Pencarian

Api Di Bukit Menoreh 3

16 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja Bagian 3


Namun dalam pada itu, di longkangan, ketiga orang abdi Raden Yudatengara itupun semakin mengalami kesulitan. Tubuh mereka telah tergores ujung senjata lawan, sehingga darah telah meleleh membasahi pakaian mereka.
Tetapi tanpa mereka ketahui darimana datangnya, dua orang yang bertutup wajah bagaikan terbang turun di longkangan itu dari sebatang pohon, justru di luar longkangan.
"Kau bantu mereka. Aku mencari Raden Yudatengara," desis seorang diantara mereka.
Yang lain hanya mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab.
Demikian seorang diantara mereka menyelinap masuk, maka yang seorang langsung melibatkan diri dalam pertempuran di longkangan.
Akibatnya orang itu telah merubah keseimbangan pertempuran. Meskipun orang itu tidak bersenjata, namun dalam waktu yang singkat, seorang telah terlempar dari arena pertempuran. Tubuhnya membentur bebatur serambi sehing-ga.orang itu tidak segera dapat bangkit berdiri.
Belum lagi kawan-kawannya sempat menilai keadaan seorang lagi telah terpelanting dan jatuh menelungkup. Wajahnya yang tersuruk di tanah menjadi sangat kotor. Debupun telah melekat di wajah yang berkeringat itu. Bahkan matanya merasa pedih oleh debu yang menyusup.
Ketika orang itu mencoba untuk bangkit serta mengusap wajahnya dengan lengan bajunya, terasa wajahnya itu menjadi pedih. Di beberapa bagian dari wajahnya itu, kulitnya telah terkelupas, sehingga berdarah.
Ketiga orang abdi di rumah Raden Yudatengara itu menjadi heran pula bahwa tiba-tiba ada orang yang datang untuk membantu mereka. Bahkan kemampuannya yang sangat tinggi telah menentukan keseimbangan pertempuran itu selanjutnya.
Beberapa orang yang lainpun telah disakitinya pula. Yang kepalanya terbentur dinding justru menjadi pingsan. Sedangkan yang lain lagi, terasa kakinya bagaikan menjadi patah.
Selagi keseimbangan pertempuran di longkangan itu mulai bergeser, maka di ruang dalam, Raden Yudatengarapun harus berlari-lari menghindari benturan langsung dengan lawan yang jumlahnya terlalu banyak. Ketika Raden Yudatengara itu berlari ke ruang depan, maka beberapa orang telah memburunya. Tetapi seorang diantara mereka tiba-tiba saja telah terhisap pintu bilik yang ada di ruang dalam.
Terdengar orang itu berteriak. Namun suaranyapun segera terputus.
Kawan-kawannya, bahkan Raden Wiraprabapun terkejut. Tiba-tiba saja mereka berhenti.
"Ada apa ?" bertanya Raden Wirapraba.
"Seseorang telah menarik kawan kita lewat pintu itu masuk ke dalam."
"Siapa yang menarik."
"Tidak tahu." "Cepat. Lihat kedalam. Hati-hati. Jangan sendiri."
Dua orang telah bersiap untuk memasuki bilik itu. Ketika bilik itu dibuka, tiba-tiba saja orang yang berdiri di depan terdorong beberapa langkah surut. Dari dalam bilik itu terjulur tangan dengan jari-jari terbuka telah menerpa dadanya. Sebelum orang yang lain menyadari, maka kawan yang terdorong surut itu telah menimpanya, sehingga kedua-duanya jatuh terlentang.
Raden Wiraprabapun menggeram. Kemarahannya telah membuat darahnya mendidih di jantungnya.
"Siapa kau yang telah berani turut campur he ?" Seseorang meloncat keluar dari dalam bilik itu.
Wajahnya tertutup sehelai kain yang berwarna gelap, sehingga hanya sepasang matanya sajalah yang kelihatan.
"Kau siapa ?" bertanya Raden Wirapraba.
"Sabawa," jawab orang bertutup wajah itu.
Mawarni yang telah bergabung dengan beberapa orang yang mengikuti Raden Wirapraba itu berteriak, "Sabawa terikat di tiang di ruang dalam."
"Aku sudah melepaskan diri."
Tiba-tiba saja Mawarni itupun berlari. Sebenarnyalah Raden Sabawa sudah tidak terikat lagi di tiang di ruang dalam.
Meskipun demikian, tidak seorangpun yang mengenal Raden Sabawa itu mempercayai, bahwa orang yang bertutup wajah itu Sabawa.
Dengan geramnya Raden Wiraprabapun berteriak, "Tangkap orang itu hidup atau mati sebagaimana kangmas Yudatengara."
Sekejap kemudian, maka pertempuranpun telah berkecamuk lagi di dalam rumah itu. Raden Yudatengara bergeser dari satu ruang ke ruang lainnya. Dengan memanfaatkan pemahamannya tentang seluk beluk rumahnya, maka Raden Yudatengara mampu melepaskan diri dari tangan lawan-lawannya. Sementara itu orang yang mengenakan tutup wajah itu bertempur dengan garangnya. Beberapa orangpun telah terdorong surut. Seorang terlempar membentur tiang sehingga menyeringai kesakitan. Punggungnya serasa patah. Ketika ia mencoba bangkit, maka iapun segera terjatuh kembali. Sedangkan seorang yang lain yang menyerang orang bertutup wajah itu dengan derasya, telah kehilangan sasarannya. Bahkan tiba-tiba saja tangan yang kuat telah memegang lehernya dan mendorong, sehingga orang itupun segera jatuh pingsan.
Keberadaan kedua orang itu di arena pertempuran benar-benar telah membuat para pengikut Raden Wirapraba seakan-akan kehilangan kesempatan. Yang bertempur di longkanganpun telah menghentikan perlawanan beberapa orang. Sementara ketiga orang abdi Raden Yudatengara telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka pula.
Beberapa orang lawan yang tersisa justru terdesak keluar pintu seketeng, sehingga mereka bertempur di halaman di depan gandok
Sementara itu, para pengikut Raden Wirapraba yang bertempur di dalam rumahpun menjadi semakin menyusut. Beberapa orang terkapar tidak berdaya. Betapapun Raden Wirapraba berteriak-teriak, namun mereka sudah tidak mampu lagi untuk bangkit.
Ternyata Mawarni mempunyai perhitungan lain. Ia ingin mencari Raden Sabawa. Jika ia mampu menangkap Raden Sabawa. maka ia akan memaksa Raden Yudatengara untuk menyerah.
Dengan demikian, maka Mawarni itupun telah memasuki bilik-bilik yang terdapat di dalam rumah Raden Yudatengara.
Tetapi Mawarni tidak menemukan Raden Sabawa. Apalagi Mawarni sendiri menjadi tergesa-gesa. sehingga ia tidak sempat melihat kolong-kolong di dalam bilik-bilik di rumah Raden Yudatengara.
Bahkan ketika ia memasuki sebuah bilik yang besar, ia terkejut. Orang yang mengenakan tutup wajahnya itu tiba-tiba saja telah berdiri di pintu.
Mawarni menjadi berdebar-debar. Ia tahu benar bahwa orang yang mengenakan tutup wajah itu adalah seorang yang berkemampuan sangat tinggi, sehingga dengan demikian maka Mawarni tentu tidak akan dapat menerobos keluar.
"Kau cari siapa Mawarni ?" bertanya orang bertutup wajah itu.
Mawarni tidak menjawab. Tetapi pedangnya teracu ke dada orang bertutup wajah itu.
Orang yang mengenakan tutup wajah itu tertawa. Katanya, "Apakah kau mencari Raden Sabawa?"
"Pergi," geram Mawarni, "jangan halangi aku."
"Kenapa kau menjadi tergesa-gesa. Tidak ada lagi yang menunggumu di luar. Ayahmu pingsan di ruang depan. Mudah-mudahan Raden Yudatengara tidak membunuhnya. Sekarang Raden Yudatengara sedang bertempur melawan Raden Wirapraba. Seorang melawan seorang. Namun agaknya Raden Yudatengara ingin bertempur di tempat yang lebih lapang. Mereka sekarang bertempur di halaman. Raden Yudatengara telah mendesak Raden Wirapraba keluar dari ruang depan. Mereka bertempur sejenak di pendapa. Tetapi Raden Wirapraba pun terdesak terus sehingga mereka berdua turun ke halaman. Tetapi menilik tingkat kemampuan mereka, maka Raden Wirapraba tidak akan memenangkan pertempuran itu."
"Persetan kau," geram Mawarni, "jika kau tidak mau minggir, aku akan menghujamkan pedangku di dadamu menembus jantung."
"Kita sedang berada dalam pertempuran Mawarni. Kau tidak usah mengancam. Jika kau mampu melakukannya, lakukanlah."
Mawarni yang gelisah itu tidak menunggu lagi. Iapun langsung menyerang orang bertutup wajah yang berdiri di pintu itu.
Tetapi orang itu sangat tangkas. Sambil berloncatan, maka tiba-tiba saja tiga buah jari-jari tangannya telah menyentuh punggung dekat di bawah lehernya.
Mawarni terkejut. Namun segala sesuatunya sudah terjadi. Tiga sentuhan jari-jari orang bertutup wajah itu telah membuat Mawarni menjadi tidak berdaya.
Orang bertutup wajah itu tertawa. Tetapi Mawarni tidak dapat berteriak ketika orang bertutup wajah itu mengangkat tubuhnya.
Mawarni hanya dapat mengumpat-umpat di dalam hatinya.
Orang bertutup wajah itupun kemudian melekatkan tubuh Mawarni di sebuah tiang kayu kokoh. Kemudian iapun memanggil Raden Sabawa. "Keluarlah."
Ternyata Raden Sabawa itu bersembunyi di kolong pembaringan ayahnya. Di tubuhnya masih melilit tali yang semula mengikat tubuhnya.
"Ikat perempuan itu pada tiang kayu," berkata orang bertutup wajah itu.
Raden Sabawa menjadi ragu-ragu.
"Ikatlah. Nanti kita akan turun ke halaman. Kita akan melihat ayahmu bertempur di halaman."
Tetapi Raden Sabawa masih berdiri termangu-mangu.
"Cepat. Jangan takut. Perempuan itu sudah tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak lebih dari sebuah patung meskipun ia masih tetap bernafas."
Raden Sabawa pun akhirnya menyadari, bahwa Mawarni memang tidak dapat bergerak lagi. Karena itu, maka iapun berani mendekatinya dan mengikat tangannya dan tubuhnya pada tiang kayu yang kokoh itu.
Demikian Raden Sabawa selesai mengikat tubuh itu, maka orang bertutup wajah itu pun telah menyentuh lagi punggung Mawarni.
Demikian Mawarni bebas, maka iapun segera berteriak mengumpat-umpat dengan kasarnya.
"Nah, kau dengar Raden Sabawa. Perempuan yang kau anggap sebagai perempuan idaman itu adalah seorang perempuan yang kasar. Ia tidak lebih luruh dari Sarpakenaka, adik perempuan Rahwana dari Alengka Diraja."
Raden Sabawapun menarik nafas panjang, ia sadar sepenuhnya, siapakah sebenarnya perempuan itu.
Namun suara Mawarnipun akhirnya menurun. Ia tidak lagi berteriak-teriak. Tetapi ketika ia sempat berpikir menghadapi kenyataan itu, maka Mawarni itu mulai menangis.
"Raden Tolong aku Raden. Lepaskan aku dari ikatan ini. Tidak ada orang lain yang dapat menolong aku kecuali Raden Sabawa. Hanya kepada Raden aku mengharapkan perlindungan."
Dahi Raden Sabawapun berkerut. Sementara itu Mawarnipun mulai terisak, "Raden Tolong aku Raden."
Sesuatu terasa bergetar di jantung Raden Sabawa. Namun orang bertutup wajah itupun berkata, "Apakah kau masih juga terpengaruh Raden " Apakah Raden pernah mendengar kata orang, bahwa buayapun sering menangis " Nah, air mata yang mengalir dari pelupuknya itulah air mata buaya. Jika Raden melepaskan tali ikatannya, maka buaya itu akan mengangakan mulutnya selebar kepala Raden."
"Diam. Diam kau pengecut," teriak Mawarni. Orang yang menutupi wajahnya itu tertawa. Sementara itu Mawarnipun berteriak, "Kenapa kau tutupi wajahmu " Bukankah itu menunjukkan bahwa kau adalah orang yang licik, pengecut yang curang. Kau sebenarnya takut menghadapi kami sehingga kau harus menyembunyikan wajahmu."
"Ya. Kau benar."
"Benar apa ?" "Kau benar bahwa aku takut dikenal wajahku," jawab orang itu. Namun kemudian iapun berkata, "Marilah Raden. Kita tinggalkan tempat ini. Kita melihat apa yang terjadi di halaman. Semua orang yang menyerang rumah ini tentu sudah terbunuh. Satu-satunya yang tersisa adalah Mawarni. Tergantung pada nasibnya. Jika ia bernasib buruk, maka tidak ada orang yang akan menemukannya dan melepaskan talinya. Tetapi jika ia bernasib baik, maka tentu akan ada orang yang menemukannya."
Demikian Raden Sawaba beringsut, Mawarni itupun memanggilnya dengan suara yang memelas, "Raden. Tolong aku Raden. Aku akan mengabdi Raden sepanjang umurku. Aku akan mematuhi semua perintah Raden dan aku akan bersedia berbuat apa saja bagi Raden."
Raden Sabawa berhenti. Ketika ia berpaling dilihatnya air mata Mawarni menjadi semakin deras. Namun orang bertutup wajah itupun tertawa sambil berkata, "Kau telah memainkan peranmu dengan baik sekali Mawarni. Tetapi sekarang semuanya sudah selesai. Jangan berpura-pura lagi."
Terdengar Mawarni itu menggeram. Demikian orang bertutup wajah itu bersama Raden Sabawa keluar dari pintu bilik itu, terdengar Mawarni mengumpat-umpat dengan kasarnya, "Kalian iblis, setan, genderuwo, tetekan."
Tetapi orang bertutup wajah itu serta Raden Sabawa tidak berhenti.
Sejenak kemudian Raden Sabawa serta orang yang bertutup wajah itu telah berdiri di tangga pendapa. Mereka menyaksikan pertempuran yang sama sekali sudah tidak seimbang lagi. Orang yang bertutup wajah yang seorang lagi juga sudah tidak melibatkan diri dalam pertempuran itu, karena ketiga orang abdi Raden Yudatengara sudah dapat mengatasi lawan-lawan mereka. Bahkan sejenak kemudian, lawan-lawan merekapun telah terkapar di halaman.
