Pencarian

Lima Wajah Seribu Dendam 2

Roro Centil 06 Lima Wajah Seribu Dendam Bagian 2


Roro Centil?" Berkata Guriswara dengan kata-kata yang terdengarnya
amat memikat hati.
"Mengapa tidak boleh.." Julukanmu si Pema-
buk, apakah kau tukang mabuk?" Bertanya Roro.
Tampaknya Roro sengaja meladeni apa maunya orang.
Guriswara tertawa terbahak-bahak dan menyahuti:
"Ah..! Itu hanya julukan saja. Eh agaknya nona
Roro Terburu-buru. Apakah ada yang memang penting
harus ditemui..?" Bertanya Guriswara.
"Cukup penting juga. Tapi boleh aku menanya-
kan sesuatu pada anda, sobat Pemabuk?" Tampak si
Pemabuk Dermawan kerutkan alisnya. Sejenak benak-
nya memikir. Pertanyaan apakah yang akan diajukan
oleh nona Pendekar ini" Tapi ia sudah lantas berkata:
"Silahkan! Silahkan! Tanya apapun boleh..! Pas-
ti kujawab...!"
"Baiklah! Yang akan kutanyakan adalah masa-
lah sederhana" Yaitu.. Aku telah melihat di rumah
makan tadi banyak tokoh-tokoh persilatan. Entah dari
golongan mana saja" Dan ada apakah maka sampai
bisa berkumpul di tempat itu..?" Tanya Roro Centil.
Mendengar pertanyaan itu si Pemabuk Dermawan ter-
tawa agak hambar.
"Hm... Sebenarnya pertemuannya itu masih la-
ma. Masih kira-kira satu bulan lagi. Namun beberapa
tokoh hitam maupun putih, telah berdatangan. Karena
hal yang menarik itu tentu saja mengundang perhatian
kaum persilatan..!"
"Pertemuan apakah.." Dan apanya yang mena-
rik..?" Tanya Roro dengan penasaran.
"Di puncak Gunung Mahameru akan diadakan
pertandingan adu kekuatan. Menurut berita yang
sampai ke telingaku. Pertandingan itu adalah untuk
menentukan siapa di antara kaum persilatan yang pal-
ing kuat. Dialah yang akan dijadikan pemimpin dari
kaum persilatan. Dengan tak mengecualikan golongan
apa saja. Hal semacam ini memang selalu diadakan se-
tiap dua puluh tahun sekali. Ketua dari kaum rimba
persilatan yang lama adalah Ki Dharma Tungga. Seo-
rang dari golongan kaum putih. Namun tak ada lagi
kabar beritanya sama sekali. Bahkan tak seorangpun
dari kaum rimba persilatan yang mengetahui dimana
dan kemana adanya Tokoh Sakti yang pernah menjadi
ketua kaum Rimba Persilatan itu. Sebagian orang
mengatakan Ki Dharma Tungga telah wafat." Roro
manggut-manggut mendengar penuturan si Pemabuk
Dermawan. "Apakah masa jabatan Ketua Ki Dharma Tung-
ga telah habis, hingga diadakan lagi pertemuan untuk
pemilihan Ketua yang Baru.." Dan siapakah yang me-
nyelenggarakan untuk mengadakan pertemuan kaum
rimba Persilatan ini..?" Tanya Roro.
"Mengenai hal itu, aku tak mengetahui sama
sekali. Undangan itu disebarkan secara misterius dis-
ertai ancaman. Seandainya tidak hadir, tidak akan di-
akui sebagai orang Rimba Persilatan serta dianggap
pengecut! Dan bila tidak ada yang datang, maka si pe-
nyelenggara akan mengangkat dirinya menjadi ketua
Rimba Persilatan yang baru..!" Tutur Guriswara. Dan selama memberikan penjelasan
itu sepasang matanya
dengan rajin menatap setiap lekuk liku pada tubuh
sang Pendekar Wanita Pantai Selatan. Roro Centil ter-
pukau mendengar berita aneh itu, yang benar-benar ia
baru mendengarnya. Diam-diam ia membathin... Gila..!
Hal itu benar-benar bukan pertemuan resmi, karena
merupakan tantangan serta penghinaan terhadap
kaum Rimba Persilatan. Apa lagi si penyelenggara tak
mau memperkenalkan namanya... Pantas saja banyak
orang yang jadi penasaran untuk berdatangan kema-
ri..!" Pikir Roro.
"Baiklah. Terima kasih atas penjelasan anda
sahabat Pemabuk Dermawan..." Roro sudah akan me-
lanjutkan kata-katanya, namun Guriswara telah cepat
cepat memotong. "Ngng.. Nona Pendekar Pantai Selatan... Nama besar anda telah
membuat aku yang ren-
dah ini menjadi kagum. Ternyata lebih kagum lagi
memandang orangnya!" Mendengar kata-kata itu Roro tersenyum. Ia sudah menduga
akan hal itu. Dan sudah mengetahui siapa adanya Guriswara, dari peringa-
tan yang telah dibisikkan oleh Warok Brengos.
"Aih, sahabat Guriswara..! Anda terlalu meren-
dah. Apalah artinya kepandaianku" Orang terlalu me-
lebih-lebihkan diriku. Padahal aku sendiri merasa tak
enak hati..." Roro Centil menyahuti dengan suara datar. Akan tetapi baru saja
putus bicaranya sudah ber-
kelebat dua sosok tubuh ramping kehadapannya. Ter-
nyata yang datang adalah dua orang wanita. Yang satu
berbaju hijau dengan rambut dikepang dua. Sedang
yang seorang lagi bersanggul, dengan tusuk konde
yang berbentuk kipas. Berbaju ungu. Anehnya kedua
orang wanita itu menatap Roro seperti wajah orang
cemburu... "Hm, inikah gerangan sang Pendekar Wanita
Pantai Selatan itu.." Ternyata cukup cantik juga..! Tapi sayangnya bermata
keranjang! Begitu muncul sudah
berkata tajam si wanita berbaju ungu itu. Sepasang
matanya bersinar tajam, dengan bibir tersenyum sinis.
Sedangkan yang berambut dikepang terus saja me-
nimpali. "Baru saja kenalan sama si brewok Brengos. eh!
sekarang sudah mau menggaet lagi orang lain..!" Sementara Guriswara tampaknya
jadi serba salah, dan
menggaruk-garuk kepala. Adapun Roro Centil melihat
gelagat tidak baik itu bukannya membela diri. bahkan
tertawa mengikik geli.
"Hi hi hi... hi hi... Siapakah yang melarang
orang jatuh cinta.." Apakah kalian ini istri-istrinya si Pemabuk Dermawan..?"
Bertanya Roro. Hampir berbareng keduanya menyahuti:
"Kalau benar, mengapa kau tak lekas-lekas
menyingkir..?" Tukas si baju ungu.
"Apakah mengandalkan nama besar yang cuma
digembar-gemborkan pada cecunguk itu, telah mem-
buat kau besar kepala.."! Dan lantas dengan seenak-
nya saja sambar kiri sambar kanan.." Huh! Benar-
benar tak ada muka..!" Sambar si baju hijau yang
rambutnya dikepang dua. Roro terdiam sejenak seperti
berfikir, sementara ia lihat Guriswara tengah menatap
padanya. Tiba-tiba Roro Centil tersenyum dan ke-
dipkan matanya pada si laki-laki berbaju mewah itu.
Keruan saja kedua wanita itu jadi jengkel setengah ma-
ti. "Heh! Sekarang aku tahu. Rupanya bukan
gayung yang mendekati gentong air, tapi gentong air
yang mendekati gayung. Pantas ia sampai melupakan
kami berdua. Rupanya kau telah memeletnya..!" Berkata si baju hijau berkepang
dua, dengan wajah semakin
memerah. Namun pada saat itu Roro Centil sudah be-
rujar: "Sudahlah, kalau kalian menginginkan aku
menyingkir. Akupun secepatnya akan pergi..!" Sambil berkata demikian Roro sudah
langkahkan kaki untuk
beranjak dari situ. Tak dikira kedua wanita itu telah
membentak dengan garang.
"Tunggu..! Enak saja kau bicara! Sudah berte-
mu dan main mata pada laki orang. mana bisa urusan
bisa habis sampai disini.."!" Dan sekejap kedua wanita itu telah melorot
senjatanya dari pinggang.
"Kami si Dua Dewi Kenari ingin mencoba keli-
hayan senjata si Rantai Genit, yang katanya kesohor
itu..! Hi hi hi... Melihat dari sepasang senjatamu yang menggiurkan mata laki-
laki itu, sudah dapat dipastikan kau seorang wanita kotor..!" Teriak si baju
ungu yang telah putarkan senjatanya. Yaitu tiga buah roda
bergigi. sebesar piling yang amat tipis. Terbuat dari ba-ja putih yang berkilat-
kilat. Akan tetapi pada saat ka-ta-kata si Dewi Kenari baru saja habis, telah
terdengar makian dengan suara keras.
"Hai! Dewi Kenari! Apakah kalian berdua men-
ganggap diri sendiri orang baik-baik, dan bukan orang
kotor.."!" Teriakan itu dibarengi dengan munculnya sesosok tubuh yang berkelebat
ketempat itu. Kedua wa-
nita ini melengak. dan palingkan kepala. Segera terli-
hat Warok Brengos, laki-laki brewok yang tadi berada
di rumah makan. Ternyata ia telah juga menyusul
sampai ketempat itu. Namun yang dipandang bahkan
membuang muka, dan tampak terlihat tampilkan wa-
jah girang melihat Roro Centil. seraya menjura dan
ucapkan kata...
