Pencarian

Tokoh Tokoh Kembar 1

Pendekar Bloon 21 Tokoh Tokoh Kembar Bagian 1


Cerita ini adalah fiktif
Persamaan nama, tempat dan ide hanya kebetulan belaka.
TOKOH-TOKOH KEMBAR Oleh: D. AFFANDY
Diterbitkan oleh: Mutiara, Jakarta
Cetakan Pertama: 1995
Sampul: BUCE Setting oleh: Sinar Repro
Hak penerbitan ada pada penerbit Mutiara
Dilarang mengutip, mereproduksi
dalam bentuk apapun tanpa ijin
tertulis dari penerbit.
https://www.facebook.com
/DuniaAbuKeisel
SATU Pelarian yang ia lakukan dari musuhnya
bukanlah lari karena ia merasa kalah. Apa yang
dilakukannya semata-mata karena hendak men-
gatur siasat terbaik untuk menghancurkan la-
wan-lawannya yang terdiri dari tokoh-tokoh ber-
kepandaian tinggi itu. Walau pun mereka bukan
semuanya terdiri dari tokoh-tokoh kelas satu. Seperti Datuk Nan Gadang Lapuih
itu, ia mempu- nyai kuda gaib yang dapat mengalahkan pemban-
tu-pembantunya dari alam kubur itu. Tokoh dari
Ngarai Sianok memang harus dilenyapkannya. Te-
tapi yang menjadi tujuan utama bagaimana ca-
ranya membunuh kedua manusia yang sangat di-
bencinya. Barata Surya dan Dewana adalah
orang-orang yang harus mendapat ganjaran se-
timpal. Selain mereka masih ada lagi Manusia To-
peng, Mata Iblis, Wayan Tandira dan termasuk
Dewi Kerudung Putih. Dua orang yang terakhir ini baginya tidak begitu merisaukan
hati. Perempuan berpakaian hijau itu memang
dibuat pusing juga. Kini sama sekali ia sudah tidak punya pembantu yang dapat
diandalkan. Pendekar Blo'on yang semula dapat diharapkan
untuk mewujudkan cita-citanya sekarang mung-
kin sudah dapat dibuat sadar oleh gurunya, Mus-
tika Jajar murid keponakannya tidak muncul-
muncul juga. Tetapi ia masih punya sesuatu yang
dapat diandalkannya. Itulah dia Batu Lahat Ba-
kutuk. Ia harus melakukan sesuatu yang sangat
besar dengan batu itu.
"Hik hik hik! Datuk Nan Gadang, Malaikat
Berambut Api, Barata Surya! Rencana yang kuja-
lankan kali ini pasti akan membuat kalian semua
celaka! Kalian akan menghadapi tokoh-tokoh
yang mempunyai kesaktian tidak lebih rendah da-
ri kalian!" dengus Ratu Leak sinis. Seraya kemudian masuk ke sebuah celah batu
sempit. Mele- wati celah batu itu terdapat tanah yang luas yang seluruh permukaannya berlapis
batu hitam. Ratu
Leak melangkahkan kakinya ke tengah-tengah
batu datar yang luas itu. Namun alangkah terke-
jutnya orang ini saat melihat seorang kakek tua berwajah tengkorak bermata merah
seperti api. Yang mengerikan dari orang ini wajahnya sama
sekali tidak terbalut kulit dan daging. Sementara di depannya tampak tergeletak
seorang gadis berpakaian tipis tembus pandang dalam keadaan ti-
dak sadarkan diri. Gadis itu kelihatannya baru
saja mendapat pengobatan dari si kakek angker.
Setelah mengenali siapa kakek berwajah angker
ini, Ratu Leak langsung melangkah mendekati
sambil berseru: "Adik seperguruanku, Tua Tengkorak Mata Api"! Syukur kau mau
datang ke ta- nah kutukan ini!"
Yang ditanya tidak menjawab, sikapnya
acuh tak acuh. Hanya matanya saja yang hampir
memberojol keluar itu memandang sinis pada Ra-
tu Leak. "Adik seperguruan. Mengapa kau pandangi
aku seperti itu. Apakah ada langkahku yang kau
anggap salah"!" tanya Ratu Leak.
"Langkahmu tidak ada yang salah kakang
mbok. Yang membuatku tidak senang kau mem-
biarkan muridku hampir membeku karena terlu-
ka dalam di Sange ini! Jika aku tidak datang
mungkin Mustika Jajar sudah mampus!" sahut
Tua Tengkorak Mata Api. Agar lebih jelas siapa
adanya kakek tua berwajah tengkorak ini (dalam
episode Pemikat Iblis). "Padahal ia membantu, namun rasa sayang terhadap murid
keponakan kulihat tidak ada sama sekali!"
"Adik seperguruan. Kau jangan salah sang-
ka, aku belum sempat mencarinya. Sebab renca-
naku yang pertama ternyata tidak membawa ha-
sil. Kau jangan marah!" sergah Ratu Leak. Perempuan ini kemudian meraba urat
nadi di bagian leher Iblis Betina Dari Neraka. Melihat hal itu Tua Tengkorak Mata Api langsung
menggumam. "Keadaannya sudah semakin baik. Mung-
kin tidak lama lagi ia sadar. Kuharap jangan
ganggu dia dulu. Biarkan ia istirahat!" tegas si kakek yang cuma punya sebelah
mata tersebut tegas. "Aku mengerti!" Ratu Leak tersenyum.
"Bagaimana dengan musuh-musuhmu?"
Kakek mata merah mengalihkan perhatian.
Ratu Leak gelengkan kepala. "Tidak semu-
dah yang kubayangkan. Jumlah mereka kelewat
banyak di luar perhitunganku!"
"Mengapa menjadi lemah dalam mewujud-
kan sebuah cita-cita" Malaikat Berambut Api
punya hutang besar padaku! Aku sanggup meng-
hadapinya!" dengus Tua Tengkorak Mata Api.
"Eeh... apakah Batu Lahat Bakutuk masih berada di tanganmu?"
"Masih."
"Ha ha ha! Aku punya satu rencana besar
dengan batu itu. Jika rencana ini terwujud. Maka kita tidak perlu bercapai-capai
badan menghadapi mereka. Kita dapat uncang-uncang kaki sambil
menyaksikan musuh-musuh kita bergelimpangan
tanpa nyawa!"
Mendengar ucapan Tua Tengkorak Mata
Api, Ratu Leak jadi tertarik. "Apa rencanamu itu adik seperguruanku?"
Tua Tengkorak Mata Api membisikkan ren-
cananya di telinga Ratu Leak. Wajah perempuan
cantik itu berubah berseri-seri.
"Rencana yang bagus! Aku juga semula
punya niat untuk melakukan hal itu. Tapi aku
merasa kekuatan sihirku semakin melemah saja
akhir-akhir ini! Kurasa jika kita bekerja sama kita dapat mewujudkan impian yang
mengejutkan dan
tidak pernah terduga-duga oleh musuh kita!"
"Nanti tengah malam kita dapat melakukan
segala sesuatunya. Karena dulu kau telah menye-
lamatkan muridku dengan menyambung tangan
serta menyembuhkan luka di perut. Maka tidak
ada salahnya jika sebagai saudara seperguruan
kita saling membantu!" kata Tua Tengkorak Mata Api. Ratu Leak merasa senang
sekali mendapat
bantuan dari adik seperguruannya. Ia tahu sam-
pai di mana kehebatan Tua Tengkorak Mata Api.
Laki-laki itu bahkan mempunyai ilmu ajian
'Benteng Roh'. Sebuah ilmu sesat yang dapat
menghidupkan benda-benda mati atas bantuan
iblis. Tanpa itu pun rasanya Batu Lahat Bakutuk
dapat mereka manfaatkan untuk mewujudkan
impian mereka. *** Di pagi hari udara di Lembah Nirwana te-
rasa dingin sekali. Di sisi lain aroma bunga-bunga yang tumbuh beraneka ragam
menjanjikan suasana lain yang sangat romantis. Murid-murid
lembah yang terdiri dari gadis-gadis cantik di pagi itu tampak lebih sibuk dari
hari-hari biasanya.
Seorang gadis berkulit putih bermata sipit sejak semalaman memang diperintahkan
oleh gurunya untuk menyediakan semua keperluan yang dibu-
tuhkan Pendekar Blo'on. Suro sesungguhnya me-
rasa beruntung berada di lembah itu. Betapa ti-
dak, Lembah Nirwana adalah sebuah tempat yang
indah dan sulit dicari tandingannya di dunia ini apalagi yang melayaninya
seorang gadis yang terkadang secara diam-diam mencuri pandang pa-
danya. Kebahagiaan apalagi yang bisa menandingi
semua ini"
Sungguhpun begitu jauh di sudut hatinya,
ia menjadi bimbang juga memikirkan nasib Dewi
Kerudung Putih. Entah bagaimana keadaan gadis
itu di tangan Ratu Leak. Boleh jadi Ratu Leak telah membunuhnya. Padahal Dewi
Kerudung Putih dulu pernah menolongnya (dalam episode Bayang
Bayang Kematian). Jika Dewi Kerudung Putih
sampai tewas di tangan Ratu Leak. Suro Blondo
bersumpah akan melakukan pembalasan berlipat
ganda. Kini ia mondar mandir di dalam kamar
yang dijadikannya tempat tidur semalam.
