Pencarian

Pendekar Seribu Diri 10

Pendekar Seribu Diri Karya Aone Bagian 10


mengalahkan suara ledakan itu membuat semua orang harus
mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi telinganya,
bahkan yang menggeletak pingsan atau mati juga ada.
Siapakah yang terpekik itu"
Tampaklah Seorang Pemuda tampan pakaiannya berwarna biru
langit serasi dengan jubahnya. rambutnya di kuncir kuda diikat
oleh kain berwarna biru, diatas ikatannya menyembul sebuah
gagang berukiran harimau, Dilehernya tersampir sebuah kain
berwarna coklat menambah ketampanan wajahnya. sementara
disampingnya juga berdiri ketiga Gadis cantik mengenakan
pakaian yang sama yakni berwarna biru laut sebatas dada.
menunjukan dada mereka yang sekal. Badan mereka terlihat
elok dalam busana ketat seperti itu. Pinggang mereka tampak
ramping karena mengenakan celana ketat warna biru laut pula.
Pakaian mereka itu dirangkap pakaian jubah warna biru langit
yang tak terkancingkan bagian depannya. jubah itu terbuat dari
bahan sutera menampakan sikap mewah mereka, leher mereka
yang jenjang itu dibelitkan sebuah kain selendang tipis berwarna
putih. 704 Kemudian menyusul pula beberapa pemuda-pemudi yang lain.
"Guru!. Aram mengeluh dan segera melompat disamping mayat
Ki Jalak, Mata Aram nanar, namun ketenangannya demikian
mengagumkan, bahkan Maharaja Sembilan iblis juga mengakui
hal tersebut. "Selamat datang kembali Pendekar Seribu diri Aram widiawan Si
Rubah cilik" Seru Maharaja Sembilan Dewa sambil mengangkat
tangan kanannya. dan serempak angota Nawa awatara yang
semenjak tadi berdiam diri mencabut senjatanya.
Aram kerutkan dahinya, sepertinya ia merasakan gelagat yang
tidak beres, namun seperti biasa, wajahnya tetap tenang seperti
air dalam. "Hentikanlah Angkara Murkamu ini Maharaja Sembilan Dewa!"
Aram berkata tegas. "Hentikan" hahahaha..... haruskah aku menghentikan angkaraku
yang sedang mencapai puncaknya ini! heh" Maharaja Sembilan
Dewa terbahak-bahak seolah itu adalah ucapan yang sangat
lucu. "Hem, Apakah Buyutmu itu belum cukup untuk dijadikan sebagai
pelajaran" apakah Murid buyutku Avatara Batara Yuda,
Pangeran Empat Dewa belum kau perhitungkan?"
Maharaja Sembilan Dewa membesi, kini ia baru mengetahui
bahwa Pangeran Empat Dewa merupakan Murid dari Avatara
705 Batara Yuda yang juga merupakan buyut dari orang yang selalu
menjadi duri dalam setiap tindakannya.
"Benarkah ucapanmu itu?" Tanya Maharaja Sembilan Dewa
menegaskan. "Haruskah aku menakutimu" jikalau pada masa itu Murid
buyutku itu tidak tergoda rayuan wanita barangkali sekarang kau
tak akan ada didunia ini. weleh weleh" Aram tersenyum
mengejek. "Kalian semua harus mati!" Teriak Maharaja Sembilan Dewa
murka. "gampang sekali jika kau ingin kami mati, tapi, kau harus
menebusnya dengan seluruh anggotamu termasuk kau ketuanya
hahahaha" Aram tergelak-gelak mengucurkan air mata, mungkin
saking sedihnya akan kematian orang-orang terdekatnya sampai
terbawa kepada tawanya. "Kau Terlalu menghina Aram!" Aram tersenyum saja sambil
mengangkat tangannya. serempak saja Ketiga kekasihnya juga
Ksatria Satwa, Ki Asmaradanu, Nyi Renjani dan Kakek Arak
seribu Kati mendekati Aram.
Setelah dekat tampak Ki Asmaradanu tampak berbisik-bisik
ditelinga Aram, untuk sekejap wajah Aram berubah tegang,
namun akhirnya kembali seperti semula.
"Kalian.... pemuda pemudi yang pada waktu itu memakai
pakaian serba coklat...! bukankah kalian sudah mati" Teriak
706 Maharaja Sembilan dewa membuat anak buahnya yang lain
menjadi keder. "Haha.... Kau memang pintar Maharaja Sembilan Dewa, tapi kau
masih kalah siasat denganku, ketahuilah bahwa aku sudah
mengetahui perkumpulan ini sejak dahulu, maka jauh-jauh aku
sudah menyusun siasat, termasuk memasukan beberapa
anggotaku kedalam perkumpulanmu. aku juga tahu bahwa
Perkumpulan Panji Telapak Perak adalah kelinci percobaanmu.
namun keinginan sering sekali tak sesuai dengan harapan,
hingga aku harus menggunakan siasat kedua sebab kau
melibatkan juga kerajaan. lebih daritiga tahun aku
mengumpulkan tenaga penghancur, sementara kau sibuk
dengan mainan yang ku persembahkan untukmu kau tetaplah
sama Maharaja Sembilan Dewa, kau adalah manusia biasa.
hanya bila Ibumu juga kau setubuhi, ayahmu kau bunuh. aku
belum mampu melakukan apa yang kau lakukan itu, haha!"
Untuk kali ini, Maharaja Sembilan Dewa tidak mampu lagi
memendam kemarahannya, bagaikan singa lapar ia menggeram
dahsyat. "Gerrrmmm!" "Hahaha... mengapa kalian malah memilih Ketua yang suka
membunuhi anak buahnya seperti itu" " Aram mengejek
memanasi Anggota Nawa Awatara yang dalam pada itu sedang
mati-matian menahan tenaga dalam yang menyerang gendang
telinga mereka. sementara Rombongan Aram pada waktu itu
tenang-tenang saja, Mengapa begitu"
707 Setelah semua anggota berkumpul akhirnya Aram dan kawankawan berangkat menuju Markas Nawa Awatara, diperjalanan
Aram bertemu dengan berbagai macam lapisan masyarakat,
baik itu dari kalangan persilatan yang menyembunyikan diri,
maupun masyarakat biasa yang telah diberikan ilmu oleh Adipati
Rajalela demi memenuhi siasat penghancuran Nawa Awatara.
Mereka berdiskusi, hingga pada suatu hari Aram memutuskan
untuk segera menyebrngi lautan demi ke pulau borneo tersebut.
sebelum berangkat Aram memberikan titah agar semua orang
yang akan terlibat menutup gendang telinganya dengan tanah
liat, untuk berkomunikasi Aram mengajarkan beberapa isyarat
dan teknik membaca gerakan bibir.
Pada saat sore hari akhirnya Aram tiba di desa Talaga
Angkeran, desa terdekat dari Desa Mujung Sungkur. seperti
biasa, Dengan memencarkan diri Aram dan kawan-kawan
menghabisi Anggota Nawa Awatara yang berkeliaran, itulah
sebabnya mereka datang terlambat dalam pertarungan para
datuk itu. Begitulah sebabnya mengapa rombongan Aram dalam baik-baik
saja meski teriakan itu mengandung tenaga penghancur yang
dahsyat. Maharaja Sembilan Dewa berteriak dengan lantangnya.
"Jangan salahkan bila aku akan membantai kalian. Pasukan
pemanah.... !" namun perintah itu tak ada respon, hening seperti
tiada terjadi apa-apa. 708 "Pasukan Pemanah,.... Pasukan Bumi...! Pasukan Bisa!
Pasukan Gadis Iblis!" Hening, semua tiada Respon. Maharaja
Sembilan Dewa benar-benar kaget, ia benar-benar tak mengerti
sebenarnya apa yang sedang terjadi, padahal semua hal itu
telah dipersiapkan dengan matang. karena persiapan itu jugalah
ia datang terlambat ketempat itu menyebabkan beberapa datuk
yang menjadi andalannya mati.
tok..tok, suara langkah kaki orang berjalan dalam lorong, tak
lama kemudian keluarlah seorang pemuda berwajah pucat
berseragam Nawa Awatara, ditangannya terjinjing sebuah
Pedang panjang berlumuran darah.
"Ragid.! kemanakah saja kau, mana anak buahmu, mengapa
kau tak menuruti perintahku!" teriak Maharaja Sembilan Dewa
marah. "Maafkan aku Maharaja Sembilan Dewa, sejak dahulu aku selalu
mengelabuimu, namaku Eka Purnama Komandan Golongan
Bendera dari Bendera Awan Langit Eka Purnama" Teriak
Pemuda itu sambil melepaskan topengnya, wajahnya tidak
terlalu tampan, namun kini terlihat lebih baik daripada tadi.
"Kau...!" Maharaja Sembilan Dewa tercekik, ia benar-benar tak
menyangka bahwa perkumpulannya dapat dimasuki lawan. ia
baru saja meragukan ucapan Aram, namun kali ini ia harus
mempercayainya jua. 709 Belum ia memberikan hukuman kepada Eka Purnama, Salah
satu pengawal Pribadinya juga meninggalkannya sambil
mendekati rombongan Aram,
"Rival, Terimakasih kau sudah melaksanakan tugasmu dengan
baik." Aram berkata antusias, saking kagetnya, Maharaja
Sembilan Dewa berdiri menjublak.
"Brusss!" dari dalam tanah keluar seorang Pemuda berwajah
oval berpakaian Anggota Nawa Awatara. Pemuda itu segera
berbalik dan memberi hormat kepada Aram, lalu berkata.
"Ketua, Hamba sudah selesai"
"Bagus, Ikbal silahkan menuju tempatmu"
"Hamba Juga sudah menyelesaikan tugas hamba Ketua,"
Seorang Pemuda lainnya yang tak lain adalah Jagat balik
tersenyum diambang pintu. disampingnya juga berdiri Pratama.
"Hihi, lihatlah wajah Maharaja Sembilan Dewa begitu lucu"
Sebuah suara merdu melantun. ternyata suara itu berasal dari
berpakaian seronok warna Merah.
"Mawar" desis pengawal Pribadi lain Maharaja Sembilan Dewa.
"Benar, Aku Mawar Duta Langit Bendera Awan Langit" Timpal
Nyi Mawar. "Engh... sampai kapan kau berdiam disana,
Kenanga!" 710 "Akh, Sampai Maharaja Sembilan Dewa membuka bajunya
hihi...." Jawab seorang Gadis cantik berpakaian orange, bajunya
sudah berlumuran dengan darah, sepertinya ia sudah
membantai manusia. "Maaf Aku terlambat, namun aku juga sudah menyelesaikan
tugasku!" Seseorang berkata diatas genting, wajahnya tidak
begitu jelas sebab terhalang oleh gelapnya pajar. namun dengan
cahaya obor masih bisa dilihat bahwa pemuda itu sedang
membawa buntalan besar. "Kau mau pindah kemana Sagara!" ejek seseorang dibalik
pohon, selang sesaat akhirnya sosok itu menampakan diri,
ternyata dia adalah seorang pemuda berambut pitak dengan
baju Nawa Awataranya. "Buana Dewa, kau mau racun tikus?"
"Hahaha... Silahkan kau makan sendiri." Jawab seseorang yang
dekat pohon. "Ketua, menyenangkan sekali... ternyata kekayaan mereka lebih
dari yang kita duga sebelumnya." Dibelakang rombongan Aram
tampak seorang Pemuda kering kerontang cengengesan.
"Terimakasih atas kerjamu Dewa Ares." Aram tersenyum
bahagia, Maharaja Sembilan Dewa menjublak, sepertinya ia
sedang shock melihat anak buah kesayangannya malah
memihak lawan.... kini ia sadar bahwa sebenarnya
kegemilangan yang ia peroleh hanyalah sebuah alat untuk
711 menghancurkan dirinya, sungguh ia merasa menyesal, sejak
masa kegemilangannya itu ia tidak pernah melatih ilmunya,
ataupun mengurusi organisasinya, yang ia lakukan hanyalah
bersenang"senang, ia tidak sadar bahwa lawan berubah
menjadi cacing pita dan tikus yang menggerogoti dirinya, bahkan
wanita yang paling ia gemari untuk ia ajak tidur adalah seorang
musuh. Sementara Anggota Lainnya menjadi down, semangatnya turun
secara mendadak, kematian menunggu mereka,.
