Pencarian

Kuda Api Gordapala 2

Pendekar Rajawali Sakti 65 Kuda Api Gordapala Bagian 2


"Tidak ada keluhan?" tanya Rangga lagi.
'Tidak, Gusti Prabu," sahut semua orang yang
ada di taman itu serentak.
Rangga bukannya tersenyum senang setelah
mendengar jawaban yang begitu serentak, tapi malah
mengerutkan keningnya. Matanya merayapi mereka
yang duduk bersila di atas rerumputan, beralaskan
permadani berwarna merah. Semua kepala tertunduk,
seakan-akan tidak ada yang berani membalas tatapan
mata Pendekar Rajawali Sakti.
"Aku lebih senang jika tidak ada yang main
sembunyi," kata Rangga, agak dalam nada suaranya.
"Tidak ada yang disembunyikan, Kakang," selak Danupaksi cepat-cepat.
"Kau yakin, Danupaksi...?"
Danupaksi tidak langsung menjawab, tapi ma-
lah tertunduk begitu Rangga menatap tajam ke arah-
nya. Sedangkan Cempaka juga jadi terbungkam. Bi-
asanya, gadis itu sangat manja pada Rangga. Tapi kini, sikapnya seperti begitu
kaku. Hal ini membuat Rangga menduga, telah terjadi sesuatu yang disembunyikan
mereka semua padanya. Bahkan bukan hanya Rangga
saja yang menduga, tapi juga Pandan Wangi pun de-
mikian. Rangga menatap seorang gadis cantik yang du-
duk bersimpuh di samping Ki Lintuk, seorang tua ber-
jubah putih yang menjadi penasihat di Istana Karang
Setra ini. Gadis yang bernama Retna Nawangsih itu ju-ga menundukkan kepalanya.
Dia adalah murid Dewi
Purmita, adik kandung ayah Pendekar Rajawali Sakti.
Pandangan Rangga kemudian beralih pada Cempaka
yang duduk di samping Pandan Wangi, lalu kembali
menatap Retna Nawangsih dan Ki Lintuk.
"Ki Lintuk...," dalam sekali nada suara Rangga.
"Hamba, Ananda Prabu," sahut Ki Lintuk se-
raya merapatkan kedua tangan di depan hidung.
"Kau sebagai penasihat di sini, dan orang tertua di Istana Karang Setra ini.
Katakan, apa yang disembunyikan mereka semua terhadapku," desak Rangga tegas.
"Hamba sendiri tidak tahu, Ananda Prabu.
Hamba baru saja tiba dari pertapaan, begitu menden-
gar Ananda Prabu kembali dari pengembaraan yang
panjang," sahut Ki Lintuk dengan sikap begitu hormat.
"Retna...?" Rangga menatap Retna Nawangsih.
Gadis itu hanya diam saja dengan kepala ter-
tunduk. Rangga kemudian bertanya pada Batara Yoga,
Rakatala, dan semua orang yang ada di taman ini. Ta-
pi, tak ada seorang pun yang mampu menjawab. Se-
muanya terdiam dengan kepala tertunduk. Terakhir,
Pendekar Rajawali Sakti bertanya pada Cempaka dan
Danupaksi. Tapi, kedua adik tirinya itu juga tidak berkata apa-apa.
"Baiklah... Aku tidak akan memaksa kalian lagi.
Mungkin kalian tidak ingin persoalan itu ku campuri.
Baik.... Aku akan melihat saja, bagaimana kalian me-
nyelesaikannya. Dan aku tidak akan berbuat apa pun
sampai kalian datang padaku memintanya," tegas
Rangga seraya bangkit berdiri.
"Kakang...," Pandan Wangi ikut berdiri.
"Aku tidak pernah menarik ucapanku, Pandan.
Mereka mempunyai persoalan yang tidak ingin ku
campuri. Bahkan juga tidak ingin aku mengetahuinya.
Aku tidak akan memaksa. Mereka akan kuberi kesem-
patan untuk menyelesaikannya. Aku akan berada di
istana ini sampai persoalan yang kalian rahasiakan
padaku bisa terselesaikan ".
Setelah berkata demikian, Rangga segera me-
langkah meninggalkan taman belakang istana ini.
Pandan Wangi jadi kelihatan kebingungan. Kemudian,
bergegas disusulnya Pendekar Rajawali Sakti yang su-
dah mencapai pintu keluar dari taman ini. Dua orang
prajurit yang menjaga pintu taman itu segera mem-
bungkuk memberi hormat begitu Rangga dan Pandan
Wangi melewatinya.
'Tampaknya, Gusti Prabu marah terhadap sikap
kita," kata Ki Lintuk setelah Rangga dan Pandan Wangi benar-benar tidak terlihat
lagi di taman ini. "Seharusnya kalian tidak perlu menutup diri seperti ini.
Katakan saja, apa yang sebenarnya. Toh Gusti Prabu sudah begitu percaya pada
kemampuan kalian semua menga-tasi segala permasalahan di Karang Setra ini."
Tak ada seorang pun yang berbicara. Bahkan
Danupaksi sendiri hanya diam membisu. Juga Cem-
paka yang sudah berdiri di bawah pohon bersama Ret-
na Nawangsih, hanya bisa diam membisu seperti yang
lain. "Sebenarnya, masalah apa yang sedang kalian hadapi...?" tanya Ki Lintuk
yang memang benar-benar tidak tahu.
"Tidak ada apa-apa...," sahut Danupaksi agak mendesah seraya melangkah pergi
meninggalkan taman itu.
Sikap Danupaksi seperti tidak ambil peduli.
Dan hal inilah yang membuat kening Ki Lintuk jadi
berkerut semakin dalam. Kepergian Danupaksi diikuti
Cempaka dan Retna Nawangsih, lalu disusul Batara
Yoga, Rakatala dan yang lainnya. Hingga tinggal Ki Lintuk seorang diri yang
masih berada dalam taman itu.
"Ada apa ini..." Kenapa mereka jadi bersikap
aneh begitu...?" Ki Lintuk jadi bertanya-tanya sendiri.
*** Sementara itu Rangga berdiri mematung di de-
pan jendela dalam kamarnya. Sengaja pintu jendela
hanya sedikit saja dibuka untuk mengawasi keadaan
di luar. Sementara, Pandan Wangi yang juga berada
dalam kamar itu hanya memperhatikan saja di kursi
tidak jauh dari situ. Sejak meninggalkan pertemuan di taman tadi, Rangga terus
berdiri di depan jendela memandangi ke luar tanpa bergeming sedikit pun.
"Seharusnya kau paksa mereka untuk menga-
takannya, Kakang. Aku yakin, mereka menyembunyi-
kan sesuatu yang tidak ingin diketahui," ujar Pandan Wangi, agak perlahan
suaranya. "Mereka orang-orang yang taat pada sumpah
dan janji. Meskipun aku membunuhnya, tidak bakalan
ada yang bersedia membuka mulut, Pandan," kata
Rangga, juga perlahan suaranya.
'Tapi kau mengatakan kalau tidak mau ikut
campur sampai mereka memintamu, Kakang. Lalu,
kenapa sekarang kau malah akan menyelidikinya...?"
"Aku berkata seperti itu agar mereka tenang,
Pandan. Mereka pasti menyangka aku akan diam saja,
dan tidak mau tahu lagi persoalan yang disembunyi-
kan itu," sahut Rangga membuka akalnya di taman ta-di.
"O.... Jadi itu hanya siasat mu saja...?"
"Tepat"
"Dan kau akan tahu, di saat mereka mengata-
kannya nanti. Begitu, bukan...?"
"Pintar juga kau," puji Rangga bergurau.
'Tentu, dong.... Percuma aku mengikutimu te-
rus kalau tidak pintar," cibir Pandan Wangi.
Rangga berpaling menatap gadis yang dikenal
berjuluk si Kipas Maut itu. Sedangkan Pandan Wangi
pura-pura tidak tahu. Diteguknya arak di dalam ca-
wannya hingga tandas tak bersisa lagi. Lalu, diisinya kembali hingga penuh.
"Kau bersedia membantuku, Pandan...?" pinta Rangga tetap memandangi gadis itu.
'Tentu! Aku selalu siap membantumu," sahut
Pandan Wangi diiringi senyuman yang begitu manis.
'Tolong cari keterangan di luar istana. Kau ti-
dak begitu dikenal, jadi bisa bebas di luar istana ini,"
kata Rangga, meminta.
"Kenapa harus di luar, Kakang" Bukankah per-
soalannya justru ada di dalam lingkungan istana sen-
diri...?" tanya Pandan Wangi. Gadis itu benar-benar tidak mengerti permintaan
Pendekar Rajawali Sakti ba-
rusan. 'Tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam istana ini, Pandan. Kalaupun
ada..., pasti datangnya dari
luar. Dan lagi, biasanya keterangan dari luar istana bi-sa lebih lengkap dan
tidak dibuat-buat," jawab Rangga beralasan.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Pandan Wangi tidak menerima alasan
Rangga. "Jangan bertanya apa pun dan pada siapa pun
juga. Kau hanya memperhatikan saja setiap pelosok
kotaraja ini. Laporkan cepat jika ada sesuatu yang
janggal padaku," ujar Rangga lagi.
"Sulit juga...," desah Pandan Wangi menggumam. "Apanya yang sulit?" tanya Rangga
kembali memperhatikan keadaan di luar dari balik jendela kamar ini. "Bagaimana
aku bisa mendapat keterangan kalau tidak boleh bertanya apa-apa, Kakang...?"
Desah Pandan Wangi mengeluh.
"Bukan itu yang kuinginkan, Pandan. Aku ingin
kau bisa mengetahui keadaan di Kerajaan Karang Se-
tra ini. Dari keadaan itu bisa diambil satu kesimpulan dari semua sikap mereka
yang tidak biasanya ini. Kau mengerti maksudku...?" Rangga mencoba menjelaskan.
Pandan Wangi terdiam. Keningnya kelihatan
berkerut, mencoba mencerna semua kata-kata dan
keinginan Pendekar Rajawali Sakti. Cukup lama juga
dia bisa memahami, dan baru menganggukkan kepa-
lanya. Rangga tersenyum melihat Pandan Wangi bisa
me ngerti maksudnya.
"Aku pergi sekarang, Kakang," pamit Pandan Wangi sambil berdiri.
"Kalau bisa, jangan sampai ada orang yang ta-
hu Pandan. Mereka main rahasia, kita juga harus begi-tu," pesan Rangga.
"Kau bisa mempercayai ku, Kakang," sahut
Pandan Wangi diiringi senyum manis sekali.
Gadis yang berjuluk si Kipas Maut itu kemu-
dian keluar dari kamar ini. Sedangkan Rangga kembali memperhatikan keluar
melalui jendela yang sedikit
terbuka. Tapi tak lama kemudian, kening Pendekar Ra-
jawali Sakti jadi berkerut. Dari jendela kamar ini, memang bisa melihat langsung
pintu rahasia yang bi-
asanya dipakai untuk keluar dan masuk istana ini.
"Mmm.... Kenapa dia keluar dari pintu raha-
sia...?" gumam Rangga bertanya sendiri.
Pendekar Rajawali Sakti kemudian membuka
jendela kamarnya lebar-lebar. Sebentar diperhatikan-
nya keadaan sekeliling. Tak terlihat seorang prajurit pun di sekitar luar kamar
ini. Keadaannya begitu
sunyi. "Aku akan mengikuti," desis Rangga dalam ha-ri. "Hup...!"
