Pencarian

Korban Ratu Pelangi 1

Pendekar Rajawali Sakti 72 Korban Ratu Pelangi Bagian 1


1 Cras! Glarrr...! Ledakan keras menggelegar, menggetarkan seluruh mayapada. Ledakan itu terjadi
mengikuti kilatan cahaya terang di langit yang menghitam, tertutup gumpalan awan
tebal. Beberapa kali kilat menyambar membelah angkasa, disertai ledakan guntur
yang menggelegar. Suaranya benar-benar memekakkan telinga. Angin pun bertiup
kencang, menebarkan udara dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Alam yang seakan sedang murka ini sama sekali tidak mengendurkan langkah seorang
pemuda. Dia berjalan tertatih-tatih menentang hembusan angin kencang. Kakinya
yang telanjang terus terayun perlahan-lahan meniti jalan kecil yang penuh dengan
kerikil tajam. Sama sekali tidak dipedulikan rasa nyeri pada kulit kakinya yang
pecah, tergores kerikil-kerikil sepanjang jalan setapak ini. Dan sedikit pun
tidak dipedulikannya ledakan guntur yang menggelegar atau kilatan cahaya petir
yang menyambar membelah angkasa. Dia terus berjalan perlahan-lahan dengan kepala
tertunduk, menekuri ayunan kakinya yang telanjang.
Cras! Glarrr...! Kembali kilat menyambar, disertai ledakan guntur yang sangat keras menggelegar.
Kepala pemuda itu mendongak sedikit ke atas, seakan-akan hendak menentang guntur
yang meledak mengejutkan itu.
Tampak jelas wajahnya yang cukup tampan. Dan, guratan-guratan jalan kehidupan
yang keras tersirat pada sorot matanya yang tajam. Hanya sesaat langkah kakinya
dihentikan, kemudian kembali berjalan perlahan-lahan. Sorot matanya tampak makin
terlihat tajam, tertuju lurus ke depan.
"Hm..."
Pemuda itu menggumam perlahan begitu sorot matanya menangkap bayang-bayang
sebuah bangunan tua. Tampaknya sebuah puri. Masih terlalu sukar baginya untuk bisa
melihat dengan jelas.
Jaraknya masih cukup jauh, sedangkan sekitar bangunan itu diselimuti kabut yang
cukup tebal. Bangunan itu hanya terlihat samar-samar.
Kembali pemuda itu berhenti melangkah setelah berada sekitar dua batang tombak
lagi dari bangunan berbentuk puri itu. Seluruh dindingnya terbuat dari tumpukan
batu persegi, dihiasi oleh berbagai macam ukiran kasar. Seluruh dinding batu itu
hampir tertutup oleh lumut cukup tebal. Sepi sekali sekelilingnya.
Sepertinya tak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Perlahan pemuda yang
mengenakan baju kumal penuh tambalan itu melangkah mendekatinya.
Sorot matanya masih tetap tajam, tertuju langsung ke arah bangunan puri yang
semakin dekat di depannya. Saat tinggal beberapa langkah lagi jarak-nya dari
puri itu, dia kembali berhenti. Tak terlihat ada satu pintu pun di puri ini.
Bahkan tidak ada satu pun jendela terlihat. Bangunan ini seperti hanya berupa
tumpukan batu-batu, seperti bukit. Sebentar pemuda berbaju kumal penuh tambalan
itu merayapi bangunan puri ini dari bawah sampai ke ujung atas, kemudian
pandangannya beredar ber-keliling.
"Oh...."
Pemuda itu terlongong ketika tiba-tiba dari atas puncak puri itu membersit
cahaya benderang yang menyilaukan mata. Alam sekitarnya yang gelap gulita
menjadi terang bagai tersiram cahaya mentari yang bersorot terik.
Dari lingkaran cahaya itu, tampak meluncur pelangi yang begitu indah, dengan
warnanya yang beraneka ragam. Ujung pelangi jatuh tepat di ujung kaki pemuda
berbaju kumal seperti gembel ini, seakan-akan menyambutnya agar naik ke atas
puri melalui pelangi itu. Sedangkan si pemuda masih juga terpesona, memandangi
lingkaran cahaya terang berkilau menyilaukan mata di atas puri.
"Oh...."
Pemuda itu kembali mendesah panjang ketika tiba-tiba dari lingkaran cahaya
terang itu terlihat satu bentuk bayangan tubuh yang sangat ramping dan indah.
Perlahan-lahan bayangan tubuh itu bergerak mengikuti alur pelangi yang
melengkung turun ke bawah. Dan, bayangan ramping itu semakin lama semakin
terlihat jelas, membuat kedua bola mata pemuda itu tidak berkedip memandangnya.
"Oh! Apakah aku bermimpi...?" desah pemuda itu tidak percaya dengan pandangannya
sendiri. Memang sukar dipercaya. Seorang wanita yang sangat cantik rupawan kini sudah
berada dekat sekali. Baju yang dikenakannya begitu indah, terbuat dari bahan
sangat tipis. Sehingga, lekuk-lekuk tubuhnya begitu jelas terlihat. Akibatnya
mata pemuda itu semakin lebar tak berkedip memandanginya. Seakan-akan dia sedang
berhadapan dengan seorang dewi yang baru turun dari kayangan.
Bibir yang memerah indah bergerak lembut menyunggingkan senyuman yang sangat
menawan, membuat jakun pemuda itu bergerak turun naik.
Aroma harum langsung menyeruak merangsang hidung, saat wanita itu menggerakkan
tangannya. Pemuda itu langsung gemetar begitu jari-jari tangan yang lentik dan halus
rnenyentuhnya. Seketika itu juga kesadarannya langsung lenyap. Dia tidak tahu
lagi, apa yang mesti dilakukannya.
"Apa yang kau inginkan sampai datang ke tempat-ku ini, Jaka Gembel?" Lembut
sekali suara wanita itu.
"Aku... aku..." Pemuda yang dipanggil Jaka Gembel itu tergagap, tidak bisa
menjawab pertanyaan wanita cantik bagai bidadari itu.
Keajaiban yang tertadi di depan matanya ini benar-benar membuatnya jadi tergagap
setengah mati. Sukar untuk bisa menjawab pertanyaan yang dikeluarkan dengan nada yang sangat
lembut itu. Beberapa kali Jaka Gembel harus menelan ludahnya, membasahi tenggorokannya yang
mendadak terasa kering, bagai berada di sebuah padang pasir yang teramat panas
dan gersang. Wanita itu hanya tersenyum. Dia semakin dekat saja, membuat detak jantung Jaka
Gembel semakin menggemuruh. Jaka Gembel tidak bisa lagi berbuat apa pun ketika
jari-jari tangan yang halus dan lentik itu menggenggam tangannya dengan lembut.
Kakinya terayun melangkah mengikuti wanita cantik itu menyusuri cahaya pelangi
yang melengkung naik ke atas puri. Seluruh tubuhnya langsung terselimut cahaya
terang benderang yang berkabut tebal.
Tangannya terus digenggam erat wanita cantik yang berjalan di depannya.
Dan, ketika sampai di puncak puri, tiba-tiba saja tubuh mereka lenyap, bersamaan
dengan lenyapnya cahaya terang dan pelangi itu. Alam sekitar puri
kembali gelap gulita. Awan tebal menghitam masih bergulung-gulung. Sesekali
terbersit cahaya kilat disertai ledakan guntur yang membelah angkasa.
Sedangkan pemuda yang mengenakan baju kumal seperti Gembel itu sudah lenyap
bersama wanita cantik bagai bidadari tadi.
*** Waktu berjalan begitu cepat. Hari berganti hari.
Bulan pun berganti bulan. Lenyapnya Jaka Gembel dari Kadipaten Kuring sama
sekali tidak dipedulikan oleh seluruh penduduk. Bahkan mereka merasa lega,
karena tidak terganggu lagi dengan kehadiran pemuda gembel itu. Roda kehidupan
di desa ini berjalan seperti biasanya, meskipun bukan Jaka Gembel saja pengemis
yang ada disana.
Memang para gelandangan tidak mendapat
tempat di Kadipaten Kuring. Mereka bagaikan se-kumpulan sampah yang mengotori
Kadipaten itu. Sehingga, hilangnya satu orang gelandangan seperti Jaka Gembel tidak akan
mendapat perhatian sama sekali.
Hari itu suasana di Kadipaten Kuring lain dari biasanya. Di setiap pelosok
kadipaten itu terpasang umbul-umbul yang membuat suasana menjadi begitu semarak.
Seluruh penduduk tumpah ruah di jalan-jalan yang dipenuhi oleh hiasan berwarna-
warni. Tak tampak sedikit pun wajah duka. Yang ada hanyalah wajah-wajah cerah
penuh keceriaan. Hari itu memang merupakan hari istimewa bagi seluruh penduduk
Kadipaten Kuring.
"Minggir...! Minggir...!"
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan keras. Orang-
orang yang memadati jalan berserabutan menyingkir, bersamaan dengan melintasnya
beberapa ekor kuda yang ditunggangi orang-orang berpakaian seragam prajurit. Di
belakang para prajurit berkuda itu terlihat sebuah kereta yang ditarik delapan
ekor kuda putih.
Dan dua puluh gadis-gadis cantik mengiringi kereta kuda yang sangat indah itu.
Di belakangnya lagi, tampak satu pasukan prajurit berjalan kaki. Kemudian
disusul oleh tiga puluh orang prajurit berkuda.
Semua orang kini berdiri berjajar dengan pandangan mata tertuju pada kereta kuda
indah yang dikawal puluhan prajurit dan diiringi gadis dayang yang cantik-cantik
dan masih berusia muda itu. Di dalam kereta tampak duduk seorang wanita berwajah
cantik bagai bidadari, mengenakan baju dari bahan sutera halus yang sangat indah
gemerlapan. Namun, wajahnya begitu mendung. Tak ada senyum sedikit pun
tersungging di bibirnya yang merah merekah.
Iring-iringan itu terus bergerak menuju sebuah bangunan besar dan megah, yang
dikelilingi pagar tembok tinggi dan tebal. Inilah bangunan istana kadipatenan
yang sangat megah, dengan dihiasi aneka ragam hiasan dan umbul-umbul. Puluhan
prajurit bersenjata lengkap terlihat berjaga-jaga di sekeliling istana itu.
Pintu gerbang langsung dibuka begitu iring-iringan hampir memasukinya. Suara
gamelan terdengar bertalu-talu, membuat suasana di Kadipaten Kuring semakin
bertambah semarak.