"Nona Pendekar Roro, sebaiknya tak usah men-
gotorkan tangan, meladeni manusia-manusia macam
begini..!"
"Monyet sebrang pulau! Menyingkirlah kau...!"
Teriak salah seorang dari Dewi Kenari. Dan bersamaan
dengan bentakannya, sebuah kilatan menyambar ke-
pala. Ternyata roda baja itu telah menyerangnya.
TRINNG..! Lengan Warok Brengos bergerak. Ia
telah menangis dengan gagang pisau yang telah di ca-
butnya, seraya miringkan kepala ke samping. Senjata
itu terhantam balik. Dan sekejap telah disambut kem-
bali oleh si Dewi Kenari. Pada saat itu Roro Centil telah berkelebat sepuluh
tumbak. Begitu akhirnya menginjak tanah, telah terdengar bentakan si Dewi
Kenari, yang telah juga melesat untuk menyusul.
"Mau kemana kau Roro Centil! Hayo mengadu
kekuatan denganku..!"
"Baik! Kalau kau memang menginginkan. Mana
kawanmu" Bertarung melawan sebelah Dewi mana
enak..! Bukankah kalian berjuluk Dua Dewi Kenari..?"
Ujar Roro. Seorang dari Dewi Kenari yang berkepang
itu ternyata tengah menerjang pada Warok Brengos.
Senjata yang dipergunakan adalah sebuah kipas baja,
berujung runcing. Namun agaknya si Brewok enggan
melayaninya. Hingga yang terlihat laki-laki itu cuma
mengelak saja kesana-kemari. Hal demikian ternyata
membuat si kepang dua yang bernama Sawur Seri itu
jadi membentak keras. Gerakan kipasnya jadi semakin
gencar. Terpaksa Warok gunakan pisaunya untuk me-
nangkis setiap serangan. Sementara Guriswara telah
lenyap entah kemana... Pada saat itu si Dewi Kenari
berbaju ungu yang bernama Kili Cantrik sudah menye-
rang Roro Centil dengan roda-roda bajanya.
"Awas serangan..!" Bentaknya. Dan dua buah
roda bergigi itu meluncur deras menyambar leher dan
pinggang. Wessss! Wessss! Bersyiur angin tatkala kedua
benda itu dapat dielakkan Roro, dengan sedikit menge-
gos miringkan tubuh. Tapi tak urung beberapa lembar
rambut Roro terbabat putus. Terkejut juga si Pendekar
Wanita Pantai Selatan. Ia memang tak menyangka ka-
lau roda-roda baja itu dapat terhalau. Adapun puku-
lan-pukulan tangan kosong si Dewi Kenari, sengaja ia
papaki dengan mempergunakan sepertiga tenaga da-
lamnya untuk memapaki. Namun hal itu ternyata di-
luar dugaan membuat Roro terhuyung beberapa tin-
dak. "Hi hi hi... Baru sebelah Dewi saja kau sudah sempoyongan. Apalagi kalau
kami maju bersama!"
Berkata Kili Cantrik dengan jumawa. Sementara se-
rangan-serangannya semakin gencar mengurung Roro.
Tapi diam-diam si Dewi Kenari ini terkejut dan kagum
juga, karena tampaknya Roro Centil dengan mudah sa-
ja dapat mengelakkan serangan ganasnya. Tapi ia ber-
girang hati juga, karena tenaga dalam lawan berada
dibawahnya. Berfikir Dewi Kenari.
"Ayo tunjukkan senjata Rantai Genit mu yang
lucu itu. Apakah kau mampu menghalau serangan-
ku..?" teriak Kili Cantrik. Tiba-tiba Roro Centil melompat mundur tiga tombak.
Sepasang matanya menatap
tajam pada si Dewi Kenari. Otaknya bekerja cepat saat
itu. Hm, jangan-jangan kejadian ini sudah diatur agar
memperlambat tujuan ke Kuburan Kuno itu. Berfikir
Roro. Karena sedari tadi tak menampak adanya Guris-
wara. Kalau ia berniat menyudahi pertarungan, den-
gan meninggalkannya... bisa saja ia perbuat. Tapi ia
akan mencoba sampai dimana kesombongan si Dewi
Kenari ini, dengan senjata Roda Bajanya. Saat itu Roro sudah berkata keras:
"Baik! Agar kau tidak menyesal dan penasaran,
akan kupergunakan senjata si Rantai Genitku. Tepi
dengarlah kata-kataku Dewi Kenari..! Aku bukan dari
jenis manusia kotor seperti kalian!" Roro sudah meloloskan sebuah Rantai
Genitnya, seraya berteriak: "Lihat serangan..!" Dan tubuhnya telah berkelebat ke
arah si Dewi Kenari. Sedang senjatanya diputar keras.
hingga menimbulkan suara berdengung seperti ratu-
san tawon. Dewi Kenari agak terkesiap. Tapi segera
lancarkan serangan kilat ke arah pinggang dan leher.
Sedang satu lagi ia pakai menerjang maju. Sebelah
lengan menghantam, sebelah lagi menyerang dengan
senjatanya... Aneh akibatnya. Dua roda Baja itu seperti sehelai kertas melayang
ke samping semua
seperti berkejaran. Dan terjangan Dewi Kenari
menemui tempat kosong, karena dengan berteriak ke
arah Roro kelebatkan tubuh. mengejar kedua roda.
Dengan melangkahi kepala Dewi Kenari setinggi tiga
tombak. Ternyata roda baja bergerak memutar kebela-
kang sang majikan. Namun sebelum si Dewi Kenari ba-
likkan tubuh untuk menangkap. Roro Centil telah
menghantam kedua benda itu dari atas.
TINGNG! TINGNG..! dan Bles! Hampir berba-
reng kedua roda itu telah meluncur kebawah. Dan am-
blas kedalam tanah. Dewi Kenari balikkan tubuh, dan
terkejutlah melihat senjatanya lenyap. Tiba-tiba ia melompat mundur lima tombak.
Begitu menjejakkan kaki,
ia segera berteriak:
"Sawur Sari..! Hayo kita pergi dari sini..!" Dan ia sudah mendahului berkelebat.


Roro Centil 06 Lima Wajah Seribu Dendam di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sawur Sari yang tengah
menerjang Warok Brengos segera hentikan serangan.
Dan berkelebat menyusul kakaknya. Warok Brengos
tatap kedua wanita itu yang berkelebat pergi.
"Nona Roro...! Aiiih..!?" Teriak Warok Brengos terkejut. Karena batu saja ia
menoleh. Ketika melihat
ke arah Roro Centil, ternyata sudah tak ada ditempat-
nya lagi. 5 "ROROOOOOOO...!" Suara itu terdengar dike-
jauhan lapat-lapat... Roro kertak gigi untuk segera
mempercepat larinya bagai terbang. Namun tetap saja
ia tak mampu menyusul sosok tubuh itu, yang berke-
lebat cepat bagaikan melebihi kecepatan angin. Namun
tetap Roro Centil semakin penasaran untuk menyusul.
Aku tak boleh sampai kehilangan jejak..! Gumamnya
mendesis. Beruntung ia telah mewarisi ilmu lari si
Pendekar Bayangan Bayu Seta. Hingga tanpa rasa le-
lah, tubuhnya terus meluncur bagai enak panah men-
gejar sosok tubuh dihadapannya... Ternyata dikala si
Dewi Kenari melarikan diri, Roro Centil tak mau ber-
lama-lama untuk segera meneruskan perjalanannya ke
lereng Gunung. Mencari kuburan Kuno, seperti yang
dikatakan Ginanjar dalam surat. Akan tetapi betapa
terkejutnya Roro, ketika melihat pemuda itu tengah
bertarung seru melawan seorang kakek tua renta, yang
berpakaian mirip pengemis. Roro tadinya berniat
membantu pemuda itu, tapi segera ia urungkan. Kare-
na sudah sejak lama sekali ia tak mengetahui, sampai
dimana kemajuan ilmu kedigjayaan saudara sepergu-
ruannya itu. Sang kakek pengemis tua renta itu me-
makai jubah putih yang sudah bertambalan di sana-
sini. Bahkan dibeberapa bagian telah sobek saking tu-
anya. Kelihatannya bagai orang yang tak bertenaga
sama sekali. Tapi ternyata mampu mengelakkan setiap
serangan pedang Ginanjar. Bahkan jenggotnya yang
putih memanjang terjuntai didagunya, dapat dibuat
sebagai senjata. Karena sekonyong-konyong dapat me-
negang. Serta mampu menghantam balik pedang pe-
muda itu. Hebat! Memuji Roro dalam hati dari tempat
persembunyiannya. Kini terlihatlah kehebatan permai-
nan pedang Pendekar lereng Rogojembangan itu. Roro
menahan napas ketika melihat segulung sinar perak
membungkus tubuh Ginanjar menjaga serangan si ka-
kek pengemis yang telah pergunakan tiga batang lidi
aren untuk menyerang lawan. Suara bersiutan terden-
gar semrawut mengacaukan telinga. Terlihat Ginanjar
mulai terpengaruh oleh suara yang mengganggu itu.
