Pencarian

Tujuh Tumbal Perawan 3

Pendekar Gila 24 Tujuh Tumbal Perawan Bagian 3


Dari dalam goa, muncul sesosok tubuh lelaki bermuka garang berusia sekitar enam
puluh tahun. Mata lelaki tinggi besar berpakaian abu-abu itu berwarna merah, menatap tajam
tubuh Jariah yang tengah menggeliat-geliat ketakutan.
"Siapa kau, Ki"! Oh, di mana aku?" keluh Jariah dengan mata membeliak tegang
memandang dengan penuh rasa takut pada lelaki tinggi besar itu, yang wajahnya
dihiasi cambang bauk tebal. Sehingga keadaannya sangat menyeramkan. Terlebih
dalam keadaan gelap seperti itu. Karena ruangan goa itu hanya diterangi cahaya
obor yang terpancang pada dindingnya.
"Hua ha ha...! Tenang, Anak Manis! Kau berada di tempatku. Kau akan menjadi
tumbal ketigaku. Hua ha ha...!"
"Tidak...! Aku tidak mau...!" teriak Jariah ketakutan, mendengar dirinya akan
dijadikan tumbal.
Sudah terlintas dalam bayangan, bagaimana
nasibnya jika dijadikan korban.
"Hua ha ha...! Percuma kau berteriak-teriak seperti itu, Manis! Tak ada orang
yang mendengarnya," ujar Datuk Raja Beracun sambil tertawa-tawa.
Kemudian lelaki tua berambut panjang itu
melangkah mendekati Jariah yang kian ketakutan.
Apalagi sorot mata Datuk Raja Beracun yang berselimut hawa nafsu, tak berkedip
merayapi tubuhnya. Seakan-akan hendak menelan bulat-bulat tubuhnya yang sudah
dalam keadaan setengah telanjang itu.
"Oh, tidak...! Aku tak mau...!" teriak Jariah sambil berusaha meronta. Namun
karena kaki dan tangan terikat, menyebabkan dirinya tak mampu berbuat
apa-apa. Tubuhnya yang terpentang begitu rupa, sulit untuk berontak. Bahkan
semakin Jariah berusaha berontak, membuat tubuhnya yang montok tampak lebih
menggairahkan. Hal itu semakin membuat mata Datuk Raja Beracun melebar. Jakunnya
turun naik, menahan gejolak birahi yang meletup-letup di dalam dadanya.
Datuk Raja Beracun duduk di tepi altar batu tempat tubuh Jariah telentang.
Bibirnya menyeringai.
Tangannya bergerak merayap ke paha gadis itu.
Jariah tersentak kaget. Matanya membelalak ngeri. Ingin sekali muka lelaki
bertubuh besar itu diludahinya. Namun karena kedua tangan dan kakinya terikat
sehingga membuatnya tak mampu untuk mengangkat kepalanya.
"Kurang ajar! Lepaskan aku..!" teriak Jariah berusaha berontak. Namun Datuk Raja
Beracun tak peduli. Bahkan di bibirnya semakin tersungging senyum lebar. Dari
usapan tangannya, keluar sinar kuning. Rupanya Datuk Raja Beracun menggunakan
'Racun Birahi' yang mampu membangkitkan nafsu birah seorang wanita.
"He he he...! Kau sekarang bisa memaki, Anak Manis. Tunggulah sesaat lagi," ujar
Datuk Raja Beracun sambil terus membelai-belai paha Jariah.
Benar! Tidak lama kemudian, mata Jariah yang semula garang dan penuh amarah,
seketika meredup. Mulutnya mendesis, dengan mata
mengerjap-ngerjap. Sedang tubuhnya mulai menggeliat halus. Tak ada caci maki
keluar dari mulutnya.
Yang terdengar hanya desah dan erangan lirih.
"He he he...!"
Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Datuk Raja
Beracun terus membelai-belai paha Jariah. Semakin
banyak belaian yang dilakukan Datuk Raja Beracun, semakin keras desisan yang
keluar dari mulut Jariah.
"Oh.... Uh...!"
"He he he...! Sabar, Manis! Sebentar lagi, kau pasti akan mendapatkan semuanya,"
ujar Datuk Raja Beracun. Kemudian tangannya bergerak merenggut sisa pakaian yang
dikenakan gadis itu.
Bret! "Oh! Cepatlah, Ki...!" rintih Jariah seakan tak kuat lagi menanggung nafsu yang
menggebu-gebu. Tubuhnya menggeliat-geliat, bagaikan cacing kepanasan.
Datuk Raja Beracun terkekeh senang, merasa
'Racun Birahi'nya telah bekerja dengan baik. Segera pakaiannya dibuka. Kemudian
dengan senyum melekat dibibir, tubuh Datuk Raja Beracun merayap di atas tubuh telanjang Jariah
yang masih mendesis dan menggeliat-geliat.
Dalam sekejap saja, pergulatan kedua manusia yang dilanda nafsu itu pun terjadi.
Keduanya saling berpacu untuk mencapai puncak birahi.
Jariah benar-benar tak sadar kalau dirinya kini dalam cengkeraman maut. Yang ada
dalam pikiran-nya, hanyalah nafsu menggebu-gebu yang
ditumbuhkan oleh Datuk Raja Beracun. Meski tangan dan kakinya terikat, tidak
menghalangi gadis itu untuk membalas setiap pacuan Datuk Raja Beracun.
Tubuhnya menggeliat-geliat, seakan tak merasakan sakit akibat tangan dan kakinya
diikat. Bahkan gerakan tubuhnya semakin lama semakin bertambah kencang, disertai
rintihan-rintihan kenikmatan.
Ssampai akhirnya, tubuh Jariah mengejang disertai jeritan keras. Ada sesuatu
yang dirasakan gadis itu, ketika Datuk Raja Beracun menghentakkan tubuhnya
ke bawah. Sementara di luar goa, mulai terdengar lolongan anjing-anjing hutan. Seakan-akan
binatang-binatang itu turut menyambut atau mengejek kehadiran Jariah di goa itu.
*** Datuk Raja Beracun melangkah ke luar,
meninggalkan Jariah yang terkulai pingsan. Di bibir lelaki tua itu tampak
terulas senyum. Langkahnya yang lebar, kini menuju ke luar. Sesampainya di luar,
wajahnya ditengadahkan memandang ke langit.
"Hua ha ha...! Sesaat lagi, aku akan menjadi orang yang paling sakti di dunia!
Tak akan ada yang mampu mengalahkanku!" seru Datuk Raja Beracun, seakan hendak
menunjukkan ke seluruh alam kalau dirinya orang yang paling sakti dan tak
tertandingi. Malam yang diam membisu, sepertinya tak peduli pada keangkuhan Datuk Raja
Beracun. Malam pun sepertinya enggan pada lelaki tua durjana itu. Hanya untuk
memenuhi hasratnya yang sesat dan durjana tega melakukan kekejaman. Memperkosa
gadis-gadis, kemudian membunuhnya. Bukan itu saja, darah dan jantung gadis yang
dibunuhnya dijadikan pencuci muka dan pelepas dahaganya.
Bintang Pari yang menjadi pedoman bagi Datuk Raja Beracun, nampak telah berada
di atas ubun-ubun. Hal itu menandakan kalau dia harus melakukan pengorbanan.
Tumbal perawan harus segera dipersembahkan.
"Tiga tumbal telah kudapat, empat lagi aku akan menjadi tokoh maha sakti. Hua ha
ha...!" Dengan tertawa terbahak-bahak, Datuk Raja
Beracun melangkah masuk ke goa untuk melakukan persembahan dengan mengorbankan
seorang gadis. Datuk Raja Beracun melangkah mendekati tubuh Jariah yang masih terkulai pingsan.
Di bibirnya nampak senyum kepuasan. Datuk Raja Beracun memang puas akan segala-
galanya. Di samping bisa mendapatkan keperawanan gadis yang hendak
dijadikan korbannya, dia pun akan mendapatkan ajian maha sakti yang bernama
'Walik Akal'. Tak seorang pun tokoh yang pernah mendalami ajian kesaktian itu.
Jangankan bangsa manusia, bangsa siluman pun belum ada yang dapat melakukannya.
Hanya bangsa manusia yang separo siluman akan mampu melakukannya. Dan di
antaranya, Datuk Raja Beracun, murid Siluman Serigala.
