru Cia Ling im unjuk senyum
tawar, katanya "Hebat! hebat! Aku terlalu rendah menilai
kemampuanmu! Agaknya waktu menghadapi Ki Houw tadi kau
masih banyak menyimpan kemampuan yang berkelebihan!"
Koan San gwat, mengusap keringatnya suaranya terdengar
tegas dan tandas : "Lwekang tidak mungkin disimpan! Hanya
keyakinan dan tekadlah melandasi aku berhasil lolos dari ujian
pertama!" Seperti tertawa tidak tertawa Cia Ling im berkata "Masih


Patung Emas Kaki Tunggal ( Unta Sakti ) Karya Gan K H di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ada enam jurus lagi. Dapatkah tekad dan keyakinan bertahan
selama itu" " "Selama hayat masih dikandung badan keyakinan dan
tekad itu tidak akan padam!"
"Bagus! Sungguh gagah perwira! Jurus selanjutnya akan
kubuat kau tidak sempat bernapas atau berkesempatan
istirahat, akan kulihat dimana kau dapat pertaruhkan tekad
dan keyakinanmu!" Terlihat sinar pedang tersebar mengitari tubuh, jurus kedua
ini dirubah menjadi Siu hun loh pek (menagih sukma
merebut), kali ini ia tidak mengagulkan perbawaan dan
kekuatan seluruh kekuatan hawa pedangnya terpusat meluruk
kebadan Koan San gwat, setiap hadirin melihat dengan jelas,
namun yang kelihatan bukan Koan San gwat dan Cia Ling im.
Karena Koan San gwat sudah digubah oleh cahaya pedang
kehijauan, demikian pula Cia Ling im sudah terbungkus
didalamnya. Lingkaran sinar hijau semakin ketat kecil, perasaan hadirin
makin ciut dan tegang. Waktu berlangsung dalam sekejap
saja, namun terata seperti bertahun tahun lamanya.
Sementara lingkaran sinar hijau makin kecil hampir sebesar
bentuk badan seseorang, mendadak berhenti tidak mampu
mengkerut lebih kecil lagi didalam sinar hijau yang terhenti
itu, tangan Cia Ling im yang memegang pedang mulai
gemetar, sebalikanya keadaan Koan San gwat kelihatan bebas
dan tenang. Banyak hadirin ingin tahu apa yang telah terjadi, cuma
terdengarlah Cia Ling im bersuara lebih dulu: "Anak muda!
Kulihat kau sedang berpura pura dam bermuka muka apakah
kau mengandal tekad dan keyakinanmu pula bertahan dari
jurus kedua ini" "
"Benar! Cuma asal mula tekad dan keyakinan kali ini tidak
sama!" "Tidak sama bagaimana" Anak muda jangan kau jual
mahal !" "Kali ini bersumber pada tekad dan keyakinanku terhadap
jurus jurus tipu pedang, itulah jurus keempat dari Tay lo kiam
hoat yang dinamakan San gak ing si (gugus gunung kokoh
abadi, seluruhnya merupakan jurus pertahanan, betapapun
keji dan ganas serangan pedangmu, betapapun tidak akan
mampu menagih sukma merebut raga segala!"
"Betul! Anak muda agakanya kau beruntung! Empat jurus
selanjutnya akan kulancarkan beruntun, meski kau sekokoh
gunung aku akan melelehkanaya, setenang lautan teduhpun
akan kubakar kering seluruhnya!"
Ditengah suaranya yang sengit mulai kalap itu beruntun
pedangnya bergerak dengan Hong hong pu hi (hujan badai
mengamuk) Niu lui kip san (geledek murka kilat menyarn bar),
Mo hwe lian thian (api iblis membakar langit), Liat gam teng
saiu (bara membara uap mendidih). Angin, hujan, kilat dan
bara sekaligus bekeja, itulah kekuatan perusak paling hebat
didunia bergabung dan meletus bersama.
Bumi bergoyang, gunung guguran, seluruh kekuatan
perusak yang dahsyat itu tumplek kearah Koan San gwat,
sepintas pandang kelihatan dia begitu lemah, begitu kecil,
seolah olah setiap saat bisa pudar dan lenyap ditelan bencana
tanpa bekas " Rambut dikepalanya mulai awut awutan, pakaiannya di
badannya mulai mengepulkan asap dan percikan api.
Wajahnya saja yang kelihatan tegas, keras penuh dilandasi
keyakinan, badannya berdiri tegap tak bergeming.
Perlahan lahan ia mulai mengacungkan Pek hong kiam,
pertama ia menggaris setengah lingkaran, cahaya padang
cemerlang laksana surya difajar menyingsing, ditengah
berbagai lipatan dan kepungan, mendadak memancarkan
warna kemerahan yang mencorong.
Hadirin sudah apal akan jurus yang pernah dia lancarkan
tadi yaitu Si jit tang seng (surya menyingsing diufuk timur)
Setiap pagi surya menyingsing disebalah timur, itu kenyataan
abadi, maka jurus pedangnya inipun biasa dan sederhana saja
tiada seluk beluk atau liku liku lainnya.
Dibawah pancaran sinar surya yang cemerlang dan cerah,
hujan angin dan kilat maupun bara seketika sirna tanpa
terasa. Tiba tiba pergelangan tangan Koan San gwat tergetar,
gaya serupa itu sudah terlihat tadi. itu jurus serangan satu
satunya dari Tay lok kiam sek yang dinamakan Pek hong koan
it ( pedang putih menembus matahari ). Ki Houw dan Khong
Ling ling membagi pedangnya yang patah dan tertusuk jalan
darahnya oleh jurus itu bagaimana pula pengalaman Cia Ling
im menghadapi serangan telak ini"
Bagaimana juga dia tidak akan percaya akan pengalaman
ini, demikian juga hadirin yang tidak percaya begitu saja.
Pancaran sinar Pek hong kiam mendadak menyala lebih
terang, laksana bintang meteor membawa ekor panjang
menjurus kedepan menusuk kearah Cia Ling im!
Cia Ling im berusaha melawan, namun baru saja Ceng ling
kiam terangkat, kontan tersampok hancur berkeping
mengetarkan suara gemeretak disapu oleh cahaya cemerlang
Pek hong kiam. Untung ada tangkisan pedang sehingga ia
selamat dari babatan putus badan menjadi dua. Sebatas
pinggang, lekas ia melambung tinggi badannya jungkir balik
sejauh lima enam tumbak. Koan San gwat tidak berhenti sampai disitu, Pek hong kiam
masih mengejar kedepan. Terdengar Sebun Ba yam menjerit
keras, tanpa hiraukan keselamatan sendiri mendadak ia
menerobos kedepan, dengan kedua tangan kosong
mencengkeram kebatang pedang terdengar lengking yang
menyayat hati disertai hujan darah yang berceceran kemana
mana. Cia Ling im tidak roboh, yang roboh malah Sebun Bu
yam, kedua tangannya hancur luluh tak berbekas, seluruh
badannya berlepotan darah, demikian juga mukanya yang
buruk oleh darahnya sendiri.
Dengan mendelong Koan San gwat menarik pedang, tanpa
bergerak ia awasi Sebun Bu yam yang berlintingan ditanah
menahan sakit yang bukan kepalang. Wajah Cia Ling im kaku
seperti tanah, rada lama kemudian baru ia menarik napas
serta katanya : "Anak muda! Sungguh keji kau! Begitu ketat
kau menyembunyikan kepandaianmu ?"
"Ya, aku menyembunyikan serangan dahsyat yang terakhir,
tujuanku untuk membunuh kau, dapat melenyapkan kau dari
muka bumi, orang lain pasti tidak akan berani berbuat
kejahatan "Lalu apa pula yang kau tunggu! Lekaslah turun
tangan. Sungguh tidak nyana aku terjungkal di tanganmu "
salah mataku sendiri yang kurang tajam menilai lawanku,
sejak mula aku tidak percaya kau mampu mengembangkan
seluruhnya kekuatan Pek hong kiam !"
Napas Koan San gwat sendiri belum mereda, meski ia
menang dalam babak penentuan namun ia merasa teramat
sulit dan menderita pula, namun menghadapi musuh yang
pasrah nasib terima ajal ini ia menggeleng kepala, katanya
pelan : "Tidak! Aku tidak dapat membunuh kau!"
Sudah tentu ucapannya menimbulkan reaksi hebat, Cia Ling
im sendiri tidak percaya dengan pendengaran kupingnya. Li
Sek bong, Liu Ih yu serta Sian yu it ouw segara memburu ke
depan, kata Li Sek hong geliah : "Koan kongcu! Bila sekarang
kau tidak bunuh dia, kelak bakal meninggalkan bibit bencana
?" Koan San gwat menggeleng, sahutnya "Siapapun yang
ingin membunuhnya silahkan aku tidak sudi turun tangan lagi
!" "Kenapa?" desak Liu Ih yu uring uringan, Koan San gwat
angkat Pek hong kiam katanya : "Waktu aku menerima
pedang ini pernah bersumpah, demi menjaga keselamatan
jiwa ratusan orarg baru aku akan menggunakan pedang ini,
setiap kali kugunakan pedang cukup menghirup darah satu
orang saja. Hari ini darah sudah membasahi pedang ini, meski
melukai orang yang tidak ingin kubunuh, namun aku tidak
akan menggunakannya lagi!"
Li Sek hong dan Liu Ih yu saling pandang, mereka tak tahu
apa yang harus mereka lakukan. Untuk melenyapkan jiwa Cia
Ling im, hanya Kon San gwat seorang yang mampu
melakukan, meski Koan San gwat sendiri harus mengandal
kesaktian Pek hong kiam, siapa tahu dia justru menepati
sumpahnya yang bertele tele itu. Tahu Koan San gwat tidak
akan membunuh dirinya, air muka Cia Ling im menampilkan
perasaan yang sulit dilukiskan dengan kata kata. Akhirnya dia
baru bergelak tawa yang menusuk pendengaran, serunya :
"He " siapa akan menduga! Aku"! Iblis diantara iblis dalam
Liong hwa hwe, siu lo sun cia yang besar diagungkan,
akhirnya diampuni oleh bocah keparat bebau pupuk bawang
?" gelak tawa nya jauh lebih buruk dalam pendengaran dari
suara tangis. Memang dia tertawa untuk mewakili tangisnya,
tawa menangis untuk melampiaskai keperihan dan duka lara
hatinya yang tercampur kemarahan pula.
