Pencarian

Jodoh Si Naga Langit 3

Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo Bagian 3


dapat memperoleh hasil lumayan dari bercocok tariam. Juga
telaga itu mengandung banyak ikan dan saking luasnya telaga
itu, ikan-ikan agaknya tidak akan pernah habis walaupun setiap
hari ditangkapi mereka yang bekerja sebagai nelayan.
Selain itu, ada penghasilan tambahan, yaitu menyambut para
pelancong dari daerah lain dengan menjajakan makanan,
menyewakan perahu dan terkadang juga menyewakan kamar di
rumah mereka apabila ada pelancong hendak menginap. Para
154 pelancong dari kota besar itu bagi para penduduk dusun Kui-sek
merupakan orang-orang yang royal dan membuang uang seperti
pasir saja. Harga buah atau apa saja yang mereka naikkan dua
kali lipat, dibeli orang-orang kota itu, malah dianggap murah!
Tentu saja hal ini membuka kesempatan bagi penduduk dusun
Kui-sek untuk memperoleh penghasilan yang lumayan sehingga
mereka mampu memperbaiki rumah dan membeli perahu baru.
Ketika Thian Liong tiba di tepi danau, dia melihat bahwa di ujung
barat dusun Kui-sek terdapat perahu-perahu para nelayan dan di
sana terdapat kesibukan para nelayan. Ada yang memperbaiki
jala, ada yang membetulkan perahu yang bocor, ada pula yang
mengangkut ikan-ikan dalam keranjang ke darat. Bau ikan
tercium sampai ke bagian lain dusun itu. Di ujung timur
merupakan tempat di mana para pelancong berkumpul,
menyewa perahu, mandi di telaga, atau makan minum di rumahrumah makan kecil sehingga lebih pantas disebut warungwarung yang menjajakan makanan kecil sampai nasi, minuman
air teh hangat sampai arak.
Bau masakan dan arak yang keluar dari warung-warung itu
mendatangkan rasa lapar dalam perut Thian Liong dan dia
memasuki sebuah di antara warung-warung itu dan memesan
nasi dan sayur. Lezat rasanya makan di warung itu. Padahal
yang dimakannya hanyalah hidangan yang bersahaja, nasi yang
tidak begitu putih, lauknya juga hanya ikan danau dengan sayur
sederhana, minumnya teh pahit. Akan tetapi karena hawa udara
di situ sejuk, juga suasananya begitu nyaman dengan adanya air
danau dan banyak pohon-pohon, alam di situ masih aseli,
ditambah lagi perut lapar maka Thian Liong benar-benar
menikmati makanan yang sederhana itu.
155 Setelah kenyang dan keluar dari warung, empat orang tukang
perahu merubungnya dan menawarkan perahu mereka untuk
disewa. Melihat bahwa Thian Liong hanya seorang pemuda
yang berpakaian sederhana walaupun bersih, sama sekali tidak
menggambarkan seorang pelancong kaya, maka para tukang
perahu itu menawarkan perahu mereka untuk disewa dengan
harga murah. Hari itu memang tidak begitu banyak pelancong
sehingga banyak perahu tidak mendapatkan penyewa, maka
mereka berebut untuk menawarkan perahunya kepada Thian
Liong. Di antara empat orang tukang perahu itu terdapat seorang lakilaki tua, berusia sekitar enampuluh tahun. Tubuhnya kurus dan
wajahnya agak pucat, pakaian?nya juga amat bersahaja,
bahkan ada dua tambalan di bagian pundak dan paha. Dia tidak
terlalu cerewet dalam menawarkan perahunya, tidak seperti tiga
orang yang lain dan masih muda. Entah mengapa, mungkin
melihat usianya, atau pakaiannya, atau tubuhnya yang kurus,
atau mungkin sekali matanya yang mengeluarkan sinar aneh,
Thian Liong memilih perahu laki-laki tua itu untuk disewanya.
"Huh, perahu tua Kakek Tolol malah dipilihnya!" seorang di
antara mereka berkata sambil melangkah pergi.
"Kalau bocor dan tenggelam di tengah danau, baru tahu rasa!"
kata yang lain. Mereka semua pergi meninggalkan Thian Liong
sambil mengejek dan mengomel, jelas iri dan kecewa.
Thian Liong diam saja, hanya tersenyum dan memandang
Kakek itu penuh perhatian. Usianya sekitar enampuluh tahun
lebih. Pakaiannya berpotongan model para nelayan, kepalanya
156 tertutup sebuah caping lebar sehingga mukanya diselimuti
bayangan gelap. Namun Thian Liong clapat melihat wajah yang
kurus itu, kulit mukanya pucat namun bentuk muka itu masih
menunjukkan bekas ketampanan. Terutama sepasang mata
kakek itu yang demikian terang mencorong, sama sekali tidak
membayangkan bahwa dia seorang yang bodoh, apalagi tolol,
seperti tadi dikatakan seorang tukang, perahu yang
menyebutnya Kakek Tolol. "Paman, di mana perahumu itu?"
JILID 5 05.1. Pesiar Ke Pulau Iblis
"Di sana, Sicu," kakek itu menuding ke arah sekumpulan perahu
yang berada di tepi danau, lalu dia melangkah menuju ke sana
tanpa bicara lagi. Thian Liong mengikuti dari belakang. Suara kakek itu tidak cocok
dengan keadaan jasmaninya yang tampak lemah, kurus dan
pucat. Suara itu bening lembut. Juga dia merasa heran mengapa
kakek ini menyebutnya sicu, sebutan yang biasa diberikan
kepada seorang laki-laki yang gagah.
Padahal dia sama sekali tidak tampak sebagai seorang
pendekar. Pakaiannya biasa, juga pedang Thian-liong-kiam
tersembunyi dalam bungkusan pakaiannya.
Setelah tiba di situ, kakek itu menarik sebuah perahu keluar dari
kumpulan perahu itu, menyeretnya ke air. Melihat kakek itu
157 kelihatan lemah, Thian Liong membantunya dan akhirnya perahu
itu dapat ditarik ke air.
"Sicu hendak menyewa perahu saja, mendayung sendiri atau
ingin saya yang menemani dan mendayung?" pertanyaan ini
biasa diajukan para pemilik perahu karena di antara para
pelancong, ada yang minta si pemilik perahu mendayung dan
mereka hanya duduk menikmati pemandangan dari dalam
perahu. Thian Liong melihat keadaan perahu itu dengan sapuan
pandang matanya. Sebuah perahu yang tidak besar, dengan
payon di bagian tengah, keadaannya sudah tua dan sederhana
dan di kedua ujung perahu, tampak basah. Agaknya memang
ada kebocoran di sana-sini dan biarpun bocoran itu sudah
ditambal dengan kayu, tetap saja air masih merembes sehingga
dasar perahu menjadi basah. Tentu saja dalam hatinya Thian
Liong tidak merasa senang dengan perahu yang benar?benar
buruk dan kalau bocoran itu pecah lagi memang dapat
membahayakan. Akan tetapi untuk membatalkan, dia merasa
tidak tega. Agaknya kakek tukang perahu itu dapat melihat
keraguan pada wajah Thian Liong yang mengerutkan alisnya.
"Jangan khawatir, Sicu. Perahu ini sudah menemani saya
mengarungi telaga ini selama bertahun-tahun. Biarpun tua dan
buruk, perahu ini kokoh kuat dan dapat melaju dengan cepat,
mempunyai keseimbangan yang baik sekali sehingga tidak
mudah terguling." Thian Liong melihat betapa kakek itu seperti bicara kepada
dirinya sendiri, tanpa menoleh kepadanya. Dia merasa tidak
158 nyaman kalau harus mendayung sendiri. Kakek ini tentu
berpengalaman sekali dan akan lebih aman rasanya kalau ikut
dalam perahu. Thian Liong merasa khawatir juga kalau sampai
terjadi perahu terguling atau tenggelam. Dia boleh jadi dapat
membela diri dengan baiknya kalau berada di darat. Akan tetapi
di air, kepandaiannya renang hanya biasa saja dan kalau sampai
terjadi serangan dalam air, dia akan menjadi orang yang lemah.
Bahkan dalam hal menggunakan dayung saja dulu dia harus
mengaku kalah terhadap Puteri Moguhai!
"Biar engkau saja yang mendayung, Paman. Saya tidak pandai
mendayung perahu," kata Thian Liong.
"Sicu hendak pergi ke manakah?"
"Hanya melihat-lihat saja, Paman. Bawa saja perahu ini ke
bagian terindah di telaga ini."
"Baik, naiklah, Sicu."
Mereka berdua naik. Kakek itu mengambil tempat duduk dan
memegang dua buah dayung di kanan kiri perahu. Thian Liong
duduk di bawah payonan dan mereka duduk berhadapan.
"Sicu, sebaiknya sicu menghadap ke depan agar dapat
menikmati pemandangan indah di bagian depan."
"Nanti dulu, Paman. Saya ingin bicara dulu dengan Paman.
Saya harap Paman jangan menyebut sicu kepada saya. Saya
hanya seorang biasa seperti Paman, seorang perantau yang
sederhana dan tidak punya apa-apa. Nama saya Thian Liong,
Souw Thian Liong. Panggil saja nama saya, tanpa Sicu."
159 "Akan tetapi, Souw-kongcu (Tuan Muda Souw) "
"Wah, apa lagi sebutan kongcu itu sama sekali tidak pantas
untuk saya, Paman. Lihat, apakah ada seorang tuan muda
berpakaian seperti saya ini" Saya mungkin lebih miskin daripada
Paman. Setidaknya Paman tentu mempunyai tempat tinggal,
dan punya perahu ini. Sedangkan saya, tempat tinggal pun tidak
punya. Sebut saja nama saya, Paman."
Kakek itu mengamati wajah Thian Liong dengan sinar mata
penuh selidik, lalu mulutnya mengembangkan senyum. "Baiklah,
Thian Liong. Kalau begitu, engkau datang ke tempat ini hendak
mencari apakah?" "Ah, tidak mencari apa-apa, Paman. Hanya tertarik oleh
keindahan telaga ini dan ingin melihat-lihat."
"Kalau begitu berputarlah, Sicu
eh, Thian Liong dan lihat ke depan. Engkau melihat gerombolam pohon di sana
itu" Itu dikenal penduduk sekitar telaga sebagai Hutan Ular.
Tidak ada seorang pemburu pun berani memasuki hutan itu
karena selain di sana banyak terdapat ular-ular besar yang
dapat menelan manusia, juga terdapat banyak ular-ular kecil
yang amat berbisa." Thian Liong memandang dan merasa senang. Kakek ini tidak
hanya pandai mendayung perahu karena dia merasa betapa
perahu itu meluncur dengan mantap dan tidak bergoyang sama
sekali, akan tetapi juga kakek ini dapat menjadi pemandu yang
amat baik, dapat menceritakan keadaan di sekitar telaga itu. Dia
kini duduk menghadap ke belakang, membelakangi kakek itu.
160 Ketika Thian Liong menghadap ke depan, dia merasa seolaholah perahu itu meluncur semakin cepat. Akan tetapi mungkin ini
hanya perasaannya saja, pikirnya, karena memang jarang sekali
dia duduk di atas perahu yang meluncur di atas air.
"Lihat di depan itu, Thian Liong. Perbukitan di depan itu
mempunyai sekumpulan puncak yang memakai nama binatang.
Urut-urutannya dari kiri begini. Pertama Puncak Naga, lalu
Puncak Burung Hong, Puncak Harimau, Puncak Biruang dan
yang paling kecil itu Puncak Srigala."
Thian Liong memandang ke arah puncak-puncak bukit yang
berjajar di sebelah kiri telaga. "Paman, apakah di setiap puncak
terdapat binatangnya seperti yang dijadikan nama itu?"
"Ah, saya kira tidak. Mana mungkin di Puncak Naga itu ada
naganya atau di Puncak Burung Hong itu terdapat Burung
Hongnya" Itu hanya nama pemberian penduduk untuk
membedakan puncak yang satu dari yang lain. Mungkin dulu
diberi nama aneh demikian untuk menarik para pelancong."
Telaga itu luas sekali. Sudah hampir dua jam perahu itu
meluncur, namun belum juga tiba di ujung telaga! Thian Liong
melihat sebuah pulau kecil di tengah telaga dan pulau itu penuh
dengan pohon-pohon besar sehingga tampak hijau gelap
menyeramkan. Tepi pulau itu merupakan tebing yang tinggi
sehingga pulau itu seolah berada di atas bukit.
"Eh, Paman. Di sana itu" Bukankah itu sebuah pulau" Apa
nama pulau itu, Paman" Apakah juga ada namanya yang
aneh?" 161 "Orang-orang di sini menyebutnya Pu?lau Iblis."
Thian Liong menoleh dan melihat kakek itu mengerutkan alisnya,
matanya menerawang ke arah pulau itu. Thian Liong
memandang ke arah pulau. "Pulau Iblis" Mengapa disebut begitu, Paman" Apakah pulau itu
berhantu?" "Saya sendiri tidak tahu jelas, akan tetapi sejak saya datang dan
tinggal di sini tiga tahun yang lalu, penduduk sudah
menamakannya begitu. Menurut dongeng mereka, memang
pulau itu berhantu."
"Dan engkau percaya itu, Paman?" Kembali Thian Liong
menoleh karena dia mendengar bahwa ketika bicara tentang
hantu, suara kakek itu meninggi, seolah hendak memberi
tekanan agar pemuda itu mempercayainya.
"Entahlah itu." , akan tetapi lebih baik kita tidak bicara tentang hal
Akan tetapi Thian Liong sudah terlanjur tertarik kepada pulau itu.
Kalau diberitakan pulau itu berhantu oleh penduduk, pasti ada
hal-hal yang tidak wajar atau aneh di sana. Pulau itu tidak terlalu
besar, akan tetapi penuh pohon-pohon yang menjulang tinggi
sehingga pantaslah kalau dihuni setan, kalau memang ada apa
yang disebut hantu, atau setan karena dia sendiri belum pernah
bertemu mahluk yang menurut dongeng menyeramkan dan
menakutkan itu. Menurut gurunya, Tiong Lee Cin-jin, yang
disebut setan adalah roh jahat yang menggerakkan nafsu-nafsu
dalam diri manusia sendiri dan menyeret manusia untuk
162 menuruti nafsunya dan melakukan perbuatan yang jahat,
merugikan orang lain dan menguntungkan diri sendiri demi
mendapatkan kesenangan. "Paman, tujukan perahu ini ke pulau itu," katanya mantap.
"Ah, untuk apa, Thian Liong" Matahari telah mulai condong ke
barat, sebaiknya kita kembali ke dusun. Kita sudah pergi jauh."
Thian Liong melihat beberapa buah perahu dan memang tidak
ada sebuah pun berani mendekati pulau itu, bahkan perahu
yang ditumpanginya itu yang paling dekat dengan apa yang
dinamakan Pulau Iblis itu! Ketika ada sebuah perahu yang lebih
besar lewat, ditumpangi belasan orang pelancong, tukang
perahunya berseru kepada kakek yang berada di belakangnya.
"Heei, Kakek Tolol, apakah engkau akan
penumpangmu agar dimakan penjaga pulau itu?"
membawa Akan tetapi kakek itu tidak menja?wab. Setelah perahu besar itu
meluncur lewat dan agaknya sedang menuju kembali ke dusun,
kakek itu berkata lagi kepada Thian Liong.
"Thian Liong, mari kita kembali saja. Tidak baik pergi ke sana,
selain terlalu jauh juga kalau kita ke sana, mungkin pulangnya
akan kemalaman." "Jangan khawatir, Paman. Saya akan membayar lebih. Mari
tujukan perahu ini ke pulau itu. Apakah perlu kubantu
mendayung?" Tanpa menanti jawaban, Thian Liong mengambil


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dayung yang terdapat di dekatnya, kemudian dia menggunakan
dua batang dayung itu untuk mendayung di kanan kiri perahu,
163 setelah dua batang dayung itu dipasang pada tempatnya.
Perahu meluncur dengan cepat sekali menuju ke pulau itu.
Pulau Iblis! Dia mendengar kakek itu menghela napas panjang, lalu
terdengar berkata lirih, "Apa boleh buat, kalau engkau memaksa.
Akan tetapi jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa."
Thian Liong tersenyum. Dia sedang kesepian dan dia akan
menyambut gembira kalau terjadi apa-apa, terjadi sesuatu yang
aneh, apalagi kalau di pulau itu bersembunyi gerombolan
penjahat. Dia mendapat kesempatan untuk mengobrak-abrik
sarang penjahat itu dan membubarkan mereka agar tidak
mengganggu penduduk di sekitar telaga itu.
