Pencarian

Pedang Golok Yang Menggetarkan 2

Pedang Golok Yang Menggetarkan Pedang Penakluk Golok Pembasmi Ka Thian Kiam Coat To Thian Kiam Coat To Karya Wo Lung Shen Bagian 2


Diam diam Kim Tjong Toodjin mengeluarkan elahan napas lega.
"Sungguh berbahaya" katanya didalam hati. "Sungguh berbahaya. Jikalau orang ini tidak membantuku, pastilah aku telah tertarik jatuh masuk kedalam jurang maut itu terbetot oleh ouw Bwee..."
Seng Su Kio berdiri tetap didalam kabut hitam, tubuh ouw Bwee
tetap dingin dagu mukanya matang biru, bagaikan wajah mayat.
Slorang she Tjee menghampiri tubuh ouw Bwee, dengan sebat dia menotok beberapa jalan darah jago Pat Kwa Bun. Setelah itu dia mengawasi Kim cong Toojin dengan sinat mata yang dingin-
"Aku telah membantu kau, tootiang," katanya. "Sekarang silakan tootiang membawa orang she ouw ini untuk menyingkir dari tempat yang berbahaya ini" Habis berkata, tanpa menantikan jawaban si
imam, dia angkat tubuhnya Bun Koan, buat dikempit untuk terus dibawa pergi.
Semua orang kaget dan jeri hati menyaksikan keadaan ouw Bwee itu. Siapa yang berani mencoba lagi menyeberangi jembatan itu" Bahkan lekas lekas mereka meninggalkan Seng Su Kio
Hati Kim cong pepat, dia merasa sangat sukar. Dia sedang terluka, lalu dia mesti membawa tubuh ouw Bwee berlalu dari jembatan maut itu. Tapi, mau tidak mau, dia mesti melakukannya. Dengan berhati hati dia melalui jalan sempit dan licin itu. Syukur, dia toh bisa sampai juga di tempat yang aman- Dia merasa lega, tetapi dia tak dapat mengatakan sesuatu karena hatinya masih mendongkol.
"Di sini dapat kau turunkan dia" berkata si serba hitam, yang sudah menanti sedari tadi. Sebab dialah yang paling dulu mengangkat kaki dari muka jembatan- "Mari kita lihat, kita dapat menolongnya atau tidak..."
Kim Cong melihat orang bermuka panjang, dan kurus, wajahnya dingin laksana es, siapa mengawasi wajah itu dengan matanya yang tajam, dia bisa merasa gentar sendiri.
Semua orang diam mendengar kata-kata si serba hitam itu. Cuma satu orang, yang memisahkan dirijauh-jauh. Dia ini berdiri sejauh satu tombak lebih, dia diam, kepalanya diangkat, mengawasi
langit. Dialah si pendeta dari Siauw Lim Sie. Dia menjauhkan diri
sebab dia agaknya sebal terhadap kejumawaan si serba hitam itu.
Kim Cong menurunkan tubuh ouw Bwee yang dipanggulnya, meletakkannya di atas tanah, terus menyobek jubahnya, guna membalut luka ouw Bwee.
Sijubah hitam mengangkat leher baju ouw Bwee. Tiba tiba dengan telapakan kanannya, dia menepuk punggung jago Pat Kwa Bun itu. menyusul mana, dia juga mengurut berulang ulang di atas kedua belas jalan darah si korban-
Diperbuat begitu, matanya ouw Bwee bergerak perlahan-lahan, sedang jantungnya mulai berdenyut.
Sekarang si serba hitam menekan ubun ubun orang she ouw itu dengan begitu dia membuat hawa panas pada tangannya memasuki jalan darah orang.
Lewat lagi sekian lama, sadarlah orang she ouw itu, paling dulu terdengar tarikan nafas, menyusul itu, dia memegang kedua belah matanya.
Segera orang she Ce itu berkata dengan suara dingin- "Saudara ouw, kau telah menyerahkan anak perempuan ini kepadaku, sekarang aku menolongmu, maka kebaikanmu itu telah aku balas impas."
"Kau benar, saudara ce," sahut ouw Bwee perlahan- Dia masih
lemah. "Tindakanmu tepat, dengan begitu kita jadi berlaku adil."
Terpaksa jago Pat Kwa Bun memperlihatkan sikapnya yang lunak ini. Dia cerdik, tak mau dia berlaku sembrono, sebab itu berbahaya. Dia masih sangat lemah, dia mesti tahu diri Kalau dia menjawab secara menentang, asal si serba hitam tidak puas, dia kira dihajar mampus seketika. Dia bisa mati konyol. Sebab dia pasti tidak sanggup melawan atau menyingkir. Dia kenal baik siapa si serba hitam, jago Kang ouw-Sungai Telaga yang telengas. Selama dua puluh tahun, entah berapa banyak jago Rimba Persilatan yang binasa di tangannya. cuma dia sangat menyesal, sebab setelah berkelahi mati matian sekian lama. Nona Tjoh mesti jatuh ke tangan orang ini. Dengan begitu, mana mungkin dia bisa menagih hadiah kepada kesembilan partai besar itu"
Dengan sabar si serba hitam mengangkat tangannya diletakkan pada ubun2 ouw Bwee. "Baiklah, saudara ouw" katanya. "Ijinkan aku meminta diri"
Begitu habis berkata, orang she Tjee itu memondong tubuh Bun Kwan, dengan satu lompatan pesat, dia mengundurkan diri dari ouw Bwee, setelah mana dia berlari-lari pergi dan sesaat kemudian,
lenyaplah bayangannya Semua mata melongo, tak ada seorang jua yang berani merintangi
Baharu setelah itu, dengan perlahan-lahan ouw Bwee bangkit berdiri. Paling dulu dia jumput pedang yang diletakkan si serba hitam di tanah, dan dengan cepat dia memotong putus tali yang mengikat tubuhnya. Kemudian dia menyerahkan pedang pada kim Tjong Toodjin sambil berkata: "Tootiang, aku hidup kembali dari kematian, itu adalah berkat pertolonganmu, akan aku ingat ini. Tootiang gunung hijau tak berubah, di belakang hari pasti kita ketemu pula. Maaf, aku hendak pamitan dari kau"
Begitu berkata, orang she ouw ini mengangkat kakinya, berlalu sambil berlari lari.
semua orang melengak. Ketika mereka menoleh kepada si pendeta Siauw Lim Sie, pendeta itu sudah tidak ada, tak ada yang tahu kapan menghilangnya dia...
Kim Tong Toojin menggunakan pedangnya membebaskan diri dari tali yang melibat pinggangnya. Setelah itu dlapun mengangkat kakinya, pergi dengan menyesal dan kecewa...
Semua orang lainnya mengawasi kearah Seng Su Kio, lalu merekapun bubar pergi. Tidak ada di antaranya yang berani menghampiri pula jembatan yang menakutkan itu.
Tjoh Siauw Pek berjalan terus di atas jembatan, tetap dengan pelan pelan- Ia seperti melupakan segala apa, kecuali bahwa ia mesti melintasi jembatan itu. Ia tidak menghiraukan kabut gelap. bahkan angin dingin sekali dan bajunya terus menerus tertiup berdebaran-
Jembatan itu terasa makin jauh menurun, bagitupun sang hawa, dinginnya bertambah tambah, bagaikan menembus kulit masuk ke dalam daging.
Suasanya menyeramkan tetapi si bocah tanggung tak menghiraukannya. Dia seperti tak tahu menahu. Dia bahkan lupa mengerahkan tenaga dalamnya guna melawan hawa dingin itu.
Di dalam keadaan seperti itu, mungkin Siauw Pek tidak
menyingkir andaikata gunung di depannya longsor gempur
Jurang itu bukannya jurang kosong. Disitu mengalir sebuah sungai, yang airnya deras, sebagaimana suara gemuruhnya dapat terdengar sampai di atas jembatan-
Angin yang keras itu mirip dengan angin puyuh, sebab berputarnya seperti terintang oleh jurang yang dalam, hanya tiba di atas jembatan- tiupannya berkurang kerasnya.
Akhir akhirnya, tiba juga Siauw Pek ditepi yang lain dari jembatan itu. Ia selamat tak kurang suatu apa. Dengan tibanya diseberang, iapun sadar. Sebab sekarang ia tidak lagi terbenam dalam kabut hitam. Ia melihat dunia terang benderang seperti semula tadi, disaat ia mulai menginjak jembatan untuk menyeberang.
Dihadapannya sekarang tampak daerah yang lapang, sebuah lembah yang luas beratus ratus hektar, dikitari bukit bukit hijau. Ia melihat banyak bunga, banyak pohon bambu, yang tumbuh disana sini. Yang heran ialah disitupun ada beberapa petak sawah yang ditanami padi serta sebuah ladang sayuran-..
Tapi siauw Pek tidak menghiraukan semua itu, ia berjalan terus tanpa perhatian seperti sejak semula. Ya, ia bagaikan seorang yang tak sadarkan diri. Demikian, jalan punya jalan, sampai ia menghadapi sebuah pohon ouwtoo sejenis kenari dibawah mana ada duduk bercokol seorang laki laki tua dengan rambut dan janggut sudah putih seluruhnya, tengah menghadapi empat macam
barang santapan yang disajikan diatas meja. orang tua itu makan
dan minum seenaknya saja, tenang dan wajar gerak geriknya.
Dengan tindakan perlahan, siauw Pek lewat dibawah pohon itu. Ia lewat terus, seperti tidak melihat si orang tua. Bahkan sama sekali ia tidak menoleh kekiri atau kekanan...
Si orang tua, sebaliknya, telah melihat anak muda ini. Agaknya ia heran- Lantas, sengaja dia batuk batuk dengan suara keras. "Hai, bocah" tegurnya.
Siauw Pek berjalan terus, seolah olah tak mendengar teguran itu.
orang tua itu mengerutkan sepasang alisnya. Dia heran sekali tiba tiba dia mengajukan sebelah tangannya, menyentil kearah
bocah itu. Angin sentilan itu menjurus kepada Siauw Pek, mengenai
jalan darah Kiok-coanpada tekukan dalam dari dengkul kanannya.
Selagi menyentil itu, si orang tua tak mengira bahwa sentilannya bakal mengenai sasarannya, atau walaupun kena, mungkin tidak berbahaya, tidak akan melukai, akan tetapi diluar dugaannya, tiba tiba si anak tanggung tertekuk kakinya, terus dia roboh mendeprok "Ah..." si orang tua berseru dengan suara tertahan-
Siauw Pek roboh dengan terkejut, karena jatuhnya itu membuatnya sadar. Baru sekarang ia menoleh, karena mana ia dapat melihat si orang tua yang sudah bangkit berdiri, bertindak menghampirinya. Ia lantas berpikir cepat.
"Aku telah berhasil melintasi Seng Su Kio, aku tidak mengecewakan ayah bundaku." pikirnya. "Jikalau aku mati ditangan orang tua ini, itulah akan mempercepat jalanku ke dunia baka, untuk menemui arwah ayah dan ibu dan kakakku..." Berpikir begitu, anak sebatang kara ini lantas memejamkan matanya.
Sebenarnya siauw Pek belum sadar seluruhnya. Karena itu ia belum sempat memikir sebabnya kenapa ayahnya mendesak ia menyeberangi jembatan maut itu. Ia merasa ada orang menotok kakinya lantas ia menduga adanya ancaman bahaya. Tengah ia meram itu kembali ia merasakan totokan pada kaki kanannya itu, dan totokan itu membuat kakinya pulih seperti biasa. Saking heran, ia membuka kedua matanya. Maka ia melihat si orang tua, dengan senyuman manis sedang berdiri mengawasinya. Tak tampak tanda bahwa orang tua itu berniat jahat.
Dengan perlahan bocah ini bergerak. untuk berduduk numprah di tanah. Ia memandang ke depan ke belakang, ke sekitarnya. Kemudian ia menarik napas dalam dalam.
"Loo-pee," sapanya, " kenapa kau tidak segera membunuh aku ?" Putera bungsu Kam Pek ini memanggil "loopee," paman tua kepada orang tua itu. Si orang tua menatap. Dia tertawa manis:
"Eh, anak. kau aneh" ucapnya. " Kenapa kau omong tidak karuan ujung pangkalnya?" Siauw Pek membaca menatap.
"Itulah sebab..." sahutnya, "sebab selama delapan tahun terus menerus, semua orang yang aku temui, semuanya mencoba membunuh kami serumah tangga"
Tiba tiba, hilang lenyap senyuman si orang tua. "oh, begitu?" dia tanya, dengan sikap sungguh sungguh.
"Benar, loopee," sahut si bocah. "Sedikitpun tidak salah. Inilah sebabnya aku, kenapa kau tidak segera membunuhku bahkan kau terus menotok memerdekakanku..."
"Kau keliru menyangka, anak." menjelaskan si orang tua. "Aku menotok padamu sebab barusan aku panggil kamu, kau tidak mendengarnya. Setelah kau tidak dapat berjalan terus, maka aku menotok pula membebaskan padamu. Kita tidak bermusuhan, kenapa aku mesti membunuhmu" Lagipula aku si orang tua setelah
dua kali aku keliru melukai dua orang, sejak itu tak pernah aku
membinasakan siapa pun juga." Siauw Pek bangkit perlahan lahan-
"Tempat ini apa namanya, loopee?" ia bertanya. "Apakah aku telah melintasi habis jembatan Seng Su Kio?"
"Tempat ini tidak ada namanya," jawab si orang tua. "Aku sendiri yang memberikan nama, ialah Bu Yu Kok. Haha Tak perd uli siapa- siapa yang tiba disini, dia akan tak berduka dan tak banyak pikir lagi, dia akan melupakan segala kesukaran. Jikalau kau tidak
melintasi jembatan Seng Su Kio, mana dapat kau sampai di
lembahku ini?". Memang, Bu Yu Kok berarti "Lembah Tak Berduka".
Tiba tiba Siauw Pek ingat kebinasaan hebat dan menyedihkan dari ayah bundanya. Ia menghela napas.
"Tapi aku," katanya, "aku tidak dapat melupakan sakit hati ayah, ibu dan kakak kakakku" katanya.
"Bagaimana, eh?" tanya orang tua itu, menatap. "Apakah seluruh keluargamu telah dibinasakan orang?"
"Tidak salah.. Keluargaku terdiri dari lima jiwa, sekarang ini hanya tinggal aku seorang"
Tanpa merasa, orang tua itu menghela napas.
"oh, anak yang harus dikasihani," katanya perlahan- "Coba ceritakan padaku anak. kenapakah mereka itu membinasakan ayah bunda dan kakak-kakakmu itu"
"Itu adalah suatu peristiwa dikalangan Rimba Persilatan, dan ayah bundaku cuma kena terembet-embet, atau lebih tepat orang sengaja melibatkannya, hingga mereka tercebur kedalam pusaran air dan musnah karenanya"
"Siapakah yang membunuh ayah bundamu" Dimana mereka membunuhnya?"
"Merekalah orang-orang dari sembilan partai besar serta sembilan partai lainnya lagi. Merekalah jago jago silat yang tak sedikit jumlahnya, mereka menghendaki mendapatkan kami semua, setelah membinasakannya, baru mereka puas. Ayah dan ibuku mati ditepi sana Seng Su Kio aku ingin menuntut balas untuk ayah dan bundaku itu..."
