Pencarian

Tiga Maha Besar 2

Tiga Maha Besar Karya Khu Lung Bagian 2


Pada dasarnya ia memang merasa amat senang dengan
pemuda ini, ditambah pula mengetahui kalau putrinya
mempunyai hubungan cinta dengan si anak muda tersebut,
dalam hati kecilnya diam-diam ia sudah mengambil keputusan
untuk menerima dia sebagai calon menantunya.
Dengan wajah berseri-seri, Hoa Thian-hong berpaling ke
arah Tiga dewi dari wilayah Biau, kemudian sambil angsurkan
tangannya kedepan ia berkata, "Ketika aku masih mengidap
racun teratai, serangan obat beracun yang bagaimanapun
lihaynya tak mampu untuk menyerang tubuhku, cici bertiga,
asal kalian berikan sedikit obat racun kepadaku untuk dicoba
maka andaikata wajahku menunjukkan tanda-tanda
keracunan, hal itu membuktikan kalau racun teratai tersebut
sudah tidak berada di dalam tubuhku lagi"
"Cara apa itu" caramu itu adalah cara yang goblok" teriak
Tio Sam-koh dengan keras. "Sudah jangan dicoba lagi!"
Lam hoa siancu tertawa. "Obat racun bukanlah gula!, mana boleh kau makan
sebagai barang mainan, Hong ji adalah seorang ahli dalam hal
racun teratai, mintalah petunjuk darinya untuk mengetahui
bagaimana gejalanya kalau racun teratai masih bersarang
didalam tubuhmu" Hoa Thian-hong segera berpaling dan serunya, "Hong ji...."
Chin Wan-hong tertawa, ujarnya, "Racun teratai itu kecuali
kambuh satu kali setiap tengah hari, racun itupun
mempengaruhi urat syaraf Tay yang simkeng....!"
"Aah! kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu" teriak Hoa
Thian-hong seperti menyadari akan sesuatu.
Diam-diam ia mengerahkan hawa murninya untuk
menggerakkan jalan darah darah Tay yang sim keng,
mendadak ia teringat akan sesuatu dan buru-buru
membuyarkan kembali hawa murninya.
Kiranya racun teratai itu kecuali tiap tengah hari bekerja
satu kali, kalau badan nya terpengaruh oleh nafsu birahi maka
daya kerja racun itupun akan kambuh pula, itulah sebabnya
selama racun treratai masih mengeram dalam rubuhnya ia tak
dapat mempunyai bini. Dengan menggerakan hawa murninya kedalam urat Tay
yang sim keng bisa mengobarkan nafsu birahinya, dan dari
sanapun bisa digunakan untuk memeriksa apakah racun
teratai itu masih bersarang didalam tubuhnya atau tidak, akan
tetapi dengan begitu maka alat kelaminnya akan menjadi
tegang dan berdiri kaku seperti tongkat besi, dalam
pandangan banyak orang tentu saja pemuda itu merasa malu
untuk berbuat begitu. Bong Pay yang tak tahu duduknya perkara, ketika
menyaksikan kerikuan yang menyelimuti wajah si anak muda
itu jadi merasa keheraran, segera ia berseru, "Permainan apa
sih yang sedang kau lakukan" pekerjaan yang menyangkut
dirimu sendiri kenapa tidak dilakukan secara blak-blakan dan
tanpa ragu-ragu?" Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong sehabis
mendengar perkataan itu, jawabnya, "Tenaga dalam yang siau
te miliki masih kurang sempurna, aku tak berani secara
sembarangan urat penting!"
"Kalau memang begitu, tunggu saja sampai besok tengah
hari bukankah beres....?" seru Bong Pay.
"Sedikiipun tidak salah!" sahut Hoa Thian-hong buru-buru
sambil tertawa. Ia mendongak memandang cuaca, dari ufuk sebelah timur
tampaklah sang surya mulai memancarkan sinar keemasTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
emasannya, buru-buru ia bertanya, "Ini hari sudah tanggal
berapa?" "Ini hari tanggal sebelas!" sahut Tio Sam-koh dengan
cepat. Air muka Hoa Thian-hong berubah hebat, sambil berpaling
ke arah ibunya dia segera berseru, "Ibu, waktunya mulai
sekarang sampai di selenggaranya pertemuan besar Kian ciau
tayhwee tinggal tiga hari lagi, bagaimana caranya kita untuk
menyerang dan bagaimana pula caranya untuk
mempertahankan diri, harus mulai dibicarakan mulai
sekarang" Hoa Hujm tertawa, katanya, "Dalam perundingan kemarin
malam kita semua belum mengambil keputusan, sekarang
kemukakan lebih dahulu bagaimanakah pendapatmu, setelah
itu barulah kita rundingkan kembali!"
"Kalau kita harus berduel melawan salah satu diantara
perkumpulan Sia Kin Pang, atau Hong-im-hwie atau Thongthian-
kauw, kelompok kita meskipun masih bukan
tandingannya, aku rasa masih mampu untuk mempertahankan
diri...." kata Hoa Thian-hong sesudah termenung sebentar.
"Menurut penglihatan aku nenek tua" ujar Tio Sam-koh
dengan cepat, "Tiga bibit bencana pasti akan bersatu padu
pada saat yang terakhir untuk menghadapi kita"
"Kalau sampai tiga bibitbencana bersatu padu.... sekalipun
pihak kita lebih banyak beberapa orangpun, pasti bukan
tandingan mereka" "Omong kosong! bentak Tio Sam-koh dengan gusar telah
mendengar perkataan itu, "tentang soal ini buat apa engkau
katakan lagi?" Hoa Thian-hong tersenyum, kembali dia berkata, "Maksud
boanpwee, apabila mulai sekarang juga kita sudah dapat
menduga kalau pihak perkumpulan Sin-kie-pang, Hong In
Hwee dan Tong Thiau kau pasti akan bekerja sama untuk
menghadapi kita, itu berani siapa tangguh siapa lemah sudah
tertera dengan jelas sekali, dalam keadaan demikian lebih baik
kita mundurkan diri mulai sekarang juga, lebih baik menerima
ejekan dari musuh daripada menghindari pertemuan besar
Kian citau tayhwee tersebut...."
"Kentut busuk!" bentak Tio Sam-koh dengan gusar, "paling
banter kita mati semua, kenapa harus mengundurkan diri
sambil menahan malu....?""
Air muka Hoa Thian-hong berubah jadi amat serius,
katanya dengan nada sungguh-sungguh, "Boanpwee bukanlah
seorang manusia yang takut mati, tapi aku menguatirkan
kalau sumber kekuatan dari golongan lurus kita terbasmi
semua sehingga lenyap tak berbekas, andaikata sampai terjadi
keadaan seperti ini sampai kapankah kita baru akan melihat
cahaya sang surya lagi?"
Tiba-tiba dia menghela napas panjang, dengan suara tegas
dan tandas ia meneruskan, "Kejadian dalam pertemuan Pak
beng hwee tidak boleh sampai terulang kembali pada saat ini!"
Mengungkap kembali tentang peristiwa berdarah dalam
pertemuan Pak beng hwee, air muka semua orang berubah
jadi sedih, Tio Sam-koh sendiri yang segera teringat kembali
akan cita-citanya selama ini adalah membalas dendam serta
menuntut sakit hati yang pernah dialaminya dimana lampau,
terpaksa menekan hawa amarah dan berangasan nya dalam
seribu bahasa. "Hoa kongcu!" beberapa saat kemudian Cu Im taysu
berkata dengan suara lirih, "menurut pendapatmu,
mungkinkah tiga bibit bercana bagi umat persilatan itu dapat
bekerja sama kembali untuk menghadapi pihak kita?"
"Dalam keadaan yang terdesak dan mengenaskan,
persekutuan mungkin bisa muncul dan janji kerja samapun
pasti akan terjadi" Cu Im taysu mengerutkan dahinya sehabis mendengar
perkataan itu, katanya, "Hoa kongcu berpengetahuan luas,
perkataan ini pasti didasarkan olen alasan-lasan tertentu,
pinceng bersedia untuk mendengarkan keteranganmu lebib
jauh" "Boanpwee masih muda dan pengalamanku masih cetek,
dalam kenyataan apa alasannya aku rasa taysu serta
locianpwee sekalian pasti jauh lebih memahami daripada
diriku" Bicara sampai disiiu sorot matanya segera dialihkan ke arah
ibunya. Dengan wajah serius Hoa bu jin segera berkata,
"Locianpwee sekalipun mempunyai pandangan yang sama
seperti jalan pikiranmu itu, coba beberkanlan rencanmu itu
agar para cianpwee bisa ikut menilai serta
mempertimbangkannya"
Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian setelah
menyapu sekejap sekeliling tempat itu, katanya, "Diantara tiga
kekuatan besar yang berkuasa dalam kolong langit dewasa ini
sebenarnya terselip pula hubungan-hubungan yang terasa
serba salah dan diantara kesemuanya itu tentu saja pokok
persoalan yang paling penting adalah kasus terbunuh nya Jin
Bong secara misterius serta soal pedang emas tersebut, dasar
daripada pandang anku ini adalah mengikuti perkataan dari
Giok Teng Hujin, aku percaya masih terdapat sebilah pedarg
emas lain yang disembunyikan didalam pedang mustika Poan
liong poo kiam Tong Thiang kaucu"
"Seandainya apa yang terjadi memang demikian, lalu apa
yang harus kita lakukan?" tanya Cu Im taysu.
"Didalam pembukaan pertemuan besar Kian ciau tayhwee
tersebut, pertama-tama kita bongkar dahulu rahasia tersebut
didepan umum, dalam suasana para jago dari kolong langit
bersama-sama kumpul jadi satu, asalkan redang emas itu
munculkan diri maka Thian Ik-cu sekalipun hendak
menyangkal juga tak akan berhasil, suasana pasti akan kacau
balau" Cu Im taysu mengangguk, katanya, "Pendapat Hoa kongcu
memang tinggi, asalkan terjadi peristiwa semacam ini lalu apa
yang harus kita lakukan?"
"Sebagian besar orang dalam dunia persilatan telah
terpengaruh oleh kabar berita yang tersiar diluaran dan
mempercayai kalau pedang emas itu mempunyai hubungan
yang erat sekali dengan sejilid kitab pusaka ilmu silat,
seandainya ada orang berbasil mendapatkan kitab pusaka itu
maka ilmu silat It kiam kay Tionggoan Siang Teng Lay, dan
tiada tandingannya di kolong langit, oleh sebab itulah sajak
dahulu pedang emas sudah dianggap sebagai benda mustika,
asal pedang itu munculkan diri maka para jago pasti akan
saling berusaha untuk memperebutkan dan pertarungan untuk
merebut mustikapun pasti akan berkobar...."
"Aaah! belum tentu begitu" tiba-tiba Tio Sam-koh berteriak
keras, "aku nenek tua tidak percaya dengan kabar berita yang
tersiar dalam dunia persilatan, sekalipun pedang emas itu
munculkan diri didepan mata, aku sinenek tua tak akan ikut
untuk memperebutkannya"
Cu Im taysu yang mendengar perkataan itu segera tertawa,
ujarnya, "Tio lo tay, orang kuno ada satu cerita...."
"Hweesio tua tidak membicarakan tentang pelajaran agama
Buddha, cerita apa yana hendak kau tuturkan kepadaku?" seru
Tio Sam-koh dengan mata melotot besar.
"Seorang pelayan datang melapor, katanya diluar pintu
muncul seekor harimau, sang majikan tidak percaya. Kembali
seorang pelayan datang melapor katanya diluar pintu muncul
seekor harimau, sang majikan setengah percaya setengah
tidak, seorang pelayan kembali datang melapor...."
"Aku nenek tua lebih tidak percaya!" teriak Tio Sam-koh
dengan penuh kegusaran. Melihat kekerasan nenek tua itu, dengan gusar Ciong Liankhek
segera membentak keras, "Sang harimau telah masuk
kedalam pintu!" "Aku nenek tua sekali hajar membinasakan binatang itu!"
seru Tio Sam-koh kembali setengah berteriak.
Mendengar jawaban tersebut, Cu Im taysu segera tertawa
ter-bahak-bahak. "Haah....haaahh....haaahh.... kalau begitu, Tio lo tay tetap
percaya kalau diluar pintu ada harimaunaya bukan?" serunya.
Sementara itu terdengar Chin Pek-cuan telah berkata,
"Thian Hong, lanjutkan perkataanmu itu!"
Hoa Thian-hong mengangguk, katanya, "Karena sebilah
pedang emas. Ciu It-bong sudah merasakan penderitaan
hidup yang tidak menyerupai kehidupan seorang manusia
selama belasan tahun lamanya, setelah pedang emas itu
munculkan diri, perduli sudah terjatuh ketangan siapapun, dia
pasti akan mempertaruhkan nyawanya untuk merebut
kembali" Cu Im taysu menghela napas panjang, katanya, "Memang
disinilah terletak kelemahan watak manusia, Hong kongcu bisa
menyelaminya, hal itu membuat pinceng merasa amat kagum"
Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, ujarnya
kembali, "Pek Siau-thian berdaya upaya menyekap Ciu It-bong
sampai belasan tahun lamanya, itu berarti diapun menaruh
perhatian khusus terhadap pedang emas serta berusaha untuk
mendapatkannya, dendam sakit hati selaa belasan tahun tak
mungkin dibiarkan berlalu dengan begitu saja oleh Ciu Itbong,
ia pasti akan berusaha untuk membina sakan Pek Siauthian
serta melampiaskan rasa mendongkol yang disiap
kannya selama ini di dalam hati. Andaikata pedang emas
benar-benar berada ditangan Thian Ik-cu, sekalipun antara
pihak Sin-kie-pang ser ta Thong-thian-kauw sudah ada
perjanjian untuk bersekutu, Pek Siau-thian tak mungkin
mengerahkan segenap kekuatannya untuk turun gelanggang,
dia pasti akan berusaha untuk menjauhkan diri dari
pertentangan tersebut"
"Bandit-bandit dari kalangan hitam memang merupakan
manusia bangsa kurcaci yang gampang melupakan budi,
untuk kepentingan diri sendiri mudah saja mereka berganti
haluan" ujar Ciong Lian-khek.
"Itulah dia," sambung Hoa Thian-hong lebih jauh, "kalau
pedang emas benar-benar muncul didalam pedang mustika
Poan liong poo kiam milik Thian Ik-cu, Jin Hian pasti akan
menuduh Thian Ik-cu sebagai pembunuh putranya, sekalipun
dia adalah seorang pimpinan suatu perkumpulan besar, dalam
keadaan begini tak mungkin ia bisa berpeluk tangan belaka.
Asal situasinya sudah berubah jadi begini maka
persekongkolan Sin-kie-pang, Hong In Hwee serta Thongthian-
kauw untuk menghadapi golongan kitapun tak mungkin
bisa diwujudkan kembali!"
"Andaikata pedang emas itu tidak berada didalam pedang
pusaka Poan liong poo kiam milik Thian Ik-cu, dan apa yang
diucapkan Giok Teng Hujin adalah ucapan yang kosong
belaka, apa yang harus kita lakukan?" sela Tio Sam-koh dari
samping.

Tiga Maha Besar Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mendengar perkataan itu Hoa Thian-hong menghela napas
panjang. "Aaaai....! pembicaraan boanpwee dilakukan dengan dasar
mempercayai perkataan dari nona Siang, andaikata perkataan
yang di ucapkan adalah kata-kata yang kosong belaka, maka
rencana besar kita dalam menghadapi pertarungan besar ini
tak berani kukatakan lagi"
Tiba-tiba Li hoa siancu berkata, "Leng-ci berusia seribu
tahun adalah benda langka yang sukar ditemukan didalam
kolong langit, kalau aku bersedia menghadiahkan benda
tersebut kepada seorang, itu berarti bahwa akupun bersedia
untuk memberikau pula selembar jiwaku kepadanya"
"Akupun berpendapat demikian" sambung Ci wi siancu
pula. "Giok Teng Hujin tidak mungkin mempunyai hasrat untuk
mencelakai jiwa Siau long, masalah ini adalah suatu masalah
yang besar dan serius, tak mungkin ia berani bicara secara
ngawur dan sembarangan"
"Thian Hong," tiba-tiba Chin Wan-hong bertanya,
"berapakah usia Giok Teng Hujin itu?"
