Pencarian

Anak Pendekar 8

Anak Pendekar Mu Ye Liu Xing Seri Thiansan Karya Liang Ie Shen Bagian 8


Song Theng-siau kaget. "Ilmu pedang apakah ini?"
Sekaligus Nyo Hoa menyerang delapan jurus. Mulai jurus Tiapjui-
hu-ceng dari Siong-san-kiam-hoat sampai jurus Ciu-hun-tohbeng
dari Bu-tong-pay, tak lupa diselingi pula ilmu pedang dari
Thian-san-pay, Heng-san-pay dan Siau-lim-pay, setiap jurus hanya
mirip saja, selalu menyerang dari sudut yang tak terduga oleh Song
theng-siau. Memang tidak malu Song Theng-siau diagulkan sebagai ahli
pedang, walau tidak tahu di mana letak kehebatan Bu-beng-kiamhoat,
tapi dia tidak gugup atau kerepotan. Tampak dia membalik
pedang mundur delapan langkah, setiap langkah mundur
mematahkan sejurus serangan Nyo Hoa, sekaligus mengen-dorkan
rangsakan lawan. Betapapun Song Theng-siau termasuk salah satu
ahli pedang yang ternama pada jaman itu, semula dia yang menyerang
dulu, kini berbalik dirinya yang terdesak, betapapun dia merasa
kalau Song Theng-siau merasa malu, maka Nyo Hoa pun membatin,
"Pertahanannya serapat ini, setanganku tak bisa masuk. Bila bertempur
berkepanjangan aku pasti bukan tandingannya, aku harus
lekas menghentikan pertempuran."
Tengah berhantam sengit, mendadak Song Theng-siau
menerobos rriinggir ke samping seraya membentak, "Siapa itu yang
datang?" Lekas Nyo Hoa menoleh, dilihatnya seorang lelaki berpakaian
suku Biau sedang muncul di lereng bukit Laki-laki ini bukan lain
adalah iblis besar Yang Kek-beng, musuh besar sam-suhu-nya Tan
Khu-scng, yang pernah dua kali meluruk ke Ciok-lin.
Belum lenyap rasa kaget Nyo Hoa, dilihatnya di belakang Yang
Kek-beng muncul pula satu orang, seorang nyonya pertengahan
umur. Lebih kejut hati Nyo Hoa melihat perempuan ini karena dia
bukan lain adalah taci Nyo Bok yaitu Lak-jiu-koan-im Nyo-toakoh,
sejak kecil Nyo Hoa sudah takut kepada perempuan galak ini.
Yang Kek-beng bergelak tawa, katanya, "Kukira berapa hebat kepandaian
Song Theng-siau yang sejajar dengan Beng Goan-cau,
ternyata juga begini saja, masa melawan bocah ingusan juga
dikalahkan." Di belakangnya Nyo-toakoh juga tarik suara, "Song Theng-siau,
kau merebut keponakanku, sekarang kembalikan kepadaku."
Waktu Song Theng-siau melompat ke pinggir, Nyo Hoa sengaja
gentayangan, sekalian dia mencomot tanah diusapkan ke muka sendiri,
sekalian dia mundur ke bawah pohon pura-pura mengatur
napas, keadaannya seperti amat payah. Padahal tanpa dia
mengotori muka sendiri, Nyo-toakoh pasti tidak akan mengenalnya
lagi, bahwa pemuda yang bergebrak dengan Song Theng-siau
adalah keponakannya Dua tahun yang lalu Yang Kek-beng pernah
melihatnya, bila dia mau memperhatikan mungkin masih
mengenalnya, namun dia hanya heran dari mana datangnya
pemuda berkepandaian tinggi ini, dapat menandingi Song Thengsiau,
dia juga tidak mengenali Nyo Hoa
Hanya Song Theng-siau yang tahu bahwa sedikitnya Nyo Hoa
masih mampu melawannya ratusan jurus lagi, bahwa Nyo Hoa
menyingkir ke samping juga di luar dugaannya. Semula dia khawatir
pendatang ini bala bantuan Nyo Hoa, maka sekarang dia membatin,
"Apakah aku salah lihat pemuda ini bukan cakar alap-alap?"
demikian batin Song Theng-siau.
Setelah menghela napas lega Song Theng-siau tertawa dingin,
katanya, "Nyo Hoa bukan keponakanmu."
Nyo-toakoh berjingkrak gusar, serunya, "Omong kosong, Hun Cilo
sundal itu meski sudah kuusir dari keluarga Nyo. anaknya tetap
adalah darah daging keluarga Nyo kami. Hun Ci-lo boleh tidak
kuakui sebagai istri adikku, tapi Nyo Hoa tetap adalah
keponakanku," Song Theng-siau tidak ingin banyak mulut, katanya, "Umpama
betul Nyo Hoa adalah keponakanmu, sepantasnya kau menuntut kepada
Toan Siu-si. Memangnya kau tidak tahu sejak lama dia sudah
menjadi murid Tiam-jong-siang-sal?"
"Kau yang menjadi gara-gara perkara ini, kau pula yang merebut
keponakanku dari tanganku, aku hanya tahu menuntut kepadamu."
"Memang aku juga ingin tanya jejak bocah itu kepadamu. Orang
she Yang, kau pernah meluruk ke Ciok-lin mencari seton dengan
Toan Siu-si, kau kira aku tidak tahu" Bagaimana keadaan Toan Siusi"
Apakah Nyo Hoa sudah kau culik" Lekas katakan!"
"Pemusuhanku dengan Toan Siu-si ada sangkut paut apa
denganmu" Kenapa kau mencampuri urusanku, memangnya aku
takut" Bocah itu tidak berguna untukku."
"Keponakanku tidak karuan jejaknya, kepadamu aku menuntut
supaya dia diserahkan," demikian bentak Nyo-toakoh.
Song Theng-siau tahu, menuntut keponakan hanya alasan untuk
mencari perkara kepadanya, karuan Song Theng-siau amat marah,
katanya, "Kau memangnya tidak punya otak" Orangnya tidak ada,
kalau mau membuat perhitungan boleh maju."
"Baik, memang aku ingin membuat perhitungan dengan kau,"
jengek Nyo-toakoh. Kedua pihak sudah siap berhantam, tiba-tiba Yang Kek-beng melompat
maju, katanya, "Nyo-toakoh, yang akan kau bereskan
perhitungan lama, boleh ditunda beberapa kejap lagi, Song tayhiap
menyalahkan aku berbuat dosa terhadap temannya, biarlah aku
membuat perhitungan dengan dia lebih dulu."
Sepuluh tahun yang lalu Nyo-toakoh pernah dikalahkan Song
Theng-siau, meski sekarang dia sudah berhasil meyakinkan Kimkong-
liok-yang-jiu, dia tidak yakin dapat mengalahkan lawan, maka
dia berkata, "Pertikaian lama atau permusuhan baru sama-sama
harus dibereskan. Untung, kita berdua mereka suami istri juga
berdua, dua lawan dua kan cukup adil, biarlah perhitungan samasama
dibereskan." Lu Su-bi tidak mau kalah angin, serunya, "Baik, laki lawan laki,
perempuan lawan perempuan. Aku memang ingin mencoba sampai
di mana kepandaian Lak-jiu-koan-im."
"Mau coba kepandaian boleh $aja, kau sumoay Beng Goan-cau,
istri Song Theng-siau, kungfumu tentu tidak lemah, biar aku
melawanmu. "Yang Kek-beng," bentak Song Theng-siau, "silakan maju."
Yang Kek-beng tergelak-gelak, katanya, "Song tayhiap, kenapa
kau begini sungkan?"
Song Theng-siau kira orang baru akan mulai setelah sekedar
berbasa-basi, tak nyana belum habis bicara mendadak "Wut" dia
lontarkan pukulan Siu-lo-im-sat-kang Yang Kek-beng sudah
diyakinkan sampai tingkat ketujuh, begitu pukulan dilontarkan,
gelombang dingin segera mendera. Meski lwekang Song Theng-siau
sekarang sudah cukup tangguh, tak urung dia bergidik kedinginan.
Yang Kek-beng kegirangan, dikiranya Song Theng-siau bernama
kosong belaka. Kembali dia lontarkan dua kali pukulan dengan
kedua tangan. Song Theng-siau membentak, "Diberi tidak
membalas kurang hormat, lihat pedang!" Sinar pedang gemerlap,
ternyata gerak pedangnya lebih cepat dari pukulan Yang Kek-beng.
Yang Kek-beng baru melontarkan dua pukulan, dia sudah balas
menyerang tiga jurus. Meski menyerang pertahanan juga kuat,
setiap jurus serangannya dilandasi kekuatan yang tersembunyi
untuk merangkai sergapan yang lebih lihay, karuan Yang Kek-beng
terdesak mundur setombak jauhnya. Walau badan kedinginan
namun Song Theng-siau masih kuat bertahan. Seketika kuncup
lagak Yang Kek-beng, baru sekarang dia sadar ketenaran nama
Song Theng-siau memang kenyataan. Maklum Song Theng-siau
sudah bergebrak dengan Nyo Hoa ratusan jurus, tenaga dalamnya
terkuras, berarti tenaganya sekarang tidak setangguh semula.
Nyo Hoa menggelendot di dahan pohon, mulutnya menggumam,
"Daripada menjadi pemain lebih baik jadi penonton. Di sini aku bisa
menyaksikan adegan-adegan yang ramai dengan santai."
Di samping harus kerahkan lwekang menahan pukulan hawa
dingin lawan, Song Theng-siau harus curahkan perhatiannya
melawan serangan musuh, sudah tentu lama kelamaan keadaannya
makin terdesak. Di babak lain Lu Su-bi berhantam dengan Nyo-toakoh, keadaannya
ternyata juga cukup gawat. Kim-kong-lak-yang-jiu adalah ilmu
pukulan warisan keluarga Nyo, pukulan keras dan bertenaga besar,
cukup terkenal di Bulim, setiap jurus pukulannya mengandung enam
gerak variasi disertai perubahan-perubahan yang menakjubkan.
Umumnya pukulan keras yang memerlukan tenaga kasar tidak
sesuai dipelajari kaum hawa, namun Nyo-toakoh ternyata mampu
mengubah ilmu pukulan ini menjadi aliran lain dengan tambahantambahan
yang lebih sesuai dipelajari perempuan. Namanya saja
tetap Kim-kong-lak-yang-jiu, namun permainan Nyo-toakoh banyak
berbeda dengan ilmu pukulan warisan leluhurnya, permainannya
lebih keji dan telengas. Duabelas tahun yang lalu Kim-kong-lak-yang-jiu yang diyakinkan
Nyo-toakoh baru setanding menghadapi ilmu pukulan Hun Ci-lo.
Waktu berhantam dengan Song Theng-siau, meski kalah, paling
cuma satu tingkat. Kini setelah menggembleng diri selama duabelas
tahun, Kim-kong-lak-yang-jiu boleh dikata sudah sempurna
diyakinkan, maka perbawanya juga jauh lebih hebat dibanding dulu,
maka permainannya lebih ganas lagi.
Sepasang golok Lu Su-bi panjang pendek, golok panjang berantai
menyerang jarak jauh, golok pendek untuk melindungi badan. Ilmu
goloknya juga warisan keluarga, merupakan aliran tersendiri di
Bulim. Dulu ayahnya mengajar disesuaikan bakat muridnya, Beng
Goan-cau suheng-nya mendapat ajaran golok kilat, karena bakatnya
maka kepandaiannya ternyata melebihi sang guru hingga
belakangan dia menjadi pendekar besar. Lu Su-bi seorang
perempuan, tenaga jauh lebih lemah, sukar dia memainkan golok
kilat, namun permainan sepasang goloknya juga cukup baik, dalam
pertahanan dia jauh lebih kokoh.
Akan tetapi dibanding Kim-kong-lak-yang-jiu Nyo-toakoh yang
diyakinkan puluhan tahun, betapapun masih kalah ulet dan matang.
Untung sepasang goloknya serba lengkap, menyerang atau
bertahan sama-sama lihay dan kuat, meski lawan mencecar dengan
pukulan dahsyat namun pertahanannya juga sekokoh baja.
Setelah bertempur setengah jam, Song Theng-siau merasa hawa
dingin semakin tebal, tanpa kuasa dia menggigil sendiri, giginya pun
ber-kerutukan. Yang Kek-beng kegirangan, serunya tergelak-gelak,
uSong-toa-kiamkhek, memangnya kau tidak mau menyerah saja?"
Song Theng-siau berwatak angkuh, sudah tentu murkanya bukan
kepalang, namun sedikit pun dia tidak berani lena, apalagi balas
mengejek. Nyo Hoa menggeliat sekali, mendadak dia beranjak ke tengah
gelanggang, katanya, "Lucu, menggelikan." Lalu dia tertawa
terbahak-bahak. Yang Kek-beng kira orang membantu dirinya mengolok-olok
lawannya, maka sikapnya makin takabur, serunya, "Adik cilik, coba
kau katakan apanya yang menggelikan?"
"Sungguh menggelikan, kau ini tidak tahu diri," demikian ucap
Nyo Hoa kalem. Seperti disiram sebaskom air dingin, seketika muka Yang Kekbeng
masam, katanya, "Aku tidak tahu diri?"
"Dengan bekal kepandaianmu yang tidak seberapa ini, bertanding
satu lawan satu, mana kau kuat melawan Song tayhiap?"
Yang Kek-beng membatin, "Mungkin dia sengaja menyindir?"
Segera dia bergelak tawa, katanya, "Kau sudah lihat jelas bukan"
Baiklah, boleh kau saksikan." Beruntun dia melontarkan tiga jurus
pukulan pula. Siu-lo-im-sat-kang dikerahkan, bukan saja Song
Theng-siau diserang hingga mundur, gerak-geriknya pun kelihatan
kerepotan. Nyo Hoa berkata dingin, "Betul, sekarang kau memang lebih
unggul sedikit, tapi dalam pertandingan ini kau pihak yang tidak
adil." "Lho, kan bertanding satu lawan satu, kenapa tidak adil?" seru
Yang Kek-beng. "Matamu kan belum buta, bukankah tadi kau sudah saksikan dia
sudah bertanding dulu dengan aku" Di babak kedua ini jelas kau
sudah mengambil keuntungan, masih berani kau bilang adil"
Hehehe, aku saja bukan tandingan Song tayhiap, apalagi kau"
Jikalau tenaga Song tayhiap belum terkuras olehku, aku yakin kau
hanya mampu melawan tigapuluh paling banyak limapuluh jurus."
Melihat sikap dan mendengar nada bicara orang sungguh-sungguh,
jelas bukan menyindir lawannya, seketika Yang Kek-beng naik
pitam, bentaknya, "Bocah keparat, jadi kau yakin dapat
mengalahkan aku". "Ah, tidak berani. Jikalau berte: mu lantas berhantam, mungkin
kau masih kuat menghadapi aku, sekarang aku sudah beristirahat,
yakin kau tidak mampu melawan sepuluh jurus."
"Baiklah," seru Yang Kek-beng gusar, "boleh kau maju membantu
Song Theng-siau supaya menghemat tenagaku."
Nyo Hoa tertawa, ujarnya, "Semula aku ingin jadi penonton saja,
lama kelamaan tanganku jadi gatal ingin juga menjadi pemain. Song
tayhiap silakan kau mundur dan jadilah penonton, bila tontonan ramai
dan bagus, tolong kau bersorak dan bertepuk tangan, kalau
permainanku jelek, tolong kau menggantikan aku."
Song Theng-siau bimbang, namun dia melompat ke pinggir, ingin
dia saksikan Nyo Hoa hendak berbuat apa.
Nyo Hoa berseru, "Yang Kek-beng, mulai, hitung yang benar, inilah
jurus pertama." "Sret" pedangnya langsung menusuk.
Jurus pedangnya enteng lincah mengandung perubahan yang
mengaburkan pandangan, cepatnya pun luar biasa. Pengetahuan
Yang Kek-beng tentang ilmu silat cukup luas, namun dia tidak habis
mengerti jurus pedang apa yang dilancarkan Nyo Hoa. Karuan
kagetnya bukan main, lekas dia kibaskan lengan baju melindungi
badan, dengan satu tangan dia memukul dengan Siu-lo-im-sat-kang
tingkat ketujuh. Bila angin pukulannya mendera bayangan pedang,
maka terdengarlah desir angin kencang, lengan baju Yang Kek-beng
tertabas secuil. Nyo Hoa mengejek dingin, "Dahulu Beng Sin-thong dapat mencapai
tingkat sembilan, sekarang kau baru tingkat tujuh, Siu-lo-im-satkang
jelas belum kau kuasai seluruhnya, memangnya kau bisa
berbuat apa terhadapku?"
