Pencarian

Tasbih Emas Bidadari 1

Pendekar Slebor 40 Tasbih Emas Bidadari Bagian 1


TASBIH EMAS BIDADARI Serial Pendekar Slebor
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cover oleh Henky
Editor: Puji S.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
Sebagian atau seluruh isi buku ini
Tanpa izin tertulis dari penerbit
Serial Pendekar Slebor
Dalam Episode :
Pulau Kera 128 hal. 1 Malam dingin seperti tergugah oleh suara derap
langkah dua ekor kuda. Teriakan-teriakan dari mulut penunggangnya seakan tak
ingin membiarkan malam
terus terkungkung sepi. Dua sosok penunggang kuda
hitam meluncur cepat, memecah malam. Sementara di
depan mereka, berlari terseok-seok satu sosok tubuh berpakaian keemasan.
Kepalanya memakai sebuah tu-dung dari bambu.
Sekujur tubuh lelaki yang sedang dikejar kedua
penunggang kuda yang marah itu tampak dipenuhi lu-
ka. Darah mengalir membasahi pakaiannya. Namun
semua itu tak dihiraukan. Baginya yang terpenting
adalah terus melarikan diri dari kejaran dua penunggang kuda yang justru kian
dekat saja. "Ke mana pun kau pergi, tak akan mampu un-
tuk melarikan diri, Sapta Jingga!" bentak salah seorang penunggang kuda yang
bertubuh gemuk. Pa-
kaiannya yang merah terbuka. Rambutnya hanya se-
jumput. Wajah mengerikan dengan codet di pipi ki-
rinya. Lelaki bernama Sapta Jingga yang dibentak itu terus menambah larinya.
Tapi, siapa pun yang berlari dalam keadaan terluka yang terus menerus
mengeluarkan darah, tenaganya akan cepat terkuras habis.
Maka tak heran kalau dalam waktu beberapa kejap sa-
ja, kedua orang penunggang kuda itu hampir me-
nyusulnya. "Hup!"
Si lelaki bertubuh gempal langsung melenting
ringan, sementara kudanya terus berlari. Dibuatnya
beberapa putaran di udara guna menyerang Sapta
Jingga dengan sebuah tendangan dari belakang.
Des! Karena tak menyangka, Sapta Jingga tersurut
deras ke depan dan berguling-gulingan. Apalagi tu-
buhnya telah begitu lemah. Sementara lelaki gempal
berbaju merah itu berdiri menatap penuh amarah.
"Sapta Jingga! Nyawa busukmu kini sudah be-
rada di tanganku! Cepat serahkan peta warisan Ki Bu-bu Jagat!" bentak lelaki
gemuk itu. Pelan saja, Sapta Jingga mengusap darah yang
mengalir dari mulutnya. Matanya menatap sengit pe-
nuh kebencian. Dicobanya untuk bangkit. Namun tu-
lang-belulangnya seakan tak kuasa diajak berdiri tegak. Sementara itu malam
semakin merangkak, me-
nyelimuti seluruh alam. Sinar sang ratu malam tak bi-sa menembus tingginya
pepohonan. Namun, mata-
mata orang-orang yang terlibat amarah itu mampu
menembus kegelapan.
"Gempo Sinting!" bentak Sapta Jingga, susah payah. Kegeramannya semakin
bertambah tinggi. "Bi-arpun nyawaku putus, meskipun tubuhku kau cacah
habis, tak akan pernah kuserahkan potongan peta itu kepadamu!"
"Keparat!" tangan lelaki bertubuh gempal bernama Gampo Sinting itu mengibas.
Angin deras bak air bah tumpah meluruk cepat
disertai sinar warna hitam menggidikkan.
Meskipun tak kuasa menghindari serangan
maut itu, Sapta Jingga masih bisa merebahkan tu-
buhnya rata dengan tanah. Namun tak urung tangan
kirinya terpapas juga.
"Aaakh...!"
Tubuh Sapta Jingga sempat terguling beberapa
tombak. Darah mengalir dari luka yang membesar itu.
"Mengapa kau tidak segera membunuhku,
Gampo Sinting?"
"Membunuhmu soal gampang. Tapi serahkan
peta warisan itu kepadaku!" desis lelaki bertubuh tambun yang punya nama Gampo
Sinting. Sementara itu
penunggang kuda satunya yang bertubuh tinggi besar
terbungkus pakaian hitam hanya memandang sengit.
Di dadanya tampak melingkar sebuah kalung berben-
tuk taring. "Kau terlalu bermimpi untuk mendapatkan
Tasbih Emas Bidadari warisan Guru, Gampo Sinting!"
"Manusia laknat! Kau mau mampus, tahu"!
Jangan banyak lagak! Peduli setan dengan semua itu.
Kau harus mampus!"
"Aku memang tak mampu untuk melawanmu
lagi, Gampo! Apalagi ditambah manusia busuk tinggi
besar itu! Bunuh aku! Mungkin ini lebih baik bagiku, karena aku bisa menyusul
Mega Kemuning! Kasihan
benar nasibmu, Gampo.... Kau tak pernah bisa men-
dapatkan Mega Kemuning yang akhirnya berhasil kau
bunuh! Dosa dan kejahatanmu sudah berlipat-ganda!
Dan bila kau membunuhku, kau tak akan pernah
mendapatkan potongan peta warisan Guru yang ku
sembunyikan di satu tempat!"
"Kurang ajar! Mampuslah kau!"
Gampo Sinting mengibaskan tangan kanannya.
Kembali angin deras mengeluarkan gemuruh sangat
dahsyat meluruk cepat.
Sapta Jingga yang kali ini tak mampu lagi
menghindari serangan, justru membuka matanya le-
bar-lebar. Tak ada yang ditakuti lelaki perkasa itu. Tak terkecuali kematian!
Namun siapa yang bisa menentukan kematian"
Bahkan Malaikat Maut pun, kalau belum mendapat
persetujuan dari-Nya, tak akan berani bertindak sewenang-wenang. Apalagi manusia
yang masih banyak ke-
terbatasannya. Maka dalam waktu yang berselisih sepersekian
kejap sebelum serangan datang, Sapta Jingga merasa-
kan tubuhnya bagai ada yang menyambar. Lalu....
Blammm! Pukulan keras Gampo Sinting menghantam ta-
nah tempat Sapta Jingga rebah tadi, seketika terbentuk sebuah lubang setelah
terdengar ledakan keras!
*** "Manusia boleh berencana, tapi Tuhan pula
yang menentukan. Kalau manusia ini belum ditakdir-
kan mati, kenapa kalian ingin memaksa. Ingat hal-hal yang terpaksa itu hasilnya
tidak baik!" kata seorang pemuda tampan berpakaian hijau pupus yang tahu-tahu
sudah berdiri tak jauh dari Gampo Sinting dan
temannya. Nada bicaranya sok menggurui.
Mata Gampo Sinting melotot sebesar jengkol.
Kemarahannya meluap, karena maksudnya digagalkan
pemuda dengan kain bercorak catur di bahunya.
"Bangsat! Siapa kau?" bentak Gampo Sinting, gusar. Sementara temannya sudah siap
untuk menyerang pula.
Pemuda berambut gondrong dengan wajah
tampan ini hanya cengar-cengir seperti kuda meringis.
Matanya yang setajam elang dengan kedua alisnya
yang menukik bagaikan kepakan elang, mengerjap-
ngerjap bagai orang sakit ayan. Menyebalkan sekali!
"Kenapa tanya-tanya namaku" Naksir, ya?" tukas pemuda ini dengan sikap santai,
seolah tak me- nyadari pelototan lelaki buntal berpakaian merah yang seperti hendak menelannya
bulat-bulat. Sementara itu, Sapta Jingga yang terluka telah
diletakkan si pemuda tidak jauh di belakangnya. Dia
menggelosoh lemah. Sejenak hatinya merasa gembira
karena ada yang menolongnya.
"Orang muda! Lebih baik kau minggat dari sini!
Jangan campuri urusan orang!" bentak Gampo Sinting lagi. Suaranya lebih keras.
"Lho, lho..." Aku tidak mencampuri urusan sia-
pa-siapa. Justru kalian yang mengganggu tidurku
sampai terbangun, Sompret! Suara kalian yang seperti lolongan anjing-anjing
geladak terlalu jelek di-telingaku"!" bantah pemuda itu jadi sewot.
