Pencarian

Api Di Bukit Menoreh 23

04 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja Bagian 23


Ki Waskita mengerutkan dahinya. Dipandanginya anaknya sejenak. Kemudian jawabnya, "Kau tentu tahu Rudita, bahwa Kiai Kalasa Sawit tidak akan memberikannya. Bahkan ia telah mengambilnya dengan kekerasan dari Mataram. Nah, meskipun barangkali tidak sejalan dengan pikiranmu, namun kau dapat memperhitungkan. Jika ia sudah mengambil barang itu, pusaka atau harta benda dengan kekerasan, apakah kira-kira ia akan memberikannya dengan senang hati jika kami menemuinya, menundukkan kepala dalam-dalam, kemudian mohon agar pusaka itu diberikan kepada kami?"
Rudita termenung sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, "Soalnya sudah jelas, Ayah. Aku tahu jawabnya, Kiai Kalasa Sawit tidak akan memberikannya." Ia berhenti sejenak, lalu, "Jika Ayah pun mengetahui jawaban itu, maka setiap usaha untuk mendapatkannya adalah berarti benturan kekuatan. Ayah, apakah aku dapat bertanya, apakah pusaka itu demikian berharga, sehingga kita harus mengorbankan jiwa untuk mendapatkannya" Ayah, apakah Ayah juga berpendapat, bahwa masih ada benda yang jauh lebih berharga dari jiwa manusia, bahkan bukan hanya satu jiwa, tetapi berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus. Katakanlah bahwa benda itu memiliki nilai yang tiada taranya. Wahyu keraton sekalipun. Apakah kedudukan tertinggi, katakanlah tahta kerajaan pantas dialasi dengan mayat dan darah seperti itu" Ayah, agaknya demikianlah peradaban manusia pada jaman ini. Dengan tidak ragu-ragu, kita mengorbankan jiwa sesama untuk mendapatkan kedudukan. Sedangkan kita tahu dengan pasti dan yakin, bahwa jiwa sesama kita adalah pancaran kasih Yang Maha Esa. Apakah kita telah lebih menghargai benda-benda itu, sebutlah kedudukan itu, lebih tinggi dari pancaran kasih itu?"
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia menjawab, Swandaru-lah yang mendahuluinya, "Rudita. Di dalam hidup ini kita mengenal hak dan kuwajiban. Hak dan kuwajiban itu merupakan bagian dari hidup kita. Karena itulah, maka kita mempunyai kuwajiban, untuk berbuat sesuatu. Di antaranya justru mempertahankan hak itu sendiri. Pusaka itu pun merupakan hak dari Mataram. Hak Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga. Adalah kuwajibannya untuk mempertahankan haknya, meskipun dengan kekerasan sekalipun. "
"Dan mengorbankan jiwa orang lain?"
"Ya," jawab Swandaru. "Orang lain yang berada di dalam sangkut paut antara hak dan kuwajiban dengan Raden Sutawijaya. Sudah tentu bukan orang lain sama sekali. Bukan orang Banten, dan bukan orang Banyuwangi. Tetapi orang-orang Mataram dan yang mengakui hak Raden Sutawijaya."
"Hak adalah pengakuan manusia atas sesuatu. Jika ia mempunyai jiwa besar, melepaskan pengakuannya, maka ia tidak akan dibebani lagi oleh perasaan memiliki hak itu. Jika Raden Sutawijaya dengan ikhlas melepaskan benda-benda yang telah diambil oleh Kiai Kalasa Sawit, maka tidak akan ada persoalan lagi yang dapat merenggut beberapa orang korban. Dengan demikian, Raden Sutawijaya telah menyelamatkan beberapa jiwa yang seharusnya menjadi taruhan perebutan hak adbmcadangan.wordpress.com itu. Karena tidak ada hak yang mutlak diakui oleh semua pihak di muka bumi ini. Agaknya justru karena kebanggaan manusia atas haknya dan ketamakan manusia untuk memperluas haknya itulah telah terjadi di mana-mana kericuhan, dan bahkan bunuh-membunuh."
Swandaru mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang hampir terlontar dari mulutnya.
Tetapi Kiai Gringsing yang mengetahui gejolak perasaan muridnya itu pun mendahuluinya, "Kami mengerti, Ngger. Sebenarnyalah memang demikian."
"Tetapi, Guru," ternyata Swandaru memotongnya pula, "kita tidak akan dapat dengan bertopang dagu melihat hak kita dilanggar orang lain. Dengan demikian, maka sebenarnyalah kita tidak lagi hidup dalam peradaban, Apalagi di masa kini. Tetapi kita telah melemparkan diri kita sendiri ke dalam sudut dunia yang paling terasing. Karena dengan demikian, maka hidup ini pun sudah bukan merupakan hak yang harus kita pertahankan."
"Apalagi hidup," tiba-tiba saja Rudita menyahut. "Adalah orang yang mengerti akan dirinya sajalah yang merasa berhak atas hidupnya."
Kiai Gringsing-lah yang kemudian tergesa-gesa menengahinya, "Kalian bertolak dengan landasan yang berbeda. Tetapi aku dapat mengerti jalan pikiran kalian masing-masing. "
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi bingung, justru ia mencoba mengerti kedua-duanya seperti yang dikatakan gurunya. Bahkan kadang-kadang pernah juga terbersit di dalam pikirannya, pendapat seperti yang dikatakan oleh Rudita. Namun ia masih juga dicengkam oleh nafsu memiliki yang kadang-kadang disebutnya dengan istilah yang megah. Hak.
"Rudita," berkata Ki Waskita kemudian, "sejak semula aku sudah berpesan, agar kau mencoba mengerti jalan pikiran kami. Meskipun mungkin kita berbeda pendapat, tetapi kita akan mengikuti jalan pikiran kita pada umumnya. Kau harus menyadari, bahwa pendirianmu itu masih sangat asing bagi kami pada masa kini, meskipun kami yang tua-tua dapat membayangkan, alangkah manisnya dunia ini jika setiap orang dapat mengetrapkan jalan pikiranmu itu. Tetapi Rudita, sayang sekali."
"Angger, Rudita," berkata Ki Sumangkar kemudian, "cobalah mengerti, bahwa usaha kami mempertahankan hak adalah jauh lebih baik dari perluasan hak yang telah dilakukan oleh Kiai Kalasa Sawit. Jika akibatnya adalah pengurangan korban yang jatuh dari perebutan hak itu, dan akibat penggunaannya, maka sebagian dari usaha pelepasan taruhan itu sudah tercapai."
Rudita mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Desisnya, "Sungguh membingungkan. Tetapi pertimbangan semacam itulah yang kini sedang nampak."
Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Ketika ia memandang Swandaru, nampaklah wajah anak muda itu gelisah. Tetapi Ki Sumangkar pun dapat menduga, bahwa Swandaru masih berusaha untuk menahan perasaannya yang bergejolak.
"Rudita," Ki Waskita-lah yang kemudian berkata, "sebaiknya kau mencoba menahan hatimu. Kami sedang berbicara dengan cara kami. Cobalah untuk mengerti, meskipun kau tidak sependapat. Aku mengharap untuk kesekian kalinya."
Rudita menarik nafas. Katanya, "Adalah salah jika aku tidak berbuat sesuatu pada saat aku melihat jalan pikiran yang buram. Tetapi jika Ayah dan semuanya menghendakinya, maka baiklah aku berada di luar bilik ini saja."
"Aku tidak berkeberatan, Rudita. Tetapi satu permintaanku kepadamu. Jangan kau katakan hal ini kepada siapa pun juga."
"Kenapa, Ayah?"
"Akibatnya akan buruk sekali. Jika kau sudah menganggap usaha Mataram untuk menemukan pusaka-pusaka itu sebagai usaha yang kurang baik, maka jika ada orang lain yang mendengar hal itu, maka pertentangan akan semakin meluas. Dan korban pun akan semakin banyak."
"Sebabnya?" "Kau tidak boleh mengingkari kenyataan, bahwa masih banyak orang yang menginginkan pusaka itu, jalan apa pun yang harus ditempuhnya. Selain daripada itu, maka akan timbul kegoncangan pada rakyat Mataram. Mereka akan menjadi cemas dan ketakutan jika mereka mengetahui, bahwa pusaka-pusaka yang mereka anggap memiliki kekuatan untuk menggenggam wahyu, meskipun masih harus dilengkapi itu, telah hilang dari perbendaharaan pusaka di Mataram."
Rudita tidak segera menyahut.
"Aku yakin bahwa kau tidak ingin melihat kecemasan dan ketakutan itu menjalar dari setiap mulut ke telinga orang lain, dan demikian selanjutnya. Dengan demikian, kau akan membantu menumbuhkan ketidak-tenteraman di hati rakyat Mataram, yang sebenarnya memang tidak perlu mengetahuinya."
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, "Aku mengerti, Ayah. Dan aku berjanji."
"Terima kasih," desis Ki Waskita, "sekarang, jika kau tidak tertarik lagi untuk mendengarkan pembicaraan ini, sebaiknya kau berada di luar."
"Baiklah, Ayah."
Rudita pun kemudian meninggalkan ruangan itu dan berada di luar gandok. Dengan lesu ia duduk di atas sebuah amben bambu, sambil memandangi beberapa orang yang nampak melintas di halaman yang menjadi sepi.
Tetapi Rudita masih saja dipengaruhi oleh persoalan yang baru saja didengarnya. Ia membayangkan kengerian yang akan terjadi, jika Mataram yang merasa berhak atas pusaka itu kemudian mengirimkan sepasukan prajurit. Pertempuran tentu tidak akan dapat dihindarkan lagi. Kematian akan menerkam sebagian besar dari mereka yang bertempur di kedua belah pihak.
"Aku tidak dapat mengerti, karena mereka lebih menghargai benda-benda itu daripada jiwa manusia," desisnya.
Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, sambil berkata di dalam hati, "Aku tidak ikut campur. Aku sudah mencoba mencegahnya. Tetapi mereka tidak menghiraukannya. Maut adalah permainan yang mengasikkan bagi sebagian besar manusia."
Karena itulah, maka Rudita pun kemudian mencoba mengalihkan perhatiannya kepada beberapa bangunan baru di halaman samping Kademangan Sangkal Putung. Bangunan yang dibuat khusus menjelang hari perkawinan Swandaru.
"Rumah di sebelah itu tentu dibuat untuk menyediakan makanan dan nasi berancak-ancak, yang kemudian dikirimkan kepada mereka yang memberikan sumbangan berupa apa pun kepada Ki Demang," gumam Rudita. "Tetapi karena Ki Demang-lah yang mengawinkan anaknya, maka tentu semua orang di kademangan ini datang untuk memberikan sumbangan apa pun juga. Dengan demikian, maka setelah perelatan ini berakhir. Ki Demang justru akan mempunyai persediaan beras, kelapa, pisang, dan sayur-sayuran selumbung penuh. Tetapi pada saat perelatan berlangsung, Ki Demang pun harus membagi ancak berisi nasi bagi seluruh penghuni kademangan yang luas ini, dari ujung sampai ke ujung."
Demikianlah, Rudita berusaha mengalihkan perhatiannya. Sementara di dalam gandok, Kiai Gringsing masih berbicara dengan murid-muridnya tentang pusaka yang hilang itu.
"Mereka tentu menuju ke lembah yang masih ditutup oleh hutan yang lebat di antara Gunung Merapi dan Merbabu," berkata Kiai Gringsing kemudian.
Agung Sedayu mengangguk-angguk.
"Tetapi kami tidak akan dapat pergi sebelum hari-hari perkawinan Swandaru berlangsung."
"Apakah ada gunanya jika hal ini diberitahukan kepada Raden Sutawijaya?" bertanya Swandaru.
"Raden Sutawijaya juga tidak ada di Mataram. Mungkin Raden Sutawijaya kini sedang menjelajahi daerah pasisir Selatan dan mendaki Pegunungan Sewu. Jika seseorang menyusulnya, tentu memerlukan waktu pula."
"Jadi, kita biarkan pusaka itu hilang untuk seterusnya?"
"Tentu tidak," jawab Kiai Gringsing, "pada suatu saat kita akan mengetahui, di manakah pusaka itu akan timbul. Jika ada seseorang yang menamakan dirinya penguasa atas tanah ini, berdasarkan atas kuasa keturunan Majapahit, maka kita akan segera mengetahui, bahwa pusaka-pusaka itu ada pada mereka."
"Tentu kita tidak dapat menunggu sedemikian lama," potong Swandaru, "dengan demikian kita memberi kesempatan mereka menjadi kuat."
Kiai Gringsing menarik nafas panjang. Memang ada kemungkinan mereka menjadi kuat. Tetapi menghadapi mereka itu, sudah tentu Mataram tidak akan dapat berbuat dengan tergesa-gesa.
"Swandaru," berkata Kiai Gringsing, "persoalan ini memang persoalan yang rumit. Masih banyak masalah yang harus kita selidiki, sehingga kita tidak terjebak dalam suatu tindakan yang salah dan merugikan. Angger Untara hampir saja terjerumus ke dalam kesulitan. Karena perhitungannya yang kurang tepat atas kekuatan di Tambak Wedi, maka hampir saja pasukannya mengalami bencana. Untunglah bahwa tidak semua kekuatan Tambak Wedi dikerahkan. Kiai Kalasa Sawit masih menganggap perlu, sebagian dari mereka tetap berada di padepokan untuk mengawal tombak pusaka yang kita duga adalah Kanjeng Kiai Pleret itu. Seandainya para pengawal itu juga hadir di peperangan, aku kira prajurit Pajang akan mengalami kerusakan yang berat, meskipun seandainya Untara berhasil memenangkan perang itu."
"Tetapi, bukankah Pajang juga mempunyai pasukan cadangan yang hadir di peperangan?"
"Ya. Pasukan cadangan itu memang, datang ke medan. Tetapi kerusakan pasukan Pajang tentu tidak dapat dihindari."
Swandaru mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa ketergesa-gesaan akan tidak menguntungkan. Tetapi kelambatan yang berlarut-larut juga tidak menguntungkan pula.
Tiba-tiba saja Swandaru merenungi dirinya sendiri. Ternyata bahwa hari-hari perkawinannya termasuk salah satu sebab kelambatan Mataram dalam perebutan pusaka itu. Jika ia tidak akan kawin dalam waktu yang dekat, maka mungkin sekali gurunya dan Ki Sumangkar, bahkan mungkin juga Ki Waskita akan dapat ikut serta mencari jejak pasukan yang singgah di Tambak Wedi itu.