Tiba-tiba ia berteriak keras. Sebelah lengannya meng-
hantam dada sang kakek. Dapat dipastikan dada yang
tipis, dengan seketika akan remuk dihantam lengan
kekar pemuda Ginanjar. Namun aneh. Begitu meng-
hantam dada, terdengar Ginanjar keluarkan keluhan.
Sedang pedangnya yang telah siap membelah kepala
lawan itu jadi berhenti ditengah jalan. Apa yang terja-di.." Kiranya tubuh
Ginanjar telah berubah jadi kaku
dengan posisi menyerang... Segera saja tubuh itu lim-
bung untuk ambruk ke bumi. Roro Centil keluarkan
teriakan tertahan dan melompat keluar. Namun ber-
samaan dengan bergeraknya tubuh Roro. Sang kakek
telah menyambar tubuh pemuda itu. Dan sekejap telah
berada di atas bahunya.
"Hm, kau pasti si Roro Centil, bocah Pantai Se-
latan itu...! Mengapa tak sedari tadi kau bantu ka-
wanmu ini..?" Bertanya sang kakek tanpa palingkan kepalanya. Terkejut Roro,
belum melihat orangnya, ta-pi telah mengetahui siapa dirinya. Aneh..!" Menggu-
mam Roro. Tapi ia sudah melompat untuk mengha-
dang dihadapan pengemis itu.
"Kakek pengemis..! Apakah kesalahannya maka
ia kau totok sedemikian rupa " Dan akan kau bawa ke
mana dia.."!" Bentak Roro. Melihat sang kakek itu sudah mau angkat kaki. Tapi
sang kakek itu dengan wa-
jah tak berubah telah menyahuti:
"Huh! Apa perdulimu dengan segala urusanku"
Apakah dia kekasihmu..." Mengapa kau begitu
mengkhawatirkan sekali padanya..?" Tanya si kakek pengemis. Seketika wajah Roro
jadi berubah merah.
"Dia... dia.. saudara seperguruanku! Mengapa
kau harus melarangku, kalau aku mau mencegah mu
untuk membawanya!?" Ujar Roro dengan wajah meng-
kal. "He he he... Dia mau ku kawinkan dengan cucu
perempuanku..! Nah! Kalau dia bukan kekasihmu,
minggirlah! Beri aku jalan..!" Berkata si pengemis tua renta. "Tidaaak! Aku tak
mau kau kawinkan dengan cucu perempuanmu!! Lepaskan aku..!" Tiba-tiba Ginanjar
berteriak. Namun tetap saja ia tak dapat ber-
geming sedikitpun. Terkejut Roro Centil mendengar-
nya. Entah mengapa hatinya jadi seperti orang kehi-
langan. Dan detak jantungnya terasa berdegup lebih
keras. Mau dikawinkan.." Sentak Roro dalam hati.
Disamping agak lucu. tapi juga aneh. Pikirnya... Men-
gapa mau mengawinkan cucu orang harus memaksa
orang untuk jadi menantunya.." Gila! Maki Roro di ba-
thin. "Roroooo..! Tolonglah kau bunuh pengemis bau ini! Aku tak mau kawin dengan
cucu perempuannya.
Bisa-bisa aku ketularan bau..!" Teriak Ginanjar lagi.
Dalam hati Roro agak geli juga mendengar ucapan Gi-
nanjar. Tapi tampaknya pemuda itu benar-benar keta-
kutan sekali. Sang kakek tiba-tiba tertawa terkekeh-
kekeh geli sekali. Hingga sampai tubuhnya terguncang
guncang. "He he he... he he... Cucu perempuanku cantik
sekali. Dibanding dengan gadis didepanmu masih se-
belas kali lebih cantik. Kalau masalah bau sih sudah
umum. Pokoknya kau tak akan penasaran..!" Berkata sang kakek sambil kembali
terkekeh-kekeh. Panes hati
Roro Centil. Wajahnya tampak semakin merah hingga
melebihi merah bajunya. Tiba-tiba Roro gerakkan tan-
gan bertolak pinggang seraya berkata keras dengan
nada pedas: "He! Kakek tua renta yang sudah mau masuk
liang kubur..! Apakah kau tidak dengar kalau dia tidak mau" Walau cucu
perempuanmu cantiknya 212 kali
lebih cantik dari diriku, kalau dia tetap tidak mau
apakah harus kau paksa.."!" Mendengar kata-kata Ro-ro, Ginanjar berteriak lagi.
"Bagus Roro, dia memang tidak tahu malu.
Memaksa orang untuk kawin seenaknya. Aku tak akan
pernah jatuh cinta pada gadis lain Roro..! Karena aku..
aku hanya mencintaimu..!"
"Hah..! ?" Tersentak Roro Centil mendengar ka-ta-kata Ginanjar. Seketika
wajahnya menjadi dingin
bagai disiram air es... Tapi hatinya mendadak jadi bergemuruh tak keruan rasa.
Akan tetapi pada saat itu
terdengar suara sang kakek:
"Kurang ajar..! Kalau kau membandel akan ku
biarkan tubuhmu kaku sampai 100 tahun. Nah ming-
girlah bocah Centil..! Aku tak dapat merobah keputu-
sanku..! Sebelah lengan si kakek pengemis itu berge-
rak perlahan mendorong tubuh Roro. Tapi hebat aki-
batnya. Karena terdengar Roro Centil berseru kaget.
Tubuhnya telah terdorong mental sampai sepuluh
tombak. Dan bersamaan dengan itu, sang kakek telah
berkelebat pergi dengan cepat sekali.
"Roroooooooo..!" Teriak Ginanjar, dalam dukungan si kakek pengemis. Namun
tubuhnya telah di
bawa berkelebat bagai anak panah, melesat
semakin jauh. Terkesiap bukan main Roro melihat ke-
jadian itu. Serta merta tanpa harus berfikir lagi, Roro Centil mengejar sang
kakek berjenggot panjang itu...
Demikianlah! Hingga sampai Matahari condong ke se-
belah barat, Roro tetap tak dapat menyusul si kakek
pengemis itu. Yang jaraknya antara lima puluh tombak
dihadapannya. Entah berapa bukit dan lereng Gunung
telah terlewati. Namun sang kakek tidak juga memper-
lambat larinya. Dan Roro Centil tetap mengejar dibela-
kang.. Tetapi pada sebuah lereng curam, di mana di-
bawahnya mengalir sungai yang lebar. Kakek pengemis
itu menghentikan larinya. Bagus! Teriak Roro dalam
hati. Dan menambah kecepatan, Roro berkelebat me-
nyusul. Seraya berteriak.
"Kakek tua renta, akhirnya kau menyerah ju-
ga..!" Roro yang memang telah dapat menduga. pasti sang kakek pengemis itu
berhenti. Karena sungai lebar
telah berada didepan mata, dengan tepiannya yang cu-
ram. Sungai dihadapan itu adalah terusan sungai yang
tadi telah dilewati. Akan tetapi betapa terkejutnya Ro-ro... Karena tahu-tahu
bagaikan terbang tubuh si ka-
kek kurus itu melayang dari atas tebing curam itu ba-
gaikan seekor burung saja. Ringan bagaikan sehelai
bulu. Dan hinggap diseberang dengan selamat. Begitu
tubuh Roro melesat ketempat itu. Ia hanya dapati tem-
pat yang kosong.
"Heh heh heh... Ayo. Susul kemari! Masa murid
si Manusia Aneh Pantai Selatan tak mampu untuk ter-
bang..?" Ejek si kakek pengemis, di sisi seberang teb-
ing. Wajah Roro tampak merah padam. Dipandangnya
kebawah, dimana air sungai deras mengalir. Dan tak
jauh dari kakinya terdengar suara bergemuruh tak
hentinya. Kiranya air sungai itu meluncur deras keba-
wah ketempat yang makin curam. Air terjun..!" Desis
Roro terkejut. Ketika ia pandang ke seberang, ternyata tubuh sang kakek telah
tak kelihatan lagi.
"Mampukah aku "terbang" kesana..?" Berkata Roro pada dirinya sendiri. Murid si
manusia Banci dari Pantai Selatan ini sejenak tercenung... Tapi tiba-tiba
tertawa mengikik geli sekali.
"Hi hi hi... dasar bocah tolol.!" Roro memaki dirinya sendiri. Dan tiba-tiba
tubuh Roro Centil telah
melayang "terbang" keseberang sungai yang bergaris tengah kurang lebih delapan
puluh tombak itu. Akan
tetapi baru sampai sepertiganya, atau kira-kira 50
tombak. tenaga lompatan Roro mengendur... Dan tak
ampun lagi melayanglah tubuh sang Pendekar Wanita
ini kebawah, yang berkedalaman 100 kaki dari atas
tebing. Dalam beberapa kali putaran tubuh di udara
itu segera sesaat lagi tubuh Roro yang meluncur deras
itu akan terbenam menghantam ke permukaan air
sungai. BWUARRRRRRR..! Air menyemburat keras ke
atas. Menyibak permukaan dengan menimbulkan ge-
lombang dahsyat. Tubuh Roro terdorong balik ke atas.
