Pencarian

Dewi Penyebar Maut I I I 2

Candika Dewi Penyebar Maut I I I Bagian 2


jakannya bukan, Raden?"
"Aku akan cemburu setengah mati, tapi aku rasa itu
imbalan yang pantas untuk usaha Bibi."
"Terima kasih, Raden. Rencana Bibi adalah... Bibi
punya ramuan untuk menghilangkan ilmu seseorang.
Sayangnya ilmu itu tak bisa dilenyapkan sama sekali
dan seterusnya, hanya sementara. Tapi itu kurasa cu-
kup untuk mengikat dewi pujaan Raden itu. Kemudian,
kuberi ia ramuan pelupa, hingga ia akan lupa akan se-
gala kisah hidupnya selama ini. Ia bahkan takkan me-
ngenal Raden lagi."
"Itu lebih baik, Bibi, tapi jangan hilangkan apinya,
ya," kini mata Wirada yang bersinar-sinar.
"Tentu, tentu, Bibi kan tahu selera Raden.... Nah, boleh aku melihat permata
hati Raden ini?"
"Silakan, Bibi," Wirada mendahului Emban Layarme-
ga, menuju ke pedati. Lingga dan Yoni nyengir-nyengir ketika Emban Layarmega
lewat di dekat mereka. Emban
Layarmega menghadiahi mereka dengan belaian di
janggut mereka, yang membuat kedua orang itu sema-
kin salah tingkah.
Wirada membuka kain tutup belakang pedati. Em-
ban Layarmega menjenguk ke dalam, dan terlihat rasa
terpesonanya. "Wah, Raden, di mana Raden peroleh gadis ini?" ta-
nyanya dengan suara sedikit gemetar.
"Ia mengaku bernama Turi, dari Ara Plasa. Kenapa?"
"Raden, hamba tahu benar ciri-ciri wanita... dan ga-
dis ini... dia memiliki ciri-ciri yang sangat khas! Ciri-cirinya hampir
mendekati ciri-ciri seorang Stri Arda-nareswari." Dengan agak gemetar Emban
Layarmega mengambil tangan Tari yang lemas itu dan memperhatikan garis-garis di
telapak tangannya. Lama ia mere-
nungi telapak tangan itu, memberi isyarat agar Wirada diam. Kemudian ia
menggelengkan kepala. "Sayang sekali. Garis kehidupannya menunjukkan banyak
halan- gan baginya untuk memenuhi persyaratan hingga ia
menjadi wanita utama sepenuhnya."
"Berarti... campur tanganku pada perjalanan hidup-
nya kemungkinan sudah dikehendaki Dewata?" tanya
Wirada. "Memang mungkin."
Wirada ingin bicara lagi. Tetapi Emban Layarmega
agaknya sedang berpikir dalam. Jadi ia ikut diam.
"Begini saja, Raden. Paduka istirahat dulu... di Tu-
menggungan atau di sini, silakan. Sementara itu hamba akan menyiapkan gadis ini
untuk Paduka," akhirnya
Emban Layarmega berkata.
"Itu pun baik, Bibi. Aku sungguh lelah bertarung de-
ngannya tadi. Kalau begitu, aku akan pulang saja. Nanti malam aku akan kemari
untuk menjenguknya. Ingat,
jangan berikan dia pada orang lain sebelum aku bosan, lho! Ayo, Lingga...
Yoni..." Wirada segera melangkah pergi. Emban Layarmega
minggir dan membungkuk menyembah.
"Wah, cuma begitu saja?" keluh Yoni.
"Kalau mau tambah gebukan sih, tinggal saja terus
di sini," Lingga bergegas mengejar Wirada.
Tempat itu sepi kini. Jika Emban Layarmega berada
di luar, maka anak buahnya tak ada yang berani me-
nampakkan diri atau bersuara, jika belum ada perintah untuk itu. Kemudian Emban
Layarmega bertepuk empat kali.
Seorang lelaki tinggi besar dengan dada bidang lebat
dengan rambut muncul, menundukkan kepala rendah-
rendah memberi sembah.
"Bima, bawa orang yang ada di dalam pedati itu ke
Ruang Hening," perintah Emban Layarmega. "Kemudian
kaukirim kabar ke Selampang bahwa aku minta perte-
muan dengan junjunganmu Putri Sepuh."
"Baik, Junjungan," sembah Bima, sekali lagi mem-
bungkuk dan mengambil Tari.
Ruang Hening adalah sebuah ruang khusus. Di su-
dut rumah Emban Layarmega itu terdapat semacam
menara. Di sinilah Emban Layarmega biasa bersemadi.
Atau menerima tetamu khusus. Dan... yang tak pernah
diperhatikan orang biasa: dari Ruang Hening ini terda-
pat lorong pandangan yang bebas ke arah istana Kuri-
pan. Di menara kecil ini terdapat beberapa ruangan.
Yang sesungguhnya bernama Ruang Hening berukuran
luas. Lantainya ditutupi permadani tebal. Dindingnya
dari kayu berukir dan berhias tirai-tirai kain tenun.
Tari dibaringkan di tengah ruangan. Masih tertidur
nyenyak. Emban Layarmega duduk di sampingnya. Me-
renunginya. Seakan tak berpikir, tangannya membelai anak ram-
but di dahi Tari. Dan ia menghela napas lagi.
"Nasibmu sungguh tak beruntung," Emban Layar-
mega berkata pada dirinya sendiri. "Kau juga harus mengalah pada junjunganku.
Tidak boleh ada Stri Arda-
nareswari lain kecuali sarika. Mungkin benar kata Wirada. Kau digariskan Dewata
untuk jatuh ke tangannya.
Dan batallah kau jadi wanita utama. Lagi pula... jika kau benar satu ilmu dengan
Sindura, jelas kau harus
jadi musuh kami. Jadi, aku takkan menyesal."
Emban Layarmega berdiri. Masuk ke ruang sebelah.
Di situ terdapat rak-rak dan laci-laci. Penuh ramuan
dan racikan obat-obatan. Diambilnya beberapa bungkus
dan ia pergi ke ruangan lain lagi.
Semua dikerjakannya sendiri. Menyulut api. Mengge-
rus. Meracik. Mengaduk. Di luar sudah gelap saat ak-
hirnya Emban Layarmega kembali ke ruangan tempat
Tari menggeletak. Ditaruhnya dua mangkuk ramuan
dekat kepala Tari.
"Nah, minumlah ini," Emban Layarmega mengangkat
kepala Tari dan memaksanya minum dari mangkuk per-
tama. Bagai orang mimpi Tari minum cairan tersebut.
Sampai habis. "Ah, kau memang anak baik. Bagus, bagus. Jika kau
bangun nanti mungkin kepalamu sedikit pusing. Yang
jelas kau takkan bisa lagi sembarangan memukul
orang, ya!" diusapnya sebagian cairan yang tertumpah
di bibir Tari. "Dan kini, minum yang ini..."
Kembali ia mengangkat kepala Tari dan meminum-
kan cairan yang kedua. "Ini akan membuatmu lupa...
juga pada namamu sendiri. Nah, ayo, minumlah...." Se-
perti tadi, dengan mudah Layarmega menuangkan cai-
ran tadi ke mulut Tari. Tari meminumnya.
