Pencarian

Sumpah Palapa 27

Sumpah Palapa Karya S D. Djatilaksana Bagian 27


tiuju dan dilayangkan kepada Sambu. Melihat itu Sambu
tersenyum "Hm, tindakan sewenang-wenang yang liar" katanya
sembari menyiakkan kedua tangan menangkis.
Krakkkkk .... kedua prajurit itu menjerit kesakitan dan
menyurut mundur sambil mendekap tangan masing masing.
Benturan dengan tangan Sambu telah menyebabkan tangan
kedua prajurit itu patah tulangnya.
Adipati kesima menyaksikan adegan itu. Sementara empat
orang prajuritpun segera berhamburan menyerbu Sambu. Adipati
hendak mencegah tetapi terlambat. Krak, krak, krak ....
terdengar dcr?k kerat kerat tulang berderak-derak disusul oleh
jerit erang dari keempat prajurit kadipaten yaag mundur ?ambil
mendekap tangan masing-masing.
"Maaf, paman Adipati" seru Sambu seraya memberi hormat
kepada Adipati "hamba terpaksa memakai kekerasan karena
harus membela diri. Hamba menghadap paman adalah dalam
rangka melaksananakan titah rama dan ibu untuk meminang
puteri paman Adipati. Bukan untuk mencari permusuhan atau
membuat kegaduhan" Sambu berhenti sejenak untuk me lihat tanggapan adipati.
Ternyata adipati itu lebih banyak berbicara dengan mimik
wajahnya daripada dengan mulut. Tampak dahinya mengerut,
mata membelingsat tetapi wajah menampilkan kehampaan.
Suatu pertanda bahwa adipati itu sedang diluap amarah, tengah
memikir tetapi dalam kebimbangan tak tahu apa yang harus
dilakukannya. Sambu tahu akan gejolak hati orang. Cepat dia menyusuli
kata-kata "Paman Adipati, apa yang hamba percakapkan tadi
1631 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
adalah keadaan yang terdapat di daerah-daerah kekuasaan
Lumajang. Sekira paman Adipati berkepentingan untuk
melindungi seri baginda atau gusti patih Aluyuda, dapatlah
paman Adipati melaporkan hal itu ke Majapahit. Namun
hambapun perlu menghaturkan kata, bahwa apabila kerajaan
Majapahit hendak berusaha untuk menindas keadaan itu, maka
hamba akan termasuk salah seorang kawula yang akan ikut
melawan penindasan itu. Dan sekira paman Adipati hendak
melindungi para kawula di dasrah itu, dalam kesempatan saat ini,
perkenankanlah hamba atas nama peribadi dan seluruh kawula
itu, menghaturkan terima kasih ke hadapan paduka"
"Sambu" akhirnya adipati berseru "jika engkau tidak punya
urusan lain lagi, silakan pulang"
Sambu memberi hormat "Baik, paman Adipati. Urusan
memang sudah selesai. Hamba mohon diri. Tetapi sebelumnya
hamba hendak menghaturkan kata. Bahwa paman Adipati telah
memutuskan untuk belum berkenan menerima peminangan rama
ibu hamba, adalah atas dasar bahwa Tanjung masih belum
dewasa, masih terlampau muda. Bagi hamba titah paduka itu
hamba tafsirkan bahwa paduka belum resmi menolak
sepenuhnya. Dalam hal itu sudah tentu hamba menginginkan
bahwa keadaan Tanjung benar-benar sesuai dengan titah paduka
Itu" "Apa maksudmu?" tegur Adipati.
"Bahwa apabila terjadi suatu hal atas diri Tanjung yang tak
sesuai dengan keputusan paduka itu, jelas paduka mempunyai
maksud lain. Oleh karena itu hambapun layak untuk menilai
bahwa peristiwa itu tentu mempunyai latar belakang yang
berlandaskan kepentingan paduka"
"Apa katamu?" Adipati terbeliak.
"Suatu keputusan lain tentang diri Tanjung yang tak sesuai
dengan alasan paduka dalam menolak peminangan rama ibu
1632 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hamba itu, menandakan suatu tujuan paduka untuk mencapai
pamrih tertentu" "Kurang ajar ! Tanjung adalah anakku sendiri. Hak apa engkau
ingin membatasi kebebasanku untuk menentukan perjodohannya?" teriak Adipati sembari berbangku dan
tangannya segera meraba tangkai keris.
"Berbicara soal hak, paman Adipati" kata Sambu dengan
masih tenang "setiap manusia memang dibenarkan memiliki hak
dalam memperjuangkan kepentingannya. Dalam soal peminangan kepada Tanjung, hak kami adalah hak sebagai orang
yang meminang. Sebagai keluarga yang akan menderita, gembira
kalau pinangannya diterima, kecewa kalau ditolak. Dan
kekecewaan itu akan meningkat menjadi tersinggungnya
perasaan apabila, penolakan
itu didasarkan atas rasa memandang rendah kepada yang meminang. Lebih pula apabila
didasarkan pada hal-hal untuk mengambil hati pada orang yang
diharapkan dapat memberi imbalan pangkat dan kedudukan.
Jelas kami, rama ibu dan terutama hamba sendiri, akan
merasakan hal itu sebagai suatu hinaan"
"Ho, Sambu, berani benar engkau berkata begitu di
hadapanku. Apakah engkau hendak menekan aku" serentak
adipati melangkah maju, mencabut keris.
"Kakang Adipati" tiba-tiba terdengar suara wanita berseru.
Ternyata wanita itu adalah nyi adipati. Karena maiih sibuk
memberi perintah kepada bujang untuk mempersiapkan
hidangan maka nyi adipati tidak ikut ke luar. Namun karena
sampai beberapa saat belum juga Adipati masuk, diapun segera
ke luar. Eetapa kejut hati nyi adipati ketika melihat adegan yang
menyeramkan itu. Adipati tengah menghunus keris maju
menghampiri Sambu. Sudah tentu nyi adipati berteriak untuk
mencegah baru kemudian gopoh menghampiri "Kakang Adipati,
apakah yang terjadi ini?" serunya.
1633 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adipati terkejut. Dia menyadari bahwa Sambu itu adalah
putera kemanakan dari nyi adipati. Ia agak bingung bagaimana
harus memberi penjelasan.
"Ah, bibi adipati, tidak apa-apa" cepat Sambu mendahului
disertai dengan tawa cerah "paman Adipati berkenan hendak
menunjukkan pada hamba keris pusaka beliau"
Masih nyi adipati me lekatkan pandang kepada Adipati
meminta penegasan. Terpaksa Adipati membenarkan keterangan
Sambu. "Ah, rupanya cepat sekali kakang sudah cocok dengan Sambu.
Anak itu memang gemar sekali akan ilmu kanuragau dan mahir
dalam menilai senjata pusaka. Tetapi sudahlah, mari kita masuk.
Hidangan sudah tersedia" kata adipati.
"Terima kasih bibi adipati" kata Sambu "hamba terpaksa harus
mohon diri karena hamba hendak cepat cepat kembali. Masih ada
urusan lain yang hamba lakukan"
"Hai, mengapa terburu-buru sekali" Betapapun pentingnya,
kalau hanya terlambat sebentar untuk bersantap, kiranya tentu
tiada halangan" masih nyi adipati mendesak.
Namun Sambu tetap menolak.
Nyi adipati terpaksa tak dapit mencegah karena Sambu terus
menghaturkan sembah dan mengundurkan diri dari hadapan
Adipati. Ketika meninggalkan kadipaten, seorang lelaki yang tak di
kenal menyongnya "Raden, hamba ingin bicara" kata orang itu.
Sambu terkejut. Ia merasa tak pernah mengenal orang itu.
Melihat dandanannya dia menyerupai seorang pengalasan dari
kadipaten. Adakah sang Adipati hendak me lanjutkan persoalan
tadi dengan mengirim seorang yang bertenaga kuat atau yang
pandai dalam ilmu kanuragan untuk mencegatnya.
1634 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun Sambu mengikuti juga langkah orang yang
mempersilakannya menuju ke sebuah tempat yang agak jauh
dari jalan. "Raden, hamba diutus rara ayu Tanjung untuk menyampaikan
bingkisan ini kepada raden" kata orang itu. Diapun lalu
menyerahkan sebuah buntalan kain sutera merah dadu.
Sambu terkejut dan gopoh menyambuti "Apakah ini, kakang?"
tanyanya. "Entahlah, hamba hanya diutus untuk menghaturkan kepada
raden dan tak diberitahu apa isinya" jawab pengalasan.
Sambu lalu membukanya. Ia terbeliak dan menghela napas.
(Oo-dwkz-ismoyo-oO) 1635 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 22 1636 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
SUMPAH PALAPA Dicetak dan diterbitkan oleh:
Penerbit :Margajaya Surakarta Karya : SD DJATILAKSANA Hiasan gambar : Oengki.S Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
Pembuat Ebook : Scan DJVU : Koleksi Ismoyo
http://cersilindonesia.wordpress.com/
Convert, edit teks & Ebook : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://kang-zusi.info http://cerita-silat.co.cc/
Tersentuh kalbu digetar samar ketika sunyi berbisik namamu
membias relung-relung renung menyayup bahana sumpahmu
lamun buwus kalah nusantara isun amukti palapa...
Hasrat membubung, suksma menderu
menuju gunduk dataran ria
Gurun, Seran, Tanjungpura,
Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda,
Palembang, Tumasik untaian ratna harapan tempat citamu bersemi satu
Duhai, ksatrya wira-bhayangkara
Kini kita telah menemuinya ketika sunyi berbisik namamu entah
di arah belah penjuru mana tetapi kita tahu
bahwa bisik itu sebuah amanatmu inilah
daerah Nusantara yang bersatu dialas Pulau Yang Delapan.
Penulis 1637 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
I Berdengung-dengung laksana sang Bremana yang
kehilangan kekasihnya Kembang Dewaretna, demikian getar-
getar nadi kalbu Sambu ketika meninggalkan halaman kadipaten
Pajarakan. Serasa ujung rumput-rumput yang menderita pijak
kakinya itu berubah seperti ujung jarum yang menusuk telapak
kakinya. Pasir-pasirpun berubah seperti butir-butir pecahan
beling yang menyengat kaki.
Kesiur angin malam menimbulkan gigitan dingin pada
tubuhnya. Pohon-pohon menggundukan bayang-bayang dalam
bentuk beribu macam mahluk seram. Ada yang seperti
membelalakan mata yang sebesar buah kelapa. Ada yang
lidahnya menjulur panjang dan adapula yang menyeringaikan
taring-taring tajam. Mengerikan sekali.
"Adakah paman adipati mempunyai aji mantra ilmu gaib yang
sengaja untuk menakut-nakuti aku " diam-diam dia menimang
curiga. Tiba-tiba dia teringat akan pembicaraan dengan gurunya
ketika masih di gunung. Saat itu gurunya sedang menurunkan
ilmu aji Panyirep. "Pada umumnya" ujar resi gurunya "aji Panyirep ini digunakan
sebagai mantra untuk menyirep agar orang terlena tidur. Tetapi
sesungguhnya aji itu mempunyai daya wibawa yang besar sekali"
Tertarik hati Sambu. Dia meminta keterangan lebih lanjut
mengenai aji Panyirepan itu.
"Yang dimaksud dengan kata Sirep adalah mengendap menuju
ke ketenangan. Tidurpun merupakan pengendapan dari gejolak
indriya pemikiran dan perasaan hati manusia. Dan sirep itupun
tiada hanya ditujukan pada orang lain, pun terhadap dirinya
sendiri" 1638 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Supaya kita dapat tidur apabila pikiran kacau dan hati resah?"
tanya Sambu. Resi gelengkan kepala "Ya, memang menidurkan pikiran dan
perasaan, tetapi bukan menidurkan mata dan hati. Engkau tak
perlu tidur, tetapi engkau dapat menidurkan pikiranmu yang
kacau dan hatimu yang reiah"
"Apakah tul itu tak sama dengan semedhi menghenirglan alam
pikiran, guru ?" "Semedhi adalah suatu ilmu untuk menenangkan, mengheningkan dan menghampakan seluruh indriya perasaan
dan pikiran. Tetapi Panyirep itu suatu aji yang menggunakan
mantra untuk menghentikan dan menghilangkan rasa dan
pikiran. Dalam taraf pertama, digunakan untuk melelapkan arang
ke dalam rata kantuk yang tak tertahan. Tetapi dalam taraf
selanjutnya apabila sudah mencapai tataran tinggi, aji Panyirepan


Sumpah Palapa Karya S D. Djatilaksana di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu dapat digunakan untuk menyirep gejolak hati yang
menimbulkan berbagai nafsu dalam hati kita. Apabila rasa dan
pikiran sudah lelap, kita akan memperoleh suatu ketenangan
yang mengandung daya sakti yang besar perbawanya"
Sambu terkesiap. Ia merasa bahwa selama ini tak pernah dia
melatih diri untuk meningkatkan aji Panyirepan itu ke tataran
yang lebih tinggi. Dalam menghadapi peragaan seram yang
menggoda hati pada malam itu, timbullah ingatannya untuk coba
melancarkan mantra penyirep hati.
Samba mencari sebuah tempat yang tenang. Dipilihnya di
bawah sebatang pohon maja yang rindang dan duduklah dia
untuk mengembangkan mantra.
Dia pejamkan mata tulikan telinga dan matikan rasa untuk
mengantarkan mantra. Beberapa saat kemudian dia merasa
aman terbebas dari gangguan gangguan wujut dan bayang
menyeramkan. 1639 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Entah berapa lama dia terbenam dalam kelelapan. Yang jelas
tibalah saat ketika dia merasa tenang dan lapang, diapun
pelahan-lahan membuka mata dan menghidupkan pula indriya-
indriya rasa dan pikir serta penglihatan.
Sekeliling tempat dimana dia duduk, terasa sunyi dan kelam.
Sunyi yang tenang, kelam yaag hampa. Tiada bunyi, tiada
perwujutan yang aneh-aneh. Namun dia terlalu memaksakan diri
untuk mengembangkan mantra aji Panyirepan itu. Pada hal dia
tak pernah berlatih selama ini.
Setiap paksaan akan menimbulkan akibat yang lain. Dan pada
hakekatnya ilmu itu harus dicapai dengan penuh ketekunan. Aji
Panyirepan yang dikembangkan paksa itu telah menghisap
segenap urat-bayu, hawa dan sungsum dalam pusat tenaga-sakti
pada Cakram Manipura atau dadanya. Maka tak heran di kala dia
membuka mata, dia merasa masih lunglai. Rasa, pikiran dan
penglihatanpun masih lusuh. Masih segan rasanya mata, pikiran
dan hati meninggalkan ketenangan yang kelam dalam alam nan
sunyi hampa tadi. Betapa bahagialah alam ketenangan dan kehampaan itu.
Bebas dari segala kuasa yang menggerakkan segala macam
nafsu keinginan. Adakah kehidupan itu merupakan gerak dari
kekuasaan nafsu dan keinginan" Ah, apabila demikian, alangkah
bahagia kematian itu. Bukankah kematian itu kehentian daripada gerak yang
mewujutkan hidup " Jika hidup itu hanya diliputi oleh daya gerak
Kuasa nafsu, betapalah siksanya ....
