Pencarian

Mengganasnya Siluman Gila 1

Dewa Linglung 4 Mengganasnya Siluman Gila Guling Bagian 1


Dia datang Sebagai seorang pendekar.
Dia aneh & bertindak seperti orang linglung
Para ksatria menyebut dia
Si DEWA LINGLUNG Pendekar sakti yang Digembleng 'lima' tokoh aneh
htpp://duniaabukeisel.blogspot.com/
SATU HANCURNYA KERAJAAN GIRI JAYA tak dapat terelakkan lagi. Bukan saja orang-orang
istana yang mati terbunuh dengan keadaan mengerikan, akan tetapi istana itu
sendin hampir dapat di-katakan rata dengan tanah. Kejadian tersebut membuat
terkejut para raja kerajaan lainnya. Bahkan juga kekhawatiran di setiap
tempat.trap tempat. Amukan manusia yang menamakan
dirinya Siluman Gila Guling telah merubah keadaan menjadi bertambah kalut.
Ratusan rakyat yang berdiam disekitar wilayah Kota Raja berbondong-bondong
hijrah ke lain wilayah. Wajah-wajah ketakutan tampak membayang disetiap orang.
Mereka memasuki wilayah-wilayah kerajaan lain untuk mengungsi,
sekaligus meminta perlindungan. Tentu saja hal tersebut membuat kerajaan yang
dimasuki rakyat kerajaan Giri Jaya menolak kedatangan mereka. Bahkan mengusir
mereka keluar dari tapal batas.
Apa yang menjadi sebab penguasa kerajaan itu tak mau menerima kedatangan mereka"
Ya! karena kliawatir kedatangan mereka hanya akan membawa bencana. Rakyat
kerajaan Giri Jaya benar-benar terpojok. Mereka terpaksa mengungsi dihutan-
hutan. Sementara dari kejauhan mereka melihat warna langit berubah merah. Pertanda api yang
membakar dan membumi hanguskan Kota Raja belum lagi padam. Bahkan makin tampak
memerah. Bukan mustahil kalau desa-desa tempat tinggal mereka yang mereka
tinggalkan juga turut musnah terbakar.
Disaat rakyat kerajaan Giri Jaya dihantui ketakutan yang amat luar biasa, diarah
barat tampak berkelebatan tujuh sosok tubuh manusia.
Dari gerakan-gerakan mereka da-
patlah diketahui kalau ketujuh orang itu adalah orang-orang yang berke-pandaian
tinggi. Mereka baru saja menyaksikan
keadaan rakyat kerajaan Giri Jaya yang dilanda ketakutan dalam pengungsiannya
kehutan-hutan. Arah yang dituju ketujuh orang itu ternyata wilayah Kota Raja
yang dalam keadaan dibumi hanguskan!
Ternyata mereka adalah tujuh
orang yang masih berusia muda-muda.
Diantara ketujuh orang itu ternyata ada terdapat seorang gadis sedang yang enam
adalah laki-laki. Rata-rata mereka mengenakan pakaian berwarna biru dengan
masing-masing membawa senjata.
Siapakah adanya ketujuh orang
ini" Mereka adalah tujuh orang murid dari perguruan "Langir Biru". Asap
yang membubung tinggi serta merahnya warna langit membuat ketujuh orang ini
turun gunung dari puncak gunung SIMEMBUT tempat mereka berguru.
Ketujuhnya memang diperintah oleh sang guru untuk menyelidiki kejadian itu.
Tentu saja mereka terkejut
mengetahui keadaan rakyat diwilayah itu yang berbondong-bondong mengungsi dengan
wajah ketakutan. Beberapa hari perjalanan yang mereka lakukan ternyata mereka
cuma mendapatkan sisa-sisa kekalutan.
Bahkan api masih nampak berkobar disekitar wilayah Kota Raja.
Ketujuh orang-orang muda ini
memandang ke hadapannya dengan mata hampir tak berkedip. Istana kerajaan Giri
Jaya telah musnah dimakan api hingga yang nampak hanyalah rerun-tuhannya saja.
Diperjalanan beberapa desa yang dilalui juga telah berkobar dimakan api. Namun
mereka tak menampak adanya manusia yang harus di tolong.
Tampaknya para penduduk telah sama mengungsi sebelum terjadinya kebakaran yang
memusnahkan pedesaan itu.
"Apa yang harus kita lakukan, kakang PRANA?" bertanya gadis cantik berambut
kepang dua itu. Disamping seorang laki-laki muda yang tengah terlongong menatap
reruntuhan istana. Laki-laki ini nama sebenarnya
adalah AJI PRANA, murid ketua diantara ketujuh orang itu. Bahkan dia pulalah
yang memimpin perjalanan turun gunung meninjau suasana kewilayah kerajaan Giri
Jaya ini. Tercenung sejurus laki-laki
berkumis tipis ini. Wajahnya yang cukup tampan itu
diusapnya. Mengusap keringat yang mengembun disekujur kulit muka.
"Apakah sebaiknya kita kembali saja melaporkan kejadian ini pada guru?" bertanya
Pamuji yang berada tak jauh disebelah kiri Aji Prana, seraya menghampiri. Pamuji
dan Adi Prana adalah kakak beradik. Aji Prana menatap adiknya sejenak lalu
dialinkan pada gadis itu.
Kemudian kembali menatap pada
reruntuhan puing-puing istana kerajaan Giri Jaya.
"Adikku Pamuji dan kau CITRASIH, tujuan guru bukanlah sekedar meni-tahkan kita
untuk cuma meninjau saja.
Akan tetapi juga menyelidiki kejadian apakah yang menyebabkan kehancuran
kerajaan Giri Jaya ini!" ujarnya dengan suara tegas. Dan lanjutnya lagi;
"Kukira beliau telah mengetahui tentang kejadian ini sebelumnya.
Diperintahkan kita untuk turun gunung karena sudah waktunya kita mengamalkan
pelajaran ilmu-ilmu yang kita dapati
dipuncak gunung Simembut! Saat seperti inilah yang merupakan batu ujian buat
kita. Sebagai pendekar-pendekar muda yang telah digembleng selama belasan tahun
oleh guru kita, tak layak kalau kita tak menyelidiki sampai tuntas, siapa adanya
pelaku-pelaku yang mengakibatkan kehancuran kerajaan Giri Jaya ini!"
Kedua pemuda dan pemudi itu
manggut-manggut. "Lalu apa rencanamu, kakang Prana?" bertanya lagi Citrasih.
Aji Prana diam sejenak, lalu
berpaling pada Pamuji.
"Panggil yang lainnya untuk berkumpul, segera kita adakan perem-bugan!" ujarnya.
Pamuji mengangguk. "Baik kakang..!" sahutnya, lalu balikkan tubuh untuk menghampiri kawan-kawannya
yang berada ditempat terpisah. Dengan saling memberi tanda isyarat sebentar saja
semua telah berlompatan untuk segera berkumpul di depan Aji Prana, dan Citrasih.
Langit yang memerah perlahan
mulai agak pudar dari cahaya api.
Namun asap masih terlihat walau tak begitu banyak, dan hawa panas mulai
berkurang. Satu persatu murid perguruan Langir Biru mulai bergerak kebeberapa
jurusan. Masing-masing membawa tugas yang telah diperintahkan oleh Aji Prana
sang ketua. "Pamuji! kau ke arah mana?"
bertanya Citrasih seraya menghampiri ketika baru saja pemuda itu beranjak
melangkah tapi merandek lagi. Tampaknya seperti ragu atau lupa pada arah yang
telah ditentukan kakaknya.
Seperti telah diperembugkan, mereka diberi waktu sampai senja untuk melihat
keadaan mencari tahu penyebab kejadian. Lalu kembali ke tempat se-mula. Masing-
masing telah diberi tugas ke arah mana harus bergerak.
Pamuji diberi tugas ke arah utara sedangkan Aji Prana menemani Citrasih yang dia
sendiri belum menentukan arahnya.
"Oh, ya! aku lupa. Aku harus ke arah utara, bukankah begitu?" sahut Pamuji
tergegas. Wajahnya seketika berubah merah. Namun dengan cepat dia berkata.
"Baiklah! sampai ketemu lagi Citrasih! Baik-baiklah kau menjaga diri..."
Selesai berkata yang diucapkan
dengan suara lirih, Pamuji berkelebat cepat untuk beberapa kejap kemudian lenyap
dari tempat itu. Citrasih masih menatap kearah
lenyapnya tubuh Pamuji, ketika terdengar suara dibelakangnya.
"Citrasih! hayo kita mulai bergerak!"
Dia tersentak menoleh, dilihatnya Aji Prana telah berada didekatnya.
Laki-laki ini menggamit lengannya seraya berkata lagi.
"Cepatlah! saat ini bukan waktunya untuk banyak berdiam diri!"
"Kita bergerak ke arah mana?"
tanya Citrasih dengan wajah tersipu.
"Ke sana!" sahut Aji Prana seraya menarik lengan dara ini. Tentu saja tubuh
Citrasih terbawa melayang ketika pemuda itu berkelebat melompat. Sesaat berlihat
keduanya telah berlari-lari menyusup ke dalam hutan disebelah kiri. Tak lama
kemudian sosok-sosok bayangan tubuh merekapun lenyap dike-rimbunan pepohonan....
DUA Dalamnya laut bisa diduga
dalamnya hati orang tak ada yang tahu!
Pepatah itu berlaku bagi PAMUJI.
Karena diluar dugaan, Pamuji diam-diam telah menguntit dibelakang Aji Prana dan
Citrasih tanpa mereka mengetahui.
Apa yang membuat Pamuji tak
menuruti perintah kakaknya" Tiada lain adalah rasa cemburu. Cemburu yang sejak
lama bersemayam dalam dadanya, karena sang kakak amat akrab dengan Citrasih.
Dara cantik berusia tujuh belas tahun itu ternyata diam-diam dicing-tainya,
walau pada kenyatannya Pamuji
bersikap biasa. Dalam hati pemuda ini diam-diam telah bergejolak cinta berahi yang amat dalam.
Bahkan di saat latihan-latihan dipuncak gunung Simembut wajah gadis itu selalu
membayang diruang mata. Tak jarang dia berhenti berlatih untuk duduk termenung.
Terkadang dia tinggalkan tempat latihannya cuma untuk melihat wajah Citrasih
yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Pamuji dalam hati sering merutuk, atau
memaki karena diberi tugas berat dalam latihan.
Sedangkan Aji Prana selalu saja berdekatan dengan Citrasih. Walaupun tak
dikeluarkan dengan mulutnya, tapi dalam hati diam-diam Pamuji menganggap sang
guru bertindak berat sebelah.
Bahkan beranggapan seolah-olah dia sengaja disisihkan dari Citrasih.
Anggapan itu sebenarnya keliru.
Citrasih masih terlalu muda dan terlalu hijau untuk menerima ilmu-ilmu silat
yang berat karena dia agak kurang cerdas. Oleh sang guru sengaja diperintahkan
Aji Prana untuk mem-bimbingnya. Dengan demikian kecerdasan Citrasih dalam
menerima pelajaran-pelajaran akan lebih cepat bertambah.
Pamuji yang digelapkan hatinya oleh apa yang bernama Cinta tak mengetahui hal
itu. Demikianlah hingga dihati Pamuji
diam-diam bersemayam kecemburuan terhadap kakaknya.
Dengan berindap-indap dan langkah hati-hati Pamuji terus menguntit kemana
perginya kedua orang dihadapannya itu. Ternyata Aji Prana mengambil jalan
memutar melewati lereng bukit tanpa melintas desa yang sudah punah terbakar. Hal
tersebut menjadi tanda tanya bagi Pamuji.
Hatinya tercekat dan kecurigaannya bertambah. Karena tujuan yang ditempuh itu
berlawanan dengan arah Kota Raja.
Melewati hutan ilalang yang
tingginya hampir setinggi manusia, kedua manusia berlainan jenis itu terus
berlari-lari menerobos. Hingga tak lama keduanya telah berada disisi lereng
bukit. "Akan kemanakah mereka?" berkata dalam hati Pamuji. Dia merandek sejenak dibalik
belukar. Matanya menatap tajam kearah Aji Prana dan Citrasih yang berhenti tepat
disisi lamping bukit yang menjorok keluar.
Tampak Aji Prana menunjuk ke arah tebing bukit. Entah apa yang diucapkan laki-
laki kakaknya itu. Tapi yang jelas Citrasih mengangguk.
Dan, selanjutnya keduanya dengan merunduk dibawah batu telah menyelinap ke celah
batu-batuan. Selanjutnya lenyap dari pandangan mata Pamuji.
"Ha" jangan-jangan mereka akan
melakukan perbuatan tak senonoh..."
tersentak Pamuji. Cepat dia berkelebat ke arah itu.
Dengan gerakan tak menimbulkan
suara sesaat dia telah tiba disisi bukit. Matanya menatap tajam ke sekeliling.
Merayapi dinding-dinding batu dicelah tebing bukit batu itu.
Tersentak pemuda ini ketika melihat sebuah lubang dicelah batu.
Tak ayal dia telah beranjak
melangkah mendekati. Gerakannya bagaikan seekor kucing mengintai tikus. Dia
memang harus hati-hati, karena tak ingin kedua orang itu mengetahui
kedatangannya. Dugaannya ternyata tepat. Celah lubang itu merupakan sebuah goa.
Celah batu itu makin kedalam semakin lebar.
"Aku harus mengetahui apa yang akan dilakukan kakakku dan Citrasih.
Kalau mereka melakukan perbuatan aib, tak segan-segan aku melaporkan pada
guru..." demikian pikir Pamuji. Sementara degup jantungnya semakin cepat.
Wajahnya dirasakan panas. Seluruh persendian tulangnyapun menggetar.
Dengan berindap-indap dia terus melangkah semakin kedalam. Tiba-tiba dia
merandek ketika melihat mendengar suara Citrasih. Cepat dia tempelkan tubuhnya
kedinding goa. Telinganya dipasang. Bahkan napasnyapun dita-
hannya. "Apakah yang akan kau lakukan, kakang Prana?" terdengar suara gadis adik
seperguruannya itu. "Adik Citrasih, mengapa kau bertanya demikian" Apakah kau tak merasakan apa yang
kurasakan selama ini?" jawab Aji Prana.