Pada saat itulah Roro gunakan tenaga letikan tubuh-
nya untuk mengarah keseberang. Dengan beberapa
kali berjumpalitan diudara, ia akan segera tiba diseberang dengan selamat. Akan
tetapi tiba-tiba .... angin
dahsyat telah menghantam tubuhnya hingga kembali
ke tengah dan meluncur kebawah dengan deras. Han-
taman itu telah membuat seketika tulang persendian
tubuhnya menjadi lemas. Apa lagi ia telah mengelua-
rkan hampir seluruh tenaga dalamnya menghantam
permukaan air. Hingga Roro tak tahu lagi ia melayang
kemana... Tahu-tahu terasa tubuhnya sudah amblas
kedalam air. Dan suara mengguruh itu sekonyong-
konyong lenyap. Air sungai yang deras itu sekejap saja telah menyeret tubuhnya
masuk ke dalam air terjun
tanpa dapat di cegah lagi. Sekejap saja tubuh sang
Pendekar Pantai Selatan itu sudah tak kelihatan mun-
cul lagi dipermukaan air di bawah sana... Sementara
gemuruh air terjun tak putus-putusnya mengguruh
bagai suara angin Saloka. Dan diantara suara gemu-
ruh air terjun itu lapat-lapat terdengar suara tertawa melengking tinggi.
Tertawa puas atas kemenangannya.
"Hi hi hi... hi hi... Mampuslah kau Roro Centil!
Kini julukan Pendekar Wanita Pantai Selatan telah le-
nyap..! Tak ada lagi wanita yang akan menyaingi diri-
ku..! Hi hi hi.." Dan sesosok tubuh tersembul dari balik batu di atas tebing.
Seorang wanita berbaju hitam dengan simbul tengkorak didada, melihat kebawah
tebing dimana air terjun mengalir deras di bawahnya. Sebuah
Tombak berwarna hitam tergenggam ditangannya.
Kembali si wanita tertawa gelak-gelak diiringi kata-
kata, mendesis dari mulutnya.
"Hihi.. hihi.. hi hi... Dengan tombak Ratu Sima
di tanganku ini, aku pasti akan dapat menjadi Ketua
Kaum Rimba Persilatan. Benda ini memang lebih cocok
berada ditangan wanita seperti aku. Dan nama besar
Dewi Tengkorak akan menjulang tinggi di mata kaum
rimba hijau..!" Selesai berkata ia telah tancapkan benda itu di sisinya.
Sementara tangannya bertolak ping-
gang menatap air terjun yang mengguruh dibawahnya.
Seperti juga masih belum puas untuk melihat tempat
kematian sang Pendekar Wanita Pantai Selatan. Ter-
dengar ia menggumam perlahan.
"Hm. jurus pukulan yang telah kupergunakan
adalah jurus ke sembilan dari 10 Jurus Pukulan Ke-
matian si Dewa Tengkorak bekas suamiku..! Walaupun
ilmunya setinggi langit, tak nantinya ia dapat lolos dari kematian..!" Terdengar
si wanita menghela napas lega.
Tapi baru saja ia mau beranjak untuk meninggalkan
tempat itu... "Oh... Saraswati..! Kucari-cari kemana saja kau
istriku.." Sebulan penuh aku rindu setengah mati.
Sampai tidur susah, karena belum mengantuk. Dan
makanpun tidak kepingin, karena belum lapar..! Kau
baik-baik saja istriku...?" Suara itu munculnya dari sesosok tubuh yang muncul
dibelakang si Dewi Tengko-
rak. Secepat kilat si wanita telah balikkan tubuhnya.
Dan segera terlihat seorang laki-laki ganteng berusia
antara dua puluh enam tahun. Tengah mendatangi
dengan langkah lebar. Di bibirnya yang terbuka itu
tampak sebaris gigi yang putih rata. Ah.." Benar-benar seorang laki-laki yang
tampan... Membisik dihati si


Roro Centil 06 Lima Wajah Seribu Dendam di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dewi Tengkorak. Tapi aneh sekali, mengapa ia me-
manggilku Saraswati dan menganggapku istrinya?""....
Aneh! Apakah wajahku mirip dengan istrinya itu.." Pi-
kir si wanita. Tapi dengan sekali bergerak, ia telah tiba dihadapan pemuda itu.
terdengar bentakan dari mulutnya: "Pemuda sinting..! Aku bukan istrimu..!" Tom-
baknya meluncur deras ke arah leher pemuda itu.
Akan tetapi sedikitpun pemuda itu tak menggerakkan
tubuhnya untuk mengelak. Membuat si Dewi Tengko-
rak terkesiap. Dan sebelum ujung tombak itu menem-
bus kulit leher orang, tiba-tiba ia telah menahannya
kembali. Tampak si Dewi Tengkorak kerutkan kening-
nya. Sedangkan si pemuda dihadapannya cuma terta-
wa: "Ha ha ha... Adatmu masih saja tak berubah Sa-
raswati. Walau tubuhku hancur luluhpun aku akan te-
tap mencintaimu. sampai dilobang kubur... Tapi aku
sudah tahu isi hatimu. Tak mungkin kau tega mem-
bunuhku. Kau hanya pura-pura saja!" Berkata si pemuda. Makin terngangalah mulut
si Dewi Tengkorak.
Yang memang sejak tadi telah terbuka bibirnya.
"Eh, pemuda gagah..! Siapakah namamu" Bu-
kalah kedua matamu lebar-lebar. Aku bukan istrimu.
Aku si Dewi Tengkorak, bukan Saraswati..!" Teriak si wanita dengan dada agak
tergetar. Tatapan mata pemuda dihadapannya itu benar-benar menaklukan ha-
tinya. Akan tetapi jawabannya benar-benar membuat
ia tak bisa bicara apa-apa.
"Ha ha ha... Saraswati! Walau seribu kali kau
berganti nama, dan seribu kali kau mau menipuku,
kau tetaplah Saraswati. Sudahlah sayang... Lupakan
peristiwa lalu. Wajahmu yang ayu itu tak akan dapat
menipuku. Mana bisa kau katakan kau Dewi Tengko-
rak, atau peri marakahyangan segala.."Aku sudah tak
kuat menanggung rindu..." Dan tiba-tiba sebelum Dewi Tengkorak menyadari akan
apa yang bakal terjadi, lengan pemuda itu telah menyambar tubuhnya. Dan se-
bentar saja telah berada dalam pondongan pemuda
aneh itu. Tadinya si Dewi Tengkorak mau berontak,
tapi getaran hatinya telah mengalahkan semuanya.
Apa lagi tahu-tahu sepasang bibirnya telah disergap
cepat oleh si pemuda. Dan dilumat sampai ia megap-
megap. Hawa rangsangan yang sudah terpendam sejak
tadi itu segera saja ia salurkan... Dan iapun kembali
balas melumat sampai terpejam matanya karena nik-
mat... 6 Mengguruhnya suara air terjun yang tak hen-
tinya itu menimbulkan gelombang besar di bawah sa-
na. Dimana tubuh Roro Centil terjerumus dalam kea-
daan mengkhawatirkan. Karena hantaman angin pu-
kulan yang dilancarkan si Dewi Tengkorak, telah
membuat tubuhnya lemas. Seluruh persendian tubuh-
nya lemah tak bertenaga. Hingga tanpa ampun ia ter-
benam dalam air yang bergulung-gulung. Dalam kea-
daan dibawa pusaran air itu, Roro benar-benar tak
berdaya... Saat kematian telah terpampang di depan
matanya. Pada saat itulah Roro teringat pada kisah
yang ia alami empat tahun yang lalu. Dimana ia juga
mengalami hal yang serupa. Yaitu megap-megap di da-
lam air. Dihempas gelombang dahsyat, di pantai Laut
Kidul. Dimana ombak Pantai Selatan telah menggulung
tubuhnya, saat ia terjatuh dari atas tebing karang...
Seketika membersit di hatinya, untuk berpantang mati
sebelum ajal. Ia harus berusaha menentang renggutan
maut sebelum kasip. Segera ia salurkan tenaga dalam-
nya dengan seksama keseluruh anggota tubuh. Walau
tiga-empat teguk air telah masuk ketenggorokannya.
Sedapat mungkin ia menahan pernapasannya agar ti-
dak menghirup air. Hingga dadanya terasa mau mele-
dak. Gelembung-gelembung air mulai keluar dari mu-
lutnya. Terpaksa ia menelan lagi dua teguk air... Tapi ia telah berhasil
memulihkan lagi kekuatan tubuhnya.
Dan dengan semangat baja ia telah enjot tubuhnya un-
tuk melambung ke atas permukaan. Akhirnya tersem-
bul juga Roro ke atas permukaan air bergelombang itu.
Segera ia tarik napas dalam-dalam. Lega nian pera-
saannya. Kesegaran kembali timbul. Dadanya yang sa-
sak itu telah lenyap seketika. Dan berenanglah Roro
Centil menepi, terbawa hanyut agak ke hilir. Disana ia menemukan tempat yang
dangkal. Segera ia tiba ke
darat. Tampak Roro Centil duduk bersila di atas batu.
Menyempurnakan kekuatannya dengan bantuan tena-
ga dalam. Hingga selang beberapa saat. seluruh kekua-
tannya telah kembali pulih seperti sedia kala... Roro
bangkit berdiri. Dan tatap sekelilingnya. Gemuruh air
terjun itu masih terdengar. Dan memang tidak begitu
jauh. Terpaan angin dari arah bukit itu membuat ba-
junya berkibaran. Ternyata pakaiannya juga telah
kembali kering. Bersamaan dengan kepulihan kekua-
tan tubuhnya. Roro pandang air dihadapannya yang
mengalir deras. Seolah-olah terbayanglah kembali air
gelombang Pantai Selatan dihadapannya. Tiba-tiba bi-
birnya tampakkan senyumannya. Wajahnya berubah
cerah, bagaikan sekuntum bunga mawar dipagi hari...