"Runyam benar-benar runyam. Semuanya
serba memalukan! Dalam keadaan tidak sadar
aku pasti telah bertarung dengan guruku. Mau
disimpan di mana mukaku ini" Tapi mengapa ka-
kek Dewana tidak mau menemuiku di sini" Di
mana dia gerangan" Wah kejadian ini benar-
benar memalukan!" pikir Suro, lalu garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Seraya berjalan mondar-mandir lagi, tapi tiba-tiba hentikan langkahnya ketika
mendengar suara daun pintu berderit
terbuka. Yang datang ternyata gadis cantik ber-
mata sipit. "Selamat pagi!" sapa Bunga Seloka ramah.
"Selamat siang dikit! Ee... kita belum kenalan, ya" Namaku Suro, kau siapa?"
tanya Pendekar Blo'on ramah. Yang ditanya tersenyum malu-
malu, wajahnya bersemu merah sedikit.
"Aku Bunga Seloka! Mengenai siapa dirimu
aku sudah mendengarnya dari guru! Aku datang
ke sini bukan bercanda!"
"Lalu?""
"Guru memerintahkanmu untuk menjum-
painya di taman belakang!" jelas Bunga Seloka.
"Taman belakang dimana?"
"Aku akan tunjukkan arahnya padamu!
Mari ikuti aku!" Tanpa menunggu Bunga Seloka segera berbalik langkah. Sambil
menggerutu Suro
mengikuti Bunga Seloka. Yang dimaksud dengan
taman belakang ternyata jaraknya cukup jauh ju-
ga. Di ujung tanaman bunga terdapat pohon-
pohon besar seperti di rimba raya. Disini Bunga
Seloka hentikan langkah dan membalik mengha-
dap Suro Blondo.
"Peraturan mengatakan aku hanya dibe-
narkan mengantar kamu sampai di sini saja. Te-
ruskanlah berjalan ke sana, nanti kau akan men-
dapat petunjuk guruku!" tegas Bunga Seloka seraya menunjuk arah yang
dimaksudkannya. Pe-
muda berpakaian biru memandang ke arah itu.
"Kau menyuruhku masuk ke dalam hu-
tan?" kata Suro. Ucapannya tidak mendapat
tanggapan apa-apa, merasa heran ia menoleh.
Ternyata Bunga Seloka telah menghilang dari
pandangan matanya. Ia geleng-geleng kepala.
"Orang-orang di sini rasanya memiliki keanehan, atau apa aku sendiri yang memang
aneh?" pikir Suro. Seraya kemudian sambil bersiul-siul melangkah mendekati pohon
kelapa dan pohon du-
rian yang sedang berbuah lebat.
"Asyiik betul durian ini buahnya besar-
besar! Ada kelapanya lagi, kurasa sehabis makan
durian aku bisa menikmati air kelapa! Eeh... ke-
betulan sekali ada yang di bawah!" batin Pendekar Blo'on. Pemuda konyol ini lalu
mendekati sebuah
durian yang paling besar. "Wiiih, sudah kuning.
Pastilah isinya enak...!"
Tanpa pikir panjang lagi, Suro segera
membuka ujung buah durian tersebut dengan
kedua tangannya. Ternyata pekerjaan itu tidak
mudah, karena kulit buah itu alot bukan main.
Suro putar-putar buah durian besar itu. Pada
saat yang sama tidak jauh di sebelah kirinya Pendekar Mandau Jantan mendengar
suara seseo- rang yang sedang mengomel, entah ditujukan pa-
da siapa" Ketika Suro memperhatikan laki-laki
yang usianya sebaya dengannya. Ternyata pemu-
da itu pun sedang memegang buah durian, hanya
ukurannya agak lebih kecil.
"Ingin makan saja harus bersusah payah!
Kedua tangan tidak dapat dipergunakan. Sedang-
kan manusia punya akal, mengapa durian ini ti-
dak di pukulkan di kepalaku saja!" Bicara begitu sekonyong pemuda asing itu
angkat durian dari
atas tanah lalu membenturkannya ke bagian ke-
pala. Suro picingkan matanya melihat kejadian
itu. Ia berfikir orang yang berani melakukan pe-
kerjaan gila-gilaan itu kalau bukan orang gila
pastilah punya sesuatu yang diandalkan.
Prook! Si konyol benar-benar dibuat kaget. Bukan
hanya durian masak itu saja yang pecah, tapi ke-
pala yang dijadikan tatakan oleh pemuda tidak
dikenal ikut pecah. Buah durian yang pecah ber-
hamburan bercampur dengan otak dan darah.
Anehnya pemuda itu sedikit pun tidak merasa ke-


Pendekar Bloon 21 Tokoh Tokoh Kembar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sakitan. Ia malah menyeringai menjilati buah du-
rian bercampur cairan otaknya sambil cengenge-
san. Suro merasa perutnya menjadi mual, kepala
pusing dan mau muntah. Pemuda aneh yang ke-
palanya pecah dihantam durian sedikitpun tidak
bicara. Suro yang menutupi wajahnya dengan ke-
lima jari direnggangkan mengintip dari sela-sela jari. Sementara buah durian
tadi sudah habis di-makan oleh pemuda ini.
"Kepalaku pecah, kepala yang pecah harus
dibenerin dulu!" Orang ini bicara lagi. Kemudian kedua tangannya diletakkannya
antara kuping kanan dengan kuping kiri. Setelah itu tangan
menghantam kepala bertubi-tubi dengan tenaga
penuh. Plok! Plak! Plok!
"Orang ini benar-benar tidak waras. Ka-
tanya mau membetulkan kepalanya yang pecah.
Tapi kok malah dipukul seperti orang menghan-
tam batu kali!" pikir Suro terlolong-lolong saking bingungnya. Ia lebih kaget
lagi ketika melihat bagaimana kepala yang hampir berantakan itu men-
jadi utuh kembali. Pemuda tidak dikenal kali ini sunggingkan senyum aneh
ditujukan pada Pendekar Blo'on. Pemuda konyol ini malah mengkeret
ngeri. Kemudian tanpa bicara apa-apa ia lang-
sung meninggalkan Suro begitu saja. Sejarak tu-
juh batang tombak pemuda aneh itu langkahkan
kaki, tubuhnya mendadak saja raib dari pandan-
gan Suro. Pendekar Blo'on kedip-kedipkan ma-
tanya berulang-ulang. Apa yang dilihatnya tadi
benar-benar seperti kejadian dalam mimpi. Belum
hilang rasa kagetnya, tiba-tiba muncul pula seo-
rang pemuda lain berusia sebaya dengan pemuda
aneh yang datang pertama tadi. Pemuda ini bu-
kan menghampiri pohon durian dimana buahnya
yang masak bergeletakan di atas tanah. Orang ini menghampiri pohon kelapa yang
berbuah lebat. Mendongak ke atas seakan sedang menentukan
mana buahnya yang masih muda.
"Jika inginkan buahnya yang sedap, men-
gapa harus bersusah payah dengan memanjat-
nya" Cukup kulihat dari sini dan dia turun sendi-ri!" kata si pemuda seakan
ditujukan pada diri sendiri. Pemuda asing itu lalu kedipkan matanya
yang sebelah kiri persis orang kelilipan.
"Heh...!" Lagi-lagi Pendekar Mandau Jantan dibuat tercengang ketika melihat
betapa buah kepala yang dikedipi pemuda itu meluncur ke ba-
wah. Kelapa muda ini tidak langsung jatuh. Me-
lainkan tergantung-gantung di udara. Pemuda
bertelanjang dada gerakkan jari telunjuknya ke
atas dengan gerakan melubangi, seraya berkata.
"Kalau haus mengapa tidak minum?" Dan
sekonyong-konyong dari buah kelapa yang berlu-
bang dan tergantung di udara mengucur air kela-
pa. Si pemuda buka mulutnya. Suro memperhati-
kan kejadian ini dengan mulut melongo saking
takjubnya. "Wah, kelapa muda kok ada ikannya!" kata si pemuda. Seraya katubkan kedua
bibirnya. Tangan melambai dan kelapa muda itu meluncur
deras menghantam kepalanya. Nampaknya ia
sengaja mengadu kepala dengan kelapa muda
yang dipetiknya secara aneh.
Prak! Kelapa itu pecah berderak dan menggelind-
ing persis di depan Suro Blondo. Bagian yang pe-
cah terkuak. Lagi-lagi si konyol dihadapkan pada suatu
pemandangan menakjubkan dan sulit dipercaya.
Di dalam batok kelapa muda terlihat dua ekor
ikan kecil sebesar jari telunjuk berwarna kuning seperti anak ikan mas.
"Orang ini punya kesaktian luar biasa. Ka-
lau bukan orang sinting, ia pasti sengaja pamer
kekuatan di depanku!" pikir Pendekar Blo'on.
"Permainan seperti itu memang menarik, hanya lama kelamaan terasa membosankan.