Sepatah kata Nyo Hoa membongkar seluk beluk kungfunya, dalam
sejurus dia pun sudah mengukur taraf kepandaiannya, karuan
kaget Yang Kek-beng bukan kepalang. "Jaman ini hanya aku
seorang yang mewarisi ilmu murni Beng-suco. Bocah ini masih
begini muda, dari mana dia tahu rahasia inti Siu-lo-im-sat-kang"
Sungguh heran." Sudah tentu di luar tahunya meski usia Nyo Hoa masih kecil, tapi
dalam kalangan lurus atau aliran sesat, hanya dia seorang yang
tahu seluk beluk Siu-lo-im-sat-kang dan cara pemecahannya.
Hanya segebrak Nyo Hoa sudah menempatkan dirinya di posisi
yang tak terkalahkan, mumpung semangat juang lawan goyah
segera dia kerahkan tenaga memainkan pedang dengan cepat,
lawan dicecar sederas hujan badai, kecepatan gerak pedangnya
laksana sambaran kilat, di bawah rangsakan ketat dan deras ini
Yang Kek-beng sudah tidak sempat melancarkan pukulan Siu-lo-imsat-
kang lagi. Mulut Nyo Hoa menghitung dengan suara lantang, "Dua, tiga,


Anak Pendekar Mu Ye Liu Xing Seri Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

empat, lima, enam, tujuh, delapan"." Mendadak dia menghardik
sekali lalu menarik pedang berdiri tegak, katanya kalem, "Bukankah
belum genap sepuluh jurus?"
Tampak pedang Nyo Hoa ber-lepotan darah, beberapa tetes
darah segar tercecer di atas salju. Ternyata jurus terakhir yang
dilancarkan Nyo Hoa memapas kutung sebuah jari Yang Kek-beng.
Karena terlalu cepat gerak pedangnya, hingga Song Theng-siau pun
tidak melihat jelas. "Bagus," Song Theng-siau bersorak memuji, "tepat sembilan jurus."
Baru sekarang dia percaya Nyo Hoa sengaja membantu
dirinya, maka rasa herannya bertambah-tambah terhadap pemuda
yang berkepandaian tinggi ini.
Kalau Song Theng-siau amat kagum dan kaget serta heran
melihat kepandaian ilmu pedang Nyo Hoa, sudah tentu Yang Kekbeng
yang terpapas sebuah jarinya kaget dan ciut nyalinya, serasa
arwah terbang ke awang-awang. Hilang sebuah jari tidak menjadi
halangan, jikalau terlambat dia menarik tangan, Lau-kiong-hiat di
telapak tangannya mungkin sudah tertusuk, latihan Siu-lo-im-satkang
pun bakai kandas. Saking kaget dan takut, lekas dia putar
tubuh terus lari sipat kuping.
Sesungguhnya meski Nyo Hoa tahu bagaimana mematahkan Siulo-
im-sat-kang, namun dalam sepuluh jurus sebetulnya dia tidak
mampu mengalahkan Yang Kek-beng. Karena Yang Kek-beng
terpancing emosinya, karena marah permainannya tidak cermat
maka dia dapat dikalahkan.
Diam-diam dalam hati Nyo Hoa bersyukur, waktu menoleh
kebetulan dilihatnya Nyo-toakoh sedang mengayunkan tangan
memukul kepala Lu Su-bi, serangannya adalah jurus yang
mematikan dari Kim-kong-lak-yang-jiu. Satu jurus mengandung
enam perubahan, Lu Su-bi sulit melawan secara sempurna, maka
terdengar "Trang", golok pendek di tangan kiri terpukul jatuh.
Song Theng-siau mendahului Nyo Hoa menyerbu ke sana,
dengan jurus L i Khong Memanah Batu pedangnya menusuk Honghu-
hiat di punggung Nyo-toakoh, ujung pedangnya bergetar
memecah memancarkan cahaya dingin, belum lagi menyentuh
pakaian, namun Nyo-toakoh sudah merasa hawa dingin menyentuh
badan. Maksud Nyo-toakoh hendak membekuk Lu Su-bi untuk sandera,
karena usahanya tidak berhasil mana dia berani meneruskan
pertempuran" Sekali pukul dia menggempur mundur Lu Su-bi terus
menerobos jauh ke depan sana.
Melihat istrinya tidak terluka, lega hati Song Theng-siau,
bentaknya gusar, "Kau perempuan galak ini bukankah mau
membuat perhitungan dengan aku, kalau berani jangan lari."
Nyo-toakoh bergerak selincah ular sakti lewat di pinggir Nyo Hoa,
tangannya melayang menepuk kepala seraya memaki, "Gara-gara
kau hingga urusanku gagal total."
Terbayang masa kanak-kanak, betapa mereka ibu dan anak
hidup tertekan dan dihina, di hadapannya tadi orang pun memaki
dan menghina ibunya, seketika membara amarah Nyo Hoa,
sebetulnya dia tetap tidak berani kurang ajar, tapi Nyo-toakoh
menyerang dirinya, terpaksa dia harus membela diri. Kim-kong-lakyang-
jiu Nyo-toakoh berkelebihan melawan Lu Su-bi, terhadap Nyo
Hoa tidak berguna sama sekali. Terdengar "Plak" yang keras, tahutahu
pipinya telah digampar sekali oleh Nyo Hoa.
Cepat sekali Song Theng-siau sudah menyusul tiba, bentaknya,
"Saudara cilik, serahkan perempuan busuk ini kepadaku." Sejurus
Tay-bok-hou-yan, pedangnya meluncur bagai pelangi menusuk ke
arah Nyo-toakoh. Tusukan pedang ini amat kencang dan buas, jelas Nyo-toakoh
tidak akan mampu menyelamatkan diri, namun pada detik yang
kritis itulah terdengar "Tring" sekali, Nyo Hoa menyingkir ke
samping hingga Nyo-toakoh menerobos lewat ke depan. Nyo Hoa
melintangkan pedang di depan dada, dengan jurus Thi-so-hengkang
(Rantai besi melintang sungai) dia tangkis pedang panjang
Song Theng-siau, katanya perlahan, "Perempuan busuk ini memang
galak dan brutal, tapi harus dikasihani juga, mohon Song tayhiap
tidak berpandangan secupat dia, biarlah dia pergi."
Gugup tapi dongkol, heran lagi, Nyo-toakoh berjuluk Lak-jiukoan-
im, selama hidupnya hanya orang lain yang takut padanya,
kapan dia pernah dihina dan dipermainkan seperti ini" Gamparan
Nyo Hoa hampir membuatnya pingsan saking marah, tak nyana Nyo
Hoa yang menempeleng dirinya tapi menyelamatkan jiwanya.
Sesaat Nyo-toakoh melotot penuh kebencian kepadanya, terus lari.
Sekejap saja bayangannya sudah tidak kelihatan.
Song Theng-siau tertawa, katanya, "Perempuan busuk itu
agaknya tidak mau menerima budi pertolonganmu."
"Aku hanya menuntut ketenteraman hati sendiri, memang aku tidak
mengharap balas budi darinya," tawar suara Nyo Hoa. Maklum
waktu kecil dia terlalu disiksa dan ditekan oleh aturan-aturan ketat,
kalau tadi tidak naik pitam, betapapun dia tidak berani menggampar
pipinya. Setelah menampar pipi orang, entah mengapa perasaan hatinya
menjadi longgar dan lapang malah.
Tergerak hati Song Theng-siau, katanya, "Adik cilik, apa kau
pernah meyakinkan Beng-keh-to-hoat" Pernah apa kau dengan
Toan Siu-si?" Dalam sepuluh jurus Nyo Hoa harus mengalahkan Yang Kekbeng,
maka di luar sadarnya, beberapa jurus permainannya tadi
menggunakan ajaran golok kilat keluaiga Beng yang dia praktekkan
dalam permainan pedang. Song Theng-siau tahu bahwa Beng Goancau
pernah menyerahkan buku pelajaran ilmu goloknya kepada
Toan Siu-si supaya diserahkan kepada Nyo Hoa.
Tahu dirinya tidak bisa mengelabui lagi terpaksa Nyo Hoa
memberi hormat kepada Song Theng-siau, katanya," Paman Song,
maaf akan kekurangajaran tadi. Sudah beberapa tahun berpisah,
siautit tidak tahu kalau berhadapan dengan paman. Terima kasih
akan perhatian paman kepada suhu." Setelah dia memperkenalkan
diri, tentang ilmu golok keluarga Beng tak mungkin dia rahasiakan
lagi. Sudah tentu Song Theng-siau amat senang, katanya, "Jadi kau
inilah Nyo Hoa." Di samping senang dia pun merasa rikuh. Senang
karena putera teman baiknya memiliki kungfu tinggi, rikuh karena
dirinya dikalahkan oleh anak kecil itu. Agaknya berbeda dengan
Beng Goan-cau, kalau Beng Goan-cau tegas dan teguh pendirian,
tabah lagi, Song Theng-siau sebaliknya terlalu angkuh, jumawa dan
terlalu menjaga gengsi. "Betul, siautit memang Nyo Hoa," sahut Nyo Hoa.
"Mana ji-suhu-mu" Kenapa kau datang seorang diri?"
Bimbang sejenak, Nyo Hoa berkata, "Jejak ji-suhu tidak jelas, aku
kemari hendak mencari Beng Goan-cau Beng tayhiap."
Song Theng-siau melongo sejenak, segera wajahnya kelihatan girang,
katanya, "Ah, jadi kau sudah tahu?"
Dingin sikap Nyo Hoa, "Segala persoalan pasti bisa dibikin terang
duduk perkaranya, memang aku sudah tahu seluruhnya."
"Sudah tahu" yang dimaksud Song Theng-siau adalah Nyo Hoa
sudah tahu kalau dirinya adalah putera Beng Goan-cau, namun Nyo
Hoa salah paham, dia yakin bahwa Beng Goan-cau memang durjana
yang patut dibunuh. Maka dia menjawab terus terang bahwa dia
sudah tahu duduk perkara yang sebenarnya.
Hubungan asmara Beng Goan-cau dengan Hun Ci-lo menyangkut
urusan pribadi, sudah tentu Song Theng-siau tidak enak membicarakan
secara terbuka. Hanya kepada istrinya, Lu Su-bi, Song Thengsiau
pernah bercerita tentang hubungan cinta Beng Goan-cau dan
Hun Ci-lo, karena istrinya adalah siau-sumoay Beng Goan-cau.
Kecuali istrinya, terhadap Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan dia tidak
pernah bercerita tentang hal ini.
Memang Theng-siau sedang bingung cara bagaimana dia harus
menjelaskan duduk persoalan sebenarnya, mendengar Nyo Hoa
sudah tahu, legalah hatinya, katanya senang, "Syukurlah kalau kau
sudah tahu, boleh kau pergi mencarinya sendiri, selanjutnya aku
pun tidak usah ikut campur lagi. Tapi"."
"Tapi apa" Paman memang tidak usah bersusah payah lagi. Biar
aku cari Beng Goan-cau sendiri."
Bertaut alis Song Theng-siau, pikirnya, "Kenapa dia tetap memanggil
langsung nama Beng Goan-cau, tidak memanggilnya ayah?"
Meski heran dia berkata, "Sayang kau terlambat dua hari, Bengtoako
sudah tidak di sini."
Meski kecewa, lega juga hati Nyo Hoa. Bahwa dia harus menuntut
balas kepada salah seorang pemimpin besar laskar gerilya,
dalam hati selama ini ia merasa tidak tenteram. Walau dia sadar
sakit hati keluarga akhirnya harus dibalas. "Dia pergi ke mana?"
tanyanya "Tiga hari yang lalu, Beng-toako berangkat ke Lhasa. Sekarang
ikutlah aku menemui Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan, dua
pemimpin tertinggi dari laskar gerilya, mereka akan memberi
penjelasan kepadamu," demikian kata Song Theng-siau.
Setiba di pangkalan besar laskar gerilya, hari sudah terang tanah.
Song Theng-siau langsung membawa Nyo Hoa memasuki sebuah
kemah besar. Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan sedang berbicara dengan
seorang lelaki setengah umur, melihat Nyo Hoa, laki-laki
setengah umur lantas berteriak girang, "Adik cilik, kau juga datang.
Leng-toako, Siau-toako, saudara cilik inilah yang kuceritakan
kepadamu, dialah yang membantu kami di tengah jalan.".
Laki-laki setengah umur ini bukan lain adalah Han Wi-bu, congpiauthauTin-
wan Piaukiok. Setelah Song Theng-siau
memperkenalkan mereka, Siau Ci-wan berkata, "Han-cong-piauthau,
Nyo-hengte ini bertindak secara berani kemarin dulu, mungkin kau
belum tahu." "Bertindak berani bagaimana?" tanya Han Wi-bu.
Siau Ci-wan menoleh ke arah Nyo Hoa, katanya tertawa, "Nyohengte,
bukankah beberapa hari yang lalu kau pernah berkelahi dengan
Koan-tang Tayhiap Utti Keng?"
Merah muka Nyo Hoa, katanya, "Wanpwe tidak tahu tingginya
langit tebalnya bumi, waktu itu kedua pihak salah paham. Wanpwe
tidak tahu diri, berani melawan Koan-tang Tayhiap."
Siau Ci-wan tergelak-gelak, katanya, "Patah tumbuh hilang
berganti. Utti tayhiap bilang, selama hidupnya belum pernah dia
bertanding melawan golok kilat seperti yang kau kembangkan,
bukan saja menyenangkan juga melapangkan perasaannya. Tanpa
berkelahi dia tidak akan mengenalmu, dia juga memuji
keperkasaanmu." Dari cerita ini, Nyo Hoa menarik kesimpulan bahwa Utti Keng
tidak menceritakan dirinya dengan Kim Bik-ki dalam hotel, maka
legalah hatinya, katanya, "Berkat kemurahan hati Utti-cianpwe yang
memberikan pujian kepada angkatan muda."
Leng Thiat-jiau tertawa, katanya, "Pada jaman ini yang mampu
melawan golok Utti Keng kurasa hanya beberapa orang saja Sayang
Beng Goan-cau tidak di sini, golok kilatnya sejajar dengan
kebesaran nama Utti Keng, kalau ada dia, kau bisa bertanding
dengan dia." Mumpung ada kesempatan, lekas Nyo Hoa bicara, "Bertanding
tidak berani, wanpwe hanya mengharap petunjuk Beng tayhiap saja.
Entah Beng tayhiap pergi ke mana?"
"Dia pergi ke Lhasa bersama Utti Keng. Kalau kau datang dua
hari lebih awal pasti dapat bertemu dengan mereka."
"Entah kapan mereka akan pulang?"
"Tidak bisa ditentukan. Bila tugas yang harus diselesaikan leluasa,
paling cepat setengah tahun baru akan kembali," demikian ucap
Leng Thiat-jiau. Siau Ci-wan menimbrung, "Marilah sambil minum arak kita mengobrol
di dalam, perjamuan sudah dipersiapkan."
Leng Thiat-jiau tertawa, katanya, "Sebetulnya perjamuan ini
untuk Han-cong-piauthau yang akan pamit besok pagi, sekalian
untuk menyambut kehadiran Nyo-hengte. Utti tay-hiap sudah
bercerita tentang pengalamannya bertemu degan kau, kami
menduga kau pasti akan kemari, tapi kami tidak duga
kedatanganmu begini Cepat."
Setelah menghabiskan tiga cangkir arak, hidangan pun
berdatangan. Sambil makan minum, Leng Thiat-jiau berkata, "Nyohengte,
walau kita baru bertemu pertama kali, kau bukan orang
luar. Keadaan kami di sini tidak perlu disembunyikan terhadapmu.
Kedatanganmu memang kebetulan, saat ini kami sedang
menghadapi situasi yang penting, setiap saat mungkin terjadi peperangan.
Kami sudah memutuskan untuk mengosongkan pangkalan
di sini, para saudara akan disebar untuk mencari pangkalan lain
yang lebih strategis."
"Apakah sudah didapat berita bahwa pasukan kerajaan akan menyerbu
kemari?" tanya Nyo Hoa.
"Betul," kata Leng Thiat-jiau,
"Menurut laporan yang kami terima, pihak kerajaan ada maksud
merangkul beberapa kelompok suku bangsa di Sinkiang dan Tibet.