Bukan hanya di luar benteng istana, tapi di dalam benteng istana ini pun penuh
dengan orang yang ingin melihat putri cantik itu.
Iring-iringan baru berhenti setelah sampai di depan tangga bangunan istana yang
sangat megah dan indah ini, yang tidak kalah megahnya dengan istana
kerajaan. Paturakan memang sebuah kadipaten yang besar dan kaya. Tampak seorang
laki-laki separuh baya berdiri tegak di ujung atas tangga istana, dikawal tiga
puluh prajurit dan gadis-gadis dayang yang cantik. Pakaiannya yang indah
gemerlap menonjol di antara begitu banyak orang memadati halaman depan istana
kadipatenan. Laki-laki itu adalah Adipati Paturakan.
Sementara itu dari dalam kereta kencana muncul gadis berpakaian indah tadi
dengan wajah yang cantik bagai rembulan bersinar penuh.
"Selamat datang di Kadipaten Kuring, Dinda Ayu Dewi Winarti....'' sambut Adipati
Arya Paturakan, dengan sikap yang ramah sekali.
Gadis cantik yang baru turun dari kereta kencana itu tersenyum. Dengan ayunan
kaki yang anggun sekali, dia melangkah meniti anak-anak tangga istana, diiringi
oleh dayangnya. Walaupun wajahnya tampak begitu cantik, kabut mendung yang me-
nyelimutinya sangat jelas terlihat. Tapi, mendung itu tetap tidak membuat
kecantikannya memudar sedikit pun.
"Mari, silakan masuk. Kami semua sudah lama menunggu kedatanganmu, Dinda Ayu
Dewi...," sambut Adipati Arya Paturakan lagi.
"Terima kasih," balas Ayu Dewi Winarti, tanpa basa-basi.
Suaranya terdengar lembut dan perlahan sekali, bahkan hampir tidak terdengar di
telinga. Dengan ayunan langkah yang lembut, dia terus berialan masuk ke dalam
istana kadipatenan, diiringi Adipati Arya Paturakan. Semua dayang terus
mengiringinya. Di dalam sebuah ruang yang sangat luas, yang ditata dengan indah, sudah
berkumpul para pem-
besar kadipaten serta tamu undangan yang terdiri dari para saudagar dan
pembesar-pembesar kadipaten lain. Dengan sikap yang agak angkuh, Adipati
Patarukan melangkah tegap di samping Ayu Dewi Winarti. Mereka berjalan diiringi
puluhan pasangan mata yang memandanginya sampai di kursi singgasana yang sangat
megah. Kemudian keduanya duduk berdampingan sementara itu. suara gamelan masih
terdengar mengalun lembut, membuat suasana di bangsal agung itu terasa begitu
khidmat. "Kau lihat, Dinda. Mereka semua begitu kagum dan memuji kecantikanmu. Rasanya
aku benar-benar mendapat kehormatan bisa berdampingan denganmu," kata Adipati
Paturakan. "Hm..."
Ayu Dewi Winarti hanya tersenyum tipis. Sama sekali dia tidak merasa senang,
meskipun semua mata mengagumi kecantikannya. Bahkan raut wajahnya makin terlihat
bertambah mendung. Sebentar dia melirik pada laki-laki separuh baya yang duduk
di sampingnya. Kemudian dia bangkit berdiri, melangkah meninggalkan ruangan itu,
tanpa bicara sedikit pun.
Sikap Ayu Dewi Winarti yang kelihatan aneh membuat Adipati Arya Paturakan
terheran-heran. Tapi dia menutupi keheranannya, karena tidak ingin tamu-tamu
undangannya terpengaruh oleh sikap Ayu Dewi Winarti itu, yang tampaknya tidak
menyenangi suasana penyambutan yang meriah ini. Cepat-cepat Adipati Paturakan
bangkit berdiri.
"Maaf. Kalian terus saja berpesta," kata Adipati Arya Paturakan.
Bergegas dia melangkah menyusul Ayu Dewi
Winarti yang sudah menghilang dari ruangan bangsal
agung ini. Bisik-bisik pun mulai terdengar begitu Adipati Arya Paturakan tidak
terlihat lagi di dalam ruangan.
*** "Sikapmu sudah keterlaluan, Ayu Dewi. Kau sudah mencoreng mukaku di depan
sahabat-sahabatku!"
Adipati Arya Paturakan, dengan suara agak mendesis.
"Seharusnya kau malu pada dirimu sendiri, Gusti Adipati," ujar Ayu Dewi Winarti,
sinis. Gadis itu tetap berdiri tegak menghadap ke jendela, membelakangi laki-laki
separuh baya penguasa Kadipaten Kuring ini. Tak ada seorang pun selain mereka
berdua di dalam kamar yang berukuran cukup luas ini. Sementara itu suara gamelan
masih terdengar mengalun lembut, mengiringi pesta yang berlangsung di balai
agung istana kadipaten ini.
Bahkan pesta itu juga berlangsung di seluruh pelosok kota kadipaten, semuanya
turut menyambut kedatangan Ayu Dewi Winarti
"Malu..." Apa yang kau bicarakan, Ayu...?" agak keras suara Adipati Paturakan.
"Seharusnya kau sudah bisa mengetahuinya, Gusti Adpati."
"Huh! Kau semakin membuatku kesal saja, Ayu,"
dengus Adipati Paturakan. "Katakan, apa sebenarnya yang kau inginkan...?"
Ayu Dewi Winarti tidak langsung menjawab. Dia memutar tubuhnya. Bibirnya yang
selalu tampak merah menyunggingkan senyuman tipis yang sinis sekali. Sinar
matanya sangat tajam, menusuk langsung ke bola mata laki-laki separuh baya yang
berdiri tidak seberapa jauh di depannya itu.
"Aku sudah memenuhi janjiku untuk datang ke sini, Gusti Adipati. Tapi kau belum
juga memenuhi janjimu. Seharusnya bukan kemeriahan ini yang kau berikan untuk
menyambutku. Aku menginginkan sambutan dari kakakku. Kau sudah berjanji membawa
kakakku sesampainya aku di sini." ujar Ayu Dewi Winarti dengan nada suara yang
tegas sekali. "Kau terlalu mengada-ada, Ayu...." desis Adipati Paturakan.
"Mengada-ada..." Justru kau yang mengada-ada, Gusti Adipati. Aku rela menjadi
istrimu, asal kau bisa menemukan kakakku kembali," tegas Ayu Dewi Winarti lagi.
"Mustahil! Mana mungkin aku bisa menemukan orang yang sudah tahunan
menghilang...?"
"Tapi kau sudah berjanji, Gusti. Kau sudah berjanji untuk menemukan kakakku.
Hanya itulah perminta-anku, sebelum dipersunting. Kau harus ingat dengan janjimu
sendiri, Gusti Adipati.''
"Edan...!" dengus Adipati Paturakan sengit.
Wajahnya memberengut kesal. Sedangkan Ayu Dewi Winarti hanya tersenyum kecil
memandang laki-laki separuh baya yang pantas menjadi ayahnya itu.
Diiringi pandangan mata bernada sinis dari gadis cantik itu, Adipati Paturakan
melangkah ke luar tanpa berkata apa-apa lagi. Dengan perasaan yang sangat kesal,
dibantingnya pintu kamar hingga tertutup rapat. Ayu Dewi Winarti tetap saja
tersenyum tipis sambil duduk di tepi pembaringan yang beralaskan kain sutera
halus berwarna merah muda.
"Ayu..."
"Oh...!"
Ayu Dewi Winarti tersentak kaget. Suara yang halus dan lembut sekali memanggil
namanya. Cepat dia bangkit berdiri dan memutar tubuhnya memandang ke arah jendela. Tapi, tak
terlihat seorang pun di sana. Perlahan kakinya melangkah mendekati jendela yang
sejak tadi terbuka lebar. tapi tetap saja tidak melihat ada seorang pun di luar
jendela ini. "Ayu...."
Kembali terdengar bisikan yang halus sekali. Gadis itu cepat-cepat memutar
tubuhnya. Dan, dia jadi terbeliak. Ternyata tiba-tiba saja di dalam kamar ini
sudah ada seseorang yang berdiri membelakanginya.
Hampir dia terpekik kalau saja orang itu tidak segera memutar tubuhnya berbalik
menghadapnya. Ayu Dewi Winarti cepat-cepat menutup mulutnya, agar pekikan-nya


Pendekar Rajawali Sakti 72 Korban Ratu Pelangi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tidak terdengar ke luar.
Sosok tubuh itu begitu mengerikan, bungkuk, dengan tonjolan dipunggungnya.
Sedangkan wajahnya yang hampir penuh tertutup rambut kelihatan kotor dan buruk
sekali. Kulitnya hitam legam seperti arang kayu. Sebagian bibir atasnya tampak
menge-lupas, sehingga memperlihatkan baris-baris gigi yang hitam dan tidak
beraturan letaknya.
Dia mengenakan baju kumal yang sangat kotor dan penuh tambalan. Sebatang tongkat
kayu berwarna hitam tergenggam di tangan kanannya, menyangga tubuhnya yang
bungkuk. Beberapa saat Ayu Dewi Winarti merayapi sosok tubuh yang bentuknya
sangat mengerikan itu. Tapi, dia langsung menyadari bahwa laki-laki buruk rupa
dan bungkuk itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Terbukti dari
kemunculannya yang sama sekali tidak diketahui.
"Siapa kau...?" tanya Ayu Dewi Winarti, dengan suara bergetar.
"Orang-orang selalu memanggilku si Gembel Bungkuk," sahut laki-laki tua itu.
Suaranya terdengar sangat kering dan serak.
Begitu datar. Tak ada sedikit pun tekanan pada nada suaranya. Ayu Dewi Winarti
harus menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa
kering, begitu mendengar nada suara laki-laki tua bertubuh aneh ini.
"Mau apa kau berada di sini?" tanya Ayu Dewi Winarti lagi, setelah kekuatan yang
ada pada dirlnya kembali terkumpul.
"Aku tahu kesulitan yang sedang kau hadapi, Ayu.
Apa yang kau hadapi tidak jauh berbeda dengan yang sedang aku hadapi sekarang
ini. Kita sama-sama sedang menghadapi seorang manusia berhati iblis, manusia
serakah yang hatinya sudah terbalut oleh nafsu-nafsu iblis dan
keangkaramurkaan," kata si Gembel Bungkuk itu.
Kali ini terdengar ada sedikit tekanan dari nada suaranya. Sepertinya dia
menyimpan sesuatu di dalam hatinya. Sesuatu yang sangat menekan dan mengganjal
relung hatinya yang paling dalam. Ayu Dewi Winarti bisa merasakan kegundahan
hati laki-laki buruk rupa bertubuh bungkuk ini.