"Soal menuntut balas, baik kita bicarakan belakangan-" kata si orang tua kemudian-"sekarang ini perlu kau beristirahat dulu. Kau
belum sadar sepenuhnya, anak. Nanti setelah kau sadar betul, baru
kita omong-omong mengenai kejadian-kejadian yang telah lalu itu." Siauw Pek mengangguk. "Terima kasih, loope," katanya.
orang tua itu mencekal lengan kanan sibocah, pada nadinya. "Mari, anak" katanya. "Mari ikut aku ke gubukku"
Tidak dapat Siauw Pek menampik, nadinya itu telah terpencet. Maka ia ikut orang tua itu.
Hanya sebentar, mereka sudah tiba didalam gubuk. Gubuk itu tak jauh dari pohon ouwtoo.
"Kau rebah, anak," kata si orang tua, yang mengangkat tubuh bocah itu, untuk direbahkan diatas bale-bale. Iapun menotok jalan darah tidur si bocah, seraya menambahkan : "Sekarang kau tidurlah dahulu..." Habis berkata ia bertindak keluar.
Siauw Pek ingat segala apa, akan tetapi ia telah ditotok, tidak dapat membuka mulutnya, bahkan kedua kulit matanya sendiri sudah lantas tertutup rapat. Maka tak lama kemudian, ia telah tidur pulas.
Beberapa lama ia tidur, Siauw Pek tidak tahu, hanya ketika ia mendusin dan membuka matanya, cuacanya sudah gelap. Ia melihat si orang tua sedang duduk menghadapi meja sambil minum arak. orang tua itu tampak sangat tenang.
-ooo0dw0ooo- JILID 3 Gubuk itu diterangkan oleh sebuah obor minyak cemara yang ditancap di suatu pojok. Di luar gubuk. gelap di mana mana. Sang malam telah tiba.
Dengan perlahan anak ini bangkit, turun dari bale bale. Ia menghampiri tuan rumahnya.
orang tua itu meneguk araknya.
"Kau mau minum arak, nak?" tanyanya.
"Aku tidak menghendaki arak. loopee. Aku hanya haus sekali."
"Untuk air, di belakang rumahku ini ada tiga buah sumur," berkata si orang tua, "cuma air sumur-sumur itu berbeda satu dari lain..."
Berkata begitu, mendadak air mukanya si tua berubah. Ia terus menatap bocah di hadapannya itu.
"Nak, aku harap kau dapat memilih jalan keselamatan?" ujarnya kemudian-Siauw pek heran. Dia tak mengerti.
"Loopee, apakah itu jalan keselamatan?" ia tanya. "Aku kurang mengerti..."
"Ah, tak dapat kau dipersalahkan, nak Yang bersalah adalah aku, yang bicara tidak jelas Mari aku terangkan padamu: Di belakang gubukku ini ada tiga buah sumur kecil. sumur yang di tengah airnya biasa, tidak ada bahayanya, itulah jalan keselamatan" Siauw Pek menjadi heran sekali.
"Apakah airnya kedua sumur yang lain itu beda dari air biasa?" ia tanya pula.
Wajah orang itu tampak masgul.
"Tidak salah," sahutnya. "Air kedua sumur itu bukan air biasa. Sumur yang satu beracun siapa yang minum airnya, selama sehirupan air teh, dia akan keracunan, tubuhnya akan mengeluarkan darah dan mati"
"Apakah sumur yang ketiga itu beracun jugakah?" Si orang tua berdiam sekian lama, agaknya dia sedang berpikir.
"Tidak." sahutnya kemudian- "Itu bukan air biasa, dan juga bukan racun- Itulah yang dinamakan cio Jie yang amat sukar didapatkan- Siapa yang meminumnya, tubuhnya akan memperoleh kebaikan besar sekali. Ah nak, baiklah kau minum yang di tengah itu, dengan begitu kau dapat menemani aku tinggal di dalam lembah ini untuk dengan tenang melewati hari hari kita yang mendatang..." Siauw Pek menggoyang kepala.
"Tidak," sahutnya tetap. "Aku hendak keluar dari tempat ini. "Ayah bundaku menyuruh aku melintasi Seng Su Kio, aku telah melakukannya aku tidaklah menyia nyiakan harapan mereka. sekarang tidak dapat aku melupakan dendam kesumat dari ayah bundaku ini. Bahkan kedua kakakku juga telah turut
dibinasakannya. Maka sekarang ini, baik kaum Pek Ho Bun, ataupun keluarga coh, akulah ahli waris tunggalnya. Selama aku hidup, aku akan mencari sebab musabab dari kebinasaan ayah bunda dan kakakku itu, aku hendak membalas sakit hati mereka"
orang tua itu mengusut usut janggutnya.
"Lembah Bu Yu Kok ini telah putus hubungannya dengan dunia luar." katanya kemudian,
sabar. "Disini sudah tidak ada soal sakit hati dan permusuhan, soal budi dan penasaran Nak. andaikata ayah bundamu tidak terbinasakan musuh musuhnya, mereka toh tak akan hidup selama lamanya. Ha ha ha Hidupnya manusia seratus tahun, itulah impian belaka. Buat apa kau hendak menuntut balas?"
Siauw Pek menatap orang tua itu, sinar matanya itu mengandung kemurkaan hebat, akan tetapi ia tetap bungkam.
Si orang tua meneguk kering isi cawannya, lalu mengisi lagi.
"Mau apakah kau menatapku begitu rupa?" tanyanya, tertawa. "Ha ha Matamu itu mengeluarkan sinar berkilauan bengis Rupa- rupanya kau merasa tidak puas terhadapku, bukan?"
"Aku memikirkan beberapa kata kata," jawab Siauw Pek, "hanya jikalau aku keluarkan, aku khawatir kau tersinggung, loopee..." Kembali si orang tua tertawa.
"Sudah beberapa puluh tahun, kau tahu aku si orang tua ingin
sekali menerima cacian" ujarnya. "Aku senantiasa mengharap cacian
itu tapi belum terkabul keinginanku. Tidak apa, teruskan bicara" "Sekarang ini berapa usia loopee?"
Itulah pertanyaan di luar sangka si orang tua. Ia meneguk araknya, kemudian tertawa. "Nak. kau tanya usiaku?" ia menegaskan.
"Benar. Mungkin usia loopee sekitar enam atau tujuh puluh tahun-.." Si orang tua terbahak bahak.
"Tak dapat kau menerka tepat, anak Nah, sekarang berikan dahulu berapa usiamu?"
"sekarang usiaku lima belas tahun."
"Bagus Bagus" si orang tua tertawa lagi. "Jikalau nanti kau hidup lagi tujuh puluh tahun barulah menyamaiku"
"Tujuh puluh lima tahun" Tujuh puluh lima tahun tambah lima belas oh, jadi usia loopee sudah sembilan puluh tahun?"
"Benar" Lagi lagi si tua ini tertawa gembira.
"Jikalau aku tidak keluar dari lembah ini," ia menambahkan, "kalau aku hidup lagi sembilan puluh, itupun tak aneh"
"Kaulah Siu Pie Lam San, loopee" memuji siauw Pek "sungguh, kau sehat kuat seumpama batu gunung"
Memang pantas pujian bocah ini, "Siu Pie Lam san- Usia tinggi sebagai Gunung Selatan. Hanya sedetik, paras si orang tua berubah.
setelah itu dia tertawa terbahak bahak. "Bagus betul, ya Benarkah
kau caci aku si orang tua sebagai batu gunung yang bandel?"
"Bukan begitu maksudku, loopee. Aku memuji usia panjang dan kesehatanmu"
"Kau manis sekali, Nak Aku lihat, kau ini nantinya pasti pandai mencaci orang, banyak banyak warna warni cacianmu itu Aku ingin mendengarnya" Sementara itu Siauw Pek sangat dahaga, mulutnya terasa kering. Dua kali batuk batuk.
"Baik aku minum dahulu," katanya. "Aku perlu membasahkan kerongkonganku. Sebentar kita baru bicara lagi..."
Berkata begitu, anak ini lantas bertindak keluar. "Tunggu" seru si orang tua.
Matanya Siauw Pek itu bagaikan berkunang kunang. Ia melihat satu bayangan orang muncul di depan matanya. Ternyata si orang tua sudah menghadang di depannya. Dia masih menggenggam cawan araknya. Tapi orang tua ini tertawa manis.
"Eh, anak kecil." sapanya. "Bagaimana jikalau kau kesalahan minum air beracun hingga kau menerima ajalmu" Dan, ada siapakah lagi yang bakal mengumpat caci padaku, si orang tua" AKu lihat, paling benar kau minum arak dulu barang secawan, untuk membasahi ronggamu itu. Arak dapat membangunkan semangatmu membuat kau bernyali besar, supaya kau dapat memaki maki aku sampai puas"
Ramah orang tua ini, sedikit juga tak ada tandanya bahwa ia
bergusar. Siauw Pek menyambut cawan arak itu, dan diteguk isinya.
Arak itu keras sifatnya. Begitu si bocah meminumnya, mukanya menjadi merah, dan dadanya terasa panas.
"Nah, bagaimana, anak?" tanya si orang tua. "Bagaimanakah rasanya arak buatanku sendiri ini?"
"Arak ini baik sekali," sahut orang yang ditanya. "Untuk loopee, inilah minuman yang tepat. Hanya saja, arak dapat menggagaikan cocok kalau loopee mempunyai kawan minuman ini, karena disini loopee tinggal sendirian- tanpa kawan kecuali pepohonan." orang tua itu mengangguk-angguk.
"Bagus, bagus katamu" katanya. "Senang aku mendengarnya, aku ketagihan"
"Rupanya, loopee, dalam usia sembilan puluh sekarang, masih ingin hidup sembilan puluh tahun lagi, menjadi seratus delapan puluh tahun Umur itu adalah umur manusia yang tertinggi"
orang tua itu mengangguk. ia tertawa. "Jikalau aku memahamkan pula ilmu memelihara diri," katanya. "tak sulit bagiku untuk hidup sampai dua ratus tahun"
Arak telah mempengaruhi Siauw Pek. dia menjadi semakin berani.
"Bagaimana sesudah dua ratus tahun nanti" Bukankah si gunung hijau tetap masih ada dan si air mengalir tetap mengalir turun" Bagaimana dengan tubuh loopee" Itu waktu tulang belulang loopee akan jadi musnah seperti bunga dan rumput, meresap masuk kedalam tanah di lembah Bu Yu Kok ini..."
orang tua itu menghela napas panjang. Nampaknya ia masgul.
"Kau benar," katanya. "Taruh kata aku hidup dua ratus tahun, aku tetap bakal menutup mata juga, sama dengan rumput dan pepohonan di dalam lembah ini. cuma kalau bunga rontok maka dimusim semi lain tahun, dia akan tumbuh dan mekar pula, tertiup
angin sejuk. dan rumput-rumput dengan datangnya musim semi,
lantas muncul lagi daun-daun mudanya Bagaimana kalau aku mati?"
"Tetapi, loopee Jangan kata kau dapat hidup sampai dua ratus tahun, taruh kata kau makan usia lima ratus tahun, jika lalu itu dibandingkan dengan usiamu sembilan puluh tahun, ada apakah bedanya?"
Hati si tua goncang. Hebat kata-kata anak muda ini. Bagaikan sudah sinting. dia melepaskan cawan arak ditangannya. Maka jatuhlah cawan itu hingga hancur berpecahan ditanah
Siauw Pek terkejut, baru ia insaf bahwa ia telah bicara sembarangan sekali. Ia seorang muda, bagaimana ia dapat berbicara demikian rupa terhadap seorang orang tua" Ia menjadi jengah, ia malu sendirinya.
"Kau gusar, loopee ?" tanyanya. "Maafkan aku yang muda, yang belum mengerti apa-apa..."
orang tua itu menggelengkan kepala.
"Bocah, kau tidak bersalah," ujarnya. Ia menghela napas "Benar apa yang kau katakan. Aku tinggal di lembah Bu Yu Kok ini, jembatan Seng Su Kio telah memutuskan hubunganku dengan dunia luar. Segala pri-kebenaran dan kesalahan, budi dan pehasan, juga cinta kasih dan kebencian, telah meninggalkan aku jauh sekali. Ah Sebetulnya, segala apa didalam dunia, semua itu sama bagiku.
Kalau toh ada bedanya, aku tidak mendengar, aku tidak melihatnya. hingga hatiku menjadi kosong. Apakah artinya hidupku ini?"
Berkata begitu, si orang tua bangun berdiri. berjalan dengan perlahan-lahan- la jalan berputar.
Siauw Pek mengawasi orang tua itu, ia merasa wajahnya mendadak menjadi jauh terlebih tua. Tindakannya menjadi sangat ayal, bagaikan tak sanggup membawa tubuhnya...
"Ah, kasihan dia..." katanya dalam hati Tiba-tiba ia menjadi berkesan baik sekali. Tak ayal lagi, ia lari menghampiri si orang tua, Ia memegang lengan kirinya. Orang tua itu berpaling. Dengan perlahan dan sabar, dia tersenyum.
"Anak. sekarang ini barulah aku benar benar merasa bahwa aku telah menjadi tua," katanya. "Ah, ini dia yang dibilang, gelombang Sungai Tiang Kang yang belakang menolak gelombang yang didepan, atau orang yang muda jauh menang daripada orang tua .Jikalau aku nanti menutup mata, aku tidak akan menyesal sebab sekarang aku telah menemui orang gagah yang lebih muda setingkat daripada aku..."
"Loopee, kau terlalu memuji. Aku adalah seorang anak yang tidak beruntung, sebab rumah tanggaku ludas, aku telah menjadi piatu, sekarang aku terlunta-lunta tanpa juntrungan dan harapan, hatiku penuh dengan penasaran dan kebakian. Mana bisa aku bilang seorang gagah?"
"Anak. kau benar, tetapi aku benar juga. Kau memiliki perasaan seorang gagah, kaupun berperangai halus bagaikan seorang wanita. Dunia yang remang-remang ini, Rimba Persilatan yang guram, justru membutuhkan seorang semacam kau. Dengan sebatang pedang, kau harus membabat habis segala kejahatan dikalangan manusia, kau harus menyulut sebuah lentera penerangan untuk kaum Rimba persilatan" Siauw Pek bingung.
"Tetapi, loopee," katanya. "aku hanyalah seorang yang ilmu silatnya sangat bersahaja..." Orang tua itu tertawa.
"Itu tak apa. Jikalau pelajaran surat belum sempuna, itu dapat ditambah dengan membaca lebih banyak, jikalau ilmu silat tak cukup liehai untuk membasmi kejahatan, itu juga dapat diperbaiki dengan memohon bantuan petunjuknya guru yang pandai. Didalam segala hal orang dapat belajar dengan tekun"
"Dimanakah ada guru yang pandai, loopee" Buatku, tidak ada pintu untuk mencarinya." orang tua itu mencari kursi bambu, di situ ia menjatuhkan diri terduduk. "Anak. tahukah kau, siapa aku si tua ini?" tanyanya sambil mengawasi. Siauw Pek menggelengkan kepala.
"Maaf, loopee. aku masih sangat muda sekali, aku belum kenal loopee..."
Tiba-tiba alisnya si orang tua terbangun, tiba-tiba juga lenyap kemasgulan pada wajahnya. Dia tertawa riang.
