Pencarian

Semerah Darah 1

Gento Guyon 28 Semerah Darah Bagian 1


1 Kakek berdaster biru itu sesungguhnya
sudah berusaha berjalan tegak menggunakan dua
kakinya. Hanya saja hembusan angin di daerah
Lembah itu kencang luar biasa sedahsyat topan.
Hembusan angin yang ganas luar biasa memerihkan kulitnya. Bukan cuma itu,
beberapa kali si
kakek sempat jatuh terjengkang. Orang tua berambut panjang tergerai inipun
menggerutu tak berkeputusan. Tidak lama kemudian ia bangkit lagi. Tetapi dari arah depan tiga batu
menggelinding ke
arahnya. Si kakek tidak sempat melihat adanya
bahaya itu. Tidak pelak dua diantara batu itu
menghantam perut dan keningnya.
"Huek... Keparat terkutuk...!" damprat si
kakek sambil mengusapi keningnya yang menggembung bengkak. Entah siapa yang
dimaki olehnya. Tidak ada orang lain di situ terkecuali dirinya. Sedangkan selebihnya
hanyalah puluhan
kura-kura yang berjalan merayap.
SI kakek memperhatikan kawanan kurakura itu sejenak. Selanjutnya masih
bersungutsungut dia berkata. "Supaya selamat agaknya aku
harus merangkak seperti mahluk-mahluk itu." Ia
singsingkan daster birunya yang mirip pakaian
perempuan. Setelah itu dia merangkak.
Satu keanehan kemudian terjadi. Begitu si
kakek berjalan merayap, puluhan mahluk-
mahluk berkepala kuning itu segera mengiringnya
dari belakang tidak ubahnya seperti prajurit mengiring rajanya.
Melihat ini si kakek yang dikenal dengan
nama Ki Betot Segala tidak kuasa lagi menahan
tawa. "Ini jelas keputusan edan yang pernah kulakukan seumur hidup. Mengapa aku harus
melakukan hal tolol seperti ini?" kembali Ki Betot
Segala mendamprat. Mulut memaki namun merangkak tetap ia lakukan.
Tidak sampai sepemakan sirih Ki Betot Segala segera sampai di sebuah batu besar
berlekuk di tengah-tengahnya seperti lumpang. Batu itu
dalam keadaan kosong.
Setelah memperhatikan keadaan di sekelilingnya dan tidak ditemui juga orang yang
dicari akhirnya dia menyeletuk. "Jauh-jauh aku datang
ke sini tidak tahunya aku cuma mendapati tahta
kedudukan yang kosong! Manusia yang bernama
Ki Sumpit Prakoso, dimana gerangan dirimu berada" Apakah tahta kerajaan kura-
kuramu sekarang sudah pindah ke langit?" Si kakek lalu tertawa tergelak-gelak.
Belum lagi tawa menggeledek si kakek lenyap, tiba-tiba saja hembusan angin yang
menerbangkan bebatuan terhenti. Dalam waktu bersamaan dari arah terhentinya
hembusan angin tersebut terdengar suara raungan keras menggeledek.
Suara raungan disusul dengan berkelebat-
nya satu sosok bayangan aneh yang celakanya
segera kirimkan serangan dahsyat ke arah Ki Betot Segala.
Satu pukulan segera menyambar ke bagian
dada kakek ini, si kakek segera berkelit dengan
miringkan tubuhnya ke samping. Walau begitu
tak urung bagian bahunya masih terkena sambaran pukulan orang.
Ki Betot Segala terjajar, namun ia mengenali siapa orang yang telah
menyerangnya. Orang
itu bercelana hitam gombrong, dadanya yang telanjang dipenuhi bulu lebat. Bagian
punggung menggelembung seperti punuk, tapi sebenarnya
bukan punuk. Punggung itu ditumbuhi semacam
batok besar yang sangat keras mirip punggung
kura-kura. Selain itu sangat keras luar biasa
punggung itu juga menjadi sumber kesaktiannya.
Selain punggungnya yang aneh, di bagian
belakangnya juga mencuat ekor seperti buntut.
Sedangkan keanehan lain yang terdapat dalam diri orang tua satu ini, terletak
pada bagian kepala.
Bagian kepala sama sekali tidak mirip dengan kepala manusia. Sebab mulai dari
bagian leher ke
atas berupa kepala naga berwarna putih.
Walau mengenali siapa adanya yang datang
menyerang, namun Ki Betot Segala tidak sempat
bicara. Semua ini dikarenakan begitu dapat tegak
kembali kini manusia aneh di depan sana sudah
menyerangnya. Kali ini ia menyerang dengan kuku-kukunya yang tajam runcing
seperti kuku singa.
"Kurang ajar. Orang datang bukan disambut dengan suguhan lezat, sebaliknya kau
malah menyerangku!" Ki Betot Segala mengumpat.
Orang tua ini menjadi gusar. Terbukti begitu sepasang tangan menyambar, Ki Betot
Segala segera melesat ke atas. Ketika si kakek mengapung di
udara, kaki yang terlindung di balik daster melesat melabrak dada lawannya.
Orang berpunggung
kura-kura berkepala naga jatuhkan diri hingga
sama rata dengan tanah. Tendangan Ki Betot luput, tetapi ia terus bergerak ke
bawah sambil melakukan serangan bertubi-tubi. Tangan dan kaki
lakukan serangan bersamaan dan untuk diketahui Ki Betot Segala selain dikenal
kehebatannya dalam hal membetot apa saja ia juga memiliki pukulan yang sanggup meruntuhkan
bukit batu. Tidak mengherankan begitu tinjunya berkiblat, terdengar deru angin
bersiutan. Tak ayal lawan kini
dalam ancaman bahaya besar. Celakanya lagi
orang satu ini tidak menyadari adanya bahaya
dari arah depan.
Tidak terhindarkan lagi pukulan Ki Betot
Segala menghajar punggung lawan tepat mengenai bagian yang menonjol seperti
batok kurakura.
Duuk! "Uuukh...Edan suro...!"
Bagian punggung yang menonjol itu remuk
sebagaimana yang diharapkan oleh Ki Betot. Sebaliknya orang tua itu sendiri
seperti dilemparkan
tampak mencelat di udara. Orang tua ini meman-
dang ke depan. Dia pun langsung melontarkan
kutuk serapah. Punggung yang semula dia anggap remuk terkena pukulan ternyata
tidak cidera sama sekali. Malah sosok berkepala naga dengan tenang
bangkit berdiri, silangkan kedua tangan di depan
dada, lalu tertawa tergelak-gelak.
"Ternyata kau Ki Betot Segala. Semula kukira siapa kunyuknya yang datang ke
Lembah Kura-kura ini. Ha ha ha." Orang itu kembali mengumbar tawa. Ketika tawanya
terhenti ia kembali
berkata. "Sudah sangat lama kita tidak bertemu.
Selama itu barang apa saja milik orang yang sudah kau dapatkan?" Dia lalu
menatap ke arah jemari tangan Ki Betot, kali ini dia mengulum senyum. "Ah,
tanganmu bengkak rupanya" Kasihan
sekali!" Ki Betot katupkan bibirnya. Ia tidak menanggapi ucapan manusia berkepala naga
punggung seperti kura-kura itu.
Lalu dia mengusap jemari tangannya sendiri. Setelah melakukan tiga kali usapan
disertai pengerahan tenaga dalam, maka tangan yang
menggelembung bengkak itu kembali pulih sebagaimana semula.
Bersungut-sungut Ki Betot menatap orang
di depannya sejenak. Dalam hati kecilnya ingin
sekali dia menjahili kakek itu, namun mengingat
kepentingannya datang ke lembah kura-kura jauh
lebih besar maka ia terpaksa menahan segala
keinginannya yang kurang terpuji.
Dengan serius lalu dia berkata, "Ki Sumpit
Prakoso alias Kura-Kura Naga! Ketahuilah aku tidak bakal datang ke lembah yang
busuk ini jika tidak membawa urusan besar"
Kakek berkepala naga itu kedipkan matanya. Dia akhirnya duduk di atas lubang
batu begitu rupa hingga mirip ayam mengeram.
Kakek ini dongakkan kepala, lalu dengan
sikap dingin segera ajukan pertanyaan. "Aku sudah menduga ku tak bakal
menyambangi lembah
bau pesing ini jika tidak membawa maksud suatu
keperluan. Sebelum kau mengatakan apa keperluanmu aku ingin bertanya dimana dua
saudaramu yang sinting itu" Mengapa mereka tidak turut serta?"
Dikatai orang gila, Ki Betot Segala berubah
cemberut. Dengan bersungut-sungut pula ia menjawab. "Dua saudaraku itu punya
kaki, punya otak walau agak miring. Mana aku tahu mereka
pergi kemana, namanya juga orang-orang gila.
Mungkin saja mereka sedang mengemis di pasar,
mungkin juga sedang menangis di alun-alun Kediri. "
"Ah, kasihan sekali. Semakin tua ternyata
kau mudah naik darah. Baiklah kurasa tidak ada
gunanya aku bertanya tentang dua orang gila itu.
Sekarang jangan malu-malu, katakan saja mengapa kau datang kemari?"