Hoa Thian-hong tertegun, kemudian jawabnya, "Sekilas
memandang usianya diantara dua puluh satu, dua tahunan,
yang benar berapa dia tak pernah mengakuinya sendiri, ada
apa sih engkau tanyakan tentang persoalan ini?"
Chin Wan-hong tersenyum. "Aku sedang menyelidiki apakah pertanyaannya itu bisa
dipercaya atau tidak...."
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, "Ia
menyebut diriya sebagai hujin, apakah ia telah mempunyai
suami....?" "Aku rasa tidak!"
Tio Sam-koh yang mendengarkan pembicaraan itu, diamdiam
berpikir didalam hatinya, "Hmmm! anak perempuan
benar-benar musingkan kepala, dunia mau ambruk tidak
digubris, yang dipikirkan cuma merebut orang laki saja...."
Berpikir sampai disini, ia segera berpaling ke arah Hoa
Hujin yang berada disisinya dan bertanya, "Sebenarnya Siang
Tang Lay sudah mati atau masih hidup?"
"Setelah berhasil kami selamatkan jiwanya tempo dulu,
keadaannya amat payah, empat otot besar pada anggota
badannya sudah putus, ilmu silatnya punah dan tubuhnya
telah menjadi cacat, setelah Goan Siu menghantar dirinya
pulang ke wilayah See Ih, kabar beritanya tiba-tiba terputus
dan aku sendiri pun tak tahu apakah dia masih hidup di kolong
langit atau tidak" "Kecuali mempunyai seorang Putri, masih ada siapa lagi
yang punya bubungan dengan dirinya" apakah dia mempunyai
anak murid?" Hoa Hujin segera menggeleng.
"Pada waktu itu Siang Tang Lay sudah berputus asa dan
orangnya jadi pemurung sekali, ketika Goan Siu mengantar
dirinya melakukan perjalanau sejauh puluhan laksa li dalam
waktu empat bulan, dan sendiripun masih belum dapat
menyelami perasaan hatinya"
Setelah berpikir sebentar, sambungnya lebih jauh, "Setelah
Goan Siu menghantar dia sampai diwilayah See Ih, diapun
menghadiahkan pedang berat terbuat dari baja itu untuk
dirinya dan sejak itulah mereka berpisah, untuk selanjutnya
apakah Siang Tang Lay beristri dan beranak, apakah dia
mempunyai murid" Goan Siu sama sekali tidak tahu"
"Oooh....! rupanya pedang baja yang amat berat milik Sang
ji adalah hadiah dari Siang Tang Lay, barang pusaka yang dia
miliki benar-benar amat banyak, bukan saja ada pedang emas
bahkan Leng-ci berusia seribu tahun pun dimiliki olehnya"
Setelah tertegun sebentar, sambungnya kembali, "Kalau
memang putri Siang Tang Lay bisa menghadiakan Leng-ci
berusia seribu tahun itu untuk orang lain, bukankah itu berarti
bahwa penyakit cacad yang diderita Siang Tang Lay telah
sembuh?" "Itu belum tentu" jawab Chin Pek-cuan sambil tertawa,
"bukankah didalam cupu-cupunya manusia pincang she Lie
penuh berisikan obat mujarab yang bisa menghidupkan
kembali orang mati" namun justru kakinya yang pincang tak
mampu untuk disembuhkan"
"Chin loo ji, apakah engkau ada maksud untuk mencari
gara-gara dan ribut dengan aku nenek tua?" bentak Tio Samkoh
dengan gusar. "Aku tidask berani! buru-buru Chin Pek-cuan berseru sambil
tertawa. Dengan suara berat Ciong Lian-khek pun berkata, "Thin
Hong, kalau keadaannya memang begitu, terpaksa kita harus
maju terus pantang mundur, tapi pedang emas disembunyikan
didalam pedang mustika Poan lio ng poo kiam milik Thian Ikcu,
menurut pendapat mu apa yang harus Kita lakukan untuk
membongkar rahasia tersebut?"
"Boanpwee pernah memikirkan persoalan ini, aku merasa
andaikata kita bongkar dengan menggunakan kata-kata, maka
orang lain malah justru akan menaruh cunga bahwasanya
sengaja Kita sedang mengadu domba dan menggunakan
siasat" Jilid 3 SEMUA orang menganggut dengan mulut membungkam,
mereka menantikan perkataan pemuda itu lebih jauh.
Dengan sorot mata yang tajam, Hoa Thian-hong menyapu
sekejap wajah para jaga, kemudian katanya lebih jauh,
"Menurut pendapat boanpwce, lebih baik sebelum kejadian
kita tentukan lebih dahulu seseorang, sebelum pertarungan
massal berkobar kita tantang Thian Ik-cu lebih dahulu serta
berusaha keras untuk menggetar kutungkan pedang Poan
liong Poo kiam miliknya itu!"
Mendengar perkataan ini semua orang segera saling
berpandangan dengan mulut membungkam, dalam hati
mereka pun memikirkan siapakah orang yang cocok untuk
maju pada babak pertama ini serta mengambil oper tugas
tersebut. Tiba-tiba Cu Im taysu berkata, "Hoa Hujin, pekerjaan itu
merupakan suatu pekerjaan yang berat dan maha penting,
aku lihat terpaksa hujin harus turun tangan sendiri"
Hoa Hujin termenung beberapa saat lamanya, kemudian
sambil menghela napas, ia gelengkan kepalanya berulang kali.
"Sejak permulaan sampai sekarang, aku orang Bun Siau-ih
tak pernah menggunakan senjata, kalau dikatakan untuk
membereskan jiwa Thian Ik-cu memang gampang sekali, tapi
untuk menggetarkan pedang mustikanya sampai kuntung
pekerjaan ini terlalu sulit"
"Aneh benar!" teriak Tio Sam-koh dengan dahi berkerut,
"kalau memang untuk membereskan jiwa Thian Ik-cu
gampang sekali, apa salahnya kalau sekali hantam kau
bereskan saja bajingan-bajingan itu?"
Hoa Hujin tertawa getir. "Sam-koh, terus terang saja kukatakan bahwa tenaga
pukulan yang kumiliki pada saat ini mungkin tak akan mampu
ditahan oleh siapapun juga di kolong langit dewasa ini"
"Bagus sekali, kalau memang begtu kenapa engkau harus
sungkan-sungkan lagi?"
"Aaai....! Sam-koh dengarkan dahulu perkataanku!"
"Katakanlah! aku nenek tua akan mendengarkan."
Hoa Hujin menghela nafas panjang ujarnya, "Tenaga
pukulan yang kumiliki bagaikan air dalam gentong saja lebih
banyak serangan yang dipergunakan makin berkurang tenaga
pukulanku jumlah pukulan yang bisa kupergunakanpun
tertentu sekali jumlahnya"
"Lalu berapa banyak pukulan yang mampu kau lancarkan?"
tanya Tio Sam-koh dengan hati tercengang.
"Itu sih tidak menentu, tenaga pukulanku bisa digunakan
dalam satu kali pukulan belaka dapat pula dipergunakan
secara menghemat dan sampai beberapa puluh pukulan"
"Heeehh.... heeehh.... heeehhh....selamanya engkau
memang paling suka memperhatikan segala macam
keanehan!" seru Tio Sam-koh sambil gelengkan kepalanya
berulang kali. "Ibu!" tiba-tiba Hoa Thian-hong berseru, "bila tenaga
pukulanmu telah habis dipergunakan maka bagaimanakah
dengan kesehatan badanmu?"
Cu Im taysu menghela napas panjang, pikirnya, "Kebaktian
bocah ini terhadap ibunya benar-benar tak dapat
dibandingkan dengan orang lain"
Tampak Hoa Hujin tersanyum, sambil memandang ke arah
putra kesayangannya, ia berkata, "Semua harapan pada saat
ini terletak di atas pundak kita, sudah sepantasnya kalau kita
berusaha untuk menghindarkan diri dari pertanyaan itu,
timbullah perasaan curiga dalam hati Hoa Thian-hong,
tanyanya lebih jauh, "Bagaimana dengan luka lama yang ibu
derita" dan pukulan beracun itu...."
"Engkau tak usah banyak bertanya!" tukas Hoa Hujin cepat.
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi dengan
suara lembut, "Akupun tak akan mengelabuhi dirimu, luka
racun yang kuderita akibat serangan tempo hari berhasil
kusanding dengan tenaga da lamku, jikala tenaga murniku
habis digunakan maka luka racun itu akan kambuh kembali"
Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat.
"Bukankah pada waktu itu keadaan jadi payah sekali....!"
Tiba-tiba ia temukan wajah ibunya diliputi perasaan tak
senang hati, buru-buru ia tutup mulut tidak berbicara lagi.
"Hujin, ilmu pukulan apa sih yang kau pelajari" kenapa
gejalanya sama sekali bertolak belakang dalam keadaan pada
umumnya?" tanya Cu Im taysu kemudian, "apakah engkau
dapat memberi keterangan sehingga pin ceng sekalipun dapat
menambah pengetahuan?"
"Ilmu telapak yang aku pelajari adalah peleburan antara
ilmu telapak Thian lui ciang pukulan geledek dengan Hek sat
ciang ilmu pukulan malaikat hitam ilmu sesat aliran kiri
bukanlah suatu kepandaian yang patut dibanggakan"
Cu Im taysu mengerutkan dahinya mendengar ucapan
tersebut katanya, "Seringkali aku dengar orang berkata bahwa
ilmu Thian lui ciang ialah ilmu pukulan yang paling keras di
kolong langit sebaliknya ilmu pukulan Hek sat ciang adalah...."
Hoa Hujin menangkap tangannya dan tertawa.
"Ilmu pukulan Hek sat ciang terdiri dari banyak ragamnya,
sifat racun yang d?gunungpun berbeda-beda, dan yang
mengandalkan racun bangkai, racun ular, racun tumbuhtumbuhan
dan juga racun yang bersipat dingin, meskipun
begitu kebanyakan racun yang dipakai adalah racun yang ada
dalam jagad, dengan dilatih secara tekun maka racun itu
mencampur baur dengan angin pukulan, siapa yang
terhantam isi perutnya pasti luka keracunan, sebaliknya racun
yang kugunakan adalah racun batu yang ada didaftar perut
bumi!" Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa getir
sambungnya lagi, "Racun ini ganas sekali, siapa yang terkena
pasti mati.... Harimau ganas mengandalkan air sungai.... kalau
dibicarakan benar-benar memalukan sekali!"
Tanpa sadar sorot mata semua orang dialihkan ke arah
telapak tangannya yang putih mulus itu, tampaklah sekilas
gumpalan hitam tercekat pada telapak tangannya, gumpalan
hitam itu melompat-lompat seperti mau loncat keluar,
membuat orang yang melihat jadi ngeri rasanya.
Setelah suasana hening beberapa saat lamanya, tiba-tiba
Ciong Lian-khek berkata kembali dengan suara lantang.
"Taysu, engkau gunakan senjata sekop menggantikan
senjata toya, setelah berlatih sepuluh tahun pasti sudah
mendapatkan kemajuan yang pesat bukan...." bagaimana
kalau tugas berat pada pertarungan babak pertama ini
kubebankan kepadamu?"
Mendengar pertanyaan tersebut, mula-mula Cu Im taysu
nampak agak tertegun kemudian dengan kepala tertunduk
termenung beberapa saat lamanya.
Seperminum teh kemudian dia angkat kepala dan menjura,
"Sejak kekalahan dalam pertemuan besar Pak beng hwee,
pinceng telah mengasingkan diri selama sepuluh tahun
lamanya tanpa seharipun berani angkat kepala, dalam
pertemuan Kian ciau tayhwee nanti, walaupun aku masih
belum mampu untuk membebaskan jiwa Thian Ik-cu, namun
untuk mempertaruhkan jiwa guna menggetar kutung pedang
mustika milik imam tua itu, pinceng yakin masih mampu untuk
melakukannya" "Luar biasa! apakah engkau ingin melatih dirimu jadi Budha
dan selamanya tidak mati?" teriak Tio Sam-koh
"Demi keadilan serta kebenaran pinceng tidak takut
mengorbankan jiwa ragaku, cuma saja Thian Ik-cu adalah
seorang ketua perkumpulan besar, lagi pula tuan rumah
penyelenggaraan pertemuan besar Kian ciau tayhwee,
sedangkan pinceng bukan seorang jagoan yang kenamaan,
berada dihadapan para jago dari seluruh jagad, kendatipun
pinceng mengajukan tantangan untuk berduel, belum tentu
Thian Ik-cu bersedia untuk melayaninya"
"Kau maki saja nenek moyang delapan belas turunanya,
masa dia tetap tidak akan ambil perduli!" seru Tio Sam-koh
dengan gusar. Cu Im taysu agak tertegun mendengar perkataan itu,
sambil tertawa segera ujarnya, "Thian Ik-cu adalah seorang
pemimpin tertinggi dari perkumpulannya, ia pasti akan
mengutus jago lihay lainnya untuk melayani tantanganku itu,
aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tio lo tay jauh lebih tinggi
daripada kepandaian pinceng...."
Lihay atau tidak kenapa!" seru Tio Sam-koh dengan mata
melotot besar, apakah aku nenek tua kalah dengan dirimu?"
Hoa Hujin segera goyangkan tangannya berulang kali,
serunya agak keras, "Sam-koh, buat apa sih musii bersilat
lidah" persoalan ini amat serius sekali."
"Thian Ik-cu sebagai tuan rumah bagi diselenggaranya
pertemuan besar Kian ciau tayhwee, sebelum mencapai babak
terakhir tak mungkin ia bersedia untuk turun tangan
sendiri...." "Kalau memang begitu, apa itu pedang emas pedang
perak, bukankah kita sudah bicarakan persoalan itu dengan
percuma saja?" teriak Tio Sam-koh kembali.
"Engkau tak usah terburu nafsu, sebodoh-bodohnya
manusia pasti akan berhasil juga, mari kita berunding kembali
persoalan ini secara masak, akhirnya kita pasti akan berhasil


Tiga Maha Besar Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mendapatkan suatu cara yang baik!"
"Siau long, mampukah engkau menangkan Thong-thiankauwcu?"
tiba-tiba Li hoa siancu bertanya.
"Aku sama sekali tak becus!" jawab Hoa Thian-hong
dengan wajah agak jengah, "bicara yang sesungguhnya aku
masih bukan tandingan dari Thian Ik-cu...."
Li hoa siancu segera menghela napas panjang, ujarnya,
"Thian Ik-cu adalah salah seorang diantara musuh-musuh
besar pembunuh ayahmu, jikalau engkau menggunakan dalih
hendak menuntut balas bagi kematian ayahmu, berada
dihadapan umum mungkin saja Thian Ik-cu terpaksa harus
munculkan diri untuk melayani dirimu, lagipula engkau masih
muda dan merupakan angkatan yang lebih muda, siapa tahu
kalau Thian Ik-cu merasa yakin dapat menangkan dirimu dan
segera turun tangan melayani tantanganmu itu...."
"Perkataan ji suci sedikitpun tidak salah" sahut Hoa Thianhong.
Sambil menggertak gigi, ujarnya kembali, "Sebenarnya aku
ingin sekali mengatakan imam siluman itu untuk berduel satu
lawan satu, aku hanya kuatir kekalahanku bakal
mempengaruhi semua keadaan!"
