Pencarian

Raja Tengkorak 2

Dewa Arak 26 Raja Tengkorak Bagian 2


membuat angker.
"Kau sudah sadar, Anak Muda?" tanya kakek berwajah tirus seraya tersenyum lebar.
Lalu, dia melangkah ke arah tempat Arya terbaring.
"Mengapa aku bisa berada di sini, Ki?" tanya Arya setelah terlebih dulu
menganggukkan kepalanya
membenarkan pertanyaan kakek berpakaian hitam itu.
Begitu melihat bentuk tubuh kakek berwajah tiros itu, ada terselip rasa curiga
di hati Arya. Bentuk tubuh kakek itu mirip sekali dengan Raja Tengkorak. Begitu
pula dengan sepasang matanya, meski sedikit
mencorong tajam dan berwana kehijauan laksana mata
seekor harimau dalam gelap!
Arya bergerak dan ingin bangkit.
"Jangan bangkit dulu, Anak Muda," cegah kakek bertubuh tinggi kurus buru-buru.
"Kau masih lelah dan perlu istirahat yang banyak.
Terpaksa Dewa Arak mengurungkan maksudnya.
Kembali ia berbaring. Di samping masih terasa lelah dan sakit pada bahu kirinya,
dia pun tak ingin
mengecewakan kakek berpakaian hitam yang telah
menolongnya. Kakek berwajah tirus itu tersenyum lebar melihat
Arya mengikuti nasihatnya.
"Aku menemukan tubuhmu terbawa arus sungai.
Kau terluka, dan kebetulan aku menguasai sedikit ilmu pengobatan. Karena itu kau
kubawa ke rumah dan
kurawat" "Ah ... ! Aku telah merepotkanmu, Ki," ucap Arya malu-malu.
Kakek bertubuh tinggi kurus mengulapkan
tangannya. Baru saja akan berbicara, terdengar suara 44
Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com berkeruyuk pelan. Tapi karena kakek
berpakaian hitam mempunyai pendengaran yang tajam, suara itu mudah
dicerna. Wajah Arya kontan memerah. Dia tahu, mengapa
kakek itu menghentikan percakapan. Apa lagi kalau
bukan karena, suara perutnya yang lapar. "Perut tak tahu malu!" umpat Arya dalam
hati. Plak! Kakek berwajah tirus menepak keningnya. Karuan
saja tindakan itu membuat Arya merasa heran. Sebelum pemuda berpakaian ungu itu
bertanya, terlebih dahulu kakek berbaju hitam itu berkata, "Tuan rumah macam apa
aku ini" Tamu sudah dua hari tidak makan, belum juga disuguhi makanan."
Setelah berkata, demikian, kakek berpakaian hitam
itu melangkah keluar ruangan, meninggalkan Arya yang tercenung sendirian di
balai-balai bambu yang
beralaskan selembar tikar lusuh.
Tidak salah dengarkah aku?" tan ya Ar ya
dalam hati. Ucapan kakek berpakaian hitam itu tadi bermakna
bahwa dirinya tidak sadarkan diri selama dua hari.
"Aku yang salah dengar atau kakek itu yang salah ucap" Kalau benar aku tidak
sadarkan diri selama dua hari, wajar saja perutku dirasakan begin keroncongan,"
bisik hati Arya lagi.
Tak lama kemudian, kakek berpakaian hitam itu
muncul kembali dengan baki berisi makanan dan
minuman yang masih hangat. Diletakkannya baki itu
dekat Arya terbaring.
"Makan dulu, Anak Muda. Nanti kita bicara lagi,"
kata kakek berwajah tirus seraya melangkah
meninggalkan Arya.
"Terima kasih, Ki," sahut Arya. "Aku hanya merepotkanmu saja."
Tapi ucapan pemuda berambut putih keperakan
45 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com itu tidak mendapat jawaban, karena
kakek berwajah tirus telah berlalu dari ruangan itu.
Arya segera bangkit dari pembaringan, meskipun
ada rasa nyeri yang menggigit. Arya menyantap bubur yang berisi racikan
bermacam-macam sayuran hijau
dan segelas teh hangat.
ooOWKNBROoo "Kalau boleh kutahu, siapakah kakek sebenarnya"
Maaf, bukan bermaksud lancang, tapi aku ingin
mengenal orang yang telah menyelamatkan nyawaku,"
ujar Arya setelah kakek tinggi kurus berpakaian hitam kembali, dan duduk di
sebuah kursi dekat balai-balai bambu. "Aku Arya, Ki. Arya Buana. "
"Ha ha ha...
Kakek berwajah tirus tertawa pelan mendengar
pertanyaan Dewa Arak. Arya merasa lega mendengar
kakek itu tidak merasa terkejut mendengar namanya.
Biasanya setiap tokoh persilatan, langsung bisa
menduga setelah dia memperkenalkan Nama.
"Baiklah kalau kau rasa hal itu perlu, Arya,"
sahut kakek berpakaian hitam yang kini memanggil
Dewa Arak dengan namanya. "Memang lebih baik kalau kita saling mengenal satu
sama lain. Agar pembicaraan kita dapat berlangsung lebih menyenangkan. Namaku
Kalpa Reksa. Seorang kakek yang tengah menunggu
maut di tempat ini."
Arya mengangguk-anggukkan kepala, tampak dia
mulai paham kenapa kakek yang bernama Kalpa
Reksa itu belum mendengar julukannya. Rupanya dia
telah lama mengasingkan diri dari rimba persilatan.
Padahal, gelar yang disandangnya baru beberapa bulan muncul di dunia persilatan.
"Sekarang ceritakanlah siapa dirimu sebenarnya, dan mengapa bisa terkena senjata
ini," ucap Kalpa 46
Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com Reksa seraya menunjuk pisau
bergagang tengkorak
kepala manusia.
Arya menarik napas panjang dan
menghembuskannya kuat-kuat, sebelum menjawab
pertanyaan Kalpa Reksa.
" C e r i t a n y a c u k u p p a n j a n g , K i . "
"Ceritakanlah," sambut Kalpa Reksa bijaksana. "Aku bersedia mendengarkan. Kau
tahu, Arya. Pisau ini
hanya dimiliki oleh seorang tokoh yang aku tahu tidak pernah muncul lagi sampai
sekarang. "
"Jadi, kau mengenal pemiliknya, Ki?" tanya Dewa Arak. Perasaan terkejut dan
ingin tahu, tampak tergambar jelas di wajah pemuda berambut
putih keperakan itu.
"Lebih dari sekadar mengenalnya, Arya. Karena itu ceritakan semuanya sejelas mungkin. Percayalah, aku akan
mendengarkan ceritamu dengan sabar. "
Arya bukan orang bodoh. Dia tahu kakek bertubuh
tinggi kurus ini merasa keberatan menceritakan
tentang pemilik pisau itu, karena itu dia tidak
mendesaknya. Semua kejadian yang dialami, dituturkan Arya secara rinci.
Kalpa Reksa mendengarkan cerita itu dengan penuh
perhatian. Tak satu pun cerita pemuda berambut putih keperakan diselaknya.
Dahinya berkernyit ketika Dewa Arak melukiskan mengenai orang yang dijuluki Raja
Tengkorak. "Begitulah ceritanya, Ki," tutur Arya, menutup ceritanya.
Dahi Dewa Arak berkerut tatkala melihat sikap Kalpa Reksa kebingungan. Sepasang
matanya me natap lekat-lekat pada wajah kakek yang duduk di sampingnya.
Jelas cerita Arya telah memaksanya berpikir keras.
"Selain senjata rantai baja berkepala tengkorak dan pisau ini, senjata apa lagi
yang dipergunakannya?"
tanya Kalpa Reksa setelah beberapa saat terdiam.
47 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Hanya itu, Ki," jaw ab Arya yang tengah
diliputi perasaan heran. Tapi, ia tidak berani lancang menanyakan penyebab kakek
berpakaian hitam itu
kebingungan. "Hhh ... !" Kalpa Reksa menghembuskan papas berat
"Semua ciri-ciri yang kau sebutkan itu, mirip dengan tokoh yang tidak pernah
terdengar lagi namanya,
karena ia telah menarik diri dari rimba persilatan.
Bahkan julukan Raja Tengkorak persis sama."
"Barangkali tokoh itu telah keluar dari
pengasingannya, Ki?" kata Dewa Arak menduga.
Kalpa Reksa menggelengkan kepala, pertanda
menyangkal dugaan Arya.
"Mengapa kau begitu yakin, Ki?" Arya heran melihat keyakinan kakek tinggi kurus
itu. Kalpa Reksa diam. Tidak menjawab pertanyaan
pemuda berpakaian ungu itu.
"Mungkin benar, kau mengawasi gerak-geriknya.
Tapi, boleh jadi dia memanfaatkan kelengahanmu, Ki.
Lalu, dia keluar dari pengasingan dan terjun kembali ke rimba persilatan."
Kalpa Reksa tercenung sejenak Dia menarik napas
dalam-dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat. Di
dalam hati, diakuinya ucapan pemuda berambut putih
keperakan itu mengandung kebenaran.
"Ada baiknya kuberitahukan padamu mengenai
Raja Tengkorak yang telah tidak pernah terdengar
beritanya itu. Agar kau tahu kalau dugaanmu itu
keliru," ujar Kalpa Reksa.