Langkah pertama, melarang mereka mengirim ransum kepada kita.
Kedua, dengan kekuatan mereka untuk menggempur kita. Kau tahu,
untuk berperang harus tahu memilih waktu, tempat dan kekuatan.
Pasukan besar kerajaan terlampau jauh dikerahkan kemari, tidak
jelas seluk beluk di sini, rakyat setempat tiada yang mau membantu
mereka, maka sukar mereka menggerebek kita, karena itu mereka
pikir hendak memperalat para kepala suku bangsa minoritas di
Sinkiang." Nyo Hoa berkata, "Rakyat jelata seluruh dunia sekeluarga, kukira
tidak mudah mereka mau diperalat oleh kerajaan."
"Pendapatmu betul," ucap Siau Ci-wan, "tapi para kepala suku
bangsa itu bukan mustahil bakal tertipu oleh kelicikan dan mulut
manis pihak kerajaan."
Lebih lanjut Leng Thiat-jiau berkata, "KarenaItu kami
menugaskan Utti tayhiap untuk membujuk para kepala suku itu. Dia
pernah hidup sekian tahun di daerah padang rumput,
persahabatannya dengan para kepala suku di sana cukup erat."
Siau Ci-wan berkata, "Pek-kau Hoat-ong yang berkedudukan di
Ok-khek-sim-ki mendukung perjuangan kita, tapi Pek-kau dan Uikau
tersangkut perebutan kekuasaan di Tibet, padahal yang pegang
kekuasaan dan pemerintahan di Tibet sekarang adalah para Lama
dari Dikau. Para Lama aliran Pek-kau sudah hijrah ke luar Tibet
karena terdesak oleh Ui-kau, sudah seratusan tahun mereka berada
di Jinghay belum mendapat kesempatan untuk kembali. Kerajaan
Ceng juga ada maksud memperalat Ui-kau untuk menindas Pek-kau.
Kami mengutus Beng Goan-cau ke Tibet adalah untuk menjadi
penengah mengakurkan kembali Pek-kau dengan Ui-kau. Kami
pernah membantu Lama di Tibet memukul mundur serangan bangsa
India, maka hubungan kami dengan kedua pihak cukup erat dan
baik." Nyo Hoa tidak menyangka bahwa banyak persoalan ruwet harus
dipikirkan dan dipecahkan di dalam laskar gerilya.
Han Wi-bu berkata, "Sayang besok aku harus antar obat ke Okkhek-
cau-beng, tidak bisa membantu kalian di sini."
"Bantuanmu sudah teramat besar artinya bagi kami," kata Leng
Thiat-jiau. "Saat ini pihak kami bukan kekurangan tenaga, tapi harus
berusaha memecahkan muslihat musuh, tidak perlu kau menyesal
karena tidak bisa tinggal di sini membantu kami."


Anak Pendekar Mu Ye Liu Xing Seri Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Secara tidak langsung jawaban ini diresapi juga oleh Nyo Hoa.
Pikirnya, "Kalau demikian, tak terlalu penting bagi diriku tinggal
di sini, biar aku menyusul Beng Goan-cau saja ke Tibet."
"Bicara soal pembantu, Nyo-hengte inilah yang telah berjasa paling
besar atas bantuannya untuk kami. Silakan Nyo-hengte, aku
haturkan secangkir arak ini untukmu."
Merah muka Nyo Hoa, katanya, "Han-cong-piauthau, kenapa kau
begini sungkan, mana berani aku terima" Sebetulnya pahala apa sih
yang pernah kulakukan?"
Leng Thiat-jiau tertawa, katanya, "Bukan Han-cong-piauthau
sungkan kepadamu, aku pun akan menghaturkan secangkir
kepadamu. Mungkin kau sendiri belum menyadari betapa besar arti
bantuanmu kepada kami. Biarlah kujelaskan, barang-barang gelap
yang dilindungi oleh Han-cong-piauthau ini, entah bagaimana
diketahui oleh Bun Seng-liong yang dahulu memang disusupkan di
dalam Tin-wan Piau-kiok. Dia memberi laporan kepada komandan
Gi-lim-kun dan kepala barisan bayangkara di istana."
Han Wi-bu melanjutkan, "Antara komandan Gi-lim-kun Hay Lanja
dengan kepala barisan bayangkari Sat Hok-ting lahirnya saja
akur, padahal secara diam-diam mereka saling berlomba memupuk
kekuatan dan sering cakar-cakaran. Setelah mendapat laporan,
mereka bekerja tendiri-sendiri, anak buahnya disebar dan diutus
untuk merampas barang k awalan ku."
"Siang Thi-hong dari Thi-bi-ba-bun sejak lama memang sudah
menjadi agen Hay Lan-ja secara sembunyi-sembunyi, kali ini Hay
Lan-ja mengutus dia turun tangan disertai Bun Seng-liong
merampas barang kami. Untung secara diam-diam lote membantu
aku, kalau tidak obat-obatan itu tentu bisa terjatuh ke tangan
mereka. Malam itu kau bantu memancing kedua perwira Gi-lim-kun
dari rombongan kami, sungguh aku amat berterima kasih. Oh ya,
belum sempat tanya, bagaimana nasib kedua orang itu?"
Nyo Hoa tertawa, tuturnya, "Kuhajar mereka sampai babak belur,
keadaan Ma Gun masih mending, Ciu Jan menggelinding ke lereng
bukit, mungkin lukanya lebih parah."
Leng Thiat-jiau berkata lebih lanjut, "Dua wisu yang belakangan
bentrok dengan engkau yaitu Phoan-liong-to Lau Ting-ci dan Taycui-
pit-jiu Yap Kok-wi adalah anak buah Sat Hok-ting yang
terpercaya. Menurut rencana Sat Hok-ting, kedua orang ini disuruh
bergabung dengan Ting Tiong-ai yang dimutasikan ke sana dari
Siau-kim-jwan untuk merampas barang kawalan itu di tengah jalan.
Untung pula mereka kau pukul kocar-kacir. Mungkin mereka tidak
yakin lagi dapat merampas barang kawalan itu, terpaksa harus
mencari bala bantuan. Tapi pihak kita sudah bertindak lebih dulu,
Han-cong-piauthau sudah kami sambut sejak di tengah jalan."
Makanya rombongan Han Wi-bu tiba di Jik-tat-bok lebih dulu,
ternyata di tengah jalan sudah disongsong oleh pasukan gerilya.
Mereka tahu jalan, mengganti kendaraan dan kuda lagi, tidak heran
kalau dirinya tidak mampu mengejar mereka.
Teringat kejadian malam itu, merah muka Nyo Hoa, katanya,
"Untuk kejadian yang satu ini tidak berani aku dikatakan
memperoleh pahala, masih ada seorang sahabat?"
Siau Ci-wan tertawa, katanya, "Nyo-hengte, kau belum kenal
sahabat itu bukan" Dia adalah putera Kim Tiok-liu Kim tayhiap."
Sebetulnya Nyo Hoa sudah tahu, namun dilihatnya tawa Siau Ciwan
agak berbeda, maka dia menduga pasti orang akan
melanjutkan bicara. Nyo Hoa diam dan menunduk, jantungnya
berdebar-debar. Betul juga, lebih lanjut Siau Ci-wan berkata, "Waktu
kau berhantam dengan ketiga musuh itu, Kim siauhiap belum
muncul bukan?" "Ya, setelah pertempuran itu baru aku bertemu dengan dia."
"Tak heran dia salah paham terhadap kau, tapi tak jadi soal,
beberapa hari lagi bila Kim siauhiap kemari lagi, bila persoalan
dibicarakan secara berhadapan, sedikit salah paham ini juga pasti
cair sendiri." Dari pembicaraan ini, Nyo Hoa sadar kalau Leng Thiat-jiau dan
Siau Ci-wan sudah tahu tentang hubungan dirinya dengan Kim Bikki,
karuan dia malu dan kaget Untung Leng Thiat-jiu bergelak tawa
dan bicara lagi, "Ilmu pedang Kim siauhiap amat tinggi, sayang
belum lama berkecimpung dalam masyarakat, kurang berpikir
panjang lagi. Kau menyamar seperti kacung berkepandaian tinggi
lagi, mungkin dia merasa jejakmu agak mencurigakan maka dia kira
kau ini mata-mata. Dia titip pesan kepada seseorang supaya
dilaporkan kepadaku, katanya ada seorang pemuda yang tidak jelas
asal-usulnya, bila datang ke Jik-tat-bok dia minta aku menahanmu.
Tapi dia pun berpesan supaya tidak menyakiti kau, setelah dia
kemari baru akan tanya sendiri kepadamu. Dia bilang, dalam
setengah bulan dia pasti datang, hitung-hitung waktunya juga
hanya beberapa hari ini."
Legalah hati Nyo Hoa, agaknya Kim Bik-san, juga tidak berani
menceritakan rasa curiganya kepada orang lain bahwa Nyo Hoa
memelet adik perempuannya. Maka dia mencari alasan lain supaya
Siau Ci-wan dan Leng Thiat-jiau menahan dirinya. "Agaknya dia
akan membuat perhitungan langsung terhadapku, melarang aku
bergaul dengan Kim Bik-ki pula."
Siau Ci-wan tertawa, katanya, "Dia tidak tahu kalau bantuanmu
teramat besar bagi kami, setelah tahu pasti dia akan minta maaf
kepadamu, kalian adalah pemuda-pemuda gagah perkasa setelah
berkenalan pasti menjadi sahabat baik."
Nyo Hoa hanya menyengir tawa, katanya, "Waktu di Siau-kimjwan,
aku pernah menyamar jadi perwira Gi-lim-kun, tidak heran
kalau dia anggap aku mata-mata"
"Pertolonganmu kepada keluarga pemburu di Siau-kim-jwan juga
sudah kami ketahui," ucap Leng Thiat-jiau. "Oh, ya, kepandaianmu
setinggi ini, siapakah gurumu Nyo-hengte?" Agaknya dia menaruh
perhatian akan asal-usul Nyo Hoa
Maka Song Theng-siau angkat bicara, "Dia murid bersama dari
Toan Siu-si dengan Tan Khu-seng, Beng-toako adalah kenalan baik
Toan Siu-si, setelah Toan Siu-si menerimanya sebagai murid, pernah
hal ini diberitahukan kepada Beng-toako, dia pun amat senang.
Waktu itu Beng-toako pernah menyatakan, bila kelak bertemu
dengan muridnya akan memberikan pelajaran ilmu golok keluarga
Beng kepada muridnya itu sebagai hadiah pertemuan." Ucapan
Song Theng-siau setengah benar setengah bohong, soalnya asalusul
Nyo Hoa belum terbuka secara umum, maka sengaja dia mengarang
cerita tambahan, sekaligus untuk membuktikan bahwa
asal-usulnya cukup baik. Leng Thiat-jiau bergelak tawa, katanya, "Kiranya murid dari dua
guru kenamaan, tak heran berkepandaian tinggi. Sayang Beng
Goan-cau tidak di sini, kado pertemuan ini biar dia serahkan lain
kesempatan." Han Wi-bu tertawa, katanya, "Terbayang masa lalu, aku sendiri
juga tidak bakal kenal Beng Goan-cau kalau tidak berkelahi. Dalam
sekejap mata permainan golok kilatnya itu mampu bergerak dalam
ratusan perubahan, cepatnya seperti sambaran kilat pula. Syukur
aku mampu menandinginya waktu itu, tapi bila dibayangkan
sungguh sampai sekarang aku masih merasa kagum dan giris pula.
Nyo-hengte, kepandaianmu sudah tinggi, bila memperoleh kado
pertemuan ini, pasti kepandaianmu lebih sempurna."
Nyo Hoa berkata, "Beng tayhiap sayang terhadap angkatan
muda, sungguh wanpwe tidak menduganya Semoga harapannya
bisa lekas terkabul, tapi bukan berarti bahwa aku kemaruk akan
hadiahnya itu." Song Theng-siau berkata, "Walau kau belum pernah bertemu dengan
Beng-toako, tapi dia sudah anggap kau sebagai keponakannya
sendiri. Sebagai sahabat ji-suhu-mu, sudah pantas kalau dia
mengharap kau menjadi seorang yang berguna."
Dalam hati Nyo Hoa timbul reaksi yang bertentangan, dia justru
tidak percaya bahwa Beng Goan-cau punya iktikad sebaik itu
terhadap dirinya. Han Wi-bu berkata pula, "Sudah sepuluh tahun aku berpisah
dengan Beng Goan-cau, kukira dengan kedatanganku hari ini dapat
makan minum bersama dia sambil ngobrol sepuas hati, tak nyana di
sini aku tidak bisa bertemu dengan dia."
"Mungkin di Ok-khek-sim-ki kau dapat bersua dengan dia." ucap
Leng Thiat-jiau, "kemungkinan dia akan tinggal beberapa hari di
sana." Tiba-tiba Nyo Hoa berkata, "Leng-thauling, Han-cong-piau-thau,
ada sebuah permintaanku entah kalian bisa menyetujui tidak?"
"Permintaan apa?" tanya Leng dan Han bersama.
Kalem suara Nyo Hoa, katanya, "Kupikir akan ikut Han-cong-piauthau
pergi ke Ok-khek-cau-beng."
Han Wi-bu melengak sekejap, lalu bergelak tawa, serunya, "Jago
kosen selihay dirimu mau seperjalanan dengan aku, sungguh mimpi
pun tak pernah kuharapkan. Tapi bukankah kau harus menunggu
Kim siauhiap di sini?"
Song Theng-siau segera menjelaskan, "Atas perintah gurunya dia
disuruh kemari menemui Beng Goan-cau. Tahun lalu kedua gurunya
itu ketimpa musibah di Ciok-lin, mati hidupnya sampai sekarang
susah diramalkan. Maka dia wajib memberitahukan hal ini kepada
sahabat gurunya secepat mungkin."
Sengaja Nyo Hoa berkata dengan tertawa, "Sebetulnya aku
mengharap dapat berkenalan dengan Kim siauhiap, tapi kelak masih
ada kesempatan. Kukira dia tidak akan salah paham lagi mengira
aku takut bertemu dengan dia karena aku di pihak yang salah."
"Kenapa Nyo-hengte bilang demikian," ucap Siau Ci-wan tertawa.
"Umpama Kim siauhiap kurang pergaulan dan tetap mencurigai lote,
sedikitnya dia harus percaya kepadaku dan Leng-toako. Memang
lebih baik kau bisa menunggunya di sini, tapi tanpa kehadiranmu
kami juga bisa memberi penjelasan kepadanya"
Leng Thiat-jiau berpikir sejenak, katanya sungguh-sungguh,
"Betul, urusan harus dibedakan mana lebih penting. Nyo-lote mau
menemani Han-cong-piauthau pergi ke Ok-khek-cau-beng juga baik.
Di samping membantu Han-toako melindungi barang kawalan, dia
bisa lebih dini bertemu dengan Beng Goan-cau. Tadi aku agak
teledor tidak memikirkan hal ini."
Keputusan telah ditetapkan. Lega hati Nyo Hoa, sudah tentu
Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan juga tambah girang. Seperti ingat
sesuatu tiba-tiba Leng Thiat-jiau berkata, "Han-cong-piauthau,
untuk perjalananmu ke Ok-khek-cau-beng kali ini, ada sebuah
persoalan pribadi ingin aku titip kau selesaikan."
"Leng-toako tidak usah sungkan, soal apa coba jelaskan."
"Soal ini menyangkut seorang keponakan perempuanku, kau
belum pernah melihatnya tapi secara diam-diam dia pernah
membantu kau," demikian ucap Leng Thiat-jiau.
Berdetak jantung Nyo Hoa, "Nah, sudah tiba saatnya, yang
dimaksud pasti Kim Bik-ki."
Han Wi-bu tertarik, tanyanya, "Siapakah nona itu?"
"Dia puteri Kim tayhiap, namanya Kim Bik-ki."
Dugaan Nyo Hoa memang tidak keliru.
Leng Thiat-jiau menjelaskan, "Sejak kau memasuki wilayah Jiansan,
secara diam-diam dia sudah menguntit rombongan kalian, siap
bertindak bila kalian menghadapi hambatan, bila kau tidak leluasa
mengerjakan, dialah yang menyelesaikan."
"Hanya kenapa aku tidak tahu sedikit pun," seru Han Wi-bu.
Leng Thiat-jiau tertawa, katanya, "Tapi dia pun tidak menduga,
ada orang kosen membantumu secara diam-diam, bahwasanya dia
tidak perlu turun tangan."
