Pencarian

Sayap Sayap Terkembang 22

02 Sayap Sayap Yang Terkembang Karya Sh Mintardja Bagian 22


Risang mengerutkan keningnya. Hampir di luar sadarnya Risang bertanya, "Apakah kau sedang memikirkan sesuatu yang membuatmu gelisah?"
Dada Jangkung menjadi berdebar-debar. Tetapi ia kemudian menggeleng. "Tidak. Aku tidak digelisahkan oleh perasaan apapun. Juga bukan karena ada beban perasaan yang tidak dapat aku atasi sendiri. Memang tidak ada apa-apa."
Sambi Wulung dan Jati Wulung yang telah mengenyam pahit manisnya kehidupan, memang merasakan bahwa tentu ada gejolak perasaan Jangkung sehingga ia seakan-akan begitu saja terlempar ke Tanah Perdikan Sembojan. Namun yang dengan tiba-tiba pula menyadarinya sehingga ia merasa perlu untuk segera pulang kembali menemui keluarganya.
Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat menanyakannya kepada Jangkung.
Namun Risanglah yang kemudian berkata, "Tetapi jangan hari ini. Secepat-cepatnya besok pagi-pagi kau. akan meninggalkan tanah Perdikan ini."
"Aku tidak membawa ganti pakaian sama sekali," jawab Jangkung terbata-bata.
"Kau dapat memakai pakaianku," berkata Risang.
Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Baru disadarinya, bahwa kepergiannya ke Tanah Perdikan itu tentu akan menimbulkan masalah. Ibunya tentu akan menjadi sangat gelisah. Tetapi keluarga di Tanah Perdikan itupun akan bertanya-tanya, untuk apa ia datang dari jarak yang cukup jauh.
Tetapi Jangkung sudah berada di Tanah Perdikan. Apapun akibatnya, ia sudah terlanjur melakukannya.
Adalah di luar dugaannya ketika Risang kemudian berkata, "Jangkung. Agaknya kau datang di luar sadarmu. Namun kau telah membawa pesan yang sangat berharga. Kau telah menjumpai empat orang yang tentu akan sangat berbahaya bagi Tanah Perdikan ini. Sehingga seakan-akan kau datang sebagai seorang utusan untuk memberikan peringatan kepada kami disini."
Jangkung termangu-mangu sejenak. Namun dahinyapun berkerut mendengar kata-kata Risang itu. Bahkan sebuah pertanyaan telah timbul di hatinya, "Apa benar aku telah digerakkan oleh sesuatu yang tidak aku mengerti untuk menyampaikan pesan dan peringatan ini kepada Risang?"
Tetapi pertanyaan itu dijawabnya sendiri, "Satu kebetulan saja. Mudah-mudahan akan berarti bagi Risang dan Tanah Perdikan ini. Apalagi jika benar itu adalah orang yang pernah ditemui paman Sambi Wulung dan Jati Wulung."
Tetapi Jangkung tidak mengucapkannya. Bahkan ia justru merenunginya sendiri.
Karena Jangkung tidak menjawab, maka Risangpun berkata, "Tetapi sudahlah. Kita tidak akan memikirkan hal itu berkepanjangan. Tetapi aku minta kau tidak tergesa-gesa pulang."
"Tetapi ibu tentu menjadi gelisah," jawab Jangkung kemudian.
"Tetapi setelah kau pada saatnya pulang, maka kegelisahan itupun akan segera lenyap pula," jawab Risang.
Jangkung mengangguk-angguk. Tetapi bagaimana pun juga ia menjadi gelisah memikirkan kegelisahan ibu dan adiknya.
Meskipun demikian Jangkung tidak dapat memaksa untuk meninggalkan Tanah Perdikan itu. Ia setidak-tidaknya harus bermalam semalam lagi. Baru esok pagi-pagi benar ia kembali pulang.
Karena itu, maka katanya, "Baiklah. Malam ini aki bermalam disini daripada harus bermalam di perjalanan Tetapi besok di dini hari, aku harus berangkat."
"Beberapa orang akan mengawanimu sampai ke perbatasan," berkata Risang.
"Kenapa" Ketika aku datang, aku sendiri saja," bertanya Jangkung.
"Jika ketiga orang itu melihat kau keluar dari padukuhan induk ini, mungkin kau akan menarik perhatian mereka."
Tetapi Jangkung tersenyum sambil menjawab, "Aku tidak berarti apa-apa bagi mereka. Mereka tentu tahu, karena mereka tentu mempelajari sasaran yang akan mereka pilih."
"Setidak-tidaknya akan menjadi kawan berbincang sebelum fajar. Jika hari menjadi terang, maka baru akan banyak orang lewat di sepanjang jalan yang menjadi semakin ramai, meskipun ada juga bulak-bulak panjang yang masih lengang."
"Terima kasih. Tetapi apakah itu perlu?" bertanya Jangkung meskipun agak ragu.
Risang tertawa. Katanya, "Perlu atau tidak perlu, mereka akan menjadi kawan di perjalanan selama hari masih gelap."
Jangkung memang tidak menolak. Ada juga baiknya berkuda bersama beberapa orang kawan di gelapnya dini hari. Tentu akan dapat mengurangi dinginnya embun yang masih mengambang menjelang fajar.
Namun sore itu, Jangkung masih berada di tanah Perdikan. Bersama Risang, Jangkung melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan menjelang senja. Bersama mereka ikut pula Gandar dan beberapa orang pengawal.
Sambi Wulung dan Jati Wulung sengaja tidak ikut bersama mereka. Keduanya berusaha untuk tidak dengan mudah dikenali oleh tiga orang yang diduga berada di tanah Perdikan Sembojan. Mereka telah mengenakan pakaian yang lain dari pakaian yang mereka kenakan ketika mereka pulang dari Pajang. Mereka dalam perjalanan pulang dari Pajang itu telah mengenakan pakaian yang pantas dan mapan. Namun di Tanah Perdikan itu, keduanya sengaja mengenakan pakaian petani kebanyakan. Pakaian yang berwarna gelap, agak kotor dan sekenanya. Di atas kepalanya dikenakannya caping bambu sebagaimana banyak dipakai oleh para petani yang bekerja di sawah, karena caping bambu akan dapat melindungi para petani itu dari teriknya matahari dan hujan jika tidak terlalu deras.
Dengan pakaian itu, serta parang di pinggang yang ujudnya tidak lebih baik dari parang pembelah kayu, serta cangkul di pundak mereka, berada di sawah. Tetapi yang penting bagi mereka bukan kerja mereka di sawah itu, tetapi mengawasi jalan seandainya ada beberapa orang berkuda yang lewat.
Beberapa orang petani yang bekerja di sawah Risang telah mengerti, bahwa jika Sambi Wulung dan Jati Wulung turun ke sawah dan mengenakan pakaian sebagaimana kebanyakan petani, justru mereka sedang melakukan tugas yang penting bagi Tanah Perdikan Sembojan.
Ketika senja turun ternyata orang yang mereka tunggu masih juga belum lewat. Memang mungkin orang-orang itu menyusuri jalan lain. Tetapi jalan di sebelah sawah Risang itu adalah jalan yang langsung menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan.
Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menghentikan usahanya. Meskipun kemudian malam turun, namun Sambi Wulung dan Jati Wulung masih saja berada di sawah. Mereka telah membuka pematang dan mengalirkan air ke kotak-kotak sawah. Tetapi air yang disalurkannya tidak terlalu deras, sehingga kotak-kotak sawah itu tidak segera penuh digenangi air. Bahkan pematang di kotak yang agak jauh dari jalan telah dibuka untuk melepaskan air ke kotak sawah yang lebih rendah.
Ternyata usaha Sambi Wulung dan Jati Wulung itu ada juga hasilnya. Ketika keduanya masih duduk di pematang sambil menunggui air yang mengalir dari parit ke kotak sawah, mereka melihat tiga orang berkuda melintas. Ketiga orang itu memang tidak berhenti. Bahkan mereka sama sekali tidak memperhatikan dua orang petani yang duduk di tanggul parit menunggui air. Namun bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka penglihatan sekilas itu sudah cukup untuk mengenali ketiga orang itu. Ketiga orang itu memang ketiga orang yang telah berkelahi dengan empat orang anak muda sebagaimana pernah dilihatnya di kedai itu.
Demikian ketiga orang berkuda itu lewat dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi, maka Sambi Wulungpun bangkit berdiri sambil berkata, "Kita sudah yakin sekarang, bahwa mereka memang berada di Tanah Perdikan ini."
Jati Wulungpun segera bangkit pula. Sambil mengangguk ia berkata, "Agaknya mereka justru baru saja lewat padukuhan induk."
"Ya," Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, "Mereka termasuk orang yang berani."
Dengan demikian maka Jati Wulung dan Sambi Wulung itupun meninggalkan bulak itu untuk kembali ke rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk memberikan laporannya. Tetapi karena agaknya Risang sudah tidur, maka keduanya berniat untuk memberikan laporan di keesokan harinya.
Pagi-pagi benar, maka Risangpun sudah bangun. Sementara itu Jangkungpun telah bersiap-siap pula untuk menempuh perjalanan kembali. Empat orang pengawal bersama Gandar telah siap untuk pergi mengantar Jangkung sampai ke perbatasan. Mereka memperhitungkan bahwa sampai di perbatasan matahari sudah mulai terbit.
Sebelum Jangkung meninggalkan Tanah Perdikan itulah, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memberitahukan bahwa tiga orang berkuda yang pernah dilihatnya itu memang telah berada di Tanah Perdikan.
Risangpun mengangguk-angguk. Kepada Jangkung ia berpesan, "Berhati-hatilah. Mereka memang tidak berkepentingan denganmu. Tetapi siapa tahu, orang-orang itu menjadi mata gelap. Apalagi jika mereka tahu bahwa kau adalah tamuku."
Jangkung mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Aku berterima kasih. Namun setidak-tidaknya kudaku adalah kuda yang sangat baik. Aku berani bertaruh, bahwa kudaku akan berlari jauh lebih cepat dari kuda orang-orang itu."
Risang tersenyum. Katanya, "Mudah-mudahan tidak ada hambatan di perjalanan."
Jangkung tersenyum pula sambil menjawab, "Doakan saja. Agar perjalananku selalu dalam perlindungan Yang Maha Agung."
Risang menepuk bahu Jangkung sambil berdesis, "Selamat jalan."
Jangkungpun telah mohon diri pula kepada ibu Risang yang telah ikut mengantar Jangkung sampai ke halaman. Dengan nada dalam, Nyi Wiradana itu berkata, "Salamku buat Nyi Rangga dan bagi Riris."
"Terima kasih," sahut Jangkung. "Aku mohon doa restu. Semoga perjalananku selamat."
"Sering-seringlah datang kemari," minta Nyi Wiradana.
"Aku akan sering datang kemari. Tetapi aku mohon, Nyai juga bersedia datang ke rumah kami. Risang sudah sering singgah, dan bahkan bermalam di rumah kami. Tetapi Nyai belum."
"Tentu," jawab Nyi Wiradana. "Suatu saat aku akan datang. Ki Rangga dan Nyi Rangga pernah bermalam di Tanah Perdikan. Akan datang gilirannya aku akan bermalam di rumah Ki Rangga dan Nyi Rangga."
"Kami selalu menunggu kedatangan Nyai," jawab Jangkung kemudian.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, Jangkung telah berpacu meninggalkan padukuhan induk bersama Gandar dan para pengawal. Kuda Jangkung memang kuda yang sangat baik. Tetapi Jangkung tidak meninggalkan kawan-kawan seperjalanannya.
Di sepanjang perjalanan, Gandar masih sempat menyebut nama-nama padukuhan yang mereka lewati.
Perkembangan yang semakin nampak pada kehidupan rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun Sembojan baru saja dilanda perang, namun tingkat kehidupan rakyatnya tidak terguncang.
Dalam keremangan dini hari menjelang fajar, Jangkung melihat tanaman yang subur di sawah dan ladang. Air yang mengalir deras di parit-parit. Rumah-rumah yang pintunya masih tertutup di padukuhan-padukuhan yang mereka lewati, nampak bersih dan terawat.
Di beberapa gardu memang masih ada para peronda yang belum meninggalkan gardunya, meskipun mereka sudah bersiap-siap untuk pulang. Ketika mereka mendengar derap kaki kuda, maka merekapun sempat turun dari gardunya dan berdiri di pinggir jalan. Namun mereka kemudian melambaikan tangan mereka ketika Gandar yang berkuda di paling depan telah melambaikan tangannya pula.
Tetapi anak-anak muda yang berdiri di depan gardu mereka itu tidak sempat bertanya, kemana Gandar itu akan pergi bersama dengan beberapa orang pengawal.
Ketika Jangkung mendekati perbatasan, maka mataharipun mulai membayangkan warna fajar. Langit menjadi kemerah-merahan. Burung-burung terdengar berkicau di pepohonan tanpa menghiraukan derap kaki kuda yang berlari di bawahnya. Sementara itu di padukuhan-padukuhan ayam telah keluar dari kandangnya, berkeliaran di halaman rumah. Masih sekali dua kali terdengar ayam jantan berkokok dengan penuh kebanggaan.
"Hari telah terang," desis Jangkung. "Bukankah kita sudah sampai ke perbatasan?"
Gandar mengangguk kecil. Katanya, "Ya. Kita sudah sampai ke perbatasan."
"Terima kasih atas kesediaan kalian menemani aku sepanjang perjalanan yang gelap di dini hari," berkata Jangkung.
"Kami akan berhenti di perbatasan," berkata Gandar. "Mudah-mudahan kau tidak menjumpai gangguan di perjalanan."
"Terima kasih paman. Aku akan berhati-hati. Sementara jalan belum terlalu ramai, aku dapat berpacu dengan kecepatan yang tinggi," berkata Jangkung.
"Jangan terlalu cepat melarikan kudamu. Meskipun kudamu mampu berlari cepat, tetapi jalan tidak sehalus dan rata seperti jalan-jalan di Kotaraja. Lubang-lubang yang ada di tengah jalan dapat membuat kaki kudamu terperosok atau jalan yang licin dapat membuat kudamu tergelincir."
Jangkung tersenyum. Katanya, "Baik paman. Aku tidak akan berpacu terlalu cepat."
Demikianlah, maka Gandar dan kawan-kawannya telah berhenti di perbatasan, sementara Jangkung melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Kudanya kemudian memang berpacu. Ia bukan melarikan kudanya kencang-kencang karena ketakutan di perjalanan. Tetapi ia menyadari, bahwa ibu dan adiknya tentu menjadi gelisah. Bahkan jika ayahnya mendengar bahwa ia tidak pulang, tentu akan menjadi gelisah pula.
Demikianlah, setelah Jangkung hilang di tikungan, maka Gandar dan kawan-kawannyapun. segera memutar kudanya kembali menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.
