Pencarian

Lima Wajah Seribu Dendam 3

Roro Centil 06 Lima Wajah Seribu Dendam Bagian 3


sudah lantas berkata:
"He..!" Bukankah anda berdua si Pendekar
Kembar adanya..?" Terdengar suara tertawa sinis. Si kaki buntung sebelah
menyahuti. "Wajah kami memang wajah si Pendekar Kem-
bar. Akan tetapi kami adalah Dua Siluman Gunung
Kawi, yang akan menumpas seluruh golongan kaum
putih. Kami telah menguliti kulit muka si pendekar
kembar tolol itu..!" Mendesis suara Kala Munget. Terbeliak mata si Tasbih Perak.
Wajahnya menampilkan
kemarahan hebat.
"Kalau begitu kalian si Kala Munget dan Kala
Wesi adanya. Sungguh perbuatan biadab yang kalian
lakukan!" Dan ia sudah mencabut keluar Tasbih Pe-
raknya. Namun ia sudah membentak lagi dengan sua-
ra lantang: "Baik. Lima Serigala Malaikat! Bentuklah bari-
san kalian! Aku orang pertama yang akan mewakili
perguruan dari Partai Giri Manuk. Tapi bukan untuk
menduduki jabatan Ketua, melainkan untuk menum-
pas lima iblis tengik yang gila pangkat..!" Tadinya Kala Wesi sudah mau
menerjang karena sudah tak sabar
untuk menghabisi orang. Akan tetapi telah diberi isya-
rat oleh Siti Jeneng. Karena hal itu akan di anggap pa-ra pengunjung sebagai
tindakan tak beraturan. Segera
saja telah berlompatan kelima Serigala Malaikat untuk
membentuk barisan. Kali ini susunan berubah. Kele-
lawar Besi berada didepan. Bagian belakang dua
orang, yaitu Kala Munget dan Kala Wesi. Dan dua
orang lagi agak melebar di belakang, adalah Siti Je-
nang dan Rimba Wengi. Siti Jenang telah mencabut
keluar sepasang pedang hijaunya, milik si Pendekar
Kembar Gambir Anom dan Gambir Sepuh. Kini semua
mata terpantang lebar di luar arena, untuk menyaksi-
kan pertarungan seru. Dengan hati berdebar. Si gen-
dut Tasbih Perak telah mundur dua tindak. Sepasang
matanya tampak merah bagai biji saga, ia sebagai seo-
rang tokoh tua kaum putih, benar-benar merasa terhi-
na kalau tak turun tangan menumpas kelima wajah ib-
lis di hadapannya. Segera saja ia berteriak keras, seraya menerjang dengan
gerakan kilat. Tasbihnya ber-
kelebat menghantam. Sedangkan sebelah lengannya
bergerak memukul si Kelelawar Besi terdengar men-
dengus. Sepasang lengannya meluncur ke arah dada.
Sedang pukulan tasbihnya ia elakkan dengan miring-
kan kepala. Sementara pukulan sebelah lengannya ia
tak mengurusi, karena di belakang ada Kala Munget.
Terkejut bukan main si Tasbih Perak. Segera ia gerak-
kan tubuh menghindar ke samping. Kakinya bergerak
menyambut pukulan kedua lengan si Kelelawar. Ada-
pun hantaman Tasbih Peraknya mengenai tempat ko-
song. Namun pukulan lengannya telah disambut oleh
Kala Munget dengan gubatan ujung lengan jubahnya.
Kala Munget memang tak mempunyai lagi kedua len-
gan. Yang sudah putus sebatas siku. Namun dengan
ujung lengan jubahnya, ia telah mampu menahan se-
rangan lawan bahkan dapat menggubat lengan lawan.
Pada saat itulah si Kelelawar yang serangannya lolos,
mendapat sambutan terjangan kaki. Maka cepat bagai
kilat. Sepasang lengan besi itu telah berhasil menceng-
keram kaki lawan. Terdengar teriakan parau si Tasbih
Perak. Dan di saat teriakannya belum lagi habis. Tu-
buhnya telah terlempar ke belakang barisan. Dalam
keadaan kaki hancur, tubuh si Tasbih Perak meluncur
deras, terbawa oleh sentakan lengan jubah Kala Mun-
get. Dibawah Siti Jenang telah menanti dengan sepa-
sang pedang hijaunya. Dan Rimba Wengi sudah siap
menghantam dengan telapak tangannya. Perlu diketa-
hui Rimba Wengi adalah yang dijuluki Siluman Tela-
pak Darah. Bila pukulannya mengenai dada atau
punggung, maka jangan harap manusia dapat berta-
han hidup. Karena sebelah lengannya telah mengan-
dung racun yang amat hebat. Dan juga bukan lengan
asli. Yaitu sebuah lengan palsu terbuat dari perunggu, yang telah terendam
dengan air racun selama beberapa tahun. Dalam keadaan luka parah. karena sebelah
tulang kakinya hancur, si Tasbih Perak dapat melihat
berkelebatnya dua pedang hijau mengarah perut. Dan
di sebelah kiri telah siap sebuah lengan dengan tela-
paknya berwarna hitam untuk menghantam dada.
Terperangah ia seketika. Tiba-tiba ia gunakan tubuh-
nya untuk bersalto di udara. Kedua lengannya segera
ia gerakkan untuk menghantam. Terpaksa Rimba
Wengi berkelit menghindar. Dan Siti Jenang melompat
dua tindak. Detik berikutnya, dengan menggelinding-
kan tubuhnya berjungkir balik... ia telah berhasil lolos dari serangan kelima
Serigala Malaikat. Walaupun Kala
Wesi tak punya kesempatan untuk menyerang. Dengan
berdiri pada kedua lutut, si Tasbih Perak sudah siap
menanti serangan-serangan selanjutnya. Akan tetapi
sudah terdengar suara teriakan dari para pengunjung
diluar arena yang menyatakan kemenangan si Paderi
Tasbih Perak. Belum lagi reda suara riuh itu tahu-tahu Tasbih Perak telah roboh
terjungkal, untuk tidak ber-
kutik lagi. Seketika suara riuh itu terhenti. Terdengarlah suara Siti Jenang
dengan lantang diiringi suara
tertawanya. "Hi hi hi... Apakah kalian mau mengangkat
orang mati untuk menjadi Ketua..!?" Dan serentak lima orang dari luar arena
masuk ke tengah, dengan berlompatan. Kelima Serigala Malaikat menyingkir ke
tepi. Dan biarkan mereka menghampiri si Tasbih Perak
yang masih tertelungkup dengan sebelah kaki hancur.
Segera mereka memeriksa tubuh si paderi gendut itu.
Dan tampak seketika wajah mereka berubah pias. Ter-
nyata si Tasbih Perak benar-benar telah tewas... Tak
berayal lagi segera mereka menggotongnya cepat ke-
luar arena. Suara riuh kembali terdengar. ketika bebe-
rapa orang diluar arena mengerumuni mayat si Tasbih
Perak. Namun kelima orang yang mengangkutnya, se-
gera menggotong untuk meninggalkan arena.
Berturut-turut berkelebat delapan orang tokoh
persilatan maju ketengah arena, rata-rata mereka me-
nyandang pedang. Tanpa ayal lagi segera si Lima Seri-
gala kembali membentuk barisan. Dan saat berikutnya
kembali terjadi pertarungan seru. Delapan orang itu
adalah dari Partai Rajawali. Tentu saja mereka datang
bukan atas keinginan merebut kursi Ketua Rimba Hi-
jau. Karena mereka datang untuk membalas dendam.
Mereka adalah orang-orang atau murid utama dari
Partai Rajawali. Yang diutus oleh kedua gurunya si Se-
pasang Rajawali Putih. Untuk mengecek kebenaran
adanya pertemuan besar itu. Semua orang menahan
napas, ketika kelima Serigala Malaikat menerjang den-
gan ganas. Melancarkan serangan-serangan keji. Dua
orang menjerit tatkala lengan si Kelelawar Besi men-
cengkeram hancur sebelah kaki, dan sebelah lengan
dari kedelapan peserta. Di lain tempat, satu orang ber-
teriak ngeri, karena dadanya tertembus tongkat berca-
gak Kala Wesi. Dan seorang terjungkal dengan kepala
remuk, oleh Rimba Wengi, dengan dada terpanggang
oleh dua bilah pedang hijau. Hanya dalam waktu tak
berapa lama, kedelapan murid utama Partai Rajawali
telah roboh. Serentak kelima Serigala Malaikat melom-
pat kedua sisi. Berarti telah mempersilahkan orang un-
tuk mengambil mayatnya. Segera beberapa orang maju
melompat, tapi bukan untuk mengambil mayat. Me-
lainkan menggempur kelima Serigala Malaikat.