"Apa maksudmu..?"
"Citrasih...! tak sadarkah kau bahwa selama ini aku mencitaimu?" Aji Prana
menjawab pertanyaan Citrasih yang terlongong menatap pemuda itu.
Sementara Aji Pranapun tengah menatapnya dengan tatapan tak berkedip.
Tatap mata yang membuat sang dara seperti terpukau.
"Kau... kau mencintaiku....?"
terdengar suara desis Citrasih.
"Benar adik manis! Kubawa kau ke tempat ini karena aku ingin membuktikan cinta
kasihmu padamu!"jawab Aji Prana dengan tertawa kecil. Tersen-taknya Pamuji
bukanlah alang-kepalang ketika dia pelahan julurkan kepala mengintip dari celah
dinding goa. Apa yang dilihatnya membuat
sekujur tubuhnya menggetar seperti terserang demam panas.
Citrasih berdiri terpaku bagai
patung. Bibirnya setengah terbuka.
Sedang matanya menatap Aji Prana tak berkedip. Sementara laki-laki kakaknya itu
merapatkan tubuhnya.
Lengan pemuda itu menjulur
memeluk pinggang ramping sang dara.
Sementara sebelah lengannya mulai merayap, membukai pakaian gadis itu.
Sungguh suatu pemandangan yang
amat mendebarkan bagi Pamuji. Bahkan hampir-hampir dia tak percaya dengan apa
yang dilihatnya. Dilihatnya Citrasih seperti mandah saja dengan apa yang
dilakukan kakaknya itu.
Beberapa kejap saja yang tampak didepan mata Pamuji adalah sekujur tubuh
Citrasih telah membugil, tanpa selembar benangpun. Gemuruh dada Pamuji bagai
terkena gempa. Matanya membeliak seperti mau melompat dari kelopaknya. Napasnya
memburu. Keringat dingin mengembun disekujur tubuhnya yang bergetar.
Tak mungkin bagi Pamuji rasanya untuk mendiamkan adegan selanjutnya berlangsung
didepan matanya. Akan tetapi baru saja dia mau membentak, mendadak hawa dingin
merembes kese-kujur tubuhnya. Apa yang terjadi pada pemuda itu" Dia seperti
tercekik pernapasannya dan berkelojotan dengan sepasang mata mendelik dan lidah
terualur. Pamuji meronta dari kekuatan aneh yang mencekik pernapasannya. Hal ini
tak berlangsung lama. Karena sesaat antaranya dengan keluarkan suara tertahan
dikerongkongan, Pamuji jatuh menggeloso ditanah berbatu untuk
tak bergerak lagi. Sementara adegan didalam ruang
goa itu pun terus berlangsung.....
TIGA Senja terus merayap.... cuaca
semakin berubah gelap. Matahari telah sembunyi dibalik pegunungan. Hawa dingin
menyelimuti sekitar tempat itu.
Dalam keadaan yang sunyi mencekam itu empat sosok tubuh berdiri gelisah seperti
menanti orang yang ditunggu.


Dewa Linglung 4 Mengganasnya Siluman Gila Guling di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Siapakah adanya mereka ini" Tiada lain dari murid-muirid perguruan Langir Biru.
Seperti telah direm-bugkan, mereka kembali berkumpul ditempat itu seusai
melakukan penye-lidikan. Empat orang telah berkumpul.
Namun sisanya tiga orang lagi belum munculkan diri
"Kemana gerangan kakang Aji Prana, Pamuji dan Citrasih" Jangan-jangan mereka
menemui halangan!"
berkata salah seorang.
"Entahlah! akupun berpendapat begitu. Lalu apakah usul kalian"
apakah kita akan terus menunggu kedatangan mereka atau... kembali ke padepokan?"
tukas kawannya yang seorang. Dia bernama Jaka. Sedang yang satunya lagi bernama
Bajuri. Dua orang kawan yang sedari tadi
tak ikut bicara segera membuka mulut.
"Kembali ke padepokan" Wah, itu dapat kita lakukan! kukira usulku bisa diterima,
kita memang tak dapat terus menanti dengan berdiam diri saja!"
ujar salah seorang. Laki-laki ini bernama Jaluken. Sedang yang seorang lagi
bernama Layang seta.
"Apa usulmu itu sobat Jaluken?"
tanya Jaka seraya beranjak menghampiri. Jaka memang sudah tak sabar untuk terus
menunggu mereka. "Ya, pikirku kukira sebaiknya kita menyusul mereka!" sahut Jaluken.
Jaka kerutkan kening berpikir lalu ujarnya.
"Aku tak keberatan, tapi kearah mana kita menyusul?"
Merekapun segera berunding untuk menentukan arah. Akan tetapi cuaca telah
berubah gelap. Hal itu tak memungkinkan mereka untuk melakukan pelacakan.
Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk tetap menanti. Rencana pencarian
ketiga saudara seperguruan mereka ditentukan esok hari, sambil menunggu kalau-
kalau ketiga orang yang mereka tunggu malam nanti akan muncul.
Malam itu mereka lewati dengan
hati resah. Mereka bermalam disisi hutan itu dengan hampir tak dapat memicingkan
mata. Suara anjing-anjing serigala
ditengah malam itu mengganggu tidur
mereka. Keesokan harinya dipagi yang
masih remang, keempat saudara seperguruan itu telah tinggalkan tempat itu....
**** Kita beralih sejenak melihat
keadaan dipuncak gunung Simembut.
Sebuah padepokan tegak berdiri
diantara lereng batu gunung agak jauh dari sisi kawah. Seorang laki-laki tua
berjubah biru terlihat berdiri
termangu-mangu di depan padepokan.
Angin pagi yang agak keras menerpa membuat berkibaran jubah kakek ini.
Juga jenggotnya yang panjang memutih melambai-lambai dihembus angin.
Siapa gerangan adanya kakek ini"
Dialah Ki BANGUN REKSA, ketua
perguruan Langir Biru. Apa yang membuat kakek ini tampak resah adalah
sepeninggal ketujuh muridnya beberapa hari yang lalu dia merasa hatinya tak
tenteram. Entah mengapa wajah murid termudanya yaitu CITRASIH selalu terbayang
dipelupuk matanya. Citrasih masih ada hubungan kuat dengan dirinya, karena Citrasih adalah cucu
angkatnya sendiri. Ayahnya tewas dalam peperangan membela kerajaan GIRI NATA
dari tangan kaum penjahat yang berusaha merebut kekuasaan kerajaan
itu. Anak angkat Ki Bangun Reksa
adalah seorang laki-laki yang menjadi hulubalang di kerajaan Giri Nata, bernama
MARUTO. Adapun Citrasih diantarkan kepadepokan oleh seorang bekas prajurit yang
menjadi sahabat baik Maruto. Enam tahun Ki Bangun Reksa mendidiknya dengan
perbagai ilmu kedigjayaan. Dan baru beberapa hari yang lalu dia mengutus ketujuh
muridnya untuk menyelidiki kejadian di Kota Raja.
Sebenarnya Ki Bangun Reksa bukannya tak mengetahui tentang kejadian itu. Akan
tetapi sengaja dia mengutus ketujuh muridnya untuk sekalian menguji bagaimana
sikap serta tindakan mereka dengan peristiwa itu.
Demikianlah, pagi itu dia keluar dari padepokan, dan berdiri dihalaman termangu-
mangu. "Aneh!" mengapa hatiku tak enak"
Pikiranku selalu saja tertuju pada Citrasih. Ada apakah yang terjadi dengan
dia?" bergumam Ki Bangun Reksa.
Dia mulai melangkahkan kakinya mondar-mandir dengan menggendong tangan.
Sebentar-sebentar dia berhenti
menindak untuk berpikir.
"Sebaiknya kususul mereka! Aku khawatir terjadi apa-apa dengan bocah perempuan
itu. Walau aku telah
mempercayakan Aji Prana untuk
menjaganya!" gumamnya. Agaknya untuk menyusul para muridnya telah mantap!
Ki Bangun Reksa beranjak masuk
kembali kedalam kepadepokan. Tak lama dia telah ke luar lagi. Ditangannya
tercekal sebuah pedang yang terbungkus dengan kulit kambing hutan. Itulah pedang
pusaka miliknya yang selama ini tak pernah dipergunakan.
Setelah menutup pintu padepokan tanpa berlama-lama lagi Ki Bangun Reksa segera
berangkat turun gunung.
Gerakan orang tua ini patut dipuji.
Karena tubuhnya berkelebatan cepat menuruni lereng seolah-olah bagaikan terbang.
Tidaklah aneh kalau dalam waktu tak sampai sepenanak nasi Ki Rangun Reksa telah
tiba dilereng paling bawah.
Dan kejap selanjutnya dia telah berkelebat untuk segera lenyap tak kelihatan
lagi terhalang lebatnya hutan rimba.....
EMPAT Betapa terkejutnya Ki Bangun
Reksa melihat empat sosok tubuh terkapar tak bernyawa di sisi lereng bukit yang
akan dilaluinya. Semakin terkejut dia karena keempat sosok tubuh yang berkaparan
tak bernyawa itu adalah empat orang muridnya.
"Ya. Dewa yang agung..! apakah
yang telah te-jadi?" terperangah kakek puncak gunung Simembut ini melihat
kematian keempat muridnya dalam keadaan tak berdarah. Namun sekujur tubuh
membiru seperti terkena racun.
"Ah!" apakah sipembunuh telah gunakan ilmu pukulan yang mengandung racun?"
mendesis Ki Bangun Reksa.
Sesaat dia telah bangkit berdiri.
Sepasang matanya liar menatap seki-tarnya. Tiba-tiba dia telah berkelebat ke
arah sisi lereng bukit batu. Tanda-tanda dari bekas pertarungan terlihat
mengarah ke tempat itu.
"Sebuah lubang goa..!?" mendisisi kakek. "Pasti ada korban lagi!"
pikirnya dengan kekhawatiran memuncak.
Karena seketika dia ingat akan cucu angkatnya, Citrasih.
Tak berawal lagi dia telah
melompat untuk segera memasuki goa.
Terperanjat Ki Bangun Reksa
melihat sosok tubuh lagi yang terkapar disisi dinding goa. Segera dia
memeriksa. Terkejutlah dia mengetahui laki-laki itu tak lain dari PAMUJI.
"Oh, Dewa yang agung... sukurlah bocah ini masih hidup. Aku harus cepat
menolongnya" berpikir demikian Ki Bangun Reksa cepat tempelkan telapak tangannya
untuk salurkan tenaga dalam berhawa hangat ke sekujur tubuh Pamuji.
Beberapa jalan darahnya yang
tersumbat dibuka dengan mengurut beberapa kali. Tak lama Pamuji
terdengar mengeluh. "Pamuji! katakan apa yang
terjadi?" Diguncang-guncangkannya bahu Pamuji. "Katakan Pamuji! Ini aku, gurumu! Ceritakan
apa yang telah terjadi" Kemana adik seperguruanmu Citrasih dan kakakmu Aji
Prana?" tak sabar Ki Bangun Reksa tak sabar untuk bertanya.
Pamuji masih belum pulih benar
ingatannya. Tapi melihat orang diha-dapanya yang berteriak-teriak meng-guncang-
guncangkan bahunya segera dia mulai tersadar.
"Guru...!" Oh, maalkan aku..."
ucapnya seraya bangkit dan menjura.
"Tak usah banyak peradatan! Lekas katakan apa yang telah terjadi" Kemana kakakmu
dan adik seperguruanmu, Citrasih?" ujar Ki Bangun Reksa cepat.
"Aku... aku tak tahu apa yang telah terjadi, guru...! Karena tahu-tahu leherku
seperti tercekik, disaat aku tengah mengintip perbuatan Aji Prana dan Citrasih!
Mereka... mereka...." Pamuji tak meneruskan kata-katanya, namun telah bangkit berdiri dan
melompat ke balik dinding ruangan goa sebelah dalam. Teriakan kaget Pamuji
membuat Ki Bangun Reksa cepat melompat memburu ke arah ruangan
itu. Betapa terperanjatnya Ki Bangun Reksa mendapatkan tubuh Aji Prana telah
terkapar tak bernyawa dengan keadaan tubuh telanjang bulat, dan dada tertancap
pedang. Pamuji menatap dengan mata membelalak.
"Kakakmu telah mati! Tapi kemana Citrasih!" Apakah sebenarnya yang telah mereka
lakukan?" berkata Ki Bangun Rekso. Dia balikkan tubuh menatap Pamuji setelah
memeriksa mayat. Wajah laki-laki tua ini tampak tegang. Dadanya berombak-ombak.
"Mereka... mereka... te... telah melakukan perbuatan hina! Akan tetapi aku tak
tahu kelanjutannya karena tiba-tiba leherku serasa tercekik. Aku jatuh pingsan
dan tak tahu apa-apa lagi!" tutur Pamuji. Selanjutnya diapun ceritakan
peristiwanya dari awal sampai akhir.
Keduanya sama tertegun menatap
mayat Aji Prana. Pedang biru itu setelah diperiksa oleh Ki Bangun Rekso ternyata
pedang milik Citrasih. Sedang pedang Aji Prana sendiri lenyap yang tinggal cuma
kerangkanya saja. Pamuji yang diberitahu oleh
gurunya bahwa keempat saudara seperguruannya bergeletakan tewas diluar goa
tersentak kaget. "Ah!" apakah mereka telah
menyusul kemari" Lalu siapa yang telah membunuh mereka?" berkata Pamuji
dengan terperangah kaget.
Dia melompat untuk berkelebat
keluar goa. Benarlah, ditanah berbatu-batu pada sisi tebing itu tampak empat
sosok tubuh berpakaian biru berkaparan tak bergerak.
Terpaku Pamuji dalam kebingungan.
Akhirnya dia cuma bisa berdiri terpaku bagai patung.
Dia benar-benar tak mengerti
dengan semua kejadian ini. Apakah kematian kakaknya oleh orang lain, ataukah
Citrasih yang melakukan" Lalu siapa yang membunuh keempat saudara seperguruannya
itu" Bermacam pertanyaan bermunculan dalam benak.
