Pencarian

Makam Bunga Mawar 17

Makam Bunga Mawar Karya Opa Bagian 17


Sam-goan-hap-it saja!" Berkata Hee Thian Siang sambil
tersenyum. Hee-khao Soan agaknya merasa kecewa, setelah
mendengar ucapan itu wajahnya agak berubah, sejenak
berpikir, kemudian dengan perasaan apa boleh buat ia
menganggukkan kepala dan berkata:
"Bolehlah kau pertunjukkan dulu kepandaianmu menggunakan
ilmu sam- goan-hap-it sampai dimana kehebatannya!"
Hee Thian Siang lalu mengeluarkan tiga batang bulu
burung berwawrna lima pemberian Thian-ie Sianjin, bulu itu
dijepit dengan jari tangannya, kemudia ia menunjuk kesebuah
pohon tua sejarak empat tombak dihadapannya lalu berkata
sambil tersenyum: "Bapak Hee-khao, harap kau memberikan
tanda diatas pohon tua itu!"
Hee-khao Soan menggunakan kancing bajunya dan
dilemparkan kepohon itu. Kancing baju tersebut lantas
menancap dibatang pohon. Hee Thian siang yang memang memiliki dasar bakat yang
sangat baik, maka terhadapa kepandaian ilmu yang diwarikan
oleh Thian-ie Sianjin semua sudah dapat dipelajarinya dengan
baik sekali! Sekarang dihadapan Hee-khao Soan dan Tiong-sun Hui
Kheng, ia tambah bersemangat, tiga batang bulu burung itu
semua tidak disambitkan langsung, akan tetapi dengan secara
membalik ditujukan kebelakang dirinya, kemudian memutar
menyambit kesasarannya. Tiga batang bulu burung itu begitu terlepas dari tangannya,
bagaikan tiga batang anak panah meluncur keatas, tiba-tiba
sejarak tiga tombak tingginya, kemudian memancar memutar
keliling, dibelakang berputaran demikian rupa, sehingga
merupakan suatu pemandangan yang sangat indah.
Pada waktu semua mata dikaburkan oleh warna tiga bulu
burung yang berputaran itu, 3 batang bulu burung itu dengan
tiba-tiba tergabung menjadi satu kemudian dengan secepat
kilat meluncur kearah dimana ada tanda kancing yang
menyusup diatas pohon tadi. Tiong-sun Hui Kheng yang
menyaksikan pertunjukan itu dengan wajah berseri-seri
memandang Hee Thian Siang sejenak, sedang Hee-khao
Soan mengangguk-anggukkan kepala dan berkata dengan
pujiannya: "Sungguh hebat ilmumu ini, dalam waktu yang
sangat singkat kau sudah mendapatkan hasil seperti ini,
sesungguhnya sudah cukup memuaskan!"
Selagi Hee Thian Siang hendak menjawab, 3 batang bulu
burung yang manancap dipohon tua itu dengan tiba-tiba
melayang terbang kedalam lengan baju Hee-khao Soan.
Hel itu yang terjadi secara tanpa diduga-duga telah
mengejutkan Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng,
dengan perasaan terheran-heran hee Thian Siang bertanya:
"Bapak Hee-khao, bagaimana kau telah merampas 3 batang
senjata bulu burungku ini?"
Wajah dan sikap Hee-khao Soan saat itu dengan tiba-tiba
berubah demikian menyedihkan, sambil menatap Hee Thian
Siang, ia menjawab lambat-lambat.
"Meskipun kau sudah mempelajari sedikit ilmu Thian-ie
taisu, akan tetapi kekuatan tenagamu masih terlalu dangkal,
masih belum dapat mengimbangi kepandaian dan kekuatanku!
Cita-citaku selama 80 tahun untuk mengadakan pertandingan
dengan Thian-ie Siangjin telah menjadi buyar seperti asap
tertiup angin. Dalam keadaan seperti ini, semangatku sudah
tidak bisa tergugah lagi, agaknya juga tak bisa hidup lama
didalam dunia!" Berkata sampai disitu dari dalam lengan bajunya ia
mengeluarkan 3 batang bulu burung berwarna lima yang
dipandangnya berulang-ulang, katanya dengan suara sedih:
"Oleh karena aku mengagumi benda ini, aku telah menjelajahi
seluruh tempat hampir gunung-gunung dan rimba-rimba sudah
kudatangi. 80 tahun lamanya barulah aku melihat benda ini.
Aku telah mengambilnya, kupikir hendak kujadikan sebagai
kawan dalam kuburanku!"
Hee Thian Siang mendengar itu alisnya dikerutkan ia
berpikir sejenak, kemudian berkata: "Jadi kau anggap bahwa
dalam waktu singkat sudah bisa mempelajari kepandaian ilmu
Thian-ie taisu, itu sesungguhnya tidak mudah. lalu dengan
cara bagaimana kau tidak memberi kesempatan kepadaku
untuk mempelajarinya lebih dalam?"
"Kepandaian yang kau dapatkan memang sudah cukup
memuaskan!" Berkata Hee-khao Soan sambil menganggukkan
kepala. "Kalau begitu mengapa kau tak memberi sedikit waktu
kepadaku, biarlah aku memperdalam ilmu itu" Kalau saatnya
sudah tiba, marilah kita mengadakan pertandingan sepuas-
puasnya dengan demikian kau juga tak sia-sia mencari dan
menunggu selama 80 tahun!" Berkata Hee Thian Siang.
Hee-khao Soan yang mendengar itu tampak tenang
kembali, sambil menatap Hee Thian Siang katanya: "Ilmu itu
sangat dalam sekali, apakah kau pikir memerlukan waktu
berapa lama barulah bisa mempelajari dengan baik?"
Hee Thian Siang menundukkan kepala untuk berfikir,
kemudian menjawab: "Bapak Hee Khao, terhadap orang
berkepandaian tinggi seperti kau ini, aku tidak berani anggap
diriku sendiri terlalu pintar. Bagaimana kalau aku minta waktu
5 tahun?" Hee-khao soan merasa sangat girang, ia mengangguk-
anggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum: "Lima tahun
kemudian, pada bulan 9 tanggal 9, kita mengadakan
pertemuan ditempat yang dinamakan Lam Thian Bun
dipuncak gunung Thay-san!"
Sehabis mengucapkan demikian, wajahnya yang tadi
gembira kini kembali menjadi sedih, katanya samabil
menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang: "Tidak
adil, tidak adil, kau bocah ini meskipun memiliki dasar yang
baik dan kecerdasan luar biasa. tetapi hanya menggunakan
waktu 5 tahun, apakah mungkin bisa mempelajari dengan
baik" Maka bagaimanapun juga, masih bukan tandinganku
yang sudah memiliki latihan selama 100 tahun. Pertandingan
yang tidak adil seperti ini apa gunanya" Lebih baik aku meniru
tindakan Thian-ie taisu dan Sam-ciok Cinjin untuk
meninggalkan dunia fana ini, supaya bebas dari segala gangguan!"
Sehabis berkata demikian tangan kanannya diangkat
hendak memukul batok kepalanya sendiri.
Tiong-sun Hui Kheng yang memiliki perasaan halus dan
hati baik, sesungguhnya tidak tega melihat-tokoh-tokoh
terkenal mati secara mengenaskan itu, apalagi yang terjadinya
secara beruntun maka buru-buru memberi hormat dan berkata
sambil tertawa: "Bapak Hee-khao, kau tidak perlu berbuat
seperti itu. Tiong-sun Hui Kheng ada satu jalan yang bisa
membantu keinginanmu untuk mengadakan pertandingan
dengan Thian-ie taisu secara adil!"
Hee-khao Soan mendengar ucapan itu, dengan perasaan
heran bertanya: "Thian-ie taisu sudah pulang kealam baqa
dan jenazahnya juga sudah dikubur didalam kuburan batu ini.
Apakah kau bisa menghidupkan kembali orang yang sudah
mati" Jika tidak dengan cara bagaimana kau bisa membuat
Thian-ie taisu mengadakan pertandingan
secara adil denganku?" Tiong-sun Hui Kheng tersenyum, kemudian menjawab:
"Meskipun Tiong-sun Hui Kheng tak mempunyai kepandaian
untuk menghidupkan orang yang sudah mati, tetapi benar-
benar ada suatu cara, untuk memuaskan keinginan bapak
Hee-khao!" Hee-khao Soan tak dapat menerka maksud yang
terkandung dalam ucapan gadis itu, maka dengan perasaan
cemas ia berkata: "Coba katakan! Apa sebenarnya yang kau
maksudkan itu?" "Bapak Hee-khao, kau anggap Hee Thian Siang dapat
mewakili Thian-ie taisu hendak bertanding denganmu, dalam
hal mana kau anggap tidak adil itu?" Bertanya Tiong-sun Hui
Kheng sambil tersenyum. "Usia dia terpaut jauh sekali denganku, demikianpun
tingkatan dan kepandaian ilmu silat serta kekuatan tenaga
dalamnya, tidak ada setitikpun yang dapat dikatakan adil!"
"Itu terlalu susah. Terlalu susah! Perbedaan jauh itu adalah
sudah dari alam, sungguh tiada manusia yang bisa
menghapuskan!" "Mudah, mudah! Perbedaan ini asal dengan sepatah
kataku, semua dapat dihapus!"
Hee-khao Soan tertegun, sementara itu Tiong-sun Hui
Kheng melanjutkan ucapannya sambil tertawa: "Letak ketidak-
adilan itu dapat dipecahkan dengan perkataan wakil, kau
boleh mencari seorang wakil untuk mewakili dirimu, dengan
demikian bukankah sudah menjadi adil?"
"Nona Tiong-sun, bolehkah kau memberi keterangan lebih
jelas sedikit?" Bertanya Hee-khao Soan sambil menatap wajah
Tiong-sun Hui Kheng. Tiong-sun Hui Kheng berkata sambil tersenyum dan
menunjuk makam Thian-ie Sianjin: "Cara ini bukanlah aku
yang menelorkan. Sam-ciok Cinjin dan Thian-ie Sianjin yang
kini sudah berada didalam kuburan itu, sudah pernah
menggunakan satu kali."
Hee-khao Soan masih belum mengerti, tetapi Hee Thian
Siang sudah paham, maka lalu berkata sambil tertawa:
"Maksud enci Tiong-sun ialah menyuruh kau juga mencari
seorang wakil yang usianya sebaya denganku. Begitu pula
bakat serta kepandaiannya, supaya dalam waktu lima tahun
sudah mendapatkan kepandaian tinggi yang dapat
mengimbangi kepandaianku..."
Belum habis ucapannya, Hee-khao Soan sudah sadar,
maka lalu berkata sambil tertawa dan menepuk tangan:
"Bagus, bagus, lima tahun kemudian dalam pertemuan
ditanggal sembilan bulan sembilan nanti, kau akan mewakili
Thian-ie taisu dengan melatih ilmumu, sedangkan pewarisku
akan mewakili aku Hee-khao Soan nanti mengadakan
pertandingan diatas gunung Thay-san, benar-benar itu sangat
adil, juga sudah memuaskan keinginanku selama delapan
puluh tahun?" "Bapak Hee-khao, kalau sudah setuju dengan usulku ini,
maka kau harap lekas mencari wakil yang dapat kau gunakan
untuk mengadakan pertandingan dengan Hee Thian Siang!"
Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa.
Hee-khao soan dengan tiba-tiba menatap wajah Tiong-sun
Hui Kheng, kemudian berkata sambil tertawa: "Peribahasa ada
kata: DIHADAPAM MATA SANG BUDHA, PERLU APA
PERGI KEGUNUNG SAKTI" Biarlah aku mimilih kau nona
Tiong-sun untuk menjadi wakilku."
Tiong-sun Hui Kheng tidak menduga bahwa usulnya tadi
telah menyulitkan dirinya sendiri. Maka ia buru-buru berkata
sambil menggoyangkan tangannya: "Tidak bisa, tidak bisa aku
tak dapat mewakili bapak Hee-khao!"
"Aku Hee-khao Soan selamanya mempunyai adat bahwa
apa yang sudah kuputuskan, tak bisa dibatalkan lagi.
sekalipun TIDAK BISA harus DI BIKIN BISA. Kau anak
perempuan ini demikian cerdik, apakah masih tak tahu jikalau
kau mengikuti aku selama lima tahun, akan mendapatkan
banyak faedah bagimu sendiri?"
Sehabis ucapannya, lengan baju kuningnya bergerak,
sedikitpun tidak memberi kesempatan pada Tiong-sun Hui
Kheng untuk membantah lagi, ia sudah mengebut jalan
darahnya, sehingga tidak ingat dirinya lagi!
Siaopek dan taywong yang melihat majikannya dibikin tak
berdaya, kedua-duanya menggeram hebat dan menyerbu dari
kanan dan kiri. Hee-khao Soan tertawa terbahak-bahak, tangan kanan
menggunakan jari tangannya, tangan kiri menggunakan
lengan bajunya, sudah berhasil merubuhkan siaopek dan
taywong, semuanya tertotok jalan darahnya.
Hee Thian Siang tahu bahwa kekuatan tenaganya sendiri
masih jauh sekali kalau dibandingkan dengan Hee-khao Soan
yang beradat aneh itu, melihat Tiong-sun Hui Kheng, siaopek
dan taywong telah dibikin tak berdaya semua, juga tanpa
menghiraukan tenaganya sendiri, melancarkan serangan
kepada Hee-khao Soan dengan menggunakan ilmunya yang
didapat dari Duta Bunga Mawar.
Hee-khao Soan sebagai seorang tokoh kenamaan,
bagaimana ia tidak tahu" Maka begitu Hee Thian Siang turun
tangan, ia sudah dapat mengenali bahwa serangan itu hebat
sekali. Bukan saja memiliki perubahan gerakan yang tiada
habisnya, tetapi juga mengandung kekuatan tenaga yang
sangat hebat. Saat itu ia mengerutkan alisnya dan tidak berani balas
menyerang, hanya badannya bergerak lompat melesat sejauh
3 tombak. Hee Thian siang tak mau mengerti, ia terus mengejar dan
menyerbunya. Hee-khao soan berkata sambil menggoyang-
goyang tangannya: "Tunggu dulu, aku tak akan berkelahi
denganmu, gerak tipu yang kau gunakan tadi apakah warisan
ilmu Thian-ie taisu?"
"Gerakan ini bukanlah warisan Thian-ie taisu, bila kau tak
hendak berkelahi denganku, mengapa hendak menggunakan
enci Tiong-sun untuk mewakili kau?" Berkata Hee Thian Siang
sambil menggelengkan kepala.
Hee-khao Soan merasa heran, ia menatap wajah Hee
Thian Siang sekian lama, kemudian berkata sambil
menggelengkan kepala: "Tidak bisa, aku tak boleh tidak harus
bawa dia, untuk menurunkan kepandaian ilmuku agar bisa
menjadi wakilku. Sebab, untuk mencari orang biasa sangat
mudah, tetapi untuk mencari orang yang berbakat sungguh
susah. Bila dia kulepaskan barangkali aku tidak akan dapat
menemukan lagi seorang yang memiliki bakat baik yang bisa
mengimbangi bakatku, hingga pada pertandingan diatas
gunung Thay-san 5 tahun yang akan datang, bukankah akan
mengecewakan harapanku?"
Dalam keadaan cemas tiba-tiba Hee Thian Siang mendapat
suatu akal, ia mengawasi Tiong-sun Hui Kheng yang
menggeletak ditanah, lalu berkata: "Jika kau hendak minta
enci Tiong-sun menjadi wakilmu, maka dalam pertemuan pada
5 tahun yang akan datang, ini agaknya tidak adil." Dimana
letak tidak keadilannya?" Bertanya Hee-khao Soan heran.
Hee Thian Siang waktu itu sudah mempunyai suatu pikiran,


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kemudian dengan tenang ia menjawab: "Jika kau
menghendaki keadilan, ada 2 alasan, tidak boleh
menggunakan enci Tiong-sun sebagai wakilmu!
"Sebabnya" Jikalau kau dapat memberi penjelasan dengan
baik, aku tak akan mita dia untuk mewakiliku!"