Tetapi demikian mereka meninggalkan perbatasan, maka mereka melihat tiga orang berkuda justru menuju ke perbatasan.
Gandar termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian minta agar para pengawal berhati-hati.
"Kita sedang mencurigai tiga orang berkuda," berkata Gandar kepada kawan-kawannya, para pengawal yang pergi bersamanya.
Ternyata orang-orang berkuda itu berhenti beberapa langkah sebelum mereka berpapasan dengan Gandar. Bahkan orang tertua di antara mereka bertigapun telah memberikan isyarat agar Gandar dan kawan-kawannya itu berhenti.
"Maaf Ki Sanak," berkata orang tertua di antara ketiga orang berkuda itu, "kami ingin bertanya, siapakah yang kalian antarkan itu tadi?"
Gandar mengerutkan dahinya. Katanya, "Apakah kepentingan Ki Sanak dengan orang itu" Apakah Ki Sanak sudah mengetahui siapakah orang itu?"
"Aku tidak tahu siapakah orang itu. Tetapi aku sedang mencari seseorang di Tanah Perdikan ini. Adikku berada di Tanah Perdikan ini. Ia melarikan diri dari keluarga kami," berkata orang itu.
"Kenapa ia melarikan diri?" bertanya Gandar.
"Ayah dan ibu sudah terlanjur membicarakan hari perkawinannya. Tetapi adikku tidak bersedia melakukannya. Karena itu, maka ia melarikan diri," jawab orang itu.
"Jika demikian, bukankah adikmu seorang perempuan?" bertanya Gandar.
"Tidak. Adikku seorang laki-laki," jawab orang itu pula.
"Kenapa ia harus lari dari rumah" Jika ia seorang laki-laki, apakah ia juga dipaksa untuk kawin dengan seorang gadis yang tidak disukainya?" bertanya Gandar sambil mengerutkan dahinya.
"Pembicaraan antara ayah dan ibu sudah dilakukan sejak adikku masih kanak-kanak," jawab orang itu.
Tiba-tiba Gandar berkata, "Mungkin orang itu adikmu. Ia mempunyai sifat yang aneh. Ia melakukan tindakan yang nampaknya tidak wajar. Kebingungan dan kami mencemaskan bahwa ia akan berbuat jahat terhadap Kepala Tanah Perdikan kami."
Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian yang tertua bertanya, "Apa yang akan dilakukannya terhadap Kepala Tanah Perdikan Sembojan?"
"Kami mencurigainya, bahwa orang itu akan membunuh Kepala Tanah Perdikan Sembojan," jawab Gandar.
Wajah orang itu menjadi tegang. Hampir di luar sadarnya ia berkata, "Tidak. Ia tidak akan melakukan itu betapapun jantungnya dicengkam oleh kebingungan."
"Susullah. Ia tentu adikmu itu. Ajak ia pulang. Jika kami melihatnya berada di Tanah Perdikan ini lagi, maka kami akan mengambil tindakan yang lebih keras. Bukan sekedar mengusirnya dengan mengantarnya sampai perbatasan. Mungkin saja ia berbelok dan mengambil jalan lain kembali ke Tanah Perdikan ini. Karena itu, susullah. Mungkin ia belum terlalu jauh."
Orang itu mengangguk-angguk meskipun keningnya nampak berkerut. Sementara Gandar berkata, "Silahkan. Kami akan kembali ke padukuhan induk. Tetapi agaknya lebih baik jika adikmu itu kau bawa pulang daripada mengalami nasib buruk di Tanah Perdikan ini. Mungkin ia bukan orang jahat. Tetapi kebingungan akan dapat mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang aneh-aneh."
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mengangguk sambil menjawab, "Baiklah. Aku akan menyusulnya dan mengajaknya pulang, Ayah dan ibu tentu sudah menunggu."
Demikianlah, maka Gandar dan kawan-kawannyapun segera meninggalkan ketiga orang berkuda itu tanpa berpaling. Gandar dan kawan-kawannya berpacu semakin cepat sehingga hilang di kejauhan. Yang kemudian nampak tinggal debu kelabu yang mengepul dilontarkan oleh kaki-kaki kuda itu.
Seorang di antara para pengawalnya bertanya, "Apa sebenarnya yang kau katakan itu?"
Gandar yang jarang sekali tertawa itupun tertawa. Katanya, "Orang-orang itu akan menjadi bingung. Mereka tidak akan mengejar Jangkung. Jika ia tahu Jangkung itu seorang tamu yang dihormati di Tanah Perdikan karena ia adalah sahabat Risang. maka mungkin Jangkung akan menjadi sasaran antara dari orang-orang itu untuk mendapatkan Risang."
Para pengawalnyapun tertawa pula. Mereka mengerti bahwa Gandar telah melindungi Jangkung dengan caranya.
Namun seorang di antara para pengawal itupun bertanya, "Kenapa mereka tidak kita tangkap saja" Bukankah mereka tiga orang berkuda yang pernah disebut-sebut oleh Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung?"
"Apa salah mereka jika tiba-tiba saja mereka kita tangkap" Kita tidak dapat menangkap orang-orang itu sekedar karena mereka pernah berniat untuk menculik seseorang di Tanah Perdikan ini. Mungkin niat itu telah mereka urungkan atau bahkan mereka menyesal bahwa mereka telah berniat buruk. Setidak-tidaknya mereka dapat menyebut hal seperti itu sebagai alasannya."
"Jadi kita harus melihat bukti kejahatannya lebih dahulu?" bertanya salah seorang pengawal.
"Ya," jawab Gandar, "meskipun hal itu agaknya memerlukan waktu dan kewaspadaan. Kita tentu sudah menyadari, bahwa tiga orang yang berani merencanakan hal itu, tentu orang-orang yang berilmu tinggi."
Para pengawal itu mengangguk-angguk. Tetapi tidak ada lagi di antara mereka yang bertanya. Dengan demikian maka kuda-kuda itupun meluncur dengan derasnya menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.
Dalam pada itu, maka langitpun menjadi semakin cerah. Matahari merambat di langit semakin tinggi. Embun yang bergantungan di ujung daun padi, telah mengambang di langit yang semakin terasa panas.
Dalam pada itu, tiga orang berkuda yang bertemu dengan Gandar memang melanjutkan perjalanan menyeberangi perbatasan. Tetap mereka sama sekali tidak berniat mengejar orang yang tidak mereka kenal itu. Orang tertua di antara mereka itupun segera menghentikan kawan-kawannya sambil berkata, "Sudah cukup. Kita tidak akan pergi terlalu jauh dari Tanah Perdikan Sembojan."
"Apa yang sebenarnya kita bicarakan tadi?" seorang kawannya bertanya.
"Bukankah kita ingin tahu siapakah orang yang dikawal beberapa orang itu" Jika orang itu memang orang penting, maka kita akan dapat memperalatnya untuk mendapatkan Ki Lurah Mertapraja," berkata orang tertua di antara mereka. Lalu katanya kemudian, "Tetapi ternyata kita tidak memerlukannya."
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" bertanya kawannya yang lain.
"Jika benar apa yang dikatakan oleh orang-orang Tanah Perdikan itu, agaknya ada orang lain yang ingin melakukan sesuatu. Mungkin benar orang itu pantas dicurigai dan harus diusir dari Tanah Perdikan. Tetapi jika benar ia berniat buruk, maka ia akan segera kembali lagi," berkata yang tertua di antara mereka.
"Kita tidak akan mempedulikannya," berkata salah seorang kawannya.
"Tidak. Kita harus mempedulikannya," kata yang tertua.
"Kenapa?" bertanya kawannya.
"Jika benar ia berniat buruk terhadap Kepala Tanah Perdikan dan ia berhasil, maka kita akan kehilangan sasaran utama kita. Kepala Tanah Perdikan yang masih muda itu adalah harga yang paling pantas untuk Ki Lurah Mertapraja. Jika kita berhasil membawanya, maka Tanah Perdikan ini akan berusaha untuk menukarnya dengan Ki Lurah yang sudah terlanjur berada di Pajang."
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, "Aku mengerti."
"Karena itu, kita harus bekerja lebih keras, agar kita segera dapat menyelesaikan tugas kita ini."
"Jika kita bertemu lagi dengan orang Tanah Perdikan itu?" bertanya kawannya yang lain.
"Kita dapat mengatakan bahwa orang yang mereka usir keluar itu bukan adik yang aku cari. Karena itu, maka kita masih akan mencarinya sampai kita menemukannya."
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara orang yang tertua itu berkata, "Marilah. Kita kembali ke Tanah Perdikan. Kita sudah mendapatkan tempat yang terbaik yang dapat kita pergunakan selama kita berada di Tanah Perdikan itu."
Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Bertiga mereka kembali ke Tanah Perdikan. Namun mereka telah memilih jalan yang lain meskipun agak melingkar.
Dalam pada itu, Jangkung telah berpacu melintasi jalan-jalan bulak dan padukuhan-padukuhan. Di tempat yang sepi, maka Jangkung telah melarikan kudanya dengan kencang. Kudanya memang kuda yang baik. Tegar dan kuat. Namun demikian, Jangkung tidak dapat melarikan kudanya tanpa beristirahat.
Di rumahnya, kegelisahan memang telah memuncak. Sumbaga telah pergi sekali lagi menemui Ki Rangga Dipayuda yang belum sempat pulang karena tugas-tugasnya yang belum dapat ditinggalkannya.
Tetapi ketika Ki Rangga mendapat laporan bahwa Jangkung masih juga belum pulang, maka iapun telah minta ijin kepada Ki Tumenggung untuk mendapat kesempatan pulang meskipun hanya semalam. Ki Rangga berangkat dari baraknya menjelang senja, sementara esok pagi-pagi ia sudah harus berada di baraknya kembali.
Ki Rangga menjadi gelisah ketika ia sampai di rumah, ternyata Jangkung masih belum pulang.
"Bagaimana jika Kakang Jangkung mengalami kesulitan ayah?" bertanya Riris dengan cemas.
"Apa yang harus kita lakukan Ki Rangga?" bertanya Nyi Rangga yang juga menjadi kebingungan.
Ki Rangga memang menjadi bingung. Ia tidak segera tahu apa yang harus dikerjakannya. Sementara itu waktunya tidak terlalu banyak. Sebagai seorang prajurit, maka ia tidak dapat meninggalkan tugasnya kapan saja ia inginkan.
"Jika Jangkung memang tidak pulang, aku harus berterus terang kepada Ki Tumenggung agar aku mendapat kesempatan beberapa hari untuk mencarinya," berkata Ki Rangga.
"Tetapi kapan kesempatan itu ada?" bertanya Riris.
Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Aku adalah seorang prajurit, Riris. Aku terikat pada tugasku, sehingga aku tidak dapat bebas menentukan waktu sendiri. Aku hanya dapat mengajukan permohonan Tetapi yang memutuskan adalah Ki Tumenggung Jayayuda. Apalagi kemelut antara Mataram dan Madiun nampaknya tidak semakin mereda. Justru semakin menjadi panas."
"Jadi, seandainya perang itu terjadi sementara Kakang Jangkung belum kembali, ayah juga tidak akan sempat mencarinya?" bertanya Riris.
Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Dengan nada rendah ia berkata, "Aku sudah mengucapkan sumpah sebagai seorang prajurit. Karena itu, aku tidak akan dapat melanggarnya."
Riris tidak menjawab. Tetapi dari kedua pelupuknya mulai menitik air matanya.
"Apakah tidak ada kebijaksanaan, Ki Rangga?" bertanya Nyi Rangga.
Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat Ki Rangga menjawab, "Satu-satunya harapan adalah kebijaksanaan Ki Tumenggung. Jika Ki Tumenggung dapat mengerti keadaanku, maka Ki Tumenggung akan dapat mengambil kebijaksanaan meskipun sangat terbatas."
Nyi Rangga tidak bertanya lagi. Wajahnyapun menjadi sangat murung.
Sementara itu Ki Rangga berkata, "Tetapi Nyi, bagaimanapun juga kita harus mendasari sikap kita, bahwa Jangkung telah cukup dewasa. Ia memang sudah sepantasnya bertanggung jawab atas dirinya sendiri dalam segi apapun. Ia sudah sepantasnya mandiri dalam sikap dan keselamatan diri."
Nyi Rangga mengangguk. Namun ia sadar sepenuhnya, maka Ki Rangga hanya sekedar menghiburnya, menghibur Riris dan bahkan menghibur dirinya sendiri.
Namun Riris masih juga bergumam, "Meskipun Kakang Jangkung telah dewasa, tetapi apakah itu berarti bahwa ayah tidak lagi pantas menghiraukannya?"
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Riris. Tetapi aku tentu tidak akan dapat memperlakukannya sebagaimana ia masih seorang kanak-kanak?" sahut ayahnya.
Riris menundukkan kepalanya. Sekali-sekali tangannya mengusap matanya yang basah.
Meskipun hari menjadi semakin malam, namun mereka masih belum juga pergi ke bilik mereka. Ketika Nyi Rangga minta agar Riris pergi tidur, ia menggelengkan kepalanya.
Hampir berbisik terdengar ia berkata, "Ayah. Apakah Kakang Sumbaga dapat mencarinya?"
Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Jika perlu, maka aku akan minta Sumbaga untuk mencarinya. Tetapi mencari seseorang di luasnya wajah tanah ini, bukan sesuatu yang mudah."
"Tetapi bukankah dapat dicoba" Kemana Kakang Jangkung mungkin pergi. Atau Kakang Sumbaga dapat mendengarkan pembicaraan orang, apakah pernah terjadi kecelakaan atau apapun."
"Ya, ya Riris." Ki Rangga mengangguk-angguk.
Namun dalam pada itu, ketika malam menjadi semakin malam, maka tiba-tiba saja mereka mendengar derap kaki kuda yang berlari memasuki halaman rumah itu. Ririslah yang pertama-tama meloncat bangkit sambil berteriak, "Tentu Kakang Jangkung."
Ki Rangga dan Nyi Ranggapun segera menyusul pula, sementara Riris sudah membuka pintu pringgitan dan berlari langsung ke pendapa.
"Kakang." Riris memanggil sambil menghambur turun ke halaman rumahnya. Yang datang itu memang Jangkung. Sementara ayah dan ibunya berdiri dengan wajah tegang di pendapa.
Di seketeng, Sumbaga yang juga mendengar derap kaki kuda, berdiri sambil menarik nafas panjang. Ketika Jangkung kemudian meloncat turun dari kudanya, maka Sumbaga dengan tergesa-gesa mendekatinya dan menerima kendali kuda itu.
"Kuda ini tentu letih," desis Sumbaga.
"Ya," jawab Jangkung. "Tolong, beri kuda itu minum dan makan."
"Sejak kapan kuda ini tidak makan?" bertanya Sumbaga.
"Menjelang sore. Aku tidak sempat lagi berhenti sesudah itu. Rasa-rasanya aku ingin segera sampai ke rumah."