"Walau dia tidak turun tangan, aku pun tetap berterima kasih
kepadanya, dapatkah Leng-toako memanggilnya keluar supaya aku
langsung menghaturkan terima kasih kepadanya?"
"Kalau dia masih di sini, tidak usah aku minta bantuanmu. Dia
sudah pergi sehari sebelum Utti Keng tiba di sini."
"Ayahnya jago pedang nomor satu di jagat raya ini, ada
persoalan apa yang tidak bisa diselesaikan, kenapa aku harus
membantunya?" "Utti Keng memberi tahu kepadaku, katanya ayahnya sedang
mencari dia, suruh dia pulang. Kedatangan engkoh-nya kemari, kemungkinan
juga lantaran mencari dia. Sayang dia sudah pergi sehari
sebelum Utti Keng kemari, maka aku harus ikut susah karenanya."
Siau Ci-wan berkata, katanya, "Nona Kim ini cerdik, pandai, cekatan
lagi, agaknya dia sudah tahu maksud kedatangan Utti Keng
maka dia datang sehari lebih-dulu, maksudnya jelas menghindari
dia." Han Wi-bu bertanya, "Dia ke mana?"
"Waktu dia pergi memberi tahu kepada kami, katanya dia ingin
pulang." "Lha kan kebetulan?" seru Han Wi-bu.
Siau Ci-wan tertawa pula, katanya, "Sayang dia berbohong."
Lalu Leng Thiat-jiau menyambung, "Seorang saudara kita yang
bertugas di gunung depan kemarin pulang memberi laporan,
katanya dia melihat nona Kim berangkat ke utara. Jikalau dia mau
pulang, arahnya sebetulnya ke selatan, kalau ke utara menuju Okkhek-
cau-beng." "Entah kenapa dia tidak mau pulang?"
"Anak muda suka bergerak dan keluyuran, mungkin dia takut bila
pulang ke rumah selanjutnya bisa dikurung tak boleh keluar."
"Han-toako," ujar Leng Thiat-jiau, "bila kau bertemu dengan
nona Kim, tolong kau bantu membujuknya supaya pulang. Dia kenal
baik siapa dirimu." Han Wi-bu mengunjuk mimik serba susah, katanya, "Dia kenal
aku, sebaliknya aku tidak mengenalnya, khawatirnya dia tidak mau
dengar nasehatku." Leng Thiat-jiau berkata, "Dengan istri Kim tayhiap kau pernah
bertemu bukan?" "Bukan sekali saja aku pernah bertemu dengan Kim tayhiap
suami istri. Dahulu waktu Kim tayhiap dan Utti tayhiap dua pasang
suami istri membuat geger kota raja pernah sembunyi dua hari di
rumahku." "Syukurlah, nona Kim ini nakal seperti ibunya dulu, wajahnya
mirip, bila kau bertemu muka dengan dia pasti mengenalnya."
Selanjutnya Siau Ci-wan berkata, "Kasih tahu padanya bahwa
engkoh-nya pernah kemari mencari dia, ingin mengajaknya pulang.
Boleh kau bicara dengan nada serius dan tekankan pentingnya dia
pulang, supaya dia mereka-reka di rumah ada urusan penting
sedang menanti dia."
"Baiklah," ujar Han Wi-bu, "biar aku bersilat lidah dengan dia,
akan kubujuk dia seperti membujuk anak kecil."
Han Wi-bu anggap tugas ini sebagai urusan kecil, seperti membohongi
bocah cilik saja. Dalam hati Nyo Hoa justru merasa geli, tapi
di samping senang terasa hambar juga hatinya.
Geli, karena Siau Ci-wan dan Leng Thiat-jiau kira bila Kim Bik-ki
tahu engkoh-nya menyusul, dia pasti mau pulang. Di luar tahunya
bahwa Kim Bik-ki justru menghin" dari pertemuan dengan engkohnya.
Hatinya pun senang karena Kim Bik-ki berangkat ke arah yang
setujuan dengan dirinya, mungkin beberapa hari lagi dia bakal
bertemu dengan dia. Tapi kenapa Kim Bik-ki justru pergi ke Okkhek-
cau-beng juga" Hal ini membuat perasaan Nyo Hoa hambar.
Didengarnya Leng Thiat-jiau sedang berkata, "Selama dua tahun
ini, tunas-tunas muda bermunculan, satu hal yang patut dibuat
girang. Nyo-hengte umpamanya, adalah pemuda gagah yang jarang


Anak Pendekar Mu Ye Liu Xing Seri Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ditemukan selama beberapa tahun terakhir ini. Besok kau akan
berangkat, malam ini aku akan ajak kau minum sepuas-puasnya."
Nyo Hoa merendah hati, katanya, "Leng-thauling memuji, aku
mana setimpal diagulkan sebagai pemuda gagah?"
"Anak muda ramah dan rendah hati memang baik, tapi kalau
terlalu sungkan menjadi bermuka-muka," demikian kata Leng Thiatjiau.
"Bicara terus terang, dalam pandanganku ada empat pemuda
gagah, kau pasti tidak kalah dibanding tiga yang lain. Kalau hanya
dinilai tentang kungfunya, kau malah lebih unggul di atas mereka
bertiga. Yakin mereka belum tentu dapat seperti dirimu, mampu
bertanding melawan Utti Keng."
Tertarik hati Han Wi-bu, katanya, "Leng-toako, siapakah keempat
pemuda gagah menurut pandanganmu itu?"
"Coba kau terka satu per satu," Leng Thiat-jiau balas tanya.
Han Wi-bu berkata, "Kecuali Nyo-hengte, kakak beradik dari
keluarga Kim pasti terhitung pula, benar tidak?"
"Masih ada satu, siapakah dia" Dua tahun terakhir ini aku jarang
bergerak di luar, sungguh tak terpikir olehku masih ada pemuda
gagah mana lagi." "Ji-kongcu putera Kang tayhiap, apakah tidak setimpal dianggap
pemuda gagah, kenapa kau melupakan dia?"
"Hooo, jadi Kang-jikorigcu juga sudah keluar kandang" Aku sih
belum tahu, tadi hanya kuingat putera sulung Kang tayhiap, Kang
Siang-hong, padahal usia Kang Siang-hong sudah tigapuluhan,
usianya terlalu tua untuk disebut pemuda gagah."
"Ji-kongcu memang baru saja berkecimpung di Kang ouw, paling
baru tiga bulan, tapi dia sudah melakukan aksi yang
menggemparkan dunia persilatan."
"Aksi apa yang menggetarkan dunia persilatan?"
"Urusannya menyangkut juga bidangmu. Teng-lopiauthau dari
Liong-ih Piaukiok di Hok-kiu apa kau mengenalnya?"
"Maksudmu Teng Ih lo-toako" Sudah tentu aku kenal. Dia adalah
pimpinan piauhang di lima propinsi selatan. Waktu pertama kali aku
terjun di kalangan Kangouw, dia sudah lama terkenal. Beberapa
tahun yang lalu pernah sekali aku lewat Hok-ciu, aku disambutnya
dengan meriah. Sayang jarak terlalu jauh, belakangan jarang saling
mengirim kabar. Usianya sudah tua, urusan piaukiok jarang
ditangani sendiri. Kena perkara apa dia?"
"Tiga bulan yang lalu, dia mengantar barang kawalannya ke
Sujwan barat Kawalannya dirampas oleh seorang begal tunggal."
"Hah, aku memang ingin tahu peristiwa ini. Siapakah begal tunggal
itu?" "Murid murtad dari Siau-lim-pay, gelarannya Ciam-coan, setelah
kembali preman namanya Kiat Hong."
Han Wi-bu kaget, katanya, "Konon Kiat Hong sudah memperoleh
ajaran murni Siau-lim-si, Teng Ih sudah lanjut usia, mungkin bukan
tandingannya lagi. Menurut tahuku, dia punya empat pembantu
yang dapat diandalkan, salah satu adalah murid tertuanya. Entah
dia ikut tidak dalam rombongan itu?"
"Dia hanya membawa puterinya saja. Kabarnya nona Teng juga
baru pertama kali ikut sang ayah mengawal barang, ayahnya ingin
dia cari pengalaman di luar. Setelah menyelesaikan tugas kali ini,
Teng-lopiauthau bermaksud mengundurkan diri, menggantung
golok menutup pintu, siapa nyana, tugas terakhir belum terlaksana,
justru terjungkal habis-habisan."
"Lalu bagaimana akhirnya?" "Kebetulan Kang-jikongcu lewat di
tempat kejadian, Hong-mo-tio-hoat (Ilmu tongkat iblis gila) Kiat
Hong dikalahkan oleh Kang Siang-hun. Teng-lopiauthau hanya
cidera sedikit. Tapi Kiat Hong yang dipandang pentolan penjahat ini,
adu lwe-kang atau bertanding senjata ternyata dikalahkan oleh
pemuda yang baru saja keluar kandang, sudah tentu peristiwa ini
cukup menggemparkan Bulim."
"Sebelum meninggalkan kota raja, pernah kudengar kabar ini,
namun tidak sejelas ini. Ternyata yang merampas barang
kawalannya adalah Kiat Hong, aku pun tidak tahu yang
menolongnya adalah Kang-ji-kongcu. Karena mempersiapkan diri,
aku tidak mencari tahu lebih jelas. Kalian malah mendapat berita
lebih lengkap dan cepat."
"Beberapa hari yang lalu" Leng Thiat-jiau berkata, "murid tertua
Kang tayhiap yang berada di Sujwan barat yaitu Yap Bok-hoa,
pernah kirim surat kemari, di samping membicarakan urusan dinas,
dalam suratnya ada menyinggung peristiwa ini"
Siau Ci-wan berkata dengan tertawa, "Menurut pembawa surat,
peristiwa itu membawa buntut yang berkepanjangan."
"Buntut apa lagi" Memangnya Kiat Hong tidak terima lalu menuntut
balas?" "Bukan demikian."
"Lalu apa?" "Justru sebaliknya, buntut peristiwa ini bukan lagi pertumpahan
darah tapi soal asmara," demikian ujar Siau Ci-wan tertawa.
Maka Leng Thiat-jiau menjelaskan, "Di samping berterima kasih
akan budi pertolongannya Teng-lopiauthau ternyata juga berkesan
terhadap pemuda gagah yang cakap dan sopan, berkepandaian
tinggi pula, maka dia ada maksud menjodohkan puterinya kepada
Kang-jikongcu." Siau Ci-wan menambahkan, "Maka Teng-lopiauthau berkesempatan
mampir ke rumah Yap Bok-hoa, murid tertua Kang tayhiap
itu, dia utarakan maksud hatinya itu supaya Yap Bok-hoa bantu
menjalin hubungan baik ini."
"Urusan jodoh adalah urusan baik, menjadi comblang juga sesuatu
yang menggirangkan, Yap Bok-hoa pasti tidak menampik permohonannya."
"Sayang persoalan jodoh ini tidak memperoleh penyelesaian yang
baik." "Yap Bok-hoa tidak mau membantu"*"
"Ya. Setelah Teng-lopiauthau menyatakan maksud kedatangannya,
secara langsung Yap Bok-hoa menolak secara halus."
"Kenapa?" "Kabarnya jawaban Yap Bok-hoa kurang tegas, dalam omongannya
seperti menyatakan bahwa Kang tayhiap hendak memilih calon
menantunya seftdiri. Secara tidak langsung dia mau bilang bahwa
Kang tayhiap sudah punya pandangan siapa yang bakal menjadi
menantunya." Siau Ci-wan ganti menjelaskan, "Padahal sebelumnya Tenglopiauthau
sudah mencari tahu bahwa Kang Siang-hun belum
bertunangan, baru dia berani mohon bantuan Yap Bok-hoa, tak
nyana maksud baiknya mendapat tanggapan yang kurang
menyenangkan, karuan dia amat kecewa. Dia kira keluarga Kang
dan Yap Bok-hoa tidak memberi muka kepadanya, anggap dirinya
dari golongan rendah maka soal jodoh ini ditolak mentah-mentah.
Kabarnya setelah dia sampai di rumah lantas jatuh sakit."
Han Wi-bu berkata, "Urusan jodoh harus mau sama mau, tidak
boleh dipaksakan. Teng-toako padahal sudah cukup berpengalaman,
kenapa dalam hal ini dia berpandangan secupat ini" Bila ada
kesempatan bertemu dengan dia, ingin aku membujuknya."
Tiba-tiba Leng Thiat-jiau tertawa, katanya, "Aku punya dua akal
yang serba sempurna untuk menyelesaikan persoalan ini."
"Ingin aku mendengarkan," ujar Han Wi-bu.
"Han toako pasti pernah melihat puteri Teng-lopiauthau,
bagaimana paras dan kepandaian silatnya?"
"Sudah sepuluh tahun sejak aku melihatnya, waktu itu dia
berusia tujuh atau delapan tahun, maisih nona cilik, namun
parasnya sudah kelihatan jelita, kabarnya makin besar semakin ayu
rupawan, banyak orang memujinya sebagai kembang dalam
kalangan piauhang, entah berapa pemuda yang pernah mengajukan
pinangan kepada Teng-lopiauthau, sayang Teng-toako teramat
sayang kepada puteri tunggalnya ini, dia ingin mencari menantu
yang setimpal untuk puterinya. Bicara tentang kungfu bahwa Tengtoako
ada maksud mewariskan urusan piaukiok kepada puterinya,
yakin dia sudah mendapat didikan murni ayahnya. Dibanding Kiat
Hong yang termasuk jago kelas satu di Kang-ouw memang masih
kalah, tapi terpautnya kurasa tidak banyak."
"Bagus," ujar Leng Thiat-jiau, "kalau begitu aku ingin menjadi
comblang." "Calon yang akan diajukan Leng-toako pasti bagus, entah siapa
dia?" "Jauh di langit, dekat di depan mata," ujar Leng Thiat-jiau gelakgelak.
Han Wi-bu seketika paham, katanya tertawa, "Aku memang
teledor, ada Nyo-hengte di depan mata, kenapa aku tidak pernah
memikirkan dia." Leng Thiat-jiau berkata, "Nyo-hengte yakin tidak lebih asor
dibanding Kang-jikongcu. Tapi untuk urusan comblang ini tetap
harus kuserahkan kepadamu, hubunganmu lebih erat dengan Tenglopiauthau."
"Nyo-hengte, kau belum bertunangan bukan" Bagaimana?" tanya
Han Wi-bu. Jengah selebar muka Nyo Hoa, katanya, "Banyak terima kasih
akan perhatian para cianpwe, tapi" tapi"."
"Tapi apa?" sela Han Wi-bu. "Nona Teng yang satu ini tanggung
cantik dan pandai, tidak gampang mencari calon istri sebaik dia."
"Usia siautit masih terlalu muda, apalagi nasib kedua suhu sukar
diramalkan, sungguh tiada minat memikirkan tentang jodoh","
Bertaut alis Han Wi-bu, katanya, "Jadi kalau kau tidak
menemukan gurumu kau tidak akan menikah?"
"Harap Han-cong-piauthau memaafkan, siautit punya kesulitan,
tak bisa menerima." Song Theng-siau kira setelah ayah beranak bersua, baru dia ada
minat bicara soal jodoh maka dengan tertawa lebar dia menyeletuk,
"Agaknya Nyo-hengte belum punya pikiran berumah tangga, urusan
jodoh ini boleh ditunda saja. Beng-toako adalah sahabat baik guru
Nyo-hengte, kukira biarlah soal jodoh ini kelak Beng-toako yang
menjadi wali." "Begitu pun bolehlah," ujar Leng Thiat-jiau.
Han Wi-bu tertawa, katanya, "Tak nyana aku bakal gagal menjadi
comblang. Nyo-hengte, biarlah sambil lalu aku menerka, kesulitan
yang kau maksud tadi, bukankah kau sudah punya pandangan
sendiri?" Makin merah muka Nyo Hoa, katanya, "Ah, tidak, bukan."
"Nyo-hengte pemalu, tak perlu kita menggodanya," demikian
ucap Song Theng-siau. "Aku tahu dia memang ada kesulitan,
tentang pandangan kukira belum ada"
Song Theng-siau menduga Nyo Hoa belum ada pandangan, di
luar tahunya terkaan Han Wi-bu malah tepat, dalam hatinya
memang sudah ada pandangan.
Hari kedua Nyo Hoa ikut rombongan Han Wi-bu. Di tengah jalan
Han Wi-bu bertanya, "Nyo-hengte, matamu tampak merah, apakah
semalam kau tidak dapat tidur?"
