Pencarian

Dewi Mutiara Hijau 1

Dewa Linglung 14 Dewi Mutiara Hijau Bagian 1


Dia datang Sebagai seorang pendekar.
Dia aneh & bertindak seperti
orang linglung Para ksatria menyebut dia
Si DEWA LINGLUNG
Pendekar sakti yang
Digembleng 'lima' tokoh aneh
http://duniaabukeisel.blogspot.com
1 ENAM BELAS TAHUN YANG LALU... Suatu pe-
ristiwa terjadi di sebuah tempat di lereng gunung SO-
RIK MARAPI. Tak tercatat dalam sejarah adanya se-
buah kerajaan tak bernama dan hidupnya seorang Ra-
ja tanpa mahkota yang memerintah kerajaan tersebut.
Senja mulai menyelimuti sekitar pedalaman di
kaki gunung Sorik Marapi yang tegak menjulang ke
angkasa. Puncaknya tertutup awan tipis yang berwar-
na kemerahan disinari cahaya matahari yang sebentar
lagi akan tenggelam di cakrawala
Pada saat itulah terdengar suara bentakan-
bentakan keras yang dibarengi dengan benturan-
benturan senjata, berbaur dengan jeritan dan tangis
seorang bocah. Ternyata di bawah bukit tengah terjadi
suatu pertarungan seru.
Tampak dua sosok tubuh tengah bertarung
menghadapi gempuran belasan orang laki-laki yang
berpakaian hampir rata- rata sama, dengan wajah
yang dicoreng moreng. Mereka mengenakan pakaian
adat, dan tampaknya tengah mengejar dua orang bu-
ronan. Adapun dua orang yang dikejarnya adalah dua
orang laki-laki dan wanita. Si laki-laki mengenakan
pakaian hampir mirip dengan pakaian adat, tapi de-
ngan warna berbeda. Usia laki-laki ini lebih dari empat
puluh tahun, menggendong seorang bocah perempuan
berumur kurang lebih dua tahun berada dalam pon-
dongannya. Bocah itu menangis ketakutan. Lengannya
mencengkeram kuat-kuat lengan baju laki-laki yang
menggendongnya. Sementara laki-laki itu sendiri den-
gan sekuat tenaga bertarung mempertahankan nya-
wanya, termasuk nyawa bocah tersebut.
Sedangkan si wanita adalah seorang yang beru-
sia lebih muda sepuluh tahun dari laki-laki itu. Ram-
butnya tergerai dan tampak kusut masai. Wajahnya
pucat bagai tak berdarah. Akan tetapi dengan gigih dia
bertarung membuyarkan kepungan. Tak seorang pun
dibiarkan mendekat. Pedang di tangannya berkeleba-
tan menghantam ujung-ujung tombak lawan.
Sambil terus mundur dan berada berdekatan
dengan laki-laki itu, wanita itu mulai merasakan kele-
tihan yang amat luar biasa. Sementara lawan-lawan
mereka seperti sengaja mengulur waktu dan membiar-
kan mereka kehabisan tenaga. Karena ke mana pun
mereka bergerak selalu dibayangi para laskar adat itu.
Agaknya laki-laki itu mengetahui keadaan is-
trinya, karena diapun merasakan keletihan yang bu-
kan kepalang setelah mengalami pertarungan dan di-
kejar-kejar hampir setengah hari.
"Istriku cepat kau selamatkan dirimu! Bawalah
serta anak kita...! Biar aku yang menghalang!" berkata laki-laki itu, seraya
melompat mendekati. Tampak
pundaknya terkena goresan senjata tajam dan mencu-
curkan darah yang mengalir sampai ke pergelangan
tangan. Dalam upayanya menyelamatkan diri dan
nyawa anak itu dia cukup tangguh, dan hanya menga-
lami luka yang tak cukup berarti. Akan tetapi keletihan
dan tenaga yang mulai berkurang membuat dia merasa
tak dapat lolos dari kepungan manusia-manusia yang
menginginkan nyawanya.
"Tapi, kakak..." sahut si wanita tergagap. Wa-
jahnya pucat pias menatap laki-laki itu, lalu berganti
menatap pada sang bocah perempuan.
"Cepatlah! jangan hiraukan diriku...!" Suara si laki-laki setengah membentak.
Dan dia segera mengasongkan anak itu. Cepat wanita ini menyambutnya.
Saat itu mereka berada di lereng Sorik Marapi. Hutan
belukar, semak lebat dan jalan menanjak yang penuh
akar, onak dan duri melintang di depan mata.
"Cepat, Rosma!" setengah membentak laki-laki
itu memerintahkan istrinya agar cepat menyelamatkan
diri. Setitik air bening membersit di sudut mata wanita
berusia tiga puluhan tahun itu, menatap sang suami
yang siap menghadapi maut di depan mata. Sementara
dia sendiri dan bocah perempuannya entah bisa sela-
mat, entah tidak dari kepungan manusia-manusia
yang mengejar nyawa mereka.... Wanita ini menggigit
bibirnya menahan keharuan hati yang seperti tersayat-
sayat. Dia mengangguk. Kemudian balikkan tubuh,
dan berlari cepat menerobos semak belukar memasuki
hutan rimba di hadapannya.
Tiga orang mengejar dengan cepat... Akan tetapi
dengan bentakan yang menggetarkan udara, laki-laki
ini telah melompat menghadang.
"Iblis-iblis keparat! hadapi aku dulu!" Pedangnya menyambar. Terdengar teriakan
kaget salah seo-
rang dari pengejar, karena serangan mendadak itu tak
sempat terelakkan. Tombaknya terlepas dari tangan-
nya dan sepotong lengan melayang di udara... Kiranya
tebasan kilat yang dilakukan laki-laki itu telah memu-
tuskan lengan lawannya yang tak sempat menghindar-
kan diri. "Setan Gelamangan!" memaki salah seorang da-
ri kedua kawannya seraya melompat ke sisi. Sedang
kawannya melompat ke arah sisi sebelah kanan. Wa-
jah-wajah mereka terlihat beringas karena melihat la-
ki-laki itu berhasil melukai salah seorang kawan mere-
ka. Sementara sosok-sosok tubuh lainnya tanpa dapat
terbendung lagi telah menerobos semak belukar men-
gejar buruannya. Sebagian lagi mengurung laki-laki
itu. "Cepat habisi dia, jangan sampai lolos!" Lebih
dari sebelas orang mengurung laki-laki itu.
"Haha..hehe... Putu Langkan! Kau tak akan da-
pat menyelamatkan nyawamu, termasuk istri dan
anakmu! Dewa Mambang Peri gunung Sorik Marapi te-
lah murka, karena kau menolak memberikan anakmu
untuk dikorbankan! Kini terimalah akibatnya!" seorang laki-laki berbaju kulit
srigala berbentuk semacam
rompi tertawa mengejek.
"Datuk Tangan Bertuah!?" sentak laki-laki ber-
nama Putu Langkan ini terkejut. "Haha.... benar! aku sengaja menyusul, karena
khawatir kau keburu tewas!" tukas laki-laki berkumis kelabu ini. Mulutnya
menyeringai, dan matanya menyambar tajam pada Pu-tu Langkan.
"Kau sudah terdesak, sobat! Bagaimana" Apa-
kah kau mau memberitahukan tempat rahasia Dewi
Mutiara Hijau?" Kata-kata Datuk Tangan berbisa men-
desis di telinga Putu Langkan. Ternyata laki-laki orang
dari pasukan laskar adat itu menggunakan ilmu men-
girim suara yang hanya Putu Langkan yang dapat
mendengarnya. "Kau tak akan mendapatkan apa-apa dariku,
Datuk keparat!" desis Putu Langkan dengan mata
mendelik. Desisan itu terdengar Datuk Tangan berbisa.
