Pencarian

Pulau Kera 2

Pendekar Slebor 39 Pulau Kera Bagian 2


menariknya ke atas pasir.
"Jangan mau enaknya sendiri, Cepat bantu
aku! Apa kau pikir perahu ini akan dibiarkan terbawa air surut nanti. Kita mau
pulang dengan apa" Dengan
dengkulmu"!" semprot Purwasih.
"Tadi kau tolak bantuanku...."
"Sekarang lain!"
"Ah, perempuan memang serba salah!" bisik
Andika kembali menggerutu. Dibantunya Purwasih
menarik perahu. Di dekat tumbuhan semak pantai
yang cukup jauh dari jangkauan air pasang, mereka
menempatkan perahu.
Purwasih selama melanjutkan perjalanan terus
saja memendam kedongkolan pada Andika. Dia me-
nuntut anak muda itu menceritakan apa yang terjadi
ketika dia pingsan waktu itu. Tapi si perjaka sakti dari Lembah Kutukan tak mau
buka mulut. Dia terus saja
mengalihkan pembicaraan kalau Purwasih mulai ngo-
tot memaksanya bercerita.
Andika memang tak boleh bercerita dulu pada
wanita itu tentang pertemuannya dengan Pendekar
Lembah Kutukan, buyutnya. Itu pesan Ki Saptacakra.
Kalau sudah si tua bangka itu yang bicara, mana be-
rani Andika melanggar. Bisa kualat, pikirnya. Lelaki tua itu bisa saja
mengutuknya menjadi kampret! Kalau mulutnya keramat, bisa repot urusan.
Purwasih hanya boleh diberi tahu tentang tu-
juan mereka ke Pulau Kera jika mereka telah tiba di
tempat rahasia yang terdapat dalam peta Pulau Kera di tangan Purwasih.
Lalu, apa sesungguhnya yang diceritakan Pen-
dekar Lembah Kutukan pada cucu buyutnya tentang
Pulau Kera"
Menurut Ki Saptacakra, peta rahasia Pulau Ke-
ra adalah titipan seorang sahabatnya yang tinggal di Pulau Kera. Ki Saptacakra
kemudian menitipkannya
pada cucu kemenakannya, Prabu Bratasena, yang juga
ayah Purwasih. Sahabat Ki Saptacakra adalah guru besar Per-
guruan Kera Merah. Dia membuat dua salinan peta
Pulau Kera yang sekaligus berisi petunjuk tempat pe-
nyimpanan Mahkota Raja Kera. Satu peta telah dis-
erahkannya kepada Ki Saptacakra jauh hari sebelum
kematiannya di tangan Raja Kera Durjana.
"Aku mendapat firasat tak baik belakangan ini,
Kang Saptacakra," begitu kata sahabat Ki Saptacakra ketika menyerahkan peta
tersebut. "Aku berharap Kang Saptacakra sudi meno-
longku. Jika nanti aku mati, Mahkota Raja Kera harus jatuh ke tangan murid-
muridku. Jangan sampai benda
mustika itu jatuh ke tangan yang salah. Aku takut,
muridku tidak mendapatkannya, karena itu aku mem-
buat dua peta tempat penyimpanan rahasia itu...."
Kini, Pendekar Slebor dan si Naga Wanita ditu-
gaskan oleh salah seorang buyut mereka untuk men-
dapatkan Mahkota Raja Kera. Jika benda mustika itu
telah didapat, Andika diperintahkan untuk men-
jaganya sampai dapat diserahkan kepada yang berhak,
kepada sisa murid-murid Perguruan Kera Merah.
Pendekar Slebor dan Purwasih terus berjalan
meninggalkan pantai Pulau Kera. Sekitar enam puluh
langkah mereka berjalan, mereka memasuki mulut hu-
tan. Pepohonan besar tumbuh menjelang. Di sana, ke-
duanya dikejutkan oleh membuncahnya suara-suara
riuh-rendah di udara.
Pendekar Slebor dan si Naga Wanita agak ter-
sentak. Keduanya lebih tersentak lagi menyaksikan
asal suara tadi. Dari pepohonan besar yang tumbuh di sekitar mereka, bergerak
liar sosok-sosok kecil berwarna hitam. Mereka menyaksikan ada ratusan kera
seperti menyambut kedatangan keduanya dengan si-
kap tak ramah. Purwasih bergidik. Dia tak takut. Cuma merasa
jijik dengan binatang yang dianggapnya buruk itu.
"Cuma kera!," cibir Andika, menyaksikan Wajah kecut Purwasih.
"Kera ya, kera. Tapi kau lihat jumlah mereka?"
"Maaf, aku tak sempat menghitung," sahut
anak muda tadi, acuh. Dia melangkah lagi.
Seekor kera berteriak-teriak tak henti-hentinya
ke arah Andika. Anak muda itu jadi dongkol.
"Diam Purwasih! Jangan cerewet!" makinya.
Purwasih cemberut
*** Tak lama setelah kedatangan Pendekar Slebor
dan Naga Wanita, perahu lain menepi pula dari amu-
kan gelombang pasang. Bentuknya lebih besar dari mi-
lik muda-mudi tadi. Penumpangnya pun jauh lebih
banyak. Ada enam orang yang turun dari perahu ter-
sebut. Mereka adalah sisa murid-murid Perguruan Ke-
ra Merah. "Kang, lihat..." Cempaka yang turun lebih dahulu berujar pada Suntara. Dia
menemukan perahu
tergeletak di dekat semak-semak tumbuhan pantai.
Semuanya waspada.
"Mungkinkah Raja Kera Durjana telah menda-
hului kita, Kang?" tanya Wedari.
Suntara menggelengkan kepala
"Bisa ya, bisa tidak. Tapi, selain Raja Kera Durjana, apakah ada orang yang bisa
ke tempat ini tanpa peta rahasia Pulau Kera?" gumamnya. "Sebaiknya kita tetap
mempertahankan kewaspadaan. Usahakan untuk menghindari pertarungan selama kita
belum me- nemukan Mahkota Raja Kera...," tambahnya, nampak tegang. "Sebentar..."
Suntara mendekati perahu yang dicurigai. "Apa
yang hendak kau lakukan, Kang Suntara?" tanya Buntaka. "Kita harus memeriksa
perahu itu. Siapa tahu kita mendapatkan petunjuk siapa yang telah mendahului
kita datang ke tempat ini...," jawab Suntara.
"Tak ada apa-apa di dalam perahu," Suntara kembali dan melaporkan hasil
pemeriksaannya. Di antara mereka, Suntara memang memiliki kelebihan pa-
da kecemerlangan otaknya. "Aku tak bisa menentukan siapa yang datang dan berapa
jumlah mereka. Namun,
kalau menyaksikan ukuran perahu, paling banyak dua
orang telah tiba di tempat ini."
Untuk meyakinkan dugaannya, Suntara mene-
liti jejak kaki di atas pasir.
"Ya, mereka memang dua orang. Satu orang le-
laki dan satu wanita," simpul Suntara cerdik, menilai dari ukuran telapak kaki.
Suntara menoleh sebentar ke arah perahu.
"Dan kalau melihat lambungnya yang masih basah, aku yakin mereka belum lama tiba
sebelum kita...,"
sambungnya yakin.
"Kalau begitu, sebaiknya kita cepat-cepat me-
nuju tempat rahasia penyimpanan Mahkota Raja Kera.
Kita tak boleh didahului mereka...," putus Buntaka.
Bergolak sekali semangat lelaki itu. Terutama karena dia merasa begitu yakin ada
ancaman terhadap mereka. Namun tiba-tiba saja Buntaka mendekap ulu ha-
tinya. Wajahnya secepat itu pula memucat. Dia merin-
tih. "Kenapa, Buntaka?" tanya Sugalu yang berdiri paling dekat dengannya.
Disanggahnya tubuh limbung
Buntaka. "Aku tak tahu. Entah kenapa ulu hatiku seperti
mengejang kaku. Sakitnya luar biasa...," lirih Buntaka, makin kehilangan tenaga.
Tubuhnya terhuyung hampir jatuh. Sugalu tentu saja dibuat kerepotan me-
nyanggah tubuh gempalnya.
Sugali membantu Sugalu memapah Buntaka.
Tak begitu lama kemudian, kejadian serupa menimpa
Cempaka pula. Seperti Buntaka, perempuan itu men-
dadak mendekap bagian dadanya dengan wajah amat
memucat. "Kang Suntara!" pekik Wedari seraya menangkap tubuh Cempaka yang nyaris ambruk.
Meneliti bagian tubuh yang didekap Buntaka
dan Cempaka, Suntara teringat pada hantaman ujung
ekor Raja Kera Durjana. Bukankah di bagian itu mere-
ka mendapatkan hantaman ekor lawan" Saat itu pula
Suntara menyadari satu kekeliruan. Mereka telah begi-tu lancang meremehkan
kehebatan ekor Raja Kera
Durjana. 7 Kemungkinan yang menimpa Buntaka dan
Cempaka saat itu adalah ajian 'Racun Dewa Kera'.
Suntara kini ingat pada ucapan eyang gurunya ketika
beliau masih hidup. Menurutnya, seseorang yang men-
jadi ancaman Perguruan Kera Merah memiliki ajian
itu. Orang itu tentu saja si Raja Kera Durjana.
Ajian 'Racun Dewa Kera' adalah kekuatan tena-
ga dalam yang mengandung racun mematikan namun
bekerja secara perlahan dalam tubuh korban. Korban
pada mulanya tak akan menganggap kalau tubuhnya
terluka. Namun seiring dengan berlalunya waktu, ra-
cun yang dipendamkan ke dalam tubuhnya melalui te-
naga dalam akan mulai menggerogoti bagian dalam tu-
buh yang menjadi sasaran. Dan pada saatnya, racun
itu akan membuat bagian tersebut menjadi membu-
suk. Hanya si pemilik ajian saja yang tahu cara menawarkan racun itu.
Suntara yakin benar, Raja Kera Durjana telah
mempergunakan ajian itu pada ekornya untuk meng-
hajar Buntaka dan Cempaka beberapa waktu lalu. Pa-
dahal sebelumnya tidak ada seorang pun di antara me-
reka menyangka kalau bagian tubuh manusia kera itu
mengandung ajian 'Racun 'Dewa Kera'. Mereka justru
terlalu yakin kalau cakar Raja Kera Durjana-lah yang justru berbahaya.
"Benar-benar cerdik," desis Suntara, menyadari dirinya telah terpedaya.
