Pencarian

Jodoh Si Naga Langit 6

Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo Bagian 6


"Siapa bilang Can Kok gila" Dia menjadi seorang yang sakti luar
biasa, maka wataknya menjadi aneh. Akan tetapi dialah harapan
kami, Empat Datuk Besar, untuk membalaskan sakit hati kami
dan untuk itu, sudah sepatutnya kalau dia menjadi mantuku!" Kui
Tong membentak. Dia marah sekali, mukanya yang seperti
muka singa itu berubah merah, akan tetapi dia tidak berani
menentang pandang mata isterinya karena Datuk Besar yang
sesat dan kejam ini tiba-tiba menjadi lemah kalau bertemu
dengan sinar mata isterinya. Dia amat mencinta isterinya, lebih
dari apa pun di dunia ini!
"Ayah, aku tidak mau menjadi isteri Can Kok. Daripada menjadi
isteri orang gila itu, lebih baik aku mati!" Tiba-tiba Kui Leng Hwa
berkata dengan tegas. 389 "Brakkkk!!" Meja itu hancur berkeping-keping ketika Kui Tong
menghan-tamnya dengan tamparan tangannya. Dia bangkit
berdiri dan matanya mencorong karena marah, memandang
kepada puterinya. "Apa" Engkau bilang lebih baik mati" Kalau begitu matilah!" Dia
menyambar sebatang tombak dari rak, yaitu senjata andalannya
yang membuat dia disebut Bu-tek Sin-jio (Tombak Sakti Tanpa
Tanding) dan siap membunuh puterinya dengan tombak itu.
Akan tetapi tiba-tiba Nyonya Kui menghadang di depannya dan
membu-sungkan dadanya. "Langkahi mayatku dulu kalau
engkau hendak membunuh anakku!" Nyonya yang biasanya
lembut itu kini menatap wajah suaminya dengan sinar mata
bersinar-sinar. Sejenak mereka saling berpandangan. Akan
tetapi tidak lama. Kui Tong Datuk Besar yang terkenal sebagai
Singa Timur dan yang ditakuti orang-orang di dunia kang-ouw
tidak kuat bertahan beradu pandang dengan isterinya yang
lembut dan lemah itu. Dia menundukkan pandang matanya.
"Sialan!" Dia menggerutu lalu dia menancapkan tombaknya di
lantai. Tombak itu menghunjam lantai sampai setengahnya dan
dia lalu meninggalkan ruangan itu dengan muka tunduk.
"Ibu !" Leng Hwa kini menubruk dan merangkul
ibunya sambil menangis. Tadi, di depan ayahnya yang marahmarah dan yang siap membunuhnya, gadis ini tidak tampak
gentar dan sama sekali tidak menangis. Akan tetapi setelah
ayahnya pergi, ia tidak mampu menahan kesedihan hatinya dan
merangkul ibunya sambil menangis.
390 Mengagumkan sekali sikap Nyonya Kui, wanita yang lembut dan
lemah itu. Ia sama sekali tidak menangis, hanya alisnya berkerut
dan ia berkata kepada puterinya. "Sudahlah, Leng Hwa. Mari kita
bicara di dalam kamar." Ia mengajak puterinya masuk ke kamar
Leng Hwa dan keduanya duduk di tepi pembaringan.
"Nah, sekarang katakan terus terang. Engkau mati-matian
menolak kehendak Ayahmu untuk menjodohkanmu dengan Can
Kok. Sesungguhnya, apa alasannya" Apakah hanya karena Can
Kok itu seperti orang yang miring otaknya?"
"Ibu, bagaimana mungkin aku dapat menjadi isteri seorang yang
gila dan mengerikan itu" Dahulu, Can Kok memang seorang
pemuda yang baik dan sejak kecil menjadi teman baikku. Akan
tetapi setelah dia dilatih oleh Empat Datuk Besar, dia menjadi
gila dan mengerikan. Bahkan dia telah membunuh lima orang
pengawal tuli gagu dari Ayah. Dulu memang aku tidak menolak
ketika Ayah merencanakan untuk menjodohkan aku dengan Can
Kok. Akan tetapi sekarang, ah, aku tidak sudi, Ibu."
"Akan tetapi, mengapa engkau memilih mati daripada menikah
dengan dia, Leng Hwa?"
"Aku aku sudah bersumpah, lbu "
"Bersumpah?" "Ya, aku sudah bersumpah tidak akan menikah dan
kalau dipaksa lebih baik mati kalau tidak "
"Ya ?" 391 " kalau tidak dengan dia tahu " ah, Ibu tentu telah "Hemm, engkau sungguh mencinta Ho Lam itu?"
Gadis itu menjadi merah kedua pipinya dan ia mengangguk. "Dia
seorang yang amat baik, Ibu. Dia lembut, bijaksana, dan selalu
bersikap menentang kalau ada anak buah Pulau Udang
melakukan kekejaman."
Ibunya menghela napas panjang. "Ya, dia keponakanku dan dia
memang lain. Karena wataknya yang bersih dia dibenci oleh
Ayahmu dan sekiranya dia bukan keponakanku yang kulindungi,
tentu dia sudah dibunuh Ayahmu sejak dulu. Akan tetapi dia
yatim. piatu, tiada sanak kelu?arga , hanya aku satu-satunya keluarga. Aku adik Ayahnya
" "Kami sudah berjanji sehidup semati, Ibu. Aku siap hidup
sederhana dan seadanya, sebagai isterinya."
Nyonya Kui menghela napas panjang. "Aku dapat memahami
perasaanmu, Leng Hwa, dan aku tidak menyalahkanmu. Aku
bahkan setuju sepenuhnya kalau dapat berjodoh dengan Ho
Lam. Akan tetapi apakah Ho Lam juga amat mencintamu?"
"Dia sanggup mengorbankan apa saja, bahkan nyawanya
untukku, Ibu." 392 "Hemm. Ayahmu tentu akan
perjodohanmu dengan Ho Lam."
mati-matian menentang "Kami sudah mengambil keputusan bulat, ibu. Kami akan nekat
dan siap untuk mati di tangan Ayah, kalau Ayah memang tega
kepadaku." "Ayahmu pasti tega. Biarpun dia amat sayang kepadamu, namun
dia jauh lebih sayang kepada dirinya sendiri. Tidak ada jalan
lain, Leng Hwa. Engkau harus pergi bersama Ho Lam dari pulau
ini. Malam ini juga sebelum terlambat!"
"lbu !" "Sudahlah engkau harus menurut kata-kataku. Ini jalan satusatunya. Ka?lau terlambat, jangan harap engkau akan dapat
berjodoh dengan Ho Lam. Ayahmu tidak akan membunuhmu,
akan tetapi dia dapat memaksamu. Dia itu licik dan cerdik. Dia
dapat menggunakan racun untuk menjebakmu sehingga engkau
akan menyerahkan diri dengan rela kepada siapa pun yang
dikehendaki Ayahmu. Cepat berkemas! Aku sendiri yang akan
mengatur agar Ho Lam bersiap-siap dan menyediakan perahu
untuk kalian." Malam itu Pulau Udang kedatangan seorang tamu yang sudah
dikenal oleh semua anggauta Pulau Udang, dan juga ditakuti
karena tamu itu pernah membunuh lima orang pengawal Kui
Tong yang gagu dan tuli. Tamu itu bukan lain adalah Can Kok.
Para petugas jaga tidak ada yang berani menentangnya, bahkan
menyambutnya dengan hormat lalu melaporkan kedatangan itu
kepada Kui Tong. Mendengar akan kunjungan pemuda itu,
dengan girang Kui Tong keluar menyambut.
393 "Ah, engkau Can Kok" Aku girang sekali engkau pulang!" kata
datuk itu sambil tersenyum dengan wajah berseri. Dia merasa
bangga kepada Can Kok. Pemuda ini adalah keponakannya,
juga muridnya dan kini dia tahu bahwa pemuda ini telah memiliki
ilmu kepandaian hebat, lebih tinggi daripada tingkat
kepandaiannya sendiri. Sungguh membanggakan sekali untuk memamerkan Can Kok
sebagai keponakan dan muridnya!
"Paman," kata Can Kok sambil memberi hormat.
Kui Tong merasa girang bahwa kini Can Kok tidak liar lagi.
Agaknya pemuda itu telah mulai terbiasa dan dapat
mengendalikan tenaga sakti yang amat dahsyat dalam dirinya,
yang membuat dia ketika itu menjadi liar tak terkendali sehingga
mengamuk, bahkan membunuh lima orang pengawalnya di
Pulau lblis itu. Dia lalu menggandeng tangan pemuda itu.
"Mari masuk, kita bicara di dalam, Can Kok!"
Setelah duduk berdua dalam ruangan, Kui Tong segera
bertanya, "Bagaimana hasilnya usahamu mencari dan
membunuh Tiong Lee Cin-jin, Can Kok'?"
"Untuk membicarakan itulah aku datang ini, Paman. Aku belum
dapat menemukan di mana adanya Tiong Lee Cin-jin. Akan
tetapi aku telah bertemu dengan dua orang muridnya."
"Siapa mereka?"
"Mereka berjuluk Pek Hong Niocu dan Ang Hwa Sian394
li." "Ah, aku pernah mendengar nama gadis-gadis tokoh kang-ouw
itu! Hemm, jadi mereka adalah murid-murid Tiong Lee Cin-jin"
Lalu bagaimana, apakah engkau sudah menangkap atau
membunuh mereka?" Can Kok menggeleng kepalanya. "Ketika itu aku bertemu
dengan Kui Tung." "Eh" Siapa orang yang namanya mirip dengan namaku itu?"
JILID 11 11.1. Puteri Kesayangan Datuk Sesat
"Kui Tung adalah murid Suhu Lam-kai (Pengemis Selatan) Gui
Lin dan kami berdua bertanding melawan dua orang gadis murid
Tiong Lee Cin-jin. Sebetulnya kami sudah hampir dapat
menundukkan mereka ketika tiba-tiba muncul sekitar seratus
orang pasukan pemerintah. Sayang sekali, Paman. Aku tidak
berhasil menangkap atau membunuh mereka."
"Bagaimana tingkat kepandaian mereka?"
"Sudah cukup tinggi. Murid Suhu Lam-kai masih kalah setingkat
dibandingkan seorang di antara mereka. Akan tetapi aku masih
dapat mengungguli mereka kalau bertanding satu lawan satu.
Karena aku belum berhasil menemukan di mana adanya musuh
besar kita itu, Paman, maka aku datang untuk minta petunjuk
Paman. Dan pula, mengingat bahwa Tiong Lee Cin-jin
395 mempunyai murid-murid lihai, maka setelah kita mengetahui di
mana dia berada, agar jangan sampai gagal, sebaiknya Paman
dan ketiga Suhu lainnya bersama aku menyerbu agar dia dapat
kita bunuh." "Kui Tong mengangguk-angguk. "Hemm, memang Tiong Lee
Cin-jin memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Engkau
benar, Can Kok. Kita semua harus bekerja sama. Aku
mengundang See-ong (Raja Barat), Pak-sian (Dewa Utara) dan
Lam-kai (Pengemis Selatan) untuk datang dan berkumpul di sini.
Siapa tahu di antara mereka ada yang sudah dapat mengetahui
di mana adanya Tiong Lee Cin-jin. Kalau sudah diketahui tempat
tinggalnya, kita semua beramai-ramai menyerbu ke sana dan
membunuhnya. Akan tetapi Sementara itu, aku hendak
membicarakan hal yang amat penting denganmu, Can Kok."
Can Kok menatap wajah Paman tuanya. "Ada urusan apakah,
Paman?" "Begini Can Kok. Engkau sejak kecil telah ikut denganku di sini
dan kami semua sudah menganggap engkau sebagai keluarga
sendiri. Katakan, Can Kok, bagaimana pendapatmu tentang
Leng Hwa, anakku?" "Hemm, apa maksudmu Paman" Pendapatku tentang Adik Leng
Hwa" Ah, mengapa" Ia baik sekali."
"Maksudku, menurut pandanganmu, apakah ia cukup cantik
menarik?" 396 "Wah, Paman ini aneh. Tentu saja Leng Hwa cantik sekali dan
menarik. Jarang aku bertemu seorang gadis secantik Leng
Hwa!" "Dan cukup pandai?" "Pandai dan cerdik."
"Can Kok, begini maksud aku dan Bibimu. Kami ingin
menjodohkan Leng Hwa denganmu. Bagaimana pendapatmu?"
Sepasang mata itu mencorong dan terbelalak sejenak, lalu biasa
kembali. "Wah, Paman, tentu saja aku merasa girang sekali!
Memang sejak dulu aku merasa kagum kepada Adik Leng Hwa
dan alangkah senangnya kalau ia menjadi isteriku!" kata Can
Kok dan ucapannya ini saja sudah menunjukkan bahwa
sikapnya memang sudah luar biasa. Agaknya dia tidak lagi
mempunyai perasaan rikuh terhadap datuk yang menjadi
gurunya dan juga pengganti orang tuanya itu.
"Ha-ha-ha-ha!" Tung-sai Si Singa Timur tertawa bergelak dan
suara tawanya bergema di pulau itu, menggetarkan hati orang
yang mendengarnya. "Bagus! Bagus sekali!" Dia lalu bertepuk
tangan. Ini merupakan isyarat bagi para pelayan yang berada di
dalam rumah bahwa majikannya itu memanggil mereka.
Seorang pelayan wanita yang kebetulan berada di luar ruangan
itu dan mendengar panggilan ini, segera memasuki ruangan
dengan sikap hormat. "Cepat panggil Toanio (Nyonya Besar) dan Siocia (Nona) ke
sini!" perintah Tung-sai Kui Tong yang masih menyeringai tanda
gembira hatinya. 397 Tak lama kemudian terdengar langkah kaki lembut dan
muncullah Nyonya Kui, memasuki ruangan itu dengan alis
berkerut dan sinar mata menunjukkan kegelisahan.
"Mana Leng Hwa" Aku minta ia datang ke sini. Kami ingin
membicarakan urusan perjodohannya!"
Can Kok yang melihat bibinya, hanya mengangguk saja tanpa
bangkit dari kursinya. "Bibi, harap undang Adik Leng ke sini, aku
sudah merasa rindu padanya," katanya.
Nyonya Kui menekan rasa tidak senangnya dan ia, tidak
memperdulikan ucapan pemuda itu, melainkan berkata kepada
suaminya. "Leng Hwa tidak berada dalam kamarnya."
"Eh" Ke mana ia pergi?"
"Aku tidak tahu. Sejak tadi sudah kucari-cari di seluruh ruangan
dan taman, akan tetapi ia tidak ada. Dan ketika aku memeriksa
kamarnya, aku menemukan bahwa sebagian dari pakaiannya
yang baru telah tidak ada."
"Apa" Keparat! Ia minggat?" bentak Tung-sai sambil bangkit
berdiri, lalu dia melangkah lebar keluar dari ruangan itu menuju
ke kamar puterinya, diikuti oleh Can Kok yang tidak berkata apaapa.
Nyonya Kui berlari kembali ke kamarnya dan menahan
tangisnya. Setelah tiba di kamar Leng Hwa, Tung-sai menggeledah kamar
itu dengan marah-marah. Lalu dia berteriak memanggil pelayan
yang biasa melayani puterinya. Pelayan itu, seorang wanita
398

Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berusia empatpuluh tahunan, masuk dengan tubuh gemetar dan
wajah pucat. "Hayo katakan ke mana Nona pergi!" bentak Singa Timur itu.
"Saya saya tidak tahu, Tuan Besar
sejak sore tadi Nona mengeram diri dalam kamar dan melarang siapa pun memasuki
kamarnya." "Bodoh! Sejak kapan ia tidak berada di kamarnya?" Si Singa
Timur membentak. "Sa saya tidak tahu kami semua baru tahu bahwa Nona tidak berada lagi dalam kamarnya ketika Nyonya
Besar membuka pintu kamar dan ternyata Nona sudah tidak
berada dalam kamar. Kami semua mencarinya akan tetapi
Siocia (Nona) tidak dapat ditemukan."
"Keparat! Apa artinya engkau menjadi pelayan kalau begitu"
Lebih baik mampus saja!" Si Singa Timur melangkah maju dan
hendak membunuh wanita pelayan yang ketakutan dan sudah
terkulai dan berlutut saking takutnya itu.
"Jangan pukul ia!" tiba-tiba terdengar bentakan lembut dan
Nyonya Kui muncul lalu melangkah menghampiri pelayan itu,
menariknya bangun. "Pergilah ke belakang sana!" katanya,
kemudian setelah pelayan pergi wanita itu mendekati suaminya.