Dalam kelesuhan rasa dan batin, pikiran Sambu melayang-
layang meneluiuri relung-relung Kehidupan, arti dan keadaannya.
Adakah hidup itu hanya pancaran nafsu belaka " Tidak adakah
arti lain daripada Hidup itu "
Dalam perjalanan kembara itu, dia melihat seorang insan
muda, gagah dan tampan sedang berjalan yang melintas hutan,
1640 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menurun lembah, menjelajah jalan yang membentang panjang
dari kadipaten Sadeng sehingga tiba di Pajarakan. Setiap singgah
di desa, selalu pemuda itu berhadapan dengan peristiwa. Dan
setiap peristiwa tentu dapat diselesaikan dengan ketajaman lidah
dan kesaktian ilmu kadigjayannya.
Sampai akhirnya pemuda itu tiba di kadipaten Pajarakan,
berhadapan dengan sang adipati, timbal perselisihan pendapat
dan dengan membawa rasa marah dia meninggalkan kadipaten.
Sambu seperti tahu siapa pemuda itu, namun tak mau dia
mengenalinya. Ia merasa tahu segala sesuatu pada diri pemuda
itu, bahkan isi hatinya. Ia setuju dengan pendirian pemuda itu
dan timbullah rasa kagum kepadanya.
"Benar, pemuda itu hendak menghimpun kekuatan untuk
melawan kekuasaan kerajaan Mijapahit. Dia harus didukung. Ah,
mengapa adipati Pjjarakan itu menolak " Tentulah adipati
mempunyai maksud tertentu. Ah, dia berada dalam kekuasaan
patih Majapahit Terbentur pada renungan mengenai kekuasaan, menyala pula
lintas cahaya yang menerangi batinnya tadi. Bahwa kehidupan itu
tak lain hanya wujut daripada daya Kuasa yang menggerakkan
segala nafsu. Adipati itu rela menyerahkan diri dalam
cengkeraman perintah patih Majapahit karena dikuasai nafsu
untuk memperoleh kedudukan dan kelungguhan yang lebih
tinggi. "Hm, manusia hamba dari Kuasa nafsu" dengusnya menista.
Sesaat pula dia terbayang akan pemuda yang penuh semangat
perjuangan itu. Semangat pemuda itu menyala-nyala. Setiap
lurah desa yang disinggahi, yang tidak setuju dengan
pendiriannya, tentu akan ditundukkan, baik dengan cara halus
maupun dengan kekerasan. 1641 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba seperti muncul sesosok hantu yang buta
menghadang jalan pemuda bersemangat itu "Wahai, mahluk
yang berada di hadapanku. Siapakah gerangan engkau ?"
Pemuda itu terkejut "Aku putera buyut Sadeng yang sedang
mengemban tugas untuk mempersatukan daerah wilayah
Blambangan dan Lumajang. Siapa engkau" Hantu ?"
"Ya, akulah hantu buta" sahut si hantu "untuk apa engkau
hendak mempersatukan mereka " Apakah hendak engkau
persembahkan kepadaku sebagai santapan " Bagus, anakmuda,
aku sudah bosan melalap segala jenis binatang dalam hutan; Aku
ingin menikmati daging manusia ?"
"Laknat engkau hantu" sahut pemuda itu "kupersatukan
mereka supaya mau di bawah naungan pemerintahku untuk
merobohkan kekuasaan raja Majapahit. Bukan untuk santapanmu, tahu !" "Manusia budak Kuasa" teriak hantu buta "engkau manusia
yang keji dan kejam..... "Engkau lebih kejam dan ganas, hantu" tukas si pemuda.
"Aku lebih kejam " Apa alasanmu mengatakan demikian?"
"Engkau habiskan segala mahluk hutan, sekarang engkau
hendak melalap manusia. Terkutuklah perbuatanmu Itu oleh
kutuk Hyang Jagadnata"
Hantu itu terkekeh-kekeh tanpa malu "Persetan dengan segala
kutuk dewata. Bukankah perwujutanku ini sudah merupakan
kutuk segala kutuk " Kebalikannya engkau manusia, yang
mengaku sebagai titah terkasih dewata, tetapi perbuatanmu itu
lebih terkutuk dari aku, mahluk yang terkutuk"
Pemuda itu terkesiap. "Engkau belum sadar ?" hantu buta Itu mengekeh "engkau
memang manusia yang tak tahu diri ..."
1642 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jangan ngoceh tak keruan, setan buta" teriak pemuda itu
marah dan menghantam. Setan buta itu melolong pekik keras
dan berhamburan menjadi tebaran hawa hitam yang
mengampak-ampak. Pemuda itu terkejut. Dia tak menyangka bahwa tenaga
kesaktiannya sedemikian hebat sehingga kuasa menghancur
leburkan setan buta. Sementara tebaran hawa hitam itu berarak-arak tinggi rendah.
Makin lama makin menurun ke bumi dan mengelompok. Ada dua
kelompok bawa hitam yang menggunduk dan tiba-tiba berobah
bentuknya menjadi dua ekor binatang. Yang satu betbentuk
seekor kambing dan satu seekor harimau gembong. Kedua
binatang itu bertempur. Pemuda amat terkesan dan terpikat heran. Selama ini tidak
pernah kambing itu berani dengan harimau. Dan yang lebih
mengejutkan pula, ternyata harimau i tu kalah. Kambing menari-
nari dan tampak hendak memakan musuh yang kalah itu.
"Ohhhh" tiba tiba pemuda mendesuh kejut. Rupanya kambing
itu terkejut mendengar desuh
suara si pemuda. Dia berpaling dan menegur " Hai, ki sanak
muda, mengapa engkau mendesuh ?"
Pemuda terkejut karena mendengar kambing dapat tata-jalma
atau bicara dengan bahasa manusia"Engkau ...."
"Engkau heran ?" tegur kambing itu pula "bahwa aku seekor
kambing dapat bicara seperti manusia " Ketahuilah ki anom,
bahwa janganlah engkau heran akan segala apa di dunia ini.
Kalau engkau dapat merasa heran, seharusnya engkau
mengherankan dirimu sendiri. Bukankah engkau hendak melawan
raja Majapahit " Apakah hal itu tak layak engkau herankan
bahwa engkau seorang anak buyut hendak melawan seorang raja
yang berkuasa besar ?"
1643 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Itu bukan urusanmu, kambing" sahut pemuda "manusia wajib
berupaya karena manusia memiliki akal pikiran, tidak seperti
bangsa binatang" Kambing itu tertawa msngekeh "Bagus, bagus, itulah
sebabnya aku hendak minta pendapatmu, ki anom"
"Dalam soal apa ?"
"Ini lho" kata kambing sembari menunjuk harimau yang tak
berkutik berlumuran darah "apa yang harus kulakukan terhadap
musuh yang kalah itu ?"
"Bunuhlah dia" "Tanpa kubunuh, dia memang sudah pasti mati. Bukan itu
yang kumaksudkan" "Lalu?" "Jika bangsa kawanku kalah, harimau itu pasti akan
memakannya. Nah sekarang, bagaimana yang harus kulakukan
kalau aku menang dengan harimau ?"
"Makan saja" "Hm, engkau berkata menurut keadaanmu" dengus kambing
"misalnya, engkau nanti kalah dalam perlawananmu terhadap
raja Majapahit, engkau tentu meratap belas kasihan agar
nyawamu jangan dilenyapkan. Tetapi kebalikannya, kalau engkau
menang, apakah engkau mau mengampuni jiwa raja itu ?"
Pemuda terkesiap. "Itulah jiwamu, jiwa seorang manusia yang menjadi budak
nafsu kejahatan dan ketamakan" kata kambing "kalau engkau
kalah, engkau meratap minta ampun tetapi kalau engkau
menang, engkau tidak mau memberi ampun kepada musuhmu.
Itu sama dengan usul yang engkau berikan kepadaku tadi.
Karena aku menang maka engkau menganjurkan aku supaya
memakan harimau itu. Tetapi kalau harimau itu yang menang,
1644 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
engkaupun tentu menganjurkan dia untuk melahap aku. Jadi
pendirianmu itu hanya selalu pada fihak yang menang, yang
berkuasa. Engkau tidak pernah mau mengingat akan fihak yang
lemah dan yang kalah. Engkau selalu menempatkan diri dan
pikiranmu pada kekuasaan tanpa menilai bagaimana keadaan
dan siapa yang menang itu"
Pemuda terhenyak. "Engkau membanggakan dirimu sebagi insan yang mempunyai
akal budi tetapi teryata akal budi mu itu tak lebih tinggi dari aku
bangsa kambing" kambing itu tertawa mengembik "nafsu telah
menguasai dirimu sehingga engkau tak dapat menguasai
nafsumu lagi. Engkau telah kehilangan kesadaran pikiran karena
pikiranmu telah dicengkeram oleh nafsu keangkara-murkaan,
oleh perasaan hadigang-hadigung. Engkau hidup dalam pujaan
nafsu dan kelak engkaupun pasti mati dalam pelukan nafsu"
"Kambing tolol, pengecut" damprat pemuda "hidup itu suatu
perjuangan. Yang lemah pasti diinjak yang kuat. Yang kalah pasti
dihancurkan yang menang. Jika engkau tak mau membunuh
harimau itu, engkau pasti akan dibunuhnya. Engkau akan
dimakannya, mengapa sekarang engkau tak mau memakannya
?" "Tidak" kambing memekik "aku kambing yang sadar, bukan
seperti engkau manusia yang buta pikiran. Kalau aku
memakannya, bagaimana mungkin aku dapat tahan hidup.
Bukankah perutku akan meledak karena menampung harimau
gembong yang sedemikian besarnya" Semut mati karena gula.
Dan engkau manusia, pun akan mati karena angkara murkamu"
Pemuda terkejut. Apa yang dikatakan kambing itu memang
benar. Makan untuk hidup tetapi karena terlampau kekenyangan,
orang pun akan mati. Ah, kambing itu sungguh cerdas. Dan
seketika terbayanglah peristiwa pertempuran kambing dengan
harimau. Dia terkesiap dalam hati. Belum pernah sepanjang
hidupnya dia mendengar cerita, apalagi menyaksikan dengan
1645 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mata kepala sendiri, bahwa di bumi ini terdapat kambing yang
mampu mengalahkan harimau.
"Hai, ki anom" tiba-tiba kambing itu berseru "engkau bangsa
manusia membanggakan diri sebagai mahluk yang tertinggi,
pandai dan sakti. Hari ini hatiku sedang diluap kegembiraan
karena dapat mengalahkan harimau yang diagungkan sebagai
raja hutan. Rasanya belum lengkaplah kegembiraanku itu,
apabila hanya dapat mengalahkan harimau. Aku ingin mengadu
kekuatan dengan engkau, ki sanak"
Pemuda terbeliak. "Bukankah engkau sangat bernafsu sekali untuk melawan raja
Majapahit. Hal itu menyatakan bahwa engkau tentu mengandalkan ilmu kedigdayaanmu yang tiada taranya. Kita
sama-sama mempunyai kepentingan.

Sumpah Palapa Karya S D. Djatilaksana di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Jika aku dapat mengalahkan engkau, maka aku akan mempermaklumkan diri
kepada segenap rakyat hutan bahwa akulah yang layak menjadi
raja hutan karena dapat membunuh harimau dan mengalahkan
seorang insan manusia yang bercita-cita mengalahkan raja
Majapahit. Dan apabila engkau yang menang maka akan
bertambahlah keyakinan mu bahwa engkau pasti dapat merebut
tahta kerajaan" Pemuda itu tertegun. Sebelum sempat dia memberi jawaban,
sekonyong-konyong kambing itu lari menerjangnya.
"Kambing gila, mampuslah engkau !" pemuda itu gopoh
mendorongkan tangan untuk menghalau serangan kambing.
Tetapi kambing itu terlampau kuat. Dia terus menanduk sekuat-
kuatnya dan pemuda itu-pun menjerit kaget ketika tanduk
kambing itu mengenai dadanya.
"Ah" seketika Sambu tersadar dari lamunan. Setelah menerima
bungkusan dari pengalasan yang diutus rara Tanjung, Sambu
termenung menung. Dia berkata kepada pengalasan itu "Terima
kasih, kang. Sampaikan kepada dinda Tanjung bahwa pesannya
1646 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan kusemayamkan dalam kancing gelung rambutku sebagai
mahkota jiwaku" Pengalasanpun pamit. Dan Sambu lalu duduk merenung.
Buntalan kain merah dadu itu berisi sebatang tusuk kundai milik
rara T anjung. Hanya itu tiada lain-lain lagi. Rupanya Tanjung tak
sempat menghaturkan benda lain sebagai tanda kenang-
kenangan, kecuali tusuk kundai.
Puteri adipati itu mendengarkan secara diam-diam percakapan
yang berlangsung antara rama dan Sambu. Makin dalam baginya
perasaan hati Sambu kepadanya. Tetapi pada lain fihak, gadis itu
terkejut dan cemas mendengar ucapan ramanya. Benarkah
ramanya akan menerima pinangan dari priagung Majapahit "
Siapakah priagung itu " Adakah rakryan patih Aluyuda " Ah,
tidak, tidak, bantahnya dalam hati.
"Rakryan patih Aluyuda sebaya dengan rama bahkan mungkin
lebih tua. Paataskah rakryan patih itu mempersunting diriku ?"
tanya seorang diri. Dan se -rentak memancarlah jawaban hatinya
"Tidak. Aku tak sudi. Dan ah, tentulah rama takkan sampai hati
untuk menjodohkan aku dengan seorang pria yang pantasnya
menjadi ramaku" Tanjung menghibur diri dengan bayang-bayang kebahagiaan
hidupnya telama ini. Rama dan ibunya amat menyayanginya,
bahkan msmanjakannya. Dengan demikian, tak mungkin rasanya
rama dan ibunya akan menghancurkan kehidupannya.
Pikirannya melintas pula akan pembicaraan Sambu dengan
ramanya. Ucapan Sambu bernada keras dan menuduh ramanya
berhamba pada patih Aluyuda. Seketika terhenyaklah sesuatu
dalam pikirannya "Adakah rakryan patih Aluyuda hendak
meminang aku untuk orang lain" Puteranya " Ah, belum pernah
kudengar rama menceritakan bahwa gusti patih Aluyuda itu
mempunyai putera lelaki. Lalu siapakah gerangan orang itu"
1647 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanjung berusaha untuk menggali lubuk ingatannya. Ia
teringat bahwa patih Aluyuda itu, menurut keterangan ramanya,
sangat dipercaya oleh seri baginda. Dan hingga kini seri baginda
masih belum berkenan untuk menvlih permaisuri. Lalu ....
"Oh" desuh T anjung "apakah.....apakah rakryan patih hendak
menghaturkan diriku kepada seri baginda ?" Tanjung tersentak
kaget. Dia tertegun dan termenung, seolah mendengar halilintar
meletup. Beberapa saat kemudian dia gelengkan kepala
menghela napas "Ah, aku terlalu mengada-ada. Bagaimana
mungkin seri baginda berkenan mengambil aku sebagai
permaisuri. Kalau benar rakryan patih hendak menghaturkan
diriku kepada seri baginda, pastilah aku hanya dijadikan selir
penghias keraton" Lintas renungan itu menyibak suasana alam hatinya, seolah
seperti setiup angin mendesau debu di tanah. Dalam kemelut
debu yang mengepul itu, ia serasa melihat dua pemandangan
yang berlainan. Antara dua ekor burung kepodang. Yang satu
berada dalam sangkar yang indah, berlengkapkan cepuk berisi
penuh makanan dan minuman. Dan seekor burung kepodang
yang tengah hinggap pada dahan sebatang pohon nagapuspa.