"Siu lo sun cia!" ujar Koan San gwat, "Kau tidak perlu
bersedih, bicara terus terang tekadku membunuh kau jauh
lebih besar dari segala keinginanku. Cuma aku harus menepati
sumpahku, sulit aku turun tangan! Setelah hari ini semoga kau
tidak kebentur di tanganku pula!"
Muka Cia Ling im berkerut kerut gemetar, namun mulutnya
terkancing tak bersuara segera ia membungkuk membopong
Sebun Bu yam, terlebih dulu ia tutuk jalan darah mancer
darah menyemprot lebih lanjut, terus tinggal pergi!
Baru beberapa langkah, Go hay ci hang memburu
dibelakangnya serta berkata merangkap tangan "Cun cia,
derita tiada batasnya, kembalilah ketepian, kuharap kau suka
mendengar beberapa patah kata Loceng!"
"Kepala gundul!" maki Cia Ling im sambil melotot, "Cukup
sepatah kata kuberitahu kepada kau, sukmaku selalu akan
tenggelam dalam kesesatan, aku tidak usah berjerih payah
menyadarkan aku!" "Can ciu sungguh bandel dan tidak dengar nasehat " apa
boleh buat! Loceng tidak minta banyak, paling tidak kuharap
membubarkan kumpulan orang jahat ini, supaya Lolap
berkesempatan menyebarluaskan ajaran Budha kelain tempat
?" sembari bicara ia tunjuk ke begundal Cia Ling im.
Cia Ling im tertawa getir katanya: "Kau tidak usah kuatir,
apakah mereka bakal dapat kau taklukan aku tidak peduli,
paling sedikit setelah mengalami kekalahan yang
mengenaskan ini, aku tiada muka untuk memimpin mereka
lagi!" Go hay ci hang merangkap tangan serta bersabda :
"Omitohud! Cun cia punya pikiran ini, betul betul merupakan
jasa terbesar bagi umat nanusia"
Cia Ling im tidak menghiraukan dia lagi, sambil
membopong Sebun Bu yam cepat melangkah pergi. Di
belakangnya mengintil Ki Houw dan Khong Ling ling, disebelah
belakangnya lagi rombongan orang banyak, semua tertindak
seperti ayam jago kalah dalam gelanggang aduan, seperti
balon kempes, tinggal pergi tanpa bersuara. Tiada seorangpun
yang tinggal, memang tiada orang yang bersuara menahan
mereka. Setelah mereka mengundurkan diri dari puncak Sin li hong,
Koan San gwat segera dirubung orang banyak sorak sorai
gegap gempita, semua unjuk rasa girang yang berlimpah
limpah. Hanya Lan Ih yu Saja yang masih mengomel dengan nada
kurang senang : "Kau ini memang keras kepala, kukuh seperti
gurumu. Sumpah apa segala, hari ini kau melepaskan dia, lain
kali?" Liu Sek.hong segera menukas "Kau takut apa! Kau kan
punya sandaran!" Liu Ih yu menjadi malu dan rasa jengah. Lekas It ouw
menyela sambil tersenyum.
Pendapa Losiu sesuai dengan perkataan Liu siancu, sehari Cia
Ling im belum ajal, kelak merupakan bibit bencana. Mendadak
Koan San gwat tertawa getir katanya merendahkan suaranya
"Biar kuberi tahu pada kalian, bahwasanya tidak pernah aku
bersumpah segala, tapi aku tidak punya maksud hendak
melepaakan Cia Ling im, hanya ?"
Karuan pernyataan Koan San gwat membuat semua orang
kaget, lekas Liu Ih yu mendesak : "Kenapa kau tidak
membunh diri" "
"Hakikatnya aku tidak mampu membunuh dta, sebalikanya
bila hendak bunuk aku, segampang membalikkan tangan ?"
Orang banyak terkejut. Sambil menggeleng Koan San gwat
coba menjelaskan. "Dengan bekal lwekangku, aku hanya
mampu mengembangkan keampuhan pedang ini sekali saja,
sampai sekarang aku tidak berani membayangkan akibat apa
yang bakal terjadi. Untung Sebun Bu yam menjadi korban,
bukan menolong dia malah menolong aku?"
Banyak orang yang mengerti, namun banyak pula yang
kurang paham. Terpaksa Koan San gwat melanjutkan
keterangan : "Keampuhan Pek hong kiam tiada taranya, asal
cahaya pedangnya dapat mencapai sasaran, tiada orang bisa
hidup, akhirnya aku hanya mampu mengutungi kedua tangan
Sebun Bu yam, maka dapatlah kalian bayangkan sampai
dimana taraf kekuatanku, namun aku tidak berani
menampilkan pada lahirku ?"
"Jadi ucapanmu tadi hanya untuk menipu saja" " tanya Liu
Ih yu. "Benar! Untung dia tidak tahu bualanku, waktu itu aku
menyerempet bahaya, mulutku bicara, namun punggungku
sudah basah kuyup oleh keringat, kukira kalian juga melihat
aku bicara ambil bernapas ngos ngosan."
Perasaan longgar semua orang menjadi tertekan lagi.
Orang orang gagah yang ketinggalan sudah bubar, mereka
tidak pamit kepada Koan San gwat saking lelah saat itu ia
tertidur pula beralaskan bongkot pohon, hanya beberapa
orang saja yang menjaga disekeliling nya, Liu Ih yu, Li Sek
tiong, It ouw dan Ling koh mereka dengan setia dan penuh
perhatian menjaga keselamatannya.
Mengawasi punggung orang orang yang bubar itu,
perasaan menjadi hambar dan mendelu. Pelan pelan It ouw
berkat sambil menghela napas "Kali ini benar benar bubar,
Liong hwa hwe " ketiga huruf ini sejak hari ini tidak akan
menjadi timbul kebesaran lagi, selanjutnya tinggal menjadi
kenangan belaka!" Pada saat itu ada beberapa orang menghampiri, ternyata
mereka adalah Hiat lo at Lok Heng kun, Coh san sin Liu Ju


Patung Emas Kaki Tunggal ( Unta Sakti ) Karya Gan K H di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang dan Pak kut sin mo Lok Siang kun suami istri serta Lok
Siau hong It ouw sedikit mengangguk sambil bertanya
tersenyum . "Apakah kalian hendak pergi" " Lok Heng kun
manggut manggut, katanya perlahan : "Dendam kesumat
beberapa tahun sudah terlampiaskan oleh Koan kongcu. Koan
kongcu tidak akan bangun dalam waktu dekat terpaksa harap
Ouw lo suka menyampaikan rasa terima kasih kami!"
It ouw tidak menjawab, ia cuma meng nggak Segera
mereka menjura terus putar tubuh tinggal pergi. Hanya Lok
Siau hong yang merasa berat, katanya : "Bu, kenapa tidak
tunggu sebentar, aku ingin bicara dengan Koan toako!"
Lekas Lok Heng kun menarikanya serta di bawa lari. Liu Ih
yu mengantar punggung mereka dengan pandangan penuh
perasaan gusar dengusnya "Anak perempuan itu sangat
menyebalkan?" Li Sek hong melirikanya sekali, katanya : "Sumoy! Kalau
kau ingin mendapatkan laki laki ini, lebih baik jangan sampai
dia mendengar ucapanmu?"
Berubah air muka I.iu Ih yu, sejenak ia termangu
mendadak berkata dengan suara ganjil : "Jikalau ada orang
ingin memecah belah hubungan kami, akan ku ?" ucapan
selanjutnya tidak diteruskan, namun jelas sekali sudah
melimpahkan perasaan hatinya.
Li Sek hong terperanjat, katanya menghela napas :
"Sumoy! Kau belum lagi mendapatkan dia, belum apa apa kau
sudah melepaakan kesempatan baik ini ?"
Berubah sikap Liu Ih yu, hidung mendengus serta tertawa
dingin, suasana jadi begitu dan tegang, tiada seorangpun
diantara mereka yang buka mulut lagi.
Kecuali Li Sek hong, Liu Ih yu, Siao yu at ouw dan Go hay
ci hang serta Ling koh yang melindungi Koan San gwat yang
sedang tidur pulas ini, puncak Sin li hong sudah kosong
melompong tiada seorang lagi.
Mendadak pandangan banyak orang tertuju kearah bayang
bayang batu cadas besar disebelah depan sana, dikegelapan
sana tampak bayangan tubuh manusia yang berdiri
mematung. Lekas It ouw memburu kesana, setelah melihat
tegas raut muka orang itu, segera ia bertanya dengan heran.
"Eh! Kenapa kau belum pergi" "
Orang ini terayata Hwi thian ya ce Peng Kiok jin mukanya
tidak menunjukkan perasaan berdiri tegak tak bergerak,
sesaat baru ia menjawab "Aku sedang menunggu Koan San
gwat!" Memangnya Liu Ih yu sedang uring uringan, tiba saatnya ia
lampiaskan kedongkolan hatinya meleset kedepan ia
menbentak: "Kenapa kau berani langsung memanggil
namanya" " Peng Kiok jin menyahut rawar: "Dia memanggilku toanio!
kenapa aku tidak boleh memanggil namanya! Dihadapannya
juga aku memanggil namanya!"
Tegak berdiri alis Liu Ih yu. Lekas Go hay ci hang maju "Liu
sian cu, Koan siheng pernah terluka parah, berkat asuhan dan
perawatannya sehingga kesehatannya pulih kembali, apa
salahnya memanggil langsung namanya" "
Maka, berkatalah Peng Kiok jin dingin "Liong hwa hwe
sudah bubar, bubungan kita tidak terikat lagi, tiada perbedaan
tinggi dan rendahnya ?"
Liu Ih yu menahan amarah dan menahan sabar, tanyanya:
"Untuk apa kau menunggu dia!"
