Pencarian

Pendekar Pedang Pelangi 1

Pendekar Pedang Pelangi Karya Sriwidjono Bagian 1


PENDEKAR PEDANG PELANGI Karya : SRIWIDJONO Pelukis : WIDODO Buku sumbangan : anelinda-store.com
DJVU : Dewi KZ & Aditya
Edit by: Hendradinata Di Tiraikasih website http://kangzusi.com
1 Daftar Isi : Daftar Isi : JILID I JILID II JILID III JILID IV JILID V JILID VI JILID VII JILID VIII JILID IX JILID X JILID XI JILID XII JILID XIII JILID XIV JILID XV JILID XVI JILID XVII JILID XVIII JILID XIX JILID XX JILID XXI JILID XXII JILID XXIII JILID XXIV JILID XXV JILID XXVI JILID XXVII JILID XXVIII 2 JILID I AAT-tat-tat-taaaaar! Taaar! Taaar!
Taaaaaar......! "Aha... Selamat Tahun Baru! Selamat T Tahun Baru! Selamat......!"
"Kiong-hi! Kiong-hi...! Selamat Tahun Baru! Kiong-hi..!"
Taaaar! Taaaaaar! Rat-tat-tat-tat-taaaaaa!
Taaaaaaaar......! Hari itu adalah permulaan bulan ke satu, tahun 180
Sebelum Masehi, yaitu lima belas tahun setelah Kaisar Liu Pang wafat. Lima belas
tahun memang bukanlah waktu yang pendek, hingga tidak mengherankan bila semua
orang seakan telah melupakan kaisar mereka yang bijaksana itu. Bahkan rasanya
semua orang juga sudah tidak peduli pula, bahwa selama itu kursi singgasana
masih tetap kosong dan belum ada yang mendudukinya. Putera Mahkota, Pangeran Liu
Yang Kun, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Kaisar Liu Pang, ternyata justru
menghilang dari tempat tinggalnya begitu upacara pemakaman ayahnya selesai.
Bahkan Putera Mahkota yang dicintai rakyat itu tetap tidak muncul takkala
beberapa hari kemudian istana pribadinya musnah dimakan api beserta seluruh isi
keluarganya. Untunglah Permaisuri Li, isteri Kaisar Liu Pang merupakan ibu tiri dari Pangeran
Liu Yang Kun, segera maju ke depan untuk mengambil alih roda 3
pemerintahan untuk sementara. Permaisuri yang masih berusia muda itu berjanji
untuk mewakili sebelum Pangeran Liu Yang Kun diketemukan. Akan tetapi setelah
bertahun-tahun kemudian ternyata pangeran itu belum juga diketemukan, terpaksa
Permaisuri Li mencalonkan puteranya sendiri, Pangeran Liu Wan Ti yang masih
kecil, sebagai calon pengganti kaisar yang baru.
Demikianlah, selama lima belas tahun itu ternyata Permaisuri Li benar-benar
telah membuktikan kecakapannya sebagai pemangku kekuasaan. Dia pandai sekali
mengatur roda pemerintahan, dan dia juga cerdik pula memilih para pembantunya.
Suara rakyat dan kepentingan umum selalu dia perhatikan dengan seksama, sehingga
lambat-laun orang pun menjadi suka dan simpati kepadanya. Apalagi ia bersama
para pembantunya benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk memajukan dan
memakmurkan negerinya. Keamanan negara serta kesejahteraan rakyat pun diupayakan pula dengan sebaik-
baiknya. Bala tentara ditambah dan diperkuat, sementara sepanjang Tembok Besar
yang menjadi penangkal serangan dari suku bangsa liar itu selalu dijaga dan
diawasi. Maka sudah selayaknyalah bila sejalan dengan berkembangnya rasa aman
serta meningkatnya kesejahteraan rakyat tersebut, orang pun lantas mulai
melupakan Kaisar Liu Pang dan Pangeran Liu Yang Kun.
4 Orang mulai berlumba untuk menikmati
kegembiraan dalam suasana aman dan damai itu.
Mereka seolah-olah ingin mengambil kembali kebebasan mereka, yang selama
pemerintahan Kaisar Liu Pang terkurung akibat peperangan yang berkepanjangan
dengan suku-suku bangsa liar di luar Tembok Besar.
Demikian pula dengan Perayaan Menyongsong Tahun Baru kali ini. Warga kota Hang-
ciu, sebuah kota besar di pantai timur Propinsi Cse-kiang, menyambut kedatangan
Tahun Baru ini dengan sangat meriah pula. Hampir semua toko dan rumah yang
berada di pinggir jalan menghias diri sebaik-baiknya.
Segala macam hiasan kertas dan umbul-umbul. Serta lampu ting yang bercorak
warna-warni, mereka pasang di depan bangunan masing-raasing. Sementara di
perempatan jalan besar, di pasar-pasar, maupun di tempat-tempat ramai didirikan
panggung-panggung pertunjukan guna menghibur penduduk di sekitarnya.
Dan panggung-panggung itu juga dibuat dan dihias pula semeriah-meriahnya,
seakan-akan ingin bersaing dan tak mau kalah dengan panggung yang dibuat di
halaman kabupaten. "Selamat Tahun Baru! Kiong-hi! Semoga panjang umur dan murah rejeki!"
"Selamat...! Kiong-hi! Terima kasih! Terima kasih...!"
Setiap orang, tua - muda, anak-anak, laki -
perempuan, dengan wajah berseri serta gelak dan 5
tawa, saling memberi salam dan puja-puji setiap kali berjumpa. Mereka
berbondong-bondong keluar rumah. Masing-masing seolah-olah telah menentukan
acaranya sendiri-sendiri. Ada yang saling mengunjungi sanak kerabatnya. Ada yang
pergi ke tempat-tempat pertunjukan untuk melihat hiburan gratis.
Akan tetapi sekali ini semua orang seperti ditumpahkan ke halaman kabupaten yang
luas itu. Selain ada tiga buah panggung di sana, kali ini juga akan di adakan sebuah acara
baru. Sebuah acara perlombaan yang diselenggarakan oleh pihak kerajaan di
seluruh negeri, yaitu Perlombaan Mengangkat Arca. Perlombaan yang dilaksanakan
di setiap halaman kabupaten di seluruh Tiong-kok itu dimaksudkan untuk mencari
pemuda-pemuda yang cocok sebagai calon prajurit pengawal istana.
Suara musik dan tambur yang kemudian menggema di halaman Kabupaten Hang-ciu itu
semakin menyemarakkan suasana. Apalagi para pejabat tinggi di kota itu telah
lengkap pula di tempat duduk yang disediakan. Para penonton pun segera mencari
tempat-tempat duduk yang strategis untuk menyaksikan acara-acara yang akan
dipergelarkan. Sementara itu di luar halaman, dua orang petani yang juga ingin menonton
Perlombaan Mengangkat Arca, masih asyik duduk di sebuah warung kecil di pinggir
jalan. Mereka mengobrol sambil ninum arak.
Sesekali mereka melayangkan pandangannya ke arah 6
penonton yang berduyun-duyun memasuki halaman kabupaten.
"Perayaan Tahun Baru kali ini kelihatan lebih meriah dibandingkan tahun,
kemarin, A Tung." Salah seorang di antara mereka yang bertubuh pendek berkulit
kuning berkata kepada temannya yang lebih jangkung dan berkulit gelap.
"Benar. Dulu memang tidak semeriah ini. Mungkin karena sekarang ada Perlombaan
Mengangkat Arca, sehingga orang-orang dari kampung pun datang ke sini untuk
menyaksikannya. Eh, apakah engkau juga berniat untuk mengikuti perlombaan itu,
Lok Ma?" Petani berkulit gelap itu memandang kawannya dengan senyum menggoda.
"Ah, kau! Bukankah perlombaan itu hanya diperuntukkan bagi remaja berusia enam
belas sampai tujuh belas tahun saja" Huh! Kau memang selalu menggoda dan
mengolok-olok aku!" Petani bertubuh pendek itu bersungut-sungut.
"Hehehe-hehehe.... Siapa tahu engkau masih merasa muda belia seperti mereka?" A
Tung cepat-cepat menambahkan.
"Huh, kau ini... memang menyebalkan!" sungut Lok Ma dengan wajah masam.
"Eit, sabar dulu! Jangan mudah tersinggung! Aku cuma bergurau! Masakan kau yang
sudah memiliki uban di sana-sini benar-benar mau ikut perlombaan?"
"Habis... sedari tadi kau selalu mengolok-olok aku terus, sih! Kau selalu
mengatakan aku seperti keledai, 7
seperti katak raksasa dan lain-lain! Kau juga selalu mengejekku sebagai babi
yang rakus kalau makan! Dan kau juga selalu mengolok-olok aku sebagai suami yang takut bini! Huh,
bagaimana aku tidak menjadi sebal kepadamu?"
A Tung tiba-tiba tertawa, namun ditahannya. "Lok Ma... Lok Ma! Bagaimana aku
tidak menyebutmu sebagai keledai kalau setiap saat penampilanmu seperti orang
tolol dan malas begini" Sudah kelihatan bodoh dan malas, perutmu buncit lagi
akibat banyak makan! Persis seperti katak atau babi yang rakus, he-he-he! Dan
lebih celaka lagi... ternyata kau sangat takut kepada binimu!"
"Nah, kau mulai mengejek lagi! Baik! Aku akan pergi saja kalau begitu! Kita
menonton sendiri-sendiri!"
Lok Ma benar-benar menjadi marah. Cepat dia bangkit dari kursinya. Akan tetapi
dengan tangkas A Tung menyambar lengannya.
"Eeeeee... tunggu sebentar! Maafkanlah aku! Aku benar-benar hanya berkelekar
kepadamu. Marilah duduk dahulu! Kita makan minum sepuasnya di sini sebelum
menonton pertunjukan. Aku akan memesan ikan mas goreng serta arak wangi
kesukaanmu. Aku yang membayarnya. Mau, bukan?"
Tanpa menanti jawaban lagi A Tung menyeret sahabatnya kembali ke kursinya. Dan
Lok Ma pun juga tidak menolak pula. Apalagi mendengar A Tung hendak mentraktir
ikan mas goreng kegemarannya.
8 Sambil masih berpura-pura marah petani bertubuh pendek dan gemuk itu
memelototkan matanya. "Baik! Tapi aku akan segera angkat kaki kalau kau mengolok-olokku lagi!"
"Ya-ya-ya... percayalah, aku tidak akan menyebutmu keledai, katak, ataupun babi
lagi! Kalau nanti aku kesalahan omong dan menyebutmu keledai, katak atau babi,
kau boleh memukulku. Tapi sebaliknya kalau aku benar-benar dapat memenuhi
janjiku ini, dan tak sepatah kata pun keluar kata-kata keledai, katak, atau..."
"Cukup!" Lok Ma tiba-tiba berseru, lalu bangkit meninggalkan kursinya.
"Eeeeeeee, Lok Ma... tunggu!" A Tung cepat mengejarnya.
Namun Lok Ma tidak peduli. Ia melangkah dengan cepat menghampiri pelayan yang
sedang,memberesi dan membersihkan sisa makanan di atas meja.
"Hei, pelayan...!" panggilnya keras-keras.
Pelayan yang ternyata masih bocah itu cepat berpaling, lalu meletakkan kembali
piring-piring kotor yang dibawanya.
"Jiwi memanggil saya?" jawabnya sopan seraya memandang Lok Ma dan A Tung yang
telah berdiri di belakangnya.
Tiba-tiba mata Lok Ma terbelalak. Begitu pula A Tung.
"Kau...?" keduanya berseru lirih, seolah-olah tak percaya.
9 Sebaliknya pelayan muda itu menjadi bingung melihat kedua tamunya seperti sudah
kenal akan dirinya, padahal ia sendiri sama sekali tak mengenal mereka.
"A Tung...! Bukankah anak muda ini yang menolong anakku dari cengkeraman
serigala liar itu?" Lok Ma berseru kepada A Tung, lupa akan kemarahannya.
"Tak salah lagi! Memang dialah yang menolong anakmu .dari terkaman serigala
hutan tiga hari yang lalu. Aku tak akan melupakan wajahnya!" A Tung menyahut
dengan gembira pula melihat sahabatnya tidak jadi marah.
Tiga hari yang lalu memang terjadi keributan di kampung Lok Ma. Kampung sepi di
pinggir hutan itu tiba-tiba diterjang kawanan serigala liar. Untunglah semua
lelaki di kampung itu masih berada di rumah masing-masing, sehingga beramai-
ramai mereka bisa mengusir kawanan serigala buas itu. Namun demikian seekor
serigala masih juga sempat menerkam anak Lok Ma yang masih kecil. Untung datang
seorang anak muda asing yang kebetulan lewat di tepi hutan itu. Dengan berani
anak muda asing itu merebut anak Lok Ma dari cengkeraman serigala buas tersebut.
"'Selamat bertemu lagi, Saudara Kecil. Wah, sungguh gembira sekali bisa bertemu
denganmu. Aku benar-benar berterima kasih sekali kau telah menyelamatkan anakku
dari kematian. Oh... apakah 10
warung ini warung ayahmu?" Lok Ma dengan riang menyalami pelayan muda itu.
"Oh-eh...." pelayan itu menjadi gugup dan tersipu-sipu. "Saya... saya bukan
pemilik warung ini. Saya...
cuma pelayan." A Tung melangkah dengan cepat ke muka.
Tangannya mencengkeram lengan pelayan muda itu.
"Nah, engkau hendak berbohong lagi! Kemarin kau mengaku sebagai anak gelandangan
yang tak punya sanak saudara dan tempat tinggal. Kini kau mengaku sebagai
pelayan warung ini. Eh, Saudara Kecil! Siapa sebenarnya kau ini?" serunya
penasaran. "Benar." Lok Ma cepat menyambung perkataan sahabatnya. "Siapa sesungguhnya
Saudara ini" Kami tak percaya pada ceritamu tentang anak gelandangan itu."
Pelayan muda itu semakin menjadi gugup dan bingung. Ia tak kuasa menjawab
pertanyaan tamu-tamunya itu. Untunglah suara panggilan majikannya menolong dia
dari kesulitannya. "A Liong, kemari...!"
"Maaf, Tuan... majikanku memanggil." ucapnya terburu-buru, lalu bergegas
meninggalkan tamunya. "Wah!" Lok Ma dan A Tung menggerutu kecewa.
"Sebenarnya aku ingin tahu, siapa dia itu sesungguhnya! Aku yakin dia telah
menyembunyikan keadaannya." Lok Ma terus saja bersungut-sungut.
11 "Ya, aku juga. Melihat penampilannya, tak mungkin dia seorang gelandangan. Dia
lebih pantas menjadi anak
bangsawan atau anak orang kaya. Badannya kokoh kekar. Wajahnya tampan. Pakaiannya bersih dan rapi...." "Benar. Bahkan kami berani bertaruh, dia akan menjadi rebutan gadis-gadis di kemudian hari." Lok Ma semakin bersemangat. A Tung mendadak tertawa. Timbul kembali sifatnya yang riang dan suka menggoda.
"Gadis-gadis gelandangan, maksudmu...?" oloknya jenaka.
"Nah, kau sudah mulai lagi...!" geram Lok Ma bagai diingatkan kembali akan
kemarahannya tadi. Namun tiba-tiba mereka terdiam. Dua orang penunggang kuda berhenti di depan
warung itu. Dan 12 A Liong yang baru saja dipanggil majikannya tadi tampak berlari keluar
menyongsong mereka. "Silahkan masuk, Tuan! Masih banyak tempat kosong di dalam..." anak muda itu
mempersilakan tamunya sambil menerima tali kekang kuda dari mereka.
Tamu-tamu baru itu lalu melangkah ke dalam warung. Mereka adalah pria-pria yang


Pendekar Pedang Pelangi Karya Sriwidjono di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

gagah, apalagi dengan pedang panjang di pinggang mereka. Usia mereka pun belum
begitu tua. Kira-kira sekitar empat puluhan tahun. Cuma yang satu agak kelihatan
lebih matang daripada yang lain dengan gumpalan uban di atas telinganya. Dan
secara kebetulan mereka duduk di dekat meja Lok Ma dan A Tung tadi.