Dan saat itu juga ia telah melesat ke tengah sungai, diiringi suara tertawa
geli. Yang selanjutnya bagaikan
seorang Peri, Roro berlari-lari di atas air. Kembali menuju ke hulu sungai.
Sepasang kakinya cuma sekali
sekali menginjak permukaan air. dibarengi dengan
berkelebatnya tubuh sang dara, yang melompat-lompat
dengan gerakan ringan bagai sehelai daun... Ketika ti-
ba dekat air terjun itu. Roro Centil membelok kesisi.
Dari sana ia segera meniti tebing batu untuk naik ke
atas. Dan selang beberapa saat antaranya ia telah
kembali tiba di atas tebing. Suasana tampak lengang.
Hanya gemuruh air terjun itu saja yang terdengar di-
bawahnya. "Heh! Siapakah yang telah membokongku itu.."
Apakah si kakek pengemis" Tapi suara tertawa
seorang wanita ada kudengar. Apakah yang menye-
rangku itu cucu perempuannya si kakek pengemis
itu.." Menggumam Roro. Sementara pandangan ma-
tanya menatap ke beberapa arah. Dan dilain kejap, ia
telah gerakkan tubuhnya untuk melesat kesatu arah
dihadapannya...
Saat itu senja menyelimuti alam sekitarnya.
Desah angin semilir yang menerjang daun-daun berin-
gin yang tak begitu tinggi, membuat hawa sejuk me-
nyentuh kulit. Sementara sang Mentari, tampak malu-
malu mengintip dari celah-celah dedaunan. Dikejau-
han terdengar suara Tekukur, yang sekali sekali me-
nyibak kelengangan....
Namun semua itu tak mengusik kedua insan
berlainan jenis yang tengah menikmati indahnya alam.
Gemuruh air terjun cuma samar-samar terdengar di
kejauhan. Yang sesekali tersamar dengan keluhan see-
kor kerbau milik petani, di lereng bukit. Sementara si empunya kebun, tengah
menancapkan sebuah tonggak
kayu yang roboh itu. Serta menekannya perlahan-
lahan... Kembali terdengar lenguh sang kerbau. Lalu
miringkan tubuhnya. Kemudian diam untuk tidur me-
ram. Dengan dengus napasnya seperti saling sahut-
sahutan... Roro Centil berdiri bertolak pinggang. Sebentar-
sebentar ia palingkan kepala, tapi tatapannya tak per-
nah lepas dari hadapannya. Walaupun wajahnya se-
bentar merah sebentar kembali memutih. Tempat itu
memang tak berapa jauh dari tebing. Dari telapak kaki
yang masih ada bekas-bekasnya, ia dapat mengetahui.
kalau tak jauh dari situ ada dua manusia yang me-
nyembunyikan diri dibalik semak. Dibawah pohon
yang rindang... Aku harus tahu siapa kedua kunyuk
yang berada di bawah pohon itu..! Berfikir Roro Wa-
laupun yang tampak hanyalah dua pasang kaki yang
saling tumpang tindih. Namun cukup untuk membuat
wajahnya jadi terasa panas, seperti dipanggang mata-
hari sore. Tapi sepasang matanya jadi terbeliak lebar, karena sebuah benda hitam
panjang itu seperti men-gingatkannya pada Pantai Selatan.
"Ah. itukah Tombak Pusaka Ratu Sima milik si
Dewa Tengkorak..?" Mendesis keluar suara dari mu-
lutnya tanpa disadari. Saat itulah kedua manusia di-
balik semak itu saling berlompatan keluar. Masing-
masing bergerak untuk menyambar pakaiannya. Tapi
Roro memanglah Roro. yang berwatak aneh... Sekali
lengannya bergerak. maka melayanglah tumpukan pa-
kaian itu untuk terbang jauh. Dan menyangsang dibe-
berapa ranting pohon yang tinggi. Kedua manusia itu
saling tatap. Dan alihkan pandangan pada Roro Centil
yang cuma senyum sinis menatap mereka. Bahkan be-
gitu lihat tampang si laki-laki, segera terdengar suara tertawanya yang mengikik
geli. "Hi hi hi... Kiranya sobat Joko Sangit! Apakah
kau juga akan mengatakan wanita itu istrimu..?" Bertanya Roro Centil. Adapun
matanya tak lepas dari
tombak hitam yang tertancap itu. Tiba-tiba terdengar
suara tertawa si laki-laki. begitu lihat siapa dihada-
pannya. Dan sekonyong-konyong tubuhnya meluncur
"terbang" keudara. Dengan sekali berjumpalitan, ia telah tiba didahan pohon. Dan
selanjutnya telah me-
nyambar kembali pakaiannya. Sekejap ia telah me-
layang turun, dan lenyap dibalik semak. Diam-diam
Roro memuji kehebatan ilmu lompat Joko Sangit. Tapi
ketika ia berpaling ke arah si Dewi Tengkorak, ternyata wanita itu telah
berkelebat pergi menyelinap kebalik
pohon dengan menyambar cepat tombak hitamnya.
Roro keluarkan dengusan dihidung. Dan gerakkan tu-
buh untuk menyusulnya.
"He! Pencuri..! Kembalikan tombak Pusaka itu..!
Dan kau harus ceritakan darimana kau perolehnya..!"
Bentak Roro sambil berkelebat. Akan tetapi jawaban-
nya adalah sebuah hantaman itu amat serupa dengan
hantaman yang membuat tubuhnya terlempar ke air
terjun. Ia segera bergerak untuk mengelak. Dua batang
pohon sebesar paha dibelakangnya, roboh kena han-
taman angin pukulan dahsyat itu. Tak pelak lagi, pas-
tilah wanita ini yang telah mencelakaiku! Sentak Roro
dihati. Kasihan wanita itu. Tampaknya ia serba salah
karena tak dapat berdiri bebas dihadapan sang lawan.
Karena harus menutupi bagian-bagian tubuh terten-
tunya. Akan tetapi Roro Centil mana mau perduli"
Pendekar aneh ini lebih mengkhawatirkan nasib gu-
runya, Si Manusia Aneh Pantai Selatan. Yang telah
menutup diri di ruang Gua didasar tebing karang, Ti-
ba-tiba ia telah membentak:
"Hei! Manusia tengik! Apa yang kau lakukan
terhadap Guruku. Dan dari mana kau peroleh benda
itu.."Hmm... Kau rupanya yang telah membokongku,
ya.." Bagus! Kini dapat kau rasakan pembalasan dari
ku! Namun aku takkan membunuhmu sebelum kau
terangkan dulu apa yang telah terjadi..!" Setelah berfikir sejenak, rupanya si
Dewi Tengkorak mulai berani
untuk berdiri bebas tanpa harus malu-malu lagi. Kese-
lamatan jiwanya adalah lebih penting...! Dan dihada-
pan manusia sejenis, mengapa harus ragu-ragu atau
malu segala... Pikirnya. Segera ia lintangkan tombak
hitam di depan dada. Wajahnya tampilkan rasa benci
yang mendalam pada Roro. Dan ia sudah berkata den-
gan lantang. "Huh! Roro Centil..! Mengapa kau tuduh aku
pencuri.." Benda ini adalah milik suamiku si Dewa
Tengkorak. Yang kudengar dari sementara orang, ada-
lah kematiannya ditangan Gurumu. si Manusia Aneh
Pantai Selatan. Karena manusia banci itu memang ter-
gila-gila pada lelaki milikku itu. Tapi tak mendapat
sambutan si Dewa Tengkorak! Apakah dapat disalah-
kan kalau aku membalas dendam.." Dan kau murid si
banci tak tahu malu itu memang telah lama aku men-
carimu, untuk melenyapkannya dari dunia ini..!" "Dan nama Dewi Tengkorak yang
akan kembali tegak di
permukaan bumi ini. Menghapus nama besarmu sela-
ma ini...! Sambungnya lagi. Sampai disini Roro tak da-
pat menahan getaran hatinya untuk bertanya. dengan
wajah pucat pias.
"Jadi... Kau telah membunuhnya...?" Teriak Ro-ro.
"Hihi..hihi... hi hi.. Bukan saja kubunuh mam-
pus orangnya. Tapi juga telah kurampas lagi benda
pusaka ini! Dan perlu kau ketahui... Ilmu-ilmu sakti
dari dalam tombak hitam inipun telah berhasil kupela-
jari dan ku kuasai sepenuhnya..!" Terkesiap Roro Centil. Entah mengapa
sekonyong-konyong terdengar jeri-
tan melengking tinggi, mengumandang keudara keluar
dari mulutnya. Lengkingan dari pedihnya hati yang
tiada terkira. Karena Gurunya yang amat dicintainya
itu, didengarnya telah tewas oleh manusia dihadapan-
nya. Hebat teriakan melengking panjang itu. karena si
Dewi Tengkorak harus menutup telinga kalau tak mau
pecah gendang telinga yang dimilikinya. Suasana kem-
bali lengang... Dan tampak sang Pendekar Wanita ter-
tunduk layu. menatap bumi. Beberapa tetes air bening
meluncur turun mengenai ujung jari kakinya. Akan te-
tapi pada saat itu. bersyiur angin deras menyambar
kepalanya.. Ternyata si Dewi Tengkorak telah lancar-
kan serangan ganas. Tombak hitamnya hanya bebera-
pa senti lagi di atas kepala.
