Pencarian

Perawan Lembah Wilis 26

Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo Bagian 26


membantah, dan sambil tersenyum menelan obat itu dan
lengannya yang halus itu merangkul leher AdiwiJaya.
"Aduh ........ Gusti Puteri ........ sadarlah ........ ahhh,
lekas sadar dan mari lari bersama hamba !" Dengan halus ia
melepaskan rangkulan lengan itu dari lehernya, menarik
tangan Retna Wilis bangkit dan turun dari pembaringan,
kemudian terus menyeretnya keluar. Ketika Retna Wilis
terhuyung seperti orang lemas, bahkan kini matanya
dipejamkan dan napasnya menjadi panjang teratur seperti
orang tidur, ia cepat memondong tubuh Retna Wilis dan
membawanya lari keluar, menghilang di tempat gelap.
Wasi Bagaspati dengan marah menendangi para
pengikut yang sedang bermain asmara secara tidak tahu
malu di sembarang tempat, bahkan menyeret bangun Wasi
Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik dari bawah pohon di
mana kedua orang itu tenggelam dalam lautan cinta berahi.
"Bedebah semua! Keparat sembrono, tidak tahu ada
musuh menyerbu! Cepat, siapkan semua orang. Bagus Seta
dan pasukannya menyerbu dari lereng di timur. Cepat!"
Bentakan Wasi Bagaspati ini mengagetkan semua orang.
Disebutnya nama Bagus Seta sekaligus mengusir semua
rangsangan berahi yang mempengaruhi mereka dan kini
mereka sudah meloncat bangun dan siap bertempur.
-ooo0dw0ooo- Jilid XLVII KEADAAN menjadi panik dan lucu. Mereka lari saling
tabrak, ada yang telanjang bulat, ada yang setengah
telanjang dan sambil lari mereka berusaha membetulkan
pakaian mereka, bahkan ada yang terbelit kaki mereka oleh
pakaian sendiri sehingga jatuh tunggang- langgang dan
berteriak-teriak karena mengira bahwa mereka sudah
diserbu musuh dan dirobohkan lawan!
Sang Wasi Bagaspati, diikuti oleh Wasi Bagaskolo dan
Ni Dewi Nilamanik lari ke timur dan karena bulan yang
hanya sepotong itu tertutup awan, maka mereka berhati-
hati melalui lereng yang belum mereka kenal baik itu.
Sampai jauh mereka menuruni lereng, akan tetapi keadaan
di situ sunyi saja. Mereka berhenti dan memandang penuh
perhatian ke bawah, meneliti kalau-kalau dapat melihat
obor atau pergerakan. Namun sunyi saja dan suara monyet
cecowetan diseling suara burung malam menandakan
bahwa di bawah sana pun tidak ada manusianya!
"Wah, jangan-jangan kita tertipu ..... !" kata Ni Dewi
Nilamanik, tidak berani mengatakan bahwa Sang Wasi
Bagaspati yang sebenarnya tertipu.
"Si keparat Adiwijaya, kalau betul berani menipu,
kuhancurkan kepalanya!" Wasi Bagaspati berseru dan
berkelebat kembali mendaki puncak, diikuti oleh adik
seperguruannya yang diam-diam mendongkol karena ia
telah diganggu, dan Ni Dewi Nilamanik.
"Mana musuhnya?"
"Mana pasukan Jenggala?"
Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar dari mulut para
anak buahnya itu membuat Wasi Bagaspati makin marah
dan kakinya menendang ke kanan kiri sehingga para anak
buahnya yang sudah panik menjadi makin bingung dan
mawut. Wasi Bagaspati menendang pintu pondok sehingga daun
pintu terlempar, kemudian ia menerjang masuk sambil
memaki, "Adiwijaya pengkhianat laknat!" Akan tetapi,
ketika ia memasuki pondok, tentu saja ia tidak lagi dapat
menemukan Adiwijaya dan Retna Wilis.
"Ah, mereka telah melarikan diri . ...... !" Ni Dewi
Nilamanik berseru. "Retna Wilis tak mungkin lari, akan tetapi dilarikan oleh
bedebah itu. Kita harus kejar, cari sampai dapat!" ia lalu
melompat keluar lagi diikuti oleh adik seperguruannya,
sedangkan Ni Dewi Nilamanik keluar dart pondok untuk
memimpin anak buah mereka mencari Adiwijaya yang
melarikan Retna Wilis. Setelah malam berganti pagi, barulah Wasi Bagaspati
dan Wasi Bagaskolo dapat menyusul dan menemukan
Adiwijaya yang melarikan Retna Wilis sampai di pantai
laut selatan sebelah barat. Adiwijaya yang cerdik sengaja
lari ke barat setelah menipu Wasi Bagaspati dengan
mengatakan bahwa musuh datang dart timur.
Akan tetapi, betapapun cepatnya ia lari, tentu saja ia
tidak dapat menangkan kecepatan larinya kedua orang
kakek yang amat sakti itu.
"Adiwijaya, manusia khianat yang ingin mampus!" Wasi
Bagaspati membentak dan biarpun ia masih jauh di
belakang, suaranya sudah terdengar dekat sekali sehingga
Adiwijaya menjadi terkejut dan menghentikan larinya,
memutar tubuh dan memandang kedua kakek yang berlari
makin dekat itu dengan wajah pucat. Retna Wilis baru
setengah sadar, maka ia terhuyung-huyung lalu jatuh
terduduk di atas pasir, menaandang bengong dan seperti
orang terheran-heran. "Ampun ....... Sang Wasi........ ..... !" Adiwijaya berkata
ketika kedua orang kakek itu sudah datang dekat. "Saya
........ saya tidak bermaksud buruk ........ !!"
"Jahanam! Pengkhianat! Engkau sengaja menipuku dan
hendak melarikan Retna Wilis?"
"Ampun ........ Retna Wilis tidak lari, hanya hamba........
hamba terangsang sekali semalam, ingin ........ memilikinya
........ hamba yang bersalah ........ dia tidak tahu apa-apa
........ " Dalam keadaan yang amat gawat ini Adiwijaya
masih ingat untuk membela Retna Wilis dan menimpakan
semua kesalahan di pundaknya. Biarlah ia mati asalkan
Retna Wilis selamat, pikirnya.
"Ha-ha-ha, pandai sekali memutar lidah. Memang
engkau seorang yang amat pandai menipu dan cerdik sekali,
akan tetapi sekarang aku tidak lagi mau ditipu dua kali, dan
engkau harus mampus!"
Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati memukul dari
jarak jauh dengan pukulan sakti. Angin pukulan yang keras
meniup ke arah Adiwijaya. Akan tetapi dengan cekatan
sekali Adiwijaya melompat ke kiri, mengelak sehingga
pukulan itu hanya mengenai pasir yang membuat pasir
berhamburan. "Hemmm, kiranya engkau juga berani melawanku?"
"Wasi Bagaspati, di saat terakhir ini biarlah aku
membuat pengakuan. Dengarlah baik-baik. Aku adalah
hamba dari Gusti Puteri Retna Wilis, lahir batin. Aku
selamanya, sejak dahulu sampai mati sekalipun, akan tetap
setia kepadanya. Aku yang mengusulkan agar dia suka
bersekutu denganmu untuk mencapai cita-citanya. Akan
tetapi ternyata engkau mengkhianatinya, juga berniat buruk
terhadap dirinya. Aku harus menyelamatkannya, membebaskannya dari tanganmu yang keji! Dan biarpun
aku maklum bahwa aku bukan lawanmu, namun aku
bersumpah untuk membela gustiku Retna Wilis dan
melawanmu sampai detik terakhir!"
"Ha-ha-ha, manusia macam engkau masih bicara tentang
kesetiaan! Lupakah engkau akan perbuatan-perbuatanmu
dahulu di Jenggala?"
"Wasi Bagaspati, sekali-kali akan tiba saatnya bagi setiap
orang manusia untuk menyesali perbuatan-perbuatannya
yang lalu. Setelah berjumpa dengan gustiku Retna Wilis,
aku sadar dan aku siap menerima segala hukuman atas
dosa-dosaku. Akan tetapi kesetiaanku terhadap gustiku ini
adalah tulus ikhlas, dan boleh engkau mentertawakan aku
sekarang, karena kelak akan tiba saatnya pula bagimu untuk
menyesali perbuatanmu atau ka!au tidak, engkau akan
terlambat!" "Keparat, terimalah kematianmu!" Kini tubuh Wasi
Bagaspati menerjang ke depan. Ia tahu bahwa laki-laki itu
memiliki ketangkasan yang cukup sehingga kalau diserang
dari jarak jauh akan memakan waktu lama dan membuang
tenaga sia-sia belaka. "Wuuuuuttttt ........ !" Pukulan tangan kiri yang
menampar dari samping itu hebat bukan main. Terasa oleh
Adiwijaya angin berhembus kuat dan seolah-olah lengan
kakek itu seperti pohon besar tumbang menimpanya. Ia
cepat meloncat dan mengelak, akan tetapi angin
pukulannya masih mendorongnya sehingga ia roboh.
Biarpun demikian, dengan ajinya Trenggiling Wesi, begitu
tubuhnya menyentuh tanah, ia bergulingan dan dapat
meloncat bangun tanpa terluka.
"Wah, lumayan juga ilmumu itu!" Wasi Bagaspati
mengejek dan kembali ia melangkah maju dan mengirim
pukulan dengan kedua yang berganti-ganti menampar dari
kanan kiri. Memang tingkat kesaktian Adiwijaya jauh berada di
bawah tingkat Wasi Bagaspati maka serangan ini membuat
Adiwijaya menjadi repot sekali. Mengelak ke kiri, dipapaki
tangan kanan, meloncat ke kanan, dihantam oleh tangan
kiri. ia memiliki kecepatan, akan tetapi kini pukulan-
pukulan dari kedua tangan Wasi
Bagaspati mengandung hawa
pukulan yang lebih cepat daripada gerakan tubuhnya, maka berkali-kali Adiwijaya terbanting keras dan hanya oleh
ajinya Trenggiling Wesi saja ia
mampu meloncat bangun setelah bergulingan. Makin lama makin pening kepalanya,
dan setiap kali meloncat bangun, ia terhuyung-huyung.
Akan tetapi, seperti yang diucapkannya tadi, ia nekat dan mengambil keputusan
untuk melawan sampai detik terakhir.
Wasi Bagaspati menjadi penasaran. Ketika sekali lagi
Adiwijaya meloncat bangun, ia menerjang maju seperti
harimau menerkam. Adiwijaya cepat menjatuhkan diri ke
kiri untuk mengelak, namun jari-jari tangan kanan Wasi
Bagaspati masih berhasil menampar pundak kanannya.
Biarpun hanya kena diserempet, namun Adiwijaya
merasa pundaknya seperti terbakar dan ia terguling roboh.
Wasi Bagaspati tertawa bergelak, menghampiri dan
mengangkat kakinya yang besar untuk mengijak hancur
kepala Adiwijaya. Kakek ini hendak memenuhi janjinya,
yaitu akan menghancurkan kepala Adiwijaya.
"Jangan bunuh dia!" Tiba-tiba terdengar suara Retna
Wilis nyaring dan dara ini sudah menerjang Wasi Bagaspati
dengan pukulan keras dari samping.
"Siuuuuuttttt ........ !" Tenaga Retna Wilis belum pulih
semua, dan kepalanya masih pening, akan tetapi begitu
melihat Adiwijaya hendak dibunuh, serentak ia membentak
dan menyerang. Wasi Bagaspati kaget dan membalikkan tubuh sambil
menangkis. "Deesssss ........!" Tubuh Retna Wilis terpelanting jauh
dan giranglah hati Wasi Bagaspati yang maklum bahwa
biarpun sudah sadar, gadis itu masih belum pulih
tenaganya. Maka ia cepat menengok untuk membunuh
Adiwijaya kemudian menawan kembali Retna Wilis. Akan
tetapi alangkah kaget hatinya ketika ia menoleh, ia melihat
di depannya telah berdiri Bagus Seta dengan kedua lengan
dipalangkan di depan dada!
"Wasi Bagaspati, sungguh sayang engkau tak pernah
mau bertobat," kata Bagus Seta.
"Bagus Seta! Engkau selalu menghalangi niatku, engkau
musuhku terbesar dan hari ini aku harus mencabut
nyawamu!" Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati telah
mencabut senjata cakra, dan kini Wasi Bagaskolo yang
melihat munculnya pemuda sakti itu telah siap-siap pula
dengan keris hitamnya. Tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan muncullah Ni Dewi
Nilamanik dengan pasukannya, yang berjumlah dua ratus
orang lebih. Pasukan di bawah pimpinan Ni Dewi
Nilamanik ini segera mengurung tempat itu.