Kiai Gringsing yang seolah-olah dapat membaca kekecewaan itu kemudian berkata, "Sudahlah, Swandaru. Jangan memikirkan pusaka itu lagi. Setidak-tidaknya untuk saat yang singkat menjelang hari-nari perkawinanmu. Baru kemudian kita akan memikirkannya dengan bersungguh-sungguh. Kini, jika aku memberitahukan hal ini kepada kalian berdua adalah sekedar sebagai bahan yang perlu kalian ketahui. Mungkin ada gunanya. Tetapi sudah barang tentu tidak dalam waktu-waktu, dekat ini."
Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya pun kemudian tergerak perlahan-lahan.Sambil mengangguk ia berkata, "Aku akan mencoba, Guru. "
"Pusatkan semua perhatianmu kepada hari-hari perkawinan yang menjadi semakin dekat. Bagi seseorang, hari-hari perkawinan adalah hari-hari yang penting. Perkawinan adalah salah satu saat yang akan menentukan perubahan, baik badani maupun jiwani, bagi seseorang yang menyadari arti perkawinannya sebagai kuwajiban manusiawi. Berbeda dengan adbmcadangan.wordpress.com mereka yang menganggap perkawinan sebagai sekedar pengakuan orang-orang di sekitarnya atas suatu keinginan yang lebih bersifat badani. Perkawinan yang demikian tidak akan ada artinya sama sekali bagi perkembangan kejiwaan seseorang."
Swandaru mengangguk-angguk.
"Anggaplah yang aku katakan hanyalah sekedar pemberitahuan yang tidak perlu mendapat tanggapan segera. Kalian dapat merenungkan dalam waktu yang cukup."
Sekali lagi Swandaru mengangguk. Demikian pula Agung Sedayu.
Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka kepada saat perkawinan Swandaru. Karena itu, maka katanya, "Kini kita akan segera memusatkan semua kegiatan kita pada hari-hari perkawinan yang telah menjadi semakin dekat. Tetapi menilik persiapan yang telah dilakukan Ki Demang, maka nampaknya sudah tidak ada lagi yang akan dapat menimbulkan gangguan apa pun."
"Apalagi perelatan di sini berlangsung lima hari setelah perelatan di Tanah Perdikan Menoreh," sahut Ki Waskita.
"Dengan demikian, agaknya Menoreh pun kini telah siap pula. Bahkan mungkin setiap malam di rumah Ki Argapati, orang-orang tua sudah mulai berjaga-jaga hampir semalam suntuk," sahut Ki Sumangkar.
"Dan di gardu-gardu anak-anak muda bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan," sambung Ki Waskita pula.
"Tetapi tidak mencemaskan," jawab Kiai Gringsing, "tidak ada persoalan yang terjadi seperti di lereng Gunung Merapi."
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya kemudian, "Tetapi ada juga baiknya kita melihat, apakah semuanya sudah tersedia."
Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu Kiai Gringsing pun kemudian bertanya, "Apakah maksud Ki Waskita, kita akan pergi ke Menoreh?"
"Bukan kita semuanya, Kiai. Sebenarnya aku ingin menawarkan diri untuk pergi ke Menoreh, membawa pesan apa pun yang mungkin perlu disampaikan."
"Ki Waskita sendiri?"
"Aku ingin menengok Ki Argapati, selebihnya aku ingin segera membawa Rudita kembali kepada ibunya yang tentu menjadi sangat cemas."
Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Mereka mengerti, betapa cemasnya seorang ibu yang ditinggalkan oleh anak satu-satunya dan tidak tahu kemana anak itu pergi.
"Karena itu, Kiai," berkata Ki Waskita seterusnya, "jika Kiai tidak berkeberatan, sebenarnya dalam waktu yang singkat aku ingin minta diri. Aku sudah menemukan Rudita. Dan aku akan mengembalikannya kepada ibunya. Nah, dalam perjalanan itu aku tentu dapat singgah di Menoreh untuk menyampaikan pesan apa pun juga."
Sejenak Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berpandangan. Namun kemudian Kiai Gringsing pun berkata, "Tentu kami tidak akan dapat menahan. Tetapi perjalanan yang jauh itu tentu memerlukan pertimbangan-pertimbangan tersendiri."
Ki Waskita termenung sejenak, ia mencoba membayangkan perjalanan yang harus ditempuhnya, jika ia berniat kembali ke rumahnya untuk menyerahkan Rudita kepada isterinya.
Namun kemudian Ki Waskita berkata, "Jalan sekarang sudah menjadi semakin rata. Aku kira tidak akan ada hambatan-hambatan lagi di sepanjang jalan. Jalan ke Mataram sekarang menjadi semakin ramai. Kemudian jalan dari Mataram ke Menoreh pun telah menjadi semakin sibuk pula."
"Apakah, Ki Waskita bermaksud singgah di Mataram?"
"Agar perjalananku aman, maka aku akan berjalan di siang hari bersama-sama dengan para pedagang dan orang-orang yang bepergian melalui jalan raya yang sudah ramai itu. Aku akan bermalam di Mataram semalam. Kemudian di hari berikutnya, aku akan melanjutkan perjalanan dan singgah di Menoreh semalam. Baru kemudian aku kembali pulang."
"Dan, Ki Waskita tidak akan pergi ke Sangkal Putung lagi?"
"Kiai," berkata Ki Waskita kemudian, "perkawinan ini akan dirayakan di sini dan di Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan di Tanah Perdikan Menoreh agaknya lebih awal lima hari daripada di kademangan ini. Karena itu, aku kira tidak akan ada bedanya, jika aku mengikuti perelatan itu di sini atau di Tanah Perdikan Menoreh. Tidak ada bedanya jika aku ikut membantu menurut kemampuanku di sini atau di Tanah Perdikan Menoreh."
Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Namun sebelum mereka menyahut, Swandaru telah mendahului, "Tetapi aku akan lebih senang jika Ki Waskita berada di sini. Kita bersama-sama pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Kemudian di hari kelima, kita bersama-sama pula kembali kemari."
(***) BUKU 92 Ki Waskita tersenyum. Katanya, "Itu memang lebih baik. Tetapi aku kira, aku akan dapat mendahuluinya, karena kebetulan aku mempunyai kepentingan yang lain."
Swandaru memandang gurunya sekilas. Namun ia pun menya"dari bahwa ia tidak akan dapat mencegahnya jika memang itu dike"hendaki oleh Ki Waskita.
Dalam pada itu, maka Ki Waskita pun berkata, "Karena itu, jika Kiai berdua dan murid-murid Kiai sependapat, aku akan minta diri pula kepada Ki Demang."
"Tentu kami tidak akan dapat menahan Ki Waskita. Mudah-mudahan perjalanan Ki Waskita tidak menamui kesulitan apapun kelak. Dan aku kira, memang ada baiknya Ki Waskita singgah di Mataram. Jika Raden Sutayijaya masih belum kembali, Ki Lurah Branjangan dapat juga agaknya diberitahu tentang kemungkinan yang kita lihat di Tambak Wedi," berkata Kiai Gringsing.
Ki Waskita mengangguk-angguk.
"Dan apakah Ki Waskita akan segera berangkat besok, atau pada hari-hari yang masih akan dipilih?"
"Aku akan berangkat besok pagi-pagi benar Kiai."
"Untuk seterusnya kita akan bertemu di Tanah Perdikan Me"noreh. Begitu Ki Waskita?" bertanya Ki Sumangkar.
"Ya begitulah. Kita akan berpisah untuk sementara. Mungkin tenagaku dapat dipergunakan di Tanah Perdikan Menoreh. Aku adalah orang yang paling cakap menganyam tarub dipadukuhanku," jawab Ki Waskita.
"Ah, tentu tidak. Tidak ada orang yang berani minta Ki Was"kita untuk menganyam tarup," desis Ki Sumangkar.
"Kenapa" Aku memang senang menganyam tarub ditempat peralatan. Seandainya tidak ada orang yang minta sekalipun, aku akan melakukannya."
Ki Sumangkar tersenyum. Katanya, "Beruntunglah Pandan Wangi dan Swandaru. Yang menganyam tarub disaat-saat perkawin"annya adalah Ki Waskita."
Ki Waskita pun tertawa. Sementara Kiai Gringsing berkata, "Mudah-mudahan merupakan pertanda baik bagi kedua pengantin."
Swandaru hanya menundukkan kepalanya saja, sedang Agung Sedayu mulai dipengaruhi oleh bayangan tentang dirinya sendiri.
"Apakah saat-saat perkawinanku kelak akan mendapat perhatian dari orang-orang yang memiliki kelebihan seperti Ki Waskita, Ki Sumangkar dan Guru" Apakah menjelang saat-saat perkawinan itu kelak, Ki Demang Sangkal Putung juga mengadakan persiapan seperti sekarang ini, dan kemudian dihari yang kelima, sepasang pengantin itu akan dirayakan pula di Jati Anom?" pertanyaan-pertanyaan itu mulai bergejolak didalam hatinya.
Tetapi Agung Sedayu berusaha untuk melepaskan kesan itu dari wajahnya, sehingga tidak seorangpun yang sempat memperha"tikannya.
Dalam pada itu, Ki Waskita pun kemudian berkata, "Nanti malam aku akan minta diri kepada Ki Demang."
"Baiklah Ki Waskita," berkala Kiai Gringsing kemudian, "kita akan berpisah sampai hari-hari perkawinan Swandaru. Tetapi mungkin setelah itu. Meskipun sebenarnya kepentingan terbesar ada"lah Raden Sutawijaya. namun sudah tentu, kita yang sudah terlan"jur terpercik dan menjadi basah pula karenanya, tidak akan dapat begitu saja melepaskan diri dari persoalan ini."
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, "Sudah tentu Kiai. Aku akan tetap menyediakan diri. Meskipun mungkin aku masih akan memerlukan beberapa waktu untuk tinggal dirumah, bertemu dengan sanak kadang. Tetapi jika sudah cukup aku lakukan sebelum hari-hari perkawinan, maka aku pun akan segera dapat membantu Mataram, menurut kemampuanku."
"Tentu. Mataram akan berterima kasih. Mudah-mudahan se"lama saat-saat menjelang hari perkawinan Swandaru tidak terjadi sesuatu yang dapat menunda apalagi membatalkan perkawinan itu," desis Kiai Gringsing.
"Tentu tidak," sahut Ki Waskita. Namun nampak sedikit perubahan diwajahnya.
Namun dalam pada itu, baik Kiai Gringsing maupun Ki Su"mangkar sama sekali tidak bertanya lebih lanjut, justru karena mereka tidak ingin Swandaru mendengar kecemasan orang-orang tua tentang dirinya seperti yang dilihat oleh Ki Waskita sebagai wajah-wajah yang buram.
Demikianlah, dimalam harinya ketika mereka selesai makan bersama di pendapa dengan Ki Demang dan beberapa orang bebahu Kademangan yang hadir pula. Ki Waskita menyatakan maksud"nya kepada Ki Demang Sangkal Putung, untuk pergi mendahului ke Menoreh.
"Sebenarnya, yang penting adalah kepentingan diri sendiri saja," berkata Ki Waskita, "tetapi supaya perjalananku ada juga gunanya, maka aku menawarkan diri untuk menjadi perintis jalan bagi mempelai yang akan segera berangkat pula ke Menoreh karena waktunya memang sudah menjadi semakin dekat."
Ki Demang mengangguk-angguk. Karena Ki Waskita menge-mukakan alasannya dengan berterus terang, maka Ki Demang pun tidak dapat mencegahnya.
"Ki Waskita," berkata Ki Demang, "tentu aku tidak dapat berusaha untuk menunda perjalanan itu. Bahkan aku mengucapkan banyak terima kasih karena Ki Waskita bersedia singgah di Tanah Perdikan Menoreh, untuk membawa pesan yang barangkali perlu aku sampaikan kepada Ki Argapati."
"Ya. Demikianlah agaknya Ki Demang."
Ki Demang pun mengangguk-angguk. Ia pun kemudian berun"ding dengan beberapa orang tua di Sangkal Putung. Namun mereka pun kemudian mengambil kesimpulan, bahwa tidak ada pesan-pesan bahwa semuanya akan berlangsung sesuai dengan rencana.
"Baiklah Ki Demang," berkata Ki Waskita kemudian, "aku akan menyampaikannya kepada Ki Gede Menoreh, bahwa semuanya di Sangkal Putung telah berjalan sesuai dengan rencana. Se"dangkan Anakmas Swandaru akan datang di Menoreh bersama pe"ngiringnya dalam pakaiannya sehari-hari, sehingga disepanjang jalan yang panjang ini perjalanannya tidak terganggu justru oleh pakaian pengantinnya. Demikian pula pada saat kedua pengantin itu kelak diboyong ke Sangkal Putung."
"Pengantin laki-laki akan datang tiga hari sebelum hari perkawinan," desis Ki Demang.
Tetapi seorang tua yang rambut dan janggutnya sudah memu"tih bertanya, "Tiga atau lima Ki Demang?"
"Bukankah kita bersepakat untuk berangkat lima hari sebelumnya dan kita akan sampai ke Tanah Perdikan Menoreh tiga hari sebelum hari perkawinan."
"Tidak perlu disebut begitu, sebab kita tidak akan bermalam dua malam diperjalanan. Kita hanya akan bermalam satu malam saja di Mataram. Dihari berikutnya kita akan sampai di Tanah Perdikan Menoreh meskipun setelah matahari melampaui pusatnya ditengah hari."
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Kita hanya mengatakan kepada Ki Ageng Menoreh, bahwa kita akan be"rangkat lima hari sebelumnya dan akan bermalam satu malam diperjalanan."
"Demikianlah," berkata orang tua itu, "apakah itu akan disebut empat hari sebelumnya atau tiga hari sebelumnya."
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah Ki De"mang. Aku akan menyampaikan seperti apa yang Ki Demang pe"sankan."
"Tetapi sudah tentu sekaligus," berkata Kiai Gringsing, "Ki Waskita akan menjadi duta menghadap Ki Lurah Branjangan di Mataram. Bukankah dengan demikian, akan mengurangi kesibukan kami disini, karena pada suatu saat kami tentu akan mengirim orang ke Mataram untuk mohon diperkenankan bermalam satu malam meskipun Raden Sutawijaya tidak ada?"
Ki Demang tertawa. Katanya, "Aku sebenarnya agak segan untuk berpesan terlalu banyak, karena dengan demikian aku akan membebani penjalanan Ki Waskita dengan persoalan-persoalan yang sebenarnya hanya akan mengganggu perjalanannya."
"Ah, tentu tidak Ki Demang. Aku akan singgah di Mataram. Dan aku akan menyampaikannya kepada Ki Lurah Branjangan, ke"inginan Ki Demang untuk mendapat kesempatan bagi pengantin dan pengiringnya, bermalam satu malam di Mataram."
"Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga Ki Waskita," desis Ki Demang.