Tio Sam-koh yang semakin berpikir semakin kesal, tiba-tiba
loncat bangun dari atas tanah dan beteriak sambil
menghantamkan tongkat besinya keatas tanah, "Perahu yang
tiba diujung jembatan tentu akan lurus sendiri! siapa kalau
berani bicara tidak keruan lagi, jangan salahkan kalau aku
nenek tua segera akan memberi hadiah satu pukulan yang
keras" ooooOoooo 44 "PERKATAAN dari Tio lo tay tidak salah!" seru Chin Pekcuan
pula dengan suara keras, "daripada duduk sambil
berbicara lebih baik kita gunakan kesempatan ini untuk
berlatih ilmu silatnya sendiri-sendiri...."
Pada saat itu fajar telah menyingsing diufuk sebelah timur,
diatas bukit tampaklah jago-jago dari kalangan lurus itu
sedang melatih ilmu silatnya masing-masing dengan tekun dan
rajin. Hoa Hujin duduk diatas batu gunung sambil menyaksikan
putranya berlatih ilmu pedang, Hoa Thian-hong sendiri dengan
gerak naga langkah harimau memainkan pedang bajanya
dengan penuh bersemangat, dibawah sinar matahari
tampaklah cahaya tajam memancar keempat penjuru
menyilaukan mata orang, angin pedang menderu-deru amat
memekikkan telinga. Li hoa siancu maju mendekati, lalu berkata sambil tertawa,
"Sewaktu masih berada diselat Bu hiang kok tahun berselang,
ilmu silat yang dimiliki siau long masih belum dapat
menangkan diriku, tapi sekarang agaknya lima puluh
gebrakanpun aku sudah tak mampu untuk melayani dirinya...."
Tiga dewi dari wilayah Biau adalah tamu terhormat, Hoa
Hujin tak berani bersikap ayal, segera ia tersenyum sambil
menjawab, "Nona memiliki kepandaian ahli dibidang lain,
tentu saja kemajuan yang diperoleh dalam bidang ilmu silat
agak lambat!" Ci wi siancu pun berjalan mendekat, lalu menimbrung dari
samping, "Hujin, ilmu pedang siau long meskipun hanya terdiri
dari enam belas jurus belaka akan tetapi setiap kali tampaklah
muncul gerakan-gerakan baru yang serba aneh dan belum
pernah terlihat sebelumnya, setelah kuamati dengan lebih
seksama terasa olehku bahwasanya keenam belas jurus ilmu
pedang itu merupakan serangkaian garis besar dari suatu
kepandaian belaka, sedangkan isinya sebenar nya amat luas
dan memiliki perubahan yang tak terhitung banyaknya"
Hoa Hujin menghela napas panjang katanya, "Rangkaian
ilmu pedang itu sebenarnya merupakan hasil ciptaan dari
mediang ayahku, sayang sekali waktu berlatih terlalu singkat
sehingga seng ji tak mampu untuk melatih inti sari yang
sebenarnya" Ditengah pembicaraan, Hoa Thian-hong telah selesai
memainkan jurus pedangnya, baru saja tarik kembali
senjatanya untuk minta petunjuk pada ibunya, tiba-tiba
terdengar Ciong liang kek membentak keras, "Thian Hong,
lihat pedang!" Hoa Thian-hong tertegun, bayangan manusia berkelebat
dan cahaya tajam pun tahu-tahu sudah muncul didepan mata,
membuat si anak muda itu terpaksa harus cepat-cepat
menggerakkan pedangnya untuk menyambut datangnya
serangan tersebut. "Lihat pedang, lihat pedang!" bentak Ciong liang kek
berulang kali. Ditengah bentakan keras pedangnya laksana sambaran dan
ledakan guntur berkilauan memenuhi angkasa, seranganserangan
gencar yang dilancarkan semuanya ditujukan ke
arah jalan darah penting diseluruh badan Hoa Thian-hong.
Dalam keadaan begitu, terpaksa pemria she Hoa itu harus
putar pedangnya untuk menyambut serangan musuh namun
lama kelamaan ia merasa kepayahan, segera pikirnya,
"Locianpwee turun tangan begini gencar, aku mana sanggup
untuk melayaninya....?"
"Ayolah menyarang secara benar-benar....!" tiba-tibaa
Ciong Lian-khek membentak dengan penuh kegusaran.
Hoa Hujin termenung sebentar, kemudian iapun ikut
berseru dengan suara lantang, "Ciong lian cianpwee ada
maksud untuk menggembleng dirimu Seng ji! layanilah
dengan sepenuh tenaga"
Hoa Thian-hong merasakan semangatnya berkobar, ia
membentak keras dan pedangnya segera disapu kedepan
untuk menolong posisinya.
"Bukankah engkau berhasrat untuk menggetarkan pedang
pusaka Poan liong poo kian milik Thian Ik-cu sewaktu
diselenggarakannya pertemuan besar Hian ciau tayhwee" Nah!
layani dulu serangan pedangku ini!" seru Ciong Lian-khek
dengan suara lantang. "Boanpwee tak berani bertindak kurang ajar" sahut Hoa
Thian-hong sambil putar senjata untuk menyambut datangnya
ancaman musuh. "Hmm! tak usah bicara begitu, belum tentu engkau mampu
untuk menggetarkan pedang ku ini...."
"Sungguh gagah dan bersemangat locianpwee ini" pikir Hoa
Thian-hong didalam hati, "kalau aku bertindak sungkansungkan
terus, justru tindakanku ini malahan akan bangkitkan
kemarahannya...." Berpikir demikian, ia segera menggetarkan pedangnya dan
langsung menerjang ke arah pedang lawan.
"Kurang ajar!" bentak Ciong Lian-khek.
Ujung pedangnya segera menggetarkan berpuluh-puluh
bunga perak yang menyiliaukan mata, dengan suatu gerakan
cepat, ia serang dada pemuda itu.
Hoa Thian-hong terkesiap, sekuat tenaga ia loncat
kebelakang sejauh beberapa tombak dari tempat semula,
ketika ia menengok ke atas dadanya maka tampaklah pakaian
yang dia kenakan telah bertambah dengan dua puluh buah
lubang kecil yang rumit dan rapi.
Hoa Hujin segera tertawa dan memuji, "Suatu jurus Cu sian
tiau keng atau para dewa menghadap atasan yang sangat
indah, aku rasa kesempurnaan ilmu pedang yang dimiliki
Thian Ik-cu tak akan jauh lebih ampuh daripada serangan
tersebut, "Hujin memahami bukan, bahwa kepandaian yang
dimiliki bajingan Thian Ik-cu bukan hanya terbatas pada jurus
pedang belaka?" kata Ciong Lian-khek dengan nada tertawa.
"Untuk menggetarkan pedang lawan hingga patah, engkau
harus menyerang ke arah bagian tubuh lawan yang penting
dan lemah, kalau menyerang pedang lawan secara ngawur
begitu, bukan sama artinya mencari jalan kematian buat diri
sendiri?" Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong setelah
mendengar perkiraan itu, sahutnya kemudian, "Boanpwee
memang sangat bodoh, sekarang aku telah mengerti!"
Tiba-tiba Cu Im taysu maju menghampiri dan berkata, "Hoa
Hujin, setelah pinceng berpikir pulang pergi, aku segera
merasa kendatipun setiap saat dan setiap detik kita melatih
ilmu silat kita secara tekun dan rajin setetes demi setetes
dikumpulkan hal itu tidaklah mendatangkan manfaat yang
terlalu banyak, lain halnya dengan Thian Hong, mula-mula
tenaga dalamnya memperoleh kemajuan pesat karena
pengaruh racun teratai empedu api kemudian badannya jadi
enteng karena pengaruh Leng-ci berusia seribu tahun, hal ini
membuat dia memiliki dasar kekuatan yang benar-benar
sangat tangguh, sepantasnya kalau kita gembleng dirinya
secara tekun dan rajin sebab dialah satu-satunya kekuatan
yang bisa kita harapkan serta andalkan"
"Budi kebaikan taysu sangat mengharukan hati kami
berdua" ujar Hoa Hujin dengan serius.
Setelah termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia
berpaling ke arah Hoa Thian-hong dan berseru, "Seng Ji,
berlutut!!" Buru-buru Hoa Thian-hong maju kedepan dan jatuhkan diri
berlutut diatas tanah, katanya, "Ananda siap mendengarkan
nasihat ibu!" Dengan suara dalam Hoa Hujin segera berkata, "Cu Im
taysu serta Ciong lian cianpwee adalah sahabat karib
mendiang ayahmu, setelah cianpwee berdua maksud untuk
menggembleng engkau jadi naga maka engkau harus
berjuang secara tekun dan rajin untuk mencapai tingkat
seperti yang diharapkan, janganlah sampai engkau menyianyiakan
maksud baik dari kedua orang cianpwee itu"
Hoa Thian-hong mengiakan, ia segera memberi hormat
kepada Cu Im taysu serta Ciong Lian-khek sambil berkata,
"Terima kasih banyak atas kesediaan locianpwee untuk
membimbing seria membina diriku"
"Tak usah banyak adat!" seru Ciong lian-kek sambil ulapkan
tangannya, "keluarkan segenap kepandaian yang kau miliki,
lebih cepat ia mampu mengalahkan kami berarti kekuatan bagi
rombongan kita jauh lebih kuat dan ini berarti harapan kita
untuk melanjutkan hidupun semakin besar!"
Hoa Thian segera bangkit berdiri, sambil memberi hormat,
serunya kembali, "Boanpwee akan berusaha dengan sepenuh
tenaga, aku tak akan berani bermalas-malasan!"
Air muka Ciong Lian-khek tetap hambar, pedangnya
direntangkan kedepan menerjang maju kedepan.
Buru-buru Hoa Thian-hong putar pedang menyambut
datangnya serangan, seluruh perhatiannya dicurahkan jadi
satu untuk mengha dapi pertempuran itu, sedikitpun ia tak
berani berayal. Ilmu pedang yang dimiliki Ciong Lian-khek
mengutamakan keganasan serta ketelengasan, dengan
bantuan tenaga dalamnya yang amat sempurna, boleh
dibilang setiap serangannya disertai desingan angin tajam.
Sebaliknya ilmu pedang yang dipergunakan Hoa Thianhong
lebih bersifat terbuka namun kokoh dalam pertahanan
dan tajam dalam serangan, meskipun sudah bertempur lima
enam puluh jurus lebih, namun kedua belah pihak masih tetap
bertahan dalam posisi seimbang.
Hoa Hujin yang mengikuti jalannya pertempuran dari sisi
arena, tiba-tiba berseru dengan suara berat, "Keluar dari
posisi Bu wong menuju ke tempat kedudukan Kui wi, gunakan
jurus Hang hui ciy thian atau pelangi melayang diangkasa
serta Liong Can ek ya atau naga bertarung ditanah liat"
Beberapa patah kata itu diutarakan amat cepat, Hoa Thianhong
tak sempat berpikir panjang lagi segera geserkan
langkahnya dua tindak kesamping, pedang digetarkan keatas
dan.... Sreeeet! Sreeet! secara beruntun melancarkan dua
babatan kilat. Kedua jurus serangan tersehat merupakan jurus kesebelas
dan kedua belas dari rangkaian ilmu pedang yang dipelajari
Hoa Thian-hong serta entah berapa ribu kali, sekali bergerak
serangannya secara otomatis meluncur keluar dengan
sedirinya. Ciong Lian-khek sendiri ketika mendengar Hoa Hujin
memberi petunjuk kepada putranya, satu ingatan segera
berkelebat dalam benaknya, pedang panjang dengan cepat
menerjang maju kedepan. Tampaklah pedang baja Hoa Thian-hong mencuak keatas,
mula-mula memunahkan serangan yang dilancarkan olehnya,
baru saja dia akan berubah jurus serangan mendadak pedang
si anak muda itu dengan jurus Liong can ek ya telah
membabat pinggangnya. Dalam keadaan begini, bagi Ciong Lian-khek kecuali
menangkis datangnya ancaman tersebut satu-satunya jalan
loncat mundur keluar gelanggang.
Namun rupanya ia sudah mempunyai perhitungan, disaat
yang kritis pedangnya segera di ayun kesamping dan
berpapasan dengan pedang baja Hoan Thian Hong, meskipun
begitu senjatanya sama sekali tidak terbentur olehnya.
Cu Im taysu segera tertawa dan berseru, "Hujin benarbenar
sangat lihay, Cong liang heng pun hebat sekali!"
Sambil siapkan senjata sekopnya, ia segera berseru,
"Bersiap-siaplah, pinceng akan turut terjun ke dalam
gelanggang!" Setelah mendapat petunjuk dari ibunya, Hoa Thian-hong
berhasil memperbaiki posisinya tetapi baru saja
menghembuskan napas lega mendadak terasalah cahaya
perak berkilauan diangkasa, segulung desiran angin tajam
tahu-tahu sudah menghantam batok kepalanya.
Ia sudah pernah merasakan kelihayan dari Cu Im laysu dan
mengetahui pula kalau di balik senjata sekopnya itu tersimpan
tenaga raksasa seberat ribuan kali, ia tak menerima keras
lawan keras, badannya segera berkelit kesamping dan
menerjang Ciong Lian-khek.
Terdengar Co Im taysu membentak keras, angin tajam
berhembus lewat sekali lagi, senjata sekop yang berat
meluncur datang kembali, sedangkan Ciong Lian-khek pun
ambil kesempatan itu mengirim satu pukulan kembali ke arah
depan. Dengan kerja sama dari kedua orang ini, boleh dibilang
serangan-serangan yang dilancarkan termasuk kuat dan
ampuh, Hoa Thitan Hong yang harus menghadapi serangan
dua orang sekaligus jadi keteter hebat.
"Criiing....! senjata sekop Cu Im taysu menyambar lewat
menggetarkan pedang baja dari Hoa Thian-hong hingga
mencelat keang kasa, sementara Ciong Lian-khek dengan tak


Tiga Maha Besar Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kenal ampun segera melancatkan satu tusukan kilat ke arah
tubuhnya. Hoa Thian-hong malu bercampur cemas, sekuat tenaga ia
loncat ke tengah udara dan menyambar kembali pedang
bajanya. "Hmm! engkau begitu tak becus, namun ambisinya besar
sekali" seru Ciong Lian-khek dengan ketus, "dengan andalkan
kepandaian seperti itu engkau ingin merebut kekuasaan
dengan Thian Ik imam" bajingan itu. Heeh....heeh....heeh.
benar-benar omong kosong"
"Dalam menghadapi pertarungan seseorang tidak boleh
mempunyai perasaan mengalah, kepandaian silat apa saja
yang kau miliki" ayoh keluarkan semua....!"
"Maaf kalau boanpwee tak tahu adat!" seru Hoa Thianhong
dengan wajah jengah. Ia segera menerjang maju kedepan, pedar nya langsung
menerjang tubuh Cu Im taysu.
"Hmm! kalau engkau tak mampu menangkan taysu serta
diriku, dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee, engkau tak
ada kesempatan untuk tampil kedepan!" seru Ciong Lian-khek
kembali dengan dingin. Sembari berkata, pedangnya berputar kencang, dalam
waktu singkat ia sudah melancarkan tujuh buah serangan
kilat. Hoa Thian-hong segera mengerahkan segenap
kemampuannya untuk menangkis datangnya seranganserangan
kilat dari Cu Im taysu serta Ciong Lian-khek,
walaupun begitu posisinya masih tetap terdesak dan kalang
kabut. Tiba-tiba terdengar Li hoa siansu berkata sambil tertawa,
"Hoa Hujin, usia siaulong masih terlalu muda, mana dia
mampu untuk menghadapi serangan gabungan dari dua orang
cianpwee" lebih baik biarlah kami kakak beradik yang
melayani dirinya saja, sedang hujin memberi petunjuk dari
samping, dengan begitu mungkin hal ini akan jauh lebih
bermanfaat bagi dirinya."
