Pencarian

Makam Bunga Mawar 16

Makam Bunga Mawar Karya Opa Bagian 16


kepala sendiri, sedikit banyak ia merasa khawatir akan
keselamatan diri harimau hitam itu, apalagi kalau ditilik
kejahatan dan keganasan binatang aneh itu mungkin akan
membawa bencana bagi orang banyak, maka diam-diam ia
lalu mencari pikiran untuk memberi bantuan kepada harimau
hitam. Supaya dengan tindakannya itu dapat menyingkirkan
bahaya yang ditimbulkan oleh binatang aneh itu.
Selagi Hee Thian Siang masih berpikir keras untuk mencari
akal, pertempuran antara harimau dan binatang aneh itu
sudah tentu pindah ke tempat sejauh beberapa tombak dari
hadapannya. Hee Thian Siang telah mendapat kenyataan bahwa
harimau hitam itu sengaja memancing binatang aneh supaya
meninggalkan sarangnya, tergeraklah hatinya. Ia pikir apakah
harimau hitam itu masih mempunyai kawan" Jikalau tidak . .
Belum lenyap pikirannya itu, benar saja dari dalam rimba,
dengan diam-diam muncul seekor kera hitam, dengan satu
gerakan yang gesit sekali ia sudah lompat melesat ke atas
pohon yang terdapat di depan kediaman binatang aneh tadi.
Dari dalam goa ia mengambil dan melemparkan segempal
benda merah. Hee Thian Siang yang baru saja berpikir bahwa
kedatangan kera hitam yang memberi bantuan kepada
harimau hitam itu, binatang aneh itu pasti kalah. Tetapi apa
yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaannya.
Kiranya binatang aneh yang mirip ular bukan ular yang
mirip kelabang bukan kelabang ternyata memiliki gerakan
yang sangat lincah dan gesit sekali. Di luarnya ia pura-pura
mau terpancing oleh akal harimau hitam ke tempat yang agak
jauh, akan tetapi matanya yang tunggal tetap waspada, ia
masih tetap memperhatikan keadaan sekitarnya.
Kera hitam itu muncul dari dalam rimba, dan baru saja
melemparkan benda merah itu ke dalam dari atas pohon,
binatang aneh itu sudah melesat kembali dari tempat sejarak
beberapa tombak itu, dengan mulutnya mengeluarkan
suaranya yang aneh, telah berhasil melilit kera itu dengan
ekornya. Harimau hitam itu ketika melihat kera hitam dililit oleh
binatang aneh itu, tampaknya sangat marah, ia segera lompat
menerkam. Binatang aneh itu kembali mengeluarkan suaranya yang
bangga, mulutnya yang lebar dibentang, dan dari situ
mengeluarkan hawa racun yang berwarna hitam untuk
menyerang harimau hitam yang sedang menerkam dirinya.
Hee Thian Siang yang melihat keadaan demikian
berbahaya bagi harimau hitam dan kera hitam itu, ia tahu
apabila ia tidak turun tangan lagi, harimau dan kera hitam itu
niscaya akan terbinasa kedua-duanya ditangan binatang aneh
itu. Tapi karena ia berada di atas lain pohon, terpisah dengan
pertempuran binatang itu kira-kira masih tiga tombak jauhnya,
betapapun gesit gerakannya juga sulit untuk menghindarkan
serangan ganas dari binatang aneh itu.
Dalam keadaan demikian, Hee Thian Siang tiba-tiba
teringat akan senjata rahasia Peng-pek Sin-sa pemberian
Leng Pek Ciok, maka buru-buru mengerahkan kekuatan
tenaga dalamnya pada telapak tangannya, lalu dimasukkan ke
dalam kantong pasir berbisa itu, untuk mengambil tiga butir
Peng-pek Sin-sa, digunakan untuk menyerang mata dan mulut
binatang aneh itu. Senjata rahasia itu pengaruhnya hebat
sekali, bahkan merupakan sesuatu senjata yang tepat untuk
menundukkan binatang aneh itu.
Ketika benda itu meluncur dari tangan Hee Thian Siang,
tiga titik sinar putih berkelebatan, lebih dulu menolong jiwa
harimau hitam, karena pasir dingin itu tepat mengenai mulut
binatang aneh, hingga hawa racun yang menyambar keluar,
dengan sendirinya punah seketika, dan matanya yang tunggal
itu lantas menjadi buta, sisik-sisik di sekujur badannya
seluruhnya menggigil, tidak bisa melihat kera hitam itu. Kera
hitam tadi ketika mendapat pertolongan dengan tiba-tiba,
dengan gesitan yang luar biasa sudah lompat melesat dari
lilitan binatang aneh tadi.
Hee Thian Siang meskipun gembira karena serangannya
memperoleh hasil demikian memuaskan, tetapi ia masih
khawatir bahwa binatang aneh yang buas itu susah untuk
ditundukkan, maka kembali ia melancarkan dengan dua butir
senjata rahasianya untuk menyerang kepada binatang aneh
itu. Dua butir Peng-pek Sin-sa itu, setelah mengenai kepala
dari binatang aneh itu, badan binatang aneh itu tampak
kembali menggigil, perlahan-lahan menjadi kaku dan tidak
bisa bergerak lagi. Agak lama harimau hitam itu mengeluarkan suara perlahan
dari mulutnya, ketika melihat Hee Thian Siang tidak
menghiraukan, lalu berpaling dan memanggil kera hitam yang
baru mengorek biji mata binatang aneh tadi.
Kera hitam itu ketika mendengar suara kawannya lantas lari
menghampiri, ia angkat kepalanya beberapa kali kepada Hee
Thian Siang , kemudian lompat dan duduk di atas punggung
harimau hitam itu. Hee Thian Siang yang menyaksikan
kejadian itu, agaknya mengerti maksudnya. Maka ia lantas
berkata sambil tertawa: "Apakah kamu minta aku supaya
duduk di atas punggung harimau hitam ini?"
Kera hitam itu ternyata mengerti kata-kata yang
dimaksudkan oleh Hee Thian Siang itu. Berulang-ulang ia
menganggukkan kepala, dan tangannya menunjuk-nunjuk
punggung harimau hitam, agaknya minta Hee Thian Siang
agar duduk diatasnya. Oleh karena tertarik oleh perasaan heran dan melihat
harimau dan kera itu terhadap dirinya tidak mengandung
maksud jahat, maka Hee Thian Siang lalu menganggukkan
kepala sambil tersenyum, kemudian melayang turun dari atas
dan sudah berada di atas punggung harimau itu.
Setelah Hee Thian Siang berada di atas punggung harimau
hitam, kembali binatang itu mengeluarkan suara perlahan,
berjalan perlahan-lahan menuju kebagian barat laut dalam
rimba itu. Sedangkan kera hitam itu terus mengikuti di
belakangnya. Gerak kaki harimau itu dari perlahan-lahan berubah
menjadi cepat, kira-kira setengah jam kemudian sudah keluar
dari rimba lebat itu. Baru tiba dimulut lembah, Hee Thian Siang sudah merasa
terkejut, sebab dikanan kiri mulut lembah itu terpancang
sebuah barang yang diikat dengan rotan, dan barang itu
sangat mengejutkan sekali.
Di sebelah kiri barang yang terpancang itu ternyata
binatang anehnya Tiong-sun Hui Kheng ialah Taywong,
sedangkan di sebelah kanan adalah siaopek, sikera putih
yang sangat cerdik. Hee Thian Siang selagi hendak menanya, tapi harimau itu
lari sangat pesat sekali, dan sebentar saja sudah melalui
bawah Taywong dan siaopek masuk ke dalam lembah.
"Taywong dan siaopek telah diikat dan digantung dimulut
lembah, apakah Tiong-sun Hui Kheng dan kudanya Ceng-
hong-kie, juga terdapat didalam lembah"
Pertanyaan itu terus mengganggu pikiran Hee Thian Siang.
Oleh karena saat itu ia sudah berada didalam lembah, maka
segala-galanya setelah ia menjumpai penghuni lembah itu,
sudah tentu akan jelas semua, dan tak perlu menduga-duga
lagi. Kembali ia melalui dua tikungan, dan harimau hitam itu
mendadak berhenti. Hee Thian Siang tahu bahwa ia sudah
sampai ditempatnya, maka ia lantas melompat turun dan apa
yang dilihatnya" Pemandangan disekitar tempat itu ternyata
sangat indah. Yang mengherankan ialah di sana terdapat
pohon yang sangat aneh, pohon itu kira-kira setinggi sepuluh
tombak lebih, diatasnya terdapat sarang burung raksasa.
harimau hitam dan kera hitam itu ketika berjalan tiba di
bawah pohon besar itu, keduanya lantas berlutut menghadap
ke atas. Menyaksikan tindakan itu dalam hati Hee Thian Siang
merasa heran dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: "Apakah
penghuni lembah ini berdiam di atas sarang burung di atas
pohon ini?" Belum hilang pikirannya, didalam sarang burung di atas
pohon itu tiba-tiba terdengar suara Orang bicara yang nada
suaranya seperti anak kecil: "Kamu sudah mengajak tamu.
Silahkan naik ke atas pohon untuk bicara."
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, tidak
menunggu sampai harimau hitam dan kera hitam itu memberi
isyarat kepadanya, dengan suatu gerakan ia sudah melesat
setinggi lima tombak, kemudian dengan dua kali gerakan lagi
sudah berada didalam sarang burung di atas pohon itu. Dalam
sarang burung raksasa itu duduk seorang padri yang
berperawakan pendek kecil, mukanya merah. Padri itu
tampaknya baru berusia tiga puluh tahunan.
Padri yang mengenakan jubah berwarna kuning dengan
sinar mata tajam menatap Hee Thian Siang. Lantas
mengulurkan tangannya mempersilahkan Hee Thian Siang
duduk, sikapnya seolah-olah sangat sombong dan dingin
sekali. Hee Thian Siang yang berulang-ulang sudah menjumpai
kejadian-kejadian ajaib, sifatnya sedikit banyak sudah
mengalami perubahan, maka ia menuruti petunjuk padri
pendek kecil itu, didalam sarang burung yang sangat luas itu
duduk ber?"" dihadapannya.
Padri itu menunggu Hee Thian Siang sampai duduk benar,
memandangnya lagi sampai beberapa kali, dengan sikap
ramah dia unjukkan tertawanya, kemudian berkata pada diri
sendiri: "Lembahku Thian-keng-kok ini, sudah delapan puluh
tahun lamanya, selalu menolak kedatangan tamu dari luar tak
diduga-duga pada hari belakangan ini tampaknya begitu
banyak orang datang, juga ada binatang yang berkunjung."
Hee Thian Siang dikejutkan oleh kata-kata padri itu yang
menyebutkan "Waktunya delapan puluh tahun lebih menolak
tamu dari luar," tetapi kemudian ia teringat apa yang pernah
didengarnya dari gurunya, maka dengan sikap sangat
menghormat ia memberi hormat kepada padri itu, kemudian
bertanya sambil tersenyum:
"Taisu ini apakah bukannya Thian-Ie Siangjin yang selama
seratus tahun ini dengan bulu burung berwarna merah
sebagai senjata, didalam rimba persilatan belum pernah
menemukan tandingan, serta kemudian telah menghilang
dengan secara tiba-tiba?"
Padri berjubah kuning itu agaknya tak menyangka bahwa
Hee Thian Siang dapat menyebutkan nama julukannya
sendiri, maka lalu bertanya dengan sikap terheran-heran:
"Laote ini, bagaimana sebutannya" Murid dari golongan
mana" Pengetahuanmu tentang orang-orang rimba persilatan
begitu luas. Begitu melihat orangnya, sudah dapat
menyebutkan julukan dan asal usulnya. Laote, kau ini benar-
benar sangat mengherankan!"
Hee Thian Siang mengira bahwa terkaannya yang tidak
disengaja itu ternyata tepat, maka ia semakin menaruh hormat
kepada Thian-Ie Siangjin, seorang padri gaib dari golongan
Buddha yang usianya lebih dari seratus tahun. Atas
pertanyaan padri tua itu, ia lalu menjawab dengan sikap
sangat menghormat: "Boanpwee, Hee Thian Siang, seorang pendatang baru
dalam dunia Kang-ouw. Sedang guru boanpwee adalah Pak-
bin Sin-po Hong-poh Cui."
"Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui . . . " Demikian Thian-Ie
Siangjin mengulang. Oleh karena Hee Thian Siang anggap bahwa karena
suhunya pernah menggemparkan rimba persilatan, sedangkan
sikap dan nada suara Thian-Ie Siangjin ini seolah-olah belum
pernah dengar, sudah tentu semula ia merasa agak heran,
tetapi kemudian berpikir lagi: Padri itu tadi sudah berkata
bahwa di lembah itu sudah delapan puluh tahun lebih lamanya
terpisah dengan dunia luar. Dengan sendirinya ia tidak
mengetahui nama suhunya. Tapi belum lenyap pikirannya,
Thian-Ie Siangjin sudah berkata sambil tersenyum:
"Sejak loceng masuk didalam gua ini, sudah hampir seratus
tahun lamanya, terhadap urusan luar sudah banyak tidak
ambil perhatian. Hee laote harap kau jangan kecil hati jikalau
sipadri agak kurang sopan!"
"Mengapa taisu mengucapkan demikian" Hee Thian Siang
yang melakukan perjalanan dan menjelajah banyak tempat,
tak diduga-duga atas petunjuk harimau sakti dan kera sakti
tadi sehingga terbawa kemari dan dapat berjumpa dengan
taisu, seorang padri beribadat tinggi."
Baru saja perkataan "Padri beribadat tinggi" keluar dari mulutnya, Thian-Ie
Siangjin itu sudah tertawa terbahak-bahak.
Hee Thian Siang dibingungkan oleh sikap padri tua itu, maka
ia bertanya dengan sikap terheran-heran: "Mengapa taisu
ketawa" Apakah ucapan Hee Thian Siang terdapat
kesalahan?" "Aku tertawakan Hee laote, mengapa menyebut aku ini
sebagai padri beribadat tinggi" Sebetulnya aku ini adalah
orang yang tak berguna dalam golongan Buddha." Berkata
Thian-Ie Siangjin sambil tertawa terbahak-bahak.
Hee Thian Siang masih tidak mengerti, sementara itu
Thian-Ie Siangjin sudah bertanya lagi: "Tahukah kau, apa
sebab aku berdiam didalam lembah Thi-keng-kok ini sampai
seratus tahun lamanya?"
"Jika menurut apa yang tersiar di kalangan Kang-ouw, taisu
sudah menginsyafi penghidupan manusia didalam dunia, yang
penuh coba dan dosa, hingga pergi mengasingkan diri ke
tempat ini." "Kau keliru, mana aku pergi mengasingkan diri" Sebetulnya
hanya lantaran berjumpa dengan lawan yang terlalu lihay!"
Berkata Thian-Ie Siangjin sambil tertawa.
Mendengar ucapan itu, Hee Thian Siang terkejut, tanyanya:
"Dahulu taisu hanya dengan sebatang bulu burung berwarna
merah, telah menjelajah dunia Kang-ouw tanpa tandingan.
Bagaimana ada lawan yang lebih lihay lagi?"
Thian-Ie Siangjin mengalihkan pandangan matanya ke arah
Barat laut, katanya sambil tersenyum: "Aku dengan lawanku
itu, hanya secara kebetulan berjumpa di dunia Kang-ouw,
karena mengandalkan kepandaian masing-masing, maka
terjadilah pertempuran sengit. Oleh karena pertempuran itu


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berlangsung lama tanpa ada yang kalah atau menang, maka
setiap kali berjumpa, kami lantas mengadakan pertempuran.
Demikian sekian tahun kami mengadakan pertempuran ini,
hingga saat ini sudah seratus tahun tapi masih belum
ketahuan siapa yang lebih hebat."