"Aku..., aku tidak tahu apa maksudmu, Ki..,"ujar Ayu Winarti masih dengan suara
yang agak tergagap.
Si Gembel Bungkuk hanya tersenyum. Tapi, bagi Ayu Dewi Winarti, senyuman itu
seperti sebuah seringai yang sangat mengerikan, yang membuat bulu-bulu halus di
tengkuknya meremang berdiri. Dan, untuk beberapa saat mereka terdiam, membuat
suasana di dalam kamar yang berukuran cukup luas dan indah ini terasa sunyi
sekali. *** 2 Laki-laki tua buruk rupa bertubuh bungkuk itu melangkah perlahan dan agak
terseret mendekati Ayu Dewi Winarti. Sedangkan gadis cantik itu hanya diam saja,
berdiri tegak membelakangi jendela. Dirayapinya setiap gerak yang dilakukan si
Gembel Bungkuk. Kini jarak mereka tinggal sekitar empat langkah. Begitu
dekatnya, sehingga Ayu Dewi Winarti dapat melihat jelas rupa wajah laki-laki
itu. "Aku tahu, di mana kakak dan kedua orang tuamu, Ayu. Penyerahan dirimu pada
Adipati Paturakan hanyalah perbuatan sia-sia. Kau tidak akan dapat bertemu lagi
dengan kakak dan orang tuamu," kata si Gembel Bungkuk, dengan nada suara agak
dalam. "Kau..., kau tahu...?" Ayu Dewi Winarti hampir tidak percaya dengan
pendengarannya.
"Ya, aku tahu. Bahkan aku juga tahu di mana anak angkatku berada. Tapi..." si
Gembel Bungkuk tidak meneruskan kata-katanya.
"Anak angkatmu...?" Ayu Dewi Winarti mengerutkan keningnya.
Tatapan matanya semakin dalam menembus
langsung ke bola mata laki-laki tua yang buruk dan bungkuk ini. Dia melihat ada
kesenduan pada bola mata yang berselimut kabut itu. Meskipun bentuk tubuh dan
wajahnya sangat buruk, terlihat ada kelembutan pada hati si Gembel Bungkuk ini.
Bahkan kedukaan hatinya begitu nyata tersirat pada sorot matanya yang agak
memerah. "Aku memiliki banyak anak angkat. Beberapa hari
ini, mereka menghilang tanpa ketahuan rimbanya.
Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, ketika Kadipaten ini masih
dipimpin oleh Gusti Adipati Bayangkala. Sekarang semuanya berubah, setelah
Paturakan merebut kadipaten dan mengangkat dirinya menjadi adipati...," kata si
Gembel Bungkuk bernada agak kesal.
Ayu Dewi Winarti diam saja. Dia kemudian duduk di kursi yang ada di samping
jedela kamar. Sedangkan si Gembel Bungkuk masih tetap berdiri, ber-sandar di
pinggiran jendela. Sesekali matanya menatap ke luar melalui jendela yang tetap
dibiarkan terbuka lebar itu
"Kita harus menyingkirkan adipati iblis itu, Ayu."
"Tapi, bagaimana caranya..." Dia terlalu kuat.
Kesaktiannya tidak tertandingi. Ayah dan kakakku saja dapat dikalahkannya. Dan
entah di mana dan bagaimana nasib mereka sekarang," kata Ayu Dewi Winarti.
"Itulah persoalannya, Ayu. Aku sendiri tidak mungkin bisa menandingi
kesaktiannya. Dia terlalu tangguh untuk dilawan. Sedangkan setiap hari anak-anak
angkatku pasti ada yang hilang entah ke mana.
Aku yakin, kalau semua pengemis di kadipaten ini sudah habis, pasti para
penduduk yang menjadi sasarannya. Bahkan, bukan tidak mungkin, para pembesar
kadipaten pun akan mendapat giliran."
"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Ayu Dewi Winarti kebingungan."
"Kau harus tetap pada pendirianmu sekarang ini, Ayu. Jaga jangan sampai dia bisa
menyentuhmu. Tampaknya dia tidak akan menyentuhmu kalau kau tetap menolak dan tetap bertahan
pada pengajuan syaratmu," tegas si Gembel Bungkuk.
"Sampai kapan?"
Si Gembel Bungkuk tidak bisa menjawab. Memang sulit menjawab pertanyaan gadis
cantik ini. Karena dia juga tidak tahu, kapan Kadipaten Kuring bisa terbebas
dari cengkeraman Adipati Paturakan. Sampai sekarang ini, sifat-sifat iblisnya
belum lagi tampak.
Masih banyak orang yang mengelu-elukannya. Inilah yang membingungkan si Gembel
Bungkuk. Kehadiran Adipati Paturakan tampaknya disenangi oleh seluruh rakyat
kadipaten ini. Pada saat itu terdengar ketukan di pintu. Si Gembel Bungkuk dan Ayu Dewi Winarti
langsung menoleh ke arah pintu. Sebentar kemudian mereka saling melempar
pandang. "Aku pergi dulu, Ayu. Ingat, jangan sampai seorang pun tahu aku ke sini. Aku
pasti akan menjagamu,"
kata si Gembel Bungkuk berbisik.
Belum lagi Ayu Dewi Winarti sempat membuka suara, si Gembel Bungkuk sudah
melesat cepat, ke luar dari dalam kamar. Ketukan pada pintu kembali terdengar
beberapa kali. Bergegas Ayu Dewi Winarti menghampiri pintu dan membukanya
sedikit, setelah yakin bahwa si Gembel Bungkuk sudah tidak ada lagi di dalam
kamar ini. Tampak empat orang gadis dayang berdiri di depan pintu. Mereka
memberi sembah dengan sikap yang hormat sekali.
"Ada apa?" tanya Ayu Dewi Winarti
"Kami diperintah untuk menemani Gusti Ayu di sini," sahut salah seorang gadis
dayang. Ayu Dewi Winarti tidak menjawab sedikit pun. Dia berbalik dan melangkah,
membiarkan pintu tetap terbuka. Dayang-dayang itu bergegas masuk ke dalam kamar,
kemudian menutup pintunya kembali. Ayu Dewi Winarti pun kemudian merebahkan
tubuhnya di atas pembaringan. Dan, keempat gadis dayang itu duduk bersimpuh di lantai, tanpa
berbicara sedikit pun.
Pesta yang berlangsung di ruangan balai agung Istana Kadipaten Kuring berakhir
saat hari sudah menjelang tengah malam. Di dalam ruangan yang sangat besar dan
indah itu, Adipati Paturakan masih tetap duduk di singgasananya, ditemani dua
orang laki-laki berusia sebaya dengannya. Dari pakaian dan senjata yang
tersandang, bisa dipastikan kalau mereka bukan orang-orang sembarangan. Paling
tidak, mereka memiliki tingkat kedigdayaan yang tinggi.
Suasana di dalam ruangan balai agung tampak sunyi sepi. Tak terdengar suara
sedikit pun. Hanya desiran angin yang terdengar merasuk dari celah-celah jendela
yang sudah tertutup. Tampak beberapa orang berseragam prajurit berjaga-jaga di
setiap pintu ruangan balai agung ini.
"Rasanya semua yang aku lakukan sia-sia saja...,"
desah Adipati Paturakan bernada mengeluh.
"Tidak ada yang sia-sia, Kakang Paturakan," ujar salah seorang, yang mengenakan
baju hitam ketat.
Wajah lelaki itu agak kasar, dengan kumis tebal menghiasi bibirnya yang juga
tebal. Sinar matanya begitu tajam dan memerah. Dipinggangnya terlilit seutas
rantai baja hitam, dengan tiga buah bola baja hitam pada bagian ujungnya. Oleh
sebab itu julukan-nya adalah Iblis Rantai Baja.
Sedangkan yang seorang lagi mengenakan baju warna merah menyala. Di tangan
kanannya tergenggam sebuah tongkat pendek, yang bagian tengahnya dilingkari
cincin berwarna emas berbentuk seekor ular. Raut wajahnya masih ketihatan tampan
dan gagah, meskipun sebagian rambutnya sudah memutih. Bibirnya yang merah
seperti wanita tidak pernah terlepas dari senyuman. Namun, sorot matanya yang
tajam tampak mencerminkan watak ke-bengisan. Yang satu ini dikenal sebagai si
Tongkat Merah Samber Nyawa.
Kedua-duanya pengikut setia Adipati Paturakan.
Mereka akan mengikuti ke mana pun Adipati Paturakan pergi. Bahkan, mereka sudah
men-dampinginya sebelum Paturakan yang lebih dikenal dengan julukan si Tangan
Api itu menguasai Kadipaten Kuring. Dan, di kadipaten ini, sepak terjang mereka
belum diketahui siapa pun. Sehingga, ketika mereka menggulingkan Adipati
Bayangkala, lalu menguasai kadipaten ini, seluruh rakyat dan pembesar kadipaten
menyambutnya dengan gembira.
Adipati Bayangkala memang dikenal sebagai penguasa yang selalu memerintah dengan
tangan besi. Ia lebih mementingkan diri sendiri daripada memperhatikan
kesejahteraan rakyatnya.
"Sampai saat ini aku belum bisa melunakkan hati Ayu Dewi Winarti. Dia tetap saja
menuntut agar di-pertemukan dengan kakaknya," kata Adipati Paturakan lagi,
dengan suara yang masih terdengar pelahan.
"Jangan terlalu terpikat pada kecantikannya, Kakang. Ini bisa menyulitkan kita
semua," kata Tongkat Merah Samber Nyawa mengingatkan.
"Dia memang cantik, Tongkat Merah. Rasanya tidak ada seorang gadis pun di
mayapada ini yang bisa menandingi kecantikannya. Hhhh.... Sudah cukup lama aku
merencanakan semua ini. Tapi setelah bisa tercapai, dia malah mengajukan syarat
yang tidak mungkin bisa kupenuhi," ujar Adipati
Paturakan, masih saja mengeluh.
"Katakan saja kalau kakaknya sudah mati, Kakang," usul Iblis Rantai Baja.
"Kalau aku katakan begitu, dia ingin melihat mayatnya. Bagaimana mungkin aku
bisa menunjuk-kannya, Rantai Baja" Sedangkan kalian semua tahu sendiri...."