Kedua burung kepodang itu sama-sama tengah bersiulkan
kicau nyanyian. Sama-sama merdu tetapi berbeda kumandangnya. Yang berada dalam sangkar, bernada santai
paserah. Yang hinggap di pohon bebas, bernada cerah riang.
Juga berbada pula bulu dan gairah kedua burung itu. Yang di
dalam sangkar, berbulu mengkilap, bergairah kemalas-malasan.
Yang di pohon alam bebas, berbulu lusut bergairah segar. Sinar
mata kedua burung itupun berlainan. Yang di dalam sangkar
tenang mengandung gairah kantuk. Yang di pohon, bersinar
tajam dan beringas. Rara Tanjung sempat memperhatikan perbedaan pada kedua
burung kepodang itu. Ada hal yang memberi kesan. Kepodang
1648 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam sangkar, memang lebih gemuk, lebih mengkilap bulunya
tetapi kicaunya menyuarakan gairah yang paserah, bahkan ada
pancaran rasa kesal dan terpaksa dalam suaranya. Tetapi yang
berada di alam bebas, menghamburkan suara yang lincah penuh
gairah, walaupun badannya agak kecil tetapi penuh semangat.
"Burung kepodang me lambangkan kecantikan dan kecantikan
adalah lambang kewanitaan" pikir Tanjung yang kemudian
mengaitkan keadaan kedua ekor kepodang dengan kaum wanita
"burung yang berada dalam sangkar adalah ibarat wanita yang
menjadi selir raja. Dia hidup dalam keraton yang bergemerlapan
emas dan permata. Dia menikmati kebutuhan hidup, sandang
dan pangan yang serba kecukupan bahkan berkelebihan
sehingga tubuhnya gemuk dan padat. Tetapi kesemuanya itu
hanya untuk dipersembahkan kesenangan yang memelihara. Dan
apakah mai tabat sorang wanita yang hidup untuk kenikmatan
orang. Tidakkah lama halnya dengan burung kepodang yang
dikurung dalam sangkar" Burung itu dipelihara dengan makanan
dan minuman yang berlimpah-limpah karena perlu dinikmati
suaranya atau bentuknya. Dan burung di pohon bebas itu adalah ibarat wanita yang
hidup di dalam kewajaran martabatnya sebagai insan dewata.
Burung itu harus terbang berkeliaran mencari makan uatuk anak-
anaknya. Harus menderita terik s inar matahari dan hujan. Tetapi
dia akan berkicau dengan riang gembira karena merasa bahwa
hari itu dia telah dapat menunaikan kewajiban hidupnya dengan
baik. Dia menyanyi bukan karena terpaksa menyanyi melainkan
karena ingin menyatakan kegembiraan hatinya.
Burung semacam itu tak ubah seperti wanita yang bebas
dalam kehidupin wajar. Kalau bersuami, juga sebagai isteri dan
ibu dari anak anaknya. Kalau berbakti kepada suaminya,
bukanlah dalam arti untuk menyenangkan hati sang suami
melainkan sebagai wajib dari seorang isteri terhadap guru-
1649 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lakinya. Dan wajib-wajib yang dilakukannya, bukan terikat atas
dasar keterpaksaan melainkan atas dasar kodrat kewanitaannya.
"Ah. tidak, tidak" serentak timbullah bantahan dalam hati
Tanjung manakala ia menarik kesimpulan dari kedua burung
kepodang itu "aku tidak ingin menjadi selir raja. Aku bukan hidup
untuk memburu kenikmatan benda tetapi untuk mencapai
kenikmatan lahiriah dan batiniah. Aku rela mendapat suami yang
miskin asal menjaii pilihan hatiku"
Serentak terbayanglah wajah Sambu, kakak misan dari
kebuyutan Sadeng itu. Sambu seorang pemuda yang cakap,
gagah, digdaya dan memiliki cita-cita besar. Dan yang penting,
Sambu rupanya juga menanggapi apa yang menjadi pancaran
kalbunya. Dia gugup ketika Sambu meninggalkan kadipaten. Dia ingin
mencegah tetapi takut kepada ramanya. Namun adakah ia rela
melepaskan hubungan yang baru saja dibina dan akan
menumbuhkan kaitan manunggalnya cipta dan karsa ke arah jalin
asmara itu " Tanjung mencari seorang pengalasan yang disuruhnya
mengantarkan bungkusan kepada Samba. Pengalasan itu terkejut
ketika melihat Sambu duduk termenung seperti orang
bersemedhi. Dihampiriaya pemuda itu. Tetapi sebelum sempat
dia membuka mulut, tiba-tiba Sambu sudah mendorongnya
sehingga dia terhuyung-huyung jatuh. Itulah saat Sambu seperti
merasa diterjang oleh kambing. Dia gelagapan dan buru-buru
menolong pengalasan itu. Demikian apa yang terjadi ketika Sambu menerima bungkuian
yang ternyata berisi tusuk kunsai dari Tanjung. Setelah
pengalasan pulang, kembali Sambu terlilit oleh renungan yang
makin lama makin membenamnya dalam lamunan.
Sambu terlempar dalam kenangan waktu pertama dia
menerima titah ramanya untuk meminang puteri adipati
1650 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pajarakan. Saat itu hatinya sekolong langit tiada berawan dan
berbintang. Kemudian setelah menempuh perjalanan dari de3a
satu ke desa lain, semangatnya makin berkobar. Perjalanan ke
Pajarakan hanya sebagai tujuan kedua. Tujuan utama yalah
untuk mempersatukan para lurah dan buyut di daerah lingkungan
kekuasaan Lumajang dan Blambangan. Mempersatukan mereka
dalam suatu kesatuan untuk menentang kerajaan Majapahit.
Tujuan perjalanannya itu berhasil. Dia telah mendapat
kesanggupan dan kesediaan dari para lurah dan buyut untuk
membantu gerakan melawan raja Majapahit.
Tetapi kobar semangat yang menyalakan api perjuangan itu
tersiak angin manakala dia dipertemukan bibi adipati dengan
puterinya yang bernama Tanjung.
Dia hendak menyadarkan diri bahwa kedatangannya ke
Pajarakan untuk meminang Tanjung itu adalah untuk dijodohkan
dengan adiknya, Jarak. Dan untuk itu dia sudah memberikan janji
dan pernyataan kepada ramanya, bahwa dia belum punya
ingatan untuk memangku wanita sebagai isteri.
Tetapi setelah dua hari tinggal di Pajarakan dan tiap saat
makin bergaul lebih erat dengan Tanjung, ada sesuatu yang
terasa dalam hati Sambu. Ia rasakan hal itu ketika meninggalkan
kadipaten. Serasa dia telah kehilangan sesuatu. Sesuatu yang
merupakan uratnadi jantung kehidupannya. Baginya, seharusnya
tak mengandung rasa kehilangan itu. Apabila hal Itu disebut
sebagai suatu kehilangan maka yang kehilangan adalah adiknya,
Jarak. Adakah sedemikian besar rasa kasihnya terhadap Jarak
sehingga kehilangan bagi adiknya itu sama halnya dengan
kehilangan bagi dirinya"
Dia berlari-lari kian kemari untuk mengungkap setiap serabut
halus dalam alas hatinya. Dia ingin menemukan suatu jawaban.
Untuk apakah dia harus merata kehilangan itu "
1651 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia tak menemukan jawaban lain kecuali hanya satu yani
kehilangan itu bukan diperuntukkan siapa-siapa terutama Jarak,
tetapi untuk diri peribadinya sendiri
"Ah" Sambu mendesah. Ingin dia menghapus pernyataan
hatinya itu. Tetapi setiap kali terhapus, muncul pula pernyataan
yang lain yang tetap senada.
"Sambu......" dia menjerit seorang diri.
Maksudnya hendak menyadarkan diri dari lilit pikiran yang
menimbulkan perasaan hati. Dia sadar. Tetapi dalam kesadaran
itu, tetap perasaannya tak dapat menolak apa yang menjadi
suara hatinya itu. "Mengapa Tanjung mengirim tusuk kundai ini kepadaku ?"
tertujulah pertanyaannya kepada peristiwa yang dialam iaya
beberapa saat yang belum lama tadi "tidakkah hal itu sebagai
tanda yang menyatakan keinginain hatinya untukku ?"
Selama menjelang dewasa dan tumbuh sebagai pemuda, tak
pernah Sambu memikirkan soal wanita. Perhatian, semangat dan
waktunya, dicurahkan untuk menuntut ilmu kedigdayaan "Jika
kecantikan itu merupakan mahkota seorang kenya maka
kadigdayaan itu merupakan keagungan dari sifat pria" demikian
pendirian yaag senantiasa dijadikan keagungan selama ini.
Tetapi Sambu tetap seorang pemuda. Dalam usia itulah,
sedang mekar-mekarnya segala perasaan manusia. Kegagahan
dan kebanggaan, tumbuh sebagai bunga yang mewunai
keindahan taman hati usia muda. Kegagahan dalam ulah dan
sikap. Kebanggaan dalam hati dan anggapan.
Kanuragan, kedigdayaan selalu didambakan dalam sifat
kejantanannya. Kemenangan dan kemasyhuran nama selalu
dipuja sebagai mahkota kebanggaannya. Dalam alam kemeriahan
masa muda yang ditebari rasa kegagahan dan kebanggaan itu,
tumbuh pula sifat-sifat jantan dalam kodrat sebagai insan muda.
Atau yang disebut nafsu berahi.
1652 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sambupun tak lepas daripada kodrat itu. Berhadapan dengan
seorang perawan ayu seperti Tanjung, darah mudanya tersirap.
Bergaul dengan kenya cantik dalam keluwesan peribadi seperti
Tanjung, perasaan hati Sambu makin bergetar-getar. Getar yang
menimbulkan aum seperti bremara atau tawon yang
mendengung-dengung hendak merayu kuntum bunga yang
tengah mekar berseri. Salahkah dia" Mungkin. Tetapi kesalahan itu bukan suatu
kesalahan yang aneh melainkan kesalahan yang wajar. Pergaulan
antara pria dan wanita, memang ibarat mendekatkan api dengan
minyak. Bahkan pria yang sudah berusia tua, yang sudah
mensucikan diri di pertapaan dan bergelar sebagai begawan,


Sumpah Palapa Karya S D. Djatilaksana di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

juga akan luluh imamnya manakala rapat di dekat seorang
wanita cantik. Tidakkah begawan W israwa juga tahan menolak
bisikan setan dan akhirnya menuruti kehendak dewi Sukesi "
Wisrawa adalah perlambang dari s ifat kepriaan. Tua sekalipun
dia, suci sekalipun dia, namun dia tetap seorang titah wantah,
jalma waloka. Seorang pria dengan segala kodrat kelelahannya.
Tersiraplah darahnya ketika melihat kecantikan dewi Sukesi.
Begawan memberikan penjelasan tentang rahasia Sastra Jendra
Hayuningrat. Tetapi dia gagal menghayatinya sendiri. Dia
terperosok dalam rayuan setan dan lupalah dia akan tugasnya.
Dia mewakili puteranya, prabu Danareja, untuk meminang dewi
Sukesi, tetapi dia sendiri yang menghamili puteri itu.
Beberapa saat Sambu masih tenggelam dalam renung
lamunannya. Ibarat seperti orang, yang tercebur di laut dan
berusaha untuk menyelamatkan diri, maka sebentar Sambu
timbul dan sebentar tenggelam dalam laut warna merah. Merah
yang melambangkan nafsu. Antara nafsu kelakian sesuai dengan
kodrat manusiawinya dan nafsu perjuangan sebagai kodrat
keksatryaan-nya. "Baik, Tanjung, pernyataanmu takkan kusia-sia-kan. Namun
aku datang sebagai utusan rama untuk meminang engkau
1653 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi isteri Jarak adikku. Bagaimana mungkin aku harus
menghianati janjiku kepada rama ?" ia menimang dan
membantah. Bantahan itu pada mulanya seolah lebih kokoh dari
alasan yang lain. Tetapi manakala pelapuk matanya terbayang
akan wajah Tanjung dan tatap sinar matanya yang penuh
kepaserahan dan pengabdian kepadanya, gemetarlah dinding
kalbunya bagaikan kuntum bunga digoyang angin.
Bremara atau kumbang, mendengung-dengung dalam tari
rayuan di atas kelopak bunga, sebelum sang bunga menebarkan
kelopak untuk mempersilakan bremara datarg menghisap
madunya. Bagai bunga, kedatangan bremara itu merupakan
kebahagiaan tersendiri sesuai dengan alam. Bunga bermadu
bukan untuk kehidupan bunga itu tetapi untuk pentingan sang
bremara. Adakah bremara itu menghisap madu diperuntukkan
untuk diri sendiri atau untuk kepentingan membangun sarang
bagi anak-anaknya, itu bukan soal. Yang penting dan yang
dirasakan dan dilihat oleh bunga, bahwa yang menghisap
madunya itu adalah sang bremara. Dan melalui hisapan madu itu
terjalinlah hubungan erat yang saling menghasilkan kebahagiaan.
Demikian pula halnya dengan Tanjung. Bahwa yang datang,
berkenalan, bercakap, beradu pandang dan saling merasakan
hembusan napas masing-masing, adalah Sambu. Adakah Sambu
datang untuk kepentingan adiknya, bukan soal yang harus
dipersoalkan Tanjung. Itu soal Sambu sendiri. Tetapi bagi
Tanjung yang datang, yang bertemu dan yang bicara adalah
Sambu. Sambulah yang telah mencuri hatinya. Ia harus mengejar
pencuri itu dan meminta pertanggungan jawab.
Peristiwa Sambu dan Tanjung itu hampir merupakan ulangan
sejarah dari begawan Wisrawa dengan dewi Sukesi. Sukesipun
mempunyai pendirian seperti Tanjung. Begawan Wisrawalan
yang dapat menguraikan isi Sastra Jendra Hayuningrat, bukan
prabu Danareja. Maka ia akan menyerahkan diri kepada begawan
itu untuk diperisteri. 1654 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanjung tak kenal akan cerita Wisrawa-Sukesi. Pun Sambu
juga tak pernah mendengar tentang cerita itu. Tetapi kedua
insan muda itu mempunyai perasaan dan pengertian bahasa
kalbu masing-masing. "Ah, rasanya rama tentu tak murka bahkan malah gembira
kalau aku merobah pendirianku. Dan untuk Jarak, mudahlah
untuk dicarikan wanita lain" Suatu pertimbangan yang lebih
banyak dipengaruhi oleh rasa asmara, menyembul di tengah
kisaran kebimbangan hatinya.
Tepat pada saat itu muncullah bayang-bsyang tentang hantu
buta tadi. Hai, ki anom, engkau adalah manusia yang berhamba
pada nafsu angkara. Bagaimana mungkin engkau hendak
menumbangkan kekuasaan raja Majapahit .... terngiang-ngiang
pula kata-kata penuh ejek dari hantu buta tadi.