"Setttaaannn...!"
Dikawal bentakan keras, serta kegeraman men-
jadi-jadi, Gempo Sinting melompat menyerang. Semen-
tara, pemuda berbaju hijau pupus itu hanya tertawa-tawa sambil menghindari
serangan dengan gerakan
cepat bukan main.
Gempo Sinting bingung setengah mati melihat
cara menghindar pemuda itu. Suatu ilmu meringankan
tubuh yang hebat diperlihatkan si pemuda. Padahal,
gebrakan yang dilakukan Gempo Sinting sangat hebat.
Dalam sekali sabet saja, biasanya lawan tak akan
mampu menghindar!
Tetapi bukan hanya mampu meloloskan diri sa-
ja, bahkan pemuda itu tahu-tahu telah berdiri dengan sikap mengejek.
"Cuma buang-buang tenaga saja. Hei, Buntalan
Kentut! Lebih baik kau pulang saja. Masih banyak pe-kerjaan lain ketimbang
menganiaya orang. Misalnya,
jadi pejantan buat sapinya kakekku, bagaimana?"
Kelam sudah wajah si lelaki buntal. Harga di-
rinya benar-benar terasa diinjak-injak. Saat itu juga, Gempo Sinting kembali
menyerang si pemuda.
Dan kembali Gempo Sinting tercekat. Kali ini
keheranannya makin menumpuk. Tidak hanya melihat
cara pemuda berbaju hijau pupus itu menghindar saja,
justru karena melihat pemuda itu melancarkan seran-
gan. Karena tak terlihat oleh matanya, tahu-tahu....
Desss...! Dada Gempa Sinting sudah digedor keras! Tu-
buhnya tersuruk ke belakang.
"Keparat! Pantas kau berani menjual lagak!"
dengusnya sambil menahan sakit.
"Kalau aku menjual, mengapa kau tidak mem-
beli" Biarlah.... Denganmu kujual murah. Malah kau
beli satu, akan dapat dua..., enak kan?"
Lelaki tinggi besar di sisi Gempo Sinting kali ini
yang naik darah!
"Sebutkan nama sebelum kau mampus!"
Pemuda tampan berbaju hijau pupus itu cuma
menganggukkan kepalanya saja. Sikapnya kali ini
kembali santai.
"Oh, namaku Andika. Bagus, ya" Dan aku tak
perlu tahu nama kalian, soalnya pasti hanya nama-
nama pasaran yang pantas untuk tukang sado atau
tukang kerak telor...."
Dari rasa terhina, kening si lelaki tinggi besar
berkerut. Dicobanya mengingat-ingat seorang pende-
kar yang selama ini menggemparkan dunia persilatan
yang punya nama Andika.
"Hm.... Kau pasti yang berjuluk Pendekar Sle-
bor! Huh! Hantu Gigi Gading tak gentar menghadapi
pendekar kemarin sore!" dengus si lelaki tinggi besar.
"Ha... ha... ha...! Aku maklum..., aku mak-
lum.... Jelas saja..., yang kau hadapi Pendekar Kemarin Sore.... Coba kalau
Pendekar Slebor..., pasti kau..."
Belum sempat pemuda yang ternyata Andika
alias Pendekar Slebor melanjutkan ejekannya, Hantu
Gigi Gading tiba-tiba menggeram hebat.
"Hhh! Bagus! Aku ingin lihat kehebatanmu se-
karang! Heaaat...!"
Berkawal teriakan, lelaki tinggi besar berjuluk
Hantu Gigi Gading berkelebat cepat. Gerakannya secepat angin, menimbulkan suara
gemuruh bak prahara
marah. Sosok Pendekar Slebor melompat ke kiri dengan gerakan begitu cepat.
"Kutu koreng! Serangan mautnya cukup men-
gerikan. Aku memang masih sanggup menandinginya.
Tetapi..., nasib lelaki berpakaian keemasan itu tampaknya sudah tak berdaya.
Akibatnya bisa berbahaya
kalau tidak segera ditolong. Jelas sekali dia tengah mengalirkan tenaga dalam.
Tapi kulihat, sesekali ia ke-sakitan, pertanda tak mampu lagi untuk mengatur
pernafasannya. Hmm, aku harus menyelematkannya
lebih dulu."
Pendekar Slebor tak banyak ragu lagi segera
mengibaskan sebelah kakinya ke kaki Hantu Gigi Gad-
ing. Tepat ketika lelaki tinggi besar itu melompat, kesempatan ini
dipergunakannya untuk menyabet-kan
kaki kanannya dengan gerakan memutar.
Hantu Gigi Gading mendengus, seraya mem-
buang tubuhnya. Dia tak menyangka kalau pemuda
berbaju hijau pupus itu bukan hanya berhasil meng-
hindari serangannya, namun juga balas menyerang.
Namun Hantu Gigi Gading pun bukanlah orang
baru di rimba persilatan ini. Seketika kakinya dikibaskan pula.
Des! Benturan kedua kaki yang dialiri tenaga dalam
penuh terjadi. Pendekar Slebor tersuruk dua tindak, namun segera mengembalikan
keseimbangannya. Ketika celana panjangnya tersingkap, tampak kakinya
membiru. Sementara Hantu Gigi Gading merasakan hal
yang sama. "Gila! Nama besar Pendekar Slebor memang
bukan omong kosong!" dengusnya. "Lihat leher!"
Begitu kata-katanya habis, lelaki tinggi besar
itu meluruk deras. Serangannya kali ini lebih berbahaya daripada yang pertama.
Kedua tangannya yang
menyergap, membentuk cengkeraman maut yang dah-
syat diselingi angin keras.
Andika tak mau lehernya dijadikan sasaran.
Seketika tubuhnya ditarik ke belakang. Namun, itu belum berarti Andika keluar
dari lubang jarum. Karena, di saat mencecar leher, kaki kanan dan kiri Hantu
Gigi Gading menderu-deru mencari sasaran, bagaikan ombak di lautan.


Pendekar Slebor 40 Tasbih Emas Bidadari di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Edan! Hebat juga si tinggi besar bulukan ini!"
maki Andika dalam hati.
Pada saat yang sama, Gempo Sinting melesat
dengan satu sergapan mematikan.
"Uts!"
Bukan Pendekar Slebor namanya kalau cuma
menghadapi serangan silih berganti menjadikan dia
keok. Berkat kelincahan yang didapat dari Lembah Kutukan, tubuhnya segera
berkelit cepat luar biasa. Bahkan tiba-tiba, tangannya mengibas mencari sasaran.
Tapi bersamaan dengan itu, kaki Hantu Gigi
Gading memapaki pukulan Andika pada Gempo Sint-
ing. Pak! "Sialan!" rutuk Andika.
Belum puas Andika memaki, kembali satu se-
rangan tangan Gempo Suiting menyambar keras. Seke-
japan mata saja sambaran itu menemui sasaran, Pen-
dekar Slebor telah bergerak lincah ke belakang.
Pada saat menghindar, Andika melirik keadaan
Sapta Jingga yang benar-benar membutuhkan perto-
longan secepatnya. Namun untuk menghindari seran-
gan dua manusia kejam ini saja sudah sulit sekali.
Apalagi, mendekati Sapta Jingga. Ditambah lagi Gempo Sinting seolah mengerti
maksudnya. "Halangi dia! Jangan sampai mendekati Sapta
Jingga yang sudah mau mampus!" teriak Gempo Sinting.
Hantu Gigi Gading kembali meluruk dahsyat
dengan kedua kaki mengibas ke sana kemari menim-
bulkan angin menderu-deru.
"Permainan kalian cukup hebat. Tapi belum
cukup hebat kalau tak bisa mencegahku menyela-
matkan orang itu...!"
Selesai berkata tiba-tiba saja Pendekar Slebor
berkelebat laksana kilat.
Wusss! Berkat ilmu meringankan tubuhnya yang su-
dah sangat tinggi, tubuh Pendekar Slebor seakan-akan menghilang dari pandangan
dua manusia telengas ini.
Seketika, disambarnya tubuh Sapta Jingga, lalu kabur dari tempat ini.
"Jangan biarkan dia lolos!" teriak Gempo Sinting sambil berkelebat, disusul
Hantu Gigi Gading. Namun, bayangan tubuh Andika sudah menghilang dari
pandangan mereka.
