Pencarian

Dewi Penyebar Maut I V 1

Candika Dewi Penyebar Maut I V Bagian 1


CANDIKA: DEWI PENYEBAR MAUT-4 oleh Djokolelono
? Penerbit PT Gramedia,
Jl. Palmerah Selatan 22, Jakarta 10270
Desain dan gambar sampul oleh Djokolelono
Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia,
anggota IKAPI, Jakarta, Maret 1989
Scan/Edit: Clickers
PDF: Abu Keisel
1. DEWI CANDIKA
SAAT itu malam. Saat itu kelam. Dan lampu-lampu
di taman Istana Timur Kuripan membuat bayang-
bayang terang dan gelap seolah bertarung berebut pengaruh. Lebih merupakan
gambaran bagi kesatria muda
yang hatinya bergolak gelisah itu.
Ra Sindura selalu terpaksa menelan kebanggaan di-
rinya setiap ia menghadap Dewi Malini, selir utama
Sang Raja junjungannya.
Dewi Malini sebagai selir Sang Raja, bahkan didesas-
desuskan akan menggeser kedudukan Sang Permaisuri,
yang adalah juga junjungannya. Dewi Malini sebagai da-ra cantik dari istana
Rakryan Demung, Ra Sindura
punya ribuan kenangan manis bersamanya. Dewi Malini
sebagai Sang Selir Utama serta kekasih di masa lam-
pau, adalah siksaan tak terperi bagi seorang ksatria muda seperti Ra Sindura
yang mencoba memelihara ke-teguhan hati sebagai orang berhati bersih di negara
itu. Dewi Malini tak pernah memberinya kesempatan un-
tuk putih bersih. Gelora dada dara muda itu tak pernah bisa ditahan oleh
kungkungan baja tata cara istana.
Bagaikan dendam kesumat pada nasib yang membuat-
nya terdampar di tangan Sang Raja, maka dengan be-
rani Dewi Malini selalu menggunakan tiap kesempatan
untuk bertemu dengan Ra Sindura. Dengan bantuan
prajurit dara yang menjadi kepercayaan Sang Mahara-
ja - Madri. Seperti malam itu. Malam yang sangat tidak meng-
untungkan bagi Ra Sindura. Beberapa saat yang lalu
ayahnya diketemukan tewas. Dan saat ia akan berang-
kat menyelidiki kematian ayahnya, Madri muncul mem-
bawa berita bahwa ia dipanggil Sang Raja. Yang mem-
bawa berita itu adalah Madri. Dan ini hanya berarti sa-
tu. Dewi Malini menunggu.
"Kakang Sindura...," kata Dewi Malini, di bawah po-
hon nagasari yang indah semampai. "Ini memang bukan
saat yang tepat. Tapi aku sangat merindukanmu. Aku
ingin... kau mau berbagi kesedihan denganku...." Dewi Malini maju dan
mengulurkan tangan untuk mencegah
Sindura duduk menyembah. Sentuhan tangan yang be-
gitu halus dan lembut itu jelas membuat dada Ra Sin-
dura bagai akan meledak. Tapi dengan tegas Ra Sindura menepis tangan itu serta
mundur beberapa langkah,
menghindar dari kejaran Sang Dewi.
"Dewi..." Terpaksa Ra Sindura memegang tangan pu-
tih lembut itu. "Ingatlah kedudukanmu... kau adalah
milik Sang Raja... kau adalah junjunganku... aku ham-ba sahayamu. Kalaupun kau
tak peduli... ingatlah bah-wa tindakanmu ini bisa menyebabkan aku kehilangan
kepala...."
Dewi Malini tersenyum sedih. Ia menghela napas
panjang dan menarik pulang tangannya.
"Ra Sindura yang gagah perkasa takut dipenggal ke-
palanya" Sejak kapan?"
Saat itulah terdengar suara tawa mengejek. Tawa
seorang wanita. Dari salah satu sudut gelap taman itu.
Sesaat tersirap darah Ra Sindura. Serasa lenyap se-
luruh tulang di dalam tubuhnya. Tapi ia cepat berdiri.
Jika pun ia ketahuan, ia akan bersedia untuk bunuh
diri. Tapi kesempatan saat Ra Sindura berdiri itu digu-
nakan oleh Dewi Malini untuk mendekap pemuda itu.
Merangkul dadanya yang terbuka itu rapat-rapat. Me-
nempelkan pipinya yang halus hangat ke dada yang
bersimbah keringat walaupun malam sangatlah dingin.
Dan keharuman alami yang begitu merangsang mem-
buat Ra Sindura sesak napas.
Kuping Dewi Malini yang mungil serta berhias sumping bertatah berlian itu bisa
mendengarkan betapa ka-caunya debar jantung sang perjaka.
"Tak usah takut, Singa Kuripan," bisik Sang Dewi.
"Itu adalah tawa Madri!"
Madri! Benar juga. Dan suara tawa itu terdengar lagi, disusul kata-kata, "Jika
kau ingin memasuki Istana Timur, kau mestinya punya ilmu lebih serta punya nyawa
rangkap! Keluarlah!"
He. Mungkin Madri memergoki seseorang yang akan
atau sudah memasuki taman istana ini"
"Sebentar," bisik Ra Sindura mencoba melepaskan
diri dari dekapan Dewi Malini.
"Ah, mau ke mana?" bisik Dewi Malini, malah mem-
pererat dekapannya. Diusap-usapkannya wajahnya ke
dada Ra Sindura. Hawa mulutnya begitu hangat ketika
ia berbisik, "Tak usah pergi. Madri akan dapat mengata-sinya. Dekaplah aku.
Biarlah kita begini terus sampai tua...."
"Dewi... jangan kaubuat keadaanku sedemikian sulit,
biarkan aku pergi dulu," bisik Ra Sindura. Merah mu-
kanya. Begitu malu ia harus memohon pada wanita
yang dahulu hanyalah sebaya. Kini dipujanya. Dan di-
junjungnya. Namun begitu menyulitkan dirinya.
"Sudahlah, duduklah dahulu, pangkulah aku, de-
kaplah...," bisik Dewi Malini berdesah, semakin erat mendekap, menarik Ra
Sindura ke dalam gelap bayang-bayang. Luluh hati Ra Sindura.
Otaknya mengatakan ia harus segera meninggalkan
tempat itu. Kalau perlu ia harus mengibaskan wanita
cantik di dadanya itu. Tapi deras darah mudanya me-
ngatakan lain. Ia mengikut saja saat dirinya dituntun ke dalam suatu rumah-
rumahan kecil berdindingkan rangkaian bunga merambat. Di dalam terdapat sebuah
bangku kayu cendana dengan keharuman yang mende-
sak merangsang.
"Dekaplah aku, Kakang... lupakan sejenak dunia-
mu...," desah Dewi Malini.
Dan bagaikan patung berjiwa, Ra Sindura mengikuti
permintaan itu. Mendekap sang dewi dengan tangannya
yang berotot kuat. Merangkum kelembutan halus dan
harum tubuh mulus indah itu. Tak terasa darahnya
pun semakin deras melancar. Kupingnya serasa penuh
dengan desah kepuasan Sang Dewi. Sementara tubuh-
nya yang kokoh disentak-sentakkan oleh guncangan ge-
jolak kerinduan yang bobol lepas membanjir menderas.
Tak urung, walaupun kini sayup-sayup, Ra Sindura
masih mendengarkan apa yang terjadi di sana. Entah di mana.
"Tuan tahu, walaupun aku kenal Tuan, dan kedudu-
kan ramanda Tuan begitu tinggi... aku wajib menang-
kap Tuan. Hidup atau mati!" Di antara desah dengus
harum napas Dewi Malini, sayup-sayup Ra Sindura
mendengar suara itu. Suara Madri. Tegas dan dingin.
"Dewi...," bisik Ra Sindura, menangkap tangan lem-
but sang dewi yang tampaknya semakin tak terkendali.
"Tolong lepaskan aku dulu."
Sayup-sayup terdengar suara tawa lelaki. Beberapa
lelaki, bukan hanya satu. Dan seseorang menjawab
atau menyahut kata-kata Madri tadi.
Ia ingin sekali memusatkan perhatian agar dapat
mendengar jawaban tadi. Tapi saat itu Dewi Malini telah merangkul lehernya dan
semakin menjadi-jadi me-ngecupi leher dan muka sang raden.