Ki Betot Segala terdiam. Dia menyadari sahabatnya yang bergelar Kura-Kura Naga
itu kini kesaktiannya makin bertambah tinggi. Kesulitan
orang tua satu ini memang sulit diatur. Semua ini
menimbulkan keraguan di hati Ki Betot.
Kiranya Kura-Kura Naga dapat membaca
kekisruhan di hati sahabatnya. Maka tanpa
membuang-buang waktu lagi ia berkata. "Ki Betot, aku tidak mau menemui orang
yang bengong melompong. Jika kau punya kepentingan, harap
cepat kau utarakan. Seandainya kau ragu kusarankan sebaiknya segera angkat kaki
dan aku bisa meneruskan tapaku!"
Ki Betot merasa tidak enak hati, namun bibirnya menyunggingkan senyum. Sambil
tersenyum ia mengambil duduk di atas batu bundar
tidak jauh dari hadapan Ki Sumpit Prakoso.
Setelah duduk ia berkata, "Sobatku Ki
Sumpit. Beberapa purnama belakangan ini dunia
persilatan menjadi gempar dengan munculnya satu benda sakti bernama Sengkala
Angin Darah."
"Sengkala Angin Darah?" desis si kakek kaget. Masih dengan mata membelalak tak
percaya ia menggumam. "Bukankah Sengkala Angin Darah berarti malapetaka?"
"Ya... kau betul. Sengkala artinya malapetaka."
"Lalu apa ujud benda itu" Apakah berupa
senjata, batu, jimat atau apa?" tanya Ki Sumpit
Prakoso tertarik.
Ki Betot Segala geleng kepala. "Sesungguhnya aku sendiri belum melihat benda
sakti itu, tetapi menurut yang kudengar benda itu ujudnya
mirip manusia. Dia berambut panjang, punya hi-
dung, punya mata dan punya rambut. Gigigiginya runcing. Benda itu besarnya tidak
lebih dari lengan manusia, panjangnya tidak lebih dari
dua jengkal. Kabarnya benda sakti itu dulunya
adalah manusia seperti kita yang hidup ratusan
bahkan ribuan tahun lalu. Tetapi benda itu kini
membatu melalui sebuah proses yang aneh, rumit
dan tak masuk akal. Kesaktiannya antara lain
dapat menghanguskan dan membunuh manusia.
Benda itu tidak mudah disentuh. Siapa yang berani menyentuhnya bisa terlempar
atau hangus seketika!"
"Hmm, sungguh luar biasa." Ki Sumpit
Prakoso mendecak penuh rasa kagum. "Dimana
benda sakti itu berada sobatku?" Si kakek jadi ingin tahu.
Ki Betot kembali terdiam, dia menarik nafas sambil menatap mata naga sahabatnya.
Dia tidak melihat kesan keji, niat yang licik terpancar
lewat tatapan mata Ki Sumpit. Semua ini tentu
membuat perasaan Ki Sumpit menjadi lega. Ki Betot segera melanjutkan. "Benda itu
pertama ditemukan di daerah hutan Pacitan. Banyak orang
yang berusaha memiliki benda itu menjadi korban. Tetapi dengan cara yang
dirahasiakan, seseorang berhasil mengambil Sengkala Angin Darah"
"Seseorang yang kau sebut itu apakah tidak punya nama?" Tanya Ki Sumpit yang
tidak suka dengan pembicaraan yang bertele-tele.
"Jika aku tahu namanya dan andai aku ta-
hu siapa yang mengambilnya mustahil aku datang ke sini. Sampai saat ini tak ada
yang tahu benda itu di tangan siapa. Yang jelas sekarang ini
berbagai kalangan dari golongan hitam maupun
putih berusaha mencari benda itu. Mereka saling
curiga satu sama lain bahkan mulai saling bunuh."
Ki Sumpit Prakoso manggut-manggut sambil tertawa.
"Mengapa tertawa?" kata Ki Betot heran.
"Kalau mereka saling bunuh itu bagus, banyak yang mati tambah rame dan aku
menyukainya." Ki Sumpit selanjutnya terdiam, mencoba
memeras otak memecahkan teka-teki yang dihadapinya. Tapi ia kemudian malah
terlihat bingung. Dia lalu bertanya. "Eeh, sobatku aku tidak
melihat yang kau ceritakan itu ada sangkut pautnya dengan diriku. Atau kau
barangkali hendak
menuduh aku telah mengambil benda itu secara
diam-diam?"
Ki Betot gelengkan kepala.
"Kau salah. Siapa yang menuduhmu" Masalah ini memang tak ada kaitannya dengan
dirimu. Justru aku ingin mengajakmu menyelidik di
tangan siapa benda itu kini berada." Tegas Ki Betot Segala.
"Oh, kalau begitu maksudmu legalah sudah hatiku ini. Kukira kau menuduhku telah
mencuri. Tapi... sobatku, bukankah yang menjadi
incaran itu tak ada pemiliknya?"
"Ya...kau benar."
"Andai demikian apa perlunya kita menyelidik" Kita bukan mata-mata pangeran
Kediri. Orang tua seperti kita tak patut melakukan pekerjaan seperti itu."
"Tampang memang sudah tua, wajah jelek
juga kuakui. Tapi aku masih gagah. Cuma keadaanmu yang berantakan."
"Tua bangka sialan." Umpat si kakek berkepala naga lalu julurkan lidahnya yang
panjang bercabang. "Sekarang lanjutkan keteranganmu!"
Ki Betot melanjutkan. "Barang memang tidak bertuan, mengingat kesaktiannya.
Alangkah

Gento Guyon 28 Semerah Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berbahaya bila benda itu jatuh ke tangan orang
yang salah. Dunia persilatan bisa dibuat kiamat."
Ki Sumpit manggut-manggut. Apa yang dikatakan sahabatnya memang benar adanya.
"Kau apakah sudah menghubungi orang segolongan
dengan kita?"
"Aku sudah lakukan, tapi mereka malah
menuduhku ingin mengangkat benda itu sendiri."
Ki Sumpit tertawa.
"Ada yang lucu?" tegur Ki Betot tersinggung.
"Tidak ada. Aku jadi senang melihat kau tidak ikutan menjadi gila seperti
mereka. Itu berarti
di rimba persilatan kini hanya ada dua manusia
yang waras yaitu aku dan kau. Kemudian kita
tunggu apa lagi" Sekarang kurasa adalah waktu
yang tepat bagi kita untuk berangkat!" Ki Sumpit
Prakoso tampaknya memang sudah tidak sabar.
Ki Sumpit Prakoso bangkit berdiri, tetapi Ki
Betot memberi isyarat agar sahabatnya duduk lagi.
"Eh, masih adakah yang ingin kau sampaikan atau mungkin kau merasa betah
berlamalama di lembah bau pesing ini?"
Ki Betot tampak serius. "Begini. Apakah
kau pernah kenal atau mendengar tentang seorang tokoh sakti dari Merbabu yang
bernama Gentong Ketawa?"
Mendengar disebutnya nama itu Ki Sumpit
belalakkan matanya yang merah membara. Lidah
panjangnya terjulur keluar masuk pertanda ia tak
dapat menyembunyikan rasa kagetnya. "Jika dia
orangnya, tentu aku pernah mendengar. Tetapi
aku belum pernah bertemu. Yang kutahu tempat
tinggalnya berpindah-pindah. Terkadang di gunung Merbabu ada kalanya di gunung
Semeru. Dia punya seorang murid yang sama gilanya. Namanya Gento Guyon bergelar Pendekar
Sakti 71. Kabarnya muridnya itu pernah bertemu dengan
Manusia Seribu Tahun. Dia mendapat gemblengan dari manusia gaib itu. Hal ini
yang memungkinkan dia dapat membangkitkan tenaga dalam
dari tujuh titik api di tubuhnya." jelas si kakek.
Ki Betot Segala berdecak penuh kagum.
"Luar biasa. Ternyata kau yang tinggal di tempat
bau apek ini lebih banyak tahu perkembangan
yang terjadi di luar sana. Dulu aku beranggapan
Manusia Seribu Tahun cuma legenda, tidak tahunya benar-benar ada."
"Aku memang orang hebat. Lalu apa per-
lumu mengingatkan aku tentang dia?"
Yang ditanya terdiam. Wajahnya jelas-jelas
menyimpan keraguan. "Sebenarnya aku ragu tentang hal ini, terlebih-lebih
mengingat dia adalah
orang tua yang polos...."
"Ah, mengapa ditahan-tahan" Jangan unjukkan sikap seperti orang mau buang hajat
di depanku." Tukas Ki Sumpit tak sabar.
"Ah kau. Mukaku memang sudah begini
dari sananya." Maki Ki Betot. "Begini, belakangan
kudengar kabar di luaran sana bahwa Sengkala
Angin Darah sebenarnya berada di tangan Gentong Ketawa. Entah siapa yang
meniupkan kabar
ini. Yang pasti sebagian orang dunia persilatan
memburu kakek itu!"
"Aku tidak percaya. Orang seperti dia mana
pernah ambil perduli dengan segala macam benda
sakti. Banda keramat miliknya saja selama ini tidak terurus. Ha ha ha!" tegas Ki
Sumpit Prakoso disertai tawa tergelak-gelak.