Suntara pun menyadari, bukan dia yang
'memegang kendali' dalam perebutan maut Mahkota
Raja Kera ini. Semula dia menganggap Raja Kera Dur-
jana telah mendapatkan 'kartu mati' ketika dia berhasil memperdayainya. Kini,
keadaan justru berbalik sama
sekali. Kalau Buntaka dan Cempaka dibiarkan terus,
maka mereka akan mati perlahan-lahan. Untuk itu,
racun yang menggerogoti tubuh mereka dari dalam ha-
rus dienyahkan. Dan cuma Raja Kera Durjana yang
mengetahui caranya. Tentu saja manusia kera itu tak
akan begitu saja bermurah hati memberikan penawar
racun. Dia tentu akan menuntut peta rahasia Pulau
Kera sebagai imbalannya.
"Jahanam...," geram Suntara seraya meninju telapak tangannya sendiri.
"Tampaknya kita benar-benar terjepit, Kang,"
kata Sugali. Sementara itu, dari balik amukan gelombang
samudera yang belum juga mereda, terlihat sesosok
tubuh meloncat-loncat ringan menuju pantai Pulau
Kera. Dengan kayu sepanjang lengan yang terikat di
kedua kakinya, sosok tadi bergerak ringan dan lincah.
Sesekali dia berkelit dari terjangan ombak besar.
Ketika makin dekat, makin jelas pula siapa se-
sungguhnya sosok itu. Raja Kera Durjana telah me-
nyusul mereka....
Sepuluh tombak sebelum benar-benar tiba di
bibir pantai, Raja Kera Durjana menjejakkan dua bilah kayu pada ujung ombak.
Dari kepala ombak yang meninggi itu, dia bersalto ke udara, berputar beberapa
kali dan akhirnya menjejakkan kaki di pasir pantai,
tak jauh dari tempat enam murid Perguruan Kera Me-
rah. "He nguk nguk he!" Raja Kera Durjana terkekeh-kekeh sambil menggaruk-garuk
beberapa bagian
tubuhnya. Dia sudah seperti seekor biang monyet kegirangan.
"Kita bertemu kembali, Suntara!" sapanya mengejek Suntara. "Adik seperguruanmu
benar. Kalian kini dalam keadaan terjepit. Kau memang terpaksa harus
menyerahkan sisa peta itu padaku, bukan?"
Bukan main. Sewaktu Raja Kera Durjana masih
jauh dari pantai, dia pun masih bisa mendengar perkataan Sugali. Itu benar-benar
salah satu tanda bagai-
mana tingkat kesaktian manusia kera itu, di samping
caranya meniti gelombang. Pantas saja Eyang Guru
dapat dibunuhnya. Dan pantas pula beliau meminta
kami untuk menyempurnakan kesaktian dulu untuk
menghadapinya, gumam Suntara membatin.
"Kalau kau tak ingin kedua saudara sepergu-
ruanmu itu mati dengan cara mengenaskan, sebaiknya
kau berikan sisa peta itu padaku!" ancam Raja Kera Durjana kemudian.
Pertentangan batin hebat saat itu berkecamuk
dalam diri Suntara. Antara keinginan untuk menyela-
matkan Cempaka dan Buntaka dengan keinginan un-
tuk menyelamatkan Mahkota Raja Kera dari tangan za-
lim lelaki itu.
Untuk mencari siasat, Suntara sudah tak me-
nemukannya. Buntu. Semuanya jadi begitu sulit ba-
ginya. Dia terjepit. Namun rasa welas-asih terhadap
saudara seperguruan dan adik kembarnya yang kini
dalam keadaan genting, menyebabkan dia mulai terpi-
kir untuk menyerahkan saja potongan peta rahasia.
"Bagaimana aku yakin kalau kau akan membe-
rikan penawar Racun Dewa Kera setelah aku membe-
rikan potongan peta itu padamu?" tukas Suntara.
"Jangan berikan, Kang!" sergah Cempaka lirih dari belakang. Meski sudah amat
sulit bernapas, dia
masih berusaha berteriak. Bahkan dia hendak bangkit.
Sayang, dia hanya sanggup mengangkat sedikit kepa-
lanya. Setelah itu dia telentang lunglai kembali.
"Kau tak punya pilihan, Keparat! Kau memang
terpaksa harus mempercayaiku dan terpaksa pula me-
nyerahkan potongan peta itu, bukan?" kelit Raja Kera Durjana licik.
"Kang Suntara, jangan berikan! Dia akan tetap
ingin menyingkirkan kita setelah dia mendapatkan po-
tongan peta itu!" Wedari memperingati.
"Benar, Kang.... Aku bersedia mati perlahan se-
kalipun asal kau tidak memberikan potongan peta itu
padanya...," rintih Buntaka susah payah. Lalu lanjutnya, "Jangan pikirkan aku!
Kita tak bisa mengkhianati amanat Eyang Guru."
Seperti Buntaka juga, Cempaka pun lebih sudi
memilih mati perlahan meski tersiksa luar biasa ke-
timbang harus membiarkan kakak kembarnya membe-
rikan potongan peta pada Raja Kera Durjana. Hanya
saja, perempuan itu sudah tak kuat untuk mengelua-


Pendekar Slebor 39 Pulau Kera di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

rkan suara lagi.
Menyaksikan kebingungan enam murid Pergu-
ruan Kera Merah, Raja Kera Durjana menjadi demikian
girang. Tawa terkekeh memuakkannya kembali berge-
letar dari pita suaranya.
Lama Suntara menimbang, membuat Raja Kera
Durjana mulai tak sabar lagi.
"Kau tunggu apa lagi, Keparat"!" bentak Raja Kera Durjana gusar.
"Kupikir, adik-adik seperguruanku benar. Aku
tidak bisa mengkhianati amanat Eyang Guru kami. Ka-
rena mereka bersedia mati untuk mempertahankan
amanat yang dibebankan kepada kami, kenapa aku ti-
dak?" tegas Suntara, akhirnya.
"Kalian memang ingin mampus, Grhhh!" Raja
Kera Durjana menggeram. Di belakang geramannya,
kesepuluh jari-jemari lelaki setengah kera itu mene-
gang kejang. Kuku hitam besarnya bergeletaran. Se-
bentar kemudian mulai mengepulkan asap tipis kehi-
taman. *** "Tunggu, Purwasih!" Andika menahan langkah
wanita di sebelahnya. Dia mendengar bisikan seseo-
rang yang masih samar tertangkap di telinganya. Tam-
paknya suara itu dikirim dari jarak yang teramat jauh.
"Ada apa"!" bentak Purwasih tak mengerti.
"Sssttt!" Pendekar Slebor mengacungkan telunjuk di depan bibirnya. Matanya tak
berkedip. Dipasang pendengarannya tajam-tajam.
"Ada apa"!" ulang Purwasih lebih keras. Alisnya mulai bertaut. Sebal juga dia
melihat Andika berting-kah seperti orang tolol seperti itu.
Bukannya menyahuti, Pendekar Slebor malah
duduk bersila. "Brengsek kau! Ini bukan waktunya main-main,
Andika!" sewotnya. Tapi si anak muda dari Lembah Kutukan, sudah memejamkan mata
dengan tangan bersilang di dada. Dia bersemadi untuk lebih memu-
satkan kemampuan pendengarannya.
Memang benar, tak lama kemudian dia men-
dengar suara sayup-sayup tadi menjadi jelas. Dikena-
linya suara itu milik Pendekar Lembah Kutukan, Ki
Saptacakra. "Ada apa lagi, Ki Buyut" Apa masih ada yang
terlupa kau katakan waktu itu" Atau masih belum
puas menjejalkan bau telapak kakimu ke hidungku,
cucu buyut ini?"
Di depan Purwasih, mulut anak muda itu ko-
mat-kamit, makin membuat alis si Naga Wanita ber-
taut makin erat. Dia sudah gila barangkali, ya" Pikir Purwasih dongkol.
"Diam kau! Dengarkan aku!" bentak suara Ki Saptacakra, hanya bisa ditangkap
telinga Pendekar
Slebor. "Jadi apa yang kau mau?" tanya Andika.
"Tentu saja aku mau kau berhenti bersikap
aneh seperti itu dan melanjutkan perjalanan, Pemuda
Brengsek!" maki Purwasih, salah sambung.
"Kembali kau ke pantai!" perintah Ki Saptacakra.
"Apa"!" Pendekar Slebor cemberut. Apa-apaan seenaknya menyuruh kembali ke
pantai" Dia sudah
berjalan jauh-jauh, kenapa harus kembali ke sana, gerutunya dalam hati.
Lagi-lagi Purwasih yang mendengarnya menjadi
salah sangka. "Sejak kapan pemuda tampan sepertimu malas
membersihkan telinga" Kau belum tuli, bukan" Aku
bilang, berhenti kau bermain-main dan cepat berdiri!
Kita harus secepatnya melanjutkan perjalanan!"
Andika bukan tak peduli pada kesewotan Pur-
wasih. Dia cuma terlalu sibuk dengan suara jarak
buyut tengiknya.
"Aku bilang kau harus kembali ke pantai!" Suara Ki Saptacakra meledak. Membuat
Andika meringis.
Telinganya seperti baru saja dijejali guntur. Dasar tua bangka tak punya
perasaan, rutuknya membatin.
"Kenapa aku harus kembali ke sana"!" Pendekar Slebor mulai ngotot. Mana mau anak
muda seke- ras kepala dia diperlakukan semena-mena. Biarpun Ki
Saptacakra adalah buyutnya sendiri. Biarpun rasa
ngerinya pada si bangkotan itu sebesar kepala naga
gundul! "Pokoknya kembali, titik!"
"Kalau tidak?"
"Kau tahu sendiri...," suara Ki Saptacakra
memberat menyeramkan.
Mendengar ancaman yang membuat bulu-bulu
tengkuknya merinding, Pendekar Slebor cepat-cepat
bangkit dari silanya. Tepat pada saat itu, Purwasih
mengirim tinjunya ke jidat si anak muda.
Bletak! "Wadoooo! Kenapa kau memukulku, sialan"!"
"Kupikir kau kerasukan setan pulau ini!"
"Alah, kau memang slompret!"
"Cepaaaat!" Terdengar lagi bentakan menggedor nyali si anak muda yang terkenal
berani dan keras kepala di dunia persilatan itu.
"Iya... iya, Ki Buyut! Ampun!"
Di pantai Pulau Kera, Raja Kera Durjana sudah
melakukan terjangan berkekuatan ke arah Suntara.
Dengan mempergunakan cakar, bagian tubuh yang
menjadi salah satu senjatanya, Raja Kera Durjana
mencoba secepatnya menyelesaikan urusan.