"Kesatu, karena enci Tiong-sun sudah memperoleh warisan
tidak sedikit dari Sam-ciok Cinjin yang kepandaian dan
kekuatan tenaganya berimbang dengan Thina-ie taisu. Apabila
ditambah lagi dengan didikanmu selama 5 tahun, hasilnya
sudah tentu akan jauh lebih kuat dari padaku. Itu juga berarti,
kau bersama Sam-ciok Cinjin dua orang menghadapi Thian-ie
taisu seorang. Bukankah itu tidak adil?"
"Hei, tentang ini memang benar patut diperhatikan!"
Berkata Hee-khao Soan sambil menganggukkan kepala.
"Alasan pertama sudah patut diperhatikan dan alasan
kedua lebih kuat lagi. Sebab aku dengan enci Tiong-sun,
terikat hubungan yang erat sekali, dia tidak akan tega melukai
aku dan akupun juga tidak sampai hati untuk melukainya.
coba pikirlah, dalam keadaan demikian sekalipun satu sama
lain mengadakan pertandingan dalam keadaan terpaksa,
apakah bisa mewakili benar-benar kepandaianmu dengan
Thian-ie taisu" Apalagi untuk menetapkan siapa yang lebih
unggul dan siapa yang lebih asor."
Hee-khao Soang dengan tenang mendengarkan ucapan
Hee Thian Siang, barulah berkata sambil menghela nafas
panjang: "Ya, memang cukup beralasan. Ucapanmu ini
memang benar. Aku terpaksa melepaskan Tiong-sun Hui
Kheng dan akan berkelana lagi untuk mencari seorang yang
berbakat baik!" "Bapak Hee-khao kau tak usah kuatir. Untuk mendapatkan
keadilan yang seadil-adilnya, aku beri waktu yang lebih cukup
kepadamu untuk mencari orang yang sepadan denganku."
Hee-khao Soan menganggukkan kepala dan berkata: "Aku
dapat memahami maksuudmu, kau barangkali akan menunda
usahamu untuk mempelajari ilmu Thian-khim Cit-kao, supaya
tidak menarik keuntungan, karena mempelajari lebih dahulu!"
"Dugaanmu itu tepat, pada tahun depan tanggal enam
belas bulan 2 aku akan mulai mempelajari ilmu Thian-kihim
Cit-kao. Ini juga berarti pada saat tanggal enambelas bulan
dua tahun depan kau harus sudah menemukan wakilmu yang
memiliki bakat yang baik!"
Hee-khao soan berulang kali menganggukkan kepala dan
berkata sambil tertawa besar: "Baik, baik! Usulmu ini memang
sangat adil, tak kusangka kau setan kecil ini memiliki
kepintaran otak demikian tajam. Dan dua batang bulu burung
ini untuk sementara kubawa, 5 tahun kemudian, diatas gunung
Tay-san akan kukembalikan kepadamu lagi!"
Sehabis berkata demikian, badannya bergerak sebentar
sudah menghilang dipuncak gunung Giok-can-hong.
Hee Thian Siang menghampiri Tiong-sun Hui Kheng yang
masih menggeletak ditanah demikian pula siaopek dan
taywong. Selagi hendak melepaskan totokan mereka, tiba-tiba
terdengar suara yang berkata: "Jangan bertindak dulu, untuk
membuka totokan ini tak boleh dilakukan dengan cara biasa!"
Hee Thian Siang berpaling, tampak orang tua berbaju
kuning Hee-khao Soan sudah balik kembali. dengan mata
mengawasi dirinya, orang tua itu berkata sambil tersenyum:
"Ilmu totokan yang kugunakan ini jauh berlainan dengan
totokan biasa. Kau harus menepuk dijalan darah Pek-hui-hiat
diatas kepala mereka, barulah mereka bisa sadar!"
Sehabis berkata demikian, kembali badannya bergerak,
dan sudah menghilang lagi kepuncak gunung.
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu setengah
percaya setengah tidak, sebab jalan darah Pek-hui-hiat diatas
kepala adalah salah satu jalan darah terpenting dalam
anggota tubuh manusia. bagaimana berani bertindak
gegabah" Maka sesaat itu ia berpikir dulu sebentar, lebih dulu
ia memilih taywong untuk digunakan sebagai kelinci
percobaan. Dengan menggunakan 50% dari kekuatan
tenaganya menepuk bagian jalan darah diatas kepala
taywong. Sungguh heran, dalam keadaan biasa, apabila taywong
dipukul demikian berat, sekalipun tidak mati juga akan
pingsan. Tetapi sekarang binatang itu dalam keadaan pingsan
dengan mendadak lantas menjadi sadar.
Hee Thian Siang menggeleng-gelengkan kepala, diam-
diam mengagumi kepandaian Hee-khao Saon, ia mendadpat
suatu pengalaman baru, bahwa kepandaian ilmu silat itu
sebetulnya terlalu banyak cabangnya, sekalipun
menggunakan tenaga dan kepintaran seumur hidup, untuk
mempelajarinya juga barangkali tidak bisa mempelajari
seluruhnya. Totokan diatas badan taywong ia sudah memperlihatkan
hasilnya, maka Hee Thian Siang baru merasa lega,
selanjutnya barulah ia menepok jalan darah dPek-hui-hiat
diatas kepala Tiong-sun Hui Kheng dan siaopek.
Tiong-sun Hui Kheng sadar kembali, ia duduk ditanah,
matanya mengawasi keadan sekitarnya, melihat Hee-khao
Soan sudah tak ada lalu ia bertanya kepada Hee Thian Siang:
"Kemana iblis tua yang tidak tahu aturan itu" Apakah kau
sudah mengusirnya pergi?"
Hee Thian Siang kalau mengingat kembali kejadian tadi,
juga merasa geli sendiri, ia lalu menceritakan semua apa yang
telah terjadi. Sehabis mendengar penuturan Hee THian Siang, Tiong-
sun Hui Kheng bertanya pula sambil tersenyum: "Dengan cara
bagaimana kau tahu aku berada digunung Ko-le-kong-san ini"
Dan kemudian bagaimana pula kau bisa menemukan
kediaman Thian-ie Sianjin?"
di gunung Ay-lao-san, aku telah berjumpa dengan empek
Tiong-sun!" Menjawab Hee Thian Siang sambil tertawa: "Oo,
jadi kau sudah ketemu dengan ayahku?" Apa ayah sudah
menjumpai May Ceng Ong Cianpe?"
"Empek Tiong-sun masih belum berjumpa dengan May
Ceng Ong locianpe, tetapi aku sudah bertemu dengannya!"
"Kemana-mana aku mencari dia, tak berhasil menemukan.
Sedangkan kau yang tidak mencarinya bisa ketemu."
"Aku waktu itu sedang minum arak disebuah rumah minum
dikampung kecil dekat gunung Tay-pa-san, kebetulan May
locianpe juga sedang minum disitu, hingga kita lantas minum
bersama-sama dan akhirnya pada mabok!"
"Kau sebetulnya kemana saja selama ini" Bagaimana
sebentar berada digunung Tay-pa-san, sebentar digunung Ay-
lao-san dan kini kembali berada digunung Ko-le-kong-san?"
"Aku telah melakukan perjalanan jauh, lantaran aku hendak
mencari enci agar aku bisa minta maaf kepadamu!"
"Kau toh tidak pernah bersalah terhadapku, untuk apa
mencari aku hendak meminta maaf" Sebaliknya dengan
Siaopek dan taywong yang semuanya berlaku tidak sopan
terhadapmu, sebetulnya akulah yang mewakili mereka untuk
minta maaf kepadamu!"
JILID 18 Kata-kata itu membuat Hee Thian Siang tidak merasa
sendiri, maka ia lalu berkata sambil tertawa girang: "Enci
Tiong-sun, tahukah kau lantaran enci, aku hampir saja
menghabiskan jiwaku di puncak gunung Tiao-in-hong
digunung Ki-lian-san!"
"Kesemuanya itu, siapoek sudh menceritakan padaku!"
Berkata Tiong-sun Hui-kheng sambil menganggukkan kepala
dan tertawa. "Enci Tiong-sun, bagaimana kau masih belum mau
memaafkan aku" Terhadap enci segalanya aku berlaku
sungguh-sungguh dan sejujurnya, semuanya bukanlah suatu
permainan sandiwara!"
"Segala apa yang telah lalu tidak perlu disebut lagi,
sekarang bukankah aku masih tetap denganmu..."
Hee Thian Siang mendengar ucapan gadis itu yang sudah
mengandung maksud saling mengerti, merasa sangat girang
sekali. Tiong-sun Hui-kheng yang menyaksikan sikap Hee Thian
Siang, juga merasa geli sendiri, tanyanya: "Sejak kau berpisah
denganku digunung Ki-lian-san, selama itu apa sja yang kau
lakukan?" Karena perbuatannya dengan Liok Giok Jie didalam goa
digunung Tay-pa-san, Hee Thian Siang tidak bisa
menceritakan dengan terus-terang, maka ia berusaha untuk
mengalihkan pembicaraannya kesoal lain, jawabnya sambil
tersenyum: "Segala urusan tetek-bengek
nanti akan kuceritakan kepadamu perlahan-lahan, sebab empek Tiong-
sun telah memberikan tugas yang sangat penting kepadaku,
dia memintaku supaya berusaha segera menyelesaikan
bersama enci!" Dengan kata-katanya itu, benar saja Tiong-sun Hui-kheng
telah dapat dikelabui, kini ia alihkan perhatiannya kelain soal,
tanyanya: "Ayah telah memberikan tugas penting apa
kepadamu?" "Empek Tiong-sun suruh kita berusaha supaya May
locianpe dengan Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo-lie Tang
Siang Siang bisa rujuk kembali!"
Mendengar ucapan itu Tiong-sun Hui-kheng tampaknya
juga merasa tertarik, katanya: "Ini bukan saja merupakan
suatu tugas yang sangat berat, tetapi juga merupakan suatu
persoalan yang sangat sulit!"
"May Ceng Ong locianpe adatnya terlalu tinggi hati dan
sombong sekali. Sedangkan Leng Biauw Biauw dan Tang
Siang Siang keduanya beradat aneh luar biasa. Jika mereka
benar-benar akan melakukan pertempuran mati-matian, itu
tidak mudah, letak kesulitannya ialah pada kata-kata rujuk
kembali itu." "Jika mereka bisa melupakan segala kejadian dimasa yang
dahulu, sudah tentu bisa rujuk kembali. Menurut pikiranku,
dalam hal ini agak berlainan dengan pandangan enci.
Kuanggap persoalan ini tidak terlalu susah!"
"Ceritakanlah, aku ingin mendengar pendapatmu!"
"May locianpe dengan Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo-
lie Tang Siang Siang, dahulu bukan saja merupakan suami-
istri yang saling mencinta dan berbahagia, tetapi masing-
masing juga sudah melahirkan seorang putri ialah Giok Jie
dan Hok Siu Im, itu bukti bahwa cinta kasih mereka sangat
dalam, kemudian oleh karena salah faham, hingga masing-
masing pada menjadi bermusuhan. Maka kita bisa berusaha
untuk membangkitkan rasa kasih mereka yang lama, mungkin
perasaan cinta mereka bisa tergugah kembali. Dan dengan
demikian, rasanya mereka juga akan rujuk kembali
hubungannya!" Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar penuturan itu,
berulang-ulang menganggukkan kepala dan berkata sambil
tersenyum: "Pendapat yang demikian itu memang betul, tetapi
kalau kita hendak membangkitkan rasa cinta mereka yang
sudah lama, barangkali bukanlah merupakan soal yang
mudah!" "Aku telah melakukan perjalanan ribuan pal jauhnya. Jika
aku tidak menemukan enci, terpaksa aku akan coba sendiri.
Dalam soal ini aku pernah memikirkan masak-masak, tentah
pikiranku itu bisa digunakan atau tidak" Kini aku hendak minta
pertimbanganmu...?" "Jelaskanlah, aku bersedia mendengarkan pendapatmu
lagi!" "Kupikir, faktor yang paling mudah membangkitkan
perasaan cinta mereka yang sudah lama, adalah tempat
dimana mereka dahulu untuk pertama kalinya mengadakan
hubungan!" "Kupikir, pendapatmu ini sesungguhnya juga bagus, sebab
dalam hubungan pertama, segala sesuatu yang terjadi diwaktu
itu, selalu meninggalkan kesan sangat dalam, cukup buat
dikenangkan kembali, juga cukup buat menggugah perasaan
cinta mereka kembali!"
Hee Thian Siang memandang Tiong-sun Hui Kheng
sejenak, katanya dengan tertawa bangga: "Oleh karena itu,
maka kupikir jika kita bisa berusaha memancing May Ceng
locianpe, Leng Biauw-biauw dan Tang Siang-siang kedalam
kamar yang terletak didalam goa lembah Leng-cui-kok
digunung Ko-le-kong-san, lebih baik lagi apabila Liok Giok Jie
dan Hok Siu Im juga hadir, dengan demikian mereka suami-
istri, ayah-ibu dan anak berkumpul dalam satu ruangan, maka
cinta kasih yang dahulu, dengan sendirinya akan timbul lagi,
barangkali segala permusuhan yang lama akan lenyap sama
sekali!" "Pikiranmu ini memang masuk diakal, ada gunanya untuk
dicoba!" Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil menganggukkan
kepala dan tertawa. Karena Tiong-sun Hui Kheng menyetujui segala apa yang
dikemukakan, maka Hee Thian Siang merasa sangat gembira.
Katanya sambil tertawa: "Enci Tiong-sun, kalau kau
menyetujui pikiranku ini, maka seharusnya kau mencari May
Ceng-ong locianpe lebih dulu, setelah kita temukan dia,
biarlah aku yang memancingnya kedalam goa. Setelah itu aku
hendak pergi mengundang Siang-swat Sianjin dan Kiu-thian
Jie. Sementara mengenai diri Liok Giok Jie dan Hok Siu Im,
kalau kita bisa ketemukan mereka, itulah yang paling baik,
tetapi andaikata mereka tidak bisa kita jumpai, juga sudah
saja." "Tahukah kau dimana saja sekarang jejak May Ceng Ong
locianpe?" "Hal ini tidak sulit untuk diduga, sebab aku sudah
menceritakan kepadanya, ucapan orang tua berbaju kuning
yang sebetulnya adalah Leng Biauw Biauw dan Tang Siang
Siang yang menyamar, maka ada kemungkinan besar, dia kini
sedang mondar-mandir dekat goa Siang-swat tong digunung
Kie-lian-san. Mungkin dia sedang mempertimbangkan masak-
masak dengan cara bagaimana untuk menghadapi dua orang
bekas kekasih dan istrinya dahulu itu!"
"Jika kau berkata demikian, apakah perlu bersama
denganku pergi kegunung Ki-lian-san."
"Enci Tiong-sun, kini kau sudah mengerti ilmu Bu-siang
Kao-khun Liong-hui Sam-Ciok. Sedang aku juga memahami
ilmu-ilmu yang diwariskan oleh Duta Bunga Mawar dan Thian-
ie Sianjin, apakah masih perlu takut dengan orang-orang buas


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dari Kie-lian" Dalam perjalan ini, apabila kita berjumpa dengan
Khie Tay Cao atau Pek-thao Lo-sat phao Sam Kow dan lain-
lainnya, aku pasti suruh mereka mencoba ilmu yang baru
kupelajari ini!" "Siapakah yang berkata bahwa aku takut pada kawanan
penjahat dari gunung Kie-lian?"
baru bicara sampai disitu, tiba-tiba ia bertanya sambil
menatap Hee Thian Siang: "Aku tahu, bahwa ilmumu
menyelamatkan jiwa, adalah warisan dari Thian-ie taisu, tetapi
dengan cara bagaimana Duta Bunga Mawar bisa mewariskan
kepadamu ilmu Bunga Mawar?"
Hee Thian Siang tahu bahwa ucapannya telah terlanjur,
maka terpaksa berkata sambil tertawa: "Duta Bunga Mawar itu
ialah Duta Bunga Mawar yang menurunkan kepadaku
sebelum menutup mata!"