"Jiwi ingin memesan apa?" A Liong yang sudah selesai menambatkan kuda-kudanya
itu cepat menanyakan keinginan tamu-tamunya.
"Arak putih dan makanan kecil! Tolong pilihkan arak yang paling wangi!"
Salah seorang dari kedua penunggang kuda itu berkata.
A Liong yang cekatan itu segera berlari ke belakang.
"Ssstt, A Tung...! Aku seperti pernah melihat wajah orang yang lebih tua itu di
Lok Yang. Tapi aku lupa lagi...." Lok Ma berbisik kepada kawannya.
"Huh, lagakmu! Kapan kau pergi ke kota raja yang jauh itu" Kau bermimpi
barangkali?" 13 "Wah, kau ini selalu mengolok-olok aku saja.
Bukankah aku pernah menjadi tukang gerobag di Kim-liong Piau-kiok (Perusahaan
Ekspedisi Naga Emas)?" Lok Ma merengut kesal.
"Oooh, benar! Benar! He-he-he, maaf ... aku ingat sekarang. Kau mendapat upah
yang besar sekali kala itu, sehingga kau bisa mengawini binimu yang sekarang
ini, he-he-he-he!" Lok Ma tak menanggapi olokan sahabatnya.
Dengan serius ia melanjutnya bisikannya tadi, "Tapi...
tapi rasanya orang itu dahulu mengenakan pakaian seragam perwira. Aku ingat
benar hal itu, karena barang-barang yang dimuat di dalam gerobagku itu dikirim
ke rumah seorang jenderal. Nah, yang menerima barang hantaran tersebut...
wajahnya persis orang ini."
"Sudahlah, lebih baik kita duduk kembali menikmati minuman. Kita tak usah
mengurusi mereka. Mungkin orang itu memang perwira yang pernah kaulihat itu.
Tapi mungkin juga dia adalah orang lain yang wajahnya mirip perwira itu.
Lok Ma seperti tersadar dari kesalahannya. "Kau benar..." katanya perlahan
seraya kembali ke mejanya.
"Kita memang tak perlu..."
Tiba-tiba keduanya terdiam kembali. Tiga orang lelaki menyandang golok melintas
di depan warung itu. Melihat dua ekor kuda yang tertambat di samping warung,
salah seorang di antara mereka mendadak terbatuk-batuk. Dan seperti terbawa oleh
ulah mereka 14 itu, tiba-tiba penunggang kuda yang ada di dalam warung juga ikut terbatuk-batuk
pula. "Sssst! Aku juga pernah melihat tiga orang itu.
Mereka juga teman dari perwira itu..." Lok Ma berbisik lagi.
"Ah, kau ini! Bukankah kau sudah setuju untuk berdiam diri saja?" A Tung
berdesah kesal, kemudian bangkit untuk memesan makanan dan minuman lagi.
Lok Ma menarik napas panjang. Matanya tetap tertuju ke luar warung meskipun tiga
orang bergolok itu sudah hilang dari pandangannya. Mereka telah berbaur dengan
penonton-penonton yang lain. Dari luar justru dilihatnya A Liong pelayan muda
itu, berlari masuk sambil membawa sesuatu di tangannya.
Anak itu langsung menghampiri meja tamu-tamu baru tadi.
"Maaf, jiwi... seseorang telah menitipkan selembar saputangan ketika aku membeli
minyak tadi. Aku diminta untuk menyampaikannya kepada Ji-wi berdua." katanya
terengah-engah sambil menyerahkan saputangan putih kepada tamunya.
Lelaki yang memiliki uban kedua pelipisnya itu cepat menerima saputangan
tersebut. "Terima kasih, Nak. Siapa namamu?"
"A Liong, Tuan..."
"A Liong saja" Apa nama keluargamu?"
Anak muda itu tertunduk. "Saya tak tahu nama keluargaku, Tuan. Saya... anak
gelandangan yang tak tahu siapa orang tua saya." jawabnya kemudian seraya 15
menengadahkan kepalanya kembali. Suaranya nyaring, dan sama sekali tidak bernada
sedih atau malu. Dua orang penunggang kuda itu tertegun, terutama yang memiliki uban di atas
telinga. "Hei! Berapa umurmu sekarang...?" tanyanya lagi dengan wajah heran.
"Maaf, Tuan. Saya... saya juga tidak tahu umur saya. Banyak orang menduga, umur
saya sekitar 14 sampai 17 tahunan. Entahlah, mungkin memang sekian itu."
"Eh..."!?"
Dua penunggang kuda itu saling memandang dengan heran, namun juga semakin
tertarik kepada pelayan warung itu. Begitu tertariknya mereka pada penuturan A
Liong sehingga untuk sesaat mereka telah melupakan saputangan mereka tadi.
"Maaf, saya hendak melayani tamu-tamu yang lain..." tiba-tiba A Liong minta
diri. Lelaki beruban itu menghela napas, sementara kawannya dengan cepat menyisipkan
sekeping uang tembaga ke tangan A Liong. Anak muda itu segera berlalu setelah
mengucapkan terima kasih.
Beberapa saat lamanya kedua tamu itu memandang kepergian A Liong.
"Lim Su-heng, sudahlah. Mari kita lihat, apa pesan di dalam saputangan itu.
Jangan-jangan ada sesuatu yang penting yang hendak disampaikan kepada kita."
16 teman lelaki beruban itu mengingatkan kawan seperjalanannya.
Lelaki beruban yang dipanggil dengan nama Lim Su-heng itu tersentak dari
lamunannya. Bergegas ia menyambar arak yang telah tersedia di depannya dan
menenggaknya habis. Beberapa tetes arak mengalir membasahi kumis dan jenggotnya,
sehingga ia terpaksa mengusapnya dengan saputangan pemberian A Liong tadi.
Semua itu dilakukan oleh lelaki beruban itu dengan wajar, padahal ketika
saputangan itu kemudian digelar di atas meja, keadaannya telah basah kuyup
seperti baru saja dicelup ke dalam air. Namun demikian tiba-tiba saja saputangan
yang semula kosong bersih itu kini telah penuh dengan tulisan huruf.
"Apa yang ditulis di situ, Suheng?" Lelaki beruban itu menggulung saputangannya
kembali. "Tong Tai-su mengingatkan kita agar lebih berhati-hati lagi. Ada pihak
luar yang hendak mengacaukan tugas kita.
Mereka terdiri dari orang-orang yang berilmu tinggi."
"Siapa mereka...?"
"Tong Tai-su belum mengetahuinya. Dia juga sedang mengadakan penyelidikan. Tapi
dikatakannya bahwa para pengacau itu telah muncul di dua kota sekaligus, yaitu
kota Cin-kiang dan Wuh-si di Propinsi Kiang-su."
"Hei... kota itu saling berjauhan satu sama lain.
Kalau begitu mereka memiliki kekuatan yang besar."
17 Lelaki beruban itu tidak menjawab. Matanya memandang ke luar warung, di mana
banyak orang berduyun-duyun memasuki halaman kabupaten.
"Perlombaan Mengangkat Arca itu belum juga dimulai..." katanya tiba-tiba
mengalihkan pembicaraan. Kawan seperjalanannya ikut melemparkan pandangannya ke luar, ke jalanan. Dan
pada saat yang bersamaan A Liong datang mendekati mereka.
Pelayan muda itu bertanya kalau-kalau tamunya ingin menambah pesanan lagi.
"Ya, tambahlah araknya sebotol lagi! Eh... A Liong! Mengapa kau tidak ikut
"Perlombaan Mengangkat Arca" itu" Bukankah usiamu memenuhi syarat?" lelaki
beruban itu berkata. A Liong tertawa perlahan. "Percuma, Tuan. Tak mungkin bisa menang. Rata-rata
semuanya mempunyai kepandaian silat yang baik. Aku sama sekali tak bisa apa-apa.
Memegang senjata pun tak pernah."
"Hei! Itu perlombaan, bukan perkelahian! Kau tidak akan disuruh berkelahi dengan
siapa-siapa. Kau hanya diminta untuk mengangkat sebuah arca."
A Liong sedikit tersipu-sipu. "Ya, tapi... orang yang pandai silat tentu lebih
kuat, Tuan." katanya membela diri.
"Nah, di sinilah kekeliruannya. Semua orang rata-rata berpikir seperti itu,
padahal hakekat dan tujuan daripada perlombaan ini sesungguhnya tidak 18
demikian. Perlombaan ini dimaksudkan untuk mencari bibit-bibit unggul dari
kalangan remaja, untuk nantinya akan dididik sebagai anggota pasukan pengawal
istana. Jadi penilaiannya bukan dititik-beratkan pada kekuatan pesertanya, tapi
pada bakat dan cocok tidaknya peserta itu untuk dijadikan sebagai pengawal
istana. Itulah sebabnya Sang Ratu mengirimkan petugas-petugasnya ke tempat-
tempat perlombaan di seluruh negeri." lelaki beruban itu memberi keterangan
dengan suara berapi-api. Tentu saja keterangan itu sangat menarik perhatian A Liong. Pada zaman itu siapa
yang tak "ngiler"
menjadi perajurit pengawal istana" Seragamnya yang megah dan indah itu selalu
dikagumi oleh setiap orang.
"Nah! Apakah kau tidak berminat untuk mengikutinya, A Liong?" kawan dari lelaki
beruban itu tiba-tiba bertanya.
"Kalau begitu... saya juga berminat, Tuan. Tapi..."
A Liong berguman ragu sambil menatap ke arah majikannya berada.
Lelaki beruban itu dapat menangkap kesulitan yang dihadapi anak muda itu. Oleh
karena itu dengan tenang ia berkata, "Jangan takut! Pergilah mendaftarkan diri
ke panggung itu! Biarlah aku yang memintakan ijin kepada majikanmu."
"Ba-baiklah, Tuan. Terima kasih. Saya akan ke sana."
19 "A Liong...!" majikan A Liong tiba-tiba memanggil.
Anak muda itu mengangkat wajahnya, tapi dengan cepat lelaki beruban itu
mendorongnya keluar, sehingga ia tak kuasa lagi membantahnya. A Liong berlari
keluar. Di depan pintu hampir saja ia bertabrakan dengan tiga orang tamu yang
baru saja datang. "Maaf...." katanya meminta maaf sambil terus berlari meninggalkan warung itu.
"Hei, mau ke mana anak itu?" Lok Ma berseru kaget.
"Hmm... mana aku tahu" Ya... paling-paling menggelandang lagi. Bukankah ia sudah
mengatakan bahwa ia Anak Gelandangan?" A Tung menjawab seenaknya.
"Ah, kau...!" Lok Ma bersungut-sungut.
Sementara itu majikan A Liong bergegas ke luar dari belakang mejanya. Tetapi
lelaki beruban itu dengan cepat menghadangnya. Sambil menyisipkan sekeping uang
perak, lelaki beruban itu berkata perlahan, "Biarkan anak itu pergi! Aku telah
menyuruhnya pergi mengikuti acara "Perlombaan Mengangkat Arca". Untuk sementara
kau bisa mencari tenaga pembantu lain...."
Pemilik warung itu tertegun mengawasi tamunya.
Namun perlahan-lahan wajahnya tertunduk kembali.
Sorot mata lelaki beruban itu seolah-olah menikam 20
jantungnya dan melemaskan seluruh sendi-sendi tulangnya.
"Eh-oh, tapi... tapi aku belum memberikan uang gajinya." akhirnya dia berkata
lirih tanpa berani memandang tamunya.
"Oh... itu mudah. Uang itu dapat kauberikan nanti setelah perlombaan selesai.
Anak itu tentu akan kembali lagi ke sini."
"Ba-baik, Tuan. Kalau begitu... kalau begitu... akan saya berikan nanti.
Sekarang... maafkanlah saya, saya hendak menyambut tamuku itu dahulu." Pemilik
Warung itu membungkukkan tubuhnya, kemudian bergegas menyongsong tiga orang tamu
yang hampir bertabrakan dengan A Liong tadi.
Lelaki beruban itu duduk kembali di kursinya.
Matanya melirik ke arah tamu-tamu yang baru datang.
Seorang pemuda dan dua orang gadis. Wajah-wajah mereka sungguh menarik, terutama
kedua gadis itu. Mereka benar-benar amat cantik. Si Pemuda berusia sekitar dua puluh tahun,
bertubuh jangkung, mengenakan baju dan celana berwarna kelabu. Gadis yang
pertama berusia kira-kira sembilan belas tahun, berperawakan tinggi langsing,
mengenakan baju berwarna kuning-kuning. Gadis yang ke dua kelihatan lebih muda
lagi. Kemungkinan baru berumur enam belas atau tujuh belas tahun. Dan sesuai
dengan sikapnya yang lincah dan ceria, ia mengenakan baju berwarna merah muda.
Ketiga-tiganya tidak kelihatan membawa senjata. Namun demikian ditilik dari
sikap 21 dan cara mereka berpakaian dapat diduga bahwa mereka bertiga juga terdiri dari
orang-orang rimba persilatan pula.
Dugaan tersebut memang tidak salah. Begitu mendapatkan tempat duduk pemuda itu
segera mengambil sikap waspada. Berkali-kali matanya yang sedikit cekung itu
melirik ke sekelilingnya. Bahkan pada waktu menyantap makanan dan minumanpun ia
selalu mengamati keadaan di sekitarnya. Dan entah mengapa, setiap kali pula
pandangannya selalu berhenti pada lelaki beruban itu.
"Su-moi berhati-hatilah...! Tampaknya di tempat ini banyak orang yang pantas
dicurigai." akhirnya pemuda itu berbisik perlahan kepada dua orang teman
gadisnya. "Ya, kami tahu...." kedua gadis itu menjawab perlahan pula.
"Sungguh mengherankan. Rasa-rasanya kota ini seperti dengan tiba-tiba dipenuhi
oleh orang-orang dari rimba persilatan. Di mana-mana kita hampir selalu bertemu
dengan mereka." pemuda itu berdesah lagi.
Kedua gadis itu menatap wajah su-hengnya, namun mereka tidak berkata apa-apa.
Mereka lalu kembali menyantap makanannya. Baru beberapa saat kemudian gadis yang
berbaju merah muda itu menggamit lengan su-hengnya.
"Toa-suheng..." Aku... aku ingin bertanya kepadamu, tapi...?"
22 Pemuda yang dipanggil toa-suheng itu memandang adik seperguruannya. "Tapi
apa...?" serunya perlahan.
"Tapi Toa-suheng jangan marah kepadaku! Mau?"
Gadis itu cemberut sambil melirik manja.
Pemuda itu tersenyum melihat tingkah adik seperguruannya yang masih kekanak-
kanakan itu. Kepalanya mengangguk. "Cici..." Kau juga jangan marah, ya?" gadis itu merasa lega, tapi masih juga
bertanya kepada gadis yang mengenakan baju kuning.
Tapi gadis berbaju kuning yang ternyata juga kakak kandungnya sendiri itu cepat
mencibirkan bibirnya. "Huh... tak ada gunanya marah kepadamu. Salah-salah justru hati sendiri yang
menjadi kesal. Kapan kau pernah mendengarkan kemarahan orang" Sedangkan suhu
sendiri saja kewalahan menghadapimu, apalagi cuma kami berdua. Ayoh, lekas
kaukatakan apa yang hendak kautanyakan!"
Gadis centil itu tertawa kecil sambil meremas lengan kakaknya.
"Ah, aku cuma ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian berdua... percaya pada
ramalan Lo-jin-ong?"
Seketika wajah dua saudara seperguruan itu menjadi pucat. Dengan bibir sedikit
gemetar gadis berbaju kuning itu membentak lirih, "Siau In! Bicara apa kau ini"
Tutup mulutmu!" Namun Si Pemuda cepat meraih pundak gadis berbaju kuning. "Ciu In Sumoi, jangan
kaubentak dia! 23 Bukankah kita telah berjanji untuk tidak memarahinya?"