"Iblis-iblis keji...! Bukan begini caranya untuk
pemilihan Ketua..!" Berteriak salah seorang. Ternyata Warok Brengos yang telah
maju melompat, diikuti
sembilan orang kawannya. Segera terjadi pertarungan
hebat. Mereka menerjang tanpa mau perduli lagi den-
gan segala macam aturan. Tapi hanya sekejap... Kare-
na telah terdengar teriakan-teriakan ngeri. Beberapa
tubuh telah terjungkal untuk tidak berkutik lagi.
Hanya tinggal lagi Warok Brengos dan dua kawannya.
Kematian beberapa kawannya itu memang aneh. kare-
na kelima Serigala belum melakukan pukulan, dan
cuma berkelebatan saja melompat untuk menyingkir.
Hal mana membuat Warok Brengos agak curiga den-
gan keadaan di dalam tenda. Tiba-tiba si Pisau Ter-
bang dari Madura itu telah kelebatkan tiga buah pi-
saunya. Membersit tiga benda halus menyambar tiga
buah pisau. Yang segera ketiga benda itu meluncur ba-
lik dengan cepat ke arah tiga orang itu. Dua dari ka-
wan Warok Brengos terjungkal roboh. Namun si Bre-
wok berhasil menangkap kembali senjatanya. Wajah-
nya seketika berubah pucat. Dan ia telah keluarkan te-
riakannya... "Iblis-iblis licik..! Kalian sembunyikan orang di dalam tenda untuk main
bokong!" Akan tetapi sebelum
ia melompat keluar arena, si Brewok telah keluarkan
jeritan ngeri... Karana dua buah pedang hijau telah
menembus punggungnya. Seketika tubuhnya roboh
terguling. Dan berkelebatlah Siti Jenang. untuk kem-
bali mencabut senjatanya yang telah tertancap amblas
itu. Dan ia sudah berkata lantang...
"Saudara-saudara..! Manusia ini telah berani
memfitnah. Dan bertarung dengan tak beraturan! Su-
dah selayaknya kami membunuhnya mampus..!" Dan
teriaknya lagi.
"Nah..! Silahkan kalau ada yang mau maju la-
gi..!" Akan tetapi belasan orang tampak telah bergerak meninggalkan arena.
Bahkan juga diiringi dengan teriakan caci maki. Wajah-wajah mereka menampakkan
kegusaran. Akan tetapi pada saat itu berkelebat dua
sosok tubuh. Kedua orang itu berpakaian putih putih.
Ternyata kedua orang itu laki-laki dan wanita. Melihat kemunculan kedua orang
ini, Siti Jenang berkelebat
melesat tiga tombak di hadapannya. Seraya berkata
dengan nada dingin:
"Bagus..! Kiranya Sepasang Rajawali Putih ber-
kenan juga datang kemari! Hi hi hi... Apakah kalian
mengenali sepasang Pedang Mustika Hijau ini.."!" Berkata Siti Jenang, seraya
menunjukkan kedua bilah pe-
dang di kedua lengannya. Terkesiap sepasang Rajawali
Putih. Ia segera mengetahui benda itu milik siapa.
"Keparat..! Apa yang telah terjadi dengan kedua
murid kembar ku itu..?" Teriak si wanita. Sedang si la-ki-laki tertegun menatap
sepasang pedang hijau itu.
"Hihi... hihi... hi hi... Kedua murid kembar mu
si Pendekar Kembar itu telah kami kuliti kulit wajah-
nya. Dan orangnya telah kami bunuh mampus!" Teriak Siti Jenang. Dan kembali
melompat ke belakang.
"Setan laknat..!" Teriak si wanita. Dan ia sudah
hendak melompat menerjang. Akan tetapi telah diha-
langi oleh si laki-laki.
"Sabarlah istriku..! Jangan bertindak gegabah!
Mereka telah membentuk kelompok dari lima orang
yang berkepandaian tinggi!" Berkata si laki-laki. Akan tetapi telah terdengar
teriakan Siti Jenang kembali,
sementara kelima manusia berjulukan si Lima Serigala
Malaikat itu semakin maju mendekati.
"Hi hi hi... sepasang Rajawali Putih ternyata ra-
gu-ragu. Lebih baik serahkan saja jiwa kalian! Pende-
kar-pendekar macam kalian hanya menjadi perintang
saja bagi kami..!"
"Setan-setan laknat..! Majulah..!" Teriak si wanita. Dan ia telah keluarkan
senjatanya sepasang ca-
kar basi berbentuk kaki burung Rajawali. Adapun si
laki-laki mencabut keluar sebuah pedang tipis, beru-
jung melengkung bagai paruh burung.
"Hm... Hati-hatilah istriku..! Didalam tenda ada
manusia yang dapat pergunakan senjata rahasia un-
tuk membokong kita. Jangan kau sampai terpancing
olehnya..!" Wanita ini anggukkan kepala. Ia tidak langsung menerjang, namun
bersuit keras. Tiba-tiba mun-
cul seekor burung Rajawali raksasa, yang besarnya ti-
ga kali tubuh manusia. Ia sudah lantas memberi perin-
tah. "Putih..! Kau hancurkan tenda itu. Dan kacau
barisannya..!"
9 Sesosok tubuh berlari cepat sekali bagaikan
anak panah lepas dari busurnya... beberapa anak sun-
gai telah dilompatinya. Bahkan lereng terjal dan lem-
bah ngarai ia turuni, untuk kembali mendaki. Seperti
tak ada rasa lelah sama sekali tampaknya. Sosok tu-
buh itu susah dilihat bentuknya. Karena hanya bayan-
gan putih saja yang terlihat meluncur pesat... Ketika
tiba di lereng Mahameru. tampak ia berhenti. Ternyata
ia tengah mengatur pernapasan sejenak. Dengan ber-
tolak pinggang ia menatap ke arah puncak Mahameru.
Ternyata ia seorang pemuda gagah. Menyandang pe-
dang di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Ginanjar,
si pemuda murid mendiang Pendekar Bayangan Bayu
Seta. "Aku harus tiba di puncak sebelum terlambat, dan banyak korban
berjatuhan!" Mendesis keluar suara dari mulutnya. Tiba-tiba ia menyibak bajunya.
Sege- ra terlihat memancar sinar kemilau berwarna pelangi
dari sebuah benda yang tergantung di dadanya. Ter-
nyata benda itu adalah sebuah Medali Bentuknya bu-
lat sebesar piring kecil. Dengan ukiran indah dari emas murni. Bertatahkan intan
berlian di sekelilingnya. Sedang pada bagian tengahnya adalah batu pualam ber-
warna putih. Yang berkilatan terkena cahaya sinar ma-
tahari. Ginanjar perhatikan benda di tangannya. Sete-
lah menghela napas sejenak, segera ia tutup lagi ba-
junya. Kembali ditatapnya puncak Mahameru. Walau-
pun tampak keringat mengucur deras membasahi se-
kujur tubuhnya. tampak semangat tetap menyala di


Roro Centil 06 Lima Wajah Seribu Dendam di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sinar matanya. Dan kembali ia menggenjot tubuh un-
tuk berlari lagi mendaki lereng... Tapi baru tujuh-
delapan kali kakinya menindak, telah terdengar benta-
kan. Dan tiga sosok tubuh telah muncul di hadapan-
nya. "Berikan benda itu pada kami, sobat muda..!
Dan silahkan kau teruskan perjalananmu..! Kami yang
akan mengantarkannya pada wakil Ketua Rimba Hi-
jau!" Ginanjar hentikan tindakannya. Sepasang ma-
tanya menyapu wajah tiga manusia dihadapannya.
Ternyata yang mencegat adalah si Dua Dewi dan Gu-
riswara si Pemabuk Dermawan. Tentu saja Ginanjar
jadi melengak. Menyesal ia telah mengeluarkan benda
itu dari balik bajunya. hanya untuk memandang akan
keindahannya. "Hm. siapakah wakil dari Ketua Rimba Hijau..?"
Balik bertanya Ginanjar. Setelah terdiam sejenak, Gu-
riswara menyahuti.