"Pamuji, muridku! coba kau periksa mayat-mayat saudara seperguruanmu. Tubuh
mereka tak mengeluarkan darah. Namun kulit tubuh mereka berubah kebiruan!"
Suara sang guru menyadarkan
Pamuji. Segera dia membungkuk untuk memeriksa mayat. Lalu mayat-mayat lainnya.
"Benar, guru...! Apakah mereka mati keracunan?" berkata Pamuji.
"Dugaanmu tepat! Tapi mereka bukan mati karena telah menelan racun, melainkan
karena terkena pukulan yang mengandung racun!" ujar Ki Bangun Rekso. Lalu
lanjutnya. "Aku baru teringat! Kalau tak salah dugaanku, itulah pukulan Inti
Racun! Pukulan yang amat berbahaya dan luar biasa ganasnya. Masih beruntung kau
tidak mati. Pukulan itu bisa dilontarkan dengan tenaga ghaib!"
"Ja.. jadi kesimpulannya yang membunuh keempat saudara seperguruanku ini adalah
orang yang telah mencekik leherku?" sentak Pamuji terkejut.
"Karena...aku tak melihat siapa-siapa" sambung Pamuji serius. Wajahnya kembali
berubah pucat. Membayangkan hal yang menakutkan itu bulu
tengkuknya seketika meremang berdiri.
**** MATAHARI mulai menggelincir turun ke arah barat ketika dua manusia murid dan
guru itu selesai memakamkan enam jenazah ditempat itu.
"Apa yang harus kita lakukan guru?" bertanya Pamuji. Kematian kakaknya dan
kelima saudara seperguruannya telah membuat pemuda ini bersedih hati. Begitupun
Ki Bangun Reksa. Laki-laki tua ini memandang enam gundukan tanah dengan mata
sayu. Sejurus dia terdiam tak menjawab pertanyaan Pamuji. Namun tak lama dia menghela
napas. Dan ujarnya; "Pamuji! kaulah seorang sisa muridku yang masih hidup, walau aku masih sangsi
akan nasib yang menimpa adik seperguruanmu Citrasih. Kita
menghadapi tantangan berat, yang bukan saja menimpa perguruan kita, akan tetapi
juga melanda seluruh rakyat wilayah ini...!"
"Benar, guru! Kerajaan GIRI JAYA telah hancur musnah. Akan tetapi hamba tak tahu
apakah penyebab kehancuran itu adalah akibat perang ataukah karena musibah!
Apakah guru dapat mengambil kesimpulan mengenai musibah yang melanda kita"
Maksudku apakah kematian saudara-saudara seperguruan adalah oleh orang tertentu
yang juga ada hubungannya dengan kehancuran kerajaan Giri Jaya?" bertanya
Pamuji. "Hal ini bisa juga dihubungkan dengan kehancuran kerajaan Giri Jaya.
Memang kesimpulanku adalah, pelaku pembunuhan saudara-saudara seperguruanmu
adalah orang-orang yang
terlibat dalam penghancuran kerajaan Giri Jaya. Pukulan INTI RACUN menurut
sepengetahuanku cuma dimiliki oleh seorang yang bernama Ki ANGGUNO.
Seorang tokoh yang pernah berpetualang pada belasan tahun yang silam.
Dia adalah bekas patih kerajaan GIRI NATA yang melarikan diri ketika
segerombolan perampok bajak laut menyerbu kerajaan Giri Nata. Kerajaan Giri Nata
tumbang, dan pemerintahannya direbut mereka. Kemudian mereka merubah nama Giri
Nata dengan nama Giri Jaya. Namun raja kerajaan Giri
Nata tak dibunuh. Bahkan masih tetap menjadi raja, namun dibawah kekuasaan
mereka". tutur Ki Bangun Reksa.
"Akan tetapi kini suatu hal tak terduga, kerajaan GIRI JAYA hancur musnah tanpa
ada yang tahu sebabnya.
Suatu kejadian aneh! Sama anehnya dengan musibah yang melanda orang-orang
perguruan kita. Aku sendiri sebenarnya menduga Ki ANGGUNO yang diam-diam telah
mempersiapkan kekuatan untuk merebut kerajaan Giri Nata kembali. Namun aneh!
Mengapa justru istana kerajaan itu sendiri dihan-curkan?" tutur Ki Bangun Reksa
lebih lanjut. "Apakah guru sebelumnya telah mengetahui kejadian itu?" bertanya Pamuji.
"Benar! Aku turun gunung lebih awal dari kalian. Sengaja kuperintah-kan kalian
untuk turun gunung, karena kuingin kalian menyelidiki asal terjadinya peristiwa
itu!" sahut sang kakek puncak gunung Simembut ini dengan mengelus jenggotnya.
Pamuji tercenung. "Tak salah kata-kata kakang Aji Prana! Guru memang telah
mengetahui, dan sengaja memerintahkan turun gunung pada para murid adalah untuk
menguji kemampuan para muridnya melacak peristiwa!"
berkata Pamuji dalam hati.
Demikianlah, guru dan murid itu
berembug untuk mengambil langkah guna menyelidiki apa penyebab kehancuran istana
Kerajaan Giri Jaya disamping melacak jejak CITRASIH, dan melacak jejak manusia
yang melakukan perbuatan keji membunuh empat orang murid perguruan LANGIR BIRU
dengan pukulan INTI RACUN!
Senja terus merangkak tatkala
keduanya berkelebat pergi meninggalkan tempat itu...
LIMA SEORANG PEMUDA berbaju lusuh
berjalan sambil menggendong tangan dibelakang punggung. Rambutnya gondrong tak
terurus. Celana yang
dipakainya seperti kedodoran. Tak sebatang pedangpun atau senjata lain terselip
dipinggangnya. Sambil berjalan menunduk seperti memperhatikan ujung-ujung kedua
kakinya yang bermunculan silih berganti, dia menggumam tiada henti.
"Gila! benar-benar gila! Edan!
Benar-benar edan!"
Kata-kata itu sebentar-sebentar keluar dari mulutnya. Terkadang dia mendesah
atau menggaruk-garuk kepala, lalu kembali ucapkan kata-kata itu.
"Gila! Benar-benar gila! Edan!
Benar-benar edan!"
Rutukan itu entah ditujukan pada
siapa tak jelas tujuannya. Langkah kakinyapun seperti tak terarah


Dewa Linglung 4 Mengganasnya Siluman Gila Guling di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sebentar ke sisi kiri jalan, sebentar ke kanan. Sementara rutuknya tak pernah
berhenti meluncur dari
mulutnya. Hari panas terik. Jalanan yang
dilaluinya panas berdebu. Akan tetapi pemuda itu seperti tak menghirau-kannya!
Di ujung jalan yang berbelok-
belok melintasi bukit yang tak
seberapa tinggi itu tampak berdiri tiga sosok tubuh. Mereka adalah tiga orang
laki-laki yang bertampang seram.
Dari sikap mereka dapat diterka kalau ketiganya bukan manusia baik-baik.
Masing-masing menyandang senjata, yang gagangnya bersembulan disisi perut.
Pakaian merekapun tidak sama. Tapi dari jenis pakaian yang mereka pakai,
bukanlah dari bahan yang murah. Bahkan salah seorang mengenakan kalung mutiara
pada lehernya. Ketika pemuda bertampang lusuh
itu sesaat lagi melintas dijalan itu, salah seorang memberi isyarat. Dan
ketiganya berkelebat lenyap dikedua sisi jalan itu....
Pemuda itu terus melangkah tanpa menyadari tiga orang pentang mata liar menunggu
kedatangannya. Masing-masing telah cabut senjatanya yang digenggam kuat. Menanti
detik-detik maut yang
sebentar lagi akan berlangsung.
"Benar-benar edan! Edan! edan!
Gilaaaa! benar-benar gila! gila!
gil..." belum lagi habis kata-katanya terkejut pemuda itu ketika tiga sosok
bayangan berlompatan keluar dari sisi bukit dengan pendengarkan bentakan-
bentakan keras, menerjang ke arahnya.
"Mampuslah kau bocah linglung!"
Tiga larik sinar berkelebat dari tiga bilah senjata yang meluruk ke arah
tubuhnya. Kalau saja pemuda itu tak
mempunyai naluri yang amat peka, tentu siang-siang dia sudah menjadi bangkai tak
bernyawa ditempat itu.
Akan tetapi naluri pemuda itu
amat peka. Begitu tiga kilatan benda tajam meluncur ke arah tubuhnya, mendadak
tubuh pemuda ini seperti terhuyung-huyung ke sana ke mari.
Ternyata hal itu telah
menyelamatkan nyawanya.
Tiga serangan maut itu luput.
Bahkan salah seorang menjerit ngeri ketika senjata yang digunakan kawannya tanpa
sebab telah membacok pundaknya.
Mengaduh kesakitan orang ini
seraya melepaskan goloknya, dan ber-gulingan melompat ke sisi. Dua
kawannya terkejut. Ketika mereka melihat ke arah si pemuda, orang yang mau dibunuh itu justru enak-
enakan duduk diatas batu
sambil cengar cengir.
"Hahaha.. hehe... kiranya kalian tiga kawanan cecunguk yang tempo hari melarikan
diri" Bagus! pucuk dicinta ulampun tiba. Kalian munculkan diri tanpa aku harus
mencarinya!" Siapa sebenarnya pemuda bertam-
pang lusuh itu anda tentu sudah menduganya. Ya! siapa lagi kalau bukan Nanjar
alias si DEWA LINGLUNG.
Mendelik mata ketiga orang itu.
Salah seorang membentak.
"Bocah linglung! Jangan kau anggap dirimu seperti dewa. Kau kira kami cuma
bertiga?". Selesai berkata laki-laki itu memberi tanda isyarat dengan gerakkan
tangannya. Tiba-tiba belasan sosok tubuh
berjompatan keluar dari balik batu-batu dikedua sisi bukit. Dalam
beberapa kejap saja Nanjar telah terkurung rapat dalam kepungan belasan manusia
bertopeng hitam. Diam-diam Nanjar terkejut juga
melihat begitu banyak kawanan orang yang bersembunyi dikiri kanan jalan.
Akan tetapi Nanjar tunjukkan
sikap tenang. Bahkan dia masih tetap duduk
diatas batu dengan cengar-
cengir. "Hahaha... aku sudah menduga kalian membawa bala bantuan. Eh, apakah kalian
adalah komplotan yang menamakan diri Elang Siluman Hitam?"
"Bagus! Kalau kau telah mengetahui mengapa masih berani bertingkah didepan mata
kami?" menyahut salah seorang dari belasan manusia bertopeng itu.
"Hm, nama Elang Siluman Hitam memang telah lama kudengar. Bukankah kalian dari
kelompok orang-orang kerajaan Giri Nata yang telah punah"
Tapi mengapa membantu tiga cecunguk ini, yang jelas adalah tiga orang perampok
pengecut. Merampok rumah orang disaat yang punya rumah sedang tidur mendengkur!
Membunuh disaat orang tidur adalah perbuatan yang paling jelek, baik dilakukan
oleh golongan hitam atau putih! Kalau saja aku tak kebetulan menginap dikandang
kuda, tentu nyawa tuan rumah sudah melayang!" berkata Nanjar.
"Kau bocah angon tahu apa dengan urusan kami" Yang akan kurampok harta dan
kubunuh orangnya adalah orang-orang dari kerajaan Giri Jaya yang menjadi musuh
kami. Gara-gara ada kaulah hingga kami gagal melakukan tugas kami!" teriak salah
satu dari tiga orang itu. Dia bernama Pulung Wesi. Sedangkan yang dua orang lagi
bernama Pulung Geni dan Pulung Gaman.
"Kalian ini sebenarnya siapakah"
Mengapa memusuhi orang-orang kerajaan Giri Jaya" Aku sendiri tak mengetahui
bangsawan tua itu orang kerajaan. Yang
kuperbuat adalah menegakkan kebenaran!" berkata Nanjar. Kali ini dia bicara
serius. Nanjar memang boleh di bilang tahu terhadap persoalan
kerajaan. Mendengar kata-kata Nanjar, salah seorang dari belasan orang bertopeng itu
melompat ke depan Nanjar, seraya berkata.
"Sobat! kukira dalam hal ini kau tak dapat disalahkan! sebaiknya kau ikut kami
untuk menghadap ketua!"
"Siapa ketua kalian?" tanya Nanjar.
"Aku tak dapat menyebutkan-nya sekarang. Nantilah, kau akan segera mengetahuinya
bila telah berhadapan dengan beliau!" jawab laki-laki bertopeng itu. Nanjar
tercenung sejurus. "Baiklah! aku..." belum habis Nanjar berkata, tiba-tiba laki-laki bertopeng
dihadapannya menjerit ngeri.
Tubuhnya terjungkal roboh. Selanjutnya berkelojotan bagai ayam disembelih.
Tak lama dia telah terkapar tak berkutik.
Nanjar tersentak kaget. Pulung
Wesi dan Pulung Geni melompat untuk memeriksa. Sementara belasan orang bertopeng
yang lainnya terperangah kaget. Mereka berkelebatan melompat siap siaga dari
serangan gelap. Namun tak ada tanda-tanda yang mencurigakan.
"Celaka! Pukulan INTI RACUN!"
teriak Pulang Wesi dengan wajah pucat.
Nanjarpun tersentak kaget.
"Pukulan Inti Racun?" desisnya terkejut. Disaat tegang itu tiba-tiba angin
bertiup keras. Debu tebal beterbangan bergulung-gulung. "Apa lagi yang akan
terjadi?" sentak Nanjar terkejut bercampur heran.
Belum lagi dia dapat menduga,
tiba-tiba terdengar jeritan saling susul. Tubuh-tubuh orang bertopeng itu roboh
bergedebugan. Bahkan Pulung Wesipun terjungkal disertai jeritan menyayat hati.
Nanjar tak membuang waktu. Dia
telah berkelebat melompat dengan gunakan ilmu lompatan kera. Sekejap dia telah
berada diatas tempat
ketinggian. Dengan mata membelalak Nanjar pentang mata melihat belasan orang-
orang bertopeng itu telah berkaparan ditanah. Jeritan terakhir adalah dari
Pulung Geni yang disusul dengan tersungkurnya tubuh laki- iaki itu. Setelah
berkelojotan beberapa saat, tubuhnya pun diam tak bergeming.