Begitu tak berhasil mengejar, kedua lelaki ini
berhenti. "Bangsat! Pendekar Slebor sudah melibatkan
diri dalam urusanku! Tak akan pernah kubiarkan dia
hidup! Kawan Hantu Gigi Gading! Kau terus mencari
Pendekar Slebor. Sementara, aku akan segera berang-
kat menuju Gunung Kabut. Menurut potongan peta
yang ada di tanganku, Tasbih Emas Bidadari pusaka
Ki Bubu Jagat berada di Gunung Kabut. Tepatnya, aku tidak tahu. Karena, potongan
peta selanjutnya berada di tangan Sapta Jingga. Tetapi meskipun demikian,
untuk memudahkan jalan menuju Gunung Kabut, aku
harus melalui Sungai Bangkai. Dan di sana, ada seo-
rang sahabatku yang berjuluk Dewi Sungai Bangkai.
Di samping hendak menjadikannya penunjuk jalan
menuju Gunung Kabut, aku akan meminta bantuan-
nya untuk memusnahkan Pendekar Slebor," ujar Gempo Sinting.
Hantu Gigi Gading menganggukkan kepalanya.
"Ketemu atau tidak, selama seminggu..., kau
harus menyusulku ke Gunung Kabut," tambah Gempo Sinting.
*** 2 Sementara itu Pendekar Slebor membawa Sapta
Jingga, memasuki sebuah hutan jauh di sebelah utara.
Melihat keadaan Sapta Jingga, Andika jadi khawatir
sekali. Napas lelaki itu mulai melemah. Degup jan-
tungnya hanya lamat-lamat saja terdengar. Tapi yang terpenting bagi Andika,
berusaha semampu mungkin
menyelamatkannya.
Di tengah hutan Pendekar Slebor menemukan
sebuah gubuk yang kemungkinan besar milik para pe-
nebang kayu. Kedatangannya disambut kicau-kicau
burung yang mulai berangkat mencari makan. Saat ini hari sudah memasuki pagi.
Sang surya baru saja me-nyapa ramah pada seluruh penghuni permukaan bumi
dengan sinarnya yang keemasan.
Andika memasuki gubuk kosong yang sudah
tak terpakai itu. Perlahan-lahan dibaringkannya tubuh Sapta Jingga yang tengah
sekarat di balai-balai bambu. Dicobanya untuk mengobati luka-luka di tubuh le-
laki itu. Dan Andika tercekat setelah melihat luka-
lukanya. "Gila! Tipis harapanku untuk menyembuhkan-
nya. Tetapi, biar bagaimanapun juga aku harus beru-
saha." Ketika tangan Andika menyentuh tubuh Sapta Jingga, tangan lelaki yang
lemah itu menggenggamnya.
"Tuan Pendekar...," desis Sapta Jingga dengan mata setengah terpejam menahan
nyeri di tubuhnya,
"Percuma saja kau mengobatiku. Pukulan 'Hawa Kematian' yang dilancarkan Gempo
Sinting tak ada yang mampu menahannya, kecuali guruku."
"Lalu, di mana aku harus mencari gurumu?"
tanya Andika. "Percuma. Dia sudah mati."
Andika terdiam sambil menahan napas. Sapta
Jingga mendesis dengan napas sudah hampir putus.
"Pendekar Slebor.... Namamu sudah lama ku-
dengar. Sekarang, maukah kau menolongku?" pinta Sapta Jingga.
Saat ini bagi Andika tak ada lagi yang bisa di-
perbuatnya, selain mengangguk.
"Terima kasih. Hhh.... Ambillah sebuah peta
yang terbuat dari kulit di balik pakaianku bagian belakang...," ujar Sapta
Jingga, lirih. Perlahan-lahan agar tidak terlalu menyakitkan
Sapta Jingga, Andika meraba punggung lelaki yang sekarat itu. Ketika tangannya
ditarik, tampak sebuah pe-ta yang sudah kumal.
"Bentangkan peta itu di hadapanmu," ujar Sapta Jingga lagi.
"Hmm.... Mengapa hanya sepotong saja?" tanya Andika setelah melihatnya.
Potongan peta terbuat dari kulit yang kumal itu
tak utuh. Ada beberapa goresan dari tinta hitam.
Meskipun kulit itu telah kumal, namun jalur-jalur
yang ada masih sangat nyata. Jelas kalau orang yang membuatnya mempergunakan
tenaga dalam. "Karena, potongan yang lainnya dimiliki Gempo
Sinting," jelas Sapta Jingga memecahkan keheranan Pendekar Slebor.
"Mengapa bisa begitu" Dan, siapakah manusia
itu?" "Dia adalah kakak seperguruanku. Pendekar Slebor, dengarlah.... Ada yang
hendak kuceritakan kepadamu."
Andika pun memasang telinganya baik-baik,
mendengarkan cerita Sapta Jingga yang terputus-
putus. *** Tujuh tahun yang lalu, di Gunung Kemintir.
Saat itu, Ki Bubu Jagat sedang menghadapi
dua orang muridnya yang sejak kecil sudah belajar il-mu dengannya. Yang termuda
bernama Sapta Jingga.
Sedangkan yang tertua bernama Gempo. Kedua mu-
ridnya sejak kecil sudah menunjukkan perangai ber-
lainan. Kalau Sapta Jingga memiliki kesabaran dan
tanggung jawab yang tinggi, Gempo yang bertubuh
gemuk pendek selalu berbuat seenaknya. Bahkan
terkesan sinting. Itulah sebabnya, dia dipanggil dengan sebutan Gempo Sinting.
Mendapati sebutan itu, Gempo hanya tertawa-tawa saja.
Ki Bubu Jagat baru saja selesai menceritakan
tentang sebuah senjata pusaka yang berbentuk tasbih yang selama ini disimpannya.
Diberikannya sebuah pe-ta yang disobek menjadi dua, lalu memberikannya pa-
da masing-masing muridnya.
"Mungkin kalian bertanya, mengapa aku mela-
kukan hal seperti ini?" kata Ki Bubu Jagat sambil mengusap jenggot putihnya yang
panjang. "Ini dikarenakan, aku tak bisa memutuskan siapa yang berhak
mendapat senjata pusaka yang tak ada duanya di du-
nia ini. Pada potongan kertas yang kalian pegang, adalah sebuah peta yang
menunjukkan di mana Tasbih
Emas Bidadari berada. Jadi maksudku, kalian tak per-lu memilikinya. Karena, aku
tak ingin terjadi silang sengketa. Aku pun tak ingin memberikan pada salah
seorang dari kalian. Kalaupun aku memberitahukan
tentang Tasbih Emas Bidadari, dikarenakan bila aku
sudah berpulang, kalian bisa bersatu dan menjaga
senjata itu."
Tak ada yang bersuara. Sapta Jingga menden-
garkan penuh perhatian. Sementara Gempo Sinting te-
tap asyik dengan sepasang jangkrik yang sedang di-
adu. Tangannya yang gempal sesekali menusukkan
kayu kecilnya ke bumbung bambu kecil tempat dua
jangkrik itu bertarung. Mulutnya sesekali memaki-
maki bila salah satu jangkrik kalah atau menghindar.
Kenyataan itu memang tak membuat kedua
murid Ki Bubu Jagat bersilang sengketa. Ilmu-ilmunya tetap diturunkan pada
keduanya. Tak ada yang dibe-dakan. "Guru," panggil Sapta Jingga. "Maafkan bila
aku lancang berkata-kata. Apakah Tasbih Emas Bidadari sebuah senjata yang maha
sakti?" Ki Bubu Jagat tersenyum.
"Tak ada sebuah senjata pun yang mampu me-
nandinginya, Sapta," sahut si orang tua.
"Lalu, mengapa Guru memberitahukan kepada
kami?" "Yang kukhawatirkan, bila ada yang tak sengaja menemukannya. Tasbih Emas
Bidadari adalah senjata
yang kupergunakan puluhan tahun yang lalu, ketika
masih malang melintang di dunia persilatan. Setelah usiaku semakin menua, dan
aku memiliki kalian sebagai murid, Tasbih Emas Bidadari kusimpan di tempat
yang sangat aman. Tak mudah untuk mendapatkan-
nya. Namun, tak bisa dipungkiri bila ada yang bisa
dengan mudah mendapatkannya secara tak sengaja.