Ringan sekali gerakan Rangga ketika melompati
jendela. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Pen-
dekar Rajawali Sakti menjejakkan kakinya tepat di depan pintu rahasia yang sudah
tertutup lagi. Memang
sulit membedakan antara pintu dengan dinding tem-
bok yang mengelilingi istana ini. Sementara Rangga
mengedarkan pandangan berkeliling, kemudian baru
mendorong pintu batu yang ukuran dan warnanya sa-
ma dengan dindingnya.
Rangga bergegas menerobos pintu rahasia itu,
dan kembali menutupnya. Kini, Pendekar Rajawali
Sakti sudah berada di bagian belakang dari Istana Karang Setra. Tak terlihat
seorang pun di sekitarnya. Tapi Pendekar Rajawali Sakti masih sempat melihat
sebuah bayangan berkelebat cepat, masuk ke dalam hutan
yang berada tepat di bagian belakang Istana Karang
Setra itu. "Hup...!"
Bergegas Rangga melompat mengejar bayangan
yang berkelebat dan menghilang di dalam hutan itu.
Gerakannya sungguh cepat dan ringan, sehingga sukar
melihat jelas. Hanya bayangan tubuhnya saja yang terlihat berkelebat cepat
menembus ke dalam hutan yang
tidak begitu lebat ini.
"Hup...!"
Kembali Rangga melentingkan tubuh ke udara.
Dengan manis sekali kakinya hinggap di atas cabang
pohon yang cukup tinggi. Sesaat pandangannya bere-
dar berkeliling. Bibirnya menyunggingkan senyuman,
begitu melihat bayangan yang diikutinya kembali terlihat berkelebat cepat dari
satu pohon ke pohon lainnya.
"Hm.... Dia menuju ke kuil. Aku harus menda-
huluinya," gumam Rangga berkata sendiri dalam hari.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pende-
kar Rajawali Sakti memang sudah mencapai tingkat
sempurna. Tak heran bila tidak mengalami kesulitan
sedikit pun saat berlompatan dari satu pohon ke po-
hon lain. Begitu ringan bagaikan kapas tertiup angin.
Bahkan kecepatannya luar biasa bagai kilat. Hingga
sebentar saja, bayangan itu sudah bisa tersusul. Pendekar Rajawali Sakti terus
berkelebat menuju ke kuil yang ada di tengah-tengah hutan ini.
*** Rangga duduk tenang di tangga kuil yang ber-
bentuk candi dan terbuat dari tumpukan batu. Ma-
tanya tidak berkedip memperhatikan seseorang yang
berlarian cepat menuju ke kuil ini. Orang itu tampak terkejut begitu tiba di
halaman depan kuil. Bola' matanya terbeliak melihat Rangga sedang duduk tenang
di tangga yang menuju langsung ke pintu kuil itu.
"Kenapa terkejut melihatku, Panglima Rakata-
la...?" tegur Rangga kalem, diiringi senyum manis sekali. Laki-laki yang diikuti
Rangga tadi, memang
Panglima Rakatala. Dia salah seorang panglima perang Kerajaan Karang Setra.
Laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun itu segera berlutut, dan
merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung. Sedangkan
Rangga masih tetap duduk tenang di tangga kuil ini.
Pandangannya malah beredar berkeliling. Memang
sunyi sekali kuil ini. Kuil yang berada di tengah-tengah hutan ini memang
sengaja dibangun hanya untuk
tempat persinggahan, jika para keluarga dan kerabat
serta pembesar Istana Karang Setra ingin berburu.
Dan hutan ini juga sengaja dipertahankan untuk ajang berburu.
"Kemarilah, Paman Panglima," ujar Rangga,
memanggil. "Hamba, Gusti Prabu," ujar Panglima Rakatala seraya memberi hormat dengan
merapatkan kedua
tangan di depart hidung.
Panglima Rakatala kemudian bangkit berdiri,
dan melangkah menghampiri Pendekar Rajawali Sakti.
Kemudian, dia duduk dengan jarak dua undakan
tangga kuil ini. Sikapnya begitu hormat, tapi Rangga bisa menangkap adanya
kecemasan di mata panglimanya. "Sudan lama sekali aku tidak berburu lagi di
hutan ini. Kau sering ke sini, Paman...?" tanya Rangga seraya; menatap


Pendekar Rajawali Sakti 65 Kuda Api Gordapala di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

panglimanya itu.
"Tidak, Gusti Prabu. Tugas di istana begitu ba-
nyak membutuhkan perhatian hamba," sahut Pangli-ma Rakatala penuh rasa hormat.
"Ya.... Aku juga merasa kalau kuil ini jarang di-kunjungi. Kau lihat saja
keadaannya. Begitu kumuh
dan kotor," kata Rangga sambil mengedarkan pandangan berkeliling.
"Maafkan hamba, Gusti. Prabu. Akan hamba
utus para prajurit untuk membersihkan kuil ini," ucap Panglima Rakatala.
Rangga tersenyum dan bangkit berdiri, kemu-
dian melangkah menaiki undakan anak-anak tangga
kuil ini. Panglima Rakatala ikut berdiri dan melangkah di belakang Pendekar
Rajawali Sakti. Mereka terus berjalan sampai berada di depan pintu kuil yang
tertutup rapat. Perlahan Rangga membuka pintu kuil itu, dan
melangkah masuk ke dalam. Panglima Rakatala men-
gikuti sampai mereka berada di dalam ruangan kuil
yang tampak begitu megah dan indah.
"Aku sudah memeriksa keadaan kuil ini. Tidak
pernah berubah. Hanya saja...," ucap Rangga terputus.
"Hanya apa, Gusti Prabu?" tanya Panglima Rakatala. "Aku melihat ada sebuah benda
yang tidak pernah ku tempatkan di dalam kuil ini," kata Rangga, ma-
sih terdengar tenang dan perlahan suaranya.
Entah kenapa, wajah Panglima Rakatala seketi-
ka itu juga jadi memucat. Beberapa kali air liurnya ditelan, untuk membasahi
tenggorokannya yang menda-
dak saja jadi terasa begitu kering. Sedangkan Rangga sudah berada di depan
sebuah area dari batu yang
berbentuk seekor burung rajawali. Area ini sengaja dibuat untuk menghormati
Rajawali Putih yang telah
berjasa menyelamatkan hidupnya dan membimbing-
nya, hingga menjadi seorang pendekar digdaya yang
sukar dicari tandingannya.
Kemudian, Rangga kembali melangkah meng-
hampiri sebuah lemari dari kayu berukir yang penuh
berisi berbagai macam senjata dari segala bentuk dan ukuran. Bahkan ada beberapa
buah perisai yang terbuat dari emas. Pendekar Rajawali Sakti memperhati-
kan senjata-senjata itu satu persatu. Kemudian, diambilnya sebilah pisau
berukuran kecil yang tampaknya
terbuat dari emas murni. Rangga kembali melangkah
menghampiri Panglima Rakatala sambil membawa pi-
sau kecil berwarna kuning emas itu.
"Rasanya aku belum pernah melihat benda ini,
Paman Panglima. Milik siapa ini...?" tanya Rangga seraya menunjukkan pisau kecil
berwarna kuning emas
itu. Panglima Rakatala tidak langsung menjawab.
Ludahnya ditelan beberapa kali. Dia tampak begitu gelisah melihat pisau emas
berada dalam genggaman
Pendekar Rajawali Sakti. Melihat sikap panglimanya
jadi gelisah begitu, Rangga jadi berkerut keningnya.
"Kenapa diam, Paman" Kau tahu milik siapa
ini, bukan...?" desak Rangga.
"Ampunkan hamba, Gusti Prabu. Hamba...,
hamba...," suara Panglima Rakatala jadi tergagap.
"Kau tahu kan, Paman..." Kuil ini ku bangun
untuk menyimpan barang-barang yang sangat berseja-
rah bagi seluruh rakyat Karang Setra, selain untuk
persinggahan. Siapa saja boleh singgah ke dalam kuil ini, Mereka bisa melihat
dari dekat sejarah berdirinya Karang Setra. Dan semua yang ada di sini memiliki
arti dan makna yang sangat dalam. Tapi, pisau emas ini tidak kukenal. Dan aku
yakin, pisau ini tidak memiliki arti apa pun bagi Karang Setra. Maka kuharap kau
bi-sa menjelaskannya padaku, Paman," desak Rangga la-gi.
Belum juga Panglima Rakatala bisa membuka
suara, tiba-tiba saja....
"Ha ha ha...!"
"Oh..."!"
"Hm...."
Panglima Rakatala jadi terkejut setengah mati,
begitu tiba-tiba saja terdengar suara tawa keras menggelegar dari luar kuil ini.
Sedangkan Rangga hanya
menggumam kecil perlahan sekali. Sebentar Pendekar
Rajawali Sakti memandangi wajah Panglima Rakatala,
kemudian bergegas melangkah mendekati pintu keluar
kuil ini. Pisau kecil berwarna keemasan, diselipkan ke balik ikat pinggangnya.
Kening Pendekar Rajawali Sakti jadi berkerut
begitu berada di luar kuil. Di tengah-tengah halaman depan kuil ternyata sudah
ada dua orang laki-laki. Wajah dan bentuk tubuh mereka sama persis, sehingga
sukar membedakan antara satu dengan yang lainnya.
Hanya warna pakaiannya saja yang bisa membeda-
kannya. Satu persatu Rangga menuruni anak tangga
kuil itu. Sementara Panglima Rakatala hanya berdiri
saja di depan pintu kuil, kemudian baru bergegas me-
nuruni tangga kuil itu. Sedangkan Rangga kini sudah
berada di depan laki-laki kembar itu. Panglima Rakata-la kemudian langsung
berdiri di samping Pendekar Ra-
jawali Sakti. *** 6 "Siapa kalian?" tanya Rangga langsung, seraya merayapi kedua orang kembar itu
dengan sinar mata
tajam. "Aku Iblis Biru. Dan ini saudaraku Iblis Hitam.
Kami dijuluki Iblis Kembar dari Utara," sahut laki-laki kembar yang mengenakan
baju warna biru.
"Lalu, apa maksud kalian datang ke kuil ini?"
tanya Rangga lagi.
"Junjungan kami pernah datang ke kuil ini, dan
menitipkan sesuatu di sini. Sekarang, kami ingin mengambilnya kembali atas
perintah junjungan kami," sahut Iblis Biru, tegas dan lantang suaranya.
"Boleh ku tahu, pada siapa dan benda apa yang
dititipkan itu...?" tanya Rangga.
"Sayang, kami tidak tahu orangnya. Seharus-
nya dia datang ke Hutan Gronggong tiga hari yang lalu untuk menyerahkan titipan
itu. Tapi, dia tidak muncul. Maka terpaksa kami yang harus mengambilnya
sendiri," sahut Iblis Hitam.
"Dan benda itu berbentuk pisau kecil yang ter-
buat dari emas murni," sambung Iblis Biru.
"Hm...," Rangga jadi menggumam kecil dengan kening berkerut.