Hee Thian Siang mendengar keterangan itu, bukan
kepalang terkejutnya. Tanyanya: "Lawan taisu ini apakah juga
berdiam didalam lembah gunung Ko-le-kong-san ini?"
Ia bernama Siam-ciok Cinjin, memang ia berdiam di
sebelah kiri lembah ini. Dan tempat itu dinamakan Thian-ciu-
kan, kami sudah mengadakan perjanjian, kecuali sudah ada
satu yang menang atau kalah, jika tidak, siapa saja tak boleh
muncul lagi didalam dunia Kang-ouw, tetapi juga barang siapa
yang tutup mata lebih dulu, juga harus masih perlu mengaku
kalah terhadap yang masih belum menutup mata!" Berkata
Thian-Ie Siangjin sambil menganggukkan kepala.
"Aku yang sudah menganut agama masih tidak bisa
meninggalkan pikirannya untuk berebut nama, bukankah ini
sangat lucu" Maka aku tak bisa menerima sebutanmu sebagai
padri beribadah lagi. Aku hanya menganggap diriku sebagai
orang yang tidak berguna bagi kalangan Buddha!" Berkata
pula Thian-Ie Siangjin sambil mengulap.
Berkata sampai disitu, harimau dan kera hitam yang berada
dibawah pohon, dengan tiba-tiba mengeluarkan suara
berulang-ulang. Thian-Ie Siangjin agaknya memahami bahasa binatang, ia
pasang telinga sejenak, lalu berkata kepada Hee Thian Siang:
"Harimau dan kera yang kudidik selagi aku keisengan, tadi
didalam rimba telah menemui bahaya. Untung Hee laote
menolong mereka. Pinceng seharusnya mengucapkan
terimakasih kepadamu!"
Mendengar Thian-Ie Siangjin menyebut harimau dan
monyet hitamnya, Hee Thian Siang juga teringat kepada
siaopek dan Taywong yang digantung dimulut lembah, maka
ia memberi hormat dan berkata sambil tertawa: "Sewaktu Hee
Thian Siang baru masuk ke lembah ini pernah melihat dimulut
lembah ada digantung . . "
Thian-Ie Siangjin lantas menyambungnya sambil tertawa:
"Dua ekor binatang itu entah peliharaan siapa" Mereka sangat
cerdik, agaknya sedang mencari-cari orang di lembah ini,
hingga akhirnya kutangkap dan ku gantung dimulut lembah
maksudku sebetulnya hendak menundukkan mereka supaya
menjadi jinak . ." Hee Thian Siang mendengar sampai di situ lalu memberi
hormat dan berkata sambil tertawa: "Dua ekor binatang cerdik
itu, adalah binatang peliharaan sahabat Hee Thian Siang.
Bolehkah taisu memaafkan kesalahan mereka?"
"Hee laote, sahabatmu itu apakah seorang nona yang
menunggang seekor kuda berbulu hijau yang sangat perkasa"
. ." Hee Thian Siang justru karena belum menemukan jejak
Tiong-sun Hui Kheng, maka hati merasa agak cemas.
Sebelum menunggu selesai ucapan padri itu, sudah
menganggukkan kepala dan berkata: "Benar,
benar, kedatangan Hee Thian Siang ke gunung Ko-le-kong-san ini
maksudnya ialah untuk mencari dia, bolehkah Hee Thian
Siang numpang tanya kepada taisu, sahabatku itu berada
dimana sekarang?" "Tatkala aku turun tangan menangkap dua binatang cerdik
itu, dari dalam Thian-ciu-kan aku pernah dengar suara
meringkiknya kuda berjalan, sahabatmu itu mungkin sudah
kena ke dalam Thian-ciu-kan, dan jatuh ditangan Sam-ciok
Cinjin yang adatnya lebih sukar dihadapi daripadaku."
Hee Thian Siang mendengar ucapan itu segera mengetahui
bahwa enci Tiong-sunnya pasti selama berada digunung Ko-
le-kong-san ini, mereka pasti berpencaran mencari jejaknya
May Ceng Ong, sehingga akhirnya masing-masing terpisah
dan kesasar ke dalam lembah Thian-keng-kok dan Thian-ciu-
kan. Karena menurut Thian-Ie Siangjin bahwa orang yang
disebut Sam-ciok Cinjin itu lebih sukar dihadapin, maka
dengan sendirinya Hee Thian Siang semakin
mengkhawatirkan keselamatan Tiong-sun Hui Kheng. Ia
segera bangkit dan minta diri, dan menanyakan jalannya
menuju ke Thian-ciu-kan itu.
Thian-Ie Siangjin lebih dulu mengeluarkan suara
memerintahkan kepada kera hitam supaya melepaskan
siaopek dan Taywong, kemudian berkata kepada Hee Thian
Siang: "Hee laote, kau jangan terburu nafsu, aku hendak
menanyakan lebih dulu kepada imam tua itu!" Sehabis berkata
demikian matanya mengawasi ke atas puncak gunung yang
tinggi di sebelah Barat laut, dan mengeluarkan suara yang
amat nyaring: Tak lama kemudian setelah suara itu keluar dari mulutnya
Thian-Ie Siangjin, dibalik puncak gunung diarah Baratlaut itu
terdengar suara siulan dan balasan.
Thian-Ie Siangjjin dengan sikap serius, dengan
menggunakan suara tidak keras dan tidak pelahan tetapi
kedengarannya sangat lunak, berkata: "Sam-ciok toyu, apakah
di tempatmu ada tetamu?"
Dari seberang sana lantas mendapat jawaban: "Ada,
seorang anak perempuan yang cantik jelita dan berbakat
bagus, dengan menunggang seekor kuda jempolan, kesasar
masuk ke tempat kediamanku, aku justru hendak berusaha
untuk menghukum dia!"
Hee Thian Siang yang mendengar percakapan itu diam-
diam merasa heran, sebab tempat antara dua orang itu
sedikitnya terpisah jarak beberapa pal. Tetapi Thian-Ie
Siangjin dan Sam-ciok Cinjin ternyata bisa bercakap-cakap
seperti berhadapan muka, hal ini sesungguhnya merupakan
suatu kejadian yang sangat langka (jarang terjadi).
Sementara itu Thian-Ie Siangjin lantas tertawa terbahak-
bahak dan berkata pula: "Imam tua, kau jangan berbuat
demikian tidak tahu malu. Usiamu sudah demikian lanjut,
bagaimana kau bisa berpikiran seperti anak-anak" Lekas
bebaskan dia dan katakan padanya bahwa ada sahabat
baiknya sekarang di kediamanku sedang menantikan
kedatangannya!" Dengan suara yang tegas sekali, jawaban Sam-ciok Cinjin
terdengar pula, kali ini bahkan dibarengin dengan suara
tertawanya yang aneh. "Anak perempuan itu baik
perasaannya maupun hatinya, sesungguhnya sangat
menyenangkan. Aku sebetulnya hendak menghukum dia
dalam waktu tiga hari harus menyelesaikan pelajaran ilmu silat
yang kuberikan kepadanya . . ."
Hee Thian Siang yang mendengar itu, dalam hati diam-
diam girang. Sebab, jikalau cuma disuruh belajar ilmu silat,
hukuman itu semakin lama malah semakin baik! Sedangkan ia
sendiri untuk sementara boleh membiarkan Tiong-sun Hui
Kheng mendapat warisan ilmu silat dari tokoh yang luar biasa
itu. Setelah itu perlahan-lahan ia akan berusaha supaya bisa
bertemu muka kembali. Akan tetapi saat itu terdengar pula Sam-ciok Cinjin yang
melanjutkan keterangannya: "Tapi sekarang karena aku tahu
dia ada sedikit hubungan dengan kau kepala gundul tua
bangka ini, maka pikiranku sudah berubah lagi, bukan saja
aku tidak akan menurunkan pelajaran ilmu silat, bahkan aku
akan menghukum dia untuk bekerja berat selama seratus hari,
kemudian baru diusir pergi dari sini."
Hee Thian Siang mendengar ucapan itu perasaan
girangnya tadi lenyap seketika dan diganti dengan perasaan
khawatir. Ia menatap wajah Thian-Ie Siangjin. Sementara itu,
padri tua yang masih belum bisa melenyapkan pikirannya
untuk berebut nama, itu setelah berpikir sejenak, kemudian
berkata lagi ke arah Thian-cu-kan: "Imam tua, kau jangan
sombong. Anak muda jaman sekarang, kebanyakan berkepala
batu dan berhati sombong. Kau pikir hendak menghukum
anak perempuan itu untuk melakukan pekerjaan berat selama
seratus hari, tetapi kiraku ia belum tentu mau mendengar
perintahmu!" Dari seberang sana terdengar suara aneh Sam-ciok Cinjin,
kemudian disusul dengan kata-katanya: "Padri tua, dugaanmu
ini tidak salah, anak perempuan ini memang benar terlalu
berkepala batu dan sombong sikapnya. Tetapi dia memiliki
seekor kuda jempolan yang amat disayang, dan kuda itu
sekarang ada di tanganku. Jikalau dia tidak mau menuruti
perkataanku, aku nanti akan memotong sebelah paha kuda
kesayangannya itu!" Mendengar ucapan itu, sekujur badan Hee Thian Siang
gemetaran, ia pikir San-ciok Cinjin itu lebih kukoay adatnya
daripada Thian-Ie Siangjin. Ia sudah memikirkan cara
demikian keji untuk menghadang Tiong-sun Hui Kheng, maka
Tiong-sun Hui Kheng pasti berani melawan lagi.
Thian-Ie Siangjin seperti tiba-tiba ingat sesuatu, alisnya
bergerak beberapa kali, dengan wajah tampak girang, ia
berkata: "Imam tua, kau jangan bertindak yang bukan-bukan,
aku sekarang justru mendapatkan suatu akal, mungkin bisa
membantu lekas menyelesaikan persoalan kita berdua."
Sam-ciok Cinjin nampaknya sangat tertarik dengan ucapan
itu. Maka lalu memberi jawaban: "Lekas ceritakanlah! Akal apa yang kau ?"" bagus
itu?" Thian-Ie Siangjin bertanya: "Aku dengan kau sejak
mengadakan pertempuran, semula dari lembah Tong-teng-
ouw dan kemudian ke Oei-hok-?"" dan lain-lain tempat,
apakah kau masih ingat sudah melakukan pertempuran
berapa kali?" "Setiap tahun melakukan pertandingan sekali, hingga tahun
ini sudah seratus tahun lamanya. Jadi kita sudah bertempur
sembilan puluh sembilan kali!" Menjawab Sam-ciok Cinjin.
"Dalam pertempuran sengit yang terdahulu belum ada
ketentuan siapa yang lebih unggul, dan pertempuran tahun ini
yang belum dimulai, apa kau sudah yakin benar . .?" Berkata
Thian-Ie Siangjin. "Kepandaianku dan kepandaianmu sama-sama sudah
sampai ke taraf yang tiada taranya, siapapun sudah tidak bisa
mendapat kemajuan lagi. Dan siapapun juga tak berani
mengatakan apa keyakinannya sendiri!" Berkata Sam-ciok
Cinjin sambil tertawa. "Kalau benar kita sama-sama tidak yakin, maka jika kita
hendak merebut kemenangan harus dicoba lagi sampai kapan
baru bisa tercapai". apa tidak lebih kita mengenakan suatu
cara atau cara dari orang-orang persilatan kita untuk
menentukan kemenangan."
"Apa yang kau maksudkan dengan orang penciptaan kita itu?"
"Aku di sini ada seorang sahabat kecil yang usianya masih
muda belia, karena kesasar hingga datang ke tempatku ini.
Sahabat kecilku itu bernama Hee Thian Siang. Dan kau di
sana juga ada kesasar seorang gadis muda belia, bernama
. . ." "Dia bernama Tiong-sun Hui Kheng!"
Thian-Ie Siangjin mengawasi Hee Thian Siang sejenak, lalu
tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata: "Mengapa kita
tidak menyerahkan tugas kita kepada Hee laote ini dan nona
Tiong-sun" Biarlah mereka yang menggantikan kedudukan
kita untuk menetapkan kemenangan!"
Sam-ciok Cinjin berdiam; lama sekali baru menjawab
lambat-lambat: "Cara yang kau usulkan ini memang benar
baik, tetapi mengenai bekalnya . ."
JILID 17 Tidak menunggu sampai Sam-ciok Cinjin mulai berkata,
Thian Ie Sianjin sudah berkata: "Kita masing-masing
menggunakan seluruh kepandaian ilmu kepada Hee laote dan
nona Tiong-sun, kemudian kita pertemukan mereka dipuncak
gunung Ko-le-kong yang letaknya ditengah-tengah Thian-cun-
kan dan Thian-keng-kok!"
"Walaupun mereka masih muda belia dan masih mudah
dikasih mengerti, tetapi dalam waktu sepuluh hari dengan cara
bagaimana mereka bisa dapat memahami seluruh kepandaian
ilmu yang sudah kita pelajari sampai seratus tahun lamanya?"
"Kulihat mereka semua mempunyai bakat dan tulang yang
bagus sekali, sudah pasti juga mempunyai kecerdikan otak
yang luar biasa, rasanya bila dididik segera dapat dimengerti
oleh mereka! Maka soal dimengerti, rasanya sudah tidak
menjadi soal lagi, yang menjadi persoalan ialah latihan
mereka yang cukup masak. Maka jikalau mereka tak dapat
memperkembangkan inti sarinya dengan baik, dengan
sendirinya tak dapat mengeluarkan seluruh kepandaiannya!
Tetapi kesulitan yang kita hadapi dalam soal ini juga sudah
kupikirkan suatu cara untuk memperbaikinya!"
"Kepala gundul, kau memang mempunyai banyak akal,
coba ceritakanlah dulu, cara perbaikan apa yang kau
maksudkan itu?" "Caraku ini hanya terdiri dari beberapa patah kata saja,
ialah setengah ilmu silat setengah ilmu surat. Memetik inti
sarinya dan harus dipelajarinya dengan tekun!"
"Tentang ini agaknya masih perlu diberi penjelasan sedikit."
"Seluruh kepandaian ilmu yang kita miliki, kita harus
wariskan kepada hee laote dan nona Tiong-sun. Dengan
kecerdasan dan kepintaran masing-masing, ajarkan mereka
tiga jurus ilmu yang terbaik, kemudian suruh mereka
mengadakan perbandingan. Hasil dari perbandingan itulah kita
gunakan, untuk menyelesaikan pertikaian antara kita yang
berlangsung seratus tahun lamanya ini!"
Mendengar usul itu Sam-ciok Cinjin tidak menjawab,
agaknya sedang mempertimbangkan cara yang diusulkan oleh
Thian Ie Siangjin itu, adil atau tidak.
Hee Thian Siang yang mendengar percakapan itu diam-
diam merasa girang, ia tahu bahwa ia sudah berjumpa engan
orang-orang gaib dari rimba persilatan yang adatnya aneh luar
biasa, orang-orang seperti mereka itu kalau mau berbuat
demikian, tentu akan sangat berguna bagi Tiong-sun Hui
Kheng dan dirinya sendiri. Tak lama kemudian dengan nada
dingin dari Sam-ciok Cinjin sudah terdengar pula: "Kita
masing-masing harus menurunkan tiga jurus ilmu silat, supaya
mereka mengadakan pertandingan, cara ini pula boleh dikata
yang kau maksudkan mengambil inti sarinya itu, maka kau
harus menjelaskan lagi tentang usulmu setengah ilmu surat
dan setengah ilmu silat!"
"Setengah ilmu surat, maksudnya ialah hal-hal yang
menyangkut kesulitan-kesulitan


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dalam soal hafalan, sedangkan setengah ilmu silat yang kumaksudkan ialah
melakukan pertandingan. Yang disebutkan duluan biarlah kau
dan aku yang bertindak sebagai pelatihnya, kau boleh menguji
Hee Thian siang dan aku akan menguji Tiong Sun Hui Kheng.