"Haha...hehe.... kalau begitu maaf, Tuan Putu
Langkan! Terpaksa kau harus dilenyapkan, atas perin-
tah Raja!" Selesai berkata, Datuk Tangan berbisa mengangkat tangannya. Enam
pengawal segera menerjang
maju untuk merencah tubuh laki-laki itu.
Trang! Trang! Tiga batang tombak dan dua buah klewang ter-
pental balik ketika Putu Langkan putarkan pedang
menangkis serangan. Namun senjata-senjata keenam
pengawal itu kembali meluruk ke arahnya. Kembali dia
harus mempertahankan nyawa. Dengan membentak
keras, Putu Langkan membabatkan pedangnya ke kiri
dan ke kanan. Benturan-benturan senjata tajam ber-
dentingan. Tubuh laki-laki itu melompat ke sana ke
mari menghindari setiap serangan lawan.
Saat itu Putu Langkan sudah banyak mem-
buang tenaga. Dan agaknya sudah habis bagi sang Da-
tuk Tangan bertuah untuk mengulur waktu. Laki-laki
yang berusia agak lebih muda dari Putu Langkan ini
mengkerutkan keningnya, ketika tiba-tiba terdengar
teriakan-teriakan parau membelah udara. Tampak dua
orang anak buahnya terlempar dengan darah me-
nyembur dari lambungnya yang terkoyak. Seorang lagi
bergoseran sekarat. Luka memanjang membelah ham-
pir sebagian dari tubuhnya yang mengoyak kulit dan
daging dari leher sampai ke dada.
Apa yang sebenarnya terjadi" Putu Langkan
mendadak seperti dimasuki roh setan. Tiba-tiba saja
dia jadi beringas, dan tenaganya seperti menjadi ber-
tambah berlipat ganda! Dengan menggeram marah
lengannya menghantam ke depan. Pedangnya melun-
cur menusuk dan membabat para pengepungnya.
Kembali dua jeritan terdengar saling susul. Dua penge-
royok terlempar dengan keadaan luka mengerikan.
Seorang terkoyak wajahnya yang hampir membelah
separuh dari kepalanya, sedang seorang lagi tulang
dadanya remuk! Baru saja Datuk Tangan bertuah mau melom-
pat, mendadak terdengar lagi beberapa jeritan bertu-
rut-turut. Tiga orang anak buahnya kembali terlempar
dan berkelojotan meregang nyawa. Bukan kepalang
terkejutnya sang Datuk melihat kejadian itu. Seketika
itu juga dia telah melompat seraya mencabut senja-
tanya. Tampak keadaan Putu Langkan telah berubah
mengerikan. Kain ikat kepalanya telah terlepas. Ram-
butnya beriapan menutupi wajahnya yang bringas. Pe-
dang di tangannya penuh berlepotan darah!
Tak terasa kaki Datuk Tangan bertuah menyu-
rut mundur dua tindak. Sedangkan para pengepung
yang lainnya tak ada yang berani mendekat. Melihat
kemunculan sang Datuk, laki-laki yang telah kemasu-
kan setan ini tertawa gelak-gelak. Suaranya terdengar
menyeramkan. "Haha..hahaha... Bagus! Ayo! hadapilah aku
Datuk keparat! Datuk setan laknat! Kiranya semua ini
adalah rencana busukmu!"
Datuk Tangan bertuah tak menjawab. Tapi se-
gera membaca mantera-mantera. Bibirnya berkemak-
kemik, dengan kedua lengan terkepal di depan dada.
Tampak uap putih mengepul dari ubun-ubun kepa-
lanya. Mendadak dia membentak keras.
"Putu Langkan! lihatlah aku! bukalah lebar-
lebar matamu, dan lihatlah siapa aku" Kau berhada-
pan dengan seorang wakil dari Dewa Mambang Peri
gunung Sorik Marapi! Bersujudlah di hadapanku! Ber-
sujudlah! Kau harus menerima hukuman atas penola-
kanmu!" Suara Datuk Tangan bertuah menggetarkan
udara. Mengandung kekuatan hebat dari pengaruh il-
mu hitam yang menindih dan mempengaruhi Putu
Langkan yang tengah dimasuki roh setan.
Mendadak tubuh Putu Langkan tergetar hebat!
Kekuatannya seperti punah. Wajahnya yang beringas
perlahan-lahan memucat. Dan tampak berubah seperti
ketakutan yang amat luar biasa melihat sang Datuk.
Perintah bersujud itu kembali terdengar dan semakin
meluluhkan kekuatannya. Pedangnya yang tadi di-
genggam kuat-kuat seketika terlepas. Dan detik beri-
kutnya Putu Langkan telah jatuhkan dirinya berlutut
dan bersujud di hadapan laki-laki itu...
"Haha.. bagus! Kini katakan sejujurnya di ma-
nakah tempat rahasia Dewi Mutiara Hijau!" berkata
Datuk Tangan bertuah dengan suara berubah lembut.
"Kau pasti mengetahui karena ada bisikan gaib yang
mengatakan kaulah orang yang mengetahui tempat
rahasia Dewi Mutiara Hijau. Bila kau mau memberita-
hukan, kau akan selamat termasuk anak istrimu. Tapi
bila kau menolak memberitahu maka jangan harap
kau dan keturunanmu selamat dari maut!"
"Ampunkan hamba Datuk wakil Dewa Mam-
bang Peri gunung Sorik Marapi...! hamba benar-benar
tak mengetahui tentang itu. Hamba hanya menemukan
sebuah peta yang disimpan oleh istri hamba..." sahut Putu Langkan dengan suara
lemah. "Bagus, Putu Langkan! kau telah bicara seju-
jurnya. Aku akan memohonkan pengampunan dari Ra-
ja!" Datuk Tangan bertuah tersenyum menyeringai.
"Terima kasih! terima kasih, Datuk wakil Dewa
Mambang Peri gunung Sorik Marapi...! Oh, terima ka-
sih...!" Putu Langkan kembali bersujud dan mengu-
capkan terima kasih berulang-ulang. Datuk Tangan
bertuah tersenyum manggut-manggut. Tiba-tiba sece-
pat kilat klewangnya menabas.... Darah memuncrat ke
udara. Tanpa dapat berteriak lagi Putu Langkan ter-
jungkal roboh dengan kepala terlepas dari tubuhnya.
Kejadian mengerikan itu di luar dugaan. Bah-
kan anak buah sang Datuk tak menyangka sama seka-
li. Sesaat mereka terpaku memandang dengan ngeri
melihat tubuh Putu Langkan tanpa kepala terkapar
dalam kubangan darah. Akan tetapi detik itu sang Da-
tuk telah membentak.
"Cepat kejar perempuan itu! Ingat! jangan sam-
pai kalian membunuhnya!" Serentak mereka mengang-
guk. Dan kejap selanjutnya belasan sisa anak buah
Datuk Tangan bertuah segera berkelebatan memasuki
hutan untuk mengejar istri Putu Langkan yang melari-
kan diri bersama anak perempuannya.
Sang Datuk tertawa menyeringai menatap so-


Dewa Linglung 14 Dewi Mutiara Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sok tubuh Putu Langkan tanpa kepala. "Hahaha... is-
trimu si Rosma itu sayang kalau dibunuh! Dia cantik!
Sudah lama aku mengharapkan jandanya...!" bergu-
mam laki-laki ini. Kemudian membersihkan darah
yang mengotori klewangnya, dan memasukkan lagi ke
dalam serangkanya. Tak lama dia telah berkelebat me-
nyusul masuk ke dalam hutan....
-----00O00-----
Malam gelap gulita menyelimuti alam. Sekitar
lereng gunung Sorik Marapi menjadi hitam kelam....