Nyo Hoa tertawa getir, sahutnya, "Semalam terlalu banyak aku
minum arak." Leng Thiat-jiau ikut mengantar, katanya, "Takaran minum arak
Beng Goan-cau lebih besar lagi, bila di Ok-khek-cau-beng kau dapat
menyusulnya, boleh kau beradu minum dengan dia."
Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan mengantar tidak jauh sudah
putar balik menyelesaikan urusan dinas. Sementara Song Thengsiau
suami istri mengantar sampai di bawah gunung. Sebelum
berpisah dia genggam tangan Nyo Hoa, katanya, "Semoga kau lekas
bertemu dengan Beng Goan-cau, sungguh merupakan kejadian
yang patut dibuat gembira" Lalu dia menoleh kepada Han Wi-bu
banyak ngobrol tentang pengalamannya berkecimpung di Kangouw
sehingga tidak sedikit pengetahuan yang diperoleh Nyo Hoa, tanpa
menemui halangan mereka mulai memasuki daerah Ok-khek-caubeng,
hari itu juga tiba di Cau-hoat, kota terbesar di daerah itu.
Ok-khek-cau-beng adalah daerah yang banyak ditempati oleh
kaum gembala, walau namanya ada sebuah kota berdiri di tengah
padang rumput, padahal hanya tempat berkumpul, yang banyak
didiami berbagai suku bangsa belaka, jauh berbeda dibanding kotakota
di pedalaman Tionggoan. Di kota besar padang rumput,
penduduknya lebih banyak tinggal di dalam perkemah-an, jarang
didirikan rumah di sini, bangunan terbesar di sini adalah kuil Lama
dari Agama Putih, kecuali itu adalah istana tuan tanah yang berkuasa
di seluruh wilayahnya, yang dinamakan istana juga hanya
sebuah rumah yang agak besar dibangun dari kayu dan genteng
saja. Dalam kota sudah tentu terdapat juga banyak toko, namun
toko-toko itu juga tidak tetap di situ, setiap tenda dipindah toko pun
ikut pindah. Setiap rombongan Han Wi-bu tiba di Cau-hoat, anak
buah raja bumi segera menyambut dan melayani mereka, mereka
ditempatkan pada sebuah perkemahan besar, setelah barang
kawalan diserahkan, menurut aturan Han Wi-bu harus menemui raja
bumi. Maksud Han Wi-bu semula mau mengajak Nyo Hoa, tapi Nyo Hoa
menolak, terpaksa Han Wi-bu pergi sendiri. Malamnya dia pulang
lalu berkata, "Sayang kita terlambat dua hari, Beng Goan-cau dan
Utti Keng pernah menjadi tamu agung dua hari di istananya. Setelah
meninggalkan tempat ini mereka akan berpisah, Beng tayhiap pergi
ke Lhasa, Utti Keng pergi ke Wi-ciang."
"Apakah nona Kim itu tidak kemari?" tanya Nyo Hoa.
"Apakah nona Kim itu pernah kemari aku tidak tahu. Sudah kutanya
kepada raja bumi dan anak buahnya, mereka bilang tidak pernah
melihat gadis yang berpakaian lelaki, tapi bukan berarti bahwa
tiada orang lain tidak melihatnya Biarlah selanjutnya aku
perhatikan." Menjelang lohor hari kedua, seorang Lama datang memberi tahu
kepada Han Wi-bu bahwa Pek-kau Hoat-ong bersedia menemui dia,
malam ini diundang untuk datang, diharapkan dia datang lebih dini
untuk merundingkan sesuatu. Dari perkemahan di mana mereka
tinggal menuju ke kuil Lama harus naik sebuah bukit, paling cepat
satu jam perjalanan, maka tak lama setelah utusan Hoat-ong pergi,
Han Wi-bu sudah siap-siap berangkat.
Han Wi-bu berkata kepada Nyo Hoa, "Di daerah Ok-khek-caubeng
ini, Pek-kau Hoat-ong lebih mulia dan diagungkan dibanding
raja bumi, kapan dia sudi menerima tamu, kali ini aku ingin
mengajakmu menemuinya."
"Aku ini paling tidak suka dibatasi gerak-gerikku, lebih baik aku
tetap di sini saja, lebih bebas."
"Aku ingin mengajakmu menemui Hoat-ong bukan lantaran dia
orang yang patut diagungkan."
"Lalu apa maksudmu?"
"Bukan saja Pek-kau Hoat-ong amat mendalam tentang ajaran
agama, dia pun seorang jago silat yang kosen."
"Apa benar?" Nyo Hoa tertarik.
"Ajaran agama aku tidak mendalam. Tapi di bidang ilmu silat, aku
tahu dia pernah bertanding dengan Kim tayhiap dan Utti tayhiap.
Menurut cerita Utti Keng, tahun itu Iwe-kang-nya masih sedikit lebih
unggul dibanding Utti Keng. Kim tayhiap mampu mengalahkan dia,
tapi waktu itu sengaja dia mengalah hingga akhirnya seri."
"O, jadi dia teman baik Kim tayhiap?"
"Iya, karena itu bila dia tahu puteri Kim tayhiap pernah kemari,
dia pasti akan bantu aku mencarinya."
"Sebelum ini pernahkah kau bertemu dengan Pek-kau Hoat-ong?"
"Walau belum pernah ketemu, tapi aku yakin sudah lama dia pernah
dengar namaku. Kabarnya dia juga senang bergaul dengan
anak-anak muda yang berkepandaian tinggi, oleh sebab itu meski


Anak Pendekar Mu Ye Liu Xing Seri Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dia jarang menerima tamu, bila kau menemui dia, pasti dia amat
senang." "Sementara ini aku tidak ingin menemuinya, mungkin setelah kau
menemuinya, besok juga masih ada waktu."
"Baiklah, akan kuperkenalkan dirimu kepadanya, supaya dia
menentukan waktunya untuk menemui engkau. Mumpung ada
waktu, boleh kau mencari tahu berita nona Kim itu, kalau kita bisa
temukan dia sendiri kan tidak perlu bikin capai orang lain."
Memang demikian maksud Nyo Hoa, katanya, "Baiklah, nanti
malam kita bertukar berita."
Nyo Hoa keluyuran di pasar yang ramai. Dia tidak tahu bahasa
daerah, sukar berkomunikasi dengan penduduk. Terpaksa dia harus
tanya kepada pedagang yang bisa berbahasa Han, mereka bilang
tidak pernah melihat pemuda seperti yang digambarkan.
Di tempat asing mencari orang yang asing pula, harapannya
sudah tentu"amat kecil. Namun Nyo Hoa tidak patah arang, tanpa
tujuan dia mengayun langkah sambil menikmati pemandangan
sekitarnya. Tanpa merasa dia berada di pasar hewan. Di tanah luas
berumput dikelilingi beberapa kemah besar di tanah lapang. Itulah
tempat berkumpul para pedagang keledai dan kuda, jual beli sedang
berlangsung. Setelah seperjalanan dengan rombongan piaukiok, sedikit banyak
Nyo Hoa sudah tahu seluk beluk memilih kuda, dia melihat seekor
kuda bulu merah dengan bulu surinya yang coklat lebat Kuda ini
tidak sebanding kuda putih yang dibawa Kita Bik-ki, namun sudah
terhitung kuda pilihan juga. Setelah kehilangan kuda, Nyo Hoa ingin
membeli kuda ini, maka dia tanya harganya. Pemilik kuda berkata,
"Kalau kau pakai sendiri, biarlah kau bayar seratus tahi! perak saja."
Khawatir Nyo Hoa merasa terlalu mahal, lekas dia menjelaskan, "Ini
kuda pilihan dari Mongol, kuat menempuh perjalanan jauh. Kalau
orang lain, aku minta duaratus tahil perak."
Nyo Hoa ingin membeli beberapa barang, uang memang dia
bawa tapi semula tidak berminat beli kuda, maka uang yang
dibawanya paling hanya puluhan tahil saja.
Melihat Nyo Hoa bimbang, pemilik kuda menambahkan, "Seratus
tahil perak sudah kelewat murah. Bukan aku membual, di tempat ini
jarang ada kuda sebaik ini."
"Aku tahu. Sebetulnya harga kuda ini tidak seratus tahil perak,
tapi"." "Engkoh cilik," kata pemilik kuda, "apa kau tidak membawa
uang?" Nyo Hoa ingin menjelaskan, tiba-tiba seorang menyeletuk di
samping, "Po kothau apa betul kau tidak membual?"
"Kenapa aku membual?"
"Coba kau lihat kuda putih di sana, itu jelas lebih bagus dari
kudamu." Waktu Nyo Hoa memburu keluar dari kerumunan orang banyak,
kuda putih itu sudah lari jauh. Diam-diam hatinya mereka-reka,
"Kuda putih apakah bukan kuda putih yang ditunggangi Kim Bik-ki?"
Lekas dia tanya, "Siapakah penunggang kuda putih itu?"
"Di sini tiada yang melihat jelas, larinya seperti angin lesus,"
Nyo Hoa tahu, untuk menyusul dirinya harus naik kuda, semoga
di tengah jalan dia istirahat, baru bisa mengejar, tapi kantongnya
hanya berisi puluhan tahil.
Untunglah dari kerumunan orang banyak tiba-tiba seorang
berseru, "Nyo siauhiap, ternyata kau di sini, aku sedang
mencarimu." Nyo Hoa. tahu orang ini anak buah raja bumi, maka dia tanya,
"Ada urusan apa?"
"Tidak apa-apa, hanya memberi kabar gembira kepadamu,"
"Kabar gembira apa?"
"Waktu cong-piau thau menyinggung dirimu di hadapan Hoatong,
Hoat-ong amat senang, kabarnya besok kau diundang
olehnya." "Besok urusan besok. Sekarang aku sedang ada sedikit urusan." .
"Nyo siauhiap ada urusan apa, aku siap membantu."
"Aku ingin beli kuda."
"Apa susahnya beli kuda, kuda mana pilihan Nyo siauhiap?"
Merah muka Nyo Hoa, katanya, "Uang yang kubawa tidak cukup,
tolong kau jelaskan kepada pemiliknya, supaya besok dia minta
kepada Han-cong-piauthau."
Orang itu tertawa, katanya, "Urusan sekecil ini kenapa harus
merepotkan Han-cong-piauthau, biar aku yang bayar. Berapa
duitnya?" "Seratus tahil perak," sahut pemilik kuda.
"Tidak, kuda ini sepatutnyaber-nuai seratus limapuluh tahil
perak." Sudah tentu pemilik kuda kegirangan, katanya, "Aha, hari ini aku
betul-betul kejatuhan rejeki."
Setelah uang diserahkan, Nyo Hoa lantas berkata, "Tolong kau
pulang memberi tahu kepada Han-cong-piauthau, malam ini
mungkin aku agak terlambat pulang." Setelah menerima pecut
segera dia cemplak kuda terus dibedal sekencang angin.
Nyo Hoa larikan kudanya belasan li. Padang rumput seluas ini
hanya ada para gembala, jejak Kim Bik-ki tidak ditemukan. Timbul
suatu akal dalam benak Nyo Hoa segera dia bersenandung,
Di empat penjuru lautan semua saudara, di ujung langit pun
bertetangga. Suara dilontarkan dengan tekanan tenaga dalam yang kuat,
gema suaranya mengalun jauh di padang rumput
Namun tiada reaksi, tak dapat tanggapan, padang rumput seluas
ini, demikian sepi hanya hembusan angin lalu saja yang berkesiur.
Nyo Hoa terus larikan kudanya tanpa tujuan, tanpa terasa dia sudah
mulai menanjak di daerah perbukitan, sayup-sayup didengarnya di
sebelah sana terdengar derap lari kuda.
Walau suaranya lemah, namun cukup menyentak sanubari Nyo
Hoa; jantungnya seketika berdebar. Segera dia keprak kudanya naik
ke atas bukit, lapat-lapat dilihatnya jauh di depan sana seseorang
menunggang kuda. Kuda itu berbulu putih, semula larinya kencang, kini mulai
diperlambat, jarak masih jauh belum kelihatan siapa
penunggangnya, namun jelas adalah perempuan. Nyo Hoa percepat
lari kudanya, sekarang dia sudah lebih jelas, bayangan punggung
gadis itu pasti Kim Bik-ki adanya, hakekatnya tidak terpikir bahwa
penunggang kuda itu orang laut
Maka dia bersenandung sekali lagi. Aneh perempuan di depan itu
tetap melarikan kudanya lambat-lambat, tapi tidak menoleh
melihatnya. Tak tahan Nyo Hoa berteriak, "Apa kau tidak dengar
suaraku, tidak melihat diriku" Aku ini Nyo Hoa, tunggulah sebentar,
tunggu, sengaja aku mengejarmu kemari."
Betul juga gadis itu menghentikan kudanya Nyo Hoa justru tidak
menduga bahwa dia berhenti, maka dia tetap keprak kudanya, lekas
sekali dia sudah memburu dekat
Mendadak gadis itu membentak, "Bajingan bernyali besar, biar
kau tahu kelihayan nona." Sambil memutar kuda, sebelah
tangannya terayun menimpukkan tiga batang piau terbang.
Mimpi juga Nyo Hoa tidak menduga bahwa Kim Bik-ki akan
menyambut kedatangannya dengan senjata rahasia, saking kaget
dia tertegun di punggung kudanya. Untung dia membekal
kepandaian tinggi, meski menghadapi kejadian yang tak terduga,
akhirnya masih lebih cepat Scbat sekali dia menyelinap turun ke
bawah perut kuda menghindari sambaran piau pertama, piau kedua
disampuk jatuh dengan lengan baju, sementara piau ketiga dia
tangkap dengan tangannya Bila dia kembali di punggung kudanya, baru melihat jelas gadis di
depannya ini bukan Kim Bik-ki, tampak wajahnya merah seperti
buah apel, meski sedang merengut tampak betapa jelita dan
anggun sikapnya. Melihat Nyo Hoa menangkap senjata rahasianya, gadis itu
semakin berang. Pecut terayun, "Tar" kepala Nyo Hoa dilecutnya.
Lekas Nyo Hoa menyampuk dengan piau yang ditangkapnya,
"Creng" ujung pecut orang terpental ke samping. Lekas dia keprak
kudanya minggir, serunya, "Wah, maaf, aku, aku salah
mengenalmu." Gadis itu mendengus, semprotnya, "Dari Cau-hoat kau
mengejarku sampai di sini, hanya karena salah mengenal orang?"
Mendadak berdiri tegak alisnya, serunya pula lebih marah, "Kukira
kau sengaja ingin pamer kepandaian" Walau aku bukan
tandinganmu, tak bisa kubiarkan kau bertingkah, mempermainkan
aku lagi." Merasa dirinya bersalah lekas Nyo Hoa minta maaf. "Nona, aku
minta maaf, aku memang salah, soalnya temanku itu juga seorang
nona, sebaya dengan kau menunggang kuda putih juga."
Mendengar penjelasan, nona itu tertarik dan balas bertanya,
"Siapakah nona itu" Boleh kau beri tahu padaku?"
"Dia bernama Kim Bik-ki."
Gadis itu melenggong. "Kim Bik-ki" Dia, dia adalah"."
"Dia puteri Kim tayhiap Kim Tiok-Iiu, apakah nona
mengenalnya?" Seketika gadis itu menarik muka, sahutnya, "Tidak kenal." Tapi
dia bertanya pula, "Kau pernah apa dengan Kim Tiok-liu?"
"Aku bukan apa-apanya."
Gadis itu merengut, jengeknya, "Hubunganmu dengan puterinya
sedemikian baik, kalau bukan tamu, tentu kenalan lama. Hm, Kang
tayhiap, Kim tayhiap segala, tokoh-tokoh Bulim selalu mengagulkan
mereka. Dan hanya murid didiknya .saja yang berani
mempermainkan orang."
Dituduh sebagai murid Kim Tiok-liu, Nyo Hoa hanya menyengir
kecut. Agaknya gadis ini merasa si-rik karena kaum Bulim
mengagumi keluarga Kang dan Kim, maka dia hanya melenggong
saja tak bisa menjawab. Akhirnya gadis itu berkata sinis, "Kalau sudah salah dan aku
bukan orang kau cari, untuk apa kau diam saja di sini?"
Nyo Hoa uring-uringan, terpaksa dia putar kudanya, katanya,
"Maaf, mengganggu nona Aku akan pulang."
"Nanti dulu," teriak gadis itu.