"Akan kutanya sebuah persoalan dan kuberi tahu satu
urusan !" "Tanya apa dan memberi tahu apa" Bicara saja padaku
sama saja!" Membalik biji mata Pek Kiok jin, jengek nya: "Dengan apa
kau akan mewakili dia" "
Berubah hebat air muka Liu Ih yu, sentakanya"Kenapa
tidak bisa, memangnya aku belum dengar?"
Pek Kiok jin menyeringai dingin, jengek nya "Sudah tentu
aku pernah dengar, tapi kam belum resmi?"
Tangan Liu Ih yu sudah meraba gagang pedang, tanyanya
mendesis dingin: "Cara bagaimana baru dianggap resmi" "
Pek Kiok jin acuh tak acuh, sahutnya: "Aku ingin dia
langsung bicara kepada aku!"
Liu Ih yu tidak kuat lagi menahan amarah, tiba riba ia
mencabut pedang seraya berteriak bengis: "Nenek tua
keparat! Kau terlalu menghina orang."
Sebelum pedang terayun pergelangan tangannya sudah
digenggam erat oleh Li Sek hong, alisnya tegak dan
menegurnya:"Sumoy! Jangan gegabah ?"
Sembari meronta Liu Ih yu berteriak "Manusia rendah dari
kawanan iblis berani berlaku kurang ajar terhadapku, apakah
pantas ?" Lekas Go hay ci hang membujukanya perlahan "Liu sian cu,
Liong hwa hwe sudah bubar batas kedudukan dan tingkat
dewi, iblis dan setan sudah dihapus, kau perlu mencuci bersih
pengertian ini ?" Sedikit banyak Liu Ih yu masih merasa jerih terhadap
Hweshio tua ini, menahan gejolak hatinya, dengan kuat kuat
menyentak lepas tangannya dari cengkraman Li Sek hong, lalu
menyarung pedangg menghampiri Koan San gwat serta
menggoncang badannya yang sedang tidur pulas, teriakanya:
"Bangun ! Bangun !"
Koan San gwat menyingkat bangun, tangan mengucek
ngucek kedua matanya yang masih kantuk ia bertanya, heran
"Ada urusan ?" apa..?"
Maka Liu Ih yu merah membara, napas pun memburu
turun naik. Karuan semakin heran Koan San gwat di buatnya, tanyanya
: "Apakah yang terjadi" Agakanya kalian bentrok sendiri ?"
Peng Kiok jin batuk batuk ringan, katanya "Akulah yang
bertengkar dengan Liu sian cu ?"
Heran Koan San gwat, tanyanya "Toanio" Kenapa kau
bertengkar dengan Liu sian cu"
Karena sebutan "Liu sian cu" yang ganjil dari mulut Koan
San gwat, berubah pula air muka Liu Ih yu, ia meluruk maju
seraya berteriak kalap: "Koan San gwat soal jodoh kita
sebetulnya sudah masuk hitungan belum" "
Dalam hati Koan San gwat sudah maklum kemana
juntrangan persoalan ini, namun lahirnya pura pura tidak
mengerti "Urusan apa?" tanyanya.
Amarahnya sudah bergejolak dirongga dada Liu Ih yu,
tangan sudah meraba pedang namun belum mencabut keluar,
badannya tiba tiba ambruk pelan pelan.
Saking marah dan merasa terhina akhir nya ia semaput.
Cepat Li Sek hong memapah tubuhnya katanya dengan
penuh kekuatiran. "Koan kong Cu, berkat petunjuk Toa suci
Sumoy pasrah nasibnya kepadamu, hal ini sudah diumumkan
secara terbuka dihadapan orang banyak jangan kau anggap
main main ?" Koan San gwat gugup sekali, katanya "Darimana harus
dibicarakan persoalan ini."
Li Sek hong tertegun, katanya "Apa! Masa Toa suci tidak
pernah membicaran hal ini kepadamu?"
Koan San gwat garuk garuk kepala, sahut nya "Kukira tidak
pernah ?" "Lalu kenapa diam saja dihadapan sekian banyak orang ..?"
Koan San gwat berpaling kearah Go hay ci hang, tanyanya
: "Taysu! Harap kau saja yang memberi penjelasan, waktu itu
kaulah yang menyuruh aku."
Terbuka lebar mulut Go hay, suaranya tersekat, sesaat
baru ia mampu bicara : "Lolap mendapat petunjuk Hiang ting
siancu untuk merangkap perjodohan ini, sedang Hiang ting
sian cu melalui Ling koh memberi kabar bahwa Koan siheng
katanya sudah setuju!"
Li Sek hong mendelik kearah Ling koh, dampratnya : "Setan
cilik! Bicaralah yang jelas, apakah benar Toa suci beritahu
kepada kau?" Mendelong matanya Ling koh, sahutnya tergagap : "Ya.. ya
begitulah!" "Bohong! Kapan aku pernah menyetujui!" teriak Koan San
gwat! Lingkoh mencebirkan bibir, katanya "Hiang ting sian cu
katanya kau pernah melulusi sesuatu kepadanya, malah
katanya tidak akan ingkar janji ?"
Koan San gwat menjelajah lagi pengalamannya beberapa
lari ini, akhirnya ia paham dua jawaban, "mana bisa salah
paham segala?" Koan San gwat menhela napas, katanya: "Lim sian cu minta
aku melakukan sesuatu untuk dia tidak menjelaskan tentang
persoalanya, demi membalas kebaikan budi Lim sian cu maka
tanpa ragu ragu aku menyetujui permintaannya!"
"Ai!" desah Li Sek hong membanting kaki "Sungguh
menyulitkan, kenapa Toa Suci begitu ceroboh ?"
"Hal ini tidak bisa salahkan Lim sian cu," lekas Ling koh
menyanggah, "Meski beliau sudah ambil keputusan, tapi
diapun beri tahu kepadaku, katanya waktu belum matang,
minta ku memberitahu kepada Go hay Taysu supaya bekerja
melihat gelagat ?" Pandangan orang banyak tertuju kepada Go hay, hweshio
tua menghela napas serta sahutnya "Sebetulnya Lolap tidak
ingin mengemukakan, Liu sian cu sendiri yang terlalu bernafsu
kemukakan isi hatinya."
Li Sek hong menghela napas, pandangan nya tertuju
kearah Koan San gwat, katanya: "Urusan sudah terlanjur,
kuharap kau mengambil sikap yang tegas ?"
Koan San gwat jadi serba sulit.
Kata Li Sek hong pula:"Bagaimana keputusanmu" "
Koan San gwat berpikir mendalam, akhir nya ia menjawab
perlahan: "Aku tidak bisa menikah dengan dia ?"
Suaranya lirih namun orang mendengar jelas, kecuali Peng
Kiok jin perasaan orang banyak tertekan. Maka sambil
mendengus berkatalah Li Sek hong "Kenapa" Apakah dia
tidak setimpal menjadi istrimu" "
"Bukan soal setimpal atau tidak, aku tidak akan menikah
dengan perempuan yang tidak kucintai?"
"Busyet! cintanya begitu mendalam, jauh lebih hangat dari
api membara!" "Bukan dia yang kumakaud, aku sendiri lah yang tidak
punya rasa cinta." Li Sek hong geleng kepala, gelap sinar mukanya, ujarnya
"Jodoh ini sulit dipaksakan!"
"Li sian cu aku salut setinggi tingginya kepada kau ?"
"Aku termasuk orang luar, sedikitpun tiada sangkut
pautnya, tapi ingin kuberi nasehat kepada kau!"
"Harap siancu cu memberi petunjuk!"
Mengawasi Liu Ih yu yang pingsan berkatalah Li Sek hong
penuh haru, "Kalau kau tidak ingin mengawininya, lebih baik
sekarang juga kau bunuh dia ?"
Koan San gwat berjingkrak kaget, sulit ia menerima
maksud kata kata Li Sek hong. Namun Li Sek hong segera
menambahkan "Aku tidak berkelakar perasaan perempuan,
entah cinta atau benci yang ditempuh adalah jalan paling
ujang, sian sumoy justru menempuh jalan ujung yang buntu,
cintanya bisa berubah menjadi kebencian yang keluar batas,
hari ini kau menolak cintanya dibawah rangsangan perasaan
yang kecewa dan gagal ini, mungkin dia akan jauh lebih
menakutkan dari Cia Ling im" "
Koan San gwat mundur sambil geleng kepala.
Li Sek hong menambahkan: "Meski dia Sumoyku tapi aku
tidak menyalahkan kau ku kira orang lain pula demikian, aku
percaya pandangan mereka tentang hal ini sama seperti
pendapatku ?" It ouw mengangguk kepala, Ling kohpun manggut
manggut, sedang Go hay ci hang tidak mengangguk tapi dia
pun tidak menentang. Sementara pandangan Peng Kiok jin
malah memberi dorongan kepadanya.
Ini pertanda bahwa ucapan Li Sek hong bukan gertak
belaka tapi kenyataan seratus prosen.
Namun Koan San gwat masih menggeleng katanya tegas :
"Tidak! Aku tidak bisa mengawininya, tapi akupun tidak bisa
membunuhnya. Malah siapa saja akan kurintangi bila hendak
melukai seujung rambutnya!"
"Kau tahu akibat sikapmu itu" " desak Li Sek hong dengan
suara gemetar. "Apapun akibatnya aku yang bertanggung jawab, kalau dia
menjadi manusia baik baik akan kusampaikan salut
setingginya, tapi bila dia berbuat kejahatan, dengan Pek hong
kiam akan kubunuh dia!"
"Apakah tidak terlalu terlambat waktu itu?"
"Ya, mungkin rada terlambat, tapi kita tidak bisa
membunuh orang tanpa alasan, apa lagi orang itu tidak punya
dosa, apakah kita tidak berdosa malah bila membunuhnya" "
Li Sek hong merandek, akhirnya merebahkan Liu Ih yu
diatas tanah, katanya menghela napas : "Aku tidak tahu
apakah tindakkanmu ini benar, namun kejujuran dan
kepolosan hatimu membuat aku takluk, bicara soal aturan aku
tiada ungkulan, baiklah kuserahkan dia kepada kau!"