"Kau akan dapat mengetahuinya nanti. Benda
itu tak boleh sampai orang dari lain golongan menge-
tahui, karena amat berbahaya. Aku mengkhawatirkan
keselamatannya. hingga akan mencemarkan nama wa-
kil dari Ketua Rimba persilatan lama..!" Ginanjar kerutkan alisnya. Kata-kata
itu sama juga dengan batu
yang tercebur ke laut, karena Ginanjar telah mengeta-
hui persoalan mengenai urusan pemilihan Ketua kaum
Rimba Hijau sampai ke akar-akarnya. Ia sudah lantas
berkata: "Heh..! Begitukah.." Justru akulah wakil dari
Ketua kaum Rimba Hijau. Dan benda di tanganku ini
sebagai tandanya..!" Melengak seketika ketiga wajah dihadapannya. Akan tetapi si
Dewi Kenari telah membentak: "Bagus..! Kalau begitu kau harus mampus terlebih
dulu..! Dan kami yang akan menggantikan seba-
gai wakilnya..!" Kata-katanya telah dibarengi dengan terjangan dua Roda Baja
yang meluncur deras ke arah
Ginanjar. Terkesiap pemuda ini, namun ia telah was-
pada. Sebelum kedua benda itu menyentuh tubuhnya,
ia telah berkelebat menghindar. Namun Sawur Sari te-
lah menerjang dengan pedangnya. Ginanjar gertak gi-
ginya. Alisnya naik ke atas. Wajahnya menampilkan
kemendongkolan hatinya. Namun sekejap ia telah ca-
but pedang pusakanya dari pinggang. Berkelebat sinar
perak... Trang!. Terdengar teriakan tertahan si wanita.
Dan melompat mundur tiga tombak. Sambaran pedang
Ginanjar yang telah dibarengi dengan tenaga dalam
itu, ternyata telah membuat pedangnya terlempar pu-
tus. Pada saat itu juga telah melompat Guriswara. Ter-
nyata ia telah pergunakan dua kapak tipis, yang ia ke-
luarkan dari belakang punggung. Dua sinar berkelebat
menyilang kearahnya, dengan suara bersiutan. Terke-
jut juga Ginanjar. Dan gunakan pedang untuk me-
nangkis. Trang..! Ginanjar terhuyung tiga langkah. Se-
dang Guriswara terpental tiga tombak. Ternyata kedua
senjata sama-sama senjata pusaka. Dan tenaga dalam
keduanya berbeda satu tingkat. Terkejut Guriswara.
karena tak menyangka tenaga dalam lawan berada di-
atasnya. Tak berayal lagi segera ia isyaratkan kedua
wanita untuk bantu mengurung. Ginanjar curahkan
perhatiannya. Selama satu bulan ia sudah mendapat
gemblengan dari si kakek pengemis, ternyata telah
membuat ilmu kepandaiannya maju pesat. Bahkan te-
naga dalamnya bertambah dua kali lipat. Ketiga manu-
sia itupun telah menerjang dengan berbareng. Dua ro-
da baja meluncur deras ke arah tenggorokan dan dada.
Dibarengi berkelebatnya dua kapak menyambar kaki.
Sawur Sari melompat tiga
tombak seraya lepaskan segenggam jarum be-
racun. Keringat dingin seketika merembes keluar dari
tengkuk si pemuda. Tubuhnya berputar bagai gasing
menimbulkan angin dahsyat. Seperti juga sekonyong-
konyong di hadapan ketiga penyerang itu telah terjadi
angin puyuh, yang membuat serangan senjata rahasia
Sawur Sari buyar. Kedua roda baja Kili Cantrik terpen-
tal balik. Adapun serangan kedua kapak Guriswara
menemui kegagalan, karena tubuhnya jadi terhuyung
kebelakang. Dan terpaksa ia meramkan sepasang ma-
tanya, karena debu dan pasir yang bergulung-gulung
itu menyambar muka. Ketiganya bergulingan mundur
dua tiga tombak. Ketiganya sudah berdiri lagi untuk
kembali menerjang... Akan tetapi tiba-tiba terdengar je-ritannya... Tahu-tahu
ketiga tubuh itu telah terjungkal roboh. Ginanjar masih berdiri terpaku
ditempatnya dengan memandang heran. Tampak tiga tubuh itu
berkelojotan bagai ayam di sembelih. Lalu terdiam un-
tuk melepaskan nyawa... Pemuda ini putar kepala dan
tubuh ke beberapa arah. Akan tetapi ia tak melihat
siapa-siapa. Ketika ia coba memeriksa ketiga tubuh
itu, ternyata tiga buah lidi aren telah tertancap dimasing-masing
tenggorokannya. Tahulah ia bahwa orang
yang telah menolongnya adalah si kakek pengemis.
Alias Ki Dharma Tungga. Yang ternyata tiada lain dari
si Ketua Kaum Rimba Hijau.
"Guru..!" Teriak Ginanjar. Akan tetapi tak ada sahutan disekelilingnya. Namun
lapat-lapat terdengar
suara yang menitahkan agar cepat naik ke puncak
Mahameru. Pemuda ini tampilkan wajah girang... Dan
tak berayal lagi segera ia enjot tubuh dan segera berkelebat naik meniti lereng
untuk selanjutnya lenyap dike-rimbunan pepohonan...
10 Prak..! Prak..! Terdengar suara hantaman ke-
ras, seperti suara segenggam sapu lidi yang dihantam-
kan ke pohon. Tampak berkelebat sebuah bayangan
merah jambu berseliweran di hutan pinus itu. Yang
sebentar-sebentar diiringi dengan bunyi keprekkan ke-
ras menghantam batang-batang pohon. Terdengar ter-
tawa cekikikan dimana bayangan merah jambu itu
berkelebatan. Sesosok tubuh itu tak terlihat jelas. Tapi gerakannya cepat
sekali. Hingga yang terlihat hanya
bayangan pakaiannya saja, berseliweran bagaikan
hantu siluman. Suara tertawanya membuat orang ber-
gidik seram, dan membangunkan bulu roma... Selang
sesaat tampak bayangan merah jambu itu keluar dari
rimbunnya pohon-pohon pinus. Dan melesat cepat ke
atas sebuah batu besar. Berbarengan dengan keluar-
nya sang tubuh itu, terdengarlah suara berkeriutan.
Disusul dengan gemuruh pepohonan yang tumbang.
Ternyata hutan pinus itu hampir separuhnya bertum-
bangan roboh... Suaranya bergemuruh. Tempat itu ba-
gaikan tengah dilanda gempa. Hanya beberapa kejap
saja tempat yang rimbun itu telah menjadi terang se-
paruhnya. Batang-batang pohon telah menjadi rebah.
bertumpangan saling tindih. Bagaikan baru saja di-
amuk oleh tangan raksasa. Ternyata pada setiap po-
hon, akan terlihat batang bagian tengahnya hancur...
Sosok tubuh di atas batu besar itu berdiri menatap
dengan tampilkan senyum aneh. Angin keras yang
membersit dari atas perbukitan, membuat rambutnya
yang panjang berkibaran tertiup angin. Tampaknya
wajah itu belum juga merasakan kepuasan. Dan tiba-
tiba saja ia telah melompat turun dari batu besar itu.
Tubuhnya membungkuk. Sepasang lengannya tiba-tiba
bergerak untuk mengangkat batu besar itu. Luar bi-
asa. Dan hampir tak masuk di akal. Karena gadis ber-
tubuh agak kurus, dengan pinggang yang ramping itu,
ternyata mampu mengangkat batu yang besarnya
hampir sebesar kerbau... Terdengar suara teriakan me-
lengking panjang. Dan tahu-tahu batu besar itu telah
melayang ke atas, kira-kira sepuluh kali tinggi manu-
sia. Saat selanjutnya di luar dugaan tubuh si gadis telah meluncur pula, di saat
batu besar itu berhenti se-
saat di udara... Berkelebat bayangan merah jambu ce-
pat sekali. Dan tiba-tiba...
PRAKK...! Ia telah gerakkan kepalanya untuk
menghantam batu besar itu dengan rambutnya. Selan-
jutnya melesat turun bagai anak panah. Begitu ia je-
jakkan kaki lagi, batu besar itu meluncur turun...
Akan tetapi telah menjadi hancur begitu jatuh kembali
ke tempat semula. Berubah menjadi serpihan serbuk
kecil-kecil. Barulah terdengar suara tertawa panjang
yang nyaring. Melengking tinggi membuat getaran-
getaran hebat. Hingga tampak bergoyang-goyang berja-
tuhan.... Ternyata gadis itu tak lain dari Roro Centil.
Sang Pendekar Wanita Pantai Selatan. Tingkah la-
kunya memang aneh. Akan sukar orang menjajaki ji-
wanya. Terkadang tampak wajahnya tampilkan ke-
gembiraan. Tapi terkadang juga menampilkan kesedi-
han yang amat luar biasa. Agaknya Roro telah menga-
lami goncangan jiwa yang amat hebat. Dan memang
demikianlah adanya... Sejak ia berlalu dari lereng tebing dekat air terjun itu.