"Akh, Kemanakah Tanjung Putri?" tanya Aram keheranan, suara
itu jernih namun menggaung-gaung.
Sepuluh orang yang tadi menunjukan wajah aslinya menunduk
sedih. "Beliau telah meninggal ketua, Beliau mati dalam perjuangan
kita, Beliau mati karena ingin menunjukan bahwa semua
anggota Nawa Awatara tidak ada yang memiliki wajah dua" Eka
Purnama menjelaskan sambil berkaca-kaca.
"Semoga tuhan menerima dia disisinya." Ucap Aram menunduk.
Maharaja Sembilan Dewa mendengus dingin, segera ia
menyela. "Aku Akui, Kau memang lawanku yang paling mengerikan
Aram...." Aku Maharaja Sembilan dewa jujur.
712 "Terimakasih atas pujianmu Maharaja Sembilan dewa, tapi kau
tetap akan mati diujung tanganku"
"Satu hal yang perlu kau ingat, aku masih memiliki dua kartu As
untuk menghancurkanmu..... Penasihatku Keluarlah"
"Tuk.tuk!" Suara langkah kaki bergema, maka keluarlah Seorang
Lelaki Paruh baya berbaju Putih, wajahnya sangar, matanya
hitam mencorong. "Maharaja Sembilan dewa" Ucap Lelaki itu menyapa Maharaja
Sembilan dewa. Maharaja Sembilan dewa kerutkan alis, "Apa maksudmu
memanggilku Maharaja Sembilan dewa Darupada."
"Hahahaha.......!" Lelaki itu tertawa latah, lalu menimpali " Kau
terlalu bodoh Maharaja Sembilan dewa. Aku Si Pengabar Langit
merasa kasihan untukmu"
Lelaki itu segera memegang rambutnya lalu ditarik, maka
munculah seraut wajah berparas cakap. Di atas alis kanannya
ada tanda codet menggaris sampai atas alis kiri seperti bekas
barang tajam. memang itulah ciri khas Si Pengabar Langit.
Maharaja Sembilan Dewa menghela nafas panjang, sudah jatuh
ketimpa tangga. hatinya benar-benar goyah,
"Apakah kartu As mu yang ke-dua Maharaja Sembilan Dewa"
Rombongan Aram tertawa terbahak-bahak.
713 "Kau tahu, berapa jiwa Anggota Nawa Awatara ini" dan apa
yang terjadi bila aku mati."
"Anggota yang mana" anggota yang berkeliaran atau anakmu
yang dikandung sembilan istri?" Aram tertawa latah.
Mata Maharaja Sembilan dewa melotot, Diam-diam ia
merasakan gelagat buruk, gelagat yang tidak
menguntungkannya, namun ia dam saja, diam menanti, namun
dalam relung hatinya ia menyesal mengapa orang
kepercayaannya harus tahu bahwa ia telah membuahi anak
untuk menjaga bila terjadi sesuatu.
"Hihi... Maaf Maharaja, kesembilan istrimu sedang beristirahat


Pendekar Seribu Diri Karya Aone di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dialam baka" Cempaka tertawa dingin.
Ucapan itu laksana guntur disiang bolong bagi Maharaja
Sembilan dewa. ingin ia bertindak, namun musuh sedang berada
dalam posisi terbaiknya, adalah hal yang mustahil bagi dirinya
untuk menekan lawan. "Kalian Kejih sekali, membunuhi orang yang sedang Hamil"
"Maaf, Kesembilan istrimu itu terlalu naif hingga mereka
keguguran dahulu sebelum mati." Kasturika tersenyum dingin.
Mendadak... Wussss,,,.... Jleggg! Seorang Pemuda berbaju warna toska,
berkuncir ekor kuda dengan ikat kepala biru laut bermata sipit,
wajahnya tampan hidungnya mancung, menilik wajahnya
714 sepertinya ia bukan penduduk pribumi. dia tak lain adalah Thian
Liong adanya. "Ketua, Seluruh armada sudah bergerak. sepertinya ini hari
adalah hari terakhir bagi Nawa Awatara" Wajah tampan Thian
Liong tersirat semburat matahari yang mulai menampakan
wujudnya, Dengan sinar itu rupanya membuat wajah itu begitu
seram. Kemanakah saja Thian Liong selama ini" dan apa yang
dimaksud dengan Armada"
Beberapa purnama kebelakang, entah ada apa, Aram segera
menitah Thian Liong untuk menghadapi keruangannya, kini
keduanya duduk berhadapan.
"Kak, Kau mau membantuku?" Aram membuka suara.
"Membantu Apa Aram?"
"Menyadarkan segenap kerajaan, kerajaan yang ada di tanah
Seribu pulau*" (*Sweta Dwipa/Nusantara)
"Maksudnya?" "Aku ingin Kak Liong pergi keseluruh Kerajaan di Seribu pulau ini
untuuk menghancurkan Anggota Nawa Awatara dalam waktu
yang serempak." "Em...Boleh, tapi apakah kau tak salah memilih orang?"
715 "TIDAK..!, aku tahu... selain engkau dan Hong Moay tak bakalan
ada yang sanggup,!" Thian Liong tersenyum ia paham arti kata "sanggup" itu, ia tahu
maksudnya adalah mampu pergi kesuatu tempat dalam waktu
sekejap. "Baiklah, Aku sanggupi itu! sekarangpun aku akan pergi"
"Kak....!" Raib sudah raga Thian Liong, Aram tersenyum penuh
makna atas ulahnya itu. Thian Liong yang pada waktu itu sedang bicara rupanya sedang
mengerahkan ilmunya "Perjalanan Sejati" sehingga ketika
selesai bicara tubuhnya sudah melesat meninggalkan tempat itu.
Dengan ketekunan dan Perjuangan penuh, Thian Liong pergi
keberbagai Kerajaan besar diseluruh Nusantara. ia membujuk,
merayu dan lainnya untuk mencapai kesepakatan itu, setelah
semuanya selesai tidak kerasa itu sudah berjalan beberapa
bulan. dan hingga dalam perjalanannya ia mendengar bahwa
Aram sedang menuju markan Nawa Awatara di borneo.
Baru saja Thian Liong selesai berkata
Mendadak...... "Begitupula dengan Pasukan semut" Seseorang berkata lantang
dibelakang Thian Liong. dia merupakan seorang lelaki paruh
baya berusia empat puluh delapan tahunan, berbaju hitam
716 seperti orang yang berduka cita, ya dia adalah Adipati Rajalela
sang Raja ditanah sunda ini.
"Ayahanda" Rismi Laraspati berseru lantang.
"Kau.dan..Kau.. bukankah aku sudah menusuk tubuh kalian!"
Salah satu Pengawal Maharaja Sembilan Dewa tergagap
gemetar. "Haha... Maaf aku sudah mengatur semuanya! Aku Rehan
Pendamping Ketua menghaturkan hormat kepada Maharaja
Sembilan Dewa" Dibelakang Rehan tampak Ki guntur, ki makmur, Nyai asri, Siwa,
Samudra. Brahma, Raja,Tangan kilat Ki Kodir. juga berjalan
santai. tangan mereka berlumuran darah seakan mereka sudah
menjagal orang. Bagaimana kisahnya hingga Rehan dapat menyelamatkan
Nyawa adipati Rajalela bersama keluarga"
+++ Malam ini bulan tidak bercahaya penuh, hanya sebuah garis
melengkung saja menghiasi malam in. Langit cerah tanpa sedikit
pun awan menggantung. Bintang-bintang gemerlapan,
menambah keindahan angkasa raya. Namun sepertinya
keindahan malam ini tidak dinikmati Oleh sekeluarga Kerajaan.
Hanya binatang-binatang malam saja yang mereguk keindahan
malam. 717 Didalam Keraton itu, tepatnya dikamar raja nampaklah lima
orang sosok manusia sedang bersitegang, sepertinya mereka
sedang menghadapi masalah yang sedang gawat.
"Rehan, Brajangpati, Apa maksud ucapan kalian itu?" Seorang
Lelaki Paruh baya berpakaian mewah khas seorang raja
berkata. "Maafkan hamba yang mulia, tapi saat ini waktu sudah semakin
mepet, tak ada waktu lagi untuk menjelaskan. hamba mohon
agar Yang mulia, Permaisuri dan tuan putri meninggalkan
keraton ini" "Setapakpun aku tak akan meninggalkan kamarku bila kalian
tidak menjelaskan alasan kalian mengajakku pergi"
"Yang Mulia..." belum sempat Rehan menyelesaikan katkatanya, tiba-tiba dari luar terdengar jeritan ngeri.
"Sekarang yang mulia mengerti mengapa aku mengajak yang
mulia pergi!" Rehan mulai tak sabar.
"Ayahanda" "Suamiku", Istri dan Anak Adipati Rajalela merengek.
"Baiklah, kita pergi sekarang! ayo kita masuk kedalam jalan
rahasia" Akhirnya adipati Rajalela membuka tutup ranjangnya,
segera saja semuanya masuk kedalam ruangan itu. Kecuali
Rehan. 718 "Lekas masuk Rehan!" Adipati Rajalela mengajak.
"Pergilah dahulu, hamba masih ada urusan. kita berjumpa
dibukit belakang" "Hati-hati anakku" Brajangpati menasihati sambil mengajak
Adipati Rajalela segera melarikan diri.
Rehan tersenyum, dengan kecepatan penuh ia keluar dari
ruangan, dilihatnya salah seorang yang berperawakan sama
dengan Adipati Rajalela. segera ia menotok Prajurit itu dari jarak
jauh., dengan sigap ia melemparkan tubuh orang itu kedalam
kamar sementara Rehan berlari menyusuri keraton itu, segera ia
gunakan ilmu sirep sehingga orang yang ada diruangan itu
tertidur. Rehan segera pilih dua dayang yang berperawakan sama
dengan Tuan Putri dan Permaisurinya. lalu kembali kekamar
Raja. tanpa permisi Rehan mencari pakaian ketiganya. meski
dengan sedikit merah malu, rehan mengganti pakaian ketiga
orang itu, dengan kepandainnya dalam menyamar segera
Rehan rubah ketiga orang itu menjadi orang yang sama persis
dengan Adipati Rajalela, Istrinya dan Rismi Laraspati.
Sebelum ketahuan, segera ia keluar dari kamar itu..............
++++ Maharaja Sembilan Dewa benar-benar telah mencapai
puncaknya, dengan kemarahan meluap segera ia memberi
komando. 719 "Serang mereka.... Bunuh!"
"Hiiaa...heaa " Trang..tring...trung...Jrep argahhh"
dalam keremangan pagi itu terjadilah sebuah pertarungan
dahsyat, Anggota Nawa Awatara mengamuk laksana ribuan
tawon, dari berbagai penjuru mereka merloncatan tanpa
menghiraukan jiwanya, Ksatria Satwa tak ketinggalan,
merekapun ikut menerjang... menghadapi Pengawal Pribadi
Maharaja Sembilan Dewa. Para petinggi Bendera Awan Langit
ikut berpesta darah. Para Komandan bendera juga tak mau
ketinggalan, apalagi Ketiga kekasih Aram yang sedari tadi
berdiam diri, bahkan Thian Hong Li tak sungkan segera
menggunakan Keris Perasannya,
"Goaaarrrr!" Pagi itu benar-benar luar biasa, entah berapa jiwa yang telah
melayang, entah berapa liter darah yang tertumpah, bagaikan
dua kubu prajurit yang sedang berperang, mereka saling teriak,
saling semangat... dentuman dua buah tenaga sakti beradu
saling berdentum, namun tampaknya pertarungan dua kubu itu
enggan dihentikan. ?"Bunuh yang melawan?" Perintah Aram kepada rombongannya
yang telah terlibat pertarungan dengan lawan.
Serangan Rombongan Aram meningkatkan serangannya.