"Mengapa menyalahkan orang lain" Kalau anak kita pergi,
engkaulah yang menjadi biang keladinya, engkaulah
penyebabnya! Engkau memaksanya untuk menikah! Mungkin
399 kini ia telah mati membunuh diri dan engkaulah pembunuhnya!
Engkau membunuh anakku !" Nyonya itu menangis dan Si Singa Timur
berdiri bagaikan patung. Hilang semua kegalakan dan
kemarahannya, bahkan dia tertegun mendengar kemungkinan
anaknya bunuh diri. Bagaimanapun juga, datuk ini amat
mencinta puterinya. Tiba-tiba Can Kok berkata. "Paman, tidak mungkin orang
membunuh diri membawa pergi pakaian-pakaiannya!"
"Ah, benar!" Si Singa Timur seperti sadar. "Ia tidak bunuh diri,
melainkan minggat! Mari kita cari, Can Kok!"
Dua orang itu lalu berlari keluar dari rumah meninggalkan
Nyonya Kui yang kembali ke kamarnya dengan kaki gemetar. Ia
merasa khawatir sekali. Ia tadi hampir berhasil membuat
suaminya percaya bahwa anaknya membunuh diri sehingga
tidak akan melakukan pengejaran. Akan tetapi siapa kira,
pemuda gila itu yang menyadarkannya dan kini mereka mulai
mencari Leng Hwa. Ah, bagaimana kalau mereka sampai dapat
menyusul dan menemukannya"
Wanita itu gelisah sekali dan ia menjatuhkan diri menelungkup di
atas pembaringannya dan menangis terisak-isak, mengeluh dan
memohon kepada Thian (Tuhan) agar puterinya diselamatkan. Ia
yang mengatur kepergian Leng Hwa. Diaturnya sejak mulai
gelap tadi agar Leng Hwa dan Ho Lam, pemuda putera seorang
400 anggauta Pulau Udang yang sudah tua, dapat melarikan diri dari
pulau itu dalam sebuah perahu tanpa terlihat oleh siapa pun.
Tung-sai yang diikuti Can Kok mencari-cari di seluruh pulau,
bertanya kepada semua anggauta Pulau Udang. Akan tetapi tak
seorang pun mengetahui atau melihat Leng Hwa dan mereka
tidak berhasil menemukan gadis itu. Melihat majikan mereka
marah-marah mencari Leng Hwa, semua orang menjadi panik
dan ikut mencari. "Paman, aku yakin bahwa Adik Leng Hwa pasti melarikan diri
dari pulau dengan menggunakan perahu. Sebaiknya Paman
periksa apakah ada perahu yang hilang."
"Ah, engkau benar, Can Kok!" Tung-sai lalu memerintahkan
anak buahnya untuk memeriksa kalau-kalau ada perahu yang
tidak berada di pulau. Pada waktu malam, biasanya semua
perahu pasti ada di pulau. Para anak buah itu dengan gugup
melaksanakan perintah dan tak lama kemudian mereka
melaporkan bahwa ada sebuah perahu yang hilang, yaitu
perahunya Ho Lam. "Ah, tidak salah lagi, Paman. Pasti si keparat Ho Lam itu yang
melarikan Adik Leng Hwa!"
"Hmm, Ho Lam adalah keponakan isteriku. Tentu Ibunya Leng
Hwa yang merencanakan ini semua!"
Tergesa-gesa Tung-sai dan Can Kok berlari dari pantai pulau,
kembali ke rumah dan dengan kasar Singa Timur itu membuka
pintu kamarnya. Isterinya masih menelungkup di atas
pembaringan sambil menangis.
401 Tung-sai mengguncang pundak isteri?nya. Ketika wanita itu
bangkit duduk, dia berkata dengan marah.
"Tentu eng?kau yang telah menyuruh keponakanmu, si jahanam
Ho Lam itu untuk membawa minggat Leng Hwa!"
Wanita itu tiba-tiba menghentikan tangisnya, dengan muka
masih basah air mata lalu berkata dengan lantang. "Benar! Aku
yang menyuruh mereka pergi! Habis kau mau apa" Mau
membunuh aku" Bunuhlah, aku pun lebih suka mati dari pada
menderita batin sengsara menghadapi kekejamanmu!" Wanita
itu mengedikkan kepalanya dan membusungkan dadanya,
menantang. Si Singa Timur yang biasanya galak itu tertegun
melihat isterinya menantang seperti itu.
"Paman, mereka tentu belum pergi jauh. Biar aku mengejar
mereka dan membunuh jahanam Ho Lam itu dan membawa
kembali Adik Leng Hwa!" Tanpa menanti jawaban, Can Kok
sudah berkelebat keluar dari rumah itu.
"Aih, mengapa engkau melakukan ini?" Tung-sai mengeluh
sambil menatap wajah isterinya yang amat disayangnya itu.
"Mengapa" Tanyalah kepada dirimu sendiri. Anak kita itu sudah
saling mencinta dengan Ho Lam, mereka sudah bersumpah
sehidup semati. Akan tetapi engkau hendak memaksanya
berjodoh dengan Can Kok itu. Biarlah mereka berdua kabur saja
meninggalkan pulau neraka ini, terbang bebas seperti sepasang
burung merpati menuju kebebasan dan kebahagiaan. Jangan
kejar mereka! jangan ganggu mereka!"
402 Tung-sai ingin menumpahkan kemarahannya, namun seperti
biasa, menghadapi isterinya dia mati kutu.
"Keparat!" Dia memaki seperti kepada diri sendiri lalu dia pun
berkelebat lari meninggalkan isterinya yang menangis kembali di
atas pembaringannya karena hatinya merasa khawatir bukan
main me-mikirkan keselamatan puterinya.
Ketika tiba di pantai pulau, Tung-sai mendengar dari anak
buahnya bahwa Can Kok sudah sejak tadi naik perahu kecil
meninggalkan pulau. Tung-sai lalu memerintahkan pengawalpengawalnya yang gagu tuli itu mempersiapkan perahunya dan
tak lama kemudian perahunya sudah berlayar meninggalkan
pulau untuk ikut melakukan pengejaran terhadap puterinya yang
melarikan diri bersama Ho Lam, keponakan isterinya.
"Y" Pemuda itu mendayung perahu kecil dengan sekuat tenaga. Dari
cara dia mendayung, dapat diketahui bahwa pemuda itu adalah
seorang ahli dan juga memiliki tenaga besar. Perahu kecil itu
meluncur cepat di permukaan air lautan yang pada malam itu
tenang. Hulu perahu yang runcing bagaikan sebatang pedang
menusuk dan membelah air. Rambut dan kain pengikat rambut
pemuda itu berkibar tertiup angin saking lajunya perahu
meluncur. Ketika merasa betapa perahu yang meluncur semakin
kuat, pemuda itu menoleh dan dia melihat gadis yang duduk di
belakangnya itu ternyata telah menggunakan dayung cadangan
untuk membantunya mendayung perahu.
"Hwa-moi (Adik Hwa), engkau tidak perlu membantu, nanti
engkau lelah," tegurnya dengan lembut.
403 "Ah, tidak mengapa, Lam-ko (Kakak Lam). Aku juga terbiasa dan
pandai mendayung. Kita lari bersama, harus bekerja sama.
Masa engkau bersusah payah mendayung, aku hanya enakenak saja?"
"Leng Hwa, kalau Ayahmu sudah mengetahui bahwa kita berdua
melarikan diri, dia tentu akan mengejar dan akan celakalah kita."
"Aku tidak takut menghadapi segala akibatnya, Lam-ko. Apakah
engkau takut?" "Aku tidak mengkhawatirkan diriku sendiri, untukmu aku rela
mengorbankan nyawa sekalipun! Akan tetapi aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Hwa-moi."
"Mengapa khawatir, Koko" Apa pun yang terjadi, kita hadapi
berdua. Kalau kita harus mati, kita mati berdua! Syukur kalau
Thian melindungi kita sehingga kita dapat hidup berdua
selamanya." "Terima kasih, Moi-moi
kini aku tidak khawatir lagi. Aku berbahagia sekali dan akan selalu berbahagia selama
aku bersamamu, hidup ataupun mati."
Kini mereka tidak bicara lagi, melainkan mengerahkan seluruh
tenaga dan perhatian untuk mendayung perahu itu ke daratan
sana. Sinar lampu kecil-kecil di daratan itu seolah menggapaigapai agar mereka datang lebih cepat ke sana. Dua orang muda
ini memang sudah cukup lama menjalin cinta. Mereka bergaul
sejak kecil di pulau itu dan setelah mulai dewasa, mereka saling
404 tertarik dan akhirnya saling jatuh cinta. Akan tetapi, mereka
adalah sepasang orang muda yang patut dijadikan tauladan.
Mereka saling mencinta sepenuh hati, merasa kehilangan dan
rindu kalau tidak bertemu sehari saja. Akan tetapi keduanya
dapat menjaga diri, saling menghormati dan menghargai.
Mereka saling menjaga ke-hormatan masing-masing, tidak mau
membiarkan diri terseret oleh nafsu berahi. Mereka yakin benar
bahwa menjaga kesusilaan dan kehormatan masing-masing
sebelum menikah itu merupakan modal batin yang paling
berharga dan indah untuk membangun rumah tangga kelak.
Nafsu berahi, seperti nafsu-nafsu lain, bukanlah sesuatu yang
buruk, bahkan semua nafsu merupakan anugerah dari Tuhan
yang sudah diikutkan manusia sejak dia lahir. Akan tetapi, kalau
nafsu berahi yang membawa kepada hubungan badan itu
dilakukan oleh mereka yang bukan suami isteri, maka hubungan
itu menjadi kotor dan mencemarkan cinta itu sendiri. Akan tetapi,
kalau suami isteri yang melakukan, maka hal itu bukan saja
wajar, bahkan indah dan bersih dari dosa. Malah dapat
dikatakan bahwa hubungan suami isteri tanpa nafsu berahi,
adalah tidak mungkin. Sebaliknya hubungan berahi kalau
dilakukan oleh bukan suami isteri, adalah kotor dan berdosa!
Cinta kasih yang mengikat hati Ho Lam dan Leng Hwa murni
dan bersih dan semua ini berkat pendidikan Nyonya Kui Tong
yang memiliki budi pekerti baik, sama sekali berbeda dari
suaminya, datuk Si Singa Timur yang kejam itu. Nyonya Kui
mendidik puterinya sejak kecil, juga ia mendidik Ho Lam yang
menjadi keponakannya itu dengan budi pekerti baik sehingga
kedua orang muda itu memiliki batin yang kuat untuk
405 mengekang gairah nafsu mereka sendiri dan
membedakan mana cinta dan mana pula cinta berahi.
dapat Dapat dibayangkan betapa lega rasa hati mereka ketika akhirnya
perahu mereka tiba di pantai daratan. Bulan sepotong tersenyum
di langit cerah. Dua orang nelayan setengah tua yang sedang
bersiap-siap untuk keperluan mencari ikan pagi nanti,
menghampiri perahu mereka karena tadinya mereka mengira
bahwa perahu kecil yang mendarat itu adalah perahu rekan
mereka yang mencari ikan di waktu malam. Akan tetapi mereka
terheran-heran ketika tiba dekat mereka melihat seorang
pemuda dan seorang gadis cantik yang turun dari perahu, sama
sekali bukan nelayan! Sepasang orang muda itu pun tidak
membawa ikan hasil tangkapan, atau jala dan pancing,
melainkan membawa dua buntalan pakaian seperti orang yang
sedang melakukan perjalanan.
"Selamat malam, Paman berdua," sapa Ho Lam dengan sopan
dan ramah. "Selamat malam, Kongcu (Tuan Muda) dan Siocia (Nona).
Sungguh kami merasa heran sekali. Ji-wi (kalian berdua) datang
dari mana dan hendak ke manakah malam-malam begini?"
tanya seorang di antara mereka yang bertubuh jangkung kurus.
Tiba-tiba Ho Lam mendapat suatu gagasan yang dia anggap
baik dan dapat menyelamatkan mereka berdua.
"Paman berdua, maukah kalian menolong kami yang sedang
menderita dan terancam bahaya?"
406 Dua orang laki-laki setengah tua itu saling berpandangan, lalu
yang bertubuh pendek gendut menjawab. "Sudah menjadi
kebiasaan para nelayan untuk saling menolong, Kongcu. Bahaya
apakah yang mengancam Ji-wi (Anda berdua) dan bagaimana
pula kami dapat menolong kalian?"
"Begini, Paman. Aku dan
isteriku ini sedang melarikan diri karena terancam akan dibunuh orang jahat yang
mengejar kami. Karena itu, kami minta tolong kepada kalian,
apabila nanti atau besok atau kapan saja ada orang yang datang
bertanya kepada kalian tentang diri kami berdua, harap Paman
suka mengatakan bahwa Paman berdua tidak tahu dan tidak
melihat kami. Maukah Paman berdua menolong kami begitu"
Kami akan memberi imbalan atas pertolongan Paman berdua."
11.2. Kesadisan Ponakan Si Singa Timur
"Aih, kalau cuma begitu tentu saja kami akan menolong Ji-wi,
Kongcu dan Siocia. Sama sekali kami tidak mengharapkan
imbalan karena kami tidak melakukan apa-apa, hanya
mengatakan tidak tahu dan tidak melihat Ji-wi. Jangan khawatir,
Kongcu, kami pasti akan ingat dan melaksanakan pesanmu ini,"
kata yang jangkung kurus.
Ho Lam dan Leng Hwa girang bukan main mendengar jawaban
ini. "Benarkah Paman mau menolong kami?" tanya Leng Hwa.
"Paman betul-betul berjanji akan mengatakan tidak melihat
kami?" 407 Orang tinggi kurus itu mengangguk mantap. "Tentu, Siocia. Kami
berjanji." "Terima kasih, Paman," kata kedua orang muda itu. "Nah, kami
akan melanjutkan perjalanan kami dan perahu kami ini kami


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berikan kepada Paman berdua."
Dua orang nelayan itu terbelalak "Wah, kami sungguh tidak
minta imbalan, Kongcu!" kata yang jangkung.
"Ini bukan imbalan, Paman. Kami memang tidak memerlukan
lagi, maka kami berikan kepada Paman agar dapat
dipergunakan untuk menangkap ikan. Kami mohon diri, Paman!"
kata Ho Lam dan dia lalu menggandeng tangan Leng Hwa dan
diajaknya melangkah cepat meninggalkan tempat itu.
Ho Lam cukup cerdik untuk tidak mengambil jalan melalui jalan
umum yang terdapat di situ. Dia membelok ke kiri menyusuri
pantai menuju ke arah selatan. Dua orang nelayan itu berdiri
bengong sambil mengikuti bayangan dua orang muda itu dengan
pandang mata sampai bayangan itu lenyap ditelan cuaca yang
masih remang-remang gelap karena matahari agak jauh di ufuk
timur, masih terbenam kaki langit di ujung lautan.
Tentu saja dua orang nelayan itu girang bukan main. Mereka
merasa seolah menerima harta karun. Perahu bagi mereka
merupakan modal untuk mencari ikan. Biasanya, mereka yang
tidak mempunyai perahu hanya menjala atau memancing ikan di
tepi, memasuki lautan sampai sedalam pinggang. Kini, dengan
adanya perahu mereka bisa mencari ikan ke tengah lautan dan
hasilnya tentu jauh lebih banyak. Apalagi perahu itu masih baik
sekali keadaannya. Mereka merasa seperti bermimpi. Dan untuk
408 mendapatkan perahu itu mereka hanya disu?ruh tutup mulut.
Betapa mudahnya dan betapa besar imbalannya!
Akan tetapi, kegirangan hati mereka itu ternyata tidak bertahan
lama. Setelah matahari muncul sebagai bola merah yang amat
besar di permukaan air laut sebelah timur, dan selagi kedua
orang itu hendak mulai dengan kehidupan baru sebagai nelayan
berperahu tiba-tiba sebuah perahu meluncur ke tepi dan Can
Kok melompat ke darat lalu menarik perahunya ke atas pantai.
Dia melihat dua orang nelayan yang sedang siap menyeret
perahu ke air dan sebagai seorang yang sejak kecil hidup di
Pulau Udang, tentu saja dia segera mengenal perahu dua orang
nelayan setengah tua itu. Itu adalah perahu Pulau Udang! Maka
cepat dia menghampiri dua orang itu.
Melihat seorang pemuda tampan berpakaian mewah
menghampiri mereka, dua orang nelayan itu memandangnya
dan Si Gemuk Pendek segera memberi salam.
"Selamat pagi, Kongcu."
Akan tetapi Can Kok tidak menjawab salam itu dan mengamati
perahu mereka. "Hei!" Dia membentak. "Dari mana kalian
mendapatkan perahu itu?"
"Dari dari " Si Gemuk tergagap.