Iblis Rantai Baja dan Tongkat Merah Samber Nyawa terdiam saja. Memang tidak
mudah me-mecahkan masalah yang sedang dihadapi si Tangan Api ini. Mereka semua
tahu, syarat yang diajukan Ayu Dewi Winarti tidak mungkin bisa dipenuhi. Tidak
mungkin mereka bisa membawa orang tua dan kakak gadis itu ke istana kadipaten
ini. "Apakah tidak ada cara lain untuk menakluk-kannya, Kakang Paturakan?" tanya
Iblis Rantai Baja.
"Sudah seribu cara kugunakan. Dia tetap saja kuat pada pendiriannya," sahut
Adipati Paturakan.
"Lalu...?"
"Aku tidak tahu lagi, apa yang harus kulakukan."
"Kenapa kau tidak temui saja Ratu Pelangi Maut, Kakang?" usul Tongkat Merah
Samber Nyawa. "Edan...! Apa yang harus aku katakan padanya...?"
sungut Adipati Paturakan.
"Katakan saja apa adanya, Aku yakin, dia pasti mau mengerti dan bisa membantumu.
Seperti ketika kita merebut kadipaten ini, Kakang."
"Huh! Perempuan itu pasti meminta syarat lebih berat lagi," dengus Adipati
Paturakan. "Selama masih bisa kita penuhi, tidak ada salah-nya meminta tolong dia lagi. Toh
apa saja yang diperlukan, semuanya tersedia di sini. Dan harus diingat Kakang.
Kau sekarang seorang adipati. Jadi bisa memerintahkan apa saja yang kau inginkan
di sini." tegas Tongkat Merah Samber Nyawa lagi.
Adipati Paturakan jadi terdiam membisu. Keningnya berkerut dalam sekali.
Pandangannya mene-rawang lurus ke depan. Perlahan dia bangkit dari kursi
singgasananya. Kakinya terayun melangkah pelan-pelan mendekati sebuah jendela
tidak jauh dari singgasana itu. Dibukanya jendela lebar-lebar, sehingga angin
malam yang cukup dingin menerobos masuk menerpa kulit wajahnya.
Beberapa saat lamanya Adipati Paturakan berdiri mematung dan membisu di depan
jendela. Sedangkan dua orang pengikut setianya tetap duduk di kursinya. Mereka
tidak berkedip memandangi laki-laki separuh baya yang masih kelihatan gagah itu.
Sambil menghembuskan napas panjang, Adipati Paturakan memutar tubuhnya,
membelakangi jendela yang dibiarkan tetap terbuka lebar. Dipandanginya wajah dua
orang pengikut setianya secara bergantian. Dan dia masih tetap diam membisu
untuk beberapa saat.
"Baiklah.... Aku akan pergi sendiri sekarang juga ke Gunung Tambur. Dan kalian
tetap berada di sini, selama aku pergi," ujar Adipati Paturakan setetah cukup
lama berdiam diri
"Kenapa tidak besok pagi saja, Kakang?" ujar Iblis Rantai Baja memberi saran.
Adipati Paturakan hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Kemudian dia melangkah
agak cepat ke luar dari ruangan balai agung itu. Iblis Rantai Baja dan Tongkat
Merah Samber Nyawa bergegas mengikuti. Mereka tidak bisa lagi mencegah keinginan
si Tangan Api untuk segera pergi menemui Ratu Pelangi Maut di puncak Gunung
Tambur, malam ini juga.
*** "Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"
Adipati Paturakan memacu kudanya dengan cepat, meninggalkan istana Kadipaten
Kuring. Sementara, malam sudah larut sekali. Hanya beberapa orang saja yang
masih terlihat berada diluar. Dan mereka tidak menyadari bahwa orang yang
berkuda seperti dikejar setan itu adalah Adipati Paturakan.
Malam yang gelap dan menggigilkan ini sama sekali tidak dihiraukan laki-laki
separuh baya yang dikenal dengan julukan si Tangan Api itu. Dia terus memacu
kudanya dengan cepat, menuju ke perbatasan kota sebelah utara. Sedikit pun dia
tidak mengendorkan lari kudanya saat melewati gerbang perbatasan yang dijaga
oleh empat prajurit bersejata tombak. Keempat prajurit itu hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepala ketika mengenali si penunggang kuda yang seperti
kesetanan itu adalah Adipati Paturakan.
"Hiya! Hiya! Hiyaaaa...!"
Adipati Paturakan terus menggebah kudanya agar berlari lebih cepat lagi begitu
berada di luar kota.
Jalan yang dilalui semakin sepi saja. Bahkan tak ada lagi satu rumah pun yang
tertihat. Di kanan kiri hanya pepohonan lebat yang menghitam pekat. Memang,
malam ini bulan tidak muncul dengan penuh. Bahkan langit tampak agak kelam,
terselimut awan yang juga menghitam cukup pekat. Bintang-bintang di angkasa pun
tidak tampak memancarkan cahayanya yang gemerlap.
"Hieeeh...!"
"Tiba-tiba saja kuda yang ditunggangi Adipati Paturakan meringkik keras, sambil
mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Kuda putih
bertubuh tegap itu langsung berhenti berlari seketika, membuat Adipati Paturakan
terkejut setengah mati.
Cepat-cepat dia melentingkan tubuhnya ke udara, hingga tidak sempat terlontar
dari punggung kuda itu.
Dan, begitu dia menjejakkan kakinya di tanah, mendadak saja kedua bola matanya
terbeliak lebar.
"Heh...?"
Bukan main terkejutnya dia, begitu melihat kuda tunggangannya menggelepar di
tanah. Bergegas Adipati Paturakan menghampiri. Dan, dia semakin terkejut, begitu
melihat pada leher kuda itu tertancap dengan dalamnya sebatang anak panah. Darah
bercucuran dari leher kuda putih itu. Beberapa saat kuda itu masih menggelepar,
kemudian diam tak bergerak lagi, tewas.
"Keparat..! Siapa berani main-main denganku, heh...!" bentak Adipati Paturakan
dengan berangnya.
Tak terdengar sedikit pun suara yang menyahuti bentakan si Tangan Api itu.
Keadaan di sekeliling masih begitu sunyi. Hanya desiran angin yang terdengar.
Gema suara bentakannya pun hanya sekejap terpantul oleh pepohonan. Adipati
Paturakan berdiri tegak sambil menajamkan mata dan melihat ke sekelilingnya.
Namun, hanya kegelapan dan kepekatan malam yang tampak. Kembali dia menatap pada
kudanya yang kini sudah tidak bernyawa lagi, dengan sebatang anak panah tertanam


Pendekar Rajawali Sakti 72 Korban Ratu Pelangi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dalam-dalam pada lehernya.
Trek ! Tiba-tiba terdengar suara ranting patah seperti terinjak dari arah belakang.
Cepat sekali Adipati Paturakan memutar tubuhnya, sambil mengebutkan kedua
tangannya yang sudah lerbuka lebar jari-jarinya.
"Hiyaaa...!"
Crasss! Dari kedua tangan laki-laki separuh baya ini tiba-tiba saja keluar gumpalan bola
api yang meluncur begitu cepat bagai kilat. Bola api itu langsung menghantam
hingga hancur sebuah pohon yang sangat besar, disertai suara ledakan dahsyat
menggelegar. Api langsung berkobar membakar pohon yang hancur berkeping-keping
itu. Malam yang gelap menjadi terang oleh cahaya api yang berkobar cukup besar
itu. Adipati Paturakan tetap berdiri tegak, dengan sinar mata tajam menatap ke arah
kobaran api itu. Tak ada seorang pun yang terlihat. Bahkan tak ada seekor
binatang pun yang dilihatnya. Hanya suara gemeretak kayu termakan api saja yang
bisa didengar. "Setan Keparat...!" desis Adipati Paturakan meng-geram marah, merasa
dipermainkan. "Hiyaaa...!"
Cepat sekali dia kembali menghentakkan tangannya yang sudah memerah bagai
terbakar ke arah kanan, begitu telinganya mendengar suara yang sangat
mencurigakan. Dari telapak tangan kanannya kembali meluncur segumpal bola api
yang langsung menghantam pohon.
Glarrr...! Kembali terdengar ledakan dahsyat menggelegar begitu bola api yang keluar dari
telapak tangan si Tangan Api menghantam pohon hingga hancur dan terbakar. Pada
saat itu, terlihat sebuah bayangan berkelebat cepat sekali. Dan ...
"Hiyaaa...!"
Adipati Paturakan langsung melesat cepat bagai kilat, begitu matanya melihat
bayangan berkelebat
dari balik api yang membakar pohon. Beberapa kali dia melakukan putaran di
udara. Dan, setelah melewati beberapa puncak pohon, dengan manis sekali dia
menjejaki kakinya kembali di tanah.
"Berhenti kau...!" bentak Adipati Paturakan lantang menggelegar.
"He he he...!"
"Hm...," Adipati Paturakan menggumam kecil sambil menyipitkan matanya.
Di depannya kini berdiri seorang laki-laki tua berjubah biru yang panjang dan
longgar. Di tangan kanannya tergenggam sebatang tongkat kayu yang tidak
beraturan bentuknya. Seluruh rambutnya sudah berwarna putih. Kumisnya yang juga
sudah memutih menyatu dengan jenggotnya yang panjang dan lebat.
"Pertapa Goa Biru." desis Adipati Paturakan langsung mengenali laki-laki tua
berjubah biru itu.
"He he he...! Sungguh pesat kemajuanmu, Paturakan. Dan tampaknya kau juga sudah
berhasil mencapai keinginanmu," ujar si Pertapa Goa Biru diiringi suara tawanya
yang terkekeh kering.
"Hm...," Adipati Paturakan hanya menggumam perlahan.
3 "Apa maksudmu menghadang jalanku, Pertapa Gua Biru?" tanya Adipati Paturakan
agak ketus. "Seharusnya kau sudah tahu jawabannya, Paturakan. Selama aku masih hidup, kau
tidak bisa berbuat seenakmu," sahut Pertapa Gua Biru, dingin.
"Hh! Seharusnya waktu itu aku tidak memberimu kesempatan hidup, pertapa edan!"
dengus Adipati Paturakan.
"He he he...! Itu salahmu sendiri, Paturakan. Dan sekarang aku akan membalas
kekalahanku waktu itu.
Hanya seorang diri, kau seperti anak ayam kehilangan induknya"
"Setan...! Keluarkan semua kesaktianmu, pertapa gila!" bentak Adipati Paturakan
berang. "He he he...!"
"Hep!"
Adipati Paturakan langsung menyiapkan jurusnya.
Kedua tangannya merentang ke samping seraya menarik kaki kanannya ke belakang.