"Kurang ajar engkau setan buta" Sambu mendamprat dalam
hati "engkau mengejek aku tak mungkin dapat melawan raja.
Tapi engkau sendiri. Bukankah engkau mengatakan bahwa
bangsa yang lemah seperti bangsa kambing itu, pada suatu
waktu juga akan tumbuh kuat menjadi binatang yang perkasa.
Dan engkau buktikan kata-katamu itu dengan keberhasilanmu
mengalahkan harimau gembong. Hm, pembohong, jangan
engkau kira bahwa hanya bangsa kambing saja yang mampu
tumbuh kuat, tetapi aku, mahluk manusia yang lebih tinggi
derajat martabatnya, tentu akan lebih mampu untuk tumbuh
kuat. Sekalipun kedudukanku hanya seorang putera buyut, tetapi
aku adalah ksatrya yang akan bangkit dan membangun sebuah
kerajaan baru yang jauh lebih besar, lebih kuat dan lebih jaya
dari Majapahit" Bagai setitik air hujan yang mencurah ke dalam telaga, maka
titik hujan itu akan membengkah dan menebar menjadi lingkaran
yang lebar luas. Demikian pula dengan letikan api perjuangan
yang menyala dalam dada sanubari Sambu. Percik api itu cepat
meranggas dan berkobar besar, membakar rongga dadanya.
1655 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seketika sadarlah Sambu akan tugas besar yang terletak pada
bahunya. "Aku bercita-cita untuk me lawan kerajaan Majapahit. Telah
kurintis jalan ke arah itu pada tiap-tiap lurah dan buyut yang
kusinggahi. Dan mereka pun bersedia membantu. Adakah harus
kupadamkan lagi api yang telah kusulut sendiri itu ?" bertanyalah
dia kepada dirinya sendiri. Suatu pertanyaan untuk mawas diri,
mengadakan peninjauan dan penilaian isi hatinya.
"Tidak" akhirnya tersembullah suatu jawaban dari dasar lubuk
hati ya "c ita c ita itu menyangkut kepentingan ratusan ribu rakyat
yang tak senang atas tindakan baginda selama ini. Mereka tidak
senang tetapi tidak dapat melampiaskan perasaannya. Dan aku
berhasil menjadi wadah penampung perasaan mereka, kemudian
mem mpin mereka dalam suatu langkah pencetusannya. Aku tak
boleh berhenti sampai di sini. Aku tak mau menghianati
kepentingan rakyat" Mantaplah keputuian hati Sambu. Dan untuk lebih
memantapkan lagi maka dia kembali meninjau peristiwa
hubungan batin antara Tanjung dengan dirinya.
"Soal hubungan dengan Tanjung adalah soal peribadiku. Dan
soal peribadi itu harus kusiugkirkan dulu manakala kepentingan
rakyat menantang di hadapanku" pikirnya.
Hati adalah sumber semangat dan gerak manusia. Apabila hati
lapang riang, langkah dan plkiranpun terang. Demikian Sambu
ketika dia pulang ke Sadeng. Serasa ringan langkah yang
diayunkannya, serasa cepat waktu yang dimakan dan serasa
pandaklab jarak perjalanan yang ditempuhnya.
Di kala berangkat, ia rasakan perjalanan itu jauh dan lama.
Manakala pulang, tidaklah demikian. Pada hal jalan yang
ditempuh dan jarak yang harus dilalui itu, adalah sama. Yang
tidak sama adalah perasaan hatinya. Waktu berangkat, ia belum
tahu bagaimana dan apa yang akan diperoleh dalam tugas
1656 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perjalanan itu, baik tugas dari ranaaaya, maupun tugas dari cita-
cita yang direncanakannya. Sesuatu yang belum diketahui, akan
menimbulkan pemikiran yang kadang cenderung pada rasa
cemas. Menelan waktu dan menyita segenap semangat dan
pikiran. Itulah sebabnya maka ia rasakan perjalanan itu lama dan
jauh. Tidaklah demikian ketika dia pulang. Dia te lah merasa berhasil
mempersatukan para lurah dan buyut. Diapun merasa telah
dapat memboyong hati Rara Tanjung. Lapanglah dada, lapanglah
hati dan lapang pula langkahnya.
"Ah, betapalah indah alam daerah ini" kadang dia memuji
manakala tiba di suatu pedesaan atau di pegunungan yang indah
alamnya. Dia hampir tak percaya mengapa waktu berangkat dia
tak melihat pemandangan itu.
Sayup-sayup terdengarlah kata-kata dari gurunya "Kulup,
segala apa di bumi ini tiada yang aneh, tiada yang buruk dan
jelek, tiada siang dan malam"
Waktu mendengar pembukaan kata dari sang guru, Sambu
mengangguk-angguk. Tetapi manakala mendengar ucapan yang
terakhir, dia mengerut alis "Guru, mengapa tiada siang dan
malam " Bukankah saat ini malam hari" Dan beiok waktu surya
terbit, itulah pagi"
"Engkau tidak salah dengar, kulup" kata sang guru pula
"memang benar bahwa aku mengatakan kalau sesungguhnya
dunia ini tiada siang dan ma lam. Itu hanya kata-kata ciptaan
manusia untuk membedakan antara suatu jarak pendek dari
peredaran matahari. Bagi mereka yang sudah mencapai
pengertian tentang alam jagad raya ini, waktu itu sudah tiada
lagi. Siang dan malampun sudah tak dikenal lagi"
"Tetapi guru, kalau hari gelap seperti saat ini, bukankah waktu
malam hari ?" 1657 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar, Sambu" kata gurunya itu kita manusia di bumi yang
mengatakan. "Tetapi sesungguhnya hal itu bukanlah suatu
pemandangan yang benar, melainkan tinjauan dari manusia-
manusia yang kebetulan berada di bawah naungan rembulan
tanpa dapat mengetahui bahwa sesungguhnya matahari itupun
masih tetap bersinar. Andaikata engkau mempunyai sayap dan
dapat terbang tinggi ke angkasa raya, engkau tentu akan dapat
melihat bahwa matahari masih berada di tempat semula. Dan di
situ engkau takkan dapat membedakan lagi apa yang disebut
malam dan a-pa yang dikata siang"
"Ah" Sambu mendesah karena tak dapat menjangkau apa
yang dimaksud gurunya "apakah itu hanya tergantung soal rasa,
guru ?" "Bukan, itu bukan soal rasa tetapi suatu kenyataan yang kita
tak mampu mencapainva. Namun kelak apabila eagksu sudah
lebih maju dalam pengolahan batin dan peningkatan ciptamu,
mudah-mudahan engkau dapat memahaminya"
"Lalu apa yang disebut rasa itu, guru ?"
"Rasa dapat kita hayati dalam dua hal. Rasa sejati atau
sejatining rasa. Dan rasa wadag atau rasa yang masih
dipengaruhi oleh obah usiknya indriya. Misalnya kita merasa
panas apabila berjalan di bawah terik matahari. Kita merasa
sejuk apabila membenam diri di telaga. Itulah yang disebut rasa
dari indriya kita. Dan rata itupun saling tentang, kemudian sa ling
menilai dan akhirnya ?aling menimbulkan kesimpulan yang
memberi warna-warna perbedaan. Antara panas dengan dingin,
siang dengan malam, baik dengan buruk dan sebagainya.
"Dan rasa sejati itu adalah timbul dari dalam rasa kita yang
peribadi, bukan terpengaruh oleh indriya maupun benda-benda
dan keadaan dari luar. Misalnya, rasa senang dengan susah,
kasih dengan benci. Kesemuanya itu tergantung dari rasa
perasaan kita sendiri. Sudah tentu tercapainya rasa itu harus
disertai dengan keheningan dari pikiran dan hati yang sudah
1658 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
larut. Pada taraf itulah kita takkan terpengaruh lagi dari bentuk-
bentuk perasaan yang melahirkan penilaian. Senang tiada beda
dengan susah, kasih dan benci bukan suatu yang bertentangan.
Kesemuanya itu hanya pancaran-pancaran dari rasa kita yang
belum larut ke dalam kemanunggalan sejati"
Sambu mengangguk-angguk dalam penghayatan yang masih
semu. Ia belum dapat melekatkan pengertian ucapan gurunya itu
ke dalam hatinya, apalagi menghayati.
Beberapa tahun setelah turun gunung dan membaurkan diri
dalam masyarakat ramai dan alam luas, sedikit demi sedikit dia
mulai dapat menyingkap intisari dari wejangan gurunya. Dan
walaupun belum dapat menyerap ke arah penjelmaaan yang
mendalam, namun dia sudah menyadari bahwa segala perasaan
itu tidak lain bersumber pada rasa dalam hatinya sendiri. Dan
ejak itu dia mulai berupaya untuk menempatkan setiap rasa pada
sifat kewajarannya. Melarutkan setiap gejolak perasaan dalam
keheningan yang seimbang, a-kan membawa rasa senang dan
sedih, kasih dan benci sebagai sesuatu yang tak harus
menimbulkan luapan rasa. "Ah" apabila terkenang akan makna dari ajaran gurunya,
Sambu menghela napas "benar memang benar. Alam itu tiada
berobah, yang berobah adalah rasa manusia yang mengadakan
penilaian. Keindahan alam di pedesaan dan pegunungan yang
kurasakan sekarang, bukan suatu perobahan yang baru terjadi"
Demikian tingkatnya, setelah menempuh perjalanan panjang
dengan bekal tujuan yang tiada berhasil sebagai seorang utusan
akhirnya tibalah Sambu di kebuyutan Sadeng. Setiap perjalanan
tentu membawa kesan. Baik atau buruk kesan itu, hanya
menurut penilaian masing masing. Dan setiap penilaian tentu
berpijak pada kepentingan yang dimilikinya.
"Apa alasan kakang adipati menolak peminanganku ?" buyut
Sadeng terkejut demi mendengar laporan puteranya.
1659 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tanjung masih terlalu muda. Paman adipati belum
mempertimbangkan hal itu, rama" jawab Sambu.
"Itu bukan alasan" seru buyut Sadeng "kalau memang
menganggap masih muda, dapatlah hal itu diikat dengan janji
dahulu" "Itu keputusan paman adipati, rama. Dan dia berhak
sepenuhnya dalam menentukan jodoh bagi puterinya"
"Tetapi dia mencontreng arang di mukaku" teriak buyut
Sadeng "dia menganggap kita lebih hina. Lebih rendah pangkat
dan kedudukan kita" "Itu haknya, rama"
Buyut Sadeng membelalakkan mata lebar-lebar "Sambu,
tidakkah engkau merasa bahwa engkau ini puteraku, buyut
Sadeng?"

Sumpah Palapa Karya S D. Djatilaksana di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tentu saja rama" sahut Sambu "rama adalah sesembahanku"
"Lalu mengapa engkau berkata seolah membenarkan sikap
adipati Pajarakan ?"
"Hamba hanya mengatakan tentang hak daripada paman
adipati. Kita wajib menghormat dan tak boleh merampas hak
wewenang seorang ayah terhadap putera puterinya"
"Dan membiarkan ramamu menderita malu ?"
"Hamba tidak mengatakan begitu, rama"
"Lalu bagaimana sikapmu waktu mendengar keputusan adipati
?" "Hamba menerimanya secara wajar, rama"
"Wah, celaka kamu Sambu"
"Salahkah hamba, rama ?"
1660 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apakah engkau menganggap sikap Itu benar?" balas buyut
Sadeng. "Menurut kewajaran, hal itu benar. Tetapi kalau menurut
penilaian, hal itu salah"
"Apa maksudmu ?"
"Hak bagi setiap manusia untuk menentukan keputusannya
sendiri itu yang hamba maksud sebagai suatu kewajaran. Tetapi
setiap tindakan, tentu menimbulkan penilaian orang lain. Dan
setiap penilaian tentu tak lepas dari kepentingan orang ifu. Maka
salah atau benar, terserah bagaimana orang akan menempatkannya". Buyut Sadeng heran melihat sikap Sambu. Sebelum berargkat
Sambu memiliki sikap yang menyala, penuh semangat juang.
Tetapi sepulang dari Pajarakan mengapa sikapnya berobah
banyak " "Baiklah. Sambu, apabila engkau merelakan rama menderita
malu, akupun menerima saja"
"Rama, apakah hamba mengatakan kalau hamba merelakan
hal hal sedemikian terjadi pada rama?"
"Lalu" "Hamba menerima jawaban paman adipati sebagai sesuatu
yang wajib hamba terima. Tetapi hambapun menggunakan hak
hamba untuk memberi peringatan kepada beliau"
"Sambu !" teriak buyut Sadeng terkejut "jangan bermain kata
dengan berkalang lidah. Katakan apa yang telah terjadi"
"Hamba memperingatkan kepala paman adipati, bahwa
apabila hamba mendengar paman adipati menerima pinangan
orang lain, maka hamba akan menuntut pertanggungan jawab
paman adipati atas penolakan peminangan hamba itu"
1661 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Buyut Sadeng makin heran "Jika demikian, engkau
mempunyai penilaian lain terhadap penolakan pamanmu itu ?"
"Bukan penilian rama tetapi prasangka yang memiliki dasar-
dasar kesan" "Aku benar-benar bingun merasakan omonganmu itu, Sambu.
katakanlah terus terang saja"
Akhirnya Sambu menceritakan semua peristiwa yang
dialam inya selama berada di kadipaten Pajarakan. Hanya satu hal
yang disembunyikan yalah mengenai hubungannya dengan Rara
Tanjung dan percik-percik perasaan hatinya yang tertumpah
dalam perpaduan hati dengan dara itu.
"Ho, begitulah tujuan yang terkandung di balik penolakan
kakang adipati itu" buyut Sadeng memberi tanggapan "jika
demikian engkau telah bertindak tepat sekali, Sambu. Antara
keluarga dengan pendirian, memang dua hal yang berlainan.