"Bukankah ayahmu menjadi ketua dari Pek Ho Bun?" "Benar..."
"Samar-samar aku ingat, ketua Pek Ho Bun bukannya orang she Tjoh..."
"Loopee benar, Ayahku menerima warisan Pek Ho Bun dari ayah mertuanya, dari kakek luarku."
"Benarlah kalau begitu"
Sejenak si orang tua diam, lalu ia menatap si bocah.
" Katakanlah padaku, kenapa kau pertaruhkan jiwa mu menyeberangi Seng su Kio?"
"Sebenarnya kurang jelas bagiku. Ayah belum pernah menjelaskan sama sekali. Ayah cuma menyuruh aku pergi menyeberang, lain tidak. Tapi menurut pendapatku, seluruh keluargaku dikepung kepung musuh, dunia yang begini luas menjadi sempit, sampai tak ada tempat dimana kami dapat menaruh kaki. karenanya jikalau aku tidak menempuh bahaya jalan dengan
melintasi Seng Su Kio, pasti musuh akan tetap mengejar terus- terusan-"
orang itu tertawa pula. "Selain dari itu?" tanyanya pula.
"selain dari itu, aku tidak tahu apa-apa lagi."
Orang tua itu mengangkat tangannya, ia mengusap kepala si bocah. Lagi-lagi dia tertawa.
"Sebenarnya," katanya selang sesaat. "selain kau harus menyingkir dari musuh-musuhmu, supaya kau mengadu untung" Siauw Pek heran hingga dia melengak.
"Untuk aku mengadu untung?" dia menegas.
"Tidak salah" orang tua itu memastikan- "Supaya kau adu untungmu, anak." si anak tetap menatap.
"Anak yang baik, sejak ribuan tahun yang lalu, jembatan maut ini memang sudah ada." berkata pula si orang tua kemudian, "cuma dulu dulu itu, namanya tidak dikenal, tidak ada yang menyebutnya Tak sudi aku si orang tua merampas jasa. Jembatan ini menjadi tersohor disebabkan oleh karena aku bersama seorang sahabat
kekalku telah menyeberanginya. Hingga sekarang Seng Su Kio
menjadi sangat termashur" Siauw Pek benar-benar tidak mengerti.
"Aku kurang paham, loopee," katanya. Orang tua itu menghela nafas perlahan-Siauw Pek mengawasi terus, ingin memperoleh penjelasan-
"Pada mulanya, entah siapa yang telah menemukan jembatan
maut ini," berkata orang tua itu. "Katanya ditemukannya pada
ratusan tahun yang lalu. Semulanya jembatan ini dinamakan Su Kio"
"Jembatan Kematian-. Maksudnya ialah: siapa yang melintasi jembatan, pasti dia tak usah memikir hidup lagi..."
"Oh begitu" kata Siauw Pek, kagum berbareng heran.
"Jembatan itu memang luar biasa sekali," si orang tua berkata pula. "Pertama-tama dia melintang di atas sebuah jurang, yang selokannya dalam sekali dan airnya deras hingga merupakan pusar air. Sudah begitu disitupun ada terdapat angin keras, angin yang berubah menjadi angin puyuh yang tenaganya sangat kuat.
Yang lebih mengherankan ialah kabutnya, atau uapnya, yang hitam, yang menyelubungi hampir seluruh jembatan- Itulah sebabnya kenapa sukar untuk orang melintasi jembatan ini walaupun dia seorang ahli silat yang lihay. Sudah ada banyak orang kosen yang mengorbankan jiwanya di sini, sebab mereka diserbu angin puyuh dan tergelincir kedalam jurang. Begitulah, jembatan itu dipanggil Su Kio, jembatan kematian-"
"Tetapi, loopee, kenapa dan selanjutnya dia disebut Seng Su Kio -jembatan Hidup Mati?"
Ditanya begitu, si orang tua memperlihatkan wajah gembira, alisnya sampai terbangun. "Itu ada hubungannya dengan aku si tua."
"Ada hubungannya dengan loopee?"
"Betul" Orang tua itu tertawa. Siauw Pek menatap pula. Dia ingin mendapat keterangan-
"Itu adalah peristiwa beberapa puluh tahun yang lampau," berkata si orang tua bercerita. "Sesudah jembatan ini makan banyak korban orang orang gagah, entah siapa biang keladinya, lantas muncul ceritera burung bahwa di jembatan ini ada tersimpan batu- batu permata mulia yang tak terhitung jumlahnya, bahwa di sini terdapat juga warisan seorang jago silat almarhum yang kesohor sekali. Ketika itu orang menerka, cerita burung itu bukanlah ceritera belaka atau lelucon, bahwa sebenarnya di dalamnya ada terkandung suatu rencana busuk."
"Rencana busuk?"
"Ya Pikir saja Jembatan Kematian ini tak pernah diseberangi orang, andaikata benar di situ ada harta besar, siapakah yang tahu" Tidak ada orang, bukan?"
"Loopee benar."
Orang tua itu memainkan janggutnya yang panjang. Dia tertawa pula.
"Yang lucu ialah ceritera burung itu telah menggemparkan dunia Sungai Telaga, karena orang lantas buat sebutan, terutama dalam kalangan Rimba Persilatan- Itu pula yang menyebabkan rubuhnya banyak korban yang menjadi roh roh penasaran- Lucunya, kau tahu, aku si tuapun tertarik hatiku, hingga aku memikir buat mencoba pergi melintasi jembatan itu..."
"Jadinya loopee hendak mencari harta karun itu?"
"Bukan begitu. Aku hanya tertarik dengan warisan sijago silat. Sayang kalau warisan itu terus terpendam di sini. Karena rasa sayangku itu, aku memikir buat mencoba-coba."
Kali ini si orang tua menarik nafas dalam-dalam, matanya mendelung ke suatu arah. Dia seperti sedang memikir jauh, ke waktu bertahun tahun yang lampau. Sekian lama, baru ia berbicara dengan perlahan-
"Kabar bahwa aku hendak mencoba menyeberangi jembatan sudah lantas tersiar diantara dunia Sungai Telaga, karenanya lantas datang banyak jago-jago Rimba Persilatan yang hendak menyaksikan- Itu hari adalah di waktu tengah hari. Banyak jago silat yang menonton- Semua mata ditunjukkan kepadaku, sinarnya heran dan kagum. Sampai saat ini tak tahu aku, mereka itu sebenarnya kagum atau terharu..."
"Mestinya mereka kagum berbareng terharu. Bukankah loopee hendak menjadi pembuka jalan" Percobaan loopee itu mengenai keselamatannya kaum Rimba Persilatan dibelakang hari."
orang tua itu tertawa pula. Agaknya dia gembira sekali.
"Kau tahu, apa yang telah terjadi," tanyanya "Di saat aku hendak mulai menginjakkan kaki di atas jembatan, sekonyong konyong antara para penonton muncul satu orang, yang terus menyatakan bahwa dia suka menemaniku, menyeberang..."
Siauw Pek heran. Dia lantas menanya: "Apakah orang itu berhasil melintasi Seng Su Kio?"
"Ya, dia berhasil menyeberang Bersama sama aku, dia tak kurang suatu apa, maka bersama sama aku juga, dia seterusnya berdiam di dalam lembah Bu Yu Kok ini"
"Oh, jadinya di sini loopee bukan tinggal seorang diri saja" seru Siauw Pek. "Dengan adanya jago itu sebagai teman, loopee, kau tak usah kesepian-.."
"Akan tetapi, anak kita berdua sangat jarang berkunjung satu sama lain," si orang tua memberitahukan- "Ketika itu hari kami melintasi jembatan, kami beruntung sekali, karena menemui saat kebetulan- ialah di saat itu, entah apa sebabnya, angin puyuh yang berbahaya itu justru meniup kendor, tak hebat seperti biasanya. Dengan mengandalkan tenaga dalamku, yang terlatih selama beberapa puluh tahun, berhasillah aku menyeberang meskipun dengan demikian, sesampainya di seberang, aku lelah sekali, kehabisan tenaga. selanjutnya, tak berani aku mencoba menyeberangi Su Kio lagi"
Siauw Pek berpikir : "Aku menyangka dia tinggal disini untuk menyembunyikan diri dari keramaian dunia, tak disangka, sebenarnya dia tidak berani menginjak pula jembatan kematian itu..."
Si orang tua tidak tahu apa yang dipikirkan si anak muda, dia melanjutkan ceritanya: "Begitu berhasil menyeberang, bukan main lega hatiku, hingga aku tak dapat mengendalikan diri, aku mendongak. terus aku berseru dengan nyaring. Mungkin penonton yang banyak itu dapat mendengar suaraku, mungkin itulah sebabnya maka kemudian Su Kio dipanggil Seng Su Kio, yaitu
ditambahkan itu hurup seng hidup... Tentu saja itulah terkaanku, entah benar entah tidak."
"Loopee benar. Sekarang Su Kio disebut Seng Su Kio jembatan hidup mati." Si tua mengawasi bocah didepannya itu.
"Anak. selewatnya Seng su Kio, inilah wilayahnya yang terbuka. Ketika aku datang kemari, aku membekal rupa rupa bibit, maka kemudian disini aku bercocok tanam, menanam padi dan sayur sayuran- Aku girang bisa sampai disini, tempat yang sunyi dimana tidak ada perselisihan dan permusuhan, tak ada pembunuhan segala. Tentu sekali, disinipun tidak ada budi dan dendam asmara..."
Tiba-tiba si orang tua berhenti berbicara, dia memejamkan kedua belah matanya. Nampaknya dia letih sekali, hingga tidak dapat melanjutkan ceritera nyaitu dengan segera.
Siauw Pek tidak tahu mengapa si orang tua berbuat begitu, dia bertanya. "Loopee, selama beberapa puluh tahun ini, apakah loopee tidak pernah mendapat pikiran akan keluar dari tempat ini?"
orang tua itu menarik napas panjang, dia membuka kedua matanya. Dia menatap si anak tanggung. Hanya sebentar dia memejamkan matanya pula. Tapi dia kemudian menjawab: "Pernah aku pikir. Tapi itu cuma pikiran saja. Mungkin Bu Yu Kok terlalu tenang dan menyenangi hatiku, aku bagaikan kehilangan semangatku dulu dulu."
"Loopee," Siauw Pek masih bertanya, "sebenarnya loopee hanya ragu ragu atau karena tidak mau menerjang bahaya?" orang tua itu menghela napas pula.
"Aku ragu ragu, aku tidak mempunyai harapan," jawabnya. "Aku tahu bahwa tenaga dalamku tak seimbang dengan angin puyuh itu yang merupakan tenaga alam..."
"Loopee dapat menyeberang kemari, kenapa tidak dapat loopee menyeberang balik?"
"Tadi telah kukatakan, ketika aku melintasi jembatan, angin puyuh kebetulan lemah. coba angin kuat seperti biasa, mungkin aku sudah tergelincir kedalam jurang, tak mungkin aku bisa ngobrol seperti sekarang ini..."
"Jadinya loopee telah berkeputusan akan mati disini dan buat selama lamanya tak mau keluar lagi?"
Melit si anak muda bertanya.
"Nampaknya lebih baik begitu. Tak perlu aku mencoba cari kehidupan selagi kesempatan mati adalah seratus per seratus..." Tiba tiba si orang tua berhenti. Ia seperti sedang berpikir.
"Anak coba kau terangkan," katanya. "Kau sendiri bagaimana caranya maka kau dapat menyeberang kemari."
"Aku berjalan seperti biasa saja," sahut si anak muda seenaknya.
"Apakah kau tidak menghadapi sesuatu rintangan- Umpamanya angin-.."
"Ada, akan tetapi aku tidak menghiraukan itu. Selagi berjalan, aku terbenam dalam kesedihan dan panas hati, karena aku ingat kematian ayah bundaku." orang tua itu mengangguk.
"Mungkin angin itu lemah sekali, cuma ujung bajumu yang tertiup perlahan-.." Habis berkata begitu, si orang tua berdiam. Ada sesuatu yang dipikirkannya. Siauw Pek mengambil cawan, kemudian ia berjalan keluar.
"Mau pergi kemana kau, anak?" bertanya si orang tua sambil mengawasi.
"Aku hendak mengambil air minum."
"Ambillah air sumur yang tengah. Air itu tidak ada faedahnya yang istimewa tetapi juga tidak ada bahayanya."
"Aku ingin mengambil air dari dua sumur kiri dan kanan," kata
Siauw Pek. "Aku ingin minum masing masing satu cawan-" "Kenapakah" Ah, anak tabiatmu keras"
"Bukankah loopee bilang salah satu sumur itu ada ciojienya yang umurnya ribuan tahun, yang kalau diminum ada faedahnya, dapat membuat panjang umur dan menguatkan tubuh?"
"Benar Tapi kau jangan lupa, air sumur yang lainnya adalah racun dan siapa minum itu, dia pasti akan lekas mati"
"Hendak aku coba, buat mengadu untungku"
orang tua itu membelalakkan matanya. "Buat apakah?" tanyanya heran-Tiba-tiba Siauw Pek mengucurkan air mata.
"Ayah bunda kedua kakakku, semuanya telah terbunuh secara menyedihkan," sahutnya, "aku menjadi anak dan saudara, akan tetapi aku tidak mampu menuntut balas, dengan tetap mendendam saja, buat apa aku hidup di dunia. Aku malu.. Maka kalau aku minum air beracun itu, aku bakal mati, dengan begini dapat aku menyusul ayah bunda dan saudara saudariku itu di dunia baka." Mendengar itu si orang tua tertawa.
"Jika kau minum air sumur yang satunya, yaitu cio jie, hingga tubuhmu menjadi sehat, bukankah itu berarti kau hidup terlebih lama?"
"Toh sumurnya ada tiga, bukan?"
"Benar" "Sumur yang di tengah, air biasa saja, aku tak membutuhkan itu. Dari sumur yang dua lagi, satu adalah ciojie, satu lagi racun-Jikalau aku kena ambil ciojie, apakah aku tidak bisa ambil pula yang lainnya?" orang tua itu melengak.
"Oh, anak, rupanya kau berkeputusan untuk mati, benarkah?"
"Hidup terus berarti menambah kesengsaraan hati, karena itu, bukankah lebih baik aku mati saja?" kata si anak muda.


Pedang Golok Yang Menggetarkan Pedang Penakluk Golok Pembasmi Ka Thian Kiam Coat To Thian Kiam Coat To Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Jangan terburu mati, anak" Berkata orang tua itu. "Hari soal sangat mudah. Hanya sebelum kau mati, ingin aku menasehati kau, lebih baik kau jangan mati coba pikir kalah memangnya kau berniat mati, buat apa kau menyeberangi Seng Su Kio, jembatan maut itu?"
"Aku tidak mau membuat ayah bundaku putus harapan serta kakakku berduka..."
"Anak. kau agaknya tidak tahu persoalan-Jawablah, apakah
ayahmu juga berpendirian serupa denganmu berpikiran pendek?"