"Aku tidak menuntut agar kau menceritakan tentang tokoh itu, Ki," Arya yang
merasa tidak enak hati, buru-buru menyelak. "Aku hanya mengajukan dugaan saja,
Ki. " Kalpa Reksa mengulapkan tangannya. Dia
memahami apa yang membuat gundah hati dan pikiran
Dewa Arak. 48 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Aku mengerti, Arya. Tapi, agar tidak timbul
prasangka buruk terhadap Raja Tengkorak. Aku kira
perlu menceritakan padamu."
Arya terdiam. Disadari kalau tidak mungkin
mencegah kakek tinggi kurus itu menuturkan masalah
sesungguhnya. Sebab niat Kalpa Reksa sudah demikian bulat untuk menceritakan
tentang diri Raja Tengkorak.
Yang dapat dilakukan pemuda berpakaian ungu ini
hanya berdiam diri.
"Hhh... !"
Kalpa Reksa menghela napas berat sebelum
berkisah. Seolah-olah ada beban berat yang
menekan batinnya.
49 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com 6
''Puluhan tahun yang lalu, dunia persilatan
digemparkan dengan munculnya Raja Tengkorak Tokoh
yang mempunyai ciri-ciri seperti yang kau sebutkan, memiliki ilmu silat yang
tinggi. Tak satu pun tokoh persilatan yang mampu menandinginya," ujar Kalpa
Reksa membuka cerita. Sementara Arya hanya diam
dan mendengarkan penuh perhatian.
"Sayang, Raja Tengkorak lupa diri. Kepandaian yang tinggi itu disalahgunakan
untuk menyiksa, membunuh, dan memperkosa. Sehingga di mana dia berada, pasti
timbul kekacauan. Masyarakat pun diliputi ketakutan dan rasa khawatir. "
Kakek berpakaian hitam itu menghentikan sejenak
ceritanya untuk mengambil napas. Arya memperhatikan perubahan pada wajah kakek
bertubuh tinggi kurus
itu. Dia melihat ada rasa kesedihan yang mendalam
pada wajah dan sorot mata Kalpa Reksa.
"Karuan saja tindakan Raja Tengkorak yang brutal itu menimbulkan amarah tokoh-
tokoh persilatan aliran putih. Banyak tokoh yang bangkit dan menentang, tapi
semua digilas habis. Raja Tengkorak terlalu kuat
untuk mereka."
Kembali Kalpa Reksa menghentikan ceritanya. Kali
ini sepasang bola matanya tampak berkaca-kaca.
Jelas kalau cerita selanjutnya menyedihkan hatinya.
"Meskipun dia dikenal jahat dan sadis, Raja
Tengkorak mempunyai rasa kasih sayang yang besar.
Dia sangat mengasihi istrinya. Sang istri pun
sebenarnya tidak suka dengan perbuatan suaminya.
Tapi apa dayanya, meskipun, telah berkali-kali
melarang, Raja Tengkorak tetap saja menyebarkan
maut," kembali Kalpa Reksa menghentikan ceritanya sejenak untuk mengambil napas.
50 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Raja Tengkorak ingin mempunyai seorang anak
dari istri yang sangat dicintainya itu. Karena ia akan mewariskan kesaktian yang
dimilikinya. Tapi keinginan itu tidak pernah terkabul. Buah hati yang
dirindukannya tidak pernah muncul ke dunia," ujar Raja Tengkorak dengan suara
tersendat Arya mengernyitkan dahi. Benaknya sibuk menduga-
duga hubungan Kalpa Reksa dengan Raja Tengkorak.
"Akhimya, hadir juga seorang anak yang sudah lama mereka rindukan. Raja
Tengkorak bahagia sekali. Dia berjanji akan memenuhi permintaan istri nya.
Lagi-lagi Kalpa Reksa menghentikan ceritanya
Tampak bibirnya yang kering itu bergetar hebat
Jelas kalau kakek tinggi kurus itu tengah menahan
gejolak perasaan.
"Sungguh di luar dugaan," sambung Kalpa
Reksa. "Istri Raja Tengkorak minta agar suaminya menghentikan tindakan
kejahatan, dan mengundurkan
diri dari dunia persilatan. Meskipun permintaan itu berat, Raja Tengkorak tetap
memenuhinya. Sejak
itulah Raja Tengkorak tidak pernah lagi membuat
onar. Dan menarik diri dari rimba persilatan."
Arya tidak menyangka kehidupan Raja Tengkorak
sangat menarik.
"Pada bulan ketiga, sejak Raja Tengkorak menarik diri, muncul adik
seperguruannya dengan membawa
kabar kalau Raja Tengkorak ditantang Pendekar Pedang Kilat di Lembah Gandar."
"Jadi, Raja Tengkorak mempunyai saudara
seperguruan?" tanya Arya tak tahan memendam
rasa ingin tahunya.
"Ya," cetus kakek berpakaian hitam seraya menganggukkan kepala.
"Dari mana dia tahu kalau yang menjadi
saudara seperguruannya adalah Raja Tengkorak?" kejar Dewa Arak.
51 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak


Dewa Arak 26 Raja Tengkorak di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Dari berita-berita yang tersebar mengenai ilmu dan senjata yang digunakan Raja
Tengkorak," jelas Kalpa Reksa.
"Lalu, bisa mengetahui tempat tinggalnya?" "Tentu saja dengan mencarinya, Arya,"
sahut Kalpa Reksa setengah menggoda.
Arya pun diam. Tidak bertanya lagi.
'Walaupun sang istri melarang, Raja Tengkorak tetap pergi juga. Pantang menolak
tantangan. Begitulah
prinsip dalam dunia persilatan. Setelah anak dan
istrinya dititipkan pada adik seperguruannya, Raja
Tengkorak pergi ke Lembah Gandar. Sampai di sana,
dia tidak menemukan orang yang menantangnya. Maka
dengan rasa heran, dia pun kembali ke rumahnya,"
Kalpa Reksa sejenak menghentikan ceritanya.
Sepasang matanya yang cekung berkacakaca. Suara
laki-laki berbaju hitam itu terdengar bergetar.
"Hampir saja Raja Tengkorak pingsan ketika tiba di rumah. lstri dan anaknya
tewas dalam keadaan
menyedihkan. Wajah anak yang dicintainya rusak, dan sulit dikenali. Kecuali
pakaian yang dikenakan bocah malang itu. Sementara, adik seperguruannya tidak
dijumpai di situ. Dia menghilang," Kata Kalpa Reksa dengan suara tinggi dan
penuh amarah. "Orang yang paling dungu pun bisa memperkirakan pelaku kejadian itu. Apalagi
Raja Tengkorak," sambung Kalpa Reksa dengan nada suara masih meninggi. "Dia
yakin kalau pelaku semua kekejian itu adalah adik
seperguruannya."
Arya tercenung. Sungguh tidak disangka kalau
riwayat kehidupan Raja Tengkorak sangat tragis.
"Berbulan-bulan Raja Tengkorak mencari adik
seperguruannya yang bernama Turgawa. Ketika mereka
bertemu, tak terhindarkan lagi pertarungan pun
berlangsung sengit Raja Tengkorak berhasil
membuntungi tangan kanan Turgawa. Sayang, sebelum
52 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com nyawanya dihabisi, tubuh adik
seperguruannya jatuh
ke dalam jurang yang cukup dalam. Setelah dia
berhasil membalas dendam kesumatnya, Raja
Tengkorak tidak pernah muncul lagi. Sejak itu,
julukan Raja Tengkorak pun lenyap. Orang yang tidak mengetahui, menduga kalau
Raja Tengkorak telah
tewas," ucap Kalpa Reksa, menutup ceritanya.
"Jadi, karena peristiwa itu Raja Tengkorak
menyadari jalan yang ditempuhnya selama ini
sesat" komentar Arya memberikan dugaan.
Kalpa Reksa mengangguk.
"Kematian istri dan anaknya telah menyadarkan Raja Tengkorak. Dia merasa sedih
dan sepi ditinggal orang yang mencintai dan mengasihi dirinya."
Arya diam. Ucapan kakek berpakaian hitam itu tak
dihiraukannya lagi. Dia sibuk memikirkan makna cerita si kakek tentang Raja
Tengkorak. "Dari cerita itu, aku dapat memperkirakan siapa sebenarnya Raja Tengkorak," ucap
Arya tiba-tiba.
Kalpa Reksa tersenyum getir menyambut ucapan
pemuda berambut putih keperakan itu.
"Boleh aku mengutarakan dugaanku, Ki?"
"Silakan, Arya," kalem terdengar sambutan kakek berpakaian hitam itu. Tidak
nampak lagi kesedihan dalam suaranya.
"Tokoh yang berjuluk Raja Tengkorak tidak lain bernama Ki Kalpa Reksa," sebut
Arya. "Kaulah orang yang berjuluk Raja Tengkorak itu, Ki."
"Hhh ...!"
Dengan menghela napes berat, kakek berwajah tiros
itu menganggukkan kepala.
"Dugaanmu tidak salah, Arya. Akulah Raja
Tengkorak itu," terdengar pelan dan mirip desahan suara Kalpa Reksa.
"Kini aku paham kenapa kau bersikeras bahwa Raja Tengkorak tidak pernah keluar
sama sekali dari
53 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com pengasingan, karena kaulah
orangnya," Arya mengerti mengapa kakek tinggi kurus itu membela mati-matian
Raja Tengkorak "Yahhh...., begitulah, Arya...."
''Lalu, siapakah tokoh yang kini menjadi Raja
Tengkorak itu?" tanya Dewa Arak bingung.
"Seharusnya aku yang pantas lebih bingung
daripada dirimu, Arya. Orang yang menguasai ilmu
seperti yang kumiliki, tak lain adik seperguruanku. Tapi dia telah tewas.