Lalu tubuhnya direndahkan hingga kedua lututnya tertekuk.
Sementara, Pertapa Gua Biru masih tetap berdiri tegap dengan tangan kanan
menggenggam erat tongkat kayu yang menekan kuat ke tanah di ujung jari kakinya.
"Kali ini kau tidak lagi kuberi ampun, Pertapa Gua Biru...," desis Adipati
Paturakan dingin. "Hiyaaat..!"
Bagaikan kilat, Adipati Paturakan melompat sambil mengebutkan kedua tangannya
bergantian. Begitu cepatnya kebutan itu, sehingga tangannya seperti
menjadi banyak. Sedangkan si Pertapa Gua Biru langsung melompat ke belakang,
sambil memutar tongkatnya ke depan. Namun tanpa diduga sama sekali, Adipati
Paturakan melenting ke atas, hingga melewati kepala laki-laki tua berjubah biru
itu. "Yeaaah...!"
Sambil berteriak keras menggelegar, si Tangan Api menghentakkan tangan kanan ke
arah kepala Pertapa Gua Biru. Begitu cepat pukulannya, sampai Pertapa Gua Biru
jadi terperangah setengah mati.
"Hait...!"
Buru-buru dia mengebutkan tongkat kayunya ke atas, melindungi kepalan dari
pukulan maut yang dilepaskan si Tangan Api. Tanpa dapat dielakkan lagi, pukulan
yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi itu langsung membentur keras
tongkat kayu yang berkelebat cepat.
Trak! "Hih..."!"
Pertapa Gua Biru jadi terperanjat setengah mati ketika tiba-tiba dirasakan
tangannya menjadi panas seperti terbakar, begitu tongkatnya membentur tangan
Adpati Paturakan. Maka cepat-cepat dia melompat ke belakang beberapa langkah.
Pada saat itu, Adipati Paturakan sudah kembali menjejakkan kakinya di tanah.
Langsung dilepaskannya dua pukulan beruntun ke arah dada laki-laki tua pertapa
berjubah biru itu. Serangan yang begitu cepat ini membuat si Pertapa Gua Biru
kewalahan. Dia meliuk-liukkan tubuhnya, menghindari setiap pukulan yang datang
secara beruntun. Bahkan sebelum sempat menarik tubuhnya tegak kembali, Adipati
Paturakan sudah melepaskan satu tendangan yang sangat keras dan menggeledek.
Begitu cepatnya tendangan si
Tangan Api hingga Pertapa Gua Biru tidak sempat lagi mengambil tindakan
menghindar. Dia hanya bisa mengibaskan tongkatnya, mencoba menangkis tendangan
dahsyat menggeledek itu. Tapi....
"Hih!"
Trak! Begitu kerasnya tendangan yang dilancarkan Adipati Paturakan, sehingga Pertapa
Gua Biru terhuyung-huyung ke belakang. Dan, kedua bola matanya jadi terbeliak
lebar, begitu tongkatnya sudah patah menjadi dua bagian.
"Ha ha ha...!" Adipati Paturakan tertawa terbahak-bahak.
"Phuih!"
Sambil menyemburkan ludahnya, Pertapa Gua Biru membuang tongkatnya yang sudah
patah. Lalu, dari balik jubahnya dikeluarkan sebuah pedang yang berkilatan
memancarkan cahaya keperakan. Pertapa Gua Biru langsung menyilangkan pedangnya
di depan dada. Sedangkan Adipati Paturakan masih tetap berdiri tegak, dengan
mata tidak berkedip menatap mata pedang yang memancarkan cahaya keperakan dan
gemerlapan itu.
"Hiyaaa...!"
Wuk! Sambil berteriak keras menggelegar, Pertapa Gua Biru langsung melompat
menyerang, mengibaskan pedangnya beberapa kali dengan kecepatan bagai kilat
Adipati Paturakan pun berjumpalitan, meliuk-liukkan tubuhnya menghindari setiap
tebasan pedang bercahaya keperakan itu.
Tampaknya Pertapa Gua Biru tidak mau memberi kesempatan pada si Tangan Api untuk
balas menyerang. Dengan jurus-jurus yang cepat dan
dahsyat, dia terus mencecar, mengurung rapat setiap ruang gerak yang dimiliki si
Tangan Api. Namun, sampai beberapa jurus berlalu, belum juga dia berhasil
mendesak Adipati Paturakan. Bahkan, setiap serangan-serangan yang dilancarkannya
selalu berhasil dimentahkan dengan mudah.
*** Meskipun lawannya hanya bertangan kosong dan berusia lebih muda, Pertapa Gua
Biru tampaknya mengalami kesulitan untuk mendesak, apalagi men-jatuhkannya.
Beberapa kali pula dia hampir kecolongan. Jurus-jurus yang dimiliki Adipati
Paturakan memang sangat sulit diterka arahnya.
Bahkan gerakan-gerakan tubuhnya begitu lentur dan cepat sekali.
Walau sudah didesak dengan kepungan pedang yang begitu cepat, masih saja Adipati
Paturakan berhasil melepaskan diri beberapa kali. Bahkan beberapa kali pula dia
berhasil melancarkan serangan balasan yang begitu dahsyat, membuat Pertapa Gua
Biru makin kewalahan.
"Hup! Yeaaah...!"
Tiba-tiba saja Adipati Paturakan melentingkan tubuhnya ke udara dengan cepat
bagai kilat, tepat di saat Pertapa Gua Biru mengebutkan pedangnya ke arah kaki.
Dan ini membuat si Pertapa Gua Biru jadi terperangah tidak menyangka sama
sekali. Namun, sebelum dia sempat menyadari apa yang terjadi, secara tak terduga
Adipati Paturakan sudah meluruk deras sambil melepaskan satu tendangan keras
menggeledek ke punggung laki-laki tua berjubah biru itu.
"Yeaaah...!"
Des! "Akh...!" Pertapa Gua Biru terpekik keras.
Tendangan yang dilepaskan Adipati Paturakan tepat mendarat di punggungnya. Laki-
laki tua berjubah biru itu pun terjerembab mencium tanah.
Namun, dia cepat menggelimpangkan tubuhnya, sebelum si Tangan Api bertindak
lebih jauh lagi. Bergegas dia melompat bangkit berdiri, meskipun agak terhuyung
saat kakinya menjejak tanah kembali.
Tampak dari sudut bibirnya mengalir darah agak kental. Pertapa Gua Biru menyeka
darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan kiri.
Bet! Pada saat yang sama, Adipati Paturakan memutar tangan kanannya ke belakang. Dan,
begitu tangan itu kembali tersilang di depan dada, tampak sebuah tameng
berbentuk persegi enam sudah berada di punggung tangan kanannya. Tameng berwarna
kuning keemasan itu setiap ujungnya menyerupai mata panah yang sangat runcing
dan tajam. Tameng itu memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan, membuat Pertapa Gua Biru
harus menyilangkan tangan kirinya, menutupi matanya yang mendadak terasa pedih.
Sebelum dia bisa berbuat lebih jauh lagi, tiba-tiba saja si Tangan Api sudah
melompat cepat bagai kilat sambil berteriak keras menggelegar.
"Hiyaaat...!"
Wuk! "Hih."
Pertapa Gua Biru cepat-cepat mengebutkan
pedangnya, begitu Adipati Paturakan mengibaskan tangannya yang bertameng itu.
Sehingga.... Trang! Bunga api langsung memercik ke segala arah begitu pedang Pertapa Gua Biru
menghantam bagian tengah tameng si Tangan Api. Tapi, satu keajaiban tiba-tiba
saja terjadi. "He.."!"
Pertapa Gua Biru terperanjat setengah mati.
Pedangnya tidak bisa lagi ditarik. Mata pedangnya menempel kuat pada bagian
tengah tameng keemasan itu. Dan, sebelum dia sempat menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba
saja.... "Hih! Hiyaaa...!"
Cepat sekali Adipati Paturakan melompat sambil melepaskan satu tendangan yang
sangat keras dan menggeledek ke arah dada Pertapa Gua Biru. Begitu cepat dan
dahsyatnya tendangan itu sehingga Pertapa Gua Biru tidak punya kesempatan lagi
untuk menghindar. Dan...
Bekh! "Aaah...!"
Satu jeritan panjang melengking tinggi terdengar begitu menyayat ketika
tendangan kaki si Tangan Api mendarat telak di dada Pertapa Gua Biru. Tak pelak
lagi, tubuh laki-laki tua berjubah biru itu langsung terpental sejauh dua batang
tombak ke belakang.
Dan dia tidak bisa lagi mempertahankan pedangnya yang melekat erat pada tameng
keemasan di tangan kanan Adipati Paturakan.
"Hih! Yeaaah...!"
Seccpat tangan kirinya mencabut pedang yang melekat pada tamengnya, secepat itu
pula Tangan Api melemparkannya ke arah Pertapa Gua Biru yang masih menggeletak
telentang di tanah. Pedang itu meluncur deras bagai kilat ke arah dada laki-laki
tua berjubah biru itu.
Wusss...! Crab! "Aaa...!"
Memang terlalu sulit untuk dapat menghindar lagi.
Pertapa Gua Biru harus menerima pedangnya sendiri dengan dadanya. Pedang itu
langsung menghunjam dalam ke dada yang sudah tak terlindung itu. Darah langsung
memuncrat dari mulutnya. Hanya sebentar Pertapa Gua Biru mengejang, kemudian dia
terkulai lemah, menggeletak di tanah dengan pedangnya sendiri terhunjam di dada.
Adipati Paturakan berdiri tegak. Dia sudah menyimpan kembali tamengnya dii
punggung. Beberapa saat dipandanginya tubuh Pertapa Gua Biru yang sudah menggeletak tak
berkutik lagi. "Hhhh...! Kau sudah memilih cara kematianmu sendiri, Pertapa Goa Biru," dengus
Adipati Paturakan dingin.
Perlahan dia memutar tubuhnya dan menghampiri kudanya yang sudah menggeletak tak
bernyawa. Beberapa saat dia memandangi kudanya. Kemudian terdengar suara tarikan napas
yang begitu panjang dan terasa berat. Sekilas dia melirik tubuh Pertapa Goa Biru
yang menelentang tak bergerak.
"Hup!"
Tiba-tiba saja Adipati Paturakan melompat pergi dengan mengerahkan llmu
meringankan tubuhnya.
Begitu tinggi ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, sehingga dalam sekejap
sudah tidak terlihat lagi bayangannya. Tinggal si Pertapa Goa Btru dan kuda
putih menggeletak tak bergerak-gerak lagi di tanah.