Saat sekali lagi Dewi Malini merobohkan Ra Sindura
ke bangku cendana, sayup-sayup terdengar bentakan
Madri. "Baik! Jika Tuan tak bisa kuajak bicara secara baik-baik, terpaksa
kugunakan kekerasan... yaiiiiiiiii...."
Dan terdengarlah suara pertempuran. Kini agak pak-
sa Ra Sindura menahan tangan Dewi Malini dan meng-
angkat kepala. Madri adalah putri seorang pendekar da-ri Galijao. Tata
kewiraannya mengandalkan kecepatan
bergerak. Begitu ia mulai bergerak, maka siapa pun
hampir tak bisa melihat dirinya lagi. Yang tampak
hanya segulung bayang-bayang yang menimbulkan wi-
bawa kengerian. Senjatanya semacam tombak yang
ujungnya adalah semacam golok melengkung. Madri tak
pernah menunjukkan rasa ampunnya jika sudah meng-
gunakan senjata itu. Ra Sindura pernah melihat prajurit wanita itu beraksi.
Dalam perjalanan ke pantai selatan, mereka yang sengaja mendahului rombongan
Sang Raja kepergok dengan segerombolan perampok. Mung-
kin jika mereka hanya menyatakan keinginan untuk
merampok, Madri takkan turun tangan. Tapi kepala pe-
rampok begitu usil mencoba menggoda Madri yang wa-
laupun berkulit hitam namun begitu manis dengan se-
ragam prajuritnya. Sekali Madri bergerak, ia tak bisa dihentikan lagi. Enam
belas orang perampok roboh dalam beberapa gebrakan saja. Semua dengan salah satu
bagian badan terpenggal.
Kini saat Ra Sindura berhasil melepaskan kepalanya
dari dekapan Dewi Malini, ia mendengar tidak saja lon-catan lepas dan cepat
gerak kaki Madri. Tetapi juga des-ing maut tombak bermata golok melengkung itu.
"Maaf, Dewi...." Ra Sindura mengeraskan hati, menu-
tup mata nafsunya dan mendorong pergi tubuh wanita
muda itu. Terpaksa dengan tenaga karena Dewi Malini
sama sekali tak mau melepaskan dekapannya. "Maaf-
kan hamba...." Sedikit terhuyung Ra Sindura mundur,
membungkuk menyembah sambil membetulkan ikatan
kainnya. "Maaf...." Masih dengan pikiran kacau Sindura berlari ke arah dari mana
ia mendengar suara pertem-
puran tadi. "Kakang!" Dewi Malini gugup berdiri. Tangannya ser-
ta-merta meraup beberapa pakaiannya yang terlepas
tadi. "Kakang!" katanya lagi gemas, membanting kaki. Ia bukanlah wanita yang
dibesarkan dalam kemanjaan.
Tapi ia paling tidak selalu memperoleh kepuasan dalam keinginannya. Dan tadi ia
tak memperoleh kepuasan
itu. "Kakang... aku harus memilikimu...," desah Dewi Malini.
"Kenapa kau begitu serakah?" terdengar suatu sua-
ra. Sesaat Dewi Malini mengira itu adalah suara hatinya sendiri. Sebab sering
memang ia menanyakan hal itu
pada dirinya sendiri. Hampir ia menjawab. Namun ada
sesuatu hal yang sangat asing.
Tiba-tiba tempat itu berbau begitu harum.
Harum yang aneh. Tak pernah dirasakannya sebe-
lumnya. Terkejut Dewi Malini berpaling. Dan ia makin terke-
jut. Di sudut rumah taman itu berdiri sesosok tubuh. Tidak terlihat terlalu
jelas. Berperawakan sedang. Dengan beberapa perhiasan gemerlap memancarkan sinar
- walaupun keadaan di tempat itu cukup gelap. Remang-
remang terlihat wajah berkulit bersih. Bermata tajam, cemerlang indah.
"Siapa kkkau?" Dewi Malini berdesis bertanya. Mun-
dur hingga punggungnya terbentur palang-palang kayu
tempat bunga-bunga merambat.
"Perlukah kau tahu?" suara orang itu sungguh mer-
du. Dan seakan tertawa.
"Jangan kurang ajar. Aku bisa menyuruhmu dihu-
kum picis," ancam Dewi Malini. Tetapi sesungguhnya ia tak yakin untuk itu.
Sebab... siapakah sebenarnya yang
dihadapinya" Sang Permaisuri sendirikah, hingga be-
rani begitu kurang ajar padanya" Tidak. Sang Bhre Kuripan tidak seperti itu
bangun tubuhnya. Tidak seperti itu langgam suaranya. Tidak seperti itu harumnya.
Dan tidak mungkin berada di Istana Timur, yang memang
diperuntukkan bagi Sang Selir Utama. Lebih-lebih lagi tak mungkin ia berjalan di
kegelapan seperti ini. Sendiri.
"Kaupikir kau cukup tinggi untuk itu?" orang itu me-
mendam tawa lagi. "Ketahuilah, aku bahkan lebih ber-
hak dari Sang Maharaja di Wilwatikta. Apalagi hanya
Sang Raja Kuripan. Apalagi hanya seorang selir utama.
Apalagi... seorang selir utama yang menyeleweng!" orang itu berbicara lebih
keras. "Jika aku mendendam pada
seluruh keturunan Kertarajasa, maka dendamku adalah
dendam keluargaku. Jika aku ingin membunuh eng-
kau... maka itu karena sebagai seorang wanita, aku ma-lu ada seorang wanita yang
bersifat seperti engkau!"
"Membunuh... aku?" Dewi Malini makin mundur.
Makin terdesak ke palang kayu. Di mana Madri" Di ma-
na Sindura" Ia memang mendengar suara pertempuran
di kejauhan. Di mana para pengawal" Ah, ya. Demi ter-laksananya pertemuannya
dengan Ra Sindura, seperti
biasa pastilah Madri telah memindahkan pasukan pen-
gawal taman untuk bertugas di tempat lain. Mereka
pastilah tak bisa dipanggil.
"Ya... aku akan membunuhmu. Sesungguhnya ini
bukan tujuan utamaku. Tujuanku adalah Bhre Kuripan
dan keluarga dekatnya... tapi kau begitu memuakkan
aku!" Tiba-tiba orang itu merunduk merendahkan bahu
kirinya. Dewi Malini terkejut. Ia tahu sedikit ulah tata kewiraan. Dan ia sering
menonton Sindura berlatih. Ia seakan mengenal gerak ini. Salah satu gerak yang
mengawali tendangan yang mempunyai kekuatan pe-
nuh dan sanggup merobohkan sebatang pohon beringin
besar! Dewi Malini cepat memutar tubuh. Tergesa-gesa ia
membuang diri ke samping. Tak mempedulikan betapa
kain dan selendangnya terlepas dari genggamannya.
Orang itu agaknya hanya menggertak. Bukan ten-
dangannya yang terlepas, tangan kanannya meluncur
cepat, mencoba menyambar kain kemben penutup dada Dewi Malini. Dewi Malini gugup
menyambar tusuk
sanggul yang berbentuk seperti keris berukuran sangat kecil dan sambil menjerit
keras menampar tangan yang terulur tadi.
Saat itulah tendangan maut yang dikhawatirkannya
tiba. Sekilas gerakan. Badan orang itu miring. Kakinya terulur panjang. Ibu jari
dan jari telunjuk kaki menga-rah ke iga Sang Dewi.
Kembali Dewi Malini menjerit keras. Dan roboh.
*** Ketika Sindura sampai di sumber suara pertempuran, ia


Candika Dewi Penyebar Maut I V di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sangat terkejut. Tempat itu adalah halaman samping Istana Timur. Dekat pintu
kecil yang menuju bagian belakang Istana. Dekat tembok tinggi yang memagari
taman itu. Sindura terkejut, karena terlihat Madri sedang sibuk melayani Ra
Wirada dan kedua bayangannya, si Lingga
dan Yoni! Madri mengerahkan segenap kepandaiannya. Tubuh-
nya meloncat ke sana-kemari, berguling dan meloncat
meninggi, kemudian kembali berguling dekat tanah.
Senjata tombaknya terus menderu, mata golok leng-
kungnya mendengung mengancam.
Ra Wirada cukup membuktikan dirinya sebagai pe-
muda yang bisa diharapkan sebagai benteng negara.
Gerakannya ringkas. Trengginas. Matang perhitungan.
Gerakan ini jadi begitu indah karena Madri dibuat sibuk oleh Lingga dan Yoni.