"Hua ha ha...! Datuk Raja Beracun akan menjadi orang paling sakti di rimba
persilatan! Tak akan ada yang menandingiku!" seru Datuk Raja Beracun. Suara
keras dan bergema itu membuat Jariah terbangun dari pingsannya.
"Bajingan! Iblis...! Kau benar-benar iblis!" maki Jariah penuh amarah, setelah
menyadari dirinya telah terpedaya 'Racun Birahi' yang dikeluarkan Datuk Raja
Beracun lewat usapan tangannya.
Datuk Raja Beracun menyeringai, menunjukkan gigi-giginya yang kuning kecoklatan.
Matanya yang merah, menatap tajam sosok tubuh telanjang di hadapannya. Kemudian
dengan tenang tanpa
menanggapi caci maki Jariah, lelaki tua itu mendekati tempat golok besar tajam
tergantung. Mata Jariah semakin membeliak, melihat tangan Datuk Raja Beracun kini mengangkat
golok besar dan tajam itu. Rasa takut semakin menjadi-jadi, tergambar dari raut
wajahnya yang pucat pasi.
"Tidak...!" teriak Jariah, sambil menggeleng-gelengkan kepala, seakan menghiba
pada Datuk Raja Beracun agar mengurungkan niatnya. "Tidak...!
Jangan...!"
"He he he...!"
Datuk Raja Beracun terkekeh. Matanya yang
merah masih menatap tajam sosok tubuh Jariah yang masih telentang tanpa penutup.
Gadis cantik itu kini semakin ketakutan, membayangkan bagaimana golok besar dan
tajam akan memenggal kepalanya.
"Kau adalah tumbal ilmuku yang ketiga. Hua ha ha...! Setelah tujuh gadis, aku
akan menjadi orang tersakti di rimba persilatan. Tak akan ada seorang manusia
atau siluman yang dapat mengalahkanku!
Hua ha ha...! Tawa Datuk Raja Beracun menggema di dinding goa, menjadikan suasana di dalam goa
itu semakin menyeramkan. Rasa takut Jariah pun semakin menjadi-jadi. Keringat
dingin mengucur deras membasahi sekujur tubuhnya. Mata gadis cantik itu
membelalak tegang, melihat golok besar yang kini berada di tangan kanan lelaki
tinggi besar itu.
"Tidaaak...! Aku tidak mau...!" ratap Jariah menghiba, berusaha meminta belas
kasihan dari Datuk Raja Beracun. Namun sepertinya ratapan gadis itu tiada guna.
Datuk Raja Beracun nampaknya tetap akan menjadikan Jariah sebagai tumbal. Hal
itu karena akan melancarkan jalan untuk mendapatkan ajian yang sangat
didambakannya. Ajian maha sakti, yang selama ini tak seorang pun dapat
memilikinya. "Hua ha ha...! Kau tak dapat membujukku, Manis!
Terimalah nasibmu! Kau merupakan pelancar bagi jalanku untuk mendapatkan ajian
itu...." Sambil tertawa terbahak-bahak, Datuk Raja
Beracun mengangkat kedua tangannya yang
menggenggam gagang golok besar itu. Matanya yang merah, semakin berkilat membara
dan kelihatan sangat buas.
"Tidaaak...!" Jariah menjerit sekuat tenaga. Rasa takut kian mendera jiwanya.
Matanya yang lentik itu, membuka lebar ketakutan, menatap mata golok besar dan
tajam yang telah terangkat.
"Hua ha ha...!"
Dengan tertawa terbahak-bahak, Datuk Raja
Beracun mengayunkan golok besarnya.
Wut! "Tidak! Jangan...!" teriak Jariah menghiba dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Namun golok besar di tangan Datuk Raja Beracun telah melesat cepat.
Dan... Crab! "Akh...!"
Kepala gadis cantik itu seketika terpenggal putus dari lehernya. Darah segar
mengalir membasahi altar batu. Kepalanya terpental dan jatuh di lantai goa.
Tanpa merasa jijik ataupun iba, Datuk Raja Beracun segera membasuh wajah dengan
darah yang keluar dari leher Jariah.
"Hua ha ha...! Guru, terimalah persembahanku!
Ini adalah tumbal yang ketiga. Empat kali lagi, maka aku akan menjadi orang yang
sangat sakti, tak tertandingi oleh siapa pun! Hua ha ha...!"
Sambil tertawa-tawa seperti orang gila, Datuk Raja Beracun terus membasuh
wajahnya dengan darah Jariah. Setelah itu dengan bengis lelaki tua itu
menghujamkan jemarinya yang berkuku tajam ke dada korbannya.
"Hih...!"
Crab! Bagaikan terbuat dari baja, jari-jari tangan Datuk Raja Beracun mampu merobek
dada mayat itu.
Kemudian tanpa belas kasihan, dicabik-cabiknya dada Jariah. Dan ketika tampak
jantungnya, dengan buas dicabutnya.
"Hih...!"
Bret! "Hua ha ha...!"
Sambil tertawa-tawa, dimakannya jantung segar gadis itu dengan lahap.
"Nyem..., nyem...! Hua ha ha...!"
Bagaikan orang gila, Datuk Raja Beracun tertawa-tawa. Seolah-olah hatinya merasa
senang atas apa yang habis diperbuatnya. Jantung gadis itu habis tak tersisa
sedikit pun, dimakan dengan sangat lahapnya.
Setelah selesai melampiaskan kepuasannya,
Datuk Raja Beracun segera mengambil potongan kepala Jariah. Kemudian dengan
cepat membuka ikatan di kedua tangan dan kaki gadis itu. Setelah ikatan lepas,
tanpa mengenai jijik dan iba, dipanggulnya mayat gadis malang itu.
"Hua ha ha...!"
Sambil masih tertawa-tawa, Datuk Raja Beracun segera melesat meninggalkan goa
tempatnya bersembunyi. Lelaki tua itu terus berlari menuruni Gunung Welirang, menembus
kegelapan malam.
*** 8 Desa Karang Bale kembali digemparkan dengan hilangnya seorang gadis. Kali ini
tidak tanggung-tanggung lagi, anak Ki Lurah Sentana yang menjadi korban
penculikan. Hal itu membuat Kepala Desa Karang Bale semakin bertambah marah.
Selain penculikan itu yang membuat Ki Lurah Sentana merasa terhina ketika di
depan rumahnya tergeletak sesosok mayat perempuan yang tak dikenal. Keadaan
mayat itu sangat mengerikan. Dadanya tercabik-cabik dan kepalanya terpisah dari
tubuh. Namun jelas mayat itu bukan warga Desa Karang Bale.
"Biadab! Datuk Raja Beracun benar-benar biadab!
Kita tak bisa berdiam diri dengan kejadian-kejadian seperti ini!" maki Ki Lurah
Sentana geram. "Kita harus mencarinya, Kakang! Biarlah aku dan Lima Walang Sakti yang akan
mencari datuk keparat itu!" Ki Tunjung Melur pun kelihatan sangat gusar.
Bagaimanapun Wirani kemenakannya sendiri. Kemenakan tidak ubahnya anak. Siapa
pun orangnya, akan marah jika kemenakan atau anaknya diculik, apalagi dijadikan
korban secara biadab.
"Licik! Dia benar-benar licik. Tentunya dia sengaja menaruh mayat gadis ini di
rumahku, dengan harapan kita dapat diadu domba!" gerutu Ki Lurah Sentana. Gigi-
giginya saling gemerutukkan menahan amarah. Tangannya mengepal, kemudian
meninju-ninju telapak tangan kirinya.
"Kakang, aku akan mencarinya," ujar Ki Tunjung Melur.
"Benar, Ki Lurah. Izinkan kami mencari datuk keparat itu!" geram Walang Kejer,
selaku orang tertua di antara Lima Walang Sakti.
"Tapi, Pendekar Gila sedang mencarinya."
"Kita tidak bisa hanya menunggu Pendekar Gila, Kakang. Datuk Raja Beracun
bukanlah orang sembarangan. Siapa tahu Pendekar Gila mengalami kematian di tangannya," selak
Tunjung Melur. Kelihatannya kepercayaan Tunjung Melur pada Pendekar Gila agak menyusut. Hal itu
dikarenakan kemarahan yang tak terbendung lagi, setelah kemenakannya diculik.