Ririslah yang kemudian membimbing kakaknya sambil berkata, "Kau membuat seisi rumah ini gelisah. Ayahpun harus minta ijin meninggalkan baraknya meskipun sebenarnya para prajurit tidak boleh meninggalkan barak sama sekali."
Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia naik tangga pendapat mendapatkan ayah dan ibunya, iapun berdesis, "Aku mohon maaf."
"Kemana saja kau selama ini?" bertanya ayahnya.
Jangkung memang tidak berniat berbohong. Karena itu, maka iapun menjawab, "Dari Tanah Perdikan Sembojan."
Semuanya memang terkejut. Tetapi yang paling terkejut adalah Ki Rangga Dipayuda. Dengan serta-merta ia bertanya dengan nada keras, "Untuk apa kau pergi ke Tanah Perdikan Sembojan?"
Jangkung mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah ayahnya yang menjadi tegang. Bahkan ibunyapun nampak gelisah pula.
Setelah menarik nafas panjang, Jangkung itu menjawab, "Aku hanya sekedar ingin melihat Tanah Perdikan yang baru saja dilanda perang itu, ayah."
"Jangkung, kenapa kau pergi ke Tanah Perdikan tanpa berbicara lebih dahulu dengan aku atau ibumu?"
Wajah Jangkung memang menjadi tegang. Sementara itu ibunya berkata, "Biarlah ia duduk dahulu, Ki Rangga. Jangkung tentu perlu beristirahat. Mungkin ia haus atau bahkan lapar."
"Itu salahnya sendiri," jawab Ki Rangga.
Jangkung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Riris menariknya naik sambil berkata, "Marilah."
Ki Rangga dan Nyi Ranggapun kemudian telah masuk pula ke ruang dalam, sementara Jangkung pergi ke pakiwan untuk membersihkan kaki dan tangannya.
"Biarlah ia menjadi tenang lebih dahulu, Ki Rangga," desis Nyi Rangga.
"Seharusnya ia tidak pergi ke Tanah Perdikan Sembojan," geram Ki Rangga.
Namun tiba-tiba Riris bertanya, "Bukankah lebih baik bagi Kakang Jangkung untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan daripada pergi ke tempat lain yang kita semuanya belum mengetahuinya?"
Ki Rangga mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun berusaha untuk mengekang perasaannya. Ia sadar bahwa di antara mereka terdapat Riris, sehingga ia tidak boleh berbicara terlalu terbuka tentang kepergian Jangkung ke Tanah Perdikan.
Karena itu, maka Ki Rangga itupun mengangguk sambil berdesis, "Ya. Agaknya memang demikian. Tetapi bahwa Jangkung tidak memberitahukan lebih dahulu niatnya pergi ke Tanah Perdikan itulah yang aku sesali. Bukan kepergiannya ke Tanah Perdikan Sembojan. Bukankah kita semuanya menjadi gelisah dan bahkan kebingungan."
"Kita akan memperingatkannya," berkata Nyi Rangga, "tetapi tidak dengan serta-merta."
Riris yang juga sudah meningkat dewasa itu justru berdesis, "Mungkin ada sesuatu yang mendorong Kakang Jangkung untuk melakukannya. Bukankah ia tidak pernah berbuat demikian sebelumnya" Karena itu, jika tidak ada persoalan yang mendesaknya, maka ia tidak akan melakukan hal itu."
Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, "Apapun yang mendorongnya. Tetapi ia harus minta diri atau jika ia sudah merasa dewasa dan dapat menentukan sikapnya sendiri, maka sebaiknya ia memberitahukan, bahwa ia akan pergi untuk dua malam, bahkan hampir tiga malam berturut-turut."
Riris tidak menjawab. Ia mengerti kenapa ayahnya menjadi marah. Karena kepergian kakaknya itulah, maka Ki Rangga harus minta kebijaksanaan Ki Tumenggung untuk mendapat ijin pulang meskipun hanya semalam saja.
Sementara itu, Jangkung telah selesai berbenah diri. Iapun kemudian duduk di ruang tengah, sementara Riris diminta oleh ibunya untuk membuat minuman dan menyediakan makan bagi kakaknya yang baru saja datang itu.
"Di atas perapian itu masih ada air hangat. Kau dapat membuat minuman meskipun tidak sepanas air yang sedang mendidih," berkata ibunya.
"Aku akan merebusnya ibu," berkata Riris.
"Tidak, tidak usah Riris. Yang ada itu sudah cukup," sahut Jangkung.
"Aku tinggal menyalakan api," jawab Riris.
"Biarlah ia memanasinya," berkata ayahnya, "aku juga ingin minuman panas."
"Sebentar lagi aku juga ke dapur," berkata ibunya. "Aku akan menyediakan makan bagi kakakmu."
Riris mengangguk. Ia mengerti bahwa ibunya masih akan menunggui ayahnya yang sedang marah, agar ia tidak dengan serta-merta marah kepada kakaknya itu.
Dalam pada itu, demikian Riris pergi ke dapur, maka ayahnya memang segera bertanya, "Kenapa kau pergi ke Tanah Perdikan Sembojan" Bukankah kau telah menemui Risang?"
Jangkung mengangguk. Tetapi ia menjawab, "Aku memang menemui Risang. Tetapi sekedar menemuinya saja."
"Kau tentu mengatakan kepadanya, bahwa aku sedang berusaha untuk menentukan, siapakah yang akan menjadi sisihan Riris," berkata Ki Rangga kemudian.
"Tidak ayah, sama sekali tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa," jawab Jangkung.
"Mustahil," sahut ayahnya. "Jika kau tidak mengatakan apa-apa dalam hubungannya dengan Riris, kenapa kau demikian tergesa-gesa pergi ke Tanah Perdikan Sembojan" Kenapa kau tidak menunggu sehari dua hari. Atau setidak-tidaknya sempat minta ijin atau memberitahukannya kepada aku atau ibumu atau jika kau segan, kepada Riris?" bertanya Ki Rangga seperti debur ombak di pesisir yang mengalir susul-menyusul.
"Biarlah anak ini memberikan penjelasan Ki Rangga," berkata Nyi Rangga menyela.
"Ayah," berkata Jangkung, "aku memang menjadi gelisah ketika aku pulang dari Pajang untuk berbicara dengan ayah. Tiba-tiba saja aku ingin membuat perbandingan lagi antara Kasadha dan Risang. Di Pajang aku bertemu dengan Kasadha. Aku berusaha untuk melihat ujud lahirnya dan kesan dari ungkapan batinnya. Ketika aku pulang dari Pajang, maka tiba-tiba timbul keinginanku untuk melakukan hal yang sama atas Risang."
"Hanya itu?" desak Ki Rangga.
"Ya, apa lagi?" justru Jangkung yang bertanya.
"Jika hanya itu kau tempuh jalan panjang ke Tanah Perdikan Sembojan?"
"Lalu apa lagi" Apakah aku harus mengatakan kepada Risang, agar ia cepat-cepat melamar Riris."
"Jangkung," berkata ayahnya dengan nada berat, "kau tidak boleh mendahului langkah-langkah yang sedang aku ambil. Kau boleh mengemukakan pendapatmu, tetapi kau tidak boleh memotong rencanaku."
"Ayah. Sudah aku katakan, aku tidak berbuat apa-apa di Tanah Perdikan. Aku tidak mengatakan apa-apa kepada Risang tentang Riris. Aku bahkan sama sekali tidak menyebut nama Riris. Yang menyebut nama Riris justru ibu Risang itu ketika aku minta diri. Nyi Wiradana itu mengirimkan salam kepada ayah dan ibu. Juga kepada Riris. Nyi Wiradana itu teringat kepada Riris dengan sendirinya. Bukan aku yang memancingnya. Aku tidak tahu kenapa Nyi Wiradana teringat kepada Riris. Mungkin karena Riris pernah ikut membantu terselenggarakannya upacara wisuda Risang yang khidmat itu," jawab Jangkung.
"Apakah kau akan mengatakan bahwa ibu Risang itu lebih dekat secara jiwani dengan Riris daripada ibu Kasadha?" bertanya Ki Rangga.
"Siapakah yang mengatakan itu, ayah. Aku hanya mengatakan bahwa ketika aku minta diri, ibu Risang itu mengirimkan salamnya kepada Riris. itu saja" Aku sama sekali tidak menyinggung ibu Kasadha," jawab Jangkung.
"Sudahlah," Nyi Rangga berusaha menengahi, "semakin lama pembicaraan kalian menjadi semakin keras. Nanti justru Riris mendengarnya. Sebaiknya kita tidak memperpanjang persoalan ini. Sekarang Jangkung sudah pulang. Ia sudah mengatakan, bahwa Ki Rangga tidak ingin rencananya dipotong oleh Jangkung. Akupun ingin menekankan hal itu, Jangkung. Biarlah rencana ayahmu berjalan tanpa terganggu jika kalian membuat rencana sendiri-sendiri yang berbeda, maka akhirnya hanya akan membingungkan Riris saja. Dengan demikian maka tidak satupun rencana itu akan terlaksana. Jika demikian maka yang akan menjadi korban justru Riris."
"Aku sudah mengatakan ibu, bahwa aku tidak melakukan apa-apa. Apalagi mulai menapak untuk satu rencana tertentu bagi Riris," jawab Jangkung.
"Baiklah," berkata Ki Rangga, "aku mempercayaimu. Untuk selanjutnya, sebaiknya kita membicarakan apa saja yang akan kita perbuat sehingga kita tidak melakukan langkah-langkah yang justru dapat saling berbenturan."
Jangkung mengangguk kecil. Katanya, "Aku tidak akan berbuat apa-apa kecuali menyatakan pendapatku kepada ayah sebagaimana sudah aku katakan."
Ki Rangga mengangguk. Katanya, "baiklah. Tetapi jangan pula membuat kami cemas seperti sekarang ini."
"Ya ayah," berkata Jangkung sambil bangkit berdiri. "Aku akan melihat kudaku sebentar."
"Bukankah Sumbaga sudah mengurusnya?" bertanya ibunya.
"Biarlah aku memasukkannya ke dalam kandang. Kakang Sumbaga tentu sudah sangat mengantuk pula," berkata Jangkung.
"Tetapi adikmu baru membuat minuman buatmu," desis ibunya.
"Bukankah air baru direbus?" sahut Jangkung.
"Tetapi jangan terlalu lama," pesan ibunya.
"Aku hanya sebentar ibu," jawab Jangkung sambil bergeser dan kemudian melangkah keluar.
Ketika angin malam mengusap kulit wajahnya, maka Jangkung merasa darahnya menjadi segar. Ia merasa sangat tegang duduk di ruang dalam bersama ayah dan ibunya. Pada dasarnya ia bukan seorang anak yang berani menentang pendapat orang tuanya. Namun dalam persoalan Riris, ia merasa sebaiknya ia menyatakan pendapatnya.
Dengan langkah yang gontai Jangkung menuju ke kandang kuda. Ia tahu bahwa Sumbaga tentu sudah memasukkan kudanya ke dalam kandangnya. Namun rasa-rasanya, di luar ia sempat membebaskan diri dari ketegangan.
Ketika ia sampai ke kandang, ia melihat kudanya sudah ada di dalam. Pelananya sudah dilepas. Bahkan kudanya sedang minum air dan makan rumput yang segar. Sekali kudanya mengangkat kepalanya memandanginya, seakan-akan bertanya kepadanya, kenapa ia tidak makan dan minum sebagaimana dilakukan kudanya itu.
Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Disapunya kepala kudanya dengan lembut. Kemudian ditepuknya sambil berdesis, "Minumlah sepuasmu. Kau tentu lelah."
Kuda itu memandangnya. Seakan-akan ia mengerti apa yang dikatakannya.
Namun kemudian Jangkungpun berkata, "Kau tidak usah ikut merasa sebagaimana aku rasakan."
Jangkung mendengar langkah mendekat. Ia tahu bahwa Sumbaga melihatnya berdiri di kandang dan mendekatinya.
"Kau masih belum tidur?" bertanya Jangkung. "Terima kasih atas perawatanmu terhadap kuda ini."
"Kudamu letih sekali Jangkung," berkata Sumbaga.
"Ya. Aku memaksanya untuk berlari terus. Aku gelisah justru karena aku tahu, bahwa aku telah dicari."
"Dua kali aku pergi ke Pajang menyampaikan kepada paman Rangga Dipayuda, bahwa kau belum pulang. Ibumu dan Riris menjadi sangat gelisah."
"Aku tahu," jawab Jangkung. "Karena itu, kudaku aku paksa berjalan terus, meskipun aku tahu bahwa kuda ini sangat letih."
"Kau juga letih. Beristirahatlah," berkata Sumbaga.
Jangkung menepuk bahu Sumbaga sambil berkata, "Terima kasih. Aku memang letih." Namun kepada diri sendiri ia berkata, "Hatikulah yang merasa sangat letih."
Namun dalam pada itu terdengar suara Riris memanggil, "Kakang Jangkung. Ibu memanggilmu."
Jangkung tahu bahwa sudah dibuat minuman panas. Karena itu, maka iapun melangkah sambil berkata, "Marilah kita minum di ruang dalam. Riris agaknya telah membuat minuman."
Tetapi Sumbaga seperti biasanya menolak. Ia lebih senang berada di luar lingkungan rumah induk. Meskipun Ki Dipayuda dan Nyi Dipayuda menganggapnya seperti anak sendiri, tetapi Sumbaga sendiri telah membuat jarak di antara mereka. Bahkan kepada Jangkung dan apalagi Riris, Sumbaga justru berusaha untuk tidak terlalu dekat.
Sejenak kemudian, maka Jangkungpun telah melangkah meninggalkan kandang. Sekali ia berpaling melihat kudanya makan rerumputan segar. Namun kemudian dengan cepat ia melangkah.
Di ruang dalam Jangkung bersama ayah, ibunya dan Riris minum minuman hangat. Bahkan Riris dan ibunya sudah menyediakan makan meskipun sudah dingin.
"Makanlah Jangkung," berkata ibunya. Dipandanginya ayahnya sekilas. Tetapi ia sempat bertanya, "Apakah yang lain sudah makan."
"Sudah," jawab ibunya. "Kami sudah makan semuanya."
Jangkung memang merasa lapar. Karena itu, maka meskipun nasi sudah dingin, iapun menyuapi mulutnya sambil sekali-sekali menghirup minuman panas.
Tetapi rasa-rasanya memang aneh. Jika semula ia merasa lapar, namun kemudian ia menjadi segan untuk makan. Bukan karena nasi sudah dingin. Tetapi rasa-rasanya ia memang kehilangan selera.
Tetapi Jangkung tidak mau mengecewakan ibu dan adiknya. Karena itu, disuapinya juga mulutnya meskipun agak dengan paksa.