"Aku juga berpendapat begitu. Mudahmudahan kabar itu memang tidak benar." Gumam
Ki Satot Segala.
"Ah, sudahlah. Mari kita berangkat!" dengus sang Kura-Kura Naga tidak sabaran.
Ki Betot Segala anggukkan kepala. Mereka
pun kemudian berkelebat tinggalkan lembah itu.
2 Kalaupun ada orang yang sangat berambisi
untuk mendapatkan Sengkala Angin Darah maka
Pangeran Sobalilah orangnya. Itu sebabnya bantuan yang diberikan Dukun Kertasona
dianggapnya tidak cukup. Sang pangeran kemudian mengutus dua orang terbaiknya
yaitu Tunggul Miring
dan Tunggul Oleng. Tetapi Tunggul Oleng tewas
mengenaskan bersama perwira lainnya. Lukaluka yang dideritanya sangat
mengerikan. Sedangkan Tunggul Miring hilang raib dan kemungkinan besar melarikan
diri. Usaha yang dilakukan
kedua orang terbaiknya untuk menemui dan minta bantuan Wanaraga atau yang
dikenal dengan julukan Pengemis Nyawa gagal. Pangeran Sobali
merasa kecewa sekali.
Kini bersama orang kuatnya yang bergelar
si Tangan Besi, ia membawa dua ratus pasukan
meninggalkan Kediri. Dengan rombongannya mereka menuju ke selatan. Dalam
perjalanan dia menyerap kabar Sengkala Angin Darah ternyata
telah berada di tangan kakek sakti bernama Gentong Ketawa.
Sepanjang jalan Pangeran Sobali berfikir,
jika benda itu memang berada di tangan orang
yang bernama Gentong Ketawa ia menganggap
untuk mendapatkannya tentu bukan persoalan
sulit. Pada saat itu laki-laki tegap berpakaian hi-
tam berwajah mirip beruang yang mengiringi di
sebelah kanannya tiba-tiba berkata. "Pangeran,
siapa sebenarnya orang yang bernama Gentong
Ketawa itu?"
"Hmm, dia seorang kakek aneh, salah satu
tokoh dunia persilatan. Ilmunya hebat tapi
orangnya aneh."
"Seandainya dia tidak mau memberikan
apa yang gusti minta, kita hendak berbuat apa?"
Pangeran Sobali tersenyum licik. "Siapa
yang melawan keinginanku sama halnya dengan
menantang kerajaan. Aku tidak akan membiarkannya. Aku pasti bakal menjatuhkan
hukuman berat" tukas laki-laki itu.
"Aku sependapat dengan pangeran. Cuma
yang kita dengar sebenarnya masih simpang siur.
Saya berharap kita punya kesempatan lain."
"Gusti benar. Setelah Tunggul Oleng dan
Tunggul Miring tak bisa kita harapkan kita memang harus menentukan pilihan
lain." Pemuda gagah berpakaian kuning bergelapan itu anggukkan kepala.
"Seharusnya Pengemis Nyawa bisa dihubungi. Jika ia mau membantu kita sebenarnya
aku punya rencana untuk mengangkat dia jadi
Tumenggung. Tapi agaknya kita tidak bisa berharap banyak lagi."
Tangan Besi yang mempunyai kesaktian
tingkat tinggi itu menyadari ucapan pangeran Sobali. Ia tahu pangeran Sobali
tidak ingin kegagalan. Tapi Tangan Besi tidak mau banyak bicara.
Segera saja dipacunya kuda ke depan. Tak sampai sepeminum teh rombongan ini tiba
di kawasan belantara batu yang diapit dua bukit curam.
Jalan di tempat itu sunyi sekali dan kelihatannya
jarang dilewati orang.
Tangan Besi yang memimpin di depan tibatiba merasa tengkuknya merinding.
Sementara itu kuda tunggangannya mulai meringkik gelisah.
Tangan Besi segera memberi aba-aba. Para prajurit yang berada di belakang
termasuk pangeran
Sobali segera hentikan kudanya.
"Ada apa?" Tanya pangeran pada Tangan
Besi. "Pangeran sebaiknya kita memutar arah
saja. Di depan sana banyak tulang belulang berserakan. Saya yakin ada yang tidak
beres di tempat ini!" ujar si Tangan Besi.
Sang pangeran menggeram marah. "Jika
kau berbalik mundur, berarti kau seorang pengecut. Aku benci manusia pengecut.
Namun jika kau tetap bersikeras aku tidak melarang. Tetapi
sebelum itu kau lakukan sebaiknya kau gorok dulu lehermu!"
Suara tegas sang pangeran membuat ciut
hati prajurit-prajurit yang turut serta bersamanya.
Si Tangan Besi berdiri tercekat. Dengan perasaan kecut ia berkata. "Kalau
pangeran tidak berkenan mengambil jalan lain, baiklah, kita lewati jalan ini. Biarkan saya yang
memimpin di depan." Pangeran mendengus. "Sekarang jalan!" perintahnya ketus.
Prajurit-prajurit bergerak. Tangan Besi
menggebrak kudanya. Belum lagi mereka jauh
berlalu, tiba-tiba kuda tunggangannya kembali
meringkik. Bersamaan dengan itu terdengar pula
suara tawa bergelak yang seakan datang dari segala penjuru.
Pada waktu bersamaan dari atas ketinggian
melesat cepat sosok bayangan yang terdiri dari
bayangan biru, merah, hitam dan kuning.
Semua orang yang berada di jalan itu tentu
saja tersentak kaget. Ketika mereka semua memandang ke depan di tengah jalan
berdiri tegak satu sosok serba merah.
Baik pangeran Sobali maupun Tangan Besi
dongakkan kepala ke kanan dan kiri tebing. Ternyata tiga sosok lainnya kini
tampak menempel
bergelayutan di tebing itu tidak ubahnya seekor
laba-laba. Empat sosok berpenampilan warna warni
tadi ternyata terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan.
Tetapi mereka jelas bukan manusia biasa.
Mereka masing-masing memiliki tangan empat
buah, sedangkan setiap jarinya berkuku runcing
dan tajam. Melihat penampilan keempat sosok
itu, pangeran Sobali segera mengenali mereka.
Adapun keempat orang tersebut bukan lain
adalah Empat mahluk laba-laba yang dikenal
dengan julukan Empat Laba-Laba Beracun.
Pangeran Sobali kini jadi menelan ludah.
Dalam hati ia membatin. "Mengapa aku harus
bertemu dengan para iblis ini" Mereka bukanlah
manusia sembarangan. Biasanya dimana pun mereka hadir selalu menebar maut. Belum
pernah ada yang lolos bila berada di tangan mereka. Aku
tidak mau mencari permusuhan. Kalau perlu aku
harus menggunakan muslihat untuk memanfaatkan jasa mereka."
Baru saja sang pangeran berkata begitu,
tiba-tiba gadis bertangan empat berpakaian kuning buka suara. "Saudara-
saudaraku, nampaknya
hari ini kita mendapat rejeki besar." Ujarnya
sambil bergelayutan di sisi tebing sebelah kanan.
"Kau benar saudara kuning. Semakin banyak kita membunuh semakin hebat pula daya
serang racun yang kita miliki." Sahut laki-laki
berbaju merah yang menghadang di tengah jalan.
"Jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Rasanya sebelum membunuh alangkah
lebih baik jika kita tanyai mereka dulu. Seandainya
mereka berguna mengapa tidak biarkan mereka
hidup untuk sementara?" ujar laki-laki muda
berpakaian hitam berkulit hitam macam arang.
Sama seperti saudaranya yang lain pemuda ini
juga mempunyai empat buah tangan.
Gadis berpakaian merah yang bergelayutan
di sisi tebing sebelah kanan tiba-tiba saja mengumbar tawa. Dengan gerakan
seperti seekor laba-laba memburu mangsa ia berkelebat. Hanya
dalam waktu sekedipan mata ia telah berdiri di
depan pangeran Sobali.
Sejenak ia menatap tajam ke arah sang
pangeran, lalu sambil sunggingkan seulas senyum tipis ia berkata. "Yang satu ini
kukira bukan manusia biasa. Pakaiannya begini mewah,
badan sedikit bau menyan. Kurasa ia seorang
bangsawan. Orang seperti dia alangkah baiknya
jika kupajang di sarangku!"
"Tidak begitu. Justru dia harus dipajang di
sarangku!" tukas gadis berpakaian kuning ketus.
"Kakak kuning, kau tidak berhak atas dirinya. Kau sudah banyak memiliki pajangan
yang terdiri dari pemuda gagah. Jadi kali ini dia harus
menjadi milikku!"
"Kalian jangan berebut..." menyela pemuda
berbaju biru. "Sebaiknya diam di tempat masingmasing. Aku punya beberapa
pertanyaan untuk
mereka!" Kedua gadis yang memiliki paras lumayan
cantik jadi terdiam. Pemuda berpakaian biru kini
melangkah lebih mendekat.
Tak lama ditatapnya Tangan Besi dan Pangeran Sobali silih berganti. Setelah itu
ia pun bertanya. "Kalian ini kunyuk dari mana hah?"
