Pencarian

Makam Bunga Mawar 6

Makam Bunga Mawar Karya Opa Bagian 6


tiba menunjukkan sikap yang aneh, dan setelah itu ia berkata
sambil tertawa: "Lote, mengapa kata-katamu ini seperti tidak selaras
dengan hatimu" Aku tahu waktu itu kau tidak berada diantara
banyak tokoh yang ada di puncak Thian-tu-hong!"
Hee Thian Siang diam-diam terkejut dan mengagumi
ketajaman pandangan mata Leng Pek Ciok, buru-buru ia
memberi keterangan sambil tertawa: "Toako, harap kau
jangan timbul rasa curiga, waktu itu memang benar aku tidak
berada diatas puncak Thian-tu-hong, tetapi hal ini aku
diberitahu oleh Say Han Kong sitabib sakti, bahkan aku dapat
menduga bahwa suami istri ketua Swat-san-pay tadi malam
kira-kira jam tiga terbokong orang dan letak tempatnya itu
tidak jauh dari sini."
Leng Pek Ciok yang mendengar keterangan itu merasa
keheranan, Hee Thian Siang berkata pula sambil tertawa:
"Toako barangkali hendak menanyakan aku lagi, dengan cara
bagaimana sampai tempatnya juga bisa menebak dengan
jitu?" Leng Pek Ciok benar-benar dibuat keheranan oleh kata-
kata Hee Thian Siang ini, sambil mengerutkan alisnya, ia
hanya menjawab "Hmmm. ." setelah itu ia diam saja.
"Tadi malam sekitar jam tiga aku pergi ke puncak, aku telah
mendengar suara bentakan dan jeritan ditempat ini, ketika aku
datang untuk melihat, sudah tidak tampak bayangan
seorangpun juga, hanya menemukan sepuluh butir lebih
senjata rahasia tunggal milik golongan Swat-san-pay, senjata
itu pada menancap di atas batu, dan tertampak dengan jelas."
Kini Leng Pek Ciok baru mengerti, mengapa Hee Thian
Siang dapat menebak begitu jitu waktunya, tempatnya, kiranya
tadi malam pernah mendengar dan mendatangi tempat
tersebut, maka itu lalu berkata sambil menghela napas
panjang: "Sebetulnya siapakah kawanan penjahat itu" Apakah
sebabnya ia membokong majikanku suami istri" Aku Leng Pek
Ciok pasti hendak membongkar rahasia ini, baru bisa pulang
ke gunung Swat-san untuk memberi laporan. Tetapi tempat ini
aku sudah mengadakan pemeriksaan hampir setengah hari,
sedikitpun tak ada tanda-tanda yang dapat kugunakan
sebagai penunjuk jalan untuk pengusutanku, dalam hal ini
apakah lote bisa memberi sedikit keterangan?"
"Perkara ajaib ini bukan saja toako hendak menyelidiki, aku
sendiripun bermaksud demikian sebab tadi malam ketika aku
menginjak daerah gunung Oey-san, sudah disambut dengan
serangan gelap. Sepanjang perjalanan, beberapa kali aku
telah diserang secara menggelap oleh senjata-senjata paku
berbisa dan jarum berbisa serta anak panah berbulu putih,
senjata rahasia itu merupakan senjata yang sangat berbisa."
"Tetapi senjata-senjata
semacam itu hanya dapat digunakan untuk menghadapi orang-orang persilatan biasa
saja, jikalau dimata kita, bukan terhitung senjata rahasia yang
ganas." "Yang lebih ganas dan berbisa bukan tidak ada, harap
toako lihat sendiri, tadi malam sahabatku hampir saja mati di
bawah senjata duri kecil ini yang sangat berbisa."
Sehabis berkata, ia mengeluarkan dua buah duri beracun
Thian-keng-cek yang dapat digulung olrh senjata jaring
wasiatnya, ia letakkan duri itu ditangan kanannya dan
diperlihatkan kepada Leng Pek Ciok.
Leng Pek Ciok setelah melihat duri beracun Thian-kheng-
cek, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, giginya
gemertakkan. Hee Thian Siang dapat melihat semua perubahan itu, ia
bertanya dengan sikap keheranan: "Bagaimana sikap Leng
toako berubah demikian rupa" Apakah senjata gelap yang
digunakan untuk menyerang suami istri Swat-san-pay juga
benda ini?" Leng Pek Ciok menganggukkan kepala membenarkan
pertanyaan Hee Thian Siang, lalu bertanya kepadanya:
"Sahabat laote itu siapakah adanya" Bisa yang terkandung
dalam duri beracun ini sangat jahat sekali, orang yang terkena
serangan duri ini, jarang yang bisa hidup. Maukah ia kuberi
sebutir buah teratai Swat-lian, yang sudah dibuat pil
mujarab. .?" Hee Thian Siang menggelengkan kepala dan berkata
sambil tertawa: "Terima kasih atas kebaikan toako, tetapi
sahabatku itu lukanya sudah disembuhkan oleh tabib sakti
Say Han Kong, ia adalah. ."
Leng Pek Ciok yang menyaksikan keadaan itu lantas
bertanya sambil mengerutkan alisnya: "Laote sudah berlaku
jujur dan terus terang, mengapa dengan tiba-tiba sikapmu
berubah demikian seperti ada apa-apa yang dirahasiakan?"
Berkata sampai di situ, tiba-tiba seperti baru sadar, ia
memandang pula Hee Thian Siang sejenak, kemudian berkata
pula sambil tersenyum: "Rasanya aku dapat menebak,
sahabat baik lote itu barangkali seorang pendekar wanita?"
Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, ia berkata sambil
menggelengkan kepala: "Dugaan toako tidak benar, dia hanya
seekor kera." Mendengar jawaban itu Leng Pek Ciok terkejut, dan
dengan perasaan heran memandang Hee Thian Siang
sejenak, sebentar kemudian tertawa terbahak-bahak sambil
mengurut-urut jenggotnya.
Hee Thian Siang buru-buru memberikan keterangan:
"Jangan tertawa, antara kera dengan kera adalah jauh sekali
perbedaannya, kera yang menjadi sahabatku itu, barangkali
boleh dikatakan sebagai makhluk yang susah didapatkan
dikolong langit ini, juga merupakan makhluk luar biasa."
Leng Pek Ciok merasa tertarik oleh keterangan itu, ia
berhenti tertawa dan bertanya sambil menatap Hee Thian
Siang: "Kera apakah yang kau maksudkan itu" Bagaimana
kau puji demikian tinggi?"
"Terlalu banyak kemujizatannya, ia denganku baru saja
mengikat tali persahabatan, belum cukup banyak pengertianku
terhadap dirinya, maka aku hanya dapat menceritakan
beberapa diantaranya saja, pertama dia mengerti bahasa
manusia, kedua dia memiliki kulit kebal yang tak mempan
segala senjata tajam, hingga senjata biasa saja tak dapat
melukai dirinya, ketiga dia pernah berlatih ilmu silat, bahkan
mahir sekali memainkan ilmu pedang Wan-kong Kiam-hwat."
Leng Pek Ciok yang mendengar keterangan itu agaknya
tidak percaya, ia bertanya dengan sikap heran: "Apakah
keterangan Laote ini tidak terlalu dibesar-besarkan"
Bagaimana ada kera begitu cerdik, bahkan paham akan ilmu
pedang segala?" "Tidak heran kalau toako merasa curiga, kemukjizatan kera
itu jikalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri
siapapun tidak mau percaya. Tetapi juga lantaran dia terlalu
cerdik dan terlalu lihai, maka tadi malam berlaku agak
gegabah, dengan mengandalkan kulitnya yang kebal, ia coba
menyergap musuhnya yang jahat itu, dan terkena senjata duri
beracun. ." Kata-kata duri beracun Thian-keng-cek itu telah membuat
Leng Pek Ciok yang mendengarkan menjadi marah, matanya
terbuka lebar, dan berkata sambil menunjuk duri di telapak
tangan Hee Thian Siang: "Hee lote, katamu bahwa duri
berujung tiga warna biru kehitaman ini adalah duri beracun
yang dinamakan Thian-keng-cek?"
Baru saja Hee Thian Siang menganggukkan kepala, Leng
Pek Ciok sudah berkata: "Aku seperti pernah dengar duri
beracun Thian-keng-cek ini, duri semacam ini hanya tumbuh
di puncak Kun-lun-san yang tertinggi."
"Benar, aku pernah menyaksikan dengan mata kepala
sendiri, anak murid Kun-lun-pay pernah menggunakan duri
beracun Thian-keng-cek ini."
Tetapi Leng Pek Ciok tidak percaya, ia berkata: "Tidak
benar, tidak benar, ketua Kun-lun-pay Tie-hui-cu adalah
sahabat baik majikanku Peng-pek Sin-kun, kedatangan
majikanku suami istri kali ini bersamaku dari tempat jauh justru
hendak memberi bantuan tenaga kepada Kun-lun-pay, dengan
cara bagaimana anak murid Kun-lun-pay bisa menggunakan
senjata rahasia sangat beracun ini untuk membokong kita?"
"Urusan ini memang benar-benar membingungkan orang,
pantas saja bibi Ca Bu Kao pernah mengatakan bahwa
perbuatan itu merupakan rencana keji yang dapat
menimbulkan bencana bagi seluruh rimba persilatan.
Sedangkan partai-partai Bu-tong, Siauw-lim dan Lo-hu, oleh
ketua masing-masing menunjukkan kemahiran mereka untuk
menundukkan orang-orang dari golongan Tiam-cong dan Ki-
lian, sehingga pertemuan di gunung Thian-tu-hong itu
diperpanjang satu tahun lagi, supaya orang-orang Kun-lun-pay
selama satu tahun itu dapat mencari keterangan untuk
membersihkan dirinya, maksudnya ialah di sini."
"Kiranya di atas puncak Thian-tu-hong masih ada terjadi
urusan demikian ramai, aku merasa sangat menyesal karena
repot hampir setengah harian ditempat ini, sehingga tak dapat
menyaksikan keramaian itu, aku juga tidak tahu akan
pertemuan itu diperpanjang waktunya, kalau begitu sekarang
tentu sudah ditutup?"
Hee Thian Siang lalu menceritakan apa yang telah
didapatnya dari keterangan Oe-tie Kao, Leng Pek Ciok setelah
mendengar penuturan lalu berkata:
"Kalau demikian halnya, aku rasanya perlu segera pulang
ke Tay-swat-san, untuk melaporkan semua kejadian itu
kepada majikanku suami istri, Swat-san-pay rasanya juga
harus menyumbangkan sedikit tenaga untuk mencegah
bencana yang mengancam rimba persilatan ini."
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan Leng Pek Ciok
segera mengerti bahwa orang tua itu sudah akan
meninggalkan dirinya, maka ia memandangnya lama sekali
seolah-olah merasa berat untuk ditinggalkan.
Leng Pek Ciok yang menyaksikan demikian lantas
menepok pundak Hee Thian Siang dan berkata sambil
tersenyum: "Laote benar-benar seorang sangat baik dan
penuh cita rasa, tetapi manusia dimana saja bisa bertemu,
apalagi aku setelah pulang ke Swat-san dan melapor kepada
majikanku suami istri, segera terjun kembali ke dunia
Kangouw, untuk memberi bantuan tenaga kepada orang-
orang Kun-lun-pay, dan menyelidiki peristiwa ini. Karena
tujuan kita masing-masing sama, mungkin setiap waktu setiap
tempat kita bisa bertemu lagi. Kuharap laote baik-baik
membawa dirimu." Sehabis mengucapkan demikian, lantas berlalu
meninggalkan Hee Thian Siang.
Hee Thian Siang mengawasi berlalunya sahabat yang baru
dikenalnya itu, seolah-olah kehilangan sesuatu.
Selagi dalam keadaan demikian, kembali terdengar suara
binatang aneh, yang datang dari arah sejarak kira-kira sepuluh
tombak. Suara itu sudah tidak asing lagi baginya. maka saat itu
semangat Hee Thian Siang mendadak bangun, ia berseru
dengan suara nyaring: "Siaopek, kau ada dimana?"
Suara binatang tadi terdengar pula, tetapi sebentar
kemudian lantas diam, dari belakang puncak gunung,
terdengar suara kaki kuda, tak lama kemudian muncul seekor
kuda tinggi besar berbulu hijau, di atas kuda duduk seorang
gadis yang sangat cantik, gadis itu bukan lain daripada gadis
yang selalu menggoda hatinya, Tiong-sun Hui Kheng.
Binatang aneh berbulu emas itu mengikuti di belakang
kuda, sedangkan siaopek si kera berbulu putih sangat cerdik,
tampak berada dalam pelukan Tiong-sun Hui Kheng tetapi
waktu itu sekujur badan yang putih meletak sudah tertutup
selapis rompi emas. Selanjutnya Tiong-sun Hui Kheng membuat Hee Thian
Siang berdebaran, saat itu dalam hatinya ada satu perasaan,
ialah wajah gadis itu sesungguhnya terlalu cantik, sikapnya,
sehingga membuatnya merasa malu terhadap dirinya sendiri.
Hee Thian Siang sedapat mungkin menindas perasaannya
sendiri ia mencoba berusaha mengendalikan debaran
jantungnya, tetapi dalam benaknya kembali timbul pertanyaan,
ia coba-coba bertanya kepada diri sendiri: Apakah gadis inilah
yang pernah dilihatnya di gunung Kiu-gi-san itu"
Selagi pikirannya diliputi oleh berbagai pertanyaan, kuda
berbulu hijau itu sudah menghampiri Hee Thian Siang tinggal
satu tombak lebih, dan pada saat itulah menghentikan
langkahnya. Tiong-sun Hui-kheng yang menyaksikan sikap Hee Thian
Siang demikian rupa, mengeluarkan suara terkejut, sambil
memondong kera cerdik siaopek lompat turun dari atas kuda.
Gerakan gadis itu, baru menyadarkan Hee Thian Siang,
dengan wajah kemerahan, ia menyoja memberi hormat,
kemudian berkata sambil tersenyum: "Nona Tiong-sun, kau
benar-benar seorang yang boleh dipercaya. ."
Belum lagi habis ucapannya, dari mulut Tiong-sun Hui-
kheng sudah tercetus suaranya yang sangat merdu, tanyanya
sambil tertawa: "Oleh karena ada urusan, kedatanganku jadi
terlambat setengah hari, bagaimana kau masih mengatakan
aku seorang yang boleh dipercaya?"
Hee Thian Siang selamanya pintar omong, pandai
berdebat, tetapi sungguh heran hari ini baru saja membuka
mulut, setelah dipotong oleh Tiong-sun Hui-kheng demikian,
wajahnya lantas menjadi merah, tidak mampu menjawab!
Tiong-sun Hui-kheng tersenyum dan berkata pula: "Siaopek
memang terlalu sombong dan suka sok berlaku gagah,
sehingga hampir saja kehilangan jiwanya, kuucapkan terima
kasih padamu yang sudah memberikan pertolongan
kepadanya, budimu ini tak akan kulupakan untuk selama-
lamanya.!" Hee Thian Siang mengerti bahwa Tiong-sung Hui-kheng
sudah mengetahui apa yang tadi malam telah terjadi, ia tahu
hal itu pasti adalah siaopek yang memberitahukan kepadanya,
diam-diam ia mengerti bahwa apa yang diduganya itu
sedikitpun tidak keliru, bahwa gadis itu memang paham
bahasa hewan. Sambil berpikir, ia merendahkan diri tetapi
ketika matanya ditujukan pada kera putih, ia lihat bahwa rompi
emas yang dipakai oleh kera itu, ada mengandung sinar aneh,
maka ia lalu bertanya dengan perasaan aneh: "Rompi emas
dibadan siaopek ini. ."