Pertanyaan-pertanyaan terbatas hanya pada pertanyaan saja!
Sedangkan pertandingan tetap dilakukan oleh mereka dan
pertandingan juga harus dibatasi sampai tiga jurus saja!"
"Cara-cara yang kau usulkan ini memang benar tepat
sekali! Tentang ujian setengah ilmu surat itu, asal mereka
ingat betul hafalan yang kita berikan, maka dalam
pertandingan yang akan dilakukan asal mereka sudah
mempelajari dengan tekun sudah boleh mereka gunakan
semuanya!" "Dengan cara demikian, bagi Hee laotee dan Tiong sun Hui
Kheng tidak akan menyia-nyiakan usaha kita, bahkan mereka
akan mendapat faedah yang sangat berguna!"
"Sudah tentu, mereka yang sudah mendapatkan warisan
tiga jurus ilmu kepandaian kita pada waktu sekarang ini cukup
untuk menjagoi dunia Kang ouw. Dilain waktu apabila mereka
bisa mengembangkan lagi dan dicampur lagi dengan ilmu-ilmu
yang lainnya, pasti besar sekali kegunaannya!"
"Kalau kau memang sudah setuju dengan usulku ini, maka
kita harus tetapkan waktunya untuk dimulai!"
"Hari ini tidak terhitung, mulai besok pagi, sepuluh hari
kemudian diwaktu tengah hari kita bersama-sama Hee Thian
Siang dan Tiong-sun Hui Kheng bertemu diatas puncak
gunung Giok can-hong!"
Selanjutnya pembicaraan kedua fihak terputus, keadaan
sunyi kembali. Thian Ie Siang-jin duduk tenang sambil
menundukkan kepala, agaknya hendak mulai melakukan
semedi lagi. Hee Thian Siang tahu bahwa Thian Ie Siang-jin dan Sam-
ciok Cinjin sudah menggunakan tenaga terlalu banyak dalam
pembicaraan tadi, betapapun tinggi ilmu mereka juga sudah
pasti merasa lelah, perlu mengatur pernafasannya dan
memulihkan tenaganya lagi!
Oleh karenanya, maka ia juga tak berani mengganggu,
duduk diam menantikan sadarnya kembali Thian Ie Siangjin,
matanya dari atas sarang burung raksasa itu menikmati
pemandangan alam dilembah yang dinamakan lembah Thia-
keng-kok itu. Pada saat itu Taywong dan Siaopek sudah dibebaskan
oleh harimau hitam dan kera hitam, tetapi semua masih berdiri
dibawah pohon raksasa itu, agaknya masih takut terhadap
Thian Ie Siangjin, sesaat kemudian Thian Ie Siangjin perlahan-
lahan membuka matanya, melihat Hee Thian Siang sejenak
dan berkata sambil tersenyum: "Hee laote, apa yang
kubicarakan tadi dengan Ciok Cinjin seharusnya kau sudah
dengar pula. Apakah kau perlu mengajukan usul lain?"
"Dengan maksud baik taisu hendak mendidik Hee Thian
Siang, bagaimana Hee Thian Siang berani membantah?"
Berkata Hee Thian Siang sambil memberi hormat.
Jikalau kau sudah setuju, maka aku sekarang hendak
mengatur persiapannya dan pelajaran pada lima hari pertama
aku akan melakukan disini denganmu tentang kepandaian
ilmu silat yang kupelajari dan kumiliki selama hampir seratus
tahun ini. Dan lima hari kemudian baru aku akan menurunkan
pelajaran kepadamu tiga jurus kepandaian ilmu tertinggi dari
milikku." Hee Thian Siang tahu bahwa pertemuan gaib ini
sesungguhnya merupakan suatu pengalaman yang sulit
dijumpai, maka ia lantas mendengarkan dengan seluruh
perhatiannya, serta diingatnya baik-baik semua pelajaran yang
diceritakan padanya. Tempo lima hari berlalu dengan cepat, seluruh kepandaian
ilmu silat yang dimiliki oleh Thian Siangjin sudah diturunkan
semua kepada hee Thian Siang, setelah itu ia masih menguji
lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat teliti. Ketika
melihat Hee Thian Siang sudah dapat menjawab dengan
lanacar, lalu ia berkata sambil tertawa gi-
"Mataku benar saja tidak lamur, Hee laote benar-benar
mempunyai daya ingatan yang sangat tinggi sekali."
Dengan cepat Hee Thian Siang memotong ucapan Thian Ie
Siangjin, katanya sambil tertawa: "Taisu jangan merasa
gembira dulu, enci Tiong-sunku itu jauh lebih pintar dari
padaku. Lima hari kemudian dalam pertandingan itu
barangkali Hee Thian Siang tidak mudah untuk mendapat
kemenangan." Diwajah Thian-Ie Sianjin masih penuh senyum gembira,
dari sikapnya itu menunjukkan bahwa ia percaya penuh akan
usahanya, ketika mendengar ucapan Hee Thian Siang, ia lalu
berkata sambil tertawa: "Laote boleh belajar dengan tenang
dan tekun, dalam pertandingan yang akan dilakukan nanti,
andaikata masih seperti apa yang kita lakukan terdahulu
dengan Sam Ciok Cinjin, berkesudahan seri, tak ada yang
menang atau kalah, tetapi dalam perasaanku dan Sam Ciok
Cinjin sendiri juga akan hilang setengahnya."
Hee Thian Siang yang mendengar itu masih merasa ragu-
ragu, sementara itu Thian-Ie Sianjin berkata lagi: "Sebab
sebagai orang rimba persilatan, kecuali soal nama yang masih
belum bisa pandang tawar, masih ada keinginan yang sangat
penting. Itu adalah tentang ilmu kepandaian yang dipelajari
selama hidupnya, kuatir kalau tidak ada pewarisnya. Dan
apalagi sudah mendapt pewaris yang boleh diandalkan, dalam
hati nanti akan merasa lega. Laote dan nona Tiong-sun
sekarang ini meskipun hanya mendapatkan peninggalan
masing-masing tiga jurus ilmu kepandaian yang aku dan Sam
Ciok Cinjin ciptakan sendiri, tetapi dikemudian hari apabila
kekuatan tenaga kalian sudah menjadi sempurna, terhadap
semua ilmu kepandaian yang kita berikan dengan mulut, pasti
dapat menyadari sendiri, kemajuan yang kau dapatkan akan
merupakan suatu kejadian yang luar biasa didalam rimba
persilatan!" Selama beberapa hari itu oleh karena Hee Thian Siang
mendapat didikan, baik dengan mulut ataupun dengan ilmu
silatnya, apa yang dia dengar dan dilihatnya, semua sudah
membuktikan kepandaian dan kekuatan Thian-Ie Sianjin,
maka dalam hati diam-diam merasa bersyukur, sekali lagi ia
mengucapkan terima kasihnya kepada padri tua itu.
Thian-Ie Sianjin berkata sambil menggoyang tangan dan
ketawa: "Laote tidak perlu memakai banyak peraturan, engkau
yang mendapat warisan dariku, memang seharusnya kau
mengucapkan terimakasih kepadaku, tetapi bagiku sendiri
yang sudah memiliki kepandaian itu dapat menemukan
seorang pewaris seperti kau ini, aku juga harus merasa
bersyukur, karena kepandaian ilmuku itu tak akan musnah
bersama badan kasarku, apakah itu juga tidak seharusnya
mengucapkan terima kasih kepadamu?"
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu dalam
hatinya merasa pilu. Thian-Ie Sianjin berkata pula sambil
tersenyum: "Hee laote sudah ingat betul pelajaran yang
kuberikan dengan lisan. Maka lima hari berikutnya kita harus
gunakan baikk-baik untuk mempelajari ilmu silat tiga jurus itu!"
"Tiga jurus ilmu silat itu, kedengarannya sangat aneh."
"Apa yang dibuat heran" Yang mengherankan masih ada
lagi, nanti akan terbukti dibelakang hari."
Hee Thian Siang diam-diam berpikir: Duta Bunga Mawar
sudah menurunkan tiga gerak tipu kepadanya dan sekarang
padri tua ini hendak menurunkan tiga jurus ilmu silat
kepadanya lagi. Dikemudian hari, semua ilmu silat yang
didapatkan dari dua orang gaib itu bisa digunakan untuk
menghadapi Pek Kut Sam-mo, ialah tiga iblis tulang putih,
ditambah lagi dengan Tiong-sun Hui Keng, Hok Siu Im dan
Liok Giok Jie, tiga dara cantik manis, semuanya itu agaknya
merupakan suatu kejadian yang tidak terlepas dari angka tiga.
Seolah-olah ia terjodoh dengan angka tiga itu.
Setelah itu Thian-Ie Sianjin sudah berkata lagi sambil
tertawa: "Hee laote, kau sedang memikirkan apa?"
"Hee Thian Siang sedang memikirkan, taisu hendak
menurunkan tiga jurus ilmu pukulan kepada Hee Thian Siang,
tapi Hee Thian Siang tidak tahu apa namanya ilmu pukulan
yang akan diturunkan oleh Sam-ciok Cinjin kepada enci Tiong-
sun Hui Kheng?" "Sam-ciok Cinjin kalau dibandingkan dengan aku, sifatnya
lebih mau menang sendiri saja, gerak tipu yang akan
diturunkan kepada enci Tiong-sun mu sudah pasti sangat
hebat sekali. Jikalau aku juga menurunkan kau gerak yang
demikian hebat, maka lima hari kemudian apabila kalian
melakukan pertandingan, mungkin kedua-duanya akan
terluka! Oleh karena itu aku baru memikirkan untuk memberi
pelajaran kepadamu dari golongan Budha, tiga jurus ilmu silat
yang kuberi nama urut Tiga jurus ilmu menyelamatkan jiwa.
Tujuanku ialah tidak mementingkan kemenangan, tetapi
menjamin tidak akan kalah. Betapapun tinggi ilmu silat lawan,
betapapun ganas serangannya, juga tidak bisa melukai
dirimu!" "Itulah yang paling baik!" Berkata Hee Thian Siang dengan
sangat girang. "Laote tidak perlu terlalu girang dulu, enci Tiong-sun mu
yang telah mendapat pelajaran tiga jurus ilmu tertinggi dari
Sam-ciok Cinjin yang sangat hebat, mungkin selanjutnya ia
bisa menjagoi rimba persilatan, sedangkan ilmu yang kau
dapatkan dariku hanya sanggup untuk menjamin kau dari
bahaya!" "Sebagai orang rimba persilatan yang hidupnya seperti
diujung senjata, betapapun tinggi kepandaian ilmu silatnya,
betapapun cermat pikirannya, sedikit banyak pasti akan
menemukan celakanya juga, maka jikalau dapat mempelajari
beberapa jurus ilmu untuk menjaga diri lebih berharga
daripada mempelajari ilmu pukulan itu!" Berkata Hee Thian
Siang sambil menganggukkan kepala.
Thian-Ie Sianjin terkejut mendengar penuturan itu, ia ulangi
beberapa kali ucapan Hee Thian Siang itu, sambil menatap
wajah Hee Thian Siang ia berkata sambil tersenyum: "Hee
laote, kata-kata yang kau ucapkan tanpa sengaja tadi,
didalamnya mengandung arti sangat dalam. Aku telah
menjalani ibadat ini selama seratus tahun, aku masih belum
dapat memecahkan persoalan itu. Hingga sat ini aku masih
belum dapat keluar dari lingkaran perebutan nama saja.
Hampir saja tersapu bersih oleh ucapanmu tadi!"
"Bunga teratai meskipun bersih, sebetulnya tumbuh diatas
lumpur, kerisauan timbul dari godaan hati. Pengertian
terhadap Budha tidak terlepas dari kesadaran! Kesadaran
taisu dengan tiba-tiba berarti akan menyingkirkan segala
rintangan, waktu bagi suhu untuk mendapatkan keselamatan
jiwa, sebetulnya tidak jauh lagi!" Berkata Hee Thian Siang.
"Kau rupanya pernah mempelajari sampai dalam tentang
ilmu Budha!" Berkata Thian Siangjin terkejut.
"Setiap hati manusia, semua ada Budha. Burung berkicau
bunga mekar dan rontok, semua itu mengandung arti
kehidupan. Taisu yang memang sebagai orang suci yang
lantas menyadari kesucian tentunya lebih tahu dari pada
orang biasa. Hee Thian Siang hanyalah seorang anak yang
belum lama menikmati penghidupan dunia, bagaimana dapat
mengerti ilmu Budha" Dan mengandung arti sangat dalam?"
"Justru kau belum lama didunia, maka masih bersih dan
belum terkena kotoran dunia. Kalau hidup itu hanya mengejar
nama dan kedudukan saja, itu artinya masih belum dapat
melepaskan diri dari keduniawian. Apa yang patut dibuat
girang" Didalam suasana hidup yang banyak godaan seperti
ini aku sudah hidup seratus tahun lamanya, sesungguhnya
sudah masanya harus menghadap kepada Tuhan, supaya
terhindar dari segala dosa!"
Hee Thian Siang tahu bahwa orang-orang seperti Thian
Siangjin ini merupakan orang suci, isi hatinya bersih, setiap
waktu dapat naik sorga, maka lalu berkata sambil tersenyum:
"Walaupun taisu sudah menyadari seluruhnya, agaknya juga
harus menunggu lima hari kemudian baru berangkat!"
Thian-Ie Siangjin yang mendengar ucapan itu semangatnya
terbangun, ia berkata sambil membuka mata: "Awan dilangit
beterbangan, manusia didalam dunia ada masa berkumpul,
ada masa berpisah. Semuanya itu tak lepas dari soal jodoh.
Tak ku sangka Hee laote menjadi seorang yang sangt penting
bagiku, yang merupakan suatu orang yang memberikan
pimpinan untuk lebih lekas pergi ke sorga."
Berkata sampai disitu ia berdiam sejenak, matanya
dipejamkan dan berkata pula: "Ilmu yang hendak kuturunkan
padamu ini, jurus pertama kunamakan 'Menolong kesusahan
membantu kesulitan'... Kalau gerak tipu itu bernama
menolong kesusahan dan membantu kesulitan, jurus kedua
apa bukan dinamakan 'permurah dan pengasih"'" Tanya Hee
Thian Siang sambil tertawa.
Hee laote, kau ini benar-benar sangat pintar sekali.
Pengetahuanmu rupanya juga sangat luas, begitu dengar
sudah dapat menangkap hati orang lain! Sekarang coba kau
tebak lagi, apa namanya jurus ketiga itu?" Berkata Thian-Ie
Siangjin sambil tertawa dan menganggukkan kepala.
"Nama dari gerakan kedua itu karena justru ada hubungan
dengan kata-kata yang tercantum dalam pelajaran ilmu Budha
yang dinamakan menolong kesusahan dan membantu
kesulitan, semua itu Hee Thian Siang baru bisa menebak,
tetapi tentang gerak tipu ketiga, itulah sudah tidak tahu lagi."
Berkata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala dan
tertawa. "Gerak ketiga ini namanya menyelamatkan orang banyak.
Mari, mari kita duduk dibawah supaya aku bisa menurunkan
pelajaran ini!" Berkata Thian-Ie Siangjin sambil tertawa.
Sehabis berkata demikian, badannya lalu melesat
melayang turun kebawah pohon.