Sedangkan guruku sudah lama
meninggal. Lalu, siapakah orang yang telah menyamar sebagai Raja Tengkorak?"
tanya Kalpa Reksa bernada mengeluh.
"Mungkin gurumu telah mengambil murid tanpa
sepengetahuanmu, Ki," duga Arya setelah beberapa saat lamanya termenung.
Kakek berpakaian hitam itu menggelengkan
kepalanya. "Atau, mungkin tokoh itu adalah murid adik
seperguruanmu?" ujar pemuda berpakaian ungu
menduga. "Hm ... !" Kalpa Reksa bergumam menyambut ucapan Dewa Arak.
"Boleh aku bertanya sesuatu, Ki?" ujar Arya memecah keheningan.
"Silakan, Arya ...... sambut Kalpa Reksa memberi kesempatan.
"Apakah dulu sewaktu Raja Tengkorak melakukan
tindakan mempunyai pengikut?"
Kalpa Reksa menggeleng.
"Raja Tengkorak selalu bertindak sendiri, Arya.
Kesombongan membuatnya berpikir tak perlu memiliki
pengikut Ada apa, Arya?" kakek berpakaian hitam itu balas bertanya.
"Raja Tengkorak yang telah melukai tubuhku banyak pengikutnya, Ki," ujar Dewa
Arak. 54 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com Kalpa Reksa terdiam sejanak Dahinya
berkernyit Jelas ada sesuatu yang mengganggu pikirannya,
"Bila benar dia memiliki pengikut.., barangkali dapat ditarik kesimpulan ......
"Dia pasti mempunyai tujuan, Ki?" tebak Arya.
"Tepat!"
"Kira-kira tujuan mereka apa, Ki?" tanya Arya ingin tahu pendapat kakek
berpakaian serba hitam itu.
"Kurasa tidak jauh berbeda dari keinginanku, ketika masih menyandang julukan
Raja Tengkorak,"
jawab Kalpa Reksa sambil mengelus-alas dagunya.
"Apa itu, Ki!"
"Merajai dunia persilatan! Dan mengangkat diri sendiri sebagai jagoan nomor
satu!" tandas kakek bertubuh tinggi kurus. "Begitulah perasaan yang melandaku
puluhan tahun lalu."
Arya mengangguk-anggukkan kepala. Dia
memaklumi keinginan seperti itu menguasai para tokoh persilatan tingkat tinggi.
"Tapi, mereka pasti akan mengalami banyak
hambatan dalam tindakannya," sambung Kalpa
Reksa. "Mengapa, Ki?" kejar Dewa Arak.
"Seorang tokoh sakti yang mengasingkan diri di Gunung Jawul, tergerak hatinya
ketika mendengar
kekacauan dan keonaran yang ditimbulkan Raja
Tengkorak waktu dulu. Lalu, dia mengangkat dua orang murid."
Kalpa Reksa diam sejenak, dan menarik napas
dalam-dalam. "Kedua murid itu masing-masing memiliki sebuah perguruan silat Yang satu bernama
Perguruan Gajah
Putih, dan lainnya bernama Perguruan Banteng Sakti.
Kedua perguruan silat itu telah banyak mencetak
pendekar yang membela kebenaran. Raja Tengkorak itu pasti menemui kesukaran
untuk mewujudkan cita-cita
55 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com merajai dunia persilatan," sambung
Kalpa Reksa. Arya menganggukkan kepala.
"Pembicaraan kali ini kurasa cukup dulu, Arya.
Nanti, kita rundingkan lagi. Kau belum sembuh
benar. Lebih baik kau beristirahat, agar kesehatanmu cepat pulih kembali."
Setelah berkata demikian, kakek berwajah tirus itu
meninggalkan Dewa Arak.
Arya menyadari bahwa dirinya memang memerlukan
istirahat Meskipun luka-luka akibat hantaman tengkorak kepala sudah sembuh, tapi
tenaganya belum begitu
pulih. Dan, dia harus sering bersemadi, agar tubuhnya segar kembali seperti
semula. Pemuda berambut putih keperakan itu segera duduk
bersila. Punggungnya ditegakkan, kedua tangannya
terbuka lurus di depan dada. Lalu, Arya tenggelam
dalam semadi. Sekejap kemudian suasana menjadi hening.
Yang terdengar hanyalah suara desah napas halus,
keluar dan masuk dari mulut dan hidung Dewa
Arak. ooOWKNBROoo "Aunggg ..."
Suara lolong anjing mengusik kesenyapan ma-lam.
Bulan bulat muncul dan memancarkan sinar. Langit
yang bersih dari awan membuat cukup benderang.
Dalam suasana malam seperti itu, tampak
berkelebatan sosok-sosok bayangan. Yang bergerak
paling depan adalah laki-laki bertubuh tinggi kurus dan berpakaian tengkorak.
Dialah yang dijuluk Raja
Tengkorak. Terlihat pula sosok Juriga, Dulimang, dan sosok bayangan lainnya.
Jumlah mereka tak kurang dari dua puluh orang. Mereka bergerak dari arah yang
berbeda, tapi menuju satu arah.
56 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Dulimang ...... panggil Juriga pelan sambil terus melangkah.
"Hm.... Ada apa ... "'' tanya Dulimang.
"Dia benar-benar seorang pemimpin. Di bawah
perintahnya, kita akan berjaya. Tidak disangka setelah lenyap belasan tahun, dia
muncul dengan cara baru,"
puji Juriga. "Ya," sahut Dulimang. "Dulu kita menganggap dia sebagai pemimpin, tapi bukan
dalam arti yang
sebenarnya. Sebab dia memang tak pernah menjadi
pemimpin kita. Hm.... Apa yang membuatmu yakin kalau golongan kita akan berjaya
di bawah pimpinannya?"
Juriga tidak langsung menjawab pertanyaan itu Dia terus melangkahkan kakinya.
Begitu pula dengan Dulimang.
"Kau masih ingat, Dewa Arak yang terkenal telah berhasil dilenyapkan. Dan kini,
kita akan menyerbu
Perguruan Gajah Putih. Padahal perguruan itu adalah perguruan yang besar dan
terkenal memiliki muridmurid yang berilmu tinggi. Bila Perguruan Gajah Putih
roboh, maka tinggal satu lagi tugas kita. Dan, jika kita berhasil menaklukkan
yang terakhir, maka dunia
persilatan berada di tangan kita!"
Dulimang tidak lagi menyahuti ucapan rekannya. Dia
tidak terlalu yakin kalau rencana Raja Tengkorak akan berhasil. Dia menyadari
kehebatan ilmu yang dimiliki murid Perguruan Gajah Putih. Tapi dia tidak berani
bicara, khawatir terdengar Raja Tengkorak.
Kini kedua orang itu berlari cepat tanpa berbicara
lagi. Benak mereka dirasuki pikiran sendirisendirt.
Tak lama kemudian, mereka memperlambat gerakan
larinya ketika berada di batik pohon dan semak-semak yang lebat
Dalam jarak sekitar sepuluh tombak dari tempat
mereka bersembunyi, tampak sebuah bangunan besar
dan berpagar kayu tinggi. Mereka tahu di atas pintu gerbang, terpampang sebuah
papan lebar, tebak
57 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com dan beruldr bertuliskan huruf-huruf
yang berbunyi 'Perguruan Gajah Putih'.
Meskipun suasana di sekeliling tampak sunyi,
Dulimang dan Juriga sadar betul di sekitar daerah itu banyak tokoh persilatan
yang memiliki ilmu tinggi.
Karena itu sambil menunggu saat penyerangan, mereka tetap waspada.
Waktu terasa lama berlalu bagi pengikut Raja
Tengkorak. Seolah-olah waktu bergerak seperti
keong merayap. "Kaaak, kaaak, kaaak..
Mendadak suara berkaokan terdengar keras. Sekilas
mirip suara burung gagak, tapi bagi orang yang jeli dapat mengetahui
perbedaannya. Suara itu
mempunyai irama, seperti sebuah sandi.
Dan itu memang benar, seiring suara berkaokan
keras lenyap, tampak dari balik semak-semak, sosok
bayangan bergerak cepat menuju ke arah
Perguruan Gajah Putih. Temyata suara berkaokan itu
berasal dari Raja Tengkorak sebagai tanda
penyerangan dimulai.
Sosok-sosok tubuh itu bergerak cepat Tapi,
kalah cepat dari sosok bayangan hitam yang tidak
lain adalah Raja Tengkorak. Walaupun dia bergerak
belakangan, dan telah tertinggal sekitar enam tombak, tapi dia mampu melewati
tubuh belasan sosok
bayangan yang menuju ke arah bangunan berpagar
kayu. Raja Tengkorak terus melesat cepat menuju
pintu gerbang Perguruan Gajah Putih. Dan.... Brakkk..
Pintu gerbang perguruan hancur dengan me-
ngeluarkan suara gaduh, ketika kedua tangan Raja
Tengkorak menghantam pintu yang terbuat dari
kayu jati tebal.
Karuan saja suara ribut-ribut itu mengejutkan empat orang murid Perguruan Gajah
Putih yang tengah
58 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com bejaga-jaga di pos. Mereka serentak
melompat keluar, dan bergerak cepat ke arah pintu gerbang.
Tapi salah seorang dari mereka tidak langsung


Dewa Arak 26 Raja Tengkorak di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menuju ke arah pintu gerbang, melainkan memukul
kentongan yang berada di depan pos penjagaan.
Tong, tong, tong...!"
Riuh suara kentongan sebagai tanda bahaya
mengusik keheningan malam.