Tidak menunggu Hee Thian Siang melanjutkan


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perkataannya sudah dipotong oleh Tiong-sun Hui-kheng
sambil tertawa: "Rompi ini kubuat dengan menggunakan sisik
naga pelindung jalan darah, benda wasiat peninggalan Tay-
piat Sianjin, barang itu memang didapatkan oleh siaopek
ketika di gunung Tay-pat-san, ia mendapat benda itu dengan
susah payah, kalau kubuatkan sepotong rompi untuk ia pakai
supaya jangan sampai di bokong orang lagi, bukankah itu
sudah sepantasnya?" Hee Thian Siang yang mendengar keterangan itu merasa
mengiri terhadap siaopek. Ia mengiri karena peruntungan kera
itu sesungguhnya bagus sekali, setiap hari hampir tidak
pernah berpisah dengan gadis cantik ini, bahkan diberikan
rompi dari benda wasiat peninggalan tokoh rimba persilatan
yang tiap orang persilatan ingin mendapatkannya, kalau hal ini
diceritakan kepada orang lain, barangkali tidak ada orang
yang mau percaya. Tiong-sun Hui Kheng yang melihat Hee Thian Siang
matanya terus ditujukan kepada rompi emas yang dipakai oleh
siaopek, lalu tersenyum dan bertanya kepadanya:
"Dimana nona Hok Siu In itu sekarang?"
Pertanyaan itu kembali membuat merah wajah Hee Thian
Siang, ia buru-buru membantahnya: "Nona Hok Siu In itu
denganku bukan merupakan sahabat akrab, kami masih ada
sedikit perselisihan paham, sudah berjanji dengannya bahwa
tanggal dua puluh bulan lima tahun depan kami akan
mengadakan pertandingan ilmu silat diatas puncak Ngo-bi-
san!" Tiong-sun Hui-kheng yang melihat sikap Hee Thian Siang,
yang setiap kali ditanya olehnya wajahnya lantas menjadi
merah, maka diam-diam disamping merasa heran juga
dianggapnya sangat lucu. Ia menunjukkan senyumnya yang
manis, kemudian bertanya pula: "Kau ini kalau bukan
mengajak orang berkelahi, lantas mengajak orang
mengadakan pertaruhan, suatu tanda bahwa kau selalu
mengandalkan kepandaianmu, dan tidak menjaga baik-baik
kelakuanmu sendiri! Aku ingat ketika kau berada di gunung
Tay-pat-san kau pernah berkata padaku bahwa kau pernah
bertaruh dengan suciku Hwa Ji Swat."
Kali ini Hee Thian Siang mukanya tidak merah, bahkan
dengan alis berdiri ia menjawab: "Urusan ini bagaimana bisa
bohong" Kau lihat bukankah jaring wasiat merah ini milik
sucimu" Sekarang berada di tanganku karena kumenangkan
dengan jalan pertaruhan."
Sehabis berkata demikian, ia lantas mengeluarkan jaring
wasiatnya dan diperlihatkan kepada Tiong-sun Hui-kheng.
Terhadap jaring wasiat warna merah itu bagi Tiong-sun
Hui-kheng sudah tentu bukan barang asing lagi, maka begitu
melihatnya ia segera mengenali. Diam-diam juga merasa
heran, ia juga tak mengerti dengan cara bagaimana sucinya
bisa menggunakan barang wasiat itu dibuat taruhan dengan
Hee Thian Siang" Dalam keadaan terheran-heran demikian, ia
bertanya kepada pemuda itu: "Dengan cara bagaimana suciku
itu mengadakan pertaruhan denganmu?"
Hee Thian Siang kini sudah tidak begitu tegang
perasaannya, pikirannya pelan-pelan mulai tenang kembali,
maka ia dapat menjawab sambil tersenyum: "Kalian adalah
suci dan sumoi, sudah tentu sifatnya juga tidak berbeda jauh,
Bu-san siancu Hwa Ji Swat caranya bertaruh denganku justru
mirip dengan caramu bertaruh dengan tabib sakti Say Han
Kong, ia menanyakan tiga pertanyaan kepadaku suruh aku
yang menjawab." "Tiga pertanyaan apa yang oleh suciku ditanyakan
kepadamu" Bolehkah kau beritahukan kepadaku?"
Pada waktu itu dua orang itu hanya terpisah beberapa kaki
saja, Hee Thian Siang bukan saja dapat menghirup bau harum
dari tubuh Tiong-sun Hui-kheng tetapi ia juga merasakan
setiap gerak-gerik gadis itu mempunyai pengaruh yang
agaknya susah dilawan. "Waktu aku mengadakan pertaruhan dengan sucimu, justru
pada malaman lima belas, Hwa Ji Swat lantas mendapat
inspirasi mengajukan pertanyaan kepadaku, yang ada
bersangkutan dengan rembulan. Ia bertanya kepadaku begini:
- Rembulan di atas langit itu mengapa bisa suram dan
mengapa bisa terang, mengapa kadang-kadang bundar dan
kadang-kadang hanya setengah "- "
"Dan bagaimana kau menjawab?"
"Bagi orang yang mengerti syair-syair, kebanyakan dapat
menjawabnya, jawabanku begini: -
Manusia ada suka dan dukanya, begitupun dengan rembulan, ada masa suram dan
ada masa terang - ada peribahasa pernah berkata, -Jika ada
cinta kasih, orang tidak akan merasa tua, jika tidak ada
kemasgulan, rembulan akan tetap pudar. .-"
Tiong-sun Hui Kheng yang mendengarkan tampak
mengerutkan alisnya, kemudian bertanya: "Pertanyaan kedua
bagaimana?" "Pertanyaan kedua itu masih tetap berkisar dan
bersangkutan dengan jawabanku tadi, ia bertanya: -
Bulan purnama yang menyinari seluruh jagat, bagaimana bisa
masgul "-" Tiong-sun Hui Kheng menatap wajah Hee Thian Siang,
Hee Thian Siang mengerti apa maksudnya, maka ia lantas
berkata: "Jawabanku kali ini, aku menyindir beberapa patah
syair pujangga Lie-gie-san di jaman dahulu: - Song Go (Dewi
Rembulan) seharusnya merasa menyesal atas perbuatannya
mencuri obat mukjizat ! Dibawah langit yang biru, diatas laut
yang luas, hati tergoda -. Demikianpun dengan keadaanmu,
perasaan dalam hatimu mungkin sama atau setidak-tidaknya
mirip dengan Dewi Rembulan itu."
Tiong-sun Hui Kheng menganggukkan kepala dan berkata:
"Kau benar-benar sangat pintar, jawabanmu itu justru
mengenakan hati dan perasaan Hwa suci, lantas ia
menghadiahkan benda wasiat perguruannya kepadamu! Dan
pertanyaan ketiga itu apa lagi?"
"Pertanyaan ketiga itu ia menggunakan peribahasa
LAUTAN KERING, BATU RUSAK, sekarang aku hendak
tanya kepadamu, LAUTAN BAGAIMANA BISA KERING, DAN
BATU BAGAIMANA BISA RUSAK?"
"Pertanyaan itu rasanya tidak begitu mudah untuk dijawab!"
"Waktu itu aku sebetulnya merasa sulit, tetapi selagi aku
sedang berpikir, ada seekor burung malam terbang diangkasa,
burung itu menimbulkan inspirasi dalam pikiranku, maka aku
menggunakan burung itu untuk menjawab pertanyaannya."
"He! Seekor burung malam" Bagaimana bisa
membangkitkan inspirasimu" Dan bagaimana kau
menjawab?" "Didalam dunia ini TIDAK SEMUA BURUNG PANDAI
MENJAGA DIRI, DIKOLONG LANGIT INI TIADA ORANG
YANG TIDAK TAHU BAHWA KAUM WANITA ITU
MERUPAKAN BAHAYA?" "Jawabanmu ini sesungguhnya merupakan satu pikiran
yang luar biasa, jawabanmu ini memang bagus sekali!"
Berkata Tiong-sun Hui Kheng sambil tertawa.
Di bibir Hee Thian Siang saat itu tersungging suatu
senyuman bangga, tetapi Tiong-sun Hui Kheng setelah
memberi pujian kepadanya, seolah teringat sesuatu, ia
berkata sambil menganggukkan kepala: "Aku mengerti,
sebabnya suciku Hwa Ji Swat kalah pertaruhan denganmu,
semata-mata karena kesombongannya sendiri. Dalam
pikirannya jikalau ingin menangkan dirimu, harus ia
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih susah!"
Hee Thian Siang tidak mengerti apa yang diucapkan gadis
itu, dengan alis yang dikerutkan ia bertanya keheranan: "Nona Tiong-sun, kau
kata kekalahan sucimu itu disebabkan karena
pertanyaan yang diajukan itu agak sulit?"
"Benar. Jikalau ia majukan pertanyaan yang mudah, belum
tentu kau dapat menjawab."
"Pertanyaan yang agak mudah bagaimana lebih susah
dijawab daripada pertanyaan yang lebih susah?"
Sepasang mata Tiong-sun Hui-kheng yang jeli dan tajam
menatap wajah Hee Thian Siang kemudian berkata sambil
mengangguk kepala: "Apakah kau ingin mencobanya?"
"Mau, aku ingin mencoba. Biarlah aku menggunakan
senjata pusaka golonganku Kian-thian Pek-lek untuk barang
taruhan yang pertama."
Tiong-sun Hui-kheng yang mendengar ucapan itu matanya
kembali menatap Hee Thian Siang, kemudian berkata sambil
tersenyum: "Oo, jadi kau ini muridnya Pak-bin Sinpo Hong-poh
Cui locianpwe, tetapi senjata peledak Kian-thian Pek-lek itu
meskipun dianggap sebagai barang mujizat dalam rimba
persilatan, bahkan juga menggemparkan dunia Kang-ouw,
namun aku tidak suka dengan barang yang terlalu ganas itu."
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu malah
mendapat kesan bahwa gadis itu sudah yakin akan menang,
maka dalam hati merasa agak mendongkol. Ia mengeluarkan
benda wasiat jaring sutera berwarna merah, kemudian
berkata: "Nona Tiong-sun, kau boleh majukan pertanyaanmu,
kalau kau tidak menghendaki senjataku Kian-thian Pek-lek,
biarlah aku menggunakan benda wasiat hadiah sucimu ini
sebagai barang taruhan."
"Bagaimana kau begitu terburu nafsu" Barang taruhanku
sendiri toh belum kukeluarkan."
"Tidak perlu, menurut katamu ini, seolah-olah aku sudah
pasti kalah! Bagaimanapun juga hari ini kita akan mengadakan
pertaruhan tiga pertanyaan, seandainya aku benar-benar
kalah, barangku ini tidak halangan kuberikan kepada nona
sebagai barang hadiah!"
"Kau tampaknya tahu diri, juga sangat polos, tapi aku tidak
memiliki barang apa-apa, jikalau aku kalah sehingga tidak
dapat mengeluarkan barang yang dapat digunakan sebagai
barang taruhan, aku nanti akan menghentikan pertanyaanku!"
Tiong-sun Hui Kheng tampaknya semakin yakin bahwa
kemenangan pasti berada dipihaknya, sudah tentu membuat
Hee Thian Siang semakin penasaran. Tetapi oleh karena
gadis itu baik wajahnya maupun tingkah lakunya dan tata
bahasanya, semua menimbulkan kegairahannya, maka
membuat Hee Thian Siang yang biasa beradat tinggi hati, hari
itu benar-benar tidak bisa berkutik.
"Baiklah kuturuti kehendakmu, tetapi aku tidak tahu apakah
jaring sutera warna merah ini boleh digunakan sebagai barang
pertaruhan atau tidak?"
"Benda itu adalah benda wasiat tunggal yang diciptakan
oleh ayah, sudah tentu boleh! Kau sekarang siaplah,
pertanyaanku yang ku anggap paling mudah, tetapi bagimu
barangkali merupakan pertanyaan yang paling susah dijawab."
Hee Thian Siang yang menghadapi gadis cantik bagaikan
bidadari ini, meskipun jantungnya selalu berdebaran, tetapi ia
masih tetap waspada ketika mendengar ucapan itu, ia selalu
berusaha untuk menenangkan pikirannya, menantikan
pertanyaan gadis itu. Tiong-sun Hui Kheng dengan sikapnya yang tenang
mengelus-elus kepala kera putih kecil yang cerdik itu, matanya
menatap wajah Hee Thian Siang, ia berkata sambil
tersenyum: "Sekarang tolong kau jawab pertanyaanku: BULU
SEKUJUR BADAN KERA YANG KUSAYANG INI,
BAGAIMANA BISA PUTIH?"
Hee Thian Siang yang ditanya demikian, jadi tercengang,
sementara dalam hatinya berpikir: Pertanyaan ini benar-benar
kurang ajar! Bulu kera itu putih atau kuning adalah
pembawaan alam, apakah bulu kera hitam harus disebut
putih" Akan tetapi meskipun dalam hatinya merasa bahwa
pertanyaan itu terlalu sederhana dan mudah, namun mulutnya
tidak tahu bagaimana harus menjawab, apalagi harus
menjawab dengan tepat. Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan pemuda itu terus
berpikir tidak menjawab, kemudian menatap wajahnya, dan
bertanya sambil tersenyum: "Kukatakan bagaimana"
Pertanyaan ini terlalu mudah sekali, tetapi sebaliknya kau
tidak dapat menjawab."
Hee Thian Siang sangat penasaran, dengan tiba-tiba ia
angkat muka, hingga dua pasang matanya bertemu.
Sejak ia bertemu muka dengan Tiong-sun Hui Kheng, Hee
Thian Siang merasa bahwa pandangan mata gadis itu seolah-
olah mengandung daya tarik yang luar biasa. Tiap kali kalau ia
yang berpandangan dengan gadis itu, hatinya selalu
berdebaran, pikirannya bingung, tidak dapat mengendalikan
perasaannya sendiri. Dan sekarang selagi hendak menjawab, apalagi kembali
kebentrok dengan sepasang mata gadis itu yang halus dan
tajam, sehingga pikirannya kembali menjadi kalut, ia tidak
dapat memikirkan bagaimana harus menjawab.
Tiong-sun Hui Kheng yang melihat tingkah laku Hee Thian
Siang seperti orang setengah kemalu-maluan setelah beradu
mata dengan dirinya sendiri juga menjadi merah wajahnya,
saat itu menundukkan kepalanya, sudah tentu ia anggap
bahwa pemuda itu sudah mengaku kalah, dia lantas berkata
sambil mengulurkan tangan: "Kalau kau sudah tak bisa
menjawab dan menyerah kalah, bagaimana kau tidak
memberikan jaring sutera berwarna merah itu kepadaku?"
Kalau pandangan mata Tiong-sun Hui Kheng bisa
mengalutkan pikiran Hee Thian Siang, apalagi suaranya yang
sangat merdu itu, sudah tentu lebih besar pengaruhnya,
hingga semakin membuat pemuda itu tidak berdaya sama
sekali. Maka ia lalu memberikan benda wasiat jaring sutera warna
merah itu kepadanya, sementara dalam hati berpikir: Bukan
hanya menyerah kalah saja tapi juga kekalahan ini benar-
benar tidak habis dimengerti.
Tiong-suh Hui Kheng menyambuti benda pusaka dari
tangan Hee Thian Siang, setelah itu ia tersenyum dan berkata
pula: "Terhadap pertanyaanku yang pertama ini, kalau kau
sudah menyerah kalah, apakah masih perlu mengadakan
pertaruhan lagi?" Hee Thian Siang kali ini mengelakkan pandangan matanya
dari gadis itu, ia menjawab sambil menganggukkan kepala:
"Sudah tentu mau, pertanyaanmu yang kedua ini, kau toh
tidak akan menyakan tentang kudamu itu, dan tentang bulu


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

warna kuning emas binatang anehmu itu, mengapa bulu
mereka itu bisa hijau dan kuning, bukan?"
Tiong-sun Hui Kheng yang mendengar perkataan itu juga
merasa geli, sehingga menunjukkan tertawanya yang manis,
sikap demikian ini dimata Hee Thian Siang semakin
mengalutkan pikirannya, dalam hatinya berpikir: Tidak perduli
gadis itu adalah yang pernah dilihatnya di gunung Kiu-gi-san
atau bukan, aku juga akan terus berusaha untuk
mendapatkannya. Selagi masih berpikir demikian, telinganya sudah
mendengar ucapan Tiong-sun Hui Kheng yang sangat merdu:
"Jikalau kau mau bertaruh lagi, kau hendak menggunakan
barang apa sebagai barang pertaruhan?"
