Pencarian

Jejak Di Balik Kabut 39

Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja Bagian 39


pendapa pula, sehingga di atas tikar pandan yang
dibentangkan di pendapa, terbujur tiga sosok mayat yang
tidak dikenal. Malam itu Ki Bekel, Ki Jagabaya dan beberapa orang
bebahu hampir tidak dapat tidur sama sekali. Di dini hari, para bebahu itu tertidur sambil bersandar dinding di pringgitan.
Beberapa orang masih berdatangan untuk melihat apa yang
telah terjadi. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Bekel dan Ki Jagabayalah yang harus menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang berdatangan
itu. "Perintahkan mereka untuk bangun, Ki Bekel" berkata Ki
Jagabaya ketika ia melihat para bebahu yang tertidur.
"Biarlah mereka beristirahat. Biarlah besok mereka sibuk
pada saat penguburan ketiga orang itu"
"Bukankah kita menunggu Ki Demang?"
"Ya. Ki Demang dan Ki Demang Randucawang. Besok pagi-
pagi aku akan menemui Ki Demang dan langsung ke
Randucawang" Tetapi Ki Jagabaya ternyata tidak membiarkan mereka tidur
lebih lama lagi. Ketika Ki Bekel baru sibuk berbicara dengan
beberapa orang yang berdatangan, maka Ki Jagabayapun
telah membangunkan mereka.
"Ki Jagabaya mengejutkan aku" desis Ki Kebayan.
"Bangun. Jangan hanya aku dan Ki Bekel saja yang harus
berjaga-jaga semalam suntuk. Kita dapat bergantian"
Ki Kebayan menguap. Katanya, "Baiklah. Silahkan Ki
Jagabaya beristirahat. Biarlah aku menemani Ki Bekel"
Tetapi Ki Jagabaya bersungut sambil berkata, "Langit sudah
menjadi merah. Bagaimana mungkin aku dapat beristirahat"
Sebentar lagi matahari terbit. Ki Bekel akan menemui Ki
Demang dan Ki Demang dari Randucawang"
Ki Kebayan tidak menjawab. Ia hanya menguap. Namun
kemudian matanya telah terpejam lagi sambil bersandar
dinding. Ki Jagabaya menghentakkan kakinya. Tetapi Ki Kebayan itu
sudah lelap. "Orang-orang malas" geram Ki Jagabaya. Apalagi ketika ia
melihat Ki Kamituwa yang tidur di sudut pringgitan.
Nampaknya nyenyak sekali.
Tetapi Ki Jagabaya tidak sempat membangunkannya. Iapun
harus segera turun ke halaman ketika Ki Bekel memanggilnya.
Ketika Ki Jagabaya itu melangkah mendekati Ki Bekel yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berada di antara beberapa orang yang datang, iapun melihat
Ki Cakrajaya bersama anak laki-lakinya, Wandawa.
"Selamat malam, Ki Jagabaya" berkata Ki Cakrajaya.
Ki Jagabaya mengangguk hormat sambil menjawab,
"Selamat malam, Ki Cakrajaya"
"Aku baru saja mendengar bahwa telah terjadi perampokan
di rumah ini" "Ya, Ki Cakrajaya. Tiga orang telah terbunuh" jawab Ki
Jagabaya. Namun Ki Bekelpun segera menyahut, "Sebenarnya bukan
perampokan, Ki Cakrajaya"
"Jadi apa?" "Ada beberapa orang yang datang untuk mencari kedua
orang pengembara yang kebetulan bermalam di rumahku ini.
Mereka mengaku orang dari Randucawang"
"O" Ki Cakrajaya mengangguk-angguk.
Sementara itu Ki Bekelpun bertanya, "Ki Cakrajaya,
bukankah Ki Cakrajaya mempunyai banyak kenalan di
Kademangan Randucawang" Nah, apakah orang-orang itu
benar-benar orang Randucawang?"
"Aku memang mengenal banyak orang Randucawang, Ki
Bekel. Tetapi kenalanku adalah orang-orang terpandang. Jika
mereka orang-orang yang hidupnya berada di tataran
rendahan, aku tentu belum mengenal mereka"
"Tetapi mungkin Ki Cakrajaya pernah melihatnya"
Ki Cakrajaya termangu-mangu sejenak. Sementara Ki
Bekelpun berkata, "Marilah, silahkan melihat ketiga sosok
mayat itu, Ki Cakrajaya"
Ki Cakrajaya tidak dapat mengelak. Iapun kemudian
melihat ketiga sosok tubuh yang terbujur membeku. Nampak
ketegangan membayang di wajah Ki Cakrajaya.
Demikian pula wajah Wandawa. Bahkan kemudian
Wandawapun segera meninggalkan ketiga sosok mayat itu
dan kembali turun ke halaman.
Ki Cakrajaya menggeleng. Katanya, "Aku belum pernah
melihat mereka" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kami telah kehilangan jejak" berkata Ki Bekel.
"Maksud Ki Bekel?"
"Sebenarnya dua orang di antara mereka dapat kami
tangkap hidup-hidup. Agar mereka tidak melarikan diri, maka
mereka kami ikat pada batang pohon yang tumbuh di
halaman. Namun ternyata di antara sekian banyak orang yang
berkerumun untuk melihat kedua orang perampok itu, adalah
justru kawan mereka. Dengan tanpa menghargai nyawa kawan-kawannya sendiri,
mereka telah menusuk dada kedua orang itu sampai ke
jantung, sehingga kedua orang itupun telah meninggal pula"
"Kematian mereka adalah tanggung jawab Ki Bekel"
"Kenapa tanggung jawabku?"
"Keduanya sudah menjadi tawanan Ki Bekel ketika mereka
masih hidup. Merekapun terikat sehingga mereka tidak dapat
melindungi diri mereka sendiri. Karena itu, maka seharusnya
Ki Bekel melindungi mereka dari kemarahan rakyat padukuhan
ini" "Bukan rakyat padukuhan ini yang telah membunuhnya, Ki
Cakrajaya" "Jadi siapa?" "Jika rakyat padukuhan ini yang membunuhnya, maka
bekas penganiayaan yang ada pada tubuh orang itu, tentu
tidak seperti yang kita lihat. Luka tusukan di dadanya itulah
yang telah membunuhnya"
"Mungkin saja orang padukuhan ini yang marah telah
menusuk dada kedua orang itu"
"Mereka tidak akan melakukannya"
"Jadi menurut Ki Bekel, siapakah yang telah
membunuhnya?" "Seperti sudah aku katakan. Kawan-kawannya sendiri"
"Tidak masuk akal, bahwa kawan-kawannya sendiri telah
membunuhnya" "Kenapa tidak masuk akal" Justru dugaan itulah yang
paling masuk akal. Mereka berusaha menghilangkan jejak,
siapakah yang telah mengupah mereka untuk datang kemari"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mereka datang untuk merampok. Siapakah yang telah
mengupahnya?" "Sudah aku katakan pula. Mereka tidak datang untuk
merampok. Tetapi mereka datang untuk menangkap kedua
orang pengembara itu dan mengaku orang-orang
Randucawang" Ki Cakrajaya termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak
berkata apa-apa lagi tentang ketiga orang yang terbunuh itu.
Bahkan kemudian Wandawa telah mengajak ayahnya itu
untuk pulang saja. Beberapa saat kemudian, maka langitpun menjadi terang.
Ki Bekelpun segera bersiap untuk pergi ke rumah Ki Demang
untuk melaporkan peristiwa yang telah terjadi di rumahnya.
Kepada Wijang dan Paksi, Ki Bekel itu berkata, "Pergilah ke
gumuk itu. Mudah-mudahan anak-anak itu tidak terlambat
bangun dan datang terlalu siang. Pergilah bersama Ki
Kebayan" "Baik, Ki Bekel" sahut Wijang.
"Aku akan menemui Ki Demang dan Ki Demang
Randucawang" Demikian Wijang dan Paksi meninggalkan rumah Ki Bekel,
maka Ki Bekelpun telah pergi pula ke rumah Ki Demang. Agar
perjalanannya menjadi lebih cepat, maka Ki Bekelpun telah
naik kuda. Ketika Wijang dan Paksi sampai di gumuk kecil, cahaya
matahari sudah mulai nampak. Baru setelah menunggu
beberapa saat, beberapa orang anak muda mulai
berdatangan. "Maaf, aku terlambat sedikit" desis Trima. "Sejak dari
rumah Ki Bekel aku tidak dapat tidur lagi. Namun menjelang
fajar aku justru tertidur sesaat. Untunglah aku segera
terbangun oleh kegelisahanku sendiri serta mimpi yang
mencengkam" "Kami juga baru datang" jawab Paksi.
"Apakah kalian juga tertidur menjelang fajar?"
"Tidak. Kami tidak tidur sama sekali"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalian tidak merasa mengantuk" Aku yang sempat tidur
sesaat masih merasa sangat mengantuk"
"Jika kita mulai dengan kerja kita, perasaan kantuk itu akan
segera hilang" Trima mengangguk-angguk. Kawan-kawannya duduk
bertebaran di atas rerumputan kering dan batu-batu padas.
Nampaknya mereka masih saja malas untuk mengerjakan
sesuatu. Bahkan masih ada di antara mereka yang menguap
sambil menggosok matanya.
Tetapi ternyata Trima sudah berhasil menambah jumlah
anak-anak muda yang bersedia bekerja bersamanya.
"Mumpung masih pagi. Marilah, kita mulai dengan kerja
besar kita sambil berdoa di dalam hati kita masing-masing,
agar kerja kita dapat menghasilkan sesuatu yang berarti bagi
kehidupan rakyat padukuhan kita yang kering, tandus dan
miskin ini" berkata Wijang.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, anak-anak muda itu
mulai dengan kerja mereka. Yang pertama-tama mereka
lakukan adalah mempersiapkan tempat penampungan air yang
akan mereka alirkan dengan talang bambu ke kotak sawah
terdekat yang tanahnya menjadi pecah-pecah dan kering.
"Aku Sudah menghubungi Mbah Rejeb" berkata Trima.
"Apa katanya?" bertanya seorang kawannya.
"Mbah Rejeb nampak acuh tak acuh. Iapun menganggap
bahwa kami sedang bermimpi"
"Tetapi bukankah Mbah Rejeb tidak keberatan?"
"Tidak. Meskipun ia tidak menyambut rencana itu dengan
harapan, tetapi ia tidak menolak"
"Yang penting, Mbah Rejeb tidak menolak bahwa sawahnya
akan menjadi kotak percobaan dengan talang air yang akan
kita buat" Sementara tempat penampungan itu disiapkan, Paksipun
berkata, "Marilah, sebagian dari kita pergi ke hutan bambu.
Kita akan menebang bambu yang sudah tua. Kita akan
membawanya kemari dan mengerjakannya menjadi talang-
talang air" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beberapa orang di antara anak-anak muda itu bersama
Paksi telah pergi ke hutan bambu yang berada tidak terlalu
jauh dari tempat itu. Hutan bambu itu masih berada di dalam
lingkungan padukuhan, sehingga anak-anak muda itu merasa
menebang milik mereka sendiri. Apalagi hutan bambu itu
seakan-akan tidak dihiraukan lagi. Beberapa padukuhan yang
memerlukan bambu juga mengambil bambu di hutan jika
bambu di kebun mereka sendiri tidak mencukupi.
Namun ketika sekelompok anak-anak muda itu mendekati
hutan bambu yang lebat itu, mereka nampak ragu-ragu.
Hutan bambu itu menjadi bagian dari hutan lereng gunung
yang lebat yang memanjang, berhubungan dengan hutan
yang menjadi wilayah kademangan tetangganya.
"Di hutan itu terdapat binatang buas" berkata salah
seorang dari mereka. "Ya" sahut yang lain. "Harimau loreng di hutan itu terkenal
garang dan buas" Anak-anak muda itu memperlambat langkah mereka
sehingga Paksi berjalan di paling depan.
"Paksi" berkata salah seorang di antara anak-anak muda itu
pula, "kita harus menjadi sangat berhati-hati. Jika ada harimau lapar, sementara angin yang membawa bau keringat kita
berhembus ke hutan itu, maka harimau itu akan mencari kita"
"Biarlah harimau itu mencari kita. Tetapi kita tidak mencari
harimau itu" "Seseorang di antara kita akan diterkamnya"
"Bukankah kita tidak sendiri" Sementara kita masing-
masing membawa parang"
"Maksudmu, apakah kita akan melawan harimau itu?"
"Tentu. Bukankah kita tidak ingin membiarkan hidup kita
diakhiri oleh taring harimau itu seandainya benar-benar ada
seekor harimau yang mendatangi kita?"
"Apakah kita akan dapat melawan seekor harimau
meskipun kita berlima?"
"Enam orang. Bukankah kita berenam" Apakah aku tidak
dihitung?" bertanya Paksi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya. Meskipun kita berenam, kita tidak akan dapat berbuat
apa-apa" "Seandainya kita tidak dapat melawan harimau itu, maka di
hutan bambu, kita mempunyai banyak kesempatan untuk
menghindar. Harimau itu tentu juga tidak akan dapat berjalan
di dalam rumpun-rumpun bambu yang lebat. Sementara kita
mempunyai akal yang tidak dimiliki oleh seekor harimau"
"Tetapi naluri harimau itu justru lebih berarti dari akal kita jika kita berada di tengah-tengah hutan bambu"
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Mudah-
mudahan tidak ada seekor harimau yang akan mengangguk
kita. Biasanya harimau akan menjauhi manusia. Hanya
harimau yang tua, lemah dan kelaparan sajalah yang sering
memburu manusia, karena tidak lagi mampu memburu seekor
kijang. Dengan demikian, harimau yang akan mendekat, tentu
seekor harimau yang sudah lemah"
"Betapapun lemahnya, tetapi seekor harimau tidak akan
dapat kita lawan" "Karena kita tidak mencobanya. Jika kita mencobanya,
maka betapapun garangnya seekor harimau, kita tentu akan
dapat mengalahkannya. Setidak-tidaknya mengusirnya.
Kecuali jika kita memang menyerahkan diri kita untuk dikoyak-


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

koyak oleh harimau itu"
Anak-anak muda itu terdiam. Namun mereka justru
menganggap Paksi terlalu sombong, meskipun maksud Paksi
hanya sekedar membesarkan hati mereka. Sejenak kemudian,
maka merekapun telah berada di tepi hutan. Sederet hutan
bambu seakan-akan memagari hutan yang lebat memanjang
di kaki Gunung Merapi itu.
"Beberapa padukuhan telah menebang bambu di sini pula.
Mereka juga tidak bertemu dengan harimau"
"Pernah terjadi, Paksi" berkata seorang anak muda yang
nampak pucat. "Seekor harimau menghampiri orang-orang
yang sedang menebang bambu. Tetapi waktu itu yang datang
ikut menebang bambu cukup banyak. Lebih dari dua puluh
orang. Merekapun segera berteriak-teriak sambil mengacu-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
acukan parang mereka, sehingga harimau itupun bergerak
meninggalkan mereka"
"Nah, bukankah harimau itu juga dapat ditakut-takuti?"
"Tetapi kita sekarang hanya enam orang"
"Tidak apa-apa"
Anak-anak muda itupun telah memaksa diri mereka
masing-masing untuk kemudian menebang bambu meskipun
sebenarnya mereka masih saja merasa cemas. Tetapi ternyata
tidak ada seekor harimau yang datang mendekat, sehingga
mereka berhasil menebang dan mengumpulkan setumpuk
batang bambu. "Kita akan mengusungnya ke tempat kawan-kawan kita
membuat tempat penampungan air itu" berkata Paksi. Anak-
anak muda itupun termangu-mangu. Rasa-rasanya sangat
malas untuk mengusung setumpuk bambu itu. Karena itu,
maka untuk beberapa saat mereka hanya memandangi saja
bambu-bambu yang telah mereka tebang dan mereka timbun
di bawah sebatang pohon di padang perdu itu.