Terlibat dalam pertempuran sese-rius ini, kedua orang itu lupa bercanda. Mereka
me- mang terpaksa menggunakan pedang untuk berani
menghadang serangan Madri. Dalam menyerang mau-
pun bertahan, ternyata si jangkung dan si bundar itu dapat saling mengisi dengan
sangat baik. Mereka pun
seolah pernah berutang jiwa pada Ra Wirada hingga sering mereka melakukan
serangan nekat dan kilat untuk melindungi pemuda itu.
Pertempuran itu jadinya seimbang. Dan itu mem-
buktikan bahwa sesungguhnya Madri berada di atas sa-
lah satu dari ketiga pria itu jika mereka melakukan pertempuran seorang lawan
seorang. Bahkan hanya Madri yang sepenuhnya tahu keha-
diran Ra Sindura yang tiba-tiba muncul dari antara semak bunga.
Madri bahkan dapat melihat raut muka yang melam-
bangkan pikiran kacau di wajah Ra Sindura.
Ini tidak benar, pikir Madri. Setiap kali habis ber-
temu dengan Dewi Malini memang tampak Ra Sindura
berwajah kacau, tetapi kacau yang menyembunyikan
rasa kepuasan diri. Ini tidak. Ini kacau takut. Kacau bingung. Dan tentu saja
kacau sedih. Takut" Bingung"
Karena pikirannya terpecah, dua pedang Lingga dan
Yoni berhasil menerobos pertahanan tombak Madri,
sementara tinju Ra Wirada menyerbu dari samping. Gu-
gup Madri menghantam kedua pedang itu dengan ga-
gang tombak sementara sambil menggulingkan diri ia
membebaskan sasaran tinju Ra Wirada. Sesaat kemu-
dian ia telah meloncat dan jatuh dengan kaki tertekuk hampir melekat ke tanah
sementara tombaknya membuat lingkaran perlindungan maut.
"Lut Seta," pikir Ra Sindura. Ia pernah mendengar tentang gerakan khas dari tata
kewiraan Galijao ini, dan baru kali ini ia dapat menyaksikan sepenuhnya. Tetapi
ia masih termangu.
Madri menebak tepat. Ra Sindura memang saat itu
gugup, bingung, dan takut. Tewasnya ayahnya. Perte-
muannya yang penuh gelora nafsu dengan Dewi Malini.
Dan kini Ra Wirada muncul. Apakah mereka hanya ke-
betulan saja datang"
Menggunakan saat Madri sesaat berhenti menyerang,
tangkas sekali Ra Wirada melompat mundur. Lingga
dan Yoni serentak juga mundur dan mengambil tempat
melindungi majikan mereka.
"Kakang Sindura, hentikan wanita gila ini... dia...
dia... eh..." Ra Wirada berhenti berbicara, memperhatikan pakaian Ra Sindura
yang sudah acak-acakan itu.
"Mmm, haruuum... kau dari mana, Kakang" Betul juga
kabar angin yang kudengar."
"Raden, orang ini memburuk-burukkan Gusti Dewi.
Aku berkewajiban untuk membekuknya. Hidup atau
mati." Madri berdiri gagah, memutarkan tombaknya di
samping tubuhnya dengan tangan kanan sementara
tangan kirinya menunjuk lurus ke depan. Wajahnya
yang gelap menjadi latar belakang matanya yang me-
mancar murka penuh dendam. "Lebih baik lagi kalau
mati, dan aku tak keberatan kata-kataku ini diadukan pada Sang Maharaja."
"Ah, Kakang Sindura... aku cuma berkata aku ingin
mengunjungi Rayi Dewi Malini... kan itu biasa toh." Ra Wirada bertolak pinggang
dan bersikap santai. "Kan Kakang tahu, Rayi Dewi teman bermain kita sejak
dulu... Bahkan, ehm, ehm, aku sekarang baru mengerti men-
gapa kau tak pernah tertarik pada gadis mana pun, Kakang... dan kenapa
kedudukanmu begitu cepat me-
nanjak. Yang kuherankan, pada saat ayahandamu, Uwa
Rangga, menemui petaka... kau masih sempat..."
"Diam, Wirada!" Ra Sindura tidak membentak. Bah-
kan kata-katanya itu dikeluarkannya perlahan-lahan.
Hampir sepatah demi sepatah. Tapi semua suku kata-
nya seakan menghantam dada Ra Wirada. Yang lang-
sung terdiam. "Jangan kausebut Gusti Dewi seperti itu.
Berpikir pun jangan kauanggap sarika pernah jadi teman bermainmu. Gusti Dewi
adalah junjunganmu.
Camkan itu. Kau telah memasuki daerah terlarang. Kau harus dihukum!"
"Jika Gusti Dewi-mu itu boleh menerima kamu, Ka-
kang, secara sembunyi-sembunyi pula... kenapa aku
tak boleh berbuat serupa" O, sudahlah, jangan kau
mencoba menutupi Gusti Dewi-mu itu, Kakang. Bagiku
ia tak lebih dari salah satu anak buah Bibi Emban
Layarmega... bedanya kaulah langganannya satu-satu-
nya!" "Wirada! Bersihkan mulutmu!" Kini Ra Sindura
membentak. Dan meledak. Dan langsung menerjang.
Dengan kemarahan yang tak terbendung.
Ra Wirada menjerit terkejut. Punggungnya tersambar
hantaman keras Ra Sindura dan ia terhempas keras ja-
tuh tersungkur. Pedang Lingga yang terulur mengha-
dang pun ditabas hingga terlepas, sementara peme-
gangnya ditendang terjengkang.
"Kakang Sindura! Jangan kaukira kau sendiri jantan
sejati!" geram Ra Wirada memekik dan menghunus ke-
ris pusakanya, Ki Jaka Belek. Begitu terkibas di udara, keris yang tadinya hitam
legam langsung merah mem-bara menyebarkan perbawa panas. Tapi Ra Sindura
agaknya tak terpengaruh. Bagaikan gila ia terus menerjang.
Gugup juga Madri melihat pertempuran keras itu.
Belum pernah ia melihat Ra Sindura begitu bernafsu
dalam bertarung. Seakan-akan Ra Sindura tak akan
puas sebelum Ra Wirada dan kedua hambanya itu di-
cincang jadi abu.
Padahal, bahkan tadi pada puncak kemarahannya,
Madri tak akan bermaksud untuk membunuh putra
Rakryan Tumenggung itu. Betapapun kurang ajarnya
Ra Wirada. Entah bagaimana agaknya Ra Wirada mengetahui
hubungan gelap antara Ra Sindura dan Dewi Malini.
Entah bagaimana Ra Wirada memberanikan diri memu-
tuskan untuk juga ikut menemui Dewi Malini. Mungkin
memang ia tak bisa mengendalikan kehidung-belang-
annya. Mungkin karena ia ingin menjatuhkan Ra Sin-
dura. Entahlah. Kata-kata yang tadi diucapkannya pada Madri sungguh kurang ajar,
memang. Kemudian... entah bagaimana ia bisa memasuki daerah terlarang ista-na
ini. Mungkin ia memakai pengaruh Rakryan Tu-
menggung yang memang sedang berada di balai peng-
hadapan. Mungkin... ah! Tugasnya adalah menjaga
Sang Dewi. Kini... di mana beliau" Mengapa Ra Sindura meninggalkan Sang Dewi"
Madri kenal betul Sang Dewi.
Pasti ia tak akan melepaskan Ra Sindura sedemikian
cepat. Apa pun yang terjadi, biasanya bisa ditanggulangi oleh Madri hingga Ra
Sindura tak usah pergi meninggalkan Sang Dewi.
Tiba-tiba Madri merasa gelisah. Apa pun yang terjadi, Madri harus menjaga
kepuasan Sang Dewi.
Gelisah Madri memuncak. Dilihatnya Ra Sindura
masih beringas merangsek kedua lawannya, dan sera-
ngan-serangan putra Rakryan Rangga itu betul-betul
pantas membuatnya dijuluki Singa Kuripan. Kenapa
pemuda itu seperti begitu bernafsu membunuh Ra Wi-
rada" Tiba-tiba Madri memutuskan untuk menjenguk jun-
jungannya. Keadaan di sini pastilah bisa dikuasai oleh Ra Sindura.