Dan, tak seorang pun menyaksikan pertarungan itu.
*** Adipati Paturakan terus berlari cepat dengan ilmu meringankan tubuhnya yang
sudah mencapai tingkatan yang tinggi sekali, ke Gunung Tambur yang sudah terlihat begitu dekat
di depan. Memang sebenarnya lebih cepat sampai bila menggunakan ilmu meringankan
tubuh daripada menunggang kuda.
Tapi, Adipati Paturakan sebenarnya lebih senang menunggang kuda. Kini apa boleh
buat, kudanya sudah tewas tertembus panah Pertapa Gua Biru Dia baru berhenti
berlari setelah sampai di puncak Gunung Tambur. Keadaan di sini begitu
menyeramkan. Pohon-pohonnya tinggi dan besar-besar sekali.
Udaranya pun terasa begitu dingin membekukan tulang. Tampak di langit, awan
hitam bergulung-gulung menggumpal. Dan sesekali terbersit kilatan cahaya
disertai ledakan guntur yang menggelegar menggetarkan jantung.
"Hhhh...!" Adipati Paturakan mengembuskan napas berat.
Sudah beberapa kali dia pergi ke Puncak Gunung Tambur ini, tapi masih juga
terselip perasaan ngeri yang mencekam di relung hatinya. Perlahan dia melangkah
mendekati sebuah bangunan berbentuk puri yang tampak angker dan menyimpan sejuta
misteri di dalamnya. Degup jantung si Tangan Api ini semakin terasa berdetak
kencang manakala dia semakin dekat dengan bangunan puri itu. Dan kembali dia
berhenti setelah berada dekat sekali dengan bangunan yang seluruhnya terdiri
dari batu-batu yang bertumpuk dan sudah terselimut lumut tebal itu.
Crasss! Glaaar...! Bersamaan dengan berkelebatnya cahaya kilat yang disertai ledakan guntur
menggelegar dahsyat, tiba-tiba dari atas puncak puri itu memendar cahaya terang
menyilaukan mata. Adipati Paturakan sampai menahan napas memandang lingkaran
cahaya terang di atas bangunan puri itu. Dia baru mengembuskan napas panjang
begitu terlihat sebaris cahaya pelangi menjulur ke bawah, bagai sebuah lidah
raksasa.

Pendekar Rajawali Sakti 72 Korban Ratu Pelangi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ujung pelangi itu mendarat tepat di ujung jari kakinya.
Tepat pada saat itu tertihat sesosok tubuh ramping terselimut lingkaran cahaya
terang yang memancar di atas puncak bangunan puri ini.
"Kemarilah, Paturakan...," terdengar suara yang halus menggema di telinga
Adipati Paturakan.
"Hhhh...!"
Setelah mengembuskan napas panjang, Adipati Paturakan melangkahkan kakinya
menaiki cahaya pelangi. Sungguh ajaib, dia merasakan seakan-akan berjalan di
atas tanah biasa. Tidak sedikit pun terasa bahwa dia sesungguhnya sedang
berjalan di atas cahaya pelangi yang begitu indah. Perlahan-lahan Adipati
Paturakan terus berjalan naik hingga ke bagian puncak bangunan puri yang
terselimut cahaya terang berkilauan ini.
Tiba-tiba cahaya terang itu menghllang, bersamaan dengan lenyapnya cahaya
pelangi yang menjadi tangga menuju ke puncak bangunan puri ini. Pada saat itu
Juga, Adipati Paturakan merasakan tubuhnya tersedot ke bawah. Jantungnya terasa
copot, karena tiba-tiba tubuhnya meluncur deras ke bawah.
Keadaan sekelilingnya kini gelap-gulita, sehingga sulit bisa melihat jelas. Yang
ada hanya kegelapan yang pekat.
"Ufffs..!"
Adipati Paturakan terlonjak ketika secara tiba-tiba dia merasakan tubuhnya jatuh
di tempat yang sangat lembut dan lunak. Sekelilingnya masih gelap sekali.
Perlahan dia bangkit berdiri. Dia merasakan kakinya berpijak pada sesuatu yang
sangat lembut dan lunak.
Pada saat itulah tiba-tiba sekelilingnya menjadi terang-benderang. Adipati
Paturakan mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menguasai keadaan yang
begitu cepat berubah.
"Ohhh...?"
Kembali dia dihinggapi perasaan kagum dan ngeri begitu melihat sekelilingnya.
Adipati Paturakan terkejut setengah mati, karena dia baru menyadari kalau
kakinya berpijak pada tumpukan tubuh manusia yang memenuhi seluruh ruangan
berukuran tidak begitu besar ini. Tubuhnya bergidik melihat tubuh-tubuh saling
tumpang-tindih menjadi satu.
"Masuklah ke sini, Paturakan...," kembali terdengar suara lembut menggema di
tetinga Adipati Paturakan.
Saat itu juga si Tangan Api melihat sebuah pintu yang memancarkan cahaya terang
berkilauan. Sambil berjingkat dia melangkah melewati tubuh-tubuh manusia yang
bergelimpangan saling tumpang tindih.
Tak ada tempat yang kosong. Terpaksa menginjak tubuh yang sudah tak bernyawa
itu. Tapi, tidak diciumnya bau busuk sedikit pun, walau tubuh itu tentunya sudah
lama bertumpuk di dalam ruangan ini.
Si Tangan Api baru bisa merasa lega sedikit, begitu dia sudah berada di dalam
ruangan lain yang sangat besar dan tampak bersih serta indah sekali. Dia
berpaling ke belakang, tapi tidak lagi dilihat pintu yang baru saja dilewatinya.
Kakinya terus terayun
mendekati sebuah pembaringan yang berukuran cukup besar. Tampak di atas
pembaringan itu ter-golek sesosok tubuh ramping yang hanya di tutupi selembar
kain tipis dan halus berwarna biru muda.
Adipati Paturakan melirik sebuah ruangan lain yang hanya dibatasi dengan jeruji-
jeruji besi. Tampak di dalam ruangan seperti penjara itu beberapa orang laki-
laki yang kelihatan lesu tanpa gairan hidup lagi.
Beberapa di antara mereka sudah dikenalinya. Si Tangan Api cepat-cepat
mengalihkan pandangannya pada sosok tubuh ramping dan indah yang kini sudah
duduk di tepi pembaringan. Kemudian dia duduk bersila di atas lantai yang
beralaskan permadani berbulu lembut, bergambar bunga-bunga.
"Terimalah salam dan sembahku, Gusti Ratu Pelangi," ucap Adipati Paturakan
seraya merapatkan kedua telapak tangannya ke depan hidung, memberi sembah pada
wanita cantik berbaju tipis yang duduk di tepi pembaringan itu.
"Ada perlu apa lagi kau datang ke sini, Paturakan?"
tanya wanita cantik yang ternyata adalah Ratu Pelangi Maut itu, lembut.
"Ada sesuatu yang ingin aku utarakan, Gusti Ratu,"
sahut Adipati Paturakan masih dengan sikap yang hormat sekali.
"Hm, katakanlah..."
Adipati Paturakan tidak langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Dia melirik
sedikit ke arah ruangan penjara yang berhubungan langsung dengan ruangan besar
dan indah ini. Sorot matanya langsung di balas oleh seorang pemuda tampan
berbaju merah muda dari bahan sutera halus juga dari seorang pemuda berbaju
kumal penuh tambalan dan seorang laki-laki tua. Bahkan ada enam orang lagi yang
berpakaian kumal penuh tambalan di dalam ruangan seperti penjara itu, yang juga
menatapnya dengan tajam dan penuh kebencian. Mereka adalah para pengemis dan
gelandangan dari Kadipaten Kuring.
Hanya dua orang yang tidak tampak seperti pengemis. Salah seorang dari pengemis
itu adalah Jaka Gembel, anak angkat yang sedang dicari-cari si Gembel Bungkuk.
"Apa yang ingin kau katakan padaku, Paturakan?"
tanya Ratu Pelangi Maut lagi, agak mendesak.
"Oh Maafkan aku, Gusti Ratu. Aku... aku memerlukan Raden Pangrona," sahut Adipati
Paturakan agak tergagap, seraya melirik kembali pada pemuda tampan yang
mengenakan baju merah muda dari bahan sutera halus di dalam kamar tahanan itu.
"Untuk apa?" tanya Ratu Pelangi Maut agak berkerut keningnya.
"Aku perlu untuk meluluhkan hati adiknya, Gusti Dewi."
"Maksudmu?"
"Ayu Dewi Winarti belum mau kupersunting kalau dia tidak didampingi oleh
kakaknya, Gusti Ratu. Aku mohon, kau bersedia memberikan dia padaku untuk
meluluhkan hatinya."
"Hm..., bukankah gads itu sekarang sudah berada di istanamu kembali?"
"Benar, Gusti Ratu."
"Lalu, kenapa kau harus membawa Raden Pangrona ke sana?"
"Itu permintaannya, Gusti Ratu. Dia baru bersedia kupersunting kalau Raden
Pangrona bisa kubawa ke istana."
"Permintaanmu terlalu berat, Paturakan. Tapi...,"
Ratu Pelangi Maut tidak meneruskan ucapannya.
Dia bangkit berdtri dari pembaringannya, melangkah menghampiri kamar tahanan
yang berjeruji besi itu. Sedangkan Adiipati Paturakan masih tetap duduk bersila
memandangi wanita cantik yang hanya mengenakan baju tipis berwarna biru muda
itu. "Aku bisa kabulkan permintaanmu, Paturakan. Tapi dengan satu syarat..."
kata Ratu Pelangi Maut.
"Apa itu, Gusti Ratu?" tanya Adipati Paturakan tanpa berpikir panjang lagi.
"Di wilayah kulon ini ada seorang pendekar muda yang juga seorang raja. Dia
bernama Rangga dan bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Dia raja Kerajaan Karang
Setra. Hm..., rasanya pantas kalau Raden Pangrona ditukar dengannya.
Bagaimana.... kau sanggup membawa dia ke sini, Paturakan?"
Adipati Paturakan tak langsung menjawab syarat yang diajukan wanita cantik itu.
Dia memang sering mendengar ada seorang pendekar muda yang sangat digdaya dan
bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Tapi, sama sekali dia belum pernah bertemu
dengan pendekar itu. Dan lagi, apa yang didengar, rasanya terlalu sulit untuk
bisa membawa Pendekar Rajawali Sakti ke puri ini. Paling tidak, harus bisa
mengalahkan pendekar itu dahulu.
"Bagaimana, Paturakan?"