Hee Thian Siang sebetulnya akan mengeluarkan sepasang
senjatanya gelang Sam-ciok Kang-hwan, tetapi oleh karena
Tiong-sun Hui Kheng tidak menyukai barang-barang atau
senjata tajam yang sifatnya ganas, maka ia teringat kepada
Kipas May Cing Ong yang diberikan kepadanya, tapi apa mau
barang itu sudah terjatuh ditangan murid Kun-lun-pay, jikalau
tidak, barang itu pasti dapat digunakan sebagai barang
taruhan. Kini barang yang cukup berharga yang masih ada padanya
hanya batu giok warna ungu berbentu bunga mawar milik duta
bunga mawar yang diberikan kepadanya sebagai tanda
kepercayaan, tetapi duta bunga mawar pernah berpesan
barang itu jangan sampai hilang, maka ia menjadi ragu-ragu,
apakah barang itu boleh dipinjam dulu?"
Tiong-sun Hui Kheng yang melihat Hee Thian Siang
memasukkan tangannya kedalam saku, seolah-olah hendak
mengeluarkan barang, tetapi lama tidak menjawab, maka
lantas bertanya kepadanya: "Bagaimana kau ini terus berpikir
saja, apa kecuali benda wasiat hadiah suciku itu sudah tak
ada lagi barang kedua yang agak berharga?"
Ditanya demikian, wajah Hee Thian Siang kembali menjadi
merah, tanpa dipikir panjang lagi, ia mengeluarkan tanda
kepercayaan duta bunga mawar, diperlihatkan kepada Tiong-
sun Hui Kheng: "Coba kau lihat, bunga mawar yang terbuat
dari batu giok ini boleh tidak kupergunakan sebagai barang
taruhan?" Tiong-sun Hui Kheng menyambuti barang yang diberikan
kepadanya, lalu diperiksanya sebentar, dan kembalikan
kepada Hee Thian Siang, setelah itu ia berkata sambil
menganggukkan kepala: "Boleh. . boleh, batu giok warna ungu
ini bukan saja bahannya bagus sekali, ukiran bunga mawar
yang diukir diatasnya ini juga sangat indah! Tahukah kau
bahwa diantara begitu banyak bunga, hanya bunga mawar
saja yang menjadi kesukaanku?"
Hee Thian Siang ketika mendengar Tiong-sun Hui Kheng
menerima baik tawarannya menggunakan lambang bunga
mawar itu sebagai barang taruhan, hatinya kembali
berdebaran, karena kali ini biar bagaimana tidak boleh kalah
lagi, jikalau tidak, bukan saja tidak mempertanggung jawabkan
terhadap duta bunga mawar, tetapi juga sudah tidak ada
barang berharga lagi didalam sakunya yang dapat digunakan
untuk barang taruhan ketiga.
Hee Thian Siang yang sedang menghadapi lawan yang
tangguh, ia berusaha untuk menenangkan kembali pikirannya,
sesudah pikirannya itu tenang kembali, barulah berkata
kepada Tiong-sun Hui Kheng: "Nona Tiong-sun, pertanyaan
yang kedua ini kau hendak menanyakan soal apa, bolehkan
sekarang kau mulai?"
Tiong-sun Hui Kheng entah disengaja atau tidak, kembali
menggunakan sinar mata yang tajam bagaikan pedang
pusaka, dan gerak-geriknya yang menggairahkan serta
suaranya yang merdu merayu, semuanya itu merupakan
senjata yang paling berbahaya dan lebih tajam dari segala
senjata yang paling tajam.
"Pertanyaanku yang kedua ini jauh berbeda dengan
pertanyaan yang pertama, aku ingin kau menebak, APA
SEBABNYA DIANTARA BEGITU BANYAK BUNGA, AKU
HANYA PALING SUKA KEPADA BUNGA MAWAR SAJA?"
Kali ini karena Hee Thian Siang sebetulnya malah takut
kalah, maka matanya tidak berani memandang wajah gadis itu
lagi, ia mengelak dan jangan sampai beradu pandang dengan
gadis cantik itu. Tetapi antara pria dan wanita, kadang-kadang ada banyak
hal yang aneh yang tak dapat dimengerti oleh orang-orang
yang bersangkutan. Tiong-sun Hui-kheng dengan mata yang
jeli memandang Hee Thian Siang yang waktu itu sedang
menundukkan kepala dan menantikan jawabannya, masih
tetap membuat pemuda yang keras kepala dan tinggi hati itu
merasakan betapa hebat pandangan mata gadis itu.
Pertanyaan yang diajukan itu sebetulnya boleh dijawab
sesukanya, tetapi kalau mau supaya jawaban itu mencocoki
hati yang bertanya, sesungguhnya terlalu sulit. Sebab seorang
gadis lemah lembut seperti Tiong-sun Hui Kheng ini, tidak
mungkin menyukai bunga mawar karena banyak durinya.
Tetapi gadis itu sudah menganggap bunga mawar yang paling
disukai dan lebih berharga dari bunga-bunga cempaka, teratai,
seruni dan lain-lainnya, yang banyak disukai oleh kaum
wanita, apakah sebabnya"
Pertanyaan itu belum dapat menemukan jawabannya,
hidung Hee Thian Siang sudah menghirup harum yang
dipancarkan dari tubuh Tion-sun Hui Kheng, dan sementara
itu Tiong-sun Hui Kheng sudah mengulurkan tangannya yang
putih halus mengambil lambang bunga mawar batu giok ungu
yang berada dalam tangannya, kata gadis itu sambil
tersenyum: "Kau tidak dapat menjawab, sudahlah lekas
mengaku kalah saja, kau harus tahu bahwa kalau kau bisa
menyerah kalah dengan rela, barulah bisa mulai berpikir lagi
dari semula, tidak sampai mengalami penderitaan terlampau
hebat." Karena ia benar-benar tidak dapat menjawab, maka kali ini
untuk kedua kalinya ia dikalahkan, tanpa disadari ia sudah
angkat kepala dan memandang Tiong-sun Hui Kheng, tetapi
kali ini ia memandangnya dengan perasaan penuh
kekhawatiran dan malu. Tiong-sun Hui Kheng yang melihat sikapnya demikian,
alisnya dikerutkan, agaknya merasa tidak enak, ia berkata
sambil tersenyum: "Kau jangan putus asa, pertanyaan
pertama dan kedua meskipun sudah kalah, tetapi masih ada
pertanyaan yang ketiga, mungkin kau bisa menang!"
Wajah Hee Thian Siang dari merah berubah menjadi pucat,
ia berkata sambil menggelengkan kepala: "Aku tidak mau
lakukan pertaruhan yang ketiga lagi!"
Tiong-sun Hui Kheng memang sudah tahu bahwa pemuda
yang tampan dan gagah ini sifatnya sangat keras dan tinggi
hati, namun demikian pemuda itu memiliki kepandaian ilmu
silat dan ilmu surat yang sama baiknya, dia sendiri juga
merasa kagum. Oleh karena itu setelah mendengar jawaban
diluar dugaannya, segera bertanya dengan perasaan
keheranan: "Mengapa kau tak mau bertaruh lagi" Apakah kau
anggap bahwa pertanyaanku itu ada yang tak adil?"
"Aku bukan tidak mau bertaruh denganmu, melainkan aku
sudah tidak mempunyai barang lain lagi yang dapat digunakan
untuk bertaruh!" Tiong-sun Hui Kheng hanya mengeluarkan suara "Oo. ."
saja, bibirnya bergerak-gerak agaknya hendak mengatakan
sesuatu, tetapi setelah dipikir-pikir, ia batalkan maksudnya dan
menganggukkan kepala kepada Hee Thian Siang, setelah itu
berkata: "Pertaruhan yang ketiga itu boleh juga kita tunda dan dilakukan lain
waktu saja!" Sehabis bicara demikian, ia lompat melesat ke atas kudanya dan
berjalan pelan-pelan meninggalkan Hee Thian Siang.
Hee Thian Siang mengawasi berlalunya gadis itu, di
wajahnya yang penuh rasa malu kini timbul senyuman di
bibirnya, ia pikir ditunda untuk lain waktu juga baik, jikalau
tidak, untuk menjumpai nona Tiong-sun ini dimana harus
dicarinya" Selagi keadaan melamun, Tiong-sun Hui Kheng tiba-tiba
balik kembali, ia bertanya kepadanya:
"Kau setelah berlalu dari tempat ini apakah hendak pulang
ke gunung Pak-bin-san?"
Hee Thian Siang menggeleng-gelengkan kepala, Tiong-sun
Hui Kheng bertanya pula: "Jikalau aku hendak mencari kau
untuk melanjutkan pertaruhan kita yang ketiga, kemana aku
harus mencari. ." "Sekarang ini aku hendak melakukan perjalanan ke Barat
untuk pergi ke gunung Kie-lian-san dan Tiam-cong-san, bulan
lima tahun depan akan mendaki gunung Ngo-bie-san untuk
melakukan pertandingan pedang dengan Hok Siu In, tanggal
enam belas bulan dua belas akan pergi lagi ke puncak Thian-
tu-hong di gunung Oey-san untuk menghadiri pertemuan
orang-orang rimba persilatan. Begitu banyak tempat yang
harus kukunjungi, seharusnya kau dapat menemukan aku."
Tiong-sun Hui Kheng memandang padanya dengan penuh
arti, selagi hendak putar kembali kudanya, tetapi ia dengan
tiba-tiba tersenyum kepadanya, dari tangannya meluncur
keluar tiga lembar emas berkilauan.
Hee Thian Siang tahu bahwa gadis itu agaknya tidak
mengandung maksud jahat, maka tiga lembar emas
berkilauan itu disambutnya, emas itu ternyata adalah tiga
lembar sisik emas. "Sisik naga pelindung jalan darah peninggalan Tay-piat
Sianjin, semuanya ada tiga puluh enam lembar. Meskipun aku
sudah pergunakan untuk membuat rompi siopek tetapi oleh
karena badannya kecil, masih ada tinggal enam buah
banyaknya, sekarang kita berdua bagi sama rata masing-
masing mendapat bagian tiga lembar."
Hee Thian Siang tidak menduga bahwa Tiong-sun Hui
Kheng setelah menangkan jaring warna merah dan lambang
bunga mawar, masih menghadiahkan padanya tiga lembar
sisik naga pelindung jalan darah yang merupakan barang
pusaka bagi orang-orang persilatan. Maka ketika itu ia agak
bingung sendiri, tidak tahu harus menerima atau tidak"
Tiong-sun Hui Kheng yang menyaksikan keadaan
demikian, memandang padanya sambil tersenyum dan
berkata: "Bagaimana kau masih tidak menerimanya"
Pertaruhan tinggal pertaruhan, tetapi sahabat tetap sahabat,
kita yang bertemu muka secara kebetulan, bagaimanapun
juga merupakan jodoh, aku dengar kau hendak pergi ke Barat
melakukan perjalanan ke gunung Ki-lian-san, oleh karena
manusia-manusia Ki-lian-pay semua merupakan orang-orang
yang sangat kejam dan mahir menggunakan segala senjata
berbisa, maka barulah kuhadiahkan kau tiga lembar sisik naga
pelindung jalan darah ini, untuk melindungi dirimu, tak lama
rasanya kita akan bertemu lagi, harap baik-baik menjaga
dirimu sendiri!" Kata-kata gadis itu seolah-olah mengandung maksud
dalam, sehingga Hee Thian Siang yang mendengarkan
jantungnya berdebaran, pikirannya bergolak, perasaannya
kabur! Barulah setelah telinganya mendengar suara kuda
yang dilarikan, mulai tersadar pikirannya, tetapi waktu itu si
gadis jelita sudah menghilang dari hadapannya.
Dua kali pertaruhan Hee Thian Siang sudah kalah. Dua
buah benda pusakanya yang tak ternilai harganya, sudah
terjatuh ditangan gadis itu, namun demikian ia merasa
senang, sebab dengan demikian ia bisa mempererat
perkenalannya, apalagi setelah mendengar suara gadis itu
yang mengucapkan bahwa pertemuan yang tidak terduga ini
bagaimanapun juga adalah jodoh, dan pemberiannya
kepadanya tiga lembar sisik naga pelindung jalan darah itu
agaknya juga mengandung maksud dalam.
Tetapi kalau dipikir lagi, apabila gadis itu juga menaruh hati
kepada dirinya bagaiman meninggalkan lagi secera tergesa-
gesa" Jikalau mau dikatakan tidak suka, mengapa sudah
pergi balik lagi dan memberikan barang kepadanya sebagai
benda peringatan, bahkan menanyakan jejak selanjutnya
untuk mengadakan pertemuan yang kedua"
Hee Thian Siang yang baru pertama kali terlibat dalam
jaring asmara, tidak dapat menjajagi pikiran Tiong-sun Hui
Kheng terhadap dirinya, ada timbul benih cinta kasih atau
tidak, sehingga lama ia berdiri bingung dan terombang-ambing
dalam pikirannya sendiri.
Akhirnya ia teringat kepada tulisan di atas kertas yang
didapatkan didekat goa kuno yang terdapat rangka burung
elang raksasa, yang mengatakan bahwa: Ca tidak halangan,
Hok patut dikasihani, Giok ada durinya dan Kheng banyak cita
rasa. Menurut kata-kata terakhir itu maka Hee Thian Siang
dapat menduga bahwa Tiong-sun Hui Kheng yang cantik
manis dan penuh cita rasa itu, setidak-tidaknya mengandung
rasa simpatik terhadap dirinya.
Oleh karena Hee Thian Siang sudah menganggap bahwa
Tiong-sun Hui Kheng juga suka kepadanya, sudah tentu ia
menganggap bahwa pemberian hadiah tiga lembar sisik naga
pelindung jalan darah itu mengandung arti terlalu dalam. Ia
tidak mau menyia-nyiakan maksud baik orang, maka ia juga
simpan baik-baik sebagai barang pusaka yang paling
berharga, apalagi untuk melindungi jalan darah terpenting
anggota badannya sendiri.
Oleh karena bibi Ca Bu Kao sudah pergi mengejar jago
pedang Tiam-cong-pay yang ketiga, sedangkan Say Han
Kong dan Oe-tie Haow sudah melakukan perjalanannya yang
sama, tapi ia sendiri oleh karena mengadakan pertaruhan
dengan Tiong-sun Hui Kheng hingga habis terkandas di
daerah gunung Oey-san, dan berjalan paling belakang. Kini
setelah urusan selesai, rasanya perlu untuk segera berangkat
dan menggunakan kesempatan itu sekalian pergi ke gunung
Kie-lian-san, untuk menyelidiki tanaman yang digali dari goa
kuno, dimana terdapat kerangka burung elang raksasa,
sebetulnya mengandung rahasia apa"
Demikian dalam hatinya berpikir, sesudah itu langkah
kakinya dipercepat, tetapi sebelum ia berlalu dari daerah
pegunungan gunung Oey-san, kembali menjumpai suatu
peristiwa. Di suatu tempat yang letaknya sangat berbahaya, yang di
situ terdapat banyak rumput lebat, terdengar suara rintihan
orang yang agaknya sedang bergulat dengan maut.
Hee Thian Siang sebetulnya tak ingin mencampuri lagi
segala urusan, tetapi ketika mendengar suara rintihan yang


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyayat hati, ia merasakan tidak tega, dan menghentikan
langkahnya, kini ia berdiri dan matanya celingukan sambil
siap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Setelah itu
ia lompat melesat ke tempat tersebut untuk mengadakan
pemeriksaan. Baru saja ia lompat, pertama-pertama
hidungnya dapat mengendus bau darah yang amis, matanya
juga melihat sepotong jubah warna merah, tetapi bagian
bawahnya sudah hancur tidak karuan serta terdapat banyak
darah yang sudah menjadi hitam.