Dua orang murid Perguruan Gajah Putih yang tengah
memeriksa sudut-sudut perguruan, terkejut ketika
mendengar suara berderak keras dan bunyi kentongan
yang bertalu-talu.
Buru-buru kedua orang murid ini berlari ke arah
pintu gerbang. Sambil berlari, yang satunya lagi
terus memukul kentongan yang dibawa untuk
memberitahukan adanya ancaman bahaya.
Akibatnya sudah bisa diduga. Seisi Perguruan Gajah
Putih pun gempar. Mereka semua bergegas keluar dari bangunan masing-masing
sambil menyambar senjata.
59 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com 7
Sementara itu tiga orang murid Perguruan
Gajah Putih yang telah melompat keluar dari gardu
penjagaan, terkejut bukan kepalang ketika melihat
sosok bayangan hitam melesat cepat. Dan, kepingan
dawn pinto gerbang yang tebal meluncur berhamburan.
"Raja Tengkorak... !" desis salah seorang dari tiga murid Perguruan Gajah Putih
yang berkumis tebal,
seraya menghentikan langkah. Tangan mereka yang
menggenggam gagang pedang sejak tadi, tampak
bergetar hebat.
"Ha ha ha...
Laki-laki berpakaian tengkorak itu tertawa tergelak.
Suara tawanya terdengar aneh, meskipun pelan,
berat, dan bergema. Raja Tengkorak pun menghentikan langkah. Sehingga mereka
berdiri berhadapan dalam
jarak sekitar dua tombak.
"Serang...!" seru murid Perguruan Gajah Putih yang berkumis tipis. Rupanya
dialah yang menjadi kepala
jaga hari itu. Seiring dengan teriakan itu, tiga orang murid
Perguruan Gajah Putih bergerak cepat Mereka langsung berpencar, melangkah maju
dengan sikap waspada.
Kemudian.... "Haaat..!"
Sambil mengeluarkan suara teriakan melengking
nyaring, tiga orang murid Perguruan Gajah Putih
menyerang Raja Tengkorak. Sadar lawan yang
dihadapi sangat tangguh, ketiga orang itu menyerang serentak dari tiga jurusan.
Sing, sing, sing... !
Suara berdesing nyaring terdengar ketika pedang-
pedang itu meluncur cepat ke arah Raja Tengkorak.
60 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Hmh... Laki-laki berpakaian tengkorak itu mendengus. Tidak tampak tanda-tanda yang
menunjukkan kalau dia akan
menyerang atau menangkis.
Baru ketika serangan menyambar dekat ke arah
tubuhnya, kedua tangan Raja Tengkorak bergerak cepat Tak, tak, tak..
Suara berdetak keras terdengar berkali-kali tatkala kedua tangan Raja Tengkorak
berbenturan dengan
senjata ketiga murid Perguruan Gajah Putih.
Sungguh luar biasa! Ketiga pedang itu patah dan
jatuh berserakan di tanah!
Belum sempat ketiga orang murid Perguruan Gajah
Putih berbuat sesuatu, kedua tangan Raja Tengkorak
bergerak cepat "Akh .. !"
Jerit kematian terdengar saling susul, ketika jari
telunjuk Raja Tengkorak amblas ke dalam dahi
ketiga orang murid Perguruan Gajah Putih yang
bernasib malang itu.
Tubuh mereka berkelojotan dan menggelepar. Lalu,
diam dan tak bergerak-gerak lagi. Mereka tewas
dengan dahi berlubang.
Bertepatan dengan robohnya tiga murid Perguruan
Gajah Putih, bermunculan tokoh-tokoh persilatan yang menjadi pengikut Raja
Tengkorak. Dua orang murid Perguruan Gajah Putih yang baru
tiba di pintu gerbang, terkejut bukan kepalang begitu melihat banyak tokoh
persilatan yang berada. di dalam perguruan mereka. Rasa kaget berganti dengan
kemarahan bercampur rasa gentar, ketika melihat mayat rekan mereka tergeletak di
hadapan kaki Raja
Tengkorak. Raja Tengkorak bertepuk tangan satu kali. Tampak
pelan tepukannya. Tapi, sesaat kemudian terdengar
suara dentuman keras laksana halilintar yang
61 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com menggelegar.
Seketika itu pula, sekitar dua puluh pengikut laki-laki berseragam tengkorak itu
meluruk maju, dan
mengeluarkan seruan-seruan keras.
Keadaan itu membuat dua orang murid Perguruan
Gajah Putih tidak mempunyai pilihan lain, kecuali
mempertahankan nyawa. Meskipun sadar kalau lawan
terlalu banyak, dan didampingi Raja Tengkorak, tapi mereka setapak pun tidak
mundur. Perguruan Gajah
Putih harus dipertahankan sekalipun nyawa sebagai
taruhannya. Pada saat yang bersamaan dengan para pengikut
Raja Tengkorak menyerbu dua orang murid Perguruan
Gajah Putih, tangan laki-laki berpakaian tengkorak itu bergerak mengibas.
Singgg... Sinar terang berpendar ketika pisau bergagang
tengkorak kepala meluncur cepat ke arah murid
Perguruan Gajah Putih yang masih memukul kentongan
tanda bahaya. Cappp... "Akh ... !"
Murid Perguruan Gajah Putih yang tengah memukul
kentongan itu memekik keras sebelum tubuhnya roboh
dan jatuh ke tanah. Pisan bergagang tengkorak kepala menancap di dahinya.
Nasib yang sama menimpa dua orang murid
Perguruan Gajah Putih lainnya. Perlawanan mereka
mudah dikandaskan pengikut Raja Tengkorak. Sekali
gebrak mereka sudah roboh dengan sekujur tubuh
penuh luka. Lawan yang dihadapi terlampau banyak,
dan mereka memiliki kepandaian yang tinggi.
Tanpa mempedulikan mayat-mayat murid Perguruan
Gajah Putih, Raja Tengkorak dan pengikutnya bergerak masuk ke dalam perguruan.
Tapi di tengah jalan,
mereka berpapasan dengan muridmurid Perguruan
62 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com Gajah Putih. Pertarungan sengit pun
tidak bisa dihindari. ooOWKNBROoo Suara denting senjata yang beradu, terdengar
gaduh. Suasana malam yang semula sepi, kontan
berubah bising.
Murid-murid Perguruan Gajah Putih berjuang keras
menghalau tamu-tamu yang tidak mereka undang. Tak
mengherankan bila pertarungan yang terjadi sengit dan seru luar biasa.
Perguruan Gajah Putih memiliki murid yang cukup
banyak. Tak kurang dua puluh orang murid yang terlibat pertarungan. Kepandaian
mereka rata-rata cukup
tinggi. Sehingga pertarungan berlangsung imbang.
Raja Tengkorak mengaw asi dengan cermat
jalannya pertarungan. Laki-laki
berpakaian tengkorak ini sama sekali tidak ikut terjun dalam pertarungan. Dia adalah
seorang tokoh sesat yang
memiliki keangkuhan dan kesombongan.
Lantaran mempunyai ilmu yang tinggi.
Tak lama kemudian, korban di kedua belah
pihak mulai berjatuhan. Darah muncrat dari
tubuh-tubuh yang roboh, dan diiringi jerit kematian.
Raja Tengkorak mulai tidak sabar menyaksikan
Pertarungan yang berlangsung lama, tapi ketua
Perguruan Gajah Putih belum juga muncul.
"Ranjana...! Keluar kau...! Hadapi aku ... ! Kalau tidak, semua muridmu kubantai
sekarang juga... Aku, Raja
Tengkorak menantangmu ..."
Suara Raja Tengkorak keras bukan kepalang.
Hal itu hanya bisa dilakukan bila disertai
pengerahan tenaga dalam yang tinggi. Memang,
tokoh sesat itu menggunakan tenaga dalam. Agar
suaranya terdengar sampai ke seluruh bangunan Per-
63 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com guruan Gajah Putih.
Belum hilang gema suara tantangan laki-laki
berseragam tengkorak, tiba-tiba terdengar suara
p e n u h w i b aw a me n ya m b u t u c a p a n Ra j a T e n g korak
"Kuterima tantanganmu, Raja Tengkorak....!"
Seiring dengan lenyapnya suara itu, tampak
sosok bayangan putih melesat keluar dari salah satu bangunan yang ada di
Perguruan Gajah Putih.
"Hup ...!"
Tanpa menimbulkan suara, sosok bayangan
putih itu mendaratkan sepasang kakinya dengan
ringan. Tak jauh dari tempat Raja Tengkorak
berdiri. "Ha ha ha ... !"
Laki-laki berseragam tengkorak itu tertawa terbahak-bahak. Sepasang matanya
merayapi wajah dan
sekujur tubuh orang yang berdiri di hadapannya.
Yang tidak lain adalah Ranjana, Ketua Perguruan Gajah Putih.
Ranjana bertubuh tegap dan berisi. Kumis, jenggot,
dan cambang yang terawat rapi menghiasi wajahnya.
Pakaiannya yang serba putih, dan Sulaman seekor
gajah yang terbuat dari benang emas menempel pada
dada kirinya, semakin menambah kegagahannya.
"Kukira kau sudah kabur meninggalkan tempat ini, Ranjana," ejek Raja Tengkorak
seraya tersenyum sinis.
"Aku bukan orang sepertimu, Raja Tengkorak!"
sergah Ranjana keras. Suaranya ternyata seperti
juga penampilannya, keras dan berwibawa. "Kau akan lari begitu melihat keadaan
tidak menguntungkan.
Jangan samakan aku dengan dirimu!"