Ki Waskita pun kemudian mohon diri pula kepada para bebahu dan keluarga Ki Demang di Sangkal Putung, bahwa besok pada pagi-pagi benar ia akan meninggalkan Sangkal Putung bersama anaknya kembali pulang dan singgah di Mataram dan Menoreh untuk menyampaikan pesan Ki Demang Sangkal Putung.
Hampir semua orang telah berpesan kepada Ki Waskita, agar mereka berdua dengan anaknya berhati-hati disepanjang perjalanan.
"Masa ini adalah masa yang tidak dapat diperhitungkan sebaik-baiknya Ki Waskita," berkata seorang yang berkumis lebat, tetapi sudah mulai ditumbuhi warna keputih-putihan, "kadang-kadang kita tidak mengerti apa yang akan terjadi sebentar nanti. Apa"lagi setelah Tambak Wedi dihancurkan. Mungkin ada sekelompok orang Tambak Wedi yang tercerai dari kawan-kawannya dan mela"kukan perbuatan yang dapat menghambat setiap perjalanan. Ter"masuk perjalanan Ki Waskita."
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, "Baik Kiai. Aku akan berhati-hati. Aku akan mencari kesempatan melintasi daerah-daerah sepi, di Tambak Baya misalnya, bersama beberapa orang yang sekarang telah mulai banyak melintas didaerah itu. Baik ia me"nuju ke Mataram, Pliridan, Mangir, Menoreh, maupun sebaliknya menuju ke Pajang."
"Dan jalan yang ramai itu akan dapat menjadi daerah jelajah yang subur bagi mereka yang kehilangan pegangan."
Ki Waskita termenung sejenak. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, "Memang mungkin. Tetapi semakin banyak orang yang lewat jalan itu, maka aku kira justru akan menjadi semakin aman, karena orang-orang yang bermaksud jahat harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat timbul dari antara mereka, yang berada dijalan itu."
Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Semen"tara Ki Demang berkata, "Ki Waskita, mungkin dapat juga disampaikan kepada Ki Gede Menoreh, bahwa kami akan datang dalam jumlah yang barangkali cukup banyak. Selain sanak kadang yang ingin melihat tlatah Tanah Perdikan Menoleh, juga untuk menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi diperjalanan."
"Baiklah Ki Demang. Apakah Ki Demang dapat menyebut berapakah kira-kira jumlah sesepuh Sangkal Putung dan pengiring yang lain itu?"
Diluar sadarnya Ki Demang memandang kearah Kiai Gringsing seolah-olah ingin mendapatkan pertimbangan.
Kiai Gringsing yang mengetahuinya, bahwa Ki Demang tidak dapat menjawab pertanyaan itu, mencoba untuk membantunya, "Ki Waskita, aku kira hanya pengiring laki-laki sajalah yang akan ikut ke Tanah Perdikan Menoreh. Dua atau tiga orang sesepuh, dan yang lain adalah anak-anak muda kawan-kawan Swandaru. Bukan sekedar kawan bermain, tetapi juga kawan bertempur sejak daerah ini masih terancam berbagai macam bahaya."
Ki Waskita mengerti maksud Kiai Gringsing. Namun ia masih bertanya, "Jumlahnya?"
"Kira-kira dua puluh atau dua puluh lima. Bukankah begitu Ki Demang?"
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, "Ya Kiai. Kira-kira sebanyak itu."
"Tidak terlalu banyak," berkata Ki Waskita, "dipadukuhanku pengantin laki-laki kadang-kadang diiringi oleh empat puluh orang beramai-ramai menuju kerumah pengantin perempuan."
"Tetapi sudah dengan pakaian pengantin, membawa sepasang jodang berisi makanan dan kelengkapan sarana yang lain. Ber"beda dengan perjalanan Swandaru. Semuanya masih dalam keadaan seperti sehari-hari. Kelengkapan pengantin akan dicari di Tanah Perdikan Menoreh. Juga jodang dan isinya."
"Tidak apa-apa. Rumah Ki Gede Menoreh cukup luas. Gandoknya disebelah kanan dan kiri. Kemudian rumah samping dan ruang-ruang didalam rumahnya. Jika masih kurang, maka setiap rumah akan dapat dipergunakan untuk menginap berapapun jum"lahnya. Apalagi hanya dua puluh lima orang," desis Ki Waskita, "juga perabotnya cukup, dan apalagi persediaan jamuan. Sudah"lah, tidak akan ada yang mengecewakan. Namun demikian, aku akan mengatakannya juga. Bukan saja persediaan selengkapnya di padukuhan induk, namun juga dijalan-jalan. Dihari-hari panjang. Dari ujung Tanah Perdikan sampai ke padukuhan induk."
Ki Demang tertawa. Katanya, "Terima kasih. Jika Mataram juga berbuat demikian, maka aku akan berterima kasih sekali."
"Apakah aku juga harus mengatakannya kepada Ki Lurah Branjangan?" bertanya Ki Waskita.
"Ah, tentu tidak. Apakah artinya perjalanan Swandaru itu bagi Mataram. Tentu kami tidak akan dapat berbuat deksura seperti itu."
Ki Waskita tersenyum. Katanya, "Tentu bukan suatu sikap deksura. Jika Swandaru dan Agung Sedayu bersama gurunya belum penuh berbuat sesuatu untuk Mataram, maka sudah barang tentu hal itu dapat dianggap suatu sikap deksura. Apalagi setelah Raden Sutawijaya mendapat gelar Senapati Ing Ngalaga."
"Ah, sudahlah," potong Kiai Gringsing, "aku kira disepanjang jalan diwilayah Mataram, tidak akan terjadi sesuatu. Meskipun Tambak Baya masih berupa hutan belukar. Atas keyakinan itu pula maka aku berani melintasinya, meskipun harus menunggu iring-iringan yang lewat."
"Ah," Ki Demang berdesah, "Ki Waskita terlampau merendahkan diri. Seisi hutan Tambak Baya akan merunduk jika mereka tahu siapakah yang lewat, yang mampu berbuat sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain."
"Ah, Ki Demang memuji," Ki Waskita tertawa.
Demikianlah, maka mereka masih sempat berbicara dan berke"lakar. Baru kemudian setelah jauh malam, Ki Waskita pun meninggalkan pendapa bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Besok pagi-pagi benar Ki Waskita dan Rudita akan meninggalkan Sangkal Putung menuju ke Mataram, dan seterusnya ke Tanah Perdikan Menoreh.
Digandok, Ki Waskita pun segera merebahkan dirinya. Ia ingin beristirahat, setelah dalam beberapa hari ia disibukkan oleh hilang"nya Rudita, dan kemudian disusul dengan peperangan yang meng"getarkan lereng Gunung Merapi.
Tetapi ternyata Ki Waskita tidak dapat segera tidur. Ia mulai membayangkan gerakan pasukan Kiai Kalasa Sawit yang meninggalkan lereng sebelah Timur Gunung Merapi. Jika pasukan itu meling"kar, kemudian menyusup hutan-hutan lebat dilembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, maka pasukan itu akan muncul disebelah Barat Gunung Merapi. Mereka dapat melanjutkan gerakan ke Barat atau ke Selatan.
Dada Ki Waskita berdesir. Ia teringat kepada beberapa orang yang melintasi Kali Praga lewat tlatah Tanah Perdikan Menoreh me"nuju ke Barat
"Apakah mereka akan menuju ke Utara, dan pada suatu saat bertemu dengan pasukan Kiai Kalasa Sawit?" pertanyaan itu timbul di hati Ki Waskita. Lalu, "Meskipun cara mereka berbeda, na"mun ternyata bahwa kedua pusaka itu pada suatu saat akan diper"temukan oleh orang-orang yang membawanya ke arah yang berlainan itu."
Tiba-tiba dada Ki Waskita menjadi semakin berdebar-debar. Terbayang olehnya, beberapa orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, setingkat dengan Kiai Kalasa Sawit dan Kiai Jalawaja, bahkan Panembahan Agung dan Panembahan Alit, pada suatu saat berkumpul untuk mempertemukan pusaka-pusaka yang hilang dari Mataram itu.
Dan tempat yang mereka pilih justru adalah Tanah Perdikan Menoleh.
Ki Waskta menarik nafas dalam-dalam. Kepada dirinya sendiri ia berkata, "Tentu bukan Tanah Perdikan Menoreh. Daerah itu memiliki kemampuan yang akan dapat mengganggu pertemuan itu, jika benar akan diadakan pertemuan serupa itu."
Tetapi Ki Waskita pun tidak dapat menjamin, bahwa mereka tidak akan memilih Tanah Perdikan Menoreh.
"Bagaimana dibekas Padepokan Panembahan Agung" Kiai Kalasa Sawit memilih Padepokan Tambak Wedi untuk singgah dan tinggal beberapa lamanya," katanya didalam hati, "sehingga ada kemungkinan mereka mempergunakan Padepokan Panembahan Agung sebagai tempat untuk mempertemukan kedua pusaka itu dengan pembicaraan-pembicaraan tentang hari depan mereka yang me"rasa dirinya keturunan Majapahit dan mempunyai wewenang atas Kerajaan yang untuk beberapa saat berada ditangan Sultan di Pajang."
Tetapi Ki Waskita sama sekali tidak menyatakan isi hatinya yang bergejolak itu. Ia masih saia tetap berbaring diam dipembaringan, betapapun hatinya bagaikan menerawang seisi bumi.
Namun ternyata kegelisahan serupa itu, ada juga dihati orang-orang lain yang mengetahuinya. Kiai Gringsing, kedua murid-muridnya dan Ki Sumangkar. Hanya Rudita sajalah yang sama sekali ti"dak mengacuhkannya, dan karena itu, ia pun tidur dengan nye"nyaknya.
Meskipun ada beberapa perbedaan, namun ada juga persama"an dugaan antara orang-orang tua itu. Mereka pun membayangkan lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Dan mereka" pun membayangkan orang-orang yang menyeberangi Kali Praga telah bergeser ke Utara. Bahkan mereka pun seolah-olah telah menyentuh dengan angan-angan Padepokan Panembahan Agung di ujung pegunungan.
Tetapi ketika malam menjadi semakin dalam, justru setelah menjelang dini hari, orang-orang tua itu pun sempat juga tidur ba"rang sejenak. Namun ketika fajar mulai menyingsing, mereka pun telah terbangun.
Ki Waskita segera mempersiapkan diri. Demikian pula Rudita. Meskipun agaknya Rudita merasa segan untuk pulang, karena ke-inginannya untuk merantau ketempat yang belum pernah dikunjungi masih saja menyala didadanya, namun ayahnya telah memintanya dengan sunggub-sungguh agar Rudita mengunjungi ibunya lebih dahulu.
Demikianlah, menjelang matahari naik keatas cakrawala, maka Ki Waskita dan Rudita pun minta diri sekali lagi kepada Ki Demang dan keluarganya, Kiai Gringsing dan murid-muridnya serta Ki Sumangkar, juga para bebahu yang sengaja ingin mengantarkan keberangkatan Ki Waskita.
Dengan berkendaraan masing-masing seekor kuda yang tegar, mereka pun kemudian meninggalkan Kademangan Sangkal Putung menuju ke Barat.
Semula terbcrsit pula keinginan Ki Waskita untuk melakukan petualangan dengan menempuh jalan yang berbahaya dilembah an"tara Gunung Merapi dan Merbabu. Tetapi ketika ia teringat bahwa ia membawa pesan untuk Mataram, maka maksudnya itu pun diba"talkannya. Apalagi ketika disadarinya bahwa kawannya kali ini adalan seorang yang aneh. Rudita tentu bersikap lain dengan sikap yang dikehendakinya apabila ia bertemu dengan bahaya diperjalanan.
Karena itulah, maka Ki Waskita memutuskan untuk menempuh jalan yang paling aman. Lewat jalan yang sudah menjadi semakin ramai, meskipun harus melintasi Alas Tambak Baya.
Orang-orang Sangkal Putung melepas Ki Waskita dan Rudita dengan hati yang berdebar-debar. Bukan saja karena daerah di le"reng Merapi yang baru saja dilanda kekisruhan, yang memang mungkin sekali akan meluap ke Selatan, tetapi juga karena Ki Waakita membawa pesan-pesan bagi Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh dalam hubungannya dengan hari perkawinan Swandaru.
"Tetapi ia orang linuwih," desis Ki Demang, "ia tentu dapat mengatasi kesulitan apapun diperjalanan."
Kiai Gringsing yang mendengar desis itu pun mengangguk kecil. Katanya, "Apalagi jalan memang sudah menjadi bertambah ramai dan aman. Jika tidak ada sesuatu yang tiba-tiba saja meledak didaerah Tambak Baya atau diujung Tanah Mataram yang sudah menjadi tanah yang ramai, maka perjalanan Ki Waskita tidak akan menjumpai kesulitan apapun juga."
"Mudah-mudahan. Dan mudah-mudahan hal itu berlaku pu"la bagi iring-iringan pengantin beberapa hari lagi."
"Beberapa hari lagi?" bertanya Kiai Gringsing.
"Ya. Tidak ada sebulan lagi."
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Hari-hari berlalu dengan cepatnya. Saat perkawinan itu memang sudah tidak ada se"bulan lagi. Karena itu, maka segala persiapan memang harus sudah selesai. Pada waktunya tidak akan ada persoalan-persoalan lain yang akan dapat menghambat hari perkawinan itu. Apalagi jarak yang akan ditempuh adalah jarak yang cukup jauh bagi iring-iringan pengantin.
"Iring-iringan pengantin yang akan melalui daerah yang ber"golak," berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.
Dalam pada itu, Ki Waskita dan Rudita pun berpacu semakin cepat. Ada kegembiraan dihati anak muda itu ketika mereka me"lintasi bulak-bulak yang panjang, sawah yang subur dan hijau, dan angin pagi yang mengelus wajahnya yang jernih.
Dengan gembira ia melihat beberapa orang yang berada di tengan tengah sawahnya. Laki-laki dan perempuan. Bahkan anak-anak yang riang duduk diatas punggung kerbau.
"Itulah kehidupan yang wajar," tiba-tiba saja ia berdesis
Ayahnya berpaling kepadanya. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, "Apa yang kau katakan Rudita?"
"Kehidupan yang wajar Ayah. Lihatlah, betapa damainya ha"ti melihat anak-anak yang menggembalakan kerbaunya. Mereka du"duk diatas punggung kerbau sambil bermain seruling. Yang lain me"nyabit rumput sambil berdendang. Sedangkan orang tua mereka me"ngerjakan sawahnya dengan tenang. Mencangkul, menanam padi dan menyianginya. Jika padi itu kelak berbuah, maka buahnya akan menjadi makanan bagi banyak orang."
"Ya Rudita. Itulah kehidupan yang wajar, yang diinginkan oleh setiap orang, khususnya setiap petani."