Lahirnya ia bicara halus, namun Koan San gwat melihat
sorot matanya mengandung napsu membunuh, demikian juga
Ling koh dan It ouw, Go hay merangkap tangan serta
bersabda katanya "Baiklah Lolap saja yang membawa nya
pergi!" sembari berkata ia membungkuk menarik pakaian Liu
Ih yu, sementara tangan yang lain menyelonong menepuk ulu
hatinya. Untung Koan San gwat cukup tajam dan cekatan,
lekas ia dorong telapak tangannya menekan punggung sikut
hweshio tua, sehingga tangannya tersampok miring,
bentakanya:" Taysu! Apa yang kau lakukan"."
Lwekang Go hay amat tinggi, meski ia tersuluk dua tiga
tindak oleh dorongan Koan San gwat, tapi Koan San gwat
sendiripun terpental setengah tumbak, Go hay tidak ayal, ia
lancarkan pukulan jarak jauh kearah Liu Ih yu yang rebah
ditanah. Koan San gwat tidak sempat menolong, saking gugup
mulutnya menggerung seperti harimau gila.
Tak nyana begitu badan Liu Ih yu terpukul badannya
mencelat tetrbang lima enam tumbak, namun dengan ringan
badannya jatuh di tanah sedikitpun tidak mendapat luka apa
apa. Matanya memancarkan amarah yang mengandung
dendam dan kebencian, Katanya dengan suara serak : "Kalian
kurang mengerti terhadapku pribadiku, demikian pula
pengertianku terhadap kalian ternyata kurang mendalan."


Patung Emas Kaki Tunggal ( Unta Sakti ) Karya Gan K H di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Koan San gwat menjerit tertahan, ujarnya "Aih! Kau "
tidak pingsan ?" Liu ih yu menyeringai. "Maksudmu karena persoalan ayahnya dia jatuh sakit" "
Peng Kiok jin manggut manggut.
Koan San gwat menghela napas , ujarnya: "Sungguh bodoh
dia! apa sangkut pautnya perbuatan ayahnya dengan dia!
didalam Liong hwa hwe kali ini aku bertemu Thio Hun cu,
pernah kutanyakan duduk persoalannya kelihatan nya
kejadian itu bukan perbuatannya"
"Dia sudah menyikapi, yang bertanding ke semua golongan
dan aliran silat besar memang dia, namun yang mencuri buku
ajaran silat dan melukai orang adalah perbuatan orang lain."
"Sungguh sulit dimengerti, lalu apa pula yang dia
kuatirkan." "Tapi peristiwa yang menimpa Bu khek pay di Im san
memang benar Thio Hun cu lah yang memelet putrinya Im Le
hwa." "Dari mana dia memperoleh berita ini"
"Boleh nanti kau tanya langsung kepadanya! aku sendiri
tidak tahu, memang aku juga berani pastikan bahwa Thio Hun
cu kena fitnah, namun ia bergaul dengan orang orang Mo
kiong memang kenyataan, maka sulit membela Thio Hun cu."
"Untuk apa Ceng Ceng berada di Tay pa san" "
"Bukankah sudah kukatakan dia sakit, sudah tentu ia
merawat penyakitnya disana," demikian jawab Peng Kiok jin
uring uringn. Koan San gwat tertawa, dengar sabar ia berkata "Aku
merasa heran hanya untuk merawat penyakit kenapa mesti ke
tempat yang sepi itu!"
Peng Kiok jin mendengus "Kecuali tempat itu tiada tempat
lain ia bisa menempatkan dirinya. Aku tidak perlu banyak
omong, nanti kau akan mengerti dengan jelas, bicara terang
atas makaudku sendirilah kau kubawa kemari untuk
menemuinya, menurut tabiatnya, selama hidupnya ini ia tidak
mau bertemu dengan kau!"
"Toanio, kata katamu makin membingungkan, aku tidak
mengerti ?" "Tidak perlu kau mengerti, cukup asal kau melimpahkan
perasaanmu yang murni, mungkin uluran cintamu bisa
menolongnya dari penderitaan!"
Koan San gwat geleng kepala denpan hambar, sejak
mengetahui seluk beluk Liong hwa hwe, dia sudah
berkecimpung dalam banyak persoalan serba rahasia, ia tahu
bila bertanya lebih lanjut tidak akan membawa hasil. Terpaksa
ia tutup mulut, menggebah tunggangannya berlari lebih pesat.
Akhirnya Peng Kiok jin tidak lahan, tanya : "Kenapa kau
tidak bicara" "
"Apa gunanya bicara" Urusan yang harus ku ketahui kan
tidak bisa memberi tahu makin tanya membuat hatiku gundah
dan ruwet malah, lebih baik berlaku tenang menunggu
perkembangan selanjutnya ?"
Peng Kiok jin menjadi gusar, dampratnya "Paling tidak kau
harus menyatakan rasa prihatinmu terhadap kesehatannya!"
"Begitu mendengar beritanya, segera aku menyusul kemari
bersama kau apakah aku masih kurang perhatian?"
"Begitu saja" Kau tahu betapa dia mengorbankan diri diri
untuk kesehatanmu dulu" Untuk menolong jiwamu dia
pertaruhkan jiwanya membawa Kau ke Kun lun san di tanah
bersalju dia kira kau tidak tertolong lagi menangis sejadi
jadinya berusaha menimbun tubuhnya dengan air matanya,
sekarang dia lebih ?"
"Sekarang dia bagaimana" "
Peng Kiok jin sadar sudah kelepasen omong, cepat ia tutup
mulut, kata nya : "Kau tak usah tanya, yang terang ia telah
mengorbankan segalanya, tenggelam dalam penderitaan!"
"Begitu besar dan dalam cintanya terhadapku, kenapa tidak
ingin bertemu dengan aku" "
"Ai, akulah yang sudah linglung karena gelisah, bicaraku
tidak genah, putar balik di mulut ia mengatakan tidak mau
bertemu dengan kau, namun perasan hatinya tidak dapat
mengelabui aku, rasa rindunya terhadap kau jauh lebih besar
lebih membara dari apa saja ?"
"Aku mengerti! Akupun tidak menyia nyiakan cintanya, di
Sian li hong secara tandas kutolak perjodohan dengan Liu Ih
yu.." "Karena sikapmu itu baru aku berketetapan untuk
memberitahu jejakanya kepada kau!"
Tiba tiba Koan San gwat berkata sungguh: "Toanio, bila
kau percaya kepadaku, harap kau suka menuturkan keadaan
yang sebenarnya! Sebetulnya bagaimana keadaan Ceng Ceng
di Tay pa san?" Peng Kiok jin menggeleng dengan perasaan pedih dan
rawan, sahutnya. "Harap maaf kan aku, tidak bisa aku banyak
bicara, membawa kau kesanapun aku sudah bersalah besar,
tapi demi nona Ceng, demi membalas kebaikan Soat lo Thay
thay, aku banyak bisa menyumbangkan sekedar tenagaku ini!"
Koan San gwat maklum akan kesulitan orang, maka ia tidak
mendesak lebih lanjut tunggangannya ia bedal lebih kencang,
berlari lari kencang dialas pegunungan dengan bebas tanpa
mengenal rintangan. Untung jarak Tay pa san dengan Bu san hanya seribu li,
sepanjang jalan ini mereka harus melewati alas pegunungan
yang belukar jarang diinjak manusia, kekuatan lari unta Sakti
memang tidak diragukan, naik gunung lompat jurang berlari
seperti dijalan datar kira kira satu hari mereka menghabiskan
waktu perjalanan, akhirnya mereka tiba ditempat tujuan.
Tujuan mereka ialah puncak Tay pa san yang utama yaitu
yang dinamakan Tay pi hong setelah tiba dibawah gunung,
perasaan Peng Kiok jin kelihatan tidak tenang katanya: "Aku
tidak bisa turut keatas, boleh kau bekerja menurut keadaan!
tapi rintangan apa serta kejadian memalukan apapun harus
dapat kau terima dengan kebesaran jiwa demi nona Ceng."
"Jangan kau putus asa jangan patah semangat, maju terus
pantang mundur, semoga Thian selalu melindungi kau?"
Habis berkata ia melompat turun dari punggung unta terus
meleset terbang tinggi pergi.
Koan San gwat terlongong heran melihat tingkah lakunya
yang aneh, tapi setelah maju lebih lanjut tiga empat li jalan
disini semakin sempit dan sulit dilewati cukup untuk lewat satu
orang. Jalan gantung ini dibangun ditengah himpitan dua dinding
gunung yang curam, dinding licin dan rata banyak tumbuh
lumut hijau, kalau dia nasih bisa berlari, namun unta nya yang
bertubuh tinggi besar sudah tidak mungkin maju lebih lanjut,
terpaksa ia tinggalkan untanya, memanggul gada masnya
serta menyoreng pedang di pinggang, ia maju lebih lanjut
menyelusuri jalan pegunungan ini terus naik keatas.
Jalan gunung ini berputar membundar berbeatuk seperti
kiong, semakin berputar semakin tinggi, kira kira tujuh
delapan li kemudian baru dia melihat sebuah panggung datar
dari batu gunung, awan mengembang angin gunung
menghembus sepoi sepoi. Koan San gwat mengeluarkan keringat panas, berjalan
begitu lama diatas pegunungan yang sempit memang amat
payah, apalagi ia harus selalu waspada menjaga
keseimbangan tubuh. Setelah berada diatas panggung baru, ia
menarik napas panjang, setelah menjelajahkan
pandangannya, tanpa menarik alis. Ternyata jalan
pegunungan ini sampai disini sudah putus, untuk maju lebih
lanjut harus memanjat ke atas seperti kera, dengan akar akar
pohon yang tumbuh lebat. Akar akar rotan memang cukup besar, cukup kuat menahan
berat badan satu orang, namun ia merasa sangsi. Soalnya
terletak pada gada masnya ini, beratnya ada tiga empat ratus
kati, dia sendiri sih tidak keberatan, namun kuatkah akar akar
rotan itu menunjang berat sedemikian besarnya.