"Kongcu, ini adalah perahu milik kami sendiri," Si Jangkung
menjawab tenang. "Jangan bohong! Tentu ada dua orang yang memberi perahu ini
kepada kalian!" 409 "Kami kami " Si Gemuk tergagap lagi.
"Terus terang saja, Kongcu. Kami menemukan perahu ini di tepi
laut, tidak ada yang punya, maka kami lalu mengambilnya," kata
Si Jangkung. "Tidak perlu bohong! Kalian tentu melihat pemuda dan gadis
yang naik perahu ini! Hayo katakan, di mana mereka itu
sekarang!" "Kami tidak melihat mereka, Kongcu. Kami tidak
tahu " kata pula Si Jangkung.
"Hayo katakan di mana mereka! Atau kalian ingin kupukul"
Kubunuh?" Can Kok membentak dan sekali tangannya bergerak
ke arah perahu itu terdengar suara seperti ledakan keras.
"Brakkkk!" Dan perahu itu pecah berkeping-keping.
Dua orang nelayan itu menjadi pucat dan tubuh Si Gemuk
gemetar. "Sekali lagi, katakan di mana pemuda dan gadis itu berada atau
ke mana mereka pergi! Kalau tidak, kalian akan kubunuh!"
"Mereka mereka......" "A Sam, diam kau! Kita adalah orang-orang miskin, tidak
mempunyai apa-apa, yang ada hanya kehormatan! Kalau kita
melanggar janji, berarti kehormatan pun kita tidak punya!" Si
Jangkung membentak kawannya.
410 "Mampus kau!" Can Kok menggerakkan tangan kirinya.
Tangannya itu tidak menyentuh si nelayan jangkung karena
jaraknya ada dua meter lebih, akan tetapi tubuh Si Jangkung
terpelanting seperti disambar kilat dan dia roboh, tewas seketika
dengan muka berubah kehitaman!
Melihat ini, Si Gendut menggigil seperti orang terserang penyakit
demam dan kedua lututnya menjadi lemas sehingga dia terkulai
dan berlutut. "Kau! Hayo katakan ke mana pemuda dan gadis itu pergi!" Can
Kok membentak. Si Gemuk Pendek semakin menggigil; "Saya
saya tidak berani " Can Kok menggerakkan tangannya dan telunjuknya menotok
tengkuk nelayan gemuk. Nelayan itu roboh dan bergulingan, merintih-rintih dan
mengaduh-aduh, seluruh tubuhnya terasa nyeri bukan main,
seperti ditusuk-tusuk dari dalam.
"Aduh , ampun ampun aduh " "Katakan ke mana mereka!"
Dengan menggigil ketakutan, Si
telunjuknya ke arah selatan. "Mereka
mereka tadi berjalan ke arah sana
Gemuk menudingkan " 411 "Engkau tidak berbohong?"
"Tidak, sungguh mati
mereka berjalan ke arah sana
" "Baik, aku akan mengejar ke sana. Kalau engkau ternyata
berbohong, nanti aku akan kembali untuk mencabut nyawamu!"
Setelah berkata demikian, Can Kok lalu berkelebat dan berlari
cepat menuju ke arah yang ditunjukkan nelayan gemuk, ke arah
selatan. Nelayan gemuk itu merintih-rintih dan ketika dia memandang ke
arah mayat temannya, dia mengerang dan menangis. Dia
menoleh ke arah perahu pemberian yang kini hancur berkepingkeping dan rintihannya semakin keras. Dia menangis
mengguguk. Betapa rasa senang dalam waktu sebentar saja kini
berubah menjadi rasa susah dan sakit. Dia mencoba untuk
bangkit berdiri, akan tetapi terkulai kembali karena rasa nyeri
yang tak tertahankan. Dia ingin kembali ke kampung, minta
pertolongan penduduk, akan tetapi dia tidak mampu bangkit
berdiri. Dia mencoba maju sambil merangkak-rangkak dan
hatinya penuh penyesalan.
Sahabatnya Si Jangkung itu jauh lebih baik nasibnya, pikirnya
penuh penyesalan. Sahabatnya itu mempertahankan kesetiaan
akan janjinya sampai mati dan kini sudah mati, tidak menderita
lagi dan mati sebagai seorang terhormat!
Akan tetapi dia" Dia telah melanggar janji, dia kehilangan
kehormatannya dan kini menderita kesakitan yang lebih hebat
deritanya daripada kematian sendiri! Sambil menangis seperti
anak kecil nelayan gemuk itu merangkak dengan susah payah.
412 Tiba-tiba sebuah bentakan yang menggetarkan tanah di mana
dia merangkak, mengejutkan hatinya.
"Hai! Katakan di mana dua orang pelarian dan pengejarnya tadi!"
Nelayan gemuk berhenti merangkak, berlutut dan mengangkat
mukanya. Dia melihat Tung-sai Singa Timur itu berdiri seperti
seorang raksasa di depannya, tangan kanan memegang
sebatang tombak, menyeramkan sekali. Biarpun dia tidak tahu
apa yang terjadi dan siapa orang-orang yang ditanyakan, namun
dia dapat menduga bahwa tentu yang ditanyakan adalah
pemuda dan gadis pemberi perahu, lalu pemuda pengejarnya
tadi. "Mereka mereka ke sana " Dia menuding ke selatan. Tung-sai Kui Tong menendang dan tubuh Si Gemuk itu
terlempar jauh lalu jatuh berdebuk ke atas tanah. Akan tetapi dia
tidak mengeluh dan tidak merasa nyeri. Dia sudah tidak
merasakan apa-apa karena tendangan itu membuat dia tewas
seketika! Setelah memberi isyarat kepada sepuluh orang pengawalnya
untuk menunggu di situ, kemudian dia pun berlari cepat ke arah
selatan, menyusuri pantai.
"Y" "Lam-ko, aku lelah sekali !" Leng Hwa mengeluh.
413 Biarpun ia juga telah menguasai ilmu silat dan tubuhnya cukup
kuat, namun ia tidak pernah berlari-larian sampai sejauh dan
selama itu. Sejak malam tadi, setelah memberikan perahu kepada dua
orang nelayan, Ho Lam mengajak ia berlari-lari menyusuri pantai
menuju ke selatan. Ketika ada gunung karang menghalang
pantai, kekasihnya mengajak ia melanjutkan pelarian mereka
mendaki bukit karang yang keras, kasar dan tajam meruncing
sehingga sepatunya terobek dan telapak kedua kakinya terasa
nyeri. Mereka berlari sampai matahari naik tinggi dan hawa
udara mulai panas. "Baiklah, Hwa-moi. Kasihan sekali engkau! Lihat, di atas sana
ada guha. Kita beristirahat di sana melepas lelah."
Mereka berdua mendaki bukit itu ke atas dan tiba di depan
sebuah guha yang cukup luas. Kebetulan sekali lantai guha itu
kering dan rata. Leng Hwa segera menjatuhkan diri duduk di
dalam guha, menjulurkan kedua kakinya dan memijati paha dan
betisnya. Ho Lam duduk di dekatnya, memandang ke arah sepatu yang
pecah-pecah itu. "Aduh, kasihan kedua kakimu, Moi-moi.
Bukalah sepatunya. Akan kuperiksa apakah kedua kakimu lecet
terluka. Aku membawa obat luka."
Setelah gadis itu mengangguk, dengan hati-hati dan sopan Ho
Lam membantu gadis itu membuka kedua sepatunya. Kedua
kaki yang berkulit putih halus itu kemerah-merahan, akan tetapi
tidak terluka parah, hanya lecet-lecet sedikit. Dengan hati-hati
414 Ho Lam mengoleskan obat luka pada bagian yang lecet-lecet itu,
lalu membantu Leng Hwa mengenakan sepatunya kembali.
"Aku haus, Lam-ko."
"Untung aku telah siap tadi dan membawa seguci air dan roti
daging (bak-pauw) untuk menahan haus dan lapar," kata Ho
Lam dan dia mengambil makanan dan minuman itu dari buntalan
pakaiannya. "Aku tidak lapar, hanya haus, Koko." Leng Hwa lalu minum air
dari guci itu dan merasa segar.
"Lam-ko, kita akan pergi ke mana?"
"Rencanaku begini, Hwa-moi. Kita pergi dulu ke kota Cin-le yang
sehari perjalanan dari sini. Kalau kita berjalan agak cepat, sore
atau paling lambat malam nanti kita akan tiba di sana. Nah, di
Cin-le nanti kubeli dua ekor kuda dan kita melanjutkan
perjalanan dengan menunggang kuda agar lebih cepat dan tidak
terlalu melelahkan."
"Pergunakan perhiasanku untuk membeli kuda, Lam-ko. Aku
membawa perhiasan pemberian Ibu di dalam buntalan ini."
"Aku juga membawa semua hasil tabunganku, Hwa-moi. Kalau
nanti kurang, baru menggunakan perhiasanmu."
"Akan tetapi ke mana kita akan pergi, Koko?"
415 "Hwa-moi, kita harus pergi sejauh mungkin dari sini, mengganti
nama dan tinggal di sebuah dusun yang terpencil. Kita harus
bersembunyi sampai beberapa tahun lamanya karena kalau
tidak, kita akan dapat ditemukan Ayahmu. Engkau, mau bukan,
hidup di tempat sunyi dalam keadaan melarat sebagai petani
sederhana?" Leng Hwa menatap wajah kekasihnya dengan penuh
kepasrahan dan menjawab, "Mengapa engkau masih bertanya
lagi, Koko" Apakah engkau belum percaya akan kesetiaanku"
Aku dengan senang hati akan menemanimu, hidup bersamamu
di manapun juga dan dalam keadaan apa pun juga."
"Moi-moi !" Ho Lam merangkul dan mendekap
kepala gadis itu ke dadanya.
"Aku rela berkorban nyawa untukmu! Aku cinta padamu, Hwamoi!"
"Aku juga, Lam-ko," kata Leng Hwa lirih dan memejamkan mata
dalam dekapan kekasihnya itu, merasa sangat berbahagia.
"Lam-ko, kita beristirahat dulu di sini sampai kedua kakiku
sembuh dari rasa pegal dan lelah, ya?"
"Baiklah, Hwa-moi. Akan tetapi jangan terlalu lama. Aku khawatir
Ayahmu dapat menyusul kita."
"Kalau hal itu terjadi, aku tidak takut, Lam-ko. Aku siap mati
bersamamu." 416 "Hwa-moi...!" Ho Lam mempererat dekapannya dengan hati
penuh kasih sayang dan beberapa lamanya keduanya diam tak
bergerak dalam suasana mesra itu.
Mungkin saking lelah dan semalam suntuk tidak tidur, ditambah
kelegaan hati dalam dekapan kekasihnya setelah mengalami
ketegangan dan kegelisahan semalam, tak lama kemudian Leng
Hwa tertidur dalam dekapan, bersandar di dada Ho Lam. Melihat
ini, Ho Lam tidak tega untuk membangunkan kekasihnya dan dia
bahkan tidak mau membuat gerakan agar Leng Hwa dapat tidur
dengan pulas. Akan tetapi hati Ho Lam mulai merasa khawatir juga setelah
lewat tiga jam Leng Hwa belum juga bangun. Matahari sudah
mulai condong ke barat. Akan tetapi untuk membangunkan
kekasihnya, dia tidak tega.
Tiba-tiba Ho Lam tersentak kaget dan matanya terbelalak
memandang kepada Can Kok yang tahu-tahu telah berdiri di
depan guha! Can Kok memandang dengan matanya yang


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mencorong aneh dan bibirnya tersenyum sinis. Karena Ho Lam
tersentak kaget Leng Hwa terbangun. Begitu membuka matanya
ia juga melihat Can Kok dan cepat gadis itu melompat dan
bangkit berdiri. "Can Kok, mau apa engkau menyusul kami?" Leng Hwa
membentak dan dalam kemarahan dan kebencian ia menyebut
nama Can Kok begitu saja, padahal dulu ia akrab dengan
pemuda itu dan menyebutnya kakak.
"Adik Leng Hwa yang manis, aku diutus Paman Kui Tong untuk
membawamu pulang ke Pulau Udang dan membunuh tikus
417 busuk ini!" Can Kok menudingkan telunjuknya ke arah muka Ho
Lam yang juga sudah berdiri di dekat Leng Hwa dengan sikap
melindungi kekasihnya itu.
"Suheng (Kakak Seperguruan) Can Kok, di antara kita ada
pertalian persaudaraan seperguruan dan hubungan antara kita
sejak dulu baik. Apakah engkau tidak merasa kasihan kepada
kami berdua" Kami saling mencinta dan kami telah bersumpah
untuk sehidup semati. Biarkan kami pergi, Suheng, dan kami
tidak akan melupakan budi kebaikanmu ini."
Can Kok tertawa. Tawanya aneh, bergelak namun terdengar
mengguguk seperti tangis! Ini menunjukkan bahwa hatinya
dibakar kemarahan. "Ha-ha-hu-hu-huk! Engkau telah berkhianat terhadap Paman,
engkau harus mati di tanganku. Adik Leng Hwa ini adalah calon
isteriku dan engkau berani membawa lari, keparat!"
"Can Kok, aku tidak sudi menjadi isterimu. Lebih baik mati
daripada menjadi isteri seorang gila seperti engkau!" Leng Hwa
berteriak dengan marah dan nekat.
"Can-suheng, kami tidak ingin bermusuhan denganmu. Kuharap
engkau suka meninggalkan kami, kalau tidak kami terpaksa
akan melawan mati-matian!" kata Ho Lam yang tahu bahwa tidak
mungkin meloloskan diri dari ancaman Can Kok.
"Hemm, tikus busuk, mampuslah!" Can Kok membentak dan
menyerang ke depan dengan dorongan tangan kanan ke arah
Ho Lam. 418 Melihat Can Kok menyerang kekasihnya, Leng Hwa melompat
ke depan menyambut serangan jarak jauh itu dengan kedua
tangannya, melindungi Ho Lam.
"Wuuuttt desss !" Tubuh Leng Hwa terpental
dan jatuh terjengkang. "Jahanam!" Ho Lam marah sekali melihat kekasihnya roboh. Dia
sudah mencabut pedangnya dan menerjang Can Kok dengan
nekat. Gerakannya cukup kuat dan cepat. Namun, dibandingkan
dengan Can Kok, kekuatannya itu tidak ada artinya sama sekali.
Can Kok tidak mengelak, akan tetapi ketika pedang itu sudah
meluncur dekat hendak menusuk dadanya, tangan kanannya
menyambar dan tahu-tahu pedang itu telah ditangkapnya. Sekali
renggut pedang itu pun pindah tangan. Ho Lam terkejut, akan
tetapi Can Kfok sudah menggerakkan tangannya yang
menangkap pedang itu dan sekali sentakan, pedang itu
membalik dan meluncur seperti anak panah cepatnya ke arah
dada Ho Lam! Ho Lam tidak sempat lagi menghindar.
"Capppp !!" Pedang itu menancap tepat di tengah
dada Ho Lam. Pemuda itu terhuyung ke belakang dan roboh
telentang. Leng Hwa yang tadi hanya terjengkang dan kini sudah bangkit
berdiri, terbelalak melihat kekasihnya roboh dengan dada
ditembusi pedang. 419 "Iblis jahat, kau kaubunuh Lam-ko !" Sambil
menangis Leng Hwa lalu menyerang Can` Kok dengan
pedangnya. Akan tetapi sekali mengibaskan tangannya, pedang itu terlepas
dari tangan Leng Hwa dan sebelum gadis itu dapat menyerang
lagi, Can Kok sudah memeIuknya dan ia tidak mampu bergerak.
Can Kok tertawa dan menciumi muka Leng Hwa yang merontaronta.
"Heh-heh, engkau mencinta tikus ini, ya" Nah, biarlah sebelum
mampus tikus ini melihat betapa engkau bermesraan dengan
aku!" Can Kok duduk dekat Ho Lam yang belum tewas, yang telentang
dengan mata terbelalak dan pedang menancap di dada. Leng
Hwa meronta-ronta, akan tetapi Can Kok merobek bajunya dan
sengaja hendak pamer mempermainkan gadis itu di depan Ho
Lam yang masih belum mati.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara orang menegur.
"Sungguh perbuatan yang terkutuk dan biadab! Engkau ini iblis
berwajah manusia!" Berbareng dengan teguran itu, ada angin menyambar ke arah
Can Kok. Can Kok melepaskan tubuh Leng Hwa yang bajunya
telah robek, lalu menangkis ke arah angin yang menyambar dari
sebelah kanan. "Wuuuttt desss!!" Can Kok terkejut bukan main
420 dan berseru keras sambil melompat jauh ke belakang ketika dia
merasa betapa tangkisannya bertemu dengan hawa yang amat
kuat sehingga lengannya tergetar.