Nyo Hoa melengak, tanyanya, "Ada apa?"
"Kembalikan pisau terbangku."
Nyo Hoa haru sadar bahwa senjata rahasia orang masih di
tangannya. Sebelum mengangsurkan pisau terbang itu, sekilas dia
memeriksa senjata rahasia itu, ternyata di tengah piau itu berukir
dua huruf "Liong Ih".
Tergerak hati Nyo Hoa, teriaknya kaget, "Jadi kau ini puteri Tenglopiauthau
dari Liong Ih Piaukiok."
Gadis itu menank muka, semprotnya, "Kalau benar mau apa?"
"Ah, tidak apa-apa Apakah ayahmu baik?"
Mendengar nada Nyo Hoa seperti tahu ayahnya pernah sakit,
tampak sikapnya heran, tanyanya, "Kau kenal ayahku" Kenapa kau
perhatikan dia?" "Dari dua teman aku pernah dengar perkara yang menimpa
ayahmu, seorang di antaranya adalah sahabat lama ayahmu maka
dia amat prihatin akan keselamatan ayahmu."
"Siapa mereka?" tanya si gadis. Agaknya dia menduga ceritanya
pasti panjang, bicara di atas kuda rasanya kurang sopan, maka dia
melompat turun. Maklum tadi dia tidak tahu asal-usul Nyo Hoa,
wajar kalau dia curiga Kini meski belum tahu siapa dia, sedikitnya
sudah tahu dua temannya adalah sahabat baik ayahnya. Maka
sikapnya berubah. Nyo Hoa ikut melompat turun, diam-diam dia merasa heran,
pikirnya, "Kalau betul dia puteri Teng-lopiauthau, padahal Teng Ih
Piau-kiok dibuka di Hok-ciu, kenapa seorang diri dia berada di sini?"
Jengah dan kikuk sikap si gadis katanya, "Tapi aku menyerangmu
dengan pisau terbang, jangan kau berkecil hati."
"Aku selalu sembrono, memang salahku juga. Nona tidak
salahkan aku, aku sudah terima kasih. Baiklah, aku belum tanya
siapa nama harum nona. Aku bernama Nyo Hoa."
Gadis ini adalah supel dan pemberani, sahutnya dengan riang,
"Aku bernama Teng Bing-cu. Nyo-toako, siapakah kedua temanmu
ini?" "Mereka adalah Leng Thiat-jiau dan Hari Wi-bu."
Ternyata Teng Bing-cu terperanjat, sikapnya tampak bimbang,
katanya, "Di mana kau bertemu mereka" Bagaimana mungkin
secepat itu mereka mendapat kabar buruk ayahku?"
Leng Thiat-jiau dan Han Wi-bu adalah tokoh yang terkenal di Bulim,
sedang Nyo Hoa adalah pemuda tanggung yang tak ternama,
maka tidak heran kalau Teng Bing-cu tidak percaya bahwa dia kenal
mereka. Nyo Hoa seperti tahu jalan pikirannya, katanya tawar,
"Sebetulnya aku tidak setimpal menjadi teman mereka, soalnya di
tengah perjalanan aku membantu sedikit kesulitan Han-congpiauthau,
syukur mereka sudi memandang diriku, anggap aku
sebagai orang sendiri, maka terhadapku mereka pun bicarakan
persoalan ayahmu." "Yang mereka bicarakan dengan kau tentu peristiwa pembegalan
beberapa bulan lalu itu?" tanya Teng Bing-cu.
Nyo Hoa mengiakan. "Cepat juga mereka mendapat berita," ucap Teng Bing-cu heran.
"Soalnya ciangbun tecu, murid calon ketua, Kang tayhiap yang
berada di Sujwan barat yaitu Yap Bok-hoa sering mengadakan
kontak dengan Leng-thauling. Beberapa hari yang lalu bersama
Han-cong-piauthau aku bertemu dengan Leng-thauling."
Tampak senang tapi juga masgul serta malu sikap Teng Bing-cu,
mukanya jengah, pikirnya, "Entah persoalan jodohku yang minta
bantuan kepada Yap Bok-hoa pernah disinggung tidak oleh
mereka?" Dia beranggapan penolakan perjodohan ini sebagai
penghinaan terhadap dirinya.
Nyo Hoa merasakan juga sikap runyam Teng Bing-cu, lekas dia
berkata, "Han-cong-piauthau bercerita tentang hubungan baiknya
dengan ayahmu, setelah tahu terjadinya peristiwa itu, dia amat
kangen dan khawatir, ingin rasanya segera menilik ayahmu. Tak
nyana nona sudah berada di sini malah."
"Jadi Han-cong-piauthau sekarang berada di"."
"Dia berada di Cau-hoat, dia mengantar obat untuk Ok-khek-caubeng.
Apakah nona ingin bertemu dengan dia?".
Teng Bing-cu tampak bimbang, katanya sesaat kemudian, "Ayah
sering membicarakan dia dengan aku, sudah lama ingin aku
menemuinya, tapi sekarang aku ada urusan biarlah lain kesempatan
saja." Ada urusan apa, tak enak Nyo Hoa bertanya maka dia berkata,
"Wah, sayang sekali. Bagaimana keadaan ayahmu belakangan ini"
Boleh aku tahu" Biar nanti kuceritakan kepada Han-cong-piauthau."
Seketika kelam rona muka Teng Bing-cu, katanya, "Terima kasih
akan perhatian Han-cong-piauthau, penyakit ayah belum sembuh.
Piau-kiok kami sudah tutup."
"Kenapa?" tanya Nyo Hoa terperanjat
"Mencari nafkah di kalangan piauhang banyak resikonya. Ayah
menanam banyak permusuhan, sekarang jatuh sakit, setelah dipikirpikir,
lebih baik menutup pintu menggantung golok saja."
Ternyata setelah gagal merampas barang Kiat Hong tidak terima,


Anak Pendekar Mu Ye Liu Xing Seri Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dia mengancam akan terus mencari perkara kepada pihak Liong Ih
Piau-kiok. Karena gagal membicarakan perjodohan puterinya, Tenglopiau-
thau jatuh sakit lagi, dia lebih putus asa, tahu dirinya bukan
tandingan Kiat Hong, merasa malu minta bantuan kepada Kang
Hay-thiah, terpaksa dia bubarkan piaukiok-nya, lalu pergi ke tempat
lain, di samping menyembunyikan diri sekaligus merawat
penyakitnya. Sebetulnya ayah Teng Bing-cu sedang sakit tak pantas keluar
sejauh ini. Tapi Nyo Hoa baru kenal tidak ingin membuat kesalahan
lagi, meski merasa heran tak berani dia tanya, setelah berbincangbincang
beberapa kejap lagi, dia mohon diri.
Tak nyana di waktu dia memanggil kudanya mendadak
didengarnya derap lari kuda yang kencang. Cepat sekali dua ekor
kuda dilihatnya sudah menerobos keluar di lekukan bukit sana,
penunggangnya seorang laki-laki setengah umur bermuka kasar,
seorang lagi hwesio kepala besar telinga lebar.
Begitu melihat kedua orang ini, berubah air muka Teng Bing-cu.
Lekas dia melompat berdiri seraya mencabut golok. Lekas Nyo Hoa
tanya, "Siapa kedua orang ini?"
Laki-laki kasar itu sudah melompat turun di depan mereka sambil
gelak tertawa, "Nona manis, aku tabu kalian ayah beranak sembunyi
menghindari aku, sayang kau tetap kepergok juga olehku."
Mendengar perkataan orang, tanpa dijelaskan lagi Nyo Hoa juga
sudah tahu, bahwa orang ini pasti adalah Kiat Hong yang gagal
merampas barang kawalan Liong Th Piaukiok di Sujwan barat itu.
Waktu Nyo Hoa tanya kepada Teng Bing-cu, Hwesio kepala gede
itu juga tanya kepada temannya, "Apakah bocah ini Kang Siangbun?"
Kiat Hong tertawa besar, katanya, "Memang kuharap Kian g
Siang-hun, sayang bukan. Hehehe, orang sering bilang perempuan
suka ganti kekasih, ternyata memang kenyataan. H"ehe, bukti di
depan mata, nona manis keluarga Teng ini sekarang sudah ganti
tunangan lagi." Saking marah, merah padam muka Teng Bing-cu, bentaknya,
"Bangsat busuk; biar aku adu jiwa dengan kalian!"
Kiat Hong tertawa dingin, je-ngeknya, Heng-siocia, kekasihmu
yang baru ini mungkin takkan mampu melindungimu seperti Kang
Siang-hun tempo hari. Kau ingin adu jiwa dengan aku, apa tidak
ingin dihajar malah?" Tongkat besinya sebesar mulut mangkok
diangkatnya terus dipukulkan ke pinggir batu besar hingga batu
hancur, bentaknya, "He, kau bocah pelindung kembang, kuberi
kesempatan padamu, kalau berani boleh maju, kalau takut lekas
enyah dari sini, kami hanya akan membuat perhitungan dengan
nona jelita ini." Dengan kalem Nyo Hoa melompat berdiri, katanya, "Nona Teng,
silakan naik kuda dan berangkatlah lebih dulu, biar kuhajar mereka."
"Kiat suheng," kata Hwesio gendut, "kali ini kau salah lihat. Tak
nyana bocah ini seorang pemberani, katanya mau menghajar kita."
Betapa jumawa sikapnya, seperti tidak memandang sebelah mata
kepada Nyo Hoa. Nyo Hoa berkata, "Aku sebal melihat tingkah kalian yang tidak
kenal aturan ini, mereka sudah menutup perusahaan, apa pula
kehendak kalian?" Kiat Hong terbahak-bahak, serunya, "Bukankah kukatakan
barusan, kami hanya ingin membuat perhitungan dengan nona Teng
ini." Hwesio gemuk itu berkata, "Kiat-suheng, buat apa kau adu mulut
dengan bocah keparat ini. Boleh kau petik kembang jelita itu, bocah
ini serahkan kepadaku."
"Tutup bacotmu!" mendadak Nyo Hoa menghardik. Belum lenyap
suaranya, "Plak" mendadak Nyo Hoa menerjang maju memberi
gamparan di mulut orang. Dalam waktu yang sama, hwesio gendut itu sedang menubruk ke
arah Teng Bing-cu. Belum lagi Teng Bing-cu lompat ke punggung
kudanya, mendadak terasa angin menyambar di belakangnya,
ternyata hwesio itu sedang mencengkeram pundak. Tapi sebelum
jari-jarinya mencengkeram pundak orang, hwesio gendut juga
merasakan angin menyambar di belakang, tiga biji mata uang
tembaga mengincar tiga hiatto besar di punggungnya. Ternyata
hanya dalam sekejap itu, setelah menampar mulut Kiat Hong,
berbareng dia timpukkan tiga mata uang ke arah si hwesio untuk
menyelamatkan Teng Bing-cu.
Ternyata hwesio gendut bukan kaum keroco, terdengar "Tring",
mata uang pertama kena dijentik, berbareng dia menjatuhkan diri
rebah di tanah terus menggelinding menghindari mata uang kedua,
namun demikian mata uang ketiga mengenai bawah Jian-kin-hiat di
pundak kiri. Meski hiatto-nya tidak terkena secara telak namun
lengan kiri hwesio gendut sudah tidak mampu bergerak lagi.
Keadaan Kiat Hong lebih parah dari hwesio itu, gigi depannya
copot dua karena tamparan Nyo Hoa.
Sebetulnya dinilai kepandaian sejati, Kiat Hong tidak kalah
melawan Nyo Hoa. Soalnya dia meremehkan Nyo Hoa yang masih
muda dan dianggap hijau, mimpi pun tidak pernah terbayang
olehnya bahwa kepandaian Nyo Hoa masih lebih tinggi dari putera
Kang Hay-thian yang pernah mengalahkan dirinya, maka dengan
mudah dia kecundang. Apalagi ginkang yang diyakinkan Nyo Hoa di
Ciok-lin berbeda dengan perguruan yang ada di Tionggom Begitv
sebat geraknya, sekali berkelebat tahu-tahu sudah di depan mata,
mau menggerakkan tongkatnya juga sudah tidak sempat lagi.
Betapapun dia terhitung seorang jago silat yang cukup tangguh,
meski sudah cidera, reaksinya masih cukup gesit. Nyo Hoa berhasil
memukul mulutnya, namun dia pun tertumbuk pundaknya hingga
tergentak mundur tiga langkah, sesaat napasnya terasa sesak
sepera" dada kena hantam. Kiat Hong mencak-mencak seperti
kebakaran jenggot, tongkat besarnya terayun terus mengemplang
ke arah Nyo Hoa. Nyo Hoa tertawa, jengeknya, "Kau bajingan tidak tahu malu ini,
masih berani mengganas. Tadi hanya kuberi sedikit hukuman.
Selanjurnya tidak hanya kugampar mulutmu saja." Dalam sekejap
ini dia sudah mengatur pemapasannya, sembari bicara dia angkat
pedangnya menangkis tongkat gede Kiat Hong.
Saking malu Kiat Hong naik pitam, bentaknya, "Anak keparat,
kalau tidak hancur lebur badanmu aku bersumpah tidak jadi
manusia." Tiang" dia tangkis pedang Nyo Hoa.
Bila tongkat gedenya diputar kencang, angin menderu-deru,
hawa bergolak mengeluarkan deru seperti semburan lahar gunung
berapi, rumput di sekitar kakinya seperti dicabuti, beterbangan ke
udara bersama pasir dan debu. Ada maksud Nyo Hoa menyerbu,
namun tidak mampu menerobos pertahanan lawan yang kokoh,
cepat sekali belasan jurus telah lewat. Tiga kali pedang pusaka Nyo
Hoa beradu selaia menimbulkan percikan kembang api, tongkat
lawan juga tergores cacat Tapi berat tongkat Kiat Hong ada
enampuluh tujuh kati, walau pedang pusaka itu tajam juga tidak
dapat memapasnya kutung. Dalam tipu serangan Nyo Hoa di atas
angin, namun pergelang-an tangannya sudah kesemutan.
Kaget juga hati Nyo Hoa menghadapi perlawanan permainan
tongkat ajaran Siau-lim-si, tak heran kalau putera Kang tayhiap
hanya mampu menggebahnya, tidak mampu melukainya. Maka Nyo
Hoa menabahkan hati, permainannya lebih cermat mencari
kesempatan mematahkan permainan tongkat lawan.
Kiat Hong bertempur sambil berteriak-teriak, makin bertempur
makin sengit dan bernafsu. Seperti binatang liar yang terluka, dia
mengamuk dengan tongkat besarnya itu, gerakannya semakin
ngawur tak karuan. Terpaksa Nyo Hoa harus kembangkan
ketangkasannya, hindar sana kelit sini, dia hindarkan benturan
namun tetap membendung rangsakan lawan. Kiat Hong adalah ahli
silat, kelihatannya permainan tongkatnya tidak karuan, padahal
memiliki pertahanan yang teratur. Pengalamannya cukup luas,
namun dia tidak habis mengerti ilmu pedang aliran mana yang
dimainkan Nyo Hoa, karuan hatinya mencelos. Karena itu, meski
tetap merangsak dia lindungi badan sekokoh dinding baja.
Dugaan Kiat Hong memang tidak keliru. Hwesio gendut itu meski
cidera, lengan kiri tidak mampu bergerak, namun melawan Teng
Bing-cu kepandaiannya masih cukup untuk mendesaknya.
Syukur Nyo Hoa mencegah lawan sejenak, waktu Teng Bing-cu
membalik badan kebetulan dia disongsong golok sekop si hwesio.
Hwesio gendut ini bergelar Pek-san, bukan murid Siau-lim tapi
kepandaiannya cukup lumayan, hanya setingkat di bawah Kiat
Hong. Teng Bing-cu bersenjata sepasang golok panjang pendek, dia
kembangkan ilmu golok ajaran keluarga, golok panjang menyerang
musuh, golok pendek melindungi badan. Dengan kedua goloknya itu
dia melabrak hwesio gendut itu. Semula keadaan masih sama kuat,
tapi setelah tenaganya terkuras, keadaan Teng Bing-cu semakin
terdesak. Rasa lemas lengan kiri hwesio gendut lama kelamaan hilang, kini
mulai bisa bergerak bebas, maka permainan golok di tangan
kanannya makin lincah leluasa. Mendadak dia menghardik,
"Kena!",?"Trang" golok panjang Teng Bing-cu kena diketuknya
mencelat Hwesio gendut tertawa, katanya, "Walau aku ini orang beribadat
tapi tidak kenal kasihan, meski terhadap nona seayu engkau. Nona
Teng, kau secantik ini, sayang kalau golokku salah melukai kau.