Orang yang mengenakan jubah berwarna merah darah itu,
wajahnya sangat menakutkan. Wajah itu baginya tidak asing
lagi terutama jubahnya yang berwarna merah, dan sepasang
senjatanya yang berbentuk alat tulis yang berada
disampingnya, segera dapat dikenali olehnya sebagai orang
dari Kie-lian-pay yang pernah dijumpainya di gunung Hok-gu-
san. Orang itu bukan lain daripada Go Ing.
Go Ing, saat itu agaknya mengharap kedatangan
seseorang, tetapi setelah mengenali bahwa orang yang
datang itu adalah Hee Thian Siang, lantas menghela napas
panjang dan menantikan kematiannya sambil memejamkan
matanya. Terhadap orang-orang Kie-lian-pay, Hee Thian Siang
merasa benci tetapi ketika menyaksikan keadaan Go Ing
demikian mengenaskan, perasaan kasihannya timbul secara
mendadak. Apalagi ia dengan Go Ing tidak mempunyai
permusuhan dalam, maka ia lantas mengulurkan tangannya
dan membuka jubah bagian bawah Go Ing, kini ia telah dapat
kenyataan bahwa pada paha kiri orang she Go itu sudah
terpapas putus. Kehilangan satu paha, memang tidak menjadikan suatu
kehilangan, tetapi kalau kehilangan banyak darah, bisa
mengakibatkan kematian bagi dirinya. Hee Thian Siang yang
sudah menemukan Go Ing yang sudah terluka parah, segera
mengeluarkan obat luka yang dibawanya, ia gunakan untuk
mencegah mengalirnya darah. Setelah itu ia menyobek
sepotong pakaian Go Ing lalu digunakan untuk membungkus
lukanya. Saat itu Go Ing seperti hampir putus jiwanya, ia hanya
memejamkan mata, sedikitpun tak bergerak. Sementara itu
Hee Thian Siang sudah memberikan obat dan membungkus
lukanya, ketika menyaksikan keadaan demikian, sikapnya
karena kehilangan banyak darah, ia lalu berikan sebuah pil
dari perguruannya, setelah itu bertanya sambil tertawa:
"Sahabat she Go, pahamu ini dipotong oleh siapa?"
Mata Go Ing tampak bergerak sedikit, begitupun ujung
bibirnya, tetapi akhirnya oleh karena keadaan terlalu lemah,
matanya tak dapat dibuka, kata-katanya juga tidak bisa keluar
dari mulutnya, ia hanya dengan terpaksa menggeleng-geleng
kepalanya. "Sahabat Go kalau kau tidak bisa bicara, janganlah kau
paksakan diri, kutung sebuah paha, meskipun merupakan luka
yang parah, tetapi dengan kepandaian yang kau miliki, apalagi
sudah makan obatku, obat luar dan dalam, jiwamu pasti akan
terjamin. Hanya Hee Thian Siang perlu memberi nasehat
padamu sepatah kata, ialah dendam itu tidak baik kalau selalu
dibesar-besarkan, urusan perkara pengutungan pahamu ini
jikalau kesalahan itu ada di pihakmu, sebaiknya kau jangan
lagi berkelana di dunia Kang-ouw, sebaiknya kau berdiam di
pegunungan untuk melewati hari tuamu."
Muka Go Ing waktu itu memperlihatkan sikapnya yang
semakin menyeramkan, tetapi masih tetap memejamkan
matanya dan tidak bersuara, Hee Thian Siang tahu bahwa
nasehat tadi meskipun baik tetapi beberapa patah kata yang
kosong, bagaimana dapat menggerakkan hati seorang jahat
seperti Go Ing itu, maka ia berkata pula sambil menghela
napas: "Siapakah yang dapat menyadari kesalahan. Siapakah
yang dapat meninggalkan kancah kegagalan" Itulah
tergantung kepada pikiran sendiri. Hee Thian Siang masih ada
banyak urusan dan tak bisa berdiam di sini lebih lama.
Sahabat Go, biarlah kau beristirahat dulu di sini."
Sehabis berkata demikian, oleh karena menganggap
bahwa Go Ing itu tinggal satu kaki, tak mungkin ia dapat
berjalan dengan baik, maka ia pungutkan senjatanya yang
merupakan alat tulis yang dilemparkan tak jauh dari
tempatnya, dan mencarikan lagi sebatang ranting pohon,
dibuatnya menjadi tongkat, semua itu diletakkan disamping Go
Ing. Pada saat Hee Thian Siang berdiri membelakangi Go Ing,
dengan tiba-tiba dari sinar matahari tampak ada barang
bergerak, ia lalu membalikkan badan untuk melihatnya,
tampak Go Ing sedang mengangkat tangan kanannya. Dalam
telapak tangannya terdapat sebuah duri berbentuk ujung tiga,
warna biru kehitaman, duri itu bukan lain daripada duri berbisa
Thian-keng-chek. Hee Thian Siang sebagai orang muda yang belum banyak
pengalaman, bagaimana dapat mengira bahwa ia sendiri yang
dengan baik hati mengobati luka Go Ing yang jahat itu, orang
itu bukan saja tidak mengucapkan terima kasih atas budinya,
sebaliknya bahkan hendak menggunakan senjata duri berbisa
Thian-ken-chek melakukan serangan gelap.
Maka ketika ia melihat duri berbisa ditangan Go Ing,
ternyata sudah salah paham, ia malah bertanya sambil
tertawa: "Sahabat she Go, harap kau beristirahat baik-baik,
jangan bergerak. Aku tahu, kau barangkali terluka oleh duri
berbisa Thian-keng-thek ini, tetapi apa yang lebih tidak
beruntung adalah pahamu yang kehilangan sebelah. Tetapi
disekitar puncak gunung Thian-tu-hong ini, orang yang
mengalami nasib buruk itu bukan hanya kau seorang. Ketua
Swat-san-pay Peng-pek Sin-kun suami istri juga sudah
dibokong oleh manusia jahat, dengan terdapatnya banyak
senjata jahat berbisa ini, sudah cukup untuk memfitnah Kun-
lun-pay dan cukup untuk menimbulkan orang-orang berbagai
partai mengadakan perhitungan dengannya."
Berkata sampai di situ ia berdiam sebentar, tongkat dan
senjata alat tulisnya diletakkan lagi ke tempat yang dekat
dengan Go Ing, setelah itu ia berkata pula sambil tertawa:
"Senjata yang biasa kau gunakan, dan tongkat yang kubuat
untukmu ini, semua berada di sampingmu, tunggu setelah
tenagamu pulih kembali kau boleh menggunakan tongkat ini
untuk berjalan. Aku sekarang hendak minta diri dulu, di
kemudian hari mungkin kita bisa bertemu lagi di gunung Kie-
lian-san." Sehabis berkata demikian, ia melihat Go Ing tetap tidak
menjawab, maka ia lantas tersenyum dan pergi melanjutkan
perjalanannya. Ia terus berjalan dengan cepatnya, hampir mengakhiri
perjalanannya ke gunung Oey-san itu, di belakangnya tiba-tiba
terdengar pula suara derap kaki kuda dan suara kuda
meringkik, Hee Thian Siang yang dapat menangkap suara itu,
semula merasa girang tetapi kemudian ia merasa terkejut dan
akhirnya keheranan. Semula ia kira bahwa suara derap kaki
kuda itu adalah suara kuda Tiong-sun Hui Kheng yang datang
ke arahnya, maka dalam hatinya merasa girang. Tetapi ia
segera dapat mengenali bahwa suara kuda itu agak berlainan,
sedang arahnya juga menunjukkan kebalikannya. Jikalau
benar Tiong-sun Hui Kheng yang datang, seharusnya datang
dari jurusan depan, bagaimana sekarang dari jurusan
belakangnya" Ilmu meringankan tubuh Hee Thian Siang sudah termasuk
golongan kelas satu, sedang suara derap kaki kuda itu,
ternyata lebih cepat daripada ilmu meringankan tubuhnya,
kecuali kuda Ceng-hong-kie Tiong-sun Hui Kheng, apabila
kuda biasa saja, bagaimana memiliki kepandaian lari demikian
pesat. Maka ketika ia mendengar suara kuda, kegirangan dalam
hatinya lantas berubah menjadi perasaan terkejut.
Sementara itu seekor kuda berbulu hijau sudah muncul di
depan matanya yang sedang lari pesat menuju ke arahnya,
tetapi orang yang duduk di atas kuda bukanlah Tiong-sun Hui
Kheng yang cantik bagaikan bidadari, melainkan seorang
bertubuh tinggi besar. Kuda hijau itu bukanlah Ceng-hong-kie, melainkan seekor
kuda lain yang pernah dikatakan oleh pendekar pemabokan.
Kuda itu ialah Cian-kiok-hwa-ceng. Sedangkan orang tua yang
bertubuh tinggi besar diatasnya, meskitpun tidak tampak
tegas, tetapi sudah dapat dipastikan bahwa dia adalah ketua
golongan Kie-lian-pay Kie Tay Cao.
Kecepatan lari kuda itu sesungguhnya sangat
mengagumkan, baru saja Hee Thian Siang menebak asal usul
kuda dan orangnya, wajah Khie Tay Cao yang buas
menyeramkan sudah tampak di depan matanya.
Kudanya belum berhenti, orangnya sudah lompat turun
lebih dahulu, Khi Tay Cao dengan membawa senjata berat,
melayang dari atas kuda dan turun di hadapan Hee Thian
Siang. Sedangkan kuda Cian-li-kiok-hwa-ceng setelah
berhenti di belakang Hee Thian Siang merupakan satu posisi
yang mengurung Hee Thian Siang ditengah-tengah manusia
dan kuda. Hee Thian Siang kini telah dapat melihat bahwa ketua Kie-
lian-pay itu sikapnya tidak menunjukkan maksud baik, bahkan
wajahnya sangat menakutkan. Maka tangannya segera
dimasukkan kedalam sakunya. Khi Tay Cao yang
menyaksikan gerakan itu dari hidungnya mengeluarkan suara
menghina, katanya dengan suara dingin: "Kau rupanya
hendak menggunakan senjatamu yang paling ampuh Kian-
thian-pek-lek lagi?"
Hee Thian Siang mengeluarkan senjatanya Sam-ciok
Kang-hoan, dengan sinar mata tajam ia menatap Khi Tay Cao
kemudian berkata sambil tertawa: "Sahabat, kau jangan kira
bahwa kau adalah seorang ketua dari salah satu partai besar,
tetapi Hee Thian Siang kalau melawan kau saja belum perlu
menggunakan senjata Kiam-thian-pek-lek, karena
menggunakan senjata ganas itu secara gegabah berarti
melanggar peraturan golonganku sendiri."
Kie Tay Cao meskipun juga adalah seorang buas yang
tidak kenal arti kasihan, tetap juga merasa kagum atas
keberanian dan ketabahan Hee Thian Siang itu.
Ia mendengarkan dengan tenang, kemudian tertawa dan
berkata: "Simpanlah dahulu senjata gelangmu itu, aku
mengejar kau hanya ingin menanyakan sesuatu saja, tidak
perlu harus bertanding."
Hee Thian Siang setengah percaya, mengalihkan
senjatanya ke tangan kiri, bertanya: "Kau hendak menanyakan
soal apa" Apakah masih pertanyaan yang pernah kau
ucapkan di gunung Hok-gu-san dahulu?"
Kie Tay Cao menggelengkan kepala dan berkata: "Di
puncak gunung sana tadi kulihat kau lari seorang diri, maka
aku mengejarmu untuk menanyakan diri seseorang."
Hee Thian Siang yang mendengar perkataan itu segera
dapat menduga siapa orangnya yang ditanyakan oleh Kie Tay
Cao, sudah pasti Go Ing yang terluka dan terbabat buntung
sebelah kakinya. Tetapi ia masih pura-pura tidak tahu,
menantikan keterangan lebih lanjut.
Dengan sikap marah, Kie Tay Cao berkata: "Pertemuan di
puncak Thian-tu-hong diundurkan setahun, maka aku
mengumpulkan semua anak buahku kembali ke Kie-lian-san.
Ketika aku turun dari puncak baru ketahuan bahwa salah satu
orangku telah menghilang secara mendadak."
"Orang itu apakah bukan Go Ing?" Bertanya Hee Thian
Siang sambil tersenyum. "Orang yang hilang itu memang Go suteku, apakah kau
pernah melihatnya?" Bertanya Khi Tay Cao terkejut.
"Dia terkena serangan duri berbisa Thian-keng-cek, kaki
kirinya sudah buntung." Menjawab Hee Thian Siang sambil
mengelengkan kepala. Khi Tay Cao yang mendengar keterangan itu badannya
bergetar, alisnya yang tebal semakin dikerutkan, ia bertanya
dengan hati cemas: "Go suteku itu sekarang masih hidup
ataukah sudah mati" Dimana dia berada?" "Mati sih tidak, tetapi ia akan menjadi
seorang cacat untuk selamanya, jikalau
hendak menjagoi rimba persilatan, ia masih perlu berlatih
beberapa tahun lagi." Menjawab Hee Thian Siang.
Sehabis berkata, ia lalu memberitahukan dimana letak Go
Ing terluka. Khi Tay Cao setelah mendengar keterangan itu, tanpa
mengucapkan terima kasih lantas cengklak kudanya hendak
pergi mencari. Hee Thian Siang memanggil dengan suara
nyaring: "Sahabat she Kie, kau tidak boleh pergi begitu saja."
Khi Tay Cao merasa heran, maka ia bertanya: "Mengapa
aku tidak boleh pergi begitu saja?"
Mata Hee Thian Siang ditujukan kepada kuda tunggangan
ketua Khi-lian-pay itu, lalu berkata sambil tersenyum:
"Pertaruhan kita di atas Hok-gu-san belum cukup satu tahun,
sedangkan Go Ing kini sudah kehilangan sebelah kakinya,
maka kudamu ini seharusnya sudah menjadi milikku."
Khi Tay Cao yang mendengar perkataan itu alisnya berdiri,
dan berkata dengan suara bengis: "Sebab musabab Go sute
kehilangan sebuah kaki, apakah itu perbuatanmu yang
melakukan serangan secara membokong?"
Hee Thian Siang mendongakkan kepala mengawasi awan
di langit, lalu tertawa terbahak-bahak: "Hee Thian Siang
meskipun usianya masih sangat muda, kepandaian ilmu
silatnya belum tinggi, tetapi adalah hal kejujuran tidak akan
kalah dengan orang lain, aku terutama paling benci kepada
perbuatan orang-orang yang melakukan serangan secara
menggelap." Beberapa patah kata itu, membuat merah wajah Khi Tay
Cao yang mendengarnya. Hee Thian Siang melanjutkan perkataannya: "Apalagi
pertaruhan kita waktu dulu, sudah ditetapkan dalam waktu
satu tahun, siapa yang kehilangan kakinya, sekarang sebelah
kaki Go Ing sudah putus, maka tidak perduli dipotong oleh
siapa, menurut peraturan pertaruhan itu adalah aku yang
menang, apakah kau dengan sikapmu sebagai ketua partai
besar ada muka untuk mengingkari janjimu sendiri?"
Khie Tay Cao hampir tak dapat menjawab Hee Thian Siang
itu, biji matanya berputaran, kemudian berkata: "Ucapanmu ini benar, Khi Tay Cao
sebagai ketua partai besar, bagaimana
dapat mengingkari janjinya, tetapi aku mempunyai tiga alasan,
sekarang ini belum dapat memberikan kudaku ini kepadamu."


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kalau memang ada alasannya, kau boleh ceritakan,
alasan apa yang hendak kau kemukakan?"
"Sewaktu di gunung Hok-gu-san, kau kata bahwa Tong-
samte dan Go sute dalam waktu satu tahun, mungkin tak
dapat menjamin utuh kedua kakinya. Sekarang meskipun
sebelah kaki Go sute sudah hilang tetapi Tong samte masih
belum menjadi orang cacat. Ini berarti aku masih belum kalah
seluruhnya, hanya baru kalah sebagian. saja."