Lagipula aku datang ke sini bukan untuk menonton segala
pertunjukan konyol. Si Bayang-Bayang memang-
gilku. Mengapa yang datang pemuda-pemuda
aneh yang pamer kebolehan?" Suro akhirnya
menjadi bosan, tiba-tiba ia bangkit berdiri. Tanpa menghiraukan durian besar
yang belum sempat
dibelahnya ia berjalan ke lain arah namun masih
di wilayah lembah Nirwana. Baru beberapa tindak
ia melangkah, di belakangnya terdengar seruan
seseorang. "Hei pemuda baju hijau. Kalau kau ingin
makan durian mengapa kau tahan seleramu. Ka-
lau kau tidak becus membelahnya, jika tidak
sanggup aku bisa membantumu dan kau tinggal
makan saja!"
Bila Suro memandang ke belakang, tahu-
lah ia pemuda aneh itu yang baru saja bicara. Melihat sikap orang itu yang
terlalu meremehkan-
nya. Maka Pendekar Blo'on sambil mendengus te-
rus berlalu. Ternyata pemuda tidak dikenal itu tidak
membiarkan si konyol pergi begitu saja. Ia me-
nendang buah durian besar yang ditinggalkan
oleh Suro. Buah durian berwarna kuning itu me-
layang nyaris menghantam belakang batok kepala
Pendekar Blo'on. Untung saja ia cepat menghin-
dar, jika tidak dirinya pasti sudah terjengkang.
Ternyata buah durian yang tidak berhasil meng-
hantam kepalanya itu berbalik dan menyambar
kembali dengan gerakan berputar menghantam
wajah Suro. Pemuda ini memaki, lalu dorongkan
kedua tangannya ke arah sasaran.
Wuuut! Wuuut! Ser! Seakan memiliki mata saja, buah durian
itu membumbung ke atas dan bergerak turun
kembali serendah mungkin. Sekarang kaki Pen-
dekar Blo'on yang jadi sasaran. Dengan geram
Suro melompat sekaligus diiringi gerakan salto
yang sungguh sedap dipandang mata.
Kini buah durian mengambang diam di
udara. Suro memandang dengan mata mendelik
kepada pemuda yang tidak dikenalnya.
"Mengapa kau menyerangku"!" bentak Su-
ro dengan suara keras. Pemuda di depannya
hanya senyum-senyum.
DUA Kemudian ia pandangi Pendekar Blo'on, ta-
tapan matanya seolah-olah ingin menembus lu-
buk hati pemuda itu.
"Bukankah kau menginginkan buah itu.
Kutawarkan padamu satu kebaikan, sayang kau
malah menolaknya!" kata si pemuda seperti kece-wa. "Kau bukan memberi kebaikan,
kulihat kau sengaja mencari gara-gara!" dengus Pendekar Blo'on tidak senang.
"Kau menuduh! Fitnah busuk membuat
aku jadi marah! Sekarang rasakanlah durian itu
akan mengemplang kepalamu!" Usai bicara pe-
muda tidak dikenal gelengkan kepala. Tiba-tiba
saja durian yang terkatung-katung di udara me-
layang lagi dan menyerang Suro dengan kecepa-
tan berganda. Melihat ini Suro yang telah pulih
kembali dari kehilangan tenaga sakti ini (untuk lebih jelasnya dalam episode
Perintah Dari Alam
Gaib) segera lepaskan pukulan 'Kera Sakti Meno-
lak Petir'. Selarik sinar putih menderu, akan tetapi durian yang mengemplang ke
arah kepala itu
kini bergerak merendah lalu meluncur lagi meng-
hantam bagian selangkangan pemuda itu.
Dengan gerakan bagai seekor monyet yang
berjingkrak pemuda ini mengelak. Pukulan yang
dilepaskannya menghantam sebatang pohon yang
berada di belakangnya. Pohon berderak hancur
disertai kobaran api menyala. Pemuda rambut
kemerahan mendelik melihat pukulannya tidak
mengenai sasaran. Sementara pemuda yang tidak
dikenalnya itu sambil tersenyum-senyum meng-
gerakkan tangannya hingga durian yang berada di
bawah pengaruh tenaga dalamnya ini kembali
meluncur ke arah Suro.
"Hati-hatilah kau Pendekar berjurus ku-
nyuk. Salah-salah durian itu dapat mengelilipi
matamu!" Suro pencongkan mulutnya. "Sialan, kau
kira hanya kau sendiri yang dapat berbuat seperti itu?" dengusnya sinis. Tidak
membuang-buang waktu, Suro angkat tangannya sejajar dengan telinga. Lalu....
"Huup...!"
Krrtkh! Dua-duanya sekarang sama-sama menge-
rahkan tenaga dalam, sehingga terjadilah saling
dorong. Pemuda tidak dikenal masih bisa terse-
nyum-senyum. Melihat hal itu Suro jadi sewot.
Diam-diam ia melipat gandakan tenaga dalamnya.
Lawan tampak terkesiap. Kedua kakinya mulai
bergeser setindak demi setindak. Ketika ia menga-lirkan tenaga dalam kebagian
tangannya. Dua-
duanya tampak bergetar hebat. Buah durian se-
sekali terdorong ke kanan dan dilain waktu terdorong ke kiri.
"Kau akan mendapat oleh-oleh Pendekar
Bodoh! Hiya...!" Pemuda tidak dikenal tiba-tiba mendorongkan kedua tangan dengan
keras sekali. Pruuk! Dan durian itupun terbelah. Apa yang ke-
luar dari buah durian tersebut bukanlah buahnya
yang berwarna kuning. Melainkan binatang sebe-
sar jari kelingking berwarna hijau.
"Burung hijau?" seru Suro. Ia berjalan lebih mendekat ke arah serpihan kulit
durian ter- sebut. "Ternyata bukan burung, tetapi belalang!
Belalang congcorang!" kata pemuda itu sambil gelengkan kepala seakan tidak
percaya. "Bagaimana mungkin durian bisa berbuah belalang" Ini hal
yang mustahil!" Dalam keheranannya itu Suro segera menoleh ke arah pemuda tidak
dikenal. Te- tapi alangkah kagetnya pemuda ini karena pemu-
da yang menyerangnya tadi sekarang sudah tidak
berada di tempat. "Aneh, kemana perginya orang itu. Mustahil secepat itu ia
dapat menghilang"
Hantukah orang tadi?" Mendadak Suro merasa
tengkuknya menjadi dingin. Selagi ia terlolong
menyaksikan segala keganjilan yang terjadi. Pada waktu itu pula puluhan ekor
belalang congcorang
berterbangan dan menyerang pemuda ini tanpa
ampun. Suro mula-mula menganggap serangan itu
adalah suatu hal yang lumrah. Sehingga dengan
seenaknya ia menepis belalang-belalang itu. Akan tetapi alangkah kagetnya pemuda
ini karena belalang itu menghindar. Terbang berputar-putar, lalu
kedua tangannya yang panjang menyentik.
Stak! "Aih...! Keparat betul...!" maki Suro saat salah satu belalang itu menjentik
bagian telinganya.
Tampak jelas bagian jentikkan berubah merah.
Sementara serangan belalang semakin menghe-
bat. Suro mengerahkan segenap kemampuannya
untuk mengusir belalang-belalang tersebut. Seka-
li-kali tangannya menyambar. Terkadang kakinya
menendang, aneh sungguh aneh. Belalang itu da-
pat menghindarinya.
Sebaliknya serangan-serangan balik yang
dilakukan para congcorang itu hampir sulit di-
hindari oleh Suro. Padahal pemuda itu telah
mempergunakan jurus Kacau Balau, satu-
satunya jurus menghindar pada tingkatan yang
paling tinggi. Selagi Suro dibuat kalang kabut oleh se-
rangan congcorang yang cukup banyak itu. Maka
tanpa diduga-duga dari arah semak-semak mun-
cul seekor ular berwarna hijau sebesar lengan
orang dewasa dengan panjang hampir satu tom-
bak. Ular itu mendesis keras ketika melihat Pen-
dekar Blo'on. Secepat terbang ia meluncur dengan mulut terbuka siap mematuk kaki
Pendekar ini. Lagi-lagi terjadi keanehan. Saat melihat kehadiran ular hijau tersebut puluhan
congcorang berbalik
arah dan kini menyerbu ular tersebut.
Maka terjadilah pertempuran sengit antar
binatang. Suro terkesima melihat kejadian ini.
Mendapat keroyokan sedemikian rupa, kiranya
ular hijau tidak tinggal diam. Ia mematuk kian
kemari, kepalanya meluncur dengan ganas dan
cepat menyerang belalang-belalang yang berada di depannya. Hebatnya tidak satu
pun serangan ular
itu yang mencapai sasaran. Congcorang meng-
hindar dengan gerakan yang gesit atau membalas
serangan dengan tidak diduga-duga.
"Mereka ini seperti memamerkan jurus-
jurus baru padaku. Ular ini memiliki gerakan
yang sangat cepat dan berbahaya. Tetapi para
congcorang kelihatannya lebih cerdik dan cepat
berkelit. Ini adalah sebuah pemandangan sekali-
gus pelajaran sangat berguna! Eeh, lihat! Kaki
depan congcorang yang panjang lakukan gerakan
menggait dan menampar ke bagian mata. Yang di-
incarnya adalah bagian-bagian terlemah ular ini.
Aih... hiya... bagus! Kena, ya... pukul begitu. Wa-lah mata ular mulai
berdarah." seru Suro sambil jejingkrakan. "Wah... sekarang mereka menyerang
bagian ekor. Ular mulai menari-nari kesakitan.