"Jangan berkata begitu, Adi Tunjung Melur!"
bentak Ki Lurah Sentana. Kepala desa itu, tampaknya tak senang kalau adiknya
merendahkan dan tak mempercayai itikad baik Pendekar Gila. "Aku tahu gurunya."
"Apakah guru dan murid selalu sama, Kakang?"
bantah Tunjung Melur sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Mungkin Singo Edan
memang orang yang mementingkan darma. Tetapi muridnya, kita belum tahu pasti."
"Diam! Tak sepantasnya kau menuduh murid
Singo Edan seperti itu, Tunjung Melur!" sentak Ki Lurah Sentana tak senang.
Matanya menatap tajam wajah adiknya yang seketika menundukkan kepala, tak berani
mengadu pandang dengan kakaknya.
Sesaat mereka diam, tak seorang pun yang berani membuat mulut. Mereka terdiam
dengan pikiran masing-masing. Tunjung Melur tampak gelisah. Entah apa yang
menjadikan hatinya tak tenang. Bahkan sekilas kelihatannya merasa cemas. Seakan
ada sesuatu yang mengganjal perasaannya. Seperti ada suatu rahasia tersimpan di
hatinya, yang tak seorang
pun tahu. "Datuk Raja Beracun keparat..! Kubunuh kau jika kutemui!" geram Ki Tunjung Melur
dalam hati. Dihelanya napas dalam-dalam. Gigi-giginya saling beradu menahan kemarahan.
"Kakang, izinkan kami mencari Datuk Raja


Pendekar Gila 24 Tujuh Tumbal Perawan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Beracun!" pinta Ki Tunjung Melur setengah
mendesak. Hati lelaki setengah baya itu sudah tak sabar ingin segera berangkat
bersama Lima Walang Sakti untuk menyelamatkan Wirani.
Ki Lurah Sentana terdiam. Hatinya merasa
bimbang untuk memutuskan permintaan adiknya.
Bagaimanapun Datuk Raja Beracun bukanlah tokoh sembarangan. Dia mendapat gelar
datuk, tentu karena berilmu tinggi. Mungkinkah Tunjung Melur dan Lima Walang
Sakti mampu menghadapi Datuk Raja Beracun" Tanya Ki Lurah Sentana dalam hati,
khawatir kalau-kalau adiknya dan Lima Walang Sakti yang menyokong kekuatan dan
keamanan desa akan kalah. Bukankah itu merupakan usaha sia-sia"
"Kalau memang mau mencarinya, bawa beberapa warga," ujar Ki Lurah Sentana
menyarankan. "Jika terjadi apa-apa pada kalian, usahakan salah satu bisa
menyelamatkan diri untuk melapor padaku."
"Baiklah, Kakang."
Setelah mempersiapkan segala sesuatu, Ki
Tunjung Melur bersama Lima Walang Sakti dan sepuluh warga desa pergi
meninggalkan Desa Karang Bale.
*** Sementara itu, Pendekar Gila yang mengejar Sepasang Banteng Kuning, kini telah
sampai di sebelah selatan Desa Gegeran. Dilihatnya tadi kedua orang utusan Datuk Raja
Beracun itu berlari ke selatan melalui Desa Gegeran.
Sinar mentari pagi terasa mulai menghangatkan.
Dan angin berhembus membelai rambut Pendekar Gila yang terikat kulit ular.
Pemuda tampan berambut gondrong itu tampak menggaruk-garuk kepala.
Sementara mulutnya terdengar menyenandungkan nyanyian riang, sambil sekali
cengengesan. Sebentar kemudian wajahnya mendongak, memandang langit biru. "Ah ah
ah, mengapa aku begitu tolol" Mengejar dua ekor tikus saja tak becus," gumam
Sena sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kakinya terus menelusuri jalan utama
Desa Gegeran yang cukup ramai orang hilir mudik berjalan kaki. Semua orang yang
berpapasan dengan Pendekar Gila, seketika menghentikan langkah dan memperhatikan
dengan kening berkerut Banyak di antara mereka yang iba melihat pemuda gila itu
yang bernyanyi-nyanyi dan cengengesan di jalanan. Namun ada juga yang tertawa
merasa lucu menyaksikan tingkah laku Sena yang konyol, persis orang gila.
"Kasihan ya, pemuda setampan dia harus gila."
Salah seorang bergumam dengan mata
memandang tak berkedip penuh iba pada Pendekar Gila yang terus cekikikan sambil
menggaruk-garuk kepala.
"Iya ya" Kasihan sekali. Kalau saja tak gila, aku mau menjadi orangtuanya,"
sahut temannya yang bertubuh gemuk dengan pakaian seperti seorang juragan.
Kepala lelaki gemuk dan agak pendek itu menggeleng-geleng.
Pendekar Gila yang mendengar pembicaraan
kedua lelaki itu hanya tersenyum. Kakinya terus melangkah menyelusuri jalanan di
Desa Gegeran untuk mencari kedai, guna mengisi perutnya yang lapar.
Tak lama kemudian, Pendekar Gila menemukan sebuah kedai yang pagi itu nampak
sudah ramai. Matanya tiba-tiba tertumbuk pada dua lelaki berpakaian kuning lengan panjang
dengan punggung tersandang pedang.
"Aha, rupanya mereka ada di sini," gumam Sena sambil cengengesan dengan tangan
menggaruk-garuk kepala. Kemudian dengan tingkah lakunya yang konyol, Sena
melangkah menuju pintu kedai.
Dua orang lelaki yang tak lain Banteng Kuning, masih tenang ngobrol. Keduanya
tak menduga kalau Pendekar Gila yang mengejar mereka telah sampai di Desa
Gegeran. "Hi hi hi...! Lucu sekali kalian! Mengapa kalian ada di sini?" tanya Sena sambil
cekikikan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Pertanyaan lucu Pendekar Gila
itu membuat para pengunjung kedai, termasuk Sepasang Banteng Kuning menoleh ke
pintu kedai. "Pendekar Gila...!" pekik Sepasang Banteng Kuning hampir bersamaan. Mata mereka
terbelalak kaget, tak menyangka kalau Pendekar Gila telah sampai di kedai itu.
"Apa"! Dia Pendekar Gila...!"
Suara ramai para pengunjung kedai terkejut setelah tahu kalau pemuda bertingkah
laku konyol dan persis orang gila itu, ternyata Pendekar Gila.
Orang-orang memang sering mendengar sebutan pemuda itu. Namun tak akan pernah
menyangka, kalau mereka bakal melihat tampang Pendekar Gila
yang sesungguh nya.
"Hi hi hi...! Kuharap semuanya tenang. Aku hanya ingin menangkap kedua tikus
tolol itu," ujar Sena berusaha menenangkan pengunjung kedai yang riuh setelah
tahu kehadirannya.
"Cuih! Jangan kau kira mudah menangkap kami, Pendekar Gila! Kami bukan bocah
yang gampang digertak olehmu!" dengus Pulut sengit.
"Aha, kurasa memang kalian bukan anak kecil.
Tetapi tikus-tikus tolol," ledek Pendekar Gila sambil tertawa terbahak-bahak
yang menjadikan Sepasang Banteng Kuning semakin geram dan marah.
"Kurang ajar! Kuremukkan kepalamu, Pendekar Gila!"
"Kusobek mulutmu yang besar itu, Bocah Edan!"
Sepasang Banteng Kuning seketika melesat
menyerang Pendekar Gila. Keduanya dengan cepat mencabut pedang dan langsung
menggempur dengan tusukan dan babatan dalam jurus 'Sepasang Tanduk Merobek
Gunung'. "Hea...!"
Srt! Wrt! "Haits! Hea...!"
Dengan cepat Pendekar Gila mencelat keluar, mengelakkan tusukan pedang kedua
lawannya yang masih memburu. Nampaknya Sepasang Banteng
Kuning, tak mau membuang-buang waktu percuma.
Mereka berusaha secepatnya membereskan
Pendekar Gila. Hal itu tampak jelas dari serangan keduanya yang langsung
menggebrak dengan jurus-jurus andalan.
"Hea!"
Wret! Wret! "Mau lari ke mana kau, Bocah Edan!" sentak Pulut sambil terus memburu tubuh
Pendekar Gila dengan sabetan dan tusukan pedangnya.