Melihat ini, hati Wasi Bagaspati menjadi besar. Biarpun
ia tidak dibantu Retna Wilis menghadapi Bagus Seta, akan
tetapi di situ ada Wasi Bagaskolo, Ni Dewi Nilamanik, dan
dua ratus orang lebih pasukan yang telah digemblengnya.
Menghadapi seorang lawan saja, biarpun sakti seperti Bagus
Seta, dan juga Adiwijaya serta Retna Wilis yang masih
belum sehat benar, masa tidak mampu mengalahkannya"
"Ha-ha-ha, Bagus Seta. Apakah engkau mampu
menyelamatkan diri sekarang?" Ia membentak sambil
tertawa lalu menerjang pemuda itu diikuti adik

Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seperguruannya. Bagus Seta bergerak cepat melompat dan
tubuhnya berkelebat, tahu-tahu telah berada di luar
pengurungan para anak buah pasukan. Melihat ini, Wasi
Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terkejut, cepat mengejar dan
menyerang. Bagus Seta mengelak dan balas menyerang
dengan kedua senjatanya yang kecil dan aneh, yaitu
setangkai kembang cempaka putih dan pengikat rambutnya
dari sutera. Gerakan tiga orang sakti ini amat cepat dan
dahsyat sehingga tubuh mereka lenyap, bergulung-gulung
menjadi bayangan yang sukar dilihat oleh mata manusia
biasa. "Gusti Puteri ........ mari kita lari ...... kita bisa membuka
jalan berdarah, lebih baik kita menggunakan kesempatan ini
untuk menyelamatkan diri ........ " kata Adiwijaya yang
merasa serba salah kalau gustinya ikut bertanding. Sepihak
adalah Bagus Seta dan mungkin di belakangnya ada
pasukan Jenggala, berarti musuh gustinya. Pihak lain
adalah rombongan Wasi Bagaspati, yang sekarang juga
telah menjadi musuh, lebih baik cepat-cepat menyelamatkan diri. Akan tetapi pada saat itu Retna Wilis telah sadar benar-
benar dan tenaganya telah pulih kembali. Benturan tenaga
dengan Wasi Bagaspati yang membuat ia terlempar dan
roboh tadi sama sekali tidak melukainya, bahkan telah
menyadarkan dan memulihkan keadaannya. Kini ia telah
berdiri tegak dengan muka merah dan mata mengeluarkan
api kemarahan. Teringatlah ia kini apa yang dianggapnya
seperti mimpi itu ternyata adalah kenyataan! Tadinya ia
hanya mengira bahwa ia dalam mimpi dan kini samar-
samar teringatlah olehnya akan segala yang telah
dialaminya, betapa ia ikut menari-nari seperti orang gila,
kemudian betapa ia diminumi jamu berkali-kali oleh Ni
Dewi Nilamanik, ketika menari dibelai dan terbangkit
gairah yang belum pernah dirasai selama hidupnya, betapa
ia menurut saja ketika dibawa ke pondok oleh Wasi
Bagaspati, dan ........ ah, mengingat akan semua itu, hampir
Retna Wilis berteriak saking malu dan marahnya. Kini
Adiwijaya mengajak dia melarikan diri!
"Tidak! Harus kubunuh mereka semua!" bentaknya,
bahkan saking marahnya ia lalu mengibaskan tangan
Adiwijaya yang hendak mengajaknya lari, kemudian
tubuhnya melesat ke arah Ni Dewi Nilamanik sambil
berseru nyaring, "Perempuan rendah menjijikkan, engkau harus mati di
tanganku!" Melihat datangnya serangan yang demikian dahsyatnya,
Ni Dewi Nilamanik menjadi pucat wajahnya dan cepat ia
meloncat ke belakang, berlindung di be-iakang anak
buahnya. "Breesssss .......!!" Terjangan Retna Wilis disambut oleh
banyak orang anggauta pasukan anak buah Wasi Bagaspati
dan terjungkallah empat orang dalam keadaan tidak
bernyawa dengan tubuh hangus terkena pukulan dan
tendangan dara perkasa yang sudah marah sekali ini.
Kemudian Retna Wilis mengamuk, bagaikan api menyala-
nyala membakar apa saja yang berada di dekatnya. Maju
dua orang roboh dua orang, maju empat orang roboh empat
orang. Ia terus mengamuk sambil mengejar Ni Dewi
Nilamanik yang berusaha melarikan diri ke sana-sini di
antara anak buahnya yang menyerbu Retna Wilis seperti
sekumpulan ........ laron menyerbu api.
Melihat ini, Adiwijaya tidak mau tinggal diam dan ia
pun lalu menerjang pasukan yang mengeroyok Retna Wilis
itu. Karena Retna Wilis bergerak cepat sekali dan selalu
mengejar ke mana pun Ni Dewi Nilamanik lari, maka
sebentar saja Adiwijaya yang kini dikeroyok pula, terpisah
jauh dari dara itu. Amukan Retna Wilis membuat pasukan siluman anak
buah Wasi Bagaspati itu kocar-kacir dan mawut. Juga
Adiwijaya merupakan seorang lawan yang kuat sekali
biarpun tidak sedahsyat Retna Wilis, namun sukar bagi
pasukan itu untuk merobohkannya. Tiba-tiba terdengar
teriakan kaget dan keadaan pasukan menjadi makin mawut
ketika di situ terjun dua orang yang amat perkasa dan yang
langsung menerjang dan merobohkan pasukan-pasukan itu
dengan amukan kaki tangan mereka yang tangkas. Pasukan
siluman menjadi lebih panik ketika mengenal bahwa yang
datang mengamuk ini bukan lain adalah Ki Patih
Tejolaksono dan isterinya, Endang Patibroto!
Akhirnya Retna Wilis dapat berhadapan dengan Ni
Dewi Nilamanik yang tidak dapat melarikan diri lagi karena
pasukannya terpecah-pecah, sebagian mengeroyok Adiwijaya, sebagian besar menahan amukan Tejolaksono
dan Endang Patibroto, dan terpaksa dia harus menyambut
sendiri Retna Wilis yang memandangnya penuh kebencian.
"Ni Dewi Nilamanik, biar engkau lari ke neraka
sekalipun, tetap akan kukejar sampai aku berhasil
membunuhmu!" Betapapun juga, Ni Dewi Nilamanik bukanlah seorang
lemah. Dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan
sesungguhnya kalau dicari di antara orang-orang biasa,
jarang ditemukan orang yang dapat menandinginya.
Biarpun ia maklum akan kesaktian Retna Wilis yang
membuat hatinya gentar, namun menghadapi jalan buntu
ini ia menjadi nekat dan berkata,
"Retna Wilis, tidak begitu mudah engkau hendak
membunuhku. Engkau hendak mengenal kedigdayaan Ni
Dewi Nilamanik, penitisan Sang Hyang Bathari Durgo"
Majulah!" Retna Wilis berteriak marah dan menerjang dengan
pukulan Wisalangking yang kalau mengenai tubuh lawan
akan membuat tubuh itu menjadi hitam terkena hawa
beracun. Akan tetapi Ni Dewi Nilamanik yang sudah nekat
cepat meloncat ke kiri menghindarkan pukulan ini,
kemudian pengebut merahnya menyabet dari kiri mengarah
leher Retna Wilis. Dara perkasa ini mengubah pukulan yang luput menjadi
cengkeraman ke arah ujung pengebut dengan maksud
merampak senjata itu namun Ni Dewi Nilamanik sudah
mengerti akan niat lawan, maka ia menggerakkan
pergelangan tangan sehingga ujung pengebutnya membalik,
kemudian dengan gerakan melingkar ujung cambuknya
yang berubah menjadi kaku menusuk ke arah ulu Kati
Retna Wilis. Dara sakti ini menurunkan lengan yang tadi
hendak mencengkeram, menangkis sambil mengerahkan
tenaga sakti. "Pyarrr!" Ujung cambuk atau kebutan yang tadi
mengeras itu ambyar dan menjadi lemas kembali terkena
tamparan tangan Retna Wilis yang ampuh. Retna Wilis
tidak berhenti sampai di situ, cepat tangan kirinya
menyodok dengan jari tangan terbuka ke arah leher Ni
Dewi Nilamanik. Wanita ini terkejut sekali, cepat ia
menarik tubuh atas ke belakang sehingga terhindar daripada
tusukan jari tangan yang ampuh itu. Akan tetapi tubuh
Retna berkelebat cepat dan kaki tangannya bergerak-gerak
seperti angin puyuh mengamuk. Demikian cepatnya
gerakan dara ini yang telah memainkan Ilmu Sllat
Pancaroba yang amat cepat, ganas dan dahsyat. Ni Dewi.
Nilamanik kewalahan dan menjadi bingung. Dalam
pandang matanya, seolah-olah tubuh Retna Wilis berubah
menjadi tiga sehingga tiga pasang tangan berikut tiga
pasang kaki menyerangnya dari setiap penjuru! Ia berlaku
nekat, memutar cambuknya sekuat tenaga. Retna Wilis
tidak mau membuang banyak waktu, dan ia membiarkan
ujung cambuk atau kebutan itu mengenai pundaknya
sambil mengerahkan tenaga sakti melindungi pundak,
kemudian, kemudian ia menubruk maju mencengkeram
tangan yang memegang kebutan merah.
"Aihhhhh ........ !" Ni Dewi Nilamanik menjerit
kesakitan ketika tangannya terasa seperti dibakar api
menyala, terpaksa melepaskan kebutan yang kini telah
terampas oleh Retna Wilis. Ni Dewi Nilamanik
memandang dengan mata terbelalak kepada dara yang kini
melangkah maju perlahan-lahan dengan bibir tersenyum
dingin dan mata bersinar-sinar seperti mengeluarkan kilat.
Ia mundur-mundur ketakutan, wajahnya pucat, semua
semangat perlawanannya lumpuh. Tiba-tiba Retna Wilis
menggerakkan kebutan itu. Sinar merah menyambar dan
sebelum Ni Dewi Nilamanik tahu apa yang terjadi kebutan
itu telah melibat lehernya. Ia cepat menggunakan kedua
tangan untuk melepaskan ujung kebutan yang membelit
lehernya, mengerahkan tenaga, namun bulu-bulu yang kuat
dan terbuat dari ekor kuda itu mencekik makin erat, diiringi
suara ketawa Retna Wilis.
"Auggghhh ........ am ........ ampunn ........ " Ni Dewi
Nilamanik menjerit, akan tetapi yang keluar dari lehernya
hanya suara orang tercekik. Ia tak dapat bernapas lagi dan
perlahan-lahan Retna Wilis yang sudah memegang ujung
kebutan dengan tangan kiri dan gagang kebut an dengan
tangan kanan, menggunakan kedua tangannya menarik
sehingga kebutan itu makin lama makin erat mencekik leher
Ni Dewi Nilamanik. Muka Ni Dewi Nilamanik makin pucat, matanya
terbelalak lebar, lidahnya yang merah dan yang biasanya
dapat menimbulkan gairah dan rangsang pada hati setiap
pria kini terjulur keluar, makin lama makin panjang,
tubuhnya yang tadinya meronta-ronta kuat kini hanya
berkelonjotan dan tubuh itu tentu sudah rebah terjengkang
kalau tidak tertahan oleh kebutan yang mencekik lehernya.
Makin lama kebutan itu makin kuat mencekik leher dan
tak lama kemudian terdengar suara aneh yang tidak
menyerupai suara manusia keluar dari mulut Ni Dewi
Nilamanik, disusul robohnya tubuhnya terjengkang ke
belakang dan menggelindinglah kepala karena leher itu
telah putus seperti disayat pisau! Retna Wilis membuang
kebutan merah yang kini menjadi lebih merah lagi oleh
darah ke dekat mayat Ni Dewi Nilamanik, memandang
jijik, juga terkejut karena melihat betapa tubuh Ni Dewi
Nilamanik, yang tadinya montok padat dan berkulit halus
itu kini telah menjadi tubuh peyot keriputan, tubuh seorang
nenek, adapun kepala yang menggelinding dengan muka di
atas itu memperlihatkan mata melotot dan lidah terjulur,
akan tetapi yang membuat Retna Wilis terheran adalah
melihat betapa muka itu kini menjadi muka seorang nenek-
nenek. Mengertilah ia bahwa Ni Dewi Nilamanik yang
usianya sudah hampir enam puluh tahua itu tadinya
kelihatan cantik oleh pengaruh ilmu hitam dan ramuan
jamu, dan kini pengaruh itu lenyap bersama nyawanya,
seperti muka seorang nenek berusia seratus tahun!