Jadi maksudku, bila aku sudah wafat nanti, kalian bi-sa menjaganya dengan baik.
Dan bila kalian hendak
mendapatkan dan menjaga Tasbih Emas Bidadari, be-
rarti harus menyatuhkan kedua potongan peta itu. Berarti pula, persaudaraan di
antara kalian tak akan pernah putus. Dan bila kalian sulit memutuskan untuk
menyerahkan pada siapa senjata pusaka itu dibe-
rikan, aku menghendaki salah seorang untuk menye-
rahkan Tasbih Emas Bidadari pada sahabatku. Tentu
saja setelah di antara kalian diadakan kesepakatan."
"Siapa gerangan dia, Guru?"
Sapta Jingga yang merasa hal itu lebih baik
bertanya. "Dia adalah seorang tokoh golongan putih yang
dulu malang melintang pula di dunia persilatan. Julukannya Malaikat Putih
Bayangan Maut. Tinggalnya di
Lembah Matahari yang berada jauh dari sini. Harus
berjalan tiga bulan lamanya untuk tiba di sana."
"Guru.... Lebih baik senjata pusaka itu kami
berikan saja kepada sahabatmu. Karena, kami pun
khawatir tak sanggup mempergunakannya."
"Aku tak pernah akan mengatakan, bagaimana
cara kalian mempergunakannya. Karena senjata itulah orang-orang rimba persilatan
menyeganiku. Masalah
kau akan menyerahkannya kepada Malaikat Putih
Bayangan Maut, itu terserah kalian. Itu pun kuminta, bila aku sudah meninggal
dan kalian berhasil menemukannya. Yang terpenting, persaudaraan di antara
kalian tak akan pernah putus," ingat lelaki tua itu.
Sapta Jingga hanya mengangguk saja. Semen-
tara Gempo Sinting tetap sibuk dengan jangkrik-
jangkriknya. Setelah itu, seperti biasa Ki Bubu Jagat menu-
runkan kembali ilmu-ilmunya. Untuk melihat kema-
juan kedua muridnya, lelaki tua ini menyuruh kedua-
nya bertarung. Dan setiap kali melihat uji coba itu, Ki Bubu
Jagat selalu menilai kalau Sapta Jingga lebih sering kelihatan mengalah. Memang,
sesungguhnya pemuda
itu berjiwa penyabar.
Sementara itu Gempo selalu berusaha menu-
runkan tangan kejamnya. Bahkan serangan-
serangannya terkadang sulit dikendalikan. Dia bukan hanya ingin menghantam Sapta
Jingga, tetapi jelas ingin membunuhnya.
Melihat kenyataan ini Ki Bubut Jagat jadi bin-
gung, apakah tindakannya salah setelah memberikan
dua potongan peta itu kepada mereka" Apakah dia se-
harusnya memberikannya pada Sapta Jingga saja" Ti-
dak! Itu tidak boleh. Dengan begitu, dia akan bersikap membeda-bedakan.
Ki Bubu Jagat juga selalu gembira melihat ke-
majuan yang didapatkan kedua muridnya yang begitu
pesat. Bahkan bila keduanya bersatu, belum tentu Ki Bubu Jagat bisa mengalahkan
mereka! Hari demi hari pun berlalu tanpa peristiwa yang
tidak mengenakan. Meskipun, sikap sinting Gempo
terkadang menjadi-jadi.
Dan dua satu setengah tahun kemudian, Ki
Bubu Jagat menemukan seorang gadis yang tersesat di lereng Gunung Kemintir.
Gadis yang mengaku bernama Mega Kemuning itu memang tak punya rumah dan
keluarga, setelah kampungnya dilanda gempa bumi.
Karena kebaikan Ki Bubu Jagat, Mega Kemuning di-
ambil untuk tinggal di tempatnya.
Namun, kejadian yang tak diinginkan pun ter-
jadi. Pada suatu malam, Gempo dipergoki Ki Bubu Ja-
gat sedang mengintip Mega Kemuning yang sedang ti-
dur. Tentu saja lelaki tua ini marah besar. Gempo di-marahi. Namun bukannya
sadar akan perbuatannya,
Gempo justru berniat memperkosa Mega Kemuning.
Niat busuknya ternyata diketahui Sapta Jingga.
Pertarungan pun terjadi. Dan Gempo justru menuduh
Sapta Jingga memata-matainya. Pertarungan hebat
yang hampir memakan korban itu berhasil di-hentikan Ki Bubu Jagat.
Gempo yang kembali didamprat Ki Bubu Jagat
pergi begitu saja selama tiga bulan. Ki Bubu Jagat tidak pernah menyesali
kepergian muridnya yang satu
itu, meskipun sedih melihat kelakuannya.
Setelah tiga bulan berlalu, akhirnya Ki Bubu
Jagat mengawinkan Sapta Jingga dengan Mega Ke-
muning. Tiga bulan kemudian, Mega Kemuning pun
hamil muda. Betapa gembiranya Sapta Jingga dan Ki


Pendekar Slebor 40 Tasbih Emas Bidadari di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bubu Jagat. Si orang tua terkadang menyuruh Sapta
Jingga untuk mencari Gempo. Karena, sesungguhnya
dia memang mengasihi muridnya yang sinting itu.
Namun, ketika Sapta Jingga baru pulang men-
cari Gempo dan hendak menemui gurunya, ternyata Ki
Bubu Jagat ditemukan telah menjadi mayat. Di pung-
gungnya terlihat bekas tusukan bergambar jari lima
tangan yang menghitam. Dari mulut dan hidungnya
mengalir darah kental.
Sapta Jingga yakin, yang mampu membunuh
gurunya pasti seorang yang memiliki kesaktian tinggi.
Atau juga, dilakukan secara membokong karena gu-
runya pun memiliki ilmu tinggi pula.
Keterkejutan Sapta Jingga menjadi kemarahan
yang luar biasa, karena tiba-tiba saja Gempo Sinting muncul bersama seorang
lelaki tinggi besar yang berpakaian hitam. Di leher lelaki itu, bergantung
kalung dengan bandul sebuah taring. Dia dikenal sebagai
Hantu Gigi Gading.
Gempo Sinting mengakui, kalau dialah yang
membunuh Ki Bubu Jagat, berkat bantuan Hantu Gigi
Gading. Pertarungan hebat pun terjadi Sapta Jingga
akhirnya harus menderita luka-luka mendapat seran-
gan maut dari Gempo Sinting dan Hantu Gigi Gading.
Dalam satu kesempatan, Sapta Jingga berhasil
meloloskan diri dan berlari ke sungai. Pada saat itu, Mega Kemuning sedang
mencuci. Maka tanpa banyak
cakap lagi, dibawanya Mega Kemuning lari se-cepat kilat.
Mereka berhasil meloloskan diri dari kejaran
Gempo Sinting yang menginginkan Mega Kemuning
menjadi istrinya, sekaligus mengharapkan potongan
peta warisan Ki Bubu Jagat yang berisi peta untuk
mendapatkan Tasbih Emas Bidadari.
Kehidupan pahit pun dialami Sapta Jingga dan
Mega Kemuning. Mereka harus berpindah dari satu
tempat ke tempat lain. Malah harus pula menyamar.
Namun pengejaran dari Gempo Sinting dan
Hantu Gigi Gading tak pernah berhenti. Di sebuah
penginapan, Sapta Jingga harus merelakan kematian
istrinya yang terkena serangan maut Gempo Sinting.
Sementara, dia sendiri berhasil meloloskan diri. Hatinya benar-benar terpukul,
memikirkan nasib malang istrinya dan memikirkan bayinya yang tak pernah
dilihatnya. Setelah tiga bulan melarikan diri dari kejaran, Sapta Jingga
berhasil ditemukan kembali oleh Gempo
Sinting dan Hantu Gigi Gading. Usaha melarikan diri
yang dilakukannya sia-sia. Maka, pertarungan maut
pun tidak terelakkan lagi.
*** "Itulah yang terjadi, Andika.... Sampai kemu-
dian, kau muncul...," urai Sapta Jingga dengan suara semakin melemah. "Ah!