Perempuan bernama Rosma dan anak perempuannya
yang berusia dua tahun itu belum diketemukan. Bah-
kan anak-anak buah Datuk Tangan bertuah yang
mengejar terlebih dulu, telah kehilangan jejak buruan-
nya. Terpaksa Datuk Tangan bertuah dan anak-
anak buahnya menunda pengejaran itu sampai terbit
fajar. Malam yang gelap dan dingin itu mereka lewati
dengan menginap di dalam hutan. Besoknya di kala fa-
jar menyingsing, mereka meneruskan pelacakan men-
cari jejak perempuan itu.....
Datuk Tangan bertuah membagi tugas untuk
mendapatkan hasil yang memungkinkan dan tak me-
makan waktu lama. Dia berpendapat Rosma masih be-
rada di sekitar tempat itu. Untuk mendaki puncak gu-
nung pun rasanya sulit. Apalagi wanita itu membawa
serta seorang bocah kecil. Walaupun dia mempunyai
ilmu silat, tapi tak seberapa kekuatannya. Dan Datuk
Tangan bertuah mengetahui itu.
"Kepung sekitar hutan ini sampai ke sisi lereng
bukit itu!" perintah sang Datuk sambil menunjuk ke
arah bukit batu yang tampak seperti menggantung di
sisi lereng. "Periksa semua semak belukar! Aku yakin dia masih berada di sekitar
tempat ini!"
"Baik, paman Datuk! Siap paman Datuk!" sahut
mereka serempak. Lalu menyebar seperti yang telah di-
tugaskan. Datuk Tangan bertuah berdiri termangu.
Rasanya dia sudah tak sabar untuk segera menemu-
kan wanita itu. Sementara benaknya berpikir. "Heh!
Peta rahasia itu tak boleh jatuh ke tangan orang lain!
Karena ilham dan bisikan gaib itu telah ku peroleh
dengan susah payah. Ya! Tak seorangpun yang ku-
biarkan memilikinya...!"
Hampir setengah hari mereka mencari dan
mencari, akan tetapi sungguh aneh! Rosma dan anak
perempuannya lenyap tak berbekas. Usaha mereka un-
tuk menemukan wanita itu mulai menipis. Datuk Tan-
gan bertuah yang ikut turun tangan mencari juga tak
dapat menemukan jejak perempuan itu.
"Gila! kemana lenyapnya dia?" pikir sang Datuk dengan wajah merah padam dan
tubuh letih lesu.
"Apakah dia dan bocah itu disembunyikan hantu?" Datuk Tangan bertuah menggerutu
dengan gigi berkerot-
kerot. Setelah sekian lama mereka mencoba melacak
lagi, namun tak juga mereka dapat menemukan. Maka
sang Datuk pun segera memerintahkan anak buahnya
untuk menghentikan pelacakan.
"Semua berkumpul!" teriak Datuk Tangan ber-
tuah. "Kita kembali saja! Besok atau lusa kita cari lagi ke mana jejak perempuan
itu dengan membawa perbekalan yang cukup!" Datuk Tangan bertuah menyadari
anak buahnya tak dapat dipaksakan untuk terus men-
cari, karena tak adanya perbekalan. Sementara rasa
lapar dan haus sudah menggerogoti perut dan tenggo-
rokannya. Akhirnya sang Datuk dan anak buahnya
kembali pulang dengan tangan hampa. Bah-kan den-
gan membawa korban dari beberapa anak buahnya
yang tewas dan luka-luka.
Datuk Tangan bertuah mengulangi usahanya
mencari jejak Rosma pada keesokan harinya, namun
sia-sia. Bahkan sampai lebih dari sebulan pencarian
itu yang terus diulangi, tapi tetap tak membawa hasil.
Rosma seperti lenyap ditelan hutan rimba. Putus su-
dah harapan Datuk Tangan bertuah untuk menda-
patkan peta rahasia yang menunjukkan tempat berse-
mayamnya Dewi Mutiara Hijau. Yang berarti sia-sialah
jerih payahnya mendapatkan petunjuk gaib.
2 Waktu berlalu demikian pesat.... tak terasa
enam belas tahun telah lewat. Banyak sudah peruba-
han demi perubahan yang terjadi pada alam dan ma-
nusianya. Waktu yang telah lewat tak dapat terulang
lagi. Yang kecil menjadi besar, yang muda menjadi tua.
Dan yang tua akan mati. Namun kematian tak ada
seorangpun yang mengetahui. Tak kecil tak besar, tak
muda tak tua. Kalau ajal sudah di ambang pintu, ma-
ka mautpun akan datang merenggut nyawa.
Pedalaman di kaki gunung Sorik Marapi pun te-
lah mengalami banyak perubahan. Di sana telah berdi-
ri sebuah bangunan besar kokoh bertembok batu.
Itulah istana Datuk Tangan bertuah yang telah
mengangkat dirinya menjadi Raja tanpa mahkota. Di
sekitar bangunan istana itu tersebar puluhan rumah
penduduk dan rakyat yang mengabdi pada sang Da-
tuk. Ternyata Datuk Tangan bertuah mempunyai
pengaruh yang amat besar. Terbukti dia tak ada seo-
rang pun penduduk sekitar wilayah kaki gunung Sorik
Marapi yang menolak dirinya mengangkat menjadi Ra-
ja. Menggantikan Raja lama yang telah tua. Walaupun
rakyatnya telah sepakat mengangkat sang Raja tua itu
sebagai Raja seumur hidup.
Yang amat gila adalah perbuatan sang Datuk.
Dia menyeret raja tua itu dan memasukkannya ke da-
lam penjara bawah tanah yang memang sengaja telah
dibangun. Kemudian dengan paksa mengawini dua
orang puteri kembar Raja Tua itu. Tak seorangpun
yang berani menentangnya. Karena mereka tahu Da-
tuk Tangan bertuah orang sakti. Kini Datuk Tangan
bertuah menjadi orang yang amat berkuasa di pedala-
man itu.... Dalam usianya yang hampir lima puluh tahun,
kesaktian sang Raja tanpa mahkota tidak berkurang.
Walaupun kulitnya telah berubah mengeriput, namun
tenaganya masih dapat disamakan dengan tenaga ku-
da. Semua itu karena dia selalu melatih diri dan me-
nambah ilmu dan kekuatannya. Karena Datuk Tangan
bertuah menginginkan kehidupan sampai seribu ta-
hun. Mengapa sang Datuk berambisi sedemikian be-
sar" Karena dia menginginkan kekuasaan yang lebih
besar lagi, untuk menjadi orang yang paling berkuasa
di tanah Pulau Emas itu. Yang menjadi tumpuan dan
harapannya adalah, karena dia masih punya harapan
untuk menemukan tempat rahasia Dewi Mutiara Hi-
jau! Dalam suatu petunjuk gaib setelah dia bertapa
selama empat puluh hari, Datuk Tangan bertuah bero-
leh harapan besar. Karena suara gaib yang didengar-
nya mengatakan dia akan dapat menemukan Dewi Mu-
tiara Hijau setelah melewati waktu enam belas tahun.
Waktu yang dinantikan selama itu kini telah tiba. Se-
mangat sang Datuk menggebu-gebu karena harapan-
nya akan menjadi kenyataan.
Tampak di ruang depan istana, Datuk Tangan
bertuah berjalan mondar-mandir dengan menggendong
tangan. Dari mulutnya terdengar suara menggumam.
"Waktunya telah tiba...! waktunya telah tiba!
Hm, inilah saatnya aku akan berhasil mencapai cita-
citaku. Selama enam belas tahun aku bersabar me-
nunggu!" Mendadak dia tertawa tergelak-gelak. Sea-
kan-akan kejayaan dirinya sudah terlaksana. "Haha-
ha..hehe... Datuk Tangan bertuah akan berkuasa di
seluruh pulau Andalas! Aku akan taklukkan raja-raja
dari kerajaan di tanah Jawa!" Lengannya menyambar
kendi arak di atas meja. Kemudian menenggaknya
sampai ludas. "Pengawal!" mendadak dia berteriak keras. Ter-
gopoh-gopoh empat orang pengawal istana mendatan-
gi, kemudian membungkuk memberi hormat.