Paksilah yang pertama-tama memikul dua batang bambu
yang besar sambil berkata, "Jika terasa terlalu berat, maka
kalian cukup membawanya sebatang-sebatang saja. Nanti kita
ajak kawan-kawan kita yang membuat tempat penampungan
air itu untuk mengusung bambu-bambu ini. Besok kita akan
melakukan lagi" "Besok kita mencari bambu lagi?" bertanya seorang anak
muda. "Ya. Besok dan lusa sampai bambu itu cukup untuk
membuat talang air lima jalur sampai ke sawah Mbah Rejeb"
Anak-anak muda itu saling berpandangan. Tetapi Paksi
tidak menghiraukan mereka lagi. Iapun meninggalkan tempat
itu sambil mengusung dua batang bambu di atas kepalanya
dialasi dengan segenggam ilalang yang dilipat-lipat.
Anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun mereka
tidak akan mampu mengusung dua batang bambu sekaligus.
Mungkin dengan memaksa diri mereka kuat mengangkat dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meletakkannya di atas kepala. Tetapi pada saat mereka
beringsut selangkah, mereka tentu akan merasa sangat letih.
Karena itu, seperti yang dikatakan oleh Paksi, mereka
masing-masing hanya membawa sebatang bambu.
Dalam pada itu, selagi anak-anak muda itu sibuk
mempersiapkan pembuatan talang air, Ki Demang telah
berada di rumah Ki Bekel. Sementara itu, Ki Bekel sendiri
langsung pergi ke rumah Ki Demang di Randucawang.
Seorang bebahu yang menerima kedatangan Ki Demang
telah menunjukkan orang-orang yang telah terbunuh dan
terbaring di pendapa. "Seorang di antara mereka terbunuh oleh Ki Bekel saat orang
itu menyerang Ki Bekel dengan tiba-tiba, sehingga Ki Bekel
tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan lain.
Dengan gerak naluriah, Ki Bekel telah menjulurkan tombaknya
menyongsong lawannya yang sedang menyerangnya"
Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara bebahu itupun
berkata selanjutnya, "Sedangkan dua orang yang lain
sebenarnya dapat ditangkap hidup-hidup. Tetapi ketika
banyak orang berkerumun di halaman ini serta mengamati
keduanya yang diikat masing-masing pada sebatang pohon,
ternyata kawan dari kedua orang yang tertangkap hidup-hidup
itupun hadir pula. Tidak seorang pun yang menyadari apa yang telah terjadi.
Tetapi pada saat kami melihat darah mengalir di dadanya,
barulah kami sadari, bahwa orang itu sudah terbunuh. Tentu
oleh kawannya sendiri untuk menghindari agar persoalannya
tidak dapat ditelusur lebih lanjut, siapakah yang telah
memerintahkan mereka"
"Menurut pendapatku, keduanya bukan orang
Randucawang" "Ki Bekel juga menduga seperti itu. Namun Ki Bekel ingin
kepastiannya. Jika Ki Demang Randucawang bersedia datang,
maka kita akan dapat mendengar kesaksiannya"
Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu terdengar
derap kaki kuda yang berhenti di depan regol. Sejenak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemudian, maka Ki Bekel dan Ki Demang Randucawang
memasuki regol halaman rumah Ki Bekel itu.
Ketika Ki Demang melihat kehadiran Ki Demang
Randucawang, maka iapun segera menyongsongnya.
"Selamat datang, Ki Demang"
Ki Demang Randucawang itu mengangguk hormat sambil
menjawab, "Terima kasih, Ki Demang. Aku memerlukan
datang setelah aku mendengar peristiwa yang terjadi di sini
dari Ki Bekel" Ki Bekelpun kemudian membawa kedua orang demang itu
ke pendapa. Kepada Ki Demang Randucawang iapun berkata,
"Inilah, Ki Demang, orang yang mengaku penghuni
Kademangan Randucawang. Bahkan orang itu mengaku telah
mendapat perintah Ki Demang untuk menangkap kedua orang
pengembara yang kebetulan berada di rumahku, karena
keduanya diduga telah melakukan perampokan di
Kademangan Randucawang"
Ki Demang Randucawang itupun kemudian mengamati
ketiga orang yang terbujur di pendapa rumah Ki Bekel itu.
Namun kemudian Ki Demangpun menggelengkan kepalanya
sambil berkata, "Aku tidak mengenal mereka. Aku pun tidak
pernah memerintahkan mereka untuk menangkap perampok-
perampok yang telah merampok di Randucawang"
"Tetapi apakah benar telah terjadi perampokan di
Randucawang, Ki Demang?" bertanya Ki Bekel.
"Ya. Tetapi perampokan itu tidak dilakukan oleh
kebanyakan perampok. Perampok itu dapat melakukan hal-hal
yang nampaknya mustahil. Ketika beberapa orang mencoba
melawannya, maka dengan kekuatan ilmunya salah seorang
dari para perampok itu telah merobohkan regol rumah orang
yang dirampoknya itu tanpa menyentuhnya"
"Apakah para perampok itu sudah kelihatan tua?"
"Ya. Ada di antara mereka yang sudah kelihatan tua. Tetapi
justru orang itulah yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Karena itu, maka aku telah memutuskan untuk tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memburunya. Siapa pun yang mencoba menangkapnya, tentu
akan mati olehnya" "Sedangkan kedua orang pengembara yang ada di rumah
Ki Bekel?" "Keduanya masih muda. Ujud mereka, wajah mereka dan
kata-kata serta sikap mereka, sama sekali tidak mencerminkan
sikap dan tingkah laku seorang perampok. Mereka pun telah
memberikan gagasan untuk mencari jalan, agar padukuhan ini
tidak tertinggal terlalu jauh dari padukuhan-padukuhan yang
lain" "Gagasan apa yang mereka berikan?" bertanya Ki Demang.
"Membuat saluran air. Tetapi itu adalah sekedar
perwujudan dari dasar gagasannya. Gagasan yang mendasar
dari kedua orang pengembara itu adalah melawan kemalasan.
Kesediaan bekerja keras untuk membangun padukuhan ini"
Kedua orang demang itu saling berpandangan. Dengan
nada dalam Ki Demangpun kemudian berkata, "Aku ingin
berbicara dengan kedua orang pengembara itu"
"Aku akan mengatakan kepada mereka. Biarlah nanti saat
malam turun, mereka datang menghadap Ki Demang"
Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Demang
Randucawangpun berkata, "Tentu bukan bagian dari para
perampok yang telah merampok di Kademangan
Randucawang" "Perampok di Randucawang itu tentu gerombolan yang
pernah merampok di padukuhan sebelah" berkata Ki Demang.
"Ciri-ciri para perampoknyapun sama. Perampok di padukuhan
sebelah itu juga menunjukkan kemampuannya yang sangat
tinggi, sehingga orang-orang padukuhan tidak berani berbuat
apa-apa terhadapnya"
"Namun agaknya mereka hanya sekedar lewat. Sebelumnya
dan sesudah itu tidak pernah lagi ada perampokan seperti itu.
Jika saja ada sekelompok perampok yang memanfaatkan
ketakutan kami, mungkin mereka akan berhasil"
"Tetapi kami sudah mengenal ciri-ciri para perampoknya"
sahut Ki Demang. "Karena itu, jika ciri-cirinya tidak sama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti perampok yang mengerikan itu, maka mereka tentu
dapat dilawan oleh orang-orang padukuhan"
Ki Demang Randucawang itu berada di rumah Ki Bekel
untuk beberapa lama. Namun kemudian setelah dihidangkan
minuman dan makanan, maka Ki Demang Randucawang
itupun minta diri. Ki Demang sendiri berada tidak terlalu lama di rumah Ki
Bekel. Ki Bekel sempat menceriterakan sikap Ki Cakrajaya
yang tidak menyetujui gagasan kedua orang pengembara itu.
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ki Cakrajaya adalah
seorang yang sangat berpengaruh di kademangan itu. Jika ia
tidak sependapat, maka persoalannya akan dapat menjadi
rumit. "Ki Cakrajaya berkata, bahwa ia ingin menemui Ki Demang"
Ki Demang mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian
menjawab, "Baiklah. Biarlah Ki Cakrajaya menemui aku.
Mungkin aku dapat menjelaskan persoalannya"
Tetapi sikap Ki Cakrajaya itu benar-benar menggelisahkan
Ki Demang. Beberapa saat kemudian, Ki Demangpun telah
minta diri pula. Sebelum ia meninggalkan rumah Ki Bekel,
maka Ki Demang itupun memberikan persetujuannya, bahwa
ketiga sosok mayat itu akan dikuburkan.
"Nanti, biarlah kedua orang pengembara itu menghadap Ki
Demang" berkata Ki Bekel.
Sementara itu, di rumahnya, Ki Cakrajaya menjadi sangat
marah kepada anaknya. Ternyata di luar pengetahuan Ki
Cakrajaya, Wandawa telah menghubungi dan minta beberapa
orang upahan untuk mengambil dua orang pengembara di
rumah Ki Bekel. "Jika ketahuan bahwa kau yang telah memerintahkan
mereka, maka kedudukan kita akan menjadi semakin lemah.
Bahkan seorang kawanmu yang sudah membuka rahasia
alasan kita yang sebenarnya menentang membuat saluran air
itu, sudah mencoreng arang di wajah kita. Kemudian kau telah
memerintahkan orang-orang upahan itu untuk mengambil
kedua orang pengembara yang berada di rumah Ki Bekel,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetapi justru gagal. Untunglah kedua orang yang tertangkap
hidup itu dapat dibungkam agar tidak berbicara dan
menyebut-nyebut namamu"
"Jadi kenapa Ayah masih risau?" bertanya Wandawa.
"Bahwa kau telah berbuat lancang. Mungkin pada
kesempatan lain kau akan melakukan lagi satu perbuatan yang
merugikan sekali. Selebihnya, kau telah mengeluarkan uang
banyak tanpa hasil apa-apa. Upah orang-orangmu itu banyak
sekali. Selain upah mereka, maka setiap nyawa dari kawan-
kawan merekapun mempunyai harga tersendiri. Semalam tiga
orang di antara mereka mati"
"Aku tidak akan membayar upah mereka. Aku mengupah
mereka untuk satu tugas tertentu. Tetapi mereka tidak dapat
melakukannya. Dengan demikian, aku tidak merasa wajib
membayarnya" "Kau tahu akibatnya?" bertanya Ki Cakrajaya.
Wandawa terdiam. Sementara ayahnya berkata, "Jika
mereka merasa kecewa, maka akan dapat membuat kesulitan
kepada kita. Untuk selanjutnya, kita pun akan kesulitan jika
kita memerlukan tenaga mereka untuk kepentingan yang lebih
besar. Bahkan mungkin mereka akan mendendam kepada kita
dan mengambil langkah-langkah kewadagan"
"Bukankah kita tidak takut kepada mereka" Ayah
mempunyai ilmu yang tinggi"
"Aku mempunyai ilmu yang tinggi yang dapat melindungi
diriku sendiri. Tetapi kau sendiri" Ilmumu tidak maju-maju
karena kau terlalu malas untuk berlatih. Kau merasa dapat
melindungi dirimu sendiri dengan uangmu, uang kita"
Wandawa tidak segera menjawab. Wajahnya nampak
gelap. "Wandawa" berkata ayahnya, "lain kali kau tidak boleh
bertindak sendiri tanpa sepengetahuanku. Kita masih
beruntung, bahwa yang kau lakukan semalam masih dapat
diredam. Tetapi kau harus membayar upah yang kau janjikan
serta tebusan untuk setiap nyawa"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Orang-orang itu seharusnya juga mempunyai harga diri.
Mereka seharusnya tidak menuntut upah dari tugas yang
gagal itu" "Jangan berharap. Kecuali jika mereka sendiri yang
menyatakan kepadamu, bahwa mereka tidak minta upah dari
tugas yang gagal itu"
Wandawa termangu-mangu sejenak. Sementara ayahnya
berkata pula, "Ingat, Wandawa. Jangan berbuat apa-apa
tanpa sepengetahuanku. Kali ini kita masih dapat
menyelamatkan diri meskipun harus mengorbankan tiga
nyawa. Sementara itu, kita harus membayar tebusan bagi
ketiganya" Wandawa tidak menyahut. "Hari ini kita jangan berbuat apa-apa"
"Kedua orang pengembara itu tentu sudah mulai
mengerjakan rencana gilanya itu bersama-sama anak-anak
dungu yang berhasil dipengaruhinya"


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Jangan menyebut mereka anak-anak dungu. Mereka justru
anak-anak yang dapat melihat lebih jauh ke depan dari
kawan-kawannya. Justru mereka yang tidak terpengaruh oleh
kedua pengembara dengan gagasannya yang cemerlang itulah
yang dungu" "Tetapi bukankah Ayah menghendaki rencana itu batal?"
"Ya. Aku menginginkan anak-anak muda itu tetap dungu
agar mereka tidak mau mendengarkan gagasan kedua orang
pengembara itu" "Aku tetap berpendirian, bahwa kedua orang pengembara
itulah yang harus dihapuskan lebih dahulu"
"Kau dengar dari orang-orang yang sempat melarikan diri,
bahwa kedua orang pengembara itu dan bahkan Ki Bekel
mencurigai bahwa kitalah yang telah menggerakkan orang-
orang yang datang ke rumah Ki Bekel. Mereka tidak percaya
bahwa orang-orang yang datang itu adalah orang-orang
Randucawang. Sementara itu, Ki Demang Randucawang telah diminta pula
untuk datang melihat orang-orang yang terbunuh itu"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wandawa termangu-mangu sejenak.
"Persoalannya tidak lagi sederhana, Wandawa. Semakin
lama semakin rumit. Apalagi jika kau masih saja bertindak
sendiri tanpa sepengetahuanku"
Wandawa masih saja diam. Tetapi Ki Cakrajaya tidak yakin,
bahwa kediaman Wandawa itu berarti menyetujui
pendapatnya. Meskipun demikian, Ki Cakrajaya itu berkata
sekali lagi, "Jika kau tidak mau semuanya menjadi gagal,
sekali lagi aku peringatkan, jangan berbuat apa-apa lebih
dahulu. Aku akan menemui Ki Demang. Aku akan
mempergunakan pengaruhku dan sedikit menakut-nakuti.
Mudah-mudahan aku dapat menghentikan dengan bersandar
pada kuasa Ki Demang di kademangan ini. Dengan demikian,
maka Ki Bekel tidak akan dapat berbuat apa-apa. Ia harus
tunduk membatalkan kerja anak-anak muda itu"
Wandawa tidak menjawab. Ki Cakrajayapun kemudian telah mempersiapkan kudanya.
Bersama seorang pengawalnya, maka Ki Cakrajayapun telah
pergi ke rumah Ki Demang.
Kedatangan Ki Cakrajaya membuat Ki Demang menjadi
berdebar-debar. Ia belum lama pulang dari rumah Ki Bekel
untuk melihat ketiga orang yang terbunuh itu.
"Marilah, Ki Cakrajaya. Silahkan naik"
Ki Cakrajaya mengangguk sambil melangkah menaiki
tangga pendapa rumah Ki Demang. Kemudian duduk di
pringgitan. "Dari mana saja Ki Cakrajaya?" bertanya Ki Demang.