"Baiklah, Gusti Ratu. Aku sanggupi syaratmu,"
sahut Adipati Paturakan setelah berpikir beberapa saat.
"Kau boleh membawa Raden Pangrona setelah kau bisa membawa Pendekar Rajawali
Sakti ke sini,"
kata Ratu Pelangi Maut lagi.
Adipati Paturakan hanya bisa mengangguk.
Memang dia tak bisa berbuat lain lagi, kecuali menyanggupi syarat yang diajukan,
meskipun terasa
sangat berat untuk dilaksanakan. Tapi dia sudah tak sanggup bertahan lebih lama
lagi, untuk bisa mem-persunting gadis yang sudah lama diinginkannya.
"Nah, sekarang kau kembalilah. Bawa Pendekar Rajawali Sakti untukku," kata Ratu
Pelangi Maut. "Baik, Gusti Ratu," sahut Adipati Paturakan, seraya memberi hormat dengan
merapatkan kedua tangan di depan hidungnya.
4 Sudah tiga hari ini, Adipati Paturakan berusaha mencari tahu, di mana Rangga
yang dikenal dengan julukan Pendekar Rajawali Sakti berada. Bahkan dia sudah
mengirim utusan ke Kerajaan Karang Setra.
Tapi, didapat jawaban bahwa Rangga tidak berada di istana kerajaan itu. Pendekar
Rajawali Sakti dikabar-kan sedang pergi mengembara dengan Pandan Wangi. Dan,
tidak ada seorang pun yang tahu ke mana mereka berdua pergi. Hal ini membuat
Adipati Paturakan selalu gelisah.
Belum lagi, dia harus menghadapi sikap Ayu Dewi Winarti yang sudah tidak mau
lagi ditemui. Gadis itu terus mengurung diri di dalam kamarnya. Dia sama sekali
tidak mau keluar. Ayu Dewi Winarti tetap menuntut untuk bertemu dengan kakaknya,
yang menghilang sejak Kadipaten Kuring diikuasai oleh Paturakan, yang sekarang
menjadi adipatinya.
Siang itu udara di seluruh wilayah Kadipaten Kuring terasa panas sekali.
Matahari bersinar terik menyengat, seakan hendak menghanguskan apa saja yang ada
di atas permukaan bumi ini. Begitu panas-nya, sehingga hampir semua orang lebih
menyukai diam di dalam rumah atau berteduh di bawah pohon-pohon yang rindang dan
rimbun daunnya.
Di bawah teriknya sinar sang mentari, tampak dua orang penunggang kuda menyusuri
jalan tanah yang berdebu. Yang satu adalah pemuda berbaju rompi putih dengan
menunggang kuda hitam dan yang satunya lagi seorang gadis cantik berbaju biru
yang me- nunggang kuda berwarna putih dan cantik. Mereka mengendalikan kudanya perlahan-
lahan sambil mengedarkan pandangan, mengamati keadaan sekitarnya yang tampak
agak sepi ini. "Kau tidak merasa lelah, Kakang... ?" lembut sekali suara gadis cantik berbaju
biru yang menunggang kuda putih itu.
"Tentu saja. Sudah dua hari kita berkuda. Rasanya pinggang ini mau patah," sahut
pemuda tampan berbaju rompi putih yang menunggang kuda hitam itu.
"Di sana ada kedai," kata si gadis sambil menunjuk sebuah kedai yang tidak jauh
lagi letaknya. "Tampaknya cukup baik dan bersih," sambut pemuda itu.
Mereka kemudian menuju kedai yang tampaknya tidak ramai dikunjungi itu. Sebuah
kedai kecil, namun kelihatan baik dan bersih. Mereka menambatkan kudanya di
bawah pohon yang ada di depan kedai itu.
Seorang perempuan setengah baya bertubuh gemuk bergegas menyambutnya dengan
sikap yang ramah dan hormat sekali. "Mari, silakan masuk...."
"Terima kasih," sahut keduanya, hampir bersamaan.
Mereka kemudian masuk ke dalam kedai dan memilih tempat yang berada dekat dengan
jendela, sehingga bisa memandang ke luar dengan bebas.
Wanita bertubuh gemuk itu kembali masuk ke belakang setelah pemuda berbaju rompi
putih yang berwajah tampan itu mengatakan pesanannya. Tidak lama kemudian
pesanan yang diminta sepasang anak muda itu telah tersedia.
"Enak juga masakannya, Kakang," ujar gadis cantik berbaju biru itu, setelah
menikmati sedikit makanan yang terhidang di meja.
"Ya," sahut pemuda berbaju rompi putih itu singkat.
Mereka menyantap hidangan yang tersedia
dengan nikmat sekali. Sehingga tidak sadar bahwa sejak masuk ke dalam kedai ini
mereka terus diawasi oleh dua orang laki-laki separuh baya yang duduk di sudut,
agak terlindung oleh tiang penyangga atap di tengah-tengah ruangan kedai ini.
Mereka adalah Iblis Rantai Baja dan Tongkat Merah Samber Nyawa, dua orang
pengikut setia Adipati Paturakan yang lebih dikenal dengan julukan si Tangan
Api. Mata mereka tidak berkedip mengamati kedua penunggang kuda yang baru masuk
kedai itu. Apalagi seorang diantaranya adalah gadis cantik dengan baju biru muda
yang agak ketat, yang bentuk tubuhnya ramping dan indah sekali.
"Aku yakin, lelaki itu pasti Pendekar Rajawali Sakti, Rantai Baja." ujar si
Tongkat Merah Samber Nyawa agak berbisik.
"Hmmm... dari ciri-cirinya, dia memang mirip dengan Pendekar Rajawali Sakti.
Tapi, apa mungkin dia sekarang berada di sini...?" sambut Iblis Rantai Baja
bernada ragu-ragu.
"Kau ingat, Rantai Baja. Pendekar Rajawali Sakti sekarang sedang mengembara. Dia
itulah orangnya,"
kata Tongkat Merah Samber Nyawa, "Coba kau lihat pedang di punggungnya. Tangkai
pedang itu berbentuk kepala burung. Dan dia juga memakai baju putih tanpa
lengan. Tampan dan gagah sekali dia.
Aku yakin, dia pasti Pendekar Rajawali Sakti."
"LaJu, siapa gadis yang bersamanya?" tanya Ibis Rantai Baja sambil menatap gadis
cantik berbaju ketat itu.
"Dia pasti Pandan Wangi si Kipas Maut. Pendekar
Rajawali Sakti memang selalu pergi mengembara bersama si Kipas Maut. Dan mereka
seperti tidak bisa lagi dipisahkan," sahut si Tongkat Merah Samber Nyawa
"Kau yakin itu, Tongkat Merah?"
"Ya, aku merasa yakin kalau dia itu Pendekar Rajawali Sakti."
Tapi kita harus membuktikannya dulu, Tongkat Merah. Kalau memang sudah benar-
benar yakin, baru kita laporkan kepada Kakang Paturakan. Dia pasti senang kalau
mendengar Pendekar Rajawali Sakti berada di sini," kata Iblis Rantai Baja.
"Hmm..., kau benar, Rantai Baja. Kita memang harus membuktikannya dulu "
Mereka kemudian terdiam dan terus mengawasi pemuda berbaju rompi putih itu tanpa
berkedip sedukit juga. Sedangkan yang diawasi sama sekali tidak menyadari, dan
terus saja menikmati hidangan-nya dengan penuh nikmat. Kedua pengembara itu
tidak segera beranjak pergi, meskipun hidangan di atas meja sudah habis
berpindah ke dalam perut.
Entah apa yang dbicarakan. Saat matahari sudah mulai condong ke arah barat,
mereka baru beranjak pergi.
Iblis Rantai Baja dan si Tongkat Merah Samber Nyawa pun segera bergegas
mengikuti dua orang anak muda yang diyakini sebagai Pendekar Rajawal Sakti dan
si Kipas Maut, yang selama beberapa hari ini selalu dicari-cari itu.
*** "Cukup sudah kalian berjalan-jalan, Anak-anak Muda..."
Pemuda berbaju rompi putih dan gadis berbaju biru yang menunggang kuda itu
berkerut keningnya, ketika tiba-tiba saja mereka mendengar teguran bernada tidak
bersahabat tadi. Mereka langsung menghentikan kudanya dan melompat turun begitu
dari balik sebuah pohon yang cukup besar di pinggir jalan muncul dua orang laki-
laki berusia setengah baya. Yang satu mengenakan baju hitam dengan rantai baja
melilit pinggangnya, sedangkan satunya lagi mengenakan baju merah dan memegang
tongkat yang juga berwarna merah. Mereka tak lain adalah Iblis Rantai Baja dan
si Tongkat Merah Samber Nyawa.
"Kau yang bernama Rangga dan berjuluk Pendekar Rajawali Sakti?" Iblis Rantai
Baja langsung melontarkan pertanyaan sambil menunjukkan jarinya pada pemuda
berbaju rompi putih yang berdiri di depan kuda hitamnya.
"Benar," sahut pemuda itu dengan mata agak menyipit.
Agak terkejut juga dia, karena dua orang mencegat jalannya ini sudah tahu
namanya. Dia memang Rangga, yang di kalangan rimba persilatan dikenal dengan
Julukan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan gadis cantik berbaju biru yang berada
di sampingnya tak lain adalah Pandan Wangi, yang lebih dikenal dengan julukan si
Kipas Maut. "Aku tidak percaya kau adalah Pendekar Rajawali Sakti, Anak Muda. Kau harus
tunjukkan pada kami kalau kau benar-benar Pendekar Rajawali Sakti," kata si
Tongkat Merah Samber Nyawa.
"Apa maksud Kisanak berdua ini...?" tanya Rangga tidak mengerti.
Tapi, Iblis Rantai Baja dan Tongkat Merah Samber
Nyawa melompat cepat bagai kilat sambil mengebutkan tongkatnya ke arah kepala
Rangga. Serangan yang begitu cepat dan mendadak ini membuat Pendekar Rajawali
Sakti itu terperangah tidak mengerti. Cepat-cepat dia merundukkan kepalanya,
menghindari sabetan tongkat berwarna merah itu.
Pada saat yang bersamaan Pandan Wangi pun melompat ke belakang beberapa langkah,
agar tidak terkena sambaran tongkat itu.
"Tunggu dulu, Kisanak...! Uts...!"
Bet! Hampir saja senjata si Tongkat Merah Samber Nyawa membabat dadanya, kalau saja
Pendekar Rajawali Sakti itu tidak cepat-cepat meliukkan tubuhnya menghindarkan
diri. Lalu dia cepat-cepat melompat ke belakang beberapa tindak. Namun, begitu
kakinya baru saja menjejak tanah, secara tak terduga Rantai baja berwarna hitam
sudah meluruk deras ke arahnya dengan kecepatan bagai kilat.