PLAK..! Roro Centil telah menghantamkan tela-
pak tangannya dengan tenaga dalam yang hampir se-
paruh ia salurkan. Hebat akibatnya. Karena tampak si
Dewi Tengkorak berteriak tertahan. Tubuhnya terbawa
memutar beberapa kali. Walaupun benda itu tak terle-
pas dari tangannya, namun telapak tangannya telah
mengeluarkan darah...
"Kurang ajar..!" Teriak si Dewi Tengkorak. Namun ia jadi terkejut karena sang
lawan tak berada lagi di hadapannya. Tiba-tiba terdengar suara mengikik seram di


Roro Centil 06 Lima Wajah Seribu Dendam di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sekelilingnya. Terlihat bayangan merah jambu
berkelebatan mengelilinginya. Namun sama sekali ia
tak dapat melihat bentuk tubuhnya. Sedangkan suara
tertawa mengikik menyeramkan itu bagai mendesing-
desing di daun telinganya. Entah mengapa tiba-tiba te-
rasa gentar hati si Dewi Tengkorak. Detak jantungnya
semakin cepat. Seirama dengan putaran kelebatan
bayangan merah jambu yang juga semakin lama se-
makin cepat. Dalam keadaan panik itu, ia telah lan-
carkan serangan semuanya. Berserabutan, menghajar
si bayangan... Hingga bertumbangan pohon-pohon se-
besar betis dan paha di sekelilingnya. Ketika tiba-
tiba... Plak! Lengannya tergetar hebat. Dan tombak
pusaka itu telah terpental jauh menancap di sebatang
pohon. Terkejut bukan main Dewi Tengkorak. Baru sa-
ja ia gerakkan tubuh untuk menyambarnya. sekelebat
bayangan merah jambu itu telah mendahului me-
nyambar benda pusaka itu. Segera ia hantamkan tela-
pak tangannya. Namun cuma mengenai tempat ko-
song... Dan terdengar suara sesaat antaranya, ketika
dengan gerakan ringan Roro Centil jejakkan kaki tak
jauh di hadapannya.
"Hi hi hi.. Benda ini tak boleh jatuh ke tangan
siapa-siapa.! Ia milik Guruku.!" Berkata Roro. Yang tampak wajahnya seperti
orang bangun tidur. Rambutnya telah awut awutan. Sepasang matanya tampak
sayu... Dan senyumnya adalah senyum yang menggi-
riskan hati. Karena ternyata Roro tampak seperti orang yang kurang waras.
Pipinya bersimbah air mata. Namun bibirnya tersenyum... Tampak aneh dan membuat
orang akan takut, karena mirip orang yang kesurupan.
Dewi Tengkorak mundur dua tindak, ketika dengan
tubuh terhuyung sang Pendekar Wanita Pantai Selatan
itu melangkah ke depan. Angin senja bersyiur agak ke-
ras, membuat rambut Roro menyibak berseliweran di-
dahinya. Roro memang tidak dapat dikatakan gadis
yang lugu dan ayu lagi saat itu. Karena ia memang
amat mirip dengan hantu perempuan yang cantik.
Namun amat menyeramkan. Bahkan ketika melangkah
lagi untuk mendekati si Dewi Tengkorak, tubuhnya
bergoyang-goyang bagai hantu arwah... Keringat dingin
mengalir deras di sekujur tubuh si wanita itu. Entah
mengapa ia jadi gentar. Bahkan untuk menggerakkan
kaki dan tangannya saja, terasa kaku bagai terbeleng-
gu. Pada saat itulah berkelebat bayangan putih. Yang
segera jejakkan kaki tiga tombak di sebelah kiri Roro.
Ternyata Joko Sangit. Kiranya sejak tadi ia telah men-
gikuti jalannya pertarungan. Tampaknya ia amat
mengkhawatirkan keadaan Roro Centil.
"Roro... Kau telah terluka dalam! Berikanlah
tombak pusaka itu padaku. Benda itu memang tak bo-
leh jatuh ketangan siapa-siapa. Aku akan memberi-
kannya pada Baginda Raja Kerajaan Medang. Karena
Sudan sepatutnya benda bersejarah itu menjadi milik
Kerajaan..! Percayalah! Walau kelakuan ku jelek, yang
suka main perempuan. Tapi aku tak dapat untuk ber-
buat kejahatan lain. Aku selalu menghormatimu sam-
pai kapanpun. Berikanlah padaku Roro... Kelak bila
sudah beres urusan di puncak Mahameru, aku punya
banyak kisah yang menarik untuk kau dengarkan..!"
Berkata Joko Sangit dengan lemah lembut. Tampak
Roro Centil mengerutkan alisnya. Lalu tertawa.
"Apakah kau akan berikan lagi pada istrimu"
Atau untuk kau kangkangi sendiri benda ini.." Bertanya Roro tanpa palingkan
kepala. "Ha ha ha... Joko Sangit tidak kemaruk pada
segala macam pusaka! Mengenai istriku ini. terserah-
lah kalau kau mau bikin mampus! Mana aku sudi me-
nolonginya." Berkata Joko Sangit, sambil tersenyum pada si Dewi Tengkorak, yang
tampak plototkan mata
saking gusarnya. Ternyata ia benar-benar telah kena
dikibuli si laki-laki ganteng bernama Joko Sangit itu.
Hingga ia mau menyerahkan tubuhnya bulat-bulat.
Tapi siapa mau salahkan" Karena ia juga mau. Men-
dengar kata-kata itu Roro Centil tertawa mengikik,
hingga sampai tubuhnya terguncang-guncang... Bah-
kan sampai-sampai Joko Sangit mundur beberapa
langkah. Gentar juga hatinya melihat Roro, yang seper-
ti setan perempuan dengan wajah beku bagai es. Dan
rambut yang beriapan. Roro memang telah bagaikan
seorang yang tidak waras. Tiba-tiba Sang Pendekar
Wanita ini perdengarkan. teriakan melengking pan-
jang... Membuat si Dewi Tengkorak terperangah. Tu-
buhnya yang tanpa busana itu tergetar hebat. Tapi ia
tak berusaha menutupi telinganya. Karana getaran su-
ara itu telah menggetarkan jantungnya. Hingga serasa
hilang sukmanya. tanpa ia tahu harus berbuat apa.
Dan pada saat itulah Roro Centil telah pentangkan se-
puluh jari tangannya. Menghantam ke depan. Bagai
dihempas angin taufan yang amat dahsyat. terdengar
teriakan tertahan si Dewi Tengkorak ketika tahu- tahu
tubuhnya terpental ke belakang lima tombak.
"Buk...! Tubuh bugil itu meluncur deras meng-
hantam batang pohon di belakangnya, dengan keki
terpentang ke atas. Dan pada detik itu juga. Meluncur
deras sebuah benda hitam panjang ke arah si Dewi
Tengkorak. JROT..! Terdengar pekik panjang mengerikan,
ketika tombak pusaka Ratu Sima yang meluncur deras
itu, telah menancap tepat di pangkal paha si Dewi
Tengkorak. Joko Sangit cuma bisa menatap dengan
mulut ternganga. Kejadian itu begitu cepat. Dan di luar dugaan sama sekali...
Ketika ia berpaling ke arah Roro Centil, ia hanya dapat melihat berkelebatnya
bayangan merah jambu. Yang dalam beberapa kejap saja telah
lenyap di kesamaran senja yang temaram.. Namun la-
pat-lapat masih terdengar suara di telinganya yang di-
barengi dengan gelak tertawa cekikikan yang memban-
gunkan bulu roma.
"Hi hi hi... hi hi... Silahkan kau bawa tombak
Pusaka itu. Joko Sangit! Tapi kalau kau coba-coba
mendustaiku, jangan harap aku akan membiarkan di-
rimu bergentayangan lagi di muka bumi ini..! Dan jan-
gan anggap lagi aku sahabatmu..." Joko Sangit terpaku tak bergeming ditempatnya.
Sukmanya seolah terbawa,
dengan kepergian si Pendekar Wanita Roro Centil.