"Dari rumah, Ki Demang. Aku sengaja ingin menemui Ki
Demang. Ada sedikit masalah yang ingin aku bicarakan"
Jantung Ki Demang berdebar semakin cepat. Ia tahu, apa
yang akan dibicarakan oleh Ki Cakrajaya.
Sementara itu Ki Cakrajayapun telah mengedarkan
pandangan matanya memandangi tiang-tiang pendapa di
rumah Ki Demang. Gebyok kayu yang memisahkan pringgitan
dan bagian dalam rumahnya. Ukiran-ukiran yang rumit yang
terdapat pada tiang-tiang pendapa serta gebyok penyekat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba saja Ki Cakrajaya itu berkata kepada pengawalnya,
"Kau lihat, sunggingan ukiran rumah Ki Demang ini sudah
nampak suram" "Ya, Ki Cakrajaya. Mungkin Ki Demang tidak begitu rajin
membersihkannya. Atau mungkin karena sudah terlalu lama
tidak disungging lagi"
"Apakah sunggingan pada ukiran itu sudah terlalu lama"
Sungging pada uleng itu masih nampak cerah"
"Ya, Ki Demang"
"Ki Demang, bukankah aku telah mengupah orang untuk
menyungging ukiran-ukiran di rumah Ki Demang beberapa
waktu yang lalu?" Dengan nada dalam Ki Demang itupun menjawab, "Ya, Ki
Cakrajaya" "Aku kira sudah waktunya aku mengupah lagi orang itu
untuk menyungging kembali ukiran-ukiran yang bagus dan
rumit di rumah Ki Demang ini"
Baju Ki Demang mulai basah oleh keringat. Katanya,
"Sudahlah, Ki Cakrajaya. Aku mengucapkan terima kasih. Aku
kira warna sungging itu masih cerah jika nanti aku bersihkan"
"Tidak apa-apa, Ki Demang. Aku kenal baik dengan juru
sungging itu. Orang itu juga yang telah mewarnai ukiran-
ukiran pada tiang-tiang di pendapa rumahku"
"Aku mengucapkan terima kasih, Ki Cakrajaya. Agaknya
aku belum memerlukannya sekarang. Selain warna-warna
pada ukiran itu masih terang, apalagi jika dibersihkan, aku pun sedang sibuk sehingga aku masih belum sempat memikirkan
ukiran pada tiang dan gebyok di rumahku"
Ki Cakrajaya tersenyum. Katanya, "Jangan segan-segan, Ki
Demang. Atau mungkin Ki Demang memerlukan yang lain"
Seekor kuda tunggangan yang tegar atau sepasang lembu
untuk mengerjakan sawah?"
"Tidak, Ki Cakrajaya. Sekarang aku belum memerlukan
apa-apa. Segala sesuatunya masih cukup"
"Baiklah" Ki Cakrajaya mengangguk-angguk. "Nampaknya
Ki Demang memang belum memerlukan apa-apa sekarang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Agaknya justru akulah yang memerlukan bantuan Ki Demang
sekarang ini" Ki Demang menjadi semakin berdebar-debar. Ia sudah
menduga, bantuan apakah yang diperlukan oleh Ki Cakrajaya
itu. Meskipun demikian, Ki Demang itu masih juga bertanya,
"Bantuan apakah yang dimaksud Ki Cakrajaya?"
Ki Cakrajaya itu menaik nafas dalam-dalam. Setelah
merenung sejenak, maka iapun berkata, "Bukankah Ki
Demang sudah mendengar kehadiran dua orang pengembara
di rumah Ki Bekel?" Ki Demang menarik nafas panjang. Sambil mengangguk-
angguk iapun menjawab, "Ya, Ki Cakrajaya. Aku sudah
mendengar. Tadi aku berada di rumah Ki Bekel karena
beberapa orang perampok telah datang ke rumah Ki Bekel itu"
"Mereka bukan perampok, Ki Demang"
"Bukan perampok?"
"Maksudku, mereka tidak akan merampok di rumah Ki
Bekel" "Jadi menurut Ki Cakrajaya, siapakah mereka itu?"
"Inilah yang sulit aku katakan, karena tentu tidak ada
seorang pun yang bersedia menjadi saksi"
"Maksud Ki Cakrajaya?"
"Seseorang yang mendengar pembicaraan antara Ki
Demang Randucawang dan orang yang terbunuh itu sama
sekali tidak menyentuh niat orang-orang yang datang ke
rumah Ki Bekel itu untuk menguasai harta bendanya"
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, "Orang-orang
itu mengaku orang Randucawang. Bahkan mereka mengaku
diperintah oleh Ki Demang Randucawang"
"Ya. Untuk menangkap kedua orang pengembara itu"
"Dari mana Ki Cakrajaya mengetahuinya?"
"Banyak orang yang mengatakannya. Tetapi aku
mendengar langsung dari orang yang mendengar sendiri
pembicaraan itu" "Siapa?" "Orang itu tidak ingin dikenal namanya"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Demang tidak dapat memaksa Ki Cakrajaya untuk
menyebut nama itu. "Lalu, pertolongan apakah yang dapat aku berikan?"
"Ki Demang, aku dan barangkali kita semua tidak tahu,
siapakah kedua orang pengembara itu. Mungkin tidak nampak
pada mereka ciri-ciri seorang penjahat. Tetapi siapapun
mereka, dan apakah ia berbohong atau tidak tentang diri
mereka sendiri, namun kehadiran mereka telah menimbulkan
keributan yang dapat meluas menjadi keresahan yang
mencengkam seluruh kademangan ini. Peristiwa di rumah Ki
Bekel itu adalah contoh yang paling baik. Setelah peristiwa itu, mungkin akan menyusul peristiwa-peristiwa yang lain yang
akan membuat rakyat kademangan ini menjadi semakin resah"
"Mereka tidak berbuat apa-apa"
"Di hadapan Ki Demang dan Ki Bekel. Tetapi siapa tahu,
apa yang akan dikerjakannya kemudian di belakang Ki
Demang dan Ki Bekel"
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam.
"Ki Demang" berkata Ki Cakrajaya lebih lanjut, "bahwa
kedua orang yang tertangkap hidup-hidup itu akhirnya
terbunuh, tentu karena pokal kedua pengembara itu sendiri"
"Tetapi kedua orang pengembara itulah yang menangkap
mereka berdua" "Satu permainan yang sempurna. Dengan demikian, maka
keduanya akan dapat mengenyahkan segala macam
kecurigaan terhadap mereka. Bahkan mereka telah menjadi
seorang pahlawan di sini. Apalagi dengan gagasan-
gagasannya yang tidak masuk akal itu"
"Gagasan itu berbobot, Ki Cakrajaya"
Ki Cakrajaya seakan-akan tidak mendengarnya. Ia masih
berkata selanjutnya, "Setelah kedua orang itu ditangkapnya,
sehingga keduanya dianggap sebagai pahlawan, maka pada
satu kesempatan kedua orang itu telah mereka bunuh sendiri"
"Apa gunanya mereka membunuh kedua orang yang sudah
tertangkap, menyerah dan tidak kuasa lagi melawan. Mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah terikat pula pada sebatang pohon. Lalu apa gunanya
pembunuhan itu?" Ki Cakrajaya tertawa. Katanya, "Seharusnya kau dapat
merabanya, Ki Demang"
"Bagaimana menurut Ki Cakrajaya?"
"Keduanya tentu ingin menghapus jejak. Jika keduanya
yang tertangkap hidup itu sempat bersaksi, maka mereka
akan dapat mengatakan siapakah kedua orang pengembara
yang ingin mereka tangkap itu sebenarnya. Orang-orang yang
terbunuh itu tentu akan dapat menunjukkan cacat dari kedua
orang pengembara itu"
"Jika demikian, kenapa keduanya tidak menangkap kedua
pengembara itu melalui jalur yang wajar. Misalnya, keduanya
datang kepadaku dan kemudian kepada Ki Bekel. Bukankah
dengan demikian pelaksanaannya akan menjadi lebih mudah
dan bahkan mungkin tidak harus menelan korban jiwa?"
"Agaknya mereka tidak ingin terlambat. Sebelum kedua
orang itu melarikan diri, maka keduanya harus ditangkap"
"Tetapi kenapa mereka harus mengaku orang-orang
Randucawang dan bahkan mengaku mendapat perintah dari Ki
Demang Randucawang?"
"Tentu ada beberapa hal yang tidak kita ketahui, Ki
Demang. Karena itu, aku minta Ki Demang bertindak
bijaksana. Sebelum persoalan yang menyangkut keduanya
menjadi semakin berkembang sehingga keresahanpun
menjalar sampai ke mana-mana, maka sebaiknya keduanya
diusir dari kademangan ini. Bahkan jika Ki Demang ingin
tegas, Ki Demang dapat menangkap mereka dan memaksa
mereka mengaku, siapakah sebenarnya mereka berdua"
"Bagaimana aku dapat mengusir mereka, Ki Cakrajaya"
Sekarang mereka justru sedang mengembangkan satu
gagasan yang sangat menarik. Beberapa puluh kali aku
mencoba untuk membuat padukuhan itu bergerak. Aku sudah
mengadakan penyuluhan tentang peningkatan kesejahteraan
hidup. Memenuhi kebutuhan sendiri dalam batas kecukupan.
Kerja dan mengusir kemalasan. Tetapi seisi padukuhan itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sama sekali tidak menanggapinya. Apalagi ketika bekel yang
sekarang diwisuda. Ki Bekel itu memang orang malas sejak
mudanya. Kemudian para bebahu pun terdiri dari orang-orang
malas pula. Kemalasan itu benar-benar telah mencengkam
padukuhan itu, sehingga mereka tidak peduli lagi tentang
nasib buruk yang menimpa padukuhan mereka. Ki Cakrajaya
tentu sudah mengetahuinya. Sawah yang kering dan gersang.
Rerumputan pun tidak dapat hidup. Meskipun ada sebagian
tanah yang subur, seperti tanah milik Ki Cakrajaya, yang lain
adalah tanah kering di musim kemarau. Bahkan tanahnya pun
menjadi pecah-pecah dan mengeras seperti batu padas. Nah,
gagasan menyalurkan air dari gumuk kecil itu perlu disambut
dengan harapan. Sedangkan air di gumuk kecil itu seakan-
akan tidak terbatas dan tidak akan pernah kering di segala
musim" "Kau sudah terbius pula oleh harapan-harapan yang kosong
itu, Ki Demang. Apa yang dapat dilakukan oleh anak-anak itu
dengan talang bambu" Seberapa air yang mereka dapatkan
lewat talang bambu itu" Ki Demang, mereka menunggu kita
semua lengah. Dengan demikian, kita hanya akan dapat
menyesal" "Apa yang akan mereka lakukan" Jika mereka ingin
merampok, kenapa mereka tidak memilih sebuah padukuhan
yang paling kaya di kademangan ini" Justru memilih
padukuhan miskin dan kering?"
"Ki Demang lupa, bahwa aku tinggal di padukuhan itu.
Itulah yang membuat aku sangat cemas. Mungkin hanya ada
satu dua orang yang akan menjadi sasaran mereka. Antara
lain adalah keluargaku yang termasuk memiliki kelebihan
dibanding dengan para penghuni yang lain"
"Ki Cakrajaya, biarlah aku berbicara dengan Ki Bekel agar
tidak akan pernah lengah. Biarlah Ki Bekel mengawasi kedua
orang pengembara itu"
"Itu tidak akan banyak menolong, Ki Demang"
"Ki Cakrajaya, sebenarnya terdengar aneh jika Ki Cakrajaya
mencemaskan keluarga Ki Cakrajaya. Selama ini keluarga Ki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cakrajaya dianggap keluarga yang tidak dapat disentuh oleh
tangan siapa pun. Bahkan tangan Ki Bekel pun tidak mampu
menjangkau kebebasan keluarga Ki Cakrajaya untuk berbuat
apa saja di padukuhan. Sementara itu, di kademangan ini,
tangan dan kakiku telah Ki Cakrajaya ikat dengan keping-
keping uang. Namun kadang-kadang juga dengan bayangan-
bayangan hitam yang menakutkan. Bagaimana mungkin Ki
Cakrajaya menjadi ketakutan menghadapi dua orang anak-
anak itu?" "Dua orang anak-anak itu yang nampak di mata kita"
"Sudahlah, Ki Cakrajaya. Jangan cemas. Ki Cakrajaya


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Demikian pula
anak laki-laki Ki Cakrajaya itu. Kemudian beberapa orang yang
bekerja pada Ki Cakrajaya. Selebihnya kesiagaan Ki Bekel
serta anak-anak muda di padukuhan"
"Ki Bekel mempergunakan tiga perempat waktu hidupnya
untuk tidur. Siang dan malam"
"Maaf, Ki Cakrajaya. Baiklah aku berterus-terang.
Sebenarnya aku ingin melihat hasil gagasan anak-anak muda
yang menyebut diri mereka pengembara itu"
Wajah Ki Cakrajaya menjadi tegang. Nada suaranya pun
telah meninggi, "Ki Demang, aku minta Ki Demang
memerintahkan kedua orang pengembara itu pergi"
Namun Ki Demang itu menggeleng. "Ki Cakrajaya, aku
bukannya orang yang tidak mengenal terima kasih atas segala
macam pemberian Ki Cakrajaya bagi keluargaku. Tetapi aku
juga ingin melihat kehidupan di padukuhan itu berubah"
"Perubahan itu tidak perlu, Ki Demang. Kehidupan di
padukuhanku sudah cukup tenang dan tenteram. Biarlah
ketenangan itu tidak terusik oleh mimpi-mimpi buruk yang
hanya akan membuat malapetaka saja di padukuhan kami.
Kerja yang sia-sia. Harapan yang kosong yang justru akan
menjerumuskan padukuhan kami ke dalam kemelaratan yang
semakin dalam" "Ki Cakrajaya" berkata Ki Demang, "selama ini aku telah
menjadikan diriku sebagai seekor kerbau yang dicocok hidung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di hadapan Ki Cakrajaya. Aku sudah berbuat banyak bagi
kepentingan Ki Cakrajaya. Tetapi kali ini, beri kesempatan
rakyat padukuhan Ki Cakrajaya itu untuk bangkit. Kebangkitan
padukuhan itu akan memberikan keuntungan pula kepada Ki
Cakrajaya. Ki Cakrajaya dapat memperluas jaring-jaring
perdagangan. Semakin tinggi kesejahteraan rakyat di sekitar
Ki Cakrajaya, maka kebutuhan merekapun akan meningkat.
Dagangan Ki Cakrajayapun akan menjadi semakin laku. Tidak
hanya di pasar-pasar yang sedang ramai di hari pasaran.
Tetapi di rumah pun Ki Cakrajaya akan melayani banyak orang
yang kehidupan mereka menjadi semakin baik"
"Mimpi seperti itulah yang aku maksudkan, Ki Demang.
Daripada mereka merasa menjadi sangat kecewa setelah
mereka terbangun, maka sebaiknya Ki Demang mencegahnya"
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam.