"Nah, sekarang tidurlah, anak manis. Malam nanti
kau harus bertugas." Emban Layarmega berdiri, meng-
usap keringat dan keluar.
Di tangga menuju ruang bawah ia tertegun. Terde-
ngar suara seseorang yang sangat dikenalnya. Sindura.
Sindura seorang pemuda yang sangat disegani di Ku-
ripan. Sebagai putra Rakryan Rangga, maka ia sangat
berpengaruh - lagi pula namanya tak pernah tercemar,
tidak seperti Wirada yang sudah dikenal sebagai hidung belang kelas berat. Jika
orang melihat Sindura masuk
ke tempat Emban Layarmega, tak ada yang menduga
buruk. Ke mana pun Sindura pergi selalu untuk kepen-
tingan negara. Dan ini sungguh membuat Emban La-
yarmega benci pada pemuda itu.
Ia menggamit seorang pelayan yang kebetulan lewat.
"Ada apa di luar sana" Kok ada suaranya Raden Sin-
dura?" tanya Emban layarmega.
"Benar, Junjungan," kata pelayan itu. "Tuanku Ra-
den Sindura ingin bertemu dengan Paduka. Tapi dita-
han oleh Sang Bima."
"Hm. Bilang pada Sang Bima aku akan menemui Ra-
den Sindura sendiri di Ruang Biru. Sementara itu, min-ta agar Sang Raden
menunggu sebab aku akan mem-
bersihkan diri lebih dahulu. Mengerti?"
"Baik, Junjungan."
Pelayan itu pergi.
Perlahan Emban Layarmega berjalan ke kamar pri-
badinya. Mengapa Sindura mengunjunginya"
4. RA SINDURA KEHADIRAN Ra Sindura membuat suasana ruang teri-
ma tamu tempat itu agak sepi. Beberapa orang pria
memilih lebih baik langsung saja membawa pasangan
pilihannya ke ruang-ruang dalam. Beberapa orang ka-
sar mencoba sok aksi, ribut-ribut seolah tak meman-
dang sebelah mata pun pada Ra Sindura. Namun saat
Ra Sindura memandang dengan kedua belah matanya
pada mereka, maka mereka langsung mengkeret. Ada
seorang pedagang dari luar daerah yang mungkin belum
kenal Ra Sindura. Ketika dirasakannya kawan wanita-
nya agak kurang bebas melayaninya dan ia tahu ini ka-
rena kehadiran Ra Sindura, ia langsung mendekati pe-
muda itu. "Hei, kau suami perempuan di sana itu" Kalau iya,
jangan ganggu dia, huh" Dia kan sedang cari duit. Dan dia cari duit karena kau
terlalu nggak punya otak untuk cari duit sendiri" Atau kau memang tak punya daya
untuk bekerja, huh" Hei, jangan diam saja... kau ingin ku-lempar ke luar" Kau
mengganggu seleraku saja!"
Ra Sindura diam saja. Matanya yang cemerlang saja
yang menatap tajam pada orang itu. Beberapa lama
orang itu salah tingkah. Mau bicara kasar, pandang ma-ta itu begitu menusuk. Mau
bertindak kasar, ia tidak
yakin dapat mengalahkan si pemuda. Akhirnya dengan
tertawa tak punya arti ia meninggalkan Ra Sindura.
Bima memperhatikan itu semua dari balik ambang
pintu dalam. Tak terbayang perasaan hatinya. Tapi se-
saat matanya bersinar. Dan ia bergerak sedikit untuk
memelintir kumisnya yang sebesar tinju. Ia mengagumi
pemuda pendiam itu.
Beberapa wanita mencoba menarik perhatian si pe-
muda. Ada yang mungkin belum tahu dan dijebak oleh
kawan-kawannya untuk mendekati Sindura. Ada yang
sudah tahu dan ingin menggoda saja. Golongan ini tahu bahwa Ra Sindura bertabiat
aneh - ia tak pernah berlaku kasar pada wanita mana pun. Pernah seorang pen-
curi yang berhasil masuk ke istana tersudut ketika dikejar oleh Sindura. Dengan
putus asa istri si pencuri kemudian memohon agar Sindura memberi kelonggaran
pada suaminya. Sindura melepaskan si pencuri - paling
tidak memberinya waktu sehari semalam untuk melari-
kan diri darinya. Sang pencuri tahu diri. Ia memilih menyerah saja. Ia tahu,
jika Sindura berniat untuk me-
nangkap seseorang, maka tak ada yang bisa menghen-
tikannya. Lari ke Tumasik pun dikejarnya.
Dari balik pintu itu Bima melihat seorang pelayan
menaruh guci arak baru di depan Sindura. Ini kelema-
han Sindura. Ia sangat suka arak. Tapi ini juga kelebi-hannya. Belum pernah
terdengar cerita Sindura mabuk.
Tingkahnya selalu mantap dan tepat. Bicaranya selalu
teratur. Tak peduli betapa banyak arak direguknya.
Bima juga mengagumi sifat itu. Suatu angin harum
membuat Bima berhenti memperhatikan Sindura. Tan-
pa menoleh pun Bima tahu. Emban Layarmega. Bima
menoleh. Emban Layarmega sedang menuruni tangga
kiri. Diiringi dua orang pelayan. Menyapa tetamunya ki-ri-kanan. Bima dari
kejauhan membungkuk memberi
hormat. Emban Layarmega memberinya isyarat agar
mendekat. "Apa yang ditanyakannya?" bisik Emban Layarmega.
"Dia tidak bertanya apa-apa, Junjungan," bisik Bima
pula. "Sarika hanya ingin bertemu dengan Junjungan.
Tapi mata sarika begitu tajam. Dan bisa bertanya tanpa mengucapkan sepatah kata
pun, serta memperoleh ja-
waban sebanyak-banyaknya."
"Berita untuk Putri Sepuh sudah disampaikan?"
"Sudah. Berita dari sana... Putri Sepuh mungkin a-
kan berkunjung kemari."
"Hm." Ini berita baru. Kunjungan Putri Sepuh selalu
menuntut sesuatu. Darinya. Atau dari orang lain. Ia harus mempersiapkan diri.
"Kau sudah bersiap-siap untuk itu?"
"Sudah, Junjungan, seperti biasanya?"
"Seperti biasanya," Emban Layarmega berpikir seje-
nak. "Mungkin kau harus menjauh jika Putri Sepuh
ada. Kau dan Putri Sepuh tak pernah sepakat dalam hal apa pun."
"Maafkan seleraku. Tak pernah sesuai dengan selera
Putri Sepuh." Bima yang tinggi besar itu menunduk
kemalu-maluan. "Kuharap sekali waktu kau akan mengalah padanya.
Kau tahu, akulah yang harus repot jika kau bersiteguh menolak kemauannya." Emban
Layarmega tersenyum
pahit. "Iringi aku menemui Ra Sindura. Pelayan, kau-
siapkan Ruang Biru."
Seperti layaknya, Emban Layarmega bersimpuh di
hadapan Ra Sindura, menghaturkan sembah. Di bela-
kangnya Bima telah duduk bersila.
"Tak usah terlalu banyak peradatan, Bibi," kata Ra
Sindura. "Tak banyak yang bisa kauperoleh dengan ber-
sikap terlalu hormat padaku."