Madri membungkuk memberi hormat dari kejauhan
dan berkata, "Raden, demi pasukan pengawal keagung-
an Sang Maharaja, mohon ketiga perusuh itu ditangkap hidup-hidup...." Madri
terpaksa menambahkan kata-kata itu karena ia ngeri akan akibat kemurkaan Ra
Sindura. Dan ia melompat pergi.
Bergegas ia berlari ke rumah bunga di tengah taman
itu. Beberapa langkah dari rumah itu ia sudah tertegun berhenti. Sebuah sudut
rumah tersebut roboh. Dan...
sesosok tubuh terkulai ke luar.
"Gusti Dewi!" Madri berbisik dengan suara tertekan.
Dan napasnya serasa lenyap. Jantungnya berhenti ber-
detak. "Gusti Dewi...," bisiknya lagi, melangkah selangkah maju. Begitu berat
terasa. Tapi ia menabahkan hati untuk melangkah lagi. Dan melangkah lagi. "Gusti
De-wi...," hampir ia menjerit. Dan menubruk tubuh itu.
Dan menangis. Serta merenggut-renggutkan rambut di
kepala. Atau menampar-nampar dada. Tapi itu semua
hanya dilakukan oleh seorang wanita biasa. Madri bu-
kanlah wanita biasa. Ia adalah wanita prajurit. Ia adalah prajurit. Ia tak boleh
melakukan apa yang mula-
mula dipikirkannya tadi.
Ia menghela napas dalam-dalam. Ia memejamkan
mata. Ia memusatkan segenap pikirannya. Ia adalah ke-utuhan dari suatu senjata
pamungkas. Ia tak kenal perasaan.
Ia maju. Diperiksanya tubuh itu. Dipetiknya batu
api. Disulutnya sebuah obor kecil yang ada di rumah
bunga tersebut.
Sang Dewi sedang tersengal-sengal mempertahankan
napas terakhirnya. Sekilas melihat remuknya sisi dada
serta warna kulit wajah yang cantik itu Madri tahu
bahwa obat Dewata pun tak akan bisa menyelamatkan
junjungannya. "Gusti Dewi...," bisik Madri perih. Diang-katnya wajah cantik itu.
Tak ada yang tahu, bahwa pa-da puncak-puncak kesepiannya, Dewi Malini sering
mendekapkan mukanya ke dada Madri, dan memper-
oleh suatu kepuasan yang aneh. Demikian pula si pra-
jurit wanita. Kesetiaannya pada junjungannya lebih dari sekadar kesetiaan.
Tetapi juga kecintaan. Dan kini wajah itu begitu padam sinarnya. "Gusti
Dewi...," bisiknya lagi.
Dan entah ada kekuatan dari mana, Sang Dewi se-
saat membuka kelopak matanya. Mata yang mati itu
memandang Madri dengan sinar obor kecil yang ter-
sangkut di dinding. "Madri?" suaranya lemah, jauh dari balik dunia.
"Gusti Dewi!" Madri terkejut. "Dewi... siapakah yang berbuat ini?" Naluri
keprajuritan lebih menguasai rasa cinta ataupun kasih sayang Madri.
Dewi Malini tersengal-sengal makin keras. "Dewi!"
rintih Madri. Dan mulut yang begitu indah tampak
membentuk kata: Madriiii. Kemudian... bibir itu seakan ingin mengucapkan: Kakang
Sin... du... ra...
Dan... mata indah itu pun padam.
2. TENDANGAN BANTALA LIWUNG
SETELAH Madri pergi, dalam kemurkaannya pun Ra
Sindura merasakan bahwa ada orang ketiga yang ikut
memperhatikan ia merangsek Ra Wirada dan kedua pu-
nakawannya. Kemudian sesuatu membuatnya makin
terganggu. Bau yang begitu harum! Sesaat ia melengak, dan hampir saja lambungnya
terobek oleh si Jaka Belek. Tapi dengan menggunakan langkah Sura-caya bukan saja
ia berhasil menggagalkan serangan lawan,
bahkan serangkaian tendangan membuat Lingga dan
Yoni terpental membentur pagar tembok, sementara Ra
Wirada harus membuang badan dua kali.
Ra Sindura berpaling, dan terpaku.
Bersandar pada sebatang pohon sawo kecik, adalah
seorang... dewi" Bidadari" Gandarwa" Peri" Belum pernah Ra Sindura melihat
wanita secantik itu. Pakaiannya pun mungkin mengalahkan putri Wilwatikta. Hanya
kainnya dilipat untuk lebih memberi gerakan bebas pada kakinya. Dan sekilas Ra
Sindura tahu bahwa gerak bebas yang dimaksud adalah gerak bebas keprajuritan.
Lebih dari itu, wanita itu memancarkan keharuman
yang khas. Keharuman aneh yang pernah diciumnya di
tempat ayahnya gugur.
"Kau!" Hanya itu yang keluar dari mulut Ra Sindura,
jarinya kaku menuding wanita itu. Bukan ia saja yang terpukau. Ra Wirada pun
bangkit terheran-heran. Begitu juga Lingga dan Yoni.
"Kenapa aku?" wanita itu bertanya dengan suara
merdu. "Kkau... yang... menewaskan..." Ra Sindura tak be-
rani melanjutkan pertanyaannya.
"Bukankah itu kesalahanmu sendiri?" Wanita itu
berjalan gemulai ke tengah tempat terbuka yang tadi
mereka pakai untuk bertempur itu. "Pertama, kepada
ayahmu sendiri, mengapa tak kautunjukkan cara meng-
atasi tendangan Bantala Liwung" Kedua, kenapa kau sendiri tak bisa menguasai
Bantala Liwung dengan baik?"
"Kkau... tak mungkin kau murid perguruan kami!"
Ra Sindura memperhatikan wanita itu.
"Untuk menguasai ilmu kalian yang hanya bagus
guna menangkap katak di sawah... mestikah aku men-
jadi murid?" Wanita itu tertawa mengejek. "Lagi pula, melihat kau sebagai
contoh... kurasa Ki Megatruh patut berduka dalam penyesalan."
"Ap... apa yang kaumaksudkan?" Ra Sindura terga-
gap. "Contohnya... membunuh cacing macam mereka ber-
tiga saja kau tak becus." Wanita itu tertawa. Ibu jari kakinya dijentikkan.
Sebutir batu kerikil melayang cepat dan pesat, tepat mengenai mulut Yoni yang
sedari tadi ternganga. Yoni menjerit menekap mulutnya. Dari sela jarinya darah
mengalir. Batu tadi ternyata mematahkan sebutir giginya.
"Eh, tunggu, tunggu, Kakang Sindura... ini siapa?"
sela Ra Wirada yang agaknya telah sadar dari terpeso-nanya. "Kalau dia
menganggapku cacing, memang pan-
taslah. Dibanding kecantikannya... he he he... Kakang bolehlah ambil Dewi
Malini... biar aku dapat yang ini sa-ja... mati pun lega rasanya...."
"Jangan khawatir, Wirada, keinginanmu itu pasti ter-
laksana," kata si wanita cantik tersenyum. Senyum itu sendiri sudah sanggup
menghilangkan napas Yoni dan
Lingga. "O, o... kau sudah kenal namaku... cuma belum
lengkap... aku putra Rakryan Tumenggung, kalau kau
putri seorang bupati pun rasanya masih cukup lu-
mayan." Ra Wirada tertawa.
"Wirada, lebih baik kau diam... kau belum tahu siapa dia...." Ra Sindura sudah
"mendingin" dan merasa bahwa Wirada pun wajib dilindunginya.
"Aha, tapi tak pernah terlambat untuk berkenalan,


Candika Dewi Penyebar Maut I V di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bukan?" "Memang belum terlambat." Sambil tersenyum si wa-
nita menggeser kedudukan kakinya. Dan kini Ra Sindu-
ra terkejut. Gerak perpindahan kakinya. Dan kedu-
dukan akhir kaki itu. Benar-benar hanya bisa dilaku-
kan oleh orang yang ahli dalam ilmu itu! "Wirada, kau akan kuserang dengan
Bantala Liwung langkah ke-19
ke arah ulu hatimu. Awas!"
Gugup Ra Wirada melompat mundur dan pasang
kuda-kuda pertahanan. Sebat Ra Sindura menerkam
menyergap menghadang tendangan itu. Tapi gerakan
wanita tersebut begitu indah. Ia menarik mundur kakinya untuk menghindari
benturan dengan Ra Sindura.
Kemudian ia menggeser sekali ke kanan, dua kali ke ki-ri, dan ia telah berada
kembali di hadapan Ra Wirada.