Baru setelah banyak sekali anak buah Ni Dewi
Nilamanik datang menyerbunya dari empat jurusan
menggunakan senjata-senjata tajam, Retna Wilis sadar dan
cepat menggerakkan tubuh, diputar dengan kedua tangan
terpentang menampar ke kanan kiri. Senjata-senjata para
pengeroyok beterbangan disusul robohnya empat orang
sekaligus dan mulailah Retna Wilis mengamuk seperti
seekor harimau betina membela anaknya.
"Retna ........ !"
"Retna Wilis ........"
Dara sakti itu menengok dan alisnya berkerut ketika ia
melihat bahwa tidak jauh dari situ, ia melihat Ki Patih
Tejolaksono dan Endang Patibroto juga mengamuk,
merobohkan para anak buah Wasi Bagaspati dengan
tangkas dan gagah perkasa.
"Mari kita basmi bedebah-bedebah ini, anakku!" Endang
Patibroto berteriak, suaranya penuh keharuan. Akan tetapi
Retna Wilis tidak menjawab, hanya mengamuk lebih hebat
lagi, seolah-olah ia hendak menandingi kegagahan ayah dan
bundanya. Melihat sepak terjang Retna Wilis, Tejolaksono
dan Endang Patibroto sendiri merasa ngeri. Mereka melihat
betapa sekali pukul dara itu membuat kepala seorang
pengeroyok pecah berhamburan, darah dan otak muncrat,
betapa dara itu menangkap lengan seorang pengeroyok,
diputarnya sehingga tubuh itu terangkat ke atas lalu
dibanting sampai remuk. Amukan Retna Wilis benar-benar
menggiriskan dan sepak terjangnya bukan seperti manusia
lagi! Pertandingan antara Bagus Seta yang dikeroyok dua oleh
Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terjadi amat hebat
pula. Gerakan mereka amat cepat dan mereka tidak
bertanding seperti manusia biasa sehingga mereka itu
berpindah-pindah, makin lama makin menjauhi pantai dan
naik ke gunung-gunung batu karang.
Bagus Seta tidak tahu bahwa kedua orang lawannya
yang bertanding sambil kadang-kadang lari itu memancingnya ke sebuah tempat di mana telah bersembunyi pasukan siluman
yang menjadi inti pasukan
gemblengan Wasi Bagaspati,
sejumlah dua puluh orang!
Maka setelah mereka tiba di


Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lereng sebuah gunung anakan,
tiba-tiba dari tempat-tempat
bersembunyi muncul pasukan
itu yang berpakaian serba
merah, yang langsung melepaskan anak panah ke arah tubuh Bagus Seta! Pemuda
ini terkejut sedetik, namun ia segera menggunakan pengikat
rambutnya diputar sedemikian rupa sehingga menimbulkan
angin dan semua anak panah dapat digulung dengan angin
berpusing ini dan diruntuhkan sebelum mencapai sasaran.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Wasi Bagaspati yang
menghantamkan senjata cakra di tangannya ke arah kepala
Bagus Seta dari belakang, sedangkan dari kanan Wasi
Bagaskolo menusukkan kerisnya ke arah lambung.
"Sessss ........ singggg!!!" Bagus Seta tanpa menoleh
mengangkat setangkai kembang cempaka di atas kepala
menangkis senjata cakra sehingga senjata itu terpental,
sedangkan pengikat rambutnya berubah menjadi kaku
menangkis keris yang menusuk lambungnya sehingga keris
itu mengeluarkan bunyi keras dan tergetar hebat, hampir
terlepas dari pegangan tangan Wasi Bagaskolo. Kedua
kakek itu mencelat mundur dan kembali dua puluh orang
pasukan siluman sudah mengurung Bagus Seta, terbagi
menjadi dua rombongan. Rombongan pertama mengitari
Bagus Seta sambil berlari dari kiri ke kanan, adapun
rombongan ke dua juga lari mengelilingi pemuda itu dari
kanan ke kiri. Sambil berlari mereka itu mengeluarkan suara
seperti orang menembang dan anehnya, suara tembang
mereka itu menimbulkan suara yang menyeramkan dan
pengaruh yang menakutkan.
Bagus Seta maklum bahwa pasukan ini bukan pasukan
biasa, melainkan pasukan yang digembleng dengan ilmu
hitam. Kalau ia tertarik oleh gerakan mereka yang berlari
mengelilinginya, tentu ia akan menjadi pening dan kabur
pandangan matanya, juga kalau ia memperhatikan suara
tembang mereka, tentu ia akan hanyut dan mungkin kalau
lawan yang kurang kuat batinnya, tidak lama kemudian
tentu akan ikut berlari-lari dan bertembang! Ia mencoba dan
mendorongkan tangan kirinya yang memegang kembang
cempaka ke arah kiri. Dengan dorongan yang mengandung
tenaga mujijat ini ia dapat merobohkan lawan tanpa lawan
itu dapat bangun kembali, sedikitnya tentu pingsan. Hawa
sakti yahg merupakan angin kuat menyambar dan tiga
orang anggauta pasukan sebelah dalam itu terpelanting,
akan tetapi tepat seperti dugaan Bagus Seta, mereka itu
bangkit kembali. Kiranya mereka itu telah "dimasuki"
kekuatan mentera hitam bleh Wasi Bagaspati dan kekuatan
mereka tergabung sehingga masing-masing anggauta
memiliki tenaga dua puluh orang!
Tiba-tiba mereka itu memekik. dan tampak ujung-ujung
tombak yang mereka pegang menyambar ke dalam
kurungan. Bagus Seta menggerakkan tangan, menangkis
semua ujung tombak dengan angin pukulan tangannya.
Terdengar suara mengaung dan dari atas meluncur turun
senjata cakra dan senjata keris hitam, seolah-olah kedua
senjata itu hidup dan menyerang Bagus Seta. Pemuda yang
sedang sibuk menghadapi hujan tombak dari pasukan yang
masih berlari mengelilinginya, melihat datangnya dua buah
senjata ampuh ini cepat meloncat dan mengelak. Dua buah
senjata itu seperti benda hidup, ketika luput menyerang,
menukik dan membalik untuk melakukan serangan ke dua!
"Hemm, penggunaan ilmu hitam tiada gunanya, Wasi
Bagaspati!" Bagus Seta berkata dan tiba-tiba tubuhnya
meloncat tinggi ke atas sehingga semua tusukan tombak
luput dan sambil meloncat ini ia telah menangkis dua buah
senjata ampuh itu dengan senjata-senjatanya. Cakra dan
keris hitam itu terlempar, melayang-layang kacau dan
kembali ke tangan pemiliknya masing-masing. Sedang
Bagus Seta sudah melayang keluar dari kepungan. Sejenak
dua puluh orang anggauta pasukan siluman menjadi kacau,
akan tetapi mereka sudah dapat mengejar dan mengepung
kembali. Bagus Seta menjadi bingung juga. Dia tidak mau
membunuh, apalagi membunuh dua puluh orang anggauta
pasukan ini yang dianggap hanya sebagai alat, akan tetapi
kalau mereka ini tidak dienyahkan lebih dulu, sukar
baginya untuk menyerang dua orang pendeta sesat yang
selalu di luar barisan. Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, "Puteraku Bagus
Seta! Kau lawanlah dua ekor monyet tua itu dan serahkan
pasukan kadal ini kepada kami!" Itulah suara Pusporini dan
benar saja, begitu Pusporini dan Joko Pramono datang
menyerbu, pasukan siluman menjadi kacau-balau dan
kurungan atas diri Bagus Seta menjadi buyar.
Tadinya memang mereka datang bersama dalam usaha
mereka mencari Retna Wilis. Akan tetapi karena Bagus
Seta mempergunakan ilmunya yang tidak lumrah dimiliki
manusia biasa, Tejolaksono, Endang Patibroto, Joko
Pramono dan Pusporini, tertinggal jauh dan mereka baru
tiba di tempat itu setelah terjadi pertempuran hebat di situ.
Tejolaksono dan Endang Patibroto yang melihat Retna
Wilis dikeroyok banyak orang lalu serta-merta terjun ke
dalam medan pertempuran membantu puteri mereka itu.
Adapun Pusporini dan Joko Pramono yang melihat
pertandingan hebat antara Bagus Seta dikeroyok dua oleh
Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo bersama banyak orang
anggauta pasukan berpakaian merah, segera lari ke tempat
pertandingan yang jauh itu dan membantu Bagus Seta
menerjang pasukan berpakaian merah.
Setelah mendapat bantuan Pusporini dan ia tahu cukup
sakti untuk menanggulangi pasukan siluman itu, Bagus Seta
lalu menggunakan kesaktiannya untuk, mendesak Wasi
Bagaspati dan Wasi Bagaskolo. Dua orang pendeta dari
tanah barat ini terdesak hebat dan kewalahan. Mereka telah
mengeluarkan segala aji-aji dan mantra, segala ilmu hitam
mereka, namun kesemuanya itu dapat dipunahkan dengan
mudah oleh Bagus Seta. "Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo! Jangan salahkan
aku kalau terpaksa sekali aku melakukan kewajibanku
membunuh kalian berdua!" Seru Bagus Seta dan tubuhnya
berkeiebat ke depan, kembang cempaka putih diangkat
menyerang Wasi Bagaspati dengan pukulan ke arah kepala,
sedangkan pengikat rambutnya dikibaskan ke arah dada
Wasi Bagaskolo. Hebat bukan main penyerangan yang
dilakukan berbareng ini, mengandung tenaga mujijat yang
amat ampuh. Dua orang pendeta sesat itu terkejut dan cepat
menangkis dengan senjata masing-masing.
'Gress! Bresss!!" Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terpelanting, lalu
bergulingan menjauhkan diri dengan kepala pening dan
mata berkunang-kunang. Tangkisan mereka berhasil
menyelamatkan mereka, akan tetapi tidak cukup kuat untuk
menahan getaran tenaga sakti sehingga mereka terpelanting.
Mereka tidak kuat menghadapi Bagus Seta, kedua orang
kakek itu tanpa bersepakat lebih dulu, keduanya lalu
meloncat jauh dan melarikan diri.
"Ke mana Andika berdua akan melarikan diri?" Bagus
Seta berseru halus dan melompat untuk mengejar.
Kedua orang kakek itu mengerahkan seluruh ilmu
kesaktian mereka untuk lari secepatnya. Mereka maklum
bahwa menghadapi seorang sakti seperti Bagus Seta, akan
percuma saja andaikata mereka menggunakan ilmu hitam
untuk menghilang maka mereka kini mengandalkan kedua
kaki mereka dan dorongan tenaga sakti mereka untuk
berlari congkiang seperti dua ekor kuda dikejar harimau.
Napas mereka sampai menjadi senin-kemis, akan tetapi hati
mereka lega karena mereka tidak mendengar lagi suara kaki
Bagus Seta mengejar. Mereka telah tiba di puncak sebuah di
antara Pegunungan Seribu dan karena mereka merasa
betapa napas mereka hampir putus, mereka berhenti.
"Kalian baru tiba?"
Kalau halilintar menyambar di siang hari itu, agaknya
kedua orang kakek itu tidak akan sekaget itu. Mereka
menoleh ke kiri dan ........ kiranya Bagus Seta telah berdiri
di dekat mereka sambil memandang dengan mata tajam dan
bibir tersenyum. "Keparat ........ setan iblis bukan manusia !!" Wasi
Bagaspati menyumpah-yumpah dan kemarahannya memuncak. ia menggosok-gosok senjata cakra di kedua
tangannya dan tiba-tiba cuaca menjadi gelap dan dari dalam
kegelapan itu menyambar api menyala-nyala ke arah Bagus
Seta. Sekarang Wasi Bagaspati telah menjadi nekat dan
hendak menguras segala ilmu hitamnya untuk mengalahkan
lawan yang masih amat muda, patut menjadi cucunya akan
tetapi' memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa itu. Wasi
Bagaskolo juga membaca mantera, menggosok-gosok keris
hitamnya lalu melontarkan keris itu ke udara yang cegera
berubah menjadi ratusan batang banyaknya, semua
menyambar ke arah tubuh Bagus Seta yang sudah
diselimuti kegelapan yang diciptakan Wasi Bagaspati!
Dengan tenang Bagus Seta menghadapi serangan yang
luar biasa ini. ia pun maklum bahwa sekali ini kedua orang
pendeta itu akan menggunakan segala daya upaya untuk
melawannya dengan nekat. "Oouumm ........ sadhu-sadhu-sadhu ........ kalian benar-
benar telah tersesat jauh sekali!" Serunya lirih sambil
memejamkan mata sebentar, memegang kembang cempaka
putih di atas kepala, mengheningkan cipta kemudian
mengerahkan semua tenaga batin melalui kembang
cempaka putih. Terdengar ledakan-ledakan keras dan kilat
menyambar dari kembang putih itu. Seketika kegelapan
terusir dan ratusan batas keris hitam lenyap berubah
menjadi sebatang keris yang melayang ke arah Bagus Seta,
adapun api yang menyala-nyala itu lenyap berubah menjadi
senjata cakra yang juga menyambar ke arah pemuda itu.