"Hamba mengerti, Raden, karena itulah sembah
hormat hamba tulus dari hati. Terus terang, tak banyak pejabat kerajaan yang
benar-benar hamba hormati," ka-ta Emban Layarmega.
"Mudah-mudahan dalam hal lain pun kau berterus
terang, Bibi." Sindura berdiri. "Di mana kau akan meng-ajakku berbicara?"
"Mari hamba antarkan, Raden."
Ruang Biru adalah ruang yang sangat khusus. Me-
nurut desas-desus bahkan sang Mahapatih Gajahmada
pernah dihibur di ruang ini. Tentunya oleh Nenek Em-
ban Layarmega. Emban Layarmega sendiri pastilah be-
lum lahir saat itu.
Ruang Biru. Indahnya menyamai keindahan ruang
istana. Namun Bima melihat bahwa keindahan ini ma-
lah membuat Ra Sindura seakan muak. Ia duduk see-
naknya, di kepala ukiran naga yang menghias empat
tiang utama ruang itu. Emban Layarmega duduk di de-
pannya. "Bibi, kedatanganku kemari untuk memberi peringa-


Candika Dewi Penyebar Maut I I I di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tan," kata Ra Sindura tanpa basa-basi lagi. "Keamanan anggota keluarga kerajaan
sedang terancam. Ada sekelompok manusia yang tak tahu budi telah bergerak un-
tuk membunuh anggota keluarga kerajaan itu. Kami
bukannya takut. Dan kami yakin mereka akan segera
ditumpas. Kemudian... ada desas-desus bahwa kelom-
pok Dharmaputra bergerak lagi menggunakan keadaan
ini." Tampak sekali Ra Sindura sangat membenci ke-
lompok ini. Ia bahkan harus meneguk araknya, seolah
untuk mencuci bekas kata itu di mulutnya. "Manusia-
manusia kotor itu sekali waktu akan kami tumpas. Dan
waktunya sudah sangat dekat. Percayalah."
Mungkin Ra Sindura tak begitu yakin akan apa yang
dikatakannya. Ia berdiri dan pergi ke jendela. Di luar malam hitam. Kotaraja
Kuripan tidak begitu gemerlap
seperti Wilwatikta. Tapi anginnya sangat segar. Kembali Ra Sindura mereguk
araknya. Memang sesungguhnya ia tak begitu yakin bisa me-
numpas kelompok Dharmaputra secara cepat. Ini ada-
lah kelompok orang-orang yang merasa sakit hati terhadap keluarga istana. Dan
karena sakit hatinya sakit hati
pribadi, maka intinya adalah bahkan orang-orang yang
sangat dekat dengan kalangan yang berkuasa. Sulit un-
tuk diselidiki. Mereka begitu pandai menutup diri. Sulit untuk ditindak. Banyak
di antara mereka punya kedudukan sangat tinggi. Hampir semua keluarga dekat sen-
diri. Lebih mudah menghadapi gerakan yang benar-benar
datang dari luar. Seperti yang didesas-desuskan orang tentang Dewi Candika ini.
Tiba-tiba Ra Sindura berpaling. Begitu cepat hingga
masih sempat menangkap mata Emban Layarmega
yang tertuju padanya. Masih sempat menangkap baya-
ngan senyum di wajah wanita itu.
"Apa yang kau pikirkan, Bibi, aku tidak tahu. Tapi
terimalah peringatanku ini. Dengarlah baik-baik. Ja-
ngan sampai aku melihat tanda-tanda bahwa kau, atau
orang-orangmu, siapa saja, tidak setia pada Wilwatikta.
Aku tak perlu bukti. Yang kuperlukan adalah perasaan
hatiku. Aku akan berusaha menimbang seadil mungkin.
Timbangan itu sangat peka. Sedikit saja terguncang,
penilaianku padamu bisa berubah. Dan aku tak segan-
segan menyuruh tutup usahamu yang turun-temurun
ini. Kaucamkan itu?"
"Hamba mengerti, Raden," sembah Layarmega, me-
nunduk dan berharap pemuda bermata tajam itu tak
bisa menangkap apa yang dipikirkannya tadi. Seperti
kata Bima, Sindura tak usah bertanya. Dengan ma-
tanya ia bisa memperoleh jawaban sebanyak-banyak-
nya. "Kuharap begitu," kata Sindura. "Anggap saja ini per-
ingatan terakhir. Jika kau ingin berada di pihak lawan Wilwatikta, lakukan. Tapi
lakukan sebaik-baiknya, agar kau tidak hancur secara konyol. Yang kedua,
tempatmu ini sering dikunjungi orang. Terutama orang luar dae-
rah. Terutama orang asing. Tunjukkan kesetiaanmu de-
ngan melaporkan hal-hal yang kauanggap perlu kaula-
porkan. Tanpa harus kukatakan, kau pasti tahu, beta-
papun ketatnya kau memilih pengikutmu, salah satu di
antara mereka adalah orangku. Jadi, hati-hatilah."
"Baik, Raden," Emban Layarmega berdatang sembah
lagi. "Ada lagi. Adik Wirada tadi datang kemari membawa
seorang wanita. Siapa dia" Dan di mana dia sekarang?"
Pertanyaan ini sudah diharapkan Emban Layarmega
dari tadi. Tak urung terkejut juga ia oleh pertanyaan yang begitu menusuk itu.
Namun ia tak menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Raden, sulit hamba menyawab pertanyaan ini tanpa
menyalahi janji hamba pada Raden Wirada," kata Em-
ban Layarmega. "Katakan saja. Aku yang bertanggung jawab pada
Adinda Wirada."
"Baik, Raden. Sesungguhnya hamba tak mau mem-
buka rahasia langganan hamba... tapi Raden begitu me-
maksa," Emban Layarmega menunduk. "Gadis itu tadi
ditemukan oleh Raden Wirada di pasar. Raden tahu
sendiri sifat Raden Wirada. Sarika senang pada si gadis dan akan diminta
langsung ke orang tua si gadis di Ara Plasa. Tetapi di Bulak Amba si gadis
kambuh penyakitnya. Penyakit ayan," Emban Layarmega menghela napas
panjang. "Mungkin karena tahu dirinya berpenyakit
yang begitu berbahaya itulah maka tadinya si gadis begitu mudah menerima
penawaran Raden Wirada. Raden
Wirada begitu ketakutan, ia kemudian membawa si ga-
dis kemari. Memang hamba bisa mengobati untuk se-
mentara, Raden. Dan memang... sesungguhnya ada
maksud hamba untuk mengambil gadis itu sebagai
anak buah hamba... rupanya memang lumayan. Tapi
melihat penyakitnya yang kambuhan, dan juga berke-
naan dengan peringatan Raden tadi... entahlah. Nanti
akan hamba tanyakan pada si gadis jika ia telah sadarkan diri."
"Sekarang ia tak sadarkan diri?" Sindura mereguk
araknya banyak-banyak.
"Benar. Raden sudi memeriksanya?" Emban Layar-
mega berjudi dengan nasib. Mungkin karena ditantang
begitu maka Raden Sindura tak mau memeriksanya.
Mungkin juga mau. Keuntungannya hanyalah, ia mung-
kin bisa memberi kesan bahwa ia benar-benar terbuka.
