Pencarian

Rahasia Surat Berdarah 1

Dewa Arak 07 Rahasia Surat Berdarah Bagian 1


RAHASIA SURAT BERDARAH
Oleh Aji Saka Cetakan pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting : Widarto K.
Gambar sampul oleh Pro's
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy
atau memperbanyak sebagian atau seluruh Isi buku ini tanpa lain tertulis dari
penerbit Aji Saka Serial Dewa Arak dalam episode: Rahasia Surat Berdarah 128 hal ; 12 x 18 cm
Pembuat Ebook :
Scan buku ke djvu : Abu Keisel
Convert : Dewi KZ
Editor : Dewi KZ
Ebook pdf oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
1 Seekor kuda coklat melangkah pelan memasuki Miatasan Desa Rinji yang besar dan
ramai. Penunggunya adalah seorang pemuda berbadan kekar, berwajah keras. Alisnya
tebal berbentuk golok. Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Mulut pemuda itu berdecak. Kedua tangannya yang
menggenggam tali kekang kuda itu pun digoyang-goyangkan.
Jelas pemuda itu memaksa binatang tunggangannya agar terus berjalan.
Kuda coklat itu memang sudah terlihat lelah. Nampaknya binatang itu telah
menempuh perjalanan jauh dan melelahkan.
Dan itu memang sudah pasti, karena keadaan penunggangnya pun tidak jauh berbeda
dengan tunggangannya. Terlihat lelah.
Pakaian dan wajahnya kotor berdebu.
Laki-laki berwajah keras itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sepasang
alisnya yang tebal berbentuk golok berkerut. Jelas ada sesuatu yang dicarinya.
Pandang matanya liar menatap rumah-rumah yang ada di kanan
kirinya. Tak dihiraukannya pandang mata keheranan dari penduduk yang melihatnya.
Sepasang alis yang berkerut itu lenyap. Wajah keras itu pun berseri ketika
pandangannya tertumbuk pada sebuah bangunan besar dan megah. Bangunan ini
berhalaman luas dan terkurung pagar tembok tinggi. Di depan pintu
gerbangnya berdiri dengan gagahnya dua orang yang berjaga-jaga dengan sikap
waspada. "Hooop...!"
Laki-laki berwajah keras itu menarik tali kekang kudanya tepat di depan pintu
gerbang bangunan mewah dan megah itu. Hanya berjarak tiga tombak di depan kedua
penjaga. Tentu saja hal itu membuat ke dua penjaga memperhatikan laki-laki berwajah keras
Itu dengan sikap penuh curiga.
"Hup...!"
Dengan sebuah gerakan yang indah dan manis laki-laki berwajah keras itu melompat
dari punggung kudanya. Ringan tanpa suara, kedua kakinya menjejak tanah.
Kemudian sambil memegang tali kekang kuda, dituntunnya binatang itu menuju pintu
gerbang. Karuan saja tindakan laki-laki berwajah keras itu membuat penjaga pintu
gerbang terkejut. Serentak keduan melangkah menghadang sambil meraba gagang
golok masing-masing. Bersiap menghadapi segala kemungkinan.
"Mengapa kalian menghalangi jalanku"!" tanya laki-laki berwajah keras itu. Nada
suaranya mengandung teguran.
Kedua penjaga pintu gerbang itu saling berpandangan.
Sorot mata mereka jelas menyiratkan kebingungan. Tidak salahkah pendengaran
mereka ini"
"Maaf, kalau kami boleh tahu, siapakah Kisanak" Dan apa maksud Kisanak datang
kemari?" tanya salah seorang penjaga yang berambut coklat, dengan suara
meiendah. Teguran laki-laki berwajah keras itu membuat mereka bersikap hati-
hati. "Kalian tidak mengenalku" O ya, mungkin kalian orang baru di sini. Apakah kalian
pernah dengar nama Kanulaga?" laki-laki berwajah keras itu balik bertanya.
Wajah kedua penjaga itu berubah. Mereka sebenamya
bukan tergolong orang baru. Sudah sepuluh tahun mereka bekerja pada pemilik
bangunan megah dan mewah itu.
Sehingga wajar kalau keduanya mengenal semua anggota keluarga majikannya.
Memang, keduanya pernah mendengar kalau salah seorang anak majikan mereka yang
bernama Kanulaga, pergi mengembara lima belas tahun lalu. Jadi, laki-laki inikah
putra sulung pemilik rumah mewah dan megah ini"
pikir mereka menduga-duga.
Kedua penjaga itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya," sahut salah seorang lagi yang memiliki sebuah tompel di pipi.
"Nah! Akulah orangnya!" sahut laki-laki berwajah keras itu tegas.
"Ahhh...!" desah kedua penjaga itu berbareng. Perasaan terkejut yang amat sangat
menghiasi wajah mereka.
"Kalau begitu..., maafkan kami, Den. Kami tidak mengenal Aden, sehingga bersikap
tidak sopan kepada Aden," ucap keduanya sambil membungkuk hormat.
"Hm...," laki-laki berwajah keras yang mengaku bernama Kanulaga itu mendengus.
"Menyingkirlah, kalian! Aku ingin lewat..!"
Penjaga yang memiliki tompel di pipinya segara beringsut menyingkir. Tapi, tidak
demikian halnya dengan yang berambut coklat. Dia tetap berdiri menghadang jalan.
"Maafkan kami, Den. Sebelum kami yakin kalau Aden benar-benar Aden Kanulaga,
kami tidak bisa memperkenankan Aden masuk. Maafkan kami, Den Kami tidak ingin
terjadi sesuatu pada diri Tuan Suradiraja."
Si tompel tercekat Ucapan rekannya menyadarkannya kalau laki-laki berwajah keras
itu belum tentu Kanulaga! Maka dia pun segera melangkah maju dan berdiri di
sebelah temannya!
Kanulaga tersenyum.
"Bagus! Aku ingin tahu sampai di mana kepandaian kalian!"
sambut laki laki yang mengaku bernama Kanulaga. Tali kekang kudanya lalu
dilepaskan, kemudian ditepuk-tepuknya leher kuda coklat itu.
"Menyingkirlah sebentar Manis," ujar laki-laki berwajah keras itu pelan.
Seperti mengerti ucapan majikannya, kuda coklat itu mendengus pelan kemudian
membalikkan tubuh dan berjalan meninggalkan tuannya.
Laki-laki yang mengaku bernama Kanulaga itu kini
mengalihkan perhatiannya pada dua orang penjaga di
hadapannya. "Aku akan masuk ke dalam. Ingin kulihat apakah kalian mampu menghalangiku...?"
ujar laki-laki berwajah keras itu pelan bernada menantang.
"Maafkan kami, Den. Kami hanya menjalankan tugas...,"
sahut si rambut coklat.
'Tidak usah banyak basa-basi! Ayo serang aku!" bentak laki-laki yang mengaku
bernama Kanulaga itu
"Maafkan kami. Den. Hiyaaa...!"
Penjaga yang memiliki tompel di pipinya ini lalu menyerang laki-laki
yang mengaku bernama Kanulaga. Kakinya menyambar cepat ke arah wajah dengan sebuah tendangan miring yang keras.
Laki-laki berwajah keras itu hanya mendengus pelan.
Tubuhnya didoyongkan ke belakang sehingga tendangan itu hanya mengenai tempat
kosong. Sekitar sejengkal di depan wajahnya.
Sebelum si tompel sempat berbuat sesuatu, tahu-tahu tangan kanan laki-laki
berwajah keras itu bergerak cepat!
Tappp...! "Akh...!"
Si tompel memekik kaget tatkala pergelangan kakinya sudah dicengkeram lawannya.
"Hih...!"
Secepat pergelangan kakinya tertangkap, secepat itu pula laki-laki berwajah
keras itu menyentakkannya. Kuat bukan main tenaga yang terkandung dalam sentakan
itu. Tak pelak lagi, si tompel terlempar ke atas
Tapi si tompel membuktikan kalau dirinya bukan-lah orang yang mudah
dipecundangi. Tubuhnya berputar di udara.
Dan.... "Hup...!"
Meskipun agak terhuyung-huyung, namun kedua kakinya berhasil hinggap di tanah.