"Jika para petani dapat mengerjakan sawahnya dan hidup tenang, maka para pedagangpun akan terpengaruh pula Ayah. Mere"ka dapat menjual dagangannya dengan baik. Juga para prajurit akan dapat menikmati hidup mereka dalam suasana yang damai. Para pe"mimpin pemerintahan tidak menjadi pening oleh kesulitan hidup rakyatnya, lahir dan batinnya."
"Ya, kau benar Rudita."
Rudita merenung scejenak. Namun kemudian katanya dengan nada rendah, "Tetapi Ayah, kenapa kadang-kadang kehidup"an yang tenang damai itu harus dirusakkan?"
Ki Waskita sudah menduga, bahwa akhirnya pertanyaan yang demikian itu akan terlontar dari mulut anaknya. Karena itu, ia telah menyusun jawabnya, "Alangkah jahatnya orang yang merusak kedamaian itu."
"Dan Ayah pun kadang-kadang terlibat pula didalamnya?"
"Rudita," berkata ayahnya yang sudah menduga pula akan datangnya pertanyaan itu, "apakah kau dapat membedakan, orang yang merusak kedamaian itu dan orang yang ingin mempertahankan kedamaian itu?"
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Setiap kali aku selalu menjumpai sifat yang penuh curiga seperti itu. Ayah, kapan Ayah tidak lagi mencurigai sesama?"
Pertanyaan itulah yang tidak diduganya. Karena itu, untuk beberapa saat Ki Waskita tidak menjawabnya.
Dalam pada itu Rudita berkata selanjutnya, "Dalam waswas dan curiga, seseorang mempersiapkan dirinya untuk melakukan ke"kerasan. Ia bersiaga untuk melindungi kedamaian yang menurut dugaannya yang dibayangi oleh kecurigaan dan waswas itu selalu ter"ancam. Tetapi kesiagaannya itu telah mengundang kecurigaan orang lain pula terhadapnya."
"Rudita," berkata ayahnya kemudian, "aku ingin dapat berpikir, bertindak dan bertingkah laku seperti kau. Tetapi aku tidak mampu. Aku masih dipengaruhi oleh ketakutan, kecemasan, dan karena itu aku masih selalu dibayangi oleh kecurigaan, dan was"was. Namun barangkali kau akan dapat mengembangkannya terus. Dan aku dapat mengerti. Jika saatnya nanti datang, sikapmu itu te"lah menjadi sikap banyak orang, maka kita akan sampai pada suatu masa yang di rindukan oleh setiap manusia."
Rudita mengerutkan keningnya. Namun kemudian kepalanya tertunduk dalam-dalam, seolah-olah ia sedang merenungi batu-batu kerikil yang bertebaran disepanjang jalan dibawah kaki kudanya.
"Ayah," ia berdesis, "apakah menurut perhitungan Ayah, atau katakanlah penglihatan isyarat Ayah, dunia ini akan mengalami suatu masa dimana orang tidak saling bercuriga, saling mengganggu, dan apalagi saling bermusuhan dengan bekal kekerasan dan den"dam?"
Pertanyaan itu pun sama sekali tidak diduga oleh Ki Waskita. Namun ia menjawab juga, "Aku tidak dapat memperhitungkan Rudita. Dan aku tidak dapat melihat dalam isyarat, apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Peradaban manusia semakin lama menjadi semakin maju. Orang akan menjadi semakin pandai dan menemukan berbagai macam alat yang belum pernah dikenal sebelum"nya. Tetapi aku tidak tahu, apakah hati manusia juga menjadi se"makin lembut atau justru sebaliknya. Rudita, jika semula manusia tidak mengenal bercocok tanam, dan kini kita sudah sampai pada suatu jaman di mana kita dapat mempergunakan cangkul dan bajak untuk mengerjakan sawah dengan hasil yang semakin berlipat, na"mun itu tidak berarti bahwa kita menjadi semakin tenang dalam limpahan makan yang kecukupan."
Rudita mengangguk-angguk.
"Perkembangan kemajuan berpikir manusia, melahirkan alat-alat yang dapat mempermudah tata hidupnya. Tetapi sejalan dengan itu, manusiapun melahirkan alat-alat untuk melakukan tindak kekerasan. Kini jenis senjata menjadi semakin banyak. Jika semula kita mem"pergunakan batu yang kita lontarkan dalam ujudnya sejenis dengan bandil, sekarang kita mengenal busur dan anak panah. Mungkin dimasa mendatang manusia akan mengenal jenis-jenis alat pembunuh yang lebih dahsyat lagi."
"Jika demikian, menurut Ayah, maka manusia tidak sedang berjalan menuju ke dalam kehidupan yang lebih tenang, tetapi seba"liknya."
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Tidak seorangpun yang dapat mengatakannya Rudita. Tetapi tetaplah pada keyakinanmu, karena dalam kecemasan, curiga dan waswas, setiap manusia masih tetap merindukan perdamaian, ketenangan dan kehi"dupan wajar seperti yang kita lihat secuwil dari seluruh wajah kehi"dupan ini."
Rudita mengangguk-angguk. Katanya, "Ya, kita melihat satu sudut kehidupan. Tetapi jika kita melihat sudut yang lain, kita akan menjadi ngeri karenanya."
Ki Waskita mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa yang dikatakan oleh Rudita itu memang benar. Rudita adalah anak muda yang pernah mengalami perasaan takut yang hampir setiap saat mencengkamnya. Karena itulah maka ia dapat merasakan dengan sedalam-dalamnya perasaan takut yang menghantui orang-orang lain. Dan perabaan, takut adalah perasaan yang paling menyiksa da"lam hidup seseorang.
Tetapi pada saat manusia sedang bergulat mempertahankan di"rinya dari sesamanya yang sedang dicengkam oleh nafsu dan keta"makan, maka sikap Rudita rasa-rasanya adalah sikap yang sulit un"tuk dimengerti. Dengan demikian maka Rudita rasa-rasanya menja"di orang asing diantara sesama manusia.
Karena ayahnya tidak menjawab, maka Rudita pun untuk bebe"rapa lamanya berdiam diri pula. Kuda mereka masih berpacu meyelusuri jalan-jalan dibulak panjang.
"Jika kita tidak melihat warna kehidupan disudut lain, rasa-rasanya hidup didaerah ini memang menyenangkan sekali," berka"ta Rudita didalam hatinya. Tetapi jika ia mengenang pertempuran yang diceriterakan ayahnya dilereng Merapi tidak jauh dari tempat itu, maka bulu-bulunyapun meremang. Rudita tidak lagi menjadi ke"takutan karena dirinya sendiri. Tetapi ia ngeri membayangkan beta"pa perasaan takut itu mencengkam anak-anak dan perempuan di"lereng Merapi itu.
"Dan tentu akan menjalar sampai ketempat yang jauh. Bahkan akan bercampur-baur dengan persoalan-persoalan lain yang da"pat tumbuh di Mataram dan Pajang," katanya kepada diri sendiri.
Tetapi ia masih tetap berdiam diri.
Sejenak kemudian, maka perjalanan mereka pun menjadi semalkin lambat. Dihadapan mereka terbentang hutan yang masih cukup lebat meskipun ditengah-tengah hutan itu telah berhasil dibuat se"buah jalan yang cukup rata, menusuk langsung menembus hutan itu sampai ke telalah Alas Mentaok dan Mataram.
"Jalan ini nampaknya agak sepi," berkata Ki Waskita, "kita belum bertemu atau mendahului seseorang."
Rudita menggeleng. Jawabnya, "Tidak Ayah. Jalan ini tentu tidak sepi. Seandainya jalan ia memang tidak sedang dilalui orang, namun jalan ini tidak akan menumbuhkan hambatan apapun atas perjalanan kita."
"Kau yakin?" "Jika jalan ini tidak aman Ayah, maka aku kira sawah-sawah di sebelah menyebelah jalan ini pun tidak akan digarap oleh pemi"liknya. Tetapi sawah disebelah menyebelah jalan ini, bahkan sam"pai ke hutan perdu dipinggir Alas Tambak Baya itu nampaknya di"garap dengan baik."
Ayahnya mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Rudita. Tetapi dalam keadaan yang lain, yang betapapun juga, Rudita memang selalu berprasangka baik. Ia sama sekali tidak menyesal meskipun dengan demikian akibatnya kadang-kadang tidak mengun"tungkan baginya. Namun ia tetap pada sikapnya.
Demikianlah mereka berduapun berpacu terus mendekati Alas Tambak Baya. Namun seperti yang dikatakan oleh Rudita, jalan itu memang tidak terlalu sepi. Mereka melihat dua orang berkuda dari arah yang berlawanan. Keduanya muncul dari mulut lorong di Alas Tambak Baya yang masih nampak lebat dan besar
"Kita berhenti sejenak dimulut jalan yang memasuki hutan itu," berkata Ki Waskita.
Rudita mengangguk-angguk. Katanya, "Aku sebenarnya juga haus."
"Dipinggir jalan sebelum hutan perdu itu terdapat sebuah warung. Jika tidak terjadi sesuatu, warung itu tentu masih ada."
Rudita masih mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berta-nya, "Apakah penjual diwarung itu tidak takut kepada binatang buas yang mungkin sekali-sekali keluar dari Alas Tambak Baya?"
"Mereka tentu sudah bersedia menghadapi kemungkinan itu. Apalagi jalan menjadi semakin ramai," jawab ayahnya.
"Binatang hutan tidak memiliki perkembangan akal budi. Itu"lah sebabnya maka ada kemungkinan yang buruk dapat terjadi ka"rena tingkah lakunya."
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia me"ngatakan bahwa yang berbahaya justru orang-orang yang bermak"sud buruk. Tetapi jika ia mengatakannya juga, maka Rudita tentu akan tersinggung.
Karena itu, maka Ki Waskita pun hanya mengangguk-angguk saja. la tidak mengucapkan kata-kata yang sudah hampir terloncat dari bibirnya itu.
Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka ternyata mereka masih menemukan warung itu ditempatnya. Ki Waskita pun kemudian mengajak Rudita untuk berhenti sejenak. Mereka masih sempat me"neguk beberapa mangkuk dawet dan beberapa potong makanan sambil menunggu orang-orang lain yang akan lewat. Dengan demi"kian maka mereka mempunyai kawan melintasi Alas Tambak Baya.
"Kenapa harus menunggu Ayah?" bertanya Rudita, "nanti kita kemalaman dijalan."
"Tidak apa-apa. Tetapi melintas Alas Tambak Baya lebih baik berkawan. Bukan karena takut. Tetapi rasa-rasanya sepi sekali."
Rudita mengangguk-angguk lagi.
Ki Waskita menggigit bibirnya. Rasa-rasanya jawabannya sudah benar. Jika ia mempergunakan alasan-alasan lain, maka akan segera timbul persoalan lagi pada diri anaknya.
Bahkan Rudita pun kemudian berkata, "Jalan ini memang seperti sebuah terowongan yang panjang. Menarik sekali. Tetapi se"bentar lagi akan menjadi sangat gelap. Lebih gelap dari suasana diluar hutan."
"Sudah tentu Rudita. Sinar matahari seolah-olah dibatasi oleh rimbunnya dedaunan hutan. Tetapi tidak apa. Kita masih mempunyai waktu yang cukup."
Rudita mengangguk-angguk. Sekali-sekali ia memandang jalan yang panjang didepan warung itu. Jalan yang melintas ditengah-tengah sa"wah dan kemudian menyusup ketengah-tengah hutan.
Ternyata kemudian beberapa orangpun telah singgah pula diwarung itu. Mereka juga menuju ke Barat, memasuki hutan Tambak Baya.
Namun nampak diwajah mereka, bahwa Tambak Baya bukan lagi hantu yang menakutkan,
Ki Waskita dan Rudita pun kemudian mempersiapkan diri untuk meneruskan perjalanannya bersama orang-orang itu. Tetapi Ki Waskita kemudian mengambil keputusan untuk tidak saling menegur dengan mereka. Setiap percakapan sesuai dengan pendapat dan sikap seseorang, tentu akan terasa asing bagi Rudita dan sebaliknya.
"Apakah kita akan pergi bersama mereka Ayah?" bertanya Rudita, ketika mereka sudah keluar dari warung itu.
"Ya." "Tetapi Ayah tidak menegur mereka dan bertanya, kemana mereka akan pergi."
Ayahnya menarik nafas. Jawabnya, "Tidak Rudita. Kadang-kadang memang timbul keinginan untuk saling menegur dengan orang lain. Tetapi kadang-kadang kita merasa bahwa kita tidak ingin diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang barangkali tidak kita me"ngerti jawabnya."
Rudita menarik nafas. Katanya, "Jadi apakah untungnya kita menunggu kawan yang tidak kita kenal" Semula Ayah ingin meme"cahkan kesepian diperjalanan."
"Jika kita merasa bahwa perjalanan kita tidak sendiri, rasa-rasanya kita sudah menjadi tidak terlampau kesepian, meskipun kita tidak saling menegur."
Ada sesuatu yang tersirat dimata Rudita. Tetapi Rudita tidak mengatakannya. Namun yang tidak dikatakannya itu seolah-olah dapat dibaca oleh Ki Waskita, "Ayah telah dicengkam kecurigaan itu lagi. Apakah terkejut kepada kemungkinan hadirnya beberapa orang penyamun, atau kepada orang-orang yang bersama pergi ke Mataram atau ke arah lain yang melintasi Alas Tambak Baya."
Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia ti"dak mengambil sikap apapun juga. Ia tetap pada pendiriannya. Le"bih baik Rudita menganggapnya bersalah daripada harus berbantah dengan orang lain yang sama sekali tidak memahami sikap dan ja"lan pikiran anaknya, seperti juga anaknya tidak dapat memahami sikap dan jalan pikiran orang lain.
Dengan demikian, maka Ki Waskita dan Rudita pun hanya se"kedar berkuda dibelakang iring-iringan yang menuju ke arah yang sama. Mereka berpacu secepat orang-orang lain yang berada dihadapan mereka.
Tetapi dengan demikian, beberapa orang berkuda yang menda"hului kedua ayah dan anaknya itulah yang justru bertanya-tanya didalam hati mereka. Dua orang berkuda dibelakang mereka, se"akan-akan tidak mau bergabung dengan mereka, dan bahkan meng"ikuti iring-iringan yang melintasi Alas Tambak Baya itu.
Tetapi orang-orang itu pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Dua orang itu tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa atas me"reka yang beriringan dalam jumlah yang lebih banyak.
Dengan demikian maka mereka pun kemudian melintasi Alas Tambak Baya tanpa mengalami gangguan apapun. Tambak Baya telah benar-benar menjadi aman. Mereka memasuki daerah diseberang hutan itu dengan hati yang lega. Tetapi, mereka masih tetap dalam iring-iringan menuju ke Alas Tambak Baya yang lebih lebat, tetapi yang sebagian sudah dibuka menjadi daerah tempat tinggal. Menjadi padukuhan dan padesan dengan tanah persawahan yang sudah dapat menghasilkan. Parit-parit yang menelusuri pematang, membuat tanah itu menjadi subur dan hijau disepanjang tahun, meskipun musimnya sedang kering.