"Baik. Mana dia. Mari kulihat," di luar dugaan Raden
Sindura langsung berdiri dan pergi ke pintu. Sesaat Bi-ma berpandangan dengan
Emban Layarmega. Tapi Em-
ban Layarmega mengangguk. Ia yakin akan kekuatan
ramuannya. Keyakinan Emban Layarmega beralasan. Tari telah
bangun. Tapi ia tampak begitu lemah. Dengan kekua-
tannya yang masih ada ia telah berhasil menarik dirinya hingga berhasil
bersandar ke dinding. Ketika Ra Sindura dan Emban Layarmega masuk, ia mengawasi
dengan pandang mata curiga.
"Tantri?" bisik Tari lemah.
Kini Emban Layarmega terkejut. Gadis itu mengu-
capkan sebuah nama. Entah nama siapa. Tapi itu be-
rarti ia ingat sesuatu. Sedang menurut aturan, seha-
rusnya ia lupa segala-galanya.
Yang terjadi sesungguhnya di luar dugaan Emban
Layarmega yang paling berani. Ia tentunya tidak tahu
bahwa pada diri Tari telah tertanamkan ilmu Coban Saleksa. Dalam keadaan tak
sadar, ternyata ilmu itu masih bekerja. Seperti juga ilmu tersebut sanggup men-
dengar suara selembut apa pun di antara bahana keri-
butan, ilmu itu walaupun melemah menganggap rasa
kantuk akibat Asap Kunjana sebagai tabir yang harus
ditembus. Sementara tubuhnya melemas, indria pen-
dengaran Tari tetap berontak melawan pengaruh rasa
kantuk. Dan sebagian percakapan pun direkam oleh
otaknya. Dalam keadaan tubuhnya tak sadar, otaknya
masih bisa dikuasainya. Dan dengan ilmu Coban Saleksa itu pula ia mencoba
melindungi otaknya dari serangan ramuan obat yang kemudian diminumkan Em-
ban Layarmega. Namun karena ilmu itu baru saja di-
perolehnya, dan juga karena penggunaannya kurang te-
pat, maka hasilnya tidak terlalu tepat. Beberapa saat tubuhnya berhasil melawan
kerja ramuan Emban Layarmega. Ia bahkan masih berhasil menyuruh tangan-
nya untuk mengambil sebutir obat pemunah racun dari
kantung rahasianya. Tapi seterusnya susunan perta-
hanan dirinya runtuh.
Tari masih sangat beruntung. Dengan pertahanan
awal yang dibangun oleh Coban Saleksa maka tidak se-lamanya otaknya dipengaruhi
oleh kelupaan seperti
yang dimaksud oleh Emban Layarmega. Ingatannya
memang terhapus. Tapi untuk sementara. Dan kata te-
rakhir yang teringat olehnya adalah nama anak yang
begitu berkesan itu: Tantri.
"Oh, kau sudah sadar," Emban Layarmega menente-
ramkan dirinya. Mungkin anak ini anak istimewa yang
tak mempan ramuannya. Mungkinkah ini karena dia
betul-betul satu ilmu dengan Sindura" Dan apakah Sin-
dura akan mengenalnya" Atau inikah salah seorang ma-
ta-matanya" Sungguh berbahaya!
"Siapa namamu?" tanya Sindura mengernyitkan ke-
ning. Di mata Emban Layarmega pemuda itu sungguh
kebingungan. Apakah karena ia heran akan keadaan
anak buahnya itu, ataukah ia memang sama sekali ti-
dak kenal"
"Tan... tan..." Tari megap-megap. Itu yang terakhir
diingatnya. Ia tadi berkata apa"
"Kau bilang 'Tantri'. Itu namamu?" Sindura semakin
mengernyitkan kening. Dan kini Emban Layarmega ya-
kin bahwa Sindura memang tidak kenal pada gadis itu.
Dan agaknya gadis itu pun mulai kehilangan ingatan-
nya! "Aku... aku tak tahu," kata Tari lemah. "Aku... aku
sakit sekali...."
Sindura tiba-tiba memegang tangan Tari. Menggeng-
gam telapak tangan gadis itu seolah akan menghan-
gatkannya. Kemudian ia memeriksa detak nadi di tan-
gan Tari. Kembali terlihat rasa bingung yang sangat di wajahnya.
"Betulkah Adik Wirada menemukannya di pasar" Be-
tulkah ia anak Ara Plasa?" tiba-tiba Sindura berpaling pada Emban Layarmega.
"Maafkan hamba, Raden, itulah yang hamba dapat
dari Raden Wirada," Emban Layarmega memperlihatkan
wajah ketakutan.
Tiba-tiba saja tangan kiri Sindura bergerak meleng-
kung menghantam muka Tari. Emban Layarmega terke-
jut menjerit. Tetapi ternyata gerakan tadi hanyalah gerakan tipuan yang sudah
sangat diperhitungkan Sindu-
ra. Gerakannya adalah gerakan pukulan maut. Jika se-
seorang belum tahu kedalaman ilmu Sindura, pastilah
mengira gerakan itu betul-betul untuk membunuh, se-
bab jika pun dilakukan orang lain untuk memancing
maka dengan kepandaian rendah pukulan tak bisa di-
hentikan seketika hingga sasarannya pasti terkena.
Itu tadi adalah salah satu pukulan Bantala Liwung yang paling keji. Jika Tari
seorang yang berilmu, pastilah akan membuat gerakan menangkis atau membela
diri. Dan gerakan itu akan timbul murni hingga akan
terlihat asal ilmu si gadis. Dengan lega Emban Layar-
mega melihat sedikit pun gadis itu tak bergerak. Me-
ngedipkan mata pun tidak saat Sindura menghentikan
tinjunya begitu rapat di dahi si gadis. Ilmuku telah bekerja padanya, pikir
Emban Layarmega lega.
"Waduh, Raden, jangan paksa dia mengaku dengan
kekerasan," kata Emban Layarmega dengan nada lega
yang murni. "Bisa makin rusak jiwanya."
Ra Sindura berdiri. Memperhatikan Tari dari jarak
beberapa langkah.
"Aku titipkan dia padamu, Bibi," kata Sindura ke-
mudian tegas. "Ada hal sangat penting yang ingin kutanyakan padanya jika ia
sudah bisa menjawab dengan
baik. Jika terjadi apa-apa padanya, kucatat kau sebagai yang bertanggung jawab.
Bahkan Adik Wirada pun sa-ma sekali tak boleh menyentuhnya. Mengerti?" Sindura
melepaskan salah satu kalung jabatan yang tergantung
di lehernya dan melemparkannya pada Tari. Kalung
yang terbuat dari untaian manik-manik kayu Dewa itu
dengan tepat jatuh melingkari leher Tari. "Siapa pun
yang membuka kalung itu, akan harus berurusan den-
ganku." Tanpa berkata apa pun lagi Sindura bergegas turun
tangga. "Radeeen," panggil Emban Layarmega. Tetapi Sindu-
ra tak memperhatikannya. Ia telah berada di tangga
yang menuju ke lantai terbawah. Bima yang berdiri di
kaki tangga di lantai kedua menengadah memandang
pada Emban Layarmega, menunggu perintah.
Beberapa saat Emban Layarmega berpikir. Kemudian
ia menggelengkan kepala, menuruni tangga.