Tangan Besi menggeram begitu dirinya disebut kunyuk. Tapi pangeran Sobali dengan
cepat menjawab. "Aku pangeran Sobali dari Kediri. Yang
di sebelahku ini adalah Tangan Besi orang kepercayaanku, sedang yang di belakang
sana adalah orang-orangku. Lalu para sahabat ini siapakah?"
Tanya pangeran Sobali lemah lembut. Padahal ha-
tinya geram bukan main.
Empat mulut tiba-tiba terbuka dan keluarkan tawa serentak. Hanya beberapa saat
tawa mereka lenyap juga secara bersamaan.
Gadis berbaju kuning membuka mulut
memberi pujian. "Ah... ternyata dia adalah seorang pangeran."
'Pantas saja pakaiannya bagus, penampilan
bagus. Kudanya juga bagus." Ujar gadis berbaju
merah tak mau kalah.
Pemuda berbaju hitam dan gadis berbaju
kuning tiba-tiba lakukan gerakan. Tubuhnya berkelebat melayang ke bawah.
Selanjutnya ia jejakkan kakinya di atas tanah.
"Kami adalah Laba-Laba Beracun. Gadis
berbaju merah dan yang berbaju kuning itu adalah Laba-Laba Merah dan Laba-Laba
Kuning. Sedangkan pemuda berbaju hitam adalah LabaLaba Hitam dan aku sendiri


Gento Guyon 28 Semerah Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Laba-Laba Biru." Jelas pemuda berbaju biru. Dia lalu melanjutkan.
"Sesuai ketentuan siapapun yang lewat di tempat
ini, mereka tidak akan kami biarkan hidup. Tapi
mengingat dirimu seorang pangeran, rasanya aku
masih bisa mempertimbangkan nyawamu."
"Aku menghargai sikapmu, Laba-Laba Biru. Nama besar kalian sudah sering
kudengar. Mohon dimaafkan jika aku dan rombongan ini dianggap lancang karena memasuki
kawasan kekuasaanmu tanpa ijin." Ujar Pangeran Sobali.
"Aku bisa memakluminya. Tapi harap jelaskan kalian hendak pergi ke mana?" Tanya
La- ba-Laba Biru curiga.
Pada kesempatan itu tiba-tiba Laba-Laba
Kuning menyela tidak puas. "Kakang mengapa
kau memaafkannya" Seharusnya dia dan rombongannya kita bunuh!"
"Adik. Demi memandang kedudukan orang
kali ini kita harus melakukan suatu pengecualian. Kau diam saja di situ, tak
usah campuri dulu pembicaraan kami." Kata Laba-Laba Hitam
Laba-Laba Kuning sebenarnya merasa kecewa, tapi demi menghormati dua saudara
lakilakinya dia diam membisu.
Sementara demi mendengar pertanyaan
Laba-Laba Biru, pangeran Sobali terdiam. Dia ragu untuk mengatakan yang
sebenarnya. Diapun
melirik ke arah Tangan Besi.
Si baju Ungu bersenjata golok besar dan
memiliki tangan sekeras baja ini anggukkan kepala.
3 Pangeran Sobali sadar anggukkan kepala
tangan kanannya itu merupakan isyarat persetujuan. Karena itu sang pangeran
lanjutkan berkata. "Kami sebenarnya sedang melakukan perjalanan guna mencari
sebuah benda sakti. Benda itu
tidak dan belum jelas berada di tangan siapa. Tapi berdasarkan petunjuk yang
kami dapatkan, Sengkala Angin Darah kabarnya berada di tangan
seorang kakek sakti bernama Gentong Ketawa."
Empat Laba-Laba Beracun saling pandang,
satu sama lain kemudian mereka berbisik. Melihat empat bersaudara itu bicara
dengan cara sedemikian rupa pangeran Sobali menjadi tidak
enak hati. "Aku telah berjanji siapa saja yang bisa
mendapatkan benda sakti itu, aku akan memberikan imbalan berupa hadiah besar.
Apa saja permintaannya bahkan kuturuti. Tentu saja sepanjang permintaan itu dapat
kukabulkan."
"Pangeran Sobali, bagaimana kalau kami
minta nyawamu. Apakah kau juga bersedia menyerahkan nyawamu sebagai imbalan?"
Tanya Laba-Laba Hitam.
Pertanyaan ini sudah barang tentu cukup
mengejutkan bagi pangeran itu dan juga orangorangnya. Tetapi ternyata dalam
segala hal pangeran Sobali tidak pernah kekurangan akal dan selalu bersikap
tenang. Dengan tersenyum ia kemudian bahkan
menjawab. "Jika memang itu persyaratan yang
kalian minta tentu aku tidak dapat menyanggupinya. Sebelumnya bukankah sudah
kukatakan sepanjang permintaan itu dapat kukabulkan."
Ujar sang pangeran.
Laba-Laba Kuning tersenyum, dia lalu berucap. "Pangeran jika kuminta kau
bersenangsenang dengan diriku apakah kau mau?" Tanya si
gadis sambil membusungkan dada.
"Hmm, kau gadis yang cantik. Kurasa tidak
patut melakukan apa yang kau sebutkan karena
diantara kita belum terdapat ikatan suami istri."
Ujar pangeran Sobali.
"Jika kami menyanggupi permintaanmu
apakah kau mau menikahi kedua adikku dan
mengangkatnya menjadi permaisuri" Lalu kau
bersedia pula memboyongnya ke Kediri dan menjadikannya ratu di sana?" bertanya
Laba-Laba Hitam yang disambut tawa mengikik Laba-Laba
Kuning. Sedangkan Laba-Laba Merah hanya tersipu
malu. "Kakang Hitam jaga mulutmu. Siapa yang
inginkan jodoh." Dengus Laba-Laba Merah purapura marah. Padahal di dalam hatinya
merasa senang. Siapa yang tidak senang berjodoh dengan
seorang pangeran, orangnya tampan, terpandang
dan memiliki pengaruh luas. Laba-Laba Merah
yang semula sangat bernafsu membunuh rombongan kerajaan itu kini berubah fikiran
setelah dapat memahami keinginan yang terkandung di
dalam ucapan saudaranya. Dia tahu, jika mereka
dapat menjadi permaisuri Kediri, tentu jalan untuk menuju kejayaan terbuka luas.
Dia dan LabaLaba Kuning tentu pula dapat mempengaruhi
pangeran Sobali.
"Adik tidak perlu marah. Jika pangeran ini
menerima kalian menjadi istrinya. Tidak ada salahnya jika kita membantu apa yang
kini sedang dia cari." Ujar Laba-Laba Biru.
"Pangeran... gusti harus berhati-hati. Saya
melihat mereka bukanlah orang baik. Mereka bicara di balik satu siasat keji!"
ujar Tangan Best
memberi ingat melalui ilmu menyusupkan suara.
Pangeran Sobali tersenyum. Dia tahu apa
yang ditakutkan oleh Tangan Besi. Seakan tidak
menghiraukan peringatan pembantunya, Pangeran Sobali berkata. "Dua adik kalian
adalah gadis yang cantik. Merupakan satu kehormatan bagiku
jika dapat mempersunting mereka. Kebetulan aku
belum punya pendamping. Aku bersedia mengangkat mereka menjadi permaisuri.
Asalkan kalian mau menerima dan dua syarat!"
"Apa syaratmu katakan pada kami!" sahut
Laba-Laba Biru penuh tantangan. Sedangkan Laba-Laba Merah dan Laba-Laba Kuning
tampak bahagia sekali.
"Pangeran katakan apa syaratmu. Kami
Empat Laba-Laba Beracun pasti akan memenuhinya!" ujar gadis berpakaian merah.
"Pertama kali kalian harus menemukan
Sengkala Angin parah. Setelah benda sakti itu didapatkan serahkan padaku. Namun
sebelum itu, untuk mengetahui apakah kalian memiliki ilmu
tinggi, salah seorang diantara kalian berempat
harus sanggup mengalahkan Tangan Besi!" tegas
pangeran Sobali.
Mendengar ucapan pangeran Kediri yang
terakhir itu Empat bersaudara Laba-Laba Beracun sama mengumbar tawa. Tangan Besi
tentu saja menjadi sangat geram karena kedua gadis
dan pemuda itu nampak seperti meremehkan di-
rinya. Belum lagi Tangan Besi sempat mengucapkan sepatah katapun, tawa keempat
laba-laba mendadak terhenti. Lalu Laba-Laba Hitam berkata dengan suara lantang. "Pangeran,
siapapun diantara kami yang kau hendaki untuk menghadapi
orangmu akibatnya pasti akan sama saja. Kau
hanya tinggal menyebutkan, apakah setelah orang
itu boleh kami habisi?"
"Tidak! Tangan Besi adalah pembantu setiaku. Kalian hanya berhak menunjukkan
kehebatan yang kalian miliki. Sehingga untuk urusan
benda sakti itu aku tidak merasa telah keliru dalam memilih orang!" ujar
Pangeran Sobali.
"Kalau begitu biarkan aku saja yang maju,
sekalian ingin menunjukkan pada pangeran bahwa aku bukanlah seorang calon
permaisuri yang
mengecewakan!" kata gadis berbaju kuning.