Dalam urusan ini, manusia kera itu memang
memiliki batas waktu tak dapat ditawar. Kejadian yang menimpa dirinya hingga
berubah wujud menjadi kera
besar seperti itu tidak akan dapat dipulihkan kembali jika lima puluh tahun
telah berlalu. Sementara, tepat subuh nanti tepat lima puluh tahun dia menjadi
kera besar. Jika dia tak mendapatkan Mahkota Raja Kera
hingga terlewat waktu tersebut, maka selamanya dia
akan berwujud binatang mengerikan seperti saat ini.
Itu sebabnya dia begitu bernafsu untuk segera
mendapatkan potongan peta di tangan Suntara. Jika
harus membunuh semua sisa murid Perguruan Kera
Merah, dia akan melakukan secepatnya. Dia tak ingin
kehilangan waktu lebih banyak.
Dan untuk itu, si manusia kera tidak mau me-
lakukan serangan tanggung-tanggung lagi. Dikerah-
kannya ajian andalan yang menyebabkan dirinya be-
rubah wujud menjadi kera besar.... Ajian 'Cakar Kera Api'! Ajian ini dapat
membuat kesepuluh cakarnya
menjadi memerah layaknya bara. Bukan itu saja, dari
cakarnya itu terpancar hawa yang demikian panas,
hingga mampu membakar udara di sekitarnya. Tam-
pak dari udara di sekitar cakar memendarkan api.
Dan, tatkala tangannya bergerak dengan tenaga
penuh ke udara, maka terciptalah sepuluh bentangan
api panjang bagai galah-galah dari dasar neraka. Jadi, meskipun Raja Kera
Durjana belum lagi sampai ke dekat Suntara, dia sudah dapat melepas serangan
maut- nya. Menyaksikan api yang memanjang dari sepuluh
kuku lawan dan hendak membelah hangus tubuhnya
menjadi sepuluh bagian, Suntara demikian terkesiap.
Dia benar-benar dihadapkan pada serangan yang tak
saja teramat sulit untuk dimentahkan, tapi juga ter-
lampau sulit dihindari.
Lidah api memanjang itu seperti menutup selu-
ruh ruang gerak Suntara. Ke mana pun dia bergerak,
secepat apa pun gerakannya, lelaki itu tak bisa lagi menyelamatkan diri dari
terjangan ajian lawan. Sementara, Suntara sendiri tak pernah menyangka kalau la-
wannya akan melancarkan serangan sedemikian rupa.
Suntara mati langkah di mulut kematian!
Wrrr! Ketika Suntara hanya bisa berkelit putus asa,
sementara galah api dari kuku lawan siap membelah
hangus badannya, saat itulah serangkum tenaga rak-
sasa menebas udara ke arah ombak yang meninggi.
Pyar! Tenaga raksasa itu seketika itu juga seperti
mengendalikan gerak ombak menjadi lebih menggila
menuju pesisir pantai tempat ketujuh orang tadi. Tak
kalah cepat dengan tebasan galah api di udara, lidah ombak raksasa tadi
menerkamnya. Zzzz! Tercipta desis riuh. Galah api dari kesepuluh
kuku jari Raja Kera Durjana padam seketika. Meski
karena itu, tubuh Suntara harus terseret dua puluh
kaki di atas pasir....
8 Betapa murkanya Raja Kera Durjana mendapati
ajian pamungkasnya luput menelan korban. Bahkan
dia dipermalukan di hadapan enam orang murid Per-
guruan Kera Merah demikian rupa. Seluruh tubuhnya
kuyup tersiram air laut. Bulu-bulunya kuyu. Dia su-
dah tak beda dengan monyet pesakitan.
"Grrrrhh!"
"Gila, siapa yang kurang kerjaan melepas mo-
nyet sebesar itu ke pulau ini, Purwasih"!" seru seseorang di sisi lain pantai.
Siapa lagi kalau bukan Pendekar Slebor. Anak muda sakti itu telah tiba bersama
si Naga Wanita di pantai semula. Dia pula yang punya
ulah memboyong ombak raksasa ke tepi pantai dengan
tenaga sakti tingkat sepuluh warisan buyutnya. Na-
mun, dia tak pernah tahu kalau galah-galah api tadi berasal dari kuku-kuku
tangan si manusia kera. Bagaimana bisa menyadari, kalau Raja Kera Durjana saja
dikiranya seekor monyet bongsor tulen!
Kalaupun dia melakukan ulah tadi, semata ka-
rena sekilas disaksikannya seorang lelaki terancam
bahaya dari galah-galah api yang asalnya tak sempat
diketahui Andika.
"Kau bakal mampus, siapa pun kau!" teriak Ra-ja Kera Durjana.
Andika mendelik. Dia hampir tak percaya ada
monyet bisa berteriak seperti itu.
"Mak... bisa ngomong dia," gumamnya terpana-pana kebodohan.
"Aku, Raja Kera Durjana tak pernah mendapat
perlakuan demikian memalukan!"
Andika makin terlolong-lolong seperti sapi om-
pong. "Siapa kalian sebenarnya"!" seru Purwasih pa-da ketujuh orang tadi.
"Kami murid-murid Perguruan Kera Merah,"
jawab Suntara cepat. Lelaki itu telah bangkit dalam
keadaan sekuyup Raja Kera Durjana.
"Kalian murid-murid Perguruan Kera Merah?"
tanya Andika. Pasti mereka yang dimaksud Ki Sapta-
cakra, pikirnya. Anak muda itu ingat, buyutnya pernah menyinggung-nyinggung soal
enam murid Perguruan
Kera Merah saat itu.
"Aku kira, biang monyet ini salah satu murid
Pulau Kera...," sambungnya tanpa perasaan bersalah.
"Jangan sembarangan bicara kau, anak muda
keparat! Kau pikir dirimu sedang berhadapan dengan
siapa, hah"!" Raja Kera Durjana merasa dirinya makin dipermalukan. Kepalanya
seperti diinjak-injak telapak kaki berlumpur.
"Aku yakin, aku sedang berbicara dengan mo-
nyet ajaib yang bisa ngomel dan cuma ada di pulau
ini..," sahut Pendekar Slebor, masih juga tak menyadari kalau Raja Kera Durjana
bukanlah kera se-
sungguhnya. "Bangsat!"
Kepala si anak muda malah menggeleng-geleng
mendengar hardikan Raja Kera Durjana.
"Kau sudah cukup pandai bicara, Nyet. Cuma
kau belum pernah belajar membedakan mana manu-
sia, dan mana bangsat. Masa' iya, aku kau bilang
bangsat" Yang benar saja...," ocehnya ngawur.
Raja Kera Durjana tak bisa lagi membendung
kekalapan. Diawali geraman seekor kera mengamuk,
dikerahkannya kembali ajian 'Cakar Kera Api'.
Cepat, cakar Raja Kera Durjana mengepulkan
asap kehitaman. Menyusul terbakarnya udara di seki-
tar kuku-kuku membaranya.
Wurrr! Dalam sekali gerak, sepasang tangan manusia
kera itu menebas udara. Saat yang sama, galah-galah
api membersit dari kesepuluh kuku jarinya.
Suntara boleh saja tak berkutik menghadapi
serangan maut macam itu. Bagi Pendekar Slebor, si
anak muda yang kecepatan geraknya begitu menggon-
jang-ganjingkan dunia persilatan, sambaran galah-
galah api memanjang tidak terlalu membuatnya mati
kutu. Kalau sedikit repot, ya mungkin juga. Bagaimana tidak, jika seluruh ruang
geraknya tertutup seketika"
Pendekar Slebor sudah cukup sering mengha-
dapi keadaan macam begitu. Percuma saja dia malang-
melintang ke beberapa bagian jagad kalau dia tak bisa mementahkan serangan Raja
Kera Durjana. Dengan
sedikit memutar otak teramat cepat, anak muda itu
melepas kain pusaka bercorak caturnya.
Wukh wukh wukh!
Dengan tiga sabetan bertenaga, dijegalnya ga-
lah api yang menerjang dari arah depan. Sisanya di-
biarkan saja melewati sisi-sisi tubuhnya.
Tanpa kekurangan sesuatu apa, dikebut-
kebutkannya kain pusaka bercorak catur yang agak
mengepulkan asap tipis. Mulutnya memancung, me-
niup-niup ke arah kain.
"Wiet, aku ingat sekarang! Jadi, yang main-
main api sebelumnya itu kau juga, ya"!" tukasnya
acuh. Sekarang, tidak bisa lagi Raja Kera Durjana
menganggap enteng lawan barunya. Sebut saja dia
memang tokoh berilmu tinggi. Namun kalau menyak-
sikan bagaimana tanpa kesulitan ajian pamungkasnya
dimentahkan lawan, mau tak mau dia dipaksa terpe-
ranjat. Siapa yang tengah kuhadapi" Tanyanya mem-
batin. "Siapa kau"!" aju si manusia kera.
"Loh, sejak tadi kau baru sadar untuk mena-
nyakan siapa aku" Kalau begitu, kau memang monyet
tak tahu adat."
"Sebut namamu, Keparat!"


Pendekar Slebor 39 Pulau Kera di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Andika cengengesan.
Purwasih yang melihatnya jadi tak sabar.
"Dia Pendekar Slebor. Asal kau tahu saja...," se-la Purwasih. Sedikit banyak,
dia mau juga membang-
ga-banggakan saudara jauhnya itu. Biarpun tingkah
tengiknya sering bikin perempuan itu mau mati berdi-
ri! Raja Kera Durjana terdiam. Matanya menco-
rong melahapi seluruh wajah dan tubuh Andika. Pen-
dekar Slebor. Nama besar yang tak asing baginya,
meski selama ini belum pernah sekali pun dia beruru-
san dengannya. Benar-benar keparat, pikirnya. Pada
saat-saat genting di mana dia harus secepatnya men-
dapatkan Mahkota Raja Kera sebelum subuh nanti,
ada lagi seorang penghalang yang pasti tak mudah disingkirkan.
"Jadi, kau ini yang banyak dihebohkan kalan-
gan dunia persilatan, hmm?" katanya bertekanan.
"Sial, rugi aku! Kenapa biang monyet macam
kau mengenalku!"
"Teruslah kau mengejek, selama kau masih
punya kesempatan...," geram Raja Kera Durjana.
"Memangnya?"
"Karena sebentar lagi, nama besarmu akan ter-
kubur selamanya di pulau ini!"
"Wi, seremmmm!"
Entah karena dorongan kemurkaan atau kein-
ginan untuk secepatnya menyelesaikan perkara, tim-
bul dalam benak Raja Kera Durjana untuk memberesi
lawannya dengan cara mengadu tenaga dalam. Itu cara
bertarung yang dapat mempercepat urusannya. Di
samping itu, dia bisa menjajal sampai di mana kehebatan tenaga dalam pendekar
muda yang telah begitu di-
gembor-gemborkan ini.
