Pencarian

Makam Bunga Mawar 21

Makam Bunga Mawar Karya Opa Bagian 21


berkata lagi: "Harap Hwa Siancu jangan terlalu lekas memuji
pinto, jelaskanlah dahulu rahasianya kalau benar siancu
membantu sute tadi, disini terlebih dahulu atas nama partai
Butong Pinto mengucapkan terima-kasih banyak!"
"Boanpe demikian, oleh karena menduga Hong-hoat Cinjin
dalam babak kedua itu pasti akan kalah, maka boanpe
sengaja bertindak demikian untuk menunjukkan dimata umum,
seolah-olah tindakan boampe tadi adil, bahkan kalau
diperhatikan memang ada sedikit condong membela kepada
pihak lawan, agar Pek kut
Siancu mendadpat kemenangan! Tetapi segala daya upaya
boanpe berusaha dalam pertandingan babak kedua ini, guna
menanamkan sesuatu untuk merebut kemenangan bagi Hong-
hoat Cinjin dalam pertandingan babak ketiga nanti! Benar saja
usaha boanpe tadi berjalan lancar, sehingga kawanan
penjahat yang licik dan banyak akal muslihatnya itu, ia barang
sedikitpun tidak mengetahuinya!"
Semua yang mendengarkan perkataan itu, masih tetap
keheran-heranan dan tidak mengerti akal apa yang digunakan
oleh Hwa Jie Swat hingga dapat menanam dasar dalam
pertandingan babak kedua agar Hong-hoat Cinjin dalam
babak ketiga nanti bisa merebut kemenangan.
Tapi ketika pandangan mata Tiong-sun Seng sekilas lintas
tertumbuk kepada pot batu kumala warna ungu yang berada
ditangan It-pun Sinceng dan tanaman pohon Lengci yang
berada dalam pot itu, tiba-tiba hatinya tergerak, maka saat itu
sadarlah ia dan lalu berkata: "Sekarang aku mengerti!
Barangkali pada waktu Hong-hoat Cinjin menyedot araknya,
diam-diam kau telah menaruh setetes getah Lengci yang
usianya sudah ribuan tahun ini!"
"Suhu memang lihay. Swat Jie sudah berusaha sekuat
tenaga supaya jangan ada yang tahu, tetapi ternyata tidak
dapat juga mengelabui mata suhu?" Menjawab Hwa Jie Soat
sambil memberi hormat dan tertawa.
"Tindakanmu seperti ini, menunjukkan bagaimana
kecerdikanmu. tadi jikalau aku bukan sepintas lalu melihat pot
ditangan It-pun Sinceng dan tanamannya pohon Lenci, juga
belum tentu dapat menduga perbuatanmu ini. terhadap
usahamu yang mempersilahkan Pek-kut Siancu menyedot
arak lebih dahulu, dengan kecepatan mana kau dengan diam-
diam sudah memasukkan getah Lengcie, sampai-sampai
seorang licik seperti Khie tay Cao juga tidak menaruh curiga
barang sedikitpun. Setelah Pek kut Siancu mempersilahkan
Hong-hoat Cinjin yang meminumnya dahulu, tindakanmu itu
semakin lebih benaran kelihatannya!"
Semua orang yang telah mengetahui akal yang dikeluarkan
oleh Hwa Jie Swat tadi, dalam hati lantas merasa lega, dan
memuji tidak berhentinya terhadap Hwa Jie Swat yang sangat
cerdik itu. Sementara itu Hwa Jie Swat sudah merapikan pakaiannya
dan memberi hormat kepada pelindung dalam Siao lim sie
Ceng Kak Siansu dan hendak mengucapkan sesuatu.
Ceng Kak Siansu sudah mengerti maksud Hwa Jie Swat,
terlebih dahulu berkata sambil menggoyangkan tangannya
dan tertawa: "Hwa siancu, harap sekali-kali jangan pikirkan
urusan kematian Lok Kiu Siang, semua kejadian yang telah
lalu, tidak perlu kita ungkat-ungkat lagi! terutama akalmu yang
kau tunjukkan hari ini, terhadap usaha kita untuk menegakkan
keadilan dan kebenaran, besar sekali faedahnya, maka hari ini
lolap mendoakan supaya kau bersama It-pun Sinceng bisa
hidup rukun hingga hari tua!"
Mendengar ucapan Cen Kak Siancu itu Hwa Jie Swat
merasa lega dan ganjalan dalam hatinya selama itu, kini telah
lenyap semuanya, maka dengan wajah berseri-seri ia duduk
berkumpul bersama Tiong-sun Hui Kheng dan Hee Thian sian
untuk beromong-omong. Tiong-sun Seng sudah berkata dengan suara perlahan
kepada It-pun Sinceng: "Taysu benar-benar cerdik, muridku itu
sudah berdiam beramamu untuk mempelajari ilmu Budha,
sudah mendapat banyak perobahan yang sangat berfaedah
baginya." It-pun Sinceng yang mendengar ucapan itu wajahnya agak
kemerah-merahan, ia tidak dapat menjawab, hanya dengan
pandangan matanya ia tujukan kearah medan pertempuran
yang disana sedang berlangsung pertandingan mengadu
kekuatan tenaga dalam antara Hong-hoat Cinjin dan Pek Kut
Siancu yang pada saat itu masih belum diketahui siapa yang
lebih unggul, maka ia mengalihkan pembicaraanya kesoal lain:
"Pemimpin partai Butong meskipun sudah minum getah
Lengci yang usianya sudah ratusan tahun, sehingga kekuatan
tenaga dalamnya bertambah banyak, tetapi jikalau mengadu
kekuatan terlalu lama, masih akan menganggu dirinya.
Apakah tidak lebih baik kalau locianpe minta kepada Pek Kut
Thian kun atau Khie Tay Cao untuk membatasi waktunya?"
Hong Kong Totiang yang mendengar ucapan itu, juga
berkata kepada Tiong Sun Seng: "Suteku itu, meskipun
mengandalkan ilmunya Yang Singkang dan sudah minum
getah Lengci pemberian Hwa Siancu, rasanya tiak dapat
bertahan dalam waktu yang lama tanpa tak terkalahkan!
Lawannya memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat
hebat, untuk merebut kemenangan barangkali masih agak
sulit. Memang ada baiknya kalau Tiong-sun tayhiap suka
mengadakan perjanjian untuk membatasi waktu, dengan Pek-
kut Thian kun atau KhieTay Cao!"
Mendengar ucapan itu, Tiong-sun Seng lalu menggunakan
ilmunya menyampaikan suara kedalam telinga, berkata
kepada Pek-kut Thian kun dan Khie Tay Cao: "Pek Kut Thian
kun dan Khie ciangbunjin, apakah kita tidak perlu mengadakan
pembatasan waktu dalam pertandingan mengadu kekuatan
tenaga antara ketua Butong dengan Pek Kut Siancu ini"
Sebab apabila pertandingan antara mereka itu berlangsung
secara demikian terus menerus, seandai harus memakan
waktu sampai dua hari dua malam, bukankah akan
mengganggu acara yang lainnya?"
Pek-kut Thian kun yang mendengar ucapan itu, menjawab
dengan nada suara dingin: "Tiong-sun Seng, kau tak usah
cemas, dalam waktu setengah jam aku tanggung Hong-hoat
Cinjin pasti akan dihancurkan oleh ilmu Pek Kut Hian kang
dari Pek kut Siancu!"
Tiong-sun Seng diam-diam memaki Pek-kut Thian kun
yang terlalu sombong. Ia hanya tertawa dingin saja tidak
menjawab, kemudian ia berkata kepada Khie Tay Cao:
"Khie Ciangbunjin, setelah kita mengadakan pertandingan
beberapa babak, kini cuaca perlahan-lahan sudah mulai gelap
dan kapankah pihakmu dapat menyediakan santapan
malam?" "Nanti jam 5 sore kita boleh beristirahat sebentar dan kita
bersama-sama makan malam, sehabis makan malam kedua
pihak dapat melanjutkan pertandingan lagi!" Menjawab Khie
Tay Cao. "Mengenai urusan Ceng-thian-pay kali ini, kau meskipun
selaku pemimpin, tetapi belum tentu dapat bertanggung-
jawab, sebaiknya tanyakan saja pada kedua pelindung
hukummu Pe-kut Thian-kun?"
Pek-kut Thian kun tahu benar kekuatan tenaga dalam Pek-
kut Siancu, maka ia anggap sebelum jam 5 sore pasti dapat
merebut kemenangan, maka ia juga menjawab: "Tiong-sun
Seng, mengapa kau harus mengadu domba" Sudah tentu
sebagai ketua, Khie Ciangbunjin bisa bertanggung-jawab.
Apabila ketua Butong Hong-hoat Cinjin dapat bertahan sampai
jam 5, tanpa didorong oleh ilmu Pek-kut Siangkang dari
sumoyku Pek-kut Siancu, dalam pertandingan ini hitung saja
seri!" Sehabis berkata demikian, ia lalu menggunakan ilmunya
menyampaikan suara kedalam telinga kepada Pe-kut Siancu
yang sedang bertanding dengan Hong-hoat Cinjin: "Sumoy,
aku sudah mengadakan perjanjian dengan Tiong-sun Seng,
begitu santapan malam disiapkan, kedua belah pihak harus
sudah berhenti! Kau harus menggunakan seluruh kekuatan
tenagamu, sebelum jam 5 nanti, kau sudah harus berhasil
mendorong orang ini keluar dari kalangan, supaya nama baik
Butongpay tersapu bersih."
Pada saat Pek-kut Thiankun memberi instruksi pada Pek-
kut Siancu, dari pihak Tiong-sun Seng juga menggunakan
ilmunya menyampaikan suara kedalam telinga, sudah berkata
kepada Hong-hoat Cinjin: "Lawan Cinjin sesungguhnya
memiliki kekuatan tenaga dalam terlalu tinggi, dalam
pertandingan ini harap Cinjin berusaha sekuat tenaga, dan
bisa berakhir seri sudah cukup, jangan sekali-kali mencoba
merebut kemengangan dengan menempuh bahaya. Arak yang
kau sedot tadi, didalamnya terdapat setetes getah pohon
Lengci, ditambah lagi dengan ilmumu Ci Yang Sinkang Tay
hoan Cinlek, apabila Cinjin menggunakan baik-baik, sudah
cukup untuk bertahan, tidak sampai terkalahkan. Asal Cinjin
bisa bertahan sampai jam lima sore ini, begitu santapan
malam dimulai, kedua pihak lantas dinyatakan dalam keadan
istirahat, setelah makan malam selesai, akan diadakan
pertandingan lagi yang akan diikuti oleh orang lain."
Hong-hoat Cinjin sejak menyedot araknya itu, juga sudah
merasakan bahwa dalam araknya ada bau sangat aneh. Dan
yang mengherankan baginya ialah, kekuatan tenaga
dalamnya dengan tiba-tiba bertambah, semangatnya
terbangun. Kini setelah mendengar ucapan Tiong-sun Seng,
baru tahu bahwa didalam arak tadi ternyata sudah dicampuri
dengan getah pohon Lenci yang sulit didapatkan. Hingga
diam-diam ia merasa berterima-kasih kepada Tiong-sun Seng
dan Hwa Jit Swat Ia menurut pesan Tiong-sun Seng, tidak berusaha untuk
merebut kemenangan, hanya berusaha untuk bertahan jangan
sampai terkalahkan, oleh karenanya maka ia dapat bertanding
dengan tenang dengan kekuatan tenaga dalam yang ada,
untuk menahan serangan pihak lawan yang dilancarkan
bertubi-tubi. Oleh karena dalam babak kedua tadi, Pek-kun Siancu
sudah mengetahui bahwa ilmu Hiankannya jauh lebih kuat dari
pada lawannya, maka setelah mendengar pesan Pek kut
Thian kun, diam-diam mentertawakan twakonya itu terlalu
pandang tinggi kepada lawannya, ia sudah menganggap
bahwa Hong-hoat cinjin sudah pasti tidak akan sanggup
bertahan sampai jam 5 sore.
Diluar dugaannya, setelah berkali-kali melancarkan
serangannya, ternyata tidak berhasil, ia baru merasakan
keadaan ada perubahan, kekuatan tenaga dalamnya
meskipun tidak memberi ancaman berat bagi dirinya tetapi
walau bagaimanapun juga ia menggunakan kekuatan
tenaganya masih belum dapat berhasil juga untuk menggeser
Hong-hoat Cinjin dari tempatnya, sehingga tangan kanannya
juga tidak berdaya lagi untuk menggeser maju barang
setengah dim lagi saja. Dalam keadaan marah, Pek kutSiancu menambah
kekuatan tenaga dalamnya lagi sehingga melampau batas
yang ada, ilmunya Pek kut Hiangkang dikerahkan seluruhnya,
bagaikan ombak sungai Tiangkan mendorong terus ia
lancarkan serangannya itu bertubi-tubi, berusaha hendak
mendorong Hong-hoat Cinjin keluar dari lingkarannya, atau
menghancurkan tubuhnya. Sudah tentu Hong-hoat Cinjin menghadapi lebih berhati-
hati, ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk bertahan terus.
Ia tahu benar bahwa kekuatan tenaga dalam Pek-kut siancu,
memang jauh lebih tinggi dari padanya, jikalau tidak ada
bantuan dari Hwa Jie Swat dengan akalnya, mencampurkan
getah Lengci kedalam araknya, sekalipun ia sudah berhasil
melatih ilmunya Ci Yang Sinkang, hingg kekuatan tenaga
dalamnya bisa digunakan tak habis-habisnya, tapi oleh karena
dalam tubuhnya ia harus menahan tekanan berat, apabila
dilakukan dalam waktu yang lama, pasti terluka parah dan ada
kemungkinan akan hancur bagian dalamnya.
Keadaan demikian itu teru bertahan hingga mendekati jam
lima, kedua-duanya masih berkutet tanpa satupun yang mau
menyerah. Hong-hoat Cinjin pada saat itu sudah nampak
mengucurkan keringat, sedangkan Pek kut Siancu sendiri
nafasnya juga sudah mulai memburu.
Semua orang yang menyaksikan pertandingan pada
mengerutkan alisnya, sementara itu Hong kong Totiang
bertanya kepadad Tiong-sun Seng: "Bagaimana pandangan
Tiong-sun tayhiap" apakah pada akhirnya masih tetap akan
rubuh bersama-sama?"
Tiong-sun Seng berpikir dahulu, baru menjawab: "Oleh
karena sudah ada pembatasan waktu, maka Pek kut Siancu
ingin buru-buru merebut kemenangan. Ia paksa terus
melancarkan serangan dengan seluruh kekuatan tenaganya,
tetapi dari nafasnya yang sudah memburu, rasanya
sudah sampai kepada puncaknya. Menurut pandanganku,
Hong-hoatCinjin yang memiliki kekuatan tenaga tay Hoan
Cinlek Yang sehabisnya mungkin masih dapat menggunakan
kesempatan baik untuk merebut kemenangan!"
Hong-kong Totiang yang mendengar keterangan itu, baru
saja merasa terheran-heran, Hwa Jie Swat yang ternyata lebih
cerdik, sudah berkata kepada Tiong sun Hui Kheng dengan
suara yang sangat perlahan: "Adik Kheng, suhu pura-pura
merasa bangga, ia sengaja berbicara dengan suara nyaring,
supaya didengar oleh orang-orang dari Ceng Thian. Mereka
pasti tertipu oleh akalnya itu, hingga bahaya yang akan
dihadapi oleh Hong-hoat Cinjin juga akan segera lenyap!"
Dugaannya itu ternyata jitu seluruhnya. Ucapan yang
dikeluarkan oleh Tiong-sun Seng sudah didengar oleh Pek kut
It su. Ternyata, Pek kut It su yang sifatnya kejam, diam-diam
telah melihat Hong-hoat Cinjin dibawah serangan bertubi-tubi
dari adik seperguruannya yang ketiga, meskipun akibatnya
sudah mandi keringat, tetapi badannya sedikitpun belum
bergerak, hingga diam-diam merasa heran. Oleh karena itu,
maka secara diam-diam pula sudah pasang telinga untuk
mencuri dengar ucapan dari pihak lawan.