Keluarga adalah suatu tali hubungan berdasarkan keturunan atau
hubungan pernikahan. Misalnya, karena ibumu itu masih saudara
sepupu dengan bibimu di Pajarakan, maka akupun terikat
keluarga dengan adipati Pajarakan"
Sejenak buyut berhenti untuk memulangkan napas
"Tetapi pendirian, adalah tujuan hidup seseorang. Bebas dari
ikatan keluarga dan hubungan apapun jua. Maka aku setuju
sekali akan tindakanmu memberi peringatan kepada adipati
Pajarakan" "Rama, benarkah paman adipati Pajarakan itu orangnya ki
patih Aluyuda ?" "Sejauh yang kuketahui, dia memang adipati yang diangkat
kerajaan Majapahit dan di tempatkan di Pajarakan. Apakah dia
itu orang dari patih Aluyuda, aku belum tahu dengan pasti. Kita
nantikan saja, Sambu. Apabila nanti dia mengirim Tanjung ke
Majapahit, jelas dia memang orang bawahan patih Aluyuda"
1662 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik, rama" lalu Sambu melaporkan tentang hasil
kunjungannya pada setiap desa yang disinggahi
"Makin besar perasaan hati hamba, rama, bahwa para lurah
dan buyut di wilayah bekas kekuasaan Lumajang dan
Blambangan, akan setya mendukung gerakan kita"
Buyut Sadeng merasa maju selangkah. Laporan Sambu itu
makin mendorong langkahnya untuk segera mengadakan
persiapan dalam rangka rencananya memisahkan diri dari
kekuasaan Majapahit. (Oo-dwkz-ismoyo-oO) 1663 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
II Penghidupan dan peti kehidupan laksana roda yang berputar
tak kenal henti. Apa yang akan terjadi esok dan kelak, tiada
seorangpun yang dapat mengatakan dengan pasti. Setiap waktu,
segala kemungkinan, yang diinginkan dan tak diinginkan, dapat
terjadi. Hidup ini memang serba mungkin dalam ketidakpastiannya. Sekarang kita tanamkan biji jagung, kelak kita akan
memperoleh tanaman jagung yang menghasilkan buah. Itu suatu
kewajaran dari kehidupan alam. Tapi bukan suatu kepastian
dalam alam itu sendiri yang berunsur serba mungkin dalam
segala kemungkinan. Apa yang kita tanam, kita akan memetik buahnya. Hukum
kodrat itu berlaku meliputi seluruh amal dan perbuatan insan
manusia. Amal baik mendapat buah yang baik. Perbuatan jahat
akan memetik hasil yang jahat.
Namun karena hidup itu merupakan peristiwa yang serba
mungkin dalam ketidakpastian, maka kewajaran hukum kodrat
itupun, menderita percik-percik ketidakpastian pula.
Dan manusialah yang merupakan unsur terpenting dalam
menggubah warna-warna peri kehidupan menjadi serba mungkin
dalam ketidakpastian, Bagai halilintar meletus di liang hari maka pecahlah berita
tentang pemberontakan yang dilakukan Dharmaputera ra Kuti.
Seri baginda Jayanagara lolos dari keraton.
Berita itu cepat tersiar luas sampai ke daerah-daerah.
Kebuyutan Sadeng tergetar mendengar berita itu.
"Sambu" buyut Sadeng segera memerintahkan orang untuk
memanggil puteranya. Dan tatkala Sambu menghadap maka
berkatalah buyut itu dengan nada berdetar-detar "dengarkah
engkau tentang berita dari pura Majapahit ?"
1664 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sudah rama" sahut Sambu.
"Lalu bagaimana tanggapanmu ?"
"Hamba belum tahu jelas apa yang telah terjadi di pura
kerajaan, rama. Yang hamba dengar di pura Majapahit telah
timbul huru hara besar di mana seri baginda Jayanagara telah
lolos dan kini pusara kerajaan telah dikuasa i oleh ra Kuti,
pimpinan Dharmaputera"
Buyut Sadeng mengiakan "Ya, memang begitulah berita itu.
Lalu bagaimana kehendakmu, Sambu?"
Sambu tak lekas menjawab melainkan berdiam diri beberapa
jenak. Kemudian baru berkata "Baiklah kita nantikan dulu berita
yang lebih jelas tentang keadaan yang terjadi di pura Majapahit
itu" "Mengapa harus begitu, Sambu ?"
"Rama" kata Sambu "rencana yang hendak kita lakukan itu,
suatu tindakan yang besar dan pasti akan menimbulkan
kegemparan. Kita akan membentuk sebuah daerah kadipaten
sendiri tanpa titah dari kerajaan. Sudah tentu akan terjadi
sesuatu dalam peristiwa itu nanti. Oleh karena itu janganlah
hendaknya kita diburu nafsu dan cepat terpengaruh oleh suatu
berita yang belum kita ketahui jelas"
"Jika demikian, kita harus mengirim orang untuk menyirapi
kabar lebih lanjut kemudian baru kita tentukan langkah yang
pasti" kata buyut Sadeng.
"Baik, rama" kata Sambu "idinkanlah hamba yang melakukan
penyirapan itu" "Engkau hendak ke Majapahit ?"
"Begitulah rama" sahut Sambu "hamba akan meninjau dari
dekat bagaimana perkembangan di pura kerajaan yang
sesungguhnya" 1665 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Buyut Sadeng menimang. Dalam diri puteranya yang sulung
itu, dia mendapatkan cahaya yang memancarkan sinar harapan.
Sambu digdaya, cerdas dan tangkas. Tugas berat untuk
menundukkan hati para lurah dan buyut di seluruh wilayah bekas
kekuasaan Pajarakan dan Blambangan, bukanlah suatu tugas
yang ringan. Namun Sambu dapat menyelesaikan dengan
gemilang. Kehadiran Sambu di tengah keluarga, dirasakan ebagai api
yang menghangatkan hati buyut Sadeng. Apabila kini dia
melepas Sambu ke Majapahit, bagaimana nanti dengan persiapan
persiapan di Sadeng. Namun apabila tidak me luluskan
permintaan Sambu, rasanya tiada lain orang yang lebih cakap
untuk melakukan itu daripada Sambu.
"Adakah rama masih menguatirkan keselamatan hamba" tiba-
tiba Sambu menegur. "Tidak, Sambu" sahut buyut agak terkejut "tetapi hendaknya
engkau berhati hati. Karena kalau benar di pura kerajaan Sadeng
terjadi kemelut huru-hara, setiap kemungkinan yang tak
diinginkan dapat terjadi"
Sambu mengucap terima kasih.
"Lalu bagaimana tindakan rama di sini?" tanya buyut pula.
"Rama" kata Sambu dengan nada tegas "api tentu tak dapat
menyimpan asap. Jika tiada terjadi sesuatu di pura kerajaan tak
mungkin akan pecah berita semacam itu. Bukankah huru-hara itu
merupakan peristiwa besar" Beranikah orang menyiarkan berita
bohong?" Buyut mengangguk. "Oleh karena itu hamba percaya bahwa tentu terjadi sesuatu
di pura Majapahit. Apabila huru hara itu terlalu dilebih-lebihkan,
paling tidak tentu terjadi keributan yang mengganggu keamanan.
1666 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan bahwasanya apabila seri baginda sampai lolos dari keraton,
jelas keributan itu tentu gawat sekali"
Kembali buyut mengangguk.
"Maka bahwasanya di pura kerajaan telah terjadi suatu
peristiwa yang berbahaya, itu sudah pasti. Namun bagaimana
keadaannya, siapa yang menguasai pemerintahan kerajaan dan
sebagainya, itulah yang hamba perlu mengetahui sejelas-
jelasnya" kata Sambu "maka sekalipun belum mendapat
keterangan yang jelas namun hamba rasa sekaranglah saatnya
kita bergerak" "Maksudmu ?" bayut terbeliak.
"Hamba rasa baiklah rama segera melaksanakan persiapan
untuk mengundang para lurah dan buyut di daerah-daerah itu
untuk menghadiri berdirinya kebuyutan Sadeng menjadi
kadipaten dan rama sebagai adipadi Sadeng"
"Adakah mereka mau menghadiri undangan itu ?" buyut masih
meiagu. "Mereka telah berjanji kepada hamba" kata Sambu dengan
penuh keyakinan pada dirinya "namun apabila ada seorang dua
orang yang membelot, kelak hamba tentu akan mendatangi
mereka untuk meminta pertanggungan jawab atas janji mereka"
"Baik angger" wajah buyut berseri cerah "engkau benar-benar
seorang putera yang dapat menjunjung martabat orangtuamu"
Demikian mereka mengakhiri pembicaraan dan tanpa
menunggu sampai esok, petang itu juga Sambu segera
berangkat dengan naik kuda. Dia menempuh perjalanan, siang
dan malam. Dia menyadari bahwa perjalanannya kali ini
mempunyai arti yang sangat penting sekali.
"Apabila berita itu benar-benar sesuai dengan kenyataannya,
inilah saat yang terbaik untuk segera melaksanakan rencana
yang kuidam-idamkan. Sadeng akan berdiri sebagai kadipaten
1667 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan tidak tunduk kepada Majapahit. Dan apabila kerajaan
dikuasai patih Aluyuda, itu lebih baik lagi karena Sadeng
mempunyai alasan kuat untuk berontak dan melakukan tindakan
selanjutnya" di tengah perjalanan Samba layangkan pikiran
dalam alam penimangan. Seolah dia hendak menembuskan
pandang pikiran ke pura kerajaan agar saat itu pula dia dapat
mengetahui apa yang terjadi di pura.
Memang Sambu mempunyai prasangka besar terhadap patih
Aluyuda. Peristiwa di Lumajang dan Pajarakan meninggalkan


Sumpah Palapa Karya S D. Djatilaksana di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kesan yang mendalam bahwa biangkeladi daripada pertumpahan
darah itu, tak lain adalah patih Aluyuda.
Dan berkilatlah mata hatinya kala terbayang peristiwa di
kadipaten Pajarakan. Sikap adipati Pajarakan itu menimbulkan
dugaan bahwa adipati memang di bawah pengaruh patih
Aluyuda. Bahwa adipati memang mempunyai keinginan untuk
mempersembahkan rara Tanjung ke keraton Majapahit.
"Setan laknat" tanpa disadari dia menggeram keras-keras.
Luap kegeraman hatinya tak dapat dibendung dan meletus pada
bibirnya. "Hm, engkau juga mengatakan aku setan laknat.."
Tiba-tiba terdengar suara orang mendesuh rasa geram. Sudah
tentu Sambu terkejut bukan kepalang. Saat itu dia sedang
melintas sebuah hutan belantara dari jalan yang merentang ke
utara. Kala itu menjelang senja. Mentari sudah condong merebah
di punggung gunung sebelah barat. Sinarnya yang lemah
kemerah-merahan, tertolak oleh kerimbunan ranting dan dahan
pohon-pohon yang tumbuh melebat di hutan itu. Daun-daun
seolah-olah enggan menerima sinar mentari lelah.
Serentak Sambu hentikan kudanya "Siapa itu?" serunya seraya
mengeliarkan pandang ke sekeliling.
"Aku setan laknat" sahut suara tadi.
1668 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sambu cepat menangkap arah suara itu dan mengarahkan
pandang matanya ke sana. Tetapi heran. Tiada juga dia melihat
seorangpun juga. "Engkau setan atau manusia " Kalau manusia, unjukkan
dirimu" ulang Sambu.
"Rentanglah biji matamu lebar-lebat agar dapat melihat diriku"
sahut suara itu pula. Sambu tersadar. Karena dicengkam ketegangan dia lebih
banyak menggunakan perasaan hati yang dibebar ketegangan
daripada ketajaman penglihatan matanya. Segera dia menekan
rasa tegang itu dan pelahan-lahan dia mulai meniti dengan
pandang yang tenang dan cermat.
"Ah" beberapa saat kemudian dia mendesah kaget manakala
pandang matanya tertumbuk pada sebuah pemandangan yang
ganjil. Pada dahan dari sebatang pohon maja yang tinggi dan
rindang daunnya, tampak sesosok tubuh bergelantungan, kedua
kaki dikaitkan pada dahan dan kepalanya menjulai ke bawah
bersama sepasang tangannya.
"Hai, siapa engkau!" teriaknya untuk menyiak rasa tegang
yang mendebar jantungnya.
"Ahirnya engkau dapat melihat aku" sahut o-rang itu.
"Engkau .... manusia ?" seru Sambu.
"Ya, aku memang bekas manusia"
Sambu terbeliak "Bekas manusia" Apakah sekarang engkau
bukan seorang insan manusia lagi?"
"Benar. Aku memang sedang mencari ke-manusiaanku"
Sambu makin heran. Jawaban orang itu benar-benar tak wajar
dan penuh teka teki "Ki sanak, menilik engkau dapat bicara
seperti aku, jelas engkau ini seorang insan manusia seperti aku.
Apa maksudmu hendak mencari kemanusiaanmu ?"
1669 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apakah ciri ciri manusia itu ?" kini orang aneh itu balas
bertanya. "Apa yang hendak engkau tanyakan lagi?"
"Layakkah seperti diriku ini disebut manusia " Kalau engkau
menamakan dirimu manusia, itu sudah layak. Engkau menuntut
peri kehidupan dan hidup sebagaimana manusia layaknya. Tetapi
adakah diriku ini juga seperti dirimu ?"
"O karena engkau bergelantungan seperti kelelawar itu ?" kata
Sambu "ya, aku memang heran dan aneh mengapa engkau
berbuat begitu. Apakah sesungguhnya maksudmu berbuat
begitu" Siapakah engkau ini, ki sanak?"
"Terserah saja yang hendak menyebut"
"Engkau mempunyai nama ?"
"Apa kaitan nama dengan aku ?" balas orang aneh itu.
"Setiap orang orang, sejak kecil tentu mempunyai nama
pemberian dari orang tuanya. Bukankah engkau juga demikian ?"
"Ya, tetapi kulepaskan nama itu"
"Mengapa " Bukankah nama pemberian orangtua itu harus
kita junjung tinggi sebagai warisan suci ?"
"Itulah" seru orang orang aneh itu "karena mengagungkan
nama pemberian orangtua itu maka aku tak berani menyandangnya" "Mengapa ?" "Aku merasa berdosa karena nama itu telah tercemar oleh
hinaan orang. Sebelum dapat kuhimpaskan hinaan itu, sebelum
dapat kucuci bersih lumur-lumur cemar itu, aku takkan memakai
nama itu" Sambu makin heran. Orang itu bertubuh kurus. Apalagi
bergelantung dengan kepala menjuiai ke bawah. Tubuhnya yarg
1670 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telanjang tanpa baju itu memperlihatkan tulang-tulang rusuk
dengan jelas. Rambut yang kumal terurai, menambah seram
pada wajahnya yang cowong kurus. Hanya sepasang bola
matanya yang memancar sinar berkilat-kilat tajam. Sepintas
wajahnya masih membekas bentuk seorang pria tampan.
"O, engkau pernah menderita hinaan orang?"
"Hm" "Siapakah yang menghinamu ?"
"Itu urusan peribadiku. Aku takkan minta bantuan kepada
siapapun juga" sahut orang aneh itu.
"Hm, baiklah" kata Sambu "lalu engkau menempuh cara hidup
begini. Kurasa karena engkau hendak menuntut balas kepada
orang itu. Tetapi yakinkah engkau akan dapat melakukan cita-
citamu itu dengan cara begini ?"
"Tanpa suatu cita-cita, manusia tak perlu hidup. Keyakinan itu
merupakan api dari cita-cita. Tanpa Keyakinan, cita-cita hanya
menjadi buah m impi, buai angan-angan. Salahkah atau benarkah
cita-citaku dapat kulaksanakan dengan cara begini, itu menjadi
milikku sepenuhnya. Namun apapun yang akan terjadi, takkan
merobah keyakinan yang telah menyatu dalam nafas dan
darahku" Terkejut Sambu mendengar ucapan orang itu. Jelas, ringkas
dan tegas. Tergugahlah semangatnya seketika menjelang tugas
yang sedang dilakukan saat itu. Sekilas kesan berkilat dalam
benaknya. Adakah orang aneh itu seorang pertapa yang sidik
sehingga tahu akan perjalanannya ke Majapahit " Jika demikian
jelas ucapannya itu ditujukan kepadanya sebagai pendorong
semangat " "Terima kasih, ki sanak" katanya.
