Pencarian

Dendam Yang Tersisa 1

Pendekar Gagak Rimang 9 Dendam Yang Tersisa Bagian 1


1 Malam gulita. Keadaan desa di bagian Utara
yang sunyi senyap bagaikan mati, seperti tak ada
penghuninya. Padahal desa itu adalah sebuah desa
yang makmur dan ramai bila siang hari. Namun setiap malam keadaan desa itu
menyeramkan. Sunyi. Hening
bagaikan mati. Hanya suara binatang malam yang terdengar
ramai bagaikan sedang unjuk diri. Mereka bergembira menikmati keheningan malam
ini yang dapat mereka
manfaatkan untuk mencari makan, bermain, bersenda
gurau maupun saling melepaskan hasrat birahinya.
Karena bila siang hari, mereka merasa terganggu sekali dengan kegiatan para
manusia. Langit di atas muram. Bulan pun hanya sepo-
tong, seakan malam ini sudah diisyaratkan akan terja-di sesuatu. Dan keheningan
itu semakin mencekam
belaka, semakin membuat para penduduk lebih suka
menarik selimut dan mendekap guling mereka erat-
erat daripada keluar rumah atau memikirkan hal-hal
yang tidak-tidak. Ini hanya mengganggu tidur mereka saja. Namun mendadak saja
desa yang sunyi dengan
sinar bulan yang bersinar temaram itu tiba-tiba menjadi kacau balau. Bermula dan
terdengarnya tawa panjang yang amat mengerikan sekali, disusul dengan api yang
berkobar di atap beberapa rumah hingga membuat penghuninya harus berlarian
menyelamatkan di-
ri. Seketika desa yang sepi menghening itu bagai-
kan kegiatan siang hari.
"Api...! Api...!"
"Cepat padamkan...!"
"Gila! Dan mana datangnya api itu..."!"
"Tolong...! Tolong...!!"
Seruan ramai terdengar ditingkahi dengan ge-
rak cepat para penduduk yang membantu memadam-
kan api. Namun belum lagi api yang satu berhasil dipadamkan, mendadak saja api-
api itu menyambar lagi
rumah-rumah yang lain.
Keadaan semakin kacau balau saja. Kembali
seruan-seruan ramai terdengar. Dan yang paling me-
nyayat hati, salah seorang penduduk berlarian dan
rumahnya dengan tubuh terbakar.
"Tolong...! Tolong...!!" serunya kepanasan dan berlarian ke sana ke mari. Para
penduduk berusaha
untuk memadamkan api di tubuh orang itu, namun
api lebih cepat menyambar dan membakarnya. Hingga
kemudian orang itu terguling kepanasan di tanah dengan lolongan yang amat
panjang sekali.
"Aaaaakkkh...!!"
Jerit tangis anak istri orang itu terdengar me-
milukan. Menyedihkan. Mereka saling mendekap se-
mentara beberapa orang penduduk yang menyaksikan
hanya bisa mendesah dengan hati pilu. Dan beberapa
orang lagi berusaha menahan anak beranak itu yang
hendak berlari mendapatkan jasad yang hangus.
Api terus berkobar. Hal ini membuat para pen-
duduk menjadi curiga. Dari mana datangnya api itu"
Mengapa mendadak saja datang membakar rumah-
rumah mereka"
Belum lagi keheranan mereka terjawab, men-
dadak saja melayang satu sosok tubuh dengan gera-
kan yang amat ringan sekali. Sosok itu tinggi besar.
Wajah tertutup oleh rambutnya yang panjang, hingga
orang-orang yang berada di sana agak kebingungan
untuk menegaskan siapa yang berdiri di hadapannya"
Laki-laki ataukah perempuan"
Namun yang pasti mereka menyadari, kalau
orang asing yang baru datang itu bukanlah orang yang datang dengan rasa
persahabatan. Melihat sikapnya
yang berkacak pinggang.
Lalu terdengar suaranya terkekeh.
"He-he-he...! Jangan kaget, manusia-manusia
goblok! Bila kalian heran dan penasaran untuk menca-ri siapa yang telah berbuat
seperti itu, akulah orangnya!!" Suaranya nyaring dan terdengar cukup mengerikan.
Dari nada suaranya pun mereka sulit untuk
membedakan laki-lakikah atau perempuankah sosok
yang wajahnya terhalang oleh rambut itu.
Namun mendengar pengakuannya yang terus
terang dengan nada yang amat sombong sekali, mem-
buat para penduduk menjadi marah. Mereka dengan
serempak segera mengepung sosok itu yang hanya ter-
kekeh saja. "He-he-he.... kalian mau apa, hah"!"
"Manusia busuk! Tidak ada angin dan tidak ada
hujan, kau tiba-tiba saja mengganggu ketenangan ka-
mi!" "Perbuatanmu sungguh-sungguh keji!!"
"Kematianlah yang tepat untukmu!!"
Seruan-seruan marah itu terdengar gegap gem-
pita. Para penduduk mengambil sikap siap menyerang.
Bahkan ada pula yang kembali dulu ke rumah untuk
membawa senjata.
Namun semua itu hanya disambut dengan ke-
kehan belaka oleh sosok itu.
"He-he-he... tidak salah, kalian memang tidak
salah! Kemunculanku di dunia persilatan ini memang
untuk membalas dendam! Dendam yang sekian lama
terkubur di hatiku"!"
"Apakah kau dendam pada kami?"
"Tidak!"
"Lalu mengapa kau lakukan kekejian ini terha-
dap kami, hah"! Bukankah seperti katamu tadi, kau
tidak mendendam pada kami" Dan berarti di antara ki-ta tidak ada silang
sengketa, bukan!"
"Memang tidak ada! Namun aku harus berbuat
seperti itu."
"Bangsat! Untuk apa kau melakukannya, hah"!
Tidak tahukah kau, bahwa perbuatan mu ini amat me-
rugikan sekali!!"
"Sudah tentu aku tahu! Dan aku senang mela-
kukannya!"
"Mengapa kau melakukannya, hah"!" "He-he-he.... kau rupanya punya nyali, Bocah!
Bagus! Bagus! He-he-he.... memang kalian perlu tahu, kemunculanku adalah untuk mencari si
Pengemis Suci, yang telah
mengalahkan aku beberapa puluh tahun yang lalu.
Dan kemunculanku kembali ke dunia persilatan ini,
untuk mencarinya!"
"Tapi mengapa kau melakukannya kepada ka-
mi"!" "Goblok! Dengan cara membuat onar seperti itu, kuharapkan si Pengemis Suci
akan muncul!"
"Bangsat! Perbuatanmu ini sungguh keji!"
"He-he-he.... aku, Ki Ronggo Jibus atau yang
lebih dikenal dengan julukan Manusia Berubah Muka
tak akan pernah mundur sebelum keinginannya terca-
pai! Dengan cara seperti apa pun akan kulakukan un-
tuk memancing kemunculan si Pengemis Suci! Hhh!
Rasanya aku tidak sabar untuk segera menjumpai dan
membunuhnya!"
"Manusia keparat! Lebih baik kau mampus! Se-
rang...! Hiaaaattt...!!"
Lalu pemuda pemberani itu pun bergerak den-
gan cepat ke arah sosok itu. Tangan kanannya yang
penuh dengan tenaga diarahkan ke dada manusia itu.
Namun mendadak saja gerakan tubuhnya terhambat
dan belum lagi dia menyadari apa yang terjadi, dirasakannya sesuatu mengenai
pahanya. Ngilu. Amat ngilu
terasa. Dan belum lagi menyadari benda apa yang
mengenai kakinya, mendadak saja dia menjerit lalu
ambruk dengan leher putus. Kepalanya menggelinding
ke para penduduk yang membentuk lingkaran hingga
mereka hams berlarian menghindari kepala itu. "Oh, Tuhan!!" Marahlah mereka.
"Anjing kurap! Bunuh dia...!!" Bagi penduduk desa bagian Utara, persahabatan dan
persaudaraan amat mereka junjung tinggi se-
kali. Maka serentak mereka menyerang dengan gigih
dan berani ke arah sosok tak dikenal itu.
Namun lagi-lagi hal seperti itu terjadi. Bahkan
terdengar lima orang sekaligus men jerit dan ambruk dengan kepala buntung. Dan
sepasang mata mereka
mendelik bertanda mereka tidak rela untuk mati. "Iblis!" "Keparat!" "Bunuh dia!"
"Jangan takut, Saudara-saudara! Bunuh
dia...!!" Seruan-seruan itu terdengar amat bersemangat sekali. Dan kembali
dengan gigih dan gagah berani mereka menyerbu ke arah sosok itu.
Kali ini berkelebatan senjata-senjata tajam di
tangan. Namun sosok tubuh itu hanya terkekeh saja
tanpa berpindah tempat dari posisinya, seakan men-
ganggap enteng belaka senjata-senjata yang bergerak ke arahnya.
Dan dengan gerakan yang amat cepat sekali,
tangannya bergerak.
"Wuuuut...!! Plak.... Plakk...!!" Beberapa buah senjata terlepas disusul dengan
gamparan beberapa
kali. Rasa sakit yang amat luar biasa mereka rasakan kala tamparan tangan itu
mampir di pipi mereka.
Pikir mereka, rasa sakit itu akan segera meng-
hilang. Namun justru malah semakin menjadi-jadi.
Bahkan yang membuat mereka kaget, karena mereka
rasakan pusing yang amat luar biasa dan kepala yang amat berat.