Bagus Seta menyimpan kembali kedua senjatanya,
kemudian mengulur kedua tangan menyambut cakra dan
keris hitam yang menyambarnya, dengan gerakan indah
namun cepat sekali ia berhasil menangkap dua buah senjata
ampuh itu dan berkata, suaranya halus namun penuh
wibawa, "Segala sesuatu berasal dari tanah dan kembali ke tanah!"
Sambil berkata demikian, ia membanting kedua senjata itu
ke bawah. Tampak dua sinar berkelebat ketika dua buah
senjata itu meluncur ke bawah dan lenyap, amblas ke dalam
tanah entah ke mana! "Heh si keparat Bagus Seta! Senjata hanya alat, tidak
bersalah, mengapa engkau melenyapkan mereka?" Wasi
Bagaspati berteriak sambil menudingkan telunjuknya ke
arah Bagus Seta. Pemuda itu tersenyum. "Benar ucapanmu. Senjata tetap
senjata, benda mati yang tidak benar tidak salah. Akan
tetapi kalau dipergunakan untuk kejahatan, dia menjadi alat
kejahatan. Sungguh kasihan, daripada dijadikan alat
kejahatan lebih balk kembali ke asalnya. Demikian pun
dengan Andika berdua, daripada menjadi abdi nafsu
angkara murka, lebih baik kemball ke asal !"
"'Bedebah, sombong amat wawasanmu! Akulah wakil
Sang Hyang Shiwa, Maha Pembasmi dan bukan aku yang
akan kaubunuh, melainkan engkau yang akan kukembalikan ke asalmu, Bagus Seta!" seru Wasi Bagaspati
dan kini wajahnya seperti bukan wajah manusia lagi, selain
merah juga terselimuti hawa kemarahan bagaikan api
bernyala, kemudian ia mengeluarkan gerengan seperti
seekor harimau terluka dan menubruk maju dan
menghantamkan kedua tangannya ke dada Bagus Seta.
Pemuda ini tetap berdiri tidak bergerak, berkedip pun tidak
menerima hantarran pada dadanya ini.
"Dessss!!" Pukulan itu datangnya seperti serudukan
seekor gajah yang akan dapat menumbangkan pohon besar
dan menghancurkan batu karang, akan tetapi ketika
mengenai dada pemuda itu, bukan Bagus Seta yang roboh,
melainkan Wasi Bagaspati sendiri yang terbanting ke
belakang dan ia mengeluh dengan napas terengah-engah
karena tenaga pukulan yang didorong kemarahan hebat tadi
membalik dan melukai isi dadanya sendiri.
"Jahanam!" Wasi Bagaskolo marah sekali melihat kakak
seperguruan roboh. Ia menerjang maju hendak mencekik
leher Bagus Seta sambil mengerahkan aji kesaktiannya.
Namun tingkat kesaktiannya masih kalah oleh Wasi
Bagaspati sehingga baru raja tangannya menyentuh kulit
leher Bagus Seta yang berdiri tak bergerak, ia kalah wibawa,
menggigil dan tubuhnya seperti lumpuh, kemudian ia pun
roboh terjengkang di samping Wasi Bagaspati.
Bagus Seta mengeluarkan kembang Cempaka putih,
mengangkatnya tinggi-tinggi dan berbisik, "Duh Sang
Hyang Bathara Shiwa, perkenankanlah hamba mewakili
Paduka mengembalikan mereka ini ke asal mereka!" Akan
tetapi sebelum ia menurunkan tangannya memberi pukulan
terakhir, tiba-tiba terdengar seruan,
"Sadhu-sadhu-sadhu ........ Bagus Seta, demi kasih
sayang di antara semua mahluk dan benda, harap jangan
membunuh mereka!" Bagus Seta seperti sadar dari keadaan biasa, mengangkat
muka dan memandang. Kiranya di situ telah berdiri seorang
kakek gundul yang bertubuh gemuk pendek, tangan kiri
membawa seuntai tasbih dan tangan kanan memegang
sebatang tongkat cendana yang panjang, wajahnya alim dan
penuh kesabaran, mulutnya seperti tersenyum ramah selalu.
"Siapakah gerangan Andika, wahai sang Biku yang


Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bersih lahirnya?" Pertanyaan Bagus Seta yang dikeluarkan dengan suara
halus ini merupakan siridiran tajam yang membuat muka
pendeta itu menjadi merah. Dia dikatakan "bersih
lahirnya", adakah pemuda ini melihat bahwa dia tidak
bersih lahir batinnya" Akan tetapi ia tetap bersabar dan
menjawab sambil tersenyum,
"Nama saya Biku Janapati, saya sedang bertugas
melakukan dharma bakti terhadap perikemanusiaan,
memberi penerangan dan petunjuk kepada manusia di
pantai timur untuk menyadarkan mereka dan menghilangkan kesengsaraan. Ketika mendengar akan
sepak terjang sahabat saya Wasi Bagaspati di daerah ini,
saya bergegas datang dan mendengar pula akan nama
Andika, orang muda yang sakti niandraguna. Untung
bahwa kedatangan saya tidak terlambat."
"Ah, kiranya Andika adalah Sang Biku Janapati utusan
Kerajaan Sriwijaya" Membawa pelajaran agama dengan
pamrih memberi penerangan kepada manusia adalah
sebuah usaha yang amat mulia, Sang Biku. Akan tetapi
kalau dipaksakan dengan kekerasan, selain tidak akan ada
manfaatnya, juga hanya akan mendatangkan permusuhan
belaka, seperti yang dilakukan Wasi Bagaspati dan kawan-
kawannya. Aku pun hendak membasminya demi membersihkan tanah air daripada pengaruh buruk,
mengapa Andika menghadang" Apakah Andika yang
katanya membawa pelajaran tentang kasih sayang antara
segala mahluk dan benda, menyetujui cara-cara yang
dilakukan oleh Wasi Bagaspati maka merasa perlu
melindungi nya?" Biku Janapati tersenyum lebar dan menjawab, "Bukan
demikian, orang muda. Hanya perlu Andika ketahui, seperti
yang diajarkan oleh Sang Buddha bahwa tidaklah mungkin
memadamkan permusuhan dengan permusuhan pula.
Permusuhan hanya dapat dipadamkan dengan sikap tidak
bermusuh. Ini merupakan hukum abadi."
Bagus Seta mengangguk-angguk. "Benar sekali pelajaran
itu. Akan tetapi hendaknya engkau mengerti pula, Sang
Biku, bahwa aku tidak memusuhi Sang Wasi Bagaspati dan
Wasi bagaskolo. Aku tidak menganggapnya sebagai musuh
dan aku tidak ingin membasminya sebagai musuh pribadi,
melainkan hendak membasminya sebagai orang membasmi
penyakit yang akan membahayakan keselamatan manusia
umumnya. Aku tidak dipengaruhi oleh nafsu pribadi, tidak
memiliki dasar pamrih untuk diri pribadi, melainkan hanya
melaksanakan tugas sebagai manusia. Bukankah manusia
dikurniai hak dan diberi kewajiban" Manusia merupakan
titik api, sebagian kecil sekali daripada nyala api kekuasaan
yang merupakan Trimurti, Sang Maha Pencipta, Sang
Maha Pemelihara, dan Sang Maha Pembasmi yang bersifat
Maha Kasih dan Maha Kuasa. Biarpun hanya setitik api,
namun merupakan bagian dari api itu sendiri dan
karenanya manusia berkewajiban untuk memanfaatkan
dirinya membantu dalam mencipta, memelihara, dan kalau
perlu membasmi asal tidak didasari pamrih untuk diri
pribadi." Mendengar ini, Biku Janapati merangkapkan kedua
tangan di depan dada dan berkata, "Namo Tasa Bhagawato
Arahato Samma Sambudhasa (Terpujilah Dia yang telah
mencapai Perangai Sejati dan Kebijaksanaan Sempurna)!
Andika adalah murid Sang Maha Bhagawan Ekadenta,
bukan" Sungguh saya harus tunduk dan kagum. Memang
tak dapat saya sangkal bahwa sahabat Wasi Bagaspati telah
menyeleweng daripada jalan benar. Demikian pula dengan
Wasi Bagaskolo. Akan tetapi, oleh mereka sendirilah
kejahatan dilakukan dan biarlah mereka sendiri yang akan
memetlk buahnya. Bagi saya, tidak boleh saja melalaikan
tugas kewajiban demi kepentingan orang lain, dalam hal ini
demi kepentingan Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo
sendiri. Melihat mereka terancam bahaya maut, betapa
mungkin saya harus mendiamkan mereka begitu saja"
Duhai Bagus Seta, kalau Andika percaya akan kekuasaan
tak terbatas dan tak terlawan oleh Yang Maha Kuasa,
anggap sajalah bahwa kedatanganku mencegah engkau
membunuh mereka ini merupakan kehendak Dia yang
belum menghendaki mereka mati."
Bagus Seta menghela napas panjang dan diam-diam ia
harus mengakui kebenaran ucapan ini, "Akan tetapi, Sang
Biku yang bijaksana. Tahukah Andika bahwa pencegahan
Andika ini merupakan tanggung jawab Andika pula
terhadap kebenaran dan keadilan" Bahwa kalau mereka
dibebaskan dan kelak melakukan kejahatan, maka
kejahatan itu sebagian adalah akibat daripada perbuatan
Andika saat ini?" "Sebenarnyalah apa yang Andika katakan, wahai Bagus
Seta. Dan saya pun bertanggung jawab sepenuhnya
terhadap mereka ini kalau kelak mereka menimbulkan
kekacauan dengan perbuatan sesat lagi. Saya sendiri yang
kelak akan menghadapi mereka sebagai pertanggungan
jawab saya. Sekali ini, demi Tuhan Yang Maha Kasih,
Yang Maha Pengampun, yang memberi berkah kepada
segala makluk dan tanpa pilih kasih dan tanpa Pandang
bulu, yang memberi sinar kehidupan kepada seluruh alam
mayapada dan isinya, saya mohon sudilah kiranya Andika
membebaskan Wasi Bagaspati dan Was! Bagaskolo."
Didesak seperti ini, Bagus Seta merasa tidak baik untuk
bersikeras. Ia menarik napas panjang dan menyerahkan
segala akibat kepada Hyang Widhi Wisesa, maka ia
mengangguk dan berkata, "Biarlah terjadi seperti yang
Andika minta, Sang Biku yang mulia. Kuserahkan mereka
berdua kepadamu." Ia membungkuk dengan hormat dan
meninggalkan tempat itu, menghampiri Pusporini dan Joko
Pramono yang telah menyelesaikan pertempuran sejak tadi,
merobohkan dua puluh orang anggauta pasukan siluman
dan sejak tadi menonton dari jauh pertandingan hebat
antara Bagus Seta melawan dua orang wasi sampal
munculnya Biku Janapati. "Mari kita turun dan menemui kanjeng rama," kata
Bagus Seta perlahan kepada bibi dan pamannya. Mereka
berdua mengangguk, tidak berani mencampuri urusan
antara Bagus Seta dan pendeta-pendeta sakti itu.
"Terima kasih, sahabatku Biku Janapati" kata Wasi
Bagaspati sambil bangkit berdiri, diturut oleh Bagaskolo
yang masih meraba-raba dadanya yang terasa sesak.
Biku Janapti mengerutkan keningnya, "Sahabatku Wasi
Bagaspati, berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Andika
masih diperkenankan hidup untuk menebus segala dosa dan
sadar atas kesesatanmu. Dia yang tadinya lengah dan tidak
sadar melakukan kesesatan, kemudian menjadi sadar dan
merendahkan hati, dia akan menerangi dunia laksana bulan
yang terbebas daripada gumpalan awan hitam. Maka,
insyaf dan sadarlah, sahabatku, bahwa perbuatan jahat
menuruti hawa nafsu angkara murka tidak akan
membawamu ke alam kebahagiaan lahir batin."
Wasi Bagaspati mendongkol sekali, akan tetapi karena ia
telah ditolong, ia lalu menghela napas dan berkata,
"Salahnya aku kurang tekun mempelajari ilmu, akan tetapi,
sudahlah ........ biar kucoba untuk mencari jalan kebenaran.
Sampai jumpa kembali, Sang Biku Janapati!" Setelah
berkata demikian, Wasi Bagaspati dan adik seperguruannya
lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu. Biku Janapati
memandang dengan mata termenung dan menarik napas
panjang, maklum bahwa ia memikul tanggung jawab berat
sekali, kemudian ia pun melangkah pergi dengan
tongkatnya, menuju ke arah larinya dua orang kakek itu.