"Ada titah apakah Tuan ku Datuk memanggil
kami?" berkata salah seorang pengawal.
"Hm, panggil Panglima Bodong Jenong! suruh
menghadap ku!" perintah sang Raja Datuk Tangan ber-
tuah. "Se..sekarang, tuan ku..?"
"Ya! sekarang, goblok!" bentak Datuk Tangan
bertuah dengan mata melotot.
"Ba... baik, tuan ku! segera hamba laksana-
kan!" Pengawal ini segera membungkuk dan berjalan
mundur. Kira-kira sepuluh langkah baru berdiri. Ke-
mudian membalikkan tubuh, dan segera berjalan cepat
keluar dari ruangan istana.
"Dan kau bertiga...." kata sang Datuk seraya
menunjuk pada ketiga pengawal, sambil menutup hi-
dung. "Kalian pergi mandi, sana! Cepaat! sebelum aku muntah mencium bau kecoa
dari tubuhmu!" bentak
sang Datuk. "Ooh...!" Ba..baik, tuan ku Datuk!" sahut mere-ka serempak. Persis seperti yang
dilakukan pengawal
tadi, ketiga pengawal ini melangkah mundur sepuluh
langkah, kemudian putar tubuh, dan... ngacirlah me-
reka untuk pergi ke kamar mandi di barak di belakang
istana. Baru saja ketiga pengawal itu lenyap, sang Da-
tuk bersin berturut-turut lima kali. Inilah bersinnya
yang terakhir. "Hoatssyiiih!" Lendir kental pun berhamburan
dari mulut dan hidungnya.
"Pengawal jorok! tidak disiplin! Hu!.... ha..ha..
HAOTSSYIIIH!" Bersin yang paling akhir ini membuat
sang Datuk terjungkal dari kursinya. Mendengar kega-
duhan di ruang depan istana, tiga pelayan wanita yang
masing-masing berusia sekitar enam puluh tahun
muncul dari pintu tengah. Tanpa menunggu perintah
mereka berlarian memburu ke arah sang Datuk.
"Oalaa! Dewa Mambang..!?" teriak salah seo-
rang. "Cepat! cepat beri pertolongan...!" Sibuk nian ketiga pelayan tua itu
memberi pertolongan dan mencoba
mengangkat tubuh sang Datuk.
"Cepat bantu aku mengangkat, Si buhui!" teriak perempuan tua baju kuning. Dia
dan seorang perempuan kawannya tengah mencoba mengangkat tubuh
Datuk Tangan bertuah yang terjerambab tak bergerak.
"Tunggu! Susur ku jatuh...! Oh, di mana ya"
tadi menggelinding ke mari?" Perempuan tua baju hi-
jau yang gemar menyirih tembakau dan selalu menye-
lipkan gumpalan tembakau di sudut mulutnya itu si-
buk mencari susurnya.
"Cepaat! tanganku sudah pegal, nih!" teriak si nenek baju kuning. Kawannya yang
berbaju merah pun menggerutu. "Oalaaah, Si buhuy... Si buhuy...!
Kau hanya memikirkan susurmu saja!"
"Nah, ini dia!" teriak girang wanita tua kurus
kering itu. "Sudah ku terka, pasti menggelinding ke si-ni...." Cepat dijumputnya
gumpalan tembakau yang
basah oleh air ludah itu, kemudian menyelipkannya ke
sudut mulutnya "Siap! aku datang membantu!" teriak Si buhuy.
Kemudian dengan berjuang sekuat tenaga mereka
mengangkat tubuh sang Raja untuk didudukkan. Bu-
mi serasa berputar. Alam serasa gelap. Datuk Tangan
bertuah merasakan pandangan matanya berkunang-
kunang. Namun tak lama diapun sadarkan diri, karena
ketiga nenek peot itu dengan telaten menguruti teng-
kuk dan memijit kepalanya bergantian.
"Hu!... di mana aku?" bertanya sang Datuk de-
ngan pandangan mata masih samar-samar. "Di istana,
tuanku Datuk!" sahut si nenek baju kuning.
"Si...siapa kalian?" tiba-tiba Datuk Tangan bertuah membentak.
"Kami tiga pelayan istana... tu.. tuanku Datuk"
sahut ketiga nenek dengan serentak. "Kami melihat tuanku Datuk terjatuh dari
kursi. Kemudian kami beru-
saha menolong membangunkan...!" Si buhui men-
jelaskan. Pandangan mata sang Datuk pun kembali te-
rang. Seketika wajahnya menjadi merah karena malu.
"Ka..kalian pergilah semuanya! Cepat! aku bisa bangun sendiri!" berkata Datuk
Tangan bertuah.
"Baik, tuanku Datuk!" serempak para inang itu
menyahut. Kemudian sama-sama membungkuk, dan
melangkah mundur. Sayang belum sampai sepuluh
langkah, kaki Si buhuy membentur jambangan bunga
di sisi ruangan. Tak ampun lagi dia jatuh terjengkang.
"Aiii! Si buhuy yang malang...!" teriak kaget kedua kawannya. Dengan cepat
mereka menolong mem-
bangunkan nenek pelayan istana itu.
"Pinggangku...! Aduuh, pinggangku... patah ra-
sanya" merintih Si buhuy. Wajahnya menyeringai me-
nahan sakit. Sebelah tangannya mengurut-ngurut
pinggangnya. "Ssst! sudahlah! tahan saja!"
"Ayo, cepat kita ke belakang!" Kedua nenek itu menarik tangan Si buhuy. Yang
seorang memapahnya.
Tunggu...!" tiba-tiba Si buhuy menahan langkah.
"Ada apa lagi?"
"Itu... su.. ssu.. susurku! Susurku terlepas tadi
ketika aku jatuh!"
"Oalaaaah! Dewa Mambang...! SUSUR lagi?"?"
mendelik mata kedua inang. Namun kali ini mereka
tak mengubris kata-kata Si buhuy Dengan cepat me-
reka menarik lengan nenek itu, setengah paksa Si bu-
huy diseret masuk. Tak lama ketiga pelayan istana itu
lenyap di pintu ruang belakang istana....
Sementara Sang Datuk masih berdiri tegak di
tempatnya. Bibirnya menggumam. "Ini gara-gara bau
tubuh ketiga pengawal itu! Kurang ajar! mereka harus
diberi hukuman!" Selesai menggerutu, sang Datuk se-


Dewa Linglung 14 Dewi Mutiara Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

gera beranjak memasuki ruangan dalam istana untuk
berganti pakaian...
3 Kita menengok ke satu tempat jauh di sebelah
selatan gunung Sorik Marapi. Wilayah ini berada da-
lam kekuasaan seorang raja muda yang bergelar Datuk
Raja Baganang. Kekuasaannya cukup luas dan dia
amat disegani oleh rakyatnya. Wilayah kerajaan yang
tadinya aman itu ternyata telah terusik oleh kemuncu-
lan orang-orang jahat yang membuat keonaran.
Tentu saja hal itu membuat keadaan yang
aman tenteram menjadi kacau. Di sana-sini terjadi pe-
rampokan, pemerkosaan dan berbagai kejahatan lain-
nya. Laporan-laporan yang diterima sang Raja muda
membuat sang pemimpin rakyat ini menjadi terkejut.
Maka pada suatu hari Datuk Raja Baganang
segera mengumpulkan para menteri dan panglima-
panglima kerajaan untuk berembuk.
"Menteri perang! Menteri Keamanan! Dan... pa-
ra Panglima Kerajaan lainnya! Sengaja aku mengun-
dang kalian untuk berkumpul, karena aku akan mem-
bicarakan masalah penting mengenai wilayah kerajaan
kita...!" Datuk Raja Baganang memulai bicara.