Belum lagi secara pasti mereka menyadari apa
yang terjadi, tiba-tiba- saja tubuh mereka limbung dan ambruk dengan meregang
nyawa tanpa mengerti dan
tak sempat menjerit.
Justru orang-orang yang menyaksikan yang
menjerit ketakutan. Hingga mereka akhirnya menyada-
ri dengan siapa mereka sedang berhadapan.
"Bangsat!!"
Iblis ..!! Kau manusia Iblis...!!" Sosok itu terkekeh-kekeh. "He-he-he ..
Bukankah sejak tadi sudah kukatakan, aku akan membunuh siapa saja yang
menghalangi niatku untuk membalas dendam! Dan
semua ini akan kulakukan sampai kapanpun juga!
Hingga si Pengemis Suci itu muncul dan membuat
perhitungan denganku... he-he-he...!!"
Meskipun mereka menyadari betapa tingginya
ilmu manusia iblis ini, namun mereka tidak takut.
Bahkan mereka menjadi geram yang amat luar biasa
sekali. Mereka semakin nekat menyerang. Namun lagi-
lagi semuanya itu hanyalah sia-sia belaka saja, karena manusia itu amat tangguh
dan sakti. Hingga tak lama kemudian terlihatlah pemandangan yang amat
mengerikan. Puluhan sosok tubuh yang tak berdosa harus
bergelimang tanah dengan nyawa yang melayang.
Tanah telah bersimbah darah. Kekejian telah
melanda. Sungguh mengerikan. Sosok tak dikenal itu
terkekeh-kekeh. Terlihat sekali kalau dia begitu amat senang dengan apa yang
telah dilakukannya. Nyawa
telah dianggap murah.
"He-he-he.... rasakan itu! Rasakan! Sudah ku-
peringatkan jangan sekali-sekali berani menantangku!
He-he-he.... tak akan pernah kuberikan kesempatan
kalian untuk hidup!!"
Tiba-tiba dia menengadah menatap langit yang
pekat. Lalu berseru keras, "Pengemis Suci! Muncullah kau dari sarangmu, bila
tidak ingin banjir darah semakin melanda di muka bumi ini!! Muncullah kau,
Pengecut!! Kita buat lagi perhitungan yang lama!! Bangsat!
Keluar kau! Keluar...!!"
Suara itu menggema mengerikan. Diiringi den-
gan kekehan yang amat kuat. Nyaring. Tiba-tiba saja sosok itu berhenti tertawa.
Dan sepasang matanya
yang berada di balik rambut yang panjang mendengus.
Lalu, "Wuuuuuttt...!!" Tubuhnya bergerak, melayang dengan cepat menyambar dua
orang anak pe- rawan yang langsung dilarikannya. Sementara kedua
anak perawan itu meronta-ronta hendak membe-
baskan din Dan gerakan mereka pun terhenti ketika
dengan gerakan yang tak terlihat pula, sosok tubuh itu telah menotoknya hingga
mereka terdiam kaku.
Kekehannya terus berkumandang keras. Amat
keras. Menjelang pagi hari, masuklah ke desa itu tiga sosok tubuh yang nampak
amat lelah. Mereka terbelalak kaget melihat puluhan mayat bergelimpangan di
tanah. "Oh, Tuhan! Apa yang terjadi"!"
"Gila! Binatang apa yang telah masuk ke desa
dan memporak porandakan semuanya!"
"Mereka semuanya mati!!"
Tiga sosok tubuh yang ternyata warga desa
Utara itu pun segera memeriksa keadaan. Dan mereka
amat geram sekali akan kejadian ini.
Mereka pun bersumpah untuk mencari tahu
apa yang terjadi dan siapa yang melakukannya. Dan
mereka diam-diam menyesal da-lam hati, mengapa ha-
rus terlambat pulang dalam perjalanan. bila saja mereka lebih cepat, mungkin
mereka bisa mengetahui
siapa yang berbuat. Atau pula, malah dapat membasmi orang yang telah membuat
onar. Belum lagi mereka bisa bernafas dengan baik,
tiba-tiba terdengar suara yang keras, nyaring dan
menggema. "He-he-he.... Ki Ronggo Jibus atau Manusia Be-
rubah Muka akan terus membuat onar!!"
"Bangsat!" geram ketiganya berbarengan. Namun suara itu telah lenyap.
* * * 2 Desa Jajar Sawah adalah sebuah desa yang
paling ramai penduduknya di sekitar lereng Gunung
Merapi. Para penduduknya ram ah dan sopan. Baik
pada sesama maupun terhadap pendatang. Penghidu-
pan dan penduduk di sana kebanyakan bertani, na-
mun tak sedikit pula yang berdagang. Karena keakra-
bannya sering pula pendatang betah untuk menginap
di sana berhari-hari. Selain di jadikan sarana perda-gangan yang lancar, karena
Desa Jajar Sawah adalah


Pendekar Gagak Rimang 9 Dendam Yang Tersisa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jalur lalu lintas ke desa-desa lainnya.
Namun meskipun demikian, tidak semuanya
warga Desa Jajar Sawah ram ah. Seperti halnya dalam kehidupan yang kompleks ini
ada pula yang congkak
dan sombong. Serta berkelakuan yang kadang kurang
ajar sekali. Dan pemuda yang paling tidak disukai oleh pa-
ra penduduk adalah Radung, putra dari juragan tanah di sana yang kerjanya
hanyalah membuat onar belaka.
Sudah banyak keonaran yang ditimbulkan oleh
Radung. Bahkan keonarannya pun terkadang menju-
rus pada kejahatan. Dari sikap Radung yang ugal-
ugalan dan semena-mena ini kadang-kadang mem-
bangkitkan kemarahan para penduduk. Namun mere-
ka tidak berani untuk mencegah maupun memperin-
gatkan perbuatan Radung meskipun rasa sakit hati di dada menggumpal dan
menggunung. Bagaimana mungkin mereka berani melaku-
kannya, karena ke mana pun pemuda itu pergi para
tukang pukulnya yang berjumlah tiga orang itu selalu mengawalnya. Dan bila
sekali Radung memerintah,
maka bagaikan robot belaka ketiganya bergerak den-
gan buas dan kejam.
Tak mengenai ampun meskipun yang di-hajar
mereka sudah babak belur. Agaknya kematian meru-
pakan hal yang lumrah bagi mereka. Merupakan satu
kesenangan tersendiri yang tak ternilai harganya. Inilah yang membuat penduduk
menjadi jeri. Yang paling tidak disukai oleh para penduduk
atas perbuatan Radung, karena pemuda itu suka
mengganggu para anak gadis mereka. Biasanya mere-
ka hanya menahan sabar dan menyuruh anak gadis-
nya jangan menangis. Bagi yang tidak bisa menahan
emosi malah kena akibatnya sendiri.
Kalau tidak babak belur, ada pula bagian tu-
buhnya yang patah! Ini malah menyulitkan bagi mere-
ka untuk mencegah segala perbuatan Radung.
Apalagi sebagian besar dari mereka bekerja di
sawah milik ayahnya yang berhektar-hektar luasnya.
Bila mereka masih nekat, selain babak belur bisa juga
kehilangan mata pencaharian. Mereka masih memikir-
kan perut anak istri mereka. Hingga tidak berani mengambil sikap yang berarti.
Hanya mandah saja sambil mengelus dada.
Boleh dikatakanlah, pasrah mereka menghada-
pi sikap dan perlakuan Radung yang semena-mena.
Sementara itu setiap kali kebetulan berpapasan
atau dari kejauhan sudah melihat pemuda itu, para
anak gadis merasa lebih baik menghindar atau pun
mengambil jalan memutar meskipun jauh sedikit dari-
pada ada beberapa bagian tubuhnya yang harus terke-
na sasaran tangan jahil Radung. Yah, mereka rela
membuang tenaga dan menjadikan kaki mereka sedikit
pegal. Sedangkan tuan tanah Juragan Radu Rukmo
sendiri malah mendiamkan saja sikap putranya itu.
Dia malah bangga bila putranya bersikap seperti itu.
Karena sebenarnya di masa mudanya Radu Rukmo
pun berbuat yang sama. Bahkan lebih gila yang diperbuat oleh-Juragan Radu Rukmo.
Jadi baginya hal itu
adalah suatu hal yang wajar. Toh dia sudah merasa
memberikan penghidupan dan pekerjaan yang menu-
rutnya amat layak bagi para penduduk. Buat apa me-
reka harus marah lagi"
Sehingga Radu Rukmo merasa, putranya bebas
saja melakukan apa saja hendak putranya itu terha-
dap para penduduk. Perduli setan dengan semuanya!
Karena dengan congkaknya Radu Rukmo pernah ber-
kata di hadapan para penduduk yang mengadukan
tentang keonaran yang dilakukan oleh Radung, "Kalian ini adalah manusia-manusia
yang tidak pernah berterima kasih! Kalian seharusnya ingat, selama ini akulah
yang memberi kalian hidup! Memberi kalian makan!
Jadi kalian jangan bertindak nekad atau ngawur, ka-
rena perut anak istri kalian akan melilit dan merintih
kelaparan! Camkan semua kata-kataku itu!"
Yah, tak seorang penduduk pun yang berani
mencoba lagi untuk menentang perlakuan Radung
atau pun melaporkannya pada Juragan Radu Rukmo.