Mendengar ucapan "sebelum menutup mata" Tiong-sun Hui
Kheng terperanjat, tanyanya: "Apakah Duta Bunga Mawar
sudah menutup mata"..."
Dengan wajah sedih Hee Thian Siang berkata sambil
menganggukkan kepala: "Duta Bunga Mawar adalah seorang
padri beribadat tinggi, dia juga seorang pendekar kenamaan.
Dia ialah Chie Hian Pho yang memiliki gerakan Tan-ceng Kie-
su, yang pada beberapa puluh tahun berselang, namanya
pernah menggetarkan dunia! Tetapi locianpe itu kini benar
sudah menutup mata, sebelum menutup mata ia telah
mewariskan kepadaku kekuatan tenaga dalamnya dan
menurunkan ilmu silatnya yang terdiri dari tiga gerakan yang
dinamakan Jurus Bunga Mawar!"
Tiong-sun Hui Kheng merasa sedih juga dan merasa heran,
tanyanya sambil menatap Hee Thian Siang: "Kenapa kejadian
penting seperti itu, bagaimana kau tidak menceritakan dengan
jelas kepadaku?" "Enci Tiong-sun, kau cari dulu kudamu Ceng Hong-kie, aku
nanti akan menceritakan kepadamu sambil berjalan, bukankah
itu lebih baik?" Tiong-sun Hui Kheng menganggukkan kepalanya sambil
mengeluarkan siulan panjang untuk memanggil kudanya.
Tak lama kemudian kudanya yang mendengarkan siulan itu
telah muncul dari jurusan Thian-ciu-kan. Tiong-sun Hui Kheng
berkata pula kepada siaopek dan taywong: "Siaopek,
Taywong, pergilah dulu dan bawa cheng-hong kie kekaki
puncak gunung Giok-can-hong untuk menunggu aku."
Siaopek dengan tiba-tiba mengulurkan kaki
depan kanannya, pada dua tangannya itu terdapat sebuah benda
hitam, mulutnya mengeluarkan beberapa kata-kata kepada
Tiong-sun Hui Kheng kemudian baru pergi bersama-sama
Taywong. Hee Thian Siang yang menyaksikan itu merasa heran,
tanyanya: "Enci Tiong-sun, benda apa yang diserahkan
siaopek kepadamu tadi?"
"Siaopek tadi berkata, bahwa kera hitam peliharaan Thian-
ie taisu, sebelum korbankan diri mengikuti majikannya telah
memberikan barang kepadanya, ialah sebutur mata dari ular
berbisa yang banyak sekali gunanya!"
Mendengar keterangan itu Hee Thian Siang baru sadar, ia
tahu bahwa ketika baru tiba digunung itu, dengan
menggunakan senjata rahasia Peng-pek sin-sa pemberian
Swat-san Peng Im yang digunakan untuk membinasakan
binatang seperti ular bukan ular, kelabang bukan kelabang.
Mata dari binatang aneh itu yang kemudian diambil oleh kera
hitam. Ia bersama Tiong-sung Hui Kheng, siaopek, taywong
dan kudanya Cheng-hong kie lari menuju kegunung Kie-lian-
san. Hee Thian Siang yang selama beberapa hari sudah
memikirkan diri Tiong-sun Hui Kheng setelah bersama-sama
menunggang seekor kuda, sudah tentu merasa sangat
gembira. Tiong-sun Hui Kheng yang juga sudah jatuh hati kepada
Hee Thian Siang, sudah tentu membiarkan dirinya dipeluk
erat-erat oleh pemuda itu. Dalam perjalan itulah Hee Thian
Siang menceritakan semua perjalanannya setelah berpisah
dengan gadis pujaannya, tetapi ia tidak menceritakan
perbuatan mesumnya yang dilakukannya dengan Liok Giok
Jie. Kuda ceng-hong kie yang bisa lari pesat sekali hanya
dalam beberapa hari saja sudah tiba di bawah gunung Kie-
lian. Setiba digunung Kie-lian, Tiong-sun Hui Kheng segera
menyuruh Siaopek dan Taywong secara bersamaan untuk
mencari May Ceng Ong. Sedangkan kudanya juga dibiarkan
untuk pesiar. Ia bersama Hee Thian Siang berjalan-jalan
menikmati pemandangan alam didaerah gunung itu.
Pada perjalanan kesebuah puncak gunung, Hee Thian
Siang melihat ada seorang tua bercambang dan berbaju hijau
sedang berjalan dibawah kaki gunung. Dengan mengerahkan
kekuatan tenaga dalamnya, ia lalu menyanyikan sajaknya
dengan suara yang nyaring: "...Kelambu terturup menutupi
tempat tidur dalam kamar Bo-ciu-tang. Sesosok tubuh
langsing kecil, roboh terlentang. Penghidupan perempuan
lacur ternyata hanya impian. Kediaman perempuan beribadat
memang tiada prianya. Ombak dan angin tidak percaya akan
kelemahan tiang pepohonan. Halimun ataukah rembulan yang
mengharumkan bunga ditaman. Hingga maklum bahwa
memikirkan selalu tak ada gunanya. Baru sadar tindakan gila
yang tak dipikirkan akibatnya..."
Dengan tenang Tiong-sun Hui Kheng mendengarkan Hee
Thian Siang menyanyikan sajaknya dan setelah selesai,
barulah ia bertanya sambil tersenyum: "Kenapa dengan tiba-
tiba kau menyanyikan sajak Lie cong In yang kau tambahi
dengan kekuatan menyampaikan suara kedalam telinga?"
"Dibawah puncak gunung sana, ada lewat seorang kenalan
lamaku. Maka aku sengaja mengingatkan dia, supaya dia naik
keatas puncak untuk mencariku! Mengenai sebabnya
kutambahi dengan kekuatan ilmu menyampaikan suara
kedalam telinga, disebabkan karena May Ceng Ong cianpe
paling suka menyanyikan sajak Lie Ciong In ini. Apabila dia
berada ditempat sekitar ini dan mendengar suara nyanyian
sajak ini pasti akan datang mencari sendiri. Bukankah kalau
begitu kita sudah tak usah mencarinya kesana kemari?"
Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.
"Akalmu memang banyak sekali, siapakah kenalanmu yang
dibawah gunung itu" Kalau ditinjau dari gerak-geriknya,
rupanya seorang penting, sekarang rasanya sudah hampir tiba
diatas puncak sini."
"Enciku yang baik, harap kau menyingkir dulu sebentar.
Orang ini besar sekali hubungannya denganku, biarlah aku
akan mempermainkan dirinya untuk mempertunjukkan sebuah
permainan terbaik untukmu!"
Tetapi dalam hati Tiong-sun Hui-kheng masih ada sedikit
heran, namun ia menerima baik permintaannya, lalu
menyingkir kebelakang sebuah batu besar.
Hee Thian Siang berlaku seperti acuh tak acuh, lengan
bajunya berkibar-kibar, ia berdiri ditepi tebing mengawasi
pemandangan alam dibawahnya, sedang mulutnya terus
menyanyikan lagu-lagu sajak penyair dizaman dahulu.
Dengan tiba-tiba dibelakangnya terdengar suara tertawa
seorang dengan suara yang besar dan berkata kepadanya:
"Mencari dimana-mana, ternyata diketemukan secara mudah,
inilah yang dinamakan jika tiada musuh, tidak akan bertemu
muka!" Hee Thian Siang pelan-pelan membalikkan dirinya, dirinya
terus mengawasi orang tua bercambang dan wajahnya yang
menyeramkan itu, kemudian dari mulutnya tercetus suara: "O",
setelah itu ia berkata sambil tersenyum: "Kiranya adalah
sahabat Tong Kie Kie-lian-pay!"
"Hee Thian Siang, partai baru yang dibentuk dari gabungan
partai Kie-lian dan Tiam-cong sudah ditetapkan akan
diresmikan pada tahun depan tanggal 16 bulan 2. Sekarang
ada perlu apa kau berada disini?" Bertanya Tong Kie dengan
nada suara dingin. "Gunung Kie-lian ini toh bukan milik kalian partai Kie-lian-
pay sendiri, Hee Thian Siang mau datang atau pergi, menurut
sesuka hatinya sendiri. Apakah sahabat Tong Kie bisa
mencampuri urusanku?" Berkata Hee Thian Siang sambil
tertawa. "Kau datang dan pergi kegunung Kie-lian, sudah tentu aku
tak akan mengurusi urusanmu, aku hanya ingin bertanya
kepadamu, barang wasiatmu jaring merah itu, apakah
sekarang kau bawa juga?" Berkata Tong Kie sambil tertawa
dingin. "Barang wasiat jaring merah adalah barang pusakaku yang
sangat penting guna menjaga diriku. Sudah tentu tak akan
terpisah denganku!" Menjawab Hee Thian Siang sambil
tertawa. Tong Kie mendengar ucapan itu tertawa terbahak-bahak,
tetapi kemudian bertanya pula dengan suara bengis: "Hee
Thian Siang, apakah kau masih ingat pertaruhan kita digunung
Hok-gu-san?" "Pertaruhan yang unik itu, maksudmu" Bagaimana Hee
Thian Siang bisa melupakan" Bukankah kita bertaruh akan
memotong paha?" Tong Kie mengangguk-anggukkan kepala dan berkata:
"Ingatanmu sungguh baik. Waktu setahun sudah sampai.
Tetapi kedua pahaku masih tetap menempel dengan badanku,
jadi barang wasiatmu jaring merah itu, seharusnya kau
serahkan kepadaku!" "Rasanya aku masih ingat hari dan tanggal mana kita
mengadakan perjanjian itu. Rasanya kalau tidak salah pada
tanggal 8 bulan 10!"
"Ingatanmu benar, pada tanggal 8 bulan 10, aku justru
berada digunung Hok-gu-san, menemukan goa kuno kuburan
tengkorak burung elang raksasa!"
"Jika memang benar tanggal 8 bulan 10, maka belum tiba
waktunya satu tahun, bukankah barang wasiatku jaring merah
itu belum akan terkalahkan olehmu, bahkan mungkin masih
perlu pergi keruangan Cong Biauw hendak minta kuda Cian-
lie-hiok-wa-ceng pemimpinmu Khe Tay Cao!"
Sepasang mata Tong Kie mendelik, ia berkata sambil
mendongakkan kepala dan tertawa: "Apakah didalam waktu
beberapa hari yang datang ini, sepasang pahaku bisa
terkutung dengan mendadak?"
"Itu tergantung dengan aku, hendak menangkan pertaruhan
itu atau tidak!" "Bagaimana maksud ucapanmu itu?"
"Terserah jika aku ingin memenangkan, maka tentang ini
juga aku bisa menguntungi sebelah pahamu, bukankah itu
sudah berarti menangkan taruhan yang sudah dijanjikan
digunung Hok-gu-san itu?" Menjawab Hee Thian Siang
dengan sikap tenang sambil tertawa.
Tong Kie yang mendengar jawaban itu lantas naik pitam, ia
menggeram hebat, kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan
hingga 80%, tangannya berkerak melancarkan serangan
kedada Hee Thian Siang. Hee Thian Siang yang bermaksud hendak menguji
kekuatan tenaganya sendiri, setelah mendapat saluran tenaga
dalam dari Duta Bunga Mawar, maka ia tidak menggunakan
gerak tipunya Bunga Mawar, juga tak menggunakan gerak
tipunya yang diwariskan oleh Thian Ie Sianjin, hanya dengan
sebuah gerakan yang biasa saja, untuk menyambut serangan
Tong Kie. Kalau dipihak Tong Kie selalu menganggap dirinya
seorang tokoh kuat kenamaan, maka agak memandang
rendah kepada lawannya yang masih muda itu dan hanya
menggunakan 80% kekuatan tenaganya. Kekuatan tenaga
kedua belah fihak saling beradu, dua-duanya lantas mundur,
belum dapat kepastian siapa yang lebih unggul.
Bagi Tong Kie, karena melihat lawanya dengan sikapnya
yang sembarangan, telah berhasil menyambut serangannya
sendiri, bahkan sikapnya masih tampak sangat tenang, maka
diam-diam menjadi terkejut, dan timbul pikiran untuk berlaku
hati-hati. Difihak Hee Thian Siang setelah menguji kekuatan tenaga
dalamnya sendiri, ternyata telah mendapat kemajuan, maka
semakin yakin akan kekuatannya sendiri, ia lalu berkata
sambil tertawa: "Tunggu dulu, tunggu dulu. Aku hendak
berunding dulu denganmu."
Tong Kie yang sudah akan melancarkan serangan lagi,
mendengar ucapan itu alisnya yang tebal dikerutkan,
bentaknya dengan suara bengis, "Kita bertanding dengan
seluruh kepandaian dan kekuatan masing-masing, siapa yang
kuat dialah yang menang, masih perlu berunding apa lagi?"
"Kuda seperti Cian-lie-hiok-wa-ceng yang demikian hebat,
siapakah yang tidak suka" Tetapi hendak menangkan
pertaruhan itu, harus sebelum tanggal 8 bulan 10 nanti, sudah
mengutungi sebelah pahamu, kemenangan secara ini aku
tidak terlalu inginkan..."
"Pikiranmu semacam ini bukankah sangat mudah sekali"
Kalau kau memang sudah rela mengalah, lekas serahkan saja
barang wasiatmu bukankah sudah beres?"
"Aku tidak suka menangkan dengan cara sekejam itu, juga
tak suka dikalahkan dengan secara demikian. Maka itulah
baru aku hendak berunding denganmu, bagaimana kalau kita
lepaskan saja pertaruhan itu?"
Tong Kie meskipun sudah menguji kekuatan tenaga Hee
THian siang yang ternyata sudah mendapat kemajuan pesat,
tetapi ia masih yakin bahwa pemuda itu bukanlah
tandingannya sendiri. Ditambah lagi dengan keinginannya
yang besar sekali untuk mendapatkan barang wasiat jaring
merah itu, ketamakan itu yang menggelapkan pikirannya,
maka apapun yang diusulkan oleh Hee Thian Siang sudah
tentu ia tak mau menerima begitu saja.
"Bagi orang rimba persilatan yang diutamakan ialah bisa
pegang janji, begitu sudah mengadakan perjanjian, tidak akan
ditarik kembali lagi, jikalau kau hendak mengingkari janjimu
juga tidak dengan cara demikian..."
Menampak sikap Tong Kie yang sombong dan tak tahu diri
itu, sepasang alis Hee Thian Siang berdiri, dengan sinar mata
tajam ia berkata sambil tertawa: "Sahabat Song, jikalau kau
demikian kukuh, terpaksa kita harus mengadu kekuatan untuk
mencari keputusan!"

Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dengan sikap yang sangat angkuh Tong Kie tertawa
terbahak-bahak, kemudian berkata: "Orang-orang rimba
persilatan yang ingin menentukan siapay yang unggul dan
siapa yang asor agaknya hanya dengan jalan ini saja!"
Hee Thian Siang menggelengkan kepala dengan menghela
nafas , kemudian berkata: "Dikalangan Budha ada peribahasa
yang mengatakan demikian: OBAT HANYA UNTUK
MENYEMBUHKAN ORANG YANG TIDAK MATI. BUDHA
MENYELAMATKAN ORANG YANG ADA JODOH! Jangankan
aku Hee Thian Siang yang tak mempunyai kekuatan dalam
agama Budha, sekalipun aku berhati jujur dan baik, juga tak
mampu untuk menyelamatkan seorang yang kukuh dan tidak
mempunyai jodoh." Tidak menunggu Hee THian siang menghabiskan
ucapannya, Tong Kie sudah bergerak menyerang Hee Thian
Siang dengan kedua tangannya dan dengan menggunakan
gerak tipu berlainan. Serangan semacam itu benar-benar
terlalu ganas, juga paling susah dihadapi. Tetapi Hee Thian
Siang yang bermaksud hendak menguji kekuatan tenaganya
sendiri, ia masih berdiri tegak, sedikitpun tidak bergerak, ia
menantikan hingga serangan Tong Kie yang terdiri dari dua
jenis kekuatan tenaga lunak dan keras, sudah hampir
menyentuh dirinya, barulah menggunakan ilmunya gerak
bunga mawar berterbangan", pundaknya bergoyang, dengan
kecepatan bagaikan kilat sudah melayang setinggi 3 tombak.