"Hup... "
Terpaksa Rangga melentingkan tubuhnya ke
udara, menghindari terjangan ujung rantai hitam yang berbandul tiga buah bola
besi berduri itu. Beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti melakukan putaran di
udara, sebelum kembali mendarat dengan manis sekali di tanah.


Pendekar Rajawali Sakti 72 Korban Ratu Pelangi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tahan...! Tunggu dulu, Kisanak!" sentak Rangga mencoba menghentikan serangan
dua orang yang sama sekali tidak dikenalnya ini.
"Keluarkan semua kesaktianmu, Anak Muda. Kau harus menghadapi kami berdua jika
kau benar-benar Pendekar Rajawali Sakti," ujar Iblis Rantai Baja tegas.
"Tahan seranganku! Hiyaaat...!"
Si Tongkat Merah Samber Nyawa tidak mau lagi
banyak bicara. Dengan cepat sekali dia kembali melompat bagai kilat menyerang
Pendekar Rajawali Sakti. Tongkatnya yang berwarna merah berkelebatan cepat
mengincar bagian-bagian tubuh Rangga yang rawan. Terpaksa Pendekar Rajawali
Sakti itu berjumpalitan, meliuk-liukkan tubuhnya menghindari setiap serangan
maut dari si Tongkat Merah Samber Nyawa yang begitu cepat dan dahsyat.
Sementara, agak jauh dari tempat pertarungan itu, Pandan Wangi terus
memperhatikan dengan mata tidak berkedip sedikit pun. Dia sendiri tidak
mengerti, kenapa tiba-tiba dua orang laki-laki separuh baya yang tidak
dikenalnya itu menyerang Rangga. Bahkan kehadirannya di tempat ini sama sekali
tidak mereka pedulikan. Semua perhatian mereka begitu terpusat pada Pendekar
Rajawali Sakti. Mereka melakukan serangan-serangan yang begitu cepat dan dahsyat
secara bergantian. Tampaknya tidak diberi kesempatan sedikit pun pada pemuda
berbaju rompi putih itu untuk membalas menyerang.
Jurus demi jurus berlalu dengan cepat sekali.
Meskipun diserang dengan jurus-jurus yang dahsyat dan bergantian begitu cepatnya
Rangga yang hanya menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' masih terlalu sulit
untuk didesak. Bahkan tak satu pun dari serangan mereka berhasil mencapai
sasaran. Pendekar Rajawali Sakti itu memang terlalu tangguh bagi keduanya. Dan memang
tingkat kepandaian mereka masih kalah jauh di bawah Pendekar Rajawali Sakti.
Sehingga, tidak heran, meskipun sudah berusaha keras mereka belum juga berhasil
memaksa Rangga untuk mengeluarkan jurus-jurusnya yang bisa menunjukkan bahwa
dirinya adalah Pendekar Rajawali Sakti.
"Hup!"
"Hap..!"
Pada suatu ketika, Iblis Rantai Baja dan Tongkat Merah Samber Nyawa sama-sama
lompat mundur sejauh dua batang tombak. Rangga tetap berdiri tegak menanti
datangnya serangan berikut. Dua pengikut setia si Tangan Api itu tetap
berdampingan. Mereka memandangi pemuda berbaju rompi putih itu dengan sinar mata tajam dengan
napas yang memburu, seperti kuda yang dipakai mendaki bukit terjal dan tinggi.
*** "Cabut pedangmu, Anak Muda!" bentak Iblis Rantai Baja agak kasar.
"Untuk apa..." Senjata tidak perlu digunakan jika keadaan tidak genting," sahut
Rangga kalem. "Setan...! Kau terlalu merendahkan kami, Anak Muda!" geram Tongkat Merah Samber
Nyawa. "Sama sekali aku tidak merendahkan kalian berdua. Tapi aku merasa tidak perlu
menggunakan senjata untuk saat ini. Dan kalian tidak bisa me-maksaku untuk
mengeluarkannya," tegas Rangga.
"Keparat! Kau terlalu angkuh, Anak Muda!" bentak Tongkat Merah Samber Nyawa
tidak bisa menahan berangnya.
Hampir saja si Tongkat Merah Samber Nyawa menyerang kalau saja Iblis Rantai Baja
tidak segera mencekal pergelangan tangannya. Si Tongkat Merah Samber Nyawa hanya
bisa mendesis geram, menatap tajam ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti itu.
Sementara itu Pandan Wangi masih terpaku di tempat yang cukup aman bersama kuda-
kudanya. Gadis yang berjuluk si Kipas Maut itu terus me-merhatikan dengan mata tidak
berkedip sedikit pun.
"Jangan terpancing amarahmu, Tongkat Merah.
Kita bisa melakukan cara lain untuk memastikan bahwa dia benar-benar Pendekar
Rajawali Sakti,"
kata Iblis Rantai Baja berbisik.
"Pakai cara apa lagi?" tanya si Tongkat Merah Samber Nyawa tidak mengerti.
"Tetap menyerang, tapi dengan cara lain."
"Maksudmu?"
"Aku serang dia dengan rantai baja sakti ku. Dan kau akan menyerang dengan ilmu
kesaktianmu di saat dia sibuk menghadapiku. Aku yakin, dia pasti akan
mengeluarkan pedang pusakanya yang terkenal itu."
"Hm...,"
Tongkat Merah Samber Nyawa mengangguk-
anggukkan kepalanya. Dia bisa mengerti usul dari Iblis Rantai Baja tadi. Harus
digunakan siasat khusus untuk bisa menekan pemuda berbaju rompi putih itu agar
mengeluarkan senjata saktinya yang sangat terkenal dahsyat di kalangan rimba
peralatan ini. Mereka segara berpencar, menggeserkan tubuh ke samping, sehingga masing-masing
kini berada di sebelah kanan dan kiri pendekar Rajawali Sakti.
"Seraaang...!" seru Iblis Rantai Baja tiba-tiba.
"Hiyaaat..!"
Cring! Wuk! Cepat sekali laki-laki separuh baya berbaju hitam itu melontarkan rantainya,
disertai pengerahan tenaga dalam yang tinggi sekali tingkatannya. Ujung Rantai
berbandul bola besi berduri itu langsung meluruk deras bagai kilat ke arah
kepala Pendekar
Rajawali Sakti.
"Haiiit...!"
Dengan hanya sedikit merundukkan kepalanya, Rangga berhasil menghindari serangan
Iblis Rantai Baja itu. Namun, sungguh sukar dipercaya, Rantai baja berujung tiga
bola besi berduri itu bisa berputar begitu cepat dan kembali meluruk deras
dengan suara yang menggemuruh bagai guntur di siang hari bolong.
Cepat-cepat Rangga meliukkan tubuhnya, menghindari serangan maut itu.
Pada saat itu, ketika Pendekar Rajawali Sakti tengah sibuk menghindari serangan-
serangan dahsyat dari Iblis Rantai Baja, si Tongkat Merah Samber Nyawa segera
mempersiapkan kesaktiannya berupa pukulan jarak jauh dengan pengerahan tenaga
dalam yang tinggi sekali tingkatannya. Tepat di saat Rangga baru menjejakkan
kakinya di tanah, secepat kilat...
"Hiyaaa...!"
Slap! "Hup!"
Rangga cepat-cepat melentingkan tubuhnya ke udara, ketika tiba-tiba saja dari
ujung tongkat si Tongkat Merah Samber Nyawa meluncur secercah sinar merah ke
arahnya. Dan ujung sinar merah itu langsung menghantam tanah tempat Rangga
berpijak tadi. Satu ledakan dahsyat terdengar menggelegar, bersamaan dengan
terbongkarnya tanah yang ter-hantam sinar merah dari ujung tongkat laki-laki
berbaju merah itu.
Beberapa kali Rangga berputaran di udara, karena dia juga harus menghindari
serangan senjata maut si Iblis Rantai Baja. Namun, dengan gerakan yang manis
sekali, Pendekar Rajawali Sakti berhasil menjejakkan kakinya kembali di tanah.
Di saat itu pula Iblis Rantai Baja melontarkan Rantai hitamnya disertai
pengerahan tenaga dalam sepenuhnya.
"Hiyaaa....!"
"Hap!"Kali ini Rangga sama sekali tidak berusaha menghindari serangan ini. Dia
menunggu. Dan, tepat ketika ujung Rantai baja hitam itu dekat dengan dadanya,
cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti itu mengatupkan kedua telapak tangannya,
menangkap rantai berbandul bola besi berduri tajam itu.
Tap! "Heh...!"
Iblis Rantai Baja jadi terkejut setengah mati. Belum lagi dia bisa menghilangkan
keterkejutannya, mendadak saja Rangga menghentakkan kedua tangannya ke atas,
sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya yang sudah mencapai tingkat
kesempurnaan. "Hih! Yeaaah...!"
"Whaaa...!"
Seketika Iblis Rantai Baja melayang ke angkasa.
Bersamaan itu, tubuh Rangga melenting ke udara, mengejar si Iblis Rantai Baja.
Sambil kerahkan jurus
'Sayap Rajawali Membelah Mega', dia berputar cepat mengelilingi tubuh Iblis
Rantai Baja sambil memegangi ujung rantai berwarna hitam itu. Dan, ketika
Pendekar Rajawali Sakti itu berhenti berputar, tampak seluruh tubuh si Iblis
Rantai Baja sudah terlilit rantainya sendiri.
"Hup!"
Sambil menangkap tubuh Iblis Rantai Baja, si Pendekar Rajawali Sakti meluruk
turun dengan gerakan yang sangat ringan. Begitu sempurna ilmu meringankan tubuh yang
diikuasainya, sehingga dengan manis sekali Pendekar Rajawali Sakti berhasil
mendaratkan kakinya di tanah, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Langsung
dilemparnya Iblis Rantai Baja yang sudah terlilit rantainya sendiri itu.
Tubuh Iblis Rantai Baja jatuh bergulingan di tanah sambil mengeluarkan pekikan
keras agak tertahan.
Gulingan itu baru berhenti setelah berada di dekat ujung kaki si Tongkat Merah
Samber Nyawa. Laki-laki separuh baya berbaju merah menyala itu hanya bisa
Raden Banyak Sumba 4 Tusuk Kondai Pusaka Liong Hong Po Cha Yan Karya S D Liong Pedang Ular Emas 1
^