Roro Centil bagaikan kesuru-
pan berlari cepat menuju Pantai Selatan. Meninggal-
kan Joko Sangit yang kebingungan untuk mencabut
Tombak Pusaka Ratu Sima yang menempel di tubuh si
wanita Dewi Tengkorak. Ia berlari dan berlari dengan
kecepatan bagai melebihi kecepatannya angin. Siang
berganti malam tanpa kenal istirahat. Dan tatkala de-
buran ombak Pantai Selatan itu telah samar-samar
terdengar di telinganya, barulah ia perlambat langkah-
nya. Pagi itu cuaca tak begitu bagus. Sedari pagi angin keras dari laut, tak
berhenti meniup. Ia singgah di sebuah desa, untuk menangsal perut. Masih tersisa
be- berapa keping uang di sakunya. Adapun selebihnya
adalah tinggal sebuah Cincin berbatu merah delima
dan sepuluh buah gelang emas bertatahkan intan
permata. Dua cincin dan beberapa untai kalung lain-
nya peninggalan Gurunya itu, telah tak bersisa. Ia cu-
ma periksa sejenak kotak perhiasannya, lalu kembali
menyimpannya kebalik pakaian. Warung kecil diham-
piri. Dan menangsal perut seadanya. Pantai Selatan
memang sudah dekat. Namun semakin dekat, semakin
perlahan langkah Roro. Seolah ia merasa tak kuasa
untuk melangkah... Karena sudah terbayang jenazah
sang Guru yang sudah hampir setahun itu ia tinggal-
kan. Jenazah wanita yang sudah berusia lanjut. na-
mun masih tampak muda. Wanita itulah yang telah
menggemblengnya dengan segala keanehannya. Wa-
laupun sang Guru adalah manusia aneh. Karena ia
bukan laki-laki dan bukan juga perempuan, namun
Roro amat menghormati dan menyayanginya. Apa lagi
sejak ditinggalkan, sang Guru telah berniat menutup
diri di dalam ruang Goa di dasar tebing pantai selatan itu. Dan dalam keadaan
yang mengenaskan. Karena si
manusia aneh itu telah mencocok kedua lubang telin-
ganya, dengan kedua jari tangannya sendiri. Dan telah
keluar ucapan dari mulutnya untuk tidak mau men-
dengar, dan mencampuri lagi urusan Dunia Rimba Hi-
jau. Sang Guru cuma berteman dengan sebuah benda,
yaitu sebuah tombak hitam. Tombak Pusaka Ratu Si-
ma. Tapi benda itu telah ia lihat sendiri berada di tangan si Dewi Tengkorak.
Dan menurut keterangan wani-
ta yang telah dibunuhnya itu, sang Guru telah dibu-
nuhnya. Hancur luluh seketika perasaannya. Remuk
redam hatinya. Hingga dalam keadaan seperti kurang
waras, Roro berlari dan berlari... Namun semakin de-
kat nyatanya semakin lamban ia melangkah. Masih
terngiang kata-kata sang Guru yang mengatakan agar
tidak usah kembali lagi ke Pantai Selatan. Empat ta-
hun yang lalu sejak ia menutup lubang rahasia yang
menuju ke Ruangan Goa di bawah tebing karang itu.
Roro pun telah berniat untuk tak kembali lagi. Walau
kepergiannya juga dengan hati remuk redam. Roro
Centil memang bukan laki-laki. Sebagai seorang wani-
ta, tentu saja lebih peka dengan perasaannya. Hal itu-
lah yang membuat ia kembali berhenti melangkah.
Dan termangu-mangu menatap ke arah tebing pantai
Selatan. Akhirnya jatuh terduduk di atas batu. Lama ia termangu di situ.
Sementara air matanya tak hentinya
menetes, mengalir di kedua pipinya. Ternyata ia telah terhanyut oleh kesedihan
yang luar biasa. Tapi seketika ia jadi tersentak dari lamunannya. Ketika lapat-
lapat terdengar suara memanggilnya.
"Roro..!" Dan tampak sesosok tubuh berlari
mendatangi. Makin lama sosok tubuh itu semakin de-
kat. Dan beberapa kejap kemudian telah berada di ha-
dapannya. Ternyata yang datang tak lain dari Joko
Sangit adanya. Laki-laki itu menatap Roro dengan wa-
jah memelas. Terlihat ia memegang tombak hitam itu
di lengannya. Roro masih tetap membisu. Seperti tak
perduli akan kedatangan sahabatnya itu.
"Roro..! Sudah kuduga pasti kau akan ke Pantai
Selatan. Aku telah sejak pagi berkeliling di setiap tebing pantai. Untuk
mencarimu..! Ternyata kau berada
disini..." Berkata lirih Joko Sangit. Akan tetapi Roro masih membisu, tak
bergeming. Pandangannya menatap kosong ke arah depan. Joko Sangit tahu orang se-
dang terpukul hatinya, segera mendekati lebih dekat.
Kembali ia berucap lirih...
Roro, aku memang mencarimu untuk memba-
wa pesan dari Gurumu, si Manusia Aneh itu..!" Men-
dengar kata-kata itu barulah Roro menoleh, dan tatap
wajah orang dalam-dalam.
"Pesan dari Guruku..?" Bertanya Roro dengan
kerutkan alisnya. Suaranya lirih agak serak. Namun
membersitkan rasa terkejut. Joko Sangit mengangguk.
Dan seraya berkata melanjutkan.
"Beliau aku temui dalam keadaan luka dalam
yang parah tiga bulan yang lalu. Sudah ku coba usa-
hakan menolong jiwanya. Namun sia-sia... Beliau te-
was dengan keadaan yang menyedihkan. Perlu kau ke-
tahui Roro... Beliau adalah adik seperguruan Guruku.
Guruku bernama Ki Jagur Wedha... Yang bergelar
Pendekar Gentayangan..!" Kembali Roro Centil melengak. Baru sekarang Joko Sangit


Roro Centil 06 Lima Wajah Seribu Dendam di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membuka riwayat di-
rinya. Tentu saja penuturan itu membuat Roro berha-
srat sekali mendengarnya. Joko Sangit meneruskan ce-
ritanya. "Menurut penuturan beliau, yang telah mengeroyoknya adalah tiga orang
wanita. Yang kesemuanya
adalah istri-istri si Dewa Tengkorak. Yang menurut ka-
bar telah tak ada di dunia ini lagi. Aku memang tengah mencari Gurumu, karena
mendapat tugas dari Guruku. Yaitu mengundang beliau. untuk menghadiri per-
jamuan sederhana. Yaitu genap 100 tahun usia Guru-
ku Ki Jagur Wedha, di Gunung Kumbang. Walaupun
bergelar si Pendekar Gentayangan, ternyata guruku
sudah lebih dari sepuluh tahun tak pernah berjumpa
dengan gurumu si Manusia Aneh Pantai Selatan. Hing-
ga tak mengetahui kalau beliau telah mengangkat seo-
rang murid wanita, sejak empat tahun belakangan ini.
Yaitu kau sendiri. Aku pun baru mengetahui tentang
kau setahun yang lalu..." Tampak Joko Sangit menye-ka peluhnya sebentar dan
kembali meneruskan:
"Sayang aku terlambat datang dan hanya men-
jumpai beliau dalam keadaan tak berdaya. Namun ia
masih bisa memberi penjelasan tentang siapa yang te-
lah mengeroyoknya. Yaitu diantaranya si Dewi Tengko-
rak, yang telah berhasil kau bunuh..! Aku sendiri me-
mang tengah menyelidiki kemana perginya tiga wanita
itu. Dan kebetulan dapat menjumpai si Dewi Tengko-
rak. Memang akupun berniat untuk melenyapkan wa-
nita keji itu... namun, aku memang tak dapat terburu-
buru.." Sampai disini wajah Joko Sangit berubah merah. Dan Roro cuma tersenyum
sambil mencibirkan
bibir. Cepat-cepat Joko Sengit teruskan ceritanya...
"Gurumu wafat setelah memberikan pesan pada
mu..!" Sampai disini Joko Sangit tatap wajah Roro dalam-dalam. Hingga yang
ditatap jadi kikuk.
"Apakah pesannya..?" Bentak Roro tiba-tiba.
Wajahnya membersitkan rasa ingin tahu. Akan tetapi
Joko Sangit telah menelan lagi kata-katanya. Terlalu
sukar ia untuk mengatakan. Dan cepat-cepat ia berka-
ta: "Pesan itu tak dapat kukatakan sekarang..! Ma-
sih banyak waktu lain untuk aku mengatakannya pada
mu! Tapi dia ada memberikan sesuatu padamu.! Ber-
kata Joko Sangit. Dan keluarkan sebuah bungkusan
kecil dari kain sutera hitam.
