Pencarian

Kembalinya Pendekar Rajawali 1

Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Sin Tiaw Hiap Lu Karya Chin Yung Bagian 1


Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Judul Asli : Sin Tiaw Hiap Lu Oleh Chin Yung Ebook : Dewi KZ Musim rontok, nona Kanglam petik teratai di pinggir sungai, Lengan baju sempit, kun-nya enteng melambai-lambai, Sepasang gelang emas, lapat-lapat kelihatan.
Bayangan muka (atas air), memetik bunga, bunga laksana muka, Hati tergoncang ibarat getaran tali tetabuan tjeng, Di tikungan Sungai Keecio, gelombang badai datangnya terlambat, Halimun tebal, asap enteng berterbangan, Tapi si dia yang ditunggu, tak juga muncul kelihatan.
Suara nyanyian lapat-lapat membikin ingat "tu kejadian.
Ketika di gili-gili Kanglam dengan sedih berpisahan.
Demikianlah sajak "Kupu-kupu rindukan bunga" yang dibuat oleh penyair kenamaan zaman Pak Song (Song Utara), Ouwyang Siu.
Ia lukiskan pemandangan selagi seorang gadis Kanglam memetik teratai, dengan hanya menggunakan enam puluh huruf Tionghoa.
Akan tetapi, dengan enam puluh huruf itu, ia berhasil melukiskan musimnya, tempatnya, pemandangannya, parasnya sang nona, pakaiannya, perhiasannya dan perasaannya, semuanya dilukiskan dengan indah sekali seperti cuma dapat dilukiskan oleh seorang penyair besar.
Ouwyang Siu tinggal lama di Kanglam, sehingga ia mengetahui benar keadaan di daerah itu.
Musim semi dengan pohon yangliu-nya, musim panas dengan buah engtoh-nya dan musim rontok dengan gadis-gadisnya yang memetik buah teratai, adalah pemandangan istimewa dari Kanglam yang indah permai.
I. TAMU ANEH DITENGAH MALAM.
Zaman pemerintahan Song-li-cong pada dinasti Song, di daerah Oh-ciu, daerah Kanglam, ada sebuah kota kecil, namanya Leng-oh-tin.
Waktu itu dekat pertengahan musim rontok, daun teratai mulai kering, teratai padat.
Di sungai kecil pinggir kota kecil itu lima gadis cilik berada di sebuah perahu kecil sedang bernyanyi dan bersenda gurau dengan asyiknya sambil mendayung perahu untuk memetik biji teratai Di antara kelima gadis cilik itu usia tiga orang kurang lebih lima belasan, dua orang lagi hanya berusia delapan atau sembilan tahun saja.
Kedua dara cilik itu adalah saudara misan, Piauci (kakak misan) bernama Thia Eng, sedangkan Piaumoay (adik misan) she Liok bernama Bu-siang, timur keduanya hanya selisih setengah tahun saja, tapi Thia Eng lebih pendiam dan lemah lembut, sebaliknya Liok Bu-siang sangat lincah, perangai keduanya sama sekali berbeda.
Ketiga gadis yang lebih tua-an masih terus bernyanyi sambil mendayung perahu menyusun semak daun teratai itu.
"Eh Piaumoay, lihatlah, paman aneh itu berada di situ!" seru Thia Eng sambil menuding seorang yang berduduk di bawah pohon tepi sungai sana.
Orang yang dimaksud itu berambut kusut masai tapi kaku, kumis dan jenggotnya juga semrawut dan kaku seperti duri landak, namun baik rambut maupun jenggot dan kumisnya masih hitam mengkilap, mestinya usianya belum begitu lanjut, namun mukanya penuh keriput dan cekung sehingga tampaknya seperti kakek berusia 70-80 tahun.
Yang paling aneh dan lucu adalah pakaian-nya, bajunya yang menyerupai kaos oblong adalah sebuah karung goni yang sudah compang-camping, sedangkan celananya terbuat dari satin dan masih baru, malahan bagian bawah bersulamkan kupu-kupu yang berwarna warni, Tangan kakek itu memegang sebuah kelentungan (kelontong) mainan kanak-kanak, kelentungan itu tiada hentinya di putar sehingga menimbulkan bunyi kelentang-keluntung, tapi kedua mata kakek itu menatap kaku ke depan seperti orang kehilangan ingatan, "Orang gila ini sudah berduduk selama tiga hari di sini, mengapa dia tidak lapar?" kata Liok Bu-siang.
"He, jangan panggil dia orang gila, kalau dengar nanti dia marah," ujar Thia Eng.
"Kalau dia marah akan tambah menarik," kata Liok Bu-siang sambil menjemput sebuah ubi teratai terus dilemparkan ke arah kakek aneh itu.
Jarak antara perahu kecil itu dengan si kakek aneh ada belasan meter jauhnya, tapi tenaga Bu-siang ternyata tidak lemah meski usianya masih kecil.
Lemparannya itupun sangat jitu, ubi teratai itu langsung menyamber ke muka si kakek aneh "Jangan, Piaumoay !" Thia Eng berseru men cegah, namun sudah terlambat, ubi teratai itu sudah terlanjur menyambar ke sana.
Akan tetapi keajaiban segera terjadi, tiba-tiba kakek aneh itu menengadah, dengan tepat ubi teratai itu tergigit olehnya.
iapun tidak menggunakan tangan, hanya lidahnya yang bekerja, ubi teratai itu digeragotinya dengan lahap.
Padahal biji teratai mentah itu rasanya pahit, apalagi kulitnya juga tidak dikupas, tapi kakek aneh itu sama sekali tidak ambil pusing, Melihat cara makan orang aneh itu, ketiga gadis yang agak besaran tadi menjadi geli dan mengikik tawa.
Liok Bu-siang juga merasa senang, serunya: "Ini makan satu lagi!" - Segera ia lemparkan pula sebuah ubi teratai kepada si kakek Waktu itu separuh daripada umbi teratai pertama masih belum habis termakan dan tergigit di mulutnya, mendadak kakek itu memapak ubi teratai kedua yang dilemparkan Bu-siang dengan ubi teratai yang tergigit di mulutnya itu, sedikit mencungkit, ubi teratai kedua lantas mencelat ke atas, jatuhnya ke bawah tepat hinggap di atas kepalanya, Rambut si kakek semrawut kaku sehingga ubi teratai itu dapat tertahan di atas kepalanya tanpa bergoyang sedikitpun.
Serentak kelima gadis cilik itu bersorak gembira.
"Ini masih ada ! ?" seru Bu siang pula, kembali melemparkan sebuah ubi teratai Lagi-lagi kakek aneh itu mencungkit dengan ubi teratai di mulutnya seperti tadi dan kembali ubi teratai itu mencelat ke atas dan jatuh persis menumpuk di atas ubi teratai yang duluan.
Melihat permainan akrobat itu, kelima gadis bertambah senang, tangan Liok Bu-siang juga bekerja berulang-ulang, dalam sekejap saja di atas kepala kakek aneh itu sudah bersusun belasan ubi teratai sehingga tingginya hampir satu meter.
Setelah ubi teratai pertama tadi termakan, si kakek sedikit miringkan kepalanya dan ubi teratai yang paling atas mendadak menggelinding ke bawah, tapi tepat jatuh di mulut si kakek, sebentar saja ubi teratai inipun dimakan habis, lalu ubi teratai yang lain menggelinding jatuh ke bawah pula dan dimakan lagi.
Dalam waktu singkat ubi teratai yang tersunggi di atas kepala-nya itu hanya tersisa dua saja.
Senang dan heran Liok Bu-siang serta Thia Eng melihat permainan kakek aneh itu, segera mereka mendayung perahunya ke tepian dan mendarat.
Thia Eng berhati welas asih dan berbudi halus, dia mendekati si kakek dan menarik-narik bajunya serta berkata: "Empek (paman) tua, caramu makan begitu tidak enak!" - Lalu ia mengambil sebuah ubi teratai kulitnya dikupasnya, bijinya dibuang, sumbu ubi yang pahit juga diambilnya, kemudian diberikannya kepada kakek aneh itu.
Kakek itupun tidak menolak, ubi teratai itu lantas dimakannya dan terasa lebih gurih dan enak daripada yang dimakannya tadi, tiba-tiba ia menyeringai kepada Thia Eng dan manggut-manggut.
Aneh juga, kedua ubi teratai yang masih bersusun di atas kepalanya itu cuma bergoyang sedikit saja dan tidak terperosot jatuh.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mengkuiknya anjing kecil di seberang sungai sana terseling suara teriakan dan bentakan anak-anak kecil yang riuh ramai.
Waktu Thia Eng menoleh ke sana, tertampak seekor anjing kecil budukan sambil mencawat ekor sedang berlari-lari ketakutan melalui jembatan kecil sana, di belakang anjing budukan itu mengejar tujuh atau delapan anak nakal, ada yang memegang bambu, ada yang menyambit dengan batu disertai suara bentakan segala.
Anjing kecil itu memang sudah jelek karena kulitnya budukan, kini dihajar pula hingga babak belur oleh kawanan anak.
nakal itu, tentu saja keadaannya bertambah konyol.
Biasanya Thia Eng suka kasihan kepada anjing kecil ini dan sering memberi sisa makanan padanya, Rupanya anjing kecil itu melihat Thia Eng dari kejauhan, maka dengan mati-matian ia lari ke sini, lalu sembunyi di belakang Thia Eng.
Ketika kawanan anak nakal itu mengejar tiba dan hendak menghajar pula anjing kecil itu, cepat Thia Eng mencegahnya sambil berseru: "He, jangan memukulnya, jangan memukulnya !" "Anak perempuan minggir, bukan urusanmu !" damperat seorang anak yang paling nakal, berbareng tangannya mendorong tubuh Thia Eng.
Tapi sedikit mengegos saja Thia Eng dapat menghindarinya.
Bu-siang berdiri di sebelah sang Piauci, melihat anak nakal itu kurang ajar, segera ia menjegal dengan sebelah kakinya sambil menahan pelahan di bahu anak itu.
Tanpa ampun anak nakal itu jatuh tersungkur mencium tanah, bahkan dua gigi depan copot semuanya, saking kesakitan anak itupun menjerit menangis.
Bu-siang bertepuk senang, sedangkan Thia Eng merasa kasihan, ia membangunkan anak itu dan menghiburnya: "Jangan menangis! Apakah sakit ?" - Melihat mulut anak itu penuh darah, ia menjadi gugup dan mengeluarkan sapu tangan untuk mengusap darahnya.
Tapi anak nakal itu terus mendorongnya sambil memaki: "Tidak perlu kau mengusap, kau budak busuk yang tidak punya ayah ibu !" Kuatir dihajar pula oleh Bu-siang, anak nakal itu lantas berlari menyingkir sambil mencaci maki, setelah agak jauh, ia terus menjemput batu kecil dan menyambiti kawanan gadis ku.
Dengan gesit Thia Eng dan Bu-siang dapat menghindarinya, akan tetapi ketiga gadis yang agak besaran itu tidak mahir ilmu silat, mereka menjadi kesakitan tertimpuk oleh batu-batu kecil itu.
Beberapa potong batu itupun mengenai badan si kakek aneh, tapi orang tua itu tidak menjadi gusar juga tidak menghindar seperti tidak berasa apa-apa tersambit oleh batu-batu itu.
Melihat itu, kawanan anak nakal itu menjadi heran dan merasa tertarik, segera mereka mengam************************************ Hal 9 dan 10 Hilang ************************************ tanah, Muka Thia Eng sudah berubah, menjadi pucat pasi, sebaliknya wajah Bu-siang tampak merah padam, Waktu mereka memandang sekelilingnya, kiranya tempat itu adalah tanah pekuburan kedua anak dara itu belum pernah mendatangi tempat sesunyi itu, mau-tak-mau hati mereka menjadi berdebar.
"Kongkong (kakek)", kata Thia Eng dengan lemah lembut, "kami ingin pulang saja, tak mau lagi bermain dengan kau.
" Tapi kakek aneh itu menatapnya dengan tajam tanpa menjawab.
Melihat sinar mata si kakek memancarkan semacam perasaan sedih dan memilukan, meski masih kecil dan tidak paham seluk-beluk kehidupan insaniah, namun secara naluri timbul rasa simpatiknya terhadap orang tua itu, katanya kemudian dengan halus: "Apabila engkau tidak punya teman memain, besok saja engkau datang ke tepi sungai sana, nanti akan ku kupaskan ubi teratai pula untukmu.
" Tiba-tiba kakek aneh itu menghela napas dan berkata: "Ya, sudah 40 tahun, selama 40 tahun ini tiada orang menemani aku bermain.
" - Sampai di sini mendadak sorot matanya berubah menjadi beringas, tanyanya dengan suara bengis: "Di mana Ho Wan-kun " Kau pernah apa dengan Ho Wan-kun ?" Thia Eng menjadi takut melihat perubahan sikap si kakek, jawabnya dengan suara gemetar: "Aku.
. . aku" Mendadak si kakek mencengkeram lengannya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya beberapa kali lalu bertanya pula dengan suara parau: "Mana Ho Wan-kun?" Hampir saja Thia Eng menangis, air matanya berlinang-linang dalam kelopak matanya, tapi tidak sampai menetes.
"Hayo menangis! Menangis!" mendadak kakek aneh itu menghardik dengan mengertak gigi "Kenapa tidak menangis " Hm, beginilah kau pada 40 tahun yang lalu, Kau mengatakan menikah dengan dia secara terpaksa, tapi mengapa kau tidak mau minggat bersamaku" Ya, kau anggap aku miskin, anggap aku berwajah jelek jika benar kau berduka mengapa kau tidak menangis?" Dengan gemas si kakek pandang Thia Eng, tapi aneh juga, meski ketakutan, namun air mata Thia Eng tetap tidak menetes, Ketika kakek itu menyuruhnya menangis sambil menggentak-gentak tubuhnya, Thia Eng bahkan menggigit bibir dan berkata di dalam hati: "Tidak, aku pasti tidak menangis !" "Hm, jadi kau tidak mau meneteskan setetes air mata bagiku " setetes air mata saja kau tidak sudi " Lantas untuk apa aku hidup lagi ?" mendadak kakek itu melepaskan Thia Eng, lalu dengan setengah berjongkok ia membenturkan kepalanya ke batu nisan yang berada di sampingnya, Batu nisan itu terbuat dari batu hijau dan tertanam kuat di dalam tanah.
Karena benturan keras itu, batu nisan itu terus mencelat keluar dari tanah dan jatuh agak jauh dengan mengeluarkan suara keras, Sedang si kakek juga lantas menggeletak pingsan, "Lekas, lari, Piauci !" seru Bu-siang, segera ia tarik tangan Thia Eng dan mengajaknya kabur.
Thia Eng ikut berlari beberapa langkah, ketika menoleh, ia lihat kepala si kakek mengucurkan darah ia menjadi tidak tega, katanya: "Jangan-jangan paman tua itu terbentur mati, marilah kita memeriksanya.
" "Kalau mati kan jadi setan ?" ujar Bu-siang.
Thia Eng terkejut, ia takut si kakek akan menjadi setan, iapun takut kalau si kakek mendadak siuman, lalu mencengkeramnya pula sambil mengucapkan perkataan yang sama sekali tidak dipahami apa maksudnya.
Akan tetapi iapun tidak tega dan merasa kasihan melihat muka si kakek penuh darah, ia coba menghibur dirinya sendiri: "Tidak, kakek aneh itu bukan setan, aku tidak takut, iapun takkan mencengkeram aku lagi.