"Ki Demang" berkata Ki Cakrajaya, "jangan menunggu aku
bertindak sendiri. Jika aku sudah memutuskan untuk
mempergunakan kekerasan, maka persoalannya akan
berbeda" "Ki Cakrajaya" berkata Ki Demang, "bukankah Ki Cakrajaya
mempunyai alasan yang lain kecuali yang telah Ki Cakrajaya
katakan?" "Ya. Aku tidak mau kesejahteraan hidup orang-orang di
sekitarku meningkat. Mereka tentu akan meninggalkan
pekerjaannya di rumahku dan di sawahku. Meskipun mereka
malas, tetapi mengupah mereka masih termasuk
menguntungkan. Tenaga dari padukuhan lain, akan terasa
jauh lebih mahal meskipun mereka dapat bekerja lebih cepat
dari orang-orang malas itu"
"Ki Cakrajaya terlalu mementingkan diri sendiri"
"Ya. Aku tidak ingkar. Bahkan aku telah melakukannya
sejak lama" "Tetapi seharusnya Ki Cakrajaya memperhitungkan
kemungkinan lain yang lebih baik"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak. Aku tidak menginginkan satu perubahan apa pun
terjadi di padukuhan ini"
"Jika demikian, bukankah orang-orang yang datang untuk
menangkap kedua pengembara, tetapi justru tiga orang di
antara mereka terbunuh itu, Ki Cakrajaya pula yang
mengirimkan?" "Tidak" Ki Cakrajaya menjawab dengan tegas. "Aku tidak
akan berbuat sebodoh itu. Buat apa aku mengirimkan orang
jika aku mempunyai jalan lain" Bukankah aku dapat berbicara
dengan Ki Demang untuk minta agar anak-anak itu diusir dari
padukuhan kami?" "Ki Cakrajaya, aku akan berusaha untuk memenuhi
keinginan-keinginan Ki Cakrajaya yang lain. Tetapi aku tidak
berani mengusir kedua orang pengembara yang sudah
membuat kesepakatan dengan Ki Bekel. Seperti yang aku
katakan, aku pun sangat berharap, bahwa padukuhan yang
satu itu dapat menyusul ketertinggalannya. Sementara
padukuhan-padukuhan yang lain menjadi semakin sejahtera,
di padukuhan itu masih saja terdengar dengkur orang yang
tertidur lelap, meskipun perutnya lapar"
"Aku adalah satu di antara mereka yang menghendaki
padukuhan itu tertidur terus"
"Maaf, Ki Cakrajaya. Kali ini biarkan padukuhan itu mulai
bangkit. Seperti yang aku katakan tadi, kebangkitan
padukuhan itu akan dapat menumbuhkan pula kemampuan
daya beli mereka. Nah, tentu satu kemungkinan baru untuk
memasarkan barang-barang dagangan Ki Cakrajaya.
Seandainya Ki Cakrajaya belum mulai sekarang, Ki Cakrajaya
dapat memikirkan kemungkinan untuk menjual selain
kebutuhan sehari-hari, juga kain lurik. Bukankah setiap orang
membutuhkannya" Juga alat-alat pertanian yang selama ini
seakan-akan tidak diperlukan karena sawah para penghuninya
menjadi kering" "Ki Demang jangan mengajari aku berdagang. Aku sudah
melakukannya bertahun-tahun. Selain berdagang hasil bumi,
peralatan pertanian, aku juga sudah berdagang kain. Bahkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
aku membawa dagangan kain sutera halus buatan negeri
asing. Perhitungan serta naluriku sebagai pedagang, tentu
lebih tajam dari Ki Demang yang setiap hari hanya mengurusi
orang-orang kademangan yang dungu ini"
"Aku percaya, Ki Cakrajaya. Aku juga tahu bahwa Ki
Cakrajaya seorang pedagang emas, intan, berlian dan batu-
batu permata yang lain. Berdagang wesi aji dan berbagai
macam benda yang bertuah. Tetapi mungkin ada satu hal
yang terlampaui tidak sempat Ki Cakrajaya pikirkan"
"Sudah cukup, Ki Demang" berkata Ki Cakrajaya. "Aku
hanya minta dalam dua atau selambat-lambatnya tiga hari ini,
kedua orang pengembara itu sudah pergi. Atau Ki Demang
tidak usah terkejut jika hubungan kita selama ini diketahui
oleh banyak orang" Ki Demang mengatupkan giginya rapat-rapat. Terasa
dadanya menjadi pepat. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-
apa. Yang kemudian menghentak-hentak di dadanya adalah
penyesalan, bahwa ia sudah menerima banyak pemberian dari
Ki Cakrajaya. Sementara itu, Ki Cakrajaya tidak menunggu lebih lama
lagi. Iapun kemudian bangkit berdiri dan berkata, "Aku minta
diri, Ki Demang. Ki Demang sudah tahu keinginanku. Aku
berharap Ki Demang dapat memenuhinya"
Ki Demang tidak menjawab. Sementara itu, Ki
Cakrajayapun segera meninggalkan rumah Ki Demang itu.
Sepeninggal Ki Cakrajaya, Ki Demang duduk merenungi
dirinya sendiri. Penyesalan semakin terasa menghunjam di
hatinya. Ada niatnya untuk mengusir kedua orang perantau itu
dan tidak memperdulikan keadaan padukuhan yang miskin itu.
Tetapi ternyata nuraninya tidak membenarkannya. "Kenapa
baru sekarang aku dapat mendengarkan kata nuraniku
sendiri?" berkata Ki Demang itu kepada diri sendiri.
Dalam pada itu, di gumuk kecil, Wijang dan Paksi telah
menunjukkan kerja yang harus dilakukan. Wijang dan Paksi
berhasil memaksa dengan caranya, sehingga anak-anak muda
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu bersedia mengusung setumpuk bambu ke dekat gumuk
kecil. Sementara yang lain telah mulai membuat semacam kolam
penampungan air yang mengalir dari atas serta dari sela-sela
batu-batu padas. Ternyata air itu cukup deras sehingga akan
mencukupi untuk mengairi sebulak sawah. Namun untuk
sementara air itu masih harus dialirkan mengikuti jalur alami
yang telah dibuat oleh arus air itu sendiri, sebelum dibuat
sebuah parit yang memadai.
Wijang dan Paksipun telah memberikan beberapa petunjuk,
bagaimana mereka harus membuat talang. Membuat tiang-
tiang penyangga di tanah-tanah yang lekuk. Namun mereka
harus meratakan tanah-tanah yang agak mencuat dari
permukaan. "Kita akan mulai membuat talang air. Sementara sebagian
dari kita masih akan menebang bambu dari hutan di sebelah"
berkata Paksi. Namun ternyata agak di luar dugaan Wijang dan Paksi,
bahwa anak-anak muda itu menjadi gembira dengan kerja
yang mereka lakukan. Pada saat lewat tengah hari, dua orang
telah datang dari padukuhan sambil membawa makan dan
minum bagi anak-anak muda yang sedang sibuk bekerja.
"Kita berhenti sebentar untuk makan" berkata Wijang.
Mereka yang menyiapkan tempat penampungan air dan
mereka yang mengusung bambupun kemudian menghentikan
kerja mereka. Mereka mencuci tangan dan kaki. Kemudian
duduk di bawah pepohonan yang rimbun.
Alangkah nikmatnya makan di bawah pohon yang rimbun
itu. Sekali-sekali mereka mengusap keringat yang masih saja
mengalir di leher dan kening.
Yang mereka makan pada waktu itu tidak berbeda dengan
apa yang mereka makan sehari-hari. Namun rasa-rasanya jadi
lain. Yang mereka makan itu seolah-olah jenis nasi dan sayur
yang belum pernah mereka makan sebelumnya.
Kedua orang yang membawa makan dan minum itupun
telah ikut pula makan bersama anak-anak muda itu. Sekali-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali mereka meneguk air dari dalam gendi. Terasa betapa
segarnya. Tetapi seorang anak muda yang sudah selesai makan
berkata, "Kita tidak kekurangan minum di sini. Air yang
menitik itu rasanya segar sekali. Meskipun udara terasa terik, namun air itu tetap dingin, sehingga ketika melewati
kerongkongan, rasa-rasanya seluruh tubuh telah berendam di
air yang dingin dan sejuk di bawah pepohonan yang rimbun
serta diusap oleh silirnya angin yang lembut"
Kawannya tertawa. Katanya, "Itulah sebabnya, maka mata
ini tiba-tiba saja telah mengantuk"
Namun baru saja mulutnya terkatup, anak muda itu telah
bangkit berdiri sambil berdesis, "Siapa yang sudah
mendengkur ini, he?"
Yang lain pun berpaling. Ternyata seorang anak muda yang
bertubuh tinggi kekurus-kurusan sudah tertidur di atas
rerumputan kering di bawah sebatang pohon waru.
"Bukan main" gumam seorang anak muda yang bertubuh
pendek. "Tetapi mataku ternyata juga sudah ingin terpejam"
"Kalian dapat beristirahat sebaik-baiknya" berkata Paksi.
"Mungkin tidur. Tetapi setelah kalian bangun beberapa saat
lagi, kalian tidak boleh menjadi malas. Kalian harus benar-
benar terbangun untuk bekerja keras lagi"
Dalam pada itu, selagi mereka masih beristirahat, mereka
melihat Ki Bekel berjalan di teriknya sinar matahari ke arah
mereka. "Selamat siang, Ki Bekel" sapa Wijang dan Paksi hampir
bersamaan. "Selamat siang. Selamat siang, anak-anak muda"
"Selamat siang, Ki Bekel" jawab anak-anak muda itu.
Sementara seorang yang lainpun berkata, "Kami baru saja
makan, Ki Bekel. Perut kami telah terisi penuh. Mungkin Ki
Bekel juga belum sempat makan di rumah?"
"Sudah. Aku sudah makan bersama beberapa orang yang
baru saja menguburkan ketiga sosok mayat itu. Aku sudah
kenyang" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Bekel itupun kemudian telah ikut duduk pula di bawah
pohon yang rimbun bersama dengan anak-anak muda yang
sedang beristirahat itu. Ternyata kerja anak-anak muda itu
membuat jantung Ki Bekel bergetar. Ia tidak mengira bahwa
anak-anak yang malas itu mampu menebang dan kemudian
mengumpulkan setumpuk batang bambu serta membuat
tanggul penampungan air. Begitu cepatnya mereka
mengerjakannya. Namun anak-anak muda yang datang itu memang lebih
banyak dari kemarin. Satu perkembangan yang sangat
menggembirakan. "Kami sedang beristirahat, Ki Bekel" berkata Wijang
kemudian. "Silahkan" sahut Ki Bekel. "Aku baru dapat datang kemari
setelah lewat tengah hari. Tadi pagi kami menyelenggarakan
penguburan ketiga orang yang terbunuh, setelah mendapat
persetujuan Ki Demang dan Ki Demang dari Randucawang"
"Kami baru mulai dengan kerja yang sesungguhnya, Ki
Bekel. Baru inilah yang dapat kami kerjakan"
"Menurut pendapatku, kalian bekerja sangat cepat.
Setumpuk bambu dan tanggul yang membujur ini, bukankah
kalian baru mulai pagi tadi?"
"Ya, Ki Bekel" "Aku tidak dapat membayangkan, bagaimana anak-anak
malas ini dapat mengerjakan semuanya ini setengah hari"
"Kami terdiri dari banyak orang, Ki Bekel" sahut Paksi.
"Aku merasa sangat bangga, bahwa anak-anak padukuhan
kami bersedia untuk menempuh jalan kehidupan yang baru.
Aku tidak pernah bermimpi bahwa anak-anak muda yang
malas itu akan bangkit. Mudah-mudahan tidak hanya hari ini
atau hanya dua tiga hari saja. Tetapi untuk seterusnya.
Mudah-mudahan pula banyak anak muda yang tertarik dan
ikut bersama kita yang sudah ada di sini"
"Mudah-mudahan, Ki Bekel. Tanah ini telah dikaruniakan
kepada kita. Kita harus mensukurinya dan memanfaatkannya
dengan baik" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya seakan-akan
ditujukannya kepada dirinya sendiri, "Aku terlambat
menyadarinya. Tanpa goncangan yang kuat, kami tidak
tergerak untuk berbuat seperti sekarang ini. Peristiwa yang
terjadi semalam merupakan tantangan yang justru menuntut


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jawaban kita semua" "Anak-anak muda itu sudah menjawabnya"
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Kepada Wijang dan
Paksi iapun kemudian berkata, "Anak-anak muda, aku minta
kalian tidak hanya dua atau tiga hari saja di sini. Aku ingin
kalian tetap berada di sini. Keberadaan kalian akan banyak
memberikan arti bagi padukuhan kami yang selama ini jauh
tertinggal dari padukuhan-padukuhan lain"
Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Namun
kemudian Wijangpun berkata, "Kami mohon maaf, Ki Bekel.
Kami hanya dapat tinggal di sini untuk dua tiga hari saja. Kami masih harus menempuh perjalanan panjang"
"Bukankah kalian pengembara yang tidak terikat oleh
waktu dan ruang" Kalian dapat berada di mana saja dan
kapan saja tanpa ada bedanya"
Wijang tersenyum. Katanya, "Ki Bekel benar. Tetapi kami
tidak dapat berada di satu tempat terlalu lama. Kami tidak
dapat tinggal lebih dari sepekan"
"Itukah paugeran yang mengikat seorang pengembara?"
"Tidak, Ki Bekel. Tetapi niat kami dalam pengembaraan
kamilah yang telah mengikat kami"
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Sementara Wijangpun
berkata, "Ki Bekel, kami akan mulai membuat talang air.
Sedangkan sebagian lagi masih akan mengumpulkan bambu,
karena kami membutuhkan bambu cukup banyak"
Ki Bekel mengangguk-angguk, sedangkan Paksi berkata
selanjutnya, "Jika kami sudah mulai, maka anak-anak muda
itu tinggal melanjutkannya. Mereka akan dapat melakukannya
sendiri. Apalagi Ki Bekel sendiri telah hadir di arena. Agaknya tidak akan ada kesulitan lagi, Ki Bekel"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Bekel terdiam. Sebenarnyalah bahwa ia merasa kecewa
bahwa anak-anak muda yang mengaku sebagai pengembara
itu akan segera meninggalkan kerja yang baru dimulai itu.
Sebenarnya Wijang sendiri juga ingin melihat air yang
kemudian akan mengalir lewat beberapa jalur talang bambu
dan tumpah di atas tanah yang kering milik Mbah Rejeb.
Tetapi Wijangpun tahu benar bahwa Paksi ingin segera
melanjutkan perjalanan untuk mencari adiknya. Jika mereka
menemukan adik Paksi itu berada di dalam keadaan yang
buruk, maka Paksi akan dapat menyalahkannya, karena
mereka terlalu lama menyusulnya. Karena itu, maka Wijang
tidak dapat menunda-nunda lagi perjalanan mereka.
Dalam pada itu, setelah beristirahat beberapa saat, maka
Wijang dan Paksipun telah mengajak anak-anak muda itu
untuk bangkit dan melanjutkan kerja mereka. Beberapa orang
di antara mereka sempat tertidur. Sementara yang lain mulai
memejamkan mata mereka. Rasa-rasanya memang malas sekali untuk mulai dengan
kerja berat di teriknya matahari, justru setelah mereka
beristirahat di bawah rimbunnya pepohonan. Angin yang
berhembus di padang perdu di kaki gunung itu membuat
anak-anak muda itu seakan-akan terbius.
"Marilah" Ki Bekellah yang bangkit lebih dahulu, "aku akan
ikut bekerja sama kalian"
"Ah, jangan Ki Bekel" cegah Wijang. "Bahwa Ki Bekel hadir
di sini sudah memberikan dorongan yang sangat kuat kepada
kami" "Tidak apa-apa. Aku harus ikut pula mengalami kerja. Sejak
kanak-kanak aku adalah seorang yang malas pula, sehingga
orang tuaku tidak memberikan teladan, apa yang sebaiknya
harus aku lakukan. Nah, sekarang aku mendapat teladan,
bagaimana sebuah padukuhan harus bekerja bagi
kesejahteraan padukuhannya"
Ternyata Ki Bekel memang tidak dapat dicegah.