"Hi hi hi...! Kurasa justru akulah yang bertanya pada kalian. Hendak lari ke
mana lagi setelah seharian kalian kabur?" sahut Pendekar Gila sambil melompat ke
sana kemari menghindari tebasan pedang lawan.
"Kurang ajar! Hea...!"
Sepasang Banteng Kuning segera menambah
kecepatan babatan pedang mereka dari dua arah.
Namun dengan gerakan aneh, Pendekar Gila mampu mengelak dari serangan. Tubuhnya
dibungkukkan ke bawah serendah mungkin. Kemudian kedua
tangannya yang terlepas dihantamkan ke kanan dan ke kiri, mencoba membalas
serangan lawan.
Wrt! Degk! "Ukh!" Sepasang Banteng Kuning melenguh
tertahan. Kedua lelaki berpakaian kuning itu menyurut mundur tiga tindak,
setelah terkena pukulan Pendekar Gila. Perut mereka terasa sangat mual. Mata
tajam mereka menatap nanar pada Pendekar Gila yang berjingkrakan seperti kera
sambil tertawa terbahak-bahak. Sedangkan tangan
kanannya menggaruk-garuk kepala.
"Hua ha ha...! Lucu sekali...! Lucu sekali kalian!"
gumam Sena sambil terus menggaruk-garuk kepala.
"Kurang ajar!" dengus Pulut sengit.
"Kubunuh kau, Bocah Edan!" maki Wungul.
"Hea!"
Sepasang Banteng Kuning kembali menggebrak dengan ganas. Pedang mereka kembali
bergerak membabat dan menusuk dari dua arah. Pulut
menyerang dari depan, sedangkan Wungul dari belakang.
"Hi hi hi...!"
Dengan cekikikan, Sena segera membuka
jurusnya yang dinamakan 'Kera Gila Meledek Ular'.
Gerakannya persis seekor kera gila. Kedua tangannya menggaruk-garuk kepala dan
menepuk-nepuk pantat.
Mulutnya dimonyong-monyongkan, yang membuat kemarahan kedua lawan semakin
menggelegak. "Hea!"
Dengan penuh amarah, Sepasang Banteng
Kuning bergerak cepat menyerang dengan sabetan dan tusukan pedang, Namun dengan
gerakan yang konyol, Pendekar Gila menghindari serangan itu.
Bahkan dengan cepat kaki kanannya menyapu
berputar sambil jongkok.
"Hea!"
Wrt! Sepasang Banteng Kuning yang tak menduga
sama sekali akan mendapat serangan dengan
gerakan seperti itu, tersentak kaget. Keduanya berusaha mengelak dari sambaran
kaki lawan. Namun ternyata sambaran kaki Pendekar Gila lebih cepat. Tanpa ampun lagi...,
Wret! Bruk! Bluk!
"Aduh...!" kedua lelaki berpakaian kuning terpekik kesakitan. Tubuh mereka
langsung jatuh tertunduk dengan mulut meringis. Sedangkan Pendekar Gila kembali
berjingkrakan sambil tertawa cekikikan.
Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu, keheranan melihat tingkah laku
Pendekar Gila. Mereka hampir tak percaya, kalau jurus-jurus Pendekar yang seperti bercanda dan
main-main, ternyata mampu menjatuhkan kedua lawan dalam
sekali gebrakan saja.
"Ck ck ck...! Hebat sekali!" gumam pemilik kedai.
"Ya! Ternyata nama Pendekar Gila bukan nama kosong," sambut seorang pengunjung
kedai sambil menggeleng-gelengkan kepala. Hatinya kagum menyaksikan kehebatan
ilmu silat Pendekar Gila.
Pendekar Gila masih cengengesan dengan
tingkah lakunya yang konyol. Dengan langkah perlahan Pendekar Gila menghampiri
kedua lelaki berpakaian kuning yang masih meringis-ringis kesakitan. Pulut dan
Wungul merasa ketakutan ketika lawannya mendatangi mereka.
"Ampun, jangan bunuh kami!" ratap Pulut
mengiba. "Benar. Ampunilah selembar nyawa kami ini!"
tambah Wungul penuh harap.
"Aha, mengapa kalian seperti bocah kecil"
Bukankah tadi kalian mengatakan bukan bocah lagi?"
tanya Sena dengan cengengesan. Tangannya
menggaruk-garuk kepala. Matanya memandang tajam wajah Sepasang Banteng Kuning,
yang semakin ketakutan melihat tingkah laku Pendekar Gila.
"Ampunilah kami!" pinta Pulut
"Hi hi hi...! Baiklah, kalian kuampuni, asal katakan siapa yang menyuruh kalian"
Lalu apa yang sebenarnya kalian lakukan?" tanya Pendekar Gila.
Kedua lelaki berpakaian kuning itu, saling pandang seperti kebingungan. Ada
sesuatu yang ditakutkan oleh mereka.
Pendekar Gila yang melihat keduanya nampak enggan menjawab pertanyaannya, dengan
keras membentak.
"Katakan! Atau kalian kukirim ke neraka, heh"!"
"Ampun..., jangan! Ba... baik, akan kami katakan,"
jawab Pulut dengan kedua telapak tangan di letakkan di kepala, Wajahnya masih
menggambarkan rasa takut. "Kami sebenarnya bukan diperintah Datuk Raja Beracun."
"Aha, rupanya kalian bosan hidup. Hi hi hi...!
Kalian mau membohongiku. Bukankah kalian
menyebut sendiri nama Datuk Raja Beracun ketika di Desa Serotan?" tanya Sena
tegas. "Sungguh, kami tidak berbohong. Semua kami lakukan hanya untuk memancing Tuan
Pendekar,"
tutur Wungul. "Kami sebenarnya diperintah oleh Tunju...!"
Belum juga selesai ucapan Wungul, tiba-tiba....
Swing! Swing! Beberapa senjata rahasia berbentuk bintang melesat dari kejauhan. Desingan keras
terdengar. Dengan cepat Pendekar Gila melentingkan tubuh ke atas sambil menjulurkan tangan.
"Hea!"
Trep! Trep! Pendekar Gila selamat dari terjangan senjata rahasia itu. Bahkan tangannya
berhasil menangkap empat buah. Namun, Sepasang Banteng Kuning tampaknya tak
mampu bergerak menghindar. Di samping luncuran senjata rahasia itu begitu cepat
tubuh mereka yang tertendang Pendekar Gila terasa masih sakit. Sehingga sulit
untuk bergerak. Maka...
Jlep! Jlep! "Akh...!"
Pendekar Gila tersentak kaget, mendengar jeritan kematian itu. Namun dirinya
tetap tak sempat menolong. Tubuh keduanya seketika ambruk, dengan darah hitam
meleleh dari mulut. Namun, sebelum mati, Pulut masih sempat berbisik menyebutkan
nama seseorang.
"Tunjung... Me... Lur. Akh...!"
"Tunjung Melur...?" gumam Sena dengan mulut nyengir sedangkan tangannya
menggaruk-garuk kepala. Dirinya tak mengerti, mengapa Sepasang Banteng Kuning
menyebut nama adik Kepala Desa Karang Bale.
"Hm, apa sebenarnya yang dikehendaki Ki
Tunjung Melur, sehingga dia memerintah Sepasang Banteng Kuning dengan
menyebarkan Datuk Raja Beracun?" gumam Sena bertanya-tanya dalam hati.
Pendekar Gila segera melesat meninggalkan
Desa Gegeran. Orang-orang di depan kedai itu tersentak keheranan melihat gerakan
Pendekar Gila. Beberapa orang bahkan ada yang mengusap-usap mata, seakan tak percaya apa yang
baru saja dilihatnya. Dalam sekejap saja mata mereka sudah tak mampu melihat
sosok tubuh Pendekar Gila.
Nampaknya Pendekar Gila sengaja tak mengejar orang yang telah membunuh Sepasang
Banteng Kuning. Dia sengaja lari menuju Desa Karang Bale, untuk menanyakan pada
Ki Lurah Sentana tentang Ki Tunjung Melur.
*** 8 Pendekar Gila yang berlari menuju Desa Karang Bale kini tengah melewati kaki
Gunung Welirang. Tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika sayup-sayup terdengar
suara rintihan seorang gadis yang entah berasal dari mana. Dengan menggunakan
ajian 'Pembeda Rungu'
Pendekar Gila berusaha memperjelas pendengarannya terhadap suara rintihan itu.