Tejolaksono dan Endang Patibroto mengamuk di
samping Retna Wilis, mereka bertiga seakan-akan berlomba
membunuhi anak buah pasukan musuh sehingga........
pasukan menjadi gentar dan me larikan diri cerai-berai.
Setelah jumlah lawan menipis, barulah Tejotaksono dan
Endang Patibroto melihat bahwa selain mereka bertiga,
maslh ada seorang pria lagi yang juga mengamuk hebat.
Kini mereka berdekatan, tiba-tiba Endang Patibroto
berseru, "Sindupati .......!"
Adiwijaya menengok terkejut sekali dan hendak
melarikan diri bersembunyi namun terlambat karena
Endang Patibroto yang telah mengenalinya itu tiba-tiba lari
menghampiri dan tanpa banyak cakap lagi telah
menerjangnya dengan pukulan maut Gelapmusti. Karena
wanita sakti ini meloncat dengan Aji Bayu Tantra, maka
gerakannya tangkas dan cepat laksana kilat menyambar,
sukar untuk dihindari lagi. Terpaksa Adiwijaya menangkis,
akan tetapi karena hatinya gentar dan ia merasa bersalah, ia
tidak mampu mengerahkan seluruh tenaganya dan begitu
lengannya bertemu dengan lengan Endang Patibroto, ia
terjengkang dan roboh bergulingan. Untung ia cepat
mempergunakan aji kesaktiannya yang amat ia andalkan,
yaitu Trenggiling-wesi sehingga begitu tubuhnya menyentuh tanah, ia sehat kembali dan sudah menjauhkan
diri. Kalau tidak tentu kepalanya sudah remuk kena diinjak
Endang Patibroto. Wanita ini makin marah dan terus
mengejar tubuh yang bergulingan itu dengan loncatan-
loncatan cepat. "Sindupati, manusia terkutuk! Saat ini engkau pasti akan
mampus di tanganku!"
Dengan sebuah lompatan cepat, kembali Endang
Patibroto menerjang dan Adiwijaya sudah gugup sekali,
bahkan sudah bangkit dan seolah-olah tidak mau melawan
lagi, menyerahkan mati hidupnya kepada Endang
Patibroto. "Plakkk!" Tubuh Endang
Patibroto terhuyung ke belakang ketika hantamannya
itu tertangkis oleh lengan
Retna Wilis. "Jangan bunuh dia ........ !"
teriaknya dan ia segera membangunkan Adiwijaya. Endang Patibroto terbelalak memandang, "Retna ........ dia ........ dia ini
manusia jahat! Manusia terkutuk! Dia ........ dia musuh
besar ibumu ........!"
Retna Wilis menggeleng kepalanya dan berkata lirih,
"Agaknya jalan kita selalu harus bersimpang. Boleh jadi dia
kauanggap jahat dan menjadi musuhmu. Akan tetapi
bagiku dia seorang manusia baik dan menjadi satu-satunya
sahabatku. Mari Paman, kita pergi." Retna Wilis
menggandeng tangan Adiwijaya dan mengajaknya pergi
cepat dari tempat itu. Endang Patibroto mengepal tinju dan hendak mengejar,
akan tetapi lengannya ........ dipegang oleh Tejolaksono.
"Diajeng, jangan memaksa dia ........ !" Suaranya penuh
keharuan. Endang Patibroto membalik, hendak meronta,
akan tetapi ketika melihat pandang mata suaminya penuh
keharuan dan kasihan, ia menangis dan Tejolaksono hanya
dapat mengelus rambut isterinya itu sambil menghela napas
dan matanya pun menjadi basah.
Demikianlah, ketika Bagus Seto, Joko Pramono dan
Pusporini datang ke pantai tempat pertempuran itu, mereka
bertiga ini mendapatkan Tejolaksono dan Endang Patibroto
sedang bertangisan di antara tumpukan mayat anak buah
Wasi Bagaspati yang berserakan dan malang melintang!
Pusporini segera merangkul Endang Patibroto dan
Tejolaksono dengan wajah muram dan berulang kali
menghela napas menceritakan keadaan Retna Wilis yang
meninggalkan ayah bundanya. Tentu saja dia tidak
menceritakan tentang Adiwijaya yang sesungguhnya adalah
bekas Patih Warutama atau dahulu bernama Sindupati,
karena menyebut nama orang ini tentu akan terpaksa
menceritakan bahwa Endang Patibroto pernah diperkosa
oleh manusia laknat itu! Bagus Seta menghela napas dan berkata, "Harap
Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu suka bersabar dan
menyerahkan segala sesuatunya dengan penuh kepercayaan
kepada Tuhan. Kalau kita menerima segala sesuatu yang
menimpa kita, baik hal itu menguntungkan atau merugikan
kita, dengan penuh kesabaran dan penyerahan, Sang Hyang
Widdhi (Tuhan) pasti akan memberkahi karena Dia adalah
Maha Adil, Maha Kasih, dan Maha Kuasa. Peristiwa
menguntungkan kita terima sebagai anugerah Tuhan dan
karenanya patut kita terima dengan rasa syukur dan hormat
tanpa menjadi mabuk kesenangan dan melupakan bahwa
keuntungan itu hanya terjadi karena Tuhan menghendaki.
Sebaliknya peristiwa merugikan kita terima sebagai


Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

hukuman atas penyelewengan kita dan sebagai ujian,
karenanya kita patut meneliti diri pribadi dan bertobat atas
segala kesalahan kita, mohon ampun kepada Dia Yang
Maha Adil." "Ahhh ........ Puteraku ........ betapa aku akan dapat
menahan batin yang berat ini ......." Endang Patibroto
terisak. "Mengapa tidak dapat, Kanjeng Ibu" Manusia yang
menyerahkan segala sesuatu, mati hidupnya, dengan penuh
kerelaan dan penuh kepercayaan kepada Sang Hyang
Widdhi akan sanggup menanggung derita yang bagaimana
pun juga, karena penyerahan mendatangkan kekuatan gaib
yang akan mengubah derita menjadi sesuatu yang wajar,
bukan derita lagi." "Bijaksana sekali ucapanmu, puteraku Bagus Seta.
Sekarang, menurut pendapatmu, bagaimana sebaiknya?"
Tejolaksono berkata sambil memandang puteranya penuh
kagum, juga dengan hati kosong melompong karena ia
tidak tahu siapakah sesungguhnya yang jauh meninggalkan
ayah bundanya. Retna Wilis ataukah Bagus Seta! Retna
Wilis hanya terpisah lahirnya dan dara itu selama masih
hidup dan berada di atas bumi, sekali waktu pasti dapat
bertemu dan mungkin sekali dapat berkumpul kembali
sebagai puteri dan orang tuanya. Akan tetapi Bagus Seta ini
sungguhpun kini berada di depannya, bercakap-cakap
seperti seorang putera, namun sesungguhnya pemuda ini
seperti melayang di angkasa, sukar sekali dijamah karena
keadaan Bagus Seta seolah-olah tidak lagi terikat oleh dunia
apalagi oleh hubungan keluarga!
"Karena musuh telah dihalau dan adinda Retna Wilis
telah dapat diselamatkan, sebaiknya Paduka berdua
Kanjeng Ibu kembali ke Panjalu memimpin pasukan untuk
memberi pelaporan kepada gusti sinuwun di Panjalu.
Demikian pula dengan Paman Patih dan Kanjeng Bibi
sebaiknya memimpin pasukan kembali ke Jenggala."
"Dan engkau sendiri?" Tejolaksono bertanya, suaranya
kosong, sekosong hatinya yang makin merasakan betapa
"jauhnya" puteranya yang kini berdiri di depannya itu.
"Hamba akan pergi merantau, melanjutkan perjalanan
melakukan dharma bakti hamba seperti yang telah
diajarkan oleh eyang guru ........
"Dan ibumu" Tentu akan kehilangan engkau ........
betapa akan berduka hatinya ........ "
Bagus Seta tersenyum dan mengeluarkan setangkai
bunga Cempaka Putih, menyerahkannya kepada Tejolaksono, "Harap Kanjeng Rama sudi menyerahkan
bunga ini kepada Kanjeng Ibu, dan dengan kekuasaan Sang
Hyang Widdhi, hati ibunda akan terhibur."
Tejolaksono menerima kembang itu teringat akan masa
dahulu di waktu puteranya memberi setangkai kembang
pula untuk diserahkan kepada Ayu Candra. Setelah
menyimpan kembang itu ia berkata, "Puteraku Bagus Seta,
mendekatlah, Anakku."
Bagus Seta menghampiri ramandanya dan Tejolaksono
memeluknya, memeluk erat-erat dan mendekap pemuda
itu, seolah-olah hendak menanam pemuda itu dalam
dadanya agar jangan dapat pergi lagi. Akan tetapi ada hawa
yang hangat keluar dari dada Bagus Seta yang menjalar ke
seluruh tubuh Tejolaksono dan yang mengingatkan patih
sakti ini akan sinar Sang Surya, sinar matahari yang tidak
hanya bertugas menghidupkan dia seorang. Sadarlah dia
bahwa memang menjadi tugas puteranya untuk berjuang
sebagai seorang sakti, sebagai seorang satria, demi
kebenaran dan keadilan, demi menegakkan perikemanusiaan, berguna bagi manusia khususnya dan
dunia umumnya. Tidak hanya bertugas menyenangkan hati
kedua orang tuanya belaka ia melepaskan pelukannya dan
dengan mata basah akan tetapi wajah berseri dan mulut
tersenyum ia berkata, "Pergilah, Anakku. Pergilah dengan
hati lapang dengan doa restu yang rela dariku."
Setelah memberi hornet kepada Endang Patibroto yang
memeluknya dan kepada Joko Pramono dan Pusporini,
pemuda itu lalu berjalan pergi menyusuri pantai laut
selatan, diikuti pandang mata empat orang itu sampai
bayangannya lenyap ditelan kesuraman cuaca hari yang
mulai sore. Kemudian mereka berempat pun meninggalkan
tempat itu untuk kembali ke Wilis di mana pasukan-
pasukan mereka masih berkumpul membersihkan sisa
perang di bawah pimpinan Limanwilis, Lembuwilis, dan
Nogowilis. -oo(mch-dwkz)oo- Retna Wilis duduk di atas sebuah batu besar di dalam
hutan yang lebat. ia duduk bersila di atas batu bawah pohon
tanjung yang besar dan lebat sekali, dengan muka tunduk
dan kedua mata dipejamkan, dalam keadaan hening karena
dara perkasa ini bersamadhi. Kalau tidak dipandang dengan
penuh perhatian, orang akan mengira bahwa ia tidak
bernyawa lagi, demikian halus pernapasannya sehingga
hampir tidak tampak dadanya bergerak. Hanya bedanya
dengan biasanya, kalau sedang bersamadhi itu biasanya
Retna Wilis hening dan tenang, wajahnya menjadi seperti
kosong tidak mengandung perasaan apa-apa. Akan tetapi
pada saat itu, wajahnya diselimuti kesuraman seolah-olah
ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Bahkan ada bekas-
bekas air mata yang sudah hampir mengering di atas
sepasang pipinya, di bawah pelupuk mata. Juga sepasang
alisnya yang kecil hitam itu agak berkerut, tanda bahwa dia
biarpun sedang bersamadhi, namun tidak dapat mengheningkan cipta, dan tidak dapat.. membebaskan diri
dari panca indrianya. Tidak jauh dari tempat dara itu duduk bersamadhi di atas
batu, tampak Adiwijaya duduk pula bersila di atas tanah, di
depan gadis itu. Akan tetapi Adiwijaya tidak bersamadhi,
semenjak tadi ia memandang wajah dara itu dengan penuh
keprihatinan dan penuh perhatian. Entah sudah berapa
puluh kali Adiwijaya menghela napas panjang dan
pikirannya melayang-layang mengenangkan semua peristiwa yang terjadi, dan makin dipikir makin trenyuh
hatinya, merasa amat kasihan dan terharu terhadap dara
perkasa itu. Adiwijaya maklum bahwa Retna Wilis menderita
tekanan batin yang hebat, bahwa dara itu berduka sekali.
Tadi dara itu bersila semenjak pagi sekali di atas batu, dan
kalau Retna Wilis bersamadhi seperti biasanya, kiranya
Adiwijaya tidak akan gelisah dan tersiksa seperti itu
batinnya. Akan tetapi gadis itu bersila memejamkan mata,
biarpun tidak pernah bergerak dan pernapasannya seperti
orang tertidur atau bersamadhi, namun Adiwijaya yang
juga biasa bersamadhi itu maklum bahwa dara ini memaksa
diri untuk menyembunyikan perasaannya yang tertekan dan
tersiksa. Bahkan dara itu tidak sadar bahwa beberapa tetes
air mata keluar melalui bulu matanya menitik turun ke atas
pipi sampai mengering kembali, tidak sadar bahwa
keningnya selalu berkerut dan wajahnya diselimuti
kemuraman yang mengharukan.