Riris yang menunggui Jangkung makan, memang menjadi heran. Ayahnya dan Jangkung tidak terlalu banyak berbicara. Mereka hanya bertanya sepatah-se-patah dan dijawab sepatah-sepatah pula.
"Tentu ada sesuatu," berkata Riris di dalam hatinya. Ia memang merasa cemas, bahwa ayah dan kakaknya telah berselisih pendapat. Ketika Jangkung menyusul ayahnya ke Pajang, nampaknya ia terlalu tergesa-gesa. Seolah-olah kakaknya itu ingin saat itu juga bertemu dengan ayahnya untuk membicarakan sesuatu. Pagi-pagi benar kakaknya sudah berangkat. Meskipun alasannya agar ia bertemu dengan ayahnya sebelum waktunya ayahnya menunaikan tugasnya di barak keprajuritan.
Kemudian ayahnya menjadi marah ketika ia melihat Jangkung pulang. Nampaknya bukan sekedar karena Jangkung pergi tanpa memberitahukan lebih dahulu.
Tetapi Riris tidak berani menanyakannya. Ia ingin bertanya kepada kakaknya, jika ayahnya sudah kembali ke Pajang. Esok pagi-pagi ayahnya tentu sudah berangkat, karena ia hanya mendapat ijin meninggalkan baraknya semalam saja.
Namun dalam pada itu, ketika. Riris membenahi mangkuk-mangkuk serta menyingkirkan sisa makanan, Ki Rangga Dipayuda sempat berkata kepada Jangkung, "Sekarang aku akan tidur. Esok pagi-pagi aku harus sudah kembali ke Pajang, karena aku tidak mendapat kesempatan lebih dari semalam ini saja. Tetapi ingat, jangan potong kebijaksanaanku. Aku sudah mengambil keputusan."
Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menjawab, "Baik ayah."
"Aku tidak berkeberatan kau pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi tidak lebih sekedar menengok Risang atau keluarganya saja, tanpa membicarakan persoalan lain."
Suara Jangkung dingin, "Ya ayah."
Ki Rangga Dipayudapun segera bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke biliknya. Sedangkan Jangkung masih duduk seorang diri di ruang tengah, sementara ibu dan Riris masih sibuk mencuci mangkuk-mangkuk kotor di dapur.
Ketika kemudian ibunya kembali ke ruang tengah, maka iapun berkata, "Sudahlah Jangkung. Kau tentu letih. Beristirahatlah. Segala sesuatunya dapat dibicarakan esok atau lusa atau kapan saja."
Jangkung tidak menjawab. Sementara itu Ririspun telah masuk pula. Ibunya yang masih berdiri di depan biliknya berkata, "Riris, tidurlah. Hari sudah jauh malam."
Ririspun kemudian langsung pergi ke biliknya. Tetapi ia masih bertanya kepada Jangkung, "Bukankah kau letih?"
Jangkung mengangguk. Katanya, "Ya. Aku memang letih."
Riris tidak bertanya lagi. Ia dapat merasakan bahwa Jangkung memang tidak seperti biasanya. Karena itu, ia tidak banyak berbicara lagi.
Namun dalam pada itu Jangkung berkata kepada diri sendiri, "Hatiku terasa lebih letih daripada tubuhku."
Ternyata Jangkung tidak segera pergi ke biliknya. Ia bahkan pergi keluar dan duduk di amben panjang di serambi gandok. Angin terasa semilir, sehingga Jangkung merasa sedikit segar. Keringatnya tidak lagi terasa terperas dari tubuhnya.
Di luar kehendaknya, Jangkungpun telah berbaring pula di serambi gandok. Bahkan usapan angin malam yang sejuk di wajahnya, telah membuatnya tertidur.
Jangkung terkejut ketika ia mendengar kesibukan di halaman. Ternyata Sumbaga telah menyediakan kuda Ki Rangga ketika hari masih sedikit gelap menjelang fajar.
"Ayah akan berangkat pagi-pagi sekali?" bertanya Jangkung.
"Ya, saat matahari terbit," jawab Sumbaga.
Jangkungpun kemudian mendekati Sumbaga yang berada di halaman mengikat kuda Ki Rangga yang sudah siap pada patok di sebelah pendapa. Sambil mengusap matanya Jangkung bertanya, "Apakah ayah sudah siap?"
"Ki Rangga baru mandi," jawab Sumbaga. Namun yang kemudian bertanya, "Kenapa kau tidur di serambi gandok?"
"Aku tidak berniat tidur di serambi. Udara terasa panas di dalam. Tetapi agaknya aku sudah tertidur dan mungkin karena letih, aku tidak terbangun sampai pagi," jawab Jangkung.


02 Sayap Sayap Yang Terkembang Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ya. Aku melihat kau tidur nyenyak sekali," desis Sumbaga.
Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Sebelum tertidur ia justru merasa gelisah. Tetapi agaknya memang karena tubuhnya yang letih, ia dapat tidur nyenyak.
Ketika kemudian Jangkung masuk ke ruang dalam, dilihatnya ibunya telah menyediakan minuman panas dan makan bagi Ki Rangga.
"Apakah kau ingin menemani ayahmu makan pagi?" bertanya ibunya.
"Nanti ayah harus menunggu terlalu lama. Aku masih harus mandi dahulu," jawab Jangkung. Lalu katanya, "Biar ayah makan dahulu. Nanti ayah terlambat."
Ibunya mengangguk kecil. Sementara itu Ki Rangga sudah siap berpakaian dan kemudian duduk di ruang dalam. Jangkung dan Riris ikut duduk pula meskipun mereka tidak makan.
Ki Rangga masih tidak terlalu banyak berbicara. Tetapi ia sempat memberikan beberapa pesan kepada Nyi Rangga, Jangkung dan Riris, agar mereka menjaga dan memelihara rumah itu sebaik-baiknya. Kepada Riris ia berkata, "Jangan lupa memberi makan dan minum burung-burung itu. Bekisar di halaman itu suaranya sudah menjadi semakin landung."
"Ya, ayah," jawab Riris.
"Jangan membebani Sumbaga dengan pekerjaan-pekerjaan lain. Biarlah ia memilih pekerjaannya sendiri. Jangan biarkan ia menjadi semakin asing di rumah ini. Karena itu, jika kau memerlukan seseorang untuk membersihkan sangkar, biarlah Ki Muncar melakukannya," berkata ayahnya pula.
"Ya, ayah," jawab Riris.
Kepada Jangkung ayahnya berpesan, "Kau harus selalu melihat sawah dan pategalan kita. Jangan tinggalkan sampai berhari-hari. Jika padi sedang bunting dan airnya tidak cukup banyak, maka panen mungkin akan jauh menyusut."
Jangkung mengangguk kecil sambil menjawab, "Ya ayah."
Ki Rangga itu masih berkata lagi, "Jangan terlalu mempercayakannya kepada para penggarap sawah. Tanggung jawabnya berbeda dengan tanggung jawabmu."
Jangkung mengangguk pula sambil menjawab, "Ya, ayah."
Ibunyalah yang menarik nafas dalam-dalam. Masih terasa pada nada bicara Ki Rangga, bahwa Ki Rangga masih marah kepada Jangkung karena Ki Rangga menganggap bahwa Jangkung telah mendahului rencananya. Meskipun Jangkung sudah menjelaskannya bahwa ia tidak melakukannya.
Demikianlah, setelah makan pagi, maka Ki Ranggapun sudah siap untuk berangkat. Untuk beberapa saat ia masih duduk di ruang dalam sambil sekali-sekali meneguk minumannya. Ketika Riris membenahi mangkuk-mangkuk yang kotor, maka Ki Rangga itu masih juga berpesan kepada Jangkung, "Jangan membuat keadaan menjadi keruh. Ingat-ingat itu Jangkung."
"Ya, ayah," Jangkung mengangguk dengan wajah yang kosong, sementara ibunya berkata, "Ia sudah mengerti maksud ayah."
Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak memberikan pesan apa-apa lagi.
Sejenak kemudian, maka Ki Rangga itu sudah memegangi kendali kudanya di halaman. Nyi Rangga, Jangkung dan Riris mengantarkannya sampai ke regol.
"Aku tidak tahu, kapan aku dapat pulang lagi. Mudah-mudahan keadaan tidak semakin memburuk," berkata Ki Rangga ketika ia meloncat naik ke atas punggung kudanya.
"Hati-hatilah Ki Rangga," pesan Nyi Rangga.
Ki Rangga mengangguk sambil menjawab, "Ya. Aku akan berhati-hati." Lalu katanya kepada Jangkung, "Jaga adikmu baik-baik."
"Ya, ayah," jawab Jangkung sambil mengangguk.
"Riris," berkata ayahnya, "bantu ibumu. Beritahu Ki Muncar apa yang harus dilakukan."
"Ya, ayah," jawab Riris.
Ki Ranggapun kemudian melambaikan tangannya kepada Sumbaga yang berdiri beberapa langkah di belakang Jangkung. Kepada Sumbaga Ki Rangga berkata, "Baik-baik sajalah kau Sumbaga."
"Ya, paman," jawab Sumbaga sambil mengangguk.
Demikianlah, ketika matahari mulai menjenguk di atas punggung bukit, maka Ki Ranggapun sudah memacu kudanya kembali ke Pajang.
Sepeninggal ayahnya, Jangkungpun telah pergi ke pakiwan untuk mandi. Rasa-rasanya ia ingin menyiram tubuhnya dengan air yang dingin sepakiwan agar urat-urat darahnya ikut menjadi dingin pula. Sementara ibunya dan Riris kembali sibuk di dapur.
Tetapi Riris rasa-rasanya tidak sabar lagi ingin bertanya kepada kakaknya, apakah sebenarnya yang telah terjadi.
Ketika kemudian kakaknya sudah selesai berbenah diri, serta Ririspun sudah selesai mencuci mangkuk di dapur, maka iapun telah menyusul kakaknya yang duduk merenung di serambi gandok.
Jangkung mengerutkan dahinya melihat Riris mendekatinya. Dengan ragu-ragu Riris melangkah sambil berkata, "Apakah aku mengganggu jika aku ikut duduk di situ."
"Mandi dulu. Baru boleh duduk dekat-dekat aku. Aku sudah mandi," jawab Jangkung.
"Lagakmu. Kaukira aku belum mandi?" justru Riris ganti bertanya.
"Jadi kau sudah mandi" Kapan!?" bertanya Jangkung pula.
"Aku bukan pemalas seperti kau. Aku mandi sebelum matahari terbit. Lebih dahulu dari ayah," jawab Riris.
Jangkung tertawa. "Kenapa tertawa?" bertanya Riris.
"Jika kau sudah mandi saja wajahmu cemberut seperti itu, apalagi jika kau belum mandi," jawab Jangkung.
"Sombong. Kau kira wajahmu setampan Jaka Tingkir," sahut Riris.
"Apakah kau pernah melihat Jaka Tingkir yang kemudian menjadi Sultan di Pajang dengan gelar Kangjeng Sultan Hadiwijaya?"
Riris termangu-mangu sejenak. Katanya, "Ya, Jaka Tingkir itulah yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya di Pajang."
"Panembahan Senapati di Mataram itu adalah anak angkatnya. Namun sudah seperti anak sendiri. Sedangkan Pangeran Benawa di Pajang itu adalah puteranya sendiri."
Riris mengangguk-angguk, sementara Jangkung bertanya, "He, apakah Jaka Tingkir itu tampan sekali" Apakah kau pernah bertemu atau setidak-tidaknya melihat wajahnya?"
"Kata orang ia mempunyai isteri dan selir yang banyak. Banyak perempuan yang jatuh cinta kepada Jaka Tingkir yang juga bernama Mas Karebet itu."
"Tampan atau tidak tampan, tetapi ia adalah seorang raja besar di Pajang," jawab Jangkung.
"Sudahlah. Tetapi aku ingin berbicara dengan kau, Kakang," berkata Riris kemudian.
"Bukankah kita sudah berbicara sejak tadi?"
"Ah, kau. Kali ini aku bersungguh-sungguh," desis Riris.
Jangkung menarik nafas. Dalam ketegangan syaraf, ia masih dapat bergurau dengan adiknya. Tetapi tiba-tiba saja adiknya bersikap bersungguh-sungguh. Karena itu, maka urat-urat di kening rasa-rasanya telah menegang lagi.
Meskipun demikian Jangkung itu berkata, "Marilah, duduklah. Seharusnya kau bawa minuman hangat ketika kau kemari."
"Apakah aku harus mengambilnya," desis Riris.
"Tidak, tidak," sahut Jangkung dengan serta-merta.
Demikianlah, maka Ririspun duduk di sebelah Jangkung, di amben panjang yang semalam dipergunakannya untuk tidur.
"Kenapa kau semalam tidur di luar, Kakang?" bertanya Riris.
Jawab Jangkung sebagaimana dikatakan kepada Sumbaga. Katanya, "Aku hanya ingin mencari angin. Udara panas di dalam. Tetapi karena lelah, aku telah tertidur disini sampai pagi."
Riris mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, "Kakang, aku minta maaf, bahwa aku memberanikan diri untuk bertanya kepadamu, karena aku tidak berani bertanya kepada ayah. Aku tidak pernah melihat sikap ayah seperti yang aku lihat semalam."
"Kenapa?" bertanya Jangkung.
"Ketika kau pulang dari Tanah Perdikan Sembojan, agaknya ayah menjadi marah sekali," berkata Riris.
"Tentu," jawab Jangkung. "Aku pergi tanpa memberitahukan kepada siapapun. Ibu dan kau menjadi gelisah sekali, sehingga Kakang Sumbaga harus pergi ke Pajang sampai dua kali."
"Kenapa kau lakukan itu jika kau tahu bahwa aku dan ibu akan menjadi gelisah dan ayah akan menjadi marah?"
"Aku tidak tahu Riris. Seperti yang aku katakan kepada ayah. Tiba-tiba saja aku ingin pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Dorongan itu terasa terlalu kuat. Apalagi ketika aku mendengar bahwa di Tanah Perdikan itu baru saja terjadi perang," jawab Jangkung.
"Tetapi tentu ada alasannya kenapa kau pergi ke Tanah Perdikan Sembojan tanpa kau sadari seperti itu. Apakah sebelumnya kau memang sudah berselisih dengan ayah ketika kau pergi ke Pajang pagi-pagi itu?" bertanya Riris.
Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Untuk beberapa saat ia merenung. Namun kemudian sambil menggeleng ia menjawab, "Tidak. Tidak ada persoalan yang membuat aku berselisih dengan ayah."
"Jadi kenapa kau pagi-pagi benar sudah pergi ke Pajang?" desak Riris.
"Apakah aku sedang menghadap Perdata Agung di Mataram?" Jangkung Jaladri itu mengerutkan dahinya.