"Tapi pertanyaan itu sangat lancang, Sin Lun Suheng! Lo-jin-ong adalah sesepuh
(tetua) yang sangat dihormati di dalam aliran agama kita." gadis yang berbaju
kuning, yang ternyata Ciu In itu, bersungut-sungut marah.
"Bukankah aku tadi sudah bilang, bahwa... bahwa kalian tidak boleh marah?" Gadis
berbaju merah yang bernama Siau In itu merajuk.
"Ya... ya, Cicimu memang tidak marah. Dia hanya kaget saja mendengar pertanyaan
tadi." Sin Lun menengahi.
Mereka bertiga lalu berdiam diri. Masing-masing kembali menyantap makanannya.
Namun demikian Siau In masih tampak penasaran karena pertanyaannya tadi belum
dijawab. Berkali-kali ia melirik ke arah cicinya dan suhengnya, sehingga dua
orang itu menjadi risih melihatnya.
"Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu tadi."
akhirnya Sin Lun berkata.
"Nah... begitu!" Siau In hampir bersorak. Dan tak lupa jari-jarinya yang lentik
itu mencubit pinggang kakaknya, sehingga Ciu In menjerit kecil seraya menampar
tangannya. "Gila, kau...!"
Sin Lun memandang kedua adik seperguruannya itu dengan senyum lebar. Tak terasa
hatinya memperbandingkan keduanya. Mereka sama-sama cantik dan pintar.
Kepandaian silat mereka pun juga 24
tidak berselisih banyak pula. Hanya sifat dan pembawaan diri mereka sajalah yang
berbeda. Ciu In berperasaan halus dan pendiam. Tutur katanya selalu lembut dan
berhati-hati. Tapi sebaliknya, Siau In berwatak polos dan terbuka. Kalau
berbicara ceplas-ceplos seenaknya sendiri. Suka bergurau dan menggoda orang,
terutama terhadap orang-orang yang telah dekat dengan dirinya. Namun demikian
mereka berdua sangat rukun dan saling mengasihi satu sama lain.
"Lho! Kenapa terus diam lagi" Bagaimana pendapat Toa-suheng" Apakah Toa-suheng
percaya seratus persen ramalan beliau itu?"
"Sssst, jangan keras-keras! Nanti didengar orang!"
Sin Lun pura-pura marah untuk menutupi rasa kagetnya.
"Habis Toa-suheng melamun saja. Masakan sudah duduk berendeng sambil berpegangan
tangan dengan Cici begitu masih juga melamun terus" Apakah Toa-suheng ingin


Pendekar Pedang Pelangi Karya Sriwidjono di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lekas-lekas kawin dengan Cici barangkali?" Siau In malah menggoda sambil
meleletkan lidahnya. Wajah Ciu In seketika menjadi merah padam.
"Siapa yang saling berpegangan tangan, heh" Ngaco!"
desahnya serak. Kebetulan lengannya memang berjejer dan saling bersentuhan
dengan lengan Sin Lun, sehingga otomatis lengan itu ditariknya dengan cepat.
25 "Wah-wah, kalian berdua ini kalau berkumpul selalu bertengkar saja...!" Sin Lun
yang menjadi merah pula mukanya itu bersungut-sungut.
"Hi-hi-hi, baiklah... baiklah, aku mengaku salah.
Aku memang suka berkelekar maafkan aku, ya...
Cici" Mau... ya" Jangan marah, dong...!" Melihat wajah kakaknya menjadi merah
padam seperti itu Siau In menjadi takut juga. Dengan cepat tangannya merangkul
pinggang Ciu In dan menggelendot manja.
Gadis berwajah lembut itu tak jadi marah. Sambil melepaskan rangkulan tangan
adiknya ia melengos. "Huh!" dengusnya pendek.
Tapi Siau In sudah bisa membaca watak kakaknya.
Ciu In tidak jadi marah kepadanya. Oleh karena itu secepat kilat ia mencium pipi
kakaknya. "Terima kasih, Ciciku yang baik." katanya renyah.
Mereka memang saling bergurau dan bercanda.
Namun karena hal itu mereka lakukan dengan wajar dan tidak menyolok mata, maka
para tamu lainpun juga tidak ada yang memperhatikan mereka. Kalaupun orang
banyak yang melirik ke arah mereka, hal itu disebabkan karena kecantikan Ciu In
dan Siau In. "Siau-sumoi, aku... aku sebenarnya juga sangsi akan kebenaran ramalan Lo-jin-ong
kali ini. Aku tak yakin kalau orang dari luar Im-yang-kau, yang belum keruan
darmabaktinya, kesetiaan, dan pengabdiannya, justru diramalkan akan menjadi
tokoh pemersatu dari agama kita. Apalagi beliau meramalkan orang itu 26
akan membawa Aliran Im-yang-kau pada
kejayaannya." setelah berdiam diri beberapa saat lamanya Sin Lun lalu
mengutarakan pendapatnya.
"Nah! Cocok! Sama dengan pendapatku!" Siau In berseru lirih. Wajahnya tampak
puas dan lega. 'Aku juga tidak percaya pada ramalan itu. Bagaimana mungkin orang
yang belum pernah dikenal dan bukan orang dari kalangan kita sendiri, malah akan
membawa kejayaan pada aliran Im-yang-kau"
Bukankah itu hanya mengada-ada" Siapa tahu Lo-jin-ong hanya menguji... eh,
menguji kesetiaan kita" Huh, mungkin orang yang disebutkan dalam ramalannya itu
sebenarnya tidak ada."
"Siau In...!" Ciu In membentak lirih.
"Ah, Cici...!" Siau In bersungut-sungut, "Masakan Cici tidak bisa merasakan
keganjilannya" Ganjil dan mustahil! Bagaimana mungkin kita dapat mencari orang
yang belum pernah kita kenal dan kita lihat di daratan Tiongkok yang maha luas
ini" Mungkinkah...?" "Hush! Bukankah Lo-jin-ong telah memberi petunjuk bahwa orang yang beliau
maksudkan itu mempunyai "tatto" gambar naga di tubuhnya?"
Siau In memonyongkan mulutnya. "Ah, Cici!
Alangkah banyaknya laki-laki yang suka menggoresi tubuhnya dengan gambar naga di
dunia ini. Kalau mau, Toa-suheng pun bisa melakukannya sekarang juga!" ucapnya
sengit. 27 "Ah, kau! Tentu saja bukan begitu yang dimaksudkan Lo-jin-ong." Ciu In mencubit
gemas pinggang adiknya. "Kau ini seperti bukan anggota aliran Im-yang-kau saja,
yang belum pernah mengenal siapa Lo-jin-ong itu" Sedangkan orang lain saja
mengagumi kesaktian dan kemampuannya dalam ilmu meramal, mengapa justru engkau
sendiri tidak?" "Tapi...?" "Siau In! Lo-jin-ong memberikan ciri-ciri orang yang ia ramalkan itu hanya untuk
memudahkan kita semua mencarinya. Jadi tidak berarti orang yang mempunyai tatto
naga itu mesti orang yang kita maksudkan. Waktulah yang nanti akan menunjukkan,
siapa di antara orang orang bertatto naga itu yang benar-benar orang yang
dimaksudkan oleh ramalan Lo-jin-ong itu. Apalagi Lo-jin-ong juga sudah memberi
batasan daerah mana yang kira-kira akan menjadi tempat munculnya "manusia
pilihan" itu, yaitu di sepanjang muara Sungai Yang-tse ini. Nah, bukankah kita
tidak perlu mencarinya ke seluruh Tiong-kok?"
Siau In menghela napas panjang. Hatinya yang kesal agak lebih surut mendengar
ucapan kakaknya. "Tapi bagaimana caranya mencari orang itu"
Apakah setiap berjumpa dengan orang yang kita curigai, kita lalu harus
membelejeti pakaiannya agar bisa kita periksa gambar naganya?"
Ciu In cepat mendorong pundak Siau In dengan gemas. "Ih, pikiranmu selalu yang
kotor-kotor saja! 28 Sudahlah! Ayoh, Suheng! Kita menonton pertunjukan di daam. Tak ada gunanya
berbicara dengan Siau In.
Lama-lama bisa dongkol kita dibuatnya. Mendingan menonton Perlombaan Mengangkat
Arca, siapa tahu kita bisa... kita bisa...."
"Siapa tahu Cici bisa membelejeti pakaian orang di sana nanti!"
"Kurang ajar! Mulutmu memang...."
Cui In mengangkat tangannya hendak memukul adiknya yang bermulut tajam itu,
namun dengan cepat Sin Lun mencegahnya. Pemuda itu segera memanggil pelayan dan
membayar makanan mereka, kemudian menarik lengan adik-adiknya ke luar. Sian In
cepat berlari mendahului mereka, takut akan cubitan kakaknya.
Sementara itu lelaki beruban tadi juga beranjak dari tempat duduknya. Sambil
meletakkan uang perak di atas meja, ia memberi tanda kepada pemilik warung, lalu
keluar bersama temannya. "Kutitipkan kudaku di sini. Nanti aku akan kembali..." pesannya kepada pemilik
warung. Tampaknya pertunjukkan yang diadakan di halaman kabupaten itu memang telah mulai
memanas. Terutama di bagian tengah dan barat halaman, di mana panggung untuk permainan
barong-sai dan dan panggung lui-tai didirikan. Tepuk tangan, sorak-sorai dan
jeritan penonton, seakan-akan saling bersaing untuk memanaskan panggung masing-
masing. 29 Di atas panggung pertunjukan barongsai ternyata sudah mulai menginjak acara
pertandingan. Dari delapan grup barong-sai yang ikut, dua di antaranya di
nyatakan kurang memenuhi syarat dalam pertandingan babak pertama, sehingga kini
tinggal enam grup lagi yang tersisa. Dan keenam grup tersebut akan segera akan
diadu pada babak kedua. Di lain pihak di atas panggung lui-tai telah diselesaikan pula pertandingan
"memainkan jurus indah". Bahkan para pemenangnya telah diminta untuk tampil di
atas panggung untuk menerima hadiah dan piala. Mereka masih muda-muda. Dengan
piala dan hadiah di tangan mereka menyambut sorak-sorai penonton.
Pemegang pertama, seorang pemuda yang bertubuh pendek gempal, bahkan menyambut
satupersatu uluran tangan para penonton di bawah panggung.
Banyak yang merasa kagum kepadanya. Badannya yang pendek dengan otot yang
bergumpal-gumpal seperti sapi aduan itu ternyata tidak menghalangi keluwesannya
dalam memainkan jurus-jurusnya yang indah.
Tapi ketika tangannya menyambut uluran tangan seorang penonton yang berdiri
lengket di pojok panggung, tiba-tiba tubuhnya terseret ke depan, kemudian
terlempar tinggi ke udara! Demikian kuat dan kerasnya tenaga penonton yang
melemparkannya itu sehingga hadiah dan pialanya terlepas dari kepitan lengannya!
30 Semua orang seperti terpaku diam di tempat masing-masing. Apalagi ketika orang
yang melemparkan Si Juara tadi tiba-tiba melesat ke atas pula dengan tangkasnya.
Bagaikan burung elang tangannya menyambar pinggang Si Juara, sekalian dengan
piala dan hadiahnya. Selanjutnya dengan gerakan yang indah dan ringan kakinya
mendarat di atas panggung. Sama sekali tak menimbulkan suara atau goncangan pada
lantai panggung yang terbuat dari kayu itu.
Meledaklah suara tepuk tangan, membahana bagaikan mau meruntuhkan bangunan
gedung kabupaten yang besar dan megah. Dan selanjutnya dengan senyum di kulum orang itu membungkuk ke arah Si Juara yang telah dia letakkan kembali di atas panggung. Dengan senyum menggoda orang itu menyerahkan kembali piala dan hadiahnya. Wajahnya yang 31 tampan dan masih muda itu sama sekali tidak mencerminkan perasaan bersalah
terhadap lawannya. "Bangsat kurang ajar...!" dengan wajah merah padam Si Juara itu mengumpat.
Tanpa mempedulikan lagi piala dan hadiah yang dipegang lawannya Si Pemuda gempal
itu menyerang. Kaki kirinya terayun ke depan dalam jurus Mengayun Tangkai Pancing di Atas Ombak
dan yang dituju adalah kepala. Tenaganya amat kuat hingga menimbulkan suara
angin menderu-deru. "Whuuuuuuuush! Whuuuuuuuuush!"
Akan tetapi dengan gesit lawannya yang memiliki bentuk tubuh tangan bertolak
belakang dengan dirinya itu menghindarkan diri. Tubuh yang panjang kurus itu
ditekuk ke belakang, dalam jurus Tiat pan-kio atau Jembatan Besi, sehingga
tendangan ujung sepatu itu menemui tempat kosong. Selanjutnya dengan gerakan
yang semakin mempesonakan pemuda sakti itu berjumpalitan ke belakang dua kali
dalam jurus Trenggiling Turun Gunung. Pada gerakan yang terakhir kedua kakinya
mendarat persis di bibir panggung, namun demikian tubuhnya yang jangkung itu
sama sekali tak bergoyang, apalagi terpeleset jatuh.
Padahal hanya ujung sepatunya saja yang melekat di atas panggung.
Sekali lagi penonton bertepuk tangan dan bersorak-sorai! Bahkan kali ini
disertai seruan-seruan kagum!
"Bagus! Lincah benar anak itu!"
32 "Ya, hebat sekali gerakannya! Tapi sayang sekali, mengapa ia tak ikut dalam
perlombaan ini?" "Gila...! Kakinya bertengger di ujung kayu seperti burung saja!"
Dan penonton di panggung lui-tai itu pun menjadi semakin bergairah pula. Mereka
menduga kedua jago di atas panggung itu tentu akan segera berlaga.
Beberapa orang penonton berteriak-teriak memanasi Si Juara yang berbadan gempal,
agar segera menghajar Si Pemuda kurus.
Tapi penonton segera menjadi kecewa ketika belasan prajurit pengawal berloncatan
ke atas panggung dan mengepung pemuda kurus itu. Dengan garang salah seorang
prajurit maju ke depan. Tombaknya merunduk, siap untuk menembus dada Si Pemuda kurus.
"Kembalikan piala dan hadiah itu!" hardiknya keras.
"Biarkan dia menghadapi aku! Akan kucincang tubuhnya dengan kepalanku ini!"
tiba-tiba pemuda gempal itu menyibakkan kepungan dan berteriak marah.
"Tahan...!" prajurit yang garang tadi membentak.
"Kalian tidak boleh berkelahi! Belum tiba saatnya
"Pertandingan Bebas" diadakan! Tunggulah sebentar lagi! Sekarang kalian berdua
kembali ke tempat masing-masing! Dan... kau, Anak muda! Kembalikan piala itu
kepada yang berhak, atau... kau akan kami tangkap sebagai pengacau!"
33 Pemuda kurus itu menggeram. Matanya berubah menjadi liar. Tampaknya ia
tersinggung diperlakukan demikian. Namun ketika kakinya hendak melangkah ke
depan, tiba-tiba ia berpaling ke belakang, ke arah penonton yang ada di bawah
panggung, seperti ada orang yang memanggilnya.
Aneh. Mata yang liar itu tiba-tiba meredup kembali.
Bahkan sekejap kemudian dengan langkah gontai pemuda itu mengangsurkan hadiah
dan piala yang dipegangnya ke depan, ke arah prajurit yang membentaknya tadi.
Setelah itu dengan tenang dan tak berkata sepatah kata pun ia melompat turun,
kemudian menyelinap pergi di antara penonton.
"Tahan dia! Jangan boleh pergi dahulu!" seorang penonton yang berdiri tidak jauh
dari panggung itu berbisik kepada temannya.
"Baik, Su-heng!"