"Ada sesuatu yang keliru... tapi aku tak tahu apa. Ti-ba-tiba saja dia pergi dan
merasa pasti bahwa gadis itu harus dilindungi. Tidak, dia tidak kenal gadis itu,
dan sebaliknya. Tapi ada sesuatu yang keliru...," bisik Emban Layarmega pada Bima,
namun seolah pada dirinya
sendiri. "Apakah hamba harus mengikutinya?" tanya Bima,
memiringkan kepala untuk mendengarkan sudah sam-
pai di mana Ra Sindura. Ia mendengar suara ringkik
kuda sayup-sayup.
"Tidak. Suruh saja si Landak untuk secepatnya
memberi tahu Ra Wirada tentang apa yang terjadi di si-ni. Kau benar. Mata Ra
Sindura begitu tajam. Kemung-
kinan ia menemukan sesuatu yang kita tidak tahu. Dan
dapat menjerat kita. Kau cepat kirim kabar pada Putri Sepuh tentang perkembangan
ini. Rasanya Ra Sindura
akan memperketat keamanan kota. Sementara itu kau
jangan pergi-pergi. Untuk pertama kali dalam hidupku
aku tak merasa aman."
Sementara itu Ra Sindura telah berjalan perlahan
meninggalkan rumah Emban Layarmega. Kudanya di-
biarkannya berjalan seenaknya. Dan ia pun seakan tak
tahu harus pergi ke mana. Kepalanya menunduk da-
lam-dalam. Tak memperhatikan jalan kelam yang di-
tempuhnya. Gadis itu sungguh aneh. Butir obatnya. Detak nadi-
nya. Menyatakan bahwa ilmunya sama. Bahkan cukup
tinggi. Tapi siapa dia" Belum pernah ia diberi tahu tentang adanya saudara
seperguruan seorang gadis. Mung-
kinkah gadis tadi salah satu murid Rahtawu" Kemudian
nama itu tadi. Tantri. Mengapa justru nama anak ban-
del itu yang diucapkan" Jangan-jangan si bandel itu
mengobral ilmu mengajarkannya pada siapa saja.
Lalu, bagaimana bisa dikuasai oleh Ra Wirada" Wak-
tu mereka bertemu tadi siang, si gadis masih sehat wa-lafiat. Justru sinar mata
si gadis yang waktu itu membuat Ra Sindura curiga. Mungkinkah diracun" Ya. San-
gat mungkin. Justru saat ia tadi mencoba memberi ti-
puan pukulan maut dan si gadis berkedip pun tidak
maka timbullah kecurigaannya. Mungkin seseorang in-
gin memberi kesan bahwa si gadis tak berilmu. Tapi karena si gadis berkedip pun
tidak, Sindura jadi yakin


Candika Dewi Penyebar Maut I I I di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bahwa otak si gadis dipengaruhi oleh sesuatu obat. Jadi si gadis tak tahu akan
dirinya bukan karena sakit. Tapi karena memang dibuat begitu!
Emban Layarmega boleh menunggu. Yang penting
sekarang mengurus Ra Wirada.
Tiba-tiba Ra Sindura tertegun. Ia baru sadar bahwa
jalan di depannya tertutup oleh pasukan kuda yang
lengkap membawa senjata dan obor. Bahkan ia menge-
nal pemimpinnya. Kebo Kapetengan, pemimpin Pasukan
Hitam dari istana.
"Wah, kebetulan kami menemukan Paduka, Ra-
den...," kata Kebo Kapetengan memajukan kudanya.
"Ada apa, Paman?" Sindura heran.
"Paduka diperintahkan segera menghadap ke istana,"
kata Kebo Kapetengan. Suaranya terdengar gemetar ge-
lisah. "Hanya untuk menyampaikan itu dikirim satu pasu-
kan?" Sindura mengernyitkan kening. Ia memang benci
pemborosan tenaga.
"Mohon diampun, Raden... harap Raden menguatkan
diri... ayahanda Paduka... ditemukan... tewas!"
5. ANCAMAN DEWI CANDIKA
BEBERAPA saat Ra Sindura terdiam. Keinginan perta-
manya adalah menghantam hancur Kebo Kapetengan.
Dan walaupun gelap, cahaya obor cukup memberi sinar
khusus pada mata Sindura hingga tak terasa Kebo Ka-
petengan pun melangkah mundur dan bersiap-siap.
Kemudian Ra Sindura roboh. Jatuh lemas dari ku-
danya, terbanting ke tanah.
"Raden!" Kebo Kapetengan gugup menyambut dan
mencoba membangunkan Ra Sindura.
"Aku tak apa-apa, Paman." Sekejap Ra Sindura telah
sadarkan diri dan duduk. Lama ia menunduk mengum-
pulkan kembali semangatnya.
Ayahnya. Sejak kecil ia tak pernah tidak mengagumi
ksatria tua itu. Gagah. Tegas. Berwibawa dan disegani.
Pendiam, memang, hingga Sindura dan adiknya, Rara
Sindu, rasanya tak pernah merasakan belaian kasih-
nya. Ra Sindura masih ingat betapa setahun penuh ia
berusaha untuk menguasai ilmu memanah agar ayah-
nya bangga punya anak seperti dia. Tapi saat Sindura
menjadi juara memanah di Wilwatikta, tersenyum pun
beliau tidak. Tapi Sindura tahu bahwa ayahnya bangga
padanya. Sindura mulai saat itu dipimpin sendiri oleh ayahnya belajar kewiraan.
Sampai umur sebelas tahun
saat Sindura diserahkan pada Mpu Megatruh di Gu-
nung Lawu. Kemudian ketika enam tahun kemudian
Sindura turun gunung, sang ayah memperhambakan-
nya ke bhayangkara istana. Tidak ada kata-kata pujian, toh Sindura merasa
terpuji setinggi langit atas keper-cayaan ayahnya itu.
Dengan kepribadian dan kemampuannya Sindura
cepat menanjak. Dan ia mulai terlibat dalam membasmi
kelicikan-kelicikan dan kebusukan di kalangan istana.
Saat inilah ia mulai mencandu minuman keras. Suatu
hal yang juga dilakukan ayahnya, jadi tahu mengapa
ayahnya jadi pemabuk. Tekanan batin dikarenakan oleh
kebusukan kalangan istana sungguh berat. Dan Sindu-
ra begitu lega mengetahui bahwa ayahnya betul-betul
bersih. Dan karenanya banyak memiliki musuh.
Apakah beliau tewas karena salah seorang musuh
ini" "Apa yang terjadi, Paman?" Sindura berjalan perlahan ke arah istana. Tak
guna tergesa-gesa. Pasti ayahnya sudah tak tertolong lagi. Kalau ini hasil suatu
keja-hatan, pastilah pelakunya telah lama lolos. Kalau tidak Kebo Kapetengan
pasti telah menangkapnya.
"Ayahanda, sang Rakryan Rangga, agaknya sedang
dalam perjalanan ke istana. Di tikungan Kali Bera dekat Pasar Utara, rupanya
beliau diserang oleh seseorang
atau sekelompok orang. Beliau ditemukan tewas oleh
seorang petani yang langsung melapor ke istana. Aku
sendiri yang menyelidiki tempat itu." Kebo Kapetengan termenung sejenak. "Agak
mengherankan. Tak ada tanda-tanda bahwa Sang Rakryan Rangga diserang oleh
sekelompok orang. Hanya seorang. Dan dari bekas yang
ada, terlihat jejak pertempuran. Berarti Sang Rakryan tidak diserang secara
gelap." Ra Sindura tidak menyuarakan keheranannya. Tapi
seperti Kebo Kapetengan ia merasakan keganjilan itu.