"Paman, sudah lamakah Paman tinggal di daerah ini?"
"Sudah saya ceritakan tadi, sudah tiga tahun."
"Apakah Paman tahu bahwa tidak jauh dari telaga ini terdapat
sebuah dusun yang disebut dusun Kian-cung?"
Agak lama Thian Liong menanti jawaban. Kemudian terdengar
kakek itu menjawab. "Ya, ya, saya pernah mende?ngar tentang
dusun Kian-cung." "Apakah Paman mengenal keluarga Han?" "Keluarga Han?"
"Ya, keluarga Han Si Tiong yang tinggal di Kian-cung, seorang
pendekar budiman." 164 Kembali agak lama tidak terdengar jawaban sehingga Thian
Liong menengok dan mengulangi pertanyaannya. "Apakah
Paman mengenal keluarga Han itu?"
"Tidak, baru tiga tahun saya berada di sini dan saya tidak pernah
pergi ke mana-mana."
Akan tetapi Thian Liong tidak memperhatikan jawaban itu karena
tiba-tiba ada hal lain yang menarik perhatiannya. Mereka sudah
tiba dekat pulau itu dan tiba-tiba dia melihat sebuah perahu yang
agak besar muncul dari balik pulau itu. Perahu ini didayung oleh
lima orang dan meluncur cepat, mendekati tebing pulau itu. Di
atas perahu itu, di tengah-tengah berdiri seorang laki-laki
bertubuh tinggi besar. Karena jarak antara perahu itu dan dia
masih cukup jauh, maka Thian Liong tidak melihat jelas wajah
orang yang berdiri itu. Jubah orang itu berwarna hitam panjang
sampai ke bawah lutut. Tiba-tiba terdengar suara gerengan seperti auman singa,
terdengar dari perahu itu. Suara gerengan itu sedemikian
kuatnya sehingga Thian Liong yang duduk di atas perahunya
dan jaraknya masih ada satu mil lebih, merasa tergetar dan
permukaan danau itu mulai bergelombang! Lalu dari arah pulau,
terdengar bunyi melengking yang begitu nyaring, tinggi, dan
tajam menusuk telinga. Kembali Thian Liong merasa jantungnya
berdebar. Belum lenyap gema lengkingan ini, disusul suara
seperti tawa yang menggelegar, tidak kalah kuatnya
dibandingkan gerengan pertama dan lengkingan yang menyusul
tadi, Thian Liong terkejut. Dia tahu bahwa gerengan, lengkingan
dan suara tawa itu dilakukan orang-orang yang memiliki tenaga
sin kang (tenaga sakti) amat kuatnya. Dia sendiri dapat
165 menahan getaran suara itu akan tetapi orang biasa yang
mendengar suara-suara yang mengandung tenaga sakti amat
kuat itu dapat saja terguncang jantungnya dan menderita luka
parah! Dia teringat kepada tukang perahu, maka cepat dia
menoleh. Dia melihat kakek tukang perahu itu masih duduk
mendayung perahu, sama sekali tidak terpengaruh suara-suara
yang mengandung daya serang amat kuat tadi! Kakek itu
mengerutkan alisnya dan berkata, seperti kepada diri sendiri.
"Hemmm, akhirnya mereka muncul juga. Sudah kuduga
!" "Paman, apa yang Paman maksudkan?" tanya Thian Liong
sambil memandang wajah kakek itu.
Kakek itu tidak menjawab, hanya menuding ke depan. Thian
Liong memutar tubuh lagi memandang ke depan. Dia melihat
orang tinggi besar berjubah lebar
panjang itu melompat dari atas perahunya dan berdiri
di atas air telaga, lalu angin dari belakangnya yang bertiup cukup
keras membuat jubahnya yang lebar itu mengembang. Orang itu
membentang kedua lengannya sehingga jubahnya kini
berbentuk sayap yang ditiup angin dari belakang dan orang itu
pun meluncur maju dengan cepatnya menuju ke tebing pulau!
Thian Liong memandang penuh kagum. Lima orang yang
mendayung perahu itu kini melanjutkan luncuran perahu mereka
ke kiri, agaknya menuju ke tepi pulau yang landai.
"Thian Liong, engkau dayunglah sendiri perahu ini dan
kembalilah ke dusun Kui-sek. Jangan mencampuri urusan saya,
dapat membahayakan keselamatan nyawamu!" kata kakek
166 tukang perahu dan ketika Thian Liong menengok ke belakang,
dia terbelalak. Kakek itu melompat keluar dari perahu dan berdiri
di atas air, lalu menggunakan kedua dayungnya untuk
mendayung sehingga tubuhnya meluncur ke depan, menuju ke
tebing pulau yang tingginya tidak kurang dari seratus tombak itu.
Thian Liong memutar perahunya untuk dapat melihat dan
mengikuti kakek tukang perahu itu dengan pandang matanya.
Dia melihat orang pertama yang meluncur dengan jubah
terkembang seperti sayap itu kini telah mencapai tebing dan
seperti seekor kera orang ting?gi besar itu memanjat tebing!
Adapun kakek tukang perahu itu meluncur dengan cepat dan ia
melihat betapa kakek itu menggunakan dua potong papan yang
diikatkan kepada dua buah kakinya sehingga dia dapat terapung
di atas air dan dengan dorongan dayungnya, tubuhnya meluncur
dengan cepat menuju tebing!
Thian Liong merasa kagum bukan main. Kini dia dapat menduga
bahwa orang tinggi besar itu pun menggunakan sesuatu yang
diinjaknya sehingga tubuhnya terapung dan angin mendorong
jubahnya yang mengembang seperti layar itu. Memang hal itu
mustahil dapat dilakukan sembarang orang. Akan tetapi dengan
memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi dan
dengan tenaga sakti dapat mengatur keseimbangan, dia sendiri
mungkin dapat melakukan seperti yang dilakukan dua orang itu.
Kini tahulah dia bahwa kakek tukang perahu itu ternyata bukan
orang sembarangan, melainkan seorang sakti!
Hati Thian Liong tertarik sekali. Pasti ada yang luar biasa terjadi
di pulau itu. Maka dia lalu mendayung perahu itu sekuatnya,
bukan meninggalkan tempat itu menuju dusun Kui-sek seperti
167 yang dianjurkan kakek tukang perahu, melainkan mendekati
Pulau Iblis dengan memutar, mencari bagian tepi yang landai
karena dia ingin mendarat dan melihat apa yang terjadi di pulau
itu. Ketika dia melihat bagian pantai pulau itu yang landai, Thian
Liong segera mendayung perahunya ke sana. Dilihatnya perahu
yang ditumpangi orang tinggi besar tadi sudah berada di pantai.
Lima orang pendayungnya juga sudah mendarat dan mereka
berdiri di dekat perahu yang sudah ditarik ke darat. Thian Liong
segera mendarat dan menarik perahunya ke pantai, tak jauh dari
perahu lima orang itu. 05.2. Pertemuan Rahasia Dedongkot Iblis
Melihat lima orang itu berdiri seperti menunggu sesuatu, Thian
Liong memperhatikan. Mereka berusia antara tigapuluh sampai
empatpuluh tahun, tubuh mereka tampak kokoh kuat, akan tetapi
wajah mereka seperti wajah orang bodoh. Pakaian mereka
seragam, berwarna kuning, dan di pinggang mereka tergantung
golok. Kepala mereka diikat kain kuning pula.
Mungkin mereka itu tahu apa yang terjadi di pulau ini, pikir Thian
Liong dan dia menghampiri mereka sambil tersenyum. Setelah
berhadapan dengan lima orang itu, Thian Liong memberi hormat
dengan merangkap kedua tangan depan dada.
"Ngo-wi Toa-ko (Kakak Berlima), bolehkah aku mengetahui, apa
yang terjadi di pulau ini?" tanyanya sambil menudingkan
telunjuknya ke arah tengah hutan yang dipenuhi pohon-pohon
raksasa itu. 168 Lima orang itu tidak menjawab, hanya saling pandang, lalu tibatiba mereka mencabut golok dan mengepung Thian Liong, wajah
mereka jelas menunjukkan kemarahan dan permusuhan!
"Hei ! Saya tidak ingin berkelahi, tidak ingin
bermusuhan! Saya tidak mempunyai niat buruk !"
Thian Liong berkata sambil mengangkat kedua tangan ke atas.
Akan tetapi, lima orang itu tanpa mengeluarkan sepatah kata
pun sudah maju menyerang dengan golok mereka! Gerakan
mereka cukup cepat dan kuat! Tentu saja Thian Liong merasa
terkejut sekali dan dia cepat berkelebat untuk mengelak. Begitu
dia melompat keluar dari kepungan, dia mendapat kenyataan
aneh. Lima orang itu tampak bingung mencarinya,
menggerakkan kepala dan mata mereka mencari-cari! Bukan
begi?ni sikap orang-orang yang pandai ilmu silat. Padahal
gerakan mereka tadi cukup tangkas, cepat dan juga sambaran
golok mereka mengandung tenaga yang besar. Akan tetapi
mengapa sekarang mereka kebingungan mencari di mana dia
berada" Bukankah pendengaran orang orang yang ahli silat
terlatih dan dapat menangkap beradanya lawan, bahkan lebih
tajam daripada penglihatan"
Ketika seorang di antara mereka memutar tubuh dan melihatnya,
dia menyentuh lengan teman di dekatnya dan dengan sentuhan
tangan mereka seolah memberitahu di mana adanya lawan. Kini
mereka serentak menyerang lagi, lebih dahsyat daripada tadi!
Ah, agaknya mereka tuli, pikir Thian Liong terheran-heran. Akan
tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk berheran-heran lebih
lanjut karena serangan mereka itu memang berbahaya sekali.
169 Gerakan mereka itu saling menunjang dan melengkapi sehingga
merupakan kesatuan yang amat kuat. Thian Liong kembali
mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai
tingkat tinggi itu untuk berkelebat dan di lain saat dia telah
melompat ke atas pohon besar yang berada di dekat pantai. Dari
atas pohon dia melihat bahwa lima orang itu kembali
kebingungan, mencari-cari dengan pandang mata mereka,
berputar-putaran. Untuk meyakinkan hatinya, dia berseru, "Heii, aku berada di
sini!" Akan tetapi lima orang itu tetap saja tidak melihat ke atas
pohon. Kemudian, dia melihat betapa lima orang itu saling
pandang kemudian membuat gerakan-gerakan dengan tangan,
seperti yang dilakukan orang gagu kalau hendak menyatakan
perasaannya kepada orang lain. Gagu! Tuli dan gagu lima orang
ini, pikir Thian Liong dengan semakin heran. Bagaimana ada
lima orang kesemuanya gagu dan tuli" Dan mereka berpakaian
seragam lagi. Apakah mereka ini para anggauta perkumpulan
aneh yang semua anggautanya gagu dan tuli" Dia lalu
melompat dari pohon ke pohon lain dan meninggalkan lima
orang tadi, menuju ke tengah pulau.
Setelah tiba di tengah pulau yang merupakan bukit kecil yang
puncaknya rata, Thian Liong menyelinap di antara pohon-pohon
dan melihat bahwa puncak itu tanahnya rata dan terbuka karena
agaknya pohon-pohon itu telah ditebangi. Dia melihat sebuah
pondok berdiri di tengah lapangan terbuka di puncak itu, pondok
kayu yang kokoh dan sederhana.
170 Di depan pondok terdapat sebuah pekarangan yang luas,
dipenuhi rumput tebal dan dia melihat seorang laki-laki berusia
sekitar enampuluh tahun, tubuhnya pendek dengan perut gendut
sekali dan kepalanya gundul. Pakaiannya yang longgar
kedodoran dan mukanya yang bulat selalu tersenyum lebar itu
membuat dia tampak seperti arca Ji-lai-hud, dewa bertubuh
gendut yang selalu tersenyum lebar itu.
Kakek ini duduk bersila di atas sebuah batu besar, menghadap
ke timur. Biarpun tubuhnya diam tak bergerak sedikit pun namun
mulutnya lebar dan matanya menatap ke depan. Hanya mulut
dan matanya itu yang menunjukkan bahwa dia adalah manusia
hidup, bukan arca! Tiba-tiba kakek gundul berjubah lebar seperti
yang biasanya menjadi ciri seorang hwesio (pendeta Buddha)
membuka mulut lebar-lebar dan terdengarlah suara tawanya
yang menggelegar seperti yang tadi didengar Thian Liong dari
perahu. Suara itu menggetarkan tanah di mana dia berpijak,
bahkan batang pohon di depannya itu seolah tergetar!
"Ha-ha-ha, keluarlah engkau, Pak-sian (Dewa Utara) Liong Su
Kian! Sudah datang di sini, mengapa tidak langsung saja
menampakkan diri" Ha-ha-ha-ha, apa engkau hendak main
kucing-kucingan?" suara tawanya kembali menggelegar.
Karena Si Gendut Gundul itu menoleh ke arah kirinya, yaitu ke
arah utara, Thian Liong juga memandang ke arah itu. Tiba-tiba
terdengar suara melengking tinggi seperti bunyi tiupan suling
dengan nada tertinggi sehingga mendatangkan rasa nyeri dalam
telinga. Thian Liong cepat mengerahkan tenaga sin-kang untuk
melindungi dirinya karena suara seperti itu dapat memecahkan
telinga dan membuat telinga menjadi tuli!
171 Lalu dari balik semak belukar muncul seorang kakek berusia
sekitar enampuluh tahun, rambutnya putih semua dan diikat ke
atas dengan pita kuning, jubahnya putih seperti yang biasa
dipakai seorang tosu (pendeta To), tubuhnya tinggi kurus dan
tangan kanannya memegang sebatang tongkat berwarna hitam,
berujung runcing dan berkepala ular. Setelah suara melengking
itu berhenti, tosu itu melangkah memasuki pekarangan dan
berkata dengan suara yang tinggi kecil seperti suara wanita.
"Heh, See-ong (Raja Barat) Hui Kong Hosiang, kiranya engkau
telah berada di sini! Pin-to (aku) tadi sudah mendengar suara
tawamu dan mendengar pula auman Singa Timur. Mana dia?"
Sebagai jawaban kakek tinggi kurus itu, tiba-tiba terdengar
gerengan mengeluarkan gema menggetar seperti auman singa
yang datangnya dari arah timur dan muncullah kakek berusia
sekitar enampuluh tahun juga, bertubuh tinggi besar muka hitam,
pakaiannya mewah dengan jubah lebar berwarna hitam.
Rambutnya riap-riapan, kumis dan jenggotnya lebat,
bercambang bauk sehingga mukanya mirip muka seekor singa,
ta?ngan kanannya membawa sebatang tombak. Inilah kakek
yang tadi dilihat Thian Liong, yang turun dari perahu dan
meluncur di atas air telaga!
"Hemm, kalian pendeta-pendeta palsu sudah tiba di sini lebih
dulu!" Si Muka Singa ini mengaum lagi dan pohon-pohon di
sekitar tempat itu tergetar! "Mana dia Si Jembel, pengemis
kurang makan itu" Tak tahu malu! Menjadi tuan rumah malah
belum tampak hidungnya!"
172

Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mereka bertiga sudah saling berhadapan. Pak-sian Liong Su
Kian yang seperti tosu itu berdiri di utara, See-ong Hui Kong
Hosiang menghadap ke timur, dan Tung-sai Kui Tong
menghadap ke barat. Ucapan kakek seperti hartawan muka
singa itu segera mendapat jawaban. Dari selatan muncullah
kakek tinggi kurus bermuka pucat, pakaiannya lusuh dan
ditambal, matanya mencorong. Dia tidak mengeluarkan suara
yang dahsyat, melainkan muncul dengan langkah tenang dan
kedua batang dayung itu dipegang dengan tangan kanan.
Suaranya terdengar lembut ketika dia bicara setelah berdiri
berhadapan dengan tiga orang lain. Mereka saling berhadapan
dalam jarak sekitar tiga tombak.
"Wah, kalian sudah datang rupanya. Selamat datang, Pak-sian
Liong Su Kian, See-ong Hui Kong Hosiang dan Tung-sai (Singa
Timur) Kui Tong!" "Ha-ha-ha!" See-ong Hui Kong Hosiang tertawa, kini tertawa
biasa. "Lam-kai (Pengemis Selatan) Gui Lin, engkau
pembimbing terakhir jago kita. Sampai di mana sekarang
kemajuannya dan di mana dia?"