Rangga kini tahu, ternyata pisau emas itu yang
menjadi pangkal persoalannya. Dan kini Pendekar Ra-
jawali Sakti juga tahu, ternyata sikap diam semua
pembesar Istana Karang Setra hanya karena tidak in-
gin junjungannya tahu kalau kuilnya telah dimasuki
benda asing yang tidak ada hubungannya sama sekali
dengan sejarah Karang Setra. Rangga bisa memaklumi,
karena memang sudah menjatuhkan kata larangan
untuk tidak memasukkan benda apa pun ke dalam
kuil ini tanpa persetujuannya. Terlebih lagi, yang tidak memiliki arti di Karang
Setra. "Aku tidak tahu benda yang kalian maksudkan
Itu. Jika kalian bisa menunjukkan pada siapa benda
itu dititipkan, mungkin bisa kuserahkan kembali pada kalian. Apalagi, kuil ini
memang terlarang bagi benda-benda asing yang tidak ada arti dan hubungan dengan
sejarah Karang Setra," tegas Rangga.
"Junjungan kami mengatakan, benda itu diti-
tipkan pada orang yang berada di kuil ini. Jika kau
pemiliknya, itu berarti kau yang menerima titipan itu!"
dengus Iblis Biru ketus.
"Maaf! Aku tidak suka terhadap tuduhan tanpa
bukti," desis Rangga tersinggung.
"Kau ingin mengelak rupanya. Baik.... Kami bi-
sa melakukan segala cara untuk mendapatkan pisau
emas titipan junjungan kami!" dengus Iblis Hitam jadi berang atas sikap Rangga.
"Hm...," lagi-lagi Rangga menggumam perlahan.
"Gusti...," ujar Panglima Rakatala.
"Kau diam saja, Paman. Biar aku yang mengu-
rus...!" dengus Rangga.
Panglima Rakatala jadi terdiam. Dia tahu, Pen-
dekar Rajawali Sakti sudah tersinggung atas ucapan
Iblis Kembar dari Utara tadi. Dan ketersinggungan
Rangga juga sudah mulai nampak saat mendapati si-
kap adik-adik tirinya, dan juga seluruh pembesar Ke-
rajaan Karang Setra tidak mau berterus terang. Pan-
glima Rakatala jadi semakin gelisah. Disadari kalau Pendekar Rajawali Sakti
sudah mengetahui apa yang
dirahasiakan selama ini. Dia juga bisa memaklumi ka-
lau Rangga tampak jadi berang.
"Hanya ada satu pilihan untukmu, Kisanak. Se-
rahkan pisau emas itu pada kami, atau kalian berdua
akan menerima akibatnya. Kami bisa menghancurkan
kuil ini dalam sekejap," desis Iblis Biru dingin, bernada mengancam.
"Kuil ini terlalu suci untuk dijamah tangan-
tangan kotor macam kalian berdua. Sebaiknya, kalian
cepat enyah dari sini!" balas Rangga tidak kalah ta-jamnya. "Keparat..!" desis
Iblis Biru menggeram marah.
"Kau benar-benar cari mampus, Setan...!" Iblis Hitam juga tidak bisa menahan
kemarahannya. Sedangkan Rangga hanya tersenyum sinis saja. Tan-
gan kirinya kemudian bergerak sedikit. Maka Panglima Rakatala yang melihat tanda
itu segera menarik
kakinya ke belakang beberapa langkah menjauhi
Pendekar Rajawali Sakti. Sudah bisa dibaca keadaan
yang tampak semakin memanas ini. Dia tahu kalau
pertarungan memang tidak mungkin lagi bisa
dihindar i. "Mampus kau! Hiyaaat..!" Iblis Hitam melepaskan satu pukulan keras menggeledek
ke arah Rangga.
"Uts!" Dengan satu gerakan manis, Pendekar Rajawali Sakti mengegoskan tubuhnya,
sambil memapak dengan tangan kiri. Sehingga, serangan yang tiba-tiba itu
berhasil ditangkisnya.
"Mampus kau! Hiyaaat...!"
Tiba-tiba saja Iblis Hitam melompat cepat me-
nyerang Pendekar Rajawali Sakti sambil melepaskan
satu pukulan keras menggeledek, disertai pengerahan
tenaga dalam tinggi ke arah dada.
"Uts!"
Namun dengan satu gerakan manis sekali,
Rangga mengegoskan tubuhnya, sambil memapak
dengan tangan kiri. Sehingga, serangan yang dilancarkan Iblis Hitam tidak
mengenai sasaran. Tapi belum
juga tubuhnya tegak kembali, mendadak saja Iblis Biru sudah mengebutkan kaki
hendak menyampok kaki
Pendekar Rajawali Sakti.
"Hup! Yeaaah...!" Rangga segera melentingkan tubuhnya ke udara menghindari
sampokan kaki Iblis
Biru. Beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti berputaran di udara. Lalu tiba-tiba
saja, tubuhnya meluruk dengan kedua kaki bergerak begitu cepat mengincar
kepala kedua laki-laki kembar yang berjuluk Iblis
Kembar dari Utara. Dari gerakannya, bisa dipastikan
kalau Rangga menggunakan jurus 'Rajawali Menukik
Menyambar Mangsa'. Salah satu jurus dahsyat dari li-
ma rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'.
Namun Iblis Kembar dari Utara bisa menghin-
dari serangan dahsyat dari jurus 'Rajawali Menukik
Menyambar Mangsa', meskipun tampak kelabakan se-
kali menghindarinya. Beberapa kali Rangga menggu-
nakan jurus itu. Akibatnya, kedua laki-laki kembar ini terpaksa harus
berjumpalitan menghindarinya. Dan ti-ba-tiba saja, Pendekar Rajawali Sakti cepat
sekali merubah gerakannya.
"Yeaaah...!"
Tepat di saat kaki Pendekar Rajawali Sakti
menjejak tanah, bagaikan kilat dilepaskannya satu
pukulan keras dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Raja-
wali' ke arah dada Iblis Hitam. Begitu cepatnya serangan dari pergantian jurus
yang dilakukan Rangga, se-
hingga Iblis Hitam tidak punya kesempatan untuk
menghindari diri lagi.
Des! "Akh...!" Iblis Hitam terpekik keras agak terta-
han. Begitu kerasnya pukulan yang dilepaskan Pen-
dekar Rajawali Sakti, sehingga membuat tubuh laki-
laki kembar itu terpental deras ke belakang. Dan sebatang pohon yang cukup besar
seketika itu juga hancur berkeping-keping terlanda tubuhnya. Pada saat itu,
Rangga sudah cepat memutar tubuhnya. Dan tubuh-
nya segera dimiringkan ke kanan, di saat Iblis Biru
melepaskan satu pukulan keras menggeledek bertena-
ga dalam tinggi.
"Hiyaaa...!"
Tanpa diduga sama sekali, tangan kiri Rangga
melepaskan satu sodokan keras ke arah perut si Iblis Biru. Begitu cepat serangan
balik yang dilakukannya, sehingga tidak mudah bagi Iblis Biru untuk menghindari.
Begk! "Hegkh...!
Iblis Biru mengeluh pendek. Tubuhnya ter-
bungkuk begitu perutnya terkena sodokan keras tan-
gan kiri Pendekar Rajawali Sakti. Dan di saat tubuh Iblis Biru terbungkuk itu,
cepat sekali Rangga mele-
paskan satu pukulan keras ke wajah laki-laki kembar
itu. Plak! "Aaakh...!" Iblis Biru terpekik keras.
Kepala Iblis Biru langsung terdongak begitu wa-
jahnya terkena pukulan keras yang dilepaskan Pende-
kar Rajawali Sakti. Tampak dari mulut dan hidungnya
mengalir darah agak kental. Iblis Biru terhuyung-
huyung ke belakang sambil menutupi wajah dengan
kedua tangannya. Dan satu tendangan menggeledek
yang tiba-tiba dilepaskan Rangga, membuat tubuh Ib-
lis Biru terpental jauh ke belakang.
Iblis Biru terjengkang ke tanah, tepat di samp-
ing saudara kembarnya yang baru saja berusaha
bangkit berdiri. Sementara Rangga berdiri tegak berka-cak pinggang, menatap
tajam Iblis Kembar dari Utara.
Sementara kedua laki-laki kembar itu berusaha bang-
kit berdiri sambil merintih menahan sakit.
"Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini, sebelum pikiranku berubah!" desis
Rangga. Terdengar dingin nada suaranya.
Iblis Kembar dari Utara menatap tajam penuh
dendam pada Pendekar Rajawali Sakti. Kemudian
sambil mendengus, mereka cepat berlompatan pergi.
Meskipun dalam keadaan terluka, namun gera-
kan mereka masih cukup gesit juga. Sehingga dalam


Pendekar Rajawali Sakti 65 Kuda Api Gordapala di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

waktu tidak berapa lama saja, sudah tidak terlihat lagi ditelan hutan yang tidak
seberapa lebat ini.
Rangga baru membalikkan tubuhnya mengha-
dap Panglima Rakatala, setelah Iblis Kembar dari Utara tidak terlihat lagi.
Panglima Rakatala langsung menghampiri Pendekar Rajawali Sakti, dan menjatuhkan
di- ri berlutut begitu dekat di depannya.
"Bangunlah, Paman," ujar Rangga, terdengar berwibawa suaranya.
"Hamba, Gusti Prabu," sahut Panglima Rakata-la seraya bangkit berdiri.
"Hhh...!" Rangga menghembuskan napas pan-
jang setelah Panglima Rakatala berdiri di depannya.
Panglima Rakatala berdiri sambil menunduk-
kan kepala. Seakan-akan tidak sanggup lagi membalas
sorot mata Rangga yang begitu tajam menusuk. Rang-
ga memutar tubuhnya, lalu berjalan beberapa langkah
menjauhi panglimanya itu. Terdengar tarikan napas-
nya yang berat dan panjang beberapa kali.
"Aku sudah berjanji tidak akan mencampuri
urusan ini sampai ada yang meminta. Tapi, rasanya
aku tidak bisa tinggal diam bila sudah melibatkan kuil suciku ini," desah
Rangga, terasa agak berat nada suaranya. "Gusti Prabu bisa menarik janji itu
kembali. Hamba meminta Gusti Prabu untuk menyelesaikan-
nya," ujar Panglima Rakatala.
"Apa yang bisa kuselesaikan, Paman" Sedang-
kan aku sendiri tidak tahu permasalahannya," desak Rangga perlahan.
"Titik persoalannya sebenarnya ada pada ham-
ba, Gusti Prabu. Hamba akan menceritakannya, tapi
mohon Gusti Prabu mau berjanji," kata Panglima Rakatala. "Janji apa?"
Rangga memutar tubuhnya berbalik mengha-
dap Panglima Rakatala lagi.
"Gusti Prabu tidak akan menyalahkan yang lain
karena sikap tutup mulut mereka. Terutama, pada
Gusti Danupaksi," pinta Panglima Rakatala.
"Kenapa...?"
"Karena mereka sebenarnya hanya ingin meno-
long hamba, Gusti Prabu."
"Katakan saja, apa persoalannya. Dan aku juga
punya pertimbangan sendiri," ujar Rangga.
"Baiklah, Gusti Prabu..."
"Nah.... Katakan sekarang," pinta Rangga.
*** "Lebih kurang tiga purnama yang lalu, hamba
menemukan seorang laki-laki yang usianya sebaya de-
ngan hamba, Gusti Prabu. Laki-laki itu sudah tewas,
dengan leher hampir buntung...," Panglima Rakatala
memulai menceritakan.
"Di mana kau temukan?" tanya Rangga.
"Di depan kuil ini, Gusti Prabu," sahut Panglima Rakatala.
"Hm..., lalu?"