Mereka saling pandang dengan sinar mata mencorong. Yang
menyerang Can Kok tadi bukan lain adalah Souw Thian Liong!
Seperti kita ketahui, Thian Liong berkunjung ke dusun Kiancung dekat Telaga See-ouw untuk mengunjungi rumah Han Si
Tiong. Di sana dia mendengar bahwa Han Si Tiong telah tewas
ketika diserang dua orang muda dan bahwa Han Bi Lan telah
pulang kemudian bersama ibunya meninggalkan Kian-cung
menuju ke kota raja. Dia menduga bahwa ibu dan anak itu tentu
pergi ke rumah Panglima Kwee di kota raja karena Han Bi Lan
hendak dijodohkan dengan Kwee Cun Ki, putera Panglima
Kwee. Setelah bersembahyang di kuburan Han Si Tiong, Thian
Liong lalu melanjutkan perantauannya. Kebetulan dia tiba di
bukit dekat pantai itu dan melihat Can Kok hendak memperkosa
seorang gadis di depan seorang pemuda yang sudah hampir
mati. Dia mendengar ucapan Can Kok dan menjadi marah lalu
menyerang pemuda gila itu.
Kini mereka saling berhadapan dalam jarak sekitar tiga tombak.
Thian Liong segera mengenal pemuda yang menjadi murid
Empat Datuk Besar seperti dilihatnya di Pulau lblis dahulu.
Sebaliknya, Can Kok tidak mengenalnya dan Can Kok marah
bukan main melihat ada orang berani menghalanginya.
"Keparat, siapa engkau berani mencampuri urusanku?" bentak
Can Kok. Kalau saja yang berbuat itu orang lain, tentu dia sudah
turun tangan membunuhnya. Akan tetapi, dari tangkisannya tadi,
421 dia tahu bahwa pemuda sederhana di depannya ini seorang
yang memiliki kepandaian tinggi, maka dia ingin mengetahui
siapa orang ini. "Can Kok, aku bernama Souw Thian Liong." "Hemm, engkau
mengenal namaku?" "Tentu saja, engkau Can Kok murid Empat Datuk Besar dan
engkau telah menguasai ilmu yang amat tinggi. Hanya sayang
seribu sayang, ilmu yang tinggi itu kini diperalat iblis yang
menguasai dirimu!" 11.3. Rencana Keroyokan Para Iblis
Tiba-tiba terdengar jerit tangis. Dua orang pemuda itu menengok
ke arah Leng Hwa. Tadi perhatian mereka sepenuhnya
diarahkan kepada lawan sehingga tidak memperhatikan Leng
Hwa. Gadis itu juga tidak memperdulikan mereka, melainkan lari
menubruk tubuh Ho Lam yang masih telentang hampir mati
dengan mata masih terbuka. Mata pemuda itu basah dan dua
butir air mata bergulir turun ke atas pipinya ketika dia
memandang Leng Hwa. " Hwa "Lam-ko Hwa-moi " kedua mata itu terpejam.
tidak engkau tidak boleh mati
sendiri!" Leng Hwa lalu menggunakan kedua tangannya untuk
mencabut pedang yang menancap di dada Ho Lam. Darah
muncrat dari dada Ho Lam. Leng Hwa menjerit ketika melihat
muncratnya darah itu dan ia pun lalu menusukkan pedang itu ke
dadanya sendiri sampai tembus lalu terkulai, dan roboh di atas
422 dada Ho Lam. Darah muncrat-muncrat dari dua dada sepasang
kekasih itu, bercampur dan membasahi tubuh mereka yang
perlahan-lahan menghembuskan napas terakhir.
Thian Liong merasa ngeri dan terharu, juga menyesal bahwa dia
tidak mampu mencegah hal itu terjadi. Dia kini memandang lagi
kepada Can Kok, pandang matanya tajam penuh teguran.
"Can Kok, lihat itu korban dari kekejianmu! Kamu bukan
manusia, melainkan iblis jahat yang harus dibasmi dari
permukaan bumi ini!"
"Ha-ha-ha-hu-hu-huk!" Can Kok tertawa seperti tangis
mengguguk karena marahnya. "Souw Thian Liong bocah
sombong. Engkaulah yang akan mampus menemani mereka
berdua! Haaiiiiikkkk!" Can Kok sudah menyerang dengan amat
dahsyatnya. Tangan kirinya yang terbuka menampar dan dari
telapak tangannya itu keluar hawa pukulan yang panas dan
telapak tangannya berubah menjadi kemerahan. Inilah Ang-seeciang (Tangan Pasir Merah), ilmu andalan dari Lam-kai Gui Lin,
Pengemis Selatan itu. Akan tetapi Thian Liong yang sudah tahu akan kelihaian Can
Kok, dapat mengelak dengan gesit dan dari samping, tangan
kirinya membalas dengan tamparan yang mengandung hawa
sakti yang kuat pula. Namun Can Kok dapat pula mengelak.
Can Kok yang juga sudah menduga bahwa lawannya ini tidak
seperti para lawan yang pernah dihadapinya, melainkan memiliki
kesaktian, kini bersilat dengan gerakan yang amat aneh dan
423 setiap gerakan kedua tangan dan kakinya membawa hawa
pukulan yang dahsyat. Inilah ilmu silat gabungan dari ilmu-ilmu
Empat Datuk Besar menjadi satu. Aneh, dahsyat dan berbahaya
karena setiap sambaran tangan atau kaki itu merupakan
serangan maut! Bukan saja serangan-serangannya itu kuat,
namun juga mengandung hawa beracun yang jahat.
Thian Liong bersilat dengan tenang dan hati-hati sekali. Ketika
dia mengintai di Pulau Iblis dan melihat Can Kok, dia sudah tahu
bahwa pemuda yang dipersiapkan oleh Empat Datuk Besar
untuk membunuh Gurunya, Tiong Lee Cin-jin ini merupakan
lawannya yang paling kuat dan berbahaya. Maka kini setelah
tanpa disengaja mereka saling bertemu dan bertanding, dia
bersilat dengan hati-hati sekali. Dia mengerahkan seluruh sinkang (tenaga sakti) dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling
ampuh untuk mengimbangi serangan lawan dengan serangan
balasan yang tidak kalah dahsyatnya.
"Haaaaiiikkk !"
"Hyaaaattt blaarrr !" Untuk kesekian kalinya
dua tenaga sakti bertemu di udara dan keduanya terdorong ke
belakang. Bahkan dalam hal tenaga sakti, kekuatan mereka
seimbang. Hanya ada sebuah perbedaan yang jauh dalam pertandingan
hebat tanpa saksi ini karena dua orang yang berada di situ, Ho
Lam dan Kui Leng Hwa, telah menjadi mayat. Perbedaan itu
adalah bahwa kalau Can Kok mengerahkan seluruh
kemampuannya untuk menyerang dengan maksud membunuh,
sebaliknya Thian Liong sama sekali tidak mempunyai niat untuk
424 membunuh. Dia hanya ingin merobohkan dan menaklukkan
lawannya saja, tidak pernah mau menggunakan serangan maut.
Ketika mereka terdorong ke belakang sehingga mereka berpisah
dalam jarak lima-enam tombak, sebelum mereka bergerak
menerjang lagi, tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring
sehingga menggetarkan seluruh tempat itu. Suara gerengan
seperti auman singa! Dua orang pemuda itu sudah mengenal suara ini, suara yang
dikeluarkan dengan ilmu Sai-cu Ho-kang (Suara Sakti Auman
Singa) dari Tung-sai Kui Tong! Kalau Thian Liong yang
mendengar ini menjadi terkejut dan gentar, sebaliknya Can Kok
merasa girang sekali. Lawannya amat kuat dan munculnya
Singa Timur itu tentu saja akan memudahkan dia membunuh
Souw Thian Liong. Si Naga Langit ini sebaliknya maklum bahwa dia tidak akan
mungkin dapat menandingi pengeroyokan Can Kok dan Singa
Timur. Apalagi kini tidak ada pula yang harus ditolong. Sepasang
muda-mudi itu telah tewas dan dia tidak dapat melakukan apaapa lagi. Maka begitu mendengar auman yang menggetarkan
itu, Thian Liong segera melompat dan berkelebat pergi dari situ.
Can Kok ragu untuk mengejar seorang diri.
Si Singa Timur muncul dengan tombak di tangan kanannya.
"Paman, mari kita kejar Souw Thian Liong!" kata Can Kok
dengan girang. Kalau mereka mengejar berdua, besar
kemungkinan mereka akan dapat membunuh lawan yang berat
itu. 425 Akan tetapi Tung-sai tidak menjawab. Dia malah melangkah
menghampiri dua tubuh yang bertumpuk di depan guha dan
mandi darah itu. Ketika mendapat kenyataan bahwa tubuh yang
menindih tubuh lain dan yang mandi darah dan sudah tewas itu
adalah Kui Leng Hwa, wajahnya yang merah berubah pucat.
"Tidak !" Tung-sai Kui Tong menancapkan
tombaknya di atas tanah lalu dia berlutut dekat dua tubuh yang
tumpang tindih itu. Dia membalikkan tubuh Leng Hwa yang
tertelungkup seolah masih tidak percaya bahwa yang mati itu
adalah puterinya. Ketika wajah Leng Hwa tampak Tung-sai
mendekap mukanya dengan kedua tangannya.
"Tidak ! Leng Hwa...... ah, anakku !" Tiba-tiba
Singa Timur ini bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya
mengha?dapi Can Kok. Wajahnya tampak menyeramkan sekali,
matanya mencorong seperti mata seekor singa yang marah.
"Siapa membunuh anakku?" bentaknya.
"Paman, aku berhasil membunuh Ho Lam. Akan tetapi pada saat
itu muncul jahanam itu dan kami berkelahi sehingga aku tidak
sempat mencegah Adik Leng Hwa membunuh diri."
"Bunuh diri?" Kembali Singa Timur menoleh dan memandang ke
arah jenazah puterinya. Pedang itu masih menancap di dada
Leng Hwa. Kini dia maklum. Ho Lam terbunuh dan puterinya itu,
membela kekasihnya dengan membunuh diri! Tiba-tiba


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kemarahannya ditum?pahkan kepada Ho Lam.
426 Tung-sai menyambar jenazah puterinya dengan rangkulan
lengan kirinya sambil mencabut pedang yang tertancap di dada
Leng Hwa, kemudian dia membentak-bentak dengan kalap.
"Engkau membunuh anakku! Keparat, engkau membunuh
anakku!" Tangan kanan yang memegang pedang itu bergerak.
"Crak-crak-crakk!" Mayat Ho Lam menjadi empat potong. Leher,
pinggang, dan lutut terbabat putus. Sambil menggereng-gereng
Singa Timur membuang pedang itu dan mencabut tombaknya,
la1u berlari sambil memondong jenazah puterinya, menuju
pulang. Dia seolah telah lupa kepada Can Kok. Pemuda ini pun
tertawa sinis dan berlari mengejar Singa Timur majikan Pulau
Udang. Kedatangan Tung-sai yang memon?dong jenazah puterinya di
Pulau Udang disambut hujan tangis. Seluruh penduduk pulau itu
menangisi kematian Kui Leng Hwa. Nyonya Kui menjerit-jerit dan
jatuh pingsan melihat puterinya dibawa pulang sebagai mayat
yang berlumuran darah. "Leng Hwa , Leng Hwa anakku !" Nyonya itu
menjerit-jerit sambil memeluk dan menciumi anaknya yang
sudah menjadi mayat. Ketika Tung-sai Kui Tong memegang pundak isterinya yang
kesetanan itu untuk menghiburnya, tiba-tiba Nyonya Kui
membalik kepadanya. "Engkau ! Engkau yang telah membunuhnya!" Ia
427 membentak dan, matanya terbelalak lebar, rambutnya awutawutan, kemudian wanita yang lemah ini tiba-tiba menyerang
suaminya, mencakar dengan kedua tangannya.
"Tenang , anak kita membunuh diri, gara-gara si
jahanam Ho Lam!" katanya.
"Tidak! Engkau yang membunuhnya! Engkau terkutuk, engkau
membunuh anakku!" Wanita itu berteriak-teriak dan menangis,
lalu terkulai dan jatuh pingsan. Tung-sai Kui Tong
memondongnya dan membawanya ke dalam kamar. Hati datuk
yang biasanya keras itu kini bersedih melihat keadaan isterinya
dan anaknya. Sekarang baru terasa olehnya betapa dia amat
menyayang puterinya sehingga kematiannya mendatangkan luka parah dalam hatinya.
Hati datuk timur itu semakin remuk ketika isterinya siuman dari
pingsan lalu mengamuk, menangis dan tertawa. Isterinya
mengalami tekanan batin yang demikian hebatnya, membuat
pikirannya terguncang dan berubah. Dan yang lebih
menyedihkan hati Singa Timur, tiga hari kemudian isterinya itu
tewas menggantung diri dalam kamarnya! Hal itu dilakukan di
tengah malam, ketika dia sedang tidur nyenyak karena sorenya
dia minum arak sampai mabuk.
Tiga orang datuk besar yang lain datang melayat. Setelah
upacara penguburan isteri dan anaknya selesai, empat orang
datuk itu mengadakan perundingan bersama Can Kok.
428 Di depan mereka, Can Kok menceritakan tentang kematian Leng
Hwa. "Kalau saja tidak muncul jahanam itu, pasti aku dapat
mencegah Adik Leng Hwa membunuh diri. Jahanam itulah yang
memberi kesempatan kepada Leng Hwa untuk membunuh diri.
Jahanam itulah yang seolah telah membunuh Leng Hwa."
"Can Kok, mengapa engkau dulu tidak cepat membunuhnya
agar engkau dapat menyelamatkan Leng Hwa?" Singa Timur
bertanya, suaranya bernada menegur.
"Paman, jahanam itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat dan
ilmu silatnya mengingatkan aku kepada ilmu silat yang
dimainkan dua orang gadis yang mengeroyok aku dulu itu. Tentu
ada hubungannya antara dia dan kedua orang gadis itu."
"Maksudmu Pek Hong Niocu dan Ang Hwa Sian-li, dua orang
murid Tiong Lee Cin-jin itu?"
"Benar, Paman. Aku yakin bahwa dia tentu murid Tiong Lee Cinjin pula."
"Murid-murid Tiong Lee Cin-jin" Hemm, apa maksud kalian?"
tanya Pak-sian (Dewa Utara) Liong Su Kian. See ong (Raja
Barat) Hui Kong Hosiang dan Lam-kai (Pengemis Selatan) Gui
Lin juga ikut memandang dengan pertanyaan yang sama.
"Secara kebetulan aku telah bertemu dan bertanding dengan
Pek Hong Niocu dan Ang Hwa Sian-li "
"Hemm, aku tahu bahwa Pek Hong Niocu adalah Puteri
Moguhai, puteri Kaisar Kin!" kata Pak-sian.
429 "Dan aku pernah mendengar akan nama Ang Hwa Sian-li. Ia
seorang gadis pendekar yang malang melintang di daerah
Kerajaan Sung!" kata pula Lam-kai.
"Omitohud, apakah engkau yakin bahwa dua orang gadis itu
adalah murid-murid Tiong Lee Cin-jin, Can Kok?" tanya See-ong.
"Tentu saja aku yakin, See-suhu (Gu?ru Barat). Mereka
memperkenalkan nama mereka dan juga guru mereka."
"Wah, lalu bagaimana tingkat kepandaian mereka, Can Kok?"
tanya Pak-sian. "Pak-suhu (Guru Utara), mereka cukup lihai, akan tetapi kalau
menghadapi seorang dari mereka, aku pasti dapat
mengalahkannya." "Hemm, bagaimana ketika mereka maju berdua" Apakah
engkau dapat menandingi pengeroyokan mereka?" tanya Lamkai.
"Memang berat kalau mereka maju berdua mengeroyokku, Lamsuhu (Guru Selatan), namun aku tidak akan kalah! Ketika itu,
aku menghadapi mereka dengan murid suhu Kui Tung, dan kami
berdua sudah hampir berhasil mengalahkan mereka, akan tetapi
muncul ratusan orang perajurit kerajaan. Terpaksa kami
meninggalkan musuh yang terlalu banyak itu."
"Can Kok, ceritakan tentang jahanam yang menghalangimu
sehingga engkau tidak sempat mencegah anakku membunuh
diri. Siapakah dia" Benarkah dia itu juga murid Tiong Lee Cinjin?" tanya Tung- sai.
430 "Dia seorang pemuda, usianya sekitar duapuluh dua tahun.