Ia tidak tahu bahwa usaha itu ternyata digagalkan oleh
Tiong-sun Seng yang lebih cerdik. Tiong-sun Seng dengan
berpura-pura merasa bangga dan mengucapkan perkataan
demikian dengan suara keras, hingg semua itu sudah
didengar oleh Pek kut It Su.


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pek kut It su belum tahu bahwa Hong-hoat Cinjin meskipun
sudah memiliki kekuatan tenaga dalam Tay hoan Cin-lek,
tetapi itu masih belum berarti besar baginya, ketika
mendengarkan Tiong-sun Seng, diam-diam terkejut, ia juga
berunding dulu dengan Pek-kut Thian-kun, Khie Tay cao,
sudah menggunakan ilmunya menyampaikan suara kedalam
telinga, berkata kepada Pek-kut Siancu yang sedang
berusaha keras untuk menjatuhkan lawannya: "Sumoy awas,
aku tadi sudah mendapat keterangan, bahwa Hong-hoat Cinjin
sudah memiliki ilmu Tay-hoan Cin-lek yang dapat
menyalurkan kekuatan tenaga dalam tidak habis-habisnya,
kau sekali-kali jangan berlaku gegabah, sehingga tertipu oleh
lawanmu!" Pek-kut Siancu sendiri yang waktu itu sedang terheran-
heran oleh kekuatan tenaga dalam Hong-hoat Cinjin, ketika
mendengar ucapan itu juga terkejut, ia sengaja mengurangi
tekanannya dengan ilmunya Pek-kut Hiankang.
Hong-hoat Cinjin sementara itu yang merasa tekanan
berkurang, kekuatan tenaga dalamnya Tay hoan cin-lek
kembali tumbuh tidak habisnya juga dapat menggunakan
kesempatan itu untuk bernafas lega.
Pek-kut Sianju yang sangat lihay, dengna percobaannya
mengurangi tekanannya tadi, benar saja segera sudah
mengetahui bahwa lawannya itu benar-benar ada melatih ilmu
kekuatan tenaga dalam Tay hoan Cin-lek, maka lalu berkata
sambil tertawa dingin: "Ketua Bu-tong, aku si nenek tua masih
belum menduga bahwa kau ternyata sudah memiliki ilmu Tay
hoan Cin-lek!" Pikiran Hong-Hoat Cinjin mulai tenang, ia berkata sambil
tersenyum: "Meskipun pinto sudah berhasil melatih ilmu Tay-
lian cin lek, tetapi masih sangat cetek, hanya dapat digunakan
untuk membela diri, tidak berdaya untuk memenangkan
Siancu! Sebaiknya kita berhenti samapi disini saja, ataukah
terus berlangsung hingga jam lima!"
Pek-kut Siancu tadi karena sudah mengerahkan seluruh
kekuaatan tenaganya, namun masih belum berhasil
menjatuhkan lawanya, maka dalam hati juga merasa jeri,
ketika mendapatkan usul itu, lalu mengangguk-anggukkan
kepala seraya berkata: "Kalau kita memang sudah mendapat
keputusan, perlu apa harus dilangsungkan hingga jam lima"
Baiklah kita sekarang sama-sama keluar dari batas lingkaran
masing-masing!" Sehabis berkata demikian, masing-masing lalu menarik
tangannya dan lompat keluar dari kalangannya sendiri-sendiri,
setelah itu kembali kerombongannya masing-masing.
Hong-hoat cinjin begitu kembali kerombongan tempat
duduknya, pertama-tama memberi hormat kepada Hwa Jie
Swat, guru dan murid itu.
Tiong-sun Seng dan Hwa Jie swat buru-buru memberi
hormat, setelah itu Hong-hoat Cinjin baru berpaling dan
berkata kepada suhengnya Hong kong Totiang: "Jikalau tidak
mendaki gunung Tay san, kita tidak tahu betapa luasnya dunia
ini! Sedikit kepandaian ilmu yang siaote dapatkan jikalau
bertemu dengan orang yang memiliki kepandaian benar-
benar, sesungguhnya tidak berarti apa-apa! Kali ini begitu kita
pulang kegunung Butong, bersama-sama Suheng dan sute,
kita boleh menutup selama tiga tahun untuk memperdalam
ilmu kita masing-masing, tidak lagi akan mencampuri urusan
luar!" Tiong-sun Seng yang mendengar ucapan itu
menganggukkan kepala, tetapi siapapun menduga bahwa
pikiran manusia, kadang-kadang seperti apa yang sudah
digariskan oleh Yang Maha Esa. tak lama kemudian setelah
ditutupnya pertemuan berdirinya partai baru Ceng-thian-pay,
kuil Sam goan koan diatas gunung Butong, lantas mengalami
bencana hebat. Khie Tay cao yang menyaksikan Pek-kut Sianjin dan Hong-
hoat Cinjin sebelum batas waktu telah menarik kembali tangan
masing-masing, lalu memerintahkan anak buahnya untuk
menyediakan perjamuan malam. Sewaktu hari menjadi gelam,
tempat sekitar depan goa itu diterangi dengan sinar pelita,
hingga keadaannya terang benderang.
Dari rombongan pihak tetamu, diwaktu perjamuan
berlangsung, sambil makan minum mereka merundingkan
rencananya untuk menghadapi musuh-musuhnya sehabis
makan nanti. Tiong-sun Seng berkata sambil tertawa: "Dipihak lawan,
kecuali laki-laki berkulit hitam dan mirip dengan sepasang
manusia berbisa dan 2 manusia kate dari negara timur, masih
ada Pek kut Thian kun, Pek kut Ie su dan Khie Tay Cao sendiri
yang masih belum turun tangan.
Ketua partai Ngobie pay It Hian Hian Sianlo berkata sambil
tertawa: "Tentang diri Khie Tay Cao sendiri sebenarnya tidak
perlu ditakuti, aku sinenek tua, atau suami-istri Peng-pek Sin
kun atau kedua sianse dari partai siaolim, siapa saja
diantaranya juga sudah cukup untuk menghadapinya!
Sebaliknya adalah Pek kut Sam mo, memang bukan nama
kosong belaka, diantara mereka bertiga, yang paling lemah
adalah Pek kut Siancu, tetapi toh pihak kita Hong-hoat Cinjin
masih belum sanggup menjatuhkannya, sedangkan Pek-kut
Thian kun dan Pek kut Ie su berdua, sudah tentu lebih hebat
daripadanya, walau Tiong-sun Tayhiap memiliki kepandaian
yang sangat tinggi sekalipun, barangkali juga tidak akan
sanggup sekaligus untuk menghadapi dua musuh tangguh
itu!" Dengan tiba-tiba Tiong-sun seng mengawasi It-put
Sinceng, kemudian berkata kepadanya: "Didalam dunia
kangouw, taysu selamanya suka menjadi orang pertengahan,
belum pernah campur tangan untuk bertempur dengan orang
lain. Bagaimana kalau hari ini mengadakan pengecualian satu
kali saja?" Lebih dahulu It-pun Sinceng memuji nama Budha,
kemudian berkata: "Kali ini locianpe mungkin sudah salah
mata. Kepandaian yang tidak berarti dari pinceng ini, mana
mungkin dapat direndengkan dengan salah seorang saja dari
Pek-kut Sam mo?" "Taysu tidak perlu sembunyikan kepandaian sendiri, tadi
kau dengan mengandalkan seutas selendang sutera Hwa Jie
Swat, dapat melayang turun dari tempat setinggi beberapa
puluh tombak, apakah itu tidak dapat diartikan sebagai orang
yang memiliki kepandaian tinggi?"
"Pinceng, kecuali lmu meringankan tubuh yang masih boleh
juga, atau ilmu menjaga diri, yang rasanya masih boleh
diandalkan, untuk menghadapi lawan kuat seperti Pek-kut
Thian kun, rasanya hanya sanggup melayani pukulannya, tiga
atau lima puluh jurus, tetapi kalau suruh pinceng menghajar
orang, sedikitnya belum pernah mempelajari ilmu itu..."
Hee Thian Siang yang ingin sekali melawan Pek-kut Thian
kun, ia kuatir lawan itu akan diberikan kepada It-pun Sin-ceng
yang menghadapinya, maka lalu buru-buru berkata: "Begini
saja, sebentar aku dengan Taysu turun kelapangan bersama-
sama, untuk menantang pada Pek-kut Thian kun. Biarlah
suruh dia menghajar kau dan aku yang menghajar kepadanya!
It-pun Sinceng mengawasi Hee Thian Siang sejenak,
kemudian berkata sambil tersenyum: "Usul Hee laote ini,
sesungguhnya sangat bagus sekali. Tetapi Pek-kut Thian kun
belum tentu dapat menyetujui suatu pertandingan yang sangat
aneh dan belum pernah ada dalam rimba persilatan ini!"
Tiong-sun Seng dengan tiba-tiba berkata sambil tertawa:
"Kawanan iblis seperti Pek-kut Thian kun itu, kebanyakan
memiliki sifat yang aneh sekali. Seringkali pertandingan yang
semakin aneh luar biasa, kadang-kadang semakin mudah
diterima! Usul Hee hiantit ini, sebentar boleh dicoba!"
Usul yang diajukan oleh Hee Thian Siang itu, ketika tidak
disetujui oleh It-pun Sinceng, ia merasa agak kecewa, tetapi
setelah mendengar tiong-sun Seng menyetujuinya, ia lalu
merasa sangat girang. Hwaw Jie Swat juga berkata kepada Hee Thian Siang:
"Adik Siang, tak kusangka permainan yang kau pikirkan
ternyata lebih aneh daripada permainan yang pernah
kupertunjukkan!" Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu lalu berbisik-
bisik disamping telinga Hwa Jie Swat: "Enci Hwa, ilmu
membela diri It-pun Sincengmu itu, sebetulnya sampai
dimana" Pek-kut Thian kun adalah seorang yang sangat
hebat, perlukah kiranya aku memberikan petunjuk kepadanya
dua jurus ilmu menjaga diri yang baru dapat kupelajari?"
"Adik Siang hendak memberi petunjuk ilmu menjaga diri
bagaimana?" Bertanya Hwa Jie Swat sambil tertawa.
Hee Thian Siang berpikir dulu, kemudian baru menjawab:
"Aku pikir hendak memberi petunjuk kepadanya pelajaran ilmu
yang dinamakan menolong sesama yang susah dan bunga
mawar berterbangan!"
"Nama dari gerak ini, sesungguhnya sangat aneh. Biarlah
kupanggil dulu dia kemari, untuk menanyakan sendiri
kepadanya suka menerima atau tidak?"
Sehabis berkata demikian, ia lalu menggapai kepada It-pun
Sinceng dan berkata kepadanya sambil tersenyum:
"Peruntunganmu datang, adik Siang taku kau akan terluka
terkena pukulan Pek-kut Thian-kun, ia hendak memberi
petunjuk dua jurus ilmu menjaga diri kepadamu!"
It-pun Sinceng mengawasi Hee Thian Siang beberapa kali,
lalu berkata sambil tersenyum: "Bagaimana Hee laote dengan
tiba-tiba menaruh perhatian terhadap diriku" Kau hendak
memberi petunjuk ilmu menjaga diri, sudah tentu baik sekali,
pinceng bersedia untuk menerima."
Hee Thian Siang dengan wajah merah buru-buru berkata:
"Harap Taysu jangan kecil hati. Hee Thian Siang bukanlah
seorang yang tidak tahu diri, oleh karena ilmuku menjaga diri
ini, terhadap serangan yang bagaimanapun hebatnya, benar-
benar sangat manjur."
"Nama dari ilmu membela diri itu bolehkah laote
beritahukan lebih dahulu kepadaku?"
"Kesatu bernama Bunga Mawar Beterbangan dan yang lain
bernama..." Begitu mendengar disebutnya nama gerak tipu itu It-pun
Sinceng lantas bertanya: "Gerak Bunga Mawar Beterbangan
itu apakah bukan ilmu ciptaan dari Duta Bunga Mawar ketika
itu, Sian-ceng Kiesu Chie Hiang Pho?"
Kali ini adalah gilirannya Hee Thian Siang yang dikejutkan
oleh pertanyaan itu, dengan mata menatap It-pun Sinceng, ia
berkata dengan terheran-heran: "Bagaimana Taysu tahu tiga
jurus gerak tipu Bunga Mawar itu"..."
Belum lagi melanjutkan pertanyaannya, tiba-tiba ia berseru:
"Ooo, aku benar-benar sudah linglung! Taysu dengan Duta
Bunga Mawar, tentunya merupakan sahabat akrab! Jikalau
tidak demikian, sudah tentu Duta Bunga Mawar waktu itu tidak
akan memerintahkanku pergi kelautan Timur untuk minta
getah dari pohon Lenci darimu."
"Hee laote, kau sudah mempelajari tiga jurus ilmu Bunga
Mawar, kalau begitu Duta Bunga Mawar barangkali sudah
tiada, betulkah?" "Bagaimana Taysu dapat menebak dengan demikian jitu?"
It-pun Sinceng menghela napas panjang dan berkata: "Aku
dengan Duta Bunga Mawar memang benar merupakan
sahabat akrab, dahulu dia lantaran sifatku yang suka
mengalah, tidak suka berkelahi dengan orang, maka lalu
menurunkan kepadaku ilmu tiga jurus Bunga Mawar itu, untuk
menjaga diri! Ia bahkan menerangkan bahwa ilmu silat itu
adalah diciptakan olehnya selama hidupnya itu, jikalau belum
tiba waktunya hendak meninggalkan dunia yang fana ini, ia
tidak akan menurunkan kepada orang lain! Sekarang Hee
Laote sudah mendapat warisan ilmu darinya, sudah tentu aku
dapat menduga dengan pasti bahwa ia sudah meninggalkan
dunia ini!" Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lalu
menceritakan semua apa yang terjadi dengan Duta Bunga
Mawar itu, setelah itu ia berkata sambil tersenyum: "taysu
sudah memahami ilmu silat Duta Bunga Mawar, kalau begitu
ucapan Hee Thian Siang tadi terlalu sombong. Aku rasa
sebaliknya malah akulah yang perlu minta petunjuk darimu!"
"Laote tidak perlu merendahkan diri. Kau masih memiliki
semacam ilmu yang ampuh, apakah namanya itu" Bolehkah
kau beritahu?" "Gerak tipu ini juga merupakan suatu ilmu dari keturunan
golongan Budha, namanya menolong sesama yang susah!"
selama ini memang mengandung maksud welas asih
dengan namanya itu, pasti merupakan suatu gerak tipu yang
sangat ampuh. Pinceng merasa sangat beruntung, maka lebih
dulu pinceng ucapkan terima kasih kepadamu!"
Hee Thian Siang buru-buru membalas, ia lalu mulai
memberi petunjuk ilmu yang ia dapatkan dari Thiat-ie Sianjin,
dengna disertai oleh lukisan-lukisan gampar yang dipetakan
dengan sumpit ditangannya.
Setelah It-pun sinceng dapat memahami seluruh ilmu bela
diri itu, perjamuan makan itu sudah selesai. Dibawah
penerangan lampu pelita yang terang-benderang, keadaan
didepan goa Siang-swat-tong kembali nampak gawat.
Dari jauh Hee Thian Siang menampak Pek-thian Sam mo
sedang mengadakan perundingan dengan Khie tay Cao,
agaknya sedang merundingkan siapa-siapa yang harus turun
kelapangan. maka ia lalu berpaling dan mengawasi monyet
kecil Siaopek yang berada disamping Tiong-sun Hui Kheng,
kemudian bertanya kepadanya: "Siaopek, kau lihatlah! Monyet
disamping Pek-kut Siancu itu, bentuknya selisih tidak jauh
denganmu, kepandaiannya juga hebat. Apakah kau juga suka
turun kelapangan untuk bertanding dengannya?"