"Berhati-hatilah...!" Pemuda itu tampaknya menyimpan ilmu yang sulit diduga."
orang itu yang tidak lain adalah lelaki beruban di warung tadi memperingatkan
pula. Sementara itu dari tempat yang agak jauh Sin Lun dan kedua sumoinya juga
menyaksikan keributan tersebut.
"Bukan main! Berani benar pemuda itu memamerkan kepandaiannya di tempat seperti
ini. Apakah ia tidak memikirkan jago-jago silat yang tentu bertebaran di sekeliling
panggung?" Sin Lun berdesah dengan nada sedikit geram.
34 "Tapi ginkangnya memang hebat, Su-heng. Kita bertiga mungkin belum bisa
menandinginya...." Ciu In menyahut perlahan.
"Huh, siapa bilang..." Aku berani diadu melawan dia! Belum tentu ia mampu
menghadapi ginkang aliran...." Siau In menyela dengan suara penasaran.
"Siau In!" Ciu In buru-buru memotong perkataan adiknya. "Jangan takabur! Ingat
pesan Suhu...." Wajah yang cantik dan bersemangat itu tiba-tiba berubah menjadi cemberut. "Ya-
ya, deh... aku salah!"
sungutnya kesal. Demikianlah, keributan kecil itu akhirnya mereda juga. Di atas panggung telah
dipersiapkan acara selanjutnya, yaitu "Perlombaan Mengangkat Arca".
Sebuah acara baru yang diadakan oleh kerajaan, dan diselenggarakan serentak di
seluruh negeri. Acara itu telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya, dengan melibatkan banyak
petugas dan utusan dari kota raja. Mereka adalah petugas-petugas khusus yang
disebar ke setiap kabupaten dengan tanggung jawab yang amat rahasia, yang tak
seorang pun boleh mengetahuinya. Bahkan para pejabat daerah yang mereka datangi
seperti para Bupati pun tidak diperbolehkan mengorek rahasia dari mereka.
Dan para utusan khusus itu rata-rata adalah anggota dari Pasukan Pengawal
Istana, Pasukan Sandi, atau Pasukan Khusus yang amat terkenal di kota raja.
Meskipun persiapan untuk melaksanakan
"Perlombaan Mengangkat Arca" itu terasa aneh dan 35
menimbulkan banyak pertanyaan di hati para pejabat daerah, namun persiapan
tersebut berjalan terus. Pendaftaran peserta telah dimulai jauh-jauh sebelumnya. Dengan alasan mencari
bibit unggul untuk Pasukan Pengawal Istana, maka peserta yang mendaftarpun
menjadi meluap. Dan semuanya hampir ditangani sendiri oleh utusan-utusan khusus
itu. Mereka yang menyeleksi dan memutuskan, apakah peserta itu memenuhi syarat atau
tidak. Karena tempat pendaftaran itu dipusatkan di rumah-rumah kediaman Bupati,
maka dapat di mengerti kalau dalam beberapa bulan itu halaman rumah para Bupati
menjadi sibuk setiap harinya.
Akhirnya setelah melalui beberapa kali pendadaran dan ujian, maka jumlah peserta
yang mendaftar di Kabupaten Hang-ciu tinggal dua puluh orang saja yang memenuhi
syarat. Dan sekarang pemuda-pemuda itu telah bersiap-siap di atas panggung untuk
mengikuti "Perlombaan Mengangkat Arca"-
"Hei, namanya saja "Perlombaan Meng angkat Arca", tapi mengapa banyak pesertanya
yang kerempeng-kerempeng begitu?" beberapa orang penonton memberi komentar.
"He-he, benar juga, ya" Bisa patah tulang-tulangnya nanti!"
Seorang remaja berotot kekar yang ikut berdesakan di antara penonton juga
menggeram menumpahkan rasa kesalnya. "Aku juga heran. Mereka banyak yang lebih
kurus dari aku, tapi mereka bisa lolos dari 36
pendadaran, sedangkan aku tidak. Apa sebenarnya yang mereka pilih?"
"Ah, mungkin tidak cuma otot saja yang mereka pilih, tapi juga bakat dan otak
encer. Kekuatan bisa dipupuk dengan latihan, tapi bakat dan otak itu merupakan


Pendekar Pedang Pelangi Karya Sriwidjono di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pembawaan sejak lahir yang tak dapat dipelajari." Lok Ma yang ternyata sudah ada
di tempat itu dan kebetulan berdiri berdekatan dengan remaja tersebut memberi
komentar, tanpa berpikir bahwa ucapannya bisa menyinggung perasaan orang.
Benar juga. Pemuda berotot kekar itu melotot matanya. Hampir saja terjadi
keributan. Untunglah A Tung yang selalu berada di samping Lok Ma cepat menyeret
sahabatnya itu ke tempat lain.
50 Pelangi 1 "Gila! Apakoh kau sudah ingin cerai dengan binimu" Jaga mulutmu kalau berbicara!
Jangan sembarangan omong di antara orang-orang kasar begini!"
"Ya-ya, maafkan aku. Aku tidak sengaja dan tidak bermaksud menyinggung
perasaannya." Mereka lalu beringsut semakin menjauhi tempat mereka tadi. A Tung khawatir
bertemu dengan pemuda kekar itu. Dan sementara itu "Perlombaan Mengangkat Arca"
telah dimulai. Di atas panggung, di depan para peserta yang berbaris menunggu
giliran, diletakkan sebuah patung besar dari Kaisar Han Kou Cou atau Kaisar Liu
Pang. Patung itu dibuat dalam 37
ukuran sebenarnya, dari batu pualam putih setinggi hampir dua meter.
Seluruh penonton di panggung lui-tai itu terdiam.
Tegang. Semuanya ingin tahu, bagaimana perlombaan yang. belum pernah mereka
lihat ini dilaksanakan. Demikianlah, kalau penonton di panggung lui-tai itu menjadi tegang, sebaliknya
penonton di panggung pertunjukan barongsai justru semakin menjadi riuh oleh
sorak-sorai mereka. Keenam grup barong-sai yang lolos di babak pertama tadi
telah mulai dipertandingkan satu sama lain. Dan yang kini sedang berlaga di atas
panggung adalah pemain barong-sai berseragam kuning emas dari Ui-thian cung
(Kampung Langit Kuning) melawan barong-sai berseragam merah darah dari Ang-lian-
pang (Perkumpulan Teratai Merah).
"Hayo cepat! Terjang saja! Jangan takut...!"
"Benar! Hayo, lemparkan si Kuning itu ke bawah!
Jangan dibiarkan beraksi di atas panggung!"
"Ah, mana mungkin si Merah itu mampu!
Gerakannya saja lamban begitu!"
"Ya-ya, si Merah tampaknya lemah kuda-kudanya!
Oho, kalau begitu hantam saja kakinya! Gasak saja lututnya! He-he-he-he...!"
"Ayo! Ayo! Ayoooooo...!" penonton pun berteriak dan menjerit-jerit semakin
keras. Jeritan dan gosokan para penonton itu semakin membakar semangat pemain
pemainnya. Mereka semakin menjadi beringas dalam memainkan barong-38
sainya. Dengan menggerakkan segala kemampuan dan kecerdikan mereka, masing-
masing berusaha mendesak atau melemparkan lawannya ke bawah panggung.
Pemain barong-sai selain dituntut untuk memiliki tubuh yang kuat, juga harus
mempunyai ilmu silat yang tinggi. Sebab untuk menggerakkan peralatan barong-sai
yang berat itu para pemainnya harus memiliki kekuatan dan tenaga dalam yang
besar. Apalagi untuk bisa bermain dengan lincah dan indah dipandang mata, otomatis para
pemainnya harus pandai mengatur langkah serta punya ilmu meringankan tubuh pula.
Oleh karena itu bisa dipastikan juga bahwa seorang pemain barong-sai tersohor
tentulah seorang jago silat ternama pula.
Kampung Ui-thian-cung terletak di tepian pantai, dan merupakan sebuah
perkampungan nelayan yang lain daripada perkampungan nelayan lainnya. Seluruh
warganya bermarga Ui dan hampir seluruh perumahannya berada di atas air. Hanya
Kepala Kampung dan keluarga-keluarga dekatnya saja yang mendirikan rumah di atas
tanah. Dan mereka itu memang merupakan tulang punggung dari seluruh keluarga Ui
tersebut. Mereka sangat disegani di daerah itu, karena mereka rata-rata memiliki ilmu
silat yang tinggi. Terutama Kepala Kampung dan keluarganya. Mereka mempunyai ilmu silat turunan
yang sangat disegani 39 lawan, yaitu Hok-mo Tung-hoat atau Ilmu Tongkat Pembunuh Iblis.
Kepala Kampung Ui-thian-cung sudah berusia tujuh puluh tahun lewat, bernama Ui
Tiam Lok. Puteranya dua belas orang, lelaki semua. Dan yang memainkan barong-sai berwarna
kuning emas itu adalah anaknya yang ke sebelas dan dua belas.
Mereka adalah Ui Kong Tee dan Ui Kiong Lam.
Demikianlah, kedua Saudara Ui itu bertarung dengan lawan mereka dari balik
barong-sainya. Mereka mengerahkan segala kepandaian mereka, karena secara kebetulan yang
menjadi musuh mereka adalah orang-orang dari Ang-lian-pang, yang tidak asing
lagi bagi mereka. Perkumpulan Ang-lian-pang adalah perkumpulan para pedagang, pemilik toko, dan
para tengkulak yang bermukim di daerah pesisir itu. Mereka itu mempunyai banyak
pengawal dan tukang pukul. Dan mereka itu memang sering berselisih dengan para
nelayan, yang dalam segala hal selalu dilindungi oleh keluarga Ui. Oleh karena
itu pertarungan kali ini lebih berarti sebagai pertarungan untuk membela
kehormatan dan harga diri daripada sebagai pertarungan untuk memperebutkan piala
kejuaraan. Maka tidaklah mengherankan apabila penonton pun terbagi menjadi dua bagian,
yaitu pendukung keluarga Ui dan pendukung keluarga Ang-lian-pang. Para nelayan
otomatis menjagoi barong-sai kuning, sedangkan para pedagang menjagoi barong-sai
merah. 40 Belasan jurus telah berlalu, akan tetapi mereka berimbang. Keduanya saling desak
mendesak. Kadang-kadang Ui bersaudara itu melancarkan serangan beruntun, susul menyusul,
sehingga pemain barongsai dari Ang-lian-pang itu terdesak sampai ke pinggir
panggung. Namun dengan kecerdikan dan keuletan mereka, pemain dari Ang-lian-pang
itu bisa meloloskan diri. Bahkan mereka kemudian ganti mencecar Ui bersaudara
itu dengan jurus-jurus mereka yang ganas.
"Koko...!" Tampaknya yang berada di dalam barong-sai merah itu Siang-hai-coa (Si
Sepasang Ular Laut) sendiri!" Ui Kiong Lam yang memegangi bagian belakang
barong-sainya tiba-tiba berseru kepada kakaknya yang berada di depan.
"Benar. Kelihatannya Hu Sing Kak kali ini benar-benar ingin menjuarai perlombaan
ini dengan mengeluarkan tangan kanannya. Kau harus hati-hati!
Awaaas! Kita harus cepat-cepat menyudahi pertarungan ini. Sesuai dengan gelarnya
kedua ular laut itu semakin lama akan menjadi semakin berbahaya. Mari kita
gunakan Barisan Ui-thian-tin...!"
Ui Kiong Tee menjawab dengan napas memburu.
"Baik, koko!" Ui Kiong Tee memancing dengan sapuan kaki ke perut lawan, sehingga pemain
barongsai lawan terpaksa meloncat mundur. Dan kesempatan yang sesaat itu
dipergunakan oleh Ui bersaudara untuk berdiri tegak menyatukan langkah mereka.
Lalu 41 sebelum lawan mereka menyadari apa yang terjadi, keduanya sudah menyerang lagi
dengan terjangan empat langkah ke depan dalam bentuk barisan Baling-baling
Berganda! Empat kali mereka berdua saling bergantian menerjang lawan, sehingga
barong-sai mereka berputar-putar ke depan seperti baling-baling!
Karena setiap serangan yang tertuju ke arah lawan itu selalu datang dari atas,
maka Siang-hai-coa yang berada di dalam barong-sai merah tersebut menjadi
kewalahan mengelakkannya. Sekali dua kali dengan kematangan perasaan mereka,
mereka bisa menghindarkan diri. Tetapi pada serangan yang ke tiga mereka
terpaksa harus menangkisnya. Dan keadaan ini sangat merugikan mereka, karena
dalam keadaan terdesak seperti itu mereka akan mengalami kesulitan apabila lawan
menyusuli dengan serangan yang lain. Dhieeees!!!
Benar juga! Ternyata serangan Ui bersaudara itu memang masih satu langkah lagi.
Maka untuk ke dua kalinya Siang-hai-coa terpaksa menangkis lagi.
Namun karena kali ini tiada waktu untuk bersiap dan mengumpulkan tenaga, maka
kekuatan dan gerakannya pun tidaklah sempurna. Akibatnya Siang-hai-coa yang
berada di depan, yang langsung menerima gempuran kaki Ui Kiong Lam! jatuh
berlutut dengan kepala barong-sai terlepas dari pegangannya!
42 Tapi pada saat yang bersamaan sebuah 1 pisau kecil melesat dari tangan Siang
hai-coa itu, dan tepat menancap di betis Ui Kong Lam!
"Aduuuh...!" Tujuh bayangan tiba-tiba melayang ke atas panggung! Mereka adalah lima orang
saudara Ui Kiong Lam, lalu kepala prajurit pengawal, dan Hu Sing Kak sendiri.
Demikian berada di atas panggung kedua belah pihak segera hendak bertempur.
Namun dengan sebat kepala pengawal itu menengahi mereka.
"Tahan...! Saudara-saudara tidak boleh berkelahi di tempat ini! Biarlah panitia
penyelenggara perlombaan ini yang mengambil keputusan atas peristiwa ini...!"
"Mereka curang! Sudah diputuskan bahwa di dalam perlombaan ini tidak
diperbolehkan membawa senjata. Kenapa Siang-hai-coa keparat itu melanggar
aturan" Kalau memang mereka menghendaki demikian, baiklah... kami pun akan
melayaninya!" teriak putera sulung keluarga Ui sambil menghunus tongkat bajanya.
"Minggir...! Minggir! Aku akan mengadili dan memutuskan pemenangnya!" ketua
pengawas perlombaan dengan tergesa-gesa meloncat ke panggung sambil berseru
lantang. "Nah, saudara-saudara harap menahan diri! Di sini bukan tempat untuk berkelahi!
Kalau saudara-saudara ingin bertempur, kami persilakan nanti di panggung lui-
tai!" kepala pengawal itu menegaskan lagi.
43 Sementara itu suara sorak-sorai penonton sudah tidak bisa dibendung lagi. Rata-
rata mereka tidak puas terhadap kecurangan Siang-hai-coa. Beberapa orang
penonton berteriak-teriak mengejek anggota Ang-lian-pang itu. Bahkan ada satu
dua orang yang mulai melemparkan batu dan sepatunya ke panggung.
Yang paling tenang tampaknya adalah penonton di panggung pertunjukan tari-
tarian. Mereka seakan-akan tidak peduli dengan keributan-keributan yang terjadi
di panggung lui-tai dan barongsai. Dengan tenang dan santai mereka menikmati
halus gemulainya gerakan para penari yang berputar-putar di atas panggung.
Mereka semua seperti terpaku dan terpesona oleh kecantikan dan kehalusan kulit
para penari yang terbungkus oleh aneka ragam warna pakaian sutera itu.
Kota Hang-ciu memang gudangnya gadis-gadis cantik di daerah pantai timur
Tiongkok. Gadisnya rata-rata berhidung mancung, mata lebih lebar, dan tulang
pipi yang tidak terlalu menonjol. Kulit mereka pun tidak begitu pucat pula,
sehingga tampak lebih segar dan merangsang dipandang mata.