Serangan hebat Tong Kie yang dibanggakan tadi, tenyata
sudah mengenai tempat kosong. Disitulah Tong Kie baru
terkejut dan heran akan kemajuan Hee Thian Siang, selagi ia
sendiri masih belum tahu bagaimana harus bertindak, Hee
THian Siang yang berada sejauh 3 tombak, begitu kakinya
menginjak tanah sudah balik kembali dengan menggunakan
gerak tipu yang paling hebat dari ilmunya "Bunga Mawar",
sudah melancarkan serangannya kepada Tong Kie.
Ketika pertama kalinya Hee Thian Siang menggunakan
gerak tipunya itu, seorang tokoh kenamaan seperti Hee-kao
Swan, toh masih dikejutkan oleh kehebatan serangan
tersebut, sehingga tak berani menyambut dapat dibayangkan
betapa hebat dan betapa dashyat perubahan gerakannya itu.
Kini Hee Thian Siang yang bermaksud hendak menunjukkan
ilmunya itu dihadapan Tiong-sun hui Kheng, sudah tentu ia
menggunakan kekuatan sepenuhnya, bagaimana Tong Kie
yang dalam barisan tokoh-tokoh golongan Kie-lun-pay hanya
termasuk orang nomor tiga itu sanggup menyambut serangan
yang sehebat itu" Tong Kie masih belum mengenali gerak tipu apa yang
digunakan oleh lawannya yang muda itu, ia terpaksa
menggunakan gerak tipunya yang diandalkan untuk menahan
serangan Hee Thian Siang yang dilancarkan dari jarak 3
tombak. Tetapi Hee Thian Siang yang sudah mendapat warisan
Duta Bunga Mawar dan warisan tipu silat "Bunga Mawar", jauh
lebih kuat kalau dibandingkan dengan Tong Kie, maka ketika
dua serangan saling beradu, dari mulut Tong Kie
mengeluarkan suara seruan tertahan yang mengerikan,
sedang tubuhnya yang tinggi besar telah terpental sejauh 8
kaki! Hee Thian Siang terus memburu, dengan sebuah gerakan
yang bagus sekali menotok jalan darah Tong Kie, sehingga
orang she Tong itu jatuh pingsan. Begitu Tong Kie roboh, Hee
Tihan Siang lantas berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng yang
sedang bersembunyi dibelakan sebuah batu besar: "Enci
Tiong-sun, kau lihat gerak tipuku Bunga Mawar, hebat atau
tidak! Ditambah dengan ilmu menyelamatkan jiwa yang
diturunkan oleh Thian Ie Sianjin, benar-benar aku ingin
bertanding dengan Pek-kut Sam-mo didalam upacara
pembukaan partai baru Ceng-thian-pay nanti!"
Tetapi ucapnnya itu tak mendapat tanggapan dari Tiong-
sun Hui Kheng. Tempat itu tetap sunyi senyap. Hee Thian
Siang merasa heran, ia lalu melompat kesana untuk
menengoknya, tetapi tempat itu ternyata sudah kosong, tak
tampak bayangan Tiong-sun Hui Kheng lagi. Selagi dalam
keadaan terkejut dan keheranan serta tidak mengetahui sebab
apa Tiong-sun Hui Kheng berlalu begitu saja, tiba-tiba tampak
berkelabat bayangan putih, siaopek sikera kecil, telah datang
dengan membawa selembar daun lebar.
Karena menampak diatas daun itu terdapat tulisan, Hee
Thian Siang buru-buru menyambutnya, benar saja itu adalah
tulisan tangan Tiongi-sun Hui Kheng. Tulisan itu sangat
singkat, bunyinya: "Adik Thian Siang, encimu karena
kebetulan bertemu dengan May locianpe, maka pergi bersama
dia kegunung Ko-le-kong-san. Taywong kuajak serta, hanya
kutinggalkan siaopek untuk menemui kau, harap kau berusaha
untuk mengajak Leng Swat Sianjin dan Kiu Thian Mo Lie
berdua berkunjung kekamar Bo-ciu-sek untuk mengadakan
pertemuan!" Sehabis membaca surat Tiong-sun Hui-kheng itu Hee
Thian Siang merasa terhibur, lalu ia menyambar tubuh Tong
Kie yang tinggi besar bersama siaopek kedua-duanya
menggunakan ilmu meringankan tubuh lari menuju kegoa
Swat-ong dimana ada berdiam Leng Biauw Biauw dan Tang
Siang Siang. Dalam perjalanan Hee Thian Siang kali ini, masih
menjumpai beberapa kejadian yang berbahaya, tetapi kini kita
tunda dahulu, karena hendak menceritakan perjalanan Tiong-
sun Hui-kheng bersama Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong.
Tiong-sun Hui-kheng yang menyembunyikan diri
dibelakang batu besar dan selagi mendengar suara nyanyian
Hee Thian Siang, tiba-tiba dari jauh terdengar suara binatang
piaraannya. Bunyi suara binatang itu bagi telinga orang tidak
mengherankan, tetapi bagi TIong-sun Hui-kheng yang sudah
tahu benar bahwa suara itu adalah suara binatangnya,
semangatnya lantas terbangun. Sebab suara itu bukan saja
suara yang dikeluarkan oleh Taywong, bahkan dari suara itu
samar-samar ada mengandung perasaan marah, seolah-olah
menemukan musuh besar. Tiong-sun Hui-kheng yang memang sudah mengutus
Taywong dan Siaopek untuk mencari jejak May Ceng Ong,
maka ketika mendengar suara itu, ia menduga pasti telah
berjumpa dengan orang-orang golongan Kie-lian-pay, bahkan
mungkin sudah terjadi pertempuran, maka ia buru-buru pergi
menyambutnya. Hee Thian Siang yang sedang menghalangi Tong Kie, tiada
sempat membagi perhatiannya, maka sebaiknya ia diam-diam
pergi untuk menghadapi sendiri. Apabila musuhnya terlampau
tangguh dan dirinya tak sanggup melayani, barulah hendak
minta bantuannya. Setelah mengambil keputusan demikian, Tiong-sun Hui-
kheng diam-diam menghilang dari tempat persembunyiannya,
dan Hee Thian Siang sedang mempermainkan Tong Kie,
sudah tentu tidak mengetahui.
Tiong-sun Hui-kheng setelah mendaki sebuah puncak
gunung, dari jauh tampak sebidang tanah datar, disana
tampak dua bayangan kuning sedang berkejaran. Gerakan
dua bayangan itu lincah dan gesit sekali.
Yang mengejar dibelakang ternyata adalah Taywong,
sedang bayangan kuning dihadapannya oleh karena terpisah
terlalu jauh, tidak tampak wajahnya, tetapi ia tahu bahwa
orang itu tidak mengandung maksud jahat, hanya
menggunakan gerak tubuhnya yang lebih gesit dan lincah
daripada Taywong, sedang mempermainkan Taywong diajak
kejar-kejaran diatas tanah datar itu.
Tiong-sun Hui-kheng pergi menghampiri sambil berpikir.
Setelah ia berpisah agak dekat dengan orang yang dikejar
oleh Taywong itu, baru tampak nyata bahwa bayangan orang
itu mengenakan baju warna kuning, wajahnyapun berewok,
hingga hatinya tergerak, dengan perlahan ia berseru:
"Taywong, jangan berlaku kurang ajar! Beliau ini adlah May
Ceng Ong locianpe aku perintahkan kepadamu untuk pergi
menjauh!" Taywong yang menampak majikannya datang dan
mencegahnya, terpaksa tidak pergi mengerjar lagi, tetapi ia
masih melototkan matanya yang besar dengan wajah yang
mengawasi May Ceng Ong mulutnya menggeram tidak
hentinya. May Ceng Ong setelah berhadapan dengan Tiong-sun Hui-
kheng, ditatapnya sejenak kemudian sambil tersenyum:
"Binatang berbulu kuning ini tampaknya sangat cerdik sekali,
apakah dia itu binatang peliharaanmu" Apa yang
dikatakannya tadi?" Tiong-sun Hui-kheng mengawasi Taywong sejenak lantas
menjawab sambil tersenyum: "Ia berkata bahwa locianpe pada
masa belum lama berselang dari tangannya telah merampas
setangkai bunga teratai berwarna merah yang kutinggalkan
padanya untuk bawa guna menolong orang sehingga ia
hampir saja kena hukuman!"
Mendengar keterangan itu May Ceng Ong telinganya
menjadi merah, ia menatap Taywong sekali, barulah teringat
akan binatang itu, lalu berkata sambil menganggukkan kepala.
"Betul, aku memang pernah melakukan perbuatan gila-
gilaan itu, pantas hari ini dia begitu melihat aku, lantas hendak
menyergap!" Berkata sampai disitu, ia lantas bertanya sambil tersenyum:
"Nona seorang gagah berani, pasti bukan dari golongan
sembarangan. Dengan cara bagaimana kau dapat mengenali
namaku?" Tiong-sung Hui-kheng memberi hormat dan menjawab
sambil tertawa: "Boanpe Tiong-sun Hui-kheng, ayah boanpe
dengan locianpe dan Pak-bin Sin-pek Hong-po Cui, namanya
sama-sama tersohor pada waktu dewasa ini!"
Mendengar ucapan itu, wajah May Ceng Ong kembali
merah, lalu tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata:
"Kiranya adalah Tiong-sun Titlie, tak disangka kau masih
memiliki kepandaian ilmu menjinakkan binatang buas!"
Sejenak ia berdiam kemudian dengan sikap agak menyesal
dan penuh perhatian, bertanya pula kepada Tiong-sun Hui-
kheng: "Hiantitlie tadi berkata bahwa bunga teratai itu perlu
hendak menolong jiwa orang. Entah siapakah orang yang
hendak kau tolong itu" Apakah oleh karena perbuatanku ini
sehingga menelantarkan kewajibanmu" Bunga teratai itu
sudah kugunakan setangkai, sisanya masih berada didalam
sakuku dan sekarang aku hendak mengembalikan
kepadamu!" Setelah berkata demikian ia memasukkan tangan kedalam
sakunya hendak mengeluarkan setengah tangkai bunga
teratai merah itu, untuk diberikan pada Tiong-sun Hui-kheng.
Akan tetapi Tiong-sun Hui-kheng menolak, katanya sambil
menggoyangkan tangan dan tertawa: "Locianpe tak perlu
memulangkan lagi setangkai bunga teratai merah itu biarlah
kuhadiahkan kepada locianpe untuk locianpe gunakan
menolong jiwa orang juga sama saja!"
Melihat sikap Tiong-sun Hui-kheng yang sungguh-sungguh,
May Ceng Ong juga tidak segan lalu berkata sambil
tersenyum: "Jikalau kudengar dari ucapan ini, orang yang
menantikan pertolonganmu dengan bunga teratai merah ini,
pasti sudah mendapat pertolonganmu siapakah orangnya?"
"Dia adalah Hee Thian Siang, sudah pasti cianpe kenali!"
Berkata Tiong-sun Hui-kheng sambil menganggukan kepala.
May Ceng Ong seolah-olah baru sadar, katanya sambil
tertawa: "Oo! Kiranya si setan kecil yang sangat cerdik itu"
Hee Thian Siang diserang oleh ketua Tiam-cong-pay Thiat-
kwan Totiang dengan ilmunya Bu-sin-sin-kang, sehingga
terluka bagian dalamnya, sebetulnya harus disembuhkan oleh
bunga teratai merah itu, oleh karena itulah maka boanpe
berkunjung kegunung Tay-swat-san untuk mengambil bunga
mukjizat itu! Tetapi setelah boanpe kembali menemukan
Taywong, boanpe tugaskan pulang dulu membawa bunga itu,
ternyata kembali dengan tangan kosong. Menurut keterangan
Taywong, bunga itu ditengah jalan telah dirampas orang. Say
Han Kong, Oe-tie Khao dan Ca Bu Kao, semuanya mengira
bahwa Hee Thian Siang pasti tak akan bisa tertolong lagi
jiwanya. Diluar dugaan ketika dirinya diletakkan dalam peti
mati, untuk menghindari ancaman musuh telah menemukan
kejadian gaib, sehingga tertolong jiwanya."
May Ceng Ong keheranan dan bertanya: "Hee Thian Siang
yang sudah berada didalam peti mati, dengana cara
bagaimana menemukan penemuan ajaib?"
Tong-sun Hui kheng lalu menceritakan apa yang telah
terjadi didalam kuil tua itu.
Sehabis mendengar penuturan aneh itu May Ceng Ong
tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: "Kalau demikian
halnya urusan ini semakin mudah, coba kau tebak, setengah
tangkai bunga teratai itu kugunakan untuk menolong siapa?"
Tiong-sun Hui Kheng menggeleng-gelengkan kepala lalu
berkata sambil tertawa: "Dalam urusan ini, karena tidak
diketahui ujung pangkalnya, maka Hui Kheng tak berani
menduga-duga secara sembarangan, sebaiknya locianpe saja
yang menjelaskan!" "Dalam lembah Leng-cui-kok digunung Ko-leng-san,
dengan menggunakan setengah tangkai bunga teratai merah
itu, aku telah berhasil memulihkan kekuatan tenaga Liong-hui
Kiam-khek Suto Wie!"
Tiong-sun Hui Kheng yang mendengarkan penuturan itu, ia
juga merasa bersyukur bahwa bunga teratai merahnya itu
digunakan untuk menolong kekasih Ca Bu Kao. Ia
menanyakan terjadinya urusan itu, May Ceng Ong juga
menuturkan pertemuannya dengna Su-to Wie.
Ketika Tiong-sung Hui Kheng mendengar May Ceng Ong
menyebut kamar Bo-ciu-sek dilembah Leng-cui-kok,
tergeraklah hatinya, ia berlaku pura-pura tidak tahu dan
bertanya kepadanya: "Locianpe, kamar yang locianpe sebut
kamar Bo-ciu-sek itu, sebetulnya tempat apa" Bagaimana Hui
Kheng tadi mendengar orang berkata hendak kesana untuk
mengenangkan impian yang lama!"
May Ceng Ong menunjukkan sikap terkejut lantas bertanya
dengan perasaan cemas: "Kapan kau dengar orang berkata
demikian" dan siapakah orangnya?"
"Kemarin, pagi-pagi sekali Hui Kheng dengar dari mulut Go
Eng, orang dari golongan Kie-lian, dia berkata bahwa dua
orang anggauta pelindung hukum Kie-lian-pay, ialah dua
orang tua berbaju kuning, segera akan bersama-sama
berangkat kekamar Bo-ciu-sek dilembah Leng-cui-kok


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

digunung Ko-le-kong-san, untuk mengenangkan impiannya
yang lama." Cerita bohong itu diatur sedemikian sempurna oleh Tiong-
sun Hui Kheng, hingg May Ceng Ong mempercayai
kebenarannya. Saat itu pikirannya seolah-olah terbius oleh
ucapan gadis itu, mulutnya menggumam sendiri.
Tiong-sun Hui Kheng membiarkan May Ceng Ong
mengenangkan kembali masa-masa yang lampau, ia juga
tidak membujuk, hanya turut merasa duka, matanya
mengawasi pandangan alam disekitar tempat itu.
Pikiran manusia, umumnya hampir sama setiap ada yang
dirundung kedukaan seperti keadaan May Ceng Ong, apabila
ditanya melit-melit pasti tidak mau menceritakan kesusahan
hatinya tetapi bila tidak menghiraukannya sama sekali terang
malah merasa tertekan lebih hebat dan akan menuturkan
kesusahannya dengan sukarela. Demikianlah keadaan May
Ceng Ong pada waktu itu, setelah melamun dan tenggelam
dalam kelakuannya sekian lama, lantas bertanya kepada
Tiong-sun Hui Kheng: "Hiantitlie, apakah ayahmu belum
pernah mengatakan rahasia pribadi pada masa yang lalu?"
Tiong Sung Kheng menggelengkan kepala sambil tertawa.