"Sombong ... !" Raja Tengkorak memaki keras. "Raja Tengkorak pantang dihina
orang!" Setelah berkata demikian, laki-laki berpakaian hitam 64
Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com itu langsung menyerang dengan
tendangan terbang ke
arah leher Ranjana., Cepat dan berbahaya bukan
main serangan Raja Tengkorak
Ranjana tidak berani bersikap main-main. Nama
besar Raja Tengkorak sudah lama didengarnya.
Meskipun tokoh itu pernah menghilang belasan
tahun. Tapi, ilmu dan kepandaiannya amat tinggi. Dan, kini tokoh sesat yang
menggiriskan itu berada di
hadapannya, dan tengah melancarkan serangan.
Tahu betapa berbahayanya serangan serupa itu,
laki-laki berwajah jantan itu tidak berani menangkis.
Dia tahu dirinya akan rugi bila serangan itu
ditangkis. Sebab tenaga lawan makin kuat
dengan menerjang. Bila serangan itu ditangkis,
maka kaki yang satu lagi dengan mudah menghajar
dada, tanpa sempat terlindungi. Karena menangkis
tendangan terbang seperti itu, lebih menguntungkan bila menggunakan dua buah
tangan. Oleh karena itu, Ranjana tidak menangkis
tendangan itu. Buru-buru dia melompat ke samping.
Ketua Perguruan Gajah Putih itu tidak ingin mengambil risiko. Dia membuat
gerakan menjauhi tubuh lawan.
Karena kaki Raja Tengkorak yang satu lagi, belum
dipergunakan. Dan, sangat berbahaya kalau dia
mengelak tanpa menjauhkan diri.
Berbareng dengan mendaratnya kedua kaki,
Raja Tengkorak di tanah, Ranjana sudah siap
menghadapi serangan lawan selanjutnya.
Dan, memang serangan Raja Tengkorak meluncur
secara tiba-tiba, cepat dan bertubi-tubi. Kedua
tangannya terkembang membentuk cakar dan
melesat ke arah ulu hati Ketua Perguruan Gajah Putih.
Dengan diiringi suara mendecit nyaring dari udara
yang terobek, cakar tangan Raja Tengkorak meluncur
cepat. Ranjana sama sekali tidak menghindari
serangan itu. Dia mengerahkan seluruh tenaga
65 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com dalam yang dimiliki, dan
menyongsong serangan itu
dengan jari-jari yang sama dengan lawan.
Prat... "Akh ...!"
Ketua Perguruan Gajah Putih memekik tertahan.
Kedua tangannya terasa sakit-sakit bukan main.
Terutama sekali jari-jari tangannya yang seakan-akan telah patah-patah
tulangnya. Bukan hanya itu saja,
tanpa dapat ditahan lagi tubuhnya terhuyung dua
langkah ke belakang. Jelas kalau tenaga dalam Raja
Tengkorak lebih kuat dari tenaga dalam yang dimiliki Ranjana.
Belum lagi Ketua Perguruan Gajah Putih itu sempat
memperbaiki kedudukannya, kaki kanan Raja
Tengkorak kembali meluncur deras ke arahnya dengan


Dewa Arak 26 Raja Tengkorak di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tendangan lures ke arah dada.
"Hih ...!"
Meskipun dalam keadaan yang tidak
menguntungkan, Ranjana masih mampu
menunjukkan kalau dirinya bukan tokoh
sembarangan yang gampang dipecundangi. Sekali
menjejakkan kaki, tubuhnya telah melompat ke
belakang. Sehingga tendangan itu mengenai tempat
kosong. Raja Tengkorak tidak menyia-nyiakan kesempatan
itu. Secepat tendangannya berhasil dielakkan, secepat itu pula tubuhnya melesat
memburu tubuh Ranjana
yang sedang melompat. Maksud laki-laki berseragam
tengkorak ini sudah bisa diduga. Apa lagi kalau
bukan menyerang tubuh yang akan mendarat di tanah.
Begitu tubuh itu mendarat, serangan pun akan tiba.
Jadi, sulit bagi laki-laki berwajah jantan itu untuk mengelak.
Rupanya Ranjana juga sudah memperhitungkan
hal itu. Sewaktu tubuhnya berada di udara, benaknya berputar cepat. Dan, dia
segera. men c a b u t
66 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com p e d a n g n y a .
"Hup ...!"
Ketika kedua kakinya mendarat di tanah, pedang di
tangannya dikelebatkan cepat. Dan....
Cappp ... ! Telak dan keras sekali pedang itu membabat leher
Raja Tengkorak. Tak pelak lagi kepala tokoh sesat yang menggiriskan itu pun
terbabat buntung. Kepalanya
jatuh dan menggelinding di tanah. Sedangkan
tubuhnya, tetap tegak berdiri dengan kedua kaki.
Ranjana terkejut bukan kepalang melihat kenyataan
ini. Mimpikah dia" Tidak salahkah penglihatannya"
Mengapa begitu mudah membinasakan tokoh yang
terkenal Sakti dan ditakuti itu" Berbagai macam
pertanyaan bergayut di benaknya.
Karena dilanda perasaan bingung, beberapa saat
lamanya Ranjana terpaku kaku. Dia menatap mata
pedangnya. Jelas dilihatnya ada darah yang membekas di sana.
Tapi Ketua Perguruan Gajah Putih ini menjadi
curiga. Karena kematian lawan begitu mudah.
Apalagi tubuh itu tidak roboh ke tanah, tapi tetap berdiri tegak.
Rasa curiga membuat Ranjana berusaha keras
menenangkan pikirannya. Kini perhatiannya dialihkan pada tubuh tanpa kepala yang
masih berdiri tegak
Sepasang mata Ranjana terbelalak begitu melihat
kenyataan di hadapannya. Betapa tidak" Kepala yang
semula tergolek dengan bagian wajah menempel ke
tanah, mendadak bergerak-gerak sendiri. Kepala itu
hidup! Dan mendadak, kepala itu berbahk. Kini leher yang terbabat pedang tadi
menempel dengan tanah.
Dan mendadak kepala itu melayang. Karuan saja hal
itu membuat Ketua Perguruan Gajah Putih terkejut
bukan kepalang. Buru-buru dia melompat mundur,
seraya memutarmutarkan pedangnya di depan dada.
67 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com Berjaga-jaga terhadap serangan
kepala itu. Ternyata kekhawatirannya lama sekali tidak terbukti.
Kepala itu tidak melayang ke arahnya, melainkan ke
arah tubuh Raja Tengkorak yang masih berdiri
tegak. Dan.... Tappp ... ! Begitu kepala itu menempel ke tempat semula,
tangan Raja Tengkorak bergerak ke atas. Kemudian
mengusap sambungan leher yang putus tertebas
pedang. Ajaib! Ketika kedua tangan itu kembali diturunkan,
sambungan pada bagian leher itu telah tidak terlihat lagi.
"Ha ha ha...!"
Raja Tengkorak tertawa bergelak-gelak Tawa
kemenangan. Sementara Ranjana menatapnya dengan
pandang mata memancarkan kengerian.
"Jangan mimpi bisa mengalahkanku, Ranjana," kata laki-laki berpakaian tengkorak
itu. Mulutnya yang
terlindung dalam sebuah selubung bergambar
tengkorak, tersenyum mengejek,
"llmu iblis ... !" desis Ketua Perguruan Gajah Putih dengan perasaan ngeri
melihat kedahsyatan ilmu
lawannya. Dia pemah mendengar ilmu yang membuat
seseorang tidak bisa mati. ilmu 'Rawa Rontek'. Tapi, sungguh tidak diduga sama
sekali kalau Raja
Tengkorak memiliki ilmu seperti itu. Dengan ilmu 'Rawa Rontek', bagian tubuh
yang terpisah mudah bersatu
kembali. Hanya dengan mengetahui kelemahannya,
lawan yang memiliki ilmu itu baru bisa dibinasakan.
"Ha ha ha... !"
Raja Tengkorak tertawa terbahak-bahak. Sebuah
tawa yang panjang, tapi mendadak berhenti seketika.
"Hmh ... ! Saat kematianmu sudah tiba, Ranjana!
Kini aku tidak akan main-main lagi!"
Setelah berkata demikian, tokoh sesat yang
68 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com menggiriskan itu meluruskan kedua
jari-jari tangan nya.
Suara aneh mirip desah ular mengiringi terbentuknya kedudukan jari-jari seperti
itu. Ranjana bersikap waspada. Dia sadar kalau Raja
Tengkorak telah siap menggunakan ilmu andalannya.
Sepasang mata Ketua Perguruan Gajah Putih menatap
tak berkedip pada kedua tangan lawannya, yang tampak bergetar penuh kekuatan.
"Haaat ... !"
Laki-laki berwajah jantan ini berusaha tidak
kalah gertak. Pedang di tangannya diputar-putarkan di depan dada sehingga
menimbulkan suara berderit
nyaring yang menyakitkan gendang telinga.
"Hiyaaat..!"
Diiringi suara teriakan melengking nyaring, Raja
Tengkorak melompat menerjang Ranjana. Kedua
tangannya yang terbuka lurus dan menegang kaku
itu, menotok bertubi-tubi ke arah leher lawan. Ada suara bercicitan nyaring yang
mengawali tibanya serangan
itu. Ranjana tahu betapa berbahayanya serangan
itu, maka buru-buru dia memutar pedangnya di
depan dada. Cepat bukan main gerakannya,
sehingga yang tampak hanyalah segulungan sinar
putih yang mendindingi tubuhnya. Bila Raja Tengkorak memaksakan diri untuk
meneruskan serangan,
sebelum mencapai sasaran, pedang di tangan Ketua
Perguruan Gajah Putih itu sudah terlebih dulu memenggal kedua tangannya.