Sementara kemarahan dan dendam di hati mereka se-
makin besar. Pagi itu udara cerah. Udara berhembus sejuk,
menebarkan rasa alami dan keindahan yang mempe-
sona. Burung-burung bernyanyi dan hinggap dari satu dahan ke dahan lain.
Mereka begitu bergembira karena udara yang
indah ini seakan menambah kebebasan mereka. Me-
nambah daya pesona alam yang penuh gemilang.
Alam begitu nyaman, menambah pesona yang
amat dalam. Membekas hingga ke lubuk hati. Dan
mengukir satu keindahan yang abadi, yang kadang
membuat orang enggan untuk meninggalkan keinda-
han yang bak abadi ini.
Angin bersemilir lembut, namun cukup kuat
untuk menggugurkan daun-daun pohon trembesi.
Daun-daun itu berguguran seperti segumpal anak-
anak yang berlarian sambil bersenda gurau. Suara
gemercik air sungai di sebelah Timur sana menambah
keasrian alam yang nyaman.
Di kejauhan sana, terlihat hamparan sawah
terbentang luas dengan warna kehijauan hasil cucuran keringat para petani. Dan
hasilnya siap untuk dipa-nen. Panen yang menghidupi anak istri mereka.
Tiba-tiba burung yang beterbangan dari dahan
ke dahan lain, atau berkicau riang dan terbang me-
nyusul kawan-kawan mereka yang sejak pagi telah
meninggalkan sarang mencari makan penyambung hi-
dup, mendadak serabutan lari dari tempat mereka
hinggap bagaikan ada elang yang datang menyambar
dengan cepat, membuat mereka lebih baik pindah
tempat. Dari batas desa nampak seorang pengemis yang melangkah dengan pincang
dan tubuh yang sedikit
bongkok. Sebuah tongkat yang berwarna hitam sekali-
sekali dijadikan sebagai alat bantu untuk kaki kanannya. Tubuhnya amat kurus.
Wajahnya begitu tua. Di-
perkirakan usianya sudah mencapai 70 tahun dengan
rambut memutih panjang yang tidak beraturan.
Dari raut wajahnya yang tua dan tak sedap di-
pandang nampak sekali kalau dia amat lapar. Maka
dipaksakannya pula kakinya untuk lebih cepat me-
langkah. Namun sekali-sekali dia masih tersenyum
melihat burung-burung yang beterbangan kian ke mari menyambut pagi. Seakan
kegembiraan para burung itu
dapat menutupi rasa laparnya.
Dan sekali-sekali pula dia mencoba tersenyum
pada beberapa orang yang kebetulan berpapasan den-
gannya. Sikapnya begitu penuh rasa persahabatan
yang tulus. Namun meskipun demikian, senyumnya itu ka-
dang dibalas, namun kadang pula di acuhkan. Bahkan
ada yang meludah karena merasa jijik diberi senyum
oleh seorang pengemis. "Cih! Mau apa pengemis tua itu"!" Namun pengemis tua itu
tak acuh saja. Santai dia terus melangkah, tanpa menghiraukan ejekan dan
cemooh orang-orang yang kebetulan berpapasan den-
gannya. Dia tak acuh saja, seperti tidak ada kejadian apa-apa. Sikapnya santai
dan enak. Kakinya yang sebelah kanan pincang, nampak
cukup mengganggu langkahnya. Namun dia terus saja
melangkah. Dengan sikap yang sungguh-sungguh
amat santai. "Cih! Pengemis busuk! Mau apa dia tersenyum-
senyum pada kita!" seru seorang gadis yang berdandan cukup menor itu pada
temannya kala pengemis itu tersenyum padanya. "Memuakkan sekali senyumnya itu!"
Temannya yang bertubuh gempal, yang tak ka-
lah menornya, pun mengangguk dengan sikap yang
tak kalah mengejeknya. Gayanya pun genit, sama hal-
nya dengan temannya. Mereka terlihat bagaikan gadis-gadis penghibur belaka.
"Dasar tidak tahu malu!"
"Kebagusan amat bila kita membalas senyum
itu!" "Cih, Jembel busuk!"
"Dipikirnya senyumnya itu amat bagus" Hhh!
Tak sudi aku melihatnya dua kali!"
Mendengar kata-kata itu si Pengemis tua tak
acuh saja. Dia malah tetap tersenyum, semakin mem-
buat kedua gadis itu bertambah sewot.
Bergegas mereka melangkah menjauhi penge-
mis itu. Kuatir kuman penyakit yang menempel di tu-
buh pengemis tua itu pindah ke mereka.
"Hhhh! Tak layak nampaknya desa kita dima-
suki oleh gembel bongkok dan pincang itu!" mendengus salah seorang sambil
bergegas. "Ayo cepat, aku kuatir kita ketularan penyakit dari tubuhnya!"
Namun si pengemis tua itu tetap tersenyum, la-
lu dengan santainya kembali melangkah. Kaki kanan-
nya yang pincang memang terlihat jelas sebagai peng-hambat dari langkahnya.
Namun tetap saja dia menye-
retnya ringan dengan dibantu oleh tongkatnya yang
berwarna hitam.
Yang menarik dari tongkat itu sebenarnya ada-
lah ujungnya yang berukir kepala ular. Yang nampak
amat membantu baginya untuk melangkah.
Senyumnya tetap bertengger di bibirnya tak
ubahnya bagaikan menggantung dan bibir itu memang
hanya bisa menguak senyum belaka.
Kata-kata ejekan dari dua gadis sombong itu
dianggapnya hanyalah angin lalu belaka. Toh memang
benar bila kedua gadis itu mengatakannya buruk. Dia memang buruk! Dia hanya
tertawa dalam hati.
Tiba-tiba si pengemis tua itu mendongakkan
kepalanya. Dari kejauhan tercium aroma masakan le-
zat yang terbawa oleh angin. Si pengemis mengambil
nafas dalam-dalam menikmati aroma yang menye-
dapkan itu. Lalu kembali diseretnya langkahnya menuju
kedai yang sepertinya menjanjikan makanan yang
enak dan lezat. Perutnya dirasakan semakin lapar saja.
Aroma masakan itu benar-benar amat mengganggu
dan menarik rasa laparnya untuk ditutupi dengan ke-
kenyangan yang cukup.
Dia terus membawa langkahnya. Orang-orang
yang sedang makan di Sana hampir seluruhnya meno-
leh pada pengemis itu ketika kakinya tiba di ambang pintu dan mulai melangkah
masuk. Bermacam reaksi
terjadi. Ada yang segera mengangkat piringnya untuk menjauh dari pengemis itu.
Ada yang langsung membayar dan pergi. Ada yang tetap meneruskan makan-
nya. Ada yang mendengus sebal, namun ada yang tak
acuh saja. Namun lagi-lagi pengemis itu tidak perduli.
Tak acuh. Dia memilih tempat duduk di ujung. Sikapnya
benar-benar tidak mengacuhkan sekelilingnya. Tetap
santai dan begitu tenangnya.
Dia memesan hidangannya.
"Tolong berikan aku seguci arak dan makanan
yang cukup lezat!"
Pelayan itu hanya mendengus dalam hati. Se-
benarnya dia menahan nafas karena kuatir bau busuk
dari si pengemis tercium oleh hidungnya. Bahkan dia sendiri enggan untuk
melayani pengemis tua ini.
Bila saja tuannya menyuruhnya mengusir gem-
bel ini dengan senang hati dia melakukannya. Tak
akan dipikirkannya sebanyak dua kali.
Sejak tadi dia sebenarnya berharap sekali kalau
tuannya menyuruhnya mengusir gembel busuk ini!
Dan pasti akan dilakukannya dengan senang hati.
Namun karena perintah itu tidak juga di dengar
nya, maka dia pun mau tak mau melayaninya. Tak la-
ma kemudian hidangan itu pun datang.
Cuping hidung si pengemis mengendus-
ngendus untuk menikmati aroma yang amat menga-
syikkan. Seleranya semakin timbul dengan kuat.
Namun belum lagi pengemis tua itu menikmati
pesanannya, tiba-tiba terdengar suara terbahak-bahak dari luar. Ramai diiringi
oleh langkah yang menuju ke kedai itu. Namun pengemis itu tak acuh saja.
Seleranya telah keluar. Maka dia pun segera menikmati hidangannya.
Bagi penduduk yang sudah sering mendengar
tawa itu tidak merasa heran lagi. Karena tawa yang
paling keras itu milik Radung, pemuda yang terkenal tukang membuat onar. Hati
mereka sedikit was-was.
Keonaran apa lagi yang akan dilakukan oleh pemuda
sialan itu"
"Hahaha... benar kataku, bukan" Tempat pele-
siran Nyi Alas Tuban begitu mengasyikkan. Gadis-
gadisnya amat montok! Hahaha.... Dan mereka bisa
menggigit...!" tertawa Radung sambil melangkah ke kedai itu. Di susul dengan
seorang tukang pukulnya. Entah yang dua orang lagi ke mana.
Sebenarnya Radung seorang pemuda yang cu-
kup tampan. Wajahnya tirus menandakan kelicikan-
nya. Tubuhnya kurus tinggi. Cara berdandannya begi-
tu amat perlente sekali.