Yang tak dapat dipastikan apakah ia sudah menjadi
orang yang tidak waras lagi. Selang sesaat terdengar
laki-laki itu menarik napas panjang. Seolah baru saja
terlepas dari amukan prahara badai taufan yang me-
nyesakkan dada. Ketika ia palingkan wajah ke arah si
Dewi Tengkorak, seketika bergidik tubuhnya. Karena
tubuh wanita bugil itu masih tergantung menempel di-
batang pohon, disangga tombak pusaka yang telah
memakunya di situ. Sedangkan posisi tubuhnya masih
tetap seperti tadi, yaitu dengan keadaan kaki teren-
tang. Sementara darah kental merembes turun dari se-
la-sela yang telah tertutup rapat oleh batang tombak
hitam... Walaupun seketika wajah Joko Sangit agak
memerah, dan terasa
panas, namun diam-diam ia ngeri juga dibuat-
nya. Di samping ia agak bingung. dengan cara bagai-
mana ia mencabut benda pusaka yang menancap begi-
tu.." 7 "ROROOOOOOOOO..! Tolonglah aku... Be-
baskan aku.. Bunuh si kakek pengemis bau ini! Aku
tak mau kawin dengan anak gadisnya. Aku tak akan
mau kawin dengan siapapun kalau tidak denganmu,
Roro..! Aku telah lama mencintaimu..." Ginanjar berteriak-teriak kalap. Tangan
dan kakinya bergerak-gerak
menghantam kiri dan kanan. Akan tetapi amat kasi-
han bila melihatnya. Karena ia cuma bisa gerakkan ibu
jari kaki dan tangannya saja. Sedangkan dalam bayan-
gannya, ia telah mengamuk dan meronta dengan he-
bat... Pemuda itu terbaring pada sebuah pembaringan
dari batu beralas rumput kering dan jerami. Di atas
sehelai tikar yang sudah lusuh. Matahari yang tersem-
bul dari balik bukit itu. cuma mampu pancarkan sinar
menembus langit-langit kamar. Dan menerangi sedikit
bagian dalam ruangan Goa yang tersembunyi itu. Mu-
lut Goa yang cuma sedikit menganga itu agaknya pintu
masuk dari luar. Tapi di bagian. sebelah dalam, setelah melewati lorong yang
hanya muat untuk satu tubuh
manusia, terdapat ruangan yang luas. Bahkan disini
udara masuk cukup banyak. Karena tiga buah lubang
agak besar, menganga di setiap dindingnya. Kalau kita
coba melongok keluar lubang, akan ngeri melihatnya.
Karena di bawah sana adalah jurang yang amat dalam
sekali. Goa itu ternyata terletak di lereng tebing curam.
Untuk mendatangi Goa itu, tentu saja amat sulit bagi
manusia biasa. Atau bahkan orang yang ilmunya be-
lum mencapai tingkat tinggi, tak akan mampu me-
rayap kesana. Namun aneh... si pemuda Ginanjar itu
ternyata telah berada di dalam Goa misterius tersebut.
Siapa lagi yang membawanya kalau bukan si kakek
pengemis aneh itu.
Tebing terjal itu memang amat curam, dengan
di kiri dan kanannya jurang luas yang dalam terben-
tang luas. Burung-burung walet tampak berbondong-
bondong keluar dari lubang-lubang batu tebing. Sua-
ranya riuh bercicitan. Sedang di lubang lain binatang-
binatang ini berseliweran keluar masuk lubang dengan
suara berisik. Ketika mendengar suara teriakan pemu-
da itu, sesosok tubuh julurkan kepalanya dari sebuah.
Dan terdengar suaranya:
"Eh, bocah bandel! Kalau kau mau bersabar,
aku akan lepaskan kau..! Tapi kalau kau sanggup me-
nerima syaratnya!" Ginanjar berhenti berteriak. Kata-kata itu terdengar bagai
mendengung di telinganya. Ke-
tika ia membuka matanya, ia bagaikan orang linglung.
Karena sama sekali ia tak mengetahui ada di mana.
Ternyata ia telah mengigau. Karana barusan saja ia
terbangun dari tidurnya setelah semalam suntuk ia
terbaring di pembaringan itu. Keringatnya mengucur
deras dari dahinya. Setelah memulihkan ingatannya,
Ginanjar menyahuti:
"Berikan syaratnya kakek pengemis. Aku pasti
akan laksanakan, asal tak kau kawinkan aku dengan
cucu perempuanmu! Teriak Ginanjar. Akan tetapi ter-
dengar suara tertawa si kakek geli sekali, terkekeh-
kekeh. "He he heh heh heh. he he... Siapa yang punya cucu perempuan" Kalaupun
ada tak nantinya ku kawinkan denganmu. Tapi kau tetap takkan kubebaskan
sebelum kau penuhi janjimu..! Berkata si kakek. Men-
dengar kata-kata itu terbeliak sepasang mata
Ginanjar. Karena ternyata sang kakek aneh itu
cuma bergurau saja. Siapakah gerangan kakek aneh
yang berilmu tinggi itu.." Berfikir Ginanjar dengan se-juta pertanyaan di
benaknya. Tetapi diam-diam ia ber-
doa semoga si kakek itu bukan tokoh dari golongan ja-
hat. 8 Beberapa pekan berlalu sudah... Puncak Ma-
hameru telah banyak didatangi tokoh-tokoh persilatan
dari berbagai pelosok. Mereka belum berkumpul se-
mua di atas puncak yang terasa berhawa panas itu.
Yang ditimbulkan dari hawa kawah itu Beberapa ke-
lompok tampak membuat tenda-tenda atau tempat
bermalam, di lereng-lereng gunung... Tentu saja tidak
semua dari mereka itu datang hanya untuk menonton
jalannya pertandingan. Apalagi undangan itu datang-
nya tidak resmi. Dan tak diketahui siapa yang telah
mengundangnya. Akan tetapi. tetap saja banyak yang
datang, karena disamping ingin mengetahui siapa ge-
rangan manusia yang telah bermulut besar itu. Yang
dengan berani, telah menyelenggarakan pertemuan be-
sar yang aneh itu. Juga kedatangan mereka adalah
mencari tahu tentang Ketua Rimba Hijau Ki Dharma
Tungga. Yang tak ada kabar beritanya sejak beberapa
tahun belakangan ini... Bahkan menurut perkiraan
beberapa tokoh tua kaum persilatan. yang sudah men-
gundurkan diri dari dunia Rimba Hijau, bahwa masa
jabatan Ketua Ki Dharma Tungga masih belum habis.
Dan segala sesuatunya haruslah seizin, atau sepenge-
tahuan sang Ketua atau wakil darinya. Yang tentunya
akan diadakan pertemuan diantara para tokoh pent-
ing, bilamana ada sesuatu perubahan mengenai hal-
hal memilih ketua baru sebelumnya. Tapi hal seperti
ini adalah benar-benar keterlaluan. Bahkan mengenai
siapa yang telah menyelenggarakan upacara saja, tak
diketahui. Sebenarnya untuk tidak datangpun tak ada
persoalan. Karena siapa tahu kalau hal itu adalah un-
tuk memancing kekacauan belaka. Namun sebagai
kaum Rimba Hijau, yang amat peka dengan segala se-
suatu kejadian aneh.. Membuat banyak juga yang ber-
datangan ke puncak Mahameru... Ternyata pada pun-
cak gunung itu, di lereng kawah ada terdapat tanah ra-
ta. Dimana di sekelilingnya telah tertancap tonggak-
tonggak kayu yang berbentuk melingkar. Walaupun
tak ada tanda-tanda bendera atau lambang. Namun
mereka dapat memastikan akan terbukti juga bahwa si
pengundang itu tidak main-main. Karena telah menye-
diakan tempatnya. Atau arena untuk suatu pertarun-
gan. Perhitungan waktu yang ditetapkan adalah den-
gan melihat bulan. Dimana di saat munculnya selarik
garis dilangit. Menandakan itulah waktunya diadakan
pertandingan untuk menentukan calon Ketua. Dan se-
belum masa bulan muncul itu, mereka harus sudah
berkumpul. Pertarungan cuma diadakan satu pekan.
Bila lewat waktu yang ditentukan, maka pemilihan ke-
tua telah berakhir. Saat waktu yang ditentukan tinggal tiga hari lagi. Semua
kaum persilatan yang datang,


Roro Centil 06 Lima Wajah Seribu Dendam di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menanti dengan hati berdebar. Ingin sekali mereka me-
lihat siapa gerangan tokoh Rimba Hijau. yang telah be-
rani sembrono untuk mengadakan penyelenggaraan
pertemuan besar-besaran yang misterius itu.. Namun
dihari berikut, di saat waktu tinggal dua hari lagi.
Menjelang pagi, telah tertancap disekeliling tanah rata itu berpuluh-puluh
bendera MERAH dengan simbol li-ma ekor Serigala. Kelima ekor Serigala-Serigala
itu cuma bergambar kepalanya saja. Dan berwarna putih.
Berbaris sepanjang bendera. namun di atas dasar war-
na hitam. yang berbentuk Serigala utuh dengan tu-
buhnya. Dan menjelang satu hari lagi. Di tengah tanah
rata itu telah terbentang sebuah kemah tertutup. Ber-
warna hitam. Sedangkan di atas kemah itu telah berdi-
ri tiang yang tinggi. Dengan bendera yang terlihat se-
puluh kali lebih besar, dari bendera-bendera yang ter-
dapat disekeliling tanah rata. Tak ada seorangpun dari para pengunjung yang
berani mengganggu atau memasuki tenda hitam itu. Bahkan kapan berdirinya ke-
mah itu saja tak ada yang tahu. Seandainya mungkin
ada, sudah pasti akan tutup mulut. Karena disamping
harus waspada akan setiap keributan. Karena diseke-
liling mereka bukan dari golongan lurus saja. Tokoh-
tokoh kaum hitam pun banyak yang berdatangan.
Khawatir. salah-salah sebelum di adakannya pertan-
dingan, nyawa sudah melayang siang-siang... Menje-
lang malam, di hari esok yang bakal dipastikan di ada-
kannya pertarungan untuk pemilihan Ketua. Hampir
semua dari pengunjung, tak ada yang berani tidur.