Dan yang satu itu...?"" Suro mendelik sambil menahan nafas. Dilihatnya seekor


Pendekar Bloon 21 Tokoh Tokoh Kembar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

congcorang nekad
memasuki mulut ular itu. Jika ular katupkan mu-
lutnya pastilah tamat sang congcorang yang ma-
lang. Namun ternyata hanya sepersekian detik sa-
ja congcorang itu berada dalam mulut ular hijau.
Sebelum binatang yang sangat berbisa itu menga-
tupkan mulutnya, congcorang telah keluar kem-
bali. Ular hijau mendesis panjang, lidahnya terjulur dan tampak tercabik-cabik
disana sini. Darah menetes-netes, ternyata congcorang telah melukai
bagian dalam ular berbisa tersebut. Marah ber-
campur sakit berbaur menjadi satu. Ular tersebut menggelepar sambil meliukkan
kepalanya. Dari bagian lain congcorang terus melaku-
kan penyerangan secara beruntun. Tampak jelas
binatang itu mulai terdesak. Sementara congco-
rang yang lain mulai memusatkan penyerangan
ke bagian mata. Mendapat serangan bertubi-tubi
seperti itu, tampaknya ular hijau menjadi panik.
Apalagi saat itu salah satu mata ular tersebut sudah mulai berdarah. Suro
memperhatikan semua
yang terjadi dengan penuh rasa takjub. Sementa-
ra ular hijau itu akhirnya melarikan diri ke semak-semak yang berada tidak
begitu jauh dari si-
tu. Belalang congcorang yang jumlahnya cukup
banyak tersebut terbang melambung tinggi ke
angkasa. Semakin lama semakin meninggi, hing-
ga akhirnya hilang dari pandangan mata.
Suro gelengkan kepala beberapa kali. Ia
memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Tetapi
Si Bayang-Bayang tidak muncul juga.
"Orang itu aneh, dia yang memintaku ke
sini, tapi malah dia yang tidak mau menemuiku!"
pikir Suro dalam hati.
"Kau datang, ha ha ha...! Terimalah pe-
nyambutanku!" sebuah suara disertai tawa tiba-tiba saja mengiang di telinga
Pendekar Blo'on.
Orang ini langsung menoleh ke arah datangnya
suara. Ternyata tidak ada orang lain, kini yang
terlihat adalah sebuah pemandangan lain yang
mengancam jiwa Suro. Ketika itu terlihat batu se-
besar-besar kerbau meluncur deras ke arahnya.
"Muslihat edan apalagi ini namanya!
Hiih...!" Secepat kilat Pendekar Mandau Jantan melompat ke udara, selagi
tubuhnya masih mengambang di udara ia lepaskan pukulan berisi te-
naga dalam tinggi ke arah batu-batu tersebut.
Wuuuk! Wuut! Wuuut! Byar! Byar! Batu-batu itu berantakan menjadi serpi-
han-serpihan kecil. Tetapi yang datang kemudian
lebih dari tiga buah. Suro leletkan lidah seraya la-lu lepaskan pukulan beruntun
ke arah batu-batu
tersebut. Dua diantaranya dapat dihancurkan.
Tapi yang dua lagi meskipun terkena pukulan ti-
dak juga hancur. Malah sekarang batu terangkat
seakan ada kekuatan yang mengangkatnya. Batu
bergerak melayang menghantam kepala Pendekar
konyol. Pemuda ini dengan cepat berkelit ke
samping, kemudian gerakkan tangannya siap le-
paskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Ber-
sinar' Wuuesss!
Sinar biru redup bersemu merah langsung
melabrak batu tersebut. Hanya sedikit lagi batu
tersentuh pukulan Suro. Secara aneh batu itu te-
rangkat lebih ke atas. Pukulan Suro menghantam
pohon besar di belakangnya. Pohon itu hancur
terbakar. Tanpa perduli lagi ia melepaskan puku-
lan susulan. Wuuuk! Buuum! Pyaar! Batu-batu besar itupun hancur secara be-
runtun. Suro cepat tarik kedua tangannya sambil
menghela nafas.
"Pukulan yang kau miliki boleh juga. Tetapi itu belum cukup untuk menghadapi
muslihat ke-jahatan dunia yang luas ini!" Lagi-lagi terdengar sebuah suara
mengiang di telinganya.
"Kakek Bayang Bayang" Apakah kau akan
terus berbicara seperti setan gentayangan. Eng-
kau menahanku dengan suatu maksud yang ti-
dak kumengerti, engkau menyuruhku agar men-
jumpaimu dengan muslihat. Kau katakan hendak
menyampaikan sebuah rahasia besar! Pabila aku
datang memenuhi panggilanmu, kau hadapkan
aku dengan teka tekimu yang sulit kumengerti!
Aku heran dengan semua yang kau perlihatkan
padaku, atau apakah karena memang diriku ini
yang bodoh?" kata Suro sambil terbengong-
bengong. "Suro, kau memang bodoh. Jika tidak ma-
na mungkin Ratu Leak berhasil memperdayaimu.
Selain itu sifatmu juga agak mata keranjang, itu sifat buruk seorang laki-laki!
Yang lebih penting dari semua itu telah kuperlihatkan padamu sifat-sifat umum
manusia?" kata Si Bayang Bayang.
Tidak lama kemudian tanpa disadari oleh Pende-
kar Blo'on di belakangnya muncul seorang kakek
tua berpakaian hitam. Tubuh kurus kering, tu-
lang belulangnya bertonjolan. Sedangkan tatapan
matanya tajam menusuk. Adalah sebuah kejutan
jika orang seperti Pendekar Blo'on yang memiliki kesaktian dan indera
pendengaran tajam tidak
dapat mengetahui kehadiran orang ini.
"Berbaliklah kau! Tidak sepantasnya me-
munggungi orang tua bangka sepertiku!"
"Eeh...!" Cepat sekali Suro membalikkan badannya. Ternyata di belakangnya tampak
seorang kakek tua renta bertubuh kurus kering ba-
gaikan hanya tinggal kulit pembalut tulang saja.
Tatapan mata kakek ini tampak mencorong tajam.
"Aku kembali ingin bertanya, sifat-sifat manusia mana yang telah kau perlihatkan
padaku wahai kakek kurus?" tanya Pendekar Blo'on setelah merasa yakin betul bahwa yang datang
adalah Si Bayang-Bayang alias Tangan Biru.
"Bicara dengan kedua gurumu kau boleh
mencla-mencle (bercanda). Tetapi dengan aku kau
jangan sekali-kali bercanda. Salah-salah aku bisa membunuhmu!" dengus laki-laki
renta di depan Suro. "Apakah aku harus menghormat padamu, kakek kurus! Lalu
bicara sambil tundukkan kepala?" sahut Suro sambil garuk-garuk kepala. Bibirnya
tampak menyunggingkan senyum. Rupanya
Si Tangan Biru memang tidak mau diajak bercan-
da. Tiba-tiba ia tunjukkan salah satu kehebatan
yang dimilikinya. Si kakek gerakkan kepalanya
perlahan saja. Mendadak Suro merasa ada se-
buah kekuatan yang tidak terlihat telah membetot bibir dan kedua matanya. Pemuda
ini tersungkur ke depan. Bruuk! "Waduh...!"
Sambil mengerang kesakitan Pendekar
Blo'on segera bangkit. Baru saja berdiri sebuah tendangan keras menghantam
dadanya. Untung
pemuda itu cepat menghindar.
Wuuut! Semula Suro merasa dapat menghindari
tendangan Si Tangan Biru. Tetapi pada kenya-
taannya pinggang pemuda itu masih kena dihan-
tam kaki lawan. Untuk kedua kalinya Pendekar
Blo'on jatuh tersungkur. Dalam hati ia bertanya-
tanya. Sungguh kakek tua yang ujudnya hanya
bagai bayang-bayang ini mempunyai berbagai
keanehan. Ia tidak tahu seberapa tinggi kesaktian yang dimilikinya. Satu hal
yang mengherankan-nya, mengapa ia masih kena dihajar lawan. Pa-
dahal pemuda itu telah berusaha mengelakkan-
nya sedapat yang ia mampu.
"Suro Blondo!" Tangan Biru tiba-tiba saja menghentikan gerakan tubuhnya
sekaligus berseru. "Sekarang kau harus menyerangku dengan
mempergunakan seluruh jurus-jurus silat yang
kau miliki!" perintah si kakek.
"Mengapa harus menyerangmu" Sedang-
kan engkau adalah orang yang telah menolongku.
Mana aku berani, sedangkan di antara kita tidak
ada persoalan apa-apa!" jawab si pemuda.
"Kau berani membantah perintahku" Pa-
dahal gurumu sudah menyetujui hal ini?"
Suro melengak kaget. Jelas ia tidak percaya
bahwa gurunya membenarkan penyerangan ter-
hadap orang yang telah memberikan pertolongan
padanya. Kalau bukan gurunya yang gila, tentu
kakek yang berada di depannya inilah yang telah
sinting. "Bagaimana aku dapat melakukannya"
Dunia akan mentertawaiku bila aku sampai me-
nyerangmu. Aku bisa dianggap sebagai orang gila
yang tidak tahu budi!" bantah Pendekar Blo'on sambil bersungut-sungut.