Puluhan Anggota Nawa Awatara yang berada dekat dengan
mereka berguguran dalam sekejap. Namun Anggota Nawa
720 Awatara terlalu banyak, jika ada diantara mereka yang terbunuh
maka yang lain menjadi semakin marah dan meningkatkan
serbuan mereka. Puluhan pukulan, sabetan, cakaran diluncurkan kepada Anggota
Nawa Awatara dan puluhan Anggota Nawa Awatara menjerit
kemudian tumbang kehilangan nyawa. Pasukan Nawa Awatara
merasa keder juga saat melihat dari sekeliling benteng markas
mereka berloncatan puluhan bahkan ratusan manusia menyerbu
mereka. "Bunuh Mereka, jangan biarkan mereka mengalahkan kita!" Seru
Maharaja Sembilan dewa menyemangati. mendapat semangat
dari ketua mereka Anggota Nawa Awatara kembali menyerbu.
Anggota dari kedua belah pihak terus berguguran. Rombongan
Aram semakin mendesak. namun Jumlah Anggota Nawa
Awatara sangat banyak dan tak terhitung.
?"Terpaksa,!?" Seru Aram sambil melompat menerjang hendak
menghadapi Maharaja Sembilan Dewa, siapapun yang
menghalangi dirinya bisa dipastikan bakal mati.
?"Apa kau Mempunyai nyali untk melawanku!" Seru Aram kepada
Maharaja sembilan Dewa. sambil terus sibuk membunuh orang
yang ada disekelilingnya,.
Maharaja Sembilan dewa memandang pertempuran
disekelilingnya. sudah begitu banyak Anggotanya yang sudah
mati menggenaskan. hatinya mulai ragu. Apakah mungkin
kemenangan akan berpihak pada dirinya" Ia berpaling dan
721 memandang kepada musuh utamanya, ia juga melihat dengan
mudahnya Anggota dirinya dihabisi begitu saja.
?"Mereka belum sepadan melawannya. Pasukanku tidak siap
bertempur, apalagi tanpa ada persiapan sama sekali," bisik hati
kecilnya. "Menyingkirlah kalian darisana, kalian tak sebanding
melawannya!" Pekik Maharaja sembilan Dewa.
Kini Aram dan Maharaja sembilan Dewa berpandangan,
keduanya sudah siap untuk bertempur untuk menentukan
siapakah yang berhak melihat hari esok.
Sementara itu, Ratusan Rombongan Aram yang baru datang
berteriak keras dan mempergencar serangan demi menguasai
medan perang itu. Hati mereka bergelora untuk mengembalikan
kesejahteraan mereka yang terebut.
Anggota Nawa Awatara mulai kehilangan harapan. Mereka
sudah kehabisan tenaga dan itu berarti mereka bakal kehilangan
nyawa. Sehingga dapat dikatakan mustahil bagi mereka untuk
dapat merebut kemenangan. jangankan untuk kemenangan,
untuk menyelamatkan nyawa mereka juga tidak mampu.
Mendadak... "Heeaaa...heaaaa!"
Suara mengerikan terdengar nyaring dan beberapa orang
menghentikan pertarungan sebab tidak kuat menahan ledakan
722 suara itu. mereka juga berpaling kearah suara itu. dengan hati
takjub Merka melihat dua kekuatan yang luar biasa sedang
beradu. Mereka Adalah Aram dan Maharaja sembilan Dewa,.
"Sepertinya persiapanmu kurang matang Maharaja sembilan
Dewa!" Aram mengejek sambil tertawa sinis.
"Ya, Aku telah melakukan hal yang sama dengan pendahuluku,
tergelapkan oleh kejayaan" Jujur sekali ucapan Maharaja
sembilan Dewa. "Aku suka akan kejujuranmu Maharaja sembilan Dewa" Aram
mangut-mangut. "Terimakasih atas pujianmu itu, tapi maaf... aku akan mengambil
nyawamu itu!" halus sekali ucapan Maharaja sembilan Dewa,
namun Aram juga sudah merasakan energi negatif lawan, Hawa
pembunuhan menyeruak kemana-mana.,
"Haha.... Tapi, mungkin saja aku yang akan melakukan itu!"
Aram segera mengerahkan Tenaga dalamnya, Hawa Kematian
kini saling beradu, menyebabkan orang yang ada disekelilingnya
segera menyingkir. Maharaja Sembilan Dewa pasang kuda-kuda, dia membentak
keras, tubuhnya yang kekar menerjang kemuka dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat, sementara telapak tangan
kirinya dibabat keatas dada Aram yang pada waktu itu juga
sudah bersipa. 723 Serangan yang dilancarkan Maharaja Sembilan Dewa ini betulbetul hebat sekali kekuatannya, berbareng dengan ayunan
tangan itu, gelombang angin dingin yang maha dahsyat disertai
dengan angin tajam dan mencicit ibarat amukan ombak besar
ditengah samudra segera meluncur kedepan, kekuatannya
betul-betul mengerikan hati.
Aram tak rela bila tubuhnya dihajar lawan begitu saja, tubuh
bagian atasnya segera menubruk kedepan dengan kecepatan
bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. dia miringkan
badannya kesamping menghindari serangan lawan, lalu
memutar pergelangan tangannya untuk membalas serang.
Tapi pada saat yang bersamaan, tangan kanannya telah
menyodok datang ke tubuhnya, Aram sama sekali tak gugup
menghadapi serangan itu, Buru-buru dia menghimpun kembali
tenaga dalamnya, lalu tubuhnya melambung ke udara dan
melayang ke samping kiri untuk menghindarkan diri.
Maharaja Sembilan Dewa mendengus dingin, tentu saja ia tidak
memberi kesempatan lawannya untuk menghindarkan diri.
Gagal dengan serangannya yang pertama tubuh yang sedang
menerjang kedepan itu sama sekali tidak berhenti, sambil
berputar tangan kirinya dengan membawa tenaga pukulan yang
kuat segera diayunkan ke depan, menyusul kemudian tangan


Pendekar Seribu Diri Karya Aone di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kanannya diayunkan pula kedepan melepaskan serangan lain.
Angin yang tersibak sangatlah dahsyat dari serangan lurus
segera dirubah menjadi suatu sapuan yang datang dari samping,
bahkan setelah mengalami penambahan tenaga ditengah jalan
724 daya kekuatannya menjadi berlipat ganda lebih dasyat daripada
serangan yang pertama tadi.
"Serangan yang hebat" Puji Aram yang dalam waktu itu sedang
menyilangkan kedua telapak tangannya didepan dada. Telapak
tangan kanaknya yang semula disilangkan didepan dada itu,
mendadak dibalik kemudian mendorong ke muka dengan suatu
gerakan yang cepat sekali bagaikan sambaran kilat.
"Sreeet.." segulung desingan angin tajam memekikkan telinga,
meluncur kedepan dengan dahsyatnya.
"Duaaararrrrshh!"
Dua buah tenaga sakti pukulan kosong beradu diudara, Aram
terdorong mundur satu tindak, begitu pula dengan Maharaja
Sembilan Dewa. Sementara itu ditempat lain,
Angkara yang sedari tadi melawan Salah seorang Pengawal
Maharja Sembilan Dewa segera mencabut pedangnya dan
menyerang Pengawal itu. Tapi Pengawal itu juga tidak lemah, ia
segera mencabut pedangnya Dan segera membuka jurus, ketika
pedang itu digetarkan segera munculah ratusan bayangan
pedang. Bayangan itu cukup membuat Angkara tidak bisa
bergerak maju tanpa tertebas oleh pedang pengawal itu yang
telah berubah menjadi ratusan buah.
"Pedang Seribu bayangan" Seru Pengawal itu maka ratusan
pedang itu pun mengepung Angkara dengan rapat. Angkara
725 yang menggunakan Jurus jurus Kenjutsu yang ia pelajari
semasa berada di negri perantauan masih dapat menjaga
tubuhnya dari sayatan pedang itu.
Lama kelamaan, Angkara sadar jika terus seperti maka
keadaannya akan semakin terpojok, segera ia merapal ajian
telan bumi. dengan menagalirkan ajian itu kebatang pedang
maka pedang itu segera ditancapkan kedalam tanah. tanpa
ampun tanah itu pun merekah dan menelan Pengawal itu juga
beberapa pasukan Bendera awan langit dan Nawa awatara yang
sedang bertarung dan dekat dengan area itu, Mereka yang
kurang cepat bergerak sudah dapat dipastikan tewas karena
terjatuh kedalam tanah yang diberi ajian itu,
Setelah lawannya masuk kedalam tanah segera Angkara
kembalikan tanah itu keposisi semula.
"Ayo kawan-kawan, kita perjuangkan keadilan. hapus angkara
murka" Teriak Angkara memerintahkan pasukan Bendera Awan
Langit yang tengah menyerang dan bertarung. Pertempuran
besar di Markas Nawa Awatara terus berlanjut, Mayat dari kedua
belah pihak terus berjatuhan, Hari sudah terang, hawa Panas
dari matahari seakan tidak pernah mereka hiraukan, yang
mereka pedulikan adalah MEMBUNUH, atau DIBUNUH.
Pertarungan antara Melati dengan Seorang Perempuan
berwajah menor dan baju kedodoran berwarna jingga juga
tampak begitu sengit. 726 "Apa segitu saja kemampuanmu heh?" Ejek Perempuan berbaju
kedodoran itu. dia merupakan ketua cabang Nawa Awatara yang
kebetulan sedang berkunjung kemarkas pusat. Mawar berduri,
itulah julukannya. Melati tersenyum dan menjawab:
"Haaha.... Tentu saja tidak...." Belum selesai ia berkata Pedang
yang panjang dan besar sudah dibabat kearah dada lawan.
Mawar berduri tidak berkelit maupun menghindar, tangan kanan
dengan disaluri tenaga tenaga dalam mencengkeram kearah
pedang tersebut. Melati terkejut lawan berani mencengkram pedangnya, meski
pedang itu hasil rampasan, melati tidak kelihatan tidak nyaman
dengan pedangnya itu. Atas didikan guru-guru pertamanya
dilembah Dewa-Dewi, Tiga datuk dunia Persilatan juga Aram
sudah tentu kepandaiannya ini luar biasa dahsyatnya.
Baru saja ujung Pedang tadi mendekati tangan Mawar Berduri.
Melati sudah menggetarkan pedang itu dengan tenaga
dalamnya, desiran tajam menerjang leher ditubuh Mawar
berduri. Mawar berduri benar-benar terkejut. tangannya ditarik,
sementara sang badan berkelit selangkah kesamping.
Agaknya melati tidak rela bila lawan melarikan diri. "Coba hadapi
yang ini..." serunya keras.
Pedangya diputar sedemikian rupa, Dari balik Putaran pedang
tadi secara tiba2 meleset keluar serentetan cahaya keperakperakan langsung mengancam empat buah jalan darah
727 sekaligus, Mawar berduri merasa urusan semakin berada diluar
dugaan, sekali lagi ia mundur kebelakang.
Baru saja ia berhasil berkelit dari sambaran Cahaya keperakan
yang meluncur keluar dari balik Putaran pedang dan siap turun
tangan lagi, tiba2.... "Mati" bentak melati mantap dengan disenyumi ejekan. Pedang
yang tadi diputar kini berubah menjadi bayangan yang entah
berapa lagi jumlahnya, dengan diringi desiran tajam Pedang itu
mengarah tiga kematian manusia yang paling fatal,.
Perempuan berbaju kedodoran alias Mawar berduri merasa
dibuat sangat terperanjat lagi, ia tidak sempat untuk berkelit lagi.
diiringi bentakan keras lima jari dikepalkan sementara jari tangan
lain dipentangkan lebar-lebar.
Melati yang sudah melihat jurus tadi diperlihatkan kembali
digunakan untuk menghadapi serangannya tentu sudah merasa
siap, Ia salurkan tenaga dalamnya kedalam batang pedang,
pedang itu diputarkan dipergelangan tangan, dan tiba-tiba
gagang pedang itu disentil.
"Sretttt,.... Kelelawar menguntit nyawa!" Teriak melati lantang.
"Jrusss...Arggghhh!"