"Kita sudah memasuki Tanah Mataram yang mulai ramai dan besar," berkata Ki Waskita.
Rudita mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.
Ki Waskita mengerutkan keningnya. Sekilas ia memandang wa"jah anaknya yang berkerut merut. Namun kemudian ia pun kembali memandang ke depan. Ke jalan yang menjelujur dihadapan kaki kudanya. Seakan-akan dilihatnya langit yang sudah menjadi semakin suram.
"Rudita tentu sedang memikirkan perkembangan Mataram," berkata Ki Waskita didalam hati.
Belum lagi Ki Waskita sampai pada suatu kesimpulan, ia sudah mendengar Rudita bertanya, "Apakah usaha Raden Sutawijaya membuka Alas Mentaok itu bijaksana Ayah?"
Ki Waskita termenung sejenak. Namun ialah yang kemudian bertanya, "Kenapa?"
"Apakah dengan demikian tidak akan timbul persoalan dengan Pajang?"
"Kenapa" Kanjeng Sultan sudah menyerahkan Alas Mentaok ini kepada Ki Gede Pemanahan, ayahanda Raden Sutawijaya. Adalah hak Raden Sutawijaya untuk membuka hutan ini. Bahkan kemudian ia menerima anugerah gelar Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram."
Rudita memandang ayahnya sekilas. Lalu, "Mudah-mudahan memang tidak. Setiap pertentangan membuat hati menjadi sedih. Ceritera yang pernah aku dengar tentang Matarampun membuat aku cemas."
"Rudita," berkata ayahnya, "kau menganggap aku selalu mencurigai orang lain. Tetapi apakah sikapmu itu justru bukan sikap mencurigai. Justru berlebih-lebihan" Kau selalu cemas dan sedih jika kau menghadapi kemungkinan timbulnya pertentangan. Apakah dengan demikian bukan justru dihatimu sendiri telah tumbuh per"tentangan itu?"
Rudita termenung sejenak. Namun kemudian ia pun tersenyum. Dipandanginya ayahnya sejenak, lalu jawabnya, "Ayah. Aku ada"lah salah satu dari sekian banyak manusia yang lemah dan jauh da"ripada sempurna. Jika Ayah sependapat, maka yang ada didaiam ha"tiku bukanlah kecurigaan. Tetapi ketakutan dan kecemasan. Masih seperti dahulu. Hatiku selalu dibayangi oleh angan-angan yang me"nyeramkan. Mungkin yang dapat Ayah lihat perbedaan yang ada pada diriku adalah semata-mata keadaan lahiriah. Aku kini memang tidak menakutkan dan mencemaskan diriku sendiri dalam arti yang terbatas sekali. Karena sebenarnyalah ketakutanku tentang diriku sendiri itu pun belum berubah. Ternyata dengan usahaku mempela"jari ilmu yang terdapat didalam lontar Ayah, agar aku dapat melin"dungi diriku sendiri, itu adalah kelemahanku yang paling nampak seperti yang pernah aku katakan. Tetapi lebih daripada itu, aku se"karang justru dibebani pula oleh ketakutan dan kecemasan, bahwa setiap saat sifat manusia disekitarku selalu menumbuhkan persoalan persoalan diantara mereka sendiri. Persoalan-persoalan yang sama sekali tidak menumbuhkan perkembangan kepribadian, paradaban dan usaha-usaha yang dapat bermanfaat bagi hidup dan kehidupan mereka. Tetapi justru sebaliknya. Persoalan-persoalan yang dapat menumbuhkan keributan, pertentangan dan bahkan pembunuhan. Persoalan yang akan dapat meruntuhkan pribadi mereka sebagai manusia dan juga peradaban yang bermanfaat bagi hidup kehidupan."
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak menjawab la"gi. Tetapi ia mencoba untuk mengerti dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dengan demikian maka mereka untuk seterusnya tidak lagi ba"nyak berbicara. Ki Waskita yang mencoba mengerti jalan pikiran anaknya, masih saja dibayangi oleh berbagai macam masalah yang sulit dipecahkan. Namun dalam beberapa hal ia sudah dapat me"nangkapnya.
Demikianlah maka perjalanan mereka pun semakin lama men"jadi semakin mendekati padukuhan induk yang menjadi pusat peme"rintahan di Mataram. Padukuhan yang menjadi semakin ramai dan sudah mekar menjadi sebuah kota yang diputari oleh dinding batu yang rapi, dengan empat buah regol diempat penjuru, ditambah lagi beberapa regol butulan yang lebih kecil.


04 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tetapi perkembangan kota itu ternyata menjadi jauh lebih pesat dari yang diduga semula. Diluar dliding batupun kemudian berkembang pula bagian-bagian kota yang cukup ramai pula, sehingga Mataram harus merencanakan membuat batasan kota yang lebih lu"as lagi dengan regol-regol baru pula. Namun agaknya Mataram ma"sih harus menunggu. Apalagi sejak Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga dan berkedudukan di Mataram itu sedang me"lakukan sebuah pengembaraan untuk menempa dirinya.
Sebelum matahari lenyap dibalik cakrawala, Ki Waskita dan Rudita telah berada diujung jalan yang memasuki bagian luar dari Mataram. Sejenak mereka termangu-mangu. Wajah senja yang membayang dilangit membuat Mataram nampak suram.
"Kita akan langsung masuk ke dalam regol," berkata Ki Waskita yang masih terhenti ditengah jalan.
Rudita mengangguk-angguk. Katanya, "Kota ini akan semakin berkembang Ayah."
"Ya. Mudah-mudahan tidak ada persoalan yang akan menghambanya."
Ki Waskita menjadi berdebar-debar ketika ia melihat wajah anak-nya yang berkerut. Tetapi ternyata Rudita tidak mengatakan sesuatu.
"Marilah," berkata Ki Waskita, "kita memasuki kota."
Keduanyapun kemudian melanjutkan perjalanan mereka yang sudah menjadi semakin pendek. Ketika mereka mendekati regol, maka beberapa orang sudah nampak menyalakan lampu minyak diregol halaman masing-masing. Sedangkan dari celah-celah dinding rumah-rumah itu pun cahaya lampu nampak berkeredipan disentuh angin senja.
Langitpun semakin lama menjadi semakin suram. Sementara lampupun rasa-rasanya menjadi semakin banyak menyala disepani jang jalan.
Regol kota Mataram masih tetap terbuka, dan bahkan selalu terbuka, sesuai dengan sifat kotanya yang memang terbuka. Meskipun demikian, diregol itu nampak beberapa orang pengawal yang berjaga-jaga. Disebuah gardu disebelah regol itu, beberapa orang penga"wal duduk dan bercakap-cakap diantara mereka. Sedang dua orang diantara para pengawal itu siap berdiri dikedua sisi regol itu dengan tombak ditangan.
Tetapi para pengawai itu tidak pernah menegur dan menyapa orang-orang yang lalu lalang masuk keluar regol kecuali mereka yang memang dapat menumbuhkan kecurigaan.
Demikianlah Ki Waskita dan Rudita pun langsung menuju ke rumah Raden Sutawijaya, yang ditunggui oleh beberapa orang penga"wal kepercayaan Senapati Ing Ngalaga, termasuk Ki Lurah Branjangan.
Kedatangan Ki Waskita diterima dengan senang hati oleh para pemimpin di Mataram. Kunjungan itu rasa-rasanya merupakan kun-jungan yang dapat sedikit memberikan suasana yang lain bagi para pemimpin di Mataram.
Setelah saling menyapa tentang keselamatan masing-masing maka Ki Waskita dan Rudita yang duduk dipendapa itu pun kemu"dian dipersilakan meneguk minuman panas dan sekedar makanan yang telah dihidangkan.
"Aku hanya sekedar singgah," berkata Ki Waskita, "aku sedang dalam perjalanan pulang, mengantarkan anakku yang selama ini membingungkan hati ibunya."
"O," para pemimpin itu mengangguk-angguk. Namun kembali Ki Waskita menjadi berdebar-debar melihat sikap Rudita.
Tetapi ternyata Rudita tidak mengatakan sesuatu. Bahkan ia menundukkan wajahnya yang menjadi kemerah-merahan, karena setiap orang telah memandanginya.
"Jika Ki Waskita telah beristirahat sejenak, telah minum dan sekedar makanan, maka kami persilahkan Ki Waskita pergi ke pakiwan bersama dengan putera Ki Waskita. Kami persilahkan berdua mempergunakan gandok sebelah, apabila Ki Waskita akan berganti pakaian dan untuk beristirahat malam nanti. Sementara kami me"nunggu Ki Waskita dan Angger Rudita untuk makan malam bersa"ma," berkata Ki Lurah Branjangan.
Ki Waskita tertawa. Katanya, "Aku selalu membuat repot sa"ja disini."
Ki Lurah tertawa pula. Jawabnya, "Kami biasa menyediakan makan dan minum untuk banyak orang. Jika Ki Waskita berdua de"ngan Anakmas Rudita menambah jumlah itu dengan dua, maka aku kira tidak akan banyak berpengaruh."
Demikianlah Ki Waskita dan Rudita segera diantar ke gandok. Mereka pun kemudian pergi ke pakiwan untuk membersihkan diri. Baru kemudian mereka berdua naik lagi ke pendapa. Dipendapa ter"nyata sudah disediakan sederet hidangan makan malam. Bukan ha"nya untuk Ki Waskita dan Rudita, tetapi juga untuk para pemimpin Mataram yang lain yang kebetulan ada dirumah itu bersama para pemimpin pengawal.
Sejenak kemudian, maka mereka pun segera makan bersama. Sambil berbicara serba sedikit tentang kemajuan Mataram sepening"gal Raden Sutawijaya.
Tetapi Ki Waskita sendiri tidak banyak menanggapi pembica"raan mereka, seolah-olah ia sedang menikmati hidangan yang ada dihadapanniya itu sebaik-baiknya.
Bahkan kemudian setelah mereka selesai makan malam, Ki Waskita pun berkata, "Maaf Ki Lurah. Barangkali anakku masih terlalu lelah. Biarlah ia minta diri untuk segera beristirahat."
"O, silahkan. Silahkan Ngger," berkata Ki Lurah Branjangan.
Rudita, yang mendengar kata-kata ayahnya itu justru menjadi heran. Ia sama sekali tidak merasa lelah. Dan sebenarnya ia masih ingin duduk untuk mendengarkan pembicaraan tentang Tanah Ma"taram yang sedang berkembang itu.
"Marilah Rudita," berkata ayahnya, lalu katanya kepada Ki Lurah Branjangan, "aku masih akan berbicara dengan Ki Lurah meskipun hanya sekedar bergurau."
Rudita tidak menjawab. Ia pun kemudian mengikuti ayahnya pergi ke gandok.
"Aku sama sekali tidak lelah," berkata Rudita ketika mereka sudah berada di gandok.
"Aku tahu Rudita. Kau sama sekali tidak lelah dan tidak mengantuk. Apalagi ingin beristirahat. Tetapi untuk sementara, sebaiknya kau beristirahat," sahut ayahnya, "aku minta maaf bahwa pembicaraan untuk selanjutnya tentu tidak akan sesuai dengan jalan pikiranmu. Karena itu, lebih baik kau tidak ikut mendengar"nya seperti sikap yang pernah kau lakukan di Sangkal Putung," ayahnya berhenti sejenak, lalu, "itu agaknya memang lebih baik bagimu. Kau sama sekali tidak akah dibebani oleh perasaan bersa"lah atau bahkan seperti yang kau sebutketakutan dan kecemasan."
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian mengangguk sambil bergumam, "Baiklah Ayah. Aku akan berba"ring saja dipembaringan."
Ayahnya menarik nafas. Tetapi agaknya itulah yang paling baik bagi anaknya.
Sejenak kemudian maka ditinggalkannya Rudita sendiri didalam gandok. Meskipun ia agak ragu-ragu, tetapi dipaksanya juga keputusannya untuk tidak membawa Rudita didalam pembicaraan tentang pusaka-pusaka yang hilang dari Mataram itu.
Sementara Ki Waskita masuk kedaiam bilik, agaknya Ki Lurah Branjangan pun dapat menangkap pula maksud yang lain, yang ter"sirat dari sikap itu. Agaknya Ki Waskita ingin berbicara tentang sesuatu tanpa didengar oleh banyak orang.
Karena itu, maka Ki Lurah pun mempersilahkan para pemim"pin itu untuk kembali ke tugas masing masing, atau pulang untuk beristirahat.
Karena itulah, ketika Ki Waskita kembali ke pendapa, yang ada tinggallah beberapa orang yang memang sudah mengetahui bahwa kedua pusaka yang menjadi pertanda jabatan dan kekuasaan Mata"ram telah hilang.
Dipendapa, maka Ki Waskita pun mulai menceriterakan apa yang telah terjadi di Jati Anom. Ia menceriterakan semua segi per"soalan yang diketahuinya. Juga tentang sikap Untara, dan kemung"kinan bahwa Pajang memang belum mendengar bahwa kedua pusa"ka itu hilang dari Mataram.
"Tetapi pada suatu saat, orang-orang yang berhasil mengam"bil itu sendirilah yang akan membuka rahasia hilangnya kedua pu"saka itu," berkata Ki Lurah Branjangan kemudian.
"Jika kita berhasil segera mendapatkannya kembali, maka mereka tidak akan dapat mengatakan apapun juga."
Ki Lurah mengangguk-angguk. Peristiwa di Jati Anom itu sa"ngat menarik perhatiannya.
"Sayang, Raden Sutawijaya masih belum kembali."
"Dimanakah Raden Sutawijaya sekarang" Barangkali telah ada kabar dari Raden Sutawijaya berada di Pegunungan Sewu. Ka"mi memang sudah membuat hubungan. Dan kami pun telah membe"ritahukan, bahwa puteranya ingin sekali bertemu untuk melihat wa"jahnya."
"Puteranya?" "Ya. Masih terlalu kecil. Puteranya dengan gadis Kalinyamat itu."
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam.
"Mereka ada disini sekarang, ibu dan puteranya."
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berta"nya lebih lanjut tentang puteri dari Kalinyamat dan puteranya itu.
Ki Lurah Branjangan pun agaknya tidak lagi ingin memperbin-cangkan puteri Kalinyamat itu. Karena itulah maka ia pun kemudian kembali pada pokok persoalannya. Katanya, "jadi apakah menu"rut Ki Waskita, pusaka itu sekarang masih ada disekitar Gunung Merapi?"