"Biarkan mereka menganggapmu sebagai
orang gila yang tidak tahu membalas guna. Perin-
tahku padamu adalah untuk menyerangku sece-
patnya jika kau benar-benar manusia yang tahu
berterima kasih!" dengus Si Bayang-Bayang.
Penegasan si kakek itu jelas-jelas membuat
Suro Blondo tercengang-cengang. Bagaimana se-
buah penyerangan dianggap sebagai rasa terima
kasih! Suro mulai berpikir mungkin saja kakek
renta itu memang orang sinting yang lebih gila
dari gurunya Penghulu Siluman Kera Putih.
"Rasanya daripada dia murka padaku. Ku-
rasa tidak ada salahnya jika aku layani permin-
taannya. Tetapi...!" Suro ragu-ragu sejenak. Melihat tubuh kurus kering
kerontang itu ia jadi tidak tega. "Aku takut pukulanku membuat tulang
belulangnya remuk. Mana kecil-kecil begitu?" batin Suro. Kakek renta yang
berdiri di depannya tersenyum penuh kearifan. Seakan ia mengetahui
apa yang ada di dalam benak pemuda itu.
"Sesuatu yang kelihatannya lemah, jangan
kau pandang rendah, Pendekar Bodoh! Pandan-
gan matamu terkadang menipu, cepat kau laku-
kan?" desak Si Bayang-Bayang membuat Pende-
kar Blo'on semakin tidak mengerti.
"Orang tua, kau terlalu memaksaku! Jika
terjadi apa-apa denganmu janganlah kau salah-
kan aku!" kata Suro, suaranya pelan namun jelas.
"Ha ha ha...! Perlu kau ingat adalah dua
pemuda yang menjumpaimu pertama tadi. Aku
telah memberikan dua perlambang kepadamu.
Yang pertama keangkuhan dan kebijaksanaan.
Dan kau juga harus ingat tentang ular dan con-
gcorang!" Pendekar Blo'on merasa semakin tidak
mengerti saja dengan maksud kata-kata Si Tan-
gan Biru. Walau pun begitu ia tetap anggukkan
kepala. "Hati-hati orang tua?" kata pemuda itu seakan seperti ucapan seorang
guru kepada muridnya. Yang diajak bicara hanya tersenyum. Suro mulai mengambil
ancang-ancang untuk melakukan penyerangan. Tetapi kelihatannya ia begitu
sungkan untuk menghadapi kakek tua renta ini.
Sehingga untuk yang kesekian kalinya Si Tangan
Biru memperingatkan.
"Serang aku dengan segenap kemampuan
yang kau miliki!"
"Baik! Hia...!"
Pendekar Blo'on tiba-tiba membentak ga-
rang, sedangkan tubuhnya langsung melesat ke
arah kakek renta tersebut. Melihat serangan yang cepat itu Si Bayang Bayang
geser kakinya, kemudian kaki kanan diangkatnya tinggi-tinggi. Dilihat sepintas
lalu kakek tua itu seperti sedang melakukan gerakan yang sangat mirip dengan
congco- rang. TIGA Masing-masing jemari tangannya tersusun
lancip. Lalu dengan cepat tangan-tangannya
menggait ke depan. Suro terperangah, jika Si
Tangan biru ini mau mencelakainya, tentu sejak
tadi ia sudah terpelanting.
"Huh, seranganmu lembek seperti serangan
banci! Hayo kerahkan jurus-jurusmu yang paling
hebat!" perintah Si Tangan Biru masih tetap tidak bergeming dari tempatnya.
"Serangan yang kulakukan tadi mengapa
tidak bisa menyentuh tubuhnya" Aku sendiri
hampir dibuat konyol jika ia mau! Huh... aku ti-
dak boleh main-main. Mulai sekarang harus ku-
kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'" batin Suro di hati. Berpikir sampai ke
situ sekejap kemudian pemuda ini mulai membangun serangan
kembali. Zeeb! Jeb! Jeb!
Wuuk! Wuuk! "Hiyaaa...!"
Sekonyong-konyong Suro melangkah den-
gan gerakan seperti tersaruk-saruk. Sedangkan
tangannya tidak henti menggaruk sana sini sam-
bil menjambret ke kanan atau ke kiri. Tidak ja-
rang tangan itu menghantam ke depan. Serangan
yang dilakukan Suro sangat cepat luar biasa.
Namun hingga sejauh itu Si Tangan Biru dengan
mudah selalu dapat menghindar, Pendekar Blo'on
benar-benar dibuat penasaran berat. Ia terus me-
rubah taktik serangan dari jurus yang satu ke jurus yang lainnya. Sampai pada
akhirnya Suro Blondo mengerahkan jurus terdahsyat 'Neraka
Pembasmi Iblis'.
Kali ini Si Bayang Bayang agak terkesiap.
Lalu terdengar seruannya. "Pendekar Bodoh! Serangan yang ini kulihat baru ada
bobotnya. Hayo, serang, pukul! Dan begini caranya...!" Si Tangan Biru lalu


Pendekar Bloon 21 Tokoh Tokoh Kembar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sentakkan tangan ke depan dengan jari
masih merapat satu sama lain.
Melihat serangan balik yang tidak disang-
ka-sangka ini, Pendekar Blo'on segera bersalto ke belakang. Walau pun pemuda ini
sudah melakukan gerakan yang dianggapnya sangat cepat seka-
li. Akan tetapi ia masih merasa ada angin dingin mendesir menghantam bagian
perutnya. Cuus! Jluugkh...! Walaupun dapat menjejakkan kedua ka-
kinya, namun tubuhnya agak goyah. Pemuda itu
terkesiap, ia terperangah ketika melihat ke bagian perutnya. Ternyata bajunya
ada yang bolong di
dua tempat. Lubang itu seakan-akan terkena api.
Padahal jika lebih diteliti, sebenarnya lubang-
lubang itu tercipta akibat hantaman lima jari Si Tangan Biru yang disatukan.
"Dia menyerangku dengan jurus Congco-
rang! Jika kakek kurus kering ini mau tentu isi
perut dan isi dadaku sudah berbusaian! Hiih...
mengerikan sekali!" pikir Pendekar Blo'on. Tanpa sadar tiba-tiba saja pemuda ini
melompat mundur. "Sudah kau lihat, Suro! Tidak satupun seranganmu yang ganas itu
dapat menyentuhku!
Kenyataan pahit yang kau hadapi ini bukan be-
rarti gurumu salah menurunkan jurus-jurus an-
dalan! Apa yang kau perlihatkan padaku, semua-
nya sudah sangat bagus, namun semua itu tidak
cukup untuk menghadapi Ratu Leak dan salah
satu sahabat lamaku Iblis Terlaknat Hantu Ma-
lam!" ujar Si Tangan Biru ketus.
"Ia mengatakan Iblis Terlaknat sahabatnya,
tetapi mengapa tampaknya dia seperti menyim-
pan permusuhan?" kata Suro dalam hati. "Yang terpenting bagaimana caranya
menghadapi Ratu
Leak. Manusia jahanam yang satu itu nyaris
membuat aku celaka dan pula berniat membunuh
guruku!" "Ada yang kau pikirkan, Suro?" tanya Si Tangan Biru. Seraya duduk di atas
sehelai rumput hijau. Lagi-lagi Suro dibuat tercengang. Kare-na rumput yang
diduduki si kakek sama sekali ti-
dak patah apalagi tumbang. Seakan tubuh Tan-
gan Biru tidak mempunyai bobot sama sekali.
"Beberapa hal yang ingin kutanyakan pa-
damu orang tua mulia"!" ujar Suro, seraya menggaruk-garuk kepalanya. "Ratu Leak
telah membuat kesusahan bagi berbagai pihak. Kutuknya
terhadap penduduk negeri Sange hingga saat ini
belum berakhir. Menurutmu apakah aku tidak
sanggup menghadapi perempuan itu?"
Si Tangan biru manusia yang ujudnya
hanya seperti bayang-bayang ini tersenyum.
"Ratu Leak mustahil dapat dihadapi oleh
tokoh sakti manapun. Gurumu Penghulu Siluman
Kera Putih aku jamin tidak dapat mengalahkan-
nya jika hanya mengandalkan segala kesaktian
yang dimilikinya. Entah jika kakekmu Malaikat
Berambut Api. Ratu Leak sebenarnya bukan ma-
nusia super tanpa kelemahan. Semua kesaktian
yang dimiliki manusia mempunyai titik kelema-
hannya. Tetapi untuk menjatuhkan Ratu Leak
agar tidak menimbulkan banyak korban. Kita ha-
rus mengetahui di mana titik kelemahannya. Apa-
lagi mengingat Batu Lahat Bakutuk hingga saat
ini masih berada di tangannya. Dia bisa berbuat
apa saja berkat bantuan benda terlaknat itu!"
"Batu Lahat Bakutuk kudengar milik Da-
tuk Nan Gadang Paluih, apakah benar begitu
keadaan yang sebenarnya?" tanya Suro serius.
"Ya... Di tanah Jawa ini tidak ada batu se-
perti itu. Batu Lahat Bakutuk memang milik Da-
tuk Nan Gadang Paluih. Saat ini pun firasatku
mengatakan batu tersebut telah menunjukkan
kharismanya." jelas Si Tangan Biru.
"Lalu siapa yang dapat menghentikan Ratu
Leak?" "Yang dapat menghentikannya tentu kau.