"Hamba tidak tahu, siapa dia dan kenapa sam-
pai tewas seperti itu di sini. Hamba lalu memberi tahu Gusti Danupaksi yang saat
itu sedang mengadakan
persidangan di Balai Sema Agung. Sehingga, semua
pembesar yang ada langsung datang ke sini. Jadi se-
muanya tahu," sambung Panglima Rakatala men-
ceritakan peristiwa yang terjadi di depan kuil ini.
"Hm..., teruskan."
"Dua hari setelah peristiwa itu, hamba kembali
lagi ke sini. Pada saat itu, hamba melihat seekor kuda hitam yang sangat aneh.
Binatang itu bisa mengeluarkan api dari mulutnya. Lalu hamba diberi sebilah
pisau kecil emas dari dalam mulutnya. Kuda aneh itu
langsung pergi setelah memberi hamba sebilah pisau,
Gusti Prabu. Hamba tidak mengerti, apa maksudnya.
Dan semua ini hamba ceritakan pada Gusti Danupak-
si, serta semua pembesar kerajaan di Balai Sema
Agung Istana Karang Setra," sambung Panglima Rakatala lagi.
"Hm.... Selama itu, apa ada sesuatu yang terja-
di di sini?" tanya Rangga ingin tahu lebih banyak lagi.
'Tidak, Gusti. Tidak ada peristiwa apa pun juga.
Tapi tiga hari yang lalu, hamba telah bermimpi aneh.
Dalam mimpi, hamba ditemui seorang pemuda seperti
seorang putra raja. Dia meminta hamba ke Hutan
Gronggong dengan membawa pisau itu," sahut Panglima Rakatala.
"Kau pergi ke sana?" tanya Rangga.
"Tidak, Gusti."
"Kenapa?"
"Karena hamba mendapat tugas menumpas ge-
rombolan perampok yang merajalela di desa sebelah
Utara Karang Setra. Perampok itu menuntut agar kami
melepaskan pemimpinnya. Padahal, kami semua tidak
tahu tentang pemimpin mereka. Dan baru kemarin
hamba bisa menumpas mereka, Gusti Prabu. Ke-
mudian hamba langsung pulang setelah membereskan
segalanya," jelas Panglima Rakatala lagi.
Rangga terdiam dengan kepala terangguk bebe-
rapa kali. Sebentar matanya menatap lurus ke depan,
lalu beralih memandang Panglima Rakatala. Untuk be-
berapa saat, tak ada yang membuka suara.
"Paman, kau tahu nama pangeran yang datang
dalam mimpimu?" tanya Rangga setelah cukup lama terdiam.
"Ya! Dia sempat menyebutkan namanya," sahut Panglima Rakatala.
"Siapa?"
"Raden Gordapala.... Bahkan dia memanggil
hamba dengan nama Tangan Baja."
Kepala Rangga kembali bergerak terangguk be-
berapa kali. Kemudian menghampiri panglimanya itu,
lalu ditepuk-tepuk pundaknya sambil menyungging-
kan senyuman. Panglima Rakatala jadi tidak mengerti
atas sikap Pendekar Rajawali Sakti. Dia hanya menu-
ruti saja saat Rangga mengajak berjalan meninggalkan kuil di tengah hutan ini.
Mereka terus berjalan tanpa bicara sedikit pun. Hingga jauh meninggalkan kuil,
belum juga ada yang membuka suara lagi.
"Kau tahu, Paman. Siapa Gordapala itu?" tanya Rangga setelah cukup lama juga
berdiam diri. 'Tidak, Gusti," sahut Panglima Rakatala.
"Gordapala sebenarnya sudah mati. Dia pengu-
asa dari segala bentuk kejahatan di seluruh penjuru
delapan mata angin di dunia ini. Sudah beberapa kali dia mati, lalu bisa bangkit
kembali, selama para pengikut setianya yang masing-masing berkuasa pada satu
penjuru mata angin masih tetap hidup dan berkuasa.
Itulah sebabnya, kenapa Raden Gordapala selalu dis-
ebut dengan julukan Jago dari Alam Kubur. Karena,
memang sulit untuk bisa melenyapkan dia selama-
lamanya. Kalaupun ada yang bisa membunuhnya, da-
lam waktu tidak lama dia bisa bangkit kembali," jelas Rangga.
"Oh..."! Lalu, kenapa dia menemui hamba,
Gusti Prabu?" tanya Paman Rakatala terkejut tidak mengerti.
"Dia pasti menyangka, kau adalah salah satu
dari pengikutnya, Paman. Kau tahu, Karang Setra ini
juga dikenal sebagai pusat dari penjuru mata angin
yang pertama. Dan aku yakin, orang yang kau temu-
kan tewas di depan kuil adalah pemimpin daerah dela-
pan penjuru mata angin pertama. Karena kau yang
pertama kali melihat dan menyentuhnya, maka kuda
suruhan Raden Gordapala mengira kau adalah pemim-
pin yang dimaksud," Rangga menjelaskan lagi. "Itulah sebabnya, kenapa kuda itu
memberimu sebilah pisau
emas. Dan kau mendapat perintah melalui mimpi un-
tuk datang ke Hutan Gronggong. Kau tahu apa mak-
sudnya...?"
Panglima Rakatala hanya menggelengkan kepa-
la saja. "Raden Gordapala, atau juga Jago dari Alam Kubur itu mengumpulkan
delapan pemimpin penjuru
mata angin. Dan pasti dia sudah memberi pisau emas
untuk satu orang. Dengan pisau emas yang disatukan
ke dalam tubuhnya, maka Raden Gordapala bisa
bangkit kembali," tambah Rangga.
"Oh...! Apakah Iblis Kembar dari Utara itu salah satu pemimpin delapan mata
angin, Gusti?" tanya Panglima Rakatala sudah bisa mengerti akan keadaan
yang dihadapi sekarang ini.
"Ada kemungkinan begitu, Paman. Karena bi-
asanya, satu sama lain dari mereka tidak saling men-
genal. Bahkan sulit mengenali. Mereka memang sering
kali bersikap adil dan bijaksana di dalam kehidupan
bermasyarakat, tapi sebenarnya merekalah yang men-
jadi otak dari segala macam kekacauan di muka bumi
ini." "Mengerikan sekali...," desis Panglima Rakatala.
"Lebih mengerikan lagi kalau Jago dari Alam
Kubur itu sudah bisa bangkit lagi, Paman. Maka kita
semua akan terkena akibatnya. Karena dengan tujuh
pisau emas saja, dia bisa bangkit lagi dari alam kubur.
Walaupun, tidak sempurna benar. Hhh.... Kita akan
menghadapi suatu masalah besar, Paman."
"Oh, Gusti.... Kenapa hal ini justru menimpa
pada kita...?" keluh Panglima Rakatala.
"Tidak perlu disesali, Paman. Semua sudah ter-
jadi. Dan kita harus memikirkan cara untuk meng-
hadapi mereka," tegas Rangga.
"Ini semua salah hamba, Gusti. Seharusnya
hamba menceritakan hal ini sejak semula," Panglima Rakatala menyesali diri.
'Tidak ada yang salah dalam hal ini, Paman.
Semua yang terjadi di dunia ini sudah diatur Hyang
Widi. Jadi tidak patut kalau menyesali diri. Yang harus kita lakukan adalah
menghadapi semua ini dengan ha-ti bersih," kata Rangga bijaksana.
"Ampunkan hamba, Gusti Prabu...," desah Panglima Rakatala seraya menjatuhkan
diri, berlutut di
depan Pendekar Rajawali Sakti.
"Sudahlah, Paman. Bangkitlah... Tidak baik jika dilihat orang," Rangga cepat-
cepat membangunkan panglima ini.
Mereka kembali melangkah melalui jalan raha-
sia yang langsung menuju Istana Karang Setra. Tak
ada lagi yang bicara. Terlebih, Panglima Rakatala yang kini sudah bisa mengerti
dan memahami keadaan yang
terjadi. Hatinya benar-benar menyesal, karena tidak
cepat mengatakan hal yang sebenarnya pada Pendekar
Rajawali Sakti yang juga Raja Karang Setra.
Padahal dia tahu, di mana Rangga saat itu be-
rada ketika menerima pisau emas dari kuda ajaib Ra-
den Gordapala yang dikenal berjuluk Jago Alam Kubur
itu. *** 7 Sejak matahari belum menampakkan diri,
Rangga sudah meninggalkan Istana Karang Setra. Su-
dah dua hari ini, Pandan Wangi tidak kelihatan di dalam istana. Dan memang, si
Kipas Maut itu sedang
menjalankan tugas yang dibebankan Pendekar Rajawa-
li Sakti. Kepergian Rangga dari istana pun secara di-am-diam, dan melalui jalan
rahasia yang tidak banyak orang tahu. Sampai matahari tinggi berada di atas
kepala, Rangga terus berada di punggung kuda mengeli-
lingi wilayah Kotaraja Kerajaan Karang Setra.
Pendekar Rajawali Sakti baru berhenti dan tu-
run dari punggung kuda setelah sampai di sebuah
sungai kecil yang berair jernih. Dibiarkan saja kudanya
melepaskan dahaga di sungai itu. Sedangkan dia sen-
diri berdiri tegak memandangi sebuah gunung yang
berdiri angkuh menjulang tinggi menentang langit. Di balik gunung itulah letak
Desa Gronggong yang berada tidak jauh dari Hutan Gronggong. Sebuah hutan yang
jarang sekali dimasuki orang, dan masih sangat liar.
Dan gunung yang menjulang itu selalu disebut Gu-
nung Tangkup. Di puncak gunung itu, berdiri sebuah
istana tua yang sudah lama tidak dihuni. Tapi, istana itu menjadi pusat dari
segala kegiatan Raden Gordapala atau si Jago dari Alam Kubur.
"Hm...," tiba-tiba saja Rangga menggumam perlahan. Sebentar Pendekar Rajawali
Sakti memalingkan kepala ke kanan, lalu menepuk bokong kudanya. Kuda
hitam bernama Dewa Bayu itu pun langsung melompat
cepat melewati sungai kecil di depannya. Dewa Bayu
langsung berlari cepat, dan menghilang di dalam le-
batnya pepohonan.
"Hup!"
Rangga cepat-cepat melentingkan tubuh ke
udara. Begitu cepat dan ringan sekali gerakannya. Sehingga dalam sekejapan mata
saja, Pendekar Rajawali
Sakti sudah berada di atas cabang pohon yang cukup
tinggi dan rindang.
'Pandan...," desis Rangga hampir tidak percaya.
Kelopak mata Pendekar Rajawali Sakti jadi me-
nyipit, begitu melihat lima orang penunggang kuda
menuju sungai kecil itu. Dan salah satu penunggang-
nya adalah Pandan Wangi. Sementara, Rangga baru
yakin kalau yang dilihatnya memang Pandan Wangi
bersama empat penunggang kuda yang berada di bela-
kang, setelah mereka sudah dekat dengan sungai kecil yang menjadi pembatas
Kotaraja Kerajaan Karang Se-
tra. "Hup...!"
Ringan sekali Rangga melompat turun dari atas
pohon. Kemunculan Rangga yang begitu tiba-tiba,
membuat kuda-kuda itu jadi terkejut, dan langsung
meringkik keras sambil mengangkat kaki depannya
tinggi-tinggi ke udara.
"Kakang...," desis Pandan Wangi begitu bisa menenangkan kudanya.