Yang masih bertempur adalah Raden Yudatengara melawan Raden Wirapraba. Tetapi Raden Wirapraba yang sudah kehilangan pengiring-pengiringnya itupun sudah tidak berdaya. Kemampuan Raden Yudatengara ternyata berada di atas kemampuan Raden Wirapraba.
Ketika kemudian senjata Raden Wirapraba terlempar dari tangannya, serta ujung senjata Raden Yudatengara yang digapainya di ruang dalam itu melekat didadanya, maka Raden Wirapraba itupun telah berlutut dihadapan Raden Yudatengara.
"Kangmas, aku mohon ampun. Jangan bunuh aku. Isteri dan anak-anakku akan menjadi terlantar di negeri orang."
"Di negeri orang " Apa maksud dimas ?"
"Bukankah sekarang kita berada di Demak. Bukan berada di kampung halaman kita sendiri, Mataram."
"Apa artinya Mataram bagi dimas " Apa artinya kampung halaman. Bukankah Kangjeng Adipati Demak itu juga lahir dan dibesarkan di Mataram " Bagi Kangjeng Adipati Demak dan bagimu dimas. Mataram adalah sasaran yang harus ditundukkan. Kangjeng Adipati akan duduk diatas tahta. Agaknya kaupun akan menjadi seorang pejabat tinggi yang akan dapat memanfaatkan kedudukanmu untuk menindas orang-orang kecil."
"Tidak, kangmas. Apa yang aku lakukan, semata-mata karena aku mendapat perintah. Karena aku tidak berani menentang perintah itu, sehingga aku harus melaksanakannya."
"Kenapa kau tidak berani menentang perintah itu ?"
"Akibatnya akan buruk sekali bagiku. Aku akan dapat mengalami nasib seperti kangmas. Untunglah bahwa kangmas memiliki ilmu yang tinggi, selungga hari ini kangmas dapat membebaskan diri."
"Hari ini " Jadi maksudmu esok kau akan datang lagi dengan membawa pengikut yang lebih banyak lagi " Begitu ?"
"Tidak. Tidak kangmas."
"Kau tentu akan kembali lagi dimas. Jika kau tidak kembali lagi, maka nasibmu akan menjadi lebih buruk dari nasibku."
"Tidak. Aku bersumpah kangmas. Aku akan menolak perintah itu."
Raden Yudatengara tertawa. Katanya, "Kau adalah seorang yang aneh dimas."
Raden Wiraprabapun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun memberanikan diri untuk bertanya, "Apa yang aneh, kangmas " Aku berjanji untuk tidak mengkhianati kangmas lagi."
"Kau tidak akan dapat menolak dimas."
"Kenapa tidak " Sampai matipun aku tidak tikan bersedia lagi menjalankan perintah Kangjeng Adipati."
"Itulah yang aneh, dimas. Sekarang kau berlutut dihadapanku karena kau takut mati. Kau korbankan harga dirimu sebagai seorang kesatria untuk mempertahankan hidupmu. Bagaimana mungkin kau dapat berkata kepadaku, bahwa sampai matipun kau tidak akan bersedia lagi menjalankan perintah Kangjeng Adipati."
Wajah Raden Wirapraba menjadi semakin pucat. Keringatnya mengalir membasahi pakaiannya, sehingga seakan-akan Raden Wirapraba itu baru saja berteduh dari hujan yang lebat.
"Dimas. Tidak ada tempat di Mataram bagi orang-orang seperti Dimas ini. Karena itu, maka Dimaspun harus disingkirkan dari Mataram Karena Demak termasuk dalam kesatuan wilayah Mataram, maka Dimaspun disingkirkan dari Demak.
"Ampun kangmas, ampun." Raden Wirapraba itupun membungkuk dalam-dalam sampai dahinya menyentuh tanah.
Namun pada saat itu, jari-jari raden Yudatengara telah menyentuh simpul-simpul syaraf di punggung Raden Wirapraba, sehingga Raden Wirapraba itupun terguling dengan lemahnya.
Ternyata Raden Wirapraba itupun tidak lagi mampu bergerak.
"Tidurlah untuk beberapa lama Dimas," terdengar Raden Yudatengara berdesis.
Sebenarnyalah bahwa Raden Wirapraba itupun segera tertidur. Bahkan seperti orang yang sedang pingsan.
Demikian Raden Yudatengara melangkah surut, maka Raden Sabawapun berlari menghambur mendapatkan ayahnya. Raden Sabawalah yang kemudian berlutut dihadapan ayahnya sambil berkata dengan suara yang bergetar, "Ampun, ayah. Aku mohon ampun. Aku telah menyulitkan ayah, sementara perempuan itu benar-benar seorang perempuan iblis seperti yang ayah katakan."
"Sudahlah Sabawa. Aku senang bahwa kau sekarang sempat melihat kenyataan itu. Bukan saja kenyataan tentang Mawarni. tetapi kau tentu akan mendapat pengalaman jiwani yang jauh lebih luas lagi dari peristiwa ini."
"Ya. ayah." Sementara itu ketiga orang abdi di rumah Raden Yudatenangara yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri itupun telah mendekat pula. Ketiga-tiganya telah terluka. Namun luka mereka agaknya tidak terlalu berbahaya.
"Kita tidak dapat tinggal di rumah ini lagi," berkata Raden Yudatengara.
"Apakah kita harus pergi ayah ?"
"Ya. Kita harus pergi."
"Kita akan pergi kemana ?"
Dipandanginya Raden Wirapraba yang tertidur. Beberapa orang yang lain terbaring di halaman. Ada yang mengerang kesakitan, ada yang mulai merayap menepi sambil menyeringai.
Dua orang yang mempergunakan tutup wajah itupun mendekat pula. Seorang diantara mereka berkata, "Raden memang harus pergi dari rumah ini."
"Kami mengucapkan terima kasih, Ki Sanak. Ki Sanak telah menyelamatkan kami. Ki Sanak pula yang telah memberi kesempatan anakku menemukan masa dewasanya."
"Aku sekedar melakukan kewajiban diantara sesama, Raden."
"Siapakah Ki Sanak berdua ini ?"
"Itu tidak penting. Sekarang, tinggalkan tempat ini. Jika Raden terlambat, maka akhir dari ceriteranya akan menjadi lain."
"Baik. Ki Sanak. Aku akan pergi. Aku akan mempersiapkan diri sebentar. Aku akan membawa tombak pendekku yang terjatuh di longkangan ketika aku bertempur melawan banyak orang. Untunglah Ki Sanak berdua segera datang dan menyelamatkan kami."
"Cepatlah sedikit, Raden."
Raden Yudatengara itupun segera memerintahkan orang-orangnya untuk bersiap serta membawa apa saja yang mereka anggap penting.
"Bagaimana dengan dua orang perempuan di dapur itu, Raden."
"Berikan uang secukupnya. Suruh mereka pulang. Keadaannya tidak menguntungkan jika mereka tetap berada disini. Bukankah mereka orang-orang yang tinggal di sekitar rumah kita ?"
"Ya. Raden. Rumah mereka tidak terlalu jauh."
Segala sesuatunyapun kemudian dilakukannya dengan cepat, sehingga beberapa saat kemudian, mereka sudah dapat meninggalkan halaman rumah itu.
Baru diluar regol. Raden Yudatengara itu berkata, "Aku akan pergi ke Mataram. Ki Sanak."
"Perjalanan yang sangat panjang."
"Ya. Tetapi aku tidak mempunyai tujuan yang lain. Di Mataram aku dapat melaporkan apa yang telah terjadi disini. Akupun akan melaporkan tentang kalian berdua. Jika saja kalian berdua bersedia menyebut diri Ki Sanak, maka agaknya akan menjadi lebih baik."
"Yang penting Raden, Mataram mengetahui apa yang telah bergejolak di Demak sekarang ini, agar Mataram tidak terkejut karenanya. Mungkin Mataram sudah menerima laporan dari Pajang tentang perkembangan di Demak. Tetapi laporan Raden yang langsung menyaksikannya dan bahkan mengalami, tentu akan lebih berarti bagi Mataram."
Raden Yudatengara mengangguk-angguk. Dengan nada datar iapun berkata, "aku tidak menduga, bahwa Demak akan memberontak. Bukan sekedar memisahkan diri dari Mataram, tetapi Kangjeng Adipati di Demak, yang merasa bahwa ia adalah saudara yang lebih tua dari Kangjeng Sultan yang sekarang bertahta di Mataram, akan mengambil alih tahta itu. Dengan rencana yang disusun rapi, Kangjeng Adipati telah menyusun kekuatan di Demak dan sekitarnya. Bahkan anak-anak muda serta semua laki-laki yang dianggap masih pantas untuk bertempur telah dipersenjatai. Disebelah Utara Gunung Kendeng, para petani bukan saja dipersenjatai, tetapi mereka diharuskan mengikuti latihan-latihan yang keras, bahkan mirip seorang prajurit. Pasukan Wira Tani itu kelak tidak akan-dapat diremehkan. Mereka bukan saja di tempa secara kewadagan, tetapi mereka juga telah dijejali dengan ajaran-ajaran yang keliru tentang kedudukan Demak dan Mataram yang dipimpin oleh dua orang bersaudara itu."
"Mudah-mudahan laporan Raden akan dapat memberikan gambaran yang lengkap bagi Mataram, sehingga dapat diambil langkah-langkah yang tepat. Bahkan jika mungkin dan belum terlambat, hubungan antara Mataram dan Demak itu dapat diperbaiki. Tetapi pihak lain yang agaknya dapat mempengaruhi kebijaksanaan Kangjeng Adipati tidak akan melepaskan kesempatan ini."
"Ya, Ki Sanak. Pengaruh dari Perguruan Kedung Jati memang sangat besar. Tetapi pengaruh dari dua orang pejabat tinggi di Demak hampir menentukan sikap Kangjeng Adipati."
"Siapakah mereka ?"
"Ki Tumenggung Gending dan Ki Tumenggung Panjer."
Kedua orang bertutup wajah itu menarik nafas panjang. Namun kemudian seorang diantaranya berkata, "Raden. Sebaiknya Raden membuat berbagai macam pertimbangan bagi perjalanan Raden. Selain ketiga orang yang menyertai Raden itu terluka, serta sifat Raden Sabawa yang tentu tidak akan dapat berubah dengan serta merta, maka Raden harus mengambil kebijaksanaan lain daripada sekedar pergi ke Mataram dengan tergesa-gesa.''
"Maksud Ki Sanak ?"
"Orang-orang Demak tentu sudah memperhitungkan bahwa Raden pasti akan pergi ke Mataram. Karena itu, setelah mereka sadari kegagalan tugas Raden Wirapraba, maka mereka akan mengirimkan sekelompok prajurit yang diperkuat dengan beberapa orang berilmu tinggi, akan memburu Raden. Karena itu, menurut pendapatku, sebaiknya Raden justru berhenti dahulu. Selain untuk mempersiapkan perjalanan panjang yang akan Raden tempuh, para pengiring Raden itupun sempat mengobati luka-luka mereka. Baru esok lusa Raden dapat meneruskan perjalanan. Tetapi tidak lewat jalur jalan yang biasa dilalui orang yang pergi ke Mataram, terutama para pejabat."
Raden Yudatengara itupun mengangguk-angguk. Katanya, "Ki Sanak benar. Tetapi di mana kami harus berhenti. Orang-orang yang aku kenal dengan baik serta sahabat-sahabatku yang selama ini tidak menunjukkan sikap bermusuhan, tiba-tiba saja telah berdiri di seberang."
"Raden," berkata salah seorang abdi Raden Yudatengara, "pendapat Ki Sanak ini sangat masuk akal. Karena itu, kita memang harus berhenti. Aku mempunyai seorang sahabat yang sangat baik kepadaku. Aku kira sahabatku itu akan bersedia menerima kita satu dua hari di rumahnya yang meskipun sederhana tetapi aku kira cukup baik bagi kita untuk katakanlah bersembunyi."
"Pada saat seperti ini serta dalam keadaan kita sekarang, akan sangat sulit untuk mencari seseorang yang benar-benar dapat dipercaya."
"Aku yakin dan mempercayai sahabatku itu. Raden."
"Bukankah kau kenal Dimas Wirapraba dengan baik ?"
"Ya, Raden." "Kami bersama-sama berangkat dari Mataram, ketika aku bersama dengan beberapa orang mendapat perintah untuk menyusul Kangjeng Adipati ke Demak, untuk membenahi pemerintahan barunya, maka kami adalah sahabat yang baik. Seakan-akan aku dan Dimas Wirapraba tidak dapat berpisah. Bahkan seperti saudara kandung. Ketika keluarga kami menyusul ke Demak bersama beberapa keluarga yang lain, rasa-rasanya segala sesuatunya tidak akan pernah berubah. Apalagi jika pada suatu saat Dimas Wirapraba datang kepadaku dengan senjata telanjang yang siap dihunjamkannya ke dadaku."
Abdi yang sudah direngkuh seperti keluarga sendiri itu mengangguk hormat. Katanya, "Aku mengerti Raden. Tetapi aku masih memohon Raden untuk mempercayai sahabatku itu. Pada waktu yang paling pahit dari kehidupan sahabatku itu, aku sempat membantunya. Mungkin Raden pernah melihatnya seseorang yang datang menangis kepadaku untuk minta bantuanku. Akupun mohon ijin kepada Raden pada waktu itu beberapa hari untuk menyelesaikan persoalan yang menjeratnya pada waktu itu."
Raden Yudatengara termangu-mangu sejenak. Namun orang bertutup wajah itulah yang kemudian menyahut, "Baiklah. Raden mencobanya. Kita dapat pergi ke rumahnya malam ini sebelum prajurit Demak itu menyusul Raden."
Raden Yudatengara itupun mengangguk-angguk sambil menjawab, "Baiklah. Kita akan mencobanya."
Demikianlah, maka iring-iringan kecil itupun kemudian bergerak dengan cepat. Mereka turun ke jalan yang lebih kecil dan bahkan kemudian mereka melewati lorong sempit.
Di dini hari, sebelum fajar mereka telah berada di luar kota menyusup gerbang butulan yang tidak dijaga.
"Rumahnya tidak terlalu jauh," berkata abdi Raden Yudotengara itu.
Rumah orang yang disebut sahabatnya itu memang tidak terlalu jauh. Mereka memasuki sebuah padukuhan kecil yang tidak terlalu banyak dihuni, karena letaknya yang rendah di pinggir sebuah sungai. Jika sungai itu meluap, maka padukuhan itu sering sekali mengalami banjir meskipun tidak terlalu berbahaya bagi penghuninya. Tetapi para penghuninya itu sama sekali tidak berniat untuk pindah mencari tempat baru yang lebih baik. Mereka mencintai kampung halaman tempat kelahiran mereka. Apalagi seisi padukuhan itu semuanya masih mempunyai hubungan darah serta sangkut paut kekeluargaan.