Rakryan Rangga adalah salah seorang benteng hidup
Kuripan. Tak sembarang orang dapat mengalahkannya
dalam suatu pertempuran. Secara adil ataupun licik.
"Atas perintah Sang Raja, Sang Rakryan Rangga kini
disemayamkan di istana. Kemudian ibunda dan adinda
Paduka juga diboyong ke istana untuk mendapatkan
perlindungan sepenuhnya. Serta, tentunya agar dekat
dengan Sang Rakryan. Keranggan kini dijaga oleh pasu-
kan Kebo Basah," kata Kebo Kapetengan lagi.
"Sang Raja sungguh memperhatikan kami," desis Ra
Sindura perlahan. Namun dalam hati ia meragukan ke-
baikan Sang Raja. Ra Sindura, dapat menebak pemi-
kiran siapa yang menasihatkan sang Raja untuk menge-
luarkan perintah itu. Mungkin Rakryan Kanuruhan. Te-
tapi memang tugasnya untuk melindungi Sang Raja.
Kemungkinan beliau berpikiran bahwa bisa saja Ra
Sindura merasa begitu terguncang hatinya karena ke-
matian ayahnya, hingga paling tidak akan terpengaruh
oleh bisik-bisik busuk kelompok Dharmaputra.
Tidak. Ia takkan terguncang oleh peristiwa ini. Ba-
gaimanapun, kesetiaannya pada Wilwatikta akan tetap
utuh. Ia seorang prajurit. Dan ia hanya punya satu kesetiaan. Pada rajanya. Dan
pada apa saja yang dilam-
bangkan sebagai kepentingan Sang Raja. Ayahandanya
pun pasti akan berbuat serupa. Ia akan menyelidiki
pembunuhan ayahnya itu. Dan ia akan menghukum
pembunuhnya - membalas dendam adalah suatu ke-
mewahan yang tak pantas baginya. Ia akan mencari si
pembunuh, dan menghukumnya, karena dengan mem-
bunuh ayahnya, si pembunuh telah membahayakan ke-
mantapan tata hidup kerajaan, telah membahayakan
Sang Raja. Sindura menghentikan langkahnya. Ada kemungki-
nan, ya memang ada kemungkinan, kematian ayahnya
dikehendaki Sang Raja. Begitu banyak orang yang bisa
mempengaruhi Sang Raja dengan keputusan tolol se-
perti itu. Jika memang itu yang terjadi, ia akan melacak terus pembunuhan
tersebut. Kemudian akan menghukum pemrakarsanya. Dan jika itu menyalahi kehendak
Sang Raja ia akan langsung bunuh diri.
Ra Sindura naik ke punggung kudanya.
"Paman, tolong antar aku ke tempat Ayahanda gu-
gur," katanya pada Kebo Kapetengan. "Biar pasukan
Paman kembali ke Istana dan menghaturkan ini pada
Sang Raja. Aku harus mencari jejak apa yang terjadi,
sebelum jejak itu dihilangkan sang waktu."
Sesaat Kebo Kapetengan tampak ragu-ragu. Di saat
seperti itu membangkang perintah Sang Raja bisa dija-
tuhi hukuman mati. Tapi kemudian Kebo Kapetengan
berpikir bahwa keadaannya khusus. Rakryan Rangga
berkedudukan penting. Ra Sindura berjabatan tinggi.
Dan peristiwanya sungguh besar.
"Baik, Raden, akan Paman iringkan. Mohon jika ke-
lak ada amarah dari Sang Raja, Raden mau menyum-
bangkan suara bagi hamba," Kebo Kapetengan menoleh
pada wakilnya. "Curing, kaupimpin pasukan kembali ke
istana. Kecuali Tosan dan Sidi. Kalian ikut aku mengiringi Sang Raden.
Berangkatlah."
Ra Sindura dan ketiga pengiringnya berkuda diam-
diam. Derap kaki kuda mereka seakan bergema. Jalan-
jalan sesungguhnya masih agak ramai dengan beberapa
orang dan kendaraan berlalu-lalang. Ikat kepala Tosan menunjukkan bahwa
rombongan kecil itu dari pasukan
khusus istana. Itu saja sudah cukup membuat siapa
pun minggir. Tak peduli pedati, kereta, tandu, berkuda, apalagi jalan kaki.
Tempat yang ditunjukkan Kebo Kapetengan sangat
sepi. Gelap-pekat. Obor yang dibawa Tosan bahkan tak
sanggup dengan jelas memberi penerangan. Di situ ja-
lan menikung. Di kejauhan tampak bayangan hitam
Bukit Pemandangan. Dengan kelap-kelip beberapa lam-
pu rumah penduduk. Sebelah kanan lereng curam me-
nuju jurang yang dibentuk oleh Kali Bera. Di lereng itu terdapat banyak semak-
semak. Sebelah kanan adalah
beberapa petak ladang dan bukit-bukit kecil. Di bagian depan jalan berbelok ke
kanan mengikuti aliran sungai
dan menuju alun-alun di depan istana. Ada sesuatu
yang aneh. Ra Sindura sesaat berpikir. Ya. Biasanya
ayahnya tak melalui jalan ini jika pergi ke istana. Bagaimana tadi disebutkan
bahwa ayahnya dalam perjala-
nan ke istana" Mungkin saja ayahnya berpamitan pada
ibunya. Tapi, pasti ada alasan khusus kenapa beliau
lewat sini. Pikiran Ra Sindura terputus oleh gerakan Sidi yang
menyulut obor pada obor Tosan.
"Tunggu, matikan obor itu," kata Ra Sindura tiba-
tiba. Sidi langsung mematikan obornya.
"Ada apa, Raden?" tanya Kebo Kapetengan.
"Tunggu," kata Ra Sindura. Kemudian setelah sesaat
lamanya mereka berdiam diri, ia menghirup udara da-
lam-dalam. "Apakah kau mencium sesuatu, Paman?"
bisik Ra Sindura.
Kebo Kapetengan akhirnya tahu apa yang dimaksud
Ra Sindura. Ada semacam bau harum. Sangat lembut
dan lamat-lamat. Tadi memang tertutup oleh bau api
obor yang mendadak semakin tajam dengan menyala-
nya obor Sidi. Kini bau itu, walaupun sangat lembut
tercium. Ya. Mungkin waktu pertama kali ke sini bau
itu ada. Tapi tadi ia membawa satu pasukan. Entah be-
rapa obor yang dinyalakan tadi.
"Mungkin bau bunga" Di bawah sana?" tanya Kebo
Kapetengan. "Ini harum wewangian wanita, Paman... semacam...
ya - semacam yang ada di rumah Emban Layarmega!"
Ra Sindura tertegun. Benarkah" Ya. Harumnya paling
tidak sejenis. Dia turun dari kudanya. Memeriksa tanah sekitar tempat itu.
"Paman sungguh bodoh," kata Kebo Kapetengan, ikut
turun dari kuda. "Paman tadi kemari membawa pasu-
kan. Pasti jejak yang ada tertutup oleh jejak kaki kuda.