"Sebagaimana kita ketahui bahwa kerajaan kita
sejak beberapa tahun belakangan ini adalah kerajaan
yang aman dan sentausa. Semasa aku menjabat se-
bagai Raja muda di negeri ini, tak pernah kekurangan
suatu apa pada rakyat. Karena aku selalu melihat ke-
hidupan rakyat dari bawah! Melihat sesuatu memang
harus dari yang paling bawah. Bila keadaan rakyat go-
longan bawah sudah makmur, maka golongan atas su-
dah tentu makmur! Akan tetapi bila kita melihat dari
atas dulu, belum tentu demikian. Golongan atas keli-
hatannya makmur. Akan tetapi tidaklah demikian den-
gan keadaan rakyat golongan bawah. Karena rakyat
golongan bawah belumlah tentu makmur!" ujar sang
Raja muda. Kemudian meneruskan pidatonya.
"Mengapa aku mengatakan demikian" Karena
sudah menjadi kebiasaan bahwa kedudukan atas akan
membuat orang menjadi silau. Pangkat tinggi bisa
membuat orang lupa atau khilaf. Karena di saat itulah
manusia mudah lupa diri. Seperti kata pepatah; lupa
kacang pada kulitnya...! Tak jarang kita mendengar
bahkan melihat bukti nyata, bahwa banyak rakyat ke-
cil yang ditindas! diperas! diperbudak sewenang-
wenang...! Terkadang laporan yang diterima Raja tidak
sesuai dengan kenyataan!"
Kembali sang Raja muda berhenti sebentar un-
tuk menatap pada para Menteri dan Panglima-
Panglimanya. Mereka semua menundukkan kepala
mendengarkan dengan hidmat. Beberapa Menteri tam-
pak manggut-manggut. Yang paling terlihat jelas ada-
lah sikap Menteri Keamanan. Wajahnya sepucat kain
lusuh. Walaupun kepalanya manggut-manggut, tapi
keringat sebesar-besar kacang mengalir turun dari pe-
lipisnya. Walau sang Raja muda tak menatap ke-
padanya, tapi seolah-olah pandangan mata Raja tertu-
ju pada dia. Untunglah lanjutan kata-kata baginda Datuk
Raja Baganang dalam pidatonya membuat sang Mente-
ri menarik napas lega.
"Aku tidak menuduh kalian para Menteri dan
Panglima memberikan laporan palsu...! Seperti yang
kukatakan tadi, aku hanya memberikan perumpa-
maan. Karena bukan hanya seorang Menteri saja yang
bisa berbuat salah! Seorang Raja seperti akupun bisa
melakukan kesalahan! Tapi selama ini adakah kesala-
han yang kalian lihat dalam pemerintahanku?" Perta-
nyaan itu serempak disambut dengan kata-kata yang
berbareng riuh.
"Tidaaaak...!"
Sejenak sunyi hening. Semua yang hadir ter-
diam menunggu pembicaraan Raja selanjutnya.
"Syukurlah...!" berkata sang Raja muda.
"Nah! sebagaimana kalian melihat sendiri, ra-
kyat dalam keadaan tenteram, makmur kertaraharja.
Tapi belakangan ini mulai banyak terjadi kekacauan!
Bukan hanya laporan saja yang telah kudengar. Bah-
kan aku melihat sendiri dengan mata kepala, bahwa
rakyat benar-benar terancam oleh munculnya berbagai
kejahatan yang tadinya sembunyi-sembunyi, kini telah
main kekerasan. Entah apakah pengacau itu dari go-
longan luar, ataukah dari golongan dalam yang sengaja
menyamar...! Hal inilah yang perlu kita rembugkan! Ki-
ta musyawarahkan, bagaimana cara untuk menanggu-
langinya. Atau untuk melenyapkan kekalutan itu! Karena kalau kita biarkan
berlarut-larut, akan sangat
membahayakan bagi keselamatan Kerajaan!"
Sejenak semua terdiam. Masing-masing dengan
pikirannya sendiri-sendiri. "Nah! Itulah yang akan kukatakan sebagai bahan
pemikiran kita dalam perte-
muan kita ini! Selanjutnya aku serahkan pada Penasi-
hat Kerajaan untuk memberikan seulas kata, sekapur
sirih untuk kita sekalian...!"
Demikianlah, seusai penasihat Kerajaan mem-
beri kata sambutan. Maka para Menteri dan Panglima
segera mengadakan perembugan mengenai langkah-
langkah yang akan mereka laksanakan demi me-
nanggulangi berbagai kejahatan yang melanda wilayah
Kerajaan dan meresahkan rakyat Kerajaan Bunga Te-
ratai itu. Hasil musyawarah dan kata sepakat segera
didapatkan. Yang banyak berperan dalam hal ini ada-
lah tugas Menteri Pertahanan dan Panglima Perang.
Maka setelah kata sepakat disetujui oleh baginda Da-
tuk Raja Baganang, selesailah perundingan itu. Para
Menteri dan Panglima dipersilahkan kembali ke rumah
masing-masing. Rencana-rencana selanjutnya diatur
oleh Menteri Pertahanan dan Panglima Perang di luar
istana. Tiga hari setelah perundingan di istana Bunga
Teratai.... Dari ujung jalan tampak tersembul sesosok tu-
buh. Langkahnya ringan dan lebar. Ternyata dia se-
orang pemuda berpakaian kain putih dari bahan ka-
sar. Yang tampak agak lucu adalah celananya yang
gombrong dan sebentar-sebentar sambil mulutnya te-
rus bersiul-siul, lengannya membenarkan celananya
yang kedodoran. Di bahunya menggemblok sebuah
buntalan kain butut yang bertambal. Rambutnya ikal,
gondrong dan tampak awut-awutan. Sepasang ma-
tanya mirip mata orang yang kurang tidur. Namun
anehnya dia melangkah dengan biasa saja tanpa keli-
hatan lesu atau letih. Siapa adanya laki-laki ini" Tiada salah lagi! Dialah
Nanjar alias si Dewa Linglung.
"Hm, ini sudah wilayah Kerajaan Bunga Tera-
tai...! Bagus! aku sudah cukup letih melakukan perja-
lanan jauh. Tak lama lagi tentu segera aku tiba di Kota
Raja..." berkata Nanjar dalam hati. Sementara matanya memperhatikan sebuah tugu
yang berukiran sebuah
lukisan berbentuk bunga Teratai yang berada di sisi ja-
lan. Itulah tugu perbatasan Kota Raja. Dan ukiran
bunga Teratai itu adalah lambang dari Kerajaan Bunga
Teratai. -00O00- Nanjar mempercepat langkahnya. Tampaknya
dia ingin cepat-cepat tiba di tempat tujuan. Akan tetapi baru saja sepeminum teh
dia mengayunkan kakinya,
mendadak terdengar bentakan keras.
"Berhenti!"
Bentakan itu disusul dengan berkelebatnya tiga
bayangan sosok tubuh. Dan dalam waktu sekejapan
saja dia telah dikurung oleh tiga orang laki-laki yang
berperawakan kekar. Masing-masing pakaiannya ber-
warna berbeda. Akan tetapi mempunyai ikat kepala ra-
ta-rata berwarna putih. Walaupun bentuk dan besar-
kecilnya berbeda.
"Eh" ada apa nih" Ko' tiba-tiba aku diku-
rung..." Siapakah kalian?" Nanjar putarkan tubuhnya.
Matanya menatap satu-persatu orang yang mengu-
rungnya. "Tak usah banyak tanya! Kalau kau mau sela-
mat, menyerahlah! Kami akan membawamu ke tempat
ketua kami! Biar ketua kami yang memeriksamu...! Ka-
lau ternyata kau tak bersalah, kau dibebaskan!" berkata laki-laki baju kembang
berwarna biru. 4 Dewa Linglung terpaksa menuruti keinginan
ketiga orang tersebut. Dia digiring memasuki jalan di
dalam hutan jati. Beberapa saat antaranya mereka te-
lah sampai di tempat yang dituju.