"Bagus sekali!" pikir Hoa Thian-hong di dalam hati,
"sampai-sampai Li hoa cicipun tidak pandang sebelah matapun
terhadap diriku!" Meskipun pendidikan yang diberikan Hoa Hujin terhadap
putranya sangat keras, akan tetapi Hoa Thian-hong sebagai
pemuda yang berdarah panas, ia tak tahan mendengar
rangsangan dan akhirnya timbullah perasaan ingin menang
dalam hati kecilnya, tanpa sadar pula semangat bertempurpun
semakin meningkat, tidak menggubris apa yang diucapkan
oleh Hoa Hujin lagi, ia segera membentak keras berulang kali
dan pedang bajanya melancarkan serangan balasan dengan
sepenuh tenaga. Dalam sekejap mata, cahaya tajam membumbung tinggi
diangkasa, dari posisi bertahan ia berubah jadi posisi
menyerang. Sekalipun begitu, namun sayang sekali dalam beberapa
saat kemudian ia sudah terdesak kembali oleh seranganserangan
gabungan sekop dan pedang itu hingga terdesak
diatas tanah. Dengan saksama Hoa Hujin mengikuti terus jalannya
pertarungan antara ketiga orang itu, melihat Hoa Thian-hong
sudah lemah tak bertenaga lagi ia segera berseru, "Gunakan
jurus Hok tok han tong bangau sakti terbang dikolam, Sa in
cion bong em empat penjuru sunyi senyap, Im yang ji kek dua
kekuatan Im yang serta Po goan siu it pusat pikiran jadi satu!"
Keempat jurus tersebut merupakan jurus-jurus ampuh
dalam ilmu pedang yang dipelajari Hoa Thian-hong begitu
cepatnya Hoa Hujin menyebutkan nama dari jurus-jurus
serangan itu membuat orang yang berada disampingnya boleh
dibilang sama sekali tak sempat mendengar dengan jelas.
Tetapi bagi Hoa Thian-hong yang mempelajari ilmu silat
tersebut dari Hoa Hujin, boleh dibilang antara kedua orang itu
sudah memiliki ikatan batin yang kuat, mendengar seruan
tersebut pedang baja ditangan Hoa Thian-hong segera
berputar cepat dalam waktu singkat keempat buah jurus
serangan tersebut sudah dikerahkan keluar semua.
Ketika ia gunakan jurus Im yang ji kek, pedang
ditangannya berputar dari arah kiri menuju ke arah kanan,
begitu tepat dan manis penggunaan jurus pedang tersebut
membuat dua orang lawannya terdesak mundur satu langkah
kebelakang. Ciong Lian-khek yang berada disebelah kiri, setelah mundur
segera maju kembali kedepan, pedangpun ikut menyerang
kedepan. Siapa tahu, setelah melancarkan tiga jurus serangan tadi,
mendadak Hoa Thian-hong silangkan pedangnya didepan
dada, tubuhnya berputar kencang dan pedangnya menerjang
kedepan, nampaknya pedang baja itu segera akan saling
membentur dengan senjata lawan.
Selama hidup Ciong Lian-khek membenamkan diri untuk
mendalami ilmu pedangnya, tenaga dalam yang dimilili boleh
dibilang sudah mencapai kesempurnaan yang luar biasa,
ketika menyaksikan gelagat kurang baik, dia segera buyarkan
serangan sambil menahan diri.
Hoa Hujin yantg menyaksikan kejadian itu, bersiap untuk
memberi perintah kepada Hoa Thian-hong untuk
menggunakan jurus Lak hoo kui it atau enam bergabung satu
untuk mengobrak-abrik pertahanan.
Ciong Lian-khek mendadak teringat olehnya bahwa tenaga
dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong belum mencapai
puncaknya serangan yang dilancarkan secara paksa belum
tentu mampu hasilkan tenaga sebesar sepuluh bagian, maka
ingatan lain berkelebat dalam benaknya, ia segera membentak
keras, "Gunakan jurus Kiu thian cu lay atau sembilan langit
menutup seruling serta Kun siu ci tau!"
Sementara itu, ketika menyaksikan datangnya ancaman
sekop yang dilancarkan Cu im taysu, Hoa Thian-hong memang
berhasrat untuk mempergunakan jurus serangan Kiu thian cu
lay, mendengar seruan tersebut ia jadi semakin bersemangat,
pedang bajanya segera diayun kedepan membabat sepasang
lengan Cu Im taysu sedangkan telapak kirinya menghajar
Ciong Lian-khek. Traaang....! Pedang baja saling membentur dengan senjata
sekop hingga menimbulkan suara dentingan yang amat
nyaring, tubuh Cu Im taysu terbendung kebelakang sebaliknya
Hoa Thian-hong terdorong mundur satu langkah kebelakang
dengan sempoyongan. Meskipun pedang bajamerupakan benda yang keras namun
senjata sekop dari Cu Im taysu pun merupakan tenaga
raksasa yang luar biasa, dalam bentrokan tersebut sama sekali
tak cedera sebaliknya tubuh Hoa Thiang Hong malahan
tergetar keras. Dengan termakannya oleh getaran tersebut, serangan yang
dilancarkan dengan tangan kirinya pun melesat.... Kraaak!
serangan tadi menghajar diatas bahu Ciong Lian-khek.
Ketika ujang telapaknya menempel diatas pakaian, buruburu
Hoa Thian-hong menarik kembali serangannya dengan
perasaan tak tenang, Cu Im taysu sendiripun menarik kembali
senjatanya dan berhenti menyerang hanya Ciong Lian-khek
yang membentak kembali, "Ayo teruskan seranganmu!"
Pedang panjangnya laksana kilat melancarkan serangan
kembali. Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat kembali
dalam suatu pertempuran yang amat sengit.
Diam-diam Hoa Thian-hong berpikir, "Orang lain tak dapat
maju karena susah mendapat bimbingan guru pandai serta
kesempatan untuk memperdalam ilmunya, sedangkan aku
sudah mendapatkan kasih sayang dari orang tuaku, bisa
mempelajari il mu silat tangguh dan lagi ada pula para
cianpwee yang bersedia mengobankan waktu serta tenaga
untuk menggembleng diriku, kalau aku tidak dapat
memanfaatkan kesempatan ini serta mencapai tingkat ilmu
silat yang tinggi, bukankah kemampuanku ini ibaratnya kentut
anjing yang busuk dan sama sekali tak ada gunanya?"
Berpikir sampai disini, semangatnya segera berkobar,
pedang bajanya berputar makin kencang dan berusaha untuk
menyerobot posisi yang menguntungkan, hal ini memancing
berkobarnya semangar Cu Im taysu serta Ciong Lian-khek
untuk lebih memusatkan perhatiannya pada permainsn
senjata, jurus demi jurus dilancarkan semakin gencar dan
sedikitpun tiada maksud untuk mengendorkan serangan.
Hoa Hujin sendiripan lebih bersemangat serta lebih sering
memberi petunjuk kepada putranya, hal ini membuat Hoa
Thian-hong tak bisa menang juga tak dapat kalah,
pertarungan sengit berlangsung terus dengan ramainya.
Ditengah berlangsungnya pertarungan sengit, tiba-tiba
senjata sekop dari Cu Im taysu menggunakan jurus-jurus
ampuh yang paling rahasia, secara beruntun ia memaksa
Thian Hong jadi gugup dan kalang Kabut tak karuan, terdesak
hebat hingga kacau dalam pertahanan.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itu, Ciong
Lian-khek segera menyerang dengan serangan-serangan
ampuh, memaksa Hoa Thian-hong harus merghindar
berulangkali, tanpa sadar ia mundur semakin mendekati
ibunya. Tiba-tiba terdengar Cu Im taysu membentak keras, cahaya
perak berkilauan memenuhi seluruh angkasa, dan tahu-tahu
senjata sekop itu sudah muncul diatas pinggang Hoa Thianhong
memaksa si anak muda itu sama sekali tak berkutik lagi.
Sambil menarik kembali senjata sekopnya, Cu Im taysu
berkata, "Untuk menyaksikan jurus Budbi bertanya soal
agama, pinceng harus membutuhkan waktu selama dua bulan
lebih sebelum berhasil menggunakan serangan itu dengan
leluasa, coba pikirkanlah dengan seksama, apakah engkau
mempunyai kepandaian untuk mencegah jurus serangan
tersebut?" Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong setelah
mendengar pekataan itu, sambil menyeka air keringat yang
membasahi keningnya ia berkata, "Boanpwee tak dapat
memikirkan dengan jurus serangan apakah aku baru bisa
memecahkan jurus seranaan tersebut...."
Bicara sampai disini, sorot matanya segera dialihkan ke
arah ibunya. Hoa Hujin termenung dan berpikir beberapa saat kemudian,
kemudian ujarnya dengan lirih, "Jurus serangan Budhi
menanyakan soal agama dari taysu memang betul-betul hebat
dan luar biasa sekali, akupun tak mampu untuk menemukan
jurus pemecahan yang jitu"
"Haahhh....haahah....haaahh.... kita toh sesama kawan
sealiran, kenapa hujin musti merendahkan diri?" seru Ciu Im
taysu sambil tertawa terbahak-bahak.
Mendadak seperti menyadari akan sesuatu sambil menatap
tajam wajah Hoa Thian-hong, katanya, "Nak, keenam belas
jurus ilmu pelang yang kau miliki merupakan kepandaian silat
maha ampuh yang ada di kolong langit, engkau harus
merubahnya secara teliti dan seksama, janganlah selalu
menggantung-kan pada kecerdasan ibumu"
Tiba-tiba terdengar Han In menimbrung dari samping
arena, "Sekarang tengah hari sudah menjelang tiba,
bagaimana kalau kalian beristirahat lebih dahulu" setelah
bersantap nanti latihan baru dilanjutkan kembali!"
Li hoa siansu pun memandang cuaca sebentar, kemudian
teriaknya, "Sian long, apakah ini hari engkau sudah tidak
merasakan lagi gejalagejala mau kambuhnya racun teratai?"
Hoa Thian-hong segera gelengkan kepalanya berulang kali.
"Sama sekali tidak merasakan apa-apa, aku rasa racun
teratai itu sudah dicairkan oleh getah Leng-ci berusia seribu
tahun" Mendengar jawab n tersebut, semua orang jadi sangat
gembira dan merekapun bersantap siang.
Ternyata latihan pertarungan yang dilangsungkan oleh
ketiga orang itu sudah menarik perhatian para jago lainnya
sehingga ber sama-sama berkumpul disekitar arena, tanpa
terasa setengah hari sudah lewat dengan cepatnya.
Selesai bersantap, Hoa Thian-hong segera menyambar
kembali pedang bajanya dan loncat bangun dari atas tanah,
serunya sambil memberi hormat, "Locianpwee berdua,
bagaimana kalau kita lanjutkan pertarungan ini?"
"Apakah engkau telah berhasil menemukan bagaimana
caranya untuk memunahkan jurus serangan Budhi
menanyakan soal agama dari Cu Im taysu itu?"
"Setelah boanpwee berpikir beberapa saat, boanpwee rasa
untuk menghadapi jurus serangan Budhi menanyakan soal
agama dari taysu, aku dapat mempergunakan jurus Hi Cweng
ciu atau ikan lompat ke-dalam sungai untuk mempertahankan
diri, cuma saja tenaga dalamku terlalu cetek, gerakan
selanjutnya susah untuk dikerjakan, oleh sebab itulah jikalau
pedang panjang dari cianpwee menyerang tiba tepat pada
waktunya, boanpwee masih tetap tak mampu
mempertahankan diri"
"Kalau memang begitu, bukankah engkau sudah pasti bakal
menderita luka kekalahan?" kata Ciong Lian-khek dengan nada
tawar. "Seandainya benar-benar sedang menghadapi serangan
musuh, maka boanpwee akan mempergunakan jurus Thian
hoo seng San atau bintang buyar disungai langit untuk
mengadu jiwa dengan taysu, sebaliknya andaikata taysu
buyarkan serangan maka pedang baja dari boanpwee akan
berputar mengancam cianpwee"
"Bintang buyar sungai adalah jurus yang keberapa?" tanya
Ciong Lian-khek dengan dahi berkerut.
"Jurus terakhir dalam ilmu pedangku" jawab Hoa Thianhong,
setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh,
"Cuma saja, berada dihadapan taysu serta cianpwee yang
berkepandaian tinggi, dalam keadaan tenaga dalam tak cukup
tentu saja sukar untuk mewujudkan harapanku itu"
Rasa sedih melintas diatas wajah Ciong Lian-khek,
keluhnya, "Bicara pulang pergi yang paling penting adalah
tenaga dalammu tidak mencukupi, aaai....! seratus hari
berlatih golok, seribu hari berlatih pedang, sebenarnya hanya
suatu pekerjaan yang terlalu dipaksakan...."
"Boanpwee akan berlatih dengan tekun!"
"Engkau tidak lelah?"
"Tidak, boanpwee sama sekali tidak merasa lelah...." jawab


Tiga Maha Besar Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hoa Thian-hong sambil gelengkan kepalanya.
Cu Im taysu yang berada disisinya segera tertawa.
"Kalau dilihat keadaan yang begitu semangat, agaknya
tenagamu memang betul-betul luar biasa sekali" serunya.
Ia segera bangkit berdiri dan menyambung lebih jauh,
"Ciong lian heng! membakar dupa bakar sampai habis,
mengantar Buddha mengantar sampai langit, kitapun tak
boleh menunjukkan sikap lelah!"
Ciong Lian-khek adalah seorang manusia Varg bersemangat
baja, sebelum suatu pekerjaan berhasil dilesaikan, ia
bersumpah tak akan berhenti, sekarang setelah dilihatnya Hoa
Thian-hong masih mempunyai kekuatan untuk bertempur
lebih jauh, dia segera mempersiapkan pedangnya dan berjalan
menuju ketengah gelanggang.
Tiba-tiba Hoa Hujin berpaling ke arah Chin Giok-liong serta
Bong Pay lalu ujarnya, "Hian tit berdua bagaimana dengan
hasil latihan kalian selama belakangan ini?"
Buru-buru Chin Giok-liong memberi hormat dan menjawab,
"Sebenarnya boanpwee sedang mengikuti Ciong lian cianpwee
belajar ilmu pedang, dan belakangan ini mendapatkan pula
serangkaian ilmu langkah dari ayahku, cuma sayang bakatnya
kurang baik sehingga kemajuan yang berhasil dicapai pun
lambat sekali" Hoa Hujin mengangguk. "Dalam soal ilmu silat, memang tak dapat menghiasi dalam
satu dua hari belaka, meskipun aku mempunyai hasrat untuk
membimbing dirimu, sayang sekali aliran ilmu silat yang kita
anut sama sekali berbeda, sekalipun kuwariskan kepada hian
tit juga sama sekali tak ada manfaatnya
"Bibi demikian memperhatikan boanpwee, membuat hian tit
merasa amat berierima kasih sekali.
Hoa Hujin menghela napas panjang, serunya kemudian,
"Bagaimana dengan Bong hian tit?"
"Boanpwee tetap mempelajari ilmu pukulan Pek lek ciang
warisan dari mendiang guruku!"
"Ehmm! guruku adalah seorang pendekar besar yang
namanya amat tersohor di kolong langit" kata Hoa Hujin
sambil manggut, "asalkan engkau dapat meneruskan cita-cita
gurumu serta menegakkan terus garis hidup yang telah
diterapkan oleh mendiang gurumu, bila mana suka gurumu
dialam baka mengetahui akan hal ini, dia pasti akan merasa
amat gembira sekali."