Siaopek yang memang bersifat
sombong, apalagi mendengar kata bahwa Pek-kut Siancu juga memelihara
seekor monyet yang sangat cerdik, maka ketika mendengar
pertanyaan itu, lalu berkali-kali bersiul perlahan berulang-
ulang didepan Tiong-sun Hui Kheng.
Tiong-sun Hui Kheng tahu bahwa monyet peliharaannya itu
sedang minta izin kepadanya untuk turun kelapangan, lantas
mengelus-elus kepalanya dan memberi pesan kepadanya
supaya bertempur dengan sungguh-sungguh, jangan sampai
menghilangkan muka tuannya.
Siaopek yang mendengar pesan Tiong-sun Hui Kheng,
merasa sangat girang, saat itu segera turun kelapangan


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

meminta bertempur. Caranya ia turun kelapangan, agak mengejutkan semua
orang yang ada disitu, sebab Siaopek bukannya lompat
melesat kelapangan, juga bukan merayap sebagaimana
bangsa kera lazimnya, melainkan berdiri bagaikan manusia. Ia
berjalan sambil membusungkan dada, setapak demi setapak
berjalan menuju ketengah lapangan.
Dalam pertandingan Pek-kut Sam mo dengan Khie Tay
Cao, talah menganggap bahwa Butong pay baru saja kembali
kerombongannya, sedangkan yang lain orang-orang dari pihak
partai Siaolim, Swat-san, Ngobie dan Lohu, sekalipun ada
orang yang kepandaiannya dapat mengimbangi Khie Tay Cao,
tetapi kekuatan tenaganya pasti selisih jauh. Selagi Khie tay
Cao hendak turun kelapangan sendiri untuk merebut
kemenangan beberapa babak, supaya mengharumkan nama
partainya dan supaya Tiong-sun Seng segera bisa dihadapkan
kepada Pek-kut Thian kun atau Pek-kut Ie su, ditengah
lapangan tiba-tiba muncul seekor kera putih, yang kemudian
disusul oleh ucapan Hee Thian siang: "Pek-kut Siancu, kita
hendak mengadakan pertandingan binatang peliharaan kita.
Apakah monyet putih peliharaanmu berani menyambut
tantangan monyet kami?"
Oleh karena monyet putih peliharaan Pek-kut Sianju itu
juga sejenis monyet yang sangat cerdik dan bertenaga besar,
maka ketika Pek-kut Siancu mendengar ucapan itu, segera
menggapai monyetnya dan memerintahkan kepadanya
supaya turun kelapangan untuk menghadapi lawannya.
Kera putih itu baru saj lompat meleat menuju kelapangan,
go Eng yang duduk disampingnya tiba-tiba berkata kepada
pek-kut Siancu: "Siancu harus pesan kepada binatang
peliharaanmu ini, supaya berlaku hati-hati. Pihak lawan ada
memakai rompi emas, rompi emas itu adalah peninggalan Tay
piat Siangjin, barang pusaka itu dahulu dinamakan Sisik Naga
pelindung jalan darah, yang kemudian dibuat rompi oleh
majikannya, sekalipun duru berbisa Thian Kheng, juga tidak
bisa menembusi!" Ucapan Go eng itu, bukan saja diluar dugaan Pek-kut Sam
mo, tetapi juga menarik perhatian tamu Khie Tay cao dari
daerah luar perbatasan, hingga semua mata lantas ditujukan
pada rompi emas ditubuh Siaopek.
Selagi Pek-kut Siancu hendak memperingatkan pada
monyet peliharaannya, Siaopek dengan sikap sombongnya
perlahan-lahan sudah membuka rompi emasnya yang dapat
dibanggakan itu. Ketika monyet Pek-kut Siancu sudah berada ditengah
lapangan, rompi wasiat yang dipakai oleh Siaopek, juga sudah
dilepaskan dan dilemparkan ditanah.
Dua binatang kera itu berdiri berhadapan, masing-masing
menunggu kesempatan baik untuk melancarkan serangan.
Pertandingan itu merupakan suatu pertandingan istimewa,
hingga bukan saja menarik, juga mengherankan semua
penonton. Sebab bentuk badan dua ekor kera itu, hampir mirip
satu sama lainnya. Bedanya hanya pada sepasang mata
Siaopek merah seperti bara, adalah monyet piliharaan Pek-kut
Siancu matanya hitam jengat.
Pek-kut Siancu sendiri ketika menyaksikan sepasang mata
Siaopek, diam-diam juga merasa heran, ia pikir bahwa
monyetnya sendiri itu sifatnya galak dan buas pada waktu
biasanya tidak perduli bertemu dengan binatang yang
bagaimanapun buasnya, selalu menggeram lantas diserbu
dengan cengkeramannya, tetapi hari ini ketika bertemu
dengan monyet sejenisnya, bagaimana sebaliknya malah
menunjukkan sikap takut"
Sementara itu Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan
keadaan demikian lalu berkata kepada Hee Thian Siang yang
waktu itu menunjukkan sikap sangat tegang: "Adik Siang, kau
jangan kuatir. Dalam pertandingan ini, Siaopek pasti bisa
merebut kemenangan!"
Hee Thian Siang tahu bahwa Tiong-sun Hui Kheng
mengenal baik sifat berbagai binatang, mendengar ucapan itu
lalu bertanya: "Berdasar atas apa enci dapat mengatakan
demikian" Aku lihat dua ekor kera itu mirip benar satu sama
lain!" "Dalam dunia ini ada banyak hal yang kadang-kadang
terjadi secara kebetulan. Dua ekor kera ini, berasal dari
serumpun bangsa. Tetapi sepasang mata Siaopek merah
bagaikan bara, ini suatu tanda bahwa kera sejenis ini lebih
tinggi kecerdikkannya. Sedang kera milik Pe-kut Siancu,
sepasang matanya hitam jengat, ini suatu tanda bahwa latihan
ilmunya belum seberapa matang, maka itu, ketika kera tadi
berhadapan dengan Siaopek, lantas menunjukkan sikap
takut!" Baru saja Hee Thian Siang menganggukkan kepala, dua
ekor kera putih dalam kalangan sudan mulai bertempur,
mereka bertempur sengit sambil bersuitan tidak hentinya.
Pertempuran ini sudah tentu berbeda dengan pertempuran
antara manusia, sebab dua ekor kera kecuali menggunakan
kuku-kukunya yang tajam mencakar, tetapi juga telah
mengeluarkan kepandaian masing-masing yang dapat mereka
pelajari dari majikannya sendiri, dari situpun dapat
dilihatbetapa tinggi kepandaian majikan mereka masing-
masing. Pertempuran antara binatang itu berlangsung semakin
sengit. Dua ekor kera itu sama-sama mengerahkan ilmu
meringankan tubuh masing-masing yang luar biasa, hingga
semua orang hanya nampak berkelabatnya segumpalan
bayangan putih, tidak tahu bagaimana mereka mengadakan
pertempuran. Semua orang yang menyaksikan pada tertarik, terutama
orang aneh berkulit hitam dan orang kate yang berpakaian
aneh. Mereka pada berhenti minum, lalu turun kebawah
panggung, berdiri dipinggir lapangan, menonton dengan
penuh perhatian. Halaman 32~35 hilang... "Hee Thian Siang hanya ingin tanya kepada Ciangbunjin,
dua manusia yang merampok bendad milik kera putih kami
tadi dan yang kemudian turun tangan kejam menyerang lagi
kepadanya, apakah perbuatan itu sesuai dengan peraturan
dalam rimba persilatan?"
Muka Khie tay Cao menjadi merah ditanya demikian, ia
memaksa diri untuk tertawa, kemudian berkata: "Kedua tuan
tadi adalah tetamu kami yang datang untuk menghadiri
upacara berdirinya partai baru ini, bukan orang dari golongan
Ceng-thian-pay. Sekalipun perbuatannya itu tidak dapat
dibenarkan, tetapi Khie Tay Cao juga tidak bisa memikul
tanggung-jawab atas perbuatan mereka!"
"Khie Ciangbunjin, kau benar-benar mau lepas tangan
seenaknya saja. Tetapi, manusia yang tidak tahu malu seperti
mereka itu, duduk sebagai tamu agung dari partaimu, sudah
lama disini makan minum, toh tidak mungkin jikalau
Ciangbunjin tidak mengetahui asal-usul dan nama mereka?"
Berkata Hee Thian Siang sambil tertawa dingin.
Khie Tay Cao dibuat kewalahan oleh ucapan Hee Thian
Siang itu, terpaksa menjawab sekenanya.
"Mereka tadi yang satu bernama Hek-nie-kam lo dan yang
lain bernama Kin-jie-long yang mempunyai julukan golok
emas, mereka sama-sama merupakan orang-orang dari
negara luar!" "Ouw! Benar seperti apa yang kami duga, satu adalah
salah satu dari tiga orang kate negara Timur dan yang satu
adalah salah satu dari sepasang manusia aneh berbisa!"
Khie Tay Cao mendengar ucapan Hee Thian Siang yang
ternyata sudah mengetahui asal-usul tiga tetamunya itu,
sesaat juga tampak terkejut, kemudian berkata: "Sahabat she
Hee, kalau sudah tahu siapa diri mereka berdua, seharusnya
mengerti bahwa Khie Tay Cao tidak bisa bertanggung-jawab
atas perbuatan mereka tadi!"
Halaman 38~39 hilang... Pek-kut Thian-kun membenarkan ucapan saudara
seperguruannya, katanya sambil mengerutkan alisnya: "Kecuali Tong It Bong padri aneh itu, dalam rimba persilatan
belum pernah terdengar ada orang lain yang mengunakan
bulu burung sebagai senjata! Jite boleh peringatkan Khie
ciangbunjin, supaya dia suka berlaku hati-hati sedikit
menghadapi senjata aneh itu!"
Pek-kut Ie-su lalu menggunakan ilmunya menyampaikan
suara kedalam telinga, untuk memperingatkan kepada Khie
Tay Cao, bahwa senjata bulu burung berwarna lima itu adalah
senjata ampuh Tong It Bong dahulu yang pernah
menggemparkan dunia rimba persilatan.
Khie Tay Cao yang memang sudah pusing menghadapi
Hee Thian Siang, kini setelah mendengar peringatan Pek-kut
Ie-su, hatinya semakin merasa kuatir.
Dalam keadaan demikian, ia tidak suka banyak bicara
dengan Hee Thian Siang, maka sengaja menunjukkan aksinya
sebagai ketua dari suatu partai, berkata kepada Hee Thian
Siang: "Sahabat Hee, meskipun ilmu silatmu berasal dari
golongan ternama, dan kau juga sudah mendadpat warisan
ilmu menggunakan senjata bulu burung berwarna lima ini yang
dahulu namanya menggemparkan dunia persilatan, tetapi
usiamu masih terlalu muda. Aku Khie Tay Cao tidak suka
dianggap orang sebagai seorang tua yang menghina satu
anak-anak, juga tidak enak untuk main-main dengan orang
yang tidak sama tingatannya, maka bagiku sesungguhnya
merasa agak sulit untuk mengiringi kehendakmu.
Baru saja Hee Thian Siang hendak menjawab, Khie Tay
Cao sudah berkata pula: "Sekarang begini saja, aku dengan
kedudukan sebagai ketua dari partai Ceng-thian-pay, suka
memberi prioritas kepadamu untuk menyerang 3 jurus lebih
dulu, kemudian kita lanjutkan pertandingan sampai 10 jurus.
Kalau setelah 10 jurus masih belum diketahui siapa yang
menang dan siapa yang kalah, hitung seri saja, kedua pihak
mengganti orang untuk mengadakan petandingan selanjutnya,
bagaimana?" Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, ia merasa
girang, karena itu justru yang diharapkan olehnya, sebab ilmu
silat warisan yang didapatnya, semuanya merupakan ilmu silat
yang andal untuk menghadapi segala macam pertandingan.
Hanya patut disayangkan oleh batas usianya yang masih
muda, dalam waktu singkat tentu tidak mudah baginya dapat
menjatuhkan seorang kuat seperti Tay Cao ini. Akan tetapi
ilmu silat yang ia dapatkan dari Duta Bunga Mawar, sekalipun
ia tidak bisa menjatuhkan lawan, tetapi kalau untuk
mempertahankan diri saja masih sanggup.
Oleh karena demikian, maka ia segera dapat menyetujui
usul Khie Tay Cao tadi. Khie Tay Cao yang sudah pernah dibikin pusing oleh
pemuda itu, meskipun diluar masih tampak tenang, namun
dalam hati sesungguhnya masih agak kuatir menghadapi Hee
Thian Siang. Dengan senjata tongkat berkepala burung yang
dibentangkan didepan dada, ia berdiri bagaikan raksasa,
berkata dengan suara nyaring:
"Sahabat Hee, sekarang kau boleh mulai menyerang lebih
dahulu. Dalam tiga jurus, aku Khie Tay Cao tidak akan
membalas!" Hee Thian Siang maju selangkah. Ketika senjata bulu
burungnya itu diangkat tinggi, tidak menunjukkan tanda apa-
apa yang agak aneh, lalu dengan gerakan lambat ditujukan
kedepan dada Khie Tay Cao.
Khie Tay Cao karena mendapat peringatan Pek-kut Ie su
tadi, ia telah menganggap serangan senjata aneh Hee Thian
Siang itu sebagai serangan yang sangat berbahaya.
Oleh karena ia sendiri tidak tahu bagaimana hebatnya
serangan tersebut, maka ia merasa semakin terkejut. Ia telah
bertekad untuk menunggu setelah serangan lawannya datang
dekat dan diadakan perobahan, baru dengan mengandalkan
kekuatan tenaganya sendiri hendak menghadapinya sendiri. Ia
pun telah maklum pula apabila ia kurang hati-hati pasti akan
dijatuhkan oleh lawannya.
Gerak tipu yang digunakan oleh Hee Thian Siang tadi
sebetulnya digunakan secara seenaknya, ia hendak melihat
bagaimana reaksi Khie Tay Cao dalam menghadapi
serangannya yang pertama ini, kemudian barulah dirubah
cepat! Sebab, bagaimanapun juga Khie Tay Cao sudah
sesumbar dihadapan umum bahwa ia hendak memberi
kesempatan kepadanya menyerang lebih dahulu tiga jurus
tanpa membalas, maka untuk sementara ia boleh berlaku
tenang tanpa banyak pikiran.
Kini ketika melihat bahwa bulu burung dalam tangannya
sudah menyentuh senjata tongkat besar yang dilintangkan
didepan dada Khie Tay Cao, namun lawannya itu masih tetap
berdiri, dengan hati merasa girang telapak tangan kirinya
dengan tiba-tiba dibalikkan dengan menggunakan gerak tipu
terampuh dari imu silatnya Bunga Mawar. Sedang tangan
kanannya, dengan disalurkan kekuatan tenaga dalamnya
kepada senjata bulu burung itu digunakan untuk menyerang
tongkat Khie Tay Cao. Selagi Khie Tay Cao pusatkan semua perhatiannya kepada
senjata bulu burung lima warna ditangan Hee Thian Siang
yang diduga akan melancarkan serangan aneh, sedikitpun
tidak menyangka kalau Hee Thian Siang dengan tiba-tiba
menyerang dengan tangan kiri.
Serangan Hee Thian Siang yang dilakukan sepenuh tenaga
itu sudah tentu hebat sekali, sehingga Pek-kut Thian kun, Pek-
kut Ie su maupun Pek-kut Siancu, semuanya juga merasa
sangat kuatir. Masih untung Khie Tay Cao memiliki kekuatan tenaga yang
sangat hebat. Tidak kecewa ia menjadi ketua dari salah satu
partai, ketika dalam keadaan tergesa-gesa dan bahaya
demikian, dengan cepat ia menyedot hawa dan mengeluarkan
suara siulan aneh, kemudian dengan suatu gerakan "burung
terbang keangkasa", lompat melesat sambil membawa
senjatanya yang beratnya lebih dari lima puluh kati itu untuk
mengelakkan serangan tersebut.
Tetapi meskipun dengan susah payah ia dapat


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengelakkan serangan hebat Hee Thian Siang itu, ia tidak
berhasil melindungi senjata tongkatnya dari serangan bulu
burung Hee Thian Siang, hingga senjata yang kasar dan berat
itu tergores dan pecah tepat dibagian tengah-tengahnya.