"Aku tak tahu apa isinya...!" Katanya lagi, seraya memberikan benda itu pada
Roro Centil. Segera
Roro sambuti benda itu. Dan buka isinya... Ternyata
adalah seikat daun lontar kering yang panjangnya se-
jengkal. Roro Centil tak mengerti apa artinya dengan
seikat daun lontar yang polos tanpa ada tanda-tanda
benda itu mengandung tulisan. Joko Sangit pun ke-
rutkan keningnya. Tapi ia telah tersenyum sambil ber-
kata: "Gurumu adalah orang aneh..! Lain orang mana
bisa tahu akan keanehan Gurunya kalau bukan mu-
ridnya sendiri..!" Dan ia sudah bangkit berdiri. Serta lanjutkan kata-katanya.
"Baiklah Roro, selesai sudah tugasku untuk
memberitahukan hal ini! Jenazah Gurumu telah ku
kebumikan di lubang dasar tebing karang itu juga..! Silahkan kalau kau mau
menengoknya. Tapi kulihat tadi
air laut telah pasang. Mungkin tempat itu terendam
air..! Nah, aku tak dapat berlama-lama. Karena harus
cepat-cepat mengantarkan benda pusaka ini ke Kera-
jaan Medang..!" Selesai berkata Joko Sangit segera beranjak meninggalkan Roro
Centil. Akan tetapi tiba-tiba sudah terdengar suara gadis itu:
"Tunggu..! Kau belum beritahukan padaku,
siapa kedua orang lagi istri-istri si Dewa Tengkorak...!
Teriak Roro. Terhenyak Joko Sangit. Tapi sudah lantas
menyahuti. "Keduanya bukan orang tanah Jawa! Mereka
orang dari seberang pulau... Kalau tak salah berjuluk
si Kupu-kupu Emas, dan seorang lagi adalah Peri Gu-
nung Dempo. Keduanya adalah orang-orang dari Pulau
Andalas...!" Selesai berkata. Joko Sangit telah berkelebat. Dan sekejap kemudian
telah tak kelihatan lagi.
Roro termangu-mangu memandang ke depan. Kedua
nama itu akan selalu diingatnya. Untuk kelak suatu
saat ia akan pergi mencarinya. Kini ia termangu-
mangu memandangi setumpuk daun lontar itu. Dan
membolak-baliknya berulang-ulang. Namun tetap ia
tak dapat menemukan rahasia apa didalamnya. Kepin-
gan daun lontar itu terdiri dari tujuh belas ruas, Yang kesemuanya polos. Lama
ia termangu untuk meme-cahkan rahasia tujuh belas daun lontar itu. Akhirnya
tiba-tiba ia teringat akan kata-kata Gurunya. Seolah-
olah kembali terngiang di telinganya... "Roro... kau
memang seorang bocah tolol, tapi cerdik..!" Kata-kata sang Guru itu membuat Roro
tersenyum. Tapi juga
menampilkan wajah sedih. Karena sejak saat itu ia su-
dah kehilangan orang yang amat dicintainya. Benda itu
digenggamnya kuat-kuat. Seolah menggenggam lengan
Gurunya. Setetes air mata kembali jatuh berderai.
Membasahi daun lontar yang digenggamnya. Dipan-
danginya daun-daun itu dengan air mata bercucuran...
Akan tetapi tiba-tiba ia jadi terkejut. Ketika melihat pada lembar teratas dari
daun lontar yang basah oleh
air matanya, telah tersembul huruf-huruf kecil.
"Ah..!?" Tersentak Roro Centil. Dan tiba-tiba ia telah berteriak kegirangan.
"Sekarang aku tahu..! Sekarang aku tahu..!"
Dan berkelebatlah tubuhnya meninggalkan tempat itu.
Diiringi suara tertawa aneh yang membangunkan bulu
roma. Itulah kisah satu bulan belakangan ini. Dan ke-
tika sang Pendekar Wanita Roro Centil muncul lagi.
Ternyata ia telah menguasai satu ilmu hebat, dari sa-
lah satu jurus kepretan rambut yang luar biasa. Tentu
saja dari hasil mempelajari tulisan kecil-kecil, pada ke tujuh belas daun lontar
warisan gurunya itu. Yang diti-tipkan Joko Sangit padanya...
Memandang pada batu sebesar kerbau yang
hancur berantakan itu Roro telah tertawa dengan sua-
ra nyaring. Suara tertawa yang telah menggetarkan
daun-daun hingga berjatuhan meluruk kebawah. Tapi
tiba-tiba ia telah hentikan tertawanya. Kembali tampak ia tersenyum hambar.
Karena telah timbul kesadaran
dihatinya, bahwa di atas langit, masih ada langit. Un-
tuk mencari kedua orang musuh besarnya di seberang
pulau tak dapat dilakukan terburu-buru. Karena ia be-
lum menamatkan pelajaran dari ke tujuh belas daun
lontar itu. Masih memerlukan beberapa waktu lagi un-
tuk mempelajarinya. Demikian pikir Roro Centil. Dan
segera saja ia teringat akan adanya pertemuan kaum
Rimba Hijau di puncak Mahameru. Sekelebat ia terin-
gat dengan pemuda Ginanjar. Akan tetapi ia merasa
yakin si kakek aneh itu bukanlah orang jahat. la mera-
sa yakin akan hal itu. Dan mengenai akan dikawin-
kannya si pemuda dengan cucu perempuannya, ia
berharap bukan bersungguh-sungguh. Saat selanjut-
nya tubuh Roro Centil telah berkelebat cepat sekali,
meninggalkan tempat itu. Hingga yang tampak hanya
bayangan merah jambu saja yang berkelebatan. Me-
mang Roro baru saja beristirahat, setelah menempuh
jarak jauh beberapa hari dari pantai Selatan. Puncak
Mahameru telah kelihatan dari kejauhan. Dan tampak
mengepulkan asap tipis yang membumbung ke langit.
11 Kembali pada keadaan di puncak Mahameru.
Di mana seekor burung Rajawali telah menerjang ke
arah tanda hitam. Bersiyur angin deras laksana tau-
fan. Hingga kemah hitam itu roboh. Dan barisan keli-
ma Serigala Malaikat itu porak poranda. Sesosok tu-
buh wanita menyeruak keluar dari belakang tenda.
Ternyata seorang gadis cantik yang tadi membawa
nampan berisikan Medali. Wanita itu tak lain dari Se-
kar Tanjung. Yaitu gadis yang telah ditawan oleh si Ketua misterius alias di
Mata Iblis. Ketua dari si Lima Serigala Malaikat. Yang belum juga menampakkan
diri. Wanita ini lari jatuh bangun. Sementara beberapa pa-
sang mata telah memperhatikannya. Empat orang ber-
baju coklat tiba-tiba telah menyergapnya. Dan mem-
bawanya keluar dari belakang arena, dengan cepat.
Gadis itu dilemparkan ke semak belukar. Dan sekejap
saja empat bilah pedang telah dicabut keluar dari ke-
rangkanya. Wanita itu ternganga... Dan ia jadi terpe-
rangah ketika keempat bilah pedang itu telah melun-
cur deras ke arahnya... akan tetapi empat butir batu
kecil telah membuat pedang keempat orang berbaju
coklat itu terpental. Sebuah bayangan merah jambu
berkelebat. Dan telah berada di hadapan keempat laki-
laki itu. "Kurang ajar..! Mengapa kau tak membiarkan kami membunuh manusia licik
ini?" "Dialah yang telah berbuat curang, membokong
para peserta dari dalam tenda..!" Dua bentakan terdengar dari kedua orang
berbaju coklat itu. Yang ter-
nyata adalah Empat Pendekar Kali Serayu. Akan tetapi
sosok tubuh di hadapannya cuma tersenyum, dan ber-
kata: "Gadis ini bukanlah orang persilatan. Mana kin ia dapat melepaskan
bokongan segala macam.. ?" Dan sambungnya lagi.
"Boleh kalian periksa, apakah dia menyimpan
senjata rahasia..?" Ternyata sosok tubuh berbaju merah jambu itu tak lain dari
Roro Centil. Adapun si ga-
dis itu tiba-tiba telah bangkit berdiri dan berkata sambil terisak...
"Aku telah diculik dijadikan tawanan si manu-
sia buntung itu..! Oh, tolonglah aku, kakak..! Aku ta-
kut dibunuhnya..!" Gadis ini segera berlutut dihadapan Roro, sambil menciumi
kakinya. Roro cepat angkat tubuh si wanita, seraya berkata.
"Tenanglah, adik! Bukankah kau yang bernama
Sekar Tanjung, yang telah lenyap dua bulan yang lalu
dari desa Belimbing Wuluh..?" Wanita itu mengangguk.
"Kemana dua kawanmu lainnya?" Tanya Roro
lagi. Wajah gadis ini seketika jadi berubah pucat, dan menyahuti.
"Keduanya telah... telah dikuliti wajahnya..!
Dan telah dibunuh oleh mereka. Hanya aku saja yang
tak dibunuh, karena aku dipaksa melayani nafsu iblis
si manusia buntung di dalam tenda itu..!" Suara gadis itu terdengar gemetaran.