"Wah-wah... cantik-cantiknya! Masa... gadis sekian banyaknya tiada satu pun yang
jelek! Hmh! Hemh!" Lok Ma yang tiba-tiba telah berada di antara penonton panggung tersebut berdesah
kagum. "Lalu... kau mau apa?" temannya menyambung.
"Hmmm... tahu begini... tahu begini, aku dulu tidak buru-buru kawin dengan
biniku." 44 "Hah..." Lalu kau mau mencari pasangan di sini"
Begitu?" "Iya! Siapa tahu rejeki nomplok?"
"Wah-wah! Kau ini memang tidak pernah berkaca diri. Gadis mana yang mau
bersanding dengan monyet melarat seperti kau ini" Ho-ho-ho-ho-ho, Lok Ma...
Lok Ma! Binimu sendiri, kalau tidak karena sudah terlanjur beranak, he-he-he-
he... berani bertaruh tentu sudah minta cerai!"
"Kurang ajar! Enak saja kau mengolok-olok aku!"
Lok Ma menggeram dan menyumpah-nyumpah.
Plok-plok-plok! Plok-plok-plok!
Terdengar riuh suara tepuk tangan penonton di panggung lui-tai. Peserta nomer
sepuluh telah berhasil mengangkat arca Kaisar Han Ko Cou. Kini peserta yang ke
sebelas maju ke depan dan berdiri di depan arca.
Mula-mula pemuda itu membungkukkan tubuhnya, lalu bergeser selangkah ke samping
kiri arca. Kemudian dengan lengan kanannya pemuda itu merangkul kaki arca, untuk seterusnya
mengangkat arca tersebut perlahan-lahan. Rasanya enteng saja dan tidak banyak
membutuhkan tenaga. Penonton bertepuk tangan menyambut keberhasilan peserta ke sebelas itu. Pemuda
itu lalu turun, dan panitia perlombaan segera memanggil peserta berikutnya.
Pemuda tinggi besar berkulit hitam melompat ke atas panggung. Setelah memberi
hormat ke arah pendapa pemuda itu lalu berlutut di depan arca, 45
seperti layaknya seorang hamba sahaya menghaturkan sembah kepada rajanya.
Setelah itu dia berjalan melingkar ke belakang arca, menekuk lututnya, merangkul
kaki arca dan mengangkat tinggi-tinggi ke atas kepalanya.
Tepuk tangan dan sorak-sorai pujian diberikan oleh penonton kepada pemuda tinggi
besar berkulit hitam itu. Dan pemuda itu menyambut pula pujian penonton tersebut
dengan membungkuk serta merangkapkan tangan ke segala penjuru.
Peserta ke tiga belas naik ke atas panggung.
Bertubuh jangkung kurus dengan kulit agak pucat.
Seperti para peserta sebelumnya, pemuda itu menekuk lututnya di depan arca dan
menyembah dengan cara membenturkan dahinya ke lantai panggung. Setelah itu
melangkah ke depan arca dengan lututnya.
Menyembah lagi. Lalu membalikkan badannya dan meraih kaki arca di belakangnya
dengan kedua lengannya. Sambil mengerahkan sedikit tenaga ia lalu mengangkat
arca tersebut di pungungnya.
Kembali penonton bersorak-sorai memuji tingkah laku pemuda jangkung tersebut.
Lebih meriah daripada sambutan yang diberikan kepada peserta sebelumnya.
Pemuda berotot yang tadi hampir ribut dengan Lok Ma, kelihatan menyesal dan
penasaran. "Oh! Jadi... begitukah caranya mengangkat arca"
Sebelumnya harus menyembah... berlutut... dan sebagainya?" ia bersungut-sungut.
46 Seorang laki-laki beruban yang berdiri di dekatnya menoleh dan tersenyum. "Tentu
saja, anak muda. Bukankah perlombaan ini diselenggarakan untuk mencari bibit calon pasukan
pengawal istana" Bagaimanapun juga para peserta tentu akan diuji sikap dan hormatnya pada raja."
"Tapi... tapi itu hanya sebuah patung."
-- o0d-w0o -- JILID II EKALI lagi lelaki beruban itu tersenyum.
"Nah... inilah salah satu jebakan yang dibuat oleh panitia perlombaan. Barang
itu memang S cuma sebuah patung. Tapi kenapa mesti berbentuk Kaisar Han Kou Cou
yang kita hormati" Mengapa bukan bentuk patung
yang lainnya" Nah... peserta yang cerdik tentu bisa menebak maksudnya. Dan...
inilah memang yang dicari oleh panitia perlombaan, yaitu kecerdikan! Jadi selain
berbakat, bertulang baik, cerdik, juga sikap pengabdiannya kepada raja. Kalau
semua persyaratan itu dapat terpenuhi, tentu saja peserta itu akan lulus...."
Pemuda berotot kekar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya... ya, benar...!"
ucapnya lirih penuh penyesalan.
47 "Yah, sudahlah. Kau tak perlu menyesal lagi.
Tahun depan kau bisa mencobanya kembali.
Pemuda itu tak menjawab. Wajahnya tertunduk lesu, dan untuk beberapa saat ia
terdiam seperti orang kehilangan akal. Ia baru tersadar kembali ketika para
penonton di sekelilingnya bertepuk tangan menyambut keberhasilan peserta
berikutnya. "Oh...!"!" Tiba-tiba pemuda itu berseru kaget.
Kepalanya melongok ke sana ke mari.
"Hohooho-hehe...! Kau mencari siapa, heh?"
seorang kakek berwajah menakutkan yang tahu-tahu berdiri di dekatnya bertanya
dengan suara serak. "Di-di manakah orang tua yang berada di sini tadi?"
pemuda itu bertanya pula dengan suara gemetar.
Kakek itu tertawa. Suaranya terdengar mengerikan, karena bibirnya yang lebar
dengan mulut melompong tak bergigi itu cuma bisa menciptakan suara desah napas
yang tersengal-sengal. "Apakah orang itu yang kaucari...?" sekonyong-konyong seorang pemuda menyela di
antara mereka, seorang pemuda berperawakan jangkung kurus, tangannya menunjuk ke
pohon siong besar yang tumbuh di samping pendapa.
Pemuda itu menjadi heran, karena orang yang baru saja berbicara dengan dia tadi
memang sudah berdiri di bawah pohon siong bersama orang lain. Rasanya memang
aneh. Pohon itu ada sepuluh tombak lebih jaraknya, dan untuk pergi ke sana harus
melewati kerumunan penonton yang memadati tempat itu.
48

Pendekar Pedang Pelangi Karya Sriwidjono di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Namun demikian hanya dalam sekejap orang itu telah berada di sana, dan bahkan
tanpa sepengetahuannya pula.
"Ya-ya... memang dia yang... eh"!?" Sekali lagi pemuda itu terkejut. Pemuda
jangkung dan kakek mengerikan tadi ternyata sudah tidak ada pula di sampingnya.
Rasanya seperti hantu yang dapat menghilang begitu saja.
"Ah...!" desahnya pucat dan tiba-tiba ingatannya seperti terbuka kembali.
"Pemuda itu! Bukankah dia yang membuat keributan tadi?"
Sementara itu di bawah pohon siong lelaki beruban itu masih berbicara dengan
temannya. Lelaki itu tampak sangat penasaran, sedangkan kawannya kelihatan lesu
dan kehilangan semangat. "Jadi... kau tak bisa menangkapnya" Lalu di mana dia sekarang?"
"Suheng, apa yang dikatakan Tong Tai-su memang benar. Mulai sekarang kita harus
berhati-hati. Pemuda itu sedang berusaha menyelidiki "Perlombaan Mengangkat
Arca". Kepandaiannya hebat sekali dan aku sama sekali bukan tandingannya.
Apalagi dia tidak sendirian...."
"Dia tidak sendirian" Eh, Su Hiat Hong... tolong kauceritakan saja semuanya agar
jelas!" Orang yang bernama Su Hiat Hong itu memandang ke sekelilingnya. Dilihatnya semua
orang melihat ke arah panggung dan tak seorang pun memperhatikan mereka.
49 "Baiklah, Lim Suheng, akan kuceritakan...."
Ketika berusaha mengejar pemuda pengganggu panggung lui-tai tadi, ternyata Su
Hiat Hong telah kehilangan jejak. Pemuda kurus kerempeng itu lenyap berbaur
dengan penonton yang berjubel. Walaupun Su Hiat Hong berusaha mencari, namun
pemuda itu tetap tak bisa diketemukan. Akhirnya Su Hiat Hong melangkah ke jalan,
menuju warung A Liong tadi.
Tiba-tiba mata Su Hiat Hong terbelalak. Dari jauh dilihatnya pemuda itu keluar
dari warung A Liong dan berjalan cepat ke utara. Langkahnya tampak amat tergesa-
gesa, menyelinap ke sana ke mari di antara para pejalan kaki yang lalu lalang di
jalan. Su Hiat Hong cepat mengikuti dari belakang.
Dengan berlari-lari kecil ia berusaha mendekatinya.
Tapi pemuda itu seperti merasa kalau sedang diikuti.
Satu kali kepalanya menoleh ke belakang, lalu berjalan lebih cepat lagi,
sehingga lagi-lagi Su Hiat Hong kehilangan jejak. Pemuda itu hilang di antara
kerumunan orang. Su Hiat Hong melangkah perlahan-lahan sambil berusaha menemukan kembali
buruannya. Kakinya melangkah sampai ke Pintu Gerbang kota sebelah utara, tapi
pemuda itu tetap tidak kelihattan batang hidungnya. Tak terasa kakinya melangkah
ke luar Pintu Gerbang, berjalan di atas jembatan gantung yang melintang di atas
parit besar yang mengelilingi tembok kota. Beberapa orang prajurit pengawal
pintu gerbang tampak berjaga-jaga di kanan kiri jembatan 50
tersebut. Mereka juga kelihatan santai dan bergembira meskipun harus tetap
bertugas di hari bahagia itu.
Sekali lagi Su Hiat Hong terkejut. Tak terduga matanya yang mengawasi jalan
lurus di luar tembok kota itu melihat bayangan pemuda yang diburunya.
Meskipun amat jauh, tapi mata Su Hiat Hong segera dapat mengenalnya.
Tanpa membuang waktu lagi Su Hiat Hong melompat mengejarnya. Ia tak mempedulikan
pandangan orang yang berpapasan dengannya. Tapi pemuda yang diburunya itu
sekonyong-konyong juga berlari pula. Semakin lama menjadi semakin cepat,
sehingga akhirnya mereka berdua saling berkejaran di jalanan itu.
Su Hiat Hong merasa dongkol dan penasaran.
Pemuda itu seperti mempermainkannya. Larinya kadang-kadang cepat, kadang-kadang
lambat. Apabila jaraknya terlalu jauh pemuda itu mengendorkan langkahnya. Tetapi
bila sudah dekat, tiba-tiba kakinya melompat dengan langkah yang panjang-
panjang. Semakin jauh jalan itu semakin sepi dan jelek keadaannya. Di kanan-kiri jalan
mulai terlihat semak belukar dan pohon-pohon besar. Bahkan agak jauh dari jalan
sudah terlihat hutan rimba. Tiba-tiba pemuda itu membelokkan langkahnya ke dalam
hutan, dan sedetik saja bayangannya telah lenyap.
Su Hiat Hong berbelok dan menerobos hutan itu pula. Namun beberapa saat kemudian
ia menjadi sadar, bahwa sangat berbahaya memburu musuh di 51
dalam hutan. Salah-salah dirinya bisa terjebak atau dibokong lawan dari
belakang. "Kurang ajar...!" geramnya perlahan sambil menghentikan langkah.
Dengan penuh kewaspadaan Su Hiat Hong mengawasi lebatnya semak belukar di
depannya. Hatinya benar-benar menjadi geram. Perasaannya mengatakan bahwa pemuda itu telah
tahu kalau sedang diikuti dan kini sedang berusaha mempermainkannya.
"Ah, sudahlah. Lebih baik aku kembali saja. Tak baik aku menurutkan perasaan.
Salah-salah malah bisa celaka kalau aku nekad menerobos hutan ini. Hemm, siapa
tahu anak itu sudah menunggu dan memasang jebakan di balik rimbunnya dedaunan"
Yaaah, sudahlah...."
Su Hiat Hong membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari hutan itu. Tapi baru
beberapa tindak ia berjalan, mendadak telinganya mendengar suara orang
bernyanyi. Suaranya tidak terlalu keras, namun sangat jelas ucapan maupun kata-
katanya. Diam-diam Su Hiat Hong menjadi tegang. Suara itu justru berasal dari jalan yang
dia lalui tadi. Burung kecil terbang sendiri.
Tiada kawan tiada saudara.
Menentang badai di medan laga.
Dengan cucuran darah dan air mata!
52 Su Hiat Hong berhenti beberapa tombak dari pinggir jalan. Matanya tertuju ke
sebatang pohon pek besar yang rindang di tepi jalan. Di bawah pohon itu
kelihatan seorang pemuda yang duduk melenggut sambil bernyanyi. Dan Su Hiat Hong
segera mengenalnya, karena orang itu tiada lain adalah pemuda yang diburunya.
"Gila!" Su Hiat
Hong mengumpat di dalam hati. "Bocah itu benar- benar sedang mempermainkan aku. Aku harus hati-hati. Ia seperti memiliki kepandaian yang tinggi." Selangkah demi selangkah Su Hiat Hong datang menghampiri, kemudian berhenti beberapa langkah dari pemuda itu. Pemuda itu mengangkat wajahnya dan
menghentikan nyanyiannya. Su Hiat Hong terkejut. Setelah melihat dari jarak dekat barulah ia ketahui
betapa masih mudanya orang 53
itu. Muda dan tampan, walaupun caranya berpakaian kurang rapi dan berkesan
seenaknya sendiri. "Hemm, apakah Tuan mencari aku?" dengan suara berat pemuda itu bertanya.
Pertanyaan itu membuat Su Hiat Hong menjadi gugup dan bingung, karena sebenarnya
ia juga tak tahu untuk apa mengejar pemuda tersebut. Ia cuma melaksanakan
perintah kawannya, sehingga tidak siap kalau mendadak harus berhadapan seperti
itu. "Ya-ya, benar... eh-eh, aku ingin tahu... siapa sebenarnya kau ini?"
Tak terduga pemuda itu tertawa nyaring. "Hahaha, sungguh aneh! Akulah sebenarnya
yang harus bertanya kepada Tuan, bukan sebaliknya. Tuanlah yang mengejar-ngejar
aku. Ingin bertemu atau ingin...
menangkap aku, padahal aku tidak merasa kenal dan tidak merasa mempunyai urusan
dengan tuan." Pemuda itu perlahan-lahan berdiri. Wajahnya yang agak pucat dengan pandang mata
dingin itu sungguh terasa mencekam dan menggiriskan hati. Tak terasa kaki Su
Hiat Hong melangkah setindak ke belakang.
"Tuan, aku bertanya kepadamu. Siapakah...
engkau" Mengapa engkau mengejar ngejar aku"
Jawablah!" pemuda itu mendesak dengan suara berubah kaku.
Wajah Su Hiat Hong menjadi merah.
Bagaimanapun juga ia tak ingin ditekan orang.
Apalagi ia merasa memiliki kedudukan tinggi dan mendapatkan tugas khusus dari
kota raja 54 "Ketahuilah, Anak muda. Aku seorang utusan dari kota raja, yang menangani urusan
"Perlombaan Mengangkat Arca" di kota Hang-ciu ini. Nah, engkau tadi telah
membuat ribut di atas panggung. Itulah sebanya aku mengejarmu. Pahamkah kau
sekarang?" Su Hiat Hong balas menggertak.
Pemuda itu tertegun. "Oh, jadi Tuan adalah petugas khusus dari kota raja" Wah-
wah, maafkanlah aku Ciang-kun. Mataku benar-benar buta, tak bisa melihat gajah
di depan hidung...." katanya kemudian sambil membungkukkan tubuh.