"Kita berhenti di sini!" berkata laki-laki yang menodongkan ujung klewangnya ke
punggung Nanjar.
Nanjar memandang ke arah depan dan memperhatikan
sekitarnya. "Hm, manakah ketua kalian?" tanya sang Pendekar.
Ketiga laki-laki itu tak menjawab. Tapi salah se-
orang memberi tanda dengan menggunakan suitan,
yang dilakukan dengan dua buah jari tangan yang di-
masukkan ke dalam mulutnya.
Sesosok bayangan berkelebat keluar dari balik
bongkah batu besar yang berada di sebelah depan.
Nanjar memperhatikan gerakan orang yang baru da-
tang ini. Gerakannya cukup gesit. Kedua kakinya men-
ginjak tanah tanpa menimbulkan suara. Jelas seorang
yang berkepandaian tinggi.
Ternyata pendatang ini seorang yang bertubuh
sedang, tidak kekar seperti ketiga laki-laki itu. Ping-
gangnya pun ramping. Walau orang ini mengenakan
topeng yang membungkus seluruh kepala, dan menu-
tupi tubuhnya dengan jubah hitam, tapi Nanjar dapat
menerka dia seorang wanita.
"Heh! andakah ketua ketiga kecoa ini?" tanya
Nanjar. Ketiga laki-laki itu sejenak jadi plototkan mata
mendengar Nanjar menyebut mereka, tiga kecoa. Tapi
tak berani mengadakan tindakan apa-apa. Serentak
mereka menjura. Salah seorang berkata.
"Orang ini kelihatan mencurigakan. Harap ke-
tua memeriksa isi kain buntalannya. Ternyata dia juga
menyembunyikan senjata di balik pakaian di belakang
punggungnya!" berkata salah seorang. Kali ini yang bicara adalah laki-laki yang
bercambang bauk lebat.
Dari balik topeng, tampak terlihat sepasang
mata yang menatap tajam berkilat-kilat menatap Nan-
jar. Yang tersembul dari dua buah lubang pada kain
topeng penutup kepala.
"Siapakah namamu, sobat" Dan apa tujuanmu
memasuki wilayah Kota Raja?" bertanya sang ketua.
Suaranya tajam dan ketus. Dugaan Nanjar memang
tak salah. Karena dari suaranya dia sudah dapat me-
ngetahui dari jenis mana sang ketua itu.
"Pertanyaan yang sopan...!" sahut Nanjar. "Tapi juga aneh! Mengapa tanya-tanya
soal nama dan tujua-nku memasuki Kota Raja segala" Memangnya ada apa,
sih" Apakah setiap orang yang dianggap men-curigai
akan ditahan dan disidang seperti ini?" Nanjar garuk-garuk tengkuknya yang tidak
gatal. "Keadaan Kota Raja sedang gawat. Banyak
orang jahat menyelusup untuk membuat kekacauan.
Kami adalah orang Kerajaan yang menyamar...!" berka-ta si ketua, seraya
mengeluarkan lambang bunga Tera-
tai dari balik bajunya.
"Oo... begitu?" Nanjar baru me-ngerti. "Apakah ketiga sobat yang menangkapku
juga orang-orang Kerajaan?"
"Benar! Mereka adalah tiga orang prajurit pili-
han yang mendapat tugas untuk memata-matai dan
menangkap orang yang mencurigai!" sahut si ketua.
Nanjar manggut-manggut. Merasa memang ada baik-
nya dia menjelaskan maksud tujuannya, maka Nanjar
pun memperkenalkan diri.
"Namaku, Nanjar! Lengkapnya Ginanjar...! Tu-
juanku adalah mau menemui seseorang yang bernama
Kecak Mendala. Katanya dia berdiam di dalam Kota
Raja kerajaan Bunga Teratai"
Kalau saja tak mengenakan topeng, akan terli-
hat paras muka si ketua berubah seketika. Tiba-tiba
lengannya bergerak cepat. Tahu-tahu sebuah pedang
tipis telah berada di genggaman tangannya.
Detik berikutnya ujung senjata si ketua telah
menempel di kulit leher Nanjar.
"Katakan! ada hubungan apa kau dengan Pang-
lima Kecak Mendala?"
Walaupun terkejut bukan main, namun Nanjar
masih bisa tersenyum. Kecepatan gerakan lengan si
ketua itu memang mengagumkan. Seandainya Nanjar
mampu berkelit pun setidak-tidaknya kulit lehernya
akan kena serempetan ujung pedang tipis si ketua. Ta-
pi dia sengaja tak menggerakan tubuh sedikitpun. Ka-
rena dia berkeyakinan tak mungkin wanita bertopeng
itu akan menurunkan tangan keji untuk membunuh-
nya. "Cepat katakan! Ada hubungan apa kau dengan
Panglima Kecak Mendala?" membentak lagi si ketua
karena melihat Nanjar masih berdiri terpaku. Tapi
Nanjar malah tersenyum dan berkata.
"Aneh...!" Kau katakan bahwa kau adalah
orang Kerajaan, tapi mengapa kau bersikap seperti ini"
Aku sendiri baru mengetahui kalau Kecak Mendala
adalah seorang Panglima Kerajaan Bunga Teratai.
Apakah dia seorang penjahat besar" Kalau dia seorang
penjahat mengapa menjabat sebagai seorang Panglima
Kerajaan" Dan kalau dia seorang Panglima mengapa
kau tak menghargai sahabatnya dan bersikap seperti
ini?" "Hm, aku... aku hanya khawatir kau mata-mata yang sengaja datang untuk
membuat kekacauan!" ujar


Dewa Linglung 14 Dewi Mutiara Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

si ketua seraya menurunkan pedangnya. Tampaknya
dia sadar kalau dia telah terbawa rasa curiga yang
amat besar. "Maksudmu kau khawatir secara diam-diam
Panglima Kecak Mendala akan mengadakan pemberon-
takan" Hingga kau mencurigaiku turut berkomplot
dengannya?" terka Nanjar.
"Secara terang-terangan aku tak menuduh. Ta-
pi setiap orang berhak mencurigai. Walaupun pada se-
sama orang Kerajaan!" sahut si wanita bertopeng de-
ngan suara tegas.
"Bagus! Itu tandanya kau adalah seorang abdi
Kerajaan yang jempolan!" Puji Nanjar.
"Cukup! saat ini aku tengah memeriksa dirimu!
Setelah kau menjawab pertanyaanku, segera kau buka
isi kain buntalanmu untuk diperiksa!" bentak si ketua.
"Haha... baik! baik! Seorang tawanan memang
harus menurut pada perintah orang yang menawannya
kalau tak ingin celaka!" kata Nanjar dengan tertawa.
"Tapi apakah yang sebenarnya telah hilang atau dicuri orang, hingga kau harus
memeriksa isi kain buntalanku?" "Kau benar-benar cerewet! Tapi tak apalah, aku
akan memberitahukanmu! Yang telah hilang adalah
sejumput perhiasan yang telah dicuri orang dari dalam
kamarku!" sahut si wanita ketua.
"Perhiasan milikmu?"
"Benar!"
"Setahuku orang yang selalu menyimpan per-
hiasan di kamarnya adalah seorang perempuan.... Jadi
benarlah dugaanku, kau bukan seorang laki-laki!" kata Nanjar sambil tersenyum.
"Aku tak mengatakan aku laki-laki! Tapi aku
juga tak mengatakan aku seorang perempuan!" kata
wanita bertopeng ketus. "Sudahlah! Cepat kau jawab
pertanyaanku!" bentak si ketua. Nanjar mengangguk.