Di pergelangan tangannya melingkar gelang
emas yang cukup banyak. Pakaiannya mengkilat in-
dah. Di lehernya pun melingkar sebuah kalung emas
yang indah. Namun semua itu terlihat menjadi jelek dan
buruk karena tertutup oleh kelakuannya yang amat
menjengkelkan. Hingga rata-rata semua penduduk
membencinya. Dan tak seorang pun yang menyu-
kainya. "Hehehehe.... Tuan muda tidak salah pilih memang." kata tukang pukulnya
yang lebih banyak mencoba mengambil hati Tuan mudanya. Dia merasa be-
runtung sekali diajak ke tempat pelesiran. Hehehe...
kau rugi Sobran.... Kau rugi, Marduko.... tawanya di hati. Lumayan aku bisa
menikmati keasyikan itu.
"Hahaha... kapan, kapan aku pernah salah pi-
lih, hah"!" terbahak Radung. Kakinya sudah melangkah ke dalam kedai itu, tawanya
masih terdengar.
"Tuan memang tidak pernah salah pilih...."


Pendekar Gagak Rimang 9 Dendam Yang Tersisa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Hahaha.... Bagus, bagus!" terbahak Radung sambil menggebrak meja. "Pak tua!
Hidangkan arak yang paling lezat dan makanan yang paling mahal!!" je-ritnya
keras sambil menghentakkan pantatnya ke tem-
pat duduk. Namun mendadak saja bagaikan di tempat
duduknya ada paku yang tajam, Radung bangkit kem-
bali. Dia mendengus. Matanya melirik ke arah pen-
gemis yang sudah mulai makan dengan nikmatnya.
"Hhh! Mau apa gembel busuk itu masuk ke
man, hah"! Guro, usir dia keluar dari sini!!!"
Tukang pukul yang bernama Guro segera men-
dekati si pengemis dengan langkah yang gagah. Orang-orang yang memperhatikan
menjadi cemas akan nasib
si pengemis tua itu.
"Hei, gembel busuk! Keluar kau dari sini! Bawa semua makananmu itu, dan makan di
luar!" Pengemis tua itu mengangkat wajahnya.
Dia hanya memamerkan senyumnya dan san-
tainya kembali menikmati hidangannya.
Wajah Guro memerah.
"Keparat! Kau belum tahu rupanya berhadapan
dengan siapa, hah"!" geramnya
Namun lagi-lagi si pengemis tua itu hanya
mengangkat wajahnya, sedikit tersenyum dan kembali
meneruskan menikmati hidangannya.
"Hei, Budek! Jangan jual lagak di depanku,
hah"!" geram Guro dengan kemarahan yang mulai
naik. Lagi si pengemis itu hanya tersenyum.
"Anjing! Kau rupanya memang ingin bermain-
main dengan aku, hah"!" geramnya makin jengkel.
Yang sedang dipikirkannya adalah bila pengemis tua
itu sebenarnya tidak tuli. namun tengah mengejeknya dengan menjadi pura-pura
tuli! Bangsat! Ini tidak
main-main lagi!
Namun lagi-lagi pengemis tua itu hanya terse-
nyum. Lalu menenggak arak yang dipesannya lang-
sung dari gucinya. Hingga tandas tak tersisa setetes pun. Lalu dengan santainya
pula dia menyeka mulutnya dengan punggung tangannya. Lalu mendesah
panjang penuh nikmat. Arak tadi sungguh bukan arak
sembarangan. Guro menjadi mangkel. Apalagi dengan san-
tainya pengemis itu bangkit berdiri.
"Anjing tua keparat! Rasakan ini!!" geram Guro sambil melayangkan pukulannya.
Dalam pikirannya
hanya sekali pukul saja pengemis ini pasti sudah am-
bruk berantakan.
Namun di luar dugaannya, dia malah memukul
angin sementara si pengemis dengan asyiknya melang-
kah untuk membayar. Seakan tidak ada gangguan
atau pun halangan yang menghalangi langkahnya. Te-
tapi santai. Sejenak Guro terheran-heran. Padahal dia ya-
kin kalau pukulannya akan tepat mengenai sasaran.
Namun mengapa dengan mudahnya pengemis tua itu
bisa menghindar dari pukulannya.
Melihat hal itu Radung menjadi geram pula. Da
langsung menendang sebuah kursi untuk menghalangi
langkah si pengemis hingga terbalik.
Pengemis tua itu memang terhalang, namun
dengan ringannya seakan tanpa kejadian apa-apa,
pengemis itu melangkah melalui sisi yang lain.
"Bangsat!" geram Radung marah dan berseru pada Guro yang masih bingung dengan
cara apa pengemis itu sudah berhasil lolos dari pukulannya. "Sialan! Hajar dia!
Biar dia tahu rasa dan kapok berbuat seperti itu!"
Dengan geram Radung bergerak cepat dan
kembali menyerang. Namun lagi-lagi serangannya ti-
dak mengenai sasaran. Hanya mengenai angin belaka.
Dia jadi bingung sendiri sementara si pengemis
telah keluar dari kedai itu tetap dengan langkah yang pincang terseok-seok.
Sekali-sekali dibantu oleh tongkatnya yang
tangkainya berkepala ular.
Namun tetap saja pincang kakinya bukanlah
merupakan sebuah penghalang yang amat berarti ba-
ginya. Karena meskipun langkahnya diseret terlihat
demikian mudah.
"Anjing tua! Kubunuh kau!" geram Guro sambil berlari menerjang kali ini dia
mencabut golok yang ter-
selip di pinggangnya dan dengan ganasnya siap dihu-
jamkan ke bagian belakang dari pengemis itu.
Namun entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja
Guro memekik dan jatuh pingsan. Yang menyaksikan
menjadi heran, di samping senang melihat tukang pu-
kul Radung terkena batunya. Apa" Apa yang terjadi"
Mengapa Guro bisa pingsan mendadak seperti
itu" Namun bila Guro belum pingsan dan masih bisa
bicara, tentulah dia akan mengatakan kalau sesuatu
yang amat keras dan penuh tenaga bak sebuah godam
layaknya, telah menghantam tengkuknya dengan tepat
sekali. Rasanya tak terkira sakit dan beratnya.
Melihat hal itu Radung menjadi marah bukan
buatan. Sambil menggeram dia berlari ke luar menyu-
sul langkah pengemis tua yang terpincang-pincang.
Dia tidak terima dengan perlakuan pengemis bungkuk
itu. Pemuda itu memang seorang yang panasan,
yang merasa tak seorangpun boleh merendahkan nya
atau pun menyamainya. Apalagi merendahkannya di
hadapan orang banyak, maka diapun menjadi panas.
Dia tidak pernah menerima perlakuan seperti ini. Pengemis itu harus diberi
pelajaran! Dengan langkah gusar dia memburu si penge-
mis yang terpincang-pincang melangkah itu dan berdiri di depannya dengan sikap
sok jago dengan kedua kaki terbuka lebar.
Sementara orang-orang yang sedang makan
berhamburan untuk melihat kejadian di depan kedai
itu. Di samping merupakan satu tontonan yang amat
menarik, mereka menjadi penasaran siapakah sesung-
guhnya pengemis itu" Mengapa begitu berani mengha-
dapi Radung" Apakah dia belum tahu siapa sesung-
guhnya pemuda berangasan dan berandal itu"
Hati mereka semakin bertambah penasaran.
Dan mereka yakin baru kali ini mereka melihat
pengemis tua itu di sini.
* * * "Berhenti!" terdengar seruan Radung keras. Wajahnya begitu geram dan beringas.
Si pengemis bongkok itu pun berhenti melang-
kah. Wajahnya yang nampak penuh luka mengering
itu diangkatnya untuk menatap wajah Radung yang
kelihatan mar ah bukan buatan. Namun wajahnya
nampak tersenyum. Bahkan tidak terlihat sedikit pun dia merasa ngeri dengan
kemarahan pemuda itu.
"Sobat... ada apakah gerangan hingga kau
nampak begitu marah padaku?"
"Hhh! Gembel busuk! Lebih baik kau angkat
kaki saja dari desa ini sebelum aku marah!!" serunya kasar. "Dan jangan coba-
coba untuk kembali lagi!"
Pengemis itu hanya memamerkan senyumnya.
Sikapnya penuh bersahabat.
Membuat dada Radung bagaikan mau meledak.
Dan suaranya dengan hentakan yang menggelegar pe-
nuh kejengkelan pun berseru dengan geram,
"Hei, tersenyum lagi kau"!"
"Sobat... mengapa kau melarang aku untuk
singgah sejenak di desa ini?" tanya pengemis itu dengan suara yang terdengar
sopan. Namun malah membuat Radung menjadi be-
rang, karena merasa pengemis tua itu tidak pantas untuk bicara dengannya.
Hatinya semakin gusar dan pa-
nas, karena merasa derajat sosialnya makin terinjak-injak. "Hei, berani bicara
pula kau ini!" bentaknya dengan suara yang menggelegar.
"Mengapa, Sobat" Apakah di desa ini ada laran-
gan bagi seorang pengemis untuk singgah?"
"Karena kau hanya mengotori desa ini saja!" serunya. "Hhh! Kau mau jual lagak
rupanya!" "Apakah orang sepertiku ini tak layak untuk
mencari makan di sini?"
"Ya! Karena kau hanya pengemis, pekerjaan ba-
gi orang yang malas!"
Pengemis itu menggelengkan kepalanya, masih
tetap tersenyum. Penuh persahabatan.
"Tidak, Sobat... aku datang untuk membeli se-
dikit makanan untuk mengganjal perutku yang kelapa-
ran ini.... Dan bermaksud ingin singgah di sini...."