Tebing ini cukup tinggi dan disebelah bawah adalah jurang
yang tidak kelihatan dasarnya masakah ia harus bekerja
mempertaruhkan jiwa sendiri, kalau gada masnya harus
ditinggalkan begitu saja, rasanya berat dan tidak mungkin.
Begitulah sekian lama ia memeras otak mencari akal
mengatasi kesulitan ini. Dasar otakanya encer, mendadak
timbul aksinya, lekas ia turunkan senjata beratnya, ambil
mengerahkan tenaga saktinya, ia tancapkan malaikat mas
berkaki tunggalnya diatas panggung batu gunung, begitu
hebat tenaganya, gadanya itu sampai amblas seleher patung
malaikat berkaki tunggalnya, lalu dikeluarkan pula sebentuk
lencana Bing co ling. Diporotkan diatas batu pula.
Ia membayangkan untuk mencabut gadanya itu dari dalam
batu, memerlukan tenaga lwekang yang luar biasa, orang
yang membekal lwekang sedemikian tinggi tidak akan ketarik
oleh patung malaikatnya. Umpama orang benar benar mencabutnya keluar itu
pertanda bahwa orang itu menantang dirinya, dan untuk itu
pasti dia akan mencari dan menemui dirinya, paling tidak pasti
meninggalkan tanda pengenalnya dicari tentu tidak sukar.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, terasa hatinya lega dan
longgar. Tapi waktu ia angkat kepala, seketika hatinya terkejut
bukan main. Entah sejak kapan dihadapannya tahu tahu berdiri seorang,
orang ini tiba tanpa mengeluarkan suara, entah datang dari
bawah atau dari atas. Orang ini berusia tiga puluhan, mukanya cakap dan cerah,
mengenakan pakaian sekolahan, sikapnya sopan santun lemah
lembut. Tapi Koan San gwat tidak demikian, perduli orang datang
dari bawah atau atas, kenyataan orang berada dihadapannya
tanpa mengeluarkan suara dia tidak diketahui olehnya, jelas
membuktikan bahwa orang ini bukan sembarangan orang.
Dengan kaku orang itu menghampiri matanya mengawasi
tulisan jari Koan San gwat dipinggir patung malaikatnya yang
berbunyi: "Peninggalan Bing tho ling cu" "
Koan San gwat bersoja, sahutnya: "Aku yang rendah Koan
San gwat ?" Perhatian orang itu tidak tertuju pada perkenalan namanya,
matanya masih menatap tajam tulisan tulisan itu, katanya
"Goresan jari saudara sungguh menakjubkan, kekuatan jari itu
lebih harus dipuji!"
"Ah tulisan ceker ayam belaka, tidak perlu diperhatikan ?"
"Ai, kenapa sungkan, hobyku juga menulis, bisa bertemu
dengan seseorang yang punya gaya tulisan sebagus ini
kesempatan tidak kusia siakan, kuharap selanjutnya kami bisa
sling belajar dan mamberi petunjuk!"
Sudah tentu Koan San gwat tiada hasrat msmbicarakan
soal tulisan, cepat ia kerkata. "Kelak kalau ada waktu pasti
akupun mohon petunjuk pada saudara. Cuma hari itu?"
"Bagus sekali," tukas orang itu, "Aku tinggal diatas,
sewaktu waktu saudara boleh datang untuk memberi
pelajaran." Koan San gwat melongo, tanyanya: "Jadi saudara juga
tinggal dipuncak sana" "
"Benar " eh, kata kata "juga" yang saudara ucapkan
kedengapannya aneh, apakah tempat tinggal saudara
bertetangga dengan Siau te!"
"O, bukan, aku punya seorang kenalan yang tinggal
disebelah atas." Orang itu manggut, ujarnya: "begitu! orang yang menetap
diatas tidak banyak entah siapa sahabat saudara itu" "
"Seorang anak perempuan, dia bernama Thio Ceng Ceng?"
Berubah air muka orang itu, matanya menatap tajam
katanya: "Memang ada orang yang kau maksudkan, jadi
saudara kemari mencari dia" Adalah urusan apa" "
Koan San gwat dongkol akan pertanyaan orang yang melit,
namun ia menahan sabar sahutnya: "Aku yang rendah adalah
sahabat karib nona Ceng, sengaja kemari untuk
menjenguknya ?" -oo0dw0oo- JILID 17 ORANG ITU MENURUNKAN bibir matanya, katanya : "Thio
siocia tidak mau terima tamu!"
Koan San gwat benar benar marah, kata nya: "Jawabanmu
tidak pantas seharusnya nona Thio sendiri yang
mengucapkannya!" Orang itu tertawa, lalu sahutnya tawar: "Aku yang bicara
juga sama, sejak nona Thio berada diatas gunung, ia bertekad
putus hubungan dengan dunia ramai, siapapun tidak mau
menemui aku!" "Aku hanya omong saja, kalau tidak percaya, silahkan kau
tanya sendiri." Koan San gwat tertawa dingin, ujarnya: "Meski tiada jalan
tembus keatas, masa dapat mempersulit diriku" "
"Sudah tentu! Kau bisa sampai disini, meski memiliki
kepandaian yang lumayan, mari perlihatkan!"
Koan San gwat melotot sekali kepadanya kedua kaki
menjejak, badan segera melambung dua tambak lebih, lekas
kedua tangannya menarik akar rotan yang menjulur turun,
waktu ia turun kebawah, dilihatnya orang itu sudah mencabut
keluar gada malaikat mas nya, sedang bolak balik memeriksa
dengan teliti, sudah tentu terkejut Koan San gwat di buatnya,
lekas ia lepas tangan serta berteriak: "Hai! Itu barang milikku,
jangan kau sentuh!" Baru saja tubuhnya melayang turun di panggung batu
orang itu tersenyum sambil mengacungkan malaikat mas
keatas, tiba tiba ia melayang tinggi melampaui kepala Koan
San gwat, terus hinggap diatas akar rotan, beberapa kali
lompatan, ia sudah berkelebat lenyap dibalik awan.
Melihat gerak gerik orang yang begitu enteng dan lincah
serta tangkas itu, diam diam Koan San gwat meleletkan lidah,
sejak orang itu muncul, dia sudah menduga bahwa dia tentu
bukan sembarangan orang, cuma tidak terpikir olehnya bahwa
orang berkepandaian setinggi itu.
Yang lain tidak perlu dipersoalkan, bahwa orang dapat
mencabut keluar malaikat masnya yang amblas seluruhnya
kedalam batu dengan gampang, lalu membawanya pula dari
" lari bagai terbang naik keatas, betapa lincah dan cekatan
gerak gerikanya, walaupun dirinya bertangan kosong belum
tentu dapat memadai. Apakah diatas puncak berpenghuni orang orang kosen yang
lihay pula" Dari bicara orang itu jelas bahwa bukan dia


Patung Emas Kaki Tunggal ( Unta Sakti ) Karya Gan K H di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seorang yang menetap di sana membuktikan pula bahwa Thio
Ceng Ceng memang berada diatas puncak.
Cara bagaimana pula Thio Ceng Ceng bisa bergaul dengan
orang orang itu" Lalu terbayang akan tingkah laku serta kata Peng Kiok jin
yang serba takut dan rahasia, lambat laun ia mulai paham.
Didunia ini banyak tokoh tokoh kosen yang mengasingkan
diri dan tidak suka namanya tersiar di luar, Liong hwa hwe
yang kocar kacir itu merupakan contoh yang nyata. Dilihat dari
kepandaian orang tadi, bekal ilmu silatnya tentu lebih tinggi
dari beberapa to tertentu dari anggota Liong hwa hwe, tak
heran mereka melarang Peng kiok jin membocorkan rahasia "
Karena analisanya ini, maka Koan San gwat, menghadapi
persoalan pelik. "Manjat keatas" Atau cuci tangan sampai di sini saja" "
Kalau keatas jelas tidak akan memperoleh sambutan bukan
mustahil timbul pertikaian yang sulit diselesaikan. Kalau turun
tak bisa menemui Thio Ceng Ceng. Teringat akan
pengorbanan gadis yang harus dikasihani, dia merasa tidak
pantas menyia nyiakan kebaikan nya itu.
Dari penuturan Peng Kiok jin ia berkesimpulan bahwa Thio
Ceng Ceng tidak ditekan atau diancam, namun pasti hatinya
amat berduka. Kalau tidak masa Peng Kiok jin membawa
dirinya kemari " Setelah direnungkan bolak balik, akhirnya ia berkeputusan
untuk manjat keatas. Pertama untuk menjenguk Thio Ceng
Ceng, meski perasaannya terhadap gadis yang harus
dikasihani ini tidak sehangat cinta Thio Ceng Ceng terhadap
dirinya. Kehidupan mengasingkan diri sejak kecil sudah
mendarah daging dalam relung hatinya sehingga ia merasa
tawar terhadap hubungan kaum adam dan hawa, tapi demi
keadilan antara cinta dan budi, ia mewajib menjengukanya.
Tujuan kedua karena orang itu membawa pergi senjatanya,
bagaimina juga secara tradisi perguruannya pantang hilang di
tangannya, di harus memintanya kembali.
Setelah berkeputusan, mulai ia mempersiapkan diri
memanjat keatas, waktu kakinya bergerak lututnya sedikit
ditekuk, perlahan lahan ia menarik napas panjang, tiba tiba
badan nya melambung tinggi meraih akar rotan, seperti kera
layakanya ia manjat keatas.
Rotan yang tumbuh memanjang itu berbeda beda ada yang
besar ada yang kecil bergoyangnya sudah tentu berlainan
pula, yang besar tidak bergeming yang kecil bergoyang gontai.
Koan San gwat merasa tindakannya benar meninggalkan
senjata malaikat masnya dibawah, kalau membawa benda
yang begitu besar, mungkin ia bisa terjungkal jatuh dibawah,
karena berat yang tidak tertahan oleh akar akar rotan itu.