"Ah, kau," desis Riris. "Aku hanya ingin tahu, Sebenarnyalah aku merasa cemas. Jauh lebih cemas dari saat Kakang tidak segera pulang. Apa yang aku lihat, ya sikapmu, ya sikap ayah, terasa asing dan tidak sewajarnya."
Jangkung tersenyum, betapapun hambarnya. Sambil melingkarkan tangannya di bahu adiknya ia berkata lembut, "Tidak ada apa-apa Riris, Percayalah. Jika pada suatu saat, antara aku dan ayah terdapat perbedaan pendapat, bukankah itu wajar" Aku menjadi semakin dewasa, sehingga kadang-kadang aku merasa berkewajiban untuk memberikan pendapatku kepada ayah. Ternyata tidak semua pendapatku dianggap benar oleh ayah, sehingga satu ketika ayah berpendapat lain."
Riris mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga berkata, "Aku juga pernah melihat ayah dan Kakang berbicara panjang. Suatu ketika aku juga pernah melihat ayah dan Kakang berbeda pendapat. Tetapi ayah tidak menjadi marah. Mungkin ayah mempertahankan pendapatnya sebagaimana Kakang. Tetapi kemudian aku melihat kau dan ayah tertawa lagi. berbicara lagi tentang hal-hal lain yang tidak penting. Tetapi kali ini tidak, Kakang."
"Itu tergantung tingkat persoalannya Riris," jawab Jangkung. "Persoalan yang kita bicarakan kali ini memang agak mendalam, sehingga barangkali perbedaan pendapat itu masih tersisa di hati ayah."
"Tetapi persoalan apakah yang Kakang bicarakan dengan ayah kali ini?" bertanya Riris.
Jangkung mengusap keringat yang mengembun di keningnya. Kemudian iapun menjawab, "Kau tidak usah ikut memikirkannya, Riris. Persoalannya tidak akan menyangkut kepentingan orang lain. Hanya kepentinganku saja."
"Kakang tidak terbiasa merahasiakan sesuatu. Bahkan kadang-kadang aku dapat mendengarkan langsung pembicaraan Kakang dan ayah, dalam soal perbedaan pendapat sekalipun," desis Riris.
"Aku tidak ingin kau ikut merenung dan berpikir berkepanjangan," jawab Jangkung.
"Apakah Kakang dan ayah berbicara tentang sesuatu yang harus dirahasiakan" Juga terhadap keluarga sendiri?" Riris mendesak terus.
Jangkung memang mengalami kesulitan. Tetapi ia sadar, bahwa ia tidak boleh mengatakan sesuatu kepada Riris mengenai persoalan yang pernah dibicarakan dengan ayahnya itu. Justru tentang Riris itu sendiri.
Karena itu, maka agar Riris tidak bertanya berkepanjangan, Jangkung itupun menjawab, "Riris. Kau tahu bahwa aku sudah dewasa. Selain bertani, aku juga memiliki penghasilan lain sebagai pedagang kuda meskipun tidak tetap."
"Jadi?" bertanya Riris pula.
Jangkung justru tersenyum. Tetapi ia tidak segera menjawab.
"Jadi bagaimana?" desak Riris pula.
"Umurkupun sudah cukup banyak," berkata Jangkung kemudian.
"Jadi Kakang ingin beristri?" Riris menebak.
Jangkung tertawa sambil mengangguk.
"Bagus. Satu rencana yang bagus. Aku senang sekali Kakang, bahwa aku akan mempunyai seorang saudara perempuan. Dengan demikian aku akan mempunyai kawan berbincang, bekerja di dapur dan mencuci pakaian di sungai."
"Mestinya begitu, Riris," jawab Jangkung.
"Apakah ayah tidak setuju?" bertanya Riris.
Jangkung masih saja bingung mendengar pertanyaan-pertanyaan Riris yang tidak henti-hentinya itu. Namun ia terpaksa harus menjawabnya, "Bukannya ayah tidak setuju, Riris. Tetapi ayah ingin, aku mempunyai pekerjaan tetap lebih dahulu, baru aku memikirkan seorang isteri."
"Tidak. Itu tidak perlu. Sawah kita cukup luas. Penghasilan Kakang Jangkung sebagai pedagang kuda cukup baik meskipun tidak tetap. Apalagi" Umur Kakangpun sudah cukup pula. Jika ayah berkeberatan, itu artinya ayah tidak adil," berkata Riris. Bahkan katanya pula, "Biar aku berbicara dengan ayah."
"Tidak. Tidak, Riris. Jangan berbicara dengan ayah. Ayah akan dapat menjadi semakin marah, karena ayah sudah menyatakan pendapatnya. Ketika aku mencoba menjelaskan, ayah justru tersinggung. Nah, kau tahu akibatnya. Apakah kau masih akan menambah kemarahan Ayah?" Jangkung berhenti sejenak, lalu katanya, "Riris. Sudahlah. Aku sudah mengatakan kepada ayah, bahwa aku akan menurut perintah ayah. Aku akan mencari pekerjaan tetap yang juga berpenghasilan tetap. Meskipun menurut perhitunganku akan lebih sedikit dari penghasilanku sekarang."
"Apakah ayah ingin Kakang Jangkung juga menjadi seorang prajurit?" bertanya Riris.
"Tidak. Ayah tidak berkata demikian. Yang dikehendaki ayah hanyalah satu kerja yang tetap. Aku memang dapat mengerti keinginan ayah itu, dan karena itu aku telah menyanggupinya."
"Tetapi kenapa ayah masih tetap marah?" bertanya Riris.
"Tidak. Ayah sebenarnya sudah tidak marah lagi," jawab Jangkung, "yang tinggal adalah sisa-sisa kemarahannya saja."
Riris termangu-mangu sejenak. Dengan nada tinggi ia kemudian berkata, "Tetapi Kakang memang harus segera menikah. Itu akan lebih baik bagi Kakang. He, apakah Kakang menginginkan seorang gadis dari Tanah Perdikan Sembojan?"
"Tidak," sahut Jangkung dengan serta-merta. "Aku tidak mengenal seorangpun di antara gadis-gadis Tanah Perdikan Sembojan. Yang aku kenal hanyalah Risang dan seisi rumahnya." Jangkung berhenti sejenak, lalu katanya, "He, salam buatmu dari Nyi Wiradana."
"Nyi Wiradana?" bertanya Riris.
"Ya. Ibu Risang."
"O," wajah Riris menjadi cerah. "Ibu Risang adalah seorang perempuan yang lembut keibuan."
"Tetapi ia berilmu sangat tinggi," desis Jangkung.
"Ya, ia berilmu sangat tinggi. Itulah mungkin sebabnya, kenapa Risang juga berilmu tinggi," jawab Riris.
"Tetapi bukan hanya ibu Risang yang berilmu tinggi," berkata Jangkung kemudian.
"Siapa lagi?" bertanya Riris.
"Ibu Kasadha juga berilmu tinggi," jawab Jangkung.
"Ibu Kasadha," Riris mengingat-ingat, "ya, ibu Kasadha menurut pendengaranku juga berilmu tinggi."
"Bukankah kau juga mengenal ibu Kasadha?" bertanya Jangkung ragu-ragu.
"Tentu. Aku telah bertemu dengan ibu Kasadha di Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi ibu Kasadha agaknya seorang perempuan yang tertutup. Sulit untuk mengetahui sikap dan perasaannya. Ia tidak bergairah untuk bersama-sama dalam satu pembicaraan dengan perempuan-perempuan lain. Ia sering menyendiri dengan bibi Kasadha itu."
Riris berhenti sejenak. Tetapi kemudian iapun berkata, "Tetapi kemampuannya yang tinggi itu juga menurun kepada anaknya, Kasadha."
"Ya. Kasadha juga berilmu tinggi sebagaimana Risang. Keduanya pernah bersama-sama berada dalam lingkungan keprajuritan di bawah pimpinan ayah. Keduanya seperti saudara kandung. Adalah kebetulan bahwa wajah merekapun mirip."
Riris mengangguk-angguk. Wajahnya nampak jernih. Senyumnya sekali-sekali membayang di bibirnya.
Tetapi Jangkung tetap tidak mengerti, untuk siapakah senyum Riris itu. Untuk Kasadha atau untuk Risang. Namun bagaimanapun juga, ibu Risang nampaknya lebih menarik dari ibu Kasadha bagi Riris.
Tetapi Kasadhapun mengetahui bahwa yang harus dipilih oleh Riris bukannya ibu mereka. Tetapi salah seorang dari mereka berdua.
Riris yang merasa sudah mendapat jawaban dari kakaknya itupun menjadi lapang. Dadanya tidak lagi serasa sesak karena sikap ayah dan kakaknya. Meskipun ia tidak sependapat dengan ayahnya, tetapi sebagaimana pesan Jangkung, ia tidak akan berbicara dengan ayah tentang persoalan kakaknya itu, karena ayahnya memang akan dapat marah kepadanya sebagaimana kepada kakaknya.
Karena itu, maka Ririspun kemudian berkata, "Ah, sudahlah Kakang. Aku akan membantu ibu di dapur."
"Tetapi ingat Riris. Persoalan ini jangan kau singgung di hadapan ayah kapanpun. Ayah yang sedang memusatkan perhatiannya terhadap tugasnya akan cepat tersinggung dan menjadi marah. Bahkan mungkin ayah tidak hanya akan marah kepadaku, tetapi juga kepadamu. Jika demikian maka suasana keluarga kami akan menjadi buram," berkata Jangkung kemudian.
Tetapi Riris tersenyum sambil menjawab, "Tidak Kakang. Ayah tidak akan selamanya marah." Namun kemudian Riris itu bertanya, "Tetapi apakah Kakang benar-benar akan mencari pekerjaan tetap yang berpenghasilan tetap?"
"Itu yang dikehendaki ayah, Riris. Tetapi aku tidak tahu, pekerjaan apakah yang paling sesuai dengan kemampuanku," jawab Jangkung.
"Jadi?" bertanya Riris pula.
"Bagaimanapun juga aku akan berusaha, karena itu yang dikehendaki ayah. Jika tidak, maka setiap kali persoalan itu terungkit, maka kemarahan ayah akan terungkit pula," jawab Jangkung.
Riris mengangguk-angguk. Katanya, "Mudah-mudahan kakak mendapatkannya. Tetapi tentu sulit bagi Kakang jika Kakang tidak pergi ke Kotaraja."
"Aku juga berpikir demikian, Riris," desis Jangkung ragu.
Tetapi Riris berkata selanjutnya, "Jika demikian ayah tidak teguh pada pendiriannya. Ayah pernah berkata, bahwa dimanapun kita dapat mengabdi. Juga sebagai seorang petani, pedagang dan pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak melanggar pangeran."
"Sudahlah," Jangkunglah yang kemudian ingin mengakhiri pembicaraan. Semakin lama Riris merambat ke persoalan-persoalan yang benar-benar lebih mendalam. Katanya kemudian, "Bukankah kau ingin membantu ibu?"
"Ya," jawab Riris, "aku memang akan pergi ke dapur."
Demikianlah, maka sejenak kemudian, Riris sudah berada di dapur untuk membantu ibunya.
Namun ibunya sempat bertanya, "Kau dari mana saja Riris?"
"Dari serambi gandok ibu," jawab Riris.
"Untuk apa?" bertanya ibunya pula.
"Sekedar berbincang dengan Kakang Jangkung," jawab Riris.
*** Kontributor eBook: DJVU: Haryono & Kuncung (dimhad.co.nr)
Editor: Dimhader (di dimhad.co.nr, maaf... tidak tahu kontributornya), dan Dewi KZ (dewikz.com)
Spell Check & Minor Edit:
ePub Lover (facebook.com/epub.lover)
SAYAP-SAYAP YANG TERKEMBANG
Karya: SH Mintardja Penerbit: Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta
JILID 55 WAJAH ibunya berkerut. Jarang sekali Riris mengambil waktu khusus untuk berbicara dengan kakaknya. Karena itu, maka Nyi Rangga yang masih terpengaruh oleh sikap Ki Rangga, menjadi cemas, bahwa Jangkung telah berbicara dengan Riris tentang persoalan yang menyangkut anak perempuannya itu. Karena itu, maka hampir di luar sadarnya, ibunya bertanya, "Apa saja yang kau bicarakan dengan kakakmu?"
Riris termenung sejenak. Ia ragu-ragu untuk mengatakan apa yang telah dibicarakannya dengan Jangkung. Jika ia berkata berterus-terang tentang apa yang telah dibicarakannya dengan kakaknya, mungkin ibunya akan menyampaikannya kepada ayahnya.
Karena itu, maka Ririspun kemudian memutuskan untuk tidak mengatakannya kepada ibunya. Dengan demikian maka Ririspun menjawab, "Kami hanya berbicara tentang perjalanan Kakang ke Tanah Perdikan, ibu. Kakang menceriterakan apa yang terjadi di Tanah Perdikan ketika terjadi perang yang terhitung besar."
"O," ibunya hanya mengangguk-angguk saja.
Ririspun tidak berbicara lebih banyak dengan ibunya. Namun dengan demikian, maka rasa-rasanya Riris telah menyimpan beban di dalam hatinya.
Sementara itu di Tanah Perdikan Sembojan, tiga orang berkuda yang ingin membebaskan Ki Lurah Merta-praja masih berkeliaran untuk mendapatkan kesempatan. Begitu pentingnya Ki Lurah Mertapraja bagi mereka, sehingga mereka telah berusaha dengan segala cara untuk membebaskannya.
Bahkan salah seorang di antara ketiga orang itu sempat bertanya kepada orang tertua di antara mereka, "Kenapa kita harus berjuang mati-matian untuk membebaskan Ki Lurah Mertapraja" Kenapa kita tidak membiarkan saja Ki Lurah itu berada di tangan orang-orang Pajang."
Orang tertua itu tidak menjawab pertanyaan itu. Hanya keningnya saja yang berkerut. Bahkan katanya, "kita tidak perlu mengetahuinya, kenapa kita harus bekerja mati-matian untuk membebaskan Ki Lurah."
Orang itu memang tidak memaksa. Tetapi ia hanya bergumam, "Seandainya saja kita mengetahuinya, maka kita tentu akan menentukan, apakah jika perlu kita akan mengorbankan diri kita. Tanpa mengetahui persoalannya sampai mendasar, maka kadang-kadang kita masih bertanya, apakah kita akan bertaruh nyawa atau sekedar melakukan tugas. Berhasil atau tidak berhasil, rasa-rasanya itu tidak penting."
"Kau tahu bahwa aku berniat ingin benar-benar membebaskannya dari tangan orang-orang Pajang?" bertanya yang tertua.
"Ya," jawab kawannya.
"Nah terserah kepadamu, apakah kau akan berbuat sebaik-baiknya atau sekedar ikut-ikutan. Tetapi ingat, bahwa aku akan bersungguh-sungguh."
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Pernyataan orang tertua itu adalah ancaman bagi kawan-kawannya, meskipun tidak berterus-terang.