Mulut si tompel menyeringai, kaki kanannya dirasakan agak sakit. Memang sentakan
laki-laki berwajah keras itu kuat bukan main Tapi si tompel tahu kalau lawan tak
ingin melukainya Dia yakin, seandainya laki-laki ber wajah keras itu mau, dengan
tenaga dalamnya yang kuat itu, tulang pangkal kakinya bisa terlepas! Bukan hanya
tubuhnya saja yang terlempar ke udara!
Penjaga yang berambut coklat terkejut bukan main. Melihat betapa mudah rekannya
dapat dipecundangi laki-laki berwajah keras itu. Tanpa ragu-ragu la segera
dicabut goloknya.
Srattt...! Sinar terang terpancar begitu golok pendek be warna putih, keluar dari
sarungnya! Wuk, wuk, wuk...!
Si rambut coklat memutar mutarkan senjatanya depan
dada. Angin mengiuk cukup keras, mengiringi gerakan golok itu.
"Hiyaaa...!"
Sambil mengeluarkan seruan nyaring melengking golok di tangannya ditusukkan
cepat ke perut laki-laki yang mengaku bernama Kanulaga itu! Tapi, laki-lnl
berwajah keras itu bersikap tenang. Ditunggunya hingga serangan itu mendekat
Dan begitu serangan sudah dekat, dengan kecepatan yang mengagumkan tubuhnya
didoyongkan ke samping kiri.
Sehingga serangan itu hanya mengenai tempat kosong, lewat di samping kanan
pinggangnya. Pada saat yang bersamaan, tangan kanannya bergerak menepak.
Plakkk..! "Akh...!"
Penjaga berambut coklat itu memekik tertahan. Tepakkan laki-laki berwajah keras
itu telak dan keras sekali menghantam pergelangan tangannya yang menggenggam
golok. Tulang-tulangnya terasa remuk, seketika itu juga, goloknya terlepas dari
genggaman Belum lagi si rambut coklat sempat berbuat sesuatu, kaki kanan laki-laki
berwajah keras itu bergerak menendang ke arah perut.
Bukkk...! "Hugh...!"
Penjaga yang sial ini mengeluh tertahan. Tubuhnya
langsung terjengkang beberapa tombak ke belakang. Perutnya dirasakan mules bukan
kepalang. Untunglah laki-laki yang mengaku bernama Kanulaga itu hanya
mengerahkan sebagian kecil tenaga dalamnya. Sehingga ia tidak menderita luka
dalam. Hanya rasa mual dan mules melanda perutnya
Melihat penderitaan kawannya, si tompel yang kini sudah mencabut goloknya,
bergerak menyerang. Tapi gerakannya segera terhenti ketika terdengar suara
bentakan keras.
'Tahan...!"
Dari dalam pintu gerbang yang memang terbuka itu
bergerak cepat seorang laki-laki setengah baya.
Serentak tiga orang itu menoleh ke arah laki-laki setengah baya itu.
"Ki Taji...!" seru orang yang mengaku bernama Kanulaga, memanggil laki-laki
setengah baya itu.
Laki-laki setengah baya itu merandek kaget melihat laki laki yang tadi
dilihatnya tengah bertempur dengnn dua orang penjaga, mengenalnya Memang betul
dia bernama Ki Taji. Dia adalah kepala urusan dalam rumah tangga. Jadi, jarang
keluar. Hampir tidk ada penduduk yang mengenal namanya, kecuali hanya orang-
orang yang bekerja pada Tuan Sudiraja Tapi, yang menjadi pertanyaan baginya,
mengapa laki laki berwajah keras itu mengenalinya"
Bukan hanya Ki Taji saja yang terkejut Dua orang penjaga pintu gerbang itu pun
terkejut Kini keraguan mereka tentang kebenaran laki-laki berwajah keras ini
adalah Kanulaga pupus.
"Siapa kau, Kisanak" Dari mana kau tahu namaku?" tanya kepala urusan dalam rumah
tangga itu setelah mendekat.
Sekujur tubuh laki-laki berwajah keras itu dipandangi penuh selidik.
"Kau lupa padaku, Ki?" laki-laki berwajah keras itu balik bertanya. Sama sekali
tak dipedulikannya pertanyaan Ki Taji.
Wajah Ki Taji terlihat tegang. Dahinya pun berkerut-kerut.
Jelas kalau laki-laki setengah baya ini tengah berpikir keras.
"Rasanya..., aku seperti pernah mengenalmu Kisanak.
Wajah dan suaramu sepertinya pernah kukenal " ucap Ki Taji setengah bergumam.
"Aku Kanulaga, Ki...!" sahut laki-laki berwajah keras itu menjelaskan.
"Gusti Al ah...! Aku memang benar-benar sudah pikun, sehingga tidak mengenalimu,
Den?" pekik Ki Taji penuh rasa terkejut. Memang sejak berumur lima tahun, Raden
Kanulaga akrab dengan Ki Taji. Pada usia lima belas tahun, Kanulaga pergi
meninggalkan rumah untuk memenuhi kegemarannya, mengembara.
"Beliau adalah Aden Kanulaga...," ucap kepala urusan dalam rumah tangga itu
memberitahu kedua penjaga pintu gerbang. Kedua penjaga itu termasuk anak buah
dari kepala urusan rumah tangga bagian luar. Hanya saja saat itu, pimpinan
mereka itu sedang keluar.
"Ah...! Kalau begitu, maafkan kelancangan kami, Den,"
ucap kedua penjaga itu buru-buru, sambil membungkuk hormat.
"Lupakanlah. Aku bangga, kalian berdua telah menjalankan tugas dengan baik,"
sahut Kanulaga bijaksana.
Tentu saja kedua penjaga itu menjadi girang bukan main.
Tadi ketika mendengar Ki Taji memanggil pemuda berwajah keras itu dengan sebutan
Kanulaga, mereka menjadi gelisah.
Menurut dugaan mereka, Kanulaga akan menghukum mereka.
Lega hari mereka tatkala mengetahui laki-laki berwajah keras itu sama kali tidak
marah atas kejadian itu.
"Mari, Den. Ayah Aden sudah lama sekali menunggu kepulangan Aden." ajak Ki Taji
sambil menggamit tangan Kanulaga dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Tolong urus kudaku, Paman," pinta Kanulaga pada kedua penjaga itu.
"Baik, Den," jawab kedua penjaga itu berbareng.
*** Ruang tengah Itu nampak mewah dan megah Biasanya
ruangan itu kosong. Paling hanya Sudiraja yang duduk termenung di sana. Tapi
kini di ruanga tengah yang mewah dan megah itu, tampak tiga orang tengah duduk
mengelilingi sebuah meja bulat yang indah dan mewah.
"Aku gembira sekali atas kepulanganmu, Kanulaga. Hampir saja aku mengutus orang-
orangku untuk mencarimu," ucap
seorang laki-laki setengah baya bertubuh gemuk dan berperut gendut. Pakaiannya
indah dan mewah. Bulu-bulu halus menghiasi kedua pipinya.
"Mengapa begitu, Ayah?" tanya Kanulaga menatapnya wajah laki-laki gendut
berpakaian indah mewah yang ternyata adalah Sudiraja. Laki-laki ber perut gendut
yang kini telah berusia enam puluh tahun itu menarik napas panjang.
"Aku sudah tua, Kanulaga. Aku sudah lelah mengurus semua usahaku," jawab
Sudiraja pelan. Tapi karena suasana di situ hening, suara laki-laki gendut itu
jadi terdengar keras.
"Lho"! Bukankah ada Jalatara dan Nirmala" Apakah mereka tidak membantu Ayah?"
tanya Kanulaga lagi. Keheranan nampak jelas pada wajahnya. Jalatara dan Nirmala
adalah adik-adik kandung Kanulaga. "Ke manakah mereka, Ayah"
Sejak tadi aku tidak melihat mereka?"
"Hhh...!" Sudiraja menghela napas panjang. "Beberapa tahun semenjak kepergianmu
mengembara, Jalatara pergi.