ENAM KEPULAN DEBU itu beberapa saat
antaranyapun menipis dan lenyap.
Tiupan angin telah sirna. Keadaanpun menjadi lengang, sunyi seperti tak pernah
terjadi apa-apa. Nanjar melompat turun. Dengan
waspada dari serangan gelap yang aneh itu, Nanjar memperhatikan mayat-mayat
orang-orang bertopeng itu, termasuk mayat Pulung Wesi yang terkapar
dihadapannya. Terkejut Nanjar memperhatikan
mayat-mayat itu yang semua kulit tubuhnya berubah kebiruan.
Keringat dingin secara tak di-
sadari telah mengembun ditengkuk Nanjar. "Siapakah manusianya yang punya ilmu
pukulan Inti Racun begini ganas" Dalam sekejapan saja belasan nyawa melayang,
sedangkan makhluk penyerangnya tak nampak batang hidung-nya!" berkata Nanjar
dalam hati. Pada saat itulah terdengar suara tertawa terkekeh-kekeh.
Nanjar terperanjat, dengan gerakan sebat telah putar tubuh ke arah belakang.
Bukan main terkejutnya dia karena sesosok tubuh berjubah hitam tanpa lengan dan
kaki dengan posisi duduk tampak menggantung diudara, tengah tertawa terkekeh-
kekeh menyeramkan. Rambutnya yang putih serta
wajah seorang yang pernah dikenalnya bergoyang-goyang didepan mata.
"Siluman Gila Guling?" tersentak kaget Nanjar. Tanpa terasa dia telah melangkah
mundur dua tindak. "Heheheh... kau masih
mengenaliku, bocah?" Berkata kakek tanpa Daksa itu.
"Mm, kaukah yang membunuh mereka?" berkata Nanjar dengan mata menatap tak
berkedip. "Benar! bahkan aku akan membunuh lebih banyak lagi manusia untuk pengujian ilmu
pukulan gaib Inti Racunku!" sahut si Siluman Gila Guling dengan tertawa
mengekeh. "Gila! gila! benar-benar gila!
Edan! benar-benar edan!" merutuk Nanjar, "Apakah kau mau ludaskan seluruh isi
dunia ini, setelah kau buktikan niatmu menggulingkan kerajaan Giri Jaya?"
"Tak perlu! Namun aku belum puas kalau orang-orang Rimba Persilatan belum tunduk
padaku, dan mengakui aku sebagai ketua Rimba Per-silatan. Juga akan kudirikan
kerajaan baru dibawah kekuasaanku!" berkata serak si Siluman Gila Guling.
"Rencana gila! Ambisimu benar-benar edan dan keterlaluan, Siluman Gila Guling!
Cita-citamu tak akan kesampaian, karena kebathilan tak akan tegak dimuka bumi
ini selama masih ada
tegaknya kebenaran!" teriak Nanjar dengan mata melotot. Diam-diam dalam hati
Nanjar terkejut bukan buatan mendengar ambisi Siluman Gila Guling yang setinggi
langit. "Hehehe... aku akan membuktikan-nya!" berkata kakek tanpa daksa itu dengan
tertawa mengekeh. "Kau bocah kunyuk kecil belum waktunya aku membunuhmu. Masih
kuberi kesempatan padamu untuk memperdalam ilmu
kepandaianmu! kelak kita akan bertemu lagi!"
Selesai berkata tubuh si manusia Siluman Gila Guling lenyap sirna.
Lagi-lagi Nanjar terperangah membelalak. Keringat dingin mengucur deras dari
tengkuknya. Dia terpaku tak bergeming.
Mendadak Nanjar kembali merutuk.
"Gila! gila! gila! Siluman Gila Guling memang telah benar-benar gila!
Edan! sungguh benar-benar edan!"
Tubuh pemuda itupun berkelebat
pergi dari tempat yang mengerikan itu...
Kejadian aneh hancurnya istana
kerajaan Giri Jaya dan terbakarnya gedung-gedung diwilayah Kota Raja juga desa-
desa disekeliling wilayah kerajaan tak seorangpun yang mengetahui asal kejadian.
Mayat-mayat bergelimp-angan disekitar reruntuhan puing-puing istana. Puluhan
prajurit tewas terbakar. Tak terkecuali orang-orang istana. Sukar untuk dipercaya, karena
menurut saksi mata terjadinya
malapetaka itu dimalam hari. Tahu-tahu api telah berkobar membakar istana tak
diketahui dari mana asalnya. Puluhan prajurit yang berada didalam istana
berusaha memadamkan api. Tapi api justru semakin besar dan bermunculan disana-
sini. Mereka terkurung rapat oleh api, tanpa bisa keluar menerobos kepungan api
yang semakin menggila melalap istana megah itu.
Malapetaka itu terus merembet ke tempat-tempat lain disekitar wilayah Kota Raja.
Hingga Wilayah Kota Raja seketika berubah menjadi lautan api.
Jerit dan ratap terdengar disana-sini.
Ratusan manusia panik menyela-
matkan diri. Rakyat wilayah lain yang agak berjauhan dari Kota Raja
mengungsi karena mengira terjadi peperangan di Kota Raja. Keadaan menjadi panik
dimana-mana. Tak sedikit jiwa yang melayang
dengan adanya peristiwa itu. Bahkan orang-orang istana termasuk raja dan patih
kerajaan dipastikan telah mati tertembus api. Ratusan prajurit kocar-kacir tak
tahu apa yang akan diperbuat mereka. Dalam keadaan seperti itu seorang laki-laki
tua bertubuh kurus, sebelah lengannya mencekal seuntai tasbih berdiri bagai
patung diantara hiruk-pikuknya manusia. Bibirnya berkomat-kamit membaca tasbih. Memuji nama
Tuhan. Hawa panas membara.
Kepanikan melanda disetiap tempat.
Kakek kurus memakai jubah putih yang cuma dibelitkan ditubuh dengan sisa
ujungnya disampirkan dibahu itu tetap berdiri tak bergeming. Dari mulutnya
terdengar suara menggumam.
"Haiiih! ramalanku tepat! tak dapat ditolak lagi, kerajaan Giri Jaya akan
menemui kemusnahan. Akan muncul seorang manusia iblis yang bakal membuat huru-
hara besar! Entah siapa orang itu...! Ahh... celaka! celaka!"
Seorang pemuda berbaju lusuh
dengan celana kedodoran berada tak jauh didekat kakek kurus itu. Dialah Nanjar
alias si Dewa Linglung. Dia tertarik melihat kakek kurus yang mencekal tasbih
ini. Nanjar menghampiri lebih dekat. Tercekat hati Nanjar mendengar gumaman laki-laki tua
ini. Nanjar menjura hormat ketika
kakek kurus itu menoleh padanya.
"Maafkan aku orang tua, bolehkah aku mengetahui siapa anda?" bertanya Nanjar.
"Apakah manfaatnya kau mengetahui siapa diriku, anak muda" toh tidak akan bisa
menghalangi terjadinya musibah ini! Kebhatilan akan muncul dimuka bumi
mengalahkan kebenaran.
Manusia akan tersesat menjadi hamba-hamba dan budak-budak iblis!
Selanjutnya" entah! aku tak tahu lagi apa jadinya bila kekuasaan telah beralih
ditangan seorang manusia yang akan mengubah dunia menjadi neraka!
Oh, betapa mengerikan! betapa akan mengerikan jadinya...!" berkata kakek itu
dengan menatap tajam Nanjar.
Mulut Nanjar ternganga. Jelaslah kalau kakek ini seorang yang memiliki ilmu
bathin teramat tinggi. Seorang kakek pertapa yang jiwanya telah menyatu dengan
alam ghaib. Dia telah meramal kejadian yang akan datang dan membuktikan
ketepatan ramalannya.
"Kakek! namaku Nanjar! bila menurut ramalanmu kejadian ini adalah akibat
perbuatan seorang manusia iblis yang telah munculkan diri untuk membuat huru-
hara besar, aku tahu siapa manusianya!"
Tentu saja kata-kata Nanjar
membuat sikakek kerutkan keningnya.
Sepasang alisnya yang putih lebat terjungkit menyatu.
"Kau mengetahui siapa manusianya?" bertanya sikakek.
"Benar! Dialah seorang laki-laki tua tanpa daksa yang tak mempunyai lengan dan
kaki bergelar si Siluman Gila Guling!" jawab Nanjar.
"Dari mana kau anak muda
mengetahui?" tanya sikakek tertegun.
"Aku pernah berjumpa dengan manusia itu satu kali!" ujar Nanjar.
Tercekat hati orang tua ini.
"Ceritakan siapa sebenarnya dia, apakah kau juga mengetahui asal-usul manusia
itu?" Nanjar mengangguk. Lalu tanpa
ragu-ragu Nanjar segera tuturkan perihal Siluman Gila Guling panjang lebar,
sesuai dengan apa yang
didengarnya.

Dewa Linglung 4 Mengganasnya Siluman Gila Guling di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Seperti dituturkan dalam judul, Siluman Gila Guling sebelum judul kisah
lanjutannya ini, telah
dituturkan kalau kakek tanpa daksa itu adalah bekas seorang kepala bajak laut,
bernama Bromo Seto. Bromo seto memimpin penyerbuan
untuk merebut kerajaan Giri Nata bersama anak buah dan kawan-kawannya.
Peperangan berkecamuk yang berakhir dengan jaluhnya kerajaan Giri Nata ke tangan
Bromo Seto dan kawan-kawannya.
Kemudian nama kerajaan Giri Nata diubah manjadi Giri Jaya.
Perselisihan timbul dikalangan
mereka, karena Bromo Seto menginginkan dirinya memegang tampuk pemerintahan.
Namun dihalangi oleh kawan-kawanya.
Hingga akhirnya Bromo Seto ditangkap untuk dipenjarakan. Selanjutnya dengan
kejam mereka membuntungi anggota tubuh Bromo Seto, kemudian membuangnya ke dalam
lembah. Sengaja mereka membiarkan Bromo Seto hidup, karena toh ajalnya sudah didepan
mata. Namun sungguh tak dinyana kalau Bromo Seto masih bisa bertahan hidup
hingga saat ini, setelah selama belasan tahun sembunyi didalam lembah dan
memperolah ilmu kesaktian ghaib yang amat luar biasa.
Kemunculan seorang gadis muridnya membuat heboh dengan membunuhi orang-orang
kerajaan atas perintahnya.
Sebagai pembalasan dendam Bromo Seto.
Setelah kematian muridnya yang
membunuh diri yang bernama Cantrik Sari, Bromo Seto bertekad
menggulingkan kerajaan Giri Jaya.
Demikianlah, Nanjar bentangkan
asal-usul Siluman Gila Guling dengan panjang lebar seperti apa yang
didengar sendiri dari kakek tanpa daksa itu.
Kakek pertapa peramal itu
tercenung beberapa saat mendengar penuturan Nanjar. Sementara api yang membakar
istana semakin membesar melalap seluruh isi istana itu.
Sang kakek menghela napas. Lalu terdengar dia berkata.
"Anak muda! tenagamu masih bisa dibutuhkan! pergunakanlah untuk menolong orang
yang masih bisa kau tolong. Kelak bila bencana sudah usai dan kau ada waktu
setelah kau menyelesaikan urusanmu, datanglah ke
puncak gunung manyar merah, tempat aku bertapa. Banyak hal yang akan kita
rundingkan mengenai kemunculan si Siluman Gila Guling...!" ujar kakek.
"Dimana adanya gunung Manyar Merah itu, kakek..?" bertanya Nanjar.
"Pergilah ke arah timur. Nanti akan kau jumpai dua lembah dan dua bukit.
Melewati bukit terakhir segera kau akan melihat gunung Manyar Merah!"
ujar sang kakek. "Baiklah, kakek! kelak aku pasti datang mengunjungimu!" berkata Nanjar.
"Nah, sampai jumpa lagi!" selesai berkata Nanjar balikkan tubuh untuk segera
beranjak dari tempat itu. Akan tetapi tiba-tiba berseru si kakek.
"Tunggu!" "Ada apakah kau menahanku, kek?"
"Anak muda! kau berjodoh bertemu dengan aku orang tua pertapa.
Terimalah tasbih ini mungkin ada gunanya!" berkata si kakek, seraya melemparkan
tasbih ditangannya. Dengan sigap Nanjar menyambutnya. Ketika Nanjar menoleh
kearah si kakek, bukan main terkejut dan herannya Nanjar.
Karena sekejap saja sosok tubuh kakek itu telah lenyap.
"He" kemana perginya dia" Aneh!"
begitu cepatnya dia berlalu..."
Memikir kalau-kalau si kakek itu bukan manusia, tengkuk Nanjar meremang dingin.
Namun tak lama si Dewa
Linglung telah berkelebat dari tempat itu...
TUJUH Nanjar duduk termangu-mangu di-
atas batu ditepi sungai berair jernih.
Dilengannya tercekal seuntai tasbih warna hijau yang tengah dipermainkan biji-
bijinya. Itulah tasbih pemberian si kakek pertapa tukang ramal.
Ingatannya baru saja melayang pada peristiwa beberapa hari yang lalu ketika dia
berjumpa dengan si kakek pertapa.
Hatinya tercekat untuk segera
menemui orang tua itu dipuncak gunung Manyar Merah. Sementara itu hatinya
bertanya-tanya melihat benda ditangan pemberian si kakek.
"Kakek pertapa itu memberikan tasbih ini padaku dan mengatakan barang kali ada
gunanya. Untuk apakah gunanya tasbih ini?" berkata Nanjar dalam hati. Tasbih
Warna hijau itu terbuat dari batu Giok yang teruntai dengan tali serat yang amat
kuat. Karena tak dapat memikir guna tasbih itu, Nanjar masukkan lagi benda itu kesaku
bajunya. "He he.. biarlah kusimpan saja.