"See-ong, bagianku dua tahun ini tidak sia-sia. Murid kita itu kini
telah menguasai tahap berakhir. Dia kusuruh bersamadhi
selama sepuluh hari dan hari ini adalah hari terakhir. Kukira
sebentar lagi dia akan sadar dari samadhinya. Bagaimana,
apakah kalian bertiga sudah siap memperoleh kemajuan selama
delapan tahun ini" Selama delapan tahun kita berempat telah
menggembleng murid kita, sejak dia berusia limabelas tahun dan
baru hari ini kita dapat saling berhadapan muka kembali," kata
173 kakek bernama Gui Lin berjuluk Lam-kai yang dikenal oleh Thian
Liong sebagai tukang perahu itu.
Thian Liong yang mengintai dari tempat persembunyiannya,
diam-diam terkejut sekali. Dia sudah pernah mendengar
gurunya, Tiong Lee Cin-jin, memberi keterangan singkat bahwa
di dunia persilatan terdapat Empat Datuk Besar yang berjuluk
Pak-sian (Dewa Utara), See-ong (Raja Barat), Tung-sai (Singa
Timur) dan Lam-kai (Pengemis Selatan). Mereka merupakan
empat orang datuk besar empat penjuru dan memiliki ilmu
kesaktian tinggi. Akan tetapi gurunya pernah mengatakan bahwa
kalau dia bertemu mereka, jangan katakan bahwa dia adalah
murid Tiong Lee Cin-jin! Dan kini, dia berhadapan dengan Empat
Datuk Besar dari empat penjuru itu. Bahkan Lam-kai Gui Lin
menyamar sebagai tukang pera?hu yang perahunya dia sewa!
"Ha-ha-ha! Omitohud, Lam-kai agaknya telah memperdalam ilmu
silatnya maka kini mengejek apakah yang lain memperoleh
kemajuan selama delapan tahun ini!" kata See-ong, hwesio
pendek gendut itu sambil tertawa.
"Akan tetapi sudah sepatutnya kalau kita semua memperdalam
ilmu kita, selain mengajar murid kita itu masing-masing dua
tahun, karena tentu saja di antara kita tidak ada yang mau
mengulang kekalahan kita dari Yok-sian (Dewa Obat)!" kata Paksian dengan suaranya yang seperti suara wanita.
"Hemmm !" Tung-sai menggereng. "Aku telah
mempersiapkan diri dan akan kubalas kekalahanku kalau aku
dapat bertemu dengan Tiong Lee Cin-jin!"
174 Tentu saja Thian Liong terkejut sekali mendengar percakapan
mereka itu. Mereka membicarakan gurunya! Kini dia dapat
menduga mengapa gurunya memesan agar dia tidak mengaku
sebagai murid Yok-sian Tiong Lee Cin-jin kalau bertemu Empat
Datuk Besar ini. Kiranya mereka berempat pernah dikalahkan
gurunya dan agaknya mereka merasa penasaran dan selama
delapan tahun mereka memperdalam ilmu silat mereka, juga
mereka herempat agaknya menurunkan ilmu mereka secara
bergantian kepada seorang murid! Murid mereka itu dilatih sejak
usia limabelas tahun, berarti sekarang telah berusia duapuluh
tiga tahun. Dia memandang dengan penuh perhatian berhati-hati
sekali agar jangan sampai ketahuan oleh mereka karena dia
maklum bahwa empat orang itu tentu lihai bukan main.
"Lam-kai, apakah engkau selama dua tahun ini menjaga rahasia
kita dan tak seorang pun tahu akan murid yang sedang kau
gembleng itu seperti yang telah kami lakukan ketika tiba giliran
kami?" tanya See-ong.
"Tentu saja! Kalian lihat, aku bahkan tidak memakai pakaian
kebesaranku sebagai datuk para pengemis. Aku menyamar
sebagai seorang tukang perahu agar tidak ada seorang pun
menduga bahwa aku adalah Lam-kai dan tak seorang pun tahu
akan murid kita." Mendengar ini, Thian Liong sekarang tidak merasa heran
mengapa Pengemis Selatan yang merupakan datuk semua kaipang (perkumpulan pengemis) di daerah selatan itu menyamar
sebagai tukang perahu. 175 "Bila dia selesai dengan samadhinya?" tanya Pak-sian tidak
sabar. "Berapa lama aku harus menunggu?"
Lam-kai menoleh dan memandang ke arah pondok. "Menurut
perhitungan, hari ini dia akan selesai melatih pengerahan sinkang (tenaga sakti). Akan tetapi rupa-rupanya karena dia
menerima empat macam aliran sin-kang, terjadi kelainan. Kalau
penggabungan empat aliran itu berhasil dengan baik, dia akan
memiliki kekuatan dan kemampuan yang tidak kalah oleh kita
berempat. Akan tetapi kalau dia gagal, hal itu dapat membuat
batinnya menjadi kacau dan sulit diatur."
"Hemm, begitukah" Kenapa kita tidak gugah saja, dia?" Tung-sai
Si Muka Singa itu bertanya dan sepasang alisnya yang tebal itu
berkerut. "Jangan!" kata Lam-kai. "Hal itu akan mengganggu dan
mengacau dia dan kemungkinan akibatnya akan buruk. Kita
tunggu saja di sini sampai dia selesai dan keluar. Itu See-ong
sudah mendapat tempat duduk. Mari kita duduk di sini dan
menanti dengan sabar. Kita sudah menanti selama delapan
tahun, masa sekarang hanya menunggu beberapa lamanya saja
tidak sabar?" Lam-kai lalu menghampiri sekumpulan batu-batu besar, sebesar
perut kerbau dan dengan ringan saja dia mengangkat batu-batu
itu satu demi satu dan dilontarkan ke arah Pak-sian dan Tungsai. Batu itu tentu saja berat sekali dan ditambah dengan tenaga
lontaran kakek kurus pucat itu, batu melayang cepat ke arah dua
orang itu. 176 Pak-sian yang tinggi kurus berambut putih itu mengeluarkan
suara melengking lalu tubuhnya melompat tinggi ke atas dan
tahu-tahu dia sudah hinggap di atas batu yang terbang ke
arahnya, lalu batu itu turun di tempat dia berdiri tadi, dengan dia
duduk bersila di atasnya! Thian Liong menonton dengan kagum.
Pak-sian itu memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang
hebat, juga tenaga saktinya amat kuat.
Sementara itu, Tung-sai juga menggereng. Dia tidak melompat
menghindar atau menangkis, melainkan menyambut batu besar
itu dengan tombaknya. Batu besar itu diterima di ujung tombak
dan batu itu berputar di atas ujung tombak. Setelah berpusing
beberapa lamanya di ujung tombak, Tung-sai menurunkan
tombaknya dan batu itu menempel terus sambil berputar sampai
tiba di atas tanah, Tung-sai lalu duduk di atasnya, bersila seperti
yang dilakukan See-ong dan Pak-sian. Thian Liong juga kagum
terhadap Singa Timur ini karena caranya menyambut lontaran
batu tadi menunjukkan bahwa datuk itu memiliki ilmu tombak
yang amat dahsyat. Lam-kai sendiri mengambil sebongkah batu dan kini mereka
masing-masing duduk bersila dengan kedudukan seperti tadi,
sesuai dengan julukan masing-masing. Si Dewa Utara duduk di
sebelah utara, Raja Barat duduk di barat, Singa Timur duduk di
timur dan Pengemis Selatan duduk di selatan! Jarak di antara
mereka kurang lebih tujuh meter.
Thian Liong melihat semua itu dengan hati tegang. Apakah yang
sedang direncanakan Empat Datuk Besar itu" Apa yang hendak
mereka lakukan dan siapa pula murid yang menerima
gemblengan mereka berempat" Sebetulnya dia hendak pergi
177 saja karena merasa tidak enak mengintai orang-orang yang tidak
ada urusan dengan dia. Akan tetapi ingin dia melihat murid
mereka itu lebih dulu sebelum pergi meninggalkan Pulau Iblis.
Tidak lama Thian Liong menunggu. Tiba-tiba saja terdengar
suara keras dan atap pondok kayu itu jebol, lalu dari dalam
meluncur bayangan orang ke atas sampai tinggi, kemudian
tubuh orang itu berjungkir balik di udara beberapa kali dan turun
di tengah-tengah antara empat orang yang duduk bersila itu.
Ketika turun, kedua kakinya hinggap di tanah bagaikan seekor
kucing melompat, sama sekali tidak menimbulkan suara
sehingga dari ini saja sudah dapat diketahui bahwa orang itu
memiliki gin?kang yang sudah tinggi sekali.
Thian Liong memandang penuh perhatian. Orang itu adalah
seorang pemuda, pasti, dia yang dimaksudkan Empat Datuk
Besar itu karena pemuda itu usianya sekitar duapuluh tiga tahun.
Pemuda itu bertubuh sedang namun tegak, dengan dada bidang
dan kepala tegak angkuh. Rambutnya hitam dan saat itu
rambutnya dikuncir tebal bergantung di belakang. Wajahnya
yang berkulit putih itu berbentuk bulat. Dahinya lebar, alisnya
hitam tebal, melindungi sepasang mata yang mencorong namun
sinarnya liar dengan pandang mata tak acuh, hidungnya
mancung dan mulutnya berbentuk bagus dan jantan.
Namun mulut itu mengembangkan senyum sinis dan
memandang rendah apa yang berada di depannya. Pakaiannya
dari sutera serba putih dengan potongan pakaian pendekar yang
ringkas. Seorang pemuda yang gagah dan tampan, namun
membayangkan sikap yang angkuh dan memandang rendah
178 orang lain, juga matanya yang liar itu terkadang mengeluarkan
sinar kejam! Empat Datuk Besar juga memandang kepada pemuda itu
dengan sinar mata gembira. Terutama sekali Tung-sai Kui Tong,
dia mengeluarkan suara gerengan dahsyat itu yang
menggetarkan bumi di sekelilingnya dan berkata-kata dengan
suaranya yang parau dan besar.
"Heemmmmm, anakku yang baik, muridku yang pintar. Selama
delapan tahun engkau kami gembleng secara bergiliran,
sekarang sudah saatnya kami berempat menguji apakah
kemampuanmu sudah cukup untuk membalaskan dendam kami,
membunuh Si Sombong Yok-sian (Dewa Obat) Tiong Lee Cinjin. Bersiaplah engkau dan hadapi seranganku. Awas, kami tidak
main-main, kalau engkau kurang waspada mungkin saja engkau
akan tewas di tangan kami!" Setelah berkata demikian, Tung-sai
mengeluarkan suara mengaum dan seperti seekor singa
kelaparan, dari atas batu di mana tadinya dia duduk bersila,
tubuhnya sudah melayang dan menyerang pemuda itu seperti
seekor singa menerkam korbannya!
Namun dengan mudahnya pemuda itu menggeser kaki
mengelak ke kiri. Tung-sai dengan gerakan cepat dan kuat
memutar tombaknya ke kanan dan tombak itu sudah meluncur
ke arah dada pemuda itu. Hebat dan cepat sekali gerakan
tombak Tung-sai Kui Tong ini sehingga tidak kosong belaka
kalau di dunia kang-ouw dia disebut Si Tombak Maut! Akan
tetapi pemuda itu agaknya sudah hafal akan gerakan tombak itu
dan kembali dia dapat menghindarkan diri dengan mudah.
Setelah membiarkan Tung-sai melakukan serangan sampai lima
179 kali, pada saat tombak menyerang untuk keenam kalinya
dengan sabetan kuat ke arah lehernya, pemuda itu membiarkan
tombak menyambar dekat dan setelah dekat, ta?ngannya
bergerak dari samping bawah dan menangkis.
"Cringgg !" Tombak dengan gagang?nya yang
terbuat dari baja pilihan itu terpukul ke samping dan Tung-sai
merasa betapa kedua tangannya tergetar hebat!
"Lam-kai, bantulah aku!" Tung-sai berseru.
Lam-kai Gui Lin bergerak dari atas batu yang didudukinya dan
tiba-tiba tampak sinar berkilat dan tahu-tahu ketika tubuhnya
turun, dia sudah memegang sebatang pedang yang gemerlapan.
Thian Liong yang tadi mengamatinya dengan penuh perhatian,
baru mengerti bahwa kakek yang menyamar sebagai tukang
perahu itu menyembunyikan pedangnya ke dalam sebatang di
antara dua dayungnya. Dia mematahkan sebatang dayungnya
dan keluarlah sebatang pedang yang mengeluarkan sinar
berkilauan! Begitu menerjang, Lam-kai telah menggerakkan pedangnya
menyerang pemuda itu dengan cepat dan kuat sekali.
Penyerangannya tidak kalah dahsyat dibandingkan serangan
Tung-sai tadi dan kini pemuda itu dikeroyok oleh dua orang yang
memiliki kepandaian tinggi. Tombak itu menyambar-nyambar
dengan tusukan kilat sedangkan pedang itu berdesingan dan
berubah menjadi sinar bergulung-gulung. Dari suara berdesing
ini saja sudah dapat dinilai betapa dahsyatnya serangan itu dan
juga dari ujung tombak yang kalau luput menusuk tergetar
180 menjadi banyak dapat diketahui betapa hebatnya serangan
tombak itu. Thian Liong memandang kagum. Dia tahu bahwa dua orang
datuk itu benar-benar tidak main-main dan serangan mereka
merupakan serangan maut. Kalau pemuda itu tidak memiliki
gerakan cepat dan terkena bacokan pedang atau tusukan
tombak, tentu dia akan terluka parah atau tidak mustahil tewas
seketika! Akan tetapi bayangan pemuda itu berkelebatan dan ia
mampu menghindarkan pengeroyokan pedang dan tombak itu
dengan elakan atau tangkisan. Yang mengagumkan, terkadang
pemuda itu berani menangkis mata tombak dan pedang dengan
kebutan tangan kosong! "Suhu Pak-sian dan Suhu See-ong, majulah sekalian agar kalian
berempat mengeroyokku! Aku tidak akan menyesal seandainya
aku terluka atau tewas!" pemuda itu menantang dan suaranya
lembut dan merdu, manis menyenangkan!
Pak-sian Liong Su Kian melengking dan tubuhnya berkelebat
seperti kilat dan tongkat hitamnya berkepala ular itu sudah
menotok tujuh jalan darah di tubuh pemuda itu. Namun pemuda
itu dapat menghindarkan semua totokan karena dia pun sudah
hafal akan ilmu tongkat yang dimainkan Pak-sian.
"Omitohud! Engkau membuat hati pinceng (aku) gembira, Can
Kok!" kata See-ong Hui Kong Hosiang dan pendeta pendek
gendut ini pun sudah mengeroyok. Dia tidak menyerang dengan
senjata, namun kedua ujung lengan bajunya yang panjang
merupakan sepasang senjata yang tidak kalah ampuhnya
dibandingkan senjata tajam dan runcing terbuat dari baja.
181 Kini Thian Liong benar-benar merasa kagum dan juga heran.
Pemuda itu dikeroyok empat orang, padahal mereka itu adalah
Empat Datuk Besar yang rata-rata memiliki kesaktian! Dan


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

empat orang itu menyerangnya dengan senjata dan bukan mainmain, melainkan menyerang dengan sungguh-sungguh. Senjatasenjata itu berkelebatan bagaikan tangan-tangan maut yang
mengancam nyawa pemuda itu!
Pemuda yang tadi disebut Can Kok oleh See-ong itu menyambut
pengeroyokan empat orang itu dengan tangan kosong saja! Dia
bergerak cepat dan ringan sekali, bagaikan berubah menjadi
bayang-bayang dan menyambut semua serangan itu dengan
elakan atau tangkisan kedua tangannya yang berani beradu
dengan senjata tajam dan runcing!
Bukan main, pikirnya. Pemuda itu benar-benar hebat sekali. Dia
sendiri pasti akan kerepotan kalau dikeroyok empat orang datuk
itu. Can Kok, dia akan mengingat nama itu. Thian Liong seolah
mendapat firasat buruk bahwa Can Kok ini kelak akan menjadi
lawannya! Apalagi mengingat bahwa Empat Datuk Besar itu
mendendam kepada suhunya dan hendak membalas kekalahan
yang pernah diderita mereka dari suhunya!
Maklum bahwa kalau mereka melihatnya maka tentu akan timbul
keributan, maka Thian Liong merasa tidak enak kalau mengintai
terus. Dia lalu dengan hati-hati meninggalkan tempat itu. Setelah
tiba di pantai di mana dia meninggalkan perahunya, dia melihat
lima orang tuli gagu tadi masih berada di situ, menunggui perahu
mereka. 182 Thian Liong tidak memperhatikan mereka. Akan tetapi lima
orang itu ketika melihat Thian Liong datang, mereka mencabut
senjata dan siap hendak menyerang. Thian Liong tidak ingin
berkelahi, apalagi dia tidak ingin kehadirannya di pulau itu
ketahuan oleh Empat Datuk Besar dan murid mereka yang aneh
dan lihai itu. Maka, dia lalu menghampiri sebatang pohon dan
mencabut pohon itu yang menjadi jebol berikut akarnya.