"Baik! aku akan ceritakan padamu tentang hu-
bunganku dengan sahabatku itu." kata Nanjar. Kemu-
dian segera menceritakan bagaimana dia dapat berke-
nalan dengan Panglima Kecak Mendala di tanah Jawa.
Perkenalan mereka sudah sejak setahun yang
lalu. Yaitu ketika terjadi huru-hara meletusnya sebuah
gunung berapi. Nanjar berusaha menyelamatkan nya-
wa penduduk dari genangan lahar. Tak sedikit harta
dan ternak yang menjadi korban. Di saat itulah dia
melihat seorang laki-laki tengah sibuk memberi per-
tolongan pada penduduk sekitar lereng gunung yang
tertimpa bencana. Gerakannya amat gesit. Begitu ce-
katan sekali orang itu memberi pertolongan. Akhirnya
keduanya saling bahu membahu memberi bantuan
serta pengungsian bagi penduduk desa tersebut. Men-
carikan ransum, menolong yang terluka dan seba-
gainya. Mereka pun berkenalan. Orang itu memperke-
nalkan dirinya. Dia bernama Kecak Mendala, berasal
dari tanah seberang. Yaitu dari kepulauan Andalas.
Peristiwa setahun yang lalu itu seperti ter-
bayang jelas di pelupuk mata Nanjar. Sebelum berpi-
sah, Kecak Mendala memberikan sebuah peta yang
menunjukkan tempat di mana Kecak Mendala berada.
Selain itu Kecak Mendala juga memohon kesediaannya
untuk datang ke tempatnya, karena dia memerlukan
bantuan untuk memecahkan rahasia sebuah peta yang
menunjukkan tempat tersimpannya harta yang tak
ternilai harganya. Kecak Mendala memberikan separuh
peta itu. Sedangkan separuh lagi dibawanya. Dengan
demikian secara setengah paksa Nanjar mau tak mau
diharapkan kedatangannya di Pulau Andalas.
Nanjar berjanji tahun di muka akan mencari
Kecak Mendala untuk membantu menyelidiki peta ra-
hasia itu. Sampai di sini Nanjar mengakhiri penuturan-
nya. Sejak dari awal sampai akhir si ketua mendengar-
kan penuturan Nanjar dengan serius. Dia memuji ke-
tulusan hati serta sifat kependekaran Nanjar dan Ke-
cak Mendala dalam membantu orang yang menderita
kesusahan. Pada perihal peta, seketika wajahnya beru-
bah. Tapi diam-diam benak si ketua ini berfikir.
"Hm, aneh! Dari penuturan pemuda ini dapat diketa-
hui si Kecak Mendala itu orang baik-baik. Tapi bisakah
aku menghilangkan kecurigaanku bahwa bukan dia
yang mencuri perhiasanku" Karena aku memang per-
nah melihat dia memasuki kamarku...! Kalau bukan
dia pencurinya, lalu siapa" Dan kalau memang benar
dia pencurinya, untuk apakah perhiasan yang tak ber-
harga buat dirinya itu?"
Wanita bertopeng ini tercenung beberapa saat.
"Apakah sebenarnya di balik semua ini?" berkata dia dalam hati. Kembali benaknya
memikir. "Aku yakin
bukan perhiasan itu yang diinginkan si pencuri, tapi
pembungkus perhiasan itu! karena baru kusadari ka-
lau benda yang kupergunakan untuk membungkus itu
adalah sebuah peta rahasia!"
Dilihatnya si pemuda masih berdiri menatap
padanya. "Bolehkah aku melihat sepotong peta yang ber-
ada padamu itu?" tanya si ketua ini dengan suara halus.
"Haha... mengapa tidak" Asalkan nona mau
membuka topeng dan memperlihatkan wajah secara
terang-terangan. Hingga aku bisa mengetahui apakah
nona seorang gadis cantik ataukah seorang nenek ke-
riput penuh jerawat?" kata Nanjar dengan tersenyum dan menyipitkan sebelah
matanya. "Huh! laki-laki ceriwis!" memaki si ketua. Mendadak dia melompat ke depan.
Lengannya meluncur
cepat untuk menampar pipi Nanjar. Dewa Linglung ce-
pat miringkan tubuhnya menghindar.... Tiba-tiba sece-
pat kilat lengannya bergerak menangkap pinggang wa-
nita bertopeng itu. Gerakan itu ternyata diteruskan
dengan mendorong tubuh si ketua hingga terjerembab
ke tanah. Tentu saja membuat kaget wanita bertopeng
itu karena dalam keadaan jatuh itu lengan Nanjar ma-
sih memeluk pinggangnya. Sesaat si ketua melihat
bumi berputar. Ternyata Nanjar dengan memeluk erat
wanita itu telah menggulingkan tubuh beberapa kali. 5
Pada detik itulah tiba-tiba terdengar jeritan sal-
ing susul merobek udara. Apakah yang terjadi sebe-
narnya" Kiranya pada saat si wanita bertopeng men-
gangkat tangannya untuk menampar pipi Nanjar, tiba-
tiba Nanjar mendengar suara bersiutannya benda-
benda halus membias udara yang meluruk ke arah
mereka. Tak berayal Nanjar menangkap pinggang si
ketua setelah berhasil menghindari tamparan. Kemu-
dian mendorong tubuh si wanita bertopeng dan bergu-
lingan di tanah beberapa kali.
Puluhan senjata rahasia yang meluruk ke arah
mereka berhasil lolos dari sasarannya. Akan tetapi ke-
tiga prajurit kerajaan itu terjungkal roboh terkena se-
rangan gelap tersebut.
Nanjar telah melepaskan pelukannya dan me-
lompat berdiri dengan siap siaga. Si wanita bertopeng
pun dengan gerakan sebat segera bangkit berdiri. Ka-
lau saja dia tak mengenakan topeng, akan terlihat wa-
jah wanita itu pucat pias. Dilihatnya ketiga orang anak
buahnya telah berkaparan meregang nyawa. Tapi se-
lang beberapa detik mereka tak bergerak lagi, karena
nyawanya telah lepas meninggalkan tubuhnya.
Di saat itulah tiba-tiba terdengar suara ketawa
bergelak-gelak yang memecah udara sekitar hutan ke-
cil itu. Suara tertawa itu berhenti. Dan sebuah bayan-
gan kuning dan merah berkelebat muncul dari balik
kerimbunan daun pohon besar. Jejakkan kaki kedua
sosok tubuh itu menimbulkan getaran di tanah yang
terasa pada telapak kaki.
"Haha..hohoho... cara menghindarkan diri yang
pintar! Di samping nyawa selamat, tapi dapat merasai
hangatnya tubuh seorang gadis! Kau benar-benar pin-
tar, Dewa Linglung...!" gembor si laki-laki baju merah.
Ternyata dia seorang laki-laki yang bertubuh miring ke
kanan. Perawakannya disebut jangkung tapi pendek.
Disebut pendek tapi jangkung. Mungkin karena tu-
buhnya yang miring itulah hingga sukar menerkanya.
Berbeda dan berlawanan dengan laki-laki ber-
baju kuning, kalau si baju merah bertubuh miring ke
kanan, adalah si baju kuning ini tubuhnya miring ke
kiri. Wajah keduanya hampir tak dapat dibedakan.
Sama-sama berambut panjang sebatas punggung. Ber-
tampang kasar. Muka penuh brewok dengan sepasang
mata sipit seperti meram. Di pinggang masing-masing
tergantung gelang-gelang besi dengan ukuran besar.
Gelang-gelang besi itu terikat menjadi satu hingga tak
mengeluarkan bunyi bila mereka bergerak.
Kalau Nanjar terkejut melihat kemunculan ke-
dua orang ini, sebaliknya si wanita bertopeng merah
wajahnya dan terasa panas.
"Manusia-manusia busuk! Kalian membunuh
orang dengan cara licik dan pengecut! Bahkan berbuat
seenak perutmu saja! Kalian harus menebus kema-
tiannya dengan jiwamu!"