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, "Dewa
yang suka melancong dengan mendiang gurumu adalah
sahabat yang sangat akrab, ia sangat mengharapkan akan
kesuksesanmu dalam mewujudkan cita-cita mendiang gurumu,
karena itu separoh dari jilid kitab ilmu silat telah ia serahkan
kepadaku dengan harapan aku bisa mewariskannya kepadamu
kalau berhasrat untuk maju, sekarang juga a kan kuwariskan
kepandaian itu padamu"
Bong Pay tertegun mendengar perkataan itu, dia melirik
sekejap ke arah Hoa Thian-hong kemudian jawabnya dengan
kepala ter tunduk, "Kepandian silat yang boanpwee miliki
sangat cetek, setiap kali bertempur pasti kalah, jikalau bibi
bersedia untuk memberi pelajaran tentu, saja boanpwee pun
bersedia untuk mempelajarinya"
Hoa Hujin menghela napas panjang, katanya, "Kami semua
adalah bekas panglima perang yang kalah tempur ditangan
musuh namun tetap semangat, maka suatu saat semua sakit
hati dan dendam kesumat akan berhasil kita tuntut balas"
Bong Pay segera mengangguk.
"Asalkan boanpwee dapat membalaskan dendam bagi
kematian guruku, perbuatan macam apapun aku bersedia
untuk melakukannya" Mendengar ucapan itu, Hoa Hujin pun berpikir dalam hati
kecilnya, "Meskipun orang ini kasar dan berangasan namun
dia adalah seorang manusia yang berperasaan...."
Ia segera bangkit berdiri dan membawa Bong Pay menuju
ke puncak bukit dimana ilmu sakti Cu yu jit ciat segera
diwariskan padanya. Siapa sangka, sisa laskar golongan lurus yang berjumlah
kecil ini benar-benar berhasrat sekali untuk menggunakan
kekuatan mereka yang kecil untuk menumbangkan tiga
kekuatan besar yang ada di kolong langit dewasa itu, setiap
orang berlatih diri dengan tekun dan semua orang mengharap
kemajuan yang pesat dalam kepandaian silatnya masingmasing.
Dalam waktu singkat, tiga hari sudah lewat tanpa terasa
dan haripun sudah menunjukkan bulan tujuh tanggal tujuh
belas malam, berhubung usaha mati-matian dari Hoa Hujin
serta Cu Im taysu sekalian, dalam tiga hari yang penuh
dengan latihan itu tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong
telah memperoleh kemajuan yang pesat dan permainan
pedang boleh dibilang hampir melampui beberapa orang jago
tua itu. Sekarang ia mampu bertempur melawan Cu Im taysu serta
Ciong Lian-khek sebanyak ribuan gebrakkan tanpa kalah,
cuma saja ke dua orang tokoh silat itupun sudah memahami
ilmu pedangnya maka pemuda itu sendiripun tak mampu
untuk merebut kemenangan Tio Sam-koh serta Hoa In segera ikut menerjunkan diri pula
kedalam arena untuk bertarung melawan Hoa Thian-hong,
namun pertempuran selama setengah harian akhirnya tetap
seri. Adakalanya empat orang jago itu turun tangan bersamasama
untuk mengerubuti pemuda itu selama setengah harian
lamanya membuat pemuda itu kehabisan tenaga dan lelah,
namun posisi masih masih tetap dipertahankan dalam keadaan
seimbang. Keempat orang jago itu bagaikan sebuah tungku api yang
menggembleng serta menempa tubuh Hoa Thian-hong
dengan ketatnya, latihan demi latihan yang berat serta
melelahkan membuat langsung berhasil dicapai benar-benar
menakjubkan, sayang waktunya tidak terlalu banyak lagi
sebab waktu sudah menunjukkan tanggal tiga belas malam,
besok malam adalah saat diselenggarakannya pertemuan
besar itu. Selesai bersantap malam, sambil membawa pedangnya,
Hoa Thian-hong segera memberi hormat kepada Cu Im taysu
sekalian sambil ujarnya, "Besok kita harus memelihara tenaga
secara baik-baik dan beristirahat semalam suntuk,
menggunakan kesempatan yang terakhir pa da malam ini,
harap para cianpwee sekalian suka bersusah payah lagi...."
"Aaaai....! apa itu soal susah payah" asal engkau mampu
untuk meningkat lebih tinggi setaraf, aku rasa Thian Ik-cu pun
tidak akan mampu untuk menahan pedang bajamu" kata Cu
Im taysu dengan cepat. Ciong Lian-khek, Tio Sam-koh maupun Hoa In sama-sama
membungkam dalam seribu bahasa, Cu Im taysu serta Hoa
Thian-hong, lima orang mereka bersama-sama menuju keatas
bukit. Sementara kemudian, Chin Pek-cuan pun membawa
Chin Giok-liong berlalu dari situ. Sedang Bong Pay seorang diri
menuju keatas puncak bukit.
Pertemuan besar Kian cian tayhwee sudah kian lama kian
semakin dekat, perasaan hati semua orangpun tersadar
bertambah tegang, gelak tertawa sudah jarang kedengaran
lagi. Ci wi siancu menengadah memandang rembulan, kemudian
kepada Hoa Hujin ujarnya, "Hujin, ketiga jurus ilmu jari itu
bilamana dilatih Siau long pada tangan sebelah kiri dan
diimbangi dengan permainan jurus pedang, bukankah daya
tekanannya akas bertambah kuat?"
Sejak permulaan ia sudah melatih kepandaian tersebut
dengan tangan kanan, sekarang sudah tiada waktu lagi untuk
merubahnya" "Ciu It-bong dapat mengandalkau jurus Kun siu ci tau yang
terdiri hanya satu jurus sebagai kepandaian andalannya, hal
ini membuktikan kalau dibalik permainan jurus itu terkandung
perubahan yang sakti serta daya kekuatan yang luar biasa"
sela Lam hoa siancu dari samping, "tetapi berhubung ilmu
pedang serta telapak dari Siau long belum berhasil mencapai
pada puncaknya maka ia susah untuk menggabungkan
permainan kedua macam kepandaian itu menjadi satu,
seandainya ilmu itu sudah mencapai puncak kesempurnaan
dan bisa dipergunakan menurut kehendak hati, aku rasa kalau
dibandingkan dengan kekuatan ilmu jari Ci yu jit ciat pun akan
jauh lebih tangguh lagi"
"Perkataan nona sedikitpun tidak salah" sahut Hoa Hujin
sambil mengangguk, tombak panjang golok pendek, itu bukan
berarti golok tak dapat menangkan tombak, melainkan
kesempurnaan dalam kepandaian silatlah yang lebih
diutamakan" Lam hoa siancu tersenyum, setelah berhenti sebentar
katanya lagi, "Hujin, lebih baik engkau mengurusi tentang dari
Sian long saja, biarlah kami beberapa orang yang berjaga-jaga
dijembatan batu ini, dan aku rasa tak mungkin akan terjadi
suatu kesalahan, andaikata terjadi peristiwa yang tidak
diinginkan biarlah kami akan suruh Tiong Hau untuk memberi
laporan kepada nyonya!"
Hoa Hujin berpikir sebentar, kemudian jawabnya, "Kalau
memang begitu, terpaksa aku harus merepotkan nona
bertiga....!" Setelah berjalan maju beberapa langkah, tiba-tiba ia
berpaling dan berkata kembali, "Saat dibukanya pertemuan
Kian ciau tayhwee sudah semakin dekat, mungkin saja ada
sahabat dari satu aliran yang akan menyusul kemari, harap
nona bertiga jangan sampai berayal menyambut kedatangan
sahabat- sahabat kita itu....!"
Tiga dewi dari wilayah Biau mengiakan dan Hoa Hujin pun
segera meneruskan perjalanannya menuju kebelakang bukit
dan lenyap dibalik bebatuan.
Li Hoa siancu memandang sekejap ke arah Chin Wan-hong,
lalu sambil mengerdipkan matanya ia tertawa dan berkata,
"Hong ji, bukanlah engkau ingin melihat siau long" kenapa
tidak ikut serta bersama sama hujin?"
"Siapa sih yang mengatakan kalau aku hendak meliat Siau
long" dia sedang berlatih ilmu silat, aku tak ingin mengganggu
ketenangannya selama latihan!" jawab Chin Wan-hong sambil
tertawa. "Hong ji!" seru Ci wi siancu pula sambil tertawa, aku lihat
sesudah tak berjumpa selama satu tahun, sikap siau long
terhadap dirimu sudah tidak menyerupai keadaannya pada
tempo dulu, coba lihatlah selama beberapa hari ini, dia sama
sekali tak mengucapkan sepatah katapun terhadap dirimu.
Chin Wan-hong tertawa, jawabnya, "Pertemuan besar Kian
ciau tayhwee sudah hampir tiba, perasaan hatinya sedang
berat, murung dan lagi pula sibuk berlatih ilmu silat, mana dia
punya waktu untuk bercakap-cakap dengan aku?"
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi dengan
nada sedih, "Selama ini dia selalu memikirkan tentang dendam
kematian ayahnya, cuma perasaan tersebut selamanya tak
pernah diutarakan keluar, dalam penemuan Kian ciau tayhwee
nanti dia bakal bertemu dengan musuh besarnya, pertarungan
sengitpun tak mungkin bisa dihindari lagi"
"Dengan kesumat atas kematian ayahnya adalah suatu
dendam yang dalamnya melebihi samudra, kenapa ia tak
berani mengutarakannya keluar?" kata Ci wi siancu.
"Hujin melarang dirinya untuk mengatakan soal dendam
karena takut melemahkan semangat persatuan diantara para
pendekar serta melemahkan daya pikiran setiap orang dalam
menghadapi masalah besar ini"
"Kenapa?" "Suci coba bayangkan seadainya yang dipikirkan terus
olehnya hanyalah membalas dendam, manusia-manusia gagah
seperti Cu Im taysu sekalian yang sama sekali tidak
mengutamakan soal dendam pribadi bukankah bakal putus
asa dan seandainya sampai terjadi keadaan seperti ini
bukankah akan mematahkan semangat tempur mereka
sendiri" "Ooooh....! rupanya terdapat juga masalah yang demikian
peliknya seru Ci wi siansu sambil tertawa, yang akan kita
bantu hanya lah siau long seorang diri perduli amat siapa lurus
siapa sesat mau bertempur kita turun tangan dan mau bunuh
kita bunuh saja bukankah lebih beres?"
Tiba-tiba Li hoa siancu tertawa dan berkata, "Hong ji,
engkau mengatakan bahwa Siau long selalu memikirkan
tentang dendam kematian ayahnya, apakah secara diam-diam
ia berita-hukan kepadamu?"
Chin Wan-hong segera menggeleng.
"Dia adalah seorang anak yang berbakti, setelah ibunya
melarang dia untuk berbuat demikian maka sekalipin hanya
mencuri untuk berpikirpun, tak akan berani apalagi
mengutarakannya keluar, cuma saja.... ia bisa berbakti
terhadap ibunya masa tidak berbakti terhadap ayahnya" dan
masa ia dapat melupakan soal kematian ayahnya?"
Li hoa siancu mengangguk tanda membenarkan, tiba-tiba ia
berpaling dan serunya, "Tong Long, engkau mengatakan
bagaimana hubungan antara siau long dengan Giok Teng
Hujin dari sekte agama Thong-thian-kauw?"
"Oooh.... aku hanya secara kebetulan saja mendengar
percakapan antara dua orang imam cilik ketika masih berada
didalam kuil It goan hoan tempo hari...." kata Harimau bisu
Tong Long. "Apa yang dia katakan?"
Harimau bisu Tong Long itu agak tertegun sebentar,
kemudian jawabnya, "Kedua orang imam cilik itu
membicarakan tentang bagaimanakah hubungan yang intim
antara Hoa kongcu dengan Giok Teng Hujin, kemudian
membicarakan pula bagaimana Thong-thian-kauwcu
cemburu!" "Sebenarnya bagaimana sih yang tepatnya?" tanya Li hoa
siancu dengan wajah cemberut.
"Aku sendiripun kurang begitu jelas"
Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, "Kedua
orang imam cilik itu tidak membicarakan sampai jelas, tentu
saja aku sendiripun kurang begitu jelas."
"Persoalan ini toh menyangkut tentang nona Hong, masa
engkau tidak bisa menanyai mereka?" seru Li hoa siancu
dengan marah. Chin Wan-hong yang berada disampingnya segera
menimbrung, "Pada saat itu dia adalah seorang tawanan,


Tiga Maha Besar Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sedangkan kedua orang imam cilik itu pun membicarakannya
secara diam-diam, Ji sicu! coba engkau suruh dia bagaimana
caranya untuk mengajukan pertanyaan tersebut, padahal tak
usah ditanyakan lagipula urusan sudah sangat jelas" kata Lam
hoa siancu dengan cepat, "perempuan itu toh bersedia
menghadiahkan Leng-ci berusia seribu tahun kepada Siau
long, apa yang harus dibicarakan lagi....?"
Tiba-tiba terdengar Harimau ompong Tiong Lo poo cu
berkata, "Perempuan itu benar-benar ibarat pungguk
merindukan bulan, Hoa sauya masih muda dan gampang
terpengaruh oleh nafsu birahi.... tentu saja ia gampang
mempengaruhi sauya kita. Hmmm! Siancu, dalam pertemuan
besar Kian ciau tayhwee besok pagi engkau harus
mengeluarkan sedikit kepandaian dan racuni perempuan itu
sampai mampus!" Dalam pandangan tiga harimau dari keluarga Tiong, Hoa
Thian-hong serta Chin Wan-hong adalah pasangan yang
paling ideal dan lagi ke dua-duanya merupakan majikan
mereka tentu saja dalam pandangan ketiga orang itu mereka
tak rela membiarkan orang ketiga turut campur dalam
hubungan tersebut, sekali pun Hoa Thian-hong serta Chin
Wan-hong bersedia, tiga harimau dari keluarga Tiong tetap
tidak setuju. Cin wi siancu yang mendengar perkataan itu segera
menimbrung, "Toa Suci, ide ini sangat bagus sekali! Hong ji
jadi orang terlalu jujur dan lagi tak bersedia melatih ilmu silat
bukan saja sekarang tidak merasa iri atau cemburu sebaliknya
malah dipermainkan oleh perempuan lain, aku rasa untuk
berjaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan
lebih baik kita cepat-cepat bikin mampus perempuan itu lebih
dahulu....!" "Suci bertiga, janganlah bikin huru hara yang sama sekali
tak ada artinya" seru Chin Wan-hong dengan gelisah, Giok
Teng Hujin adalah putri kesayangan dari Siang Tang Lay dan
lagi kitapun sedang menghadap musuh yang amat tangguh...."
"Bikin huru hara apa omel Ci wi siansu, budak yang tak
berguna, pembaringan yang hanya muat ditiduri dua orang
masa kau biarkan orang lain untuk menidurinya" kami
bersusah payah untuk membantu engkau malah bicara
seenaknya.... benar-benar bodoh!"
Gadis suku Biau paling tebal rasa cemburunya, sering
mereka lepaskan racun jahat untuk mempengaruhi perasaan
kekasihnya, apabila ada musuh dalam cinta merekapun tak
segan-segan untuk turun tangan keji guna menyingkirkan
saingannya itu, seringkali apa yang dibicarakan dilakukan
dengan segera, karena itulah sesudah mereka mengancam
akan bikin mati Giok Teng Hujin maka ancaman itu pasti akan
dilakukannya pada suatu ketika.
Sebaliknya Chin Wan-hong adalah seorang gadis yang
berbudi luhur serta memahami keadaan situasi, dan lagi
diapun jerih sekali terhadap wibawa dari Hoa Hujin, karena
itulah meski pun perbuatan dari ketiga orang sucinya itu
adalah demi kebaikan dirinya, namun sang hati merasa ngeri
dan kuatir. ooooooooo 45 DALAM pada itu, dari tepi pantai seberang berkelebat
datang sesosok bayangan manusia yang ramping, disorot sinar
rembulan tampaklah gerakan tubuh orang itu cepat bagaikan
kilat dan tergesa-gesa sekali, dalam beberapa kali lompatan ia
sudah berada dibelakang batu peringatan tersebut.