Kepergiannya sama sekali tidak ada yang tahu. Belakangan baru kuketahui, bahwa
selagi bermain di halaman, ada seorang kakek yang membawanya. Dan mengajarkannya
ilmu-ilmu kesaktin. Kini kudengar dia menjadi salah seorang pengawal adipati,"
jelas Sudiraja.
"Lalu, Nirmala ke mana, Ayah?" tanya Kanulaga
"Nirmala kutitipkan pada sahabat karibku yang memiliki sebuah perguruan silat
Aku tidak ingin anak itu jadi perempuan yang lemah. Yahhh...! Setidak-tidaknya
dia memiliki sesuatu untuk menjaga dirinya sendiri."
Kanulaga mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda
mengerti. "Sudah beberapa bulan ini aku ingin beristirahat dari kesibukan-kesibukanku,
Kanulaga. Kau kan tahu aku sudah tua. Kesehatanku tidak memungkinkan lagi untuk


Dewa Arak 07 Rahasia Surat Berdarah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengurus semua usahaku," ujar laki-laki berperut gendut itu menyambung ucapannya.
"Jadi maksud, Ayah?" tanya Kanulaga lagi. Laki-Iaki berwajah
keras ini masih belum mengerti maksud pembicaraan ayahnya.
"Begini, Kanulaga."
Sudiraja memutuskan untuk mengatakannya secara gamblang dan jelas. "Aku sudah tua.
Harta yang kumiliki berlimpah ruah. Aku tidak ingin sepeninggalku nanti, kalian
gontok-gontokan memperebutkan warisanku. Jadi, sebelum aku menutup mata, aku
ingin membagi semua kekayaanku secera adil. Pamanmu inilah yang akan menjadi
saksinya."
Sudiraja menunjuk seorang berpakaian hitam dan berkumis lebat yang duduk di
sebelahnya. Kanulaga menolehkan kepalanya, menatap orang yang
diperkenalkan ayahnya sebagai pamannya. Memang laki laki berwajah keras itu
tidak mengenal laki laki berkumis lebat itu.
Laki-laki berkumis lebat yang usianya sekitar lima puluh tahun itu datang ke
rumah ini, setelah dia pergi meninggalkan rumah untuk mengembara.
Laki-laki berkumis lebat menggerakkan bibirnya sedikit pada Kanulaga. Mungkin
laki-laki itu bermaksud tersenyum.
Tapi, Kanulaga tidak dapat menggolongkan gerakan bibir yang hanya sedikit itu
sebagai senyum. Laki-laki berwajah keras ini hanya menganggukkan kepala sedikit
pertanda menghormat.
Kanulaga mengalihkan pandangannya ke arah laki-laki yang diakui Sudiraja sebagai
adik bungsunya.
"Kalau boleh kutahu, siapakah nama Paman?" tanya Kanulaga.
"Pandira," jawab laki-laki berkumis lebat itu pendek. Nada suaranya dingin dan
datar. Belum lagi Kanulaga sempat mengajukan pertanyaan lain kepada orang yang mengaku
sebagai pamannya itu, Sudiraja telah menyelanya.
"Bagaimana, Kanulaga?" tanya Sudiraja meminta pendapat putra sulungnya itu.
'Terserah, Ayah. Aku akan menurut semua keputusan,
Ayah," jawab Kanulaga.
"Kalau begitu, besok akan kukirim utusan untuk memberitahukan kedua adikmu agar datang ke sini
secepatnya," ucap Sudiraja memutuskan. Kegembiraan yang besar nampak jelas pada
wajahnya. Sementara Kanulaga hanya diam saja. Kepalanya menundukkan dalam-dalam. Tapi dari balik bulu mata nya, sepasang matanya
memperhatikan wajah Pandira lekat-lekat
"O ya, Kanulaga. Ayah ingin mendengar pengalamanmu selama mengembara. Apa saja
yang kau dapatkan dalam pengembaraanmu selama lima belas tahun ini. Dari Ki
Taji, kudengar kau telah memiliki Ilmu kepandaian tinggi."
Kanulaga mengangkat kepalanya.
"Tidak ada yang istimewa, Ayah," jawab laki-laki berwajah keras itu pelan.
"Lalu, ilmu kepandaianmu itu, kau dapatkan dari mana?"
desak Sudiraja.
"Dari seorang kakek yang berkenan mengangkatku sebagai murid."
"Pasti kakek itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggj,"
sahut Sudiraja lagi. "Aku hampir tidak mengenalimu tadi, Kanulaga. Wajah dan
perawakanmu jauh berubah. Sekarang kau nampak begitu jantan dan matang. O ya,
mungkin kau masih lelah sehabis menempuh perjalanan jauh dan
melelahkan. Biar kupanggil Ki Taji untuk mengurus kamarmu,"
ujar Sudiraja seraya bangkit, hendak memanggil Ki Taji.
"Tidak usah, Ayah. Biar kuurus sendiri. Masih kamar yang dulu kan?" cegah
Kanulaga seraya bangkit dari duduknya.
Sudiraja hanya menganggukkan kepalanya. Begitu putra sulungnya melangkah menuju
kamarnya, dalam mangan itu tinggal Sudiraja dan adik bungsunya.
*** 2 Hari masih pagi. Matahari belum naik tinggi ketika seekor kuda berpacu cepat
memasuki mulut sebuah hutan.
"Hiya...! Hiyaaa...!"
Si penunggang melecutkan cemetinya berkali-kali ke arah pantat kuda yang
berwarna hitam putih. Nampaknya si penunggang bermaksud memacu binatang itu
berlari lebih cepat lagi.
Debu pun mengepul tinggi ke udara ketika kaki-kaki kuda itu menapak cepat di
tanah berdebu. Belum jauh kuda itu memasuki hutan, tiba-tiba terdengar suara mendesing nyaring.
Disusul melesatnya sebuah sinar kemerahan menyambar ke arah binatang itu.
Cappp...! Telak sekali sinar kemerahan itu mengenai leher kuda hitam putih itu. Seketika
itu juga binatang itu meringkik keras.
Kedua kakinya terangkat tinggi-tinggi ke depan, membuat penunggangnya terlempar
ke atas. Tapi si penunggang kuda ternyata bukanlah orang
sembarangan. Manis sekali tubuhnya bersalto beberapa kali di udara kemudian
hinggap ringan di tanah.
"Hup..,!"
Tahu kalau ada bahaya mengancam, begitu sepasang
kakinya mendarat di tanah, tangannya cepat meloloskan sebatang pedang yang
tersampir di punggungnya Sepasang matanya menatap ke arah binatang tunggangannya
yang telah tergolek tanpa nyawa. Pada leher binatang itu tertancap sebuah benda
dari logam berwarna merah, berbentuk ekor kalajengking.
Wajah si penunggang kuda berubah pucat. Sepasang
matanya menatap liar ke sekelilingnya. Rupanya orang itu kenal betul dengan
logam berbentuk ekor kalajengking merah itu. Benda itu adalah senjata khas,
Perkumpulan Kalajengking Merah!
Belum lagi penunggang kuda itu berbuat sesuatu,
mendadak melesat sesosok bayangan hitam. Sesaat kemudian sosok serba hitam itu
telah berdiri di hadapan si penunggang kuda. Pada bagian dadanya terdapat gambar
seekor kalajengking merah. Bagian wajahnya tidak terlihat karena tertutup
selubung hitam. Tangan penghadang itu menggenggam sebatang tongkat panjang merah berujung ekor kalajengking.
"Kau..."!
Mengapa menghadang jalanku" Bukankah majikanku, Tuan Sudiraja tidak pernah lalai memberikan upeti?" tanya penunggang
kuda Nada suaranya terdengar penuh tuntutan.
"Ha ha ha...! Tidak usah banyak bacot! Kalau kau ingin selamat, serahkan surat
itu padaku!" ucap si penghadang sambil tertawa bergelak.
"Surat" Surat apa?" tanya si penunggang kuda itu berpura-pura tidak mengerti.
Majikannya memang menugaskan
membawa surat untuk diserahkan pada Nirmala di Perguruan Hati Suci. Entah untuk
urusan apa, dia tidak tahu. Tapi yang menjadi tanda tanya bagi si penunggang
kuda, dari mana orang Perkumpulan Kala lajengklng Merah ini mengetahuinya"
"Tidak usah pura-pura! Serahkan surat untuk Nirmala itu padaku. Atau kau ingin
mampus?" sergah orang berpakaian serba hitam itu. Keras dan kasar suaranya.