"Aku berdosa ........ " pikirnya dengan trenyuh. "Aku
berdosa kepada ibunya, kepadanya ........ , kalau tidak
karena aku, mungkin dia sudah dapat berkumpul kembali
dengan ayah bundanya, hidup berbahagia sebagai puteri
Patih Panjalu, sebagai puteri suami isteri yang menjadi
tokoh terkenal, sakti mandraguna dan gagah perkasa. Akan
tetapi dia membelaku, rela pergi bersamaku!" Ingin
Adiwijaya memukul kepalanya sendiri penuh penyesalan
terhadap diri sendiri, terhadap semua perbuatannya dan
kesesatannya yang lalu. Patutkah seorang manusia jahat,
manusia terkutuk seperti dia, mendapatkan pembelaan dari
seorang seperti Retna Wilis"
Menjelang tengah hari Retna Wilis bergerak perlahan
dan membuka matanya. Mata yang suram, sayu dan
membayangkan hati yang kosong dan perasaan yang
tertindih penyesalan dan kedukaan. Melihat Adiwijaya
duduk bersila di atas tanah, memandangnya dengan muka
sedih, Retna Wilis bertanya,
"Paman, sudah lamakah aku bersamadhi?"
Suara itu! Begitu memelas, tergetar dan lirih. Begitu
mengharukan dan menusuk perasaan Adiwijaya dan tak
tertahankan lagi Adiwijaya menangis! Laki-laki yang
dahulu menghadapi perbuatan keji sekeji-kejinya sambil
tertawa itu kini menangis seperti anak kecil!
"Aduh Gusti Ayu Puteri Retna Wilis ........ , mengapa
Paduka membela hamba dan rela menentang rama ibu
Paduka ........ ?" katanya di antara isaknya.
Retna Wilis memandang terbelalak sambil menurunkan
kedua kakinya dari atas batu. "Paman Adiwijaya! Andika
........ menangis" Betapa anehnya........ ! Mengapa aku
membelamu" Tentu saja! Tidak boleh orang membunuhmu,
biar ayah bundaku sendiri pun tidak boleh. Engkau satu-
satunya orang yang baik kepadaku, satu-satunya sahabatku,
bahkan kuanggap sebagai pengganti orang tuaku!"
"Aduh Dewa ........ betapa kejinya Sindupati ........ ah,
tidak layak aku hidup di dunia ini ........ " Adiwijaya atau
Sindupati makin tertusuk hatinya. Setiap ucapan yang
keluar dari mulut Retna Wilis, kata demi kata merupakan
keris berkarat yang menikam jantungnya.
"Sindupati" Apa maksudmu, Paman Adiwijaya?"
"Aduhai, Gusti Puteri yang mulia. Paduka bunuhlah
hamba ini, untuk melepaskan hamba daripada siksaan batin
karena dosa-dosa hamba yang setinggi langit. Bunuhlah
hamba, Sang Puteri!"
Melihat pria setengah tua itu menangis mengguguk,
Retna Wilis membuka matanya lebar-lebar. "Paman, makin
aneh saja kata-katamu. Biarpun orang sedunia mengatakan
engkau jahat dan berdosa, bagiku engkau adalah orang
yang paling baik." "Tidak! Tidak! Paduka tidak tahu. Hamba sesungguhnya
dahulu bernama Sindupati, dua puluh tahun lebih yang lalu
hamba adalah seorang perwira Kerajaan Jenggala yang
dikasihi gusti sinuwun sepuh di Jenggala. Akan tetapi
hamba berani mempersunting bunga dalam taman
terlarang, melakukan hubungan asmara dengan puteri
sinuwun, sehingga hamba menjadi seorang pelarian yang
terkutuk." "Hemm, kesalahanmu tidak berapa hebat, Paman."
"Itu hanya per mulaan saja. Hamba lalu menjadi perwira
Blambangan, dan hamba bersama pasukan Blambangan
melakukan fitnah kepada ibunda Paduka, melakukan fitnah
kepada Puteri Endang Patibroto yang dahulu menjadi puteri
mantu gusti sinuwun, isteri dari Pangeran Panji Rawit.
Hamba melakukan fitnah dengan maksud-maksud melemahkan Jenggala yang menjadi musuh Blambangan
karena tokoh Jenggala yang ditakuti adalah ibu Paduka."
Sindupati lalu menceritakan semua peristiwa ketika Endang
Patibroto terfitnah sehingga mengakibatkan tewasnya
Pangeran Panji Rawit. Retna Wilis mendengarkan dengan
penuh perhatian. -ooo0dw0ooo- Jilid XLVIII "DEMIKIANLAH, Gusti Puteri. Hambalah orangnya
yang telah mencelakakan secara tidak langsung kehidupan
rumah tangga ibunda. Bukankah hamba seorang manusia
terkutuk yang patut mati" Harap Paduka lekas turun tangan
membunuh hamba, karena kebaikan Paduka merupakan
slksaan hebat yang tak tertahankan oleh batin hamba."
Retna Wilis menggeleng kepis. "Dosamu masih belum
hebat, Paman. Engkau hanya melakukan tugas sebagal
perajurit Blambangan dan apa yang kaulakukan terhadap
kanjeng ibu, selain dalam pelaksanaan tugas, juga malah
berjasa." "Berjasa ........ ?"" Sindupati memandang heran.
Retna Wilis tersenyum pahit. "Engkau berjasa karena
kalau kanjeng ibu tidak kehilangan Pangeran Panji Rawit
tentu tidak akan bertemu dengan kanjeng rama, dan ........
aku ........ tentu tidak akan ada!"
"Ah itu masih belum semua, Gusti Puteri. Dengarlah
baik-baik! lbunda, paduka menjadi marah dan pasukan
Jenggala dan Panjalu, juga bersama kanjeng rama paduka,
menyerbu menghancurkan Blambangan. Hamba lalu lari
lagi dan kemudian hamba bersekutu dengan utusan-utusan
Cola dan Sriwijaya, terutama dengan Wasi Bagaspati dan
dengan Suminten dan Pangeran Kukutan sehingga hamba
berhasil menjadi patih Jenggala dengan nama Patih
Warutama. Hamba telah mengorbankan nyawa banyak
orang, tidak ada kejahatan dan kekejian yang tidak hamba
lakukan, hamba peristeri kekasih hamba dan ........ dan
hamba peristeri pula anaknya, puterinya yang terlahir
karena dahulu berhubungan dengan hamba, beristeri puteri
hamba sendiri. Nah, adakah dosa yang lebih besar daripada
itu?" Retna Wilis menggeleng kepala, takjub. "Tak dapat
terbayangkan olehku betapa engkau pernah melakukan


Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kesesatan sehebat itu, Paman. Akan tetapi itu bukan
urusanku, dan kalau sekarang Paman menyesali perbuatan
itu, baik sekali." Adiwijaya makin penasaran. "Akan tetapi, hamba ........
hamba malah membunuh mereka ibu dan anak, hamba
pada waktu melarikan diri karena sekutu hamba
dihancurkan, telah membunuh Pangeran Kukutan dan
mencelakakan Suminten. Hamba........ berganti nama
menjadi Adiwijaya dan mengelabuhi paduka ........ dosa
hamba tak terampunkan ......."
Retna Wilis tetap ntenggeleng kepala.
"Akan tetapi setelah menjadi pembantuku, engkau selalu
baik kepadaku, Paman."
"Hamba akui bahwa semenjak bertemu dengan Paduka,
hamba kehilangan semua watak kotor dan keji, hamba telah
mendapatkan pegangan dan telah bersumpah untuk bersetia
kepada Paduka. Hamba menganggap Paduka seperti
sesembahan hamba, seperti ........ anak hamba yang hamba
sayang ........ , akan tetapi, hamba sungguh tidak patut,
hamba seorang manusia terkutuk. Hamba mohon,
bunuhlah hamba agar hamba terbebas daripada siksaan
batin, Gusti." "Tidak, Paman. Aku tidak akan membunuhmu. Engkau
boleh jadi pernah menyeleweng dan jahat, akan tetapi aku
pun bukan seorang baik-baik, dan segala kejahatan itu tidak
dapat menandingi kedurhakaanku terhadap kanjeng rama
dan kanjeng ibu. Tidak, Paman. Kita sama-sama jahat,
karenanya kita dapat menyesali perbuatan kita berdua yang
sesat, dapat sama-sama menderita siksaan batin dart
penyesalan hati." Tiba-tiba Adiwijaya atau Sindupati meloncat berdiri,
peluhnya mengalir seperti air matanya. "Retna Wilis, masih
belum tergugah hatimu untuk membunuh aku" Sindupati
seorang manusia berhati iblis! Dengarlah, Retna Wilis. Aku
........ ........ aku telah melakukan hal yang terkutuk........
Ketika engkau masih kecil di Wilis, aku pernah berkunjung
kepada ibumu, Aku memancing ibumu sehingga engkau yang sedang berlatih di
pohon ditinggalkan kemudian
diculik .oleh sekutuku, yaitu
Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Kemudian aku
........ dengar baik-baik, ketika
ibumu sedang tidur, aku memukulnya pingsan dan aku
........ aku memperkosanya!"
Retna Wilis mengeluarkan jerit lirih dan ia pun meloncat
bangun, berdiri berhadapan
dengan Sindupati yang berwajah pucat sekali. Mereka
bertemu pandang, sejenak tak berkata-kata dan tidak
bergerak, kemudian Sindupati berkata perlahan,
"Nah, cukuplah sekarang. Kau bunuhlah aku, Retna
Wilis." Akan tetapi, tiba-tiba sekali Retna Wilis tersedu
menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis.
"Tidak ...... , aku tidak akan membunuhmu, aku ........ aku
tetap lebih jahat daripada engkau, Paman. Aku lebih
menyakitkan hati kanjeng ibu daripada perbuatanmu
terhadapnya?".."
"Retna Wilis . .. ... !!" Sindupati berseru setengah
memekik, heran, menyesal, terharu dan berduka bercampur
aduk menjadi satu dalam suaranya.
Retna Wilis menurunkan kedua tangannya dan
memandang Sindupati, "Paman, kita sama-sama jahat, dan
sama-sama menyesal, sama-sama tidak mempunyai masa
depan yang terang, tidak tahu harus bagaimana
melanjutkan hidup ini. Karena itu ........ jangan ........
jangan kau tinggalkan aku, Paman. Engkaulah satu-satunya
sahabatku yang dapat kupercaya, engkau pengganti orang
tuaku ........" "Aduh, Gusti Puteri ........ !" Sindupati menubruk kaki
Retna Wilis, menyembah dan mencium ujung ibu jari kaki
gadis itu, jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Retna
Wilis berjongkok dan mengangkat bangun laki-laki setengah
tua itu, memegang kedua pundak dan berkata,
"Jangan begitu, Paman. Mulai saat ini, Paman kuanggap
sebagai paman kandung sendiri, mewakili kedua orang
tuaku. Bimbinglah aku, Paman, berilah petunjuk bagaimana
aku harus melanjutkan hidup ini."
Dengan suara serak saking terharu hatinya Sindupati
berkata, "Baiklah, Retna Wilis. Engkau kuanggap sebagai
keponakanku, bahkan sebagai anakku yang akan kubela
dengan seluruh jiwa ragaku. Jangan khawatir, Anakku. Aku
akan menggunakan seluruh sisa hidupku demi membahagiakanmu dan akan menuntunmu untuk merubah
jalan hidupmu meialui jalan kebenaran. Biarpun aku
seorang bekas manusia sejahat-jahatnya aku masih belum
lupa bagaimana caranya menjadi manusia baik. Bahkan
semua pengalamanku dapat kujadikan contoh keburukan.
Marilah, Anakku, masa depanmu tidak segelap yang kau
khawatirkan. Pertama-tama lenyapkan rasa bencimu........
terhadap........ ayah........ bundamu. Sangguhkah?"
Retna Wilis mengangguk. "Aku sebetulnya tidak
membenci mereka, Paman. Hanya, aku ........ aku segan
ditundukkan ?"?"
"Nah, kalau engkau benar menganggapku sebagai
pamanmu, sebagai pengganti orang tuamu, engkau harus
taat kepadaku. Tanamkan rasa sayang kepada ayah
bundamu, dan buang jauh-jauh cita-citamu untuk menjadi
ratu dunia!" Retna Wilis mengangkat mukanya memandang, kemudian mengangguk pula. "Akan tetapi, ayah bundaku,
semua keluargaku, tentu akan memandang rendah
kepadaku, seorang anak durhaka?"."