Gadis berbaju biru muda yang berjuluk Kipas
Maut bergegas melompat turun dari punggung ku-
danya. Sementara, tiga penunggang kuda yang tadi ju-
ga sempat terkejut, sudah mencabut pedang masing-
masing. Tapi begitu melihat Pandan Wangi mengham-
piri Rangga yang berdiri tegak menghadang, mereka
jadi saling berpandangan satu sama lain.
"Kau mengagetkan saja, Kakang...," dengus
Pandan Wangi menegur.
"Maaf," sahut Rangga seraya melirik empat
orang yang masih berada di punggung kuda masing-
masing. "Siapa mereka...?"
Pandan Wangi segera berpaling, dan meminta
empat orang yang tadi datang bersamanya agar turun
dari kuda. Tiga orang yang sudah menghunus pedang
itu segera berlompatan turun setelah menyarungkan


Pendekar Rajawali Sakti 65 Kuda Api Gordapala di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pedangnya kembali ke punggung. Mereka kemudian
menghampiri Pandan Wangi yang berdiri di depan
Rangga. "Ini Kakang Rangga yang berjuluk Pendekar Ra-
jawali Sakti. Dia juga Raja Karang Setra, seperti yang kukatakan pada kalian,"
kata Pandan Wangi langsung memperkenalkan Rangga dengan lengkap.
"Pandan...," desis Rangga kurang setuju.
"Maaf, Kakang. Aku harus menjelaskan dengan
lengkap agar mereka percaya," kilah Pandan Wangi sebelum Rangga selesai dengan
ucapannya. Pandan Wangi langsung saja memperkenalkan
empat orang yang ikut bersamanya tadi. Mereka ter-
nyata Malita dan tiga orang putra Elang Mau Banara,
Sarala, dan Liliani. Rangga menganggukkan kepala se-
dikit seraya memberi senyum. Kemudian cepat ditarik-
nya tangan Pandan Wangi, dan membawanya agak
menjauh dari ketiga putra Elang Maut dan Malita.
"Siapa sebenarnya mereka?" tanya Rangga ber-bisik seraya melirik empat anak muda
itu. "Mereka datang ke sini dengan maksud baik
Kakang. Bahkan sangat membantu dalam memecah-
kan masalah yang sedang kita alami sekarang ini. Kau akan terkejut kalau
mendengarnya nanti, Kakang, jelas Pandan Wangi.
Sebentar Rangga memandangi empat anak mu-
da itu, kemudian melangkah menghampiri. Pandan
Wangi mengikuti sambil tersenyum-senyum. Gadis itu
berdiri di samping Rangga yang sedang merayapi em-
pat anak muda yang berdiri di depannya satu persatu.
Seakan-akan Pendekar Rajawali Sakti sedang menyeli-
dik, dan mencari kebenaran dari keterangan yang di-
berikan Pandan Wangi tadi.
"Benar kalian putra Elang Maut?" tanya Rangga seraya menatap Banara, Sarala, dan
Liliani bergantian.
"Benar," sahut Banara mantap.
"Lalu yang ini?" tanya Rangga lagi seraya menatap Malita.
"Aku hanya anak dari seorang perambah hu-
tan," sahut Malita perlahan.
"Malita kami temukan di tengah Hutan Grong-
gong. Keluarganya habis dibantai oleh Raden Gorda-
pala, si Jago dari Alam Kubur itu," selak Banara, men-
jelaskan keberadaan Malita.
"Raden Gordapala..."!" Rangga jadi terkejut.
Dan keningnya berkerut begitu mendengar nama Ra-
den Gordapala disebut.
"Maksud kami datang ke sini untuk memperin-
gatkan seluruh rakyat Karang Setra agar berhati-hati terhadap orang-orangnya
Raden Gordapala yang sangat kejam. Karena, mereka pasti berada di sini," kata
Banara langsung memberi tahu.
"Hm...," kening Rangga jadi berkerut semakin dalam.
*** Banara menceritakan semua peristiwa yang
berkaitan dengan bangkitnya kembali Raden Gordapa-
la yang dikenal berjuluk Jago dari Alam Kubur. Malita sesekali menambahkan, dan
menceritakan semua yang
disaksikannya. Bahkan kini tidak lagi menutupi apa
yang terjadi pada dirinya, dan siapa dirinya yang sebenarnya. Semua keluarganya
mati, dan dirinya diper-
kosa oleh Raden Gordapala.
Untung saja nyawa Malita masih tertolong oleh
ketiga putra Elang Maut yang datang ke Hutan Grong-
gong itu. Sementara Rangga mendengarkan penuh
perhatian, dengan kepala terangguk-angguk Memang,
tadi dia sempat terkejut. Tapi setelah mengetahui permasalahannya, Pendekar
Rajawali Sakti langsung bisa
menarik kesimpulan kalau kerajaannya kini sedang te-
rancam suatu malapetaka besar. Dia tahu, siapa Ra-
den Gordapala atau si Jago dari Alam Kubur itu.
Rangga meraba sabuk yang melilit pinggang.
Tampak sebilah pisau emas yang diinginkan di Jago
dari Alam Kubur itu berada di balik sabuk pinggang-
nya. Dan seharusnya, pisau itu berada di tangan Pan-
glima Rakatala. Inilah satu kesalahan besar yang dilakukan Raden Gordapala. Dan
itu akan berakibat pada
Kerajaan Karang Setra. Sudah pasti, si Jago dari Alam Kubur itu akan bertindak
segala cara untuk mendapatkan pisau emas itu kembali, demi kesempurnaan
hidup dan ilmu-ilmunya di dunia ini. Sampai Banara
menyelesaikan ceritanya, mereka semua masih diam,
sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku memang sering mendengar nama Raden
Gordapala. Dan kabarnya, dia sudah terkubur selama
lebih dari sepuluh tahun. Hm... Dia memang sukar di-
taklukkan. Dia punya seribu nyawa, dan selalu saja
bisa bangkit kembali dari kematiannya," jelas Rangga setelah cukup lama berdiam
diri. "Kakang! Apa mungkin mereka sudah tahu hal
ini, sehingga mereka tutup mulut begitu...?" duga Pandan Wangi.
"Mereka memang tahu, tapi tidak seluruhnya,
Pandan. Bahkan mereka tidak tahu yang sebenarnya
terjadi," sahut Rangga.
"Ini berbahaya, Kakang. Mereka harus segera
diberi tahu agar bisa mempersiapkan diri kalau-kalau orang-orang Raden Gordapala
menyerang," kata Pandan Wangi tidak bisa menyembunyikan kecemasan
pada nada suaranya.
"Tidak...," desis Rangga seraya menggeleng.
"Hal itu akan membuat seluruh rakyat Karang Setra jadi ketakutan, Pandan."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan...?" Tanya Pandan Wangi.
"Aku akan menemuinya langsung, dan menga-
jaknya bertarung," sahut Rangga tegas.
"Kau gila, Kakang..."!" sentak Pandan Wangi terkejut.
Bukan hanya Pandan Wangi saja yang terkejut
mendengar tekad Rangga yang tidak diduga-duga itu.
Bahkan Malita dan ketiga putra Elang Maut hampir
membeliakkan mata. Mereka semua tahu, betapa ting-
ginya ilmu kesaktian yang dimiliki si Jago dari Alam Kubur itu. Meskipun, mereka
juga sudah sering mendengar tentang kedigdayaan Pendekar Rajawali Sakti.
Memang tidak mudah bagi mereka untuk menilai, sia-
pa di antara Raden Gordapala dan Rangga yang lebih
tinggi kepandaiannya. Dan keputusan Rangga barusan
benar-benar membuat mereka seakan-akan berhenti
bernapas seketika.
"Aku tidak ingin terjadi pertumpahan darah di
Karang Setra, Pandan. Dan aku harus bertanggung ja-
wab atas keselamatan seluruh rakyat Karang Setra.
Dan lagi, harus ada orang yang berani menantangnya
bertarung," tegas Rangga.
'Tapi, Kakang...," Pandan Wangi benar-benar ti-
dak mampu menyembunyikan kecemasannya.
"Kau meragukan kemampuanku, Pandan?"
Pandan Wangi tidak bisa menjawab, kecuali
menggigit-gigit bibirnya. Dicobanya untuk menghilangkan kecemasan yang tiba-tiba
saja menyelimuti selu-
ruh rongga dadanya. Sungguh, baru kali ini hatinya
merasa cemas yang amat sangat. Biasanya, gadis itu
tidak pernah merasa cemas seperti ini, meskipun
Rangga harus berhadapan dengan tokoh persilatan
berkepandaian tinggi. Tapi yang harus dihadapi kail ini bukan manusia. Yang
jelas, dia adalah iblis dari neraka yang berujud manusia bernama Raden
Gordapala. Memang, tak ada seorang pun yang bisa mengukur
tingkat kepandaian si Jago dari Alam Kubur itu. Bah-
kan kalaupun mati, pasti bisa bangkit lagi. Dan iblis itu akan mencari orang
yang mengirimnya ke lubang
kubur. Hal itu sudah berlangsung selama lebih seratus tahun. Bahkan Raden
Gordapala tidak akan pernah
menjadi tua. Karena setiap kali terbunuh dalam pertarungan, dalam waktu paling
lama sepuluh tahun su-
dah bisa bangkit kembali. Malah tidak jarang ke-
bangkitannya hanya beberapa hari setelah tewas da-
lam pertarungan.
Sementara Rangga memutar tubuhnya, lalu
menatap ke arah Puncak Gunung Tangkup yang tam-
pak angkuh, menjulang tinggi menentang langit. Selu-
ruh puncak gunung itu terlihat berselimut kabut yang begitu tebal. Paling tidak
memerlukan waktu sedikit-nya tiga hari berkuda untuk mencapai kaki gunung itu
dari Kotaraja Karang Setra. Malah, tidak sedikit waktu yang diperlukan untuk
mencapai puncaknya. Bisa lebih dari satu pekan baru sampai ke Puncak Gunung
Tangkup itu. "Di puncak gunung itu sarang mereka, Gusti
Prabu," kata Banara memberi tahu tanpa diminta.
"Hm.... Rupanya kau tahu banyak tentang dia,
Banara," gumam Rangga perlahan.
"Ayah hamba yang memberi tahu sebelum me-
ninggal, Gusti Prabu," sahut Banara.
"Sebaiknya, kau jangan memanggilku dengan
sebutan itu. Panggil saja aku seperti Pandan Wangi
sering memanggilku," pinta Rangga.
'Tapi...," Banara hendak menolak.
"Itu sudah biasa, Banara. Kakang Rangga tidak
pernah suka dipanggil dengan sebutan itu. Kecuali, di dalam istana," serobot
Pandan Wangi. "Sungguh mulia hati Gusti Prabu," puji Banara, tulus. "Sudahlah.... Lupakan
panggilan itu," selak Rangga tidak ingin mendengar sebutan itu lagi.
"Baiklah, Ka..., Kakang," sahut Banara jadi canggung.
Rangga tersenyum dan menepuk pundak Bana-
ra dengan sikap penuh persahabatan. Dan sikap Pen-
dekar Rajawali Sakti membuat Banara merasa begitu
bangga, karena sekarang memiliki sahabat seorang
pendekar digdaya yang juga seorang raja dari sebuah
kerajaan besar di wilayah kulon ini.
"Pandan! Bawalah mereka ke istana. Aku akan
ke istana di Gunung Tangkup itu. Katakan pada Da-
nupaksi untuk selalu waspada. Karena, aku sudah
menemukan dua orang dari mereka ternyata ada di ko-
taraja," ujar Rangga pada Pandan Wangi.