"Ya Ki Lurah." "Apakah kita dapat mengirimkan sepasukan pengawal Mata"ram untuk menemukan mereka" Jika akibatnya kita harus ber"tempur seperti prajurit Pajang, maka kita tidak akan undur. Pusaka itu sudah sepantasnya direbut dengan pengorbanan."
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Untunglah bahwa Rudita tidak ikut berbicara diantara mereka.
"Ki Lurah," berkata Ki Waskita, "kita sudah tertinggal beberapa hari. Dengan demikian, maka banyak kemungkinan dapat terjadi. Juga kemungkinan bahwa Kiai Kalasa Sawit telah me"ninggalkan daerah Gunung Merapi sejauh-jauhnya. Namun katakan"lah bahwa dugaanku benar, bahwa Kiai Kalasa Sawit masih berada disekitar Gunung Merapi. Maka usaha untuk menemukannyapun agaknya terlampau sulit."
"Mungkin sangat sulit Ki Waskita. Tetapi tanpa usaha apapun juga, kita juga tidak akan berhasil."
"Untuk melakukannya, agaknya kita harus memperhitungkan Pajang pula. Jika pasukan pengawal Mataram bertemu dengan prajurit-prajurit Pajang, maka persoalannya akan berubah."
"Kita melakukan tugas kita masing-masing," jawab Ki Lurah.
"Tetapi Pajang merasa berkuwajiban untuk menjaga dan melindungi seluruh wilayah Pajang. Panglima muda dibagian Selatah ini pun tentu berpendirian demikian pula."
"Tetapi jangan lupa Ki Waskita," berkata Ki Lurah Branjangan, "Raden Sutawijaya adalah putera Kanjeng Sultan Pajang yang mendapat anugerah gelar dan jabatan Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram."
Ki Waskita mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian ber-tanya, "Tetapi Ki Lurah. Apakah anugerah yang diterima oleh Raden Sutawijaya itu disertai dengan ketentuan lebih lanjut atas tugas dan daerah wewenangnya" Jika Kiai Kalasa Sawit katakanlah masih berada dilereng Gunung Merapi disisi manapun juga, apakah kekuasaan Senapati Ing Ngalaga mempunyai wewenang untuk me"lakukan tindakan sesuatu atas mereka" Apa pula hubungannya de"ngan kekuasaan prajurit Pajang didaerah itu yang masih belum di"cabut wewenangnya?"
Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya perlahan-lahan tertunduk. Dengan nada yang datar ia bergumam, "Itulah yang masih kurang sekarang ini. Anugerah gelar dan jabatan atas Raden Sutawijaya yang tidak disertai kepastian tugas dan wewenang. Sedangkan yang disebut Mataram pun masih belum pasti. Yang dihadiahkan kepada Ki Gede Pemanahan adalah Alas Mantaok. Tetapi ternyata negeri yang menjadi ramai ini tidak hanya di"batasi oleh dinding hutan yang sekarang sudah hampir seluruhnya ditebang.
"Dengan demikian Ki Lurah," sahut Ki Waskita kemudian, "persoalan orang-orang yang berada dilereng Gunung Merapi itu pun masih harus dipertimbangkan masak-masak, sehingga satu sama lain tidak akan saling menyinggung."
Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya, "Ki Was"kita benar. Kita memang tidak dapat bertindak tergesa-gesa. Untara adalah seorang Panglima yang teguh pada sikap dan pendirian se"orang prajurit. Tetapi jika Untara mendesaknya dari Timur meskipun seandainya Kiai Kalasa Sawit berada dicelah-celah antara Gu"nung Merapi dan Merbabu, kemudian mereka terdorong ke Barat, maka atas persetujuan Untara, kami dapat bertindak atas mereka."
"Agaknya hal itu dapat dilakukan. Sementara Untara tidak mengetahui bahwa Kiai Kalasa Sawit membawa sebuah pusaka yang sangat berharga bagi Mataram."
"Kami akan mencoba menghubungi Untara. Mudah-mudahan Untara tidak salah paham."
"Dalam hal ini agaknya peran Kiai Gringsing akan dapat membantu," desis Ki Waskita.
"O, tentu. Kiai Gringsing masih mendapat kepercayaan dari semua pihak. Apalagi jika Untara mengenal tanda-tanda yang terpa"hat pada tubuh Kiai Gringsing, khususnya dipergelangan tangannya."
"Tetapi," berkata Ki Waskita kemudian, "saat ini Kiai Gringsing sedang disibukkan oleh rencana perkawinan muridnya. Swandaru. Agaknya kini ia menyisihkan waktunya untuk keperluan tersebut. Perkawinan itu hanya tinggal beberapa hari saja lagi. Tidak sampai sebulan."
"O," Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya meskipun agak ragu-ragu, "Kiai Gringsing akan dapat memilih kesempatan. Persoalan yang dihadapi Mataram tentu merupakan persoalan bagi suatu lingkungan dan anak keturunannya. Kelangsungan hidup dan harga diri. Sedang perkawinan adalah ma"salah pribadi semata-mata. Apalagi dalam keadaan suka."
Ki Waskita mengerutkah keningnya. Kemudian ia pun berkata, "Ki Lurah benar. Tetapi jika kita menghitung seluruh tahun pada umur-umur Kiai Gringsing, berapa lama dalam perbandingan keseluruhan Kiai Gringsing mementingkan kepentingan pribadinya terma"suk murid-muridnya?"
Ki Lurah Branjangan seolah-olah tersadar dari mimpinya. Dengan serta merta ia berkata, "Maaf aku keliru Ki Waskita. Jika Kiai Gringsing ada, aku wajib minta maaf kepadanya."
Ki Waskita tersenyum Katanya, "Ia tidak mendengar. Karena itu Ki Lurah tidak perlu minta maaf kepadanya."
Ki Lurah Branjangan tertawa. Namun nampak pada sorot ma"tanya bahwa ia benar-benar telah menyesal.
"Ki Lurah," berkata Ki Waskita kemudian, "hendaknya yang kami beritahukan tentang pusaka itu dapat dijadikan bahan yang barangkali akan membantu mengungkapkan usaha penemuan"nya. Selebihnya, kami masih belum dapat mengatakan apa-apa. Setelah perkawinan Angger Swandaru itu berlangsung, maka kami akan da"pat menilai, apakah yang sebaiknya kami lakukan."
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, "Aku mengucapkan terima kasih Ki Waskita. Dan aku pun benar-benar ingin minta maaf. Aku telah salah menilai bantuan dan jasa yang tidak ada taranya dari Ki Waskita, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Juga Ki Argapati di Menoreh. Terutama pada saat kita bersama-sama menghan"curkan Panembahan Agung dan Panembahan Alit."
"Kita saling membutuhkan bantuan," jawab Ki Waskita.
"Disaat-saat mendatang, kami tentu masih banyak memerlu"kan bantuan."
"Sudah tentu kami tidak akan berkeberatan Ki Lurah. Tetapi dalam batas kemampuan kami."
Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka saling berdiam. Seolah-olah mereka sedang me"nilai semua peristiwa yang pernah terjadi.
Namun dalam pada itu, sejenak kemudian Ki Waskita berkata, "Ki Lurah. Selain semua pesan yang sudah aku sampaikan ten"tang pusaka itu, aku masih membawa pesan yang lain dari Ki Demang di Sangkal Putung."
"O," Ki Lurah mengerutkan dahinya. "Apakah pesan itu juga menyinggung pusaka-pusaka yang hilang itu atau perkembangan Mataram selanjutnya?"
Ki Waskita menggelengkan kepalanya. Lalu katanya, "Sama sekali tidak ada hubungannya dengan pusaka-pusaka itu Ki Lurah. Tetapi justru mengenai perkawinan Angger Swandaru."
Ki Lurah memperhatikan kata-kata Ki Waskita dengan saksa"ma.
Ki Waskita pun kemudian menyampaikan pesan Ki Demang, untuk mohon bermalam barang satu malam, pada saat Swandaru bersama pengiringnya pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.
Ki Lurah yang mendengarkan pesan itu dengan tegang, akhir"nya tertawa. Katanya, "Aku sudah berdebar-debar. Tetapi pesan ini ternyata menggembirakan sekali. Tempat yang dipilih untuk sing"gah pengantin, apalagi untuk bermalam, tentu akan mendapatkan kurnia yang sepadan," ia berhenti sejenak, lalu, "tentu kami sama sekali tidak berkeberatan. Apa yang dapat kami sediakan akan kami siapkan disini."
"Ki Demang tentu akan sangat berterima kasih. Aku pun ber"terima kasih pula, bahwa tugas yang dipesankan kepadaku ternyata berbasil dengan baik."
"Bukankah Ki Waskita tidak pernah gagal menjalankan tusas apapun juga?"
Ki Waskita tertawa. Tetapi ia menyahut, "Khususnya mengurus hari-hari perkawinan."
Yang mendengarnya tertawa pula, sehingga pembicaraan itu pun kemudian dilanjutkan dengan gurau yang segar, meskipun ka"dang-kadang menyentuh juga tentang pusaka-pusaka yang hilang.
Rudita yang berada didalam biliknya mencoba untuk dapat benar-benar beristirahat. Dicobanya untuk memejamkan matanya. Na"mun ternyata bahwa ia masih saja selalu gelisah. Dan kegelisahan"nya itu adalah pertanda, bahwa belum ada kedamaian didalam hati"nya sendiri.
"Alangkah lemahnya hati manusia," desisnya.
Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Ketika terdengar suara tertawa dipendapa, Rudita mengerutkan keningnya. Diluar sa"darnya ia pun tersenyum. Agaknya orang-orang yang berada dipen"dapa itu tidak sedang dicengkam oleh ketegangan dalam pembicara"an mengenai pusaka-pusaka yang hilang itu.
"Sukurlah jika mereka tidak sedang membicarakan sikap kekerasan," katanya didalam hati.
Namun demikian, terasa sebuah desir yang tajam tergores dihatinya. Ia mulai merasa semakin terasing dari pergaulan sesamanya karena agaknya sikap dan pendiriannya masih belum dapat di"mengerti oleh orang lain. Bahkan ayahnya sendiri telah membiarkannya berbaring seorang diri didalam bilik itu, sementara dipen"dapa beberapa orang duduk dan saling mengutarakan pikiran dan pengalamannya yang agaknya langsung atau tidak langsung me"nyangkut pusaka-pusaka yang hilang itu, sebelum mereka menemukan suasana yang terang.
Tetapi Rudita tidak menyesali sikapnya. Yang disesali adalah kekebalan hati sesama yang tidak dapat mengerti sikap dan pendi"riannya.
Meskipun demikian Rudita berusaha untuk tetap mengerti bahwa,ia tidak akan dapat merombak wajah lingkungannya dengan cepat. Karena itu ia harus berbuat menurut keyakinannya tanpa me"ngenal lelah dan jemu. Meskipun akibatnya akan dapat menjadi se"makin parah. Mungkin ia akan terasing sama sekali. Namun pada suatu saat, manusia akan mengakui, bahwa kedamaian yang sejati, tidak terletak pada kekuatan yang berlimpah-limpah dan tidak ter"kalahkan. Tetapi kedamaian yang sejati terletak didalam hati. Si"kap, tingkah laku, kata-kata dan angan-angan yang memancarkan kedamaian dihati itu akan memberikan ketenteraman yang sejuk dan langgeng, karena dengan demikian tidak akan ada sikap, angan-angan dan kata-kata yang bersifat permusuhan, curiga dan memen"tingkan diri sendiri.
"Aku masih harus menunggu lama sekali," berkata Rudita di dalam hati, "bahkan mungkin sepanjang umurku, atau bah"kan sebaliknya, akan menjadi semakin jauh."
Tetapi Rudita dengan sadar akan tetap berjalan diatas jalan yang telah dirintisnya. Apapun akibatnya. Keterasingan dan barangkali ia justru akan kehilangan arti sama sekali.
Ternyata Rudita masih tetap belum tertidur ketika ayahnya memasuki bilik itu setelah menjadi lelah berbicara dan berkelakar dengan para pemimpin Mataram, justru yang paling penting. Namun agaknya ada beberapa hal yang dapat dianggap sebagai keterangan yang penting bagi Mataram, yang pantas dilaporkan kepada Raden Sutawijaya dengan segera.
"Agaknya Raden Sutawijaya telah terlibat dalam persoalan yang sama seperti yang pernah terjadi atas gadis Kalinyamat itu," bekata Ki Lurah Branjangan didalam hatinya.
Beberapa hari yang lewat seorang penghubung berhasil mene"mui Raden Sutawijaya di Pegunungan Sewu. Penghubung itulah yang menceriterakan, bahwa agaknya persoalan yang telah pernah terjadi itu, terjadi sekali lagi.
Tetapi Ki Lurah yans masih belum tahu dengan pasti, apakah cerita itu benar, masih belum berani mengatakannya kepada siapa"pun juga. Bahkan ia berpesan kepada penghubung itu, bahwa sebaik"nya ia tidak mengatakannya kepada orang lain.
"Jika benar hal itu terjadi, maka alangkah sedihnya Semangkin yang pernah dinamakan Rara Pamikatsih oleh Ki Gede Pema"nahan, karena gadis itu bersama adiknya Prihatin yang kemudian disebut Rara Pamilutsih berhasil menarik perhatian, dan bahkan meruntuhkan hati Sultan Pajang, sehingga dengan serta merta ia menyanggupkan diri untuk mengalahkan Jipang." Ki Lurah Branjangan selalu dikejar oleh angan-angannya tentang Raden Sutawijaya dan tingkah lakunya menghadapi gadis-gadis.
Dalam pada itu, ternyata bahwa Rudita dan ayahnya tidak lagi banyak beibicara. Agaknya Ki Waskita telah dengan sengaja mem"batasi setiap pembicaraan yang kadang-kadang dapat menumbuhkan persoalan dan justru salah paham.
Karena itulah, maka ia pun kemudian membaringkan diri dipembaringan sambil bergumam, "Aku lelah sekali Rudita. Aku akan mencoba tidur senyenyaknya. Apakah kau tidak mengantuk?"
"Aku pun ingin tidur nyenyak Ayah. Tetapi agaknya aku me"mang belum mengantuk. Tetapi jika Ayah ingin segera tidur, silahkanlah. Aku pun tentu akan tertidur pula nanti."
Ayahnya tidak menjawab. Dipejamkannya matanya sambil menyilangkan tangan didadanya. Sejenak kemudian maka nafasnyapun beredar dengan teratur.
Rudita memperhatikan tarikan nafas ayahnya sejenak. Tetapi ia tersenyum sendiri. Ia tahu bahwa ayahnya tidak tidur. Meskipun demikian ia sama sekali tidak mau mengusiknya lagi.