Orangnya biasa saja, pakaiannya juga sederhana seperti
seorang petani. Namanya Souw Thian Liong, Paman, dan dari
gerakan silatnya ketika kami bertanding, aku melihat persamaan
dasar dengan ilmu silat yang dimainkan dua orang gadis murid
Tiong Lee Cin-jin itu, Paman. Maka aku hampir yakin bahwa dia
juga seorang murid dari musuh kita itu!"
"Omitohud!" See-ong Hui Kong Ho-siang menggeleng-geleng
kepalanya yang gundul. "Kalau manusia sombong itu
mempunyai tiga orang murid yang lihai, kedudukannya menjadi
kuat. Tentu terlampau kuat kalau dihadapi Can Kok seorang
diri!" "Itulah, maka aku mengajak kalian mengadakan perundingan,"
kata Tung-sai Kui Tong. "Kalau kita hanya menyuruh Can Kok
mewakili kita untuk menghadapi Tiong Lee Cin-jin seorang diri,
tentu saja akan terlalu berat bagi Can Kok untuk menghadapi
keparat itu yang dibantu oleh tiga orang muridnya. Akan sulitlah
diharapkan hasilnya kalau Can Kok dikeroyok empat!"
"Tak dapat disangkal kebenaran kata-katamu, Tung-sai. Lalu
bagaimana baiknya?" tanya Pak-sian dengan suaranya yang
melengking tinggi. "Aku mempunyai usul, Pak-suhu, See-suhu dan Lam?suhu.
Seperti yang sudah kusampaikan kepada Paman Tung, cara
satu-satunya agar kita berhasil adalah kita harus maju bersama
ramai-ramai melakukan penyerbuan ke tempat tinggal Tiong Lee
Cin-jin, membunuh dia dan semua muridnya. Akan tetapi
sayang, aku belum dapat menemukan di mana dia tinggal."
431 "Omitohud ! Kebetulan sekali aku mendengar berita bahwa dia
kini di Puncak Pelangi, sebuah di antara puncak-puncak Go-bisan (Pegunungan Gobi)," kata See-ong.
"Bagus kalau begitu, kita beramai-ramai ke sana. Sekali ini kita
tidak boleh gagal. Ingat, kalau kita berhasil, bukan saja kita
dapat membalas kekalahan kita, akan tetapi aku yakin manusia
sombong itu masih menyimpan banyak kitab-kitab langka. Kita
dapat memiliki kitab-kitab yang amat berharga itu!" kata Tungsai.
Ucapan Singa Timur ini disambut gembira oleh rekan-rekannya
dan mereka berlima lalu berunding untuk membuat persiapan
keberangkatan mereka ke Puncak Pelangi di Pegunungan Go-bi.
"Y" Thian Liong yang terpaksa melarikan diri karena merasa tidak
akan dapat mengalahkan Can Kok apabila Tung-sai datang
membantu, pula karena melihat bahwa dua orang yang harus
dilindunginya itu sudah tewas, menghentikan larinya setelah tiba
di bawah bukit karang itu. Kemudian dia mengambil jalan
memutar untuk mengintai apa yang terjadi di depan guha. Dia
melihat Tung-sai memondong jenazah gadis yang ternyata
puterinya itu sambil menangis dan pergi dari depan guha.
Kemudian Can Kok juga mengikutinya.
Setelah kedua orang itu pergi, barulah Thian Liong kembali ke
depan guha dan dia mengerutkan alisnya melihat mayat pemuda
itu terpotong menjadi empat.
432 "Kejam, bukan manusia mereka itu!" gerutunya dan dia pun
segera menggali tanah dan mengubur mayat pemuda yang tidak
diketahuinya siapa itu. Akan tetapi dia menemukan dua buntalan
pakaian pria dan wanita, maka dia dapat menduga bahwa gadis
puteri Tung-sai itu agaknya melarikan diri dengan pemuda ini,
kemudian dikejar Can Kok dan Tung-sai. Si pemuda tewas di
tangan Can Kok dan gadis itu membunuh diri!
Setelah selesai mengubur jenazah yang terpotong-potong itu,
Thian Liong lalu melanjutkan perjalanannya. Dia berniat mencari
Bi Lan dan ibunya yang pergi ke kota raja untuk melihat apakah
dugaannya benar bahwa ibu dan anak itu pergi berkunjung ke
rumah keluarga Panglima Kwee dan untuk melangsungkan
pernikahan seperti yang direncanakan Panglima Kwee dan
isterinya. Dia tidak akan menemui mereka, dan kalau Bi Lan
sudah menikah dengan putera Panglima Kwee, dia akan ikut
merasa bahagia. Bahagia" Memang ada perasaan tidak enak
dan hampa, akan tetapi dia tetap akan merasa bahagia melihat
gadis itu mendapatkan suami yang baik dan kehidupannya
dengan ibunyanya tenteram dan berbahagia.
Menjelang sore Thian Liong tiba di luar sebuah dusun yang
cukup besar. Melihat sawah ladang di luar dusun demikian luas,
dengan tanaman yang subur, juga adanya sebuah anak sungai
yang airnya cukup banyak dan jernih mengalir di luar dusun, dia
dapat menduga bahwa tentu penduduk dusun itu berkeadaan
cukup makmur. Kalau sebuah dusun memiliki tanah subur dan
air cukup, sudah dapat dipastikan penduduknya tentu hidup
makmur, cukup sandang pangan papannya.
433 Thian Liong mengetahui dari pengalamannya bahwa kebutuhan
hidup penduduk dusun tidaklah banyak. Asalkan sebu?ah
keluarga setiap hari dapat makan kenyang, berpakaian utuh dan
memiliki pengganti pakaian, lalu memiliki sebuah rumah untuk
tidur dan berteduh, walaupun ketiga kebutuhan hidup itu tidaklah
mewah, mereka akan merasa cukup makmur! Cukup sandang
pangan papan, keluarga sehat, itulah dambaan setiap keluarga
dusun. Akan tetapi dia melihat di luar dusun itu sepi dan setelah agak
dekat dia mendengar suara ribut-ribut di dalam dusun. Dia
merasa heran dan cepat dia berlari memasuki dusun itu.
Pertama-tama yang ditemuinya adalah rumah-rumah yang sama
sekali di luar perkiraannya. Rumah-rumah itu sebagian besar
hanya merupa?kan gubuk-gubuk reyot, bukan sederhana lagi
akan tetapi lebih tepat disebut miskin, sepantasnya menjadi
gubuk para gelandangan. Juga dia melihat beberapa orang
anak-anak yang berseliweran di sekitar rumah-rumah gubuk itu
berpakaian kotor dan compang-camping seperti pakaian
pengemis! Akan tetapi Thian Liong tidak sempat terlalu
memperhatikan keadaan yang di luar perkiraannya tadi karena
dia sudah lari ke tengah dusun di mana terdapat banyak orang
yang berteriak-teriak dan mereka berkumpul di depan rumahrumah gedung yang mentereng dan mewah!
Sungguh seperti langit dan bumi keadaan deretan gedung yang
terdiri dari sepuluh bangunan besar itu. Gedung-gedung itu
kokoh dan indah, seperti bangunan rumah-rumah para
bangsawan dan hartawan besar di kota-kota, dikelilingi dinding
tembok yang dihias patung-patung singa dan binatang lain dan
memiliki pintu gerbang besi! Hebatnya lagi, di depan gedung434
gedung itu pada saat itu terdapat puluhan orang berbaris
melindungi gedung-gedung itu, dan mereka ini mengenakan
pakaian seragam seperti perajurit, dengan memegang senjata
tombak atau pedang di tangan! Sikap mereka itu galak dan
gagah, wajah mereka bengis memandang ke arah kerumunan
orang di jalan depan gedung-gedung itu.
Thian Liong memperhatikan mereka yang berkerumun di situ.
Tidak kurang dari seratus limapuluh orang yang berkumpul di
situ sambil berteriak-teriak. Melihat keadaan mereka, Thian
Liong kembali merasa kaget dan heran. Pakaian mereka itu
sebagian besar juga kotor dan compang-camping seperti
pakaian anak-anak tadi. Hanya belasan orang saja yang
berpakaian tidak compang-camping, akan tetapi pakaian mereka
juga kotor dan dari kain murah. Dibandingkan pakaian para
penjaga rumah itu, sungguh jauh bedanya! Mereka berteriakteriak sambil mengacung-acungkan tangan-tangan yang kasar
dan kulitnya hitam terbakar sinar matahari, tangan-tangan yang
biasa kerja berat. "Pembesar lalim!" "Munafik!" "Penipu!"
Demikian mereka berteriak-teriak dan berdesak-desakan hendak
memasuki pintu gerbang sebuah di antara gedung-gedung itu
yang berada di tengah. Gedung ini tidaklah semewah gedunggedung di kanan kirinya, biarpun cukup besar namun tidaklah
tampak mentereng. Akan tetapi barisan penjaga itu menghadang dengan senjata
mereka dan seorang kepala pasukan jaga ini membentak,
435 "Mundur semua! Apakah kalian hendak memberontak" Mundur
atau kami bunuh kalian yang berani melawan penguasa!"
"Kami tidak memberontak, tidak melawan!" terdengar seorang di
antara para penduduk miskin itu berseru.
Suara?nya cukup lantang dan dia adalah seorang laki-laki
berusia limapuluh tahun lebih yang pakaiannya amat sederhana,
walaupun tidak compang-camping.
Wajahnya lembut, akan tetapi matanya me-ngeluarkan sinar
berapi penuh keberanian. "Kami hanya menuntut keadilan! Kami
minta agar Mo-chungcu (Kepala Dusun Mo) menemui kami dan
memenuhi janji-janjinya kepada kami, rakyat dusun Be-san ini!"
JILID 12 12.1. Pengadilan Rakyat Dusun Be-san!
"Keparat, engkau yang memimpin pemberontakan ini, ya?"


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Komandan penjaga itu menggerakkan cambuk di tangannya.
"Tar-tarrr !" Laki-laki yang bicara lantang tadi
melindungi mukanya dengan kedua tangan. Cambuk melecuti
tubuhnya dan dia pun terpelanting roboh, bajunya robek
tercabik-cabik sengatan ujung cambuk dan tampak darah di
sana sini keluar dari kulit yang ikut pecah.
Penduduk yang berkerumun di situ menjadi panik dan mereka
bergerak mundur. Komandan gerombolan penjaga itu
436 menyeringai dan melihat wajah para penduduk yang ketakutan,
merasa mendapat angin. Dengan bengis dia lalu maju dan
mengangkat cambuknya untuk menghajar laki-laki yang sudah
roboh itu. "Mampuslah engkau, pemberontak!" bentaknya. Akan tetapi
sebelum cambuknya menyambar ke bawah, tiba-tiba saja
cambuk itu direnggut orang. Renggutan itu kuat bukan main
sehingga dia tidak mampu mempertahankan cambuk dan tahutahu sudah terlepas dari pegangannya dan dirampas orang.
Ketika dia membalikkan tubuh dan memandang, ternyata yang
merampas cambuknya itu seorang pemuda asing yang
berpakaian sederhana. Pemuda itu jelas bukan penduduk dusun
Be-san itu karena dia tidak mengenalnya.
"Jahanam busuk, siapa kamu berani merampas cambukku"
Hayo kembalikan, cepat!" Dia maju dan hendak merampas
kembali cambuknya yang berada di tangan Souw Thian Liong.
Pemuda yang merampas cambuk kepala pasukan penjaga itu
adalah Thian Liong. Tadi dia marah sekali melihat perbuatan
kepala jaga itu mencambuki orang yang tidak dapat melawan,
maka dia lalu merampas cambuk itu. Kini melihat tukang pukul
itu memakinya dan hendak merampas kembali cambuknya,
Thian Liong menangkis dengan tangan kirinya dan begitu lengan
mereka bertemu, tukang pukul itu pun terpelanting roboh.
Dia marah bukan main. Cepat dia bangkit berdiri, mencabut
goloknya dan membacok ke arah kepala Thian Liong.
Thian Liong menggerakkan tangan sambil mencondongkan
tubuh ke kiri mengelak. Ketika golok meluncur lewat, tangan
437 kirinya menyambar dan dia pun sudah merampas golok
penyerangnya. Dengan mudah seperti orang mematahkan
sebatang ranting kecil saja, Thian Liong mematah-matahkan
golok itu lalu membuang ke atas tanah. Kemudian dia
menggerakkan cambuk rampasan itu sehingga terdengar
ledakan-ledakan cambuk yang menari-nari di atas tubuh kepala
jaga itu. Tukang pukul itu mengaduh-aduh dan roboh
menggeliat?geliat, bajunya robek-robek dan berlepotan darah.
Melihat ini, timbul keberanian para penduduk. Mereka
berdesakan maju dan dengan wajah beringas mereka hendak
mengeroyok komandan jaga yang galak itu.
Kalau hal ini dibiarkan, tentu komandan jaga itu akan dihujani
pukulan dan tak dapat ditolong lagi. Akan tetapi Thian Liong
menghadang dan mengayun cambuknya ke atas sehingga
terdengar meledak-ledak. "Mundur! Ada urusan dapat dibicarakan, tidak perlu
menggunakan kekerasan!" bentaknya dan para penduduk itu lalu
menghentikan niat mereka menghajar komandan jaga itu.
Setelah Thian Liong tidak mencambuki lagi, komandan jaga itu
tertatih-tatih bangkit berdiri dan ditolong oleh beberapa orang
temannya. Pada saat itu muncul seorang laki-laki dari dalam gedung.
Karena pendapa rumah besar itu lebih tinggi daripada
pekarangan, maka semua orang dapat melihatnya, seolah dia
berdiri di atas panggung. Kalau tadinya para penduduk itu saling
bicara dengan suara riuh, kini mereka berhenti mengeluarkan
suara sehingga suasananya hening. Thian Liong sendiri
438 memandang ke arah pendapa dan melihat laki-laki itu
melangkah dengan tenang sampai ke tepi pendapa menghadapi
orang-orang yang berdiri di pekarangan, di bawah pendapa.
Laki-laki itu sudah tua, sekitar tujuhpuluh tahun usianya.
Rambutnya sudah putih semua dan wajahnya mengandung
senyuman, sikapnya tampak lembut sehingga Thian Liong diamdiam merasa heran. Kakek ini tampaknya baik hati dan penuh
kesabaran. Mengapa kini penduduk ribut-ribut dan dari teriakanteriakan mereka tadi seolah merasa penasaran dan menuntut"
Kakek inikah yang tadi dimaki sebagai pembesar lalim, munafik
dan penipu" Sejenak kakek itu melayangkan pandang matanya kepada
semua orang dan kini Thian Liong melihat bahwa di balik
kelembutannya, kakek itu memiliki pandang mata yang
membayangkan kekerasan hati. Semua penduduk diam dan
tampak gelisah. Lalu terdengar suara kakek itu, suaranya juga
terdengar lembut namun cukup lantang sehingga terdengar oleh
semua orang. "Hei, para penduduk Be-san. Kalian ini mau apa ribut?ribut di
sini" Kalau ada urusan, siapa pun boleh menghadap padaku
untuk membicarakannya, bukan ribut-ribut datang ke sini seperti
perampok. Kalau kalian menggunakan kekerasan, aku pun
dapat memerintahkan para pengawalku untuk membasmi
kalian!" Setelah berkata demikian, kakek itu menggapai ke
dalam dan muncullah lima orang laki-laki tinggi besar yang
berwajah menyeramkan. 439 "Lihat, kalian semua tahu bahwa Twa-to Ngo-houw (Lima
Harimau Bergolok Besar) ini adalah para pengawal pribadiku.
Kalau kalian hendak menggunakan kekerasan dan hendak
memberontak, aku dapat memberi perintah kepada mereka
untuk membunuh kalian!" Kini suara yang lembut itu
mengandung ancaman. Lima orang tinggi besar itu berdiri tegak sambil tersenyum
simpul, mengangkat dada dan memandang rendah semua orang
yang berdiri di pekarangan.
Laki-laki yang tadi dicambuk berdiri di depan. Dia berseru
dengan lantang. "Mo-chungcu (Kepala Dusun Mo), kami sama
sekali tidak ingin memberontak, hanya ingin menuntut hak kami
dan menagih semua janji Chung-cu kepada kami beberapa
tahun yang lalu. Kami merasa dibohongi!"
"Apa?" Lurah Mo itu membelalakan matanya dan kini wajahnya
berubah merah. "Kamu berani menuduh kami mem?bohongimu"
Aku sudah mati-matian berjuang demi kemakmuran desa dan
rakyat dan kamu bilang aku berbohong" Pengawal, tangkap
pemberontak itu!" Lurah Mo menuding ke arah laki-laki yang
menjadi wakil pembicara penduduk dusun itu.
Seorang di antara lima pengawal itu menyeringai dan melangkah
maju hendak turun dari atas pendapa, tangannya meraba
gagang golok dengan sikap bengis mengancam. Akan tetapi
sebelum dia turun, tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu
Thian Liong sudah berdiri di depannya.