"Haha...hoho... Dewa Linglung! serahkan peta
rahasia yang berada ditanganmu! Orang macammu
mudah terpikat oleh perempuan! Kami diperintahkan
ketua untuk membunuhmu dan mengambil peta itu!
Tapi biarlah aku ampuni jiwamu! Asalkan kau berikan
benda itu, dan kau boleh minggat secepatnya dari wi-
layah ini! Jangan sampai guru sendiri yang turun tan-
gan!" menggembor si baju merah. Nanjar jadi gelaga-
pan mendengar kata-kata si brewok miring ke kanan
ini. "Apa...apa maksudmu" Ketua siapa..?" Sentak
Nanjar. Tapi si baju merah telah membentak lagi. "Manusia pandai berpura-pura!
Setelah nyawa busukmu
diampuni Ketua, kau kembali mau berkhianat! Ternya-
ta kau tidak menyerahkan benda itu pada ketua! Bah-
kan mengarang cerita bohong guna menipu gadis ber-
topeng ini! Huh! sekarang berpura-pura tak mengenal
Ketua" Kau memang layak dibunuh mampus!"
Semakin gelagapan Nanjar mendengar kata-
kata si brewok baju merah. Adapun si wanita berto-
peng jadi terkesiap mendengarnya.
"Heh! ternyata kalian semua adalah manusia-
manusia busuk!" teriak wanita ini seraya menunjuk
Nanjar dan kedua manusia miring itu.
"Eh" tu.. tunggu..!" teriak Nanjar gelagapan.
"Manusia keparat! ternyata kaulah yang telah
mencuri perhiasan berikut peta itu!" Bentakan si wanita bertopeng disusul dengan
serangan dahsyat. Pe-
dang tipisnya tahu-tahu telah menabas ke arah Nan-
jar. Whuuut! whuuut!
Nanjar tersentak kaget. Untunglah dengan gesit
dia sempat mengelakkan diri. Tapi secara berbareng si
baju merah miring ke kanan dan si baju kuning miring
ke kiri telah melakukan serangan.
Dua pukulan berbahaya meluncur ke arahnya.
Nanjar tahu pukulan itu berisi tenaga dalam tinggi, ka-
rena hawa panas yang menyambar membuat tubuhnya
serasa terpanggang.
Nanjar tak menggunakan pukulannya untuk
memapaki kedua serangan yang telah dihimpun itu
hingga menghasilkan tenaga dua kali lipat. Akan san-
gat besar bahayanya. Namun dengan gerakan gesit dia
menggunakan ilmu melompat Kera Sakti. Gerakan me-
lompat jungkir balik itu ternyata banyak menolongnya.
Karena bertubi-tubi kedua lawannya melakukan se-
rangan selalu mengenai tempat kosong.
6 Sambil mengelakkan diri, Nanjar berpikir dalam
benak, siapakah adanya kedua orang miring itu yang
mengenal julukan dirinya" Tapi dia tak dapat berpikir
lebih banyak karena serangan pedang tipis si wanita
bertopeng tak memberi peluang sedikitpun pada Nan-
jar untuk beristirahat.
Diiringi bentakan-bentakan keras wanita ketua
ini menerjang dengan tabasan dan tusukan pedang ti-
pisnya. Tentu saja dalam beberapa jurus saja si Dewa
Linglung kelihatan mulai terdesak. Yang menyebab-
kannya adalah karena Nanjar tak ingin menurunkan
tangan keji sebelum mengetahui siapa adanya kedua
orang itu. Disamping Nanjar ingin pula mengetahui ke-
tua mereka. Dan hal lainnya yaitu diapun tak ingin
melukai si wanita bertopeng.
Melihat keadaan Nanjar mulai terdesak, si baju
merah perdengarkan suara tertawa mengejek. "Ha-
ha..hehe.. ternyata nama Dewa Linglung cuma nama
kosong saja! Kabarnya memiliki senjata pedang musti-
ka Naga Merah. Ingin kulihat kehebatan pedang mus-
tika itu! Apakah dia mampu memainkannya dengan
baik?" "Hohoho... pedang mainan anak-anak! Paling-
paling dia cuma membawa bawa untuk menakut-
nakuti tikus!"
Merahlah seketika wajah Nanjar. Ketika suatu
saat ada peluang yang baik, Nanjar melompat mundur
dua tombak. "Heh! dua manusia miring! agaknya kau mau
merasakan ketajaman pedang mustika ini" Baiklah!
jangan menyesal kalau kepalamu menggelinding dari
batang lehermu!" berkata Nanjar dengan suara dingin.
Mendadak secepat kilat dia mencabut senjata musti-
kanya. Memancarlah seketika secercah sinar merah
menerangi sekitar tempat itu. Tak terasa si wanita ber-
topeng melangkah mundur. Matanya membelalak ka-
rena takjub melihat keanggunan pedang di tangan


Dewa Linglung 14 Dewi Mutiara Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Nanjar. Adapun kedua laki-laki bertubuh miring ke
kanan dan ke kiri itu perlihatkan senyuman di bibir. Si
baju merah menoleh pada kawannya. Bibirnya mende-
sis. "Hehe... pancingan kita mengena! Inilah kesempatan mendapatkan pedang Naga
Merah yang merupa-
kan kunci utama di samping sepotong peta rahasia
yang berada ditangannya..!" Si baju kuning mengang-
guk. "Mari kita mulai..!" si Baju kuning memberi isyarat. Serentak keduanya
segera meloloskan gelang-
gelang besi yang tergantung di pinggang masing-
masing. "Bagus! ingin kulihat kehebatanmu memainkan
pedang mustika itu! Kami akan menghadapimu dengan
senjata istimewa kami!" berkata si baju merah.
Sringng..! Sringng..!
Si baju kuning melompat ke belakang Nanjar.
Di kedua lengannya digenggam erat masing-masing li-
ma buah gelang di tiap lengan. Sementara si baju ku-
ning dengan sigap segera memasang kuda-kuda. Di
kedua lengannya tergenggam senjata aneh yang ber-
jumlah sama seperti yang berada di tangan kawannya.
Wanita bertopeng ini agaknya merasa dia lebih
baik menjadi penonton. Karena perasaan malu tiba-
tiba menyelinap dihatinya kalau dia harus ikut-ikutan
mengeroyok. Cepat dia melompat menjauh. Dengan
berdiri di atas batu pada tempat ketinggian dia bisa
menyaksikan jalannya pertarungan. Sementara ha-
tinya berkata-kata. "Dewa Linglung.." Ah, serasa aku pernah mendengar paman
Menteri Perang menyebut-nyebut gelar yang aneh itu" Apakah dia si pendekar
yang juga digelari si Pendekar Pedang Naga Merah?"
membisik hatinya. "Ah! kalau benar dia orangnya, berarti dia seorang pendekar
yang berada di jalan lurus!
Tak mungkin dia bermaksud buruk pada kerajaan
Bunga Teratai. Akan tetapi dikhawatirkan dia diperalat
untuk tujuan tidak baik. Aku tak dapat menuduh Pan-
glima Kecak Mendala berniat buruk, karena belum ada
bukti! Tapi lenyapnya peta yang telah kusimpan sela-
ma empat belas tahun itu cukup untuk aku bercuriga
padanya..!"
Wanita bertopeng ini tak dapat berpikir lebih
jauh, karena dia harus memusatkan perhatiannya pa-
da jalannya pertarungan yang sudah dimulai sejak be-
berapa detik barusan. Terlihat si kedua miring mulai
mengadakan gempuran pada lawannya. Gelang-gelang
besi si baju merah dan kawannya si baju kuning ter-
nyata merupakan senjata hebat yang amat berbahaya.
Pedang Asmara 17 Seruling Sakti Karya Didit S Andrianto Panji Sakti 4
^