"Siapa bilang ayahku berpikiran pendek?" bertanya si bocah. "Ayah memperkuat Pek Ho Bun hingga Pek Ho Bun dapat berdiri tegak seperti sembilan partai besar lainnya. Jikalau ayahku
bukannya cerdas dan gagah, bagaimana mungkin dia memajukan
partai kami" Bahkan ayahku lebih menang daripada kakek luarku"
"Aku tetap menganggap dia berpikir pendek" Berkata si orang tua. "Di dalam dunia dimana mana terdapat bukit bukit yang hijau, karena itu, kenapa untuk mengubur tulang belulang kita, mesti mesti memilih Seng Su Kio sebagai tempat kuburannya "Jikalau pikiran ayahmu tidak pendek. buat apa dia mengajak kau merantau dan menderita sengsara menyeberangi seng Su Kio buat hanya mencari mati dijembatan itu?"
"Tetapi loopee seandainya kami sekeluarga dapat menyeberang bersama, hingga kami dapat tetap berkumpul bersama, sudah tentu aku tidak akan mencari mati"
"Jikalau begitu, semakin nyata betapa pendek pikiran ayahmu itu"
Siauw Pek heran, dia menatap melongo. "Apakah yang tak tepat, loopee?" ia bertanya.
"Mungkinkah ayahmu tidak ketahui berbahayanya Seng Su Kio" Sekalipun kamu tidak sedang dikejar kejar musuh, didalam keadaan seperti biasa, bagaimana mungkin kau menyeberangi jembatan itu
dengan selamat tak kurang suatu apa" Jikalau ayahmu tidak pendek
pikirannya, tidak nanti dia menyuruh kau melintasi Seng Su Kio"
Kembali Siauw Pek melengak. "Kau benar juga, loopee," akhirnya ia mengakui.
"Maka itu, anak." berkata si orang tua, "mesti ada sebabnya kenapa ayahmu menghendaki kau, menyeberangi Seng Su Kio..." Siauw Pek jadi berpikir.
"Mungkin ayahku, seperti kau, loopee, telah kena terpedayakan orang orang Sungai Telaga..."
"Mengapa begitu?"
"Sebab aku ingat kata-kata ayah. Ayah berpesan sungguh- sungguh kepadaku bahwa tanggung jawab menuntut balas terletak pada bahuku, karena dalam keluarga kami, akulah yang berbakat paling baik. Semua keluarga ku pun sangat menyayangi aku, aku telah dibela mati matian- Selama kami dikepung kepung musuh, ayah bunda dan saudara saudariku semua telah terlukakan, kecuali aku..."
Si orang tua mengawasi bocah itu, dari atas kebawah dan sebaliknya.
"Benar" katanya memuji. "Benar bakatmu baik sekali bakat istimewa" Siauw Pek menghela napas.
"Ayah juga mengatakan bahwa rejekiku besar sekali..." "Benar Aku pun melihat kau berejeki besar "
Siauw Pek berdiam. Selang sesaat baru ia berkata pula: "Rupanya pandangan ayahku sama dengan pandangan loopee, karena ayah dan loopee telah ditipu orang. Pernah dikatakan bahwa di seberang Su Kio, yaitu disini, ada warisan dari orang jago Rimba Persilatan- Karena itu, ayah ingin aku menyeberanginya..^"
orang tua berjanggut ubanan itu tertawa terbahak-bahak. "Tak benar kata-katamu itu, anak" katanya.
"Yang terpedayakan adalah aku si orang tua Ayahmu sama sekali
tidak tertipu juga kau, kau tidak terpedayakan" Siauw Pek bingung.
"Ayahpun heran," katanya pula "Ayah mengharap sangat kepadaku, supaya kelak aku dapat menuntut balas, akan tetapi,
disamping itu, ayah tidak mau mengajari aku ilmu silat. Aku cuma dididik didalam hal latihan tenaga dalam..."
"Bagus Bagus" si orang tua memuji "dengan begitu ayahmu jadi menyebabkan aku bakal menjadi pusing belaka" Berkata begitu, dia tertawa.
Siauw Pek menatap orang tua itu. Ia heran sekali.
"Loopee," katanya, "tapi disini, dimana adanya peninggalan orang Rimba Persilatan yang tidak dikenal itu?" Si orang tua membalas mengawasi.
"Andaikata warisan itu ada," katanya. " untukmu, warisan itu tidak ada faedahnya."
"Belum tentu, loopee. Hanya, hendak kukatakan, buat apa aku hidup jikalau selama hidupku, tak mampu aku membalas sakit hati" Daripada hidup tidak berdaya, lebih baik aku mati saja, supaya aku bisa selalu mendampingi ayah bundaku, untuk menjalankan kebaktian-.."
"Siapa bilang kau tidak mampu membalas sakit hati ayah bundamu, anak?"
siauw Pek terkejut. Kali ini ia mendengar suara si orang tua keras bagaikan guntur, setiap kata terasa tajam. Mau tidak mau, ia tergetar mengawasi orang tua itu.
Kali ini, sikap si orang tua juga berbeda dari biasa. Sekarang dia nampak keren sekali, sepasang matanya mencorong tajam bagaikan pedang.
"Orang-orang yang mengejar ngejar kamu itu, mereka orang orang macam apakah?" tanyanya keras.
"Selain orang orang dari sembilan partai besar, juga dari sembilan partai lainnya. Itulah kawanan sembilan pay, empat bun, tiga hwee dan dua pang."
"Tahukah kau, siapa aku si orang tua ini?"
"Tidak." sahut Siauw Pek menggeleng.
"Akulah si orang she Kie bernama Tong. Pernahkah kau dengar ayahmu menyebut nyebut namaku?"
"Tidak" sahut pula si bocah, kembali menggeleng. Kie Tong mengerutkan alisnya.
"Kian-kun It Kiam adalah gelarku," katanya. "Tentu kau pernah
mendengarnya, bukan?" Lagi lagi Siauw Pek menggoyang kepala.
"Aku yang muda kurang pengetahuan," katanya. Memang ia tidak tahu gelar itu, Kian kun It Kiam, ialah si "Pedang Tunggal Dunia" Pedang satu satunya di kolong langit... Jikalau tadi dia mengerutkan alisnya, sekarang slorang tua tertawa nyaring.
"Ya, tidak heran tidak heran-" katanya. "Memang sudah beberapa puluh tahun lewat sejak aku mengundurkan diri dari dunia Sungai Telaga. Ketika itu mungkin ayahmu belum munculkan diri, hingga iapun menjadi tidak tahu karenanya"
"Sebenarnya ayah luas pengetahuan umumnya. Segala peristiwa
lima puluh tahun yang lalu, tak ada yang tidak tahu."
"Mungkinkah dia tidak tahu hanya tentang aku si orang tua sendiri"
"Umpamakan ayah tahu, barangkali ia belum sempat menceritakan kepadaku."
"Kalau begitu, mengapa kau ketahui selain sembilan partai persilatan itu juga masih ada sembilan yang lainnya?"
"Tentang sembilan yang belakangan ini, aku mendengarnya secara kebetulan-" Kie Tong mengangguk.
"Mungkin ayahmu tak ingin kau ketahui jelas segala hal-ikhwal kaum Rimba Persilatan atau sunia Sungai Telaga .Jikalau kau tidak bertemu denganku, pastilah kau bakal menjadi petani yang hidupnya tenang tenteram."
Siauw Pek kurang mengerti. "Tentang itu aku tak tahu," katanya.
"Ketika dahulu aku si tua masih merantau dalam dunia Sungai Telaga, aku pernah mendengar nama baik dari Pek Ho Bun," berkata pula slorang tua. "Kenapa kemudian dia telah dimusuhi oleh dunia persilatan hingga mendapatkan nasibnya sebagai sekarang ini?"
"Ayah gagah luar biasa," kata siauw Pek "jikalau dia tidak
dikepung oleh jago-jago kenamaan yang berkompeten, tidak nanti
Pek Ho Bun musnah dalam satu malam" Mata Kie Tong bersinar.
"Apa" Mereka berkomplotan" Jadinya mereka mengeroyok?"
"Ya, aku menyebutnya berkomplotan, sebab mereka bekerja sama. Duduk persoalannya, aku tidak ingat tepat lagi. Tatkala itu aku masih sangat kecil. Apa yang kutahu, ialah mereka datang di waktu tengah malam, tiba tiba api obor menyala nyala. dibarengi
dengan suara riuhnya penyerbuan itu. Aku dibawa lari ibu dengan
menggunakan sehelai kain untuk melibat tubuhku di punggungnya."
"Habis, dari mana kau tahu bahwa kawanan penyerbu itu adalah sembilan partai besar dan sembilan partai lainnya?"
"Inilah karena kemudian ayah bunda serta saudara saudariku menceritakan kepadaku, dan katanya di antara sekalian penyerang itu terdapat jago jago kelas satu. Pek Ho Bun mempunyai ada tiga puluh enam murid, mereka itu bersama sama seluruh Tjoh Kee Po yang terdiri dari beberapa ratus jiwa, telah terbinasakan semua, kecuali kami berlima..."
Tak dapat anak ini menahan kesedihan hati, air matanya keluar bercucuran-
"Akan tetapi," sambungnya, "sesudah menyingkirkan diri selama delapan tahun dan bertempur terus menerus beberapa ratus kali, pada akhirnya toh, keluargaku terbinasa juga. Dari beberapa ratus jiwa orang Pek Ho Bun, sekarang tinggal aku seorang, seorang bocah."
Wajah Kie Tong suram. Dia menarik napas panjang.
"Ya... sudahlah yang mati biarlah mati," ujarnya kemudian- "Selanjutnya adalah tugasmu untuk menuntut balas pada semua musuh musuhmu itu"
Siauw Pek menghela napas. "Hanya saja, loopee, niatku ada, tapi tenagaku." Kie Tong menggoyangkan tangannya, mencegahnya bicara terus.
"Kesembilan partai itu biasa mengagungkan diri sebagai partai
yang mengutamakan akan kejujuran dan keadilan, apa mungkin tak
ada satu jua di antaranya yang hendak membelai pihakmu?"
"Mereka semua telah melibatkan diri tidak ada satupun juga yang dapat diharap."
"Kesembilan partai besar itu dan kesembilan partai lainnya semua terdiri dari jago jagonya Rimba Persilatan yang berkenamaan, jikalau bukannya ayahmu melakukannya sesuatu yang hebat sekali, mungkinkah mereka itu sampai membasmi Pek Ho Bun hingga keakar akarnya."
Siauw Pek menghela napas pula.
"Di dalam hal itu, sebenarnya akupun merasa heran," katanya. "Pernah aku menanyakan ayahku..."
"Apa kata ayahmu itu?" Kie Tong memutus cerita itu.
"Ayah mengatakan kepadaku, bahwa pihak kesembilan partai besar itu serta kawan kawannya tidak mau memberi kesempatan kepada ayah menanyakan sesuatu. Ketika itu aku masih kecil sekali, aku belum mengerti apa apa, walaupun aku mengalami banyak pertempuran mati hidup, aku mengingatnya samar samar, aku tidak menyadari bahwa aku menjadi besar dalam perlarian-"
Muka Kie Tong memperlihatkan cahaya kemurkaan- Katanya sengit. "Kesembilan partai besar itu dan kawan kawannya sudah melakukan pembokongan, juga tak mau memberikan orang untuk meminta keterangan, kalau demikian adanya, nyatalah mereka yang bersalah"
" Kakak perempuankupun mengatakan demikian," berkata Siauw Pek menambahkan. "Mulanya aku menyangsikan kakakku, dan setelah terjadi peristiwa yang paling belakang ini, maka aku baru percaya"
"Bagaimana pendapatmu itu?"
"Sebab aku telah lihat sendiri, bagaimana musuh menyerang dan membinasakan keluargaku Mereka menyerang serentak dan mengeroyok. sampai ayah tak sempat bicara lagi" Kie Tong terdiam, tangannya mengelus janggutnya.
"Hm" ia memperdengarkan suara di hidung. "Sekarang, aku hendak bertanya padamu, nak. Andaikata kau sanggup membalas sakit hati ayah bundamu serta kakak kakakmu itu, untuk kau membangun pula Pek IHo Bun, kaummu itu, bagaimana?"
"Aku rasa itulah tidak mungkin" menjawab si bocah. "Walaupun seorang berani luar biasa, tak dapat dia menantang dunia. Maka itu, aku telah memikir, sebab tak sanggup aku menuntut balas, baiklah aku mati saja"
"Hus, kau mengigau" tegur si orang tua.
"Kau seorang anak kecil, mengapa memandang dirimu begini ringan, kau terlalu lemah, kau tahu?"
Suara si orang tua ini, tak biasanya, menggetar.
"Anak. mari dengar aku" dia tambahkan- "Dengar kataku. Umpama datang satu hari yang kau sanggup membangun pula Pek IHo Bun, untuk membalas sakit hati keluargamu, bagaimana tindakanmu nanti?" Siauw Pek menatap orang tua itu.
"Jikalau benar ada hari semacam itu," jawabnya, "paling dulu aku akan membuat penyelidikan yang seksama, guna mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Partai persilatan banyak jumlahnya, tapi mengapa orang justeru memusuhi Pek Ho Bun sendiri " Didalam dunia ini terdapat manusia tak terhitung banyaknya, tapi mengapa orang justeru memusuhi keluargaku ya, mengapa cuma ayahku yang dicari?" Kie Tong mengangguk.
"Kau benar" ujarnya. "Kalau demikian, tepat tindakanmu. Nah, andaikata kau berhasil membuat penyelidikan dan ternyata kesalahan ada pada ayahmu, bagaimana?"
"Jikalau itu sampai terjadi, aku akan membunuh diri" sahut Siauw Pek sungguh sungguh
"Dengan begitu aku akan mohon maaf kepada ayah bundaku almarhum karena akulah anak tak berbakti, yang tak sanggup membalaskan sakit hati ayah. Dengan begitu juga, kaum Pek Ho Bun kami tak bakal hidup pula..."
"Sebaliknya, jikalau ternyata ayahmu tidak salah?"
"Sakit hati ayah besar luar biasa, akan kucari orang, atau orang orang, yang benar benar bersalah, yang biang keladinya. Hutang darah mesti dibayar dengan darah. Akan aku sembahyangi roh ayah, untuk berjanji di depannya bahwa aku akan membangun pula partai kita"
"Kau benar, anak Memang, si biang keladi yang mesti dicari, yang tidak bersalah tak dapat diganggu. Dengan kata-katamu ini, anak nyata sudah bahwa untukmu ada pengharapan untuk membalas dendam" Siauw Pek bingung.
"Aku tak mengerti akan kata-katamu, loopee?" katanya.
"Hal sebenarnya sangat sederhana" kata si orang tua^ "kau cari seorang ahli silat yang benar benar lihay, kau berguru kepadanya, untuk mempelajari ilmu istimewa. Bukankah dengan begitu kau akan dapat penuhi pengharapanmu?"
"Tapi. loopee, sangat sukar mencari guru yang gagah begitu..." katanya, "Apa lagi sekarang setelah aku berada di dunia tertutup ini. Aku berhasil menyeberangi Seng Su Kio tanpa tergelincir mampus kedalam jurang, itu berarti aku hidup dari dalam kematian, apakah hal itu dapat terulang buat kedua kalinya" Loopee, baiklah loopee membiarkan aku cari kematianku..."
"Siapa bilang sukar mencari guru yang pandai?" bertanya orang tua itu. "Apa yang sulit jalan andaikata si guru tak sudi menerimamu
sebagai muridnya. Guru yang demikian itu benar berada jauh seperti di ujung langit, akan tetapi sebaliknya, dia berada dekat, didepan matamu"
Siauw Pek heran- Dia mementang kedua belah matanya, mengawasi tajam orang tua di hadapannya ini.