" Segera ia lepaskan pegangan tangan Bu-siang dan mendekati si kakek sambil berseru: "Kong-kong, apakah kau kesakitan ?" Terdengar orang aneh itu merintih satu kali, tapi tidak menjawab.
Thia Eng menjadi tabah sedikit, ia keluarkan sapu tangan untuk menutupi luka si kakek Tapi luka itu agaknya cukup hebat, hanya sekejap saja sapu tangan Thia Eng itu sudah basah kuyup oleh darah yang terus mengucur keluar, ia pikir sejenak tiba-tiba ia merobek ujung baju sendiri untuk menggantikan sapu tangan yang penuh darah itu.
"He, kalau pulang nanti tentu kau akan dimarahi ayah," ujar Bu-siang.
"Betapapun juga akan dimarahi, biar saja," kata Thia Eng.
ia tekan luka si kakek sehingga darah tidak merembes lagi.
Selang tak lama, pelahan kakek itu membuka matanya, melihat Thia Eng duduk di sampingnya, katanya sambil menghela napas: "Buat apa kau menolong aku" Lebih baik aku mati saja.
" Thia Eng gembira melihat si kakek telah siuman, dengan suara lembut ia bertanya: "Kepalamu sakit tidak ?" "Kepala tidak sakit, hati yang sakit," jawab si kakek dengan suara pedih.
Thia Eng menjadi heran, sungguh aneh, luka pada kepala separah itu katanya tidak sakit, tapi hatinya yang dikatakan sakit malah, iapun tidak tanya lagi, kembali ia merobek sepotong kain bajunya untuk membalut lukanya.
Si kakek menghela napas pula dan berbangkit katanya: "Kau tak mau bertemu lagi dengan aku, apakah kita akan berpisah dengan begini saja " Satu titik air mata saja kau tak mau meneteskan bagiku ?" Mendengar suara ucapannya sedemikian memilukan sedemikian berduka, dilihatnya pula wajah si kakek yang jelek itu penuh darah, tapi sorot matanya memancarkan perasaan memohon dengan sangat, tanpa terasa hati Thia Eng men-jadi terharu dan ikut berduka, air matapun bercucuran tak tertahankan Bahkan tanpa kuasa ia terus merangkul si kakek, tiba-tiba ia merasa orang tua aneh ini seperti orang yang paling dekat dan paling rapat dengan dirinya.
Menyaksikan mereka tanpa sebab saling rangkul dan menangis dengan lucu itu, Liok Bu-siang menjadi geli, tak tertahan ia tertawa terbahak-bahak Mendengar suara tertawanya, mendadak orang aneh itu melepaskan Thia Eng, ia berlari ke depan Bu-siang dan menatapnya tajam, tiba-tiba ia menengadah dan berkata dengan gegetun: "Ya, kau sering kasihan padaku, tapi juga selalu mengejek aku, kau telah menyiksa diriku sedemikian.
" Habis menggumam, tiba-tiba ia ingat sesuatu, ia memandang Bu-siang pula dengan teliti, lalu memandang Thia Eng, kemudian berkata: "Tidak, tidak kau bukan dia, kau masih kecil Pernah apa Ho Wan-kun dengan kalian " Mengapa kalian sedemikian mirip dia ?" Usia Thia Eng dan Bu-siang memang sebaya, tapi gerak-gerik mereka dan sifat masing-masing boleh dikatakan berlawanan sama sekali, wajah merekapun tidak sama.
Kalau raut muka Thia Eng berbentuk bulat telur, kulit badannya putih mulus, sedangkan muka Bu-siang berbentuk daun sirih, kulitnya hitam manis, meski usianya lebih muda setengah tahun, tapi perawakannya ramping semampai sehingga lebih tinggi daripada sang Piauci malah.
Karena merasa bingung atas ucapan si kakek tadi, Bu-siang lantas menanggapi: "Aku tidak tahu siapa yang kau tanyakan, cuma aku dan Piauci sama sekali tidak mirip, mana bisa menyerupai seseorang ?" Kakek itu mengamat-amati pula kedua anak dara itu, mendadak ia mengetok kepalanya sendiri dan berkata: "Ya, aku benar-benar goblok Kau she Liok bukan ?" "Ya, darimana kau mendapat tahu ?" jawab Bu-siang.
Orang tua itu tidak menjawab, ia bertanya pula: "Kakekmu bernama Liok Tian-goan bukan?" "Benar," jawab Bu-siang sambil mengangguk Untuk sejenak kakek itu termenung, sekonyong-konyong ia pegang bahu Thia Eng terus diangkat tinggi-tinggi ke atas, katanya dengan suara halus: "Anak dara yang baik, kau she apa " Cara bagaimana kau memanggil Liok Tian-goan ?" Kini Thia Eng tidak punya rasa takut lagi, jawabnya: "Aku she Thia, Gwakong (kakek luar) she Liok, ibuku juga she Liok.
" "Ya, ya, tahulah aku, Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun melahirkan seorang putera dan seorang puteri," kata orang aneh itu.
Lalu ia tuding Bu-siang dan melanjutkan: "Puteranya ialah ayah-mu.
" - Kemudian ia menurunkan Thia Eng dan berkata sambil menudingnya: "Dan puterinya ialah ibumu, Pantas kalian berdua menyerupai Ho Wan-kun separo-separo, yang satu pendiam, yang lain nakal, yang satu welas asih, yang lain kejam.
" Thia Eng tidak tahu bahwa nenek-luarnya bernama Ho Wan-kun, juga Bu-siang tidak kenal nama neneknya, hanya dalam hati samar-samar ia merasakan si kakek aneh ini pasti mempunyai Untuk sejenak kakek itu termenung, se-konyong2 "Thia Eng diangkatnya tinggi di atas kepala, katanya dengan suara halus: "Anak dara baik, kau she apa " Pernah apa kau dengan Liok Tian-goan ?" hubungan yang erat dengan leluhurnya sendiri, dengan melenggong mereka memandangi kakek aneh itu.
"Mana Gwakongmu " Maukah kau membawa aku menemuinya ?" kata si kakek pula.
"Gwakong sudah tidak ada lagi," jawab Thia Eng.
"Tidak ada lagi " Mengapa tidak ada, kami sudah berjanji akan bertemu besok lusa," tukas kakek itu dengan melengak.
"Sudah beberapa bulan Gwakong telah meninggal dunia," jawab Thia Eng.
"Lihatlah, bukankah kami berkabung semua ?" Benar juga si kakek melihat pada kuncir rambut kedua anak dara itu sama terikat oleh pita putih sebagai tanda berkabung, seketika hati si kakek menjadi limbung, ia menggumam sendiri: "Dia telah paksa aku memakai celana wanita selama 40 tahun dan kini dia tinggal pergi begitu saja " Hm, hm, ketekunan belajarku selama 40 tahun ini jadi cuma sia-sia belaka.
" - Habis berkata mendadak ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya berkumandang jauh dan penuh mengandung perasaan sesal dan penasaran yang tak terhingga, Sementara itu hari sudah dekat magrib, suasana sudah remang-remang.
Liok Bu-siang menjadi rada takut, ia tarik lengan baju sang Piauci dan berkata: "Piauci, marilah kita pulang saja !" Mendadak si kakek berkata pula: "Jika begitu tentu Wan-kun juga sangat berduka dan kesepian, "Eh, anak dara yang baik, bawalah aku menemui nenek-luarmu.
" "Tidak ada, nenek-luar juga sudah tidak ada," jawab Thia Eng.
"Apa katamu ?" mendadak kakek itu melonjak tinggi sekali sambil berteriak menggeledek: "Di mana nenek-luarmu ?" Muka Thia Eng menjadi pucat, jawabnya dengan gemetar: "Nenek juga tidak .
. . tidak ada, nenek dan kakek meninggal ber.
. . bersama, Kongkong, janganlah kau menakuti aku, ak.
. . aku takut !" "Dia sudah mati " jadi dia sudah mati!" mendadak kakek aneh itu memukul-mukul dada sendiri "Tidak, tidak ! Dia belum bertemu dengan aku dan mohon diri padaku, dia pasti tak boleh mati Dia telah berjanji padaku pasti akan bertemu: sekali lagi dengan aku.
" Kakek itu berteriak-teriak dan berjingkrak seperti orang gila, mendadak sebelah kakinya menyapu, "krak", sebatang pohon kecil tersapu patah menjadi dua.
Memangnya kakek itu sudah angin-anginan, kini dia mengamuk, tampaknya menjadi tambah gila dan menakutkan.
Thia Eng menggandeng tangan Bu-siang dan menyingkir jauh ke sana, mereka ketakutan dan tak berani mendekat.
Si kakek mendadak merangkul sebatang pohon Liu dan digoyang-goyangkan sekuatnya, Tapi pohon Liu itu cukup besar sehingga si kakek tidak mampu membetotnya keluar, ia menjadi murka dan berteriak: "Kau sendiri sudah berjanji, apakah kau telah lupa " Kau mengatakan akan bertemu lagi dengan aku !" Semakin berteriak, akhirnya suaranya menjadi parau dan masih terus berusaha membetot keluar pohon Liu tadi.
Mendadak ia berjongkok dan mengerahkan segenap tenaganya sambil membentak: "Keluar !" - Namun pohon Liu itu tetap sukar terbetot keluar, sebaliknya tertarik oleh tenaga si kakek yang maha kuat, pohon itu menjadi patah bagian tengah.
Sambil merangkul potongan pohon Liu, kakek itu termangu sejenak, tiba-tiba ia menggumam pula: "Dia sudah meninggal, sudah meninggal !" - Ketika ia ayun potongan pohon itu terus dilemparkan bagaikan payung raksasa saja pohon Liu itu terlempar jauh dan jatuh ke tanah, Sejenak kemudian air muka si kakek tampak berubah menjadi tenang, dengan ramah ia mendekati Thia Eng berdua dan berkata dengan tersenyum: "Kongkong telah menakuti kalian ya" Di manakah kuburan kakek dan nenekmu " Coba bawalah aku ke sana.
" Bu-siang meremas tangan sang Piauci, maksudnya supaya Thia Eng jangan memberitahukan padanya, Namun dalam hati Thia Eng merasa sangat kasihan kepada kakek aneh itu, tanpa pikir ia terus menuding pada dua pohon besar di kejauhan dan berkata: "Itu, berada di bawah kedua pohon itu !" Mendadak kakek itu mengempit pula kedua anak dara itu dan dibawa lari ke arah pohon yang ditunjuk tadi.
Dia lari lurus ke depan tanpa perduli rintangan apapun, kalau terhalang oleh sungai kecil, sekali lompat saja sungai itu lantas dilintasinya.
Biasanya Liok Bu-siang sangat kagum terhadap Ginkang ayah-ibunya jika mengikuti latihan mereka, tapi kini kecepatan berlari si kakek dengan mengempit dua anak dara ternyata jauh terlebih hebat daripada ayah-ibu Bu-siang.
Hanya sekejap saja mereka sudah sampai di bawah kedua pohon besar tadi.
Kakek aneh itu melepaskan Thia Eng berdua, lalu berlari ke depan kuburan tertampak dua kuburan berjajar, setiap kuburan terdapat sebuah batu nisan dengan pahatan huruf-huruf yang diberi cat kuning yang kelihatan masih baru.
Rumput di atas kuburan juga masih jarang-jarang, suatu tanda kedua kuburan itu memang belum lama didirikan.
Air mata si kakek berlinang-linang sambil memandangi kedua batu nisan kuburan, jelas terbaca tulisan di atas batu-batu nisan itu menyebut kuburan Liok Tian-goan dan isterinya: Ho Wan-kun.
Kakek itu berdiri terpaku di depan kuburan itu sampai sekian lamanya, mendadak pandangannya serasa kabur, kedua batu nisan seperti berubah menjadi dua sosok bayangan manusia, yang satu adalah gadis jelita yang sedang tersenyum manis dan yang lain adalah pemuda tampan romantis.
Dengan mata mendelik si kakek mendadak membentak: "Bagus, celana wanita ini kukembalikan padamu !" - Berbareng ia melangkah "maju, sebelah tangannya menghantam dada pemuda itu.
"Plak", bubuk batu bertaburan pukulannya itu mengenai batu nisan, sedangkan bayangan pemuda telah lenyap, "Mau lari ke mana ?" bentak pula si kakek, tangan Iain lantas menghantam sekalian, "plak-plak", batu nisan itu sampai rompal sebagian, betapa hebat tenaga pukulan si kakek sungguh luar biasa.
Semakin memukul semakin mengamuk, tenaga pukulannya juga semakin hebat, sampai pukulan ke sembilan, kedua tangannya menghamtam sekaligus, "blang", batu nisan itu patah menjadi dua.
Sambil terbahak-bahak ia berteriak: "Nah, kau sudah mampus sekarang, untuk apa lagi aku memakai celana perempuan?" - Habis itu ia lantas merobek-robek celana wanita bersulam kupu-kupu yang dipakainya sendiri itu hingga hancur, lalu dilemparkan ke atas kuburan, maka tertampaklah celana pendek dari kain belacu yang dipakainya di bagian dalam.
Selagi tertawa terbahak-bahak, mendadak suara tertawanya berhenti, setelah tertegun sejenak, segera ia berteriak pula: "Aku harus melihat mukamu, aku harus melihat mukamu !" - Ketika kedua tangannya menjojoh, serentak kesepuluh jarinya menancap ke dalam kuburan Ho Wan-kun, waktu ia tarik kembali tangannya, dua gumpal tanah ikut tergali keluar.
Begitulah kedua tangan si kakek terus bekerja dengan cepat laksana cangkul saja, tanah bergumpal-gumpal tergali olehnya sehingga sebentar lagi peti mati, pasti akan kelihatan.
Thia Eng dan Bu-siang menjadi ketakutan, tanpa terasa mereka terus putar tubuh dan lari bersama, Karena asyik menggali kuburan, kakek aneh itu tidak memperhatikan kaburnya kedua anak dara itu.
Setelah berlari-lari dan membelok ke sana ke sini beberapa kali dan tidak nampak dikejar si kakek barulah kedua anak dara itu merasa lega.
Mereka tidak kenal jalanan di situ, terpaksa bertanya kepada orang kampung, karena itulah sampai hari sudah gelap baru mereka tiba kembali di rumah.
"Wah, celaka, celaka !" Ayah, ibu, lekas kemari ada orang menggali kuburan nenek !" begitulah Bu-siang berteriak sambil berlari menerobos ke dalam rumah, setiba di ruangan tamu, dilihatnya sang ayah sedang bicara dengan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya.
Ayah Bu-siang bernama Liok Lip-ting, baik Lwekang maupun Gwakang sudah mencapai tingkatan yang cukup sempurna, hanya sejak kecil kedua orang tua mengawasinya dengan sangat ketat dan melarangnya berkecimpung di dunia Kangouw, maka namanya sama sekali tidak terkenal di dunia persilatan walaupun ilmu silatnya tergolong kelas: tinggi Pada hari itu dia sedang duduk iseng di ruang tamu dan mengenangkan ayah-bunda yang sudah wafat, tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda di luar, tiga penunggang kuda berhenti di halaman luar dan seorang diantaranya lantas berseru: "Wanpwe mohon bertemu dengan Liok-locianpwe!" Di daerah Kanglam pada umumnya orang jarang naik kuda karena jalanan sempit dan banyak sungai dan kali yang bersimpang siur, maka hati Liok Lip-ting tergerak ketika mendengar suara ringkik kuda tadi, demi mendengar suara seruan, cepat ia memapak keluar, Dilihatnya tiga lelaki baju hijau dengan penuh debu sudah berdiri di luar pintu.