"Tidak, Anakku. Engkau akan menjadi seorang semulia-
mulianya di dunia ini, akan menjadi tokoh penegak
kebenaran dan orang tuamu, seluruh keluarga, kelak akan
menjunjung tinggi padamu."
"Akan tetapi, bagaimana aku dapat melawan rangsangan
hatiku sendiri, Paman" Ada sesuatu yang mendorongku,
yang tertanam di lubuk hatiku semenjak aku menjadi murid
Nini Bumigarba." "Harus kaulawan dengan kekuatan batinmu, dan ........ "
"Ha-ha-ha-ha, burung gagak berbulu hitam, bagaimana
bisa mengubah bulu menjadi putih?"
Sindupati dan Retna Wilis terkejut dan membalikkan
tubuh. Kiranya di situ telah berdiri Wasi Bagaspati dan
Wasi Bagaskolo! "Ha-ha-ha-ha, Retna Wilis. Mengapa engkau begini
bodoh mau mendengarkan ocehan seorang pengkhianat
kotor seperti dia ini" Kedua tangannya, seluruh tubuhnya
sendiri sudah penuh kotoran, mana mungkin dia dapat
membersihkan engkau" Lebih baik engkau bersekutu
denganku, dan kalau kita bertiga membasmi tokoh-tokoh
Jenggala dan Panjalu, engkau kelak akan dapat menjadi
ratu terbesar di seluruh Jawa-dwipa!"
Melihat perubahan pada wajah Retna Wilis yang
kembali bersikap dingin dan beringas, Sindupati maklum
bahwa ucapan Wasi Bagaspati itu mendatangkan kesan di
hati Retna Wilis. Ia khawatir sekali kalau-kalau gadis itu
terpengaruh oleh wataknya yang lama kembali, maka
kemarahannya timbul dan dengan nekat ia meloncat,
menerkam dan menyerang Wasi Bagaspati!
Wasi Bagaspati menggerakkan tangannya, menyambut
terjangan Sindupati dengan pukulan tangan miring.
"Krakkk!" Tubuh Sindupati terlempar ke dekat kaki Retna
Wilis dan sebagian besar tulang-tulang iganya patah-patah!
Melihat Sindupati menggeletak megap-megap di dekat
kakinya, seketika lenyaplah pengaruh liar di hati Ratna
Wilis. Ia menubruk, berlutut di dekat tubuh yang sudah
berkelojotan itu. "Paman ........ Paman Sindupati?".."
Sindupati terengah-engah dan mengeluarkan bisikan
yang lirih sekali, "Anakku ........ sadarlah ........ lawanlah
pengaruh buruk ........ selamat tinggal ........ selamat
berjuang ke jalan kebenaran ........ aku layak mati ........
penuh dosa ........ " Tiba-tiba tubuhnya mengejang lalu
lemas. Sindupati, alias Warutama, alias Adiwijaya
menghembuskan napas terakhir.
Retna Wilis bangkit perlahan-lahan, pandang matanya
membuat Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo mengkirik.
"Eh, Retna Wilis, perlu apa mendengarkan ocehan orang
sekarat" Lebih baik bersama kami mengejar kemuliaan
hidup. Hidup di dunia hanya satu kali dan berapa lamanya
orang hidup" Kalau tidak mengejar kemuliaan sekarang,
kelak terlambat dan menyesal pun tiada gunanya lagi," kata
Wasi Bagaskolo. "Manusia-manusia iblis!" Tiba-tiba Retna Wilis meloncat
cepat sekali menerjang Wasi Bagaskolo yang berdiri paling
dekat. Kakek ini terkejut dan cepat menangkis.
"Dukkkkl!" Girang hati Wasi Bagaskolo ketika ia menangkis itu ia
mendapat kenyataan bahwa tenaga Retna Wilis tidaklah
sehebat pada pertandingan yang lalu. Dia hanya terhuyung.
Hal ini menandakan bahwa kesaktian dara itu belum pulih
kembali. Hal ini memanglah benar. Selain Retna Wilis
masih menderita karena pertandingan yang lalu, juga dia
menderita tekanan batin yang amat berat sehingga hal ini
pun banyak mengurangi dan melemahkan tenaga sakti di
tubuhnya. Retna Wilis yang marah sekali melihat Sindupati tewas,
juga maklum bahwa tenaganya masih belum pulih sebagai
akibat ketika ia ditawan dan kemudian bertanding dengan
kedua orang kakek itu, maka ia cepat mencabut pedang
pusaka Sapudenta dari punggungnya.
Namun Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo yang sudah
waspada dan maklum bahwa selain tenaga saktinya masih
belum pulih, juga dara ini sedang menderita tekanan batin
sehingga tidaklah sekuat biasa, tidak menjadi gentar biar
mereka telah kehilangan senjata pusaka mereka.
"Retna Wilis, lebih baik engkau menyerah secara baik-
baik, menjadi pengganti Dewi Nilamanik, menjadi seorang
dewi penitisan Sang Bathari, hidup mulia dan penuh
kesenangan. Menyerahlah daripada aku menggunakan
kekerasan." Retna Wilis tidak menjawab, melainkan mengeluarkan
seruan keras dan tubuhnya sudah meluncur ke depan,
tangannya memutar pedang pusaka Sapudenta dan berubah
menjadi gulungan sinar panjang membabat ke arah tubuh
ke dua orang kakek itu. Namun Wasi Bagaspati dan Wasi
Bagaskolo sudah mengelak dengan loncatan mundur,
kemudian membalas dengan pukulan-pukulan sakti dari
kanan Retna Wilis terus meloncat ke depan menghindarkan
diri dan membalikkan tubuh, pedang di tangan, siap
bertanding mati-matian. Namun, tertindih oleh derita batin
bertubi-tubi, dara ini menjadi agak pening dan diamuk oleh
kemarahan sehingga ketenangannya goyah. Hal ini
menyebabkan serangan-serangannya seperti gerakan orang
nekat tanpa perhitungan lagi, mengamuk dengan dorongan
amarah yang bagaikan api menyala-nyala.
Betapapun juga, Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo
yang mempunyai niat menawan dara ini hidup-hidup dan
menaklukkannya untuk dapat menggunakan tenaganya,
tidaklah dapat melaksanakan niat ini dengan mudah karena
biarpun Retna Wilis berkurang banyak kekuatannya,
namun ia masih merupakan lawan yang dahsyat.
Setelah lewat ratusan jurus, tiba-tiba Wasi Bagaskolo
mengeluarkan aji-aji ilmu hitamnya, berteriak keras dan
cuaca menjadi gelap karena timbul awan hitam menutup
sinar matahari, bergumpal-gumpal di atas kepala mereka.
Kemudian, atas isyaratnya, Wasi Bagaskolo berseru keras
dan menerjang Retna Wilis menjatuhkan diri ke atas tanah
dan bergulingan menyerang ke arah kedua kaki dara
perkasa itu. Diserang secara buas ini, Retna Wilis agak
terkejut dan cepat ia menggerakkan pedang ke bawah untuk
melindungi kedua kakinya, bahkan lalu menusukkan
pedangnya ke arah tubuh Bagaskolo yang menggelinding
dekat ke arah tubuh Bagaskolo yang menggelinding dekat
dekat kakinya dengan kedua tangan bergerak mencengkeram. Saat itu, Wasi Bagaspati yang sudah siap
sedia dan meloncat ke atas lenyap ke dalam uap atau awan
hitam, meluncur ke bawah dan menerkam Retna Wilis.
Dara itu sedang menusuk ke
bawah ketika mendengar berkesiurnya angin dari atas,
maklum bahwa

Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Wasi Bagaspati menerjangnya secara hebat, maka ia lalu
meloncat dan menarik kakinya untuk menghindarkan cengkeraman
Wasi Bagaskolo, dari bawah
dan memutar pergelangan tangan sehingga pedangnya
membalik dan membacok ke atas memapaki tubuh Wasi Bagaspati. Wasi Bagaspati yang memang hanya mengacaukan
lawan agar perhatiannya terpecah, sudah dapat menghindar
dan meloncat ke belakang tubuh Retna Wilis dan tiba-tiba
dara ini merasa betapa kedua kakinya sudah direnggut dan
dipeluk oleh kedua lengan Wasi Bagaskolo yang kuat! Ia
mengeluarkan seruan lirih dan hendak menggerakkan
pedang menusuk punggung Wasi Bagaskolo, akan tetapi
perhatiannya yang dicurahkan ke bawah itu, biarpun hanya
beberapa detik, cukup bagi Wasi Bagaspati untuk bergerak,
tangan kiri membabat pergelangan tangan Retna Wilis yang
memegang pedang dan tangan kanan mencengkeram
pedang pusaka Sapudenta! "Eiihhhhh ........ !! Retna Wilis memekik, mengerahkan
tenaga mempertahankan pedang dan dua tenaga sakti
raksasa yang memperebutkan pedang itu membuat pedang
terlepas dari pegangan Retna Wilis, bukan terampas lawan
melainkan mencelat jauh dan lenyap ke dalam jurang!
Retna Wilis marah sekali, tiba-tiba tubuhnya meronta,
bergoyang semua dengan getaran hebat sehingga Wasi
Bagaspati terpaksa meloncat ke belakang, sedangkan Wasi
Bagaskolo yang memeluk kedua kaki itu dapat dilontarkan
pula sampai lima meter jauhnya di mana kakek ini jatuh
dan bergulingan lalu meloncat bangun. Mereka berdua kini
tertawa menyeringai, girang bahwa mereka berhasil
melucuti dara itu dan dalam keadaan tak bersenjata tentu
akan lebih mudah ditangkap. Perasan inilah yang
mencelakakan Wasi Bagaskolo. Orang yang mabuk
kesenangan akan berkurang kewaspadaannya, memandang
rendah lawan dan karenanya menjadi lengah. Mereka tidak
tahu bahwa dalam gebrakan terakhir tadi, Retna Wilis yang
kehilangan senjata telah menyambar tanah pasir ke dalam
genggaman tangan kanannya, diam-diam ia mengerahkan
aji kesaktiannya sehingga tanah pasir yang digenggamnya
itu menjadi senjata yang luar biasa ampuhnya, yaitu Pasir-
sakti, pasir yang berubah seperti bubuk baja yang
mengandung bisa! Wasi Bagaskolo yang kini merasa bahwa dia sanggup
menandingi dan mengalahkan dara yang sudah lemah itu,
mengeluarkan seruan girang dan menerjang maju,
menggunakan kedua tangan hendak mencengkeram, akan
tetapi dia didahului oleh Wasi Bagaspati yang melihat
gerakan adik seperguruannya dan hendak membantu. Wasi
Bagaspati lebih hati-hati dan maklum bahwa kalau dara itu
tidak ia desak lebih dulu, masih sukar untuk dapat
ditangkap adik seperguruannya. Maka ia menerjang maju
dengan cepat dari sebelah kiri Retna Wilis, mengirim
pukulan tangan kiri dengan tenaga sakti, beberapa detik
lebih dulu dari gerakan Wasi Bagaskolo yang hendak
menerkam dari depan. "Plakkk........ !!" Tangan kiri Retna Wilis menangkis
pukulan ini tanpa menoleh karena perhatiannya tetap
ditujukan kepada Wasi Bagaskolo di depannya. Biarpun
pukulan sakti Wasi Bagaspati yang ditangkisnya itu
membuat tangan kirinya terasa nyeri dan lengannya seperti
lumpuh, hal ini tidak mengurangi perhatiannya ke depan.
Pada saat itu Wasi Bagaskolo menubruk dan Retna Wilis
menyambitkan pasir yang berada di dalam genggaman
tangan kanannya. Sinar hitam menyambar ke arah muka
dan dada Wasi Bagaskolo dari jarak dekat sekali.
"Augggghhhrrr" Pekik mengerikan keluar dari kerongkongan Wasi Bagaskolo yang tiba-tiba terjengkang
ke belakang, roboh terbanting dan kedua tangannya yang
tadi membentuk cakar hendak mencengkeram tubuh Retna
Wilis, kini mencakari muka dan dadanya sendiri sampai
kulit dan dagingnya robek-robek!
"Dessss ........ !!"
Tubuh Retna Wilis terbanting keras dan terguling-guling.
Hebat sekali pukulan yang dilakukan Wasi Bagaspati yang
marah menyaksikan tewasnya Wasi Bagaskolo sehingga dia
mengirim pukulan yang mengenai punggung Retna Wilis.
Dara itu bergulingan dan darah mengucur dari bibirnya,
akan tetapi ia masih dapat bangkit dengan tubuh lemah
namun semangat menyala-nyala, pantang mundur pantang
menyerah, siap untuk melawan sampai mati. Pandang
matanya berkunang, kepalanya pening, tubuhnya bergoyang-goyang, namun sedikit pun tidak ada keluhan
keluar dari mulutnya yang berlepotan darahnya sendiri.