Pemuda itu tiba-tiba terbahak. Penuh nada
mengejek dan meremehkan, "Apa kau bilang" Membeli makan di sini" Hahahah. ..
hei, pengemis busuk! Mana mampu kau membeli makanan bila tidak dengan cara
mengemis, hah"!
Itu adalah satu-satunya cara untuk menda-
patkan makanan! Kau ini sedang mengigau atau se-
dang bermimpi menjadi orang kaya.... Tadi pun mung-
kin makanan yang kau makan itu kau bayar dengan
cara mengemis agar mendapatkan belas kasihan! Hh!
Kau berlagak kaya rupanya!"
"Aku mempunyai sedikit uang, Sobat... yang
kupikir dapat ku tukarkan dengan sedikit makanan...."
kata pengemis tua itu tetap sopan. "Aku tadi sudah melakukannya... dan memang
benar, aku bisa menu-karkannya dengan makanan... Apakah aku salah me-
lakukan hal itu, sobat?"
"Hahahah... kau memang tengah mengigau ru-
panya!" masih tertawa Radung mengejek. "Perlihatkan padaku, bila kau memang
punya uang"
Dan buktikan padaku bahwa yang kau makan
tadi bukan kau dapatkan dengan cara meminta belas
kasihan orang lain! Perlihatkan padaku!
Tetapi awas, bila kau tidak dapat memperli-
hatkannya aku akan menghajarmu hingga tunggang
langgang! Camkan itu! Aku tidak pernah sungkan un-
tuk menghajar siapa pun! apalagi seorang pengemis
macam kau!!"
"Apakah bila benar aku punya uang kau mem-
perkenankan aku untuk singgah di desa ini?"
"Sudah tentu, asal tidak dengan cara menge-
mis! Tetapi nampaknya mustahil kau memiliki uang
meskipun hanya sedikit," suaranya penuh ejekan.
"Kau berjanji?"
"Ya!"
"Aku paling suka dengan orang yang berjanji!"
"Cepatlah pengemis busuk!"
"Kupegang kata-katamu itu, Sobat...."
"Hhh! Perlihatkanlah padaku!" seru pemuda itu setengah geram dan setengah geli.
"Dan ingat dengan ucapanku, tadi! Bila kau tidak dapat memperlihatkan-nya, maka
ganjaran hajaran tanpa ampun yang akan
kau rasakan!"
Sekali lagi pengemis itu menatap Radung seo-
lah meyakinkan kebenaran omongan pemuda itu.
Dia mendesah berkali-kali, nampak sebenarnya
kalau pengemis tua itu cukup kesal dengan perlakuan Radung. Namun dia masih
berusaha untuk menahan-nya. Lalu dengan hati-hati dia memasukkan tan-
gannya ke tas kumal yang tersampir di bahu kirinya.
Keningnya berkerut, seolah heran... mengapa aku
mempunyai uang tapi dipercayai" Apakah aku hanya
seorang pengemis" Ataukah karena dianggap remeh
dan yang menduga seperti itu adalah anak seorang
kaya" Perasaan kesal mulai merambat di hatinya.
Radung yang memperhatikan terbahak-bahak.
Perutnya hingga terguncang-guncang karena merasa
geli. "Permainan apa yang sedang kau perlihatkan, hah" Jangan terlalu banyak
bermimpi!"
Pengemis itu tetap tersenyum. "Lihatlah, So-
bat...." desisnya. Lalu tangan itu perlahan-lahan keluar dari tas kumalnya,
dalam keadaan tergenggam.
Radung masih terbahak. Pikirnya pengemis ini
hanya membual belaka. Tak pernah dijumpainya seo-
rang pengemis memiliki uang yang banyak.
Namun tawanya terhenti ketika pengemis tua
itu membuka genggamannya dan menyodorkan tan-
gannya di wajah Radung. Beberapa keping uang emas
berada di telapak tangan yang sedikit kotor dan keri-put itu. Kontan sepasang
mata itu terbelalak. Mulutnya berseru dengan nada terkejut namun menghina,
"Hei, kau mencuri di mana uang emas itu,
hah"!" bentaknya amat kasar.
Pengemis itu menyeringai. Memperhatikan wa-
jah yang tegang tak percaya.
"Hmm... kau salah sangka, Sobat.... Aku tidak
mencurinya, uang ini memang milikku, pemberian seo-
rang sahabat yang baik hati padaku...."
"Tidak mungkin! Kau bukan hanya seorang
pengemis, tetapi juga seorang pencuri! Dosamu tak
akan pernah dimaafkan!" seru Radung.
"Hmmm... kau mengada-ada, Sobat.... Dan bila
kau tidak percaya, kau boleh bertanya pada pemilik
kedai itu, apakah semua hidangan yang aku makan
tadi hasil belas kasihan, mengemis ataukah kubayar"
Hmmm... bukankah tadi kau mengatakan, bila
aku bisa membuktikan bahwa aku memiliki uang, ma-
ka kau akan memperbolehkan aku untuk singgah di
sini" Apakah kau lupa dengan kata-kata yang baru sa-
ja kau ucapkan itu, Sobat?"
Wajah Radung merah padam. Bertanya pada
pemilik kedai" Hhh! Di mana harga dirinya, hah"!
Tak akan pernah dia melakukan hal itu!
Sebenarnya dia menuduh pengemis itu mencuri
untuk menutupi keterkejutan dan kekalahannya. Na-
mun dia memang seorang pemuda yang sombong, yang
tak pernah mau mengalah atau dikalahkan Jangan
oleh seorang yang setaraf dengannya.
Ini hanya seorang pengemis! Oleh seorang pen-
gemis dia dibuat malu seperti ini! Dia tidak akan menerima, dan tak akan pernah
menerima. "Pencuri busuk! Berikan uang itu padaku!" serunya geram dengan tangan terkepal.
"Mengapa pula harus kuberikan padamu?" sahut pengemis tua itu dengan ketenangan


Pendekar Gagak Rimang 9 Dendam Yang Tersisa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang luar biasa. "Ini adalah uangku, bukan milikmu!"
"Jangan banyak cincong, Bangsat!! Berikan
uang itu padaku cepat!"
"Sobat... apakah kau selalu mengingkari janji"
Atau kau sudah lupa dengan apa yang kau ucapkan
tadi" Aku kecewa sekali bila kau memang bersikap seperti itu. Kuharap... kau tak
akan seperti itu...."
"Persetan dengan segala janji! Kuharap jangan
banyak tingkah bila ingin selamat!"
"Benarkah kau suka mengingkari janji?"
"Keparat! Masih banyak pula kau bicara!" seru Radung bertambah geram.
"Aku adalah orang yang paling suka menepati
janji! Ketahuilah, aku sungguh kecewa dengan sikap-
mu seperti itu. Dan aku tidak pernah menyukainya!"
"Anjing buduk! Rasakan ini!" serunya si pemuda sambil melayangkan pukulannya
lurus ke wajah si
pengemis. Cepat dan penuh tenaga.
Beberapa orang yang melihat mendesis ngeri.
Karena mereka tahu kekejaman dari Radung.
Sudah tentu pemuda itu tak akan memberi
ampun karena siapa pun tahu kalau pemuda itu me-
mang tak pernah punya belas kasihan. Tak terkecuali pada pengemis ini.
Namun pengemis itu masih nampak tenang sa-
ja. Bahkan dia hanya tersenyum saja ketika tangan
Radung melayang. Masih tetap tersenyum.
Radung sendiri merasa dengan sekali pukul
pengemis tua ini akan terjengkang berantakan ke be-
lakang. "Mampuslah kau, Pengemis busuk...!!'
* * * 3 Namun sungguh di luar dugaannya, karena
mendadak saja pukulannya tidak mengenai sasaran.
Melompong mengenai angin. "Hei!" serunya terkejut.
Untungnya dia bisa menguasai tubuhnya, bila tidak
dia akan terjengkang karena dorongan oleh tenaganya sendiri. Dan dia lebih
terkejut lagi karena menyadari si pengemis sudah tidak berada di dekat-nya.
Pemuda itu celingukan dan melihat si pengemis
tengah berjalan dengan santainya meninggalkannya.
Hal itu membuat si pemuda semakin menjadi geram.
"Anjing kurapan! Kau ingin bermain-main den-
ganku rupanya, hah!" serunya sambil
mencegat langkah si pengemis. Namun penge-
mis itu tetap saja tenang. Dia hanya tersenyum. Si-
kapnya sepertinya merasa tidak terganggu oleh sikap Radung seperti itu.
"Mengapa pula kau masih marah pada ku?"
ujarnya lembut. "Bukankah tadi kau sudah mengizin-kan aku untuk mencari makan di
sini?" "Pengemis keparat! Rupanya kau punya kebi-
saan juga, hah"!" Bentak Radung jengkel. "Bagus, aku ingin melihat sampai di
mana kebisaan mu itu, hah"!"
"Sobat... mengapa jadi begini" Mengapa kau ja-
di berang seperti ini" Apakah aku mempunyai salah
padamu"! Kurasa tidak, karena baru kali ini kita bertemu. Kita pun bukan dua
orang yang saling menden-
dam. Kita tidak punya silang sengketa apa-apa. Na-
mun sikapmu begitu marah sekali padaku...."
"Setttaaann!"
"Sobat.... apa sebenarnya maumu ini?"
"Bagus, bila kau memang ingin tahu apa mau-
ku! Berikan uang itu padaku, hah"! Dan kau boleh
meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat!"