Aneh! Raja Tengkorak sama sekali tidak menarik
pulang serangannya. Kedua tangannya tetap saja
diluncurkan ke arah sasaran.
Tak, tak, tak..!
Suara berderak keras terdengar berkali-kali, tatkala kedua tangan itu
berbenturan dengan pedang. Seakan-akan yang berbenturan itu dua batang logam
keras. 69 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Ah...!"
Tubuh Ranjana terhuyung-huyung ke belakang.
Tangan yang menggenggam pedang terasa ngilu
bukan kepalang. Terutama sekali jari-jari kedua
tangannya. Terasa sakit-sakit bukan main. Sementara kedua tangan lawannya sama
sekali tidak terluka.
Tapi Ketua Perguruan Gajah Putih ini tidak bisa
berpikir lebih lama lagi, karena Raja Tengkorak
yang memang sudah ingin melenyapkannya, kembali
maju menyerang. Pertarungan sengit pun tak
terhindarkan. Ranjana melawan mati-matian. Dikerahkan seluruh
kemampuan yang dimilikinya. Tapi tetap saja dia tidak mampu menandingi lawan.
Kepandaian Raja
Tengkorak memang berada di atasnya.
Ketua Perguruan Gajah Putih ini memang kalah
segala-galanya. Baik dalam hal ilmu meringankan
tubuh, tenaga dalam, maupun mutu ilmu silat
Belum lagi kelebihan Raja Tengkorak yang memiliki
ilmu- ilmu aneh. Di antaranya, ilmu 'Rawa Rontek' yang membuatnya mampu hidup
kembali. Meskipun
seluruh anggota tubuhnya telah dipisahkan satu sama lain.
Bukan hanya itu saja, Raja Tengkorak masih memiliki ilmu yang membuat kedua
tangannya, kebal terhadap
segala macam senjata. 'Ilmu Baju Ular Emas'
namanya. Tak sampai tiga puluh jurus, Ketua Perguruan Gajah
Putih itu sudah terdesak hebat Kalau semula dia
mampu balas menyerang, kini dia tidak mampu
melakukannya lagi. Ranjana hanya mampu mengelak.
Menangkis pun jarang dilakukannya, karena hal itu bisa merugikan dirinya. Memang
dengan kekuatan tenaga
dalam yang berada di bawah lawannya, menangkis hanya akan menguntungkan lawan.
Tappp ... ! 70 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com Di jurus keempat puluh satu, pedang
Ranjana tertangkap lawan. Dia berusaha menariknya, tapi sia-sia, karena Raja Tengkorak
memiliki tenaga dalam yang
lebih kuat daripadanya. Ketua Perguruan Gajah Putih itu melempar tubuhnya ke
belakang dan bersalto beberapa kali.
"Hmh ...!"
Raja Tengkorak mendengus seraya
melemparkan pedang lawan yang berhasi
dirampasnya. Dengan diiringi suara mendesing nyaring yang
menyakitkan telinga, pedang itu melesat ke arah tubuh Ranjana yang tengah berada
di udara. Ranjana sama sekali tidak terkejut melihat hal itu, karena dia sudah
memperkirakannya. ltuah sebabnya,
begitu pedang itu meluncur ke arahnya, segera dia
memapak dengan sarung pedangnya.
Pyarrr ... ! Sarung pedang itu hancur berkeping-keping ketika
berbenturan dengan pedang.
Saat itulah Raja Tengkorak melancarkan serangan
susulan. Memang, begitu melemparkan pedang pada
Ranjana, tokoh sesat yang menggiriskan itu melompat mengirim serangan susulan.
Kedua tangannya yang
menegang kaku dan lurus, membentuk kedudukan jurus
'Ular', bertubi-tubi ditusukkannya ke arah dada lawan.
Wajah Ranjana pucat seketika. Dia tahu kalau tidak
mungkin lagi mengelakkan serangan itu. Jalan satu-
satunya, hanya menangkis. Dan, itulah yang dilakukan Ketua Perguruan Gajah Putih
ini. Plak plak .. ! Crottt ... !
"Akh ... !"
Beberapa serangan bertubi-tubi itu berhasil
ditangkisnya. Namun hasilnya membuat sambungan
kedua pergelangan tangannya terlepas. Itulah
sebabnya serangan lanjutan dari Raja Tengkorak
71 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com tidak bisa ditangkisnya lagi.
Akibatnya, kedua tangan Raja Tengkorak amblas ke
dalam dadanya. Cairan merah kental muncrat-muncrat
di bagian yang tertembus tangan.
Brukkk ... ! Seiring dengan jatuhnya tubuh Ranjana, Raja
Tengkorak mendaratkan kedua kakinya ke tanah.
Tokoh sesat yang menggiriskan itu menatap tubuh
lawan yang masih menggeliat-geliat beberapa saat,
sebelum akhimya diam dan tak bergerak lagi.
"Hih... Raja Tengkorak melesat ke arah pertarungan antara
pengikut-pengikutnya melawan murid-murid Perguruan
Gajah Putih yang masih berlangsung sengit.
Hebat luar biasa sepak terjang Raja Tengkorak. Ke
mana saja tangannya bergerak, di situ ada tubuh murid Perguruan Gajah Putih yang
roboh di tanah untuk
selamanya. Suara lolong kesakitan yang disertai robohnya
tubuh-tubuh murid Perguruan Gajah Putih, terdengar
dan saling susul-menyusul.
Hanya dalam waktu sekejap, tidak ada lagi
murid Perguruan Gajah Putih yang masih berdiri tegak.
Semua tergeletak di tanah dalam keadaan tidak
bernyawa. "Geledah seluruh tempat ini ... ! Siapa pun yang kalian temukan segera dibunuh.
Jangan disisakan
seorang pun!"
Tanpa menunggu perintah dua kali, tokohtokoh
persilatan itu bergerak ke arah bangunan-bangunan
yang ada di dalam markas Perguruan Gajah Putih.
Mereka memasuki dan memeriksa setiap bangunan
yang ada.. Sementara Raja Tengkorak menunggu di
luar. Tak lama kemudian, belasan orang itu telah kembali.
"Bagaimana?" tanya Raja Tengkorak cepat
72 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Semua tempat telah kami periksa, Ketua. Dan,
beberapa orang pelayan yang ada di dalam telah
kami bunuh!" lapor seorang yang berkepala botak dan bertubuh pendek. Dunia


Dewa Arak 26 Raja Tengkorak di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

persilatan menjulukinya Setan Botak.
Belasan tokoh persilatan itu bergerak cepat
meninggalkan bangunan Perguruan Gajah Putih sambil
meraih obor-obor yang terdapat di sudutsudut
rumah. Kemudian dilemparkan ke arah ba ngunan.
Ada yang melempar ke dalam, ke atap, dan ada juga
yang ke jendela.
Sesaat kemudian, api pun berkobar di setiap
bangunan yang ada di situ. Mula-mula kecil, kemudian membesar dan membumbung
tinggi. Raja Tengkorak dan pengikut-pengikutnya
melangkah mundur menjauhi bangunan yang tengah
diamuk api. Mereka memandang dari tempat yang agak
jauh. Setelah seluruh bangunan itu dipastikan terbakar habis, Raja Tengkorak
melesat cepat meninggalkan
tempat itu diikuti oleh pengikutnya.
Kini, tinggal bangunan Perguruan Gajah Putih yang
masih diamuk api dan puluhan sosok tubuh yang
tergolek tanpa nyawa. Tidak ada lagi suara denting
senjata terdengar. Malam kembali hening, sepi, dan
senyap. 73 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com 8
"Ha ha ha...!"
Suara tawa pelan, berat tapi bergaung, mengejutkan
Kalpa Reksa yang tengah termenung di depan
rumahnya. Kakek berpakaian hitam ini memang tengah
dilanda kebimbangan. Cerita Dewa Arak mengenai Raja Tengkoraklah yang
menyebabkan dia bersikap
demikian. Haruskah dia kembali ke dunia persilatan
lagi" "Kau terkejut, Kalpa Reksa"!" ejek pemilik tawa yang tak lain adalah Raja
Tengkorak. Jantung kakek berpakaian hitam ini berdebar keras
ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
"Raja Tengkorak...!" desis Kalpa Reksa. Meskipun agak lama, akhimya keluar juga
sebutan itu dari
mulutnya. "Ha ha ha...!" laki-laki berseragam tengkorak itu tertawa menyambuti ucapan
Kalpa Reksa. "Tidak mungkin!" Cetus Kalpa Reksa ketika akhinya bisa menenangkan hatinya yang
terguncang hebat
Memang, pemandangan yang terlihat oleh kakek itu
mengejutkan hatinya.
"Raja Tengkorak sudah lama mati! Aku tahu betul hal itu! Kau pasti sengaja
menggunakan nama besar Raja
Tengkorak untuk kepentingan dirimu!" sambung Kalpa Reksa.
"Keluarkan seluruh perasaan yang mengganjal di hatimu, Kalpa Reksa. Agar kau
tidak mati penasaran!
Aku datang kemari ingin menjemput nyawamu. Ingat!
Kau telah membuat kesalahan besar! Kau masih ingat
pada Turgawa?"
Terdengar suara gemeretak dari mulut Kalpa Reksa
ketika mendengar ucapan Raja Tengkorak Setup kali
74 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com nama Turgawa disebut, hatinya
terasa dicabik-cabik
dengan sebilah pedang tajam.