Kasihan istri dan calon bayiku yang malang itu. Andika, pecahkanlah teka-teki
peta itu. Aku hanya bisa mengetahui, kalau Tasbih Emas
Bidadari berada di Gunung kabut. Jangan sampai ma-
nusia sinting itu mendapatkannya lebih dulu. Karena bila dia memiliki Tasbih
Emas Bidadari, maka akan
menjadi tokoh yang tak terkalahkan. Sangat sulit untuk mengalahkan Tasbih Emas
Bidadari..., huk huk
huk.... Manusia Sinting itu telah menjadi setan dalam dirinya sendiri...."
"Sudahlah.... Lebih baik kau kuobati lebih du-
lu," ujar Andika, perlahan.
Sapta Jingga menggelengkan kepalanya. Sema-
kin lemah. "Usiaku sudah sampai di sini. Aku akan me-
nyusul istriku dan calon bayiku. Andika..,, penuhilah segala keinginanku ini.
Aku tak rela Tasbih Emas Bidadari dimiliki oleh Gempo Sinting. Yang perlu kau
ketahui, tindakannya sangat di luar dugaan siapa pun
juga. Satu hal lagi, bila kau berhasil mendapatkan-
nya..., aku minta kau menyerahkannya pada Malaikat
Putih Bayangan Maut yang berdiam di Lembah Mata-
hari.... Ah, Andika.... Aku bahagia karena kau..., mau membantuku."
Kepala Sapta Jingga pun terkulai berbarengan
dengan hembusan nafasnya yang terakhir. Andika
hanya terpekur di sisi mayat Sapta Jingga sambil
menghela napas panjang. Diliriknya potongan peta
yang berada di tangannya.
*** 3 Dari petunjuk Sapta Jingga, membuat Andika
sudah tiba di Sungai Bangkai. Namun, dari jarak ratusan tombak, sudah tercium
bau busuk yang menyen-
gat hidung. Pendekar Slebor terpaksa meloloskan kain bercorak catur yang selalu
tersampir di bahunya. Lalu diikatkannya kain itu pada mulut dan hidungnya.
Lumayan, bau busuk itu tidak terlalu menyengat.
Si pemuda dari Lembah Kutukan ini menatap
tajam, mencoba menyingkap kegelapan sekitar Sungai
Bangkai. Padahal, hari sudah menjelang pagi ketika
dia tiba di sana. Pepohonan tinggi yang menghalangi bias-bias sinar matahari,
membuat suasana begitu gelap.
Perlahan-lahan Andika menapak. Sepasang ma-
ta dan telinganya dipentang setajam mungkin. Baru
saja lima tindak melangkah, pendengarannya diusili
oleh suara ranting patah.
Krak! "Hup...!"
Sulit memang menangkap gerakan pemuda sa-
tu ini. Tahu-tahu saja tubuhnya telah melayang ke
atas dan hinggap di dahan sebuah pohon. Di tempat
seperti ini dalam keadaan memburu waktu. Andika tak menginginkan terlibat hal-
hal yang tidak diinginkan-nya. Dan baru beberapa tarikan napas si pemuda telah
berada di atas pohon....
"Sialan! Bau busuk ini membuatku ingin mun-
tah! Hhh! Heran, kok bisa-bisanya nenek peot itu ber-
tahan hidup di sini!"
Terdengar suara-suara keras yang disusul ber-
kelebatnya satu sosok tubuh gemuk pendek terbung-
kus pakaian serba merah dari satu tempat ke tempat
lain dengan gerakan ringan. Perlahan-lahan Andika
pun melompat turun, lantas berkelebat pula mengikuti sosok itu.
"Rupanya manusia sinting itu pun sudah tiba
di sini," gumam Andika. "Hmm.... Ke manakah si manusia tinggi besar yang
dijuluki Hantu Gigi Gading?"
Andika berhenti melangkah pula ketika Gempo
Sinting berhenti melangkah dengan kepala celingukan sebentar. Selain ingin
segera menuju Gunung Kabut,
Gempo Sinting pun ingin menemui Dewi Sungai Bang-
kai. "Brengsek! Kalau aku tidak membutuhkan ban-
tuannya ini, mana sudi menginjak tempat yang busuk
seperti ini!" dengus Gempo Sinting lagi. "Heran" Mengapa Dewi Sungai Bangkai
tidak mampus hidup di
tempat busuk ini" Ha ha ha..., dia sendiri mengeluarkan bau yang sangat busuk."
Tawa Gempo Sinting terdengar keras, menggi-
dikkan. Lalu tubuhnya berkelebat.
Andika pun berkelebat pula, mengikuti.
"Dewi Sungai Bangkai" Edan! Jadi, ada manu-
sia yang tahan hidup di Sungai Bangkai yang busuk
seperti ini" Ah, apakah aku membiarkan saja manusia itu mencari Dewi Sungai
Bangkai, sementara aku terus menuju ke Gunung Kabut?" gumam Andika dalam ha-ti.
Tetapi pikiran itu segera ditepiskannya sendiri.
Keingintahuan Pendekar Slebor tentang orang yang
dimaksud Gempo Sinting justru semakin membesar.
Sementara itu, mendadak Gempo Sinting kem-
bali menghentikan kelebatannya.
"Sial! Berhenti tak bilang-bilang!" maki Andika, langsung berhenti pula.
"Gobloknya aku ini! Bukankah aku memiliki
obat yang diberikan Dewi Sungai Bangkai lima tahun
yang lalu" Hmm.... Obat itu memang belum pernah ku
coba. Katanya bila diteteskan ke hidung, maka aku tidak mencium bau busuk ini!"
Dari balik pohon besar, Andika melihat si lelaki
bertubuh tambun itu mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik bajunya. Lalu
tampak pula Gempo Sinting menuangkan isi botol kecil ke hidungnya.
Sesaat kemudian....
"Edan! Obat ini benar-benar manjur!"
"Uh! Enak sekali dia" Apakah aku bisa menda-
tangi dan memintanya sedikit obat ajaib itu" Napas ku sudah terasa sesak
sekali!" rutuk Pendekar Slebor.
Gempo Sinting masih terbahak-bahak.
"Setelah meminta bantuan Dewi Sungai Bang-
kai, aku akan segera menuju ke Gunung Kabut! Di
tempat itulah Tasbih Emas Bidadari berada! Sialnya, aku tidak tahu di mana Ki
Bubu Jagat menyimpan
Tasbih Emas Bidadari!" lanjut lelaki ini.
Andika yang mendengarnya tersentak.
"Benar dugaanku! Dia meminta bantuan saha-
batnya untuk ke Gunung Kabut."
Andika tak sempat berpikir lebih lama, karena
tubuh orang itu sudah berkelebat. Pendekar Slebor
kembali berkelebat mengikuti. Beberapa saat kemu-
dian, Andika melihat Gempo Sinting tegak berdiri. Di depannya terbentang sebuah
sungai yang sangat hitam. Terlihat asap yang menguap, menandakan bau
busuk menyengat. Tetapi Gempo Sinting malah terba-
hak-bahak, lalu berkelebat kembali.
Andika yang tadi sempat melirik ke sungai itu
rasanya ingin muntah ketika melihat mayat-mayat
yang menjijikkan bergelimpangan di sana. Dicobanya
untuk memejamkan matanya, mencoba mengalihkan
ingatannya pada hal-hal yang lebih enak. Setelah beberapa saat, Andika pun
berkelebat mengikuti Gempo
Sinting yang telah tiba di sebuah gubuk.
"Apakah itu tempat kediaman Dewi Sungai
Bangkai?" pikir Andika, langsung bersembunyi di balik semak. "Bila yang kuduga
memang benar, pasti Gempo Sinting sedang menuju ke Gunung Kabut. Tetapi, dia
pun tak tahu di manakah letaknya Tasbih Emas Bida-
dari itu. Uh! Kalau tak ingat aku ingin tahu apa yang akan dilakukan si Gempo
Sinting di sini, sudah kuha-jar dia!" Andika pun mengendap-endap perlahan-lahan
dengan gerakan sangat ringan sekali. Lalu....
"Hup!"
Pendekar Slebor melompat, lalu hinggap di da-
han sebuah pohon yang berada dekat di gubuk tua.
Bau busuk semakin menyengat hidungnya rasanya
Andika sudah tak bisa menahannya lagi. Tetapi ha-
tinya tetap bersikeras untuk mengetahui apa yang di-rencanakan Gempo Sinting.