Didahului geraman seperti sebelumnya, Raja
Kera Durjana menyiapkan tenaga dalam tingkat ting-
ginya yaitu ajian 'Amukan Kera Badai'. Ajian yang satu ini adalah pasangan ajian
andalan yang telah dikerahkan sebelumnya. Jika ajian 'Amukan Kera Badai' diga-
bungkan dengan ajian 'Cakar Kera Api', maka akan
tercipta tenaga dalam yang bukan saja berkekuatan
seperti amukan badai, tapi juga dapat mengeringkan
tanah seperti didera kemarau selama bertahun-tahun!
Dada Raja Kera Durjana membusung menarik
udara di sekitarnya. Kedua tangan penuh bulunya
mengeras, mengembungkan otot-otot sebesar jari ke-
lingking. Digerak-gerakkannya tangan dalam beberapa
gerakan amat cepat, bagai gerakan mengebut serbuan
ribuan lebah mengamuk.
Tak lama kemudian udara di sekitar tubuh Ra-
ja Kera Durjana menjadi teramat panas. Panas luar biasa yang bukan cuma
meringkus udara di sekitarnya
tapi juga merayap membungkus delapan orang lain di
sana. "Sial. Permainan gila apa lagi yang hendak dilakukan kunyuk ini...," desis
Pendekar Slebor merasakan segenap bagian kulitnya menjadi terasa terseduh.
Warnanya berubah memerah perlahan, seolah sedang
digarang di atas permukaan bara.
Waktu merangkak. Sementara itu, panas yang
ditebar dari tubuh Raja Kera Durjana makin menjadi-
jadi. Enam murid Perguruan Kera Merah mulai tak bi-
sa mengendalikan diri. Panas yang mereka rasa-kan
sudah demikian menyengat. Mereka merasa kulit me-
reka seperti ditimbuni tumpukan bara. Kalau terus begitu, mereka bisa berguling-
guling tanpa kendali di pasir pantai.
Sadar itu adalah permainan tenaga dalam la-
wan, mereka segera mencoba melawannya dengan
mengerahkan tenaga dalam pula. Melawan mungkin
belum cukup tepat bagi mereka. Karena yang mereka
bisa lakukan sebenarnya cuma bertahan. Tenaga da-
lam Raja Kera Durjana terlalu kuat bagi mereka, meski mereka menggabungkan
tenaga dalam masing-masing.
Andika dan Purwasih melakukan hal serupa.
Keduanya memejamkan mata. Andika melipat tangan
di dadanya, sedangkan si Naga Wanita menyatukan
kedua telapak tangan di depan dada. Dalam posisi ma-
sih berdiri, keduanya bersemadi.
Ketika gelombang hawa panas terus menjangkit
luar biasa, tercium di udara bau sangit. Beberapa
daun pepohonan rupanya telah terbakar. Mula-mula
hanya dedaunan kering menjadi korban. Selanjutnya,
daun-daun hijau pun tak luput.
Semak pantai dan beberapa pohon besar ke-
mudian benar-benar berubah menjadi kobaran api!
Kayunya meletak-letak, memperdengarkan bunyi riuh
yang menyamai suara amukan gelombang samudera.
Menyusul hangusnya dalam jarak seratus depa
dari tempat Raja Kera Durjana, pasir pantai pun mulai berubah warna. Di mulai
dari sekitar kaki Raja Kera
Durjana. Di bagian itu, pasir menjadi merah menyala.
Ketika ujung ombak menyentuhnya, terlempar suara
desis meninggi.
Zzzzzz! Warna merah menyala pasir perlahan bering-
sut, menebar lebih luas dan lebih luas bagai rayapan lahar panas di bawah
permukaan bumi. Pusatnya dari
sekitar kaki Raja Kera Durjana.
Di sisi lain, enam murid Perguruan Kera Merah
mengalami saat-saat genting. Kekuatan bertahan me-
reka sudah tiba di batas paling lemah. Keringat sebesar biji jagung merembes
deras dari pori-pori kulit mereka. Mereka basah kuyup sesaat. Keringat mereka
mengepulkan asap tipis, seolah mendidih di atas kulit mereka sendiri.
Tubuh keenam orang itu mulai bergetaran. Bi-
bir mereka bergetar di atas memerahnya rona wajah
mereka. Lalu perlahan-lahan keluar darah dari hidung dan sudut bibir mereka.
Darah itu pun mengepulkan
asap! Yang paling tersiksa saat itu tentu saja Cempa-ka dan Buntaka. Mereka
dalam keadaan tak memung-
kinkan untuk mencoba bertahan dari serangan hawa
panas. Bagaimana bisa" Untuk berdiri saja keduanya
sudah tak mampu.
Ketika mereka mencoba untuk mengerahkan
tenaga dalam, yang terjadi justru menyengsarakan me-
reka. Bagian dalam tubuh yang terluka masing-masing
saat itu menjadi teramat sakit luar biasa. Maka, mulut mereka pun
memperdengarkan keluhan berat tertahan. Sampai suatu saat, Cempaka tak kuat lagi
me- nahan siksaan yang mendera dari luar dan dalam tu-
buhnya. Dia memekik tinggi.
"Aaa...!"
Meski sedang bersemadi memusatkan pikiran
dan mengerahkan tenaga dalam untuk melawan se-
rangan hawa panas Raja Kera Durjana, Andika masih
bisa mendengar jeritan Cempaka. Nuraninya menge-
luh. Dia tak tega mendengar teriakan penuh siksaan
itu. Cempaka harus ditolong, desisnya membatin.
Tapi kalau dia melepas sedikit saja tenaga sak-
tinya yang mencoba membendung hawa panas lawan,
malah dia yang akan ikut menjadi korban. Namun,
Pendekar Slebor tak sampai hati untuk membiarkan
Cempaka mati tersiksa.
Dengan nekat, dia membagi tenaga dalamnya.
Sebagian untuk membendung serangan lawan, seba-
gian lagi untuk membantu Cempaka. Akibatnya ben-
teng tenaga dalamnya saat itu juga dijebol tenaga panas lawan.
Zzzz...! Sebagian kulit pendekar muda dari Lembah Ku-
tukan saat itu juga terbakar, menebarkan bau sangit
menusuk. Tubuh Pendekar Slebor ikut tergetar, lebih
hebat dari getaran tubuh keenam murid Perguruan Ke-
ra Merah. Dari hidung dan mulutnya tersembur darah
mengepulkan asap yang turut memperdengarkan desis
ramai begitu menyiram pasir di bawahnya.
Andika tersuruk di atas lututnya. Dia nyaris
ambruk. Kalau saja....
Gempa dahsyat tiba-tiba saja terjadi. Pulau Ke-
ra terguncang keras ditanduk kekuatan dari dalam
bumi. Gelombang samudera yang telah ganas, dan
menggila. Ombak setinggi bukit menghajari pantai pu-
lau kecil tersebut tanpa ampun. Angin riuh. Dedaunan kelapa di kejauhan kalang-
kabut menahannya.
Tak pelak lagi, konsentrasi Raja Kera Durjana
saat itu juga menjadi buyar. Apalagi ketika gulungan ombak menerjang tubuhnya.
Kekuatan hawa panas
manusia kera itu pun terpenggal seketika.
Amukan alam tak berhenti sampai di situ. Dari
arah utara, tanah berpasir terbelah cepat. Kuakannya berlari bagai sambaran
ular. Kuakan tanah selebar sepuluh kaki, dapat menelan rumah dalam sekejapan,
membelah tanah menjadi dua bagian bergaris tak bera-
turan. Buntaka, Cempaka, Wedari, Sugali, dan Sugalu yang paling dekat dengan
arah gerak kuakan tanah
tertelan terlebih dahulu. Kesiapan mereka dalam
menghadapi amukan alam terlalu tumpul karena sebe-
lumnya mereka memusatkan perhatian dan kekuatan
penuh hanya pada serangan hawa panas Raja Kera
Durjana. Setelah itu, kuakan tanah terpecah menjadi
bercabang dua. Satu mengarah ke Pendekar Slebor
dan Purwasih, sedang yang lain melintasi tempat ber-
pijak Raja Kera Durjana dan Suntara yang ketika itu
berdiri terpisah cukup jauh dari lima saudara seperguruannya.
Kesembilan orang itu kini terperosok dalam ce-
lah. Pasir ikut meluncur bersama tubuh mereka ke da-
sar celah. Suasana makin dikacaukan tumpang-tindih
suara riuh-rendah. Pada saat itu, kehebatan peringan tubuh Pendekar Slebor, Naga
Wanita, dan Raja Kera
Durjana menjadi tak berguna. Selain karena mereka
sama sekali tak siap, celah yang menelan mereka pun
terlalu curam. Getaran hebat masih berlangsung. Juga di da-
lam celah. Batu dan buliran tanah berguguran ke da-
lam celah. Berkejaran cepat dengan pasir dan tubuh
kesembilan orang tadi. Mereka dihantami, ditimbuni.
Benturan demi benturan dengan batu-batu dasar bumi
mereka alami. Tubuh mereka seperti hendak dilantak.
Kesadaran mereka goyah. Sulit bagi mereka untuk
mempertahankan kesadaran lagi.
Tak lama amukan alam tersebut terjadi. Namun
akibatnya tak bisa dibilang ringan. Di atas permukaan tanah, pohon-pohon kelapa
bertumbangan. Sekitar sepenanakan nasi kejadian itu bergejo-
lak. Sampai akhirnya alam dibungkam keheningan
kembali. Samudera jinak. Gelombang kecil menepi ke
bibir pantai yang porak-poranda. Pekikan burung-
burung manyar terlepas di kejauhan.
Di dasar celah, terlihat gerakan lemah. Dari
timbunan pasir dan reruntuhan batu serta tanah, be-
berapa sosok muncul. Wedari, Sugali dan Sugalu sa-
dar. Mereka langsung teringat pada keadaan Cempaka
dan Buntaka yang demikian mengkhawatirkan.
Tak mungkin dua orang itu bisa keluar dari
timbunan dalam keadaan terlampau lemah. Mereka bi-
sa kehabisan napas!
"Gali! Gali!" teriak Sugali. Sugalu dan Wedari sigap membantu Sugali menggali
timbunan tanah.
Sementara itu, Pendekar Slebor dan si Naga
Wanita pun telah siuman. Keduanya berusaha menge-
nyahkan pening yang masih bersarang di kepala mere-
ka. Sebentar keduanya saling bertatapan.
"Bagaimana keadaan yang lain?" tanya Andika seraya cepat bangkit.
"Kita harus segera melihatnya, Andika," tukas Purwasih.