"Tidak! Aku tidak akan melupakan manusia jahanam itu!" tegas kakek berwajah
tirus dengan suaranya yang bergetar, karena menahan geram. Kalpa Reksa
menghentikan ucapannya sejenak, untuk
menenangkan deru napas yang penuh diliputi rasa
amarah. "Jangan kau katakan kalau dirimu adalah Turgawa,"
kata Kalpa Reksa, seraya sepasang matanya menatap
ke arah tangan Raja Tengkorak. Dilihatnya kedua
tangan laki-laki berseragam tengkorak itu tampak
masih utuh. Padahal, dia yakin kalau tangan Turgawa sudah tidak lengkap lagi.
Karena dia telah menewasnya dalam pertarungan belasan tahun yang lalu.
"Siapa bilang Raja Tengkorak itu adalah Turgawa?"
tanya laki-laki berbaju tengkorak dengan suarra parau dan keras. "Kau telah
salah mendengar berita, atau pendengaranmu sudah tak sempurna lag!?"
Kontan Kalpa Reksa terguncang mendengar ucapan
itu. Bukan kata-kata itu yang menjadi penyebabnya.
Tapi suara itu amat dikenalnya betul meskipun telah belasan tahun tidak
didengarnya lagi. Bagaimana
mungkin dia bisa melupakan suara orang yang amat
dibencinya" Kalpa Reksa tahu betul kalau pemilik suara itu adalah Turgawa!
"Apa kabarmu, Kakang Reksa"!"
Kembali pemilik suara yang mirip dengan suara
Turgawa itu terdengar.
Tengkuk Kalpa Reksa terasa dingin mendengar teguran itu. Tidak salah lagi.
Pemilik suara itu adalah Turgawa, adik seperguruannya. Memang hanya Turgawa
seorang yang memanggilnya dengan panggilan seperti itu.
''Mimpikah aku"!" tanya Kalpa Reksa dalam hati.
"Tak mungkin.... Turgawa sudah tawas......
Untuk meyakinkan hati, tangannya dicubit. Tercekat
75 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com hati kakek berpakaian hitam ini
tatkala rasa sakit
mendera bagian tubuh yang dicubitnya.
Ini menjadi pertanda kalau dia tidak bermimpi. Oleh karena itu, dengan jantung
berdebar tegang, kepalanya ditolehkan ke arah asal suara.
Kontan hati Kalpa Reksa tercekat, tatkala melihat
sosok yang berdiri di sebelah kanan Raja
Tengkorak dalam jarak sekitar dua tombak.
"Kau.... Turgawa. "! Tapi..., tak mungkin kau masih hidup ... "!" ujar Kalpa
Reksa dengan suara terputus-putus.
"Begitulah, Kang Reksa. Hampir dua puluh tahun aku menanggung dendam ini. Dan
sekarang tibalah
saatnya pembalasan dendam itu, Kalpa Reksa!"
Setelah berkata demikian, Turgawa menoleh ke
arah Raja Tengkorak.
"Ayo, Sengkala! Balaskan dendamku...
Raja Tengkorak yang temyata bernama Sengkala
segera bergerak cepat menerjang Kalpa Reksa. Dan
sekali menyerang, tokoh sesat yang menggiriskan itu telah menyerang dengan ilmu
andalannya, 'llmu Baju
Ular Emas' yang membuat kedua tangannya kebal
terhadap segala jenis senjata tajam.
Suara mencicit nyaring terdengar ketika kedua
tangan Raja Tengkorak meluncur deras ke arah
dada dan ulu hati Kalpa Reksa.
"Hehhh ... "! 'Ilmu Baju Ular Emas'"!" seru kakek berpakaian hitam terkejut
"Dari mana kau curi ilmu itu, Raja Tengkorak Palsu"!"
Sambil berkata begitu, Kalpa Reksa segera
menyusun kedudukan jari yang mirip dengan jari-jari lawannya. Memang, dia juga
menggunakan 'llmu
Baju Ular Emas'.
Lucu dan unik sekali pertarungan yang terjadi antara dua orang yang sama-sama
memiliki ilmu serupa itu.
Jalannya pertarungan sudah bisa ditebak. Karena
76 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com kedua belah pihak menggunakan ilmu
yang sama, pertarungan berjalan tidak menarik. Hal ini tidak aneh karena baik Kalpa Reksa
maupun Raja Tengkorak telah mengetahui perkembangan gerakan lawan.
Suara mencicit nyaring mengiringi setiap gerakan
kedua tokoh yang tengah bertarung itu. Jelas, kalau gerakan kedua orang itu
selalu dilandasi dengan
tenaga dalam tinggi.
Seratus jurus telah berlalu. Dan selama itu
belum nampak adanya tanda-tanda yang akan terdesak.
Pertarungan masih berjalan seimbang. Hal ini
membuat Turgawa jadi kehilangan kesabaran.
"Sengkala ... ! Cepat robohkan dia...!"
"Hih... Tubuh Raja Tengkorak melenting ke belakang dan
bersalto beberapa kali di udara.
Kalpa Reksa yang memang merasa marah bukan
kepalang pada Raja Tengkorak palsu ini bergegas
mengejar. Saat itulah, tangan Raja Tengkorak mengibas. Sing,
sing, sing... !
Suara berdesing nyaring terdengar ketika beberapa
batang pisau melesat dari tangan yang mengibas itu.
Kalpa Reksa terkejut. Kemarahan yang membakar
hatinya, dan keinginannya untuk segera menewaskan
rekannya ini membuatnya kurang waspada sehingga
lupa kemungkinan lawan akan mengirimkan serangan.
Meskipun berada dalam keadaan sulit, di mana
serangan datang pada saat tubuhnya tengah berada di udara, Kalpa Reksa masih
mampu memunahkan
serangan itu. Cepat-cepat kedua tangannya diturunkan, dan dengan berlandasan
pada kedua tangan itu,
tubuhnya melenting ke atas sehingga serangan-
serangen pisau itu meluncur lewat di bawahnya.
Tapi rupanya serangan dari Raja Tengkorak tidak
hanya itu saja. Begitu, serangan pisau-pisaunya
77 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com melesat ke arah lawan, tangannya
bergerak cepat Dan....
Wunggg ... Rantai berujung tengkorak kepala itu meluncur cepat ke arah Kalpa Reksa.
Kontan wajah kakek berpakaian hitam ini memucat
Serangan susulan itu datang begitu tiba-tiba dan pada saat tubuhnya tengah
melayang. Dengan sebisa-bisanya tubuhnya digeliatkan, seraya menggerakkan
tangan menangkap rantai itu. Kalpa Reksa bertindak
nekat Tappp....!Bukkk..
"Hugh...!"
Rantai baja itu berhasil ditangkap oleh Kalpa Reksa.
Tapi tengkorak kepala itu tetap saja meluncur. Hanya saja meleset dari sasaran
semula. Tidak lagi mengenai kepala melainkan bahu!
Meskipun begitu tidak berarti akibatnya ringan buat kakek berpakaian hitam itu.
Tubuhnya terpental. Dan ada cairan merah kental keluar dari mulutnya. Jelas
Kalpa Reksa terluka dalam.
"Hup ...!"
Hebatnya dalam keadaan seperti itu, Kalpa
Reksa masih mampu mendaratkan kedua kakinya
di tanah, walaupun dengan agak terhuyung-
huyung. Darah kental menetes di sudut-sudut bibimya.
Belum juga Kalpa Reksa berbuat sesuatu, rantai
berujung tengkorak kepala milik Raja Tengkorak
kembali meluncur. Dan....
Bukkk .. Telak dan keras sekali tengkorak kepala itu
menghantam perut Kalpa Reksa. Tak pelak lagi,
tubuh kakek itu terjengkang ke belakang dan jatuh
bergulingan di tanah. Darah segar memancar deras dari mulut kakek berwajah tirus
itu. "Biar aku yang memberikan pukulan terakhir,
Sengkala ... !" sera Turgawa.
78 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com Raja Tengkorak mengurungkan
niatnya. Dibiarkannya Turgawa melangkah maju menghampiri
tubuh Kalpa Reksa yang tergolek.
"He he he...!" Turgawa tertawa terkekeh.
Tapi sebelum kakek bertangan carat itu menjatuhkan
pukulan maut, sesosok bayangan ungu berkelebat
Dan.... Tappp ... Hey... !" Turgawa terpekik kaget Tanpa sadar dia melompat
mundur, karena sosok bayangan itu juga melancarkan
kibasan ke arah kepalanya.
"Grrrhhh ... !"
Raja Tengkorak menggeram keras. Dan sekali
kakinya bergerak menggenjot, tubuhnya telah melesat mengejar sosok bayangan ungu
yang telah membawa
lari Kalpa Reksa.
Tapi sosok bayangan ungu itu sudah
memperhitungkan hal itu. Tubuhnya berbalik sebentar.
Dan Langan kanannya yang bebas, karena tubuh Kalpa
Reksa dipanggul di bahu kiri, dihentakkan.
Wusss ... ! Angin keras berhawa panas menyengat menyambar
ke arah Raja Tengkorak.
Tokoh sesat yang menggiriskan itu terperanjat Dia
tahu kalau lawan telah mengirimkan sebuah pukulan
jarak jauh yang dahsyat Maka dia tidak berani
bertindak sembrono. Buru-buru dia melompat ke
samping kanan dan bergulingan menjauh.
Kesempatan yang hanya sedikit itu dipergunakan
sebaik-baiknya oleh sosok bayangan ungu itu.