Tetapi kau harus menguasai jurus-jurus Congco-
rang terlebih dahulu!"
"Hal itu akan memakan waktu yang lama"!"
tegas Pendekar Blo'on seakan tidak sabar lagi.
Si Bayang-Bayang gelengkan kepalanya te-
gas. "Tidak, jika kau berlatih serius mungkin hanya beberapa pekan saja kau
sudah dapat menguasainya!" jelas Si Tangan Biru.
"Lalu jika aku telah dapat menguasai ju-
rus-jurus itu. Apakah berarti aku juga harus
menghadapi Iblis Terlaknat Hantu Malam?"
"Ha ha ha...!" Si Tangan Biru tertawa membahak, namun kemudian katubkan bibirnya
yang tertutup kumis tipis berwarna putih. "Tampangmu bodoh, ternyata otakmu cukup
cerdik juga. Memang di suatu saat kelak kau mau tidak mau,
suka tidak suka akan bertemu dengan Iblis Ter-
laknat Hantu Malam."
"Apakah dia musuhmu?" tanya Suro den-
gan tatapan penuh selidik.
"Iblis Terlaknat Hantu Malam dulunya ada-
lah sahabatku! Tetapi beberapa tahun belakangan
ini ia bersekutu dengan Manusia Laba-Laba!" Si Tangan Biru hentikan ucapannya
sejenak. Wajahnya mendadak berubah murung dan sungguh
tidak sedap dipandang. "Yang memutuskan per-sahabatan kami bukan saja karena ia
pengen se- kutu dengan Manusia Laba-Laba, lebih kurang
ajar lagi ia bermaksud mengambil muridku Bunga
Bidadari menjadi isterinya!"
"Kalau kakek tidak suka Iblis Terlaknat
menjadi menantu berarti Iblis Terlaknat bukan
manusia baik-baik!"
"Kau betul. Selain itu ia juga sudah tua,
umurnya bahkan lebih tua dariku!" jelas Si Tangan biru. Kening Suro berkerut
dalam, usia kakek di depannya konon hampir tiga ratus lima puluh
tahun. Berarti umur Iblis Terlaknat mungkin
mencapai empat ratus tahun.
"Mengapa kakek tidak mau menghadapinya
langsung" Bukankah kakek paling tidak sudah
mengetahui sampai dimana kehebatan orang itu?"
desak Suro ingin tahu.
"Pendekar Bodoh, aku suka lagak bicaramu
yang ceplas ceplos. Apa yang kau katakan itu
memang benar. Tetapi ada satu rahasia lagi yang
belum bisa kukatakan padamu hingga saat ini.
Yang harus kau ingat, mulai besok kau harus
mempelajari jurus-jurus Congcorang sebagai per-
siapan guna menghadapi Ratu Leak!" tegas Si Tangan Biru.
"Huh, siapa sudi menjadi muridmu! Jika
aku ingin tambah ilmu tambah pengalaman, ten-
tu aku harus minta pendapat kakekku Malaikat
Berambut Api!" dengus si pemuda.
"Bocah goblok! Apa kau anggap kakekmu
yang banyak pacar dimasa mudanya itu adalah
satu-satunya manusia yang paling sakti di dunia
ini?" cibir Si Bayang Bayang.
Jika bukan tua renta ini yang bicara begi-
tu, seandainya saja Suro belum tahu kehebatan
yang dimiliki oleh Si Tangan Biru. Tentu kakek
tua ini sudah di dampratnya.
"Sekali lagi kakek bicara begitu aku akan
minggat dari sini!" ancam Suro Blondo.
"Hemm, ancaman bagiku tidak berguna.
Kau mau belajar denganku, bukan berarti kau
harus mengangkatku jadi gurumu! Aku bukan
gurumu, aku hanya orang yang mau mendidikmu
menjadi manusia lebih berguna dan punya ke-
pandaian lebih berbobot! Ackh... sudahlah! Nanti sore kau harus mempelajari
jurus-jurus Congcorang yang telah kau ketahui kehebatannya! Seka-
rang kembalilah ke pondok! Jika kau membutuh-
kan sesuatu, muridku Bunga Seloka pasti mau
menyediakannya!"
Suro garuk-garuk kepala sambil nyengir
ketika diingatkan tentang Bunga Seloka. Si cantik berkulit putih bermata sipit.
"Kurasa aku memang betah tinggal di sini,
apalagi mengingat murid-muridmu cantik-cantik,
kek"! Ha ha ha! Kurasa muridmu yang bernama
Bunga Bidadari memiliki wajah secantik bidada-
ri!" "Jangan kau berani kurang ajar pada me-
reka jika tidak ingin kubuat mampus!" ancam Si Tangan Biru. Suro menanggapi
ucapan Si Bayang
Bayang dengan tawa terkekeh-kekeh.
"Jangan khawatir, kek. Aku mana berani
bertindak kurang ajar, apalagi berbuat macam-
macam. Sedangkan satu macam saja aku tidak
berani, terkecuali mereka sendiri yang mau, tentu saja aku tidak punya kuasa
menolak rejeki bukan"!" sahut Pendekar Blo'on. Seraya tanpa
menghiraukan Si Tangan Biru yang melotot pa-
danya segera berlalu meninggalkan tempat per-
temuan. *** Manusia Topeng dan Mata Iblis duduk
mencangkung menunggu kedatangan Penghulu
Siluman Kera Putih yang telah sama kita ketahui
pergi ke Lembah Nirwana (dalam episode Perintah
Dari Alam Gaib). Setelah di tunggu-tunggu sekitar lama, ternyata Barata Surya
tidak muncul juga.
Dalam pada itu tiba-tiba saja Manusia Topeng
melihat sebuah anak panah meluncur deras ke
bagian punggung Mata Iblis yang duduk di de-
pannya. Laksana kilat Manusia Topeng mendo-
rong Mata Iblis, hingga membuat kakek bodoh itu
terguling-guling sambil memaki. Manusia Topeng
tidak perduli. Tangan kanan digerakkan ke atas
dan.... "Haaap!"
Teeep! Anak panah tersebut kena disambar oleh
Manusia Topeng. Mata Iblis yang hampir memaki
lagi terpaksa katupkan bibirnya ketika melihat
anak panah berada di tangan Manusia Topeng.
"Pembokong tengik! Siapa setannya yang
berani macam-macam pada kita?" dengus Mata
Iblis. Seraya langsung memandang ke arah da-
tangnya anak panah tadi. Di saat itu ia melihat
semak belukar di belakang mereka bergerak-
gerak. Tanpa menunggu lagi, Mata Iblis langsung
kedipkan matanya. Dua larik sinar merah lang-
sung meluncur menghantam semak-semak yang
bergoyang. Buum! Buum! Tidak ada reaksi apa-apa. Sepi, Mata Iblis
ternyata tidak puas. Sekali ia berkelebat, di lain waktu ia telah berada di
semak-semak yang berantakan terhantam sinar matanya. Mata Iblis
langsung melakukan penelitian, setelah berputar-
putar di tempat itu sejauh lima batang tombak.
Ternyata ia tidak melihat siapapun di sana.
"Sial! Pengecut itu melarikan diri!" gerutu si kakek buta. Namun tiba-tiba saja
ia kerutkan keningnya. Jika seseorang yang membokongnya da-
pat pergi secepat itu. Tentu ia bukan manusia
sembarangan" Karena tidak menemukan apa
yang dicarinya. Sambil bersungut-sungut ia kem-
bali menemui Manusia Topeng. Ternyata kakek
itu sambil uncang-uncang kaki sudah membolak-
balik pesan yang terselip di bagian ujung anak
panah. "Apa yang kau baca, sahabatku?" tanya Mata Iblis seakan matanya yang buta
itu awas seperti mata manusia normal.
"Kau dengarlah pesan gila ini"!" ujar Manusia Topeng. Dengan teliti kakek yang
tidak per- nah menanggalkan topengnya ini mulai membaca
dengan suara cukup keras.
Para tua bangka gila!
Kalian berdua adalah manusia-manusia
busuk yang selalu berkedok dengan topeng kebaikan. Tidak dinyana ternyata kalian
adalah kaki tangan Ratu Leak! Kalian manusia rendah, aku menantang kalian untuk
bertarung sampai di antara kita ada yang mampus! Atau kalian adalah manusia
pengecut yang tidak punya nyali"
Tertanda Malaikat Berambut Api
Manusia Topeng terdiam untuk sesaat la-
manya. Wajah di balik topeng itu tampak mene-
gang, kedua bibirnya mengatup rapat. Mata Iblis
yang berdiri di depannya dapat merasakan hawa
amarah dalam diri sahabat barunya itu.
"Apa bunyi pesan itu, sahabatku?"" tanya Mata Iblis tidak sabar.
"Malaikat Berambut Api!" Manusia Topeng mendesis. Kata-katanya seakan ditujukan
pada dirinya sendiri. "Malaikat Pencatat ada menyebut tentang orang yang satu ini.
Dia tidak lain adalah gurunya Pendekar Blo'on. Mengapa ia begitu berani melempar
fitnah keji pada kita" Padahal di-
antara kita dan dia tidak pernah terjadi silang
sengketa apapun"!"
"Sahabat, kau belum mengatakan pesan
apa yang diberikannya pada kita!"