Pendekar Slebor sejenak meneliti dinding celah.
Cukup tinggi. Permukaan tanah di atas sana hampir
setinggi lima belas tombak. Tampaknya, untuk hal itu Pendekar Slebor tak
mempunyai masalah sama sekali.
Cuma, dinding celah ternyata berbatu karang licin. Ji-ka tergelincir ke tempat
yang salah, tubuhnya bisa
hancur. Ringan, Pendekar Slebor menggenjot kaki. Dari
satu tonjolan batu, dia mencelat ke tonjolan yang lain.
Geraknya lebih mengagumkan daripada kelincahan
seekor bunglon terbang.
Pendekar Slebor tiba juga di atas. Segera diteli-
tinya celah di bagian lain.
"Kalian tak apa-apa"!" serunya ketika menemukan lima murid Perguruan Kera Merah.
"Kami bertiga tak apa-apa. Hanya Cempaka dan
Buntaka keadaannya makin mengkhawatirkan!" jawab Sugali. "Usahakan untuk
menyalurkan hawa murni ke tubuh mereka. Aku harus mencari salah seorang dari
kalian dulu!" seru Pendekar Slebor lagi.
Di celah yang berlawanan dengan tempat di-
rinya dan Purwasih jatuh, Andika menemukan tubuh
Suntara. Lelaki itu masih tergolek. Meneliti luka
menghitam di tubuhnya, anak muda itu yakin Suntara
tidak pingsan hanya karena terbentur batu. Ada seseorang yang telah melukainya.
"Ke mana si manusia kunyuk" Kalau tak salah,
dia pun terjatuh ke celah ini?" gumam Andika.
Kesimpulan cepat atas semua yang disaksikan-
nya menyembul cepat di benak anak muda berotak
encer itu. "Hm, tampaknya si manusia kunyuk telah per-
gi. Dan lelaki malang di bawah itu telah dilukainya terlebih dahulu...,"
simpulnya, yakin.
"Kau temukan, Andika"!" seru Purwasih. Pendekar wanita itu telah pula berhasil
keluar celah. "Cepat kau bantu lima murid Perguruan Kera
Merah di celah itu! Aku akan menolong lelaki ini!" balas Pendekar Slebor sambil
berjumpalitan masuk ke
dalam celah. Di sisi tubuh Suntara, kakinya menjejak mulus.
Andika merunduk. Suntara terdengar menge-
luh. Dia telah siuman, pikir Pendekar Slebor.
"Apa yang terjadi" Mana si manusia kunyuk
itu?" tanya Andika perlahan. Dipapahnya kepala Suntara. "Dia pergi.... Potongan


Pendekar Slebor 39 Pulau Kera di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

peta rahasia itu telah di-rebutnya dari tanganku," keluh Suntara lirih. Dari
mulutnya mengalir perlahan darah kehitaman.
9 Pendekar Slebor memutuskan untuk secepat-
nya menyusul Raja Kera Durjana. Tak bisa dibiarkan-
nya manusia kunyuk itu mendahuluinya, terlebih-
lebih berhasil mendapatkan Mahkota Raja Kera. Pada
Purwasih, Andika meminta agar wanita itu mengurus
yang terluka dan meminta pula salinan peta Pulau Ke-
ra. Menyaksikan Purwasih mengeluarkan peta
yang serupa dengan peta milik murid-murid Perguruan
Kera Merah, Suntara menjadi terheran-heran. Dia ber-
tanya. Andika tak menggubrisnya. Bukannya anak
muda itu tak mau menjelaskan. Saat itu, ada hal yang lebih darurat harus
diurusnya. "Jangan sampai Raja Kera Durjana menda-
patkan benda mustika itu, Tuan Pendekar!" seru Suntara tertahan-tahan, biarpun
dia sendiri masih belum mengerti kenapa dua pendekar muda dari tanah Jawa
itu memiliki peta Pulau Kera pula.
Belum lagi Pendekar Slebor beranjak terlalu
jauh.... "Mau ke mana kau"!"
Andika menahan langkah. Dia menoleh ke be-
lakang. Dikiranya ada salah seorang murid Perguruan
Kera Merah yang menahannya. Namun, tak ada tanda-
tanda kalau salah seorang dari mereka telah berseru
barusan. "Kau menahanku tadi, Saudara Suntara?"
tanya Andika tak habis pikir.
Sama seperti si pendekar muda dari Lembah
Kutukan, Suntara malah tak habis mengerti pada per-
tanyaan Pendekar Slebor.
"Bukan dia yang menahanmu, goblok!" terdengar lagi suara orang yang menahannya.
Sekarang, An- dika mulai merasa mengenali suara itu.
"Orang tua brengsek...," gerutu anak muda itu menyadari siapa yang baru
berbicara. Siapa lagi orang yang bisa memaki si pendekar muda sakti seenak perut
kalau bukan buyutnya sendiri" Ki Saptacakra un-
tuk yang ke sekian kalinya mencampuri urusan si cu-
cu buyut yang tak kalah tengik dengan dirinya, Pendekar Slebor. Kalau sebelumnya
suara tokoh legendaris kenamaan itu tak begitu jelas tertangkap telinga Andika,
kini tidak lagi. Andika menduga tentu sebelumnya pendekar bangkotan itu mengirim
suara langsung dari
tanah Jawa. Kalau suaranya menjadi lebih jelas seka-
rang, mungkin dia sedang menuju ke Pulau Kera juga.
"Kau bilang apa"!"
"Anu... be he he."
"Sudah tak usah merengek seperti itu. Jelek!"
Merengek" Andika menggerutu panjang-lebar
dalam hati. Apa tawanya lebih mirip orang merengek"
"Ada apa lagi, Ki Buyut?"
"Kau tak usah menyusul si kunyuk buduk itu!"
"Lho kok?"
"Dua orang yang terluka oleh pukulan si mo-
nyet buduk itu harus ditolong segera. Kau yang bisa
menolong mereka untuk menyingkirkan Racun Dewa
Kera...." "Lalu siapa yang bakal mengejar kunyuk kurap
itu, Ki Buyut?"
"Biar Purwasih dan sisa murid Perguruan Kera
Merah yang lain, goblok!"
"Apa mereka sanggup" Maksudku, si kunyuk
slompret itu lumayan juga kesaktiannya..."
Bletak! Entah bagaimana caranya, ubun-ubun Andika
tahu-tahu terasa berdenyut-denyut. Ki Saptacakra ba-
ru saja memberi cucu buyutnya sedikit pelajaran.
"Kenapa kau menjitakku"!" Andika tak terima.
Dia merasa tak berdosa.
"Itu upah untuk orang yang angkuh. Kau jan-
gan memandang remeh kemampuan orang, tahu!"
Pendekar Slebor mengangguk-angguk. Bukan-
nya mengerti ucapan terakhir buyutnya, melainkan
supaya bisa mengenyahkan kunang-kunang yang me-
lingkar-lingkar serabutan di kepalanya.
"Asal kau tahu. Racun Dewa Kera yang meron-
grong mereka hanya bisa kau musnahkan dengan me-
nyalurkan tenaga sakti tingkat ke sembilan belas wari-sanku!" Bhuh! Sekarang
justru kau yang bersikap angkuh, orang tua slompret! Maki Andika tak berani
dikeluarkan melalui mulutnya.
"Suka-sukamu sajalah, Ki Buyut..," kata Pendekar Slebor, pasrah.
"Sekarang, perintahkan yang masih sehat un-
tuk cepat-cepat pergi ke tempat penyimpanan rahasia
Mahkota Raja Kera. Kau sendiri harus mengurus dua
orang yang terkena racun si kunyuk buduk itu. Kalau
tidak, tak beberapa lama lagi mereka akan mati...."
Pendekar Slebor tak mau banyak membantah
lagi. Dihampirinya Purwasih.
"Kau dan yang lain sebaiknya segera berangkat
ke tempat penyimpanan benda mustika itu. Aku akan
mengurus mereka," ucapnya seraya menunjuk Cempa-ka dan Buntaka yang terbaring di
atas pasir. *** Apa pun alasannya, Andika sebenarnya me-
mang tidak bisa menolak perintah Ki Saptacakra un-
tuk mendahulukan menolong Cempaka dan Buntaka.
Racun Dewa Kera menurut Ki Saptacakra adalah ra-
cun yang tak bisa dipandang remeh. Cara kerjanya
memang lambat, namun pasti. Berawal dengan bagian
yang terkena, tubuh korban sedikit demi sedikit akan membusuk dari dalam.
Menurut si tua Pendekar Lembah Kutukan itu
pula, tenaga sakti tingkat sembilan belas yang diwa-
riskan pada Pendekar Slebor dapat menawarkan racun
milik Raja Kera Durjana.
Untuk itu, Pendekar Slebor harus benar-benar
hati-hati. Tenaga sakti tingkat ke sembilan belas bukan tenaga dalam
sembarangan. Tenaga sakti itu se-
benarnya cenderung untuk dipergunakan sebagai ke-
kuatan penghancur. Bukit karang pun dapat dilebur
dengannya. Dalam usaha menolong Cempaka dan Buntaka,
Pendekar Slebor harus mengerahkan tenaga sakti
tingkat ke sembilan belasnya demikian rupa, agar yang keluar dari telapak
tangannya bukan lagi kekuatan
penghancur, melainkan telah berubah menjadi hawa
murni bersuhu amat rendah. Hawa dingin membeku-
kan merupakan kunci kelemahan Racun Dewa Kera.
Begitu menurut Ki Saptacakra pula.
"Kau sudah siap?"
Dari jarak jauh, tokoh sakti legendaris di ka-
langan persilatan itu menuntun buyutnya.
"Sejak zaman kuda gigit tempe bongkrek aku
juga sudah siap menolong...," gumam Andika tak ken-tara. Anak muda itu duduk
bersila di atas pasir pantai. Tangannya sudah disilangkan di depan dada se-
suai dengan tuntunan Ki Saptacakra.
Sementara Buntaka dan Cempaka masih dalam
keadaan pingsan. Disandarkan tubuh mereka oleh
Pendekar Slebor ke pohon kelapa tumbang.
"Kau bilang sesuatu?"
"Tidak, Ki Buyut...," elak Andika.
"Bagus! Sekarang, buka baju gadis itu...." Mata Andika mendelik. Gila! Apa si
tua ini tidak sedang ku-mat" Aku diperintah membuka baju gadis itu" Wih!
"Kau tak salah, Ki Buyut?"
"Jangan sok tahu! Juga jangan cepat berpikiran
dekil macam itu! Aku menyuruhmu membuka baju
atas gadis itu karena bagian dadanya yang terkena
ajian 'Racun Dewa Kera'. Kau nanti harus menyalur-
kan langsung melalui telapak tanganmu ke bagian itu!