Disingsingkannya kain panjangnya. Dilepaskan bajunya pula.
Dengan mengenakan caping bambu, Ki Bekelpun mulai ikut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bekerja bersama dengan anak-anak muda yang masih saja
menggeliat dan mengusap matanya.
Tetapi ketika cangkul sudah berada di tangan, maka
merekapun telah kehilangan perasaan kantuk mereka.
Demikian pula mereka yang mengusung bambu dari pinggir
hutan bambu. Wijang dan Paksi sendiri juga mulai dengan kerja mereka
Ia minta Trima dan beberapa orang yang lain untuk
membantu Wijang mulai menggarap talang air dari lajur-lajur
bambu yang sudah ada. Sementara itu, Paksi telah menemani
anak-anak muda yang sedang mengusung bambu. Anak-anak
muda itu masih saja dibayangi oleh ketakutan mereka
terhadap kemungkinan munculnya seekor harimau loreng.
Dengan terampil Wijang memotong bambu yang terhitung
besar. Dilubanginya bambu itu di arah ruasnya untuk
menghilangkan sekat-sekat ruasnya itu.
Agaknya Wijang ingin membuat satu jelujur talang lebih
dahulu. Biarlah kemudian anak-anak muda itu membuatnya
pula. Sementara itu, mataharipun bergerak semakin ke barat.
Semakin lama menjadi semakin rendah. Ketika Wijang dan
Paksi melihat bahwa anak-anak muda yang bekerja bersama
mereka itu menjadi sangat lebih, maka Wijang dan Paksipun
telah menghentikan kerja itu. Kepada anak-anak muda itu,
Wijangpun berkata, "Besok kita mulai lebih pagi lagi.
Malam nanti kita tidur nyenyak. Mudah-mudahan kita tidak
terganggu lagi. Sebelum tidur, gosoklah kaki dan tangan
kalian dengan kencur yang dipipis dengan sedikit beras.
Mudah-mudahan besok kalian merasa segar dan sehat saat
bangun tidur. Apalagi jika kalian bangun pagi-pagi sekali"
Beberapa saat kemudian, gumuk kecil itupun menjadi sepi.
Wijang, Paksi dan anak-anak muda yang bekerja keras untuk
membuat talang air itu sudah kembali ke padukuhan dan
pulang ke rumah masing-masing.
Namun tidak semua orang tua menjadi bangga atas
kesediaan anaknya bekerja keras membuat talang air yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan dialirkan ke sawah Mbah Rejeb itu. Ketika seorang yang
bertubuh agak pendek, kurus dan perutnya buncit pulang,
ayah dan ibunya segera memanggilnya.
"Ke mana saja kau sehari-harian, he?"
"Aku pergi ke gumuk kecil itu, Ayah"
"Ada apa di gumuk kecil?"
"Kami sedang membuat talang air"
"Talang air apa?"
"Kami sedang mencoba untuk mengalirkan air dari gumuk
kecil itu ke bulak sawah yang kering itu. Meskipun tidak
semuanya akan kebagian air, tetapi rasa-rasanya sebagian
besar dari sawah kita akan dapat menjadi basah di segala
musim. Bukan hanya di musim hujan saja kita dapat
menanami sawah kita"
"Bohong. Siapakah yang mengatakannya?"
"Dua orang pengembara. Tetapi Ki Bekel sependapat.
Bahkan Ki Bekel ikut bekerja bersama kami"
"Ternyata kau menjadi semakin sering berbohong, he"
Besok kau tidak usah pergi ke gumuk kecil. Kau ikut ayah
bekerja di rumah Ki Cakrajaya. Besok lusa Ki Cakrajaya akan
mengirim gula kelapa tiga pedati ke pasar Mancawarna. Besok
kita akan menghitung dan menempatkannya ke dalam
keranjang" "Tetapi aku sudah berjanji kepada Trima dan kepada Ki
Bekel, besok aku akan datang ke gumuk kecil itu"
"Jangan dungu. Apakah kau mendapat upah jika kau
bekerja di gumuk kecil itu?"
"Tidak, Ayah" "Nah, jika demikian, kenapa kau pergi juga ke gumuk?"
"Kami bekerja dengan pengharapan bagi masa depan
padukuhan kita ini" "Masa depan" Kau telah terbius oleh janji-janji manis.
Berbeda dengan kerja di rumah Ki Cakrajaya. Kita akan
langsung mendapat upah meskipun hanya sedikit. Tetapi
besok kau perlu makan"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Di gumuk aku juga mendapat makanan, Ayah. Makan
hingga perutku menjadi kenyang sekali"
"Siapa yang memberi makan?"
"Mungkin Ki Bekel"
"Kau jangan membual"
"Tidak, Ayah. Aku tidak membual. Jika aku sekedar
membual, aku akan merasa lapar sekali sekarang ini. Tetapi
rasa-rasanya perutku masih kenyang"
"Persetan dengan kerjamu di gumuk kecil itu. Pokoknya
besok kau harus kerja di rumah Ki Cakrajaya bersamaku"
Anak itu diam. Ia tidak berani membantah lagi. Ayahnya
adalah seorang yang keras hati. Jika ia masih saja
membantah, maka ayahnya akan segera marah. Mungkin
sekali tangannya akan menampar mulutnya itu.
Dengan gelisah anak itupun pergi ke belakang mencari
neneknya di dapur. "Nek" berkata anak itu, "Nenek mempunyai kencur?"
"Kencur" Untuk apa?"
"Aku tadi kerja keras di gumuk kecil, Nek. Aku
dinasehatkan agar tangan dan kakiku diolesi kencur yang
dipipis dengan sedikit beras"
"O, beras kencur, maksudmu?"
"Ya, Nek. Beras dan kencur"
"Aku mempunyai kencur sedikit. Besok kita dapat mencari
di kebun belakang" "Berasnya?" Neneknya termangu-mangu. Dengan nada berat neneknya
itu berkata, "Berasnya tinggal sedikit sekali, Ngger. Besok
beras itu akan dibuat bubur untuk makan adikmu. Untuk kita,
ayahmu sudah menyediakan gaplek yang cukup"
"Sedikit saja, Nek. Beberapa butir"
"Baiklah. Nanti nenek ambilkan. Kau tidak usah berceritera
kepada ayah dan ibumu tentang beras kencur itu. Katakan
saja, kencur itu dipipis dengan sedikit garam"
"Ya, Nek" "Sekarang, mandilah. Tubuhmu akan terasa segar"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam pada itu, ketika anak-anak muda yang ikut ke
gumuk kecil beristirahat untuk melepas lelah yang bagaikan
mencengkam sampai ke tulang, maka Wijang dan Paksi yang
sudah mandi dan berbenah diri, menemui Ki Bekel. Dengan
ragu-ragu Wijangpun bertanya, "Apakah Ki Demang benar-
benar ingin bertemu dengan kami?"
"Ya. Tetapi agaknya kalian masih letih"
"Tidak, Ki Bekel. Kami tidak letih"
"He. Aku yang hanya ikut membantu kerja kalian, itupun
aku mulai setelah matahari sudah turun, merasa sangat letih"
"Seumur Ki Bekel sebaiknya memang sudah tidak
melakukan kerja kasar sebagaimana kami lakukan. Tetapi
berbeda dengan orang-orang seumurku"
"Anak-anak muda yang lain itupun merasa sangat letih.
Bagaimana mungkin kalian tidak?"
"Apakah kami berdua kelihatan letih?"
"Tidak. Itulah yang membuatku heran"
"Ki Bekel, selama ini anak-anak muda padukuhan ini tidak
pernah berbuat apa-apa. Karena itu, maka merekapun akan
cepat merasa letih. Tetapi jika mereka sudah terbiasa dengan
kerja keras, maka mereka tidak akan secepat itu menjadi
letih" Ki Bekel mengangguk-angguk. Sambil tersenyum iapun
menyahut, "Kenapa tidak kau katakan saja, bahwa aku juga
tidak pernah kerja keras?"
Wijang dan Paksipun tersenyum pula. Namun sekali lagi
Wijangpun bertanya, "Apakah kami sebaiknya pergi
menghadap Ki Demang?"
"Kita pergi bersama-sama"
"Tetapi bukankah Ki Bekel merasa letih?"
"Aku memang letih. Tetapi biarlah aku pergi bersama
kalian" Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Bekelpun telah
pergi menemui Ki Demang bersama Wijang dan Paksi. Ketika
mereka sampai di rumah Ki Demang, lampu sudah dinyalakan
di pendapa, pringgitan dan di setiap ruang. Sejenak kemudian,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Bekel, Wijang dan Paksipun telah duduk di pringgitan
ditemui oleh Ki Demang. Namun ternyata betapapun Ki
Demang berusaha untuk menyembunyikan kegelisahannya, Ki
Bekel masih juga dapat merasakannya. Meskipun demikian, Ki
Bekel tidak menyinggungnya.
"Ki Demang" berkata Ki Bekel kemudian, "aku sengaja
datang sambil mengajak kedua orang pengembara
sebagaimana aku katakan. Mungkin Ki Demang ingin berbicara
dengan mereka tentang gagasan mereka mengalirkan air dari
gumuk kecil itu ke sawah kami yang kering. Menurut kedua
pengembara itu, air yang tidak pernah kering yang mengalir
dari celah-celah batu-batu padas serta saluran-saluran yang
terjadi secara alami di sekitar gumuk kecil itu, dapat
dimanfaatkan untuk mengairi sawah"
Ki Demang mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Ki
Demang itupun bertanya, "Apakah kalian berdua dapat
menetap di kademangan ini untuk selanjutnya?"
Wijanglah yang menjawab, "Sayang, Ki Demang, kami
adalah pengembara. Kami tidak dapat tinggal terlalu lama di
satu tempat. Kami sudah mengatakan kepada Ki Bekel, bahwa
kami hanya dapat memulai kerja besar ini. Selanjutnya
terserah kepada anak-anak mudanya. Bahkan kemudian Ki
Bekel sendiri telah turun tangan"
Ki Demang itu mengangguk-angguk kecil. Dengan ragu-
ragu Ki Demang itupun bertanya pula, "Jadi sampai kapan kau
berada di padukuhan itu?"
"Kami akan berada di padukuhan itu dua atau tiga hari lagi,
Ki Demang" "Lalu, sesudah itu kalian akan pergi ke mana?"
"Kami adalah pengembara, Ki Demang. Kami tidak tahu,
langkah kami sampai ke mana"
Adalah di luar sadarnya jika kemudian Ki Demang itu
bertanya, "Jadi, kenapa kalian harus pergi?"
"Aku juga sudah berusaha menahannya. Jika keduanya
tidak dapat tinggal untuk seterusnya, aku berharap mereka
dapat tinggal satu dua bulan saja" sahut Ki Bekel.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Wijang termangu-mangu sejenak. Namun Paksilah yang
menjawab, "Kami mohon maaf, Ki Bekel dan Ki Demang. Kami
tidak dapat tinggal lebih lama lagi. Tetapi kami berjanji, bahwa pada saat lain, jika keadaan mengijinkan, kami akan singgah
lagi di kademangan ini"
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan
jantung Ki Demang terasa menjadi semakin tenang.
"Jika saja kalian dapat tinggal lebih lama lagi" desis Ki
Demang. Wijang tidak menyahut. Ia tahu benar keinginan Paksi.
Sebelum dapat menemukan adiknya maka ia tidak akan dapat
menahan Paksi terlalu lama di suatu tempat. Jika ia
memaksanya, maka Paksi tentu akan meninggalkannya.
"Bahwa aku menyertainya, tidak semestinya aku justru
menjadi penghambatnya" berkata Wijang di dalam hatinya.
Ki Demang yang gelisah itu rasa-rasanya terlepas dari satu
jebakan yang akan dapat menjeratnya. Ki Cakrajaya telah
mengancamnya agar kedua orang pengembara itu diusir dari
kademangan dalam waktu dua atau tiga hari. Jika keduanya
memang ingin pergi, bukankah ia tidak perlu mengusirnya"
Tidak perlu menyakiti hati keduanya yang sudah berniat baik
melahirkan gagasan yang akan sangat berarti bagi padukuhan
yang miskin itu" Tetapi Ki Demang pun tidak dapat
membiarkan mereka tetap berada di kademangannya, karena
jika demikian, Ki Cakrajaya mengancam akan membuka
rahasia Ki Demang, bahwa ia sudah banyak menerima
pemberian dari Ki Cakrajaya. Pemberian yang tentu saja
bukannya tanpa pamrih. Dalam kesempatan itu, Ki Demang justru telah
mengucapkan terima kasih kepada kedua anak muda
pengembara itu. "Sebelum kalian pergi, aku harap kalian
singgah sebentar, anak-anak muda"
Wijang dan Paksi tidak segera menjawab. Sementara Ki
Demang berkata selanjutnya, "Atas nama orang-orang
kademangan ini, aku akan menyampaikan pertanda terima
kasih kami bagi kalian berdua"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ki Demang" berkata Wijang, "bahwa kami diterima dengan
baik di kademangan ini sudah merupakan penghargaan yang
sangat besar bagi kami. Karena itu, Ki Demang tidak usah
memberikan pertanda terima kasih itu kepada kami. Dalam
pengembaraan kami, kenang-kenangan yang seharusnya kami
simpan dengan baik itu, justru akan dapat tercecer di jalan"
"Jangan menolak, anak-anak muda. Mungkin nilainya tidak
seberapa. Tetapi pertanda terima kasih itu kami berikan
dengan tulus" Wijang dan Paksi tidak menyahut. Memang tidak
sepantasnya mereka menolak pemberian dari Ki Demang itu
agar tidak menyinggung perasaannya.
"Datanglah esok sore. Kenang-kenangan itu akan aku
persiapkan esok pagi"
"Terima kasih, Ki Demang"
Ki Bekel tidak menyela. Ia duduk saja sambil tersenyum-
senyum. Namun sebenarnyalah Ki Bekel menjadi curiga. Ki
Demang itu rasa-rasanya telah mendorong agar kedua
pengembara itu segera pergi, meskipun sebagai basa-basi Ki
Demang itu mencoba menahan mereka.
Dalam pada itu, Ki Demang itupun tidak lagi nampak
sangat gelisah. Bahkan kemudian Ki Demang itu lebih banyak
tersenyum dan tertawa. Kata-katanya pun menjadi lancar dan
mengalir seperti gemerciknya air di sungai.
Ki Demangpun kemudian telah menanyakan gagasan
Wijang dan Paksi yang telah berhasil menggerakkan beberapa
orang anak muda, dan bahkan termasuk ki Bekel sendiri.
"Mudah-mudahan Ki Bekel berhasil" berkata Ki Demang
kemudian. "Dengan demikian padukuhan itu tidak akan
semakin jauh tertinggal dari padukuhan-padukuhan yang lain"
"Ya, Ki Demang. Mungkin pada saat-saat sangat diperlukan
kelak, kami akan minta bantuan Ki Demang untuk
menyelesaikan pekerjaan kami"
"Silahkan, Ki Bekel. Jika saja aku dapat membantu, aku
akan membantunya" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beberapa saat lamanya mereka berbincang. Setelah minum
minuman hangat dan makan beberapa potong makanan yang
dihidangkan, maka Ki Bekel, Wijang dan Paksi itupun minta
diri. Demikian mereka sampai di rumah Ki Bekel, maka makan
malam pun telah disediakan. Seperti juga kemarin, sederhana
saja. Dalam pada itu, Ki Bekel masih saja merasa terganggu oleh
sikap Ki Demang. Ki Bekel itu telah mengambil kesimpulan,
bahwa Ki Demang menghendaki agar Wijang dan Paksi segera
meninggalkan kademangan itu. Tetapi Ki Demang sendiri tidak
menantang gagasan untuk membuat saluran air dari gumuk
kecil ke sawah yang kering dan gersang.