Tetapi kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Mereka memang tidak mempunyai pilihan. Mereka harus berbuat sebagaimana dilakukan oleh orang tertua di antara mereka, meskipun orang tertua itupun pernah hampir berputus-asa dan mengurungkan niatnya. Namun kemudian niat itu justru bagaikan membara kembali di dalam dadanya.
Dalam pada itu, ketiga orang berkuda itu selalu berada dalam pengawasan beberapa orang pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan. Namun mereka tetap mengira bahwa rencana mereka untuk mengambil orang terpenting di Tanah Perdikan itu masih belum diketahui. Jika ada satu dua orang Tanah Perdikan yang mengetahui kehadiran mereka adalah karena mereka sedang mencari adiknya yang hilang yang menurut keterangannya berada di Tanah Perdikan Sembojan.
Namun dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung berpendapat bahwa sebaiknya mereka berusaha agar rencana ketiga orang itu dapat dilakukan lebih cepat. Justru pada saat-saat orang-orang Tanah Perdikan masih cukup berhati-hati terhadapnya. Jika mereka menunggu semakin lama, maka kesiagaanpun akan dapat menjadi semakin menyusut.
Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung, yang sependapat dengan Gandar, berusaha menjebak ketiga orang itu di bulak panjang yang sepi.
"Kita harus berbicara dengan Risang," berkata Gandar.
"Ya, kita akan menemuinya."
Ketika ketiganya itu kemudian menghadap dan bertemu dengan Risang untuk menyampaikan rencananya, maka ternyata Risangpun sependapat. Ia memang tidak dapat menunggu sampai ia sendiri menjadi lengah dan terjebak oleh ketiga orang itu, karena mereka tentu juga orang-orang yang memiliki kemampuan, bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi juga kemampuan penalaran.
Ketiga orang terdekat dengan Risang itu yakin, bahwa ketiga orang itu seorang-seorang atau bersama-sama tentu selalu mengamati Risang pada banyak kesempatan. Orang-orang yang belum pernah melihat dan bertemu dengan ketiganya, sulit untuk mengenalinya jika mereka tidak sedang berkuda bertiga. Namun Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar memperhitungkan bahwa mereka akan lebih banyak memisahkan diri daripada berkuda bertiga.
Risangpun akhirnya menyampaikan rencananya itu kepada ibunya untuk mendapat persetujuan, karena persoalannya akan menyangkut keselamatannya.
"Berhati-hatilah Risang," berkata ibunya. "Kita belum mengetahui kemampuan orang itu sebenarnya. Jika pamanmu Sambi Wulung dan Jati Wulung pernah melihat salah seorang di antara mereka berkelahi melawan empat orang anak-anak muda, itu tentu belum merupakan puncak dari kemampuannya."
"Ya ibu," jawab Risang. "Mudah-mudahan kami berhasil menangkapnya sebelum ia menangkap aku."
"Siapkan isyarat. Jika perlu salah seorang di antara kalian harus mengirimkan isyarat."
"Ya, ibu," jawab Risang.
"Mungkin kalian tidak akan berhasil dalam satu dua hari ini. Namun selama itu, jika orang-orang itu mengawasimu, maka ia akan dapat mempelajari apa yang sedang kalian lakukan," berkata ibunya yang agaknya menganggap rencana Risang itu cukup berbahaya.
Tetapi ibunya tidak mempunyai cara lain yang lebih baik dari cara yang direncanakan oleh Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung itu.
Demikianlah, maka Risang yang hanya disertai Gandar telah pergi ke bulak di sebelah padukuhan induk. Di Bulak itu terdapat sawah Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang cukup luas. Risang memang sering mempergunakan waktu luangnya untuk melihat-lihat sawahnya yang subur itu. Bahkan kadang-kadang berada di sebuah gubuk yang ada di tengah-tengah sawah yang terbentang luas itu.
Hari itu, Risang dan Gandar juga melihat-lihat sawahnya. Batang-batang padi tumbuh subur menghijau. Gemericik air yang mengalir di parit mengiringi suara desah angin yang menggetarkan daun-daun batang padi yang terhambur dari desa sampai ke desa.
Dua tiga orang petani sedang sibuk menyiangi rerumputan yang tumbuh di sela-sela batang padi itu.
Jalan di tengah bulak itu memang tidak terlalu sepi. Di pagi hari banyak orang yang lewat untuk pergi atau pulang dari pasar di padukuhan induk.
Ketika seorang laki-laki separo baya lewat jalan itu di antara beberapa orang yang pulang dari pasar, maka Gandar dapat mengenalinya, bahwa orang itu adalah salah seorang di antara ketiga orang berkuda yang menurut keterangannya sedang mencari adiknya di Tanah Perdikan.
Dengan serta-merta, maka Gandarpun menyapanya.
"Ki Sanak," desis Gandar, "bukankah kau salah seorang yang aku temui di perbatasan itu?"
Orang itu terkejut. Tetapi iapun segera mengenali Gandar. Karena itu, maka iapun menjawab, "Ya. Kita pernah bertemu di perbatasan."
"Apakah adikmu yang kau cari itu sudah kau ketemukan?" bertanya Gandar.
"Belum Ki Sanak," jawab orang itu.
"Apakah kau berhasil menyusul orang yang kami usir dari Tanah Perdikan itu?"
"Ya," jawab orang itu. "Tetapi ia bukan orang yang aku cari."
"Kau berbicara dengan orang itu?" bertanya Gandar pula.
"Tidak. Ketika kami melihat bahwa orang itu bukan adik kami, maka kami tidak merasa perlu untuk menegurnya. Kami menjaga agar tidak terjadi salah paham dan perselisihan. Karena kami selalu menghindarinya."
"Jadi, kalian masih tetap berada di Tanah Perdikan ini untuk mencari adik kalian?" bertanya Gandar.
"Ya," jawab orang itu.
Namun tiba-tiba Gandar berkata, "Nah, jika kau belum mengenal, inilah Kepala Tanah Perdikan Sembojan."
"O," orang itu mengangguk hormat. "Maaf Ki Sanak. Aku tidak tahu bahwa aku berhadapan dengan Kepala Tanah Perdikan." Orang itu berhenti sejenak, lalu katanya pula, "Jadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan ini masih begitu muda?"
Risangpun mengangguk hormat. Ketika Gandar mengatakan tentang pertemuannya dengan orang itu di perbatasan, maka Risangpun segera mengetahui bahwa orang itu adalah salah seorang dari tiga orang berkuda yang dikatakan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.
Dengan ramah Risangpun berkata, "Senang sekali bertemu dengan Ki Sanak. Aku juga pernah mendengar paman Gandar berceritera tentang Ki Sanak yang sedang mencari adik Ki Sanak di Tanah Perdikan ini. Jika saja kami mengetahui ciri-ciri adik Ki Sanak, maka kami tentu akan dapat membantunya."
"Terima kasih atas kebaikan, Ki Sanak. Tetapi biarlah kami tidak menyibukkan para petugas di Tanah Perdikan ini dan apalagi Ki Sanak," jawab orang itu. Namun kemudian katanya, "Tetapi bagaimana aku harus menyebut Kepala Tanah Perdikan yang masih sangat muda ini?"
"Panggil saja namaku, Risang," jawab Risang, "tetapi siapakah nama Ki Sanak?"
"Risang. Angger Risang," desis orang itu. Lalu katanya pula, "Namaku Wira Gending."
"Sebenarnya aku ingin mempersilahkan paman Wira Gending untuk singgah di rumahku. Apa salahnya jika kami membantu mencari adik paman Wira Gending itu?"
"Sudahlah Ngger, jangan risaukan kami. Kami tentu akan segera menemukannya," jawab Wira Gending.
"Tetapi jika paman memerlukan bantuan kami, jangan segan. Yang justru kami cemaskan adalah, jika terjadi salah paham antara adik paman Wira Gending dengan orang-orang Tanah Perdikan. Apalagi anak-anak mudanya yang jiwanya masih bergejolak," berkata Risang.
"Tidak Ngger. Angger juga masih muda. Tetapi nampaknya jiwa Angger sudah mengendap. Melihat Angger, rasa-rasanya aku melihat anak-anak muda di seluruh Tanah Perdikan ini," jawab Wira Gending.
Risang tertawa pendek. Katanya, "Apa yang aku lakukan kadang-kadang tidak ubahnya dengan kelakuan anak-anak muda yang lain. Hanya karena kedudukanku maka aku harus menahan diri."
Namun orang itu kemudian mengangguk hormat sambil berkata, "Sudahlah Ngger. Aku minta diri. Rupa-rupanya Angger sedang melihat-lihat keadaan di Tanah Perdikan Angger."
"Tidak, paman. Aku senang menunggui beberapa orang yang sedang menyiangi tanaman di sawah. Jika tidak ditunggui, kadang-kadang mereka tidak melakukan pekerjaan mereka dengan baik," jawab Risang.
"Ya," orang itu mengangguk. "Orang-orang upahan itu memang tidak bertanggung jawab sepenuhnya. Mereka mau menerima upahnya, tetapi mereka sering berusaha menghindari pekerjaannya."
Demikianlah, maka orang yang menyebut dirinya Wira Gending itu meninggalkan Risang yang sedang melihat-lihat sawahnya bersama Gandar. Namun demikian orang itu berjalan menjauh. Gandarpun berdesis, "Orang itu agaknya memang berbahaya."
"Ya. Agaknya penalarannya sangat tajam," sahut Risang.
Gandar mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling ke arah orang itu, maka orang itu sudah menjadi semakin jauh.
Sementara itu mataharipun menjadi semakin tinggi di langit. Jalan menjadi semakin sepi. Orang-orang yang pergi ke pasar sudah banyak yang pulang, sehingga pasarpun menjadi semakin sepi pula.
Namun Risang dan Gandar masih menunggui sawah yang sedang disiangi itu. Sedangkan di tengah-tengah sawah orang-orang yang menyiangi tanaman masih sibuk membungkuk-bungkuk dengan kaki yang membenam di dalam lumpur. Di atas kepala mereka terdapat caping yang terbuat dari bambu yang melindungi kepala mereka dari sengatan terik matahari.
Gandar mengerutkan dahinya ketika dari kejauhan terdengar derap kaki kuda. Debu yang putih mengepul membubung tinggi lalu tersebar ditiup angin.
"Berhati-hatilah," desis Gandar.
Risang juga mendengar derap kaki kuda. Bahkan kemudian merekapun melihat tiga orang penunggang kuda berpacu menuju ke arah mereka.
"Tiga orang berkuda itu," berkata Gandar. Baik Gandar maupun Risang, nampaknya tidak menghiraukan mereka sama sekali. Keduanya justru telah menyusur pematang mendekati orang-orang yang sedang menyiangi tanaman di sawah itu. Sekali-sekali Risang membungkuk memperhatikan rumput-rumput liar yang tumbuh di antara batang-batang padi.
Beberapa saat kemudian, maka ketiga orang berkuda itu telah berhenti di jalan bulak itu tidak terlalu jauh dari Risang dan Gandar yang berdiri di pematang.
Seorang di antara mereka adalah Wira Gending.
Risang yang kemudian berpaling telah menyapa, "Kau, paman Wira Gending. Baru saja paman lewat, sekarang paman sudah melintas kembali ke arah yang berlawanan. Bahkan berkuda."
Wira Gending itu memandang Risang sejenak. Namun kemudian iapun telah menundukkan kepalanya.
Seorang lain yang juga sudah separo baya, bahkan sedikit lebih tua dari Wira Gending itulah yang menyahut, "Wira Gending telah memberitahukan kepadaku, bahwa Angger Risang, Kepala Tanah Perdikan Sembojan, berada di sawah menunggui orang-orang yang sedang menyiangi tanaman padinya."
"O," Risang yang berdiri di pematang itu mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Aku memang sedang menunggui orang-orangku yang sedang menyiangi tanaman. Setiap kali aku memang harus melihat apakah yang mereka kerjakan cukup baik dan bersih. Tidak mematahkan batang-batang padi, tetapi dapat mencabut rerumputan sampai tuntas."
"Ternyata Angger adalah seorang Kepala Tanah Perdikan yang sangat cermat. Angger yang sibuk masih juga sempat menunggui sendiri orang-orangnya yang sedang menyiangi tanaman."
"Aku memang sering melakukannya. Di sela-sela kesibukanku, maka aku justru memerlukan melakukan pekerjaan ini, sehingga aku tidak menjadi jenuh oleh tugas-tugasku yang kadang-kadang merampas segenap tenaga dan perhatianku."
"Angger tentu seorang Kepala Tanah Perdikan yang rajin," berkata orang itu. Namun kemudian katanya, "Angger Risang. Barangkali Angger sudah tahu kenapa kami berada di Tanah Perdikan ini."
"Ya," jawab Risang. "Bukankah kalian mencari adik kalian" Apakah kalian sudah menemukannya?"
"Belum Ngger," jawab orang itu, "tetapi kami sangat kagum atas cara Angger memerintah. Juga kesediaan Angger membantu kami."
"Bukankah itu termasuk dalam lingkup tugasku?" sahut Risang dengan nada tinggi.
"Angger. Begitu besar jiwa kepemimpinan Angger, sehingga kami menjadi sangat kagum karenanya. Bahkan kami berniat untuk menjamu Angger di pondok kami apabila Angger bersedia. Kami dapat berbincang-bincang tentang kemurahan hati Angger serta kepentingan kami bertiga," berkata orang itu.
Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, "Terima kasih Ki Sanak. Kalian sangat baik."
"Bukan karena kami sangat baik. Tetapi justru karena kami mengagumi cara Angger memerintah di Tanah Perdikan ini. Selama kami berada di Tanah Perdikan ini, maka kami telah mendengar banyak tentang Angger dan para pemimpin serta bebahu Tanah Perdikan ini. Karena itu, maka wajar sekali jika Tanah Perdikan ini cepat tumbuh dan berkembang, sehingga menjadi Tanah Perdikan yang besar," berkata orang itu.
Namun kemudian Risang bertanya, "Tetapi apakah aku dapat mengetahui nama Ki Sanak?"
"Tentu," jawab orang itu. "Orang memanggilku Ki Sabawa."
"Ki Sabawa," berkata Risang mengangguk-angguk. Sementara Ki Sabawa itu berkata lebih lanjut, "Kawanku yang seorang ini adalah Kerta Wirit. Ia seorang yang memiliki kepandaian melihat dan membaca isyarat bagi masa depan seseorang. Jika Angger Risang bersedia datang ke pondok kami, maka Kerta Wirit akan mencoba melihat keberuntungan Angger di masa depan. Masa depan yang dekat dan masa depan yang jauh. Jika Angger belum memiliki sisihan, maka Kerta Wirit akan dapat memberikan petunjuk dan barangkali sedikit syarat agar keinginan Angger terpenuhi. Atau barangkali Angger ingin tahu serba sedikit tentang masa depan Tanah Perdikan ini. Apalagi persoalan Mataram dan Madiun yang menjadi semakin hangat sekarang ini."