"Kau sendiri saja, Kakang?" tanya Pandan
Wangi. Rangga hanya tersenyum saja, seraya menger-
dipkan sebelah matanya pada si Kipas Maut itu. Pan-
dan Wangi langsung bisa mengerti. Dia tahu, Rangga
pasti akan datang menemui Raden Gordapala bersama
Rajawali Putih. Seekor burung rajawali raksasa berbu-lu putih keperakan. Ada
sedikit ketenteraman di hati Pandan Wangi saat mengingat Rangga memiliki
pelindung yang tidak dimiliki orang lain. Tapi, tetap saja kecemasan masih
terselip dalam hatinya.
"Kami pergi dulu, Kakang," pamit Pandan Wan-gi. Rangga mengangguk.
"Ayo, kita ke istana dulu. Sumbangan tenaga
kalian pasti sangat diperlukan untuk mengetahui me-
reka yang ada di kotaraja saat ini," ajak Pandan Wangi.
Pandan Wangi dan ketiga putra Elang Maut
memberi hormat pada Rangga dengan merapatkan ke-
dua tangan di depan hidung. Kemudian, mereka naik
ke punggung kuda masing-masing, mengikuti Pandan
Wangi yang sudah berada di punggung kuda putihnya.
"Hati-hati, Kakang. Aku segera menyusulmu,"
ucap Pandan Wangi.
Rangga hanya tersenyum saja.
"Hiya...!"
"Yeaaah...!"
Pandan Wangi menggebah kudanya, diikuti
yang lain. Sementara, Rangga masih berdiri meman-
dangi mereka sampai jauh, dan lenyap di tikungan ja-
lan yang langsung menuju ke Kotaraja Karang Setra.
Sebentar Rangga masih berada di tepi sungai itu sam-
bil memandang ke Puncak Gunung Tangkup.
"Hm...."
*** "Suiiit..!"
Siulan nyaring melengking tinggi terdengar
membelah angkasa dari sebuah padang rumput yang
tidak begitu luas. Siulan itu menggema terbawa angin.
Entah sudah berapa kali siulan itu terdengar panjang melengking. Dan ini mungkin
sudah yang keempat ka-linya siulan itu terdengar.
Tampak di tengah-tengah padang rumput kecil
itu seorang pemuda berbaju rompi putih tengah berdiri tegak. Kepalanya mendongak
ke atas, memandang langit. Pemuda yang menyandang pedang bergagang kepa-
la burung itu, tak lain adalah Rangga yang lebih di-
kenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti.
"Suiiit..!"
Kembali Pendekar Rajawali Sakti mengeluarkan
siulannya yang nyaring dan bernada aneh itu. Kepa-
lanya masih tetap mendongak ke atas. Tapi, tak ada
yang bisa dilihatnya selain gumpalan awan putih yang berarak tertiup angin.
"Hm.... Tidak biasanya begini. Kenapa sudah
lima kali aku memangilnya tapi belum juga muncul...?"
gumam Rangga bertanya sendiri dalam hari.
Rangga memang jadi tidak mengerti. Sudah li-
ma kali bersiul memanggil Rajawali Putih, tapi burung itu belum juga muncul.
Biasanya, hanya satu kali
panggilan saja Rajawali Putih sudah muncul tidak la-
ma setelah siulan itu menghilang dari pendengaran.
Tapi ini sudah lima kali, namun burung rajawali rak-
sasa itu belum juga menampakkan diri. Hal ini mem-
buat Rangga jadi bertanya-tanya sendiri dalam hati.
Dan memang, tidak biasanya hal ini terjadi.
"Aku coba sekali lagi," ujar Rangga menggumam perlahan.
Pendekar Rajawali Sakti kembali bersiap. Lalu
dikeluarkannya siulan yang panjang dan nyaring me-
lengking tinggi. Tapi mendadak saja siulannya dihentikan. Kepalanya kini
menggeleng ke kanan dan ke kiri, sementara keningnya tampak berkerut Rangga
mengedarkan pandangan berkeliling. Tak ada sesuatu pun
yang mencurigakan. Padang rumput ini tampak begitu
sunyi sekali. Bahkan seekor binatang pun tidak dili-
hatnya. "Hm..., aneh. Aku merasa siulanku terdengar lain. Seperti ada dua
suara...," gumam Rangga bicara dalam hati.
Rangga kembali mengedarkan pandangan ber-
keliling, sambil terus mencari-cari jawaban dari kea-nehan ini. Hatinya begitu
yakin kalau siulannya ter-
dengar janggal. Dan ini baru disadari kalau siulannya seperti ada yang menyamai,
sehingga terdengar begitu lain. Pantas saja Rajawali Putih tidak mau muncul
sejak tadi. "Aku yakin, ada seseorang yang mengacaukan


Pendekar Rajawali Sakti 65 Kuda Api Gordapala di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

siulanku. Hm..., baik. Aku pasti segera tahu, siapa
orang usil itu," gumam Rangga dalam hati.
Pendekar Rajawali Sakti kembali mendongak-
kan kepala ke atas. Lalu, kembali dikeluarkannya si-
ulan nyaring melengking. Tapi mendadak saja siulan-
nya dihentikan. Dan sesaat, terdengar suara siulan
lain yang juga mendadak berhenti.
"Keparat..!" desis Rangga menggeram. "Hup...!"
Bagaikan kilat Pendekar Rajawali Sakti melen-
tingkan tubuh dengan cepat sekali. Begitu sempur-
nanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pemuda
berbaju rompi putih itu, sehingga gerakannya sukar
diikuti mata biasa. Dan tahu-tahu, Rangga sudah ber-
diri tegak di atas sebongkah batu yang begitu besar
dan tinggi bagai bukit.
"Setan...! Rupanya kalian biang keladinya," desis Rangga menggeram dalam hati,
begitu melihat seo-
rang laki-laki tua berjubah putih dan dua orang laki-laki kembar bersembunyi di
balik sebatang pohon.
Jelas sekali mereka memperhatikan padang
rumput itu. Dan tampaknya, mereka tengah kebingun-
gan. Karena, tiba-tiba saja orang yang diperhatikan lenyap begitu saja seperti
ditelan bumi. Dan pada saat itu, Rangga meluruk turun dengan gerakan cepat dan
manis sekali. Begitu ringannya seperti kapas, sehingga tak ada suara sedikit pun
yang ditimbulkannya saat
kaki nya menjejak tanah di belakang tiga orang ini.
Tapi kehadiran Pendekar Rajawali Sakti cepat
diketahui, sehingga mereka langsung berbalik. Tampak sekali raut wajah mereka
begitu terkejut melihat pemuda yang sejak tadi diintainya, tahu-tahu sudah be-
rada di belakang.
"Rupanya tikus-tikus macam kalian yang
mengganggu pekerjaanku," desis Rangga dingin meng-
getarkan. Wajah Pendekar Rajawali Sakti tampak keliha-
tan memerah, melihat dua laki-laki kembar yang sem-
pat bertarung dengannya di depan kuil. Mereka adalah Iblis Kembar dari Utara.
Sedangkan yang seorang lagi adalah laki-laki tua berjubah putih. Sepasang
tongkat pendek yang pada bagian ujung-ujungnya berbentuk
mata tombak bermata tiga, tampak tergenggam di tan-
gannya. Rangga bisa langsung mengenali, kalau laki-
laki tua berjubah putih itu adalah Kakek Siulan Maut.
Dia ingat cerita Banara dan Malita yang menyebutkan
ciri-ciri semua pengikut Raden Gordapala. Dan salah
satunya, adalah Kakek Siulan Maut ini.
"He he he...! Kau benar-benar hebat Anak Mu-
da. Tidak percuma kau dijuluki Pendekar Rajawali
Sakti, sehingga menggemparkan rimba persilatan,"
ujar Kakek Siulan Maut sinis, diiringi tawanya yang
terkekeh. 'Terima kasih atas pujian mu, Orang Tua," ucap
Rangga tidak kalah sinisnya.
"Kau tentu masih ingat kedua temanku ini,
Pendekar Rajawali Sakti...," kata Kakek Siulan Maut lagi, seraya menunjuk Iblis
Kembar dari Utara yang berada di sebelah kanan dan kirinya.
Rangga hanya menggumam perlahan sambil
menatap tajam Iblis Kembar dari Utara. Sedangkan la-
ki-laki kembar itu sudah menggeser kakinya melebar
ke samping, menjauhi Kakek Siulan Maut. Mereka ba-
ru berhenti setelah berada sekitar sepuluh langkah di kanan dan kiri Pendekar
Rajawali Sakti. Sedangkan
Kakek Siulan Maut masih berada sekitar lima langkah
di depan pemuda berbaju rompi putih itu.
"Aku sudah tahu, siapa kalian. Dan aku juga
sudah tahu tujuan kalian datang ke sini," kata Rangga tajam, sambil menatap
langsung ke bola mata Kakek
Siulan Maut. Perlahan Rangga meraba sabuk yang membelit
pinggangnya. Kemudian dikeluarkannya sebilah pisau
kecil berwarna keemasan dari balik sabuk ping-
gangnya. Bukan hanya Kakek Siulan Maut yang terbe-
liak melihat pisau emas itu berada di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan
Iblis Kembar dari Utara jadi
terlongong bengong dengan mata membeliak lebar,
menatap pisau emas itu.
"Kalian menginginkan ini, bukan...?" ujar Rangga sinis, sambil menyimpan kembali
pisau emas itu ke dalam kantung sabuk pinggangnya.
"Rupanya kau yang memegang pisau emas itu,
Pendekar Rajawali Sakti! Pantas saja kau tidak muncul di Hutan Gronggong,"
dengus Kakek Siulan Maut.
"Untuk apa aku datang ke sana..." Aku bukan
budak iblis seperti kalian," dingin sekali nada suara Rangga.
"Setan keparat..! Lidahmu terlalu lancang ber-
bicara, Pendekar Rajawali Sakti!" geram Kakek Siulan Maut langsung memuncak
amarahnya. "Kalian ingin pisau jelek ini, bukan..." Ambillah kalau kalian mampu!" jelas
sekali kalau kata-kata Rangga bernada menantang.
"Kau akan menyesal di dalam kematianmu, Bo-
cah Setan!" geram Kakek Siulan Maut.
"Biarkan kami yang bereskan, Kek!" selak Iblis Hitam, lantang. "Hiyaaat..!"
"Hait..!"
*** 8 Rangga cepat-cepat memiringkan tubuh. ke be-
lakang begitu tiba-tiba saja Iblis Hitam melompat cepat sambil melepaskan satu
pukulan keras bertenaga dalam tinggi. Pukulan Iblis Hitam lewat di depan dada
Pendekar Rajawali Sakti. Dan pada saat itu juga, cepat sekali Rangga melepaskan
satu sodokan kilat ke arah
perut. Begitu cepat dan tidak terduga serangan balasannya, sehingga Iblis Hitam
tidak sempat lagi meng-
hindar. Des! "Hegkh...!"
Iblis Hitam mengeluh pendek. Tubuhnya ter-
bungkuk begitu perutnya terkena sodokan tangan
Rangga. Pada saat itu, Rangga cepat melepaskan satu
pukulan keras ke wajah Iblis Hitam yang tertunduk.
Cepat sekali pukulan Pendekar Rajawali Sakti, sehing-ga Iblis Hitam benar-benar
tidak sempat lagi menghindar.