Mawar Berduri menjerit tertahan, tubuhnya mundur tiga langkah
kebelakang. lalu ambruk tanpa nyawa lagi, Melati tarik nafas
panjang, kemudian ikut bergabung dengan yang klain
membunuhi yang tersisa. 728 Sementara itu, Thian Hong Li merupakan satu-satunya orang
yang tidak menggunakan senjata atau tangan kosong, ia
memporak-porandakan Anggota Nawa awatara sambil duduk
diseekor ular besar berupa hawa keemasan.
"Gerrrrr" Kepala Ular itu digerakan sedemikian rupa menerjang orangorang yang ada disampingnya, ekornya juga menyabet kesana
kemari meremukan tubuh siapapun yang terkena kibasan ekor
itu. Pedang, Golok dan senjata lainnya selalu menghujam ke-tubuh
Ular itu, namun seperti tanduk diadukan dengan telur, pedang itu
tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pedang itu.
"Cah ayu, Turunlah kemari,... akan ku tunjukan kau sebuah liang
kematian yang layak untukmu. aku Si Durjana dari pantai selatan
ingin sekali merasakan nikmatnya belaian halusmu itu.
"Baiklah....!" Sahut Thian Hong Li genit, suaranya berhenti, tinju
melati sudah seinchi di pipi Si Durjana dari pantai selatan.
"Bukk...ArggghHH"
"hihi... bagaimana" enak?" tanya Thian Hong Li cekikikan,
tubuhnya memang turun dan berhadapan dengan Si Durjana
dari pantai selatan, namun Ular Naga Penjelmaan dari Keris
Perasaan tidak menghilang, Ular naga itu masih terus saja
membantai anggota Nawa Awatara yang tiada habisnya itu.
729 Membagi kekuatan dan perhatian menjadi dua adalah hal yang
sangat tidak lumrah, kemampuan itu hanya dapat dilakukan oleh
beberapa orang yang sudah mencapai tarap tinggi. berkat Kitab
pemberian Ki Cakravala gurunya, Thian Hong Li dapat
melakukan hal itu dengan mudahnya.
"Perempuan Sundal..! hebat juga kau!" Bentak Si Durjana dari
pantai selatan garang. dimaki Perempuan sundal, wajah cantik
Thian Hong Li berubah membesi. Tangannya terkepal kencang,
wajahnya menatap lekat pada wajah Si Durjana dari pantai
selatan. diperhatikn seperti itu Si Durjana dari pantai selatan
merasa kikuk juga, entah bagaimana tatapan lawan itu begitu
melekat dalam benaknya. "Makan ini.!" Bagai kitiran, tubuh Thian Hong Li berputar kencang dan
dahsyat, Gulungan angin topan berputar,putar awan yang tadi
sudah kelabu memuntahkan juga dedaknya, "Jelegaarrrrrr!?"
Melihat itu, Si Durjana dari pantai selatan yang merupakan
seorang Pelaksana hukuman Nawa Awatara merasa terkejut
sekalian ngeri, tak disangkanya lawan gadisnya itu merupakan
seorang Pesilat tangguh, Usianya yang masih muda rupanya
tidak menjadikan sebuah penghalang.
Segera ia merapal ajian Wurukung, tangannya berubah menjadi
hijau tua, sebelum ia merapal secara sempurna, sebauah
gulungan Angin kelabu menyergapnya, gulungan angin itu
730 bbergulung-gulung seperti rambut yang dikepang, namun
ujungnya meruncing sangat tajam.
"Wiiirrrrrrsssss" Srak..srakkk! Brettt"
"Arggghhh" "Blaarrrr" Tubuh Si Durjana dari pantai selatan meledak berkeping-keping,
Thian Hong Li tersenyum bangga, hanya dalam satu jurus
permainan dan satu jurus inti ia dapat membunuh seorang
Pelaksana Hukuman, segera ia meloncat keatas pungung ular
naganya yang sedang mengamuk dahsyat.
Ksatria Satwa yang lain juga para petinggi Bendera Awan Langit
juga tidak kalah sengit pertarungannya, bahkan Sipengabar
langit bajunya telah basah kuyup dengan darah.
Matahari telah pergi kebarat, bahkan sudah menghilang dari
pandangan meninggalkan kegelapan yang menyapa bumi, entah
sebab apa, awan kini tampak bergumpal-gumpal kelabu
diperaduannya menutupi sang putri malam.
Denting pedang, teriakan semangat, jeritan kematian, keluhan
dan beradunya dua buah tenaga sakti seakan menjadi sebuah
irama musik baru yang menemani malam itu, tak kerasa
pertarungan sudah berlangsung selama satu hari satu malam,
dan beranjak kemalam kedua,
731 Aram yang dalam pada itu bertarung dengan Maharaja sembilan
Dewa tampak sudah tak berbaju lagi, begitupula dengan
Maharaja sembilan dewa, dari sudut bibir mereka tampak darah
kering menggurat manis. dari pelupuk mata mereka tampak
menggelayut manja karena keletihan.
Semakin letih tubuh mereka bukannya semakin lemah
pertarungan mereka, justru semakin mereka letih adu tenaga
dalam mereka semakin sengit, jarak empat puluh tombak dari
sekeliling mereka tampak tak ada seorangpun yang berdiri
memiliki nyawa. Bukan hanya manusia, Rumput, bangunan dan tanah juga telah
hancur berkeping-keping menjadikan sebuah kubangan besar.
"heh..heh! Apa segitu saja kemampuanmu Aram?" Maharaja
Sembilan Dewa mencibir. mulutnya menyeringai menahan letih.
"Haha...tentu saja tidak, mengapa" kau sudah letih" Ejek Aram
sambil terus tertawa dingin.
"Jika kau punya kemampuan, lekas tunjukan padaku" Maharaja
sembilan Dewa berteriak sambil melompat menerjang
menggunakan jurus andalannya, jurus sembilan dewa Iblis.
Aram tersenyum manis, semanis dengan ucapannya yang masih
merasa sungkan terhadap Maharaja Sembilan Dewa.
"Baik, Ku berikan kau sebuah penghormatan" berbareng dengan
itu, kaki kanannya berjinjit dan kepalan tangan kanan
ditempelkan pada telapak tangan kiri, seperti layaknya suatu
732 penghormatan pembukaan, kemudian ia memutar balikan
tangan kanan yang telah dibuka pada jari-jarinya, dengan
kecepatan bagaikan kilat, ia melakukan gerakan putaran
tangkisan pada tangan kiri menangkis serangan aneh dari
Maharaja Sembilan Dewa, lalu ia mengayunkan silang pada
tangan kanan untuk menutup dan tangan lainnya melakukan
suatu tusukan tajam dengan ujung jarinya yang bersinar
keperakan. "Creppp?" Tak mau ambil risiko, Maharaja Sembilan dewa menghindari
serangan itu bukan menangkis. dan kembali bergebrak dengan
tangan yang berubah kemerah-merahan.
"Blaaarrrrr...." bangunan di belakngnya hancur berantakan,
padahal waktu itu, Aram dan Maharaja Sembilan Dewa sedang
bertarung sengit, Maharaja Sembilan Dewa pun paham bahwa
dibelakang dirinya tak ada seorangpun yang sedang bertarung,
dengan sudut mata tajamnya Maharaja Sembilan Dewa coba
melirik apa yang sedang terjadi, keringat dingin mengucur dari
telinganya, "Jurus siluman Apa tadi?" Pekik maharajha Sembilan Dewa
menjauhi arena pertarungan.
"Tak ada jurus siluman, jurus itu merupakan jurus gabungan dari
Jurus Halilintar Perobek bumi, jurus Silat Rubah, jurus Tornado
Arwah, Totokan Si Kelabang biru, Ninjutsu, Genjutsu, Sihir
penyesat Sukma dan Aura Kematian. Adapun jurus itu aku
733 namakan dengan jurus ksatria langit dan barusan jurus yang
kugunakan jurus pertama yaitu ksatria memberi sembah.
mungkin kau terlalu bodoh untuk memahami konsep kecepatan,
padahal jurus itu aku siapkan untukmu" Aram mengatakan jurus
itu seolah Maharaja Sembilan Dewa adalah muridnya.
Maharaja Sembilan Dewa tentu saja paham maksud ucapan itu,
wajahnya merah membara menahan marah.
"Kau terlalu menghina, Terima ini "Dewa tersesat dijalan Iblis" ?"
Tangan kiri dikebutkan kedada Aram, sementara tangan kanan
ditarik kedepan dada sambil bersiap memukulkannya, Aram
tertawa dingin, segera ia menekuk silang pada kaki dengan
suatu putaran tangkisan atas yang dilakukan oleh tangan kanan,
sementara tangan lainnnya melakukan suatu pukulan yang
sangat keras, " Blaaarrrr" Dua buah pukulan beradu, dengan terhuyung-huyung keduanya
mundur empat tindak, tanah disekitarnya berubah menjadi kering
kerontang seolah telah mengalami musim kemarau, padahal
waktu itu hujan turun dengan rintik.
Aram yang sudah berada dalam posisi kuda-kuda segera
mendorongkan kedua telapak tangannya dengan kuat
mendorong angin seakan angin itu memiliki bobot ribuan kati.
entah bagaimana kejadiannya, kedua tangannya itu masih
mendorong angin namun entah juga darimana datangnya, aram


Pendekar Seribu Diri Karya Aone di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

memiliki dua tangan lagi yang mengayun simpan menyamping
734 pada tangan kanan yang diayunkan kedalam dan tangan lainnya
yang terkepal untuk disilangkan didepan dada, perlahan kedua
tangan yang mendorong angin telah hilang, sambil
menyelinapkan tubuh kedepan maka disini tangan kiri
melakukan suatu totokan yang cepat pada daerah yang lemah
ditubuh lawan dalam jarak jauh.
Sejak awal, Maharaja sembilan Dewa sudah siaga, apalagi
melihat pembawaan jurus Aram yang serba aneh, maka siangsiang ia segera menghindari setiap serangan tangan yang
mengarah pada dirinya, tindakan Maharaja sembilan dewa
memang tepat, Seandainya ia bersikeras menahan serangan itu,
barangkali tubuhnya sudah dipenuhi dengan lubang dan
terkoyak-koyak dengan angin dahsyat yang laksana tornado itu..
"cus...cuss...cuss Duarr....!"
"Wuuurrssshhhh... Blaarrr....Crekk...crekkk"
Gulungan angin tornado bergulung gulung dari tempat dimana
kedua telapak tangan Aram mendorong angin, berat namun
cepat, itulah salah satu rahasia dari jurus itu. diam namun
bergerak, gerakannya kosong seperti tak berisi, namun memiliki
sumber, sumber kekuatan tenaga dalam dari alam yang diolah
ditangan tanpa memasuki tiantan. sesuai dengan ajaran
penyatuan dari kitab Satu bukan dua atau seribu bagian dua
penyatuan Hawa dan bentuk.
"kau takut" Aram tertawa berkakakan.
735 "Cis... seandainyayang bukan kau gunakan ilmu siluman itu
barangkali sekarang kau ada dialam baka"
Aram hanya tertawa kosong saja mendengar ucapan Maharaja
Sembilan dewa itu, "Haha... Aku tahu maksud ucapan mu itu, aku tidak akan kena
hasutan busukmu, sebaiknya kau katakan saja kau takut" Aram
mengejek sambil memajukan kaki kanan disamping kaki lainnya,
sambil sedikit menekuk rendah pada kuda-kuda dengan kedua
tangan yang menekuk, lalu mengayunkan kaki kanan
kebelakang sambil mengangsurkan kedua tangan kedepan
untuk mengimbangi kaki kanannya yang terangkat tersebut,
dengan cepat ia mengayunkannya dengan gerakan yang cepat
laksana kilat untuk berjongkok (jari-jari kakinya berjinjit) dengan
kedua tangan diturunkan sedemikian rupa, dan sebagai
kelanjutannya, adalah meloncat mengudara setinggi empat
sampai lima tombak dengan kedua tangan terangkat tingi-tinggi.
kemudian ia mengangkat kaki kanannya berupa tendangan
keatas, tangan kirinya diturunkan kebawah. ketika sudah hampir
sampai dengan Maharaja Sembilan Dewa, Kaki itu diturunkan
dengan diiringi desingan angin tajm menggiriskan kulit.