"Engkau ........ engkau membunuh adikku ........ ?" Wasi
Bagaspati kembali menerjang dengan pukulan sakti. Retna
Wilis mengangkat tangan menangkis dan kembali ia roboh
terguling-guling, akan tetapi biarpun dengan susah payah, ia
masih dapat bangkit kembali. Ketika Wasi Bagaspati yang
sudah marah sekali itu lari menghampiri, tiba-tiba terdengar
suara halus, "Sahabatku, mengapa Andika melanggar
janji?" Dan di depannya telah berdiri dengan sabar dan
kening dikerutkan sambil menggeleng-geleng kepala.
Sejenak Wasi Bagaspati memandang penuh kemarahan,
kemudian ia mendengus dan menghampiri mayat Wasi
Bagaskolo, mengambilnya dan memanggulnya, kemudian
tanpa berkata apa-apa lagi ia hendak pergi meninggalkan
tempat itu. Akan tetapi dengan gerakan cepat sekali, amat
mengherankan bagi tubuhnya yang gendut pendek, Biku
Janapati telah menyusulnya ketika Wasi Bagaspati hendak
menuruni sebuah jurang. "Berhenti dulu, Wasi Bagaspati," kata Biku Janapati.
Wasi Bagaspati yang memanggul mayat Wasi Bagaskolo
membalikkan tubuh dan sikapnya beringas, "Andika mau
apa, Biku Janapati?"
"Aku hendak menagih janji, dan aku hendak
mempertanggungjawabkan perbuatanku ketika menanggungmu, sahabatku Wasi Bagaspati. Andika
seorang yang sudah banyak mempelajari ilmu, tentu saja
tadinya kuanggap bahwa Andika benar-benar telah dapat
insyaf dan sadar, karena itu aku berani menanggungmu.
Siapa tahu, kiranya Andika telah menjadi hamba nafsu
yang paling rendah sehingga Andika membutakan mata
hati dan tidak melihat lagi antara baik dan buruk. Aku telah
menanggungmu dengan segala akibatnya dan melihat
betapa engkau masih saja menuruti nafsu angkara murka,
terpaksa aku sendiri yang turun tangan membasmimu."
Wasi Bagaspati marah sekali dan melemparkan mayat
Wasi Bagaskolo ke atas tanah. Karena dia berdiri di pinggir
jurang, maka tanpa ia sengaja mayat itu terlempar ke tepi
dan terus menggelundung memasuki jurang! Akan tetapi,
saking marahnya kepada Biku Janapati, Wasi Bagaspati
tidak memperdulikan hal itu dan ia menudingkan
telunjuknya ke arah muka kakek gundul itu.
"Keparat engkau Janapati! Engkau yang menjadi
sahabatku semenjak dari tanah barat, kini hendak
memusuhiku dan membela orang keturunan Mataram?"
"Andika yang telah lupa
akan segala awal dan akhir,
Wasi Bagaspati. Lupakah Andika bahwa sesungguhnya
Andika hanya ikut dan membonceng kepada kami utusan Sriwijaya ketika memasuki Jawadwipa" Lupakah bahwa kalau tidak
bersama utusan Sriwijaya yang
masih ada hubungan keluarga
dengan Mataram, Andika dan
para pengikut Andika tidak
mungkin dapat tiba di sini"
Dahulu Andika berjanji untuk memperkembangkan Agama
Shiwa, akan tetapi setelah tiba di sini Andika mengumbar
angkara murka. Berkali-kali saya peringatkan, dan yang
terakhir malah saya menebus nyawa Andika dari tangan
Bagus Seta dengan tanggung jawab sepenuhnya. Sekarang,
tiada lain jalan bagiku, terpaksa harus melenyapkan Andika
yang selalu menjadi pengacau ketenteraman."
"Pendeta gundul yang sombong! Kaukira aku takut
kepadamu?" Wasi Bagaspati berteriak dan menerjang Biku
3anapati. "Sadhu-sadhu-sadhu ........ siapa mengira bahwa setua ini
hamba terpaksa melakukan dosa lagi ........ " kata Biku
Janapati yang cepat menangkis dan balas menyerang. Dua
orang kakek sakti itu segera bertanding di pinggir jurang
dengan seru. Retna Wilis yang sudah terluka itu ketika terbanting tadi
dapat bangkit kembali dengan susah payah dan siap
menghadapi pukulan lawan terakhir. Akan tetapi ia melihat
munculnya Biku Janapati dan betapa pendeta ini
membelanya. ia menjadi lemas dan limbung, tubuhnya
terhuyung hampir terguling, kepalanya pening. Sebuah
lengan dengan halus dan lemah-lembut merangkul
pundaknya dan mencegahnya roboh terguling. Retna Wilis
merasa bahwa hanya lengan Adiwijaya sajalah yang akan
menyentuhnya dengan kasih sayang seperti itu, maka ia
memejamkan matanya. Akan tetapi ia teringat bahwa
pamannya itu telah tewas, maka cepat ia membuka mata
dan menoleh. Jantungnya berdebar kencang ketika ia
melihat bahwa yang merangkul pundaknya itu bukan lain
adalah Bagus Seta, yang memandangnya dengan tersenyum
dan tangan kanan pemuda itu telah memegang pedang
Sapudenta yang tadi hilang terjatuh ke dalam jurang. "Eng
........ engkau ........ Bagus Seta ........ ?" Retna Wilis
bertanya gagap dan melepaskan rangkulan pemuda itu,
membalikkan tubuh menghadapinya.
"Benar, adikku Retna Wilis. Aku rakandamu Bagus Seta
yang selalu membayangimu."
"Berikan pedangku itu!" Retna Wilis berkata, memaksa
diri bersikap gagah biarpun seluruh tubuhnya lemas.
"Hendak kau pakai untuk apakah" Untuk membunuhku
sebagai murid Eyang Bhagawan Ekadenta?"
"Ohh, tidak, tidak ........ ! Akan kupakai membunuh
Wasi Bagaspati!" Bagus Seta tersenyum, memegang tangan adiknya,
menariknya dan menyarungkan pedang Sapudenta di
sarung pedang yang menempel di punggung Retna Wilis.
"Jangan mencampuri urusan mereka, Adikku. Lihat,
mereka berdua datang ke tanah air kita tanpa ada yang
mengundang, keduanya menimbulkan kekeruhan dengan
cara mereka sendiri dan sekarang biarkanlah keduanya
menyelesaikan segala persoalan yang timbul sebagai akibat
dari perbuatan mereka sendiri. Mulai sekarang, berhati-
hatilah dalam melangkahkan sesuatu, Adikku, karena setiap
langkah, setiap perbuatan kita menjadi sebab timbulnya
akibat di kemudian hari. Kita akan memetik setiap buah
yang tumbuh dari pohon yang kita tanam sendiri, oleh
karena itu, kita harus dapat memilih pohon perbuatan yang
baik agar buahnya pun kelak buah yang baik. Semua hal
yang menimpa diri kita adalah hasil daripada perbuatan kita
sendiri, Adikku sayang, karena itu kita harus menjaga
perbuatan dengan jalan membersihkan hati dan pikiran
sebab perbuatan timbul daripada hati dan pikiran. Kalau
hati dan pikiran kita bersih, perbuatan kita pun tentu bersih,
sebaliknya hati dan pikiran kotor tak mungkin menimbulkan perbuatan yang bersih."
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras disusul pekik
yang menyeramkan keluar dari dalam jurang di depan.
Kedua orang kakek yang bertanding tidak tampak lagi dan
perlahan-lahan Bagus Seta menarik tubuh Retna Wilis yang
dirangkul pundaknya itu mendekati tepi jurang lalu
menjenguk ke bawah. Jauh di dasar jurang, di antara batu-
batu dan air sungai kecil, tampak menggelatak tiga mayat
orang dalam keadaan remuk, yaitu mayat dari Wasi
Bagaspati, Biku Janapati, dan Wasi Bagaskolo.


Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Melihat mayat-mayat itu, Retna Wilis teringat akan
mayat Sindupati. ia menengok, memandang mayat itu,
melepaskan rangkulan Bagus Seta dan lari menghampiri,
berlutut dan menangisi mayat Sindupati.
Bagus Seta berjalan mendekati, dan di antara isak tangis
Retna Wilis, terdengar suaranya, "Berbahagialah dia ini
yang telah sadar dan bertobat daripada dosa-dosanya
sehingga mati dalam keadaan sadar. Riwayat hidup
Sindupati ini dapat dijadikan tauladan dan peringatan bagi
kita, Retna Wilis, bahwa tiada perbuatan yang menyeleweng daripada kebenaran akan mendatangkan
kebahagiaan. Sikapnya yang baik sekali terhadapmu,
sedikitnya telah menebus sebagian daripada dosa-dosanya
yang lalu, dan nyatanya, dalam saat terakhir ia telah sadar
akan dosa-dosanya dran bertobat. Sadar akan dosa sendiri
dan bertobat merupakan kebahagiaan besar, Adikku."
Biarpun menangisi mayat Sindupati, namun setiap kata-
kata yang keluar dari mulut Bagus Seta terdengar jelas oleh
Retna Wilis. ia lalu mengangkat mukanya yang pucat dan
basah air mata. "Adakah ........ harapan bagiku ........ yang murtad ........
yang penuh noda dan dosa ini ........ untuk kembali ke jalan
benar?" Bagus Seta tersenyum, merangkul adiknya dan diajak
berdiri. "Tidak ada dosa yang takkan terhapus asal dengan
tebusan penyesalan dan bertobat lahir batin tanpa paksaan,
melainkan dengan kesadaran. Engkau terluka Retna Wilis.
Mari kita menyempurnakan jenazah Sindupati, kemudian
ikutlah dengan aku, kakakmu yang akan membimbingmu
ke arah jalan benar dan kebahagiaan."
Mereka lalu membuat api besar dan membakar jenazah
Sindupati. Abunya mereka tanam di hutan itu dan pada
keesokan harinya, pagi-pagi sekali di pantai laut selatan
tampak Bagus Seta dan Retna Wilis bergandengan tangan,
berjalan perlahan menuju ke timur di mana sinar matahari
yang cerah telah membakar angkasa. Kedua orang kakak
beradik ini tidak merasa betapa lidah air laut menjilat-jilat
kaki mereka karena mereka seperti terpesona atau tertarik
oleh sinar matahari kemerahan yang makin lama makin
terang itu. Keduanya mendapatkan keyakinan, terutama
sekali Retna Wilis, bahwa seperti halnya sinar matahari
pagi, masa depannya dengan bimbingan kakaknya akan
makin gemilang. Bayang-bayang hitam kedua orang muda
itu makin tampak nyata mengikuti di belakang mereka.
Bayangan kedua kakak beradik sakti mandraguna yang
menuju ke arah munculnya Sang Surya itu makin lama
makin mengecil, merupakan dua titik hi-tam yang lambat
laun lenyap, meninggalkan ombak-ombak memerah di
pantai yang mereka lalul tadi, meninggalkan jejak kaki di
pasir yang terhapus oleh air laut. Laut dan pasir tidak
kehilangan sesuatu, tidak pernah merasa kehilangan karena
mereka pun tidak merasa mendapatkan sesuatu.
Akan tetapi kita sebagai manusia, merasa kehilangan
dengan lenyapnya kedua orang kakak beradik, Bagus Seta
dan Retna Wilis itu. Kita merasa kehiIangan di samping
menemukan hal-hal yang amat berguna, yaitu kenang-
kenangan akan segala peristiwa yang terjadi dalam cerita
"Perawan Lembah Wilis" yang bersama menghilangnya
kedua kakak beradik itu pun akan berakhir sampai di sini.
Selalu menjadi harapan pengarang setiap mengakhiri
karangannya, semoga karangan ini sedikit banyak
mengandung manfaat bagi para pembaca, bukan hanya
mendatangkan keyakinan yang menebalkan iman akan
kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih dan Maha Adil.
Karena sesungguhnya manusia yang dapat menyerahkan
segala sesuatu ke tangan Tuhan tanpa meninggalkan
kewajiban ikhtiar, yang penuh kepercayaan akan Keputusan
Tuhan, yang dapat menerima segala yang menimpanya
dengan kesadaran bahwa Kehendak Tuhan tak dapat
ditentang sehingga tiada rasa penasaran dan kesombongan
dalam gagal dan hasil, manusia inilah yang dalam hidupnya
akan dapat menikmati ketenangan, ketenteraman dan
kebahagiaan. Sampai jumpa kembali di dalam karangan mendatang!
TAMAT Kisah Para Naga Di Pusaran Badai 12 Misteri Rumah Berdarah Karya Tjan I D Pangeran Perkasa 13
^