Menjelang fajar, iring-iringan kecil itupun telah berada di sebuah halaman rumah yang memang tidak begitu besar, tetapi nampak rapi. Halamannya terhitung luas mengelilingi rumah yang tidak begitu besar itu. Bahkan kebun di belakang rumah itu agaknya memanjang sampai ke tepi sungai.
Abdi Raden Yudatengara itupun kemudian mengetuk pintu pringgitan perlahan-lahan, agar tidak mengejutkan penghuninya.
Sejenak kemudian, terdengar di dalam, "Siapa ?"
"Aku, di." "Aku siapa?" "Wawu." "Wawu" Kakang Wawu?"
Terdengar langkah tergesa-gesa ke pintu. Demikian pintu terbuka, nampak seorang yang bertubuh tinggi kekurus-ku-rusan berdiri di belakang pintu.
"Kakang Wawu. Sepagi ini kakang sudah sampai disini" Ada apa kakang" Dan kakang datang bersama siapa saja."
"Adi Kemin. Aku akan langsung berterus terang kepadamu. Kami datang untuk minta perlindungan."
"Perlindungan," Kemin menjadi heran, "perlindungan apa?"
"Kami adalah buruan prajurit Demak. Kami sedang bersembunyi untuk sehari saja. Besok kami akan melanjutkan perjalanan."
"Aku tidak tahu maksudmu, kakang."
"Adi Kemin. Yang datang bersamaku adalah saudara-saudaraku. Sedang dua orang diantaranya adalah Raden Yudatengara dan puteranya Raden Sabawa. Mereka adalah orang-orang Mataram yang terperosok di Demak yang kini sedang mempersiapkan diri untuk melawan Mataram. Karena itu, maka kami, terutama Raden Yudatengara dan puteranya yang berpihak kepada Mataram itu telah diburu oleh para pemimpin di Demak. Dengan demikian, maka kami berniat untuk bersembunyi barang sehari. Besok kami akan meninggalkan Demak."
Wajah Keminpun menjadi tegang. Dengan suara yang bergetar oleh gejolak perasaannya Keminpun berkata. "Tetapi, tetapi aku tidak berani, kakang. Jika ketahuan oleh para petugas di Demak, maka bukan saja kalian yang akan mengalami kesulitan. Tetapi kami sekeluarga juga akan mengalami kesulitan."
"Tempat ini terhitung sepi, adik. Bukankah jarang sekali ada petugas atau prajurit Demak yang sampai kemari?"
"Kau keliru kakang. Wanda, anak kang Semin yang tinggal di ujung lorong ini menjadi prajurit di Demak. Belum terlalu lama. Sementara itu. kami semua telah dipersiapkan dengan latihan-latihan yang mantap untuk setiap saat berkumpul dan pergi ke Mataram. Bagaimana mungkin aku dapat memberikan tempat bersembunyi bagi kalian."
"Hanya satu hari, adi. Kami akan masuk ke dalam rumahmu. Bahkan seandainya kami harus berada di kandang sekalipun. Besok pagi-pagi, kami akan meninggalkan rumah ini. Kami berjanji bahwa kami tidak akan keluar dari temipat yang kau berikan kepada kami selama kami berada di sini."
"Maaf kakang," berkata orang itu, "aku bersedia menolong kakang apapun yang harus aku lakukan jika aku mampu. Tetapi tidak untuk bermusuhan dengan Demak. Kakang sebaiknya tahu, bahwa kami masih harus berlatih keprajuritan sepekan dua kali. Semula kami berlatih sepekan tiga kali. Tetapi sekarang tinggal dua kali. Tetapi kami berada dalam ikatan seperti seorang prajurit. Bagaimana mungkin aku dapat memberikan tempat bagimu dan sekelompok orang-orang ini."
"Jika tidak ada orang yang mengetahui keberadaan kami disini, bukankah tidak akan terjadi sesuatu."
"Maaf kakang. Bukannya aku tidak mau menolong kakang. Tetapi aku tidak berani."
"Jadi hanya sebatas inikah persahabatan kita selama ini adi, sementara aku telah berbuat apa saja bagimu, bahkan mempertaruhkan nyawaku."
"Aku tidak akan pernah melupakan pertolonganmu kakang. Aku tahu bahwa kau telah mempertaruhkan nyawamu. Tetapi justru karena itu, apakah keluargaku yang telah kau persatukan dengan mempertaruhkan nyawamu itu sekarang akan kau hancurkan sendiri" Jadi apakah artinya pertolongan dan pengorbananmu pada waktu itu jika pada suatu saat kau datang untuk merusaknya kembali?"
"Adi. Aku sama sekali tidak berniat untuk mengusik ketenteraman keluarga yang telah pulih kembali itu."
"Maaf kakang. Jika kakang bersembunyi disini. maka akibatnya akan sangat buruk bagi keluarga kami yang telah kau selamatkan dari kehancuran itu. Seharusnya kakang sendiri menghargai apa yang pernah kakang lakukan dengan mempertaruhkan nyawa itu.
-ooo0dw0ooo- Jilid 378 WAJAH orang yang dipanggil Wawu itu menjadi merah bagaikan membara, giginya gemeretak menahan kemarahan yang hampir meledakkan jantungnya. Suaranyapun menjadi gemetar, "Jadi, jadi kau menolak memberikan pertolongan kepada kami ?"
"Sudah aku katakan, kakang. Aku tidak menolak. Tetapi aku tidak berani menerima kakang untuk berada di rumahku."
Kemarahan Wawu rasa-rasanya tidak dapat dikekang lagi. Tetapi justru Raden Yudatengara yang kemudian berkata, "Sudahlah. Aku dapat mengerti, kenapa kawanmu itu menjadi ketakutan. Biarlah kita tidak mengganggunya. Biarlah keluarga itu tetap dapat hidup dalam ketenangan. Dengan demikian ia tidak akan dapat melupakanmu, bahwa kaulah yang telah mempersatukan keluarga mereka dengan mempertaruhkan nyawamu."
"Tetapi aku tidak mau diperlakukan seperti ini, Raden."
"Ia menjadi sangat ketakutan."
Wawu itupun menarik nafas panjang, Iapun berusaha untuk mengendapkan kembali kemarahan yang telah melonjak sampai ke ubun-ubun.
Salah seorang yang bertutup wajah itupun kemudian berkata, "Baiklah. Marilah kita tinggarkan tempat ini. Aku sependapat dengan Raden, bahwa penghuni rumah ini menjadi ketakutan."
"Baik. Baik Kami akan pergi," geram Wawu, "tetapi dengar. Kemin. Persahabatan kita hanya akan sampai di sini. Jika terjadi sesuatu lagi atasmu, jangan harapkan pertolonganku"
Orang itu tidak menjawab. Sementara itu Raden Yudatengara serta ketiga orang abdinya yang sudah direngkuhnya sebagai keluarga sendiri itu, serta anaknya Raden Sabawa beranjak dari tempatnya untuk meninggalkan halaman rumah itu. Dua orang yang bertutup wajah itu masih saja mengikuti mereka.
"Kita sekarang pergi kemana, ayah?" bertanya Raden Sabawa. Raden Yudatengara menaik nafas panjang. Katanya, "Aku belum tahu Sabawa. Tetapi aku setuju bahwa kita tidak akan langsung pergi ke Mataram."
Orang yang bertutup wajah itulah yang menyahut, "Kita dapat bermalam dimana saja. Marilah kita pergi ke padang perdu. Kita akan bermalam semalam di padang perdu itu. Besok kita akan bergerak menyusuri padang, kearah Mataram sampai kita menemukan lorong kecil yang dapat kita lalui tanpa kemungkinan buruk, tersusul atau bahkan menjumpai prajurit Demak yang sengaja menyusul kita atau yang sedang meronda."
"Kita akan bermalam di padang perdu," bertanya Raden Sabawa, "dingin ayah. Lalu dimana kita akan tidur" Tidak ada pembaringan. Bahkau tidak ada amben atau lincak bambu sekalipun."
"Kita akan tidur di rerumputan kering," sahut orang bertutup wajah itu.
"Ayah. Aku tidak akan dapat tidur di tempat terbuka seperti itu."
"Kau harus mengalaminya. Sabawa. Selanjutnya kita akan menempuh perjalanan yang panjang. Kita akan bermalam di perjalanan. Mungkin kita harus bermalam dua atau tiga malam sebelum kita sampai di Mataram."
"Yang dua atau tiga malam itu kita juga harus bermalam di tempat terbuka?"
"Ya. Mungkin di padang perdu, mungkin di pategalan atau di mana saja."
"Kenapa kita harus melakukannya, ayah. Jika kita tidak pergi ke mana-mana, maksudku, jika kita sejalan dengan Kanjeng Adipati di Demak, maka kita tidak harus menjalani keadaan yang tidak menyenangkan itu."
"Kau sudah terlanjur menjadi anak manja. Kita tidak mempunyai pilihan. Apakah kita harus menjalani keadaan yang berat ini atau kita harus mati."
"Kenapa ayah harus menentang sikap Kanjeng Adipati di Demak?"
"Kau tidak tahu arti sebuah kesetiaan terhadap tatanan dan paugeran. Kanjeng Adipati di Demak telah melanggar paugeran."
"Paugeran Mataram maksud ayah. Tetapi kita berada di Demak. Kita harus tunduk kepada paugeran yang ada di Demak."
"Demak merupakan bagian dari Mataram, sehingga paugeran yang ada di Demak tidak boleh bertentangan dengan paugeran Mataram yang berlaku menyeluruh bagi semua daerah dalam kesatuan Mataram. Kanjeng Adipati Demak adalah seorang pangeran dari Mataram yang mendapat beban tugas untuk mengatur pemerintahan di Demak dalam lingkungan kesatuan dengan Mataram serta beberapa wilayah yang lain. Karena itu, tidak seharusnya seorang Pangeran dari Mataram yang mendapat beban tugas di satu lingkungan justru menentang Mataram. Bahkan bukan itu saja yang telah dilakukan oleh Kanjeng Adipati di Demak. Kanjeng Adipati telah berniat untuk merebut tahta Mataram yang menurut paugeran memang harus berada di tangan Kanjeng Sultan. Sebelum Panembahan Senopati wafat, Kanjeng Sultan itu telah dinobatkan menjadi Pangeran Adipati Anom. Setiap orang tahu, bahwa seorang Putera Mahkota pada akhirnya akan memegang kepemimpinan tertinggi. Seorang pemimpin bagi seluruh Mataram."
Sabawa mengerutkan dahinya. Dengan nada berat iapun berkata, "Apa salahnya jika Kangjeng Adipati di Demak itu mempunyai kekuatan yang cukup untuk mengalahkan Mataram?"
"Sabawa. Jadi menurut jalan pikiranmu, kekuatan berada di atas tatanan dan paugeran?"
Sabawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menyahut, "Bukankah kenyataannya memang demikian ayah" Siapa yang kuatlah yang berhak menentukan tatanan dan paugeran. Sekarang Mataramlah yang terkuat. Tetapi jika kemudian Demak menjadi kuat melampaui Mataram, maka Demaklah yang akan membuat tatanan dan paugeran. Mataramlah yang harus tunduk. Jika Mataram tidak tunduk maka Mataram akan dipukul dengan kekuatan senjata."
Raden Yudatengara menarik nafas panjang. Sementara itu mereka masih saja berjalan terus dalam keremangan malam. Di tempat terbuka, terasa gelapnya malam tidak terlalu pekat.
Dalam pada itu. salah seorang dari kedua orang yang bertutup wajah itupun bertanya, "Raden Sabawa. Jika demikian, apakah bedanya kehidupan kita dengan kehidupan di rimba" Di dalam rimba, siapa yang lemah akan menjadi mangsa yang kuat. Yang kuat akan dapat memaksakan kehendaknya kepada yang lemah. Bahkan untuk membunuh sekalipun."
"Apa bedanya menurutmu, Ki Sanak?" Sabawa justru bertanya, "bukankah sebagaimana kita lihat, jika ayah tidak mempunyai kekuatan, maka ayah tentu sudah terbunuh Paman Wirapraba berusaha untuk memaksakan kehendaknya kepada ayah berdasarkan atas kekuatan senjata."
"Tetapi apakah Raden Wirapraba dan orang-orangnya sekarang terkapar mati di halaman rumah Raden" Jika Ayah Raden mendasarkan tatanan dan paugeran sebagaimana terdapat di rimba, maka semuanya itu tentu sudah mati. Tetapi kenapa tidak?"
Raden Sabawa terdiam. Tetapi pertanyaan itu bergema di hatinya, "Kenapa tidak?"
Orang bertutup wajah itupun kemudian berkata selanjutnya, "Tentu ada sebabnya, kenapa ayah Raden tidak membunuh mereka. Ada dorongan didalam diri ayah Raden untuk tidak membunuh orang yang sudah tidak berdaya. Nah, apakah penghuni rimba mengenal dorongan seperti itu?"
Raden Sabawa masih belum menjawab.
"Itulah sebabnya, maka di dalam kehidupan kita tatanan dan paugeran itu tidak semata-mata berdasarkan pada kekuatan. Jika cara itu yang ditrapkan, maka yang terjadi adalah setiap kali akan timbul benturan-benturan kekuatan. Penindakan berdasarkan kekuatan akan terjadi dimana-mana. Tetapi geliat untuk melawan terjadi pula dimana-mana. Berhasil atau tidak berhasil. Korban akan bertebaran di setiap saat di segala sudut tanah ini."
Raden Sabawa menarik nafas panjang. Sementara itu ayahnyapun berkata, "Ada baiknya kau ungkapkan perasaanmu itu, Sabawa. Dengan demikian, maka akan ada orang yang memberikan tanggapan sehingga kau akan dapat membuat pertimbangan-pertimbangan berdasarkan atas sikap yang berbeda. Jika kau tidak mengungkapkan perasaanmu itu, maka tidak akan ada orang yang memberikan tanggapannya, sehingga jalan pikiranmu yang keliru itu, akan tetap saja menguasaimu."
Raden Sabawa tidak menjawab. Sementara ayahnyapun berkata selanjutnya, "Aku tahu, bahwa kau masih belum puas Sabawa. Tetapi kami memang tidak akan dapat memberikan penjelasan tuntas dalam waktu yang singkat ini."
Namun Raden Sabawa itupun masih juga bertanya, "Tetapi bukankah Mataram masih juga menggalang kekuatan, ayah. Untuk apa" Jika tatanan dan paugeran itu nilainya melampaui kekuatan, bukankah kekuatan senjata itu sendiri tidak akan banyak berarti?"