Su Hiat Hong mendengus dan tak mempedulikan sikap lawannya, la tahu pemuda itu
cuma berbasa-basi saja. la melihat senyum tipis di bibir pemuda itu.
"Engkau tak perlu berbasa-basi, apalagi menyebut Ciang-kun kepadaku. Aku hanya
seorang utusan, jadi belum tentu aku ini seorang perwira. Bukankah aku tidak
mengatakannya kepadamu?"
Mata yang dingin tajam seperti mata burung hantu itu mendadak berubah menjadi
liar, seperti layaknya burung hantu kalau lagi marah. Otomatis kaki Su Hiat Hong
melangkah lagi setindak ke belakang.
Namun sekejap kemudian mata itu menjadi tenang kembali. Bahkan dari hidung
pemuda itu terdengar suara tarikan napas yang panjang sekali.
"Ah, Ciang-kun... kau tak perlu berbohong kepadaku. Rasanya semua orang juga
bisa menebaknya, karena seorang yang mendapatkan kepercayaan dari kota raja
untuk mengatasi jalannya 55
perlombaan penting itu tentulah bukan petugas berpangkat rendah. Dan khusus
untuk "Perlombaan Mengangkat Arca", yang konon diselenggarakan untuk mencari
bibit bibit Pasukan Pengawal Istana, tentunya utusan yang dikirim juga dari
kalangan pasukan istana, bukan?"
Su Hiat Hong menghela napas panjang melihat kecerdikan lawannya. Ia semakin
berhati-hati menghadapi pemuda itu.
"Terserah kepadamu. Aku tak ingin berbantah tentang hal ini. Sekarang katakan
saja kepadaku, siapakah namamu" Darimana asalmu" Dan apa maksudmu membuat ribut
di panggung tadi?" Pemuda itu menengadahkan kepalanya, lalu tersenyum, sehingga seorang perwira
kerajaan yang memiliki banyak pengalaman seperti Su Hiat Hong pun tidak bisa
menebak apa yang sedang berkecamuk di dalam hati pemuda aneh itu.
"Baiklah, Ciang-kun, akan kujawab pertanyaanmu, walaupun sebenarnya aku tak
menyukainya. Aku hanya berharap bahwa Ciang-kun nanti juga akan mau. menjawab
pertanyaanku pula." "Asalkan aku bisa menjawab dan tidak bertentangan dengan rahasia negara, aku
tentu akan menjawabnya...."
Sekali lagi pemuda itu menentang mata Su Hiat Hong dengan tajam. "Ci-angkun,
namaku Tong Sia... Chin Tong Sia. Aku adalah anggota Aliran Beng-kau yang berpusat di kota Sin-
yang!" 56 Jawaban itu benar-benar mengejutkan Su Hiat Hong. Banyak sekali aliran keagamaan
yang tumbuh dan berkembang pesat pada saat itu, tapi hanya beberapa aliran saja
yang benar-benar besar, terkenal dan disegani orang, yaitu Aliran Mo-kau, Im-
yang-kau dan Beng-kau! Selain mempunyai anggota yang amat banyak dan tersebar di
seluruh pelosok negeri, ketiga aliran agama itu memiliki banyak tokoh-tokoh
sakti di dalamnya. Namun demikian dari ketiga a-liran itu Beng-kau - lah yang
paling banyak dipergunjingkan orang. Selain para penganutnya sangat tertutup,
aliran itu juga memiliki adat kebiasaan dan aturan-aturan yang aneh, yang tidak
lazim dilakukan oleh masyarakat umum.
"Tapi aku mendengar bahwa setiap anggota Aliran Beng-kau menggunakan nama dengan
huruf 'PUT' di depannya."
"Benar. Setiap anggota Aliran Beng-kau yang sudah menyelesaikan pengabdian
wajibnya selama sepuluh tahun, dan kemudian dianggap telah mampu menyebarkan
pengaruh serta mendapatkan kepercayaan dari para sesepuh kami, maka akan
memperoleh sebutan 'PUT' di depan namanya."
"Apakah kau juga sudah mendapatkan sebutan itu?"
Pemuda itu mengangguk. "Nama lengkapku sekarang adalah Put-tong-sia!"
"Baiklah...." Su Hiat Hong mendesah. "Sekarang katakan yang sebenarnya, apa
maksud dan tujuanmu membuat keributan di atas panggung tadi?"
57 Wajah pemuda itu tampak tegang kembali.
Matanya kelihatan menyala, sementara giginya terkatup rapat.
"Aku tak menyukai "Perlombaan Mengangkat Arca" itu! Aku merasa ada sesuatu yang
kotor di balik penyelenggaraannya. Aku tak percaya kalau perlombaan itu
dikatakan untuk memperoleh bibit-bibit unggul bagi Pasukan Pengawal Istana!
Semuanya bohong!" Put-tong-sia berkata dengan suara berapi-api.
Su Hiat Hong tersentak kaget. "Apa maksudmu...?"
Sekali lagi pemuda itu menggertakkan giginya.
"Maksudku" Hmh, maksudku ... perlombaan itu cuma kedok belaka! Ada maksud
tertentu di balik semuanya itu! Maksud-maksud kotor yang dibuat dan direncanakan
oleh oleh orang-orang atau pihak-pihak tertentu di istana kerajaan! Memang,
sampai saat ini aku belum dapat membuktikannya...."
"Pu-tong-sia! Kau jangan omong sembarangan!
Kau berhadapan dengan petugas kerajaan di sini, bahkan seorang petugas khusus
dari istana di kota raja! Kau bisa dianggap sebagai pemberontak dan dapat
ditangkap! Tahu...?" Su Hiat Hong membentak.
Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak takut.
Kakinya justru melangkah dua tindak ke depan.
Sikapnya pun berubah menjadi dingin dan kaku.
"Persetan dengan ancaman itu! Aku tidak takut!"
ucapnya tegas. 58 "Gila...!" Su Hiat Hong menggeram melihat kekerasan lawannya. "Apa sebenarnya
alasanmu" Mengapa kau mempunyai dugaan seperti itu?"
Put-tong-sia tidak segera menjawab. Matanya yang mencorong liar itu menatap Su
Hiat Hong dengan tajamnya.
"Ciang-kun, kau tak perlu bersandiwara di depanku.
Sebagai utusan langsung dari kota raja, kau tentu mengetahui rahasia di balik
penyelenggaraan Perlombaan Mengangkat Arca ini. Nah, sekarang katakanlah...!"
Su Hiat Hong terkesiap. Hatinya tiba-tiba berdesir keras. Sejak semula ia memang
curiga akan keanehan dan keganjilan cara pelaksanaan Perlombaan Mengangkat Arca
itu. Tidak sewajarnya kalau perlombaan seperti itu sampai harus melibatkan
petugas-petugas khusus dari kota raja, bahkan dengan cara rahasia pula,
sementara para pejabat daerah yang seharusnya lebih tahu dan lebih bertanggung
jawab tidak diikut-sertakan. Tapi sebagai petugas dia memang tak bisa berbuat
apa-apa. Ia dan kawan-kawannya, seperti Lim Kok Liang dan Tong Tai-su, hanya
melaksanakan tugas saja. "Ciang-kun, mengapa kau tak menjawab?"
Su Hiat Hong menghela napas berat "Ah, kukira kau telah salah menduga Put-tong-
sia. Tak ada rahasia apa pun di balik Perlombaan Mengangkat Arca itu.
Percayalah!" katanya meyakinkan seperti diucapkan kepada dirinya sendiri.
59 Tiba-tiba Put-tong-sia tersenyum dingin.
"Benarkah, Ciang-kun" Kau berani bersumpah"
Hemmm... Ciang-kun, kau memang keras kepala. Aku tahu bahwa kau tidak berkata
sejujurnya. Dari caramu berbicara saja aku dapat menduga bahwa kau berbohong.
Nah, Ciang-kun... jangan salahkan aku kalau aku terpaksa menggunakan kekerasan
untuk memaksamu berbicara!"
Bagaimanapun Su Hiat Hong adalah seorang perwira. Hatinya menjadi panas juga
didesak orang sedemikian rupa. Apa lagi orang itu cuma seorang bocah yang belum
ia ketahui kemampuannya. Jelek-jelek ia bukan tokoh sembarangan di kota raja. Di
kalangan para perwira Pasukan Rahasia, ilmu pedangnya Sin-ho-kiam hoat (Ilmu
Pedang Bangau Sakti) belum pernah ada yang mengunggulinya.
"Huh, bagus... kau benar-benar ingin memberontak?" Su Hiat Hong menggeram seraya menghunus pedangnya.


Pendekar Pedang Pelangi Karya Sriwidjono di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Put-tong-sia meringis seperti mau mencemooh ancaman itu. Tanpa berkata-kata lagi
tangan kanannya menyambar ke depan untuk merebut pedang lawannya. Gerakannya
cepat bukan main sehingga Su Hiat Hong tersentak kaget dan buru-buru bergeser
selangkah ke belakang Kemudian dengan terburu-buru pula pedang itu diputarnya di
depan dada untuk menahan serangan selanjutnya.
60 Ternyata pemuda itu tidak melanjutkan serangannya. "Ayoh, Ciang-kun,
balaslah...! Kenapa diam saja?"
"Gila! Mengapa kau tak mengeluarkan senjata"
Apa kau merasa lebih hebat daripada aku?"
"Hoho-haha-hihihi...!" Tiba-tiba Su Hiat Hong dikejutkan oleh suara tawa yang
menggema di antara pepohonan di tempat itu.
"Suheng...! Mengapa kau ikut kemari?" Put-tong-sia berseru.
"Apa tak boleh, heh" Kau tinggalkan aku di halaman kabupaten itu sendirian! Huh,
sementara kau di sini bersenang-senang main kejar dan sembunyi!
Nah, sekarang aku ikut! Carilah tempat persembunyianku, hoho-haha-hihihi...!"
Diam-diam bergetar juga hati Su Hiat Hong. Dari getaran suaranya yang kuat dan
mantap, serta sulit dicari arah sumbernya itu, ia bisa menduga bahwa pemilik
suara tersebut tentu telah mencapai kesempurnaan di dalam ilmunya. Celakanya,
orang itu tampaknya berada di pihak lawan.
"Ah, aku sedang tidak ada waktu. Lebih baik Suheng bermain sendiri."
"Kurang ajar, enak saja kau bicara! Masakan orang bermain sembunyi dan kejar-
kejaran hanya sendirian saja" Kau-kira aku sudah gila, ya" Ayoh, cari aku!
Kalau tidak mau, hmmh... kubunuh kau!" suara itu mengancam.
61 "Edan!" Su Hiat Hong menggerutu sambil mencari-cari di mana sumber suara itu
berasal. "Orang-orang Beng-kau memang tidak waras semuanya...."
"Tapi aku akan berkelahi dulu dengan orang ini...."
sungut Put-tong-sia dengan nada kesal.
"Aku tak peduli! Pokoknya kau harus menemukan tempat persembunyianku! Kalau
tidak, kubunuh kau! Habis perkara!" suheng Pu-tong-sia yang tidak mau menampakkan diri itu berteriak
marah. "Baik... baiklah, Suheng, aku akan mencarimu.
Tapi... apa hadiahnya kalau kau bisa kutemukan, hei?"
Put-tong-sia buru-buru mengalah begitu suhengnya marah.
"Kau akan kugendong sampai ke kota apabila bisa menemukan aku."
"Ah, tidak mau! Masakan cuma digendong hadiahnya?"
"Lho..." Apalagi" Bukankah enak sekali digendong orang?"
"Huh... apa enaknya digendong" Aku sudah kenyang dan bosan kaugendong."
"Lalu kau minta hadiah apa, anak tolol?"
"Ajari aku jurus "Menerobos Lobang Pintu Jala"
kebanggaanmu itu! Bagaimana?"
"Bocah Goblok! Pemalas! Tolol! Bukankah setiap hari aku dan Susiok sudah
mengajarimu" Otakmulah yang tumpul sehingga jurus itu tidak bisa kau kuasai
dengan baik!" 62 Put-tong-sia tidak menjadi marah oleh maki-makian itu. Mulutnya justru tertawa,
sementara matanya memandang berkeliling, mengawasi pucuk-pucuk pepohonan yang
bergoyang-goyang. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada kawanan lebah yang
beterbangan di sekeliling pohon si-ong tua di pinggir jalan. Dan di lain saat
suara tertawanya menjadi semakin keras dan nyaring.
Begitu tawanya berhenti Put-tong-sia menatap Su Hiat Hong kembali. "Maaf, Ciang-
kun, ternyata Suhengku datang mengganggu permainan kita. Tapi Ciang-kun tak
perlu khawatir, dia takkan mencampuri urusan ini. Percayalah....!"
"Aku tidak perduli! Kalau perlu dia boleh manju sekalian mengeroyokku!"
"Ah, kukira tidak perlu, Ciangkun. Kau bisa repot melayaninya nanti. Bahkan
tidak cuma kau, seluruh pasukanmu di kota raja akan menjadi repot bila
berhadapan dengannya. Kau sudah mengenal Suhengku, Ciangkun?"
"Buat apa aku mengenal Suhengmu" Apakah namanya begitu hebat dan terkenal di
dunia persilatan?" Su Hiat Hong mendengus.
Put-tong-sia tersenyum dan sama sekali tidak merasa tersinggung atas sikap
lawannya. "Ah, Suhengku memang tidak punya nama besar di dunia kang-ouw. Nama
Put-pai-siu Hong-jin (Si Gila Yang Tak Tahu Malu) memang cuma dikenal oleh jago-
jago silat kampungan...."
63 "Put-pai-siu Hong-jin...?" Su Hiat Hong berdesah kaget.
Aliran Beng-kau memang sangat tertutup sehingga tokoh-tokohnya tidak banyak
dikenal orang, kecuali nama Put-pai-siu Hong-jin tersebut. Nama itu dikenal oleh
hampir setiap tokoh persilatan, meskipun banyak di antara mereka yang cuma
mendengar nama itu tanpa pernah melihat wajah pemiliknya. Mereka hanya mendengar
sepak terjang tokoh itu yang angin-anginan, suka membawa adatnya sendiri, namun
memiliki kesaktian yang amat tinggi, sehingga orang menjadi segan berurusan
dengannya. "Ah, tampaknya Ciangkun pernah mendengar nama itu?"
"Ya-ya, aku... aku pernah mendengarnya." Su Hiat Hong menjawab gugup.
"Hei, Sute! Bagaimana..." Kau mau tidak?" suara teriakan Put-pai-siu Hong-jin
kembali terdengar. Keras sekali, tapi Su Hiat Hong tetap tidak bisa mencari sumber suara itu.
"Pokoknya... Suheng mau mengajari jurus
"Menerobos Lobang Pintu Jala" tidak?" Put-tong-sia balas berteriak.
"Baik! Baik Cepatlah! Tapi kalau sampai tiga kali kuajari kau tetap tidak bisa,
kuketok kepalamu sampai benjol! Ayoh, sekarang cari aku!"
Put-tong-sia memandang Su Hiat Hong. "Ciangkun, apakah kau sudah tahu tempat
persembunyian Suhengku?"
64 "Huh!" Perwira itu mendengus tanpa menjawab.
Put-tong-sia tertawa kecil. Tiba-tiba ia berpaling ke pohon siong tua yang
tumbuh di dekat jalan. "Nah, Suheng, kau turunlah dari pohon siong itu!
Hati-hati, di dekatmu ada sarang lebah! Kau bisa dikeroyok bila menyentuhnya!"
Su Hiat Hong terkejut. Ia sama sekali tak melihat bayangan manusia di balik
rimbunnya daun pohon siong tersebut. Namun rasa kaget segera berubah menjadi
rasa penasaran, karena orang itu benar-benar bersembunyi di sana.
"Kurang ajar...! Bagaimana kau bisa tahu aku bersembunyi di sini?"