Melihat Liok Lip-ting, ketiga orang itu lantas memberi hormat dan berkata: "Kami datang dari jauh dan mohon bertemu dengan Liok-locianpwe.
" Mata Liok Lip-ting menjadi merah, jawabnya: "Sungguh menyesal, ayah sudah wafat tiga bulan yang lalu, Mohon tanya nama tuan-tuan yang terhormat.
" Sejak berhadapan tadi sikap ketiga orang sudah kelihatan gelisah dan kuatir, demi mendengar jawaban Liok Lip-ting, air muka mereka menjadi pucat seperti mayat dan saling pandang.
dengan melenggong, Lalu Liok Lip-ting bertanya pula: "Tuan-tuan ingin bertemu dengan ayah, entah ada keperluan apakah ?" Ketiga orang itu tetap tidak menjawab, seorang diantaranya menghela napas dan menggumam: "Sudahlah, biarlah kita terima nasib saja !" Mereka lantas memberi hormat pula kepada Liok Lip-ting, lalu hendak mencemplak kuda ma-sing-masing.
Tapi seorang diantaranya tiba-tiba berkata: "Liok-locianpwe ternyata sudah wafat, biarlah kita memberi hormat ke depan layonnya.
" Liok Lip-ting menyatakan terima kasih dan anggap tidak perlu maksud orang itu, tapi ketiga orang itu memohon pula dengan sangat dan terpaksa Liok Lip-ting menyilakan mereka masuk Lebih dulu ketiga orang itu mengebut debu di atas tubuh agar bersih, lalu ikut Liok Lip-ting ke ruangan belakang untuk memberi hormat di depan abu layon Liok Tian-goan dan isterinya, Ho Wan-kun.
Seperti lazimnya, Liok Lip-ting berlutut di samping meja sembahyang itu untuk membalas hormat.
Selesai menjalankan penghormatan, waktu ketiga orang itu berbangkit, tak tertahankan lagi mereka menangis dengan sedih, Karena tangisan mereka ini, Liok Lip-ting menjadi berduka juga, iapun menangis keras-keras, Yang bertubuh gemuk pendek di antara ketiga orang itu berkata kepada kawannya yang mengucurkan air mata itu: "Cu-hiante, marilah kita mohon diri kepada tuan rumah !" Orang she Cu itu mengusap air matanya, ia memberi hormat kepada Liok Lip-ting dan lantas mohon diri.
Melihat gerak-gerik ketiga orang itu tangkas dan gesit, jelas memiliki ilmu silat yang lumayan, entah mengapa datang terburu-buru dan berangkat pula tergesa-gesa, tapi Liok Lip-ting tidak enak untuk bertanya, terpaksa ia mengantar keberangkatan mereka.
Setiba di luar, ketiga orang itu memberi salam perpisahan pula, lalu mencemplak ke atas kuda masing-masing.
Ketika orang she Cu itu naik ke atas kudanya lengan baju agak tergulung sedikit sehingga tertampak sebagian lengannya berwarna merah hangus.
Liok Lip-ting terkejut, dilihatnya kedua orang dibagian depan sudah melarikan kudanya, tanpa pikir ia terus melayang ke sana dan menghadang di depan kuda.
Tentu saja kedua ekor kuda itu berjingkrak kaget dan meringkik Syukur kedua orang itu mahir menguasai kudanya sehingga tidak sampai terperosot jatuh, "Apakah Cu-heng ini terkena Jik-lian-sin-ciang ?" tanya Liok Lip-ting.
Mendengar disebutnya "Jik-lian-sin-ciang" (pukulan sakti ular belang berbisa), pula terlihat gerakan Liok Lip-ting yang hebat.
serentak ketiga orang itu melompat turun dari kudanya dan menyembah, kata mereka: "Mata kami benar-benar lamur sehingga tidak kenal kesaktian Liok-tayhiap, mohon Liok-tayhiap sudi menolong jiwa kami.
" "Ah, jangan sungkan," jawab Liok Lip-ting sambil membangunkan ketiga orang itu.
"Silahkan masuk ke dalam untuk bicara pula.
" Begitulah maka Liok Lip-ting lantas menyilakan ketiga tamunya masuk ke rumah pula dan baru saja berduduk, belum sempat bertanya lebih lanjut, pada saat itulah Liok Bu-siang berlari-lari masuk sambil berteriak-teriak ia tidak jelas apa yang diledakkan anak perempuannya, tapi ia lantas membentaknya: "Anak perempuan tidak tahu aturan, hayo ribut apa " Lekas masuk sana !" Tapi Bu-siang lantas berteriak pula: "Ayah, orang itu sedang menggali kuburan nenek !" Baru sekarang Liok Lip-ting terkejut, serentak ia melonjak bangun dan membentak: "Apa katamu " Ngaco-belo !" "Memang betul, paman," pada saat itu pula Thia Eng juga sudah masuk Liok Lip-ting tahu anak perempuan sendiri sangat nakal dan jahil, tapi Thia Eng tidak pernah berdusta, maka ia lantas tanya lebih jelas apa yang telah terjadi Dengan terputus-putus dan tak teratur Liok Bu-siang menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya tadi Tidak kepalang terkejut dan gusar Liok Lip-ting, segera ia samber golok yang tergantung di dinding, ia minta maaf kepada ketiga tamunya, lalu berlari menuju makam ayah-bundanya.
Ketiga tetamunya juga lantas menyusulnya ke sana, Setiba di depan makam, tak terperikan pedih hati Liok Lip-ting, hampir saja ia jatuh kelengar, Ternyata makam ayah-ibunya sudah dibongkar orang, bahkan kedua rangka peti mati juga sudah terbuka.
jenazah di "dalam peti mati sudah lenyap, benda-benda yang biasanya disertakan di dalam peti juga berserakan tak keruan.
sedapatnya Liok Lip-ting menenangkan diri, dilihatnya tutup peti mati sama meninggalkan bekas lima kuku jari yang dalam, jelas bangsat pencuri mayat itu telah mencongkel tutup peti mati secara paksa dengan tenaga jarinya yang hebat Padahal kedua peti mati itu terbuat dari kayu yang keras, diberi pantek dan dipaku pula sehingga sangat kuat, tapi orang itu mampu membongkarnya dengan bertangan kosong, maka betapa hebat ilmu silat orang itu sungguh sukar diperkirakan -oooo000oooo2.
JIK - LIAN - SIN - CIANG Tidak keruan rasa hati Liok Lip-ting, ya sedih ya gusar, ya kejut ya sangsi, tapi ia tidak mendengarkan cerita Bu-siang secara jelas sehingga tidak diketahui bangsat pencuri mayat ini ada permusuhan kesumat apa dengan ayah-bundanya sehingga sesudah kedua orang tua itu sudah meninggal masih dirasakan perlu merusak kuburannya serta memusnahkan mayatnya.
Sejenak dia terlongong di depan kuburan, segera pula ia mengejar, tapi hanya beberapa langkah, ia ragu2, ia memeriksa tapak kaki disekitar kuburan, namun jejak yang dicarinya tak diketemukan, ia bertambah heran, pikirnya: "Seorang diri dia membawa jenazah ayah bunda-ku, betapapun tinggi Ginkangnya pasti juga meninggalkan tapak kaki ?" Biasanya dia cukup cermat, namun mengalami kejadian yang tak terduga ini, pikirannya menjadi kacau, tidak sempat lagi ia memeriksa dengan teliti, segera ia lari mengejar mengikuti jalan raya.
Ketiga tamu tadi kuatir akan keselamatannya, merekapun mengintil dengan kencang.
Begitu Liok Lip-ting kembangkan Ginkang, larinya secepat kuda membedal, mana bisa ketiga orang itu menyusulnya " sekejap saja sudah kehilangan bayangannya, Liok Lip-ting berlari memutar beberapa kali, cuaca pun sudah gelap, terpaksa dia kembali ke kuburan pula, dilihatnya ketiga tamu itu berdiri menunggu di pinggir kuburan, Liok Lip-ting berlutut di depan kuburan, ia memeluk peti mati ibunya dan menangis tergerung-gerung.
setelah orang puas menangis, barulah ketiga laki2 itu maju membujuk: "Liok-ya, harap tenangkan hati dan berpikirlah dengan jernih.
Mungkin kami bisa memberi sedikit keterangan latar belakang kejadian ini.
" Melotot kedua mata Liok Lip-ting, teriaknya: "Siapa bangsat keparat itu " Dimana dia " Lekas katakan !" Kata salah seorang itu: "Cukup panjang cerita ini, tidak perlu Liok-ya gugup, marilah pulang dulu nanti kita rundingkan persoalan ini.
" Liok Lip-ting anggap omongan orang memang benar, katanya: "Aku terlalu gugup sampai berlaku kurang hormat.
" "Ah, kenapa Liok-ya berkata demikian," sahut ketiga tamu itu.
Maka mereka kembali ke rumah Liok Lip-ting.
Setelah menghaturkan teh kepada tamu-tamunya, tak sempat tanya nama para tamunya, Liok Lip-ting: lantas masuk ke dalam hendak memberitahukan isterinya, tak tahunya sang isteri sudah mendapat laporan Bu-siang dan keluar mengejar bangsat itu dan belum kembali.
Bertambah pula kekuatiran Liok Lip-ting, terpaksa ia kembali ke ruang tamu dan bicara dengan ketiga tamunya, Ketiga tamunya lantas memperkenalkan diri, kiranya mereka adalah para Piausu An-wan Piaukiok dari Ki-lam di Soatang, seorang she Liong, she So dan she Cu.
Mendengar mereka hanya kawanan Piausu, seketika berubah dingin sikap Liok Lip-ting, hatinya kurang senang, katanya: "Selamanya aku tidak pernah berhubungan dengan Piausu, hari ini kalian kemari, entah ada keperluan apa ?" Ketiga orang itu saling pandang lalu serentak berlutut, serunya: "Harap Liok-ya suka tolong jiwa kami!" Liok Lip-ting sudah dapat meraba beberapa bagian, katanya tawar: "Berdirilah kalian, Entah cara bagaimana Cu-ya sampai terkena Jit-lian-sin-ciang ?" Liong-piausu dan So-piausu berkata berbareng: "Kami berduapun terkena juga.
" Sembari berdiri mereka menyingkap lengan baju, tampak ke-empat lengan mereka sama berwarna merah darah dan mengerikan.
Liok Lip-ting terkejut katanya ragu2: "Tiga irang semua kena " Siapa yang menyerang kalian " )ari mana pula kalian mendapat tahu ayahku asa menolong ?" "Tujuh hari yang lalu, kami bertiga membara se-partai barang kawalan menuju ke Hokkianwat Yangciu, di jalan hawa sangat panas, kami berteduh di sebuah gardu minum di pinggir jalan, kami bersyukur sepanjang jalan ini tidak terjadi pa-apa, agaknya barang kawalan akan tiba di tempat tujuan dengan selamat," demikian tutur Liong-piausu.
"Pada saat itulah dari jalan raya sana berlari mendatangi seekor keledai berbulu loreng dengan langkah cepat, penunggangnya adalah seorang Tokoh setengah umur berjubah kuning.
ia turun dari keledai dan masuk ke dalam gardu pula, Cu-hiante memang masih muda dan suka iseng lagi, melihat orang berparas elok, ia cengar-cengir dan main mata kepadanya.
Tokoh itupun balas tersenyum manis padanya, Cu-hiante kira orang ada maksud, segera ia menghampiri dan meraba pakaian orang, katanya tertawa: "Seorang diri menempuh perjalanan, apa tidak takut diculik perampok dan dijadikan isteri muda ?" - Tokoh itu tertawa, ujarnya: "Aku tidak takut perampok, hanya takut pada Piausu.
" - sembari bicara iapun menepuk ringan dipundaknya, Mendadak Cu-hiante seperti kesetrom, seluruh badan bergetar hebat, gigi berkerutukan.
"Sudah tentu aku dan So-hiante sangat kaget.
Lekas aku memburu maju memayang Cu-hiante, sementara So-hiante segera menjambret si Tokoh dan bentaknya: "Kau gunakan ilmu sihir apa " Tokoh itu hanya tersenyum saja, ia menepuk pula sekali di pundak kami berdua, seketika seluruh badan terasa panas seperti di-panggang, panasnya sukar tertahan, namun sekejap lain terasa seperti jatuh ke dalam sumur es, tak tertahan seluruh badan menggigil kedinginan.
"Para kerabat Piaukiok yang lain mana berani maju " si Tokoh tertawa, ujarnya: "Kepandaian begini saja berani mengibarkan bendera Piaukiok, huh, bikin malu saja, sungguh besar nyali kalian, Kalau tidak kupandang muka kalian yang tebal, pastilah ku persen beberapa kali tamparan lagi", Kupikir sekali tepuk saja tidak tertahan, apalagi ditambah beberapa kali pukulan lagi, tentulah jiwa kami melayang.
Tokoh itu tertawa pula: "Kalian mau tunduk tidak kepadaku " Masih berani main gila dijalan raya ?" -Lekas aku menyahut: "Kami menyerah ! Tidak berani lagi!" - si Tokoh mengetuk sekali belakang leherku dengan gagang kebutnya, seketika rasa dingin dalam badanku hilang, namun badan masih terasa kaku dan gatal, sudah tentu jauh lebih mending dari pada semula, Lekas aku menjura: "Kami punya mata tapi lamur sehingga berbuat salah kepada Sian-koh.
Harap Sian-koh tidak pikirkan kesalahan kami ini dan sukalah memberi ampun kepada kedua saudaraku.
" "Tokoh itu tersenyum: "Dulu guruku hanya mengajarkan cara memukul orang, tidak pernah mendidik aku cara menolong orang, Tadi kalian sudah merasakan sekali tepukan ku, kalau badan kalian kuat, rasanya dapat bertahan sepuluh malam, Kalau hawa merah sudah merembes sampai ke dada, tibalah saatnya kalian pulang ke neraka.
" - lalu ia tertawa cekikikan, dengan kebutnya ia bersihkan kotoran di jubahnya terus keluar dan cemplak keledainya tinggal pergi.
Sudah tentu kejutku bukan kepalang, tanpa hiraukan pamor segala, lekas aku memburu maju dan berlutut di depannya serta berteriak memohon: "Harap Sian-koh bermurah hati, sudilah memberi ampun dan menolong jiwa kami!" Mendengar sampai di sini Liok Lip-ting mengerut kening, Liong-piausu tahu perbuatannya terlalu rendah dan hina, segera ia menambahkan: "Xiok-ya, kami datang untuk mohon pertolonganmu, maka apa yang terjadi waktu itu harus kami ceritakan, sedikitpun kami tidak merahasiakannya kepadamu.
" "O, ya, teruskan ceritamu.
" ujar Liok Lip-ting.
Tutur Liong-piausu lebih lanjut: "Tokoh itu hanya tersenyum saja, sesaat kemudian baru berkata: "Baiklah, akan kuberi petunjuk kepadamu.
Dia sudi menolong tidak terserah pada keberuntunganmu sendiri, Nah, lekas kalian pergi ke Ling: ok-tin di Oh-ciu, mintalah pertolongan kepada Liok Tian-goan, Liok-lo-enghiong.