Laba-Laba Kuning kemudian melompat
maju, berdiri dengan berkacak pinggang di depan
Tangan Besi, sedangkan dua tangannya yang lain
terlipat di depan dada.
Melihat sikap gadis bertangan empat yang
terkesan sangat meremehkan itu mendidih rasanya darah Tangan Besi.
"Gadis ini harus kuberi pelajaran. Jika tidak sikapnya semakin bertambah kurang
ajar!" geram laki-laki itu dalam hati.
"Tangan Besi, tunggu apa lagi. Calon permaisuriku siap menghadapimu. Ingat
kalian tidak boleh saling membunuh karena aku hanya ingin
memastikan tidak keliru menilai orang!" ujar pan-
geran. "Baiklah. Saya pun siap menguji orang!"
sahut Tangan besi. Laki-laki itu kemudian bungkukkan badan. Begitu tubuhnya
membungkuk sosoknya amblas lenyap di udara. Bukan main
cepat gerakan Tangan Besi ini, begitu semua mata
memandang ke atas. Laksana gasing berputar tubuhnya sudah meluruk deras ke
bawah. Wuut! Sambaran kedua tangannya yang menghantam bahu dan kepala Laba-Laba Kuning tidak
mengenai sasaran karena lawan mendadak lenyap, berkelebat di udara. Begitu tubuh
gadis ini mengambang di udara, dia berputar, kakinya melesat menghantam pinggang Tangan
Besi. Laki-laki berpakaian ungu ini begitu merasakan ada angin yang menyambar pinggang
segera menyambuti serangan lawan dengan mendorongkan tangan kirinya yang sekeras
baja. Blaak! Benturan keras antara tangan dan kaki lawan membuat Tangan Besi tergetar. Tapi
gadis itu sebaliknya meraung kesakitan. Kakinya yang dipergunakan untuk menendang laksana
remuk. Dalam sakitnya dia memandang ke depan. "Keparat itu punya ilmu apa. Tangannya
benar-benar keras luar biasa." maki Laba-Laba Kuning dalam
hati. Sebaliknya Tangan Besi yang merasa berada
di atas angin tidak lagi memberi kesempatan pada
gadis itu. Sambil melompat ke depan, dua tangannya kembali dihantamkan ke dada
dan perut lawannya. Tapi kali ini Laba-Laba Kuning sudah berkelit menghindar. Dengan kecepatan luar
biasa dia melesat ke atas, lalu bagaikan seekor labalaba tangan dan kakinya menempel
di dinding tebing yang terjal. Pukulan Tangan Besi menghantam sisi tebing, membuat batu
tebing hancur berlubang besar seperti dihantam petir.
Keluarga Laba-Laba berdecak kaum melihat kedahsyatan pukulan Tangan Besi. Tapi
mereka sama sekali tidak menjadi ciut karena sadar
biar bagaimanapun segala ilmu maupun kesaktian yang dimiliki Laba-Laba Kuning
jauh lebih tinggi dari Tangan Besi.
Sebaliknya Tangan Besi begitu melihat lawan dapat meloloskan diri dari
pukulannya tanpa
menunggu lebih lama lagi jejakkan kakinya. Tubuh laki-laki itu melesat ke udara.
Setelah berada di atas ketinggian dia lakukan gerakan berjumpalitan mendekati tebing dimana
lawan bergelayutan di situ.
Dua tombak jaraknya dengan sasaran,
Tangan besi hantamkan tangannya kembali. Tapi
secara tak terduga dengan menggunakan tangan
kanan sementara tangan yang lain melekat pada
tebing, sang dara ikut pula menghantam menangkis serangan lawan. Selarik sinar
kuning menderu, terjadi benturan keras. Anehnya pukulan gadis itu terus meluncur
melabrak Tangan
Besi. Tak ayal lagi laki-laki itu menjerit sambil
dekap dadanya yang terasa ditembus dua batang
tombak. Tangan Besi jatuh bergedebukan. Tanpa
menghiraukan rasa sakit yang dia derita, secepat
kilat dia bangkit berdiri. Laksana kilat sambil
menggerung dia mencabut goloknya. Golok diputar hingga mengeluarkan suara angin
menderu yang disertai berkelebatnya sinar putih menyilaukan mata.
"Hem, rupanya kau punya senjata hebat.
Ingin kulihat apakah kau dapat menggunakan
senjata itu dengan baik!" kata Laba-Laba Kuning
yang sudah jejakkan kakinya di atas jalan disertai
senyum sinis. Tanpa menghiraukan ucapan orang Tangan
Besi segera merangsak ke depan. Golok besar
menyambar ke segenap penjuru arah menimbulkan angin dingin luar biasa dan
mengurung setiap gerak gadis itu hingga membuat Laba-Laba
Kuning jadi terdesak.
Ketika mata golok menyambar pinggang
dan kaki gadis ini, sang dara cepat berkelit, lalu
jatuhkan diri bergulingan dan dia kemudian jentikkan sepuluh jarinya siap
menangkis dengan
ilmu Jaring Laba-Laba.
Sinar Kuning berpilin-pilin seperti jaring
meluncur dari sepuluh jari Laba-Laba kuning.
Tangan Besi yang belum pernah merasakan kehebatan jaring laba-laba itu teruskan
babatan goloknya. Dengan sekali tebas tentu jaring laba-laba
itu akan hancur porak poranda. Setidaknya begitulah Tangan Besi berfikir.
Tapi segala perkiraannya meleset. Begitu
mata golok menyentuh untaian jaring yang terbuat dari air liur yang lengket.
Ternyata gerakan
golok jadi tertahan. Tangan Besi menarik golok
besarnya. Golok tidak bergeming. Tangan Besi
terkejut. Pangeran Sobali apalagi. Dia tahu senjata andalan pembantunya itu
bukan senjata sembarangan. Selama ini belum pernah ada lawan
berkepandaian tinggi dapat lolos dari kematian
mendapat serangan golok. Tapi kini tidak disangka seorang gadis yang masih muda
belia mampu memupus serangan Tangan Sesi hanya dengan
cara seperti itu.
"Aku harus berhati-hati. Segala siasat harus kujalankan secara halus agar aku
tidak mendapat celaka!" batin Pangeran Sobali. Kemudian
pemuda itu bertepuk tangan memberi isyarat pada kedua orang di depannya yang
sedang terlibat
mengadu kepandaian.
"Laba-Laba Kuning, lepaskan dia. Sekarang


Gento Guyon 28 Semerah Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

aku percaya dengan kemampuan yang kalian miliki!" ujar pemuda itu.
Si gadis tersenyum, dua tangannya digerakkan secara bersilangan. Begitu
tangannya bergerak maka jaring laba-laba yang dipergunakan
memerangkap Tangan Besi lenyap. Tangan Besi
menarik nafas pendek. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya. Malu,
penasaran, juga kecewa. Setelah sarungkan kembali senjatanya Tangan Besi kembali
menghampiri kudanya. Dengan
kesal dia melompat ke atas kuda.
"Sekarang kalian berempat kuterima di
lingkunganku. Syarat pertama sudah kalian penuhi. Jika Sengkala Angin Darah
cepat kalian temukan. Pintu istana terbuka lebar untuk kalian!"
ujar Pangeran Sobali memberi harapan.
"Kuingatkan janjimu itu pangeran. Jika
ternyata nanti kau ingkar janji kami akan datang
ke Kediri. Istanamu akan kami ratakan dan kau
harus menyerahkan nyawamu!" ujar Laba-Laba
Biru, saudara paling tua diantara tiga laba-laba
lainnya. Laba-Laba Biru selesai berkata segera
memberi isyarat pada tiga saudaranya. Kemudian
tanpa pamit lagi mereka meninggalkan tempat
itu. "Mereka sangat berbahaya gusti pangeran."
Kata Tangan Besi.
Pangeran Sobali tersenyum. Sambil menyentakkan tali kekang kuda dia menjawab.
"Segala sesuatunya tergantung keadaan. Mendapatkan Sengkala Angin Darah bukan
pekerjaan mudah. Kita menghadapi banyak kesulitan. Kita
juga bakal menghadapi gelombang kekuatan besar. Untuk apa berlatih diri menguras
tenaga. Jika kita dapat menghimpun tenaga orang lain segala macam cara dapat
kita tempuh untuk meraih
apa yang kita inginkan di dunia ini!" sahut Pangeran Sobali disertai seringai
lirih. "Apa maksudmu, Pangeran?"
"Ha ha ha. Dasar manusia tolol. Apa kau
mengira aku mengangkat dua gadis salah kaprah
itu menjadi permaisuri sungguhan" Mereka ha-
nyalah alat untuk mencapai suatu tujuan!"
"Ah, tak saya sangka. Ternyata pangeran
sangat cerdik. Semula saya kaget mendengar
pangeran berniat menjadikan gadis tadi sebagai
permaisuri. Ternyata itu hanyalah tipu muslihat
saja." ujar Tangan Besi. Laki-laki itu menggebrak
kudanya. Kudapun kemudian berlari meninggalkan tempat itu dengan diikuti ratusan
prajurit bersenjata. 4 Orang tua berkulit hitam, bermata cekung
itu duduk diam di bagian pendopo depan kediaman Pasadewa. Sembilan ekor ular
berbelangbelang kuning tetap bergelayut di sekujur tubuhnya dan terutama di
bagian leher. Di langit mendung kian menebal dan si kakek pejamkan matanya.