Melihat lawan mulai menyerang, Maharaja Sembilan Dewa
merasa dirinya selalu direndahkan, ia kerahkan tenaga
dalamnya kedua bagian, tangan dan kaki. itulah jurus yang
dinamakan dengan Seteru Iblis bumi dengan dewa langit. jurus
itu merupakan jurus pertahanan terbaik daripada rangkaian
"jurus Sembilan Dewa iblis"
736 "Wusssttt" Blaaarrrrrr..."
Dengan gagah berani, Maharaja Sembilan Dewa menangkis
serangan itu, Tanah merekah terkena adu tenaga dalam itu,
tubuh maharaja Sembilan Dewa amblas kebumi sebatas lutut,
sementara Aram berada diatas tubuh Maharaja Sembilan dewa
dengan bertumbu pada kakinya itu.
Bukannya berhenti setelah bentrokan itu, justru duel
sesungguhnya sedang berada setelah bentrokan, dari kaki Aram
munculah angin berhawa panas dan dingin berseliweran,
membuktikan bahwa tendangan itu bukan hanya tendangan
biasa saja, hawa kematian dan hawa magis bertebaran
disekeliling tempat itu. mata Aram mencorong tajam luar biasa,
begitu halnya dengan maharaja sembilan dewa.
"Heaaaaa" "Heaaaaa" Wungg Debu mengepul tinggi bak ribuan kuda yang sedang berpacu
dipadang pasir, lengkingan dahsyat keluar dari mulut keduanya,
benar-bearb suatu pertarungan terdahsyat sepanjang sejarah.
Aram berusaha untuk memasukan maharaja Sembilan Dewa
kedalam tanah, sementara maharaja sembilan dewa ingin
melemparkan Aram kelangit.
Mereka terus berkutat seperti itu, entah akan berlangsuing
sampai kapan. 737 Dekat gelanggang pada waktu itu, Rismi Laraspati juga tampak
sedang berkutat seru. tampak lawannya yang merupakan
seorang lelaki paruh baya menggulung tubuhnya. ia berputar
dengan dahsyat dan meluncur ke arah depan. Dua tangan
terentang arah kiri dan kanan. Rismi Laraspati tak mau kalah
garang segera ia meloncat tinggi, dengan kaki menendang ke
arah tengkuk lawan. Lawannya juga tak mau dirinya dipecundangi oleh wanita,
dengan memakai kekuatan pelanting tubuhnya melayang ke
atas. Sama tinggi, dan menggempur Rismi Laraspati diudara,
Lelaki setengah baya itu menekuk tangannya. Siku kanan dan
kiri menghantam ke arah dada Rismi Laraspati.
"Ughh" Terdengar keluhan yang cukup yang keras. Rismi
Laraspati segera mundur mangatur langkah selanjutnya. namun
mana mungkin lawannya membiarkan, terlihat Kedua tangannya
berputar di atas kepala. Satu bergerak ke depan dengan
berputar, satu lagi menarik ke belakang dengan berputar.
Rismi Laraspati berteriak nyaring sambil maju bergulung. Kedua
tangannya terjulur dengan jari-jari yang berkembang. Siap
segera ia jungkir balik bagai penari yang kesetanan.
Selendangnya yang sudah sobek di beberapa ujung. Rambutnya
terurai lepas, kedua tangan dan kaki mencakar ke sana-kemari.
Dilihat selintasan justru Rismi Laraspati seperti gadis yang
lemagh yang sedang meminta perlindungan. dan lawannya juga
tertipu karenanya, sehingga kini pertarungan kembali imbang,.
738 Pertarungan kedua belah pihak terus berlangsung seru,
merangsek menggulung membacok, menyabet, memukul adalah
sebuah bumbu dalam pertarungan itu,sementara langit telah
berubah menjadi kebiru-biruan, yah, waktyu sudah kembali
pajar, tapi, dua kubu masih enggan untuk berhenti begitu saja.
Pertarungan Aram dan Magharaja Sembilan Dewa adalah yang
terhebat, dentuman adu tenaga mereka laksana jutaan tambur
perang yang dipukul bersamaa, hawa panas mereka seperti
neraka, hawa dingin mereka seperti initi salju dari kutub. angin
tajam menggiriskan saling mencicit, bumi porak poranda, hampir
enam kentongan lebih Aram dan Maharaja terus berkutat
mengadu tenaga dalam hingga akhirnya,
"Mati Kau Aram....!" tiba-tiba Maharaja berteriak.
"Heh" Aram terkejut sebab ia merasakan gelagat yang tidak
beres, memang tujuannya hendak mendorong tubuh Maharaja
Sembilan dewa kedalam bumi, namun entah bagaimana bumi
yang dipijak Maharaja Sembilan dewa berubah menjadi seperti
jel. Maharaja Sembilan Dewa terkekeh-kekeh, "Jemparing Dewa
Bumi" Kini Posisi mereka bak sebuah gendewa yang sedang di tarik
dan Aram sebagai busurnya, tubuh Maharaja mendorong Aram
hingga tubuhnya terlempar kelangit, entah berapa ratus tombak
Aram melayang terbang, dirinya sungguh kaget tak terkira
melihat jurus aneh dari Mahraja Sembilan Dewa itu. semakin
739 tinggi ia merasakan bahwa oksigen yang dihirupnya semakin
tipis. Maharaja sembilan dewa tertawa terkekeh-kekeh, ia bangga
melihat tubuh Aram tertelan oleh awan, siapakah yang akan
hidup bila jatuh dari ketinggian seperti itu" maka sembilan puluh
persen ia yakin Aram bakal mati, tapi ia tak pernah menyangka
dan membayangkan bahwa Aram memiliki darah yang berbeda
pada umumnya. Aram yang sedang terbang tinggi merasakan suhu yang berubah
dingin dan panas menyengat tubuhnya, ia sadar bila terus
demikian kematianlah yang menunggunya. ia segera kumpulkan
segenap emosi dalam tubuhnya, terdengar kretekan tulang dan..
"Bretttt" Sebuah sayap lebar mengembang dari dalam tubuhnya,
rambutnya yang hitam berubah menjadi perak. mata rajawalinya
mencorong tajam. "Kiaakkkkkk" Suara mengguntur laksana ribuan rajawali berpekik.
Tubuh Aram jatuh kebumi dengan bantuan saypnya yang di
kuncupkann. perlahan tubuhnya berubah menjadi kemerahan
terkena gesekan udara. "Wungggg" 740 Pertarungan berhenti dan menatap langit, dan mereka melihat
sebuah meteor berwarna merah menyala jatuh kebumi menuju
dimana Maharaja Sembilan Dewa berada.
Jarak duapuluh tombak dari bumi, Aram menarik kedua
tangannya secara perlahan seakan menarik angin, dengan suatu
gerak putar pada pergelangan tangan, maka tangan kanan
melakukan suatu tangakapan, dan tangan lainnya, melakukan
suatu tebasan yang tajam dengan tenaga yang tersalur secara
sempurna, selarik sinar kilat bersamaan dengan suatu gema
menggelegar laksana guntur keluar dari tangan yang menebas
itu menerobos udara pagi yang kerasa dingin itu.
"Jelegar,..... Kretek....kreteekkk"
Maharaja terpental sepuluh tombak akibat ledakan itu, mulutnya
berdarah, wajahnya menyeringai menahan sakit. sementara
tidak jauh dari situ, Aram berdiri membuka kakinya dan
menaikan kedua tangannya dalam keadaan jari-jari menunjuk
keatas, lalu perlahan menurunkan kedua tangannnya kedepan
dada dengan jari-jari masih menghadap ketas, lalu mengepalkan
jari-jari tangan untk diletakan disisi pinggang masing-masing dan
menurunkan kebawah dengan jari jari yang terbuka kembali.
perlahan tubuhnya kembali menjadi seperti semula. ia memang
tidak terlalu suka dengan tubuh setengah gaib dan hewannya,
sebab bila sudah berubah seperti itu, pikiran dan pemikirannya
ia tak sanggup mkendalikan lagi.
"Hahaha..... siapakah yang mati sekarang heh.." Aram
tersenyum mengejek. 741 "Ciss. kau memang siluman" Maharaja Sembilan Dewa bangun
dengan tertatih-tatih. Wusss...! KEDUANYA kembali saling terjang.............
Hawa panas dan dingin menyeruak tajam, Aram bersiap
melaksanakan tendangan ringan kebawah yang ditujukan
kepada lutut lawan, dan itu dikaburkan dengan suatu gerakan
serangan pada kedua tangan yang membuat lawan tidak
menyangka terhadap serangan bawah ini, seperti seorang yang
bertarung dilangit namun tiba-tiba menyerang dipusat bawah
dengan merobek bumi. Maharaja benar-benar terus-terusan memakan pil pahit. meski
Aram berada diatas angin, wajahnya malah terlihat sendu. ia
yakin mendiang Gurunya Si Pemabuk dari Selatan meski
menguasai jurus ini tidak ia gunakan, sebab bila ia gunakan dan
tak mempan menghadapi Maharaja Sembilan dewa. maka
Maharaja Sembilan Dewa akan meraih keuntungan sebab
pernah melihat jurus itu.
Hatinya pilu benar, namun serangan Aram tak pernah berhenti.
seakan air yang mengalir dari tempat tinggi ketempat rendah
dan dari tempat rendah ketempat yang lebih tinggi lagi.
"Kurrr..Kurrr!"
Suara aneh terdengar, Maharaja dan Aram hentikan pertarungan
sesaat. 742 "Hahaha....Binasalah kalian Wahai Nawa Awatara" Aram terlihat
kembali bersemangat. bukan hanya Aram, orang-orang Bendera
Awan Langit juga kembali menjadi lebih bersemangat. mereka
tahu bala bantuan telah tiba.
"Maaf kami terlambat, Angin Berhembus badai tiba" Sapa
seorang lelaki paruh baya berbaju prajurit sambil berteriak.
Laksana jangkrik atau serangga saja, dengan tiba-tiba Anggota
Bendera Awan Langit berloncatan keluar arena, berbarengan
dengan itu dari sekeliling lapangan bermunculan beberapa ratus
prajurit pentang panah. "Bidikkkk" "Lepasss" Wurrr.... Ratusan anak panah berhamburan menerjang Anggota
Nawa Awatara, denting senjata menangkis panah dan jeritan
bersatu padu... anak panah ters dilepaskan.
Dan "Serbuuu!" Pekik Komandan prajurit itu,
Laksana air bah yang jebol dari tanggul dari sekeliling bentemng
itu berloncatan Para prajurit bersenjata tombak, golok, trisula,
pedang dan bermacam senjata lainnya. bukan hanya prajurit,
para penduduk yang diberi wadah kekuatan oleh adipati Rajalela
juga tampak mengamuk dahsyat. meski mereka berpakaian
pengemis, juga pedagang dan bersenjata seadanya namun
743 mereka adalah orang yang dibekali dengan tiga ajian, begitu
mereka terbunuh, mereka kembali bangkit sebab mereka
mengamalkan ajian pancasona.
Hawa panas dari ajian Saepi Geni terus berhamburan, selain itu
mereka juga dapat bergerak selincah angin berkat ajian
Saepiangin. tenttu saja Anggota Nawa Awatara merasa
kelimpungan, benar mereka dapat menguasai jurus-jurus beladiri
namun membunuh orang-orang yang dapat hidup kembali
merupakan suatu kesulitan yang lain.
Maharaja Sembilan Dewa mengeluh dalam hati, tak sedikitpun ia
menyangka bahwa para pedagang dan pengemis jalanan
dijadikan senjata oleh Aram dan pasukannya.
"Kau paham" bila kau menjadikan penduduk atau orang awam
sebagai musuhmu maka itulah akhir dari sejarahmu! ketahuilah
bahwa mereka merupakkan senjata yang terhebat bila kau tahu
cara menggunakannya."
"Cerewet!, jangan anggap aku muridmu. terima ini !" Maharaja
merasa marah dan menerjang tubuh Aram.