Halaman 44~45 hilang... itu terlalu keburu nafsu untuk maju menyerang sehingga
kehilangan posisi, dan berbalik harus menghadapi serangan
hebat dari lawannya. Aku benar-benar sangat kuatirkan dia
dapat menghadapi serangan hebat dari senjata tongkat yang
berat itu atau tidak?"
"Ayah tak usah kuatir, adik Siang bisa terbang, ilmu silatnya
"Bunga Mawar Beterbangan" bisa menolong kepadanya buat
lolos dari serangan maut Khie Tay cao itu! atau ia
menggunakan ilmunya "Menolong Sesamanya Yang Susah"
juga dapat memunahkan dengan mudah serangan lawannya
yang hebat itu!" Menjawab Tiong-sun Hui Kheng sambil
tertawa. Baru saja menutup mulut, dalam lapangan dengan tiba-tiba
terjadi perobahan! Ada batok kepala seseorang mengapung
ketengah udara akibat terkena serangan senjata berat Khie
Tay cao tadi, dengan separuh badannya hancur lebur dan
bangkainya berserakan ditanah!"
Orang yang mati konyol itu, sudah tentu bukan Khie Tay
Cao sendiri, juga bukanlah Hee Thian Siang! Melainkan
adalah seorang anak buah partai Ceng-thian-pay yang
melayang, yang tadi berdiri jauh ditepi lapangan.
Kiranya ketika tiga kali serangan Hee Thian Siang tadi tak
berhasil mengenakan lawannya semua, dalam hati merasa
mendongkol dan cemas, sebelum ia balik kembali
ketempatnya, hembusan angin hebat sudah mengancam
batok kepalanya. Lawannya membalas serangan dengancepat, sesungguhnya diluar dugaannya, maka mau tak mau Hee
Thian Siang diam-diam juga merasa terkejut. Semula hendak
menggunakan ilmunya Bunga Mawar Beterbangan, untuk
lebih dahulu lolos dari bahaya sebelum sempat mengambil
tindakan akan tetapi baru saja hendak mengeluarkan ilmunya
itu, hembusan angin hebat sudah dirasakan lagi diatas batok
kepalanya. Kiranya senjata berat yang digunakan oleh Khie Tay Cao
itu meskipun beratnya 50 kati lebih, tetapi sebagian besar
beratnya terletak dikedua sayap dibagian kepala tongkat
kepala burung itu. Oleh karena batang senjata itu sudah tergores oleh senjata
bulu burung Hee Thian Siang, sudah tentu tidak dapat
menahan berat seperti itu, apalagi Khie Tay Cao
menggunakan sepenuh tenaga, maka ketika gagang senjata
itu diputar, gagang tersebut lantas terputus ditengah-tengah,
sepotong masih berada ditangan Khie Tay Cao, sedang
sepotong yang lain, ialah dibagian kepala yang ada bulu
garuda bersama sayapnya sudah melesat dan tepat telah
mengenakan kepala salah seorang anak muridnya sendiri.
Hee Thian Siang untuk sesaat juga dikejutkan oleh kejadian
itu, tetapi kemudian ia segera mengerti apa sebabnya, maka
lantas tertawa terbahak-bahak dan berkata untuk mengejek
Khie Tay Cao: "Khie Ciangbunjin! Anak buahmu ini, tidak usah
disamakan dengan kuda tunganmu Cian-lie-hiok-wa-ceng
yang sudah dikalahkan olehku. Mengapa kau pukul mampus
juga dia yang tidak berdosa itu?"
Bagaimanapun tebal muka Khie Tay Cao, juga sudah
merasa sangat malu. Oleh karenanya, maka ia tidak dapat
menjawab, hanya tertawa sendiri, kemudian sepotong senjata
tongkat yang berada ditangannya disambitkan kepada
kepalanya sendiri. Hee Thian Siang tertawa terbahak-bahak dan berkata:
"Dikemudian hari apabila ada orang yang mengetahui hari ini,
pasti akan membuat syair untukmu yang ditulis dengan kata-
kata: 'Makam ketua partai Ceng Thian pay yang membunuh
diri dengan senjatanya sendiri.'"
Belum habis ucapannya, hembusan angin yang sangat
dingin, tiba-tiba menotok jalan darah bagian dadanya.
Meskipun dilapisan dalam pakaiannya itu sudah memakai sisik
naga pelindung jalan darah sehingga tidak terluka, tetapi oleh
karena hembusan angin terlalu kuat itu, ia masih terdorong
mundur beberapa langkah, sehingga akhirnya perlu disambut
oleh tangan orang. Dalam keadaan terkejut, Hee Thian Siang baru tahu bahwa
orang yang menyerang dirinya itu adalah Pek-kut Ie su,
sedang tangan yang lain telah berusaha merebut senjata
tongkat yang hendak disambitkan oleh Khie Tay Cao kearah
kepalanya sendiri, sedangkan yang menyanggah dirinya tadi
adalah Tiong-sun Seng yang kini berada dibelakang dirinya.
Pek-kut Ie su berkata kepada Tiong-sun Seng sambil
tertawa menyeramkan: "Thian-gwa Ceng mo! Pinto sudah
lama mengagumi nama besarmu, kita antar pulang dulu dua
orang ini, lalu turun kelapangan lagi untuk bertanding, kau pikir
bagaimana?" Tiong-sun Seng menganggukkan kepala dan menjawab:
"Tiong-sun Seng bersedia mengiringi setiap kehendakmu.
Tetapi, kulihat sikap diwajah Khie Ciangbunjin, agaknya
terbakar hatinya oleh karena cemas dan marah, harap Totiang
rawat dulu dia baik-baik!"
Pek-kut Ie su mengawasi Khie Tay Cao yang saat itu
bibirnya sudah hitam dan wajahnya menjadi pucat, lalu
tertawa beberapa kali, kemudian menjawab: "Pinto masih
mengerti sedikit ilmu tabib, sudah tentu dapat menyembuhkan
luka Khie Cianbungjin. Tetapi aku tadi karena merasa
mendongkol pada sikap dan ucapan Hee Thian Siang yang
terlalu nakal, pernah memberi sedikit hajaran padanya. Jikalau
tidak segera diobati, mungkin bisa bahaya bagi jiwanya."
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, sangat
marah, selagi hendak balas memaki, sudah keburu dibawa
pergi oleh Tiong-sun Seng, ditelinganya ia berkata kepadanya:
"Hee hiantit, jangan kau buka mulut dulu! Kau sudah terkena
serangan Pek-kut Ie-su yang sangat lihay, ilmu itu dinamakan
Pek-kut Im-yang-jie."
Melihat sikap Tiong-sun Seng yang demikian cemas, ia
mengerti bahwa orang tua itu tentu mengira dirinya terluka
parah, maka lantas berkata kepadanya dengan suara
perlahan: "Empek tak usah kuatir, Tuhan Allah itu sangat adil,
tidak mungkin melindungi orang jahat. Ilmu jahat sangat
berbisa yang dipergunakan oleh Pek-kut Ie su tadi, sebelum
mengenakan orangnya memang tidak mengeluarkan tanda
atau suara apa-apa, tetapi serangannya tadi justru
mengenakan bagian jalan darah Siaotit yang dilindungi oleh
sisik naga pelindung jalan darah, oleh karenanya maka siaotit
sedikitpun tidak terluka apa-apa.
Tiong-sun Seng yang mendengar keterangan itu, baru
merasa lega hatinya, tetapi setelah ia kembali ketempat
duduknya lantas berkata kepadanya dengan sikap sungguh-
sungguh: "Hee hiantit, tadi ketika kau berhadapan dengan
Khie Tay Cao, bukan saja masih kurang jauh pengalamanmu
untuk menghadapi musuh atau menghadapi perobahan
gerakanmu, sedangkan ucapan-ucapan yang kau gunakan
juga memang benar seperti apa yang dikatakan oleh Pek-kut
Ie su, terlalu nakal. Aku sebagai sahabat baik dari suhumu
dan sebagai ayah dari enci Tiong-sun mu, maka aku hendak
memberi nasehat sedikit kepadamu, selanjutnya didalam
kepandaian ilmu silat kau harus titik beratkan kepada siasat
yang dinamakan tahu keadaan sendiri tetapi juga harus tahu
keadaan lawan! Kau harus tahu umpama enci Hwa Jie Soat
mu ini, sekalipun cerdik dan banyak akalnya, tetapi jikalau
sebelum dia menganut agama Budha, kurasa juga tidak akan
mendapat hasil yang tinggi!"
Hwa Jie Swat yang mendengar ucapan itu lalu bangkit dari
tempat duduknya dan memberi hormat kepada suhunya
seraya berkata: "Ucapan suhu ini memang benar, tecu berjanji
dikemudian hari hendak merobah kelakuan yang sudah-
sudah!" Hee Thian Siang yang pertama kali diberi nasehat oleh
Tiong-sun Seng dihadapan umum meskipun perkataan itu
diucapkan dengan sikap ramah tetapi sedikit banyak
dirasakan agak berat sehingga saat itu selembar wajahnya
menjadi merah membara, keringat dingin mengucur deras.
Tiong-sun Seng yang melihat sikap Hee Thian Siang itu,
lantas menepuk pundaknya dan berkata pula sambil
tersenyum: "Hee hiantit tidak perlu merasa malu, setiap orang
ada mempunyai kesalahan, orang yang masih muda belia
seperti kau ini, sudah berhasil membuat semacam ketua partai
seperti Khie Tay Cao mendapat malu dihadapan orang banyak
juga jarang terdapat didalam rimba persilatan." Sehabis
berkata demikian, kembali berkata kepada It-pun Sinjeng: "It
Taysu, harap berundinglah dahulu dengan Hee hiantit, dengan
cara bagaimana nanti akan menghadapi Pek-kut Thian kun"
Aku hendak turun kelapangan lebih dahulu untuk bertanding
dengan Pek-kut Ie su!"
Setelah berkata demikian, ia lantas terbang melayang
ketengah lapangan untuk menantikan munculnya Pek-kut Ie
su. Hee Thian Siang yang sudah dihibur oleh Tiong-sun Seng
meskipun dalam hati sudah merasa sedikit lega, tetapi masih
agak malu. Tatkala ia berjalan lewat dihadapan Tiong-sun Hui Kheng
dengan tiba-tiba tampak Siaopek yang sudah sembuh
seluruhnya yang saat itu sedang berada dalam pelukan Tiong-
sun Hui Kheng. Hee Thian Siang lalu berkata kepadanya sambil tersenyum:
"Enci Tiong-sun, getah buah Lengci It-pun Sinceng itu, benar
sangat manjur. Kau lihat Siaopek tadi yang terluka demikian
parah tetapi sekarang sudah sembuh seluruhnya!"
Siaopek yang berada dalam pelukan Tiong-sun Hui Kheng
lantas menoleh dan mengawasi Hee Thian Siang, kemudian
dengan suara tidak lampias mengeluarkan kata-kata: "Aku....
sudah... sembuh...!"
Hee Thian Siang heran sekali mendengar Siaopek
mendadak bisa bicara dalam bahasa manusia.
Belum lagi Tiong-sun Hui Kheng menjawab, sudah
didahului oleh Say hankong yang berada disampingnya:
"Siaopek memang seekor binatang yang sangat cerdik,
dibawah didikan enci Tiong-sun mu hampir ia dapat
memahami ilmu silat dan ilmu surat, hampir segala urusan ia
telah tahu semua, hanya tulang-tulangnya masih belum
berubah, sehingga tidak dapat mengeluarkan perkataan
seperti kita! Tetapi karena luka-lukanya tadi justru berada
dibagian tenggorokan, kemudian dengan bantuan getah
pohon Lengci It-pun Sinceng setelah kutambah lagi dengan
beberapa ramuan obat, untuk mengeluarkan tulangnya yang
malang itu sehingga ia berubah menjadi seekor binatang satu-
satunya yang bisa berbicara seperti manusia, ini juga akan
menjadi buah tutur ramai dalam kalangan rimba persilatan
setelah pertemuan berdirinya partai Cengthian pay hari ini!"
Setelah kejadian itu, lenyaplah sebagian rasa menyesal
dalam hati Hee Thian Siang, hingga ia dapat duduk disamping
Tiong-sun Hui Kheng bersama yang lainnya menonton
pertandingan antara Tiong-sun Seng dengan Pek-kut Ie su.
Pek-kut Ie su setelah mengantar Khie Tay Cao kembali
kerombongannya dan mengobati lukanya yakin bahwa apa
yang diucapkan oleh Tiong-sun Seng itu ternyata benar, Khie
Tay Cao oleh karena senjatanya yang terampuh dan terkenal
dirusak oleh Hee Thian Siang, dalam keadaan marah dan
malu, sehingga hampir membawa keadaan paling buruk bagi
jiwanya. Lalu buru-buru menggunakan obat manjurnya untuk
menyembuhkan dan menghiburi dulu dengan beberapa patah
kata kepadanya. Khie Tay Cao setelah minum obat Pek-kut Ie su perasanya
mulai agak tenang, tetapi jika ia ingat lagi senjatanya yang
sangat kesohor yang telah membuatnya terkenal oelh
senjatanya itu, ia masih merasa berat dan sayang sekali.
Pek-kut Ie su berkata kepadanya dengan suara perlahan:
Khie Ciangbunjin tak perlu marah, dipihak tamu hari ini ada
berkumpul orang-orang Lo hu, Swat-san dan lima partai besar,
ditambah lagi dengan Tiong-sun Seng dan putrinya, sudah
tentu tidak mudah kita hadapi! Akan tetapi apbila kita
menyimpan tenaga dari orang-orang partai Ceng-thian pay
yang ada, setelah pertemuan ini selesai, lalu kita basmi satu
persatu, bukankah itu lebih mudah?"
"Pendapat Cinjin ini memang benar, Khie Tay Cao sudah
bertekad, setelah pertemuan hari ini selesai lebih dulu ingin
menumpas partai Butong, dan setelah itu juga akan
menumpas anak murid golongan Pak-bin sibocah yang usil
mulit itu Hee Thian Siang." Berkata Khie Tay Cao sambil
menganggukkan kepala. Pek-kut Thian kun yang duduk disampingnya turut bicara
sambil tertawa: "Dua urusan ini, semuanya bukanlah
merupakan persoalan yang rumit, jite berikan dulu pelajaran
kepada Thian-gwa Ceng mo, selanjutnya aku pasti akan turun
kelapangan, aku ingin melihat mereka masih ada memiliki
tokoh pandai darimana yang akan menghadapi" Kita belum
tahu bahwa apa yang dinamakan ketua lima partai besar itu
dan anggota pelindung partai Siaolim, semua tidak bisa lolos
dari srangan ilmu Cat Sim Ciang lek dan Pek-kut sianjiauw
dalam 10 jurus lebih."
Pek-kut Ie su tersenyum, lalu bergerak dan melayang turun
kelapangan. Pada saat itu Tiong-sun Seng juga sudah berada
ditengah lapangan dengan sikapnya yang sangat tenanga dan
tersenyum sedang menantikan kedatangannya.
Pek-kut Ie su menampak lawannya bersikap demikian
tenang, tahu bahwa Thian-gwa Ceng mo bukanlah cuma
seorang yang mendapat nama kosong belaka. Mungkin
adalah lawan satu-satunya yang paling tangguh selama
hidupnya, maka ia juga coba bersikap setenang mungkin,
bertanya kepadanya sambil tersenyum: "Thian-gwa Ceng mo,
kita harus bertempur dengan cara bagaimana?"
"Semua julukan Thian-gwa Ceng mo sudah kuhapus dan
tidak dipergunakan lagi, sebaiknya tuan panggil saja nama
asliku! Sementara mengenai cara pertandingan, oleh karena
kita ini bagaimanapun juga terhitung tokoh-tokoh angkatan


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tua, tidak seharusnya hanya berebut kemenangan saja,
disamping itu kita juga harus memberi teladan baik kepada
orang-orang angkatan muda dalam rimba persilatan!"Berkata
Tiong-sun Seng sambil tertawa.