Aku toh bisa menanyakan nanti pada si kakek itu bila berjumpa dengannya!"
menggumam Nanjar. Dia segera bangkit
berdiri. "Sebaiknya aku segera pergi ke puncak gunung Manyar Merah sekarang
juga!" memikir Nanjar.
Setelah mengambil keputusan, tak berayal lagi segera Nanjar berkelebat ke arah
timur. Dengan gunakan ilmu lari cepat dia menerobos hutan, melompati sungai
dengan gerakan seolah bagaikan terbang.
Kita tinggalkan dulu Nanjar yang sedang menuju ke puncak gunung Manyar Merah.
Mari kita beralih ke satu tempat yang jauh dari wilayah Kota Raja. Bukit LENGSER
menjulang tinggi dikelilingi rapatnya hutan rimba.
Dibagian sisi puncak bukit itu
tampak berdiri sebuah rumah kayu.
Sepintas rumah kayu itu lak ber-penghuni. Keadaan yang sunyi lengang, sesekali
cuma terdengar suara burung-burung yang kebetulan lewat diatasnya telah
diselingi oleh suara isak tersendat dari dalam pondok kayu itu.
Ternyata disudut ruangan duduk
seorang gadis berambut kusut. Penutup auratnya cuma selembar kain yang sudah
sobek disana-sini. Gadis ini tengah menangis terisak-isak dengan air mata
bercucuran. Siapa adanya gadis ini"
Dialah CITRASIH, murid termuda
perguruan Langir Biru. Cucu angkat Ki Bangun Reksa dari puncak gunung Simembut.
Sementara itu dikaki bukit se-
sosok bayangan tubuh manusia
berkelebat mendaki lereng bukit dengan gerakan laksana seekor kijang.
Sepintas bila orang melihat
takkan menyangka kalau bayangan itu adalah bayangan tubuh seorang pemuda
berpakaian kumal, berambut gondrong dengan celana yang kedodoran. Bahkan bisa-
bisa dia disangka makhluk halus.
Karena bagi manusia biasa tak mungkin bisa melakukan pendakian dengan begitu
cepat. Dalam waktu tak sepcminuman teh dia telah tiba dipuncak bukit lengser.
Kini jelas siapa adanya pemuda itu yang tak lain dari Nanjar alias si Dewa
Linglung. Dalam perjalanan menuju ke puncak gunung Manyar Merah, Nanjar
melintasi bukit itu. Bukit ini adalah bukit terakhir yang harus dilewati.
Setelah melewati bukit ini akan tampak gunung Manyar Merah.
Nanjar memandang berkeliling
melihat keadaan puncak bukit itu.
Tiba-tiba dia tertegun karena melihat sebuah rumah kayu tak seberapa jauh dari
tempat dia berdiri. "Eh" kebetulan! ada sebuah rumah.
Entah siapa penghuninya. Aku bisa numpang beristirahat barang sejenak..."
bergumam Nanjar. Namun dia telah kerutkan keningnya ketika mendengar suara
terisak yang datang dari dalam pondok kayu itu.
"He" ada suara orang menangis...!
Hm, sebaiknya kulihat, siapakah dia dan ada apakah yang terjadi?" berkata Nanjar
dalam hati. Tak ayal segera dia melompat untuk segera tiba dimuka pondok kayu
itu. Dengan pelahan Nanjar melangkah agar tak menimbulkan suara. Dari celah dinding
kayu dia mengintip ke dalam.
Tentu saja seketika wajah Najar berubah merah. Karena melihat sosok tubuh
seorang gadis yang boleh
dibilang hampir membugil.
Namun melihat orang menangis mau tak mau dia harus masuk ke dalam untuk
bertanya. Siapa tahu gadis itu
diperkosa orang, atau ada musibah yang menimpanya.
Memikir demikian Nanjar segera
bergerak melompat ke pintu.
Terperanjat Citrasih melihat
seorang laki-laki telah berdiri didepan pintu ruangan. Seorang pemuda lusuh
berambut gondrong yang
memandangannya dengan wajah serius.
"Siapakah kau nona" Apakah yang telah terjadi denganmu?" bertanya Nanjar.
"Ah,... si., siapakah anda?"
Citrasih justru malah bertanya. Nanjar jadi garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Namun ada baiknya dia
mengatakan yang sebenarnya agar tak membuat kecurigaan pada gadis itu
pikir Nanjar. "Namaku Nanjar. Aku dalam
perjalanan menuju kegunung Manyar Merah karena ada suatu urusan hingga
kumelewati puncak bukit ini. Harap kau tak curiga terhadapku. Aku orang baik-
baik!" berkata Nanjar.
Gadis itu manggut-manggut.
Wajahnya mendadak menampilkan wajah girang.
"Aku... aku tertotok! Bisakah anda menolongku?" berkata Citrasih.
Hati Citrasih tercekat melihat seorang pemuda yang bertampang konyol tapi tak
ada tanda-tanda dia orang jahat. Walau pun sepintas mata pemuda itu seperti
membinar ketika menatapnya. Namun tak berlangsung lama. Nanjar memang cepat-
cepat mengalihkan tatapannya dari bagian tubuh terlarang yang cuma ter-tutupi
sobekan kain. Mendengar gadis itu dalam keadaan tertotok, tentu saja membuat Nanjar terkejut.
"Haiiiih!" ucapnya. Dan entah bagaimana gerakan Nanjar yang dilakukan untuk
membuka totokan ditubuh si gadis. Begitu cepatnya hingga tahu-tahu sigadis
merasa totokan ditubuhnya telah terbuka.
Akan tetapi sungguh heran
Citrasih, karena tak melihat si penolongnya berada di ruangan itu lagi.
Bergegas dia membenarkan kain
yang membelit ditubuhnya untuk lebih menyembunyikan aurat tubuhnya. Pada saat
itu sesosok bayangan muncul dipintu pondok. Seorang laki-laki muda berpakaian
warna biru menyandang pedang di pinggang berdiri dipintu pondok. Menatap ke
arahnya dengan mata membelalak dan mulut ternganga.
"CITRASIH!"... kau... kau berada disini" Apakah yang terjadi denganmu"
Si., siapa laki-laki yang barusan melompat keluar dari jendela?"
"Ah!" kau... kau PAMUJI!?" suara Citrasih setengah berteriak karena terkejut dan
girangnya. "Benar! aku Pamuji! Katakan siapa yang membawamu kesini" Apa yang terjadi
sebenarnya" Siapakah orang yang melompat dari jendela barusan?"
berkata Pamuji dengan mengulangi pertanyaan.
"Dia..." Citrasih tak sempat meneruskan kata-katanya karena dibelakang pondok
terdengar bentakan keras.
"Manusia keparat jangan lari!"
Diiringi suara bentakan itu terdengar suara berderak yang disusul seperti suara
pohon roboh. Selanjutnya yang terdengar adalah suara dari dua orang yang
bertarung seru. Citrasih membelalakkan matanya
menatap Pamuji. "Seperti suara guru"
Apakah kau bersama beliau?" bertanya
gadis ini. "Benar! aku memang bersama beliau. Guru tentu sedang berusaha membekuk orang
itu. Siapakah dia sebenarnya?"
"Dia... dia orang yang telah membebaskan aku dari totokan!" jawab Citrasih
dengan terkejut. "Celaka!
kalian salah menyangka! Cegahlah pertarungan itu!" setengah berteriak Citrasih
beranjak untuk melompat keluar. Akan tetapi Pamuji menghalangi.
"Tunggu! biarlah aku yang
mencegahnya!" berkata Pamuji. Dia keluarkan sebuah bungkusan dari balik baju dan
serahkan pada gadis itu. Lalu buka bajunya yang basah oleh keringat, kemudian
diberikan pula pada Citrasih, seraya berkata.
"Kau pakailah untuk menutupi tubuhmu..!"
Citrasih telah membuka bungkusan itu, yang ternyata berisi celana pangsi tipis
yang selalu dibawa Pamuji untuk sewaktu-waktu berganti pakaian.
"Kau... kau baik sekali,
Pamuji..!" berkata Citrasih dengan mata berkaca-kaca.
Pamuji cuma tersenyum. Lalu dia balikkan tubuh untuk berkelebat keluar pondok.
DELAPAN HAHAHA...HEHE... dasar nasibku
yang sial! Nyaris aku disangka orang menyekap adik Citrasih ini!" tertawa Nanjar
gelak-gelak. "Jadi kalian telah tiba terlebih dulu sebelum aku?"
"Benar, sobat Nanjar! kami baru saja mau memeriksa isi pondok karena mendengar
suara orang terisak-isak menangis. Tiba-tiba anda muncul. Kami cepat
bersembunyi. Kami mengira kau adalah orang yang menyekap seorang perempuan dalam
pondok itu. Bahkan aku sendiri tak mengira kalau dia adalah justru cucu angkat
dan muridku sendiri yang kucari-cari..!" berkata Ki Bangun Reksa menjawab
pertanyaan Nanjar dan memberi penjelasan.
"Maafkan kekeliruanku itu, anak muda!" sambung Ki Bangun Reksa.
"Ah, tak apa. Sungguh gembira aku bisa berjumpa dengan kalian! Kini biarlah kita
mendengarkan cerita adik Citrasih ini membeberkan peristawa yang dialaminya."
Citrasih tunduk tersipu.
Air matanya kembali menitik dan meleleh membasahi pipinya. "Sudahlah Citrasih,
cucuku. Jangan bersikap cengeng. Apa yang telah terjadi hadapilah dengan tabah.
Siapakah yang telah menyekapmu ditempat ini" Dan siapa pula yang telah membunuh
Aji Prana" Pedang yang
menancap didada kakak seperguruanmu itu jelas pedang milikmu! Apakah kau yang
telah membunuhnya" mengenai kematian empat saudara seperguruanmu diluar goa aku
sudah mengambil kesimpulan seseorang yang telah ku kenal itulah yang membunuhnya. Hal itu bisa
diusut belakangan. Dan emang aku perlu mencari dia untuk membuktikan kebenaran
tuduhanku!" berkata lirih Ki Bangun Reksa, menghibur Citrasih yang semakin sedih
mendengar Aji Prana tewas, juga keempat saudara
seperguruannya. "Eh, tunggu dulu! Siapakah orang yang kau maksud yang membunuh keempat orang
muridmu itu?" potong Nanjar.
"Menurut dugaanku dialah orang yang bernama Ki ANGGUNO! Karena aku mengenali
ilmu pukulannya dari melihat mayat murid-murid-ku yang membiru terkena racun!
Itulah jurus pukulan INTI RACUN yang amat luar biasa ganasnya!" jawab Ki Bangun
Reksa. "Ah!" pukulan semacam itu juga dimiliki si Siluman Gila Guling!"
berkata Nanjar terperajat. "Apakah kau tak salah menduga?"
"Siapakah Siluman Gila Guling?"
Ki Bangun Rekso balik bertanya.
"Dialah manusia setengah iblis!
Dia pula sipenghancur Kerajaan Giri Jaya, pembawa malapetaka yang bakal merubah
bumi ini menjadi neraka!"
Terperanjat Ki Bangun Rekso
maupun Pamuji. Sementara Citrasih jadi ternganga mendengar kata-kata Nanjar.
Sekujur tubuh dara ini menggetar.
Manusia setengah iblis itulah yang telah menodainya dan membawanya ke tempat
ini. Secara singkat Nanjar segera
ceritaan kejadian mengenai Siluman Gila Guling yang telah menewaskan orang-orang
Elang Siluman Hitam dimana dia sendiri berhadapan dengan tokoh hitam tanpa daksa
itu. Juga secara singkat Nanjar tuturkan sedikit riwayat si Siluman Gila Guling,
juga pertemuannya dengan seorang kakek pertapa yang meramal akan kemunculan
manusia setengah iblis itu!
"Nama sebenarnya tokoh hitam itu adalah BROMO SETO!" ujar Nanjar mengakhiri
penuturannya.

Dewa Linglung 4 Mengganasnya Siluman Gila Guling di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tersentak kaget Ki Bangun Reksa.
"Pantas! tidak salah kalau begitu! Dia adalah kakak seperguruan Angguno.
Pantaslah kalau memiliki ilmu pukulan yang sama!" berkata Ki Bangun Rekso.
"Tapi si Siluman
Gila Guling mempergunakan ilmu itu dengan tenaga kekuatan ghaib! Dia bisa datang dan pergi
seperti angin. Kekuatan ghaib yang dimilikinya amat luar biasa!"
berkata Nanjar, dengan wajah serius.
"Apapun manusianya, atau iblis
sekalipun aku tidak gentar! Dia harus dilenyapkan dari muka bumi ini. Demi
keselamatan manusia aku rela berkorban dengan darah dan nyawaku!" berkata gagah
kakek ini. "Benar! tentu saja akupun tak tinggal diam. Aku akan membantu perjuanganmu dan
kaum pendekar menumpas manusia setengah iblis itu!"
berkata Nanjar. Pamuji manggut-
manggut. "Darah dan nyawanyakupun akan kupertaruhkan demi kedamaian dibumi ini!" ujar
Pamuji dengan mencekal hulu pedangnya.
"Ya! kita memang harus bersatu!
Kalau kita bercerai-berai mana mungkin semua itu bisa terlaksana?" tukas Ki
Bangun Reksa. Kakek ini kembali menatap pada
Citrasih. "Bagaimana cucuku" apakah kau sanggup untuk menceritakan pada kami mengenai
kejadian yang sebenarnya?"
berkata Ki Bangun Reksa.
Gadis ini menggigit bibirnya
menahan kepedihan yang menyesakkan dada.
"Baik, guru....! aku akan mence-ritakannya..." ujar Citrasih. Tampaknya dia
sudah mulai dapat menahan perasaannya untuk segera menuturkan perihal kejadian
itu. Demikianlah, Citrasih segera
tuturkan apa yang telah terjadi dengan sejelas-jelasnya.
Ternyata ketika Aji Prana
menatapkan pandangan matanya pada Citrasih didalam ruang goa itu, gadis itu
seperti terpana. Dia melihat sinar aneh pada mata sang kakak seperguruan.
Di saat itu telinganya mendengar bisikan halus yang menyuruhnya
membiarkan Aji Prana melucuti pakaiannya. Dia tak kuasa untuk menolak. Aji Prana
menatapnya dengan penuh nafsu.