May Ceng Ong menghela nafas panjang dan kemudian
berkata: "Urusan ini panjang ceritanya, sekarang oleh karena
aku perlu untuk lekas pergi kekamar Bo-ciu-sek dilembah
Leng-cui-kok, maka tidak ada waktu untuk menceritakan
kepada..." Tiong-sun Hui Kheng kebetulan tidak ada kerjaan apa-apa,
bagaimana kalau mengawani locianpe bersama-sama pergi
kepropinsi In-lam?" Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil
tertawa. May Ceng Ong berpikir sejenak, kemudian berkata sambil
menganggukkan kepala: "Baik juga bila hiantitlie hendak
mengikuti, nanti ditengah jalan kau boleh mendengarkan aku
tentang penghidupanku dimasa lalu dan setelah tiba dikamar
Bo-ciu-sek, serta bertemu muka dengan 2 pelindung hukum
dari partai Kie-lian-pay tak peduli bagaimana kesudahannya,
entah damai ataukah perang" Dan aku May Ceng Ong masih
bisa hidup ataukah sudah mati" bagaimanapun juga untuk
selanjutnya aku akan meninggalkan dunia Kang-ouw untuk
selama-lamanya, saat itu mungkin aku masih perlu untuk
minta bantuanmu, menyelesaikan segala sesuatu yang masih
belum kuselesaikan."
Tiong-sun Hui Kheng yang mendengarkan ucapan itu
menganggukkan kepala sambil tersenyum. Diam-diam ia
mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dan mengeluarkan
siulan panjang. "Hiantitlie benar-benar keturunan jago rimba persilatan.
Kekuatan tenaga dalammu sangat sempurna sekali. tetapi kau
menggunakan ilmu ini untuk memanggil siapa?" Bertanya May
Ceng Ong sambil tersenyum.
"Boanpe sedang memanggil seekor kera putih dan seekor
kuda peliharaan boanpe!"
Baru saja menutup mulut, tiba-tiba terdengar suara kaki
kuda dan kemudian kudanya yang hebat itu sudah sampai
lebih dahulu. "Sungguh hebat kuda ini..." Demikian May Ceng Ong
berseru memuji. Belum habis ucapannya, tampak berkelabat bayangan
putih, siaopek yang lincah dan cerdik juga sudah tiba ditempat
itu. Tiong-sun Hui Kheng memetik selembar daun lebar,
dengan kuku jari tangannya menuliskan huruf diatsnya, untuk
diberikan kepada Hee Thian Siang, kemudian ia perintahkan
siaopek untuk mengantarkan kepada Hee Thian Siang.
Setelah itu ia mengajak Taywong dan menunggang kudanya
mengikuti May Ceng Ong kegunung Ko-le-kong-san.
Mari kita tinggalkan dulu perjalanan Tiong-sun Hui Kheng
dan balik kembali kepada Hee Thian Siang.
Hee Thian Siang setelah menotok Tong Kie, bersama-
sama siaopek pergi ke goa Siang-swat-tong. Terlebih dulu ia
perintahkan siaopek supaya membawa Tong Kie kesebuah
tempat yang terdapat banyak batunya, setelah itu mereka dua-
duanya sembunyikan diri, kemudian dengna mengerahkan
tenaga dalamnya ia memanggil dengan nyaring: "Leng Biauw
Biauw dan Tang Siang Siang locianpe, bersama ketua Kie-
lian-pay, apabila ada didalam goa, tolong keluar sebentar
untuk berjumpa!" Sesaat kemudian dari dalam goa tampak berjalan keluar 4
orang. Orang-orang itu semuanya dikenali dengan baik oleh
Hee Thian Siang, mereka adalah ketua Kie-lian-pay Kie Tay
Cao, ketua Tiam-cong-pay Thiat-kwan Totiang, bersama Lui
Hwa Go Eng. Kie Tay Cao ketika melihat orang yang memanggil tadi
ternyata Hee Thian Siang, tampaknya merasa terkejut dan
terheran-heran, tanyanya: "Hee Thian Siang, kabarnya kau
sudah mati dalam gunung Ay-lao-san, bagaimana sukmamu
bisa gentayangan datang kemari, untuk apa?"
Hee Thian Siang berdiri tegak, tertawa terbahak-bahak dan
kemudian berkata: "Meskipun dunia Kang-ouw banyak sekali
manusia jahat yang banyak menggunakan akal keji, tetapi
Tuhan bagaimanapun juga masih berlaku adil! Dua pil Kiu-
ban-tan Pek-thao Losat Pao Sam-kow, apakah kau kira bisa
membinasakan diriku?"
Go Eng yang terkenal kekejamannya, lantas bertanya: "Hari
ini baru tanggal tujuh bulan sepuluh terpisah dengan tanggal
enambelas bulan dua masih ada empat bulan lebih. Perlu apa
kau datang kemari?" "Kuanggap datang lebih pagi, itulah paling baik, apabila aku
datang terlambat, bukankah akan kalian anggap mengingkari
janji?" Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa terbahak-
bahak. Khie Tay Cao baru sadar, katanya sambil tertawa terbahak-
bahak: "Kiranya kau datang untuk menetapi janji dalam
pertaruhan digunung Hok-gu-san dulu" Tak kusangka kau
yang masih muda belia dan toh masih mematuhi janji, juga
susah didapt seorang semacam kau ini. Sekarang
serahkanlah jaring merahmu, Khie Tay Cao akan mengampuni
kau untuk bisa berlalu dari sini dalam keadaan selamat!"
Hee Thian Siang dengan alis berdiri bertanya: "Jaring
pusaka itu adalah barang wasiat untuk menjaga diriku,
mengapa harus diserahkan kepadamu?"
"Jaring pusaka warna merah itu adalah barang yang
digunakan pertaruhan bagi kedua fihak, kau yang sudah
kalah, apakah masih hendak mengingkari?" Berkata Khie Tay
Cao sambil tertawa. "Kalau benar barang taruhan bagi kedua fihak, sekarang
kuhendak tanya padamu, dimana barang taruhanmu itu
berada?" Kie Tay cao bersiul panjang, setelah itu ia berkata sambil
tertawa: "Barang pertaruhanku kuda kesayanganku sendiri
Cian-lie-hiok-wa-ceng, sebentar akan datang!"
"Ciangbunjin, aku hendak tanya padamu, apa kau masih
ingat batas waktu pertaruhannya itu, dan cara bagaimana
pertaruhannya?" Pada saat itu dari dalam goa kembali keluar 3 orang,
mereka adalah Leng Biauw, Tang Siang Siang dan Pek-thao
Losat Pao Sam-kow. 3 orang itu semua mengira bahwa Hee
Thian Siang sudah mati, maka ketika melihat masih hidup
tentunya telah memandangnya dengan sinar mata dan
perasaan terheran-heran. Kie Tay Cao sementara itu sudah berkata sambil tertawa:
"Bagaimana aku bisa tidak ingat" Kita telah bertaruhan
dengan dirinya Go Eng dan Tong Kie dimana mereka pada
tanggal 8 bulan 10, masih ada paha kaki mereka, maka benda
wasiat jaring merahmu akan kau berikan kepadaku. Sekalipun
kalah sebelum tanggal 8 bulan 10, apabila kedua kaki mereka
dikutungi oleh orang, aku akan menyerahkan kudaku
kepadamu..." Berkata sampai disitu, tiba-tiba ia ingat bahwa hari itu baru
tanggal 7, maka hatinya tergerak, ia berpaling dan bertanya
kepada Go Eng. Eng sute, apakah Sam suhengmu sekarang berada
diruangan Cong-biauw-tong?"
"Harap tenangkan hati Ciangbunjin, Tong Kie suheng
bukan saja orangnya masih berada dalam ruangan Cong-
biauw-tong, sekalipun dengan kekuatan dan kepandaian
seperti Hee Thian siang juga belum sanggup menghadapi!"
Menjawab Go Eng sambil tertawa.
Khie Tay Cao menganggukkan kepala, lalu berkata sambil
menatap Hee Thian Siang. "Sekarang sudah tanggal 7 bulan 10, sebentar lagi jam 1.00
malam, berarti batas waktu itu sudah habis. Go suteku
meskipun sudah dikutungi oleh orang, sehingga kehilangan
sebelah pahanya, tetapi Tong samte masih utuh dan dalam
keadaan selamat. Maka jaring wasiatmu seharusnya kau
serahkan kepadaku!" Berkata sampai disitu, tiba-tiba
terdengar suara ringkikan kuda Cian-li-kiok-wa-cheng saat itu
sudah lari menghampiri. Hee Thian Siang sesungguhnya sangat sayang kepada
kuda itu, dalam hati sudah berpikir apabila ia dapat menagkan
kuda itu, akan digunakan sebagai kuda tunggangannya dan
bersama-sama Tiong-sun Hui Kheng berkelana didunia kang-
aow. Dalam keadaan sangat gembira, ia bertanya kepada Khie
Tay Cao: "Khie ciangbunjin, bagaimana kau dapat
membuktikan bahwa sepasang paha kaki Tong Kie masih
belum kutung?" Khie Tay Cao lalu berpaling dan berkata kepada Lui Hwa
yang disampingnya. "Sebentar
Lui Thiancun harap menggunakan kudaku, pergi keruangan Cong-biauw-tong
menyambut kedatangan Tong samte, dan diperlihatkan
kepada setan kecil Hee Thian Siang ini!"
Lui Hwa tersenyum dan menganggukkan kepala, baru saja
berjalan menghampiri kuda itu dengan tiba-tiba Hee Thian
Siang mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak,
siaopek yang sembunyikan diri dibelakang batu besar, telah
melemparkan tubuh Tong Kie yang segede gajah ketengah
udara. Hee Thian Siang lalu mengulurkan tangannya untuk
menangkap tubuh Tong Kie yang melayang turun, lalu berkata
kepada Lui Hwa sambil tertawa: "Sahabat Lui, tak perlu pergi
ke Cong-biauw-tong lagi. Ini bukankah Tong Kie yang
merupakan seorang kuat dari partai Kie-lian-pay?"
Khie Tay Cao, Phao Sam-kow, Go Eng, Thiat Kwan totiang
dan Lui Hwa, ketika manampak Tong Kie ternyata sudah
terjatuh ditangan Hee Thian Siang semuanya terkejut hingga
saling berpandangan dengan perasaan terheran-heran.
Hanya Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang yang
masih bersikap dingin, agaknya tidak tertarik sama sekali.
Hee Thian Siang lalu berkata kepada Khie Tay Cao.
"Ciangbunjin, sekarang waktunya baru tanggal 7 bulan 10
dan samsutemu Tong Kie sudah terjatuh ditanganku. Jikalau
aku hendak menguntungi sebelah paha kakinya untuk
menangkan pertaruhan kita dan membaw pergi kudamu yang
hebat itu, bukankah itu sangat mudah sekali?"
Khie Tay Cao hanya mengawasi dengan muka merah
padam, tak bisa menjawab. Sedang sinar mata Hee Thian
Siang yang menyapu kawanan penjahat itu sejenak kemudian
berkata dengan lantang: "Tapi untuk menangkan suatu
pertaruhan, tanpa melakukan tindakan kejam demikian rupa
untuk menguntungi sebelah paha kaki ornag Hee Thian Siang
tidak tega berbuat demikian, juga ta akan mau melakukan.
Aku sekarang menyerahkan kembali kepada ciangbunjin sam
sutemu Tong Kie dalam keadaan tidak terluka sedikitpun juga.
Dihadapan Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang, 2
locianpe tingkatan tua, jikalau kau mengaku kalah,
menyerahkan kudamu kepadaku, aku akan menyelesaikan
urusan ini begini saja. Jika tidak, terpaksa kita selesaikan
secara jantan. Andaikata aku kalah, aku juga akan
menyerahkan barang wasiatku dengan suka rela!"
Sehabis berkata demikian, benar saja, Toan Kie yang tidak
mendapat luka apa-apa dilemparkan kepada Khie Tay Cao.
Perbuatan dan tindakan Hee Thian Siang itu ternyata tidak
melanggar peraturan, beberapa partah kata itu juga
mengandung ejekan yang sangat tajam, lebih tajam daripada
senjata tajam sehingga ketua Kie-lian-pay Khie Tay Cao
mukanya merah padam, tak tahu bagaimana harus menjawab.
Go Eng tahu, bahwa cianbun suhengnya pasti tidak rela
menyerahkan kuda kesayangannya maka lantas berkata
sambil tertawa dingin: "Hee Thian Siang, aku tidak tahu entah
menggunakan akal rendah apa kau telah membokong
suhengku" Bahkan masih berani datang kembali untuk jual
tampang. Kau benar-benar tidak mengukur keadaanmu
sendiri, berani-beraninya kau datang kemari untuk mencari
mampus. Dalam goa ini barangkali akan tambah sebuah
patung batu lagi. Dengan sinar mata dingin Hee Thian Siang mengawasi Go
Eng sejenak, kemudian berkata: "Sahabat Go, kau salah. Jika
tidak memiliki kepandaian, aku tak akan datang kemari. Hee
Thian Siang sudah berani datang ditempat ini, sudah tentu tak
memandang goa Siang-swat-tong ini sebagai tempat yang
berdinding golok atau pedang. Asal Leng dan Siang kedua
locianpe tidak turun tangan terhadapku..."
Leng Biauw Biauw ketika mendengar ucapan itu lantas
berkata sambil tertawa. "Hee Thian Siang, kau tak usah kuatir. Tak perlu kau
mengejek aku, kami berdua selamnya tak akan turun tangan
terhadap orang tingkatan muda. Tetapi setelah kau nanti
menyelesaikan urusanmu dengna ciangbunjin, masih perlu
menjawab pertanyaanku, itu adalah keselamatan dari Liok
Giok Jie, dimana sekarang berada?"
Hee Thian Siang memberi hormat kepada Leng Biauw
Biauw, selagi hendak menjawab, Khie Tay Coa sudah
mendapat akal, maka lalu berkata kepada Hee Thian Siang
dengan nada suara dingin.
"Hee Thian Siang, apakah kau masih ingat pertemuanmu
denganku digunung Oey-san dahulu?"
"Urusan itu belum setahun, bagaimana Hee Thian Siang
bisa lupa?"

Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Jika kau masih ingat, itulah bagus. Aku masih tetap itu
sebagai alasanku, tidak bisa menyerahkan kudaku sebagai
barang kalah taruham darimu."
"Harap kau ceritakan 2 pasal yang kau anggap sebagai
alasan itu, supaya aku bisa dengar."
"Kesatu, ialah sekarang ini baru tanggal 7 bulan 10, maka
bagi kau sendiri belum tentu masih sanggup mempertahankan
sebelah pahamu tidak akan terkutung pada besok hari..."
"Heh, aku masih ingat alasanmu yang kedua, bukankah
karena kau anggap bahwa kudamu yang hebat itu, tidak mau
mengikuti aku?" "Kau seharusnya masih ingat ketika kau mencoba untuk
menungganginya digunung Oey-san. Dua kali kau telah
dibanting jatuh olehnya!"
Hee Thian Siang teringat kejadian digunung Oey-san
dahulu, maka mukanya lantas menjadi merah, matanya
mengawasi kuda yang berdiri disisi Khie Tay Cao, kemudian
berkata dengan sikap yang jumawa.
"Aku akan membereskan dulu 2 pasal sebagai alasanmu
itu, kulihat kau masih akan bicara apalagi?"
Khie Tay Cao juga tertawa terbahak-bahak dan berkata:
"Asal kau bisa menyelesaikan 2 urusan ini dihadapan Leng
dan Sian kedua locianpe, Khie tay Cao terima baik
kekalahanku dan akan menyerahkan kuda kesayanganku itu."
Hee Thian Siang mengangguk-anggukkan kepala dan
berkata: "Kalau demikian halnya, aku nanti akan
membereskan soal ini satu persatu."
Sehabis berkata demikian, matanya menyapu kawanan
penjahat yang ada disekitarnya, katanya dengan suara
lantang: "Siapakah diantara tuan-tuan yang tertarik dengan
dua pahaku Hee Thian Siang?"