"Aku tahu bahwa kau mempunyai banyak akal, tak apalah!
Sebutkan saja cara-cara yang kau kehendaki, kukira lebih
aneh dan lebih sulit dari yang ada lebih baik!" berkata sambil
menganggukkan kepala. "Nama Pek-kut Sam mo sudah menggemparkan seluruh
rimba persilatan dan aku Tiong-sun Seng juga sudah boleh
dikata mendapat sedikit nama diantara kawan-kawan, masing-
masing ada memiliki kedudukan dan tingkatan yang hampir
sama. Walaupun aku menyebutkan caranya, juga tidak minta
kemurahan hatimu! Lebih baik kau menyebutkan caranya,
kukira itu sama saja. "Aku tahu kau memang tidak akan ingin senang sendiri, tak
apa, tidak apa-apa! Sebutkan sajalah apa yang kau pikir
paling baik!" "Aku juga ingin meniru cara-cara pertandingan antara Pek-
kut Siancu dengan Hong-hoat Cinjin tadi ditetapkan siapa
yang menang dan kalah semua dalam tiga babak. Kau pikir
bagaimana?" "Jangankan tiga babak, sekalipun seratus atau seribu
babak, pinto juga masih bersedia melayani! Lekaslah
sebutkan cara-caranya!"
"Baik, dalam babak pertama kita bertanding ilmu Hian kang,
babak kedua bertanding kekuatan tangan,..." Berkata Tiong-
sun Seng sambil tertawa, tetapi mendadak berhenti.
Pek-kut Ie su menampak Tiong-sun Seng mendadak diam,
lalu bertanya dengan heran: "Mengapa tidak kau teruskan
lagi?" "Aku pikir, dalam babak ketiga ini sebaiknya diisi dengan
suatu cara yang baru dan agak aneh sedikit!" Berkata Tiong-
sun Seng sambil tersenyum.
"Tadi toh sudah kukatakan, cara-cara pertandingan itu
semakin mengherankan, adalah semakin baik!"
"Aaa... Begini saja bagaimana" Untuk babak ketiga, kita
masing-masing harus dapat menjawab tiga pertanyaan sulit,
tetapi dua diantara tiga buah pertanyaan itu harus menyangkut
dengan kepandaian ilmu sialt!"
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu lalu berkata
kepada Tiong-sun Hui Kheng dengan suara perlahan sambil
tertawa: "Enci, kalian ini benar-benar merupakan suatu
keluarga yang ada menyimpan banyak pertanyaan. Hwa Jie
Swat sudah mengajukan tiga pertanyaan kepada Hie timcu
dari Butong pay, sehingga berakhir dengan kematian imam itu
dengan rela terjunkan diri kedalam sungai! kau mengajukan
tiga pertanyaan kepada Say Han Kong locianpe,
kesudahannya kau dapat menangkan kuda saktinya Ceng-
hong-kie! Dan sekarang empek hendak mengajukan tiga
pertanyaan pula kepada Pek-kut Ie su. coba aku mau lihat,
Pek-kut Ie su pasti akan dibikin pusing setengah mati oleh
beliau!" Baru saja Tiong-sun hui Kheng hendak membuka mulut,
Pek-kut Ie su yang berada ditengah lapangan sudah
membuka suara: "Dengan cara yang kau usulkan ini, memang
agak unik, tetapi apakah tiga pertanyaan itu harus diajukan
oleh kita masing-masing?"
"JIkalau kita yang melakukan tanya-jawab apalah artinya"
Seharusnya dari kedua belah pihak masing-masing dipilih
seorang dari angkatan muda, mereka boleh mengajukan
pertanyaan kepada kita dan menjawab pertanyaan itu dengan
demikian mereka juga akan mendapat faedah yang tidak
sedikit dari situ." Pek-kut Ie su ynag mendengar ucapan itu tersenyum,
kemudian berkata: "Permainan yang kau usulkan ini memang
sangat unik! Tetapi apakah tidak lebih baik kalau kita pilih dulu
orangnya" Dipihakku sini, mempunyaai calon baik, kutunjuk
saja murid adik seperguruanku, Tham Eng sutit yang akan
turun kelapangan untuk mengajukan pertanyaan. Kau henda
menunjuk siapa?" Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lalu berkata
kepada Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa: "Kukira empek
Tiong-sun pasti akan menunjuk enci yang akan turun
kelapangan..." Belum habis ucapan itu, tiba-tiba terdengar suara Tiong-
sun Seng dari lapangan yang menyebut Hee Thian Siang
sebagai jagonya. Hee Thian Siang tampak terperanjat mendengar disebutnya
namanya, ia hampir berseru, lalu berkata kepada Tiong-sun
Hui Kheng: "Empek Tiong-sun barangkali salah alamat."
"Kalian adalah keluarga oraong-orang yang suka sekali
mengajukan pertanyaan, walaupun tidak menunjuk enci
Kheng, juga seharusnya minta enci Hwa Jie Swat yang turun,
barulah benar!" "Kau tahu, ayahku selamanya tidak suka dengan orang
mau menang sendiri, sudah tentu ia harus menghindarkan
jangan sampai menimbulkan kesangsian orang lain, oleh
karenanya maka ia tidak bisa menunjuk anaknya sendiri, atau
muridnya yang turun kelapangan membantu dirinya!
Pendeknya sekarang kau sudah mendapat perintah turun
kelapanagan. Coba aku ingin lihat, kau bisa seperti aku atau
tidak yang bisa menangkan kuda Ceng Hong-kie dari tangan
Say-hue-hong locianpe?" Berekata Tiong-sun Hui Kheng
sambil tertawa. Hee Thian Siang yang tinggi hati, mendengar ucapan itu
lalu berkata: "Enci Kheng, mungkin aku bisa menangkan
sebuah barang yang lebih berharga daripada kudamu Ceng-
hong-kie!" "Oh, kau ingin menangkan benda apa dari Pek-kut Ie su?"
"Setidak-tidaknya aku ingin menangkan nama besar Pek-
kut Ie su yang telah dipupuk hampir setengah abad, kalau
tidak bisa meminta selembar nyawanya!"
Istri Peng-pek Siakun Mao Giong Ceng yang duduk
disamping, ketika mendengar percakapan diatantara mereka
lalu berkata sambil tersenyum: "Cita-cita besar Hee laote
benar-benar sangat mengagumkan, aku hanya mendoakan
agar cita-citamu itu lekas tercapai! sekarang babak pertama akan dimulai, kita
harus memperhatikan jalannya pertandingan. Orang-orang
seperti Tiong-sun tayhiap dan Pek-kut Ie su, kalau bertanding
kepandaian ilmu benar-benar merupakan suatu pertandingan
yang jarang ada, kapan lagi kita mendapat kesempatan baik
seperti ini?" Orang-orang yang mendengar ucapan itu, lalu pusatkan
perhatiannya kemedan pertandingan.
Pada saat itu, Tiong-sun Seng sudah minta kepada orang-
orang anak buah Ceng-thian-pay, supaya menyediakan dua
tong pasir halus dan empat buah batu-bata kualitet yang
terbaik. Sementara itu Pek-kut Ie su hanya berdiri dipanggung
sambil tersenyum-senyum, tidak ambil pusing.
Tiong-sun Seng minta supaya empat puluh buah batu-bata
itu ditumpuk menjadi empat tumpuk, kemudian pasir halus dari
dalam kedua tong itu dituang kedepan empat tumpuk batu
bata yang kira-kira setinggi dua kaki dari tanah, menjadi
bentuk dua gundukan pasir yang puncaknya runcing bagaikan
puncak gunung. Pek-kut Ie su yang menyaksikan keadaan itu, bertanya
kepada Tiong-sun Seng: "Dalam babak pertama ini, kita
bertanding dengan cara bagaimana" Kita berdiri dipuncak
tumpukan pasir itu, ataukah diatas tumpukan batu-bata?"
"Apakah Cinjin anggap bahwa pertandingan dengan cara
ini terlalu biasa" Tidak dapat menunjukkan kepandaian asli
kita masing-masing?" demikian balas bertanya Tiong-sun
Seng. "Berdiri diujung gundukan pasir atau tumpukan bata masih
boleh dibilang terlalu biasa. Tetapi, bagaimana melakukannya,
itu tergantung dari orangnya! Dengan kekuatan dan
kepandaian seperti kau dan aku, sekalipun selembar daun
kering atau setangkai bunga, toh masih dapat digunakan
untuk menunjukkan kepandaian yang aneh-aneh dan
mengejutkan orang. Bukankah begitu?"
"Kalau Cinjin berkata demikian, marilah kita mendaki
tumpukan pasir ini dan masing-masing mencoba mengadu
kekuatan dengan dua tumpukan batu-bata itu!"
Pek-kut Ie su menganggukkan kepala dan tertawa,
kemudian melesat kegundukan pasir sebelah kiri dan berdiri
diujungnya. Tiong-sun Seng juga melesat kegundukan pasir sebelah
kanan, ia memberi hormat kepada Pek-kut Ie su dan berkata
sambil tertawa: "Kita terangkan dulu aturannya pertandingan
kekuatan ilmu Hian kang yang akan dilakukan diatas
tumpukan batu-bata ini, kemudian melakukan pertandingan,
supaya orang-orang dari angkatan muda mudah mengerti, dan
dapat digunakan sebagai teladan!"
"Semuanya pinto serahkan menurut kehendak Tiong-sun
Tayhiap saja, biarlah kulakukan sedapat mungkin!"
Dua tokoh angkatan tua kenamaan itu, belum lagi
bertanding ilmu Hian kang, dalam pembicaraan mereka,
sudah mengagumkan semua orang yang ada disitu, baik dari
pihak tuan rumah maupun dari pihak tamu.
Kiranya, dua gundukan pasir tadi, masing-masing tingginya
duakaki, tetapi karena tertumpuk pasir halus, sudah tentu sulit
untuk menerima tindihan barang berat. Sekalipun selembar
daun ditindih diatasnya, juga sudah cukup untuk
membuyarkan puncak gundukan pasir yang menjulang tinggi
itu. Dan sekarang ada orang yang berdiri diujungnya dan
ternyata sebutirpun tidak bergerak. Ilmu meringankan tubuh
yang mereka unjukkan sudah pada mengejutkan semua orang
yang berada disitu, ditambah lagi mereka malah masih bisa
bercakap-cakap sesuka hatinya, bahkan masih belum
mengerahkan kukuatan tenaga untuk menggempur batu bata,
kegaiban ilmu semacam itu bukankah merupakan suatu ilmu
gaib seperti dalam dongeng saja"
Tiong-sun Seng dengan sikap serius berkata dengan suara
nyaring: "Sekarang kita mulai bertandidng untuk babak
pertama. Aku akan menggunakan telapak tangan bagian
kanan, untuk melakukan tekanan kepada tumpukan batu-bata
itu. Tumpukan batu-bata disebelah kiri, kecuali yang paling
atas masih boleh tinggal utuh, sisanya yakni yang keempat,
keenam, kedelapan dan kesepuluh potong bagian atas harus
hancur lebur, dan bagian bawah masih utuh! Lapisan yang
ketiga, ketujuh dan sembilan, sepotong bagian atas tetap utuh,
sedang bagian bawah harus hancur! Sedangkan tumpukan
batu-bata di sebelah kanan, lapisan kedua, keempat, enam,
delapan dan sepuluh keadaannya justru kebalikan dari
keadaan batu-bata tumpukan sebelah kiri, demikianpun
lapisan kesatu, tiga, lima, tujuh dan sembilan!"
Pek-kut Ie su yang mendengar keterangan Tiong-sun Seng
dapat melakukan dan mencapai tingkatan demikian rupa,
dalam hati diam-diam juga terkejut, tetapi betapapun juga ia
toh tidak boleh menunjukkan kelemahannya dihadapan umum,
maka ia lalu mengerahkan ilmunya Pek-kut Cui Sim ciang dan
berkata: "Aku juga akan menggunakan dua telapak tanganku
ini untuk melakukan tekanan seperti apa yang kau lakukan,
Cuma dari tumpukan batu-bata disebelah kiri, lapisan kesatu,
tiga, lima, tujuh dan sembilan tetap dalam keadaan utuh,
sedangkan lapisan dalam urutan nomor genap harus terlihat
tanda telapak tangan yang sangat nyata. Sedangkan batu-
bata diitumpukan bagian sebelah kanan akan menunjukkan
tanda-tanda serupa, tetapi dalam deretan kebalikkannya."
Semua orang yang mendengar ucapan itu pada
menggelengkan kepala. Kecuali Pek-kut Thian kun seorang,
rasanya Pek-kut Siancu sendiri masih belum sanggup
melakukan itu. Tiong-sun Seng menunggu sampai bicara Pek-kut Ie su
selesai, dua orang sama-sama tersenyum, lalu masing-masing
melakukan seperti apa yang diucapkan tadi, setelah itu lalu
melayang turun lagi ketanah.
Ketika Tiong-sun Seng melayang turun, gundukan pasir
yang tadi diinjaknya masih dalam keadaan seperti semula.
Sebaliknya, ketika Pek-kut Ie su melakukan gerakan tekanan
kepada batu-bata tadi, diujung kakinya telah meruntuhkan
beberapa butir pasir yang diinjaknya, sehingga diwaktu turun
ada lebih banyak lagi pasir yang merosot.
Dari pihak golongan tamu, Hee Thian Siang lebih dulu
menyatakan pikirannya, ia berseru dengan girang: "Empek
Tiong-sun menang!" Tapi ketua partai Butong Hong-hoat Cinjin sebaliknya
berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala: "Menang atau
kalah harus ditilik juga dari keadaan batu-bata yang mereka
tekan, benar serupa yang mereka katakan atau tidak" Jikalau
menurut pandangan pinto, dalam babak pertama ini barangkali
akan berakhir seri!"
Hee Thian Siang baru ingat bahwa Pek-kut Ie su hendak
meninggalkan bekas tanda telapak tangannya diatas
tumpukan batu-bata, memang terlebih sulit daripada Tiong-
sun Seng yang menghancurkan batu-bata, maka ia lantas
diam saja. Beberapa anak buah golongan Ceng-thian pay yang
berada dipinggir lapangan, menampak dua orang susah
selesai bertanding, lalu maju untuk mengadakan pemeriksaan.
Batu-bata itu sepotong demi sepotong diperiksa dengan teliti.
Hasil pemeriksaan itu, benar saja seluruhnya seperti apa
yang dua orang tadi katakan hingga para penonton pada
bersorak sorai memberikan pujian.
Tiong-sun Seng mengawasi batu-bata yang terdapat tanda
telapakan tangan Pek-kut Ie su, lalu berkata kepadanya
sambil menghela nafas, "Kekuatan ilmu Pek-kut Cui Sin Ciang
Cinjin benar-benar sudah mencapai ketaraf yang tertinggi,
Tiong-sun Seng rela mengaku kalah!"
Tetapi Pek-kut Ie su lalu berkata sambil menggelengkan
kepala: "Apa yang kulakukan diatas tumpukan batu-bata itu,
mungkin lebih sulit daripada apa yang kau lakukan, tetapi
Tiong-sun Tayhiap gundukan pasir tempat berdirimu tadi,
sedikitpun tidak terdapat tanda-tanda runtuh, sebaliknya
dengan gundukan pasir yang kuinjak, tampak sedikit tanda
ujung kaki. Oleh karena itu, maka babak pertama ini boleh


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dikata tidak ada yang lebih unggul, sebaiknya kita segera
menyiapkan segala sesuatunya untuk babak kekdua."