Di dalam gubuk tua itu terdengar suara terke-
keh seperti kuntilanak yang menyeramkan, menyusul
suara yang begitu dingin dan angker.
"Rupanya kau, Gempo Sinting! Selamat datang
di istanaku yang megah ini."
"Dewi Sungai Bangkai! Masa' tempat busuk se-
perti ini kau sebut istana" Jangan-jangan otakmu yang miring!" Dewi Sungai
Bangkai terkekeh-kekeh. Wajahnya tirus mirip tengkorak hidup. Rambutnya panjang
sekali hingga ke pinggul. Acak-acakan dan menjadi sa-rang kutu. Karena, beberapa
kali dia menggaruk-
garuknya. Pakaian yang dikenakannya berwarna hitam
pekat. Bahkan juga sudah sangat busuk. Matanya ce-
long ke dalam dengan deretan gigi yang ompong.
"Sudah tentu ini adalah istana abadi bagiku. He he he.... Gempo Sinting! Ada apa
kau kemari, hah"!"
"Seperti yang kau ketahui, aku menginginkan
nyawa Sapta Jingga dan peta warisan Ki Bubu Jagat.
Tetapi...."
"Kau belum mendapatkan potongan peta itu,
bukan?" potong perempuan berwajah mengerikan ini.
"Tidak jadi masalah! Bukankah sudah kukatakan, kalau Tasbih Emas Bidadari berada
di Gunung Kabut?"
"Tetapi, di manakah letaknya itulah yang tak
kuketahui."
"Dasar sinting dan berotak bodoh! Hancur le-
burkan saja gunung itu. Masa' tidak kelihatan Tasbih Emas Bidadari?"
"Kau yang sinting! Bila kuhancurkan gunung
itu, maka Tasbih Emas Bidadari akan semakin terku-
bur!" maki Gempo Sinting.
Dimaki seperti itu Dewi Sungai Bangkai terke-
keh lagi. "Kau benar, kau benar. Lalu, untuk apa kau
minta bantuanku?"
"Sebenarnya, potongan peta itu berhasil kuda-
patkan bila saja seorang pendekar muda tidak meno-
long Sapta Jingga," keluh Gempo Sinting.
"Hei" Mau mencari mampus rupanya pemuda
sialan itu! Siapa dia?" tanya Dewi Sungai Bangkai.
"Pendekar Slebor."
"Huh! Aku sudah pernah mendengar julukan
jelek itu. Tetapi, sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengannya. Lalu, apa
yang kau khawatirkan
dengannya, hah"! Masa' sih, kau tak mampu membu-
nuh anak ingusan itu!"
Di luar, Andika merutuk. "Sialan! Suatu saat
akan kukejutkan kau, Peot!"
"Soal Pendekar Slebor bukanlah masalah yang
besar. Tetapi, aku yakin kalau Sapta Jingga sudah
menyerahkan potongan peta itu kepadanya."
Kembali terdengar suara Gempo Sinting.
"Apa"!"
Kali ini Dewi Sungai Bangkai terjingkat men-
dengarnya. "Anjing geladak! Ini benar-benar tantangan bu-
atku! Akan kubunuh manusia itu untukmu! Hhh! Biar
pun otaknya cerdik, tak mudah baginya untuk menda-
patkan Tasbih Emas Bidadari."
"Jadi dengan kata lain, kau sudah bersedia
membantuku?" tanya lelaki bulat ini.
Gempo Sinting menyeringai. Bertambah menye-
ramkan raut wajahnya. Dan dia tertawa dalam hati ketika melihat Dewi Sungai
Bangkai menganggukkan ke-
palanya. "Seperti yang telah kuduga kalau nenek peot ini mau membantuku," pikirnya.
Kemudian Gempo Sinting menatap dalam-
dalam Dewi Sungai Bangkai.
"Kau bisa menahan amarahmu untuk saat ini,
Dewi. Sekarang, antarkan aku ke Gunung Kabut. Tas-
bih Emas Bidadari harus kutemukan meskipun aku


Pendekar Slebor 40 Tasbih Emas Bidadari di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tak memiliki potongan peta yang lengkap."
"Itu soal mudah, soal mudah."
"Jangan hanya ngoceh tak karuan! Meskipun
dibantu Hantu Gigi Gading, aku tak bisa memecahkan
potongan peta ini. Apalagi potongan lainnya tidak ada."
"Kupikir kau hanya sinting saja. Tidak tahunya, bodoh dan penuh kecemasan."
"Jangan membuatku marah?" geram Gempo
Sinting. Tatapannya begitu sengit.
Bukannya takut Dewi Sungai Bangkai malah
terkikik-kikik.
"Sekali lagi membentakku, Sungai Bangkai
akan bertambah mayat satu lagi."
Gempo Sinting mendengus.
"Busyet! Dua-duanya memang sudan sinting.
Meskipun seperti bercanda, tetapi satu sama lain bisa menurunkan tangan telengas
pada siapa saja!" desis Andika. "Kita harus secepatnya untuk ke Gunung Kabut.
Tasbih Emas Bidadari ingin kumiliki."
"Tak peduli untuk siapa pusaka Ki Bubu Jagat
itu. Yang terpenting..., aku menginginkan nyawa Pendekar Slebor. Manusia itu
telah mengusik kemarahan-
ku. Karena..., kau adalah sahabatku, Gempo...."
Gempo Sinting terbahak-bahak.
"Aku tak pernah menganggap kau sebagai sa-
habat." "Sialan! Kau selalu..., heiii!"
Tiba-tiba Dewi Sungai Bangkai terdiam. Men-
dadak saja tangan kanannya mengibas.
Wusss! Angin Dahsyat mengandung hawa dingin lang-
sung meluruk ke satu arah.
*** 4 Andika tersentak ketika angin dahsyat yang ke-
luar melalui jendela, melesat ke arahnya. Dengan kelincahan Pendekar Slebor
melompat ke bawah.
Duaarr! Pohon yang tadi dijadikan sebagai tempat per-
sembunyian si pemuda pecah seketika menjadi serpi-
han, terhantam angin dahsyat barusan. Bahkan bukan
serpihan kayu yang berterbangan ke udara, melainkan serpihan arang yang menebar
sekitarnya. "Astaga! Tenaga apa itu?" Di antara kepulan serpihan itu, tampak dua sosok tubuh
berkelebat cepat dari gubuk tua. Dan secepat kilat, Andika melenting lalu
bersembunyi di semak-semak. Begitu kepulan hitam tadi menghilang,
diperhatikannya dua sosok tubuh sedang berdiri tegak dengan tatapan tegang.
"Rupanya ada cecurut yang mendengarkan per-
cakapan kita," dengus Dewi Sungai Bangkai. Matanya yang celong berkeliling,
nanar penuh kemarahan. "Ini membuatku terusik! Manusia mau mampus" Tampakkan
wajahmu!" Andika masih berdiam di tempatnya. Kalau ke-
duanya diladeni Pendekar Slebor akan banyak kehi-
langan waktu untuk tiba di Gunung Kabut. Memang,
dia secepatnya harus berlomba dengan Gempo Sinting
yang dibantu nenek peot berbau busuk itu.
Sementara tiba-tiba Dewi Sungai bangkai men-
gibaskan kedua tangan kanan dan kirinya.
Wrrr! Wrrr! Angin dahsyat berhawa dingin tiga kali bertu-
rut-turut meluruk, menghantam semak belukar serta
pepohonan hingga hancur berantakan. Sebuah pohon
tampak tak kuasa bertahan, luruh ke Sungai Bangkai.
Byuurrr! Air sungai penuh bangkai itu berterbangan da-
lam gumpalan-gumpalan bagai ada sebuah ledakan.
Bau busuk semakin menyengat di hidung, membuat
Andika berusaha menahan napas. Malah, kain berco-
rak catur yang menutupi hidungnya seakan tak mam-
pu menahan bau busuk yang sangat menyengat.
"Hebat juga kepandaian nenek peot itu!" puji
Andika mendesis.
Dewi Sungai Bangkai kembali mengibaskan
tangannya berkali-kali.
Wesss...! Blarr...! Suara keras bak ledakan terdengar kembali.