"Apakah orang tua itu loopee adanya?" tanyanya kemudian-Kie Tong tertawa lebar.
"Bagaimana, eh?" tanyanya, gembira. "Apakah kau merasa tak tepat untukku menerima kau sebagai muridku?"
"Aku percaya kepandaian loopee tidak lemah," jawab Siauw Pei. "Hanya untuk menentang orang orang gagah dari seluruh dunia, aku... aku kuatir..."
"Kau kuatirkan apa ?" tegaskan Kie Tong. "Jikalau kau orang tidak percaya, boleh kau coba"
Siauw Pek menlengak. ia menatap pula orang tua itu.
"Bailah, loopee, sedia aku menjadi muridmu," katanya akhirnya. Kemudian ia menjatuhkan diri, berlutut di depan orang tua itu buat memberi hormat sambil pay kui, berlutut berulang ulang.
Tapi Kie Tong menggoyangkan tangannya berulang ulang.
"Tahan dulu, tahan dulu..." cegahnya. "Aku belum memberikan kata-kataku kepadamu."
Siauw Pek terheran pula, kali ini ia terus menangis. "Oh loopee, tolonglah aku,^ pintanya.
"Sabar, anak. Kita harus berdamai perlahan lahan- Mari bangun, baiklah kau temani dahulu aku minum arak..."
"Aku tak bisa minum, loopee, aku kuatir aku akan menyia nyiakan kau..."
"Sekali mabuk. hilanglah seribu kesusahan hati" berkata slorang tua. "Kau tidak bisa minum tetapi apakah kau tidak dapat mabuk?"
"Kalau begitu baiklah, loopee. Aku bersedia mengiringi loopee, sebelum aku mabuk, tak akan kuberhenti..."
"Bagus, bagus" seru si orang tua. "Tapi ingat sebelum aku menerimamu sebagai muridku, kita adalah sahabat-sahabat, kau tidak usah berlaku sebagai orang murid, supaya selama kita minum, kau tidak terikat.Jikalau kau terikat kita tidak akan gembira"
Berkata begitu, orang tua ini mengulur tanagnnya, mencekal si bocah untuk dibangunkan-
"Duduklah" katanya. Terus dia menuangi dua cawan arak.
Katanya pula : "Mari kita habiskan cawan yang pertama ini "
Siauw Pek menurut tanpa ragu-ragu lagi Ia lihat orang tua itu sangat polos. Selagi mengangkat cawan, bau arak sudah menyerang hebat kepada hidungnya. Untuk meneguk itu, ia menutup rapat rapat kedua hidungnya. Dasar ia tidak biasa minum, secepat arak sampai didalam perutnya, ia merasakan perut itu panas sekali. si orang tua mengisi cawan yang kedua. "Bagaimana, anak rasanya arak ini?"
"Sedap" sahut Siauw Pek. Segera ia teguk pula cawan kedua itu. Hanya kali ini mukanya menjadi merah, isi perutnya bagaikan jungkir balik, sedangkan matanya terus kabur, Kle Tong di hadapannya tak tegas lagi dilihatnya.
Kie Tong tertawa terbahak bahak.
"Bagaimana, anak" Dapatkah kau minum pula?" ia terus menuangi cawan yang ketiga.
"Bisa... Bisa..." sahut Siauw Pek suaranya tak tegas lagi. Baru ia mengucap begitu, kepalanya teklok. sebab ia sudah mabuk betul- betul.
Si orang tua tertawa. Tiba-tiba ia melemparkan cawannya, terus ia bangkit berdiri, bertindak mundar-mandir diruang itu. Ia ternyata sedang berpikir keras. Pertama ia ingat tentang dirinya sendiri, lalu perihal bocah dihadapannya ini. Ia ingat mengapa ia menyeberangi Seng Su Kio, hingga ia jadi tinggal menyendiri didalam lembah Bu
Yu Kok. sekarang ia melihat Siauw Pek, ia merasa kasihan dan kagum. Bocah ini berkeberanian besar dan jujur serta tahu diri. Ia bagaikan berjodoh dengan bocah ini.
Masih Kie Tong mundar mandir, saban saban ia menoleh kepada siauw Pek. Agaknya ia bergulat dengan pikirannya sendiri. Beberapa saat kemudian, ia menepuk tangan keras keras.
"Ada" serunya. "Sekarang hendak aku lihat untung bagus dia" Mendadak ia lari keluar, kearah sumur, untuk mengambil cio-jie, benda berkhasiat yang telah ribuan tahun tumbuh didalam sumurnya itu. Begitu ia kembali, ia Cekoki barang itu ke mulutnya si anak muda.
Benar benar sio jie berkhasiat. Hanya sebentar Siauw Pek tersadar, mabuknya lenyap. Dia mengucak ucak kedua biji matanya. "Loopee, apa kita minum terus?" tanyanya. Ia ingat araknya.
Kie Tong tertawa riang. ia mengulur sebelah tangannya, untuk mengusap usap rambutnya bocah itu.
"Ya, minum, minum terus" sahutnya. "Tapi lebih dahulu kau harus dengar kata kataku" Ia hening sejenak. segera ia meneruskan- "Anak. tahukah kau kenapa aku situa tak suka menerima kau sebagai muridku?"
Mukanya Siauw Pek pucat dengan tiba-tiba. Ia kaget sekali.
"Mungkin disebabkan aku sangat dogol," jawabnya. "Tentulah karena aku tidak berbakat maka loopee tidak tertarik kepadaku..." Berulang ulang orang tua itu menggeleng kepala.
"Tak tepat terkaanmu itu," katanya. "Bakat sebagai kau, walaupun bukan yang paling bagus, tapi sudah sulit untuk memilih yang lain-" Siauw Pek mengerutkan alisnya.
"Habis?" tanyanya. "Mungkinkah itu disebabkan aku tidak kuat minum?"
Kie Tong tertawa terbahak bahak. "Makin jauh kau menerkanya, anak"
Tiba tiba orang tua ini berhenti tertawan, ia tidak tersenyum
pula. Sebaliknya ia memperlihatkan roman sungguh sungguh^
"Anak. tahukah kau maksudnya seseorang belajar ilmu silat ?" tanyanya. Anak muda itu melengak.
"Maksudnya itu berbeda-beda," ia menyahut. "Tentang aku..." Ia menghela nafas. "Aku hanya untuk menuntut balas ayah bundaku serta saudara-saudariku, ya, untuk semua anggota keluarga Pek Ho Bun Terang, itulah pembalasan untuk urusan pribadi, bukan untuk umum." Kie Tong menggoyang kepala, dia tertawa.
"Memang urusannya ialah urusan pribadi. Tapi ini termasuk soal si anak yang berbakti, dan soal anak berbakti termasuk juga dalam lingkungan kesetiaan dan kegagalan-Karena itu, mana mungkin aku tidak menerima kau sebagai murid ?" Siauw Pek heran-
"Aku bingung," katanya terus terang.
"Memang sukar buatmu untuk mengerti segera," kata orang tua itu, tertawa. Ia mengelus pula janggutnya. "Baiklah aku jelaskan dahulu kepada kau. Dahulu namaku terkenal karena ilmu pedangku yang disebut "ong Too Kiu Kiam". Telah banyak aku menggempur jago jago dari Hek Too dan Pek Too Kalangan Hitam dan Kalangan Putih. Sampai sebegitu jauh, belum pernah aku menemui lawan yang setimpal, belum pernah aku kalah."
siauw Pek mengerti. "Ong Too Kiu Kiam", "Sembilan jurus Pedang Keadilan-, sama dengan "Kuan Kun It Kiam" "Pedang Tunggal Dunia". Katanya dalam hati: "Kuan Bun It Kiam tersohor dan dikagumi, jikalau dia sampai kena terkalahkan, itulah kecewa sekali."
Kie Tong membiarkannya terdiam, ia hanya menambahkan : "Walaupun aku tidak pernah dikalahkan, seumurku, belum pernah dengan pedangku aku melukai jiwa orang. inilah sebabnya kenapa aku peroleh julukan ong Too Kiu Kiam itu."
Hati siauw Pek tertarik. Segera ia memberikan janjinya: "Jikalau loopee sudi memberi pelajaran kepadaku, setelah pelajaranku
sempurna nanti, kecuali membinasakan si biang keladi, tak akan aku membuat cemar namanya ong Too Kiu Kiam " Kie Tong menenggak araknya.
"Kata-katamu ini tidak salah." katanya. "Sekarang aku ingin menanyaimu, andaikata kau belajar dari aku, lalu kau tidak berhasil mencari dan membinasakan musuh besarmu si biang keladi itu, tidakkah sia-sia belaka kau belajar silat sepuluh tahun ?"
Siauw Pek mengangkat kepalanya. Ia sungguh tidak mengerti, kata-kata orang tua ini tak tentu ujung pangkalnya.
"Muridmu tolol sekali loopee..." katanya. Tapi si orang tua memutus :
"Kau murid siapakah ?" tegurnya, romannya gusar. Tapi hanya sedetik, terus dia tertawa. Diapun menambahkan : "Anak. walaupun aku tidak terima kau sebagai murid, dapat aku memberi petunjuk padamu, suatu jalan terang. Inilah soal sukar, yang bergantung hanya kepada untung bagusmu sendiri "
"Biar bagaimana, loopee, aku sangat bersyukur kepada loopee," kata Siauw Pek. Ia bingung tetapi tidak lupa untuk tetap berlaku hormat. Kie Tong menenggak pula cawannya.
"Tak usah kau bersyukur kepadaku," katanya. "Bukankah kau masih ingat bahwa aku pernah memberitahukan kau bahwa didalam lembah ini masih ada seseorang yang lain" Apakah kau tahu nama orang itu ?" Siauw Pek menggoyang kepala.
"Loopee belum pernah menyebutnya, bagaimana aku tahu ?" katanya tersenyum.
"Dialah seorang she Kiang dan namanya Go" orang tua itu memberitahukan. "Dialah yang dijuluki "Huan Oh It Too" si Golok Tunggal Dunia"
seorang diri, Siauw Pek menggumam : "Kian Kun It Kiam Huan oh It Too... Kalau mendengar julukan itu, loopee, dia agaknya sama terkenalnya sebagai loopee sendiri."
"Begitulah sedianya. Dahulu orang menyebut kami berdua Lam
Pek Djie Seng, Dua Nabi Selatan dan Utara. Kami merasa malu
sendiri, kami tidak berani terima julukan itu. Nabi " Itulah hebat "
Siauw Pek menjadi tertarik hati. Akhirnya ia masgul sendirinya.
"Ayahku menggunakan golok." katanya kemudian, "tetapi jago tua itu mendapat nama ahli golok di dunia, pastilah ilmu goloknya tak ada lawan."
"Memang benar ahli. Aku dipuji sebagai ahli pedang, itulah dusta belaka, tetapi dia, dialah ahli golok asli " Benar benar Siauw Pek kebingungan-
"Aku tak mengerti," katanya. Kie Tong tertawa.
"Jikalau kau mengerti, tak ada gunanya aku ngomel lagi," katanya. Terus ia berpikir :"sekarang masih siang, minumlah lagi, kalau nanti kau mabuk, akan kubangunkan "
Siauw Pek menurut, diteguknya araknya. Kie Tong puas melihat tingkah bocah itu. Dia tertawa.
"Sia-sia belaka aku disebut sebagai jago pedang," katanya, "sedang ilmu pedangku cuma sembilan jurus saja, si siluman she Kiang itu disebut jago golok tunggal, itu memang benar. Ilmu goloknya hanya satu jurus "
Didalam hatinya, Siauw Pek tertawa. Kembali orang tua ini
bagaikan mengigau, bicaranya tidak karuan- Pikirnya pula : "Dia
menyebut sebatang pedang, sebatang golok, apakah artinya itu ?" Berpikir begitu, bocah ini tertawa.
"Ilmu golok jago tua itu cuma sejurus, tentunya jurus itu dapat dirubah-rubah?" katanya.
"Dapat dirubah rubah ?" menegaskan Kie Tong heran- "Kau maksudkan berapakah lawannya?"
"Umpamanya musuh hanya seorang. Bagaimana kalau musuh itu hebat luar biasa?"
"Buat kawanku itu, semua sama saja, dia cukup dengan satujurusnya itu. Inilah sebab : Kalau goloknya tidak dihunus, tidak digunakan, tidak menjadi soal, tapi satu kali dia menghunus dan menggunakannya, maka tentulah lawannya terluka. siapa terluka, dia mesti terbinasa. Itulah sebabnya dia disebut juga "Pa Too It Too", Golok Kekerasan- atau Toan Beng Tjie Too, "Golok memutuskan nyawa". Pasti itulah sebuah nama buruk. Akan tetapi walaupun Siang Go tak dapat diajak bicara, dia sebenarnya bukan seorang yang buruk."
siauw Pek heran hingga dia menggumam pula. Gau Too Siu Kiam... Pa Too It Too... ong Too Tjee Kiam... Toan Beng Too..." Tiba tiba ia ingat sesuatu, lantas ia bertanya :
"Andaikata ong Too Tjie Kiam bertemu dengan Toan Beng Tjie Too, bagaimanakah kesudahannya ?"
Kie Tong melengak. Ia heran atas pertanyaan yang tidak
disangka-sangka itu. Sebentar kemudian iapun tertawa lebar.
"Aku tidak berani mencoba pedangku terhadap golok itu," ia mengakui terus terang, "dan Siang Go juga tidak berani memakai goloknya buat menguji pedangku. Dia tidak berani mempermainkan nama besarnya itu, kami berdua tidak bermusuhan satu sama lain, diantara kami siapapun tidak berani mencari kesulitan sendiri. Begitulah maka kami, yang satu pergi ke Selatan, yang lain ke Utara. Satu sama lain, kami saling menjauhkan diri." Siauw Pek mengerti sekarang.
"Pantas mereka berdua tidak saling mengunjungi," pikirnya. Kie Tong meneguk araknya.
"Anak." katanya, "sekarang tentulah kau mengerti maksudku, bukan ?"
"Bukankah loopee maksudkan supaya aku pergi cari Siang Loopee untuk minta diajarkan ilmu golok ?"
Kie Tong mengangguk. "Sekalipun dunia memusuhkan kau," katanya, " asal kau mempelajari kepandaianku asal kau sedikit cerdas saja, kau pasti akan dapat melindungi jiwamu. Sebaliknya, jikalau kau memikir menuntut balas sakit hatimu, supaya bisa kau membunuh sipenjahat biang keladi, tak dapat tidak. kau mesti dapatkan ilmu golok si orang she Siang itu " Siauw Pek diam, otaknya bekerja.
" Keras niatku membalas sakit hati, ingin aku belajar silat golok pada Siang Loopee itu." katanya, "akan tetapi aku telah bertemu lebih dahulu dengan loopee, maka aku..." Dengan cepat Kie Tong menggoyang-goyangkan tangannya.
"Tidak. tidak " katanya. "Apakah kau sangka orang she siang itu dapat diajak bicara seperti aku" Jangankan kau telah pelajari ilmu pedangku, sekalipun belum, belum pasti dia suka menerima kau." Dia berhenti sejenak "Lagipula..."