Bahkan tak bisa tidur. Karena mereka mengkhawatir-
kan akan hal-hal yang bisa saja terjadi setiap saat.
Menjelang tengah malam sekonyong-konyong terden-
gar suara melengking tinggi. Berkumandang di udara.
Seperti suara jeritan arwah yang mati penasaran. Atau
mirip raungan serigala... Membuat beberapa kelompok
dari para pengunjung, terperangah. Dengan puluhan
pasang mata melotot tak berkedip, menatap ke arena
yang sunyi lengang itu. Bahkan gelapnya malam mem-
buat mereka tak dapat melihat apa-apa di hadapan-
nya. Sesosok tubuh telah berkelebat cepat sekali me-
masuki tenda hitam, tanpa menimbulkan suara. Dan
selang sesaat, telah disusul oleh lima sosok bayangan
lainnya. Namun gelap pekatnya malam, membuat tak
seorangpun yang melihat. Suasana tetap sepi lengang
tak berubah. Hanya kepak sayap kelelawar, sekali se-
kali terdengar. Membuatnya terkesiap. dengan jantung
berdetak keras. Tapi mereka cuma bisa terdiam dan
memaki dalam hati.
Fajar pun menyingsing... Seakan-akan lama
sekali malam itu berlalu. Namun yang dinanti sebentar
lagi akan tiba. Tampak beberapa kelompok yang terpi-
sah-pisah itu mulai bergeser beringsut lebih dekat lagi, ke sisi tanah datar
yang dikelilingi bendera merah kecil-kecil itu. Seperti tak sabar untuk segera
melihat siapa yang bakal muncul ditengah arena. Tenda hitam
itu masih tetap tertutup rapat. Tanpa seorangpun tahu
apa dan siapa didalamnya. Hingga Matahari mulai
menggelincir naik, suasana masih belum berubah.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan salah seorang dari pengunjung yang
agaknya sudah tak sabar lagi.
"Hoooiiiiii...! Yang berada di dalam tenda hitam!
Tampakkanlah siapa dirimu..! Agar kami tahu siapa
gerangan yang telah menyelenggarakan pertemuan gila
ini..!" Demikian teriakannya. Dan disambut dengan gemuruh suara-suara di
sekelilingnya. Seperti menye-tujui tindakan berani yang telah diperbuatnya. Tapi
tampaknya tak ada seorangpun yang berani mengelua-
rkan suara. Selang sesaat, tiba-tiba kain tenda hitam ter-
singkap. Dan dua sosok tubuh melompat keluar. Ke-
dua orang itu mengenakan jubah berwarna hijau. Wa-
jahnya tampak gagah dan masih muda-muda. Kedua-
nya menjura ketiga jurusan. Ternyata kedua orang itu
masing-masing bertubuh cacad. Yang seorang putus
sebelah kakinya. Dan yang seorang lagi putus kedua
tangannya. Salah seorang sudah buka suara:
"Saudara-saudara kaum Rimba Persilatan. Ka-
mi menghaturkan terima kasih atas kedatangan kalian
kemari. Hehe hehe... he he.... Mengenai hal pemilihan
Ketua, yang memang dirahasiakan ini, kami sanggup
menunjukkan bukti. Bahwa pertemuan yang kami
adakan bukanlah pertemuan gila..!" Selesai berkata, kedua tubuh itu kembali
melompat ke belakang. Dan
berdiri tegak di kiri kanan tenda. Detik berikutnya melompat lagi dua sosok
tubuh, laki-laki dan wanita. Dan setelah menjura ketiga jurusan, kedua orang
muda inipun melompat mundur. Dan berdiri berjajar di kiri-
kanan tenda. Beberapa puluh pasang mata menatap
wajah-wajah keempat orang itu dengan tak berkedip.
Selang sesaat, telah melompat lagi keluar tenda. Kali
ini hanya seorang... Dia seorang wanita yang menyan-
dang dua pedang di belakang punggungnya. Dan sete-
lah menjura ketiga jurusan, wanita ini berkata lantang:
"Nah..! Adakah diantara kalian yang akan men-
gatakan bahwa pertemuan ini adalah pertemuan gi-
la...?" Tampak ia palingkan kepala ketiga penjuru. Tapi tampaknya tak ada
seorangpun yang berani mengeluarkan suara. Selang sesaat si wanita sudah berkata
lagi: "Nah! Kalau begitu pertandingan akan segera di
mulai..! Silahkan siapa yang berani maju terlebih dulu!
Kami adalah terdiri dari lima orang. Bila diantara ka-
lian ada yang ingin maju seorang demi seorang. Akan
kami layani. Tetapi haruslah dapat mengalahkan kami
satu persatu. Yaitu dengan menembus pertahanan ba-
risan kelompok dari "Lima Serigala Malaikat". Seandainya tak ada yang berani
maju dengan seorang diri,
silahkan maju dengan sekelompok. Tapi tidak boleh le-
bih dari sepuluh orang. Nah. waktu telah tiba..!" Teriak si wanita berpedang dua
itu. Dan tiba-tiba ia telah keluarkan sebuah benda dari saku bajunya. Benda itu
disulut dengan api. Setelah mundur lima tindak. Terli-
hat benda itu berbunyi mendesis, serta mengeluarkan
asap. Dan beberapa detik kemudian...
Whusssss...! Benda yang panjangnya sejengkal
itu meluncur keudara menimbulkan percikan api dan
asap tebal. Kira-kira 100 tombak terdengar bunyi leda-
kan keras. DHUARRRR...! Benda itu telah meledak di ang-
kasa. Menimbulkan cahaya berwarna-warni sebesar
lingkaran tanah datar di bawahnya. Kemudian si wani-
ta itupun melompat mundur. Dan berdiri berjajar di
sebelah keempat kawannya. Beberapa saat mereka
menunggu orang pertama yang akan maju ke tengah
arena. Masing-masing para pengunjung tampak ter-
dengar bersuara riuh. Kepala-kepala mereka bergerak
kekiri-kekanan seperti ingin melihat siapa yang berani maju. Tiba-tiba
berkelebat sesosok tubuh ke tengah
arena. Ternyata seorang laki-laki tua bertubuh gemuk.
Dengan perutnya yang buncit menggembung. Laki-laki
ini memakai jubah berwarna putih. Pada lehernya ter-
gantung seuntai tasbih dari perak. Dia lantas menjura
ke hadapan kelima wajah di hadapannya seraya berka-
ta: "Maaf, kami datang mewakilkan diri dari partai
kami yaitu Partai Giri Manuk. Aku sendiri bergelar si
Tasbih Perak. Kedatanganku adalah ingin menanya-
kan, apakah dalam pertandingan ini tak disediakan
beberapa orang juri.." Karena mana mungkin suatu
pertandingan diadakan, tanpa adanya juri. Jadi siapa
yang dapat menentukan kalah menangnya..?" Suara si gendut Tasbih Perak ini
terdengar lantang, walau tampaknya ia berkata biasa saja. Pertanda ia bukan seo-
rang tokoh sembarangan. Apa lagi Partai Giri Manuk
sudah tersyiar keharuman namanya di Rimba Hijau.
Mendengar kata-kata si gendut itu, serentak terdengar
suara teriakan ramai, yang membenarkan ucapan atau
sanggahan itu. Akan tetapi kelima orang di hadapan-
nya telah melompat berbareng ke depan. Dan sekaligus
membentuk barisan pertahanan. Berbentuk kerucut.
Dengan paling depan adalah si wanita berpedang dua.
Terdengar ia berkata:
"Heh! Tasbih Perak! Penentuan juri adalah oleh
pihak kami sendiri. Tak usah pakai macam-macam
urusan rumit. Kalau kau sanggup menembus barisan
kami, dan menumbangkan kami satu persatu. Kau bo-
leh angkat dirimu menjadi Ketua..!" Si Tasbih Perak tampak kerutkan kening.
Sepasang alis lebat yang
hampir memutih semua itu mencuat ke atas. Ia sudah
lantas berkata: "Mana bisa ada peraturan begitu.." Ba-gaimana kalau kalian
berlaku curang..." Hal semacam
ini tak bisa dibenarkan!" Akan tetapi Siti Jenang telah membentak.
"Segala keputusan adalah di tangan kami. Se-
mua pengunjung dapat dijadikan saksi. Kalau ada hal
kecurangan. kalian boleh memprotes..!"
"Huh! Benar-benar peraturan gila..!" Memaki si Tasbih Perak. Dan ia sudah akan
bergerak untuk melompat keluar arena. Akan tetapi. sekali lompat si wa-
nita telah melompat menghadang. Seraya pentang ke-
dua tangannya, diiringi bentakan keras. "Tunggu Tasbih Perak! Kau sudah masuk ke
dalam arena. Berarti
kau harus menghadapi kami. Bila kau mau keluar, si-
lahkan tinggalkan nyawamu..!" Dan keempat kawan
dari Lima Serigala Malaikat segera telah mengurung-
nya. Melengak si Tasbih Perak. Sepasang matanya jadi
mendelik gusar. Memandang sekeliling ia dapati wajah
wajah kaku yang menatap tajam padanya. Dan ketika
menatap si dua manusia cacad itu, hati si Tasbih Pe-
rak jadi tersentak. Wajah itu ia mengenalnya. Dan ia
Kisah Si Bangau Putih 5 Dewi Sri Tanjung Persekutuan Dua Iblis Pendekar Pemanah Rajawali 17
^