Tiong-sun Seng yang mendengarkan ucapan itu tahu
bahwa Pek-kut Ie su bagaimanapun juga masih merupakan
tokoh kenamaan yang memimpin golongan sesat, ia juga tahu
bahwaw Pek-kut Ie su adalah seorang yang banyak akalnya,
orangnya sangat licik. Tetapi dalam pertandingan dihadapan
begitu banyak mata, masih tidak mau berlaku curang
sedikitpun juga, mungkin karena hal itu dianggapnya akan
merendahkan derajatnya sendiri maka perbuatannya itu patut
juga dipuji. Kini setelah mendengar Pek-kut Ie su minta segera
dilangsungkan pertandingan untuk babak kedua, maka
kembali Tiong-sun Seng minta dua anak buah partai Ceng-
thian pay untuk mengambil lagi beberapa tong pasir, lalu
disuruh membuat dua kalangan yang masing-masing seluas
dua tombak persegi, diatas kalangan itu lalu diuruk pasir yang
agak tinggi. Setelah pasir itu sudah selesai diuruk, Tiong-sun Seng lalu
bertanya kepada Pek-kut Ie su: "Bagaimana kalau kita
melakukan pertandingan diatas pasir ini dalam seratus jurus?"
"Menurut penetapan Tiong-sun Seng Tayhiap ini, bila habis
100 jurus dan belum didapat kenyataan siapa yang lebih
unggul dulu bagaimana" apakah dilanjutkan lagi, kurasa juga
tidak ada gunanya!: Berkata Pek-kut Ie su sambil tertawa.
Untuk meningkatkan kegembiraan kita, sebelum melakukan
pertandingan, sebaiknya kita rencanakan lebih dahulu cara-
caranya. Oh ya! Sehabis mengadakan pertandingan 100 jurus,
berapakah jejak kaki kita diatas pasir" ini saja diambil sebagai
putusan!" Caramu yang membatasi telapakan kaki, juga merupakan
suatu pertandingan versi baru, begitu mendengar dulu
keteranganmu!" Kekuatan tenaga dan kemahiran meringankan tubuh TIong-
sun Seng belum mencapai kepuncak tertinggi, barangkali
paling sedikit masih meninggalkan 20 tanda bekas telapakan.
Tetapi Cinjin yang sudah memiliki kekuatan ilmu lebih tinggi,
barangkali jumlahnya lebih sedikit dari jumlahku itu. Kalau tak
salah perhitunganku, bagi Cinjin barangkali jumlah 16 tapak
saja sudah cukup!" Pek-kut Ie su yang mendengar ucapan itu tertawa
terbahak-bahak, kemudian berkata: "Put bie Sin poh tidak
datang, Hong tim Ong-pek juga tidak. Bukanlah pinto
menyombongkan diri, didalam pertemuan berdirinya partai
Ceng-thian pay ini, apabila hendak diadakan pemilihan jago,
kecuali toako dan sumoyku, hanya beberapa gelintir saja yang
dapat menghadapiku. Nama Tiong-sun Tayhiap benar-benar
memang bukan nama kosong belaka, sekarang sudah
menjadi kenyataan merupakan lawan tertangguh yang pernah
kuhadapi selama hidupku. Perlu apa kau mengangkat-angkat
diri pinto demikian tinggi" Pertandingan 100 jurus hanya
meninggalkan tanda telapak kaki 20 itu sudah merupakan
suatu prestasi yang sangat bagus sekali, tidak halangan kukira
dengan jumlah sebagai batas, entah bagaimana pikiran Tiong-
sun Tayhiap?" "Jika Cinjin memang menginginkan demikian, baiklah kita
tetapkan begitu saja."
"Aku pikir kecuali diadakan pembatasan tanda telapak kaki
ini, ditambah batas lain lagi, entah bagaimana pikiran Tiong-
sun Tayhiap" Tiong-sun Seng dalam hati terkejut, namun diluarnya
masing tenang-tenang saja, ia bertanya sambil tersenyum:
"Cinjin ada mempunyai usul apalagi yang kiranya lebih baik?"
"Kita kecuali dalam tanda telapak kaki dibatasi dalam
jumlah 20, masih perlu ditambah dengan satu ketetapan, ialah
pasir yang kita injak harus tampak dasarnya. Tapi kecuali itu,
bolehkah ditambah lagi dengan satu sarat, ialah kaki jangan
sampai menimbulkan debu dan serangan tangan jangan
sampai menimbulkan kepulan debu diatas pasir, Tiong-sun
Tayhiap pikir bagaimana" Setujukah usul itu?"
Tiong-sun Seng tahu bahwa kaki tidak menimbulkan debu,
setelah menginjak pasir sampai dasarnya, ini berarti bahwa
tatkala menarik kakinya dari injakan pasir yang habis
diinjaknya, badan tidak boleh tertempel debu ialah selama
mengelak, pakaian tidak boleh melakukan gerakan yang
membawa akibat mengepulnya pasir dan tangan tidak boleh
mengepulkan debu diwaktu melakukan serangan
menggunakan kekuatan tenaga dalam, tidak boleh
menimbulkan sambaran kepermukaan
pasir, sehingga mengakibatkan mengepulnya debu pasir.
Diantara tiga syarat itu, adalah syarat kedua paling mudah,
paling-paling menghindarkan tangan jangan sampai
menggunakan serangan dengan kekuatan tenaga dalam yang
bersifat keras sehingga menimbulkan hembusan angin hebat,
jadi harus dirobah dengan menggunakan serangan dengan
ilmu lunak. Sedangkan badan tidak boleh kena kepulan debu
atau pasir yang pernah diinjaknya baik menghindarkan
bergeraknya baju atau jubah yang sedemikian lebar saja
sudah sulit, tapi yang paling sulit ialah kaki tidak boleh
menimbulkan kepulan pasir. Sebab kaki sehabis melangkah
sehingga tampak dasarnya, lagi pula harus berjaga-jaga untuk
mengelakkan serangan lawan sewaktu mengangkat kaki itu,
bagaimanapun juga akan membawa serta pasir keatas maka
jikalau telapak kai tidak boleh menempel pasir, itu benar-benar
merupakan suatu hal yang sulit sekali.
Selain kesulitan dari tiga syarat itu, masih dibatasi telapak
kaki yang tidak boleh lebih dari 20. Ini jug aberarti bahwa
selama dua orang itu bertanding, masing-masing harus
berusaha jangan sampai menginjak pasir, jadi harus sesedikit
mungkin kakinya bergerak dan menginjak pasir, baik selagi
melakukan serangan maupun selagi menjaga serangan lawan,
semua harus diperhitungkan baik-baik jangan sampai kakinya
menginjak pasir lebih dari 20 kali.
Dengan batas jumlah itu, harus melakukan pertandingan
selama 100 jurus, apabila disatu pihak terdapat tanda kaki
lebih banyak dari batas itu, atau agak kalut, maka nama baik
yang sudah dipupuk selama itu akan turut hancur.
Oleh karena itu, maka ketua Butong pay Hong-hoat Cinjin
setelah mendengar ucapan Pek-kut Ie su tadi, segera
mengutarakan pikirannya, ia berkata sambil menggeleng-
gelengkan kepala dan tersenyum kecil: "Ilmu kepandaian
sesungguhnya tidak ada batasnya, pinto hari ini boleh dikata
telah membuka mata, tampaknya orang-orang seperti kita ini
masih perlu banyak berlatih untuk menyampai ketinggian ilmu
seperti mereka, tampaknya didalam dunia ini, orang yang lebih
tinggi kepandaiannya dari pinto, entah ada berapa banyak
jumlahnya?" Ketua Lohu pay Peng sun Sin nie, berkata sambil
tersenyum dingin: "Ucapan Cinjin ini kukira tidak seluruhnya
benar, kalau kita selalu ingin mempertinggi kepandaian diri
sendiri dan menggunakan waktunya untuk melatih ilmu silat
yang lebih tinggi, itu berarti menutup pintu dan tidak
memperdulikan urusan luar, ini berarti akan menambah
kesempatan bagi kawanan penjahat untuk melakukan
kejahatannya, hingg kawanan iblis semakin memperhebat
usahanya untuk menguasai rimba persilatan. Dewasa ini
urusan rimba persilatan baru saja dimulai, kita bukan saja
tidak boleh berputus asa, sebaliknya malah harus berusaha
untuk meningkatkan kewaspadaan, barulah dapat
mengamankan dunia persilatan. Oleh karena itu maka Pin nie
mengharap semua sahabat-sahabat yang ada disini setelah
pertemuan besar ini selesai, masing-masing kembali ketempat
sendiri-sendiri, kembali memperkuat diri sendiri seperti apa
yang Cinjin ucapkan tadi, masih perlu kita menumbuhkan
tradisi lama yang selalu menyumbang kepandaian sendiri dan
sekarang ini kukira partai besar, menurunkan kepandaian ilmu
yang terampuhnya kepada anak murid angkatan muda agar
mereka dapat menggantikan kedudukan kita, sebab diatas diri
mereka kita letakkan beban ini, barulah dapat melindungi
keselamatan rimba persilatan!"
Dengan tenang Hong-hoat Cinjin mendengarkan ucapan
Peng Ssun Sin nie, setelah itu ia bangkit dari tempat duduknya
dan menganggukkan kepala dan berkata: "Ucapan Taysu ini,
seolah-olah suara genta dipagi hari, bukan saja pinto merasa
berterima-kasih atas itu, juga mengharap supaya tunas muda
yang berada disini dengan tujuan bersama maka kita
wujudkan cita-cita Sin nie tadi!"
Selagi mereka masih merundingkan soal tindakan apa yang
akan diambil untuk selanjutnya setelah pertemuan itu selesai,
seorang pendekar rimba persilatan dan seorang Iblis
kenamaan segera melesat keatas tanah yang sudah ditaburi
dengan pasir tadi, mereka kini sudah mulai melakukan
pertandingan. Kiranya, Tiong-sun Seng setelah mendengarkan usul Pek-
kut Ie su tadi, lalu diterima baik dan selanjutnya mereka
membuka pertandingan yang luar biasa anehnya itu.
Pek-kut Ie su waktu itu juga dikagumkan oleh karena
kepandaian ilmu dan kepribadian Tiong-sun Seng. Keduanya
setelah masing-masing pada mengutarakan
ucapan merendahkan diri, lalu mulai bergerak.
Dua orang itu dalam waktu bersamaan melayang turun
ketengah lingkarannya sendiri-sendiri. Mereka terpisah empat
kaki lebih, tempat yang mereka injak sudah tentu tidak
menimbulkan kepulan pasir, tetapi siapapun tahu bahwa
mereka sudah menginjak pasir itu hingga tampak dasarnya,
sebab diatsa pasir itu sudah terdapat tanda dua pasang kaki.
Tidak kecewa Pek-kut Ie su sebagai golongan Iblis
kenamaan, begitu kakinya menginjak pasir, segera membuka
serangan lebih dulu dengan suatu gerak tipu yang dinamakan
menutup pintu mendorong rembulan, dengan ilmunya yang
mengandung kekuatan tenaga keras menyerang lawannya.
Tiong-sun Seng semula agak dikejutkan oleh serangan
dengan gerak tipu mengandung kekerasan itu, tetapi
kemudian ia sadar, ia dapat melihat bahwa sepuluh jari tangan
Pek-kut Ie su melekuk kebelakang, telapakan tangannya
menghadap keatas dan kedua tangan itu karena melakukan
gerakan mendorong dengan cara menyerang seperti itu
meskipun menggunakan kekuatan tenaga yang bersifat keras
dan menimbulkan hembusan angin hebat, tetapi bagian yang
ia serang adalah dibagian perut keatas, sudah tentu tidak
akan menimbulkan kepulan pasir dibagian bawah.
Akal lawannya itu demikian licik, serangannya juga
dilakukan demikian cepat, sedang ia sendiri baru saja
menginjakkan kakinya diatas pasir, oleh karena dengan batas
jangan sampai menimbulkan kepulan pasir diatas kakinya,
sudah tentu ia tidak boleh mengelak dengan tiba-tiba, apalagi
sampai digetarkan oleh serangan itu. Seandainya jubah hijau
yang dipakainya itu juga terbang oleh hembusan angin yang
keluar dari serangan tangan Pek-kut Ie su, sudah tentu akan
membawa akibat terkenanya debu pasir, ini juga bisa dihitung
kalah. Dibawah keadaan demikian, Tiong-sun seng yang tadi
kurang berjaga-jaga terhadap kelicikan lawannya, telah
kehilangan posisi lebih dulu. tapi ia bukanlah seorang yang
mendapat nama kurang baik, kecerdasan maupun kepandaian
ilmu silatnya kedua-duanya melebihi kepandaian manusia lain.
Begitu melihat lawannya berlaku licik, ia segera mengempos
seluruh kekuatan tenaga dalamnya, ia juga mengerahkan
ilmunya Thay-it thian-siu kang yang baru saja berhasil
dipelajarinya, hingga kedua jenis ilmu itu berubah bentuk
menjadi jaring kokoh yang tidak berwujud, ia segera miringkan
dadanya, untuk menyanggah serangan lawannya, kemudian ia
menggeser tubuh dengan menukar gerak tipu menanya jarak,
tangan kanannya diulurkan dengan cepat, untuk menepok
bahu kiri Pek-kut Ie su. Pek-kut Ie su benar-benar tidak menyangka kalau Tong-
sun Seng dalam keadaan buruk demikian itu masih bisa
menyelamatkan dirinya sendiri, bahkan masih bisa balas
menyerang, maka ia segera menganggukkan kepala dan
tertawa, dengan beruntun ia mundur dua langkah untuk
mengelakkan serangan pembalasan Tiong-sun Seng. Diatas
pasir dengan nyata tampak empat buah tanda injakan kakinya.
Pertandingan secara aneh itu setelah berlangsung dengna
seru, kedua belah pihak tampaknya bersikap sangat hati-hati
sekali, namun gerakan mereka sma-sama gesit dan lincahnya,
masing-masing mengerahkan seluruh kepandaiannya,
terutama ilmunya meringankan tubuh dlam waktu sangat
singkat, mereka sudah bertanding 50 jurus lebih, siapapun
tidak pernah menimbulkan kepulan pasir dibawah kakinya
atau ada pasir yang menempel dibadan mereka.
Penonton dari kedua belah pihak, selagi menyaksikan
pertandingan itu dengan mata terbuka lebar dan mulut
menganga serta memberi semangat kepada fihaknya sendiri,
tiba-tiba timbul angin santer, hingga pasir yang menguruk
tempat pertandingan tadi pada tersapu bersih.
Tiong-sun Seng dan Pek-kut Ie su sama-sama
mengeluarkan siulan panjang, lompat melesat keluar dari
kalangan, kemudian saling berpandangan dan tertawa
terbahak-bahak. Kiranya, tempat bertanding yang diuruk dengan pasir ritu
meskipun sudah dirusak oleh tiupan angin santer, bekas tanda
kaki mereka masih tetap dapat dikenali, dua orang itu hanya
memandang sepintas lalu saja, sudah dapat menghitung
jumlah telapak kaki itu, yang ternyata msing-masing separuh
dan jumlah seluruhnya adalah empat puluh.
Dengan demikian, keduanya saling mengagumi dan
tertawa terbahak-bahak, tertawa mereka tampaknya sangat
riang, hingga membuat orang yang paling mengkuatirkan
Tiong-sun Seng ialah Tiong-sun Hui Kheng yang pertama-
tama merasa lega, ia berkata kepada Hee Thian Siang yang
duduk disampingnya: "Adik Siang, sekarang akan tiba
giliranmu untuk kau unjukkan kepandaianmu. Jangan lupa,
nama besar Pek-kut Ie su yang dipupuk selama setengah
abad harus kau bawa kemari untik diberikan kepadaku."
Sepasang alis Hee Thian Sing nampak berdiri, seolah-olah
sudah mempunyai rencana baik, ia berkata sambil tertawa:
"Enci jangan kuatir, aku pernah mendapat kebaikan dari
keluarga kalian, barangkali tidak akan mengecewakan


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pengharapanmu." Belum lagi Hee Thian Siang menutup mulut, Tiong-sun
Seng dan Pek-kut Ie su masing-masing sudah memanggil
namanya dan nama Tham Eng supaya turun kelapangan.