Mengerti"!"
Glek! Pendekar Slebor menelan ludah. Telapak
tangannya harus ditempelkan langsung ke dada sekal
Cempaka. Glek! Sekali lagi anak muda tengik itu me-
nelan ludah susah payah.
"Kau tunggu apa lagi, Bocah Slompret"!" hardik Ki Saptacakra.
Ragu-ragu, Andika menanggalkan baju atas
Cempaka. Jangan tanya bagaimana 'gedebak-
gedebuk'nya dada pemuda itu. Apalagi kalau dia mulai membayangi kulit kuning
langsat tubuh Cempaka.
"Kubilang jangan berpikiran dekil! Pejamkan
matamu, goblok!"
"Eh, iya Ki Buyut! Ampun...."
Andika memejamkan mata. Hati-hati, pakaian
atas Cempaka akhirnya terbuka semua. Setengah tu-
buh mulusnya kini terbuka sudah. Dua bukit sekal
dan padat membentang di hadapan Andika. Tak ada
tanda-tanda luka di bagian dadanya. Itulah yang me-
nyebabkan korban Racun Dewa Kera sering tertipu.
Untung Andika tak nekat memicingkan kelopak ma-
tanya. Jika tidak....
"Jangan berpikir yang bukan-bukan! Kau nanti
malah tak bisa memusatkan pikiran!" hardik suara Ki Saptacakra kembali.
Sepertinya lelaki sesepuh dunia
persilatan golongan putih itu bisa membaca pikiran
Pendekar Slebor.
"Sekarang pusatkan pikiran! Setelah itu, kum-
pulkan tenaga sakti tingkat ke sembilan belas ke telapak tangan kananmu. Jika
sudah terpusat, tahan be-
berapa saat. Setelah itu lepaskan seluruh tenaga panas di telapak tanganmu ke
udara. Sampai kau mera-
sakan tanganmu telah membeku, barulah kau tempel-
kan telapak tangan tadi ke dada sebelah kanan gadis
itu...." "Ditempelkan benar-benar, Ki Buyut?" tanya Pendekar Slebor, lugu.
"Iya, goblok! Memangnya bisa dengan bohong-
bohongan"!"
Bibir pemuda itu memperlihatkan cengir kuda.
Malu juga sebenarnya dia harus menyentuh....
"He he he.... Malu-malu tapi mau!"
"Apa?"
"O, tidak Ki Buyut! Tidaaaak...."
"Sekarang mulai!" bentak Ki Saptacakra.
Sebelum memulai, bibir si pemuda tengik ter-
sungging kecil. Ngeri-ngeri campur 'dag-dig-dug' dalam dada. Kalau disuruh
sumpah mampus, dia akan melakukannya. Sungguh, selama hayat dikandung badan,
tak pernah sekali pun pemuda itu menyentuh buah
dada seorang dara. Apalagi milik seorang wanita molek
secantik Cempaka.
Kerusuhan dalam diri Andika menyebabkan
tangannya tergetar sewaktu mulai mendekati belahan
baju Cempaka. Ketika mulai tersentuh kulit mulus di
bagian dada Cempaka, Andika langsung menarik na-
pas dalam-dalam. Mulai pula dia ragu-ragu.
"Cepat slompret! Kau jangan mencoba-coba
mencuri kesempatan dalam kesempitan!"
Dalam hati, Andika merutuk sejadi-jadinya. Di-
kira gampang melakukan hal itu" Segenap perasaan-
nya sedang berpusing-pusing tak menentu. Bagaimana
dia bisa secepatnya melaksanakan penyaluran hawa
murni" Meski bergetar seperti tangan maling jemuran, meski dadanya bertalu-talu
seperti pukulan genderang topeng monyet, Andika akhirnya membuka juga pakaian
atas perempuan di depannya,
Dua bukit sekal nan padat membentang di ha-
dapannya. Untung, mata pemuda itu terpejam rapat.
Kalau tidak, dunia bisa kiamat!
Dengan mengikuti petunjuk Ki Saptacakra se-
belumnya, pendekar muda dari Lembah Kutukan itu
mulai memusatkan perhatian sepenuhnya. Disingkir-
kannya dengan agak susah payah pikiran-pikiran liar
yang mengusiknya.
Sekian saat kemudian, tenaga dalam tingkat ke
sembilan belas diubah menjadi hawa murni bersuhu
amat rendah telah terpusat di telapak tangan Pendekar Slebor. Perlahan tangan
kekar si pemuda mendekati
dada sebelah kanan Cempaka.
Andika terusik kembali. Hasrat mudanya beru-
saha memberontak dari dasar diri manakala telapak
tangannya mulai menyentuh 'benda padat' yang seha-
lus sutera dan kenyal menggoda. Perjuangannya kini
terpecah menjadi dua. Satu sisi dia harus tetap mem-
pertahankan hawa murni di telapak tangannya, sisi
lain dia harus melawan rontaan birahinya sendiri.
Dari seluruh pengalamannya di dunia persila-
tan, banyak sudah ujian-ujian berat selaku orang ksa-tria sejati dijalani pemuda
ini. Deraan dan siksaan za-hir terhebat bahkan pernah dialaminya berulang kali.
Tapi, dari semua itu, Andika tetap menganggap kalau
deraan batin justru lebih berbahaya. Rasa sakit bisa dia tahan. Tapi jika godaan
nafsu" Siapa pun bisa saja terpedaya. Andika menyadari itu.
Untuk itu, dia harus berjuang lebih keras da-
lam menyingkirkan godaan yang berakar di batin. Satu hal yang bisa membuatnya
dapat bertahan adalah rasa
terikatnya dia pada Sang Pencita.
Sadar pada hal tersebut, Pendekar Slebor pun
kemudian berusaha hanya mengingat segenap kuasa
Sang Khalik atas mayapada, semesta dan juga dirinya.
Usaha itu membawa hasil. Andika akhirnya
mampu mengembalikan kembali kendali dirinya. Keti-
ka itulah, terdengar suara desis halus berasal dari sen-tuhan telapak tangannya
dengan dada Cempaka. Hawa
murni sedingin inti es mengalir deras melalui serat-
serat tubuh si wanita.
Tak berapa lama kemudian, Cempaka pun mu-
lai siuman. Agak tersentak didapati dirinya dalam keadaan setengah terbuka.
Terlintas dalam pikirannya,
kalau anak muda yang berjuluk Pendekar Slebor beru-
saha melakukan kemesraan. Tapi dia kurang yakin,
mengingat bagaimana orang bercerita tentang Pende-
kar Slebor. Karena itu dia bertanya. Andika pun men-
jelaskan secara singkat.
Selesai melumpuhkan racun di tubuh Cempa-
ka, Andika melanjutkan usaha pertolongan pada diri
Buntaka. Sementara itu, Raja Kera Durjana telah tiba di


Pendekar Slebor 39 Pulau Kera di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sebuah celah karang besar berada yang membentuk
lorong panjang di tengah-tengah Pulau Kera.
Menurut potongan peta yang didapat dari Sun-
tara, dia harus memanjat sisi selatan dinding karang terjal itu. Di tengah-
tengah dinding karang sana, dia harus menemukan tonjolan batu berbentuk kera
sedang duduk. Jika batu itu digeser naik satu jengkal, maka akan tercipta gua
besar tepat di ubun-ubun
dinding karang sebelah utara.
Untuk masuk ke gua itu, Raja Kera Durjana tak
boleh turun kembali. Dia harus menyeberang langsung
dari satu belahan dinding ke dinding karang sebelah-
nya. Padahal jarak antara kedua dinding tersebut sekitar dua puluh lima tombak.
Jarak yang terlalu lebar, bahkan untuk seorang dengan kemampuan peringan
tubuh mendekati sempurna sekalipun.
"Aneh juga.... Kenapa tak boleh turun dahulu
untuk memanjat tebing di seberangnya?" gumam Raja Kera Durjana penasaran.
"Akrrh! peduli setan!" tandasnya kemudian.
Raja Kera Durjana pun mulai mencoba mencari
batu berbentuk kera di dinding selatan.
Mendaki dinding karang sebenarnya tak pernah
menjadi kesulitan untuk orang seperti Raja Kera Dur-
jana. Namun dinding karang yang satu ini bukan se-
perti dinding karang biasa. Di samping teramat terjal.
Juga di seluruh bagian dinding tumbuh lumut yang
menghasilkan lendir kehijauan. Karena lendir itu,
permukaan dinding karang menjadi demikian licin.
Mula-mula, Raja Kera Durjana mencoba me-
lenting-lenting dengan mencoba memanfaatkan bebe-
rapa tonjolan batu sebagai undakan. Tapi baru sekali saja, usahanya sudah gagal.
Kakinya bahkan tak berhasil menjejak dengan mantap ke satu tonjolan batu
yang cukup besar. Dia nyaris tergelincir dan memben-
tur tonjolan yang lain.
"Keparat! Ternyata tempat ini menyulitkan ju-
ga!" geramnya.
Terpikir olehnya untuk merayap sedikit demi
sedikit mencari batu yang dimaksud. Namun usaha itu
terhalang oleh terlampau licinnya permukaan dinding
karang. Raja Kera Durjana mendapat akal. Akan dike-
rahkannya tenaga dalam kedua tangannya. Dengan
cakar andalannya, tentu dia tak akan kesulitan me-
nembus permukaan karang. Dengan cara itu, dia bisa
merayap tanpa perlu tergelincir.
"Mhhhhrr, yeaahhh!"
Degh! "Benar-benar keparat! Benar-benar keparat!"
maki Raja Kera Durjana tak alang-kepalang gusar.
Ternyata dinding karang itu sama sekali tak tembus
oleh hantaman cakar andalannya. Hanya sebagian ke-
cil saja yang gugur. Tadinya Raja Kera Durjana mengi-ra tangannya akan dengan
mudah melesak ke dalam
karang. "Sekarang, bagaimana lagi aku harus mendaki tebing bedebah ini..."
Mata nyalang Raja Kera Durjana mengawasi
keadaan sekitarnya. Dua dinding karang saling berha-
dapan di sebelah utara dan selatan. Timbul pikiran barunya untuk memanfaatkan
keadaan itu. Dia akan
mendorong tubuh dengan kekuatan penuh dan penge-
rahan kemampuan peringan tubuh dari dinding yang
satu ke dinding yang lain. Dengan cara itu, dia tentu akan bisa sampai di
tengah-tengah dinding utara pada akhirnya.