"Hmmm... mengapa aku harus menyerahkan
uang milikku ini padamu, Sobat?"
"Masih banyak omong kau, hah"!"
"Aku tahu sekarang, rupanya uang ini yang
membuatmu menjadi berang padaku" Mengapa kau
masih berbasa-basi menuduhku sebagai pencuri" Dan
salah besar menuduhku seperti itu.
Dan kau pun salah besar bila menganggap aku
akan memberikan uang ini padamu! Tidak, aku tidak
akan pernah memberikannya padamu.
Bila kau memang membutuhkan uang ini, kau
bisa memintanya padaku. Pasti akan ku berikan. Na-
mun tidak dengan cara memaksa seperti itu."
"Kau memang pencuri! Berikan uang itu pada-
ku!!" Pengemis tua itu tersenyum. "Maafkan aku, Sobat.... Tak akan pernah
kuberikan padamu uang mi-
likku ini.... Tetapi melihat penampilan dirimu, aku yakin... kau sebenarnya
tidak pernah kesulitan uang!"
"Hhh!" pemuda itu mendengus. "Rupanya kau memang ingin mengenalku lebih dalam!
Baik! Kau bisa mempercundangi tukang pukul ku! Namun tidak se-mudah itu
terhadapku! Bagus, lihat serangan!!"
Sesudah berkata begitu, sambil menggeram ke-
ras Radung bergerak sungguh cepat. Dia menggerak-
kan tangan kanannya lurus ke wajah si pengemis.
Keras dan penuh tenaga. Dia bermaksud untuk
mengakhiri si pengemis dengan sekali hajar. Namun
sama seperti halnya tadi, pukulannya pun tidak men-
genai sasarannya. Hanya mengenai angin belaka dan
tubuhnya limbung ke depan karena terbawa oleh tena-
ganya sendiri yang terlalu besar.
Dan lagi-lagi tanpa terlihat si pengemis sudah
berpindah tempat. Gerakannya lagi-lagi tidak terlihat.
Mirip setan belaka. Meskipun bingung namun hal ini
semakin membuat Radung menjadi marah besar.
"Anjing! Rupanya kau memang hendak menjual
lagak di depanku, hah"!" serunya berang dan dengan kalapnya dia kembali
menyerang. Kali ini dengan kecepatan yang tinggi dan serangan yang membabi buta.
Sebenarnya dia jeri melihat kelihaian pengemis
tua itu yang bergerak bagaikan setan belaka. Dia sendiri sebenarnya yakin bahwa
dia tak akan menang me-
lawan pengemis tua sialan ini. Namun dia malu terhadap orang-orang yang
menyaksikan dari depan kedai
itu. Kalah adalah satu kata yang paling pantang
baginya. Dia tidak akan pernah bisa menerimanya.
Dan kejadian itu perlahan-lahan banyak men-
gundang minat orang untuk menonton. Begitu pula
dengan yang sejak tadi melihat. Perlahan-lahan mere-ka bergerak maju.
Maka sebentar saja sudah ramai mereka berso-
rak sorai membentuk lingkaran. Rata-rata mengejek
Radung yang selalu gagal dalam menyerangnya. Dan
semua itu mereka lakukan karena mereka memang ti-
dak suka dengan sikap Radung yang selalu membuat
onar dan menyombongkan dirt Pemuda itu mampus
malah semakin membuat orang-orang itu gembira.
Bahkan berterima kasih pada pengemis tua yang sakti itu.
Kesempatan ini mereka gunakan sebagai pe-
lampiasan rasa jengkel, marah dan dendam pada pe-
muda itu. Kesempatan yang jarang sekali.
Di samping itu mereka sebenarnya juga cemas
dengan si pengemis tua. Karena bila memang Radung
kalah, sudah pasti pemuda itu tak akan pernah mem-
biarkannya untuk hidup lebih tenang lagi. Pasti pembalasan dendam akan terjadi.
Ini bukanlah pertama
kali Radung melakukan hal itu. Sudah sering kali terjadi. Ah, mungkinkah
pengemis tua yang nampak san-
tai saja itu akan terkena pembalasan dendam Radung
yang amat jahat dan terkenal sungguh amat sadis"
"Hahahah... Radung, kau hanya besar mulut
saja!" akhirnya terlontar pula kata-kata itu dari mulut salah seorang. Yang
membuat keberanian yang lainnya pun muncul.
"Rasakan itu! Kena batunya kau!"
"Lebih baik kau mampus saja!"
Sorakan ramai semakin terdengar.
Mendengar ejekan-ejekan itu, Radung menjadi
semakin kalap. Dia terus menyerang secara membabi
buta. Gerakannya amat kacau sekali.
Namun sejauh itu tak satu pun serangannya
yang mengenai sasaran. Dan setiap kali dia gagal menyerang, selalu saja tawa
mengejek terdengar, ditingkahi dengan suara tepukan yang semakin membahana
ramai. Hanya nafasnya yang kini terdengar terengah-
engah. Gerakannya pun mulai terlihat kacau. Hanya
semacam dorongan kesombongannya saja yang ada.
Dan rasa malu karena dimainkan oleh seorang penge-
mis. Dalam hatinya yang terbakar telah tergores
dendam. Dia tidak terima semua ini. Dia akan memba-
lasnya nanti. Dia akan siksa pengemis itu sebelum
mampus dibunuh!
Sorak-sorakan mengejek semakin ramai diiringi
dengan tepuk tangan yang gegap gempita.
"Radung... kau hanya berani bila bersama tu-
kang pukul mu! Mampus saja kau sekarang karena
tukang pukul mu itu telah loyo hahaha...."
"Mengapa kau tidak segera berlalu untuk pu-
lang menetek pada ibumu!"
"Hahaha.... kau tak ubahnya bagaikan anak
ayam kehilangan induk sekarang!"
"Menghadapi seorang pengemis saja kau gagal!
Tahu rasa kau! Makanya jadi orang jahat usil!"
"Lebih baik pulang saja dan rubah kelakuanmu
yang sombong itu! Atau kau boleh menangis kembali
pada ibumu yang buncit perutnya dan bertubuh gen-
dut lebam, karena kebanyakan makan harta dan tena-
ga orang lain!"
"Lebih bisik bunuh din saja kau, Radung!"
Sorakan mengejek yang diiringi dengan tepukan
gemuruh itu semakin membahana. Kesempatan yang
amat langka ini benar-benar mereka gunakan sebaik-
baiknya. Mereka puas bisa melakukan hal yang telah
lama mereka inginkan itu. Tawa mereka benar-benar
keluar lepas. Meskipun geram bukan alang kepalang, namun
Radung masih berusaha untuk menjatuhkan puku-
lannya pada si pengemis. Dia harus bisa melakukan-
nya agar orang-orang yang mengejeknya itu menghen-
tikan ejekannya.
Mau rasanya dia menghajar mulut-mulut me-
reka yang amat kurang ajar sekali Namun belum sekali pun dia bisa menjatuhkan
pukulannya pada pengemis
tua itu. Hanya tenaganya yang terus menerus dikuras.
Di samping rasa geramnya sudah naik hingga ke
ubun-ubun. Agaknya pengemis pincang yang bungkuk itu
bukanlah pengemis sembarangan, karena gerakan-
gerakan yang dilakukannya untuk menghindari seran-
gan itu tidak terlihat oleh mata. Sehingga para penonton pun bisa menduga kalau
dia seorang pengemis
yang sakti. Sungguh hebat. Dan yang lebih hebat lagi,
kondisinya yang seperti itu bisa dibawanya dengan
langkah yang cepat dan cermat. Lagi-lagi gerakannya sudah bagaikan kilat belaka.
Tidak terlihat oleh mata dan betapa cepatnya.
Dan dari teriakan-teriakan yang diserukan oleh
orang yang melihat, pengemis tua itu dapat menduga
kalau pemuda yang bernama Radung tidak disukai
oleh para penduduk.
Bahkan terlihat kesan kalau para penduduk
sudah lama menantikan kesempatan ini dan berusaha
untuk dengan sepuas-puasnya mengejek pemuda yang
keras kepala ini.
Maka dia pun berniat hendak memberi pelaja-
ran pada pemuda yang sombong ini agar merubah si-
kapnya. Maka dia pun terus menerus menghindar
dengan maksud membuat si pemuda jera akan tingkah
lakunya selama ini.
Dia memang tidak bermaksud hendak mencari
permusuhan, namun dia tidak bisa lagi menghindar
darinya. Maka mau tak mau dia seakan-akan meladeni
tingkah si pemuda yang sebenarnya amat menjengkel-
kan hatinya. Terlihat pemuda itu lama kelamaan menjadi ke-
lelahan karena tenaganya terus menerus terkuras.
Hingga lambat laun dia menjadi sempoyongan dan ge-
rakannya semakin kacau.
Keringat sudah mengalir di sekujur tubuhnya.
Seruan-seruan mengejek semakin ramai terdengar.
Membahana dan penuh gegap gempita.
Bergemuruh bertalu-talu. Namun kali ini sudah
samar menerpa telinga Radung bahkan tidak terdengar sama sekali. Karena bagaikan
tersumbat telinganya
oleh keletihan tubuhnya yang dirasakan amat menyik-
sa sekali. Mendadak kepalanya menjadi berat. Matanya berkunang-kunang. Dan
tubuhnya limbung.