"Tentu ada hubungannya dengan Ki Cakrajaya" berkata Ki
Bekel di dalam hatinya. Namun Ki Bekel tidak dapat
membiarkan perasaannya yang berbicara. Ia sadar, bahwa Ki
Demang mempunyai wewenang untuk menggagalkan rencana
pembuatan saluran air itu dengan alasan apapun juga. Karena
itu, maka Ki Bekel itupun harus bersikap sangat berhati-hati.
Setelah makan malam, maka Ki Bekel yang masih saja
berangan-angan tentang saluran air serta sikap Ki Demang
itupun berkata, "Besok kita akan pergi ke gumuk itu pagi-pagi
sekali. Karena itu, sebaiknya kalian berdua beristirahat. Kalian harus menyimpan tenaga kalian dengan sebaik-baiknya bagi
esok" Wijang dan Paksi mengangguk. Dengan nada dalam
Wijangpun menjawab, "Baik, Ki Bekel. Kami akan beristirahat"
Keduanyapun kemudian telah masuk ke dalam bilik yang
diperuntukkan bagi mereka, namun keduanya tidak juga
segera tidur. "Kau rasakan sikap Ki Demang yang agak aneh?" bertanya
Wijang. "Baru kemudian" jawab Paksi.
"Bagaimana menurut pendapatmu?"
"Ki Demang ingin agar kita segera pergi"
"Ya. Tentu ada hubungannya dengan Ki Cakrajaya"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku juga berpendapat demikian. Jika saja aku tidak
sedang memburu adikku, maka aku justru ingin berada di sini
sampai kerja itu selesai"
"Apaboleh buat"
"Tetapi pada kesempatan lain, aku benar-benar ingin
datang kemari" "Aku juga. Kita dapat pergi bersama-sama lagi. Atau
katakan, jika kita pulang ke Pajang, maka jalan di daerah
inipun akan sangat menarik"
Paksi mengangguk-angguk. Namun Wijangpun kemudian
berkata, "Marilah kita tidur. Besok kita akan berada di gumuk
kecil itu lagi" Keduanyapun kemudian telah membaringkan tubuh
mereka. Paksi menarik kain panjangnya, sehingga hampir
menutupi wajahnya. Pagi-pagi sekali keduanyapun telah terbangun. Seperti
biasanya merekapun segera berbenah diri.
Pagi itu, Ki Bekelpun telah bangun pagi-pagi pula. Ketika
Wijang dan Paksi telah selesai dan duduk di serambi, maka Ki
Bekelpun telah berada di pakiwan pula.
Namun Ki Bekel itu menjadi kecewa. Demikian ia bangun,
mandi dan berpakaian, ia ingin menunjukkan bahwa ia pun
dapat bangun lebih pagi dari kedua pengembara itu. Namun
ternyata bahwa Wijang dan Paksi telah duduk di serambi.
"Untunglah bahwa kita tidak bertaruh" desis Ki Bekel.
"Maksud Ki Bekel?" bertanya Wijang.
"Aku telah mandi dan berpakaian dengan tergesa-gesa. Aku
ingin membangunkan kalian dan menyatakan kemenanganku
pagi ini, bahwa aku telah bangun lebih dahulu. Ternyata kalian telah selesai"
Wijang dan Paksi tertawa. Sambil tertawa Paksipun
berkata, "Apakah sebaiknya kami berdua tidur saja lagi agar Ki Bekel sempat membangunkan kami?"
Ki Bekelpun tertawa berkepanjangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pagi itu, ternyata Nyi Bekel dan pembantu di rumah Ki
Bekel itupun telah bangun pagi-pagi pula. Karena itu, sebelum
matahari terbit, maka nasi pun telah masak.
"Kita makan pagi. Baru kita pergi ke gumuk kecil"
Wijang dan Paksi tidak menolak. Merekapun kemudian
duduk di ruang dalam. Lampu minyak di ruang dalam itu
masih menyala meskipun ayam sudah berkotek di halaman.
Demikian mereka selesai maka, maka Ki Bekelpun telah
mengajak mereka berangkat.
"Baru saja kalian selesai makan" berkata Nyi Bekel.
"Beristirahatlah dahulu barang sebentar. Nanti lambung kalian
terasa sakit" Tetapi Ki Bekel menjawab, "Kami akan berjalan perlahan-
lahan saja, Nyi. Bukankah hari masih pagi" Kami tidak
tergesa-gesa" "Jika Ki Bekel tidak tergesa-gesa, kenapa Ki Bekel tidak
duduk saja lebih dahulu?"
"Aku tidak pernah merasakan betapa segarnya berjalan di
pagi hari selagi embun masih menitik dari ujung dedaunan.
Aku tidak pernah melihat saat-saat matahari lepas dari garis
cakrawala" "Terlambat, Ki Bekel" desis Nyi Bekel.
"Kenapa terlambat" Bukankah matahari belum terbit?"
"Maksudku, bukan hari ini. Tetapi seharusnya Ki Bekel
mengajak aku berjalan-jalan menjelang matahari terbit. Tentu
saja tidak sekarang. Tetapi saat-saat kita masih muda"
Ki Bekel tertawa. Katanya, "Apa salahnya kita pergi
sekarang, Nyi?" "Ah, aku belum mandi"
"Kau yang tidak dapat bangun pagi"
"Bukankah aku bangun lebih dahulu dari Ki Bekel" Tetapi
aku segera sibuk di dapur, sehingga aku belum sempat mandi"
Ki Bekel masih tertawa. Katanya, "Sudahlah, kami akan
berangkat" Ketiganyapun kemudian meninggalkan rumah Ki Bekel
menuju ke gumuk kecil yang banyak menyimpan air. Beberapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pohon raksasa tumbuh di sekitar gumuk kecil itu. Namun
pepohonan itu terpisah dari hutan yang memanjang yang
seakan-akan dipagari oleh hutan bambu.
Hari memang masih pagi. Matahari masih berada di balik
cakrawala. Burung-burung liar berkicau bersahutan, seakan-
akan meneriakkan kerinduan mereka terhadap matahari yang
sudah semalam suntuk bersembunyi.
-ooo00dw00ooo- Jilid 36 "JARANG sekali aku melihat saat-saat menjelang matahari
terbit seperti ini" berkata Ki Bekel. "Biasanya aku masih
melingkar di pembaringan. Bahkan sampai matahari hampir
mencapai puncaknya. Jika hari hujan, aku menjadi lebih parah
lagi. Hampir sehari-harian aku berada di dalam bilik sambil
mendengkur" "Ki Bekel dapat menghitung, sampai umur Ki Bekel
sekarang ini, Ki Bekel memerlukan waktu berapa tahun untuk
tidur dan berapa tahun terjaga"
"He?" "Jika kebiasaan Ki Bekel tidur semalam dan separo hari,
berarti tiga perempat masa hidup Ki Bekel berada di
pembaringan. Jika umur Ki Bekel sekarang misalnya empat
puluh lima, maka Ki Bekel telah tertidur selama tigapuluh tiga tahun lebih dan terjaga kurang dari duabelas tahun"
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, "Bukankah itu
berarti bahwa hidupku itu sia-sia?"
"Jika saja Ki Bekel dapat memanfaatkan waktu Ki Bekel
yang pendek itu dengan sebaik-baiknya"
"Ternyata aku telah banyak sekali kehilangan karena
kemalasanku. Demikian pula para bebahu, orang-orang
padukuhanku dan bahkan sebagian besar dari anak-anak
mudanya" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tetapi sekarang Ki Bekel sudah memulainya untuk
memanfaatkan waktu sebaik-baiknya"
Ki Bekel itu tertawa berkepanjangan. Katanya, "Terima
kasih. Selama ini aku tidak pernah memikirkan, berapa tahu
aku tidur dan berapa tahun aku terjaga"
Wijang dan Paksipun ikut tertawa pula.
Sebelum embun tuntas dihisap sinar matahari yang mulai
memancarkan sinarnya yang kekuning-kuningan, Ki Bekel,
Wijang dan Paksi sudah berada di gumuk kecil. Ternyata
anak-anak muda padukuhan itupun benar-benar berusaha
untuk dapat bangun lebih pagi. Meskipun kedatangan Ki Bekel
lebih dahulu dari mereka, tetapi jarak waktunya tidak terlalu
jauh. "Maaf, Ki Bekel" berkata Trima, "kami terlambat. Kami
menunggu yang satu dengan yang lain, sehingga kami
menjadi kesiangan" "Kami juga baru saja datang" berkata Ki Bekel.
"Kita beristirahat sebentar" berkata Wijang kemudian.
"Sebentar lagi kita akan mulai dengan kerja besar kita"
Anak-anak muda itupun kemudian telah duduk di atas batu-
batu padas. Ternyata jumlah mereka bertambah lagi.
Sementara itu anak muda yang bertubuh agak pendek, kurus
dan perutnya buncit ada pula di antara mereka. Anak muda itu
berhasil meyakinkan ayahnya, bahwa air itu akan dapat
menjadi harapan di masa datang bagi padukuhan mereka.
Demikianlah, setelah beristirahat sejenak, maka Wijangpun
telah mengajak kawan-kawannya untuk mulai dengan kerja
mereka. Wijang dan Paksi telah memberikan contoh
bagaimana mereka harus menghilangkan sekat pada ruas-ruas
bambu yang akan mereka pergunakan sebagai talang air.
"Kita membuat satu jalur saja lebih dahulu, Paksi" berkata
Wijang. "Kenapa tidak lima sama sekali?"
"Kita berada di sini hanya sampai esok. Jika kita membuat
lima jalur sekaligus, tentu tidak akan selesai. Tetapi jika kita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membuat satu sebagai contoh sehingga talang itu benar-benar
mengalir, mereka akan dapat meneruskannya sendiri"
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil
mengangguk-angguk berkata, "Baiklah. Aku mengerti. Ki


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Demang nampaknya juga ingin agar kita pergi. Tetapi tanpa
kita, anak-anak muda itu akan dapat bekerja sendiri"
Demikianlah atas kesepakatan itu, maka Wijangpun telah
memberitahukan kepada anak-anak muda itu untuk
menyelesaikan satu jalur saja lebih dahulu.
"Kenapa tidak seluruhnya saja?" bertanya Trima.
"Kita akan membuat contohnya lebih dahulu. Jika besok
kami meneruskan pengembaraan kami, maka kalian akan
dapat membuat jalur-jalur yang lain. Bahkan mungkin kalian
tidak hanya ingin membuat lima. Tetapi lebih dari itu. Bahkan
kemudian kalian dapat membuat parit yang cukup besar"
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Namun
Trimapun kemudian bertanya, "Kenapa kau tidak tinggal di sini
lebih lama lagi sehingga setidak-tidaknya kerja kami yang
mula-mula ini selesai seluruhnya?"
"Sebenarnya aku sangat ingin untuk tinggal beberapa lama
di sini. Tetapi ada sesuatu yang memaksa kami pergi"
"Ki Cakrajaya?"
"Tidak. Seandainya Ki Cakrajaya menginginkan aku pergi,
aku dapat saja menolaknya. Tetapi ada persoalan yang harus
kami selesaikan" Anak-anak muda itu memang tidak akan dapat menahan
kedua orang pengembara itu untuk lebih lama tinggal. Hari
itu, Wijang dan Paksi bersama-sama anak-anak muda yang
jumlahnya semakin banyak itu telah bekerja keras untuk
membuat satu jalur talang air sampai ke sawah Mbah Rejeb.
Mereka mempunyai waktu dua hari dengan hari berikutnya,
hari terakhir Wijang dan Paksi berada di padukuhan itu. Hari
itu, sebagian besar dari satu jalur talang air sudah siap. Esok mereka tinggal merangkai sehingga air akan mengalir di
sawah Mbah Rejeb. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ternyata anak-anak muda itu justru menjadi semakin
gembira dengan kerja mereka. Sebagian dari mereka masih
sempat bermain dengan air. Di teriknya panas matahari, maka
air itu dapat membuat mereka menjadi sedikit sejuk.
Seperti di hari sebelumnya, di tengah hari mereka
beristirahat untuk makan. Ki Bekel yang ada di antara mereka,
ikut makan pula dengan lahapnya. Meskipun hanya sekedar
sayur keluwih serta buntil lompong ungu, namun terasa
alangkah nikmatnya. Ketika bayangan pepohonan sudah
menjadi semakin panjang karena matahari yang menjadi
semakin rendah di sore hari, maka Wijangpun bertanya
kepada Ki Bekel, "Sebentar lagi matahari akan terbenam.
Apakah kita akhiri kerja kita hari ini, Ki Bekel?"
Ki Bekel mengerutkan dahinya. Ditengadahkannya
kepalanya sambil berdesis, "Begitu cepatnya matahari
mengarungi langit hari ini"
Seorang anak muda yang berdiri di sebelahnya pun
memandang langit sambil berkata, "Hari ini terasa terlampau
pendek. Aku belum merasa letih"
Paksi tersenyum sambil menyahut, "Agaknya kerja ini
semakin terasa menarik, sehingga kalian menjadi lupa waktu"
Seorang anak muda yang lainpun berkata, "Berbeda
dengan kemarin. Rasa-rasanya hari ini memang terlalu
pendek" Wijanglah yang menyahut, "Kita simpan tenaga kita untuk
esok. Esok kita akan bekerja lagi sepanjang hari. Jika lusa
kami pergi meninggalkan padukuhan ini, maka kalian masih
akan melanjutkan kerja ini. Bukan sekedar membuat talang air
empat atau lima lanjur, tetapi arah pandangan ke depan
kalian adalah sebuah parit yang cukup besar. Parit kalian yang rusak itu akan dapat menampung air dan membawanya ke
tengah-tengah bulak setelah kalian perbaiki"
Anak-anak muda yang bekerja membuat talang air itupun
kemudian menghentikan kerja mereka. Merekapun kemudian
membersihkan tangan dan kaki mereka dengan air yang
bening dan segar. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Besok kita datang pagi-pagi seperti hari ini" berkata Paksi.
"Kami akan datang lebih pagi" berkata seorang anak muda.
Yang lain pun menyambung, "Kita harus menyelesaikan
talang air yang satu itu sebelum kalian pergi"
"Bagus" sahut Ki Bekel. "Besok kalian harus datang lebih
pagi dari kami" Demikianlah sejenak kemudian, Ki Bekel serta anak-anak
muda yang bekerja di gumuk kecil itupun telah meninggalkan
kerja mereka untuk dilanjutkan di keesokan harinya.
Berbeda dengan hari sebelumnya, hari itu mereka tidak
merasa lelah sama sekali. Bahkan mereka merasa bahwa kerja
mereka terlalu pendek. Tetapi seperti kemarin, Wijang
berpesan agar anak-anak muda itu menggosok kaki dan
tangannya dengan beras kencur.
"Tubuh kalian akan terasa hangat. Darah kalian akan
mengalir dengan lancar sehingga perasaan letih akan hilang,
setidak-tidaknya berkurang"
Wijang dan Paksi sendiri, demikian mereka sampai di
rumah Ki Bekel, merekapun langsung pergi ke pakiwan.
Bergantian mereka mandi dan menimba air mengisi
jambangan. Setelah berbenah diri, maka merekapun pergi ke serambi
samping. Mereka tahu, Ki Bekel sedang duduk-duduk di
serambi samping sambil minum minuman hangat.