Suara itu tampaknya memang jauh dari tempatnya kini berdiri.
"Ayah..., di mana aku..." Hu hu hu...!"
"Aha, suara manusiakah?" tanya Sena tertegun, setelah jelas sekali suara seorang
wanita menangis.
Keningnya berkerut. Tangannya menggaruk-garuk kepala. "Dari mana suara itu
berasal?" "Hu hu hu...! Ayah, Wirani takut...."
Suara itu kembali terdengar. Kini menyebut namanya yang menjadikan Pendekar Gila
membelalakkan mata.
"Wirani...?" gumamnya lirih. "Ah, bukankah gadis itu anak Ki Lurah Sentana?"
Pendekar Gila yang semula hendak pergi ke Desa Karang Bale, kini mengurungkan
niatnya. Dia kini berusaha mencari asal suara tangisan gadis yang menyebut
dirinya Wirani. Sekeliling Gunung Welirang dijelajahi, sampai akhirnya Pendekar
Gila melihat sebuah goa.
Sesaat Pendekar Gila bimbang. Dipasang
pendengarannya dengan tajam. Dari dalam, tiba-tiba terdengar suara bentakan
keras. "Manusia lancang mana yang berani datang ke tempatku"!"
"Hua ha ha...! Dari suaramu, tentunya kau Datuk Raja Beracun. Aha, kebetulan
sekali!" sahut Pendekar Gila berseru. "Kebetulan sekali. Datuk dungu, keluar
kau!" Mendengar seruan Pendekar Gila, Datuk Raja Beracun seketika melesat ke luar.
Matanya membelalak, ketika tahu siapa yang datang ke tempatnya.


Pendekar Gila 24 Tujuh Tumbal Perawan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kau"!"
"Hi hi hi...! Kenapa kau kaget, Datuk Iblis"!
Dosamu sungguh tak terampuni!" dengus Pendekar Gila. Mulutnya masih cengengesan,
tapi dilihat dari sorot matanya yang tajam, jelas Pendekar Gila saat itu benar-
benar marah. "Cuih! Berani sekali kau berkata begitu di hadapan Datuk Raja Beracun, Bocah
Edan!" bentak Datuk Raja Beracun dengan geram, karena merasa Pendekar Gila
selalu ikut campur dengan urusannya.
"Hua ha ha...! Lucu sekali kau, Datuk Tolol!
Mengapa tak berani" Jangankan aku, kebo-kebo dungu saja berani mengentutimu. Hua
ha ha...!"
Sena tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepalanya. Mulutnya
dimonyongkan ke depan.
Dan.... "Brut...! Hua ha ha...!"
Terdengar suara seperti bunyi kentut dari mulut Pendekar Gila.
Datuk Raja Beracun marah bukan main diejek begitu rupa. Matanya yang merah,
semakin membara, menatap tajam penuh kebencian pada Pendekar Gila.
Gigi-giginya saling gemerutuk menahan amarah yang ditahan.
"Kurang ajar! Lancang sekali mulutmu, Bocah Edan! Kuremukkan batok kepalamu!
Heaaa...!"
Dengan penuh ancaman, Datuk Raja Beracun
melesat melakukan serangan dengan jurus 'Kala Hitam Menyengat'. Jari-jari
tangannya yang berkuku panjang dan mengandung racun, bergerak
mencengkeram dan menusuk ke dada Pendekar Gila.
Dari gerakan kedua tangannya, keluar asap hitam yang mengandung racun.
Wrt! Wrrrt! "Uts! He he he...!"
Dengan mulut cengengesan, Pendekar Gila
segera merenggangkan kaki kanannya sambil
membungkuk. Kemudian dengan jurus 'Gila Menari Menepuk Lalat', diladeninya
serangan Datuk Raja Beracun.
Tubuh Pendekar Gila yang meliuk-liuk, kelihatan sangat pelan dan lambat. Namun
serangan-serangan maut yang dilancarkan Datuk Raja Beracun, tak mampu mengenai
sasarannya. Hal itu menjadikan Datuk Raja Beracun semakin bertambah penasaran,
menyangka kalau dengan gerakan seperti itu Pendekar Gila tak akan mampu lepas
dari serangannya. "Kau akan mampus, Bocah Edan! Hea...!"
Datuk Raja Beracun merasa akan dapat
mengalahkan Pendekar Gila jika menambah
kecepatan serangannya. Maka segera dirinya bergerak semakin cepat. Tangannya
susul-menyusul mencengkeram ke tubuh Pendekar Gila. Namun setiap kali serangan
datang, dengan gerakan aneh Pendekar Gila berkelit. Serangan Datuk Raja Beracun
pun dapat dielakkannya. Hal itu tentu saja membuat Datuk Raja Beracun semakin
penasaran. "Kurang ajar! Rupanya kau bukan bocah
sembarangan! Tapi, kau tak akan lepas dari Datuk Raja Beracun! Terimalah
seranganku ini, 'Lipan Melentik Racun'. Heaaa...!"
"Aha, kurasa jurusmu masih kurang lincah, Datuk Iblis!" ejek Pendekar Gila
dengan maksud membakar amarah lawan. Dan rupanya Datuk Raja Beracun terpancing.
Serangannya semakin bertambah dahsyat dan cepat. Bukan hanya tangannya yang
bergerak menyerang, tetapi kedua kakinya pun turut bergerak menyapu dan
menendang. Menghadapi serangan gencar dan mematikan
seperti itu, Pendekar Gila tak kelihatan gugup atau ketakutan. Bahkan dengan
cengengesan, pemuda itu segera merubah jurus. Kini dengan jurus 'Si Gila Melepas
Lilitan', Pendekar Gila mengelakkan serangan lawan. Tubuhnya bergerak memutar,
menangkis serangan lawan. Gerakan itu sangat aneh.
Meski kelihatannya Pendekar Gila tak melihat gerakan jurus lawannya, tetapi
setiap gerakan lawan menyerang dapat ditangkap.
"Heaaa...!"
Datuk Raja Beracun mengibaskan kaki kanannya, menendang punggung lawan. Namun
dengan tubuh masih berputar, Pendekar Gila dengan cepat menggerakkan tangan kiri
ke belakang. Lalu tubuhnya berbalik, disusul dengan tepukan telapak tangan kanan
ke dada Datuk Raja Beracun
"Yeaaa...!"
Wuuut! "Heh"!"
Datuk Raja Beracun tersentak kaget, tak
menyangka kalau dirinya akan mendapat serangan balasan. Dengan cepat
ditangkisnya serangan itu
dengan tangan kiri.
Plak! "Ukh!"
Datuk Raja Beracun terpekik kaget. Tubuhnya terdorong tiga langkah ke belakang.
Matanya terbelalak kaget, tak percaya kalau tenaga dalam bocah gila yang menjadi
lawannya sangat tinggi.
Tangannya yang berbenturan dengan telapak tangan Pendekar Gila, dirasakan
berdenyut-denyut sakit.
Bahkan sepertinya tulang pergelangan tangannya retak.
"Hi hi hi...!"
Pendekar Gila tertawa cekikikan, tangannya menggaruk-garuk kepala. Nampaknya
pemuda itu tak mengalami luka. Melihat sikap lawannya, Datuk Raja Beracun
semakin keheranan. Padahal serangan yang dilancarkan tadi disertai dengan
pengerahan kekuatan racun 'Menjangan Merah', salah satu racun dahsyat. Namun
pemuda gila itu tak mengalami kesakitan. Sepertinya Pendekar Gila kebal terhadap
segala macam jenis racun.
Datuk Raja Beracun tak tahu, kalau Pendekar Gila memang kebal terhadap segala
macam jenis racun.
Hal itu disebabkan Racun Kabut Ungu dan Darah Ular Putih yang telah menyatu di
dalam tubuhnya. Dua racun itu, selama ini belum ada tandingannya. Kedua racun
itu pun melindungi Pendekar Gila dari segala macam racun yang menyerang
(Mengenai kedua racun itu, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode
"Suling Naga Sakti" dan "Titisan Dewi Kwan Im").