Melihat ini, lima orang itu terbelalak dan mereka mundur
ketakutan. Kesempatan itu dipergunakan Thian Liong untuk
menarik perahu kecilnya ke air dan mendayung perahu itu
meninggalkan pulau. Lima orang tadi hanya melihat ke arah
perginya Thian Liong. Tangan bergerak-gerak, mewakili katakata untuk bicara dengan teman-teman mereka.
05.3. Pemuda Sakti Pulau Iblis
Siapakah pemuda lihai yang mampu menandingi pengeroyokan
Empat Datuk Besar itu" Delapan tahun yang lalu, pemuda itu
adalah murid Tung-sai (Singa Timur) Kui Tong. Datuk Timur ini
amat menyayang pemuda yang bernama Can Kok itu karena
selain pemuda itu menjadi seorang murid yang pandai, juga dia
adalah keponakannya sendiri, putera adik perempuannya yang
menikah dengan sutenya (adik seperguruan) yang bernama Can
Giam dan berjuluk Huang-sin-eng (Garuda Sakti Kuning).
Tigabelas tahun yang lalu, ketika Can Kok berusia sepuluh
tahun, pada suatu hari ayahnya, Huang-sin-eng Can Giam tewas
ketika dia hendak merampas kitab-kitab yang dibawa Tiong Lee
Cin-jin. Dalam perkelahiannya melawan Si Dewa Obat, Can
Giam menderita luka dalam yang parah karena tenaga sin183
kangnya membalik dan memukul dirinya sendiri ketika dia
menyerang Yok-sian Tiong Lee Cin-jin. Biarpun terluka parah,
dia menolak ketika Tiong Lee Cin-jin hendak mengobatinya. Dia
memaksa dirinya yang sudah payah itu untuk pulang dan
setibanya di rumah, dia tewas karena luka dalam yang parah itu.
Isterinya, adik perempuan Tung-sai, menyusul suaminya,
meninggal dunia karena sakitnya menjadi semakin berat
sepeninggal suaminya. Demikianlah, Can Kok yang menjadi yatim piatu itu dibawa
paman tuanya ke pantai Laut Timur daerah Ce-kiang. Tung-sai
Kui Tong tinggal di sebuah pulau kecil dan menjadi to-cu
(majikan pulau) dari Pulau Udang, hidup sebagai seorang yang
kaya raya dan berkuasa sepenuhnya. Penghuni pulau sejumlah
sekitar seratus kepala keluarga itu menjadi anak buahnya.
Tung-sai Kui Tong adalah seorang datuk yang berwatak keras
dan aneh. Dia mempunyai duapuluh orang pengawal yang
merupakan anak buah yang juga murid-muridnya yang paling
dipercaya, merupakan pengawal-pengawal pribadi. Akan tetapi,
duapuluh orang ini semua tuli dan gagu! Bukan gagu tuli sejak
kecil atau terkena penyakit, melainkan dibikin gagu tuli oleh
Tung?sai Kui Tong. Sebagai seorang ahli, dia mampu membuat
mereka itu tidak mampu mendengar dan tidak mampu bicara
dengan merusak syaraf yang bekerja untuk kedua keperluan itu!
Pulau Udang itu merupakan sebuah kerajaan kecil di mana
Tung-sai menjadi rajanya! Penghasilan mereka seluruhnya
diambil dari dalam lautan. Menangkap ikan terutama udangudang yang dapat dijual dengan harga tinggi karena banyak
disuka orang kota. Dan yang terutama sekali, hasil penyelaman
184 untuk dapat menemukan mutiara di kerang-kerang besar. Hasil
mutiara ini yang membuat Singa Timur menjadi kaya raya.
Tung-sai Kui Tong sendiri tidak mempunyai anak walaupun dia
memiliki tiga orang isteri. Karena itu, setelah dia membawa Can
Kok ke pulau dan melihat anak itu amat cerdik, berbakat besar
dan bertulang kuat, juga melihat Can Kok juga pandai membawa
diri, berwajah tampan pula, Singa Timur itu menjadi sayang
padanya. Can Kok dianggap puteranya sendiri dan digembleng
ilmu silat dan juga ilmu baca tulis sehingga Can Kok menjadi
seorang pemuda bun-bu-coan-jai (ahli silat dan sastra).
Kemudian, ketika Can Kok berusia limabelas tahun, Tung-sai Kui
Tong yang pergi meninggalkan pulau selama sebulan, pulang
ditemani oleh tiga orang laki-laki, yaitu Pak-sian Liong Su Kian,
See-ong Hui Kong Hosiang, dan Lam-kai Gui Lin, yaitu datuk
utara, datuk barat, dan datuk selatan. Sedangkan Tung-sai
sendiri adalah datuk timur. Mereka berempat yang dikenal
dengan sebutan Empat Datuk Besar. Akan tetapi yang
mengejutkan hati Can Kok adalah bahwa mereka berempat itu
menderita luka-luka walaupun tidak parah. Dari gurunya, atau
paman tuanya yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri,
dia mendengar bahwa Empat Datuk Besar itu terluka karena
kalah bertanding melawan Yok-sian (Dewa Obat) Tiong Lee Cinjin.
"Keparat jahanam Tiong Lee Cin-jin!" Can Kok pemuda remaja
berusia limabelas tahun itu berteriak sambil mengepal kedua
tangannya. Matanya mencorong penuh kemarahan dan
mukanya yang tampan menjadi merah. "Aku akan
185 membunuhnya untuk membalas kematian ayah dan membalas
kekalahan Pek-hu (Paman Tua)!"
Melihat kemarahan pemuda itu, tiga orang datuk lain
memandang Can Kok dengan penuh perhatian dan hati mereka
tertarik, mata mereka yang penuh pengalaman itu dapat menilai
bahwa pemuda itu memiliki semangat besar dan sinar matanya
yang mencorong menunjukkan bahwa ia memiliki batin yang
kuat dan penuh keberanian.
"Omitohud, Singa Timur, siapakah pemuda ini?" tanya See-ong
dan dua orang datuk yang lain juga mengamati wajah Can Kok
penuh perhatian. "Anak ini bernama Can Kok. Dia adalah keponakanku, anak
mendiang adik perempuanku, dan sudah yatim piatu. Dia juga
muridku terbaik dan anak angkatku. Kelak dialah yang
kuharapkan akan dapat membalaskan kekalahanku sekarang,
juga membalaskan dendam ayah kandungnya yang tewas pula
karena bertanding melawan Yok-sian Tiong Lee Cin-jin. Ayah
kandungnya adalah suteku sendiri."
"Maksudmu mendiang Huang-sin-eng Can Giam?" tanya Paksian Liong Su Kian.
"Benar, karena itu aku akan mengajarkan seluruh ilmuku
kepadanya agar kelak dia dapat membalaskan dendam ini."
"Aih, Tung-sai, bukan maksudku memandang rendah
kepandaianmu. Akan tetapi kalau engkau sendiri, bahkan kita
berempat, masih tidak mampu menandingi Yok-sian, bagaimana
186 engkau dapat mengharapkan muridmu dapat mengalahkannya?"
kata Lam-kai Gui Lin. Mendengar ucapan Pengemis Selatan ini, Singa Timur
mengerutkan alisnya. Hatinya tidak senang, akan tetapi dia tidak
dapat membantah ucapan itu karena memang benar. Dia
dengan tiga orang rekannya, Empat Datuk Besar, maju bersama
dan masih juga belum mampu mengalahkan Tiong Lee Cin-jin.
Biarpun seluruh ilmunya diturunkan kepada Can Kok, tidak
mungkin pemuda itu mampu menandingi Tiong Lee Cin-jin yang
mereka anggap sebagai musuh besar itu.
"Aku harus mengakui kebenaran ucap?anmu, Pengemis
Selatan. Akan tetapi apalagi yang dapat kulakukan?" katanya
kesal. "Omitohud! Pinceng mempunyai gagasan yang baik sekali!
Kalau kita berempat dapat mengajarkan inti ilmu masing-masing
yang paling ampuh kepadanya, maka dengan penggabungan
ilmu kita berempat, tentu lebih besar harapan anak ini akan
mampu mengalahkan Yok-sian! Akan tetapi kita harus selidiki
dulu apa-kah kiranya seseorang mampu menerima penggabungan ilmu-ilmu kita yang paling berat."
Mendengar ucapan See-ong Hui Kong Hosiang itu, semua orang
setuju. "Aku menjamin bahwa dia memiliki tulang bersih dan
kuat, juga bakatnya besar dan otaknya cerdik. Kalian boleh
memeriksanya sendiri!" kata Tung?sai gembira karena gagasan
itu agaknya merupakan satu-satunya jalan untuk dapat
membalas dendam dengan berhasil.
187 Tiga orang datuk itu lalu menghampiri Can Kok dan mulai
memeriksa keadaan tubuh pemuda remaja itu. Ada yang
meraba-raba kepalanya, ada yang memijat-mijat lengan dan
kakinya, ada pula yang mengetuk-ngetuk dadanya dan akhirnya
mereka bertiga mengangguk-angguk, bahkan mengeluarkan
suara memuji dan kagum. "Aku setuju dengan gagasan Raja Barat tadi!" kata Dewa Utara.
"Aku pun cocok!" kata Pengemis Selatan.
"Omitohud, kalau semua setuju, mari kita atur bagaimana
baiknya. Singa Timur, engkau sebagai Paman tua, guru pertama
dan juga orang tua angkat Can Kok, katakan bagaimana
pendapat dan rencanamu untuk melaksanakan gagasan kita itu."
Tung-sai Kui Tong mengangguk-angguk, lalu berkata dengan
suaranya yang seperti aum singa itu kepada Can Kok. "Kok-ji
(Anak Kok), bagaimana" Mau dan sanggupkah engkau
digembleng secara bergantian oleh kami berempat agar engkau
dapat menggabungkan inti ilmu aliran kami masing-masing
sehingga engkau kelak akan dapat mewakili kami membunuh
Yok-sian Tiong Lee Cin-jin?"
"Saya sanggup Pekhu (Paman Tua)!" jawab Can Kok dengan
suara mantap dan tegas. "Bagus! Kalau begitu sebaiknya diatur begini. Aku sendiri yang
akan mulai mengajarkan ilmuku yang paling ampuh kepadanya
selama dua tahun. Setelah itu kalian boleh bergantian
mengajarnya, menurunkan ilmu kalian yang paling ampuh,
188 masing-masing dua tahun. Dia akan berusia duapuluh tiga tahun
setelah digembleng selama empat kali dua tahun."
"Setuju!" kata Pak-sian dengan suaranya yang melengking
seperti suara wanita. "Aku akan menjadi orang kedua
menurunkan semua ilmu yang paling ampuh kepadanya."
"Omitohud, biar pinceng menjadi guru ketiga selama dua tahun
setelah dia selesai belajar pada Dewa Utara!"
"Bagus, kalau begitu rencana kita sudah dipastikan. Dan
Pengemis Selatan akan menjadi guru terakhir selama dua
tahun," kata Tung-sai.
Lam-kai Gui Lin mengangguk-angguk. "Baik, setelah Raja Barat
mengajar selama dua tahun, aku akan membawanya pergi dan
menggemblengnya selama dua tahun."
"Akan tetapi, ke mana engkau akan membawa dia pergi, Lamkai" Selama ini engkau adalah seorang pengemis yang
merantau di daerah selatan, tidak mempunyai tempat tinggal
tertentu." "Jangan khawatir. Setelah dia belajar selama dua tahun, aku
akan mengabari kalian semua untuk datang berkunjung ke
tempatku dan kita berempat dapat melihat dan menguji
bagaimana hasil jerih payah kita masing-masing dua tahun itu."
Demikianlah, mulai hari itu, selama dua tahun Can Kok
digembleng secara istimewa oleh Tung-sai Kui Tong yang
mengajarkan semua ilmunya yang paling ampuh dan cara
menghimpun tenaga sakti menurut ajaran alirannya. Setelah dua
189 tahun terlewat, Pak-sian Liong Su Kian datang dan mengajak
Can Kok ke Cin-ling-san, di mana dia menjadi pertapa di sebuah
puncak pegunungan itu. Setelah Dewa Utara itu mengajarkan
semua ilmu rahasia yang paling ampuh selama dua tahun, Seeong Hui Kong Hosiang datang menjemput Can Kok dan
memba?wanya ke Pegunungan Beng-san di barat di mana dia
tinggal seorang diri dalam sebuah kuil tua yang disebut Thiankok-si. Di tempat sunyi ini kembali Can Kok digembleng secara
istimewa oleh hwesio itu selama dua tahun.
Terakhir Can Kok diajak Lam-kai Gui Lin ke selatan. Karena
Pengemis Selatan ini tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan
dia tidak ingin ada orang lain melihat bahwa dia menggembleng
Can Kok, maka dia lalu memilih Pulau Iblis di Telaga Barat untuk
menjadi tempat tinggalnya. Dia membangun sebuah pondok di
pulau yang ditakuti penduduk sekitar telaga dan menggembleng
Can Kok di situ. Agar tidak menarik perhatian orang, dia
menyamar sebagai tukang perahu dan nelayan.
Setelah masa dua tahun akan habis, Lam-kai Gui Lin mengirim
kabar kepada tiga orang datuk yang lain dan pada hari itu,
mereka berempat berkumpul di Pulau Iblis dan setelah Can Kok
selesai dengan latihan penggabungan tenaga sakti dari empat
aliran yang berbeda, pemuda itu melompat keluar secara luar
biasa, menjebol atap. Perbuatan ini saja sudah menunjukkan
bahwa latihan yang berbeda-beda dari empat orang datuk dan
kemudian dia disuruh menggabungkannya, memang dapat
ditahan tubuhnya, akan tetapi mengguncang jiwanya dan
mendatangkan kelainan pada sikapnya, menjadi aneh.
190 Seperti kita ketahui, Can Kok sedang diuji oleh Empat Datuk
Besar dan dia sudah hafal akan sifat serangan empat orang
datuk itu. Bahkan kini dia memiliki tenaga sakti yang diajarkan
Empat Datuk Besar itu mendatangkan tenaga sakti yang ajaib
namun amat kuat! Empat Datuk Besar itu mengeroyok sampai seratus jurus,
namun mereka tidak mampu mendesak murid bersama mereka
itu, bahkan serangan balasan membuat mereka harus melompat
mundur untuk menghindarkan diri dari terjangan Can Kok yang
amat hebat! Setelah merasa puas menguji ilmu silat, Tung-sai
Kui Tong berseru. "Kita kini uji tenaga sin-kangnya!"
Empat Datuk Besar itu berlompatan ke belakang, lalu mereka


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyatukan tenaga sakti mereka dan dengan pengerahan sinkang (tenaga sakti) sekuatnya, mereka mendorongkan kedua
tangan ke arah Can Kok. Angin besar bergemuruh menyambar
ke arah pemuda itu. Ini adalah serangan jarak jauh yang teramat
berbahaya! Empat orang datuk besar ini, memang merupakan
tokoh-tokoh, yang selain sakti juga terkenal berwatak aneh dan
sulit dimengerti orang-orang biasa. Mereka menyayang Can Kok
sebagai murid mereka dan masing-masing sudah mengorbankan waktu selama dua tahun untuk menggemblengnya. Akan tetapi ki?ni, untuk mengujinya, mereka
menyerang dengan pukulan jarak jauh yang mengandung
tenaga sakti sepenuhnya dan bukan mustahil akan dapat
menewaskan murid itu! "Wuuuuttt blarrr !" 191 Can Kok menyambut serangan itu dengan merendahkan tubuh
menekuk lutut sehingga hampir berjongkok dan kedua
tangannya didorongkan ke depan. Ketika tenaga sakti yang
didorongkan keempat Datuk Besar itu bertemu dengan
sambutan tenaga sakti Can Kok tubuh empat orang kakek itu
terpental sampai lima meter dan terbanting roboh! Dari mulut
mereka keluar darah segar, dan mereka cepat bangkit duduk
bersila untuk memulihkan tenaga dan mencegah agar luka
dalam yang mereka derita tidak menjadi semakin parah.