Terkesiaplah wajah keempat
laki-laki pendekar Kali Serayu itu. Juga Roro Centil.
Pada saat itu terdengar suara teriakan di belakangnya.
"Roro.... Syukurlah kalau Pendekar Wanita
Pantai Selatan Roro Centil juga telah datang kemari.
Oh, gembira betul hatiku..!" Seorang pemuda baju putih
melompat ke tempat itu. Ternyata Ginanjar.
Adapun mendengar kata-kata Ginanjar yang baru tiba
itu, seketika wajah keempat Pendekar Kali Serayu jadi
pucat. Dan serentak saja mereka menjura dalam-
dalam pada Roro. Seraya salah seorang berkata:
"Mohon maaf sebesar-besarnya, nona Pendekar!
Kami empat Pendekar Kali Serayu menghaturkan hor-
mat. Kami sungguh-sungguh bermata buta, tak dapat
melihat kalau anda adalah nona Roro Centil, Mutiara
dari Pantai Selatan..!" Roro segera balas menjura. Akan tetapi sesaat kemudian
telah berkata: "Empat Pendekar Kali Serayu, kalau kalian ber-
sedia. Tolonglah antarkan gadis ini pada orang tuanya, di desa Belimbing Wuluh.
Di kaki bukit di bawah lereng Gunung ini..!" Segera saja keempat Pendekar Kali
Serayu mengangguk hormat. Mereka tampak gembira,
karena dengan datangnya Pendekar Wanita Pantai Se-
latan ini, kericuhan pasti akan diakhiri. Dan segera sa-ja mereka mohon diri,
untuk segera membawa sang
gadis menuruni puncak Mahameru...
Setelah membuat roboh tenda, sang burung Ra-
jawali kembali menjauh. Sementara itu kedua orang
yang bergelar si Sepasang Rajawali Putih, segera me-
nempur kelima Serigala Malaikat. Terjadilah pertarun-
gan hebat. Ternyata keduanya juga mendapat bantuan
dari beberapa orang pendekar, untuk menerjang keli-
ma wajah seribu dendam itu. Akan tetapi tiba-tiba me-
luruk ratusan jarum berbisa ke arah para penerjang
itu. Tak ampun lagi beberapa batang tubuh roboh ter-
jungkal dengan teriakan ngeri.
"Keparat..! Awas! Hati-hati istriku..!" teriak laki-laki pasangan si Rajawali
Putih. Sang istri segera me-
lompat mundur. Dan kelima Serigala Malaikat kembali
membentuk barisan. Segera melesat sesosok tubuh
bertongkat aneh. Dengan ujung tongkatnya terdapat
berbentuk telapak Serigala sebesar piring. Dengan
enak saja ia telah hinggap di depan barisan kelima Se-
rigala Malaikat. Dialah si Mata Iblis. Ketua dari lima wajah yang punya seribu
dendam itu. Dengan enak sa-ja ia duduk di atas telapak kaki Serigala di ujung
tongkatnya. Sebelah lengannya mengeluarkan sebuah ben-
da bersinar. Itulah sebuah Medali merah. Lambang
atas kekuasaan Ketua Rimba Hijau. Ia sudah kelua-
rkan bentakan keras.
"Kurang ajar..! Kalian mengapa tak mematuhi
peraturan.." Apakah mata kalian telah buta untuk ti-
dak menghargai lagi Lambang Ketua Rimba Hijau
ini..."!" Si Sepasang Rajawali Putih tersentak, dan mundur ke belakang tiga
tindak. Beberapa pendekar
lainnya dari tokoh putih yang berada dib elakang ke-
dua Tokoh Gunung Suket ini juga terperangah melihat
benda itu. Adapun sedari tadi sepasang mata si Sepa-
sang Pendekar selalu memperhatikan dua orang yang
bercacad kaki dan tangannya. Wajahnya amat mirip
dengan kedua orang muridnya. Yaitu Gambir Anom
dan Gambir Sepuh. Dan sepasang pedang Mustika Hi-
jaunya ada ditangan wanita tadi. Saat mereka terpe-
rangah itulah. Kala Wesi dan Kala Munget telah me-
nerjang kedua orang dihadapannya. Dan ketiga kawan
lainnya melompat dari kiri dan kanan. Kala itu juga
mendesir angin merah jambu, dan bayangan putih. Ke-
lima Serigala Malaikat terpental mundur tiga tombak.
Dan tongkat aneh si Mata Iblis bergoyang-goyang mau
roboh. Segera si Mata Iblis bergerak melompat mundur
satu tombak. Dengan tetap duduk di atas tongkatnya.
Semua mata segera dapat melihat siapa adanya kedua


Roro Centil 06 Lima Wajah Seribu Dendam di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sosok tubuh yang telah berada disitu. Tak lain, dan tak bukan adalah Ginanjar
dan Roro Centil.
"Pendekar Roro Centil dari Pantai Selatan..!?"
Terdengar suara dari beberapa orang dibela-
kang si Sepasang Rajawali Putih. Tentu saja hal itu
membuat si Mata Iblis dan Kelima Serigala Malaikat
jadi terkesiap. Lebih-lebih si Mata Iblis. Karena pendekar wanita di hadapannya
inilah yang telah membu-
nuh si Setan Cebol muridnya.
"Bagus..! Sudah kuduga semua pentolan golon-
gan putih akan datang. Biarlah kelima orang murid ku
itu menumpas mu Sepasang Rajawali Putih! Aku akan
meremukkan kepala si bocah keparat ini..!"
WHUSSS..! Ia telah menerjang Roro dengan
tongkat telapak Serigala. Sang Pendekar Wanita hanya
tertawa sinis dan lompat ke samping delapan tombak.
Si Mata Iblis sudah menggerakkan tubuh untuk men-
gejar. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan
Ginanjar. "Mata Iblis..! Ketua lama Rimba Hijau telah
memberi surat perintah kepada seluruh golongan
kaum putih untuk menangkapmu, beserta kelima Se-
rigala Malaikat..!" Melotot mata si Mata Iblis. Namun Ginanjar telah lemparkan
segulung kain bertulisan kehadapan si Mata Iblis. Sekali lengannya berkelebat.
benda itu telah disambarnya. Dan cepat dibaca. Selang
sesaat tampak kulit wajahnya jadi berubah merah.
"Kurang ajar..!" Jari tangan si Mata Iblis mere-mas kain bertulisan itu, hingga
hancur jadi bubuk.
Tapi belum lagi ia membentak Ginanjar... pemuda itu
telah keluarkan sebuah benda yang berkilauan... Itu-
lah Medali lambang kekuasaan Ketua Rimba Hijau
yang asli. Kini semua mata kembali terperangah meli-
hat ke arah benda yang dicekal pemuda itu. Tiga tokoh
tua tak dikenal berkelebat kedepan, seraya berkata:
"Kalau lambang ini aku kenal. Inilah lambang yang as-li. Tak sembarangan Ki
Dharma mencari wakil di-
rinya...!" Akan tetapi si Mata Iblis malah membentak, seraya keluarkan
Medalinya... "Tidak..! Inilah lambang yang asli..!" Akan tetapi pada saat itu meluncur deras
sebuah lidi aren, tanpa
ada seorangpun yang mengetahui. dan...
Prak...! Medali di tangan si Mata Iblis hancur
berantakan. Dan satu suara terdengar berkumandang.
"Mata Iblis..! Aku telah mengangkat bocah itu
jadi wakil ku! Apakah kau masih mau coba mengelabui
mata kaum Rimba Hijau dengan Medali Palsu mu..?"
Terkesiap si Mata Iblis dan kelima Serigala Malaikat.
Seketika masing-masing putarkan kepala den tubuh
untuk melihat ke beberapa arah. Suara itu tak salah
lagi adalah suara Ki Dharma Tungga, Ketua Rimba Hi-
jau. Bukan itu saja, karena semua yang berada di
tempat itu juga terkesiap. Karena tak menyangka ka-
lau Ki Dharma Tungga masih hidup.
"Persetan..! Aku tak perduli siapa wakilmu
Dharma Tungga! Keluarlah! Aku akan adu jiwa dengan
mu..!" Teriak si Mata Iblis. Akan tetapi telah terdengar suara tertawa nyaring,
berkumandang, membuat telinga jadi terngiang-ngiang. Suara yang mengandung te-
naga dalam hebat Hingga beberapa orang sudah menu-
tup telinganya. Dan terdengarlah suara lantang Roro
Centil: "Mata Iblis..! Hayo hadapi aku. Bukankah kau ingin remukkan kepalaku..?"
Sepasang mata serigala si Mata Iblis jadi menatap bersinar kearahnya. Sinar
yang mengandung kebencian hebat. Dan tubuhnya te-
lah berkelebat ke arah Roro.