Tapi, Aram hanya tertawa manis saja Lalu ia menaikan kaki
kirinya dan kemudian diturunkan lagi dengan mantap disusul
pula dengan dinaikannya kaki kanan dan tangan kiri diayunkan
mengarah samping kiri dengan jari-jari menunjukan kekiri


Pendekar Seribu Diri Karya Aone di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Heaaaaa...." 744 Aram berteriak mengguntur, Maharaja Sembilan Dewa
terperanjat, tapi bukan hanya dia, seluruh anggotanyapun ikut
terperanjat. sebab telinga luar dan telinga batinnya seperti
digedor jutaan gong, dengan mengerahkan segenap
kemampuannya mereka akhirnya dapat meredam suara itu
meski tak sepenuhnya. tapi beberapa anggota Nawa Awatara
lainnya bahkan ada yang langsung kelojotan mati, Seperti tak
ada sesuatu kejadian apapun Pasukan Bala Bantuan itu
menjagali setiap orang yang masih hidup diantara mereka.
mengapa begitu" seperti dijelaskan diawal, Aram telah
menyuruh mereka menutupi telinga dengan tanah liat. meski
mereka dapat mendengar suara itu, tapi tidak berakibat fatal.
Para Anggota Bendera Awan Langit tampak sedang bersemadi
diatas benteng, memulihkan kekuatan. tapi diantara mereka juga
ada yang sedang memperhatikan pertarungan Aram dan
Maharaja Sembilan Dewa. salah satunya adalah Yumi. ia
melihat Aram yang melangkahkan kaki kanan disertai ayunan
tangan kiri kebelakang dan tangan lainnya kearah depan.
gerakan itu benar-benar terpadu dan mantap.
Sebagai kelanjutan daripada gerakan sikap terdahulu, maka
pandangan Aram dialihkan kearah kiri dengan tangan kiri yang
telapaknya digerakan kearah samping bawah dan tangan
lainnya yaitu tangan kanan didekatkan kedepan pusar sambil
menarik nafas cukup panjang. penarikan nafas tersebut adalah
suatu cara pemantapan cadangan untuk suatu gerakan yang
panjang serta juga menambah potensi daripada suatu serangan.
dengan secepat kilat ia mengayunkan tubuhnya dengan
menyanggahkan kedua tangan pada tanah sambil menyapukan
745 kaki kanan pada sasaran. dan mengalihkan dalam suatu putaran
tubuh kekanan dengan sanggahan dua tangan dan berganti kaki
kiri yang melakukan sapuan...
Berkali-kali Maharaja Sembilan Dewa dibuat berjumpalitan
diudara menghindari serangan. tapi Aram tak berhenti begitu
saja, ia melanjutkan dengan gerak maju pada kaki kanan sambil
mengayunkan serangan memutar dari bawah keatas pada
tangan kanan, dan tangan lainnya ditarik memutar keatas.
dijabarkan memang panjang, namun kenyataannya serangan itu
cepat dan dahsyat, serangan ini seperti bumi yang merekah saja
yang dapat merusak serta menjatuhkan lawan yang
dihadapinya, juga seperti seorang manusia yang sedang
merobek-robek bumi dengan dahsyat.
Kali ini Maharaja Sembilan dewa harus dibuat kelimpungan,
tubuhnya doyong kanan, doyong kiri, depan belakang, atas dan
bawah. "Brengsek" Maki Maharaja Sembilan Dewa. segera ia meloncat
mengudara. disana ia merapal ajian yang bernama Ajian Dewa
Iblis, ajian pamungkas yang ia miliki. sepertinya ia sudah
bertekad mati bersama. seluruh tubuh maharaja sembilan dewa
kini mula-mula berwarna putih kemerahan dan perlahan berubah
menjadi merah menyala dan terakhir menjadi biru api.
dari jarak sepuluh tombakpun Aram dapat merasakan panasnya
api itu. tapi ia tak gentar, sejak semula bertarung ia gunakan
selalu tenaga dalam Panca menjadi tunggal. namun kali ini ia
tukar menjadi Tunggal menjadi kosong.
746 Tubuh maharaja turun kebumi, begitu kakinya injak bumi, suara
desisan api membakar tanah terdengar menggiriskan, dengan
perlahan ia dekati Aram. tapi mana mungkin Aram akan
membiarkannya saja, segera ia menurunkan kaki kanan dan
menggeser maju cepat pada kaki lainnya untuk mengiringi
dengan suatu tamparan serta bacokan dengan tangan lainnya,
"Jelegaaarr....."
Seperti biasa, bukan sesuatu yang ada dihadapnnya yang
menggelegar, namun sebuah kilat putih menyambar tajam
setombak didepannya, dan petir itu menyambar tubuh Maharaja
Sembilan Dewa, bila orang lain barangkali ia bakal mati dengan
keadaan gosong, namun Maharaja Sembilan dewa tetaplah
Maharaja Sembilan dewa. meski ia tak menyangka akan
serangan itu, namun tubuhnya yang terlindungi ajian Dewa Iblis
tidaklah mengalami keadaan apapun.
"Haha... ternyata jurus bututmu itu sama sekali tak berguna
untukku" Kini Giliran Maharaja Sembilan dewa yang mengejek
Aram. Meski hatinya mencelos, Aram sama sekali tak mau menyerah,
tubuhnya sudah dipenuhi dengan peluh ditambah dekat dengan
dekatnya tubuh Maharaja Sembilan dewa. dengan di saksikan
matahari yang bersinar terik dan tepat berada dikepala. Aram
menendang kesamping dilanjutkan dengan menurunkannya
dengan perhitungan membalik kearah kiri belakang yang berarti
harus membalikannya sedemikian rupa, dan berganti dengan
mengangkat kaki kanan tinggi-tinggi. dan kedua tangan adalah
747 untuk bersama-sama ditarik kebagian tengah seakan
menutupkan sayap, "Bukkkkkkkk.....Bak..bik..bukkk"
Beberapa kali Aram menendang memukul, mencakar dan
berbagai macam cara telah ia lakukan, namun Maharaja
Sembilan dewa tetap tidak mengalami luka apapun. meski tidak
mengalami luka, tapi tetap saja tubuhnya terdorong sana sini
akibat serangan itu. Pertarungan terus berlanjut, entah berapa ratus dan jurus telah
dikeluarkan Aram, namun pertarungan tetaplah imbang,
matahari telah menghilang diufuk barat sana. para penonton
telah berharap-harap cemas akan keadaan itu, mereka sadar
bahwa mereka belum sanggup bila menyamakan kemampuan
dengan kedua petarung itu.
Sementara itu, Anggota Nawa Awatara yang berada disana telah
habis terbantai menyisakan dua puluh orang yang tampaknya
merupakan orang-orang pilihan. tapi tenaga mereka terkuras
habis, dan disertai dengan jeritan kematian berbareng dengan
kokok ayam mereka mati dengan tubuh tyerkoyak-koyak.
Mengapakah Anggota Nawa Awatara sama sekali tidak ada bala
bantuan" padahal mereka terpencar keseluruh penjuru negri.
Jauh di pelosok negri, ternyata para penduduk mulai bergerak
bersama dengan para Prajurit, pertarungan demi p-ertarungan
mereka lakukan, tak jarang mereka harus mati, namun kembali
748 bangkit. laksana semut mereka mengeroyok bahkan
mencincang habis. sebagai wujud pelampiasan dendam.
diantara mereka ada yang bergerak sembunyi-sembunyi, terpola
bahkan ada pula yang terang-terangan. siasat mereka gunakan
sebagai alat transportasi.
Siasat mereka bermacam-macam, dan salah satunya adalah
yang dilakukan oleh Para Penduduk dari Selat Jampana.
disebuah pasar tampak berbagai macam rupa manusia
berseliweran. hari itu terdengar bisik-bisik dari sudut pasar.
mereka adalah dua orang lelaki berusia lima puluh tujuh tahunan
dan empat puluh lima, mereka berdiam diri disana seperti orang
mengemis, sesuai dengan baju mereka yang penuh tambalan.
"Kakang Prana, menurutmu apakah sekarang waktu yang
tepat?" "Belum, lihatlah... Masih sedikit sekali kampret-kampret itu, aku
kira menjelang lohor mereka bakal kemari."
"Kakang, Aku dengar diam-diam para Murid Lima Perguruan
telah disebar dan menyatu dengan kita, hanya saja kita tidak
mengetahui siapa dan yang mana"
"Aku juga mendengar hal itu, tuan kita Si Pujangga Silat benarbenar hebat dalam mengatur siasatnya, aku merasa heran,
bagaimana mungkin seorang dapat mengendalikan jutaan
manusia. dan anehnya aku merasa takluk kepadanya"
749 "Pujangga Silat" bukankah yang berada dibelakang kita adalah
Si Pendekart Seribu Diri, Aram Widiawan?"
"Kau ketinggalan jaman Sugeng, Di Negri tetangga, Negri
Malaya dan kemboja, dia lebih dikenal dengan nama Pujangga
Silat. nama itu mereka ambil dari sandi darah yang menjadi
tanda ulahnya, karena tidak ada yang mengetahui nama dan
gelarnya akhirnya mereka menamainya sebagai Pujangga Silat.
Mereka mengetahui Pendekar Seribu diri adalah baru-baru ini
saja" "oh,... kakang, aku juga mendengar bahwa dia merupakan
keturunan guru dari Pangeran Empat Dewa!"
"Apa?" Lelaki yang bernama Prana terlonjak kaget, akhirnya ia
menimpali. "Pantas, sungguh pantas, padahal......."
"Padahal apa kakang?"
"Padahal dahulu yang selalu menjaga keamanan adalah Sang
Pangeran Langit dan Bumi"
"Pangeran Langit dan bumi?"
"Benar, ketika terjadi badai beberapa tahun belakangan aku pikir
itu adalah kelahiran dari Pangeran Langit dan bumi. tapi,
ternyata bukan. ternyata itu hanyalah pertanda kekacauan
dimulai" 750 "siapakah Pangeran Langit dan bumi itu Kakang"
"haha.. mengenai itu aku tidak tahu menahu, seumur hidup aku
belum pernah melihatnya, aku hanya tahu dari obrolan orangtua
ketika aku masih kecil.":
"hah, Aku pikir kakang tahu."
"Sudahlah adik, ngomong-ngomong aku merasa lapar juga"
"Hadeh, aku pikir hal penting seperti apa, kirain hanya lapar.
sama aku jutga lapar kang"
"Hehe....Lihat, Kampret-kampret itu mulai berdatanagan,
bagaimana dengan ilmu pancasonamu adik"
"Lumayan, setidaknya aku bisa menjaga diri"
Begitulah, bisik-bisik itu terus terdengar, namun diantara
keangkuhan para Anggota Nawa Awatara adakah yang
mendengar itu" tidak tak ada satupun yang memperhatikan.
yang mereka perhatikan hanyalah bagaimana supaya mereka
bisa tertawa tanpa melihat apa yang dirasakan oleh orang lain.
tak jauh dari tempat itu terdapatlah hutan yang cukup dimana
hutan itu merupakan jembatan penghubung antara Markas pusat
Nawa Awatara dengan pasar itu.
Di salah satu pohon dihutan itu terdapat dua orang pemuda dan
pemudi berpakaian jembel, salah satu dari mereka tampak
751 sedang pentang busur panah, ternyata yang ditujunya adalah
seekor burung dara yang sedang terbang.
"Wusstt!" "Creppp" "Blukkk" tanpa ampun lagi, burung itu jatuh berdebum ditanah
kering, dengan sigap si pemudi itu meloncat sambil berkata riang
"Tembakan yang jitu, kakang soma!"
"Emh, hihihi, Lihat ini kakang" Sipemudi itu menunjukan
gulungan surat yng ia ambil di kaki burung dara itu.
"Sudahlah Antari, cepat buka dan kita berikan kepada Nyi
Sawitri, bukankah gurumu sudah mewanti-wanti dirimu"
Wajah Pemudi yang ternyata bernama Antari itu cemberut
mendengar ucapan sipemuda, setengah mendongkol ia
menjawab. "Boleh dong aku bahagia, lagipula tak setiap saat aku bisa
seperti ini, kakang Pandu apa gurumu Ki Madya ikut kemari?"