Pemuda itupun melucuti pakaiannya sendiri. Akan tetapi mendadak bisikan halus
kembali terdengar yang
menyuruhnya membunuh Aji Prana. Aneh!
dia tak kuasa untuk menolak. Secepat kilat dia lepaskan diri dari pelukan Aji
Prana, dan menyambar pedang miliknya yang tergeletak tak jauh dari sisinya.
Lalu, dengan sekali ayun pedang itu telah menancap didada sang kakak
seperguruan. Melihat Aji Prana roboh, dia
terpekik kaget. Tapi saat itu mendadak kepalanya terasa pening. Pandangan
matanya berkunang- kunang. Selanjutnya dia telah roboh tak ingat apa-apa lagi.
Ketika sadar Citrasih merasa
tubuhnya telah ternoda. Pada pertama dia tak mengetahui siapa yang telah
menodainya. Namun disaat yang kedua kalinya dia mendengar suara tertawa
parau menyeramkan. Dia ketakutan setengah mati. Namun tak berdaya, karena
Citrasih dalam keadaan
tertotok. Ketika tak lama setelah suara tertawa itu lenyap, mendadak dirasakan
tubuhnya ada yang memeluk.
Aneh! Karena dia tak melihat sesosok tubuhpun berada diatas tubuhnya.
Begitu ketakutannya Citrasih,
hingga kembali dia pingsan tak
sadarkan diri. Ketika sadar dia mendengar suara orang tertawa mengekeh
disampingnya. Suara itu memberitahukan siapa dirinya. Dialah si Siluman Gila
Guling! Demikianlah, hingga sampai
beberapa hari Citrasih disekap dalam pondok kayu itu. Tubuhnya semakin lemah,
dan dia telah putus asa. Hingga akhirnya datanglah pertolongan ketika mereka
muncul dipuncak bukit itu....
Citrasih mengakhiri penuturannya dengan tundukkan wajahnya. Dia kembali terisak-
isak, mencucurkan air mata.
SEMBILAN PONDOK KAYU diatas bukit lengser mendadak dihempas angin yang bergulung-gulung.
Terdengarlah suara. BRRRRAAAAKK! Seketika rumah kayu itu porak
poranda. Serpihan-serpihan kayu
melayang ke udara terbawa pusaran angin dahsyat itu. Terdengar suara parau
memaki. "Keparat! kemana perginya bocah ayu itu" Kalau tak ada yang
menggondolnya mustahil dia bisa minggat!" Sesosok tubuh samar-samar menjelma
ditempat itu. Ternyata seorang kakek tanpa daksa yang tak berlengan dan tak
berkaki. Siapa lagi kalau bukan si Siluman Gila Guling.
Mengetahui gadis sekapannya
lenyap, manusia setengah iblis ini gusar bukan buatan hingga dia
menghancurkan pondok kayu itu dengan ilmu ghaibnya.
Sementara itu dibawah bukit,
empat sosok tubuh berkelebatan mendaki bukit itu. Mereka melihat adanya angin
keras yang menerbangkan puing-puing kayu dan atap rumah. Diantara keempat sosok
tubuh itu, salah seorang adalah seorang laki-laki tua berusia antara 50 tahun.
Sedangkan yang tiga orang tak lebih dari tiga puluhan tahun.
Siapakah mereka ini"
Dialah Ki ANGGUNO dan ketiga
orang muridnya. Ketiga laki-laki yang turut mendaki dikiri-kanannya adalah
murid-murid utama Ki Angguno yang mengepalai komplotan Elang Siluman Hitam.
Seperti telah diceritakan orang-orang Elang Siluman Hitam telah dibantai habis
oleh Siluman Gila Guling dengan ilmu ghaib pukulan Inti
Racun. "Manusia iblis terkutuk Siluman Gila Guling! hari ini jangan harap kau dapat
meloloskan diri!" bentakan menggledek Ki Angguno membuat kakek tanpa daksa itu
berpaling. "Hm, siapakah kalian?" mendengus si kakek ini. Akan tetapi air mukanya berubah
ketika mengenali Ki Angguno.
"Heh!" kiranya kau Angguno?"
Ki Angguno kerutkan kening.
Alisnya terjungkit naik. Dia menatap pada kakek tanpa lengan dan kaki itu yang
duduk diatas rumput.
"Kau....bukankah kau BROMO SETO?"
berkata dia dengan terkejut.
"Hehehe....benar! Lebih dari sepuluh tahun kita tak pernah bertemu apakah kau
sudah menjadi raja dan mempunyai banyak selir?" berkata sikakek dengan tertawa
sinis. "Bromo Seto! kau menyindirku"
Sudah jelas kaulah yang telah
menghancurkan cita-citaku. Penyerbuan-mu belasan tahun yang silam berhasil
merebut kekuasaan kerajaan Giri Nata.
Aku adalah patih kerajaan Giri Nata yang berhasil meloloskan diri.
Begitukah perbuatan seorang kakak seperguruan" Menghancurkan kebahagiaan orang
lain, bahkan orang itu adalah adik seperguruanmu sendiri!" berkata Ki Angguno.
Sementara diam-diam Ki Angguno terkejut melihat bekas kakak
seperguraannya telah menjadi orang cacad.
"Hehehe....siapa yang tahu kau bercokol dikerajaan Giri Nata?" jawab Siluman
Gila Guling dengan tertawa tawar. "Nasibku toh tak lebih buruk-dari nasibmu! Kau
lihatlah! aku telah menjadi orang tanpa daksa! Semua ini akibat kawan-kawan
seperjuanganku sendiri! Akibat perbuatan mereka itulah aku menyimpan dendam
kesumat. Hingga akhir tiba saatnya aku
munculkan diri untuk menghancurkan kerajaan Giri Nata yang telah mereka kuasai
sekian lama!" "Jadi kaulah yang menimbulkan bencana diwilayah kerajaan ini?"
tersentak kaget Ki Angguno.
"Hehe....benar!"
"Edan!" ilmu apakah yang kau punyai?" terperangah Ki Angguno seperti tak
percaya. Siluman Gila Guling tak menjawab. Dia pejamkan mata. Bibirnya berkomat-
kamit seperti membaca mantera. Tiba-tiba dia
membungkuk seperti bersujud dua kali mencium tanah. Mendadak angin keras
membersit melanda disekitar bukit. Ki Angguno dan ketiga muridnya melangkah
mundur terkejut. Tiba-tiba terdengar letupan-letupan kecil disekeliling puncak
bukit itu. Aneh! karena setelah letupan-letupan itu terjadi, seketika saja api
telah berkobar disekeliling
puncak bukit. Membelalak mata keempat orang itu melihat kejadian aneh yang sukar dipercaya dan
tak masuk diakal. Tapi kenyataannya memanglah demikian!
Sebentar saja hawa panas mengembara.
Api berkobaran mengurung mereka disegala penjuru.
"Ilmu Sihir!" teriak tiga murid Ki Angguno terperanjat.
"Ilmu iblis!" sentak Ki Angguno dengan mata membelalak.
Siluman Gila Guling perdengarkan suara tertawa terkekeh-kekeh.
"Hahah..heheheh.... itulah ilmu ghaib Raja Iblis! Dengan kekuatan ilmu yang
kumiliki bukan saja aku bisa menghancurkan seluruh wilayah kerajaan Giri Jaya,
akan tetapi aku sanggup membakar seluruh isi jagat ini!"
sumbar Siluman Gila Guling. Suara tertawanya masih terdengar parau menyakitkan
anak telinga, akan tetapi manusianya telah lenyap dari tempat itu.
"Gila! Ilmu Iblis yang benar-benar gila!" teriak Ki Angguno.
Bagaimana Ki Angguno bisa muncul ditempat ini dan mengetahui adanya Siluman Gila
Guling" Seperti telah diceritakan dibagian depan, sewaktu terjadinya pengepungan
terhadap Nanjar yang melewati celah dua bukit dijalan berliku-liku, oleh tiga
orang laki- laki, kemudian muncuj komplotan orang-orang bertopeng hitam.
Mereka adalah anak-anak buah Ki Angguno.
Kemudian muncul Siluman Gila
Guling membantai mereka dengan ilmu ghaib beracun yang menewaskan semua anak
buah Ki Angguno, kecuali Nanjar.
Seorang anak buah Ki Angguno
ternyata tak turut serta dalam
pengepungan itu. Dia bersembunyi di belakang batu besar. Anak buahnya yang luput
dari kematian itulah yang melapor pada Ki Angguno. Dalam rangka melacak jejak
Siluman Gila Guling, mereka melihat puing-puing kayu beterbangan di atas bukit
Lengser, hingga mereka menjumpai kakek tanpa daksa itu....
Kakek pertapa bernama Kyai Bangah itu manggut-mangut mendengar penuturan Ki
Bangun Raksa yang bercerita tentang siapa adanya si Siluman Gila Guling, juga
peristiwa yang di alami cucu angkatnya, Citrasih.
"Aku tak keberatan menerima cucu angkatmu untuk sementara berdiam dipertapaanku
di puncak gunung Manyar Merah ini!" berkata Kyai Bangah.
"Terima kasih atas kesediaan Kyai. Kukira memang inilah tempat yang tepat bagi
Citrasih, cucu angkatku ini. Karena kami sangat khawatir dengan perkembangan
jiwanya. Dan khawatir kalau dia mengambil jalan pintas membunuh diri...!" buru-buru Ki Bangun
Reksa menjura mengucap terima kasih.
"Adapun tujuan kami untuk selanjutnya adalah..." sambung Ki Bangun Reksa seraya
menatap pada Pamuji dan Nanjar si Dewa Linglung.
"Kami bertekad akan mencari upaya untuk membinasakan si Siluman Gila Guling.
Karena dengan membiarkan manusia setengah iblis itu hidup lebih lama berarti
akan memperbanyak malapetaka!"
Kyai Bangah manggut-manggut.
Tiba-tiba kulit kening sang Kyai tampak berkerut. "Sebaiknya kalian jangan
berangkat dulu dan tingggal disini satu-dua hari lagi. Firasatku mengatakan
bahwa manusia setengah iblis itu tak berada jauh lagi dari wilayah ini!"
''Ahh...!?" tersentak Ki Bangun Rekso maupun Pamuji juga Nanjar.
Mereka sama menatap pada Kyai
Bangah. Sejenak keheningan mencekam sedangkan Citrasih yang sedari tadi diam
saja duduk disamping sang Kyai, tiba-tiba buka suara.
"Bila dia muncul ditempat ini, perkenankanlah aku mengambil tindakan.
Dan kuharap guru maupun Kyai juga lainnya jangan menghalangi tindakan apa yang
bakal kulakukan!" Sambil
berkata Citrasih bangkit berdiri.
Wajahnya kaku tegang. Sepasang matanya memancarkan cahaya dendam.
"Duduklah cucuku...!" ujar Kyai Bangah.
Namun Citrasih seperti tak
mendengar kata-kata Kyai Bangah. Dia tetap berdiri menatap ke mulut goa dengan
pandangan kosong. Tampak butir-butir air mata
meleleh turun dari genangan di kelopak mata dara cantik ini.
SEPULUH Pamuji hangkit berdiri seraya
beranjak mendekati dara ini.
"Duduklah, adik Citrasih! apakah maksud kata-katamu?" berkata Pamuji.
Sementara Nanjar cuma bisa garuk-garuk kepala ditempat duduknya. Tapi
mulutnya menggumam lirih. "Wah, gawat kalau begini urusannya...!"
Pamuji berhasil Membujuk Citrasih untuk kembali duduk. Ki Bangun Rekso menatap
tajam pada sang murid.
Terdengar orang tua ini menghela napas, lalu berkata.
"Tindakan apakah yang akan kau lakukan, cucuku cah bagus?"
"Aku tak dapat memberitahukannya!
aku tak akan mengatakannya!"
Selesai menyahut gadis ini
menutup mukanya, dan menangis terisak-isak. Ki Bangun Rekso menggeleng-gelengkan
kepala, dan mereka saling tatap dengan mulut membisu. Kalau saja mereka tahu
bahwa niat Citrasih adalah bila manusia iblis itu muncul, dara itu bersedia
korbankan dirinya untuk ditawan kembali, demi keselamatan nyawa mereka. Maka
persoalannya menjadi terang.
"Kyai...! berilah kami petunjuk untuk menghadapi manusia iblis itu!
Apakah sudah tiba saatnya kebhatilan akan menguasai umat manusia" apakah si
Siluman Gila Guling tak dapat
dimusnahkan" Kami tahu Kyai orang yang arif! Apakah Kyai akan membiarkan umat
manusia dilanda malapetaka?"
Kata-kata Nanjar membuat semua
orang menoleh padanya.
Sejurus Kyai Bangah terdiam tak menjawab pertanyaan Nanjar. Semua yang hadir
menunggu kakek pertapa itu buka suara. Begitu heningnya suasana hingga tarikan
napas mereka sama terdengar.
Kyai Bangah telah pejamkan matanya.
Jari-jari tangannya bergerak-gerak seperti menghitung ruas-ruas tulang ditelapak
tangan. Melihat apa yang dilakukan si kakek pertapa, Nanjar teringat pada tasbih
batu giok pemberian si kakek pertapa itu yang masih tersimpan disaku bajunya.
Biasanya si kakek gunakan tasbih itu
untuk menghitung. Dia hampir tak sabar menunggu,
mendadak Kyai Bangah membuka matanya.
Mulutnya telah berhenti berkemak-kemik. Kakek pertapa ini menghela napas, dan
berkata. "Aku tak dapat memastikan si Siluman Gila Guling itu bisa
dimusnahkan. Tapi akupun tak
menafsirkan bahwa kebhatilan akan berkuasa diatas jagat raya ini! Namun aku juga
tak akan berpeluk tangan berdiam diri menghadapi masalah besar ini. Aku cuma
manusia biasa yang lemah. Hanya Tuhanlah tempat kita bernaung dengan segala
kebesaranNYA. Kita hanya bisa berlindung padaNYA!
Mengenai petunjuk yang bisa kuberikan, untuk memusnahkan manusia setengah iblis
itu dipe-lukan petunjuk Ghaib!