Dalam dunia ini hanya dia saja seorang yang dapat mengobati luka-luka ini.
Katakan pula kepadanya, dalam waktu dekat akupun akan menemui dia.
" Tersentak hati Liok Lip-ting, teriaknya kaget: "Memangnya orang yang mencuri jenazah ayah bundaku itu ada sangkut paut dengan persoalan ini " ini wah sulit!" "Begitulah Cayhe berpikir," kata Liong-piausu "Setelah mendengar kata2nya aku masih ingin memohon padanya, tapi dia lantas menukas: "Perjalanan ke Oh-ciu cukup jauh, memangnya kalian hendak membuang-buang waktu," - Tanpa kelihatan dia angkat kakinya, entah bagaimana tahu2 badannya sudah melayang ke punggung keledainya.
Cepat sekali keledai itu mencongklang pergi, dikejar pun tidak keburu lagi Aku melongo sekian lamanya, kulihat So dan Cu-hiante masih gemetar, terpaksa ku payang mereka naik ke atas kereta, "Begitu tiba di kota segera ku panggil tabib terpandai, namun para tabib itu mana dapat mengobati " Waktu kami buka baju, di atas pundak kami masing2 ada tapak tangan merah darah yang menyolok sekali Sampai besok paginya, rasa, dingin kedua saudaraku baru hilang dan tidak gemetar lagi, namun warna merah tapak tangan itu semakin membesar, kuingat pesan si Tokoh, kalau hawa merah ini sampai merembes sampai ke dada dan ujung jari, jiwa kami bertiga akan tak tertolong lagi, maka kami tidak perdulikan lagi barang kawalan itu, selama beberapa hari ini siang-malam kami memburu kemari, siapa tahu Liok-loenghiong ternyata sudah wafat Memang Cayhe terlalu gegabah, kami hanya ingat kata-kata si Tokoh, tak tahunya Liok-ya telah mendapat ajaran warisan leluhur, engkaulah yang menjadi harapan sebagai tuan penolong jiwa kami.
" Dasar banyak pengalaman dan pandai bicara lagi, belum Liok Lip-ting memberi jawaban, dia sudah sebut orang sebagai tuan penolong jiwa mereka, maksudnya supaya orang tidak enak menolak" Liok Lip-ting tersenyum ewa, katanya: "Sejak kecil aku mendapat didikan keluarga, tapi tidak berani berkelana di Kangouw, jika kalian tidak kenal namaku yang rendah, inipun tidak perlu dibuat heran.
" Lahirnya dia bersikap merendah, sebetulnya amat tinggi hati, pelahan ia angkat kepala mendadak ia melonjak dan berteriak kaget: "Apa itu ?" - di bawah sinar pelita jelas sekali kelihatan di atas dinding tembok putih itu berderet sembilan tapak tangan darah.
Mereka berempat terlongong mengawasi ke sembilan tapak tangan merah itu, seperti orang tersihir dan linglung, sesaat lamanya tak mampu bicara, Para Piausu dari An-wan Piaukiok tidak tahu asal-usul tapak tangan darah itu, namun melihat Liok Lip-ting begitu terkejut, serta merta mereka merasa ke sembilan tapak tangan itu pasti berlatar belakang, Ke sembilan tapak tangan itu berjajar tinggi di atas tembok dekat atap rumah, dua yang paling atas berjajar, demikian terus menurun ke bawah masing2 berjajar dua, paling bawah berjarak rada jauh dan berjumlah tiga, Ketiga tapak terbawah inipun tingginya kira-kira tiga meter lebih, kalau tidak naik tangga, tidak mungkin bisa menjajarkan cap2 tangan itu sedemikian rapi.
"lblis itu, untuk apa iblis itu mencari aku ?" demikian gumam Liok Lip-ting.
Dasar orang kasar, Cu-piauthau itu segera bertanya: "Liok-ya, apa maksud ke sembilan tapak tangan darah ini ?" Hati sedang gundah, menguatirkan keselamatan istrinya lagi, maka Liok Lip-ting tidak hiraukan pertanyaannya, ia keluar rumah dan melihat isterinya, Liok-toanio, sedang mendatangi sambil menggandeng Thia Eng dan Liok-Bu-siang, begitu berhadapan dengan sang suami, nyonya itu hanya menggeleng kepala saja.
Supaya sang istri tidak kuatir, Liok Lip-ting tidak menyinggung tapak tangan darah di atas dinding itu, segera ia iringi orang masuk ke dalam kamar di belakang, lalu ia tuturkan ketiga Piau-thau yang terkena pukulan Ji-lian-sin-ciang dan minta diobati "Lip-ting," ujar Liok-toanio, "malam ini jangan kita tidur di rumah, bagaimana pendapatmu ?" "Kenapa ?" Liok Lip-ting menegas, Liok-toanio suruh Thia Ing dan Liok Bu-siang keluar, setelah tutup pintu ia berkata lirih: "Kejadian hari ini amat ganjil, ayam dan anjing dalam rumah kita ini sudah tiada satupun yang hidup.
" "Apa ?" teriak Liok Lip-ting kaget.
"Tiga ekor anjing penjaga pintu, empat ekor kucing, tujuh ekor babi puluhan itik dan dua puluhan ayam, semuanya sudah mati" Belum lagi habis istrinya menutur, Liok Lip-ting sudah berlari keluar langsung ke belakang, Kim-seng, jongos tuanya menyapa: "Siauya !" -saking sedih hampir saja ia mengucurkan air mata.
Tampak oleh Liok Lip-ting anjing, kucing, ayam dan itik terkapar di atas tanah, semua sudah mati kaku tak bergerak lagi Pelahan Liok Lip-ting berjongkok di depan anjing kesayangannya, didapatinya batok kepala binatang sudah hancur, terang bukan terkena pukulan atau hantaman benda keras, se-olah2 seperti dipukul dengan suatu benda keeiJ yang lemas, namun tidak mungkin hal itu terjadi " Sedikit me-renung, tiba-tiba Liok Lip-ting teringat penuturan Liong-piauthau, si Tokok itu memegang sebuah kebutan, terang binatang itu mati dibawah pukulan kebutnya, Tapi kebutan itu terbuat dari barang lemas, cuma sekali kebut orang dapat membunuh anjing" dan babi, malah batok kepalanya hancur luluh, kekuatan lwekang orang itu sangat tinggi dan mengejutkan.
"Ayam anjing tidak ketinggalan ayam anjing tidak ketinggalan !" tanpa terasa mulutnya menggumam pikirnya: "Sejak kecil aku tidak pernah berkecimpung di Kangouw, mana mungkin aku ikat permusuhan " Orang ini menyerang secara keji, tentu tujuannya hendak mencari perhitungan dengan ayah bunda.
" "Segera ia masuk ke kamar tamu, katanya kepada ketiga Piauthau: "Bukan aku tidak suka menahan kalian, soalnya keluarga kami bakal tertimpa bencana, harap kalian suka segera pergi, saja supaya tidak terembet.
" Ketiga Piausu ini tadinya mengira orang sudah, sudi memberi pertolongan kini mendengar tuan rumah mengusir mereka secara halus, mereka menjadi gugup dan bingung pula, kata mereka serempak sambil berdiri: "Liok-ya.
. . Liok-ya. . . engkau. . . . " gelisah dan cemas membuat mereka tidak kuasa meneruskan kata-katanya.
Liok Lip-ting mengerut kening, tiba2 ia masuk ke kamar dan mengeluarkan dua puluh tujuh batang jarum emas, setiap batangnya panjang sembilan incij tanpa suruh orang membuka pakaian, langsung ia tusukkan kedua puluh tujuh jarum itu ke badan ketiga Piausu, setiap orang sembilan batang, Gerak-geriknya amat cekatan, setiap tusukan jarum langsung menancap di Hiat-to penting dalam badan, Belum lagi ketiga Piausu tahu apa yang terjadi tahu2 kedua puluh tujuh batang jarum itu sudah menancap di atas badan mereka Kejadiannya memang aneh, meski jarum2 itu menusuk masuk tujuh-delapan inci ke dalam badan mereka, tapi karena semua Hiat-to itu sudah mati rasa, maka sedikitpun tidak terasakan sakit "Lekaslah kalian cari tempat yang sepi dan sembunyi atau menetaplah di rumah petani, tiga hari lagi boleh kemari Kalau jiwaku masih hidup, nanti aku memberi pengobatan lebih lanjut.
" Ketiga Piauthau itu amat kaget tanyanya: "Liok-ya bakal menghadapi bencana apa ?" Liok Lip-ting tidak sabar untuk bicara lagi sahutnya: "Kalian terkena Jik-sin-ciang, sebetulnya racun bakal menyerang dalam sepuluh hari dan kalian akan meninggal kini aku sudah menusuk dengan jarum emas, kadar racun akan tertahan sementara, hawa merah itu tidak akan menjalar Tiga hari lagi biar kuberi pertolongan lebih lanjut dan pasti tidak akan terlambat.
" "Kalau tiga hari lagi Liok-ya mengalami se suatu, lalu bagaimana ?" tanya Cu-piau-thau.
Mata Liok Lip-ting mendelik jengeknya: "Kecuali aku tiada orang Iain yang mampu mengobati luka-luka Jik-lian-sin-ciang.
Kalau aku mati biarlah kalian mengiringi aku.
" Liong dan So masih berkukuh hendak mohon pengobatan selekasnya, tapi Liok Lip-ting sudah berkata pula: "Kalian masih tunggu apa lagi Orang yang mencari perkara kepadaku bukan lain adalah Tokoh itu, sebentar dia akan tiba di sini.
Seketika ciut nyali ketiga piausu itu dan mereka berani tanya lagi, cepat mereka pamit dan mohon diri.
Liok Lip-ting tidak antar tamu2nya, ia duduk di kursi sambil mengawasi ke sembilan tapak tangan di atas dinding itu.
Entah berapa lama ia terlongong mengawasi tapak2 tangan itu, tiba2 dilihatnya A Kin jongos berlari masuk ter-gesa2 dan melapor "Siauya, di luar ada datang seorang tamu.
" "Katakan aku tidak dirumah," ujar Liok Lip-ting.
"Siauya, Toanio nyonya itu mengatakan tidak mencari kau, dia sedang menempuh perjalanan dan mohon menginap semalam saja di sini," kata si A Kin.
"Apa " jadi dia perempuan ?" teriak Lip-ting kaget.
"Benar, Toanio itu malah membawa dua anak, mungil dan elok sekali " Mendengar tamu perempuan membawa anak, barulah Liok Lip-ting merasa lega, tanyanya menegas: "Dia bukan Tokoh ?" "Bukan," sahut A Kin menggeleng, "Pakaian-nya bersih, kelihatannya nyonya dari keluarga baik-baik.
" "Baik, bawalah masuk ke kamar tamu, siapkan makanan dan sediakan ala kadarnya," A Kin mengiakan sambil mengundurkan diri.
Liok Lip-ting berdiri, baru saja ia hendak ke dalam, ternyata Liok-toanio sudah berada di luar ruangan katanya segera sambil mengerut alis: Lip-ting, kedua bocah itu harus kita sembunyi-kan Kedua bocah itupun masuk hitungan," kata Liok Lip-ting sambil menuding tapak tangan di atas dinding, "Iblis itu sudah memberikan tanda darah ini, sampai ke ujung langitpun kau tidak akan lolos dari kekejamannya.
" Dengan termangu Liok-toanio mengamati ke sembilan tapak tangan darah di dinding itu, tapak-tapak tangan itu se-olah2 semakin besar, semakin merah dan seakan-akan menubruk ke arahnya, tan-pa terasa ia menjerit kaget dan memegangi sandaran kursi, katanya: "Kenapa ada sembilan tapak tangan, keluarga kita kan hanya tujuh orang.
" Sehabis berkata kaki tangan sudah terasa lemas tak bertenaga, dengan terlongong ia awasi suaminya, hampir saja ia mengucurkan air mata, Lekas Liok Lip-ting memegang lengannya, dan berkata: "Isteriku, bencana sudah di depan mata, takut pun tiada gunanya.
Dua tapak teratas ditujukan kepada ayah-ibu, dua di bawahnya terang untuk kita berdua.
Dua lagi di baris ketiga ditujukan kepada Bu-siang dan Thia Eng, tiga yang lain adalah A Kin dan dua pelayan lain, Hehehe, inilah yang dinamakan banjir darah dalam keluarga, ayam, anjing tidak ketinggalan.
" Bergidik Liok-toanio dibuatnya mendengar kata2 suaminya, "Ayah dan ibu ?" ia menegas tak mengerti "Akupun tidak tahu ada permusuhan apa antara gembong iblis ini dengan ayah dan ibu.
Ayah bunda lama wafat, dia suruh orang membongkar kuburan dan mengeluarkan jenazah mereka, mungkin setiap orang harus menerima sekali pukulan baru dianggap selesai membalas sakit hati.
" "Kau kira orang gila itu adalah utusannya " "Sudah tentu.
" Baru mereka bicara dilihatnya A Kin berlari masuk dengan ber-sungut2, katanya: "Siauya, pintu besar kita entah kenapa tidak bisa dibuka, seperti terpantek dari luar".
Berubah air muka Liok Lip-ting berdua, lekas mereka memburu keluar, tertampak daun pintu yang bercat hitam itu masih tertutup rapat Ke-dua tangan Liok Lip-ting terukir menangkap gelang tembaga pintu dan ditariknya ke belakang, terdengarlah suara berkereyot, daun pintu hanya bergoyang sedikit, namun tidak dapat dibukanya, Liok-hujin memberi isyarat, segera ia melompat ke atas tembok, di luar sunyi senyap tidak kelihatan bayangan manusia.
Sambil melintangkan pedang ia lompat turun keluar pintu, seketika alisnya berdiri, makinya: "Terlalu menghina orang !" Ternyata daun pintu itu sudah terpantek oleh dua batang besi panjang yang di paku di atas daun pintu, Di atas batang besi itu tergantung secarik kain yang berlepotan darah, kelihatannya amat mengerikan.
Waktu itu Liok Lip-ting pun sudah menyusul keluar, melihat palang besi dan kain belacu (tanda duka cita), ia tahu musuh semakin mendesak dalam dua jam mendatang, pasti gembong iblis itu akan menurunkan tangan jahatnya.
ia tertegun sebentar, rasa gusarnya mulai menipis, katanya: "Niocu (isteriku), kalau seluruh keluarga Liok kita hari ini harus mati bersama, biarlah kita mati tanpa merendahkan pamor ayah bunda.
" Liok-toanio manggut2, saking haru suaranya tertelan dalam tenggorokannya, Mereka melompati tembok kembali ke dalam rumah langsung menuju ke belakang, tiba2 terdengar sesuatu suara di atas tembok sebelah timur, kiranya di atas sana ada orang, Liok-Lip-ting memburu ke depan menghadang di depan isterinya, waktu ia angkat kepala, dilihatnya di atas tembok sedang duduk seorang anak laki2, rambut kepalanya dikuncir dua menegang, bocah itu sedang memetik kembang di atas pohon, Lalu terdengar orang berteriak di sebelah bawah: "Awas lho, jangan sampai terjatuh !" kiranya Thia Eng, Liok Bu-siang dan seorang anak laki2 lain sedang menunggu di kaki tembok sana, Liok Lip-ting berpikir: "Kedua bocah ini minta menginap di rumah-ku, kenapa begini nakal ?" Anak laki2 di atas tembok itu sedang memetik sekuntum bunga, Liok Bu-siang segera berteriak: "Nah, berikan padaku, berikan kepadaku !" Anak laki2 itu tertawa, ia melempar bunga itu ke arah Thia Eng, lekas Thia Eng ulur tangan menangkapnya, lalu diangsurkan kepada sang Piau-moay, Tapi Liok Bu-siang naik pitam, ia meraih kembang itu terus dibanting dan di-injak2.