Namun lambat laun, keduanya yang saling berdiam diri dipembaringan itu pun akhirnya tertidur juga. Meskipun tidak terlalu lama, karena mereka segera terbangun ketika mereka mendengar ayam berkokok dini hari.
Seperti yang direncanakan, maka pada pagi itu juga, Ki Was"kita dan Rudita mohon diri untuk meneruskan perjalanan. Beberapa persoalan yang menyangkut pusaka-pusaka yang hilang itu masih disinggung sedikit oleh Ki Lurah. Namun kemudian mereka lebih banyak berbicara tentang rencana Ki Demang untuk singgah di Ma"taram pada saat mereka membawa Swandaru ke Tanah Perdikan Menoreh.
Dengan diantar oleh Ki Lurah Branjangan dan beberapa orane pemimpin Menoreh sampai ke regol, maka Ki Waskita dan Rudita meninggalkan rumah Raden Sutawijaya yang menjadi pusat peme-rintahan di Mataram itu.
Ketika matahari kemudian naik semakin tinggi, maka kuda Ki Waskita dan Rudita meninggalkan kota Mataram yang berkembang dengan pesat. Mereka menempuh bulak yang panjang dan subur. Bulak yang baru beberapa kali menghasilkan padi dan palawija, setelah hutan diatas tanah itu ditebang.
"Mataram akan menjadi sangat subur," berkata Ki Waskita seolah-olah kepada diri sendiri.
Rudita berpaling kepadanya. Kepalanya terangguk lemah. Katanya, "Ya. Mataram akan menjadi sangat subur."
Sambil menatap batang-batang padi yang hijau maka kuda mereka itu pun berlari terus. Tidak terlampau kencang, karena mereka rasa-rasanya memang sedang menikmati angin pagi diatas Tanah Mataram.
Namun demikian perjalanan mereka itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan Kali Praga. Kali yang cukup luas dengan airnya yang berwarna lumpur. Apalagi apabila hujan dilereng gunung menghanyutkan guguran tanah masuk kedalam arus air yang semakin deras.
Jalan yang menuju ke daerah penyeberangan di Kali Praga sudah menjadi semakin ramai. Jalan menuju ke Tanah Perdikan Menoreh, dan daerah yang lebih jauh lagi disebelah Barat, menjadi semakin ramai pula dilalui orang. Para pedagangpun hilir mudik dengan dagangan masing-masing. Barang-barang yang dapat ditukarkan dengan hasil bumi maupun alat-alat pertanian yang dibuat di daerah yang lain.
Ki Waskita dan Rudita berpacu terus. Rasa-rasanya sinar matahari menjadi semakin panas dan menggigit kulit seperti gigitan semut yang gatal.
Namun diperjalanan tidak banyak persoalan yang mereka temui. Bersama-sama dengan beberapa orang lain yang lewat mereka menyeberang Kali Praga dengan perahu. Agaknya para tukang satang telah berani turun ke sungai, setelah beberapa lama tidak terjadi lagi bencana yang menimpa mereka dan kawan-kawan mereka disepanjang daerah penyeberangan itu.
Demikianlah, maka setelah beberapa kali beristirahat untuk memberi minum dan makan bagi kuda-kudanya, keduanyapun menjadi semakin dekat dengan padukuhan induk.
Ketika dua orang pengawal yang sedang nganglang mengawasi keamanan daerah Tanah Perdikan Menoreh melihatnya, dan yang kebetulan sudah mengenal Ki Waskita, maka mereka berduapun segera membawanya langsung menuju ke rumah Ki Argapati. Bahkan salah seorang dari keduanyapun mendahului untuk memberitahukan kehadiran Ki Waskita.
Ki Argapati menjadi berdebar-debar. Ki Waskita, menurut pengertiannya, telah pergi ke Sangkal Putung bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar untuk mencari anaknya yang pergi dari rumahnya, sekaligus membawa pesan-pesannya mengenai persoalan hari-kari perkawinan Pandan Wangi.
"Ia hanya berdua dengan puteranya yang manja itu," desis pengawal itu.
Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Jadi anak itu sudah dapat diketemukannya."
Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Waskita dan Rudita pun memasuki halaman rumah kepala Tanah Perdikan Menoreh. Ki Argapati yang telah diberitahu akan kedatangannya telah siap menyambutnya dipendapa.
Dengan wajah yang terang Ki Argapati menyongsong tamunya. Ketika nampak olehnya Rudita bersama ayahnya, maka ia pun segera mendekatinya sambil memberikan salam.
"Akhirnya ayahmu berhasil menemukan kau Rudita," berkata Ki Argapati.
Rudita menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, "Sebenarnya aku tidak sengaja membuat Ayah menjadi sibuk dan terpaksa menyusuri lereng-lereng Gunung Merapi mencari aku."
Ki Argapati tertawa. Katanya, "Itulah yang terbersit dihati anak-anak muda. Tetapi orang tua kadang-kadang menjadi cemas dan tidak dapat berdiam diri. Apalagi seorang ibu."
Rudita tidak menjawab. "Marilah," Ki Argapati pun kemudian mempersilahkan Ki Waskita, "aku ikut bergembira, bahwa Rudita telah diketemukan.
Ki Waskita tertawa. Katanya, "Setelah aku membuat orang-orang Sangkal Putung dan terutama prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom menjadi sibuk."
Ki Argapati mengerutkan keningnya. Dan Ki Waskita pun berkata selanjutnya, "Nanti aku ceriterakan, bagaimana lereng Merapi itu terguncang."
"Gempa Paman," tiba-tiba saja Rudita memotong, "mungkin terasa juga di Tanah Perdikan Menoreh. Bukan saja lereng Merapi yang terguncang."
Ki Argapati termenung sejenak. Namun ia pun kemudian tertawa, "Ya. Memang pernah terjadi gempa. Meskipun tidak begitu kuat disini."
"Tetapi karena sumber gempa itu adalah Gunung Merapi, maka yang paling terguncang adalah lereng Gunung Merapi."
Ki Argapati tertawa. Katanya, "Ya. Kau benar Rudita. Tetapi, marilah. Silahkan naik ke pendapa."
Setelah mengikat kudanya pada batang perdu dihalaman, serta mencuci kaki dijambangan dibawah pohon soka, maka mereka pun segera naik ke pendapa.
Mula-mula, seperti kebiasaan yang lazim, maka mereka pun saling bertanya tentang keselamatan masing-masing. Juga keselamatan orang-orang yang ditinggalkannya di Sangkal Putung dan bahkan Jati Anom.
Ketika minuman dan makanain telah dihidangkan, maka mulailah Ki Waskita berceritera tentang Rudita. Meskipun ia harus berhati-hati dan menghindari persoalan-persoalan yang agaknya akan dapat menumbuhkan persoalan pada anaknya itu.
Pembicaraan yang menjadi ramai ketika Pandan Wangi ikut menemuinya pula. Bahkan kadang-kadang ia masih dapat mengganggu Rudita yang beberapa saat yang lalu adalah seorang anak yang aneh. Seorang anak muda yang sama sekali tidak memdiki sifat-sifat seorang anak muda sewajarnya. Karena itulah maka ia tidak lebih dari seorang anak muda yang penakut, bahkan pengecut dan agak licik.
Tetapi sifat-sifat itu sama sekali telah berubah. Meskipun peru-bahan yang terjadipun membuat Rudita tetap seorang anak muda yang aneh dalam bentuknya yang lain.
Namun, seperti yang diduga oleh Rudita, bahwa ia harus di asingkan dari pembicaraan yang lebih bersungguh-sungguh, ternyata pula dimalam harinya. Ketika dipendapa sudah diterangi oleh lampu minyak, dan setelah Rudita dan ayahnya mandi serta membenahi pakaiannya, datanglah saatnya mereka dijamu makan malam. Namun setelah itu, maka Ki Waskita berkata kepada anaknya, "Rudita, jika kau lelah, beristirahatlah. Aku masih akan menyampaikan pesan-pesan Ki Demang Sangkal Putung tentang hari-hari perkawinan Angger Swandaru dan Angger Pandan Wangi."
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Namun ia memang merasa lebih baik tidak ikut dalam pembicaraan yang tidak dapat diikutinya dengan perasaannya.
Setelah minta diri untuk beristirahat kepada Ki Argapati dan bebabu Tanah Perdikan yang hadir menyambut kedatangannya maka Rudita pun kemudian pergi ke gandok yang disediakan baginya dan ayahnya.
Tetapi seperti di Mataram, ia pun tidak segera dapat tidur. Meskipun kemudian ia berbaring juga dipembaringan, namun rasa-rasanya ia masih mendengar pembicaraan yang riuh dipendapa. Sekali-sekali ia mendengar suara tertawa yang meledak. Agak berbeda dengan saat pembicaraan di Mataram yang agak tegang meskipun kadang-kadang juga terdengar suara tertawa.
"Pembicaraan kali ini lebih banyak berkisar pada hari-hari perkawinan itu," desis Rudita didalam hatinya, "tetapi aku tetap tidak diperkenankan ikut serta."
Sebenarnya yang sedang dibicarakan dipendapa adalah hari-hari yang sedang ditunggu-tunggu oleh segenap penghuni Tanah Perdikan Menoreh. Seakan-akan mereka tidak sabar lagi, bahkan rasa-rasanya hari tidak berjalan seperti biasanya.
Dalam pembicaraan itu, maka semua pesan Ki Demang Sangkal Putung telah disampaikannya pula. Persoalan-persoalan yang langsung dan tidak langsung menyangkut kedatangan Swandaru pun telah dibicarakannya. Tempat penginapan dan segala keperluannya. Kemudian menjelang sepasar dan akhirnya hari-hari keberangkatan kedua pengantin ke Sangkal Putung.
Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Meskipun belum terjadi, tetapi rasa-rasanya Tanah Perdikan Menoreh telah menjadi sangat sepi. Rasa-rasanya Ki Argapati harus hidup sendiri dirumahnya yang besar itu.
Sudah agak lama Ki Argapati ditinggal oleh isterinya yang telah mendahului menghadap Tuhannya kembali. Kesepian yang mula-mula mencengkam, terasa mulai terisi sejak Pandan Wangi meningkat dewasa. Rasa-rasanya Pandan Wangi dapat membuat rumahnya seakan-akan terbangun setelah tidur untuk waktu yang lama.
Tetapi pada suatu saat, Pandan Wangi itu harus meninggalkan"nya pergi bersama suaminya.
"Namun hai itu harus terjadi," berkata Ki Argapati didalam hatinya, "setiap gadis akan meninggalkan orang tuanya dan ikut bersama suaminya. Demikian juga harus terjadi pada Pandan Wangi. Aku tidak boleh mementingkan diriku sendiri dan membiarkan Pandan Wangi tetap tinggal dirumah ini sampai hari matiku."
Tetapi bagaimanapun juga, Ki Argapati berusaha untuk meng-hilangkan kesan itu dari wajahnya. Ia masih tetap tersenyum, terta"wa dan bergurau dengan cerah betapapun kesepian yang akan da"tang itu rasa-rasanya telah mulai membelit hatinya.
Dalam pada itu, Rudita masih saja berada didalam biliknya. Karena ia tidak dapat segera tertidur, maka ia pun kemudian bangkit dan duduk dibibir pembaringan. Namun kemudian ia keluar dari bilik tidurnya dan duduk diserambi depan.
Angin yang silir terasa mengusap tubuhnya. Ia melihat bebe"rapa orang yang duduk digandok sambil berbicara dengan riuhnya. Namun seperti kehendak ayahnya, ia tidak sebaiknya ikut serta dalam pembicaraan itu.
Diserambi, Rudita memandang kegelapan yang rasa-rasanya menyelubungi seluruh permukaan bumi. Seperti gelapnya hati manusia yang semakin lama menjadi semakin pekat.
"Pada suatu saat mereka akan kehilangan kesadaran diri dan segenap kepribadiannya jika tidak ada perubahan arah dari perkem-bangan budi manusia," desis Rudita dengan cemasnya.
Rudita bergeser ketika terasa seekor nyamuk menggigit tangan"nya yang menjadi gatal.
Dalam keadaan yang demikian Rudita masih juga sempat me"rasa betapa perasaan yang lain masih sempat menyentuh dirinya. Dalam keadaan tertentu ia mampu melepaskan diri dari perasaan sakit, pedih, lelah dan semacamnya. Namun pada keadaan yang wajar itu, perasaan gatal masih terasa olehnya.
Ketika nyamuk itu hinggap lagi disela-sela jari tangannya, ma"ka perlahan-lahan ia mengangkat tangannya yang lain. Didalam cahahaya obor yang kemerah-merahan ia memandang nyamuk itu de"ngan tatapan mata kejengkelan yang mendorongnya siap untuk melakukan pembunuhan.
Tetapi tiba-tiba saja ia menarik nafas. Ia tidak berusaha untuk menepuk nyamuk itu. Namun dengan jari-jarinya, dikejutkannya nyamuk itu dan dibiarkannya terbang.
Rudita mengerutkan keningnya, ketika kemudian didengarnya desir langkah halus mendekatinya. Hatinya menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya ia dapat mengenal langkah yang mendekatinya itu, meskipun ia belum melihat orangnya.
Rudita bangkit ketika seseorang muncul diserambi itu. Seperti yang diduganya, orang itu adalah Pandan Wangi.
"O," suaranya agak gemetar. Tetapi beberapa saat kemudian, ia sudah dapat menguasai dirinya. Ia bukan lagi Rudita yang dahulu.
"Kau tidak tidur?" bertanya Pandan Wangi.
"Udara terlalu panas," jawab Rudita."Disini aku mera"sa agak sejuk."
"Kau tidak naik ke pendapa" Mereka berbicara panjang lebar."
"Mereka berbicara tentang kau," sahut Rudita.
Wajah Pandan Wangi menjadi merah. Tetapi Rudita tidak memperhatikannya.
"Duduklah," Pandan Wangi mempersilahkan.
Tetapi Rudita menjadi bingung. Dimana ia akan duduk dan dimana Pandan Wangi akan duduk, karena diserambi itu hanya ada sebuah lincak meskipun agak panjang.
Tetapi ternyata Pandan Wangi tidak ragu-ragu. Ia pun kemu"dian duduk dilincak itu dan menarik tangan Rudita untuk duduk pula.
Rudita pun kemudian duduk pula, meskipun rasa-rasanya hatinya menjadi berdebar-debar lagi.
Tetapi kemudian ia menyadari, bahwa sikap Pandan Wangi tentu masih belum berubah. Gadis itu masih menganggapnya sebagai kanak-kanak yang manja dan perlu dikasihani, seperti saat-saat ia ketakutan dihutan-hutan perburuan.
"Kenapa kau tidak ikut berbicara dipendapa?" bertanya Pandan Wangi sekali lagi, "meskipun mereka berbicara tentang aku, apa salahnya kau ikut mendengarkannya?"