"Alasanmu yang pertama ini memang cukup beralasan.
Tetapi dalam pertaruhan yang sudah kalah setengah,
bagaimana kau harus mempertanggung-jawabkan" Apakah
kudamu yang punya empat kaki ini harus kau potong, dan kau
berikan dua kakinya kepadaku?"
"Tiga alasan yang hendak kukemukakan, baru satu saja
yang kujelaskan." "Benar. . bernar, aku agak terburu napsu, sekarang
kupersilahkan kau mengemukakan alasanmu yang kedua."
Sikap Khie Tay Cao mendadak berubah, ia tertawa
meringis dan berkata: "Waktu satu tahun masih belum cukup,
Tong samteku selama ini dapat atau tidak menjamin sebelah
kakinya, sudah tentu susah diramalkan. Tetapi apakah kau
sendiri juga tidak ada kemungkinan akan dipotong sebelah
kakimu?" Sepasang alis Hee Thian Siang berdiri dengan sepasang
mata yang tajam ia menatap ketua Khi-lian-pay itu, sedikitpun
tidak merasa takut, katanya dengan sikap garang: "Apakah
kau hendak mengandalkan senjatamu yang berat itu
menggunakan kekerasan?"
"Jikalau aku hendak mengandalkan senjata tongkatku yang
beratnya seratus lima puluh kati untuk memotong sebelah
kakimu saja sungguh sangat mudah seperti membalikkan
tangan memotes ranting potong saja. ."
Hee Thian Siang yang mendengar perkataan itu tak dapat
mengendalikan kemarahannya lagi, dengan gelangnya Sam-
ciok Kong-hwan dipindahkan ke tangan kanannya, dan
wajahnya mendadak berubah.
Khie Tay Cao yang menyaksikan keadaan demikian, lalu
menggoyangkan tangan dan berkata sambil tertawa: "Anak
muda, jangan terlalu cepat naik darah. Meskipun aku tadi
berkata demikian, tetapi aku selamanya merupakan orang
yang pegang janjiku, apa yang kuucapkan akan kulaksanakan.
Tadi sudah kujelaskan hari ini tiada maksud hendak
mengadakan pertempuran denganmu, maka kakimu itu
seandainya aku mau memotongnya juga harus tunggu pada
waktu jika kita berjumpa lagi. Sekarang aku hanya ingin tanya
padamu, alasan kedua telah kukemukakan tadi, pantas atau
tidak?" Kemarahan Hee Thian Siang pelahan mulai reda, ia
berpikir sejenak, baru berkata sambil menganggukkan kepala:
"Bukan saja pantas, bahkan sangat beralasan. Kedua alasan
yang kau kemukakan tadi sudah cukup membuat aku sebelum
tiba waktunya, tidak akan minta pertaruhan yang ku
menangkan." Dua alasan tadi meskipun sudah cukup, tetapi alasan
ketiga aku masih perlu dengar, tapi aku masih belum dapat
memikirkan apakah kau ada alasan ketiga yang akan kau
kemukakan?" Demikian ia berkata pula.
"Alasanku yang ketiga ini aku tidak salahkan kalau kau tak
dapat memikirkannya, itu adalah kudaku ini, sifatnya galak
sekali, kecuali aku ia tidak akan mau menyerah ditunggangi
oleh siapapun juga. Maka jangankan aku sekarang masih
belum kalah pertaruhan denganmu, sekalipun waktu setahun
itu sudah cukup, dan aku yang kalah, juga belum tentu kau
dapat membawanya pergi." Berkata Kie Tay Cao sambil
tertawa. Hee Thian Siang yang mendengarkan itu menggelengkan
kepala dan berkata: "Alasanmu ke satu dan kedua yang kau
kemukakan, memang cukup beralasan. Tetapi alasanmu yang
ketiga ini kurang tepat."
"Mengapa tidak tepat" Apakah kau anggap bahwa kudaku
yang sangat galak dan hanya aku yang dapat menunggangi,
merupakan omong kosong belaka?" Tanya Kie Tay Cao.
Hee Thian Siang yang mendengarkan pertanyaan itu
matanya ditujukan kepada kuda Cian-li-kiok-hwa-ceng,
meskipun ia merasa bahwa kuda itu memang tampaknya
galak, tapi bagaimana ia percaya bahwa dirinya yang memiliki
kekuatan tenaga dalam cukup sempurna tak sanggup
mengendalikannya" Maka dengan perasaan agak penasaran ia berkata:
"Mengenai persoalan tentang pertaruhan, baiklah kita
bicarakan setahun kemudian, sekarang apakah kau bersedia
meminjamkan kudamu itu kepadaku untuk ku coba?"
Tanpa ragu-ragu Khi Tay Cao turun dari kudanya, kuda itu
diberikan kepada Hee Thian Siang, setelah itu ia berkata
sambil tertawa: "Kalau kau ingin coba, cobalah! Tetapi kalau
mendapat kesulitan, kau jangan sesalkan diriku."
Hee Thian Siang menyambukti les kuda, kemudian berkata
sambil tersenyum: "Kau percaya kepada diriku, apa kau tidak
takut kalau aku naik kudamu dan akan kabur jauh?"
Khi Tay Cao tertawa dan berkata: "Didalam jarak sepuluh
pal, asal aku mengeluarkan siulan satu kali saja, kudaku ini
pasti dapat mendengarnya dan bisa mencari aku sendiri.
Jikalau kau bisa mengendalikannya berjalan bolak-balik dua
puluh pal dan orangnya tidak jatuh dari atas kuda, tidak perlu
bicara soal pertaruhan lagi, aku juga akan memberikan
kudaku ini kepadamu."
Dalam otak Hee Thian Siang dipenuhi oleh berbagai
pertanyaan, ia lantas naik ke atas kuda, kuda itu tampak
berdiri tegak tidak bergerak, tidak seperti kuda yang banyak
tingkah, yang suka dinaiki oleh orang asing.
Dengan tangan memegang les, Hee Thian Sian naik ke
atas punggung kuda, dengan perasaan girang ia berkata
sambil tertawa: "Peribahasa mengatakan: KUDA BAGUS
PASTI MENGENAL MAJIKANNYA, lihat kuda itu tampak
begini jinak terhadapku. ."
Berkata sampai disitu kuda Cian-li-kiok-hwa-ceng yang
semula berdiri diam tampak bergerak dengan tiba-tiba
bergerak dan melesat bagaikan anak panah terlepas dari
busurnya, sehingga Hee Thian Siang yang masih duduk
diatasnya dengan perasaan bangga terlempar ke atas tanah.
Selembar muka Hee Thian Siang menjadi merah,
sementara itu kuda Cian-li-kiok-hwa-ceng pelahan-lahan
sudah menghampiri Khie Tay Cao. Dengan perasaan bangga
Khie Tay Cao mengelus-elus punggung kudanya, mulutnya
mengeluarkan suara tertawa yang mengandung penuh ejekan.
Dengan muka kemerahan Hee Thian Siang bangkit dan
berkata: "Kali ini tidak. . dihitung!"
"Tidak dihitung, ya boleh, kau boleh coba sekali lagi!"
Berkata Khi Tay Cao sambil tertawa.
Sementara itu Hee Thian Siang tiba-tiba mengeluarkan
ilmunya meringankan tubuh dengan satu gerakan yang manis,
ia sudah berada di atas punggung kuda.
Kuda itu mengeluarkan suara meringkik yang nyaring, kaki
depan diangkat tinggi, sehingga berdiri seperti manusia.
Tetapi Hee Thian Siang sudah siap sedia, kedua kakinya
menekan kencang perut kuda, dengan kekuatan sepenuhnya
hingga sekujur badannya seperti terpaku di atas punggung
kuda. Maka bagaimanapun juga kuda itu meronta, juga tidak
berhasil melemparkan dirinya.
Kuda itu yang tak berhasil melemparkan Hee Thian Siang
nampaknya sangat marah, ia berkali-kali mengeluarkan suara
hebat, empat kakinya bergerak dan lari bagaikan terbang.
Hee Thian Siang pegang kencang lesnya, biarpun kuda itu
lari bagaikan terbang, tetapi tidak berhasil menjatuhkannya.
Sementara itu Hee Thian Siang yang berada diatasnya diam-
diam mengakui bahwa kuda itu memang pantas mendapat
julukan Cianli yang berarti bisa lari ribuan pal jauhnya. Larinya
kuda itu demikian pesatnya, sehingga dalam waktu sekejap
saja sudah melalui banyak puncak gunung.
Setiap kali menjumpai tempat-tempat yang agak tinggi atau
pepohonan yang merintangi dijalan, kuda itu selalu mengambil
jalan memutar, bagaimanapun juga tidak mengurangi
kecepatannya, bahkan kadang-kadang dilalui dengan jalan
melompat tinggi. Hee Thian Siang yang duduk di atas kuda dengan
mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya diam-diam hatinya
memikirkan apabila berhasil bisa mendapatkan kuda itu, dapat
direndengkan dengan kuda Ceng-hong-kie milik Tiong-sun Hui
Kheng, kalau kedua kuda itu bisa berjalan bersama-sama dan
mengadakan perjalanan ke seluruh tempat, bukankah itu
merupakan suatu hal yang sangat menyenangkan"
Selagi dirinya masih melamun, dibelakan dirinya terdengar
suara siulan panjang, Hee Thian Siang terkejut, apakah dalam
waktu sekejap itu kudanya sudah lari sejauh sepuluh pal"
Kuda itu benar saja begitu mendengar siulan Khie Tay Cao,
lantas putar balik kepalanya, tetapi ia agaknya sengaja
hendak main gila terhadap Hee Thian Siang, ia sengaja
mencari jalan yang berbahaya atau terbang tinggi melompati
jurang yang curam. Hee Thian Siang yang baru menaiki sebentar saja sekujur
badannya sudah basah kuyup, pahanya dirasakan ngilu,
seolah-olah habis melakukan pertempuran ratusan jurus
dengan musuh tangguh. Ketika kuda itu kembali ke tempat semula, Kie Tay Cao
masih berdiri tetap di tempatnya, sehingga Hee Thian Siang
diam-diam merasa girang. Ia pikir sudah dapat mengendalikan
kuda lari bolak-balik dua puluh pal jauhnya, ia tidak tahu
bagaimana sikap ketua Kie-lian-pay apakah ia masih pegang
janjinya atau tidak" Apakah ia bersedia menghadiahkan kuda
tunggangannya itu" Sementara hatinya merasa girang, nasib buruk menimpa
dirinya. Kuda itu dengan tiba-tiba keluarkan suara nyaring, dan
kemudian meloncat setinggi tiga tombak.
Tempat itu merupakan lereng di tanah pegunungan, tidak
terhalang oleh pohon, juga tidak ada jurang, bagaimana Hee
Thian Siang menduga bahwa kuda itu bisa lompat demikian
tinggi" Dalam keadaan terkejut demikian rupa, Hee Thian Siang
masih tetap menggunakan cara lama, ia tengkurapkan
tubuhnya ke depan, kedua kakinya mengepit kencang perut
kuda, seolah-olah membantu bergeraknya kuda itu. Ia juga
siap kalau kuda itu turun ke tanah, jangan sampai terbalik,
maka ia menggunakan tenaganya dan memegang kencang
lesnya. Tindakan demikian itu sebetulnya merupakan suatu
tindakan yang tepat untuk mengendalikan kuda binal, tetapi
kuda yang dinaiki itu karena merupakan kuda luar biasa dan
sifatnyapun sangat galak dan buas, maka setelah sepanjang
jalan lompat-lompat dan lari tidak berhasil melemparkan Hee
Thian Siang dari tempatnya, dalam hati rasanya sangat
penasaran. Sekarang setelah dari jauh ia tampak majikannya
berada di depannya, ia lalu mengeluarkan kepandaiannya
untuk membanting orang dari atas punggungnya.
Sepanjang jalan Hee Thian Siang selalu memperhitungkan,
ia tahu bahwa kuda itu sekali lompat tinggi, sudah mencapai
jarak tiga tombak lebih. Tetapi kali ini sungguh di luar
dugaannya, kuda itu hanya melompat tinggi setombak lebih
saja, lantas menurunkan empat kakinya dengan berbareng
menginjak tanah, dan kaki itu demikian kerasnya menginjak di
atas batu. Gerakan kuda serupa itu sebetulnya mengandung daya
banting yang sangat hebat. Jikalau penunggang kuda biasa
atau orang yang memiliki kepandaian biasa saja sudah pasti
akan terpental atau hancur isi perutnya dan jatuh terguling dari
atas kuda. Hee Thian Siang tidak berjaga-jaga bahwa tentunya kuda
itu demikian pesat, ia masih menjepit perut kuda dengan
kedua kakinya, maka ketika kuda itu menginjak tanah, ia
hanya terpental setinggi lima-enam kaki dan kemudian
terlempar di tanah. Baru saja Hee Thian Siang jatuh di tanah, Khi Tay Cao
sudah menghampiri sambil tertawa tergelak-gelak, setelah itu
ia lompat diatas kudanya, dan tanpa berhenti lagi ia sudah
larikan kudanya ke tempat Go Ing terluka. Sebelum
meninggalkan Hee Thian Siang ia berkata dengan suara
dingin: "Hee Thian Siang hari ini kau boleh merasa beruntung, tetapi didalam
waktu satu tahun kau harus hati-hati menjaga
kedua kakimu." Hee Thian Siang sebetulnya hendak membuka mulut, tetapi
baru saja mengerahkan tenaganya, badannya dirasakan sakit.
Ia kini baru sadar betapa hebat pengaruh bantingan kuda tadi,
yang bisa membuat dirinya terluka bagian dalam, maka ia
tidak berani berlaku gagah-gagahan lagi, ia memejamkan
matanya untuk mengatur napasnya.
Masih untung ia mempunyai dasar sangat kuat, lukanya
juga tidak terlalu parah, maka ia setelah lama mengatur
pernapasannya, sudah sehat seperti biasa. Tetapi karena ia
dua kali dijatuhkan oleh kuda itu, dalam hatinya merasa heran,
sepanjang jalan masih merasa tidak senang.
Dari gunung Oey-san, Hee Thian Siang melanjutkan
perjalanannya ke gunung Tiam-cong, sebetulnya ia boleh
melalui propinsi ?"-yan terus menuju ke propinsi In-lam, tapi
oleh karena jalan itu merupakan jalan yang sudah dilalui
kemarin, maka ia tidak mau melalui jalan itu lagi. Ia telah
mengambil keputusan hendak berjalan melalui ke propinsi In-
lam. Sepanjang jalan ia tidak menjumpai hal-hal aneh, juga tidak
menemukan jejak Ca Bo Kao dan Say Han Kong atau Oe-tie
Khao. Di daerah pegunungan Bu-ling-san di propinsi Ouw-lam,
karena malam itu turun hujan, Hee Thian Siang terpaksa
hendak menginap di sebuah kuil yang dibangun sangat
sederhana. Tetapi ketika matanya ditujukan kepada kuil itu,
terkejutlah hatinya, sebab kuil itu meskipun keadaannya sudah
tua dan banyak yang rusak, tetapi papan mereknya terdapat
tulisan PHO-HIE-HEE-WAN, empat huruf besar masih baru
pula. Perkataan "Hee-Wan" itu tidak ada apa-apa yang
mengherankan, ia hanya merasa heran terhadap perkataan
"Pho-Hie", sebab kuil yang sudah tua dan rusak keadaannya itu, apakah ada


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

hubungannya dengan kuil Pho-hie-to-kwan di
gunung Tiam-cong-san yang dianggap sebagai tempat
keramat" Sambil berpikir tangannya mengetuk pintu tak lama
kemudian, seorang imam berusia kira-kira tiga puluh tahun,
keluar membuka pintu, bertanya kepadanya: "Apakah Siao
sicu ingin menginap" Kuil kami ini kamarnya kecil-kecil,
sebaiknya mencari lain tempat saja."