Tatkala tiba didepan batu peringatan itu, bayangan
manusia yang ramping tadi nampak tertegun dan segera
membaca tulisan yang tertera disana.
Ia termenung sambil memandang keangkasa, lama sekali....
kemudian baru bergumam dengan suara sedih, "Apakah aku
terhitung sebagai sahabat mereka...." kalau aku mengaku
sebagai sahabatnya, apakah ia bersedia untuk menerimanya"
dan orang lain apakah bersedia pula untuk menerimanya"
apakah tiada orang lain yang akan mentertawakan diriku?"
Lama sekali ia berdiri termangu-mangu, kemudian alihkan
kembali rorot matanya ke arah tepi seberang.
Dibawah sorot rembulan, secara lapat-lapat ia temukan
pula ada beberapa orang sedang duduk diatas bukit, dan
orang-orang itu bukan lain adalah sekawanan perempuan.
Bayangan ramping itu kembali tertegun, akhirnya sambil
menggertak gigi ia loncat naik seatas jembatan batu dan
bergerak ke depan. Tiga dewi dari wilayah Biau sekalian yang berada diatas
bukitpun sudah mengetahui kalau ditepi seberang telah
kedatangan seseorang, hanya saja berhubung jaraknya masih
jauh dan lagi membelakangi cahaya rembulan maka raut
wajahnya tidak terlibat jelas.
Tiba-tiba Li hoa siancu tertawa dan berbisik lirih, "Bagus
sekali, baru saja kita bicarakan soal Co Cho, eei....! tak
tahunya Co Cho sudah tiba, rupanya Giok Teng Hujin itu
sudah tidak sabar menunggu sampai diselenggarakannya
pertemuan besar Kian ciau tayhwee dan datang menghantar
kematiannya lebih dahulu"
"Tidak aneh kalau siau long terpikat oleh dirinya" ujar Lan
hoa siancu pula sambil tertawa, "cukup ditinjau dari
potongannya badannya memang sudah cukup membuat orang
tergiur" "Lebih baik kita binasakan dirinya dengan bubuk racun
pemabok ataukah ditangkap dulu dalam keadaan hidup-hidup
setelah disiksa ba ru dibunuh mati?" tanya Ci wi siancu.
"Kalau berbuat begitu rasanya kurang baik tungkas harimau
ompong Tiong lo po cu secara tiba-tiba, perempuan ini adalah
putrinya Siong Tang Lay dan lagi telah meluaskan budi
terhadap sauya kita, seandainya kita hukum mati setelah
berhasil menangkapnya hidup-hidup bila Hoa Hujin akan
mengetahui peristiwa ini, lain kali dia akan menyalahkan kita,
sedang Hoa sauya yang sudah tergila-gila oleh
kecantikannya...." "Hmm! bicara tanpa bukti tukas harimau pelarian Toang
Lian dengan cepat, dengan alasan apa engkau mengatakan
kalau Siau Koan-jin telah tergila-gila oleh kecantikannya?"
"Peduli bagaimanapun, kaum pria memang suka sekali
mengganti yang baru dan bosan terhadap yang lama, kata
Harimau ompong Tiong Lo Po cu dengan perasaan tak puas,
dari julukan yang dipergunakan perempuan itu sudah dapat
diketahui kalau dia bukan manusia baik-baik, lebih baik kita
pura-pura tidak tahu saja, agar ia tercebur ke dalam jurang
dan mati dengan badan hancur"
"Cara berpikir Lo popo memang jauh lebih tepat!" seru Lan
hoa si ancu kemudian sambil tertawa, "kematian manusia
bagaikan padamnya lampu, sekalipua Siau long merasa
bersedih itupun hanya bersifat sementara untuk kemudian
akan melupakan untuk selamanya, dan asal kita tidak turun
tangan maka Hoa Hujin pun tak dapat menyalahkan kita"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, gadis yang
tinggi semampai dan amat ramping itu sudah melewati batu
peringatan dan meluncur ketengah jembatan.
Li Hoa siancu segera tertawa dan berkata lagi, "Coba kalian
liat gerak-geriknya yang tersipu-sipu dan diliputi rasa malu,
bukan saja tak mau sebutkan nama bahkan menganggap
dirinya sebagai kekasih siau long, dengan langkah lebar ia
berjalan kedepan tanpa perasaan takut barang sedikitpun
juga" Berbicara sampai di situ, perempuan tadi sudah tiba pada
lapisan batu pertama dimana Ci wi siancu melepaskan
racunnya pada pos pertahanan yang pertama.
Berhubung semakin dekatnya dengan hari diadakannya
pertemuan besar, penjagaan diatas jembatan batu itu sudah
diperbaharui, dan tiga dewi dari wilayah Biau pun belum lama
berselang menaburkan kembali bubuk racunnya, baru saja
ujung kaki perempuan itu menginjak diatas lapisan batu yang
pertama, lubang hidungnya telah mencium bau racun
pemabok yang lihay dari perguruan Kiu-tok Sianci tersebut.
Meskipun obat pemabok itu tidak lebih lihay dari Mi hun san
yang berada pada pos pertahanan kedua, akan tetapi
perempuan itu sudah tak tahan, tubuhnya gontai dan hampir
saja roboh kedalam jurang.
Menyaksikan kejadian itu Chin Wan-hong segera menjerit
kaget, ketika terbayang kembali oleh jeritan ngeri yang pernah
didengarnya beberapa hari berselang, ia tak tega dan buruburu
serunya, "Suci bertiga, mari kita kesana dan memeriksa
keadaannya, setelah menanyakan maksud tujuannya lebih
baik kita usir dirinya pergi saja"
"Budak bodoh, apa yang perlu kita tanyakan lagi" apakah
engkau bersedia untuk angkat saudara dengan dirinya serta
menjadi istri seorang suami yang sama?"
Chin Wan-hong terbungkam dan menunduk.
Tiba-tiba Lan hoa siancu berseru keras, "Eeeei....! Giok
Teng Hujin itu benar-benar luar biasa.... coba lihatlah!"
Ternyata gadis berbadan ramping itu berhasil menguasai
diri, setelah masukkan sebutir obat kedalam mulutnya dan
mengatur pernafasan sebentar, ia lanjutkan perjalanannya
menuju kedepan. "Aaih!" teriak Li hoa siancu dencan gemas, "kalau engkau
mampu untuk melawan bubuk Mi hun san milikku itu maka
aku akan takluk kepadamu"
Chin Wan-hong membelalakan matanya dan menatap
wajah perempuan itu tanpa berkedip barang sedikitpun jua,
ketika ia saksikan perempuan itu sudah tiba dipunggung
jembatan dan teringat kembali akan kelihayan bubuk mi hun
san milik ji suci nya itu ia jadi sangat gugup dan segera
teriaknya keras-keras, "Giok Teng Hujin, cepat berhenti!"
Mendengar teriakan tersebut perempuan itu benar-benar
berhenti dan segera menengadah keatas.
Li hoa siancu jadi gemas, sambil menuding dahi Chin Wanhong
serunya dengan nada getun, "Budak bodoh, rupanya
engkau lebih suka mencari penyakit buat diri sendiri....!"
Sedangkan Lam hoa siancu sambil tertawa cekikikan segera
menggandeng tangan Chin Wan-hong seraya berkata, "Ayoh
jalan, mari kita saksikan sampai dimanakah kecantikan wajah
dari hujin ini, mari kita kesana bersama-sama."
Semua orang segera loncat turun dari atas bukit dan
menuju ketepi jembatan itu.
Baru saja mereka tiba ditempat tujuan, tiba-tiba Chin Wanhong
celah menjerit tertahan, "Oooh....! dia...."
"Siapa?" tanya Lam hoa siancu.
"Pek Kun-gie!" "Pucuk dicinta ulam tiba, kebetulan sekalii!" seru Li hoa
siancu dengan alis berkerut.
Ia segera menjejakkan kakinya dan bergerak lebih dahulu
menuju kedepan, sedangkan Lam hoa siancu serta Ci wi
siancu pun segera berkelebat kedepan setelah mengetahui
bahwa perempuan yang munculkan diri itu bukan lain adalah
Pek Kun-gie. Tiba-tiba terdengar harimau ompong Tiong lo po cu
lantang, "Sian cu bertiga, malam ini sekalian langit bakal
ambruk jangan kita lepaskan perempuan rendah itu dalam
keadaan hidup" "Kau tak usah bicara, kami sudah tahu," jawab Li hoa
siancu. Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah tiba di tengah
jembatan batu dan berdiri saling berhadapan dengan Pek Kungie
dalam jarak hanya tiga tombak belaka.
Dibawah sorot rembulan, Pek Kun-gie yang angkuh dan
agung berdiri dengan angkernya diatas jembatan, pakaiannya
yang berwarna putih salju terhembus angin gunung, membuat
wajahnya nampak begitu cantik jelita hingga ibaratnya
bidadari yang baru turun dari kahyangan.
Pek Kun-gie memang sangat cantik, begitu cantiknya
sehingga menimbulkan perasaan iri dan cemburu dalam hati
kecil Biau nia sam sian, Pek Kun-gie terlalu angkuh sehingga
menimbulkan kesan yang jelek dalam ketiga dewi dari wilayah
Biau itu. Dalam waktu singkat seluruh udara diliputi oleh nafsu
pembunuh yang amat tebal, suasana jadi tegang dan setiap
saat pertumpahan yang bakal terjadi.
Terdengar Li hoa siancu bertanya dengan nada dingin
bagaikan es, "Apakah engkau putri dari Sin-kie-pangcu yang
bernama Pek Kun-gie...."
"Ucapanmu sedikitpun tidak salah" jawaban dari Pek Kungie
lebih dingin begitu dinginnya hingga menggidikan hati
orang, kalau kulihat dari dandananmu yang menyerupai orang
dari suku Biau, aku rasa kalian tentulah anak murid dari Kiutok
Sianci bukan?" "Tiga dewi dari wilayah Biau suatu nama yang tak dikenal
di kolong langit" jawab Li hoa siancu dengan hawa nafsu
membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.
Setelah berhenti sebentar sambil tertawa dingin,
sambungnya lebih jauh, "Engkau bukannya berdiam
dilindungan ayahmu mau apa seorang diri datang kemari?"
"Manusia liar yang belum beradab, buat apa menyampuri
urusan orang lain?" ejek Pek Kun-gie sinis.
Ia segera menengadah dan berteriak keras, "Chin Wanhong
mengapa engkau tak berani datang kemari untuk
berjumpa dengan aku?"
"Perempuan bajingan!" seru harimau ompong Tiong lo po
cu dengan penuh kebencian, engkau sendiri manusia macam
apa" kenapa nona kami harus berjumpa dengan dirimu?"
Chin Wan-hong sendiri mengerdipkan matanya lalu
melayang turun diatas jembatan batu dan berkelebat ke arah
depan. Luas jembatan batu amat sempit, tiga dewi dari wilayah
Biau pun secara memaksakan diri bisa berdiri sejajar, setelah
Chin Wan-hong menyusul maju kedepan maka diapun hanya
dapat berdiri di belakang tubuh ketiga orang sucinya belaka.
"Pek Kun-gie ada urusan apa engkau mencari aku?"
serunya. "Hmm! engkau tak usah terlalu meninggikan kedudukanmu
sendiri, sekalipun aku ada urusan tidak mungkin aku bakal
datang sendiri untuk mencari dirimu"
Setelah berhenti sebentar, tambahnya, "Undangan Thing
Hong untuk berbicara dengan aku, ada rahasia penting yang
hendak disampaikan sendiri kepadanya"
Chin Wan-hong maupun Biau nia sam san sama-sama


Tiga Maha Besar Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berdiri tertegun, Li hoa siancu kuatir pendengarannya keliru,
dengan wajah tercengang ia segera berkata, "Thian Hong"
engkau sedang memanggil siapa" engkau anggap nama Thian
Hong boleh kau sebut dengan seenaknya?"
Haruslah diketahui, dalam pandangan Pek Kun-gie, musuh
cintanya yang terutama adalah Chin Wan-hong dan selamanya
dia menaruh rasa permusuhan yang amat besar terhadap
dirinya. Sedangkan dalam pandangin Chin Wan-hong serta Bau nia
sam sian, mereka menganggap Pek Kun-gie sudah berulang
kali mencelakai jiwa Hoa Thian-hong membuat pemuda itu
menderita rasa malu dan penghi naan, membuat pemuda itu
harus merasakan jarum racun Soh hun tok ciam dari Pek Siauthian
serta memaksa dia untuk menelan Racun teratai empedu
api. Tetapi setelah, Hoa Thian-hong berubah muka serta
munculkan diri kembali dalam dunia persilatan, dari bencinya
Pek Kun-gie malahan jatuh cinta dan tergila-gila terhadap Hoa
Thian-hong, tentu persoalan belakangan ini baik Chin Wanhong
maupun Biau nia sam sian sama sekali tidak
mengetahuinya, apalagi selama beberapa hari ini tiada orang
yang menganggap tentang persoalan itu maka merekapun
semakin tak tahu. Dalam pada itu dengan pandangan dingin Pek Kun-gie
melirik sekejap ke arah Li hoa siancu, kemudian ia menatap
wajah Chin Wan-hong sambil katanya, "Aku suruh engkau
mengundang datang Thian Hong, sudah kau dengar belum?"
Jilid 4 WALAUPUN Chin Wan-hong masih merasa curiga, tetapi dia
adalah seorang perempuan yang halus budi dan ramah,
karena itu sambil menahan hawa gusar yang berkobar dalam
dadanya ia berkata dengan tawa, "Thian-hong sedang ada
urusan, sekarang ia tak berada disini, kalau engkau ada
perkataan, katakan dahulu garis besarnya, kemudian aku akan
mengutus orang untuk mengundang kedatangannya"
"Eeei, bagaimana sih kamu ini?" teriak Pek Kun-gie tak
sabaran. "Bukankah sudah kukatakan bahwa persoalan ini
menyangkut suatu rahasia besar...." apa yang kau tanyakan
lagi?" "Nona, buat apa sih berbicara dengan perempuan rendah
itu?" tib-tiba Harimau ompong Tiong Lo pocu, "perduli urusan
besar atau urusan kecil, mari kita hajar saja perempuan
rendah itu hingga terjatuh kedalam jurang!"
Tiga harimau dari keluarga Tiong pernah mendapat siksaan
serta penganiayaan berat dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang
terhadap mereka, boleh dibilang rasa bencinya luar biasa
sekali dan sukar dilukiskan dengan kata-kata meskipun dalam
hal ilmu silat Tiong Loo po cu masih bukan tandingannya akan
tetapi dalam silat lidah dia sama sekali tak mau mengalah.
Lan hoa siancu dengan merasa curiga termenung dan
berpikir beberapa saat lamanya tiba-tiba ia berseru, "Pek Kungie,
Hoa Thian-hong amat membenci terhadap dirimu mana ia
sudi untuk datang menemui dirimu" aku lihat lebih baik
sedikitlah tahu diri dan cepatlah mengundurkan diri dari sini!"
Mendengar perkataan itu diam-diam sekujur badan Pek
Kun-gie gemetar amat keras, pikirnya, "Dia membenci aku....
dia.... tidak! dia adalah seorang pendekar besar, seorang lelaki
perkasa, dia tak akan membenci dan mendendam terhadap
kesalahan yang pernah dilakukan oleh seorang perempuan....
dia.... dia sudah tidak membenci diriku lagi."
Berbicara sampai disini dengan suara gemetar ujarnya lagi,
"Chin Wan-hong, Thia Hong sudah mengeluarkan banyak
darah lukanya.... lukanya...."