"Kekuatan senjata itulah yang harus menegakkan tatanan dan paugeran, Sabawa. Tatanan dan paugeran yang disusun oleh segala pihak dalam pemerintahan. Kekuatan senjata diperlukan untuk meyakinkan bahwa tatanan dan paugeran itu dapat berjalan sebagaimana seharusnya. Bukan sebaliknya, kekuatan dipergunakan untuk membuat tatanan dan paugeran menjadi mandul."
Raden Sabawa tidak bertanya lagi. Masih banyak persoalan yang samar di kepalanya. Tetapi ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat mengerti seluruhnya dalam sekejap.
Demikianlah maka malampun menjadi semakin mendekati fajar. Ternyata Raden Sabawa tidak dapat lagi melanjutkan perjalanan. Ia merasa sangat letih lahir dan batinnya.
Karena itu. maka merekapun berhenti di padang perdu yang berbatasan dengan sebuah hutan yang memanjang.
Demikian mereka berhenti, maka Raden Sabawapun segera menjatuhkan dirinya duduk bersandar sebatang pohon. Ternyata demikian letihnya lahir dan batinnya, maka dalam waklu yang pendek. Raden Sabawa itu telah tertidur meskipun dalam tidurnya anak muda itu nampak gelisah.
Sementara itu. Raden Yudatengarapun berkata kepada kedua orang yang bertutup wajah, "Ki Sanak. Ki Sanak telah menolong kami sehingga kami terhindar dari kematian. Sebenarnyalah kami ingin mengetahui, siapakah Ki Sanak itu sebenarnya. Disini tidak ada orang lain kecuali kami yang sudah Ki Sanak kenal sikap dan pendiriannya."
Kedua orang bertutup wajah itupun saling berpandangan sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka pun berkata, "Baiklah, Raden. Mungkin ada gunanya Raden mengetahui siapakah aku sebenarnya."
Kedua orang bertutup wajah itupun kemudian telah membuka tutup wajah mereka. Ternyata seorang diantara mereka adalah seorang perempuan.
"Kami adalah suami isteri yang mengembara."
Raden Yudatengarapun termangu-mangu sejenak. Dipandanginya kedua orang itu berganti-ganti. Ternyata mereka adalah laki-laki dan perempuan. Keduanya masih terhitung muda, namun ilmu mereka ternyata sangat tinggi.
Raden Yudatengara itupun menarik nafas panjang. Katanya, "luar biasa. Kalian masih muda, tetapi kalian sudah memiliki bekal yang demikian tinggi. Apakah aku boleh tahu. siapakah nama Ki Sanak Berdua?"
"Namaku Glagah Putih. Raden. Perempuan ini isteriku. Namanya Rara Wulan."
"Apakah kalian berdua benar-benar pengembara atau pengemban tugas?"
"Raden," berkata Glagah Putih kemudian, "jika Raden sudah sampai di Mataram dan berhasil menghadap Ki Patih Mandaraka, katakan bahwa Raden telah bertemu dengan dua orang suami isteri. Aku minta Raden mengatakan, bahwa ketika Raden meninggalkan Demak, kami masih ada di Demak. Mungkin kami masih akan berada di Demak untuk beberapa hari lagi. Kemudian kamipun akan segera kembali ke Mataram. Sementara itu. Mataram sudah mendapat beberapa keterangan tentang keadaan di Demak, sehingga Mataram dapat mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya."
Raden Yudatengara itu mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah angger Glagah Putih dan angger Run Wulan. Aku akan secepatnya pergi ke Mataram untuk menghadap Ki Patih Mandaraka."
"Tetapi Raden harus berhati-hati. Tentu masih ada prajurit Demak atau para murid dari perguruan Kedung Jati yang hilir mudik di jalan-jalan yang menuju Mataram untuk mencari Raden."
"Baiklah, ngger. Kami akan berhati-hati. Sebenarnyalah bahwa kami lebih mencemaskan para murid dari perrguruan Kedung Jati yang menyusup di mana-mana daripada prajurit Demak itu sendiri."
"Agaknya lebih baik jika Raden, berdua dengan Raden Sabawa, berjalan terpisah dengan Wawu dan kedua kawannya. Jika Raden berjalan berlima, maka iring-iringan kecil itu tentu akan menarik perhatian."
"Aku juga berpikir begitu, ngger. Besok jika kami melanjutkan perjalanan ke Mataram, maka kami akan memisahkan diri. Kami akan mengatur, kapan dan dimana kami akan bertemu di Mataram. Bahkan kami akan mengatur, apa yang harus kami lakukan masing-masing jika ada diantara kami yang tidak dapat sampai di Mataram karena sesuatu sebab."
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya kemudian. "Baiklah, Raden. Kita akan berpisah. Kita akan melakukan tugas kita masing-masing. Mudah-mudahan Yang Maha Agung selalu melindungi kita semuanya."
"Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada angger berdua, karena angger berdua telah menyelamatkan jiwa kami. Jika angger berdua tidak datang menolong kami semalam, maka kami tentu hanya tinggal nama saja."
"Aku merasa berkewajiban untuk melakukannya, Raden."
"Tetapi dari mana Raden mengetahui bahwa hal seperti semalam itu akan terjadi."
Sebelum Glagah Putih menjawab, maka Wawupun menyela, "Bukankah Ki Sanak berdua yang berada di kedai saat kami mengiringi Raden Sabawa ke kedai itu pula" Pada saat kami berselisih dengan Mawarni dan ayahnya?"
Glagah Putih tersenyum sambil mengangguk. Katanya. "Aku mendengar pembicaraan kalian pada waktu itu. Akupun kemudian mengikuti kalian dan aku tahu, bahwa Raden Sabawa tinggal di rumah ini. Akupun kemudian memperhitungkan, bahwa akan terjadi sebagaimana terjadi semalam."
"Sokurlah bahwa angger berdua berada di kedai itu pula."
"Garis yang ditorehkan oleh Yang Maha Agung, telah kami jalani. Demikian pula garis yang harus Raden jalani."
Raden Yudatengara itu mengangguk-angguk.
Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun minta diri. Mereka akan di Demak untuk beberapa hari agar mereka dapat melihat di Demak lebih jelas lagi.
"Silahkan ngger," jawab Raden Yudatengara, "jika saja kami dapat bersama-sama pergi ke Mataram."
"Kami akan segera menyusul Raden."
Glagah Putih dan Rara Wulan itupun kemudian meninggalkan padang perdu itu. Sementara Raden Yudatengara dan Wawu serta kawan-kawannya mulai membicarakan rencana perjalanan mereka ke Mataram. Perjalanan yang panjang dan tentu akan sangat berbahaya, karena para pemimpin di Demak mengetahui, bahwa Raden Yudatengara semula adalah seorang pejabat di Mataram yang dikirim ke Demak untuk membantu Kanjeng Adipati Demak membenahi tugas barunya pada waktu itu.
Tetapi Raden Yudatengarapun mempunyai beberapa orang kenalan pula yang bertugas di Pajang. Karena itu maka ada dua pilihan perjalanan yang dapat ditempuh oleh Raden Yudatengara. Langsung ke Mataram, atau pergi ke Pajang lebih dahulu, baru kemudian ke Mataram.
"Lebih aman pergi ke Pajang dahulu. Raden," berkata Wawu.
"Aku kira juga begitu. Mungkin orang-orang Demak tidak akan mengira bahwa kita akan pergi ke Pajang lebih dahulu sebelum kita pergi ke Mataram."
"Tetapi kita akan melewati daerah-daerah yang sudah berada di bawah pengaruh Demak. Terutama di sebelah Utara Gunung Kendeng. Kita juga tidak dapat melewati Sima."
Raden Yudatengara mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Yang aku dengar, para pemimpin di Demak sudah menyebut-nyebut, bahwa Sima telah dijadikan salah satu landasan untuk pergi ke Selatan."
"Karena itu, kita harus memilih jalan, Raden. Apakah kita ke Mataram atau apakah kita pergi ke Pajang."


16 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Wawu," berkata Raden Yudatengara, "bukankah kita akan membagi diri" Kau bertiga, aku berdua bersama Sabawa. Karena itu, agar salah satu pihak diantara kami sampai ke Mataram, sebaiknya kami memilih jalan yang berbeda. Aku akan pergi ke Mataram lewat Pajang, dan kau akan pergi ke Mataram dengan melingkari Gunung Merapi dan Merbabu. Kau dapat memanjat perbukitan Ungaran, kemudian turun lewat Rawa Pening. Kau dapat memilih beberapa jalur jalan, antara lain lewat Seca, kemudian Bukit Tidar atau mungkin kau telah mengenal jalan yang lain. Kita akan bertemu di Mataram. Jika dalam sepekan aku tidak sampai di Mataram, maka kalian harus segera mencari hubungan dengan Ki Patih Mandaraka. Mungkin kau sulit untuk menghadap langsung. Cobalah berhubungan dengan kakang Rangga Nitiwara. Bukankah kau kenal kakang Rangga Nitiwara?"
"Ya, Raden. Tetapi siapakah yang akan membantu Raden berdua jika Raden berada dalam kesulitan."
"Jika kita berjalan sendiri-sendiri maksudnya justru untuk mengurangi kesulitan itu. Percayalah. Aku akan berhati-hati. Aku tidak akan melewati Sima dan sekitarnya. Mungkin aku akan mencari jalan sedikit melingkar. Tetapi aku berharap bahwa aku selamat sampai di Pajang. Di Pajang aku akan dapat mencari pinjaman kuda untuk pergi ke Mataram."
"Jika demikian Raden. Bukankah sebaiknya aku menunggu kedatangan Raden di rumah Ki Rangga Nitiwara?"
"Baik. Tunggu aku dalam sepekan. Jika aku datang, lebih dahulu, aku juga akan menunggu sampai akhir pekan ini."
Demikianlah merekapun telah membagi diri. Wawu dan kedua kawannya akan berangkat lebih dulu. Sementara Uaden Yudatengara akan menunggu sampai Raden Sabawa terbangun.
Ternyata Wawu merasa cemas juga meninggalkan Raden Yudatengara dan Raden Sabawa. Dalam keadaan yang sulit. Raden Sabawa sama sekali tidak akan dapat membantu ayahnya. Bahkan ia akan tetap saja menjadi beban.
Tetapi menurut penglihatan Wawu dan kawan-kawannya, Raden Yudatengara adalah seorang yang memiliki penalaran yang cerah. Raden Yudatengara dapat dengan cepat menanggapi persoalan-persoalan yang tiba-tiba saja harus dihadapi.
Ketika matahari terbit. Raden Sabawa masih juga belum terbangun. Namun Raden Yudatengara merasa tidak tergesa-gesa. Padang perdu itu nampaknya jarang sekali dilewati orang.
Baru ketika sinar matahari yang kemerah-merahan itu menyentuh tubuh Raden Sabawa. maka Raden Sabawa itupun telah terbangun.
Demikian Raden Sabawa itu membuka matanya, maka ia menjadi agak bingung.
Ketika Raden Sabawa melihat ayahnya berdiri sambil memandangi matahari yang bangkit dan meninggalkan cakrawala, Raden Sabawa itupun bertanya, "Ayah dimana kita sekarang?"
"Kita berada di padang perdu Sabawa."
"Sejak tadi malam?"
"Tentu saja sejak tadi malam. Jika kita bergeser, maka aku harus mendukungmu, karena kau tertidur."
"Dimana Wawu dan kawan-kawannya?"
Raden Yudatengara itupun kemudian bergeser dan duduk di sebelah Raden Sabawa, "Mereka sudah mendahului kita."
"Pengkhianat. Kenapa mereka meninggalkan kita disini" Bukankah mereka mengaku setia kepada ayah?"
"Ayah yang minta mereka mendahului kita. Mereka akan pergi jauh sekali."
"Lalu, bagaimana dengan kita?"
"Kita juga akan pergi jauh sekali. Kita akan pergi ke Pajang."
"Pajang?" "Ya. Pajang memang jauh. Tetapi kita harus pergi ke sana. Kita akan melewati jalan-jalan setapak dan lorong-lorong sempit yang mungkin jarang dilalui orang."
"Ayah, kenapa kita harus menyiksa diri?"
"Bukankah ayah sudah memberitahukan alasannya?"
"Apakah ayah harus mengulanginya lagi dari permulaan," Raden Sabawa menarik nafas panjang. Dipandanginya padang perdu yang luas.
Di satu sisi Raden Sabawa melihat hutan yang lebat memanjang.
"Di hutan itu tentu terdapat binatang-binatang buas."
"Ya. Selagi kau tidur, ayah mendengar aum harimau." Tiba-tiba saja Raden Sabawa itu bangkit berdiri, sehingga Raden Yudatengarapun bangkit pula.
"Kita tinggalkan saja tempat ini ayah. Jika ada seekor harimau yang keluar dari hutan itu dan memburu kita, maka kita akan mati."
"Belum tentu Sabawa. Bukankah kita dapat melawan?"
"Ayah tidak bi rsenjata. Bagaimana ayah dapat melawan seekor harimau."
"Aku membawa keris."
"Dimana tombak ayah?"
Raden Yudatengara memandang ke atas dahan pohon itu sambil berkata, "Aku simpan tombakku di atas dahan itu. Sabawa. Aku tidak dapat membawanya."
Raden Sabawa mengerutkan dahinya sambil bertanya, "Kenapa ayah" Tanpa senjata kita akan mengalami banyak kesulitan di perjalanan."
"Jika aku membawa tombakku, maka kita justru akan sangat menarik perhatian. Karena itu, aku simpan tombakku diatas pohon itu. Jika ada kesempatan aku akan dapat mengambilnya lagi."
"Jika tombak itu hilang?"
"Apaboleh buat. Meskipun tombak itu mempanyai nilai yang sangat tinggi bagiku, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa."
Raden Sabawa termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia memandang hutan yang lebat serta pepohonan raksasa, maka iapun berkata, "Ayah. Marilah kita pergi."
Raden Yudatengara dan Raden Sabawapun berbenah diri sekedarnya. Baru kemudian mereka meninggalkan tempat itu. menempuh perjalanan yang jauh.
Raden Sabawa berdesah ketika panas matahari mulai menggatalkan kulitnya Dipandanginya padang perdu yang luas dihadapannya. Jika disisi lain. padang perdu itu berbatasan dengan hutan maka disisi vang ada dihadapamua. padang perdu itu berbatasan dengan bulak persawahan.
Lamat-lamat nampak padukuhan mencuat dari sela-sela hamparan daun padi yang hijau dibulak yang terdapat disebelah padang perdu itu.
Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah meloncati tanggul parit. Sejenak mereka menyusun pematang dan turun di jalan bulak yang tidak begitu lebar. Jalan yang berbatu-batu padas.
Setiap kali terdengar Raden Sabawa berdesah. Kakinya terasa menjadi sakit oleh batu-batu padas yang runcing.
"Kau memang harus mengalami Sabawa," berkata ayahnya, "agar kau mengenal isi kehidupan yang bulat. maka kau harus mengalami kesulitan-kesulitan sekali dalam hidupmu."
"Kenapa harus ayah. Bukankah kita sendiri yang menciptakan kesulitan ini" Sebenarnya kita dapat memilih jalan yang lebih baik dari yang kita tempuh sekarang ini. Bukan saja jalan dalam arti kewadagau. tetapi jalan kehidupan."
"Aku mengerti maksudmu. Sabawa. Jika kita tidak menentang kebijaksanaan Kangjeng Adipati Demak, kita tidak akan mengalami kesulitan seperti ini. Tetapi kesulitan itu akan datang kemudian. Jika kelak pada suatu saat pasukan Mataram memasuki Demak barulah kesulitan itu datang."
"Belum tentu ayah. Jika Demak menang?"
"Kadang-kadang kita memang terlalu mementingkan diri sendiri. Kita kurang memperhatikan kepentingan yang jauh lebih besar dari kepentingan diri sendiri. Untuk kepentingan yang jauh lebih besar itulah kita kadang-kadang harus melupakan kepentingan kita sendiri. Kepentingan kita akan kita korbankan bagi kepentingan yang lebih besar itu."
Raden Sabawa tidak menjawab. Tetapi keringat mulai mengalir membasahi tubuh dan pakaiannya. Namun Raden Yudatengara itupun berjalan terus.
"Kita harus melupakan nama kita sendiri. Kita harus memakai nama lain yang lebih sederhana agar perjalanan kita tidak terganggu. Kita akan merendahkan diri kita dalam penyamaran demi keselamatan kita." Raden Sabawa tidak menjawab.
Dalam pada itu, Wawu dan kedua orang kawannya menempuh perjalanan melingkari Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Mereka harus sangat berhati hati. Merekapun sudah tahu, bahwa perguruan Kedung Jati pernah mencoba menjajagi kemungkinan untuk membuat landasan kekuatan di Seca. Tetapi ternyata bahwa Sima memberikan kemungkinan yang lebih baik."
Meskipun demikian, merekapun harus sangat berhati-hati pula.
Sementara itu Glagah Putih dan Rara Wulan telah kembali berada di Demak. Mereka tidak lagi mengenakan tutup di wajah mereka. Seperti orang-orang lain, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun berjalan menyusuri jalan-jalan utama di Demak.
Meskipun demikian. Glagah Putih dan Rara Wulan harus menghindari para perwira prajurit Demak terutama yang datang dari Mataram, karena tentu ada di antara mereka yang dapat mengenalnya.
Namun Glagah Putih dan Rara Wulan mencoba menyamarkan diri mereka dengan mengenakan caping bambu yang bisa dipergunakan untuk melindungi kepala dari panas matahari.
Selama berada di Demak, Glagah Putih dan Rara Wulan memaksa diri bermalam di penginapan yang berada di sebelah pasar agar ia berada di dalam bauran orang banyak. Meskipun penginapan itu sangat tidak menyenangkan, tetapi mereka berdua harus bertahan.
Di penginapan itu hanya terdapat ruang-ruang yang panjang, berisi amben bambu yang besar dan panjang pula. Laki-laki tidur di ruangan yang khusus untuk laki-laki, sedangkan perempuan tidur di ruangan yang khusus untuk perempuan.
Di penginapan itu tidak ada bilik-bilik khusus bagi suami isteri yang menginap. Jika suami isteri datang menginap di penginapan itu, maka merekapun terkena tatanan, laki-laki terpisah dari perempuan.
Namun di penginapan seperti itu. kadang-kadang ada saja orang-orang yang merasa dirinya mempunyai kelebihan dari orang lain, sehingga sikapnya justru sering mengganggu.
Namun Glagah Putih dan Rara Wulan telah mencoba bertahan agar mereka tidak terpancing untuk melakukan sesuatu yang dapat menarik perhatian.
Tetapi dua orang diantara mereka yang merasa dirinya memiliki kelebihan itu sangat menggelitik perasaan Glagah Putih dan Rara Wulan. Seorang diantara mereka telah mengganggu seorang perempuan yang menginap dengan suaminya di penginapan itu. yang juga seperti Rara Wulan dan Glagah Putih yang harus tidur terpisah di ruang masing-masing.
Laki-laki itu justru sering memasuki ruang yang diperuntukkan bagi perempuan, sehingga perempuan yang diganggunya itu menjadi sangat ketakutan. Sementara suaminya tidak berani berbuat apa-apa terhadap orang yang mengganggunya itu.
Karena itu, maka kedua orang suami isteri itu telah memilih untuk pindah ke penginapan yang lain.
Kepergian suami isteri itu membuat orang itu mencari sasaran yang lain. Adalah kebetulan sekali bahwa laki-laki itu sempat memperhatikan Rara Wulan. Bahkan dimata laki-laki itu, Rara Wulan adalah perempuan yang lebih menarik dari perempuan yang telah meninggalkan penginapan itu.
Yang kemudian tertarik untuk memperhatikan Rara Wulan bukan hanya seorang laki-laki itu saja. Tetapi kedua orang yang merasa memiliki kelebihan dari orang-orang lain yang bermalam di penginapan itu. Mereka merasa bahwa tidak ada seorangpun yang akan berani menegur mereka. Bahkan orang-orang yang bertugas di penginapan itu. Seorang diantara laki-laki itu pernah memukul petugas di penginapan itu yang mencoba memperingatkan agar kedua orang itu tidak berbicara keras-keras lewat tengah malam.
Tetapi petugas itu telah dipukulnya sampai pingsan.
Setelah itu, maka apa yang dilakukannya tidak ada lagi yang berani memperingatkannya.
Pemilik penginapan itu telah mencoba menegur mereka dan berbicara baik-baik. Tetapi kedua orang itu justru mengancam akan membakar penginapan itu jika penginapan itu mencoba mencegah mereka lagi.
Setelah perempuan yang sering diganggunya itu meninggalkan penginapan itu, maka merekapun mulai mengganggu Rara Wulan, sehingga Rara Wulan menyampaikan kepada Glagah Putih.
"Apakah aku harus memilin lehernya kakang?" bertanya Rara Wulan.
"Sebaiknya kita menghindari pertengkaran Rara. Kita mempunyai tugas yang lebih besar daripada mengurusi tikus-tikus celurut seperti itu."
"Jadi aku harus berbuat bagaimana."
"Untuk sementara, sebaiknya kau diamkan saja mereka. Aku akan berbicara dengan petugas di penginapan ini. Bahkan mungkin aku akan langsung menemui pemiliknya."
"Jangan terlalu lama. Atau marilah sekarang kita temui pemilik penginapan itu, sebelum aku kehabisan kesabaran."
"Baiklah. Kita pergi menemui pemilik penginapan itu sekarang."
Demikianlah Glagah Putih dan Rara Wulan itupun menemui pemilik penginapan yang kebetulan sedang berada di halaman belakang.
"Ada apa Ki Sanak?" bertanya pemilik penginapan itu. Glagah Putihpun kemudian telah menyampaikan keluhan isterinya yang merasa terganggu oleh dua orang laki-laki yang merasa diri mereka tidak ada yang berani melawan di penginapan itu.
Pemilik penginapan itu menarik nafas panjang. Katanya, "Maaf Ki Sanak. Aku dan para petugas di penginapan ini tidak dapat mengatasinya. Mereka pernah memukuli petugas dan aku sendiri pernah mereka ancam. Mereka akan membakar penginapan ini jika aku sering memperingatkan kelakuan mereka yang tidak pantas."
"Jadi, apakah perbuatan mereka itu akan dibiarkan saja?"
"Aku memang tidak berani berbuat apa-apa."
"Tetapi penginapanmu akan bangkrut. Kedua orang itu selalu mengganggu orang-orang yang menginap disini bukan hanya perempuan yang mereka ganggu, tetapi juga tamu-tamu laki-laki sering mereka ganggu dengan meminta agar tamu-tamu itu membayar makanan yang telah mereka makan."
"Lalu apakah yang harus aku lakukan?"
"Apakah Ki Sanak tidak dapat minta bantuan petugas misalnya."
"Petugas yang mana" Tidak seorangpun petugasku yang berani."
"Maksudku petugas di Demak ini. Prajurit misalnya."
"Aku belum pernah mencobanya. Tetapi minta bantuan prajurit menurut beberapa orang, justru akan dapat menimbulkan persoalan baru."
"Persoalan apa?"
"Kalau kita bertemu dengan prajurit yang baik. jujur dan mendahulukan kewajibannya, kita akan tertolong. Tetapi menurut beberapa orang, ternyata ada prajurit yang justru memanfaatkan kedudukannya untuk kepentingan diri sendiri."
Glagah Putih menarik nafas panjang. Iapun kemudian berpaling kepada Rara Wulan sambil berkata, "Kalau begitu, kitapun harus pindah ke penginapan yang lain."
Rara Wulanpun mengangguk. Katanya, "Ya. Kita akan pindah ke penginapan yang lain."
"Sayang Ki Sanak. Aku tidak dapat membantu Ki Sanak berdua. Kami merasa sangat menyesal. Tetapi apa boleh buat."
Glagah Putihpun kemudian telah menyelesaikan pembayarannya selama ia menginap di penginapan itu sebelum mereka pergi.
Tetapi untuk pergi meninggalkan penginapan itupun Rara Wulan merasa sangat terganggu.
Ketika Rara Wulan kemudian berbenah diri sebelum meninggalkan penginapan itu di dalam ruangan yang diperuntukkan bagi orang-orang perempuan itu, kedua orang yang sering mengganggunya itu justru mendatangi. Beberapa orang perempuan yang ada di dalam bilik itu menjadi ketakutan. Mereka juga mencemaskan keadaan Rara Wulan yang sudah siap untuk pergi itu. Perempuan-perempuan itu tahu, bahwa kedua orang itu sering mengganggu Rara Wulan setelah perempuan yang terdahulu pergi. Bahkan nampaknya kedua orang itu lebih tertarik kepada Rara Wulan daripada perempuan yang sering mereka ganggu sebelumnya.
"Kau akan pergi kemana Genduk," bertanya seorang diantara mereka.
Rara Wulan menjadi berdebar-debar. Bukan karena ia menjadi ketakutan. Tetapi jika kehilangan kendali, maka ia akan dapat berbuat sesuatu yang bertentangan dengan niat mereka agar keberadaan mereka di Demak tidak menarik perhatian.
Rara Wulan menarik nafas panjang. Ia ingin mengendapkan perasaan yang bergejolak.
"He, apakah kau tuli?" berkata seorang diantara kedua orang laki-laki itu, "aku bertanya kepadamu, kau akan pergi kemana?"
Rara Wulan termangu-mangu. Namun kemudian iapun menjawab, "Aku akan pergi keluar dari penginapan ini."
"Kenapa?" "Tidak apa-apa. Aku ada urusan lain di tempat lain. Karena itu. aku harus pegi."
"Kenapa begitu cepatnya kau tinggalkan penginapan ini, Genduk" Sebaiknya kau tetap saja tinggal di penginapan ini meskipun kau mempunyai urusan ditempat lain."
"Suamiku mengajak aku pindah penginapan."
"Biar saja suamimu pindah. Tetapi sebaiknya kau tetap menginap disini," berkata laki-laki yang lain.
"Aku harus ikut suamiku."
"Kami berdua akan menemanimu disini. Kau tidak perlu takut. Kaupun tidak usah takut kepada suamimu. Nampaknya suamimu seorang pengecut yang tidak akan dapat marah kepadamu jika kau bersamaku disini."
"Bagaimanapun juga ia adalah suamiku."
Keduanya tertawa. Tetapi tawa itu terhenti ketika mereka melihat seorang laki-laki berdiri di pintu ruang itu. Laki-laki itu adalah suami perempuan yang sedang diganggu laki-laki itu.
"He, untuk apa kau kemari?" bertanya salah seorang laki-laki itu.
"Aku akan mengajak isteriku berangkat. Kami akan pindah."
"Pindah kemana?"
"Ke penginapan yang lain."
"Kenapa?" "Tidak apa-apa."
Kedua laki-laki itupun kemudian melangkah mendekati Glagah Putih yang berdiri di pintu. Seorang diantara mereka mendorong tubuh Glagah Putih sehingga Glagah Putih itu melangkah surut beberapa langkah.
"Ki Sanak. Jika kau mau pindah, pindahlah sendiri. Biarlah isterimu berada disini."
"Ia isteriku Ki Sanak. Ia akan pergi kemana saja aku pergi. Karena itu, maka sekarangpun aku akan membawanya pergi."
Beberapa orang yang berada di penginapan itupun mulai berkerumun. Mereka merasa kasihan kepada suami isteri yang malang itu. Seorang diantara mereka telah menemui pemilik penginapan itu dan melaporkan apa yang terjadi.
Tetapi pemilik penginapan itupun tidak berani berbuat apa-apa.
"Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa aku tidak dapat membantunya. Jika aku melibatkan diri, penginapanku ini akan mereka bakar."
Orang itu tidak dapat memaksanya. Tetapi orang itu sendiri juga tidak berani berbuat apa-apa.
Dalam pada itu Gdagah Putihpun menjadi gelisah pula. Sementara itu, Rara Wulanpun sudah berlari keluar mendapatkan suaminya dan bahkan Rara Wulanpun telah berdiri di belakang Glagah Putih.
"Tinggalkan isterimu disini," geram salah seorang laki-laki yang mulai kehilangan kesabarannya. Apalagi ketika ia melihat beberapa orang telah mengerumuninya, meskipun dari jarak yang agak jauh.
Dalam pada itu. selagi Glagah Putih membuat pertimbangan-pertimbangan apa yang sebaiknya dilakukan, maka pemilik penginapan itupun datang mendekati kedua orang laki-laki itu.
Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, seorang diantara kedua laki-laki itupun berkata, "Jika kau ikut campur, maka penginapanmu ini akan aku bakar."
"Tidak, Ki Sanak. Aku tidak akan ikut campur. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Tetapi aku minta, jangan dipenginapanku ini. Aku memang tidak akan berani mencegahmu apapun yang akan kau lakukan. Tetapi sekali lagi aku minta jangan lakukan di penginapan ini. Penginapan ini adalah satu-satunya ladang bagiku untuk mencari makan bagi anak dan isteriku. Jika kemudian tidak ada orang yang berani menginap dipenginapan ini, maka kasihanlah anak dan isteriku itu."