Hee Thian Siang melihat imam yang menolak dirinya
menginap didalam kuil itu, sinar matanya sangat tajam, kedua
jidatnya juga menonjol tinggi, jelas ia memiliki kepandaian ilmu
yang tinggi. Hingga ia mengetahui bahwa apa yang diduganya
itu tidaklah salah, tempat ini pasti ada hubungan erat dengan
kuil Pho-hie-to-kwan di gunung Tiam-cong.
Imam tadi setelah menolak Hee Thian Siang hendak
menutup pintunya lagi, sedangkan Hee Thian Siang yang
tertarik oleh perasaan aneh lantas mencegahnya dan berkata
sambil tertawa: "Malam gelap dan hujan deras seperti ini apa
lagi di daerah pegunungan, dimana aku harus mencari tempat
lain untuk menginap" Orang beragama seharusnya
mengutamakan cinta kasih, bagaimana sebutan Totiang yang
mulia" Bolehkah totiang ijinkan aku Hee Thian Siang
menginap untuk sementara saja, aku juga ingin berjumpa
dengan pemimpin kuil ini."
Imam itu karena mendengar ucapan Hee Thian Siang
demikian, ia tahu jikalau ditolak lagi, pasti menimbulkan rasa
curiga Hee Thian Siang, maka lantas rubah sikapnya, ia
berkata sambil tertawa: "Pinto Hian-ceng, kalau Hee siao-sicu tidak anggap kotor
tempat ini, silahkan masuk saja."
Sehabis berkata demikian, lantas berdiri tegak dan
memberi hormat mempersilahkan Hee Thian Siang masuk.
Oleh karena perubahan sikap yang terlalu cepat imam itu,
malah menimbulkan perasaan curiga Hee Thian Siang, tetapi
ia tidak kentarakan kecurigaannya, dengan perlahan ia
berjalan masuk ke dalam kuil.
Hian-ceng totiang berkata sambil tertawa: "Harap Hee siao
sicu memasang dupa di hadapan Sam-ceng Su-cow dahulu,
Hian-ceng hendak melaporkan kepada Kwan-cu, sebentar lagi
akan ajak sicu ke kamar tempat menginap."
Mendengar kuil itu ternyata masih ada Kwan-cu (Ketua
Kuil) yang lain, Hee Thian Siang lantas menerima baik
permintaan imam tadi, ia mengambil beberapa batang hio
untuk sembahyang, tapi tiba-tiba ia pasang mata. Benar saja
Hian-ceng masuk ke kamar sebelah kanan, berkata dengan
suara perlahan kepada seorang imam tua berjubah putih,
agaknya sedang melaporkan tentang kedatangannya.
Imam tua berjubah putih itu duduk bersila di atas tempat
tidurnya, rambut maupun jenggot dan kumisnya semua sudah
putih, mungkin usianya sudah lanjut. Setelah mendengar
laporan Hian-ceng tidak mendengarkan perkataan, juga tidak
menunjukkan gerakan apa-apa.
Hian-ceng mengundurkan diri dari kamar itu. Hee Thian
Siang lalu bertanya sambil tersenyum: "Kalau begitu, kuil ini masih ada Kwan-cu
tua, apakah Hee Thian Siang harus pergi
menemuninya supaya jangan dianggap kurang sopan?"
"Kwancu tua usianya sudah terlalu lanjut, takut ketemu
orang asing, Hee siaocu tidak perlu terlalu pegang kepada
aturan, silahkan istirahat didalam kamar." Berkata Hian-ceng sambil
menggelengkan kepala dan tertawa.
Hee Thian Siang mengikuti Hian-ceng memasuki kamar
sebelah kiri, namun dalam hatinya selalu merasa bahwa kuil
tua yang sudah rusak keadaannya itu agaknya diliputi oleh
suasana misteri. Kamar yang berada di sebelah Barat itu perlengkapannya
lebih sederhana, hanya sebuah pembaringan, dua buah kursi
bambu, Hee Thian Siang lalu berkata sambil mengerutkan
alisnya: "Kalau Hee Thian Siang rebah diatas pembaringan
totiang ini bukanlah. ."
Belum habis ucapannya, Hian-ceng sudah mengambil tikar
diatas pembaringan dan digelar di tanah, ia lalu berpaling dan
berkata sambil tertawa: "Kuil kecil di pegunungan yang sepi,
keadaan sangat rusak, pinto merasa malu tidak ada tempat
yang baik untuk melayani tetamu, Hee siao sicu silahkan
beristirahat di atas pembaringan, biarlah Hian-ceng yang
duduk di atas tikar ini."
Hee Thian Siang mengerti maksud Hian-ceng, yang hendak
menjaga dirinya, maka alisnya lalu terkesiap, matanya
ditujukan keluar jendela, setelah itu dia berkata sambil
tertawa: "Sekarang hujan sudah mulai berhenti, karena Hee
Thian Siang ada urusan penting, maka begitu terang tanah,
perlu segera berangkat. Sebetulnya tidak memerlukan hidup
jikalau totiang tidak menganggap aku mengganggu
ketenanganmu, marilah kita duduk bersama mengobrol untuk
melewatkan malam ini."
Hian-ceng menuangkan teh untuk Hee Thian Siang,
matanya berputaran kemudian bertanya sambil tersenyum:
"Hee siao-sicu agaknya ingin bertanya, silahkan bicara terus
terang saja!" Hee Thian Siang sebetulnya sudah melihat bahwa Hian-
ceng tojin itu memiliki kepandaian cukup tinggi, sekarang ia
telah mengetahui betapa cerdiknya imam itu maka berkata
sambil tertawa: "Numpang tanya, kuil Pho-hei-hee-wan totiang
ini dengan Pao-hie-kwan di gunung Tiam-cong-san, masih ada
hu. ." Mata Hian-ceng mendadak memancarkan sinar aneh, dan
memotong ucapan Hee Thian Siang yang belum habis:
"Kalau Hee siao-sicu sudah tahu, pho-hie-to-kwan di
gunung Tiam-cong-san seharusnya Siao-sicu orang dari
golongan persilatan. Bolehkah sebelum pinto menjawab
pertanyaanmu lebih dulu minta siao-sicu menerangkan asal
usul dan golongannya?"
"Di hadapan orang yang mengerti, tidak perlu membohong,
Hee Thian Siang mengerti sedikit ilmu silat, kini sedang
mengadakan perjalanan dan merantau didunia kangouw,
tetapi tidak termasuk orang dari partai Siao-lim, Bu-tong,
Tiam-cong, Ngo-bi, Kun-lun, Kie-lian dan Swat-san!"
Hiang-ceng Tojin yang mendengar perkataan itu bertanya
pula dengan terheran-heran: "Kalau begitu siapakah gurumu?"
Hee Thian Siang menyebutkan nama gurunya sambil
berdiri tegak, dan meluruskan kedua tangannya.
Mendengar Hee Thian Siang menyebutkan nama gurunya
dengan terus terang, bukan kepalang terkejutnya Hian-ceng
Tojin, karena jawaban itu agaknya di luar dugaannya.
Sementara itu Hee Thian Siang sudah bertanya: "Apakah
Totiang juga termasuk anggota Tiam-cong-pay?"
Hian-ceng mengerti sudah tidak dapat sembunyikan dirinya
lagi, maka juga menjawab terus terang: "Ketua Tiam-cong-
pay, Thiat-kwan Totiang adalah suhengku, kunjugngan Hee
siaosicu secara kebetulan, ataukah memang disengaja?"
Tampak sikap Hian-ceng yang begitu sangat hati-hati, Hee
Thian Siang diam-diam berpikir: apakah dalam kuil tua yang
sudah rusak ini ada mengandung rahasia besar" Mengapa
imam ini agaknya curigai diriku"
"Hee Thian Siang memang ada urusan hendak pergi ke
barat laut, hanya secara kebetulan saja lewat kuil ini karena
melihat nama kuil ini yang kesamaan dengan kuil di gunung
Tiam-cong-san, kukira tentu ada hubungannya dengan Tiam-
cong, harap totiang jangan salah paham. ." demikian ia
menjawab. Hee siao-sicu, maaf harap jangan anggap pinto curiga,
sebab jago pedang ketiga Liong-hui Kiam-khek su-to Wie, tak
lama berselang bertempur dengan musuh tangguh Leng-po
Giok-lie dari Lo-hu-pay di depan kuil ini, pertempuran sengit itu
berlangsung sehari penuh. Karena pinto lihat siao-sicu
seorang yang memiliki kepandaian silat maka pinto mengira
adalah kawan Leng-po Giok-li yang mendak memberi
bantuan." Mendapat tahu bahwa bibi Ca-nya sudah bertempur satu
hari dengan Liong-hui Kiam-Khek, Hee Thian Siang merasa
kuatir keselamatannya, tapi diluarnya tidak menunjukkan
perubahan apa-apa, hanya merasa agak heran ia bertanya:
"Memang sudah lama kedua golongan itu saling bermusuhan,
sayang kedatanganku agak terlambat juga tidak dapat
menyaksikan pertempuran dari dua jago itu, yang tentunya
sangat hebat. Bagaimana kesudahannya pertempuran itu"
Siapa yang mendapat kemenangan?"
Karena kecerdikan Hee Thian Siang memainkan peranan
kecurigaan Hian-ceng perlahan-lahan lenyap. Katanya sambil
tersenyum: "Leng-po Giok-lie setelah hampir kehabisan tenaga,
terkena serangan pedang Su-to suheng sampai tujuh kali. ."
Hee Thian Siang terperanjat, tetapi ia pura-pura memberi
pujian: "Ilmu pedang Hui-hong-u-liu-hoat golongan Tiam-cong,
benar-benar hebat. . "
Berkata baru sampai disitu, sudah dipotong oleh Hiang-
ceng: "Tetapi Su-to suheng ketika melancarkan serangannya,
mungkin karena terlalu bernafsu hingga agak lalai, maka juga
terkena seringan ilmu Pan-siang-ciang Leng-po Giok-li tiga kali
banyaknya." Kini Hee Thian Siang baru berani menanya: "Kalau begitu,
bukankah mereka terluka keduanya" Tetapi entah siapa yang
terluka lebih parah" Karena ilmu Pan-sian-ciang dari Lo-hu-
pay adalah ilmu terampuh golongan tersebut. Liong-hui Kiam-
khek yang terkena sampai tiga kali apakah tidak
membahayakan jiwanya?"
Hee Thian Siang sangat cerdik, ia sengaja tidak
menanyakan keadaan Leng-po Giok-li sebaliknya
menanyakan keadaan Liong-hui Kiam-khek, seolah-olah
perhatiannya ditujukan kepada jago pedang Tiam-cong itu.
Benar saja Hian-ceng dengan tidak merasa curiga sama
sekali menjawab: "Pengetahuan Hee siao-sicu benar-benar
sangat luas, katamu itu memang benar. Su-to suheng yang
terkena serangannya sampai tiga kali, mendapat luka bagian
dalam sangat parah. Serangan pedang yang mengenakan diri
Len-po Giok-li tidak mengenakan bagian-bagian yang
terpenting, hanya terlalu banyak keluar darah, barangkali dia
tidak akan sembuh dalam waktu singkat."
Mendapat keterangan bibinya tidak mendapat bahaya, hati
Hee Thian Siang mulai lega. Kembali ia bertanya sambil
tersenyum: "Dua orang itu semuanya merupakan jago-jago
kenamaan dalam rimba persilatan, Hee Thian Siang
sebetulnya ingin sekali berjumpa dengan mereka, apakah
mereka sekarang masih berada dalam kuil ini. .?"
"Jangankan Leng-po Giok-li dan su-to suheng yang
merupakan musuh bebuyutan, sudah tentu tidak mau singgah
dalam kuil ini, sedangkan su-to suheng sendiri juga tidak mau
menginjak pintu kuil. Mereka dengan membawa luka masing-
masing melanjutkan perjalanannya menuju ke Barat laut."
"Pertempuran antara dua musuh kuat, kebanyakan terluka
dua-duanya. Hee Thian Siang kebetulan hendak melakukan
perjalanan ke barat laut, apa masih ada kesempatan berjumpa
Thia-kwan totiang, pasti akan berusaha untuk mendamaikan
dua golongan itu, supaya menghapuskan segala
permusuhannya." Mendengar ucapan Hee Thian Siang, Hian-ceng lantas
memuji nama Buddha, setelah itu berkata: "Maksud Hee siao-
sicu ini memang baik tapi rasanya tidak perlu capaikan hati,
sebab dua golongan itu sejak dahulu sudah bersumpah tidak
mau hidup bersama, permusuhan yang terlalu dalam itu tidak
mungkin dapat dihapuskan."
Saat itu, dengan mendadak Hee Thian Siang merasa heran
terhadap sikap Ca Bu Kao, bukankah bibi itu sudah minta
bantuannya duta bunga mawar agar Liong-hui Khiam-khek
kekasihnya bisa baik lagi terhadapnya" Dengan cara
bagaimana sisa bertempur mati-matian dengan kekasihnya
sendiri" Bukankah itu bertentangan dengan kemauannya
semula" Hian-ceng yang menyaksikan Hee Thian Siang seolah-olah
sedang berpikir, merasa heran, maka lalu bertanya: "Hee siao-
sicu, kau sedang memikirkan apa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya sedan berpikir dalam dunia ini
tiada kebencian yang tidak dapat dihapuskan, tiada
permusuhan yang tidak dapat didamaikan, maka aku sedang
mencari daya upaya, dengan cara bagaimana supaya
permusuhan dua golongan ini dapat didamaikan?"
Hian-ceng selagi hendak menggelengkan kepalanya, Hee
Thian Siang sudah melanjutkan
kata-katanya sambil mengawasi luar jendela: "Hujan sudah berhenti, Hee Thian
Siang sudah mengganggu ketenangan Totiang hampir
setengah malam, di sini kuucapkan banyak-banyak terima
kasih, tolong sampaikan terima kasihku kepada kwancu."
Sehabis berkata demikian, ia lalu bangkit dan minta diri.
Hian-ceng juga tidak mencegah, ia antarkan Hee Thian
Siang keluar dengan membawa lentera.
Ketika berjalan melalui ruangan tengah, dengan tidak
sengaja Hee Thian Siang menyaksikan suatu kejadian aneh.
Rupanya imam tua berambut putih yang oleh Hian-ceng
dikatakan sebagai ketua kuil itu, ketika Hee Thian Siang lewat
dihadapannya, dengan disengaja atau tidak, imam tua itu
membuka mulutnya, yang ternyata sudah tidak mempunyai
lidah. Hee Thian Siang masih dalam keadaan keheranan, imam
tua itu sudah mengulurkan tangannya yang ternyata juga
sudah tidak ada jari-jarinya.
Hian-ceng yang berjalan di depan, seolah-olah sudah
mendapat firasat, segera berpaling mengawasi Hee Thian
Siang. Hee Thian Siang mengerti bahwa gerakan imam tua itu
pasti mengandung maksud dalam. Untuk menjaga supaya
jangan sampai menimbulkan kecurigaan Hian-ceng, ia buru-
buru memasukkan tangannya ke dalam saku, dan
mengeluarkan sepotong uang emas, diberikan kepada Hian-
ceng katanya berkata: "Hian-ceng Totiang, uang ini sekedar
untuk bantu uang minyak, harap Totiang terima dengan
senang hati." Oleh karena perbuatan Hee Thian Siang itu, benar saja
Hian-ceng tidak melihat kalau imam tua itu sudah
membocorkan rahasia. Hian-ceng menggelengkan kepala menolak pemberian Hee


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Thian Siang, katanya sambil tersenyum: "Kita toh sama-sama
orang persilatan, harap Hee sicu jangan pandan sebagai
orang luar." Hee Thian Siang terpaksa menyimpan uangnya lagi,
setelah itu ia memberi hormat dan minta diri.