Perjalanan jauh telah ditempuhnya, sedangkan telaga Setan telah pula ia
tinggalkan. Semua itu ia lakukan karena demi memenuhi
permintaan Pasadewa. Tidak disangka ketika
sampai di tempat kediamannya ternyata Pasadewa entah pergi kemana.
Kakek angker yang sekujur tubuhnya dililiti sembilan ular beracun menarik nafas
dalamdalam. Dia mendengar suara keluh Pandan Arum
yang tengah menyiapkan makan malam untuk
kakek ini. Ingat dengan kecantikan gadis ini dan
membayangkan lekuk lengkung tubuhnya. Sekali
lagi kakek yang dikenal dengan julukan Iblis Ular
Sembilan ini jadi terjebak oleh keinginannya sendiri.
Tubuh kakek berumur tujuh puluhan ini
bergetar hebat. Sebenarnya ini adalah kesempatan bagi si kakek untuk mencicipi
kehangatan Pandan Arum. Suasana yang ada terasa benar
sangat mendukung. Pasadewa tidak berada di
tempat sementara langit gelap gulita. Dengan ilmu lidahnya yang mampu membuat
seseorang mau menuruti apa yang ia inginkan. Tentu tidak
sulit baginya menjadikan Pandan Arum jatuh ke
dalam pelukannya.
Tetapi bila melihat keadaan dirinya saat
itu, tiba-tiba saja Iblis Ular Sembilan merasa darahnya mendidih terbakar
amarah. Lalu kedua
pipinya yang kempot menggembung besar, rahang
bergemeletukan, sedang dua tangannya terkepal.
Iblis Ular Sembilan raba auratnya yang
cuma tertutup selembar kain dekil. Ternyata polos. Dia telah kehilangan
kebanggaannya sebagai
laki-laki. Ia kehilangan senjata pusaka yang ia
bawa sejak lahir. Benda itu telah diambil secara
paksa tapi tidak terasa oleh seorang kakek sinting
ahli sihir yang dikenalnya dengan nama Ki Comot
Jalulata. Padahal saat itu ia hampir saja berhasil
melampiaskan hasratnya pada Arum Pandan
yang ketika itu telah berada dalam pengaruhnya.
Sayang tiba-tiba saja muncul Ki Comot Jalulata.
Kakek aneh berdaster biru itu bukan saja menggagalkan keinginannya, lebih dari
itu tanpa disadarinya Ki Comot diam-diam telah mengambil
anunya kemudian dia masukkan ke dalam kendi
es, kendi perak yang selalu tergantung di pinggangnya.
Ingat dengan semua itu iblis Ular Sembilan
dengan mata mendelik tiba-tiba menggeram.
"Ki Comot Jalulata, kau penyebab dari semua sengsara dan derita hidupku.
Jangankan ke lubang semut ke neraka sekalipun kau tetap kucari! Karena ulahmu aku jadi tidak
dapat lagi bersenang-senang dengan perempuan. Padahal kesempatan itu kini
terbuka lebar. Aku tak perduli
kau memiliki segudang ilmu sihir. Apa yang kau
lakukan harus kau bayar mahal. Nasibmu bakal
celaka! Apalagi bila barangku sampai rusak. Engkau kira barang itu buat mainan"
Biarpun bulukan selama ini tidak pernah mengecewakan. Jika
kau tidak melarikan diri, sembilan ularku pasti
saat itu telah menggerogoti daging dan tulang belulangmu. Bahkan kentutmu
sekalipun tidak
akan tersisa."
Belum lagi kekesalan si kakek lenyap. Di
langit tiba-tiba kilat menyambar. Petir menggelegar dan hujan pun turun bagai
tercurah dari langit.
Di saat hujan turun dan angin kencang
bertiup, bersamaan dengan itu pula Pandan Arum
keluar menemuinya. Pandan Arum berpakaian
kuning, tapi nampaknya sengaja memakai pa-
kaian yang tipis ketat hingga menonjolkan lekuk
lengkung tubuhnya.
Iblis Ular Sembilan seketika belalakkan
matanya, sayang dia cuma bisa menelan ludah
tanpa dapat berbuat apa-apa.
Sambil tersenyum genit mengundang perhatian, gadis itu berkata. "Orang tua,
kekasihku mungkin akan kembali besok pagi. Aku sudah
menyiapkan hidangan untukmu di dalam sana.
Ada ikan pepes, ada tuak juga jengkol mata kerbau. Lekaslah masuk, di luar
dingin lebih baik
berada di dalam."
Iblis Ular Sembilan menelan ludah.
"Mmm, ikan pepesmu pasti enak. Sayang
aku datang pada waktu yang kurang tepat." kakek itu menggerutu kesal.
Pandan Arum yang berdiri di depan pintu
kedipkan matanya. "Eh, apakah maksudmu" Kau
tidak suka dengan hidangan yang kusediakan"
Apakah mungkin kau lebih suka bila aku menghidangkan diriku?" goda Pandan Arum
lebih berani. "Ha ha ha. Aku tentu saja suka dengan hidangan mu. Sayang kekasihmu tidak berada
di tempat." kilah si kakek.
"Kau tidak perlu risau orang tua. Anggap
saja kau berada di rumahmu sendiri." Ujar Pandan Arum.
Si kakek bangkit berdiri. Tanpa bicara apaapa ia melangkah masuk ke dalam.
Pandan Arum segera mengikuti di belakang.
Iblis Ular Sembilan duduk di atas kursi
kayu, menghadap ke sebuah meja bundar. Di atas
meja itu terhidang makanan berikut lauk pauknya. Dua kendi tuak keras juga
tersedia. Iblis Ular
Sembilan segera menuangkan nasi ke dalam piring tanah, mengambil beberapa lauk
pauk dan mulai mengunyah.
Sementara di luar sana hujan turun dengan deras, malah makin lama makin
bertambah deras. Di halaman air menggenangi.
Kilat menyambar dan di kejauhan terdengar suara guruh. Seketika kegelapan
berubah menjadi terang benderang. Dan sebelum kegelapan kembali menyelimuti alam
sekitarnya. Dari
arah sudut sebelah timur rumah tersebut terlihat
dua bayangan berkelebat menuju ke arah pendopo depan.
Sosok pertama adalah seorang pemuda
bertelanjang dada berambut gondrong, sementara
pada saat berlari menuju pendopo kedua tangannya ditekabkan ke bagian telinga.
Sedangkan di belakang si gondrong terlihat satu sosok lainnya.
Orang kedua berkepala botak plontos berpakaian
serba putih. Di punggung si botak tergantung sebilah pedang panjang dengan
bagian gagang berukir bagus.
Baik si gondrong yang berada di depan
maupun si gadis berpakaian putih keduanya sama dalam keadaan basah kuyup. Begitu
sampai di pendopo si gondrong tertawa terpingkalpingkal.
"Hebat!" pujinya. "Di sepanjang jalan kita
dimandikan oleh malaikat. Rupanya malaikat tahu aku tak pernah mandi, sekarang
basah jadinya luar dalam. Dan kau... wah untung kepalamu tidak ada rambutnya.
Tapi melihat pakaianmu yang basah kuyup mata ini ingin kedip
melulu. Hujan begini memang asyik, apalagi jika
ada makanan dan tuak harum. Tentu jauh lebih
enak dan lebih hangat. Ha ha ha...!" Pemuda itu
tepuk perutnya hingga mengeluarkan suara aneh.
Gadis berkepala botak berdandan dan berpakaian seperti laki-laki tidak
menanggapi. Sebaliknya dia memperhatikan suasana di sekeliling
pendopo yang gelap temaram. Kemudian iapun
melihat cahaya yang membersit keluar.
Gadis itu lalu berkata. "Sebaiknya kita
minta ijin berteduh pada pemilik rumah, Gento."
Enak saja si gondrong menanggapi. "Walah
buat apa minta ijin segala" Kita menumpang cuma sebentar, setelah hujan reda
kita pergi."
Dengan seenaknya si gondrong yang adalah Pendekar Sakti 71 Gento Guyon malah
mendekati dinding bilik yang terbuat dari bambu. Selanjutnya Gento mengintai ke
dalam. Sepasang mata pemuda ini terbelalak lebar
ketika melihat pemandangan di dalam sana. Tanpa sadar ia menggerutu. "Kakek
jelek itu agaknya
seorang pemain sulap. Tubuhnya dipenuhi ular
berbisa, hm... siapa dia?" Si gadis jadi heran.
"Kau bicara apa?" Tanya gadis itu, tapi kemudian
diapun ikutan pula mengintai.