Tendangan yang sama dilaksanakan. Ra Wirada menje-
rit panjang. Terpental roboh tak bergerak lagi.
"Hei!" seru Ra Sindura terkejut.
"Raden!" teriak Lingga dan Yoni bersama-sama.
"Dan ini langkah ke-20...." Wanita itu menekuk kaki, melengkungkan tubuh dengan
kedua tangan teracung,
dan tiba-tiba kaki kirinya melecut ke depan. Yoni bagaikan terbabat pedang
raksasa. Tertekuk patah di ping-
gang, terjungkal roboh. Lingga melihat gelagat, melompat mundur ke tembok. Tapi
seakan tak berusaha si
wanita menggeser diri ke sana kemudian bertumpu pa-
da kedua belah tangan ia meloncat serta menendang
beruntun. Lingga pun roboh.
"Kau kejam!" Gugup Ra Sindura bersimpuh meme-
riksa Ra Wirada.
"Mungkin kekejamanlah yang kurang pada ilmu yang
kaumiliki." Si wanita tertawa. "Untuk apa ilmu yang
tampaknya saja indah?"
Bekas tendangan pada rusuk Ra Wirada jelas mem-
perlihatkan betapa tepatnya gerakan si penendang, betapa tepat takaran tenaga
yang digunakan, dan betapa tepatnya sasaran.
"Kau gila...," desis Ra Sindura, berdiri dan berpaling.
Kembali ia terkejut. Di depannya berdiri Madri. Dengan tombak melintang di dada
serta pandangan menuduh.
"Madri... mereka..." Ra Sindura tak melanjutkan ka-
ta-katanya. Pandang mata Madri begitu penuh dendam.
"Sedikit saja kau bergerak mencurigakan, Raden,
dengan senang hati aku membunuhmu," kata Madri
dengan bahasa kasar dan tombak dalam posisi menye-
rang. "Aku bisa mengerti kau tega membunuh mereka,
tapi mengapa Sang Dewi juga?"
"Ap... apa maksudmu" Kke... kenapa Sang Dewi?" Ra
Sindura terperangah.
"Jangan pura-pura!" tiba-tiba saja tombak dengan
ujung melengkung itu bergerak sangat cepat, beringas dan ganas!
"Madri! Tunggu!" teriak Ra Sindura. Tapi tak ada gu-
nanya. Tombak Madri terus menyerbu dengan sengit.
Ra Sindura sampai sesak napas. Hanya keajaiban yang
membuatnya lolos dari serbuan maut yang bergelom-
bang itu. Pikirannya sudah terpecah tak keruan. Pada kata-kata Madri. Pada tubuh
Ra Wirada yang tak ber-nyawa lagi. Kemudian kelebatan ujung tombak Madri
juga sangatlah mengerikan.
Dan tahu-tahu tempat itu terang-benderang. Pulu-
han obor mendatangi. Dengan puluhan prajurit. Dan
beberapa panglima. Dan kedua rakryan yang ada. Ra-
kryan Kanuruhan, Mpu Gatra. Rakryan Tumenggung,
Mpu Gagarang. Mpu Gatra yang tua suaranya berwibawa. "Sindura,
Madri, hentikan!"
Sindura melompat mundur dan berhenti. Madri
menggunakan kesempatan ini untuk menghantam mu-
ka Sindura dua kali kemudian ia melompat mundur
dan menangis tersedu-sedu. Mpu Gagarang sementara
itu telah bersimpuh di samping tubuh putranya, me-
manggil-manggil namanya, "Wirada! Wirada! Berbicara-
lah padaku, Nak. Wirada... aku ayahmu, Nggeeeer... Wirada..." Dan orang tua itu
pun menangis tersedu-sedu.
Beberapa lama hanya suara itu yang terdengar. Se-
mua mematung. Ra Sindura tampak kebingungan. Para
prajurit dan para panglimanya seakan tak tahu harus
berbuat apa. Madri berdiri geram dengan pandang
mengancam. Ia telah mengamankan Sang Dewi jun-
jungannya. Kemudian ia mengerahkan pasukan kemari,
karena betapapun ia merasa tak akan tega menangkap
Ra Sindura. Satu hal ia tahu. Sebagai seseorang yang menekuni ulah kewiraan,
maka ia beberapa kali meneli-ti korban tendangan maut Ra Sindura. Ia yakin apa
yang dilihatnya pada Sang Dewi sama. Dengan lemas ia kemudian mendekati mayat
Lingga dan Yoni. Benar. Di
sini pun terlihat tempat-tempat maut yang sangat dige-mari sebagai sasaran
Bantala Liwung. Dengan tenaga yang diperlukan untuk membuat tendangan itu benar-
benar maut. "Kubunuh kau!" Tiba-tiba keheningan itu dipecah-
kan oleh jerit Mpu Gagarang yang menyambar Ki Jaka
Belek di samping tubuh anaknya dan menghambur me-
nerjang Ra Sindura.
Beberapa kepala pasukan segera pula menghambur
menghadang di depan Ra Sindura. Mereka hanya me-
nempatkan diri di sana. Dan mereka sama sekali tak
melawan saat dengan geram Mpu Gagarang menghajar
mereka dengan hantaman, tendangan, bahkan sabetan
keris pusakanya.
Tahu-tahu Mpu Gatra telah berada di depan Ra Sin-
dura saat Mpu Gagarang mengayunkan keris ke dada
pemuda itu. Keris itu terhunjam keras ke dada Mpu Gatra. Tak berbekas.
"Dimas Tumenggung, sabar dulu... baiklah kita bica-
rakan hal ini baik-baik." Mpu Gatra sabar memegang
tangan Mpu Gagarang yang memegang keris dan menu-
runkannya. Dengan tangan yang sebelah lagi ia me-
rangkul tumenggung itu. Menuntunnya pergi. "Mari kita sidangkan hal ini malam
ini juga."
"Aku bunuh diaaaaa!" jerit Rakryan Tumenggung.
Dan ia pingsan di pelukan Rakryan Kanuruhan, Mpu
Gatra. Sidang yang dijanjikan Rakryan Kanuruhan itu ber-
langsung sunyi. Tidak terdengar kata-kata meledakkan tuduhan. Berlangsung di
balai penghadapan belakang.
Hari telah menjelang fajar. Hawa dingin berembus
masuk. Kegelapan masih menyelimuti alam di luar.
Rakryan Mapatih Kuripan paling gelisah. Ia baru saja sampai dari perjalanan jauh
meninjau pantai selatan.
Berita yang akan dilaporkan pada rajanya bukanlah berita yang menggembirakan.
Dan di Kuripan sendiri terjadi berbagai petaka.
Kematian Rakryan Rangga saja sudah membuatnya
patah semangat. Di saat agaknya cahaya Wilwatikta
menyuram, Rakryan Rangga adalah salah satu orang
yang dapat diandalkannya. Bukan ia memandang ren-
dah yang lain... dari balik jari-jari tangan yang dipakainya menyangga muka,
Rakryan Mapatih melirik Ra-
kryan Demung, Rakryan Kanuruhan, dan Rakryan Tu-
menggung yang hadir di hadapannya. Mereka adalah
orang peperangan yang kini menjadi "gemuk". Luntur
semangat perjuangan dan kini mengutamakan kese-
nangan semata. Seperti Rakryan Demung itu. Dahulu adalah singa
yang ditakuti di palagan. Ikut Sang Mahapatih Mada semasa mudanya menumpas
pemberontakan di Sa-deng. Ikut menyerbu ke Ujung Timur melabrak Bhre
Wirabhumi. Kini dengan kedudukan tinggi singa itu matanya tak lagi beringas. Dan
ia agaknya lebih mengandalkan hubungannya dengan Istana untuk mengukuh-
kan kedudukannya. Bukan dengan menegakkan jasa
yang lebih besar. Betapa kematian putrinya menghan-
curkan orang ini, pikir Sang Mapatih. Bukan karena
cintanya pada putrinya. Mungkin itu juga, tapi lebih banyak lagi karena dengan
tewasnya selir utama ini le-nyaplah sudah tumpuan utama pengaruhnya di Istana.
Rakryan Demung setiap kali pingsan, membuat repot
para dayang yang ada, serta Juru Wira Prakara, putra sulung sang Rakryan Demung
yang menjabat juru di Gerati. Bahkan Wira Prakara ini pun tak bisa diharapkan,
pikir Rakryan Mapatih, masih menundukkan
kepala. Putra Rakryan Demung itu bahkan secara wu-
jud betul-betul gemuk bundar.