Lui Hwa yang merasa jemu dengan sikap Hee Thian Siang
yang dipertunjukkan kepada Khie Tay Cao dan lain-lainnya,
juga tahu benar, bahwa dalam pertempuran dikuil Pho-hie
Tong dahulu, Hee Thian Siang pernah terluka ditangan
suhengnya Thiat-kwan totiang. Maka dengan sikap
memandang rendah, ia melangkah keluar dari rombongannya
sambil menenteng pedangnya.
Hee Thian Siang yang melihat Lui Hwa hendak turun
tangan, lantas bertanya dengan alis berdiri.
"Apa kau hendak mengadu kekuatan tenaga denganku?"
Lui Hwa agaknya belum bisa menangkap maksud
pertanyaan Hee Thian Siang, ia masih berkata dingin sambil
tertawa sombong: "Pedang pusaka ditanganku, ditambah
dengan ilmu pedangku Hui-hong Uliu-kiam hoat, aku merasa
tertarik kepada dua paha kakimu itu!"
Mendengar jawaban itu Hee Thian Siang lalu berpaling dan
bertanya kepada Khie Tay Cao: "Khie ciangbunjin, apakah
kalian berpikir hendak mengutus wakil untuk bertanding
denganku ataukah hendak bertempur secara bergilir?"
Semua kawanan penjahat yang ada disitu yang paling
muda usianya juga masih dua kali Hee Thian Siang.
Bagaimana Khie Tay Cao ada muka untuk menggunakan
siasat bergilir menghadapi Hee Thian Siang" Apalagi dalam
hatinya sendiri masih pandang ringan lawannya itu, maka ia
lantas menyahut: "Kuserahkan padamu untuk melihat salah
seorang diantara kita untuk menjadi tandinganmu, asal sudah
mendapat keputusan dan kedua pahamu ternyata belum
kutung, maka alasanku yang pertama itu boleh dikata sudah
kau selesaikan dengan baik."
Dalam hati Khie Tay Cao, Hee Thian Siang pasti akan
memilih Go Eng yang kakinya tinggal satu sebagai lawan.
Tetapi ia masih penuh keyakinan, bahwa Go sutenya itu pasti
akan dapat mengalahkan Hee Thian Siang. Sebab sejak
kakinya tinggal satu, Go Eng bertekun melatih ilmunya yang
baru, yang ternyata sangat ganas.
Hee Thian Siang setelah mendengar jawaban itu, lalu
berkata kepada Liu Hwa sambil menggoyangkan kepala dan
tanyanya: "Sahabat Lui, kau boleh kembali. Aku tidak akan
bertempur denganmu!"
Lui Hwa sebenarnya mempunyai maksud hendak
mendemonstrasikan ketangkasannya dihadapan orang banyak. Tetapi oleh karena Khie Tay Cao sudah memberikan
kesempatan kepada Hee Thian Siang untuk memilih sendiri
lawannya, maka terpaksa ia bertanya dengan heran: "Kau
hendak memilih siapa sebagai lawanmu?"
Hee Thian Siang tiba-tiba tertawa besar, kemudian baru
berkata: "Sahabat Liu, mengapa kau begitu tidak tahu diri"
Kepandaian ilmu silatmu, paling banter hanya berimbang
dengan kepandaian Tong Kie. Tong Kie dibawah tanganku
hanya dalam satu jurus sudah tertotok olehku. Kau barangkali
masih sulit untuk sanggup melawan 3 jurus, dan tentu aku
hendak memilih lawan yang lebih tangguh, supaya Khie
Ciangbunjin merasa lega."
Sementara itu Leng Biauw Biauw yang mendengar ucapan
Hee Thian Siang, lalu berkata dengan suara perlahan kepada
Tang Siang Siang yang berada disampingnya: "Pantas saja
Liok Jie bisa jatuh hati kepada Hee Thian Siang, bocah ini
memang benar sangat menarik dan gadis-gadis mudah jatuh
cinta kepadanya!" Kiu-thian Mo-lie Tang Siang Siang tersenyum dan
menganggukkan kepala, pada saat itu Lui Hwa oleh karena
Hee Thian Siang memandang rendah terhadap dirinya, tidak
dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi. Ia bermaksud
untuk menyerang dengan kekerasan.
Ketua Tiam-cong-pay Thiat Kwan Totiang yang mempunyai
pandangan mata lebih tajam dan menyaksikan keadaan itu
lantas berkata: "Lui jite, silahkan kembali, Khie Cianbunjin
sudah memberikan kesempatan kepada Hee Thian Siang
untuk memilih sendiri lawannya, biarlah ia yang memilih
sendiri!" Lui Hwa yang mendengar ciangbun suhengnya berkata
demikian, terpaksa menyimpan kembali pedangnya dan
berjalan balik. Mata Hee Thian Siang yang tajam lalu menyapu
lagi kepada kaum penjahat yang berada disekitarnya.
Sinar mata tajam itu akhirnya berhenti kearah Ciangbunjin
Tiam-cong-pay Thiat-kwan Totiang.
Sepasang alis yang tebal Thiat-kwan Totiang nampak
berdiri, dengan sikapnya yang sangat sombong sekali ia
bertanya dengna nada suara yang sangat dingin: "Apakah kau
hendak memilih aku sebagai lawanmu?"
Pertanyaan itu penuh jumawa dan keyakinan serta
memandang hina kepada lawannya.
Hee Thian Siang tertawa hambar, jawabnya sambil
menggelengkan kepala: "Dahulu dikuil Pho-hie To-kwan, Hee
Thian Siang pernah menerima hadiahmu Thiat-siu Sinkang,
malam ini seharusnya aku hendak membalas budimu itu,
tetpai ada 2 alasan aku tidak bisa memilih kau sebagai
lawanku!" "Alasanmu rupanya banyak sekali!" Berkat aThiat-kwan
totiang sambil tertawa mengejek.
"Alasan itu bahkan sangat tepat sekali!"
"Kalau alasanmu itu memang tepat, lekas ceritakanlah!
Sebab jika aku tak memberimu kesempatan untuk
menceritakan, nanti setelah kau berubah menjadi patung
didalam goa itu barangkali juga tak bisa terpejam matamu!"
Sikap yang tertawa-tawa Hee Thian Siang tadi mendadak
lenyap, dengan sinar mata yang berapi ia mengawasi Thiat-
kwan Totiang, katannya dengan nada suara dingin.
"Kesatu, ialah meskipun kau masih hutang kepadaku, tetapi
hutang orang lain lebih banyak dariku, apabila malam ini aku
mengalahkan kau dan kau nanti akan bunuh diri lantaran
merasa malu, bukankah akan membuat penyesalan besar
bagi orang yang pernah memberi hutang padamu?"
Thiat-kwan Totiang tertawa terbahak-bahak, kemudian
berkata: "Engkau ini benar-benar pintar mencari alasan, Thiat
Kwan yang pernah melintang dalam dunia kang-ouw, darah
orang-orang rimba persilatan mengalir dibawah pedangku, tak
terhitung jumlahnya, bagaimana aku bisa ingat dengan baik,
siapakah orangnya yang memberiku hutang paling banyak?"
Hee Thian Siang maju selangkah, katanya: "Hutang ini
dengan hutang darah dirimba persilatan yang biasa, jauh
berlainan. Kalau diwaktu silam coba kau tanyakan kedalam
hati nuranimu sendiri, pasti kau akan merasa tak enak makan
dan tak enak minum, bagaiman kau bisa samakan?"
Dengan tiba-tiba, Thiat-kwan totiang teringat kepada
perbuatannya yang durhaka terhadap paman seperguruannya
sendiri, hingga saat itu sekujur badannya gemetar, sikap
sombongnya dan galaknya lantas berkurang.
Hee Thian Siang tidak mau memberi kesempatan lagi
padanya, kembali berkata dengan suara dingin: Hutangmu
yang terbesar ialah terhadap paman seperguruanmu sendiri
Kwan Sam Pek, yang binasa secara mengenaskan, karena
kau telah potong lidah dan jari tangannya! Hutang darah ini
pasti kutinggalkan kepada Su-to Wie agar dia nanti akan
membersihkan golongan Tiam-cong-pay, supaya dia bisa
mewakili paman seperguruannya untuk menagih hutang
kepadamu, itulah alasanku yang utama, apa sebab malam ini
menahan dan mengendalikan perasaan sendiri tidak menuntut
balas terhadapmu". Perbuatan durhaka yang dilakukan oleh Thiat-kwan totiong
itu, merupakan suatu perbuatan keji yang tiada taranya,
karena ia kuatir urusan itu kalau makin dibeber oleh Hee Thian
Siang, semakin membikin hilang mukanya, sudah tentu dia tak
berani menjawab sepatahpun juga.
Sementara itu Hee Thian Siang sudah melanjutkan kata-
katanya sambil tertawa: "Alasanku yang kedua ialah menang
atau kalah dalam pertempuran ini, ada hubungan erat dengan
nasib seekor kuda jempolan pada dewasa ini, maka orang
yang kupilih sebagai lawan, harus bisa bertanggung-jawab
agar Khie Ciangbunjin dengan rela menyerahkan kudanya,
dan tak akan menyesal atas tindakannya!"
Leng Biauw Biauw mendengar ucapan itu lalu berkata
dengan tertawa geli: "Kau bocah ini, benar-benar bisa bikin
mendongkol orang! Tetapi lawan yang kau sebutkan itu
barangkali tak mudah dicari!"
"Mana, mana" Aku sudah memikirkan baik-baik lawanku.
Apabila Hee Thian Siang beruntung bisa memperoleh
kemenangan, kutanggung Khie Ciangbunjin pasti akan
menyerah kalah dengan hati puas dan rela menyerahkan
kudanya!" Ucapan itu menimbulkan perasaan Khie Tay Cao jadi
curiga lalu bertanya dengan perasaan heran.
"Siapakah lawan yang kau anggap paling tepat itu?"
Hee Thian Siang perdelikkan matanya, dengan sinar mata
yang tajam menatap Khie Tay Cao lalu berkata sambil tertawa
terbahak-bahak: "Orang ini sangat mudah sekali ditebak, dia
adalah kau, Khie Ciangbunjin sendiri!"
Orang-orang yang berada disitu ketika mendengar kata-
kata itu semua pada menganggap bahwa pemuda itu terlalu
jumawa dan berani mati. Dalam usia yang semuda itu,
ternyata berani menantang salah seorang terkuat dalam rimba
persilatan pada dewasa itu.
Khie Tay Cao menggeleng-gelengkan kepala dan berkata
sambil tertawa: "Apa sebab kau memilih aku?"
'Karena kau adalah majikan dari kuda Cian-li-kiok-wa-
cheng, sudah tentu kau harus menyerahkan dengan
tanganmu sendiri apabila kau setuju!".
Khie Tay Cao yang sangat mendongkol malah menjadi
tertawa, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu bertanya
sambil mengerutkan alisnya.
Engkau pikir, hendak bertanding secara bagaimana
denganku" Tangan kosong, ataukah dengan senjata" Ilmu
tenaga dalam, ataukah senjata rahasia?"
"Aku sudah berani menantangmu, sudah tentu akan
melawan senjatamu yang terampuh yang mempunyai berat
150 kati itu!" Khie Tay Cao mendengar ucapan itu sepasang alisnya
dikerutkan, sejenak ia mengawasi pemuda itu, dengan tiba-
tiba ia mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.
Apakah perkataanku salah" Mengapa kau tertawa seperti
orang gila?" Bertanya Hee Thian Siang.
Khie Tay Cao mempermainkan senjata tongkat bajanya
yang berat hingga menimbulkan suara ting-tingan dan
percikan api, kemudian berkat dengan suara bengis: "Para
ketua partai-partai besar pada dewasa ini seperti Ngo-bi, Kun-
lun, Siauw-liem, Bu-tong, Swat-san dan Lo-hu, kalau melihat
senjata tongkat bajaku ini, juga masih merasa jeri, tetapi kau
bocah kemarin sore dengan berani mati mencoba melawan
senjataku ini. Seperti telor yang hendak diadu dengan batu,
mengapa aku tidak tertawa?"
"Omong besar saja apa gunanya" Kalau kau bisa
menangkan aku, baru itu terhitung kepandaianmu benar-
benar. Kalau kau tidak lekas turun tangan sekarang, begitu
kentongan berbunyi sekali, maka kudamu sudah terhitung
jatuh ditanganku." Berkata Hee Thian Siang dengan alis
berdiri. "Mana sampai menunggu jam satu malam" Begitu tongkat
bajaku ini bergerak dalam 3 jurus bukan saja pahamu akan
terkutung, tulang-tulang mudamu juga akan remuk!"
"Kalau kau bisa omong besar, aku juga akan mengimbangi
ucapanmu itu. Didalam 30 jurus, apabila aku kalah, bukan saja
mengaku kalah dalam pertaruhan dan akan menyerahkan
jaring wasiatku kepadamu, tetapi juga akan menguntungi
pahaku sendiri!" Khie Tay Cao diam-diam juga dikejutkan oleh ucapan
sombong Hee Thian Siang itu, ia tak berani omong besar lagi,
tanyanya: "Senjata apa yang hendak kau gunakan?"
Ketua Thiam-cong-pay Thiat-kwan Totiang yang berdiri
disamping lantas menyela: "Senjata yang biasa digunakan
adalah sepasang gelang Sam-ciok-kang-hwan, senjata tulen
dari Pak-bin Sin-po Hong-poh Cui!"
Hee Thian Siang mengawasi Thiat-kwan Totian sejenak,
lantas berkata sambil menggelengkan kepala: "Dikemudian
hari apabila aku ada kesempatan untuk belajar kenal dengan
ilmu pedangmu pasti aku tetap akan menggunakan senjata
gelang itu. Tetapi malam ini untuk menghadapi senjata Khie
Ciangbunjin yang demikian berat maka hendak kutukar


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan senjata lain!"
Sehabis berkata demikian, ia mengeluarkan bulu burung
milik Thian-Ie Sianjin, yang disimpan dalam kantong lemas
yang dibuatkan oleh Tiong-sun Hui Kheng. Senjata bulu
burung itu dipegang ditangannya, dan berkata kepada Khie
Tay Cao sambil tertawa: "Khie Ciangbunjin, senjata tongkat
bajamu jikalau ditambah dengan kekuatan tenaga dalam,
kalau kau cecer tentu bukan kepalang beratnya! Tetapi
senjataku bulu burung berwarna merah ini, sebaliknya sangat
ringan sekali, seoralh tiada bobotnya, maka dalam
pertandingan ini seharusnya adalah merupakan pertandingan
tenaga lunak dan keras yang paling baik!"
Khie Tay Cao sebagai ketua salah satu partai besar. Hee
Thian Siang hendak menggunakan sebatang bulu burung
untuk menghadapi sienjatanya seberat 150 kati, maka ia
segera tahu pasti ada sebabnya. Maka kini ia bukan saja tidak
berani memandang ringan lagi kepada lawannya, sebaliknya
menatap senjata bulu burung dan diamatinya dengan cermat.
Kini ia bukan saja sudah melihat bahwa bulu burung itu
memiliki warna yang indah sekali bahkan ada mengandung
sinar berkilauan. Maka ia semakin yakin bahwa benda itu pasti
bukanlah benda sembarangan. Mau tak mau ia harus berlaku
lebih hati-hati. Tetapi untuk sesaat ia belum bisa memikirkan
asal-usul dan nama senjata yang aneh itu.
Tetapi Kiu-thian Mo lie sebagai orang angkatan tua, ketika
melihat senjata ditangan Hee Thian Siang, lalu mengeluarkan
seruan kaget dan berkata kepada Leng Biauw Biauw: "Bulu
burung ditangan bocah itu, mirip dengan bulu burung Thian-
khim Ngo-sek Ie-mao yang pada 100 tahun berselang pernah
menggemparkan dunia kang-ouw, entah darimana ia dapatkan
bulu burung itu, apakaha Thian-ie taisu Tong It masih hidup
didalam dunia dan menurunkan ilmunya Thian-khim Cit-kaow
yang tidak ada duanya itu kepada bocah ini?"