"Agaknya aku masih belum diperlukan untuk ikut dalam pembicaraan yang penting itu," jawab Rudita.
Pandan Wangi menarik nafas. Sejenak ia merenungi malam yang menjadi semakin gelap.
Namun tiba-tiba saja ia bertanya, "Kau baru datang dari Sangkal Putung?"
"Ya." jawab Rudita.
Pandan Wangi memandang Rudita sejenak. Tetapi wajahnya pun kemudian tertunduk. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, te"tapi tertahan dikerongkongannya.
Rasa rasanya Rudita dapat mengetahui isi hati Pandan Wangi. Gadis itu ingin bertanya sesuatu tentang Swandaru, bakal suaminya. Tetapi agaknya perasaannya telah menahannya. Sebagai seorang ga"dis ia tidak dapat langsung bertanya tentang seorang anak muda yang mempunyai ikatan yang khusus dengan dirinya.
Karena itu, maka Ruditalah yang berkata, "Di Sangkal Putung aku sempat bertemu dengan Swandaru dan Agung Sedayu."
Wajah Pandan Wangi menjadi kemerah-merahan. Tetapi ia sa"ma sekali tidak menyahut.
Dan agaknya Rudita memang bukan Rudita yang dahulu. Ia berkata seterusnya, "Mereka dalam keadaan selamat dan berpengharapan. Terutama Swandaru. Tetapi atas nasehat orang-orang tua di Sangkal Puting, ia harus berusaha untuk mengurangi bobot ba"dannya menjelang hari perkawinannya."
"Ah," desis Pandan Wangi.
Rudita tertawa. Katanya lebih lanjut, "Tetapi pada dasarnya, mereka merasa berbahagia dengan harapan didalam hati mereka. Setelah Swandaru, tentu akan datang saatnya, Agung Sedayu. Agaknya adik Swandaru yang bernama Sekar Mirah itu pun sudah cukup masak untuk mulai dengan taraf kehidupan baru."
Terasa sesuatu berdesir dihati Pandan Wangi. Namun kemudi"an, semuanya telah ditekannya dalam-dalam didasar lubuk hati. Bahkan ia pun kemudian berkata kepada dirinya sendiri didalam ha-tinya, "Bukankah sudah seharusnya Agung Sedayu segera kawin dengan gadis pilihannya" Seperti aku juga kawin dengan anak muda pilihanku dan yang telah direstui oleh Ayah?"
Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sepintas seakan-akan kedua anak muda dari Sangkal Putung itu lewat didepannya. Namun kemudian hilang didalam kegelapan.
Karena Pandan Wangi tidak menjawab, maka Rudita pun berbicara lagi, "Bukankah kau sudah berkemas memasuki langkah baru dalam tata kehidupanmu?"
Pandan Wangi mengangguk. "Tentu sudah. Dan sebentar lagi, semua yang kau nantikan itu akan terjadi. Tanah Perdikan Menoreh akan bergembira karenanya, seperti juga Sangkal Putung. Ikatan kekeluargaan ini benar sangat menarik. Karena kedua daerah yang akan terikat menjadi satu ikatan itu terletak disebelah Timur dan disebelah Barat Ma"taram."
Pandan Wangi berpaling. Dicobanya untuk memandang wajah Rudita dalam cahaya obor. Nampaknya Rudita mengatakannya tanpa maksud sesuatu, sehingga Pandan Wangi pun hanya menarik na"fas tanpa memberikan jawaban.
Karena Rudita melanjutkannya, "Tetapi lebih dari itu. perkawinan ini akan dapat mengikat dua daerah yang luas dan subur."
"Ya," desis Pandan Wangi kemudian, "mudah-mudahan dapat memberikan kebahagiaan, bukan saja bagiku, tetapi juga bagi Tanah Perdikan Menoreh dan Sangkal Putung."
"Kau dan Swandaru adalah orang-orang yang memiliki pengaruh atas kedua daerah itu. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan daerah itu. Mudah-mudahan kemudian kau berdua dapat memerin"tah kedua daerah itu dengan hati yang damai dan menumbuhkan kedamaian dan ketenteraman pula dihati rakyat kalian."
Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Tetapi kepalanyapun terangguk-angguk. Bahkan ia mulai menyadari bahwa Rudita yang sekarang ini sudah jauh berbeda dengan Rudita yang dahulu. Rudita yang manja dan penakut. Rudita yang dahulu tidak akan dapat me"ngatakan perasaannya dengan cara itu. Bahkan ketika tiba-tiba ia mengenang sikap dan tanggapan Rudita atas dirinya, ia menjadi segan untuk melanjutkan angan-angannya.
"Sudahlah," berkata Pandan Wangi kemudian, "sudah malam. Aku akan tidur."
"Mudah-mudahan kau dapat tidur nyenyak dan mimpi yang indah. Aku berdoa, agai kelak kalian dapat menciptakan kedamaian yang sejati. Meskipun kau dan Swandaru memiliki kemampuan untuk bermain dengan pedang, tetapi aku berharap bahwa hulu pe"dang itu tidak akan kalian sentuh lagi dengan maksud apapun juga kelak."
Padan Wangi tidak begitu mengerti maksud Rudita. Tetapi ia mengangguk saja sambil menjawab, "Baiklah Rudita. Aku akan mengingatnya."
Dengan tergesa-gesa, Pandan Wangi pun meninggalkan anak mu"da yang ternyata sudah berubah itu. Bahkan Pandan Wangi menjadi agak menyesal, bahwa ia sudah menjumpainya. Tetapi ia tidak dapat menahan sifat ingin tahunya tentang Sangkal Putung agak lebih ba"nyak, sehingga sudah mendorongnya unluk menjumpai Ruaita yang diketahuinya baru datang dari Sangkal Putung.
Namun yang kemudian terjadi adalah diluar kehendak Pandan Wangi sendiri. Bayangan tentang kedua anak muda. murid orang bercambuk itu selalu membayang diwajahnya. Keduanya. Bukan hanya salah seorang saja diantara mereka.
Sekali-kali Pandan Wangi memejamkan matanya. Tetapi bayangan itu tidak juga beranjak daripadanya.
"Apakah artinya ini?" desisnya sambil menelungkupkan badannya dipembaringannya.
Namun demikian Pandan Wangi tidak dapat memadamkan angan-angan dihatinya itu. Angan-angan tentang dua orang anak muda yang pernah berada di Tanah Perdikan Menoreh bersama gurunya.
Sekali nampak bayangan Swandaru dalam pakaian pengantin. Meskipun ia masih juga gemuk, namun wajahnya yang cerah, serta sifat-sifatnya yang terbuka, membuat anak muda itu mempunyai ujudnya tersendiri. Kepribadiannya nampak bagaikan pintu yang terbuka lebar, sehingga Pandan Wangi seolah-olah dapat menjengukkan kepalanya kedalamnya dan melihat seluruh isinya. Baik atau buruk.
Dan itulah yang telah menarik perhatiannya, selain sikapnya yang ramah, serta tertawanya yang lepas tidak tertahan-tahan, dan guraunya yang jenaka.
Tetapi disamping Swandaru, kadang-kadang muncul juga ba"yangan seorang anak muda yang meskipun tidak termasuk pendiam, tetapi hatinya agak tertutup. Ragu-ragu dan kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dalam-waktu yang dekat.
Tiba-tiba saja, diluar kehendaknya sendiri, terbayang pula ibunya yang sudah tidak ada lagi. Diikuti oleh wajah-wajah yang membuatnya meremang. Wajan dua orang laki-laki yang saling memancarkan dendam dari dasar hati.
"O," Pandan Wangi mengeluh.
"Tidak, tidak," Pandan Wangi menggeram. Tetapi rasa-rasanya kesalahan yang pernah terjadi pada ibunya itu, kini membayanginya pula. Dua orang laki-laki yang kemudian melahirkan Sidanti dan dirinya dari ibu yang sama.
Pandan Wangi menggeliat. Bahkan ia pun kemudian bangkit sambil menghentakkan kakinya.
"Kesalahan itu tidak boleh terulang lagi dalam bentuk yang manapun juga. Aku bukan Ibu. Dan Ibu tidak dapat melimpahkan dosa-dosanya kepadaku," desisnya.
Namun yang terbayang kemudian adalah peran tandingg antara dua orang anak muda yang kemudian bernada Ki Tambak Wedi dan Ki Gede Menoreh dibawah sepasang pohon pucang.
"Gila, gila," Pandan Wangi menggeram. "Aku tidak bo"leh gila pula seperti itu, sehingga aku menyeret orang-orang lain menjadi gila pula."
Pandan Wangi tiba-tiba saja terkejut ketika ia mendengar pintu biliknya diketuk orang. Sejenak kemudian terdengar suara seorang perempuan memanggilnya, "Pandan Wangi, Wangi."
Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dibenahinya pakaianya dan diusapnya wajahnya yang menjadi basah. Selangkah demi selangkah ia mendekati pintu biliknya dengan ragu-ragu.
"Wangi." Perlahan -lahan Pandan Wangi membuka pintu biliknya. Dilihat"nya dua orang pcmbantunya berdiri termangu-mangu.
"Apakah kau bermimpi buruk?" bertanya salah seorang dari kedua pembantunya itu.
Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ja-wabnya, "Yu, aku memang bermimpi buruk. Apakah kau mendengar sesuatu dari dalam bilik ini?"
"Aku mendengar kau mengeluh. Bahkan seperti seorang yang sedang bertengkar."
Pandan Wangi memaksa bibirnya untuk tersenyum. Katanya, "Terima kasih. Kau sudah membangunkan aku dari mimpi yang buruk. Untunglah Ayah tidak mendengarnya."
"Ki Gede masih berada dipendapa bersama tamunya," jawab salah seorang dari keduanya.
"Terima kasih. Baiklah aku akan tidur lagi."
"Tetapi agaknya memang demikian. Seseorang yang mendekati hari-hari perkawinannya, kadang-kadang justru diganggu oleh mimpi buruk, itu pertanda bahwa kau sudah tidak sabar lagi menunggu hari-hari yang menjadi semakin pendek. Kurang dari sebulan."
"Ah," desis Pandan Wangi, "selamat malam."
Pandan Wangi pun menutup pintunya kembali. Sementara dua orang itu masih termangu-manguvsejenak dimuka pintu bilik yang sudah tertutup itu. Namun sejenak kemudian merekapun segera meninggalkan tempat itu.
Didalam biliknya, Pandan Wangi menjadi semakin gelisah. Bu"kan karena kedua pembantunya yang seolah-olah melihat mendung dalam hatinya. Tetapi kegelisahannya justru karena kesadarannya tentang dirinya dan perasaannya.
Dan dengan segenap kemampuan yang ada pada dirinya. Dilandasi oleh pertimbangan nalar yang seimbang, maka akhirnya ia da"pat menguasai dirinya. Pengalaman yang pernah terjadi atas ibunya merupakan guru yang sangat berharga baginya dalam menghadapi gejolak perasaannya.
Pandan Wangi tidak dapat ingkar, bahwa yang pertama-tama menarik perhatiannya pada saat-saat ia bertemu dengan kedua anak muda itu adalah Agung Sedayu. Namun kemudian ia mengetahui, bahwa Agung Sedayu telah mempunyai pilihannya, justru adalah adik Swandaru.
Meskipun perlahan-lahan, namun kemudian Pandan Wangi melihat sesuatu yang menarik pada anak muda yang gemuk itu. Se"suatu yang tidak dimiliki oleh anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh. Bukan saja kecakapannya bermain pedang dan cambuk. Tetapi juga kelebihan-kelebihan yang lain.
"Apakah karena itu aku telah tertarik kepadanya?" pertanyaan itu melonjak didalam hatinya. Namun yang kemudian di"jawabnya sendiri, "Bukan waktunya lagi untuk bertanya. Kurang dari sebulan hari perkawinan itu sudah tiba. Yang harus aku laku"kan adalah memupuk cinta yang ada didalam hati ini, agar dapat mekar dan bekembang. Aku harus menjadi seorang yang lebih baik dari ibuku menghadapi perasaan yang menyangkut tentang cinta dan mungkin nafsu tanpa meninggalkan pertimbangan nalar."
Pandan Wangi kemudian berusaha untuk tidak memikirkannya lagi. Ia mencoba lari dari perasaan yang serasa selalu mengganggu hati.
Tetapi Pandan Wangi mempunyai pengalaman yang lain dari kebanyakan gadis-gadis. Ia sudah terlatih untuk mempergunakan pertimbangan nalarnya. Meskipun mula-mula didalam keadaan yang gawat menurut ujud benturan jasmaniah, namun didalam benturan perasaan, ia mampu pula mempergunakan keseimbangan nalarnya.
Pandan Wangi mencoba melupakan persoalannya dengan memikirkan masalah-masalah yang lain yang menyangkut Tanah Perdikan Menoreh. Hari depannya dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi diatas Tanah ini.
Dipendapa, ayahnya masih saja bercakap-cakap dengan Ki Waskita meskipun malam menjadi semakin larut. Bahkan kemudian dikejauhan terdengar suara kentongan dalam nada dara muluk.
"Sudah tengah malam," desisnya. Tetapi Pandan Wangi masih belum dapat tidur.
Dipendapa beberapa orang bebahu dan orang-orang tua tetangga-tetangga Ki Gede Menoreh pun kemudian minta diri. Mereka su"dah cukup lama duduk menanggapi segala macam pesan Ki Demang Sangkal Putung mengenai hari-hari perkawinan Swandaru dengan segala macam persoalannya. Bahkan rumah yang akan dipergunakan untuk menginap para pengiring dari Sangkal Putung telah ditentu"kan pula.
Namun demikian, sepeninggal para tetangga dan bebahu Tanah Perdikan, Ki Waskita masih tetap duduk dipendapa dengan Ki Gede Menoreh sendiri.
"Masih ada yang akan aku katakan Ki Gede," berkata Ki Waskita.
Ki Gede mengerutkan keningnya, lalu ia pun bertanya, "Apakah ada sesuatu yang agak menghambat kelancaran upacara per"kawinan itu?"
"Bukan. Bukan masalah itu," sahut Ki Waskita untuk menenteramkan hati Ki Argapati, "soalnya lain sekali. Hampir tidak ada hubungannya."
Ki Argapati termangu-mangu.
"Ki Argapati," berkata Ki Waskita, "mungkin ada baiknya Ki Argapati mengetahui serba sediikit tentang pusaka-pusaka yang hilang dari Mataram."
"O." "Yang sebuah sudah pernah kita ceritakan disini, bahwa Songsong itu telah menyeberangi Kali Praga. Dan justru melintasi Tanah Perdikan ini meskipun arahnya belum dapat kita ketahui dengan pasti."
Neraka Hitam 5 Dewi Maut Karya Kho Ping Hoo Pendekar Guntur 4
^