Rakryan Kanuruhan sedikit bisa diharapkan, pikir
Rakryan Mapatih. Hanya Mpu Gatra ini sudah demikian
tua, dan tak punya keturunan. Ia bahkan sudah ikut
berjuang semasa Sang Jayanegara menyerbu Pajarakan.
Waktu itu Mpu Gatra tentulah masih anak-anak, dan
menurut cerita hanya menjadi pembawa tombak Sang
Raja. Namun keberaniannya kiranya cukup mengesan-
kan. Dan ia tak bisa memperoleh keturunan pun akibat pertempuran di kubu
Pajarakan itu. Ia jatuh dan terin-jak kuda perang hingga terjadi kerusakan parah
pada anggota badannya yang dapat menjanjikan keturunan.
Rakryan Mapatih sendiri tak tahu benar-tidaknya cerita itu, tetapi ia sering
melihat kegagahan Rakryan Kanuruhan di masa mudanya. Sayang.
Rakryan Rangga, jika masih ada, akan memperoleh
nilai terbanyak di mata Rakryan Mapatih. Jujur. Gagah berani. Bertanggung jawab.
Tak pernah mengejar keka-yaan. Juga putranya, Ra Sindura. Tapi kenapa justru
mereka yang baik ini yang kemudian terkena petaka"
Dan Ra Sindura itu... kembali Rakryan Mapatih meng-
intip dari balik jari-jarinya. Sedikit mengecewakan juga.
Sang Mapatih pernah juga mendengar desas-desus ten-
tang hubungan Ra Sindura dengan Selir Utama. Me-
ngapa ia tak bisa menahan diri" Tapi... tidak. Beberapa bulan yang lalu dalam
percakapan dengan Sang Mapatih, Sindura pernah menyatakan keinginan untuk
membaktikan dirinya di kerajaan lain. Mungkin di Da-
ha. Atau Wengker. Mungkin itu juga salah satu usaha
untuk menjauhi Dewi Malini. Tapi tuduhan yang ditu-
jukan pada Ra Sindura sangat berat.
Sang Rakryan Mapatih tak pernah menyukai Ra-
kryan Tumenggung. Sewaktu muda, memang Mpu Ga-
garang gagah berani. Tetapi juga sudah terlihat sifat bu-ruknya, suka mencari
kesenangan. Dan sifat ini juga
menurun pada putranya, Ra Wirada. Bahkan Ra Wirada
telah mendirikan kumpulan anak muda pengejar kese-
nangan. Ah, mau dibawa ke mana Wilwatikta ini, keluh Rakryan Mapatih dalam hati.
Ada juga anak muda macam Madri, prajurit yang
seolah tanpa pamrih membaktikan dirinya. Jika Madri
mulus baktinya, sampai di manakah ia kelak"
Ah, Rakryan Mapatih malu sendiri. Ia seenaknya me-
nilai orang. Sudah sempurnakah dirinya" Tapi, apakah yang mungkin bisa dicela
darinya" Apa" Kegemarannya
pergi ke rumah Emban Layarmega" Rasanya itu bukan
suatu cela, sejauh tak pernah mengganggu tugasnya
sebagai mapatih. Ah. Ia hanya membela diri, bukan"
Mungkin juga. Ia, yang punya istri yang sangat me-
ngasihinya, dan punya beberapa selir yang cantik-
cantik, toh masih memerlukan berkunjung ke rumah
Emban Layarmega.
"Maafkan kami, Dinda Mapatih, kiranya kami me-
nunggu keputusan Adinda," sayup-sayup terdengar su-
ara Rakryan Kanuruhan.
"Oh, harap dimaafkan aku, Kakang Rakryan Kanu-
ruhan," gugup Rakryan Mapatih menyahut. "Pikiranku
memang agak kalut! Masih terbayang, betapa Sang Ma-
haraja tak sadarkan diri beberapa kali setiap teringat kepergian Gusti Dewi....
Aku yakin Kakang Rakryan Demung akan tetap dihormati oleh Sang Maharaja walau-
pun Gusti Dewi tiada.... Dinda Rakryan Tumenggung
tentunya sanggup mengambil contoh dari Mahabharata,
saat Sang Arjuna menemui putranya, Raden Abimanyu,
gugur. Sang Arjuna tetap tabah dan makin mantap
menghadapi musuh. Ini yang kuharap dari Adinda Ra-
kryan Tumenggung."
"Kakang Rakryan Mapatih, itu bukan keputusan!"
sela Rakryan Tumenggung. "Aku ingin pembunuh pu-
traku dihukum picis secepatnya!" Mata merah Sang
Tumenggung menatap Ra Sindura.
"Sangat sulit bagiku untuk menjatuhkan keadilan,
karena aku bukanlah ahli Kutaramanawa, undang-undang tertinggi yang mengatur
kita semua. Dari jejak yang ada pada diri anakku Ra Wirada, aku pun menarik
kesimpulan bahwa itu memang hasil tendangan khas
anakku Ra Sindura. Yang jadi persoalan kini, mengapa Ra Wirada berada di daerah
terlarang itu" Sementara
kudengar bahwa Ra Sindura memang dipanggil meng-
hadap Sang Maharaja?"
Tergagap Rakryan Tumenggung mendapat perta-
nyaan itu. "Ahhhh! Itu kan tak perlu! Yang perlu Sindura telah
membunuh. Dan pembunuh harus dihukum!" katanya
kemudian. "Akan lain persoalannya bila Ra Sindura dalam ke-
dudukan punya hak untuk membunuh. Misalnya ka-
rena Ra Wirada masuk ke daerah terlarang dan tak
menghiraukan peringatan Ra Sindura."
"Ah! Kakang Mapatih memang memihak Sindura!"
dengus Rakryan Tumenggung gemas.
"Aku ingin memihak kebenaran, Dinda Tumenggung,
bantulah aku karenanya," Rakryan Mapatih masih ber-
suara lembut. "Aku merasa pasti, betapapun Sindura
akan mati di tengah alun-alun dengan setiap orang yang lewat berhak mengiris
dagingnya... mungkin bukan atas hukuman dari kematian anakku Ra Wirada yang
banyak memiliki kelemahan dalam perkara ini, tapi dari tewasnya Gusti Dewi. Nah,
rasanya Ra Sindura takkan
mengelak dalam hal ini." Rakryan Mapatih berpaling
dan merenungi Ra Sindura. "Apa pun alasannya, Ra
Sindura tak ada alasan untuk membunuh Gusti Dewi.
Kecuali kalau pengakuannya benar, bukan dia yang
berbuat." Rakryan Mapatih berhenti sejenak. "Jika kita mencari kebenaran, maka
kita akan sering meminum
obat pahit. Jika kita ingin perkara ini tuntas, maka kita harus berpikir hati-
hati... dan, akan banyak orang yang tersinggung. Nah, Kakang Rakryan Demung,
relakah Paduka jika kita membicarakan juga Gusti Dewi dalam
pemeriksaan ini?"
"Sesungguhnya kami keberatan. Untuk apa pemerik-
saan itu, kecuali hanya membuka luka?" sang juru di
Garati, Wira Prakara, yang menyahut, sambil terus me-
mijit-mijit punggung dan leher ayahnya. "Kami menda-


Candika Dewi Penyebar Maut I V di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pat bisikan dari Sang Maharaja, bahwa pembunuh A-
dinda Dewi harus segera dihukum mati. Mohon petun-
juk dari Paman Rakryan Mapatih, mengapa pemerik-
saan itu harus dilakukan" Apalagi jika mengingat, sudah ada saksi yang cukup
berbobot."
Licik, pikir Rakryan Mapatih. Berpura-pura mem-
bantu sepenuhnya, sementara sesungguhnya mencari
jalan yang paling aman. Mungkin nasib Sindura me-
mang buruk. Atau ia memang bersalah. Di zaman se-
perti ini, nasib buruk berarti harus rela menerima hukuman.
"Kalau begitu, semuanya tergantung pada Madri.