Diegkh! "Akh...!" Iblis Hitam terpekik keras.
Kepalanya langsung terdongak ke atas begitu
pukulan Rangga bersarang telak di wajahnya. Iblis Hitam Langsung terhuyung-
huyung ke belakang sambil
menutupi wajahnya. Dari sela-sela jari tangannya
tampak mengucur darah cukup deras.
"Setan keparat...! Kubunuh kau, hiyaaat..!"
Iblis Biru tidak bisa lagi menahan amarahnya
melihat saudara kembarnya terluka kena pukulan
Rangga yang begitu keras, walaupun tidak disertai
pengerahan tenaga dalam penuh. Beberapa kali Iblis
Biru melepaskan pukulan beruntun. Tapi lewat jurus
'Sembilan Langkah Ajaib', Pendekar Rajawali Sakti
berhasil menghindari pukulan-pukulan itu dengan
manis sekali. Bahkan....
"Yeaaah...!"
Tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti cepat
merubah jurusnya. Satu pukulan keras menggeledek
melayang cepat bagai kilat ke arah dada Iblis Biru. Begitu cepatnya serangan
balik yang dilancarkan Rangga, sehingga Iblis Biru tidak sempat lagi menghindari
pukulan bertenaga dalam tinggi dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.
Des! "Aaakh...!" Iblis Biru menjerit melengking tinggi.
Pukulan yang dilepaskan Rangga memang tepat
mengenai dada Iblis Biru. Akibatnya laki-laki itu jadi terpental keras ke
belakang. Rangga cepat-cepat melompat mundur. Kakinya dipentang lebar, dan kedua
tangannya berada di depan dada. Tatapan matanya
begitu tajam, mengawasi ketiga orang lawannya.
Sret! Cring! "Hm...," Rangga menggumam kecil begitu ketiga lawannya mencabut senjata masing-
masing. Iblis Kembar dari Utara yang begitu dendam
pada Pendekar Rajawali Sakti, sudah bergerak me-
langkah perlahan sambil melintangkan golok di depan
dada. Sementara Kakek Siulan Maut masih tetap ber-
diri tegak pada tempatnya. Sedikit pun dia tidak bergeming, sambil terus
memperhatikan Rangga dengan
sinar mata tajam. Seakan-akan sedang mengukur
tingkat kepandaian Pendekar Rajawali Sakti.
"Kalian menggunakan senjata. Bagus...! Lebih
cepat urusan ini selesai, rasanya lebih baik lagi," kata Rangga dingin. "Aku
juga punya senjata yang jauh le-
bih bagus daripada senjata rongsokan kalian."
"Jangan banyak omong! Mampus kau.Hiyaaa...!"
Iblis Kembar dari Utara cepat sekali melompat
menerjang sambil mengebutkan goloknya ke arah ke-
pala Rangga. Tapi hanya sedikit saja menarik kepala
ke belakang, tebasan golok Iblis Biru hanya lewat sedikit saja di depan
wajahnya. "Hiya! Hiya! Yeaaah...!"
Iblis Hitam juga tidak mau ketinggalan. Lang-
sung dia melompat menyerang begitu serangan sauda-
ra kembarnya manis sekali dapat dielakkan Rangga.
Dan mereka memang seperti tidak memberi kesempa-
tan Pendekar Rajawali Sakti untuk mencabut senja-
tanya. Serangan mereka bergantian, dan begitu gencar dengan jurus-jurus cepat
dan dahsyat. Namun sampai lima jurus berlalu, belum juga
Iblis Kembar dari Utara mampu menjatuhkan Pende-
kar Rajawali Sakti. Bahkan untuk mendesak saja, su-
dah terlalu berat Tidak heran mereka terpaksa harus
berjumpalitan beberapa kali menghindari serangan se-
rangan balasan yang dilancarkan Pendekar Rajawali
Sakti. "Hup! Yeaaah...!"
Tiba-tiba saja Rangga melentingkan tubuh ke
udara. Lalu....
"Suiiit..!"
Nyaring sekali siulan yang dikeluarkan Pende-
kar Rajawali Sakti begitu berada di udara. Lalu cepat sekali tubuhnya meluruk
deras ke arah Iblis Kembar
dari Utara sambil mencabut pedangnya yang tersampir
dl punggung. "Hiyaaa...!"
Cring! Seketika itu juga cahaya biru berkilau, me-
nyemburat keluar begitu Pedang Rajawali Sakti terca-
but dari warangkanya. Cepat sekali Rangga menge-
butkan pedangnya ke arah Iblis Kembar dari Utara.
Akibatnya, dua orang kembar itu jadi berpelantingan menghindarinya. Bahkan
mereka benar-benar tidak
kuat lagi bertahan, karena Rangga menggunakan jurus
'Pedang Pemecah Sukma'. Beberapa gebrakan saja ber-
langsung, perhatian dan jiwa mereka jadi terpecah-
pecah akibat pengaruh jurus 'Pedang Pemecah Sukma'
yang dikeluarkan Pendekar Rajawali Sakti saat ini.
"Hiyaaat..!"
Sambil berteriak keras menggelegar, tiba-tiba
saja Rangga mengebutkan pedang ke arah dada Iblis
Hitam. Begitu cepatnya tebasan pedang bercahaya biru itu, sehingga Iblis Hitam
benar-benar tidak dapat lagi berkelit.
Cras! "Aaa...!"
Satu jeritan panjang melengking tinggi terden-
gar begitu menyayat.
Tampak Iblis Hitam terhuyung-huyung ke bela-
kang sambil mendekap dadanya yang terbelah oleh te-
basan pedang Rangga. Darah kontan mengucur deras
dari dada yang menganga cukup lebar itu.
"Hiyaaa...!"
Belum lagi ada yang sempat menyadari apa
yang terjadi pada Iblis Hitam, Rangga sudah melompat cepat sambil menusukkan
pedangnya ke dada Iblis Bi-ru. Begitu cepat serangannya sehingga Iblis Biru
tidak sempat lagi menghindari diri. Dan....
Crab! "Heps...!"
Iblis Biru hanya mengeluh kecil. Dia tampak
berdiri mematung dengan bola mata terbeliak lebar.
Lalu tak berapa lama kemudian, tubuhnya ambruk ke
tanah dengan darah mengucur deras dari dada.
"Keparat...!" desis Kakek Siulan Maut menggeram marah melihat Iblis Kembar dari
Utara sudah ter-
geletak berlumuran darah dan tak bernyawa lagi.
"Khraaagkh...!"
Tiba-tiba saja terdengar pekikan keras meng-
gelegar dari angkasa. Rangga dan Kakek Siulan Mau
langsung mendongak ke atas. Seketika itu juga, wajah Kakek Siulan Maut jadi
berubah memucat, begitu melihat seekor burung rajawali raksasa menukik cepat
bagai kilat ke arahnya.
"Khraaagkh...!"
"Rajawali, jangan...!" seru Rangga tiba-tiba.
Tapi.... "Aaa...!"
"Khraaagkh...!"
Memang kecepatan burung rajawali putih rak-
sasa itu sukar diikuti pandangan mata biasa. Tiba-tiba saja, Rajawali Putih
sudah melambung tinggi ke angkasa sambil menyambar tubuh Kakek Siulan Maut.
Dan begitu pada ketinggian hampir mencapai awan, ti-
ba-tiba saja Rajawali Putih melepaskan cengkeraman-
nya pada tubuh Kakek Siulan Maut.
"Aaa...!"
Tidak bisa dibayangkan, bagaimana jadinya bila
tubuh tua renta itu menghantam tanah. Dan Rangga
sendiri segera memalingkan mukanya begitu tubuh
Kakek Siulan Maut keras sekali menghantam tanah.
"Khraaagkh...!"
Rajawali Putih langsung menukik turun, dan
mendarat tepat di depan Rangga. Sementara, Rangga
sempat memperhatikan tubuh Kakek Siulan Maut
yang menggeletak di tanah dengan tubuh hancur
membentur batu.
"Kenapa kau lakukan itu, Rajawali Putih?"


Pendekar Rajawali Sakti 65 Kuda Api Gordapala di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tanya Rangga seraya menepuk leher Rajawali Putih.
"Khraaagkh...!"
"Hm.... Jadi kau juga tahu kalau panggilan ku
diganggu?"
"Khrrr...!" Rajawali Putih mengkirik sambil menganggukkan kepala.
"Sudahlah, Rajawali Putih. Sebaiknya kita sege-
ra pergi ke Puncak Gunung Tangkup. Ada satu persoa-
lan yang harus kuselesaikan di sana," ujar Rangga.
"Khraaagkh...!"
"Hup!"
Ringan sekali gerakan Pendekar Rajawali Sakti
saat melompat naik ke punggung dekat leher burung
rajawali raksasa itu. Dan sebentar saja, Rajawali Putih sudah melayang di
angkasa dengan seorang pemuda
berbaju rompi putih di punggungnya.
"Khraaagkh...!"
*** Rangga cepat melompat turun dari punggung
Rajawali Putih, begitu mendarat di depan sebuah ban-
gunan besar bagai istana yang tampak sudah tahunan
tidak dihuni. Inilah Istana Setan yang berdiri di Puncak Gunung Tangkup. Melihat
bangunan istana ini,
kesan pertama yang muncul adalah rasa mengerikan
yang amat sangat.
Pendekar Rajawali Sakti melangkah perlahan-
lahan mendekati pintu depan yang terbuka lebar.
Penghuni istana ini sepertinya sudah menanti
kedatangannya. Kelopak mata Rangga tidak berkedip
merayapi pintu bangunan istana itu. Tak ada seorang
pun terlihat di dalam sana. Bahkan sekelilingnya juga begitu sunyi. Sampai-
sampai, angin pun seperti enggan berhembus. Begitu sunyi dan sangat mencekam.
"Awasi aku dari angkasa, Rajawali Putih," pinta Rangga.
"Khrrrk...!"
Rajawali Putih langsung membumbung tinggi
ke angkasa hanya sekali mengepakkan sayapnya saja.
Sementara, Rangga sudah semakin dekat dengan pintu
bangunan istana itu. Sinar matanya masih tetap tajam tak berkedip memandangi
pintu yang terbuka lebar,
bagai sengaja menanti kedatangannya.
"Ha ha ha...!" tiba-tiba saja terdengar suara ta-wa yang begitu keras
menggelegar. "Hm...."
Belum lagi suara tawa itu menghilang dari pen-
dengaran, tiba-tiba saja dari dalam bangunan istana
itu melesat sebuah bayangan merah. Dan tahu-tahu,
di depan Pendekar Rajawali Sakti sudah berdiri se-
orang pemuda tampan berbaju merah muda yang be-
gitu indah. "Selamat datang di istanaku, Pendekar Rajawali
Sakti," ucap pemuda itu, disertai senyum menyeringai mengulas bibirnya yang
tipis memerah, bagai bibir seorang dara.
"Hm..., kau yang bernama Raden Gordapala?"
Rangga langsung bertanya. Suaranya dingin
dan dalam. "Tidak salah lagi, Pendekar Rajawali Sakti. Kau berhadapan dengan Raden
Gordapala, penguasa seluruh jagat raya ini. Ha ha ha...!" pongah sekali sikap
dan jawaban pemuda tampan itu.
"Hm...," Rangga hanya menggumam kecil.