Menurut petani yang menemukan Rakryan Rangga, tu-
buh beliau berada di tepi jalan itu...." Kebo Kapetengan berjalan ke tepi jalan
dan menunjuk sebuah batu besar di pinggir jalan itu. "Tubuh itu separuh
tengkurap di ba-tu itu. Kedua pengiringnya tergeletak di ladang sana, agaknya
terlempar menembus pagar hidup itu. Yang sa-tu lagi di lereng itu, hampir dekat
kali." "Apakah Ayahanda luka?" tanya Ra Sindura.
"Tak ada bekas senjata tajam. Dada beliau seperti
remuk terkena tendangan," kata Kebo Kapetengan.
"Terkena tendangan?" Ra Sindura berpikir-pikir. Il-
mu tendangan mana yang begitu hebat" Kalau tadi di-
laporkan bahwa kemungkinan Rakryan Rangga hanya
diserang oleh seseorang, maka orang itu pastilah sangat tangguh. Dan jika ia
sangat tangguh, maka ia tak perlu sembunyi. Ia pasti menunggu. Sampai Rakryan
Rangga datang. Ia menunggu. Kemungkinan duduk. Yang pa-
ling dekat dengan jalan. Batu ini. Ra Sindura menun-
duk mencium batu tadi. Memang di sini baunya lebih
tajam, walaupun sudah lemah.
Penyerang Ayah memiliki suatu keharuman khas.
Mungkinkah... seorang wanita" Kalau dihubungkan de-
ngan desas-desus selama ini... mungkinkah itu Dewi
Candika" "Kita ke istana, Paman," tiba-tiba Ra Sindura me-
lompat tinggi. Langsung ke punggung kudanya.
Dan kini Ra Sindura berkuda bagai kesetanan. Kebo
Kapetengan dan kedua anak buahnya ikut mengejar.
Tapi kuda mereka bukan tandingan kuda Ra Sindura.
Tak berapa lama Sindura telah berada di depan ista-
na Kuripan. Istana itu dijaga begitu ketat.
Serentak sepasukan prajurit langsung menghadang,
membentuk barisan tombak tiga lapis, saat Sindura
mendekati pintu gerbang.
"Oh, Raden!" kepala pasukan itu langsung mengenali
Sindura. Apalagi saat itu Kebo Kapetengan telah tiba.
"Silakan masuk, Raden. Raden sudah ditunggu."
Di dalam pun penjagaan terasa berlebih-lebihan.
Sindura dan Kebo Kapetengan dikawal oleh pasukan
khusus lewat jalan-jalan di halaman istana yang terang-benderang oleh begitu
banyak obor. Ketika memasuki ruangan penghadapan di istana
dalam, Ra Sindura disambut oleh dua jeritan wanita.
Nyi Rangga, ibunya, dan Rara Sindu, adiknya, langsung merangkulnya serta
menangis tersedu-sedu.
Ra Sindura termangu-mangu, sementara ibu dan
adiknya menangis di dadanya. Di ruang itu ia melihat
ayahnya terbujur di tengah ruangan. Dikelilingi bebe-
rapa orang pejabat. Rakryan Tumenggung, Mpu Gaga-
rang, yaitu ayah Ra Wirada, duduk di tempat duduk
yang terbuat dari kayu. Di sampingnya duduk Rakryan
Kanuruhan, Mpu Gatra.
"Ibu... adikku Sindu...," akhirnya Ra Sindura berka-
ta, "biarkan aku menghadap Ayahanda...."
Dengan lembut Ra Sindura membuka rangkulan ta-
ngan ibunya dan menyerahkannya pada seorang dayang
yang datang mendekat. Kemudian ia berjalan jongkok
mendekati tempat ayahnya terbujur. Ia menghaturkan
sembah terlebih dahulu pada Rakryan Kanuruhan dan
Rakryan Tumenggung sebelum ia kemudian menghatur-
kan sembah pada ayahnya.
Dalam keadaan tanpa nyawa, Rakryan Rangga tam-
pak masih gagah. Namun dadanya yang bidang itu ter-
tutup kain. Ra Sindura menyembah sekali kemudian
mengangkat kain tersebut.
Diperhatikannya luka di dada itu. Dan ia sangat ter-
kejut. Sekali lagi diperhatikannya. Tulang rusuk dan tulang dada ayahnya remuk.
Dengan teliti Ra Sindura
mengukur patahnya tulang-tulang tadi. Dan diperik-


Candika Dewi Penyebar Maut I I I di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sanya bekas kulit yang tampak seperti luka bakar itu.
Ra Sindura tak percaya akan apa yang dilihatnya.
"Di manakah orang yang menemukan Ayahanda ta-
di?" tanya Ra Sindura pada Kebo Kapetengan.
Rakryan Tumenggung yang menjawab. "Aku telah
menyuruhnya pulang, Raden. Ia tak bisa lagi memberi-
kan keterangan apa pun."
"Maafkan hamba, Paman... apakah Paman berkenan
menanyakan siapa nama dan di mana rumahnya?"
"Orang itu tadi diperiksa oleh Demang Wulungrat,"
kata Rakryan Tumenggung. "Katakan apa yang kauke-
tahui, Demang."
Demang Wulungrat menghaturkan sembah dan ber-
kata, "Namanya Cikur, dari desa Selating. Dia dalam
perjalanan pulang dari mengunjungi saudaranya, si Ri-
ga, pedagang beras di Pasar Utara. Maksudnya untuk
menagih utang. Dan dia memang membawa uang dua
keping, katanya pemberian saudaranya itu. Rumah Ci-
kur di desa Selating itu berjarak lima bubungan dari
rumah buyut desa tersebut. Dia pulang naik pedati."
"Terima kasih, Paman. Paman Rakryan berdua, ham-
ba mohon izin untuk minta agar Paman Demang Ging-
sir mengirimkan dua pasukan. Pasukan pertama ke Pa-
sar Utara untuk mengambil si Riga guna ditanyai lebih lanjut. Pasukan kedua
harap pergi ke desa Selating gu-na menahan Cikur di rumahnya. Aku akan segera
me- nyusul ke sana."
Rakryan Tumenggung memandang Rakryan Kanu-
ruhan. Ragu menjawab. Tapi Rakryan Kanuruhan lang-
sung menganggukkan kepala dan mengelus jenggotnya
yang seputih kapas itu. "Bagus sekali, Raden... pikiranmu sungguh tajam. Demang
Gingsir, lakukan baik-baik
perintah itu."
Demang Gingsir menyembah dan berlalu.
"Apa lagi, Raden" Dalam saat seperti ini, sungguh
enak memandang tingkah dan mendengar suaramu.
Kau sangat mirip dengan ayahmu semasa mudanya,"
Rakryan Kanuruhan yang sudah tua itu terbatuk-batuk
beberapa saat. "Hayo apa lagi yang ingin kaulakukan,
Raden?" "Hamba ingin bertanya pada ibunda hamba. Paman,"
Ra Sindura berpaling dan berjalan jongkok mendekati
ibunya. "Ibu... tabahlah, Ibu... masih ada aku yang
akan menjagamu... dan menjaga adikku Rara..." Sindu-
ra membelai rambut ibunya, seolah di tempat itu tak
ada orang lain. "Tolong Ibu ingat-ingat... apakah Ra-
manda dipanggil ke istana" Bukankah ini belum hari-
nya menghadap" Lalu... apakah ada yang minta agar
Ramanda pergi lewat jalan Pasar Utara" Ingatlah, Bu...."