Demi keselamatanmu lebih baik kau menyerah saja. Kami tidak akan
menyakiti engkau." "Kentutmu busuk!" hardik Teng Bing-cu. Kini dia melawan hanya
dengan golok pendek. Meski lagi bertempur, perhatian Nyo Hoa tidak lepas pada
keadaan Teng Bing-cu. Melihat keadaan gawat, tanpa pikir panjang
segera dia lancarkan serangan mematikan. Memang dia sudah di
atas angin, namun dalam waktu singkat susah dia mengalahkan
lawan dan mengakhiri pertempuran secepat mungkin.
Kebetulan Kiat Hong menyapu miring dengan tongkatnya,
mendadak Nyo Hoa gunakan jurus Mencabut Lobak di Tanah Kering,
tubuhnya mendadak meloncat tinggi, menggunakan tenaga
pinjaman, pedangnya mengetuk di ujung tongkat lawan, badannya
seketika terpental melambung lebih tinggi pula Dengan menekuk
badan seperti anak panah tubuhnya meluncur ke depan. Kiat Hong
hanya rasakan kepalanya mendadak dingin dan silir, saking kaget
serasa arwah telah melayang. Ternyata pedang Nyo Hoa sudah
mencukur sebagian rambutnya. Kiat Hong memangnya hwesio yang
kembali preman, kini setengah kepalanya dibikin botak oleh pedang
Nyo Hoa. Serangan yang dilancarkan Nyo Hoa boleh dikata amat
berbahaya, jikalau bukan lantaran Bu-beng-kianvhoat yang
diyakinkan itu dapat berubah menurut situasi dan selalu di luar
dugaan lawan, badannya yang terapung itu kemungkinan takkan
mampu diselamatkan lagi bila musuh melancarkan jurus susulan
kedua. Dalam hati Nyo Hoa bersyukur, sebaliknya Kiat Hong merasa
beruntung. Maklum bila pedang Nyo Hoa ditekan sedikit rendah,
pasti kulit kepalanya sudah terpapas pula. Sambil meraba batok
kepalanya yang pelontos, lenyap semangat tempur Kiat Hong, lekas
dia ambil langkah seribu. Untung Nyo Hoa juga sudah tidak sempat
menghiraukan dia. Kedatangan Nyo Hoa tepat pada waktunya. Hwesio gendut itu
sedang lancarkan Khong-jiu-jip-pek-to, jari mencengkeram pergelangan
tangan Teng Bing-cu. Terdengar "Cret" menyusul jeritan
ngeri Teng Bing-cu. Ternyata dalam detik-detik berbahaya itu, golok
pendeknya berhasil mengiris robek jubah di depan dada si hwesio,
namun golok pendeknya seketika terampas oleh lawan.
Nyo Hoa membentak, "Berhenti!" Orang pun tiba. "Sret"
pedangnya menusuk ke arah si hwesio. Hwesio gendut juga
membentak, "Bocah keparat, boleh kau tusuk!" Mendadak Teng
Bing-cu diraihnya terus didorong ke arah Nyo Hoa. Teng Bing-cu
dijadikan tameng untuk menyelamatkan diri sendiri.
Di luar tahunya permainan pedang Nyo Hoa benar-benar aneh
luar biasa. "Sret" batang pedang menyerempet pelipis Teng Bing-cu,
namun tidak melukainya sama sekali, jari tangan si hwesio malah
teriris putus oleh pedangnya, karena kesakitan lekas dia lepas
tangan. Sementara Teng Bing-cu yang didorong itu jatuh ke dalam
pelukan Nyo Hoa Beberapa kali lompatan si hwesio memburu ke sana langsung dia
melompat ke punggung kuda putih milik Teng Bing-cu, serunya
berge-lak tawa, "Tidak dapat orangnya, mending juga memperoleh
kudanya." Teng Bing-cu meronta dari pelukan Nyo Hoa dengan wajah
merah, tapi waktu dia angkat kepala segera dia menjerit panik,
"Celaka, hwesio bangsat itu mencuri kudaku."
Kuda putih Teng Bing-cu terlatih baik, agaknya dia tahu bahwa
hwesio gendut ini musuh majikannya, dia hanya berputar-putar
tidak mau lari, mendadak meringkik sambil berdiri dengan kaki
depannya Hwesio gendut hampir dilemparnya jatuh. Nyo Hoa
membentak, "Lari ke mana?" Segera dia kembangkan ginkang Patpou-
kan-sian mengejar ke sana.
Melihat Nyo Hoa mengejar datang, si hwesio gelisah. Mendadak
dia ayun golok membacok pantat kuda, bentaknya, "Binatang, mau
lari tidak." Karena, kesakitan kuda putih itu membedal seperti
kesetanan. Hwesio gendut sempat menimpukkan golok pendek di
tangannya mencegah Nyo Hoa mengejar lebih jauh. Nyo Hoa
tangkap golok pendek itu, namun kuda putih sudah lari jauh tak
terkejar lagi. Nyo Hoa kembalikan golok pendek itu kepada Teng Bing-cu.
Teng Bing-cu amat sayang pada kuda putih itu, melihat goloknya
berlepotan darah, hatinya amat sedih.- Lekas Nyo Hoa
menghiburnya, "Syukur nona tidak terluka, biarlah kuda itu
dicurinya, kelak pasti dapat direbut balik. Hahaha, coba lihat betapa
runyam keparat pelontos itu melarikan diri."
Ginkang Kiat Hong ternyata tidak lemah, walau tidak
menunggang kuda, saat mana dia sudah lari sejauh beberapa li,
bayangannya masih kelihatan di balik bukit sana. Mungkin hatinya
belum tenang, sambil lari sering dia meraba kepalanya yang botak.
Teng Bing-cu ikut geli, katanya tertawa, "Nyo-toako, syukur ada
kau. Kepandaianmu memang hebat. Kang Hay-thian diagulkan
sebagai pendekar besar di Bulim, puteranya adalah murid jago
pedang nomor satu macam Kim Tiok-liu, tapi puteranya, Kang
Siang-hun, harus berjuang mati-matian setengah jam lamanya baru
menggebah keparat itu lari. Dibanding kau hanya tiga-puluhan
jurus, bukan saja menampar lepas giginya, mencukur rambutnya
lagi." Mendengar orang memuji dirinya, lantas terbayang oleh Nyo Hoa
akan kelakar Leng Thiat-jiau yang akan jadi comblang merangkap
jodohnya dengan nona ini, seketika merah mukanya. Katanya rikuh,
"Nona terlalu memuji. Aku ini orang yang tidak ternama, mana
berani dibanding dengan putera Kang tayhiap?"
Teng Bing-cu mendengus, "Ternama atau tidak ternama, bukan
sedikit orang-orang ternama yang tidak berisi. Yang penting adalah
kepandaiannya yang sejati."
"Putera Kang tayhiap memangnya tidak berkepandaian tinggi?"
Teng Bing-cu meliriknya, ujarnya, "Ya, aku lupa kau bersahabat
baik dengan puteri Kim tayhiap, Kang Siang-hun adalah suheng


Anak Pendekar Mu Ye Liu Xing Seri Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

nona itu, tak heran kau membela dia. H m, tapi aku, aku tak sudi
bicara tentang dia lagi."
"Memang, yang penting kita memutuskan bagaimana kita
selanjutnya. Nona kehilangan tunggangan, hari sudah malam, entah
di depan ada penduduk atau tidak, kuanjurkan kau ikut aku pulang
ke Cau-hoat saja. Han-cong-piauthau teman ayahmu sekarang di
sana." "Nyo-toako, kau pandai memikirkan kepentingan orang lain, aku
amat berterima kasih akan pertolongan dan maksud baikmu. Tapi
aku tidak akan kembali ke Cau-hoat"
"Lho kenapa?" "Tidak apa-apa, tidak mau ya tidak mau."
Nyo Hoa, tidak berani membujuknya lagi, katanya, "Nona Teng,
maaf kalau aku lancang tanya, kau mau ke mana?"
"Aku ingin pergi keThian-san."
Nyo Hoa kaget, katanya, "Seorang diri kau mau pergi ke Thiansan"
Perjalanan amat jauh sekali."
"Kau sudah menyelamatkan jiwaku, aku tidak akan anggap kau
orang luar. Sebetulnya ayah merasa berat dipaksa menutup
piaukiok. Namun dia maklum dirinya tidak mampu melawan musuh, karena
dipaksa keadaan dia tutup piaukiok lari ke tempat jauh, namun
terasa sukar juga menyelamatkan diri. Karena itu kami harus
berdaya mohon bantuan orang pandai, kecuali demi keselamatan
juga supaya piaukiok dibuka lagi."
Nyo Hoa manggut-mangut tanda mengerti. Pikirnya, "Jadi dia
mau minta bantuan Thian-san-pay. Konon kepandaian ciangbunjin
Thian-san-pay Tong Keng-thian tidak lebih rendah dari Kang Haythian
dan Kim Tiok-liu, apalagi mereka berjiwa ksatria. Padahal di
Tionggoan tidak kurang orang pandai, kenapa jauh-jauh harus
minta bantuan ke sana?"
Teng Bing-cu seperti meraba isi hatinya, segera dia menjelaskan,
"Ayah sudah tua, tenaga lemah, kekuatan sendiri tidak mampu
melawan musuh, tapi wataknya justru tidak mau minta bantuan
orang lain. Sudah tentu bila orang membantu dia, harinya amat
berterima kasih, namun bila suruh dia buka mulut minta bantuan,
apalagi kepada orang yang tiada sangkut pautnya dengan kalangan
piaukiok, meski dia dibunuh musuh juga tidak akan sudi tunduk atau
minta bantuan orang luar."
Bertaut alis Nyo Hoa mendapat penjelasan ini, sungguh dia tidak
habis mengerti menghadapi watak aneh ayah si gadis. Kalau tidak
mau minta bantuan orang, kenapa pulennya disuruh ke Thian-san"
Maka Teng Bing-cu menjelaskan lebih lanjut, "Aku ada seorang
susiok muda, murid penutup dari kakek guruku, dia pun pemegang
saham dalam Liong Ih Piaukiok. Hobinya belajar silat. Sejak suco
meninggal, dia minta persetujuan ayah, lalu pindah ke perguruan
Thian-san." "O, maksud ayahmu ingin mengundang sute ciliknya itu untuk
menguasai piaukiok."
"Ya. Memangnya susiok juga memegang saham, maka hal ini
tidak terhitung minta bantuan kepada orang luar."
"Tapi Thian-san ribuan li jauhnya. Kiat Hong muncul di daerah
ini, malam ini mereka melarikan diri, mungkin akan selalu menguntit
jejakmu." "Aku mewarisi watak ayah. Bila ingin melakukan sesuatu, meski
rintangan menghadang betapapun aku tidak akan bekerja setengah
jalan." Tekadnya yang besar dan teguh membuat Nyo Hoa rikuh dan
serba salah pula, sesaat teriongong kebingungan. Sebetulnya ada
hasrat mengantar nona Teng ke Thian-san sekaligus menjemput
adiknya di sana. Tapi mengingat dia harus selekasnya membuat
perhitungan dengan Beng Goan-cau, sesaat dia jadi bingung.
Teng Bing-cu tidak tahu apa yang dipikir oleh Nyo Hoa, tiba-tiba
dia berkata, "Nyo-toako, kau tak usah khawatir, meski jalan kaki aku
pasti akan sampai di Thian-san. Bukankah kau sendiri ingin lekas
kembali ke Cau-hoat?"
"Ya, ya, tapi" tapi"."
Teng Bing-cu tertawa geli, kautnya, "Malam ini terang bulan,
lekaslah kau pulang, di sini kau tidak menemukan nona Kim, bukan
mustahil nona Kim sedang menunggu kau pulang di Cau-hoat"
Bagaimanapun Nyo Hoa tidak tega, katanya, "Biarlah sampai
terang tanah kan belum terlambat" Mendadak Teng Bing-cu
bersikap kereng, katanya dingin, "Kita bertemu di tengah jalan, aku
menerima budi pertolonganmu, sungguh amat berterima kasih,
mana boleh membuat kau capai lagi" Dan lagi meski kaum
persilatan tidak pantang adat istiadat tapi bila sampai nona Kim tahu
kau semalam suntuk menemani aku di padang terbuka begini,
celaka bila menimbulkan rasa curiganya."
Nyo Hoa sadar, segera dia berdiri, katanya, "Baik, nona Teng aku
akan pulang tapi kudaku ini boleh kau pakai saja."
Teng Bing-cu melengak, katanya, "Maksudmu kudamu kau
berikan kepadaku?" "Kudaku ini tidak secepat kudamu, namun dia sudah biasa
menempuh perjalanan jauh, boleh kau berangkat naik kuda ini."
Di samping terima kasih, Teng Bing-cu terbaru dan menyesal
pula Sambil berlinang airmata dia berkata tersendat "Tidak, jangan,
Nyo toako aku tak bisa terima kudamu."
Mendadak terdengar kuda lari mendatangi, Nyo Hoa heran,
"Malam-malam begini siapa berkeliaran di padang rumput, mungkin
Kiat Hong balik membawa bantuan?" Mendadak terdengar dua
orang menjerit bersama. Seorang penunggang kuda yang dibedal
mendatangi, seorang lagi adalah Teng Bing-cu yang ada di
sampingnya. Jelas kedua pihak sama-sama kaget dan heran, tapi
sekejap ini tak tahu apa yang harus mereka ucapkan
Di bawah rembulan, Nyo Hoa melihat tegas seorang yang sudah
melompat turun dari kudanya yaitu seorang pemuda berusia
duapuluh-an. Setelah tenangkan diri, pemuda itu mengawasi Nyo
Hoa sejenak lalu berkata, "Nona Teng, ternyata kau memang di sini"
Agaknya dia sudah tahu jejak Teng Bing-cu, tapi tidak kira bahwa
Nyo Hoa juga di sini. "Memangnya amat kebetulan sekali," ujar Teng Bing-cu tawar.
"Tak nyana disini bertemu dengan kau," .
"Menurut penyelidikanku, Kiat Hong dan seorang begundalnya
mengejar ke arah sini. Nona kau.,.."
Teng Bing-cu menukas dingin, "Terima kasih atas perhatianmu.
Barusan saja aku sudah berhantam dengan mereka."
Pemuda itu kaget, serunya, "Kau sudah berhantam dengan
mereka" Mana, mana mereka?"
"Kenapa gugup, kalian belum kenal bukan" Mari kuperkenalkan,"
tiba-tiba dia tarik Nyo Hoa berdiri jajar adu pundak dengan sikap
yang mesra, maju ke depan si pemuda.
Setelah Kiat Hong digebah pergi, walau Teng Bing-cu merasa
simpati terhadapnya, tapi hubungan mereka masih menjaga normanorma
kesopanan, kini mendadak sikapnya begini mesra, karuan
Nyo Hoa meringis runyam, namun tak enak mendorongnya, karuan
merah selembar mukanya. Perlahan Teng Bing-cu berkata, "Biar kuperkenalkan. Inilah
putera kedua Kang tayhiap, Kang Siang-hun Kang siauhiap. Dia ini
temanku Nyo-toako " Jantung Nyo Hoa berdegup keras setelah tahu pemuda ini adalah
Kang Siang-hun. Pikirnya, "Mungkin dia pun mencari Bik-ki" Entah dia sudah
bertemu dengan engkoh Bik-ki" Kalau dia pun salah paham
terhadapku, wah celaka."
Mendengar nama Nyo Hoa, Kang Siang-hun juga kaget, sesaat
dia terbeliak mengawasi Nyo Hoa, katanya kemudian, "Ternyata kau
inilah Nyo Hoa toako, selamat bertemu"
Teng Bing-cu kira orang merasa iri terhadap Nyo Hoa, maka dia
nekad tnenggelendot di dada Nyo Hoa, katanya, "Berkat
pertolongan Nyo-toako dengan mudah dia meng-gebah Kiat Hong
dan hwesio gendut itu, hingga mereka lari tunggang langgang."
Sengaja dia mengagul-kan kepandaian Nyo Hoa, dia kira dapat
membuat Kang Siang-hun dongkol. Tapi Nyo Hoa semakin runyam
malah. Tidak tampak perubahan mimik muka Kang Siang-hun, katanya,
"Bagus sekali kau sudah mendapat perlindungan Nyo-toako, maka
legalah hatiku." Lekas Nyo Hoa berkata, "Hanya secara kebetulan aku bertemu
nona Teng dan menolongnya dari tangan Kiat Hong. Sekarang aku,
aku akan pulang ke"."