"Bagus..! Aku hampir melupakanmu setan beti-
na..! Kau telah membunuh muridku si Setan Cebol!
Maka jangan harap kau dapat meloloskan diri lagi dari
tanganku!" Dan ia sudah menerjang Roro dengan
menggeram bagai serigala. Adapun si Lima Serigala
Malaikat telah buyar barisannya, karena Ginan-
jar dan sepasang Rajawali putih telah menerjang. Kala
Wesi dan Kala Munget berhadapan dengan sepasang
pendekar Gunung Suket itu.
"He he he... Sepasang Rajawali..! Mengapa kau
menempur muridmu sendiri?" Teriak Kala Munget, seraya kibaskan lengan jubahnya
menyambar kepala la-
wan. "Iblis terkutuk...! Kuhancurkan kepalamu. Bu-kalah wajah muridku itu. Agar
kami puas untuk
menghancurkan mukamu..!" Teriak si wanita Rajawali Putih. Segera ia miringkan
kepalanya, dan senjata Cakar Rajawali nya meluncur mengarah jantung lawan.
Akan tetapi Kala Wesi dan Kala Munget telah meng-
hantamkan tongkat bercagaknya...
Trang..! Kedua senjata beradu. Dan keduanya
sama-sama terhuyung dua langkah kebelakang. Kala
Wesi segera berkata:
"Baiknya kau melawanku saja nyonya Rajawali
Putih. Aku ingin sekali membuntungi paha kakimu.
Siapa tahu bisa dibuat menyambung lagi sebelah kaki-
ku yang putus ini... He he he..!" Merah padam wajah si wanita. Namun ia sudah
harus menghadapi serangan
serangan Kala Wesi. Adapun Kala Munget segera me-
nerjang si laki-laki Rajawali Putih. Dan bersamaan
dengan itu berkelebat dua sinar hijau yang turut nim-
brung untuk membabat dari arah samping. Kiranya Si-
ti Jenang telah sambarkan dua bilah pedang hijaunya.
Namun Rajawali Putih bukan tokoh sembarangan. Ia
sudah putar tubuh untuk menghantam dengan angin
pukulan tangannya. Terpentalah kedua pedang itu.
Terkejut Siti Jenang. Segera ia berkelebat melompat
untuk menyambar kembali kedua senjatanya. Akan te-
tapi saat itu telah meluncur sebuah lidi aren yang me-
nyambar leher si wanita itu.
Tak ada daya untuk dapat mengelak lagi. Kare-
na datangnya tak mengeluarkan suara. Dan teramat
cepat. Terdengarlah jeritan Siti Jenang. Suaranya me-
leng king seperti mau menembus langit. Dan jatuhlah
ia ke bumi, dengan berkelojotan. Dan hanya sesaat...
Karena tak berapa lama ia sudah tak dapat memperta-
hankan nyawanya lagi. Tewaslah si wanita keji itu. Me-
lihat kematian mendadak itu Kala Munget dan Kala
Wesi jadi menggerung keras, dan mempergencar lagi
serangannya. Terjadilah pertarungan yang amat seru...
Sementara itu Ginanjar melayani si Kelelawar Besi
alias Sawung Geni. Dan seorang lagi adalah Rimba
Wengi alias Siluman Telapak Darah. Sebelah tangan
palsunya yang terbuat dari perunggu mengandung ra-
cun itu. menghantam ubun-ubun Ginanjar. Sedang si
Kelelawar Basi merentang sepasang lengannya. Hebat,
Sepasang lengan Kelelawar Besi bagaikan terlepas, me-
luncur satu setengah depa. Serangan ditujukan pada
sepasang kakinya. Lengah sedikit saja. akan hancurlah
tulang kaki pemuda itu. Akan tetapi Ginanjar telah
sampok kedua lengan itu hingga terpental balik. Se-
mentara lengan perunggu Rimba Wengi, dapat dielak-
kan dengan miringkan kepalanya. Dan sebelah ka-
kinya bantu menyampok serangan lengan ganas itu,
dengan pedangnya. Agaknya Rimba Wengi tak mau
adakan benturan. Segera ia tarik kembali serangan-
nya. Sementara Ginanjar segera membungkus tubuh-
nya dengan putaran pedangnya. Hingga yang tampak
hanyalah kilatan-kilatan sinar pedangnya saja. Namun
dengan serempak keduanya terus mengurung mencari
kelengahan lawan. Kita beralih pada Roro Centil, yang
tengah bertarung dengan si Mata Iblis. Roro Centil te-
lah keluarkan sepasang senjatanya si Rantai Genit.
Mendelik mata si Mata Iblis. Senjata yang berbentuk
payudara itu, tentu saja membuat sepasang mata laki-
laki hidung belang akan tertarik untuk memperhati-
kan. Beberapa terjangan dengan tongkat telapak Seri-
galanya telah berhasil dihindari sang lawan yang ma-
sih berusia muda itu. Walau di hatinya agak malu un-
tuk menghadapi seorang gadis. Apa lagi seorang gadis
yang tampaknya seperti orang mengantuk itu. Namun
setiap mengelakkan serangan dibarengi ejekan, atau
tertawa cekikikan. Benar-benar membuat darahnya ja-
di bergolak saking jengkelnya. Tiba-tiba tampak sepa-
sang mata si Mata Iblis mengeluarkan sinar merah.
Dan tubuhnya melangkah kebelakang dua tindak. Ro-
ro memang belum melakukan serangan selain menge-
lakkan setiap serangan yang datang. Kini melihat si
Mata Iblis menatap padanya dengan sinar mata me-
mancar merah. Terkesiap juga Roro Centil. Ia agak ter-
pengaruh, dan terpaku menatap sang lawan. Mata Iblis
gunakan kesempatan itu untuk membentak...
"Bocah tengik Roro Centil, berikan kedua senja-
ta itu padaku. He he he... Benda sebagus itu tak patut di tanganmu. Itu senjata
untuk permainan laki-laki..!"
Aneh... Tampaknya Roro tak berdaya. Sepasang ma-
tanya menatap tak berkedip pada si Mata Iblis. Tapi ia tak julurkan kedua
senjatanya. melainkan dijatuhkan
dekat kaki di hadapannya. Seraya berkata:
"Ambillah..! itu senjata palsu. Seperti juga Me-
dali yang kau tunjukkan tadi. Apakah kau tak ingin
sepasang senjata yang asli..?" Bertanya Roro. Dan sambil tertawa mengikik ia
telah buka belahan baju
bagian depannya. Segera saja terlihat dua buah bukit
kembar dengan tonjolan kedua putik pada ujungnya.
Itulah B.H. warisan gurunya, yang memang mirip den-
gan payudara asli. Ternganga mulut si Mata Iblis. Dan
tak terasa ia telah maju melompat tiga tindak.
"Kau mau yang ini..?" Nah..! Majulah lebih dekat..!" Berkata Roro Centil.
Sementara sepasang matanya tetap menentang tatapan si Mata Iblis. Ternyata
diam-diam keduanya tengah mengadu ilmu bathin.
Dengan masing-masing saling tatap. Tampaknya si
Mata Iblis berusaha menahan pengaruh yang luar bi-
asa, yang tanpa disadari jantungnya berdetak keras.
Dan tampak ia berusaha untuk tidak melangkah maju.
Diam-diam sebelah lengannya telah ia siapkan untuk
menyerang dengan jarum-jarum beracunnya. Tiba-
tiba.. ia telah gerakkan tangannya merogoh saku ba-
junya. Dan detik berikutnya ia telah lepaskan ratusan
jarum berbisa ke arah Roro. Meluruk seketika benda-
benda halus itu bagaikan hujan ke arah tubuh Roro
yang bagian dadanya terbuka. Akan tetapi tiba-tiba
Roro telah gerakkan kepalanya. Segera menyambar
rambut Roro menghantam buyar jarum-jarum berbisa
itu, yang meluruk kembali ke arah si Mata Iblis. Terkesiap bukan main si Mata
Iblis Tentu saja ia tak me-
nyangkanya sama sekali. Dengan berteriak keras ia te-
lah kibaskan lengan jubahnya. Ratusan benda itu se-
ketika buyar. Tapi tak urung beberapa batang jarum
telah menembus sebelah lengannya. Terpekik si Mata
Iblis. Ia sudah melompat mundur tiga tombak. Tampak
tubuhnya tergetar hebat. Sekejap saja sebelah lengan-
nya telah menjadi terkulai tak dapat dipergunakan la-
gi. Wajahnya tampak menyeringai pucat. Akan tetapi ia
telah segera berteriak keras laksana guntur. Tongkat
telapak Serigalanya meluncur deras mengarah dada
lawan yang terbuka.