Berjalan kira-kira setengah pal, Hee Thian Siang merandek,
kelakuan Hian-ceng dan perbuatan imam tua tadi, selalu
mengganggu pikirannya. Imam tua itu kalau benar sebagai Kwancu kuil itu mengapa
tidak mempunyai lidah dan jari tangan" Siapakah yang
menganiayanya" Orang-orang Tiam-cong terkenal sebagai orang berjiwa
kerdil, kalau imam itu dianiaya oleh orang luar, sudah pasti
menuntut balas, juga tidak mungkin hal itu tidak tersiar di luar.
Apabila perbuatan orang-orang Tiam-cong sendiri,
maksudnya tentu untuk mencegah imam tua itu membuka
rahasia, sebab dengan dipotong lidah dan jarinya sudah tentu
membuat orang tidak bisa omong dan menulis. Tetapi rahasia
apakah hingga sampai perlu menganiaya kepada imam tua itu
demikian rupa" Hee Thian Siang memikir bolak-balik, akhirnya menarik
kesimpulan, imam tua itu sengaja memberitahukan padanya,
perbuatan itu pasti dilakukan oleh orang Thiam-cong sendiri.
Tetapi ia masih belum dapat memikirkan apabila benar
perbuatan itu dilakukan oleh orang Thian-cong sendiri,
mengapa tidak dibunuh saja" Mengapa diperlakukan demikian
kejam dan mengapa pula harus diam dalam kuil Pho-hie-hee-
wan" JILID 7 Semakin dipikir, Hee Thian Siang semakin bingung, dan
akhirnya mengambil keputusan hendak balik kembali ke kuil
yang misterius itu, untuk mengadakan penyelidikan.
Ketika ia berlalu dari kuil itu, cuaca masih gelap, tetapi kini
sudah mulai remang-remang. Baru saja tiba di depan kuil,
pintu telah terbuka, dan Hian-ceng berdiri ditengah pintu
dengan wajah masam. "Hee siao sicu, apakah kedatanganmu kali ini juga tidak
disengaja?" demikian tegur Imam itu.
Hee Thian Siang tidak menduga bahwa imam itu sudah
berjaga-jaga, maka saat itu wajahnya lantas merah seketika.
Terpaksa ia menjawab sambil memberi hormat: "Sebabnya
Hee Thian Siang balik kembali, ialah. . karena lupa untuk
tanya sesuatu kepada totiang!"
"Siao sicu tidak usah berlagak, Pinto hanya hendak
memberi nasehat kepadamu: Timbulnya pertikaian
disebabkan karena banyak mulut; Kerisauan disebabkan
karena sudi gawe. Pak-bin Sin-po meski merupakan seorang
berkepandaian tinggi yang namanya terkenal di seluruh jagat,
tetapi juga belum tentu mau melibatkan diri dalam urusan
pribadi golongan lain."
Sejak turun gunung, Hee Thian Siang belum pernah
mendapat hinaan sedemikian rupa, maka saat itu lantas
berdiri terpaku di depan pintu!
Imam itu setelah berkata demikian, lantas menutup pintu
meninggalkan Hee Thian Siang seorang diri.
Hee Thian Siang sebetulnya hendak menyerbu masuk,
tetapi kemudian berpikir, karena menyerbu tempat orang
tanpa sebab, itu adalah perbuatan yang melanggar aturan,
apalagi kalau ia menggunakan kekerasan, malah tidak dapat
membongkar rahasia yang mengenai diri imam tua rambut
putih itu. Akhirnya ia mengendalikan hawa amarahnya dan diam-
diam meninggalkan kuil tersebut.
Karena mengetahui sudah ada penjagaan keras, maka hari
pertama itu ia tidak mengambil tindakan apa-apa, hanya
mondar-mandir di sekitar tempat itu, hingga pada hari kedua
waktu malam, baru pergi menyatroni kuil Pho hie hee wan
secara menggelap. Penerangan dalam kuil remang-remang, ia lompat ke atas
sebuah pohon besar yang terpisah kira-kira setombak lebih
dengan kuil tua itu, hendak menggunakan pandangan
matanya yang tajam untuk mengintai, kemudian masuk ke
dalam. Kamar sebelah kiri kediaman Hian-ceng Tojin, tampak
gelap gulita, hanya ruangan tengah dan kamar tidur imam tua
yang dikatakan bisu itu ada sedikit penerangan.
Hee Thian Siang baru saja pasang telinga, sudah terdengar
suara Hian-ceng yang berkata kepada imam tua itu: "Koan
susiok!" Begitu mendengar sebutan Koan susiok, Hee THian Siang
hampir menjerit, sungguh tidak diduganya bahwa imam tua
yang dianiaya sedemikian rupa itu ternyata masih merupakan
susiok dan paman guru Hian-ceng sendiri!
Apakah imam tua itu bukan jago tua golongan Tiam cong
Koan Sam Pek yang mempunyai nama harum sebagai imam
pengasih, yang pada tiga puluh tahun berselang namanya
sangat kesohor itu" Koan Sam Pek terkenal bukan saja karena dengan sebilah
pedangnya Pek liong kiam, seorang diri dengan beruntun
melawan tiga ketua golongan Lo-hu, Siaw-lim dan Kie-lian,
tetapi tidak terkalahkan, tetapi juga karena orangnya yang
hatinya jujur, tegas dan pengasih, hingga selalu dihormati oleh
semua orang rimba persilatan"
Khabarnya jago tua tingkatan tua ini, sejak Thiat-kwan
Totiang menjadi ketua, sudah menutup diri dan kemudian juga
dikabarkan sudah meninggal dunia. Tetapi dengan cara
bagaimana ia masih hidup" Bahkan dianiaya sedemikian
rupa" Karena penemuannya yang tidak terduga-duga, dia lantas
pasang telinganya. Sementara itu Hian-ceng sudah terdengar pula suaranya
yang diucapkan dengan sikap tidak sopan terhadap paman
gurunya sendiri: "Koan susiok, usiamu yang sudah demikian
lanjut, berapa lama lagi bisa hidup di dunia" Mengapa
ambisimu masih belum padam, selalu hendak merintangi dan
merusak rencana besar ciangbun suheng. Tugas Hiang-ceng
sangat berat, apabila kau membocorkan rahasia besar dalam
kuil ini, jangan sesalkan kalau aku tidak pandang kau sebagai
orang tingkatan tua lagi, jangan sesalkan kalau aku bertindak
dengan tangan kejam."
Imam tua itu karena sudah tidak mempunyai lidah, sudah
tentu tidak bisa menjawab hanya dari hidungnya saja
terdengar suaranya yang penuh marah.
Hee Thian Siang kini sudah mengetahui bahwa imam tua
itu benar adalah Koan Sam Pek yang dahulu namanya sangat
terkenal. Ucapan Hian-ceng tadi menimbulkan tiga pertanyaan
dalam hatinya. 1. Thiat-kwan Totiang sebetulnya mempunyai rahasia dan
rencana besar apa yang takut dibongkar oleh paman gurunya
sendiri" 2. Didalam kuil tua yang rusak ini, entah ada mengandung
rahasia apa yang takut diketahui oleh orang luar"
3. Hian-ceng berani berlaku tidak sopan bahkan berani
menggertak kepada Koan Sam Pek apakah seluruh
kepandaian imam tua itu sudah dimusnahkan" Apakah
perbuatan terkutuk itu dilakukan oleh Thiat-kwan Totiang
sendiri" Kini mengertilah Hee Thian Siang bahwa tindakan imam
tua yang membuka mulut dan mengeluarkan tangannya yang
tidak berjari terhadap dirinya malam itu, pasti mengandung
maksud dalam. Tetapi karena ia masih belum mengerti benar,
karena ia tidak berani menduga-duga serampangan,
kemudian tujukan perhatiannya kepada pembicaraan Hian-
ceng. Terdengar pula suaranya Hian-ceng: "Koan susiok, kalau
kau merasa penasaran, jangankan Hee Thian Siang yang
kemarin malam datang itu, seorang tingkatan muda yang
masih belum mendapat nama, sekalipun gurunya sendiri Pak-
bin Sin-po datang sendiri, juga akan Hian-ceng lawan. Kalau
masih bisa melawan, Hiang-ceng akan melawan mati-matian,
kalau tidak sanggup, aku akan melaksanakan sumpah
Ciangbun suheng, menggunakan senjata yang kusembunyikan, dengan sebutir senjata belerang yang bisa
meledak, ku akan hancurkan tiga orang dalam golongan kita
sendiri yang berada dalam kuil ini bersama musuh kita, hingga
menjadi hangus." Ucapan imam itu menambah suatu pertanyaan bagi Hee
Thian Siang. Ditinjau dari ucapan Hiang-ceng tadi, jelas
bahwa seluruh ruang yang semuanya hanya tiga kamar,
kecuali ruang tengah yang digunakan untuk tempat
sembahyang, kamar kanan didiami oleh Koan Sam Pek, dan
sebelah kiri didiami Hian-ceng sendiri, siapakah yang
dimaksudkan dengan orang ketiga itu" Dan dimana adanya"
Berbagai pertanyaan itu selalu mengganggu pikiran Hee
Thian Siang, selagi hendak melompat masuk ke dalam kuil
untuk mengadakan penyelidikan dengan seksama, di
belakang dirinya tiba-tiba merasakan hembusan angin yang
menyerang dirinya. Oleh karena hembusan angin itu datangnya perlahan, tidak
seperti senjata gelap, maka Hee Thian Siang mengulurkan
tangannya, dan ketika barang itu disambar olehnya, benar
saja hanya selembar daun pohon.
Daun itu dilancarkan dari dalam rimba sejauh tiga tombak
dari tempatnya, ketika mata Hee Thian Siang ditujukan ke
tempat itu, tampak olehnya di dalam rimba itu berkelebat
sesosok bayangan hitam yang sudah menggapai dirinya.
Hee Thian Siang karena menyaksikan bahwa bayangan
hitam itu bentuknya seperti tidak asing, maka diam-diam ia
melayang ke dalam rimba itu, tetapi bayangan hitam itu
kembali lompat melesat sejauh lima-enam tombak, dan
menghilang ke belakang gunung batu yang berada di kaki
bukit. Hee Thian Siang turut melompat mengikuti jejak bayangan
tadi, di tengah udara ia berteriak dengan perlahan.
"Yang berada di belakang batu itu apakah Sam-chiu Lopan
Oe-tie Khao locianpwe?"
"Hee laote, pandangan matamu sungguh hebat sejak
kapan kau tiba ditempat ini" Kau sudah mengintai dari atas
pohon, apakah sudah dapat lihat didalam kuil itu ada tanda-
tanda yang mencurigakan?" Menjawab bayangan itu sambil
menganggukkan kepala dan tertawa.
Dugaan Hee Thian Siang ternyata benar, bayangan hitam
itu benar Oe-tie Khao, adanya. Diam-diam ia merasa girang,
dan ketika kakinya menginjak tanah lantas bertanya: "Oe-tie
locianpwe, dimana Say han Kong locianpwe dan bibiku Leng-
po Giok-lie itu sekarang berada" Khabarnya bibi Ca pernah
mengadakan pertempuran sengit dengan Liong-hui Kiam-khek
disini, khabarnya juga dalam keadaan luka hampir kehabisan
tenaga, telah terkena tujuh kali serangan pedang lawannya. .!"
Hee laote, kau ternyata sudah tahu lebih jelas daripada
aku. Aku dengan situa bangka Say itu sejak mengejar Leng-po
Giok-li, hanya sepintas lalu saja mendengar ucapan orang,
bahwa beberapa hari berselang di depan kuil ini ada seorang
pria dan wanita sedang bertempur sengit, dua pihak terluka
parah, tua bangka she Say itu karena mendapat keterangan
tentang wajah dan dandanan wanita itu mirip dengan Ca Bu
Kao, maka merasa tidak tega hati, ia telah mengejarnya untuk
memberi bantuan, sedangkan si pengemis tua berdiam di sini
untuk menyelidiki keadaan sebenarnya, Hee laote, katamu
lawan Ca lihiap adalah Liong-hui Kiam-khek dari Tiam-cong-
pay, benarkah itu?" Hee Thian Siang lalu menceritakan pengalamannya di
dalam kuil itu, sehabis menceritakan bertanya sambil
tersenyum: "Oe-tie locianpwe, tadi ketika aku sembunyi di atas pohon, dengan
telinga telah menangkap suara Hian-ceng
totiang yang panggil nama Kwan Susiok, apakah imam itu
yang disebut Kwan susiok adalah tokoh terkuat golongan
Tiam-cong dahulu yang bernama Kwan Sam Pek?"
Oe-tie Khao yang mendengar pertanyaan itu terkejut dan
keheranan, ia berkata sambil gelengkan kepala:
"Tidak mungkin, tidak mungkin, kepandaian ilmu silat yang
demikian tinggi dari Kwan Sam Pek, juga merupakan satu-
satunya orang dari angkatan tua Tiam-cong-pay, bagaimana
bisa sampai mengalami keadaan demikian mengenaskan?"
"Tidak perduli imam tua berjubah putih itu betul Kwan Sam
Pek atau bukan tetapi menurut apa yang kudengar tadi,
didalam kuil Pho-hie-hee-wan ini, jelas semuanya ada tiga
orang. Siapakah orang satu lagi yang dimaksudkan itu, dan
disembunyikan dimana" Mengapa tidak berani menemui
orang" didalam hal ini pasti ada mengandung rahasia.
Locianpwe pasti mempunyai banyak akal cerdik, cobalah
pikirkan suatu cara yang baik untuk menyelidiki persoalan ini."
Oe-tie Khao agaknya tergerak hatinya oleh keterangan Hee
Thian Siang, ia berkata sambil ketawa: "Hee laote, sebutan
San-chiu lopan bagiku itu disebabkan karena aku mahir
mencuri bahkan pandai membuat alat berbagai macam
sehingga dapat julukan nama itu, tetapi tadi aku sudah
diperingatkan olehmu, mungkin dapat menyelidiki sedikit
keterangan keadaan kuil itu."
"Oe-tie locianpwe mempunyai rencana apa" Apakah kau
hendak menggunakan kepandaian mencuri, hendak
melakukan pencurian didalam kuil ini?"
"Dengan hanya mencuri saja belum tentu dapat mencuri
barang penting bagi bahan penyelidikan, aku sedang pikir
hendak memberikan mereka api berperasaan!" Berkata Oe-tie
Khao sambil tertawa. "Peribahasa mengatakan bahwa AIR DAN API ITU TIDAK
MEMPUNYAI PERASAAN, tidak tahu cara bagaimana
locianpwe hendak menggunakan api yang dikatakan ada
perasaan itu?" Bertanya Hee Thian Siang heran.
Dari dalam sakunya Oe-tie Khao mengeluarkan tiga butiran
kecil berwarna biru, lalu berkata sambil tertawa: "Hee laote, tiga butiran kecil
ini adalah benda ciptaanku sendiri,
kunamakan api yang punya perasaan. Benda ini begitu keluar
dari tanganku dan mengenakan barang, kalau tertiup angin
lantas menyala, bahkan menimbulkan asap tebal, apinya yang


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

keluar dari bahan ini besar sekali, tidak dapat dipadamkan
oleh air, sehingga membuat orang ribut dan kalang kabut,
tidak tahu bagaimana harus memadamkannya. Tapi api ini
waktunya menyala sangat pendek dalam waktu singkat akan
padam sendiri, hingga tidak menimbulkan kerugian besar
terhadap bangunan." Hee Thian Siang baru tahu bahwa apa yang dinamakan api
punya perasaan itu ternyata api yang tidak menimbulkan
bahaya besar, maka bertanya pula sambil tertawa: "Apakah
locianpwe hendak membakar orang ketiga yang tersembunyi
itu, supaya ia keluar dari tempat sembunyinya hingga kita bisa
melihat wajah yang sebenarnya?"
"Asal api ini menyala, orang-orang yang berdiam dalam kuil
mesti lari keluar, bukan saja akan melihat orang ketiga yang
sembunyi ditempat persembunyiannya, tetapi juga dapat lihat
dari gerakan imam berbaju putih itu, betul atau bukan adalah
Kwan Sam Pek yang dahulu pernah bertanding dengan ketua-
ketua golongan Lo-hu, Siao-lim dan Kie-lian."