Tubuhnya melesat cepat ke batik kerimbunan
pepohonan. "Keparat...!"
Begitu bangkit, Raja Tengkorak memaki lawannya
yang telah lenyap. Lebatnya hutan menyulitkannya
79 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com untuk mengetahui arah sosok
bayangan ungu itu
melarikan diri "Menilik dari pakaian dan rambutnya, aku yakin dia adalah Dewa Arak..! Tapi
begitu saktikah dia
sehingga tidak tewas oleh pisau beracunku...!" kata Raja Tengkorak pelan.
Memang, dia telah melihat
sekilas ciri-ciri, sang penolong itu.
"Aku lebih condong menduga kalau dia diselamatkan oleh Kalpa Reksa, Sengkala ...
!"

Dewa Arak 26 Raja Tengkorak di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Hm ... !" Raja Tengkorak hanya bergumam pelan.
"Sudahlah ... ! Mari kita kembali. Masih banyak waktu lagi untuk
membereskannya!". Turgawa mencoba
menenangkan hati tokoh sesat yang menggiriskan itu.
"Hhh ...!"
Raja Tengkorak menghela napas berat sebelum
akhimya melangkah meninggalkan tempat itu bersama
Turgawa. ooOWKNBROoo "Cukup, Arya... !" kata Kalpa Reksa.
Dan Dewa Arak yang duduk bersila sambil
menempelkan kedua tapak tangannya untuk
menyembuhkan luka dalam kakek berpakaian hitam itu, dengan cara menyalurkan
tenaga dalam secara perlahan-lahan menarik kedua tangannya.
Kalpa Reksa membalikkan tubuh. Kini dia
berhadapan dengan Arya.
"Kau telah melihat Raja Tengkorak itu, Ki?" tanya Arya dengan nada menuntut.
"Yahhh ... !" jawab Kalpa Reksa dengan suara mendesah. "Dia benar-benar memiliki
kesaktian luar biasa. Entah siapa yang berada di balik seragam
tengkorak itu. Tapi yang jelas, dia murid Turgawa!"
"Turgawa"! Adik seperguruanmu itu, Ki"! Jadi, dia masih hidup"!" tanya Arya
dengan sepasang mata 80
Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com membelalak.
"Ya," jawab Kalpa Reksa singkat
"Ah ... ! Pasti kakek berpakaian kuning itu! Betulkan, Ki?" Arya yang mulai
teringat langsung saja menduga.
Kakek berwajah tirus itu hanya menganggukkan
kepalanya. "Hm ... !" Arya bergumam pelan.
"Ada satu hal yang membuatku agak bingung, Arya.
"Apa itu, Ki"!"
"Ilmu 'Baju Ular Emas' yang dimiliki Raja Tengkorak palsu itu," ucap Kalpa Reksa
lagi. "Kenapa dengan ilmu itu, Ki!"
"llmu itu bukan ilmu sembarangan, Arya. Tapi ilmu yang terhitung aneh. Bila
orang yang diwarisi ilmu itu tidak mempunyai hubungan darah dengan pemilik 'llmu
Baju Ular Emas' sebelumnya, ilmu itu tidak akan
memiliki kemampuan ke puncaknya."
Kalpa Reksa menghentikan ucapannya. Sejenak
untuk mengambil napas.
"Pada Raja Tengkorak palsu itu, kulihat 'llmu Baju Ular Emas'nya telah mencapai
puncak kesempurnaan!"
"Berarti dia memiliki hubungan darah dengan
Turgawa," ucap Arya sekenanya.
"Hal itu sepertinya mustahil, Arya," bantah Kalpa Reksa.
"Mengapa, Ki?"
"Turgawa tidak mampu melakukan tugas
sebagaimana layaknya seorang lelaki normal terhadap seorang wanita. Dia mandul.
ltulah sebabnya,
sewaktu kami masih sama-sama berguru, dia sering
merasa iri padaku. Lalu, bagaimana dia bisa mempunyai anak"!" jelas kakek
berwajah tirus panjang lebar.
Karuan saja hal itu membuat Arya tercenung.
Benaknya berputar keras untuk mencari jawaban. Tapi sampai lelah dia
memikirkannya, tak juga jawaban
bagi pertanyaan itu diketemukannya.
81 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Kurasa lebih baik kita menyelidikinya nanti, Ki,"
usul Dewa Arak akhimya setelah beberapa saat lamanya tidak juga menemukan
jawaban. Kalpa Reksa sama sekali tidak menyambuti ucapan
itu. Dia masih saja tercenung.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan, Ki?" tanya pemuda berpakaian ungu itu ingin
tahu. "Hhh ... !" Kakek berwajah tirus itu menarik napas dalam-dalam dan
menghembuskannya kuat-kuat
"Mungkin aku akan menjadi Raja Tengkorak kembali, Arya. "
"Aku belum mengerti maksudmu, Ki," ucap Dewa Arak dengan alis berkerut.
"Aku akan terjun kembali ke dunia persilatan dengan memakai seragam Raja
Tengkorak."
"Mengapa mesti begitu, Ki"!" Dengan perasaan heran pertanyaan itu diajukan Arya.
"Nama Raja Tengkorak telah tercemar. Musti muncul Raja Tengkorak asli untuk
memberitahukan pada dunia persilatan kalau kekacauan ini dilakukan oleh Raja
Tengkorak palsu untuk menjelek-jelekkan julukan Raja Tengkorak. Aku yakin itulah
maksud Turgawa memakaikan seragam tengkorak pada seorang
tokoh yang entah siapa itu," jelas Kalpa Reksa panjang lebar.
Arya terdiam. Disadari ada kebenaran dalam ucapan
itu. "Mari ikut aku, Arya.
Setelah berkata demikian, Kalpa Reksa segera
beranjak meninggalkan tempat itu. Melewati kelebatan pepohonan. Sampai akhirnya
tiba di depan sebatang
pohon beringin yang telah tumbang.
Sampai di sini, Kalpa Reksa menghentikan
langkahnya. Kemudian dia berjongkok, dan menggali
tanah di dekat pohon itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sudah mencapai
82 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com tingkatan tinggi, mudah saja bagi
kakek berwajah tirus itu untuk menggali. Sekalipun tanah di situ
keras. Tak lama kemudian terlihat sebuah peti. Kalpa Reksa bergegas mengangkatnya.
"Di sinilah peralatan Raja Tengkorak kusimpan,"
ucap kakek berpakaian hitam itu sambil membuka tutup peti. Dan memang, di dalam
peti itu terdapat pakaian seragam tengkorak, pisau, rantai baja berujung kepala
tengkorak dan pedang.
Tanpa mempedulikan Dewa Arak yang keheranan,
Kalpa Reksa segera mengambil pakaian seragam
tengkorak itu dan mengenakannya. Sekejap
kemudian, di hadapan Arya telah berdiri Raja Tengkorak Pemuda berpakaian ungu
itu menelan ludah ketika
menyadari tidak ada perbedaan sedikit pun antara Raja Tengkorak palsu dengan
Raja Tengkorak Kalpa
Reksa. Baik tinggi tubuhnya maupun seragamnya.
"Kini Raja Tengkorak telah siap untuk membersihkan namanya yang
dicemarkan ......
Suara yang keluar dart mulut Kalpa Reksa mirip sekali dengan suara Raja
Tengkorak palsu. Benar-benar tidak ada bedanya sedikit pun.
"Lalu, bagaimana aku bisa membedakanmu dengan
Raja Tengkorak palsu itu, Ki" Semuanya begitu mirip,"
tanya Arya bingung.
Tidak usah khawatir, Arya. Kita buat sebuah kata
rahasia. "Maksudmu, Ki?" Arya masih belum mengerti.
"Begini. Apabila kau bertemu dengan Raja
Tengkorak. Kau harus menyapanya, Raja Tengkorak. Nah, nanti aku akan menjawab,
'lenyapkan'. Bagaimana paham"
Ingat, kalau jawaban yang kau terima beda, dia adalah Raja Tengkorak palsu!"
Arya mengangguk pertanda mengerti. Sungguh tidak
disangka kalau Kalpa Reksa demikian cerdik.
83 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Nah! Kalau begitu, aku pergi dulu. Kita bekerja sandiri-sendiri Arya. "
Belum juga habis kata-katanya, tubuh Raja
Tengkorak alias Kalpa Reksa telah melesat cepat
meninggalkan pemuda berambut putih keperakan itu.
Arya hanya bisa memandangi kepergian Kalpa Reksa.
Sama sekali tidak disangka kalau dirinya bisa terlibat dalam masalah yang begini
pelik. Dipandanginya bayangan
tubuh Raja Tengkorak asli itu hingga lenyap ditelan kerimbunan pepohonan.
Kemudian kakinya dilangkahkan menempuh arah yang berbeda.
Berhasilkah Kalpa Reksa melenyapkan Raja
Tengkorak Palsu alias Sengkala" Dan siapakah
sesungguhnya Sengkala itu" Apa hubungannya dengan
Turgawa, sehingga tokoh sesat yang menggiriskan itu terlihat sangat patuh
kepadanya" Lalu, bagaimanakah nasib Melati yang belum diketahui sampai sekarang"
Untuk jelasnya, silakan para pembaca mengikuti serial Dewa Arak selanjutnya
dalam episode "Kembalinya Raja
Tengkorak".
SELESAI WAKINAMBORO PROPERTIES
84 Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
Document Outline
CONTOH LEMBARAN U EBOOK WIRO_2.pdf
Dewa Arak - 026. Raja Tengkorak
Pendekar Sakti Suling Pualam 18 Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo Sepasang Pedang Iblis 17
^