"Apa yang engkau terima kasihkan ?"
1671 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Engkau telah memberi dorongan semangat kepadaku bahwa
keyakinan itu adalah hakekat daripada cita-cita yang menjadi api
kehidupan manusia" Orang aneh itu tertawa hambar "Aku mengatakan tentang
sesuatu yang wajar. Oleh karena kebanyakan orang tak tahu
atau tak mau tahu tentang hal-hal yang wajar itu, maka
orangpun menganggap hal yang wajar itu seperti sesuatu yang
bukan wajar, yang luar biasa. Engkaupun demikian"
Sambu terbeliak. Tajam juga kata-kata itu menikamnya Ia
merasa makin bertukar cakap dengan orang aneh itu, makin dia
merasa seperti orang bodoh. Setiap kata-kata yang diucapkan,
selalu salah. Sambu seorang pemuda yang masih berdarah panas. Entah
bagaimana tiba-tiba terbertik dalam hatinya untuk menjajal
kesaktian orang itu. Dia tahu kalau orang itu tentu sedang
bertapa. Pada umumnya orang yang bertapa tentu hendak
menuntut suatu ilmu kesaktian. Namun sejauh itu, belum pernah
ia mendengar orang bercerita tentang iimu bertapa yang
sedemikian aneh. Gurunya pernah berkata, bahwa di antara
berbagai cara orang bertapa, ada salah satu yang disebut Tapa-
kalong. Bertapa tanpa makan dan minum kecuali ada makanan
atau air yang mencurah ke mulutnya.
"Ah, mungkin ilmu yoga" pikir Sambu lebih jauh "adakah dia
seorang yogin yang tengah melakukan latihan ?"
Namun dugaan-dugaan itu tak mengendurkan keinginannya
meaguji kesaktian orang aneh itu "Ki sanak" katanya seraya maju
menghampiri lebih dekat "mengapa dikau tak turun ?"
"Aku ingin me lihat jagad ini beserta mahluk-mahluk
penghuninya" sahut orang aneh itu.
"Aneh" gumam Sambu "tidak wajar kalau orang melihat
deagan berjungkir balik begitu"
1672 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Memang tidak wajar seperti keadaan isi jagad itu sendiri.
Raja bersenang-senang diri menghendaki wanita yang sudah
menjadi isteri orang. Patih tidak mengurus pemerintahan
melainkan mencurahkan pikiran untuk mengambil hati junjungannya dengan memberi wanita-wanita cantik dan sanjung
pujian yang memabukkan. Wajarkah itu " Oleh karena itu maka
aku hendak melihat dunia dan seisi penghuninya secara terbalik
agar aku dapat menemukan keadaan yang sebenarnya"
"Apakah yang engkau peroleh dari hasil pengamatanmu itu ?"
tanya Sambu. "Lucu dan menggembirakan" sahut orang aneh itu "kulihat
binatang berkepala empat, hidungnya kecil panjang, pantatnya
beilubang dengan gigi-gigi tajam. Manusiapun berkepala dua
yang selalu bergerak tak henti-hentinya kakinya satu berbentuk
bundar, jari jemarinya berada di kanan kiri kaki itu, ho, lucu, lucu
sekali ...." "Ki sanak, turunlah" tiba-tiba Sambu maju mendekat dan terus
menarik tubuh orang itu sekuat-kuatnya. Tetapi sebelum
maksudnya tercapai, orang itu mendorong dengan sebelah
tangan, uhhhh .... Sambu terdorong dua tiga langkah ke
belakang. Sambu terkejut sekali. Ia tak menyangka tangan orang aneh
Itu dapat memancarkan tenaga yang dahsyat sekali "Hm, akan
kucoba lagi" geramnya.
Dia maju lagi dan mengulurkan tangan. Dia tahu kalau orang
aneh itu tentu akan mendorongnya pula maka diapun sudah
bersiap-siap menghimpun tenaga untuk bertahan. Dia hendak
adu kekuatan. Benar juga. Orang aneh itu segera ulurkan tangan
menyongsong. Melihat itu Sambu cepat mengarahkan telapak
tangan untuk menyambut, uhhhh .... tiba-tiba dia menarik pulang
1673 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tangannya dan menyurut mundur dengan wajah menahan
kesakitan. Apa yang terjadi " Kiranya orang aneh itu tidak mendorong melainkan gunakan
jarinya untuk menusuk telapak tangan Sambu. Entah bagaimana,
seketika Sambu merasa telapak tangannya seperti dipagut ular
yang bisanya mengalir deras melalui telapak tangan terus ke
lengan sehingga lengan Sambu lunglai.
Marahlah Sambu menderita kesakitan itu. Bukan menyadari
kalau orang yang hendak diganggunya itu memiliki kepandaian
yang hebat, kebalikannya Sambu malah penasaran sekali.
Tangan kirinya mencabut pedang yang terselip pada
pinggangnya lalu loncat menahas.
Tangan kanan Sambu lunglai tak bertenaga maka dia
menggunakan tangan kirinya. Sekalipun begitu kedahsyatannya
tidak berkurang. Tiba-tiba orang aneh itu menekuk tubuh, kepalanya
menelungkup ke atas sehingga pedang Sambu tak mengenai
sasaran "Hai orang muda, mengapa engkau hendak membunuh
aku ?" "Engkau telah melukai lengan kananku"
"Haha" orang itu tertawa "kalau aku memang mau
mencelakaimu, lenganmu pasti akan cacat selama-lamanya.
Tetapi lenganmu itu hanya lunglai. Sepengunyah sirih lagi
tentulah sudah dapat bergerak seperti semula"
Sambu tertegun. "Anakmuda" seru orang itu pula "apabila engkau hendak
mengumbar hawa nafsu membunuh aku. Kuperingatkan. Jika
engkau berbuat demikian, terpaksa akupun terpaksa melakukan
hal yang tak kuinginkan"
1674 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Itulah yang kuinginkan, ki sanak" seru Sambu seraya maju
lagi. Dia tahu apa yang dimaksud orang aneh itu tak lain tentu
hendak balas menyerang. Dan hal itu memang yang ia harapkan.
Sambu telah putus berguru pada seorang resi sakti. Baik ilmu
kanuragan maupun ilmu bermain senjata, dia mendapat
gemblengan yang hebat. Dalam ilmu bermain pedang, dia
mempunyai sebuah tata ilmu pedang yang disebut Barat-katiga
atau angin bulan ketiga. Apabila dimainkan dan telah mencapai
tataran yang tinggi, maka pedang itu akan memancarkan bunyi
yang gemuruh menderu-deru seperti barat bulan ketiga.
Sambu yakin bahwa orang aneh itu tentu seorang pertapa
yang menguasai ilmu sakti. Apa salahnya kalau ia hendak
mencoba sampai di mana kesaktian orang itu, di samping dia pun
hendak mengetahui berapa jauhkah daya kesaktian dari ilmu
pedang Barat -katiga itu.
Dengan pemikiran itu, Sambu segera memutar pedang bagai
kitiran dan pada lain saat bagai gelombang angin tesus segera
menerjang orang aneh itu.
"Uh ...." Sambu mendesuh kejut ketika tiba-tiba tubuh orang


Sumpah Palapa Karya S D. Djatilaksana di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

aneh itu menghilang dari pandang matanya. Dan pada dahan
pohon lebih kurang dua tombak jauhnya, terdengar suara orang
aneh itu berseru "Hayo, anakmuda brandal, seranglah aku"
Sambu terkejut dan berpaling. Ternyata orang itu sudah
pindah bergelantungan pada lain dahan. "Hm, hebat sekali orang
itu" geramnya. Serentak dia ayunkan tubuh loncat menerjang
lagi. Tetapi untuk kedua kalinya, orang aneh itupun sudah
berayun pindah ke lain pohon. Setelah beberapa kali tak berhasil
menyerang, barulah Sambu dapat melihat cara orang aneh itu
berayun pindah dari satu ke lain dahan.
Ternyata setiap kali diserang, orang aneh itu terus berayun-
ayun dan melayang ke lain dahan lalu bergelantungan dengan
1675 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kaki di atas dan kepala di bawah pula. Gerakannya tak ubah
seperti seekor kelelawar.
Selama ini belum pernah Sambu bertemu dengan leorang
manusia yang memiliki ilmu kepandaian seperti itu. Seharusnya
dia menyadari diri tetapi perangainya telah membiasakan dirinya
menjadi seorang yang tinggi hati, tak mau kalah dengan orang
lain. Dan watak itu makin tumbuh mekar karena gurunya sering
memujinya sebagai murid yang paling cemerlang "Kelak engkau
pasti akan menjadi seorang ksatrya tanpa tanding, Sambu "
demikian sering masih terngiang kata-kata yang dihamburkan
resi gurunya. "Masa dengan manusia yang berayun-ayun kian ke mari
seperti kelelawar saja aku tak mampu melukai" rasa kecongkakan
hatinya meluapkan tuntutan.
Dia segera bersiap dan mulai ma inkan gerak tataran ilmu
pedang Barat-katiga lagi dengan lebih mantap. Dia menyadari
bahwa permainannya tadi terlalu diburu nafsu sehingga lepaskan
ketenangannya. Setelah beberapa kali berayun dari satu ke lain dahan pohon,
tiba -tiba orang aneh itu menggembor keras "Manusia brandalan
yang tak tahu diri, rasakanlah ini .... !"
Brakkk . . . pada saat Sambu loncat menabas.tiba-tiba dahan
tempat orang itu menggelantungkan kakinya, patah dan
langsung menimpa Sambu. Sambu terkejut tetapi tak keburu lagi
menghindar. Sebelum dia tahu apa yang terjidi, dia rasakan
kepalanya sakit sekali karena rambutnya telah dijambak dan
ditarik ke atas. "Aduh ...." ia menjerit kesakitan dan pedangnyapun jatuh ke
tanah, sedang tubuhnya melayang ke atas. Dia hendak menebas
dengan tangan, tetapi pada saat itu tengkuknya telah dicekik
sebuah tangan yang teramat kuat sehingga dia tak mampu
berkutik, tenaganya lemas.
1676 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Engkau mau hidup atau minta mati ?" terdengar suara orang
aneh itu menghardiknya. Kini tahulah Sambu yang telah terjadi. Rambutnya telah
dijambak dan diangkat ke atas oleh orang aneh itu sehingga
tubuhnya bergelantungan beberapa kaki dari tanah. Dia benar-
benar tidak dapat berkutik lagi.
"Terserah" sahut Sambu teraya diam-diam mengendurkan
urat-urat untuk menghapus rasa sakit pada rambutnya "engkau
menang, engkau berkuasa"
"Hm, engkau benar-benar seorang anak muda yang keras
kepala. Siapa namamu ?"
"Sambu dari kebuyutan Sadeng"
"Mau menuju ke mana ?"
Sambu tertegun. Sebenarnya tugas yang dilakukan Itu, harui
dirahasiakan. Dia harui menolak pertanyaan orang itu, tekalipun
akan dibunuhnya. Namun baru dia hendak membuka mulut, tiba-
tiba terlintaslah setuatu dalam benaknya. Bahwa orang aneh itu
jelas seorang pertapa yang sudah tak mau mengetahui tentang
persoalan-persoalan dalam dunia ramai. Apabila dia memberitahukan tujuannya, pun tak ada suatu kepentingan
apapun dengan orang aneh itu. Dan bahkan mungkin akan
terjadi tuatu perobahan sikap dari orang itu.
"Aku hendak menuju ke pura kerajaan" sahutnya kemudian.
"Apa ?" orang aneh itu menegai.
"Ke pura Majapahit"
"Mengapa" Apakah engkau seorang narapraja?"
"Bukan. Telah kukatakan aku rakyat Sadeng"
"Lalu perlu apa engkau ke Majapahit ?"
1677 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Untuk menyatakan kebenaran dari berita yang menggemparkan" "Apa ?" "Apakah engkau belum mendengar ?"
"Jika sudah mendengar mengapa aku harus bertanya pula ?"
balai orang aneh itu. "Berita itu mengatakan bahwa di pura Majapahit telah timbul
huru hara betar sehingga teri baginda terpakia meloloskan diri"
"Apa katamu" Pemberontakan ?"
"Ratanya demikianlah"
"Siapa yang berontak ?"
"Entahlah" "Bagus, bagus" seru orang aneh itu "tetapi mengapa raja
dapat meloloskan diri ?"
"Itulah yang hendak kunyatakan kebenarannya. Apakah berita
itu benar atau biaya berita bohong"
"Lalu apa maksudmu setelah mengetahui peristiwa itu?"
"Sadeng akan berdiri sendiri dan lepas dari kekuasaan
Majapahit" "Mengapa ?" "Rakyat Sadeng sidak berkenan mempunyai raja Majapahit
yang sekarang. Selain bukan keturunan Singasarl, juga tidak
cakap memerintah, hanya pandai bersenang-senang diri dengan
wanita-wanita cantik..."
"Bagus" tiba-tiba orang aneh itu melepaskan cekalannya
sehingga tubuh Samba meluncur turun ke tanah. Kini Sambu
telah bebas. Dia terkejut dan heran dengan orang aneh itu telah
melepaskannya. 1678 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ki sanak, mengapa engkaa melepas aku ?" tegarnya.
"Apabila tadi enkau mengatakan tentang tujuanmu, tentulah
kita takkan timbul salah faham"
"Kenapa ?" "Aku gembira atas kepergianmu ke pura Majapahit itu.
Kuharap berita itu benar tetapi berita kalau raja telah lolos itu,
tidak benar" "Lalu apa yang engkau harapkan ?"
"Agar raja itu tewas dibunuh mereka yang melakukan huru
hara itu" Sambu terkejut. Dia mengira orang itu seorang pertapa yang
meninggalkan keramaian dunia, mencari kesempurnaan. Tetapi
ternyata orang itu masih mempunyai perhatian terhadap
kerajaan Majapahit. Dan ketika mengenangkan ucapan orang itu,
Sambu terkesiap dalam hati. Tampaknya orangg itu mempunyai
rasa tak senang terhadap raja Majapahit. Aneh.
"Ki sanak, apa sebab engkau mempunyai harapan begitu "
Bukankah engkau juga kawula Majapahit yang seharusnya
menjunnjung raja sesembahanmu ?" Sambu melepas penjajagan.
"Aku memang kawu!a Majapahit tetapi bukan hamba dari raja
Majapahit. Engkau mengatakan bahwa raja itu hanya gemar
bersenang-tenang dengan wanita cantik, tidak cakap mengurus
negara. Salahkah aku kalau mengharap agar raja yang
sedemikian itu lenyap saja dari muka bumi ?"
Sambu mengangguk "Ya. Tetapi kurasa ada titik perbedaan
dalam harapan kita. Aku mengharap agar raja terbunuh dengan
demikian Sadeng dapat melepaskan diri dari kekuasaan
Majapahit. Tetapi kurasa tentu tidak demikian dengan titik
keinginan yang tercurah dalam harapanmu, bukan ?"
Orang itu terdiam. 1679 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ada unsur lain yang terpercik dalam harapanmu itu. Apakah
itu, ki sanak?" tanya Sambu pula.
Orang itu termenung seperti terhanyut dalam kenangan
"Andaikata pada waktu itu ki Dipa tidak mencegah, pasti sudah
kuporak-porandakan prajurit-prajurit Majapahit di Lumajang ...."
dia mengingau seorang diri.