Ucapan Siang-swat Sian-jie itu ketika terdengar oleh Khie
Tay Cao, telah membuat ketua partai Kie-lian-pay yang
selamanya tidak pandang sebelah mata kepada segala orang
tergerak hatinya bahwa apa yang diduganya itu ternyata
benar. Hee Thian Siang berani datang kemari, memang ada
yang diandalkan. Maka kini ia harus berhati-hati
menghadapinya tak boleh berlaku gegabah.
Setelah dipikir masak-masak, apalagi ditinjau dari
tertangkapnya Tong Kie oleh Hee Thian Siang, ditangan
pemuda itu dengan seorang diri, Ketua Siang-Swat-tong
bahkan berani menantangnya sebagai lawan, maka ia
menduga pasti bahwa apa yang diucapkan oleh Leng Siang
memang benar, senjata bulu burung ditangan pemuda itu pasti
adalah Thian-khim Ngo-sek Ie-mao, yang pada 100 tahun
berselang merupakan sebuah senjata tanpa bandingan. Dan
pemuda itu sudah pasti juga bertemu dengan Thian-Ie taisu
serta mendapat warisan kepandaian, jikalau tidak tak mungkin
ia berani berlaku demikian berani mati.
Ia sendiri sebagai ketua salah satu partai besar sedangkan
Hee Thian Siang hanyalah seorang angkatan muda, jika
menang bagi ia sendiri bukanlah merupakan suatu yang patut
dibanggakan, tetapi jika kalah, nama besarnya yang telah
dipupuk selama itu, akan ludes sama sekali. Akan tetapi
karena ia sudah mengizinkan Hee Thian Siang untuk memilih
sendiri lawannya dan pemuda itu telah memilih dirinya sendiri
sebagai lawan, dalam keadaan demikian bagaimana ia bisa
bermuka dua lagi! Sebagai seorang ketua salah satu partai besar
bagaimanapun juga mempunyai banyak pengalaman, maka
Khie Tay Cao telah berpikir lama, dalam hatinya mendapat
suatu pikiran untuk memecahkan persoalannya.
Sementara itu Hee Thian Siang yang melihat Khie Tay Cao
terus memandang senjata bulu ditangannya dan tiada sepatah
katapun keluar dari mulutnya lalu bertanya dengan perasaan
terheran-heran: "Khie Ciangbunjin, apakah menganggap
bahwa aku Hee Thian Siang masih belum pantas untuk
bertanding denganmu?"
Khie Tay Cao yang waktu itu sudah mendapat suatu
pikiran, sepasang matanya diperdelikkan dan berkata sambil
tertawa terbahak-bahak. "Aku sebenarnya sedang berpikir, sebagai seorang ketua
dari salah satu partai besar, sekalipun aku berhasil membunuh
kau dengan tongkatku yang seberat ini, tetapi akhirnya juga
akan menjadi buah tertawaan sahabat-sahabat rimba
persilatan, yang mengatakan aku sebagai orang tua menghina
seorang tingkatan muda. Sebagai seorang yang kuat
menghina yang lemah, bukankah itu terlalu merugikan
namaku sendiri?" "Dan menurut pikiran ciangbunjin, kita harus bertanding
secara bagaimana" Barulah tidak akan merugikan nama
baikmu?" Bertanya Hee Thian Siang.
Melihat Hee Thian Siang sudah terpancing, Khie Tay Cao
lalu berkata sambil tertawa: "Sikap Hee laote yang demikian
gagah perkasa sesungguhnya sangat mengagumkan, apakah
masih berani minta aku mengeluarkan usul mengenai cara
pertandingan?" Hee Thian Siang yang sangat cerdik, meskipun dapat
menyelami bahwa ucapan Khie Tay Cao itu mengandung akal
muslihat, tetapi oleh karena dalam keadaan terdesak itu,
terpaksa melanggarnya, katannya sambil tertawa: "Sekalipun
Khie Ciangbunjin mengusulkan suatu pertandingan dengan
minyak mendidih, Hee Thian Siang juga berani bertanding
denganmu hendak melompat lebih dahulu!"
Leng Biauw Biauw berkata dengan suara perlahan kepada
Tang Siang Siang: "Bocah ini benar-benar
sangat mengagumkan dan menyenangkan sekali, aku setuju apabila
Giok Liok Jie menikah dengannya!"
Tang Siang Siang tersenyum, diam-diam menggunakan
kekuatan tenaga dalamnya, jangan sampai terdenganr oleh
orang luar berkata perlahan kepada Leng Biauw Biauw: "Kau
jangan memikirkan dirimu dulu yang sudah ingin menjadi
mertua orang. Menurut pandanganku, bakal menantumu ini
terlalu keras kepala, barangkali akan tertipu oleh akal muslihat
Khie Tay Cao, mungkin juga malam ini sulit baginya untuk
keluar dari lingkaran tipu yang dipasang oleh Khie Tay Cao!"
Selagi Leng Biauw Biauw hendak berkata lagi, sudah
terdengar suara Khie Tay Cao yang berkata sambil tertawa:
"Hee laote, mengapa mengeluarkan ucapan demikian berat"
Kalah atau menang dalam suatu pertaruhan tidak terhitung
urusan besar! Bagaimana aku sampai berani menggunakan
pertandingan dengan minyak mendidih segala" Aku hanya
masih ingin tetap diatas senjataku tongkat baja ini untuk
mengadakan sedikit permainan denganmu. Tetapi bukanlah
digunakan untuk saling menggempur!"
Mendengar ucapan itu Hee Thian Siang merasa sedikit
lega, katanya sambil tertawa: "Apapun yang Khie Ciangbunjin
kehendaki Hee Thian Siang akan selalu mengiringi, untuk
menghemat waktu sebaiknya kita segera memulai!"
Khie Tay Cao tertawa, kekuatan tenaga dalamnya
dikerahkan kesepasang tangannya, kemudian menancapkan
senjata tongkatnya ditanah sehingga masuk sedalam 3 kaki.
Kemudian, ia mengerahkan pula kekuatan tenaga
dalamnya dengan ditujukan dibagian kepala tongkat yang
merupakan 9 ekor burung terbang, digempur berulang-ulang
sehingga tongkat yang panjang itu seluruhnya masuk kedalam
tanah batu, hingga bagian kepalanya saja yang masih tampak
diatas tanah. Selesai melakukan itu Khie Tay Cao dengan sangat
bangga berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa
tergelak-gelak: "Hee Thian Siang, asal kau bisa mencabut
tongkat ini dari dalam tanah dengan tidak menggunakan
kekuatan tenaga luar, maka pertaruhan digunung Hok-gu-san
itu, akulah yang terhitung kalah, kudaku juga boleh kau bawa
pergi!" Akal Khie Tay Cao itu memang sangat cerdik, sebab
meskipun Hee Thian Siang sudah mendapat warisan dari
Thian-Ie taisu yang pada 100 tahun berselang belum pernah
menemukan tandingannya, tetapi warisan kepandaian itu
paling juga hanya warisan ilmu-ilmu silat yang luar biasa,
tetapi tentang kekuatan tenaga dalam mungkin belum
memperoleh kemajuan demikian pesat. Sedangkan ia sendiri
yang terkenal dengan tenaganya yang hebat dengan cara
sedemikian ia menancapkan senjata tongkatnya didalam
tanah, kemudian suruh Hee Thian Siang mencabutnya
kembali, sudah tentu merupakan persoalan berat bagi Hee
Thian Siang dan kalaulah begitu, pasti Hee Thian Siang yang
akan mendapat kekalahan. Tetapi andaikata tongkat itu
tercabut keluar, bagi ia sendiri juga tak kehilangan muka dan
kuda kesayangannya bisa diserahkan untuk menepati janjinya,
ia masih anggap kudanya yang galak itu kecuali atas
perintahnya sendiri barangkali siapapun tidak didengar
olehnya. Hee Thian Siang setelah mengetahui sikap Khie Tay Cao
tampaknya sangat bangga sekali, maka ia lantas sadar bahwa
sikapnya sendiri terlalu jumawa, benar saja telah tertipu akal
muslihat ketua Khie-lian-pay itu. Dan akibatnya, bukan saja ia
tak dapat menangkan kudanya, bahkan berat hatinya untuk
tidak mentaati kehendak Khie Tay Cau dan mungkin juga akan
kehilangan jaring wasiatnya!. Sedangkan apabila bertanding
ilmu silat, ia yang ~~~~~~~~~ Halaman 54~55 hilang... ~~~~~~~~~
Siang itu setelah mencapai sembilan dim lebih, kedua
lengan tangan Hee Thian Siang sudah mulai ngilu, jantungnya
berdebaran, matanya berkunang-kunang.
Hee Thian Siang teringat pada pesan Duta Bunga Mawar
sebelum menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya pernah
memberitahukan padanya harus banyak latihan dan banyak
menghadapi lawan tangguh, kekuatan tenaga itu dengan
sendirinya akan bertambah, supaya dapat digunakan untuk
menghadapi Pek-kut Sin-kun pada waktu pembentukan partai
baru Ceng-thian-pay nanti. Kini oleh karena baru bulan 10,
latihannya itu masih belum cukup, dengan cara bagaimana ia
dapat berhasil mencabut tongkat dari dalam tanah itu"
Meski ia mengetahui bahwa tenaganya sudah kehabisan,
namun ia masih penasaran, kembali menggunakan sisa
tenaganya untuk mencoba lagi. Namun senjata yang berat itu
tampaknya berubah menjadi lebih berat lagi, sedikitpun tidak
bergerak. Hee Thian Siang yang sudah kehabisan tenaga selagi
hendak mengaku kalah, untuk menyerahkan jaring wasiatnya
dengan tiba-tiba dibelakang dirinya merasakan hembusan
angin dingin yang menyusup kedalam tubuhnya.
Hee Thian Siang merasa marah, ketika ia berpaling tampak
orang yang berdiri dibelakangnya itu justru Leng Biauw Biauw
dan Tang Siang Siang. Leng Biauw Biauw bahkan berkata
padanya sambil tertawa: "Hee Thian Siang, berulangkali kau
datang kekediamanku digoa Siang-swat-tong ini, untuk
menjago, sesungguhnya sangat menjemukan sekali.
Sekarang kau sudah mengadakan pertaruhan dengan Khie
Ciangbunjin, maka harus lakukan pertaruhanmu itu. Asal kau
berhasil mencabut tongkat baja itu, boleh lekas pergi dari sini
dengan membawa kuda jempolan itu! Jika tidak, bukan saja
kau akan kehilangan jari wasiatmu bahkan aku masih akan
menguntungi dua pahamu!"
Hee Thian Siang dengan tiba-tiba naik pitam, baru saja
hendak balas mendamprat, dengan tiba-tiba ia mendapat
kenyataan bahwa ucapan Leng Biauw Biauw itu meskipun
galak, tetapi sepasang matanya memancarkan sinar yang
mengandung arti, yang mengawasi dirinya.
Sinar mata yang demikian itu, telah menggerakkan hatinya.
Sementara itu dalam telinganya terdengar pula suara orang
yang berkata kepadanya dengan menggunakan ilmu
menyampaikan suara kedalam telinga.
"Hee Thian Siang, kita hendak membantu dengan kekuatan
tenaga kita, kau lekas pura-pura mengelabui Khie Tay Cao
dengan perkataan, lalu cabut lagi dengan menggunakan
tenaga, kutanggung kau nanti akan berhasil!"
Hee Thian Siang yang sangat cerdik ketika mendengar
ucapan itu lantas perdelikkan matanya kepada Leng Biauw
Biauw, katanya dengan nada sombong: "Kalian jangan berlaku
sombong dulu, aku yang sudah berhasil mencabut hampir
sepanjang satu kaki tongkat baja ini, sudah tentu akan
berhasil mencabut seluruhnya!"
"Kau bisa mencabut satu kaki, memang hebat kekuatan
tenagamu! Tetapi selanjutny setiap dim setiap bagian,
semuany lebih sulit. Menurut pandanganku, jaring wasiatmu
itu sudah tentu akan terkalahkan olehku!" Berkata Khie Tay
cao sambil tertawa dingin.
Hee Thian Siang menggunakan kesempatan itu untuk
berpaling, bertanya kepada Khie Tay Cao: "Khie Ciangbunjin,
kita mengadakan pertandingan mencabut tongkat ini, apakah
kau pernah menetapkan batas waktu?"
Selama bicara itu, angin dingin dari belakang punggungnya
kembali menyusup kedalam dan akhirnya berubah menjadi
kekuatan tenaga yang hangat, menyusuri kesekujur tubuhnya
sehingga semangat Hee Thian Siang menyala-nyala dan rasa
letihnya perlahan-lahan lenyap.
Khie Tay Cao mana menduga bahwa Leng Biauw Biauw
dan Tang Siang Siang yang dibuat andalan olehnya, ternyata
malah membantu Hee Thian Siang, maka ia masih penuh
keyakinan akan kemenangannya, jawabnya sambil tertawa
terbahak-bahak: "Meskipun tidak ditetapkan bahwa waktunya
tetapi kau seharusnya juga mengerti, sebelum jam 1.00
malam ini menang atau kalah sudah harus ada
keputusannya!" Hee Thian Siang pura-pura bertanya lagi: "Bolehkah aku
hendak menggunakan obat untuk membantu kekuatan
tenagaku?" Khie Tay Cao menganggukkan kepala dan berkata sambil
tertawa: " Sudah tentu boleh, aku sesungguhnya juga ingin
melihat dalam waktu yang sangat singkat ini kau mempunyai
obat apa untuk membantu tenagamu?"
Selagi Hee Thian Siang hendak berpura-pura mengambil
sebutir pil untuk dimakan dari dalam sakunya, tiba-tiba
terdengar suara kera yang sangat nyaring, Siaopek sikera
putih kecil dengan tiba-tiba muncul dari belakang batu,


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berjalan menghampiri dengan langkah lebar.
Sewaktu Siaopek melemparkan tubuh Tong Kie yang tinggi
besar, meskipun sudah diketahui kawanan orang Kie-lian-pay,
bahwa monyet kecil itu sembunyi dibelakang batu, tetapi
mereka tidak menduga kali ini telah muncul pula tiba-tiba,
bahkan menghampiri Hee Thian Siang dengan langkah lebar.
Hee Thian Siang tahu benar bahwa kera itu cerdik sekali,
tetapi kali ini muncul dengan tiba-tiba pasti ada maksudnya,
maka lalu berkata sambil tersenyum: "Siaopek, perlu apa kau
datang kemari" Apakah kau hendak membantu aku" Aku
sedang mengadakan pertaruhan dengan lawanku. Tongkatnya
yang menancap ditanah ini, harus kucabut dengan tanganku
sendiri, kalau berhasil baru dihitung menang!"
Siaopek dengan mulut celeletan, tangan kanannya
menyodorkan biji mata ular yang diperoleh sikera hitam
peliharaan Thian-Ie taisu sebelum mengorbankan diri
mengikuti majikannya, biji mata ular itu dimasukkan kedalam
mulut Hee Thian Siang, agaknya minta ia supaya menelannya.
Siang Swat Sianjin Leng Biauw Biauw ketika melihat biji
mata ditangan Siaopek, lantas saling berpandangan dengan
Tang Siang Siang. Hee Thian Siang kembali terdengar suara orang yang
menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinganya.
"Benda ditangan kera putih itu, mirip sekali dengan biji mata
ular yang seperti kelabang. Kau lekas telan dan atur
pernafasanmu pasti akan mendapat faedah yang tidak sedikit.
Aku berdua sebetulnya sudah membantumu dengan kekuatan
tenagamu yang sudah kau gunakan tadi, tetapi setidak-
tidaknya kau harus beristirahat selama setahun baru bisa pulih
kembali. Sekarang dengan adanya biji mata binatang aneh itu
dengan sendirinya tidak akan menjadi halangan lagi."
Mendengar ucapan itu Hee Thian Siang sudah tentu
merasa sangat girang. Ia segera menelan biji mata binatang
aneh yang diberikan oleh Siaopek dan seperti apa yang
diperintahkan oleh Siang Swat Sianjin, ia
mengatur pernafasannya, supaya khasiat pil itu menyusup kesekujur
tubuhnya. Khie Tay Cao yang menyaksikan Hee Thian Siang duduk
sambil memejamkan matanya lama sekali mengatur
pernafasannya, lantas merasa tidak sabar, ia angkat kepala
untuk melihat cuaca kemudian berkata: "Hee Thian Siang,
waktunya hampir tiba. Jika kau berlagak demikian lagi,
barangkali sudah tidak keburu!"