Hee Thian Siang mengikuti jejak Thian-ie Sianjin, melayang
turun. Begitu kakinya menginjak tanah, kedua tangannya
sudah ditarik oleh Taywong dan Siaopek, hendak diajak keluar
dari lembah itu. Menyaksikan sikap Siaopek dan Taywong, demikian mesra,
Hee Thian Siang tahu bahwa mereka sudah tidak pandang
musuh lagi terhadap dirinya, tentunya kejadian dipuncak
gunung Tiauw-in-hong itu sudah diberitahukan kepada Tiong-
sun Hui Kheng. Kini mereka tampak sangat cemas, hingga mengajak ia


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

keluar dari lembah, maksudnya pasti minta padanya supaya
menolong Tiong-sun Hui Kheng yang kesasar ke Thian-cu-
kan, maka ia lantas berkata kepada Siaopek dan Taywong:
"Siaopek, Taywong kalian jangan gelisah. Biarlah majikanmu
berdiam beberapa hari lagi di Thian-cu-kan, ia akan mendapat
warisan pelajaran dan kepandaian ilmu dari Sam-ciok Cinjin,
ini sangat berguna sekali baginya!"
Siaopek dan Taywong semua paham bahasa manusia,
maka setelah mendengar keterangan Hee Thian Siang, juga
lenyaplah perasaan sedih mereka, kemudian bersama dengan
harimau hitam dan kera hitam peliharaan Thian-ie Sianjin
berjalan kebagian dalam lembah itu.
Thian-ie Siangjin yang menyaksikan gerakan lincah dari
Siaopek dan taywong, lalu berkata sambil tersenyum: "Dua
binatang itu demikian cerdik, juga jarang ada."
"Enci Tiong-sunku itu memiliki kepandaian luar biasa, ia
dapat menjinakkan segala binatang buas, kuda
tunggangannya itu bahkan merupakan kuda jempolan yang
jarang ada." Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.
Thian-ie Siangjin mendengar ucapan itu tampak sangat
girang, katanya: "Jika benar Tiong-sun Hui Kheng memiliki
kepandaian menjinakkan binatang, maka cita-citaku akan
tercapai. Nanti stelah aku pulang ke rahmatullah, harimau
hitam dan kera hitam yang sudah lama mengikuti aku ini,
boleh mendapatkan majikan baru, hingga tidak sampai
terlantar ditanah pegunungan ini!"
Hee Thian Siang sangat girang, pikirnya, lima hari
berselang, ketika ia datang kelembah itu naik diatas punggung
harimau itu, harimau hitam itu sudah lari cepat dan aneh,
apabila dikemudian hari harimau hitam itu digunakan sebagai
binatang tunggangan, bukankah lebih hebat dan lebih menarik
daripada kuda ceng-hong-kie dan cian-lie-kiok-hwa-ceng"
Hanya sayang binatang buas seperti harimau ini hanya bisa
digunakan sebagai binatang tunggangan daerah pegunungan
atau daerah sunyi, tak dapat digunakan didalam kota!
Selagi masih berpikir dengan sangat girang, Thian-ie
Sianjin sudah menepuk pundaknya seraya berkata: "Hee
laote, sudahlah! Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Kita
sekarang akan memulai dengan pelajaran ilmu silat
menyelamatkan jiwa itu!"
Wajah Hee Thian Siang jadi merah, buru-buru
menenangkan pikirannya, memperhatikan gerak tipu ilmu silat
yang dimainkan oleh Thian-ie Sianjin. Padri tua itu dengan
sabar memberi petunjuk tiap jurus yang dimainkannya.
Setelah tiga jurus tipu silat itu dimainkan semuanya, Hee
Thian Siang sudah mengerti. Memang benar saja, ilmu silat itu
sangat luar biasa dan lebih hebat daripada tiga jurus ilmu
pukulan yang diberikan oleh Duta Bunga Mawar. Maka sambil
memperhatikan setiap gerakan ilmu itu, dalam hatinya diam-
diam berpikir: "Cian-ceng Kiesu Cie Hiang Po, dalam dunia
Kangow masih ada orang yang tahu, tentang Thian-ie Sianjin
ini yang selama itu terus berdiam dilembah ini untuk
memperdalam ilmunya hampir seratus tahun, orang-orang
rimba persilatan tentunya sudah menganggap lama
meninggal. Dan aku sendiri yang bertemu secara kebetulan
dan diwariskan kepandaiannya, aku seharusnya sembunyikan
dulu, tak akan dikeluarkan sembarangan, hingga pada tanggal
enambelas bulan dua tahun depan, barulah akan kugunakan
untuk menyapu bersih kawanan penjahat, supaya rimba
persilatan mendapat ketentraman!
Karena ia mempelajari dengan tekun dan ditambah lagi
dengan bakatnya serta kecerdikannya yang luar biasa, maka
tidak sampai sehari, sudah ingat seluruhnya tiga jurus gerak
tipu ilmu silat yang dinamakan "Menyelamatkan jiwa"
Thian-ie Sianjin yang melihat ia demikian pintar dan mudah
mengerti, sudah tentu merasa sangat girang, maka ia
menggunakan sisa waktunya yang empat hari, untuk
memperdalam pengertiannya ilmu silat itu, ia mengeluarkan
segala gerak tipu terganas dari perbagai partai dan golongan,
untuk melakukan latihan kepada Hee Thian Siang dan supaya
ia dapat menggagalkan setiap serangan dengan
menggunakan gerak tipunya yang baru itu.
Hanya tiga hari saja, Hee Thian Siang bukan saja sudah
hafal betul menggunakan tiga jurus gerak tipu ilmunya yang
baru itu, tetapi juga sudah berhasil menghadapi setiap
serangan yang ganas dari pelbagai gerak tipu yang
bagaimanapun ganasnya. Hingga hari kelima, Thian-ie Sianjin berkata sambil tertawa:
"Sudah cukup, dengan caramu belajar ilmu silat menyelamatkan jiwa yang meskipun
hanya empat hari tetapi sudah cukup untuk menghadapi pertandingan dipuncak
gunung Giok-can-hong yang akan dilakukan besok pagi! Tetapi aku masih ada
sedikit keragu-raguan..."
"Taisu ada keragu-raguan apa?"
"Daya ingat dan kecerdasan otak Hee laote mah sudah
dikata sudah bakat dan itu pemberian dari Tuhan. Tentang
kepandaian ilmu silatmu boleh didapat dari didikan guru yang
pandai. tapi kekuatan tenaga dalammu aku masih merasa
ragu, agaknya kurang tepat bila pemuda seusia kau ini telah
mempelajari ilmu yang demikian tinggi!"
Karena mendapat pertanyaan demikian maka Hee Thian
Siang lalu menceritakan semua tentang dirinya yang
mendapat warisan kekuatan tanaga dalam dari Duta Bunga
Mawar. Thian-ie Sianjin yang mendengarkan dengan tenang, lalu
berkata sambil tersenyum: "Laote, kau sesungguhnya banyak
sekali mendapatkan penemuan gaib, biarlah aku juga turut
meramaikan pengalamanmu, kuhadiahkan lagi sesuatu
barang untukmu!" Sehabis mengucapkan demikian, ia lantas lompat melesat
kesarang burungnya diatas pohon mengambil empat batang
bulu burung lima warna. Bulu burung itu yang satu panjang
dan yang lain berbentuk pendek.
Hee Thian Siang menampak Thian-ie Sianjin mengambil
empat batang bulu burung berwarna maka dalam hati terkejut,
pikirnya, apakah bulu burung ini adalah bulu yang dinamakan
Thian-khim Ngo-sek yang pada seratus tahun berselang
pernah menggemparkan rimba persilatan"
Dengan menggunakan bulu burung yang agak panjang itu,
Thian-ie Sianjin menggoreskan kesebatang pohon, disitu
lantas terdapat tanda goresan sedalam setengah kaki lebih,
agaknya jauh lebih tajam dari segala golok atau pedang!
Hee Thian Siang yang sudah tidak bisa menahan
perasaannya lagi lalu bertanya sambil tersenyum: "Taisu,
bolehkah Hee Thian Siang numpang tanya, empat batang bulu
burung ini apakah senjata sakti Thian-khim Ngo-sek yang
dahulu taisu gunakan sebagai senjata yang pernah
menggemparkan rimba persilatan?"
Thian-ie Sianjin menganggukkan kepala dan tersenyum,
diwajahnya tampak tegas sikapnya yang mengenangkan
kejadian-kejadian dimasa yang lampau, katanya lambat-
lambat: "Memang benar, inilah senjata rahasiaku yang dulu
kugunakan untuk bekal berkelana didunia kangouw, juga
merupakan senjata yang kugunakan untuk menindas kaum
iblis, senjata ini khasiatnya kecuali keras melebihi baja, juga
memiliki daya guna yang luar biasa bagi senjata golok atau
pedang yang biasa saja, jika tersentuh dengan bulu ini pasti
akan patah. Laote, sebagai angkatan muda yang usiamu
belum lebih dari dua puluh tahun, ternyata masih bisa
mengenali benda yang jarang diketahui oleh umum ini,
sesungguhnya jarang ada!"
Dalam hati Hee Thian Siang berdebar keras, ia benar-
benar hampir tak percaya pada dirinya sendiri bahwa hari itu
ia mempunyai rezeki demikian besar, bukan saja ia sudah
mempelajari tiga jurus ilmu silat menyelamatkan jiwa, bahkan
sudah mendapat senjata rahasia yang tak ada duanya didunia
ini. Namun ia tak tahu, empat batang bulu burung itu meskipun
membuat nama Hee Thian Siang menanjak dan menonjol
dirimba persilatan, maka lantaran senjata itu juga ia
dikemudian mendapatkan kesulitan yang tidak terhingga.
Lebih dulu Thian-ie Sianjin menyerahkan kepada Hee
Thian Siang bulu yang bentuknya agak panjang dan berkata
sambil tersenyum: "Bulu yang agak panjang ini digunakan
sebagai senjata, mengenai cara-cara dan gerakannya
menggunakan senjata ini, oleh karena waktu sudah mendesak
tidak keburu untuk kuturunkan kepadamu, maka aku akan
menyediakan catatan yang berupa sejilid kitab pelajaran
menggunakan senjata bulu ini. Kalau kau ada waktu terluang,
boleh mempelajarinya menurut isi kitab itu, sudah tentu kau
nanti akan memahami sendiri."
Hee Thian Siang tahu bahwa padri tua itu setelah
pertandingan besok selesai, ia sudah mencapai cita-citanya,
itu juga berarti habislah sudah ia didalam dunia, maka ia juga
tidak menolak menerima pemberian itu sabil mengucapkan
terima kasih. Thian-ie Sianjin mengambil lagi tiga batang bulu yang
bentuknya lebih pendek, berkata kepada Hee Thian Siang
sambil tersenyum: "Tiga batang bulu yang lebih pendek ini
digunakan sebagai senjata rahasia. Tampaknya sepele, tetapi
sangat ampuh. Bukan saja dapat menembus segala benda
keras, tetapi juga untuk memecahkan ilmu kebal dalam
golongan rimba persilatan. Sekarang aku hendak mengajari
kau cara menggunakannya dengan tipu Sam-cay-hot-ei."
Sehabis berkata demikian, tiga batang bulu ditangannya
lantas melesat ketengah udara, bulu itu terbang keudara
sedikitpun tidak menurun siuran, tetapi warnaya menimbulkan
pemandangan yang sangat indah. Dengan tiba-tiba tiga
batang bulu itu berkumpul menjadi satu, dan menancap
keselembar daun diatas pohon kering. Hee Thian Siang yang
memiliki pandangan yang tajam, sudah dapat melihat bahwa
cara demikian itu, boleh dilancarkan menurut sesuka hatinya,
dengan demikian lawannya yang sama sekali tidak berjaga-
jaga dapat diserang secara tidak terduga-duga maka ia
merasa sangat girang dan minta diberi penjelasan cara
menggunakan ilmu itu. Setelah menyelesaikan pelajarannya, Thian-ie Sianjin
memberikan kesempatan kepada Hee Thian Siang untuk
melatih hingga matang betul. Hingga pelajaran itu selesai,
haripun sudah menjadi malam.
Besok paginya sebelum tengah hari Thian-ie Sianjin dan
Hee Thian Siang dengan membawa harimau hitam dan kera
hitam, serta taywong dan siaopek pergi kepuncak gunung
Giok-can-hong untuk menantikan kedatangan Sam-Ciok Cinjin
dan Tiong-sun Hui Kheng. Puncak gunung itu terdapat sebuah batu besar seluas dua
tiga tombak persegi yang sangat rata, tetapi diatas batu itu
tampak tanda-tanda seolah-olah bekas dilingkari oleh naga,
samar-samar juga ada bekas sisiknya.
Thian-ie Sianjin mendongakkan kepala melihat cuaca,
dengan tiba-tiba menghela nafas dan berkata: "Persoalanku
dengan Sam-ciok Cinjin yang berlangsung selama seratus
tahun ini, sebentar lagi akan selesai! Tetapi masih ada
seorang..." Belum habis ucapannya, dari Thian-ciou-kian di puncak
gunung itu terdengan suara nyaring.
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan Thian-ie Sianjin
tadi ternyata mengandung maksud, maka lalu bertanya:
"Apakah taisu kecuali dengan Sam-ciok Cinjin masih ada
persoalan lain lagi?"
"Aku tidak mempunyai keinginan apa-apa, tetapi yang satu
lagi itu sudah lama ingin bertanding denganku. Ia tak dapat
menemukan tempat persembunyianku. Hari ini jikalau aku bisa
berangkat keakhirat dengan pikiran tenang, baginya tentunya
merupakan suatu penyesalan yang besar!" Berkata Thian-ie
Sianjin sambil gelengkan kepala dan tertawa.
"Apakah orang itu?" Bertanya Hee Thian Siang merasa
tertarik. "Orang itu sama terkenalnya dengan aku, akan tetapi
jejaknya tak menentu, hingga saat ini belum pernah bertemu
muka, dia seorang she Siauw bernama Swat. "
Berkata sampai disitu, tampak dua sosok bayangan orang
melayang turun diatas batu besar, mereka itu adalah seorang
gadis cantik jelita dan seorang imam setengah umur bertubuh
kurus kering. Hee Thian Siang tahu, bahwa imam setengah umur itu
adalah Sam-ciok Cinjin yang sudah menghilang seratus tahun
lamanya dengan Thian-ie Sianjin, diam-diam ia merasa heran
sebab puncak Giok-can-hong yang tingginya 100 tombak itu,
bagaimana Sam-Ciok Cinjin masih belum lama berselang,
masih mengeluarkan siulan dari tempatnya, kini sudah berada
diatas batu besar itu"
Sikera putih siaopek dan taywong begitu melihat
majikannya dalam keadaan selamat keduanya berjingkrak-
jingkrak kegirangan, mereka segera melompat maju
menyongsong dan pada memeluk Tion-sun Hui Kheng.
Hee Thian Siang begitu bertemu muka dengan Tiong-sun
Hui Kheng, ia sudah tahu bahwa Tiong-sun Hui Kheng sudah
tidak mengandung sikap permusuhan terhadapnya, dalam
girangnya ia sudah maju menyongsong dengan wajah berseri-
seri, dengan sikap sangat menghormat ia memanggil: "Enci
Tiong-sun!" Akan tetapi, Tiong-sun Hui Kheng dengan tiba-tiba
menggoyangkan tangan dan berkata kepadanya: "Sebagai
anak rimba persilatan, harus bisa pegang teguh setiap janji,
kita sudah menemukan pengalaman gaib seperti ini, dan
sudah menerima baik kepada kedua locianpe untuk bantu
menyelesaikan urusan mereka. Maka sudah seharusnya kalau
kita uruskan persoalan ini lebih dahulu, barulah nanti bicara
soal pribadi, segala sesuatu yang terjadi selama kita berpisah
nanti kita bicarakan lagi, sekarang ini anggaplah saja seperti
tak kenal satu sama lain!"
Sam-ciok Cinjin mendengar ucapan Tiong-sun Hui Kheng,
perdengarkan suara tertawa terbahak-bahak, tampaknya
sangat bangga sekali. Sambil menatap Thian-ie Sianjin ia
bertanya: "Gadis pilihanku ini baik sifatnya maupun bakatnya
atau dasarnya, apakah bukan seorang yang jarang ditemukan
didalam rimba persilatan?"