Pohon itu bergoyang-goyang, tapi Put-pai-siu Hong-jin tetap tidak mau
menampilkan dirinya. Hanya kawanan lebah saja yang semakin banyak beterbangan di sekeliling pohon
itu. "Ah, tololnya aku!" Su Hiat Hong berdesah di dalam hati mengumpati kebodoh
annya. Ternyata Put-tong-sia lebih cerdik daripada dia. Pemuda itu bisa menebak
persembunyian suhengnya karena melihat gerakan kawanan lebah tersebut.
"Nah kau telah kalah bertaruh lagi, Suheng!" Put-tong-sia berseru.
"Anak Iblis! Belut Licin! Bocah Cerdik! Kawanan lebah ini memang menjengkelkan!"
akhirnya Put-pai-siu Hong-jin mengumpat-umpat pula setelah mengetahui penyebab
kekalahannya. 65 "Suheng tak perlu marah-marah, hehe he! Sekarang tunggu saja di situ, aku akan
melayani Ciangkun ini dahulu!"
Su Hiat Hong cepat melintangkan pedangnya di depan dada. Sambil merendahkan
tubuh ia bersiap siaga menghadapi lawannya. "Ayoh, keluarkan saja senjatamu...!"
geramnya. Tapi dengan sikap yang masih tetap santai Put-tong-sia mengelengkan kepalanya.
"Ciangkun, tampaknya kau belum mengenal Aliran Beng-kau, sehingga tak tahu kalau
anggota Beng-kau tak pernah membawa senjata. Senjata mereka adalah tubuhnya.
Tangannya, kakinya, dan... pakaian yang dikenakannya."
Wajah Su Hiat Hong menjadi merah. "Terserah kepadamu! Tapi jangan salahkan aku
bila pedangku ini tak bisa kauelakkan!"
"Hahahah, kita lihat saja nanti! Nah, mari kita mulai...!"
Begitu selesai berbicara Put-tong-sia segera meloncat ke depan. Tangan kanan nya
menyambar ke atas, seolah-olah mau meraih ubun-ubun Su Hiat Hong, hingga perwira
dari istana itu buru-buru menyong songnya dengan sabetan pedang. Wuuut!
Terpaksa Put-tong-sia menarik kembali tangannya.
Dan Su Hiat Hong tidak mau kalah cepat.
Sementara lawannya menarik tangan, pedangnya segera memburu dengan tusukan ke
arah badan bagian atas. Ujungnya bergetar, seakan-akan ingin memilih 66
sasaran yang dipilihnya, yaitu mata, leher, atau jantung! Jurus ini disebut
Burung Bangau Mematuk Ikan, jurus ke tujuh dari Sin-ho Kiam-hoat.
"Oh, ternyata bagus juga ilmu pedangmu..."
Sambil memuji Put-tong-sia menggeliatkan tubuhnya ke kanan untuk menghindar,
sekaligus balik menyerang dengan totokan ujung jarinya. Cussssss!
Hembusan angin panas menyertai serangan tersebut, tertuju ke arah pergelangan
tangan Su Hiat Hong yang memegang pedang!
Terkesiap juga Su Hiat Hong menyaksikan kesigapan lawannya, apalagi hembusan
hawa panas itu. Bergegas ia menarik tubuhnya ke belakang, lalu memutar pedangnya
untuk melindungi pergelangan tangan. Cring...!
Ujung jari Pu-tong-sia yang berubah seperti tongkat baja itu membentur badan
pedang Su Hiat Hong. Demikian keras dan kuatnya sehingga pedang itu hampir terlepas dari genggaman.
Untunglah perwira itu cepat mengerahkan tenaga untuk
mempertahankannya. Pengalaman itu membuat Su Hiat Hong semakin berhati-hati. Dia sadar bahwa
lawannya memiliki kepandaian sangat tinggi. Oleh karena itu Su Hiat Hong tidak
ingin mengulur-ulur waktu lagi, ia segera mengerahkan seluruh kemampuannya.
Dikeluarkannya jurus-jurus Sin-ho Kiam-hoat yang paling dia andalkan.
67 Pedang itu berputar dengan cepat membentuk lingkaran, semakin lama semakin
membesar. Berbareng dengan itu Su Hiat Hong menerjang ke depan, seolah-olah mau mencincang
tubuh Put-tong-sia. Terdengar gaung suara pedang itu menembus angin.
Karena tidak memegang senjata, Put-tong-sia terpaksa melompat ke belakang.
Tapi pedang itu terus mengejarnya, sehingga Put-tong-sia harus menghindarinya
dengan melenting tinggi ke udara untuk mematahkannya. Huuup!
Seperti yang dilakukan di atas panggung tadi, Put-tong-sia berjungkir balik di
udara beberapa kali. Lagi-lagi serangan Su Hiat Hong gagal menyentuh lawan. Bahkan kedudukannya
justru berbalik menjadi berbahaya sekarang. Dari atas Put-tong-sia menjejakkan
kakinya ke bawah untuk menggempur kepalanya.
"Bagus...!" Su Hiat Hong berdecak kagum seraya membanting tubuhnya ke tanah dan
menggelinding pergi menjauhi lawan.
Put-tong-sia mendarat kembali di atas tanah, sedangkan Su Hiat Hong cepat
berdiri pula di atas kakinya. Mereka kembali berhadapan dalam jarak lima
langkah. Masing-masing mempersiapkan dirinya.
"Bagus! Lihat pedang...!" Su Hiat Hong berseru keras dan mendahului menyerang.
Put-tong-sia atau nama sebenarnya adalah Chin Tong Sia itu cepat mengelak
kemudian balas 68 menerjang dengan jari-jarinya yang ampuh. Sekejap saja mereka segera terlibat
dalam pertarungan seru. Su Hiat Hong dengan pedangnya yang panjang, sementara
Put-tong-sia bergerak lincah dengan ginkangnya yang tinggi.
Sin-ho-kiam-hoat memang memiliki jurus-jurus yang kuat dan berbahaya. Meskipun
inti gerakannya lebih banyak bertumpu pada pertahanan, namun sekali waktu juga
dapat menyerang dengan ganas. Gerakan kakinya tidak begitu banyak bahkan tampak
sangat sederhana. Demikian pula dengan gerakan- gerakan tangan nya. Pedang itu lebih banyak dipergunakan untuk melindungi tubuh daripada untuk menyerang. Hanya sekali-kali saja ujung pedang itu mematuk lawan. "Wah... ilmu pedangnya lumayan juga! Sayang gerakannya terlalu lamban!" tiba-tiba Put-pai-siu Hong-jin memuji dari tempat
persembunyiannya. 69 "Benar, Suheng! Kuda-kudanya juga kurang kokoh...!"
Dapat dibayangkan betapa murkanya hati Su Hiat Hong. Lawannya yang masih muda
dan bertangan kosong itu tampaknya amat memandang rendah ilmu pedangnya.
"Bangsat sombong! Buktikan dulu, baru bicara!
Jangan banyak omong!"
"Haha-haha-haha,..! Suheng, kau membuatnya marah!" Put-tong-sia tertawa sambil
menghindar sabetan pedang lawan.
Put-pai-sui Hong-jin tertawa terkekeh-kekeh, namun tidak meneruskan ejekannya.
Dari sela-sela tawanya justru terlontar sebuah pantun acak-acakan yang
disuarakan dengan nada sumbang.
Tikus kecil mandi di sungai.
Bulunya jelek, merah tak merata.
Aduhh Mak......! Gadis manis mandi di pantai.
Tubuhnya molek, indah dipandang mata.
Tubuh Chin Tong Sia atau Put-tong-sia berkelebatan ke sana ke mari untuk
menghindari pedang Su Hiat Hong, meskipun demikian ia masih sempat mendengarkan
pantun suhengnya. "Jorok...! Suheng jorok! Pantun yang jelek!"
serunya kurang senang, lalu ikut-ikutan berdendang dengan sajaknya sendiri.
70 Tikus kecil mandi di sungai.
Bulunya jelek, merah tidak merata.
Bujang kecil berurai air mata.
Wajahnya jelek, orang tua tiada.
Ooooh, nasib...... ! "Wah, bosan! Benar-benar membosankan! Sejak zaman purbakala pantunmu melulu yang
sedih-sedih saja! Apakah kau tidak punya hapalan yang lain lagi, heh, .,.?"
tiba-tiba Put-pai-siu Hong-jin marah-marah.
"Biar! Memangnya kenapa" Yang penting aku sendiri senang!" Chin Tong Sia
membantah. Lalu menyanyikan lagunya lagi. Bahkan lebih keras.
Tikus kecil mandi di sungai.
Bulunya jelek merah tak merata.
Aduuuh Mak......f "Berhenti! Berhentiiiiii...! Mau berhenti tidak"
Kubunuh kau nanti!" Put-pai-siu menjerit berang.
Tangannya meraup daun pek di dekatnya.
Tapi Chin Tong Sia tetap tak peduli. Sambil melayani serangan Su Hiat Hong ia
tetap menyanyikan pantunnya yang sedih. Tentu saja Putpai-siu Hong-jin benar-
benar menjadi jengkel. Daun yang tergenggam di tangannya disambitkan ke bawah,
ke arah Chin Tong Sia. Siiuuut! Siuuut! Siuuut! 71 Meski daun itu hanya benda yang tipis dan ringan, tapi begitu terlempar dari
tangan Put-pai-siu Hong-jin, bisa meluncur deras bagai pisau terbang, menebas ke
arah bagian-hagian berbahaya di tubuh sutenya.
Tentu saja Chin Tong Sia terkejut sekali. Pukulan-pukulan tangannya yang
sebenarnya sedang mendesak Su Hiat Hong, terpaksa ditariknya kembali. Tubuhnya
yang kurus itu terpaksa melenting ke sana ke mari untuk menghindarkan diri dari
keganasan daun-daun pek yang berbahaya.
Dan kesempatan ini tak disia-siakan oleh Su Hiat Hong. Perwira pasukan rahasia
kerajaan itu cepat melompat meninggalkan pertempuran. Dengan tangkas kakinya
berlari menyusuri jalan yang menuju ke kota Hang-ciu.
"Berhenti...!" Chin Tong Sia berteriak. Kakinya menjejak tanah, dan tubuhnya
meluncur ke depan dengan cepatnya.
Tapi lagi-lagi Puit-pai-siu Hong-jin menaburkan daunnya. Kali ini bahkan lebih
banyak lagi. Semuanya menerjang ke tempat-tempat yang mematikan di badan
sutenya. "Suheng, kau...! Apa maumu sebenarnya?" pemuda itu menjerit marah. Otomatis


Pendekar Pedang Pelangi Karya Sriwidjono di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

langkahnya tertunda, sehingga sekejap kemudian buruannya telah hilang di balik
tikungan. "Habis, kau telah membajak laguku! Kau ubah pula! Mana aku mau mengerti, heh"
Minta maaf dulu kepadaku, baru aku mau berhenti menyerangmu!"
72 Chin Tong Sia mati-matian mengelakkan serangan suhengnya. Setelah itu ia berdiri
tertegun mengawasi Put pai-siu Hong-jin yang sudah turun pula dari pohon pek.
Perlahan-lahan kejengkelan pemuda itu mereda.
Suhengnya telah kumat gendengnya., Kalau dilayani tentu tidak akan ada henti-
hentinya. "Baiklah, Suheng. Aku mengaku salah. Aku tak akan membajak pantunmu lagi. Hah,
sekarang marilah kita mengejar perwira itu tadi!"
"Ho-ho-ho-ho, enak saja. Kau tentu tidak bersungguh-sungguh meminta maaf
kepadaku. Di dalam hatimu kau tentu mentertawakan aku. Heh-heh, kau belut kecil
ini memang sangat cerdik dan lincah sekali. Jangan harap kau bisa mengakali aku.
Aku sudah hapal watakmu luar- dalam, heh-heh. Aku yang mengasuh dan mendidikmu
sejak bayi...." Chin Tong Sia tersenyum sambil menghela napas panjang. Perasaan jengkelnya sudah
hilang. Sebenarnya ia sangat hormat dan sangat sayang kepada suhengnya itu. Suhengnya
itulah yang merawat, mengasuh dan mendidiknya sejak kecil.
Bahkan ilmu silatnya pun sebenarnya sebagian besar adalah hasil didikan suheng-
nya itu. Memang tampangnya amat menyeramkan, dan tindak-tanduk atau perilakunya
seperti orang gila, tapi sebenarnya dia benar-benar waras dan cerdik luar biasa.
Ilmu silatnya pun paling tinggi di .antara tokoh-tokoh Beng-kau sekarang.
Gurunya sendiri, yang kini sudah mengasingkan diri di ruang semedi, mengakui 73
kehebatan ilmu suhengnya itu. Dialah satu-satunya tokoh Beng-kau yang mampu
mendalami serta menghayati betul ilmu rahasia Aliran Beng-kau, yaitu Chou-mo-
ciang (Tangan Menangkap Setan).
"Lalu... apa yang harus kulakukan agar kau percaya kepadaku, Suheng?"
Put-pai-siu Hong-jin menghampiri Chin Tong Sia, lalu merangkul pundaknya. Sambil
tertawa terkekeh-kekeh ia berkata lucu, "Tentu saja kau harus menyanyikannya
dulu dengan betul, heh-heh-heh..."
Demikianlah, sambil menyanyikan pantun ciptaan Put-pai-siu Hong-jin tadi, Chin
Tong Sia dan suhengnya berjalan bersama-sama ke kota Hang-ciu kembali. Mereka
sama sekali tidak gentar menghadapi para pengawal yang tentu akan menangkap
mereka di kota nanti. -- o0d-w0o -- "Jadi... pemuda itu dari aliran Beng-kau?" Lelaki beruban atau Lim Kok Liang itu
menegaskan. "Ia memang berkata demikian. Mengapa...?" Su Hiat Hong bertanya pula.
Lim Kok Liang mengerutkan dahinya yang lebar.
"Gawat! Kalau orang-orang kang-ouw (rimba persilatan), apalagi aliran-aliran
ternama seperti Bengkau, sudah ikut campur tangan dalam masalah ini, keadaannya
akan menjadi gawat!"
74 "Tapi mereka cuma seorang anak muda yang masih ingusan dan seorang lelaki tua
gila yang tak perlu ditakutkan, Suheng."
"Huh, kau sungguh bodoh! Kalau benar apa yang kaulihat dan kaudengar tadi, orang
berwajah menyeramkan dan bernama Put-pai-siu Hong-jin adalah tokoh ternama dari
aliran Beng-kau. Dia adalah kakak seperguruan Put-sim-sian (Dewa Tak
Berperasaan), pejabat ketua aliran Beng-kau sekarang."
"Oh! Dan... pemuda itu, kalau begitu dia juga adik seperguruan Ketua Aliran
Beng-kau itu!" Su Hiat Hong berdesah gagap.
"Mungkin juga. Sudahlah, mari kita pergi ke panggung lui-tai lagi. Masalah ini
nanti kita laporkan kepada Au-yang Goanswe. Goanswe harus mengetahui masalah
ini." "Tapi... Suheng?"
Lim Kok Liang menghentikan langkahnya.
Matanya mengawasi Su Hiat Hong dengan heran.
"Ada apa...?" "Anu... apakah Suheng tahu tentang masalah yang membuat curiga orang-orang Beng-
kau itu" Maksudku... maksudku, apakah memang benar ada sesuatu yang tidak beres pada
acara perlombaan yang diselenggarakan oleh kerajaan ini?"
Lim Kok Liang tertegun. Matanya semakin tajam mengawasi Su Hiat Hong. Tapi
beberapa saat kemudian mata itu perlahan-lahan menunduk, bahkan 75
perwira itu lalu menghela napas panjang sekali.
Kakinya kembali melangkah perlahan-lahan. Su Hiat Hong segera mengejarnya.
"Bagaimana, Suheng?"
"Mengapa kautanyakan hal itu" Kita cuma seorang perwira dari pasukan rahasia,
yang diperbantukan kepada Au-yang Goan-swe. Tugas kita hanyalah melaksakan
perintah yang diberikan oleh beliau. Perlu apa kita mencari tahu tentang latar
belakang dari perintah itu?"