Begitu dia melihat pemandangan di dalam
sana, gadis yang biasa dipanggil Taktu alias botak
ke satu ini jadi tercekat. "Kakek aneh. Tubuhnya
dililiti ular. Dia makan dengan lahap seperti orang
kesurupan, ditemani seorang gadis cantik. Rasanya aku belum pernah bertemu atau
mengenai manusia dengan ciri-ciri seperti dia." kata gadis
itu tegang. Berbeda dengan Gento. Melihat makanan
yang terhidang di atas meja, pemuda ini malah
menelan ludah. "Makanan itu pasti enak, apalagi ada tuaknya. Kalau saja kita boleh ikut makan
bersama pasti asyik. Tapi bila melihat kakek itu, bisa-bisa
selera makanku jadi lenyap. Ular yang bergelayut
di tubuhnya memang menjijikkan. Namun lebih
menjijikkan tubuh telanjang kakek itu. Kau
bayangkan dia hanya memakai cawat. Jauh berbeda dengan gadis yang menemaninya,
gadis itu cantik. Pakaiannya menerawang, yang seharusnya ditutupi malah mengintip keluar."
"Kau jangan bicara ngaco, Gento. Sebaiknya lekas kita tinggalkan tempat ini.
Terus terang aku merasa geli melihat ular-ular itu." Kata Taktu
berbisik. Bisikan yang begitu dekat dengan telinga
membuat Gento merinding. Pemuda itu tekap telinganya. Sambil mengusap-usap
telinganya ia berkata. "Jangan terburu-buru. Kita sebaiknya
menunggu sebentar lagi."
Suara Gento yang diucapkan agak keras
tentu saja membuat kaget orang yang berada di
bagian dalam. Si kakek tiba-tiba membentak. "Siapa diluar?"
"Di dalam siapa?" Gento malah balik bertanya.
"Kurang ajar, ditanya malah balas bertanya!" geram kakek di dalam.
"Oh begitu. Aku Gento dan sahabatku ini
Taktu. Situ dan gadis itu siapa?" Tanya sang pendekar pula kaku.
"Gento... Gento siapa cepat katakan!"
"Gento! Gento ya Gento, laki-laki sepertimu. Cuma masih gagah, belum peot dan
jelek seperti dirimu." Ujar sang pendekar ketus.
Sunyi sejenak. Baru saja Gento hendak
mengintai ke dalam lagi mendadak sontak dinding
yang dipergunakan mengintip berderak jebol.
Braak! Dari balik dinding yang jebol tiba-tiba berkelebat satu sosok bayangan. Bayangan
itu bukan lain adalah bayangan si kakek angker yang
diikuti oleh gadis berpakaian serba kuning.
Hanya beberapa saat, tidak jauh di depan
Gento dan Taktu berdiri tegak kakek aneh itu. Ia
memandang ke arah Gento dengan kedua matanya yang menyorot tajam.
Dia pun lalu membentak. "Apa yang kalian


Gento Guyon 28 Semerah Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lakukan di sini" Mengintai orang bisa membuat
kalian celaka!"
Enak saja Gento menjawab. "Eeh, orang
tua siapa yang mengintai dirimu" Kami hanya
menumpang berteduh, kalau tidak boleh biarkan
kami pergi!" kata pemuda itu.
Kakek itu tertawa tergelak-gelak. Begitu
tawanya lenyap ia berkata. "Kau dan kawanmu
itu tidak akan kubiarkan pergi begitu saja. Terkecuali kau jawab dulu beberapa
pertanyaanku."
Dengus Iblis Ular Sembilan.
Sementara itu Pandan Arum diam-diam
merasa kagum melihat kehadiran Gento yang bertubuh kekar dan berwajah tampan
itu. Dalam hati ia membatin. "Sayang aku sudah punya kekasih. Jika tidak tentu
aku bisa menjadikan dia sebagai kekasihku!"
Di depannya Pendekar Sakti 71 Gento
Guyon pada saat itu telah tertawa terbahakbahak. "Kakek bengek, kau ini
sebenarnya siapa"
Jika aku mau pergi aku bisa pergi sekehendak
hati. Mana bisa kau melarang kami?" dengus murid si gendut Gentong Ketawa sambil
mengusapusap bukti hidungnya.
Di mata kakek itu sikap Gento ia anggap
sebagai suatu penghinaan. Dengan geram ia menjawab. "Pemuda sinting, ketahuilah
aku adalah Iblis Ular Sembilan."
Gento unjukkan tampang kaget, tapi mulut
tetap sunggingkan seringai mengejek. "Iblis Ular
Sembilan. Jadi kau iblis itu... pantas tampangmu
kulihat memang sangat mirip dengan setan. Tapi
mengingat tubuhmu yang kurus bagaimana kalau
nama itu kuubah menjadi Iblis Kurus Cacingan"
Ha ha ha."
Penghinaan itu membuat wajah si kakek
berubah menjadi merah kelam. Taktu sendiri tak
dapat menahan tawa. Sedangkan Pandan Arum
cepat palingkan wajah ke jurusan lain sambil menyembunyikan senyumnya. Masih
belum lenyap kejengkelan di hati si kakek, Gento kembali menyeletuk. "Namamu sekarang jadi
bagus. Sekarang aku ingin tahu gadis cantik baju kuning itu
siapa" Istrimu atau anakmu?"
Si kakek mendamprat. "Kau tidak layak
bertanya!"
Pandan Arum sendiri sebenarnya ingin
menjawab, tapi dia takut didamprat oleh si kakek.
"Jika kau tidak layak bertanya, berarti aku
pun tidak layak menjawab pertanyaanmu." Kata
Gento. Pemuda itu lalu palingkan kepala ke arah
Taktu. Pada Taktu ia berkata. "Sobatku botak turunan, sebaiknya kita tinggalkan
tempat ini. Hujan sudah reda, aku kasihan pada guruku. Aku
takut gara-gara mengkhawatirkan diriku dia malah kesasar di neraka. Nanti aku
bisa dibuat repot. Lagipula tugas kita adalah mencari tahu
benda sakti itu sebenarnya berada di tangan siapa?"
Di luar dugaan begitu Gento ada menyebut
tentang benda sakti, Iblis Ular Sembilan langsung
berkelebat ke arahnya. Dua tangan menyambar
ke arah pinggang. Tapi Gento cepat berbalik sambil mendorong Taktu ke samping,
Taktu terjatuh,
namun ia selamat dari tendangan si kakek. Seba-
liknya serangan tangan yang dilakukan kakek itu
juga tidak mengenai sasarannya.
Bukan cuma Pandan Arum, Iblis Ular
Sembilan sendiri diam-diam jadi kaget. Sama sekali dia tidak pernah menyangka si
gondrong yang semula dianggapnya hanyalah pemuda lemah ternyata mampu menghindari
serangan mautnya. Padahal tadi ia mengerahkan jurus Ular
Melibas Mangsa.
Si kakek menggerung, tapi sebelum lanjutkan serangan masih sempat ajukan satu
pertanyaan. "Tadi kau ada menyebut tentang benda
sakti. Apakah benda yang kau maksudkan adalah
Sengkala Angin Darah?"
Kini Gento yang dibuat kaget mendengar
pertanyaan si kakek. Dia tidak menduga Iblis Ular
Sembilan ternyata tahu juga tentang kemunculan
benda sakti itu. Karena pada dasarnya pemuda
ini seorang pemuda konyol suka mempermainkan
perasaan orang, enak saja ia berkata. "Kalau benda itu kau tanyakan padaku mana
aku tahu. Apa yang kukatakan tadi adalah tentang benda yang
lain." Iblis Ular Sembilan mana mungkin bisa dibuat percaya. Dia gelengkan kepala
berulang kali. Ketika kepala si kakek menggeleng, sembilan ular
yang melingkari tubuh kakek ini juga ikut bergoyang
5 Gento memperhatikan setiap gerak yang dilakukan oleh Iblis Ular Sembilan. Dia
sangat yakin. Dengan julukannya tentu sembilan ular-ular
yang melingkari tubuhnya tentu sangat berbahaya.
Sementara itu Pandan Arum ajukan pertanyaan pada si kakek. "Iblis Ular Sembilan,
apakah kau ingin agar aku meringkus gadis berkepala botak itu?"
Tanpa berpaling dari Gento si kakek menjawab. "Dalam keadaan biasa walau
kepalanya botak aku pasti sangat membutuhkannya. Tapi
saat ini aku benar-benar tidak butuh perempuan
yang manapun." Dengus si kakek.
Jawaban ini cukup membingungkan Pandan Arum. Dia merasa ada keanehan terjadi
pada kakek itu. Tapi apa dan bagaimana bentuk keanehan itu sang dara tidak tahu.
Kemudian Pandan Arum pun teringat pada
benda sakti yang baru saja dikatakan oleh Gento.
Dia menduga Gento dan Taktu pastilah tahu banyak tentang Sengkala Angin Darah.
Itu sebabnya tanpa menghiraukan ucapan Iblis Ular Sembilan,
Pandan Arum sekonyong-konyong melompat ke
depan. Lalu dengan sekonyong-konyong ia menyerang Taktu dengan kecepatan luar
biasa. "Ah rupanya kau gadis keras kepala. Kakek
itu menyuruhmu menontonnya, tapi kau malah
menyerang diriku. Baiklah, aku siap melayanimu!" dengus Taktu. Gadis itu
jatuhkan diri hindari serangan. Begitu satu hantaman lewat di belakangnya,
dengan kakinya Taktu lakukan satu gerakan bersilangan bagai menggunting.