Siauw Pek tidak mengerti, kenapa orang beragu ragu " "Apa, loopee?" ia bertanya.
Kie Tong mengawasi, dia berkata dengan sungguh-sungguh : "Kau baru mengalami kesusahanmu ini, niatmu menuntut balas sangat keras, hatimu sedang marah, andaikata aku mengajari kau
silat pedang, belum tentu kau dapat memahaminya sampai
sempurna. Tegasnya, kau tidak bakal mendapati kemurniannya."
Siauw Pek cerdas, dia percaya kata-kata si jago tua ini. Katanya didalam hati : "Loopee ini baik sekali terhadapku, dia pasti benar- benar mau mengabari aku ilmu pedang. Justru aku ingin lekas-lekas membalas sakit hati, baiklah aku belajar dulu pada Siang Loopee, sesudah itu, baru aku minta pelajaran dari dia ini..." Karena ini, selain girang, Siauw Pek pun bersyukur pada si jago tua.
"Baiklah, loopee," katanya. "Menurut petunjukmu, aku akan minta belajar dari Siang Loopee. Dimanakah tempat tinggalnya dan bagaimana caranya supaya aku dapat memintanya mengajari aku ?" Kie Tong tertawa.
"Siluman tua she Siang itu tinggal didalam lembah," ia memberi tahu. "Tempat itu tidak mengenal sinar matahari, sebaliknya, segala
binatang berbisa berada disekitarnya, sungguh berbahaya.
Sebenarnya aku kuatir kau tidak dapat tiba disana..." -ooo00dw00ooo-
JILID 4 Siauw pek mengangkat kepalanya.
"Jangan kuatir, loopee. pasti dapat aku tiba di sana" katanya sungguh sungguh. "Aku mengikuti ayah bundaku sejak umur tujuh
tahun, selama delapan tahun aku hidup dalam perantauan yang
penuh bahaya, maka baru segala binatang berbisa, berubah "
Menyebut penderitaannya delapan tahun itu, Siauw Pek merasa hatinya nyeri. Wajahnya tampak berubah.
Kie Tong melihat perubahan air muka anak itu, dapat menerka sebab musababnya. diam diam ia terharu. Ia tepuk bahu anak itu dan berkata : "Anak aku bisa memahamimu. Janganlah kau terlalu berduka, jangan sembarangan menuruti suara hatimu. Ingatlah apa yang kau ucapkan tadi."
siauw Pek tercengang, tapi segera dia sadar, maka lekas lekas dia berkata : "Aku ingat baik baik, lopee. Nanti, jiwaku aku menuntut balas. aku tidak akan bunuh seorang jua kecuali musuh besarku "
Kie Tong berlega hati mendengar janji itu, ia tertawa nyaring dan lama.
"Anak yang baik, mari kau makan, setelah itu, pergilah mencari orang she Siang itu," katanya.
Siauw Pek menurut, ia lalu bersantap.
Setelah selesai makan, Kie Tong mengajaknya keluar dari gubuknya.
" Lihatlah, dua bukit yang berdiri berendeng itu" katanya sambil menunjuk kearah utara. Di situ ada sebuah lembah yang sempit, disitu ada banyak ular berbisa atau serangga lain lainnya siapa kena
dipagut atau diantuk. dia pasti akan mati seketika. Ancaman lainnya
ialah dari hawa yang beracun. Nah jalanlah disana, tetapi hati-hati "
Siauw Pek mengangguk. ia sangat berterima kasih, dengan
menekuk kedua kakinya, ia berlutut kepada orang tua itu.
"Terima kasih loopee," katanya, setelah itu iapun bangkit dan lari kearah sepasang bukit itu.
Lembah Bu Yu Kok luas sekali, ketika si anak muda sampai dimuka lembah diutara itu, matahari telah menyinari seluruhnya. Ia memandang langsung kelembah yang ditunjukkan orang tua itu, benarlah suatu lembah yang sempit sekali, didalamnya gelap dengan pepohonan lebat, sudah banyak pohon rotannya, rumputnyapun rumbuh subur dan tak teratur. Hingga disitu tak terlihat suatu jalan-
"Benar sekali kata Kie loopee, lembah ini sangat menakutkan," kata sianak muda didalam hati. Tapi ia tidak takut atau jeri, kesengsaraan selama delapan tahun membuatnya jadi berkeberanian besar, bahkan dengan semangat penuh dia lalu bertindak kearah lembah itu.
Kie Tong tadi mengatakan, dilembah sempit itu ada ular berbisa. Inilah yang segera dibuktikan oleh Siauw Pek. Ia menghunus kim kiam buat membuka jalan- Ular itu kaget dan kabur.
Dengan berhati-hati, bocah ini berjalan terus .Jalanan sukar atau tidak. ia tak memperdulikannya. Dengan perlahan ia mulai masuk kedalam. Tanpa merasa hatinya gentar. makin dalam, lembah makin menakutkan- Sebab di sebelah dalam itu lembah menjadi gelap sekali. Disitu tak nampak sinar matahari. Bahkan ada gangguan lainnya, yaitu dari banyak macam serangga yang beterbangan
hingga tak henti-hentinya, binatang itu musti disampok pergi pulang untuk mengusir atau menghalaunya.
Dipermulaan jalan kering, selewatnya beberapa puluh tombak. tanah mulai basah dan berlumpur. Disitu juga terdapat ugat- ugatnya pelbagai macam binatang beracun, ada diantaranya yang tidak dikenalnya.
Dengan tangan kanan memegang pedangnya dan tangan kiri mengebut- ngebut, putera Tjoh Kam Pek ini berjalan terus. Ia memasang mata tajam-tajam. Ia berlaku teliti, tak mau ia terjerumus kedalam lumpur yang dalam itu. Ada kalang ia berlompat dari satu pohon kepohon yang lain-
Berjalan lebih jauh, Siauw Pek telah bermandikan peluh. Satu kali ia kaget sekali. Tahu tahu kakinya telah melebas kedengkulnya. Sukur didepannya terdapat secabang pohon merakar. Ia mengulur sebelah tangannya memegang cabang pohon itu, dan ia kaget karena tangannya terasa nyeri, untuk kedua kakinya sudah terangkat naik. Maka ia menikam kearah pohon itu, buat menancapkan pedangnya, guna mempertahankan diri.
"Ser" ia mendengar satu suara, yang berulang hingga dua kali. Ketika ia menoleh, dilihatnya dua bayangan berkelebat. Ia kaget, peluh dinginnya keluar. Sebab itulah dua ekor ular, yang jatuh dari atas pohon, jatuh dibelakangnya sejauh satu kaki.
Setelah mengawasi, Siauw Pek melihat kedua ular itu tidak berkutik pula. Maka diapun bergerak untuk menolong dirinya melepaskan diri dari dalam lumpur. Ia mencekam batang pohon didepannya. Tapi mendadak ia merasai pinggangnya tercekal keras. Sebab tahu-tahu pinggangnya telah terkempit, terus orang membawanya melesat kesebelah kanan
Tak kepalang terkejutnya anak muda ini. Setelah sadar, ia melihat kepada orang yang mengempitnya. Samar-samar ia melihat Kie Tong. "Loopee..." katanya tertahan-Si orang tua menaruh kakinya.
"Lihat itu hawa putih dibawah pohon katu itu," katanya sambil
menunjuk. " Itulah hawa yang paling jahat. Seharusnya orang
menyingkir dari situ, kau sebaliknya hendak menghampirinya. "
Siauw Pek malu kepada diri sendiri, mukanya menjadi merah. "Hawa putih apa, loopee?" tanyanya. "Aku tidak melihatnya."
"oh, aku lupa " seru slorang tua. "Tempat terlalu gelap. matamu tidak dapat melihatnya."
"Loopee, bagaimana kau dapat datang kemari?" tanya siauw Pek heran. Ia tidak tahu bahwa orang telah menguntitnya. Kie Tong tertawa.
"Mana hatiku lega membiarkan kau berjalan seorang diri ?" katanya. "Bagaimana dengan jeriji tanganmu ?"
siauw Pek terperanjat, baru ia teringat jeriji tangannya yang nyeri tadi, iapun merasa matanya panas, air matanya meleleh dengan mendadak. Ia mengangkat tangan kirinya, mengacungkan jerijinya. Ternyata empat kukunya sudah terbalik dan rasanya nyeri bukan main-
"Sedikitpun tak nyeri," ia menjawab, tertawa. Kie Tong menghela napas.
"Tahan nyerinya," ia berkata. Lalu ia menggerakkan kakinya, untuk menyingkir dari tempat itu. sedang tubuh si anak muda tetap dikempitnya.
Lembah sempit dan berbahaya tetapi bagi jago tua ini semua itu tidak ada artinya, dia dapat melaluinya dengan bebas. Beberapa saat kemudian, dia menghentikan larinya, lalu melepaskan tubuh si anak muda
"Disebelah depan itu, bahaya sudah tidak ada lagi," ia bisiki si bocah itu. "Jikalau sebentar kau dengan siluman she siang itu, tidak ada halangan jikalau kau bicara jelek dari hal diriku. Andaikata kau ditanya, bagaimana caranya kau datang ketempatnya itu, katakan bahwa kau datang sendiri, sekali-kali jangan menyebut-nyebut aku yang menunjukkan atau menolongmu "
Habis memesan begitu, tanpa menanti jawaban, Kie Tong segera berlari pergi.
siauw Pek heran beserta kagum. Iapun lalu merasa kesepian, tapi hanya sejenak. ia telah bisa menenangkan dirinya. Lekas lekas ia menyusut bersih air matanya. Dengan bersemangat ia bertindak ke depan. Ia masih menghunus pedangnya.
Benar kata si orang tua, berjalan lebih jauh Siauw Pek tidak menemui sesuatu rintangan lagi. Ia berjalan ditanah datar dimana tidak ada embal atau lumpur lagi. Pepohonan juga mulai menjarang, hingga mudah untuk mencari jalan.
Kedua tebing bukit tinggi sekali, hingga sinar matahari teraling karenanya, pantas, walaupun siang hari, lembah gelap bagaikan malam.
Sekarang Siauw Pek menyimpan pedangnya, terutama untuk mengunjukkan hormatnya.
Berjalan lagi beberapa lama, Siauw Pek kemudian melihat sebuah gua ditembokan bukit sebelah kiri, hanya gua itu berada tinggi kira2 sepuluh tombak. Ia menduga itulah guanya Siang Go tempat tujuannya, maka tanpa bersangsi, ia berlompat naik. Dengan beberapa kali loncatan tiba sudah ia di mulut gua.
Dari mukanya, gua itu tampak gelap sekali, hingga tak ketahuan berapa dalamnya. Tentu, karenanya susah dipastikan bahwa Hoan Uh It Too pun berada didalamnya.
siauw Pek ingat kata-kata Kie Tong : "Dia bertabiat aneh, tak mudah bicara dengannya. karena itu, baiklah aku berlaku hormat, seandainya ia tidak menyukai aku, ia pasti tak akan gusar..."
Habis berpikir begitu, Siauw Pek menghadap pintu gua untuk memberi hormat ia berkata
"Lootjianpwee, Tjoh Siauw Pek yang muda murid Pek Ho Bun datang berkunjung memohon menghadap kepada Lootjianpwee" Ia terus menekuk lutut.
Habis berkata, anak muda ini berdiam. Ia menanti jawaban. Sekian lama ia menunggu, tidak juga ia mendapat sambutan- Disaat ia hendak membuka mulut buat kedua kalinya, tiba-tiba ia mendengar satu suara yang perlahan : "Eh Kie Tong, kau main hantu hantuan apa" Kau telah datang, kenapa kau tidak terus masuk kemari" mungkinkah kau menghendaki Siang Go keluar menyambutmu?"
Suara itu tegas. siauw Pek melengak sejenak lalu ia berkata nyaring : "Lootjianpwee Kie Lootjianpwee tidak ada disini"
Suara dari dalam itu terdengar pula: "Jikalau tua bangka itu sudah pergi, nah, kau masuklah"
"Terima kasih, lootjianpwee," kata Siauw Pek yang terus bangkit, bertindak masuk kedalam gua. Sesudah jalan beberapa tombak. ia menjadi heran sekali. Gua gelap hingga ia tak dapat melihat lima jari tangannya. Katanya didalam hati: "Benar aneh lootjianpwee ini
Lembah Bu Yu Kok demikian luas, apa disana tak dapat dua orang
tinggal bersama" Kenapa dia mencil sendirian didalam gua ini?" "Belok kekanan" tiba-tiba terdengar suara dari dalam.


Pedang Golok Yang Menggetarkan Pedang Penakluk Golok Pembasmi Ka Thian Kiam Coat To Thian Kiam Coat To Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Siauw Pek segera menghentikan tindakannya. Ia tahu, suara itu ialah petunjuk untuknya. Ia segera meraba kedepan, hingga ia memegang tembok yang dingin seperti es, yang licin sekali. Lekas- lekas ia membelok ke kanan-
"Berhenti" demikian suara tadi terdengar pula setelah sianak muda jalan lagi beberapa tombak.
Sekarang Siauw Pek mendengar tegas dari arah mana datangnya suara itu. Ia menghentikan tindakannya. Ia segera berkata: " Lootjianpwee, aku yang muda, Tjoh Siauw Pek, memujikan kesehatan lootjianpwee"
" Kenapa, eh?" tanya suara dari dalam itu. Dia agaknya tak mengerti.
Siauw Pek tercengang. Pertanyaan itu luar biasa. Bagaimana harus menjawabnya"
Nada suara itu tidak keras, tidak luar biasa, akan tetapi menurut
rasa orang yang menerimanya, itulah pertanda penolakan-
Sebelum sianak muda tahu bagaimana harus menjawab, suara didalam itu terdengar pula: " Kenapa kau bisa menyeberangi Seng Su Kio Bagaimanakah caranya?"
"Aku yang rendah tak tahu caranya," sahut Siauw Pek. "Aku jalan sejalannya saja..."
"oh, apakah sang gunung telah berganti rupa?" kata orang itu, nadanya heran- "Mana mungkin kejadian serupa ini?" Dia berhenti sebentar lantas ia menanya pula, "Apakah kau jalan seorang diri memasuki lembah sempit ini?"
Siauw Pek melongo sejenak. Untuk sejenak itu, pikirnya bergulat sendirinya. Akhirnya, tak berani ia mendusta.
"Sebenarnya aku yang muda diantarkan oleh Kie lootjianpwee," sahutnya. "Aku yang muda" ialah "boanpwee." suatu sebutan merendah.
"oh begitu?" kata suara itu. "Kenapa dia begitu baik hati terhadapmu" Ada urusan apa dia mengantarkan kau datang kemari?"
"Biar bagaimana, baiklah aku bicara terus terang," pikir Siauw Pek. Maka ia memberi hormat selagi ia menjawab: "Boanpwee adalah seorang yang sangat tidak beruntung, serumah tanggaku telah mati terbinasakan, hingga tinggal boanpwee sebatang kara. Kemarin boanpwee lancang memasuki wilayah Seng Su Kio ini secara kebetulan boanpwee bertemu dengan Kie lootjianpwee. orang tua itu baik sekali, dia telah menunjukkan aku datang kemari untuk boanpwee mengunjuk hormat kepada lootjianpwee." orang didalam itu tertawa dingin.