"Tidak, guru bersama Dewa Daun sedang berada ditempat lain"
"Oh, kakang Pandu Mari"
"Mari," keduanyapun berkelebat cepat menuju arah barat, disana
mereka bertemyu dengan beberapa orang berpakaian jembel
sedang bersiap siaga. 752 "Pandu, Antari mengapa kalian kemari" bukankah aku sudah
memerintahkan kalian untuk berjaga diarah timur?" seorang
wanita paruh baya berwajah cumang cemong berkata
keheranan. "Maaf Nyi Sawitri, kami menemukan ini dikaki burung dara"
Pandu menunjuk kertas ditangan Antari.
Antari leletkan lidah melihat gurunya melotot kepadanya. dengan
ragu-ragu ia serahkan kertas itu, Nyi Sawitri kerutkan kening
dengan hati-hati kertas itu dibukanya.
"Kepada seluruh Anggota Nawa Awatara harap menghadap
kemarkas, markas sedang berada dalam bahaya, harap siaga
Tertanda: Julis Nawa Awatara Ladian Haramana" "Bagus. kalian sudah berjasa besar. sekarang silahkan kalian
kembali ketempat" "Katanya berjasa, tapi malah diusir" Antari menggerutu sambil
menggaet tangan pandu dan melesat kembali kearah mereka
datang. Nyi Sawitri gelengkan kepala melihat tingkah muridnya
itu, memang lah ia terlalu memanjakan anak itu hingga menjadi
seperti itu. Waktu terus berguklir, tak terasa waktu telah bergulir, matahari
telah berada diatas kepala. dan diantara panasnya terik matahari
itu, terdengar letupan kembang api berwarna biru. ledakan itu
753 berbareng dengan menyerbunya sepasukan yang entah berpapa
jumlahnya, namun hutan itu ternyata sudah terisi dengan ratusan
manusia. berbagai macam senjata tampak berkilapan diantara
cahaya matahari. Anggota Nawa Awatara yang berada dimarkas cabang itu
terkejut tak terkira, mereka melawan, namun appalah artinya
perlawanan tanpa persiapan, sabetan senjata tajam selalu
diiringi teriakan menyayat hati juga muncratan darah merah.
Tanah berubah warna, tapi tak ada yang perduli. yang mereka
pedulikan adalah kebebasan dan kebahagiaan generasi
mendatang tak perduli nyawa mereka melayang diantara
sabetan senjata tajam. Para Penduduk yang mengamalkan Pancasona tampak selalu
bangkit meski tubuh mereka telah ambrol. mimpipun Para
Anggota Nawa Awatara takan menyangka bila orang yang
mereka remehkan adalah oorang yang akan membunuh mereka.
"Apakah kau pimpinan dari begundal ini?" tanya seorang lelaki
berpakaian hitam bergambar Nawa Awatara, telinganya tampak
lebih menggantung karena ditempeli anting yang bulat dan
besar. "Benar, namaku Sawitri, ketua teratai putih, dan siapakah
Kisanak?" 754 Wajah Lelaki itu memerah, ia tak menyangka bahwa orang yang
ada doihadapannya merupakan ketua dari salah satu lima


Pendekar Seribu Diri Karya Aone di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perguruan besar. "Bagaimana dengan Para Anggota Nawa Awatara yang menjaga
perguruan kalian?" "haha..... sudah lama mereka mati. terbantai dengan mengerikan
dan saatnya kalian lah yang akan mengalaminya"
"Apa" mustahil, mengapa tak ada nsedikitpun kabar yang ku
dengar" "itu salah kalian sendiri, menjadikan orang awam sebagai
korban. ketika para orang awam itu kami tutup dan kalian pun
akan kehilangan telinga., sudah lama kalian tertinggal informasi.
termasuk ini" Nyi Sawitri mlemparkan sebuah kertas. dengan
diliputi seribu pertanyaan orang itu membuka kertas itu, maka
pucatlah wajahnya. "Brengsek" begitu bentakannya sirna, tubuhnya yang kekar
langsung melesat ke udara dan ketika pergelangan tangannya
memutar, secara berturut-turut dia melancarkan tiga buah
serangan dan sembilan buah totokan.
Sebetulnya serangan ini berjumlah enam jurus. Kecepatannya
bagai cahaya kilat. Meskipun dia melancarkan serangannya satu
per satu, namun begitu cepatnya sehingga tampak dikerahkan
dalam waktu yang bersamaan dan seakan ada empat telapak
tangan yang sedang mengincar diri Nyi Sawitri.
755 Hati Nyi Sawitri tercekat melihat keadaan ini. Dia merasa
mengenal jurus itu. setelah berpikir sebentar akhirnya ia
berteriak juga. "Jurus Tapak sembilan totokan"
Dengan gugup dia mundur beberapa langkah. tapi
pengalamannya bicara, pergelangan tangannya bergerak,
sekaligus dia melancarkan dua belas pukulan. Tampak
bayangan telapak tangan yang banyak seperti bungat teratyai
yang sedang mekar. Suara gemuruh angin yang ditimbulkannya
berderu-deru. Seluruh ruangan itu sampai dipenuhi terpaan
angin dari telapak tangannya.
"Dukk..dukkk...Blaarr"
Keduanya mundur kebelakang. Tiba-tiba Nyi Sawitri
mengeluarkan suara siulan yang panjang, tubuhnya memutar
dan menerjang ke arah lelaki itu. Tampak bayangan tangan
dalam jumlah yang banyak seperti teratai yang sedang kuncup.
Jurus serangan yang tidak alang kepalang cepatnya!
Pada dasarnya lelaki itu memang sudah bersiap melancarkan
serangan. Melihat Nyi Sawitri mendahului menyerang, mulutnya
segera mengeluarkan suara bentakan:
"Ayo kita lihat, siapakah yang akan mati duluan"
lengannya yang berubah menjadi kuning keemasan itu
dibenturkan dengan keras untuk menangkis serangan tangan
756 Nyi Sawitri. Dan dalam waktu yang bersamaan, pergelangan
tangannya memutar, dan disodokan dengan kuat dan cepat.
Nyi Sawitri baru merasakan adanya suara yang bergema di
udara, hebatnya bukan main. Dia segera tahu bahwa yang
meluncur datang merupakan serangan yang dahsyat dan
berbahaya, dia bermaksud menghindar namun tidak keburu lagi.
Hati Nyi Sawitri tercekat, bulu kuduknya merinding seketika.
Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia mengeluarkan suara
bentakan dan tubuhnya pun melesat ke atas. Gerakan yang
hebat. Caranya mencelat ke atas tadi sebetulnya merupakan
kesalahan bagi kaum persilatan, tetapi karena telah melatih
tenaga kapas di Markas Bendera Awan Langit, dengan kepala di
bawah dan kaki di atas, laksana seekor elang yang menukik, dia
menerjang ke bawah. Terdengar suara jeritan memenuhi seluruh Arena. Segera
terlihat lelaki yang menjadi lawannya terhantam mundur dua
langkah. Orang itu memuntahkan darah segar dan rubuh
bermandikan darah. Nyi Sawitri tidak berhenti begitu saja, Diiringi suara jeritan yang
menyayat hati, orang kedua pun tumbang, mati. Cahaya pedang
bayangan golok melayang ke sana ke mari memenuhi Arena.
Deruan angin yang timbul dari pukulan dan tinju menyesakkan di
setiap sudut. Yang dapat terlihat saat itu hanya bayangan tubuh
manusia yang berkelebat, tanpa dapat dibedakan mana kawan
dan mana lawan. 757 Dengan merayapnya waktu, pertarungan semakin lama semakin
sengit! Blamm! Segera ada seseorang yang memuntahkan darah segar
dan terkapar di atas tanah. Hawa kematian yang memenuhi
arena pertarungan, semakin lama semakin menebal. hingga
akhirnya menipis dan semakin menipis.
Sunyi... Senyap.... Tak ada dentingan pedang, hanya helaan nafas yang memburu
dan mayat yang bertumpuk ditempat itu. bagaimana keadaan di
pasar" Setelah tanda dibunyikan tiba-tiba laksana air bah yang
menerjang, laksana ombak yang mengulung sekeliling Anggota
Nawa Awatara berloncatan penduduk yang menyerang, kondisi
ini tentu saja membuat mereka panik, apalagi jumlah mereka
tidak sepertiga para penduduk, bukan hanya para orang
dewasa, ternyata ada juga sepasukan anak kecil yang
menerjang. dan yang memimpin ternyata adalah Bayuputra.
Keadaan yang membahayakan semakin merapat pada Para
Anggota Nawa Awatara. Tiba-tiba mereka menjadi sadar.
Apabila mereka masih tidak mencari jalan untuk menerobos
keluar, setiap saat pasti akan timbul bencana yang mungkin
membuat nyawa mereka melayang.
758 Tiba-tiba, Bayuputra bersiul dengan tanpa berpikir panjang lagi
dia menikam ke depan. Jurus serangannya ini tidak mempunyai
nama. Dia hanya melancarkannya tanpa memperdulikan
keselamatan nyawanya sendiri. Salah seorang Anggota Nawa
Awatara Tiba-tiba merasa cahaya dingin menyilaukan mata dan
menekannya dari atas. Hatinya terkesiap. Baru saja dia
bermaksud menggeserkan tubuhnya menghindar, tapi sudah
kasip, pisau ditangan bayuputra telah menancap di lehernya.
Bayuputra putar pegelangan tangannya, pisaunya terjatuh
ketanah dan kembali melancarkan sepasang pukulan yang
mengandung tenaga dahsyat! Meskipun Anggota Nawa Awatara
mempunyai kepandaian yang tinggi, tetap saja sulit baginya
untuk menyelamatkan dirinya.
Hatinya menjadi panik. Dengan gugup dia menghindar
kesamping. Justru pada saat yang sedetik itu, tanpa dapat
dipertahankan lagi mulutnya mengeluarkan suara keluhan.
Terasa pinggang sebelah kiri bawah agak dingin dan darahpun
merembes keluar. Tusukan pedang ini hebat sekali. Darah
mengalir dari pinggang sebelah kiri bawah Anggota Nawa
Awatara tersebut. ternyata salah seorang anak kecil bawaan
bayuputra menusukan pedangnya di pinggang lelaki itu.
Bayuputra tersenyum, Telapak tangan kiri segera di sodokan,
secara gencar melancarkan beberapa serangan. lagi.
Terlihat bahwa Para Anggota Nawa awatara berusaha
menerobos keluar dari kepungan lawan. dan tampak jelas
bahwa pihak lawannya juga tak kalah garang. Apalagi mereka
759 tidak memakai peraturan lagi mengeroyoknya. Bagaimana
mereka bisa mendapat kesempatan untuk kabur, mengatur
nafasnya saja sudah sulit, sedangkan deruan pukulan, tinju dan
berbagai macam senjata mengepungnya dengan ketat.
Dalam waktu yang singkat, mereka sudah menjadi kalang kabut.
Nafas mereka tersengal-sengal. dan pada saat matahari berada
di ufuk barat akhirnya pertarungan telah berhenti, menyisakan
mayat-mayat yang berserakan.
Itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa para
Anggota Nawa Awatara sama sekali tak ada batuan. dan
pertarunagn antara Aram dan Maharaja sembilan dewa juga
terlihat semakin tegang, darah dari mulut mereka jatuh
menggaris. tubbuh kekar Aram yang dipenuhi luka tampak
menggiriskan dalam saat itu.
Entah sampai kapan akan berhenti, entahlah....
ARAM jejakan kakinya hingga ia berada diudara, dan bagai
gasing berkecepatan kilat tubuhnya berputar dahsyat. itulah
jurus bumi berhenti berputar.
Maharaja Sembilan Dewa tertawa latah. segera iapun
memutarkan tubuhnya dan dengan dahsyatnya dua buah
pusingan dahsyat manusia yang berseliweran dengan tenaga
dalam dan angin. Beradu....beradu diudara.
"Blaaarrrrrr" 760 "Jdarrrrr" Ledakan dahsyat bak nuklir yang meledak terdengar, para Bala
bantuan dan Anggota Bendera Awan langit bahkan terpaksa
harus berloncatan menghindari setiap serangan angin nyasar
yang ada. radius lima puluh tombak dari tempat itu hancur berantakan.