Wuuut! Serangan ini dengan mudah dapat dihindari oleh Pandan Arum. Tubuh gadis itu
melesat ke udara. Selagi tubuhnya mengapung ia menghantam kepala botak Taktu.
Taktu rupanya maklum jika sampai kepala
botaknya terkena tendangan lawan, kepala itu
mungkin saja bisa remuk atau rengat. Dengan
bertumpuan pada kedua tangan kaki kirinya melesat menyambut serangan lawan.
Plak! Benturan keras yang terjadi membuat Pandan Arum terjatuh. Sedangkan Taktu tanpa
menghiraukan rasa sakit akibat benturan segera
bangkit berdiri. Selanjutnya ia pun melesat ke
arah lawan sambil hantamkan kedua tangan dan
kakinya ke arah lawan. Mendapat serangan ganas
yang dilakukan secara bersamaan itu, Pandan
Arum benar-benar tak mampu menyembunyikan
rasa kagetnya. Gadis itu tidak dapat lagi berfikir lama. Segera disambutinya serangan itu. Dua
tangan tibatiba didorongkan ke depan.
Plak! Dua bentrokan keras kembali terjadi. Begitu tangannya membentur tangan Taktu
diapun melesat ke atas. Kali ini dia melepaskan tendangan yang mengarah ke bagian wajah
Taktu. Taktu melompat mundur sambil lindungi
wajahnya. Tidak urung tendangan Pandan Arum
masih mengenai bagian bahu. Murid Peri Tanpa
Bayangan terhuyung, bahunya terasa nyeri, namun dengan cepat ia sudah berdiri
lagi dengan posisi siap menyerang.
Sementara pada waktu bersamaan Iblis
Ular Sembilan saat itu sudah merangsak ke depan. Dia menggempur lawan dengan
seranganserangan hebat, ganas dan berlangsung dengan
cepat. Menghadapi serangan ganas yang dilancarkan oleh Iblis Ular Sembilan, Gento
mengelak sambil menangkis. Tidak jarang dengan mengandalkan jurus Congcorang Mabuk yang
dipadu dengan jurus Manusia Seribu Tahun Gento serta
merta melakukan serangan balik.
Iblis Ular Sembilan dibuat melengak kaget.
Sambil memandang ke arah lawan dia membatin
di dalam hati. "Aku sungguh tidak pernah menduga pemuda sinting ini ternyata
memiliki ilmu yang tinggi. Mungkin aku harus menggunakan jurus Sembilan Ular Terbang untuk
meringkusnya. Jika meringkus pun tak dapat kulakukan, lebih
baik dia kubunuh saja!"
Selagi lawan tertegun, pada saat itu Gento
berteriak! "Iblis cacingan. Apakah kau telah kehabisan tenaga" Kulihat nafasmu
kembang kempis.
Melihat keadaanmu, apakah kau masih juga ingin
tahu tentang benda sakti itu?" Tanya si pemuda
disertai senyum mengejek.
"Manusia sombong, apakah kau masih bisa
bermulut sombong setelah kuhujani dengan seranganku?" dengus si kakek.
"Aku tahu di luar memang hujan, tapi apa
benar kau mempunyai kemampuan menyerang
dengan kecepatan seperti hujan?" Tanya Gento
sinis. Bukan jawaban yang didapat Gento, sebaliknya ia malah menyilangkan kedua
tangannya di depan dada. Dengan mata menyorot tajam tubuh si kakek bergetar hebat.
Ternyata saat itu si
kakek tengah mengerahkan dalam yang ia miliki.
Kemudian bersamaan dengan itu pula sembilan
ular yang melingkari tubuhnya mengeliat, sembilan kepala terangkat tegak
disertai desis mengerikan. Mulut sembilan ular terbuka memperlihatkan taring-
taringnya yang runcing, lidahlidahnya yang bercabang terjulur siap menyerang
Gento. Gento terkesima melihat ular yang semula
terkesan jinak, kini menjadi beringas. Belum lagi
hilang rasa kaget di hati Gento, Iblis Ular Sembilan mendadak lakukan gerakan
berputar. Dua tangan yang bersilangan kini disibakkan, dengan
gerakan laksana kilat kakek ini melesat ke arah
Gento. Sosok si kakek berkelebat lenyap seperti
bayangan. Tahu-tahu sekarang berada di depan
pemuda itu. Gento merasakan ada angin yang
menyambar dadanya. Tidak membuang waktu
Gento berkelit lalu melesat ke udara. Namun secepat apapun gerakan yang
dilakukan oleh murid
Gentong Ketawa ini, tak urung bagian kakinya
masih kena dihantam lawan. Gento menjerit tertahan, walau kakinya seperti remuk
hebatnya ia tidak sampai terjatuh.
Iblis Ular Sembilan jadi penasaran. Dengan
mengandalkan jurus Sembilan Ular Terbang si
kakek mengejar Gento yang sudah melesat di
udara. Dalam keadaan mengambang di udara, terjadilah perkelahian sengit. Keduanya
saling melepas pukulan dan tendangan yang sangat berbahaya. Tetapi Gento tiba-
tiba melambung lebih ke
atas lagi. Dengan beberapa kali gerakan di lain
waktu dia telah berada di belakang lawannya.
Laksana kilat dia hantamkan tangannya ke bagian punggung kaki itu.
Plak! Desss! Satu hantaman keras membuat si kakek
jatuh tersungkur. Tetapi begitu tubuhnya jatuh,
dengan cepat dia bangkit lagi. Orang tua ini
menggeram dengan sengitnya.
Dia dongakkan wajahnya ke atas, setelah
itu tangan digerakkan ke arah badan, lalu dikibaskan.
Tiga ekor ular besar berbelang kuning melesat membeset udara dengan kecepatan
laksana anak panah mengincar tiga bagian di tubuh Gento. Melihat ini sang pendekar
sempat terkejut, te-
tapi dia juga tidak menunggu lebih lama. Dengan
cepat dia dorongkan dua tangan ke depan. Rupanya ia melepaskan pukulan Iblis
Tertawa Dewa Menangis. Begitu dua tangan didorong, terdengar suara bergemuruh disertai berkiblatnya
sinar merah berhawa panas luar biasa. Pukulan itu melabrak
tiga ular yang menyerangnya. Dua ular langsung
terpental ke tanah, namun tidak mati terkena pukulan Gento. Sedang ular yang
satunya lagi berbalik, kemudian melesat ke arah Taktu yang sedang terlibat
perkelahian dengan Pandan Arum.
Melihat ini Gento tercekat. Sang Pendekar pun
kemudian berteriak.
"Sobat botak awas di belakangmu!"
Taktu sempat kaget, tanpa menoleh ke belakang gadis ini segera jatuhkan diri dan
bergulingan menjauh. Tak ayal lagi ular itu meluncur
ke arah Pandan Arum.
"Pandan.... menyingkirlah!" teriak Iblis Ular
Sembilan begitu melihat mahluk piaraannya malah membahayakan keselamatan Pandan
Arum. Meski sudah diperingatkan, namun gerakan menghindar yang dilakukan gadis itu
kalah cepat dengan daya luncur mahluk itu. Tak ayal
lagi ular itu menghujam di bagian dada Pandan
Arum tepat di bagian jantung.
Si gadis menjerit keras, matanya mendelik.
Tubuhnya langsung membiru, lalu ambruk dan
tewas seketika. Sedangkan ular yang memangutnya kemudian kembali ke arah si
kakek, selan- jutnya kembali bergelung di tubuh orang tua itu.


Gento Guyon 28 Semerah Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tak terkirakan betapa marahnya orang tua
ini. Apa yang terjadi setidaknya membuat perasaan dan jiwanya terguncang. Lebih
celaka lagi bila mengingat ia harus mempertanggung jawabkan kematian Pandan Arum di depan
kekasihnya Pasadewa. "Jahanam betul! Kau telah membuat urusanku menjadi kapiran. Kau harus mampus!"
geram si kakek yang kini telah berdiri di hadapan
pemuda itu. "Ha ha ha... urusanmu yang mana yang telah kubuat menjadi kapiran" Kau melakukan
tindakan tolol dengan membunuh kawan sendiri.
Kau yang membunuh, mengapa harus menyalahkan aku?"
Apapun alasan Gento tentu si kakek tak
dapat menerimanya. Tanpa bicara lagi Iblis Ular
Sembilan dorongkan kedua tangannya ke arah
sang pendekar. Gerakan yang dia lakukan kali ini
tampaknya biasa saja, bahkan terkesan begitu
lemah. Ini bertolak belakang dengan serangan sebelumnya. Tetapi akibat yang
ditimbulkan sungguh sangat luar biasa sekali.
Murid Gentong Ketawa mendadak merasakan sekujur tubuhnya seperti ditindih gunung
es. Sekujur tubuhnya terasa kaku dan nyeri di setiap
persendian. Dalam kagetnya tak menyangka lawan memiliki ilmu seaneh itu Gento
cepat salurkan tenaga dalam ke bagian tengah. Setelah tenaga mengalir ke bagian
tengah. Dia segera dorong-
kan kedua tangan itu ke depan.
Peristiwa Merah Salju 6 Penelitian Rahasia 8 Jurus Lingkaran Dewa 1 Karya Pahlawan Sumpah Palapa 29
^