"Heh"! Kau kebal terhadap racunku...?" desis Datuk Raja Beracun dengan mata
terbelalak, menyaksikan Pendekar Gila tak mempan racun
ganasnya. "Hi hi hi...! Lucu sekali kau, Datuk Iblis! Kurasa kau tak pantas bergelar Datuk
Raja Beracun. Kau lebih cocok bergelar Datuk Raja Tolol!" ejek Sena terus
berusaha membangkitkan amarah Datuk Raja Beracun.
"Cuih! Jangan kira kau telah menang, Bocah Edan! Kau kebal terhadap racun, tapi
belum tentu mampu mengalahkanku!" dengus Datuk Raja
Beracun sengit. Matanya semakin merah membara.
Kakinya melangkah dua tindak ke belakang,
kemudian membuka jurus baru yang bernama
'Kelabang Petir'.
"Hi hi hi...!"
Dengan tertawa cekikikan sambil menggaruk-
garuk kepala, Pendekar Gila pun segera membuka jurus 'Kera Gila Meledek Ular'.
Gerakannya seperti seekor kera yang sedang menggoda ular, dengan harapan ular
yang diledeknya akan marah. Pantatnya ditunggingkan ke depan Datuk Raja Beracun,
sambil dielus-elus dengan tangan kiri. Kemudian dari mulutnya terdengar suara.
"Duuut...! Hua ha ha...!"
Datuk Raja Beracun benar-benar bertambah
marah diperlakukan seperti itu. Dengan menggeram laksana seekor harimau, Datuk
Raja Beracun melompat menyerang.
"Ghrrr! Heaaa...!"
Kaki Datuk Raja Beracun berjingkat-jingkat aneh.
Namun jingkrakannya sangat cepat. Kemudian tanpa diduga, tiba-tiba tangannya
hampir mencakar wajah Pendekar Gila.
"Uts! Hampir saja! He he he...!" Dengan cepat Pendekar Gila berguling di tanah
mengelakkan serangan pertama. Namun kaki Datuk Raja Beracun
tiba-tiba telah menendang ke tubuhnya yang berguling.
"Remuk igamu! Heaaa...!"
Wrt! "Celaka!"
Pendekar Gila kaget, tak menyangka serangan kedua akan datang begitu cepat.
Tubuhnya segera berguling ke samping kiri dan tangannya bergerak menangkap kaki
kanan sang Datuk yang hendak menendang iganya.
Trep! "Hih!"
Datuk Raja Beracun berusaha menekan kakinya agar dapat menginjak dada lawan.
Namun dengan cepat kaki kiri Pendekar Gila bergerak menendang ke perut Datuk
Raja Beracun. "Yeaaa...!"
"Haits! Hih...!" Datuk Raja Beracun memiringkan tubuh ke samping. Kemudian
tangannya bergerak hendak menangkap kaki kiri lawan. Namun dengan cepat Pendekar
Gila menarik kaki kirinya ke belakang. Disusul dengan tendangan kaki kanan.
Wrt! Datuk Raja Beracun yang sudah mata gelap, tak dapat mengelakkan serangan itu.
Dengan cepat tangan kanannya dihantamkan untuk menangkis kaki Sena.
Wrt! Plak! "Ukh!"
Kembali Datuk Raja Beracun terpekik lirih.
Sekujur tangannya dirasakan gemetaran dan nyeri.
Seperti menghantam logam yang sangat kuat.
"Hih!"
Datuk Raja Beracun berusaha melepaskan kaki kanannya dari cengkeraman tangan
Pendekar Gila. Sementara tangannya bergerak mengambil sesuatu dari balik pakaiannya, kemudian
ditebarkan ke muka Pendekar Gila.
"Aits! Hih...!"
Dengan cepat Pendekar Gila melepaskan
cengkeraman tangannya, sambil berguling ke samping. Lalu dengan cepat bangkit
berdiri dan melenting ke atas. Setelah bersalto beberapa kali di udara, dengan
menggunakan jurus 'Si Gila Terbang Menyambar Mangsa' Pendekar Gila melancarkan
serangan cepat pada Datuk Raja Beracun.
"Heaaa...!"
Wusss! Tendangan Pendekar Gila menerobos asap merah yang ditebarkan Datuk Raja Beracun.
Tak dapat dielakkan, tendangan itu menghantam dada Datuk Raja Beracun.
Wreeet! Dugk! "Ukh...!"
Tubuh Datuk Raja Beracun terhuyung-huyung ke belakang. Dari sela bibirnya,
meleleh darah segar.
Matanya yang tajam menatap garang pada Pendekar Gila.
*** Pendekar Gila cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Sementara Datuk Raja
Beracun hanya mampu menatap dengan hati jengkel. Dadanya tampak turun naik
menahan kemarahan. Dibiarkan saja darah yang terus mengalir lewat bibirnya.
Gigi- giginya saling beradu dan napasnya mendengus keras.
"Hi hi hi...!"
Pendekar Gila tertawa cekikikan sambil
menggaruk-garuk kepala. Tubuhnya melompat-
lompat, seperti seekor kera yang kegirangan. Hal itu membuat kemarahan Datuk
Raja Beracun semakin menggelegak. Dan tiba-tiba, dari mulut lelaki tua
berpakaian abu-abu itu keluar suara keras mirip lolongan anjing hutan.
"Ghrrr! Auuu...!"
Bersamaan dengan suara lolongan itu, Datuk Raja Beracun menjatuhkan tubuh lalu
bergulingan ke belakang. Dan saat itu pula, wujudnya berubah menjadi sesosok
serigala besar berwarna hitam. Mata binatang itu tampak menyala buas, menatap
tajam wajah Pendekar Gila yang masih diliputi perasaan terkejut.
"Heh"!"
Pendekar Gila menyurut mundur dua tindak.
Matanya membelalak kaget. Namun kemudian
muncul sikap khasnya yang konyol.
"Hi hi hi...! Lucu sekali! Kenapa kau mau
menakut-nakuti aku dengan barongan seperti itu?"
"Ghrrr! Auuu...!"
Lolongan keras serigala hitam jelmaan Datuk Raja Beracun itu terasa
menggetarkan. Bahkan dedaunan di sekitar tempat itu bergetar hebat. Dan pada
saat itu pula, dari dalam goa muncul lima orang lelaki gagah. Semua menatap
wajah Pendekar Gila yang cengengesan.
"Heh"!" Pendekar Gila tersentak kaget Matanya terbelalak dengan mulut melongo.
Lima lelaki berpakaian biru mengkilap itu ternyata Lima Walang
Sakti "Kalian" Ah ah ah, aneh sekali! Kurasa ada yang tak beres."
"Tutup mulutmu, Pendekar Gila! Kau benar-benar telah turut campur dengan urusan
kami!" suara parau itu terdengar dan mulut serigala hitam itu. "Bunuh dia! Dia
telah tahu semua tentang kita!"
"Aha, kurasa kini kalianlah yang telah membuka kedok kalian sendiri. Rupanya di
balik kebaikan kalian, tersembunyi sifat tamak dan keji!" ujar Pendekar Gila
sambil tertawa-tawa, tak merasa takut sedikit pun menghadapi Lima Walang Sakti
dan serigala jejadian itu.
"Kurang ajar! Bungkam mulutnya!" Kembali
serigala jejadian itu berseru memerintah, yang dengan segera dikerjakan Lima
Walang Sakti. "Heaaa...!"
Dengan jurus 'Paduan Walang Merambah Hutan'
Lima Walang Sakti langsung merangsek Pendekar Gila. Pedang di tangan mereka
bergerak cepat, membabat, dan menusuk tubuh Pendekar Gila
dengan cepat dari segala arah.
"Heaaa...!"
Wrt! Wut! Dengan menggunakan jurus 'Si Gila Menari
Menepuk Lalat' Pendekar Gila bergerak mengelakkan serangan kelima lawannya.
Tubuhnya meliuk-liuk bagaikan menari, sambil sesekali menyerang dengan telapak
tangannya ke tubuh lawan.
"Heaaa...!"
"Hea...!"
Lima Walang Sakti ternyata bukan orang
sembarangan. Apalagi di tangan mereka tergenggam pedang. Hal itu cukup membuat
Pendekar Gila harus menguras tenaga. Tubuhnya terus bergerak meliuk-
liuk, mengelakkan serangan yang datangnya susul-menyusul.