Melihat ke empat bocah ini bermain dengan riang gembira, sedikitpun tidak tahu bencana besar yang bakal menimpa mereka sekeluarga, Liok Lip-ting suami istri menghela napas, mereka masuk ke dalam kamar.
"Piaumoay, kenapa kau marah ?" bujuk Thia Eng.
Liok Bu-siang merengut, katanya: "Aku tidak sudi, aku sendiri bisa memetik !" - sekali kaki kanannya menutul tanah, badannya melejit ke atas serta meraih akar rotan yang merambat di atas tembok, sekali meminjam tenaga, seketika badannya melambung ke atas pula beberapa kaki lalu melayang ke arah sebatang dahan pohon, Anak laki-laki di atas tembok itu bersorak gembira, teriaknya: "Lekas kemari!" Kedua tangan Liok Bu-siang menarik dahan pohon, di tengah udara ia jumpalitan dua kali, badannya mendadak melambung ke tengah udara, terus menubruk ke atas tembok.
" Dinilai dari Ginkangnya, apa yang Bu-siang lakukan sekarang boleh dikata sangat berbahaya namun hatinya sedang panas dan dongkol kepada si anak laki2 yang melempar bunga kepada Piau-cinya tadi, memang sifat pembawaan anak perempuan ini suka menangnya sendiri, maka tanpa hiraukan keselamatan dirinya ia telah main lompat di tengah udara.
Anak laki2 itu menjadi kaget, teriaknya memperingatkan: "Awas ! Hati2! - segera ia ulur tangan hendak menangkap tangan Bu-siang.
Kalau dia tidak mengulurkan tangan, Liok Bu-siang sebetulnya bisa mencapai pagar tembok tapi ketika melihat anak laki-laki itu hendak menarik dirinya, segera ia menghardik: "Minggir" - badanpun menyingkir ke samping hendak menghindari tarikan tangan orang, Kepandaian jumpalitan ditengah udara adalah ilmu Ginkang tingkat tinggi, walau dia pernah melihat ayah bundanya memainkannya, dia sendiri belum pernah mempelajarinya, dengan sedikit berkisar itu, jari2-nya sudah tidak dapat meraih tembok, ditengah teriakan kagetnya, badannya langsung jatuh ke bawah, Melihat Bu-siang jatuh, anak laki-laki yang berada di kaki tembok segera memburu maju dan ulur tangan memeluk badannya.
Tapi tembok itu setinggi beberapa tombak, meski badan Bu-siang kecil, tenaga luncuran setinggi ,itu jelas amat berat, meski anak laki2 itu berhasil memeluk pinggangnya, tak tertahan keduanya terbanting jatuh dengan keras.
Terdengarlah suara "krak", tulang kaki kiri Liok Bu-siang "patah, demikian pula jidat anak laki-laki itu kebentur batu runcing, darah mengucur keluar, Thia Eng dan anak laki2 di atas tembok itu memburu maju untuk menolong.
Anak laki2 itu merangkak bangun sambil mendekap jidatnya yang bocor, sementara Liok Bu-siang jatuh semaput.
Sambil memeluk Piaumoaynya Thia Eng segera berteriak: "lh-tio, Ah-i (paman, bibi), lekas datang !" Mendengar teriakannya, Liok-toanio segera memburu keluar, tiba2 terasa di atas kepalanya angin kencang menyamber, sesuatu benda berat menindih kepalanya Sebat sekali Liok-toanio berkelit ke samping, dilihatnya yang dilempar ke arahnya itu ternyata mayat seseorang.
Tak sempat membawa goloknya segera ia melompat ke wuwungan rumah, belum lagi ia berdiri tegak, dua sosok mayat tahu2 dilempar pula memapak mukanya, ketika Liok-toanio membungkukkan tubuh, tahu2 kedua lututnya menjadi lemas dan tidak kuasa berdiri tegak, kontan ia terjungkal jatuh ke pelataran.
Kebetulan Liok Lip-ting sedang memburu keluar, melihat Liok-toanio terjungkal jatuh dari atas, segera ia melompat ke depan dengan ilmu Ginkang yang dia yakinkan selama berpuluh tahun, meski jaraknya masih tiga tombak jauhnya, namun sekali lompat badannya melesat seperti anak panah, telapak tangannya sempat menyanggah punggung istrinya, Karena tenaga sanggahan ini badan Liok-toanio terlempar naik, diwaktu meluncur turun pula, Liok Lip-ting dengan ringan dapat menurunkan badan istrinya di atas tanah.
Tak sempat menanyai keadaan istrinya, sekilas dilihatnya tidak apa-apa, segera ia melompat ke atas rumah, matanya menjelajah sekelilingnya, tertampak bulan sabit tergantung tinggi di cakrawala, angin menghembus sepoi2, namun tidak kelihatan bayangan seorangpun Liok Lip-ting segera kembangkan Ginkang, dalam sekejap saja ia sudah meronda keadaan rumahnya satu keliling, namun tidak menemukan apa-apa, segera ia melompat turun ke bawah pelataran dan masuk ke dalam rumah.
Di situ terlihat seorang nyonya pertengahan umur sedang membopong Liok Bu-siang dan anak laki-laki tadi masuk ke ruang tengah, tanpa menghiraukan kucuran darah anak laki-laki itu, si nyonya berusaha menyambung dulu tulang kaki Liok Bu-siang yang patah.
Liok Lip-ting semula mengira puterinya sudah dicelakai orang, kini melihat hanya tulang kaki yang patah, hatinya rada lega, tanyanya kepada istrinya: "Kau tidak apa-apa bukan ?" Liok-toanio menggeleng kepala, ia sobek lengan baju untuk membalut jidat anak laki2 itu yang terluka, ingin dia memeriksa luka kaki puterinya, tak terduga baru saja melangkah, kaki sendiri terasa linu lemas, tanpa kuasa ia jatuh terduduk.
Nyonya pertengahan umur itu menutuk Hiat-to Pek-hay-hiat dan Hwi-tiong-hiat dikedua paha Liok Bu-siang untuk menghilangkan rasa sakit, lalu kedua tangan menekan pada kedua sisi tulang yang patah untuk menyambungnya.
Melihat gerak-gerik orang yang cekatan, ilmu tutuknya terang tingkat tinggi, makin curigalah Liok Lip-ting, serunya: "Siapakah Toanio ini " Ada petunjuk apa berkunjung ke sini ?" Nyonya itu tumplek seluruh perhatian untuk menyambung tulang kaki Liok Bu-siang yang patah, sedikitpun tidak menghiraukan pertanyaannya, Diam-diam Liok Lip-ting perhatikan tangan kiri orang yang memegangi kaki puterinya, sementara tangan kanan diangkat dan berputar setengah lingkaran terus menutuk turun pelan-pelan, itulah gerakan It-yang-ci yang menurut cerita ayahnya merupakan kepandaian khas musuh besarnya, maka tanpa ragu2 lagi, kedua telapak tangan Liok Lip-ting terus menghantam ke punggung orang.
Mendengar deru angin dari belakang, tangan kanan nyonya itu tetap menutuk Pek-hay-hiat Liok Bu-siang, telapak tangan lain menepuk balik ke belakang menangkis pukulan Liok Lip-ting.


Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Sin Tiaw Hiap Lu Karya Chin Yung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kontan Liok Lip-ting merasakan tenaga dahsyat mendorong ke arah dirinya, seketika dada terasa sesak, tanpa kuasa ia tergentak mundur dua langkah.
Karena menggunakan telapak tangan kiri sehingga si nyonya tidak dapat memegangi sebelah kaki Liok Bu-siang, maka telunjuk jarinya yang menutuk turun itu ikut tergetar miring, tulang kaki Liok Bu-siang yang patah itu kembali lepas, sekali menjerit seketika anak dara itu jatuh pingsan lagi.
Pada saat itulah dari atas genteng terdengar suara tertawa seorang, serunya: "Aku hanya membunuh sembilan jiwa keluarga Liok, orang luar harap segera keluar!" Waktu Liok Lip-ting angkat kepala, dilihatnya di atap genteng berdiri seorang Tokoh, di bawah cahaya bulan yang remang2, jelas kelihatan parasnya yang elok, berusia delapan atau sembilan belas, kulitnya putih halus, sikapnya garang, di punggungnya terselip sepasang pedang.
Liok tip-ting segera berseru lantang: "Aku inilah Liqk Ljp-ting, apa Toyu datang dari Jik-lian-to ?" Si Tokoh mendengus: "Baik sekali kalau sudah tahu, lekas kau bunuh isteri dan puteri serta semua pembantumu, lalu kau bunuh diri pula supaya aku tidak perlu turun tangan !" - sikapnya congkak, kata2-nya pedas, sedikitpun tidak pandang sebelah mata pada tuan rumah, Meski Liok Lip-ting tidak pernah angkat nama di kalangan Kangouw, betapapun dia keturunan seorang pendekar besar, mana mandah dihina di hadapan orang luar, segera ia memburu keluar dan melompat ke atas seraya membentak: "Biar kau kenal dulu kelihayanku !" Sikap si Tokoh acuh tak acuh, disaat kedua kaki Liok Lip-ting hampir menginjak genteng, badan masih terapung di udara, mendadak kedua pedangnya bergerak laksana bianglala, tahu-tahu sinar pedang lawan itu sudah mengurung seluruh badannya, serangan kedua pedang ini amat lihay dan hebat sekali, meski ilmu silat Liok Lip-ting amat tinggi, betapapun dia kurang pengalaman menghadapi musuh tangguh, tahu2 hawa pedang musuh yang dingin itu sudah menyamber lehernya, dalam keadaan begitu jelas dia tidak akan mampu menangkis atau menyelamatkan diri, terpaksa ia pejamkan mata menunggu ajak "Trang," tiba2 seseorang telah menangkiskan pedang yang menyerang lehernya itu, waktu Lip-ting membuka mata, dilihatnya nyonya setengah umur tadi sedang menempur si Tokoh dengan bergaman sebatang pedang panjang, Nyonya itu berpakaian warna abu2, sementara Tokoh muda itu mengenakan jubah kuning, tertampak bayangan abu2 dan kuning saling berputar menari di bawah cahaya bulan diselingi samberan sinar kemilau yang berhawa ,dingin, sedemikian sengit pertempuran itu, namun tidak terdengar suara benturan kedua senjata masing2.
Betapapun Liok Lip-ting keturunan keluarga persilatan, meski gerak-gerik kedua orang yang bertempur itu amat cepat, setiap jurus dan tipu serangan kedua pihak dapat diikutinya dengan jelas, Tertampak Tokoh itu menyerang dan menjaga diri dengan rapat, ganti-berganti ia mainkan ilmu pedangnya yang hebat, sebaliknya si Nyonya melayaninya dengan tenang dan mantap, setiap kesempatan pasti tidak disia-siakan untuk melancarkan serangan yang mematikan.
Se-konyong2 terdengar "tring", dua pedang beradu, pedang di tangan kiri si Tokoh mencelat terbang ke udara, Sebat sekali ia melompat mundur keluar dari arena pertempuran, mukanya yang putih halus bersemu merah, matanya mendelik gusar, bentaknya: "Aku mendapat perintah guru untuk membunuh habis keluarga Liok, apa sangkut pautnya dengan kau ?" Nyonya itu menjengek dingin: "Kalau gurumu berani dan punya kepandaian, seharusnya dia mencari Liok Tian-goan sendiri, kini dia sudah mati, tapi gurumu tidak tahu malu mencari perkara kepada keturunannya ?" Si Tokoh kebutkan lengan bajunya, tiga batang jarum menyamber, dua batang menyamber si nyonya, jarum ketiga ternyata menyerang Liok Lip-ting yang berdiri di pekarangan serangan mendadak dan cepat lagi, lekas si nyonya ayunkan pedangnya menangkis, terdengar Liok Lip-ting menggerung gusar, dua jarinya dapat menjepit batang jarum yang menyerang tenggorokannya itu.
Si Tokoh tersenyum dingin, dengan tangkas ia jumpalitan terus keluar, tiba2 terdengar suitan panjang di kejauhan sana, dalam sekejap saja dia sudah berlari puluhan tombak jauhnya.
Melihat Ginkang orang begitu hebat, nyonya itupun rada tercengang, lekas ia melompat turun kembali ke dalam ruangan, melihat Liok Lip-ting sedang pegangi sebatang jarum, segera ia berseru: "Lekas buang !" sekarang Liok Lip-ting tidak curiga lagi kepada orang, lekas ia lemparkan jarum itu ke tanah, Cepat nyonya itu mengeluarkan seutas tali kain dari dalam bajunya terus mengikat pergelangan tangan Lip-ting dengan kencang, Baru sekarang Liok Lip-ting dibuat kaget, serunya: "Jarum itu berbisa ?" "Ya, racun yang tiada bandingannya.
" sahut nyonya itu, lalu ia keluarkan sebutir pil dan suruh Lip-ting menelannya.
Liok Lip-ting rasakan kedua jarinya sudah mati rasa, tak lama kemudian melepuh sebesar tebak Lekas si nyonya bekerja pula mengirisnya dengan ujung pedang, darah hitam segera mengalir keluar dan berbau busuk, Sungguh kejut Liok Lip-ting bukan kepalang, batinnya: "Jariku tidak lecet atau terluka, hanya tersentuh sedikit saja, racun sudah bekerja sedemikian lihay, kalau jariku kena tertusuk sedikit saja, jiwaku tentu sudah melayang ?" Baru sekarang nyonya itu sempat memayang Liok-toanio, lalu ia memeriksa luka-lukanya.
Ternyata Hui-tiong-hiat di bagian lututnya masing2 terkena sambitan sebatang jarum, Tapi jarum2 ini adalah jarum emas milik Liok Lip-ting yang biasanya untuk menolong orang, Meski bencana belum berlalu, namun sementara keluarganya masih dalam keadaan selamat, hati Liok Lip-ting rada bersyukur, waktu ia berpaling melihat ketiga mayat tadi, berkobar pula amarahnya disamping bergetar hatinya.
Ternyata ketiga mayat itu bukan lain adalah Liong, So dan Cu-piauthau dari An-wan Piaukiok, Waktu ia periksa luka mereka bertiga, dilihatnya jarum2 yang dia gunakan kini sudah berpindah tempat, semula tusukan jarumnya untuk menghilangkan rasa sakit, kini jarum2 itu menusuk pada Hiat-to yang mematikan.
Cukup sebatang saja sudah amat men-derita, apa lagi tertusuk sembilan batang " Cuma tusukan jarum pada badan Liong-piauthau rada meleset, maka jiwanya belum melayang, sorot matanya memancarkan rasa belas kasihan, se-olah2 mohon pertolongan pada Liok Lip-ting.
Liok Lip-ting tidak tega, namun melihat luka2-nya, meski ada obat dewapun tidak akan bisa menolong jiwanya, katanya sambil menghela napas: "Liong-piauthau, berangkatlah dengan tenang.