Can Kok sendiri masih berdiri setengah berjongkok, tidak
tergeser dari tempat dia berdiri, akan tetapi kedua kakinya
terperosok masuk ke dalam tanah sampai sebatas lutut! Dari
pertemuan tenaga sakti ini saja sudah dapat terbukti bahwa
tenaga sakti yang dimiliki Can Kok ini bahkan, lebih kuat
daripada tenaga keempat gurunya menjadi satu! Can Kok
menarik kedua kakinya dari dalam tanah, berdiri tegak
memandang empat orang gurunya yang duduk bersila
memejamkan mata itu, dan dia lalu menengadah dan tertawa
bergelak. "Ha-ha-ha-ha-ha-ha !" Tubuhnya berkelebat
lenyap dari situ, akan tetapi suara tawanya masih terdengar
berkepanjangan dan bergema, makin lama semakin perlahan
dan akhirnya lenyap terbawa angin.
Empat orang datuk besar itu menghela napas panjang. Diamdiam mereka merasa khawatir karena biarpun murid mereka itu
dapat diharapkan akan mampu membalas dendam dan
kebencian mereka dengan membunuh Tiong Lee Cin-jin, namun
192 dia pun kini menjadi aneh dan tidak memperdulikan empat orang
gurunya lagi dan kalau sampai pemuda itu tidak terkendali, siapa
yang akan mampu menundukkannya kalau dia menjadi liar dan
merusak" Can Kok berloncatan ke arah pantai pulau itu dan mulutnya
berbisik-bisik, "Tiong Lee Cin-jin, tunggulah saat kema?tianmu di
tanganku. Ha-ha-ha, engkau harus menghadap Ayahku di alam
baka. Ha-ha-ha!" Sambil tertawa-tawa, kini tawa tanpa bunyi,
hanya menyeringai dan terkekeh, seperti seorang yang miring
otaknya! Setelah tiba di pantai, lima orang gagu-tuli yang menjadi
pendayung dan anak buah Tung-sai memandang ke arah?nya
dengan pandang mata heran.
Seperti diketahui, sejak berusia sepuluh tahun Can Kok dibawa
paman-tuanya, yaitu Tung-sai (Singa Timur) Kui Tong ke Pulau
Udang di Laut Timur dan selama lima tahun digembleng di sana.
Setelah berusia limabelas tahun, barulah dia keluar dari pulau
untuk menerima gemblengan empat orang datuk besar itu
selama masing-masing dua tahun. Karena itu, lima orang
pendayung perahu yang merupakan sebagian dari anak buah
Pulau Udang yang menjadi anak buah Tung-sai, mengenal Can
Kok. Mereka adalah orang yang sengaja dibikin gagu dan tuli
oleh Tung-sai, dan mereka amat setia kepada Tung-sai. Melihat
Can Kok mendatangi perahu mereka dan tanpa banyak cakap
hendak melepaskan ikatan perahu, lima orang itu segera
menghampirinya dan menghalangi dengan gerakan tangan,
melarang Can Kok yang hendak menggunakan perahu itu.
193 Can Kok memandang mereka dengan alis berkerut. "Pergi
kalian!" bentaknya. Akan tetapi lima orang gagu tuli itu yang merasa berkewajiban
menjaga perahu, kukuh hendak melarang dengan memegangi
perahu yang hendak ditarik ke air oleh Can Kok. Melihat ini, Can
Kok menjadi marah dan dia memperlihatkan kemarahannya itu
dengan tertawa. Kalau mengeluarkan tawa terkekeh dengan
suara seperti tangis mengguguk seperti itu, merupakan pertanda
bahwa pemuda aneh itu sedang marah!
Tiba-tiba tangan kirinya berkelebat ke arah lima orang itu dan
mereka berpelantingan roboh dan tewas seketika dengan muka
berubah menghitam! Can Kok tertawa bergelak, kini tertawa
karena senang hatinya seperti ketika dia merobohkan empat
orang datuk besar tadi. Dia mendorong perahu ke air telaga lalu
mendayung. Perahu meluncur cepat sekali karena gerakan
dayung itu bukan main kuatnya, seolah didayung sepuluh orang,
sebentar saja sudah jauh meninggalkan Pulau Iblis.
Ketika empat orang datuk besar tiba di pantai pulau itu, mereka
melihat mayat orang gagu tuli yang mukanya kehitaman dan
mereka berempat menghela napas panjang.
"Celaka, dia menjadi liar sampai orang-orang sendiri pun dia
bunuh!" kata Tung-sai Kui Tong.
"Hemm, bukan mustahil kalau kelak bertemu dengan kita, dia
juga akan membunuh kita satu demi satu. Otak anak itu telah
rusak oleh sin-kang yang amat kuat namun karena datang dari
empat aliran yang dipersatukan, merusak dan mengacau
pikirannya," kata Pak-sian Liong Su Kian.
194 "Bagaimanapun juga, dia sudah menjadi luar biasa lihainya dan
aku yakin dia akan mampu membunuh Tiong Lee Cin-jin," kata
Lam-kai Gui Lin. "Omitohud! Biarkan dia membunuh Tiong Lee Cin-jin lebih dulu,
baru sesudah itu kita mencari jalan untuk memusnakan dia
karena kalau dibiarkan, dia hanya akan membikin kotor nama
kita yang menjadi guru-gurunya," kata See-ong Hui Kong
Hosiang. Tung-sai Kui Tong lalu melempar-lemparkan mayat lima orang
anak buahnya itu ke tengah telaga dan sebentar saja di telaga
itu ikan-ikan berpesta pora. Kekejaman seperti itu bukan
merupakan hal aneh bagi empat orang datuk besar yang
terkenal akan kesesatannya itu. kemudian mereka berempat
mempergunakan dua buah perahu kecil yang tadi dipergunakan
Pak-sian Liong Su Kian dan See-ong Hui Kong Hosiang untuk
meninggalkan Pulau Iblis di tengah telaga itu.
Setelah tiba di daratan mereka berpisah dan kembali ke tempat
tinggal masing-masing, Pak-sian kembali ke Cin-ling-san, Seeong kembali ke Beng-san, Tung-sai kembali ke Pulau Udang di
Laut Timur, dan Lam-kai Gui Lin kembali merantau karena dia
adalah seorang datuk penge?mis yang suka merantau dan
tinggal di Pulau Iblis hanya untuk Sementara, sela?ma dua
tahun ketika dia melatih Can Kok.
JILID 6 06.1. Setan Hantu Iblis Mayat Hidup!
195 Yang pernah melihat Han Bi Lan tentu tidak akan menduga
bahwa gadis yang berjalan perlahan mendaki bukit itu adalah
Han Bi Lan. Setelah beberapa bulan meninggalkan ibunya,
mengamuk dan menciderai para pria bangsawan dan hartawan
yang sedang bersenang-senang di rumah-rumah pelacuran,
gadis yang tadinya bertubuh denok padat itu kini tampak kurus.
Pakaiannya yang biasanya berwarna merah muda dan rapi
bersih, kini lusuh. Rambutnya yang hitam panjang dan biasanya
digelung indah, kini dibiarkan terurai lepas sampai ke punggung.
Wajahnya memang masih tampak cantik menarik namun
kehilangan sinarnya, pandang matanya kosong dan sepa?sang
alisnya yang indah bentuknya itu selalu berkerut.
Berbagai kegetiran mengacaukan ingatannya. Pertama yang
mengguncangkan hatinya adalah kenyataan bahwa ibunya
adalah seorang bekas pelacur! Kedua adalah kematian ayahnya
sehingga ia bersumpah untuk membalas dendam karena
kematian ayahnya itu kepada Toat-beng Coa-ong Ouw Kan dan
dua muridnya, yaitu pemuda bernama Bouw Kiang dan gadis
bernama Bong Siu Lan! Dan ketiga, ia harus membalas
penghinaan yang dilakukan Souw Thian Liong kepadanya, yaitu
telah menampari pinggulnya sebanyak sepuluh kali.
Masih terasa panas kedua pipinya sampai sekarang setiap kali
ia teringat akan peristiwa itu. Pinggulnya yang ditampari, akan
tetapi hatinya yang sakit dan kedua pipinya yang panas dan
kemerahan. Tunggu saja, aku akan membalas menampari
engkau lipat dua kali, bukan sepuluh melainkan duapuluh kali!
Tentu saja bukan pada pinggul Thian Liong, melainkan pada
kedua belah pipinya, pikirnya dengan hati panas. Akan tetapi
untuk dapat melaksanakan semua dendam itu, ia harus
196 memperdalam ilmu silatnya. Ouw Kan dan dua orang murid?nya
itu merupakan lawan berat. Apalagi Thian Liong. Tidak mudah
mengalahkan pemuda itu. Akan tetapi ia akan belajar lagi, Entah
dengan cara bagaimana dan kalau sudah merasa kuat ia akan
mencari mereka untuk membalas dendamnya.
Ayahnya telah mati dan ia menganggap ibunya telah mati pula!
Pikiran ini membuat ia merasa demikian tertekan hatinya,
membuat ia seolah kehilangan gairah hidupnya dan kini dara
perkasa yang menderita batin itu mendaki bukit bagaikan orang
berjalan dalam mimpi tanpa tujuan, seolah tidak sadar dan
hanya menurut saja ke mana kedua kakinya melangkah dan
membawanya. Ia bahkan seolah tidak melihat keindahan
pemandangan alam terbentang di bawah bukit itu. Matanya
terbuka namun kosong. Bahkan beberapa kali kakinya
tersandung batu menunjukkan bahwa ia pun tidak
memperhatikan langkahnya. Padahal, pemandangan di pagi hari
yang cerah itu amatlah indahnya.
Setelah tiba di puncak bukit, baru ia berhenti melangkah.
Pendakian yang cukup melelahkan itu tidak dirasakannya, hanya
muka dan leher yang basah oleh keringat menunjukkan bahwa
untuk mendaki bukit itu menguras banyak tenaganya. Seolah
baru tersentak bangun dari tidur Bi Lan seperti terseret kembali
ke alam kesadaran. Ia berdiri memandang ke sekeliling. Puncak
itu penuh dengan batu-batu besar yang aneh-aneh bentuknya,
seolah-olah ada barisan hantu raksasa mengepungnya.
"Makin dicari semakin menjauh! Sudah dekat sekali tidak terasa.
Alangkah bodohnya!" 197 Bi Lan terkejut karena suara itu terdengar demikian dekatnya,
seolah mulut yang mengeluarkan kata-kata itu ditempelkan di
telinganya! Ia mencari-cari dengan pandang matanya. Akan
tetapi karena di sekelilingnya berdiri batu-batu besar berderetderet seperti kepungan raksasa, ia tidak dapat melihat jauh,
terhalang batu-batu itu. Tidak tampak seorang pun di situ. Ia lalu
berjalan, di antara batu-batu dan memandang ke kanan kiri dan
ke atas batu-batu, namun setelah ia berputar-putar di sekitar
puncak, tidak menemukan seorang pun!
Bi Lan berhenti melangkah, alisnya berkerut, matanya yang
selama ini kosong dan sayu, kini mencorong, pertanda bahwa ia
mulai mencurahkan perhatiannya dan merasa penasaran.
Bahkan ia mulai waspada. Ia seorang gadis yang sudah biasa
bertualang, tidak mengenal takut. Bahkan kalau pada waktu itu
orang-orang lajim percaya akan tahyul dan takut terhadap cerita
dan bayangan tentang setan, Bi Lan tidak pernah takut. Iblis
yang bagaimanapun akan dihadapi dan kalau perlu
ditentangnya! "Keparat! Siapa yang bicara tadi" Hayo cepat keluar!" ia
membentak sambil mengerahkan tenaga saktinya sehing?ga
suaranya itu bergema sampai jauh. Akan tetapi tidak ada yang
menjawab ucapannya tadi. Bi Lan mulai marah karena ia merasa dipermainkan. Ia memutar
tubuh dan menghantam sebongkah batu sebesar kerbau dangan
telapak tangannya. "Haaiiiittt...... pyarr !!" Batu itu ambyar (hancur)
berkeping-keping! 198 "Tolol, batu tidak berdosa dipukul hancur. Bocah perempuan gila
yang tolol." Bi Lan cepat sekali memutar tubuhnya dan matanya yang
mencorong mencari-cari. Akan tetapi tidak melihat siapa-siapa
kecuali batu-batu, padahal, suara itu tadi terdengar dekat sekali
dengan telinganya. Dengan penasaran ia mencari-cari lagi akan
tetapi kembali ia kecewa karena tidak dapat menemukan apaapa. Ia menjadi semakin marah. Ia mengepal tinju dan
mengamangkan tinjunya ke atas.
"Setan iblis! Keluarlah, dan mari kita bertanding sampai seribu
jurus!" teriaknya. "Ha-ha-heh-heh-heh !" Suara tawa itu amat
menggelitik, jelas mengandung cemooh atau ejekan, seperti
orang tua menertawakan kenakalan seorang anak kecil.
Bi Lan cepat melompat ke belakang sambil membalikkan
tubuhnya karena suara itu terdengar dari arah belakang. Setelah
ia menyelinap di antara dua buah batu besar yang lebih tinggi
dari tubuh?nya, ia melihat sesosok tubuh duduk bersila di atas
sebuah batu besar yang tingginya setinggi dirinya. Ia menjadi
marah sekali. Sekarang ia menemukan pengganggunya! Maka
dengan ringan ia melompat ke atas batu itu dan kini ia berdiri di
depan sosok tubuh manusia itu.
Bi Lan mengerutkan alisnya dan mengamati orang itu dengan
sinar mata penuh selidik dan kemarahan, namun ia tetap
waspada dan berhati-hati.
199 Orang itu duduk bersila dengan tegak dan kaku seolah-olah
telah berubah menjadi arca batu. Rambutnya putih riap-riapan,
sebagian menutupi wajahnya yang kurus pucat. Alis dan kumis
jenggotnya juga sudah putih semua. Wajah itu tentu sudah tua
renta, mungkin ada seratus tahun usianya. Matanya terpejam,
mulut tertutup. Wajah kurus pucat itu tidak ada sinar kehidupan,


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seperti wajah mayat! Pakaiannya yang membungkus badan
kurus itu hanya kain putih yang sudah lusuh. Kepalanya hanya
diikat sehelai kain putih pula. Kedua kaki yang itu mengenakan
sepatu kain putih yang sudah butut.
'Hei! Kakek tua! engkaukah yang bicara dan mentertawakan aku
tadi?" Bi Lan menegur, agak menyabarkan hatinya karena ia
berhadapan dengan seorang kakek tua renta yang pantasnya
menjadi kakek buyutnya. Akan tetapi orang itu sama sekali tidak menjawab, bergerak
sedikit pun tidak. "Hei, Kek! Jawab pertanyaanku! Engkaukah yang bicara tadi?"
Kakek itu tetap diam saja.
Bi Lan menjadi jengkel. "Kakek tua! Tulikah engkau" Gagukah
engkau" Hayo jawab, jangan membuat aku marah!!"
Tetap saja kakek itu tidak menjawab.
"Setan, apakah engkau sudah mati?" bentak Bi Lan, lalu
matanya terbelalak. Mati" Mungkin kakek ini sudah mati!
Bi Lan menjulurkan tangannya meraba dahi yang berkeriputan
itu. Hih, Dingin sekali! Benarkah sudah mati" Akan tetapi
200 walaupun wajah yang pucat itu seperti mayat, tubuhnya masih
duduk bersila dengan tegak.
Mana mungkin mayat dapat duduk bersila tegak terus menerus"
Hanya kalau mayat itu membeku atau sudah menjadi batu! Akan
tetapi mayat ini tidak membeku, kulit dahinya yang dirabanya itu
masih lunak. Bi Lan kembali menjulurkan tangannya, dibawa ke
depan hidung itu. Tidak ada hembusan napas sedikit pun. Kakek
itu tidak bernapas! Berarti sudah mati. Juga baju di bagian
dadanya tidak bergerak, tanda bahwa dada itu pun tidak
mengembang kempis seperti kalau orangnya masih hidup dan
bernapas! Ah, tanda hidup atau mati ada pada detak jantungnya, pikir Bi
Lan. Ia akan tahu apakah kakek ini masih hidup atau sudah mati
kalau ia memeriksa denyut nadinya. Ia menjulurkan tangan lagi,
menyentuh bawah dagu, di leher atas tu-tang pundak, di mana
biasanya denyut jantung terasa. Tidak ada denyut! Ia kini
meraba pergelangan tangan kakek itu. Kulit pergelangan tangan
itu masih lu?nak, akan tetapi dingin sekali dan denyut nadinya
juga tidak ada sama sekali! Ah, dia sudah mati, pikir Bi Lan
sambil bangkit berdiri dari jongkoknya.