Thian-ie Sianjin mengamat-amati Tiong-sun Hui Kheng
sejenak, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala:
"Nona Tiong-sun ini, benar-benar memang merupakan


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seorang gadis berbakat bagus sekali. Tetapi pemuda pilihanku
Hee Thian Siang laote juga kira-kira merupakan setangkai
bunga yang luar biasa didalam rimba persilatan. Agaknya
tidak kalah terhadapnya!"
Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang, yang
mendengar percakapan kedua orang aneh itu semua
merupakan kata-kata yang sangat bertentangan, agaknya satu
sama lain tak ada yang mau mengalah, maka lantas pada
tertawa geli sendiri. Sam-ciok Cinjin sementara itu telah berkata lagi sambil
memelototkan matanya: "Mereka terpaut tidak banyak
katamu" Sebentar kalau sudah melakukan pertandingan, kau
baru tahu sendiri bahwa anak perempuan ini masih jauh lebih
kuat daripada pemuda itu!"
"Kau menurunkan pelajaran hebat apa kepada nona Tiong-
sun?" Bertanya Thian-ie Sianjin sambil tertawa.
"Oleh karena kulihat dia memiliki bakat kecerdasan otak
luar biasa, maka aku mewariskan ilmuku yang terampuh, ialah
Bu-siang Khao-hun Liong-hui Siam-cok!" Menjawab Sam-ciok
Cinjin bangga. "Oo, nona Tiong-sun," berkata Thian-ie Sianjin sambil
mengawasi Tiong-sun Hui Kheng.
"rejekimu terlalu baik sekali, kau jika sudah memiliki ilmu
itu, sudah cukup seperti melatih pelajaran ilmu biasa selama
20 tahun!" Dengan sikap rendah hati, Tiong-sun Hui Kheng berkata
sambil tertawa: "Wanpe seorang bodoh, semua itu semata-
mata berkat didikan Sam-ciok Cinjin yang baik sekali!"
Sam-ciok Cinjin tertawa bangga, katanya: "Kau sudah
mewarisi ilmuku yang terampuh itu dan kau memberikan
pelajaran dan mewariskan ilmumu yang apa kepada bocah
itu?" "Perlu apa kau harus menanya" Tiap tahun kita bertemu
sekali dan tiap kali harus melakukan pertandingan hingga 99
tahun lamanya, juga berarti kita sudah melakukan
pertandingan sebanyak 99 kali. Siapakah yang tak mengenali
adat satu sama lain" Didalam pertandingan yang terakhir ini
sudah tentu kita masing-masing akan memilih ilmunya yang
terampuh, untuk diturunkan kepada penggantinya!" Berkata
Thian-ie Sianjin sambil tertawa terbahak-bahak.
Sam ciok Cinjin yang mendengar jawaban itu alisnya
dikerutkan, ia menatap wajah Hee Thian Siang beberapa kali,
kemudian bertanya kepadanya: "Apakah kau sudah mewarisi
ilmu menyelamatkan jiwa dari padri Thian-ie Sianjin yang
terdiri dari tiga jurus itu?"
"Wanpe dibawah didikan yang teliti dari Thian-ie taisu,
terhadap ilmu menyelamatkan jiwa itu sudah bisa
menggunakannya!" Menjawab Hee Thian Siang sambil
memberi hormat. Thian-ie Sianjin tiba-tiba berkata kepada Sam Ciok Cinjin:
"Kita meskipun sudah mempelajari berbagai ilmu silat, tetapi
hampir seumur hidup kita dan dengan jerih payah kita,
dipusatkan kepada ilmu Khao-hun Liong-hui Siam-cok dan
ilmu menyelamatkan jiwa! Sekarang oleh karena masing-
masing sudah mempunyai warisan, andaikata saja dari
pertandingan yang ke 100 kali ini, masih tetap tidak ada yang
unggul dan asor, maka sudah seharusnya kita mengakhiri
pertandingan ini, supaya untuk selanjutnya kita menjadi
tenang dan tentram!"
Sam Ciok Cinjin mengawasi Tiong-sun Hui Kheng dan Hee
Thian Siang sejenak, lalu berkata sambil menganggukkan
kepala: "Kini tergantung kepada mereka, jikalau mereka bisa
melakukan tugasnya dengan baik dan tidak mengecewakan
pengharapan kita, sudah tentu kita akan merasa turut gembira
dan pikiran kita bisa menjadi tenang, sekalipun kita
meninggalkan dunia yang fana ini, juga sudah tidak ada
penyesalan lagi!" "Kalau demikian halnya, maka sekarang kita tidak perlu
mengulur waktu lagi, pertandingan yang ke 100 kali, yang
cukup untuk meninggalkan tempat dalam rimba persilatan,
rasanya sudah bisa dimulai!" Berkata Thian-ie Sianjin sambil
tertawa. "Lebih cepat dimulai, juga baik, cara-cara pertandingan
yang sudah kita janjikan adalah setengah ilmu surat dan
setengah ilmu silat, dalam ilmu surat kita batasi dengan tiga
pertandingan, dan ilmu silat kita batasi dengan tiga jurus,
sekarang kita mulai dengan ujian ilmu suratnya lebih dahulu,
dan kemudian barulah ilmu silatnya!"
Berkata sampai disitu, ia berpaling mengawasi kepada
Tiong-sun Hui Kheng dan berkata sambil tersenyum: "Nona
Tiong-sun, pergilah kesana dulu, supaya padri tua itu bisa
menguji kau lebih dahulu!"
Tiong-sun Hui Kheng menerima baik, ia berjalan
menghampiri Thian-ie Sianjin, lalu memberi hormat dan
berkata kepadanya: "Wanpe Tiong-sun Hui Kheng, ingin
menerima ujian dari taisu?"
Thian-ie Sianjin berkata kepada Sam Ciok Cinjin sambil
menggoyangkan tangannya: "Tunggu dulu, mengapa kau tidak
menguji Hee Thian Siang lebih dulu" Sebaliknya menyuruhku
untuk menguji Tiong-sun Hui Kheng?"
"Soal yang mana lebih dulu dan yang mana belakangan ini
apakah masih perlu dibuat persoalan?"
"Bukan begitu, maksudku ialah supaya adil. Jikalau aku
minta kau menguji Hee laote lebih dulu, sudah tentu kau juga
tidak mau?" Sam Ciok Cinjin berpikir, matanya melihat keadaan
sekitarnya, kemudian mengulurkan tangan mengambil
selembar daun kering dibawah tanah lalu bertanya sambil
menunjuk sebuah batu besar yang terpisah kira-kira tujuh kaki
dari tempatnya: "Begini saja, aku hendak menggunakan daun
kering ini untuk memukul batu itu, kau boleh tebak, hanacuran
batu itu genap atau ganjil, jikalau tebakanmu itu jitu, kau yang
harus menguji lebih dulu. Tapi jika tebakanmu salah, akulah
yang menguji lebih dahulu."
Thian-ie Sianjin menganggukkan kepala dan berkata sambil
tertawa: "Cara seperti ini bukan saja adil, tetapi akan sangat
menarik!" "Kalau benar adil dan menarik, sekarang kau bisa mulai
menebak, kau mau menebak jumlah ganjil ataukah genap,
supaya aku bisa menggunakan daun ini untuk memukul batu!"
Thian-ie Sianjin hanya tersenyum tidak menjawab, ia juga
mengambil selembar daun kering ditanah, dengan kuku jari
menggurat sebuah huruf diatasnya dimasukkan didalam saku
bajunya. Sam Ciok Cinjin yang menyaksikan perbuatan itu tidak
mengerti, ia bertanya dengan tertawa: "Kau hendak main
sandiwara apalagi?" "Dengan kekuatan tenaga dalam yang sudah kita latih
selama hampir 100 tahun ini, kalau menggunakan daun kering
untuk memukul batu, seharusnya kita mengendalikan jumlah
batu yang dipukulnya! Aku lebih dulu hendak menebak jumlah
ganjil atau genap, kau yang masih pikiran mengalah
terhadapku, bukankah itu memberi kesempatan bagiku untuk
menebak dengan jitu?" Berkata Thian-ie Sianjin sambil
tertawa. Sam Ciok Cinjin kini baru mengerti maksud Thian-ie Sianjin
mengambil daun kering dan menggores diatasnya, maka lalu
berkata sambil tertawa: "Jadi, maksudmu kau menyuruhku
memukul batu itu dengan daun kering, kemudian kau baru
mengumumkan tebakanmu yang sudah kau tulis didaun itu
tadi?" "Dengan cara demikian, siapapun tidak ada yang main gila,
jadi lebih adil!" Berkata Thian-ie Sianjin sambil
menganggukkan kepala dan tertawa.
Sam Ciok Cinjin lalu menggunakan dadun kering
ditangannya untuk menyerang batu besar dihadapannya.
Dengan daun kering memukul batu hingga hancur, itu
adalah ilmu tertinggi, serta orang yang memiliki kekuatan
tenaga dalam sudah sempurna betul. Dalam rimba persilatan
pada dewasa itu, sekalipun guru Hee Thian Siang Pak Bin Sin
Po, atau ayah Tiong-sun Hui Kheng Thian Hwa Ceng Mo
Tiong Sun Seng, yang merupakan orang-orang berkepandaian
tinggi pada masa itu juga hanya dapat melakukan, tidak
sehebat mereka. Maka perbuatan Sam Ciok Cinjin itu sangat
menarik perhatian Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang.
Daun kering dari tangan Sam Ciok Cinjin terbang melayang
ditengah udara, daun itu tampaknya biasa saja seperti daun
tertiup angin, tidak menimbulkan angin hebat dan juga tidak
mengeluarkan suara, hanya melayang-layang ditengah udara
kemudian turun diatas batu.
Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng yang
menyaksikan batu itu ternyata tidak hancur, mereka sedang
merasa terheran-heran dan merasa curiga, tetapi Thian-ie
Sianjin sudah mengawasi Sam Ciok Cinjin dan tertawa
terbahak-bahak, kemudian berkata: "Tebakanku keliru, kau
harus menguji Hee laote lebih dulu!"
Hee Thian Siang bertanya kepada Thian-ie Sianjin dengan
terheran-heran: "Bagaimana taisu tahu, kalau tebakan taisu
keliru?" Thian-ie Sianjin mengeluarkan daun kering dari dalam
sakunya, menunjuk huruf yang digaris oleh kukunya diatas
daun kering tadi, itu merupakan huruf ganjil ia berkata sambil
tersenyum: "Tebakanku ialah jumlah ganjil, tetapi batu itu
terpukul hancur menjadi empat belas potong kecil, sudah tentu
aku yang kalah." Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu berpaling
mengawasi kepada batu tersebut. tampak batu yang atasnya
tertutup oleh daun kering itu keadaannya tetap seperti biasa,
maka katanya kepada diri sendiri: Jangankan batu besar ini
masih belum hancur, meskipun hancur, juga belum tentu
menjadi jumlahnya empat belas potong kecil.
Cuma dalam hatinya merasa tidak percaya, ia lalu berjalan
menghampiri batu besar itu dan mendorongnya dengan
perlahan, batu besar itu benar saja telah terpukul hancur oleh
kekuatan tenaga dalam hingga menjadi hancur.
Tiong-sun Hui Kheng juga tidak percaya, Thian-ie Sianjin
bisa menebak demikian jitu, ia diam-diam menghitung
hancuran batu itu, benar saja jumlahnya ada empat belas
potong. Dengan demikian, Tiong-sun Hui Kheng dan Hee
Thian Siang lantas mengagumi kepandaian dua orang tua itu.
Tetapi disamping itu ia juga merasa geli sendiri.
Sebab Thian-ie Sianjin dan Sam ciok Cinjin sudah berjanji
suruh Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng berdua
untuk menggantikan mereka melakukan pertandingan tetapi
akhirnya mereka masih diam-diam mengadu kekuatan tenaga
dalam juga. Yang satu melancarkan ilmu kekuatan tenaga
dalamnya yang tiada taranya, yang lain menunjukkan hal
ketajaman pandangan matanya yang luar biasa! Tiong-sun
Hui Kheng lalu memandang secara bergiliran kepada dua
orang tua yang usianya 100 tahun lebih itu sambil tersenyum.
Senyuman gadis itu membuat merah muka Sam Ciok Cinjin,
maka ia lalu berkata kepada Thian-ie Sianjin sambil menghela
nafas: "Padri tua, kita semua sudah hidup 100 tahun lebih
lamanya, tetapi hati kita ternyata masih belum bisa tawar
terhadap keduniawian, kita masih ingin berebut nama,
kapankah sebetulnya pikiran itu baru bisa lenyap" Kapankah
hati semacam itu baru bisa tawar?"
Thian-ie Sianjin memejamkan matanya, berkata lambat-
lambat: "Kalau tidak dipikirkan dengan sendirinya akan lenyap,
kalau hati kita tawar, dengan sendirinya menjadi tawar..."
"Padri tua, kau jangan menggunakan kata-kata yang
mengandung arti dalam golongan Budha, dua bocah ini
barangkali sehabis melakukan pertandingan nanti, pikiran dan
hati kita untuk mendapat nama, barangkali juga akan menjadi
tawar dan lenyap, kita mungkin masing-masing akan
menyadari sebenar-benarnya!" Berkata Sam Ciok Cinjin.
Thian-ie Sianjin membuka sepasang matanya, memancarkan
sinarnya yang berkilauan, ia memandang Sam Ciok Cinjin,
katanya sambil menggelengkan kepala dan tersenyum: "Imam
tua, hari ini ternyata kau mendapat ilham tidak sedikit dalam
pikiranmu. Kau barangkali sudah tahu bahwa kita sudah
mendekati waktu untuk menyadari seluruhnya, dan sudah
dekat pula waktu kita untuk menghadap kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa. Bagaimana kau tidak mau lekas menguji kepada
Hee Thian Siang laote?"
"Baik-baik, sekarang aku hendak mengajukan ujian, setelah
urusan ini selesai, kau boleh cepat pergi demikian pula
dengan aku!" Thian-ie Sianjin mengawasi Hee Thian Siang, Tiong-sun
Hui Kheng sejenak, kemudian katanya sambil tersenyum:
"Hee laote dan nona Tiong-sun, pertemuan kita secara tak
terduga-duga ini, sesungguhnya sangat ajaib, sebentar
setelah jodoh kita habis, aku akan pergi menghadap kepada
Tuhan Yang Maha Esa, demikianpun dengan dia, kalian juga
boleh melanjutkan cita-cita kalian berdua untuk hidup sebagai
kekasih yang berbahagia!"
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu hatinya
menjadi sangat girang, sedangkan Tiong-sun Hui Kheng
mukanya lantas menjadi merah, Siaopek dan taywong yang
juga mengerti dan mendengar ucapan itu, tampaknya sangat
girang. Mereka berjingkrak-jingkrak dan mengeluarkan jerit
kegirangan. Sam-ciok Cinjin menggapaikan tangannya, memanggil Hee
Thian Siang untuk menghadap kepadanya, kemudian
bertanya sambil tersenyum: "Hee laote, perbuatanku dengan
menggunakan daun kering untuk menghancurkan batu besar
menjadi beberapa potong kecil itu, apakah itu sudah
merupakan suatu bukti bahwa kekuatan tenaga dalam yang
sudah mencapai ketaraf yang tak ada taranya?"
"Jikalau ditinjau dari jumlah hancuran batu tadi, tindakan
Cinjin tadi sudah mencapai ketaraf yang tiada taranya! Tetapi
yang mencapai taraf yang tiada taranya benar-benar, adalah
daun kering yang mengenai batu, bersama batunya hancur
bersama-sama!" Menjawab Hee Thian Siang.