Hee Thian Siang segera lompat keluar dan turun ketengah
lapangan, sedang murid kesayangan Pek-kut Siancu, Tham
Eng juga sudah keluar dari rombongannya dan turun
kelapangan. Tiong-Sun Seng lalu berkata kepada Hee Thian Siang dan
Tham Eng: "Hee hiantit harus mengajukan tiga pertanyaan
kepada pek-kut Cinjin, sedang nona Tham harus mengajukan
pertanyaan yang sama jumlahnya kepadaku. Tetapi dua
diantara pertanyaan itu, harus yang ada hubungannya dengan
kepandaian ilmu silat, sedang yang satu, kau boleh menanya
menurut sesukamu, tidak ada batasnya atau ikatannya."
Hee Thian Siang adalah seorang pemuda yang sangat
cerdik, mendengar keterangan Tiong-sun Seng, bahwa dua
diantara tiga pertanyaan itu harus yang ada hubungannya
dengan kepandaian ilmu silat, pertanyaan itu tidak mungkin
dapat menyulitkan Pek-kut Ie su, maka ia lalu mencari akal
sebaik-baiknya, supaya mendapat sedikit faedah didalamnya.
Ini berarti, apabila ia hendak menyulitkan jago kenamaan dari
golongan sesat, mau tak mau harus memeras pikiran untuk
mendapat satu pertanyaan yang tidak ada batasnya itu.
Setelah mengambil keputusan demikian, disamping
memikirkan dan mencari-cari pertanyaan yang agaknya tepat
dan dapat menyulitkan Pek-kut Ie su ia berkata kepada Tham
Eng sambil tertawa: "Silahkan nona Tham bertanya lebih duli
kepada Tiong-sun locianpe."
Tham Eng yang mendengar ucapan itu juga tidak berlaku
sungkan lagi, lalu mengajukan pertanyaan kepada Tiong-sun
Seng yang lebih dulu melakukan penghormatan sebagaimana
lazim seorang dari tingkatan muda terhadap tingkatan tua:
"Numpang tanya Tiong-sun Cianpe, apa yang dimaksud
dengan Sam-shi" Apa yang dimaksudkan dengan Liok-chat"
Dan bagaimana memutuskan Sam-shi, mengusir liok-chat?"
"Pengetahuan, perasaan dan pikiran itu yang dimaksud
dengan Sam-shi. Rupa, harum, badan, sentuhan dan akal itu
yang dimaksudkan dengan Liok-chat. Tetapi kalau digabung
menjadi satu, semua itu terbit dari perasaan, maka segala
godaan iblis akan lenyap sendiri, menjawab Tiong-sun Seng
sambil tersenyum. Tham Eng selanjutnya mengajukan pula pertanyaan yang
kedua: "Sekarang boanpe ingin tanya kepada Tiong-sun
locianpe, bagaimana pula caranya memutuskan perasaannya?" "Jikalau hendak memutuskan perasaan, harus memutuskan
dulu badan, mulut dan pikiran, hendak memutuskan badan,
mulut dan pikiran, lebih dulu harus menundukkan hati, supaya
hati itu bisa merasa kosong, tenang, barulah segala pikiran
tidak timbul, sedikitpun tidak dipengaruhi oleh kotoran! Semua
ini kalau dikatakan memang mudah, tetapi untuk melakukan
sesungguhnya terlalu sulit, jangankan nona, sekalipun orang-
orang seperti aku dan supekmu yang sudah mengadakan
latihan bathin maupun badan hampir seratus tahun apa nona
kira kami orang-orang tua bisa terlepas dari perasaan?"
Hee Thian Siang yang mendengarkan ucapan itu merasa
geli, diam-diam ia mentertawakan Tham Eng yang benar-
benar seorang yang tidak tahu diri, sebab dihadapan seorang
yang mempunyai julukan Thian-gwa Ceng mo, telah
mengajukan pertanyaan yang ada hubungannya dengan Ceng
atau perasaan. Bukankah itu sama artinya dengan mencari
penyakit sendiri" Tetapi belum lenyap pikiran itu, Tham Eng sudah
mengajukan pertanyaan yang ketiga, katanya sambil
tersenyum: "Tiong-sun Cianpe dahulu mempunyai nama
julukan Thian-gwa Ceng mo, terhadap Ceng atau perasaan,
sudah tentu mempunyai penilaian tersendiri. Dalam dua
pertanyaan Tham Eng tadi, sudah mendapat faedah tidak
sedikit bagi latihan kekuatan tenaga dalam! Dan pertanyaan
terakhir ini, tidak berani menanya hal-hal yang lain malah tetap
ada hubungannya dengan perkataan Ceng tadi."
"Nona Tham silahkan tanya saja!" Berkata Tiong-sun Seng
sambil tertawa. Tham Eng kembali memberi hormat terlebih dahulu, baru
bertanya: "Apa yang dimaksudkan dengan istilah cinta dalam
cinta hambar, cinta murni, cinta tenang, cinta yang sangat
mengharukan dan cinta yang mengandung makna
kegagahan" Tolong locianpe memberi sedikit keterangan
dengan diliputi berbagai perumpamaan, supaya dapat
membuka pikiran boanpe!"
Hee THian Siang ketika mendengar ucapan itu tampak
terkejut, tadi ia masih mentertawakan Tham Eng yang tidak
seharusnya menannyakan cita rasa atau cinta, diluar
dugaannya gadis itu ternyata mempunyai pikiran demikian
cerdik. Pertanyaan terakhir itu, terbagi dari delapan cita rasa cinta
yang berlainan sifatnya, jilau harus menjawab dengan cepat
tanpa dipikir terlebih dahulu, sesungguhnya bukanlah satu
soal yang mudah! Terutama bagi Tiong-sun Seng yang
mendapat nama karena rasa atau pengertian yang dalam
dengan soal cinta, jangankan tidak dapat terjawab, sekalipun
hanya berpikir lama atau menjawab dengan agak gelagapan
juga sudah merupakan suatu hal yang akan mempengaruhi
nama baiknya. Pertanyaan Tham Eng yang seluruhnya ada hubungannya
dengan perasaan dan cinta itu, seakan-akan disengaja, untuk
menunjukkan keunggulannya berpikir. Sebab Tham Eng
sudah tahu, terhadap seorang yang mempunyai nama julukan
Thian-gwa Ceng mo, untuk menanyakan seolah-olah yang
bersangkutan dengan perasaan dan cinta, tidak mungkin akan
menyulitkan dia, ini toh masih ditanyakannya juga sekitar soal
itu. Oleh karenanya, maka Hee Thian Sinag terpaksa lalu
membuang seluruh pertanyaan-pertanyaan sulit dan aneh
yang sudah dipikirnya dahulu, mau tak mau ia juga harus
berusaha menunjukkan keunggulannya berpikir, jangan
sampai kalah dari Tham Eng. Ia harus bisa berpikir cepat
dengan menyesuaikan keadaan, untuk menanya kepada Pek-
kut Ie su dengan pertanyaan-pertanyaan yang tepat tetapi
sulit. Sementara itu Tiong-sun Seng sudah menjawab
pertanyaan Tham Eng tadi: "Pertanyaan nona Tham yang
menyangkut dengan delapan jenis rasa cinta ini,
sesungguhnya sangat berarti, tetapi jawabanku yang secara
tergesa-gesa, barangkali belum tentu tepat keseluruhannya."
JILID 23 Sebelum menjawab pertanyaan Tham Eng mengenai
delapan jenis rasa cinta itu, lebih dahulu Tiong-sun Seng
menatap Hee THian Siang, baru melanjutkan:
"Persahabatan sejati, hubungan itu yang disebutkan cinta
dalam. Sahabat berfoya-foya merupakan cinta hambar.
Perpisahan permaisuri zaman dahulu ialah Lo-sin dengan Cho
Pa yang berarti cinta murni. Berada ditengah-tengah rumpun
bunga seruni sambil memandang gunung-gunung sejauh
pandangan mata, itulah merupakan suatu perasaan yang
tenang. Perpisahan ditepi sungai Tian-kang yang dilakukan
oleh sepasang suami-istri dijaman dahulu, itulah merupakan
cinta mengharukan. Diwaktu haus minum es, diwaktu musim
salju, diwaktu lapar mengharap dapat makanan dari Utara,
itulah yang dinamakan suatu perasaan yang memilukan.
Sementara tentang cinta yang mengandung arti gagah,
agaknya kita akan menengadahkan sajak Ceng-khie-ko yang
dikarang oleh Bun Bun San jaman dahulu, rasanya dapat
digunakan untuk mewakili cinta semacam ini!"
Jawaban itu telah membuat Tham Eng yang mendengarkan
serentak menundukkan kepala diam saja, kemudian ia
mengundurkan diri sambil memberi hormat, sementara dalam
hatinya merasa sangat kagum terhadap orang tua itu.
Pek-kut Ie-su yang menyaksikan tiga pertanyaan Tham Eng
sudah dijawab semua dengan baik oleh Tiong-sun Seng,
maka lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum:
"Hee laote, sekarang adalah giliranmu untuk menanyakan
tiga pertanyaan kepadaku. Kau boleh putar otak sebaik-
baiknya, pertanyaan itu semakin sulit semakin baik!"
"Totiang jangan kuatir, pertanyaan yang diajukan oleh nona
Tham tadi kepada Tiong-sun Seng Cianpe tidak terhitung sulit,
aku juga tidak akan berlaku keterlaluan yang menyulitkan
kepada Totiang!" Menjawab Hee Thian Siang sambil tertawa.
Berkata sampai disitu, badannya bergerak, melakukan
suatu serangan yang tadi pernah digunakan tiga kali dengan
beruntun untuk menyerang Khi Tay Cao, gerak tipu itu adalah
salah satu dari gerak tipu ilmu silat Bunga Mawar yang
dinamakan Bun-kun mencuci pakaian.
Pek-kut Ie-su berkata dengan perasaan terheran-heran:
"Mengapa kau tidak mengajukan pertanyaan, sebaliknya
menunjukkan gerak tipu yang kau gunakan tadi?"
"Tadi aku menggunakan gerak tipu ini, dengan beruntun
tiga kali melancarkan serangan kepada Khi ciangbunjin, tetapi
semuanya tidak berhasil. maka pertanyaanku yang kesatu itu,
adalah ingin menanyakan kepada Totiang, apakah serangan
dan gerak tipu ini kekurangannya?"
Pek-kut Ie-su benar-benar
tidak menduga bahwa pertanyaan yang diajukan oleh Hee Thian Siang itu demikian
sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Tetapi ia juga
tidak boleh tidak menjawab, terpaksa sambil mengerutkan
alisnya ia berkata: "Gerak tipu yang kau gunakan tadi, sangat aneh sekali,
sama sekali tidak ada kekurangannya. Lawanmu kalau bukan
seorang yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi
daripadamu dan mempunyai banyak pengalaman dalam
medan pertempuran, pasti merasa sulit juga untuk mengelakkan seranganmu tadi. Tetapi menurut apa yang
kulihat, kau rupa-rupanya belum lama mempelajari ilmu itu,
maka didalam soal ketenangan dan kemantapan masih agak
kurang. Perobahan gerakanmu juga kurang lincah! Jikalau
tidak mungkin Khi Ciangbunjin siang-siang tadi sudah
mendapat kesulitan dari seranganmu yang tadi."
Hee Thian Siang tahu bahwa jawaban Pek-kut Ie-su itu
memang benar, maka ia menerimanya kemudian
mengeluarkan lagi gerak tipu yang dari pelajaran ilmu silat
yang ia dapat dari Thian Ie Sianjin, gerak tipu itu ialah yang
dinamakan menolong sesama dalam kesulitan, kemudian
bertanya kepada Pek-kut Ie su:
"Kedua Hee Thian Siang ingin bertanya kepada Totiang,
gerak tipu penjagaanku ini, apakah kekurangannya" Umpama
kata akan bertanding dengan Pek-kut Thian-kun dapatkah
mengelakkan dengan baik serangan Pek-kut Thian kun yang
dinamakan serangan geledek yang sangat hebat itu?"
Pertanyaan ini, benar-benar tidak habis dipikir, hingga Pek-
kut Ie-su, saat itu mengerutkan alisnya, tetapi terpaksa
menjawab juga: "Gerak tipu penjagaan diri ini, lebih indah. Sedikitpun tidak ada kekurangannya.
Lawanmu apabila tidak memiliki kekuatan
tenaga dalam setidak-tidaknya 50% keatas darimu, bagi
serangan yang bagaimanapun sulitnya, juga dapat kau
elakkan atau punahkan! Tetapi apabila toakoku menyerang
dengan tenaga penuh, oleh karena kekuatan tenaga kedua
pihak berselisih sangat jauh, sekalipun kau menggunakan
gerak tipu penjagaan diri yang sangat indah ini, walaupun
tidak sampai mati, tetapi juga pasti akan terluka parah!"
Hee Thian Siang yang mendengar jawaban itu, oleh karena
ia tahu bahwa jawaban itu bukanlah sekedar sebagai
gertakan, maka terhadap Pek-kut Thian kun yang merupakan
kepala dalam rombongan Pek-kut Sam-mo, diam-diam harus
mengakui, harus semakin waspada.
"Kau masih ada satu pertanyaan yang terakhir, sebaiknya
kau pikir dulu baik-baik. Jikalau tidak, maka pertandingan tiga
babak dengan Thian-gwa Ceng-mo ini barangkali akan
berakhir dengan seri lagi!" Berkata Pek-kut Ie-su sambil
menatap Hee Thian Siang. "Tadi dalam tiga pertanyaan nona Tham, semua tidak
terlepas dari soal perasaan dan cinta. Hee Thian Siang juga
tidak akan meninggalkan diri dari pertanyaan yang ada
hubungannya dengan dua pertanyaan diatas tadi."
"Apakah kau masih hendak menunjukkan beberapa gerak
tipu lagi?" bertanya Pek-kut Ie-su tersenyum.
"Untuk pertanyaan yang ketiga ini, boanpe hendak bertanya
kepada Totiang, gerak tipu menyerang dan gerak tipu
menjaga diri yang kutunjukkan tadi, apa namanya" dan dari
ciptaan siapa serta dari golongan mana?"
Pertanyaan ini, ternyata membuat kesulitan bagi Pek-kut Ie-
su, hingga saat itu ia bungkam berdiri terpaku ditengah
lapangan. "Dari senjata bulu burung warna lima yang digunakan oleh
Hee Thian Siang tadi Pek-kut Ie-su telah dapat menduga,
bahwa dua macam gerak tipu yang sangat indah itu, setidak-
tidaknya ada satu dari Thian Ie Sianjin, akan tetapi karena ia
belum tahu benar, lagi pula tidak dapat menyebutkan
namanya, terpaksa menghela napas dengan muka merah,
kemudian dengan menggandeng tangan Tham Eng, ia
kembali kerombongannya dengan muka murung.
Selagi Hee THian Siang masih berdiri dalam keadaan
gembira dan bangga, Tiong-sun Seng sudah menghampiri dan
menepuk bahunya, kemudian berkata dengan suara perlahan
sambil tersenyum: "Hee hiantit, pertandingan
dalam pertemuan telah mendekati babak akhir, Pek-kut Thian kun yang merupakan
salah seorang yang paling sulit dihadapi didalam barisan Pek-


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kut Sam-mo sudah akan turun sendiri, maka kita harus
kembali kerombongan, untuk berunding lebih jauh dengan
para ketua partai." Seraya berkata demikian, bersama-sama HeeThian Sian
kembali kerombongannya. Begitu tiba dalam rombongannya, Hee Thian Siang
pertama-tama sudah berkata kepada Tiong-sun Hui Kheng
sambil tertawa: "Enci Tiong-sun, siaote masih merasa beruntung tidak
sampai memalukan!" Tiong-sun Hui Kheng tahu bahwa Hee Thian Siang waktu
itu merasa sangat gembira, maka ia juga lalu berkata sambil
tersenyum: "Pantas kalau adik Siang merasa gembira dan bangga.
Tiga pertanyaanmu itu, kau majukan dengan menyesuaikan
keadaan yang sedang dihadapi, sesungguhnya sangat pintar
sekali. Kalau dibandingkan dengan pertanyaan Tham Eng
tadi, sesungguhnya kau jauh lebih pintar!"