Hee Thian Siang merasa bahwa akal Oe-tie Khao itu benar
dapat digunakan, maka lantas berkata sambil tersenyum: "Oe-
tie locianpwe, api ini biarlah aku yang melepaskan, aku
hendak mencoba betapa hebatnya apimu yang dinamakan api
yang punya perasaan itu."
Oe-tie Khao mengeluarkan tiga butir mutiara kecil lagi
diberikan kepada Hee Thian Siang, lalu berkata sambil
tersenyum: "Hee laote boleh cari tempat sejarak dua atau tiga tombak,
melemparkan kebagian tengah Timur dan Barat,
masing-masing sebutir, sudah cukup. Dan tiga butir yang
lainnya, kuhadiahkan kepadamu, tetapi setelah kau
melemparkan api itu, kau harus segera sembunyikan diri
jangan sampai diketahui pihak sana."
Hee Thian Siang terima baik pesan itu, dengan sangat hati-
hati ia melangkah maju dan tiba ditempat sejarak tiga empat
tombak dengan kuil, tiga butir api yang mempunyai perasaan
itu dilepaskan lalu dengan menggunakan ilmu meringankan
tubuh, ia lompat kembali ke samping Oe-tie Khao.
Tak lama kemudian, benar saja tampak berkelebatnya tiga
titik warna hijau dibagian tengah kuil itu dan dua kamar lainnya
terdengar suara ledakan, kemudian asap mengepul hebat.
Semula Hian-ceng totiang yang agaknya dikejutkan dan
coba menolong memadamkan api, tapi sebentar kemudian
dengan tindakan tergesa ia lompat keluar dari tengah kuil, di
tangannya membawa seorang yang berpakaian biasa tidak
memperdulikan lagi kamar yang lain, dan lari menuju ke Barat
laut. Oleh karena api itu besar sekali, hingga dapat dilihat
dengan jelas, bahwa orang yang dibawa kabur oleh Hian-ceng
itu bagi Hee Thian Sian dan Oe-tie Khao sudah tidak asing
lagi, orang itu ternyata adalah jago pedang ketiga golongan
Tiam-cong, Liong-hui Kiam-khek sendiri.
Hee Thian Siang terkejut, katanya dengan suara
keheranan: "Kiranya Su-to Wie yang terkena hajaran tiga kali
ilmu Pan-san ciang oleh bibi Ca bukan lari jauh, bahkan ia
merawat lukanya di dalam kuil itu, tetapi kalau benar dia, perlu
apa harus sembunyikan diri?"
Oe-tie Khao tidak menjawab, sebaliknya bertanya: "Hee
laote, imam tua berbaju putih yang kau katakan, sudah tidak
mempunyai lidah dan jari tangan itu belum lari keluar, maka
kita bisa masuk ke dalam kuil untuk melihatnya jika ada
kesalahan bukankah berarti aku si pengemis tua melakukan
dosa yang besar." Hee Thian Siang yang diperingatkan oleh Oe-tie Khao
dalam hati merasa khawatir atas keselamatan imam tua
berbaju putih itu, maka dua orang itu masing-masing
mengeluarkan ilmu meringankan tubuh, menyerbu ke dalam
kuil. Pada saat itu berkobarnya api pelan-pelan sudah padam
sendiri, benar saja api itu hanya membakar sebagian jendela
dan tiang-tiang pintu, tetapi tidak menimbulkan kerusakan
besar. Hee Thian Siang dan Oe-tie Khao yang menyerbu ke dalam
kuil, begitu tiba di depan pintu kamar sebelah timur, segera
dapat lihat bahwa imam tua berbaju putih itu masih tetap
duduk bersila di atas tempat tidurnya, sikapnya itu sangat
agung, seolah-olah sebuah patung batu, terhadap api yang
berkobar di pintu dan jendela seolah-olah tidak menghiraukan
sama sekali. Hee Thian Siang merasa bahwa imam tua berbaju putih ini
memiliki wibawa yang sangat agung, maka ia lalu memberi
hormat dan bertanya: "Murid golongan Pak-bin Hee Thian
Siang minta tanya kepada totiang, apakah totiang ini adalah
Kwan Sam Pek locianpwe, satu-satunya tokoh tingkatan tua
dari Tiam-cong-pay?"
Imam tua berbaju putih itu mengawasi Hee Thian Siang
sejenak, menganggukkan kepalanya. Oe-tie Khao sementara
itu merasa terkejut dan keheranan, ia bertanya: "Isu berhati
murah itu dahulu pernah dengan menggunakan sebilah
pedang Pek-liong-kiam dengan beruntun bertanding dengan
ketua-ketua golongan Lo-hu, Siau-lim dan Ki-lian, namun tetap
bertahan tidak terkalahkan. Oleh karenanya hingga namanya
menggemparkan seluruh rimba persilatan. Kalau totiang benar
adalah pendekar luar biasa dari tingkatan tua, dan dimana
sekarang seluruh kepandaian locianpwe itu?"
Imam tua berbaju putih itu yang mendengar ucapan
demikian mengerutkan alisnya yang putih dan mengulurkan
tangannya kepada Oe-tie Khao untuk menunjukkan bahwa
dirinya tidak mempunyai lidah, tangannya tidak mempunyai
jari, sehingga tidak dapat berbicara dan menulis.
Oe-tie Khao dan Hee Thian Siang yang menyaksikan
keadaan yang mengenaskan itu merasa pilu. Oe-tie Khao
bertanya pula sambil mengkerut alis: "Maksud totiang
menunjukkan keadaan ini kepada kita apakah seluruh
kepandaian silat totiang sudah dimusnahkan oleh kawanan
penjahat?" Koan Sam Pek mengangguk, Oe-tie Khao yang
menyaksikan seorang tingkatan tua yang namanya pernah
menggemparkan rimba persilatan sekarang telah mengalami
nasib yang demikian mengenaskan maka sesaat itu berdiri
tertegun, tanyanya pilu: "Kepandaian ilmu silat totiang,
sebetulnya dimusnahkan oleh kawanan penjahat siapa" Oe-
tie Khao dan Hee Thian Siang sebagai orang persilatan yang
selalu membela keadilan dan kebenaran bersedia hendak
membela diri totiang."
Koan Sam Pek semula menunjukkan sikap kasar, tetapi
setelah mendengar ucapan Oe-tie Khao tadi dengan tiba-tiba
seperti tergerak. Matanya ditujukan kepada mereka berdua,
setelah itu mata itu dipejamkan, dari kelopak matanya
mengalir turun dua butir airmata.
Tangisan yang tak bersuara itu kadang-kadang lebih
menyedihkan daripada tangisan yang mengeluarkan suara
keras. Berdasar atas penglihatan semua itu dan apa yang
didengarnya, Hee Thian Siang sudah dapat menebak
beberapa bagian maka dengan hati panas ia bertanya:
"Oleh karena keadaan totiang yang mengenaskan kini, Hee
Thian Siang sudah dapat menebak sebagian besar. Sekarang
Hee Thian Siang ingin tanya kepada totiang, orang yang
menganiaya totiang demikian rupa ini, betulkah sutemu
sendiri" Yang sekarang menjabat ketua Tiam-cong-pay?"
Kwan San Pek yang dengan tenang mendengarkan
pertanyaan Hee Thian Siang, setelah mendengar pertanyaan
itu, airmatanya mengalir semakin deras, dan kemudian
dengan tiba-tiba membuka sepasang matanya.
Tetapi pada saat ia membuka lebar matanya, dan belum
menjawab pertanyaan Hee Thian Siang tadi, dari luar jendela
tiba-tiba menyambar masuk hembusan angin dingin, yang
langsung menyerang bagian belakang Kwan Sam Pek,
sehingga tokoh tua kenamaan itu belum sempat membuka
rahasia yang menyelubungi dirinya, sudah meninggalkan
dunia yang fana ini secara tergesa-gesa."
Hee Thian Siang yang pertama mengetahui tetapi oleh
karena serangan pihak lawan itu terlalu cepat, dalam keadaan
demikian ia tidak keburu mencegah, hingga menyebabkan
kematian Kwan Sam Pek. Saat itu bukan kepalang
amarahnya, sambil mengertek gigi lompat keluar melalui
lobang jendela. Sedangkan Oe-tie Khao sendiri dalam keadaan repot, ia
membalikkan tubuh Kwan Sam Pek, kini ia telah mendapat
kenyataan bahwa orang tua itu telah diserang dengan senjata
racun paku yang sangat ganas, senjata itu tidak dapat
membuka rahasianya, sudah meninggal dunia. Ia bukan saja
merasa gemas terhadap orangnya yang demikian kejam, tapi
juga sangat marah maka lantas pergi mengejar melalui lobang
jendela. Orang yang melakukan serangan tadi adalah Hian-ceng
tojin yang sudah pergi tetapi kembali lagi, dan waktu itu sedan
bertempur sengit dengan Hee Thian Siang yang
menggunakan senjatanya Sam-ciok Kang-hwan.
Hian-ceng Totiang meskipun merupakan sute ketua Tiam-
cong-pay Thiat-kwan Totiang, tetapi ilmu silatnya kalau
dibanding dengan tiga jago pedang golongan Tiam-cong,
masih selisih jauh! Apalagi senjata yang digunakan olehnya
adalah sebilah pedang biasa, sudah tentu agak repot
menghadapi Hee Thian Siang yang menggunakan senjata
aneh Sam Ciok Kang-hwan. Hanya dengan mengandalkan
ilmu pedangnya Hui-hong-u-liu-kiam-hwat, ia dapat bertahan
untuk sementara waktu. Hee Thian Siang di samping menggunakan senjata
tunggalnya Sam Ciok Kang-hwan dan ilmu silat golongan Pak-
bin, untuk menahan Hian-ceng Tojin, mulutnya memanggil-
manggil U-tie Khao dengan suara nyaring:
"U-tie locianpwe, terhadap kawanan penjahat yang sudah
membunuh susioknya sendiri ini kita tidak boleh
membunuhnya begitu saja! Aku hendak menangkap hidup
padanya, untuk kuserahkan kepada sahabat-sahabat rimba
persilatan yang akan putuskan dosanya! "
Hee Laote, terserah bagaimana engkau hendak berbuat,
setelah kau berhasil menangkap penjahat ini, biarlah aku nanti
akan menggunakan ilmuku Ngo-im Kai-mek yang sangat
kejam dan sangat jarang kugunakan, sekali pun dia berhati
baja dan berkepala batu, juga pasti akan membuka semua
rahasianya!" "U-tie locianpwe, harap kau menjaga di samping batu aku
memperhatikan penjahat ini jangan sampai kabar, atau
menggunakan senjata rahasianya golongan Tiam-cong, aku
ingin suruh dia merasakan senjataku Sam Ciok Kang-hwan !"
Sehabis mengucap demikian, suara mengaung tiba-tiba
timbul di tengah udara, dua buah gelang Sam-ciok Kang-
hwan, saling beradu di tengah udara, kemudian meluncur ke
arah Hian-ceng Tojin. Imam itu memang sudah tahu, bahwa ia
tidak sanggup melawan, tetapi sepasang senjata aneh
lawannya itu sungguh hebat, apalagi gerak tipu serangannya
yang luar biasa, hebatnya tekanan Hee Thian Siang membuat
dirinya tidak dapat melepaskan diri, ia juga tidak berdaya
untuk menggunakan senjata rahasianya golongan Tiam-cong!
Oleh karena ia mempunyai tugas berat, dan pernah
bersumpah apabila menghadapi bahaya hebat, harus
habiskan jiwanya sendiri, jangan sampai membocorkan
rahasianya Tiam-cong-pay!
Sekarang ia berada dalam keadaan demikian, ini
merupakan saatnya baginya untuk menghabiskan jiwanya.
Tetapi meskipun ia bisa berlaku kejam terhadap susioknya
sendiri, terhadap dirinya sendiri ia masih timbul keinginan
hidup, maka ia coba mencari kesempatan untuk melarikan diri!
Ketika Hee Thian Siang memberi tekanan hebat pada
dirinya, ia segera dapat merasakan betapa hebat tekanan itu,
ia tahu gelagat tidak baik maka buru-buru menggunakan salah
satu gerak tipunya dari ilmu pedangnya Hui-hong-u-liu kiam-
hoat untuk melindungi dirinya, pedangnya diputar sedemikian
rupa untuk menahan senjata Hee Thian Siang.
Hee Thian Siang yang sudah bertekad hendak menangkap
hidup-hidup lawannya, sudah tentu yakin akan tindakannya
sendiri itu, dengan senjata gelang itu ia menangkis semua
serangan lawannya, hingga dalam sesaat kemudian dan saat
selanjutnya ia sudah berhasil mengunci pedang Hian-ceng
Tojin. Hian-ceng Topjin mengetahui senjatanya terkunci, saat itu
bukan kepalang terkejutnya, ia tahu bahwa satu-satunya
kesempatan untuk hidup ialah memberikan perlawanan
dengan kekuatan tenaga dalamnya! Apabila ia dapat
menggunakan pedangnya untuk merampas senjata lawannya,
maka itu berarti suatu kesempatan baginya untuk melarikan
diri, tetapi apabila maksudnya itu gagal, ia akan bunuh diri
sendiri ! Oleh karena mati hidupnya tergantung tindakannya kali ini,
sudah tentu ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga
dalamnya, ia berusaha untuk merebut senjata lawannya !
Orang kalau dalam keadaan nekad, kadang-kadang
tenaganya bertambah besar dengan mendadak, tindakan
Hian-ceng Totiang yang menarik kembali pedangnya secara
nekad, benar saja telah berhasil, hingga senjata gelang Sam-
ciok Kang-hwan di tangan Hee Thian Siang, telah terlepas
terbang di udara! Bukan kepalang girangnya Hian-ceng Tojin, dia hendak
menggunakan kesempatan itu untuk memutar tubuhnya, tetapi
mulutnya sudah mengeluarkan suara jeritan. Di antara
berkelebatnya sinar putih, sebelah lengan kanannya telah
terlepas putus sehingga ia rubuh pingsan di tanah!
Rupanya Hee Thian Siang sudah mengetahui bahwa Hian-
ceng Totiang dalam keadaan tak berdaya, ia pasti hendak
merebut kembali pedang secara nekad! Maka ia sengaja
mengendorkan senjata gelang yang berada di tangan kiri dan
senjata di tangan kanan diam-diam dilempar ke tengah udara,
setelah itu ia menggunakan kesempatan selagi imam itu
menarik kembali pedangnya, senjata gelangnya di tangan
kanan ditekan dan senjata gelangnya yang lain digunakan
untuk menabas kutung lengan kanan Hian-ceng Totiang.
Di satu fihak berusaha secara nekad hendak menarik
kembali pedangnya, sedang di lain pihak berdaya melepaskan
senjata pergelangannya, ketika gelang di tangan kanan Hee
Thian Siang tertarik oleh lawannya dan terbang ke udara,


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tetapi Hian-ceng Tojin juga lantaran bagian dadanya tidak
mendapat perlindungan, maka lengan kanannya terpapas
kutung oleh senjata gelang bergigi di tangan kiri Hee Thian
Siang! Hee Thian Siang yang sudah berhasil melukai lawannya,
maka tangan kanannya yang kosong, dia menggunakan
kesempatan itu untuk menotok jalan darah lawannya sehingga
Hian-ceng Tojin jatuh tersungkur dalam keadaan tidak ingat
orang lagi! Begitu Hian-ceng Tojin roboh, Hee Thian Siang lantas
menyambuti senjatanya Sam-ciok Kang-hwan yang melayang
turun kembali, dengan perasaan bangga hingga ia tersenyum !
Bukan saja ia sendiri yang merasa bangga, sedang U-tie
Khao yang menyaksikan pertempuran itu juga memberikan
pujiannya: "Cara Hee laote memancing musuh ini, kau lakukan
dengan sangat bagus sekali, sehingga aku si pengemis tua
Medali Wasiat 5 Pedang Bunga Bwee Karya Tjan I D Petualang Asmara 15
^