Sambu terkejut "Hah" Engkau pernah terjun dalam
peperangan di Lumajang" Apakah engkau ialah seorang mentri
kerajaan yang ikut serta dengan gusti patih Nambi ?"
"Tidak" "Apakah engkau seorang ponggawa kadipaten Lumajang ?"
"Bukan" Sambu kerutkan dahi Lalu siapakah engkau waktu itu ?"
Orang itu tak mau menyahut.
"Baiklah" kata Sambu "tentu ada sesuatu yang menyebabkan
engkau tak mau mengatakan siapa dirimu. Tetapi jelas sudah
bagiku, bahwa engkau mempunyai dendam kepada kerajaan
Majapahit terutama kepada seri baginda Jayanagara"
Orang itu mendengus "Itu persoalan peribadiku. Aku tidak
mengharap pertolongan orang dan tidak ingin pula melibatkan
orang lain" "Ya, Itu sikap seorang yang berjiwa ksatrya" puji Sambu
"tetapi ki sanak. Apabila engkau suka mempertimbangkan
pandanganku ini, kemungkinan engkau akan mau merobah
pendirianmu" "Manusia" kata Sambu pula manakala orang aneh tertegun
diam "adalah titah yang terkasih dari Hyang Purbawatesa.
Kepada manusia telah diberikan otak yang mempunyai daya sakti
berpikir. Inilah yang membedakan kita manusia dengan mahluk
lain. Kurasa pikiran itu serasa dapat menguasai seluruh isi jagad.
1680 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jika direntang, memenuhi jagad. Tetapi kalau digulung tidak
melebihi sebutir merica besarnya. Demikian pernyataan yang
melambangkan kebesaran dan kesaktian daya pikir manusia itu"
Sambu berhenti sejenak lalu melanjut pula "Dengan daya pikir
itu kita manusia menciptakan suasana, lingkungan dan peri-
kehidupan. Membentuk negara, pemerintah, masyarakat, desa
dan kampung halaman. Mengisinya dengan berbagai usaha dan
sarana tata hidup, baik dengan cara-cara mencukupi dan
rteningkatkan kebutuhan hidup secara lahiryah, maupun secara
batiniyah antara lain mengembangkan seni, budaya dan agama.
Kesemuanya itu jelas, hasil jerih payah manusia sendiri dalam
mengisi peri kehidupan mereka"
Orang aneh itu memandangnya tajam tetapi tak membuka
suara apa-apa. "Yang menjadi titik penting daripada pembicaraanku ini" kata
Sambu "yalah tentang nilai daripada usaha manusia itu. Jelai
sudah, bahwa hidup itu berintikan gerak usaha. Pada hakekatnya
gerak dan usaha itu adalah untuk memelihara, membina dan
meningkatkan peri-kehidupan kita manusia sendiri. Jadi lebih
ringkas lagi, hidup itu tak lain adalah suatu usaha"
"Dewapun takkan berkenan menurunkan anugerah apabila
manusia itu tak mau berusaha. Demikian nilai daripada bentuk
usaha, yang tak terlepas dari nilai manusia itu sendiri" kata
Sambu lebih lanjut. "Bicaralah yang singkat dan jelas" tiba-tiba orang aneh itu
menukas. "Ki sanak" kata Sambu dengan tenang seolah tak terkecoh
atas tanggapan tajam orang aneh itu "ku-yakin engkau tentu
telah mengalami suatu perlakuan bahkan tindakan yang
sewenang-wenang dari kerajaan Majapahit sehingga hidupmu
sampai menderita" Orang itu mendengus. 1681 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dan sebagai seorang manusia yang memiliki segala s irat-sifat
manusiawinya, terang engkau pasti mendendam kebencian. Dan
setiap dendam, tentulah menuntut suatu pelampiasan. Mungkin
untuk tujuan itulah maka engkau sampai bertapa dengan cara
bergelantungan pada dahan pohon ...."
"Hemmm" kembali orang aneh itu msndengus.
"Itu termasuk suatu upaya atau usaha juga" lanjut Sambu
"tetapi untuk mencapai keberhasilan daripada upaya itu,
hendaknya kita memakai pertimbangan yang berdasar pada
perhitungan nyata. Ki sanak, engkau hanya seorang diri, seorang
pejuang tunggal, seorang pembalas dendam yang sebatang kara.
Tanpa teman tanpa pengikut. Dapatkah kiranya engkau
mewujutkan cita-cita pada usahamu itu?"
"Gunung Bromo, gunung Asmara, gunung Semeru, tetap
tegak di tempatnya sepanjang masa. Mereka, gunung-gunung itu
takkan lari dikejar. Mengapa aku harus berburu-buru dan kalap
untuk melakukan pembalasan" Selama hayat masih dikandung,
pada suatu hari cita-citaku itu pasti terwujut"
Sambu gelengkan kepala "Engkau boleh memiliki pendirian
demikian tetapi kukatakan, pendirian itu tolol sekali. Eagkau
mengatakan selama hayat masih dikandung, tetapi sampai
berapa lamakah hayat itu akan engkau kandung" Nanti atau
besok, siapa tahu bisa saja engkau sudah menghembuskan
napas" Akan engkau bawa ke liang kuburkah segala c ita-cita dan
upayamu itu?" "Hemmmm" orang aneh itu mendengus.
"Tidak benar, ki sanak, apabila engkau memiliki pendirian


Sumpah Palapa Karya S D. Djatilaksana di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

begitu. Upayamu untuk mencapai ilmu sakti dalam bertapa itu
harus engkau salurkan dalam u3aha yang mantap dan tepat"
"Ha, anakmuda, tampaknya engkau ingin mengangkat dirimu
sebagai seorang guru yang memberi petuah kepada muridnya"
orang aneh itu mendesuh. 1682 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jauh dari itu, ki sanak" sahut Sambu "dalam hal usia dan
pengalaman, jelas aku kalah. Bagaimana aku berani hendak
menggurui andika " Tidak, hal ini bukan soal menggurui atau
tidak, melainkan suatu cara untuk bertukar pendapat. Namun jika
engkau tak berkenan, baiklah, akapun segera saja melanjutkan
perjalanan ke Majapahit" Sambu terus hendak ayunkan langkah.
"Anakmuda, jangan tergesa pergi dulu sebelum engkau
menyelesaikan kata-katamu" tiba-tiba orang aneh itu berseru
mencegah. Diam-diam Sambu gembira. Jelas orang aneh itu tertarik
dengan pembicaraannya. Dan orang yang tertarik tentu
mempunyai setitik rasa setuju.
"Baiklah, ki sanak" kata Sambu "sebenarnya aku tak layak
kalau berkering lidah menghaturkan pandangan ke hadapanmu.
Tetapi tiada jelek apabila sebagai seorang titah manusia aku
harus memberi bantuan kepada lain titah yang sedang tertimpa
penderitaan" Orang aneh itu diam. "Yang kumaksudkan, rakyat Sadeng sudah lama mengidam-
idamkan suatu kebebasan bagi daerahnya. Bebas dari kekuasaan
kerajaan Majapahit. Untuk mencapai tujuan itu maka rakyat
Sadeng telah berusaha untuk menyusun kekuatan. Betapa
gembira, bahagia dan bersyukur sekali mereka apabila ki sanak
berkenan untuk memimpin mereka dalam gerakan menentang
kekuasaan Majapahit nanti. Aku sebagai wakil rakyat Sadeng dan
aku sebagai diriku peribadi, menyambut dengan kegembiraan
yang sukar dilukiskan apabila andika suka bergabung dengan
kami" "Apakah benar-benar kawula Sadeng mempunyai cita-cita
demikian" orang aneh itu menegas.
"Pasti, ki sanak, sepasti sang Surya yang akan terbit esok hari"
seru Sambu serentak. 1683 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Anakmuda, mengapa Sadeng berkeras hendak melepaskan
diri dari kerajaan Majapahit ?" orang aneh itu melontarkan tanya.
"Telah kukatakan tadi bahwa rakyat Sadeng tak tenang
mempunyai raja yang bukan keturunan raja Si-ngasari dan
terutama karena raja terlalu mengumbar hawa nafsu
kesenangan, tak cakap mengurus pemerintahan"
"Benar" seru orang aneh itu. Dan Sambu pun gembira karena
mendapat dukungan "raja semacam itu memang harus diganti
demi kepentingan kerajaan dan segenap kawula Majapahit"
Kegembiraan Sambu seperti air diteteskan ke dalam kuali
panas, hilang seketika. Namun dia masih belum jelas apa maksud
orang aneh itu "Adakah maksudmu kerajaan Majapahit harus
tetap berdiri tegak sepanjang masa ?"
"Kerajaan tak ubah seperti rumah, hanya ukuran dan
kalangannya yang berbeda. Kalau yang buruk itu kepala rumah,
adakah rumah itu harus dirobohkan" Tidakkah lebih tepat apabila
penghuni atau kepala rumah itu saja yang dihalau dan diganti
orang lain yang dapat merawat dan mengelola rumah itu ?"
Sambu terdiam. "Demikian pula kerajaan Majapahit. Apabila rajanya yang
buruk, gantilah dengan raja lain tetapi kerajaan Majapahit itu
jangan diusik kelestariannya" kata orang aneh itu "anakmuda,
aku setuju dengan tindakanmu yang hendak memperjuangkan
perbaikan negara Majapahit dengan mengganti raja yang
sekarang. Tetapi aku tak mau bergabung dengan gerakan orang
Sadeng itu" "Mengapa?" tanya Sambu.
"Semisal bukan rumah yang harus dirobohkan, pun bukan
kerajaan Majapahit yang harus ditumbangkan, melainkan rajanya
yang tercela itu. Dengan rencana untuk membentuk kadipaten
Sadeng yang terlepas dari kekuasaan Majapahit, tidakkah orang
1684 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang Sadeng itu hendak mendirikan kerajaan baru dalam
kerajaan Majapahit ?"
Samba terbeliak. Kata-kata orang aneh itu tajam sekali,
sstajam pedang yang ditelakkan untuk membelah cita-cita
Sadeng. Seketika merahlah mukanya, terbakar api kemarahan.
Hampir saja dia hendak mendamprat orang itu tetapi pada lain
saat terkilaslah suatu percik terang dalam benaknya "Ah,
mengapa a-ku harus menanggapi ucapannya " Biarkan dia tak
setuju, apa peduliku" Lebih baik aku segera tinggalkan tempat
ini" pikirnya. "Ki sanak" katanya "engkau bebas menilai seperti halnya
engkau bebas menilai dan memutuskan setuju atau tidak,
tawaranku tadi. Jika engkeu mempunyai pendirian lain, itu hakmu
seluruhnya. Tetapi rakyat Sadeng sudah berbulat tekad untuk
mewujutkan cita-citanya"
"Anakmuda, engkau terlalu berani dan temaha. Ketahuilah
bahwa kerajaan Majapahit Itu mempunyai mantri dan senopati
yang gagah perkasa, pasukan prajurit yang kuat. Tidakkah rakyat
Sadeng hanya akan seperti kawanan anai-anai yang menerjang
api?" "Terima kasih, ki sanak" sahut Sambu hambar "setiap gerak
tentu menimbulkan tanggapan, baik atau buruk setuju atau
menentang. Tetapi cita-cita rakyat Sadeng takkan goyah karena
digelar tanggapan tak setuju, takkan melambung karena
didukung tanggapan setuju. Dalam gerakan ini, kami rakyat
Sadeng sudah memperhitungkan segala sesuatu akibat. Nah,
kiranya sudah cukup lama aku berhenti di sini. Sekarang aku
hendak melanjutkan perjalanan lagi" habis berkata Sambu terus
ayunkan langkah tinggalkan tempat itu.
Dia kuatir kalau-kalau orang aneh itu akan merintangi
perjalanannya maka diam-diam sudah bersiap-siap menghadapinya. Betapapun dia akan memberi perlawanan
sekuat-kuatnya. 1685 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun sampai beberapa tombak jauhnya, tak didapatinya
orang aneh itu me lakukan suatu gerak. Dia masih tetap
bergelantungan pada dahan pohon. Sambu cepatkan langkah
dan m;nghilang di balik sebuah tikung gunung.
"Hm, teman seperjalanan tetapi berbeda tujuan" terdengar
orang aneh yang kini seorang diri berkata dalam hati "aku
menyetujui gerakan mereka untuk menumbangkan kekuasaan
raja Jayanagara tetapi tidak dapat menyetujui langkah mereka
untuk mendirikan kadipaten Sadeng yang terpisah dari kerajaan
Majapahit" "Ah, berbahagialah anakmuda itu karena mempunyai pengikut
banyak. Tetapi aku . . . ?" dia merenungkan kenangan lama yang
menyangkut kehidupan dirinya beberapa tahun yang lalu "ah,
aku hanya seorang diri. Memang benar pernyataan anakmuda
itu, bahwa pembalasan dendam terhadap raja, tak mungkin
dapat dilakukan seorang diri, eh ... ." tiba-tiba dia terkesiap
"tetapi bukankah tadi aku tak mengatakan kalau aku mempunyai
dendam kepada raja Jayanagara " Ah" dia menghela napas
longgar "untung aku tak terluncur kata memperkenalkan siapa
diriku. Biarlah nama Kuda Lampeyan itu akan tinggal kenangan
bagi mereka yang masih terkenang tetapi biarlah hapus dari
permukaan bumi bagi mereka yang tak kenal"
"Tetapi benarkah di pura Majapahit telah terjadi suatu
pergolakan hebat sehingga raja Jayanagara sampai meloloskan
diri " Ah, betapa gawat suasana dalam pura saat ini. Kodrat alam
takkan ingkar, karma pasti berbuah. Tetapi .... huk, huk, huk....."
tiba-tiba suaranya menyendu isak "o, Sindura .... aku barsalah
kepadamu . . . ha, ha, ha, Sindura, Sindura, tunggulah aku di
pintu Nirwana ...." Tubuh orang itu bergelantungan dari satu ke lain dahan pohon
dsngan gerak yang cepat sekali, sehingga menimbulan suara
geaaersak yang menggemparkan seolah hutan sedang diamuk
berpuluh-puluh ekor gajah .
1686 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang itu menghilang ditelan kerimbunan hutan. Siapakah
Kuda Lampeyan yang disebut sebagai nama orang aneh itu. Dan
siapakah Sindura itu "
Noot: Bacalah Gajah Kencana Manggala Majapahit.
(Oo-dwkz-ismoyo-oO) Sementara Sambu yang melanjutkan perjalanan ke pura
Majapahit juga dihinggapi oleh awan keheranan yang masih
mengabut dalam benaknya. Siapakah orang aneh itu " Namun
tak pernah dia mencapai ujung sumber jawaban yang
dikehendakinya. Dan mengenangkan peristiwa dengan orang aneh itu,
tertiraplah darah Sambu pada suatu titik henti. Titik balik yang
melontarkan kepercayaannya selama ini, bahwa dia sudah
memiliki ilmu kedigdayaan pada tataran yang sukar ditandingi
orang. Pertempuran dengan orang aneh itu benar-benar membuka
matanya bahwa ilmu kepandaian yang dituntut selama ini, masih
belum mampu menundukkan seorang manusia aneh yang tak
bernama. "Ah" keluh hatinya "bagaimana aku harus memimpin suatu
perjuangan besar apabila tiba saatnya nanti harus berhadapan
dengan pasukan Majapahit?"