"Ucapanmu itu memang benar, tetapi pada dewasa ini,
siapakah orang yang memiliki kekuatan tenaga dalam yang
demikian sempurna?" Bertanya Sam Ciok Cinjin sambil
menganggukkan kepala. "Manusia pada umumnya tiada ada seorangpun yang dapat
disebut super manusia, sekalipun hal itu dilakukan oleh Thian-


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ie Sianjin, paling-paling juga hanya dapat menghancurkan
batu besar itu seperti apa yang telah Cinjin lakukan tadi.
Barangkali tak bisa menghancurkan daunnya sekalian!"
Berkata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala.
Jawaban itu sungguh tepat, Thian-ie Sianjin dan Tiong-sun
Hui Kheng diam-diam menganggukkan kepala memuji Hee
Thian Siang. "Bocah ini sungguh pandai sekali bicara, ia telah memberi
sedikit muka kepadaku! Jikalau aku yang melakukan,
sekalipun daun dadn batu tidak bisa hancur bersama-sama
tentunya kehancuran batu itu menjadi lebih dari empat belas
potongan kecil!" Berkata Sam-Ciok Cinjin pada Thian-ie
Sianjin sambil menatap wajah Hee Thian Siang.
"Kau imam tua ini mengapa dengan tiba-tiba mengerti
istilah merendahkan diri" Apakah lantaran pergaulanmu
dengan nona Tiong-sun selama tempoh hari ini kau sudah
dipengaruhi oleh sifat lemah lembutnya" Kita yang
sembunyikan diri di daerah pegunungan Ko-le-kong-san ini
sudah 99 kali melakukan pertempuran sengit dan setiap kali
selalu berkesudahan seri, suatu bukti bahwa baik dalam
kepandaian ilmu silat maupun kekuatan tenaga memang tidak
dapat dibeda-bedakan, siapa yang lebih unggul dan siapa
yang lebih asor. Kau tidak bisa mencapai ketaraf yang benar-
benar tiada taranya, apakah kau kira aku bisa menjadi
seorang yang seperti Hee laote maksudkan" Tadi aku dapat
menebak jitu batu besar yang kau pukul menjadi empat belas
potongan kecil, itu adalah berdasarkan atas perhitunganku
sendiri, jika tidak, aku bukanlah... yang menitis lagi,
bagaimana dengan pandangan mataku, aku dapat melihat
demikian jitu?" Berkata Thian-ie Sianjin sambil
menggelengkan kepala dan tertawa.
Sam-Ciok Cinjin yang mendengar ucapan itu diwajahnya
tersungging senyuman kecil, ia kembali bertanya kepada Hee
Thian Siang: "Hee Thian Siang, kau berdiam bersama-sama
padri tua itu didalam sarannya diatas pohon, sudah sepuluh
hari lamanya, kepandaian ilmu apa yang kau dapatkan dari
dirinya?" "Kecuali ilmu tiga jurus menyelamatkan jiwa, oleh Thian-ie
Sianjin diberi petunjuk tidak sedikit hafalan latihan kekuatan
tenaga dalam, tetapi oleh karena pelajaran itu sangat dalam
sekali, dengan kekuatan tenaga yang Hee Thian Sian miliki
sekarang ini masih sulut untuk mempelajarinya, biarlah tunggu
sampai dilain waktu apabila kekuatan tenaga Hee Thian Siang
sudah mendapat kemajuan barulah..."
"Tentang hafalan ilmu melatih kekuatan tenaga dalam
meskipun saat ini kau masih merasa sulut untuk
mempelajarinya, tetapi jikalau aku menanya dengan lisan,
tentunya kau toh bisa menjawab bukan?"
"Asal Hee Thian Siang tahu, pasti akan menjawab
sejujurnya, silahkan Cinjin mengajukan pertanyaan!"
"Apabila didalam rimba persilatan menemukan lawan
tangguh yang sama-sama pandainya dengan keadaan diri
sendiri, dalam pertempuran sengit apakah yang menjadi
pantangan paling besar?"
Tanpa ragu-ragu Hee Thian Siang lantas menjawab: "Yang
menjadi pantangan paling besar, ialah perasaan sombong.
Dua orang yang sedang bertempur sengit, apabila kepandaian
dan kekuatannya berimbang, barang siapa yang mempunyai
perasaan sombong, dia akan menjadi lalai karena
perasaannya sendiri, dan kelalaiannya itu akan membawa
akibat kekalahan!" Sam-Ciok Cinjin bertanya pula sambil menunjuk Thian-ie
Sianjin: "Aku dengan padri tua ini, apakah semua juga
melanggar pantangan perasaan sombong ini?"
"Locianpe berdoa merupakan orang-ornag yang sudah
tidak ada taranya, bagaimana bisa melanggar pantangan itu"
Locianpe berdua hanya diluarnya saja sombong, tetapi
didalamnya tidak. Mukanya sombong, tetapi hatinya tidak,
selama 100 tahun diluarnya siapapun tidak ada yang mau
mengalah terhadap musuhnya, tetapi keadaan sebetulnya
semua berlaku sangat hati-hati dan waspada, hatinya tenang
bagaikan air danau yang tidak berombak!" Berkata Hee Thian
Siang sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa.
Thian-ie Sianjin tertawa terbahak-bahak dan berkata
kepada Sam-Ciok Cinjin: "Rahasia hati kita selama 100 tahun,
tak disangka-sangka telah dipecahkan Hee laote ini!"
sam-Ciok Cinjin tersenyum, kembali bertanya kepada Hee
Thian Siang: "Pertanyaanku yang terakhir ialah hendak
menanya kepadamu, apakah yang kau maksudkan dengan
ucapan tetap tenang bagaikan air danau yang tidak
berombak?" "Filsafat ini terlampau dalam. Bagaimana Hee Thian Siang
bisa menjelaskan" Tetapi didalam renungan Budha ada
pepatah yang mengatakan 'dalam menu kebenaran, tiada dua
jalan, kelihatan ada banyak pintunya', barangkali jika
seseorang bisa berlaku tanpa pamrih, rasanya sudah cukup!"
Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.
Sam-ciok Cinjin berkata sambil tertawa: "Bagus sekali
perumpamaanmu ini, tanpa ragu, betapa banyak jago-jago
sejak dahulu kala, betapa banyak raja-raja, berapakah
jumlahnya dan menepati sebab itu?"
"Imam tua, kau jangan menghela nafas, hari ini apabila
maksud kita selesai, bukankah semuanya juga akan selesai?"
Berkata Thian-ie Sianjin sambil bertawa.
"Baik. baik, padri tua, sekarang ini tibalah saatmu untuk
menguji pertanyaan kepada Tiong-sun Hui-Kheng. Selesai
pertanyaanmu, kita juga supaya lekas mengakhiri semua
pertikaian yang lalu!" Berkata Sam-ciok Cinjin sambil tertawa
terbahak-bahak. Thian-ie Sianjin mengulurkan tangannya menunjuk Sam-
ciok Cinjin, kemudian berkata sambil tertawa terbahak-bahak:
"Imam tua, meskipun kau beribadat tinggi, bagaimanapun juga
masih ada sedikit kurang bersih hatimu! Hari ini kita semua
sudah akan melepaskan keduniawian, perlu apa masih perlu
bertanya kepada nona Tiong-sun itu" Apakah nona Tiong-sun
Hui-kheng menggunakan ilmu yang kau turunkan kepadanya
untuk bertanding dengan ilmu menyelamatkan jiwa yang
kuturunkan kepada Hee laote...."
Belum habis ucapan Thian-ie Sianjin, sudah dipotong oleh
suara tertawa Sam-ciok Cinjin. Thian-ie Sianjin heran, ia
bertanya: "Apakah aku ada salah bicara sehingga kau tertawa
demikian rupa?" "Aku tertawakan kau bisa mencela orang, akan tetapi tak
berani mencela dirimu sendiri".
Thian-ie Sianjin semakin heran, tanyanya pula: "Apakah
artinya ucapanmu ini?"
"Kau tadi bukankah anggap kita hari ini sudah akan
terlepas dari keduniawian, dan tidak perlu bertanya lagi
kepada nona Tiong-sun?"
"Apa salahnya pertanyaan itu"
Sam-ciok Cinjin kembali tertawa terbahak-bahak dan
berkata: "Kalau memang tidak perlu lagi bertanya kepada
nona Tiong-sun mengapa kau suruh menggunakan ilmunya
yang kuturunkan kepadanya untuk bertanding dengan ilmu
menyelamatkan jiwa dari Hee laote" Hatimu sendiri masih
belum bersih, pikiranmu sendiri masih belum tenang,
sebaliknya kau menyalahkan aku, bukankah ini berarti hanya
bisa mencela orang, tetapi tidak bisa mengoreksi diri sendiri?"
Thian-ie Sianjin yang mendengar ucapan itu dengan
terkejut dan gembira, berkata: "Kalau begitu menurut
ucapanmu ini pertandingan antara nona Tiong-sun dengan
Hee laote tidak perlu diadakan lagi."
"Mereka masing-masing toh sudah memamahi ilmu Bu-
siang Kao-hun Liong-hui Siam-cok dan 3 jurus ilmu
menyelamatkan jiwa, jika mereka berkelana didunia Kangow
sudah lebih dari cukup untuk dibuat bekal!" Berkata Sam-ciok
Cinjin. Thian-ie Sianjin memuji nama Budha, merangkapkan
sepasang ibu jarinya kepada Sam-ciok Cinjin, katanya sambil
tersenyum: "Sungguh pintar, hari aku mengakui kau yang lebih
pintar daripadaku!" "Mengakui pintar saja tidak boleh, pertandingan tiga jurus
antara Hee laote dengna nona Tiong-sun boleh ditiadakan,
tetapi antara kita masih perlu melakukan pertandingan
terakhir, siapakah sebetulnya yang lebih pintar!" Berkata Sam-
ciok Cinjin sambil menggelengkan kepala.
Thian-ie Sianjin mengerutkan alisnya, bertanya sambil
menatap Sam-ciok Cinjin: "Kau tadi sudah mengatakan
sendiri, bahwa segala pikiran sudah jernih, dengan cara
bagaimana telah timbul pikiranmu untuk memperebutkan
kemenangan?" "Dalam pertandingan ini jauh berbeda dengan apa yang
kita lakukan terdahulu!" Berkata Sam-ciok Cinjin sambil
tertawa. "Apa bedanya" Kecuali itu segala ilmu Hian-kang dan
kekuatan tenaga dalam, serta ilmu-ilmu dari golongan Budha,
masih ada apalagi yang hendak dipertandingkan?"
"Dahulu dalam pertandingan 99 kali, kita masing-masing
mengerahkan seluruh kepandaian yang ada, hingg susah
ditentukan siapa yang lebih unggul! Tetapi pertandingan yang
terakhir kali ini, sekalipun tak dapat ditentukan siapa yang
lebih unggul juga tidak bisa diketahui sendiri!"
"Bagaimana dalam suatu pertandingan ada yang unggul
dan asor tidak diketahui oleh mereka sendiri?"
"Apakah kau sudah lupa apa yang kukatakan bahwa ini
adalah pertempuran yang terakhir?"
Thian-ie Sianjin sadar, katanya sambil tertawa besar: "O,
kiranya kau hendak bertanding denganku, siapa yang lebih
dahulu ke sorga." "Tidak perlu mengatakan perkataan yang demikian enak
didengarnya, terus-terang
saja kita akan melakukan pertandingan, siapa yang mati lebih dulu tanpa meninggalkan
pikiran, jadi mati dengan pikiran bersih!"
"Tak kusangka kau dapat memikirkan cara demikian,
pertandingan yang terakhir ini memang ganjil dan sangat unik
sekali," Berkata Thian-ie Sianjin sambil menganggukkan
kepala. "Jangan memuji dulu, aku masih ingin menambah sedikit
variasi dalam pertandingan ini!"
"Bagus. bagus! Aku ingin melihat apa yang hendak kau
keluarkan?" Sam-ciok Cinjin mengawasi Hee Thian Siang dan Tiong-
sun Hui Kheng, lalu berkata sambil tersenyum: "Hee laote dan
nona Tiong-sun, kemenangan dan kekalahan dalam
pertandingan terakhir antara aku dan sikepala gundul Thian-ie
ini, sebabnya yang diketahui oleh yang bersangkutan saja,
maka kuminta kalian berdua yang menjadi juri!"
Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng tahu bahwa
pertandingan antara Sam-ciok Cinjin dan Thian-ie Sianjin ini
sangat unik sekali, tetapi karena urusan sudah berkembang
demikian jauh, juga terpaksa menerima baik dan saling
berpandangan. Sam-ciok Cinjin berkata pula sambil tertawa: "Dalam
pertandingan kalau sudah ditetapkan ada yang menang dan
yang kalah, maka hanya ada orang yang menjagoi, siapa yang
kalah dan menang! Sekarang aku dan padri tua sebagai
jagonya, dan kalian berdua boleh pilih yang mana satu
sebagai jago, lalu dimulailah pertaruhan. Bukankah itu akan
menambah sedikit kegembiraan?"
Tion-sun Hui Khengtahu tak bisa mencegah lagi, maka lalu
berkata sambil tersenyum: "Tiong-sun Hui Kheng dan Hee
Thian Siang suka sekali mengiringi kehendak dan perintah
Cinjin dan Thian-ie taisu."
Thian-ie Siangjin berkata sambil tertawa: "Kalau begitu,
kalian berdua boleh pilih seorang, adu untung saja! Siapa
yang akan menjagoi aku?"
Hee Thian Siang lalu berkata sambil tertawa: "Hee Thian
Siang yang menerima budi taisu yang sudah mewariskan ilmu
kepandaian, maka Hee Thian Siang bersedia memegang taisu
sebagai jagoku!" Tiong-sun Hui Kheng juga berkata sambil tertawa: "Kau
pegang taisu dan aku akan pegan Cinjin, tetapi pertandingan
yang luar biasa ini pertaruhan yang digunakan seharusnya tak
boleh digunakan barang biasa!"
"Nona Tiong-sun, barang taruhan yang hendak kau
gunakan dengan Hee laote, aku sudah pikirkan untuk kalian."
Berkata Sam-ciok Cinjin sambil tertawa: "Oo! Barang
pertaruhan yang Cinjin sudah pikirkan, pastilah barang
taruhan yang sangat berharga!" Berkata Tiong-sun Hui Kheng
sambil tersenyum. "Sam-ciok Cinjin mengawasi Hee Thian Siang dan berkata
kepada Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa: "Aku lihat kau
dan Hee laote adalah sepasang kekasih yang sudah
ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa! Akan tetapi
perhubungan antara suami istri jikalau ingin rukun selalu dan
tidak terjadi pertengkaran, maka satu sama lain harus saling
menghormati dan saling menghargai, disamping itu fihak yang
satu harus tunduk benar-benar kepada fihak yang lain! Maka
inilah pertaruhan yang kupikirkan buat kalian dalam soal
tunduk betul-betul ini!"
Tion-sun Hui Kheng meskipun seorang gadis yang
mempunyai pikiran dan pandangan luas tetapi setelah
mendengar ucapan itu, tak urung juga lantas menjadi merah
pipinya dan menundukkan kepala tak berani mengeluarkan
suara. Sebaliknya dengan Hee Thian Siang, ia merasa sangat
girang, lantas berkata sambil tertawa.