" Liong-piauthau menarik napas panjang, ia angkat badan bagian atas, katanya tersendat: "Liok.
. . Liok-ya, aku tiada harapan lagi, kau lekas kau lari.
iblis itu berkata, dikolong langit ini hanya Liok Tian-goan yang boleh mengobati aku, putera tunggalnya pun tidak boleh.
. . kau lekas lari, sebentar dia akan tiba !" - beberapa patah kata terakhir diucapkan dengan suara lirih hampir tidak terdengar, kejap lain iapun sudah menutup mata dan berhenti bernapas.
Nyonya itu mendengus gusar: "Hm, iblis keparat! iblis keparat!" Liok Lip-ting menjura serta bertanya: "Aku punya mata tapi tak bisa melihat, mohon tanya siapa she dan nama Toanio "-" "Suamiku she Bu," sahut nyonya itu.
"Kiranya tepat dugaanku, Melihat kepandaian It-yang-ci Toanio, sudah lantas kuduga pastilah anak murid It-teng Taysu dari Tayli di Hun-lam, Silahkan masuk ke dalam menikmati secangkir teh.
" Maka mereka lantas masuk ke dalam rumah.
Liok Lip-ting membopong Bu-siang tertampak mukanya pucat, namun sedapatnya menahan sakit, tidak menangis dan tidak mengeluh, timbul rasa kasih sayang Lip-ting tak terhingga kepada puteri tunggalnya ini.
Bu Sam-nio, nyonya tadi berkata: "Begitu murid iblis itu pergi, gembong iblis itu segera akan datang sendiri Liok-ya, bukan aku pandang rendah dirimu, kalau cuma tenaga kalian berdua suami isteri, meski ditambah aku seorang juga bukan tandingan iblis ganas itu.
Kukira laripun tak berguna, terpaksa kita pasrah nasib, biarlah kita tunggu kedatangannya di sini saja.
" Liok-toanio bertanya: "Sebetulnya orang macam apa gembong iblis itu " Ada dendam permusuhan apa pula dengan keluarga kita ?" Bu Sam-nio melirik kepada Liok Lip-ting, katanya kemudian: "Memangnya Liok-ya tidak menjelaskan kepadamu ?" "Katanya persoalan menyangkut mertuaku yang sudah meninggal itu, sebagai putera yang berbakti, tidak enak membicarakan persoalan ayah bundanya, dia sendiripun tidak begitu jelas akan seluk-beluk persoalan ini," tutur Liok-toanio.
"Disitulah soalnya", ujar Bu Sam-nio menghela napas, "Aku orang luar, tiada halangan kuterangkan Mertuamu Liok Tian-goan, Liok-loenghiong diwaktu mudanya adalah pemuda ganteng, dia disebut pemuda romantis nomor satu di kalangan Bu-lim.
Gembong iblis Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu itu.
. . " Mendengar nama Li Bok-chiu disebut, Liok Lip-ting seketika merinding seperti dipagut ular berbisa, Bu Sam-nio melihat perubahan air muka orang, katanya lebih lanjut: "Sekarang kaum persilatan bila menyinggung nama Jik-lian-sian-ci, pasti gemetar ketakutan, tapi puluhan tahun yang lalu dia adalah gadis rupawan yang halus budi dan lemah lembut.
Mungkin memang sudah takdir, begitu bertemu dengan mertuamu, hatinya lantas jatuh cinta, Belakangan setelah mengalami berbagai rintangan, perubahan dan pertikaian mertuamu akhirnya menikah dengan Ho Wan-kun, mertua perempuan sekarang, Bicara soal mertua perempuanmu, mau tidak mau aku harus menyinggung suamiku juga.
Soal ini cukup memalukan bila dituturkan, tapi keadaan hari ini sudah amat mendesak, terpaksa aku tidak perlu! simpan rahasia lagi.
" Sejak kecil Liok Lip-ting sudah mendengar penuturan ayah bundanya bahwa selama hidup mereka mempunyai dua musuh besar yang paling tangguh, seorang adalah Jik-lian-sian-cu, seorang lain adalah Bu Sam-thong, salah seorang murid kesayangan It-teng Taysu dari negeri Tayli di Hunlam, Semula It-teng Taysu adalah raja negeri Tayli, tapi ia meninggalkan " takhta dan cukur rambut menjadi Hwesio, lalu menerima empat murid, satu diantaranya ialah Bu Sam-thong ! Sewaktu mudanya Bu Sam Thong menjabat pangkat yang tinggi di negeri Tayli, Cuma bagaimana Liok Tian-goan suami isteri sampai mengikat permusuhan dengan dia tidak pernah dituturkan kepada puteranya.
Maka waktu melihat Bu Sam-nio menggunakan It-yang-ci menyambung tulang kaki puterinya yang patah tadi, sudah tentu Liok Lip-ting kaget dan curiga, tak nyana Bu Sam-nio malah bantu menghalau murid Jik Lian sian-cu dan menolong jiwanya, hal ini sungguh di luar dugaannya.
Bu Sam-nio mengelus pundak anak laki2 yang terluka jidatnya itu, matanya mendelong mengawasi api lilin: "Suamiku dan mertuamu sejak kecil bertentangan, hubungan mereka sangat intim, meski sifat2 mereka tidak cocok, namun suamiku amat mencintainya.
Siapa tahu akhirnya dia menikah dng mertuamu, saking gusar suamiku lantas minggat jauh ke Tayli, menjabat panglima pemimpin tentara, menjadi anak buah Toan-hongya, Pernah suamiku bertemu dengan mertuamu terjadilah perang tanding yang seru, suamiku memang berangasan dan terlalu mengumbar nafsu karena patah hati, akhirnya dia bukan tandingan mertuamu, sejak itu tindak tanduknya agak sin-ting, baik sahabat karibnya atau aku sendiri tak dapat menyadarkan dia, Dulu dia pernah berjanji dengan mertuamu bahwa lima belas tahun kemudian bertanding lagi, siapa tahu kedatangannya kali ini, kedua mertuamu ternyata sudah meninggal.
" Liok Lip-ting amat gusar, serunya sambil menggablok meja: "Kalau dia punya kepandaian, kenapa tidak datang sejak dulu, kini setelah tahu ayahku sudah almarhum baru meluruk datang dan menculik jenazahnya, terhitung perbuatan orang gagah macam apa ?" "Omelan Liok-ya memang benar," ujar Bu Sam-nio.
"Suamiku sudah kehilangan kesadaran-nya, tingkah laku dan tutur katanya sudah tidak genah lagi, Hari ini aku membawa kedua anakku ini kemari, bukan lain adalah hendak mencegah perbuatannya yang tidak keruan, dalam dunia sekarang ini, mungkin hanya aku seorang saja yang rada ditakutinya.
" Sampai di sini segera ia berkata kepada kedua puteranya: " Lekas menyembah kepada Liok-ya dan Liok-toanio.
" Kedua anak laki2 itu segera berlutut dan menyembah, Liok-toanio .
lekas membimbingnya bangun serta menanyakan nama mereka.
Yang jidatnya terluka bernama Bu Tun-ji, usianya dua belas tahun, adiknya bernama Bu Siu-bun, satu tahun lebih muda.
"Sungguh tak nyana suamiku tidak kunjung tiba, malah Jik-lian-sian-pu keburu membuat perkara di rumahmu.
. . ai," demikian kata Bu Sam-nio lebih lanjut, "Dua pihak sama2 tidak dapat melupakan cinta masa lalu, cuma yang satu lelaki dan yang lain perempuan.
" Baru dia bicara sampai di sini, mendadak di-atas rumah ada orang berteriak: "Anak Ji, anak Bun, ayo keluar !" suara ini datangnya tiba2, sedikitpun tidak terdengar suara langkah di atas genteng, mendadak suaranya kumandang ditengah malam buta, keruan Liok Lip-ting suami istri sangat kaget, mereka tahu Bu Sam-thong telah tiba, Thia Eng dan Liok Bu-siang pun kenal suara si orang gila yang mereka temui siang tadi.
Tertampak sesosok bayangan berkelebat, Bu Sam-thong melompat turun, seorang satu tangan, ia angkat kedua puteranya terus lari secepat angin, sebentar saja ia sudah tiba di hutan pohon Liu, tiba2 ia turunkan Bu Siu-bun, dengan hanya membawa Bu Tun-ji bayangannya lantas lenyap dalam sekejap mata, putera kecilnya dia tinggal demikian saja didalam hutan itu.
Bu Siu-bun berteriak2: "Ayah ! Ayah !".
Tapi Bu Sam-thong sudah menghilang, terdengar suaranya berkumandang dari kejauhan: "Kau tunggu di situ, sebentar aku kembali menjemput kau.
" Bu Siu-bun tahu tindak tanduk ayahnya rada sinting, maka ia tidak heran, Tapi seorang diri berada dalam hutan yang gelap, hatinya rada takut, namun teringat sebentar sang ayah akan kembali, maka dengan termenung ia duduk saja dibawah pohon.
Duduk punya duduk, teringat olehnya akan kata2 ibunya bahwa ada musuh lihay entah yang mana hendak menuntut balas, belum tentu sang ibu bisa menandingi lawan, Meski usianya masih kecil, namun Siu-bun sudah tahu berkuatir akan keselamatan ibunya, Setelah menunggu sekian lamanya dan sang ayah tidak kunjung datang, akhirnya dia menggumam sendiri: "Biar aku pulang mencari ibu saja !" - lalu ia menggeremet dan meraba2 menuju ke arah datangnya tadi, Bocah kecil berada dalam hutan seorang diri, apalagi malam pekat, mana bisa menentukan arah dan tujuan " Semakin jalan ia menuju ke arah hutan belukar yang makin dalam, Akhirnya ia tiba di sebuah lekukan gunung, di bawah adalah selokan setinggi tujuh delapan tombak, selayang pandang sekelilingnya hitam melulu.
Saking gugup dan ketakutan Bu Siu-bun lantas berteriak: "Ayah, ayah ! Ibu, ibu !" - Terdengar gema suaranya berkumandang dilembah pegunungan Disaat hatinya cemas dan gundah itulah tiba-tiba hidungnya mengendus bau amis yang memualkan disusul hembusan angin keras, ditengah kegelapan tampak dua titik sinar seperti pelita minyak sedang bergerak ke arahnya.
Bu Siu-bun heran, mendadak didengarnya suara gerangan yang keras, kedua titik terang seperti sinar pelita itu memburu cepat ke arahnya, Sungguh kagetnya bukan main, teriaknya: "Harimau !" - tanpa banyak pikir segera ia melompat ke atas menangkap dahan pohon terus merayap naik dengan mengerahkan segenap tenaganya, terasa pantatnya se-o!ah2 kena terpukul oleh sesuatu, segera kaki tangan bekerja sekuat tenaga merambat ke puncak pohon.
Didengarnya binatang buas itu menggerung2 serta berputar2 mengitari pohon, Melihat binatang itu tidak bisa naik ke atas pohon barulah hati Siu-bun sedikit lega, tiba2 terasa pantatnya pedas dan perih, waktu ia merabanya, ternyata celananya sudah robek tercakar kaki harimau tadi, Dasar bocah nakal, segera teringat olehnya akan , cerita ibunya bahwa harimau tidak bisa naik pohon, maka sambil menuding ke bawah ia lantas memaki kalang kabut: "Harimau keparat, harimau brengsek, harimau busuk !" Mendengar suara manusia, harimau itu menggerung semakin keras.
Begitulah satu sama lain bertahan di atas dan berputar di bawah pohon, meski Bu Siu-bun sangat kantuk dan letih, mana dia berani tidur " sebentar lagi hari akan terang tanah, maka pandangan mulai jelas keadaan sekelilingnya, Semula dia tidak berani langsung mengawasi harimau di bawahnya, akhirnya ia membesarkan nyali menunduk ke bawah, saking kejutnya hampir saja ia terjungkal jatuh dari atas pohon, Ternyata harimau loreng di bawah itu kira-kira sebesar anak sapi,: duduk menengadah sambil menyeringai buas, matanya menatap dengan penuh nafsu, mulut melelehkan liur kental.
Memang harimau itu sedang kelaparan, menunggu semalam suntuk tanpa - dapat mencaplok mangsa di depan mata, rasa laparnya makin mengobarkan kebuasannya, mendadak ia menggerung sekeras-kerasnya terus menerjang ke atas.
Lompatan ini setombak lebih tingginya, cakar depannya berhasil mencapai batang pohon sehingga sesaat lamanya badannya tergantung ditengah udara.
Harimau ini cukup besar dan rada gemuk, berat badannya tidak kurang dua ratus kati, sudah tentu batang pohon itu tidak kuat menahan berat badannya, "peletak", sekali membal dahan pohon itu patah dan jatuh ke bawah, Bu.
Siu-bun ikut terpental dan terjungkal ke bawah, Sejak kecil ia dididik ilmu silat oleh ayah bundanya, waktu meluncur ke bawah dia bisa kendalikan badan dan menggelinding ke samping, sedikitpun tidak terluka, begitu merangkak bangun segera ia lari sipat kuping.
Tanpa hiraukan rasa sakitnya, harimau itu segera mengejar dengan kencang.
Walau Bu Siu-bun sudah punya dasar latihan Ginkang, namun usianya masih kecil, kaki pendek lagi, maka langkahnya tidak bisa cepat dan jauh, mana bisa menandingi kecepatan lari seekor harimau, terpaksa ia lari berputar-putar mengitari pohon, ia bermain petak dengan pengejarnya, Kalau lari lurus harimau itu memang cepat dan gesit, tapi untuk putar2 dan main menyelinap kian kemari gerak geriknya menjadi lamban, maka gerungan-nya semakin keras, ia menubruk membabi buta, debu pasir dan dedaunan sama beterbangan Melihat harimau itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dirinya, Bu Siu-bun menjadi senang, sambil memaki kalang kabut ia berlari pula berputar mengelilingi pohon dan batu.
Saking senang sehingga kurang ber-hati2 dan menginjak sebutir batu bundar, kontan ia tergelincir dan jatuh, Tanpa ayal harimau itu lantas menubruk ke arahnya.
Bu Siu-bun berteriak: "Ibu, ibu l" Se-konyong2 dilihatnya dua gulung bayangan hitam meluncur dari tengah angkasa menubruk ke arah dirinya, tahu2 harimau itu terangkat naik ke tengah udara, menyusul badan sendiripun ikut terapung ke angkasa, Kaget dan takut pula Bu Siu-bun, waktu ia membuka mata, pohon di bawah tertampak menjadi kecil, dirinya sedang terbang di-awang2 waktu ia menengadah ternyata se-ekor burung besar mencengkeram baju punggungnya sedang terbang dengan pentang sayap yang lebar.
Semula hatinya amat takut, tak lama kemudian, ia merasa burung raksasa itu tidak bermaksud jahat.
Tiba2 didengarnya gerungan keras di sebelah belakang, ia berpaling, tertampak harimau besar itu dicengkeram oleh seekor burung raksasa lainnya dan dibawa terbang juga, kakinya mencak2 sambil menggerung keras, cakar burung raksasa itu mencengkeram kuduk dan pangkal ekornya hingga tergantung ditengah udara.
Sekali kembangkan kedua sayap, burung raksasa di belakang itu terbang lebih tinggi memasuki awan, tiba2 cengkeraman kedua cakarnya dilepaskan, kontan harimau itu meluncur jatuh ke bawah dari ketinggian ratusan tombak dan akhirnya terbanting hancur lebur.