"Kalian sudah mandi?" bertanya Ki Bekel.
"Sudah, Ki Bekel" jawab Wijang setelah duduk pula di
serambi. "Keringatku belum kering. Karena itu aku belum mandi"
Paksilah yang menjawab, "Ki Bekel minum wedang jahe
yang masih panas. Keringat Ki Bekel tidak akan segera kering.
Justru akan menjadi semakin banyak"
Ki Bekel tertawa. Katanya, "Masih ada sisa-sisa kemalasan.
Minumlah, anak-anak muda. Biarlah Nyi Bekel menyediakan"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sudah, Ki Bekel. Di serambi gandok sudah disediakan
minuman kami" "Benar?" "Ya, Ki Bekel" "Nah, duduklah. Biarlah kalian minum bersamaku di sini"
"Terima kasih, Ki Bekel. Kami justru akan mohon diri untuk
pergi ke rumah Ki Demang. Bukankah hari ini kami diminta
untuk datang" Ki Demang akan memberikan kenang-
kenangan. Sebenarnya kami masih belum dapat menerima
kenang-kenangan itu sekarang, karena kami masih akan
melanjutkan pengembaraan. Kenang-kenangan itu apa pun
ujudnya, akan menjadi beban bagi kami. Tetapi adalah tidak
sepantasnya kami menolak uluran tangan itu"
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia
berkata kepada Wijang dan Paksi, bahwa pemberian kenang-
kenangan itu hanya satu cara untuk mempercepat kepergian
kedua orang pengembara itu. Tetapi Ki Bekel sempat
menahan diri. "Baiklah" berkata Ki Bekel. "Sampaikan kepada Ki Demang,
Bahwa aku minta maaf karena aku tidak dapat mendampingi
kalian. Aku masih ingin bermalas-malasan duduk sambil
minum minuman hangat"
"Asal tidak sampai esok pagi" desis Paksi.
Ki Bekel tertawa. Wijang dan Paksipun tertawa pula. Ketika
langit menjadi buram, Wijang dan Paksi telah meninggalkan
rumah Ki Bekel. Mereka berjalan menyusuri jalan padukuhan.
Kemudian melalui bulak pendek, mereka mencapai padukuhan
induk. Ternyata Ki Demang sudah menunggu. Bahkan Ki Demang
sempat merasa gelisah. Jika kedua pengembara itu tidak
datang ke rumahnya, mungkin sekali mereka akan menunda
kepergiannya dari padukuhan yang kering dan gersang itu.
Namun demikian seorang pembantunya memberitahukan
bahwa ada dua orang anak muda yang mencari Ki Demang,
maka Ki Demangpun segera mengetahuinya, bahwa keduanya
adalah pengembara yang harus diusirnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika Wijang dan Paksi dipersilahkan duduk di pringgitan,
maka pembantu di rumah Ki Demang itu sedang sibuk
menyalakan lampu minyak di pringgitan, di pendapa, dan di
setiap ruangan di rumah Ki Demang itu.
Sejenak kemudian, maka Ki Demangpun telah menemui
kedua orang pengembara itu di pringgitan. Dengan ramah Ki
Demang itupun bertanya, "Apakah kalian jadi pergi esok
pagi?" "Kami akan melanjutkan perjalanan lusa, Ki Demang. Besok
kami masih harus menyelesaikan contoh talang yang harus
dibuat oleh anak-anak muda padukuhan yang gersang itu"
Ki Demang mengerutkan dahinya. Katanya, "Jadi kalian
belum akan pergi esok pagi?"
"Belum, Ki Demang"
Ki Demang mengerutkan dahinya. Ada sesuatu yang
melintas di kepalanya. Tetapi terbendung ketika akan
meluncur lewat bibirnya. Wijang dengan latar belakang kehidupannya di istana
menanggapi sikap Ki Demang itu dengan matang. Justru
karena itu, maka iapun bertanya, "Apakah Ki Demang
berkeberatan?" "Tidak. Tidak" jawab Ki Demang dengan serta-merta.
"Sebaiknya Ki Demang berterus-terang, apakah Ki Demang
menghendaki kami pergi esok?"
Wajah Ki Demang menjadi tegang. Sementara Wijang
berkata selanjutnya, "Mungkin Ki Cakrajaya telah mengusulkan
kepada Ki Demang. Bahkan mungkin dengan agak memaksa"
"Tidak. Tidak" suara Ki Demang justru mulai menurun.
"Ki Demang" berkata Wijang, "besok lusa kami benar-benar
akan meninggalkan padukuhan itu. Aku tidak ingin menjadi
sumber keributan di sini. Tetapi aku mohon Ki Demang jangan
membatalkan rencana pembuatan talang air itu"
Ki Demang termangu-mangu sejenak. Ketika ia
memandang wajah Wijang sekilas, ia melihat betapa tajam
sorot mata pengembara itu. Bahkan dari mata itu seakan-akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah memancar sinar bagaikan sinar kilat yang menyambar
jantungnya. "Orang ini bukan orang kebanyakan" berkata Ki Demang di
dalam hatinya. "Ki Demang" berkata Wijang, "padukuhan itu sudah terlalu
lama menderita. Miskin, kering dan tandus. Karena itu, sudah
waktunya untuk bangkit dari derita yang berkepanjangan.
Mungkin kebangkitan rakyat padukuhan itu tidak
menyenangkan Ki Cakrajaya, karena Ki Cakrajaya merasa
berkepentingan dengan kemiskinan tetangga-tetangganya.
Adalah kebetulan bahwa para bebahu dan rakyat padukuhan
itu seakan-akan telah dijangkiti penyakit aneh. Semuanya
orang-orang yang malas. Tidak seorang pun di antara mereka
yang sempat melihat jalan keluar dari kemiskinan itu"
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak
segera dapat menyahut. Bahkan Wijang masih saja berkata,
"Seandainya kami tidak mempunyai kepentingan yang lain,
maka kami tidak akan segera pergi, meskipun Ki Demang
menghendaki. Aku akan tinggal lebih lama lagi untuk
mengajak orang-orang padukuhan itu bangun dari tidur yang
panjang meskipun selalu dibayangi oleh mimpi buruk"
Ki Demang menjadi gelisah. Sekilas ia memandang wajah
Wijang dan Paksi berganti-ganti. Bahkan hampir di luar
sadarnya, Ki Demang itupun bertanya, "Siapakah kalian
berdua sebenarnya?" "Kami adalah dua orang bersaudara yang mengembara.
Bukankah kami sudah mengatakannya?"
"Aku percaya, bahwa kalian adalah pengembara. Tetapi
yang aku tanyakan, siapakah kedua orang yang mengembara
itu" Alasan pengembaraannya dan apakah tujuannya?"
"Sudahlah, Ki Demang. Tidak ada gunanya Ki Demang
mengetahui siapa kami. Yang penting, kami akan pergi dari
kademangan ini. Tetapi sekali lagi aku minta, jangan hentikan
kerja anak-anak muda itu. Semakin lama mereka menjadi
semakin tertarik dengan kerja mereka. Jumlah mereka pun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi semakin banyak. Mudah-mudahan besok menjadi
lebih banyak lagi" Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja
suaranya menjadi parau, "Aku merasa sangat bersalah, anak-
anak muda" "Kenapa?" "Aku tidak berbuat apa-apa terhadap padukuhan yang
miskin itu. Bahkan aku telah ikut serta menghimpit padukuhan
itu agar tetap menjadi miskin, meskipun setiap kali muncul
juga keinginanku untuk berbuat sesuatu yang berarti. Sebagai
seorang demang aku bermimpi agar padukuhan itu menjadi
hijau subur. Bahkan kadang-kadang terbersit pula niatku
untuk melakukan sesuatu. Tetapi setiap kali rencanaku
terbentur oleh kerakusanku sendiri. Setiap kali Ki Cakrajaya
datang dengan membawa sesuatu bagiku. Kemudian
memperbaiki rumahku. Membuat rumahku ini menjadi
sebagus sekarang ini. Ki Cakrajaya pula yang membawa
seseorang untuk mewarnai ukiran pada gebyok, tiang dan
uleng di pendapa pringgitan itu. Bahkan lama-lama aku
menerima pemberian uangnya. Dengan demikian aku telah
terbelenggu" Ki Demang itu berhenti sejenak.
Wajahnya nampak murung. Dengan suaranya yang parau
iapun berkata selanjutnya, "Namun semakin lama hal ini
menjadi beban perasaan yang semakin berat. Bahkan
kemudian telah menghimpitku. Aku tidak dapat
mengatakannya kepada rakyatku, terutama dari padukuhan
miskin itu" Wijang dan Paksi saling berpandangan sejenak. Dengan
nada dalam Wijangpun berkata, "Ki Demang, masih ada waktu
untuk membetulkan kesalahan itu"
Ki Demang tidak segera menjawab. Pandangan matanya
menerawang ke tempat yang jauh, menembus keremangan
malam. "Apakah aku masih akan dapat memperbaiki kesalahanku?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kenapa" Jika Ki Demang membantu kerja anak-anak muda
itu, maka Ki Demang sudah memperbaiki sebagian besar dari


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kesalahan yang pernah Ki Demang lakukan"
"Tetapi Ki Cakrajaya telah mengancamku. Ia akan
membuka rahasia itu"
"Sebaiknya Ki Demang mengakuinya. Bahkan sebaiknya Ki
Demang mengatakan lebih dahulu kepada rakyat di daerah
yang miskin dan malas itu, bahwa Ki Demang memang telah
mengumpulkan uang dari mereka"
Ki Demang termangu-mangu sejenak. Sementara
Wijangpun berkata selanjutnya, "Ki Demang dapat berterus
terang, bahwa Ki Demang telah mendapat uang dan
pemberian berbagai macam barang dari Ki Cakrajaya yang
asalnya justru dari kemiskinan di padukuhan itu. Sekarang Ki
Demang datang untuk mengembalikannya kepada padukuhan
yang miskin itu lewat pembuatan parit untuk mengalirkan air
dari gumuk kecil itu"
"Ki Demang" berkata Wijang kemudian, "biarlah besok lusa
aku pergi. Bukankah itu tuntutan sementara Ki Cakrajaya"
Sementara itu, biarlah Ki Bekel dan anak-anak mudanya
menyelesaikan talang air itu. Jika mereka sudah melihat bukti, bahwa air dapat mengaliri sawah yang kering milik Mbah
Rejeb, maka mata rakyat padukuhan itu akan terbuka. Apalagi
jika Ki Demang sendiri turun ke padukuhan itu. Untuk itu Ki
Demang tidak perlu tergesa-gesa. Ki Demang perlu membuat
perhitungan yang tepat. Ki Demang dapat berbicara dengan Ki
Bekel. Aku yakin bahwa Ki Bekel itu dapat diajak berbicara.
Satu-satunya kelemahan Ki Bekel adalah kemalasannya itu"
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Ya. Yang
sekarang diinginkan oleh Ki Cakrajaya adalah kepergian kalian
berdua" "Ki Cakrajaya mengira, jika kami berdua pergi, maka kerja
di gumuk kecil itu akan berhenti dengan sendirinya. Tetapi
setelah Ki Bekel ikut campur, maka keadaannya akan berbeda"
Ki Demang mengangguk-angguk. Anak-anak muda
pengembara itu telah memberikan jalan baginya. Meskipun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak tepat benar, namun pendapat anak-anak itu dapat
dipergunakan untuk mempertimbangkan langkah-langkah
yang akan diambilnya. Yang penting bagi Ki Demang, ia ingin terlepas dari belitan
suap yang pernah diberikan oleh Ki Cakrajaya. Dengan nada
berat Ki Demangpun kemudian berkata, "Aku mengucapkan
terima kasih, anak muda. Mudah-mudahan aku menemukan
jalan terbaik bersama Ki Bekel. Tetapi aku sudah bertekad
untuk membebaskan diri dari jeratan Ki Cakrajaya apa pun
akibatnya. Mungkin aku akan dipermalukan di depan orang
banyak. Bahkan mungkin akan berakibat buruk bagi
jabatanku. Tetapi aku sudah memutuskan"
"Seandainya demikian, Ki Demang, bantuan Ki Demang
bagi saluran air itu akan mengembalikan nama baik Ki
Demang. Meskipun seandainya, jabatan Ki Demang sudah
terlanjur terlepas, namun nama Ki Demang tidak lagi
tercemar" "Aku mengerti, anak muda. Tetapi tolong, jangan buka
rahasia ini. Biarlah pada saatnya aku sendiri yang
mengatakannya kepada rakyatku. Mudah-mudahan
sepeninggal kalian berdua, aku masih mempunyai waktu,
karena tuntutan sementara Ki Cakrajaya sudah terpenuhi"
"Tentu, Ki Demang. Kami tidak akan mengatakannya
kepada siapapun. Juga tidak kepada Ki Bekel. Biarlah pada
saat yang tepat, Ki Demang sendiri yang menyampaikannya"
"Terima kasih, anak muda. Kedatanganmu memberikan
terang di kademangan ini, khususnya di padukuhan miskin itu.
"Ki Demang itu berhenti sejenak, namun kemudian ia bertanya
pula, "Jika kalian tidak berkeberatan, apakah aku boleh tahu,
siapakah kalian berdua?"
"Itu tidak penting, Ki Demang. Barangkali ada sedikit dari
niat kami melakukan pengembaraan ini yang Ki Demang boleh
mengetahuinya. Kami melacak segerombolan orang yang lari
dari padepokannya. Kami mempunyai kepentingan dengan
mereka. Aku dengar, bahwa seorang perampok di sebuah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
padukuhan mirip dengan ciri-ciri orang yang sedang kami
lacak" "O. Kalian prajurit Pajang?"
Wijang menggeleng. Katanya, "Bukan, Ki Demang. Kami
mempunyai kepentingan khusus. Tetapi yang kami lakukan ini
sepengetahuan para pejabat di Pajang. Jika perlu, kami
memang dapat memanggil sepasukan prajurit untuk
membantu tugas kami"
Ki Demang mengangguk-angguk. Nampaknya ada sesuatu
yang tergerak di hatinya. Tetapi Ki Demang itu nampak ragu-
ragu untuk mengatakannya. Wijang yang panggraitanya cukup
tajam itupun berkata, "Ki Demang, jika ada sesuatu yang ingin
Ki Demang katakan, katakanlah. Tidak apa-apa"
Ternyata wibawa Wijang telah mencengkam jantung Ki
Demang. Tiba-tiba saja Ki Demang merasa bahwa ia harus
menghormati kedua orang pengembara itu. Bahkan Ki
Demang itu merasa seolah-olah ia berhadapan dengan
pemimpinnya. "Anak muda" berkata Ki Demang kemudian, "jika aku
mengalami kesulitan, apakah kalian dapat membantu"
Maksudku, jika terjadi kekerasan yang dilakukan oleh Ki
Cakrajaya. Ia mempunyai beberapa orang upahan yang akan
dapat menakut-nakuti orang sekademangan"
"Tentu, Ki Demang. Tetapi jika aku tidak berada di
kademangan ini, tentu aku tidak mengetahui kapan Ki
Demang itu mengalami kesulitan. Namun aku akan berusaha
pada kesempatan lain datang lagi ke kademangan ini"
Ki Demang itupun mengangguk-angguk. Sementara itu
Wijangpun berkata selanjutnya, "Untuk mengatasi orang-
orang upahan Ki Cakrajaya, Ki Demang dapat berbicara
dengan para bebahu. Jika tiba saatnya Ki Demang berterus-
terang, hadapi mereka dengan Ki Bekel di padukuhan yang
terpencil itu" "Ya, anak muda. Aku akan melakukannya di saat yang
tepat" berkata Ki Demang sambil menundukkan wajahnya.