Kedua orang laki-laki itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata, "Aku tidak peduli."
Pemilik penginapan itu masih mencoba untuk meyakinkan, "Tolonglah Ki Sanak. Aku benar-benar tidak ingin mencampuri urusan Ki Sanak. Aku hanya ingin agar Ki Sanak mengasihani aku."
"Aku bukan orang yang suka berbelas kasihan. Sekarang aku mau laki-laki ini pergi sementara perempuan mi tinggal disini. Itu saja."
Glagah Putihpun tidak tahu lagi jalan lain yang dapat ditempuh kecuali membuat kedua orang itu jera. Meskipun demikian Glagah Putih itupun masih mencoba mencegah kekerasan, "Ki Sanak. Ki Sanak jangan bertindak sewenang-wenang seperti itu. Ki Sanak sebaiknya merasa kasihan kepada pemilik penginapan itu dan kasihan kepada kami berdua. Bukankah tidak sepantasnya seseorang dengan berterus-terang mengganggu isteri orang lain seperti yang kau lakukan itu."
"Jika itu terjadi," jawab orang itu, "suaminya harus melindunginya. Jika suaminya tidak dapat melindungi isterinya, maka sebaiknya tinggal saja isterimu itu disini."
"Baik. Aku sudah kehabisan akal untuk menghindari kekerasan. Tetapi agaknya kalian berdua telah memaksa aku untuk mempergunakan kekerasan."
"Kau akan mempergunakan kekerasan" Kau agaknya memang suka bergurau."
"Aku tidak bergurau. Bukankah itu yang Ki Sanak kehendaki."
Glagah Putih itupun kemudian surut beberapa langkah. Demikian pula Rara Wulan yang ada di belakangnya.
Tetapi kedua orang itupun melangkah maju. Seorang diantara mereka berkata, "Kalian akan melarikan diri?"
"Tidak. Aku tidak akan dapat lari. Kalian tentu akan mengejarku. Aku hanya ingin berada di tempat yang lebih luas agar aku dapat berbuat lebih leluasa."
Seorang diantara kedua orang itupun melangkah maju sambil mendorong tubuh Glagah Putih.
"Nah, sekarang kau mau apa. Kita sudah berada di halaman."
Tiba-tiba saja, dua jari-jari tangan Glagah Putih telah bergerak dengan cepat, menyentuh beberapa simpul syaraf di dada serta dibawah leher orang itu. Demikian cepatnya sehingga orang itu tidak sempat berbuat apa-apa.
Hampir saja tubuh itu terjatuh, jika Glagah Putih tidak dengan cepat menangkapnya.
"Nah," berkata Glagah Putih, "lihat apa yang terjadi dengan kawanmu ini. Kemarilah, pegangi tubuh ini. Ia sedang tertidur nyenyak. Jangan cemas, nanti ia akan terbangun sendiri."
"Setan kau," geram orang itu, "aku bunuh kau."
"Jangan mencoba. Aku hanya membuat kawanmu ini tidur. Tetapi jika kau mencoba melawan, maka aku tidak akan sekedar membuatmu tidur. Tetapi kau akan lumpuh sepanjang hidupmu."
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak dapat mengelak dan kenyataan, bahwa kawannya itu memang tertidur.
Karena orang itu masih saja berdiri termangu-mangu. maka Glagah Putih itupun berkata sekali lagi, "Pegangi kawanmu ini. Kau dengar. Atau aku akan melepaskannya sehingga ia akan jatuh dan terbaring di tanah."
Laki-laki itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian iapun mendekati Glagah Putih, sementara Glagah Putih menyerahkan orang itu sambil berkata, "Papah orang ini ke pembaringannya. Biarkan saja sampai ia terbangun sendiri. Jangan mencoba membangunkan, karena cara yang tidak benar akan dapat merusakkan syarafnya sehingga ia justru tidak akan pernah bangun."
Orang itupun kemudian menerima kawannya yang tertidur itu dan memapahnya ke pembaringannya.
Beberapa orang yang menyaksikan masih saja berdiri keheranan. Mereka tidak tahu apa yang telah dilakukan oleh Glagah Putih, sehingga laki-laki yang masih terhitung muda itu mampu membuat seseorang tertidur nyenyak.
Namun mereka yang dicengkam oleh perasaan heran itupun segera menyadari keadaan ketika laki-laki yang masih terhitung muda itu minta diri.
Kepada pemilik penginapan itu iapun berkata, "Sudahlah Ki Sanak. Aku akan pergi. Aku akan mencari penginapan yang lain. Tetapi besok aku akan melihat kemari, apakah kedua orang laki-laki itu tidak menjadi jera."
"Baiklah Ki Sanak. Sekali lagi aku minta maaf, bahwa aku tidak mampu berbuat apa-apa sebagai pemilik penginapan ini. yang seharusnya bertanggung jawab terhadap ketenangan dan kenyamanan tamu-tamunya."
Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun meninggalkan penginapan itu.
Namun adalah diluar perhatian Glagah Putih dan RaraWulan, bahwa diantara mereka yang menyaksikan peristiwa di penginapan itu. dua orang diantaranya menjadi sangat tertarik. Mereka mengerti bahwa laki-laki yang masih terhitung muda itu adalah orang yang berilmu tinggi.
Seorang diantara merekapun berbisik, "Marilah. Kita ikuti mereka. Mereka akan bermalam dimana."
Kawannya mengangguk sambil berdesis, "Baik. Kita akan melihat. Mereka akan bermalam dimana?"
Sejenak kemudian, Glagah Putih dan Rara Wulan telah meninggalkan penginapan itu. Mereka berjalan menyusuri jalan yang tidak begitu ramai.
"Kita bermalam dimana kakang?"
"Tentu ada banyak penginapan di sini."
Rara Wulan mengangguk. Namun iapun berkata, "Bukankah kita menginginkan menginap di penginapan yang tidak mendapat banyak perhatian."
"Ya. Penginapan seperti penginapan yang baru saja kita tinggalkan tentu masih ada. Kita dapat bertanya kepada para pemilik kedai di pinggiran, jangan di tengah-tengah kota."
Rara Wulan mengangguk angguk.
Namun ternyata ketajaman naluri mereka, Gilagah Putih dan Rara Wulan dapat mengetahui, bahwa ada dua orang yang mengikuti mereka.
"Itulah yang kita cemaskan, Rara," desis Glagah Putih.
"Bukankah ada dua orang yang mengikuti kita?"
"Ya. Aku juga merasakannya. Ketika kita berbelok di tikungan, aku melihat keduanya."
"Baiklah. Biarlah mereka tetap mengikuti kita. Kita justru akan pergi keluar kota."
"Kemana?" "Kemana saja, asal kedua orang itu menjadi bingung."
"Ke bulak panjang?"
"Ya. Kita ingin tahu, apa yang mereka lakukan terhadap kita."
Kedua orang itupun kemudian berjalan semakin cepat menuju ke pintu gerbang kota, bahkan keduanyapun kemudian telah keluar pintu gerbang menuju ke daerah persawahan.
Kedua orang yang mengikuti keduanyapun masih mengikutinya pula. Namun mereka menjadi saling bertanya, "Kemana kedua orang itu pergi?"
Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja berjalan menyusuri jalan yang justru menjauhi pintu gerbang kota.
"Bukankah keduanya mengatakan akan mencari penginapan?" bertanya seorang di antara mereka.
"Ya." "Tetapi kenapa mereka justru menjauhi kota?"
"Bagaimana aku tahu," sahut yang lain.
Tetapi keduanya masih saja tetap mengikuti Glagah Putih dan Rara Wulan. Mereka masih belum sadar, bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan sudah mengetahui bahwa mereka berdua telah diikuti oleh kedua orang itu.
Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan sampai di tikungan yang terlindung oleh serumpun pohon jarak kepyar, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun itu justru berhenti dan menyelinap di antara pohon jarak itu.
Kedua orang yang mengikuti Glagah Putih dan Rara Wulan itu masih belum sadar, bahwa kedua orang yang mereka ikuti itu justru telah menunggu mereka di balik tikungan.
Karena itu, maka ketika keduanya sampai di tikungan, keduanya termangu-mangu sejenak. Mereka tidak melihat lagi dua orang laki-laki dan perempuan yang mereka ikuti.
"Kemana mereka berdua?" bertanya seorang diantara mereka.
"Mereka tadi berbelok kemari," sahut yang lain. Namun keduanya terkejut ketika mereka mendengar seseorang bertanya, "Apakah kalian mencari kami?"
Keduanya segera berpaling. Sebenarnyalah dari balik rumpun jarak kepyar itu. dua orang laki-laki dan perempuan yang mereka cari itupun muncul.
Keduanya bergeser surut sambil mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.
Ternyata kedua orang laki-laki dan perempuan itu, setidak-tidaknya laki-laki yang masih terhitung muda itu adalah seorang yang memang berilmu tinggi. Mereka segera mengetahui, bahwa mereka telah diikuti sampai ke tengah-tengah bulak itu.
"Ki Sanak," berkata Glagah Putih sambil melangkah maju, "kenapa kalian mengikuti kami?"
"Siapa yang mengikuti kalian?" Kami berdua memang akan berjalan melalui jalan ini."
"Kalian akan kemana?"
"Itu bukan urusanmu."
"Tetapi ketika kalian sampai di tikungan, kalian justru bertanya, kemana kami berdua."
"Segalanya hanya kebetulan saja. Semula kami lihat kalian berjalan di depan kami. Namun kemudian kalian tiba-tiba tidak kelihatan. Bukankah wajar jika kami bertanya, kemana orang-orang yang kami lihat berjalan didepan kami."
"Bagus. Jika demikian, silakan melanjutkan perjalanan."
Keduanya saling berpandangan sejenak. Mereka tidak tahu, akan pergi kemana. Namun seorang diantara merekapun kemudian berkata, "Baiklah, kami akan meneruskan perjalanan."
"Silahkan. Kamilah yang kemudian akan berjalan di belakang Ki Sanak berdua."
"Kalian akan mengikuti kami?"
"Tidak. Bukankah kami berjalan searah."
"Tetapi kenapa kami yang harus berjalan lebih dahulu."
"Tidak apa-apa. Jika kalian berjalan di belakang kami, maka kami akan menuduh kalian mengikuti kami."
Kedua orang itu menjadi ragu-ragu. Jika mereka meneruskan perjalanan, maka mereka memang tidak mempunyai tujuan.
"Nampaknya kalian menjadi ragu-ragu," berkata Glagah Putih kemudian.
Kedua orang itu masih saja termanggu-mangu sehingga Glagah Putih justru tertawa sambil berkata, "Kenapa kalian menjadi bingung. Silahkan pergi kemana saja kalian ingin pergi. Kami tidak akan mengganggu kalian. Bahkan kami minta maaf, bahwa kami telah keliru karena kami menyangka kalian sengaja mengikuti kami."
Namun akhirnya seorang diantara merekapun berkata, "Terus terang Ki Sanak. Kami memang sengaja mengikuti kalian."
"Mengikuti kami" Kenapa " Apakah ada yang salah pada kami berdua?"
"Kalian berdua sangat mencurigakan. Kalian mempunyai ilmu yang tinggi, tetapi kalian bermalam berbaur dengan orang-orang kebanyakan dan pedagang-pedagang kecil."
"Ya. Mungkin kami memang mempunyai sedikit ilmu. Tetapi apa salahnya kami bermalam di penginapan itu. Kami tidak mempunyai uang cukup untuk bermalam di tempat yang lebih baik."
"Apa yang kalian lakukan di Demak ini Ki Sanak?"
"Nanti dulu. Siapakah kalian berdua. Dan apakah hak kalian untuk mengurusi kami berdua. Siapapun kami dan apapun yang kami lakukan, bukankah kami tidak melanggar tatanan?"
"Kami kemarin telah menangkap seorang petugas sandi dari Pajang. Orang itu mengaku, bahwa ia mempunyai beberapa kawan di Demak. Seorang petugas sandi tentu memiliki bekal ilmu yang tinggi. Karena itu, ketika aku melihat kemampuan Ki Sanak, maka kamipun segera menghubungkan Ki Sanak dengan kawan-kawan petugas dari Pajang yang telah kami tangkap."
"Jadi Ki Sanak berdua akan menangkap kami?"
"Ya." "Lalu apa yang akan kalian lakukan terhadap kami berdua?"
"Itu bukan persoalan kami. Kami akan menyerahkan kalian kepada pemimpin kami. Pemimpin kamilah yang akan memutuskan, apa yang akan dilakukan terhadap kalian berdua."
"Tetapi kami sama sekali tidak berhubungan dengan petugas sandi yang manapun. Kami datang ke Demak untuk mencari hubungan dengan saudara-saudara seperguruan kami, karena kami mendengar bahwa perguruan kami sedang bangkit dan menyusun diri kembali."
"Perguruan apa?"
"Perguruan Kedung Jati."
"Perguruan Kedung Jati," sahut yang seorang lagi dengan serta-merta, "Kau mengaku murid dari perguruan Kedung Jati?"
"Bukan aku. Tetapi isteriku. Ia adalah murid dari perguruan Kedung Jati yang ingin bergabung dengan saudara-saudaranya."
"Benar ia murid dari perguruan Keduang Jati?"
"Ya." "Jangan mencoba untuk berbohong. Ketahuilah, bahwa aku adalah murid dari perguruan Kedung Jati."
Glagah Putih tersenyum. Katanya, "Jadi kalian adalah murid-murid dari perguruan Kedung Jati. Jika demikian, apakah wewenang kalian untuk mencurigai kami" Apa pula wewenang Ki Sanak, sehingga Ki Sanak kemarin telah menangkap seorang petugas sandi dari Pajang?"
"Aku murid dari perguruan Kedung Jati. Tetapi kakang Lurah ini adalah seorang prajurit Demak yang bertugas untuk mengawasi dan kalau perlu ia mempunyai wewenang untuk menangkap orang-orang yang dicurigai menjadi petugas sandi di Demak."
"Jadi kalian berdua adalah ujud dari kerjasama antara Demak dan perguruan Kedung Jati."
"Ya," jawab orang itu, "nah, ternyata bahwa kalian adalah orang-orang yang benar-benar mencurigakan. Apalagi kalian sudah berani mengaku murid dari perguruan Kedung Jati."
Isteriku tidak sekadar mengaku-aku murid dari perguruan Kedung Jati. Ia memang murid dari perguruan Kedung Jati."
"Apakah yang kau katakan itu benar?"