Kepala Andika sudah pusing melihat serangan-
serangan aneh namun dahsyat itu. Dia sudah bersiap
bila serangkum angin dahsyat itu menderu ke arah-
nya. "Dewi! Tak ada siapa-siapa di sini selain kita,"
ujar Gempo Sinting setelah beberapa saat
"Hei, Buntalan Kentut! Jangan ngomong sem-
barangan! Apakah kau tak yakin kalau aku mendengar
dengus napas dari manusia busuk itu! Meskipun na-
fasnya agak aneh, tetapi aku yakin dia adalah manusia!" rutuk Dewi Sungai
Bangkai. "Tetapi, tak ada siapa pun selain kita," sergah lelaki berpakaian merah itu
jengkel. Pipinya bulat semakin menggembung menahan kejengkelannya men-
dengar ejekan Dewi Sungai Bangkai.
"Bodoh!"
Di tempat persembunyiannya, Andika diam-
diam mendengus masygul. Rupanya Dewi Sungai
Bangkai memiliki pendengaran sangat tajam. Terbukti, dia bisa mendengar desah
napas Pendekar Slebor.
Mungkin yang dimaksudkan agak aneh itu, karena na-
fasnya ditutupi kain bercorak catur.
Sesaat si pemuda melihat Dewi Sungai Bangkai
hendak mengibaskan tangannya lagi. Tetapi....
"Jangan kau membuang tenaga untuk hal yang
percuma, Dewi! Lebih baik, antar aku ke Gunung Ka-
but," cegah Gempo Sinting.
"Tidak! Sebelum manusia itu kutemukan, aku
akan tetap berada di sini! Sialan! Berani-beraninya
manusia itu menantang Dewi Sungai Bangkai!"
Gempo Sinting sekarang hanya bisa membiar-
kan saja wanita tua itu berkelebat ke sana kemari,
mencari sosok yang didengarnya dengan melepas pu-
kulan-pukulan dahsyatnya.
Setelah puas, baru Dewi Sungai Bangkai kem-
bali ke sisi Gempo Sinting.
"Kau temukan manusia itu?" tanya Gempo
Sinting. Tetapi, nada suaranya lebih kentara mengejek.
"Diam kau! Ayo, kita segera menuju Gunung
Kabut!" Mengapa Andika tidak ditemukan" Setelah mendengar kata-kata Gempo
Sinting yang menginginkan keduanya segera menuju Gunung Kabut, Andika
pun langsung melesat dengan gerakan cepat memper-
gunakan ilmu meringankan tubuhnya. Dia yakin, ke-
dua manusia itu akan segera menuju Gunung Kabut.
Dan Pendekar Slebor harus memanfaatkan
keadaan ini. Bila keduanya sudah tiba di Gunung Ka-
but, maka tak sulit baginya untuk menentukan di ma-
na letak Tasbih Emas Bidadari. Menurut perhitungan
Andika, apa yang akan dilakukan Gempo Sinting, ma-
ka tinggal meneruskannya saja. Titik di mana Gempo
Sinting nanti berada, di sanalah Andika harus mene-
ruskan petunjuk yang terdapat pada peta yang dipe-
gangnya. Setelah melewati Sungai Bangkai yang berbau
busuk. Pendekar Slebor kini bisa bernapas lega. Kain bercorak catur yang
menutupi hidung dan mulutnya
sudah diturunkan. Di hadapannya sekarang berdiri
sebuah bukit terjal, bagaikan seorang raksasa yang
sedang tidur. "Alamak...! Ini perjalanan yang sangat melelahkan!" desah si pemuda.
Namun seketika Pendekar Slebor mengempos
tubuhnya, berlari cepat untuk tiba di atas bukit.
Setelah sepeminum teh, Pendekar Slebor pun
tiba di atas bukit. Dan matanya kontan terbelalak memandang takjub melihat
sebuah gunung di balik bukit itu. Gunung yang sangat besar sekali dengan puncak
tertutup kabut.
Baru kali ini Andika melihat sebuah gunung
yang berada di balik bukit. Ketika matanya meman-
dang ke bawah, sungai bagai tarikan sebuah benang
berkelok-kelok indah, tak ubahnya seekor ular melata.
"Inikah Gunung Kabut?" desisnya bertanya.
Rambut dan pakaiannya dipermainkan angin, mengge-
rai penuh pesona.
Di sini mata Pendekar Slebor bisa memandang
lebih jelas. Sesaat Andika masih terpana dengan kein-dahan alam yang dilihatnya.
Alam memang selalu pe-
nuh teka-teki yang terkadang sukar dipecahkan.
Tiba-tiba si pemuda pewaris ilmu-ilmu Lembah
Kutukan itu melihat dua sosok tubuh yang berkelebat pula, sedang menaiki bukit
tempat tadi dia berdiri.
"Rupanya dua manusia itu pun sudah tiba. Se-
cepatnya aku harus tiba di Gunung Kabut, dan ber-
sembunyi. Aku ingin melihat, di mana mereka berada
nanti." Wusss!
Lagi-lagi tubuh Andika berkelebat cepat. Dia
bertekad, harus lebih dulu mendapatkan Tasbih Emas
Bidadari. Begitu tiba di Gunung Kabut, Andika segera
mencari tempat persembunyian yang menurutnya te-
pat. Akan ditunggunya kedua manusia itu di sini,
Cukup lama juga Andika menguji kesabaran-
nya. Dan kini dia bisa mendesah lega begitu melihat dua sosok tubuh yang
berkelebat telah menjejakkan
kakinya pula di Gunung Kabut. Mata kedua manusia
itu memandang Gunung Kabut yang tinggi menjulang.
"Apakah patokan yang bisa kau gunakan,
Gempo?" tanya Dewi Sungai Bangkai sambil memperhatikan sekelilingnya.
Gempo Sinting mengambil potongan peta dari
balik baju merahnya, lalu membukanya.
"Patokan pertama adalah mencari batu seperti
kepala beruang. Setelah menemukannya, kita harus
mencari Tiga Jalan Matahari yang terus terang aku tak bisa memecahkan maksudnya.
Dan setelah itu..., hilang. Potongan peta ini hanya sampai di sini."
Andika yang mendengar berusaha mengingat
tentang itu. Kalau Gempo Sinting hanya tahu sampai di sana saja, berarti tinggal
meneruskan saja apa yang akan dicari Gempo Sinting. Dan selama beberapa saat
nafasnya ditahan sebelum kedua sosok itu berkelebat kembali.
"Kutu koreng! Kalau aku masih terus menahan
napas seperti ini, bisa-bisa mampus sendiri sebelum bertarung!" dengusnya.
Lalu Pendekar Slebor melompat turun, dan
berkelebat melalui arah yang berlawanan dengan ke-
dua manusia itu.
Pohon yang berjajar tak beraturan tak menyu-
litkan Andika untuk menerobos dengan kelincahannya.
Andika memang memutar agak jauh. Tetapi,
kata-kata Gempo Sinting tadi sudah didengarnya, Dia harus mencari batu berbentuk
kepala beruang. Dan si pemuda tak ingin kedua manusia ini lebih dulu
menemukannya. Andika mempercepat larinya. Sejak tadi perut-
nya berbunyi terus minta diisi. Mencari batu berbentuk kepala beruang di gunung
yang ditumbuhi pohon
tinggi itu, bukanlah hal yang mudah.
Tiba-tiba Andika menangkap dua sosok tubuh
yang berkelebat. Seketika larinya dihentikan dan bersembunyi di balik pohon
besar. "Busyet! Keduanya sudah tiba di tempat ini!"
Pendekar Slebor melihat Dewi Sungai Bangkai
tiba-tiba berhenti melangkah. Kepalanya seketika memutar sekeliling.
"Hhh! Aku yakin, kita dibuntuti orang!" dengus Dewi Sungai Bangkai dengan suara
pelan. Gempo Sinting menoleh pula, dan memperhati-
kan sekeliling. Tetapi matanya tak melihat sosok yang dicurigai Dewi Sungai
Bangkai. Dia tertawa, hingga
menggema ke pelosok Gunung Kabut.
"Apakah kau melihat seorang gadis telanjang"
Kalau memang iya, lumayanlah untukku daripada te-
rus menerus bersamamu yang keriput!"
Dewi Sungai Bangkai melotot garang.
"Kurang ajar! Kutampar kepalamu bolak-balik,
celeng kau!"
"Memang banyak celeng di sini, Dewi! Kau
mau" Nanti ku buru dan kupanggang untukmu yang
gemuk!" Dewi Sungai Bangkai menggerutu dengan mu-
lut berbentuk kerucut.