"Jadi... Suheng juga tidak tahu?"
Lim Kok Liang menggelengkan kepalanya. "Aku memang juga merasakan adanya sesuatu
di balik pengadaan lomba "Mengangkat Arca" ini. Tapi...
sudahlah, sebagai seorang perwira kita tinggal melaksanakan perintah saja. Habis
perkara." Su Hiat Hong tidak mendesak lagi. Mereka segera ikut berdesakan di antara
penonton yang memadati arena panggung lui-tai itu. Ternyata perlombaan
"Mengangkat Arca" telah selesai. Peserta yang dianggap berhasil dan memenuhi
syarat pun telah dipanggil kembali ke atas panggung. Mereka hanya berjumlah
sepuluh orang. Dan A Liong, pelayan warung itu ternyata berada di antara mereka!
"Lim Suheng, lihat! Jagomu ternyata ikut terpilih juga!" Su Hiat Hong berseru
gembira. "Anak itu memang hebat! Sejak semula aku telah melihat sesuatu yang mengagumkan
pada diri anak itu. Ternyata firasatku itu memang benar."
76 Dan pada saat itu pula A Liong melihat mereka.
Memang sejak tadi anak itu mencari-cari mereka di antara penonton. Kedua tangan
itu melambai-lambai ke arah mereka. Su Hiat Hong membalas pula lambaiannya.
"Mulai besok pagi kita harus berjalan jauh lagi.
Kita bertiga dengan Tong Tai-su harus mengawal sepuluh anak ini ke kota raja.
Dan paling lambat bulan depan harus sampai di sana." Lim Kok Liang berkata
dengan suara berat. "Yah, kita memang kurang beruntung. Sementara perwira-perwira yang lain hanya
mendapatkan tempat tugas yang dekat, kita berdua mendapatkan bagian yang jauh."
"Ah... kita ini masih lebih beruntung daripada mereka yang dikirim ke kota-kota
di propinsi selatan sana. Dalam waktu sebulan mereka juga harus sudah tiba di
Lok Yang (kota raja). Kasihan sekali, bukan?"
"Lalu dengan apa kita membawa anak itu?"
"Kita tidak perlu memikirkannya. Panitia yang dibentuk dan ditempatkan di sini
tentu sudah mempersiapkan segalanya. Kita tinggal mengawal saja. Masing-masing
sudah ditentukan tugasnya."
"Nah, hal-hal seperti inilah yang mengundang kecurigaan itu, Suheng. Tampaknya
seluruh rencana, aturan-aturannya, syarat-syaratnya, sampai pada pelaksanaannya,
semua diatur dan dikerjakan oleh petugas-petugas dari kota raja. Itu pun
dilakukan oleh kesatuan-kesatuan dan kalangan tertentu saja, seperti 77
kita ini. Pihak penguasa daerah, seperti kepala daerah, bupati dan lain-lainnya,
sama sekali tak diajak atau diberi wewenang untuk melaksanakannya. Bukankah hal
itu menimbulkan berbagai macam pertanyaan"
Tentu saja tak mengherankan apabila tokoh-tokoh Beng-kau itu sampai mencurigai
kita." "Ah, kau berbicara tentang itu lagi. Bukankah sudah kukatakan bahwa kita ini
cuma pelaksana saja"
Lalu kau mau apa" Apa kau mau memberontak dan melawan tugas?"
Su Hiat Hong tersipu-sipu. Ia tak bisa menjawab pertanyaan temannya itu.
"Suheng, kau ini ada-ada saja. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya merasa
penasaran. Rasanya aku ini seperti melangkah di jalan yang tidak ada ujung-pangkalnya...."
"Sudahlah, jangan kaupikirkan lagi masalah ini.
Pokoknya kita melaksanakan tugas kita sebaik-baiknya."
Mereka tak berbicara lagi. Mereka memusatkan pandangan mereka ke panggung,
menyaksikan piala dan hadiah-hadiah yang diberikan oleh Bupati kota Hang-ciu
kepada para pemenang. Para penonton bertepuk tangan menyambut kemenangan para
peserta itu. Sementara itu di panggung barongsai juga sudah sampai pada babak yang terakhir
pula. Keenam grup barongsai itu sudah dipertarungkan semuanya, dan sudah ada
tiga pemenangnya. Mereka itu adalah grup 78
barongsai dari kampung Ui-thian cung, grup barongsai dari Pek-hok-bio (Kuil
Kelelawar Putih), dan grup barongsai dari Hek-to-pai (Perguruan Golok Hitam).
Dan babak selanjutnya adalah menentukan urut-urutan juaranya. Mereka bertiga
akan dipersilakan tampil ke atas panggung semuanya untuk memperebutkan bungkusan
mutiara yang digantungkan tinggi-tinggi di tengah arena.
"Wah, kali ini benar-benar akan mengasyikkan.
Ketiga barongsai itu akan berlaga bersama-sama.
Masing-masing barongsai seperti mendapatkan dua lawan yang harus dihadapi." A
Tung yang telah bergeser pula ke panggung barongsai itu berseru gembira.
"Kau menjagoi yang mana, heh?" Lok Ma bertanya sambil menyodokkan sikunya ke
pinggang A Tung. "Hehehe... tentu saja aku pilih yang hitam, sesuai dengan kulitku. Apalagi
pemain-pemainnya kelihatan serem-serem. Mereka tentu pendekar-pendekar tulen.
"Hah, kau ini ada-ada saja. Masakan ada pendekar tulen segala. Lalu... yang
pendekar tipuan mana?" Lok Ma tertawa.
"Tentu saja ada. Kau mau tahu" Lha ... kau ini"
Bukankah kalau di desa lagakmu seperti jagoan saja"
Tapi..." Dengan binimu saja kau selalu dibantai, hehehe...!" A Tung yang pintar
bicara itu mulai meledek lagi.
"Babi kau...!" Lok Ma mengumpat jengkel.
79 Para penonton yang berdiri di sekitar mereka ikut terpingkal-pingkal mendengar
kelakar dua sahabat itu. Bahkan Siau In bertiga, yang telah bergeser pula ke tempat itu, ikut tertawa
juga sampai mengeluarkan air mata. Gadis centil itu, yang pada dasarnya memang
suka benar bergurau, segera melemparkan umpan lagi agar kelakar mereka menjadi
semakin ramai. "Masakan Paman ini kalah dengan isterinya...?"
pancingnya sambil masih tetap tertawa.
"Benar, Kou-nio (Nona). Kawanku ini tak pernah menang melawan isterinya. Asal
dia dan isterinya ribut, kami tetangganya, mesti punya pekerjaan sambilan,
yaitu... menggotong dia ke rumah tabib.
Heh-heh-heh-heh...!" A Tung menjawab cepat pancingan Siau In itu.
"Siapa bilang aku tak pernah menang" Bukankah sepekan yang lalu... aku tidak
kalian gotong" Dua hari sebelumnya aku juga tetap sehat-sehat saja! Justru
biniku yang melolong-lolong minta ampun kepadaku!" Si Pendek Lok Ma itu menyahut
dengan kata-kata konyol, sehingga para penonton menjadi semakin geli dan tertawa
bergelak. Tak terduga A Tung justru semakin tak bisa menahan gelaknya, sampai-sampai ia
terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya
Siau In tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.
"Kenapa, Paman" Kenapa kau tertawa begitu?"
A Tung melepaskan perutnya, lalu mengusap air matanya. "Tentu saja... tentu saja
dia menang... ha-ha-80 ha... karena... karena isterinya sedang bunting tua! Ha-ha-ha...! Jangankan
harus melawan suaminya, sedangkan untuk berjalan sendiri saja... sudah, ha-ha-
ha!" Tawa penonton di sekitar tempat itu pun semakin meledak, sehingga Lok Ma yang
konyol itu menjadi merah sekali mukanya. Dari malu ia menjadi marah.
Tangannya segera diangkat untuk memukul A Tung, tapi A Tung cepat-cepat
menghindar dan lari menjauhinya. Dan keduanya lalu berkejaran di antara
rimbunnya penonton. "Hahaha... ada-ada saja!" Sin Lun tertawa.
"Mereka memang sangat menggelikan." Ciu In menyahut pula. Wajahnya yang biasa
berkesan dingin itu kini kelihatan merah berseri-seri, sehingga Sin Lun yang ada
di sampingnya menjadi kagum dan terpesona melihatnya.
"Ciu Sumoi memang cantik sekali." puji Sin Lun di dalam hatinya.
"Eh, kau... kau kenapa, Suheng" Mengapa kaupandang aku seperti itu" Apakah ada
kotoran yang menempel di mukaku?" gadis itu bertanya gugup sambil mengusapusap
wajahnya. Sin Lun terperanjat kaget. "Ah, tidak... tidak apa-apa, Sumoi. Tidak ada kotoran
apa-apa di... di wajahmu." jawabnya kikuk dan malu. "Hmmh!
Hmmh!" Tiba-tiba Siau In pura-pura terbatuk. Bahkan matanya yang genit itu tampak
berputar-putar dengan 81 lucu, sementara lidahnya yang kecil itu dileletkannya ke kanan dan ke kiri.
Jelas ia hendak menggoda kakaknya lagi.
Tapi niat itu menjadi urung karena tiba-tiba pula di panggung lui-tai terdengar
tambur dan gendang ditabuh bertalu-talu, sebagai tanda acara pertandingan bebas
yang telah dinanti-nantikan penonton akan segera dimulai.
Dan kesempatan itu digunakan sepenuhnya oleh Cui In. "Suheng! Pertandingan bebas
sudah akan dimulai. Marilah 'kita ke sana!" katanya bersemangat.
"Ayoh,..!" Sin Lun yang merasa terbebas dari suasana yang kurang menyenangkan
itu mengiyakan dengan bersemangat puia.
Karena masing-masing seperti ingin membebaskan diri dari godaan Siu In, maka
keduanya segera berlari menuju ke panggung lui-tai. Tak seorang pun dari
keduanya yang berani melontarkan suara ajakan kepada tukang olok-olok itu.
Mereka berdua baru kaget ketika ternyata gadis genit itu tidak ada bersama
mereka. "Hei..." Ke mana anak badung itu" Kenapa tidak mengikuti kita?" Ciu In berseru
kaget. Seketika hatinya menjadi khawatir.
"Benar. Kemana dia" Mari kita kembali untuk mencarinya!" Sin Lun menjadi gugup
juga. Mereka kembali lagi ke panggung barongsai. Tapi sampai lelah mereka berputar-
putar, Siau In tetap 82 tidak mereka ketemukan. Gadis lincah itu seperti hilang begitu saja dari tempat
tersebut. "Kemana dia...?" Ciu In berdesah bingung.
"Jangan bingung, Sumoi! Dia tentu sedang menggoda kita lagi. Dia tentu berada di
antara penonton-penonton ini. Marilah kita cari sekali lagi!"
Tapi bagaimanapun juga mereka tetap takkan dapat menemukan Siau In, karena
sebetulnya gadis itu telah sejak tadi meninggalkan tempat keramaian. Gadis
lincah yang merasa tidak diperhatikan oleh saudara-saudaranya lagi itu merasa
dongkol dan marah, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke mana ia suka.
Mula-mula Siau In berniat kembali ke warung dan makan minum sendirian di sana.
Tapi niat itu lalu dibatalkannya pula. Ia kemudian keluar ke jalan raya dan
berjalan tak tentu tujuan.
Di dekat pasar Siau In berhenti. Matahari telah berada di atas kepala, namun
karena langit mendung dan berawan tebal maka suasana tetap sejuk dan dingin.
Bahkan beberapa saat lagi mungkin hujan akan turun.
"Ke manakah aku akan pergi" Kota ini sedemikian besarnya. Di segala tempat orang
pada bersukaria. Hmm, baiklah... aku akan pergi ke pinggir laut saja.
Di sana tentu sepi."
Siau In lalu melangkah lagi perlahan-lahan. Karena wajahnya memang cantik,
berjalan sendirian pula, maka banyak lelaki hidung belang yang mencoba menggoda
atau sekedar menyapa dengan ucapan 83
"Tahun Baru". Tapi Siau In tak pernah menanggapinya. Gadis itu tetap berjalan
terus ke arah pantai. Jalan semakin lama semakin sepi. Meskipun banyak rumah dan perkampungan di kanan
kiri jalan, namun tampaknya semua penghuninya telah pergi ke tengah kota.
Sebaliknya suara debur ombak semakin lama semakin terdengar nyaring ke telinga.
Udara pun seolah-olah mulai berubah pula. Angin yang semula bertiup pelan dan
terasa hangat, kini sedikit demi sedikit berubah keras dan dingin. Bahkan baunya
pun terasa semakin amis. Begitu asyiknya Siau In melamun sehingga ia tidak menyadari kalau beberapa orang
dari lelaki hidung belang tadi telah mengikutinya. Mereka berjumlah enam orang,
berusia antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun. Yang terasa aneh namun
juga menggelikan ialah kesemuanya berkulit dan berwajah hitam. Dan dilihat


Pendekar Pedang Pelangi Karya Sriwidjono di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sepintas lalu saja sudah bisa diduga bahwa semuanya menyembunyikan senjata di
balik pakaian mereka yang longgar.
Jalan yang dilalui Siau In mulai menginjak daerah pertanian dan perkebunan. Dan
tempat itu benar-benar sepi sekali. Tak seorang petani pun yang kelihatan berada
di sawah atau di kebunnya. Enam orang hidung belang itu mulai merencanakan niat
buruk mereka. Tapi sebelum mereka bertindak, Siau In telah keburu mempergunakan
ginkangnya untuk 84 mempersingkat waktu. Gadis lincah itu berlari cepat sekali.
"Hei... burung cantik itu ternyata pandai terbang!"
salah seorang dari lelaki hidung belang itu, yang agaknya adalah pemimpin
mereka, berdesah gembira dan bersemangat,
"Benar, Toa-ko. Tapi... justru lebih mengasyikkan buat kita! Heh-heh-heh!" yang
lain menyahut pula dengan nada bergairah.
"Tapi... tapi Toako, aku... aku seperti melihat berkelebatnya orang di belakang
kita. Ketika secara kebetulan aku menengok ke belakang tadi, aku seperti melihat
berkelebatnya sesosok bayangan di balik tumpukan jerami itu!" pengikut termuda
dari rombongan itu tiba-tiba menyela.
"Mana, hah..." Mana" Boneka-boneka sawah itu"
Kau ini penakut benar! Di belakang kita kosong, tidak ada siapa-siapa! Matamu
saja yang mungkin sudah juling, boneka sawah kaukira manusia sungguhan!" Si
Pemimpin itu bersungut-sungut.
"Benar, Toako. Mana ada orang berani bertingkah di depan kita" Ini daerah kita.
Tak seorang pun berani mengganggu anggota Hek-to-pai di tempat ini! Ayoh, kita
kejar burung cantik itu! Nanti ia keburu tiba di daerah perkampungan nelayan Ui-
thian-cung." "Ayoh...!" yang lain dengan serempak mengiyakan.
Semuanya segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka dan berlari secepat-
cepatnya mengejar Siau In. Dan karena gadis itu memang tidak menduga 85
kalau sedang dikejar orang, maka langkahnya juga hanya seadanya saja. Gadis itu
hanya mengerahkan separuh dari kemampuannya berlari. Oleh karena itu tidaklah
mengherankan apabila sebentar saja keenam hidung belang itu telah bisa
mengejarnya. Mereka berlari di belakang Siau In.
Siau In terkejut dan menoleh. Dan dahinya yang halus mulus itu segera berkerut
ketika melihat enam orang lelaki berlari sambil pringas-pringis di belakangnya.
Durjana Dan Ksatria 6 Pedang Pembunuh Naga Penggali Makam Karya Tan Tjeng Hun Pendekar Pemetik Harpa 2
^