Raja Kera Durjana menyeringai yakin. Pasti
dengan cara tersebut dia dapat mendekati batu ber-
bentuk kera! Raja Kera Durjana mulai mencoba. Dikerah-
kannya segenap kemampuan peringan tubuhnya un-
tuk berlari ke arah dinding sebelah selatan. Sebelah kakinya siap dijejakkan
kuat-kuat ke dinding tersebut.
Pantulan tubuhnya nanti akan dimanfaatkan untuk
menjejak dinding utara yang lebih tinggi. Dan begitu seterusnya sampai dia bisa
tiba di tengah dinding karang utara.
"Heeaaaa!"
Jleg! Wrrr! Lagi-lagi si manusia kera itu kecele. Pantulan
tubuhnya ternyata tak cukup kuat untuk sampai di
dinding sebelah utara. Apalagi untuk memantulkannya
kembali ke dinding selatan!
"Keparrraaattthhh!" geram bukan main hati si manusia kera ini. Perasaannya
campur aduk tak karuan. Sementara waktu terus bergulir. Dini hari kian mendekati
subuh. 10 Purwasih dan sisa murid Perguruan Kera Me-
rah tiba ketika Raja Kera Durjana sedang kebingungan untuk menundukkan dinding
karang. "Kau tak bisa memiliki apa-apa yang bukan
menjadi hakmu, Raja Kera Durjana!" seru Suntara lan-tang. Sebelumnya dia memang
terluka oleh Raja Kera
Durjana. Namun tampaknya, luka itu tak terlalu berar-ti. Meski khawatir kalau-
kalau dia pun terkena Racun Dewa Kera seperti Cempaka dan Buntaka, Suntara tetap
bersikeras untuk turut mengejar Raja Kera Durja-
na. Mereka kini berdiri berjajar di mulut lorong sebelah barat. Cara berdiri
mereka memperlihatkan ba-
gaimana kelima orang itu siap bertarung hidup-mati
dengan lawan. Bulan mengapung di angkasa, tepat di kepala
kelima orang itu, membuat tubuh mereka tak begitu
jelas dari arah depan. Mereka seolah lima bayangan
yang siap menjemput nyawa si manusia laknat.
"Kalian pikir, kalian akan dapat memiliki Mah-
kota Raja Kera"! He he nguk! Kalian salah duga! Telah berpuluh tahun aku
bersabar menunggu. Hari ini, tak
akan kubiarkan benda itu luput dari tangan-ku!" tegas Raja Kera Durjana padat
keangkuhan seorang sesat.
"Kami pun tak akan sudi membiarkan kau
mendapatkan benda mustika itu, Raja Kera Durjana!
Tidak untuk hari ini. Tidak untuk selamanya!" tandas Purwasih. Betapa dia merasa
mendapat tanggung jawab untuk menjalankan amanat yang dipikulnya,
meski nyawa harus terlempar dari raga.
Sebelum pergi menyusul Raja Kera Durjana,
Andika sudah menjelaskan tujuan kedatangan mereka
ke Pulau Kera, sesuai dengan pesan Ki Saptacakra.
Purwasih kini telah mengerti sepenuhnya. Hanya ada
yang masih belum dipahaminya. Menurut ucapan Ki
Saptacakra yang disampaikan melalui Andika, hanya
dirinya yang bisa mengambil benda mustika itu. Ba-
gaimana bisa begitu"
Raja Kera Durjana tak mau mengulur-ulur
waktu lebih lama. Keadaannya makin tak memungkin-
kan untuk bertele-tele. Waktu untuknya sudah demi-
kian menyempit. Dia tak mau kutukan yang menimpa
karena salah dalam menuntut ilmu menjadi tak dapat
dipulihkan. Yang lebih menakutkan lagi baginya, jika sampai subuh nanti dia tak
bisa mendapatkan Mahkota Raja Kera sebagai benda pemulihnya, maka ke-
mampuan berpikirnya akan dirusak oleh ajian berba-
haya yang dianutnya sendiri! Itu sama artinya dia benar-benar menjelma menjadi
kera besar. Tak beda
dengan orang utan!
Mendapati dirinya dalam keadaan di ujung tan-
duk, Raja Kera Durjana segera menghambur ke arah
Purwasih. Purwasih sendiri saat itu telah maju, lebih masuk ke dalam lorong di
antara dua dinding karang.
"Grrhhhhaaah!"
Dengan berjumpalitan tiga-empat kali di atas
tanah keras layaknya seekor monyet, Raja Kera Durja-
na mempersempit jarak dengan calon lawannya. Setiap
kali tangannya terjejak di tanah, cakar besar-nya menembus tanah bercampur
karang. Tahu dirinya dalam bahaya besar, Purwasih se-
gera mencabut pedang bergagang kepala naga yang tak
pernah lepas dari punggungnya itu. Pedang di tangan
si Naga Wanita memantulkan warna keperakan meski
cahaya bulan tak terlalu kuat.
Wukh! Trang! Menyambut sambaran cakar lawan, Purwasih
mengayunkan pedang besarnya ke depan. Terkaman
Raja Kera Durjana mendapat balasan satu babatan ta-
jam ke arah perut.
Raja Kera Durjana bukan anak kemarin sore.
Untuk kesaktian, malah si Naga Wanita berada bebe-
rapa tingkat di bawahnya. Lepas dari itu, Raja Kera
Durjana tak mau ambil resiko terhadap babatan mata
pedang lawan. Cepat dia menghempas tubuh ke bela-
kang kembali. "Kenapa kau mundur lagi, Monyet Sial?" ejek Purwasih. Tak tahu bagaimana, dia
secara tak sadar
seperti terbawa oleh sifat-sifat Pendekar Slebor saat bertarung. Wanita ini
memang salah seorang yang sering terlibat urusan bersama pendekar muda dari Lem-
bah Kutukan. Cara Pendekar Slebor mempermainkan
kemarahan lawan amat berkesan bagi Purwasih. Dan
tanpa sadar dia jadi ikut-ikutan. Khususnya dengan makian yang menyakitkan
telinga. "Kau bakal mampus! Grrhh!" Berkawal sumpah serapah kasar, Raja Kera Durjana
melempar tubuhnya
tinggi ke udara. Tubuhnya berguliran deras dengan
tubuh terlekuk dalam. Dengan cara itu, dia hendak
memperdayai si Naga Wanita. Saat lawan lengah men-
gikuti gerak tubuhnya, akan dilancarkannya ajian
'Cakar Kera Api' secara tak terduga saat cakarnya terhalang tubuh sendiri.
Si Naga Wanita tak mudah tertipu dengan per-
mainan licik lawan. Sebelumnya dia telah menyaksi-
kan kehebatan kesaktian lawan. Jadi, dengan cukup
mudah dia dapat menduga-duga maksud Raja Kera
Durjana. Sebelum cakar si manusia kera membersitkan
sepuluh galah api, Purwasih sudah lebih dahulu me-
mutar pedang besarnya bagai kincir angin raksasa.
Srrr! Wukh! Wukh!
Sambaran sepuluh galah api kesepuluh tempat
berbeda tak menghasilkan apa-apa. Tubuh bagian de-
pan Purwasih terlindungi oleh putaran pedang. Api
buatan Raja Kera Durjana pupus seketika ketika beru-
saha menembus benteng yang diciptakan si Naga Wa-
nita. Menyaksikan hal itu, Raja Kera Durjana lebih
meningkatkan serangan.
Tiba di tanah, tubuhnya langsung berguling
tangkas dan cepat menuju Purwasih. Memang, kejelian
mata manusia monyet itu menemukan celah lowong
yang tak terlindungi putaran pedang di bagian kaki si Naga Wanita.
Purwasih sebelumnya sibuk dengan terjangan
galah api. Dia tak menyadari kalau lawan sudah bera-
da begitu dekat dengan pertahanan terlemah di bagian
bawah tubuhnya.
Wush! Tatkala menyadari, semuanya sudah terlambat
bagi si Naga Wanita. Tanpa perlu tiba di dekat lawan, Raja Kera Durjana telah
melepas pukulan jarak jauhnya. Desh!
Purwasih memekik. Bagai dihempas lidah om-
bak raksasa, tubuhnya terlempar ke belakang lalu
menghantam dinding sebelah utara.
Bukan sekadar sesak yang melantak dada pen-
dekar wanita itu. Hampir seluruh jaringan tubuhnya
terasa remuk-redam. Pukulan jarak jauh lawan ditam-
bah hantaman langsung ke dinding karang jelas tak
berakibat ringan baginya.
Pedang besar di tangan kanannya terkulai di si-
si. Tangannya bahkan tak kuat lagi untuk menga-
cungkan senjatanya tersebut.
Ketika itulah ujung pedang Purwasih menyen-
tuh sesuatu yang ganjil. Purwasih merasa pedangnya
menjadi lebih berat. Ada tenaga tarikan lembut datang dari dasar dinding karang.
Dalam keadaan genting seperti itu, memang su-
lit bagi Purwasih untuk membagi perhatian. Apalagi
Raja Kera Durjana sudah menerjangnya kembali den-
gan satu terkaman. Karena itu rasa penasaran yang
terbetik sesaat di dirinya segera dienyahkan. Dia tak mau tubuhnya jadi makanan
empuk cakar maut lawan. Wukh!
Dengan menguras kelincahan, si Naga Wanita
melempar tubuh ke samping. Cakaran lawan lolos be-
gitu saja. Raja Kera Durjana memburu pendekar wanita
nan gagah itu terus. Cara bertarungnya sudah demi-
kian tak terkendali. Buas bagai binatang paling buas.
Dalam pertarungan saat itu, dia memang berada dalam
posisi mendesak. Namun dirinya sendiri justru dalam
posisi terdesak waktu. Dini hari kian mendekati sub-
uh, bagaimana dia jadi tak kalap"
Menyaksikan bagaimana Purwasih menjadi bu-
lan-bulanan, empat murid Perguruan Kera Merah tak
mau tinggal diam. Serentak mereka hendak mengham-
bur menyerbu Raja Kera Durjana.
"Tahan!" seru sebentuk suara.
Mereka menoleh berbarengan. Disaksikannya
Pendekar Slebor sedang berlari menuju mereka bersa-
ma Cempaka dan Buntaka.
"Kunyuk norak itu bagianku!" tambah Pendekar Slebor seraya melintas cepat empat
murid Perguruan
Kera Merah tadi.
"Tahan!" sebentuk suara yang lain justru menahan Pendekar Slebor untuk menyerang
Raja Kera Durjana. Andika langsung tahu warna suara yang diki-
rim dari jarak jauh tadi.
"Ada apa lagi sih, Ki Buyut"!"