Mendadak Li-hoa Siancu membentak keras, "Racun terantai
empedu api yang bersarang ditubuh sudah kambuh dia sudah
mati!" Bagaikan disambar petir dihari siang bolong sekujur badan
Pak Kun Gie gemetar keras dan hampir saja ia jatuh terjungkal
keatas tanah. Tiga dewi dari wilayah Biau saling bertukar pandangan
sekejap, mereka tidak habis mengerti terhadap kejadian yang
berlangsung didepan matanya, Chin Wan-hong sendiripun
berdiri terbelalak dengan mulut melongo, ia sendiripun dibuat
tak habis mengerti. Terdengar Pek Kun-gie bergunam seorang diri, "Ia pasti
sudah mengalami kejadian, kalau tidak tentu sedari tadi ia
sudah datang menemui diriku, dia tak mungkin sengaja
menyembunyikan diri"
Tiba-tiba jeritnya dengan suara lengking, "Minggir! siapa
berani menghalangi perjalananku, mati!"
Sepasang telapak disiapkan didepan dada dan siap maju ke
arah depan. Chin Wan-hong jadi amat terperanjat, teriaknya keraskeras.
"Tunggu sebentar....! berhenti! cepat berhenti!"
Pek Kun-gie segera menghentikan gerakan tubuhnya, jarak
antara tubuhnya dengan tepat dimana tersebar bubuk Mi hun
sang, hanya terpaut beberapa depa saja namun sama sekali
tidak merasakan akan datangnya marabahaya.
Sambil menatap tajam Biau-nia Sam-sian dengan
pandangan mata bagaikan pisau, serunya, "Ayoh cepat
nyingkir kesamping, memandang diatas wajah Thian-hong aku
tak akan mencari urusan dengan kalian"
"Hmmm! bicaranya saja gede sekali, jengek Li-hoa Siancu
sambil tertawa dingin, kalau engkau berani maju selangkah
lagi, aku akan suruh engkau maiti tanpa tempat kubur"
Chin Wan Hoag takut kalau Pek Kun-gie dipengaruhi emosi
dan benar-benar maju kedepan, bila salah tindak maka semua
rombongan ba kal tercebur dalam jurang, buru-buru serunya
kepada Pek Kun-gie, "Ada persoalan mari kita bicarakan
secara baik-baik, engkau jangan bertindak secara gegabah,
Thian-hong sedang berlatih ilmu pedang dibelakang bukit
sana, urusan apapun tak boleh mengganggu ketenangannya,
coba katakan lah dahulu rahasia besar apa yang hendak kau
sampaikan kepadanya, kemudian aku baru akan mengundang
kedatangannya." "Aaab! benar" pikir Pek Kun-gie didalam hati.
"ketika Thian-hong bunuh diri dengan menelan racun ketika
berada ditepi sungai Huang-ho tempo hari, Chin Wan-hong
begitu sedihnya sehingga selama beberepa bulan lamanya ia
kehilangan semangat dan pikirannya tidak waras hingga
sampai wilayah Biau pun ia tak tahu, andaikata Thian-hong
mengalami sesuatu hal masa ia dapat begitu te nang?"
Berpikir sampai disini, perasaan hatinya jadi agak lega dan
wajah yang semula pucat pun kini jadi merah kembali.
Li-hoa Siancu diam-diam mengawasi perubahan wajah
gadis itu, tiba-tiba ia temukan bahwa rasa cinta Pek Kun-gie
terhadap Hoa Thian-hong ternyata tidak berada dibawah cinta
kasih adik Seperguruannya, delamm keadaan tercengang dan
tak habis mengerti, ia segera tertawa keras sambil serunya,
"Pek Kun-gie, sungguh tak nyana engkau dapat berubah jadi
begini rupa, benar-benar pe-rubahan cuaca sukar diramalkan,
membuat orang merasa tak dapat untuk mempercayainya"
"Kalian cepatlah mengundang datang Thian-hong, aku tak
dapat menunggu terlalu lama lagi" seru Pek Kun-gie dengan
tegas, "sele watnya malam ini, dimana kita berjumpa disitulah
kita bikin perhitungan, aku ingin membuktikau ilmu beracun
dari wilayah Biau yang lebih lihay ataukah ilmu silat dari
daratan Tionggoan yang lebih ampuh"
Li hoa siansu tertawa terkekeh-kekeh.
"Haaahh.... haaahh.... haaahh.... tentang persoalan itu lebih
baik dibicarakan dikemudian hari saja, sudah lama aku dengar
orang berkata bahwa bangsa Han memegang teguh tata cara,
aku ingin bertanya kepadamu, engkau selalu mengatakan
hendak berjumpa dengan Thian-hong, apakah eagkau tidak
takut ditertawakan orang lain?"
Pek Kun-gie agak tertegan kemudian dengan gusar
serunya, "Perempuan suku Biau yang tak tahu diri, Pek Kungie
adalah seorang gadis suci bersih perbuatan apakah yang
kutakuti hingga ditertawakan orang lain?"
"Seorang gadis suci bersih?" Li-hoa Siancu bukannya gusar
malahan tertawa sinis, tahukah engkau bahwa Hoa Thianhong
sudah ditunangkan dengan orang lain" malam-malam
buta untuk berjumpa bahkan telah pandang calon istrinya
sebagai manusia apa?"
Seakan-akan kena dihajar dengan pentungan, Pek Kun-gie
nampak tertegun kemudian membungkam dalam seribu
bahasa. Lan hoa siancu sekalian mula-mula juga nampak tertegun
tapi dengan cepat mereka menyadari apa yang telah terjadi
dan mengetahui pula kalau Li-hoa Siancu hanya bicara
sembarangan untuk menggoda serta mempermainkan Pek
Kun-gie. Putri bungsu dari Pek Siau-thian ini sebenarnya juga
seorang gadis yang cerdik tetapi sayang ia terpengaruh oleh
rasa cinta hingga pikirannya jadi tersumbat pada dasarnya ia
sedang menguatirkan pesoalan itu maka perkataan dari Li-hoa
Siancu justru dengan tepat telah mengena pada titik
kelemahan. Chin Wan-hong sendiri juga merupakan seorang gadis yang
berperasaan halus menyaksikan Pek Kun-gie terkena pukulan
batin hingga termangu-mangu, dara itu merasa tak tega.
Akan tetapi sebelum ia sempat membongkar rahasia
tersebut, terdengarlah Li-hoa Siancu dengan gusar
membentak. "Pek Kun-gie, ayoh cepat enyah dari sini, benarkah engkau
mau tunggu sampai Hoa Thian-hong datang serta memberi
pelajaran ke padamu?"
Sepasang mata Pek Kun-gie pudar dan sayu, wajahnya
kosong dan termangu-mangu, ia mengangguk dan benarbenar
berlalu dari sana. Tiga dewi dari wilayah Biau jadi amat bangga mereka tak
mengira hanya sepatah dua patah katanya telah mengalahkan
Pek Kun-gie bahkan mengalahkan dirinya dalam keadaan yang
mengenaskan sekali jauh lebih mengenaskan dari pada mati.
Pek Kue Gie berlalu beberapa langkah dari sana.
Mendadak ia putar badan dun bertanya dengan bimbang,
"Apakah calon istrinya adalah Chin Wan-hong?"
"Kecuali Chin Wan-hong siapa lagi yang pantas
mendamping Hoa kongcu....?" teriak Li-hoa Siancu.
"Aku sudah tahu, Giok Teng Hujin memang tidak pantas
untuk mendampingi dirinya," gumam Pek Kun-gie, tiba-tiba ia
berkata kembali, "Apa Hoa Hujin menjodohkan mereka?"
Makin menyaksikan kejadian itu Ci-wi Siancu semakin
kegirangan tak tahan ia berteriak keras, "Tentu saja Hoa Hujin
sendiri yang menjodohkan pihak pria diwakili oleh Ciong Liankhek
sedangkan pihak wanita kami bertiga lah yang mewakili
sedangkan Cu Im tasyu bertindak sebagai saksi, bukankah
semuanya sudah komplit" masa engkau masih belum paham?"
Pek Kun-gie gelengkan kepalanya dan bergumam kembali,
"Dengan apa yang kuduga, sedikitpun tidak meleset taysu itu
adalah orang beribadah ia hanya bertindak sebagai saksi dan
tidak pantas jadi mak comblang diri pihak perempuan
memang kalian bertiga yang pantas sebagai wakil."
Lan hoa siancu yang melihat kesemuanya itu segera
berpikir didalam hati, "Pek Kun-gie cantik jelita bagaikan
bidadari, setiap pria yang bertemu dengan dirinya pasti akan
tertarik hatinya, persoalan ini menyangkut kebahagiaan hidup
Hong ji selamanya daripada membinasakan perempuan she
Pek ini sehingga mengikat tali permusuhan dengan pihak
perkumpulan Sin-kie-pang lebih baik kubikin jengkel saja
hatinya sehingga ia jadi gila dengan begitu akupun tak usah
menanggung resiko musti mengikat tali permusuhan dengan
orang...." Berpikir sampai disini, ia segera mengambil keputusan dan
dengan cepai ia sambar sebuah kantong kain yang tergantung
dibalik baju yang dikenakan Chin Wan-hong.
Gadis she Chin itu jadi amat gelisah, sambil menangis
serunya, "Toa suci, benda itu adalah...."
"Bocah cilik, kenapa sih musti ribut terus!" hardik Lan hoa
siancu, ia segera berpaling dan teriaknya, "Pek Kun-gie,
apakah engkau ingin melihat tanda mata apakah yang
diberikan Hoa kongcu untuk Hong ji?"
Pek Kun-gie melenggak kemudian mengangguk.
"Tentu saja saya ingin lhat!"
Lan boa siancu segera melemparkan bungkusan yang
berhasil didapatkan dari dalam saku Chin Wan-hong itu ke
arah depan, serunya, "Tanda mata itu berada dalam kantong
kain itu lihatlah sendiri dengan jelas!"
Kantong itu kecil dan enteng sekali, Pek Kun-gie segera
menerimanya dan merobek dengan menggunakan ujung
jarinya, tetapi kan tong itu terbuat dari ulat sutera yang ada di
wilayah Biau, sekalipun coba dirobek berulangkali ternyata
usahanya gagal. Sesudah bersusah payah akhirnya tutup kantong itu
terbuka juga dan isi kantong tadipun muncul didepan mata.
Dalam sekenjap mata, wajah Pek Kun-gie yang pada
dasarnya sudah pucat kini berubah jadi semakin pucat hingga
menyerupai mayat, sepasang tangannya gemetar keras
sementara sepasang giginya saling beradu dengan ketasnya.
Ternyata isi dalam kantong kain milik Chin Wan-hong itu
bukan lain adalah tiga biji gigi yang kuning dan tiada sesuatu
yang aneh, namun bagi pandangan Pek Kun-gie ketiga biji gigi
itu justru telah menghancur luluhkan perasaan hatinya.
Keadaan seperti ini seketika menggetarkan perasaan hati
tiga dewi dari wilayah Biau, Chin Wan-hong yang bersembunyi
dibelakang tubuh ketiga orang suci nya pun mengucurkan air
mata sambil tiada hentinya memanggil, " Suci.... suci!"
Tiba-tiba.... Pek Kun-gie membuka sepasang matanya, dua
titik butiran darah mengalir keluar membasahi pipinya.
Chin Wan-hong tak dapat menahan diri lagi, ia segera maju
kedepan sambit teriaknya diiringi isak tangis, "Pek Kun-gie!
engkau sedang dibohongi oleh suciku, Thian-hong sama sekali
belum dijodohkan dengan diriku, ia belum dijodohkan dengan
aku!" Tetapi pikiran maupun perasaan hati Pek Kun-gie sudah
kacau, ia sudah tak dapat menangkap maksud dari perkataan
Chin Wan-hong lagi. sorot matanya hanya bisa memandang
tempat kejauhan dengan pandangan kosong, sementara
mulutnya bergumam terus, "Gigi ini adalah gigi milik Thianhong....


Tiga Maha Besar Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

gigi.... gigi itu milik.... milik Thian-hong, ketika ia
berlutut di hadapanku.... aku.... akulah yang menghantam
sampai rontok...." Melihat air mata yang mengucur keluar dari balik mata Pek
Kun-gie telah bercampur dengan darah, Chin Wan-hong
semakin terperanjat hingga sambil menangis serunya, "Pek
Kun-gie, benda itu bukan suatu tanda mata sebagai pengikat
perkawinan kami, benda itu kusimpan sendiri tanpo diketahui
oleh Thian-hong sendiri!"
Tetapi Pek Kun-gie tidak menggubris perkataannya lagi
dengan suara yang kosong ia berseru, "Buat apa dia
tinggalkan benda ini" dia.... dia.... ternyata ia masih amat
membenci terhadap diriku ia telah menggunakan benda itu
sebagai tanda mata pengikat tali perkawinan"
"Bukan.... bukan...." teriak Chin Wan-hong sambil
menangis, "tempo hari ketika aku mengejar kereta kudamu,
kalianlah yang membuang pakaian bercampur darah dari
Thian-hong ketika kubuka pakaian itu, kulihat benda
tersebut...." Belum habis dia berkata, tiba-tiba Pek Kun-gie
mendekatkan tangannya yang gemetar tiada hentinya itu
kesisi bibirnya, kemudian memasukkan ketiga biji gigi tadi
kedalam mulutnya dan ditelan kedalam perut.
Suara gemeretak berbunyi keras, darah mengalir keluar
membasahi bibir Pek Kun-gie, keadaannya mengenaskan
sekali membuat siapapun yang menyaksikan merasa tidak
tega. Chin Wan-hong menangis tersedu, serunya, "Toa suci, Ji
suci, Sam suci, carilah akal untuk menolong dirinya!"
"Hmm! siapa suruh dia mencari penyakit buat diri sendiri"
kata Li-hoa Siancu sesudah berhasil menenangkan hatinya,
"apakah gigi milik siau long bukanlah gigi manusia?"
"Hong ji!" ujar Ci-wi Siancu pula, "bukankah kalian
seringkali menceritakan tentang bagaimana kejam serta
ganasnya orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang"
bukankah kalian sering bercerita tentang ketelengasan serta
kejahatan mereka menindas kaum yang lemah" selama ini
entah sudah berapi banyak kejahilan yang telah dilakukan oleh
Pek Kun-gie...." Sudah sepantasnya kalau sekarang ia
mendapat hukum karma serta pembalasan atas perbuatanperbuatannya
itu, kenapa engkau malah menggerutu terhadap
kami?" "Dia mencintai Hoa long! mungkin siau long pun mencintai
dirinya...." bisik Chin Wan-hong dengan air mata bercucuran.
"Omong kosong!" hardik Li-hoa Siancu dengan gusar,
"apakah engkau tidak mencintai Siau long" apakah engkau
bersedia me-nyerahkan kembali siau long ketangan orang
lain?" Tiba-tiba tampaklah Pek Kun-gie merapatkan bibirnya dan
menelan kehancuran gigi beserta darah itu kedalam perutnya,
sinar mata nya pudar dan kepalanya tertunduk kebawah
jurang seolah-olah sedang mencari sesuatu.
Chin Wan-hong jadi amat terperanjat, segera teriaknya
keras-keras, "Pek Kun-gie!"
Sambil berteriak, tubuhnya segera menerjang kedepan.
Dengan cepat Lan hoa sianca menyambar tangannya serta
mencengkeramnya erat-erat, hardiknya, "Engkau cari mati"
kesadarannya sudah kabur, dia dapat menyeret engkau untuk
terjun kedalam jurang!"
Chin Wan-hong semakin gelisah air matanya jatuh
berlinang makin deras, tiba-tiba ia berpaling dan teriaknya
keras-keras, "Tiong Long, cepat undang kemari Siau long
cepat!" Harimau bisu Tiong Long tertegun dan untuk beberapa saat
lamanya tak tahu apa yang barus dilakukan akhirnya ia putar
badan siap berlalu dari sana.