"Sungguh baik tua bangka she Kie itu" demikian katanya. "Sekarang majulah tiga tindak, supaya aku dapat memandang wajahmu"
Siauw Pek menyahut "ya", terus kakinya diangkat. Baru ia melangkahkan tindakannya yang ketiga, mendadak ia merasa kaki itu ada yang melibat. Ia kaget sekali. Ia ingat akan lilitan ular. Hampir ia menghunus pedangnya, tapi lekas membatalkannya. Ia ingat: "Dengan menghunus pedang, aku berlaku tidak hormat terhadap tuan rumahku ini."
Justru itu ia mendengar pula suara yang dingin: "Apakah tua bangka she Kie itu menyuruh kau datang kemari untuk kau belajar ilmu golok dariku?"
"Dengan sebenarnya boanpwee berniat begitu," sahut Siauw Pek. "Boangpwee mohon belas kasihan lootjianpwee..."
"Kau memiliki tulang-tulang yang baik," berkata Siang Go. "Tak heran tua bangka she Kie itu tertarik hatinya olehmu" Dia berhenti sedetik. Ketika dia berkata pula, suaranya berubah menjadi sabar dan ramah, katanya: "Aku telah cacat jangan kata buat menyeberangi Seng Su Kio buat meninggalkan gua ini saja aku tidak sanggup,.." Mendengar itu, sendirinya muncul kesan baik dari Siauw Pek yang hatinya mulus. "Bagaimana jikalau boanpwee menggendong lootjianpwee?" katanya. Mendadak slorang tua tertawa tawar-
"Seumurku, tak pernah aku menerima budi orang" demikian suaranya yang kaku. "Kau berusia muda, keberanianmu nyatanya besar sekali cara bagaimana kau berani bicara begini rupa terhadap aku slorang tua?" Siauw Pek heran, hatinya bercekan
"Aku toh bermaksud baik" Kau tak sudi menerima, ya, sudah saja..." pikirnya.
Kembali terdengar suaranya Siang Go. "Oh, bocah yang baik Apakah kau mencaci aku di dalam hatimu?"
Siauw Pek kaget sekali. Tak disangkanya orang dapat menerka hatinya.
"Dengan sebenarnya boanpwee bermaksud baik, lootjianpwee," katanya. "Jikalau lootjianpwee tidak suka menerima tawaranku ini, ya, apa boleh buat..." Mendadak Siang Go tertawa terbahak.
"oh, anak yang berhati keras" katanya.Jikalau kau dapat mencaci aku pula didalam hatimu itulah terlebih baik lagi" Siauw Pek heran- Orang ini benar-benar aneh.
"Lootjianpwee, maafkan ketololan boanpwee" katanya. "Benar benar aku tidak mengerti apa yang lootjianpwee katakan."
Selagi ia berkata begitu, hati anak muda ini lega. Tanpa terasa, libatan pada kakinya terlepas sendiri.
" Ketika si tua bangka she Kie menyuruh kau datang kemari, apakah dia tidak mengatakan bahwa aku mempunyai hanya sebuah golok, satu jurus?" Siang Go tanya kemudian
"Meskipun cuma satu, lootjianpwee, tetapi perubahannya banyak sekali." sahut si bocah. "Didalam dunia ini tidak ada lawannya lagi." orang tua itu tertawa dingin.
"Usia mu masih begini muda tetapi kau berani mengangkat tinggi tinggi topiku" katanya. "Hm Kau harus ketahui, aku beda daripada si tua bangka she Kie itu Aku tak kena diangkat angkat..."
Di mulut Siang Go mengatakan demikian, hatinya sebenarnya puas sekali, ia batuk batuk dua kali, lalu ia berkata pula: " Di dalam dunia, ilmu silat ada banyak rupanya, ada juga yang lihay luar biasa, akan tetapi, tidak ada yang hanya dengan satu jurus dapat membuat orang tunduk Tua bangka she Kie itu lihay, aku tak dapat menyamai dia. Lihat saja, dia dapat menciptakan ilmu pedang sembilan jurus. sedangkan aku, aku cuma satu jurus golok."
"Tapi Kie lootjianpwee telah memberitahukan aku, lootjianpwee," kata Siauw Pek " walaupun ilmu golok lootjianpwee hanya satu jurus, ilmu itu sudah menjagoi dikolong langit ini, tak ada orang yang dapat melawannya, maka dia tidak perlu ada jurusnya yang kedua."
"ong Kiam Pa Too. Masing masing ada keistimewaannya sendiri " kata Siang Go. Dia menyebut "ong Kiam" "Raja Pedang" dan "Pa Too" Jago Golok". "Meskipun di antara kami ada yang memikir buat saling menguji, tetapi toh tidak ada yang berani melaksanakan pikirannya itu, tak ada yang berani menempuh bahaya. Karena itu kami sama sama berdiri tegak di dalam dunia Sungai Telaga, sama sama memperoleh nama dalam kalangan Rimba Persilatan- Kami tidak tahu, kami musuh satu dengan lain atau saling bersahabat. Terlihatnya saja kami saling bermusuhan, buktinya kamilah sahabat sahabat selama beberapa puluh tahun. Aku tidak mau dia melakukan sesuatu yang dapat mengangkat namanya lebih jauh, dia juga demikian terhadapku. Kami berdua bersama sama berdiri tegak. tetapi juga, kami berdua saling menjauhkan diri. Di ujung pedangnya si tua bangka she Kie tidak ada kematian, di ujung golokku tidak ada kehidupan"
"Sesungguhnya, lootjianpwee, Kie lootjianpwee sangat menghormati lootjianpwee," kata Siauw Pek.
"Tak sudi aku kena didustai orang she Kie itu" kata Siang Go, dingin. "Mengenai ilmu pedang, tak suka aku membiarkannya
mendapat nama terus menerus didalam dunia ini, sedangkan
mengenai ilmu golokku, aku ingin membawanya ke liang kubur."
Kembali Siauw Pek menginsafi benarnya kata kata Kie Tong bahwa Siang Go aneh sekali. Karena ini ia tidak berani sembarangan bicara. Selagi jago tua itu berkata demikian, ia berdiam saja.
"Adalah Siang Go, yang menambahkan kata katanya sendiri itu. Jikalau ada orang yang kedua yang dapat menyeberangi Seng Su Kio, yang memasuki lembah Bu Yu Kok ini, tak perduli dia pria atau wanita, tua atau muda, pasti aku terima dia sebagai murid, untuk aku mewariskan ilmu golokku kepadanya, supaya Pa Too dan ong Kiam tetap bersama sama terkenalnya, maka sayang sekali, sekarang ini cuma kau seorang yang dapat sampai di sini..."
Siauw Pek mendengarkan, ia terus membungkam. Ia masih tidak tahu bagaimana harus menjawab si orang tua yang aneh itu. Dia mudah gembira dan murka
Siang Go menghela nafas panjang. Lagi lagi dia mengoceh seorang diri. "Rupa rupanya satu jurus ilmu golokku itu harus diwariskan kepadamu..."
Dasar ia cerdas sekali Siauw Pek tersadar dengan tiba tiba. Segera ia menjatuhkan diri, menekuk lutut didepan orang tua itu, guna memberi hormat. "Terima kasih, lootjianpwee" katanya sambil terus mendekam.
Mendadak terdengar pula suara dingin dari orang tua itu. "Ilmu golokku ini cuma satu jurus akan tetapi di dalamnya tercakup pikiran, kegesitan tubuh dan tangan dan suasana sewaktu waktu. Ilmu golokku ini beda sekali dengan ilmu pedang si tua bangka she Kie Dan kau, walaupun tulang tulangmu bagus, serta berbakat sempurna untuk belajar silat, tetapi di dalam pikiran dan tabiat, kau bukanlah calon muridku " Siauw Pek kaget sekali. Kembali si tua bersikap aneh.
"Sungguh lihay orang tua itu," pikirnya. "Gua begini gelap gulita, aku hanya bisa melihat tak lebih dari tiga kaki. tetapi aneh, dia justru dapat melihat tulang dan wajahku Sungguh hebat tenaga dalamnya " Di dalam hati ia berpikir demikian, di mulut dia lekas berkata : " Lootjianpwee, tolonglah mengasihani boanpwee. Hatiku ini menanggung sakit hati yang sangat dalam..."
"Apa?" memotong Siang Go, suaranya bernada gembira. "Hatimu penuh dengan dendam kesumat dan penawaran yang sangat hebat?" Siauw Pek melongo. Kembali ia heran-
"Walaupun demikian," ia lekas berkata, "tak nanti aku sembarang menggunakan ilmu golok lootjianpwee..."
"cukup, tak usah kau bicara lebih jauh," jago tua itu memotong. "Kau bertulang baik, bakatmu bagus, kaulah orang yang cocok buat menjadi murid si tua bangka she Kie, maka seharusnya dialah yang menerima kau sebagai muridnya. Kalau bagiku, kau kekurangan syaratnya, kau kelebihan budi pekerti halus, maka jikalau kau belajar ilmu golokku, sukar bagimu mencapai kesempurnaan "
Siauw Pek heran. "oh, kalau begitu, buat mempelajari ilmu goloknya, orang mesti berhati kejam..." pikirnya.
Siang GO meneruskan kata katanya. "Ilmu pedang memerlukan ketenangan untuk mengekang kegesitan, dia meminjam tenaga lawan guna menolak serangan lawan- Dia garang tetapi dia tidak bengis halus tetapi dia tidak lemah, sekalipun kalau dia kena dikurung dengan tenang dia dapat melayani musuh musuhnya. Tak demikian dengan golokku Golokku telengas tak ada bandingannya, sekali golokku digerakkan untuk menyerang, pasti lawan terluka binasa. Ilmuku memerlukan gerakan sejenak, bergeraknya bagaikan gelombang dahsyat yang tak dapat dirintangi, maka itu, jikalau orang berbudi pekerti luhur yang hatinya lunak halus sukar baginya mendapati kesempurnaan ilmuku, sulit biarpun dia berbakat baik sekali."
"Tapi aku sangat membenci musuh-musuhku loocianpwee," kata Siauw Pek, "mungkin aku tak akan menyia-nyiakan pengharapan locianpwe." Perlahan-lahan, Siang Go menarik napas.
"Aku telah salah omong menyatakan suka menerima kau sebagai muridku," katanya, "aku tak akan menyesal, tidak nanti aku tarik pulang kata-kataku itu. Hanya kau, kau kelak akan berhasil mewariskan ilmuku dengan sempurna atau tidak- itu terserah kepada untung bagusmu "
Kembali Siauw Pek berlutut dan menunduk. "Terima kasih, looelanpwe," katanya.
"Ilmu golokku mengutamakan tenaga mata," kata Siang Go kemudian, "maka mulai sekarang kau perlu melatih diri dalam ilmu tenaga dalam, gua menguatkan semangatmu, menambah kekuatan matamu."
"Terima kasih loocianpwee," kata Siauw Pek yang girang luar biasa. Sementara itu, ia merasai nyeri kembali pada empat jari tangannya, yang luka kukunya. Tadi perhatiannya ditujukan pada soalnya, rasa nyeri itu tidak terasa, tidak demikian sekarang. Bahkan
ia merasa sangat sakit. Tetapi ia berhati keras, dengan menguatkan hati ia menahannya tanpa merintih.
"sekarang kau boleh mulai," berkata si guru yang terus membacakan ilmu tenaga dalam itu, untuk diikuti simurid dan menghafalkannya.
Siauw Pek mengikuti dengan seksama, setelah dia ingat semuanya, gurunya terus membungkam. Dan tinggallah ia sendiri, yang menghafal tiada berhentinya. Ia memusatkan perhatiannya, hingga ia melupakan tangannya yang sakit itu.
Tak sulit bagi anak muda ini menghafal dengan lancar, berbareng
dengan itu, ia duduk tenang sambil meluruskan jalan napasnya.
Entah berapa lama telah lewat, selagi murid ini masih menghafal, mendadak ia mendengar suara dingin gurunya : "Sambutlah ini, dan makanlah Ini pelajaran pertama yang paling penting, paling sedikitnya satu bulan, kau tak boleh meninggalkan gua ini"
Habis suara itu, siauw Pek mendengar suara angin yang dibawa oleh sesuatu benda yang bergumpal hitam: Ia heran, tapi ia mengangkat tangannya, untuk menyambuti. Hanya sayang, karena gelap gulita, ia tidak bisa melihat benda itu, dan dadanya telah kena terserang.
Kembali ia kaget. Katanya dalam hati " Lagi-lagi aku mendapati tabiat aneh dari orang tua ini."
Siang Go melemparkan barangnya dengan tepat, meski dada sianak muda terserang, dia tidak sampai terluka. Siauw Pek menjumput benda itu, dia merasa sesuatu yang lunak. Tanpa bersangsi lagi, dimasukkannya benda kemulutnya dan terus ditelannya^ Dia memang sudah lapar sekali.
Yang waktu berlalu terus, Siauw Pek masih juga berlatih terus. Dia tak lagi ingat waktu. Hanya kemudian dia merasa matanya mulai terang, sebab selanjutnya dia bisa melihat sejauh tiga kaki lebih, sinar matahari tetap tak nampak.
Siang Go jarang sekali bicara dengan muridnya itu, dia hanya memperdengarkan suaranya pada waktu memberi makan untuk simurid, selanjutnya gua sunyi dan senyap.
Beberapa kali Siauw Pek mencoba melihat gurunya yang aneh itu, tak pernah ia berhasil. Matanya masih kalah dengan gelap gulita. Ia cuma bisa mendengar suara dan menerka gurunya berada disebelah mana.
Pada suatu hari, sehabis berlatih, Siauw Pek merasa lapar sekali. Tetapi tak berani ia memanggil gurunya untuk meminta makan. Dengan sabar, ia menanti sampai gurunya menyapa. Tapi guru itu tak juga bersuara. lama-lama, ia tak dapat menahan hati lagi. " Loocianpwee" panggilnya. "Aku lapar sekali, apakah ada sesuatu untuk aku makan ?"
Tidak ada jawaban, meskipun murid ini telah memperdengarkan suaranya beberapa kali. Gua tetap sunyi, Siang Go seperti juga telah pergi dari gua itu. Lewat pula beberapa saat. Rasa lapar mengganggunya makin hebat.
"Loocianpwee" Siauw Pek memanggil pula, suaranya makin
keras. Tetap tidak ada jawaban, kecuali sambutan kumandang.
Bukan main berdukanya murid ini. Ia menjadi habis sabar. Maka ia bangkit, berniat berjalan mengikuti tembokan gua. Ia menuju ke sebelah dalam. Tapi baru dua tindak. kembali kakinya terasa terlibat dan tertarik. demikian keras, hingga tubuhnya limbung, dan roboh tak tertahankan lagi. Hebat juga robohnya itu, sampai beberapa lama, baru ia berhasil merayap bangun, segera setelah itu, ia menjadi heran pula. Ketika ia meraba kakinya guna memegang benda yang melibat itu, kakinya sudah merdeka pula, benda itu lenyap entah kemana.
"Semoga dia bukan ular berbisa..." katanya didalam hati.
Dari berdiri, kemudian ia duduk, tiba-tiba terdengar suara angin menyambar dari belakangnya, dan sebelum tahu apa-apa, bahunya sudah kena terhajar sesuatu yang membuatnya merasa nyeri. Ia menjadi heran dan mendongkol. Maka ia keluarkan kimkiam,
pedangnya untuk bersiap siaga. Habis "serangan- gelap itu, gua sunyi kembali.