Sialan! Ia bertemu mayat. Akan tetapi
kenapa mayat dapat bicara" Dan dapat menertawakannya"
Ia memandang lagi, terbelalak dan betapapun tabahnya, kini ia
merasa tengkuknya dingin dan bulu kuduknya berdiri. Siapa
yang tidak ngeri kalau mendengar mayat bicara dan tertawa"
Akan tetapi dasar ia seorang gadis bandel dan keras hati, ia
201 mampu mengusir rasa ngerinya dan membentak sambil
menudingkan telunjuknya ke arah muka mayat itu.
"Siapa kau! Sudah mati masih suka menggoda orang!"
"Daripada masih hidup suka menggoda orang, lebih baik
sesudah mati, tidak berbahaya!"
Bi Lan terbelalak dan mulutnya ternganga. Jelas terdengar oleh
telinganya bahwa suara itu keluar dari mayat itu, akan tetapi ia
tidak melihat mulut mayat itu terbuka! Sama sekali mulut itu tidak
bergerak. Bagaimana mungkin bicara tanpa menggerakkan
bibir" Bulu kuduknya meremang semakin kuat, rasa dingin di
tengkuknya menjalar ke punggung. Akan tetapi Bi Lan
mengeraskan hatinya dan menjadi semakin marah sehingga
tanpa disadari ia membanting-banting kaki kirinya yang
merupakan kebiasaannya sejak kecil kalau ia sedang marah.
"Setan! Engkau setan iblis neraka yang memasuki tubuh mayat
ini untuk menggodaku!" Ia memaki dan menudingkan lagi
telunjuknya ke arah muka mayat itu.
"Heh-heh, engkaulah setan betina cilik yang tolol!" kembali
terdengar suara dari "mayat" itu, suara yang keluar tanpa
menggerakkan bibir! Kemarahan mengusir semua rasa ngeri dan takut. "Setan busuk,
jangan kira aku takut padamu! Mampuslah kamu! Bi Lan
menggunakan tangan kirinya untuk menampar pundak mayat itu.
Karena ia masih ingat bahwa itu mayat seorang kakek, ia masih
merasa sungkan dan yang ditampar hanya pundak, itu pun
202 tanpa mengerahkan tenaga saktinya karena ia tidak ingin
merusak "mayat" itu.
"Wuuttt plakk!" Tangan Bi Lan terpental dan ia
merasa telapak tangannya panas dan pedih, seolah ia tadi
menampar papan baja yang membara! Tentu saja ia menjadi
semakin marah. "Ihh, engkau melawan, ya" Ingin memperlihatkan kekuatan
setanmu padaku" Akan kuhancurkan kepalamu, setan iblis
hantu mayat hidup!" Setelah memaki ia menggerahkan pukulan
dengan tenaga sin-kang dari Kwan-im-sin-ciang (Tangan Sakti
Kwan Im) ke arah dada "mayat" itu.
"Hyaaaaattt !" Kini telapak tangannya menghantam dengan didahului angin pukulan yang dahsyat.
"Wuuuuttt dessss!" Bukan mayat itu yang terpukul
pecah atau roboh, sedikit pun tidak terguncang, sebaliknya
tubuh Bi Lan yang terjengkang ke belakang. Untung ia dapat
cepat berjungkir balik sehingga tubuh belakangnya tidak
terbanting ke atas batu besar yang keras dan lebar itu!
"Heh-heh, sedikit ilmu pukulan lemah dari Tibet hendak
dipamerkan" Ha-ha-ha!" mayat itu menertawakan.
Bi Lan terbelalak. Bukan terkejut melihat kelihaian setan yang
masuk ke dalam mayat kakek itu, akan tetapi juga kaget
mendengar kakek itu mengenal pukulannya yang ia pelajari dari
guru pertamanya, Jit Kong Lhama yang memang berasal dari
203 Tibet. Akan tetapi ia juga menjadi semakin marah karena
pukulannya tadi bertemu dengan hawa yang amat kuat. Karena
tadi ia tidak mengerahkan seluruh tenaganya ketika
menggunakan pukulan dari Kwan-im-sin-ciang, kini ia
memasang kuda-kuda dan menghantam dengan jurus maut dari
ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat. Ilmu silat simpanan dari
Kun-lun-pai ini memang hebat sekali dan mengandung hawa
pukulan yang amat kuat. "Terimalah ini, setan! Haiiiiiitt
!!" Kedua tangan itu menyambar dari ka?nan kiri, dahsyat bukan
main dan pukulan kedua tangan gadis itu akan mampu
menghancurkan batu karang.
"Syuuuuuttt blaarr !" Tubuh Bi Lan terlempar
jauh sampai keluar dan turun ke bawah batu besar itu! Gadis itu
terkejut sekali dan untung ia masih mampu mengatur
keseimbangan tubuhnya sehingga ia dapat turun ke atas tanah
dengan kedua kaki lebih dulu dan hanya terhu?yung.
Pada saat itu, ada bayangan berkelebat dari atas batu dan tahutahu "mayat" tadi kini sudah berdiri di depan Bi Lan, matanya
terbuka dan sepasang mata itu mencorong seperti kilat! Bi Lan
memandang dan merasa ngeri juga karena jelas bahwa "mayat"
itu sakti bukan main. Setelah mahluk itu kini berdiri, makin
tampak betapa kurusnya dia.
"Heh, bocah perempuan liar! Bagaimana mungkin engkau
menggunakan jurus terakhir dari delapan jurus ilmu Ngo-heng
Lian-hoan Kun-hoat" Padahal, bahkan Kui Beng Thaisu ketua
204 Kun-lun-pai itu sendiri setahuku hanya mampu menguasai
sebanyak enam jurus lebih! Siapakah engkau ini?"
Bi Lan memperhatikan mahluk yang berdiri di depannya. Melihat
tubuh itu dapat bergerak-gerak dengan wajar dan bola mata
yang mencorong itu pun bergerak biasa, jelas bahwa dia
berhadapan dengan mahluk hidup berwujud manusia. Akan
tetapi kalau manusia, bagaimana dapat bicara tanpa
menggerakkan bibirnya" Ia memandang ke arah kaki yang
bersepatu kain itu. Menurut kabar, setan atau iblis hantu tidak
menginjak tanah. Akan tetapi mayat hidup di depannya ini
menginjak tanah seperti manusia biasa! Baik iblis maupun
manusia, mahluk ini jelas memiliki kesaktian yang luar biasa. Ia
hendak memperdalam ilmu-ilmunya, alangkah baiknya kalau
dapat berguru kepada mahluk ini! Gadis yang cerdik ini segera
mengambil keputusan dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di
depan mahluk itu. "Ampunkan teecu kalau tadi teecu bertindak kurang ajar karena
teecu tidak mengenal Suhu dan mengira Suhu mempermainkan
teecu. Teecu bernama Han Bi Lan dan teecu pernah menjadi
murid Suhu Jit Kong Lhama, kemudian teecu menjadi murid
Kun-lun-pai dan sudah mempelajari ilmu dari Kitab Ngo-heng
Lian-hoan Kun-hoat. Akan tetapi di depan Suhu, kepandaian
teecu itu tidak ada artinya sama sekali. Teecu mohon agar Suhu
sudi menerima teecu menjadi murid."
"Heh-he-heh, engkau seorang manusia, gadis muda cantik, ingin
berguru kepada setan hantu iblis mayat hidup?" Mahluk itu
terkekeh tanpa menggerakkan bibirnya.
205 Wajah Bi Lan menjadi kemerahan karena ia merasa diejek. Ialah
yang tadi menyebut mahluk itu setan hantu iblis mayat hidup.
"Ampunkan teecu, Suhu. Apa pun adanya Suhu, malaikat, dewa,
manusia, ataupun hantu, teecu tetap ingin menjadi murid Suhu."
"Ha-ha-ha, Han Bi Lan! Apa sebabnya engkau mengira aku ini
setan?" Bi Lan mengangkat mukanya memandang. "Tadi Suhu duduk
bersila tak bergerak sama sekali, tidak ada detak jantung dan
ketika teecu meraba, kulit badan Suhu dingin sekali seperti
mayat." "Heh-heh, engkau yang sudah memiliki ilmu yang lumayan, tentu
tahu bahwa dalam samadhi kita dapat saja mengatur denyut
jantung dan peredaran darah. Apa anehnya?"
"Akan tetapi Suhu tadi dan bahkan sekarang pun
kalau bicara tidak menggerakkan bibir!"
"Oh, apa sih anehnya itu" Setiap orang dapat mempelajarinya!
Jangan gerakkan bibir dan hanya pergunakan lidah dan
kerongkongan dibantu gerakan perut, tentu engkau dapat bicara
seperti yang kulakukan ini. Dan sekarang engkau yang tadi
mengamuk dan menyerangku, kini ingin berguru kepadaku.
Mengapa?" "Suhu memiliki kesaktian luar biasa sehingga pukulan-pukulan
teecu sama sekali tidak mampu menyentuh Suhu, maka teecu
ingin mendapatkan pelajaran ilmu dari Suhu. Harap Suhu tidak
menolak dan sudi menerima teecu menjadi murid."
206 "Hemm, engkau begini muda sudah memiliki ilmu-ilmu yang
tinggi dari Tibet dan Kun-lun-pai, untuk apa ingin mempelajari
ilmu yang lebih tinggi lagi?"
"Teecu ingin membalas dendam, Suhu. Teecu ingin membalas
kepada orang-orang yang membunuh ayah kandung teecu, juga
membalas orang yang pernah menghina teecu. Akan tetapi, para
musuh teecu itu lihai sekali dan teecu tidak mampu
mengalahkan mereka, oleh karena itu teecu mohon Suhu suka
membimbing teecu." "Heh-heh-heh, Han Bi Lan, tahukah engkau siapa aku?"
"Teecu tidak tahu, akan tetapi teecu yakin bahwa Suhu tentu
seorang tokoh dunia persilatan yang terkenal sekali."
"Hemm, dulu aku disebut Heng-si Cauw-jiok dan semua orang
takut padaku!" Bi Lan terkejut bukan main dan juga girang. Gurunya yang
pertama, Jit Kong Lhama, pernah bercerita kepadanya tentang
seorang datuk persilatan penuh rahasia berjuluk Heng-si Cauwjiok (Mayat Hidup Berjalan) yang dimusuhi hampir semua datuk
di daratan Cina. Tidak ku?rang dari tujuh orang datuk
beramai?ramai mengeroyoknya dan dikabarkan bahwa Heng-si
Cauw-jiok tewas ketika dikeroyok itu. Bagaimana mungkin
sekarang datuk besar itu masih hidup"
"Teecu pernah mendengar Suhu Jit Kong Lhama bercerita
tentang Suhu! Katanya bahwa Suhu dikeroyok tujuh orang datuk
besar dan tewas, dan peristiwa itu sudah terjadi puluhan tahun
207 yang lalu. Bagaimana kini Suhu mengaku bahwa Suhu adalah
Heng-si Cauw-jiok yang telah tewas puluhan tahun yang lalu?"
"Ha-ha-ha, mereka itu orang-orang bodoh yang menyangka aku
mati. Andaikata aku mati sekalipun, aku akan tetap hidup.
Bukankah julukanku Si Mayat Berjalan" Ha-ha-ha!"
Diam-diam Bi Lan bergidik. Jangan-jangan Kakek ini benarbenar telah mati dan menjadi mayat hidup alias setan! Akan
tetapi ia tidak perduli. Setan atau manusia kalau dapat
mengajarkan ilmu kesaktian kepadanya, akan ia angkat menjadi
gurunya! "Suhu, mohon menerima teecu sebagai murid," katanya lagi.
06.2. Jangan Menuduh Tanpa Bukti!
"Hemm, aku sudah bosan hidup. Terlalu lama hidup di dunia
yang penuh kepahitan ini. Akan tetapi agaknya kita memang
berjodoh. Baiklah, Bi Lan. Engkau akan kugembleng selama
satu tahun, akan tetapi engkau harus berjanji dulu bahwa
setelah satu tahun, engkau harus mau mengubur aku hiduphidup!"
Bi Lan terbelalak. "Mengubur Suhu hidup-hidup" Ah, itu jahat
sekali namanya! Teecu akan dikatakan murid durhaka!"
"Pendeknya mau atau tidak" Kalau tidak mau, pergilah sana,
aku tidak sudi menjadi gurumu. Baru mulai saja sudah tidak taat,
apalagi sesudah setahun!"
208 Bi Lan menjadi serba salah. Hemm, ia berhadapan dengan
seorang kakek yang sudah sinting. Sanggupi saja, soal nanti
setahun, bagaimana nanti sajalah!
"Baiklah, Suhu, teecu menurut." "Kalau begitu, mari ikut aku
pulang." "Pulang?"
"Ya, ke tempat tinggalku di sana."
Bi Lan mengikuti kakek itu dan ternyata tempat tinggal Si Mayat
Hidup itu tidak jauh dari situ. Dia tinggal di sebuah guha yang
tepat berada di bawah puncak. Mulai saat itu Bi Lan menjadi
murid manusia aneh itu dan ia digembleng dengan keras.
Selama setahun Bi Lan mendapat pelajaran ilmu silat yang aneh
dan dahsyat yang oleh Si Mayat Hidup disebut Sin-ciang Tinthian (Tangan Sakti Menjagoi Langit) yang terdiri dari tigabelas
jurus ampuh. "Y" Thio Ki terkenal sebagai seorang pedagang yang berhasil di kota
Kang-cun. Dia sering membawa barang dagangan yang besar
jumlahnya ke utara sampai di kota raja Yen-cing (Peking), yaitu


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kota raja Kerajaan Kin. Terkadang dia pun membawa barang
dagangan ke selatan sampai ke kota Hang-couw, yaitu kota raja
Kerajaan Sung Selatan. Dengan berhasil sebagai lembah perdagangan ke utara dan ke selatan itu, Thio Ki
mendapatkan keuntungan besar sehingga dia terkenal
seorang hartawan di kota Kang-cun yang terletak di
Sungai Yang-ce bagian utara. Kota Kang-cun
209 merupakan kota yang berada di tapal batas dua kerajaan itu,
namun masih termasuk ke dalam Kerajaan Kin.
Isteri Thio Ki adalah seorang wanita berdarah bangsawan
karena sebelum menikah dengan Thio Ki, ia adalah janda
pangeran Kerajaan Kin. Sebelumnya ia sendiri adalah puteri
seorang kepala suku bangsa Uigur. Namanya Miyana, usianya
sekitar empatpuluh tahun masih tampak bekas kecantikannya.
Thio Ki sendiri berusia empatpuluh lima tahun. Biarpun selama
menikah dengan Miyana, kurang lebih limabelas tahun, mereka
tidak mempunyai keturunan, namun Thio Ki cukup merasa
berbahagia dengan anak tirinya, seorang anak perempuan yang
ketika dia menikah dengan Miyana, berusia empat tahun. Anak
itu bukan lain adalah Thio Siang In yang terkenal dengan julukan
Ang Hwa Sian-li! Thio Ki yang biasa melakukan perjalanan jauh untuk berdagang,
selain dikawal beberapa orang piauw-su (pengawal barang
dagangan) yang lihai, juga bukan seorang lemah. Dia pernah
belajar silat beberapa tahun lamanya. Karena itu, ketika anak
perempuan yang memakai nama marganya itu tampak suka
akan ilmu silat, dia memberi pelajaran ilmu silat. Ketika isterinya,
Miyana memberi tahu bahwa suku bangsanya mempunyai
seorang datuk besar yang sakti, yaitu Toat-beng Coa-ong (Raja
Ular Pencabut Nyawa) Ouw Kan, Thio Ki lalu menye-rahkan
Siang In kepada guru besar itu untuk menjadi muridnya.
Setelah tamat belajar dan Thio Siang In menjadi pendekar
wanita yang gagah perkasa, Thio Ki dan Miyana ikut merasa
bangga dan berbahagia. Ternyata setelah menjadi seorang
210 gadis yang lihai, Siang In tidak melupakan pendidikan budi
pekerti yang diberikan Ayah Ibunya sehingga ia menjadi seorang
li-hiap (pendekar wanita) yang dijuluki Ang Hwa Sian-li. Akan
tetapi yang terkadang membuat mereka berdua gelisah dan
rindu, adalah kesukaan puteri mereka itu meninggalkan rumah,
mengembara dan bertualang. Bahkan akhirnya, setahun yang
lalu, puteri mereka itu mengikuti seorang guru lain, yaitu Tiong
Lee Cin-jin. Thio Ki sudah mendengar akan nama besar Tiong Lee Cin-jin
yang dijuluki Tabib Dewa itu sebagai seorang yang amat sakti
dan budiman serta arif bijaksana. Maka dia dan isterinya
menyatakan persetujuan mereka puterinya menjadi murid Tabib
Dewa itu. Tentu saja Miyana telah berterus terang kepada suaminya
bahwa Siang In bukanlah anak kandungnya. Ia menceritakan
sejujurnya kepada suami yang amat mencintanya itu bahwa
sesungguhnya anak mereka itu adalah puteri Kaisar Kerajaan
Kin! Puteri seorang selir kaisar yang berkebangsaan Han
bernama Tan Siang Lin dan menjadi sahabat baiknya ketika ia
menjadi selir seorang pangeran dahulu. Selir kaisar itu
melahirkan sepasang bayi kembar dan agar kedua orang bayi itu
tidak dibunuh seperti yang telah menjadi kepercayaan bangsa
Kin (Nuchen) bahwa anak kembar akan mendatangkan
malapetaka, maka seorang dari bayi kembar itu diserahkan
kepadanya. Thio Ki bahkan semakin sayang kepada Siang In,
yang sesungguhnya adalah puteri kaisar itu!