"Tentu," sahut Rara Wulan, "aku adalah murid dari perguruan Kedung Jati. Soalnya bagaimana aku harus membuktikan ?"
"Ada beberapa unsur gerak yang khusus bagi setiap perguruan yang besar. Demikian pula dengan perguruan Kedung Jati. Nah, jika kau memang murid dari perguruan Kedung Jati, buktikan. Kita akan memperlihatkan ilmu kita. Kita akan memperlihatkan unsur-unsur yang khusus dari perguruan Kedung Jati."
"Jadi kita harus bertempur?" bertanya Rara Wulan.
"Itu adalah satu-satunya cara untuk membuktikan, apakah benar kau murid perguruan Kedung Jati atau bukan."
"Baik. Aku akan mempersiapkan diri."
Rara Wulanpun kemudian telah menyingsingkan kain panjangnya, sehingga yang dikenakannya kemudian adalah pakaian khususnya yang semula tertutup oleh kain panjangnya.
"Bersiaplah Ki Sanak. Tetapi jika kau bukan murid dari perguruan Kedung Jati, maka jangan menyesal, bahwa tulang-tulang igamu berpatahan."
"Jangan sesumbar. Kau menjadi sangat ketakutan ketika laki-laki dipenginapan itu mengancammu, sehingga suamimu harus melindungimu. Jika kau murid perguruan Kedung Jati, maka kau sendiri akan dapat menyelesaikan kedua orang laki-laki yang tidak mengenal unggah-ungguh itu."
"Aku masih berniat untuk menyembunyikan kebenaran tentang jati diriku. Tetapi disini yang ada hanya kami berdua dan kalian berdua."
"Baik. Marilah kita lihat, apakah kau benar-benar menguasai ilmu kanuragan dari perguruan Kedung Jati."
Keduanyapun kemudian telah mempersiapkan diri. Glagah Putih dan orang yang disebut Ki Lurah itupun kemudian bergeser menjauh.
Sejenak kemudian, kedua orang yang pernah menyerap ilmu dari perguruan Kedung Jati itupun telah terlibat dalam pertarungan yang menegangkan. Rara Wulan yang telah menyadap ilmu Sekar Mirah yang bersumber dari perguruan Kedung Jati dengan perantara Ki Sumangkar, segera melibat lawannya. Rara Wulan sengaja mempergunakan insur-unsur gerak yang diandalkan dari perguruan Kedung Jati.
Orang yang mencurigai Glagah Putih dan Rara Wulan yang mengaku murid dari perguruan Kedung Jati itupun segera mengenal unsur-unsur terbaik yang tidak semua murid mendapat kesempatan untuk menguasainya.
Jika sekali dua kali, meluncur juga unsur gerak dari perguruan yang lain, justru membuat orang yang mencurigainya itu bingung. Ia mengira bahwa perempuan itu telah mempelajari ilmu yang mengalir dari perguruan Kedung Jati pada tataran yang tinggi sekali.
Dengan demikian, dalam waktu dekat, orang yang mencurigai kedua orang suami isteri itupun telah mengalami kesulitan. Beberapa kali ia terdorong surut. Kemudian terpelanting dan terbanting jatuh. Seluruh tubuhnya sudah terasa sakit sementara ada tulangnya yang seakan-akan jadi retak.
Karena itu, maka orang itupun kemudian bergeser surut untuk mengambil jarak. Diangkatnya kedua tangannya kedepan sambil berkata, "Cukup, cukup."
"Nah, apakah kau percaya bahwa aku adalah murid dari perguruan Kedung Jati ?"
"Ya, aku percaya. Melihat unsur-unsur gerak dari ilmumu, maka kau benar-benar murid dari perguruan Kedung Jati yang justru sudah berada di tataran yang lebih tinggi dari tataran ilmuku. Ilmumu sudah terlalu rumit bagiku."
"Nah, jadi kau sudah meyakini bahwa aku murid dari perguruan Kedung Jati?"
"Ya."

16 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Apakah dengan demikian, kau masih tetap mencurigai kami sebagai petugas sandi dari manapun datangnya?"
"Tidak. Tetapi apa yang akan kau lakukan?"
"Adalah kebetulan bahwa aku telah bertemu dengan seorang murid dari perguruan Kedung Jati. Sekarang tunjukkan kepadaku, dimana aku dapat menemui Ki Saba Lintang. Aku ingin bertemu dan menyatakan niatku untuk bergabung kembali jika benar perguruan Kedung Jati akan bangkit."
"Maksudmu, kau akan menemui langsung Ki Saba Lintang ?"
Ya," jawab Rara Wulan, "aku akan bertemu langsung dengan Ki Saba Lintang."
Orang itu menggeleng sambil berkata, "Itu tidak mungkin, Ki Sanak. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menemui langsung Ki Saba Lintang."
"Orang-orang tertentu yang bagaimana " Orang-orang yang berilmu tinggi atau orang yang berpangkat tinggi di Demak?"
"Tidak. Yang dapat bertemu langsung dengan Ki Saba Lintang adalah orang orang yang sudah mendapat kepercayaan dari Ki Saba Lintang. Jadi hanya orang-orang tertentu saja yang akan dapat menemuinya. Meskipun orang itu berilmu tinggi atau yang mempunyai jabatan di pemerintahan Demak, tetapi kalau orang itu masih belum mendapat kepercayaan dari Ki Saba Lintang, ia tidak akan mendapat kesempatan untuk menemuinya."
"Jadi, apa yang harus aku lakukan lebih dahulu agar aku dapat bertemu dan berbicara dengan Ki Saba Lintang."
"Kau harus melalui beberapa anak tangga. Jika kau benar-benar ingin bertemu, kau dapat ikut aku kelak menemui anak tangga yang pertama."
"Ada berapa buah anak tangga yang harus aku lalui?"
"Tidak tentu. Menurut keadaan orang yang akan menemuinya. Mungkin pada anak tangga ketiga, ia sudah mendapat kepercayaan, sehingga untuk selanjutnya segala sesuatunya akan menjadi lebih lancar. Meskipun demikian, tetapi seseorang tidak akan dapat menemuinya langsung."
"Jadi bagaimana" Kenapa kata-katamu berbelit-belit. Atau aku harus memaksamu agar kau berkata dengan wajar."
"Aku sudah mengatakan apa adanya Ki Sanak."
"Dimana aku dapat bertemu dengan anak tangga yang pertama itu ?"
"Aku akan menemuimu dan memberitahukan kepadamu. Kapan dan dimana. Aku akan berhubungan lebih dahulu dengan orang yang disebut anak tangga yang pertama di sisi Timur Demak. Karena anak tangga yang pertama itu, disisi yang lain. orangnya lain lagi."
"Gila kau ki Sanak. Tetapi baiklah. Aku akan menunggumu di luar pintu gerbang esok dini hari sebelum fajar. Kau harus datang bersama anak tangga pertama itu."
"Bukan aku yang menentukan Ki Sanak. Tetapi anak tangga yang pertama itu. Segala sesuatunya tergantung kepadanya."
"Kenapa tidak kau katakan saja, siapa orangnya dan dimana tempat tinggalnya ?"
"Apakah kau akan menemuinya langsung?"
"Ya." "Tidak dapat Ki Sanak. Orang itu berada di sebuah barak. Bergabung dengan barak satu kesatuan prujurit."
Rara Wulanpun kemudian berkata, "Ternyata kau adalah murid perguruan Kedung Jati ditataran yang paling bawah. Meskipun kau bukan pemula yang baru kemarin berguru kepada orang-orang Kedung Jati, ternyata bahwa ilmumu sudah berada di tataran ke dua, namun agaknya kau adalah orang yang tidak terpakai sehingga kau sama sekali tidak mempunyai wewenang apapun. Baik di perguruan Kedung Jati, maupun di tangga jabatan para petugas sandi di Demak. Karena itu, pergilah. Aku akan mencari jalan sendiri. Aku tidak memerlukan anak tangga yang pertama itu. Aku akan langsung mencari hubungan dengan Ki Saba Lintang. Karena sebenarnyalah aku adalah orang yang berhak mewarisi tongkat baja putih yang kedua setelah tongkat baja putih yang ada di tangan Ki Saba Lintang."
"Kenapa kau merasa mewarisi tongkat baja putih kedua ?"
"Aku adalah murid terbaik di perguruan Kedung Jati."
"Kau masih terlalu muda dibandingkan dengan beberapa orang terpenting di lingkungan perguruan Kedung Jati."
"Sebagian besar dari mereka bukan orang-orang perguruan Kedung Jati yang murni. Sebagian dari mereka adalah pemimpin-pemimpin dari beberapa perguruan kecil yang tersebar di wilayah Demak. Bahkan ada pemimpin-pemimpin gerombolan perampok yang justru seharusnya dimusnahkan. Tetapi nampaknya Kedung Jati yang mau bangkit itu telah bergabung dengan kekuatan di semua aliran tanpa memilih. Agaknya perguruan Kedung Jati pada saat ini telah meninggalkan paugeran pokok perguruan sekedar untuk mendapatkan banyak pengikut."
"Bagaimana menurutmu paugeran pokok perguruan itu ?"
"Perguruan Kedung Jati tidak seharusnya menjadi sarang orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Sebagian besar dari mereka yang justru memegang kendali di perguruan Kedung Jati adalah orang-orang yang menumpang mencari, keuntungan lahir dan batin."
Orang itu termangu-mangu sejenak. Sedangkan Rara Wulan berkata selanjutnya, "Nah, aku peringatkan kepada para pemimpin di Demak. Agaknya para pemimpin di Demak harus berhati-hati jika ingin bekerja sama dengan perguruan Kedung Jati yang sekarang. Perguruan Kedung Jati yang kepemimpinannya justru banyak berada di tangan orang-orang yang sebenarnya bukan murid-murid perguruan Kedung Jati yang sebenarnya harus memiliki jiwa perjuangan yang sebenarnya dari perguruan Kedung Jati. Karena itulah, maka aku ingin bertemu langsung dengan Ki Saba Lintang. Aku akan menuntut hakku untuk menjadi pewaris kepemimpinan ke dua setelah Ki Saba Lintang. Aku akan bersedia diuji dengan segala cara. Karena memang tidak ada orang yang sekarang berada di deretan kepemimpinan perguruan Kedung Jati yang kacau itu dapat mengimbangi kemampuanku dalam segala bidang. Bahkan bidang olah kanuragan."
Kedua orang itu bagaikan orang kebingungan. Mereka mendengarkan sambil mengangguk-angguk. Bahkan jantung mereka rasa-rasanya telah tersentuh oleh pengakuan perempuan itu. Sebenarnyalah orang yang mengaku murid dari perguruan Kedung Jati itu melihat sendiri dan bahkan mengalami sentuhan ilmu dengan perempuan itu. Ilmunya vang sebagian tidak dapat dimengertinya.
Karena itu, maka dengan gagap iapun bertanya, "Jadi, apa yang harus aku lakukan ?"
"Pergi dari tempat ini. Jangan mencoba mencari aku lagi. Jika aku melihat kalian berdua di Demak, maka aku akan membunuh kalian."
"Tetapi apakah aku harus mengatakan kepada orang yang berada di anak tangga pertama bahwa kau akan menunggunya di luar pintu gerbang esok dini hari sebelum fajar?"
"Tidak. Aku tidak memerlukan tikus-tikus clurut seperti kalian. Aku memekarkan orang-orang yang mempunyai kedudukan yang menentukan di perguruan Kedung Jati."
"Tetapi mereka semuanya sulit di temui. Kau tidak akan tahu, dimana mereka berada."
"Pada suatu saat, merekalah yang akan mencari aku. Bukan aku yang harus mencari mereka. Jika pada suatu saat nanti aku membunuhmu dan membunuh orang-orang yang mengaku murid dari perguruan Kedung Jati, maka para pemimpinmu tentu akan mencari aku. Dan jika aku membunuh para pemimpinmu yang sebagian memang bukan orang-orang dari perguruan Kedung Jati itu. maka Ki Saba Lintang tentu akan mencari aku."
Wajah orang itupun menjadi sangat tegang. Namun Rara Wulan berkata pula, "Pergilah. Aku belum akan mulai membunuh hari ini. Entah nanti atau besok atau kapanpun. Tetapi ingat, jika kita bertemu lagi dimanapun juga. maka aku akan membunuhmu. Aku lebih baik jika kau memanggil orang-orang yang lebih berpengaruh di perguruanmu yang tatanannya sedang kacau seperti sekarang ini, agar aku akan dapat membunuhnya, sehingga bobot pembunuhan itu akan lebih menggelitik bagi Ki Saba Lintang."
Orang itu masih saja membeku. Tetapi kata-kata Rara Wulan itu terdengar seperti suara guruh di musim kemarau.
"Pergilah. Kenapa kau masih diam saja ?"
"Baik, baik. Terima kasih. Kami akan pergi."
Orang itupun kemudian menggamit kawannya yang menyebut dirinya petugas dari Demak itu. Kemudian keduanya dengan tergesa-gesa meninggalkan kedua orang laki-laki dan perempuan itu. Mereka berjalan semakin lama semakin cepat.
Tetapi mereka baru sadar bahwa mereka telah mengambil arah yang keliru. Mereka tidak mengambil arah kembali ke Demak. Tetapi mereka berjalan terus searah dengan saat mereka mengikuti dua orang laki-laki dan perempuan yang ternyata justru telah menjebak mereka.
"Kita akan pergi kemana ?" bertanya petugas sandi dari Demak itu.
Orang yang mengaku murid dari perguruan Kedung Jati itupun termangu-mangu. Namun kakinya masih saja melangkah terus.
"Kita cari jalan sidatan untuk kembali ke Demak," jawabnya.
"Ya. Kita harus kembali secepatnya."
"Untuk apa ?" "Bukankah kita akan melaporkan keberadaan kedua orang itu agar mereka ditangkap."
"Kenapa mereka harus ditangkap ?"
Petugas sandi dari Demak itu termangu-mangu. Sementara orang yang mengaku murid perguruan Kedung Jati itu berkata, "Mereka berdua tidak mempunyai hubungkan apa-apa dengan Demak. Apalagi jika kau hubungkan dengan kesiapan Demak untuk mengambil alih kepemimpinan Mataram. Kedua orang itu hanya berkepentingan dengan perguruan Kedung Jati."
Petugas sandi dari Demak itu termangu-mangu sejenak.
"Menurut pendapatku, biarkan saja kedua orang itu. Biar saja jika akhirnya ia dapat bertemu dengan Ki Saba Lintang. Bahkan mungkin keberadaan orang itu dalam kepempimpinan perguruan Kedung Jati akan membuat perguruan Kedung Jati menjadi semakin kokoh."