Perut Aram tampak robek sampai dada, darah bercucuran.
mulutnya menyeringai kesakitan, namun bukan Aram bila harus
mati begitu saja. segera ia kerahkan salah satu jurus dari Jurus
tunggal jagad yakni "obat penghalau murka jagad".
Dengan memanfaatkan sari angin yang terhembus, dan bumi
yang dipijak kemudian dirubah menjadi hawa maka jadilah
sebuah obat dari hawa tenaga dalam. sekejap saja luka itu
menutup meninggalkan luka menggaris.
Keadaan Maharaja Sembilan Dewa juga tidak menguntungkan.
di dadanya terdapat sebuah cap telapak tangan berwarna hitam.
mulutnya menyemburkan darah segar, tapi Maharaja Sembilan
Dewa juga enggan boila harus mati begitu saja, maka ditelanlah
sebuah obat kecil dari sakunya, kemudian ia menghela nafas
dalam untuk menyembuhkan lukanya itu.
?"pukulan tunggal perobek jagad?"
Aram berteriak mengguntur, dan menerjang dahsyat ke
Maharaja Sembilan Dewa. waktu itu Maharaja Sembilan Dewa
sedang menyembuhkan luka dalamnya, mimpipun lawannya
761 akan menerjang dirinya,. "Tak ada pilihan, aku haru gunakan itu" gumam Maharaja
Sembilan Dewa. "Arwah iblis jasad Dewa"
"Belegar...belegarrr...!"
Adu tenaga dalam kali ini dua kali lebih dahsyat dari tadi. tapi
mereka tidak berhenti seperti tadi. Aram sabetkan tangannya
yang menggelegar dan mencicit seperti jutaan pedang sedang
disabetkan. itulah ?"pedang tunggal melintang jagad?"
yang dihadapi oleh Maharaja Sembilan Dewa dengan jurus yang
berjenis sama maka terjadilah.
"Trangggggg" Lelatu api bermuncratan seperti dua logam diaduka, padahal itu
adalah tangan. Aram segera bentuk tangannya menyerupai posisi totokan,
jarinya kini berubah menjadi perak dan berteriak mengguntur,
"totokan tunggal paku jagad",
"Totokan Jasad dewa iblis"
"Bukkkkkk....bukkkkkkk"
"Hoekk...hoekkk"
762 Keduanya muncratkan darah segar lagi. brukkk keduanya jatuh
ketanah, Aram merasa dunia menjadi gelap, perlahan
memburam, tapi ia melihat sebuah batu meluncur kearah
kepalanya, dan jika dibiarkan maka nyawanya akan lenyap.
memanglah tubuhnya sudah tak bisa digerakan, tapi batinnya
tidak, segera ia menarik kujang bergagang harimau di ikat
rambutnya dan dilemparkan.
"Gerrrrrrrrrmmmm"
"Grauuk,,,, grauuk,... kres,.,.kres..."
Batu itu ditelan oleh Seekor harimau besar penjelmaan kujang
Kekuatan Sejati. bukan itu saja, Harimau itu segera menerkam
tubuh Maharraja Sembilan Dewa. dikoyak dan di makan serat
dicakarnya tubuh itu. Maharaja Sembilan Dewa yang terpingsan setelah melemparkan
batu yang ia aliri dengan segenap tenaga dalamnya tentu tidak
tahu bahwa ia takan pernah melihat dunia lagi. mimpipun ia
takan menyangka bahwa ia akan mati ditangan seekor harimau
yang merupakan penjelmaan dari Kujang yang bernama
Kekuatan Sejati. Aram juga terpingsan. dan ia tak sadarkan diri lagi. dunia yang
kelam berubah secerah mentari pagi di antara apitan gunung
yang menjulang tinggi +++++ "Pendekar Seribu Diri, Aram Widiawan sang pujangga Silat"
763 Hanya nama itu yang kini menjadikan sebuah buah bibir setiap
insan manusia, khususnya di daerah Nusantara(Sweta Dwipa).
nama itu bagaikan sesosok manusia penjelmaan dewa.
namanya begitu harum didalam hati mereka, perjuangannya
takan pernah mereka lupakan hingga mereka mati nanti.
Senyuman dan tawa bahagia kini berdengungan dimana-mana,
dari ujung barat sampai ujung timur, dari ujung selatan hingga
ujung utara. diberbagai daerah malah terlihat membangun
sebuah monumen diatas tebing yang menjulang, dimana
ditebing itu tertulis sebuah tulisan "AKU MENGHILANG
DATANGLAH TENANG AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH".
selain itu juga terdapat sebuah gambar lukisan yang
menggambarkan bahwa Aram sedang bertarung dengan
Maharaja Sembilan Dewa. dibawahnya tertulis. "Seribu kebaikan
takan pernah hilang, Seribu diri dalam satu adalah kekuatan
yang terhebat, singkap kebatilan dan rogoh keadilan."
dibawahnya terdapat beberapa manusia yang sedang
melakukan panjat doa, berbagai macam sesajen tampak
berjejeran rapi. senyuman dan tangisan bahagia dijadikan tema
dalam upacara itu. Jauh dari tempat itu disebuah pulau yang bernama Anglep juga
berjejer puluhan mayat. tangisan duka dan bahagia terlihat di
wajah mereka. mereka beduka atas pengorbanan sahabatsahabatnya yang telah mendahului pulang kepada yang maha
kuasa. mereka bahagia sebab mereka sudah melewati sebuah
rintangan yang terhebat dalam perjuangan mereka,
764 Sementara itu, para petinggi Bendera Awan Langit, Ksatria
Satwa juga berdiri dengan tertunduk lesu, Si Sinting dari Utara,
Nyi Renjani, Kakek Arak seribu kati tampak mengelilingi Aram
yang terbaring Lemah. disampingnya Melati, Thian Hong Li dan


Pendekar Seribu Diri Karya Aone di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Rismi Laraspati menangis sesenggukan. sudah tiga hari ia
pingsan dan belum siuman-siuman.
Tampak juga Thian Liong sibuk menghibur ketiganya.
"Hong Moay, jangan engkau terlalu sedih, nanti anak dalam
kandunganmu terkena apa-apa. percayalah bahwa dia akan
baik-baik saja, Melati jangan terlalu sedih, nanti kau akan jatuh
sakit, Rismi aku mohon kau juga jangan terus menangis, nanti
wajahmu sembab dan bila dia siuman ia akan sedih melihat
keadaanmu." "Ukghhh!!" Aram melenguh. perlahan matanya terbuka, dan
pertama kali yang dilihatnya adalah langit yang biru. ditutupkan
kembali matanya itu berusaha untuk mengumpulkan ingatan.
mendengar lenguhan Aram, serempak ketiga gadis itu hentikan
tangis. Dan semua mata tertuju pada sosok yang berbaring itu.
Aram buka matanya dan berusaha untuk duduk, dengan sigap
Thian Liong membantunya. "Terimakasi...h" ucap Aram tersendat.
Thian Liong tersenyum lembut. "Jangan terlalu banyak bergerak
tubuhmu...." 765 "Aku mengerti, sebelum aku pingsan tak sadarkan diripun aku
sudah mengerti bahwa tenaga dalamku sudah hilang" Aram
memotong dengan tegas. "Anaku, Bagaimanakah keadaanmu" Ki Asmaradanu menatap
Aram. "Baik, baik sekali...., akh ayah bisakah ayah memanggil Kakang
Sobar kemari, agar perasaanku semakin baik" Pinta Aram.
"Baik... ia berada disampingmu!" Kata Ki Asmaradanu lembut.
"Kakang" "ya, Adikku." "Dapatkah, aku meminta bantuanmu sekali lagi"
"Tentu... tentu saja aku akan melaksanakan perintahmu adkikku"
"Kakang, kembalilah Pimpin Bendera Awan langit, itupun untuk
anggota yang masih ingin bergerak dalam organisasi. juga.
persilahkan kepada orang-orang yang hendak menyembunyikan
diri ataupun melepaskan diri dari keanggotaan daripada mnjadi
duri. aku bersama ketiga calon istriku akan pergi kesebuah
tempat terpencil dan tinggal bersama mereka. sampaikan salam
hormatku kepada yang lain. apakah kakang masih bisa
melaksanakan permintaanku?"
"Aram, apakah keputusanmu sudah bulat!" mata Sipengabar
Langit berkaca-kaca. 766 "tentu.. kakang. bagaimana?"
"Aku...aku ingin ikut bersamamu."
"Tidak. kakang aku hanya akan tinggal bersama Ayah, dan
ketiga istriku. bagaimanapun aku ingin merasakan kebahagiaan,
dan menjadi orang biasa tanpa ada pembunuhan lagi. aku ingin
mencuci tangan kakang. jangan sampaikan kepergianku kepada
mereka sebelum aku meninggalkan tempat ini."
"Ayah" Aram menggumam lagi.
"Ya, Anakku..."
"Bawa aku keruanganku"
"baik-baik anakku"
Segera saja Ki Asmaradanu memanggul tubuhnya diiringi ketiga
calon istri Aram. sebelum meninggalkan tempat itu, Aram
meminta untuk mengucap beberapa patah kata kepada Petinggi
Organisasi dan Ksatria Satwa.
"Saudaraku sekalian, mungkin kalian sudah mendengar
keputusanku... terimakasih atas pengertian dan bantuan kalian,
semoga kita bisa berjumpa dilain titisan... hiduplah bersama
kebahagian yang akan menyertai kalian. gunakan kepandaian
kalian untuk kebaikan. katakanlah sepatah kata sebelum aku
meninggalkan tempat ini."
"Kami ikut bersamamu" Angkara mewakili yang lain.
767 "Tidak, silahkan kalian pilih jalan kalian sendiri, aku pergi
selamat tinggal sahabat-sahabatku, saudaraku yang paling aku
cintai dan sayangi" aram berkata tegar dan memalingkan
wajahnya yang berkaca-kaca.
"Selamat Tinggal ketua yang paling kami banggakan" Angkara
menjawab tegas meski matanya berkaca-kaca. bahkan Ksatria
Satwa dan Para Petinggi lain juga sesegukan menangis.
"Kakang, Supek, Hong Ji mohon pamit. maafkan Hong ji bila
Hong Ji ada salah." "Selamat Jalan Anakku!" Kakek Arak Seribu Kati mengiringi
Thian Hong Li yang berjalan menjauh dan semakin menjauh.
Beberapa tahun telah berlalu, disebuah hutan yang jarang
terjamah manusia. Kadang kala ada pemburu atau pencari kayu
yang melihat sekeluarga kecil manusia bermunculan disekitar
yang terpencil itu dan jauh dari keramaian manusia, bahkan
mereka sering sekali membantu mereka, namun siapapun takan
menyangka bahwa mereka adalah Keluarga para Pendekar
yang menggetarkan jagad. Setahu mereka mereka adalah para penduduk biasa dan
merupakan orang awam, sebab keluarga itu memiliki ladang dan
berbagai macam alat pertanian dan pemburuan.
Siapakah mereka" keluarga yang sering munculkan diri itu
bukan lain adalah Ki Asmaradanu, Aram, ketiga istrinya dan
beberapa orang putra putrinya, semenjak hidup mereka
768 mengasingkan diri ditempat tersebut, mereka dapat melewatkan
sisa hidupnya dengan gembira dan penuh kedamian.
Disebuah tempat lain, terdapat sebuah perkampungan yang
damai akan ketenangan, ditempat itu terdapat berbagai keluarga
yang menempatinya. mereka antara lain keluarga, Luyu
Manggala, Murka Semesta, Amuk Samudera, Kasturika,
Cempaka, Huru-Hara. Sementara itu, Angkara, Ryusuke, Yumi dan Jelita Indria
kembali ketanah Jepun dan hidup tenang disana. Thian Liong
dan Kakek Arak seribu Kati kembali kenegaranya.
Sipengabar Langit kembali memimpin Anggotanya yang tersisa.
Para Pertinggi Organisasi memencarkan diri dan hidup sesuai
keinginan masing-masing. dan beberapa Anggota pergi
mengelana. Adakah Kebahagiaan itu terus berlanjut" entahlah.... semoga
demikian.... (TAMAT) 769 Senyuman Dewa Pedang 3 Kesatria Berandalan Karya Ma Seng Kong Kisah Pedang Di Sungai Es 9
^