Lalu ambruk setelah sempoyongan berkali-kali
dengan tubuh yang limbung dan tidak bisa terkontrol lagi. Dan akhirnya pingsan.
Bersamaan dengan itu terdengar sorakan ramai
dari para penonton. Nyaris ucapan-ucapan mereka ti-
dak terdengar karena terlalu ributnya.
Mereka amat puas melihat pengemis tua itu
berhasil mempermainkan Radung.
"Hahahah.... lebih baik kau mampus saja!"
"Radung... kau hanya besar mulut!"
"Rasakanlah akibat dari perbuatanmu selama
ini!" "Hhhh! Ternyata kau hanyalah macan ompong
belaka!" Setelah pemuda itu ambruk dan pingsan karena kecapaian, si pengemis pun
mendesah panjang. La-
lu dengan santainya meninggalkan tempat itu. Sikap-
nya benar-benar tenang luar biasa. Seperti tidak mengalami hal apa-apa.
Para penduduk pun seakan tidak memperduli-
kannya. Mereka lebih suka menyoraki pemuda yang te-
lah lama mereka benci itu. Di mana kepuasan yang
mereka dapatkan tak terhingga besarnya.
* * * 4 Tiga orang laki-laki itu terus melangkah berge-
gas. Terlihat kalau mereka nampak begitu tergesa-gesa karena langkah mereka
begitu cepat. Di wajah mereka nampak kegelisahan dan tak luput pula kelelahan
yang terpancar, menandakan mereka sudah berhari-


Pendekar Gagak Rimang 9 Dendam Yang Tersisa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

hari berjalan kaki. Nampak pula kalau mereka mem-
punyai persoalan yang amat mengganggu.
Ketiganya terus bergegas.
Mungkin karena mereka sudah tidak sabar un-
tuk mencari tempat beristirahat guna menghilangkan
rasa penat yang amat menyiksa sekali. Beristirahat
adalah hal yang amat mereka inginkan sekali seka-
rang. Juga karena mereka melihat cuaca yang buruk
sementara langit kelam dan awan-awan menggumpal
hitam dan bergerak cepat dihembus angin yang ken-
cang. Malam pun nampak mulai semakin larut. Kelam
membuainya dalam satu belenggu yang menghitam
cukup mengerikan.
Nampak sebentar lagi akan turun hujan. Yang
mereka kuatirkan, bila mereka kehujanan di tengah jalan sementara tugas yang
mereka emban belum terli-
hat titik hasilnya. Tugas yang menurut mereka adalah tugas yang mulia. Tugas
demi kepentingan orang banyak yang selalu menjadi incaran dari para manusia-
manusia durjana.
Ketiganya adalah jago-jago dari Utara yang ber-
gelar Tiga Setan Api. Tubuh mereka tinggi besar dengan badan yang kekar. Wajah
ketiganya amat mengeri-
kan sekali. Terlihat mereka tidak mempunyai jiwa persahabatan yang tulus. Di
pinggang masing-masing
yang melilit sebuah angkin cukup tebal, terselip sebi-lah golok yang amat tajam.
Yang teramat hebat dari ketiganya adalah, me-
reka memiliki ilmu api yang cukup tinggi dan hebat.
Sepak terjang mereka di dunia persilatan cukup meng-getarkan bagi lawan maupun
kawan. Mereka kadang
tidak pernah mengenai belas kasihan meskipun lawan
sudah memohon ampun dengan wajah yang babak be-
lur atau pun terluka parah.
Banyak jago-jago di rimba persilatan ini yang
tidak mengerti akan sepak terjang Tiga Setan Api atau tiga pendekar yang
menguasai daerah Utara karena
mereka adalah orang-orang dari golongan putih.
"Kakang Penggoro ..." memanggil salah seorang dari ketiganya pada laki-laki yang
mengenakan baju
berwarna merah dengan angkin hitam melilit di ping-
gangnya. Sedangkan dia sendiri mengenakan angkin
berwarna putih sama dengan yang seorang lagi. Itu
menandakan yang bernama Penggoro adalah yang me-
reka hormati. "Ke mana lagi kita hams mencari Ki Ronggo Jibus yang telah membuat
onar di daerah bagian Utara, Kakang" Sudah hampir tiga minggu kita
meninggalkan tempat kediaman untuk mencari manu-
sia durjana itu, Kakang!"
Yang dipanggil mendesah terlebih dahulu sebe-
lum menyahut sambil mempercepat langkah. "Aku pun tidak tahu harus ke mana.
Namun manusia bejat itu
telah banyak membuat onar di Utara. Sebagai orang
dari golongan putih, kita tidak akan bisa menerima
perlakuannya Entah mengapa manusia iblis itu mem-
buat onar di Utara. Padahal setahu kita, kita tidak
pernah mempunyai silang sengketa dengannya."
"Namun Kakang Penggoro.... kita tidak bisa
berpangku tangan bukan" Kita mengemban tugas yang
cukup berat, karena ini menyangkut nasib orang ba-
nyak! Aku yakin, Manusia Iblis itu tidak hanya mem-
buat onar di Utara saja, Kakang... Ini sungguh amat mengkuatirkan sekali karena
sepak terjangnya begitu kejam dan telengas. Dia tidak segan-segan untuk
menurunkan kematian bagi siapa pun!"
"Kau benar, Adi Gurno Kita memang tidak bisa
berpangku tangan. Selama manusia iblis itu yang sela-lu membuat onar tanpa sebab
masih hidup, aku yakin
niscaya tidak ada kedamaian dan ketentraman di mu-
ka bumi ini."
"Tetapi, Kakang... kita tidak bisa menganggap
remeh manusia itu. Ki Ronggo Jibus adalah manusia
iblis yang bergelar manusia Berubah Muka. Dia dapat menyamar menjadi apa saja.
Hanya hantu yang tidak
bisa disamarkannya," kata yang seorang lagi dengan nada yang amat geram sekali.
Berkali-kali tangannya mengepal karena tidak sabar untuk segera menghan-tamkan
tangannya ke wajah Ki Ronggo Jibus.
Dia tidak akan pernah merasa tenang dalam
hidup, bila manusia itu belum mampus oleh tangan-
nya. "Memang benar. Laki-laki itu amat pandai menyamar dan ilmu kesaktiannya pun
amat tinggi," sahut Penggoro dengan nada yang tak kalah geramnya.
"Tetapi, Kakang... kita tidak akan jeri dengan ilmunya yang amat hebat itu,
bukan?" "Sudah tentu, iya! Tugas kita ini adalah untuk orang-orang yang tak berdosa yang
telah di bumirata-kan oleh Ki Ronggo Jibus! Sungguh laknat manusia
busuk itu!"
"Hhh! Tak sabar aku untuk bertemu dengan
manusia itu!"
"Benar, dan kita tidak akan menghentikan pen-
carian ini bila belum mendapatkan manusia keparat
itu. Dosanya sudah tidak terhitung lagi. Hanya kematianlah hukuman yang patut
baginya!" "Benar, Kakang.... betapa banyak nyawa manu-
sia yang tak berdosa mati di tangannya, belum lagi nasib kaum wanita yang telah
di perkosanya! Hhhh! Ma-
nusia laknat! Sudah sepatutnya dia mampus, Kakang!"
"Iya! Memang matilah baginya yang cocok! Ayo,
kita harus terus melangkah!"
Mereka terus bergegas melangkah. Wajah keti-
ganya jelas-jelas menampakkan kegeraman yang amat
luar biasa terhadap seorang manusia durjana yang
bernama Ki Ronggo Jibus atau Manusia Berubah Mu-
ka yang tengah mereka bicarakan.
Mereka sudah tidak sabar untuk menghajar
hingga mampus manusia durjana itu. Manusia yang
telah mengirimkan malapetaka di desa bagian Utara.
Kegeraman itu semakin menjadi-jadi saja nampaknya.
Agaknya dendam telah terpatri di hati Tiga Se-
tan Api terhadap Ki Ronggo Jibus. Dendam yang bisa menjadi abadi bila mereka
belum dapatkan manusia
itu. Hidup atau mati!
Lalu kembali terdengar Gurno berkata setelah
melihat suasana yang semakin gelap.
"Apakah tidak sebaiknya kita berhenti dulu,
Kakang" Karena sebentar lagi hujan pasti akan turun.
Ku lihat di sana ada hutan yang cukup lebat, mungkin dedaunan pepohonannya bisa
menangkal air hujan."
"Kau memang benar, Adi Gurno.... kita tidak bi-sa terus menerus mencari seperti
ini bila tidak mau kondisi kita terganggu. Kesehatan kita harus tetap ter-jaga
demi tugas mulia yang kita emban, untuk meng-
hentikan sepak terjang Ki Ronggo Jibus. Hhh! Manusia
keparat! Hidupku tidak akan tenang bila belum men-
cabut nyawamu! Baiklah... Adi Gurno... Memang, maksud ku se-
perti itu. Lebih baik kita beristirahat saja dulu. Ayo ki-ta ke sana. Tapi perlu
di ingat, kita harus tetap waspada. Aku tidak mau bila kita bertemu dengan
manusia iblis itu yang dalam keadaan menyamar. Dan dengan
seenaknya dia membokong dan menghantam kita!"
Kemudian ketiga jago dari Utara itu pun berge-
rak dengan cepat. Tubuh mereka melesat dengan ke-
cepatan yang luar biasa. Ilmu lari mereka kerahkan
dengan dipadukan oleh ilmu meringankan tubuh. Se-
hingga semakin leluasa mereka berlari. Cepat dan
amat cepat. Bila dilihat sekilas mereka seakan adu lomba
berlari untuk mencapai hutan itu.