Kini utusan Sudiraja sadar, kalau tidak ada gunanya lagi dia berpura-pura. Orang
yang menghadang di depannya ini jelas tahu tugas yang diembannya.
"Langkahi dulu mayatku! Baru kau akan mendapatkan surat itu!" sahut utusan itu
tegas. "Hm.... Rupanya kau lebih suka memilih mati!" dengus si penghadang murka.
Setelah berkata demikian, orang yang di dadanya
bergambar kalajengking merah ini, melompat menerjang.
Senjata di tangannya, yang berupa tongkat panjang berujung logam merah berbentuk
ekor kalajengking, disabetkan ke leher utusan Sudiraja.
Wuuuttt..! Angin meniup cukup keras mengawali tibanya serangan itu.
Utusan Sudiraja yang tahu betapa lihainya orang-orang Perkumpulan Kalajengking
Merah, tidak berani bertindak gegabah. Cepat-cepat
kepalanya dirundukkan sehingga
babatan tongkat itu lewat di atas kepalanya. Sementara utusan Sudiraja merunduk,
goloknya ditusukkan ke perut lawan.
"Eh..."!"
Orang berpakaian serba hitam itu memekik tertahan. Kaget juga dia melihat lawan
dapat mengelakkan serangannya.
Bahkan kini mampu membalas dengan serangan yang cukup
berbahaya. Buru buru dia melompat ke belakang, sehingga tusukan golok Itu
mengenai tempat kosong.
"Keparat...! Kau harus mampus!" teriak orang yang di dadanya bergambar
kalajengking merah. Hampir saja dia celaka karena terlalu
menganggap enteng
lawannya. Pengalaman pahit yang baru saja dialami, membuatnya tidak lagi
bersikap terlalu memandang rendah lawannya. "Haatttt...!"
Sambil berteriak melengking, pertanda kemarahan hatinya, tongkat berujung ekor
kalajengking itu menyambar dahsyat ke arah lawannya. Tapi utusan Sudiraja
bertekad untuk melawan mati-matian. Dia tidak ingin mengecewakan majikannya.
Pertarungan sengit pun tak dapat dihindari lagi. Tapi hal ini hanya berlangsung
beberapa jurus saja. Pada jurus-jurus berikutnya, nampak jelas keunggulan orang
berpakaian serba hitam itu. Tongkat merah berujung ekor kalajengking di
tangannya, berkali-kali hampir mengenai tubuh tawannya.
Utusan Sudiraja menggertakkan gigi. Sejak semula sudah diketahui kalau dirinya
bukanlah tandingan si penghadang.
Tapi tanggung jawab terhadap tugas yang diembannya, membuat laki-laki ini nekad
dan berusaha melawan mati-matian. Apa yang semula diduganya, kini menjadi
kenyataan. Hujan serangan lawan benar-benar membuatnya repot bukan main. Dan robohnya
dirinya, hanya tinggal menunggu waktu saja.
Sret..! "Akh...l Utusan Sudiraja memekik tertahan ketika ekor kalajengking yang runcing itu
menyerempet perutnya. Cairan merah kental mengalir dari luka goresan itu.
Seketika Itu juga rasa pening menyerang kepalanya.
"Racun...!" pekik utusan Sudiraja tajam. Sesaat kemudian tubuhnya limbung.
"Ha ha ha...!" si penghadang tertawa terbahak-bahak mendengar seruan kaget
lawannya. "Keparat! Kau..., kau curang...," maki utusan Sudiraja.
Seketika kemarahannya meluap.
"Ha ha ha...!" hanya suara tawa terbahak saja yang menyahuti makian utusan
Sudiraja itu. "Ohhh...!" keluh utusan Sudiraja itu. Rasa pening di kepalanya semakin kuat
menyerang. Sekelilingnya dirasakan bagai berputar-putar.
"Sekarang terimalah ajalmu, keparat! Hiyaaa...!"
Setelah berkata demikian, orang berpakaian serba hitam itu melompat
menerjang. Tongkat merah berujung ekor kalajengking di tangannya menyambar cepat ke leher
lawannya. Di saat gawat bagi keselamatan utusan Sudiraja itu, mendadak sesosok bayangan
putih melesat cepat. Daann...
Tranggg...! "Akh...l"
Orang yang berpakaian serba hitam itu memekik tertahan Tubuhnya kembali
terlempar ke belakang. Tapi dengan gerakan yang indah dan manis, tubuhnya
bersalto beberapa kali di udara dan mendarat ringan di tanah. Sekujur tangannya
dirasakan lumpuh. Tongkat merah berujung ekor kalajengking di tangannya pun
terpental. "Siapa kau" Mengapa mencampuri urusanku"!" bentak orang yang di dadanya
bergambar kalajengking. Ditatapnya orang yang telah menyelamatkan korbannya
tajam-tajam. Berdiri membelakangi utusan Sudiraja, nampak seorang wanita cantik berpakaian
serba putih. Rambut wanita itu dibiarkan meriap. Di tangannya tergenggam
sebatang pedang.
Sementara agak jauh di belakangnya, berdiri seorang pemuda tampan berambut putih
keperakan berpakaian serba ungu.
Sadar kalau lawan di hadapannya berilmu tinggi dan lagi pula utusan Sudiraja itu
pun tidak lama lagi akan tewas, si penghadang memutuskan untuk
melarikan diri.
Cepat dibalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan tempat itu, setelah teriebih dulu
memungut senjatanya.
Gadis berpakaian serba putih itu sama sekali tidak
mengejar. Sosok serba hitam itu dibiarkan saja melarikan diri.
Brukkk...! Suara berdebuk jatuhnya tubuh utusan Sudiraja, membuat pemuda berambut putih
keperakan dan gadis berpakaian serba putih itu terkejut Buru-buru keduanya
melangkah menghampiri.
"Ah...! Dia terkena racun ganas yang cepat daya kerjanya, Kang Arya," ucap gadis
berpakaian serba putih itu setelah melihat luka di perut utusan Itu.
"Hm.... Dapatkah kau menolongnya. Melati?" tanya pemuda berambut putih keperakan
yang memang bernama Arya Buana atau lebih dikenal berjuluk Dewa Arak itu.
Gadis berpakaian
putih yang bernama Melati itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Kang. Racun ini ganas. Lagi pula hampir mencapai jantung. Tampaknya dia
tinggal menunggu ajalnya saja,"


Dewa Arak 07 Rahasia Surat Berdarah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jawab Melati. "Hhh...!" desah Arya. Nampak jelas kalau pemuda Ini kecewa mendengar jawaban
itu. "Jangan pedulikan aku...," tiba-tiba utusan Sudiraja itu membuka matanya yang
sejak tadi terpejam. Sekujur
wajahnya dipenuhi keringat sebesar butiran-butiran jagung.
'Yang penting..., tolong selamatkan surat ini. Dan berikan pada Nirmala...,"
lanjutnya terputus-putus.
Setelah berkata demikian, dikeluarkannya sebuah gulungan surat yang diselipkan
di balik ikat pinggangnya. Gulungan surat itu lalu diangsurkannya pada Dewa Arak
"Ke mana kami harus mengantarkannya, Kisanak?" tanya Arya cepat, setelah
menerima surat yang diangsurkan utusan Sudiraja. Pemuda berambut putih keperakan
ini khawatir kalau orang itu keburu tewas sebelum sempat memberitahukan ke mana
dia harus mengantar surat itu.
"Ke... Perguruan... Hati... Suci...," sahut utusan itu terputus-putus.
"Tolong...,
jangan biarkan orang-orang
Perkumpulan Kalajengking Merah merebutnya...."
"Perkumpulan Kalajengking Merah" Kami tidak mengerti maksudmu, Kisanak" Bisakah
kau beritahukan pada kami siapa mereka?" desak Melati.
Keringat sebesar jagung semakin banyak bermunculan di wajah utusan yang tengah
berada di ambang maut itu.