Melihat adegan yang mengerikan ini, seketika Bu Siu-bun berteriak kaget, teringat olehnya: "Kalau burung besar inipun melepaskan diriku, mustahil aku tidak akan hancur lebur ?" - karena takut cepat ia memeluk ujung kaki burung besar itu.
Se-konyong2 terdengar lengking suitan panjang di bawah, suaranya nyaring dan merdu, terang suitan dari mulut perempuan, Kedua ekor burung besar itu pelahan terbang turun, lalu meletakkan Bu Siu-bun di atas tanah, Gesit sekali Siu-bun melompat bangun, tertampak sekelilingnya pohon Liu melulu, bumi seperti ditabur bunga yang mekar beraneka warnanya, suatu tempat yang indah dan permai, Dari balik pohon sana berlenggang keluar seorang anak perempuan, sekilas ia melirik kepada Bu Siu-bun, lalu ia tepuk2 kedua paha burung besar tadi, katanya: "Tiau-ji elok, Tiau-ji bagus !" Bu Siu-bun membatin: "Kiranya kedua burung ini bernama "Tiau-ji" (rajawali), dilihatnya kedua burung itu berdiri gagah dan angker, jauh lebih besar dan tinggi daripada anak perempuan itu.
Bu Siu-bun tidak paham berterima kasih segala, katanya sambil mendekat anak perempuan itu: "Apakah kedua ekor Tiau-ji ini peliharaanmu ?" Anak perempuan itu mencibirkan bibir, sikapnya memandang hina, jengeknya: "Aku tidak kenal kau, tidak sudi bermain dengan kau !" Bu Siu-bun tidak perduli akan sikap kasar orang, ia ulur tangan mengelus kaki burung besar itu.
Anak perempuan itu mendadak bersiul ringan, sayap burung besar itu segera terpentang dan menyapu dengan ringan, kontan Bu Siu-bun tersabet jumpalitan dan terguling di tanah, lalu kedua ekor burung itu segera terbang rendah menubruk ke arah mayat harimau tadi dan mulai berpesta pora.
Cepat Bu Siu-bun melompat bangun dan mengawasi kedua rajawali itu, hatinya amat ketarik, katanya: "Sepasang burung ini amat bagus, mau dengar perintahmu, kalau pulang biar akupun minta ayah menangkapnya sepasang untukku !" Anak perempuan itu mendengus: "Hm, memangnya ayahmu mampu menangkapnya ?" Berulang-ulang menghadapi sikap yang kurang simpatik, barulah Bu Siu-bun sekarang sempat mengamati anak perempuan di hadapannya ini, tertampak orang mengenakan pakaian yang amat mewah, lehernya mengenakan kalung mutiara sebesar kelengkeng, kulit mukanya halus putih seperti air susu, biji matanya jeli, mulutnya kecil mungil sepasang biji mata anak perempuan itupun sedang mengawasi seluruh badan Bu Siu-bun, tanyanya: "Siapa namamu " Kenapa keluar bermain seorang diri, tidak takut digigit harimau ?" "Aku bernama Bu Siu-bun, sedang menunggu ayahku, Dan siapa namamu ?" Anak perempuan itu mencibirkan bibir, katanya: "Aku tidak bermain dengan anak liar !" -.
lalu ia putar badan tinggal pergi.
Bu Siu-bun tertegun, "Aku bukan anak liar !" teriaknya sambil mengintil, Melihat anak perempuan itu berusia dua-tiga tahun lebih muda, badan rendah kaki pendek, ia pikir untuk mengejar tentu tidak sukar, siapa tahu baru saja ia kembangkan Ginkang, bagai anak panah terlepas dari busurnya anak perempuan itu sudah lari tujuh-delapan tombak jauhnya, sehingga dirinya ketinggalan jauh di belakang, Lari beberapa langkah pula mendadak anak perempuan itu berhenti katanya sambil berpaling: ?"Hm, kau mampu mengejarku ?" Sambil berlari Bu Siu-bun menyahut: "Tentu bisa !" 3.
TOKOH JUBAH PUTIH YANG CANTIK Anak perempuan itu putar badan terus lari kencang pula, tiba-tiba ia menyelinap ke depan dan sembunyi di belakang pohon, Tak lama kemudian Bu Siu-bun sudah menyusul tiba, sesudah dekat, tiba2 kaki kiri anak dara itu diulur keluar menjegal kaki orang.
Bu Siu-bun tidak ber-jaga2, kontan badannya doyong ke depan, cepat ia gunakan cara mengendalikan keseimbangan badan tapi tahu2 kaki kanan anak perempuan itu mendepak sekali lagi pada pantatnya, tanpa ampun Bu Siu-bun jatuh terjungkal hidungnya menerjang sepotong batu runcing, darah segera membasahi pakaiannya.
Melihat darah bercucuran, anak perempuan itu menjadi gugup juga, tiba-tiba didengarnya orang membentak di belakangnya: "Hu-ji, kau nakal lagi dan menganiaya orang ya ?" Anak perempuan itu tidak berpaling, sahutnya: "Siapa bilang " Dia jatuh sendiri, perduli amat dengan aku " jangan kau sembarangan lapor kepada ayah lho!" Bu Siu-bun meraba hidung, sebetulnya tidak sakit, namun melihat kedua tangan berlepotan darah, hatinya gugup juga.
Mendengar anak perempuan itu bicara dengan orang, segera ia angkat kepala, dilihatnya seorang kakek pincang dan bertongkat rambut sudah jarang2 dan jenggot pun sudah ubanan, badannya kurus kerempeng, namun semangatnya masih menyala-nyala.
Terdengar orang tua itu mendengus: "Jangan kau sangka mataku buta tidak bisa melihat, apa yang terjadi dapat kudengar dengan jelas, Kau budak kecil ini sekarang sudah begini nakal, kelak kalau sudah besar pasti lebih nakal lagi ?" Anak perempuan itu maju menghampiri serta menarik lengan si kakek, katanya memohon dan merengek: "Kongkong, jangan kau katakan kepada ayah ya " Hidungnya keluar darah, lekas kau mengobatinya !" Kakek pincang itu maju setapak, sekali raih ia tangkap lengan Bu-siau-bun, lalu memijat beberapa kali di Bun-hiang-hiat di pinggir hidungnva, hanya sekali urut dan usap, darah kontan berhenti mengalir Terasa oleh Bu Siu-bun jari2 tangan orang seperti jepitan besi mencengkeram lengannya, hatinya menjadi takut, ia meronta, tapi sedikitpun tak bergeming.
Pelahan tangannya ditarik lalu diputar, ia lancarkan Siau-kim-na-jiu-hiat yang diajarkan ibunya, telapak tangannya ikut berputar setengah lingkaran, terus melintir dari dalam untuk melepaskan pegangan si kakek, Kakek itu tidak menduga dan ber-jaga2, sungguh tak nyana bocah sekecil ini ternyata membekal ilmu silat selincah itu, karena gerakan ronta membalik itu, pegangannya terlepas, sambil bersuara heran tangannya menyamber pula menangkap tangan orang, Bu Siu-bun kerahkan sepenuh tenaganya berusaha membebaskan diri, namun pegangan orang tak bergeming lagi "Adik kecil jangan takut," kata kakek itu, "Aku tidak melukai kau, kau she apa?" "Aku she Bu," jawab Siu-bun.
Kakek itu menengadah seperti mengingat sesuatu, lalu katanya menegas: "She Bu " Ayahmu murid It-teng Taysu bukan ?" Bu Siu-bun berjingkrak girang, "Ya, kau kenal Hong-ya kami " Kau pernah melihatnya tidak " Aku sendiri tidak pernah melihatnya," "Dimana ayah bundamu " Kenapa seorang diri kau kelayapan di sini ?" kata si kakek sambil lepaskan tangannya.
Bu Siu-bun mewek2 ingin menangis teringat pada kejadian semalam dan terkenang kepada ayah ibunya.
Anak perempuan itu lantas mengolok-olok: "Cis, tidak tahu malu, sudah besar suka menangisi.
" Bu Siu-bun tegak kepala dan berkata: "Hm, siapa bilang aku menangis.
" - lalu ia ceritakan bahwa ibunya sedang menunggu kedatangan musuh di Liok-keh-cheng.
Ayah entah pergi kemana membawa kakaknya, lalu dirinya kepergok harimau buas itu.
Karena gugup dan pikiran tidak tenang, ceritanya putar balik tak teratur, namun kakek itu dapat memahami sebagian besar ceritanya itu, tanyanya: "Tahukah kau siapa musuh yang di tunggu ayah bundamu ?" "Seperti bernama Jik-lian-coa apa, pakai Chiu apa lagi," tutur Siu-bun.
Kakek itu menengadah pula, mulutnya menggumam: "Jik-lian-coa apa ?" mendadak ia ketuk tongkat besinya di atas tanah, teriaknya keras: "Pastilah Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu adanya !" "Betul, betul!" Bu Siu-bun bersorak gembira, "Memang Jik-lian-sian-cu" Karena tebakan si kakek yang tepat itu, maka ia kegirangan, namun si kakek ternyata sangat tegang, katanya: "Kalian berdua boleh bermain di sini, setapakpun jangan meninggalkan tempat ini, biar kutengok kesana !" "Kongkong, aku ikut kau !" rengek anak perempuan tadi.
Kakek itu menjadi gugup: "Ai, ai, tidak boleh ! iblis perempuan itu sangat jahat, aku sendiri bukan tandingannya.
Soalnya tahu teman baik sedang menghadapi bahaya, terpaksa aku harus menyusul kesana, Kalian harus menurut kataku.
Habis berkata segera ia berlalu dengan langkah terincang-incut.
Meski pincang, tapi dengan bantuan tongkat besi segera ia kembangkan Ginkang, larinya amat cepat, tidak kalah dari pada tokoh2 silat kelas tinggi Tatkala itu hari sudah terang, para petani sudah bekerja di sawah, dengan riang gembira sedang menuai padi sambil berdendang, Kakek itu berlari bagai terbang tanpa hiraukan suasana gembira kaum tani yang bekerja keras itu.
sekejap saja dia sudah tiba di depan Liok-keh-cheng.
Kedua matanya memang buta, namun daya pendengarannya amat tajam, jaraknya masih kira2 satu li, namun dari kejauhan ia sudah mendengar suara bentrokan senjata keras, suara orang sedang bertempur dengan sengit.
Ia tidak kenal keluarga Bu atau keluarga Liok dan tiada hubungan, iapun tahu ilmu silat sendiri jauh bukan tandingan Jik-lian-sian-cu, kedatangan dirinya ini mungkin hanya mengantar jiwa belaka, namun selama hidupnya selalu bantu kaum lemah demi kebenaran dan keadilan, selamanya ia tidak hiraukan keselamatan diri sendiri, Maka langkah kakinya dipercepat waktu tiba di depan perkampungan didengarnya di atas genteng ada empat orang sedang bertempur dengan seru.
Sebelah kanan satu orang melawan tiga orang, tapi agaknya ketiga orang itu terdesak di bawah angin malah.
Ternyata setelah Bu Sam-thong membawa pergi Tun-ji dan Siu-bun, Liok Lip-ting - suami isteri semakin cemas dan heran, mereka tidak tahu apa maksud orang gila itu.
sebaliknya Bu Sam-nio menjadi senang, katanya tertawa: "Selamanya suamiku bertindak angin2an, kali ini ternyata bisa tahu kasih sayang dan dapat melihat bahaya.
" Liok-toanio mohon keterangan, tapi Bu Sam-nio hanya tersenyum saja, katanya: "Nanti sebentar kau akan tahu sendiri.
" Waktu itu sudah larut malam, Liok Bu-siang sudah tertidur dalam pangkuan ayahnya, Thia Engpun sudah kantuk dan tidak kuasa membuka matanya lagi.
Liok-toanio berdiri hendak membawa kedua anak itu masuk kamar, lekas Bu Sam-nio berseru mencegah: "Tunggulah lagi sebentar".
Benar juga tak lama kemudian, terdengar suara di atas genteng: "Lemparkan ke atas !" Itulah suara Bu Sam-thong.
Pergi datangnya ternyata tidak berbekas, Liok Lip-ting suami istri sebelumnya tidak tahu sama sekali.
Segera Bu Sam-nio bopong Thia Eng keluar terus dilemparkan ke atas, Bu Sam-thong ulur tangan meraihnya.
Baru saja Liok Lip-ting berdua kaget dan ingin tanya, Bu Sam-nio sudah lemparkan Liok Bu-siang ke atas pula, Keruan Liok Lip-ting kuatir, serunya: "Apa yang kau lakukan ?" - segera ia melompat ke atas genteng, namun sekelilingnya sunyi sepi, bayangan Bu Sam-thong dan kedua anak perempuan itu sudah tidak kelihatan Baru saja Liok Lip-ting hendak mengejar, dari bawah Bu Sam-nio keburu berteriak: "Liok-ya tidak perlu kejar, dia bermaksud baik," Liok Lip-ting ragu2, segera ia turun ke pelataran tanyanya kuatir: "Maksud baik apa ?" Liok-toanio sudah maklum lebih dulu, katanya: "Bu-samya kuatir iblis perempuan itu turun tangan keji kepada anak2, maka sebelumnya hendak disembunyikan di tempat yang rahasia!" Baru sekarang Liok Lip-ting sadar, ber-kali2 ia mengiakan, namun teringat Bu Sam-thong juga mencuri jenazah ayah bundanya, hatinya berkuatir pula.
Bu Sam-nio tertawa, ujarnya: "Biasanya suamiku tidak suka anak perempuan, entah kenapa kali ini dia mau melindungi kedua puterimu, benar2 di luar dugaanku, Waktu dia membawa pergi anak Ji dan anak Bun tadi, beberapa kali ia melirik kepada putri2mu, sikapnya amat prihatin, betul juga dia kembali membawa mereka.
Ai, semoga sejak kini wataknya berubah, tidak linglung lagi.
" - Lalu ia menghela napas, katanya lebih lanjut: "Silahkan kalian pergi istirahat, iblis itu amat membanggakan kepandaian sendiri, selamanya tidak mau menyergap musuh diwaktu malam, sebelum terang tanah pasti dia tidak akan datang.
" Semula Liok Lip-ting suami isteri memang menguatirkan keselamatan puteri dan keponakannya, kini setelah kekuatiran itu tidak membebani benak mereka, rasa takutpun hilang, timbul keberanian mereka untuk menghadapi musuh.
Mereka sudah membekal senjata masing2, semua duduk bersimpuh di ruang besar itu, bertiga dengan Bu Sam-nio mulai semadi menghimpun tenaga.
Sang waktu berjalan cepat, tidak lama fajar pun menyingsing, biasanya waktu seperti itu, suasana diramaikan oleh kokok ayam dan gonggongan anjing, namun sekarang keadaan sepi nyenyak Di tengah kesunyian pagi itulah tiba2 terdengar suara "blang" yang menggetarkan hati, entah diterjang apa pintu besar itu tiba2 terbuka dan semplak pecah, Pintu besar itu sudah dipantek dengan dua batang besi, menurut kebiasaan A Kin, si jongos, setiap malam juga palang pula pintu itu dengan batang kayu.
Kini palang besi dan kayu luar dalam itu sama putus, tahu-tahu seorang Tokoh pertengahan umur mengenakan jubah putih mulus melangkah masuk, dia bukan lain adalah Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu.