Ketika Thian Liong menghajar kepala penjaga tadi, Lurah Mo
dan lima orang pengawalnya tidak melihat hal itu. Maka kini
440 melihat seorang pemuda asing, bukan penduduk dusun Be-san,
tiba-tiba muncul, Lurah Mo membentak marah. "Hei, siapa kamu
berani naik ke sini tanpa kami panggil?"
Sementara itu, lima orang Twa-to Ngo-houw sudah bergerak
mengepung Thian Liong dengan sikap mengancam. Thian Liong
bersikap tenang saja dan dia berkata dengan suara lantang.
"Saya bernama Souw Thian Liong dan kebetulan saja saya lewat
di dusun Be-san ini dan melihat para penduduk hendak
menyatakan isi hati mereka kepada Mo-chungcu. Tadi engkau
sendiri yang mengatakan bahwa kalau ada urusan, mereka
boleh bicara denganmu, akan tetapi mengapa, setelah kini ada
yang mewakili para penduduk untuk bicara, malah kau ancam
dan hendak menggunakan anjing-anjingmu untuk menggonggong dan menggigit penduduk?"
Tentu saja Lurah Mo marah sekali mendengar ucapan itu. Juga
Twa-to Ngo-houw yang disebut anjing-anjing oleh pemuda asing
sederhana ini. "Tangkap bocah lancang mulut ini!" bentak Lurah Mo.
Karena mereka memang marah terhadap Thian Liong, maka
tanpa diperintah dua kali, lima orang tukang pukul itu segera
menerjang, ada yang menubruk, ada yang mencengkeram, ada
yang memukul atau menendang. Agaknya mereka berlima
berlumba untuk lebih dulu merobohkan pemuda itu. Para
penduduk dusun yang menonton dari bawah pendapa,
memandang dengan cemas karena mereka semua tahu betapa
lihai dan kejamnya lima orang jagoan andalan Lurah Mo itu.
441 Akan tetapi, terjadilah hal yang mem?buat semua orang
terperangah. Tiba-tiba tubuh Thian Liong berpusing seperti
gasing dan tangannya berubah banyak, membagi-bagi tamparan
kepada lima orang penyerangnya.
"Plak-plak-plak-plak-plak
!!" Dan lima orang tinggi
besar itu berpelantingan roboh di atas lantai pendapa!
Lima orang jagoan itu sendiri terbelalak, heran dan juga pening.
Akan tetapi mereka kini menjadi marah sekali, maklum bahwa
pemuda itu bukan seorang lemah. Tanpa menanti komando lagi
mereka sudah mencabut golok besar mereka dan kembali
mereka mengepung Thian Liong.
"Hemm, orang-orang yang mengandalkan kekuasaan bertindak
sewenang-wenang terhadap orang lain adalah siauw-jin (orang
berbudi rendah) dan menjadi permainan iblis yang akan
menyeretnya ke neraka jahanam!" kata Thian Liong. "Mundurlah
kalian sebelum terlambat dan bertaubatlah!"
Akan tetapi ucapan ini bahkan menjadi minyak yang disiramkan
ke api, membuat lima orang itu menjadi semakin marah. Mereka
membentak nyaring dan golok mereka berkelebatan, diputar
menjadi sinar bergulung-gulung menyelimuti tubuh mereka dan
sinar-sinar golok mencuat dan menyambar ke arah Thian Liong!
Thian Liong maklum bahwa lima orang yang menggunakan
julukan Lima Harimau Bergolok Besar ini tentu meru?pakan ahliahli golok yang tangguh dan berbahaya, maka dia pun sudah
mencabut Thian-liong-kiam (Pedang Naga Langit) dan sekali dia
berseru, pedangnya menjadi sinar panjang menyilaukan mata.
442 "Trang-trang-trang-trang-trang
!!" tampak api berpijar-pijar, disusul robohnya lima orang pengeroyok itu.
Kejadian itu berlangsung amat cepatnya, tak dapat diikuti
pandang mata dan tahu-tahu ketika semua orang memandang
lagi, Thian Liong berdiri santai dan pedangnya sudah kembali ke
tempatnya. Lima orang itu mengaduh-aduh, lengan kanan
mereka berdarah karena terluka goresan pedang yang cukup
dalam pada pangkal lengan kanan. Golok-golok besar mereka
berserakan di atas lantai dalam keadaan patah menjadi dua
potong! Pada saat itu dari dalam gedung bermunculan empat orang lakilaki berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh lima tahun, dan
seorang laki-laki berusia sekitar enampuluh lima tahun. Lima
orang laki-laki ini bukan tukang pukul. Pakaian mereka mewah
dan mereka berdiri di belakang Lurah Mo dengan wajah pucat
pula, seperti wajah Lurah Mo yang pucat dan matanya
terbelalak, jerih memandang kepada Souw Thian Liong.
Akan tetapi, agaknya karena sudah banyak pengalaman, Lurah
Mo dapat bersikap tenang dan dia lalu berkata kepada Thian
Liong dengan suara yang lembut ramah dan membujuk setelah
tahu bahwa pemuda ini tidak dapat dilawan dengan kekerasan.
"Souw-sicu (orang gagah Souw), sebetulnya apakah yang kau
inginkan" Kalau engkau menginginkan uang, katakanlah berapa
kebutuhanmu" Akan kami cukupi. Atau engkau menghendaki
kedudukan" Akan kami beri kedudukan yang layak dan
terhormat." 443 "Tidak, Chung-cu, aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya minta
agar sekarang juga engkau mendengarkan tuntutan rakyat
dusun yang kaupimpin ini." Setelah berkata demikian, Thian
Liong lalu berdiri menghadapi penduduk dan berkata dengan
suara lantang. "Saudara-saudara sekalian, sekarang bicaralah,
ceritakan semua isi hati dan tuntutanmu. Jangan takut, bukalah
semua, aku yang menanggung bahwa tidak akan ada orang
yang mengganggu kalian!"
Laki-laki yang menjadi juru bicara para penduduk itu lalu
melangkah maju dan berkata dengan suara lantang. "Saya Liu
Cin mewakili seluruh penduduk Be-san menyampaikan rasa
penasaran dan tuntutan kami kepada Lurah Mo. Beberapa tahun
yang lalu, ketika diadakan pemilihan lurah baru untuk dusun ini,
Lurah Mo berjanji kepada kami untuk berjuang memajukan
dusun dan mendatangkan kemakmuran bagi kami semua. Untuk
usaha itu, Lurah Mo mengadakan peraturan?peraturan yang
memberatkan kami seperti pajak-pajak, sumbangan-sumbangan,
dan lain-lain. Kehidupan kami selama bertahun-tahun menjadi
semakin berat. Hasil sawah ladang kami memang subur dan
banyak, namun semua itu sebagian besar habis untuk
membayar pajak dan sumbangan-sumbangan yang mencekik
sehingga kami hidup melarat. Untuk memberi makan semua
keluarga pun terkadang kurang, apalagi untuk membeli pakaian
dan membetulkan rumah."
"Akan tetapi, bukankah sudah sering kami katakan bahwa untuk
mendatangkan kesejahteraan, kita harus prihatin" Bukankah
sudah sering kami katakan bahwa ada pribahasa: Berakit-rakit
ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu,
bersenang-senang kemudian" Kita berprihatin sekarang ini
444 untuk membangun desa, untuk mempersiapkan kehidupan yang
makmur bagi anak keturunan kita?" Demikian Lurah Mo
membantah dengan suaranya yang khas, lembut namun
lantang. Tiba-tiba para penduduk menjadi gaduh lagi. Ada yang berteriakteriak.
"Munafik !" "Penipu !" Thian Liong mengangkat kedua tangan ke atas. "Saudarasaudara harap tenang dan dengarkan saja pembicaraan yang
dilakukan wakil kalian dan Lurah Mo!" Semua orang lalu diam.
"Itulah yang selalu dikatakan Lurah Mo kepada kami seluruh
penduduk dusun. Kami harus prihatin, hidup sederhana
seadanya, demi pembangunan dusun, demi kemakmuran anak
cucu. Kami menaati semua nasihat dan petunjuknya karena
menganggap dia benar-benar berjuang demi kesejahteraan
dusun dan penduduknya, akan tetapi apakah kenyataannya"


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mungkin Lurah Mo sendiri tidak menonjolkan kekayaannya, akan
tetapi lihatlah! Gedung-gedung besar dibangun oleh anakanaknya dan saudaranya! Itu mereka berdiri di belakang Lurah
Mo! Anak-anaknya dan saudaranya menjadi kaya raya, rumah
gedung, memiliki ratusan ekor ternak, membeli hampir semua
sawah ladang sehingga kami yang terpaksa menjual tanah untuk
makan kini hanya menjadi buruh tani. Dan ke mana larinya
semua hasil pajak yang kami bayar, semua sumbangansumbangan yang amat banyak diambil dari hasil keringat kami"
Mana pembangunan untuk dusun ini" Yang ada hanya
445 pembangunan untuk Lurah Mo sekeluarganya yang menjadi
kaya raya. Demikian kayanya sampai gandum di lumbung
mereka membusuk. Mereka sering mengadakan pesta pora
dengan para hartawan dari kota."
Laki-laki berusia sekitar enampuluh tahun yang berdiri di
belakang Lurah Mo dan yang mengenakan pakaian mewah itu
menjawab dengan suara lantang dan sikap gagah-gagahan.
"Heh, kalian orang-orang bodoh. Jangan menuduh sembarangan
dan seenaknya saja! Kami memang kaya raya, akan tetapi
kekayaan kami adalah hasil kami berdagang dengan para
saudagar di kota!" Empat orang Iaki-laki yang lebih muda juga berseru marah.
"Itu betul! Kami berdagang dan apa salahnya menjadi kaya
karena keberhasilan kami berdagang?"
"Kalian hanya iri karena kalian tidak becus mencari uang!
Karena kalian ini orang-orang desa yang bodoh! Kalau kami
menjadi kaya karena pandai berdagang, dan kalian miskin
karena kalian bodoh dan tidak becus, mengapa mau
menyalahkan kami?" Mendengar alasan-alasan keluarga lurah itu, kembali terjadi
kegaduhan dan sekali lagi Thian Liong mengangkat kedua
tangan ke atas. "Tenanglah, biarlah wakil kalian yang bicara!"
Setelah suasana menjadi hening, wakil pembicara penduduk itu
lalu berkata lagi dengan, lantang. "Kami semua sudah
mendengar ucapan keluarga Mo, putera-puteranya dan
446 saudaranya. Jadi kalian menjadi kaya raya karena pandai dan
berdagang sedangkan kami menjadi miskin karena bodoh"
Memang kami akui, kami bodoh karena mudah saja dibodohi
kalian. Kami masih ingat, ketika Lurah Mo dan keluarganya,
anak-anaknya, sau?daranya, dahulu sebelum Lurah Mo menjadi
lurah, kalian semua tidak ada bedanya dengan kami! Kalian dulu
juga hanya orang desa, kalian juga dulu miskin tidak punya apaapa. Akan tetapi setelah Lurah Mo menjadi lurah di sini, kalian
menjadi pedagang dan tuan tanah yang kaya raya dan berlebihlebihan. Coba terangkan, dari mana kalian mendapatkan itu
semua" Darimana kalian mendapatkan modal untuk berdagang
secara besar-besaran, membeli ratusan ekor hewan ternak dan
tanah yang luas sekali?"
Empat orang anak lurah dan seorang saudaranya itu menjadi
pucat wajahnya dan tidak mampu menjawab, kini mereka semua
memandang kepada Lurah Mo seolah minta pertolongan agar
Sang Lurah yang menjawab. Melihat enam orang itu diam saja,
mulailah penduduk ramai lagi saling bicara dan kata-kata keras
dilontarkan mereka kepada keluarga itu.
Thian Liong mengangkat tangannya minta agar semua orang
tenang, kemudian dia berkata kepada sang Lurah. "Mo-chungcu,
silakan menjawab pertanyaan mereka. Dari mana keluargamu
itu mendapatkan uang begitu banyak untuk dipakai modal
berdagang" Kalau kalian tidak mau menjawab terus terang,
terpaksa aku akan membiarkan para penduduk ini menggunakan
kekerasan dengan cara mereka sendiri!"
Wajah Lurah Mo menjadi pucat dan wajahnya kini tampak lebih
tua daripada biasanya. Berulang kali dia menghela napas
447 panjang, memandang kepada anak-anak dan saudaranya, lalu
berkata, "Mereka mendapatkan dari dari aku " Wakil pembicara para penduduk itu cepat bertanya lantang.
"Dan engkau mendapatkan uang demikian banyaknya itu
darimana, Mo-chungcu"!?"
"Dari dari penghasilan kelurahan
!" Thian Liong merasa betapa dadanya panas mendengar ini
semua. Jelaslah baginya bahwa kepala dusun ini telah
mempergunakan kesempatan selagi dia berkuasa di dusun itu
untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya, tanpa
memperdulikan penduduk yang hidupnya di bawah garis
kemiskinan, padahal seluruh harta yang mereka miliki itu berasal
dari hasil perahan keringat penduduk dusun Be-san. Maka,
setelah mengerti dengan jelas permasalahannya, Thian Liong
kini mewakili penduduk dan bertanya dengan suara mengguntur.
12.2. Pembalasan Tamparan Pantat!
"Mo-chungcu, penghasilan kelurahanan yang kaumaksudkan itu
adalah hasil tarikan pajak dan sumbangan dari penduduk,
sebagian besar hasil sawah ladang mereka dan dari tanah
mereka yang terpaksa dioperkan kepadamu karena kekurangan
makan. Begitukah" Tidak perlu berbohong lagi, jawablah!"
Mo-chungcu tidak dapat mengangguk-angguk. mengeluarkan suara, hanya 448 "Mo-chungcu, engkau telah menyalahgunakan kekuasaanmu
untuk memperkaya diri sendiri dan keluargamu, tanpa
memperdulikan rakyat dusun ini!
Seluruh harta kekayaanmu dan keluargamu berasal dari hasil
sawah ladang yang disiram keringat para penduduk. Sadarkah
engkau akan hal itu?"
Kembali Lurah itu mengangguk. Dan dia tampak lemah sekali,
tubuhnya menggigil, mukanya pucat. Kemudian dia terhuyunghuyung lalu tangannya bergerak, telunjuknya menuding ke arah
empat orang anaknya dan seorang saudaranya itu sambil
berkata, "Kalian bodoh kalian terlalu pamer " Dia lalu terguling roboh ke atas lantai dan ketika diperiksa, ternyata
Lurah Mo telah tewas. Mungkin rasa takut, malu, dan tegang
telah menekan jantungnya dan menewaskannya.
Thian Liong tidak mau kepalang tanggung dalam menolong
penduduk dusun Be-san itu. Dia bermalam di situ beberapa hari
lamanya dan melakukan pembenahan. Atas keputusan orangorang yang dianggap menjadi sesepuh dan pemuka di dusun itu,
setelah mengadakan musyawarah, lalu diputuskan bahwa
semua harta kekayaan Lurah Mo dan semua keluarganya, sanak
kerabatnya yang kebagian harta tidak halal itu, disita oleh kepala
dusun dan para pembantunya yang baru atas pilihan rakyat.
Harta sitaan itu dipergunakan untuk memperbaiki rumah-rumah
penduduk, dan untuk pembangunan dusun yang diperuntukkan
kesejahteraan penduduk. Sawah ladang penduduk dikembalikan
449 kepada pemilik lama. Rumah besar itu menjadi rumah kelurahan
dari lurah yang baru, dan rumah-rumah gedung yang tadinya
milik para putera dan saudara mendiang Lurah Mo, kini menjadi
gedung-gedung yang dipergunakan untuk penduduk melakukan
berbagai kegiatan kesenian dan lain-lain.
Akan tetapi, atas usul Thian Liong yang dianggap sebagai
pahlawan dan penolong penduduk Be-san, keluarga mendiang
Lurah Mo tetap diperbolehkan tinggal di Be-san dan menempati
rumah yang tidak banyak bedanya dengan perumahan
penduduk. Mereka disadarkan dan mengakui bahwa selama ini
mereka dibutakan oleh pengaruh harta dan kekuasaan. Setelah
hidup sebagai penduduk biasa, sederajat dengan para penduduk
lainnya, mereka malah merasa tenteram dan damai. Para tukang
pukul yang memiliki kekejaman diusir dari dusun itu dan bagian
keamanan dusun diserahkan kepada para pemuda.