"Memang ada seseorang datang membawa suatu pe-
san," Rara Sindu menyahut saja. "Tetapi bukan dari istana, Kakang. Ramanda tidak
mau memberitahukan
pesan itu datang dari siapa. Tapi kemudian tampak pipi beliau merah... beliau
tampak sangat marah. Kemudian
berangkat begitu saja."
"Terima kasih, Adikku." Ra Sindura akan bertanya
sesuatu. Tetapi tidak jadi. Rakryan Kanuruhan terse-
nyum dari balik kumisnya. "Kalau aku boleh menebak,
Raden, Raden sesungguhnya ingin bertanya tentang be-
kas luka di dada ayahandamu. Aku juga heran. Ilmu
tendangan orang yang menyerang ayahandamu sangat
mirip dengan ilmu tendangannya sendiri, bukan?"
"Mata Paduka sungguh tajam," sembah Ra Sindura
betul-betul kagum. "Apakah Paduka punya suatu peng-
arahan?" Ra Sindura tahu, Rakryan Kanuruhan sesung-
guhnya tak punya ilmu kewiraan apa pun. Hanya ma-
tanya begitu tajam dan sanggup cepat mengingat sesua-
tu hingga melihat bekas tendangan saja ia ingat siapa yang menggunakan tendangan
itu. "Mataku sudah terlalu tua, Raden, aku tak tahu...
tampaknya kecuali gurumu turun gunung, rasanya tak
ada yang mampu melepaskan tendangan itu," kata Ra-
kryan Kanuruhan. "Tapi kukira semua pemikiranmu ta-
ruh dahulu dalam benakmu, Raden, kukira lebih baik
begitu...."
"Baiklah, Paman, dalam hal ini hamba pun tak mau
membuat keruh suasana. Jika Paman berdua tidak me-
merlukan hamba lagi... hamba ingin mencari ketera-
ngan ke Selating," Ra Sindura merapikan kainnya.
"Apakah itu perlu, Raden, saat ayahandamu meng-
harap kau memberikan penghormatan terakhir bagi-
nya?" tanya Rakryan Tumenggung.
"Kukira keputusan Sindura lebih tepat dalam kedu-
dukannya sekarang ini. Bagi dia, persoalan pribadi tak boleh menghalangi tugas.
Dan kini, ia harus bertindak.... Seharusnyalah baginya ini adalah pembunuhan
salah seorang pejabat tinggi negara, dan bukan ayah-
nya." "Kalau begitu, hamba mohon diri, Paman," Ra Sindu-
ra menyembah sedalam-dalamnya dan berjalan jongkok
mundur. Pandangan ibu dan adiknya pun tak membuat
ia menghentikan langkahnya. Ia teringat sesuatu. Ber-
henti sejenak untuk berkata, "Hamba mohon, Paman
Kebo Kapetengan diperkenankan mengiringi hamba.
Beserta siapa pun yang dikehendakinya."
Rakryan Kanuruhan tersenyum. "Bagus sekali kau
segera menyadari kelupaanmu, Raden. Sungguh gega-
bah untuk terpengaruh perasaan hati saja. Baik, Raden.
Kebo Kapetengan, kauikuti Ra Sindura."
"Daulat, Junjungan," Kebo Kapetengan cepat meng-
haturkan sembah.
Di luar, seorang prajurit wanita bersimpuh di jalan
yang akan dilalui Ra Sindura. Ra Sindura berhenti. Menyapa.
"Ah, Madri... apakah kau menghendaki aku?" tanya
Ra Sindura. "Sembah hamba untuk Paduka, Raden," Madri ber-
datang sembah. "Hamba menyampaikan keinginan
Sang Raja. Sang Maharaja menghendaki Raden segera
menghadap di Istana Timur. Sendirian."
Sesaat Ra Sindura bingung. Ia tahu apa yang ada di
balik permintaan menghadap Sang Raja, jika yang me-
nyampaikan permintaan itu Madri, prajurit wanita pe-
ngawal pribadi Sang Raja. Suatu siksaan batin. Terlebih pada saat ia ingin
segera menyelesaikan penyelidikan-nya. Tapi tentunya permintaan seperti ini tak
bisa dito-lak. Dengan hanya diiringi Madri yang membawa obor,
Ra Sindura berjalan menuju Istana Timur. Taman dan
halaman istana yang dilewatinya bagaikan gambaran
tentang kahyangan, dengan permainan cahaya lampu-
lampu yang dipasang di mana-mana. Tetapi tak ada
yang terpikir oleh Sindura kecuali tugas yang dihadapinya.
Melewati taman terakhir di depan Istana Timur, tiba-
tiba Ra Sindura merasakan bahwa ia berjalan sendiri. Ia pun tidak terkejut.
Selalu begitu. Ia tak perlu obor. Cahaya beberapa lampu memben-
tuk paduan terang dan gelap bagaikan dongeng. Dan di
bawah sebatang pohon Nagasari di depan danau kecil,
seperti biasa telah menunggu Dewi Malini.
"Kakang Sindura... ini memang bukan saat yang sa-
ngat tepat, tetapi aku sangat merindukanmu... aku in-
gin kau berbagi kesedihan ini denganku," bisik Dewi
Malini tanpa kata-kata pendahuluan lagi, langsung me-
megang lengan Ra Sindura, mencegah pemuda itu ber-
jongkok menghaturkan sembah.
"Dewi..." Ra Sindura ikut berbisik. Gelisah. Dan... takut. "Ingat kedudukanmu.
Kau kini adalah milik Sang
Raja, junjunganku. Apa pun perasaan hatimu padaku,
tak berlaku lagi. Kau pun junjunganku, dan aku hamba
sahayamu. Hubungan kita... sangat berbahaya. Bagimu.
Bagiku. Apalagi di saat seperti ini," kata Ra Sindura.
Wanita itu muda. Cantik. Putri Rakryan Demung. Te-
man bermain Ra Sindura sejak kecil. Namun kemudian
diambil selir oleh Sang Raja.
Dewi Malini tak pernah bisa melupakan Sindura. Di
tiap kesempatan ia menghendaki pertemuan dengan
ksatria muda itu. Selalu diatur oleh Madri, salah seorang teman bermain semasa
kecil dulu. Dalam rasa baktinya, Ra Sindura tak pernah bisa
menolak perintah junjungannya. Dalam gejolak jiwa
mudanya Ra Sindura sering lupa bahwa Dewi Malini is-
tri rajanya. Tapi kali ini ia tidak lupa. Ia dengan lembut mendorong Sang Dewi
yang ingin mendekapnya.
Halaman 91 dst hilang - robek.
Bersambung ke jilid 4.
Scan/Edit: Clickers
PDF: Abu Keisel
Document Outline
CANDIKA: DEWI PENYEBAR MAUT-3 DI TUMENGGUNGAN
2. ASAP KUNJANA
3. EMBAN LAYARMEGA
4. RA SINDURA 5. ANCAMAN DEWI CANDIKA
Pendekar Penyebar Maut 21 Misteri Elang Hitam Karya Aryani W Pedang Medali Naga 6
^