Pendekar Slebor menghentikan langkah. Wa-
jahnya terlipat. Sebal sekali kalau buyut tengiknya selalu mencampuri urusan
'anak muda'. "Kunyuk norak itu bagianku!" tukas Ki Saptacakra, mengekori ucapan Andika
sebelumnya. "Kau sudah tua, Ki... tahu dirilah. Soal berta-
rung, serahkan saja pada yang muda...."
"Eee, raja kutil! Memangnya aku bilang aku
hendak bertarung dengannya" Wah, memalukan saja


Pendekar Slebor 39 Pulau Kera di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

aku buang-buang waktu bertarung dengan manusia
seperti dia. Kesaktiannya cuma bisa untuk lalapku sa-ja...." Andika mendengus.
Kalau tak salah, si keropos ini pernah menjitaknya karena berkata angkuh. Seka-
rang malah seenak udelnya saja dia menggembar-
gemborkan diri sendiri. Tengik juga kau, Ki Buyut,
maki Andika dalam hati. Mangkel dia.
"Jadi maksudmu apa?" tanya Andika, ingin lebih jelas maksud buyutnya.
Terdengar bisikan di telinga Pendekar Slebor.
Menyusul tawa tertahan-tahan anak muda itu. Ba-
hunya sampai terungkit-ungkit karena begitu mena-
han tawa. Apa yang dibisiki si Pendekar Lembah Kutu-
kan pada buyutnya"
Ah, Kakek buyut dengan cucu buyut memang
sama-sama brengsek!
Di belakang Pendekar Slebor, enam murid Per-
guruan Kera Merah terpana-pana menyaksikan ting-
kah pendekar muda kenamaan itu. Mereka sungguh
mati menyegani Andika selaku pendekar besar. Tapi
kalau melihat tingkahnya saat itu, mereka jadi ragu.
Apa benar anak muda berpakaian hijau-hijau itu yang
menghebohkan dunia persilatan dengan segala sepak
terjangnya" Jangan-jangan cuma pemuda sin-ting ter-
sasar! "Sekarang kau paham maksudku?"
"Paham, Ki Buyut! Paham!" sahut Pendekar
Slebor kegirangan. Entah apa yang ada dalam benak-
nya saat itu setelah mendengar bisikan Ki Saptacakra.
"He he he!" Ki Saptacakra terkekeh
"Hus!"
Di lain sisi, Purwasih mendelik-delik menyaksi-
kan tingkah tak karuan Andika. Kurang ajar sekali.
Dia sedang sungsang-sumbel menghadapi terjangan
membabi-buta Raja Kera Durjana, pemuda itu malah
enak-enak terkikik-kikik sendiri, umpatnya habis-
habisan dalam hati.
Saat itu, serangan yang dilancarkan Raja Kera
Durjana terhadap diri si pendekar wanita telah menca-
pai titik paling berbahaya. Kecepatannya telah di-
genjot demikian tinggi. Bagi si Naga Wanita yang ke-
mampuannya berada beberapa tingkat di bawah Raja
Kera Durjana, serangan lawan sudah seperti tangan
pencabut nyawa.
"Andika, pemuda sial-brengsek-tengik! Sedang
apa kau di sana! Bantu aku!" pekik Purwasih kelim-pungan. Nafasnya sudah
tersengal-sengal, nyaris putus. Keringat sudah membanjiri sekujur tubuh dan
pakaiannya. Pedangnya seolah sudah tak berguna lagi un-
tuk memperdayai sambaran-sambaran cakar Raja Kera
Durjana. "Sedikit lagi, Purwasih! Sedikit lagi!" Bukannya cepat-cepat membantu, Pendekar
Slebor malah berteriak-teriak dengan sebaris senyum lebar menyebalkan.
Senyum kuda tololnya terkatup rapat-rapat ke-
tika disaksikannya Purwasih terkena hantaman siku
Raja Kera Durjana.
"Ki Buyut, aku jadi tak tega juga sama Purwa-
sih.... Jangan-jangan, dia malah tak bisa bertahan,"
bisiknya. "Eh, iya... ya. Kenapa aku jadi pikun. Maklum-
lah aku sudah terlalu tua...."
"Jadi aku boleh membantu?"
"Eee, sudah kubilang dia bagianku...," gerutu suara Ki Saptacakra.
"Kalau begitu, tolong dia cepat!" koar Andika, tak sabar lagi. Dia sudah tak
tega berat pada keadaan saudara sepupu jauhnya itu.
"Alah kau... mentang-mentang sepupu jauhmu
itu cantik!"
Cukup sudah! Putus Andika dalam hati. Dia
sudah tak bisa membiarkan buyut slompretnya men-
gatur dirinya seenak perut.
Andika hendak maju. Tapi....
Tuk! Satu totokan menghentikan seluruh geraknya.
Tubuhnya kaku. Cuma mulut ceriwisnya saja yang
masih bisa ngalor-ngidul.
"Ki Buyut, apa yang kau lakukan"! Oiii, apa
yang kau lakukan"! Jangan sinting, ya! Jangan gila,
ya! Jangan edan, ya!!" caci makinya pun tersembur.
Ternyata, bukan Pendekar Slebor saja yang
mendapat totokan jarak jauh si tua bangka usil. Raja Kera Durjana pun mendadak
terdiam kaku pada saat
cakarnya tiga jengkal lagi mengoyak dada Purwasih.
Purwasih lega dadanya tak jadi ambrol. Tapi dia
juga bingung kenapa lawan tahu-tahu beku seperti
itu" Apa yang terjadi"
Yang dilanda kebingungan tentu saja tak cuma
Purwasih. Enam murid Perguruan Kera Merah ikut ter-
lolong-lolong. Mereka tak percaya. Mereka seperti dis-uguhkan mimpi aneh yang
membingungkan. Kekonyo-
lan macam apa yang sedang terjadi di depan mataku"
Begitu bisik hati masing-masing.
Mereka baru mulai mengendusi apa yang se-
sungguhnya terjadi ketika menyaksikan seseorang su-
dah nangkring di ubun-ubun dinding karang sebelah
utara, duduk uncang-uncang kaki sambil membersih-
kan kuku jempol kaki.
Dia tentu saja si tua Pendekar Lembah Kutu-
kan. "Hei, kunyuk...," tegurnya pada Raja Kera Durjana. "Kalau kau suka, aku
akan menghitung untuk-mu berapa lama lagi sisa waktumu untuk benar-benar
resmi menjadi kunyuk buduk berotak nyamuk," celo-tehnya asal bunyi.
Diliriknya bulan yang semakin jatuh di kaki
langit Kepalanya mengangguk-angguk "Bagaimana
kalau kutawari kau lima belas hitungan?"
Kemudian, Pendekar Lembah Kutukan pun mu-
lai menghitung. Pada hitungan ke sebelas, dia menoleh pada Purwasih.
"Hei, anak gadis! Jika kulepas lawanmu dari to-
tokan, apa kau siap menghadapinya lagi?"
Purwasih, meski terheran-heran dengan orang
tua di atas sana, mau-maunya mengangguki tawaran
tak ada juntrungan Pendekar Lembah Kutukan.
"Sekarang bersiaplah...," lanjut Ki Saptacakra setelah menyaksikan anggukan
samar Purwasih.
Tuk! Purwasih segera menghunus pedang besarnya
kembali, siap menyambut terkaman buas Raja Kera
Durjana. Namun, selanjutnya pendekar wanita itu
hanya bisa terpaku bodoh menyaksikan lawannya ma-
lah melompat-lompat kian kemari. Mulutnya ribut
memperdengarkan suara tak sedap...
"Auk... nguk... nguk auk...."
Purwasih makin terpana begitu menyaksikan
lawan meninggalkannya dengan santai sambil mengga-
ruk-garuk kepala.
Jadi, bagaimana dengan Mahkota Raja Kera.
Ternyata untuk masuk ke gua penyimpanan
benda mustika itu, hanya ada satu kunci pembuka.
Kunci itu adalah pedang bergagang kepala naga milik
Purwasih. Peta yang diberikan guru besar Perguruan
Kera Merah pada muridnya ternyata adalah peta palsu.
Sedangkan yang dititipkan pada Ki Saptacakra adalah
peta yang asli. Guru Perguruan Kera Merah rupanya
sudah menduga kalau murid-muridnya tak cukup
mampu menjaga peta asli dari incaran Raja Kera Dur-
jana. Itu sebabnya dia mempercayakan pada Ki Sapta-
cakara. Pedang bergagang naga sebagai kunci pembu-
ka ruang penyimpanan rahasia pun turut diserahkan.
Pedang itulah yang secara turun temurun akhirnya ja-
tuh ke tangan Purwasih.
Alhasil, tak ada batu berbentuk kera seperti da-
lam potongan peta yang direbut Raja Kera Durjana.
Yang ada justru lubang kecil berbentuk kepala naga
dan ukurannya teramat pas dengan gagang pedang mi-
lik Purwasih. Menurut petunjuk peta di tangan Purwa-
sih, untuk menemukan lubang pembuka itu, pedang
hanya didekatkan ke sekeliling dasar dinding karang
utara. Jika ada tarikan lembut, maka di sanalah letak lubang pembuka!
Tepat sekali dengan kejadian yang dialami Pur-
wasih sebelumnya....
Sayangnya, ketika pintu gua terbuka yang me-
reka temukan cuma kerangka seekor kera yang sudah
buluk! Di depannya terpampang papan bertuliskan....
Jadilah manusia! Jangan jadi kera!
Mereka semua melongo. Bahkan Ki Saptacakra
pun turut melongo.
Apa-apaan ini" Pikir Pendekar Slebor. Nyawa
beberapa orang telah dipertaruhkan untuk sampai ke
dalam gua. Sampai di sana mereka hanya menemukan
belulang seekor monyet"
Keterpanaan Pendekar Slebor dan yang lain di-
hentak ledakan tawa Ki Saptacakra.
"Kita semua telah dikerjai sahabat brengsekku
itu! Tentu jauh hari dia telah merencanakan semua ini sebelum hari kematiannya!"
ledak si tua tadi di antara gelombang tawanya.
"Maksudnya apa, Ki Buyut?" Andika masih belum mengerti.
"Otak ayam! Tentu saja dia hanya ingin meng-
hukum si kunyuk buduk bau pesing itu melalui tan-
gan salah seorang di antara kita!" papar Ki Saptacakra tak mau panjang lebar.
"Asal kalian tahu, cara menegakkan keadilan
terkadang aneh, terkadang sulit dimengerti!" tuntas si tua seraya minggat dari
tempat berdirinya dengan satu kelebatan saja.
SELESAI Segera hadir: TASBIH EMAS BIDADARI
Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: Fujidenkikagawa
Misteri Santet Iblis 1 Kedele Maut Karya Khu Lung Dendam Empu Bharada 19
^