Tiba-tiba harimau ompong Tiong Lo Poo cu membentak
lirih, "Tak boleh pergi! biarkan perempuan rendah itu mati
konyol!" "Kentut busuk!" bentak Harimau pelarian Tiong Liau
dengan gusar. "Engkau berani membangkang perintah nona?"
"Ploook!" dia hajar punggung putranya.
Tubuh Harimau bisu Tiong Long segera terpental sejauh
beberapa tombak dan tempat semula, ia cepat-cepat
merangkak bangun dan segera berlarian menuju ke arah
depan, "Kalau lari perlahan sedikit!" kembali harimau ompong
Tiong Lo poo cu menghardik.
Harimau bisu Tiong Long tak tahu apa yang musti
dilakukan, beberapa langkah ia berlalu cepat beberapa
langkah kemudian agak lambat kemudian beberapa tombak
lagi ia berpaling kabelakang.
Tiba-tiba Pek Kun-gie mengurut dada sambil berteriak
keras. "Thian-hong....! ooouh, Thian-hong....! kenapa engkau
begitu membenci akan diriku" engkau boleh pukul aku maki
aku dan membinasakan diriku! janganglah membenci aku...."
Setelah berhenti sebentar gumannya kembali, "Kalian
cepatlah melarikan diri! Thian-hong kalian cepatlah melarikan
diri jangan menghadiri pertemuan Kian ciau tayhwee"
Mendengar seruan tersebut, sekujur badan Chin Wan-hong
gemetar keras tanpa terasa ia berpaling ke arah belakang
gunung sambil berteriak dengan suara lantang, "Thian-hong
Thian-hong cepat datang kemari!"
Air muka Pek Kun-gie berubah jadi hijau membesi, tiba-tiba
iapun membentak keras, "Jangan berteriak! jangan berteriak
aku tak dapat berjumpa dengan dirinya!"
Sambil berteriak tubuhnya menerjang maju kedepan
bagaikan seekor harimau betina yang terluka.
Ketika itu baik Chin Wan-hong maupun Biau-nia Sam-sian
sama-sama berdiri berjejar di atas jembatan batu yang
sempit, menyaksikan gadis itu menerjang maju kedepan
dengan wajah menyeringai seram, mereka jadi amat
terperanjat sekali. Karena takut kena ditumbuk sehingga bersama-sama jatuh
kedalam jurang, tanpa terasa Biau-nia Sam-sian bersamasama
ayunkan telapak nya dan melancarkan satu babatan dari
tempat kejauhan. Ketika angin pukulan itu menggulung ke arah depan, teriak
Pek Kun-gie yang serak hanya sempat berteriak sampai
ditengah jalan, tubuhnya segera terjungkal diatas jembatan
batu dimana obat Mi hun san ditaburkan dan tak dapat
dicegah lagi tubuhnya segera terjatuh kedalam jurang.
Jurang itu dalamnya mencapai ratusan tombak dan sukar
melihat dasarnya, setelah terjatuh kedalam jurang, tubuh Pek
Kun-gie segera tertelan dibalik kegelapan, dari dasar jurang
tak kedengaran sedikit suarapun.
Sedang Chin Wan-hong serta Biau-nia Sam-sian yang ada
diatas jembatan batu berteriak kaget, dari arah lain
berkumandang teriakan Oh Sam pelayan dari Pek Kun-gie
sedang dari sebelahnya bergema ben takan dari Hoa Thianhong.
Bluummm....! Bluuumm....! cahaya api berkilauan di
angkasa dan bom udarapun berdentuman, cahaya warnawarni
yang membentuk panji besar tersebar di angkasa
membuat udara jadi terang benderang.
Hoa Thian-hong dengan gerakan tubuh yang enteng
bagaikan segulung angin berkelebat datang serunya, "Hong ji,
apa yang telah terjadi?"
Sementara itu Biau-nia serta Chin Wan-hong sudah berada
diatas bukit sambil memandang kebawah jurang dan
menangis terisak, Chin Wan-hong berseru, "Pek Kun-gie dia....
dia terjatuh kedalam jurang...."
Hoa Thian-hong merasakan pandangan matanya jadi gelap
dengan cepat ia berkelebat menuju ke arah jembatan batu itu.
Lin hoa siancu serta Li-hoa Siancu yang berada
disampingnya menyambar pergelargan tangannya sambil
berseru, "Diatas jembatan batu terdapat kabut sembilan
bisa...." "Aku mau turun kedasar jarang!" seru Hoa Thian-hong
dengan suara gemetar, cepat ia merenggut kembali dari
cekalan. Tiba-tiba Hoa Hujin munculkan diri didepan mata, teriaknya
dengaa suara tajam, "Jurang ini dalamnya seratus tombak
dengan dinding yang tegak lurus, sekalipun malaikat juga tak
dapat menuruninya, engkau jangan bertindak gegabah!"
Hoa Thian-hong merasa gelisah sekali, serunya dengan
tegap. "Ananda yakin masih bisa menuruni jurang ini.... jangan
menghawatirirkan keselamatan jiwaku...."
Hoa Hujin mengerutkan dahinya, setelah termenung
jawabnya dengan suara berat, "Baiklah, sebenarnya
perbuatanmu tak ada gunanya tetapi agar engkau puas
turunlah kebawah tapi kau harus berhati-hati!"
Buru-buru Hoa Thian-hong mengangguk dalam sekejap
mata tubuhnya lenyap tak berbekas, Biau-nia Sam-sian serta
Chin Wan-hong buru-buru menyusul ketepi jurang untuk
mengikuti gerakan si anak muda itu.
Mendadak Hoa Hujin seakan-akan mendengar suara derap
kaki manusia yang amat ramai, hal ini membuat hatinya amat
terperanjat segera serunya kepada Biau-nia Sam-sian, "Nona
bertiga, perketat penjagaan disekitar tempat ini, bagaimanapun
juga malam ini jangan biarkan orang-orang dari
perkumpulan Sin-kie-pang berhasil menyerbu keatas jembatan
batu tersebut" Merdengar perkataan itu, Biau-nia Sam-sian segera
bertindak cepat dan berdri diatas jembatan batu, setelah
memeriksa keadaan disekelilingnya mereka mulai
mendemonstrasikan kelihayan dari Kiu-tok Sianci.
Dalam pada itu, Hoa Thian-hong yang melompat turun
kedalam jurang, dengan mengandalkan hawa murninya yang
panjang dan sempurna, perlahan-lahan ia merambat turun
kebawah. Jurang itu dalamnya ratusan tombak, dinding tebing tegak
lurus dan keadaan medan amat berbahaya, bagi Hoa Hujin
yang memiliki tenaga dalam amat sempurna pun belum tentu
mampu untuk menuruni jurang itu.
Akan tetapi Hoa Thian-hong secara beruntun telah
menemukan kejadian aneh, mula-mula dia makan Teratai
racun empedu api ke mudian makan Leng-ci berusia seribu
tahun, hal ini membuat hawa murninya semakin panjang dan
tubuhnya enteng bagaikan burung walet.
Ketika tubuhnya sudah meluncur tiga empat puluh tombak
jauhnya kedalam jurang, tiba-tiba daya luncurnya kian lama
kian bertambah cepat, menyaksikan gelagat kurang
menguntungkan buru-buru ia berjumpalitan ditengah udara
kemudian lancarkan satu babatan keatas tebing.
Menggunakan daya pantul yang dihasilkan karena
pukulannya itu, pemuda she Hoa tersebut segera mengepos
tenaga serta memperlambat gerakan luncurnya kebawah,
kejadian itu diulangi sampai dua kali.
Suatu ketika mendadak pandangan matanya jadi kabur,
kecepatan daya luncur badannya kebawah jurang pun tak
terkendalikan lagi. Untung dari arah bawah ia mendengar suara percikan air,
buru-buru tubuhnya berjumpalitan kembali beberapa kali
sebelum tubuhnya mencapai permukaan tanah, ia lancarkan
pukulan dahsyat dahulu ke arah bawah, dengan daya pantul
itu ia berhasil mengurangi kecepatan daya luncur tubuhnya
hingga kemudian Bluuum! badannya berhasil mendarat diatas
dasar jurang. Bantingan ini cukup keras, membuat pemuda itu
mendengus berat dan pandangan matanya berkunangkunang,
tulang disekujur badannya linu dan sakit, pakaiannya
menjadi compang-camping sedangkan kakinya terluka.
"Kun Gie....!" "Kun Gie....!" sekali lagi Hoa Thian-hong berteriak keras.
Sorot cahaya rembulan yang redup memancar diatas dasar
jurang itu, membuat suasana disana dapat dilihat secara
samar-samar, batu cadas berserakan di mana-mana, air
mengalir tenang dan suasana sunyi senyap tak kedengaran
sedikit suarupun. Dalam air mencapai batas lutut, Hoa Thian-hong yang
separoh badannya terendam dalam air jadi amat gelisah ketika
mendengar suara teriakan sama sekali tak mendapat jawaban,
ia segera loncat bangun dan lari menuju kebawah jembatan
batu untuk mencari jenasah dari Pek Kun-gie.
oooOooo 46 PEMUDA itu berlarian mengelilingi seluruh daerah diatas
jembatan batu itu kemudian balik lagi ketempat semula,
namun bayangan tubuh Pek Kun-gie sama sekali tak terlihat,
hal ini membuat dia jadi tercengang dan tak habis mengerti.
"Kun-gie....!" kembali teriaknya.
Tiba-tiba sesosok bayangan manusia muncul dibelakang
tubuhnya, dengan nada suara yang hambar dan sama sekali
tidak membawa perasaan apapun menjawab dengan lirih,
"Pek Kun-gie telah mati, siapapun tak dapat memanggilnya
lagi.... dan dia pun tak dapat mendengar suara panggilanmu
lagi!" Sekujur badan Hoa Thian-hong gemetar keras, tiba-tiba ia
putar badan dan menengok ke arah orang yang berbicara itu.
Dibawah sorot cahaya rembulan, tampaklah seorang rahib
berpotongan badan ramping berbaju warna hijau dan
memakai cadar kain hitam diatas wajahnya, berdiri angker
diatas sebuah batu besar, dalam bopongannya menggendong
tubuh seorang gadis dia bukan lain adalah Pek Kun-gie yang
terjatuh kedalam jurang. Karena rahib itu memakai kain cadar, maka sulitlah untuk
diperkirakan masih muda atau sudah tua, ditinjau dan
suaranya yang merdu dan rambutnya yang hitam pekat
semestinya dia adalah seorang yang masih muda namun kalau
dilihat kewibawaan serta keagungannya menunjukkan kalau
orang itu sudah punya umur.
Rasa sedih, menyesal, gugup dan pedih bercampur aduk
jadi satu dalam hati kecil Hoa Thian-hong, setelah tertegun
sebentar ia tu ding tubuh Pek Kun-gie yang berada dalam
bopongan rahib itu dan bertanya dengan suara gemetar, "Sian
koh, nona Pek...., dia...."
Titik air mata berlinang membasahi pipi rahib bercadar kain
hitam itu, dia mengangguk dan menjawab lirih, "Sejak jaman


Tiga Maha Besar Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dahulu gadis cantik bagaikan panglima perang, jarang sekali
ada yang bisa hidup hingga akhir tua.... aaaai!" ia menghela
napas panjang suaranya lirih dan lemah terdengarlah betapa
pedihnya hati orang itu. Hoa Thian-hong merasa amat sedih sekali, air mata jatuh
berlinang membasahi wajahnya, tiba-tiba ia saksikan wajah
Pek Kun-gie yang pucat pias bagaikan mayat, darah kental
masih menodahi bibirnya, dengan penasaan hati seperti diirisiris,
ia menubruk kedepan. Rahib berpakaian cadar hitam ini segera mengegos
kesamping dan melayang mundur beberapa rombak
kebelakang serunya dengan gemetar, "Yang sudah mati yaa
sudahlah, engkau mau berbuat apa?"
Hoa Thian-hong tertegun, dengan air mata berlinang
sahutnya, "Aku...."
Mendadak ia teringat kembali akan sebatang Leng-ci yang
masih tertinggal dalam sakunya, dengan cepat kotak kumala
itu diambil keluar dan berkata, "Aku mempunyai sebatang
Leng-ci berusia seribu tahun, kasiatnya dapat menghidupkan
kembali mereka yang telah mati...."
Tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata-katanya,
rahib bercadar kain bitam itu sudah menukas sambil
gelengkan kepalanya. "Dikoloog langit tiada obat mujarab yang dapat
menghidupkan kembali orang yang telah mati, nyawa Pek
Kun-gie sudah melaoyang tinggalkan raganya, sekalipun ada
Leng-ci berusia sepuluh laksa tahun, jiwanya juga tak dapat
diselamatkan lagi" "Meskipun demikian, aku hendak berusaha dengan segala
kemampuan yang kumiliki!"
Rahib berkain cadar hitam itu kembali gelengkan kepalanya
berulang kali, tukasnya, "Percuma.... sekalipun engkau
berhasil selamatkan jiwa Pek Kun-gie, apa yang hendak kau
lakukan selanjutnya?"
Mula-mula Hoa Thian-hong agak tertegun, kemudian
dengan perasaan tak senang hati menjawab, "Perkataan sian
koh! mengandung arti yang sangat dalam seakan-akan
engkau telah mengetahui akan hubungan budi serta dendam
antara aku dengan Pek Kun-gie?"
"Persoalan itu sudah tersebar luas diseluruh kolong langit,
setiap jago dalam persilatan telah mengetahuinya, tentu saja
pin ni juga mengetahui akan masalah ini!"
"Bolehkah aku mengetahui sebutan sian koh dan apa pula
hubunganmu dengan Pek Kun-gie?" tegur Hoa Thian-hong
dengan sepasang alis mata berkenyit.
"Sudah lama tidak kupergunakan lagi namaku, maka
engkaupun tak usah tahu siapakah aku, dengan Pek Kun-gie
bukan sanak bukan keluarga, tiada hubungan apa-apa yang
bisa dibicarakan diantara kami berdua"
Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat gusar sekali
mendengar jawaban tersebut, pikirnya, "Bukan sanak bukan
keluarga, kenapa engkau harus mencampuri urusan orang
lain?" Sementara itu Rahib bercadar hitam itu telah berkata
kembali dengan nada dingin, "Pek Kun-gie menjadi korban
karena cinta, pinni merasa kasihan terhadap nasibnya yang
buruk itu, maka aku berhasrat untuk carikan sebuah tempat
yang indah panoramanya umuk mengubur jenasahnya disana,
agar muda mudi di kolong langit dapat mengetahui serta
berjiarah pula kedepan kuburannya"
"Hehh.... heeeh.... heeeh.... sian koa benar-benar seorang
manusia yang suka mencampuri urusan orang lain" sindir Hoa
Thian-hong sambil tertawa dingin, "jikalau Pek Siau-thian
mengetahui akan persoalan ini, dia pasti akan berterima kasih
kepadamu, dan seandainya sukma Pek Kun-gie dialam baka
mengetahui akan hal ini, dia pun akan ikut tersenyum kerena
gembira" Rahib bercadar hitam itu sama sekali tidak menggubris atas
sindiran tersebut, kembali ujarnya lebih jauh, "Pek Kun-gie
adalah seorang gadis suci yang belum pernah dikawini orang,
kalau memang engkau tidak menaruh perasaan cinta terhadap
dirinya, buat apa kau sentuh jenasahnya sehingga membuat
sukmanya di alam baka menjadi tak tenang?"
Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, "Cuma
saja, kalau engkau bersedia untuk mengakui bahwa kau
Geger Dunia Persilatan 11 Peristiwa Bulu Merak Karya Gu Long Kaki Tiga Menjangan 5
^