Sebelum Nyo Hoa menyebut kota Cau-hoat, mendadak Teng
Bing-cu menyela, "Nyo-toako, bukankah tadi kau bilang hendak
menemani aku berangkat ke Thian-san?"
Tadi Nyo Hoa memang ada maksud demikian, namun dia tak
berani mengutarakan isi hatinya. Kini Teng Bing-cu seperti sengaja
main sandiwara di depan Kang Siang-hun, sesaat dia tertegun tak
mampu menjawab. Maka Kang Siang-hun tertawa kering, katanya, "Itu lebih baik,
semoga kalian selamat sepanjang jalan."
Nyo Hoa bingung, karena terdesak segera dia berontak, katanya
tergagap, "Kang-toako sudah, sudah datang, kupikir" kupikir,?"
Khawatir dia mengatakan sesuatu yang menusuk telinga, lekas
Teng Bing-cu menyela, "Kau pikir apa?"
"Kupikir pulang ke Cau-hoat saja, tadi bukankah kau
menganjurkan aku pulang" Kepandaian Kang-toako lebih" lebih"."
Seketika. Teng Bing-cu naik pitam, dia kibaskan tangan Nyo Hoa,
katanya dingin, "Baik, kau boleh pulang, tak usah pakai alasan.
Walau aku gadis lemah, tak usah orang melindungi aku."
Nyo Hoa tidak kira orang mendadak marah-marah, seketika dia
berdiri melenggong. Semula Teng Bing-cu kira Kang Siang-hun akan campur bicara,
tak nyana dia berdiri berpeluk tangan, seolah-olah urusan tidak ada
sangkut pautnya, sikapnya tenang, tak bicara lagi.
Sesaat keadaan hening, Teng Bing-cu hendak bicara lagi.
Mendadak Kang Siang-hun bersuara, "Nyo-heng, silakan ke sana,
aku ingin bicara dengan kau."
Teng Bing-cu sudah mau menyingkir, seketika batal, serunya,
"Apaan, aku tidak boleh dengar percakapan kalian?" semprot Teng
Bing-cu menarik muka. "Bukan begitu maksudku, ada sedikit urusan pribadi aku ingin
bicara dengan Nyo-heng, jangan kau ambil hati," demikian ucap
Kang Siang-hun. Jantung Nyo Hoa sudah berdebar-debar, entah persoalan apa
yang hendak dibicarakan Kang Siang-hun dengan dirinya. Tapi
mumpung ada kesempatan menyingkir dari rengekan Teng Bing-cu,
maka tanpa bicara dia ikuti Kang Siang-hun berjalan ratusan
langkah ke sana Setelah yakin Teng Bing-cu tidak akan mendengar
percakapan mereka, bara Kang Siang-hun berhenti, katanya dengan
suara perlahan, "Sebenarnya kau suka Nona Teng atau suka
sumoay-ku?" Nyo Hoa sudah menduga orang akan mengajukan pertanyaannya
ini, namun setelah menghadapi pertanyaan ini, seketika
merahjengah selembar mukanya, lekas dia membela diri, "Sungguh
aku baru saja bertemu dengan nona Teng, kebetulan kupergoki
peristiwa tadi. Baru beberapa jam aku mengenainya."
Sikap Kang Siang-hun seperti tidak percaya, katanya, "Kalau
benar demikian, caramu menghadapi perempuan memang patut
dipuji" Tidak memberi kesempatan Nyo Hoa mendebat pula, dia
sudah meninggikan suara, "Lalu di mana Bik-ki?"
Merah muka Nyo Hoa mencapai telinga, katanya, "Kang-toako,
jangan kau salah paham, aku dengan Bik-ki?"
"Dengan dia kenapa?" tukas Kang Siang-hun.
Susah Nyo Hoa memberi penjelasan. Sebetulnya dengan Bik-ki
dia sudah tahu sama tahu, sama-sama jatuh cinta, selama beberapa
hari tnj juga dia selalu kasmaran, namun masing-masing belum
sempat menyatakan cintanya. Terhadap Bik-ki dia tidak berani
mengatakan hanya sekedar kenal belaka, tapi juga tidak berani
menyatakan bahwa mereka sahabat dekat.
Kang Siang-hun menatap dingin, katanya, "Baiklah, aku tidak
peduli bagaimana hubunganmu dengan dia, sekarang dia di mana?"
"Aku tidak tahu,"sahut Nyo Hoa lirih.
"Kau meninggalkan Cau-hoat, untuk apa lari kemari?"
"Memang aku kemari mencari dia, tapi tidak ketemu."
Makin buruk wajah Kang Siang-hun mendengar Nyo Hoa
mengaku kemari mencari Kim Bik-ki.
Nyo Hoa menggigit bibir, katanya dengan suara getir, "Aku" aku
tahu hubunganmu amat baik dengan Bik-ki, aku" aku tidak pernah
merusak hubungan kalian, kuharap kau percaya padaku."
Tenang juga mimik Kang Siang-hun, akhirnya katanya,
"Bagaimana hubunganku dengan dia adalah persoalan lain, kau
tidak perlu turut campur. Tapi kalau bu ingin aku percaya
omonganmu, kau harus menerima dua syaratku."
"Dua syarat apa?"
"Pertama, selanjutnya kau dilarang menemui Kim Bik-ki. Kedua,
ku larang kau ceritakan kepada siapa pun bahwa kau sudah kenal
baik dengan Bik-ki."
Sebetulnya Nyo Hoa memang merasa minder, anggap dirinya
tidak setimpal jadi pasangan Kim Bik-ki. Kini berhadapan dengan
Kang Siang-hun, dia pun merasa dirinya terlalu kerdil. Dalam
sanubarinya sudah pernah dia berjanji selanjutnya tidak pantas
menemui Kim Bik-ki pula. Tapi kedua syarat yang diajukan Kang
Siang-hun terasa menusuk perasaannya. Betapapun dia punya
harga diri, merasa orang sengaja hendak menjatuhkan harga
dirinya. Melihat wajah orang merah padam, Kang Siang-hun tahu orang
sudah naik pitam, tapi dia justru tidak memberi kelonggaran,
tanyanya sambil menatap tajam, "Kedua syaratku itu terhitung
sudah memberi muka kepadamu, kau mau terima tidak?"
Nyo Hoa membusungkan dada malah, katanya lantang, "Kangsiauhiap,
aku menghormatimu, tapi jangan kau menghina aku."
"Aku bertindak demi kebaikanmu juga, kau anggap aku
menghina Memangnya kau ingin aku membongkar niat jelekmu?"
Betapapun Nyo Hoa sabar, kini tidak tahan lagi, tanyanya, "Boleh
kau katakan, aku punya niat jelek apa?"
"Jawab dulu pertanyaan tadi."
"Aku tidak mau terima." Di tengah tawa dingin Kang Siang-hun,
Nyo Hoa berkata, "Dua syarat yang kau ajukan tidak mungkin
kuterima secara sepihak, karena syarat ini juga menyangkut
sumoay-mu. Misalnya aku berusaha menghindari pertemuan dengan
dia, tapi kaiau Bik-ki yang datang mencari aku bagaimana" Tentang
perkenalanku dengan dia boleh tidak kuceritakan kepada orang lain.
Tapi aku yakin Bik-ki tidak akan menyangkal bahwa paling tidak aku
pernah bersahabat dengan dia." Jawaban ini sebetulnya masuk akal,
namun bagi pendengaran Kang Siang-hun amat menusuk
perasaannya Kang Siang-hun menjengek, "Bagus, akhirnya aku paham ke
mana maksud hatimu. Hm, sudah tentu kau mengharap punya
ikatan dengan Kim tayhiap, maka tidak akan mengabaikan
perkenalanmu dengan Bik-ki."
Sekuatnya Nyo Hoa menahan luapan perasaannya, namun nada


Anak Pendekar Mu Ye Liu Xing Seri Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

suaranya terdengar ketus dan gusar, "Kang-siauhiap, kau adalah
murid didikan keluarga ternama, punya ayah baik, guru pun bagus.
Orang seperti diriku sudah tentu tidak setimpal dijajarkan dengan
engkau. Tapi jangan kau lantas menilai rendah orang lain. Jelekjelek
orang she Nyo tidak sudi mengangkat derajat sendiri
meminjam kebesaran orang lain. Hm, memangnya perkenalanku
dengan Bik-ki membuat kotor dirinya?"
Kang Siang-hun menatapnya dingin, ternyata sikapnya tenangtenang
saja Setelah dia habis bicara, baru dia berkata perlahan,
"Sudah tak usah main sandiwara Kau harus tabu, demi memberi
muka kepada nona Teng itu, baru aku tarik kemari supaya kau
insyaf akan kesalahanmu. Kalau tidak, sejak tadi aku sudah
bertindak terhadapmu."
"Memangnya kenapa kalau kau tidak sungkan kepadaku?"
tantang Nyo Hoa. "Baik," ujar Kang Siang-hun mengigit bibir, "kau memaksa aku
bicara terus terang."
"Benar, katakan saja"
"Siapa ayahmu?" mendadak Kang Siang-hun bertanya
Melonjak jantung Nyo Hoa, otot di jidatnya menonjol, katanya,
"Aku kan tidak ingin bersahabat dengan kau, tak perlu kujelaskan
silsilah keluargaku."
Suara Kang Siang-hun berubah dingin, katanya, Tidak usah kau
menjelaskan, dengan engkoh Bik-ki aku sudah mencari tahu, kau ini
putera Nyo Bok, betul tidak?"
Nyo Hoa paling takut kalau orang menyinggung persoalan ini.
Sekarang Kang Siang-hun membongkar rahasia pribadinya berarti
mengorek boroknya pula. Karuan di samping kaget, Nyo Hoa amat
marah, malu, penasaran dan menyesal pula Kaki tangan menjadi
dingin, sesaat dia tergagap tak bisa bicara.
Dalam waktu sesingkat ini pula dia mengerti duduk persoalannya.
Lantaran Nyo Bok adalah ayahnya, maka Kang Siang-hun curiga
bahwa dirinya bukan orang baik, malah mencurigai niatnya bergaul
dengan KimBik-ki. . Melihat perubahan air mukanya, Kang Siang-hun kira dirinya
telah membongkar kedok orang sehingga merasa malu, segera dia
menghela napas, katanya, "Sayang, sayang"."
"Apanya sayang?" semprot Nyo Hoa gusar.
Dingin suara Kang Siang-hun, "Sayang kau punya kepandaian,
tapi tidak belajar baik-baik."
Membesi muka Nyo Hoa, debatnya, "Kau baru mengenalku,
berdasar apa kau berani menentukan martabatku?"
"Sebetulnya ayah tetap ayah, anak adalah anak, asal kau tidak
sehaluan dan mengekor jalan yang ditempuh Nyo Bok, sudah tentu
sekarang aku tidak akan banyak bicara denganmu. Tapi menilai
perbuatanmu sekarang, kau memikat sumoay-ku, di sini kau
memelet nona Teng lagi, memangnya perbuatanmu ini mirip
kelakuan seorang kuncu" Hmm, kukira tujuanmu bukan-melulu
kemaruk paras ayu saja, kau mendapat petunjuk ayahmu bukan?"
Secara tidak langsung dia menuduh bahwa Nyo Hoa ditugaskan
ayahnya bergaul dengan kaum pendekar untuk memberi sumber
berita kepada ayahnya yang sudah jadi antek kerajaan.
Sebetulnya Nyo Hoa bisa membersihkan diri dengan berbagai
kenyataan, namun amarah telah membakar emosinya, mana
mungkin dia bisa berpikir dengan kepala dingin" Maka dia balas
menjengek dingin, "Kang Siang-hun, sayang sekali sebagai putera
seorang pendekar besar, kau menilai jiwa seorang laki-laki sejati
dengan jiwa kerdil seorang rendah."
Sebetulnya setelah Kang Siang-hun beranggapan dapat
membongkar asal-usul Nyo Hoa, dia harus berlaku waspada. Sayang
begitu tiba di daerah ini tidak mampir dulu ke pangkalan laskar
gerilya, minta penjelasan lebih lanjut kepada Leng Thiat-jiau.
Sebagai putera Kang Hay-thian, murid Kim Tiok-liu, ke mana pun
Kang Siang-hun pergi, siapa tidak akan berlaku hormat dan segan
kepadanya" Kapan dia pernah didebat apalagi dicerca sedemikian
rupa" Sindiran Nyo Hoa mengumpamakan dia sebagai manusia
rendah memang juga agak terlalu, karuan muka Kang Siang-hun
membesi. Teng Bing-cu berada ratusan langkah jauhnya, sayup-sayup dia
mendengar beberapa patah perdebatan mereka, hatinya senang
tapi juga kaget, namun dia tidak ingin datang melerai, maka dari
kejauhan dia tarik suara, "He, apa sih yang kalian ributkan?" Dia kira
kedua pemuda ini ribut mulut lantaran dirinya.
"Nona Teng urusan tiada sangkut pautnya dengan kau. Aku tidak
akan membongkar keburukan temanmu ini, tapi terpaksa aku harus
mohon kau suka memaafkan, terpaksa aku harus bertindak kasar
terhadap temanmu ini," demikian seru Kang Siang-hun.
Nyo Hoa berkata dingin,"Memangnya kenapa kau bertindak
kasar" Kang-siauhiap, silakan cara apa yang kau inginkan."
"Sret", Kang Siang-hun mencabut pedang, katanya, "Kabarnya
ilmu pedangmu amat bagus, ingin aku mencobanya."
"Gurumu adalah jago pedang nomor satu di dunia, mana berani
aku dicoba olehmu, tapi biar aku mengiringi saja."
"Haya," teriak Teng Bing-cu, "kalian adalah temanku, kenapa
harus berkelahi?" "Nona Teng, kau tidak akan tahu persoalannya." Sembari bicara
Kang Siang-hun mendahului menusuk dengan pedangnya. Jurus ini
bernama Jun-hun-ka-can (Mega berkembang di musim semi),
kelihatan lunak padahal keras, lihay sekali. Tapi sikap Nyo Hoa tetap
garang, sedikit pun tidak gentar, di tengah tawa dinginnya,
pedangnya pun diloloskan.
Begitu turun tangan, Kang Siang-hun lantas melancarkan
serangan lihay, dia kira Nyo Hoa meski mampu melawan juga pasti
didesaknya mundur beberapa langkah. Perubahan susulan jurus
pedangnya itu dinamakan Tui-hong-cu-tian (Mengejar angin
mengejar kilat) diambil dari Tui-hong-kiam-hoat ajaran Thian-sanpay,
asal berhasil menggertak musuh, maka daya serangnya akan
melanda secara bergelombang, sehingga lawan tidak sempat
mempertahankan diri dan fatalnya kalau tidak dikalahkan pasti juga
binasa Tak tahunya Nyo Hoa tetap berdiri tegak, bergeming. Bila ujung
pedang sudah hampir menyentuh tubuhnya, mendadak dia angkat
pundak malah, berbareng pergelangan tangan kanan membalik,
pedang pun terayun. Gerakannya laksana sambaran kilat, jurus ini
dinamakan Kim-beng-can-ji (Elang emas pentang sayap),
gerakannya tepat pada waktu pedang Kang Siang-hun tiba Jurus ini
memang khusus untuk mematahkan jurus Tui-hong-cu-tian yang
dilancarkan Kang Siang-hun.
Seperti diketahui, Thian-san- kiam-hoat adalah hasil ciptaan
murid tertua Thio Tan-hong yang bernama Toh Thian-tok. Bahwa
Toh Thian-tok mampu menjadi cikal bakal suatu aliran dan
menciptakan ilmu silat tersendiri, jelas memang dia dibekali
kepandaian dan kecerdikan yang luar biasa, namun kemajuan yang
diperolehnya tidak lepas dari petunjuk sang guru. Di hari tuanya,
Thio Tan-hong menyepi seorang diri bertekad mencapai kemajuan
dengan menciptakan Bu-beng-kiam-hoat- Sudah tentu dalam Bubeng-
kiam-hoat ini terdapat pula intisari setiap pelajaran Thian-sanpay,
Pendekar Panji Sakti 15 Pedang Penakluk Iblis ( Sin Kiam Hok Mo) Karya Kho Ping Hoo Raja Pedang 3
^