"Aha, kalau aku begini terus, kurasa sia-sia tenagaku," gumam Sena sambil terus
bergerak merundukkan tubuh, ketika pedang lawan berkelebat cepat membabat ke
kepalanya. Namun segera
mendoyongkan tubuh ke samping, ketika serangan susulan datang dari depan.
Pendekar Gila yang tak ingin menganggap remeh lawan-lawannya, kini segera
mencabut senjata saktinya yang berupa suling berkepala naga. Apalagi ketika
melihat serigala jejadian itu melompat masuk ke dalam goa. Dengan cepat Sena
melemparkan Suling Naga Saktinya.
"Aha, mau ke mana kau, Serigala Tolol"! Hih...!"
Wsss! Suling Naga Sakti melesat ke udara, kemudian jatuh tepat di depan mulut goa.
Saat itu pula, dari Suling Naga Sakti keluar asap tebal berwarna putih.
Kemudian samar-samar muncul sesosok bayangan dari kepulan asap. Setelah asap
putih itu hilang, nampaklah sosok ular naga besar berwarna kuning emas.
Wsss! "Ghrrr...!"
Serigala jejadian tersentak kaget. Binatang itu mengurungkan langkahnya masuk,
karena pintu goa tertutup sosok tubuh panjang dan besar. Mata serigala bertubuh
besar itu memandang penuh amarah. Naga Sakti pun melakukan hal sama. Dari mulut
keduanya keluar desisan keras dan lolongan menggelegar membahana.
Serigala jejadian itu segera melesat menubruk ke Naga Sakti. Pertarungan kedua
binatang sakti itu tak
terelakkan. Keduanya saling gulat dan cakar, berusaha membunuh satu sama lain.
Melihat Naga Sakti kini telah menghadapi serigala hitam jelmaan Datuk Raja


Pendekar Gila 24 Tujuh Tumbal Perawan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Beracun, Pendekar Gila pun dengan tertawa terbahak-bahak terus meladeni Lima
Walang Sakti. Dengan jurus 'Si Gila Terbang Mencengkeram Mangsa' tubuh Pendekar
Gila berkelebat di udara, mengelitkan babatan dan tusukan pedang lawan. Kakinya turut
bergerak, menjejak dan menendang kepala lawan.
"Aha, lucu sekali kepala kalian!" seru Sena sambil menjejakkan kakinya ke kepala
Walang Kerik, yang menyerangnya dengan penuh nafsu.
Degk! "Waduh...!"
Walang Kerik menjerit kesakitan. Kepalanya yang dijejak, bagaikan ditindih batu
seberat tubuhnya.
Sehingga kepalanya terasa sangat pening. Tubuh Walang Kerik, nampak sempoyongan
seperti menahan beban yang sangat berat. kemudian
tubuhnya ambruk pingsan.
Pendekar Gila tertawa cekikikan. Tubuhnya yang baru saja mendarat, langsung
berjingkrak-jingkrak sambil menggaruk-garuk kepala. Hal itu membuat Walang Sakti
yang lain semakin marah, merasa diledek dan diremehkan.
"Kurang ajar! Kubunuh kau, Pendekar Gila!"
dengus Walang Kejer. Kemudian dengan meng-
gerakkan tangan memerintah ketiga adik
seperguruannya, melakukan serangan serentak pada Pendekar Gila dari empat arah.
"Heaaa...!"
"Yeaaa...! Mampus kau, Pendekar Gila...!"
Melihat keempat lawan dengan ganas
menyerang, Pendekar Gila segera melompat ke atas.
Kemudian dengan enaknya hinggap di atas dahan pohon sambil tertawa terbahak-
bahak. "Hua ha ha...! Aku di sini, mengapa kalian seperti orang kebingungan"!" seru
Sena ketika melihat keempat lawan yang tengah mencari-cari dirinya.
"Kurang ajar! Pengecut! Turun kau"!" bentak Walang Keket sambil melesat
melakukan serangan.
Tubuhnya melesat terbang bagaikan seekor belalang.
Pedang di tangannya siap membabat Pendekar Gila.
Namun dengan cepat, Pendekar Gila melompat sambil bersalto meninggalkan cabang
pohon ara itu dan hinggap di pohon lain. Hal itu membuat Walang Keket kehilangan
keseimbangan, sehingga menabrak cabang pohon.
Srak! Brak! "Ukh!"
Tubuh Walang Keket melayang ke bawah,
kemudian jatuh di tanah. Dadanya bolong tertancap sebatang tonggak kayu.
Kejadian itu membuat ketiga Walang Sakti semakin marah.
"Pengecut! Kalau kau benar seorang pendekar, turun dan hadapi kami!" tantang
Walang Kejer. "Aha, kurasa kalianlah yang pengecut. Kejarlah aku. Hi hi hi...!"
Sambil tertawa cekikikan, Pendekar Gila menari-nari di atas sebatang cabang
pohon besar. Lidahnya dijulur-julurkan, kemudian pantatnya ditepuk-tepuk meledek
ketiga lawan agar marah.
*** Sementara itu, pertarungan antara Naga Sakti melawan serigala jejadian masih
berlangsung seru Kedua binatang itu saling serang. Naga Sakti mulai dapat
membelit tubuh lawan, yang terus berusaha mencakar dan menggigit. Naga Sakti pun
tak mau kalah, kaki-kakinya yang juga berkuku tajam mencakar muka dan tubuh
serigala siluman.
Tubuhnya berguling-guling dan meliuk sambil terus membelit serigala.
"Auuu...! Hrrr!"
Serigala besar itu meraung-raung keras seakan-akan merasa kesakitan karena
belitan ular naga.
Namun binatang jelmaan Datuk Raja Beracun itu tak peduli, terus berusaha
mencakar dan menggigit tubuh Naga Sakti yang terus meringkus tubuhnya.
Sambil mendesis-desis keras, Naga Sakti pun berusaha mencakar dengan kuku-
kukunya yang tajam dan kuat.
Tampaknya tak sia-sia yang dilakukan Naga Sakti.
Serigala bertubuh besar itu melolong keras ketika cakaran Naga Sakti mencabik
wajah dan perutnya.
Darah tampak mengalir dari atas matanya yang menyala. Kedua binatang jelmaan itu
terus bergulat mencakar, menggigit, dan bergulingan.
Keduanya terus berguling ke bawah, semakin jauh dari goa tempat pertarungan
Pendekar Gila melawan Walang Sakti. Sementara itu, dari arah barat terdengar
suara teriakan-teriakan orang penuh amarah.
"Itu mereka, Ki Lurah...!"
"Tangkap pengkhianat-pengkhianat itu...!" seru seorang lelaki berusia sekitar
enam puluh tahun yang ternyata Ki Lurah Sentana.
Tiga Walang Sakti yang sedang menunggu
Pendekar Gila turun, kini nampak kebingungan.
Mereka hendak lari ke timur, tetapi tiba-tiba Pendekar Gila berteriak dengan
suara keras menggelegar.
"Hua ha ha...! Mau lari ke mana, Tikus-Tikus Busuk"!"
Tiga Walang Sakti tersentak kaget. Mereka
semakin ketakutan, tak tahu harus berbuat apa.
Apalagi dari arah barat teriakan-teriakan warga Desa Karang Bale yang menyertai
kepala desa tampak semakin dekat
"Tangkap pengkhianat-pengkhianat itu...!"
perintah Ki Lurah Sentana penuh amarah.
Warga Desa Karang Bale yang sudah marah
karena tahu kalau semua kekacauan di desa mereka akibat tindakan Walang Sakti
serta orang yang mengaku bernama Datuk Raja Beracun, segera mengepung ketiga
Walang Sakti. Dalam keadaan terpepet, Tiga Walang Sakti tak dapat berbuat banyak menghadapi
puluhan warga yang dibantu oleh Pendekar Gila. Dalam sekejap saja, Tiga Walang
Sakti dapat dibantai oleh warga Desa Karang Bale.
Sementara itu, jauh di bawah sana, dua makhluk jelmaan masih terus bertarung.
Namun nampaknya serigala jejadian itu mulai kehabisan tenaga, karena belitan
kuat Naga Sakti. Tulang-tulang tubuhnya, remuk oleh belitan itu.
"Auuu...!"
Terdengar suara keras meraung, bersamaan
dengan melayangnya nyawa serigala besar itu. Sesaat kemudian, Naga Sakti kembali
berubah menjadi sebuah suling emas dan melesat ke tempat Pendekar Gila berada.