"Dia menuduh kita telah bersekutu dengan
Ratu Leak. Dia juga menantang kita bertarung se-
cara jantan. Huh... apa pendapatmu?" tanya Manusia Topeng. Mata Iblis rasanya
memang pernah mendengar nama besar tokoh yang tinggal di Pu-
lau Seribu Satu Malam itu. Konon selain sakti ia terkenal arif, tetapi mengapa
sekarang malah berani melakukan tuduhan membabi buta" Musta-
hil tokoh yang memiliki pengalaman luas mau
bertindak segegabah itu.
"Kita harus menyelidik dulu. Jangan-
jangan bukan dia yang membuat pesan itu?" ujar Mata Iblis.
"Weh apalagi yang harus diragukan" Bisa


Pendekar Bloon 21 Tokoh Tokoh Kembar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jadi ia telah termakan hasutan dari orang lain.
Bukankah muridnya hampir celaka di tangan pe-
rempuan bangsat itu?"
"Sahabatku Manusia Topeng! Aku merasa
sekarang sedang terjadi adu domba di dunia per-
silatan. Jangan-jangan Ratu Leak sedang menga-
tur siasat untuk memecah belah golongan putih
agar dengan mudah ia dapat berbuat apa saja
terhadap orang orang yang tidak disenangi. Huk
huk huk...! Malangnya nasibku jika tidak sempat
membalas dendam lama. Untuk lebih jelasnya
masalah apa yang terjadi antara Mata Iblis den-
gan Ratu Leak (dalam episode Perintah Dari Alam
Gaib). Manusia Topeng anggukkan kepala. "Ucapanmu ada benarnya juga. Baiklah,
sekarang kita harus menyelidik. Jika betul ucapanmu maka Ra-
tu Leak tetap menjadi incaran pertama kita. Tapi jika ternyata Malaikat Berambut
Api yang menantang dan memfitnahku, aku akan menempurnya
sampai salah seorang diantara kita ada yang ma-
ti!" dengus Manusia Topeng.
"Baiknya sekarang kita berangkat, kurasa
ia menunggu kita tidak jauh dari sini!" ajak Mata Iblis sudah tidak sabar.
Manusia Topeng langsung menyetujui,
akan tetapi ia hentikan langkah lagi ketika teringat Penghulu Siluman Kera Putih
yang pergi ke Lembah Nirwana belum kembali.
"Tunggu!!" sera Manusia Topeng.
"Ada apa lagi?" tanya Mata Iblis, seraya langsung menghentikan langkahnya.
"Barata Surya belum lagi muncul, mengapa
kita meninggalkannya?"
"Huh, Barata Surya juga gurunya Pendekar
Blo'on. Jika kita tunjukkan surat ini padanya dan mengatakan niat kita, bukan
mustahil dia memi-hak pada Malaikat Berambut Api. Aku tidak suka
hal ini terjadi, lebih baik secepatnya kita berangkat. Jangan ditunda-tunda
lagi!" "Baiklah, jika kau sudah berkata begitu,
aku setuju saja, ha ha ha...!" sambut Manusia Topeng sambil tertawa-tawa.
EMPAT Belum lama Manusia Topeng dan Mata Ib-
lis meninggalkan tepian Lembah Nirwana itu.
Muncul seorang kakek tua berpakaian merah be-
rambut merah. Di sebelahnya tampak seorang
gadis cantik luar biasa berpakaian putih beram-
but di sanggul. Mereka berhenti tepat di mana
Manusia Topeng dan Mata Iblis melepas lelah.
"Bunga Bidadari, sekarang sudah sampai
di Lembah Nirwana. Aku cuma bisa mengantarmu
di sini saja. Sampaikan pesan salamku pada gu-
rumu!" kata kakek rambut merah yang tiada lain adalah Malaikat Berambut Api.
Si cantik angkat wajahnya, matanya yang
indah berbulu lentik pandangi kakek rambut me-
rah tersebut "Mengapa" Sebaiknya kakek pulang bersamaku untuk menjumpai guru Si
Tangan Bi-ru. Ia pasti merasa senang bertemu denganmu.
Lagipula muridmu berada di sana, apakah kakek
tidak ingin melihatnya?" ujar si gadis.
"Jika keadaan tidak mendesak sekali, se-
benarnya aku ingin melihat bagaimana perkem-
bangan dan keadaan murid cucuku. Tetapi aku
harus mencari titik terang siapa sebenarnya Ratu Leak sehingga mati-matian
berusaha mencelakai
kami melalui tangan cucuku Suro Blondo!"
"Kalau pun begitu bukankah lebih baik ka-
kek tunggu dulu kawan kakek yang satunya lagi.
Kukira ia masih berada di lembah!"
"Kawan yang mana" Orang tua penuh bulu
yang seperti siluman monyet itukah yang kau
maksudkan?" tanya Dewana.
"Ya... orang itu!"
"Ha ha ha...! Tingkahnya membuat aku
terkadang muak padanya. Ah, sudahlah aku tidak
bisa menunggu lagi karena waktuku sangat sem-
pit. Aku titip senjata milik cucuku ini. Jika kau sampai di Lembah itu,
sampaikan senjata ini pa-da Suro!" pesan kakek tua tersebut. Seraya menyerahkan
Mandau berikut rangkanya pada Bun-
ga Bidadari. Gadis itu menerimanya dan langsung
menyelipkan senjata itu di belakang pinggangnya.
"Baiklah, sekarang aku pergi dulu!" kata Malaikat Berambut Api. Belum lagi Bunga
Bidadari sempat menanggapi. Tiba-tiba saja si kakek
memungut sesuatu tidak jauh dari tempat ia ber-
diri. Orang tua ini tanpa menghiraukan Bunga
langsung membaca lipatan kulit yang ternyata be-
risi pesan tersebut. Wajah Malaikat Berambut Api mendadak saja berubah tegang.
"Celaka! Ini benar-benar fitnah yang keji!
Hoh... mereka harus diberi penjelasan jika tidak ingin terjadi bencana besar!"
desisnya. Seraya kemudian meninggalkan Bunga Bidadari yang
terbengong-bengong tidak mengerti.
"Apa yang telah terjadi?" batin Bunga. "Aku tidak sempat bertanya apa isi pesan
yang ditemu-kannya secara tidak sengaja itu!"
Selagi Bunga Bidadari sedang dilanda ke-
bimbangan itu. Tiba-tiba pula muncul seorang
kakek tua berpakaian putih berambut serta ber-
cambang dan jenggot berwarna putih.
"Sudah kucari kemana-mana, aku tidak
menemukan mereka-mereka itu! Tadinya Manusia
Topeng menunggu di sini, kok sekarang pergi en-
tah kemana!" Barata Surya mengomel sendiri. Tetapi kemudian wajahnya tampak
menjadi cerah ketika dilihatnya ada seorang gadis yang tidak ia kenal memperhatikan dirinya.
Barata Surya datang menghampiri.
"Bocah ayu, apakah kau melihat ada seo-
rang kakek berambut merah disini?" tanya Barata Surya. "Kakek siapa?"
"Aku Penghulu Siluman, anu... gurunya
Pendekar Blo'on...!" jelas si kakek sambil tersenyum-senyum.
"Oh begitu. Memang aku tadi bersama ka-
kek Dewana, tetapi sekarang ia telah pergi. Tam-
paknya ia sangat tergesa-gesa setelah menemu-
kan sebuah pesan yang aku tidak tahu apa bu-
nyinya!" kata Bunga Bidadari.
"Hmm begitu, ya...?" Barata Surya tampak berpikir-pikir. "Kurasa ada sesuatu
yang sangat penting. Aku pun tidak mungkin berdiam diri.
Bocah ayu terima kasih atas keteranganmu, sete-
lah mendengar penjelasanmu aku jadi mengerti
bahwa kau pasti muridnya Si Tangan Biru! Jika
kau kembali ke Lembah sampaikan salamku pada
gurumu dan tolong kau awasi muridku yang ra-
da-rada miring itu!" Setelah berkata begitu Barata Surya langsung berkelebat
pergi meninggalkan
Bunga Bidadari. Rupanya Barata Surya merasa-
kan adanya suatu firasat yang tidak baik. Sehing-ga ia cepat menyusul kakek
Dewana. *** Gadis berkerudung putih itu tokh akhirnya
merasa kelelahan setelah mencari kian kemari.
Kini ia duduk di atas pohon batu berdaun rin-
dang. Untuk diketahui sampai saat itu seluruh
daerah Sange masih belum terbebas dari penga-
ruh kutukan Ratu Leak.
Sudah sekian lama ia mencari-cari Pende-
kar Blo'on, tetapi hingga sekarang ia tidak tahu bagaimana dan di mana pemuda
itu berada. Apakah Suro masih ditawan oleh Ratu Leak" Cela-
kanya Ratu Leak sendiri sangat sulit ditemukan-
nya. "Rasanya daripada Suro yang celaka, masih lebih baik aku saja. Ini semua
gara-gara aku!"
batin Dewi Kerudung Putih seakan menyesali diri.
Lalu ia termenung-menung seakan sedang beru-
saha memecahkan masalah yang tengah dihada-
pinya. Rasanya memang sulit untuk melacak di
mana Suro atau Ratu Leak berada. Tiba-tiba sa-
ja.... Krosak! "Eeh...!" Dewi Kerudung Putih tersentak kaget. Reflek ia memandang ke arah suara
men- curigakan tadi. Dari tempat ia duduk memang
agak leluasa untuk memantau keadaan di ba-
wahnya. Ternyata yang datang di tempat itu tidak lain adalah seorang kakek tua
berambut merah.