Namun orang itu bisa membawanya naik begitu gampang, dari
sini dapatlah dibuktikan bahwa kepandaian silat orang itu pasti
sulit diukur. Penghuni puncak gunung ini adalah orang kosen yang lihay
menurut perkiraan Koan San gwat, maka ia berlaku sangat
hati hati dan waspada. Lambat laun ia merasa sudah hamipir
tiba diatas puncak, karena pandangan matanya cukup terang,
dilihatnya langit nan terang dan biru cemerlang ditimpa
cahaya bulan sabit yang redup.
Awan tebal dibawah kakinya menjadi lautan gelap yang
bergulng gulung, dua tiga umbak tak jauh dimukanya tumbuh
sepucuk pohon siong, yang amat tua, kokoh dan kekar, lebih
atas sudah tidak kelihatan sesuatu benda lagi.
Meski tidak terlalu letih, namun Koan San gwat cukup
payah, maka perasaannya lambat laun menjadi kendor, begitu
ia mengerahkan tenaga pada lengannya terus menggentak
keatas, badannya melejit jumpalitan keatas, sekali raih ia
pegang sebatang dahan pohon liong.
Dahan pohon itu sebesar lengan tangan nya, mestinya kuat
menahan berat badannya tapi waktu tenaga dikerahkan,
mendadak didengarnya suara "Krak!" yang keras dahan pohon
itu patah tepat disebelah ujung tangannya, kontan badan dan
dahan pohon itu melorot kebawah dan terjungkal kedalam
jurang. Mimpi juga Koan San gwat tidak menduga, bila terjadi hal
ini, karena tidak siaga, sementara tubuhnya sudah meluncur
tiga tumbak ke bawah, dalam gugupnya timbul akal
cerdikanya, lekas ia lemparkan dahan ditangannya meminjam
daya lemparan ini ia jejakkan tubuhnya diatas merapat
kedinding gunung. Lekas ia mengerahkan tenaga kelima
jarinya mencakar amblas kedalam dinding batu cadas.
Ternyata dinding batu cadas ini teramat empuk, tangannya
amblas seluruhnya, sementara ia bisa bertahan tidak sampai
terjungkal kehawah. Tapi dinding yang empuk itu tidak kuat
menahan badannya, batu kerikil sudah berjatuhan,
kelihatannya sebentar lagi ia bakal melorot turun pula
kebawah. Untunglah Koan Ssn gwat sudah digembleng serta
dipupuk dasar pengalaman yang matang, meski menghadapi
bahaya tidak menjadi gugup, segera ia melolos Pek hong kiam
dari pinggangnya, beruntun ia menusuk dan membacok diatas
dinding. Pek hong kiam memang tajam luar biasa sebentar saja
berhasil dikeduknya setuah lubang lubang yang cukup besar,
menggunakan ilmu cecak merambat Koan San gwat
merapatkan badannya didinding batu lalu kakinya berpijak
masuk lubang yang dibuatnya pelan pelan ia menghirup
napas, tiba tiba tumit kakinya mengerahkan tenaga, badannya
melejit tiga empat tumbak tingginya badannya jumpalitan
hinggap diatas dahan pohon siong.
Kali ini dia lebih hati hati, badannya tidak berhenti lama
diatas dahan, sedikit meminjam tenaga, badannya melayang
turun di tanah datar. Menurut perhitungannya dahan pohon
tidak akan patah sebab, kecuali terkena suatu tekanan besar
atau dikerjakan orang. Betul juga baru saja ujung kakinya meninggalkm dahan
pohon itu, dahan tempat ia berpijak itu patah mengeluarkan
suara nyaring. Matanya yang tajam melihat berkelebatnya
selarik sinar putih. Terbukti akan perbuatan seseorang yang
disengaja. Koan San gwat berkobar amarah, baru berdiri tegak kontan
memaki "Kunyuk dari mana yang suka membokong orang,
menggelindinglah keluar!"
Suaranya menggelepar diatas, namun keadaan tenang
tidak ada reaksi apa apa, di hadapannya terbentang serumpun
hutan bambu, keadaan sepi hanya terdengar keretakan daun
bambu yang dihembus angin Koan San gwat menduga orang
yang membokong Itu pasti sembunyi didalam hutan bambu
itu, maka ia berteriak memaki lagi "Bangsat rendah yang
penakut, berani membokong kenapa bersembunyi" "
Baru saja lenyap suaranya dari hutan bambu terdengar
sebuah suara berat berkata "Barang tak berguna, sekedar
permainan saja sudah ketakutan begitu rupa!"
Mendengar suara amat dekat terbakar amarah Koan San
gwat, sambil menghardik ia menyerbu seraya mengobat
abitkan Pek hong kiam, dimana sinar perak menyambar
terdengarlah suara keresekan yang riuh, empat lima kaki
sekitar tubuhnya, pohon bambu terbabat tumbang berserakan,
ditengah ramainya pohon pohon bambu itu tumbang tidak
terlihat bayangan seorangpun.
Keruan Koan San gwat melongo heran kepandaian dengar
suara menubruk bayangan sudah ia latih beberapa tahun, ia
percaya akan kepandaiannya dia tidak mungkin gagal, namun
kenyatannya ia menubruk tempat kosong. Bahna herannya ia
jelajahkan pandangannya, maka dilihatnya diantara batang
pohon bambu yang roboh berserakan itu ditengah sana
terdapat sebuah batu hijau yang datar seperti sebuah meja,
dikedua sampingnya. terdapat pula dua bongkah baru sebagai
kursi duduk, diatas meja berserakan biji biji catur warna hitam
dan putih. Setelah dekat dilihatnya diatas meja batu itu diukir garis
garis catur, permainan agaknya belum selesai, jelas ada orang
sedang main catur disini, orang yang membokong dirinya
tentu berada disini, sementara senjata rahasia yang digunakan
adalah biji catur ini pula, cuma kedua orang itu cekatan
melarikan diri menghindari serangannya.
Tengah ia berpikir, dari hutan sebelah sana terdengar
seorang berkata "Sui ki! Kelakarmu keterlaluan, hutan sebaik
ini kau obrak abrik akan kulihat cara bagaimana kau laporkan
hal ini kepada Gwat hoa hujin."
Menyusul dari belakang hutan bambu beruntun muncullah
dua bayangan orang. Meminjam sinar bintang Koan San gwat melihat kedua
pendatang ini seorang tinggi yang lain penedek buntek, yang
pendek bercambang bauk lebar seperti duri duri landak, kedua
mata orang ini bersinar tajam.
Koan San gwat tahu satu diantara kedua orang ini adalah
yang membokong diri nya, dari percakapan tadi ia tahu orang
itu bernama Sui Ki, entah yang mana diantara ke dua orang
ini, maka dengan suara keras dan kereng ia bertanya "Siapa
yang membokong aku" "
Siorang pendek mendelik mata, sahutnya : "Aku. Bocah kau
memang sembrono, aku cuma berkelakar, kenapa kau lantas
marah hutan bambu ini kau babat semua, cara bagaimana kau
mengganti kerugian ini" "
Sipendek mengelus cambang baukanya lalu berkata : "Anak
muda, jangan kau memaki orang ya, bilang guyon ya guyon,
kalau aku ingin menamatkan jiwamu, kedua biji caturku tadi,
tidak akan mengincar dahan pohon ?"
Mendengar orang berani berdebat, berubah air mukanya,
amarahnya sudah tak tertahan lagi. Lekas setinggi
menggoyangkan tangan katanya "Siheng tidak usah marah
marah, Sui Ki memang hanya mempermainkan belaka tiada
niat mencelakai jiwamu, seandainya Siheng terjauh juga tidak
akan mati!" Koan San gwat mendelikkan mata, semprotnya penuh
kebencian : "Bohong! Tempat setinggi itu kalau terjatuh ?"
Sitinggi tertawa, ujarnya : "Dibawah ada dipasang jaring
besar, paling Siheng menderita kaget setengah mati saja "
Koan San gwat melongo, sikap si tinggi ini ramah dan supel
lagi maka ia percaya ucapan orang bukan bualan, dengan
masih sangsi ia berkata "Mana aku tahu ?"
Sipendek mendengus, jengekanya "Huh, jika kau tahu,
maka kelakar inipun tiada artinya lagi!"
Koan San gwat teramat benci terhadap sipendek ini
katanya : "Meski ada jaring di bawah kau tidak pantas berbuat
begitu, berapa tinggi tebing curam ini, kalau seorang yang
tidak bisa silat terjatuh kesana, tanggung mampus ketakutan
?" "Orang yang tidak bisa silat jangan harap bisa manjat
kemari," demikian jengek si pendek. "Menurut Tay Su kau
kelihatan pintar, tak tahunya goblok melebihi kerbau dungu!"
Koan San gwat benar benar kena didebat, mulutnya
terkancing, sipendek senang, ujarnya "Anak muda! Masih ada
omongan apa yang hendak kau katakan! Begitu ceroboh kau
menggunakan pedang hendak melukai orang, cari bagaimnaa
kau mengganti hutan bambu ini, kau tahu untuk menanam
pohon bambu diatas puncak ini, memerlukan jerih payah ?"
Koan San gwat hendak mengumbar amarahnyi lagi, lekas
lekas si tinggi bicara "Sui Ke jangan kau mengingkari
tanggung jawab, meski dia yang membabat habis bambu
disini diusut asal mulanya kau tidak lepas dari tanggung
jawab, siapa suruh kau berkelakar dengan jiwa orang."
Sipendek jadi gugup, teriakanya . "Jing Tho kenapa kau
membela orang luar."
"Aku bicara menurut aturan, kesalahan memang padamu,
meski dilaporkan kepada Gwat hoa hujin, aku percaya kau
tetap berada dipihak yang salah."
Sipendek mencibirkan bibir, lalu menggerutu "Salah, paling
lari ke Tay ceng san kerja berat tiga bulan membantu
sibunguk itu memegangi sibotak air sumber hidup kembali,
untuk menyambung bambu bambu ini!"
"Pikiranmu sederhana, pertama sibungkuk itu tiada
gampang diajak bicara, mau tidak mau memberi kepada kau
sulit dikatakan, meski dia mau memberi, kerja berat selama
tiga bulan rasanya cukup membuat kau menderita !"
"Apa boleh buat, siapa suruh aku mencari gara gara,
beginilah akibatnya!"