Wusss! "Aha, terima kasih!"
Pendekar Gila segera menangkap Suling Naga Saktinya, kemudian diselipkan ke ikat
pinggang. Sementara warga desa dan Ki Lurah Sentana yang tadi mendengar raungan keras,
segera lari ke tempat asal suara itu, untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi.
Di bawah, di hutan yang mengelilingi kaki Gunung Welirang, tergeletak sesosok
tubuh lelaki yang mengaku Datuk Raja Beracun. Warga desa langsung berlarian
mendekati sosok tubuh berpakaian abu-abu itu. Tanpa ragu-ragu orang-orang segera
mengangkat tubuh Datuk Raja Beracun untuk dibawa naik.
Setelah dibaringkan di tanah, Ki Lurah Sentana segera menghampiri mayat Datuk
Raja Beracun. Tangannya tiba-tiba bergerak merenggut wajah mayat itu. Dengan keras, Kepala
Desa itu menyentakkan kulit wajah mayat Datuk Raja Beracun.
Bret! "Hah"!"
Pendekar Gila terkejut ketika melihat wajah Datuk Raja Beracun yang ternyata
tertutup kedok kulit.
Matanya semakin terbelalak setelah tahu siapa sebenarnya datuk itu.
"Ah ah ah, mengapa jadi begini?"
Ki Lurah Sentana tersenyum. Dipegangnya
pundak Pendekar Gila perlahan.
"Aku pun tak pernah menduga, Sena. Namun
salah seorang wargaku yang kutugaskan untuk menguntit gerak-gerik mereka
akhirnya melapor, kalau Datuk Raja Beracun tiada lain Tunjung Melur.
Dia bukan adikku, dia sebenarnya pembunuh keji."
"Ah, pusing sekali, Ki. Kalau begitu, siapa dia sebenarnya?" tanya Sena
kebingungan. "Dia anak Ki Boleng, orang sesat yang sepuluh tahun silam pernah menggemparkan
Desa Karang Bale dengan perbuatan kejinya," jawab Ki Lurah Sentana.
"Ah ah ah, aku masih bingung, Ki," sahut Sena.
"Baiklah..."
"Ayah!"
Belum sempat Ki Lurah Sentana bertutur, tiba-tiba dari dalam goa terdengar suara
berseru. "Hei, Anakku..." Ki Lurah Sentana langsung memburu ke dalam diikuti Pendekar
Gila. Dan mereka melihat Wirani dengan tubuh setengah telanjang, terikat pada
batu besar. Pendekar Gila segera membantu membuka ikatan pada tangan Wirani.
"Oh, syukurlah! Kau masih dilindungi Hyang Widi."
Wirani langsung memeluk ayahnya dan menangis.
"Hampir saja paman memperkosaku, Ayah," ujar Wirani di sela isak tangisnya.
"Kalau saja tak segera datang Kakang Sena, entah aku sudah bagaimana."
"Sudahlah, Anakku! Kau harus berterima kasih pada Sena. Dan perlu kau ketahui,
kalau manusia iblis itu bukan pamanmu. Dia anak Ki Boleng," ujar Ki Lurah
Sentana menjelaskan.
"Bagaimana Ayah tahu?" tanya Wirani. "Nanti di rumah aku ceritakan," jawab Ki
Lurah Sentana sambil membimbing anaknya keluar dari dalam goa.
Jubahnya dibuka, kemudian dikenakan ke tubuh Wirani. "Sena, kuharap kau tak
menolak untuk menginap di rumah! Akan kuceritakan siapa
sebenarnya Datuk Raja Beracun yang mengaku Ki Tunjung Melur."
"Aha, baiklah, Ki. Rasanya aku pun tak bisa menolak ajakanmu," jawab Sena sambil
cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Dan ketika matanya melirik
Wirani, gadis cantik anak Ki Lurah Sentana itu pun tengah memandang wajahnya.
Bibir gadis itu tersenyum kepada Pendekar Gila. Namun dengan cepat Sena berbisik
dalam hati. "Ingat, Sena! Mei Lie adalah segala-galanya bagimu. Jangan main api, nanti akan
membakar hatimu! Mei Lie menanti dirimu, cintamu, serta kasih sayang yang tulus
darimu." Sena tertawa terbahak-bahak, kemudian
menggaruk-garuk kepala. Semua warga Desa Karang Bale yang tengah melangkah di
kaki Gunung Welirang ter-sentak kaget. Mereka langsung menoleh ke wajah Pendekar
Gila. Namun kemudian semua turut tertawa terbahak-bahak, memecah keheningan
malam. Wirani tersipu-sipu. Pipinya merah merona.
Sesampainya di rumah, Ki Lurah Sentana mengajak Pendekar Gila dan anak gadisnya
duduk-duduk di serambi depan. Kemudian kepala desa itu pun mulai bercerita
tentang siapa sebenarnya Tunjung Melur.
"Suatu hari, tiga purnama yang lalu kami
kedatangan seorang yang mengaku sebagai adikku,"
kata Ki Lurah Sentana memulai cerita. "Karena aku memang mempunyai adik yang
berpisah semenjak kecil, aku percaya kalau dia memang adikku."
Ki Lurah Sentana menarik napas. Sementara
Pendekar Gila dan Wirani masih diam mendengar penuturan Ki Lurah Sentana.
"Semenjak kedatangan Tunjung Melur, Desa
Karang Bale memang semakin bertambah tenang.
Namun rupanya di balik semua kebaikan Tunjung Melur, tersembunyi dendam. Dendam
karena ayah- nya, Ki Boleng mati oleh Pendekar Gila dari Goa Setan yang tak lain Singo Edan.
Juga dendam terhadap warga Desa Karang Bale, yang telah membantu Singo Edan
menyingkirkan ayahnya.
Suatu hari, Tunjung Melur pergi. Pulangnya membawa Lima Walang Sakti yang
katanya teman-teman Tunjung Melur. Katanya, mereka ingin bekerja.
Ternyata Lima Walang Sakti itu, teman-teman Tunjung Melur yang juga hendak
membuat kekacauan di Desa Karang Bale. Bahkan Tunjung Melur ingin meng-gulingkan
diriku sebagai lurah di desa ini.
"Aku semula tak tahu maksud jahat Tunjung
Melur. Sampai akhirnya, semenjak anak Ki Pardi ditemukan mati, aku mulai
menyuruh Ki Sobrah untuk menyelidiki secara bersembunyi. Akhirnya diketahui,
kalau dalang kejadian-kejadian ini tak lain Tunjung Melur. Lewat teman-teman Ki
Sobrah, akhirnya didapat keterangan kalau Tunjung Melur ternyata anak Ki Boleng.
Karena merasa khawatir, kami segera memburu ke arah yang dituju Tunjung Melur.
Dia katanya hendak mencari Datuk Raja Beracun. Akhirnya, kami pun menemukannya."
Begitulah kisah yang diceritakan kepala desa itu tentang Datuk Raja Beracun
kepada Pendekar Gila.
"Ah ah ah, aku kini tahu. Hm, beruntung sekali kau masih dilindungi Hyang Widi,
Wirani. Hi hi hi...!
Kalau tidak, tentunya kau sudah menjadi makanan empuk datuk cabul itu," goda
Pendekar Gila, yang membuat wajah Wirani bersemu merah. Mata gadis itu melirik
wajah Pendekar Gila, kemudian tersipu malu sambil menundukkan kepala.
Ki Lurah Sentana turut tersenyum. Kemudian secara diam-diam kepala desa itu
meninggalkan serambi rumah. Membiarkan Pendekar Gila dan anaknya berdua dalam kebisuan.
Sampai akhirnya Pendekar Gila dan Wirani tersenyum, setelah menyadari kalau Ki
Lurah Sentana sengaja
meninggalkan mereka berdua.
SELESAI Created ebook by
Sean & Convert to pdf (syauqy_arr)
Edit Teks (fujidenkikagawa)
Weblog, http://hanaoki.wordpress.com
Thread Kaskus: http://www.kaskus.us/showthread.php"t=1397228
Kedele Maut 11 Bendera Maut Sam Goan Leng Hun Hoan Karya Kwee Oen Keng Pukulan Naga Sakti 2
^