Hee Thian Siang membuka sepasang matanya, ia lantas
bangkit sambil tersenyum. Untuk kesekian kalinya ia berjalan
menghampiri tongkat baja yang sudah dicabut hampir satu
kaki panjangnya, lalu berkata kepada Khie Cao sambil
tertawa. "Khie Ciangbunjin, harap sediakan kudamu untuk
membayar kekalahanmu, kali ini akan kucabut seluruhnya
tongkat bajamu ini!"
Khie Tay Cao hanya mengeluarkan suara dari hidung, tidak
menghiraukan ucapan Hee Thian Siang.
Saat itu Hee Thian Siang kembali merasa ada angin yang
menghembus dibelakang punggungnya maka kedua
tangannya memegang tongkat baja, perlahan-lahan ditarik
keatas. Tindakannya kali ini benar-benar membuat Khie Tay Cao
dan Pek-thao Lo-sat Phao Sam-kow dan yang lain-lainnya
semua berdiri terpaku dengan mulut menganga. Kirany
dengan sekali tarik Hee Thian Siang sudah berhasil mencabut
tongkat baja Khie Tay Cao. Setelah dicabutnya Hee Thian
Siang mengawasi kaitan-kaitan yang muncul ditongkat itu, lalu
mengeluarkan suara: "Oo!" Kemudian berkata sambil
tersenyum: "Kiranya tongat baja ini dibagian bawah ternyata
dilengkapi dengan kaitan, jika tidak bagaimana bisa demikian
sulit dicabut keluar?"
Wajah Khie Tay Cao waktu itu dari biru berubah menjadi
merah, dari merah berubah pucat. Jelas sekali ia mendapat
malu besar. Selagi ketua Kie-lian-pay itu dalam keadaan begitu rupa,
Hee Thian Siang mengeluarkan suara siulan panjang, tongkat
baja ditangannya lalu diserahkan kepada Khe Tay Cao. Khie
Tay Cao dalam keadaan malu dan mendongkol terpaksa
mencabut senjata yang diberikan oleh Hee Thian Siang,
digunakan untuk memukul batu besar yang berada dibelakang
dirinya, hingga batu besar itu hancur berantakan.
Hee Thian siang diam-diam merasa geli, dengna berlaku
pura-pura sungguh-sungguh hormat kepada Khie Tay Cao lalu
berkata sambil tersenyum: "Pendatang baru rimba persilatan
Hee Thian Siang, minta dengan hormat kepada Cianbunjin
supaya sudi menyerahkan kuda Cian-li-kiok-wa-cheng untuk
menepati janjinya!" Dalam keadaan demikian, apalagi disaksikan oleh Siang-
swat Siangjin Leng Biauw Biauw, Kiu-thian Mo-lie tang Siang
Siang, Thiat-kwan Totiang dan Liu Hwa dan yang lain-lainnya,
sekalipun Khie tay Cao bermuka tebal, juga tak berani
menolak permintaan Hee Thian Siang, maka terpaksa berkata
sambil mengertakkan gigi.
"Asal kau mampu menjinakkan kudaku, kau boleh
membawa pergi!" Oleh karena digunung tay-pa-san dulu Hee Thian Siang
pernah mencoba bahasa binatang yang dipelaajari oleh Tiong-
sun Hui Kheng sehingga Cian-li-kiok-wa-cheng menjadi jinak
maka ketika menghampiri kuda itu dan dengan sikap sungguh-
sungguh matanya mengawasi kuda itu.
Khie Tay Cao yang menyaksikan keadaan demikian,
merasa heran. Ia pikir kudanya yang hebat itu, biasanya
sangat buas dan tidak mudah dijinakkan, apabila tidak
mendapat perintahnya sendiri, tidak mengizinkan orang lain
mendekati dirinya. Tetapi malam itu mengapa sikapnya
demikian jauh berbeda ketika menghadapi Hee Thian Siang
sikap Cian-li-kiok-wa-cheng waktu itu memang benar sangat
jinak sekali, ia membiarkan dirinya dielus-elus oleh Hee Thian
Siang, tetapi kedua matanya mengalir beberapa tetes air
mata. Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian,
diam-diam terkejut. Ia teringat kembali apa yang terjadi
digunung Tay-pa-san dahulu, kuda itu pernah mengeluarkan
suara ringkikan menyedihkan untuk memperingatkan kepada
Liok Giok Jie, tetapi waktu itu Liok Giok Jie tidak menyangka
sama sekali dan akhirnya terserang secara menggelap oleh
Siang Biauw Yan dengan senjata berbisa Thian-keng-cek.
Dan sekarang kuda itu kembali mengalirkan air mata
menyedihkan, apakah itu merupakan suatu firasat tidak baik,
akan terjadinya hal-hal atau bahaya" Apakah orang-orang
Khie-lian-pay dalam keadaan malu dan marah nanti akan
membokongnya dengan secara menggelap"
Oleh karenanya, ia kini berlaku sangat hati-hati dan
waspada, selagi hendak melompat keatas punggung kuda,
sebelum mencoba melarikannya terdengar suara geraman
dari mulut Khie Tay Cao, kemudian terdengar pula suara ser-
seran memecah kesunyian. Hee Thian Siang tahu, keadaan telah berubah, selagi ia
hendak menegornya, kuda itu mendadak badannya
gemetaran, akhirnya jatuh rubuh.
Hee Thian Siang lompat turun. waktu ia memperhatikan
kuda jempolan itu dibagian kiri atas pahanya telah menancap
sebuah duri berbisa Thian-keng-cek, dengan demikian seekor
kuda jempolan yang luar biasa, telah terbinasa ditangan
majikannya sendiri! Sudah lama Hee Thian Siang ingin memperoleh kuda itu,
suapa bisa digunakan untuk berkelana bersama-sama Tiong-
sun Hui Kheng didunia Kang-ouw. Tetapi kini kuda itu
meskipun sudah terjatuh ditangannya, tetapi cita-citanya
ternyata gagal lagi! Dalam keadaan demikian sudah tentu ia
marah sekali, dengan menunjuk Khie Tay Cao ia membentak
dengan suara keras. "Khie Tay cao, kau sebagai ketua dari salah satu partai
besar dengan cara bagaimana melakukan perbuatan yang
sangat memalukan dan dikutuk orang dan dewa-dewa?"
Dengan wajah pucat pasi, Khie Tay Cao menjawab dengan
suara bengis: "Hee Thian Siang, kau jangan berlaku jumawa
untuk mencari kematianmu sendiri, jangan kau mengucapkan
perkataan seenak perutmu saja, aku membunuh kuda
peliharaanku sendiri, bagaimana kau katakan tidak tahu malu"
Apalagi kau katakan dikutuk oleh dewa-dewa!"
Hee Thian Siang melihat keadaan kuda itu hatinya merasa
pilu. Bentaknya dengan suara yang lebih galak: "Kau
membunuh kuda peliharaanmu sendiri, sudah tentu orang lain
tak bisa campur tangan. Tetapi kudamu ini sudah kalah
bertaruh denganku, seharusnya sudah menjadi milikku!"
"Meskipun aku sudah menepati janji memberikan kuda ini
kepadamu, tetapi sebelumnya aku toh belum pernah
mengatakan aku harus menyerahkan kuda hidup atau kuda
mati?" "Aku menangkan peraturan lebih dulu dan akan melakukan
pembunuhan pada sesudahnya, dan aku sekarang hendak
menuntut balas kepadamu atas perbuatanmu yang
membunuh kuda yang tak berdosa ini!"
"Jika bukan kau setan kecil ini yang datang mengacau
disini, maka kudaku yang telah kupelihara beberapa tahun
juga tidak akan mengalami nasib seperti hari ini! Jika diusut
dari semula, kaulah yang merupakan pembunuh atau
biangkeladi pembunuhan kuda ini, sekarang aku hendak
membunuh kau sebagai ganti jiwanya!"
Sehabis berkata demikian tongkat baja ditangannya
diputar, dengan hembusan angin yang sangat hebat ia
menyerang punggung Hee Thian Siang.
Khie Tay Cao yang terkenal sebagai salah seorang terkuat
dari 8 partai besar pada masa itu sesungguhnya apa yang
dilakukan dalam keadaan marah itu, sudah tentu lebih hebat
dari biasanya, tongkat baja itu seolah-olah terlepas dari
badannya, masih ada beberapa jauh dari badannya,
hembusan anginnya yang hebat sudah mengurung kebadan
orang yang diserang. Hee Thian Siang meskipun waktu belakangan banyak
menemukan kejadian gaib dan meskipun kemajuannya pesat
sekali, tetapi menghadapi serangan yang dilakukan sangat
hebat dan secara tiba-tiba itu, juga tak berani menyambuti
secara gegabah. Maka ketika tongkat baru berputar, ia
menggunakan ilmunya Thian-liong-cwan dari perguruannya
sendiri, dengan sangat tenang ia melesat sejauh 3 tombak
untuk mengelakkan serangan tersebut.
Khie Tay Cao juga tahu benar, bahwa Hee Thian Siang itu
meskipun masih muda-belia, tetapi memiliki kepandaian gaib
banyak sekali, tidak mudah untuk dihadapinya. Dalam
sergapannya itu yang dilakukan dengan demikian hebat,
ketika mengenai tempat kosong juga tidak merasa heran.
Selagi hendak merubah siasatnya dengan gerak tipunya untuk
menyerang lagi, tiba-tiba terdengar suara Siang-swat Sianjin
Leng Biauw Biauw yang diucapkan dengan nada sangat
dingin: "Khie Ciangbunjin, harap hentikan dulu seranganmu,
dengarlah ucapanku!"
Dengan tiba-tiba Khie Tay Cao menarik kembali serangannya, dengan mata mengawawsi Siang-swat Sianjin ia
bertanya dengan perasaan heran: "Mengapa Leng Hok-hwat
mencegah aku untuk membunuh bangsat kecil ini?"
Sinar mata yang tajam Siang-swat Sianjin menyapu
kawanan penjahat itu sejenak, lalu berkata sambil tersenyum:
"Dihadapan goa Siang-swat tong ini, fihak kita sudah
berkumpul, tokoh-tokoh kelas satu dari partai yang akan
dibentuk Ceng-thian-pay, sedangkan fihak sana hanyalah Hee
Thian Siang seorang, kalau kau menangkan pertempuran ini
bukanlah suatu kemengangan yang gemilang, sekalipun Khie
Ciangbunjin berhasil membinasakan Hee Thian Shiang
dibawah senjata tongkatmu, juga akan menjadi buah
tertawaan bagi sahabat-sahabat rimba persilatan!"
Wajah Khie Tay Cao menjadi merah, katanya dengan
perasaan tidak senang: "Kalau Leng Hok-hwat berkata
demikian, apakah kita harus membiarkan Hee Thian Siang
berlalu dari sini begitu saja?"
Ucapan berdirinya partai Ceng-thian-pay, itu nanti akan
berkumpul banyak tokoh-tokkoh rimba persilatan terkemuka,
Khie Ciangbunjin telah secara terang-terangan menantang
kepada guru Hee Thian Siang, ialah Pak-bin Sin-po-ong-poh
itu, untuk menyelesaikan urasan ini!" Berkata Leng Biauw
Biauw sambil tertawa. Dengna sinar mata dingin Khie Tay Cao memandang Hee
Thian Siang, kemudian berkata kepadanya dengan gemas:
"Ucapan Leng Hok-hwat memang benar, aku juga tak takut
harus berhadapan dengan Pak-bin Sin-po, tetapi sayang aku
sudah kehilangan kudaku dengan cuma-cuba, sedangkan
setan kecil Hee Thian Siang ini, dikemudian hari..."
Sebelum habis ucapannya, Tang Siang Siang telah berkata
sambil tersenyum: "Harap Ciangbunjin jangan salahkan kalau
aku Tang Siang Siang hendak berkata terus-terang,
perbuatanmu yang menyerang secara menggelap dengan
senjata rahasia untuk membinasakan kudamu itu
sesungguhnya kurang tepat! Sebaiknya kau biarkan Hee
Thian Siang membawanya pergi, setelah itu dikemudian hari
apabila ada kesempatan barulah kau rampas kembali. Dengan
demikian bukankah kau tak akan kehilangan kudamu?"
Khie Tay Cao yang mendengar ucapan kedua pelindung
hukumnya yang dibuat andalan itu, ternyata agak condong
membela Hee Thian Siang, dalam hati merasa tidak senang.
Tetapi perbuatannya sendiri yang membunuh kuda
kesayangannya sesungguhnya juga lantaran menuruti hawa
amarahnya, setelah kejadian itu, ia sendiri juga merasa
menyesal, sudah tentu ia juga tak bisa menjawab, dan
terpaksa diam saja. Kiu-thian Mo lie Tang Siang Siang meskipun tahu Khie tay
Cao nampak sikapnya menunjukkan perasaan tidak senang,
tetapi ia juga tidak pedulikan padanya, ia berpaling dan
bertanya kepada Hee Thian Siang: "Hee Thian Siang, kau tadi


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

rasanya seperti pernah berkata bahwa kedatanganmu
ditempat ini bukan cuma lantaran untuk menyelesaikan
pertaruhanmu digunung Hok-gu-san dan masih ada urusan
lain lagi..." Hee Thian Siang tahu bahwa malam itu berkat bantuan
kedua locianpe itu, barulah ia tidak mendapatkan kekalahan
maka ia lalu menjawab dengan sikapnya yang sangat hormat:
"Hee Thian Siang memang mendapat perintah dari seorang
cianpe untuk mengundang Leng Cianpe dan Tang Cianpe
berdua untuk mengadakan pertemuan dengannya!"
"Hmm! Orang itu benar-benar terlalu sombong! Ia tak mau
datang untuk mengunjungi kita, digoa Siang-swat-tong ini,
sebaliknya menyuruh kau menyampaikan undangannya, perlu
apa ia berbuat demikian?" Berkata Leng Biauw Biauw.
"Menurut keterangan locianpe itu, katanya merasa kurang
enak kalau datang kemari, maka itu baru minta Hee Thian
Siang untuk mengundang kedua locianpe, supaya sudi
menjumpai dirinya!" Berkata Hee Thian Siang sambil memberi
hormat. Kiu-thian Mo-lie Tang Siang Siang bertanya sambil tertawa:
"Orang itu sombong sekali, tahukah kau siapa namanya atau
julukannya?" "Orang itu dengan suhu dan Tiong-sun Cianpe, namanya
sama-sama terkenal, beliau bernama May Ceng Ong. Orang-
orang dalam rimba persilatan memberi julukan kepadanya
Hong-tiem Ong-khek."
Begitu mendengar disebutnya "Hong-tiem Ong-pek May
Ceng Ong", sekujur badan Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian
Mo Lie Tang Siang Siang semua tergetar. Agaknya hal itu
diluar dugaan mereka. Leng Biauw Biauw bertanya lebih dulu: "Dengan cara
bagaimana kau berjumpa dengan Hong-tiem Ong-khek May
Ceng Ong" Dia mengundang kita bertemu dimana?"
Hee Thian Siang menjawab sekenanya, katanya sambil
tersenyum: "Didalam suatu rumah minum disuatu desa kecil,
Hee Thian Siang secara kebetulan telah berjumpa dengan
May Locianpe yang sedang minum arak seorang diri. Dan
minta Hee Thian Siang mengundang locianpe berdua untuk
menjumpainya didesa itu."
Dimana letaknya desa itu?" Bertanya Tang Siang Siang.
"Namanya Hee Thian Siang tidak tahu, tetapi tempat itu
terpisah dengan gunung Kie-lian-san, kira-kira memerlukan
perjalanan dua hari Hee Thian Siang bersedia sebagai
penunjuk jalan bagi locianpe berdua!"
Leng Biauw Biauw baru saja menganggukkan kepala, Khie
Hamukti Palapa 11 Petualangan Manusia Harimau Seri Manusia Harimau Karya S B Chandra Pendekar Latah 15
^