"Meski kau memperoleh air sumber hidup kembali, tiga
bulan kemudian, bambu bambu inipun sudah kering dan mati
layu"." Karuan si pendek semakin gelisah, katanya sambil garuk
garuk kepala "La.. lu bagaimana baikanya" Anak muda! Kau
benar benar membuat aku serba susah ?"
Melihat keadaan orang yang runyam, Koan San gwat jadi
tidak tega, amarahnya menjadi tawar katanya lembut: "Lo
siansing ini tak usah gelisah, aku yang rendah terlalu
sembrono menghancurkan bambu bambu ini, akupun punya
kesalahan"." "Apa gunanya ucapanmu ini, seperti kentut belaka, kalau
Gwat hoa Hujin betul betul mengusut perkata ini, kau mau
mewakili aku menanggung akibatnya!" demikian teriak si
pendek. Tergerak hati Koan San gwat, Sudah beberapa kali ia
mendengar nama Gwat hoa Hu jin, sesuai dengan namanya
Gwat hoa Hujin sudah tentu seorang perempuan "
Laki laki dibawah puncak yang menggelari dirinya "Gila
buku" bernama Tay Su, si pendek ini bernama Sui Ki,
sementara sitinggi bernama Jing Tho, kelihatannya tingkat
kedudukan mereka sama rata, sementara Gwat hoa hujin jelas
berkedudukkan lebih tinggi dari mereka, orang orang macam
apa dan apa pula hubungan mereka satu sama lain" Demikian
Koan San gwat bertanya tanya dalam hati, maka ia berkata
"Tidak jadi soal, seluruh kesalahan biar aku yang tanggung."
"Cara bagaimana kau hendak menanggung kesalahan ini" "
"Akan kukatakan bambu ini akulah yang membabatnya
hancur, sekecappun tidak ku singgung soal kelakarmu."
Dari bersungut si pendek menjadi tertawa lebar, katanya:
"Baik sekali kalau kau mau berbuat demikian " baik sih baik,
lalu bagaimana kau hendak mencari alasan?"
"Gampang saja, katakan saja aku bentrok dengan kalian,
lalu berkelahi dan kubabat habis seluruh hutan bambu ini ?"
Si tinggi tertawa, ujarnya "Tindakan Siheng memang dapat
membantu kesulitan Sui Ki ketahuilah Khong ham kong


Patung Emas Kaki Tunggal ( Unta Sakti ) Karya Gan K H di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mempunyai sepuluh pemandangan alam, Gwat hoa Hujin
justru paling menyukai hutan bambu ini, kalau kesalahan
ditimpahkan Sui Ki memang cukup menderita untuk memikul
hukumannya, namun Siheng adalah orang luar, Gwat hoa
Hujin mungkin tidak akan mempersulit dirimu! Dan lagi aku
dan Sui Ki kan bisa minta ampun bagi kesalahan tidak sengaja
ini ?" Saking girang sipendek tertawa lebar, katanya "Begitu saja
rencana kita, setelah berhadapan dengan Gwat hoa Hujin,
jangan kau bicara ketus!"
"Sudah tentu , tapi " orang macam apakah Gwat hoa Hujin
itu" " Kedua orang itu tertegun, sesaat baru sipedek menyahut
"Siapa Gwat hoa Hujin kau tidak tahu, kenapa kau manjat
kepuncak gunung ini" "
Ganti Koan San gwat yang melengak, sahutnya :
"Kedatanganku bukan untuk mencari Gwat hoa Hujin, aku
hendak menjenguk seorang nona Thio!"
"Thio Ceng ceng!" teriak kedua orang bersama.
Koan San gwat manggut manggut, kata nya "Tidak salah!
kudengar dia berada di ?"
"Aneh !" mata sipendek berputar, "Kenapa Tay Su tidak
bicara sejelasnya ?"
Lekas si tinggi memberi tanda dengan tangannya, katanya
lirih: "Jangan banyak mulut! aku tahu maksudnya ?" lalu ia
berputar menghadap Koan San gwat dan bertanya "Dari mana
saudara tahu bila nona Thio berada disini ?"
Koan San gwat sangsi untuk menjelaskan karena ia tahu
Peng Kiok jin sengaja hendak menyembunyikan rahasia ini,
tentu ada sebab musababnya, mungkin akibatnya tidak
menguntungkan bagi dia. Tanpa menanti jawaban sitinggi sudah menyanbung:
"Kuduga tentu nenek tua she Peng yang beritahu kepada kau,
sementara kau she Koan, Koan toako yang selalu disebut oleh
nona Thio dan tak pernah dilupakan itu!"
Mendengar orang sudah bicara blak blak kan, tak enak
rasanya mengingkari, maka Koan San gwat manggut
manggut, sahutnya "Benar. Aku yang rendah Koan San gwat
?" Sikap sitinggi serius, katanya menekan suara: "Setelah
bertemu dengan Gwat hoa Hujin lebih baik jangan kau sebut
nama aslimu, jangan pula kau singgung nenek tua she Peng
itu, lebih penting lagi jangan kau menyinggung nona Thio."
"Kenapa" " Tanya Koan San gwat heran.
"Jangan tanya kenapa," timbrung sipendek, "Kalau kau
ingin bertemu dengan nona Thio, kau harus patuh pesan
kami! Kelak kita akan bantu kau mencari akal secara pelan
pelan ?" Koan San gwat menjadi bingung, ingin ia bertanya lebih
lanjut, namun sikap sipendek kelihatan gelisah, ujarnya "Ada
orang datang, kemungkinan adalah Jip Hoat, biarlah aku
melihatnya kesana. Jing Tho, boleh kau memberi pesan
beberapa hal yang harus diketahui, jangan membuang waktu
terlalu lama." Selesai berkata bergegas ia berlari pergi.
Cepat sitinggi menuding pedang Koan San gwat sambil
berkata "Kau simpan dulu pedangmu, dengarlah beberapa
keteranganku".."
Lekas Koan San gwat menyarungkan pedangnya, sitinggi
segera berkata :" Didalam Khong kam kiong Gwat hoa Hujin
ini, semua ada tujuh orang pembantu, aku Sui Ki dan Tay Sui
kau sudah melihatnya, selain itu masih ada Cio Bing, Jip Hoat,
Tan Kiam dan Hwi Kak berempat, diantaranya cuma Tam Kiam
seorang laki laki diapun akan membantu kau, kepada tiga
cewek yang lain itu, jangan sekali kali kau membocorkan
rahasia asal usulmu, masih ada satu ?"
Belum habis ia bicara dari hutan bambu sebelah sana
terdengar jeritan Jip Hoat. Sitinggi menjadi kaget dan tutup
mulut, lalu menepuk pundakanya, makaudnya dia berlaku hati
hati. Maka didengarnya suara perempuan berkata : "Hujin
memberi perintah supaya bocah itu lekas dibawa menghadap!
Apa kalian lakukan di sini, main sembunyi" "
Tampak bayangan orang melayang tiba, tahu tahu Sui Ki
hinggap dihadapan mereka membawa seorang perempuan
berpakaian mewah berusia delapan sembilan likuran, parasnya
elok, bertubuh montok berpinggang ramping. Begitu tiba
kedua matanya laksana aliran listrik mengawasi Koan San
gwat dari atas sampai kebawah, sekian lamanya baru
mulutnya berkecek, katanya : "Tay Su mangatakan anak muda
ini bertubuh ganteng dan gagah, jarang terlihat dalam dunia
ini, semula aku tidak percaya, kini setelah menyaksikan
sendiri, memang kelihatannya cukup tampan dan hebat,
saudara kecil! Apakah kau ini Bing Jian li" "
Koan San gwat menjublek, lekas Tay Sui buka suara "Benar
Bing lote berwajah tampan ilmu silatnyapun amat hebat dari
aliran tersendiri, beberapa jurus permainan pedangnya
membuat aku dan Jin Tho terdesak keripuhan ?"
Sembari berkata matanya berkedip kedip memberi isyarat
kepada Koan San gwat. Baru sekarang Koan San gwat paham
bahwa "Bing Jian li nama barunya yang mereka pilih, tentu
buah karya Yay Sui itu, digubah jadi Bing tho jian li, meski
hatinya kurang senang terpaksa harus mengakui, lekas ia
bersoja katanya : "Cayhe Bing Jian li, harap tanya.."
Siu Ki lekas memperkenalkan "Inilah Jip Hoat, usianya lebih
besar dari kau, boleh kau memanggilnya Toa suci saja!"
Jip Koat tertawa terkekeh kekeh, seru nya : "Toa suci ya
Toa cilah, siapa suruh usiaku lebih tua dari kau! Bing hengte,
menurut Tay Su kau pandai menulis, kedua tua bangka ini
memuji kau pintar main pedang, kau masih bisa apa lagi" "
Jing Tho segera menyela :"Bing Iote serba bisa, ahli
memetik harpa, pemain catur yang tiada lawannya, bersanjak
membuat syair juga mahir, cuma minum arak dan teh saja
yang kami belum sempat uji!"
Mulut jip Hoat berkecek memuji, katanya "Tentu kau tidak
asor kedua bidang itu. Khong ham kiong ketambah Bing hente
menjadi lengkap seluruhnya. Aku harus cepat laporkan kepada
" oh ya, kami setiap orang hanya bisa sebuah bidang,
sebalikanya Bing heng te serba bisa, bagaimana seharusnya
kita memanggilnya" "
"Itu urusan Hujin," ujar Sui Ki tertawa kering, "Kau tidak
perlu ribut" " "Benar" ujar Jip Hoat manggut. "Aku tiada hak
menentukan, Bing hengte, lekas jalan!"
"Setelah ia memutar tubuh, baru dilihat potongan bambu
yang berserakan itu, mendadak ia menjerit "Wah! siapa yang
mengobrak abrik Jui hong yu king, kalau Hujin tahu
bagaimana baikanya ?" "
Lekas Sui Ki menggerakkan mulut kearah Koan San gwat
sikapnya mohon bantuan. Koan San gwat lekas maju
beberapa langkah, katanya : "Akulah yang merusakanya."