"Apa maksud kedatanganmu ke sini, Pendekar
Rajawali Sakti?" tanya Raden Gordapala yang lebih dikenal berjuluk Jago dari
Alam Kubur. "Mengirimmu kembali ke alam kubur," sahut
Rangga, tegas dan dalam suaranya.
"Phuah...! Lidahmu terlalu lancang bicara, Pen-
dekar Rajawali Sakti!" sentak Raden Gordapala, langsung memerah wajahnya.
"Aku tahu, siapa dirimu, Raden Gordapala. Dan
sebelum kau menyebar maut lebih banyak lagi, aku
akan mengirimmu lebih dulu ke neraka!" semakin dingin nada suara Rangga.
"Ha ha ha...!"
"Bumi ini bukan tempatmu lagi, Raden Gorda-
pala. Kau tidak berhak lagi hidup di dunia ini...," kata Rangga lagi.
"Tutup mulutmu, Setan...!" bentak Raden Gordapala keras menggelegar.
"Aku hanya akan memperpendek jalan menuju
ke tempatmu, Raden Gordapala," kata Rangga lagi tidak terpengaruh sedikit pun
oleh bentakan pemuda
tampan yang sebenarnya sudah mati itu.
"Setan keparat...! Kau benar-benar cari mam-
pus rupanya, heh..."!" geram Raden Gordapala langsung memuncak amarahnya.
"Rasakan ini. Hiyaaa...!"
Cepat sekali Jago dari Alam Kubur itu menge-
butkan tangan kanannya. Dan tiba-tiba saja, dari telapak tangan kanannya
meluncur secercah sinar merah
yang langsung meluruk cepat ke arah Pendekar Raja-
wali Sakti. "Hup!"
Tapi mudah sekali Rangga mengelakkan terjan-
gan sinar merah itu dengan melentingkan tubuh ke
udara. Ledakan keras menggelegar terdengar dahsyat
begitu sinar merah menghantam tanah tempat Rangga
berdiri tadi. "Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"
Raden Gordapala terus menghujani Rangga de-
ngan sinar-sinar merah yang keluar dari telapak tan-
gan kanan dan kiri yang dikebutkan secara cepat dan
bergantian. Sementara, Rangga terpaksa harus berpe-
lantingan di udara menghindari serangan-serangan
dahsyat itu. Suara-suara ledakan keras menggelegar
terdengar saling susul.
Sebentar saja, sudah begitu banyak pepohonan
yang tumbang, tersambar sinar merah yang tidak
mengenai sasaran. Bahkan tanah yang semula tertu-
tup rumput tebal, kini sudah terbongkar teracak-acak tidak karuan. Sementara,
Raden Gordapala terus
menghujani Pendekar Rajawali Sakti dengan senjata
sinar merahnya.
"Gila...! Kalau begini terus, bisa habis tenaga-ku," dengus Rangga dalam hati.
Memang serangan-serangan yang dilancarkan
Raden Gordapala begitu dahsyat dan gencar. Bukan
hanya sinar-sinar merah itu saja yang menghujani tu-
buh Rangga. Tapi juga pukulan-pukulan keras berte-
naga dalam tinggi juga dilepaskan Jago dari Alam Ku-
bur itu. Entah sudah berapa jurus pertarungan itu
berlalu. Tapi, belum ada tanda-tanda sedikit pun bakal berhenti. Bahkan
pertarungan itu semakin bertambah
dahsyat saja, sehingga membuat sekitar pertarungan
porak-poranda bagai terlanda badai topan.
"Huh! Akan ku coba dengan aji 'Cakra Buana
Sukma'," gumam Rangga dalam hati lagi. "Hup...!"
Rangga cepat-cepat melentingkan tubuh, ber-
putaran ke belakang beberapa kali begitu ada kesem-
patan. Dan begitu kakinya menjejak tanah, cepat ke-
dua telapak tangannya dirapatkan di depan dada. Lalu tubuhnya ditarik hingga
doyong ke kanan. Cepat sekali Rangga menarik tubuhnya kembali ke kiri. Dan
begitu tubuhnya ditegakkan, tiba-tiba saja Pendekar
Rajawali Sakti menghentakkan kedua tangannya ke
depan, tepat di saat Raden Gordapala melepaskan si-
nar merahnya. "Aji 'Cakra Buana Sukma'...! Yeaaah...!" teriak Rangga keras menggelegar.
Slap! Seketika itu juga dari kedua telapak tangan
Pendekar Rajawali Sakti meluncur secercah cahaya bi-
ru berkilauan menyilaukan mata. Dua cahaya merah
dan biru itu langsung beradu tepat di tengah-tengah.
"Hep...!"
Rangga segera merentangkan kedua kakinya
melebar ke samping, begitu merasakan mendapat per-
lawanan dari Raden Gordapala. Dua sinar saling do-
rong dengan kekuatan semakin berlipat ganda. Tam-
pak tubuh Rangga mulai menggeletar, diiringi keringat yang mengucur deras di
seluruh tubuhnya. Sedangkan
wajah Raden Gordapala juga tampak memerah dengan
tubuh menggeletar seperti terserang demam. Mereka
sama-sama mengerahkan seluruh kekuatannya.
"Hsss...! Yeaaah...!"
Tiba-tiba saja Rangga melentingkan tubuh ke
udara sambil menarik kembali ajiannya. Sehingga, sinar merah yang memancar dari
telapak tangan Raden
Gordapala langsung meluncur deras tanpa dapat dice-
gah lagi. Beberapa pohon yang terhantam sinar merah
itu seketika hancur berkeping-keping, menimbulkan
ledakan keras menggelegar.
"Hiyaaa...!"
Sret! Wuk! Cepat sekali Rangga mencabut pedangnya, lalu
secepat kilat pula dikibaskan ke kepala Raden Gor-
dapala. Begitu cepatnya serangan yang dilakukan Pen-
dekar Rajawali Sakti, sehingga Raden Gordapala tidak sempat lagi menghindar.
Terlebih lagi, saat itu dia tengah terkejut oleh tindakan Rangga yang begitu
tiba- tiba menarik ajiannya. Padahal saat itu dia tengah
mengeluarkan seluruh kekuatan pada ajiannya yang
sangat dahsyat. Dan....
Cras! "Aaa...!" Raden Gordapala menjerit melengking tinggi. Tebasan pedang Rangga
tepat membelah kepala Jago dari Alam Kubur itu, hingga hampir terbelah
menjadi dua bagian. Darah seketika muncrat dari ke-
pala manusia iblis itu. Pada saat itu, Rangga manis sekali memutar tubuhnya. Dan
begitu kakinya menjejak
tanah di depan Raden Gordapala, cepat sekali pedang-
nya dikebutkan ke dada Jago dari Alam Kubur.
'Yeaaah...!"
Bet! Crab! Kembali darah muncrat begitu Pedang Rajawali
Sakti membelah dada pemuda tampan itu. Raden Gor-
dapala meraung keras menggelegar, membuat bumi
bergetar bagai diguncang gempa. Rangga cepat-cepat
melompat sambil melepaskan satu tendangan keras
menggeledek, begitu melihat Raden Gordapala masih
mampu berdiri. Tubuh Jago dari Alam Kubur itu ter-
pental deras ke belakang, dan baru berhenti setelah
menghantam dinding bangunan istana tua itu.
"Hhh...!" Rangga menghembuskan napas pan-
jang. Sementara Raden Gordapala hanya mampu
menggelepar sebentar, kemudian diam tak berkutik la-
gi. Perlahan Rangga menghampiri sambil menyimpan
pedang ke dalam warangka di punggung. Sejenak Pen-
dekar Rajawali Sakti memperhatikan dada Jago Alam
Kubur yang terbelah cukup lebar itu. Tampak di dalam dada itu terhunjam tujuh
bilah pisau kecil berwarna kuning keemasan.
Tanpa menunggu waktu lagi, Rangga segera
mencabut pisau-pisau dari dalam dada Raden Gorda-
pala. Lalu, pisau-pisau itu disimpannya di dalam saku sabuk pinggangnya. Setelah
semua pisau dicabut,
Rangga segera melangkah mundur menjauhi tubuh
yang sudah tergeletak tak bernyawa lagi.
"Suit..!"
Rangga bersiul nyaring sambil mendongakkan
kepala ke atas.
"Khraaagkh...!"
Dari angkasa, meluncur Rajawali Putih dengan
cepat sekali. Burung rajawali raksasa itu langsung
mendarat di depan Rangga. Sebentar Pendekar Raja-
wali Sakti memperhatikan Raden Gordapala yang su-
dah tergeletak tak bernyawa lagi, kemudian mengedar-
kan pandangan ke sekeliling. Lalu dengan gerakan ringan dan manis sekali,
Pendekar Rajawali Sakti melom-
pat naik ke punggung Rajawali Putih.
"Langsung ke istana, Rajawali," pinta Rangga.
"Khraaagkh...!"
Wuk! Sekali kepak saja, burung rajawali raksasa itu
sudah melambung tinggi ke angkasa membawa Rangga
di punggungnya. Belum juga Rajawali Putih melesat
meninggalkan bangunan istana tua itu, tiba-tiba sa-
ja.... "Tunggu, Rajawali...!" seru Rangga.
"Khragkh!"
"Jaran Geni...," desis Rangga begitu melihat seekor kuda hitam tiba-tiba saja
muncul menghampiri
Raden Gordapala.
Rangga hampir tidak percaya dengan pengliha-
tannya sendiri. Ternyata Raden Gordapala bisa bangkit lagi setelah kuda hitam
itu menyemburkan api dari
mulutnya, yang langsung menjilat dada Jago dari Alam Kubur itu. Tampak Raden
Gordapala melompat naik ke
punggung kuda hitam itu. Bahkan kini kepalanya su-
dah utuh kembali. Dadanya yang tadi terbelah, kini ju-ga sudah rapat tak
berbekas sama sekali.
"Ha ha ha...! Tunggu pembalasanku, Pendekar
Rajawali Sakti! Aku belum kalah! Aku belum mati! Ha
ha ha...!"
"Edan...!" desis Rangga tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.
Suara tawa Raden Gordapala masih terdengar
menggema ke seluruh penjuru. Padahal, dia sendiri
sudah lenyap bersama kuda hitam yang berlari begitu
cepat bagaikan terbang saja. Sementara Rangga yang
berada di angkasa bersama Rajawali Putih, jadi ter-
tegun tidak percaya.
"Hm.... Mungkinkah dia memang tidak bisa ma-
ti...?" gumam Rangga bertanya sendiri dalam hati.
Setelah beberapa saat terdiam merenung, Pen-
dekar Rajawali Sakti meminta Rajawali Putih mengan-
tarkannya ke Istana Karang Setra. Maka, burung raja-
wali raksasa itu langsung melesat cepat bagai kilat
membelah angkasa.
"Khraaagkh...!"
Benarkah Raden Gordapala tidak bisa mati" La-


Pendekar Rajawali Sakti 65 Kuda Api Gordapala di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lu apa yang akan terjadi bila Jago dari Alam Kubur itu
benar-benar melaksanakan ancamannya pada Pende-
kar Rajawali Sakti" Apakah Rangga mampu menan-
dingi manusia iblis itu" Untuk mengetahui jawaban-
nya, nantikan kisah petualangan Pendekar Rajawali
Sakti dalam episode "Rahasia Gordapala".
SELESAI Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: Lovely Peace
Utusan Lembah Kubur 2 Pendekar Naga Putih 70 Gendruwo Rimba Dandara Pedang Dan Kitab Suci 21
^