Dan Sindura sendiri. Dan keputusannya tergantung pa-
da Sang Hyang Maha Agung. Madri?" tanya Rakryan
Mapatih. "Hamba mendapat perintah menghadapkan Raden
Sindura ke hadapan Sang Maharaja," kata Madri de-
ngan tegas. Bahkan suaranya paling jantan di antara
semua yang telah berbicara di sini. "Di taman Istana Timur, hamba meninggalkan
sarika untuk menyelidiki sesuatu yang mencurigakan di batas taman. Hamba
menemukan Raden Wirada beserta kedua punakawan
beliau. Mereka melawan ketika akan hamba tangkap,
hingga terpaksa hamba bertempur. Sebelum ada kesu-
dahannya, Raden Sindura muncul. Dengan tingkah
yang sangat gelisah. Hamba merasa tak enak. Hamba
meninggalkan gelanggang dan mencari Gusti Dewi.
Hamba temui... Gusti Dewi... dalam keadaan hampir
melepas nyawa. Ketika hamba tanya... Gusti Dewi me-
nyebutkan... nama Raden Sindura," Madri berhenti se-
jenak dan melirik pada Raden Sindura. Rakryan Mapa-
tih pun melirik pada pemuda itu. Apakah yang sedang dipikirkannya"
"Luka Gusti Dewi juga, hamba yakin, adalah bekas
tendangan Bantala Liwung. Ketika hamba kembali ke tempat Raden Sindura, hamba
dapati Raden Wirada
dan kedua punakawannya tewas. Juga akibat Bantala Liwung. Demikianlah!" Madri
menghaturkan sembah.
Sunyi. "Mati untuk Sindura!" tiba-tiba Rakryan Tumeng-
gung berkata serak.
"Mati untuk Sindura!" Rakryan Demung sesaat ter-
bangun dan ikut berseru, kemudian roboh di pelukan
putranya dan menangis tersedu-sedu.
"Kelihatannya kesaksian Madri cukup kuat," kata
Rakryan Kanuruhan perlahan. "Aku setuju Sindura di-
hukum seberat-beratnya. Namun... harap dipertimbang-
kan jasa ayahandanya. Harap pula dipertimbangkan ja-
sa-jasanya sendiri. Dan dipertimbangkan kemungkinan
terguncangnya jiwanya karena kepergian ayahandanya."
"Ahhhh!" Rakryan Tumenggung memukul gemas pa-
hanya sendiri. "Apa pun yang kuucapkan, mungkin tak berarti. Ke-
cuali jika Sindura bisa memberi bukti sendiri," kata Rakryan Mapatih. "Ada
beberapa hal yang memang tak pa-
tut dikemukakan, kecuali hanya untuk memperperih
luka. Ada beberapa hal yang bisa mengundang tanya.
Misalnya, aku sudah memberanikan diri bertanya pada
Sang Maharaja. Maharaja berkata tak pernah memang-
gil Ra Sindura menghadap." Rakryan Mapatih sesaat
memandang Madri. Madri sedang menunduk. Entah se-
dang memikirkan apa. "Tentang tendangan yang diri-
butkan itu... apakah tidak mungkin ada orang lain yang memiliki ilmu yang sama
dengan Sindura" Atau, apakah tidak mungkin ada orang yang begitu cerdas se-
hingga dapat menirukan gerakan ilmu itu?"
"Beserta tenaga dalamnya, Kakang" Itu tak mung-
kin!" sela Rakryan Tumenggung dengan nada tinggi.
"Sindura, coba peragakan gerakan Bantala Liwung yang dianggap telah menewaskan
Ra Wirada," perintah
Rakryan Mapatih.
Ra Sindura menyembah, mundur dengan jongkok ke
bagian belakang balai penghadapan itu. Ia menyembah
lagi. Kemudian diperagakannya gerakan ke-19, 20, dan 21 Bantala Liwung.
Tanpa bersuara dilakukannya semua gerakannya
dengan tekun dan mantap. Wajahnya pasrah karena ia
memang pasrah. Ia tak ingin membela diri. Untuk apa"
Ia pasrah pada kehendak Dewata.
Sindura selesai dengan gerakannya. Menyembah dan
kembali ke tempatnya.
Rakryan Mapatih berdiri. Menunduk. Dan berjalan
lambat ke tepi balai penghadapan itu. Balai itu sesungguhnya hanya berupa
sepetak lantai dari batu hitam
yang mempunyai beberapa tiang penyangga untuk atap.
Tak berdinding. Bagaikan rumah kecil tak berdinding
berada di dalam taman. Dekat dinding pagar tembok
yang tinggi. Sekeliling tempat itu sunyi. Bahkan tak ada para prajurit yang
bertugas. "Kalian lihat itu semua," kata Rakryan Mapatih per-
lahan. "Dan kalian tahu, aku belum pernah mempelaja-
ri ilmu itu." Sang Mapatih telah berada di tepi lantai hitam balai pertemuan
itu. Dan tiba-tiba ia menuding.
"Kau! Turun!"
Semua terkejut. Menoleh. Dan di kegelapan malam
menjelang pagi itu terdengar suara berdebam. Sesosok tubuh jatuh dari pohon yang
tumbuh dekat tembok. Seseorang yang begitu ketakutan tak bisa berdiri lagi.
"Maju!" perintah Sang Mapatih lagi. Orang itu tam-
pak gemetar ketakutan maju, hingga wajahnya diterangi oleh obor yang ada di
balai penghadapan. "Siapa kau?"
Agak lama orang itu tak menjawab. Kemudian gugup
ia berkata, "Hhhamba... nama hamba Landak... ddari
pasukan Tumenggungan...."
"Dinda Tumenggung, Dinda mengutusnya untuk
mendengarkan pertemuan ini?" tanya Sang Mapatih ta-
jam. "Tidak!" kata Rakryan Tumenggung Mpu Gagarang
kali ini tegas. "Aku tak pernah melihat dia!"
"Baik. Semuanya perhatikan baik-baik!" tiba-tiba
Sang Mapatih menekuk kaki. Kuda-kuda Bantala Liwung! Gerakannya lamban, hingga
setiap gerak jelas terlihat. Begitu mirip dengan gerak Ra Sindura! Orang bernama
Landak itu kebingungan. Mau lari saja atau-kah... Terlambat! Tendangan Sang
Mapatih telah terlon-tar. Dan Landak menjeritkan maut.
Landak terkapar tak bergerak. Rakryan Mapatih me-
noleh pun tidak. Berjalan tenang ke tempat duduknya
di balai penghadapan. Kepada Madri ia berkata, "Bawa orang itu kemari!"
Dengan mudah Madri mengangkat Landak. Dan me-
nyeretnya naik ke lantai penghadapan.
"Itu tadi gerakan Bantala Liwung, dilakukan oleh orang yang bukan satu ilmu
dengan Sindura, dan tak
memakai tenaga dalamnya. Bekal orang itu hanyalah
ketajaman mata, kecerdasan, daya ingat. Dan hasilnya bisa dianggap sebagai
akibat Bantala Liwung. Silakan periksa," kata Rakryan Mapatih, sambil mengambil
kendi serta meminum air darinya.
Semua terdiam lagi.
"Hamba hanya ingin menambahkan sesuatu," tiba-
tiba Madri bersuara.
"Apa, Madri?" tanya Mapatih.
"Tendangan itu dilakukan dari jarak dekat. Dan ha-
nya Raden Sindura yang bisa mendekati Gusti Dewi
tanpa Sang Dewi berteriak memanggil hamba."
"Kita sudah tidak mencari kebenaran lagi di sini," ka-ta Rakryan Mapatih
perlahan. "Kebenaran akan tampil
kelak, dalam bentuk hukuman dari Sang Hyang Agung
pada siapa pun dari kita di sini yang saat ini tidak men-gemukakan kebenaran.
Termasuk aku, yang tak beru-
saha mengungkapkan kebenaran itu." Sang Mapatih
berdiri lagi. Berjalan perlahan ke depan Sindura. "Apa bicaramu, Sindura?"
"Hamba hanyalah seorang prajurit," kata Sindura te-
gas. "Jika junjungan hamba menghendaki hamba tewas
dihukum picis, maka hamba akan tewas dihukum picis.
Jika pun ada yang berkenan mendengarkan, maka
pembunuh Gusti Dewi maupun Dinda Wirada, bukan-
lah hamba. Seperti juga jelas, bahwa pembunuh aya-
handa hamba bukanlah hamba, walaupun sama-sama
tewas oleh tendangan Bantala Liwung. Kewajiban hamba untuk menghaturkan adanya
bahaya yang mengancam semua junjungan hamba. Kabar bahwa ada
wanita cantik. Yang bertekad membunuh dan membu-
nuh. Ternyata ada. Dan dialah yang mengakibatkan
semua pembunuhan ini. Kalaupun hamba dihukum
mati, hamba pasrah. Hanya hendaknya berita ini diperhatikan."