"Kalau tak salah, kira-kira pada ketinggian dua ribu depa dari dasar laut, kita
akan tiba di batu kepala beruang."
"Hei" Kau sudah tahu rupanya?"
"Bodoh! Kau sudah menceritakan padaku ten-
tang senjata pusaka itu sebelumnya! Dan sudah tentu, aku telah mereka-reka
sebelumnya."
Gempo Sinting tertawa.
"Kalau begitu, secepatnya kita harus menemu-
kan batu kepala beruang itu."
Tetapi Dewi Sungai Bangkai justru tak bergerak
dari tempatnya. Matanya menatap tajam ke beberapa
tempat. Sedangkan Gempo Sinting menghentikan
langkahnya. "Apakah kau sudah menjadi patung di sini,
hah"! Ataukah ingin tubuhmu ku cacah habis?" rutuk Gempo Sinting.
"Tunggu!"
Dewi Sungai Bangkai berkata tanpa menoleh
pada Gempo Sinting.
Wrrr! Tangan kanan Dewi Sungai Bangkai mendadak
mengibas. Kali ini angin bak prahara yang menebarkan bau busuk menyengat melesat
bergulung-gulung.
Blar! Blar! Angin dahsyat itu kontan menghantam lima
buah pohon sekaligus, hingga langsung jadi serpihan arang yang bertebaran ke
angkasa. "Siapa pun yang membuntuti kita, sekarang
pasti sudah menjadi mayat. Karena, 'Angin Bangkai Lilit Leher' sudah ku kuasai.
Kita teruskan lagi langkah, Gempo!" jelas Dewi Sungai Bangkai, jumawa.
Mereka lantas berkelebat laksana setan. Dan
bagaimana dengan Andika" Dalam sekali lihat tadi,
Pendekar Slebor tahu kalau Dewi Sungai Bangkai akan memukulkan hantaman jarak


Pendekar Slebor 40 Tasbih Emas Bidadari di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jauhnya. Makanya, sebelum pukulan itu menemukan sasaran, Andika sudah
berkelebat cepat menghindar ke satu tempat. Gera-
kannya laksana kilat, hingga hantaman Dewi Sungai
Bangkai lolos dari sasaran.
Si pemuda memang terhindar dari pukulan
maut Dewi Sungai Bangkai. Namun hawa busuk yang
menderu kemudian segera menyesakkan nafasnya. Le-
hernya terasa terlilit tali kasat mata menjadikan nafasnya tersengal. Bahkan
Andika sampai muntah ber-
kali-kali. Perutnya terasa diaduk-aduk. Rasa lapar
yang dideritanya semakin melilit-lilit. Dan sebelum bau
busuk itu seluruhnya terserap penciumannya, Andika
sudah berkelebat cepat ke tempat yang lebih lega.
Di sana, Andika terbatuk-batuk dan muntah
kembali. Tubuhnya terasa panas dengan mata berair.
Sangat menyakitkan siksaan semacam ini. Buru-buru
Andika mengalirkan tenaga dalam untuk menyumbat
aliran pernafasannya. Lalu diganti dengan hawa mur-ni.
Setelah beberapa saat Pendekar Slebor melaku-
kannya, suhu tubuhnya terasakan kembali seperti se-
diakala. Baru kemudian seluruh tubuhnya digerakkan.
Terdengar suara berkeretekan menandakan tulang-
belulangnya sudah lega kembali.
"Bangsat congek! Kunyuk bodong! Pukulan bau
busuk itu bisa membuat orang mampus! Wah, perem-
puan jelek itu memang tak bisa dianggap enteng. Ini bisa membuatku jatuh sakit,
pingsan, atau bisa-bisa mampus!" makinya tak karuan. "Hhh! Aku harus secepatnya
menyusul mereka!"
Dalam sepeminum teh, Pendekar Slebor sudah
tiba di sebuah tempat yang benar-benar dingin. Kabut bak tirai alam semakin
bertambah tebal, membuatnya
harus memicingkan mata lebih lekat lagi untuk me-
nembus lewat sorot matanya.
Samar, Pendekar Slebor melihat sosok Gempo
Sinting dan Dewi Sungai Bangkai sedang melangkah
mendekati sebuah batu besar yang menempel di dind-
ing tebing dan Andika jadi memaki dalam hati begitu melihat ke arah batu besar
yang benar-benar mirip kepala beruang.
"Hhh! Kita harus mencari Tiga Jalan Matahari,
Dewi," jelas Gempo Sinting.
"Inilah yang membingungkanku! Bila saja kau
memiliki potongan peta lainnya, sudah tentu tak se-
bingung ini!" dengus Dewi Sungai Bangkai. "Apakah
Tiga Jalan Matahari merupakan titik-titik matahari"
Tetapi, di mana menemukannya"!"
Dewi Sungai Bangkai menumpahkan kekesa-
lannya dengan menepak batu berbentuk kepala be-
ruang. Pak! Tak dinyana terdengar suara gemuruh hebat.
Gunung ini seakan hendak memuntahkan isi perut-
nya. Getarannya membuat tanah gunung yang dipijak
bergoyang. Andika pun merasakan hal itu.
"Monyet pitak! Apa lagi ini?" dengus Pendekar Slebor sambil mempertahankan
keseimbangannya.
Batu kepala beruang itu tiba-tiba runtuh ber-
gulingan. Sementara batu-batu lain berpentalan ke
udara, bagaikan dilempar tangan raksasa. Gempo Sinting dan Dewi Sungai Bangkai
tercekat. Mereka segera melompat menghindar. Bunyi tanah longsor semakin
keras membahana. Debu-debu mengepul dan beberapa
pohon tumbang seketika.
"Gempo! Lebih baik kita tinggalkan tempat ini!
Aku yakin, tak lama lagi tebing ini akan runtuh!" ajak Dewi Sungai Bangkai
berseru keras. Gempo Sinting yang sedang bergulingan meng-
hindari serbuan batu-batu besar langsung berkelebat, menerobos masuk dan
menghindar mengikuti langkah
Dewi Sungai Bangkai yang mendahului. Dari kejau-
han, keduanya melihat batu-batu besar itu semakin
menggelinding menerabas pepohonan hingga tumbang.
"Gila! Kau hampir membunuhku!" maki Gempo Sinting sambil menepiskan debu di
pakaiannya. "Mana aku tahu kalau menyentuh kepala be-
ruang itu bisa membuat tanah berguguran?" geram Dewi Sungai Bangkai.
"Kau kurang berhati-hati! Kalau aku tadi jadi
mati, arwahku akan menggerayangimu!" ancam Gempo Sinting. "Coba kau lihat peta
itu, Gempo," pinta Dewi Sungai Bangkai tak mempedulikan makian Gempo
Sinting. Gila! Kalau saja mereka tadi tidak sigap, tiba-tiba terkubur dalam
timbunan batu yang tumpah itu.
Gempo Sinting membuka lagi potongan peta di
tangannya. Diperhatikannya dengan seksama, lalu terbahak-bahak.
"Ini mudah sekali."
"Kau sudah menemukan Tiga Jalan Matahari?"
tanya Dewi Sungai Bangkai.
"Bukan itu maksudku. Kalau aku menikmati
tubuh wanita yang montok dengan dada besar, itu
pasti sangat mudah."
"Sinting!" maki Dewi Sungai Bangkai, sambil menyambar peta itu. Diperhatikannya
cukup lama. Sementara itu gemuruh bebatuan di kejauhan
semakin hebat terdengar.
"Hm.... Kalau melihat garis peta yang meleng-
kung ini, bisa dipastikan itu menuju ke timur laut.
Sayangnya, garis peta ini putus sampai di sini. Tak peduli susah atau tidak, aku
akan tetap membantumu,
Gempo. Ayo, kita segera mencari Tiga Jalan Matahari,"
lanjut Dewi Sungai Bangkai.
Gempo Sinting terbahak-bahak. Diikutinya tu-
buh Dewi Sungai Bangkai yang sudah berkelebat.
*** 5 Bagaimana dengan Andika" Dengan mata ter-
cengang, Pendekar Slebor melihat dinding gunung sea-
Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 15 Siluman Goa Tengkorak Karya Kho Ping Hoo Tujuh Pendekar Pedang Gunung Thian San 1
^