Risang mengerutkan dahinya. Satu tawaran yang menarik. Namun Risang bukan seorang anak muda yang dikuasai sepenuhnya oleh perasaannya. Apalagi setelah ia memegang jabatan Kepala Tanah Perdikan.
Karena itu, betapapun menariknya tawaran Ki Sabawa itu, namun Risang tidak dapat melepaskan diri dari sikap berhati-hati. Apalagi ia sudah mengetahui, untuk apa ketiga orang itu berada di Tanah Perdikan.
Karena itu, maka Risang itupun kemudian menjawab, "Ki Sabawa, sebenarnya aku tertarik sekali untuk melihat serba sedikit tentang masa depanku dan masa depan Tanah Perdikan. Apalagi tentang jodoh, karena aku memang belum berkeluarga. Tetapi sayang, bahwa aku sekarang sedang menunggui orang-orang yang menyaingi rumput di sawah itu. Jika aku tinggalkan mereka, maka kerja mereka tentu akan menjadi lamban atau bahkan dengan semena-mena merusakkan tanaman padiku."
"Tetapi bukankah Angger Risang tidak perlu menunggui para pekerja itu langsung" Bukankah Angger dapat menunjuk seseorang yang dapat dipercaya. Misalnya Ki Sanak ini," katanya sambil menunjuk Gandar.
Risang tersenyum. Katanya, "Orang-orangku adalah orang-orang yang keras kepala. Jika bukan aku sendiri yang menunggui mereka, maka mereka tidak akan bekerja dengan baik. Seandainya paman Gandar yang aku tinggalkan disini, maka akan sama saja artinya dengan tanpa ditunggu sama sekali."
"Kenapa?" bertanya Ki Sabawa.
"Mereka sama sekali tidak merasa segan kepada paman Gandar, atau kepada yang lain-lain," jawab Risang.
Ki Sabawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Tetapi Ngger, kami ingin sekali menjamu Angger sesuai dengan kemampuan kami karena kekaguman kami."
"Terima kasih paman," jawab Risang. "Mungkin lain kali, jika aku tidak sedang sibuk seperti kali ini."
Wajah Ki Sabawa mulai berkerut. Tetapi ia masih menahan diri. Katanya, "Kami hanya memerlukan waktu Angger sebentar saja. Asal saja Angger sudi memenuhi permohonan kami ini."
Tetapi Risang menjawab, "Maaf Ki Sabawa. Aku benar-benar menyesal, bahwa aku tidak dapat memenuhi keinginan Ki Sabawa dan kedua orang paman yang lain. Tetapi aku berjanji bahwa lain kali aku akan datang."
Suara Ki Sabawa mulai meninggi, "Ngger. Jangan menolak keinginan orang-orang tua seperti kami ini. Apalagi setelah kami banyak mendengar tentang Angger yang disebut-sebut sebagai seorang yang rendah hati."
"Sama sekali tidak Ki Sabawa. Aku bukan seorang yang pantas mendapat pujian. Juga bukan seorang yang rendah hati," jawab Risang. "Dan sekarang aku terpaksa mohon maaf karena aku telah mengecewakan Ki Sabawa."
Ki Sabawa mulai kehilangan kesabaran. Ia memang melihat satu kesempatan yang terbaik untuk mengambil Risang saat itu. Kedua orang kawannya, Wira Gending dan Kerta Wirit akan dapat menahan Gandar, bahkan seandainya Gandar itu adalah seorang pengawal yang berilmu tinggi. Sedangkan ia sendiri akan dapat menangkap Risang dan membawanya dengan kudanya.
Karena itu, maka Ki Sabawa itu berkata, "Angger. Kami sudah tidak sabar lagi menunggu Angger untuk datang ke pondok kami."
"Jangan menunggu aku sekarang. Sudah aku katakan bahwa aku tidak dapat melakukannya justru karena kesibukanku. Ki Sabawa dapat melihat sendiri, orang-orangku sedang sibuk di sawah," sahut Risang.
Tetapi suara Ki Sabawa mulai berubah. Ia tidak mau kehilangan kesempatan yang dianggapnya baik sekali itu. Karena itu, maka katanya, "Angger. Demikian besar keinginan kami untuk mempersilahkan Angger singgah, sehingga kami tidak akan dapat bersabar menunggu kesempatan yang lain."
Risang mengerutkan dahinya. Katanya sambil tertawa pendek, "Kau aneh Ki Sabawa. Begitu besar perhatianmu kepadaku, sehingga kau tidak dapat bersabar menunggu sampai kesempatan lain. Padahal kau tidak mempunyai kepentingan yang mendesak selain sekedar memberikan satu penghormatan kepadaku. Aku memang harus berterima-kasih sekali. Tetapi akupun terpaksa mohon maaf yang sebesar-besarnya."
Ki Sabawa dan kedua orang kawannya telah mengikat kuda-kuda mereka pada sebatang pohon randu yang tumbuh di pinggir jalan. Dengan bersungguh-sungguh Ki Sabawa berkata, "Maaf Ngger. Aku tidak dapat menunggu sampai nanti sekalipun. Aku minta Angger sekarang juga ikut bersama kami. Kami sudah menyiapkan hidangan yang bagi kami sangat berlebihan sekedar untuk menjamu Angger. Jika Angger tidak mau singgah, maka apa yang telah aku persiapkan itu akan sia-sia."
Risang menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ketiga orang itu sudah tidak sabar lagi. Karena itu, maka ia harus menjadi semakin berhati-hati. Bahkan Gandarpun telah bergeser mendekati Risang yang telah berdiri di tanggul di pinggir jalan.
"Ki Sabawa," berkata Risang, "aku minta, kau jangan memaksa seperti itu. Bukankah aneh, bahwa Ki Sabawa memaksa aku untuk pergi singgah ke pondok Ki Sabawa. Bagiku itu justru bukan satu kehormatan. Kecuali jika aku sudah berjanji untuk datang, sementara Ki Sabawa sudah terlanjur menyiapkan suguhan, maka jika janjiku itu aku batalkan, maka akulah yang bersalah."
"Angger Risang," berkata Ki Sabawa, "sebaiknya aku memang tidak membuat banyak alasan. Aku mohon dengan sangat Angger Risang bersedia mengikuti kami bertiga datang ke pondok kami. Itu saja."
Risang termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam ia bertanya, "Apa sebenarnya yang kalian kehendaki?"
"Apapun yang kami rencanakan, itu bukan persoalan Angger Risang. Tetapi aku memang mempunyai satu rencana yang tidak dapat ditunda. Karena itu, mari lah. Aku mohon Angger bersedia membantuku untuk satu dua hari."


02 Sayap Sayap Yang Terkembang Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Untuk satu dua hari?" bertanya Risang.
"Ya," jawab Ki Sabawa. "Mudah-mudahan persoalannya selesai dalam satu dua hari."
"Jika tidak?" bertanya Risang.
"Aku mohon Angger juga bersabar. Aku memang berniat mohon Angger membantu kami sampai persoalan kami selesai," jawab Ki Sabawa.
Risang menggeleng sambil berkata, "Ki Sabawa. Aku menjadi semakin tidak mengerti maksud Ki Sabawa. Namun demikian, maka akupun menjadi semakin segan untuk menerima ajakan Ki Sabawa."
"Angger Risang," berkata Ki Sabawa yang telah kehilangan kesabaran, "persoalannya memang sudah menjadi semakin jauh. Karena itu, maka kami tidak dapat melangkah surut. Apakah Angger bersedia atau tidak, namun kami bertekad untuk membawa Angger sekarang juga ke pondok kami."
"Apakah Ki Sabawa akan memaksa aku?" bertanya Risang.
"Aku sudah memohon kesediaan Angger dengan baik-baik. Tetapi Angger tidak bersedia. Karena itu apaboleh buat. Aku terpaksa mohon dengan sedikit memaksa," jawab Ki Sabawa.
"Sudahlah Ki Sabawa. Jangan bersusah payah ten tang aku. Jika Ki Sabawa telah terlanjur menyediakan hidangan, tolong bawa saja hidangan itu kemari. Aku akan dengan senang hati menikmatinya disini. Bahkan dengan orang-orangku yang sedang bekerja di sawah itu."
"Angger Risang," berkata Ki Sabawa yang benar-benar sudah kehabisan kesabaran, "sekarang aku memang harus mengatakan kepada Angger, bahwa mau tidak mau Angger akan kami bawa ke pondok kami."
Tetapi Risang menggelengkan kepalanya sambil berdesis, "Tidak. Kau tidak dapat memaksa aku."
Ki Sabawa itupun kemudian memberi isyarat kepada kedua orang kawannya untuk berpencar. Katanya, "Jaga pengawalnya itu. Jika ia melawan, selesaikan saja. Aku akan memaksa Angger Risang untuk ikut bersama kami."
Kedua orang itu memang nampak ragu-ragu. Namun Ki Sabawapun kemudian mendesak mereka, "Cepat. Lakukan perintahku."
Orang yang disebut Wira Gending dan Kerta Wirit itupun bergeser menjauhi Ki Sabawa. Keduanya kemudian bersiap menghadapi Gandar, sementara Ki Sabawa berhadapan dengan Risang.
"Apa yang sebenarnya kalian kehendaki?" bertanya Risang.
Ki Sabawa ternyata kemudian berkata berterus-terang, "Angger Risang. Aku tidak mempunyai cara lain untuk mengambil saudaraku, Ki Lurah Mertapraja dari Pajang. Karena itu, maka aku ingin minta Angger membantu kami. Kami akan menangkap Angger sebagai taruhan. Angger akan kami pertukarkan dengan Ki Lurah Mertapraja yang sedang ditahan di Pajang."
"Kenapa aku?" bertanya Risang.
"Angger cukup berharga dipertukarkan dengan Ki Lurah Mertapraja. Apalagi Ki Lurah ditangkap di Tanah Perdikan ini."
"Apakah Ki Lurah itu sangat berharga bagi kalian sehingga ada usaha mati-matian untuk membebaskannya?" bertanya Risang.
Ki Sabawa menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia menjawab, "Ngger. Itu adalah persoalan kami. Jika kami bekerja keras, bahkan mempertaruhkan jiwa kami untuk membebaskan Ki Lurah, maka Ki Lurah tentu orang yang sangat penting bagi kami."
"Tetapi Ki Sabawa, betapa pentingnya Ki Lurah, sudah barang tentu bahwa aku tidak akan bersedia menjadi barang taruhan. Apalagi aku tahu pasti, bahwa Ki Lurah telah berbuat satu kesalahan yang besar. Baik bagi Pajang maupun bagi Madiun. Ia sudah menyerang Tanah Perdikan Sembojan yang merupakan bagian dari Pajang. Namun ia juga telah melanggar paugeran prajurit Madiun, karena ia adalah seorang prajurit Madiun."
"Jangan berbicara tentang kesalahan yang pernah dibuatnya. Yang penting bagi kami, Ki Lurah itu dapat dibebaskan. Karena itu, marilah. Mau tidak mau, Angger Risang harus ikut bersama kami," berkata Ki Sabawa yang telah bersiap untuk bertempur.
Risangpun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia sudah tahu bahwa ketiga orang itu tentu orang yang berilmu tinggi, karena mereka tentu sudah tahu dari orang-orang sebelum mereka yang gagal melepaskan Ki Lurah Mertapraja.
Dalam pada itu, Gandarpun telah bersiap pula. Namun sekali-sekali ia masih juga berpaling kepada Risang. Meskipun Risang juga memiliki ilmu yang cukup, namun menurut perhitungan Gandar sesuai dengan ceri-tera Sambi Wulung dan Jati Wulung, jika ia harus berhadapan dengan salah seorang di antara mereka, agaknya masih sangat meragukan bahwa Risang dapat mempertahankan diri.
Sebenarnyalah bahwa meskipun sudah dipersiapkan dengan baik, tetapi Risang memang belum menerima ilmu puncak yang diperuntukkan baginya. Ilmu Janget Kinatelon.
Namun segala sesuatunya sudah diperhitungkan dengan baik. Karena itu, ketika Ki Sabawa benar-benar akan mulai menyerang, orang-orang yang sedang berada di sawah itupun telah tertarik pula menyaksikan apa yang terjadi dengan Kepala Tanah Perdikan mereka.
Karena itu beberapa orang yang sedang menyiangi tanaman itu bergerak mendekati Risang yang sudah bersiap untuk mempertahankan dirinya, maka Ki Sabawa itupun berkata, "Biarlah Wira Gending menyelesaikan pengawal Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu. Sedang Kerta Wirit akan menghalau para petani yang dungu itu. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ingat, kita tidak mempunyai banyak waktu. Jika satu dua orang petani itu sempat berlari ke padukuhan dan membunyikan tanda bahaya atau isyarat apapun, kita dapat mengalami kesulitan. Yang penting, kita dapat membawa Angger Risang. Aku tidak berkeberatan jika terpaksa kalian berlaku sedikit keras terhadap mereka yang keras kepala."
Wira Gending dan Kerta Wirit tidak menjawab. Tetapi Kerta Wirit yang sudah siap bersama-sama Wira Gending menghadapi Gandar, telah bergeser lagi. Sementara itu orang-orang yang sedang bekerja di sawah berlari-lari menuju ke jalan bulak.
Agaknya Ki Sabawa memang tidak mau kehilangan waktu. Karena itu, maka iapun mulai melangkah maju mendekati Risang yang telah bersiap pula.
"Sayang, bahwa kau tidak mau membantuku Ngger," berkata Ki Sabawa.
Namun dalam pada itu, Ki Sabawa yang siap untuk menyerang itu tertegun. Ia mendengar seseorang yang naik dari pematang meloncati parit di pinggir jalan itu berteriak kepadanya, "He, Ki Sanak. Apakah kau masih ingat kepadaku?"
Ki Sabawa termangu-mangu sejenak. Dua orang yang berjalan di paling depan di antara para petani yang bekerja di sawah itu membuka caping mereka, sehingga wajah merekapun nampak dengan jelas.
Ki Sabawa menarik nafas dalam-dalam. Namun jantungnya mulai berdebar-debar. Orang itu memang pernah dilihatnya.
Kerta Wirit yang sedianya bersiap menghalau para petani itupun termangu-mangu pula. Kedua orang itu memang pernah dilihatnya, meskipun ia harus mengingat-ingat, dimana dan kapan keduanya itu dijumpainya.
Wira Gending yang sudah berhadapan dengan Gandarpun teringat pula akan kedua orang itu. Bahkan hampir di luar sadarnya Wira Gending berdesis, "Kedua orang yang kita lihat di sebuah kedai beberapa saat yang lalu."