"Dewi Candika, maksudmu?" tanya Sang Mapatih.
"Dewi Candika, Sang Mapatih...," sahut Sindura.
3. RARA SINDU RUMAH Karanggan itu sepi. Besar. Megah dalam kese-
derhanaannya. Dan sepi.
Di halaman belakang kesepian itu dipecahkan oleh
beberapa kicauan burung peliharaan. Tapi tak ada sen-da-gurau para pelayan. Atau
pembicaraan para prajurit penjaga.
Semua melakukan pekerjaan masing-masing. De-
ngan diam-diam.
Seorang gadis cantik duduk di telundakan serambi
belakang. Sinar matahari dipantulkan berkilau oleh
rambutnya yang basah sehabis keramas. Dan seakan
tak sadar tangannya memainkan ujung-ujung rambut-
nya yang basah itu.
Terdengar suara seekor kuda memasuki halaman
depan. Sesaat si gadis terkejut dan mengangkat muka.
Tetapi wajahnya cepat muram kembali. Bahkan saat
terdengar langkah kaki mendekat.
"Sembah hamba dihaturkan pada Paduka, Gusti
Mapatih...," si gadis berkata tanpa gairah.
"Ah, tajam pendengaranmu, Sindu." Rakryan Mapa-
tih tertawa. "Tanpa menoleh pun kau tahu."
"Lidah hamba juga tajam," Rara Sindu, adik Ra Sin-
dura, menyahut ketus. "Jika tidak ada keperluan sangat penting, lebih baik kita
tidak bertemu, Tuanku!"
"Lho, kok kau galak sih?" Rakryan Mapatih tertawa,
duduk di pagar serambi. "Di mana ibumu?"
"Untuk apa Mapatih yang agung menanyakan sari-
ka" Sarika bukannya sang ayu Gusti Dewi yang mudah menerima sembarang lelaki
untuk menghiburnya." Rara
Sindu mencibirkan bibir.
"Sindu! Kau bukan saja galak. Tetapi juga lancang
dan kurang ajar!" Rakryan Mapatih masih juga tertawa.
"Lalu kenapa" Mungkin itu cara yang tepat bagiku
untuk menyusul Kakang Sindura ke tiang gantungan,"
kata Rara Sindu ketus.
Kini wajah Rakryan Mapatih serius. "Dengar, Sindu,
mungkin kau menyalahkan aku karena kauanggap aku
tak membela kakakmu?"
"Paduka berkuasa untuk menggugurkan semua tu-
duhan. Dan jika Paduka jujur, maka Paduka mestinya
tahu Kakang Sindura tidak bersalah!"
"Aku memang bisa berbuat begitu. Tetapi akibatnya
akan berkepanjangan. Rakryan Demung dan Rakryan
Tumenggung akan terus merongrong kewibawaan Sang
Aji, hingga kemungkinan Wilwatikta yang tak tahu apa-apa akan menjatuhkan
hukuman dengan serta-merta.
Dengan tidak membantah mereka, sementara meragu-
kan kebenaran tuduhan, Sindura bisa tidak langsung
dihukum. Dan bila keadaan mendingin, dan orang da-
pat berpikir lebih jernih, persidangan kembali perkaranya akan memberikan
keputusan lain!"
"Itu jelas alasan orang yang tak punya pendirian dan tak punya kekuatan!" tukas
Rara Sindu. "Jika kau bersikap begini terus, mungkin akan kuta-
rik tanggunganku atas diri Sindura, hingga ia bisa segera dihukum, mungkin...
yah, nantilah menjelang mata-
hari bergeser ke barat. Hei. Kau dulu kan sering bertanya tentang apa yang
terjadi di luar daerah. Kau tahu ada agama baru di daerah pesisir dan mereka
punya li-ma waktu dalam sehari untuk menyembah pujaan me-
reka. Dan waktu yang kusebutkan tadi namanya...
mmm... asar! Kurasa waktu yang cukup baik untuk menggantung kakakmu. Waktu itu
kan banyak orang
main-main di alun-alun toh?"
Rara Sindu tahu bahwa Rakryan Mapatih hanya
menggodanya. Tetapi ia tak mau mengalah. "Jika Mapa-
tih yang agung berpikir begitu, aku akan menyuruh
orang menutup pintu gerbang dan menyuruh semua
orangku untuk menghajar Tuan. Rasanya biar sesakti
apa pun paling tidak Tuan akan babak-belur." Rara
Sindu betul-betul bertepuk tangan. Dan entah dari ma-na beberapa belas orang
bermunculan. Semua ber-
senjata lengkap. Di halaman depan terdengar makian
kedua orang pengawal Rakryan Mapatih yang ditinggal
di sana untuk menjaga kuda. Juga terdengar pintu gerbang ditutup keras-keras.
"Rara, apa yang kaulakukan?" terdengar suara lem-
but dari dalam rumah. Rara Sindu berubah sikap. Ce-
pat ia melompat turun dari lantai tempatnya berjuntai, kemudian bersimpuh serta
menyembah ke arah dalam
rumah. Rakryan Mapatih juga turun dari pagar se-
rambi. Ia tidak menghormat, tetapi juga tidak berlaku tidak hormat.
"Kakangmbok Rangga, kiranya Dewata merestuimu,"
kata Rakryan Mapatih. "Kau sudah direstui dengan seorang anak lelaki yang gagah
berani. Sayang anakku
yang satu ini sedikit kurang ajar."
"Jika aku mengikuti perasaan hatiku, Dinda Patih,
maka aku juga akan berkurang ajar padamu," suara
lembut itu terdengar dingin dari dalam. "Selama belum kami dapatkan keadilan
untuk Ra Sindura, anggap saja semua yang ikut serta dalam rapat yang menjatuhkan
hukuman padanya adalah musuh kami. Aku jadi berpi-
kir... mungkin juga orang-orang Dharmaputra benar."
Agak lama Sang Mapatih terdiam, mengelus-elus
jenggotnya, sementara Rara Sindu memperhatikan dari
sudut matanya. "Itu adalah suatu pikiran yang berbahaya, Kakang-
mbok Rangga," kata Rakryan Mapatih, kini menunduk-
kan muka. "Mungkin memang berdasarkan rasa sakit
hati... tetapi cobalah berpikir lebih panjang... apakah kesetiaan kita pada
negara goyah hanya karena peristiwa seperti ini?"
"Tuanku Mapatih," Rara Sindu berkata dengan nada
tinggi. "Yang Tuanku sebutkan sebagai 'hanya karena
peristiwa seperti ini' adalah peristiwa yang menyangkut kematian saudaraku,


Candika Dewi Penyebar Maut I V di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kematian ayahku."
"Itulah kelirunya pemikiranmu, Rara Sindu." Sang
Mapatih menghela napas panjang. "Engkau mengang-
gap kakakmu sudah mati. Padahal ia masih segar-
bugar. Kalian sudah putus asa dan menyalahkan kera-
jaan. Padahal ia masih setia pada kerajaan dan bahkan bersedia mati untuk itu.
Dan... kita harus berupaya
agar ia tidak mati, dan kematian Rakryan Rangga tidak-lah sia-sia."
"Jika memang ia segar-bugar, kenapa sampai seka-
rang kami tidak pernah diperkenankan menjenguknya?"
tukas Rara Sindu.
Pertanyaan ini lama tak dijawab Rakryan Mapatih.
"Sindura diangkut ke Wilwatikta malam itu juga. Atas perintah Sang Raja sendiri.
Sang Raja, mungkin dengan pengaruh beberapa orang, merasa bahwa Sindura punya
pengaruh terlalu besar di sini. Aku tak sempat lagi berbicara dengannya, hingga
jika aku melakukan penyelidikan saat ini, maka aku memulainya bagaikan
seorang buta tanpa tongkat."
"Kakang Sindura ditahan di Wilwatikta?" tanya Rara
Sindu heran. "Dan selama ini kami tak diberi tahu?"
"Toh tak ada gunanya... bahkan aku pun tak bisa
mengunjunginya," kata Rakryan Mapatih.
"Dinda Mapatih, maafkan kami, kurasa kami tak
usah menemui Tuan lagi," suara dari dalam rumah itu
makin dingin. "Tuan tidak membawa apa pun yang bisa
Rajawali Hitam 5 Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan Hoa San Lun Kiam Karya Chin Yung Pedang Pusaka Dewi Kahyangan 2
^