Petunjuk Ghaib itu bisa didapatkan dengan jalan bertafakur mendekatkan diri pada
Yang Maha Pencipta!" ujar Kyai Bangah. Lalu lanjutnya.


Dewa Linglung 4 Mengganasnya Siluman Gila Guling di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Untuk mendapatkan petunjuk Ghaib itu tidak mudah, tak sembarang orang bisa
mendapatkannya. Untuk itu aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian,
demi keselamatan kita semua. Juga demi ketentraman diatas jagat raya ini. Ilmu
dengan kekuatan Ghaib hanya bisi dikalahkan dengan kekuatan Ghaib juga. Kekuatan
ghaib ada yang berasal dari iblis, ada yang
berasal dari Yang Maha Pencipta. Walau sebenarnya semua kekuatan ghaib itu
berasal dari Yang Maha Pencipta..."
demikian ujar Kyai Bangah dengan serius.
Semua yang hadir mendengarkan
dengan penuh perhatian. Setelah menghela napas, Kyai Bangah tampak kembali
kerutkan keningnya. "Agaknya waktu telah demikian mendesak aku cuma bisa memberikan petunjuk untuk
penjagaan saja terhadap kalian. Tapi hal itu jangan kalian anggap telah
sempurna. Karena semua ilmu diatas jagad raya ini tak lepas dari kekuasaan Yang
Maha Pencipta. Semoga apa yang bisa kuberika ini ada manfaatnya...!" ujar sang Kyai.
Selanjutnya Kyai Bangah menyuruh mereka untuk mendekat. Kecuali
Citrasih yang masih terdiam menutupi mukanya, semuanya beringsut mendekati si
kakek pertapa. Berkobarnya api dipuncak bukit
Lengser telah membuat lima orang yang berada didalam goa pertapaan Kyai bangah
itu berlompatan keluar.
Segera mereka dapat melihat api yang berkobar membakar bukit lenggser.
Pucat seketika wajah Ki bangun Rekso.
"Ah!" Firasatmu benar Kyai! Api yang membakar bukit itu tentu
perbuatan si Siluman Gila Guling!"
berkata kakek ini dengan mata
memandang tak berkedip.
"Benar!" ujar Kyai Bangah. Orang tua pertapa ini menengadah memandang kelangit.
Saat itu langit memang tampak hitam seperti tertutup mendung.
"Akan kulihat kesana!" berkata Nanjar, seraya tiba-tiba menyeruak dari sisi
tubuh Pamuji. Kyai Bangah menatap padanya. "Hm, apakah kau mau menghadapinya seorang diri?"
bertanya Kyai Bangah.
"Hehe.. dia tak mungkin mau membunuhku! Aku telah dua kali
bertemu, dan dia selalu menangguhkan bertarung denganku!" berkata Nanjar.
"Dia menyuruhku untuk menuntut ilmu lebih tinggi lagi baru menantangnya untuk
bertarung!" "Aneh!" Gumam Kyai Bangah. Baik Ki bangun Rekso maupun Pamuji dan Citrasihpun
menganggap hal itu satu keanehan. Namun bagi Nanjar hal itu tidaklah aneh,
karena dia menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar.
Nanjar memang penasaran karena
setiap mau melabrak si Siluman Gila Guling, selalu manusia setengah iblis itu
menghindar pergi. Kali ini dia bertekad akan mengejar manusia
setengah iblis itu untuk bertarung mati-matian! Apa lagi Nanjar telah mendapat
"bekal" dan petunjuk dari Kyai Bangah untuk menghadapi si Siluman Gila Guling.
Tak berayal lagi dia telah
kelebat melesat dari muka goa, tanpa mereka sempat mencegahnya lagi.
Gerakan Nanjar yang gunakan ilmu meringankan tubuh untuk berlari cepat menuju
bukit Lengser yang tak seberapa jauh dari gunung manyar Merah membuat mereka
yang melihat ternganga kagum.
Karena Nanjar telah gunakan ilmu-ilmu si Raja Siluman Bangau dan ilmu melompat
Raja Siluman Harimau. Hingga dari kejauhan terlihat tubuh si Dewa Lmglung tak
ubahnya bagai sekelebatan bayangan putih yang berkelebatan pesat.
Dalam waktu singkat Nanjar telah sampai dipuncak bukit Lengser. Dengan gunakan
ilmu "terbang" Raja Siluman Bangau tubuh Nanjar melayang ke udara.
Sesaat sebelum dia menukik turun untuk jejakkan kaki ditengah kobaran api,
Nanjar melihat tiga sosok tubuh tengah bertarung dengan seorang kakek tanpa
lengan dan kaki. Sementara sesosok tubuh telah
terkapar ditanah. Mereka tak lain dari Ki Angguno yang tengah bertarung mengadu jiwa dengan si
Siluman Gila Guling.
Pada saat itu telah terdengar
jeritan seorang lagi murid Ki Angguno Tubuhnya terlempar ke dalam api yang
langsung menembusnya. Terperanjat Ki Angguno. Dengan kemarahan meluap dia
membentak keras. "Bromo Seto, manusia keparat! aku akan adu jiwa denganmu!"
Akan tetapi Siluman Gila Guling tertawa mengekeh parau.
"Heheheh... heheh... kau manusia bodoh, Angguno! Aku berbaik hati untuk memberi
kedudukan tinggi padamu, asal kau tak mencampuri urusanku, tapi kau menolak!
Rupanya kau lebih memilih kematian dari pada hidup enak!"
"Hidup mewah dalam cengkeraman manusia iblis sepertimu yang
menebarkan maut dan malapetaka bagi manusia" Heh! lebih baik mati!" teriak Ki
Angguno dengan berang. Senjata ditangannya yang berupa tombak bermata dua
digerakkan berputar. Dan tubuh Ki Angguno berkelebat menerjang si kakek tanpa
daksa itu yang duduk menggantung diudara dengan wajah menyeringai.
"Manusia bodah! kau memang lebih baik mampus!" berkata Ki Bromo Seto.
Tubuhnya mendadak lenyap. Dan tahu-tahu terdengar jeritan Ki Angguno.
Tubuh ketua Elang Siluman itu
terlempar beberapa belas tombak. Tanpa ampun segera tertembus api yang berkobar
menyala melahap jasadnya.
Melihat demikian mengerikan ilmu si Siluman Gila Guling, murid yang cuma tinggal
seorang ini putus asa.
Sebelum manusia setengah iblis itu membunuhnya dia telah membunuh diri
dengan menublaskan pedangnya keperut.
Robohlah laki-laki itu dengan tubuh sekarat meregang nyawa.
Pada saat itulah terdengar
bentakan keras. SEBELAS MANUSIA IBLIS TERKUTUK SILUMAN
GILA GULiNG! Hari ini aku tak akan biarkan kau lepas dari tanganku!"
Nanjar menukik turun seraya hantamkan sebelah lengannya. Dari telapak tangannya
melesat kilatan cahaya perak, yang memancarkan hawa dingin.
WHUUUT!.....BHUSSSS!
Sebelum kilatan cahaya perak itu mengenai sasaran, tubuh Siluman Gila Guling
telah lenyap sirna. Dan akibat hantaman pukulan "Lidah Naga Gila Menjilat Bumi"
warisan si Raja Siluman Naga itu membuat tanah menyemburat memercikkan debu yang
telah berubah menjadi butiran salju! Itulah pukulan terdahsyat Nanjar yang baru
beberapa bulan dikuasainya.
Nanjar adalah seorang yang
wataknya aneh. Sebentar ugal-ugalan, sebentar serius. Jurus pukulan yang
dinamakan Lidah Naga Gila Menjilat Bumi itu adalah hasil pemikirannya yang
digabung dengan jurus ciptaan si Raja Siluman Naga. Pengerahan tenaga
dalam kepusat yang berhawa dingin dari jurus ilmu pukulan Inti Es yang harus
dipergunakan dengan keadaan jungkir batik (Ilmu pukulan tenaga dalam sungsang)
tak lagi dipergunakan dengan cara yang biasa. Yaitu dikerahkan kekuatan tenaga
dalam ke lengan, lalu dilepas melalui telapak tangan. Akan tetapi Nanjar telah
menggabungnya dengan ilmu warisan si Raja Siluman Biawak, hingga menghasilkan
kehebatan hawa dingin yang berlipat ganda.
Apa lagi seperti telah
diceritakan Nanjar memiliki warisan kekuatan tenaga dalam dari Raja Siluman
Naga. Hingga pantaslah kalau dia
memiliki jurus pukulan yang hebat ini.
Sebagian api yang berkobar segera padam tersiram butiran salju.
Sedangkan ditempat bekas menggantungnya tubuh Siluman Gila Guling, tampak sebuah
lubang besar akibat terkena hantaman pukulan Nanjar.
Lenyapnya tubuh si kakek tanpa
daksa membuat Nanjar celingukan mencari-cari kemana berkelebatnya manusia
setengah iblis itu. Tentu saja takkan nampak tubuh lawannya, karena si kakek
tanpa daksa mempergunakan ilmu ghaib untuk melenyapkan diri.
Agaknya si Dewa Linglung takkan mampu untuk membinasakan lawannya karena dia tak
memiliki ilmu-ilmu ghaib. Bahkan mungkin nasib naaslah yang akan diaiaminya. Untunglah disaat
demikian Nanjar segera teringat akan apa yang diajarkan Kyai Bangah. Tanpa sadar
dia telah memukul kepalanya disertai makian pada dirinya sendiri.
"Aiii! dasar linglung! Mengapa tak kugunakan kalimat-kalimat yang diajarkan Kyai
Bangah itu?" Tak ayal Nanjar telah tarik
keluar tasbih batu Giok dari saku bajunya, dan cepat dia jatuhkan pantat untuk
duduk bersila. Tak lama Nanjar telah gerakkan
jari-jarinya seperti menghitung biji tasbih. Sementara dalam hati Nanjar membaca
kalimat-kalimat seperti yang diajarkan Kyai Bangah.
Saat itu mendadak angin
bergulung-gulung seperti mengipas bukit Lengser. Api yang cuma tinggal sebagian
menyala diatas bukit itu entah mengapa menjadi padam. Itulah kekuatan ilmu ghaib
yang digunakan oleh Siluman Gila Guling.
"Hahaha.. heheheh... bocah kunyuk kecil! apakah kau telah mampu untuk
mengalahkan aku tanpa kau belajar ilmu lagi" Sungguh hebat jurus ilmu
pukulanmu! Ilmu apa lagi yang akan kau pergunakan ?"
Suara si Siluman Gila Guling
terdengar seperti merambah puncak bukit Lengser.
Tahu-tahu si kakek tanpa daksa
itu telah menampakkan diri lagi di hadapan Nanjar. Tubuhnya masih seperti tadi
duduk menggantung diudara. Nanjar berhenti menghitung tasbih. Ditatapnya si
kakek tanpa daksa dengan tajam.
"Hahaha... kakek Siluman Buntung!
Kau telah gunakan ilmu ghaib warisan iblis, apakah kau tak khawatir kalau iblis
yang kau kuasai berbalik memotes lehermu membuntungi kepalamu sendiri?"
Mengejek Nanjar dengan tertawa.
Padahal diam-diam dia khawatir sekali ejekan itu akan membuat kakek tanpa daksa
itu menjadi marah. Namun diam-diam Nanjar telah mempersiapkan diri tintuk
menghadapi segala kemungkinan serangan si Siluman Gila Guling.
Benar saja! Disebut dirinya
dengan sebutan Siluman Buntung, seketika wajah KI BROMO SETO berubah merah.
Kakek ini gerakkan tubuhnya bergoyang-goyang. Tiba-tiba uap hitam menerobos
keluar dari tubuhnya.
Meluruk deras ke arah Nanjar yang masih duduk dan telah kembali
menghitung tasbih. Pada saat yang sama dari arah
puncak gunung Manyar Merah membersit cahaya putih ke arah puncak bukit Lengser.
Luncuran cahaya putih itu melebihi kecepatan luncuran uap yang menyerang Nanjar.
Itulah uap beracun yang mengandung maut!
Bhlarrr! Terdengar ledakan keras. Uap itu buyar ke delapan penjuru. Sementara Nanjar
telah berkelebat menghindari serangan itu. Kalau saja dia tak memegang tasbih
batu Giok dan dalam hati menyebut kalimat-kalimat yang diajarkan Kyai Bangah,
tentu dia takkan dapat melihat datangnya asap beracun yang menyerang dirinya.
Tentu saja Nanjar tak menyadari hal itu.
Ledakan barusan membuat Nanjar
terkejut. Dia telah melompat sejauh delapan tombak.
Saat itu ditelinganya terdengar bisikan halus.
"Bocah linglung! cepat gunakan kekuatan bhatinmu!" itulah suara Kyai Bangah.
Nanjar jadi terheran.
Bagaimana mungkin orangnya berada di puncak gunung Manyar Merah, tapi suaranya
ada disini" Apakah kakek itu telah menyusul kemari" pikir Nanjar.
Tak tahu apa yang harus dilakukan, Nanjar bertanya.
"Bagaimana aku harus mela-
kukannya, Kyai?"
Terdengar bentakan ditelinganya.
"Bocah tolol! segera kosongkan pikiranmu dengan mengingat yang satu, yaitu Yang
Maha Pencipta!"
Lagi-lagi Nanjar memukul kepa-
lanya. "Aiii! dasar linglung!" memaki dia.
Tak ayal segera dia turutkan
perintah itu. Dengan pejamkan mata segera Nanjar kosongkan fikiran.
Pelajaran yang didapatkan dari Kyai Bangah secara singkat ditempat pertapaan
puncak gunung Manyar Merah memang telah dapat dikuasai oleh Nanjar yang berotak
encer. Tapi dasar si Dewa Linglung itu memang pernah linglung yang diaiaminya ketika
berada di pulau misterius, ketika dalam gemblengan empat tokoh yang menamakan
dirinya si Empat Raja Gila akibatnya Nanjar sering mengalami kelupaan!
Disaat Nanjar memejamkan matanya, kilatan cahaya putih secepat kilat memasuki
ubun-ubun kepala si pendekar Dewa Linglung ini.