Bertebaran serasa kararg kebanggaan yang selama ini
mengguaduk dalam hatinya. Seolah terjadi ledakan hebat yang
menggugurkan karang kebanggaan itu. Guguran itupun
berangsur-angsur mencurah ke bawah dan makin ke bawah
sehingga melongsorkan puncak-puncak ketinggian hatinya.
1687 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Pura Majapahit itu kedung dari banteng dan harimau-harimau
yang gagah perkasa" terngiang pula ucapan dari beberapa lurah
ketika beberapa waktu yang lalu dia singgah di seuap desa dalam
rangka perjalanan menuju ke kadipaten Pajarakan.
Makin keras getar dan debar yang mengguncang-guncangkan
dadanya sehingga lapis demi lapis dari urat-urat nyalinya mulai
mengorak dan terburai. Tanpa disadari, kudanyapun berhenti.
Memang sejak dilanda badai rasa rendah diri, semangatnya
makin merana dan tanganpun mengendor. Rupanya kuda yang
dinaiki itu seekor kuda yang terlatih baik. Merasa tali kendali
mengendor, kuda itupun mulai lambatkan langkah dan akhirnya
berhenti. Sambu terlongong-longocg dalam keadaan tanpa faham. Bagi
seorang pemuda yang berwatak keras dan berhati tinggi seperti
dia, suatu hal yang menyinggung rasa keangkuhan, dalam hal ini
ilmu kedigdayaan, sangat memberi kesan yang mendalam.
Memang pada bermula, dia anggap orang aneh itu seperti
manusia liar yang tak perlu dihiraukan. Tetapi rasa keperwiraan
sebagai seorang ksatrya yang mengutamakan ilmu jaya-
kawijayan sebagal mahkota luhur, tertusuklah hatinya. Apabila
dengan seorang manusia liar yang kurang beres pikirannya saja
dia tak mampu mengalahkan, bagaimana mungkin dia akan
menyanggul beban berat untuk memimpin rakyat Sadeng
menghadapi pasukan Majapahit yang dimanggalayudani senopati-senopati perang yang sakti mandraguna "
Kata orang, kerja berat memeras tenaga, akan melelahkan
badan dan menggontaikan semangat. Tetapi ada pula hal yang
lebih melunglaikan semangat, yani rasa putus asa, kecewa dan
ketakutan. Demikianlah yang diderita Sambu saat itu. Dia putus
asa, diapun kecewa dan kemudian dia takut katau-kalau tidak
mampu memikul beban barat dalam perjuangan nanti. Maka
hilanglah nafsu, pudarlah semangatnya. Dia turun dari kuda dan
1688 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
duduk di bawah pohon. Dia hendak mencari pelipur dari
perasaannya yang lara. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba di udara tampak seekor
burung elang terbang melayang-layang. Makin lama makin
rendah dan tepat berada di atas tempat Sambu duduk. Pada lain
saat burung elang itupun menukik ke bawah daa meluncur ke
buai. Dengan gerak layang yang deras dia terus menyambar ke
dalam sebuah semak. Seekor ular meluncur ke luar dari semak
itu, hendak melarikan diri. Tetapi burung elang itupun cepat
mengejarnya. Sambu tertarik akan peristiwa itu. Dia mengikuti pertempuran
antara kedua binatang ganas itu dengan penuh perhatian. Setiap
kali elang hendak menerkam, sigap sekali ular mencuatkan
kepala untuk menyambar lawan. Pertempuran berlangsung amat
seru. Elang mengandalkan cakarnya yang tajam dan paruh yang
runcing untuk menyerang. Sedangkan ular mengutamakan
gerakan yang licin dan gigi yang beracun. Sambil bergeliatan
menjaga serangan, ular itu bergerak meluncur hendak masuk ke
dalam gerumbul semak. Rupanya elang tahu maksud lawannya.
Dia harus mencegah. Dia harus dapat membunuh korbannya itu
karena dia lapar. Cret , . . sekonyong-konyong elang mematuk badan ular itu
sekeras-kerasnya. Ular bergeliat kesakitan dan menyemburkan
bisa. Tetapi elang itu sudah terbang menghindar.
Paruh elang yang tajam itu dapat merobek tubuh ular
sehingga berlumuran darah. Ular berusaha untuk menggelincir ke
dalam semak. Tetapi karena terluka, gerakannyapun agak


Sumpah Palapa Karya S D. Djatilaksana di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lambat. Ketika separoh tubuhnya menyusuk ke semak, ekornya
telah dipatuk lagi dan dibawa terbang. Dalam keadaan seperti
itu, ular tidak berdaya lagi. Namun sebagai mahluk hidup,
sebelum ajal tentu berpantang mati. Dia menghimpun segenap
sisa tenaganya untuk melingkar ke atas, menggigit leher elang.
1689 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi rupanya elang sudah menjaga kemungkinan hal itu.
Serentak dingangakan paruhnya dan terlepaslah ular itu jatuh
melayang layang dari ketinggian berpuluh-puluh tombak, prek ....
Elang mengejar turun dan menerkam ular yang sudah tak
bernyawa itu. Bangkai ularpun diterbangkan ke udara dan tak
berapa lama lenyaplah elang itu di balik gerumbul pobon.
"Ah" desah Sambu setelah menyaksikan pertempuran itu. Ada
tesuitu yang hinggap dalam benaknya. Bahwa hidup itu suatu
perjuangan besar. Setiap benda maupun mahluk yang bernyawa,
tentu melakukan perjuangan hidup. Untuk mempertahankan,
menyejahterakan dan melestarikan kehidupan mereka.
Kesan kedua yang dihayati Sambu yalah bahwasanya tata
kehidupan itu mempunyai kodrat atau yang disebut hukum.
Hukum alam menentukan, siapa kuat dia menang. Y ang lemah,
menjadi korban yang kuat.
Oleh karenanya Hyang Maha Pencipta telah me limpahkan
kemurahan dan keadilan yang merata kepada setiap titahnya.
Setiap mahluk tentu memiliki alat atau sarana untuk
mempertahankan dan menjaga kelestarian hidupnya. Misalnya,
burung elang dsugan paruh dan cakarnya. Ular dengan gigi dan
racunnya. Bahkan binatang yang paling lemah sendiri, misalnya
cacing juga mempunyai senjata untuk dapat menyusup ke dalam
tanah. Namun untuk menjaga dan menjaga kelestarian hidupnya,
terserah pada masing-masing mahluk itu sendiri. Dia harus
pandai menggunakan kelebihan dan kelemahan dirinya.
"Ya, benar" kata Sambu seorang diri "mahluk itu harus mampu
mempertahankan hidupnya. Sebenarnya ular tadi tak perlu mati
apabila dia tak terangsang kemarahan. Seharusnya dia
menggunakan keunggulannya dalam hal kecepatan meluncur
untuk cepat-cepat bersembunyi"
1690 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mulailah pikiran Sambu merekahkan percik kecerahan. Dia
membayangkan elang lawan ular tadi lebih lanjut. Dan
terkesanlah dia akan ketangkasan elang mengalahkan lawannya.
Elang itu rupanya lebih paadai melihat gelagat dan mengambil
kesempatan yang baik. Ya, hanya itulah kelebihannya, pikir
Sambu. Jika demikian, Sambu merenung berkelanjutan, dalam setiap
pertempuran ataupun menghadapi bahaya, betapapun brsar
bahaya itu, yang penting adalah ketenangan. Tidak boleh gugap,
gentar dan kalap. Ilmu hanyalah suatu senjata. Tetapi yang
penting adalah manusianya sendiri. Senjata yang bagaimanapun
ampuhnya, takkan banyak berguna apabila di tangan s.orang
yang tak pandai menggunakannya.
"Ah" kembali Sambu mendesah. Namun desahannya kali ini
suatu desah yang meregakkan semangat, membangkitkan nyali
yang sudah layu. Arti daripada hidup itu adalah isinya. Cara bagaimana kita
mengisi lembaran kehidupan kita. Bukan cara bagaimana kita
hidup. Hidup hanya untuk hidup, hanyalah hidup untuk sekedar
hidup. Pada hal pohon dan tanam-tanaman, bukan sekedar tubuh
hidup, pun mereka menghasilkan sesuatu, entah buah kayu atau
daun berkhasiat yang bermanfaat bagi sesama titah terutama
bagi manusia. Adakah manusia itu sendiri masih menelungkupi
pendirian bahwa Hidup itu hanya sekedar untuk hidup"
"Tidak" tanpa terasa mulut Sambu melantang kata penolakan
"tidak, aku takkan hidup hanya sekedar untuk hidup. Hidup yang
sedemikian, hidup yang tak berarti. Aku harus mengisi lembaran
kehidupanku dengan sesuatu yang berguna"
Dan manakala pikirannya mencapai pada jangkauan itu maka
meregakkan semangatnya bagai ayam sabung yang habis diberi
air "Membangun kadipaten Sadeng melepaskan kawula Sadeng
dari kekuasaan Majapahit, merupakan lembaran hidupku yang
harus ku-isi. Ah, aku harus bersyukur, aku harus bangga bahwa
1691 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
beban untuk memimpin rakyat Sadeng, tertumpah pada bahuku.
Mengapa aku harus berkecil hati " Mengapa aku huut berputus
asa " Hanya karena seorang manusia hutan tadi " Ah, tidak,
tidak! Jika tadi aku tak dapat mengaa.hkan, karena aku belum
menjajagi kepandaiannya. Kelak apabila berhadapan lagi,
tentulah akan kugunakan siasat yang lebih hebat. Tak mungkin
dia mampu mengalahkan aku !"
Timbulnya semangat, makin membesarkan tekad Sambu. Dia
tak gentar legi membayangkan akibat akibat yang akan
dihadapinya kelak jika Majapahit marah dan mengirim pasakan
untuk menindas Sadeng. Bagaikan orang dahaga yang meneguk air sepuas-puasnya,
bangkitlah Sambu dan terus loncat ke punggung kudanya. Kuda
segera dicongklangkan dengan pesat menuju ke pura Majapahit.
Setelah menempuh perjalanan beberapa hari, akhirnya dia
mulai me lihat bangunan gapura besar dan puncak wuwungan
keraton yang menjulang megah ke angkasa.
"Ah, itulah pura kerajaan" kata Sambu seraya mencongklangkan kudanya lebih kencang.
Dia terkejut ketika me lihat pintu gapura dijaga oleh
sekelompok prajurit bersenjata lengkap. Namun karena sudah
terlanjur menghampiri dan tertampak oleh mereka, Sambupun
melanjutkan langkah. "Berhenti" teriak beberapa prajurit yang serempak maju
seraya mengacungkan tombak ke arah Sambu "turun" perintah
mereka. Sambupun turun dari kudanya. Menyembul percik dalam
dugaannya bahwa di pura kcrajaan memang telah terjadi suatu
peristiwa. Mungkin apa yang tersiar di daerah bahwa di pura
kerajaan huru hara besar, memang benar.
1692 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siapa engkau" salah seorang prajurit yang bertubuh kekar,
bercambang bauk, menghardik dan mendekatkan ujung tombak
ke dada Sambu. Sambu tak gentar. Ia percaya prajurit itu tak akan
menusuknya sebelum mendapat jawaban. Namun sekalipun
begitu, diapun diam-diam sudah mempersiapkan apabila sampai
terjadi suatu kemungkiaan lain yang tak diinginkan,
"Ki prajurit, aku bukan penjahat, mengapa engkau perlakukan
sedemikian ?" tegur Sambu.
"Jangan banyak mulut !" hardik prajurit itu pula "lekas katakan
siapa engkau" "Aku dari daerah selatan hendak me lihat-lihat keramaian di
pura kerajaan" "Apa yang engkau maksudkan keramaian itu?"
"Ea, ki prajurit" kata Sauabu tenang-tenang "aneh benar
pertanyaanmu. Bukankah pura Majapahit sebagai adhipura
negara, sudah termasyhur akan kemakmuran dan kehidupannya
yang ramai. Sebagai anakmuda yang belum pernah melihatnya,
aku ingin benar menikmati dengan mata kepala sendiii"
"Bohong ! Engkau tentu seorang mata-mata !" bentak prajurit
itu dengan keras. Sambu terkejut. Mengapa secepat dan semudah itu prajurit
melontarkan tuduhan sedemikian " Mata-mata adalah orang yang
diselundupkan musuh untuk menyelidiki keadaan lawan.
Mengapa prajurit itu menggunakan kata mata mata dan bukan
yang lain misalnya, penjahat. Jelas sudah bagi Sambu, bahwa
keadaan di pura Majapahit, memang gawat.
Sambu makin tertarik dan mulailah dia melontarkan
penyelidikan "Mata-mata " Aku mata-mata" Benarkah itu" Kalau
benar, aku tak tahu siapa yang harus kumata-matai dan untuk
siapa harus kuberikan laporan tentang hasil pemata-matanku itu"
1693 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Engkau mata-mata raja Majaphit !"
"Mata-mata raja Majapahit" Ha, ha....."
"Hus, jangan meliar!" bentak prajurit seraya ajukan ujung
tombak ke mulut Sambu "apa yang engkau tertawakan ?"
"Aku tertawa karena mendengar pertanyaanmu yang lucu.
Kalau aku benar seorang mata-mata kerajaan Majapahit,
bukankah harus mendapat kebebasan untuk masuk ke dalam
pura ?" "Hm, memang seharusnya demikian namun apabila engkau ini
bekerja untuk kerajaan Majapahit"
"Ki prajurit" teriak Sambu agak keras "apa beda kerajaan
Majapahit dengan seri baginda Majapahit?"
"Seri baginda yang mana engkau maksudkan?"
"Sudah tentu seri baginda Jayanagara"
"Tangkap !" teriak prajunt itu seraya menusukkan tombaknya
ke dada Sambu. Karena Sambu sudah bersiap-siap maka hanya dengan gerak
memiringkan tubuh, dapatlah ia menghindari ujung tombak
prajurit "Ki prajurit, apa sebab engkau hendak menangkap aku ?"
"Engkiu mata-mata raja Jayanagara!" seru prajurit, menarik
tombak lalu hendak menusuk pula.
"Tunggu" teriak Sambu seraya menyurut mundur selangkah
"aku bukan mata-mata seri baginda Jayanagara. Aku datang
kemari hanya sekedar untuk melihat-lihat pura kerajaan. Apakah
yang sebenarnya telah terjadi di pura Majapahit ?"
Prajurit itu rupanya berwatak kasar dan congkak. Karena
serangannya luput, dia merasa terhina "Kalau engkau mampu
menerima seranganku, engkau akan mendapat keterangan dari
1694 SD.Djatilaksana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
apa yang hendak engkau tanyakan. Satu serangan untuk satu
pertanyaan" Darah muda Sambu meluap. Sebenarnya dia ludah berjanji
kepada dirinya untuk tidak menonjolkan diri agar tidak
Pendekar Guntur 9 Kesatria Berandalan Karya Ma Seng Kong Setan Harpa 2
^