"Mereka adalah perkumpulan orang jahat dan..., kh...!"
kepala utusan Sudiraja terkulai sebelum sempat menyelesaikan keterangannya.
"Hhh...!" Dewa Arak mendesah bingung. Kini dia dan Melati dihadapkan pada satu
urusan. Dan sudah menjadi sifat Arya untuk selalu mencampuri urusan yang
dirasanya mengandung unsur ketidakadilan. Tapi yang menjadi pertanyaan Dewa
Arak, dari mana dia harus memulainya"
"Sudahlah, Kang Arya. Yang penting kita harus kuburkan mayatnya dulu," selak
Melari ketika melihat tunangannya hanya berdiri termangu.
"Hhh...!" Dewa Arak mendesah. Dipungutnya golok utusan Sudiraja. Kemudian
kakinya dilangkahkan ke sebuah tempat yang agak tersembunyi dan terlindung.
Golok itu dipakai untuk menggali lubang mengubur mayat utusan Sudiraja.
Dengan tenaga dalamnya yang memang sudah mencapai
tingkatan tinggi, tidak sulit bagi Dewa Arak untuk membuat sebuah lubang yang
cukup besar dan dalam. Meskipun tanah di situ keras, tapi Arya menggali seperti
orang menggali tanah lunak mempergunakan cangkul saja layaknya.
Dalam waktu singkat, sebuah lubang yang cukup dalam dan lebar selesai dibuat
Dewa Arak segera memasukkan mayat itu dan menguruknya dengan tanah dan batu-
batuan Tak lupa di atasnya ditancapkan! sebuah batu persegi sebagai pengganti
nisan. *** "Kang Arya...," panggil Melati ketika dilihatnya Dewa Arak telah menyelesaikan
pekerjaannya. Arya menoleh. Dilihatnya gadis berpakaian serba putih Itu tengah memperhatikan
sebuah benda yang tergenggam di tangannya. Arya bergegas menghampiri.
Melati segera memberikan logam berbentuk ekor kalajengking merah pada Dewa Arak. Pemuda berambut putih keperakan Itu
menerimanya. Diperhatikannya benda yang kini dipegangnya dengan seksama.
"Dari mana kau dapatkan benda ini, Melati?" tanya Arya.
"Dari leher kuda itu, Kang," jawab gadis itu sambil menunjuk kuda hitam putih
yang tergolek tanpa nyawa di dekatnya.
Dewa Arak membungkukkan tubuhnya. Sejenak diperhatikannya sekujur tubuh kuda itu, kemudian bangkit berdiri.
"Racun yang sama," desis Arya pelahan.
"Senjata rahasia itu bentuknya aneh sekali, Kang."
'Ya. Seperti ekor kalajengking," jawab Arya sambil mengernyitkan keningnya.
Melati mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ada apa, Melati?" tanya Arya. Jelas ada suatu kesimpulan yang
didapatkan gadis itu sehingga membuatnya mengangguk-angguk pertanda mengerti.
"Jelas pembunuhnya adalah orang dari Perkumpulan Kalajengking Merah, Kang,"
sahut gadis berpakaian serba putih itu.
Dewa Arak mengernyitkan alisnya.
Memang sudah didengarnya, orang yang menitipkan surat tadi menyebutkan nama Perkumpulan
Kalajengking Merah.
"Perkumpulan Kalajengking Merah...," gumam pemuda berambut putih keperakan itu.
Sepasang matanya menatap kosong. Jelas ada sesuatu yang dipikirkannya. "Kau
pernah mendengarnya, Melati?"
"Tidak. Kau mengetahuinya. Kang?" Melari balik bertanya sambil menatap Arya
tajam. Gadis ini memang belum pernah mendengar nama perkumpulan Itu.
Dewa Arak menggelengkan kepalanya "Lalu bagaimana dengan surat itu, Kang?" tanya
Melari lagi. "Yahhh..., seperti yang telah dipesankan oleh orang tadi."
"Jadi...?"
"Ya. Kita antarkan kepada Nirmala di Perguruan Hati Suci,"
jelas Arya. Melati terdiam sejenak.
"Lalu bagaimana dengan bangkai kuda ini, Kang" Aku khawatir racun ini akan
menyebar. Tubuh binatang ini telah
mengandung racun," ucap Melati meminta pendapat Dewa Arak.
Arya tercenung sejenak. Disadari kebenaran ucapan
tunangannya ini.
"Jalan saru satunya hanyalah membakarnya. Mengubur bangkai ini terlalu menyita
waktu. Harap kau menyingkir sebentar, Melati," pinta pemuda berambut putih
keperakan Itu. Tanpa berkata apa-apa, Melati segera melangkah menyingkir Tanpa diberitahu pun gadis ini tahu kalau Dewa Arak akan
mempergunakan Jurus yang belum lama
dikuasainya. Jurus 'Membakar Matahari'.
Dewa Arak melangkah mundur. Jarak antara dia dengan bangkai binatang itu sekitar
empat tombak. Kemudian kedua tangannya dengan jari-jari terkembang membentuk
cakar, dihentakkan dua kali berturut-turut
Wusss, wusss...!
Dua gumpal api meluncur dari telapak tangan Dewa Arak ke arah bangkai kuda itu.
Terdengar suara letupan pelan ketika kedua bola api itu mengenai tubuh binatang
itu. Sesaat kemudian, api pun berkobar.
Tak lama kemudian di tempat itu tercium bau sanglt daging terbakar, di ringi bau
amis yang memuakkan. Melati segera menyingkir lebih menjauh lagi. Kedua
hidungnya ditutup untuk mencegah bau tidak enak yang membuat perutnya mual.
Dalam waktu sekejap, api itu telah membakar habis
bangkai kuda hitam putih tersebut Kini yang tinggal hanyalah onggokan daging dan
tulang-tulang yang kemudian buyar tertiup angin.
"Hhh...!" Arya menghela napas lega. Kakinya kemudian dilangkahkan menghampiri
Melati. "Mari kita tuntaskan tugas kita, Melati."
Gadis berpakaian serba pulih itu menatap wajah Dewa Arak penuh takjub sesaat
Baru kemudian dia pun Ikut melangkah di sebelah Arya, meninggalkan tempat itu.
*** Matahari telah naik tinggi. Sinarnya yang menyengat kulit menyoroti bumi dengan
garang. Tapi teriknya sinar itu tidak dirasakan oleh orang yang berada dalam
bangunan termegah di Desa Rinji.
"Apa itu, Ayah?" tanya Kanulaga ketika melihat nyahnya tengah membungkus sesuatu
dalam sebuah kantung kain yang cukup besar.
Sudiraja terkejut bukan main. Hampir saja dia terlonjak kaget mendengat teguran
itu. Diam-diam dia memaki dirinya sendiri, mengapa dia lupa mengunci pintu
kamarnya, sehingga putra
sulungnya itu dapat masuk dan mengetahui perbuatannya"
"Tidak ada apa-apa, Kanulaga," jawab Sudiraja gugup.
Jelas kalau kedatangan Kanulaga ke kamarnya, diluar dugaannya.
Kanulaga mengernyitkan alisnya. Perasaan curiganya pun timbul ketika melihat
perubahan air muka nyahnya. Dengan langkah lebar, dihampiri ayahnya.
"Boleh kulihat apa yang Ayah bungkus itu?" tanya laki-laki berwajah keras itu
penuh rasa ingin tahu.
"Tidak ada apa-apa, Kanulaga. Yahhh..., hanya...."
"Tidak perlu membohongiku. Ayah. Aku tahu apa yang Ayah bungkus itu," selak
Kanulaga cepat "Kau tahu"!" tanya Sudiraja setengah tidak percaya.
"Ya." jawab Kanulaga singkat
"Apa!" desak Sudiraja penasaran. Ingin diketahuinya jawaban putra sulungnya.
"Apa lagi kalau bukan harta kekayaan ayah"!"
Wajah Sudiraja berubah pucat Tapi hal ini hanya
berangsung sesaat, sebentar kemudian wajahnya sudah kembali seperti sediakala.
"Dugaanmu tidak salah, Kanulaga. Ayah memang sengaja memisahkannya Yahhh...!