Selama diam berjaga-jaga itu, hati Siauw Pek menjadi tenang pula. Kembali ia memikir buat bertindak maju, ia jalan berpegangan di dinding gua. Baru tangannya menyentuh dinding, tiba-tiba tangannya yang kanan terasa beku, dan pedang ditangannya itu terlepas.
Ada sesuatu yang menyerang tangan itu, rasanya lunak tetapi cepat sekali gerakannya. Ia pun mendengar suara angin bertiup, tetapi matanya tetap tidak melihat sesuatu. Ia menjadi heran- Tengah ia heran itu, tiba tiba kakinya dua-duanya terangkat bagitu rupa hingga ia roboh dengan sendirinya
Gusar dan penasaran, Siauw Pek menyampok dengan sebelah tangannya. Ia mengenakan sasarannya, tetapi itulah batu dinding yang membuat tangannya itu nyeri sekali.Justru itu menyusullah satu serangan kepada bahunya, yang membuat ia nyeri dan kesakitan Masih ia penasaran, ia menyambar dengan tangan kanannya. Tapi sia-sia saja.
Benda lunak yang menyerang itu bergerak-gerak mengikuti suara angin bersiuran- Dan dia menyerang bahu, sebentar ia menyambar kaki
Saban kakinya disambar, tentu Siauw Pek roboh terkulai. Maka gusarlah dia, hingga terus terusan dia menyampok pulang pergi dengan kedua tangannya.
Sementara itu, lapar menyerang keras sekali. Siauw Pek menjadi kehabisan tenaga, kepalanya pusing.
Baru setelah itu, lenyap benda lunak itu.
Selagi ia merasa heran, Siauw Pek mendengar suara dingin yang ia kenal baik. "Nak, hatimu panas sekali, ya?"
"Ya, panas sekali" sahutnya. masih mendongkol. Ia menyahut cepat, walaupun ia kenali suara gurunya. Baru setelah itu, ia sadar akan kekeliruannya. Maka itu ia terus menutup rapat mulutnya.
"Ingat" berkata sang guru. " Golokku cuma satu jurusnya, tapi sekalipun satu, gerakannya dapat menuruti sang hati, sebab hati dan tubuh telah menjadi satu. Kalau kita sedang menyerang, semakin kita bergusar itu semakin baik, bahkan paling baik jikalau kau tengah membenci sangat kepada musuhmu Golokku ini, kalau dia membunuh lawan, baru terlihat keangkerannya" Siauw Pek melongo.
"Jikalau begitu, apakah sekarang hatiku telah lunak?"
"Jikalau demikian adanya, kau takkan berhasil mempelajari ilmu
golok itu," kata siguru menghela napas. Siauw Pek penasaran.
"Toh cuma jurus" pikirnya. "Tak lebih tak kurang. JIkalau di dalam waktu satu hari aku tidak berhasil mempelajarinya sampai sempurna, apakah aku tidak bisa menanti sampai satu tahun" Aku tidak percaya "
Kembali terdengar suara sang guru. Katanya "Andaikata kau selesai mempelajarinya, tetapi kalau di waktu menggunakannya kau tidak mengumpulkan hawa marah dan kebencianmu yang hebat terhadap musuh, bukan saja sukar buat kau menunjukkan pengaruhmu, menggunakan pedang saja kau bakal gagal"
Murid itu heran dia bersangsi. "Benarkah itu, loocianpwee?" ia bertanya. Ditanya begitu, Siang Go gusar.
"Mungkinkah aku memperdayakanmu?" katanya mendongkol. "oh, bocah tak tahu urusan"
Siauw Pek sadar, tidak berani ia melawan maka ia memberi
hormat. "Maaf, loocianpwee, aku tidak tahu urusan," ia akui.
"Aah" mengeluh orang tua itu. "Aku telah bersedia mengajari kau ilmu golok. tapi sekarang tak dapat itu dilakukan- Hatimu begini lemah, kau sabar sekali, mana bisa kau mempelajarinya" "
"Habis, sampai kapan aku harus menunggu, loocianpwee?"
"Kau lihat saja untung bagusmu nanti" sahut sang guru. "Mungkin besok, mungkin delapan atau sepuluh hari lagi, atau mungkin juga tiga atau lima bulan kemudian"
Siauw Pek berduka hingga ia lupa laparnya dengan meraba-raba,
ia kembali ketempatnya untuk duduk bercokol pula. Hening sesaat.
"Sambutlah ini barang makananmu" begitu terdengar suara angin menyambar.
Karena sudah satu bulan lebih di tempat gelap itu, Siauw Pek telah berpengalaman, sekarang ia sudah terbiasa dengan suara angin itu dan lemparan barang makanannya, maka ketika ia mengulur tangnnya, dengan mudah ia menyambutinya. Ia sudah lapar sekali, lahap ia memakannya makanan itu.
Dua bulan sudah Siauw Pek mengurung diri di dalam gua. Selama itu tahulah ia bahwa gurunya selama ini memancing kemarahannya tetapi ia tetap dengan kesabarannya, tak pernah ia gusar sampai lupa segala galanya.
Ada suatu haru, kembali Siauw Pek kelaparan- Telah lebih sepuluh jam ia tidak dapat makanan- Mau tak mau, ia bertahan Ia ingat pesan KieTong, yang pernah memberitahukannya bahwa Siang Go itu manusia sangat aneh, katanya di dalam hati: "Biar bagaimana kau uji aku, aku akan menurut saja." Meski begitu, lewat lagi satu jam, bukan kepalang laparnya.
Tiba tiba terdengar Siang Go menghela napas. "Kau telah lapar, nak?" ia bertanya.
"Ya, sudah lama, loocianpwee," sahut si murid, sabar.
"oh, kau lapar sudah lama ?" kata guru itu. "Kenapa kau diam saja?"
"Boanpwee tidak berani mengganggu ketenangan loocianpwee," sahut simurid sabar.
Kembali Siang Go menarik napas.
"Sifatmu lemah begini, kau bukanlah muridku," katanya. "Aku
kuatir sulit bagiku untuk mewariskan ilmu golokku kepadamu."
Siauw Pek kaget sekali. Lekas lekas ia memberi hormat.
"Loocianpwee, harap sukalah mengingat kesukaran dan ketulusan hatiku," ia memohon. "Biar aku tolol, akan aku coba sekuat tenagaku, supaya aku tidak menyia-nyiakan pengharapan loocianpwee. Maukah loocianpwee memberi sedikit kelonggaran kepadaku?"
siang Go tidak menjawab. ia hanya bertanya : "Anak. di dalam gua ini tak nampak sinar matahari atau bintang, tak ada siang dan malam. tahukah kau sudah berapa lama berdiam disini?"
"Jikalau tidak salah, mungkin lebih kurang sudah dua bulan," sahut Siauw Pek.
"Benar, lebih kurang dua bulan" kata guru itu, "Selama dua bulan ini, kau tahu, senantiasa aku mencari saat yang baik untuk mengajari kau ilmu golok. tapi selalu gagal."
"Mungkin itu disebabkan ketololanku, loocianpwee. Walaupun demikian, aku mohon belas kasihanmu..." demikian kata murid yang tawakal itu.
"Hari ini dan besok adalah saat saat kesempatan paling baik bagimu," berkata sang guru, "tapi juga merupakan kesempatanmu yang terakhir, maka itu kalau di dalam waktu dua hari itu kau tetap tidak dapat belajar, jangan kau menyesal, mungkin itu ilmu golokku akan terputus, dan hingga di dalam kalangan rimba persilatan cuma ada satu ong Kiam, tidak ada Pa Too "
Siauw Pek terkejut. Ia bagaikan terhajar parah.
"Tinggal dua hari, lootjianpwee?" katanya, "waktu dua hari itu sangatlah singkat, sekejap saja bakal berlalu, maka itu, andaikata lootjianpwee berniat mewariskan ilmu itu kepadaku, aku kuatir karena ketololanku, aku tidak akan mendapatkannya..." Siang Go tertawa dingin.
"Terserah kepada untung bagusmu " katanya. "Hm Ilmu golok ini aku yang ciptakan, aku juga yang mengubur membenamnya, kalau itu sampai terjadi, aku tak akan terlalu menyesal."
Mendengar kata-kata itu, siauw Pek menjadi putus asa. Ia ingat sakit hati keluarganya. Sakit hati itu bakal tak terbalaskan. Tanpa terasa, airmatanya meleleh keluar, dan napasnya menjadi sesak secara tiba-tiba. Karena ini, ia lupa kepada laparnya. Hening sekian lama.
Tiba-tiba, terdengar suara dingin tetapi nyaring dari siang Go : "Anak kecil, dengar sekarang saat baik telah tiba, mari aku ajarkan kau ilmu golokku Kau hafaikanlah rahasianya "
Siauw Pek melengat karena herannya.
"Sekarang. lootjianpwee ?" ia menegaskan- Tapi belum suaranya berhenti, Siang Go sudah mulai memberikan pelajarannya. Guru itu berkata dengan suara yang berirama. " Kemurkaan asalnya dari hati, kebencian muncul dari nyali. Golok keluar, maka kagetlah segala hantu, dan darah berhamburan membuat sembilan wilayah merah..."
Hati Siauw Pek bercekat. "Hebat" pikirnya.
siang Go melanjutkan pelajarannya: "Golok mustika keluar dari sarungnya, sekali menikam maka putuslah sang nyawa. Inilah pelajaran ilmu golok istimewa, yang teragung didalam dunia Rimba Persilatan." Kembali Siauw Pek bercekat.
"Sungguh sombong," pikirnya pula. Segera ia dengar tertawanya Siang Go, yang terus berkata nyaring, "Anak kecil, jalan kekiri tujuh tindak. Kini, aku hendak mengajarkan kau Hoan Uh It Too"
Dalam herannya, siauw Pek tersadar. Segera ia bertindak kekiri. Hanya sedikit, sinar golok telah berkelebat dihadapannya. Terdengar pula suara dingin dari siang Go . "Anak, sambutlah golok "
siauw Pek berlaku sebat, dengan mengangsurkan tangan kanannya, ia menyambut golok itu. Di saat itu, ia tidak berani
menoleh ke arah sang guru, walaupun ia tahu gurunya berada di sampingnya.
Kembali terdengar tawanya Siang Go, tawa yang membuat hati orang gentar. Suara itu berkumandang dalam gua, di empat penjuru, memekakkan telinga.
Menyusul tertawanya, kembali terdengar suaranya yang berirama seperti tadi : "Didalam dunia ada banyak jago, tetapi cuma ada satuJago Golok Anak. telah siapkah kau?"
"Aku telah siap. lootjianpwee " sahut si murid.
Siang Go berkata pula : " Golok ini hanya satu jurus, akan tetapi jurus ini diciptakan setelah memperhatikan keistimewaan keistimewaan dari perbagai macam ilmu golok di dalam dunia Rimba Persilatan. Disaat kita menghunus menggunakannya, jikalau tidak disertai dengan semangat jago untuk menelan dunia, pengaruh golok ini tak berarti seberapa, golok sulit dipakainya Anak. cekam golok dengan kedua tanganmu, bawa ke depan dadamu "
Siauw Pek menyahut, golok itu dibawa kedepan dadanya.
siang Go menyuruh pula : "Pentang lebar kedua matamu, memandang tajam kepada musuh yang tangguh "
XX^ Siauw Pek membuka kedua matanya, melihat langsung ke depannya.
Gua yang sunyi itu kembali kepada kesunyiannya. Tetapi hanya selama semakanan nasi, lalu terdengar pula suara Siang Go . "Anak. kau dapat melihat apa?"
"Mataku tidak berguna, boanpwee tidak melihat apapun juga," sahut si murid yang merasa gua tetap gelap gulita.
"Hm "suara dinginnya Siang Go. "Aku dapat melihat, kenapa kau tidak ?"
" Lootjianpwee melihat apa ?" tanya murid itu.
Suara dingin guru itu mendengung. "Aku melihat ayahmu dengan seluruh tubuhnya bermandikan darah tengah menangkis serangan musuh musuhnya yang ganas "
Mendadak siauw Pek merasai darahnya bergolak. Sebab dia diingatkan kepada ayahnya.
Tiba tiba ia merasa matanya berkelebat, dengan samar samar ia seperti melihat ayah yang bermandikan darah berdiri di depannya. Segera ia menyahut : "Ia lootjianpwee, boanpwee pun dapat melihatnya ?" Siang Go tertawa nyaring.
"Sekarang lihat lagi biar teliti bUkankah di sana itu musuh
besarmu, yang telah membinasakan ayahmu, sedang mendatangi ?"
Benak kepalanya siauw Pek bagaikan terbangun. Ia ingat pada Hui Siu ouw Bwee, Kim Tjong Toodjin serta si pendeta dari Siauw Lim Sie yang tubuhnya jangkungnya dan besar yang semua tangan mendatangi dengan romannya yang bengis. "Ya, boanpwee melihat
" kata pula murid ini, hatinya tetap panas.
Tiba tiba Siang Go berseru^ "Kau telah melihat Habis kau mau apa ?"
Dengan sendirinya Siauw Pek menjawab bengis. "Boanpwee mau membalaskan sakit hati ayah bundaku itu "
"Jikalau kau mau membalas dendam," kata siang Go, tetap keras,
" kenapa kau tidak mau segera turun tangan" Kau mau tunggu kapan lagi?"
Tanpa ia sadar, Siauw Pek berteriak nyaring. "Lihat golok " Segera ia menyerang
Tiba tiba terdengar satu suara benturan keras, lelatu apipun
bermuncratan- Satu tenaga yang keras sekali telah terpental balik.
Itulah sebab dengan hebat golok mengenai batu gunung sampai
mengeluarkan lelatu golok itu terlepas dari cekaman dan terpental.
siauw Pek telah menggunakan semua tenaganya, tenaga membalik lalu menggempurnya, hingga ia limbung kesisinya,
tubuhnya membentur dinding gua. Tidak ampun lagi, ia roboh tak sadarkan diri. Waktu ia mendusin, ia merasa ada sebuah tangan tengah memijit mijitnya, mengurut tubuhnya. Ia lalu mengeluarkan
nafas lega. Ingin ia bangkit, tapi satu tekanan yang kuat
mencegahnya. Dadanya tertindih hingga ia tak dapat berkutik.
"Anak, tepat sekali serangan kau " begitu ia dengar suara ketelinganya. "Itulah bagaikan pertanda bahwa kaulah jago satu satunya dikolong langit ini Tapi sekarang kedua lenganmu lagi terluka, tak boleh kau sembarangan bergerak. Tutup matamu, tidurlah sebentar Dengan tenaga dalamku, akan aku bantu kau memulihkan tenagamu."
Siauw Pek berdiam. Ia merasa tangan guru terus meraba raba seluruh tubuhnya. Ada kalanya tangan itu berdiam disatu tempat, seperti memasukkan hawa panas kedalam tubuh itu, membuat dadanya menjadi lapang. Tak lama tanpa merasa, ia pulas sendirinya.
Pendekar Panji Sakti 7 Satria Gunung Kidul Karya Kho Ping Hoo Misteri Lukisan Tengkorak 2
^