Tapi pada saat itu juga uap hitam serangan si Siluman Gila Guling yang buyar
tadi telah bergulung-gulung meluruk ke arah Nanjar.
Bahkan sungguh aneh, karena gum-palan uap itu telah berubah menjadi bentuk
tangan-tangan yang menyeramkan yang menyerang Nanjar untuk
mencengkeram batok kepala si pendekar Dewa Linglung.
DUA BELAS Dalam keadaan mengheningkan cipta mengosongkan pikiran itu, tampaknya sukar bagi
Nanjar untuk mengelakkan serangan yang mengerikan dari
cengkeraman-cengkeraman tangan iblis yang merengkuh batok kepala Nanjar Akan
tetapi diluar dugaan uap hitam itu mendadak buyar seperti terkena cahaya aneh
yang memancar dari tubuh Nanjar.
Bersamaan dengan itu terdengar
jeritan parau si kakek Siluman Gila Guling. Tubuh kakek tanpa daksa itu kembali
lenyap sirna. Namun sebagai gantinya sebersit cahaya merah
meluncur pesat dari puncak bukit Lengser.
Akan tetapi cahaya putih yang
tadi masuk keubun-ubun kepala Nanjar telah melesat keluar lagi mengejar cahaya
merah. Bagaikan dua buah meteor kedua cahaya itu berlesatan dan lenyap tak
kelihatan lagi dibalik gunung.
Nanjar masih tetap duduk bersila dengan mata terpejam. Dengan mengheningkan
cipta mengosongkan pikiran itu, nampak benar-benar membuat Nanjar begitu tenang
seperti tertidur. Dia tak mengetahui apa yang telah terjadi. Dia tak tahu bahwa dua cercah sinar
yang sama berkelebatan melesat bagaikan meteor itu meluncur ke arah
selatan. Melewati bukit dan gunung, lalu masuk ke celah bukit.
"Manusia iblis Siluman Gila Guling! Jangan harap kau dapat
meloloskan diri!" Cahaya putih itu perdengarkan suara bentakan. Itulah sukma
Kyai Bangah yang telah meleset keluar dari gua garbanya dan menolong Nanjar,
lalu mengejar sukma Bromo Seto alias Siluman Gila Guling yang
melarikan diri ke dalam lembah, Secepat kilat cahaya merah
meluncur masuk ke dalam goa dimana ditempat itu gua garba Bromo Seto tubuh
aslinya masih dalam keadaan duduk diatas batu besar. Tapi didetik itu cahaya
putih memburu untuk menggagalkan niat sukma Bromo Seto memasuki jasadnya.
Sebelum sukma Bromo Seto sempat memasuki mulut goa, cahaya putih telah menyerang
dengan membentur cahaya merah.
Akibat benturan itu, cahaya merah terpecah menjadi belasan cahaya. Akan tetapi
hal itu bukan berarti cahaya merah mengalami kekalahan. Karena sekejap kemudian belasan cahaya
merah itu telah mengurung cahaya putih.
"Heheheh... pantas! kiranya kau KYAI BANGAH!" Percuma kau menyusulku, karena kau
hanya akan mengantarkan kematian saja!" berkata sukma Bromo Seto alias Siluman
Gila Guling dengan tertawa mengekeh. "Manusia iblis keparat, jangan sombong dulu!" bentak sukma Kyai Bangah. Dan
sekejap saja cahaya putih telah memecah diri menjadi tujuh cahaya untuk
mengimbangi kekuatan cahaya merah.
"Bagus! mari kita mengadu
kesaktian!" membentak sukma Bromo Seto. Tanpa menunggu lebih lama belasan cahaya
merah segera menerjang ketujuh cahaya putih. Terjadilah pertarungan ghaib dialam
yang tak kelihatan oleh manusia. Sukma Siluman Gila Guling merangsak dengan
serangan-serangan ganas terhadap lawannya. Ternyata setelah berada didalam
lembah tempat tinggal Siluman Gila Guling, cahaya merah alis sukma Bromo Seto
itu seperti mendapat angin. Bahkan juga seperti mendapat kekuatan untuk
menandingi kekuatan sukma Kyai Bangah.


Dewa Linglung 4 Mengganasnya Siluman Gila Guling di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pertarungan ghaib itu telah
menimbulkan ledakan-ledakan keras yang membuat dinding goa mulai terancam
runtuh. Melihat keadaan yang tak menguntungkan, sukma Bromo Seto berusaha
secepatnya merobohkan lawannya.
Bahkan tampaknya sukma Siluman Gila Guling
begitu mengkhawatirkan gua-
garbanya. Namun mana mau sukma Kyai Bangah membiarkan sukma lawannya itu memasuki
guagarbanya, karena berarti akan
menambah kekuatan lawan.
Oleh sebab itu semakin hebat
tujuh cahaya putih itu merangsak belasan cahaya merah.
Namun sukma Kyai Bangah tak
menyangka kalau salah satu dari belasan cahaya putih berhasil menerobos masuk ke
dalam goa. Mendadak pula belasan cahaya merah lenyap sirna.
Melihat demikian sukma Kyai
Bangah lancarkan serangan dahsyat untuk mencegah hal itu terjadi. Tidak begitu
terlambat, akan tetapi ber-akibat fatal, karena seketika tujuh cahaya putih
tertolak buyar oleh satu kekuatan dahsyat yang keluar dari mulut goa!
Namun goa itu sendiri hancur
luluh menjadi kepulan dengan diiringi ledakan menggelegar yang menggon-cangkan
tanah. Bahkan tebing batu itu bergetar akibat ledakan dahsyat itu, dan menimbulkan
longsor. Dengan suara yang bergemuruh batu-batu tebing itu merosot turun, hingga
dalam beberapa kejap saja goa tempat jasad Siluman Gila Guling telah lenyap
tertutup longsoran! Sukma Kyai Bangah sendiri sampai terheran dengan peristiwa itu. Karena tak
menyangka bakal mengakhiri riwayat Siluman Gila Guling. Apakah sebenarnya yang
terjadi" Tanpa setahu sukma Kyai Bangah
disisi tebing sebelah sana sejak terjadinya pertarungan kedua sukma itu, telah
berdiri sesosok tubuh seorang kakek tua renta berjubah putih. Bahkan
rambutnyapun terbungkus oleh sorban putih yang ujungnya melambai tertiup angin.
Sosok tubuh itu tak begitu jelas karena hampir menyerupai bayangan saja.
Disaat sukma Kyai Bangah
melancarkan serangan ke mulut goa, kakek misterius yang menyerupai bayangan ini
mengangkat sebelah lengannya. Dari telapak tangannya berkiblat cahaya biru
membarengi hantaman ghaib yang dilakukan sukma Kyai Bangah.
Hal itulah yang mengakibatkan hancurnya goa berikut jasad Siluman Gila Guling menjadi kepulan debu. Lalu
sebagian tebing batu itu longsor menimbun goa yang sudah jadi kepulan bubuk batu
itu hingga lenyap tanpa bekas!
Sekejap setelah kejadian itu,
bayangan tubuh kakek tua
renta berjubah dan bersorban putih yang menyerupai bayangan itupun lenyap.....
NANJAR alias si pendekar Dewa
Linglung berkelebat melesat meninggalkan puncak bukit Lengser. Lagi-lagi Nanjar
kecewa karena kehilangan lawannya. Bahkan secara aneh suara
yang membisikkan ditelinganyapun lenyap. Cukup lama dia duduk bersila
mengosongkan pikiran. Namun telinganya sunyi dari suara-suara diatas bukit itu.
Tentu saja makin lama dia semakin tidak betah untuk tidak membuka mata..
Ketika dia buka kelopak matanya, terheran Nanjar karena puncak bukit itu seperti
mati. Tak ada tanda-tanda adanya Siluman Gila Guling ditempat itu, kecuali sosok
mayat yang terkapar tak jauh didekatnya. Yaitu mayat anak buah Ki Angguno yang
membunuh diri. Setelah menunggu beberapa saat tak ada tanda-tanda adanya manusia setengah iblis
itu, juga Kyai Bangah yang didengar suaranya, Nanjar mengambil keputusan untuk
secepatnya kembali ke puncak gunung Manyar Merah.
Dalam waktu tak lama Nanjar telah tiba dimulut goa tempat pertapaan Kyai Bangah.
Alangkah terkejutnya Nanjar melihat kakek pertapa itu dalam keadaan duduk
bersila dengan bibir mengalirkan darah, dikelilingi Ki Bangun Reksa, Pamuji dan
Citrasih. "Apakah yang telah terjadi?"
teriak Nanjar seraya melompat
mendekat. Melihat kedatangan Nanjar ketiga orang itu tak berkata apa-apa.
Mereka sama menunduk dengan wajah-wajah yang menampak kesedihan.
"Kyai telah.... wafat!" terdengar suara Ki Bangun Reksa lirih.
"Ahh..!?" sentak Nanjar terkejut.
"Bilakah terjadinya?" tanya Nanjar dengan hati luluh.
"Barusan saja. Tapi Siluman Gila Guling telah musnah! Bencana telah berakhir,
walau harus meminta korban jiwa! Kita kehilangan seorang sesepuh yang hampir
langka ditanah Jawa ini!"
sahut Ki Bangun Rekso yang didahului dengan tarikan napasnya. Tampak disudut
kelopak mata orang tua itu tersembul setitik air bening yang bergulir jatuh
membasahi pipinya yang keriput.
Nanjar cuma tercenung mendengar penuturan Ki Bangun Rekso. Entah dia harus
bergirang atau bersedih.
Dikeluarkannya tasbih hijau
terbuat dari batu Giok pemberian kakek pertapa itu dari saku bajunya dan berkata
lirih. "Apakah dia meninggalkan pesan untukku?"
Pertanyaan Nanjar belum dijawab oleh Ki Bangun Rekso, karena sejenak dia
memperhatikan tasbih batu Giok yang teruntai ditangan Nanjar.
Pamuji yang sedari tadi tak
membuka mulut, tiba-tiba tatapkan mata liar melihat tasbih itu. Sebelum wafat
Kyai Bangah memang menanyakan Nanjar dan menyebut-nyebut tasbih batu Giok, tapi
tak mengucapkan kata apa-apa lagi lalu nyawa orang tua pertapa itupun
melayang. Terbersit dihati Pamuji bahwa ada apa-apanya dengan tasbih batu Giok
ditangan Nanjar. Dia memang sudah menduga sejak awal tentang adanya senjata
pusaka milik kakek pertapa itu. Mungkin saja tasbih batu Giok ditangan Nanjar
itu sebuah senjata pusaka! Dan alangkah sayangnya kalau senjata pusaka itu
terjatuh k etangan orang lain.
Mendapat kesempatan baik seperti itu tak ayal Pamuji cepat-cepat berkata
mendahului gurunya. "Beliau memang meninggalkan pesan untukmu, sobat Nanjar!" ujarnya. Kalau saja
Nanjar tak menundukkan wajah ketika berkata, tentu dia dapat melihat Pamuji
mengedipkan mata pada Ki Bangun Reksa yang menoleh pada pemuda itu.
Cepat-cepat Pamuji menyambung
kata-katanya. "Beliau berpesan agar kau
mengembalikan tasbih yang dititip-kannya padamu dan menyuruh kami mengubur
bersama jasadnya!"
Ki Bangun Reksa baru mau
membentak sang murid. Akan tetapi segera menelan lagi kata-katanya, karena
Nanjar telah berkata seraya bangkit berdiri.
"Oh, kalau begitu amanatnya dengan senang hati dan rela aku akan mengembalikan
benda ini!" seraya
berkata Nanjar menimang-nimang
sebentar tasbih hijau itu lalu
melemparkannya pada Pamuji. Dengan sigap Pamuji menangkap lalu masukkan ke saku
bajunya. Pada saat itulah tiba-tiba
terlihat bayangan hitam melintas ditanah. Ketika mereka menengadah tampak seekor
burung rajawali yang amat besar melayang berputar-putar diatas mereka. Nanjar
tersentak kaget. "Hah!" itu pasti si JABUR dan yang menungganginya pasti RANGGAWEN1!"
desis Nanjar dengan wajah mendadak beruhah girang. Terdengar suara suitan
nyaring dari mulut si Dewa Linglung ketika dia masukkan dua jari tangannya
kebawah lidah. Mendengar suara suitan yang
dikenalnya itu, si burung rajawali mendadak perdengarkan suara mengiyak, lalu
terbang menukik ke bawah.
Benarlah kiranya burung rajawali raksasa itu adalah si JABUR, burung
peliharannya yang telah dihadiahkan pada Ranggaweni si gadis murid Raja
Pengemis. "Kak Nanjar...!" teriakan girang terdengar dari atas punggung si Jabur.
Seorang dara cantik berbaju merah memang berada diatas punggung burung rajawali
itu. "RANGGAWENI...!" teriak Nanjar.
Dan... tubuh si pendekar Dewa Linglung
telah berkelebat ke udara.
Sekejap saja dia telah berada
diatas punggung binatang itu tepat dibelakang punggung si dara cantik.
"Hehehe... maaf sobat-sobat, biniku sudah menyusul. Tampaknya dia sudah ngebet
betul karena telah kutinggal lama. Aku tak dapat berlama-lama lagi. Kalian
kuburkan saja jenazah Kyai Bangah. Bila umurku panjang tentu suatu saat kita
bisa bertemu lagi!" teriak Nanjar seraya menoleh ke bawah menunjukkan kata-
katanya pada Ki Bangun Reksa, Pamuji dan Citrasih.
Sesaat kemudian burung rajawali raksasa itu telah membumbung tinggi.
Citrasih berdiri menengadah dengan mata memandang sayu. Masih sempat tadi dia
melihat si gadis cantik baju merah bernama Ranggaweni itu mencubit paha pemuda
itu. Dan dilihatnya dikejauhan lengan si pendekar Dewa Linglung melingkar memeluk
pinggang si dara cantik.
TAMAT Scan/E-Book: Abu keisel
Juru Edit: Fujidenkikagawa
http://duniaabukeisel.blogspot.com/
Jodoh Si Mata Keranjang 1 Bentrok Rimba Persilatan Karya Khu Lung Jodoh Rajawali 6
^