Tempat penyimpanan harta Ayah sudah penuh," jelas Sudiraja mencoba tersenyum.
"Hhh...!" Kanulaga menghela napas dalam-dalam. Ditatap wajah ayahnya lekat-
lekat. "Ayah masih saja berusaha menyembunyikan hal ini padaku," keluhnya pelan.
"Apa maksudmu, Kanulaga" Ayah tidak mengerti!" sergah Sudiraja dengan suara
ditekan. Tapi sungguhpun begitu, tetap saja laki-laki gendut
ini tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
"Ayah masih juga berpura-pura Aku sudah tahu untuk apa harta kekayaan itu! Aku
telah tahu semuanya!" tandas Kanulaga tegas.
Pucat pias wajah Sudiraja mendengar ucapan anaknya.
Sepasang matanya menatap liar ke kanan dan ke kiri, seperti ada sesuatu yang
ditakutinya. "Tutup mulutmu, Kanulaga! Kau tahu, tindakanmu itu hanya akan membahayakan
dirimu sendiri!" bentak Sudiraja.
Kanulaga menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat
"Perlu Ayah tahu, dalam pengembaraanku berkali-kali aku berhadapan dengan maut
Jadi, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan bagiku, Ayah. Aku lebih suka
mati terhormat daripada hidup terinjak-injak," tegas dan keras kata-kata Kanulaga.
Sudiraja menatap wajah putra sulungnya lekat-lekat
"Kau tidak tahu siapa mereka, Kanulaga," desis laki-laki gendut itu tajam.
"Aku tahu, Ayah. Bukankah mereka adalah Perkumpulan Kalajengking Merah"!" sahut
Kanulaga tegas.
"Kau hanya tahu satu, tapi tidak tahu yang kedua, Kanulaga!" sentak Sudiraja.
"Maksud, Ayah?" tanya Kanulaga tidak mengerti.
"Kau tahu di mana markas mereka?"
Laki-laki berwajah keras itu mengangkat bahu.
"Aku tidak tahu. Ayah. Tapi apakah Ayah tahu?" Kanulaga balik bertanya.
Laki-laki berperut gendut itu tersenyum penuh kemenangan. "Itulah yang membuat mereka lebih berbahaya, Kanulaga.
Tidak seorang pun tahu di mana markas mereka! Yang jelas setiap orang yang
membangkang kemauan mereka, pasti tewas!"
"Lalu, ke mana Ayah mengantarkan upeti itu?" tanya Kanulaga lagi setelah
termenung sejenak.
Sudiraja mengernyitkan alisnya. Laki-laki berperut gendut Ini mencium gelagat
yang mencurigakan pada Sikap putera sulungnya.
"Untuk apa kau mengetahuinya?" tanya Sudiraja. Sepasang matanya merayapi sekujur
wajah Kanulaga. Sepertinya di wajah itu dapat ditemukan jawaban dari
pertanyannya. "Hanya ingin tahu saja," sahut laki-laki berwajah keras Itu sekenanya.
"Kalau begitu, kau tak perlu mengetahuinya, Kanulaga,"
jawab Sudiraja ringan.
Kanulaga menatap wajah ayahnya sejenak. Laki-laki
berwajah keras yang juga memiliki watak keras ini
menghembuskan napas panjang.
"Biar bagaimanapun juga, aku akan berusaha agar harta itu tidak terjatuh ke
tangan pemeras-pemeras terkutuk itu!" tegas Kanulaga tandas.
Setelah berkata demikian, Kanulaga melangkah meninggalkan kamar ayahnya.
"Kanulaga...!" panggil Sudiraja dengan suara keras. Tapi laki-laki berwajah
keras itu sama sekali tidak menghiraukan.
Terus saja dilangkahkan kakinya.
"Hhh...!" laki-laki berperut gendut itu menghela napas dalam-dalam. "Anak tidak
tahu penyakit...," keluhnya pelan sambil terus melanjutkan pekerjaannya. .
*** 3 Siang itu udara terasa panas sekali. Sang matahari
memancarkan sinarnya yang terik, menyorot garang ke bumi.
"Hhh...!" Dewa Arak menghela napas. Disusulnya peluh yang membasahi sekujur
wajah dan lehernya dengan
punggung tangan. Ditolehkan kepalanya ke arah Melati yang duduk di sebelahnya.
Gadis itu juga tengah menyusuri peluh yang membasahi wajah dan lehernya yang
berkulit putih, halus, dan mulus itu. Memang Dewa Arak dan Melari tengah duduk
beristirahat di bawah pohon yang berdaun rindang.
"Daerah di sini panas ya, Kang," ucap Melati pelan membuka percakapan.
"Ya," sahut Arya sambil menatap wajah gadis berpakaian serba putih itu lekat-
lekat "Tapi sabarlah, Melati. Tidak lama lagi semuanya akan berakhir. Setelah
menyampaikan surat ini, kita akan meninggalkan tempat ini secepatnya."
Seraya berkata demikian, Dewa Arak menunjukkan surat yang terselip di
pinggangnya. "Mudah-mudahan saja," jawab Melati dengan suara mendesah.


Dewa Arak 07 Rahasia Surat Berdarah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dewa Arak mengerutkan alisnya.
"Sepertinya kau tidak senang, Melati," tanya Dewa Arak setengah memastikan.
"Bukan aku tidak senang, Kang," bantah gadis berpakaian serba putih itu cepat
"Hm , tapi nada ucapanmu sepertinya menyiratkan begitu "
Melati menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat
"Aku tidak kerasan berada di daerah seperti ini, Kang.
Apabila siang, panas bukan main. Tapi sebaliknya malamnya dingin sekali. Tapi
tugas itu...."
"Kenapa tugas ini, Melati?"
"Tugas ini sepertinya tidak akan mudah kita lak-1 sanakan.
Kang." "Maksudmu...?"
"Aku yakin mau tidak mau kita akan terseret ke dalam urusan yang akan membuat
kita berada di sini untuk waktu yang cukup lama, Kang," tegas dan jelas a kata-
kata Melati. Arya tercenung. Disadarinya kebenaran dalam ucapan gadis yang dicintainya ini.
Dia pun tidak yakin, kalau sehabis mengantarkan surat ini, tugasnya akan
selesai. "Mungkin kau benar, Melati," desah pemuda berambut putih keperakan ini pelan.
Suasana menjadi hening ketika Dewa Arak menyelesaikan ucapannya. Kedua pendekar
muda ini tenggelam dalam
lamunannya masing-masing. Tapi tiba-tiba hampir berbareng keduanya saling
pandang. Dahi mereka berkerut-kerut
"Ada banyak langkah kaki yang menuju kemari, Melati,"
ucap Dewa Arak memberitahu.
"Aku pun mendengarnya, Kang," sahut gadis berpakaian serba putih itu. Memang,
baik Melati maupun Arya telah sama-sama mendengar suara itu.
"Waspadalah, Melati. Sepertinya, mereka tidak bermaksud baik."
Belum juga gema suara Dewa Arak lenyap, terdengar
suara-suara mendesing nyaring. Disusul dengan berkelebatnya belasan sinar
kemerahan ke arah mereka.
Bagai dikomando, meskipun masih dalam posisi duduk, kedua muda-muda itu serentak
menghentakkan kedua
tangannya ke depan. Dewa Arak dengan jurus 'Pukulan Belalang'nya, sedangkan
Melati dengan jurus 'Naga Merah Membuang Mustika',
Angin berhembus keras ke arah sinar-sinar kemerahan yang menyambar ke arah dua
muda-mudi yang sakti itu.
Hebat akibatnya! Belasan sinar merah itu rontok, berjatuhan di tanah sebelum
sempat mendekati Dewa Arak dan Melati.
Tapi baru saja belasan sinar merah yang ternyata adalah logam merah berbentuk
ekor kalajengking itu rontok ke tanah, belasan sosok berpakaian serba hitam
muncul dari balik rerimbunan semak dan pohon.
"Hhh...! Ada saja gangguan...," keluh Melati.
Dewa Arak tersenyum mendengar gerutu gadis Itu. Tak lama kemudian, pemuda itu
bangkit dari duduknya.