"Dengar baik-baik," kata Thian Liong ketika hendak
meninggalkan dusun itu. "Kalian seluruh penduduk harus
bersatu padu bergotong-royong saling bantu, bersama?sama
menghadapi dan menentang kekuasaan yang sewenangwenang hendak menindas kalian. Sama sekali bukannya jahat
dan tidak boleh untuk menjadi orang berharta, asalkan harta itu
didapatkan dengan cara yang wajar dan baik, bukan hasil
pemerasan, pencurian, atau penipuan. Yang kaya membantu
yang miskin, yang miskin juga dibutuhkan yang kaya. Kaya
maupun miskin tidak mungkin hidup menyendiri tanpa bantuan
orang lain. Ingatlah kata-kata bijaksana. Guru Besar Khong Cu :
450 Se-hai-ce-nei-cai-syung-ti-ye (Di empat penjuru lautan semua
adalah saudara). Karena itu kita harus tolong menolong seperti saudara, jangan
berpesta pora di depan orang-orang yang kelaparan, jangan
bermewah-mewah, berfoya-foya di depan orang-orang yang
miskin dan papa." Setelah memberi nasihat kepada penduduk, dan berpamit
kepada lurah baru dan para pembantunya, Thian Liong juga
meninggalkan pesan kepada mereka, terutama kepada lurah
baru itu. "Ingatlah selalu bahwa kedudukan kalian ini diberi oleh rakyat
dusun ini. Kalian dapat menjadi pemimpin karena mereka yang
memilih dan menentukan. Kalian dipilih untuk mengatur dusun
ini agar rakyatnya hidup sejahtera. Tanpa rakyat dusun ini,
kalian ini bukan apa-apa. Karena itu, bekerjalah sebaik mungkin
demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Kalau kalian
menjadi penguasa yang bijaksana dan mencinta rakyat, tentu
rakyat akan mencinta kalian dan kalau sudah begitu, setiap
perintah dan petunjuk kalian pasti akan ditaati dan dilaksanakan
rakyat dengan senang hati dan patuh. Bukannya tidak boleh
seorang penguasa hidup makmur, bahkan sudah sewajarnya
seorang pemimpin hidup berkecukupan sebagai imbalan jasanya
menyejahterakan rakyatnya, dan sudah menjadi kewajiban
rakyatnya membagi sebagian dari penghasilannya kepada para
pimpinan sebagai imbalan jasa. Akan tetapi sama sekali tidak
benar kalau para pemimpin lain mengumpulkan harta sebanyakbanyaknya dengan cara yang tidak wajar. Janganlah diulang lagi
kesalahan pemimpin seperti yang sudah. Keluarga sendiri
451 menumpuk harta sampai berlebihan, sedangkan sebagian besar
rakyatnya hidup miskin sekali, padahal merekalah yang telah
memilih pemimpin mereka. Penguasa seperti ini, yang
mengandalkan kekuasaan dan mencari kesempatan memperkaya diri sendiri, bersenang-senang dan menari-nari di
atas kepala rakyatnya, pasti tidak akan diberkati Thian dan akan
terkutuk sehingga akhirnya mencelakakan diri dan keluarganya
sendiri." Setelah memberi banyak nasihat, Thian Liong lalu meninggalkan
dusun Be-san dan melanjutkan perjalanannya menuju kota raja
Lin-an (Hang-chouw), yaitu kota raja Sung Selatan. "Y"
Thian Liong melakukan perjalanan menuju Lin-an. Hatinya masih
merasa risau dan pilu kalau dia memikirkan Bi Lan, yang sudah
berbulan-bulan meninggalkan dusun Kian-cung dekat Telaga
Barat. Dia merasa iba kepada gadis itu, juga merasa bersedih
mendengar akan kematian Han Si Tiong. Mudah-mudahan saja
dugaannya benar bahwa Bi Lan dan ibunya pergi ke kota raja
Lin-an, ke rumah keluarga Panglima Kwee dan mungkin kini
telah menjadi isteri Kwee Cun Ki, putera Panglima Kwee dan
hidup berbahagia di kota raja. Kalau sekiranya dibutuhkan, dia
akan membantu gadis itu mencari para pembunuh ayahnya.
Ketika dia memasuki wilayah kota raja, dia mendengar berita
tentang Ang I Mo-li (Iblis Betina Baju Merah) yang mengamuk di
kota-kota besar, terutama di kota Cin-koan. Menurut kabar itu,
Ang I Mo-li ini mengamuk, menghajar banyak laki-laki
bangsawan dan hartawan yang sedang bersenang-senang di
rumah-rumah pelesir. Wanita itu kabarnya amat lihai dan para
laki-laki hidung belang itu ia lukai dan diberi cacat mukanya,
452 akan tetapi tidak dibunuh. Rumah-rumah pelesir itu dirusak.
Agaknya wanita itu mendendam dan membenci para pria yang
suka berkeliaran dan bersenang-senang di rumah-rumah pelesir
itu! Sungguh aneh, pikirnya.
Ketika dia mencari keterangan lebih lanjut dan mendengar
bahwa Ang I Mo-li itu selain lihai juga masih muda dan cantik
jelita, pikirannya melayang dan membayangkan Han Bi Lan.
Gadis itu juga selalu berpakaian merah! Apakah Ang I Mo-li, Si
Iblis Betina Baju Merah itu Han Bi Lan" Akan tetapi kalau benar,
mengapa gadis itu mengamuk di rumah-rumah pelesir dan
membikin cacat para pria yang berpelesir di situ" Rasanya tidak
masuk akal. Apa hubungannya Han Bi Lan dengan mereka yang
berpelesir" Ayahnya dibunuh seorang pemuda dan seorang
gadis, demikian menurut penjaga rumah Han Si Tiong yang telah
ditinggalkan keluarga itu. Akan tetapi kalau memang Ang I Mo-li
itu Han Bi Lan, mengapa ia membenci para pria yang berada di
rumah pelesir" Apakah dua orang pembunuh Han Si Tiong itu
ada hubungannya dengan rumah pelesir" Hal ini meragukan hati
Thian Liong. Kalau begitu agaknya Si Iblis Betina Baju Merah itu
bukan Han Bi Lan. Thian Liong melamun dan membayangkan wajah Han Bi Lan.
Terbayang olehnya betapa Han Bi Lan mati-matian membelanya
ketika dia difitnah dan hendak menerima hukuman dari para
pimpinan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai karena fitnah yang
ditimpakan kepadanya oleh Cia Song. Kemudian betapa dia
yang ketika itu merasa penasaran dan marah kepada gadis yang
mencuri kitab untuk Kun-lun-pai dari tangannya itu, dia tampari
pinggulnya sampai sepuluh kali seperti yang dia janjikan dalam
hatinya. 453 Sejak pertemuan terakhir itu, setahun lebih telah lewat. Pada
pagi hari itu, Thian Liong menuruni sebuah bukit di puncak di
mana dia melewatkan malam yang dingin. Tidak tampak dusun
di sekitar bukit itu. Akhirnya dia menemukan jalan umum yang
kasar dan dia ingat bahwa jalan ini menuju ke kota raja di
sebelah timur, walaupun masih sekitar sehari penuh perjalanan
dari tempat itu ke kota raja.
Jalan umum itu memasuki sebuah hutan yang lebat. Matahari
pagi hanya mampu menyusup di antara daun-daun yang rimbun
sehingga membentuk sinar-sinar putih menembus keremangan


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

hutan. Indah sekali pemandangan itu. Thian Liong merasa
seperti dalam dunia yang aneh dan asing, berjalan melalui
berkas-berkas sinar putih itu.
Sunyi bukan main di jalan itu, tak tampak seorang pun manusia.
Akan tetapi suasananya cukup riang dengan adanya kicau
burung-burung yang berloncatan di dahan dan ranting pohon.
Tiba-tiba Thian Liong berhenti melangkah. Di antara suara kicau
burung-burung itu, dia mendengar suara lain yang aneh. Isak
tangis tertahan! Dia memejamkan mata mengerahkan
pendengarannya. Tak salah lagi. Ada orang menangis dengan isak ditahan-tahan.
Agak jauh dan lirih, namun pendengarannya yang tajam dapat
menangkap suara itu dan dia lalu melangkah perlahan dan hatihati menuju ke arah suara. Dia tidak ingin mengganggu orang
yang sedang menangis itu, hanya ingin melihat apa yang terjadi
maka dia berjalan perlahan agar jangan sampai diketahui orang
yang sedang menangis dan dia hampiri.
454 Tak lama kemudian dia melihat seorang gadis duduk bersandar
pada batang pohon dan dia menutupi mukanya dengan kedua
tangan. Ia menangis terisak-isak akan tetapi jelas bahwa ia
menahan agar tangisnya tidak terlalu nyaring.
Jantung dalam dada Thian Liong berdebar keras, hatinya
merasa tegang sekali. Melihat bentuk tubuhnya, gadis itu masih
muda dan pakaiannya serba merah muda! Han Bi Lan" Ah, dia
tidak dapat melihat mukanya, maka dia masih ragu, tidak yakin
apakah gadis itu Han Bi Lan. Seingatnya, gadis itu lincah jenaka
galak dan bukan model wanita yang cengeng. Akan tetapi
mengapa kalau gadis itu Bi Lan ia menangis, dan lebih aneh lagi
mengapa ia berada di hutan ini seorang diri" Semestinya ia
berada di kota raja Lin-an bersama ibunya!
Dengan hati-hati Thian Liong menghampiri dan dia sengaja
batuk-batuk setelah berdiri dalam jarak sekitar tiga tombak dari
gadis itu. "Ugh-ugh-ugh !" Tiba-tiba gadis itu menghentikan tangisnya, menggunakan
kedua tangan menggosok kedua matanya untuk meng?hapus
sisa air mata lalu menurunkan kedua tangan memandang. Dua
buah mata bintang menatapnya dengan tajam dan Thian Liong
terbelalak. "Kau eh, kau Nona Han Bi Lan ?" Gadis itu memang Han Bi Lan. Sama sekali tidak pernah
diduganya seujung rambutpun bahwa orang yang dicari-carinya
455 selama ini, orang yang membuatnya mengertakan gigi saking
gemas dan penasaran, membuat hatinya panas sekali setiap kali
mengingatnya, tahu-tahu kini berada di depannya!
Kalau tahu bahwa Souw Thian Liong datang, sudah pasti ia tidak
akan memperlihatkan tangisnya. Ia merasa malu bukan main
telah dilihat orang bahwa ia menangis, apalagi yang melihatnya
adalah Souw Thian Liong! Perasaan malu ini bagaikan minyak
dituangkan ke dalam api, membuat hatinya menjadi semakin
bernyala panas! Ia segera meloncat bangkit berdiri dengan
cekatan sekali dan kini mereka berdiri saling berhadapan, dalam
jarak sekitar tiga tombak (lima meter), saling pandang dengan
penuh perhatian. Diam-diam Thian Liong merasa kagum akan tetapi juga kasihan
melihat Han Bi Lan. Gadis itu masih cantik jelita seperti dulu
walaupun kini rambutnya kusut dan wajahnya tidak berseri. Akan
tetapi ia masih tampak jelita dan manis sekali. Wajahnya yang
bulat telur itu agak pucat dan agak kurus, rambutnya yang
panjang hitam digelung sederhana dan sebagian terurai lepas,
anak rambutnya semakin binal bermain di dahi dan pelipisnya.
Dahi yang berkulit halus putih kemerahan itu kini terhias dua
ga?ris melintang tanda bahwa gadis ini menderita batin. Alisnya
hitam kecil dan tebal, matanya yang seperti sepasang bintang itu
berkilauan, namun Thian Liong dapat menangkap kesayuan
membayang dalam mata itu. Dia ingat betapa dahulu mata itu
tajam dan penuh gairah hidup, penuh semangat. Hidung yang
mancung itu sesuai sekali dengan bibirnya yang berbentuk indah
penuh dan tipis kemerahan. Lesung pipi di kedua ujung mulut itu
masih tampak. Dagunya agak meruncing seperti menantang.
456 Kulitnya putih mulus. Tubuhnya yang ramping padat itu agak
kurus. "Nona Han Bi Lan, mengapa Nona menangis?" tanya Thian
Liong dengan lembut, karena dia tidak tahu harus bicara apa.
Begitu berhadapan dengan gadis itu, dia seolah menjadi gugup
dan bingung. "Bukan urusanmu!" Bi Lan menjawab dengan suara membentak
marah dan melanjutkan. "Sungguh kebetulan sekali, sudah lama
aku mencarimu, Souw Thian Liong!"
Thian Liong tersenyum, hatinya gembira mendengar ucapan itu.
"Ah, aku juga girang sekali dapat bertemu denganmu secara
tidak tersangka-sangka seperti ini, Nona. Aku sedang mencari
dan hendak menyusulmu ke kota raja Lin-an."
"Hemm, mau apa engkau mencari
pertanyaan ini keluar dengan ketus.
dan menyusulku?" "Aku mau menyatakan ikut berduka cita kepada engkau dan
lbumu atas kematian Ayahmu, dan aku aku hendak minta maaf
kepadamu atas perlakuanku
kepadamu dahulu itu " Lalu disambungnya, "dan
engkau mencariku dengan keperluan apakah, Nona?"
"Enak saja sudah menghina orang minta maaf begitu saja! Aku
mencarimu untuk membalas dendam atas penghinaanmu
dahulu! Bersiaplah engkau, Souw Thian Liong! Aku akan
457 menebus kekalahanku dan membalas penghinaanmu dengan
menampar mukamu sebanyak duapuluh kali!"
Setelah berkata demikian, gadis itu memasang kuda-kuda. Aneh
kuda-kudanya ini, tubuhnya berdiri tegak, kedua lengannya
tergantung lurus ke bawah, kaku
seperti patung atau seperti mayat karena wajahnya
yang agak pucat itu kini benar-benar seperti wajah mayat
dengan mata yang "mati" dan kulit muka kaku! Inilah ilmu silat
Sin-ciang Tin-thian (Tangan Sakti Menaklukkan Langit) yang
terdiri hanya dari tigabelas jurus yang ia pelajari dari gurunya
yang baru, Si Mayat Hidup. Pembukaannya adalah seperti itu,
kaku menyeramkan! Thian Liong terbelalak heran dan juga merasa seram. Dia
mengira bahwa tentu ilmu andalan gadis itu adalah Ngo-heng
Lian-hoan Kun-hoat dari Kun-lun-pai itu, dari kitab yang dulu
dicurinya, akan tetapi setelah ia menguasainya dan
mengembalikan kitab itu kepada Kun?lun-pai, ia bahkan diterima
menjadi murid. Akan tetapi kuda-kuda aneh menyeramkan itu
jelas bukan dari ilmu silat Kun-lun-pai.
"Bersiaplah!" Thian Liong semakin terkejut dan seram ketika mendengar
bentakan itu seolah keluar dari dalam perut Bi Lan tanpa gadis
itu membuka mulut! Dia memang tidak ingin berkelahi dan tidak
mau melawan. 458 "Tidak, Nona. Aku dahulu telah bersalah kepadamu. Kalau
sekarang engkau hendak membalas dan hendak menampari
aku, jangankan hanya duapuluh kali, biarpun sampai seratus kali
aku akan menerimanya dan tidak akan melawan."
Mendengar ucapan ini, Bi Lan mengurungkan kuda-kuda ilmu
silatnya dan ia menghampiri Thian Liong dengan kedua pipi kini
berubah merah saking marahnya.
"Engkau harus melawanku! Aku ingin mengalahkanmu lalu membalas tamparanmu dahulu itu. Hayo
lawan aku!" Thian Liong tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Tidak,
Nona Han Bi Lan. Engkau adalah puteri, Paman Han Si Tiong
dan Bibi Liang Hong Yi yang kuhormati, dan aku pernah
bersalah kepadamu. Maka, kalau engkau hendak membalas,
tamparlah aku sesukamu, aku tidak akan membalas."
"Keparat kau! Engkau hendak membuat aku menjadi seorang
pengecut curang yang menyerang orang yang tidak mau
melawan" Engkau telah menghinaku, dan sekarang engkau
ingin membuat aku menjadi seorang pengecut pula?"
"Tidak, Nona, bukan itu maksudku. Kalau engkau merasa terhina
dahulu, sekarang engkau boleh menghinaku kembali dan kalau
engkau hendak membalas tamparanku, engkau boleh
menampar sesuka hatimu. Ini untuk membuktikan bahwa aku
benar-benar menyesali perbuatanku kepadamu dahulu itu.
Tamparlah, Nona, engkau berhak melakukan itu!"
459 Bi Lan yang marah sekali kalau mengingat betapa pinggulnya
telah ditampari sehingga kalau ia teringat, sampai sekarang
kedua bukit pinggulnya masih terasa panas dan pedas, lalu
melangkah maju dan kedua tangannya menampar dari kanan
kiri. "Plak-plak!" Tamparan itu kuat sekali, mengenai kedua belah pipi
Thian Liong. Kepala pemuda itu sampai terguncang ke kanan kiri
oleh kerasnya tamparan. Karena ia hendak menampar
sedikitnya sepuluh kali untuk membalas, Bi Lan melanjutkan
tamparannya, bertubi-tubi.