"Enci jangan hanya memuji aku saja, sebabnya siaote ini
tidak sampai memalukan, ialah oleh karena pengetahuan dan
pengalaman Pek-kut Ie-su, bagaimanapun juga masih kalah
kalau dibandingkan dengan empek Tiong-sun! Tham Eng
sesungguhnya memiliki kecerdikan luar biasa, ia hendak
menggunakan persoalan perasaan dan cinta buat menyulitkan
Thian-gwa Ceng-mo, terutama pertanyaan yang terakhir, lebih
menyulitkan kecuali empek Tiong-sun yang sudah banyak
pengalaman dan pengetahuan, barangkali tiada seorangpun
yang dapat menjawab!"
Tiong-sun Seng yang berada disamping, ketika mendengar
ucapan itu lalu berkata sambil tertawa:
"Hee hiantit jangan menempelkan emas dimukaku, Pek-kut
Sam-mo benar-benar bukan hanya nama kosong belaka. Tadi,
dalam dua babak yang lalu hampir saja nama baikku
termusnah ditangan iblis itu!"
Berkata sampai disitu, ia lalu berpaling dan berkata kepada
para ketua dari partai-partai Ngo-bie, Swat-san, Lo-hu, Bu-
tong dan anggota pelindung partai Siao-lim pay:
"Pertemuan berdirinya partai Ceng-thian-pay sudah hendak
berakhir, aku pikir tidak perlu menunggu Pek-kut Thian-kun
turun kelapangan, kiranya kurasa boleh Hee Thian Siang yang
mengeluarkan tantangan lebih dahulu, untuk membakar
hatinya!" Swat San Peng lo Leng, Pek Ciok lalu bertanya sambil
mengerutkan alisnya: "Tiong-sun tayhiap hendak suruh Hee Thian Siang laote
menghadapi Pek-kut Thian kun, apakah tidak terlalu
berbahaya?" Dengan wajah dan sikap sungguh-sungguh Tiong-sun
Seng menjawab sambil mengangguk-angguk:
"Sudah tentu berbahaya, tetapi jikalau lain orang yang turun
kelapangan, bahayanya lebih besar. Oleh karena aku harus
berusaha untuk melindungi nama baik tuan-tuan sebagai
ketua dari partai besar, dan nama baik yang dipupuk dengan
susah payah dari tuan-tuan lainnya, terpaksa hanya
mengharap agar Hee hiantit dan It-pun Sinceng tegak
bergandengan tangan melawan Pek-kut Thian-kun, kita hanya
mendoakan saja, semoga Tuhan melindungi mereka, mungkin
dengan kecerdikan mereka berdua, sanggup menghadapi dan
menyesuaikan keadaan, tidak sampai mendapat bahaya
besar!" pada saat itu, ketua partai Butong Hong-hoat Cinjin tiba-tiba
mengajukan pertanyaan kepada para ketua partai ketua dan
pelindung hukum partai Siaolim:
"Pinto ada sedikit usul, sekarang ini kekuatan partai baru
Ceng-thian-pay sudah mulai dipupuk, kawanan penjahat
sudah coba-coba hendak bergerak, raja siluman Hian Wan
Liat kembali sudah berserikat dengan kawanan penjahat dari
negara luar, sedang mengintai daerah Tiong-goan, mereka
rupa-rupanya sudah bertekad hendak mengacau rimba
persilatan! Kita orang-orang yang ditugaskan untuk membasmi
kejahatan dan melindungi kebaikan, kecuali harus
mempertinggi kewaspadaan dan memperkuat diri sendiri,
apakah tidak perlu kita memupuk kader-kader baru dari orang
angkatan muda yang berbakat baik supaya kita bisa
menciptakan beberapa tokoh sangat kuat yang tidak mungkin
ditandingi oleh mereka?"
Para ketua partai dan Ceng-kak Siansu semuanya
menganggukkan kepala menandakan setuju.
Hong-hoat Cinjin lalu melanjutkan pertanyaannya:
"Hee Thian Siang laote dan nona Tiong-sun Hui Kheng,
baik kepandaian ilmu silat maupun tulang-tulang dan bakat
serta sifat mereka, apakah boleh disebut sebagai orang-orang
yang memiliki bakat luar biasa, yang ada harga untuk
mendapat bimbingan dari kita?"
Tiga ketua partai besar dan anggota pelindung hukum
gereja Siao-lim, kembali menganggukkan kepala sebagai
tanda suka menerima baik usul itu.
Hong-hoat Cinjin dengan mata menatap Hee Thian Siang
dan Tiong-sun Hui Kheng sejenak berkata dengan sungguh-
sungguh: "Jikalau tuan-tuan setuju dengan usul pinto ini, maka pinto
minta masing-masing menurunkan semacam kepandaian ilmu
silat yang terampuh supaya diturunkan kepada Hee laote dan
nona Tiong-sun. Sebab, meskipun mereka yang satu ialah
murid dari orang tingkatan tua kenamaan dan yang lain adalah
putri dari jago kenamaan pula tetapi seperti apa yang
peribahasa kata, tumbuh pasir bisa menjadi menara,
kumpulan potongan kain bisa menjadi baju. Jikalau masing-
masing menurunkan kepandaian ilmu yang ampuh kepada
mereka, mereka masih bisa melakukan sendiri dengan baik,
dengan demikian diri mereka pasti akan merupakan suatu
tunas dari berbagai ilmu terampuh angkatan tua!"
Ketua partai Lo-hu-pay Peng-sim Sinnie lebih dulu berkata:
"Sin-nie bersedia menurunkan ilmu terampuh Sian-ciang
dari golongan Lo-hu!"
Kemudian ketua Swat-san-pay Peng-pek Sin-po juga
berkata: "Aku akan menurunkan ilmuku Kiu-coan han-sin-kang!"
Selanjutnya ketua Ngo-bi- pay Hian Hian Sin-nie juga
berkata: "Aku akan menurunkan kitab pelajaran ilmu pedang Phian-
hian-kiam-pho yang menjadi kitab mustika golongan Ngo-bie-
pay!" Terakhir anggota pelindung hukum Siao-lim-pay Ceng-kek
Siansu setelah memuji nama Buddha, kemudian berkata
sambil tersenyum: "Pinceng tidak memiliki kepandaian apa-apa yang boleh
dikatakan ampuh, hanya ingin menurunkan ilmu serangan jari
tangan It-ci-sian untuk turut mencukupi jumlah saja!"
Hong-hoat Cinjin berkata sambil menghitung dengan jari
tangannya: "Pan-sian-ciang-lek, Kiu-coan-thian-han-sin-kang. Phian-
thian-kiam-pho, It-ci-sian, dalam empat jenis kepandaian ilmu
silat yang sangat ampuh itu, kebetulan masih kekurangan
semacam pelajaran serangan dengan tinju. Oleh karena itu,
biarlah pinto menurunkan ilmu serangan dengan tinju Pek-
pow-sin-koan dari golongan Bu-tong-pay!"
Hee Thian Siang dan Tiong-sun Hui Kheng yang
mendengar ucapan itu, kedua-duanya saling berpandangan
dan tersenyum. Hong-hoat Cinjin berkata pula sambil tertawa:
"Kalau tuan-tuan sudah berkeputusan demikian harap lekas
sediakan pelajaran yang hendak tuan-tuan turunkan kepada
mereka. nanti setelah pertandingan antara Hee laote dengan
Pek-kut Thian-kun selesai, biarlah kita menghadiahkan
pelajaran ini sebagai tanda kehormatan untuknya!"
Peng-pek Sin-kun dan lain-lain, masing-masing telah
mempersiapkan pelajaran ilmu yang terus ditulis diatas kertas.
Hee Thian Siang juga dengan sangat gembira melesat
ketengah lapangan. Tiba ditengah lapangan, ia menghadap kepada Pek-kut
Thian-kun yang berada dirombongan tuan rumah, berkata
dengan suara nyaring sambil memberi hormat:
"Murid golongan Pak-bin, Hee Thian Siang minta dengan
hormat kepada Pek-kut Thian-kun supaya suka turun
kelapangan untuk menjawab beberapa rupa pertanyaanku!"
Pek-kut Thian-kun melirik kearah Pek-kut Ie-su, Pek-kut
Siancu, Khi Tay Cao dan lain-lain setelah itu ia berkata sambil
tertawa dingin: "Bocah ini karena berkali-kali mendapat nama baik, kini
ternyata telah menjadi lupa daratan, berani mencari mati lagi.
Sebetulnya, sekarangpun aku bertindak terhadapnya, juga
tidak ada salahnya!"
baru habis berkata demikian, badannya sudah bergerak
dan secepat kilat sudah melayang turun dalam lapangan,
dengan mata menatap Hee Thian Siang, bertanya:
"Dalam rombonganmu, orang-orang yang biasa dianggap
sebagai pendekar rimba persilatan, mengapa tiada
seorangpun yang berani turun kelapangan" Sebaliknya suruh
kau seorang dari angkatan muda untuk mengantar nyawa?"
"Pek-kut Thian kun, hargailah sedikit kedudukanmu sendiri!
Hee Thian Siang pernah melihat tulisan yang kau gantung
didepan tandumu, disitu ada kata-kata yang bersifat
menantang suhu. Apakah tidak pantas kalau sekarang aku
sebagai muridnya minta sedikit keadilan darimu?"
Pek-kut Thian kun tertawa terbahak-bahak, kemudian
berkata: "Orang yang boleh minta keadilan dariku, seharusnya cuma
Pak-bin Sin-po Hong Poh Cui, bukanlah kau. Dengan usiamu
semuda itu dan kekuatan tenagamu seperti sekarang ini,
mana pantas kau minta keadilan dariku!"
"Siapa yang berani, tidak usah melihat usia. Siapa yang
tidak mempunyai kepandaian sekalipun hidup seribu tahun
lagi juga percuma saja"
Pek-kut Thian kun tertawa terbahak-bahak, kemudian
berkata: "Kau ingin mati tidaklah susah. Tapi sayang, menurut
kebiasaanku, selamanya tak pernah aku turun tangan
melawan orang dari golongan muda!"
Ketika ia mengucapkan perkataan itu, kekuatan tenaga
dalamnya sudah dikerahkan ditelapakan tangan kanan, ia
sudah siap, apabila Hee Thian Siang berani mengeluarkan
ucapan kasar dan bersikap sombong, atau ada ucapan yang
dapat digunakan sebagai alasan untuk ia turun tangan, ia
sudah berniat hendak membinasakan Hee Thian Siang
dengan sekali pukul. Tetapi Hee Thian Siang seperti sudah menduga maksud
iblis tua itu, waktu itu ia tidak menunjukkan sikapnya yang
sombong seperti biasa, sebaliknya malah bersikap ramah,
dengan berseri-seri ia berkata:
"Kalau kau anggap aku terlalu muda dan orang dari
angkatan muda, aku bisa mencari seorang pembantu.
Bagaimana kau pikir?"
Pertanyaan itu, benar-benar diluar dugaan Pek-kut Thian
kun, hingga untuk sesaat ia agak terperanjat, lama baru
menjawab sambil menganggukkan kepala:
"Sekarang lekas kau panggil pembantumu itu, biar kulihat
tampangnya!" Hee Thian Siang memutar tubuhnya dan menghadap ke
rombongannya sendiri sambil berseru:
"It-pun Taysu, sekarang Taysu harus menerima tugas!"
It-pun Sinceng sebagaimana biasanya dengan tangannya
yang selalu membawa-bawa pot batu kumala berwarna ungu
yang didalamnya ada pohon Lengci yang sudah ribuan tahun
usianya, keluar dari rombongannya. Dengan wajah berseri-
seri gembira melayang turun ketengah lapangan.
Pek-kut Thian kun mengira bahwa orang yang dikatakan
sebagai pembantu oleh Hee Thian Siang, dianggapnya
pastilah Tiong-sun Hui Kheng yang pernah menghinanya
sehingga membawa kematian anak buahnya sendiri, U-bun
Hong, maka ia sudah bertekad apabila gadis itu nanti datang
hendak dibinasakan sekalian.
Tetapi kini setelah melihat kedatangan It-pun Sinceng,
bukan saja merupakan suatu hal yang diluar dugaannya,
tetapi juga bukan orang diduga lebih dahulu olehnya, maka ia
bertanya sambil mengerutkan alisnya:
"Apakah kalian mengira dengan dua orang bergandengan
tangan, lantas sanggup melawanku."
Hee Thian Siang menggelengkan kepala dan berkata
sambil tertawa: "It-pun Taysu ini selama hidupnya belum pernah memukul
orang, kalau dia turun kelapangan hanya bersedia untuk
menerima gebukan saja!"
Pek-kut Thian kun tidak mengerti apa yang dimaksudkan
dengan ucapan Hee Thian Siang maka lalu bertanya dengan
terheran-heran: "Jikalau dia tiada maksud memukul orang, hanya hendak
menerima gebukan, apakah artinya itu?"
"Sebab kecuali kau, siapa yang pukulannya dapat
memuaskan It-pun Taysu ini?" berkata Hee Thian Siang
sambil tertawa. Pek-kut Thian kun berkata dengan perasaan masih
bingung: "Ia datang hanya khusus hendak menerima gebukanku, itu
bukankah terlalu dirugikan?"
"Tidak bisa rugi, biarlah kau yang memukulnya dan aku
yang memukul kau, dengan demikian bukankah menjadi adil?"
"Ah, aku mengerti! Pertandingan secara ini juga sangat
unik, kiranya kamu berdua yang seorang ialah tukang pukul
sedangkan yang lain ialah mandah digebuk!"
"Hingga sekarang kau mengerti, disini suatu bukti bahwa
kecerdikanmu dan kecepatanmu berpikir ternyata tidak ada
yang luar biasa." "Hee Thian Siang, kau jangan menggunakan tajamnya
lidah saja. Harus kau ketahui, meskipun kau merupakan orang
yang menjadi tukang pukul, juga belum tentu kau akan
mendapat keuntungan!" Berkata Pek-kut Thian-kun marah.
"Aku tahu, aku bisa berjaga-jaga dengan serangan ilmumu
Pek-kut Cui-sim!" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa
besar.

Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kalau kau tahu, itu baik! kita sekarang siap-siap buat
mulai, aku tidak akan membuka serangan lebih dulu. Tetapi
setiap kali kau memukul aku, barulah aku melakukan
serangan pembalasan kepada temanmu itu!"
Hee Thian siang tampak sangat girang, katanya:
"Jadi kau setuju dengan syarat yang ku-usulkan tadi ?"
"Mengapa tidak setuju" Paling banyak dalam tiga jurus,
diantara kamu berdua, orang yang bertindak sebagai tukang
pukul, sepasang tulang-tulang lengannya semua akan patah
dan orang yang mandah digebuk, tulang-tulangnya akan
remuk dan akhirnya akan mati sebagai daging cincangan!"
It-pun sinceng dengan tenang mendengarkan pembicaraan
mereka, hingga kini barulah ia menyebut nama Buddha,
kemudian berkata: "Pinceng bersedia dengan tenang untuk menantikan
serangan sicu!" Mata Pek-kut Thian kun tertuju kepada pot batu kumala
ditangannya, kemudian bertanya:
"Kalau kau memang bersedia digebuk, seharusnya berjaga-
jaga sebaik mungkin. Mengapa kau masih belum mau
meletakkan pot batu kumala ditanganmu itu ?"
Selagi It-pun Sinceng hendak menjawab, telah didahului
oleh Hee Thian Siang: "Didalam partai kalian Ceng-thian-pay ini banyak sekali
terdapat sahabat-sahabat yang menjadi tukang culik dan
perampok. Oleh karena itu It-pun Taysu kuatir, apabila pot
batu kumalanya ditinggalkan, bisa diambil oleh tukang sabot
atau perampok seperti apa yang dilakukan oleh orang tadi
terhadap benda milik Siaopek si monyet kecil itu."
Diejek demikian oleh Hee Thian Siang, selembar muka
Iblis Sungai Telaga 5 Pusaka Rimba Hijau Karya Tse Yung Tusuk Kondai Pusaka 9
^