Agaknya penyesalan yang dalam telah menekan perasaannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beberapa saat mereka saling berdiam diri. Wijanglah yang
kemudian berkata, "Ki Demang, kami datang memenuhi
kesanggupan kami untuk datang hari ini. Kami juga ingin
memberitahukan bahwa kami akan meninggalkan
kademangan ini besok lusa. Agaknya kami tidak sempat
datang lagi untuk minta diri kepada Ki Demang. Karena itu,
maka kedatangan kami sekarang sekaligus untuk minta diri"
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, "Aku berjanji
untuk sekedar memberikan kenang-kenangan kepada kalian
berdua. Sebenarnyalah jika hal itu aku katakan kemarin,
karena aku ingin kalian segera pergi dari kademangan ini. Ki
Cakrajaya mendesaknya dan mengancam akan membuka
rahasiaku jika aku tidak melakukannya"
"Keinginan Ki Cakrajaya itu akan terpenuhi. Aku hanya
menunda sehari saja. Ia tidak akan berkeberatan"
"Kenang-kenangan ini juga disediakan oleh Ki Cakrajaya.
Tetapi sebenarnya aku merasa segan untuk mengatakannya
setelah aku mengenal kalian lebih banyak"
"Apakah ujud kenang-kenangan itu, Ki Demang?"
"Uang. Dan tidak seberapa. Ki Cakrajaya selalu menilai
segala sesuatunya dengan uang. Ia telah meninggalkan
beberapa keping uang yang menurutnya sangat kalian
perlukan di perjalanan"
Wijang tersenyum. Katanya, "Aku mengucapkan terima
kasih, Ki Demang. Tetapi biarlah aku titipkan uang itu kepada
Ki Demang. Barangkali uang itu akan dapat membantu kerja
anak-anak muda di padukuhan yang miskin itu. Mungkin untuk
membeli beras atau sayuran dan lauknya. Mungkin hanya
cukup untuk satu hari. Tetapi yang satu hari itu akan sangat
berarti untuk menebalkan tekad kerja mereka. Meskipun
selama ini Ki Bekel menyatakan kesanggupannya untuk
menyediakan makan bagi mereka yang bekerja. Tetapi jika
yang bekerja menjadi semakin banyak serta untuk waktu yang
panjang, maka Ki Bekel akan mengalami kesulitan. Apalagi
nampaknya Ki Bekel sendiri bukan seorang yang
berkecukupan" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik, anak muda. Sekali lagi aku berterima kasih. Aku
yakin bahwa di dalam pengembaraan kalian, kalian tidak akan
kekurangan bekal. Bukan saja uang yang disediakan oleh Ki
Cakrajaya itu saja. Aku pun akan dapat membantu Ki Bekel.
Mungkin aku mempunyai beras lebih banyak dari Ki Bekel.
Aku pun mempunyai uang lebih banyak. Di antaranya adalah
uang pemberian Ki Cakrajaya itu"
"Dengan demikian kami menjadi semakin berpengharapan,
bahwa air itu pada saatnya akan mengalir. Padukuhan itu
akan menjadi lebih hijau dan sebagian besar dari sawah yang
ada di padukuhan itu akan dapat ditanami di sepanjang
musim. Sedikitnya panen dua kali setahun dan satu selingan
palawija. Sementara itu, mereka yang sawahnya tidak sempat
dialiri karena keadaan alam yang belum teratasi, setidak-
tidaknya akan dapat bekerja dan membantu tetangganya yang
karena nasibnya yang lebih baik, sawahnya menjadi basah. Di
musim panen mereka dapat ikut menuai padi dengan bawon
yang pantas untuk menyambung hidup mereka dari musim
paceklik ke musim yang lebih baik"
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, "Mudah-
mudahan bukan sekedar harapan, anak muda"
"Baiklah" berkata Wijang kemudian, "aku dan adikku minta
diri. Besok lusa kami akan meninggalkan padukuhan kering
itu. Namun aku minta ijin untuk bertemu dengan Ki Bekel dari
padukuhan yang telah mengalami perampokan itu"
"Apakah Ki Bekel itu harus aku panggil sekarang?"
"Bukankah ia tinggal di padukuhan lain?"
"Tidak apa-apa. Jika perlu, aku akan memanggilnya. Biarlah
pembantuku pergi ke rumah Ki Bekel"
"Terima kasih, Ki Demang. Biarlah besok lusa, dalam
perjalananku meninggalkan kademangan ini, aku akan
singgah. Jika Ki Demang memanggil Ki Bekel untuk
kepentingan kami para pengembara, mungkin Ki Bekel akan
merasa tersinggung meskipun yang memanggil Ki Demang.
Bahkan mungkin dapat menimbulkan pertanyaan yang tidak Ki
Demang inginkan sehubungan dengan rencana Ki Demang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk membuka diri pada waktu yang Ki Demang anggap
tepat" Ki Demang mengangguk pula. Katanya, "Baiklah, anak
muda. Silahkan besok menemui Ki Bekel. Tetapi karena Ki
Bekel agaknya tidak tahu siapakah sebenarnya kalian, ia akan
menganggap bahwa kalian adalah pengembara sebagaimana
kebanyakan pengembara. Mungkin sikapnya akan
mengecewakan kalian"
"Bukankah kami juga pengembara sebagaimana
pengembara yang lain" Mungkin pertanyaan kami tentang
sekelompok orang yang merampok di padukuhan Ki Bekel itu
akan dapat membuka pengenalan Ki Bekel terhadap kami,
sehingga kami adalah dua orang pengembara yang
mempunyai kepentingan yang khusus"
"Ya, anak muda. Mudah-mudahan usaha kalian dapat
berhasil. Meskipun aku tidak tahu pasti, persoalan apa yang
sebenarnya telah terjadi, tetapi aku justru yakin, bahwa kalian adalah bagian dari pimpinan pemerintahan di Pajang"
Wijang tersenyum. Sementara Ki Demangpun berkata
selanjutnya, "Jika kalian adalah dua orang kakak beradik yang
mengembara sebagaimana para pengembara yang lain, kalian
tidak akan tertarik kepada kemiskinan di padukuhan kering itu.
Kalian tidak akan menurunkan gagasan yang sangat berani
bagi padukuhan itu" Wijang tersenyum. Katanya, "Sudahlah. Kita akan saling
berdoa, semoga yang kita lakukan itu akan mendapat
bimbingan dari Yang Maha Agung"
"Ya, anak muda. Kita akan saling berdoa"
Demikianlah, beberapa saat kemudian, Wijang dan
Paksipun minta diri untuk kembali ke rumah Ki Bekel sekaligus
minta diri bahwa esok lusa mereka akan melanjutkan
pengembaraan mereka. Ketika mereka sampai di rumah Ki Bekel di padukuhan yang
miskin itu, Ki Bekel sudah berada di biliknya. Ki Bekel memang ingin segera tidur agar besok dapat bangun pagi-pagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wijang dan Paksi tidak berusaha menemuinya. Ketika
mereka melihat di ruang dalam lampu sudah menjadi redup,
maka merekapun langsung pergi ke bilik mereka di gandok.
"Apakah Ki Bekel tidur tanpa mandi lebih dahulu?" desis
Paksi. "Ah, tentu tidak. Bukankah kita agak lama berbincang di
rumah Ki Demang" sahut Wijang.
Ketika keduanya membuka pintu bilik mereka di gandok,
mereka tertegun. Mereka melihat di dalam bilik mereka telah
tersedia makan malam mereka. Agaknya Ki Bekel sudah terlalu
lama menunggui, sehingga akhirnya Ki Bekel itu makan lebih
dahulu sebelum pergi ke bilik tidurnya.
"Kita memang belum makan malam" desis Wijang.
Paksi mengangguk-angguk. Iapun kemudian duduk di
amben panjang sambil meraih mangkuk untuk menyendok
nasi sebagaimana Wijang. "Kita cuci mangkuknya di sumur saja sambil mencuci kaki
dan tangan" berkata Paksi.
"Yang lain" Mangkuk yang masih berisi sayur serta ceting
nasinya yang masih tersisa?"
"Biarlah di situ saja"
Keduanyapun kemudian pergi ke sumur untuk mencuci
mangkuk, sekaligus mencuci kaki dan tangan mereka.
Seperti biasanya keduanya bangun pagi-pagi sekali. Tetapi
hari itu, Ki Bekelpun bangun lebih pagi. Meskipun demikian
ketika Ki Bekel pergi ke pakiwan, Paksi yang sedang menimba
air itu ternyata sudah mandi lebih dahulu.
"Jadi hari ini aku masih kalah lagi" berkata Ki Bekel.
Paksi tertawa. Katanya, "Ki Bekel harus berpacu lebih cepat
untuk dapat mengalahkan kami"
"Dengan demikian, maka aku sudah tidak mempunyai
kesempatan lagi untuk memenangkannya. Aku tidak yakin
bahwa besok pagi, aku dapat bangun lebih pagi. Kecuali jika
kalian sengaja bangun lebih siang dan tidak segera berangkat"
Paksi masih saja tertawa. Katanya, "Apakah kami harus


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

memberi satu kesempatan pada hari kami yang terakhir?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Bekelpun tertawa pula.
Setelah selesai berbenah diri serta makan pagi, maka
ketiganyapun telah berangkat ke gumuk kecil. Kepada Nyi
Bekel, Ki Bekelpun berpesan, "Jika ada orang mencari aku,
biarlah Ki Kamituwa menyelesaikan masalahnya, kecuali
masalah pribadi. Hanya jika persoalannya tidak terpecahkan,
biarlah Ki Kamituwa menyusul aku ke gumuk kecil"
"Baik, Ki Bekel" jawab Nyi Bekel.
Ternyata ketiganya sampai ke gumuk kecil lebih pagi sedikit
dari sehari sebelumnya. Mereka datang hampir bersamaan
dengan kedatangan Trima dan dua orang anak muda yang
lain. Baru kemudian yang lain menyusul.
Sebagaimana harapan Wijang dan Paksi, ternyata yang
datang menjadi lebih banyak lagi. Dua orang anak muda yang
sebelumnya tidak nampak, pagi itu datang bersama kawan-
kawannya ke gumuk kecil itu.
"Selamat datang" berkata Ki Bekel. "Di sini kita sedang
membangunkan sebuah harapan. Berhasil atau tidak, itu
persoalan nanti. Yang penting kita sudah berbuat sesuatu
dengan pertimbangan dan perhitungan yang mapan. Bukan
asal saja melakukan sesuatu yang mungkin sia-sia. Jika yang
kita kerjakan ini juga sia-sia dan harapan kita terlepas,
apaboleh buat. Itu berarti bahwa otak kita masih belum cukup
tajam untuk merencanakan kerja yang dapat menjanjikan hari
depan yang lebih baik. Meskipun demikian, kita sudah
mendapatkan satu pengalaman yang akan dapat kita
kembangkan di kemudian hari"
Kedua orang anak muda yang baru datang itu
mengangguk. Seorang di antaranya berkata, "Aku mohon
maaf, Ki Bekel. Bahwa aku telah terlambat mengambil bagian
dalam kerja ini. Meskipun mungkin tenaga dan kemampuan
kami tidak berarti apa-apa, tetapi kesediaan kami untuk ikut,
merupakan kepedulian kami terhadap kampung halaman kita"
"Tidak ada yang terlambat. Yang datang kemudian pun
tidak terlambat. Kerja masih panjang. Mungkin masih satu dua
musim lagi sebelum kita benar-benar menikmati hasilnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi jika kerja tidak dimulai, maka yang dua musim itupun
tidak akan pernah datang sampai anak cucu kita sekalipun"
"Ya, Ki Bekel. Kami mengerti"
"Nah, sekarang setelah beristirahat sebentar, maka kita
akan mulai dengan kerja kita hari ini"
Anak-anak muda itupun segera bangkit. Seperti hari-hari
sebelumnya, merekapun segera mulai dengan kerja mereka.
Yang akan mereka lakukan pada hari itu adalah menyelesaikan
satu jalur talang air lebih dahulu.
Seperti di hari sebelumnya, maka rasa-rasanya kerja itu
menjadi semakin menarik. Tidak lagi terasa ada ketegangan
dan keterpaksaan. Bahkan ada di antara anak-anak muda itu
yang bekerja sambil berdendang. Suaranya memanjat naik
gumuk-gumuk kecil di kaki gunung itu.
Ketika panas matahari terasa mengusik kulit mereka, maka
merekapun mulai bermain-main dengan air yang menyusup
keluar dari celah-celah batu padas yang lumutan dan licin.
Betapa segarnya. Ketika matahari naik sepenggalah, maka Wijang dan
Paksipun segera mengajak kawan-kawannya untuk memasang
talang bambu yang sudah mereka persiapkan untuk satu jalur
lebih dahulu. Demikianlah, maka anak-anak muda itupun telah
mengusung bambu-bambu yang sekat ruasnya sudah
dihilangkan, diletakkan membujur panjang dari gumuk itu
sampai ke bulak padukuhan mereka. Di ujung bulak, pada
jarak yang terdekat, terdapat sekotak sawah Mbah Rejeb yang
kering. Tanahnya nampak pecah-pecah karena kepanasan
oleh terik matahari di musim panas.
Ternyata kerja itu benar-benar kerja yang berat. Keringat
anak-anak muda itu telah membasahi pakaian mereka.
Beberapa orang di antara mereka bahkan telah membuka baju
mereka. Untuk melindungi panas matahari, mereka
mengenakan caping bambu yang lebar.
Demikian bambu itu sudah ditempatkan di sepanjang jarak
yang diperlukan, maka merekapun bersama-sama telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyambung bambu-bambu itu. Sementara yang lain telah
memasang tiang-tiang bambu pendek untuk mengatur
ketinggian talang itu. Kerja yang berat itu justru menjadi sangat menarik. Tidak
seorang pun di antara mereka yang mengeluh. Kerja itu
dihentikan pada saat matahari tepat mencapai puncaknya.
Dengan lantang Wijangpun berkata, "Beristirahatlah. Matahari
berada tepat di puncak langit. Nanti, kita akan melanjutkannya lagi"
Sementara itu, dua orang perempuan telah datang sambil
membawa gendi berisi wedang sere yang sudah dingin, bakul
berisi nasi serta sayur dan sekedar lauknya, bothok
mlandingan yang bahannya dapat dicari di kebun sendiri, dan
kelapa dan buah mlandingan.
Seperti sebelumnya, maka Ki Bekelpun ikut makan pula
bersama anak-anak muda itu. Sebagaimana anak-anak muda
itu pula, maka Ki Bekelpun makan dengan lahapnya. Oleh
kerja yang berat, terik matahari yang menyengat serta
memang sudah waktunya, maka perut mereka memang terasa
lapar. Apalagi mereka yang tidak sempat makan pagi di
rumah. Mungkin karena waktu yang terlalu pagi sehingga
orang tuanya belum sempat menanak nasi, apalagi membuat
sayur, tetapi ada pula yang memang tidak tersedia bahan
untuk menyiapkan makan pagi.
Setelah makan siang, maka merekapun mendapat
kesempatan untuk beristirahat sejenak. Ada di antara mereka
yang duduk-duduk di atas batu di pinggir kolam yang mereka
buat untuk menampung air. Ada yang duduk bersandar
Pukulan Naga Sakti 14 Angrek Tengah Malam Seri Pendekar Harum Karya Khu Lung Pertempuran Di Lembah Bunga Hay Tong 6
^