Akan tetapi hari ini rumah besar keluarga itu tampak sepi,
padahal biasanya seluruh penghuni rumah itu tampak gembira
211 dengan wajah berseri. Kini para pelayan dan pekerja pembantu
tampak muram wajahnya dan kalau bicara pun mereka berbisikbisik sehingga dapat diduga bahwa tentu ada perkara yang amat
menyedihkan terjadi di rumah besar itu.
Di dalam sebuah kamar yang besar dalam rumah itu, kamar
induk, Thio Ki rebah telentang di atas pembaringan. Kepala dan
lengan kirinya dibalut. Tubuhnya yang tinggi besar itu tampak
lemah dan wajahnya yang gagah agak pucat. Miyana, isterinya
yang masih cantik, duduk di tepi pembaringan. Wajahnya masih
muram dan matanya masih kemerahan dan sembab, tanda
bahwa ia banyak menangis. Di atas meja dekat pembaringan
tampak mangkuk obat yang sudah kosong.
Thio Ki rebah dengan kedua mata terpejam dan mulutnya agak
menyeringai menahan rasa nyeri. Tiba-tiba dia mengeluh dan
bergerak hendak bangkit duduk.
Miyana cepat membantunya sambil bertanya lembut, "Mengapa
bangkit" Lebih baik rebah dulu. Bukankah tabib tadi mengatakan
bahwa engkau kehilangan ba-nyak darah dan sebaiknya rebah
mengaso dan banyak tidur?"
Thio Ki sudah duduk dan pundaknya dirangkul isterinya. Dia
menghela napas panjang beberapa kali. "Ahh, rasa sakit di
badan ini dapat kutahan. Akan tetapi hatiku sakit sekali kalau
ingat akan semua barang yang dirampas dan penghinaan yang
kudapat dari jahanam-jahanam itu
" 212 "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan soal kehilangan harta benda.
Harta bisa dicari lagi, yang penting kesehatanmu cepat pulih
kembali," isterinya menghibur.
"Kehilangan harta benda tidak menyusahkan aku," kata Thio Ki,
"aku pernah melarat dan aku tidak takut untuk menjadi melarat
lagi. Akan tetapi di antara barang-barang itu ada yang milik
orang lain dan aku harus mengganti kehilangan itu! Barangbarangku sendiri sudah habis, dari mana aku dapat mengganti
kehilangan itu?" "Pemilik barang itu pasti akan mengerti bahwa barangnya hilang
karena engkau dirampok dan dia mau mengerti. Kita bekerja lagi
dan perlahan-lahan ki?ta dapat mencicil barangnya yang hilang
itu." "Hemm, mana dia mau" Kau tahu siapa pemilik barang yang
dititipkan padaku untuk dikirim dan ikut dibawa perampok itu"
Dia adalah Pangeran Cin Boan!"
"Pangeran Cin Boan" Ahh !" Miyana terkejut
mendengar nama ini. "Ya, Pangeran Cin Boan yang kita tolak lamarannya terhadap
Siang In yang ingin dia jodohkan dengan puteranya karena
Siang In selalu menolak pinangan siapapun juga. Mana mungkin
dia mau memberi kelonggaran kepada kita yang dianggap tentu
telah menyakitkan hatinya karena penolakan pinangan itu"
Ahhh!" Thio Ki tampak sedih sekali.
"Aihh kalau saja dulu Siang In mau menerimanya
213 pinangan itu. Aku pernah melihat Cin-kongcu (Tuan Muda Cin)
dan dia adalah seorang pemuda yang tampan dan halus tutur
sapanya, sopan santun dan aku mendengar dia telah lulus ujian
sebagai seorang sasterawan. Siang In sungguh keras hati.
Belum juga melihat Cin-kongcu, ia sudah menolak begitu saja!
Sekarang, bagaimana baiknya
?" Miyana yang biasanya tabah kini mulai merasa gelisah juga mendengar
keterangan suaminya tadi.
"Hemm, kalau Siang In berada di rumah, pasti ia akan mampu
merampas kembali barang-barang itu dari gerombolan
perampok. Mengapa ia belum juga pulang" Bukankah dulu
Tiong Lee Cin-jin mengirim kabar kepada kita bahwa dia hendak
mengajarkan ilmu kepada Siang In selama satu tahun saja" Dan
sekarang, kalau tidak salah, sudah setahun lamanya."
"Sudahlah, jangan memikirkan dulu semua urusan itu," Miyana
kembali menghibur suaminya. "Tiduran saja dulu, tenangkan
hatimu. Kalau sudah sembuh benar, baru kita memikirkan
urusan itu." Ia membantu suaminya rebah kembali, menyelimuti
tubuh suaminya dan membantu pelayan mempersiapkan makan
obat untuk suaminya. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ada seorang laki-laki
datang berkunjung ke rumah Thio Ki. Laki-laki berusia
empatpuluh tahun yang bertubuh pendek gendut ini diterima
dengan baik oleh Miyana karena ia telah mengenalnya dengan
baik. Orang itu adalah Bhe Liang yang berjuluk Twa-to (Golok
Besar) karena dia terkenal lihai dengan permainan golok
besarnya. Bhe Liang ini merupakan seorang di antara para
214 pimpinan pasukan piauw-su (pengawal kiriman barang) yang
telah bekerja kepada Thio Ki selama setahun lebih. Akan tetapi
ketika terjadi perampokan barang itu, yang mengawal bukan
giliran kelompoknya. Sebelum menjadi piauw-su, dia pernah
bekerja sebagai pengawal pada keluarga Pangeran Cin Boan.
Setelah berada dalam kamar Thio Ki yang dijenguknya, Bhe
Liang dipersilakan duduk di kursi dekat pembaringan di mana
Thio Ki berbaring. "Bagaimana keadaanmu Thio-twako?" tanya Bhe Liang dengan
penuh perhatian. "Luka-luka di pelipis dan lengan kiri sudah tidak begitu nyeri lagi,
Bhe-te (Adik Bhe). Akan tetapi tubuh ini rasanya masih lemas,"
jawab Thio Ki dengan suara sedih.
"Hemm, kalau saja ketika itu saya yang mengawal, pasti tidak
akan terjadi hal ini, Twako. Saya tentu sudah menghajar para
perampok keparat itu!" Si Pendek Gendut ini mengepal tinju
dengan penasaran. Thio Ki menghela napas panjang. "Apa hendak dikata. Semua
telah terjadi. Kalau saja puteriku Siang In berada di sini, pasti ia
akan mencari dan membasmi gerombolan perampok itu dan
me?rampas kembali semua barangku."
"Thio-twako, kedatangan saya ini selain untuk melihat keadaan,
Twako, juga untuk menyampaikan kabar yang penting bagimu.
Twako, saya tahu siapa yang menjadi dalang perampokan ini!"
215 "Eh?" Thio Ki tertarik sekali dan memandang penuh selidik.
"Benarkah itu, Bhe-te" Siapa yang mendalangi?"
Pada saat itu, Miyana memasuki kamar dan ia mendengar
ucapan terakhir suaminya itu. "Eh" Ada yang mendalangi
perampokan?" Ia lalu duduk di tepi pembaringan dan ikut
memandang Bhe Liang dengan sinar mata menyelidik.
"Benar, Twa-so."
Sudah menjadi kebiasaan umum di Cina, seseorang yang
hendak menghormati orang lain menyebutnya Twako (Kakak
Tertua) dan isterinya disebut Twa-so (Kakak Ipar Tertua)
walaupun laki-laki itu bukan kakaknya sendiri dan isteri
temannya itu bukan kakak iparnya. "Saya tahu betul siapa yang
mengatur perampokan ini."
"Siapa dia ?" Suami isteri itu bertanya dengan
suara hampir berbareng. "Siapa lagi kalau bukan Pangeran Cin Boan!"
Suami isteri itu saling pandang dan keduanya mengerutkan
alisya, menatap tajam wajah Bhe Liang dengan ragu. "Bhe-te,
jangan main-main kau!" kata Thio Ki. "Jangan menuduh tanpa
bukti, itu fitnah namanya!"
"Aih, Twako. Sudah setahun lebih saya membantu Twako
dengan setia, apakah Twako masih meragukan keterangan
saya" Saya tidak menuduh sembarangan saja. Twako tentu
masih ingat, setahun yang lalu saya masih menjadi pengawal di
keluarga Pangeran Cin Boan itu. Nah, ketika pinangan keluarga
216 itu terhadap puteri Twako ditolak, Pangeran Cin Boan marah
sekali. Saya mendengar sendiri kata-katanya bahwa sekali
waktu dia akan membalas penghinaan itu."
"Penghinaan?" Miyana bertanya heran.
"Benar, Twako. Penolakan pinangan itu dianggap sebagai
penghinaan oleh Pangeran Cin Boan. Maka, setelah terjadi
perampokan ini, padahal dia juga menitipkan kiriman barang
yang besar nilainya, siapa lagi yang mendalanginya kalau bukan
dia?" Setelah Bhe Liang meninggalkan rumah itu, Thio Ki dan Miyana
masih duduk termenung, memikirkan keterangan Bhe Liang tadi
dengan hati risau. "Mungkinkah itu" Tidak biasanya dia menitipkan barang
demikian banyaknya dalam perjalananku itu
benarkah dia membalas dendam karena ditolak lamarannya"
Semua hartaku dirampas, bahkan diriku dilukai alangkah
kejamnya " "Nanti dulu, kita harus berhati-hati dan jangan dulu memastikan
bahwa dugaan Bhe Liang itu benar. Pertama, apa buktinya
bahwa perampokan ini didalangi oleh Pangeran Cin Boan yang
hendak membalas dendam kepadamu" Kedua, kita sudah
mendengar dan mengenal siapa Pangeran Cin Boan. Dia
seorang bangsawan kaya raya yang dermawan dan selalu
bersikap baik dan ramah terhadap siapapun juga. Jadi, amat
meragukan kalau dia dapat melakukan tindakan sejahat itu."
217 "Akan tetapi dia seorang Pangeran Kin, mungkin saja diam-diam
dia membenci aku, seorang pribumi bangsa Han."
"Tidak mungkin! Kalau dia membencimu, mengapa dia melamar
anak kita dan hendak menjadikan engkau besannya?"
Mereka diam dan termenung, lalu Thio Ki menghela napas
panjang den berkata, "Bagaimanapun juga, dugaan Bhe Liang
tidaklah ngawur. Memang besar sekali kemungkinan Pangeran
Cin Boan merasa terhina. Bagaimana dia tidak akan merasa
terhina oleh penolakan kita" Dia seorang pangeran,
berkedudukan tinggi, kaya raya dan kita ini orang-orang biasa
saja. Pinangannya kita tolak, tentu hal itu bagi mereka
merupakan pukulan dan kalau terdengar orang akan memalukan
sekali. Pinangan seorang pangeran kaya raya ditolak seorang
rakyat kecil biasa! Biarpun dia baik hati, namun dendam sakit
hati dapat saja membuat seorang yang baik hati menjadi kejam
karena dendam kemarahannya. Kiranya hanya dia seorang yang
paling pantas dicurigai mendalangi perampokan itu."
Miyana termenung, lalu ia pun menghela napas panjang dan
berkata. "Andaikata benar dugaan itu, lalu kita mampu berbuat apa"
Pertama, dugaan itu tidak ada buktinya, dan kedua, apa yang
dapat kita lakukan terhadap Pangeran Cin Boan" Dia seorang
bangsawan tinggi, keluarga kerajaan yang kedudukannya kuat."


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ah, kalau saja Siang In ada
merasa tidak berdaya. " Keduanya mengeluh dan
218 Ternyata harapan mereka itu terkabul. Pada keesokan harinya,
pagi-pagi muncul Thio Siang In, seperti biasa berpakaian serba
hijau dan ada setangkai bunga merah menghias rambutnya.
Wajahnya masih cantik jelita dan berseri gembira. Gadis ini
muncul bersama Puteri Moguhai yang berpakaian serba putih
dengan sabuk panjang berwarna merah, di atas kepalanya
terhias burung Hong dari perak yang ukirannya indah.
"Ayah, apa yang terjadi denganmu?" ketika Thio Ki dan Miyana
muncul, Siang In berseru kaget melihat lengan kiri dan kepala
Thio Ki dibalut kain putih dan wajah Ayahnya itu pucat.
"Siang In !" Miyana maju merangkul anaknya
sambil menangis. "Aih, Siang In, mengapa engkau baru pulang"
Ayahmu mengalami malapetaka, dirampok habis- habisan dan
dilukai " "Hemm, kapan terjadinya, di mana dan siapa perampoknya?"
Siang In bertanya dan wajahnya sudah berubah kemerahan
karena marah. Akan tetapi Thio Ki yang memandang ke arah Puteri Moguhai
dan mera?sa terkejut dan terheran-heran melihat betapa gadis
itu serupa benar dengan puterinya dan hanya pakaian mereka
saja yang berbeda, cepat berkata.
"Siang In, nanti saja kita bicara di dalam agar lebih leluasa.
Sekarang perkenalkan dulu siapa temanmu ini." Baru sekarang
Miyana menyadari bahwa anaknya tidak pulang seorang diri dan
ia pun memandang kepada Moguhai. Mata wanita itu terbelalak
lebar ketika melihat wajah puteri itu. Lalu ia menoleh dan
219 memandang wajah anaknya, lalu menoleh lagi kepada Moguhai,
begitu berulang-ulang, ganti berganti.
"Siang In ini ini siapakah ini ?" Akhirnya
ia dapat bertanya dan kembali ia meneliti wajah puterinya
ka?rena ia merasa bingung dan ragu apakah yang dirangkulnya
itu benar Siang In, ataukah gadis yang lain itu yang
sesungguhnya anaknya! Siang In juga baru ingat akan kehadiran Moguhai karena tadi ia
merasa khawatir dan tegang melihat keadaan Ayahnya. Ia lalu
menoleh kepada orang tuanya.
"O ya, Ayah dan Ibu, perkenalkan. Ini sahabat baikku yang juga
menjadi saudara seperguruanku. Ia terkenal dengan sebutan
Pek Hong Niocu, nama aselinya Puteri Moguhai."
"Puteri ?" Miyana makin terkejut.
"Benar, Ibu. Puteri Moguhai ini ada?lah Puteri Kaisar Kerajaan
Kin. Ibunya selir kaisar, seorang wanita Han bernama Tan Siang
Lin." Siang In memperkenalkan dengan suara biasa saja. "Pek
Hong, perkenalkan, ini Ayahku Thio Ki dan Ibuku ini bernama
Miyana." Siang In memang kini menyebut Moguhai dengan
nama pemberian Ayah mereka, yaitu Sie Pek Hong.
Pek Hong memberi hormat dengan mengangkat tangan depan
dada dan berkata sambil tersenyum, "Paman dan Bibi, senang
sekali dapat berkenalan dengan kalian."
Hampir pingsan rasanya Miyana pada saat iuu. Thio Ki melihat
keadaan isterinya dan biarpun dia sendiri terkejut dan tubuhnya
220 masih lemas karena luka-lukanya, dia cepat memegang lengan
isterinya yang agaknya menjadi pening dan terhuyung. Miyana
tidak ragu lagi bahwa yang datang ini adalah saudara kembar
Siang In, dan Thio Ki yang pernah mendengar cerita isterinya
juga mengerti. Akan tetapi tentu saja mereka berdua tidak ingin
memperlihatkan kepada siapapun juga, terutama kepada anak
mereka, bahwa mereka telah mengetahui rahasia dua orang
gadis itu. "Ah, Ibu terkejut melihat persamaan antara aku dan Pek Hong"
Memang kami mirip sekali satu sama lain, akan tetapi ia adalah
puteri kaisar dan aku hanyalah anak Ayah dan Ibu," kata Siang
In. "Ampun, Tuan Puteri. Hamba tidak mengenal maka
bersikap kurang hormat " kata Miyana sambil memberi
hormat dengan sembah dan menekuk kedua lututnya. Akan
tetapi Pek Hong segera membungkuk dan memegang
lengannya, mencegah ia berlutut.