"Heh!" seru Jip Hoat gugup, "Kenapa kau membuat
kesalahan sebesar ini!"
Sui Ki batuk batuk kering, katanya terta tawa "Untuk
menguji ilmu silat Bing lote, kami merintangi ia di sini, Bing
lote marah, lalu cabut pedang menyerang kami berdua,
untung kami keburu melarikan diri. Celaka adalah rimbun
bambu ini yang menjadi kocar kacir"."
Jip Hoat membanting kaki, serunya : "Kalian keparat,
ditempat mana saja kalian boleh membuat keributan, kenapa
mesti ditempat ini ?"
Sui Ki pura pura getir, sahutnya : "Kami tidak tahu adat
Bing lote yang keras! Lihatlah usianya masih muda, siapa
menyangka ilmu pedangnya demikian hebat ?"
Jip Hoat angkat pundak dan membuka kedua tangannya,
ujarnya: "Ini " bagaimana harus lapor kepada Hujin! Baru
saja Bing lote tiba lantas terjadi keonaran besar ?"
Dengan lantang Koan San gwat berkata : "Urusan sudah
ketelanjur, apa pula yang disesalkan, dihukum atau dibunuh
akulah yang bertanggung jawab!"
Lekas Jip Hoat mengulap tangan, katanya! "Bing hangte!
Kalau berhadapan dengan Hujin sikapmu jangan kasar dan
ketus, bicaralah sopan, dari samping kita akan membela dan
mohon pengampunannya, mungkin Hujin tidak mengusar
panjang perkara ini ?"
"Benar!" timbrung Sui Ki, "Hujin paling suka denagar kata
katamu, pada waktunya harap kau suka bicara demi
keselamatan Bing lote, sedapat mungkin kau puji kebaikan
dan kepintaran, Bing lote, bila Hujin ketarik padanya urusan
mudah diselesaikan ?"
Jip Hoat berpikir sejenak lalu katanya , menghela napas
"Ya, begitulah caranya yang terang aku akan berusaha sebisa
mungkin, siapa suruh aku menjadi Toa cinya tadi! Bing
hengte! Jangan kau kira aku suka mengagulkan diri, aku sekali
melihat kau aku lantas ?"
Tampak oleh Koan San gwat dalam bicara orang
memicingkan mata, menunjukkan sikap genit yang
memalukan, kuatir orang bicara tidak genah lekas ia menjura
serta berkata. "Sekali bertemu seperti sahabat lama! Harap
Toa ci suka memberi perlindungan kepadaku!
"Benar! Sekali lihat lantas tidak asing lagi, seperti sahabat
kental! Meski bara pertama kali melihat kau, sebetulnya sudah
lama aku ingin berkenalan dengan kau. Selanjutnya kuharap
kita bisa bergaul lebih intim!"
Sui Ki mengelus jenggotnya, katanya: "Kita bergaul sudah
lama, kenapa kau tidak berlaku mesra dan intim kepada
kami!" "Cis tidak tahu malu!" damprat Jip Hoat dengan muka
merah, "Setan pendek jangan kau cerewet, awas kucomot
hancur seluruh cambang tikusmu itu!"
Lekas Sui Ki mengkereteken lehernya Jip Hat jadi geli
sendiri, secepat ia berkata kepada Koan San gwat: "Bing
hengte! Kau tidak merasa Toa sucimu terlalu kasar bukan" "
Koan San gwat serba runyam, tak tahu apa yang harus
dikatakan. Lekas Jin Tho menimbrung "Jip Hoat ayo lekas
jalan. Jangan kau bikin Hujin marah karena terlalu lama
menunggu!" "Benar!" seru Jip Hoat sadar, "Hujin suruh aku menyusul
kemari supaya kalian lekas menghadap! Mari lekas."
"Jip Hoat!" ujar Jing Tho tertawa berseri, "Silahkan kau lari
lebih dulu memberi lapor kepada Hujin segera kami membawa
Koan lote kesana. Ingat agulkan Bing lote lebih dulu, supaya
Hujin menaruh kesan baik kepadanya!"
Jin Hoat manggut manggut, katanya: "Aku tahu, kalau
Hujin marah, kalian berduapun pasti menerima akibatnya!"
Sembari bicara ia menggerakan pinggang nya , tahu tahu
badannya berpusar seperti angin lesus lalu lenyap. Meski Koau
San gwat merasa lega, namun melihat gerak tubuh orang
waktu melayang pergi, diam diam bersekat sa ubarinya.
"Lote!" kata Sui menghampiri Koan San gwat, "Kau bakal
ketiban rejeki, perempuan gila itu agakanya kepincut kepada
kau, agakanya sekali pandang lantas jatuh cinta. Asal kau
berhubungan intim dengan dia, didalam Khong ham kiong
leluasa berbuat apa saja!"
Merah padam muka Koan San gwat.
Lekas Jing Tho menegor temannya itu "Sui Ki! Kau
membual apa, orang sudah memikul tangung jawab
kesalahanmu, tapi kau masih menggodanya, Koan siheng,
kulihat gendik itu memang jatuh hati kepada kau. Sudah tentu
kau tidak akan ketarik padanya namun kami harap kau jangan
membuat runyam dan malu, di dalam Khong ham kiong
kecuali Gwat hoa Hujin, dialah yang berkepandaian paling
tinggi ?" "Apa" Jadi aku harus memberi hati dan merayu dia" Tidak
bisa begitu melilat dia aku lantas mual. Sungguh aku tidak
mengerti apa yang sedang kalian ributkan, tanpa hujan dan
angin tahu tuhu mengganti namaku seenak udel sendiri kini
aku harus ?" "Koan siheng, sabarlah.. sabar" demikian bujuk Jing Tho,
"Soal ganti nama mungkin adalah maksud Tay Sui, harap kau
percaya bahwa kami sedang bantu kau, bantu nona Thio, kini
tiada tempo kujelaskan, kelak kalau ada waktu, kami akan
memberi penjelasan kepada kau?"
Koan San gwat marah marah, katanya "Urusan lain aku
tidak perlu tahu tapi kalian harus jelaskan kepadaku. Gwat hoa
Hujin siapa bila berhadapan supaya aku bisa bertindak
menurut keadaan!" Jing To menghela napas, lalu berkata pelan pelan, aku
cuma bisa beritahu kepadamu bahwa ilmu silatnya sudah
mencapai puncak tertinggi! Cukup kau tahu akan hal ini saja.
Marilah kita berangkat, kalau terlambat Hujin bisa marah,
harus ku betitahu pula kepadamu, bahwa Jip Hoat sebetulnya
orang yang baik hati, tindak tandukanya mambuat kau sebal
dan mual, tapi sebetulnya amat bijaksana dan saleh, jangan
kau pandang rendah dirinya." Sampai disini ia menghela napas
pula, lalu angkat tangan mendesak : "Lekas berangkat tabiat
Hujin amat keras, bila beliau menunggu terlalu lama, memang
bisa runyam akibatnya!"
Sui Ki lantas tarik lengan baju Koan San gwat terus diseret
kedepan seperti menuntun binatang layaknya, setelah
melewati rumpun bambu mereka terus beranjak kedepan.
Terasa oleh Koan San gwat tenaga orang amat besar, tanpa
kuasa ia ditarik maju kedepan, rasanya kurang biasa, namun
tenaga tarikan Sui Ki amat aneh, tangan menarik disebelah
depan, namun tenaga nendorong disebeleh belakang seolah
olah dirinya didorong dari belakang sehingga ia tidak mampu
mengerahkan tenaga untuk berontak.
Setelah keluar dari hutan sampailah mereka disebuah
taman kembang yang amat luas, berbagai tanaman kembang
berkelompok berbeda beda, disebelah taman kembang adalah
sederetan bangunan rumah berpetak petak yang serba indah
dan megah, berloteng lagi deretan paling depan berpintu
gerbang besar dengan daun pintu terbuat dari batu pualam
putih, di atas belandar tergantung sebuah pigura besar yang
bertuliskan Khong gam kiong tiga huruf emas.
Disaat mereka tiba didepan pintu gerbang menaiki tangga
batu, tampak oleh Kon San gwat laki laki bernama Tay Su
yang pernah dilihatnya dibawah gunung itu memapak maju,
air mukanya gelisah. Belum lagi Koan San gwat sudah angkat
tangan dan berkata "Tay Sui, Aku maklum akan kesulitanmu
tak usah dikatakan lagi."


Patung Emas Kaki Tunggal ( Unta Sakti ) Karya Gan K H di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sedikit berubah air muka Tay Su, katanya: "Aku hanya
ingin mendarma baktiku tenagaku, kuharap kau memberi
maaf karena aku mengganti namamu soalnya terpaksa, baru
kuajak kau naik kemari untuk bertemu dengan Hujin, jangan
kau manyinggung nona Thio ..!"
Jing Tho menyala "Kita sudah manjelaskan kepadanya, kau
tidak usah rewel lagi ?" belum lagi Koan San gwat mengambil
sikap, Jip Hoat muncul dengan suara keras berseru lantang
"Hujin memberi ijin Bing Jian li segera menghadap!"
Meski Koan San gwat tahu bahwa Gwat hoa Hujin seorang
tokoh yang segani, tapi dirinya harus munduk munduk
didepan seorang tokoh yang disegani, betapapun tidak sudi.
Maka dengan sikap acuh tak acuh ia beranjak dengan lekas.
Begitu memasuki balairung, pandangannya menjadi terang.
Balairung besar dan panjang ini perasis istana raja, sangat
hebatnya dibuat dan batu Tay li, lantainya batu hijau yang
mengkilap di tengah balairung dibangun sebuah panggung
batu persegi, sekeliling panggung dikeliling pagar pendek
setengah tumbak terbuat dari emas, disebelah depan terdapat
sembilan tangga batu dari jade, diatas panggung terletak
sebuah kursi kebesaran yang terukir dan bertatakan perhiasan
berbagai macam bentuk dari jambrud, manikam dan berlian
Memburu Manusia Harimau 2 Kemelut Di Majapahit Karya Kho Ping Hoo Kisah Pedang Di Sungai Es 4
^