"Ya," Sambi Wulunglah yang menyahut, "kita bertemu di sebuah kedai beberapa waktu yang lalu. Salah seorang dari kalian bertiga telah berkelahi dengan empat orang anak muda yang menurut pendapatku memang sangat mengganggu ketenangan para pengunjung yang lain. Dan ternyata empat orang anak muda itu sama sekali tidak berdaya."
Ki Sabawa menarik nafas dalam-dalam. Namun sambil menggeram ia bertanya, "Siapakah kalian sebenarnya?"
"Kami adalah para petani yang bekerja bagi Angger Risang. Bukankah kau melihatnya?" Sambi Wulung justru bertanya.
"Kita tidak usah bergurau lagi. Jika kalian berdua adalah dua orang yang kami temui di kedai itu, maka agaknya kalian telah mendengar pembicaraan kami. Dan kamipun agaknya dapat menebak apa yang terjadi sekarang. Agaknya kalian memang sedang menjebak kami bertiga," berkata Ki Sabawa.
"Baiklah," jawab Sambi Wulung yang melangkah mendekati Risang tanpa menghiraukan Kerta Wirit yang kemudian berdiri berhadapan dengan Jati Wulung. Lalu katanya selanjutnya, "Kami memang berusaha untuk mempercepat agar persoalan ini selesai. Kami tidak sabar menunggu kalian berkeliaran di Tanah Perdikan dengan alasan mencari adik kalian. Orang yang kami usir keluar Tanah Perdikan itu ternyata bukan orang yang kalian cari karena kami tahu bahwa kalian memang tidak mencari siapa-siapa disini, kecuali niat kalian untuk menangkap Angger Risang atau barangkali ibunya yang sebagaimana kalian katakan sendiri, sebagai taruhan niat kalian membebaskan Ki Lurah Mertapraja."
"Ya, aku memang tidak ingkar. Aku juga telah mengatakannya kepada Angger Risang," jawab Ki Sabawa.
"Nah, sudah tentu bahwa Angger Risang sangat keberatan akan niat kalian itu. Apalagi untuk membantu kalian atas rencana kalian itu," berkata Sambi Wulung.
"Aku sudah menjadi jelas atas persoalan yang aku hadapi sekarang. Maka akupun tidak akan berputar-putar lagi. Serahkan Angger Risang, atau kami akan mengambilnya dengan kekerasan."
"Aku kira kau tentu tahu pasti jawaban kami. Apa lagi jika kalian sudah menyadari bahwa kami memang menjebak kalian," jawab Sambi Wulung.
"Bagus," berkata Ki Sabawa. "Aku akan mempergunakan kekerasan. Jika kau pernah melihat Kerta Wirit berkelahi melawan empat orang anak muda itu, maka kemampuannya yang kalian lihat saat itu, sama sekali bukan ukuran kemampuan kami. Saat itu Kerta Wirit yang marah itu sekedar menunjukkan kekuatan wadagnya menghadapi anak-anak bengal seperti itu. Tetapi berhadapan dengan kalian, yang dilakukannya tentu berbeda."
"Kami sudah menduga. Kamipun tahu bahwa kalian tentu orang-orang berilmu tinggi. Jika tidak, kalian tidak akan berani berbuat sebagaimana kalian rencanakan, karena kalian tahu isi dari Tanah Perdikan Sembojan ini," jawab Sambi Wulung.
Ki Sabawapun mulai bergeser. Katanya, "Maaf, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk berbincang seka rang."
Sambi Wulungpun tidak menjawab lagi. Tetapi iapun telah menggamit Risang dan mempersilahkannya melangkah surut. Katanya, "Biarlah aku hadapi orang ini."
Risang tidak membantah. Iapun segera bergeser surut. Sementara Sambi Wulung telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.
Dalam pada itu, maka Kerta Wiritpun telah bersiap pula menghadapi Jati Wulung. Bahkan Jati Wulung berdesis, "He, kau ingat wedang jae hangat dengan gula kelapa di kedai itu" Aku jarang sekali menjumpai minuman sesegar itu."
Kerta Wirit menarik nafas dalam-dalam. Betapa kecutnya senyum yang nampak di bibirnya. Namun ia masih juga menjawab, "Ya. Segar sekali. Aku juga terkesan wajik keletik di kedai itu. Bukan saja manis, tetapi juga wangi."
Jati Wulung tertawa. Tetapi tertawanya itu terputus, ketika ia melihat Kerta Wirit mulai bergerak.
"Kenapa tergesa-gesa?" desis Jati Wulung.
"Kami memang tidak mempunyai waktu banyak. Tetapi maaf jika aku nanti menyakitimu atau bahkan melukaimu karena kau tidak memberi kesempatan kami berbuat lebih baik tanpa melakukan kekerasan," berkata Kerta Wirit.
"Tetapi apa yang akan kalian lakukan adalah satu tindakan yang menentang kewajaran. Dengan demikian maka rencana kalian itu menyinggung rasa keadilan," jawab Jati Wulung.
"Apaboleh buat," jawab Kerta Wirit.
Jati Wulung tidak menjawab lagi. Namun iapun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Dalam pada itu, Gandarpun telah mulai bertempur. Wira Gending tidak lagi banyak berbicara. Ia tahu bahwa Gandar tentu seorang pengawal yang dipercaya, karena Gandarlah yang telah memimpin beberapa orang pengawal ketika mereka menurut pengakuan yang mereka katakan, mengusir seseorang yang berbahaya bagi Tanah Perdikan Sembojan.
Namun Gandarpun menjadi sangat berhati-hati karena sebagaimana dikatakan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung bahwa ketiga orang itu tentu orang-orang yang berilmu tinggi.
Demikian keduanya terlibat dalam benturan kekuatan, maka keduanya semakin yakin akan kemampuan lawan mereka.
Dalam pada itu, Ki Sabawapun telah mulai menyerang pula. Sambi Wulung ternyata minta agar Risang tidak mencampuri pertempuran itu.
"Aku akan mencoba mengatasinya," berkata Sambi Wulung.
Ki Sabawa sempat berdesis, "Anak itu tidak akan sempat melarikan diri Ki Sanak."
"Ia tidak akan melarikan diri," jawab Sambi Wulung. "Jika aku gagal menghadapimu, maka Angger Risang sendiri akan melakukannya. Namun sebelum aku kehilangan kesempatan untuk melawanmu, maka akulah yang akan melakukannya."
Ki Sabawa memang tidak menunggu lagi. Serangan-serangannya pun segera menjadi semakin garang. Ia memperhitungkan waktu sebaik-baiknya, karena salah seorang di antara para petani yang naik dari kotak-kotak sawah itu akan dapat menghubungi orang-orang di padukuhan atau bahkan para pengawal. Namun tidak mustahil bahwa mereka itu adalah para pengawal itu sendiri.
Dengan demikian maka telah terjadi tiga lingkaran pertempuran di bulak persawahan itu. Sambi Wulung bertempur melawan Ki Sabawa, Jati Wulung melawan Kerta Wirit dan Gandar bertempur melawan Wira Gending. Sementara itu, Risang berdiri termangu-mangu menyaksikan pertempuran itu. Seorang yang masih berlumpur pada kaki dan tangannya berdiri dekat di belakang Risang. Orang itu memang seorang pengawal yang terpercaya. Meskipun ia tidak berkemampuan sebagaimana Risang sendiri, tetapi ia akan dapat berbuat sesuatu jika Risang mengalami kesulitan.
Dalam pada itu, Gandar sudah harus meningkatkan kemampuannya ketika Wira Gending mulai mendesaknya. Ternyata Wira Gending memang seorang yang memiliki kekuatan yang sangat besar dan mampu bergerak cepat. Tetapi Gandarpun seorang yang sangat kuat, sehingga karena itu, maka kekuatan kewadagan Gandar memang tidak kalah dari Wira Gending. Sehingga dengan demi kian, maka pertempuran di antara mereka telah terjadi dengan sengitnya.
Benturan-benturan yang terjadi mengungkapkan kelebihan mereka. Keduanya saling menyerang, saling mendesak dan saling menghindar.
Risang menyaksikan pertempuran itu dengan tegang. Apalagi ketika ia melihat Sambi Wulung bertempur melawan Ki Sabawa. Keduanya berloncatan dengan cepat. Serangan-serangan mereka datang beruntun susul menyusul.
Ki Sabawa yang rambutnya sudah mulai memutih, ternyata masih mampu bertempur dengan garangnya. Tetapi rambut Sambi Wulungpun telah memutih pula. Sehingga dengan demikian, maka keduanya justru menunjukkan kematangan ilmu mereka.
Di putaran pertempuran yang lain, Jati Wulung bertempur dengan keras melawan Kerta Wirit. Kerta Wirit bukannya seorang penyabar menghadapi sikap orang lain yang tidak disukainya. Karena itu, ketika Jati Wulung siap menghadapinya, maka kemarahannyapun telah merambah sampai ke kepala.
Namun Jati Wulung pernah melihat bagaimana Kerta Wirit bertempur melawan empat orang anak muda yang sedang tumbuh. Bahkan Jati Wulungpun yakin, bahwa apa yang dilakukan oleh Kerta Wirit itu bukanlah puncak dari kemampuannya.
Karena itu, maka Jati Wulungpun sejak semula telah menjaga dirinya sebaik-baiknya. Ia tidak boleh terperosok ke dalam satu kesalahan yang akan dapat menenggelamkannya dalam kesulitan.
Karena itu, maka sejak semula Jati Wulung selalu menjaga keseimbangan pertempuran itu. Ia tidak ingin terlambat. Tetapi Jati Wulung juga tidak ingin memeras tenaganya semena-mena, karena lawannya yang dianggapnya cukup matang itu tentu mempunyai perhitungan yang mapan pula.
Sebenarnyalah bahwa Kerta Wirit adalah seorang yang berilmu tinggi. Yang dilakukan kemudian sama sekali tidak sebagaimana dilakukannya menghadapi anak-anak muda di kedai itu. Kerta Wirit memang tidak terlalu banyak berloncatan, menyerang atau berbagai macam gerak yang tidak berarti. Tetapi langkahnya yang jarang menunjukkan betapa Kerta Wirit memiliki ilmu yang matang.
Dengan demikian maka Jati Wulungpun harus memperhitungkan setiap langkahnya pula. Ia tidak ingin kehabisan tenaga selagi lawannya justru mulai menekannya.
Meskipun demikian, pada saat-saat yang paling gawat, maka keduanya telah berloncatan dan berputaran dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Ternyata Kerta Wirit mempunyai cara tersendiri untuk mengejutkan lawannya. Beberapa saat ia tidak terlalu banyak bergerak. Sekali-sekali saja ia bergeser. Melangkah untuk menyerang. Namun kemudian bergeser mengambil jarak.
Tetapi pada saat tertentu, tiba-tiba saja Kerta Wirit itu menyerang dengan cepat. Kakinya berloncatan melontarkan tubuhnya berputaran. Tangannya terayun-ayun menggapai tubuh Jati Wulung dari segala arah.
Jati Wulung memang terkejut. Ketika tiba-tiba saja tubuhnya serasa dibelit oleh serangan Kerta Wirit dari segala arah, serta sentuhan-sentuhan tangannya yang terayun deras, Jati Wulung tidak dapat berbuat lain kecuali meloncat surut mengambil jarak. Bahkan karena lawannya selalu memburunya, maka Jati Wulung harus meloncat tinggi-tinggi, berputar di udara. Kemudian menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali.
Ketika lawannya masih saja berusaha memburunya, maka Jati Wulunglah yang kemudian melenting sambil menghentakkan kekuatannya. Ia tidak mau diburu terus. Tetapi ia sempat mempersiapkan diri ketika ia tegak berdiri. Jati Wulung tidak lagi berusaha menghindar atau mengambil jarak. Tetapi ia justru membentur kekuatan lawan yang sedang memburu dan menyerangnya di setiap kesempatan.
Kerta Wiritlah yang terkejut. Ia tidak mengira bahwa tiba-tiba saja lawannya membentur serangannya.
Namun karena Kerta Wirit lebih mapan, maka Kerta Wirit tidak terdorong surut. Tetapi langkahnya bagaikan terhenti. Ia memerlukan waktu untuk bersiap menyerang lagi.
Sementara itu, Jati Wulung yang masih belum semapan lawannya memang terdorong surut. Tetapi karena lawannya tertahan sesaat oleh benturan yang terjadi, maka Jati Wulung mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan dirinya menghadapi kemungkinan-kemungkinan baru.
Dengan demikian maka Kerta Wirit tidak lagi dapat memburu lawannya yang selalu menghindari serangannya. Karena Jati Wulung telah bersiap menghadapinya, maka Kerta Wiritpun harus menjadi semakin berhati-hati pula.
Yang kemudian menyerang adalah justru Jati Wulung. Ia tidak mau menjadi sasaran yang harus berloncatan menghindari serangan lawannya. Tetapi iapun harus menyerang pula.
Pada pertempuran yang berlangsung kemudian, Jati Wulung yang telah menjajagi kekuatan, kemampuan dan kebiasaan lawannya, telah menempatkan dirinya lebih mapan lagi. Ia tidak lagi selalu menghindari serangan Kerta Wirit. Tetapi sekali-sekali ia justru membentur serangan itu. Apalagi ketika kemudian Jati Wulung menyadari, bahwa kekuatan tenaga dalam lawannya.
Di putaran pertempuran yang lain, Gandar ternyata memiliki kekuatan yang lebih besar dari Wira Gending. Setiap terjadi benturan, maka Wira Gending telah terdorong surut. Namun Wira Gending mempunyai kesempatan lebih banyak untuk menyerang, karena itu ia mampu bergerak lebih cepat.
Beberapa kali serangan Wira Gending mampu menerobos pertahanan Gandar. Namun Gandar seakan-akan tidak tergoyahkan. Ketika kaki Wira Gending menghantam dada Gandar, Gandar memang terdorong dua langkah surut. Tetapi Gandar tidak kehilangan keseimbangan. Nafasnya tidak pula menjadi sesak. Bahkan iapun kemudian melangkah maju tanpa ancang-ancang.
Meskipun sebenarnya Gandar juga merasakan serangan itu seakan-akan menghentak jantungnya dan menahan pernafasannya, namun dalam waktu yang singkat Gandar dapat mengatasinya dengan daya tahannya yang tinggi.
Karena itu, maka pertempuran antara Wira Gending dan Gandar itupun menjadi semakin lama semakin sengit. Serangan-serangan Wira Gending menjadi semakin cepat. Sejalan dengan itu, maka serangan-serangannyapun menjadi lebih sering pula berhasil menyusup di celah-celah pertahanan Gandar. Namun dalam pada itu, meskipun tidak terlalu sering, namun jika serangan Gandar dapat mengenai tubuh lawannya, maka Wira Gending harus menyeringai menahan sakit.
Cinta Sepanjang Amazon 1 Josep Sang Mualaf Karya Fajar Agustanto Dendam Empu Bharada 13
^