"Kau istirahat saja, Melati. Biar aku yang menghadapi mereka," ujar Arya.
Setelah berkata demikian, Dewa Arak lalu menghampiri belasan orang yang sudah
siap menyerang. Diperhatikannya mereka sejenak. Jumlah mereka sebelas orang,
berpakaian serba hitam, yang di dadanya berqambar kalajengking merah.
Wajah mereka tidak terlihat karena tertutup selubung hitam.
Senjata tongkat panjang merah berujung ekor kalajengking, tergenggam di tangan
mereka. "Serahkan surat itu pada kami, Kisanak. Dan kami berjanji akan membiarkan kau
dan temanmu pergi dengan selamat'"
ucap salah seorang dari para pengepung itu. Berbeda dengan yang lainnya, pada
dahi selubungnya tertera tanda totol merah. Sementara pada dahi selubung yang
lainnya tidak terdapat tanda apa-apa.
"Sayang sekali. Aku telah dipesan oleh yang bersangkutan untuk
menyerahkan surat ini pada yang berhak menerimanya," sahut Arya kalem.
"Keparat! Jadi, kau tidak mau memberikan surat itu, Kisanak"!" gertak si
selubung bertotol merah.
"Sudah kukatakan, aku hanya akan memberikan pada yang berhak menerimanya!" tegas
Dewa Arak tandas.
"Rupanya kau lebih suka mampus! Hiyaaa...!" Setelah berkata demikian,
orang berpakaian serba hitam ini
menusukkan senjata anehnya ke arah perut Arya. Tapi Dewa Arak hanya tersenyum
tipis. Tubuhnya segera didoyongkan ke samping kanan, sehingga senjata itu lewat
di samping kiri sambil tangan kanannya bergerak menangkap.
Tappp...! "Akh...!"
Si penyerang terpekik kaget ketika tangannya telah
ditangkap Dewa Arak. Dan jerit kekagetan Itu segera berubah menjadi jerit
kesakitan, ketika Arya menggerakkan jari-jari tangannya meremas.
Terdengar suara gemeretak dari tulang-tulang tangan yang remuk. Pemuda berambut
putih keperakan Ini tahu kalau orang-orang yang mengepungnya Ini berwatak kejam
dan jahat Maka Dewa Arak sengaja bertindak agak keras terhadap mereka.
Belum lagi, penyerang yang sial ini berbuat sesuatu, Dewa Arak menyentakkan
tangannya. Tak pelak lagi tubuh orang itu melayang ke depan.
"Aaa..!" jerit orang berpakaian serba hitam itu penuh rasa ngeri. Tubuhnya
melayang deras ke arah batang pohon sebesar dua pelukan orang dewasa.
Bukkk...! "Akh...!"
Terdengar keluhan tertahan dari mulut penyerang yang sial, ketika kepalanya
menghantam batang pohon. Seketika itu juga orang berpakaian serba hitam yang
pada bagian dahi selubungnya terdapat totol merah ini pingsan.
Seruan-seruan kaget terdengar dari mulut para penyerang, begitu melihat rekannya
roboh hanya dalam segebrakan saja di tangan pemuda berambut putih keperakan ini.
Meskipun begitu, belasan orang itu tidak menjadi gentar.
Sambil memekik nyaring, mereka serentak menyerang Dewa Arak. Belasan senjata
tajam pun berkelebatan menghujani Arya.
Sekali lihat saja, Dewa Arak dapat mengukur tongkat kepandaian para
pengeroyoknya Memang tingkat kepandaian mereka rata-rata cukup tinggi. Tapi
masih terlalu Jauh Jika diperbandingkan dengannya Maka, Dewa Arak tidak merasa
perlu mempergunakan ilmu andalannya. Pemuda itu hanya menggunakan ilmu 'Delapan
Cara Menaklukkan Harimau'. Ilmu yang diwariskan ayahnya.
Hebat bukan main sepak terjang Dewa Arak. Ke mana saja, tangan atau kakinya
bergerak, pastilah di situ ada lawan yang roboh. Tapi Dewa Arak yang memang
tidak berwatak kejam, tidak pernah menurunkan tangan maut pada mereka. Paling-
paling dia hanya mematahkan satu kaki atau tangan mereka untuk sekedar memberi
pelajaran. Jerit kesakitan terdengar susul-menyusul seiring dengan berjatuhannya tubuh
mereka satu persatu ke tanah.
"Akh...!"
"Aaa...!"
Dengan terdengarnya dua jeritan terakhir, berakhir pula pertarungan antara Dewa
Arak dengan para pengeroyoknya.
Kini tinggal Arya yang masih berdiri di arena pertarungan.
Sementara para pengeroyoknya bertebaran tanpa daya di sekelilingnya. Hanya
rintihan mereka saja yang masih terdengar.
Dewa Arak memandangi lawan-lawannya yangj tergolek tak berdaya di tanah,
sejenak. Baru setelah itu menghampiri mereka. Arya bermaksud mengorek keterangan
dari mulut mereka.
Tapi baru juga Dewa Arak berjalan beberapa tingkah, terdengar suara bersiut
nyaring, disusul dengan melesatnya sebuah benda bulat sebesar telur angsa. Dewa
Arak tidak berani bertindak gegabah. Buru-buru tubuhnya dilempar ke belakang,
dan bersalto beberapa kali di udara.
Blarrr...! Terdengar ledakan yang cukup keras begitu benda bulat sebesar telur angsa itu
jatuh di tanah. Asap tebal berwama hitam pekat segera menyebar memenuhi tempat
itu. "Hup...! Dewa Arak hinggap sekitar tujuh tombak dari tempatnya semula. Dahi pemuda itu
berkernyit ketika mencium bau amis memuakkan dari asap yang sedikit terbawa
angin ke tempatnya "Menyingkir, Melati! Asap itu beracun!" seru Arya pada tunangannya, seraya
melesat menjauhi asap itu.
Mendengar seruan kekasihnya, Melati bergegas bangkit dari duduknya dan berlari
menyingkir dari situ. Menyusul Dewa Arak.
Baru setelah asap tebal berwarna hitam itu telah sirna tertiup angin. Dewa Arak
dan Melati kembali ke tempat semula. Bergidik hati
mereka melihat belasan Bosok
berpakaian hitam tadi telah tak bergerak lagi. Tewas! Sekujur kulit tubuh mereka
hangus! Dewa Arak mengalihkan perhatian ke arah penyerang
pertama yang telah dibuatnya pingsan tadi. Ternyata yang seorang ini pun sudah
tidak bernyawa pula. Kepalanya pecah!
Sepasang mata Dewa Arak bergerak liar mengamati
sekelilingnya Barangkali saja dapat menemukan penyerang gelap yang telah
melemparkan benda bulat yang dapat meledak itu Tapi sampai lelah matanya
berputar ke sana kemari, tidak juga dilihatnya hal yang mencurigakan.
"Hhh...!" Dewa Arak menghela napas. Kini persoalannya menjadi gelap kembali.
Melati bergidik ngeri melihat keadaan mayat-mayat Itu.
Digamitnya lengan Dewa Arak. Kemudian ditariknya meninggalkan tempat itu.
Arya sama sekali tidak membantah. Pemuda ini tahu, tidak ada gunanya lagi
mencari si penyerang gelap. Orang itu pasti telah jauh meninggalkan tempati ini.
Maka dibiarkan saja Melati membawanya.
*** Dewa Arak dan Melati menghentikan langkahnya. Kepala
mereka sama-sama agak menengadah, menatap sebuah
papan tebal yang tergantung di atas pintu gerbang sebuah bangunan besar
berhalaman luas. Bangunan besar itu
dikelilingi pagar kayu bulat yang tinggi. Jelas terbaca oleh mereka huruf-huruf
yang tertera di papan berukir indah itu.
Huruf-huruf yang dibuat dengan tinta emas, bertuliskan
'Perguruan Hati Suci'.
"Mari kita ke sana, Melati," ajak Dewa Arak sambil melangkah mendahului ke arah
pintu gerbang itu. Melati bergegas mengikuti tangkah kekasihnya.
"Maaf, Kisanak. Apakah kami bisa bertemu dengan Nirmala?" tanya Dewa Arak sopan
pada dua orang murid Perguruan Hati Suci yang menjaga pintu gerbang.