Ia sendiri memang belum pernah melihat atau
bertemu dengan orang ini. Tetapi melihat caranya berlari tadi, pastilah ia
memiliki kepandaian tinggi.
Belum begitu lama kakek rambut merah
berada di situ. Tiba-tiba saja dari arah yang sama muncul dua orang laki-laki,
yang satu bertubuh
pendek memakai topeng. Dewi mengenal kakek
ini, sedangkan yang satunya lagi yang berbadan
tegap tinggi berkulit hitam dan buta, si gadis sa-ma sekali tidak mengenalnya.
Begitu mereka sal-
ing berhadapan, kakek yang dikenalnya sebagai
Manusia Topeng langsung mendamprat. Namun
belum sempat ia bicara, Mata Iblis sudah menda-
hului. "Kau tinggalkan pesan pada kami! Aku tidak mengerti mengapa manusia
sepertimu begitu
tega menuduh kami telah bersekutu dengan Ratu
Leak?" dengus si kakek tampak tidak senang.
"Hei, kau orang tua buta. Apa maksud bi-
caramu?" tanya kakek rambut merah sinis.
Manusia Topeng maju selangkah. Ia mem-
perhatikan kakek di depannya seakan ingin me-
mastikan agar tidak salah bicara. Ternyata ciri-
ciri kakek ini sama seperti yang dikatakan Malaikat Pencatat.
"Bukankah kau orangnya yang bernama
Dewana?" tanya Manusia Topeng menyebut langsung nama Malaikat Berambut Api. Dari
tempat persembunyiannya, Dewi melihat betapa kakek
rambut merah seakan kurang menanggapi, sea-
kan orang merasa asing dengan nama itu.
"Aku Malaikat Berambut Api!" sahut kakek rambut merah.
"Rambut Api atau Dewana bagi kami sama
saja. Kau mengatakan kami bersekutu dengan
Ratu Leak, padahal kau mungkin mengetahui
bahwa kami ini adalah orang-orang dari golongan
lurus!" Mata Iblis ikut bicara.
"Kenyataannya mengatakan begitu, kalian
adalah para sekutu Ratu Leak!" sahut Malaikat Berambut Api sambil tersenyum
mengejek. Manusia Topeng kerutkan keningnya. Dulu
ia mendengar Dewana adalah manusia sakti dan
termasuk salah satu tokoh yang disegani dan se-
lalu menjaga ucapannya dari kata-kata yang tidak berguna. Kenyataannya sekarang
mengapa ia bersikap jor-joran seperti itu"
"Bicaramu sangat keterlaluan sekali, sobat!
Aku Manusia Topeng, umurku barangkali hampir
tiga kali lipat usiamu! Kalaulah benar tuduhanmu itu, tolong kau tunjukkan pada
kami bukti-bukti
sebagai tanda kebenaran dari semua tuduhan-
mu!!" kata Manusia Topeng.
"Untuk menunjukkan bukti sebenarnya
bukan sesuatu yang sulit. Tetapi apa gunanya.
Bagiku dari pada bersusah payah mengumpulkan
bukti, lebih baik menempur kalian sampai mati!"
dengus kakek yang mengaku sebagai Malaikat
Berambut Api tersebut.
Jawabannya ini tentu membuat Mata Iblis
menjadi marah besar. Ia hampir saja menerjang
Malaikat Berambut Api jika tidak cepat-cepat di
cegah oleh Manusia Topeng.
"Jangan halang-halangi aku!" dengus Mata Iblis. "Jangan gegabah! Kau lihatlah!"
kata Manusia Topeng melalui ilmu mengirimkan suara.
"Kau lihatlah matanya, sama sekali mata itu tidak menunjukkan tanda-tanda
sebagai orang yang
berbudi! Caranya memperhatikan kita hampir
sama dengan cara-cara iblis! Aku curiga jangan-
jangan ada apa-apanya di balik semua ini!"
"Entahlah, mataku buta. Mana mungkin
aku bisa meneliti hingga sejauh itu!" teriak Si Ma-ta Iblis. Tiba-tiba saja ia
bicara dengan suara lan-tang. "Kau boleh bicara apa saja. Tapi ketahuilah, aku
dan sahabat Manusia Topeng sama sekali tidak punya hubungan apapun dengan Ratu
Leak! Sebagai kebenaran atas ucapanku ini aku rela
bertarung sampai mati denganmu jika kau men-
ganggap dirimu orang yang benar!" teriak Mata Iblis.
"Hhh, bicaramu lancang sekali. Majulah
kalian berdua!" tantang laki-laki berbaju merah yang mengaku dirinya sebagai
Malaikat Berambut
Api. "Sahabat Manusia Topeng tidak usah turun tangan, biarkan aku yang akan
memberi pelaja-
ran pada kurcaci tengik ini!" sergah Mata Iblis.
Dan baru saja ia berhenti bicara, tiba-tiba saja Malaikat Berambut Api telah
melepaskan pukulan
dahsyat ke arah Mata Iblis dan Manusia Topeng.
Cepat sekali Manusia Topeng gerakkan ketapel
Sakti di dadanya.
Wuuut! Buuum! Terdengar suara ledakan menggelegar. Ma-
laikat Berambut Api tampak terkesiap. Ia terdo-
rong mundur, tapi kemudian gelengkan kepala
dan kini menerjang ke depan sambil melancarkan
jurus-jurus andalannya. Maka terjadilah pertem-
puran sengit. Masing-masing lawan kelihatannya
memang ingin menjatuhkan musuhnya dalam
waktu yang singkat.
"Shaaa...!"
Tinju Malaikat Berambut Api menderu. Se-
rangan itu jelas mengandung tenaga dalam tinggi
dan terarah tepat di bagian tenggorokan. Mata iblis walau pun tidak melihat
tetapi dapat merasa-
kan serangan itu. Ia cepat merundukkan kepa-
lanya. Sedangkan tangan kanan cepat menangkis.
Malaikat Berambut Api tidak ingin melihat seran-
gannya sia-sia. Ia menarik serangan pertama, se-
bagai gantinya ia lepaskan serangan ke bagian


Pendekar Bloon 21 Tokoh Tokoh Kembar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dada. Mata Iblis berputar, sikunya menghadang.
Gerakan cepat ini tidak dapat dihindari, sehingga terjadilah benturan keras.
Duuk! "Wuagkh...!"
Demikian kerasnya benturan yang terjadi,
hingga membuat Mata Iblis terpelanting. Sambil
menggeram marah, orang ini bangkit lagi. Ru-
panya Mata Iblis gampang panasan. Sehingga be-
gitu berdiri ia langsung kerahkan tenaga sakti ke bagian matanya. Pabila matanya
yang buta itu berkedip, mata dua larik sinar putih menghantam
Malaikat Berambut Api.
"Hum, bukan main...!" gerung lawannya.
Saat ia merasakan adanya sambaran hawa panas
memanggang tubuhnya. Malaikat Berambut Api
jatuhkan tubuhnya hingga rata dengan tanah.
Buuum! "Heh...!"
Bukan hanya Malaikat Berambut Api saja
yang dibuat kaget. Tetapi Manusia Topeng dan
Dewi Kerudung Putih yang mengintai di atas po-
hon dibuat terperanjat. Pohon yang terkena sinar mata kakek buta ini bukan
terbakar atau layu
daun-daunnya. Melainkan roboh seperti daun ta-
las yang terkena api.
"Aku harus melakukan sesuatu sebelum
orang-orang ini tahu siapa aku yang sebenarnya!"
pikir Malaikat Berambut Api. Tiba-tiba saja ia melesat ke depan, sekarang ia
lepaskan pukulan bertubi-tubi ke beberapa jalan darah utama di tubuh Mata Iblis.
Kakek buta ini tentu saja tidak mau
dirinya menjadi sasaran serangan lawan yang ga-
nas dan mengandung hawa racun itu. Sehingga
sambil melompat mundur ia lepaskan tendangan
ke bagian selangkangan lawan.
Wuut! "Hait!"
Malaikat Berambut Api miringkan tubuh-
nya. Tinjunya menderu dan tidak dapat dihindari
lagi Mata Iblis tersentak ke belakang ketika tinju lawan menggedor dadanya.
Mata Iblis terdorong mundur, walaupun ia
masih tetap berdiri tegak. Namun dari sudut-
sudut bibirnya meneteskan darah segar. Dilihat
dari kekuatan tenaga dalam, nampaknya memang
Malaikat Berambut Api memiliki tenaga dalam
beberapa tingkat lebih tinggi. Satu hal yang di-
anggap istimewa. Kakek berpakaian hitam ini
mempunyai kekuatan mata yang dapat mengirim-
kan hawa panas atau serangan berhawa dingin.
Selain itu masih ada satu lagi kelebihan lain yang tentu saja puncak dari segala
kedahsyatan yang
ia miliki. "Sekejap lagi kau akan segera mati di tan-
Pedang Kunang Kunang 5 Pedang Tetesan Air Mata Ying Xiong Wu Lei A Hero Without Tears Karya Khu Lung Pendekar Cacad 18
^