"Bagus sekali, asal Cinjin yang menang, aku harus tunduk
benar-benar terhadap Enci Tiong-sun seumur hidup tidak
akan..." Ucapan "Seumur hidup tidak akan berubah" baru sampai
dibibirnya, Hee Thian Siang tiba-tiba merasa tak enak
dikeluarkan. Ia sendiri kecuali sudah jatuh cinta kepada Tiong-
sun Hui Kheng, disamping itu masih ada Liok Giok Jie dan
Hok Su Im dua saudara yang tidak boleh disia-siakan
pengharapannya, maka seketika ucapannya yang terakhir itu
ditelannya. Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin yang melihat Hee


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Thian Siang tidak melanjutkan ucapannya dan wajah serta
sikapnya dari gembira berubah menjadi bingung, keduanya
lantas saling berpandangan, semua sama-sama tidak
mengerti!" Tiong-sun Hui Kheng yang sudah dapat memahami isi hati
Hee Thian Siang, maka perdelikkan mata kepadanya, lantas
berkata kepada Sam-ciok Cinjin dan Thian-ie Sianjin:
"Pertandingan terakhir antara dua locianpe ini kapan hendak
dimulai?" "Jikalau kau sudah tidak ada apa-apa yang dipikirkan, kita
sudah bisa memulai dengan segera!" Menjawab Thian-ie
Sianjin sambil tertawa. Sam-ciok Cinjin juga berkata sambil menganggukkan
kepala: "Kuminta agar nona mengeluarkan tanda dan aku
bersama padri tua ini akan memulai melakukan pertandingan!"
Setelah Tiong-sun Hui Kheng mengeluarkan tanda dimulai,
benar saja dua orang tua aneh itu segera menundukkan
kepala dan duduk bersila.
Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang yang sudah
berpisah lama, kini telah bertemu kembali, satu sama lain
sudah ingin menceritakan isi hati masing-masing. Tetapi
karena kuatir mengganggu dua orang tua yang sedang
bertanding dengan ilmu kebatinan itu, maka terpaksa dua-
duanya berdiri dihadapan kedua orang tua itu, mereka hanya
saling berpandangan mata.
Difihak Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin, semuanya
tampak berseri-seri dan tersenyum. Dari keadaan demikian
Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng semua melihat
bahwa dua orang tua gaib dan luar biasa itu, begitu mereka
sadar akan kekeliruannya dimasa yang lalu sudah tentu hati
dan pikiran mereka menjadi jernih, maka dapat menghadapi
keadaan dengan perasaan tenang.
Selagi Hee Thian Sinag dan Tiongo-sun Hui Kheng berdiri
tenang menantikan keberangkatan Sam-ciok Cinjin dan Thian-
ie Sianjin, dengan tiba-tiba terdengar siulan panjang yang
timbul dari arah pegunungan Barat-laut.
Oleh karena suara siulan itu datangnya dari arah jauh,
tetapi terdengar dalam telinga orang seperti dilancarkan dari
tempat dekat, jelas sekali kedengarannya. Maka Tiong-sun
Hui Kheng tahu, bahwa suara itu dikeluarkan dengan
menggunakan ilmu Kian-thian Ceng-kie dan sudah tentu pula
hanya orang berkepandaian yang luar biasa tingginya yang
bisa mengeluarkan. Dalam keadaan terkejut, ia menatap Thian-ie Sianjin dan
Sam-ciok Cinjin tetapi dua orang tua itu masih tetapi tenang,
tidak terganggu oleh suara siulan panjang itu. Hee Thian
Siang sementara itu mengawasi Tiong-sun Hui Kheng,
kemudian mengacungkan ibu jarinya menunjuk kepada Thian-
ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin, sebagai tanda untuk
memberitahukannya, betapa teguhnya hati kedua orang tua
itu. Sebaliknya dengan Tiong-sun Hui Kheng, ia merasa kuatir
suara siulan itu apabila terus-menerus terdengar, tentu akan
menghalangi keberangkatan kedua orang luar biasa itu.
Diluar dugaannya suara siulan aneh itu telah tak terdengar
lagi, hingg keadaan disitu kembali menjadi sepi-sunyi.
Tiong-sun Hui Kheng baru merasa lega, ia arahkan lagi
pandangan matanya kepada Sam-ciok Cinjin dan Thian-ie
Sianjin, tampak semua sudah kelihatan otot-ototnya, maka ia
tahu sudah dekat waktunya untuk mereka meninggalkan dunia
yang fana ini. Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian,
dalam hati diam-diam berpikir: Dua orang tua ini bukan saja
dahulu setiap tahun melakukan pertandingan sekali, dalam 99
kali pertandingan itu selalu berakhir dengan seri, maka pada
saat pertandingan yang terakhir ini masih menetapkan siapa
yang lebih unggul. Pada saat itu, harimau hitam dan kera hitam sejak tadi
terus berada didekat Thian-ie Sianjin dengan tenang, 2
binatang itu oleh karena sudah lama mengikuti Thian-ie
Sianjin maka semuanya memiliki kecerdikan-kecerdikan luar
biasa. Mereka juga sudah melihat bahwa majikannya itu
sudah akan meninggalkan dunia fana, maka kedua-duanya
lantas mengucurkan air mata dengan sendirinya juga
mengeluarkan suara perlahan yang sangat memilukan hati.
Sungguh heran, suara siulan yang semula kedengarannya
demikian hebat dan bisa mengganggu pikiran manusia, tapi
sedikitpun tak mengganggu pikiran Thian-ie Sianjin, namun
kali ini suara helaan yang keluar dari mulut harimau dan kera
hitam yang kedengarannya demikian memilukan hati, Thian-ie
Sianjin yang mendengarkan, alisnya tampak bergerak, otot-
ototnya yang tadi tampak diantara hidungnya kembali
menghilang. Hee Thian Siang baru dikejutkan oleh perubahan itu,
sekujur tubuh Thian-ie Sianjin tampak bergetar, tetapi
wajahnya dengan tiba-tiba berubah kembali, keadanya
berubah kembali seperti semula.
Manusia gaib itu meskipun dengan mengandalkan
keteguhan hatinya, berhasil dengan gangguan yang terakhir
dan sudah akan melakukan perjalanan kesorga, tetapi ketika
mendengar ratapan harimau dan kera hitam, lalu tergerak pula
hatinya, justru lantaran itu, maka telah ketinggalan sedetik
oleh keberangkatan Sam-ciok Cinjin.
Hee Thian Siang merasa pilu berbareng girang. Sambil
menatap Tiong-sun Hui-kheng ia berkata: "Enci Tiong-sun,
pertaruhanmu telah menang. Untuk selanjutnya aku pasti akan
menurut segala perintahmu!"
Tiong-sun Hui-kheng tahu bahwa pemuda itu sangat cerdik
sekali, menggunakan kesempatan dalam pertaruhan ini,
dengan cara blak-blakan mengutarakan isi hatinya, ucapan
tadi berarti meminang atas dirinya.
Selagi pikirannya masih setengah girang dan setengah
malu, serta belum tahu bagaimana harus menjawab, Hee
Thian Siang sudah berkata lagi sambil menghela nafas
panjang: "Enci Tiong-sun, dalam penghidupan manusia, paling
sulit ditembusi, mungkin adalah soal kasih, bukanlah nama
atau kedudukan atau pangkat. Thian-ie taisu, betapa kuat
keteguhannya" Hanya lantaran harimau hitam dan kera hitam
yang sudah demikian lama mengabdi padanya, maka ketika
mendengar suara ratapan binatang-binatang itu, tergeraklah
perasaan cintanya. Dengan demikian, barulah dia ketinggalan
sedetik oleh Sam-ciok Cinjin. Tetapi hatinya mengambil
keputusan dan keteguhan untuk bertindak memutuskan cinta-
kasihnya terhadap binatang piaraannya itu, masih tetap
sangat kita kagumi dan kita hargai!"
Tiong-sun Hui-kheng menyaksikan harimau hitam dan kera
hitam itu kedua-duanya sedang meringkuk disamping Thian-ie
Sianjin, maka latas berkata kepada Hee Thian Siang: "Kedua
locianpe itu meskipun sudah meninggalkan raganya datang
kerahmatullah, akan tetapi kita toh tak boleh membiarkan
tubuh mereka tertinggal ditempat ini, maka kita harus pikirkan
suatu cara untuk mengubur jenazah mereka!"
Mendengar itu, Hee Thian Siang juga merasa sukar, sebab
dipuncak gunung itu tidak terdapat tanah. Apakah jenazah dua
orang gaib itu harus dibawa turun kebawah puncak gunung,
ataukah ditutupi dengan daun-daun kering"
Ketika dua orang itu selagi dalam keadaan tidak berdaya,
kembali terdengar suara siulan nyaring dan lantang, yang
timbul dari puncak gunung. Suara itu demikian hebat, sehingg
menggetarkan hati mereka berdua.
Tiong-sun Hui-Kheng berkata dengan perasaan terkejut:
"Suara siulan itu mengandung ilmu Kian-thian Ceng-kie,
kekuatan tenaga dalam orangnya, rupanya tidak dibawah
Sam-ciok Cinjin dan Thian-ie Sianjin. Dalam pegunungan Ko-
le Kong-san ini bagaimana sembunyi demikian banyak tokoh-
tokoh luar biasa?" "Orang ini berulang-ulang mengeluarkan siulan, agaknya
mengandung maksud hendak mengacau, sudah tentu
bukanlah orang baik-baik" Berkata hee Thian Siang sambil
menggelengkan kepala. Baru saja menutup mulut, siopek dan taywong serta
harimau hitam dan kera hitam, dengan tiba-tiba semua
mendongakkan kepala dan tujukan pandangan matanya
kearah Barat laut, sedang mulutnya mengeluarkan suara
marah, agaknya melihat tanda akan kedatangan musuh.
Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang tahu ada firasat
tidak baik, buru-buru menenangkan pikirannya, tak lama
kemudian diatas puncak gunung Giok-can-hong tampak
melayang turun sesosok bayangan orang, bayangan itu
ternyata adalah seorang tua berbaju kuning, bertubuh tinggi
besar. Orang tua berbaju kuning begitu tiba diatas puncak gunung,
masih belum melihat Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin
yang kedua-duanya sudah tidak bernyawa, matanya ditujukan
kepada harimau hitam dan kera hitam, kemudian baru
bertanya kepada Hee Thian Siang: "Binatang harimau dan
kera ini apakah binatang piaraan Thian-ie taisu yang sudah
lama mengasingkan diri?"
Hee Thian Siang yang mendapat kesan tidak enak maka
atas pertanyaan itu ia balas bertanya dengan nada suara
dingin: "Apakah kau kenal dengan Thian-ie taisu atau tidak?"
"Sudah lama kudengar namanya, tetapi belum melihat
orangnya. Aku juga sudah mencarinya selama 80 tahun
lamanya!" Menjawab orang tua itu sambil menggelengkan
kepala. Hee Thian Siang tiba-tiba ingat waktu Thian-ie Sianjin baru
naik keatas puncak gunung Giok-can-hong apa yang pernah
dikatakan olehnya, ia lantas berkata sambil menatap orang tua
itu: "O, aku tahu, barangkali kau adalah orang yang bernama
Hee Khao Soan itu?" Orang tua berbaju kuning itu terperanjat, katanya: "Dalam
rimba persilatan pada dewasa ini ternyata masih ada orang
yang tahu namaku, betul-betul merupakan suatu kejadian
ajaib!" Sedikitpun tidak aneh, kau mencari Thian-ie taisu sudah 80
tahun lamanya, sendang Thian-ie taisu juga sudah menunggu
kau selama itu, tapi apa mau dikata, pada saat terakhir seperti
ini kedatanganmu sudah terlambat selangkah."
Mendengar ucapan "saat terakhir" itu, orang tua berbaju
kuning Hee-khao Soan, bukan kepalang terkejutnya, matanya
lalu ditujukan kepada Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin
yang sudah tak bernyawa, tanyanya dengan suara penasaran:
"Padri itu apakah Thian-ie taisu?"
"Thian-ie taisu dan sam-ciok Cinjin kedua-duanya sudah
berangkat kedunia lain!" Menjawab Hee Thian Siang sambil
menganggukkan kepala. Hee-khao Soan menjerit sedih, wajahnya menunjukkan
sikapnya yang sangat pilu, ia berjalan lambat-lambat
menghampiri jenazah Thian-ie Sianjin.
Binatang harimau hitam dan kera hitam yang masih
menunggu disamping majikannya, mereka mengira Hee-khao
Soan berlaku tidak baik terhadap jenazah Thian-ie Sianjin.
Maka kedua-duanya lalu menggeram dan menyerbu.
Hee-khao Soan mengebutkan lengan bajunya, dari situ
menghembus angin hebat, hingga harimau hitam dan kera
hitam yang menyerbu telah terlempar jatuh, dan pada
mengeluarkan jeritan dan bergulingan sejauh setombak lebih
dan hampir terjatuh kedalam jurang.
Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang dua-duanya
bergerak serentak kehadapan jenazah Thian-ie Sianjin dan
Sam-ciok Cinjin, siap untuk melindungi jenazah orang tua itu.
Tiong-sun Hui Kheng lalu berkata sambil tersenyum:
"Dalam rimba persilatan ada pepatah mengatakan: BEGITU
MALAIKAT ELMAUT TIBA, LENYAPLAH SEGALA PERMUSUHAN,
Thian-ie taisu dan Sam-ciok Cinjin sudah berangkat kesorga, apakah kau orang tua
masih belum mau melepaskan mereka"..."
Hee-kaho Soan tidak menunggu Tiong-sun Hui Kheng
melanjutkan ucapannya, lantas menjawab sambil
menggelengkan kepalanya: "Kalian jangan salah mengerti,
Hee-kaho Soan karena terlambat selangkah hingga tak bisa
bertemu muka dengan Thian-ie taisu, penasaran hatiku susah
untuk dilukiskan, maka aku mau melihatnya beberapa lama
saja dan akan berada didepan jenazahnya!"
Habis berkata demikian, ia mengamat-amati Thian-ie
Sianjin, kemudian dengan tiba-tiba berkata dengan suara
nyaring: "Thian-ie taisu, Hee-khao Soan telah melakukan
perjalanan keseluruh negeri, mencari kau selama 80 tahun
leboh, tak disangka pada akhirnya belum bisa menjumpai kau
dalam keadaan hidup, hingga tak bisa belajar kenal dengan
ilmu terampuh Thian-kim Ngo-sek mu. Hari ini secara
kebetulan baru bertemu tempat ini, apa mau sudah terlambat
sedangkan kau sudah berangkat lebih dahulu! Dapat hidup
berapa kali bisa dapat menjumpai lawan yang seimbang"
Maka setelah kau mangkat, cita-cita hidupku kini telah menjadi
buyar, masa suruh aku tidak sedih?"
Setelah mencurahkan isi hatinya itu, benar saja orang tua
itu lantas menangis dengan sedihnya seperti anak kecil.
Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng sesungguhnya
merasa heran. Mereka mengawasi dan berdiam saja, tetapi
kemudian melihat Hee-khao Soan semakin menangis semakin
sedih, Hee Thian Siang yang tidak tega lantas berkata
padanya: "Empek Hee-khao, jangan menangis lagi, aku tahu
cara untuk menghiburmu!"
Hee-khao Soan smbil menyeka air matanya, menjawab:
"Kecuali Thian-ie taisu hidup lagi dan bertempur denganku
hingga 1000 jurus kalau tidak masih ada apa lagi yang dapat
menghibur kususahanku?"
Sehabis berkata demikian lantas menangis lagi dengan
sedihnya. Menyaksikan keadaan demikian, Hee Thian Siang measa
bahwa orang tua itu, kendatipun usianya telah lanjut, namun
pikirannya masih seperti anak-anak, maka ia lalu
mengeluarkan bulu hadiah Thian-ie Sianjin, berkata kepada
Hee-khao Soan: "Jangan menangis, lihatlah, ini benda apa?"
Hee-khao Soan mengawasi bulu burung ditangan Hee
Thian Siang, lantas menghentikan tangisnya, tanyanya heran:
"Apakah itu bukan bulu burung yang dinamakan Thian-khim
Ngo-sek Ie-mao, senjata Thian-ie taisu pada 100 tahun
berselang?" "Dugaanmu sedikitpun tidak salah!" Menjawab Hee Thian
Siang sambil menganggukkan kepala dan tertawa.