Roro cepat mengambil tindakan. Segera ia mi-
ringkan tubuh ke samping sampai melengkung ke be-
lakang. Loloskan sambaran itu. Akan tetapi sebelah
kakinya telah bergerak menyambar ke bawah pangkal
paha lawan. Des..! Terdengar teriakan tertahan si Mata Iblis.
tubuhnya terlempar ke udara tiga tombak. Saat itulah
Roro telah sambar lagi sepasang senjatanya. Dan...
Swing..! Swing..! Kedua Rantai Genit telah ber-
gerak menyambar tubuh si Mata Iblis. Akan tetapi pa-
da saat itu berkelebat dua bayangan menerpa...
Trang! Trang! Serangan Roro berhasil digagal-
kan. Kiranya sepasang lengan si Kelelawar Besi yang
telah menyambar dengan cepat. Terkejut Roro Centil.
Ia rasakan benturan keras itu menggetarkan lengan-
nya. Segera ia melompat mundur dua tombak. Sepa-
sang lengannya telah selipkan kembali senjatanya ke-
sisi pinggang. Begitu tubuh si Mata Iblis hinggap di tanah, ia telah gerakkan
kedua telapak tangan menghan-
tam dengan pukulan tenaga dalam. Terlemparlah tu-
buh si Mata Iblis ke depan. Menyambar deras ke arah
si Kelelawar, yang tengah bentangkan sepasang len-
gannya. Saat itulah Roro berteriak.
"Tangkap..!" Aneh..! Getaran suara Roro telah membuat Kelelawar Besi jadi
terpengaruh. Dan secepat
kilat gunakan lengannya yang terbentang itu menang-
kap pinggang si Mata Iblis. Tapi bukannya menangkap.
melainkan mencengkeram. Terdengarlah saat itu juga
teriakan parau si Mata Iblis. Darah segar tampak
muncrat dari tubuhnya. Dalam keadaan tubuh seten-
gah terangkat. si Mata Iblis berkelojotan. Karena kedua belah pinggangnya telah
dicengkeram hancur. Tentu
saja tanpa sadar karena rasa sakit yang amat sangat,
senjata si Mata Iblis bergerak bagai kilat menghantam
kepala si Kelelawar Besi. Hingga tanpa ampun lagi re-
muklah kepala manusia itu. Namun sepasang lengan
besinya justru semakin kuat mencengkram kaku.
Hingga menembus robek pada bagian tengah perut si
Mata Iblis. Terpekik si Mata Iblis dengan suara bagai-
kan raungan serigala. Pekikkan itu dibarengi dengan
robohnya kedua tubuh itu saling tindih. Namun pekik
itu adalah pekik untuk yang terakhir. Karena seketika
tubuh si Mata Iblis terkulai. Dan menghembuskan na-
pas yang penghabisan. Menyusul si Kelelawar Besi
yang telah berangkat ke Akhirat terlebih dahulu... Terdengar suara Roro Centil
berteriak melengking tinggi.
Sementara di lain pihak, Kala Wesi telah terkapar tak
berkutik lagi. Dengan isi parut terburai, termakan senjata Cakar Rajawali si
wanita dari Sepasang Rajawali
Putih. Sedang Kala Munget menggeletak dengan leher
hampir putus... Adapun Ginanjar baru saja menan-
capkan Pedang Pusakanya di leher Rimba Wengi. Wa-


Roro Centil 06 Lima Wajah Seribu Dendam di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

nita itu berkelojotan sejenak lalu tewas. Keadaan jadi sunyi sejenak. Akan
tetapi tiba-tiba terdengar suara teriakan bergemuruh. Ternyata puluhan
pengunjung te- lah bersorak gegap gempita. Bahkan ada yang tengah
menari-nari kegirangan. Dan beberapa orang telah
membukai pakaiannya. Kemudian dilempar-lemparkan
ke udara. sambil berteriak-teriak gembira.
"Hidup Ki Dharma Tungga. Ketua Besar Kaum
Rimba Hijau..!"
"Hidup sepasang Rajawali Putih..! Sedang pada
kelompok lain terdengar...
"Hidup Roro Centil Pendekar Wanita Pantai Se-
latan..!" Saat itu juga angin bersyiur keras. Dan seekor burung Rajawali telah
turun menukik. Burung besar
ini mendarat di hadapan sepasang Rajawali Putih. Ber-
samaan dengan berkelebatnya sesosok tubuh kurus
kering. Yang tak lain dari si kakek Pengemis. Ginanjar segera berteriak...
"Guru..!" Dan ia sudah melompat cepat keha-
dapan sang kakek. Semua orang jadi melengak. Karena
tak menyangka kalau pemuda wakil Ki Dharma Tung-
ga itu adalah murid dari si Kakek pengemis yang se-
lipkan segenggam sapu lidi aren di punggung. Bahkan
Roro pun jadi kerutkan alisnya. Tiga orang kakek
hampir seusia pengemis itu berlompatan seraya men-
jura hormat padanya.
"Maafkan kami yang tak mengetahui kedatan-
gan Ketua Rimba Hijau Ki Dharma Tungga ke tempat
ini..! Walau kami telah mengundurkan diri, namun te-
rimalah hormat kami..!" Berkata salah seorang. Tentu saja semua yang hadir pun
segera berlompatan menghampiri, dan saling berebut menjura. Apa lagi bagi ge-
nerasi baru, yang belum pernah melihat wajah sang
Ketua Rimba Hijau itu. Seperti tak percaya dan tak
akan menyangka kalau orangnya adalah yang seperti
pengemis itu. Si Sepasang Rajawali Putih pun tak ke-
tinggalan untuk menghaturkan hormat. Namun Roro
Centil tetap tak beranjak dari tempatnya. Ternyata se-
pasang mata si kakek ini amat jeli. Ia sudah menyapa
Roro dengan tertawa.
"Heheheh... heh heh..heh...Bocah Centil..! Hayo
kita teruskan adu lari kita tempo hari! Aku berani ber-taruh, sampai hari Kiamat
pun kau tak akan dapat
mengejar untuk menyusulku..!" Dan tiba-tiba saja ia telah totok tubuh Ginanjar.
Keruan saja pemuda yang
tak menduganya itu jadi terkejut. Namun apa daya,
seketika saja tubuhnya telah berubah jadi kaku. Tahu-
tahu sepasang lengan telah menyambar tubuhnya, dan
dilarikan dengan cepat menuruti lereng Gunung.
"Tolooong..! Toloooong..! Roro! Tolonglah aku..!
Aku tak mau dikawinkan dengan cucu perempuan-
nya..!" Ginanjar telah berteriak-teriak. Roro sudah beranjak akan mengejar. Akan
tetapi tiba-tiba munculah
Joko Sangit, yang sudah lantas berkata:
"Roro..! Apakah kau sudah siap untuk menden-
garkan pesan mendiang Gurumu..?" Roro Centil menoleh sejenak pada Joko Sangit.
Akan tetapi Cuma seje-
nak, karena tubuhnya sudah berkelebat menyusul si
kakek pengemis, yang membawa lari Ginanjar. Joko
Sangit jadi seperti terkesima. Dengan mulut ternganga
menatap ke arah berkelebatnya tubuh Roro Centil,
yang sebentar saja sudah lenyap. Akan tetapi lapat-
lapat masih terdengar di telinganya...
"Joko Sangit..! Simpanlah dulu pesan Guruku
itu. Aku belum siap untuk mendengarkannya.!" Pemu-da ini jadi garuk-garuk
kepala, dengan wajah tampak
bersemu merah. Tapi disudut bibirnya tersungging se-
nyuman. Ia pun segera menyelinap pergi. Semua yang
hadir cuma bisa tersenyum sambil menggeleng-
gelengkan kepalanya. Seorang kakek sudah lantas
berkata: "Haiiih..! Ternyata Dunia Persilatan adalah
tempatnya segala macam manusia, dengan pelbagai
watak yang aneh aneh..!" Senja pun tiba. Prahara telah berlalu Tampak seekor
burung Rajawali meluncur pesat meninggalkan puncak Mahameru. Dengan sepa-
sang penunggangnya, yang tampak arahkan pandan-
gan ke bawah. Puncak Mahameru masih tetap kepul-
kan asap tipis yang menjulur naik ke langit. Namun
agaknya sang Raksasa ini dapat bernapas lega. Karena
manusia-manusia yang telah mengganggu tidurnya itu
berangsur angsur pergi meninggalkannya. Ia memang
tampak amat lelah. Dan ia akan tidur lagi sampai 1000
tahun... T A M A T Jakarta. 27 Februari 1987
Pk. dua empat tengah malam
E-Book by Abu Keisel
Rahasia Ciok Kwan Im 2 Musuh Dalam Selimut Karya Liang Ie Shen Malaikat Pencabut Nyawa 2
^