Kedua orang murid itu saling pandang sejenak. Raut
keterkejutan jelas terbayang pada wajah mereka.
"Maaf, kalau boleh kami tahu siapakah kisanak berdua?"
tanya salah seorang dari dua murid itu.
"Aku Arya dan ini temanku..., Melati," jawab Dewa Arak memperkenalkan diri.
"Hm.., maksud kami..., apa hubungan kisanak berdua dengan Nirmala?" tanya orang
itu lagi memperbaiki pertanyaannya yang tadi.
Dewa Arak dan Melari melongo. Sungguh sama sekali tidak disangka kalau untuk
bertemu dengan gadis itu sangat sulit Mereka sama sekali tidak tahu, kalau
keberadaan Nirmala di Perguruan Hati Suci sangat dirahasiakan. Hanya beberapa
gelintir orang saja yang mengetahuinya.
Dan kebetulan di antara mereka adalah dua orang vang menjaga pintu gerbang ini.
Tentu saja mereka terkejut bukan main begitu melihat seorang pemuda berambut
putih keperakan dan seorang gadis cantik berpakaian putih, mencari putri Sudiraja Itu.
"Kami... kami bukan apa-apanya. Kami hanya...."
Belum lagi Arya menyelesaikan ucapannya, dua orang itu sudah menghunus golok
masing-masing. Srattt...! Srattt...!
Sinar terang berkilatan, ketika kedua golok itu keluar dari sarungnya.
"Tunggu sebentar, Kisanak! Percayalah, kami tidak bermaksud jahat," cegah Dewa
Arak buru-buru Tapi dua orang penjaga Itu sama sekali tidak mempedulikan kata-kata Dewa Arak. Golok di tangan mereka berkelebat cepat
menyerang Arya. Tampaknya kedua penjaga itu benar-benar menginginkan kematiai
Dewa Arak! Melati yang memang berwatak keras, menjadi tidak senang melihat sikap kedua
orang itu. "Kalian pikir, hanya kalian saja yang memiliki kepandaian?"
ucapnya keras, seraya melayangkan tubuhnya. Sesaat
kemudian gadis berpakaian putih itu telah berdiri membelakangi Arya.
"Mundur, Melati...!" teriak Dewa Arak mencegah. Pemuda berambut putih keperakan
Ini tidak ingin keadaan menjadi lebih kacau dengan ikut campur tangannya Melati,
gadis yang diketahuinya memiliki watak keras.
Tapi Melati sama sekali tidak mempedulikan seruan
kekasihnya. Kedua tangan gadis berpakaian serba putih itu tahu-tahu sudah
bergerak cepat menangkis golok yang menyambar ke arahnya dengan tangan kosong!
Takkk...! Takkk...!
Tappp, tappp...!
Seolah-olah yang menyambarnya bukan dua bilah golok, tangan halus Melati
menangkisnya Bahkan menangkapnya sekaligus!
"Uh... uh...!"
Dua orang murid Perguruan Hati Suci itu berusaha sekuat tenaga menarik pulang
senjata mereka dari cengkeraman Melati. Tapi cengkeraman itu begitu kuat
bagaikan sebuah jepitan baja. Betapapun kedua orang itu mengerahkan seluruh
tenaga dalamnya, tetap saja usaha mereka sia-sia.
Melati hanya tersenyum sinis. Berbeda dengan wajah kedua murid
Perguruan Hari Suci yang memerah karena mengerahkan tenaga yang melewati batas, wajah gadis ini terlihat biasa-biasa
saja. Tak terihat kalau Melati sedang mengerahkan tenaga dalamnya.
Beberapa saat kemudian, mendadak Melati melepaskan
cengkeramannya. Akibatnya sudah bisa didugai Kedua murid Perguruan Hati Suci itu
terjengkang ke belakang dan jatuh berdebuk di tanah, terbawa betotan tenaga
mereka sendiri.


Dewa Arak 07 Rahasia Surat Berdarah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Melati bertolak pinggang menatap kedua lawannya yang tengah bangkit sambil
tersenyum sinis. Tapi rupanya kedua orang itu masih penasaran. Terbukti begitu
bangkit, mereka sudah bersiap akan menyerang kembali. Tapi sebelum hal itu
terjadi, terdengar sebuah suara keras mencegah.
"Tahan...!"
Belum lagi habis gema suara bentakan itu, angin dingin berkesiur. Disusul dengan
munculnya seorang lelaki bertubuh sedang, berusia sekitar lima puluh lima tahun.
Laki-laki itu berbibir tebal dan berpakaian jingga
"Guru...!" seru kedua murid Perguruan Hati Suci Itu berbareng sambil menjura
hormat. Laki-laki berbibir tebal yang ternyata adalah Ketua Perguruan Hari Suci ini
menatap tajam wajah kedua muridnya, setelah sekilas melirik ke arah Melati dan
Dewa Arak. "Puja, Jaya, apa-apaan ini?" tegur laki-laki berpakaian Jingga itu.
"Maafkan kami, Guru... tapi kedua orang ini mencurigakan,"
jawab salah seorang dari mereka yang bertubuh pendek.
"Mencurigakan..." Mencurigakan bagaimana, Puja?" tanya laki-laki berbibir tebal
itu lagi. Kembali sudut matanya melirik pada Melati dan Dewa Arak.
"Mereka mencari Nirmala, Guru," jawab laki-laki pendek yang ternyata bernama
Puja. Pelahan sekali suaranya, seperti suara desahan saja.
Wajah Ketua Perguruan Hati Suci langsung berubah.
Penjelasan dari Puja telah cukup jelas baginya Dapat dimaklumi sikap kedua
muridnya. Kini perhatiannya dialihkan pada Melati dan Dewa Arak.
"Maafkan atas kelancangan kedua muridku yang kurang sopan ini, Nisanak. Tapi,
benarkah apa yang dikatakan kedua muridku?" tanya laki-laki berbibir tebal itu
kepada Melati yang berada lebih dekat dengannya. Memang, gadis berpakaian putih
itu berdiri agak jauh di depan Dewa Arak.
Melihat sikap sopan yang ditunjukkan laki-laki berpakaian jingga itu,
kedongkolan Melati pun berkurang. Tangannya yang semula bertolak pinggang,
diturunkan. "Benar, Ki," sahut Melati sambil menganggukkan kepalanya. Ketua Perguruan Hati Suci itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Kalau boleh kutahu, siapakah Nisanak dan Kisanak ini sebenarnya. Dan ada urusan
apa mencari Nirmala" Aku Ki Tanu, Ketua Perguruan Hati Suci."
"Aku Melati, sedangkan temanku Ini berjuluk Dewa Arak...,"
jawab Melari. Sengaja gadis ini memperkenalkan pemuda berambut putih keperakan
ini dengan julukannya, tidak dengan namanya. Memang, julukan Dewa Arak jauh
lebih dikenal ketimbang nama Arya Buana.
Dugaan gadis berpakaian serba putih ini tidak salah. Begitu mendengar nama Dewa
Arak, terdengar seruan-seruan kaget dari mulut ketiga orang di hadapannya.
Sementara Arya sendiri hanya dapat menghela napas. Dia tahu Melati masih merasa
mendongkol dengan kejadian tadi.
"Ah, kalau begitu pasti ada sesuatu yang penting, sehingga kalian mencari
Nirmala. Mari, mari masuk. Lebih baik kita bicarakan masalah ini di dalam," ucap
Ki Tanu setelah hilang rasa kagetnya.
Setelah berkata demikian, Ketua Perguruan Hari Suci melangkah masuk ke dalam.
Melati pun ikut melangkah masuk, setelah teriebih dulu melempar pandang mata
penuh kemenangan pada kedua orang murid Ki Tanu. Dewa Arak yang melihat hal itu
hanya tersenyum geli di dalam hati. Sifat tidak mau kalah dari gadis itu masih
belum juga hilang, ucapnya dalam hati sambil terus melangkah ke dalam.
Pedang Angin Berbisik 4 Pendekar Bunga Merah Karya Kho Ping Hoo Petualang Asmara 11
^