"Plak-plak-plak !" Tiba-tiba Bi Lan menahan
gerakan tangannya dan terbelalak memandang Thian Liong
yang terhuyung-huyung ke belakang sampai belasan langkah
dan darah mengalir dari kedua ujung bibir pemuda itu! Bi Lan
terkejut bukan main. Ia memang tidak menggunakan sin-kang
(tenaga sakti) ketika menampar karena bukan maksudnya
hendak mencelakai pemuda itu, akan tetapi ia telah
menggunakan tenaga kasar yang cukup kuat. Ia mengira bahwa
pemuda itu tentu akan mengerahkan tenaga untuk melindungi
kedua pipinya. Akan tetapi ternyata Thian Liong sama sekali
tidak melindungi kedua pipinya dengan tenaga sehingga ketika
dia menerima tamparan-tamparan itu begitu saja, bibirnya
pecah, mulutnya berdarah dan matanya berkunang-kunang,
kepalanya berpusing sehingga dia terhuyung-huyung ke
belakang sambil memejamkan kedua matanya.
Pada saat itu, tiba-tiba muncul dua orang. Yang seorang
berpakaian tosu berusia enampuluh tahun lebih, membawa
460 sebatang tongkat hitam berkepala ular, dan orang kedua
seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih, tinggi besar
berkumis tebal. Tahu-tahu mereka muncul dari balik pohon
besar dan berada dekat Thian Liong yang terhuyung-huyung
dengan mata terpejam. Dan tanpa berkata apapun juga, orang
yang muda menggerakkan tangan yang memegang pedang, lalu
dia membacok ke arah leher Thian Liong yang terhuyunghuyung mundur di dekatnya.
Ketika itu, Thian Liong merasa kepalanya pening karena
terguncang oleh tamparan Bi Lan yang lima kali itu. Karena dia
menerima tamparan tanpa melindungi dengan tenaga, maka
selain bibirnya pecah, juga kepalanya terguncang sehingga dia
terhuyung ke belakang. Akan tetapi ketika ada pedang
menyambar ke arah lehernya, pendengarannya yang peka tajam
itu dapat menangkap desingan pedang. Dia mencoba untuk
mengelak dengan membuang tubuh ke kiri.
"Sing crott !!" Pedang itu masih menyambar
bahu lengan kanannya sehingga darah muncrat dari bahunya
yang terluka cukup parah. Akan tetapi tubuh Thian Liong telah
memiliki gerakan otomatis. Biarpun kepalanya masih pening dan
pangkal lengannya terluka parah, terasa panas dan pedih,
namun secara otomatis tubuhnya memutar ke kanan dan
tangannya menampar ke depan, ke arah orang yang
membacoknya. "Wuuuttt dessss !" Tubuh pemegang pedang
itu terlempar ke belakang, akan tetapi pada saat itu juga tubuh
Thian Liong terpelanting karena sebuah pukulan dengan telapak
461 tangan mengenai punggungnya. Ternyata laki-laki yang tua itu
yang memukulnya dari belakang dan pukulan itu mengandung
tenaga sin-kang yang amat kuat.
Melihat Thian Liong terbacok pedang dan terpukul secara
dahsyat Bi Lan mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya
sudah melayang ke depan, menyambar ke arah tubuh kakek
yang tadi memukul punggung Thian Liong. Melihat serangan
yang hebat datangnya itu, kakek berambut putih yang
berpakaian jubah tosu terkejut sekali dan dia pun mengeluarkan
jeritan melengking tinggi dan mendorongkan kedua tangannya
menyambut serangan Bi Lan.
"Wuuuttt dessss !!" Dua tenaga sakti bertemu
dengan dahsyatnya di udara dan akibatnya, tubuh Bi Lan yang
masih berada di udara itu terpental ke belakang. Akan tetapi
tubuh gadis itu membuat pok-sai (salto), berjungkir balik lima kali
dan turun ke atas tanah dengan ringannya. Sebaliknya, tubuh
kakek itu terhuyung ke belakang dan wajahnya yang kurus
menjadi pucat. Dia terkejut bukan main karena pertemuan
tenaga itu telah mendatangkan guncangan dalam dadanya dan
ini menunjukkan bahwa gadis itu memiliki tenaga sakti yang kuat
sekali. Apalagi melihat Thian Liong sudah bangkit kembali sambil
menyeringai dan menahan rasa nyeri, dia menjadi semakin
kaget. Padahal pukulannya tadi hebat bukan main, dilakukan
dengan pengerahan tenaga sin-kang. Lawan yang tangguhpun
akan tewas terkena pukulannya seperti itu. Akan tetapi pemuda
itu masih mampu bangkit! Ini juga membuktikan bahwa pemuda
462 itu pun lihai bukan main. Kalau pemuda dan gadis itu maju
bersama, dia pasti kalah.
12.3. Hm, Bagaimana Ceritanya . . . "!
"Hemm Pak-sian (Dewa Utara) ternyata seorang
yang curang," kata Thian Liong dan mendengar ini, kakek


Jodoh Si Naga Langit Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berambut putih dengan tubuh tinggi kurus berjubah seperti tosu
itu semakin jerih. Ternyata pemuda ini mengenalnya. Maka tanpa banyak cakap
lagi Pak-sian Liong Su Kian, datuk besar dari utara itu berkata
kepada laki-laki berkumis itu.
"Mari kita pergi!" Keduanya lalu melompat jauh dan melarikan
diri. Bi Lan hendak mengejar, akan tetapi ia melihat Thian Liong
terhuyung lalu roboh telentang di atas tanah. Ia tidak jadi
melakukan pengejaran dan segera menghampiri Thian Liong
dan berjongkok di dekatnya, memeriksanya. Bi Lan terkejut
bukan main ketika memeriksa dengan teliti. Tamparantamparannya sendiri tidak mendatangkan luka parah, hanya
membuat kedua bibir pemuda itu pecah-pecah. Luka bacokan
pedang pada pangkal lengan kanan itu jauh lebih parah, dan
ketika ia memeriksa punggung, wajah Bi Lan berubah pucat.
Thian Liong telah menderita luka dalam yang amat parah
terkena pukulan kakek tadi. Pukulan itu selain amat dahsyat juga
mengandung hawa beracun yang berbahaya. Kalau tidak cepat
hawa beracun itu dikeluarkan dari rongga dadanya, nyawa
pemuda itu takkan dapat diselamatkan lagi!
463 Melihat wajah pemuda yang telentang itu amat pucat, di kedua
ujung mulutnya berlepotan darah dan kedua matanya terpejam,
napasnya agak terengah dan lemah, Bi Lan merasa jantungnya
seperti diremas. "Thian Liong !" Ia berbisik, merasa menyesal
sekali. Kalau ia tidak menampar pemuda yang sama sekali tidak
melindungi dirinya itu sehingga terhuyung dan pening, tidak
mungkin dia akan terluka bacokan pedang dan menerima
pukulan yang amat dahsyat tadi. Ia yang menyebabkan pemuda
itu sampai begini. Hatinya yang sejak tadi amat gundah
sehingga tadi ia menangis, kini menjadi semakin sedih dan
sambil menyusut darah dari kedua ujung bibir Thian Liong
dengan saputangannya, Bi Lan mengusap kedua matanya yang
basah dengan pung?gung tangan. Kemudian ia membuka
kancing baju pemuda itu, menanggalkan baju itu dan kini Thian
Liong bertelanjang bagian atas badannya.
Bi Lan mendorong tubuh pemuda itu sehingga miring, hampir
menelungkup, lalu sambil duduk bersila di belakang tubuh itu ia
menempelkan tangan kanannya pada punggung Thian Liong
yang terdapat tanda telapak tangan menghitam. Bi Lan
menyalurkan tenaga saktinya untuk mendorong dan mengusir
hawa beracun itu dari rongga dada Thian Liong. Akan tetapi ia
harus berhati-hati sekali karena kalau salah perhitungan dan
menggunakan tenaga terlalu besar, bukan tidak mungkin
tenaganya itu malah akan merusak jantung dan paru?paru!
Sampai beberapa lamanya, Bi Lan melihat bahwa usahanya itu
belum juga berhasil. Ia menjadi bingung, dan serba salah.
464 Mengerahkan tenaga terlalu besar, ia takut kalau akan
mendatangkan luka pada isi rongga dada. Kalau terlalu lemah,
tidak kuat untuk mengusir hawa beracun dari dalam rongga dada
Thian Liong. "Ah Thian Liong " Ia mengeluh lagi dengan
bingung dan panik karena melihat betapa pernapasan pemuda
itu semakin melemah. Memandang wajah itu, kembali
jantungnya seperti diremas dan kembali matanya menjadi basah
dan dua butir air mata mengalir keluar dari pelupuk matanya,
jatuh menetes pada punggung pemuda itu.
Tiba-tiba saja Bi Ian merasa betapa sesungguhnya, wajah yang
berada di depannya ini belum pernah hilang dari kenangannya.
Wajah ini selalu terbayang dan ia memaksa hatinya
menganggap bahwa ia mengenang pemuda itu karena sakit hati,
karena merasa terhina, karena jengkel dan marah. Akan tetapi
sesungguhnya, di balik itu semua, terdapat perasaan rindu dan
sakit hatinya itu lebih disebabkan kekecewaan mengapa
pemuda yang dikaguminya itu malah menampari pinggulnya.
Mengapa pemuda itu membencinya! Padahal ia mengharapkan
pemuda itu memperlihatkan keramahan kepadanya. Kini
bagaikan sinar kilat memasuki kesadarannya bahwa
sesungguhnya, sejak pertemuan pertama, tanpa disadarinya, ia
mencinta Thian Liong! "Thian Liong !" Ia mencoba lagi, berusaha
sedapatnya untuk mengusir hawa beracun itu dengan
menambah tenaganya, namun dengan hati-hati sekali sambil
memperhatikan wajah Thian Liong. Kalau ada tanda sedikit saja
465 bahwa tenaganya terlalu besar sehingga pemuda itu kesakitan,
tentu akan dihentikannya.
Ia melihat sepasang mata itu bergerak, berkedip, akan tetapi
wajah yang pucat itu tidak tampak kesakitan. Hatinya menjadi
girang sekali, Thian Liong telah siuman!
Pemuda itu membuka kedua matanya dan menggerakkan
kepalanya, menoleh agar dapat melihat siapa yang berada di
belakang tubuhnya yang miring. Dia bertemu pandang dengan
Bi Lan yang menyalurkan sin-kang melalui tangan kanan yang
ditempelkan di punggungnya. Dengan heran Thian Liong melihat
wajah itu, bibirnya tersenyum akan tetapi mata bintang itu basah
air mata! Lalu dia teringat bahwa dia terkena pukulan ampuh dan
Bi Lan sedang berusaha mengobatinya dengan penyaluran sinkang untuk mengusir hawa beracun dari dalam rongga dadanya.
Bi Lan mengobatinya" Tidak mimpikah dia"
"Nona Han Bi Lan, engkau engkau mengobati
aku ?" "Diamlah, Thian Liong. Engkau terkena pukulan beracun yang
berbahaya, mudah-mudahan aku akan dapat mengusir hawa
beracun dari dadamu."
Thian Liong tersenyum! Hatinya girang bukan main melihat sikap
Bi Lan. Gadis itu berusaha menolongnya, berarti telah
memaafkan dia. "Nona cabutlah pedangku Thian-liong-kiam
tempelkan di punggungku " katanya terengah karena
466 rongga dadanya terasa panas yang membuat ia sesak napas.
Bi Lan mengerti. Ia tadi menanggalkan pedang dari punggung
Thian Liong ketika melepas baju pemuda itu. Pedang itu ia
letakkan di atas tanah. Ia lalu mencabut pedang itu dari
sarungnya dan kagum melihat pedang itu berkilau. Kemudian ia
menempelkan pedang itu di punggung Thian Liong.
Thian-liong-kiam (Pedang Naga Langit) adalah sebatang pedang
puslika yang amat langka. Pedang ini mengandung daya untuk
menyedot hawa beracun, bahkan air rendamannya dapat
mengobati segala macam luka yang mengandung racun.
Pedang ini pemberian Tiong Lee Cin-jin kepada muridnya itu.
Tak lama kemudian setelah pedang itu menempel di punggung
Thian Liong, tampak asap hitam perlahan-lahan mengepul
keluar dari punggung itu! Bi Lan memandang dengan kagum
sekali, juga hatinya merasa girang karena tak lama kemudian,
warna telapak tangan hitam di punggung itu perlahan-lahan
menipis dan makin menghilang.
Thian Liong mulai dapat bernapas dengan longgar. Dia lalu
bangkit duduk dan membantu daya sedot pedang itu dengan
pengerahan sin-kang untuk mengusir bersih semua hawa
beracun. "Cukup, Nona. Bahaya yang mengancam nyawaku telah lewat.
Terima kasih atas pertolonganmu, Nona. Engkau sungguh
mulia." "Jangan banyak bicara dulu, lukamu di pangkal lengan perlu
diobati dulu." 467 Bi Lan lalu mengambil obat bubuk dari buntalan pakaiannya. Ia
memang selalu membawa obat bubuk itu untuk mengobati luka.
Setiap orang kang-ouw selalu membawa obat seperti ini. Setelah
menaruh obat bubuk pada luka menganga di pangkal lengan
kanan Thian Liong, Bi Lan lalu mengambil sehelai pita
rambutnya dari buntalan itu dan membalut pangkal lengan Thian
Liong. "Cukup, Nona Han Bi Lan. Sungguh aku merasa berhutang budi
dan berterima kasih sekali padamu," kata Thian Liong yang lalu
mengenakan kembali bajunya.
"Akan tetapi bibirmu " Bi Lan hendak menyentuh
ke arah muka Thian Liong, akan. tetapi ditariknya kembali
tangan itu karena merasa tidak pantas. Ia memandang bibir
yang pecah itu dengan hati penuh penyesalan.
"Ah, bibir begini saja tidak mengapa, Nona. Nanti akan sembuh
sendiri. Hanya lecet sedikit saja."
"Curang sekali Pak-sian Liong Su Kian tadi. Akan tetapi aku
tidak tahu siapa orang berkumis yang membacok lenganku tadi,"
kata Thian Liong. "Aku mengenalnya. Dia adalah Jiu To, seorang dari Sam-pakliong yang pernah bentrok dengan aku. Sam-pak-liong (Tiga
Naga Utara) menjadi pengawal Hiu Kan, putera mendiang
Pangeran Hiu Kit Bong. Mereka berempat menggangguku dan
mereka kubunuh semua, hanya Jiu To yang kubiarkan hidup
karena dia mau memberitahu kepadaku di mana adanya Toatbeng Coa-ong Ouw Kan."
468 "Ah, dan engkau sudah dapat bertemu dengan musuh besarmu
itu" Aku sudah mendengar dari orang tuamu bahwa dulu yang
menculikmu adalah Ouw Kan."
"Aku sudah membunuhnya!" kata Bi Lan singkat.
Diam-diam Thian Liong merasa ngeri dan menyesal mengapa
gadis yang sesungguhnya amat baik ini dapat begitu liar dan
kejam. "Aku mendengar tentang Ang I Mo-li yang mengamuk
melukai banyak bangsawan dan hartawan
" "Akulah yang disebut Ang I Mo-li!" Bi Lan berkata pula, singkat.
Thian Liong merasa semakin menyesal sehingga dia tidak dapat
mengeluarkan kata-kata Iagi. Juga Bi Lan tampak termenung.
Mereka duduk di atas rumput tebal di bawah pohon besar itu.
Matahari sudah naik agak tinggi sehingga cuaca dalam hutan
lebat itu semakin terang. Beberapa kali Thian Liong menghela
napas panjang dan kebetulan sekali gadis itu pun menarik napas
panjang. Suasana menjadi kaku. Gadis itu diam seperti patung,
seolah tidak mengacuhkan segala sesuatu, membuat Thian
Liong menjadi salah tingkah dan merasa hatinya tidak nyaman.
Dia memaksa diri membuka percakapan untuk mencairkan
suasana yang seolah membeku itu.
"Nona " "Tidak usah menyebut Nona padaku!" Bi Lan memotong cepat.
"Engkau tahu, namaku Bi Lan, Han Bi Lan."
469 Thian Liong tertegun, akan tetapi dia
Pembukaan percakapan yang baik, pikirnya.
Tangan Geledek 18 Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan Hoa San Lun Kiam Karya Chin Yung Neraka Hitam 3
^