Kegeraman mereka terhadap Ki Ronggo Jibus
yang telah membuat teror di Utara, semakin menam-
bah mereka memacu lari guna mencapai hutan itu.
Sungguh tidak sabar mereka untuk menjumpai manu-
sia kejam seperti Ki Ronggo Jibus! Manusia keparat
yang hendak mereka mampuskan!
Mereka telah bersumpah untuk mencincang
manusia kejam itu dan memotong-motong bagian-
bagian tubuhnya. Tak ada rasa nya hukuman yang se-
timpal bagi manusia busuk seperti Ki Ronggo Jibus
sebelum manusia itu mampus. Dan mampus pun bisa
terlalu enak baginya!"
"Lihat! Ada sebuah gubuk di sana!" seru Penggoro sambil terus berlari sementara
kedua adik seperguruannya terus mengikuti di belakang dan berusaha
untuk mengejar Penggoro. "Nampaknya gubuk itu cukup amat dan amat lumayan bagi
kita untuk berteduh
menghindar dari hujan! Ayo kita ke sana!"
Kembali ketiganya berlarian ke arah gubuk ke-
cil yang ditunjuk oleh Penggoro. Gubuk yang mereka
lihat cukup jauh dari posisi mereka sekarang. Semakin cepat. Dan berusaha untuk
mencapai tempat itu dengan waktu yang sesingkat mungkin. Waktu amat ber-
harga bagi ketiganya.
Langit di atas semakin kelam. Suasana sema-
kin gelap Petir pun mulai terdengar sambar menyam-
bar dengan sekali-sekali di tingkahi oleh kilat yang berulangkali berkelebat,
hingga sekali-sekali pula mene-rangi tempat itu. Tanda-tanda akan turunnya hujan
semakin jelas terlihat. Angin berhembus cukup dingin sementara geresek dedaunan
semakin lama semakin
keras terdengar. Bagaikan bisikan belaka yang mampu membuat bulu roma berdiri.
Bahkan terdengar bagaikan auman. Alam siap mengamuk. Siap menumpah-
kan kemarahannya dengan keganasan yang luar biasa.
Namun sebelum mereka mencapai gubuk itu
dan berada di dekat jalan setapak yang nampak sema-
kin sepi, mendadak saja Penggoro menghentikan la-
rinya. Laki-laki itu terdiam dengan sikap berwaspada.
Nampak kalau ada sesuatu yang telah menarik
perhatiannya, dan serentak pula dua adik sepergu-
ruannya itu pun menghentikan lari mereka. Mereka
pun segera memperhatikan sekelilingnya. Namun tak
ada sesuatu yang menurut mereka mencurigakan.
Karena menurut mereka tidak ada yang mencu-
rigakan, mereka berpandangan. Lalu saling mengge-
leng untuk kemudian memperhatikan Penggoro yang
masih bersikap tenang seperti tengah berkonsentrasi.
"Ada apa, Kakang?" tanya Gurno dengan sikap yang waspada. Matanya sekali lagi
memperhatikan sekeliling mereka dengan sikap yang amat waspada.
Penggoro tidak menyahut. Dia seperti tengah
terdiam. Namun sikapnya penuh misterius. Bahkan
terlihat keningnya berkali-kali berkerut.
Dia memasang telinganya dengan tajam. Dan
telinga yang terlatih untuk mendengar suara yang cukup jauh sekali pun, lapat-
lapat diiringi dengan desir angin yang menggesek daun-daun jati dia mendengar
suara orang menangis. Namun dia menjadi bingung
dan heran sendiri dengan pendengarannya.
Benarkah apa yang didengarnya"
Suara orang menangis"
Tidak salahkah dia"
Ya, dia jelas mendengar suara orang menangis.
Suara seorang perempuan. Terdengar begitu amat
memilukan sekali.
Penggoro mendesah. Dia sekali lagi menajam-
kan pendengarannya karena barangkali saja dia salah mendengar. Nampaknya amat
mustahil. Mustahil ada
wanita yang mau bermain-main ke hutan seperti ini.
Namun telinganya tidak salah mendengar. Dia
amat jelas menangkap suara orang menangis. Dan hal
ini semakin membuatnya bertambah amat yakin seka-
li. Karena sikap kakangnya begitu misterius, dua
adik seperguruannya pun segera berkonsentrasi. Me-
reka pun menajamkan telinga mereka.
Dan telinga mereka pun mendengar suara tan-
gis itu. Kemudian keduanya berpandangan dengan ha-
ti bertanya-tanya. Kala kesimpulan mereka singgah
pada sesuatu hal, mereka menjadi tegang. Dan seketi-ka terlihat mereka bersiaga.
"Kakang...." desis Gurno dan Perwiro bersamaan, tak sadar tangan keduanya
mengepal. Kesimpu-
lan itu amat mengerikan, karena mereka tak meng-
hendaki pertemuan dengan orang yang mereka cari da-
lam keadaan seperti ini.
Menyamar dan dibokong!
Penggoro pun mengalami hal yang sama. Na-
mun dia bisa bersikap lebih tenang. Ki Ronggo Jibus"
Mungkinkah yang sedang menangis itu adalah Ki
Ronggo Jibus yang sedang menyamar" Ini merupakan
kebingungan yang amat terasa sekali.
"Tenang... kita harus berhati-hati......" desisnya waspada dan telinganya jelas-
jelas menangkap suara
orang mengisak. Suara yang semakin lama semakin li-
rih. "Kakang... apakah kau tidak menduga kalau
sosok itu adalah Manusia Berubah Muka yang sedang
menyamar?" terdengar suara Perwiro bagaikan desisan belaka. "Aku tidak mau kita
salah menduga, dan manusia yang menangis itu adalah si Iblis Berubah Muka.
Namun aku pun tidak ingin kita salah menduga. Bisa
jadi memang ternyata bukan manusia iblis itu yang
sedang menyamar."
"Hmm. .. Kakang, menurutmu suara apakah
itu?" tanya Gurno dengan sikap tetap waspada.
"Suara seorang wanita sedang menangis."
"Mungkinkah ada seorang wanita yang iseng bermain-main ke sini?" "Mungkin."
"Bagaimana dengan mungkin itu?"
"Bisa jadi memang seorang wanita yang sedang
menangis."
"Mengapa harus di hutan yang menyeramkan
ini?" "Mungkin dia tersasar!"
"Kalau pun tersasar mengapa harus tiba di hu-
tan seperti ini?"
"Entahlah."
"Kakang...."
"Ya?"
"Jangan-jangan... itu adalah Ki Ronggo Jibus
yang sedang menyamar."
Penggoro mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kesimpulan yang ada dibenaknya pun mengisyaratkan
jawaban seperti itu.
"Itu bisa jadi benar. Namun bisa pula salah."


Pendekar Gagak Rimang 9 Dendam Yang Tersisa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kakang... apakah Kakang lupa kalau manusia
itu amat pandai menyamar?"
"Tidak, aku tidak pernah lupa akan hal itu.
Namun aku pun tidak mau kita terlalu salah bila ternyata memang bukan manusia
iblis itu."
"Lalu bagaimana sikap kita, Kakang?" tanya Perwiro.
Penggoro terdiam. Dia mendesah sejenak sebe-
lum kemudian berkata,
"Sebaiknya kita cari saja dari mana datangnya
sumber suara itu. Namun kita tetap jangan lupa, kita harus tetap bersiaga dan
waspada. Aku tidak mau mati konyol dalam hal ini. Bagaimana?"
Gurno dan Perwiro berpandangan, lalu saling
mengangguk. Kewaspadaan mereka semakin bertam-
bah. "Baiklah, Kakang... mungkin dengan cara seperti itu kita akan bisa lebih
jelas mengetahui siapa orang itu adanya," kata Perwiro.
"Benar. Ayo!"
* * * 5 Lalu ketiganya pun melangkah kembali. Dalam
pikiran masing-masing kini semakin terpusat pada
sumber tangis itu, dari mana dan siapa orang yang sedang menangis itu. Pikiran
tentang Ki Ronggo Jibus
yang menyamar semakin lekat di benak mereka. Dan
ketiganya tidak mau bila mereka mengalami suatu hal yang mengerikan. Karena bila
memang begitu, habis-lah harapan mereka untuk menangkap dan membasmi
manusia busuk itu!
Bila benar memang Ki Ronggo Jibus yang me-
nyamar adanya, bisa jadi manusia busuk itu telah
mempersiapkan jebakan yang dapat membuat mereka
mampus seketika.
Sungguh mengerikan, karena manusia iblis itu
bisa dengan enaknya membokong. Dan akan tertawa
terbahak-bahak melihat hasil kerjanya yang berhasil, tanpa mereka bisa melawan
sedikit pun untuk menghadapi serangan bokongan atau jebakan yang men-
ganga dan siap untuk menelan mereka.
Isak tangis itu semakin jelas terdengar. Kini di-
bawa oleh angin yang semakin berhembus dengan
kuat, sementara geresek dedaunan terdengar sungguh
amat mengerikan.
"Suara itu berasal dari arah kiri," kata Penggoro pelan dengan sikap yang tetap
Pendekar Super Sakti 17 Si Pedang Tumpul Karya Kho Ping Hoo Tujuh Pendekar Pedang Gunung Thian San 2
^