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hee-khao Soan mengawasi bulu ditangan Hee Thian
Siang, katanya dengan sedih: "Bulunya masih ada, tetapi
orangnya sudah tiada, itu masih merupkan suatu penyesalan
bagiku. Mengenai bulu burung itu hanya dapat digunakan
untuk membuka mataku, tetapi tidak ada gunanya untuk
menghibur hatiku." "Mengapa tidak dapat digunakan untuk menghibur hatimu".
Aku bisa menggunakan senjata bulu ini, mewakili Thian-ie
taisu untuk bertanding denganmu!" Berkata Hee Thian Siang
sambil tertawa. "Apakah kau pewaris Thian-ie taisu?" Berkata Hee-khao
Soan heran. "Bukan, bukan, aku dengan Thian-ie taisu hanya sahabat
selama sepuluh hari ini saja, tetapi atas kebaikan taisu, telah
menghadiahkan 3 batang bulu Thian-khim Ngo-sek Ie-mao
bahkan menurunkan ilmunya untuk menggunakan senjata ini
dan ilmunya Sam-goan Hap-it."
Sepasang alis Hee-khao Soan berdiri, seolah-olah sangat
girang mendengar keterangan itu. Tetapi rasa girangnya itu
hanya sepintas lalu saja, tetapi kemudian ia masih tetap
mengerutkan alisnya dan berkata: "Engkau dengan Thian-ie
taisu hanya bergaul 10 hari saja. Kendatipun kau mewarisi
kepandaiannya tapi kekuatan tenagamu juga masih jauh untuk
menang, bagaimana bisa bertanding denganku?"
"Kau jangan tidak pandang mata padaku, aku boleh
pertunjukkan dulu padamu, bagaimana ilmuku?"
"Tunggu dulu, tunggu dulu, kau jangan mempertunjukkan
dulu! Beritahukan dulu padaku orang tua yang bernama Sam-
ciok Cinjin itu seorang bagaimana" bagaimana bisa binasa
bersama-sama dengan Thian-ie taisu?" Berkata Hee-khoan
Soan sambil menggoyangkan tangannya.
Thian-sun Hui Kheng lalu menceritakan riwayat dua orang
tua luar biasa itu, karena dalam pertandingan selama 100
tahun tidak ketahuan siapa yang lebih unggul, dan akhirnya
diatas puncak giok-can-hong itu melakukan pertandingan
terakhir, sehingga kedua-duanya mati bersama-sama.
Hee Khao Soan yang mendengar penuturan Tiong-sun Hui
Kheng tidak berhentinya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sehabis itu lantas tertawa besar, barulah ia berkata sambil
menghela nafas: "Suatu kejadian yang luar biasa, sayang
peristiwa yang sangat menarik dalam rimba persilatan dan aku
Hee-khao Soan tidak mendapat kesempatan untuk turut
menyaksikannya!" Berkata sampai disitu, ia berkata pula sambil menatap Hee
Thian Siang: "Mengenai maksudmu hendaknmendemontrasikan
kepandaianmu menggunakan bulu Thian- khim Ngo-sek Ie-mao, untuk
sementara jangan kau lakukan dulu, aku hendak memberi hadiah dulu
kepada Thian-ie taisu dan Sam-ciok Cinjin!"
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu saling
berpandangan dengan Tiong-sun Hui Kheng dengan perasaan
terheran-heran, sementara itu dalam hatinya berpikir: Aku
hendak melihat kau si tua bangka ini akan menghadiahkan
barang apa kepada Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin.
Hee-khao Soan sehabis mengucap demikian tampak
mondar-mandir sejenak dipuncak gunung kemudian memilih
suatu tempat yang menghadap keair terjun, yang cukup untuk
digunakan menikmati pemandangan alam disekitar puncak
gunung itu, lalu duduk bersila, juga memejamkan mata dan
melakukan semedi. Hee Thian siang yang menyaksikan itu
merasa sangat heran, lalu berbisik-bisik ditelinga Tiong-sun
Hui Kheng: "Enci Tiong-sun, lihatlah orang tua aneh itu, apa
yang sedang dilakukannya disitu" Tadi dia berkata hendak
memberi hadiah barang berharga kepada Thian-ie Sianjin dan
Sam-ciok Cinjin tetapi sekarang sebaliknya, dia duduk
berdiam dan bersemadi ditempat ini, apakah dia juga akan
mengikuti jejak Thian-ie taisu dan sam-ciok Cinjin untuk
pulang ke rahmatullah bersama-sama?"
Tiong-sun Hui Kheng melihat Hee-khao Soan sedang
bersemadi, alisnya dikerutkan, katanya dengan suara
perlahan: "Orang tua she Hee-khao ini bukan saja adatnya
sangat aneh, tidak mudah ditangkapnya, tentang kepandaian
ilmu silatnya tampaknya juga tinggi sekali! Kau tadi hendak
bertanding dengannya barangkali mencari susah sendiri?"
"Pertama, tadi karena aku melihat dia menangis demikian
menyedihkan, kedua, karena aku tahu benar kalau Thian-ie
taisu juga ingin sekali melakukan pertandingan dengan orang
tua ini, maka aku telah mengambil keputusan hendak mewakili
Thian-ie Sianjin untuk menyelesaikan keinginannya yang
belum terlaksana itu!"
Mendengar Hee Thian Siang berkata demikian, sudah tentu
Tiong-sun Hui Kheng diam saja. Pandangan matanya
ditujukan kepada Hee-khao Soan dan tempat yang diduduki
oleh orang itu, serta binatang harimau dan kera hitam yang
tadi dikebut jatuh berguling, masih tetap berada disamping
Thian-ie Sianjin sambil menangis: Hatinya merasa tergerak,
lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil menunjuk
harimau dan kera hitam itu: "Apakah Thian-ie taisu juga
memberikan kepadamu harimau dan kera hitam yang sangat
cerdik ini" Terutama harimau hitam itu kelihatannya sangat
menyenangkan sekali!"
"Thian-ie taisu memang pernah mengucapkan demikian.
Enci Tiong-sun, tahukah kau, justru harimau hitam itu yang
membawaku kelembah Thian-kheng-kok untuk menjumpai
Thian-ie taisu!" Berkata Hee Thian Siang sambil
menganggukkan kepala dan tertawa.
"O!" Berkata Tiong-sun Hui Kheng, sambil kembali
mengawasi harimau dan kera hitam. Hee Thian Siang lalu
menceritakan apa yang dijumpainya didalam rimba, dan
dengan cara bagaimana ia telah menolong kedua binatang
aneh itu dan akhirnya ia diajak oleh mereka untuk menjumpai
majikannya. Setelah itu, ia lalu berkata sambil tertawa: "Enci
Tiong-sun, untuk selanjutnya jikalau aku menggunakan
harimau hitam itu sebagai kuda tunggangan, bukan saja
sangat menarik, tetapi juga bisa diadu lari dengan kudamu,
siapakah yang lebih cepat larinya?"
Tiong-sun Hui Kheng tertawa, bilum lagi menjawab, orang
tua berbaju kuning Hee-khao Soan, tiba-tiba menghela nafas
panjang, sikapnya dengan mendadak berubah demikian lelah,
agaknya sudah tak bersemangat lagi.
Hee Thian Siang bertanya sambil tersenyum, "Empek Hee-
khao, apakah kau yang dudu bersemadi dalam waktu singkat
itu, sudah menghadiahkan barang berharga kepada Thian-ie
taisu dan sam-ciok Cinjin?"
Hee-khao Soan belum menjawab apa yang ditanyakan,
sebaliknya balas menanya kepada Tiong-sun Hui Kheng:
"Kalian dua anak-anak yang muda belia, siapakah adanya
kalian?" "Dia bernama Hee Thian Siang, sedang aku sendiri
bernama Tiong-sun Hui Kheng." Menjawab Tiong-sun Hui
Kheng. "Kalian lihatlah dengan seksama, hadiahku kau anggap
berharga atau tidak?" Berkata Hee-khao Soan ambil tertawa
besar. Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng yang
mendengar pertanyaan itu kedu-duanya lantas memasang
mata, mereka mendapat kesan bahwa segalanya dipuncak
gunung itu sedikitpun tidak tampak perubahan apa-apa,
mereka tidak dapat menemukan barang apa yang katanya
oleh orang tua itu sebagai hadiah kepada Sam-ciok cinjin dan
Thian-ie Sianjin. Hee-khao Soan yang melihat mereka masih belum
menemukan hadiahnya, kembali tertawa besar, kedua lengan
jubahnya bergerak-gerak, lantas menari-nari ditempatnya
berdiri. Dengan perbuatannya itu, Hee Thian Siang dan Tiong-sun
Hui Kheng barulah melihat, bahwa berbareng dengan
bergeraknya lengan baju, terlihat hancuran batu yang sudah
menjadi bubuk berterbangan!
Akan tetapi bubuk-bubuk batu itu tidak beterbangan
mengikuti arah angin, hanya seolah-olah ada mengandung
sifat yang melekat, semakin perlahan semakin tinggi, diatas
tanah itu membentuk suatu gundukan bundar.
Gundukan bundar yang terdiri dari bubuk-bubuk batu itu
semakin tinggi, sedang tubuh Hee-khao Soan tampak semakin
pendek, akhirnya seluruh badan Hee-khao Soan terbenam
kebawah tanah. Pada saat itu, Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng
sudah mulai mengerti apa yang dilakukan oleh Hee-khao
Soan, tetapi ia masih belum 100% tahu benar, maka kedua-
duanya masih berdiri tenang untuk menyaksikan
perkembangan selanjutnya.
Sesaat kemudian Hee-khao Soan menghentikan
perbuatannya yang menari-nari, baju kuningnya berkibar
melompat keluar dari tempat yang disekitarnya sudah
tertimbun bubuk batu. sedangkan tempatnya berdiri tadi telah
berubah menjadi sebuah lobang sedalam 8 kaki danselebar
satu tombak persegi, sekitar lobang itu seolah-olah digali oleh
barang tajam. Tiong-sun Hui Kheng lantas sadar, ia sangat kagum akan
kepandaian ilmu orang itu maka lantas berkata dengan
pujiannya sambil tersenyum: "Empek Hee-khao, kau dengan
ilmumu kim-kong Sian-chui telah menghancurkan batu-batu
sebesar itu, kemudian menggunakan lagi ilmumu Liu-in Put-
sin telah membuat lobang batu ini, apakah itu hendak kau
gunakan untuk mengubur jenazah Sam-ciok Cinjin dan Thian-
ie taisu?" Hee-khao Soan seolah-olah sudah kehabisan tenaga,
sepasang matanya dipejamkan, setelah beristirahat sebentar
barulah menjawab sambil tertawa: "Budak perempuan, kau
ternyata lebih pintar, sekarang kau anggap hadiahku ini,
apakah tidak terlalu ringan?"
Hee Thian Siang yang tadi sedang memikirkan cara
mengubur jenazah kedua orang gaib itu, ketika menyaksikan
keadaan demikian hatinya merasa lega, maka ia lalu memberi
hormat sambil berkata dan tersenyum: "Empek Hee-khao,
bapak telah membangun kuburan untuk mengubur jenazah
kedua locianpe ini, jasamu itu sangat besar sekali. Hee Thian
Siang disini mengucapkan banyak-banyak terima kasih!"
"Aku telah membuat lobang demikian besar dan merasa
letih, kalian boleh bawa jenazah Sam-ciok Cinjin dan Thian-ie
taisu, kedalam lubang ini!" Berkata Hee-khao Soan sambil
tersenyum. Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng segera
melakukan menurut perintah Hee-khao Soan dengan sangat
hormat, keduanya mengubur jenazah dua orang tua itu
kedalam lobang kuburan buatan Hee-khao Soan. Tak
disangka-sangka, harimau hitam dan kera hitam itu, juga
lantas ikut lompat masuk kedalam lobang, masih tetapi
berlutut disamping jenazah Thian-ie taisu.
Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan keadaan
demikian, lalu berkata kepada Hee Thian siang sambil
menggeleng-gelengkan kepala dan menghela nafas:
"Harimaumu barangkali tak bisa kau gunakan lagi, lihatlah
sikap mereka itu, pasti karena masih mengingat budi
majikannya, maka hendak mengikuti jejak majikannya pulang
ke alam baqa!" Hee Thian Siang merasa sangat cemas, baru saja hendak
memanggil kedua binatang hitam itu, supaya lekas keluar,
tetapi mendadak terdengar suara menyedihkan, harimau dan
kera hitam itu masing-masing sudha memukul hancur
kepalanya sendiri dan mati dibawah kaki Thian-ie Sianjin.
Hee-khao Soan yang menyaksikan kejadian itu juga
menggelengkan kepala, sepasang lengan bajunya dikibar-
kibarkan ditengah udara, gundukan bubuk batu itu kembali
berhamburan menimbuni lobang.
Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang yang tak tega
menyaksikan keadaan harimau dan kera hitam itu juga
membantu Hee-khao Soan untuk menimbun lobang, dimana
dikubur jenazah Sam-ciok cinjin dan Thian-ie Sianjin.
Dengan bekerja sama, ketiga orang itu sudah tentu bisa
menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Demikianlah
sebuah kuburan batu telah muncul diatas puncak gunung
Giok-can-hong. Tiong-sun Hui Kheng berkata sambil mengerutkan alisnya.
"Bubuk-bubuk batu diatas kuburan ini, jika tidak disiram
dengan air pada waktunya, supaya bisa membeku, barangkali
akan tertiup angin gunung sehingga berhamburan!"
Hee-khao Soan angkat muka mengawasi keadaan
sekitarnya, dengan tiba-tiba mengeluarkan siulan panjang,
lengan bajunya kembali digerak-gerakkan seolah-olah seekor
burung elang raksasa yang terbang melesat ketengah udara.
Kiranya didekat punccak gunung itu, terdapat air mancur
yang tidak besar, tetapi juga tidak kecil, saat itu sedang
memancurkan airnya, sehingga menjadi kabut air.
Hee-khao Soan lompat turun kedekat kolam air
menggunakan ilmunya, kedua tangannya bergerak-gerak, air
dari air terjun itu telah berubah arahnya, kini menyembur
keadah kuburan Thian-ie Sianjin dan Sam-ciok Cinjin serta
harimau dan kera hitam itu.
Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan air mancur seperti
air hujan, merasa sangat kagum atas kepandaian ilmu Hee-
khao Soan, tetapi juga merasa kuatir bila Hee Thian Siang
bertindak mewakili Thian-ie Sianjin untuk bertanding dengan
orang tua itu. Sebaliknya dengan Hee Thian Siang, ia
sedikitpun tidak mau ambil pusing, sesaat kemudian ia
dongakkan kepala dan berkata kepada Hee-khao Soan yang
berada di puncak: "Sudah cukup, sudah cukup, air ini sudah
cukup untuk membasahi bubuk batu diatas makam ini!"
Hee-khao Soan mendengar ucapan itu lalu menarik
ilmunya, hingga air yang mencurah seperti hujan tadi, lantas
berhenti. Hee Thian Siang menantikan Hee-khao Soan yang balik
kembali, barulah berkata kepadanya sambil tersenyum:
"Sekarang kau masih ingin melihat aku mendemontrasikan
ilmuku menggunakan senjata rahasia bulu burung yang baru
kupelajari itu atau tidak?"
"Aku justru ingin melihat kau, dalam 10 hari yang sangat
singkat itu sudah dapat kau menggunakan dengan baik atau
tidak ilmu Thian-kim Cit-khao dan Sam-goan-hap-it!" Berkata
Hee-khao Soan sambil menganggukkan kepala.


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Menyesal sekali, tentang ilmu Thian-khim Cit-khao, aku
hanya baru diberi penjelasannya dengan lisan saja, oleh
Thian-ie taisu, belum pernah mengadakan latihan! Maka
sekarang ini aku hanya dapat mengadakan pertunjukan ilmu
Laron Pengisap Darah 10 Musuh Dalam Selimut Karya Liang Ie Shen Pendekar Latah 30
^