Saat itu A Kin sedang menyapu di pelataran, segera ia membentak: "Siapa itu ?" Cepat Liok Lip-ting berteriak: "A Kin, lekas menyingkir !" Tapi sudah terlambat, sekali kebut di tangan Li Bok-chiu terayun, seperti pula kematian anjing, babi dan lain, tanpa bersuara kepala A Kin terpukul remuk dan melayanglah jiwanya tanpa bersuara.
Liok Lip-ting segera menjinjing golok menerjang keluar terus membacok, Li Bok-chiu miringkan badan berkelit terus melesat lewat disamping-nya, sekali kebutnya bergerak pula, dua pelayan perempuan seketika tersabet mati, lalu tanyanya dengan tertawa: "Dimana kedua bocah itu ?" Melihat musuh bertindak begitu ganas, meski sadar bukan tandingan lawan, namun Liok Lip-ting berdua tetap merangsak dengan sengit dengan senjata masing2.
Li Bok-chiu sudah angkat kebut hendak memukul, tiba2 dilihatnya Bu Sam-nio berdiri disamping, ia tersenyum manis, katanya: "O, masih ada orang luar di sini, terpaksa aku bunuh kalian di luar rumah saja," -.
suaranya merdu, gerak geriknya genit, tak terlihat bagaimana dia bergerak, tahu2 badannya mengapung ke atas genteng, segera mengejar juga ke atas, Belum lagi mereka berdiri tegak, kebut Li Bok-chiu sudah menyapu datang sehingga senjata" mereka terpental balik, Agaknya ia sengaja hendak permainkan ketiga lawannya, dalam puluhan jurus itu ia tidak pernah melancarkan serangan mematikan, ia cuma desak ketiga lawannya berputar2 seperti kucing mempermainkan tikus layaknya, Keruan Liok Lip-ting bertiga mandi keringat dan gusar pula dibuatnya.
"Mau bunuh lekas bunuh saja!" damperat Liok Lip-ting.
Tiba2 Li Bok-chiu bersiul nyaring panjang ia melayang turun ke tanah langsung menubruk ke arah seorang kakek pincang bertongkat be yang berdiri di pinggir kali, Dimana kebut Li Bo chiu bergerak, tahu2 kebutnya membelit ke leher si kakek pincang dan buta itu.
jurus serangan ini dilancarkan disaat kakinya belum menyentuh tanah, namun kebutnya bagai ular hidup tahu.
2 sudah menyerang tempat mematikan dibadan lawan, Walau kakek tua itu buta, namun kupingnya dengan jelas mendengar serangan musuh yang lihay ini, lekas tongkatnya terangkat dan mendadak menutul ke depan, ia balas menjojoh pergelangan tangan kanan musuh, Tongkat besi merupakan senjata berat, umumnya piranti untuk menyapu, menggebuk, mengemplang atau menggencet, namun kakek tua ini justru menjojoh dengan gaya seperti pedang menusuk, tongkat seberat itu ternyata dapat ia mainkan dengan ringan dan lincah seperti pedang.
Lekas Li Bok-chiu sedikit gentakan kebutnya, ujung kebut memutar balik untuk membelit ujung tongkat terus ditarik dan disendal sambil membentak: "Lepas tangan !" jurus ini merupakan ilmu pinjam tenaga lawan untuk memukul lawan, ujung kebutnya meminjam tenaga jojohan tongkat tadi serta ditarik dan disendal, seketika si kakek merasakan seluruh lengannya bergetar hebat, hampir saja ia tidak kuasa pegang tongkatnya, dalam keadaan yang gawat itu, lekas ia melompat miring mengikuti tarikan orang, dengan begitu barulah ia berhasil punahkan daya tarikan kebutan lawan, diam2 ia terkejut: "Gembong iblis ini ternyata tidak bernama kosong.
" Li Bok-chiu tadi sudah menyerukan "lepas tangan," namun ia tidak berhasil merebut tongkat besi lawan, hal ini betul2 di luar dugaannya, pikirnya: "Siapa kakek pincang yang punya kepandaian selihay ini ?" Sekilas dilihatnya biji mata orang memutih, kiranya seorang buta, barulah ia sadar dan teringat teriaknya: "Kau ini Tin-ok ?" Kakek pincang buta ini memang tertua Kang-lam-chit-koay (tujuh manusia aneh dari Kanglam) Hwi-thian-pian-kok (si kelelawar) Kwa Tin-ok adanya, seperti diketahui sejak Hoa-san-lun-kiam pertandingan ilmu pedang di Hoa-san dulu.
Kwe Ceng dan Ui Yong menikah setelah mendapat restu Ui Yok-su, lalu mereka mengasingkan diri di pulau Tho-hoa-to.
Sifat Ui Yok-su memang lain dari pada yang lain, suka menyepi tidak suka keramaian, setelah beberapa bulan berkumpul bersama puteri dan menantunya, lama kelamaan ia menjadi bosan dan tidak kerasan tinggal dirumah, secara diam-diam ia meninggalkan Tho-hoa-to, ia hanya meninggalkan sepucuk surat, katanya ia hendak mencari tempat lain yang sepi dan nyaman.
Ui Yong kenal watak ayahnya, meski hati merasa berat, namun apa boleh buat dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Semula ia mengira dalam beberapa bulan Ui Yok-su pasti akan pulang atau paling tidak mengirim kabar, tak tahunya seka!i berpisah tahunan sudah lewat, namun Ui Yong tidak pernah mendapat kabar berita sang ayah, Karena kangen pada ayahnya, Ui Yong ajak suami-nya, Kwe Cerig keluar untuk mencarinya, selama beberapa bulan mereka berkelana di Kangouw, terpaksa mereka pulang ke Tho-hoa-to, sebab waktu itu Ui Yong ternyata sedang hamil.
Perangai Ui Yong biasanya jahil dan suka aneh2, hampir tidak suka ketentraman sekejap pun, karena hamil segala sesuatunya dirasakan serba repot dan kurang leluasa, hatinya menjadi kesal dan risau, dalam keadaan itu ia menjadi uring-uringan, ia anggap biang keladi yang membikin susah padanya itu ialah Kwe Ceng, Bagi perempuan yang sedang hamil memang sering bersifat kasar dan suka marah, walau Ui Yong amat mencintai Kwe Ceng, ada kalanya ia sengaja mencari kesalahan orang dan mengajak bertengkar Dasar Kwe Ceng berwatak polos dan lugu, jika sang istri sedang marah tanpa alasan, paling2 ia hanya tertawa-tawa saja tanpa menghiraukan-nya.
Tanpa terasa sepuluh bulan telah berselang, akhirnya Ui Yong melahirkan seorang anak perempuan dan diberi nama Kwe Hu.
,, Waktu hamil hatinya kurang senang, setelah melahirkan ia amat kasih sayang kepada puterinya, selalu dimanjakan Belum lagi genap satu tahun puterinya ini sudah teramat nakal.
Ada kalanya Kwe Ceng merasa anaknya keterlaluan lalu dia memarahinya, namun Ui Yong segera membela dan melindunginya, lama kelamaan sang puteri semakin menjadi nakal Waktu Kwe Hu berusia tiga tahun, Ui Yong mulai mengajarkan ilmu silat padanya, Karena itu, celakalah binatang piaraan di Tho-hoa-to, kalau bukan bulunya digunduli, tentu ekornya dicabuti Tho-hoa-to yang biasanya aman tenteram dan damai itu, lama kelamaan menjadi tempat jagal binatang.
Hari berganti bulan dan beberapa tahun telah berselang pula, Suatu hari mereka kedatangan seorang tamu, dia bukan lain adalah guru Kwe Ceng, Kwa Tin-oh adanya.
Setelah menetap beberapa tahun dikampung halamannya di Kang-lam, dulu di sana ada Cu Jong, Han Po-ki, Lam Hi-jin, Thio Ah-seng, Coan Kim-hoat dan Han Siau-eng, mereka bertujuh biasa malang melintang ke mana saja, sekarang tinggal Kwa Tin-ok seorang, usia semakin lanjut lagi, lama kelamaan ia merasa kesepian Hari itu ia teringat akan muridnya suami istri, segera ia jual segala harta miliknya buat ongkos menuju ke Tho-hoa-to.
Kedatangan sang guru sudah tentu membuat Kwe Ceng dan Ui Yong sangat senang, maka mereka tahan beliau menetap saja di pulau itu, betapapun mereka tidak mengijinkan Tin-ok meninggalkan mereka lagi, Kwa Tin-ok menganggur tak punya pekerjaan, maka ia menjadi teman bermain Kwe Hu yang paling setia, satu tua satu anak, ternyata mereka dapat bergaul rukun dan menjadi sahabat kental.
Hari itu Ui Yong merasa kangen kepada sang ayah, maka esoknya ia meninggalkan pulau bersama Kwe Ceng untuk mencari ayahnya, sebelum berangkat ia berpesan kepada Kwa Tin-ok untuk tinggal dirumah saja menemani puterinya, Siapa tahu usia Kwe Hu meski kecil, namun dia sudah mewarisi watak pemberani dan tidak takut tingginya langit dan tebalnya bumi setelah ayah bundanya pergi, segera ia merengek2 kepada Kwa Tin-ok agar mengajaknya keluar untuk mencari kakeknya juga, Ui Yok-su.
Keruan Kwa Tin-ok kaget, ia goyang tangan dan berteriak: "Tidak boleh jadi " Tidak boleh jadi ?" Kalau ada ayah bundanya Kwe Hu sih tidak berani mengumbar adat, setelah ayah, ibunya pergi, tiada yang perlu dia takuti lagi Segera ia lari ke pinggir, laut lalu terjun ke dalam air, teriaknya: "Baiklah Kwa-kongkong, biar aku berenang saja kesana sendiri!".
Kwa Tik-ok tidak bisa berenang, mendengar deburan ombak yang besar itu, ia menjadi gugup sendiri, kuatir Kwe Hu ketimpa malang, lekas ia berteriak: "Kembali, lekas kembali, dari sini ke daratan sana ratusan li jauhnya, mana bisa kau berenang ke sana ?" "Aku tidak perduli, kalau kau mati tenggelam, kaulah penyebabnya!" seru Kwe Hu.
Saking gugup Kwa Tin-ok sampai garuk-garuk kepala tak berdaya, terpaksa teriaknya pula: "Lekas kau naik sini, marilah berunding dulu.
" "Kalau kau berjanji mau bawa aku pergi mencari Gwakong, baru aku mau naik ke atas.
" Kwa Tin-ok kewalahan, terpaksa ia berkata: "Baiklah, ku lulusi permintaanmu.
" Kwe Hu menirukan cara2 orang dewasa, serunya: "Seorang Kuncu (laki2 sejati) hanya sepatah kata !" Tanpa terasa Kwa Tin-ok segera menyambung: "Kuda lari sekali pecut !" Sebagai seorang kawakan Kangouw yang pernah malang melintang puluhan tahun, sekali Kwa Tin-ok sudah keluarkan janjinya, selama hiduppun tidak akan menyesal Dulu dia pernah bertaruh dengan Khu Ju-ki, hingga selama delapan belas tahun ia menyekap diri di padang pasir yang berhawa panas dingin itu, tidak lain juga cuma untuk memenuhi janji kedua kalimat yang diucapkannya itu.
Begitulah Kwe Hu lantas naik ke daratan, sebaliknya Kwa Tin-ok menghela napas berulang kali, terpaksa mereka berkemas dan menunggang kedua ekor rajawali terbang ke barat menuju ke daratan besar.
-oooo000oooo4. PEMUDA PENGGEMBALA ULAR. Hari itu mereka tiba di kabupaten Ouwciu, Kwa Tin-ok mengajak Kwe Hu bermalam di rumah seorang petani, maklum sudah tua, gampang capai sehingga tidurnya teramat nyenyak, di luar tahunya pagi-pagi benar Kwe Hu sudah membawa kedua ekor rajawali itu keluyuran di luar.
Memang kebetulan juga, secara tidak terduga ia berhasil menolong Bu Siu-bun dari terkaman harimau buas.
Begitulah setelah beberapa gebrakan melawan Li Bok-chiu, Kwa Tin-ok tahu bahwa dirinya bu kan tandingan orang, segera ia kembangkan ilmu permainan tongkat, Hok-mo-tiang-hoat, dengan rapat ia mempertahankan diri Diam2 Li Bok-chiu memuji dalam hati: "Tua bangka ini dikenal sebagai pentolan Kang-lam chit-koay, kiranya tidak bernama kosong, matanya buta kakinya pincang, sudah tua dan tenaga lemah lagi, namun masih kuat melawan puluhan jurus seranganku.
" Didengarnya Liok Lip-ting dan isterinya ber-kaok2 sedang memburu datang bersama Bu Sam-nio, diam2 ia berkeputusan: "Kabarnya tua bangka ini adalah guru Kwe Ceng, Kwe-tayhiap, jangan aku sampai melukainya, kalau sampai Kwe Ceng suami isteri mencari perkara padaku, tentu akan serba menyulitkan, biarlah hari ini aku memberi kelonggaran kepadanya.
" Segera kebutnya bergerak, ujung kebut mendadak tegak kaku, seperti ujung sebuah tombak terus didorong menusuk ke dada Kwa Tin-ok.
Meski kebut itu terdiri dan benda2 lemas, namun dengan Lwekangnya yang hebat, daya tusukan ini sungguh luar biasa.
Lekas Kwa Tin-ok ketukan tongkat besinya ke tanah, badannya lantas tertolak mundur ke belakang beberapa langkah, Li Bok-chiu maju se-tapak, agaknya seperti hendak mengejar dan menyerang, siapa tahu se-konyong2 badannya mendorong ke belakang, pinggangnya lemas gemulai se-olah2 tidak bertulang, tahu2 pundaknya hanya terpaut satu dua kaki di depan Bu Sam-nio.
Keruan Bu Sam-nio kaget, lekas ia lancarkan ilmu It-yang-ci, ia menutuk ke jidat orang, Sayang ilmunya ini belum mencapai tingkat tinggi, gerak geriknya kurang cekatan dan cepat, begitu pinggang li Bok-chiu meliuk, se-olah2 setangkai bunga teratai yang tertiup angin, tahu2 ia sudah menggeliat ke samping, malah "plak", tahu2 perut Liok-toanio terkena sekali gablokannya.
Jik-lian-sin-ciang Li Bok-chiu sudah termasyhur dan menggetarkan setiap jago persilatan, kontan Liok-toanio roboh terguling, Liok Lip-ting tidak lagi menghiraukan keselamatan jiwa sendiri, golok segera ia timpukan ke arah Li Bok-chiu, berbareng ia pentang kedua tangannya menubruk maju hendak memeluk pinggang orang untuk mengadu jiwa, sebagai perawan suci bersih, karena patah hati perangai Li Bok-chiu berubah sadis dan tidak kenal kasihan lagi, terutama ia amat membenci hubungan asmara muda mudi, kini melihat Liok Lip-ting hendak memeluk badannya, terlihat raut mukanya lapat2 rada mirip ayahnya diwaktu muda dulu, rasa bencinya semakin berkobar, setelah ia pukul jatuh golok orang dengan kebutnya, sekali ayun pula, "sret", telak sekali kebutnya memukul batok kepala Liok Lip-ting.
Dewi Ular 6 Pangeran Anggadipati Seri Kesatria Hutan Larangan Karya Saini K M Pendekar Lembah Naga 20
^