"Bibi, jangan begitu. Kalau sudah keluar dari istana, aku lebih
suka dikenal sebagai Pek Hong Niocu dan Siang In juga
menyebut namaku Pek Hong. Kuharap Paman dan Bibi juga
menyebutku begitu." "Mari, marilah kita semua masuk dan bicara di dalam," kata Thio
Ki dan mereka berempat memasuki ruangan dalam dan duduk
menghadapi sebuah meja besar. Miyana menutup daun pintu
dan jendela agar tidak ada pelayan yang berani masuk atau
mendengarkan percakap?an mereka.
221 "Nah, Ayah. Sekarang ceritakanlah apa yang terjadi padamu,"
kata Siang In, sudah dapat menekan kemarahannya.
"Terjadinya lima hari yang lalu. Bersama beberapa orang piauwsu, aku membawa barang-barang daganganku sendiri dan juga
titipan barang-barang Pangeran Cin Boan menuju ke kota raja.
Ketika rombongan kami tiba di kaki Pegunungan Cin-ling-san
sebelah timur, kami dihadang segerombolan perampok. Kami
melawan dan karena pihak kami kalah banyak, barang-barang
itu semua dirampas dan aku terluka.
"Hemm, di mana terjadinya itu, Ayah?"
"Di kaki Pegunungan Cin-ling-san sebelah timur, dalam hutan
yang berada di tepi jalan raya menuju kota Kai-feng."
"Tahukah Ayah siapa pemimpin gerombolan itu?"
"Aku tidak mengenalnya, orangnya tinggi kurus dan permainan
siang-to (sepasang golok) amat lihai. Dia tidak menyebutkan
namanya dan anak buahnya berjumlah lebih dari tigapuluh
orang. Dalam rombongan kami, banyak yang terluka bahkan ada
dua orang piauwsu yang tewas."
"Dan harta benda Ayah habis?"
"Hemm, terlukanya badanku dan habisnya hartaku tidak menjadi
soal berat bagiku, Siang In. Kita dapat mencari lagi dengan
bekerja keras. Akan tetapi yang menyusahkan hatiku adalah
barang titipan Pangeran Cin Boan yang ikut hilang dibawa
perampok, padahal barang-barang itu amat mahal harganya.
222 Bagaimana aku akan dapat membayarnya?" Kalimat terakhir ini
diucapkan Thio Ki dengan keluhan.
"Jangan khawatir, Ayah. Aku akan segera mencari ke tempat
Ayah dihadang perampok itu dan aku akan membasmi mereka
dan mengambil kembali barang-barang Ayah!" kata Siang In.
"Benar, Paman. Aku akan membantu Siang In dan kami pasti
akan dapat merampas kembali barang-barang Paman," kata Pek
Hong dengan suara menyakinkan.
Miyana memandang kepada suaminya dan berkata lirih,
"Apakah tidak perlu menceritakan kepada Siang In tentang
dugaan piauw-su Bhe Liang?"
"Laporan apakah, Ayah" Ceritakan kepadaku!" kata Siang In
kepada Ayahnya. Thio Ki menghela napas panjang. "Bhe Liang melaporkan
kepadaku, mengatakan bahwa yang mendalangi perampokan itu
adalah Pangeran Cin Boan."
"Eh, Pangeran Cin Boan" Apa buktinya, Ayah?"
"Itulah, Siang In. Aku juga bilang kepada Ayahmu agar jangan
mudah percaya akan dugaan Bhe Liang itu karena tidak ada
buktinya," kata Miyana.
"Memang tidak ada buktinya. Menurut laporan Bhe Liang, ketika
pinangan keluarga Pangeran Cin Boan itu kita tolak, Bhe Liang
yang ketika itu masih menjadi pengawal Pangeran Cin,
mendengar betapa Pangeran itu marah kepada kita dan
mengeluarkan ancaman akan membalas penghinaan itu.
223 Penolakan kita itu dia anggap sebagai penghinaan. Ketika aku
membawa barang ke utara, dia menitipkan barang-barang
berharga, lalu terjadi perampokan itu. Karena itulah Bhe Liang
menduga bahwa yang mendalangi perampokan adalah
Pangeran Cin Boan." 06.3. Keluarga Pangeran Cmn Boan
"Hemm, masuk akal juga " kata Siang In. "Aku
akan menyelidiki dulu keluarga Pangeran Cin Boan sebelum
melacak di tempat terjadinya perampokan. Kalau benar
Pangeran Cin Boan yang mendalangi perampokan itu, hemm,
akan kuhajar dia! Tidak tahu malu kalau pinangan ditolak lalu
merasa terhina dan mendendam."
"Nanti dulu, Siang In. Aku mengenal Pangeran Cin Boan. Dia
masih merupakan Paman luarku dan selama ini aku mengenal
dia sebagai seorang yang berwatak baik. Memang sejak dia
pindah ke sini, aku tidak pernah lagi bertemu dengan dia. Sudah
kurang lebih enam tahun aku tidak bertemu keluarga Paman
Pangeran Cin Boan. Maka, biarlah aku yang pergi berkunjung ke
sana. Akan kuselidiki apakah benar dia yang mendalangi
perampokan ini. Kalau benar, akulah yang akan menegur, kalau
perlu menghukumnya. Kalau engkau yang ke sana, mungkin
engkau akan dipengaruhi emosi dan melakukan kesalahan."
Siang In tersenyum. "Engkau selalu menganggap aku galak, Pek
Hong dan engkau khawatir aku membikin keributan" Baiklah,
kalau bukan engkau yang mengajukan usul dan menggantikan
aku menyelidiki Pangeran itu, pasti kutolak."
224 "Nah, aku akan pergi sekarang. Paman dan Bibi Thio, permisi
dulu, aku akan berkunjung ke rumah Pangeran Cin Boan. Nanti
kalau sudah ada hasilnya, aku akan kembali ke sini."
"Baik dan terima kasih, puteri
eh, Pek Hong!" kata Thio Ki gembira. Setelah kini puterinya pulang, harapannya muncul kembali dan
dia merasa yakin bahwa barang-barangnya pasti akan bisa
didapatkan kembali. Dia yakin akan kemampuan puterinya,
apalagi setelah kini selama setahun ia digembleng oleh Tiong
Lee Cin-jin! Pek Hong Niocu lalu meninggalkan rumah Thio Ki dan setelah ia
pergi, Thio Ki dan isterinya minta kepada Siang In agar
menceritakan semua pengalamannya selama ia pergi
meninggalkan rumah. Terutama sekali Miyana bertanya kepada
puterinya tentang Pek Hong dan menduga-duga apakah
puterinya sudah tahu akan rahasia dirinya, bahwa ia adalah
Puteri Kaisar Kin dan mereka berdua hanya orang tua angkat.
Siang In menceritakan pengalaman?nya, akan tetapi ia tidak
mau menceritakan bahwa ia sudah tahu akan rahasia dirinya,
juga sama sekali tidak menceritakan bahwa Tiong Lee Cin-jin
adalah Ayah kandungnya. Ia memenuhi pesan Ayah
kandungnya itu untuk tetap merahasiakan tentang hubungan
antara Tiong Lee Cin-jin, Tan Siang Lin, Puteri Moguhai dan
dirinya sendiri. Biarlah Ayah Ibunya, Thio Ki dan Miyana yang
baik hati dan menyayangnya sejak kecil sampai sekarang tidak
akan merasa sedih kalau ia mengatakan bahwa ia tahu bahwa
mereka bukanlah Ayah dan Ibu kandungnya.
225 "Siang In, sungguh aneh sekali melihat
persamaanmu dengan puteri
dengan Pek Hong itu. Benar-benar sukar bagiku untuk membedakannya, kecuali
pakaian kalian yang jauh berbeda. Kalau kalian berdua pergi
bersama, tentu orang-orang akan menyangka bahwa kalian
adalah saudara kembar."
Mendengar ucapan itu, Siang In maklum bahwa ibunya ini
sengaja hendak memancing untuk mengetahui apakah ia sudah
tahu akan rahasia itu ataukah belum! Tentu saja Ibunya ini,
Miyana tahu bahwa ia dan Pek Hong adalah saudara kembar
karena Miyanalah yang menolong ibu kandungnya, dengan
membawa pergi ia, seorang di antara sepasang bayi kembar,
untuk menyelamatkan sepasang bayi kembar dari ancaman
dibunuh oleh Kaisar. Kalau ia mengaku sudah tahu, pasti hati
wanita yang baik hati ini akan menjadi kecewa dan khawatir
kalau-kalau rasa sayang Siang In terhadap Ibunya ini akan
berkurang. "Memang wajah kami mirip sekali, Ibu. Akan tetapi jelas kami
berbeda jauh. Ia Puteri Kaisar Kin dan aku hanyalah puteri Ayah
dan Ibu di sini. Akan tetapi aku sama sekali tidak merasa iri atau
rendah. Aku amat berbahagia menjadi anak Ayah dan Ibu, dan
Pek Hong itu baik sekali, tidak angkuh dan tidak memandang
rendah kepadaku sehingga kami akrab seperti saudara saja.
Urusan dengan Pangeran Cin Boan ini pun sudah pasti akan
beres kalau Pek Hong yang menanganinya. Ibu tahu, ia amat
disayang oleh Kaisar Kin. Ayahnya itu bahkan memberi pedang
226 bengkok berukir naga emas, yaitu pedang yang merupakan
tanda kekuasaan sehingga apa yang diperintahkan Pek Hong
terhadap semua pejabat pemerintah Kerajaan Kin dianggap
seperti perintah Kaisar Kin sendiri sehingga semua pejabat, dari
yang rendah sampai yang tinggi, semua tunduk dan taat
kepadanya kalau ia memperlihatkan
pedangnya itu "Hebat " !" kata Thio Ki. "Pantas saja kalau Kaisar mencintanya, karena ia seorang gadis
yang cantik dan gagah perkasa seperti engkau! Siapa yang tidak
akan menyayangnya?" "Aih, Ibu !" kata Siang In manja sambil merangkul Ibunya.
Seperti tidak akan ada habisnya tiga orang itu bercakap-cakap
melepas kerinduan hati masing-masing dan kepulangan Siang In
ini benar-benar selain mendatangkan harapan besar, juga
mempengaruhi keadaan tubuh Thio Ki sehingga dia segera
sehat kembali! Apalagi setelah dengan tenaga saktinya yang kini
menjadi amat dahsyat, Siang In menyalurkan ke dalam tubuh
Ayahnya melalui telapak tangan yang ditempelkan di punggung.
Wajah Thio Ki kini menjadi kemerahan lagi dan dia merasa
tubuhnya kuat! "Y" Rumah tinggal Pangeran Cin Boan merupakan sebuah gedung
istana yang biarpun tidak sebesar dan semegah gedung-gedung


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

istana para pangeran yang berada di kota raja, namun untuk
227 ukuran rumah-rumah di kota Kang-cun, sudah termasuk megah
dan mewah. Hal ini tidaklah mengherankan karena Pangeran
Cin Boan merupakan seorang pangeran yang mendapat
kepercayaan dan tugas dari Kaisar Kin untuk menjadi pengawas
di perbatasan, menerima pelaporan para pejabat di daerah dan
mengeluarkan peraturan-peraturan atas nama Kerajaan Kin.
Dia terkenal sebagai seorang pejabat tinggi yang bijaksana,
tidak melakukan korupsi dan ketika pindah ke Kang-cun lima
atau enam tahun yang lalu memang sudah kaya raya. Dia
bersikap jujur dan adil, juga bertindak keras terhadap bawahan
yang melakukan penyelewengan uang pemerintah atau
penindasan terhadap rakyat jelata. Selain itu, Pangeran Cin
Boan terkenal pula sebagai seorang dermawan, suka menolong
dusun-dusun di mana rakyatnya hidup serba ke?kurangan.
Memberi banyak pertolongan kepada daerah yang dilanda banjir
kalau Sungai Yan-ce meluap. Dia pun tidak sudi disogok dan
karena dia sebagai pemimpin para pejabat di daerah
perbatasan, maka sikapnya yang adil dan keras itu membuat
para pejabat bawahannya merasa gentar untuk melakukan
penyelewengan. Benarlah kalau ada orang bijaksana mengatakan bahwa akar
penyelewengan atau korupsi dan sebagainya dalam sebuah
pemerintahan bukan berada di bawah seperti akar pohon,
melainkan berada di atas! Segala keadaan suatu pemerintahan,
menjadi baik ataupun buruk, dimulai dari atas! Kalau atasannya
kotor, sudah dapat dipastikan bahwa bawahannya juga semua
kotor karena selain atasan menjadi panutan bawahan, juga
kalau atasannya kotor tentu saja dia tidak berani menindak
bawahan yang kotor. Dalam, keadaan seperti itu semua pejabat
228 akan menjadi kotor dan pemerintah akan menjadi lemah dan
miskin karena digerogoti para pembesar. Yang makmur
hanyalah para pejabatnya!
Sebaliknya kalau atasannya bersih, bawahannya tidak berani
menyeleweng, demikian pula bawahannya lagi dan bawahannya
lagi seterusnya, para pembesar itu dari yang besar sampai yang
kecil, bekerja dengan setia, jujur dan bersih. Dalam keadaan
seperti itu, dapat dipastikan bahwa pemerintahannya menjadi
kuat, semua penghasilan dapat masuk dengan sempurna tidak
ada yang bocor di jalan sehingga pemerintah menjadi kaya.
Kalau pemerintah kaya, sudah pasti ia dapat menyejahterakan
rakyat jelata. Keadilan akan terlaksana di mana-mana. Yang
jahat akan dihukum berat, yang baik dan berjasa mendapat
tempat yang layak. Alangkah akan baha?gianya rakyat yang
hidup di bawah pemerintahan yang seperti itu! Tidak ada
penggerogotan uang pemerintah yang berasal dari rakyat, tidak
ada penindasan, tidak ada sogok dan suap yang melahirkan
ketidak-adilan. Alangkah indahnya!
Pangeran Cin Boan berusia sekitar limapuluh tahun. Seperti
semua bangsawan dan pembesar di jaman itu, Pangeran Cin
Boan selain seorang isteri juga mempunyai beberapa orang
selir. Akan tetapi dia hanya mempunyai seorang anak laki-laki
yang lahir dari isterinya. Pangeran itu bertubuh sedang,
wajahnya tampan sikapnya halus dan dia ramah terhadap siapa
saja, mulutnya selalu tersenyum namun sikap yang lembut itu
mengandung wibawa. Isterinya juga cantik dan lembut, seorang
wanita bangsawan Kin yang terpelajar, berusia empatpuluh
tahun. 229 Anak tunggal mereka itu bernama Cin Han. Dari nama ini saja
sudah tampak betapa Pangeran Cin Boan menyesuaikan diri
dengan pribumi yang dijajah Kerajaan Kin. Nama marganya Cin
dan puteranya itu diberi nama Cin Han. Pemuda berusia
duapuluh dua tahun ini tampan sekali, seperti ibunya. Seorang
pemuda yang telah lulus ujian sastra dan mendapat ijazah siucai (Sastrawan). Tampan, terpelajar, lemah lembut dan
bijaksana seperti Ayahnya sehingga siapa pun yang
mengenalnya tentu merasa kagum dan suka. Akan tetapi sudah
sejak dua tahun yang lalu Ayah Ibunya mende?sak pemuda itu
untuk menikah, dia selalu menolak.
Baru setahun yang lalu Ayahnya hendak menjodohkannya
dengan Thio Siang In yang juga terkenal dengan julukan Ang
Hwa Sian-li, Cin Han tidak menolak. Dia pernah melihat gadis itu
dan diam-diam mengaguminya. Akan tetapi, sekali ini dia yang
ditolak! Pinangan itu tidak diterima oleh Thio Ki dengan alasan bahwa
puterinya belum mau dijodohkan! Tentu saja Pangeran Cin Boan
dan isterinya kecewa sekali. Akan tetapi Cin Han yang bijaksana
dapat memaklumi penolakan Siang In.
Gadis itu sama sekali tidak mengenalnya, bahkan melihatnya
pun belum pernah. Bagi seorang gadis pendekar seperti itu,
tentu saja tidak mau di jodohkan secara "tabrakan" begitu saja.
Pemuda ini memaklumi penolakan Thio Siang In. Akan tetapi
Pendekar Bodoh 11 Keris Pusaka Dan Kuda Iblis Karya Kho Ping Hoo Jodoh Si Mata Keranjang 2
^