"Tetapi mungkin juga akan dapat menimbulkan pertentangan-pertentangan diantara para pemimpinnya yang menurut orang itu justru terdiri dari orang-orang yang sebenarnya bukan murid-murid perguruan Kedung Jati."
"Itu urusan para pemimpin di perguruan Kedung Jati. Aku tidak tahu apa yang akan mereka putuskan."
"Tetapi apakah kau akan melaporkan kepada orang yang kau sebut anak tangga pertama itu ?"
"Tidak. Itu hanya akan menyulitkan aku sendiri. Jika kami. para murid dari perguruan Kedung Jati harus mencarinya, maka akupun tentu akan mendapat tugas mencarinya. Sementara itu. perempuan yang nampaknya garang itu sudah mengancam, jika sekali lagi kami bertemu, maka ia akan membunuhku."
"Jika demikian biarlah aku saja yang melaporkan keberadaannya. Karena jika terjadi gejolak di perguruan Kedung Jati, maka gejolak itu tentu akan berpengaruh pula terhadap langkah-langkah yang akan diambil oleh Demak."
"Jangan lakukan itu. Sekali lagi aku peringatkan, jika kita harus terlibat untuk mencari kedua orang itu, maka kita akan dapat terbunuh. Perempuan itu mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Mungkin laki-laki itu mempunyai ilmu yang lebih tinggi lagi. Karena itu lupakan kedua orang itu. Mereka tidak berbahaya bagi Demak, karena mereka bukan telik sandi dari Pajang maupun Mataram. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai persoalan sendiri dengan perguruan Kedung Jati. Persoalannya adalah persoalan orang-orang yang berada pada tataran di atas dalam jajaran kepemimpinan perguruan Kedung Jati. Dan itu berada di luar jangkauanku. Karena itu, maka lebih baik aku dan kau melupakan mereka. Melupakan bahwa kita pernah bertemu dengan kedua orang itu."
Petugas sandi dari Demak itu mengangguk angguk. Iapun akan merasa lebih baik tidak bersangkut paut dengan kedua orang yang berilmu tinggi dan tidak tercakup dalam bidang tugasnya untuk mengamati petugas-petugas sandi dari luar Demak.
Karena itu, maka orang itupun sependapat, bahwa mereka sebaiknya melupakan saja kedua orang yang mengaku akan berhubungan langsung dengan Ki Saba Lintang, pemimpin tertinggi dari perguruan Kedung Jati yang baru.
Pada saat kedua orang itu pergi, Glagah Putih dan Rara Wulan sempat mengamati beberapa lama sambil tersenyum. Dengan nada datar Glagah Putih berkata, "Akan kemana kedua orang itu " Kenapa mereka tidak berbalik dan kembali saja ke Demak ?"
"Keduanya menjadi bingung sehingga tidak sempat memilih arah," sahut Rara Wulan sambil tertawa. "Lalu. bagaimana dengan kita ?"
"Kita akan kembali ke Demak."
"Apakah orang itu tidak akan melaporkan kepada orang yang disebutnya berada pada anak tangga pertama?"
"Masih diperlukan beberapa jenjang untuk sampai kepada seseorang yang dapat mengambil keputusan," jawab Glagah Putih, "untuk itu tentu akan diperlukan lebih dari dua hari. Baru ada keputusan apakah mereka akan mencari kita atau tidak. Sementara itu. tugas kitapun sudah hampir selesai. Kita sudah mendapat banyak keterangan. Hubungan antara kedua orang yang mengikuti kita itupun merupakan gambar dari hubungan antara Demak dan perguruan Kedung Jati. Karena itu. dalam sehari ini tugas kita di Demak dapat kita anggap selesai. Kita akan kembali ke Mataram. Mudah-mudahan kita dapat bertemu dengan Raden Yudatengara di Mataram, sehingga keterangan yang kita berikan dapat diperkuat oleh keterangan Raden Yudatengara atau sebaliknya."
Rara Wulan mengangguk-angguk Katanya, "Baik, kakang. Tetapi apalagi vang ingin kita ketahui."
"Kita akan melihat latihan latihan para prajurit di alun-alun esok pagi. Kita akan memperbandingkan tingkat kemampuan mereka dengan para prajurit Mataram."
Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Dengan demikian, maka laporan kita akan menjadi semakin lengkap."
Demikianlah keduanyapun telah kembali ke Demak. Namun mereka kemudian memilih berada di sisi lain serta mencari penginapan yang kira-kira tidak akan menimbulkan persoalan.
"Kita justru mencari penginapan yang agak lebih baik, kakang."
"Ya. Mudah-mudahan tidak ada persoalan apa-apa." Keduanyapun kemudian telah menenggelamkan diri di penginapan justru untuk menghindari persoalan-persoalan yang mungkin dapat timbul. Baru esok pagi mereka akan keluar dari penginapan dan pergi ke alun-alun untuk menyaksikan sodoran serta latihan latihan keprajuritan dari berbagai macam kesatuan.
Dalam kesiagaan tertinggi, Demak memang sering mengadakan latihan-latihan besar-besaran untuk membangkitkan kepercayaan diri para prajuritnya. Menurut berita, bukan hanya para prajurit yang akan menunjukkan kemampuannya di alun-alun. Tetapi sekelompok murid dari perguruan Kedung Jati juga akan menunjukkan kemampuan mereka dalam olah kanuragan. Baik secara pribadi maupun dalam kerjasama diantara mereka. Bahkan mereka akan memberikan gambaran perang gelar yang lengkap.
"Ada berapa orang murid perguruan Kedung Jati sehingga mereka akan melakukan latihan perang gelar yang lengkap ?" bertanya Rara Wulan.
"Entahlah. Tetapi menilik gerakan yang dilakukan di beberapa tempat, perguruan Kedung Jati memang memiliki murid atau katakanlah pengikut yang cukup banyak. Apakah mereka benar-benar murid yang menyadap ilmunya dari aliran perguruan Kedung Jati atau bahkan mereka yang sama sekali tidak mengenal ilmu dari aliran perguruan Kedung Jati."
Rara Wulan mengangguk-angguk. Namun latihan perang itu tentu akan sangat menarik sekali untuk ditonton dan kemudian diperbandingkan dengan tingkat kemampuan para prajurit Mataram.
Demikianlah, keduanya benar-benar tidak keluar dari penginapan hari itu. Bahkan merekapun memesan makan dan minum dari penginapan itu pula agar mereka tidak usah mencari kedai untuk membeli makan.
Di hari berikutnya, maka keduanyapun telah mempersiapkan diri untuk pergi ke alun-alun. Mereka justru berusaha untuk tidak menarik perhatian. Mereka akan berada diantara rakyat yang menonton gladi perang-perangan itu. sehingga mereka berduapun harus dapatberbaur dengan mereka dalam ujud lahiriahnya.
Sebelum berangkat Glagah Putih dan Rara Wulan telah membayar uang sewa penginapan untuk semalam, karena mereka tidak akan kembali lagi ke penginapan itu.
"Kalian akan pergi kemana?"
"Kami akan melanjutkan perjalanan kami."
"Kalian akan kemana?"
"Kami akan pergi ke Kudus."
"Kenapa tidak esok pagi saja" Hari ini ada gladi besar para prajurit yang memang sering diadakan di alun-alun. Hari ini akan ada latihan gabungan antara para prajurit Demak dengan para murid dan perguruan Kedung Jati."
"Sayang sekali," desis Glagah Putih.
Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan ternyata pergi ke alun-alun. Namun mereka berusaha untuk berbaur dengan banyak orang yang juga akan pergi menonton ke alun-alun.
Sambil berjalan menghanyutkan diri dalam arus orang-orang yang akan menonton ke alun-alun, Glagah Putihpun berkata, "Hubungan yang rapat antara Demak dengan perguruan Kedung Jati tidak dirahasiakan lagi. Bahkan hubungan itu akan digelar setara terbuka di alun-alun dalam latihan besar-besaran yang akan diselenggarakan hari ini."
Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya, "Agaknya para pemimpin Demak dan perguruan Kedung Jati akan hadir. Agaknya Ki Saba Lintang pun akan hadir pula."
"Mungkin sekali Ki Saba Lintang akan hadir. Tetapi kita tidak akan dapat berbuat apa-apa. Ki Saba Lintang tentu berada diantara orang-orang yang dipercayainya."
"Ya. Sayang sekali kita tidak akan dapat memanfaatkan keberadaannya di Demak."
"Jangan kehilangan pertimbangan dan perhitungan. Kita tidak dapat hanya berdasarkan pada kemauan dan perasaan saja."
Rara Wulan mengangguk-angguk pula.
Beberapa saat kemudian, merekapun sudah berada di alun-alun. Orangpun sudah berdesakkan berdiri di pinggir alun-alun yang dipagari dengan gawar lawe.
Di sekeliling alun-alun telah terpasang rontek, umbul-umbul dan kelebet beraneka warna. Sedang di depan panggung kehormatan telah berdiri berjajar beberapa tunggul kebesaran Demak dengan kelebet yang bergambar berbagai lambang kesatuan para prajurit Demak.
"Yang terjadi ini lebih condong disebut pagelaran raksasa daripada latihan bagi para prajurit," desis Rara Wulan.
"Ya. Tetapi pagelaran semacam ini memang dapat memberikan kebanggaan bagi para prajurit, sehingga dengan demikian mereka akan menjadi lebih mantap berjuang bagi satu keyakinan tanpa dapat menilai makna dari keyakinan itu. Karena sebenarnyalah bahwa keyakinan itu telah dihunjamkan ke dalam otak mereka dengan serta merta."
Rara Wulan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-angguk saja. Sementara itu, orang-orangpun bergerak mendekati gawar, sehingga para prajurit yang berjaga jaga diseputar alun-alun itu harus menghalau mereka agar mereka itu mundur dan tidak mendesak, apalagi memutuskan gawar lawe.
Agaknya latihan-latihan di alun-alun itu akan segera dimulai.
Yang pertama kali akan dilakukan oleh para prajurit itu justru semacam pertandingan. Para prajurit pilihan akan melakukan sodoran. Dua orang akan bertanding dengan tombak yang tumpul diatas punggung kuda.
Ketika kemudian terdengar bende berbunyi, maka orang-orang yang berkerumun di sekitar alun-alun itupun bagaikan di goyang Namun para prajurit yang berjaga-jaga di seputar alun-alun itu kembali mendorong mereka untuk mundur.
Sejenak kemudian, dua orang berkuda dengan tombak vang berujung tumpul telah bergerak maju ke depan panggung kehormatan. Mereka memberikan hormat kepada para pemimpin yang berada di panggung kehormatan. Selain Kangjeng Adipati, para pemimpin tertinggi di Demak, telah hadir pula pimpinan tertinggi perguruan Kedung Jati, Ki Saba Lintang dengan membawa tongkat kebesarannya.
Dari kejauhan Glagah Putih dan Rara Wulan tidak dapat melihat dengan jelas, siapa saja yang berada di panggung kehormatan itu. Namun keduanya sempat melihat sosok yang membawa tongkat baja putih.
Glagah Putih dan Rara Wulan yang memiliki kemampuan Aji Sapta Pandulu itupun segera mengetrapkannya, sehingga mereka berdua melihat dengan lebih jelas, bahwa di panggung kehormatan itu memang duduk pula Ki Saba Lintang.
"Ki Saba Lintang dengan tongkat baja putih itu," desis Rara Wulan.
"Ya." "Jika kita mampu mempergunakan kesempatan ini, maka kita akan mendapatkan tongkat baja putih itu."
"Kita tidak akan mendapat kesempatan itu sekarang. Di panggung kehormatan itu duduk para pemimpin Kadipaten Demak. Diantara mereka tentu terdapat orang-orang berilmu tinggi. Selain mereka, maka Ki Saba Lintangpun tentu membawa pengawal-pengawal terbaiknya, tidak peduli mereka berasal dari gerombolan perampok sekalipun."
Rara Wulan mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah ia ingin sekali dapat berbuat sesuatu. Namun Rara Wulanpun menyadari bahwa ia tidak boleh hanyut sekedar dalam arus perasaannya tanpa menghiraukan pertimbangan nalar dan perhitungan.
Karena itu, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun tidak berniat berbuat apa-apa selain menonton latihan besar-besaran yang akan dilakukan di alun-alun.
Namun keduanya meragukan, sebesar apakah latihan itu, bahwa di alun-alun itu juga akan dilakukan latihan perang gelar.
"Gelarnya tentu kecil-kerilan," berkata Glagah Putih di dalam hatinya.
Sejenak kemudian, kedua orang berkuda yang membawa tombak yang ujungnya tumpul itu sudah meninggalkan panggung kehormatan. Mereka melarikan kuda mereka ke kedua sisi alun-alun.
Sejenak kemudian terdengar suara bende pertama, sehingga kedua orang yang akan melakukan sodoran itu segera mempersiapkan diri, mengamati pakaian mereka, tombak mereka dan kelengkapan-kelengkapan mereka yang lain.
Ketika bende itu berbunyi dua kali, maka kedua orang yang duduk diatas punggung kuda itupun segera bersiap. Sedangkan ketika terdengar suara bende untuk ketiga kalinya, maka kedua orang berkuda itupun segera memacu kudanya. Mereka telah merundukkan tombak mereka yang tumpul yang dipegang dengan tangan kanan, sedangkan di tangan kirinya terdapat sebuah perisai yang tidak begitu besar.
Demikianlah ketika keduanya berpapasan di depan panggung kehormatan, maka merekapun telah mencoba menyusupkan ujung tombak mereka yang tumpul dan dibalut dengan kain itu diantara pertahanan lawan.
Tetapi masing-masing mempergunakan perisai yang ada di tangan kiri mereka untuk menangkis ujung tombak yang tumpul itu.
Ternyata kedua orang penunggang kuda itu cukup tangguh. Meskipun seorang diantara mereka terguncang, tetapi prajurit itu tidak terjatuh. Bahkan iapun segera mampu memperbaiki keadaannya Sehingga ketika kuda-kuda mereka berputar, maka prajurit itu sudah siap untuk bertarung lagi.
Tetapi mereka tidak lagi membuat ancang-anc:mg seperti ketika baru mulai. Kedua ekor kuda itupun berputar putar di depan panggung kehormatan, sementara penunggangnya berusaha untuk saling menjatuhkan.
Setelah pertarungan itu berlangsung beberapa saat, maka tiba-tiba seorang diantara mereka menjadi lengah, sehingga ujung tombak yang tumpul dan terbalut dengan kain yang cukup tebal itu telah mengenai lambungnya.
Demi Tahta Dan Cinta 1 Dewi Ular 41 Terjebak Bencana Gaib Sumpah Palapa 21
^